<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Nasehat</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/akhlak/nasehat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Teringat Cinta Pertama</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/teringat-cinta-pertama</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/teringat-cinta-pertama#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 07:22:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10287</guid>
		<description><![CDATA[Teringat Cinta Pertama Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum akhi Saya ingin menanyakan bagaimana untuk menghadapi suami yang masih memikirkan cinta pertamanya. Kami menikah enam bulan yang lalu dan belum memiliki anak. Pada saat kami sudah menikah, suami baru menceritakan tentang wanita cinta pertamanya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Teringat Cinta Pertama</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum akhi<br />
Saya ingin menanyakan bagaimana untuk menghadapi suami yang masih memikirkan <strong>cinta</strong> pertamanya. Kami menikah enam bulan yang lalu dan belum memiliki anak. Pada saat kami sudah menikah, suami baru menceritakan tentang wanita cinta pertamanya dan bersumpah atas nama Allah bahwa mereka sudah tidak ada hubungan lagi. Tetapi sampai saat ini suami masih menyimpan data-data yang berhubungan dengan wanita tersebut dan masih mencari tahu keadaan wanita itu melalui facebooknya. Saya telah menanyakan hal tersebut sebelumnya dan suami menjawab tolong bantu untuk melupakan wanita tersebut dan saya bantu untuk itu, tapi sulit sekali bagi dia membuang semua memori lamanya itu. Tolong bantu saya akhi, apa yang harus saya lakukan karena saya tidak ingin pikiran dan perasaan saya terbebani oleh kemarahan yang terpendam oleh kenyataan dari yang suami lakukan terus menerus.<br />
<em>Jazakallah khair</em>.</p>
<p>Dari:<em> Fulanah</em><br />
<span id="more-10287"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Teringat Cinta Pertama</h3>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam</em><br />
<strong>Pertama</strong>, itulah bagian dari keterbatasan manusia. Dia tidak mampu menghilangkan semua memori yang pernah dia alami. Keadaan ini tidak hanya dialami suami Anda, tapi juga orang lain bahkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun mengalami hal serupa hingga membuat Aisyah cemburu. Di depan Aisyah, Nabi dengan bangganya mengatakan,</p>
<p class="arab">إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا</p>
<p>&#8220;Sungguh Allah telah menganugrahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah&#8221; (HR. Muslim, no.2435)<br />
Padahal kita mengetahui bahwasanya Aisyah adalah wanita yang sangat pencemburu. Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em> bertutur,</p>
<p class="arab">كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ قَالَتْ فَغِرْتُ يَوْمًا فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْرًا مِنْهَا قَالَ مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ</p>
<p>&#8220;Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> jika menyebut tentang Khadijah maka ia pun memujinya, dengan pujian yang sangat indah. Maka pada suatu hari aku pun cemburu, maka aku berkata, &#8220;Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya.&#8221; Maka Nabi berkata, &#8220;Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.&#8221; (HR. Ahmad, no 24864 dan dishahihkan oleh para pentahqiq Musnad Ahmad)</p>
<p>Setelah wafatnya Khadijah kecintaan Nabi tetap melekat di hati beliau. Beliau masih tetap sering menyebut-nyebut Khadijah bahkan beliau memberikan hadiah kepada sahabat-sahabat Khadijah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, hingga seakan-akan sepertinya tidak ada wanita di dunia ini kecuali Khadijah. Aisyah mengatakan,</p>
<p class="arab">مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ وَمَا رَأَيْتَهَا وَلَكِنْ كَانَ النبي صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ ذِكْرَهَا وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يَقْطَعُهَا أَعْضَاءَ ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيْجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلاَّ خَدِيْجَةُ فَيَقُوْلُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ</p>
<p>“Aku tidak pernah cemburu pada seorangpun dari istri-istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> seperti kecemburuanku pada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya akan tetapi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> selalu menyebut namanya. Terkadang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyembelih seekor kambing kemudian beliau memotong-motongnya lalu mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Terkadang aku berkata kepadanya, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita yang lain kecuali Khadijah”, lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata, “Dia itu wanita yang demikian dan demikian dan aku memiliki anak-anak darinya….” (HR. Al-Bukhari, no.3907).</p>
<p>Selengkapnya kisah <strong>Cinta pertama</strong> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ini bisa Anda baca di: <a href="http://www.firanda.com/index.php/artikel/keluarga/249-sebuah-kalung-yang-mengingatkan-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-akan-cinta-pertamanya" rel="nofollow" target="_blank"><strong>firanda.com</strong></a></p>
<p>Dari sisi ini, hendaknya Anda juga memahami dan pengertian, sebagaimana jika Anda juga memiliki kekurangan tentu saja Anda ingin agar suami Anda memahami kekurangan Anda.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, di sisi lain ini adalah kekurangan yang layaknya dimengerti akan tetapi hal ini juga termasuk penyakit, maka Anda berdua harus berusaha mengobatinya. terkait kasus yang Anda alami, kami sarankan:</p>
<ul>
<li>  Buang semua benda atau atribut, termasuk no hp, yg memicu timbulnya memori itu.</li>
<li>Minta suami Anda untuk turut berusaha mengobati hal ini, dengan tidak mencari-cari identitas wanita tersebut dimana pun. Karena semakin besar memori ini menggelayuti suami, dia akan semakin tersiksa. Bayangannya menginginkan A, ternyata tak kuasa tangan untuk menngayuhnya.</li>
<li>Berlakulah baik terhadap suami Anda sehingga ia meyakini Anda lah wanita terbaik baginya dengan demikian hal ini pun membantunya untuk melupakan wanita tersebut.</li>
</ul>
<p><strong>Ketiga</strong>, perbanyaklah bedoa kepada Allah, mohon agar Allah memperbaiki hati suami, karena Dia-lah Dzat yang mengendalikan hati semua manusia.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>Dijawab oleh Ustadz <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ammi-nur-baits" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ammi nur baits">Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait cinta:</h3>
<p>1. <a href="../menggauli-istri-yang-telah-berzina" rel="nofollow" target="_blank">Menggauli Istri yang Berzina</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/taubat-dari-zina" target="_blank">Naudzubillah, Masih SMU Pernah Berzina</a>.<br />
3. <a href="../istri-selingkuh" rel="nofollow" target="_blank">Istri Berzina</a>.<br />
4. <a href="../selingkuh-dengan-ipar" rel="nofollow" target="_blank">Selingkuh dengan Ipar</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/suami-jatuh-cinta-pada-wanita-lain" target="_blank">Suami Jatuh Cinta pada Wanita Lain</a>.<br />
6. <a href="../istri-selingkuh" rel="nofollow" target="_blank">Istri Selingkuh</a>.<br />
7. <a href="../berbicara-lewat-telepon-chatting-atau-ber-sms-apakah-termasuk-zina" rel="nofollow" target="_blank">Telpon, SMS, Chatting Ria dengan Lawan Jenis, Apakah Termasuk Zina</a>.<br />
8. <a href="../solusi-pacar-hamil" rel="nofollow" target="_blank">Bingung, Pacarku Hamil</a>.<br />
9. <a href="../hukum-kasus-pemerkosaan" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Pemerkosa</a>.<br />
10. <a href="http://konsultasisyariah.com/cara-mengungkapkan-cinta" target="_blank">Cara Mengungkapkan Cinta</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/teringat-cinta-pertama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Mubazir</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/makna-mubazir</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/makna-mubazir#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 08:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10054</guid>
		<description><![CDATA[Makna Mubazir Pertanyaan: Bagaimana pengertian mubazir yang sesungguhnya, sebagai contoh khusus membelikan anak mainan? apakah termasuk mubadzir? Dari: Bambang Priyanto Jawaban: Makna Mubazir Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah&#8230; Sebelumnya perlu kita luruskan, untuk membedakan antara mubazir dengan tabzir. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Makna Mubazir</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Bagaimana pengertian <strong>mubazir</strong> yang sesungguhnya, sebagai contoh khusus membelikan anak mainan? apakah termasuk mubadzir?</p>
<p>Dari: Bambang Priyanto<br />
<span id="more-10054"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Makna Mubazir</h3>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah&#8230;</em></p>
<p>Sebelumnya perlu kita luruskan, untuk membedakan antara <em>mubazir</em> dengan <em>tabzir</em>.<br />
<em>Tabdzir</em> itu sikap dan perbuatan, sedangkan pelakunya disebut <em>mubazir</em>.</p>
<p>Kata <em>tabdzir</em> dan <em>mubazir</em> telah Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sebutkan dalam Alquran. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ</p>
<p>&#8220;<em>Berikanlah kerabat dekat, orang miskin dan ibnu sabil hak mereka. dan jangan sekali-sekali bersikap tabdzir, sesungguhnya orang yang suka bersikap tabdzir adalah teman setan.</em>&#8221; (QS. al-Isra&#8217;: 26 &#8211; 27)</p>
<p>Ibnul Jauzi dalam tafsirnya <em>Zadul Masir</em> menjelaskan bahwa ada dua pendapat ulama tentang makna <em>tabzir</em>. Beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">في التبذير قولان: أحدهما: أنه إِنفاق المال في غير حق، قاله ابن مسعود، وابن عباس. وقال مجاهد: لو أنفق الرجل ماله كلَّه في حقٍّ، ما كان مبذِّراً، وأنفق مُدّاً في غير حق، كان مبذِّراً. قال الزجاج: التبذير: النفقة في غير طاعة الله، وكانت الجاهلية تنحر الإِبل وتبذِّر الأموال تطلب بذلك الفخر والسّمعة، فأمر الله عزّ وجلّ بالنفقة في وجهها فيما يقرِّب منه. والثاني: أنه الإِسراف المتلفِ للمال، ذكره الماوردي. وقال أبو عبيدة: المبذِّر: هو المُسرف المُفسد العائث.</p>
<p>Tentang makna <em>tabzir</em> ada dua pendapat:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, membelanjakan harta di luar kebutuhan yang dibenarkan. Ini merupakan pendapat Ibnu Mas&#8217;ud dan Ibn Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>.</p>
<p>Mujahid -salah satu ulama tafsir periode tabi&#8217;in- mengatakan &#8220;Andaikan ada orang yang membelanjakan seluruh hartanya di jalur yang benar, dia bukan orang yang mubadzir. Dan jika menafkahkan bahan makanan satu cakupan tangan di luar jalur yang dibenarkan maka dia termasuk orang yang mubadzir.&#8221;</p>
<p>Az-Zajjaj mengatakan, &#8220;Sikap <em>tabzir</em> adalah membelanjakan harta untuk selain ketaatan kepada Allah. Dulu masyarakat jahiliyah menyembelih onta, menghambur-hamburkan harta dalam rangka membanggakan diri dan mencari popularitas. Kemudian Allah perintahkan untuk membelanjakan harta untuk ibadah dalam rangka mencari wajah Allah.&#8221;</p>
<p><strong>Kedua</strong>, makna sikap <em>tabdzir</em>: menghambur-hamburkan, yang menghabiskan <a href="http://konsultasisyariah.com/hadiah-dari-uang-riba" target="_blank">harta</a>. Ini keterangan yang disampaikan Al-Mawardi. Abu Ubaidah mengatakan, &#8220;Orang yang <em>mubadzir</em> adalah orang yang berlebihan, yang menghabiskan, dan menghancurkan harta.&#8221;<br />
(<em>Tafsir Zadul Masir</em>, 3:20)</p>
<p>Pendapat yang tepat, mencakup dua-duanya. Seseorang dianggap bersikap <em>tabzir</em> jika dia menggunakan hartanya untuk maksiat atau menggunakan hartanya untuk yang yang mubah tapi menghabiskan semuanya.</p>
<p>Dari penjelasan di atas, membelikan mainan yang halal untuk anak, dan itu tidak berlebihan, <em>insya Allah </em>bukan termasuk sikap <em>tabzir</em>.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ammi-nur-baits" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ammi nur baits">Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina<a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com"> Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Tags: harta mubazir, uang mubazir, <strong>mubazir.<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/makna-mubazir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menasihati Tetangga Menutup Aurat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menasihati-tetangga-menutup-aurat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menasihati-tetangga-menutup-aurat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 10:15:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9243</guid>
		<description><![CDATA[Menasihati Tetangga Menutup Aurat Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Bagaimana sikap istri menghadapi tetangga yang sengaja pamer aurat di depan suami? Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Jika ada wanita yang membuka auratnya kepada suami atau keluarga yang berada di rumah, maka kita wajib menasihati ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menasihati Tetangga Menutup Aurat</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu’alaikum. Bagaimana sikap istri menghadapi tetangga yang sengaja pamer aurat di depan suami?<br />
<span id="more-9243"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.<br />
Jika ada wanita yang membuka auratnya kepada suami atau keluarga yang berada di rumah, maka kita wajib menasihati suami dan keluarga dengan dalil dari Alquran dan hadis yang sahih. Bacakan ayat Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> yang melarang kita memandang wanita yang bukan mahram, barangkali mereka belum paham lalu bacakan surat An-Nur ayat ke-30. Dan bacakan juga hadis Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang bersumber dari Jarir <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> dia berkata,</p>
<p>“Aku bertanya kepada Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> memandang wanita dengan tiba-tiba (tanpa sengaja). Maka beliau menjawab, ‘Palingkan pandanganmu’.” (HR. Abu Dawud, sahih oleh Al-Albani 5:148)</p>
<p>Jika memandang wanita yang tanpa sengaja saja Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk memalingkan pandangan mata, maka bagaimana bila disengaja?! Tentu lebih besar dosanya.</p>
<p>Dan bila mampu, hendaknya menasihati wanita tetangga yang datang di rumah kita dengan kata-kata lembut. Sampaikan bahwa Alquran melarang kita kaum wanita menampakkan keindahan dirinya kepada pria lain yang bukan mahram. Nasihati dia dengan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p><em>“Dan janganlah wanita muslimah itu menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka&#8230;” </em>(An-Nur: 31)</p>
<p>Jika nasihat ini diterima, maka <em>alhmdulillah</em>, inilah manfaatnya nasihat. Dan jika dia belum menerima, maka hendaknya bersabar, karena kewajiban kita hanyalah menyampaikan nasihat, dan Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki. <em>Wallahu a’lam</em></p>
<p>Sumber: Majalah Al Mawaddah  Edisi 8 Tahun ke-3 1431 H/Maret 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menasihati-tetangga-menutup-aurat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mimpi Bertemu Nabi Shalallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mimpi-bertemu-nabi-muhamad</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mimpi-bertemu-nabi-muhamad#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 05:59:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9148</guid>
		<description><![CDATA[Mimpi Bertemu Nabi Shalallahu &#8216;Alaihi wa Sallam Pertanyaan: Saya juga mengalami bermimpi bertemu rasulullah, sampai 3 kali kalo gak salah. Mimpi yang kedua mirip mimpi saudara yang cerita barusan yaitu di saat kami shalat berjamaah dan dia rasulullah berkata &#8220;Cintailah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mimpi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mimpi">Mimpi</a> Bertemu Nabi <em>Shalallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya juga mengalami bermimpi bertemu rasulullah, sampai 3 kali kalo gak salah. Mimpi yang kedua mirip mimpi saudara yang cerita barusan yaitu di saat kami <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> berjamaah dan dia rasulullah berkata &#8220;Cintailah Allah hanyalah Allah.&#8221;</p>
<p>Mimpi ketiga yang tak terlupakan, mohon pak ustadz memberi sedikit saran atas mimpi ini. Saya bermimpi,<br />
Dalam mimpi itu aku diberi sebuah buku, lalu buku itu aku baca yang ternyata perjalanan hidupku didunia penuh dengan ujian dan cobaan-Nya dan ada yang pro maupun kontra kepadaku. Tapi Alhamdulillah, aku sanggup melewatinya. Lalu aku berada di sebuah piramid yang puncaknya tidak runcing tapi berupa lapang dalam masjid yang pilar-pilarnya menjunjung ke langit tiada ujung. Aku berada di dalamnya duduk, tak lama kemudian datang dua orang yang memberi salam. lalu aku balas salam mereka. Lalu aku tanya mereka siapa dan ada keperluan apa, mereka menjawab, &#8220;Saya malaikat pengurus ahli surga dan saya malaikat pengurus ahli neraka. Kami mohon izin untuk bisa ikut shalat ditempat Anda.&#8221; Lalu aku sambut mereka dan aku antar untuk shalat ditempatku tapi ternyata tempat dudukku itu telah penuh oleh orang-orang seperti mereka. Lalu aku pindah tempat dimana di sebelahku ada seorang laki-laki yang tampan parasnya dan hatiku mengatakan dia rasulullah, kami bercakap-cakap. Beliau bertanya kepadaku, &#8220;Heru, ingin diposisikan dimanakah kamu?&#8221; Aku jawab, &#8220;Ya Rasulullah giliran ke-6 pun tiada mengapa bagiku, tapi jika aku boleh memohon, lalu aku sujud kepada Allah dan aku berdoa &#8216;Ya Allah tempatkan aku persis dibelakang rasulullah.&#8221; Lalu aku berada persis di belakang beliau dan tiada makhluk lain antara kami dan di depan beliau, Rasulullah adalah sebuah pintu gerbang berwarna keemasan dan memancarkan cahaya terang benderang. Lalu kami bercakap-cakap lagi sambil duduk, rasulullah berkata, &#8220;Heru itulah posisi kamu disaat ajal menjemputmu.&#8221; Berhati-hatilah selama menjalani hidup di dunia agar kamu tidak tergelincir.&#8221; Lalu aku bangun dan menangis terharu.</p>
<p>Ya ku akui, aku sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, sangat rindu kepada Allah dan rasul-Nya. Wahai pak ustadz yang Allah cintai, terangkanlah kepadaku apa arti mimpiku ini. Makasih.</p>
<p>NB:ini salah satu dr sekian mimpi2 yg lainnya.</p>
<p>Dari: Heru<br />
<span id="more-9148"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Mimpi Bertemu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</h3>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;alaa rasulillah</em><br />
Terkait masalah <strong>bertemu Nabi</strong> <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam mimpi, ada beberapa catatan penting:<br />
<strong>Pertama</strong>, perlu diketahui bahwa seseorang mungkin untuk bertemu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam mimpi. Karena setan tidak mampu untuk meniru wajah beliau dan menampakkan diri dalam mimpi dalam rupa beliau. Hanya saja, penting untuk dicatat di sini, yang tidak mampu dilakukan setan adalah menyerupai wajah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> <strong>yang sebenarnya</strong>. Adapun menampakkan diri dengan wajah yang lain, bisa dilakukan setan, kemudian dia mengaku sebagai nabi atau orang yang melihatnya mengira bahwa dia nabi.</p>
<p>Ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">من رآني في المنام فقد رآني فإن الشيطان لا يتخيل بي</p>
<p>“<em>Siapa yang melihatku dalam mimpi, dia benar-benar melihatku. Karena setan tidak mampu meniru rupa diriku</em>.” (HR. Bukahri dan Muslim)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, ketika seseorang melihat wajah cerah, baju putih, dan manusia dengan ciri mengagumkan lainnya, bukan jaminan bahwa itu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena yang dimaksud mimpi melihat Nabi adalah melihat beliau persis sebagaimana ciri fisik dan wajah beliau. Karena itu, jika ada orang yang merasa melihat Nabi dalam mimpi maka perlu dicocokkan dengan ciri fisik dan wajah beliau yang disebutkan dalam hadis.</p>
<p>Imam Bukahri menyebutkan keterangan Ibnu Siriin <em>rahimahullah</em>, bahwa beliau mengatakan tentang hadis melihat Nabi dalam mimpi,</p>
<p class="arab">إذا رآه في صورته</p>
<p>“<em>Apabila dia benar-benar melihat wajah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.” (Shahih Bukhari, setelah hadis no. 6592)</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, &#8220;Diriwayatkan dari Ayyub, beliau menceritakan, Jika ada orang yang bercerita kepada Muhammad bin Sirrin bahwa dirinya mimpi bertemu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka Ibnu Sirrin meminta kepada orang ini untuk menceritakan ciri orang yang dia lihat dalam mimpi. Jika orang ini menyampaikan ciri-ciri fisik yang tidak beliau kenal, beliau mengatakan, &#8220;Kamu tidak melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221; Ibnu Hajar menyatakan, &#8220;Sanad riwayat ini shahih.</p>
<p>Kemudian beliau membawakan riwayat yang lain, bahwa Kulaib (seorang tabi&#8217;in) pernah berkata kepada Ibnu Abbas <em>radhiallahu&#8217;anhuma</em>, Aku melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam mimpi. Ibnu Abbas berkata, &#8220;Ceritakan kepadaku (orang yang kamu lihat).&#8221; Kulaib mengatakan, &#8220;Saya teringat Hasan bin Ali bin Abi Thalib, kemudian saya sampaikan, beliau mirip Hasan bin Ali.&#8221; Lalu Ibnu Abbas menegaskan, &#8220;Berarti, kamu memang melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sanadnya jayyid. (<em>Fathul Bari</em>, 12:383 – 384)</p>
<p>Disadur dari : Fatawa Islam, tanya jawab, no. 23367</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, bagaimana caranya agar bisa mengenal ciri fisik Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> agar tidak ditipu setan?<br />
Tidak ada cara lain untuk bisa mengetahui ciri fisik beliau, selain dengan membaca hadis-hadis yang menceritakan ciri-ciri fisik Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sebagaimana yang kita pahami, tidak ada manusia yang catatan sejarahnya paling lengkap, melebihi sejarah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dan ini bagian dari jasa besar para sahabat yang menceritakan segala sesuatu terkait beliau. Bahkan sampai bentuk rambut, gerakan jenggot, perkiraan jumlah uban, tinggi badan, postur tubuh, cara jalan, dan seterusnya.</p>
<p>Dengan rahmat dan karunia Allah, warisan pengetahuan semacam ini tidak disia-siakan para ulama. Mereka kumpulkan semuanya dan mereka kodifikasikan dalam berbagai literatur. Nah.. di sinilah ada buku khusus yang ditulis para ulama hadis, isinya mengumpulkan hadis-hadis tentang ciri dan sifat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Baik dari sisi fisik maupun non fisik. Buku semacam ini diistilahkan dengan kitab<em> Asy-Syama-il</em>.</p>
<p>Ada beberapa karya ulama dalam bentuk Asy-Syama-il, di antaranya:<br />
a. Asy-Syamail Al-Muhammadiyah, karya At-Turmudzi<br />
b. Asy-Syamail Asy-Syarifah, karya As-Suyuthi<br />
c. Al-Anwar fi Syamail An-Nabi Al-Mukhtar, karya Al-Baghawi<br />
d. Syamail Ar-Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, karya Ahmad bin Abdul Fatah Zawawi</p>
<p>Di antara beberapa kitab di atas, kitab syamail yang paling terkenal dan banyak mendapatkan perhatian para ulama adalah kitab syamail karya Tirmidzi. Para ulama setelah beliau, ada yang meringkas dan ada yang memberi penjelasan.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ammi-nur-baits" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ammi nur baits">Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina<a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com"> Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/cara-bertemu-nabi-dalam-mimpi">Cara Beretemu Nabi</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/mimpi-basah-saat-puasa">Mimpi Basah Saat Puasa</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/arti-mimpi">Mimpi Menjelang Subuh</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/macam-macam-mimpi">Macam-Macam Mimpi</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-arti-mimpi-saya">Arti Mimpi</a>.<br />
6. <a href="http://konsultasisyariah.com/sering-mimpi-buruk-dan-mimpi-aneh">Sering Mimpi Aneh dan Buruk</a>.<br />
Artikel tentang mimpi bertemu nabi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mimpi-bertemu-nabi-muhamad/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggauli Istri yang Berzina</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menggauli-istri-yang-telah-berzina</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menggauli-istri-yang-telah-berzina#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 00:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8942</guid>
		<description><![CDATA[Menggauli Istri yang Telah Berzina Pertanyaan: Bagaimana jika istri melakukan zina, kemudian hamil. Bolehkah suami jima’ (berhubungan suami-istri) dengannya? Jawaban: Jika istri berbuat zina, suami boleh berkumpul dengan istrinya. Demikian pula sebaliknya, bila suami berbuat zina, istrinya pun tidak mengapa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menggauli Istri yang Telah Berzina</h2>
<p><strong>Pertanyaan</strong>:<br />
Bagaimana jika istri melakukan <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a></strong>, kemudian hamil. Bolehkah suami <em>jima’</em> (berhubungan suami-istri) dengannya?<br />
<span id="more-8942"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Jika istri berbuat zina, suami boleh berkumpul dengan istrinya. Demikian pula sebaliknya, bila suami berbuat zina, istrinya pun tidak mengapa bila dikumpuli oleh suaminya. Karena perbuatan zina tidaklah membatalkan pernikahan, dan juga tidak membatalkan iman apabila pelakunya tidak menghalalkannya, hanya saja mengurangi kesempurnaan iman.<br />
Syaikh Muhammad Ibrahim At-Tuwajiri berkata, “Apabila seorang laki-laki berbuat zina padahal ia telah menikah, maka tidak haram baginya mengumpuli istrinya. Demikian juga sebaliknya, bila istri berbuat zina tidak haram pula berkumpul dengan suaminya. Akan tetapi dia telah melakukan dosa besar, maka pelaku tersebut hendaknya bertaubat dan meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَلاَتَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلاً</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mendekati zina: sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk</em>.” (QS. Al-Isra: 32)</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan, &#8220;<em>Aku bertanya kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,<br />
“Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau menjawab, “Apabila engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia yang telah menciptakan dirimu.” Aku berkata, “Sesungguhnya yang demikian itu sungguh amat besar dosanya.” Lalu aku bertanya, “Apa lagi?” Beliau menjawab, “Apabila kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.” Aku bertanya, “Apa lagi?” Beliau menjawab, “Apabila kamu menzinai istri tetanggamu</em>.” (HR. Bukhari, no. 4117. <em>Mukhtashor Fiqhul Islam</em>, 1:907-908)</p>
<p>Fatwa Lajnah Da’imah menjelaskan:<br />
Soal No. 2788:<br />
Saya sudah menikah, istri saya tinggal di negeri saya sedankgan saya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bekerja" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bekerja">bekerja</a> di Brazil untuk mencari nafkah dan untuk membiayai pendidikan anak. Akan tetapi saya telah berbuat zina, sungguh saya menyesali perbuatan saya dan saya bertaubat. Cukupkah dengan taubat ataukah harus disertai dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> had? Kami berharap nasihatnya. Semoag Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> merahmatimu.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Tidaklah diragukan bahwa zina termasuk dosa besar. Di antara penyebabnya karena wanita membuka aurat, pergaulan bebas dengan wanita yang bukan mahramnya, hilangnya akhlak, serta kebejatan moral secara umum. Jika Anda berbuat zina karena jauh dari istri dan bergaul dengan orang yang rusak akhlak dan moralnya, kemudian menyesal atas perbuatan dosa tersebut dan bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya. Kami berharap Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> mengampuni dosa Anda karena Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">وَالَّذِينَ لاَيَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ وَلاَيَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَيَزْنُونَ وَمَن يَّفْعَلْ ذَلِكَ يَلقَ أَثَامًا {68} يُضَاعَفُ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا {69} إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا {70}</p>
<p>“Dan orang-orang yang tidak menyembah sesembahan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) keculia dengan (alasan) yang benarm dan tidak <strong>berzina</strong>, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal sholih; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)</p>
<p>Ubadah bin Shamit berkata, “Kami bersama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam suatu majelis. Lalu beliau bersabda, ‘<em>Berbaiatlah kalian kepadaku, agar kamu tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, tidak mencuri, dan tidak berzina</em>.’ Lalu beliau membacakan ayat ini semuanya. (Lantas beliau melanjutkan), ‘<em>Maka barangsiapa di antara kamu menunaikan (janjinya), maka dia akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Barangsiapa melanggar sedikit saja dari ketentuan itu lalu dia dihukum, maka hukumannya sebagai kaffarahnya (penebus dosanya <em>pen.</em>). Dan barangsiapa melanggar sedikit saja dari yang demikian itu, lalu Allah menutupi kesalahannya, jika Allah menghendakinya maka dia diampuni dan jika Dia menghendakinya maka dia di adzab</em>.” (HR. Bukhari, no.6286)</p>
<p>Akan tetapi wajib bagimu menjauhi pergaulan yang jelek yang mengakibatkan kamu terjerumus ke dalam kemaksiatan, dan hendaknya mencari nafkah di tempat lain yang lebih ringan kejahatannya, agar agamamu terpelihara, karena bumi Allah itu luas. Di manapun manusia tinggal di bumi Allah untuk mencari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rezeki" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rezeki">rezeki</a>, niscaya Allah menentukan rezekinya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar, dan akan memberi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rezeki" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rezeki">rezeki</a> dari arah mana saja yang tiada disangkanya. (<em>Fatawa Lajnah Da’imah</em>, 22:41-42)</p>
<p><strong>Keterangan dari Penjelasan di Atas</strong>:<br />
•	Bolehnya seorang suami yang terlanjur berbuat zina mengumpuli istrinya, dan begitu pula sebaliknya.<br />
•	Zina termasuk perbuatan dosa besar, dihukum di dunia dengan dirajam sampai meninggal dunia bila dia pernah menikah, dan dicambuk seratus kali dan diusir dari negerinya selama satu tahun apabila pelakunya masih berstatus <em>single</em>. Hal ini apabila diketahui oleh hakim atau dilaporkan kepadanya. Jika tidak dilaksanakan di dunia karena negara tidak menegakkannya, keputusannya di sisi Allah.<br />
•	Pelaku zina hendaknya segera bertaubat dan menyesali perbuatannya dan tidak mengulangi lagi. Hendaknya pelaku meutupi aibnya dengan tidak menceritakan kepada orang lain, kecuali kepada orang alim yang ditubuhkan nasihatnya.<br />
•	Hendaknya wanita menjauhi kebiasaan yang jelek, misalnya gampang memasukkan laki-laki yang bukan mahramnya ke dalam rumah, terutama pada saat tidak ada suami, bepergian tanpa mahram, bepergian tanpa izin suami, memakai parfum dan berhias diri saat keluar rumah, bergaul bebas dengan lain jenis yang tidak halal baginya, berjabat tangan dengan yang bukan mahramnya, bergaul dengan orang yang jahat moralnya, bertempat tinggal di tempat yang rusak aqidah dan moralnya, karena ini semua bisa menjadi sebab terjatuhnya seseorang dalam perbuatan zina. <em>Na’udzu billahi min dzalik</em>.<br />
•	Hendaknya segera menikah bila sudah mampu dan tidak menunda pinangan. Hal ini dapat meminimalisir gangguan pikiran dan boleh jadi mengganggu ibadahnya.<br />
•	Bagi yang belum mampu menikah, hendaknya bersabar dan berpuasa serta meningkatkan ibadah kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p class="arab">وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لاَيَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ</p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya&#8230;</em>” (QS. An-Nur: 33)</p>
<p>Abdullah mengatakan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,<br />
“<em>Wahai kelompok pemuda! Barangsiapa di antara kamu mampu menikah maka hendaknya menikah, dan barangsiapa tidak mampu maka hendaknya berpuasa, karena <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> baginya adalah penjaga dari perbuatan keji</em>.” (HR. Bukhari 4677)<br />
•	Zina merupakan perbuatan yang sangat berbahaya, merusak martabat manusia, keturunan, pikiran, dan menimbulkan penyakit jiwa dan juga penyakit fisik, bahkan mengurangi kesempurnaan iman.<br />
•	Berusaha semaksimal mungkin menjauhi zina mata, telinga, lisan, tangan, dan kaki, agar terhindar dari puncaknya zina.<br />
Abu Huroiroh berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,<br />
“<em>Telah dituliskan untuk anak Adam bagiannya dari zina, pasti menjumpainya, tidak mungkin tida. Maka dua mata zinanya memandang (yang haram), dua telinga zinanya mendengarkan (yang haram), lisan zinanya bercakap-cakap (yang haram), tangan zinanya dengan menyentuh (yang haram), kaki zinanya berjalan (menuju yang haram), sedangkan hati condong dan mengangan-angan, maka farji yang membenarkan dan mendustakannya.</em>” (HR. Muslim, no.4802)<br />
•	Jika bepergian jauh untuk mencari nafkah atau berdakwah yang dirasa waktunya lama, sebaiknya istrinya diajak jika memungkinkan, jika tidak memungkinkan dan khawatir berbuat zina maka hendaknya menikah lagi bila mampu. Jika tidak mungkin, carilah pekerjaan yang dekat dengan istri, setiap orang yang beriman yang ingin cari ridha Allah, dia akan dimudahkan urusannya.<br />
•	Suami hendaknya sering menasihati istrinya, terutama yang berkenaan dengan penyebab zina, jika dia bertaubat karena mengakui kesalahannya atau dia berbuat karena tidak mampu menolaknya, padahal sudah berusaha untuk menjaga diri, suami hendaknya memaklumi dan memaafkannya dan berdoalah kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> agar diampuni dosanya dan menjadi wanita yang sholihah, demikian pula suami bila berbuat zina karena khilafnya hendaknya istri menasehatinya dengan baik.<br />
•	Suami hendaknya mencegah istrinya bekerja di luar rumah, apalagi ke luar negeri. Hal ini sangat berbahaya, tidak sedikit kasus wanita yang hamil karena bekerja di luar rumah. Ketahuilah, suami yang berkewajiban mencarikan nafkah, bukan sebaliknya.<br />
Mu’awiyah bin Haidah berkata, &#8220;Saya bertanya, &#8216;Wahai Nabi! Apakah hak istri kami?&#8217; Beliau menjawab,<br />
“Hendaknya kamu memberi makan dia (istrimu) jika kamu makan, dan hendaknya kamu memberi pakaian dia bila kamu berpakaian.” (HR. Abu Dawud, no.1830, dishahihkan oleh Al-Albani dalam <em>Shahih Targhib wa Tarhib</em>, 1929)</p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al-Furqon</em>, Edisi 7 Tahun 6 1428 H</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait zina:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukuman-untuk-lesbi">Hukuman Untuk Lesbi</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/taubat-dari-zina">Naudzubillah, Masih SMU Sudah Berzina</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar">Berzina dengan Ipar</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/istri-selingkuh">Istriku Telah Berzina</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menggauli-istri-yang-telah-berzina/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Nadzar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-nadzar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-nadzar#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 02:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8462</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Nadzar Pertanyaan: Dalam acara radio di Arab Saudi -Nur &#8216;ala Darb- Syekh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin pernah ditanya. Apa hukumnya ber-nadzar, apakah halal atau haram? Jawaban: Syekh Utsaimin menjawab, Menurut saya, pendapat yang paling kuat mengenai hukum nadzar adalah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Nadzar</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Dalam acara radio di Arab Saudi -Nur &#8216;ala Darb- Syekh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin pernah ditanya. Apa hukumnya ber-<strong>nadzar</strong>, apakah halal atau haram?<br />
<span id="more-8462"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Syekh Utsaimin menjawab,<br />
Menurut saya, pendapat yang paling kuat mengenai hukum nadzar adalah haram. Berdasarkan larangan dalam sabda Nabi shalallahu &#8216;alahi wa sallam. Hukum asal pada suatu larangan adalah haram. Selain itu, nadzar juga merupakan perbuatan yang membebani diri dengan sesuatu yang Allah tidak bebankan kepada manusia. Oleh karena itu, sering kita jumpai banyak orang-orang yang bernadzar tidak menunaikan nadzar mereka, perbuatan ini tentunya berbahaya bagi mereka.<br />
Mayoritas orang, bilamana dihimpit oleh kesulitan yang menyesakkan, mereka menadzarkan sesuatu yang berat -dengan harapan semakin berat nadzar, akan lebih cepat pengabulan doa- namun pada akhirnya mereka merasa terbebani dalam penunaiannya. Ini benar-benar masalah yang sangat serius.<br />
Kiranya inilah pendapatku yang berkeyakinan kuat atau lebih condong bahwa nadzar merupakan suatu keharaman bukan sesuatu yang makruh karena Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam melarangnya. Dan sekali lagi saya ulangi, asal hukum dalam sesuatu yang dilarang adalah haram. Apalagi dalam perbuatan nadzar tersebut terdapat sesuatu yang membebani manakala seseorang mewajibkan atas dirinya sesuatu yang tidak diwajibkan oleh syariat, padahal dalam permasalahan tersebut seseorang memiliki kelonggaran.</p>
<p>Sumber:<em> http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_3210.shtml</em></p>
<p>Kami menduga hadis yang dimaksudkan oleh Syekh Utsaimin adalah</p>
<p class="arab">لاَ تَنْذُرُوا فَإِنَّ النَّذْرَ لاَ يُغْنِى مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ</p>
<p>&#8220;Janganlah bernadzar. Karena nadzar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit.&#8221; (HR. Muslim no. 4329)</p>
<p><strong>Diterjemahkan oleh tim <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a></strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait nadzar:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/nadzar-shalat-baitul-maqdis" target="_blank">Nadzar Shalat Di Baitul Maqdis</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/apakah-nadzar-saya-harus-ditunaikan" target="_blank">Wajibnya Menunaikan Nadzar</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-nadzar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Sunah Malam Pertama</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/sebelum-malam-pertama</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/sebelum-malam-pertama#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 01:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8726</guid>
		<description><![CDATA[Adab Malam Pertama Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Apakah ada salat sunah dua rakaat setelah proses akad nikah? Jika ada minta dalilnya Terima kasih Ustadz Faisal (ivXXXXXX@gmail.com) Jawaban: Wa’alaikumussalam Dianjurkan bagi penganti baru, untuk memulai malam pertama-nya dengan salat dua rakaat berjamaah. Dalil ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Adab Malam Pertama</h2>
<p>Pertanyaan:<br />
<em>Assalamu&#8217;alaikum</em><br />
Apakah ada salat sunah dua rakaat setelah proses akad nikah? Jika ada minta dalilnya<br />
Terima kasih Ustadz</p>
<p><em>Faisal (ivXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-8726"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam</em></p>
<p>Dianjurkan bagi penganti baru, untuk memulai <strong>malam pertama</strong>-nya dengan salat dua rakaat berjamaah. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah:</p>
<p>Dalil pertama</p>
<p>Dari Abu Said beliau mengatakan,</p>
<p>Saya menikahi seorang wanita, ketika saya masih sebagai budak. Kemudian saya mengundang beberapa sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Di antara mereka ada Ibnu Mas&#8217;ud, Abu Dzar, dan Hudzifah <em>radhiallahu&#8217;anhum</em>. Lalu tibalah waktu salat, Abu Dzar bergegas untuk mengimami salat. Tetapi mereka mengatakan ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzar) berkata, ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka salat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku</p>
<p class="arab">إذا دخل عليك أهلك فصل ركعتين ثم سل الله من خير ما دخل عليك وتعوذ به من شره ثم شأنك وشأن أهلك</p>
<p>“Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua salat dua rakaat. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kalian berdua.” (HR. Ibnu Abi Syaibah <em>A</em><em>l-Mushannaf</em> no. 29733 dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Dalil kedua,</p>
<p>Dari Syaqiq, beliau mengatakan:</p>
<p>Ada seseorang yang bernama Abu Hariz mengatakan, “Saya menikahi seorang perawan yang masih muda, dan saya khawatir dia akan membenciku. Kemudian Ibnu Mas&#8217;ud memberi nasihat,</p>
<p class="arab">إن الإلف من الله والفرك من الشيطان يريد أن يكره إليكم ما أحل الله لكم فإذا أتتك فأمرها أن تصلي وراءك ركعتين</p>
<p>“Sesungguhnya kasih sayang itu dari Allah dan kebencian itu dari setan untuk membenci sesuatu yang dihalalkan Allah kepadamu. Jika isterimu datang kepadamu, perintahkanlah istrimu untuk melaksanakan salat dua rakaat di belakangmu. Lalu ucapkanlah,</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِي وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ بِخَيْرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ</p>
<p>&#8220;Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rezeki" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rezeki">rezeki</a> kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rezeki" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rezeki">rezeki</a> kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.&#8221;(Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam <em>A</em><em>l-Mushannaf</em> no. 17156 dan dishahihkan Al-Albani).</p>
<h3>Tata caranya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> sebelum malam pertama:</h3>
<ol>
<li>Tata cara salat dua rakaat ketika <strong>malam pertama</strong> sama dengan tata cara salat biasa.</li>
<li>Suami menjadi imam bagi istrinya.</li>
<li>Bacaan salat boleh dikeraskan.</li>
<li>Tidak ada anjuran untuk membaca surat atau ayat tertentu.</li>
<li>Tidak ada doa khusus, selain doa di atas dan dibaca setelah salat.</li>
</ol>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ammi-nur-baits" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ammi nur baits">Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/sama-hari-lahir-nikahpun-sulit">Sama Hari Lahir, Nikah Dipersulit</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/taubat-dari-zina">Masih SMA, Sudah Berzina</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/ijab-kabul-akad-nikah">Lafal Ijab Kabul yang Benar</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar">Selingkuh dengan Ipar</a>.</p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/adakah-sholat-2-rakaat-ketika-suami-hendak-mendatangi-istrinya">Shalat 2 Rakaat Untuk Malam Pertama</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/sebelum-malam-pertama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Kafir Tidak Boleh Dibunuh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wajibnya-memerangi-setiap-orang-kafir</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wajibnya-memerangi-setiap-orang-kafir#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 02:23:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8706</guid>
		<description><![CDATA[Apakah semua orang kafir pada zaman ini halal darahnya? Penindasan yang dilakukan oleh negara super power Amerika dan sekutunya terhadap negara-negara Islam yang lemah, juga intimidasi (tekanan dan ancaman) yang dialami umat Islam di Eropa dan Amerika oleh sebagian warga ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Apakah semua orang kafir pada zaman ini halal darahnya?</h2>
<p>Penindasan yang dilakukan oleh negara super power Amerika dan sekutunya terhadap negara-negara Islam yang lemah, juga intimidasi (tekanan dan ancaman) yang dialami umat Islam di Eropa dan Amerika oleh sebagian warga sipil memunculkan pemahaman bahwa setiap orang <strong>kafir</strong> layak diperangi dan halal darahnya. Benarkah demikian?<br />
<span id="more-8706"></span><br />
<strong>Pertanyaan:</strong><br />
Kami sering membaca pernyataan ulama semisal Ibnu Taimiyah, Ibnu Al-Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, dan selainnya yang menyatakan, siapa yang menghina Allah, rasul-Nya, dan agama Islam atau mempraktikkan sihihr maka halal darahnya. Apakah setiap kafir yang ada sekang halal darahnya? Baik yang sudah sampai dakwah Islam kepadanya ataupun belum.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Tidak Semua Orang Kafir Harus Dibunuh</h3>
<p>Alhamdulillah</p>
<p>Pembicaraan ini kami bagi menjadi tiga bagian:</p>
<p><strong>Pertama</strong><br />
Pertanyaan ‘apakah semua orang kafir halal darahnya pada saat ini. Baik yang sudah sampai dakwah padanya ataupun belum’, maka jawabannya, “Tidak, tidak setiap orang kafir halal darah dan hartanya.</p>
<p>Orang kafir itu terbagi menjadi dua kelompok: orang kafir yang terjaga darah, harta, dan dilarang mengadakan permusuhan dengannya. Pertama yaitu kafir <em>mu’ahad</em> yaitu orang kafir yang menjalin perjanjian antaradirinya dengan kaum muslimin untuk tidak saling berperang dalam rentang waktu yang sama-sama telah disepakati. Sebagaimana perjanjian yang dilakukan oleh Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan kafir Mekah untuk tidak berperang selama sepuluh tahun, dalam perjanjian Hudaibiyah.</p>
<p>Golongan kedua, kafir <em>zhimmi</em> yaitu mereka yang hidup di negara-negara Islam, maka antara mereka dan umat Islam terikat akad <em>dzimmah</em>. Golongan ketiga adalah adalah kafir <em>musta’man</em>, yaitu mereka yang masuk negara Islam dengan jaminan keamanan. Seperti: pebisnis yang masuk ke negeri Islam dengan tujuan perdaganan atau sebab lainnya. Demikian juga orang-orang yang mendapatkan visa untuk masuk negeri Islam sebagai jaminan keamanan untuknya, maka mereka berhak mendapat pembelaan dan tidak boleh dizalimi.</p>
<p>kelompok yang kedua adalah orang kafir yang memerangi umat Islam. Maka tidak ada istilah perjanjian, jaminan keamanan, dan zhimmah antara umat Islam dengan mereka. Inilah yang dikategorikan halal darah dan hartanya.</p>
<p>Imam Al-Qurtubi <em>rahimahullah</em> mengatakan dalam tafsirnya ketika menafsirkan</p>
<p class="arab">وَلاَتَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّباِلْحَقِّ</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar</em>.” (QS. Al-An’am: 151).</p>
<p>Ayat ini melarang membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah baik dari kalangan kafir <em>musta’man</em> atau kafir <em>mu’ahad</em> kecuali dengan sebab yang dapat dibenarkan.” (<em>Jami’u Al-Ahakami Alquran</em>, 7:134).</p>
<p>Syaikh Sa’di mengatakan, “(yang dimaksud ayat tersebut adalah) membunuh orang-orang Islam, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, orang baik atau jahat, dan orang kafir yang telah dilindungi dengan perjanjian. (<em>Tafsir As-Sa’di</em>, Hal.257).</p>
<p>Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga itu telah didapati dalam perjalanan 40 tahun</em>.” (HR. Bukhari no.3166).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maksudnya adalah siapa yang memiliki perjanjian dengan orang Islam, baik itu dikategorikan akad jizyah, gencatan senjata, atau jaminan keamanan dari seorang muslim.” (<em>Fathu Al-Bari</em>, 12: 259).</p>
<p><strong>Kedua </strong><br />
Yang menegakkan hukuman terhadap orang yang murtad atau <em>mu’ahad</em> yang menyelisihi perjanjian adalah penguasa atau yang diserahi kewenangan (bukan ustadz, kiyai, ketua kelompok, ormas dsb.) bukan hak setiap orang yang bisa beresiko memunculkan kerusuhan dan membuka pintu kejelekan serta bencana.</p>
<p>Ibnu Muflih mengatakan, “Tidak boleh membunuh orang tersebut kecuali pemimpin negara atau yang diserahi kewenangan olehnya baik dari kalangan merdeka maupun budak menurut pendapat mayoritas ulama.” (<em>Al-Mubdi’</em>, 9:175).</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Tidak boleh bagi seseorang untuk membunuhnya –orang murtad- walaupun status si murtad ini halal darahnya. Karena eksekusi tersebut merupakan hak pemimpin dan juga eksekusinya dapat menyebabkan kekacauan antar orang (apabila diserahkan pada yang tidak berwenang). Dengan alasan inilah, tidak boleh diserahkan kasus ini kecuali hanya pada kepala negara atau yang diserahi wewenang. (<em>Syahrul Mumti’</em>, 14:455).</p>
<p><strong>ketiga</strong><br />
Ada perbedaan antara vonis kafir yang sifatnya umum (<em>takfir mutlak</em>) atau vonis kafir yang sifatnya individu tertentu (<em>takfir mu’ayyan</em>). Apabila diterapkan vonis kafir terhadap individu, maka harus terpenuhi syarat-syarat dan bebasnya individu tersebut dari hal-hal yang menghalangi jatuhnya vonis.</p>
<p>Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesungguhnya teks-teks yang bernada ancaman di dalam Alquran dan sunah dan keterangan-keterangan dari para ulama mengenai vonis kafir, fasik, dan semacamnya tidak tertuju kepada individu kecuali terdapat syarat-sayarat vonis dapat dijatuhkan dan bebasnya orang tersebut dari penghalang-penghalangnya. Tidak ada perbedaan dalam permasalahn ini, baik masalah pokok atau pun masalah yang bersifat furu’iyah (cabang). (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 10:372).</p>
<p>Contohnya adalah siapa yang mengatakan demikian dan demikian (perkataan-perkataan yang bisa membuat seseorang jadi kafir) maka dia telah kafir. Akan tetapi jika dihadapkan dengan individu tertentu yang mengatakan perkataan kufur atau melakukan suatu perbuatan kufur, maka wajib adanya verifikasi dalam menghukuminya. Bisa jadi orang tersebut tidak mengetauhi hal itu atau salah dalam menafsirkan, atau bisa jadi dia dipaksa melakukan hal itu. Hal ini dapa menghalangi seseorang dari vonis kafir, meskipun ia mengatakan atau berbuat sesuatu yang mengandung kekufuran.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p>Kesimpulannya, masalah vonis kafir dan menghalalkan darah seseorang bukanlah masalah yang ringan. Perlu adanya pembahasan dan ilmu yang mendalam sebagai wujud kehati-hatian dalam permasalahan ini. Tidak seperti apa yang kita saksikan akhir-akhir ini, seseorang yang masih sangat hijau dalam masalah keislaman sudah berani menjatuhkan vonis kafir tanpa mengetahui kaidah-kaidahnya. Hendaknya kita berhati-hati dan selalu menimbang maslahat dan madarat sesuai dengan kaidah syariat serta tidak menyepelekan nasihat-nasihat ulama-ulama <em>rabbani</em>. Mudah-mudahan Allah selalu menunjuki kita dan memperbaiki keadaan Islam dan kaum muslimin.</p>
<p>Diterjemahkan dan disunting dari: <em>http://www.islamqa.com/ar/ref/107105</em></p>
<p>Paragrap pembuka dan kesimpulan dari redaksi <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/memberikan-daging-kurban-kepada-orang-kafir" target="_blank">Hukum Memberi Kurban Kepada Orang Kafir</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/apakah-indonesia-masih-fase-mekkah-sehingga-amalan-tertolak" target="_blank">Apakah Indonesia Masih Fase Mekkah?</a><br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/pesta-perpisahan-orang-kafir" target="_blank">Mengadakan Pesta Perpisahan dengan Orang Kafir</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir" target="_blank">Tolak Ukur Tasyabbuh (Menyerupai) dengan Orang Kafir</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/bekerja-pada-orang-kafir" target="_blank">Bekerja Pada Orang Kafir</a>.<br />
6. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-dengan-orang-kafir" target="_blank">Jual Beli dengan Orang Kafir</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wajibnya-memerangi-setiap-orang-kafir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nauzubillah, Masih SMA Pernah Berzina</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/taubat-dari-zina</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/taubat-dari-zina#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 02:15:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8657</guid>
		<description><![CDATA[Masih SMA Pernah Berzina Saya seorang pelajar SMA, sekarang duduk di kelas 3. Saya telah berbuat zina dengan pacar saya. Apakah dosa zina tak dapat diampuni? I di L Jawaban: Taubat Dari Zina Ananda I di L, dosa zina termasuk ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Masih SMA Pernah Berzina</h2>
<p>Saya seorang pelajar SMA, sekarang duduk di kelas 3. Saya telah berbuat <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a></strong> dengan pacar saya. Apakah dosa zina tak dapat diampuni?</p>
<p>I di L<br />
<span id="more-8657"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Taubat Dari Zina</h3>
<p>Ananda I di L, dosa zina termasuk dosa yang dapat diampuni oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, berdasarkan firman-Nya dalam Surat An-Nisaa&#8217;, ayat ke-48 dan ke-116:</p>
<p class="arab">إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…&#8221;</em></p>
<p>Berkaitan dengan penjelasan ayat di atas, Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;(Dalam ayat ini) Allah mengabarkan kepada kita bahwa orang yang berbuat <em>syirik</em> kepada-Nya (menyekutukan-Nya dengan sesuatu) tidak akan diampuni oleh-Nya.<a href="#_ftn1" rel="nofollow" target="_blank">[1]</a> Allah akan mengampuni dosa-dosa lainnya selain syirik, baik itu dosa besar ataupun dosa kecil. Itupun, jika Allah menghendakinya&#8221; (<em>Taisirul Karimirrohman fi Tafsir Kalami Al-Mannan</em>, 1: 425-426).</p>
<p>Itu pun dengan catatan, jika si pelaku dosa (maksiat) tersebut tidak <em>isti<span style="text-decoration: underline;">h</span>laal</em> (menganggap atau berkeyakinan bahwa perbuatan haram tersebut boleh atau halal dilakukan). Karena orang yang melakukan perbuatan yang haram (maksiat) dengan berkeyakinan bahwa perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang boleh dan halal dilakukan, maka orang ini kafir berdasarkan kesepakatan para ulama (<em>Al Hukmu bi Ghairi Maa Anzalallaahu wa Ushuulut Takfiir, Hal. 28)</em>.</p>
<p>Kami yakin <em>insyaAllah </em>Ananda bukan termasuk orang yang menganggap dan berkeyakinan bahwa perbuatan zina merupakan perbuatan yang halal atau boleh dilakukan. Namun perlu Ananda ketahui pula, bahwa syarat agar dosa zina tersebut diampuni oleh Allah, Ananda harus segera bertaubat dan berdoa memohon ampunan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Karena Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memerintahkan kita semua untuk bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…&#8221;</em> (QS. At Tahriim:8).</p>
<p>Dan Allah berfirman:</p>
<p class="arab">زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p><em>&#8220;…dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.&#8221;</em> (QS. An Nur:31).</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> mencintai orang-orang yang mau bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">&#8230;إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ</p>
<p><em>&#8220;…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.&#8221;</em> (QS. Al Baqarah:222).</p>
<p>Dan Allah Maha Penerima taubat, terlebih lagi jika pelaku dosa tersebut benar-benar dan sungguh-sungguh ingin bertaubat dari maksiat yang pernah ia lakukannya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا</p>
<p><em>&#8220;Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat&#8221;</em> (QS. An Nashr:3).</p>
<p>Bahkan kita diperintahkan oleh Allah agar tidak berputus asa dari ampunan-Nya, sebanyak apapun dosa kita, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ</p>
<p><em>Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”</em> (QS. Az Zumar:53).</p>
<p>Allah pun sangat gembira dengan taubat seorang hamba-Nya, bahkan kegembiraan Allah terhadap taubat seorang hamba melebihi kegembiraan orang yang mendapatkan kembali barang-barangnya yang sebelumnya telah hilang lenyap darinya. Sebagaimana sabda Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">((لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحاً بِتَوْبَةِ أَحَدِكُمْ مِنْ أَحَدِكُمْ بِضَالَّتِهِ إِذَا وَجَدَهَا)).</p>
<p><em>&#8220;Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih bergembira dengan taubat salah seorang dari kalian, daripada kegembiraan salah seorang dari kalian terhadap </em><em>barang-barangnya yang</em><em> hilang ketika ia mendapatkannya kembali&#8221;</em>(HR. Muslim 4:20102 no.2675).</p>
<p>Dan perlu Ananda juga ketahui, bahwa orang yang benar-benar bertaubat kepada Allah dari dosa-dosanya yang pernah ia lakukan, maka ia akan bersih kembali bagaikan orang yang tidak pernah berdosa. Sebagaimana sabda Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">((اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ)).</p>
<p><em>&#8220;Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa, bagaikan orang yang tidak pernah berdosa&#8221;</em>(HR. Ibnu Majah 2:1419 no.4250).</p>
<p>Agar dosa Ananda diampuni Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, Ananda harus benar-benar bertaubat dengan <em>taubat nashuha</em> (taubat yang semurni-murninya). Dan taubat itu dinyatakan benar oleh para ulama, jika terpenuhi syarat-syaratnya.</p>
<p><em>Pertama</em>, harus <em>ikhlash</em> kepada Allah, karena taubat adalah salah satu bentuk ibadah. <em>Kedua</em>, harus merasa sedih dan menyesali perbuatan dosa (maksiat) yang pernah ia lakukannya.</p>
<p><em>Ketiga</em>, harus benar-benar meninggalkan kemaksiatan (perbuatan dosa) tersebut dengan segera.</p>
<p><em>Keempat</em>, harus bertekad penuh dari dalam hatinya untuk tidak akan mengulanginya kembali.</p>
<p>Dan <em>kelima</em>, taubat tersebut dilakukan sebelum waktu taubat ditutup oleh Allah.</p>
<p>Kemudian, di antara upaya agar senantiasa <em>istiqamah</em> (konsisten) dengan taubat, hendaknya Ananda selalu ingat bahwa perbuatan zina adalah dosa besar yang menjijikkan dan sangat buruk akibatnya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَلاَتَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلاً</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk&#8221;</em> (QS. Al Israa&#8217;:32).</p>
<p>Dan Ananda pun harus benar-benar meninggalkan sesuatu yang kini sudah sangat popular dan biasa terjadi, dan merupakan hal yang lumrah di kalangan para remaja yang jauh dari tuntunan dan bimbingan agama yang benar, yang biasa dikenal dengan istilah &#8220;pacaran&#8221;.<em> </em></p>
<p>Karena, dari ayat di atas, Ananda dapat pahami bahwa berpacaran adalah perbuatan haram dan merupakan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena pacaran merupakan sarana terbaik dan jalan yang sangat ampuh untuk mengantarkan pelakunya kepada perbuatan zina.</p>
<p>Perhatikan sabda Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut,</p>
<p class="arab">((لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ&#8230;)).</p>
<p>&#8220;<em>Janganlah seorang berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, kecuali jika wanita tersebut disertai mahramnya…&#8221;</em>.(HR. Bukhari, no. 2844).</p>
<p>Dan beliau bersabda pula,</p>
<p class="arab">((&#8230;أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثُهُمَا الشَيْطَانَ&#8230;)).</p>
<p><em>&#8220;…Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, melainkan yang ketiga dari mereka adalah setan…&#8221;</em>(HR. Tirmidzi, no.2165)</p>
<p>Dari kedua hadis di atas, dapat Ananda pahami bahwa berpacaran hukumnya haram dalam Islam. Karena tidaklah dua insan yang berlainan jenis kelamin dan bukan <em>mahram</em><a href="#_ftn2" rel="nofollow" target="_blank">[2]</a> berdua-duaan, melainkan dapat dipastikan bahwa yang ketiga dari mereka adalah setan. Sebagaimana sabda Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> di atas. Sedangkan setan merupakan musuh yang amat nyata bagi manusia. Ia tidak akan <em>meninggalkan</em> manusia selamat bagitu saja dari perbuatan dosa. Ia berusaha agar manusia tinggal pula bersamanya di neraka kelak <em>na&#8217;uudzu billaah</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk menjadikan setan sebagai musuh kita. Sebagaimana firman-Nya:</p>
<p class="arab">إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُوا حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala&#8221;</em> (QS. Fathir:6).</p>
<p>Dan cobalah Ananda juga renungkan, perhatikan, dan pahami penjelasan para ulama berikut ini.</p>
<p>Al Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Saya tidak tahu dosa yang paling besar setelah membunuh melainkan zina&#8221;.</p>
<p>Al Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>&#8220;Dan kerusakan yang dihasilkan dari perbuatan zina dapat memporak-porandakan kemaslahatan umum. Sesungguhnya tatkala seorang wanita berzina, berarti ia telah memasukkan aib dan hal yang memalukan ke dalam rumah suaminya, atau keluarganya, atau kerabatnya. Mereka semua akan menundukkan kepala mereka karena menanggung malu, (terlebih) jika wanita tersebut hamil dari hasil perbuatan zinanya.</p>
<p>Maka, jika wanita tersebut sampai membunuh bayinya (karena malu), sungguh ia telah menggabungkan antara dua perbuatan dosa besar sekaligus, yaitu berzina dan membunuh. Jika ia sampai hamil dan akhirnya melahirkan, berarti ia telah membawa anak tersebut ke dalam rumah suaminya atau keluarganya, sedangkan anak tersebut sesungguhnya adalah orang asing. Anak tersebut akhirnya mewarisi, padahal dia bukan ahli waris mereka. Anak tersebut bergabung dan menasabkan dirinya kepada mereka, padahal ia bukan keturunan mereka. Dan seterusnya dari kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh perbuatan zina wanita tersebut.</p>
<p>Adapun jika yang berzina seorang laki-laki, maka hal itu mengakibatkan bercampur-baurnya nasab pula. Dan sekaligus ia telah merusak istrinya yang baik-baik. Ia akan membawanya kepada kerusakan-kerusakan lainnya.</p>
<p>Sehingga, perbuatan dosa besar ini benar-benar merusak dunia dan agama, walaupun alam <em>barzakh</em> dan neraka dipenuhi dan subur dengan dosa besar ini! Betapa banyak kerusakan yang dihasilkan dari zina, berupa pelecehan hak-hak dan kezhaliman-kezhaliman lainnya!</p>
<p>Di antara ciri-ciri khas zina; ia mengakibatkan kemiskinan, memperpendek umur, membuat hitam wajah pelakunya, dan menimbulkan kebencian orang-orang kepada pelakunya.</p>
<p>Zina membuat hati pelakunya tercabik-cabik, membuatnya sakit, kalau pun tidak membuatnya mati. Zina mengakibatkan kegundahan, kesedihan, dan ketakutan. Zina menjauhkan pelakunya dari para malaikat, sekaligus mendekatkannya kepada setan-setan.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak ada dosa yang paling besar kerusakannya setelah membunuh, melainkan zina! Oleh karena itu pula, disyariatkan rajam dalam bentuk yang sangat menyakitkan dan menghinakan.</p>
<p>Jika seseorang mendapat kabar bahwa istrinya atau saudarinya terbunuh, dia akan merasa lebih mudah menerimanya daripada ia mendapat kabar istrinya atau saudarinya berzina!.</p>
<p>Ananda renungkanlah baik-baik! Segeralah bertaubat kepada Allah, terlebih lagi umur Ananda masih sangat belia. Janganlah Ananda isi masa muda Ananda dengan kemaksiatan dan perbuatan dosa. Isilah lembaran-lembaran putih masa muda Ananda dengan memperbanyak ibadah dan ketaatan kepada Allah, menuntut ilmu agama yang bermanfaat, dan berusaha untuk berprestasi di sekolah Ananda. Ingatlah selalu bahwa kita tidak tahu kapan kita akan mati, di mana kita akan mati, dan dalam keadaan bagaimana kita mati. Ingatlah pula bahwa kehidupan di dunia hanyalah sebentar dan sementara. Kehidupan di dunia bukan untuk bersenang-senang dan berfoya-foya. Kesempatan hidup di dunia hanyalah sekali saja. Oleh karena itu, gunakanlah kesempatan ini untuk mencari bekal dalam menghadap Allah kelak, dengan beribadah dengan baik sesuai dengan tuntunan syariat-Nya dan ajaran Rasul-Nya <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Kehidupan yang hakiki dan abadi hanyalah di akhirat kelak.</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">((لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ)).</p>
<p><em>&#8220;Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ia ditanya tentang; umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia keluarkan, dan tubuhnya untuk apa ia binasakan&#8221;</em> (HR. Tirmidzi, no.2471).</p>
<p>Sekali lagi! Renungkanlah nasehat di atas dan praktekkan segera. Semoga Ananda dimudahkan oleh Allah dalam melakukan hal-hal yang diridhai-Nya. Amin.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Abu Abdillah Arief B. bin Usman Rozali</strong></p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Majalah As-Sunnah</em></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>****</p>
<p><a href="#_ftnref1" rel="nofollow" target="_blank">[1]</a> Maksudnya; selama pelaku kesyirikan tersebut belum atau tidak bertaubat hingga ia meninggal dunia. Adapun jika ia bertaubat dari kesyirikannya sebelum ia meninggal dunia, maka Allah pun akan mengampuni dosanya. Lihat <em>Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan</em> (1:426).<br />
<a href="#_ftnref2" rel="nofollow" target="_blank">[2]</a> Yang dimaksud dengan <em>mahram</em> adalah seorang laki-laki muslim yang berakal dan <em>baligh</em>, yang memiliki hubungan kekerabatan dengan si wanita dari tiga sisi.<br />
<strong><em>Pertama</em></strong>, dari sisi nasab, seperti; ayahnya, kakeknya, kakak, atau adik laki-lakinya, pamannya, keponakannya, dan seterusnya.<br />
<strong><em>Kedua</em></strong>, dari sisi persusuan, seperti saudara sepersusuannya, ayah persusuannya, dan seterusnya.<br />
<strong><em>Ketiga</em></strong>, dari sisi hubungan mahram dengan sebab pernikahan yang sah, seperti mertuanya, menantunya, anak tirinya.<br />
Lihat <em>Jaami&#8217;u Ahkaamin Nisaa&#8217;</em> (2:454-455).</p>
<h3>Materi terkait:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar" target="_blank">Aku Selingkuh Dengan Ipar</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/istri-selingkuh" target="_blank">Istri Selingkuh</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/berbicara-lewat-telepon-chatting-atau-ber-sms-apakah-termasuk-zina" target="_blank">Telpon, SMS, Chatting Ria dengan Lawan Jenis, Apakah Termasuk Zina</a>.</p>
<p>4. <a href="../solusi-pacar-hamil" rel="nofollow" target="_blank">Bingung, Pacarku Hamil</a>.</p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-kasus-pemerkosaan" target="_blank">Hukum Pemerkosa</a>.</p>
<p>6. <a href="http://konsultasisyariah.com/status-anak-hasil-hubungan-di-luar-nikah" target="_blank">Status Anak Hasil Zina</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/taubat-dari-zina/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beramal Supaya Banyak Rezeki</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/beramal-supaya-banyak-rezeki</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/beramal-supaya-banyak-rezeki#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 02:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[cara cepat dapat rezeki]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki halal]]></category>
		<category><![CDATA[topeng monyet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8247</guid>
		<description><![CDATA[Beramal Supaya Banyak Rezeki Assalamu&#8217;alaikum warahmatullah wabarakaatuh Langsung to the point saja. Ustadz, saya masih bingung tentang ikhlas. Apabila seseorang mengerjakan salat, puasa, salat tahajud, agar Allah mengabulkan doanya -misal berdoa untuk lulus ujian, gaji naik, menjadi kaya (banyak rezeki), ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Beramal Supaya Banyak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rezeki" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rezeki">Rezeki</a></h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum warahmatullah wabarakaatuh</em></p>
<p>Langsung <em>to the point</em> saja. Ustadz, saya masih bingung tentang ikhlas. Apabila seseorang mengerjakan salat, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a>, salat tahajud, agar Allah mengabulkan doanya -misal berdoa untuk lulus ujian, gaji naik, menjadi kaya (banyak <strong>rezeki</strong>), berpuasa agar sehat dan hemat, berwudu guna menghilangkan kotoran dan mengaktifkan tubuh- apakah amalan itu bisa dikatakan ikhlas?</p>
<p>Sebab di dalam Surat Hud ayat 15-16 dikatakan, (niat yang demikian) bisa menghapus seluruh amalan dan bisa dikategorikan syirik besar. Mohon penjelasannya. <em>Jazakallah khairan</em>.</p>
<p>Abdullah<br />
<span id="more-8247"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Beramal Supaya Banyak Rezeki</h3>
<p><em>Wa &#8216;alaikumussalam warahmatullah wabarakaatuh</em></p>
<p>Itu bukan ikhlas, karena tujuannya beribadah adalah untuk mendapatkan balasan di dunia. Sebagaimana firman Allah,</p>
<p class="arab">(مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16</p>
<p>Siapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka akan Kami berikan imbalan amal mereka di dunia dan tidak dikurangi. Mereka itulah orang-orang yang hanya akan mendapatkan neraka di akhirat dan terhapuslah segala yang telah mereka lakukan dan batal perbuatan yang telah mereka lakukan.&#8221; (QS. Hud: 15 &#8211; 16).</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Aris Munandar, M.A.</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/memperbaiki-ekonomi-rumah-tangga" target="_blank">Cara Memperbaiki Ekonomi Keluarga</a>.</p>
<p>2. <a rel="nofollow" href="http://pengusahamuslim.com/terbebas-dari-utang-dengan-pesugihan-alfatihah" target="_blank">Hati-hati dengan Tipuan Pesugihan Al-Fatihah</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/mencari-rezeki-dengan-topeng-monyet" target="_blank">Mencari Rezeki dengan Topeng Monyet</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>rezeki</strong>, <strong>cara cepat dapat rezeki</strong>, <strong>topeng monyet</strong>, <strong>rezeki halal</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/beramal-supaya-banyak-rezeki/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ebook Gratis: Jurus Jitu Mendidik Anak</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ebook-cara-mendidik-anak</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ebook-cara-mendidik-anak#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 03:55:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdullah Zaen, M.A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Ebook]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[anak sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[daging kurban]]></category>
		<category><![CDATA[ebook cara mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[ebook islami]]></category>
		<category><![CDATA[ebook kurban]]></category>
		<category><![CDATA[ebook panduan kurban]]></category>
		<category><![CDATA[jual kambing kurban]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8237</guid>
		<description><![CDATA[Ebook Gratis: Jurus Jitu Mendidik Anak Judul Buku: Jurus Jitu Mendidik Anak Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Di bulan Ramadhan tahun ini (1432 H, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ebook" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ebook">Ebook</a> Gratis: Jurus Jitu Mendidik Anak</h2>
<p>Judul Buku:</p>
<p><strong>Jurus Jitu Mendidik Anak</strong></p>
<p>Penulis:</p>
<p><strong>Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.</strong><br />
<span id="more-8237"></span><br />
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.</p>
<p>Di bulan Ramadhan tahun ini (1432 H, <em>ed</em>.), kami mendapat amanah untuk mengimami <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> Tarawih dan Subuh di Masjid Agung Darussalam Purbalingga selama lima hari. Masih dalam rangkaiannya, kami ditugaskan untuk memberikan kuliah Tarawih dan kuliah Subuh. Kebetulan materi pengajian Tarawih seputar pilar-pilar penting dalam mendidik anak. Karena banyaknya permintaan dari jama‟ah, bahan materi tersebut kami kumpulkan dalam bentuk makalah yang kami beri judul “Jurus Jitu Mendidik Anak”. Tentu masih terlalu jauh dari format sempurna, namun semoga yang sederhana ini bisa bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p>Di dalam <strong>ebook</strong> ini juga dibahas tentang; Bagaimana cara makan, minum, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tidur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tidur">tidur</a>, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.</p>
<p>Dalam hal ini Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mempraktikkannya sendiri, antara lain ketika beliau bersabda menasihati seorang anak kecil,</p>
<p><em>&#8220;Nak, ucapkanlah bismillah (sebelum engkau makan) dan gunakanlah tangan kananmu.&#8221;</em> (H.r. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah).</p>
<p>Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan<br />
anak lainnya.</p>
<p>Silahkan download ebooknya pada link di bawah ini:</p>
<h3>Ebook Jurus Jitu Mendidik Anak (Versi PDF): <a class="downloadlink" href="http://cdn.konsultasisyariah.com/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=45" title=" downloaded 1955 times" >Jurus Jitu Mendidik Anak (Versi PDF) (1955)</a></h3>
<h3>Ebook Jurus Jitu Mendidik Anak (Versi ZIP): <a class="downloadlink" href="http://cdn.konsultasisyariah.com/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=44" title=" downloaded 960 times" >Jurus Jitu Mendidik Anak (Versi ZIP) (960)</a></h3>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Ebook-ebook gratis yang bermanfaat bagi Anda:</p>
<p>1.<a href="http://konsultasisyariah.com/ebook-panduan-kurban" target="_blank"> </a><a rel="nofollow" href="../ebook-shalat" target="_blank">Ebook Gratis “Mengapa Kita Shalat?”</a>.</p>
<p>2. <a rel="nofollow" href="../ebook-berdakwah-dengan-akhlak-mulia" target="_blank">Ebook Berdakwah dengan Akhlak Mulia</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/ebook-panduan-kurban" target="_blank">Ebook Panduan Kurba</a>n.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>jual kambing kurban</strong>, <strong>ebook panduan kurban</strong>, <strong>ebook kurban</strong>, <strong>daging kurban</strong>, <strong>anak sholeh</strong>, <strong>ebook islami</strong>, <strong>kurban</strong>, <strong>akikah</strong>, <strong>ebook cara mendidik anak</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ebook-cara-mendidik-anak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selingkuh dengan Ipar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 02:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[iparku]]></category>
		<category><![CDATA[iparku cantik]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh dengan ipar]]></category>
		<category><![CDATA[zina dengan ipar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8037</guid>
		<description><![CDATA[Selingkuh dengan Ipar Pertanyaan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum. Saya sudah 8 tahun berumah tangga dan dikaruniai satu anak laki-laki berumur 6 tahun, semenjak menikah kami tinggal bertiga dengan adik perempuan istriku (ipar). Singkat cerita perselingkuhanpun terjadi sampai hari ini dan isterikupun mengetahuinya. Aku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/selingkuh-dengan-ipar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with selingkuh dengan ipar">Selingkuh dengan Ipar</a></h2>
<p>Pertanyaan, <em>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum</em>. Saya sudah 8 tahun berumah tangga dan dikaruniai satu anak laki-laki berumur 6 tahun, semenjak menikah kami tinggal bertiga dengan adik perempuan istriku (<strong>ipar</strong>). Singkat cerita perselingkuhanpun terjadi sampai hari ini dan isterikupun mengetahuinya. Aku tahu istriku marah, sakit hati dan benci dengan perselingkuhan ini tapi dia tetap bertahan.Ternyata dibelakang aku, diapun berselingkuh dan 3 minggu yang lalu dia mengaku telah berzina dengan selingkuhanya, kini dia menyesali perbuatanya dan bertaubat takkan mengulanginya lagi dan diapun meminta agar aku menikahi adiknya (selingkuhanku) tanpa harus menceraikan dia (istriku). Mohon bantuan nasihatnya. <em>Wassalam</em>.&#8221;</p>
<p><em>Rizqi (rXXXXX@ymail.com)</em><br />
<span id="more-8037"></span></p>
<h3>Berzina dengan adik ipar, bolehkah dinikahi?</h3>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam</em>.</p>
<p><em>Allahu akbar&#8230;</em><br />
Keluarga Anda di zona carut marut, rusak berkeping-keping&#8230; Anda dan istri Anda melakukan dosa yang sangat besar. Andaikan di negara kita ditegakkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> islam maka Anda berdua akan dihukum rajam, dilempari batu, dengan dikubur setengah badan sampai mati. Itu penebus dosa pelaku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a> yang sudah menikah. Dosanya bisa ditebus dengan hukuman, bukan dengan menikahi pasangan selingkuhannya. Karena itu, segeralah bertaubat semampu Anda dan istri Anda. Segera bersimpuh kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Jika Anda tidak mendapatkan hukuman tersebut di dunia, tidak ada jaminan Anda akan selamat dari hukuman di akhirat.</p>
<p>Selanjutnya,<br />
<strong>1.</strong> Anda <strong>HARAM</strong> menikahi adik istri Anda. Karena seorang lelaki TIDAK boleh menikahi dua orang wanita kakak-beradik. Allah menyebutkan beberapa orang yang tidak boleh dinikahi dalam surat an-Nisa, salah satunya Allah menyatakan,</p>
<p class="arab">وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْن الْأُخْتَيْنِ</p>
<p><em>&#8220;(Kalian tidak boleh) menggabungkan dua perempuan bersaudara&#8230;&#8221;</em> (QS. an-Nisa: 23)</p>
<p>Maksudnya, tidak boleh menikahi dua wanita bersaudara, baik saudara kandung maupun sepersusuan.</p>
<p>Anda hanya bisa menikahi adik ipar Anda, jika: (a). Anda telah menceraikan istri Anda dan telah selesai masa iddah atau (b). Istri Anda telah meninggal dunia.</p>
<p><strong>2.</strong> Saudara ipar bukanlah <em>mahram</em>. Karena itu, saudara ipar tidak boleh berdua-duaan dalam satu tempat dengan suami kakaknya atau istri kakaknya. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما.</p>
<p><em>&#8220;Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan adalah orang yang ketiga.&#8221;</em> (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban 1/436, dan dishahihkan oleh Al-Albani)</p>
<p>Anda jangan merasa aman dalam posisi semacam ini. Karena setan akan berupaya keras, agar anda berdua bisa berzina. Waspadalah&#8230;</p>
<p><strong>3.</strong> Adik ipar Anda tidak boleh tinggal bersama dengan keluarga Anda. Ada banyak madharat, ketika saudara ipar, tinggal bersama saudara iparnya. Diantara,<br />
a. Memperbesar peluang terjadinya perselingkuhan.<br />
b. Membuka kesempatan berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. padahal jauh-jauh hari Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إياكم والدخول على النساء</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kalian memasuki tempat kediaman wanita&#8221;</em></p>
<p>Kamudian ada sahabat anshar yang bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, bagaimana dengan saudara ipar? Beliau menjawab,</p>
<p class="arab">الحمو الموت</p>
<p><em>&#8220;Saudara ipar itu kematian.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebut saudara ipar dengan kematian, karena masyarakat luar tidak akan berburuk sangka ketika ada saudara ipar yang tinggal bersama istri kakaknya atau suami kakaknya. Sementara mereka sangat berpeluang utk melakukan zina. Sehingga kewaspadaan mereka untuk berzina sangat longgar. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>4. </strong>Segeralah untuk memperbaiki keluarga Anda. menjaga kehormatan masing-masing. Karena bisa jadi, seseorang yang melakukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/selingkuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with selingkuh">selingkuh</a>, dia akan mendapatkan hukuman dengan perlakuan yang sama dari pasangannya (istri atau suaminya). Suami yang main <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/selingkuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with selingkuh">selingkuh</a>, bisa jadi dia dihukum dengan perselingkuhan istrinya, dan sebaliknya. Karena itu, sebagian ulama mengatakan,</p>
<p class="arab">عفتك عفت زوجتك</p>
<p>&#8220;Sikapmu yang menjaga kehormatan akan dibalas dengan sikap istrimu yang juga menjaga kehormatan.&#8221;</p>
<p><strong>5.</strong> Jika ini belum menyebar, buat kesepakatan agar masing-masing tidak menceritakan kepada orang lain. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ</p>
<p><em>“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.”</em> (HR. Malik dalam <em>Al-Muwatha</em>’, no. 1508)</p>
<p>Dengan masing-masing berusaha bertaubat dan memperbaiki diri, semoga Allah segera memperbaikinya.</p>
<p><strong>Oleh Ustadz <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ammi-nur-baits" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ammi nur baits">Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berkaitan masalah keluarga dan pernikahan:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../ditolak-calon-mertua" target="_blank">Ditolak Calon Mertua</a>.</p>
<p>2. <a rel="nofollow" href="../siapakah-wali-nikah-dari-anak-hasil-zina" target="_blank">Siapakah Wali Nikah Anak Zina</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/istri-selingkuh" target="_blank">Istri Selingkuh dan Solusinya</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/haruskah-saya-ceraikan-istri-yang-berselingkuh" target="_blank">Haruskah Aku Ceraikan Istri yang Selingkuh?</a></p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/orang-tua-berselingkuh" target="_blank">Orang Tuaku Berselingkuh</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>iparku</strong>, <strong>selingkuh</strong>, <strong>selingkuh dengan ipar</strong>, <strong>zina dengan ipar</strong>, <strong>iparku cantik</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ebook Berdakwah dengan Akhlak Mulia</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ebook-berdakwah-dengan-akhlak-mulia</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ebook-berdakwah-dengan-akhlak-mulia#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 06:37:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdullah Zaen, M.A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[download ebook islami]]></category>
		<category><![CDATA[ebook]]></category>
		<category><![CDATA[ebook dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[ebook islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7993</guid>
		<description><![CDATA[Ebook Berdakwah dengan Akhlak Mulia Judul Buku: Berdakwah dengan Akhlak Mulia Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. Segala puji bagi Allah ta&#8217;ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyata Beberapa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ebook" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ebook">Ebook</a> Berdakwah dengan Akhlak Mulia</h2>
<p><strong>Judul Buku:</strong> Berdakwah dengan Akhlak Mulia</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.<br />
<span id="more-7993"></span><br />
Segala puji bagi Allah ta&#8217;ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</em></p>
<h3>Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyata</h3>
<p>Beberapa saat lalu, penulis diceritai adik ipar kisah seorang mantan preman yang mendapatkan hidayah mengenal ajaran Islam yang benar. Katanya, dulu ketika masih preman, ia amat dibenci masyarakat kampungnya; karena ke-rese-annya; gemar mabuk, berjudi,<br />
mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun, tidak ada seorangpun yang berani menegurnya; karena takut mendapatkan hadiah bogem mentah.</p>
<p>Dengan berjalannya waktu, Allah <em>ta&#8217;ala</em> berkenan mengaruniakan hidayah kepada orang tersebut. Dia mengenal ajaran Ahlus Sunnah dan intens dengan mengikuti pengajian. Namun demikian, setelah ia berubah menjadi orang yang salih dan alim, ia tidak kemudian disenangi masyarakatnya, malahan mereka tetap membencinya. Padahal ia tidak lagi mempraktikkan tindak-tindak kepremanannya yang dulu. Bahkan, kalau dulu masyarakatnya tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahinya, bahkan menyidangnya pula.</p>
<p>Apa pasalnya? Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat.</p>
<p>Dulu dibenci karena kepremanannya, sekarang dibenci karena &#8216;kesalihan&#8217;nya…</p>
<p>Haruskah orang yang mengamalkan ajaran <em>ahlussunnah</em> dibenci masyarakatnya? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya?</p>
<p>Memang betul seorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Sedangkan di zaman Rasul<em> shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> dan kurun ulama salaf saja, ada tantangan bagi pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, di mana kejahatan lebih mendominasi dunia dibanding kebaikan.</p>
<p>Namun yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut Sunnah Nabi, murni diakibatkan kekokohan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau dikarenakan kekurangbisaan mereka dalam<br />
membawa diri, kekurangpiawaian dalam menjelaskan prinsip dan kekurangpandaian dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dengan penerapan akhlak mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan?</p>
<p>Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominan.</p>
<p>Dalam<strong> ebook</strong> makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allah semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut.</p>
<h3>Download ebook pada link dibawah ini:</h3>
<p>Untuk <strong>Ebook Berdakwah dengan Akhlak Mulia</strong> versi PDF: <a class="downloadlink" href="http://cdn.konsultasisyariah.com/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=39" title=" downloaded 668 times" >Berdakwah dengan Akhlak Mulia (Versi PDF) (668)</a></p>
<p>Untuk<strong> Ebook Berdakwah dengan Akhlak Mulia</strong> versi ZIP: <a class="downloadlink" href="http://cdn.konsultasisyariah.com/wp-content/plugins/download-monitor/download.php?id=38" title=" downloaded 372 times" >Berdakwah dengan Akhlak Mulia (Versi ZIP) (372)</a></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>ebook</strong>, <strong>download ebook islami</strong>, <strong>ebook islami</strong>, <strong>ebook dakwah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ebook-berdakwah-dengan-akhlak-mulia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obat Penurun Syahwat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/obat-penurun-syahwat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/obat-penurun-syahwat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 02:08:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[obat syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[penurun syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[syahwat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7983</guid>
		<description><![CDATA[Obat Penurun Syahwat Pertanyaan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum. Maaf tadz, mau tanya, &#8216;Jika ada seorang pemuda yang belum siap nikah, bolehkah orang ini mengkonsumsi obat tertentu untuk menurunkan syahwatnya? Jazaakumullah khairan. Abu Ahmad jogja (tegXXXXXX@yahoo.com) Obat Penurun Syahwat Jawaban Syaikh Abdul Aziz Ibnu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Obat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/penurun-syahwat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with penurun syahwat">Penurun Syahwat</a></h2>
<p>Pertanyaan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum. Maaf <em>tadz</em>, mau tanya, &#8216;Jika ada seorang pemuda yang belum siap nikah, bolehkah orang ini mengkonsumsi obat tertentu untuk menurunkan syahwatnya?<em> Jazaakumullah khairan</em>.</p>
<h3><em>Abu Ahmad jogja (tegXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7983"></span><br />
Obat Penurun <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/syahwat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with syahwat">Syahwat</a></h3>
<p><strong>Jawaban Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz <em>rahimahullah</em>:</strong><br />
Tidak mengapa melakukan hal itu. Tetapi tidak boleh mengkonsumsi obat yang bisa memutus <strong>syahwat</strong> (untuk kebiri). Adapun sebatas meringankan syahwat maka ini dibolehkan, mengingat adanya kemaslahatan yang ditimbulkan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>telah mengabarkan bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> bisa meringankan syahwat, sebagaimana sabda beliau,</p>
<p class="arab">يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء</p>
<p>&#8220;Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang memiliki kemampuan, hendaknya segera menikah. Siapa yang belum mampu maka dia harus puasa, karena itu bisa menjadi pengebiri baginya&#8221; (H.r. Bukhari dan Muslim)<br />
<strong>Sumber:</strong> <em>http://www.binbaz.org.sa/mat/1625</em></p>
<p>Keterangan beliau, tidak boleh mengkonsumsi obat untuk mematikan syahwat, berdasarkan riwayat dari Ibn Mas&#8217;ud radhiallahu &#8216;anhu, beliau menceritakan: Kami pernah melakukan safar bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan kami adalah para pemuda. Kemudian kami bertanya: Wahai Rasulullah, bolehkah kami mengebiri diri? Beliaupun melarangnya. (H.r. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berkaitan tentang syahwat:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/sering-tergoda" target="_blank">Sering Tergoda Wanita</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/suami-lihat-aurat-wanita-timbul-syahwat" target="_blank">Melihat Aurat Wanita dan Timbul Syahwat</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>penurun syahwat</strong>, <strong>syahwat</strong>, <strong>obat syahwat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/obat-penurun-syahwat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suami Malas Shalat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/suami-malas-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/suami-malas-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 00:18:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalatlah]]></category>
		<category><![CDATA[suami durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[suami edan]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[suamiku selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7929</guid>
		<description><![CDATA[Suami malas shalat Pertanyaan, &#8220;Ustadz, ana mau tanya bagaimana mensikapi suami yang malas shalat, sementara istrinya wanita muslimah yang taat dan bagaimana kedudukan ana sebagai istri selama bertahun-tahun menunggu tetapi tidak ada perubahan.&#8221; Solusi suami malas shalat: &#8220;Kita memohon kepada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Suami malas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a></h2>
<p>Pertanyaan, &#8220;Ustadz, ana mau tanya bagaimana mensikapi suami yang malas <strong>shalat</strong>, sementara istrinya wanita muslimah yang taat dan bagaimana kedudukan ana sebagai istri selama bertahun-tahun menunggu tetapi tidak ada perubahan.&#8221;<br />
<span id="more-7929"></span></p>
<h3>Solusi suami malas shalat:</h3>
<p>&#8220;Kita memohon kepada Allah agar menakdirkan kebaikan bagimu, memantapkan langkah-langkahmu, dan memberikan ilham kepada kita semua kepada petunjuk dan melindungi kita dari keburukan jiwa-jiwa kita dan dari kejelekan amAl-amal kita. Selamat datang di majalah kita ini, kami sangat bergembira dengan perhatianmu terhadap suami. Ini adalah termasuk akhlakmu yang baik dan harta simpananmu yang berharga.</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa hidup bersama dengan seorang suami yang tidak shalat adalah sebuah petaka damn kemungkaran yang tidak diperbolehkan secara syari, apalagi anda telah bersabar selama ini dalam masa yang panjang. Shalat memang perkara berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Shalat adalah hubungan langsung antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Shalat adalah amal yang pertama kali akan dihisab. Shalat adalah timbangan yang dengannya kita bisa mengetahui agama dan kebaikan seseorang. Barangsiapa menjaganya, maka dia memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa tidak menjaganya maka dia tidak memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat, dan akan dikumpulkan bersama Fir&#8217;aun, Haman, Qorun dan Ubay ibn Khalaf.</p>
<p>Shalat adalah sebuah kewajiban yang tidak akan gugur dari seorang manusia selagi dia bernafas dan punya ingatan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda kepada &#8216;Imran ibn Husain <em>radhiallahu ‘anhu</em>:</p>
<p class="arab">صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِداً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلىَ جَنْبٍ</p>
<p><em>“<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalatlah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalatlah">Shalatlah</a> dalam keadaan berdiri, jika anda tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan (berbaring) di atas lambung.”</em> (Al-Bukhari, 1006)</p>
<p>Jika hal demikian diperuntukkan bagi si sakit, maka bagaimana pula dengan orang-orang yang sehat? Bagaimana pula dengan seorang laki-laki yang selayaknya menjaga shalat berjama&#8217;ah? Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu ‘anhu</em> telah berkata:</p>
<p class="arab">إِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ سُنَنَ الْهُدَى، وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلاَةَ فِيْ جَمَاعَةٍ، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِيْ بَيْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّيْ هَذَا الْمُنَافِقُ فِيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا عَلىَ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ  وَمَا يَتَخَلًَّفُ عَنِ الصَّلاَةِ فِيْ جَمَاعَةٍ إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتٰى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyari&#8217;atkan kepada nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya termasuk sunnah-sunnah petunjuk adalah shalat berjama&#8217;ah. Dan seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana orang munafik ini shalat di dalam rumahnya maka sungguh kalian telah meninggalkan sunnah nabi kalian, dan seandainya kalian meninggalkan sunnah nabi kalian maka pastilah kalian tersesat. Sungguh aku telah melihat kami di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat berjama&#8217;ah melainkan orang munafik yang jelas-jelas munafik. Sungguh ada seorang laki-laki yang didatangkan dengan dipapah di antara dua orang laki-laki hingga diberdirikan di dalam barisan.”</em> (H.r. Ahmad, 3616)</p>
<p>Sungguh perhatian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap shalat telah mencapai derajat yang agung hingga beliau ingin membakar rumah orang-orang yang tidak mengikuti shalat berjama&#8217;ah. Beliau tidak mengurungkan keinginan tersebut kecuali adanya para wanita, gadis pingitan dan anak-anak di dalam rumah-rumah mereka.</p>
<p>Bersamaan dengan itu, kami berharap kepadamu untuk memberikan kesempatan terakhir kepada suamimu agar dia beristiqamah, jika tidak maka perceraian adalah lebih utama dikarenakan dengan hal tersebut telah jelaslah kekufuran dan kesengajaannya meninggalkan shalat. Kami akan membantu anda dengan izin Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan beberapa perkara yang membantumu untuk memperbaikinya. Di antara hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1.</strong> Menyandarkan diri kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, tunduk kepada-Nya demi hidayah kepada laki-laki tersebut, dan yang benar adalah kita berdo&#8217;a untuk seseorang di waktu malam, dan mendakwahinya di waktu siang, sesuai dengan kadar keikhlasan dan kejujuran kita, maka kebaikan dan pengabulan akan datang.</p>
<p><strong>2. </strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">Mengambil</a> jalan masuk yang baik menasihatinya, mengetengahkan kata-kata yang indah, memilih waktu-waktu yang sesuai, dan sebutkanlah kebaikan-kebaikan serta sifat-sifatnya yang baik. Dan berusahalah membantunya untuk mempersiapkan kepercayaan dirinya dengan mengatakan, misalnya: “Anda alhamdulillah adalah seorang yang baik, anda bertanggung jawab, dan manusia menyebutmu dengan kebaikan, dan akan sangat bagus lagi kalau anda konsisten mengerjakan shalat lima waktu. Karena sesungguhnya aku senang melihat suamiku keluar seperti laki-laki lain bersama keluarganya menuju rumah-rumah Allah.”</p>
<p><strong>3. </strong>Mendorong orang-orang shalih dari mahrammu untuk menziarahinya dan mengajaknya shalat tanpa dia merasa bahwa hal tersebut adalah sebuah kesepakatan di antara kalian. Dan lebih memilih waktu-waktu shalat dalam ziarah hingga dia bisa pergi ke masjid bersama mereka.</p>
<p><strong>4.</strong> Membeli kaset-kaset, dan buku-buku kecil yang menjelaskan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> orang yang meninggalkan shalat, serta hukuman orang yang meremehkan pelaksanaan shalat pada waktunya, dan meletakkan kaset-kaset serta buku-buku kecil tersebut pada tempat yang biasa dia jangkau dengan tangannya.</p>
<p><strong>5.</strong> Berambisi agar dia konsisten dalam mengerjakan shalat lima waktu untuk pertama kalinya, kemudian mendakwahinya agar mendirikannya dengan kekhusyu&#8217;annya, rukuknya dan tumakninahnya. Dan hal yang demikian tidak akan terjadi kecuali dengan rutin mengerjakan shalat. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah memuji orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya dengan berfirman:</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.”</em> (Q.s. Al-Mukminun: 9)</p>
<p>Dikarenakan rutin dan menjaga shalat akan menghantarkan kepada kekhusyukan, dan shalat tidak akan bermanfaat kecuali dengan khusyuk.</p>
<p><strong>6.</strong> Jadikanlah waktu-waktu makan setelah waktu-waktu shalat.</p>
<p><strong>7.</strong> Menjelaskan bahayanya meninggalkan shalat tepat pada waktunya. Mush&#8217;ab ibn Sa&#8217;d ibn Abi Waqqash <em>radhiallahu ‘anhu</em> pernah berkata kepada bapaknya saat membaca firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p><em>“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,”</em> (QS. Al-Ma&#8217;un: 5)</p>
<p>Dia berkata, “<em>Wahai bapakku, apakah mereka adalah orang-orang yang tidak shalat?” Maka berkatalah Sa&#8217;d: “Tidak, seandainya mereka meninggalkan shalat, maka mereka telah kafir, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang mengakhirkan (menunda)nya dari waktunya.”</em> (H.r. Al-Bazzar 1145, dan Thabarani dalam <em>Al-Aushath</em> 2276)</p>
<p><strong>8.</strong> Menggunakan sarana-sarana dan senjata berpengaruh yang dimiliki oleh seorang wanita untuk memaksanya agar rutin mengerjakan shalat, seperti menolak makan bersamanya, duduk dengannya, serta menolak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tidur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tidur">tidur</a> di pembaringan, dan tidak ada larangan menyampaikan keinginan cerai jika dia tidak menjaga pelaksanaan shalat.</p>
<p>Demikianlah kita memohon taufik dari Allah untukmu.</p>
<p><strong>Referensi:</strong><em> http://qiblati.com/menghadapi-suami-yang-tidak-shalat.html</em> <strong>(Dipublikasikan ulang oleh Konsultasi Syariah dengan sedikit perubahan tata bahasa)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel penting seputar suami dan istri:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/suami-sayang-tidak-cinta" target="_blank">Suami tidak Sayang, Karena Wajahku Jelek</a>.</p>
<p>2. <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/istri-tidak-mau-berjilbab-dan-tidak-shalat" target="_blank">Jika Istri tidak Mau Berjilbab dan Mengerjakan Shalat</a>.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>suami istri</strong>, <strong>suami durhaka</strong>, <strong>shalatlah</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>suami edan</strong>, <strong>suamiku selingkuh</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/suami-malas-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keikhlasan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keikhlasan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keikhlasan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 23:43:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7362</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz,saya ada beberapa pertanyaan: Jika seorang ikhwan (lelaki muslim, red.) khusus bangun untuk shalat lail dengan tujuan agar dimudahkan dalam menemukan jodoh (menikah) dan mendapatkan calon istri yang cantik lagi baik agamanya, apakah yang demikian ini termasuk ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Ustadz,saya ada beberapa pertanyaan:</p>
<ol>
<li> Jika seorang ikhwan (lelaki muslim,<em> red.</em>) khusus bangun untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> lail dengan tujuan agar dimudahkan dalam menemukan jodoh (menikah) dan mendapatkan calon istri yang cantik lagi baik agamanya, apakah yang demikian ini termasuk tidak ikhlas?</li>
<li>Sama dengan kasus yang pertama, ada karyawan yang diajukan untuk naik jabatan, kemudian karyawan tersebut banyak mengerjakan shalat lail dan<em> dhuha</em> agar naik jabatan. Apakah yang demikian ini termasuk tidak ikhlas?</li>
</ol>
<p><em>Jon (jhony**@***.com)</em><br />
<span id="more-7362"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa&#8217;alaikumussalam.</p>
<p>Ya, termasuk tidak ikhlas. Baca Q.s. Hud, ayat 15.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keikhlasan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Fitrah untuk Ahli Maksiat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pelaku-maksiat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pelaku-maksiat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 01:33:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7072</guid>
		<description><![CDATA[Jika zakat fitri diberikan untuk ahli maksiat Bolehkah memberi zakat kepada orang yang enggan shalat, tidak pernah shalat, atau ahli maksiat? Penjelasan masalah alokasi zakat untuk ahli maksiat: Ada beberapa golongan orang yang menyandarkan diri pada Islam: Muslim yang taat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Jika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a> fitri diberikan untuk ahli maksiat<strong><br />
</strong></h2>
<p>Bolehkah memberi <strong>zakat</strong> kepada orang yang enggan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>, tidak pernah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>, atau ahli maksiat?</p>
<h3>Penjelasan masalah alokasi zakat untuk ahli maksiat:</h3>
<p>Ada beberapa golongan orang yang menyandarkan diri pada Islam:</p>
<ol>
<li><strong>Muslim yang taat dan menjalankan syariat Islam</strong>. Tidak diragukan lagi bahwa golongan ini yang pantas diberikan zakat. Jadi, seharusnya <a title="waktu menunaikan zakat fitrah" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dan-waktunya" target="_blank">zakat</a> diserahkan kepada orang yang benar-benar memerhatikan shalat dan ibadah wajib lainnya.</li>
<li><strong>Termasuk ahli bid’ah, dan bid’ahnya adalah bid’ah yang menyebabkan pelakunya menjadi kafir</strong>. Orang seperti ini tidak boleh diberi <a title="Zakat Fitrah dengan Uang" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang" target="_blank"><em>zakat</em></a>. Misalnya, orang yang berbuat bid’ah dengan mengakui ada nabi ke-26 (nabi setelah Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,<em> ed.</em>).</li>
<li><strong>Ahli bid’ah (yang bid&#8217;ahannya tidak menyebabkan pelakunya menjadi kafir) dan ahli maksiat</strong>. Jika diketahui dengan <strong>sangkaan kuat</strong> bahwa ia akan menggunakan <span style="text-decoration: underline;">zakat</span> tersebut untuk bermaksiat maka kita tidak boleh memberikan zakat kepada orang semacam itu. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2:76&#8211;77)</li>
</ol>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Sudah seharusnya setiap orang memerhatikan orang-orang yang berhak mendapakan zakat, (yaitu) dari kalangan fakir, miskin, orang yang terlilit utang, dan golongan lainnya. Seharusnya, yang dipilih untuk mendapatkan zakat adalah orang yang berpegang teguh dengan syariat. Jika tampak kebid’ahan atau kefasikan pada diri seseorang, ia pantas untuk diboikot dan mendapatkan hukuman lainnya. Ia sudah pantas diminta untuk bertobat. Bagaimana mungkin ia ditolong untuk berbuat maksiat?” (<em>Majmu’ Al-Fatawa</em>, 25:87)</p>
<p><strong>Disusun oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Abduh Tuasikal</a> </strong></p>
<p><strong>Sumber: www.rumaysho.com</strong> (<em>disertai penyuntingan dari redaksi www.KonsultasiSyariah.com</em>)<br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>= Zakat untuk pelaku maksiat, tidak di anjurkan zakat kepada pelaku maksiat, dst.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pelaku-maksiat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Fitrah dengan Uang, Bolehkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 07:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[picture]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7001</guid>
		<description><![CDATA[Mengganti zakat fitrah (zakat fitri) dengan uang Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, bagaimana jika saya membayar zakat fitrah dengan uang, bukan dengan makanan pokok? Apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam? Jazakallahu khairan. Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam. Masalah ini termasuk kajian yang banyak menjadi tema ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Mengganti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a> fitrah (<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a> fitri) dengan uang</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Ustadz, bagaimana jika saya membayar <strong>zakat fitrah</strong> dengan uang, bukan dengan makanan pokok? Apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam? <em>Jazakallahu khairan</em>.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Masalah ini termasuk kajian yang banyak menjadi tema pembahasan di beberapa kalangan dan kelompok yang memiliki semangat dalam dunia Islam. Tak heran, jika kemudian pembahasan ini meninggalkan perbedaan pendapat.</p>
<p>Sebagian melarang pembayaran zakat <span style="text-decoration: underline;">fitrah dengan uang</span> secara mutlak, sebagian memperbolehkan zakat fitrah dengan uang tetapi dengan bersyarat, dan sebagian lain memperbolehkan<strong> zakat fitrah </strong>dengan uang tanpa syarat. Yang menjadi masalah adalah sikap yang dilakukan orang awam. Umumnya, pemilihan pendapat yang paling kuat menurut mereka, lebih banyak didasari logika sederhana dan jauh dari ketundukan terhadap dalil. Jauhnya seseorang dari ilmu agama menyebabkan dirinya begitu mudah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> keputusan dalam peribadahan yang mereka lakukan. Seringnya, orang terjerumus ke dalam <em>qiyas</em> (analogi), padahal sudah ada dalil yang tegas.</p>
<p>Uraian ini bukanlah dalam rangka menghakimi dan memberi kata putus untuk perselisihan pendapat tersebut. Namun, ulasan ini tidak lebih dari sebatas bentuk upaya untuk mewujudkan penjagaan terhadap sunah Nabi dan dalam rangka menerapkan firman Allah, yang artinya, “<em>Jika kalian berselisih pendapat dalam masalah apa pun maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir</em>.” (Q.s. An-Nisa’:59)</p>
<p>Allah menegaskan bahwa siapa saja yang mengaku beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka setiap ada masalah, dia wajib mengembalikan permasalahan tersebut kepada Alquran dan <em>As-Sunnah</em>. Siapa saja yang tidak bersikap demikian, berarti ada masalah terhadap imannya kepada Allah dan hari akhir.</p>
<p>Pada penjelasan ini, terlebih dahulu akan disebutkan perselisihan pendapat ulama, kemudian di-<em>tarjih</em> (dipilihnya pendapat yang lebih kuat). Pada kesempatan ini, Penulis akan lebih banyak mengambil faidah dari risalah <em>Ahkam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-fitri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat fitri">Zakat Fitri</a></em>, karya Nida’ Abu Ahmad.</p>
<h3>Perselisihan ulama &#8220;zakat fitrah dengan uang&#8221;<strong><br />
</strong></h3>
<p>Terdapat dua pendapat ulama dalam masalah ini (zakat fitrah dengan uang). Pendapat pertama, memperbolehkan pembayaran zakat fitri (zakat fitrah) menggunakan mata uang. Pendapat kedua, melarang pembayaran zakat fitri menggunakan mata uang. Permasalahannya kembali kepada status zakat fitri. <strong>Apakah status <a title="Zakat Fitrah vs Zakat Fitri" href="http://konsultasisyariah.com/istilah-zakat-fitrah-dan-zakat-fitri" target="_blank">zakat fitri</a> (zakat fitrah) itu sebagaimana zakat harta ataukah statusnya sebagai zakat badan?</strong></p>
<p>Jika statusnya sebagaimana zakat harta maka prosedur pembayarannya sebagaimana zakat harta perdagangan. Pembayaran zakat perdagangan tidak menggunakan benda yang diperdagangkan, namun menggunakan uang yang senilai dengan zakat yang dibayarkan. Sebagaimana juga zakat emas dan perak, pembayarannya tidak harus menggunakan emas atau perak, namun boleh menggunakan mata uang yang senilai.</p>
<p>Sebaliknya, jika status zakat fitri (zakat fitrah) ini sebagaimana zakat badan maka prosedur pembayarannya mengikuti prosedur pembayaran kafarah untuk semua jenis pelanggaran. Penyebab adanya kafarah ini adalah adanya pelanggaran yang dilakukan oleh badan, bukan kewajiban karena harta. Pembayaran kafarah harus menggunakan sesuatu yang telah ditetapkan, dan tidak boleh menggunakan selain yang ditetapkan.</p>
<p>Jika seseorang membayar kafarah dengan selain ketentuan yang ditetapkan maka kewajibannya untuk membayar kafarah belum gugur dan harus diulangi. Misalnya, seseorang melakukan pelanggaran berupa hubungan suami-istri di siang hari bulan Ramadan, tanpa alasan yang dibenarkan. Kafarah untuk pelanggaran ini adalah membebaskan budak, atau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang fakir miskin, dengan urutan sebagaimana yang disebutkan. Seseorang tidak boleh membayar kafarah dengan menyedekahkan uang seharga budak, jika dia tidak menemukan budak. Demikian pula, dia tidak boleh berpuasa tiga bulan namun putus-putus (tidak berturut-turut). Juga, tidak boleh memberi uang Rp. 5.000 kepada 60 fakir miskin. Mengapa demikian? Karena kafarah harus dibayarkan persis sebagaimana yang ditetapkan.</p>
<h3>Di manakah posisi zakat fitri (zakat fitrah)?</h3>
<p>Sebagaimana yang dijelaskan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah bahwasanya zakat fitri (zakat fitrah) itu mengikuti prosedur kafarah <strong>karena zakat fitri (zakat fitrah) adalah zakat badan, bukan zakat harta</strong>. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa zakat fitri adalah zakat badan &#8211;bukan zakat harta&#8211; adalah pernyataan Ibnu Abbas dan Ibnu Umar <em>radhiallahu ‘anhuma</em> tentang zakat fitri.</p>
<p>Ibnu Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, “<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, &#8230; bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa &#8230;.</em>” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, <em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri (zakat fitrah), sebagai penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa dan perbuatan atau ucapan jorok &#8230;.”</em>(H.r. Abu Daud; dinilai<em> hasan</em> oleh Syekh Al-Albani)</p>
<p>Dua riwayat ini menunjukkan bahwasanya zakat fitri berstatus sebagai zakat badan, bukan zakat harta. Berikut ini adalah beberapa alasannya:</p>
<ol>
<li>Adanya kewajiban zakat bagi anak-anak, budak, dan wanita. Padahal, mereka adalah orang-orang yang umumnya tidak memiliki harta. Terutama budak; seluruh jasad dan hartanya adalah milik tuannya. Jika zakat fitri merupakan kewajiban karena harta maka tidak mungkin orang yang sama sekali tidak memiliki harta diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya.</li>
<li>Salah satu fungsi zakat adalah penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa serta perbuatan atau ucapan jorok. Fungsi ini menunjukkan bahwa zakat fitri berstatus sebagaimana kafarah untuk kekurangan puasa seseorang.</li>
</ol>
<h3>Apa konsekuensi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> jika zakat fitri (zakat fitrah) berstatus sebagaimana kafarah?</h3>
<p>Ada dua konsekuensi hukum ketika status zakat fitri itu sebagaimana kafarah:</p>
<ol>
<li>Harus dibayarkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan yaitu bahan makanan.</li>
<li>Harus diberikan kepada orang yang membutuhkan untuk menutupi hajat hidup mereka, yaitu fakir miskin. Dengan demikian, zakat fitri tidak boleh diberikan kepada amil, mualaf, budak, masjid, dan golongan lainnya. (lihat <em>Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam</em>, 25:73)</li>
</ol>
<p>Sebagai tambahan wacana, berikut ini kami sebutkan perselisihan ulama dalam masalah ini.</p>
<p><strong>Pendapat yang membolehkan pembayaran zakat fitri dengan uang</strong></p>
<p>Ulama yang berpendapat demikian adalah Umar bin Abdul Aziz, Al-Hasan Al-Bashri, Atha’, Ats-Tsauri, dan Abu Hanifah.</p>
<p>Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwa beliau mengatakan, “Tidak mengapa memberikan zakat fitri dengan dirham.”</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Ishaq; beliau mengatakan, “Aku menjumpai mereka (Al-Hasan dan Umar bin Abdul Aziz) sementara mereka sedang menunaikan zakat Ramadan (zakat fitri) dengan beberapa dirham yang senilai bahan makanan.”</p>
<p>Diriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah, bahwa beliau menunaikan zakat fitri dengan <em>waraq</em> (dirham dari perak).</p>
<h4>Pendapat yang melarang pembayaran zakat fitri (zakat fitrah) dengan uang</h4>
<p>Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama. Mereka mewajibkan pembayaran zakat fitri menggunakan bahan makanan dan melarang membayar zakat dengan mata uang. Di antara ulama yang berpegang pada pendapat ini adalah Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad. Bahkan, Imam Malik dan Imam Ahmad secara tegas menganggap tidak sah jika membayar zakat fitri mengunakan mata uang. Berikut ini nukilan perkataan mereka.</p>
<p><strong>Perkataan Imam Malik</strong></p>
<p>Imam Malik mengatakan, “Tidak sah jika seseorang membayar zakat fitri dengan mata uang apa pun. Tidak demikian yang diperintahkan Nabi.” (<em>Al-Mudawwanah Syahnun</em>)</p>
<p>Imam Malik juga mengatakan, “Wajib menunaikan zakat fitri senilai satu <em>sha’</em> bahan makanan yang umum di negeri tersebut pada tahun itu (tahun pembayaran zakat fitri).” (<em>Ad-Din Al-Khash</em>)</p>
<p><strong>Perkataan Imam Asy-Syafi’i</strong></p>
<p>Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Penunaian zakat fitri wajib dalam bentuk satu <em>sha’</em> dari umumnya bahan makanan di negeri tersebut pada tahun tersebut.” (<em>Ad-Din Al-Khash</em>)</p>
<p><strong>Perkataan Imam Ahmad</strong></p>
<p>Al-Khiraqi mengatakan, “Siapa saja yang menunaikan zakat menggunakan mata uang maka zakatnya tidak sah.” (<em>Al-Mughni</em>, Ibnu Qudamah)</p>
<p>Abu Daud mengatakan, “Imam Ahmad ditanya tentang pembayaran zakat mengunakan dirham. Beliau menjawab, “Aku khawatir zakatnya tidak diterima karena menyelisihi sunah Rasulullah.” (<em>Masail Abdullah bin Imam Ahmad</em>; dinukil dalam Al-Mughni, 2:671)</p>
<p>Dari Abu Thalib, bahwasanya Imam Ahmad kepadaku, “Tidak boleh memberikan zakat fitri dengan nilai mata uang.” Kemudian ada orang yang berkomentar kepada Imam Ahmad, “Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz membayar zakat menggunakan mata uang.” Imam Ahmad marah dengan mengatakan, “Mereka meninggalkan hadis Nabi dan berpendapat dengan perkataan Fulan. Padahal Abdullah bin Umar mengatakan, &#8216;Rasulullah mewajibkan zakat fitri satu <em>sha’</em> kurma atau satu <em>sha’</em> gandum.&#8217; Allah juga berfirman, &#8216;<em>Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul</em>.&#8217; Ada beberapa orang yang menolak sunah dan mengatakan, &#8216;Fulan ini berkata demikian, Fulan itu berkata demikian.” (<em>Al-Mughni</em>, Ibnu Qudamah, 2:671)</p>
<p>Zahir mazhab Imam Ahmad, beliau berpendapat bahwa pembayaran zakat fitri dengan nilai mata uang itu tidak sah.</p>
<p>Beberapa perkataan ulama lain:</p>
<ul>
<li>Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Allah mewajibkan pembayaran zakat fitri dengan bahan makanan sebagaimana Allah mewajibkan pembayaran kafarah  dengan bahan makanan.” (<em>Majmu’ Fatawa</em>)</li>
<li>Taqiyuddin Al-Husaini Asy-Syafi’i, penulis kitab Kifayatul Akhyar (kitab fikih Mazhab Syafi’i) mengatakan, “Syarat sah pembayaran zakat fitri harus berupa biji (bahan makanan); tidak sah menggunakan mata uang, tanpa ada perselisihan dalam masalah ini.” (<em>Kifayatul Akhyar</em>, 1:195)</li>
<li>An-Nawawi mengatakan, “Ishaq dan Abu Tsaur berpendapat bahwa tidak boleh membayar zakat fitri menggunakan uang kecuali dalam keadaan darurat.” (<em>Al-Majmu’</em>)</li>
<li>An-Nawawi mengatakan, “Tidak sah membayar zakat fitri dengan mata uang menurut mazhab kami. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Malik, Ahmad, dan Ibnul Mundzir.” (<em>Al-Majmu’</em>)</li>
<li>Asy-Syairazi Asy-Syafi’i mengatakan, “Tidak boleh menggunakan nilai mata uang untuk zakat karena kebenaran adalah milik Allah. Allah telah mengkaitkan zakat sebagaimana yang Dia tegaskan (dalam firman-Nya), maka tidak boleh mengganti hal itu dengan selainnya. <strong>Sebagaimana berkurban, ketika Allah kaitkan hal ini dengan binatang ternak, maka tidak boleh menggantinya dengan selain binatang ternak</strong>.” (<em>Al-Majmu’</em>)</li>
<li>Ibnu Hazm mengatakan, “Tidak boleh menggunakan uang yang senilai (dengan zakat) sama sekali. Juga, tidak boleh mengeluarkan satu <em>sha’</em> campuran dari beberapa bahan makanan, sebagian gandum dan sebagian kurma. Tidak sah membayar dengan nilai mata uang sama sekali karena semua itu tidak diwajibkan (diajarkan) Rasulullah.” (<em>Al-Muhalla bi Al-Atsar</em>, 3:860)</li>
<li>Asy-Syaukani berpendapat bahwa tidak boleh menggunakan mata uang kecuali jika tidak memungkinkan membayar zakat dengan bahan makanan.” (<em>As-Sailul Jarar</em>, 2:86)</li>
</ul>
<p>Di antara ulama abad ini yang mewajibkan membayar dengan bahan makanan adalah Syekh Ibnu Baz, Syekh Ibnu Al-Utsaimin, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi, dan yang lain. Mereka mengatakan bahwa zakat fitri tidak boleh dibayarkan dengan selain makanan dan tidak boleh menggantinya dengan mata uang, kecuali dalam keadaan darurat, karena tidak terdapat riwayat bahwa Nabi mengganti bahan makanan dengan mata uang. Bahkan tidak dinukil dari seorang pun sahabat bahwa mereka membayar zakat fitri dengan mata uang. (<em>Minhajul Muslim</em>, hlm. 251)</p>
<p><strong>Dalil-dalil masing-masing pihak</strong></p>
<p><strong>Dalil ulama yang membolehkan pembayaran zakat fitri dengan uang:</strong></p>
<ol>
<li>Dalil riwayat yang disampaikan adalah pendapat Umar bin Abdul Aziz dan Al-Hasan Al-Bashri. Sebagian ulama menegaskan bahwa mereka tidak memiliki dalil nash (Alquran, <em>al-hadits</em>, atau perkataan sahabat) dalam masalah ini.</li>
<li><em>Istihsan</em> (menganggap lebih baik). Mereka menganggap mata uang itu lebih baik dan lebih bermanfaat untuk orang miskin daripada bahan makanan.</li>
</ol>
<p><strong>Dalil dan alasan ulama yang melarang pembayaran zakat dengan mata uang:</strong></p>
<p><em><strong>Pertama</strong></em>, riwayat-riwayat yang menegaskan bahwa zakat fitri harus dengan bahan makanan.</p>
<ul>
<li>Dari Abdullah bin Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em>; beliau mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mewajibkan zakat fitri, berupa satu<em> sha’</em> kurma kering atau gandum kering &#8230;.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</li>
<li>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mewajibkan zakat fitri, &#8230; sebagai makanan bagi orang miskin .…” (H.r. Abu Daud; dinilai<em> hasan</em> oleh Syekh Al-Albani)</li>
<li>Dari Abu Said Al-Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em>; beliau mengatakan, “Dahulu, kami menunaikan zakat fitri dengan satu <em>sha</em>’ bahan makanan, satu<em> sha’</em> gandum, satu <em>sha’</em> kurma, satu <em>sha’</em> keju, atau satu <em>sha’</em> anggur kering.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</li>
<li>Abu Sa’id Al-Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, “Dahulu, di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kami menunaikan zakat fitri dengan satu <em>sha’</em> bahan makanan.” Kemudian Abu Sa’id mengatakan, “Dan makanan kami dulu adalah gandum, anggur kering (<em>zabib</em>), keju (<em>aqith</em>), dan kurma.” (H.r. Al-Bukhari, no. 1439)</li>
<li>Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadan (zakat fitri). Kemudian datanglah seseorang mencuri makanan, lalu aku berhasil menangkapnya &#8230;.”(H.r. Al-Bukhari, no. 2311)</li>
</ul>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>, alasan para ulama yang melarang pembayaran zakat fitri dengan mata uang.</p>
<p><strong>1. Zakat fitri adalah ibadah yang telah ditetapkan ketentuannya.</strong></p>
<blockquote><p><em><strong>Termasuk yang telah ditetapkan dalam masalah zakat fitri adalah jenis, takaran, waktu pelaksanaan, dan tata cara pelaksanaan. Seseorang tidak boleh mengeluarkan zakat fitri selain jenis yang telah ditetapkan, sebagaimana tidak sah membayar zakat di luar waktu yang ditetapkan.</strong></em></p></blockquote>
<p>Imam Al-Haramain Al-Juwaini Asy-Syafi’i mengatakan, “Bagi mazhab kami, sandaran yang dipahami bersama dalam masalah dalil, bahwa zakat termasuk bentuk ibadah kepada Allah. Pelaksanaan semua perkara yang merupakan bentuk ibadah itu mengikuti perintah Allah.” Kemudian beliau membuat permisalan, “Andaikan ada orang yang mengatakan kepada utusannya (wakilnya), ‘Beli pakaian!’ sementara utusan ini tahu bahwa tujuan majikannya adalah berdagang, kemudian utusan ini melihat ada barang yang lebih manfaat bagi majikannya (daripada pakaian), maka sang utusan ini tidak berhak menyelisihi perintah majikannya. Meskipun dia melihat hal itu lebih bermanfaat daripada perintah majikannya . (Jika dalam masalah semacam ini saja wajib ditunaikan sebagaimana amanah yang diberikan,<em> pent.</em>) maka perkara yang Allah wajibkan melalui perintah-Nya tentu lebih layak untuk diikuti.”</p>
<p>Harta yang ada di tangan kita semuanya adalah harta Allah. Posisi manusia hanyalah sebagaimana wakil. Sementara, wakil tidak berhak untuk bertindak di luar batasan yang diperintahkan. Jika Allah memerintahkan kita untuk memberikan makanan kepada fakir miskin, namun kita selaku wakil justru memberikan selain makanan, maka sikap ini termasuk bentuk pelanggaran yang layak untuk mendapatkan hukuman. Dalam masalah ibadah, termasuk zakat, selayaknya kita kembalikan sepenuhnya kepada aturan Allah. Jangan sekali-kali melibatkan campur tangan akal dalam masalah ibadah karena kewajiban kita adalah taat sepenuhnya.</p>
<p>Oleh karena itu, membayar zakat fitri dengan uang berarti menyelisihi ajaran Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana telah diketahui bersama, ibadah yang ditunaikan tanpa sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya adalah ibadah yang tertolak.</p>
<p><strong>2. Di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> sudah ada mata uang dinar dan dirham.</strong></p>
<p>Akan tetapi, yang Nabi praktikkan bersama para sahabat adalah pembayaran zakat fitri menggunakan bahan makanan, bukan menggunakan dinar atau dirham. Padahal beliau adalah orang yang paling memahami kebutuhan umatnya dan yang paling mengasihi fakir miskin. Bahkan, beliaulah paling berbelas kasih kepada seluruh umatnya.</p>
<p>Allah berfirman tentang beliau, yang artinya, “<em>Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat berbelas kasi lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin</em>.” (Q.s. At-Taubah:128)</p>
<blockquote><p><em><strong>Siapakah yang lebih memahami cara untuk mewujudkan belas kasihan melebihi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?</strong></em></p></blockquote>
<p><strong>Disusun oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>zakat fitri</strong>, <strong>picture</strong>, <strong>uang zakat</strong>, <strong>&quot;zakat fitrah&quot;</strong>, <strong>sedekah</strong>, <strong>kadar zakat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang yang Meninggalkan Puasa</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/meninggalkan-puasa</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/meninggalkan-puasa#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 07:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>athirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[kajian puasa]]></category>
		<category><![CDATA[meninggalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[mp3 puasa]]></category>
		<category><![CDATA[tidak puasa]]></category>
		<category><![CDATA[tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6645</guid>
		<description><![CDATA[Hukum orang yang Meninggalkan puasa Assalamu &#8216;alaikum. Saya mempunyai paman yang usianya sudah 25 tahun. Dia belum menikah. Dia jarang shalat dan meninggalkan puasa. Pertanyaan saya, apa hukum bagi laki-laki yang meninggalkan berpuasa di bulan Ramadan, padahal ia sudah balig ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> orang yang Meninggalkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a><br />
</strong></h2>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. Saya mempunyai paman yang usianya sudah 25 tahun. Dia belum menikah. Dia jarang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> dan <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/meninggalkan-puasa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with meninggalkan puasa">meninggalkan puasa</a></strong>. Pertanyaan saya, apa hukum bagi laki-laki yang <span style="text-decoration: underline;">meninggalkan berpuasa</span> di bulan Ramadan, padahal ia sudah balig dan berakal? Dan apa yang harus saya lakukan? Terima kasih.</p>
<h3><em>Leony (**_salam@***.com)</em><br />
<span id="more-6645"></span><br />
<strong>Penjelasan hukum orang yang meninggalkan puasa<br />
</strong></h3>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Hadis sahih tentang hukuman untuk orang yang meninggalkan puasa Ramadan:</p>
<p>Dari Abu Umamah Al-Bahili <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Beliau mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">بينا أنا نائم إذ أتاني رجلان فأخذا بضبعي فأتيا بي جبلا وعرا فقالا لي : اصعد حتى إذا كنت في سواء الجبل فإذا أنا بصوت شديد فقلت : ما هذه الأصوات ؟ قال : هذا عواء أهل النار ثم انطلق بي فإذا أنا بقوم معلقين بعراقيبهم مشققة أشداقهم تسيل أشداقهم دما فقلت : من هؤلاء ؟ فقيل : هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم</p>
<p>&#8220;Ketika aku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tidur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tidur">tidur</a>, (aku bermimpi), tiba-tiba ada dua orang yang mendatangiku, kemudian keduanya memegang lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Mereka mengatakan, &#8216;Naiklah!&#8217; Ketika aku sampai di atas gunung, tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat keras. Aku pun bertanya, &#8216;Suara apakah ini?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Ini adalah teriakan penghuni neraka.&#8217; Kemudian mereka membawaku melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba, aku melihat ada orang yang digantung dengan mata kakinya (terjungkir), pipinya sobek, dan mengalirkan darah. Aku pun bertanya, &#8216;Siapakah mereka itu?&#8217; Kedua orang ini menjawab, &#8216;Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum waktunya (<a title="tidak mampu puasa tapi tidak mampu fidyah" href="http://konsultasisyariah.com/tidak-mampu-bayar-fidyah" target="_blank">meninggalkan puasa</a>).&#8217;&#8221; (H.r. Ibnu Hibban, no. 7491; Al-Hakim, no. 2837; Ibnu Khuzaimah, no. 1986; dinilai <em>sahih</em> oleh banyak ulama, di antaranya Al-Albani dan Al-A&#8217;dzami).</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Pembahasan: Hukum orang yang <strong>meninggalkan puasa</strong>, di larangnya meninggalkan puasa tanpa uzur, azab bagi orang yang meninggalkan puasa</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mp3 puasa</strong>, <strong>mimpi</strong>, <strong>tidak puasa</strong>, <strong>meninggalkan puasa</strong>, <strong>tidur</strong>, <strong>kajian puasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/meninggalkan-puasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lailatul Qadar dan Tanda-Tandanya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-tanda-tanda-nya</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-tanda-tanda-nya#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 01:37:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[keistemawaan lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar 2011]]></category>
		<category><![CDATA[malam lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[tanda lailatul qadar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6767</guid>
		<description><![CDATA[Tanda Lailatul Qadar Apa sajakah tanda lailatul qadar? Jawaban: Di antara tanda-tanda lailatul qadar adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis berikut ini. Dari Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhuma, bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda tentang tanda lailatul qadar, ليلة طلقة ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tanda-lailatul-qadar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tanda lailatul qadar">Tanda Lailatul Qadar</a><br />
</strong></h2>
<p>Apa sajakah <strong><em>tanda <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/lailatul-qadar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with lailatul qadar">lailatul qadar</a></em></strong>?<br />
<span id="more-6767"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Di antara <span style="text-decoration: underline;">tanda-tanda<em> lailatul qadar </em></span>adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis berikut ini.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>, bahwa Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda tentang <strong>tanda </strong><em><strong>lailatul qadar,</strong></em></p>
<p class="arab">ليلة طلقة لا حارة و لا باردة تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة</p>
<p>&#8220;<em>Dia adalah malam yang indah, sejuk, tidak panas, tidak dingin, di pagi harinya matahari terbit dengan cahaya merah yang tidak terang</em>.&#8221; (H.r. Ibnu Khuzaimah; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p>Kemudian, ciri yang lain adalah malam ini umumnya terjadi di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.</p>
<p>Dalil yang menunjukkan hal ini: Dari &#8216;Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> selalu menghidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Beliau bersabda, “<em>Carilah malam qadar di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan</em>.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Barang siapa yang tidak mampu <a title="perbanyak tarawih dan shalat tahajud" href="http://konsultasisyariah.com/tahajud-dan-tarawih" target="_blank">beribadah</a> di awal sepuluh malam terakhir, hendaknya tidak ketinggalan untuk beribadah di tujuh malam terakhir. Dari Ibnu Umar, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda tentang <strong>lailatul qadar</strong>, “<em>Carilah di sepuluh malam terakhir. Jika ada yang tidak mampu maka jangan sampai ketinggalan ibadah di tujuh malam terakhir</em>.” (H.r. Muslim)</p>
<h3><strong>Catatan untuk mendapatkan <em>lailatul qadar</em>:</strong></h3>
<p>Selayaknya, kaum muslimin untuk tidak pilih-pilih malam untuk beribadah, sehingga hanya mau rajin ibadah jika menemukan tanda-tanda lailatul qadar di atas, karena bisa jadi ciri-ciri itu tidak dijumpai oleh sebagian orang. Mungkin juga, pada hakikatnya, ini adalah sikap pemalas, hanya mencari untung tanpa melakukan banyak usaha. Bisa jadi, sikap semacam ini membuat kita jadi tertipu karena Allah tidak memberikan taufik untuk beribadah pada saat <a title="Lailatul Qadar" rel="nofollow" href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2692-mengenal-tanda-tanda-malam-lailatul-qadar.html" target="_blank"><strong><em>lailatul qadar</em></strong></a>.</p>
<p>Sebaliknya, mereka yang rajin beribadah di sepanjang malam dan tidak pilih-pilih, insya Allah akan mendapatkan <em>lailatul qadar</em>. Sahabat Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> pernah memberikan nasihat tentang <em>lailatul qadar</em>, kemudian beliau berkata,</p>
<p class="arab">من يقم الحول يصبها</p>
<p>“<em>Siapa saja yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> malam sepanjang tahun, dia akan mendapatkannya</em>.” (H.r. Ahmad dan Abu Daud; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p>Ketika mendengar keterangan dari Ibnu Mas&#8217;ud ini, Abdullah bin Umar mengatakan, “Semoga Allah merahmati Ibnu Mas&#8217;ud, sebenarnya beliau paham bahwa <span style="text-decoration: underline;"><em><strong>lailatul qadar</strong></em></span> itu di bulan Ramadan, namun beliau ingin agar masyarakat tidak malas.” (<em>Tafsir Al-Baghawi</em>, 8:482)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><em>***<br />
</em></p>
<p>Disusun oleh Ustadz <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ammi-nur-baits" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ammi nur baits">Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).<br />
Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com<br />
</a>Pembahasan: Lailatul Qadar<strong><a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank"><br />
</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>lailatul qadar</strong>, <strong>tanda lailatul qadar</strong>, <strong>malam lailatul qadar</strong>, <strong>keistemawaan lailatul qadar</strong>, <strong>lailatul qadar 2011</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-tanda-tanda-nya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri Selingkuh dan Solusinya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/istri-selingkuh</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/istri-selingkuh#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 04:42:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[aborsi]]></category>
		<category><![CDATA[istri selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6612</guid>
		<description><![CDATA[Permasalahan istri selingkuh Assalamu &#8216;alaikum, Ustadz. Baru-baru ini keluarga yang telah kami bina selama 8 tahun mengalami badai. Istriku selingkuh dengan orang lain. Lebih menyakitkan lagi, dia kedapatan sedang mengandung. Menurut dokter, usia kandungannya sudah 5 atau 6 minggu. Sedangkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Permasalahan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri-selingkuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri selingkuh">istri selingkuh</a></strong></h2>
<p>Assalamu &#8216;alaikum, Ustadz.</p>
<p>Baru-baru ini keluarga yang telah kami bina selama 8 tahun mengalami badai. <strong>Istriku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/selingkuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with selingkuh">selingkuh</a></strong> dengan orang lain. Lebih menyakitkan lagi, dia kedapatan sedang mengandung. Menurut dokter, usia kandungannya sudah 5 atau 6 minggu. Sedangkan saya merasa tiap kali berhubungan selalu menggunakan alat pengaman (maaf, kondom). Setelah didesak, istri saya mengaku telah melakukan perbuatan terkutuk tersebut dengan orang lain. Hati saya hancur saat itu, tetapi saya tidak sampai hati pada dua anak kami yang masih kecil-kecil. Anak saya baru 7 tahun dan 3 tahun; keduanya perempuan. Istri saya (menyatakan) menyesal dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Dan saya telah memaafkan dan menerimanya kembali, dengan syarat mau menggugurkan bayi hasil perbuatan terkutuknya, karena saya takut kalau bayi tersebut lahir, saya tidak dapat menahan diri dan selalu mengingat peristiwa tersebut. Yang saya tanyakan, berdosakah saya menyuruh istri saya melakukan <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/aborsi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with aborsi">aborsi</a></strong>, dan apa yang harus saya lakukan sekarang? sampai sekarang, hanya saya dan istri saya yang mengetahui hal ini, mohon jawabannya supaya saya tidak dihantui perasaan berdosa. Terima kasih.</p>
<p><em>NN (**@yahoo.co.id)</em></p>
<p><strong>Solusi kasus istri selingkuh</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p><strong>Aborsi</strong> dengan sengaja, hukumnya haram. Bayi itu sama sekali tidak bersalah. Menggugurkannya sama dengan berbuat zalim kepadanya.</p>
<p>Tidak kami sarankan untuk mempertahankan istri atau suami yang berzina (<strong>istri selingkuh</strong> atau suami selingkuh). Syekh Dr. Anis Thahir, pengajar di Masjid Nabawi dan merupakan seorang ulama ahli hadis, mengatakan, &#8220;Saya wasiatkan para suami untuk sabar dengan kekurangan istrinya, kecuali dalam tiga hal:</p>
<ol>
<li><a href="http://konsultasisyariah.com/istri-durhaka" target="_blank">Istri memiliki akidah yang rusak</a> (kemusyrikan);</li>
<li>Tidak mau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>;</li>
<li><a href="http://konsultasisyariah.com/haruskah-saya-ceraikan-istri-yang-berselingkuh" target="_blank">Berzina</a> (<span style="text-decoration: underline;">istri selingkuh</span>)</li>
</ol>
<p>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A.</p>
<p>==</p>
<h3><strong>Catatan tambahan redaksi mengenai solusi istri selingkuh</strong></h3>
<p>Aborsi dengan sengaja, hukumnya haram. Bayi itu sama sekali tidak bersalah. Menggugurkannya sama dengan berbuat zalim kepadanya. Ingatlah firman Allah,</p>
<p class="arab">وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ . بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ.</p>
<p><em>“Ingatlah apabila para bayi wanita perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya. Dosa apakah yang menyebabkan dia harus dibunuh.”</em> (QS. At-Takwir: 8 – 9)</p>
<p>Jawaban apakah yang akan kita persiapkan untuk pertanyaan di atas? Ketika kita berada di hadapan Dzat Yang Maha Adil, yang akan membalas setiap tindakan hamba-Nya sesuai dengan amalnya.</p>
<p>Jika anda keberatan untuk menceraikan, anda boleh mempertahankan istri anda. Dan pastikan bahwa istri anda telah bertaubat. Kemudian untuk status anak yang berada di kandungan adalah anak anda, karena andalah suaminya. Meskipun bisa jadi -bukan menuduh- anak itu sejatinya adalah hasil hubungan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a> dengan lelaki lain.</p>
<p>Dalilnya, dari A&#8217;isyah<em> radliallahu &#8216;anha</em>, dulu Utbah bin Abi Waqqas berpesan kepada saudaranya Sa&#8217;d bin Abi Waqqas, bahwa anak budaknya Zam&#8217;ah adalah anakku maka ambillah. Di masa penaklukan kota Mekah, Sa&#8217;d <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> anak tersebut. Tiba-tiba Abd bin Zam&#8217;ah angkat suara, &#8216;Dia saudaraku, anak budak bapakku. Dia dilahirkan ketika si wanita tersebut menjadi budak bapakku.&#8217;</p>
<p>Akhirnya keduanya berdebat di hadapan Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sa&#8217;d berkata, &#8216;Dia anak saudaraku, lihatlah betapa miripnya dengan saudaraku. Kemudian Abd bin Zam&#8217;ah membela, &#8216;Dia saudaraku, anak dari budak bapakku, ketika ibunya menjadi pasangan ayahku.&#8217;</p>
<p>Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memutuskan, &#8216;<em>Anak ini milikmu wahai Abd bin Zam&#8217;ah.&#8217; </em>Lalu Beliau bersabda,</p>
<p class="arab"><strong>الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلعَاهِرِ الحَجْرُ</strong></p>
<p><em>“Anak itu menjadi hak pemilik firasy, dan bagi pezina dia mendapatkan kerugian.”</em> (HR. Bukhari dan muslim)</p>
<p><strong>Maksud hadis: </strong></p>
<p>Ketika seorang wanita menikah dengan lelaki atau seorang budak wanita menjadi pasangan seorang lelaki maka wanita tersebut menjadi <em>firasy</em> bagi si lelaki. Selanjutnya lelaki ini disebut “<strong><em>pemilik firays</em></strong>”. Selama sang wanita menjadi <em>firasy</em> lelaki maka setiap anak yang terlahir dari wanita tersebut adalah anaknya. Meskipun bisa jadi, ada anak yang tercipta dari hasil yang dilakukan <a title="Sikap terhadap istri selingkuh" rel="nofollow" href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/keluarga-tanya-ustadz/bagaimana-sikap-terhadap-istri-yang-selingkuh/" target="_blank">istri selingkuh</a> dengan lelaki lain.</p>
<p>Sedangkan lelaki selingkuhannya hanya mendapatkan kerugian, artinya tidak memiliki hak sedikitpun dengan anak hasil perbuatan zinanya dengan istri orang lain. (<em>Syarh Shahih Muslim</em>, An-Nawawi, 10: 37)</p>
<p>Demikian tambahan catatan dari redaksi mengenai solusi <em>istri selingkuh</em>. Allahu a&#8217;lam.</p>
<p>***</p>
<p>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a><br />
Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A. (dengan penambahan catatan redaksi)<br />
Pembahasan: Istri Selingkuh</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank"></a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>selingkuh</strong>, <strong>zina</strong>, <strong>rumah tangga</strong>, <strong>aborsi</strong>, <strong>pictures</strong>, <strong>istri selingkuh</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/istri-selingkuh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Nyayian Islami untuk Pendidikan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/musik-untuk-pendidikan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/musik-untuk-pendidikan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 04:14:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[membuat hati tenang]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[nyanyian dengan musik untuk hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6442</guid>
		<description><![CDATA[Nyanyian Islami Bolehkah memakai senandung nyanyian islami (tanpa musik) untuk anak-anak. Misalnya dipakai untuk pengajaran atau ketika bermain dan sebagainya, tanpa bermaksud melalaikan dari Alquran (bukan diajarkan secara khusus senandung-senandung tertentu untuk dihafal). Yang terjadi bahkan sebaliknya, terkadang senandung itu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Nyanyian Islami<br />
</strong></h2>
<p>Bolehkah memakai senandung <strong>nyanyian islami</strong> (tanpa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/musik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musik">musik</a>) untuk anak-anak. Misalnya dipakai untuk pengajaran atau ketika bermain dan sebagainya, tanpa bermaksud melalaikan dari Alquran (bukan diajarkan secara khusus senandung-senandung tertentu untuk dihafal). Yang terjadi bahkan sebaliknya, terkadang senandung itu digunakan untuk mempermudah pengajaran, seperti mengajarkan huruf alfabet, hijaiah, atau urutan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wudhu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wudhu">wudhu</a>, dan sebagainya. Mohon diberikan dalilnya, Ustadz, jika memang senandung <strong>nyanyian islami</strong> (tanpa musik tersebut) diperbolehkan. Jika diperbolehkan, batasan pembolehannya itu seperti apakah?</p>
<p><em>Ummahat</em><br />
<span id="more-6442"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3><strong>Lirik lagu (tanpa iringan musik)</strong></h3>
<p>Syekh Al-Albani mengatakan, &#8220;Tidak benar menyatakan bahwa nyanyian itu terlarang secara mutlak, karena tidak ada dalil yang menyatakan keumuman ini. Demikian pula, tidak benar jika ada yang menyatakan bahwa hal tersebut boleh secara mutlak, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang sufi dan para pengikut hawa nafsu &#8230;.&#8221; (<em>Tahrim &#8216;ala Ath-Tharb</em>, hlm. 126, melalui buku &#8220;<em>Adakah Musik Islami</em>&#8220;, hlm. 69, karya Muslim Al-Atsari)</p>
<h3><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> nyanyian islami tanpa irama musik dibagi menjadi dua: mubah dan haram. <strong>Nyanyian</strong> dihukumi<strong> haram jika</strong>:</h3>
<ol>
<li> <em>Isinya mengandung kata-kata kesyirikan</em>, kekafiran, bid&#8217;ah, khurafat, membangkitkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/syahwat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with syahwat">syahwat</a>, dorongan untuk berzina, gibah, menghina orang lain, atau kalimat-kalimat haram lainnya.</li>
<li><em>Dilantunkan dengan mengikuti irama <a title="hukum musik" href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-bermain-musik-di-bulan-ramadhan">musik</a></em>. Ini termasuk meniru kebiasaan orang <em>fasiq</em>. Imam Asy-Syathibi mengatakan, &#8220;&#8230; Orang Arab (para shahabat) tidak memiliki kebiasaan memperindah irama, sebagaimana kebiasaan orang sekarang. Mereka melantunkan syair secara spontan tanpa mempelajari irama &#8230;.&#8221; (<em>Al-I&#8217;thisham</em>, 1:368. dinukil dari <em>Tahrim &#8216;ala Ath-Tharb</em>, hlm. 133)</li>
<li><em>Dijadikan sebagai sarana ibadah atau sarana dakwah</em>. Kebiasaan ini termasuk bid&#8217;ah yang dilakukan orang-orang sufi.</li>
<li><em>Dijadikan kebiasaan</em>, sampai membuat lupa berzikir kepada Allah. Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Perutmu penuh dengan nanah sampai rusak itu lebih daripada engkau penuhi dengan syair</em>.&#8221; (H.r. Al-Bukhari, no. 6154)</li>
</ol>
<p>Al-Bukhari membuat bab untuk hadis ini, &#8220;Dibencinya <a title="tarian topeng monyet" href="http://konsultasisyariah.com/mencari-rezeki-dengan-topeng-monyet">syair</a> yang mendominasi seseorang sampai menghalanginya dari zikir, belajar agama, dan Alquran.&#8221;</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>zina</strong>, <strong>musik</strong>, <strong>wudhu</strong>, <strong>membuat hati tenang</strong>, <strong>nyanyian dengan musik untuk hiburan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/musik-untuk-pendidikan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Pernah Shalat kecuali di Bulan Ramadan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tidak-shalat-waktu-puasa</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tidak-shalat-waktu-puasa#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 01:29:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6560</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukum puasa untuk orang yang tidak pernah shalat kecuali di bulan Ramadan, bahkan terkadang puasa namun tidak shalat? Jawaban: Terdapat satu kaidah: Setiap orang yang berstatus kafir maka seluruh amalnya batal. Allah berfirman, وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> untuk orang yang tidak pernah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> kecuali di bulan Ramadan, bahkan terkadang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> namun tidak shalat?<br />
<span id="more-6560"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Terdapat satu kaidah: <strong>Setiap orang yang berstatus kafir maka seluruh amalnya batal</strong>.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</strong></p>
<p>“<em>Andaikan mereka berbuat syirik maka akan hilang semua amal yang pernah mereka lakukan</em>.” (Q.s. Al-An&#8217;am:88)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</strong></p>
<p>“<em>Barang siapa yang kafir sesudah beriman (murtad) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi</em>.” (Q.s. Al-Maidah:5)</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat orang yang meninggalkan shalat tidak keluar dari Islam, selama dia masih meyakini bahwa shalat itu wajib. Hanya saja, orang ini dianggap melakukan perbuatan kufur kecil dan melakukan amal yang sangat buruk, lebih jelek daripada orang yang melakukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a>, mencuri, dan semacamnya. Namun, puasanya sah, jika lakukan sesuai aturan syariat. Hanya saja, pelanggaran orang ini, dia tidak menjaga shalatnya. Dia berada dalam bahaya yang sangat besar karena bisa terjerumus ke dalam syirik besar, menurut sebagian ulama &#8230;.</p>
<p>Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat, di antara perbedaan pendapat ulama, bahwa dia telah melakukan kekafiran besar (keluar dari Islam) &#8211;semoga Allah melindungi kita&#8211; berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan di atas. Karena itu, siapa saja yang puasa sementara dia tidak shalat maka tidak ada puasa baginya. (<em>Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Baz</em>, 15:179)</p>
<p><strong>Diambil dari <em>http://www.binbaz.org.sa/mat/2105</em></strong></p>
<p>**<br />
Keterangan tambahan dari Ustadz <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ammi-nur-baits" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ammi nur baits">Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>):</p>
<p>Di antara dalil yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat adalah:</p>
<p>1. Firman Allah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّين</strong></p>
<p>“<em>Jika mereka bertobat, menegakkan shalat, dan menunaikan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a> maka mereka adalah saudara kalian seagama.</em>” (Q.s. At-Taubah)</p>
<p>Allah mempersyaratkan adanya persaudaraan antara kita dengan orang musyrik dengan tiga hal: tobat dari syirik, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.</p>
<p>2. Hadis dari Jabir bin Abdillah<em> radhiallahu &#8216;anhu</em>; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إن بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat</em>.” (H.r. Muslim)</p>
<p>3. Hadis dari Buraidah bin Hashib <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة ، فمن تركها فقد كفر</strong></p>
<p>“<em>Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Siapa saja yang meninggalkannya maka dia kafir</em>.” (H.r. Ahmad, Abu Daud, Nasa&#8217;i, Turmudzi, dan Ibnu Majah)</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>zina</strong>, <strong>puasa</strong>, <strong>zakat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tidak-shalat-waktu-puasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Anak Kecil dan Pahalanya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/puasa-anak-kecil</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/puasa-anak-kecil#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 03:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[puaasa untuk anak anak]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6547</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Begini, Ustadz. Saya punya keponakan, umurnya kira-kira 7 tahun. Dia sudah berpuasa penuh sampai maghrib, seperti orang dewasa. Apa hukumnya? Mengingat ia belum balig, apakah ia mendapat pahala dari puasanya? Farid (Farid**@yahoo.***) Jawaban: Bismillah, washshalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah. Allah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Begini, Ustadz. Saya punya keponakan, umurnya kira-kira 7 tahun. Dia sudah berpuasa penuh sampai maghrib, seperti orang dewasa. Apa hukumnya? Mengingat ia belum balig, apakah ia mendapat pahala dari puasanya?</p>
<p><em>Farid (Farid**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-6547"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah, washshalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah.</em></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا</strong></p>
<p>“<em>Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka</em>.” (Q.s. At-Tahrim: 6)</p>
<p>Ayat ini menjadi dalil bahwa orang tua memiliki tanggung jawab di hadapan Allah untuk mendidik anaknya sesuai dengan ajaran Islam. Di antara bagian pendidikan Islam bagi anak adalah membiasakan mereka untuk melakukan amal saleh, terutama amal wajib, seperti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> atau <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a></strong>. Oleh karena itu, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan para orang tua agar menyuruh anaknya untuk shalat ketika berusia 7 tahun dan memukul mereka (jika menolak shalat, <em>ed.</em>) ketika berusia 10 tahun, sebagaimana disebutkan hadis yang diriwayatkan Ahmad serta Abu Daud yang dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani.</p>
<p>Demikian pula dalam masalah <strong>puasa</strong>, para sahabat mendidik anaknya untuk berpuasa. Disebutkan dalam hadis dari Rubayi&#8217; binti Muawidz <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengutus sahabat di pagi hari Asyura (10 Muharam) untuk mengumumkan, “<em>Barang siapa yang sejak pagi sudah <strong>puasa</strong>, hendaknya dia lanjutkan puasanya. Barang siapa yang sudah makan, hendaknya dia puasa di sisa harinya</em>.” Para sahabat mengatakan, &#8220;Setelah itu, kami pun puasa dan menyuruh anak-anak kami untuk puasa. Kami pergi ke masjid dan kami buatkan mainan dari bulu. Jika mereka menangis karena minta makan, kami beri mainan itu hingga bisa bertahan sampai waktu berbuka.&#8221; (H.r. Bukhari, no. 1960; Muslim, no. 1136)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, &#8220;Hadis ini adalah dalil disyariatkannya membiasakan anak-anak untuk berpuasa, karena anak yang berusia sebagaimana yang disebutkan dalam hadis belum termasuk usia mendapatkan beban syariat. Namun, mereka diperintahkan <strong>puasa</strong> dalam rangka latihan.&#8221; (<em>Fathul Bari</em>, 4:201)</p>
<p>Disebutkan dalam riwayat dari Zubair bin Awam bahwa beliau memerintahkan anaknya untuk berpuasa jika mereka sudah mampu, dan beliau memerintahkan anaknya untuk shalat jika sudah tamyiz (bisa dinasihati). (Riwayat Ibnu Abid Dunya dalam <em>Al-Iyal</em>, 1:47)</p>
<p>Para ulama menganjurkan agar orang tua melatih anaknya untuk berpuasa jika mereka sudah mampu. Batas usianya adalah 7 tahun atau 10 tahun,  memberi batasan 10 tahun. Al-Auza&#8217;i mengatakan, &#8220;Jika seorang anak mampu berpuasa tiga hari berturut-turut dan dia tidak lemah maka dia diminta untuk <strong>puasa</strong>. Demikian keterangan Al-Hafizh Ibnu Hajar (lihat <em>Fathul bari</em>, 3:5)</p>
<p>Dalam Mazhab Hanbali dinyatakan, &#8220;Diwajibkan untuk berpuasa bagi setiap muslim, yang mukalaf dan yang mampu. Sementara bagi wali anak kecil yang mampu puasa, hendaknya memerintahkannya (si anak) dan memukulnya agar (si anak, <em>ed.</em>) terbiasa (berpuasa, <em>ed.</em>).&#8221; (<em>Ar-Raudhul Murbi&#8217;</em>, 1:415)</p>
<p><strong>Disadur dari artikel &#8220;<em>Madza &#8216;an Shaumi Sibyan</em>&#8220;, karya Dr. Kalid Al-Ahmad.</strong></p>
<p><strong>Sumber</strong>: <em>http://www.saaid.net/mktarat/ramadan/359.htm</em></p>
<p>**</p>
<p><strong>Apakah amal anak kecil diberi pahala?</strong></p>
<p>Anak kecil, ketika sudah berusia 7 tahun, shalatnya sah, berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع، واضربوهم عليها وهم أبناء عشر</strong></p>
<p>“Perintahkanlah anak kalian untuk shalat ketika berusia 7 tahun dan pukul mereka (jika menolak shalat, <em>ed.</em>) ketika berusia 10 tahun.” (H.r. Abu Daud; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p>Jumhur ulama berpendapat bahwa anak yang sudah tamyiz mendapatkan pahala khusus. Dalam <em>Fatawa Al-Kubra</em>, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jumhur ulama berpendapat bahwa pahala ibadah seorang anak adalah miliknya.”</p>
<p>Syekh Muhammad Ulayis Al-Maliki memberikan rincian dalam kitab <em>Fathul Aliyil Malik</em>, &#8220;Pendapat yang menjadi pegangan adalah bahwa pahala amal ibadah seorang anak adalah untuk dirinya sendiri, sedangkan orang tuanya mendapatkan pahala karena menjadi penyebab si anak melakukan amal tersebut.&#8221;</p>
<p>Kemudian beliau membawakan perkataan Imam Al-Qarrafi, bahwa anak kecil dianjurkan melakukan amalan sunah dan dia mendapatkan pahala dari amalan sunah yang dia kerjakan &#8230;. Ada yang mengatakan, &#8220;Dia tidak mendapatkan pahala dan tidak dianjurkan untuk melakukan amalan sunah maupun yang lainnya. Namun yang diperintahkan adalah walinya (orang tua atau orang yang merawatnya), yang telah memerintahkan si anak untuk beribadah dalam rangka mendidik. Sebagaimana <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> melatih binatang tunggangan (untuk perang). Hal ini berdasarkan hadis, &#8216;<em>Pena catatan amal diangkat dari tiga orang: (salah satunya adalah) anak kecil sampai balig</em>.&#8217;”</p>
<p>Ibnu Rusyd mengatakan, &#8220;Sesungguhnya bagi anak kecil, perbuatan dosanya tidak dicatat dan perbuatan baiknya dicatat, menurut pendapat yang lebih kuat.&#8221;</p>
<p>Dalam <em>At-Tamhid</em>, Ibnu Abdil Bar membawakan riwayat dari Abul Aliyah, dari Umar bin Khatab <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa beliau mengatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>تكتب للصغير حسناته ولا تكتب عليه سيئاته</strong></p>
<p>“<em>Perbuatan baik anak kecil dicatat dan perbuatan dosanya tidak dicatat</em>.” (<em>At-Tamhid</em>, 1:106)</p>
<p><strong>Sumber</strong>: <em>http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;lang=A&amp;Option=FatwaId&amp;Id=94309</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah.com</a>).</strong></p>
<p><strong>Aritkel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>puasa</strong>, <strong>web</strong>, <strong>puaasa untuk anak anak</strong>, <strong>riba</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/puasa-anak-kecil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Puasa bagi Pekerja Keras</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-puasa-bagi-pekerja-keras</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-puasa-bagi-pekerja-keras#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 04:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[ammi nur baits]]></category>
		<category><![CDATA[apakah boleh kerja berat membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apakah oragng yang bekerja berat boleh tidak berpuasa?]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah meninggalkan puasa ramadhan bagi pekerja berat]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa pekerja keras berbuka puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa bagi pekerja berat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa buat pekerja]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa di eropa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[yang tidak berpuasa hukumnya apa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6299</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Apa hukum puasa saat Ramadan bila seorang laki-laki tidak dapat puasa karena memiliki pekerjaan yang berat (bekerja sebagai pedagang di pasar, sehingga mengangkat barang-barang berat)? Dan cara menggantinya dengan mengqadha atau membayar fidyah? Terima kasih. Firdia (**irdi@***.com) ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum.</em> Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum-puasa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum puasa">hukum puasa</a> saat Ramadan bila seorang laki-laki tidak dapat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> karena memiliki pekerjaan yang berat (<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bekerja" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bekerja">bekerja</a> sebagai pedagang di pasar, sehingga mengangkat barang-barang berat)? Dan cara menggantinya dengan mengqadha atau membayar fidyah? Terima kasih.</p>
<p><em>Firdia (**irdi@***.com)</em><br />
<span id="more-6299"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Berikut ini adalah fatwa dari Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin.</p>
<p><em>Pertanyaan: </em></p>
<p>Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang bekerja berat sehingga sulit baginya berpuasa? Bolehkah dia berbuka?</p>
<p><em>Jawaban:</em></p>
<p>Menurut pendapat saya dalam masalah ini, jika dia tidak berpuasa karena bekerja maka itu hukumnya haram dan tidak boleh.</p>
<p>Jika tidak mungkin baginya untuk menyatukan antara kerja dan puasa maka sebaiknya dia <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> waktu libur di bulan Ramadan, sehingga dia bisa berpuasa di bulan Ramadan, <strong>karena puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam yang tidak boleh ditinggalkan</strong>.</p>
<p>Demikianlah fatwa Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin dalam <em>Fatawa Arkanul Islam</em>, hlm. 479.</p>
<p><strong>Catatan Redaksi: </strong></p>
<p>Anda bisa melihat Video Fatwa-Fatwa Ramadhan: Pekerja Berat, Bolehkah Tidak Berpuasa?</p>
<p>Lihat Video tentang fatwa di atas <a href="http://yufid.tv/fatwa-ramadhan-pekerja-berat-bolehkah-tidak-berpuasa/" target="_blank">http://yufid.tv/fatwa-ramadhan-pekerja-berat-bolehkah-tidak-berpuasa/</a></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ammi-nur-baits" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ammi nur baits">Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>puasa</strong>, <strong>mengambil</strong>, <strong>hukum puasa di eropa</strong>, <strong>bolehkah meninggalkan puasa ramadhan bagi pekerja berat</strong>, <strong>bekerja</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>apakah oragng yang bekerja berat boleh tidak berpuasa?</strong>, <strong>hukum puasa buat pekerja</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>apakah boleh kerja berat membatalkan puasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-puasa-bagi-pekerja-keras/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/226 queries in 0.068 seconds using disk: basic
Object Caching 16193/16544 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-05 07:06:15 -->
