AQIDAH – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 24 Mar 2017 04:23:36 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.3 Jumatan di Anjungan Lepas Pantai https://konsultasisyariah.com/29296-jumatan-di-anjungan-lepas-pantai.html Wed, 15 Mar 2017 02:38:16 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29296 Jumatan di Anjungan Lepas Pantai

Ada pekerja pada sebuah perusahaan MIGAS yang berada di lepas pantai Natuna (offshore). Yang berjarak 120 km dari daratan/pulau terdekat. Apakah pekerja ini boleh melakukan jumatan di anjungan lepas pantai?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam kajian fiqh 4 madzhab, para ulama membagi kondisi manusia menjadi 3 keadaan,

[1] Musafir

mereka adalah orang yang berpindah dari satu daerah ke daerah yang lain, dan tidak menetap selain hanya untuk singgah ketika ada kebutuhan. Setelah kebutuhannya selesai, dia akan kembali.

[2] Mukim

mereka adalah orang yang menetap di suatu daerah, sehingga tidak lagi disebut safar. Namun tidak ingin tinggal selamanya, dan ada niat untuk kembali ke daerah asalnya. Seperti para mahasiswa yang tinggal di satu kota selama kuliah.

[3] Mustauthin

Mereka adalah orang yang tinggal di sebuah daerah dan berniat menetap selamanya, baik dia orang asli daerah itu atau pendatang dari luar, sehingga dia sudah disebut sebagai penduduk asli setempat.

Orang hanya bisa disebut mukim atau mustauthin jika dia berada di tempat yang permanen (di permukaan tanah). Sementara mereka yang tinggal lama di atas kapal besar, seperti kapan induk atau anjungan lepas pantai, statusnya hanya musafir.

Jumatan Bagi Musafir

Terdapat banyak penegasan ijma’ bahwa musafir tidak wajib jumatan.

Ibnu Abdil Bar mengatakan,

أجمع علماء الأمة أن الجمعة فريضة على كل حر بالغ ذكر يدركه زوال الشمس في مصر من الأمصار وهو من أهل المصر غير مسافر

Ulama sepakat bahwa jumatan adalah kewajiban bagi orang merdeka, baligh, laki-laki, yang menjumpai tergelincirnya matahari di suatu daerah dan dia penduduk daerah itu, bukan musafir. (al-Istidzkar, 2/56).

Di tempat lain, Ibnu Abdil Bar mengatakan,

وأما قوله: (ليس على مسافر جمعة) فإجماع لا خلاف فيه

Pernyataan penulis, ‘Tidak ada kewajiban jumatan bagi musfair, merupakan ijma’ ulama, tidak ada perbedaan dalam hal ini.’

Keterangan lain disampaikan Ibnul Hubairah,

واتفقوا على أن الجمعة لا تجب على صبي ولا عبد ولا مسافر ولا امرأة، إلا رواية عن أحمد في العبد خاصة

Mereka sepakat bahwa jumatan tidak wajib untuk anak-anak, budak, musafir, dan wanita. Selain satu riwayat dari Imam Ahmad khusus untuk budak (wajib jumatan). (Ikhtilaf Ulama, 1/152).

Dan masih ada beberapa keterangan lainnya yang menegaskan bahwa musafir tidak wajib jumatan.

Jika Musafir Mengadakan Jumatan, Apakah Dinilai Sah?

Pembahasan ini lain dengan pembahasan sebelumnya. Pembahasan ini berbicara tentang syarat sah jumatan. Apakah ketika sesama musafir menyelenggarakan jumatan, dinilai sah?

Dalam hal ini ulama berbeda pendapat.

Pertama, Jumatan yang diselenggarakan musafir tidak sah.

Ini merupakan pendapat jumhur ulama.

Mereka mengatakan bahwa penyelenggara jumatan harus mustauthin atau minimal mukim menurut sebagian pendapat. Sementara musafir yang hadir hanya mengikuti, dan bukan penyelenggara.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

ذهب جمهور الفقهاء ـ المالكيّة والشّافعيّة والحنابلة ـ إلى أنّ من شروط صحّة صلاة الجمعة الاستيطان، فلا تصحّ الجمعة بالمسافر ولا تنعقد به، أي لا يكمل به نصابها

Mayoritas ulama – Malikiyah, Syafiiyah, dan Hambali – berpendapat bahwa bagian dari syarat sah jumatan adalah penyelenggara harus mustauthin. Sehingga tidak sah jumatan yang diselenggarakan musafir dan tidak dihitung, artinya tidak terpenuhi batasan jumatan. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 25/37).

Keterangan lain disampaikan Ibnu Qudamah,

فأما الاستيطان فهو شرط في قول أكثر أهل العلم وهو الإقامة في قرية على الأوصاف المذكورة لا يظعنون عنها صيفا ولا شتاء

Untuk status mustauthin, merupakan syarat sah jumata menurut pendapat mayoritas ulama. mereka adalah orang yang tinggal di satu kampung, sebagaimana kondisi yang telah disebutkan, tidak berpindah dari tempat itu ketika musim dingin maupun musim panas. (al-Mughni, 2/171).

Diantara alasannya,

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering safar bersama para sahabat. ketika melewati jumatan, beliau tidak mengadakan jumatan di perjalanan. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tinggal beberapa hari di Mekah dalam rangka haji, beliau tidak jumatan, tapi shalat dzuhur di arafah.

Ibnul Mundzir mengatakan,

ومما يحتج به في إسقاط الجمعة عن المسافر أن النبي صلى الله عليه وسلم قد مرّ به في أسفاره جُمَعٌ لا محالة، فلم يبلغنا أنه جَمَّع وهو مسافر، بل قد ثبت عنه أنه صلى الظهر بعرفة وكان يوم الجمعة؛  فدلّ ذلك من فعله على أن لا جمعة على المسافر

“Diantara hujjah mereka yang berpendapat gugurnya jumatan untuk musafir, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering kali melakukan safar melewati hari jumat. Sementara tidak ada riwayat yang sampai ke kita bahwa beliau melaksanakan jumatan ketika beliau sedang safar. Bahkan terdapat riwayat shahih, bahwa beliau shalat dzuhur di arafah ketika hari jumat. Dari perbuatan beliau menunjukkan bahwa tidak ada jumatan bagi musafir.” (al-Ausath, 4/20).

Pendapat jumhur ulama merupakan acuan untuk fatwa Lajnah Daimah ketika mereka memberikan fatwa mengenai hukum jumatan di anjungan lepas pantai. Jawaban Lajnah,

“Orang-orang yang bekerja di laut dari kalangan para tentara yang sedang berada di kapal laut, bagi mereka tidak ada shalat Jum’at karena mereka bukan penduduk yang tinggal menetap disana seperti penduduk pedesaan dan perkotaan.” (Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah no. 14616)

Kedua, jumatan yang diselenggarakan oleh musafir statusnya sah

Mereka beralasan bahwa

[1] pada prinsipnya, jumatan sama dengan shalat jamaah lainnya. Hanya saja bedanya di jumatan ada khutbah.

[2] Terdadapat riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُمْ كَتَبُوا إِلَى عُمَرَ يَسْأَلُونَهُ عَنِ الْجُمُعَةِ ؟ فَكَتَبَ : جَمِّعُوا حَيْثُمَا كُنْتُمْ

Mereka menulis surat kepada Umar, menanyakan tentang jumatan?

Umar membalas surat mereka dan mengatakan,

“Lakukan jumatan dimanapun kalian berada.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 5108)

[3] Riwayat dari Nafi, beliau mengatakan,

كان ابن عمر يرى أهل المياه بين مكة والمدينة يجمعون فلا يعيب عليهم

Ibnu Umar melihat para penduduk suku nomaden antara Mekah dan Madinah, melakukan jumatan, dan beliau tidak mencela mereka. (Mushannaf Abdurrazaq no. 5185)

Penduduk suku nomaden (ahlul miyah) adalah mereka tinggal sementara, mengikuti keberadaan air oase atau danau. Jika ada air, mereka menetap, jika air habis, mereka pindah untuk mencari air di tempat lain. Mereka disebut ahlul miyah, kata miyah adalah bentuk jamak kata maa’ yang artinya air.

Ahlul miyah mereka tidak menetap, bukan mustauthin. Umumnya mereka orang badui yang hidupnya tidak menetap.

Ibnul Mundzir menukil beberapa keterangan para ulama mengenai jumatan bagi musafir. Diantara yang beliau sampaikan adalah keterangan Abu Tsaur,

وكان أبو ثور يقول: الجمعة كسائر الصلوات إلا أن فيها خطبة وقصرا من الأربع، فمتى كان إمام وخطب بهم صلى الجمعة،

“Abu Tsaur mengatakan, jumatan itu seperti shalat 5 waktu lainnya. Hanya saja, dalam jumatan ada khutbah dan qashar shalat dari 4. Selama di sana ada imam dan beliau khutbah di depan jamaah, maka shalat jumat.”

Lanjut Ibnul Mundzir,

واحتج بحديث أبي هريرة أنه كتب إلى عمر بن الخطاب يسأله عن الجمعة بالبحرين فكتب إليه أن أجمعوا حيث ما كنتم

“Abu Tsaur berdalil dengan hadis Abu Hurairah bahwa beliau menulis surat kepada Umar bin Khatab, beliau bertanya tentang jumatan di Bahrain. Beliau membalas surat itu dengan mengatakan, silahkan lakukan jumatan dimanapun kalian berada.” (al-Ausath fi Sunan wal ijma wal ikhtilaf, 4/27).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Khawatir Jatuh Pada Syirik https://konsultasisyariah.com/29292-khawatir-jatuh-pada-syirik.html Tue, 14 Mar 2017 01:38:29 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29292 Takut Jatuh Pada Syirik

Mengingat dosa syirik adalah dosa yang tidak diampuni jika kita tidak bertaubat, terkadang ada rasa was was apakah saya sudah benar dalam bertauhid, khawatir jangan2 saya tergelincir dalam kesyirikan..apakah sikap was-was ini dibenarkan? Bagaimana solusinya?syukran

Dari : Miftah

Jawaban :

Bismillah was sholaatu wassalaam ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Rasa khawatir yang patut membuat anda bahagia dan disyukuri. Karena khawatir terjatuh pada dosa, terlebih dosa yang paling besar yaitu syirik, adalah sifatnya orang-orang sholeh.

Bahkan Nabi Ibrahim alaihissalam yang sebagai ayahnya para Nabi (Abul-anbiya’) dan sebagai kekasih Allah (Khalilurrahman) pun merasa khawatir kalau-kalau terjatuh pada kesyirikan. Sampai beliau memanjatkan doa,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.
(QS. Ibrahim 35).

Para sahabat dahulu -semoga Allah meredhoi mereka- juga sangat khawatir tejatuh pada dosa. Imam Bukhori dalam kitab Shahihnya sampai menuliskan bab,

باب خوف المؤمن من أن يحبط عمله وهو لا يشعر

Bab : Kekhawatiran seorang mukmin dari perbuatan yang dapat mengugurkan pahala amalnya tanpa ia sadari.

Kemudian beliau menukil perkataan seorang Tabi’in yang bernama Ibnu Abi Mulaikah –rahimahullah– yang menceritakan pengalamannya ketika bertemu dengan 30 orang sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau mengatakan,

أدركت ثلاثين من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم كلهم يخاف النفاق على نفسه، ما منهم أحد يقول إنه على إيمان جبريل وميكائيل

Saya telah bertemu dengan 30 sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Mereka semua khawatir dirinya terjangkiti penyakit nifak. Tak ada seorangpun diantara mereka yang sampai mengatakan bahwa imannya seperti iman Jibril atau Mikail. (Lihat Shahih Bukhori Kitab Al Iman, pada bab yang tertulis di atas).

Seorang yang bersih hati dan imannya, akan merasa khawatir bila keimanannya ternodai. Belum juga tersentuh pada dosa, ia sudah merasakan takut dan gelisah apabila imannya ternodai. Yang demikian adalah sifatnya orang-orang yang dikaruniai Allah ilmu. Allah ‘azzawajalla berfirman,

ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, adalah para ulama.(QS. Fatir : 28).

Imam Hasan al Basri -rahimahullah-,

ما خافه إلا مؤمن وما أمنه إلا منافق

Tidak ada yang khawatir jatuh pada kemunafikan kecuali ia adalah seorang mukmin, dan tdk ada yang merasa aman dari kemunafikan melainkan orang munafik.. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab Shahihnya).

Oleh karenanya, hendaklah perbanyak istighfar dan berlindung kepada Allah dari kesyirikan, dengan berdoa seperti doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim di atas,

رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini sebagai negeri yang aman, serta jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS. Ibrahim 35).

Aau berdoa dengan doa berikut,

اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك و أنا أعلم ، و استغفرك لما لا أعلم

ALLAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA AN USY-RIKA BIKA WA ANA A’LAM. WA ASTAGHFIRUKA LIMA LAA A’LAM

“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari menyekutukanmu sementara aku menyadari. Dan aku memohon ampun kepadaMu terhadap apa yang aku lakukan sementara aku mengetahui dan menyadari.”  (Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrod no. 551).

Imbang antara Khouf dan Roja’

Namun perlu kita ingat, bahwa dalam beribadah kepada Allah hendaknya kita seimbang antara khouf (rasa takut) dan roja‘ (rasa harap).

Karena kedua rasa ini bagi seorang mukmin ibarat dua sayap bagi burung. Ibaratnya, seorang hamba terbang mengunakan dua sayap ini; sayap khouf dan sayap roja’, di langit peribadahan kepada Allah ‘azzawajalla. Supaya dapat meraih kebahagiaan di kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam beberapa ayat Alquran, Allah ‘azzawajalla seringkali menyandingkan antara khouf dengan roja’. Seperti pada ayat berikut,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan bersujud dan berdiri. Ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya. Katakanlah: “Adakah sama atara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar : 9).

Allah juga berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah : 98).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang sholeh yang mereka seru itu, mereka sendiri berharap jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al Isro’ : 57).

Untuk bisa terbang dengan baik, tentu harus ada keseimbangan antara dua sayap tersebut. Karena menitik beratkan perasaan khouf (takut) akan melahirkan keputus asaan. Dan menitik beratkan perasaan roja’ (harap) saja akan menyebabkan seorang merasa aman dari siksaNya dan berleha-leha dalam beribadah kepada Allah.

Kapan keseimbangan itu diraih?

Ketika seorang dapat menempatkan dua rasa ini pada tempatnya. Yakni ketika dibutuhkan khouf maka ia titik beratkan sisi khouf, kemudian ketika dibutuhkan roja’ (harap), maka ia titik beratkan sisi roja’.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rahimahullah– menerangkan,

والذي أرى أن الإنسان يجب أن يعامل حاله بما يقتضيه الحال وأن أقرب الأقوال في ذلك أنه إذا عمل خيرا فليغلب جانب الرجاء، فإذا همّ بسيئة فليغلب جانب الخوف، هذا أحسن ما أراه في هذه المسالة الخطيرة العظيمة.

Yang menjadi pandanganku, bahwa seorang wajib menyikapi keadaannya dengan sikap yang sesuai dengan keadaan yang ia alami. Dan pendapat yang terkuat dalam permasalahan ini adalah, ketika seorang melakukan kebajikan hendaknya ia titikberatkan sisi roja’nya (harap terhadap rahmad Allah). Kemudian apabila ingin melakukan maksiat, ia titikberatkan sisi khoufnya. Inilah pendapat terbaik menurut pandangan saya dalam permasalahan yang sangat penting ini. (Syarah Hilyah Tholib Al-Ilm hal. 36).

Kemudian rasa khouf yang terpuji, adalah khouf yang dapat menghasilkan amalan sholeh, bukan yang memupus asa, sehingga berhenti dari beramal.

Wallahua’lam bis showab.

Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori Lc.

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Doa Perlindungan dari Kekufuran & Munafik https://konsultasisyariah.com/29265-doa-perlindungan-dari-kekufuran-munafik.html Tue, 07 Mar 2017 02:04:21 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29265 Berlindung dari Kekufuran & Munafik

Ingin tanya cara berdoa untuk supaya dilindungi dari kekafiran caranya baca apa ya Pak?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Memohon perlindungan kepada Allah dari kekufuran dan kemunafikan merupakan bukti adanya perasaan takut terhadap penyebab hilangnya iman. Yang ini merupakan bukti bahwa dia sangat perhatian terhadap imannya.

Allah mencontohkan salah satu doa Nabi Ibrahim – sang panglima Tauhid –,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari mennyembah berhala. (QS. Ibrahim: 35)

Ada seorang ulama bernama Ibrahim at-Taimi, ketika membaca ayat ini beliau berkomentar,

ومن يأمن البلاء بعد إبراهيم؟

“Siapa yang merasa aman dari bala’ setelah Ibrahim?” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Maksud beliau, Ibrahim sangat menghargai imannya dan beliau sangat ketakutan dengan sebab kekufuran, hingga memohon perlindungan kepada Allah dari kesyirikan. Siapakah kita dibandingkan beliau? Padahal kita tidak pernah memohon perlindungan seperti yang diucapkan Ibrahim.

Ada beberapa doa yang diajarkan dalam al-Quran dan sunah, yang isinya permohonan perlindungan dari kekafiran dan kemunafikan,

Pertama, Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis shalatu was sallam,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ –  رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ

Jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari mennyembah berhala. Ya Allah, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak orang. (QS. Ibrahim: 35 – 36).

Kedua, memohon hidayah dan taufiq

Hakekat memohon hidayah, berarti memohon untuk diberikan jalan istiqamah di atas kebenaran dan dilindugi dari setiap kekufuran dan kemunafikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu hidayah, ketaqwaan, terjaga kehormatan, dan kekayaan…(HR. Ahmad 3950 & Muslim 7079).

Ketiga, doa dari kekufuran dan kemunafikan

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ ، وَالْفُسُوقِ ، وَالشِّقَاقِ ، وَالنِّفَاقِ ، وَالسُّمْعَةِ ، وَالرِّيَاءِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, kedurhakaan, kemunafikan, sum’ah, dan riya’.”

Doa ini diriwayatkan oleh al-Hakim (1944) dan dishahihkan al-Albani.

Keempat, perlindungan dari syirik, yang disadari maupun yang tidak disadari

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku menyekutukan-Mu sementara aku menyadarinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu untuk yang tidak aku sadari.

Doa ini dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan tentang bahaya syirik,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ

Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh syirik itu lebih samar dibandingkan jejak kaki semut. Maukah kutunjukkan kepada kalian satu doa, jika kalian mengucapkannya, maka syirik akan menjauhimu yang seidkit maupun yang banyak.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa di atas. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 716 dan dishahihkan al-Albani).

Kelima, doa sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu,

Beliau rajin membaca doa  berikut,

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran… ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur… laa ilaaha illaa anta…

Sahabat Abu Bakrah membaca ini diulang 3 kali setiap pagi dan sore. Ketika beliau ditanya alasannya, beliau mengatakan,

إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِنَّ ، فَأُحِبُّ أَنْ أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ

Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dengan doa ini, dan aku ingin meniru sunah beliau. (HR. Abu Daud 5092, Nasai 5482 dan dihasankan al-Albani).

Semoga doa-doa di atas bisa kita rutinkan…

Dan yang tidak kalah penting adalah selalu menghadirkan perasaan butuh terhadap hidayah dan bimbingan Allah.. karena Allah melihat hati kita, jangan sampai muncul perasaan, saya tidak butuh hidayah karena tidak mungkin tersesat… perasaan semacam ini berbahaya, karena dia merasa sombong dengan kondisinya. Semoga Allah melindungi kita dari suasana semacam ini…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hadis Bithaqah (Kartu Ajaib) https://konsultasisyariah.com/29248-hadis-bithaqah-kartu-ajaib.html Wed, 01 Mar 2017 02:14:59 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29248 Hadis Bithaqah (Kartu Ajaib)

Benarkah ada orang rajin bedosa, yang selamat dari neraka dan masuk surga, hanya karena dia memiliki kartu bertuliskan laa ilaaha illallaah, padahal dosanya banyak..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Hadis yang anda maksud dikenal para ulama dengan hadis bithaqah. Bithaqah artinya kartu. Karena dalam hadis ini bercerita tentang orang yang diselamatkan oleh Allah ketika proses hisab, disebabkan dia memiliki kartu kecil yang bertuliskan ‘Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah…’

Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ قَالَ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: أَحْضِرُوهُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ ! فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، قَالَ: فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ، وَلَا يَثْقُلُ شَيْءٌ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya sembilanpuluh sembilan catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman : ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal ini ?. Apakah pencatatan-Ku (malaikat) itu telah mendhalimimu ?’. Orang itu berkata : ‘Tidak, wahai Tuhanku’. Allah berfirman : ‘Apakah engkau mempunyai ‘udzur/alasan atau mempunyai kebaikan ?’. Orang itu pun tercengang dan berkata : ‘Tidak wahai Rabb’. Allah berfirman : ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kedhaliman terhadapmu pada hari ini’. Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis : Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya). Allah berfirman : ‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata : ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini ?’. Dikatakan : ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didhalimi”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (HR. Ahmad 6994, Turmudzi 2850 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Subhanallah… orang ini datang menghadap Allah dengan penuh dosa. 99 catatan amal, satu catatan sejauh mata memandang, dan isinya catatan maksiat… namun karena tauhidnya yang terjaga dengan baik, itu bisa mengalahkan semuanya. Ini menunjukkan betapa besarnya fadhilah tauhid, karena tauhid bisa melebur semua dosa.

Mati Karena Mendengar Hadis

Seorang ulama yang bernama Abul Hasan, Ali bin Umar al-Harrani mengatakan,

أنا حضرت رجلا في المجلس ، وقد زعق عند هذا الحديث ، ومات ، وشهدت جنازته ، وصليت عليه

Saya pernah melihat seseorang dalam suatu majlis kajian, orang ini teriak ketika mendengarkan hadis ini, lalu mati. Saya turut hadir dalam pengurusan jenazahnya dan menshalati jenazahnya. (Juz’ul Bithaqah, Hamzah al-Kinani, ket. Hadis no. 2).

Pengaruh iman yang tertanam dalam hatinya, menyebabkan dirinya syok ketika mendengar hadis yang luar biasa maknanya.

Semoga Allah menguatkan aqidah dan keyakinan tauhid kita, dan mengampuni dosa-dosa kita…

Amiin…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Khasiat Al-Quran Istanbul https://konsultasisyariah.com/29245-khasiat-al-quran-istanbul.html Tue, 28 Feb 2017 01:49:48 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29245 Al-Quran Istanbul

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dengan melihat fisiknya yang sangat kecil, al-Quran Istanbul tidak mungkin bisa dibaca. Saya pernah memegang langsung, dan ukurannya sangat kecil. Seukuran jempol orang dewasa. Kalaupun mau dibaca, harus menggunakan lup. Dan tidak wajar orang membaca al-Quran pakai lup. Jangankan pakai lup, al-Quran besar saja jarang dibaca.

Memahami hal ini, pemilik al-Quran istanbul tidak akan menggunakan al-Quran itu sebagai bacaan. Lalu mengapa dia rela membelinya? Di internet, ada yang menawarkan dari harta 500rb hingga 5 jutaan. Bahkan ada yang sampai puluhan juta… laa haula wa laa quwwata illa billaah… apa daya tarik al-Quran kecil ini, hingga dijual dengan harga sangat mahal. Padahal di yufidstore.com, al-Quran ukuran normal dijual dengan harga di bawah 100rb.

Tentu saja, daya tariknya bukan sebatas untuk dibaca, tapi karena al-Quran Istanbul diyakini punya khasiat.

Ada salah satu situs yang mengajarkan klenik, menyebutkan beberapa khasiat al-Quran Istanbul,

“apabila di bawa atau di pegang dalam keadaan suci hadats besar, kecil dan membaca amalan kuncinya maka Alloh akan menolong orang tersebut.  Apabila di bakar maka tidak merasakan panasnya api, di rendam dalam air tidak akan basah bahkan rambut tidak akan putus bila di potong dan senjata musuh tidak mempan dan mengenainya.”

Subhanallah… sejak kapan Allah turunkan al-Quran untuk dijadikan jimat?. Karena itulah, dalam rangka memuliakan al-Quran istanbul, mereka membuat istilah yang berbeda untuk transaksinya. Pembayarannya mereka istilahkan dengan mahar…

Apakah Betul itu Tulisan al-Qur’an?

Ketika saya menulis ini, di samping saya ada al-Quran Istanbul, pemberian salah satu jamaah. Katanya itu peninggalan dari ibunya yang sudah meninggal. Saya mencoba buka dan saya periksa, memang betul yang tertulis adalah al-Quran. Saya membuka bagian akhir, juz amma, dan tertulis sebagaimana yang kita hafal.

Saya tidak tahu untuk cetakan yang lain… dan kemungkinan besar sama.

Pelanggaran Terhadap al-Quran Istanbul

Setidaknya ada beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh mereka yang memanfaatkan al-Quran Istanbul untuk hal yang dilarang,

[1] Penyalah gunaan al-Quran

Allah turunkan al-Quran kepada manusia untuk dijadikan sebagai petunjuk. Dan manfaat itu hanya bisa didapatkan, jika seseorang mempelajarinya.

Allah berfirman,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shad: 29).

Ayat yang semisal dengan ini sanat banyak. Diantaranya, firman Allah di surat al-Baqarah yang hampir dihafal seluruh kaum muslimin,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Itulah al-Kitab, yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa. (QS. al-Baqarah: 2)

Allah tidak pernah menurunkan al-Qur’an untuk dijadikan jimat. Untuk mendapatkan kesaktian. Disadari maupun tidak, ini pelecehan terhadap fungsi al-Qur’an. Tidak selayaknya dilakukan oleh mereka yang beriman kepada al-Qur’an.

[2] Meletakkan al-Quran tidak pada tempatnya

Mereka yang memiliki al-Quran istanbul terkadang meletakkannya di tempat sembarangan. Bahkan terkadang diletakkan di saku celana, atau terduduki.

[3] Pemicu syirik

Inilah dampak buruk yang paling besar. Kenyataannya al-Quran ini dijadikan jimat, karena diyakini memiliki banyak khasiat seperti yang disebutkan di atas.

Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.” (HR. Ahmad 17422, al-Hakim 4/417, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Sekalipun yang dijadikan jimat adalah al-Quran, para ulama tetap melarangnya. Seorang ulama tabi’in, Ibrahim an-Nakha’i (wafat th. 96 H) mengatakan,

“Mereka membenci jimat, baik yang berasal dari Al-Qur-an maupun yang bukan dari Al-Qur-an.” (Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hlm. 153)

Bagaimana Cara Benar Menangani al-Quran Istanbul?

Karena al-Quran Istanbul berisi al-Quran, maka kita sikapi sebagaimana al-Quran. Wajib dimuliakan, tidak boleh diletakkan di tempat yang menghinakannya, ketika menyentuh harus berwudhu (menurut pendapat yang mewajibkan wudhu ketika menyentuh al-Quran).

Hanya saja, al-Quran ini tidak bisa dimanfaatkan untuk bahan bacaan. Sehingga statusnya seperti mushaf al-Quran yan tidak terpakai. Dan dimusnahkan, tidak disimpan, lebih aman. Karena jika disimpan, berpotensi untuk digunakan oleh orang lain yang tidak paham aqidah yang benar, lalu disalah-gunakan.

Ada bebarapa cara memusnahkan mushaf  yang tidak difungsikan, ,

Pertama, Mushaf bekas itu dikubur dalam tanah.

Ini adalah keterangan madzhab hanafi dan hambali.

Al-Hasfaki, ulama madzhab hanafi mengatakan,

الْمُصْحَفُ إذَا صَارَ بِحَالٍ لَا يُقْرَأُ فِيهِ : يُدْفَنُ ؛ كَالْمُسْلِمِ

“Mushaf yang tidak lagi bisa terbaca, dikubur, sebagaimana seorang muslim.” (ad-Dur al-Mukhtar, 1/191).

Ulama lain yang memberikan catatan kaki untuk ad-Dur al-Mukhtar mengatakan,

أي يجعل في خرقة طاهرة ، ويدفن في محل غير ممتهن ، لا يوطأ

Maksudnya, lembaran mushaf itu diletakkan di kain yang suci, kemudian dikubur di tempat yang tidak dihinakan (seperti tempat sampah), dan tidak boleh diinjak.

Al-Bahuti mengatakan,

“Jika ada mushaf Alquran yang sudah usang maka dia dikubur, berdasarkan ketegasan dari Imam Ahmad. Imam Ahmad menyebutkan bahwa Abul Jauza mushafnya telah usang. Kemudian beliau menggali di tanah masjidnya lalu menanamnya dalam tanah.” (Kasyaf al-Qana’, 1:137)

Hal ini pula yang difatwakan Syaikhul Islam,

وأما المصحف العتيق والذي تَخرَّق وصار بحيث لا ينتفع به بالقراءة فيه ، فإنه يدفن في مكان يُصان فيه ، كما أن كرامة بدن المؤمن دفنه في موضع يصان فيه

“Mushaf yang sudah tua atau rusak sehingga tidak bisa dibaca, dia kubur di tempat yang terlindungi. Sebagaimana kehormatan jasad seorang mukmin, dia harus dikubur di tempat yang terlindungi (bukan tempat kotor dan tidak boleh diinjak)” (Majmu’ Fatawa, 12/599).

Kedua, mushaf yang rusak itu dibakar.

Ini merupakan pendapat Malikiyah dan Syafiiyah. Tindakan ini meniru kebijakan yang dilakukan oleh Khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu, setelah beliau menerbitkan mushaf induk ‘Al-Imam’, beliau memerintahkan untuk membakar semua catatan mushaf yang dimiliki semua sahabat. Semua ini dilakukan Utsman untuk menghindari perpecahan di kalangan umat islam yang tidak memahami perbedaan cara bacaan Alquran.

Salah satu saksi sejarah, Mus’ab bin Sa’d mengatakan,

أدركت الناس متوافرين حين حرق عثمان المصاحف ، فأعجبهم ذلك ، لم ينكر ذلك منهم أحد

“Ketika Utsman membakar mushaf, saya menjumpai banyak sahabat dan sikap Utsman membuat mereka heran. Namun tidak ada seorangpun yang mengingkarinya.” (HR. Abu Bakr bin Abi Daud, dalam al-Mashahif, hlm. 41).

Diantara tujuan membakar Alquran yang sudah usang adalah untuk mengamankan firman Allah dan nama Dzat Yang Maha Agung dari sikap yang tidak selayaknya dilakukan, seperti diinjak, dibuang di tempat sampah atau yang lainnya.

وفى أمر عثمان بتحريق الصحف والمصاحف حين جمع القرآن جواز تحريق الكتب التي فيها أسماء الله تعالى ، وأن ذلك إكرام لها ، وصيانة من الوطء بالأقدام ، وطرحها في ضياع من الأرض

“Perintah Utsman untuk membakar kertas mushaf ketika beliau mengumpulkan Alquran, menunjukkan bolehnya membakar kitab yang disitu tertulis nama-nama Allah ta’ala. Dan itu sebagai bentuk memuliakan nama Allah dan menjaganya agar tidak terinjak kaki atau terbuang sia-sia di tanah (Syarh Shahih Bukhari, 10/226)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Pahala Bagi Wanita Hamil https://konsultasisyariah.com/29205-pahala-bagi-wanita-hamil.html Fri, 17 Feb 2017 01:49:33 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29205 Pahala Wanita Hamil

Adakah hadist yang menerangkan pahala bagi ibu yg sedang hamil??

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat sebuah hadis yang menyatakan,

Bahwa Salamah, wanita yang merawat Ibrahim – putra Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam – pernah bertanya,

“Ya Rasulullah, anda sering memberi kabar gembira dengan amal kepada para lelaki, tapi anda tidak memberi kabar gembira kepada para wanita?”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi motivasi kepadanya,

Tidakkah para wanita senang, ketika dia hamil dari suaminya, dan dia ridha, maka dia mendapat pahala seperti orang yang puasa dan tahajud ketika sedang jihad fi sabilillah. Ketika sedang kontraksi, maka ada janji yang sangat menyejukkan mata yang belum pernah diketahui penduduk langit dan bumi. Setelah dia melahirkan, lalu menyusui bayinya, maka setiap isapan ASI akan menghasilkan pahala. Jika dia bergadangan di malam hari maka dia akan mendapat pahala seperti membebaskan 70 budak fi sabilillah…

Hadis ini menyebutkan fadhilah yang luar biasa bagi wanita hamil. Hanya saja, hadis ini lemah, bahkan palsu. Karena dalam sanadnya ada perawi bernama Amr bin Said al-Khoulani. Kata ad-Dzahabi, al-Khoulani banyak membawakan hadis palsu. Ibnu Hibban menilainya sebagai hadis dusta, palsu (al-Majruhin, 2/34), demikian pula penilaian Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (2/273).

Meskipun demikian, bukan berarti wanita hamil tidak memiliki keistimewaan. Setidaknya, wanita subur, merupakan wanita pilihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadis dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu,

Pernah ada orang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan keinginannya,

“Saya mencintai seorang wanita cantik dan dari keluarga terhormat. Namun dia mandul. Bolehkah saya menikah dengannya?”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan.”

Orang ini datang kedua kalinya, menyampaikan keinginannya yang sama. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya.

Diapun datang untuk yang ketiga kalinya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarang dia menikah dengan wanita itu.

Hingga akhirnya, beliau bersabda,

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ

Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena saya membanggakan banyaknya kalian pada seluruh umat. (HR. Abu Daud 2050, Nasai 3227 dan dishahihkan al-Albani)

Sebagai balas jasa seorang ibu yang telah melahirkan anaknya, Allah memberi ganti dalam bentuk perintah untuk anak agar taat dan menghormati ibunya.

Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan … (QS. al-Ahqaf: 15)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi jaminan. Resiko apapun yang diderita wanita ketika hamil, terutama yang mengancam kematian, akan dinilai sebagai syahid.

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguknya ketika Ubadah sedang sakit. Di sela-sela itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

أتعلمون من الشهيد من أمتي ؟

“Tahukah kalian, siapa orang yang mati syahid di kalangan umatku?”

Ubadah menjawab: ‘Ya Rasulullah, merekalah orang yang sabar yang selalu mengharap pahala dari musibahnya.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan,

شهداء أمتي إذاً لقليل ، القتل في سبيل الله عز وجل شهادة ، والطاعون شهادة ، والغرق شهادة ، والبطن شهادة ، والنفساء يجرها ولدها بسرره إلى الجنة

“Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku cuma sedikit. Orang yang mati berjihad di jalan Allah, syahid, orang yang mati karena Tha’un, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena sakit perut, syahid. Dan wanita yang mati karena nifas, dia akan ditarik oleh anaknya menuju surga dengan tali pusarnya.” (HR. Ahmad dalam musnadnya 15998. Dan dinilai Shahih li Ghairih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Dalam hadis lain, dari Jabir bin Atik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk Abdullah bin Tsabit, ketika itu beliau sedang pingsan karena sakit. Di tengah-tengah itu, ada orang yang menyinggung masalah mati syahid. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapa yang kalian anggap sebagai mati syahid?”

Merekapun menjawab, ‘Orang yang mati di jalan Allah.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengarahan,

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah,

Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan al-Albani).

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan agar anak selalu memperhatikan ibunya,

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau bercerita,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari 5971 dan Muslim  2548)

Bukankah ini semua membanggakan bagi para wanita yang hamil…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
7 Bentuk Wahyu https://konsultasisyariah.com/29199-7-bentuk-wahyu.html Wed, 15 Feb 2017 06:32:39 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29199 Bentuk Wahyu

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ibnul Qoyim menyebutkan bahwa wahyu ada 7 bentuk,

Pertama, mimpi yang benar

Dan inilah permulaan wahyu yang diterima oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana keterangan Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ

Awal permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar ketika beliau tidur.. setiap kali beliau bermimpi, beliau melihat seperti fajar subuh… (HR. Bukhari 3 & Muslim 422).

Kedua, bisikan yang disampaikan malaikat ke hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Seperti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي أَنّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا

Sesungguhnya Ruh Kudus (Malaikat Jibril) membisikkan dalam hatiku, bahwa siapapun jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rizkinya. (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf, 20100)

Ketiga, malaikat datang kepada beliau dengan wajah manusia. Berbicara dengan beliau, hingga beliau memahami pesan-pesan yang disampaikan malaikat. Untuk kejadian ini, terkadang para sahabat turut melihat malaikat. Sebagaimana yang terjadi pada hadis dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu tentang iman, islam dan ihsan.

Keempat, beliau mendenar suara keras seperti rantai yang digesekkan di batu.

Suasana ini yang paling berat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saking beratnya, ada beberapa kejadian yang sangat aneh,

– Beliau bercucuran keringat padahal musim dingin

– Ketika beliau di atas onta, atau kendaraan lainnya, maka langsung menderum

– Ketika paha beliau mengenai paha sahabat, tiba-tiba berubah menjadi sangat berat

Kelima, beliau melihat malaikat dalam bentuk asli, lalu malaikat itu menyampaikan wahyu sesuai yang Allah perintahkan.

Dan ini terjadi 2 kali.  Sebagaimana yang Allah firmankan di surat an-Najm,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى . عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى . ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى . وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى . ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى . فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى . فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى . مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى . أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى . وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى . عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى

Tiadalah yang diucapkan Muhammad itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan, yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat ….sedang dia berada di ufuk yang tinggi () Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan… Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (QS. an-Najm: 3-14).

Keenam, wahyu yang Allah sebutkan ketika beliau berada di atas langit yang ketujuh. Beliau mendapatkan kewajiban shalat 5 waktu.

Ketujuh, allah berbicara langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perantara, sebagaimana Allah berbicara langsung dengan Musa tanpa perantara. Kejadian ini disebutkan dalam hadis isra’ mi’raj.   (Zadul Ma’ad, 1/76)

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Masih Pilih Gubernur yang Bikin Geger! https://konsultasisyariah.com/29196-masih-pilih-gubernur-yang-bikin-geger.html Tue, 14 Feb 2017 07:11:25 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29196 Masih Pilih Gubernur yang Bikin Geger!

Jika calon gubernur kafir lebih kelihatan pembangunan infrastruktur, apakah boleh dipilih?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Hidup tenang dan nyaman adalah dambaan setiap orang. Meskipun bisa jadi semuanya penuh dengan kesederhanaan. Apalah artinya ketika orang memiliki banyak harta, namun hatinya tidak pernah tenang, selalu ketakutan, kebingungan, bahkan sering gregetan. Dia punya harta tapi tidak bisa menikmati hidupnya.

Karena itulah, negara yang aman, meskipun fasilitasnya terbatas, lebih menyanangkan dibandingkan negara penuh konflik meskipun ada banyak fasilitas kelihatan di depan mata.

Kita bisa simak penuturan sahabat Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu ketika menasehati putranya,

يا بني احفظ عني ما أوصيك به: إمام عدل خير من مطر وبل…

Wahai anakku, jaga baik-baik pesanku kepadamu, pemimpin yang adil lebih baik dari pada hujan deras… (al-Adab as-Syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/176).

Hujan deras sangat dibutuhkan banyak orang. Terutama orang iklim gurun. Meskipun demikian, memiliki negara yang aman, dipimpin oleh pemimpin yang adil, lebih baik dari pada hujan. Karena ketenangan lebih dibutuhkan dari pada fasilitas.

Apa yang bisa anda bayangkan ketika anda menjadi orang yang sangat kaya raya, namun anda tinggal di suriah? Apa yang anda bayangkan ketika anda memiliki puluhan rumah, ratusan mobil, namun anda selalu was-was karena negara anda sangat rentan dengan chaos? Apalah artinya orang punya banyak fasilitas, infrastruktur lengkap, tapi negaranya selalu konflik.

Prestasi seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari seberapa jauh dia menggalakkan pembangunan infrastruktur. Karena memang ini kewajiban mereka untuk mengalokasikan dana rakyat. Siapapun gubernur berkewajiban melakukannya. Namun yang kita pikirkan adalah apa artinya punya infrastruktur, tapi rakyat selalu tidak tenang, karena dibuat gregetan oleh arogansi gubernurnya…

Semua rakyat mendampakan ketenangan… kenyamanan… sehingga mereka bisa beraktivitas dengan senang. Anda punya harta, punya banyak fasilitas, tidak akan ada artinya ketika anda selalu merasa sakit hati dengan tingkah laku pemimpin anda.

Jadikan pengalaman sebagai pelajaran… Dulu dia bisa arogan, karena merasa punya kekuasaan… saat ini dia berusaha memelas, karena dia butuh belas kasihan rakyatnya. Dia butuh dukungan dari masyarakat.

Di Indonesia, siapapun pemimpinnya pasti akan selalu ada pembangunan… tapi tidak semua pemimpin bisa membuat negaranya menjadi semakin aman dan nyaman…

Semoga sejarah kelam tidak berulang…

Amin…

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Buta Huruf? https://konsultasisyariah.com/29177-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam-buta-huruf.html Sat, 11 Feb 2017 00:14:55 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29177 Nabi Muhammad Buta Huruf?

Apakah benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam buta huruf? Tidak bisa baca tulis?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak dalil yang menyebut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang ummi (tidak membaca dan tidak menulis). Kita akan sebutkan beberapa diantaranya,

Pertama, firman Allah, ketika menyebutkan ciri-ciri Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ

Yaitu orang-orang yang mengikuti rasul, sang nabi yang ummi, yang mereka jumpai keterangan tertulis dalam kitab taurat dan injil yang ada di tengah mereka. (QS. al-A’raf: 157)

Kedua, firman Allah, yang memerintahkan hamba-Nya untuk mengikuti nabi,

فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, sang nabi yang ummi, yang beliau beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya. Ikutilah beliau agar kalian mendapat petunjuk. (QS. al-A’raf: 158)

Ketiga, firman Allah tentang nikmat adanya nabi di tengah orang Quraisy,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah).” (QS. al-Jumu’ah: 2)

Keempat, Allah tegaskan bahwa Nabi-Nya tidak pernah membaca kitab apapun,

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” (QS. al-Ankabut: 48)

Apa yang Dimaksud dengan Ummi?

Al-Qurthubi menyebutkan beberapa keterangan seputar makna Ummi,

قال ابن عباس: الاميون العرب كلهم، من كتب منهم ومن لم يكتب، لانهم لم يكونوا أهل كتاب. وقيل: الاميون الذين لا يكتبون. وكذلك كانت قريش. وروى منصور عن إبراهيم قال: الامي الذي يقرأ ولا يكتب

Ibnu Abbas mengatakan,

al-Ummi adalah semua orang arab, baik mereka yang bisa menulis maupun mereka yang tidak bisa menulis. Karena mereka bukan ahli kitab. Ada yang mengatakan, al-Ummiyun adalah mereka yang tidak bisa menulis, dan seperti itu kondisi orang Quraisy. Dan diriwayatkan oleh Manshur dari Ibrahim, beliau mengatakan, al-Ummi adalah orang yang bisa melafalkan tapi tidak bisa menulis. (Tafsir al-Qurthubi, 18/91-92).

Ibnu Abbas juga menjelaskan ayat di surat al-Ankabut,

كان نبيكم صلى الله عليه وسلم أميا لا يكتب ولا يقرأ ولا يحسب

Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang ummi, tidak menulis, membaca, dan tidak menghitung. Lalu Ibnu Abbas membaca firman Allah di surat al-Ankabut: 48. (Tafsir al-Qurthubi, 7/298)

Keterangan lain kami nukilkan dari ar-Raghib al-Ashbahani tentang makna ummi,

الأمي هو الذي لا يكتب و لا يقرأ من كتاب ، و عليه حمل قول تعالى : ( هو الذي بعث في الأميين رسولاً منهم …. )

Al-Ummi adalah orang yang tidak bisa menulis dan membaca. Dan itulah makna firman Allah di surat al-Jumuah ayat 2. (Mufradat fi Gharib al-Quran, hlm. 28)

Dan inilah yang lebih sesuai dengan dzahir al-Quran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang ummi, dalam arti beliau bisa melafalkan kalimat, tapi tidak bisa menuliskannya. Karena beliau tidak tahu tulisan huruf. Dan kondisi tidak bisa membaca tulisan, sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau kecerdasannya rendah. Banyak tokoh hebat di tengah Quraisy, mereka tidak bisa membaca tulisan.

Namun kecerdasan ketika itu diukur dari kedewasaan dan bijaksana dalam bersikap.

Beliau bisa menyelesaikan kasus dengan baik, dewasa ketika menghadapi masalah, itulah orang ummi.

Apa Hikmah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Seorang yang Ummi?

Al-Mawardi menyebutkan,

Jika ada orang yang bertanya, apa sisi kelebihan dengan Allah utus seorang nabi yang ummi,

فالجواب عنه من ثلاثة أوجه: أحدها: لموافقته ما تقدمت به بشارة الانبياء. الثاني: لمشاكلة حال لأحوالهم، فيكون أقرب إلى موافقتهم. الثالث: لينتفي عنه سوء الظن في تعليمه ما دعى إليه من الكتب التي قرأها والحكم التي تلاها.

Jawabannya, ada 3 alasan mengenai hal ini,

[1]  Agar sesuai dengan informasi dan kabar gembira yang disampaikan para nabi sebelumnya tentang kehadiran beliau.

[2] Agar sesuai dengan keadaan orang arab, sehingga lebih dekat dengan kesamaan mereka

[3] Untuk menghilangkan su’udzan karena beliau dianggap telah mengajarkan kitab-kitab yang telah beliau baca sebelumnya.

(Tafsir al-Qurthubi, 18/92).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>