AQIDAH – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 17 Feb 2017 23:45:06 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.2 Pahala Bagi Wanita Hamil https://konsultasisyariah.com/29205-pahala-bagi-wanita-hamil.html Fri, 17 Feb 2017 01:49:33 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29205 Pahala Wanita Hamil

Adakah hadist yang menerangkan pahala bagi ibu yg sedang hamil??

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat sebuah hadis yang menyatakan,

Bahwa Salamah, wanita yang merawat Ibrahim – putra Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam – pernah bertanya,

“Ya Rasulullah, anda sering memberi kabar gembira dengan amal kepada para lelaki, tapi anda tidak memberi kabar gembira kepada para wanita?”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi motivasi kepadanya,

Tidakkah para wanita senang, ketika dia hamil dari suaminya, dan dia ridha, maka dia mendapat pahala seperti orang yang puasa dan tahajud ketika sedang jihad fi sabilillah. Ketika sedang kontraksi, maka ada janji yang sangat menyejukkan mata yang belum pernah diketahui penduduk langit dan bumi. Setelah dia melahirkan, lalu menyusui bayinya, maka setiap isapan ASI akan menghasilkan pahala. Jika dia bergadangan di malam hari maka dia akan mendapat pahala seperti membebaskan 70 budak fi sabilillah…

Hadis ini menyebutkan fadhilah yang luar biasa bagi wanita hamil. Hanya saja, hadis ini lemah, bahkan palsu. Karena dalam sanadnya ada perawi bernama Amr bin Said al-Khoulani. Kata ad-Dzahabi, al-Khoulani banyak membawakan hadis palsu. Ibnu Hibban menilainya sebagai hadis dusta, palsu (al-Majruhin, 2/34), demikian pula penilaian Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (2/273).

Meskipun demikian, bukan berarti wanita hamil tidak memiliki keistimewaan. Setidaknya, wanita subur, merupakan wanita pilihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadis dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu,

Pernah ada orang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan keinginannya,

“Saya mencintai seorang wanita cantik dan dari keluarga terhormat. Namun dia mandul. Bolehkah saya menikah dengannya?”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan.”

Orang ini datang kedua kalinya, menyampaikan keinginannya yang sama. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya.

Diapun datang untuk yang ketiga kalinya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarang dia menikah dengan wanita itu.

Hingga akhirnya, beliau bersabda,

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ

Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena saya membanggakan banyaknya kalian pada seluruh umat. (HR. Abu Daud 2050, Nasai 3227 dan dishahihkan al-Albani)

Sebagai balas jasa seorang ibu yang telah melahirkan anaknya, Allah memberi ganti dalam bentuk perintah untuk anak agar taat dan menghormati ibunya.

Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan … (QS. al-Ahqaf: 15)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi jaminan. Resiko apapun yang diderita wanita ketika hamil, terutama yang mengancam kematian, akan dinilai sebagai syahid.

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguknya ketika Ubadah sedang sakit. Di sela-sela itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

أتعلمون من الشهيد من أمتي ؟

“Tahukah kalian, siapa orang yang mati syahid di kalangan umatku?”

Ubadah menjawab: ‘Ya Rasulullah, merekalah orang yang sabar yang selalu mengharap pahala dari musibahnya.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan,

شهداء أمتي إذاً لقليل ، القتل في سبيل الله عز وجل شهادة ، والطاعون شهادة ، والغرق شهادة ، والبطن شهادة ، والنفساء يجرها ولدها بسرره إلى الجنة

“Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku cuma sedikit. Orang yang mati berjihad di jalan Allah, syahid, orang yang mati karena Tha’un, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena sakit perut, syahid. Dan wanita yang mati karena nifas, dia akan ditarik oleh anaknya menuju surga dengan tali pusarnya.” (HR. Ahmad dalam musnadnya 15998. Dan dinilai Shahih li Ghairih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Dalam hadis lain, dari Jabir bin Atik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk Abdullah bin Tsabit, ketika itu beliau sedang pingsan karena sakit. Di tengah-tengah itu, ada orang yang menyinggung masalah mati syahid. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapa yang kalian anggap sebagai mati syahid?”

Merekapun menjawab, ‘Orang yang mati di jalan Allah.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengarahan,

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah,

Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan al-Albani).

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan agar anak selalu memperhatikan ibunya,

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau bercerita,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari 5971 dan Muslim  2548)

Bukankah ini semua membanggakan bagi para wanita yang hamil…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
7 Bentuk Wahyu https://konsultasisyariah.com/29199-7-bentuk-wahyu.html Wed, 15 Feb 2017 06:32:39 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29199 Bentuk Wahyu

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ibnul Qoyim menyebutkan bahwa wahyu ada 7 bentuk,

Pertama, mimpi yang benar

Dan inilah permulaan wahyu yang diterima oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana keterangan Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ

Awal permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar ketika beliau tidur.. setiap kali beliau bermimpi, beliau melihat seperti fajar subuh… (HR. Bukhari 3 & Muslim 422).

Kedua, bisikan yang disampaikan malaikat ke hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Seperti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي أَنّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا

Sesungguhnya Ruh Kudus (Malaikat Jibril) membisikkan dalam hatiku, bahwa siapapun jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rizkinya. (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf, 20100)

Ketiga, malaikat datang kepada beliau dengan wajah manusia. Berbicara dengan beliau, hingga beliau memahami pesan-pesan yang disampaikan malaikat. Untuk kejadian ini, terkadang para sahabat turut melihat malaikat. Sebagaimana yang terjadi pada hadis dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu tentang iman, islam dan ihsan.

Keempat, beliau mendenar suara keras seperti rantai yang digesekkan di batu.

Suasana ini yang paling berat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saking beratnya, ada beberapa kejadian yang sangat aneh,

– Beliau bercucuran keringat padahal musim dingin

– Ketika beliau di atas onta, atau kendaraan lainnya, maka langsung menderum

– Ketika paha beliau mengenai paha sahabat, tiba-tiba berubah menjadi sangat berat

Kelima, beliau melihat malaikat dalam bentuk asli, lalu malaikat itu menyampaikan wahyu sesuai yang Allah perintahkan.

Dan ini terjadi 2 kali.  Sebagaimana yang Allah firmankan di surat an-Najm,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى . عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى . ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى . وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى . ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى . فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى . فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى . مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى . أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى . وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى . عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى

Tiadalah yang diucapkan Muhammad itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan, yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat ….sedang dia berada di ufuk yang tinggi () Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan… Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (QS. an-Najm: 3-14).

Keenam, wahyu yang Allah sebutkan ketika beliau berada di atas langit yang ketujuh. Beliau mendapatkan kewajiban shalat 5 waktu.

Ketujuh, allah berbicara langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perantara, sebagaimana Allah berbicara langsung dengan Musa tanpa perantara. Kejadian ini disebutkan dalam hadis isra’ mi’raj.   (Zadul Ma’ad, 1/76)

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Masih Pilih Gubernur yang Bikin Geger! https://konsultasisyariah.com/29196-masih-pilih-gubernur-yang-bikin-geger.html Tue, 14 Feb 2017 07:11:25 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29196 Masih Pilih Gubernur yang Bikin Geger!

Jika calon gubernur kafir lebih kelihatan pembangunan infrastruktur, apakah boleh dipilih?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Hidup tenang dan nyaman adalah dambaan setiap orang. Meskipun bisa jadi semuanya penuh dengan kesederhanaan. Apalah artinya ketika orang memiliki banyak harta, namun hatinya tidak pernah tenang, selalu ketakutan, kebingungan, bahkan sering gregetan. Dia punya harta tapi tidak bisa menikmati hidupnya.

Karena itulah, negara yang aman, meskipun fasilitasnya terbatas, lebih menyanangkan dibandingkan negara penuh konflik meskipun ada banyak fasilitas kelihatan di depan mata.

Kita bisa simak penuturan sahabat Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu ketika menasehati putranya,

يا بني احفظ عني ما أوصيك به: إمام عدل خير من مطر وبل…

Wahai anakku, jaga baik-baik pesanku kepadamu, pemimpin yang adil lebih baik dari pada hujan deras… (al-Adab as-Syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/176).

Hujan deras sangat dibutuhkan banyak orang. Terutama orang iklim gurun. Meskipun demikian, memiliki negara yang aman, dipimpin oleh pemimpin yang adil, lebih baik dari pada hujan. Karena ketenangan lebih dibutuhkan dari pada fasilitas.

Apa yang bisa anda bayangkan ketika anda menjadi orang yang sangat kaya raya, namun anda tinggal di suriah? Apa yang anda bayangkan ketika anda memiliki puluhan rumah, ratusan mobil, namun anda selalu was-was karena negara anda sangat rentan dengan chaos? Apalah artinya orang punya banyak fasilitas, infrastruktur lengkap, tapi negaranya selalu konflik.

Prestasi seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari seberapa jauh dia menggalakkan pembangunan infrastruktur. Karena memang ini kewajiban mereka untuk mengalokasikan dana rakyat. Siapapun gubernur berkewajiban melakukannya. Namun yang kita pikirkan adalah apa artinya punya infrastruktur, tapi rakyat selalu tidak tenang, karena dibuat gregetan oleh arogansi gubernurnya…

Semua rakyat mendampakan ketenangan… kenyamanan… sehingga mereka bisa beraktivitas dengan senang. Anda punya harta, punya banyak fasilitas, tidak akan ada artinya ketika anda selalu merasa sakit hati dengan tingkah laku pemimpin anda.

Jadikan pengalaman sebagai pelajaran… Dulu dia bisa arogan, karena merasa punya kekuasaan… saat ini dia berusaha memelas, karena dia butuh belas kasihan rakyatnya. Dia butuh dukungan dari masyarakat.

Di Indonesia, siapapun pemimpinnya pasti akan selalu ada pembangunan… tapi tidak semua pemimpin bisa membuat negaranya menjadi semakin aman dan nyaman…

Semoga sejarah kelam tidak berulang…

Amin…

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Buta Huruf? https://konsultasisyariah.com/29177-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam-buta-huruf.html Sat, 11 Feb 2017 00:14:55 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29177 Nabi Muhammad Buta Huruf?

Apakah benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam buta huruf? Tidak bisa baca tulis?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak dalil yang menyebut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang ummi (tidak membaca dan tidak menulis). Kita akan sebutkan beberapa diantaranya,

Pertama, firman Allah, ketika menyebutkan ciri-ciri Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ

Yaitu orang-orang yang mengikuti rasul, sang nabi yang ummi, yang mereka jumpai keterangan tertulis dalam kitab taurat dan injil yang ada di tengah mereka. (QS. al-A’raf: 157)

Kedua, firman Allah, yang memerintahkan hamba-Nya untuk mengikuti nabi,

فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, sang nabi yang ummi, yang beliau beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya. Ikutilah beliau agar kalian mendapat petunjuk. (QS. al-A’raf: 158)

Ketiga, firman Allah tentang nikmat adanya nabi di tengah orang Quraisy,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah).” (QS. al-Jumu’ah: 2)

Keempat, Allah tegaskan bahwa Nabi-Nya tidak pernah membaca kitab apapun,

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” (QS. al-Ankabut: 48)

Apa yang Dimaksud dengan Ummi?

Al-Qurthubi menyebutkan beberapa keterangan seputar makna Ummi,

قال ابن عباس: الاميون العرب كلهم، من كتب منهم ومن لم يكتب، لانهم لم يكونوا أهل كتاب. وقيل: الاميون الذين لا يكتبون. وكذلك كانت قريش. وروى منصور عن إبراهيم قال: الامي الذي يقرأ ولا يكتب

Ibnu Abbas mengatakan,

al-Ummi adalah semua orang arab, baik mereka yang bisa menulis maupun mereka yang tidak bisa menulis. Karena mereka bukan ahli kitab. Ada yang mengatakan, al-Ummiyun adalah mereka yang tidak bisa menulis, dan seperti itu kondisi orang Quraisy. Dan diriwayatkan oleh Manshur dari Ibrahim, beliau mengatakan, al-Ummi adalah orang yang bisa melafalkan tapi tidak bisa menulis. (Tafsir al-Qurthubi, 18/91-92).

Ibnu Abbas juga menjelaskan ayat di surat al-Ankabut,

كان نبيكم صلى الله عليه وسلم أميا لا يكتب ولا يقرأ ولا يحسب

Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang ummi, tidak menulis, membaca, dan tidak menghitung. Lalu Ibnu Abbas membaca firman Allah di surat al-Ankabut: 48. (Tafsir al-Qurthubi, 7/298)

Keterangan lain kami nukilkan dari ar-Raghib al-Ashbahani tentang makna ummi,

الأمي هو الذي لا يكتب و لا يقرأ من كتاب ، و عليه حمل قول تعالى : ( هو الذي بعث في الأميين رسولاً منهم …. )

Al-Ummi adalah orang yang tidak bisa menulis dan membaca. Dan itulah makna firman Allah di surat al-Jumuah ayat 2. (Mufradat fi Gharib al-Quran, hlm. 28)

Dan inilah yang lebih sesuai dengan dzahir al-Quran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang ummi, dalam arti beliau bisa melafalkan kalimat, tapi tidak bisa menuliskannya. Karena beliau tidak tahu tulisan huruf. Dan kondisi tidak bisa membaca tulisan, sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau kecerdasannya rendah. Banyak tokoh hebat di tengah Quraisy, mereka tidak bisa membaca tulisan.

Namun kecerdasan ketika itu diukur dari kedewasaan dan bijaksana dalam bersikap.

Beliau bisa menyelesaikan kasus dengan baik, dewasa ketika menghadapi masalah, itulah orang ummi.

Apa Hikmah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Seorang yang Ummi?

Al-Mawardi menyebutkan,

Jika ada orang yang bertanya, apa sisi kelebihan dengan Allah utus seorang nabi yang ummi,

فالجواب عنه من ثلاثة أوجه: أحدها: لموافقته ما تقدمت به بشارة الانبياء. الثاني: لمشاكلة حال لأحوالهم، فيكون أقرب إلى موافقتهم. الثالث: لينتفي عنه سوء الظن في تعليمه ما دعى إليه من الكتب التي قرأها والحكم التي تلاها.

Jawabannya, ada 3 alasan mengenai hal ini,

[1]  Agar sesuai dengan informasi dan kabar gembira yang disampaikan para nabi sebelumnya tentang kehadiran beliau.

[2] Agar sesuai dengan keadaan orang arab, sehingga lebih dekat dengan kesamaan mereka

[3] Untuk menghilangkan su’udzan karena beliau dianggap telah mengajarkan kitab-kitab yang telah beliau baca sebelumnya.

(Tafsir al-Qurthubi, 18/92).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Memakai Gelang Bagi Pria https://konsultasisyariah.com/28993-hukum-memakai-gelang-bagi-pria.html Mon, 06 Feb 2017 02:36:08 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28993 Haram Laki-laki Pakai Gelang?

Assalamualaikum warahmatullah hi wabarakatu,, ustad saya mau bertanya,,,bolehkah seorang pria memakai asesoris seperti gelang(bukan trbuat dari emas dan perak),,yang terbuat dari karet dan benang,,dan bagiamana menurut pandangan syariat islam? apakah sah sholatnya jga?

Dari : Cahya Kurniawan

via Tanya Ustadz for Android

Jawaban :

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

Bismillah wassholaatu wassalam ‘ala Rasulillah, waba’du.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum laki-laki menyerupai wanita dan melarang kaum wanita untuk menyerupai laki-laki. Bahkan beliau mendo’akan laknat bagi mereka yang melakukan demikian. Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma mengatakan,

لعن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المتشبهين من الرجال بالنساء، والمتشبهات من النساء بالرجال. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.
(HR. Bukhari).

Kapan disebut menyerupai (tasyabbuh)?

Syaikhul Islam Zakariya Al Anshori rahimahullah (salah seorang ulama mazhab Syafi’i) menerangkan batasan menyerupai di sini,

ضبط ابن دقيق العيد ما يحرم التشبه بهن فيه بأنه ما كان مخصوصاً بهن في جنسه وهيئته، أو غالباً في زيهن، وكذا يقال في عكسه، فإن تشبه النساء بالرجال حرام في مثل ما ذكر

Ibnu Daqiq Al ‘Ied menjelaskan batasan haram menyerupai perempuan adalah dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Baik dalam jenis atau bentuknya atau pada hal yang biasa menjadi pakaian mereka. Demikian pula yang berlaku sebaliknya (batasan tasyabbuh perempuan dengan laki-laki, pent). Karena wanita menyerupai laki-laki pada hal-hal yang telah disebutkan, hukumnya adalah haram.

(Hawasyi Tuhfatul Minhaj Bisyarhi Al Minhaj 3/26).

Dalam ensklopedia fikih juga dijelaskan,

لا خلاف بين الفقهاء في أنه يحرم على الرجال أن يتشبهوا بالنساء في الحركات ولين الكلام والزينة واللباس وغير ذلك من الأمور الخاصة بهن عادة أو طبعاً. انتهى.

Para ulama sepakat terkait haramnya laki-laki menyerupai perempuan, dalam gerakan, kelembutan tutur kata, perhiasan, pakaian dan perkara lainnya yang menjadi kekhususan mereka secara adat (kebiasaan) atau tabi’at.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah 11/267).

Sehingga bisa disimpulkan, dikatakan tasyabbuh manakala menyerupai pada hal yang menjadi kekhususan yang diserupai.

Hukum Gelang Untuk Laki-Laki

Memakai gelang, adalah diantara ciri khas kaum wanita, baik secara adat kebiasaan maupun tabi’at. Hampir tidak ditemui orang-orang yang terpandang secara akhlak dan memiliki pribadi yang baik memandang gelang adalah perhiasan kaum pria. Maka karena benda ini adalah perhiasan khusus wanita, kaum laki-laki tidak boleh memakainya. Apapun bahannya, baik karet, plastik, kuningan dan yang lainnya. Karena terdapat unsur menyerupai (tasyabbuh) perempuan. Sementara ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini sangat keras, menunjukkan penekanan dalam larangan (haram).

Sebagaimana pernah difatwakan oleh Ibnu Hajar Al Haitami rahimahullah dalam buku fatwa beliau,

يحرم التشبه بهن [ أي : بالنساء ] بلبس زيهن المختص بهن اللازم في حقهن كلبس السوار والخلخال ونحوهما بخلاف لبس الخاتم

Diharamkan menyerupai kaum wanita dengan memakai perhiasan yang menjadi ciri khas mereka. Seperti memakai gelang, gelang kaki dan yang lainnya. Berbeda dengan memakai cincin (pent. hukumnya boleh bagi laki-laki asal bukan cincin emas)…

(Al Fatawa Al Fiqhiyyah Al Kubra 1/261).

Pakailah perhiasan lain yang sesuai dengan tabi’at atau selera laki-laki, tidak menyelisihi keumuman masyarakat dan yang terpenting tidak melanggar aturan agama.

Adapun apakah sholatnya sah. Kita katakan sholatnya sah namun dia berdosa !

Wallahua’lam bis showab.

Kota Nabi ﷺ, Islamic University of Madinah, 8 Jumadal-ula 1438 H.

Dijawab oleh : Ustadz Ahmad Anshori

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Inkarus Sunah & Realita Zaman https://konsultasisyariah.com/28944-inkarus-sunah-realita-zaman.html Wed, 01 Feb 2017 01:51:55 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28944 Inkarus Sunah &  Realita Zaman

Di lombok ada aliran yang digagas oleh Rumah Mengenal Alquran (RMA), mereka mengingkari semua hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Slogan dia adalah Bela Allah atau bela ahli kitab al-Quran… maksudnya, kalau kamu bela Allah, maka harus membela al-Quran. Jika kamu bela Rasulullah, berarti membela ahli kitab al-Quran… maka yang benar, seharusnya bela al-Qur’an, bukan bela hadis, agar disebut bela Allah…

Bagaimana menyikapi aliran semacam ini?

Diantara ajaran aliran ini,

– tidak menggunakan Alquran dalam bahasa Arab, melainkan hanya melalui terjemahan versi bahasa Indonesia

– ucapan salam berbeda dengan ucapan salam umat Islam pada umumnya

– kita tidak perlu salat, tidak perlu puasa, karena cara-cara salat dan puasa itu di hadis, tidak di Alquran

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada pepatah arab menyatakan,

لكل شيء وارث

“Segala pemikiran pasti ada penerusnya”.

Ungkapan inilah yang nampaknya paling pantas untuk menggambarkan fenomena di atas. Bagian dari keajaiban Indonesia, se-sesat apapun pemikiran manusia, pasti akan ada pengikutnya. Belum hilang dari ingatan kita untuk kasus kanjeng dukun pengganda uang.. sudah gempar lagi dengan aliran inkarus sunah.

Betapa Indonesia menjadi lahan paling subur untuk aliran menyimpang. Dan kita bisa perhatikan, rata-rata aliran menyimpang semacam ini muncul dari orang yang bodoh agama.

Bela Allah, Bukan Bela Ahli Kitab Allah

Jika benar penggagas aliran ini paham al-Quran, tentu dia akan malu mengatakan demikian. Karena ketika kita mengakui kebenaran al-Quran, berarti kita juga mengakui kebenaran Nabi Muhammad sebagai penyampai al-Quran. Untuk itu, mentaati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hakekatnya sama dengan mentaati Allah yang mengutus beliau.

Prinsip semacam ini banyak Allah ajarkan dalam al-Quran. Diantaranya Allah berfirman,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Siapa yang mentaati ar-Rasul, hakekatnya dia mentaati Allah… (QS. an-Nisa: 80)

Mentaati utusan, hakekatnya sama dengan mentaati yang mengutus. Karena itulah, Allah murka kepada orang kafir, karena mereka telah mendustakan para Rasul…

كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. as-Syu’ara: 105)

Allah juga berfirman,

كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum Ad telah mendustakan para rasul.” (QS. as-Syu’ara: 123)

Allah juga berfirman,

كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum Ad telah mendustakan para rasul.” (QS. as-Syu’ara: 141)

Dan mereka mereka semua dibinasakan oleh Allah dengan hukuman yang sangat mengerikan.. Karena mendustakan Rasul, berarti sama dengan mendustakan Allah… Inkarus sunah, sama dengan inkarul Qur’an.

Tentu saja penganut aliran ini tidak akan bersedia jika mereka disamakan seperti kaumnya Nuh, kaum Ad, atau Tsamud yang mendustakan Rasul yang Allah utus kepada mereka.

Hadis juga Wahyu yang Harus Dibela

Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 2 panduan, al-Quran dan Sunah. dan Allah menjamin, apapun yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu.

Allah berfirman,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Muhammad tidaklah berbicara dari hawa nafsunya. Tidak lain semua itu adalah wahyu yang disampaikan. (QS. an-Najm: 3-4)

Seorang ulama tabiin, Hassan bin Athiyah pernah mengatakan,

كان جبريل ينزل على النبي صلى الله عليه وسلم بالسنة كما ينزل عليه بالقرآن

Jibril turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sunnah sebagaimana Jibril turun kepada beliau dengan membawa al-Quran. (HR. ad-Darimi dalam Sunannya no. 588 & al-Khatib dalam al-Kifayah no. 12).

Kehadiran mereka telah disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sejak 14 abad silam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan akan kehadiran pengingkar sunah.

Dalam hadis dari al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ القُرآنَ وَمِثلَهُ مَعَهُ ، أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبعَان عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ : عَلَيكُم بِهَذَا القُرآنِ ، فَمَا وَجَدتُم فِيهِ مِن حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ ، وَمَا وَجَدتُم فِيهِ مِن حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ ، أَلَا وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَمَا حَرَّمَ اللَّهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Qur’an dan sesuatu yang sama dengan al-Qur’an. Ketahuilah, akan ada orang yang suka kekenyangan, bertelekan di ranjang mewah, dan berkata, “Berpeganglah kalian kepada al-Qur’an. Apapun yang dikatakan halal di dalam al-Qur’an, maka halalkanlah, sebaliknya apapun yang dikatakan haram dalam al-Qur’an, maka haramkanlah. Sesungguhnya apapun yang diharamkan oleh Rasulullah, Allah juga mengharamkannya.” (HR. Turmudzi 2664 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

“aku diberi al-Qur’an dan sesuatu yang sama dengan al-Qur’an”

Apa sisi kesamaan sunah dengan al-Quran?

Sama dari sisi jumlahnya, kuantitas teksnya? Jelas tidak. Karena sunah lebih banyak dibandingkan al-Quran. Sehingga sisi kesamaan dalam hadis ini maksudnya adalah sama-sama berstatus sebagai wahyu.

Lalu beliau meyebutkan akan ada orang yang suka kekenyangan bertelekan di ranjangnya, yang ini menunjukkan bahwa dia seorang pemalas. Malas untuk belajar, sehingga tidak pernah berjuang untuk mencari ilmu.

Orang ini berkomentar,

“Berpeganglah kalian hanya dengan al-Quran…”

Anda bisa perhatikan, komentar semacam ini hanya akan muncul dari mereka yang kurang paham ilmu. karena itu wajar, jika mereka hanya membaca teks terjemahan Indonesia, karena mereka tidak paham bahasa arab, tidak paham tafsir…

Sayangnya, masih ada orang yang mempercayainya…

Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari tipu muslihat setan yang membisikkan kalimat indah, untuk menipu manusia.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Menerima Angpao https://konsultasisyariah.com/16502-hukum-menerima-angpao.html https://konsultasisyariah.com/16502-hukum-menerima-angpao.html#respond Mon, 30 Jan 2017 02:50:23 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=16502 Menerima Angpao dari Atasan Nonmuslim

Pertanyaan:

Assalamu’alaykum warahmatullah

Atasan saya seorang keturunan cina. Dalam waktu dekat ini dia akan berkunjung ke kantor dimana saya bekerja. Dan mungkin akan memberi angpao pada semua karyawan. Apa yang harus saya lakukan? Apa hukumnya menerima angpao tersebut?

Jazakillahu khairan

Dari: Anggun (anggun******@yahoo.com)

Jawaban:

Wa alaikumus salam warahmatullah

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, islam tidak melarang kita untuk bersikap baik terhadap orang non muslim yang tidak mengganggu. Salah satunya adalah dengan menerima hadiah dari orang kafir. Allah berfirman,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanan: 8)

Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari membuat judul bab:

بَابُ قَبُولِ الهَدِيَّةِ مِنَ المُشْرِكِينَ

Bab: Bolehnya menerima hadiah dari orang musyrik (Al-Jami’ As-Shahih, 3/163).

Selanjutnya, Imam Bukhari menyebutkan beberapa riwayat tentang menerima hadiah dari orang kafir. Berikut diantaranya,

1. Riwayat dari Abu Huamid,

قَالَ أَبُو حُمَيْدٍ: أَهْدَى مَلِكُ أَيْلَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَغْلَةً بَيْضَاءَ، وَكَسَاهُ بُرْدًا، وَكَتَبَ لَهُ بِبَحْرِهِمْ

Abu Humaid mengatakan, “Raja Ailah menghadiahkan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor bighal putih, beliau diberi selendang, dan kekuasaan daerah pesisir laut.

2. Riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

إِنَّ أُكَيْدِرَ دُومَةَ أَهْدَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Bahwa Ukaidir Dumah (raja di daerah dekat tabuk) memberi hadiah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Keterangan dari Anas bin Malik,

أَنَّ يَهُودِيَّةً أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ، فَأَكَلَ مِنْهَا

Bahwa ada seorang perempuan yahudi yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa daging kambing yang diberi racun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakannya..

Semua riwayat di atas, yang disebutkan Imam bukhari dalam shahihnya, menunjukkan bolehnya menerima hadiah dari orang kafir.

Kedua, hukum menerima hadiah pada hari raya orang kafir

Angpao dibagikan dalam rangka memeriahkan hari raya imlek. Dengan demikian, angpao merupakan hadiah hari raya orang kafir, sebagaimana hadiah natal.

Untuk mendapatkan kesimpulan hukum tentang hadiah yang diberikan pada saat hari raya mereka, mari kita simak beberapa keterangan ulama berikut,

Syaikhul Islam mengatakan,

وأما قبول الهدية منهم يوم عيدهم فقد قدمنا عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه أتي بهدية النيروز فقبلها .

“Menerima hadiah orang kafir pada hari raya mereka, telah ada dalilnya dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu bahwa beliau mendapatkan hadiah pada hari raya Nairuz (perayaan tahun baru orang majusi), dan beliau menerimanya.”

وروى ابن أبي شيبة .. أن امرأة سألت عائشة قالت إن لنا أظآرا [جمع ظئر ، وهي المرضع] من المجوس ، وإنه يكون لهم العيد فيهدون لنا فقالت : أما ما ذبح لذلك اليوم فلا تأكلوا ، ولكن كلوا من أشجارهم .

Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, bahwa ada seorang wanita bertanya kepada Aisyah radhiallahu’anha, Kami memiliki seorang ibu susu beragama majusi. Ketika hari raya, mereka memberi hadiah kepada kami. Kemudian Aisyah menjelaskan, “Jika itu berupa hewan sembelihan hari raya maka jangan dimakan, tapi makanlah buah-buahannya.”

و.. عن أبي برزة أنه كان له سكان مجوس فكانوا يهدون له في النيروز والمهرجان ، فكان يقول لأهله : ما كان من فاكهة فكلوه ، وما كان من غير ذلك فردوه .

Dari Abu barzah, bahwa beliau memiliki sebuah rumah yang dikontrak orang majusi. Ketika hari raya Nairuz dan Mihrajan, mereka memberi hadiah. Kemudian Abu Barzah berpesan kepada keluarganya, “Jika berupa buah-buahan, makanlah. Selain itu, kembalikan.”

فهذا كله يدل على أنه لا تأثير للعيد في المنع من قبول هديتهم ، بل حكمها في العيد وغيره سواء ؛ لأنه ليس في ذلك إعانة لهم على شعائر كفرهم … “.

Semua riwayat ini menunjukkan bahwa ketika hari raya orang kafir, tidak ada larangan untuk menerima hadiah dari mereka. Hukum menerima ketika hari raya mereka dan di luar hari raya mereka, sama saja. Karena menerima hadiah tidak ada unsur membantu mereka dalam menyebar syiar agama mereka. (Iqtidha’ Shirat al-Mustaqim, 2:5)

Kemudian Syaikhul Islam menegaskan bahwa sembelihan ahli kitab, meskipun pada asalnya hukumnya halal, namun jika disembelih karena hari raya mereka maka statusnya tidak boleh dimakan. Beliau menyatakan,

وأما ما ذبحه أهل الكتاب لأعيادهم وما يتقربون بذبحه إلى غير الله نظير ما يذبح المسلمون هداياهم وضحاياهم متقربين بها إلى الله تعالى ، وذلك مثل ما يذبحون للمسيح والزهرة ، فعن أحمد فيها روايتان أشهرهما في نصوصه أنه لا يباح أكله وإن لم يسم عليه غير الله تعالى ، ونقل النهي عن ذلك عن عائشة وعبد الله بن عمر.

Sembelihan ahli kitab untuk hari raya mereka dan sembelihan yang mereka jadikan untuk mendekatkan diri kepada selain Allah, statusnya sembelihan ibadah sebagaimana layaknya yang dilakukan kaum muslimin ketika berqurban atau menyembelih hewan hadyu, sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sembelihan dalam rangka hari raya ahli kitab, seperti mennyembelih untuk Al-Masih atau Az-Zahrah. Ada dua riwayat dari Imam Ahmad. Riwayat yang lebih banyak dari beliau adalah tidak boleh dimakan. Meskipun ketika menyembelih tidak menyebut nama selain Allah. Dan terdapat riwayat yang melarang memakan sembelihan ini dari A’isyah dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum. (Iqtidha’ Shirat al-Mustaqim, 2:6).

Orang Muslim Tidak Boleh Meniru

Syaikhul islam menegaskan, seorang muslim tidak boleh memberikan hadiah kepada muslim yang lain pada hari raya orang kafir. Beliau mengatakan,

ومن أهدى من المسلمين هدية في هذه الأعياد ، مخالفة للعادة في سائر الأوقات غير هذا العيد ، لم تقبل هديته ، خصوصا إن كانت الهدية مما يستعان بها على التشبه بهم ، مثل : إهداء الشمع ونحوه في الميلاد أو إهداء البيض واللبن والغنم في الخميس الصغير الذي في آخر صومهم ، وكذلك أيضا لا يهدى لأحد من المسلمين في هذه الأعياد هدية لأجل العيد ، لا سيما إذا كان مما يستعان بها على التشبه بهم  كما ذكرناه

Seorang muslim yang memberikan hadiah ketika hari raya orang kafir, padahal itu tidak pernah dia lakukan di luar hari raya tersebut maka hadiahnya tidak boleh diterima. Terlebih jika hadiah tersebut membantu untuk ikut meniru kebiasaan orang kafir, seperti menghadiahkan lilin atau semacamnya ketika natal, atau menghadiahkan telur, susu, dan daging kambing ketika hari kamis di tanggal terakhir puasa mereka. Demikian pula, tidak boleh memberi hadiah kepada orang muslim pada hari raya non mulim, dalam rangka memeriahkan hari tersebut. Terlebih jika benda itu mendukung untuk meniru kebiasaan mereka, sebagaimana yang telah kami sebutkan. (Iqtidha’ Shirat al-Mustaqim, 1:461)

Tidak berlaku sebaliknya

Penjelasan di atas, terkait hukum menerima hadiah dari orang kafir. Namun hukum ini tidak berlaku untuk kasus sebaliknya, memberikan hadiah kepada orang kafir ketika hari raya mereka. Ulama Hanafi menegaskan, memberi hadiah dari orang kafir dalam rangka memeriahkan hari raya mereka, hukumnya terlarang, dan bahkan mereka anggap sebagai pembatal islam. Az-Zaila’i (ulama hanafi) mengatakan,

(والإعطاء باسم النيروز والمهرجان لا يجوز) أي الهدايا باسم هذين اليومين حرام بل كفر , وقال أبو حفص الكبير رحمه الله لو أن رجلا عبد الله خمسين سنة ثم جاء يوم النيروز , وأهدى لبعض المشركين بيضة ، يريد به تعظيم ذلك اليوم ، فقد كفر , وحبط عمله .

“(Hadiah dengan nama Nairuz dan Mihrajan, hukumnya tidak boleh). Maksudany, hadiah dalam rangka memeriahkan dua hari ini hukumnya haram bahkan kekafiran. Abu Hafs Al-Kabir mengatakan, ‘Jika ada orang yang beribadah kepada Allah selama 50 tahun. Kemudian dia datang pada hari Nairuz, dan memberikan hadiah telur kepada orang musyrik, dalang rangka memeriahkan dan mengagungkan hari raya itu maka dia telah murtad dan amalnya terhapus.” (Tabyin Al-Haqaiq, 6/228).

Kesimpulan yang bisa kita catat dari penjelasan di atas, bahwa kita dibolehkan menerima hadiah dari orang kafir pada hari raya mereka, dengan syarat,

  • Hadiah itu bukan termasuk sembelihan mereka
  • Hadiah itu bukan termasuk benda yang memfasilitasi orang untuk meniru ciri khas mareka saat hari raya.
  • Menerima hadiah itu sama sekali tidak dikesankan mendukung acara mereka.
  • Menerima hadiah itu dalam rangka mengambil hati mereka, dengan harapan, mereka bisa simpati kepada islam.

Dengan demikian, jika menerima hadiah angpao memenuhi beberapa persyaratan di atas, hukumnya dibolehkan.

Allahu a’lam.

Referensi: Fatwa islam, no. 85108
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
https://konsultasisyariah.com/16502-hukum-menerima-angpao.html/feed 0
Islam Bukan Arab? https://konsultasisyariah.com/28923-islam-bukan-arab.html Wed, 25 Jan 2017 02:41:06 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28923 Islam Bukan Arab?

Ada tokoh parpol hingga artis sempat meramaikan medsos krn pernyataan, islam bukan arab… bagaimana komentar Ustad?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak sekali dalil yang menegaskan bahwa islam adalah agama yang universal. Agama islam untuk semua umat manusia sedunia.

Dalam al-Quran Allah menegaskan,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

Tidaklah Aku mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk semua umat manusia, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. (QS. Saba’: 28)

Allah juga berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua…” (QS. al-A’raf: 158)

Allah juga berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Tidaklah Aku mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. al-Anbiya: 107).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadisnya untuk menegaskan demikian.

Diantaranya,

Hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيتُ خَمْساً لَمْ يُعْطَهُنَّ نَبِىٌّ قَبْلِى : كَانَ النَّبِىُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً…

“Aku diberi 5 keutamaan yang tidak diberikan kepada para nabi sebelumku, nabi terdahulu diutus untuk kaumnya saja, dan aku diutus untuk semua umat manusia…” (HR. Bukhari 335 & Muslim 1191)

Beliau juga mengatakan,

وَبُعِثْتُ إِلَى كُلِّ أَحْمَرَ وَأَسْوَدَ…

Aku diutus kepada semua yang berkulit merah dan berkulit hitam… (HR. Muslim 1191 & Ahmad 2256).

Islam Bukan Arab, Meskipun Dari Arab

Anda yang bukan orang arab, tidak perlu merasa gusar. Tidak perlu membuat pernyataan, “Islam bukan agama arab.” Semua sudah tahu..bahwa islam bukan agama untuk arab… Membuat status di medsos, “Islam bukan agama arab”, justru menunjukkan bahwa anda terlalu katrok.

Tapi anda perlu mengakui bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam orang arab. Al-Quran, Allah turunkan dengan berbahasa arab. Hadis-hadis, disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bahasa arab. Para sahabat, hampir semua orang arab. Para ulama, kebanyakan berbahasa arab. Dst.

Semua orang perlu mengakui itu, karena itu realita.

Allah yang menciptakan, Allah yang memiliki, dan karenanya, Allah yang paling berhak untuk memilih. Dia yang paling berhak menentukan, dimana Allah akan mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. al-Qashas: 68)

Meskipun, jika Allah berkehendak, Dia mampu untuk mengutus rasul di semua daerah,

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا

“Jika Aku menghendaki, Aku akan mengutus seorang rasul di setiap daerah.” (QS. al-Furqan: 51)

Akan tetapi, Allah hanya memilih satu tempat untuk posisi munculnya sang utusan-Nya.

Bukan Masalah Tempat

Sebenarnya yang menjadi masalah bukan soal tempat dan bahasa, tapi lebih pada soal menggugat agama. Karena bagaimanapun juga, ketika Allah mengutus seorang nabi, pasti mereka akan menggunakan bahasa yang dipahami kaumnya. Sehingga tidak mungkin sang nabi ini diutus dengan membawa bahasa baru, agar tidak memihak ke bahasa manapun yang digunakan manusia.

Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka…” (QS. Ibrahim: 4).

Andai al-Quran diturunkan dengan bahasa jawa, bagi tipe manusia gagal, pasti akan dia kritik. Dia akan buat status, “Islam bukan agama jawa…”

Lalu harus pakai bahasa apa agar anda tutup mulut, dan tidak mengkritik bahasanya?

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Bertemu Mayit dalam Mimpi https://konsultasisyariah.com/28912-bertemu-mayit-dalam-mimpi.html Sat, 21 Jan 2017 01:17:44 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28912 Bertemu Orang Mati dalam Mimpi

Semalam saya terbangun karena mimpi bertemu Almarhum Nenek bahkan saya memegang tangannya dan mencium tangannya terasa seperti nyata. Apakah makna mimpi tersebut?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak keterangan dari ulama yang menyatakan bahwa ruh orang yang telah meninggal bisa berjumpa dengan ruh orang yang masih hidup dalam mimpi.

Berikut beberapa keterangan mereka,

Pertama, Tafsir firman Allah di surat Az-Zumar ayat 42.

Allah berfirman,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) ruh (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah ruh (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan ruh yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az-Zumar : 42)

Ada dua pendapat ahli tafsir tentang ayat ini. Salah satunya, bahwa ruh orang yang ditahan adalah ruh orang yang sudah meninggal, sehingga dia tidak bisa kembali ke jasadnya di dunia. Sedangkan ruh orang yang dilepas adalah ruh orang yang tidur. (Ar-Ruh, Ibnul Qoyim, hlm. 31).

Diriwayatkan dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menjelaskan tafsir ayat tersebut,

إِنَّ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ تَلْتَقِي فِي الْمَنَامِ فَتَتَعَارَفُ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْهَا، فَإِذَا أَرَادَ جَمِيعُهَا الرُّجُوعَ إِلَى الْأَجْسَادِ أَمْسَكَ اللَّهُ أَرْوَاحَ الْأَمْوَاتِ عِنْدَهُ، وَأَرْسَلَ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ إِلَى أَجْسَادِهَا

“Sesungguhnya ruh orang yang hidup dan ruh orang mati bertemu dalam mimpi. Mereka saling mengenal sesuai yang Allah kehendaki. Ketika masing-masing hendak kembali ke jasadnya, Allah menahan ruh orang yang sudah mati di sisi-Nya, dan Allah melepaskan ruh orang yang masih hidup ke jasadnya.” (Tafsir At-Thabari 21/298, Al-Qurthubi 15/260, An-Nasafi 4/56, Zadul Masir Ibnul Jauzi 4/20, dan beberapa tafsir lainnya).

  1. Kejadian nyata yang dialami para sahabat

Kejadian ini pernah dialami seorang sahabat yang dijamin masuk surga karena kerendahan hatinya. Beliaulah sahabat Tsabit bin Qois radhiyallahu ‘anhu. Peristiwa ini terjadi ketika perang Yamamah, menyerang nabi palsu Musailamah Al-Kadzab di zaman Abu Bakr. Dalam peperangan itu, Tsabit termasuk sahabat yang mati syahid. Ketika itu, Tsabit memakai baju besi yang cukup bernilai harganya.

Sampai akhirnya lewatlah seseorang dan menemukan jasad Tsabit. Orang ini mengambil baju besi Tsabit dan membawanya pulang. Setelah peristiwa ini, ada salah seorang mukmin bermimpi, dia didatangi Tsabin bin Qois. Tsabit berpesan kepada si Mukmin dalam mimpi itu:

“Saya wasiatkan kepada kamu, dan jangan kamu katakan, ‘Ini hanya mimpi kalut’ kemudian kamu tidak mempedulikannya. Ketika saya mati, ada seseorang yang melewati jenazahku dan mengambil baju besiku. Tinggalnya di paling pojok sana. Di kemahnya ada kuda yang dia gunakan membantu kegiatannya. Dia meletakkan wadah di atas baju besiku, dan diatasnya ada pelana. Datangi Khalid bin Walid, minta beliau untuk menugaskan orang agar mengambil baju besiku. Dan jika kamu bertemu Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu Abu Bakr), sampaikan bahwa saya punya tanggungan utang sekian dan punya piutang macet sekian. Sementara budakku fulan, statusnya merdeka. Sekali lagi jangan kamu katakan, ‘Ini hanya mimpi kalut’ kemudian kamu tidak mempedulikannya.”

Setelah bangun, orang inipun menemui Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu dan menyampaikan kisah mimpinya bertemu Tsabit. Sang panglima, Khalid bin Walid mengutus beberapa orang untuk mengambil baju besi itu, dia memperhatikan kemah yang paling ujung, ternyata ada seekor kuda yang disiapkan. Mereka melihat isi kemah, ternyata tidak ada orangnya. Merekapun masuk, dan langsung menggeser pelana. Ternyata di bawahnya ada wadah. Kemudian mereka mengangkat wadah itu, ketemulah baju besi itu. Merekapun membawa baju besi itu menghadap Khalid bin Walid.

Setelah sampai Madinah, orang itu penyampaikan mimpinya kepada Khalifah Abu Bakr As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dan beliau membolehkan untuk melaksanakan wasiat Tsabit. Para sahabat mengatakan, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorangpun yang wasiatnya dilaksanakan, padahal baru disampaikan setelah orangnya meninggal, selain wasiat Tsabit bin Qais. (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwah 2638 dan Al-Bushiri dalam Al-Ittihaf 3010)

Kasus semacam ini juga terjadi pada beberapa ulama. Kisah-kisah mereka banyak disebutkan Ibnul Qoyim dalam bukunya Ar-Ruh (hlm. 30 – 48). Salah satunya adalah kisah sahabat tsabit bin Qois di atas.

Ini semua menunjukkan bahwa ruh orang yang hidup bisa bertemu dengan ruh oranng yang telah meninggal dalam mimpi.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>