AKHLAK – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Tue, 17 Jan 2017 01:31:54 +0000 en-US hourly 1 Status Preman: Surga atau Neraka ? https://konsultasisyariah.com/28893-status-preman-surga-atau-neraka.html Sat, 14 Jan 2017 06:44:10 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28893 Status  Preman Masuk Neraka Atau Surga?

Tanya tadz, preman kan suka bikin rusuh di masyarakat, mabuk-mabukan dan bagaimana status preman tersbut kelak? Apakah surga atau neraka?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada perbedaan dalam memaknai istilah preman di tempat kita. Dalam kamus KBBI preman berarti orang sipil, bukan tentara atau aparat. Sementara di masyarakat, istilah preman lebih identik dengan pelaku tindak kriminal  atau orang yang dicurigai masyarakat karena berpotensi melakukan kriminal.

Apapun itu, kita tidak sedang belajar ilmu bahasa atau kajian semantik. Yang jelas, setiap muslim ditekankan untuk sebisa mungkin menjadi pribadi yang tidak membahayakan orang lain. Sehingga jangan sampai, keberadaan dia di masyarakat, justru membuat masyarakat selalu merasa khawatir, was-was, tidak tenang, karena waspada dengan potensi kejahatannya.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan karakter seorang muslim,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang keberadaannya tidak mengganggu muslim yang lain baik dengan lisan maupun tangannya.” (HR. Bukhari 10 & Muslim 171)

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutuk orang yang keberadaannya diwaspadai oleh orang lain. Masyarakat tidak merasa aman, tidak nyaman, karena dia berpotensi mengganggu. Beliau menyebut orang semacam ini sebagai orang jelek di hari kiamat adalah orang yang ditakuti orang lain karena kejahatannya. Bisa jadi ada rakyat yang takut kepada anda, karena mereka khawatir anda akan mendzalimi mereka.

Dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

Sesungguhnya manusia yang kedudukannya paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dijauhi masyarakat, karena takut dengan kejahatannya. (HR. Bukhari 6032)

Penilaian Masyarakat Baik

Diantara yang menentukan status baik buruknya seseorang adalah penilaian masyarakat terhadap kita. Ketika masyarakat merasa risih dengan tingkah laku kita, atau perbuatan kita, sementara mereka umumnya orang yang baik, maka penilaian mereka bisa jadi dibenarkan oleh Allah.

Masyarakat menjauhinya karena akhlaknya, periangainya yang kasar, dst.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan,

Suatu ketika para sahabat melihat seorang jenazah yang diangkat menuju pemakamannya. Merekapun memuji jenazah ini. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

“Wajib.., wajib.., wajib.”

Tidak berselang lama, lewat jenazah lain. Kemudian para sahabat langsung mencelanya.

Seketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

“Wajib.., wajib.., wajib.”

Umarpun keheranan dan bertanya,

“Apanya yang wajib?”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ

“Jenazah pertama kalian puji dengan kebaikan, maka dia berhak mendapat surga. Jenazah kedua kalian cela, maka dia berhak mandapat neraka. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari 1367 & Muslim 949).

Hadis ini merupakan dalil bahwa pujian yang disampaikan masyarakat kepada mayit, menjadi bukti status keshalehan seseorang ketika di dunia. Pujian yang sifatnya alami. Tidak dibuat-buat atau dikondisikan atau diarahkan suasana agar masyarakat memujinya. Karena pujian atau celaan yang menjadi bukti baik dan buruk seseorang adalah pujian yang jujur.

Pilih Komunitas yang Selamat

Hidup itu memang harus memilih. Hidup memang harus memihak. Karena sejak Allah ciptakan penduduk bumi, kebenaran dan kebatilan selalu bersaing. Kebenaran punya pengikut, kebatilan juga memiliki pengikut. Dan masing-masing berusaha untuk saling mengalahkan, saling mempengaruhi, dst.

Di situlah kita harus menentukan kebepihakan… kita harus menentukan pilihan… karena komunitas adalah cermin siapa kita.

Dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَا مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu seperti pasukan yang berhimpun. Apabila mereka saling mengenal (karakternya) maka akan saling akrab, dan apabila tidak mengenal maka akan saling menentang.” (HR. Bukhari 3336 & Muslim 6876)

Burung hanya akan bertengger bersama kawanannya,

إن الطيور على أشكالها تقع

فكل يرغب في مثله

Sesungguhnya burung-burung itu akan bertengger bersama burung yang sama bentuknya sehingga setiap orang akan mencintai yang semisal dengannya.

Anda berhak untuk menilai diri anda baik… tapi komunitas anda yang akan memberi jawaban siapa anda yang sebenarnya. Karena komunitas adalah cermin siapa kita.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Apa Makna Berkata Uff kepada Orang Tua? https://konsultasisyariah.com/28890-apa-makna-berkata-uff-kepada-orang-tua.html Sat, 14 Jan 2017 00:50:24 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28890 Berkata Uff kepada Orang Tua

Kita dilarang mengucapkan kata uff kepada orang tua. Apa maksudnya? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 3 ayat yang menyebutkan kata uf dalam al-Quran. Kita sebutan,

Pertama, ayat terkait perintah untuk berbuat baik kepada orang tua,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “uff” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. al-Isra: 23)

Kedua, ayat yang menyebutkan perkataan Ibrahim ketika menyudutkan kaumnya yang beribadah kepada selain Allah,

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ . أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” Uff  untuk kalian dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? (QS. al-Anbiya: 66 – 67)

Ketiga, ayat yang menyebutkan permisalan anak soleh dan anak durhaka. Anak durhaka ketika diajak beriman, dia menghina orang tuanya,

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آَمِنْ

“Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Uff bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. Lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka.” (QS. al-Ahqaf: 17)

Ibnul Jauzi menjelaskan makna Uff secara bahasa. Beliau menyebutkan ada 5 pendapat. Dan semuanya merujuk pada satu makna, yaitu sesuatu yang remeh.

[1] Kotoran kuku, ini merupakan pendapat al-Khalil al-Farahidy

[2] Kotoran telinga, ini pendapat al-Ashma’i.

[3] Potongan kuku, ini pendapat Tsa’lab

[4] Uff dari kata al-Afaf [الأَفف]. Dan kata al-Afaf dalam bahasa arab artinya sedikit. Sehingga kata Uff artinya meremehkan, menganggap kecil. Ini pendapat al-Anbari.

[5] Uff artinya benda ringan yang ada di tanah, seperti kerikil atau ranting. Ini pendapat Ibnu Faris

Selanjutnya, Ibnul Jauzi juga menyebutkan keterangan gurunya Abu Manshur,

معنى «الأف» : النَّتَن، والتضجر

Makna uff adalah tidak enak dirasa, berkeluh kesah. (Tafsir Zadul Masir, 4/156).

Kaitannya dengan interaksi anak dengan orang tua, Allah memberikan dua larangan,

[1] Jangan berkata uff

[2] Jangan membentak

Dan uff lebih ringan dari pada membentak. Dengan merujuk makna bahasa, uff untuk orang tua berarti mengucapkan kalimat buruk paling rendah, yang tidak disukai orang tua.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan surat al-Isra ayat 23,

لا تسمعهما قولا سيئًا، حتى ولا التأفيف الذي هو أدنى مراتب القول السيئ

Jangan berkata buruk kepada kedua orang tua, sampaipun kata uff yang merupakan kata buruk yang paling rendah tingkatannya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/64)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Menjaga Kesehatan Hati https://konsultasisyariah.com/28816-menjaga-kesehatan-hati.html Mon, 26 Dec 2016 10:07:21 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28816 Menjaga Kesehatan Hati

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak dalil bahwa iman, ibadah, dan ketaataan adalah nikmat. Iman itu manis, ibadah itu manis, taat itu manis, yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang sehat.

Dalam al-Quran, Allah menyebut wahyu dengan sebutan ar-Ruh,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Ruh (al-Quran) dengan perintah Kami…” (QS. as-Syura: 52)

Yang dimaksud Ruh pada ayat di atas adalah wahyu al-Qur’an.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadisnya juga menyebutkan bahwa iman itu rasanya lezat. Diantaranya, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Ada 3 hal, siapa yang memilikinya maka dia akan bisa merasakan manisnya iman. [1] Allah dan Rasul-Nya menjadi sesuatu yang paling dia cintai melebihi yang lainnya. [2] Mencintai orang lain yang latar belakangnya hanya karena Allah. [3] dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke neraka. (Bukhari 6941 & Muslim 174)

Kemudian, dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut shalat sebagai sesuatu yang menenangkan. Dalam hadis dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِى فِى الصَّلاَةِ

“Ketenangan hatiku dijadikan dalam shalat.” (HR. Ahmad12293,  Nasai 3956, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Mengapa Ketika Ibadah kita Tidak Nyaman?

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ketika kita melakukan ketaatan, kita selalu merasa tidak nyaman? Kita merasa tidak betah. Bahkan umumnya kita berfikir bagaimana agar ibadah itu segera selesai…

Bukankah taat itu nikmat?

Shalat itu menenangkan?

Ibadah itu rasanya lezat?

Tapi mengapa seolah menjadi beban yang sangat berat bagi kita?

Jawabannya adalah karena hati kita sedang sakit…

Sebagaimana ketika fisik kita sedang sakit, semua terasa pahit, meskipun sejatinya itu nikmat.

Orang sakit diberi makanan selezat apapun, tidak akan bisa dia nikmati. Karena semua terasa pahit.

Bagi orang sehat, mandi dengan air itu menyegarkan, tapi bagi orang sakit, itu menyiksa dirinya.

Karena dia sakit, sehingga tidak bisa menikmati yang lezat…

Bagaimana penawarnya?

Ibnul Qoyim menyebutkan teori pengobatan orang sakit. Teori ini berlaku dalam semua tindakan pengobatan orang yang sakit, baik sakit fisik maupun sakit hati.

Kata Ibnul Qoyim,

ومدار الصحة على حفظ القوة والحمية عن المؤذى واستفراغ المواد الفاسدة ونظر الطبيب دائر على هذه الأصول الثلاثة

Menjaga kesehatan berporos pada 3 hal: [1] Menjaga kekuatan (حفظ القوة), [2] Perlindungan dari sesutau yang memperparah sakitnya (والحمية عن المؤذى) dan [3] Membersihakan sumber penyakit (واستفراغ المواد الفاسدة).

Dan para dokter selalu memperhatikan 3 prinsip ini. (Ighatsah al-Lahafan, 1/16).

Selanjutnya, kita akan merinci secara ringkas,

Pertama, Menjaga kekuatan [حفظ القوة]

Dalam dunia kedokteran, pendekatan pertama yang digunakan dokter untuk mengobati pasiennya adalah menjaga kekuatan fisik pasien. Dokter akan meminta pasien untuk banyak mengkonsumsi makanan bergizi, banyak beristirahat, jangan banyak berfikir berat, dan tidak lupa diberi multivitamin.

Dalam menjaga kesehatan hati yang sakit juga demikian, kita harus memberikan nutrisi bagi hati. Diantaranya dengan banyak berdzikir, banyak mendekatkan diri kepada Allah, banyak belajar agama, dst.

Karena wahyu itu ruh… mendekat kepada wahyu, baik bentuknya amalan maupun menata pemahaman, berarti meningkatkan potensi kehidupan bagi hati.

Kedua, Perlindungan dari sesutau yang memperparah sakitnya [والحمية عن المؤذى]

Dalam dunia kedokteran, pendekatan kedua yang digunakan dokter untuk mengobati pasiennya adalah melindungi pasien dari sesutau yang memperparah sakitnya. Dokter akan menyebutkan beberapa pantangan yang harus dihindari pasien. Tidak boleh makan berlemak, berkolestrol, dst.

Dalam menjaga kesehatan hati yang sakit juga demikian, kita harus menjaga diri dari kondisi yang memperparah penyakit hati kita. Itulah dosa dan maksiat. Karena dosa dan maksiat adalah noda bagi hati.

Ketiga, Membersihakan sumber penyakit [واستفراغ المواد الفاسدة]

Dalam dunia kedokteran, ini pendekatan ketiga. Dokter akan mengobati sumber penyakit pasien. Pasien akan diberi obat misalnya antibiotik, anti radang, anti alergi, dst.

Dalam menjaga kesehatan hati yang sakit juga demikian, kita harus membersihkan sumber penyakit hati. Dengan cara membersihkan noda dosa. Bentuknya, banyak  bertaubat kepada Allah, memohon ampun atas kesalahan yang kita lakukan, dst.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Fenomena Om Telolet Om… https://konsultasisyariah.com/28806-fenomena-om-telolet-om.html Fri, 23 Dec 2016 02:14:09 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28806 Om Telolet Om…??

Bagaimana menanggapi fenomena om telolet om dari sisi islam? Nampaknya masyarakat mulai gila telolet…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Beberapa hari yang lalu ada salah satu pembaca konsultasisyariah.com juga menanyakan yang sama. Meminta agar dibahas fenomena om telolet. Saya pikir, tidak terlalu penting untuk dibahas, karena ini hanya trend sekilas yang menjadi hiburan masyarakat di pinggir jalan. Namun ternyata masalahnya tidak seremeh yang saya bayangkan. Dari mulai anak-anak, para remaja, hingga yang tua, banyak yang berjejer di pinggir jalan, hanya untuk menantikan bis yang lewat, sambil membawa tulisan pesan “Om telolet om..”

Trend yang telah banyak menyita waktu kaum muslimin… bahkan ada diantara mereka yang menghadang bis lewat sampai jam 9.30 malam. Subhanallah

Kami tidak sedang membahas sisi hukum musiknya. Mengenai hukum musik, anda bisa baca beberapa kumpulan artikel berikut: Yufid.com

Di sini izinkan kami sedikit membandingkan antara jalanan di Indonesia dengan kondisi jalan antara Mekah – Madinah.

rambu-jalan-saudi
rambu-jalan-saudi-2

 

 

 

 

 

 

Bagi anda yang pernah haji atau umrah, suasana jalan antara Mekah – Madinah barangkali tidak hilang dari ingatan. Jalannya lebar, tidak padat, kanan-kiri pemandangan pegunungan dan bebatuan. Tapi ada satu yang sangat menginspirasi, di sepanjang jalan, anda bisa lihat ada rambu jalan bertuliskan kalimat-kalimat thayibah… atau ajakan untuk bertawakkal, berlindung dari godaan setan, atau meminta pertolongan kepada Allah.

Ada yang bertuliskan shalawat… ada yang bertuliskan alhamdulillahi rabbil alamin… ada juga yang bertuliskan astaghfirullah… sehingga setiap pengguna jalan yang melintasi rambu itu, merasa diingatkan untuk mengucapkan kalimat thayibah di atas.

Anda bisa bayangkan pengaruhnya?

Orang yang mengajak berdzikir dapat pahala. Dan para pengguna jalan yang berdzikir juga dapat pahala. Terlebih yang mengajak, mereka mendapat pahala lebih besar.

Dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدَّالَّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

Sesungguhnya orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain, seperti pelakunya. (HR. Ahmad 23027, Turmudzi 2883, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Itulah arti sebuah ajakan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Pemerintah Saudi menyadari, mengingatkan orang untuk berdzikir termasuk amal soleh yang menghasilkan pahala. Karena bagian dari ciri  muslim yang baik, hanya akan perhatian terhadap sesuatu yang bermanfaat baginya.

Dari Abu Hurairah dan Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Bagian dari tanda sempurnanya islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang tidak berarti baginya. (HR. Ahmad 1737,  Turmudzi 2487 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Para pengguna jalan bisa menggunakan waktu kosongnya untuk banyak berdzikir. Mengucapkan kalimat thayibah, sebisa yang dia lakukan. Dia bisa membaca tasbih, tahlil, tahmid, atau memperbanyak istighfar, atau memperbanyak membaca shalawat. Buat lisan kita selalu basah dengan dzikir, dengan istighfar, atau dengan shalawat. Sehingga waktu kita di atas kendaraan akan semakin berarti.

Abdullah bin Busr bercerita,

Ada orang badui datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Ya Rasulullah, syariat islam sangat banyak. Tolong ajarkan kepadaku perkara yang bisa aku pegangi selalu?’ kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan,

لاَ يَزَالُ لِسَانُك رَطْبًا بِذِكْرِ اللهِ

Jaga lisanmu agar selalu basah dalam mengucapkan dzikir kepada Allah. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf no. 30066).

Ajakan telolet mungkin bisa ganti dengan semarak,

Om, istighfar Om.

Om, shalawat om…

Om, baca tasbih om.. baca tahlil om, dst.

Kedua, masalah nongkrong di pinggir jalan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tindakan ini kurang baik, kecuali bagi mereka yang bisa menunaikan hak jalan.

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِى الطُّرُقَاتِ

“Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.”

Para sahabat mengatakan,

“Ya Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan duduk di pinggir jalan, untuk mengobrol.”

Kemudian beliau mengatakan,

فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ ». قَالُوا وَمَا حَقُّهُ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الأَذَى وَرَدُّ السَّلاَمِ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ »

Jika kalian enggan untuk tidak duduk-duduk di pinggir jalan, maka kalian harus tunaikan hak jalan. Yaitu, tundukkan pandangan, jangan mengganggu, jawab salam, dan tegakkan amar makruf nahi munkar. (HR. Ahmad 11309, Muslim 5685 dan yang lainnya).

Mereka yang sudah dewasa, hanya menunggu bis lewat sambil membawa tulisan berisi pesan, om telolet, jelas ini bukan hak jalan.

Allahu a’lam…

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Bersuara ketika Sendawa https://konsultasisyariah.com/28763-hukum-bersuara-ketika-sendawa.html Wed, 14 Dec 2016 02:14:39 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28763 Bersuara ketika Sendawa

Bagaimana hukum sendawa dg suara keras… apakah ini dilarang?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebagai muslim yang haus ilmu agama akan memahami betapa islam merupakan agama sempurna, yang mengatur semuanya. Termasuk masalah adab sehari-hari.

Suatu ketika ada orang musyrik bertanya kepada Salman dengan nada ngeledek,

لَقَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَة

Apakah nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampaipun masalah al-Khira’ah?

Al-Khira’ah artinya cara duduk ketika buang air.

Mendengar pertanyaan ini, Salman mengatakan dengan sangat bangga,

أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ

“O ya… beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk menghadap kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil.” (HR. Muslim 629 dan yang lainnya)

Masalah sendawa pernah disebutkan dalam hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita,

Ada orang yang bersendawa di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau mengatakan,

كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِى الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tahan sendawamu di hadapan kami. Karena orang yang paling sering kenyang di dunia, paling lama laparnya kelak di hari kiamat. (HR. Turmudzi 2666 dan dihasankan al-Albani).

Dalam riwayat lain, disebutkan dalam Syarh Sunah,

أقصر من جشائك

Kurangi sendawamu.

Dalam Tuhfatul Ahwadzi dinyatakan,

النهي عن الجشاء هو النهي عن الشبع ; لأنه السبب الجالب له

Larangan banyak bersendawa merupakan larangan untuk kenyang. Karena kenyang merupakan sebab terjadinya sendawa. (Tuhfatul Ahwadzi, 7/153)

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

والتجشؤ بصوت مرتفع ليس محرمًا، وإنما يعد فعله خلاف الأدب، إن كان بحضرة الآخرين، حتى لا يتأذوا من الصوت والرائحة

Sendawa dengan suara keras tidaklah haram, namun perbuatan ini tidak sesuai adab. Terutama ketika ada orang lain, sehingga mereka tidak terganggu dengan suara dan baunya. (Fatwa Islam, no. 130906)

Karena itulah, ketika seseorang terpaksa bersendawa di depan orang lain, dianjurkan untuk ditahan atau disembunyikan. Agar tidak mengganggu atau menimbulkan suasana jijik orang yang mendengarnya.

Syaikh Abdullah bin Aqil mengatakan,

قال الإمام أحمد في رواية أبي طالب: إذا تجشأ الرجل وهو في الصلاة، فليرفع رأسه إلى السماء حتى يذهب الريح، فإذا لم يرفع رأسه أذى من حوله من ريحه. قال: وهذا من الأدب، وقال في رواية مهنا: إذا تجشأ الرجل، فينبغي له أن يرفع وجهه إلى فوق؛ لكي لا يخرج من فيه رائحة يؤذي بها الناس

Imam Ahmad mengatakan menurut riwayat Abu Thalib, “Apabila ada orang bersendawa ketika shalat, hendaknya dia mengangkat kepalanya ke atas, sehingga udaranya hilang.” Karena jika tidak menengadah, akan mengganggu orang di sekitarnya karena bau mulutnya. Beliau mengatakan, “Ini bagian dari adab.” Beliau juga mengatakan menurut riwayat Muhanna, “Apabila orang mau bersendawa, hendaknya dia angkat kepalanya ke atas, agar tidak keluar bau mulut yang mengganggu orang lain.” (Fatawa Syaikh Ibnu Aqil, 2/214).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Cara Menasihati Teman Perokok – Video Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah https://konsultasisyariah.com/28704-cara-menasihati-teman-perokok-video-ustadz-dr-syafiq-riza-basalamah.html Mon, 05 Dec 2016 02:29:06 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28704

Merokok sudah menjadi kebiasan buruk ditengah-tengah masyarakat kita. Ketika kita memiliki keluarga atau bahkan teman perokok, bagaimanakah cara menasihati mereka agar tidak merokok?

Yuk tonton video Konsultasi Syariah: Cara Menasihati Teman Perokok – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA.

]]>
Aman itu Nikmat yang Harus Dijaga https://konsultasisyariah.com/28687-aman-itu-nikmat-yang-harus-dijaga.html Thu, 01 Dec 2016 02:13:08 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28687 Aman itu Nikmat yang Harus Dijaga

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah menjamin, jika manusia berusaha untuk menghitung nikmat Allah, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya. Walaupun menghitungnya dengan kelipatan puluhan.

Allah berfirman,

وَآَتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu meng-hinggakan-nya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Ada dua istilah menghitung pada ayat di atas, ta’did [تعديد] dan ihsha’ [إحصاء]. Ta’did artinya menghitung dengan metode satuan. Satu dihitung satu. Sedangkan ihsha’ ini perhitungan dengan metode kelipatan 10. Sejumlah 10 dihitung satu.

Dan Allah tegaskan, keduanya tidak bisa dilakukan manusia.

Terlebih masih banyak nikmat Allah yang barangkali tidak perlu terbesit dalam diri kita bahwa itu nikmat. Karena kita sudah sangat sering mendapatkannya, sehingga kita tidak merasa bahwa itu bagian dari nikmat.

Diantara nikmat itu adalah nikmat aman…

Nikmat, ketika kita bisa merasakan kenyamanan dalam beraktivitas…

Nikmat , ketika kita bisa merasakan hidup tanpa tekanan…

Nikmat, ketika kita bisa keluar rumah tanpa takut dari gangguan…

Sungguh ini nikmat luar biasa…

Ketika kita memiliki mobil bagus… kemudian mobil itu anda parkir di tempat yang jauh dari jangkauan anda, sementara di daerah itu terkenal sering terjadi curanmor, kami sangat yakin, anda tidak bisa nyaman. Anda akan dihantui rasa takut, cemas, resah, jangan-jangan ada yang mencuri mobil anda. Meskipun anda sudah melengkapinya dengan pengamanan.

Ketika anda mengalami itu, ada sebagian nikmat aman yang dicabut.

Kita juga bisa melihat, ketika ada gubernur yang kemana-mana dihantui rasa takut, jangan-jangan ada rakyatnya yang mengancam nyawanya… betapa dia kehilangan nikmat itu. Untuk bisa beristirahat, dia harus mengeluarkan banyak dana untuk keamanan.

Sementara rakyatnya ada tukang becak yang dia bisa tidur nyenyak di atas becaknya tanpa perasaaan takut… Siapa yang lebih merasakan nikmat aman..?

Dalil bahwa Aman itu Nikmat

Pertama, janji Allah untuk orang mukmin yang soleh akan mendapatkan jaminan keamanan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-An’am: 82)

Allah menjanjikan orang beriman yang tidak mencampuri imannya dengan kedzaliman, mareka mendapat 2 hal: keamanan dan hidayah.

Yang dimaksud, tidak mencampuri imannya dengan kedzaliman adalah tidak berbuat syirik dan menghindari semua maksiat yang merupakan lawan dari iman. Itu artinya, keamanan dan hidayah keduanya adalah nikmat.

Kedua, Allah memerintahkan orang kafir Quraisy untuk masuk islam karena telah mendapat nikmat aman

Allah berfirman,

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ . الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS. Quraisy: 3-4)

Ada banyak nikmat yanng Allah berikan untuk orang Quraisy. Tapi nikmat yang Allah jadikan alasan untuk memerintahkan mereka agar mau masuk islam, Allah sebutkan nikmat aman dan makanan.

Ketiga, Manusia punya aman, ibarat memiliki seisi dunia.

Dalam hadis dari Ubaidillah bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Siapa yang pagi hari dalam kondisi aman jiwanya, sehat raganya, dan dia punya bahan makanan cukup di hari itu, seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya.” (QS. Turmudzi 2346, Ibn Majah 4280, dan dihasankan al-Albani)

Subhanallah… memiliki 3 nikmat ini, ibarat memiliki dunia seisinya. Padahal ketiga nikmat jarang kita merasa bahwa itu nikmat.

Jaga Nikmat itu….

Sesuatu yang berharga, tidak boleh kita sia-siakan. Apalagi kita hilangkan. Karena itulah, kita diperintahkan untuk menjaganya.

Hindari setiap pemicu fitnah… seperti ucapan-ucapan yang memicu emosi masyarakat.

Ada ungkapan menyatakan,

الفتنة نائمة لعن الله من أيقظها

Fitnah itu sesuatu yang tidur. Allah melaknat orang yang membangunkannya. (Kasyful Khafa’, 2/83)

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Jadilah Aparat yang Sadar Akhirat https://konsultasisyariah.com/28337-jadilah-aparat-yang-sadar-akhirat.html Mon, 28 Nov 2016 07:17:41 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28337 Nasehat untuk Aparat

Mohon berikan nasehat kepada kami para aparat negara, agar bisa lebih baik. Jazakumullah khoiran…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Banyak hal yang sebenarnya semua manusia telah menyadari bahwa itu penyimpangan moral. Tapi terkadang nafsu membuat sebagian orang sulit berubah. Dia rela harus melumuri dirinya dengan noda dosa yang penting bisa mendapatkan banyak harta.

Semua orang bisa menilai itu kejahatan, itu kriminal, itu memalukan….

Karena itu, yang lebih penting untuk digalakkan adalah bagaimana membangun kedasaran menjadi aparat yang berkarakter…

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa hidup tidak sekali. Kita akan mengalami kematian dan menjalani kehidupan kedua untuk menghadap Allah Yang Maha Mengetahui…

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. al-Jumu’ah: 8)

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa Allah menyaksikan semua yang kita perbuat. Dia mencatat semuanya, meskipun berjuta maksiat, kita melupakannya.

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. al-Mujadilah: 6)

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa semua yang kita lakukan akan dihisab oleh Allah… Dia akan menampakkan semua yang pernah kita lakukan, yang besar maupun yang kecil…

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ , وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. az-Zalzalah: )

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa jabatan adalah amanah dari umat. Dan Allah perintahkan agar amanah itu ditunaikan dengan benar… termasuk memberikan keputusan sesuai prinsip keadilan…

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. an-Nisa: 58)

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa semua harta dan jabatan sama sekali tidak bisa memberi pembelaan kepada siapapun di depan pengadilan Allah. Saat ini anda bisa merasa paling kuat, punya banyak pembela. Namun itu semua tidak ada artinya di hari kiamat,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, ( ) kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih… (QS. as-Syu’ara: 88 – 89)

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa Allah tidak akan melupakan semua tindak kedzaliman. Kita bisa merasa aman di dunia ketika punya jabatan dan tidak ada yang berani memberi hukuman. Tapi Allah tidak akan pernah melupakannya…

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (QS. Ibrahim: 42)

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa di hari kiamat kelak ada orang yang bangkrut karena memikul dosa setiap orang yang pernah dia dzalimi. Atau dia berikan pahala amal soleh yang pernah dia lakukan, kepada orang yang dia dzalimi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا : الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لا دِرْهَمَ لَهُ وَلا مَتَاعَ ، فَقَالَ : إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”

Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda.”

Beliau menimpali, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, sementara dia pernah menghina si A, menuduh si B, mengambil harta si C, menumpahkan darah si D, dan memukul si E. Maka kelak pahala-pahalanya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim 2581)

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa setiap harta khianat (ghulul) akan didatangkan di hari kiamat, dipikul oleh orang yang mengambilnya, hingga selesai hisab…

وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa yang mengambil harta khianat, maka pada hari kiamat dia akan datang membawa harta hasil khianat itu. Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang dia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak didzalimi.” (QS. Ali Imran: 161)

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa yang menyusahkan orang lain karena jabatannya, didoakan keburukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mendapatkan kesusahan selama hidupnya.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan,

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

Ya Allah, siapapun diantara umatku yang menjadi pemimpin, lalu dia menyusahkan rakyatnya, maka berikan kesusahan baginya. Dan siapa yang menjadi pemimpin, lalu berusaha bersikap lembut dan memudahkan rakyatnya, maka mudahka hidupnya. (HR. Ahmad 24623 dan Muslim 4826)

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa menipu rakyat adalah ancaman ditolak dari surga.

Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Setiap hamba yang Allah beri kesempatan untuk memimpin rakyat, kemudian dia mati membawa dosa pernah menipi rakyatnya, maka Allah akan haramkan dia masuk surga. (HR. Muslim 380 dan Ibnu Hibban 4495)

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa setiap setiap upaya mencari kesalahan orang lain adalah sangat tercela. Siapa yang mencari-cari kesalahan orang lain, Allah akan mempermalukan dirinya di hadapan umum.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ

Siapa yang mencari-cari kesalahan saudaranya muslim, maka Allah akan mencari-cari kesalahannya. Dan siapa yang Allah cari kesalahannya akan Dia permalukan meskipun dia bersembunyi di tengah rumahnya. (HR. Turmudzi 2164 dan dishahihkan al-Albani).

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa setiap suap adalah laknat. Uang tips adalah laknat. Amplop pelicin adalah laknat…

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِى وَالْمُرْتَشِى

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap. (HR. Ahmad 6532, Turmudzi 1387 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Jadilah aparat yang sadar akhirat…

Yang sadar bahwa diantara orang jelek di hari kiamat adalah orang yang ditakuti orang lain karena kejahatannya. Bisa jadi ada rakyat yang takut kepada anda, karena mereka khawatir anda akan mendzalimi mereka.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

Sesungguhnya manusia yang kedudukannya paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dijauhi masyarakat, karena takut dengan kejahatannya. (HR. Bukhari 6032)

Menjadi pemimpin yang baik memang perjuangan berat… namun tidak ada kata menyerah bagi pemimpin muslim. Allah janjikan mereka dengan naungan di hari kiamat…

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ…

Ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan darinya. [1] Pemimpin yang adil, [2] pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabnya……(HR. Bukhari 660, Muslim 2427 dan yang lainnya).

Semoga Allah mempertemukan kita di surga… amin.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Teladan Kebaikan Dari Keluarga Ulama https://konsultasisyariah.com/28631-teladan-kebaikan-dari-keluarga-ulama.html Sat, 19 Nov 2016 00:40:23 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28631 Teladan Kebaikan Dari Keluarga Ulama

Oleh: Ustad Abdullah bin Taslim, M.A.

بسم الله الرحمن الرحيم

Berbicara tentang kisah keteladanan para ulama Salaf dalam ketekunan beribadah, ketaatan dan sifat zuhud, tentu merupakan pembicaraan yang tidak asing bahkan sangat dikenal di kalangan kaum muslimin.

Akan tetapi, tahukah kita bahwa kisah keteladanan dari anggota keluarga mereka juga tidak kalah menariknya dan sangat patut untuk kita baca serta kita renungkan.

Sebagai bukti bahwa para ulama Salaf tidak hanya memperhatikan dan mengusahakan kebaikan untuk diri mereka sendiri saja, tapi mereka juga sangat memperhatikan pengajaran dan bimbingan kebaikan bagi anggota keluarga mereka.

Mereka benar-benar memahami dan mengamalkan firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib, ketika menafsirkan ayat di atas berkata: “Maknanya: Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”. (HR. Hakim dalam al-Mustadrak, 2/535)

Juga hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada tiga orang yang akan mendapatkan dua pahala: … dan seorang laki-laki yang memiliki budak perempuan, lalu dia mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan mengajarkan (ilmu agama) kepadanya dengan pengajaran yang baik, kemudian dia memerdekakannya dan menikahinya, maka dia kan mendapatkan dua pahala”. (HR. Bukhari 97)

Kalau keutamaan ini didapatkan dengan mengajarkan dan memberikan bimbingan kebaikan kepada seorang budak, maka tentu saja mengusahakan ini kepada anggota keluarga, anak dan istri, akan mendatangkan keutamaan yang lebih besar lagi. (Ma’aalimu fi thariiqi thalabil ‘ilmi, hlm. 132)

Dalam tulisan ini, kami akan membawakan beberapa kisah keteladanan para keluarga ulama masa silam, bagaimana mereka memahami dan mengamalkan agama ini. Semoga bisa menjadi motivasi kebaikan bagi anggota keluarga muslim dalam meniti jalan hidup menuju keridhaan Allah,

Imam Abu Hanifah pernah mengatakan,

“Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai daripada kebanyakan (masalah-masalah) fikih, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)”. (Jaami’ bayaanil ‘ilmi wa fadhlih, Ibnu Abdil Bar, no. 595)

Pertama, Keteladanan keluarga Salaf dalam berkorban di jalan Allah dan membela kebenaran

Imam adz-Dzahabi menukil kisah tentang Imam ‘Ashim bin ‘Ali al-Wasithy,

Di zaman fitnah khalqul Qur’an – pemaksaan aqidah bahwa al-Quran itu makhluk – ketika itu Imam Ahmad bin Hambal ditangkap dan disiksa oleh penguasa karena beliau mempertahankan aqidah Ahlus sunnah, bahwa al-Qur’an adalah firman Allah dan bukan makhluk.

‘Ashim bin ‘Ali al-Washithy berkhutbah di hadapan para ulama Ahlus sunnah lainnya,

“Adakah seorang yang mau berdiri bersamaku untuk bersama-sama kita datangi orang ini (khalifah al-Ma’mun) dan menasehatinya?”.

Ketika itu, tidak ada seorangpun yang memenuhi ajakannya, lalu kemudian Ibrahim bin Abi al-Laits berkata,

“Wahai Ashim bin ‘Ali, aku pulang dulu menemui anak-anakku untuk memberi wasiat kepada mereka (sebelum pergi bersamamu)”.

Kemudian Ibrahim bin Abi al-Laits datang dan berkata kepada kami:

“Aku pulang menemui anak-anakku dan mereka menangis karena takut aku akan disiksa atau dibunuh”.

Pada waktu itu, datang sepucuk surat dari dua putri Imam ‘Ashim bin ‘Ali dari kota Wasith, yang isinya,

“Wahai ayah kami, sungguh telah sampai kepada kami (berita) bahwa orang ini (khalifah al-Ma’mun) telah menangkap dan menyiksa Imam Ahmad bin Hambal supaya mau mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Karena itu wahai ayah kami, bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengikuti khalifah itu (dalam pendapatnya yang sesat itu). Demi Allah, sungguh jika datang kepada kami berita tentang kematianmu, ini lebih kami sukai daripada berita bahwa engkau mengikuti pendapatnya yang sesat.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’, 9/264)

Lihatlah teladan agung dalam berkorban di jalan Allah dan membela aqidah Ahlus sunnah dalam kisah di atas!

Para keluarga Salaf telah terdidik untuk mengagungkan dan mengutamakan kebenaran, apalagi yang berhubungan dengan iman dan keyakinan. Mereka benar-benar memahami makna al-wala’ wal bara’ (loyalitas dan benci karena Allah), meskipun harus berpisah dengan orang yang paling dia cintai.

Kedua, Keteladanan keluarga Salaf dalam menjauhi sifat rakus terhadap harta meskipun dalam keadaan miskin dan kekurangan.

Imam Ibnul Jauzi menukil kisah dari jaman para Salaf, tentang seorang lelaki dari Bagdad yang bernama ‘Abdullah.

Tuan Abdullah akan melakukan ibadah haji dan membawa titipan uang sepuluh ribu dirham dari pamannya yang berpesan kepadanya,

“Jika kamu telah sampai di kota Madinah, maka carilah keluarga yang paling miskin di sana, lalu berikanlah uang ini kepada mereka (sebagai sedekah)”.

Abdullah bercerita,

Ketika aku telah sampai di Madinah, maka aku bertanya kepada orang lain tentang keluarga yang paling miskin di Madinah. Lalu aku ditunjukkan sebuah rumah, maka akupun mendatanginya, kemudian aku mengetuk pintu dan seorang perempuan dari dalam rumah menjawab ketukanku.

“Siapakah anda”, tanya wanita penghuni rumah itu.

“Aku seorang yang datang dari Bagdad, aku dititipkan (uang sebesar) sepuluh ribu dirham dan aku dipesan untuk menyerahkannya (sebagai sedekah) kepada keluarga yang paling miskin di Madinah, dan orang-orang telah menceritakan keadaan kalian kepadaku, maka ambillah uang ini!”. jawab Abdullah.

“Wahai ‘Abdullah, orang yang menitipkan uang itu kepadamu mensyaratkan keluarga yang paling miskin di Madinah yang berhak menerimanya, dan keluarga yang tinggal di depan rumah kami lebih miskin daripada kami, (berikanlah uang itu pada mereka)!” jawab wanita itu.

Akupun meninggalkan rumah itu dan mendatangi rumah di depannya, lalu aku mengetuk pintu dan seorang perempuan (dari dalam rumah) menjawab ketukanku. Kemudian aku katakan padanya seperti yang aku katakan kepada perempuan yang pertama. Perempuan itu menjawab,

“Wahai ‘Abdullah, kami dan tetangga kami itu sama-sama miskin, maka bagilah uang itu untuk kami dan mereka”. (Shifatush shafwah, 2/206)

Allahu akbar,

Mereka benar-benar menjaga diri dari sifat rakus dan tamak terhadap harta, yang mana sifat inilah menjadikan seorang manusia selalu berambisi mengumpulkannya meskipun dengan cara yang tidak halal dan mengambil yang bukan haknya.

Mereka benar-benar memahami sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian, maka kalianpun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga (akibatnya) dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka”. (HR. Bukhari 2988 dan Muslim 2961)

Akhlak mulia yang mereka miliki ini juga melahirkan sifat mulia lainnya, yaitu al-iitsaar (mendahulukan saudara sesama muslim) dan rela berbagi bersamanya, meskipun dia membutuhkannya.

Ketiga, Keteladanan keluarga Salaf dalam meninggalkan perbuatan maksiat sejak usia dini

Imam Abu Bakar al-Marwazi bercerita:

“Aku pernah datang ke rumah Imam Ahmad bin Hambal, ketika itu ada seorang wanita tukang sisir sedang menyisir rambut anak perempuannya yang masih kecil.

“Apakah kamu menyambung rambutnya dengan qaraamil (Penyambung rambut dari benang)?” tanyaku.

Spontan wanita tukang sisir itu mengatakan,

“Anak kecil itu menolak (dengan keras) dan berkata: Sesunguhnya ayahku melarangku (melakukan itu) dan dia akan marah jika aku melakukannya.” (Manaqib Imam Ahmad, hlm. 407)

Lihatlah bagaimana pengaruh positif didikan sang ayah dari anak kecil ini dalam berpegang teguh dengan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, dan tentu ini tidaklah mengherankan, karena ayahnya adalah Imam besar Ahlus Sunnah, Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau telah mengajarkan kepada putri kecilnya ini hadis riwayat ‘Aisyah bahwa Rasulullah melaknat perempuan yang menyambung rambutnya dan perempuan yang meminta disambung rambutnya.

Keempat, Keteladanan keluarga Salaf dalam menghadiri majelis ilmu dan mengunjungi orang-orang yang shaleh sejak kecil, untuk meneladani akhlak mereka.

Imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah kisah dari seorang ulama Salaf yang terkenal, Ibrahim al-Harbi. Dari Muqatil bin Muhammad al-‘Ataki, beliau bercerita,

Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku: “Mereka ini anak-anakmu?”

Ayahku menjawab: “Iya”.

Beliau berkata kepada ayahku: “Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka”. (Shifatush shafwah, 2/409)

Imam Ibrahim bin Adham mengatkan,

“Ketika aku masih kecil ayahku berkata kepadaku,

Wahai anakku, tuntutlah ilmu hadis, setiap kali kamu mendengar sebuah hadis dan menghafalnya maka kamu dapat (uang) satu dirham”. Maka akupun menuntut ilmu hadis karena motivasi itu”. (Syarafu ashhabil hadits, hlm. 66)

Imam al-Khathib al-Bagdadi menukil kisah dari Imam al-A’masy, ketika beliau sedang menyampaikan hadis di hadapan anak-anak yang masih kecil, maka ada yang bertanya kepada beliau,

“Kamu menyampaikan hadis di hadapan anak-anak yang masih kecil ini?”.

“Anak-anak yang masih kecil inilah yang akan menjaga agamamu”. Jawab Imam al-A’masy.

(Syarafu ashhaabil hadits, hlm. 64)

Renungkanlah kisah di atas, bagaimana para ulama Salaf membiasakan anggota keluarga mereka, sejak usia anak-anak, untuk selalu menghadiri majelis ilmu dan kajian-kajian Islam untuk kebaikan agama mereka, serta bergaul dan mengunjungi orang-orang yang shaleh dalam rangka meneladani akhlak mulia mereka.

Mereka memahami bahwa jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk selalu meniru dan mengikuti orang lain yang dikaguminya dan selalu dekat dengannya. Sebagaimana sabda Rasulullah : “Ruh-ruh (jiwa) manusia adalah kelompok yang selalu bersama, maka yang saling bersesuaian di antara mereka akan saling dekat, dan yang tidak bersesuaian akan saling berselisih”. (HR. Bukhari 3158 dan Muslim 2638)

Inilah salah satu di antara tujuan terbesar Allah menceritakan kisah-kisah keteladanan para Nabi dalam banyak ayat al-Qur’an. Allah berfirman,

وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Huud: 120).

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi kebaikan bagi kita semua.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Diambil dari situs: http://manisnyaiman.com dengan sedikit ringkasan.

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>