AKHLAK – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Tue, 25 Apr 2017 01:44:01 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.4 Apakah yang Mengalami LGBT Dilaknat Allah? https://konsultasisyariah.com/29429-apakah-yang-mengalami-lgbt-dilaknat-allah.html Thu, 20 Apr 2017 01:54:56 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29429 Terjangkit LGBT Dilaknat Allah?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz. mau tanya ustadz tentang hukum orang homoseks tapi dia menahan perasaannya itu. jadi gini ustadz, entah darimana asalnya, sejak saya SMP, saya merasa tertarik sama sejenis, hingga sekarang saya kuliah. tapi, saya bisa menahan itu semua dengan memperteguh iman saya, memperbanyak sunnah, hafalan quran, dsb. saya sudah mencoba untuk tidak tertarik dengan lelaki dan suka sama perempuan. tapi gak bisa dipungkiri kalau melihat lelaki tampan, walaupun sedikit pasti ada rasa tertarik ustadz. Saya juga belum pernah sama sekali merealisasikan perasaan saya. Pikiran saya selalu positif bahwa ini adalah ujian terberat saya dari Allah. Saya mau tanya, apakah saya masih termasuk manusia yg dilaknat Allah ustadz? termakasih

Jawab:

Wa ‘alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, kami mengajak anda untuk memahami bahwa kecenderungan terhadap sejenis termasuk diantara penyakit mental. Dan Allah Ta’ala memberi ujian kepada manusia, salah satunya dalam bentuk penyakit.

Allah berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155)

Ibnu Katsir menyebutkan keterangan sebagian ahli tafsir, bahwa diantara makna kekurangan jiwa adalah mengalami sakit. Dan puncaknya dalam bentuk hilangnya nyawa, artinya mati. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/467).

Dan bentuk penyakit ada 2:

[1] Peyakit fisik, seperti difabel atau sakit fisik lainnya

[2] Penyakit mental, seperti kelainan akal, ideot, telat mikir, termasuk diantaranya memiliki kecenderungan terhadap manusia sejenis.

Kedua, setelah kita memahami bahwa LGBT termasuk penyakit, sebagai manusia yang normal, tentu dia akan sedih. Karena dia menyadari, dirinya tidak normal. Bukan malah dibanggakan. Tidak ada manusia normal yang bangga dengan penyakitnya.

Ada waria, semakin dibuat-buat jadi banci, lalu meniru gaya wanita tak bermoral, ini membanggakan kondisi abnormal. Mentalnya tidak normal, dan jiwanya juga tidak normal. Makanya para waria adalah manusia yang cacat jiwa, cacat mental.

Dengan demikian, bagi siapapun yang mengalami kondisi LGBT, jangan sampai dibanggakan. Anda bangga dengan kondisi LGBT, justru menunjukkan bahwa anda sangat tidak normal.

Anda bisa perhatikan, LGBT yang membuat komunitas untuk memperjuangkan agar dilegalkan, adalah manusia yang cacat mental dan jiwanya. Mereka memperjuangkan agar penyakitnya dilegalkan. Manusia seperti ini tidak akan pernah berjuang untuk menyembuhkan penyakitnya.

Ketiga, Orang yang mengalami musibah fisik, merasakan sakit dan dia bersabar, dia akan mendapatkan pahala dan akan menghapuskan dosa-dosanya. Seperti itu pula orang yang mengalami musibah mental. Jika dia bisa bersabar, dia akan mendapatkan pahala dan musibah itu akan menjadi kafarah bagi dosa-dosanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka denagn musibah. Siapa yang ridha dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang marah dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan murka Allah.” (HR. Ahmad 23623, Tirmidzi 2396 dan dishahihkan al-Albani).

Sesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada para hamba, hakikatnya didasari kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Karena seorang hamba akan bisa mendapatkan derajat yang lebih tinggi, ketika mereka mendapatkan ujian dan mampu bersabar terhadap ujian tersebut.

Namun ada dua sikap manusia yang berbeda. Ada yang memahami musibah  itu dengan baik, sehingga dia bisa ridha terhadap ujian yang Allah berikan. Dia berkeyakinan bahwa ujian ini adalah sumber pahala baginya. Sehingga sama sekali dia tidak merasa telah didzalimi oleh Allah. Di saat itulah, Allah akan memberikan keridhaan dan pahala yang besar kepadanya.

Sebaliknya, ada orang yang menyikapi musibah itu dengan cara yang salah. Dia menganggap sakit ini adalah kezaliman dan ketidakadilan. Mengapa dia sakit, sementara orang lain tidak sakit. Mereka dia tidak bisa mendapatkan kenikmatan hidup, sementara tetangganya bisa mendapatkan banyak kenikmatan. Dia marah dan tidak sabar dengan musibahnya. Sebagai hukumannya, Allah justru murka kepadanya.

Anda resah, anda sedih, dan anda bersabar, itu akan menjadi kafarah dosa,

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ، حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah ada suatu musibahpun yang menimpa seorang muslim, baik keletihan atau sakit atau kesedihan atau kegelisahan atau gangguan atau gundah gulana bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah akan menjadikan hal itu sebab untuk menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari 5641 dan Muslim 2245)

Jangan sampai anda punya pikiran bahwa semua orang yang punya kecenderungan LGBT itu dilaknat… karena tidak semua LGBT melampiaskan kecenderungannya. Benar dia punya kecenderungan terhadap sejenis, tapi itu kelainan di luar kemampuannya.

Keempat, apa yang anda lakukan, insyaaAllah sudah benar. Berusaha untuk menghiasi diri dengan sunah, dengan hal-hal yang bermanfaat…

Kami juga sarankan agar anda berkonsultasi ke psikiater yang amanah, barangkali bisa membantu anda untuk mencari solusi untuk terapi.

Referensi tambahan yang bisa anda pelajari: Ingin Sembuh dari Gay

Semoga bermanfaat…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Selfie Karena Bangga Dunia https://konsultasisyariah.com/29367-selfie-karena-bangga-dunia.html Thu, 30 Mar 2017 02:19:15 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29367 Selfie Pamer

Bolehkah selfie dengan motor baru yang kita miliki? Llau dishare di facebook…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam al-Quran Allah menceritakan kondisi Qarun bersama masyarakatnya. Qarun sangat bangga dengan harta yang dia miliki. Hingga masyarakatnya yang taat menasehati Qarun,

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآَتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

“Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa[1138], maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. al-Qashas: 76)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah membenci orang yang bangga dengan kekayaan dunianya. Dalam tafsir as-Sa’di dinyatakan,

أي: لا تفرح بهذه الدنيا العظيمة، وتفتخر بها، وتلهيك عن الآخرة، فإن اللّه لا يحب الفرحين بها

Artinya, janganlah kamu merasa sombong dengan duniamu yang banyak, bangga dengannya, sementara itu melalaikanmu dari akhirat. Karena Allah tidak menyukai orang yang bangga dengan dunia. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 623).

Dan kita memahami, diantara bentuk kebanggaan terhadap dunia adalah berfoto atau selfie dengan kekayaan dunia, seperti orang yang berfoto dengan mobil barunya. Atau menunnjukkan jabatannya, seperti mereka yang berpose dengan semua atribut jabatan kebanggaannya. Bukan untuk data, bukan untuk kebutuhan, tapi untuk ditunjukkan di lingkungannya untuk menunjukkan status sosialnya. Bisa jadi termasuk pamer makanan istimewa ke orang lain…

Kita hindari semacam ini. kita hindari setiap karakter yang dibenci Allah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Dilarang Kajian di Masjid Sebelum Jumatan https://konsultasisyariah.com/29280-dilarang-kajian-di-masjid-sebelum-jumatan.html Fri, 10 Mar 2017 01:55:35 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29280 Kajian di Masjid Sebelum Jumatan

Benarkah kajian di hari jumat dilarang?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ التَّحَلُّقِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الشِّرَاءِ وَالْبَيْعِ فِى الْمَسْجِدِ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengadakan kajian di hari jumat, sebelum jumatan. Dan beliau melarang jual beli di masjid. (HR. Nasai 722 dan dihasankan al-Albani)

Para ulama menyebutkan, latar belakang mengapa kita dilarang mengadakan kajian sebelum jumatan adalah agar tidak mengganggu kegiatan jumatan. Karena ketika hari jumat, kita dianjurkan untuk hadir jumatan di awal waktu. Jika di sana ada kajian, akan mengganggu mereka yang hendak hadir jumatan.

Kita akan simak keterangan Adzim Abadi dalam Aunul Ma’bud. Beliau menukil 3 penjelasan ulama,

[1] keterangan al-Khithabi. Beliau mengatakan,

إنما كره الاجتماع قبل الصلاة للعلم والمذاكرة، وأمر أن يشتغل بالصلاة، وينصت للخطبة والذكر، فإذا فرغ منها كان الاجتماع والتحلق بعد ذلك

Beliau tidak menyukai berkumpul untuk kajian sebelum jumatan, serta memeritahkan untuk fokus terhadap jumatan, diam mendengarkan khutbah. Jika selesai jumatan, maka boleh berkumpul dan halaqah setelahnya.

[2] keterangan dari at-Thahawi,

النهي عن التحلق إذا عم المسجد وغلبه فهو مكروه وغير ذلك فلا بأس به

Larangan membuat kajian (sebelum jumatan) berlaku apabila memenuhi masjid atau mendominasi bagian masjid, maka ini yang dilarang. Jika tidak sampai demikian, tidak masalah.

[3] keterangan dari al-Iraqi,

حمله أصحابنا والجمهور على بابه لأنه ربما قطع الصفوف مع كونهم مأمورين يوم الجمعة بالتبكير والتراص في الصفوف الأول فالأول

Para ulama madzhab kami dan mayoritas ulama memahami hadis ini sesuai kondisinya. Karena terkadang memutus shaf, sementara mereka diperintahkan untuk  datang di awal dan merapatkan shaf dari depan pada hari jumat. (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, 3/294).

Berdasarkan penjelasan di atas, sebatas kajian di pagi hari jumat tidak dilarang. Yang dilarang adalah kajian pagi yang mengganggu kegiatan jumatan. Sehingga jika kajiannya dilaksanakan di tempat yang tidak digunakan untuk jumatan, misal di mushola atau rumah warga, atau hanya forum kecil di masjid di pagi hari, yang tidak mengganggu jumatan, insya Allah tidak masalah…

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Jangan Revolusi!! (bag. 2) https://konsultasisyariah.com/29174-jangan-revolusi-bag-2.html Fri, 10 Feb 2017 01:30:54 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29174 Jangan Revolusi!! (bag. 2)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bagian dari sunatullah, Allah jadikan semua manusia yang ada di sekitar kita merupakan sumber fitnah bagi yang lain..

Allah berfirman,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

Kami jadikan sebagian kalian menjadi ujian bagi sebagian yang lain. Sejauh mana kalian sanggup bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat. (QS. al-Furqan: 20)

Lelaki menjadi ujian bagi wanita, wanita juga ujian bagi lelaki…

Orang kaya menjadi ujian bagi si miskin, yang miskin juga ujian bagi si kaya

Rakyat menjadi ujian bagi pemerintah, dan pemerintah juga ujian bagi rakyat…

Baca artikel sebelumnya: Jangan Revolusi Bagian 1

Dan pemenangnya adalah siapa yang paling bisa bersabar dalam menghadapi semua potensi ujian di atas. Karena bawaan dari hidup bermasyarakat, pasti akan ada diantara mereka yang menjadi sumber masalah bagi yang lain. Ketika sumber masalah ini punya kekuatan yang lebih besar, akan menjadi masalah besar jika dia dilawan dengan kekerasan.

Yusair bin Amr bercerita kejadian ketika terjadi konflik antar kelompok di zaman sahabat. Dia bersama beberapa rekannya mendatangi sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

“Berikan nasehat untuk kami, karena masyarakat sedang mengalami ujian, dan kami tidak tahu apakah nanti bisa bertemu anda atau tidak?”

Kemudian Ibnu Mas’ud mengatakan

اتَّقُوا اللَّهَ وَاصْبِرُوا حَتَّى يَسْتَرِيحَ بَرٌّ ، أَوْ يُسْتَرَاحَ مِنْ فَاجِرٍ ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَجْمَعُ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ عَلَى ضَلاَلَةٍ

Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, hingga orang baik beristirahat atau kalian diistirahatkan dari orang jahat. Bergabunglah dengan jamaah (kesatuan umat), karena Allah tidak mungkin menggabungkan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas kesesatan. (HR. Ibnu Abi Syaibah 38347)

Ketika terjadi ketegangan antar-kaum muslimin, pesan Ibnu Mas’ud adalah mengambil sikap mengalah untuk kemaslahatan. Ketika mereka bersabar, bertaqwa kepada Allah semampunya, akan memperkecil dampak fitnah. Karena ujung akhirnya hanya ada 2 kemungkinan, orang baik yang meninggal duluan, sehingga dia bisa beristirahat. Atau orang jahat meninggal, sehingga orang baik akan diistirahatkan.

Pesan yang sama juga pernah disampaikan Amirul Mukminin, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Umar berpesan kepada Suwaid bin Ghaflah,

إِنِّي لاَ أَدْرِي لَعَلِّي لاَ أَلْقَاك بَعْدَ عَامِي هَذَا , فَاسْمَعْ وَأَطِعْ وَإِنْ أُمِّرَ عَلَيْك عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجْدَعٌ , إِنْ ضَرَبَك فَاصْبِرْ , وَإِنْ حَرَمَك فَاصْبِرْ , وَإِنْ أَرَادَ أَمْرًا يَنْتَقِصُ دِينَك فَقُلْ : سَمْعٌ وَطَاعَةٌ , دَمِي دُونَ دِينِي , فَلاَ تُفَارِقَ الْجَمَاعَةَ

Saya tidak tahu, apakah saya masih bisa bertemu di tahun ini atau tidak…

Dengarkan dan taati pemimpinmu, meskipun yang menjadi penguasamu budak ethiopia rambutnya ikal. Jika dia memukulmu, sabar. Jika dia tidak memberikan hak kepadamu, sabar. Namun jika dia menghendaki sesuatu yang merusak agamamu, sampaikan ke dia, “Saya siap mendengar dan taat (selain yang melanggar agama), darahku pelindung agamaku.” Dan jangan memisahkan diri dari jamaah (kesatuan umat). (HR. Ibnu Abi Syaibah 34400, al-Khallal dalam as-Sunah, 1/111)

Kita bisa memahami 3 hal dari pesan Umar di atas,

[1] Siap sedia untuk mengikuti aturan pemerintah

[2] Jika pemerintah memaksa mengambil hak kita terkait masalah dunia atau fisik kita, kita berikan dan tidak melawan (bersabar)

[3] Jika pemerintah memaksa kita untuk melakukan pelanggaran agama, kita tidak melawannya, tapi tidak boleh mentaatinya.

[4] Jika pemerintah mengamcam bunuh, maka darah kita menjadi pelindung agama kita, artinya tidak masalah dibunuh, yang penting agama kita selamat. Dan ini bukan termasuk melawan.

Masa Bersabar itu Tidak Lama

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ : ” لا تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ ، وَلا تَغِشُّوهُمْ ، وَلا تَبْغَضُوهُمْ ، وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاصْبِرُوا ؛ فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيبٌ

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senior melarang kami, mereka mengatakan,

Janganlah kalian menghina pemimpin kalian, jangan menipu mereka, dan membuat mereka marah. Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah. Karena urusan ini pendek. (HR. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunah 1015, at-Tamhid 21/287 dan yang lainnya).

Badai pasti berlalu… sehingga ujian berupa pemimpin yang jahat, pemimpin yang dzalim, tidaklah lama.

bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi untuk bersabar sampai dengan janji akan bertemu beliau di akhirat.

Dari Usaid bin Khudhair radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَتَلْقَوْنَ بَعْدِى أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِى عَلَى الْحَوْضِ

Setelah aku meninggal, kalian akan menjumpai sikap pemimpin yang mementingkan diri sendiri. Karena itu bersabarlah, sampai kalian berjumpa denganku di telaga. (HR. Bukhari 3792 & Muslim 4885)

Sekali lagi, beliau banyak meminta rakyat untuk bersabar terhadap kejahatan pemimpin, bukan karena beliau tidak sayang kaum muslimin sebagai rakyat… justru ini menunjukkan kasih sayang beliau kepada umatnya, agar tidak terjadi pertumpahan darah di tengah mereka…

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Jangan Revolusi!! (Bag. 1) https://konsultasisyariah.com/29157-jangan-revolusi-bag-1.html Thu, 09 Feb 2017 01:40:37 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29157 Jangan Revolusi!! (Bag. 1)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Keamanan adalah nikmat besar yang banyak dilupakan. Manusia lupa, dan Allah terus memberinya.

Diantara dalil bahwa nikmat aman adalah nikmat yang sangat besar,

Pertama, Allah jadikan nikmat aman sebagai salah satu alasan untuk memerintahkan orang musyrikin quraisy agar mau masuk islam.

Allah berfirman,

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Hendaknya mereka menyembah Rab Pemilik ka’bah ini, yang telah memberi makan mereka ketika lapar dan memberi jaminan keamanan mereka ketika takut. (QS. Quraisy: 3-4).

Ada banyak nikmat yang Allah berikan kepada orang Quraisy. Namun ketika Allah ingatkan mereka untuk masuk islam, Allah sebutkan 2 nikmat, makanan dan rasa aman. Ini menunjukkan nikmat aman adalah nikmat besar.

Kedua, Allah jadikan jaminan keamanan sebagai balasan bagi orang beriman yang meninggalkan semua bentuk kesyirikan.

Allah berfirman,

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-An’am: 82)

Beriman dan meninggalkan kesyirikan adalah amal luar biasa. Karena amal ini kunci surga dan jaminan perlindungan dari neraka. Ketika iman seseorang sama sekali tidak pernah dicampuri dengan kesyirikan maka dia akan mendapatkan jaminan iman secara mutlak.

Ketiga, Allah jadikan rasa takut, sebagai salah satu musibah bagi manusia

Allah berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sebagian ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155)

Dalam ayat ini, Allah menyebut rasa takut sebagai bala’ (cobaan), berarti kebalikannya, yaitu aman adalah nikmat dari Allah.

Karena siapapun menyadari,

Dengan nikmat aman manusia bisa bekerja, beribadah tanpa gangguan…

Dengan nikmat aman, manusia bisa mengajar, belajar, berdakwah tanpa ketakuktan…

Dengan nikmat aman, manusia bisa melakukan aktivitas sesuai yang direncanakan…

Aman itu nikmat, sekalipun kita tidak perah menyebutnya dalam doa-doa kita…

Ketika Ada Ketegangan Rakyat dan Pemerintah

Salah satu sumber terbesar hilangnya rasa aman adalah ketika terjadi sengketa antara pemerintah dengan rakyatnya. Ketika pemerintahnya muslim dan rakyatnya juga muslim, ketegangan ini sangat merugikan bagi umat muslimin. Apapun yang terjadi, korbannya adalah kaum muslimin. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama mengajak sebisa mungkin jangan sampai terjadi pemberontakan dari rakyat muslim kepada pemerintah muslim…

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَكُونُ أُمَرَاءٌ تَلِينُ لَهُمُ الْجُلُودُ ، وَلا تَطْمَئِنُّ إِلَيْهِمِ الْقُلُوبُ ، ثُمَّ يَكُونُ أُمَرَاءٌ تَشْمَئِزُّ مِنْهُمُ الْقُلُوبُ ، وَتَقْشَعِرُّ مِنْهُمُ الْجُلُودُ ” ، فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَفَلا نُقَاتِلُهُمْ ؟ قَالَ : ” لا ، مَا أَقَامُوا الصَّلاةَ “

“Akan ada pemimpin yang membuat hati menjadi tenang, kulit tidak tegang… kemudian akan ada pemimpin yang membuat hati gregetan dan kulit jadi tegang.”

Lalu seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bolehkah kita perangi mereka?”

Jawab beliau, “Jangan, selama dia masih menjalankan shalat.” (HR. Ahmad 11005 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam hadis lain, dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ

Akan ada setelahku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dariku dan tidak mengikuti ajaranku. Dan di tengah mereka akan ada beberapa penguasa ber-hati setan yang bersemayam di badan manusia…

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bertanya,

كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ

Apa yang harus aku lakukan Ya Rasulullah, jika aku menjumpai hal itu?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Dengarkan dan taati pemimpinmu. Meskipun punggungmu dipukul, hartamu dirampas, dengarkan dan taati.” (HR. Muslim 4891).

Dan hadis yang semisal sangat banyak…

Barangkali ada orang yang berfikir, jika seperti ini caranya, berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memihak pemimpin. Hadis ini terlalu menguntungkan pemimpin…

Mohon baca dan renungkan hadis tersebut dengan baik…

Apa kepentingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pemimpin? Apakah beliau mengharapkan dukungan dari mereka?

Tentu tidak.. beliau sama sekali tidak butuh para pemimpin di kalangan umatnya. Beliau tidak memiliki kepentingan terhadap harta maupun jabatan mereka.

Lalu mengapa beliau sangat menekankan rakyat untuk mentaati pemimpinnya? Apakah beliau tidak membela rakyat?

Justru nasehat ini beliau sampaikan, karena Beliau sangat mencintai rakyat kaum muslimin…

Orang cerdas akan memandang semua potensi dampak yang muncul ketika terjadi masalah…

Siapapun manusia yang diberi oleh Allah kelebihan duniawi, sementara iman dan taqwanya terbatas, bisa dipastikan itu akan menjadi potensi baginya untuk melakukan penyimpangan. Termasuk ketika dia mendapatkan jabatan sebagai pemimpin. Sehingga hampir semua pemimpin punya potensi untuk mendzalimi rakyatnya.

Jika realita ini tidak bisa dipungkiri, sementara rakyat dibiarkan bebas untuk memberontak pemimpinnya, maka selamanya negeri muslim akan selalu tegang dengan pemimpinnya. Lantas kapan mereka bisa hidup nyaman… kapan mereka bisa membangun negaranya… sementara mereka terus ber-seteru…

Sehingga nasehat ini, hakekatnya bukan merugikan rakyat, bukan menyudutkan rakyat, tapi demi kemaslahatan rakyat… karena beliau sangat mencintai rakyatnya…

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Memakai Gelang Bagi Pria https://konsultasisyariah.com/28993-hukum-memakai-gelang-bagi-pria.html Mon, 06 Feb 2017 02:36:08 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28993 Haram Laki-laki Pakai Gelang?

Assalamualaikum warahmatullah hi wabarakatu,, ustad saya mau bertanya,,,bolehkah seorang pria memakai asesoris seperti gelang(bukan trbuat dari emas dan perak),,yang terbuat dari karet dan benang,,dan bagiamana menurut pandangan syariat islam? apakah sah sholatnya jga?

Dari : Cahya Kurniawan

via Tanya Ustadz for Android

Jawaban :

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

Bismillah wassholaatu wassalam ‘ala Rasulillah, waba’du.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum laki-laki menyerupai wanita dan melarang kaum wanita untuk menyerupai laki-laki. Bahkan beliau mendo’akan laknat bagi mereka yang melakukan demikian. Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma mengatakan,

لعن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المتشبهين من الرجال بالنساء، والمتشبهات من النساء بالرجال. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.
(HR. Bukhari).

Kapan disebut menyerupai (tasyabbuh)?

Syaikhul Islam Zakariya Al Anshori rahimahullah (salah seorang ulama mazhab Syafi’i) menerangkan batasan menyerupai di sini,

ضبط ابن دقيق العيد ما يحرم التشبه بهن فيه بأنه ما كان مخصوصاً بهن في جنسه وهيئته، أو غالباً في زيهن، وكذا يقال في عكسه، فإن تشبه النساء بالرجال حرام في مثل ما ذكر

Ibnu Daqiq Al ‘Ied menjelaskan batasan haram menyerupai perempuan adalah dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Baik dalam jenis atau bentuknya atau pada hal yang biasa menjadi pakaian mereka. Demikian pula yang berlaku sebaliknya (batasan tasyabbuh perempuan dengan laki-laki, pent). Karena wanita menyerupai laki-laki pada hal-hal yang telah disebutkan, hukumnya adalah haram.

(Hawasyi Tuhfatul Minhaj Bisyarhi Al Minhaj 3/26).

Dalam ensklopedia fikih juga dijelaskan,

لا خلاف بين الفقهاء في أنه يحرم على الرجال أن يتشبهوا بالنساء في الحركات ولين الكلام والزينة واللباس وغير ذلك من الأمور الخاصة بهن عادة أو طبعاً. انتهى.

Para ulama sepakat terkait haramnya laki-laki menyerupai perempuan, dalam gerakan, kelembutan tutur kata, perhiasan, pakaian dan perkara lainnya yang menjadi kekhususan mereka secara adat (kebiasaan) atau tabi’at.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah 11/267).

Sehingga bisa disimpulkan, dikatakan tasyabbuh manakala menyerupai pada hal yang menjadi kekhususan yang diserupai.

Hukum Gelang Untuk Laki-Laki

Memakai gelang, adalah diantara ciri khas kaum wanita, baik secara adat kebiasaan maupun tabi’at. Hampir tidak ditemui orang-orang yang terpandang secara akhlak dan memiliki pribadi yang baik memandang gelang adalah perhiasan kaum pria. Maka karena benda ini adalah perhiasan khusus wanita, kaum laki-laki tidak boleh memakainya. Apapun bahannya, baik karet, plastik, kuningan dan yang lainnya. Karena terdapat unsur menyerupai (tasyabbuh) perempuan. Sementara ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini sangat keras, menunjukkan penekanan dalam larangan (haram).

Sebagaimana pernah difatwakan oleh Ibnu Hajar Al Haitami rahimahullah dalam buku fatwa beliau,

يحرم التشبه بهن [ أي : بالنساء ] بلبس زيهن المختص بهن اللازم في حقهن كلبس السوار والخلخال ونحوهما بخلاف لبس الخاتم

Diharamkan menyerupai kaum wanita dengan memakai perhiasan yang menjadi ciri khas mereka. Seperti memakai gelang, gelang kaki dan yang lainnya. Berbeda dengan memakai cincin (pent. hukumnya boleh bagi laki-laki asal bukan cincin emas)…

(Al Fatawa Al Fiqhiyyah Al Kubra 1/261).

Pakailah perhiasan lain yang sesuai dengan tabi’at atau selera laki-laki, tidak menyelisihi keumuman masyarakat dan yang terpenting tidak melanggar aturan agama.

Adapun apakah sholatnya sah. Kita katakan sholatnya sah namun dia berdosa !

Wallahua’lam bis showab.

Kota Nabi ﷺ, Islamic University of Madinah, 8 Jumadal-ula 1438 H.

Dijawab oleh : Ustadz Ahmad Anshori

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ketika Anak Kecil Berkata Jorok https://konsultasisyariah.com/28935-ketika-anak-kecil-berkata-jorok.html Fri, 27 Jan 2017 22:48:38 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28935 Anak Kecil Berkata Jorok

Jika ada anak yang mengucapkan kata-kata jorok, apa yg harus dilakukan. Karna ada yg ngomong jorok, malah ditertawakan banyak orang…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kesalahan yang dilakukan anak kecil yang belum baligh, tidak dinilai sebagai perbuatan dosa. Apalagi ketika itu dilakukan secara tidak sengaja. Baik kesalahan karena perbuatan, maupun kesalahan karena ucapan lisan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ القَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنِ الـمَجْنُونِ المَغلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَفِيقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَـحْتَلِمَ

“Pena catatan amal itu diangkat, untuk tiga orang: orang gila yang hilang akal sampai dia sadar, orang yang tidur sampai dia bangun, dan anak kecil sampai dia baligh.” (HR. Nasai 3432, Abu Daud 4398, Turmudzi 1423, dan disahihkan Syuaib al-Arnauth)

Hanya saja, ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan terkait kesalahan yang dilakukan anak kecil,

Pertama, anak kecil tidak boleh dibiarkan tenggelam dalam kesalahan, meskipun dia tidak berdosa.

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menolak setiap kemungkaran. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka dia harus mengingkarinya dengan tangannya, jika tidak mampu dia harus mengingkarinya dengan lisannya, dan jika tidak mampu dia harus mengingkari dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah (dalam ibadah nahi munkar).” (HR. Muslim 49).

Dan kemungkaran, mencakup semua bentuk pelanggaran syariat, meskipun pelakunya tidak berdosa. Seperti yang dilakukan anak kecil, atau orang gila, atau binatang.

Al-Marudzi menceritakan,

رأيت أبا عبد الله مر على صبيان الكتاب يقتتلون ففرق بينهم

Aku pernah melihat Imam Ahmad melewati beberapa anak TPA yang bertengkar. Kemudian beliau memisahkan mereka semua. (al-Adab as-Syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/162).

Mereka dipisah oleh Imam Ahmad, karena bertengkar adalah kemungkaran. Meskipun mereka – anak-anak – tidak berdosa dalam melakukannya.

Orang gila yang mengganggu, itu kemungkaran, meskipun dia tidak berdosa. Ayam jago yang bertarung, itu kemungkaran, meskipun ayam tidak berdosa. Dan semua itu harus kita ingkari dan kita ubah.

Karena itu, ketika keluar ucapan jorok dari anak, dia harus diperingatkan agar tidak mengulangi, dilarang keras untuk mengucapkan kalimat itu. Bukan malah ditertawakan, karena bisa membuat dia semakin mencari perhatian dengan mengulang kembali kalimat itu. atau bisa juga dia mengira dengan ditertawakan berarti disetujui. Dan itu lebih berbahaya.

Kedua, jika pelanggaran yang dilakukan oleh anak ini merugikan orang lain atau ada unsur merusak, maka walinya bertanggung jawab dengan menggantinya (dhiman), meskipun pelakunya yaitu si anak, tidak berdosa.

Ibnu Abdil Bar mengatakan,

الأمر المجتمع عليه عندنا في ذلك أن الأموال تُضمن بالعمد والخطأ

Sesuatu yang disekapat para ulama kami, bahwa semua harta yang dirusak, wajib diganti, baik sengaja maupun tidak sengaja. (al-Istidzkar, 7/279)

Ketiga, orang tua perlu cari tahu sebab anak ini mengucapkan kalimat seperti itu…

Diantara mereka ada yang hanya sebatas tiru-tiru kawannya, atau pernah dengar dari orang lain, atau dari orang tuanya. Karena anak terlahir dalam kondisi bersih, sesuai fitrah.. namun lingkungan terkadang yang membuatnya jadi kotor.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari 1385 & Muslim 6926).

Karena itulah, tugas orang tua berusaha untuk membersihkan anak-anak jika kotor karena lingkungan dan menghiasinya dengan ajara islam, agar fitrah ini menjadi semakin indah..

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Status Preman: Surga atau Neraka ? https://konsultasisyariah.com/28893-status-preman-surga-atau-neraka.html Sat, 14 Jan 2017 06:44:10 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28893 Status  Preman Masuk Neraka Atau Surga?

Tanya tadz, preman kan suka bikin rusuh di masyarakat, mabuk-mabukan dan bagaimana status preman tersbut kelak? Apakah surga atau neraka?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada perbedaan dalam memaknai istilah preman di tempat kita. Dalam kamus KBBI preman berarti orang sipil, bukan tentara atau aparat. Sementara di masyarakat, istilah preman lebih identik dengan pelaku tindak kriminal  atau orang yang dicurigai masyarakat karena berpotensi melakukan kriminal.

Apapun itu, kita tidak sedang belajar ilmu bahasa atau kajian semantik. Yang jelas, setiap muslim ditekankan untuk sebisa mungkin menjadi pribadi yang tidak membahayakan orang lain. Sehingga jangan sampai, keberadaan dia di masyarakat, justru membuat masyarakat selalu merasa khawatir, was-was, tidak tenang, karena waspada dengan potensi kejahatannya.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan karakter seorang muslim,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang keberadaannya tidak mengganggu muslim yang lain baik dengan lisan maupun tangannya.” (HR. Bukhari 10 & Muslim 171)

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutuk orang yang keberadaannya diwaspadai oleh orang lain. Masyarakat tidak merasa aman, tidak nyaman, karena dia berpotensi mengganggu. Beliau menyebut orang semacam ini sebagai orang jelek di hari kiamat adalah orang yang ditakuti orang lain karena kejahatannya. Bisa jadi ada rakyat yang takut kepada anda, karena mereka khawatir anda akan mendzalimi mereka.

Dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

Sesungguhnya manusia yang kedudukannya paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dijauhi masyarakat, karena takut dengan kejahatannya. (HR. Bukhari 6032)

Penilaian Masyarakat Baik

Diantara yang menentukan status baik buruknya seseorang adalah penilaian masyarakat terhadap kita. Ketika masyarakat merasa risih dengan tingkah laku kita, atau perbuatan kita, sementara mereka umumnya orang yang baik, maka penilaian mereka bisa jadi dibenarkan oleh Allah.

Masyarakat menjauhinya karena akhlaknya, periangainya yang kasar, dst.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan,

Suatu ketika para sahabat melihat seorang jenazah yang diangkat menuju pemakamannya. Merekapun memuji jenazah ini. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

“Wajib.., wajib.., wajib.”

Tidak berselang lama, lewat jenazah lain. Kemudian para sahabat langsung mencelanya.

Seketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

“Wajib.., wajib.., wajib.”

Umarpun keheranan dan bertanya,

“Apanya yang wajib?”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ

“Jenazah pertama kalian puji dengan kebaikan, maka dia berhak mendapat surga. Jenazah kedua kalian cela, maka dia berhak mandapat neraka. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari 1367 & Muslim 949).

Hadis ini merupakan dalil bahwa pujian yang disampaikan masyarakat kepada mayit, menjadi bukti status keshalehan seseorang ketika di dunia. Pujian yang sifatnya alami. Tidak dibuat-buat atau dikondisikan atau diarahkan suasana agar masyarakat memujinya. Karena pujian atau celaan yang menjadi bukti baik dan buruk seseorang adalah pujian yang jujur.

Pilih Komunitas yang Selamat

Hidup itu memang harus memilih. Hidup memang harus memihak. Karena sejak Allah ciptakan penduduk bumi, kebenaran dan kebatilan selalu bersaing. Kebenaran punya pengikut, kebatilan juga memiliki pengikut. Dan masing-masing berusaha untuk saling mengalahkan, saling mempengaruhi, dst.

Di situlah kita harus menentukan kebepihakan… kita harus menentukan pilihan… karena komunitas adalah cermin siapa kita.

Dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَا مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu seperti pasukan yang berhimpun. Apabila mereka saling mengenal (karakternya) maka akan saling akrab, dan apabila tidak mengenal maka akan saling menentang.” (HR. Bukhari 3336 & Muslim 6876)

Burung hanya akan bertengger bersama kawanannya,

إن الطيور على أشكالها تقع

فكل يرغب في مثله

Sesungguhnya burung-burung itu akan bertengger bersama burung yang sama bentuknya sehingga setiap orang akan mencintai yang semisal dengannya.

Anda berhak untuk menilai diri anda baik… tapi komunitas anda yang akan memberi jawaban siapa anda yang sebenarnya. Karena komunitas adalah cermin siapa kita.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Apa Makna Berkata Uff kepada Orang Tua? https://konsultasisyariah.com/28890-apa-makna-berkata-uff-kepada-orang-tua.html Sat, 14 Jan 2017 00:50:24 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28890 Berkata Uff kepada Orang Tua

Kita dilarang mengucapkan kata uff kepada orang tua. Apa maksudnya? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 3 ayat yang menyebutkan kata uf dalam al-Quran. Kita sebutan,

Pertama, ayat terkait perintah untuk berbuat baik kepada orang tua,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “uff” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. al-Isra: 23)

Kedua, ayat yang menyebutkan perkataan Ibrahim ketika menyudutkan kaumnya yang beribadah kepada selain Allah,

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ . أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” Uff  untuk kalian dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? (QS. al-Anbiya: 66 – 67)

Ketiga, ayat yang menyebutkan permisalan anak soleh dan anak durhaka. Anak durhaka ketika diajak beriman, dia menghina orang tuanya,

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آَمِنْ

“Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Uff bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. Lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka.” (QS. al-Ahqaf: 17)

Ibnul Jauzi menjelaskan makna Uff secara bahasa. Beliau menyebutkan ada 5 pendapat. Dan semuanya merujuk pada satu makna, yaitu sesuatu yang remeh.

[1] Kotoran kuku, ini merupakan pendapat al-Khalil al-Farahidy

[2] Kotoran telinga, ini pendapat al-Ashma’i.

[3] Potongan kuku, ini pendapat Tsa’lab

[4] Uff dari kata al-Afaf [الأَفف]. Dan kata al-Afaf dalam bahasa arab artinya sedikit. Sehingga kata Uff artinya meremehkan, menganggap kecil. Ini pendapat al-Anbari.

[5] Uff artinya benda ringan yang ada di tanah, seperti kerikil atau ranting. Ini pendapat Ibnu Faris

Selanjutnya, Ibnul Jauzi juga menyebutkan keterangan gurunya Abu Manshur,

معنى «الأف» : النَّتَن، والتضجر

Makna uff adalah tidak enak dirasa, berkeluh kesah. (Tafsir Zadul Masir, 4/156).

Kaitannya dengan interaksi anak dengan orang tua, Allah memberikan dua larangan,

[1] Jangan berkata uff

[2] Jangan membentak

Dan uff lebih ringan dari pada membentak. Dengan merujuk makna bahasa, uff untuk orang tua berarti mengucapkan kalimat buruk paling rendah, yang tidak disukai orang tua.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan surat al-Isra ayat 23,

لا تسمعهما قولا سيئًا، حتى ولا التأفيف الذي هو أدنى مراتب القول السيئ

Jangan berkata buruk kepada kedua orang tua, sampaipun kata uff yang merupakan kata buruk yang paling rendah tingkatannya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/64)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>