AQIDAH – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 29 Jul 2016 01:54:24 +0000 en-US hourly 1 Membatalkan Puasa Qadha karena Ingin Bersetubuh https://konsultasisyariah.com/28151-membatalkan-puasa-qadha-karena-ingin-bersetubuh.html Fri, 29 Jul 2016 01:53:51 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28151 Membatalkan Puasa Qadha

Apa hukum berbuka puasa qadha kerana ingin bersetubuh

Rahmi

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (QS. Muhammad: 33)

Dalam ayat ini, Allah melarang kita membatalkan amal di saat kita tengah mengerjakannya. Termasuk diantaranya amal wajib yang telah kita kerjakan.

Ketika fathu Mekah, Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anhu sedang puasa. Tiba-tiba datang seseorang membawa segelas minuman. Ummu Hani’ langsung mengambilnya dan meminumnya.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكُنْتِ تَقْضِينَ شَيْئًا

“Apakah kamu akan mengqadhanya?”

Ummu Hani menjawab: ‘Tidak’

Selanjutnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

فَلاَ يَضُرُّكِ إِنْ كَانَ تَطَوُّعًا

“Tidak masalah, jika itu puasa sunah.” (HR. ad-Darimi 1736, Baihaqi dlam al-Kubro 8134 dan sanadnya dinilai dhaif  oleh Syaikh Husain Salim Asad)

Dalam hadis lain, dari Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيرُ نَفْسِهِ، إِنْ شَاءَ صَامَ، وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Orang yang melakukan puasa sunah, menjadi penentu dirinya. Jika ingin melanjutkan, dia bisa melanjutkan, dan jika dia ingin membatalkan, diperbolehkan.” (HR. Ahmad 26893, Turmudzi 732, dan dishahihkan Al-Albani)

Karena itu, para ulama mengatakan, mereka yang telah melaksanakan puasa wajib, seperti puasa ramadhan, puasa qadha atau puasa nadzar, tidak boleh membatalkannya tanpa ada udzur yang syar’i. seperti sakit atau safar atau lainnya.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ومن دخل في واجب، كقضاء رمضان، أو نذر معين أو مطلق، أو صيام كفارة؛ لم يجز له الخروج منه؛ لأن المتعين وجب عليه الدخول فيه، وغير المتعين تعين بدخوله فيه، فصار بمنزلة الفرض المتعين، وليس في هذا خلاف بحمد الله

Siapa yang telah memulai puasa wajib seperti qadha ramadhan, puasa nazar hari tertentu atau nazar mutlak, atau puasa kafarah, tidak boleh membatalkannya. Karena sesuatu yang statusnya wajib ain, harus dilakukan. Sementara yang bukan wajib ain, menjadi wajib ain jika telah dilakukan. Sehingga statusnya sama dengan wajib ain. Dan dalam hal ini tidak ada perselisihan, alhamdulillah.. (Al-Mughni, 3/160 – 161)

Sebatas keinginan untuk berhubungan badan, bukan alasan syar’i untuk membatalkan puasa.

Bagaimana jika ini tuntutan suami?

Dalam keataatan harus ada prioritas. Taat kepada makhluk dibolehkan, selama tidak melanggar kewajiban kepada khalik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidak ada keaatan bagi makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.” (HR. Ahmad 1095 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Karena itu, agar puasa yang dilakukan istri tidak menjadi masalah dalam keluarga, hendaknya sebelum puasa qadha, istri membuat kesepakatan dengan suaminya, kapan waktu untuk berpuasa. Semoga Allah memberkahi keluarga kita semua.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Memanfaatkan Zakat untuk Membangun Rumah Tahfidz https://konsultasisyariah.com/28131-memanfaatkan-zakat-untuk-membangun-rumah-tahfidz.html Tue, 26 Jul 2016 02:50:12 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28131 Memanfaatkan Zakat untuk Membangun Rumah Tahfidz

Bolehkah dana zakat maal utk pembangunan rumah tahfidz?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Diantara yang membedakan antara zakat dengan sedekah, peruntukan zakat telah ditetapkan oleh Allah.

Allah berfirman,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah..” (QS. at-Taubah: 60)

Karena itu, tidak boleh memberikan zakat untuk selain 8 golongan yang telah ditentukan oleh Allah dalam ayat di atas.

Selanjutnya, untuk pembangunan rumah belajar agama atau rumah tahfidz, apakah termasuk fi sabilillah?

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, bahwa diantara makna fi sabilillah adalah belajar ilmu agama. Karena musuh agama itu 2, musyrikin dan munafiqin. Sehingga keduanya harus dilawan, untuk menjaga kelestarian ajaran islam yang Allah berikan bagi umat manusia. Allah berfirman memerintahkan jihad untu Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَٰأَيُّهَا النَّبِىُّ جَـٰهِدِ الْكُفَّـٰرَ وَالْمُنَـٰفِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (QS. at-Taubah: 72).

Jihad melawan orang musyrikin dilakukan dengan angkat senjata. Sedangkan jihad melawan orang munafiq dengan ilmu dan bukan senjata.

Selanjutnya beliau menyimpulkan,

وعلى هذا فتصرف الزكاة لهم في نفقاتهم وما يحتاجون إليه من الكتب، سواء كان على سبيل التمليك الفردي الذي يشترى لكل فرد منهم، أم على سبيل التعميم كالكتب التي تشترى فتودع في مكتبة يرتادها الطلاب، لأن الكتب لطالب العلم بمنزلة السيف والبندقية ونحوهما للمقاتل

Oleh karena itu, boleh memberikan zakat kepada mereka (orang yang belajar ilmu agama) untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka atau untuk biaya pengadaan kitab-kitab yang mereka butuhkan. Baik untuk kepemilikan pribadi, atau untuk umum, seperti membeli kitab kemudian ditaruh di perpustakaan, yang  sering dicari oleh para penuntut ilmu agama. Karena kitab bagi pelajar, seperti pedang dan peluru dan semacamnya bagi orang  yang membunuh.

Hanya saja, Imam Ibnnu Utsaimin menyatakan bahwa ini tidak berlaku untuk bangunan, baik bangunan sekolah islam maupun rumah tahfidz.

أما بناء المساكن والمدارس لطلبة العلم ففي نفسي شيء من جواز صرف الزكاة فيها، والفرق بينها وبين الكتب أن الانتفاع بالكتب هو الوسيلة لتحصيل العلم، فلا علم إلا بالكتب، بخلاف المساكن والمدارس

Untuk pembangunan asrama atau tempat belajar (madrasah) bagi para penuntut ilmu agama, saya kurang sreg, jika ini diambilkan dari dana zakat. Dan berbeda antara bangunan dengan kitab. Mempelajari kitab itu sarana untuk bisa mendapatkan ilmu. tidak bisa mendapat ilmu tanpa kitab. Berbeda dengan asrama dan madrasah.

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 18/253).

Fatwa ini juga disampaikan Dr. Soleh al-Fauzan,

Beliau melarang memberikan zakat untuk yayasan sosial. karena Allah telah membatasi penerima zakat sesuai yang ada di surat at-Taubah. Sehingga zakat tidak boleh disalurkan untuk membangun jembatan, yayasan sosial, pembangunan madrasah, atau semacamnya. Karena lembaga sosial semacam ini didanai dari donasi, wakaf yang disalurkkan untuknya. Sementara zakat, disalurkan sesuai peruntukannya yang ditetapkan Allah.

Selanjutnya, beliau menyebutkan salah satu makna fi Sabilillah,

والمراد بقوله: {وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ} هم المجاهدون الذين ليس لهم مرتبات من بيت المال فيعطون من الزكاة

Yang dimaksud ‘fi sabilillah’ adalah mereka para mujahidin, yang mereka tidak memiliki gaji tetap dari Baitul Mal, sehingga mereka diberi zakat.

http://ar.islamway.net/fatwa/8199/صرف-الزكاة-في-بناء-المساجد-أو-المدارس

Berdasarkan keterangan di atas, zakat tidak boleh digunakan untuk membangun rumah tahfidz. Tapi boleh digunakan untuk memberi santunan, mencukupi kebutuhan para santri yang tidak mampu.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Heliosentris atau Geosentris? https://konsultasisyariah.com/28095-heliosentris-atau-geosentris.html Sat, 16 Jul 2016 12:40:41 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28095 Heliosentris atau Geosentris?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kajian mengenai Heliosentris atau Geosentris termasuk mengulang sejarah polemik. Meskipun kelihatannya sederhana, tapi polemik ini telah menelan korban. Beberapa tokoh yang menolak pendapat gereja roma waktu itu, harus di-guilatine (pancung).

Ada beberapa catatan yang bisa kita berikan terkait perselisihan ini,

Pertama, perlu kita bedakan pendekatan yang dilakukan para ulama dengan pendekatan yang dilakuan para ahli fisika. Para ulama membahas ini, melalui pendekatan tafsir al-Quran dan sunah. yang bisa jadi berbeda dengan teori yang disampaikan fisikawan.

Sebaliknya, para fisikawan menggunakan pendekatan empiris untuk menemukan teori tentang tata surya. Yang bisa jadi juga berbeda dengan hasil kesimpulan para ulama dalam menafsirkan al-Quran dan hadis.

Intinya, kita dudukkan pendekatan sesuai porsinya.

Kedua, para ulama kontemporer berbeda pendapat dalam menetapkan antara heliosentris dan geosentris.

Baik pendapat pertama maupun kedua, semuanya ijtihad terhadap dalil dari al-Quran.

Sebagian mengatakan, geosentris lebih benar. karena ini yag lebih sesuai sharih al-Qur’an (makna tekstual al-Quran). Diantara ayat yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah,

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا

Matahari beredar di garis orbitnya. (QS. Yasin: 38)

Dan beberapa ayat lainnya.

Ini merupakan pendapat Lajnah Daimah, sebagaimana dinyatakan dalam fatwa no. 18647, 9247, dan 15255. Lajnah Daimah bahkan mewajibkan siapapun untuk meninggalkan teori heliosetris. Karena itu hanya teori dan tidak sesuai dengan makna teks al-Quran.

Demikian pula ini pendapat Syaikh Ibnu Utsaimin. (Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin, VI/102/21).

Sementara itu, Syaikh al-Albani berpendapat yang lebih tepat heliosentris. Ini lebih mendekati hasil penelitian empiris. Kemudian beliau menjawab mengenai tafsir surat yasin ayat 38 di atas, yang itu menjadi salah satu dalil utama geosentris. Syaikh al-Albani menyatakan,

Bahwa di surat Yasin, Alah menyebutkan beberapa tanda kekuasaan-Nya,

Di ayat 33 – 36, Allah berbicara tentang bumi.

Di ayat 37 dan 38, Allah berfirman tentang matahari.

Di ayat 39 dan bagian awal ayat 40, Allah berbicara tentang bulan.

Kemudin di akhir ayat 40, Allah berfirman,

وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Dan semuanya beredar di alam semesta. (QS. Yasin: 40).

Kemudian Syaikh al-Albani menyimpulkan, bahwa kata ‘semua’ lebih dekat jika kita berlakukan untuk bumi, matahari, dan bulan. Sehingga semuanya berputar. (Silsilah al-Huda wa an-Nur, volume 1/497).

Mengenai perbedaan pendapat ini, anda bisa simak di: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=319853

Ketiga,  bahwa al-Quran dan sunah tidak akan pernah bertentangan dengan realita. Meskipun tidak semua realita disebutkan dalam al-Quran dan sunah. Terutama realita yang ada di alam. Karena al-Quran dan sunah bukan kitab biologi atau referensi ilmu pengetahuan alam.

Salah satu contoh kejadiannya, hadis dari Thalhah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk mengawinkan kurma. Akibatnya gagal panen. Ketika berita ini sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّمَا هُوَ ظَنٌّ ظَنَنْتُهُ، إِنْ كَانَ يُغْنِي شَيْئًا فَاصْنَعُوا، فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، وَالظَّنُّ يُخْطِئُ وَيُصِيبُ، وَلَكِنْ مَا قُلْتُ لَكُمْ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلَنِ أكْذِبَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Ini hanya dugaan saya. Jika itu bermanfaat, silahkan lakukan. Saya manusia biasa seperti kalian, dugaannya bisa benar bisa salah. Namun apa yang aku sampaikan jika itu dari Allah, sama sekali saya tidak akan berdusta atas nama Allah. (HR. Ahmad 1399 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Masalah mengawinkan kurma, bukan ranah syariat. sehingga kembali kepada bukti empiris yang dimiliki manusia. sekalipun tidak dibimbing wahyu, mereka bisa memahaminya.

Keempat, tujuan besar Allah menyebutkan alam semesta dalam al-Quran adalah untuk mengajak manusia agar semakin mengagungkan Allah. karena itu, sebelum Allah menyebutkan kejadian alam semesta, Allah berfirman,

وَآَيَةٌ لَهُمُ

Ayat (tanda kekuasaan Allah) untuk mereka…

Allah juga berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap (QS. al-Baqarah: 21-22)

Tentu saja, tujuan utama ayat kauniyah disebutkan dalam al-Quran, bukan untuk referensi ilmu pengetahuan alam, apalagi untuk membuat polemik atau perbedaan pendapat diantara para hamba.

Karena itu, sikap yang lebih kita kedepankan ketika membaca ayat-ayat semacam ini adalah pengagungan kepada Allah, Penciptanya. Sekalipun bisa jadi, detail dari ayat kauniyah itu tidak kita ketahui, dan tidak selayaknya kita gali.

Kelima, Allah mengajarkan dalam al-Quran, agar perselisihan yang belum jelas kebenarannya, tidak terlalu disikapi serius. Terutama untuk masalah yang tidak menambah keimanan seseorang.

Perselisihan memang tidak bisa dihindari. Tapi posisikan hanya perselisihan lahir saja, tidak sampai menjadi sumber perdebatan.

Allah contohkan perselisihan manusia tentang jumlah ashabul kahfi. Ada yang mengatakan, 3 orang, 4 bersama anjingnya. Ada yang mengatakan 5 orang, 6 bersama anjingnya, dan ada yang mengatakan 7 orang, 8 bersama anjingnya. Angka berapapun yang dipilih, tidak ada kaitannya dengan ketaqwaan. Seseorang tidak lebih bertaqwa, ketika dia meyakiin jumlahnya 3, atau 5, atau 7.

Dilanjutan ayat Allah mengajarkan,

قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا

Katakanlah: “Rabku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.” Karena itu janganlah kamu (Muhammad) berdebat tentang hal mereka, kecuali perdebatan lahir saja. (QS. al-Kahfi: 22)

Dalam ayat ini, Allah mengajarkan, bahwa perbedaan pendapat untuk masalah yang belum terlalu jelas, dan permasalahan itu tidak menambah keimanan seseorang, ada 2 hal yang bisa dilakukan,

[1] Kembalikan ilmunya kepada Allah. katakan, “Allah yang paling tahu kebenarannya.”

[2] Posisikan perselihan ini hanya bersifat lahir saja. Jangan sampai terlalu diseriusi.

(Tafsir al-Kahfi, Ibnu Utsaimin)

Terlepas dari perbedaan ulama dalam masalah Heliosentris atau Geosentris, keduanya tidak memiliki hubungan dengan ketaqwaan. Seseorang tidak menjadi semakin bertaqwa hanya karena dia memihak geosentris dan sebaliknya.

Keenam, dalam teori fisika, baik matahari maupun bumi, keduanya bukan pusat alam semesta (universe). Sehingga, baik bumi maupun matahari, beserta seluruh benda langit lainnya, bergerak mengitari pusat alam semesta.

Sehingga teori heliosentris, yang menyatakan, pusat alam semesta adalah matahari. Dan teori geosentris, yang menyatakan, pusat alam semesta adalah bumi, keduanya tidak seutuhnya benar. Karena keduanya bukan pusat alam semesta.

Dalam teori relativitas, tidak salah ketika kita menyatakan,

“Menurut saya yang ada di bumi, matahari bergerak mengelilingi bumi.”

Sebagaimana ketika anda di dalam mobil menyatakan, bahwa pohon yang ada di luar bergerak ke belakang.

Hanya saja, untuk kasus mobil dan pohon, manusia bisa langsung bisa menyimpulkan mana yang sebenarnya bergerak dan mana yang gerakannya semu.

Sementara untuk kasus matahari dan bumi, perlu perjuangan sangat panjang untuk membuktikan secara empiris, mana yang sebenarnya bergerak dan mana yang gerakannya semu.

Jika kita mengesampingkan hubungan dengan tata surya lain dan bintang-bintang lain, kita menyimpulkan bahwa baik matahari maupun bumi, keduanya berputar mengelilingi pusat keduanya. Mengingat massa matahari benar-benar jauh lebih besar dibandingkan bumi, maka fisikawan menyimpulkan, bumi tampak mengelilingi matahari. Karena benda akan mengelilingi pusat massanya.

Kita kembalikan semua ilmunya kepada Allah, Dzat yang menciptakan alam semesta besarta isinya. Dan dengan membaca ayat-ayat ini, semoga membuat kita lebih bisa mengagungkan Allah.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Bumi itu Datar? https://konsultasisyariah.com/28092-bumi-itu-bulat.html Thu, 14 Jul 2016 00:09:00 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28092 Benarkah Bumi itu Bulat?

Ada yang myakini bahwa bumi itu datar. Dia bilang, ini sesuai al-Qur’an dan hadis. Apa itu benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat lebih dari satu keterangan ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa bumi itu bulat. Diantaranya,

Keterangan Syaikhul Islam, yang beliau nukil dari Abul Husain Ibnu al-Munadi.

Syiakhul Islam mengatakan,

وقال الإمام أبو الحسين أحمد بن جعفر بن المنادي من أعيان العلماء المشهورين بمعرفة الآثار والتصانيف الكبار في فنون العلوم الدينية من الطبقة الثانية من أصحاب أحمد : لا خلاف بين العلماء أن السماء على مثال الكرة …قال : وكذلك أجمعوا على أن الأرض بجميع حركاتها من البر والبحر مثل الكرة

Imam Abul Husain Ahmad bin Ja’far al-Munadi, – termasuk ulama  yang masyhur dengan ilmu atsar dan karya-karya besar dalam berbagai cabang ilmu agama, termasuk generasi kedua  di kalangan ulama hambali, beliau mengatakan,

“Tidak ada perbedaan di kalangan ulama bahwa langit itu seperti bola… demikian pula mereka sepakat bahwa bumi dan semua gerakannya, baik darat maupun lautan, seperti bola.” (Majmu’ al-Fatawa, 25/195)

Syaikhul Islam juga mengatakan,

السموات مستديرة عند علماء المسلمين ، وقد حكى إجماع المسلمين على ذلك غير واحد من العلماء أئمة الإسلام : مثل أبي الحسين أحمد بن جعفر بن المنادي …، وحكى الإجماع على ذلك الإمام أبو محمد بن حزم وأبو الفرج بن الجوزي ، وروى العلماء ذلك بالأسانيد المعروفة عن الصحابة والتابعين

Galaxi tata surya itu melingkar menurut ulama kaum muslimin. Ada beberapa ulama yang menegaskan ijma’ (sepakat) dalam masalah ini. seperti Abul Husain Ahmad bin Ja’far bin al-Munadi… demikian pula yang menegaskan ijma’ tentang hal ini adalah Imam Abu Muhammad  Ibnu Hazm, dan Abul Faraj Ibnul Jauzi. Dan para ulama meriwayatkan hal itu dari para sahabta dan tabi’in dengan sanad yang makruf. (Majmu’ al-Fatawa, 6/586)

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

الأرض كروية بدلالة القرآن ، والواقع ، وكلام أهل العلم

Bumi itu bulat berdasarkan dalil dari al-Quran, realita dan keterangan para ulama.

Selanjutnya Imam Ibnu Utsaimin menyebutkan beberapa dalil berserta penjelasannya, diantaranya,

Firman Allah,

يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ

“Dia melingkupkan malam atas siang dan melingkupkan siang atas malam.” (QS. az-Zumar: 5)

Selanjutnya, beliau menjelaskan,

والتكوير جعل الشيء كالكور ، مثل كور العمامة ، ومن المعلوم أن الليل والنهار يتعاقبان على الأرض ، وهذا يقتضي أن تكون الأرض كروية

At-Takwir (melingkupkan) maknanya menjadikan sesuatu seperti lingkaran, seperti lingkaran penutup kepala (imamah). Dan kita ketahui bahwa siang dan malam silih berganti di bumi ini. ini membuktikan bahwa bumi itu bulat. (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Apa itu Jahiliyah? https://konsultasisyariah.com/28086-apa-itu-jahiliyah.html Sun, 10 Jul 2016 00:32:02 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28086 Apa itu Jahiliyah?

Apa itu jahiliyah? Menngapa disebut jahiliyah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Jahiliyah dari kata al-Jahl [الجهل] yang artinya kebodohan.

Selanjutnya istilah ini digunakan untuk menyebut keadaan masyarakat sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

الجاهلية : ما كان قبل الإسلام

Jahilliyah adalah masa sebelum islam. (Fathul Bari, 10/468).

Zaman itu dinamakan zaman jahiliyah karena tingkat kebodohan mereka yang parah, tidak mengenal hak Allah dan hak makhluk. (al-Qoul al-Mufid, Ibn Utsaimin, 2/146).

Al-Munawi mengatakan,

والجاهلية : ما قبل البعثة ، سُمُّوا به لفرط جهلهم

Jahiliyah adalah masa sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka dinamakan demikian, karena kebodohan mereka yang keterlaluan. (Faidhul Qadir, 1/462).

Karakter Jahiliyah

Setelah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, zaman jahiliyah telah berakhir. Karena banyak manusia telah mengenal islam dan sadar akan aturan. Meskipun beberapa karakter dan kebiasaan buruk jahiliyah terkadang masih melekat pada diri sebagian orang. Seperti meratapi mayit, menghina nasab, bertarung karena fanatik golongan, bersolek gaya jahiliyah, atau karakter buruk lainnya.

Dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

النِّيَاحَةُ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ

Meratapi mayit termasuk tradisi jahiliyah. (HR. Ibn Majah 1648 dan dishahihkan al-Albani)

Dalam riwayat lain, dari Abu Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ

Ada 4 kebiasaan umatku yang itu merupakan tradisi jahiliyah, yang tidak akan mereka tinggalkan: menyombongkan nasab, mencela orang karena nasab, meminta hujan dengan bintang, dan meratap. (HR. Ahmad 9872 & Muslim 2203)

Karena kelemahan dan keterbatasan manusia, terkadang pelanggaran ini juga dilakukan orang soleh.

Suatu ketika, karena sangat marah, sahabat Abu Dzar pernah menghina ibunya sahabat Bilal radhiyallahu ‘anhuma. Peristiwa inipun dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menasehati Abu Dzar,

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Kamu manusia yang memiliki salah satu karakter jahiliyah.” (HR. Bukhari 30)

Para ulama melarang penyebutan ‘masyarakat jahiliyah’. Karena berarti mengukuhkan sesuatu yang telah berakhir. Meskipun boleh menyebutnya untuk yang bersifat parsial. Seperti riba jahiliyah atau dst. dan karakter buruk lainnya.

Tidak Boleh Menyebut Masyarakat Jahilliyah

Sekalipun ada penyimpangan yang dilakukan sebagian masyarakat muslim, namun kita tidak boleh menyebut mereka dengan masyarakat jahiliyah. Menyebut ‘masyarakat jahiliyah’ berarti menganggap mereka semua bodoh dan tidak tahu aturan. Sementara di tangah meraka masih banyak orang baik.

Karena itulah, sebagian ulama mengatakan penggunaan istilah jahiliyah dibagi menjadi 2:

[1] Untuk menyebut individu

Boleh digunakan untk menyebut orang yang melakukan penyimpangan.

[2] Untuk menyebut keseluruhan masyarakat.

Para ulama penyebutan semacam ini, karena tidak semua melakukan pelanggaran yang sama.

Syaikhul Islam mengatakan,

فالناس قبل مبعث الرسول صلى الله عليه وسلم كانوا في حال جاهلية… وكذلك كل ما يخالف ما جاءت به المرسلون من يهودية ، ونصرانية : فهي جاهلية ، وتلك كانت الجاهلية العامة ، فأما بعد مبعث الرسول صلى الله عليه وسلم قد تكون في مصر دون مصر، وقد تكون في شخص دون شخص… فأما في زمان مطلق : فلا جاهلية بعد مبعث محمد صلى الله عليه وسلم ؛ فإنه لا تزال من أمته طائفة ظاهرين على الحق إلى قيام الساعة

Manusia sebelum diutusnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka dalam kondisi jahiliyah…. Demikian pula semua yang menyimpang dari ajaran para rasul, seperti yahudi, atau nasrani maka itu jahiliyah. Itulah jahiliyah umum. Namun setelah diutusnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, kebiasaan jahilliyah terkadang ada di sebagian negara dan tidak ada di tempat lain, terkadang ada pada diri seseorang, yang tidak ada di orang lain… namun jika disebut secara mutlak, tidak ada lagi jahiliyah setelah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena di tengah umat ini akan selalu ada sekelompok orang yang berpegang dengan kebenaran sampai kiamat. (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 1/258).

Untuk itulah para ulama memberikan kritikan terhadap pernyataan salah satu dai pergerakan yang menyatakan, “Jahiliyah abad 20.” Istilah ini sama halnya menyebut zaman ini berikut penghuninya adalah zaman jahiliyah. Dan tentu saja ini kekeliruan. (Mu’jam al-Manahi al-Lafdziyah, hlm. 212 – 215).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

 

]]>
Apakah Azab Kubur Bisa Meringankan Siksa? https://konsultasisyariah.com/28074-apakah-azab-kubur-bisa-meringankan-siksa.html Thu, 07 Jul 2016 01:17:22 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28074 Azab Kubur Bisa Meringankan Siksa

Apakah orang muslim yg menjaga tauhid, ketika mendapat adzab kubur bisa mengurangi hukumannya di akhirat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kebenaran yang tidak boleh kita ragukan, bahwa Allah itu Maha Bijaksana dan Maha Adil, tidak mendzalimi manusia sedikitpun. Allah menegaskan,

مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا

Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. (QS. Ghafir: 40)

Allah juga menegaskan,

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya.  (QS. al-An’am: 160)

Kita juga mengimani, siapa yang mati tidak membawa dosa syirik, dia akan masuk surga, meskipun bisa jadi sebelumnya mendapat hukuman, baik di alam kubur maupun di akhirat.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

Siapa yang mati, sementara dia membawa dosa perbuatan syirik, akan masuk neraka.

Kata Ibnu Mas’ud,

وَقُلْتُ أَنَا مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Aku sampaikan, ‘Siapa yang mati dengan tidak membawa dosa syirik sedikitpun, akan masuk surga.’ (HR. Bukhari 1238 & Muslim 278).

Sebaliknya, orang yang mati dengan membawa dosa kekufuran, dia tidak berhak mendapat surga. Allah berfirman,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. al-Maidah: 72).

Orang yang tidak membawa dosa kekufuran sampai mati, merekalah ahli tauhid.

Adzab Kubur bagi Ahli Tauhid

Adzab kubur bagi ahli tauhid, apakah bisa meringankan hukuman kelak di akhirat?

Sebagian ulama menyebutkan, ada beberapa kondisi yang bisa menjadi kaffarah (penebus) bagi dosa seseorang. Kita simak keterangan mereka.

Syaikhul Islam mengatakan,

قد دلَّت نصوص الكتاب والسنَّة على أن عقوبة الذنوب تزول عن العبد بنحو عشرة أسباب

Terdapat beberapa dalil dari al-Quran dan sunah bahwa hukuman terhadap perubatan dosa, bisa dihapuskan dari seorang hamba dengan 10 sebab,

Kemudian beliau menyebutkan sebab yang pertama adalah taubat. Lalu beliau sebutkan yang kedelapan,

السبب الثامن: ما يحصل في القبر من الفتنة والضغطة والرَّوعة، فإن هذا مما يكفر به الخطايا

Sebab kedelapan, suasana mencekam yang terjadi di alam kubur, seperti pertanyaan kubur, himpitan kubur, dan suasana menakutkan di alam kubur, semua ini termasuk yang bisa menjadi kaffarah dosa. (Majmu’ al-Fatawa, 7/501)

Ibnul Qoyim ketika membantah aqidah khawarij, juga menjelaskan,

وإن ارتكبوا بعض الذنوب التي تقع مكفرة بالتوبة النصوح والاستغفار والحسنات الماحية, والمصائب المكفرة, ودعاء المسلمين لهم في حياتهم وبعد موتهم, وبالامتحان في البرزخ وفي موقف القيامة

Ketika mereka melakukan sebagian dosa yang bisa ditutupi dengan taubat nasuhah, istighfar, amal soleh yang menghapus dosa, musibah yang menghapus dosa, doa kaum muslimin untuk mereka ketika masih hidup maupun sudah meninggal, ujian di alam kubur dan di padang mashsyar… (I’lam al-Muwaqqi’in, 2/304)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Qadha Shalat ‘Id https://konsultasisyariah.com/28080-qadha-shalat-id.html Tue, 05 Jul 2016 07:43:23 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28080 Qadha Shalat ‘Id

Jika ketinggalan shalat id, apa yg harus dilakukan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, kita awali dari pembahasan, apakah ada qadha untuk shalat sunah yang dibatasi waktu (an-Nawafil al-Muaqqatah), seperti shalat id, witir atau rawatib.

Ada 2 pendapat ulama dalam masalah ini. Pendapat syafiiyah menyatakan, dianjurkan untuk qadha.

An-Nawawi mengatakan,

ذكرنا أن الصحيح عندنا استحباب قضاء النوافل الراتبة وبه قال محمد والمزني وأحمد في رواية، وقال أبو حنيفة ومالك وأبو يوسف في أشهر الروايتين عنهم: لا يقضى.

Telah kami sebutkan bahwa pendapat yang kuat menurut madzhab kami (syafiiyah), dianjurkan melakukan qadha untuk shalat sunah rawatib. Ini merupakan pendapat Muhammad bin Hasan, al-Muzani, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat. Sementara Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Abu Yusuf menurut riwayat yang masyhur dari mereka, tidak disyariatkan qadha. (al-Majmu’, 4/43).

Diantara dalil adanya anjuran ini adalah hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَامَ عَنِ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ أَوْ ذَكَرَهُ

Siapa yang ketiduran atau kelupaan sehingga tidak witir, hendaknya dia mengerjakannya setelah masuk subuh atau ketika ingat. (HR. Turmudzi 467, Ahmad 11264 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Kedua, adakah qadha untuk shalat id?

Terdapat beberapa riwayat bahwa sahabat dan tabiin melakukan qadha shalat id.

Imam Bukhari menyebutkan beberapa riwayat mengenai qadha shalat id secara muallaq dalam kitab shahihnya,

وَأَمَرَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ مَوْلاَهُمُ ابْنَ أَبِى عُتْبَةَ بِالزَّاوِيَةِ ، فَجَمَعَ أَهْلَهُ وَبَنِيهِ ، وَصَلَّى كَصَلاَةِ أَهْلِ الْمِصْرِ وَتَكْبِيرِهِمْ . وَقَالَ عِكْرِمَةُ أَهْلُ السَّوَادِ يَجْتَمِعُونَ فِى الْعِيدِ يُصَلُّونَ رَكْعَتَيْنِ كَمَا يَصْنَعُ الإِمَامُ . وَقَالَ عَطَاءٌ إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Anas bin Malik menyuruh mantan budaknya, Ibnu Abi Uthbah yang tinggal di Zawiyah untuk menjadi imam. Beliau kumpulkan istri dan anak-anaknya, lalu mereka shalat seperti shalat yang ada di lapangan dengan jumlah takbir yang sama.

Ikrimah mengatakan, Penduduk as-Sawad mereka melaksanakan shalat id dua rakaat seperti yang dilakukan imam. Atha mengatakan, “Siapa yang ketinggalan, tidak shalat id, hendaknya shalat 2 rakaat.” (Shahih Bukhari, 4/154).

Ketiga, bagaimana tata caranya?

Tata caranya sama seperti shalat id, 2 rakaat dengan takbir tambahan 7 takbir di rakaat pertama dan 5 takbir di rakaat kedua.

Al-Bukhari dalam shahihnya mengatakan,

باب إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ. وَكَذَلِكَ النِّسَاءُ ، وَمَنْ كَانَ فِى الْبُيُوتِ

Bab, penjelasan, apabila tidak shalat id di lapangan, maka melakukan shalat 2 rakaat. Demikian pula untuk wanita, dan mereka yang tinggal di rumah. (Shahih Bukhari, 4/154)

Praktek ini seperti yang dilakukan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : إذَا كَانَ فِي مَنْزِلِهِ بِالطَّفِّ ، فَلَمْ يَشْهَدْ الْعِيدَ إلَى مِصْرِهِ جَمَعَ مَوَالِيَهُ وَوَلَدَهُ ، ثُمَّ يَأْمُرُ مَوْلاه ، عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي عُتْبَةَ ، فَيُصَلِّي بِهِمْ كَصلاة أَهْلِ الْمِصْرِ

Apabila Anas bin Malik sedang di kampungnya di Thaf, sehingga beliau tidak bisa hadir shalat id di pusat kota, beliau kumpulkan budak-budaknya dan anaknya, kemudian beliau perintahkan Ibnu Abi Utbah untuk jadi imam. Beliau shalat id seperti yang dilakukan imam di kota. (HR. Thahawi dalam Syarh Ma’ani al-Atsar, 6/30).

Dan ini sesuai dengan kaidah fiqh,

القضاء يحكي الأداء

Qadha itu sama dengan menyerupai ada’.

Shalat id yang dikerjakan bersama imam di lapangan adalah shalat id ada’. Sementara siapa yang tidak bisa ikut atau ketinggalan, dia bisa shalat 2 rakaat sebagai qadha. Tata caranya, sama dengan shalat id ada’ (di lapangan)

Ada riwayat dari as-Sya’bi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mengatakan,

من فاته العيد فليصلّ أربعا

“Siapa yang tidak ikut shalat id, hendaknya dia shala 4 rakaat.”

Hanya saja sebagian ulama menilai riwayat ini dhaif. Karena as-Sya’bi tidak pernah mendengar dari Ibnu Mas’ud.

Sehingga yang lebih tepat, jumlah rakaatnya sama dengan shalat id pada umumnya. Hanya saja tidak boleh ada khutbah.

Bagi yang Telat Datang di Lapagan

Bagi yang telat datang di lapangan dan khatib sedang berkhutbah, dianjurkan untuk langsung mendengarkan khutbah dan shalatnya ditunda setelah khutbah, sehingga dia mendapat dua pahala. Pahala mendengarkan khutbah dan shalat.

Dalam salah satu fatwanya, Lajnah mengatakan,

ولمن حضر يوم العيد والإمام يخطب أن يستمع الخطبة ثم يقضي الصلاة بعد ذلك حتى يجمع بين المصلحتين

Bagi yang hadir ketika id sementara imam sedang berkhutbah, hendaknya dia mendengarkan khutbah, kemudian baru  mengqadha shalatnya. Sehingga dia mendapat 2 manfaat. (Fatwa Lajnah Daimah, 8/306)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Mati Didzalimi, itu Syahid? https://konsultasisyariah.com/27882-mati-didzalimi-itu-syahid.html Thu, 02 Jun 2016 02:38:50 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=27882 Mati Didzalimi, itu Syahid

ASSALAMUALAIKUM USTADZ. SAYA PUNYA COBAAN ATAU UJIAN YANG BEGITU BERAT. TAPI SAYA IKHLAS MENERIMANYA BERHARAP SAYA MENDAPAT MATI SYAHID DIAKHIRAT. COBAAN ATAU UJIAN SAYA SAMPAI SAYA TULIS DITWITTER DAN PRESIDEN JOKOWI SUDAH MENGETAHUI. YANG MENJADI PERTANYAAN SAYA. USTADZ KALAU KITA MENINGGAL DALAM KEADAAN DISIKSA POLISI. APAKAH KEMATIAN KITA TERMASUK MATI SYAHID DIAKHIRAT. TOLONG DIJAWAB USTADZ.

<minta*****allah@gmail.com>

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kita tidak membahas siapa yang mendzalimi, tapi yang kita bahas adalah status orang yang mati didzalimi. Siapapun yang mendzaliminya.

Sebelumnya kembali kami ingatkan bahwa syahid itu ada 2:

[1] Syahid dunia & akhirat,

Mereka adalah orang yang meninggal di medan jihad. Jenazahnya tidak boleh dimandikan.

[2] Syahid akhirat dan bukan dunia.

Mereka yang meninggal dengan membawa pahala syahid, di luar jihad. Jenazahnya tetap wajib dimandikan. Seperti orang yang mati kebakaran.

[3] Syahid dunia dan bukan akhirat.

Mereka yang mati di medan jihad, namun tidak ikhlas ketika berjihad.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Apa itu Mati Syahid?

Para ulama menyebutkan bahwa muslim yang mati karena didzalimi, apapun bentuk kedzalimannya, dia mendapat pahala syahid. Sehingga dia mati syahid.

Dalam Ensiklopedi Fiqh Islam dinyatakan,

ذهب الفقهاء إلى أن للظلم أثراً في الحكم على المقتول بأنه شهيد ، ويُقصد به غير شهيد المعركة مع الكفار ، ومِن صوَر القتل ظلماً : قتيل اللصوص ، والبغاة ، وقطَّاع الطرق ، أو مَن قُتل مدافعاً عن نفسه ، أو ماله ، أو دمه ، أو دِينه ، أو أهله ، أو المسلمين ، أو أهل الذمة ، أو مَن قتل دون مظلمة ، أو مات في السجن وقد حبس ظلماً

Para ulama mengatakan bahwa kedzaliman berpengaruh terhadap hukum orang yang terbunuh, bahwa dia mati syahid. Maksudnya selain syahid karena perang bersama orang kafir. Diantara bentuk terbunuh karena dzalim adalah korban perampokan, pemberontakan, begal, atau yang terbunuh karena membela diri, harta, darah, agama, keluarganya, atau kaum muslimin. Atau orang yang dibunuh tanpa pelanggaran. Atau mati di penjara, sementara dia ditahan dalam kondisi didzalimi. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 29/174).

Diantara dalil bahwa orang yang mati didzalimi mendapatkan pahala syahid,

Pertama, hadis dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Siapa yang terbunuh karena melindungi hartanya maka dia syahid.” (HR. Bukhari 2480 & Muslim 378).

Dalam riwayat lain, dari Said bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Siapa yang terbunuh karena melindungi hartanya maka dia syahid. Siapa yang terbunuh karena melindungi keluarganya maka dia syahid. Siapa yang terbunuh karena membela agamanya maka dia syahid. Dan siapa yang terbunuh karena melindungi darahnya maka dia syahid. (HR. Ahmad 1652, Abu Daud 4774 dan sanadnya kuat).

Kedua, sebutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhuma

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhuma sebagai syahid.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik gunung Uhud bersama Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Seketika itu Uhud bergetar. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentakkan kakinya, sambil menyampaikan,

اثْبُتْ أُحُدُ ، فَمَا عَلَيْكَ إِلاَّ نَبِيٌّ ، أَوْ صِدِّيقٌ ، أَوْ شَهِيدَانِ

“Diam wahai Uhud, yang ada di atasmu adalah seorang nabi, seorang shidiq, dan dua syahid.” (HR. Bukhari 3483)

Padahal kedua sahabat ini tidak meninggal di medan jihad. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut keduanya dengan syahid. Karena mereka mati didzalimi.

Umar meninggal di masjid saat menjadi imam shalat subuh. Ditikam oleh Abu Lukluk al-Majusi.

Sementara Utsman meninggal di rumahnya sewaktu membaca al-Quran, ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam.

Apakah untuk bisa disebut Syahid harus ada perlawanan?

Tidak harus. Mereka yang didzalimi tanpa bisa melawan, hingga dia mati, insyaaAllah akan tetap mendapatkan pahala syahid.

Umar dan Utsman ketika ditikam, mereka tidak melakukan perlawanan. Umar ditikam dari belakang, Utsman diam ketika senjata diacungkan kepadanya. Semoga Allah meridhai keduanya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Setan Bisa Masuk Islam? https://konsultasisyariah.com/27871-setan-bisa-masuk-islam.html Wed, 01 Jun 2016 02:35:40 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=27871 Setan Bisa Masuk Islam?

Tanya masalah setan Pak, apakah setan dari golongan jin bisa masuk islam? Makasih..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Setan adalah sifat, dia bisa dari golongan jin, maupun manusia.

Keterangan selengkapnya mengenai perbedaan setan dan jin, bisa anda pelajari di: Perbedaan Jin Setan dan Iblis

Jin sebagaimana manusia, mereka mukallaf, memiliki tugas dan kewajiban sebagaimana manusia. Mereka diwajibkan beribadah sebagaimana manusia.

Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. ad-Dzariyat: 56)

Mereka juga ada yang muslim dan ada yang kafir. Ada yang baik dan ada yang jahat.

Allah berfirman,

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا * وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. (QS. al-Jin: 14 – 15)

Di ayat lain, Allah menjelaskan,

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا

“Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. al-Jin: 11).

Bisakah Jin Masuk Islam?

Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada kejadian jin yang dulu kafir, kemudian masuk islam. Lalu mereka menjadi da’i, mengajak kawan-kawannya sesama jin untuk ikut masuk islam.

Allah berfirman,

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

Ingatlah ketika Kami arahkan serombongan jin kepadamu untuk mendengarkan Al Quran. Tatkala mereka menghadiri pembacaan al-Quran lalu mereka berkata: “Diamlah kalian untuk mendengarkannya”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (QS. al-Ahqaf: 29)

Setelah mereka masuk islam, mereka mengajak jin yang lain untuk masuk islam. Mereka mengatakan, bahwa al-Quran yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarannya sama dengan kitab yang diturunkan kepada Musa ‘alaihis salam.

Allah berfirman,

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

“Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. al-Ahqaf: 30).

Jin Qarin yang Mengiringi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Masuk Islam

Semua manusia diikuti jin qarin. Mereka mempengaruhi manusia untuk berbuat jahat. Kecuali jin qarin yang mengiringi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia masuk islam, sehingga mengajak beliau untuk berbuat baik.

Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ

“Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golongan jin.”

Para sahabat bertanya, “Termasuk Anda, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

وَإِيَّايَ إِلاَّ أَنَّ اللَّه أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلا يَأْمُرنِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Termasuk saya, hanya saja Allah membantuku untuk menundukkannya, sehingga dia masuk Islam. Karen itu, dia tidak memerintahkan kepadaku kecuali yang baik.” (HR. Muslim 7286 & Ibnu Hibban 6417, dan yang lainnya).

Dan ini menjadi dalil sebagian ulama untuk menyatakan bahwa jin yang kafir, bisa saja masuk islam. Seperti yang dialami oleh jin yang mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Alam al-Jin wa as-Syayathin, hlm. 49)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>