Anak – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Tue, 23 Aug 2016 02:19:46 +0000 en-US hourly 1 Memaksa Anak untuk Berpuasa https://konsultasisyariah.com/27780-memaksa-anak-untuk-berpuasa.html Sat, 14 May 2016 00:48:09 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=27780 Bolehkah Memaksa Anak untuk Berpuasa?

Hukum memaksa anak 10 tahun untuk puasa dan usia berapa batasan waktu melatih anak puasa?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Puasa seperti kewajiban syariat pada umumnya. Puasa diwajibkan hanya bagi mukallaf, yaitu muslim, berakal, dan baligh. Dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يَفِيقَ

Pena catatan amal diangkat (kesalahannya tidak dihitung) untuk 3 orang: orang yang tidur sampai bangun, anak kecil sampai besar (baligh), dan orang gila sampai sadar. (HR. Ahmad 24694 & Nasai 3445)

Berdasarkan hadis ini, anak yang belum baligh tidak wajib berpuasa. Hanya saja, dianjurkan bagi orang tua untuk melatih anaknya berpuasa. Terutama ketika anak itu mendekati usia baligh. Diharapkan, ketika masuk usia baligh, dia tidak keberatan untuk berpuasa. Dan untuk usaha ini, orang tua berhak mendapat pahala amar makruf, mengajak anaknya untuk melakukan ketaatan.

Ibnu Batthal mengatakan,

أجمع العلماء أنه لا تلزم العبادة والفرائض إلا عند البلوغ، ولكن أكثر العلماء استحسنوا تدريب الصبيان على العبادات رجاء البركة، وأن من فعل ذلك منهم مأجور، ولأنهم باعتيادهم عليها تسهل عليهم إذا لزمتهم

Ulama sepakat bahwa ibadah fardhu tidak wajib kecuali setelah baligh. Hanya saja, mayoritas ulama menganjurkan untuk melatih anak-anak melakukan ibadah, dengan harapan mendapatkan keberkahan, dan orang tua yang mendidik semacam ini akan mendapat pahala. Karena dengan dibiasakan melakukan ibadah, akan memudahkan mereka untuk melaksanakan ibadah, jika sudah diwajibkan. (Syarh Shahih Bukhari Ibnu Batthal, 4/107)

Diantara yang menganjurkan adanya latihan puasa bagi anak adalah Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, az-Zuhri, Atha’, Qatadah, dan Imam as-Syafi’i rahimahullah.

Dan seperti inilah tradisi yang dilakukan para sahabat. Mereka melatih anak-anaknya untuk berpuasa. Puasa pertama yang diwajibkan untuk para sahabat adalah puasa ‘Asyura. Ketika itu diwajibkan, mereka melatih anak-anaknya untuk ikut berpuasa.

Dalam hadis dari sahabat Rubayyi’ bintu Muawwidz radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita,

Bahwa di pagi hari Asyura, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa sahabat untuk memberi tahu tentang kewajiban puasa ke kampung-kampung anshar,

مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ

Siapa yang hari ini sudah sarapan, hendaknya dia puasa di sisa harinya. Dan siapa yang berpuasa, belum makan, hendaknya dia lanjutkan puasanya.

Kata Rubayyi’,

Kamipun berpuasa dan kami mengajak anak-anak kami untuk berpuasa. Kami buatkan boneka dari kapas. Jika ada yang menangis minta makanan, kami beri boneka itu, sampai datang waktu berbuka. (HR. Bukhari 1960)

Latihan semacam ini tentu saja dengan pertimbangkan kondisi fisik anak. Sehingga jika anak sakit-sakitan, atau suka kelelahan. Sehingga mengenai usia berapa yang paling tepat untuk membiasakan puasa, semua kembali kepada kemampuan anak. Artinya, latihan bisa dilakukan selama tidak memberatkan, meskipun sebaliknya, anak jangan sampai tidak puasa sama sekali dengan alasan memberatkan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Mencari Suami Penderita HIV yang Sudah Taubat https://konsultasisyariah.com/26446-mencari-suami-penderita-hiv-yang-sudah-taubat.html Mon, 15 Feb 2016 03:26:59 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=26446 Penderita HIV ingin Mencari Pendamping Hidup?

Assalammualaikum, ustadz..
Sy seorang ibu penderita hiv yang tertular dr almarhum suami sy.. In shaa Allah sy sdh ikhlas menerima kenyataan bhw sy menderita hiv.. In shaa Allah alm meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.. Sy ingin menikah lagi dengan ikhwan yang soleh penderita hiv yang sudah bertaubat, yang sudah belajar manhaj salaaf.. krn akan berdosa bagi sy bila menikah dgn ikhwan yg sehat krn akan beresiko tertular penyakit yg sy derita.. Bila menikah dgn sesama penderita, in shaa Allah akan berikhtiar bersama utk mendapatkan kesembuhan dalam ketakwaan kepada Allah swt.. Apakah ada komunitas pengajian manhaj salaaf bagi penderita hiv sehingga ada kemungkinan besar bagi sesama penderita utk menikah? Wassalammualaikum wr.wb..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Semoga Allah memberikan kesabaran bagi anda dan keluarga anda. Dan semoga Allah memberikan yang terbaik untuk anda, di dunia dan akhirat. Bagi seorang muslim, musibah dan sakit, bukan masalah terbesar dalam hidupnya. Karena mereka menyadari, hal terpenting adalah iman dan keselamatan agamanya. Hidup ini tidak akan ada yang bisa lepas dari musibah. Sehingga kita berharap, agar musibah itu tidak sampai membahayakan agama kita.

Dalam salah satu doanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah agar musibah yang menimpa beliau, tidak sampai menimpa agama.

وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنا في دِينِنَا

Jangan Engkau jadikan musibah kami adalah musibah yang membahayakan agama kami. (HR. Turmudzi 3502 dan dihasankan al-Albani)

Setiap muslim, akan bisa berbahagia ketika sakit…

Baca: Berbahagia Ketika Sakit

Hukum Pernikahan Penyandang virus HIV

Dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Termasuk bentuk membahayakan orang lain (dhirar) adalah menularkan penyakit yang dia derita kepada orang lain. Karena itu, terkait pernikahan orang yang terkena aids, ada 3 pertimbangan yang perlu diperhatikan,

[1] Pernikahan antara penyandang aids dengan orang normal, yang tidak menyandang aids.

Dalam kondisi ini sebagian ulama melarang terjadinya pernikahan. Karena ini justru menyebarkan penyakit ke tengah masyarakat.

Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz al-Uqail mengatakan,

لا يجوز للزوجة القبول بهذا الزوج المريض، وللولي أن يمنعها من ذلك

Tidak boleh bagi seorang wanita untuk menerima pernikahan dengan lelaki yang terkan aids. Dan wali berhak untuk menolak perniakahan ini. (http://www.almoslim.net/node/82391)

Bagaimana jika yang sehat merasa ridha?

Jika yang sehat merasa ridha, dan pernikahan dilanjutkan, maka pernikahan sah. Hanya saja, harus menggunakan alat kontrasepsi, untuk menghindari terjadinya penularan.

Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz al-Uqail mengatakan,

في حالة الرضا من الطرفين ببقاء الزواج مع وجود هذا المرض في أحدهما فلا مانع من ذلك بشرط تجنب الجماع المباشر أو استعمال الواقي استعمال صحيحاً

Dalam kondisi masing-masing sama-sama memahami untuk terjadinya pernikahan dengan pasangan penyandang virus HIV, ini tidak dilarang. Dengan syarat, hindari melakukan hubungan secara langsung tanpa pengaman atau dia gunakan alat kontrasepsi dengan cara yang benar. (http://www.almoslim.net/node/82391)

[2] Pernikahan antar sesama penyandang Aids

Para ulama membolehkan, karena tidak ada yang mendapatkan ancaman bahaya dalam kasus ini.

Dr. Khalid bin Ahmad Babathin menyatakan,

يجوز للمصاب بفيروس الإيدز أن يتزوج فتاة مصابة بهذا الفيروس، وأن يمارسا حياة طبيعية في ظل الزواج الشرعي؛ لأنه ليس هناك ضرر سيقع على أحد الطرفين، فالقاعدة الفقهية تقول: (لا ضرر ولا ضرار).

Boleh bagi penyandang virus HIV untuk menikah dengan wanita sesama penyandang HIV. Boleh membentuk keluarga harmonis dalam naungan pernikahan yang syar’i. Karena tidak ada ancaman bahaya yang akan mengenai salah satu pasangan. Sementara kaidah fiqh menyatakan, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain.” (http://uqu.edu.sa/page/ar/81964)

[3] Keberadaan anak dari hubungan dengan penyandang HIV

Menurut keterangan ahli kedokteran, peluang terjadinya anak yang menyandang virus HIV dari orang tua penyandang virus ini adalah 28%. Itu artinya, dalam 10 anak yang terlahir, akan berpeluang munculnya 3 anak yang terkena virus HIV.

Karena itu, sebagian ulama melarang dalam pernikahan antar sesama penyandang virus HIV untuk memiliki anak. Sampai memastikan bahwa kondisinya telah kembali normal. Dan itu harus dilakukan dengan pengawasan dokter.

Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz al-Uqail mengatakan,

يجوز للمصاب بهذا المرض أن يتزوج امرأة مصابة مثله بشرط التأكد من القدرة على منع الإنجاب؛ لكيلا ينقلا العدوى لطفليهما، وبشرط استشارة الأطباء في ذلك

Boleh bagi lelaki yang terkena Aids untuk menikah dengan sesama penyandang Aids, dengan syarat, dia harus memastikan, dirinya mampu untuk tidak sampai terjadi kehamilan. Agar penyakitnya tidak berpindah ke anaknya. Dan dengan syarat telah bermusyawarah dengan dokter. (http://www.almoslim.net/node/82391)

Allahu a’lam

Catatan:

Dalam rangka tolong menolang dalam kebaikan, dan memudahkan saudara kita untuk mendapatkan kebahagiaan, bagi anda yang berminat membantu, bisa menghubungi email: muslimkrajan@gmail.com

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ketika Ayah Tidak Mau Jadi Wali Nikah https://konsultasisyariah.com/26091-ketika-ayah-tidak-mau-jadi-wali-nikah.html Tue, 08 Dec 2015 01:46:53 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=26091 Ayah Tidak Mau Jadi Wali Nikah

Bagaimana ketika ayah tidak mau jadi wali, bukan karena tidak merestui, tapi karena ayah sakit hati dengan putrinya. Dan ayah belum bersedia memaafkan.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, ada banyak orang yang bisa menjadi wali bagi seorang wanita ketika menikah. Hanya saja, wali-wali itu ada urutan hirarki-nya. Siapa yang lebih tinggi tingkatannya, dia lebih berhak menjadi wali.

Al-Buhuty – ulama madzhab Hambali – dalam ar-Raudhul Murbi’ menyebutkan urutan wali nikah sebagai berikut,

  1. Bapak atau yang mewakili bapak
  2. Kakek, atau yang mewakili Kakek
  3. Anak, atau yang mewakili anak
  4. Saudara sekandung, atau yang mewakilinya
  5. Saudara seayah, atau yang mewakilinya
  6. Anak saudara sekandung atau seayah (keponakan), atau yang mewakilinya
  7. Paman sekandung dari bapak, atau yang mewakilinya
  8. Paman sebapak dari bapak, atau yang mewakilinya.
  9. Sepupu (anak paman), atau yang mewakilinya
  10. Wala’ (orang yang memerdekakannya).
  11. Jika semua wali tidak ada, baru berpindah ke wali Hakim (KUA)

(Ar-Raudhul Murbi’, hlm. 335 – 336)

Kedua, ada 2 sebab, mengapa kerabat yang masuk dalam daftar wali, tidak jadi wali,

[1] Karena tidak memungkinkan untuk jadi wali, misalnya: hilang akal atau telah meninggal. Dalam kondisi ini, posisi wali pertama, digantikan wali bawahnya. Misalnya, ayah telah meninggal, maka hak wali jatuh ke kakek. Jika kakek sudah meninggal maka hak wali ke anak. Jika belum ada anak (masih gadis), maka hak wali pidah ke saudara kandung, dst…

[2] Karena tidak bersedia untuk jadi wali, apapun alasannya. Baik dengan alasan syar’i maupun alasan tidak syar’i.

Jika karena alasan syar’i, maka keputusan wali dibenarkan. Misalnya, karena calon suaminya tidak sekufu baik dalam masalah dunia terlebih agama. Atau karena calon suaminya, agamanya rusak, pengikut aliran sesat, dst.

Jika karena alasan tidak syar’i, maka keputusan wali bisa ditolak, dan boleh diajukan ke KUA.

Misalnya, wali tidak merestui karena tidak cocok perhitungan weton, karena berjenggot, atau karena si wali membenci wanita yang mau dia nikahkan, atau membenci calon suaminya tanpa alasan yang benar. Wali semacam ini disebut wali a’dhal.

Ibnu Qudamah menjelaskan,

ومعنى العضل : منع المرأة من التزويج بكفئها إذا طلبت ذلك ، ورغب كل واحد منهما في صاحبه

Makna adhal adalah menghalangi wanita untuk menikah dengan lelaki yang sekufu dengannya, sementara wanita itu menginginkannya. Dan masing-masing pasangan saling mencintai. (al-Mughi, 7/368)

Ketiga, Wali a’dhal termasuk pelaku kedzaliman. Karena itu tindakan semacam ini dilarang dalam al-Quran.

Allah berfirman,

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.” (QS. al-Baqarah: 232)

Terdapat beberapa riwayat, bahwa ayat ini turun berkaitan dengan kasus sahabat Ma’qil bin Yasar dan saudarinya. Bahwa Ma’qil menikahkan saudarinya dengan seorang muslim di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga terjadi masalah, suaminya menceraikannya. Sampai selesai masa iddah, sang suami tidak merujuknya. Tapi cinta bersemi kembali. Lelaki mantan suami ini datang melamar, untuk menikahi saudarinya Ma’qil.

Ma’qil merasa harga dirinya dilecehkan, beliau marah, hingga mengatakan,

يا لكع أكرمتك بها وزوجتكها، فطلقتها! والله لا ترجع إليك أبدًا، آخر ما عليك

Hai bodoh, aku muliakan kamu dengan kunikahkan kamu dengan saudariku, lalu kau menceraikanya. Demi Allah, aku tidak akan mengembalikannya kepadamu selamanya. Menjauh dariku.

Ma’qil menghalangi pernikahan antara adiknya dengan lelaki tersebut. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya di atas.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ma’qil dan membacakan ayat ini kepadanya. Ma’qil-pun meninggalkan rasa egonya dan bersedia untuk tunduk kepada aturan Allah. (HR. Bukhari 5331)

Jika ada wali A’dhal, hak perwalian tidak berpindah ke wali berikutya. Karena tindakan Al-Adhl adalah kedzaliman. Sementara kuasa untuk menghilangkan kedzaliman kembali kepada hakim.

Untuk itu, ketika wali melakukan ‘adhal, tidak mau menikahkan dengan alasan yang tidak jelas, maka calon pengantin bisa mendatangi KUA, dan selanjutnya KUA akan melakukan beberapa tindakan:

[1] Mediasi antara calon pengantin dengan wali a’dhal, agar dia bersedia menikahkannya

[2] Jika alasan wali tidak bisa diterima KUA, maka KUA akan memaksa wali a’dhal untuk menikahkannya.

[3] Jika wali tetap tidak bersedia menikahkannya, maka KUA yang akan memegang wewenang untuk menikahkannya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ketika Anak Lahir Dalam Keadaan Cacat – Video https://konsultasisyariah.com/26043-ketika-anak-lahir-dalam-keadaan-cacat-video.html Wed, 25 Nov 2015 07:02:55 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=26043 Ada sebuah adab yang diberikan oleh Islam terkait menyikapi adanya anak yang baru lahir dalam keandaan cacat. Maka diantara sebuah nikmat yang besar kepada orang tua adalah ketika Allah memberi momongan yang sehat dan normal.

Dan sebaliknya jika seorang mendapat ujian berupa mendapatkan momongan yang kurang normal, maka wajib baginya bersabar untuk menharap pahala dari Allah. Sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam surat Al-Baqarah-216

Simak video lengkapnya dari penjelasan ustadz Aris Munandar, M.Pi

]]>
Kapan Istri Ayah dan Anak Istri Jadi Mahram https://konsultasisyariah.com/26032-kapan-istri-ayah-dan-anak-istri-jadi-mahram.html Mon, 23 Nov 2015 01:27:01 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=26032 Kapan Istri Ayah dan Anak Istri Jadi Mahram

Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah bagi Muhammad Rasulillah, para sahabat dan pengikutnya.

Mahram adalah para wanita yang dilarang bagi lelaki untuk menikahinya, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam surat An-Nisaa’ ayat 22-24 (Shahih Fiqh Sunnah III/71). Di antara mahram seorang laki-laki yang tercakup dalam ayat tersebut adalah istri ayahnya dan anak perempuan istrinya dari suaminya yang lain.

Kapankah mereka menjadi mahram?

Istri Ayah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلاَتَنكِحُوا مَانَكَحَ ءَابَآؤُكُم مِّنَ النِّسَآءِ إِلاَّ مَاقَدْ سَلَفَ ُ

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau.” (QS. An-Nisaa’: 22)

Para ulama bersepakat (ijma’) bahwa wanita yang telah dinikahi ayah (istrinya) adalah mahram bagi anak laki-laki si ayah, walaupun ayah belum menggauli istrinya (Shahih Fiqh Sunnah III/73). Maka, istri ayah telah menjadi mahram dengan semata-mata sahnya akad nikah, baik sudah digauli maupun belum (Ibnu Qudamah dalam Al-Kaafi IV/265).

Contoh kasus masalah ini:

  1. Ayah Muhammad wafat sesaat setelah melangsungkan akad nikah dengan istri keduanya. Mereka belum melakukan hubungan suami istri.
  2. Ayah Ahmad menceraikan istri yang baru dinikahinya sebelum sempat menggaulinya.

Apakah pada kedua kasus tersebut istri ayah Muhammad dan Ahmad sudah menjadi ibu mereka dan mereka haram menikahinya? Jawabnya ya, karena istri ayah menjadi mahram dengan semata-mata akad nikah mereka, baik ayah sudah menggauli istrinya ataupun belum.

Anak Perempuan Istri (Rabibah)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ …. وَرَبَآئِبُكُمُ الاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ الاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُوا دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَجُنَاحَ عَلَيْكُمْ

“(Diharamkan atas kamu mengawini)… anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya.” (QS. An-Nisaa’: 23)

Ayat ini menunjukkan bahwa anak perempuan istri akan menjadi mahram (bagi suami baru si istri) setelah ia melakukan hubungan badan dengan suaminya sebagaimana dikatakan Ibnu Qudamah dalam Al-Kaafi (IV/264). Ini berbeda dengan kasus istri ayah yang sudah menjadi mahram anak lelaki si ayah dengan semata-mata sahnya akad nikah, sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya.

Terdapat riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Ummu Habibah mengusulkan agar Nabi menikahi putri Abu (dan Ummu) Salamah. Nabi menolaknya dan mengatakan,

لَوْ أَنَّهَا لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِى فِى حَجْرِى مَا حَلَّتْ لِى إِنَّهَا لاَبْنَةُ أَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ, أَرْضَعَتْنِى وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ

Seandainya pun dia (putri Ummu Salamah) bukan anak tiriku yang berada dalam asuhanku, maka ia tetap tidak halal bagiku karena ia adalah anak saudara sepersusuanku. Tsuwaibah menyusuiku dan Abu Salamah.” (HR. Al-Bukhari no. 5101 dan Muslim no. 1449)

Contoh kasus masalah ini:

  1. Abdullah menikahi seorang janda. Janda tersebut memiliki anak perempuan 25 tahun bernama Aminah. Sesaat setelah melangsungkan akad nikah, istri Abdullah (Ibu Aminah) tersebut meninggal, padahal Abdullah belum bersetubuh dengan istrinya.

Apakah Abdullah sudah menjadi mahram Aminah, sehingga mereka boleh bersentuhan atau berduaan? Jawabnya tidak, karena anak perempuan istri (rabibah) menjadi mahram setelah terjadi persetubuhan suami dengan istrinya, sementara Abdullah dan istrinya belum bersetubuh. Bahkan Abdullah dan Aminah dalam kasus ini boleh menikah menurut syari’at.

  1. Ibu Sarah menikah lagi setelah ditinggal wafat ayahnya. Ibunya kemudian diceraikan suami keduanya setelah lahir anak pertama.

Apakah Sarah boleh bersentuhan atau berduaan dengan mantan suami ibunya?

Jawabnya boleh, karena ibu Sarah dan suaminya telah bersetubuh, sehingga Sarah menjadi mahram suami ibunya.

Ditulis oleh Muflih Safitra bin Muhammad Saad Aly

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Mandi Wiladah https://konsultasisyariah.com/25890-hukum-mandi-wiladah.html Wed, 28 Oct 2015 06:58:51 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=25890 Mandi Wiladah, Mandi Setelah Melahirkan

Assalamu ‘alaikum, ustadz? apakah ada dalam sayariat islam yang disebut mandi wiladah? tatkala bayi sudah diluar terus ibunya harus mandi dengan niat mandi wiladah? bukan mandi setelah suci dari nifas, dari saya neng juju, mohon maaf atas kekurangan nya, dan mohon penjelasannya, wassalamu ‘alaikum warohmatullah wabarokatuh

Dari Neng Juha via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mandi yang dilakukan manusia ada dua:

Pertama, mandi yang ada tuntunannya dalam syariat

Seperti mandi junub, mandi jumat, mandi hari raya, mandi setelah memandikan jenazah, termasuk mandi setelah nifas atau haid.

Kedua, mandi yang tidak ada panduannya dalam syariat, itulah mandi yang menjadi kebiasaan kita. Baik mandi rutin pagi sore atau mandi karena ingin mendinginkan badan, atau berenang, atau mandi karena kebutuhan lainnya.

Mandi Nifas

Untuk wanita nifas, mandi yang disyariatkan adalah mandi ketika masa nifas telah selesai atau mandi ketika darah nifas telah berhenti.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَتِ النُّفَسَاءُ تَجْلِسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَرْبَعِينَ يَوْمًا

Wanita yang nifas, mereka tidak shalat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 40 hari. (Ahmad 26584, Turmudzi 139, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Hadis memberi pelajaran, jika darah nifas itu terus keluar, maka yang batas maksimal adalah 40 hari. Di hari itu, dia harus mandi nifas. Jika darah berhenti sebelum 40 hari, nifasnya dianggap berhenti, dan dia wajib mandi.

Darah yang keluar lebih dari 40 hari, tidak terhitung nifas. Bisa dihukumi haid atau istihadhah, tergantung kebiasaan sebelumnya.

Kita simak keterangan at-Turmudzi,

وقد أجمع أهل العلم من أصحاب النبى -صلى الله عليه وسلم- والتابعين ومن بعدهم على أن النفساء تدع الصلاة أربعين يوما إلا أن ترى الطهر قبل ذلك فإنها تغتسل وتصلى

Ulama sepakat, baik dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para tabiin, maupun generasi setelahnya, bahwa wannita nifas, mereka meninggalkan shalat selama 40 hari, kecuali jika dia melihat telah suci sebelum 40 hari, maka dia harus mandi dan shalat. (Sunan at-Turmudzi, 1/245).

Artinya, bahwa batasan mandi yang ada dalam syariat untuk wanita nifas, itu hanya ada ketika

Pertama, darah berhenti, meskipun kurang dari 40 hari.

Kedua, telah selesai masa nifas dengan mencapai 40 hari.

Sementara mandi setelah melahirkan, tidak kami jumpai dalilnya.

Bolehkah mandi setelah melahirkan?

Ini kembali kepada masalah kebutuhan. Jika orang itu butuh untuk mandi, dia boleh saja mandi. Hanya saja, tidak diyakini sebagai mandi yang sunah. dan yang lebih penting untuk dipahami, mandi setelah melahirkan, tidak memberi pengaruh terhadap hukum syariat sama sekali. Sehingga dia tetap terhitung sebagai wanita nifas.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ganti Nama, Apakah Aqiqah Lagi? https://konsultasisyariah.com/25476-ganti-nama-apakah-aqiqah-lagi.html Wed, 02 Sep 2015 02:39:17 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=25476 Ganti Nama

Asslamu’alaikum. Jika kita mau mengganti nama anak, yang telah di aqiqah, bagaimana hukum dan caranya? Dan apakah harus aqiqah lagi ?

Terimakasih, Wassalam

Dari Hanif Devari via Tanya Ustadz for Android

JAWABAN:

Wa’alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada beberapa ibadah yang dikaitkan dengan sebab tertentu. Baik ibadah fisik, maupun ibadah harta.

Misalnya, perintah shalat tahiyatul masjid, dikaitkan dengan posisi seseorang yang baru masuk masjid, atau perintah memberi makan 10 orang miskin, dikaitkan dengan pelanggaran sumpah.

Aqiqah adalah ibadah yang dikaitkan dengan kelahiran anak dan bukan karena pemberian nama.

Diantara dalil bahwa aqiqah dikaitkan dengan kelahiran anak adalah

Pertama, hadis dari Buraidah bin Hashib al-Aslami, beliau menceritakan,

كُنَّا فِى الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لأَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالإِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَنَحْلِقُ رَأْسَهُ وَنَلْطَخُهُ بِزَعْفَرَانٍ

Dulu di masa jahiliyah, apabila anak kami baru dilahirkan, maka kami menyembelih seekor kambing, dan kami lumuri kepala bayi itu dengan darah kambing. Ketika islam datang, kami tetap menyembelih kambing aqiqah, kami gundul kepala bayi, dan kami lumuri dengan za’faran. (HR. Abu Daud 2845 dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).

Kedua, hadis dari Salman bi Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الأَذَى

Untuk setiap kelahiran anak ada aqiqahnya. Karena itu, sembelih hewan untuknya dan buang kotoran darinya. (HR. Ahmad 18359, Bukhari 5472, dan yang lainnya).

Ketiga, hadis dari Samurah bin Jundub, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, untuk disembelih di hari ketujuh kelahirannya, digundul rambutnnya, dan diberi nama. (HR. Ahmad 20616, Abu Daud 2840, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Semua hadis di atas menunjukkan bahwa perintah aqiqah, dikaitkan dengan kelahiran anak dan bukan pemberian nama atau pergantian nama.

Baca:  Haruskah Mualaf Mengganti Namanya?

Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengganti nama-nama sahabat yang artinya bermasalah. Karena terkadang orang jahiliyah menamakan anak mereka dengan bentuk penghambaan kepada selain Allah, seperti Abdul Uzza (hamba Uzza) atau Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah). Atau nama-nama yang buruk lainnya.

Sahabat Abdurrahman bin Auf, di zaman Jahiliyah bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama Abdurrahman.   (al-Mu’jam al-Wasith, 253)

Sahabat Abdurrahman bin Abu Bakr, dulu bernama Abdul Uzza. Setelah masuk islam diganti oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abdurrahman. (al-Mustadrak, 3/538)

Sahabat Muthi bin al-Aswad. Dulu bernama al-‘Ash (tukang maksiat). Setelah masuk islam diganti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Muthi’ (orang yang taat). (al-Mu’jam al-Kabir, 691).

Ada sahabat namanya Hazn (susah), diganti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Sahl (mudah). Beliau juga mengganti sahabat yang bernama Harb (perang), dengan Salm (tenang). (HR. Abu Daud 4958)

Artikel terkait: Bolehkah Kakek Mengaqiqahi Cucunya?

Ada sahabat wanita yang dulunya bernama ‘Ashiyah (tukang maksiat), kemudian diganti dengan Jamilah (wanita cantik). (HR. Muslim 5727)

Ada juga sahabat yang dulunya bernama Ashram (melarat), kemudian diganti dengan Zur’ah (subur). (HR. Abu Daud 4956).

Dan masih banyak lagi yang lainnya

Namun kita tidak menjumpai riwayat, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mereka untuk menyembelih aqiqah karena ganti nama.

Untuk itu, jika ada orang yang ganti nama, karena nama sebelumnya bermasalah secara arti, maka cukup dia umumkan kepada rekan-rekannya. Sehingga mereka tidak lagi memanggil namanya yang lama, tapi mengenalnya dengan nama yang baru. Untuk masalah KTP dan administrasi lainnya, dia bisa urus sesuai prosedur yang berlaku.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Menyembuhkan Bayi Kesambet (‘Ain) https://konsultasisyariah.com/25397-menyembuhkan-bayi-kesambet-ain.html Thu, 20 Aug 2015 02:56:50 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=25397 Bayi Kesambet (‘Ain)

Mas,nyuwun bacaan ato doa pencegah ain.pada anak,trus sbrp rutin hrs dibacakan?apakah ad sunnah lain pencegah ain?maturnuwun

Affan – Tuban

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kesambet, itulah orang jawa menyebutnya. Dalam bahasa arab, ini disebut penyakit ‘ain.

Karena ‘ain seseorang bisa mengalami sakit. Hidupnya tidak normal, dan ada penurunan secara fisik.

Ummu Salamah menceritakan,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – رَأَى فِى بَيْتِهَا جَارِيَةً فِى وَجْهِهَا سَفْعَةٌ فَقَالَ « اسْتَرْقُوا لَهَا ، فَإِنَّ بِهَا النَّظْرَةَ »

Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah melihat seorang budak wanita di rumahnya (Ummu Salamah), wajahnya terlihat kusam dan pucat. Lalu Beliau memerintahkan,

“Ruqyah wanita ini, karena dia terkena ‘ain.” (HR. Bukhari 5739)

Pada anak, terutama yang masih balita, penyakit ‘ain bisa menyebabkan dia menangis tidak normal.

A’isyah menceritakan,

دَخَلَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمِعَ صَوْتَ صَبِىٍّ يَبْكِى فَقَالَ: مَا لِصَبِيِّكُمْ هَذَا يَبْكِى فَهَلاَّ اسْتَرْقَيْتُمْ لَهُ مِنَ الْعَيْنِ

Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku. Tiba-tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar jeritan bayi nangis. Kemudian beliau bersabda,

“Kenapa bayi ini menangis terus? Mengapa kalian tidak segera meruqyahnya untuk mengobatinya dari penyakit ‘ain.” (HR. Ahmad 24442)

Upaya Pencegahan

Ada upaya pencegahan, ada upaya pengobatan. Hal yang terpenting untuk kita lakukan adalah mencegah sebelum terjadi. Alhamdulillah, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan ini dengan rinci, diantaranya,

Pertama, sering doakan anak agar terhindar dari ‘ain

Diantara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut,

أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لامَّةٍ

Aku memohon perlindungan untukmu dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pAndangan mata buruk.

Kita bisa meniru doa beliau ini, dengan penyesuaian jenis kelamin bayi.

1. Jika bayi yang dilahirkan perempuan, Anda bisa baca,

أُعِيذُكِ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U’iidzuki…

2. Jika bayi yang lahir laki-laki, kita bisa membaca,

أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U’iidzuka…

Berbeda pada kata ganti; ‘…ka’ dan ‘…ki’

Dalilnya

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bercerita bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain. Lalu beliau membaca,

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

 Aku memohon perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk. (HR. Bukhari 3371, Abu Daud 3371, dan yang lainnya).

Kedua, jika memuji fisik anak, jangan lupa berdzikir

Perasaan gemes campur cinta membuat orang dewasa di sekitarnya memuji anak bayi. Sayangnya, jarang yang diiringi dengan berdzikir kepada Allah. Ketika itu, si bayi sangat rentan terkena ‘ain.

Anda mungkin sering melihat, ada bayi yang diajak untuk menghadiri kumpul-kumpul banyak orang. Lalu setelah sampai rumah tiba-tiba badannya panas, suka menangis, dst. Bisa jadi, itu pengaruh ‘ain.

Sahl bin Hunaif bercerita,

Bahwa Amir bin Robi’ah melihat Sahl yang sedang mandi. Karena heran, Amir berkomentar, “

Aku tidak pernah melihat pemandangan seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini.”

Seketika itu, Sahl bin Hunaif langsung jatuh terpelanting.

Kemudian Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam mendatangi Amir.

Dengan marah beliau berkata,

عَلَامَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ؟ هَلَّا إِذَا رَأَيْتَ مَا يُعْجِبُكَ بَرَّكْتَ؟

“Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (untuk yang dilihat)?”

“Mandilah untuk menyembuhkan Sahl!”

Kemdian Amir mandi dengan menggunakan suatu wadah air, dia mencuci wajahnya, dua tangan, kedua siku, kedua lutut, ujung-ujung kakinya, dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan bergabung bersama para sahabat, seolah tidak terjadi apa-apa. (HR. Ahmad 15980 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ketiga, hindari memberi dandanan yang menor pada anak, sehingga membuatnya semakin menggemaskan ketika dipandang.

Sumber ‘ain adalah pandangan mata takjub atau mata hasad.

Ketika anak dikasih dandanan yang sangat menarik, ini bisa membahayakan dirinya. Terlebih ketika dia hendak dibawa di acara yang dihadiri banyak orang.

Ibnul Qoyim menasehatkan,

ومن علاج ذلك أيضاً والاحتراز منه سترُ محاسن مَن يُخاف عليه العَيْن بما يردُّها عنه

Termasuk juga cara pengobatan ‘ain, menutupi bagian yang menarik dari anak, yang dikhawatirkan menjadi sumber ‘ain, ditutupi dengan yang membuatnya kurang menarik.

Kemudian Ibnul Qoyim membawakan keterangan riwayat dari al-Baghawi,

ذكر البغوىُّ فى كتاب “شرح السُّنَّة”: أنَّ عثمان رضى الله عنه رأى صبياً مليحاً، فقال: دَسِّمُوا نُونَتَه، لئلا تُصيبه العَيْن، ثم قال فى تفسيره: ومعنى “دسِّمُوا نونته” أى: سَوِّدُوا نونته

Al-Baghawi menyebutkan dalam kitabnya Syarhus Sunah, bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu pernah melihat anak kecil yang sanat lucu. Lalu beliau berpesan, “Beri olesan hitam di lesung pipinya, agar dia tidak terkena ‘ain. (Zadul Ma’ad, 4/173).

Termasuk juga, pesan bagi orang tua, hindari menceritakan semua kelebihan anaknya yang tidak dimiliki anak-anak lain, sehingga mengundang rasa iri orang yang mendengarnya. Yang ini ketika sampai dia melihat si anak dalam kondisi iri, bisa jadi Allah menakdirkan terjadinya pengaruh buruk ‘Ain.

Keempat, tidak kalah penting, mengisi ruang dengar di rumah dengan bacaan al-Quran.

Karena rumah yang dijejali dengan ibadah, akan lebih menyejukkan bagi penghuninya dan dijauhi oleh setan. Sementara rumah yang dijejali dengan musik, hanya akan mengundang setan.

Pengobatan ‘Ain

Jika ada anak yang terkena ‘ain, apa yang harus dilakukan?

Ada dua cara yang bisa dilakukan,

Pertama, diketahui orang yang menjadi penyebab ‘ain

Misalnya diketahui, anak ini sakit kesambet karena tadi dilihat si fulan.

Cara penanggulangan untuk kasus ini, si fulan diminta mandi, dan air bekas mandinya (bekas mandi, bukan sisa mandi), air bekas mandi yang terkena badannya, ditampung kemudian dibuat mandi si bayi. insyaaAllah ‘ain akan lebih cepat hilang. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadis tentang peristiwa Sahl bin Hunaif dan Amir bin Rabi’ah di atas.

Kedua, tidak diketahui penyebab ‘ain.

Tahunya orang tua, anak ini menangis tidak mau diam. Tangisannya tidak normal. Dia bisa ditangani dengan ruqyah. Ayahnya atau ibunya atau siapapun di antara keluarganya, membacakan ayat kursi, surat al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas di dekat bayi atau sambil nggendonng itu bayi.

Jangan lupa berdoa kepada Allah, semoga Allah segera menenangkannya. Bisa juga diiringi dengan shalat sunah dan berdoa di tengah shalat.

A’isyah menceritakan,

دَخَلَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمِعَ صَوْتَ صَبِىٍّ يَبْكِى فَقَالَ: مَا لِصَبِيِّكُمْ هَذَا يَبْكِى فَهَلاَّ اسْتَرْقَيْتُمْ لَهُ مِنَ الْعَيْنِ

Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku. Tiba-tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar jeritan bayi nangis. Kemudian beliau bersabda,

“Kenapa bayi ini menangis terus? Mengapa kalian tidak segera meruqyahnya untuk mengobatinya dari penyakit ‘ain.” (HR. Ahmad 24442)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Nikah Paksa, Tidak Sah? https://konsultasisyariah.com/25364-nikah-paksa-tidak-sah.html Thu, 13 Aug 2015 07:44:07 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=25364 Menikah Karena Dipaksa?

Assalam mu’alaikum ustad
Urtad saya mau tanya, saya punya temen perempuan dia di paksa menikah dia dah blng gak mau tp trs d srh menikah dngan pilihan ibuknya trs terpaksa dia menikah setelah menikah dia merasa benci ama suaminya dan dia melihat suaminya aja males dan dia tidak mau di sentuh suaminya dan dia ingin cerai tp dia takut kl nama kluarganya jelek di mata tetanganya
pertanya’an saya ustad
1. apakah pernikahan itu sah apa tidak
2. apakah temen saya berdosa karena membenci suaminya
3. apakah yang hrs di lakukan temenen saya
4. apakah orang tuwanya berdosa karena menjodohkan anaknya

Dari Ari Wawan

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Alhamdulillah, kasus ini sudah mulai menghilang. Jejak nasib siti nurbaya, ternyata tidak menular. Meskipun masih ada beberapa korban kedzaliman wali orang tua, yang terkadang dilatar belakangi sifat tamak orang tua terhadap harta anaknya.

Kita bisa mencatat beberapa hal mengenai kasus ini,

Pertama, haram bagi wali seorang wanita untuk memaksanya menikah dengan lelaki yang tidak dia cintai. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang tugas wali terhadap putrinya sebelum menikah,

لَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ

“Gadis tidak boleh dinikahkan sampai dia dimintai izin.” (HR. Bukhari 6968 & Muslim 1419).

Hadis ini dipahami para ulama berlaku untuk semua gadis dan semua wali. Karena itu, Imam Bukhari memberi judul hadis ini dengan pernyataan,

باب لا يُنكح الأبُ وغيره البكرَ والثَّيِّبَ ، إلا برضاهما

Ayah maupun wali lainnya tidak boleh menikahkan seorang gadis maupun janda, kecuali dengan keridhaannya. (Shahih Bukhari, bab ke-41).

Memaksa anak perempuan untuk menikah dengan lelaki yang tidak dicintai, sejatinya kedzaliman. Dari mana si wanita bisa merasakan kebahagiaan, sementara dia harus bersama orang yang tidak dia cintai. Karena tujuan utama menikah adalah untuk mewujudkan kebahagiaan kedua belah pihak. Kedua pasangan suami istri. Bukan kebahagiaan orang tua.

Karena itu, Syaikhul Islam  menganggap sangat aneh adanya kasus pemaksaan dalam pernikahan. Beliau mengatakan,

وأمَّا تزويجها مع كراهتها للنكاح ، فهذا مخالف للأصول والعقول ، والله لم يُسوِّغ لوليها أن يُكرهها على بيع أو إجارة إلا بإذنها ، ولا على طعام ، أو شراب ، أو لباس ، لا تريده ، فكيف يكرهها على مباضعة ومعاشرة من تكره مباضعته ! ، ومعاشرة من تكره معاشرته !.

والله قد جعل بين الزوجين مودةً ورحمة ، فإذا كان لا يحصل إلا مع بغضها له ونفورها عنه ، فأيُّ مودةٍ ورحمةٍ في ذلك !!

“Menikahkan anak perempuan padahal dia tidak menyukai pernikahan itu, adalah tindakan yang bertentangan dengan prinsip agama dan logika sehat. Allah tidak pernah mengizinkan wali wanita untuk memaksanya dalam transaksi jual beli, kecuali dengan izinnya. Demikian pula, ortu tidak boleh memaksa anaknya untuk makan atau minum atau memakai baju, yang tidak disukai anaknya. Maka bagaimana mungkin dia tega memaksa anaknya untuk berhubungan dan bergaul dengan lelaki yang tidak dia sukai berhubungan dengannya. Allah menjadikan rasa cinta dan kasih sayang diantara pasangan suami istri. Jika pernikahan ini terjadi dengan diiringi kebencian si wanita kepada suaminya, lalu dimana ada rasa cinta dan kasih sayang??” (Majmu’ Fatawa, 32/25).

Kedua, status pernikahan

Ketika orang tua memaksa putrinya untuk menikah, maka status pernikahan tergantung kepada kerelaan pengantin wanita. Jika dia rela dan bersedia dengan pernikahannya maka akadnya sah. Jika tidak rela, akadnya batal.

Buraidah bin Hashib radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Ada seorang wanita yang mengadukan sikap ayahnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengatakan,

“Ayahku memaksa aku menikah dengan keponakannya. Agar dia terkesan lebih mulia setelah menikah denganku.”

Kata sahabat Buraidah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan urusan pernikahan itu kepada si wanita.”

Kemudian wanita ini mengatakan,

قَدْ أَجَزْتُ مَا صَنَعَ أَبِي ، وَلَكِنْ أَرَدْتُ أَنْ تَعْلَمَ النِّسَاءُ أَنْ لَيْسَ إِلَى الْآبَاءِ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ

Sebenarnya aku telah merelakan apa yang dilakukan ayahku. Hanya saja, aku ingin agar para wanita mengetahui bahwa ayah sama sekali tidak punya wewenang memaksa putrinya menikah. (HR. Ibn Majah 1874, dan dishahihkan oleh al-Wadhi’I dalam al-Shahih al-Musnad, hlm. 160).

Dan ketika si wanita tidak bersedia dan tidak rela dengan pernikahannya, dia tidak boleh untuk berduaan dengan suaminya, demikian pula sebaliknya, suami tidak boleh meminta istrinya untuk berduaan bersamanya. Ini berlaku selama dia tidak ridha dengan pernikahannya.

Ketiga, sekalipun dia tidak ridha, tapi tidak otomatis pisah

Dalam arti, perpisahan harus dilakukan melalui ucapan talak yang dilontarkan suami atau istri menggugat ke Pengadilan, untuk dilakukan fasakh. Mengingat ada sebagian ulama yang menilainya sebagai pernikahan yang sah.

Sehingga yang bisa dilakukan wanita ini, meminta  suaminya untuk mengucapkan kata cerai. Atau dia mengajukan ke pengadilan agar diceraikan hakim (fasakh).

Ada pertanyaan  yang diajukan kepada Lajnah Daimah,

“Bagaimana hukum islam untuk wanita yang dinikahkan paksa ortunya.”

Jawaban Lajnah,

إذا لم ترض بهذا الزواج ، فترفع أمرها إلى المحكمة ، لتثبيت العقد أو فسخه

“Jika dia tidak rela dengan pernikahannya, dia bisa mengajukan masalahnya ke pengadilan, untuk ditetapkan apakah akadnya dilanjutkan ataukah difasakh.” (Fatwa Lajnah, 18/126)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>