Dzikir dan Doa – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 21 Jul 2017 02:35:12 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.5 Doa Shalat Jenazah untuk Mayit Perempuan https://konsultasisyariah.com/29713-doa-shalat-jenazah-untuk-mayit-perempuan.html Mon, 10 Jul 2017 01:32:45 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29713 Doa Shalat Jenazah untuk Mayit Perempuan

Bagaimana doa jenazah yang benar jika mayitnya perempuan? Apakah tetap sama seperti doa untuk mayit lelaki…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kita simak teks doa shalat jenazah yang disebutkan dalam hadis,

Dari Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى جَنَازَةٍ فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَهُوَ يَقُولُ « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ…

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalati jenazah, dan aku menghafal doa yang beliau baca. Beliau membaca, “Allahummaghfir lahuu, warham huu, wa ‘aafihii wa’fu ‘anhu…” (HR. Muslim 2276)

Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa dengan dhamir (kata ganti) hu [هُ] yang menunjukkan orang ketiga laki-laki.

Ulama berbeda pendapat mengenai dhamir [هُ], apakah kembali ke kata mayit [الميت] yang diwakili dengan kata ganti orang ketiga lelaki. Ataukah kembali ke jenis kelamin jenazah? Karena ketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalati jenazah seorang lelaki.

Pendapat pertama, kata ganti ‘hu’ kembali ke kata ‘mayit’, sehingga ini berlaku baik bagi jenazah lelaki maupun perempuan. Ini merupakan pendapat as-Syaukani. Beliau mengatakan,

والظاهر أنه يدعو بهذه الألفاظ الواردة في هذه الأحاديث سواء كان الميت ذكرا أو أنثى ولا يحول الضمائر المذكورة إلى صيغة التأنيث إذا كان الميت أنثى لأن مرجعها الميت وهو يقال على الذكر والأنثى

Yang dzahir, orang yang shalat dia membaca dengan lafadz ini yang disebutkan dalam hadis. Baik mayitnya lelaki maupun perempuan. Dan kata ganti yang ada, tidak diubah menjadi kata ganti perempuan, ketika mayitnya perempuan. Karena dhamir ini kembali ke kata ‘mayit’. Dan kata mayit berlaku bagi jenazah lelaki dan perempuan.

Pendapat kedua, kata ganti ‘hu’ kembali ke jenazah yang dishalati. Sehingga dianjurkan mengalami perubahan sesuai jenis kelamin jenazah. Jika jenazahnya perempuan, maka dhamir ‘hu’ diganti dengan ‘haa’ yang menunjukkan kata ganti orang ketiga perempuan.

Ini merupakan pendapat Syafiiyah dan yang dinilai lebih kuat oleh Imam Ibnu Utsaimin.

Dalam I’anatut Thalibin dinyatakan,

(قوله: ويؤنث الضمائر في الانثى) كأن يقول: اللهم اغفر لها وارحمها إلخ … ( قوله ويجوز تذكيرها ) أي الضمائر في الأنثى ( وقوله بإرادة الميت أو الشخص ) يعني أنه إذا ذكر الضمير وكان الميت أنثى جاز ذلك بتأويلها بالشخص أو بالميت

‘Pernyataan penulis: ‘Kata gantinya diubah jadi muannats (perempuan) untuk mayit perempuan” maksudnya misal  dengan mengucapkan, ‘Allahummaghfir lahaa warhamhaa… sampai akhir.’ “Pernyataan penulis, ‘Boleh diubah jadi kata ganti lelaki” maksudnya adalah kata ganti perempuan…. Maksudnya, jika kitannya dengan dhamir (kata ganti), sementara mayitnya perempuan, boleh dikembalikan ke orangnya atau ke mayit. (I’anatut Thalibin, 2/146).

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

وقوله: «اللهم اغفر له» الضمير للمفرد المذكر، فإذا كان الميت أنثى، فهل نقول: اللهم اغفر له، أو نقول: اللهم اغفر لها بالتأنيث؟ الجواب: بالتأنيث؛ لأن ضمير الأنثى يكون مؤنثاً، فنقول: اللهم اغفر لها وارحمها، وعافها، واعف عنها

Doa beliau, “Allahummaghfir lahuu…” kata ganti tunggal untuk lelaki. Jika mayitnya perempuan, apakah kita berdoa, ‘Allahummaghfir lahuu’ ataukah kita membaca doa, ‘Allahummaghfir lahaa’ dengan kata ganti perempuan? Jawabannya, kita baca dengan kata ganti perempuan. Sehingga kita membaca, ‘Allahummaghfir lahaa warham-haa wa ‘aafihaa, wa’fu anhaa…’

Beliau juga memberikan sanggahan untuk pendapat as-Syaukani, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan kata ganti orang lelaki, karena jenazah yang beliau shalati seorang lelaki. Karena hadisnya adalah keterangan dari Auf bin Malik, dari doa yang beliau dengar ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalati jenazah.

Bagaimana jika orang yang shalat tidak tahu apa jenis kelamin jenazahnya?

Beliau mengatakan, boleh dengan kata ganti lelaki atau wanita.

(as-Syarh al-Mumthi’, 5/329)

Demikain, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Doa ketika Dipuji Orang https://konsultasisyariah.com/29694-doa-ketika-dipuji-orang.html Tue, 04 Jul 2017 23:28:54 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29694 Dipuji Orang

Ketika kita dipuji, katanya ada doanya… tolong tulisakan hadisnya dari Nabi saw… trim’s  

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam kajian seputar raqaiq (membangun kelembutan hati), kita selalu diajarkan bahwa tidak ada pujian yang berarti selain pujian Allah. dan tidak ada celaan yang berarti, selain celaan dari Allah. karena Dia-lah Dzat yang mengetahui kondisi hamba-Nya lahir bathin.

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Jangan kalian memuji-muji diri kalian sendiri, karena Dia-lah yang paling tahu siapa yang bertaqwa.” (QS. an-Najm: 32)

Karena itulah, seorang mukmin akan lebih memperhatikan kondisi bathinnya dibandingkan penilaian orang lain. Manusia hanya bisa menilai lahiriyah, sementara kondisi bathin mereka buta.

Doa ketika Dipuji

Kami tidak mengetahui adanya doa khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kita mendengar pujian orang lain. Hanya saja ada riwayat dari sahabat yang membaca doa berikut ketika dia berdoa.

Dari Adi bin Arthah –rahimahullah – (seorang ulama Tabi’in) beliau bercerita,

كان الرجل من أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا زُكِّي، قال

“Dulu ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang apabila dia dipuji mengucapkan,

اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ

“Ya Allah, jangan Engkau menghukumku disebabkan pujian yang dia ucapkan, ampunilah aku, atas kekurangan yang tidak mereka ketahui. Dan jadikan aku lebih baik dari pada penilaian yang mereka berikan untukku.”

Doa ini diriwayatkan Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 761) dan sanadnya dishahihkan al-Albani. Juga al-Baihaqi dalam Syua’abul Iman (4/228).

Doa ini menunjukkan bahwa sahabat adalah manusia yang jauh dari karakter bangga dengan pujian manusia. Bahkan mereka mengakui kekurangan yang mereka miliki, yang itu tidak diketahui orang yang memuji.

Dengan ini akan menghalangi kita dari potensi ujub.

Dengan ini pula kita akan lebih mudah mengakui kekurangan kita.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Doa Ketika Melihat Ka’bah, Tidak Ada Dalilnya? https://konsultasisyariah.com/29687-doa-ketika-melihat-kabah-tidak-ada-dalilnya.html Sun, 02 Jul 2017 23:56:41 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29687 Doa Ketika Melihat Ka’bah

Ada beberapa buku manasik yang menyebutkan doa ketika melihat Ka’bah dan ada buku yg tidak menyebutkan. Katanya tidak ada dalil. Itu yg benar yang mana? Jadi bingung…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat satu redaksi doa yang terkenal di masyarakat,

اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا البَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَمَهَابَةً وَبِرًّا ، وَزِدْ مِنْ شَرَفِهِ وَكَرَمِهِ مِمَّنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَعظِيمًا

Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, kewibawaan dan kebaikan untuk ka’bah ini. dan tambahkanlah kemuliaan dan kehormatan bagi orang yang berhaji atau umrah dengan sebab kemuliaan dan kehormatan ka’bah.

Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan doa ini, namun semuanya dhaif (lemah), sehingga tidak bisa diyakini sebagai bagian dari sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita akan sebutkan beberapa riwayat itu, diantaranya,

[1] Riwayat dari Makhul dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Mushanaf Ibnu Abi Syaibah, 6/71).

Dan riwayat ini dhaif, karena Makhul adalah seorang tabi’in, sementara dia membawakan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga termasuk hadis mursal. Dan hadis mursal termasuk hadis dhaif.

Disamping itu, perawi di bawah Makhul adalah Abu Said as-Syami. Dan al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari, Abu Said as-Syami seorang Kadzab (pendusta). (at-Talkhis al-Habir, 2/242)

[2] Riwayat dari Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Riwayat ini disebutkan oleh as-Syafii dalam musnadnya dari Said bin Salim, dari Ibnu Juraij. Hanya saja, Ibnu Juraij termasuk tabi’in Junior, sehingga riwayatnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk riwayat Mu’dhal (ada 2 generasi perawi yang hilang). Dan hadis mu’dhal tidak bisa dijadikan dalil.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari riwayat ini dengan mengatakan,

وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم

Ini termasuk riwayat mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (at-Talkhis al-Habir, 2/526).

[3] Riwayat dari Hudzaifah bin Usaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Riwayat ini disebutkan at-Thabrani dalam al-Kabir (3/181), dan dalam sanadnya ada Ashim bin Salman al-Kauzi, yang dinyatakan para ulama sebagai kadzab (pndusta). (Mizan al-I’tidal, 2/351).

Kesimpulannya, semua riwayat yang menyebutkan doa ini adalah riwayat yang dhaif. Sehingga kita tidak menjumpai adanya dalil yang valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan doa khusus ketika melihat Ka’bah.

Hanya saja, ada beberapa ulama yang menganjurkan membaca doa ini ketika melihat ka’bah, karena pertimbangan kelonggaran mengamalkan hadis mursal dalam masalah doa. Seperti Imam as-Syafi’i, beliau mengatakan dalam kitab al-Umm setelah membawakan riwayat dari Ibnu Juraij di atas,

فأستحب للرجل إذا رأى البيت أن يقول ما حكيت ، وما قال مِن حَسَنٍ أجزأه إن شاء الله تعالى

Saya menganjurkan seseorang ketika melihat Ka’bah untuk mengucapkan doa seperti yang aku riwayatkan. Dan kalimat kebaikan yang diucapkan, dibolehkan insyaaAllah Ta’ala. (al-Umm, 2/184).

Hanya saja, mengenai mengangkat tangan ketika membaca doa, beliau tidak menganjurkan, tidak pula membencinya. Beliau mengatakan,

ليس في رفع اليدين عند رؤية البيت شيء ، فلا أكرهه ، ولا أستحبه

Tidak ada dasar untuk mengangkat tangan ketika melihat Ka’bah. Sehingga saya tidak membencinya dan tidak menganjurkannya. (at-Talkhis al-Habir, 2/526)

Dan kembali kami tegaskan bahwa doa ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan tata cara haji atau umrah. Dan ada sebagian ulama yang sama sekali tidak mengamalkannya dan tidak menganjurkannya, seperti Imam Malik.

Ibnu Abdil Bar – ulama Malikiyah – mengomentari doa ketika melihat Ka’bah,

وليس هذا القول من سنن الحج ، ولا من أمره ، ولم يعرفه مالك فيما ذكر عنه بعض أصحابه ، وقد روي ذلك عن جماعة من سلف أهل المدينة

Doa ini tidak termasuk bagian tata cara haji, dan tidak diketahui Malik, sebagaimana keterangan sebagian muridnya dari beliau. Meskipun diriwayatkan dari beberapa ulama salaf penduduk Madinah. (al-Kafi fi Fiqh Ahlil Madinah, hlm. 365).

Kesimpulannya, bagi seorang muslim, dia dibolehkan untuk membaca doa ini ketika melihat Ka’bah, hanya saja, dia tidak boleh meyakininya sebagai bagian dari sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Wirid Para Ulama di Hari Jumat https://konsultasisyariah.com/29447-wirid-para-ulama-di-hari-jumat.html Fri, 28 Apr 2017 02:11:46 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29447 Amalan Para Ulama di Hari Jumat

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Hari jumat adalah hari istimewa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai pemimpin semua hari. Dari Abu Lubabah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الأَيَّامِ وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللَّهِ

Sesungguhnya hari jumat adalah pemimpin semua hari, dan hari yang paling mulia di sisi Allah… (HR. Ahmad 15548, Ibnu Majah 1137 dan dihasankan al-Albani).

Di hari jumat, Allah sediakan satu waktu yang mustajab untuk berdoa.

Dalam hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hari Jumat, lantas beliau bersabda,

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Di hari Jumat terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari 935, Muslim 2006, Ahmad 10574 dan yang lainnya).

Karena itulah, para ulama di masa silam (salaf) memberikan perhatian besar terhadap hari jumat. Mereka berusaha menjaga amal selama hari jumat. Kita lihat beberapa riwayat dari mereka,

قال أحد السلف: “من استقامت له جمعته، استقام له سائر أسبوعه.”

Sebagian ulama salaf mengatakan, “Barangsiapa bisa istiqamah pada hari Jumat maka dia akan bisa istiqamah di hari yang lain.”

Ada orang soleh menasehatkan,

ما دعوت الله بدعوة بين العصر والمغرب يوم الجمعة، إلا استجاب لي ربي حتى استحييت

Tidaklah aku berdoa pada hari Jumat antara waktu ashar hingga maghrib melainkan Rabku mengabulkan hingga aku merasa malu.

Para ulama berbeda pendapat terkait kapan waktu mustajab dalam berdoa di hari jumat. Perbedaan pendapat ini bisa anda pelajari di: Waktu Mustajab di Hari Jum’at

Ibadah Para Ulama Salaf Ketika Hari Jumat Setelah Asar

Ada beberapa kegiatan ibadah ulama setelah asar di hari jumat. Kita sebutkan diantaranya,

[1] Riwayat dari Thawus

كان طاووس بن كيسان إذا صلى العصر يوم الجمعة، استقبل القبلة، ولم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس

Imam Thawus bin Kaisan apabila selesai shalat asar pada hari jumat, beliau menghadap kiblat, dan tidak berbicara dengan siapapun sampai maghrib. (Tarikh Wasith, hlm. 187).

[2] Riwayat dari al-Mufadhal bin Fadhalah,

كان المفضل بن فضالة إذا صلى عصر يوم الجمعة، خلا في ناحية المسجد وحده، فلا يزال يدعو حتى تغرب الشمس

Al-Qadhi Al-Mufadhal bin Fadhalah apabila selesai shalat asar pada hari jumat, beliau menyendiri di pojok masjid dan terus berdoa hingga matahari terbenam. (Akhbar al-Qudhat, 3/238)

[3] Riwayat dari Said bin Jubair – murid senior Ibnu Abbas –,

وكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر، لم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس – يعني كان منشغل بالدعاء

Said bin Jubair apabila usai shalat ashar pada hari jumat, beliau tidak berbicara dengan siapapun sampai terbenam matahari – karena sibuk berdoa. (Zadul Ma’ad, 1/394)

Keikhlasan Mereka dalam Berdoa di Hari Jumat

Berdoa dengan tulus, menghadrikan perasaan sangat butuh di hadapan Allah, termasuk diantara sebab mustajabnya doa… para ulama salaf sangat khusyu dalam berdoa seusai asar di hari jumat.

Diriwayatkan dalam Tarikh Damaskus, dari Zakariya bin Adi,

كان الصلت بن بسطام التميمي يجلس في حلقة أبي جناب يدعون بعد العصر يوم الجمعة قال فجلسوا يوما يدعون وكان قد نزل الماء في عينيه فذهب بصره فدعوا وذكروا بصره في دعائهم فلما كان قبل غروب الشمس عطس عطسة فإذا هو يبصر بعينيه وإذا قد رد الله عليه بصره

Bahwa as-Shult bin Bushtom at-Tamimi duduk di halaqah Abu Jinab. Mereka berdoa setelah asar di hari jum’at. Suatu ketika di hari jumat, saat mereka sedang berdoa, tiba-tiba mata Shutl bin Busthom ketetesan cairan dan langsung buta. Akhirnya kawan-kawannya mendoakan dan menyebut-nyebut kesembuhan untuk Shult dalam doa mereka. sebelum matahari terbenam, beliau bersin sekali, tiba-tiba beliau bisa melihat dengan kedua matanya. Allah telah mengembalikan pandangannya.  (Tarikh Damaskus, 64/140).

Selayaknya kita tidak sia-siakan kesempatan emas ini untuk banyak mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Doa dan bacaan ketika Thawaf https://konsultasisyariah.com/29380-doa-dan-bacaan-ketika-thawaf.html Fri, 07 Apr 2017 07:31:10 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29380 Doa Ketika Thawaf

Saya hendak umrah tadz, apa doa dan dzikir ketika thawaf? Suwun

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kami tidak menjumpai adanya dalil yang menyebutkan doa dan dzikir khusus ketika thawaf selain di 3 tempat,

[1] Ketika melewati hajar aswad, beliau membaca takbir, “Allahu akbar” atau membaca, “Bismillahi wallahu akbar…

Nafi – menantunya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma – bercerita,

كَانَ ابْنُ عُمَرَ رضي الله عنهما يَدْخُلُ مَكَّةَ ضُحًى، فَيَأْتِي الْبَيْتَ فَيَسْتَلِمُ الْحَجَرَ، وَيَقُولُ: بِسْمِ اللهِ، وَاللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَرْمُلُ ثَلَاثَةَ أَطْوَافٍ، يَمْشِي مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ، فَإِذَا أَتَى عَلَى الْحَجَرِ اسْتَلَمَهُ، وَكَبَّرَ أَرْبَعَةَ أَطْوَافٍ مَشْيًا

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma masuk Mekah ketika waktu dhuha, lalu beliau mendatangi ka’bah, dan menyentuh Hajar Aswad, sambil mengucapkan, “Bismillah, wallahu akbar.” Kemudian beliau lari-lari kecil 3 kali putaran, dan jalan antara rukun Yamani dengan rukun Hajar Aswad. Setelah sampai di Hajar Aswad, beliau menyentuhnya dan bertakbir, lalu keliling 4 thawaf sambil berjalan.

Ibnu Umar mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal ini.

(HR. Ahmad 4628 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

[2] Membaca  doa sapu jagad, antara rukun Yamani dan rukun Hajar Aswad

Dari Sahabat Abdullah bin Saib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ (رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ)

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa sapu jagad,

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

antara rukun Yamani dengan rukun Hajar Aswad. (HR. Abu Daud 1894 dan dihasankan al-Albani).

[3] Seusai thawaf, ketika menuju tempat shalat di belakang maqam Ibrahim

Sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu bercerita pengalaman haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَتَّى إِذَا أَتَيْنَا الْبَيْتَ مَعَهُ اسْتَلَمَ الرُّكْنَ فَرَمَلَ ثَلاَثًا وَمَشَى أَرْبَعًا ثُمَّ نَفَذَ إِلَى مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – فَقَرَأَ (وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى) فَجَعَلَ الْمَقَامَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ

Hingga ketika kami tiba di ka’bah bersama beliau, beliau menyentuh rukun Hajar Aswad, lalu lari kecil 3 kali putaran, dan berjalan 4 kali putaran. Lalu beiau menuju maqam Ibrahim sambil membaca,

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

Dan beliau memposisikan maqam di depan beliau, antara beliau dan ka’bah. (HR. Muslim 3009)

Selain itu, tidak kami jumpai dalil yang menyebutkan bacaan atau doa khusus ketika thawaf. Yang diaanjurkan adalah memperbanyak berdoa, berdzikir apapun.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ويستحب الدعاء في الطواف , والإكثار من ذكر الله تعالى ; لأن ذلك مستحب في جميع الأحوال , ففي حال تلبسه بهذه العبادة أولى ، ويستحب أن يَدَعَ الحديثَ [الكلام] , إلا ذكرَ الله تعالى , أو قراءةَ القرآن , أو أمرا بمعروف , أو نهيا عن منكر , أو ما لا بد منه

Dianjurkan memperbanyak doa ketika thawaf, dan berdzikir menyebut nama Allah. karena doa dan dzikir dianjurkan dalam semua keadaan, sehingga ketika sedang thawaf, lebih ditekankan. Dan dianjurkan untuk tidak bicara, selain dzikrullah, atau membaca al-Quran, atau amar makruf, nahi munkar, atau mengucapkan sesuatu yang harus. (al-Mughni, 3/187)

Syaikhul Islam mengatakan,

وليس فيه – يعني الطواف – ذكر محدود عن النبي صلى الله عليه وسلم ، لا بأمره ، ولا بقوله ، ولا بتعليمه ، بل يدعو فيه بسائر الأدعية الشرعية ، وما يذكره كثير من الناس من دعاء معين تحت الميزاب ، ونحو ذلك فلا أصل له ، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يختم طوافه بين الركنين بقوله : ( ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار ) ، كما كان يختم سائر دعائه بذلك ، وليس في ذلك ذكر واجب باتفاق الأئمة

Tidak ada dzikir khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika thawaf. Baik diperintahkan, dipraktekkan, maupun diajarkan. Beliau berdoa dalam thawaf dengan membaca doa-doa yang disyariatkan. Sementara kumpulan doa yang disebutkan banyak orang, tidak ada dasarnya. Sementar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhiri doanya antara rukun Yamani dengan rukun Hajar Aswad dengan mengucapkan, “Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah….” Sebagaimana beliau mengakhiri doa-doa beliau dengan doa sapu jagad. Dan semua dzikir itu tidak wajib dengan sepakat ulama.

(Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 26/122)

Karena itu, thawaf tidak diam… tidak hanya melihat pemandangan di sekitar, tapi berdoa, dengan doa apapun… anda bisa berdoa dengan bahasa arab, bahasa Indonesia, dan yang terbaik, doa-doa dalam al-Quran maupun doa dalam hadis. Selain itu, perbanyak membaca dzikir…

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Berdoa Dalam Hati https://konsultasisyariah.com/29283-hukum-berdoa-dalam-hati.html Fri, 10 Mar 2017 23:56:23 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29283 Berdoa Dalam Hati

Assalamua’laikum ustadz,
Afwan mau bertanya, apakah boleh berdoa di dalam hati, baik dengan mengangkat tangan ataupun tidak?

Dari Aris, di Bandung.

Jawaban :

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah was sholaatu wassalaam ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Pada asalnya pembicaraan hati tidak termasuk amalan yang tercatat sebagai dosa maupun pahala bagi pelakunya, selama tidak diucapkan atau dilakukan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إن الله تجاوز عن أمتي ما حدثت به نفسها ما لم تتكلم به أو تعمل به

Sesungguhnya Allah memaafkan apa yang terlintas dalam batin umatku selama belum diucapkan atau belum dilakukan. (Muttafaq ‘Alaihi).

Para ulama menyatakan ,
“Dalam membaca Alquran seorang harus menggerakkan lidah dan kedua bibirnya. Tanpa melakukan itu maka tidak teranggap sebagai bacaan, namun terhitung sebagai tadabbur atau tafakkur. Oleh karenanya seorang yg sedang junub tidak dilarang membaca Alquran dalam hatinya atau orang yang sedang buang hajat tdk dilarang utk berdzikir dalam hati.”

Khusus untuk doa dalam hati; tanpa pengucapan di lisan, kami tidak menemukan dalil terkait hal itu. Akantetapi terdapat dalil yang menerangkan bahwa berdzikir dalam hati adalah amalan berpahala. Dan tidak berlebihan apabila hal ini diqiyaskan dengan doa.

Dalam sebuah hadis Qudsi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

قال الله تعالى: أنا ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم.

“Allah ta’ala berfirman, ” Aku adalah sebagaimana praduga/prasangka hamba-Ku kepada-Ku, Aku senantiasa menyertainya selama dia mengingat-Ku, maka apabila dia mengingat aku dalam hatinya, Akupun mengingatnya dalam hati, dan bila dia mengingat-Ku dalam keadaan ramai, Akupun mengingatnya dalam keadaan ramai, bahkan lebih baik dari pada pengingatannya.(HR. Bukhori dan Muslimm).

Ada pernyataan para ulama yang menerangkan pentingnya amalan hati dalam berdoa, dan bahwasanya ucapan lisan hanya sebagai pengikut saja.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah– menerangkan,

فإن أصل الدعاء من القلب، واللسان تابع للقلب، ومن جعل همته في الدعاء تقويم لسانه أضعف توجه قلبه، ولهذا يدعو المضطر بقلبه دعاء يفتح عليه لا يحضره قبل ذلك.

Asalnya doa itu muncul dari hati. Adapun ucapan lisan adalah sebagai pengikut hati. Siapa yang menjadikan konsentrasinya saat berdoa pada pembenahan lisan saja, maka akan melemah munajat hatinya. Oleh karena itu seorang yang berada dalam kondisi genting, berdoa dengan hatinya. Sebuah doa yang membuka pintu kesulitan yang ia alami, yang sebelumnya tidak pernah terbetik dalam benaknya. (Majmu’ Al Fatawa 2/287).

(Rujukan: Fatawa Syabakah Islamiyah no. 117527)

Oleh karenanya, setelah kita mengetahui bahwa berdoa dalam hati tercatat sebagai pahala, artinya hukumnya boleh karena diqiyaskan dengan dzikir, maka dianjurkan juga untuk mengangkat tangan ketika berdoa, sebaimana ketika memanjatkan doa dengan lisan kita.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

“Sesungguhnya Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang mengangkat kedua tangannya berdoa kepada-Nya, lalu mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 2070).

Pembahasan terkait mengangkat tangan ketika berdoa, bisa anda pelajari selengkapnya di sini : Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Berdoa Dengan Hati dan Lisan Lebih Afdol

Meski berdoa dengan hati kita katakan boleh, namun beroa dengan hati disertai pengucapan lisan itu lebih afdol. Karena dalam hal itu terdapat kolusi antara hati dan lisan.

Kemudian, doa yang demikianlah yang dilakukan oleh para Nabi, Rasul dan para wali Allah, sebagaimana yang terdapat dalam Alquran. Diantaranya doa Nabi Ibrahim alaihissalam,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Dan (ngatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah diriku beserta anak keturunanku dari menyembah berhala-berhala. (QS. Ibrahim 355).

Juga doa Nabi Nuh alaihissalam, Allah berfirman,

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ

Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)”. (QS. Al Qomar : 10).

Doa Nabi Zakariya alaihissalam,

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (QS. Maryam : 3).

Doa Ibunda Maryam alaihassalam,

قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. (QS. Maryam : 18).

Para ulama bahasa arab menjelaskan definisi “perkataan” (al Qoul),

اللفظ الدال على معنى

Perkataan adalah lafadh yang menunjukkan suatu makna.

Sebagian yang lain menambahkan,

أو التلفظ قليلاً كان أو كثيراً

Pelafalan baik itu sedikit maupun banyak.

Sementara lafadh adalah pengucapan pada lisan.

Wallahua’lam bis showab.

Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori Lc

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Doa Perlindungan dari Kekufuran & Munafik https://konsultasisyariah.com/29265-doa-perlindungan-dari-kekufuran-munafik.html Tue, 07 Mar 2017 02:04:21 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29265 Berlindung dari Kekufuran & Munafik

Ingin tanya cara berdoa untuk supaya dilindungi dari kekafiran caranya baca apa ya Pak?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Memohon perlindungan kepada Allah dari kekufuran dan kemunafikan merupakan bukti adanya perasaan takut terhadap penyebab hilangnya iman. Yang ini merupakan bukti bahwa dia sangat perhatian terhadap imannya.

Allah mencontohkan salah satu doa Nabi Ibrahim – sang panglima Tauhid –,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari mennyembah berhala. (QS. Ibrahim: 35)

Ada seorang ulama bernama Ibrahim at-Taimi, ketika membaca ayat ini beliau berkomentar,

ومن يأمن البلاء بعد إبراهيم؟

“Siapa yang merasa aman dari bala’ setelah Ibrahim?” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Maksud beliau, Ibrahim sangat menghargai imannya dan beliau sangat ketakutan dengan sebab kekufuran, hingga memohon perlindungan kepada Allah dari kesyirikan. Siapakah kita dibandingkan beliau? Padahal kita tidak pernah memohon perlindungan seperti yang diucapkan Ibrahim.

Ada beberapa doa yang diajarkan dalam al-Quran dan sunah, yang isinya permohonan perlindungan dari kekafiran dan kemunafikan,

Pertama, Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis shalatu was sallam,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ –  رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ

Jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari mennyembah berhala. Ya Allah, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak orang. (QS. Ibrahim: 35 – 36).

Kedua, memohon hidayah dan taufiq

Hakekat memohon hidayah, berarti memohon untuk diberikan jalan istiqamah di atas kebenaran dan dilindugi dari setiap kekufuran dan kemunafikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu hidayah, ketaqwaan, terjaga kehormatan, dan kekayaan…(HR. Ahmad 3950 & Muslim 7079).

Ketiga, doa dari kekufuran dan kemunafikan

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ ، وَالْفُسُوقِ ، وَالشِّقَاقِ ، وَالنِّفَاقِ ، وَالسُّمْعَةِ ، وَالرِّيَاءِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, kedurhakaan, kemunafikan, sum’ah, dan riya’.”

Doa ini diriwayatkan oleh al-Hakim (1944) dan dishahihkan al-Albani.

Keempat, perlindungan dari syirik, yang disadari maupun yang tidak disadari

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku menyekutukan-Mu sementara aku menyadarinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu untuk yang tidak aku sadari.

Doa ini dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan tentang bahaya syirik,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ

Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh syirik itu lebih samar dibandingkan jejak kaki semut. Maukah kutunjukkan kepada kalian satu doa, jika kalian mengucapkannya, maka syirik akan menjauhimu yang seidkit maupun yang banyak.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa di atas. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 716 dan dishahihkan al-Albani).

Kelima, doa sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu,

Beliau rajin membaca doa  berikut,

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran… ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur… laa ilaaha illaa anta…

Sahabat Abu Bakrah membaca ini diulang 3 kali setiap pagi dan sore. Ketika beliau ditanya alasannya, beliau mengatakan,

إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِنَّ ، فَأُحِبُّ أَنْ أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ

Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dengan doa ini, dan aku ingin meniru sunah beliau. (HR. Abu Daud 5092, Nasai 5482 dan dihasankan al-Albani).

Semoga doa-doa di atas bisa kita rutinkan…

Dan yang tidak kalah penting adalah selalu menghadirkan perasaan butuh terhadap hidayah dan bimbingan Allah.. karena Allah melihat hati kita, jangan sampai muncul perasaan, saya tidak butuh hidayah karena tidak mungkin tersesat… perasaan semacam ini berbahaya, karena dia merasa sombong dengan kondisinya. Semoga Allah melindungi kita dari suasana semacam ini…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Doa untuk Orang yang Baru Memiliki Anak https://konsultasisyariah.com/29259-doa-untuk-orang-yang-baru-memiliki-anak.html Fri, 03 Mar 2017 23:44:50 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29259 Doa Bayi Lahir

Jika ada kawan kita yang baru saja anaknya lahir, dan kita ingin memberika ucapan selamat kepadanya, bagaimana doanya? Nuwun

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bagian dari upaya membangun ukhuwah islamiyah adalah merasa senang ketika ada muslim yang mendapat karunia, dan turut berduka jika ada muslim lain yang mendapat musibah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أفضل الأعمال أن تدخل على أخيك المؤمن سروراً

Amal yang paling afdhal adalah memberikan kegembiraan kepada saudaramu sesama mukmin… (HR. Ibnu Abi Dunya dalam Qadha al-Hawaij, hlm. 98 dan dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah).

Bagian dari bentuk memasukkan kegembiraan kepada sesama mukmin adalah turut berbahagia ketika ada sesama mukmin yang berbahagia. Termasuk diantaranya, menampakkan kegembiraan, memberikan ucapan selamat kepada kawan mukmin yang baru saja memiliki anak.

Allah ajarkan hal semacam ini dalam al-Quran. Ketika Allah mengabarkan kepada Ibrahim bahwa beliau akan memiliki anak, Allah sebut kabar itu dengan bisyarah (kabar gembira).

Allah berfirman tentang Ibrahim,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ . فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

“Ibrahim berdoa, ‘Wahai Rabku, anugerahkanlah untukku keturunan yang shalih.’ Lalu Aku berikan kabar gembira kepada Ibrahim dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. as-Shaffat: 100 – 1001).

Demikian pula kepada Zakariya. Allah sebut kabar akan adanya anak dengan kabar gembira,

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam: 7).

Doa Selamat untuk Yang Baru Mendapatkan Keturunan

Ada beberapa redaksi yang diajarkan para ulama terkait doa untuk orang tua yang baru dikaruniai anak. Ada yang diriwayatkan secara maqthu’ (sampai tabi’in) dan ada yang secara marfu’ (sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Kita akan simak beberapa diantaranya,

Pertama, riwayat dari Hasan al-Bashri – ulama Tabi’in –,

Dari al-Haitsam bin Jammar, beliau mencerikatan,

Ada orang yang memberikan ucapan selamat kepada kawannya yang baru saja memiliki anak,

“Selamat, semoga anaknya pandai menunggang kuda…”

Mendengar ini, Hasan al-Bashri langsung berkomentar,

“Boleh jadi anaknya tidak menjadi penunggang kuda. Bisa saja dia pandai menunggang sapi atau onta..”

Ucapkanlah,

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي المَوهُوبِ لَكَ , وَشَكَرْتَ الوَاهِبَ , وَبَلَغَ أَشُدَّهُ , وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

“Semoga Allah memberkahi anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga kamu bisa mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga cepat besar dan dewasa, dan engkau mendapatkan baktinya si anak.”

Keterangan:

Doa ini diriwayatkan Ali bin al-Ja’d dalam al-Musnad (hlm. 488). Sebagian ulama menilai sanadnya dhaif karena posisi al-Haitsam bin Jammar. Dia dinilai dhaif oleh Yahya bin Main. Imam Ahmad menyatakan, ’Tarakahu an-Nas’ (ditinggalkan umat). An-Nasai juga menilainya matruk. (Lisan al-Mizan, 8/352).

Hanya saja, mengingat inti dari doa untuk kelahiran anak adalah memohonkan keberkahan dan kebaikan untuk anak dan orang tuanya, maka tidak ada lafadz yang menjadi ketentuan khusus dalam hal ini. Karena itu para ulama, semacam an-Nawawi dalam al-Majmu’ (8/443), atau dalam al-Azkar (hlm. 289), dan Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (9/464), mereka menganjurkan untuk memilih doa dari Hasan al-Bashri.

Kedua, riwayat dari Ayyub as-Sikhtiyani

Diriwayatkan dari Ayyub as-Sikhtiyani, bahwa beliau ketika mendengar kabar ada tetangga yang punya anak, beliau mendoakan,

جَعَلَهُ اللهُ مُبَارَكًا عَلَيكَ وَعَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم –

“Semoga Allah menjadikannya anak yang diberkahi untukmu dan untuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Keterangan:

Doa ini diriwayatkan Ibnu Abi ad-Dunya dalam al-Iyal (no. 202), dari Khalid bin Khaddas dari Hammad bin Zaid.

Keterangan Ayyub ini juga dikuatkan dengan riwayat Thabrani dalam kitab ‘ad-Dua’ (no. 870) dari jalur Amr bin Rabi’, dari as-Siri bin Yahya, dari Hasan al-Bashri, bahwa ada salah satu muridnya yang anaknya lahir laki-laki.

Lalu dia mendoakan, ‘Semoga menjadi ahli menunggang kuda.’

Kata Hasan al-Bashri, ’Dari mana kamu tahu dia akan menjadi penunggang kuda? Bisa jadi dia menjadi tukang kayu atau penjahit.’

‘Lalu apa yang harus kuucapkan?’ tanya orang itu.

Perintah Hasan, ”Bacalah,

جَعَلَهُ اللهُ مُبَارَكًا عَلَيكَ وَعَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم –

“Semoga Allah menjadikannya anak yang diberkahi untukmu dan untuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. ”

Ketiga, riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu

Hadis yang menceritakan pernikahan Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan syarat masuk islamnya Abu Thalhah. Hingga mereka dikaruniai seorang anak lelaki yang lincah dan sehat, yang membuat Abu Thalhah sangat mencintainya.

Qadarullah, anak ini meninggal ketika ayahnya sedang safar. Ketika pulang, Abu Thalhah langsung menanyakan tentang anaknya. Setelah Abul Thalhah ditenangkan istrinya, dihidangkan makanan, dan dilayani dengan baik, baru Ummu Sulaim menyampaikan, bahwa anaknya telah dipanggil yang punya (Allah).

Karena merasa resah, Abu Thalhah langsung mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadiannya bersama Ummu Sulaim. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keberkahan untuk hubungan mereka. Hingga Ummu Sulaim melahirkan anak lelaki.

Beliau berpesan, jika tali pusarnya telah putus, jangan diberi makan apapun sampai dia diantarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di situlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tahnik, dan mendoakan,

بَارَكَ اللَّهُ لَكِ فِيهِ، وَجَعَلَهُ بَرًّا تَقِيًّا

“Semoga Allah memberkahi anak ini untukmu dan menjadikannya orang berbakti yang bertaqwa”.

Keterangan:

Hadis ini memiliki banyak redaksi. Sementara yang ada kutipan doa di atas, diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Musnadnya (no. 7310).

Sanadnya dinilai shahih oleh al-Haitsami. Dalam Majma’ az-Zawaid, beliau mengatakan,

رواه البزار ورجاله رجال الصحيح غير أحمد بن منصور الرمادي وهو ثقة

“Diriwayatkan al-Bazzar dan para perawinya adalah perawi kitab shahih, selain Ahmad bin Manshur ar-Ramadi, beliau perawi Tsiqqah.” (Majma’ az-Zawaid, 9/216)

Jika riwayat ini shahih, doa ini yang bisa kita rutinkan, karena ma’tsur (diriwayatkan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Tidak Boleh Berdoa Dengan Ayat Al-Quran Ketika Sujud? https://konsultasisyariah.com/28942-tidak-boleh-berdoa-dengan-ayat-al-quran-ketika-sujud.html Tue, 31 Jan 2017 02:43:08 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28942 Dilarang Membaca Al-Quran Ketika Rukuk dan Sujud?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ustadz Mau nanya… Bolehkah kita membaca doa-doa dari ayat Al Quran seperti doa sapu jagad dan selainnya ketika sujud dalam sholat?

Syukron wajazakumullahu khoiron

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Bismillah. Pada dasarnya hukum membaca ayat-ayat Al-Quran ketika ruku’ dan sujud adalah dilarang.

Hal ini berdasarkan hadits-hadits shohih berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( أَلا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا ، فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ ، وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ – أي جدير وحقيق – أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ ) .

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah dilarang (oleh Allah) untuk membaca Al-Quran ketika ruku’ dan sujud. Adapun tatkala ruku’, maka agungkanlah Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya. Sedangkan tatkala sujud, maka berdoalah (kepada Allah) dengan sungguh-sungguh karena doa kalian sangat pantas dikabulkan.” (HR. Muslim no.479).

عن عَلِيّ بْن أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه قَالَ : نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا .

Dari Ali bin Abu Tholib radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melarangku membaca Al-Quran baik ketika ruku’ maupun sujud.” (HR. Muslim no.480)

Dan para ulama telah bersepakat bahwa hukum membaca Al-Quran ketika ruku’ dan sujud adalah Makruh (tidak disukai). (Lihat kitab Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi III/411, dan Al-Mughni karya Imam Ibnu Qudamah II/181).

Akan tetapi jika seorang muslim dan muslimah membaca doa sapu jagad dan doa-doa selainnya dari ayat-ayat Al-Quran ketika sujud dengan niat berdoa dan bukan bermaksud membaca Al-Quran, maka hukumnya boleh, sebagaimana yang difatwakan oleh Komite Tetap Urusan Fatwa dan Riset Ilmiah Saudi Arabia. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah VI/443).

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung pada niatnya.” (HR. Al-Bukhori no.1 dan Muslim no.1907).

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga mudah dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. Wabillahi at-Taufiq.

Dijawab oleh Ustadz Abu Fawwas Muhammad Wasitho, MA (Diambil dari blog beliau dengan pengeditan bahasa oleh Redaksi KonsultasiSyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>