FIKIH – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Sat, 10 Dec 2016 04:42:12 +0000 en-US hourly 1 Pahala Jadi Comblang https://konsultasisyariah.com/28756-pahala-jadi-comblang.html Sat, 10 Dec 2016 04:40:01 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28756 Pahala Jadi Comblang

Apakah pahala bagi orang yg menjodohkan (nyomblangin) ?

Jawab

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan agar mereka yang mampu untuk segera menikah. Karena dengan menikah, jiwa manusia akan menjadi lebih tenang.

Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).

Karena itulah, untuk mewujudkan pernikahan, islam tidak hanya mengajak mereka yang belum menikah untuk berusaha menikah, namun islam juga memotivasi yang lain untuk turut mensukseskan gerakan menikah. Salah satunya adalah dengan mencarikan pasangan bagi mereka yang belum menikah.

Allah berfirman,

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Nikahkahlah orang yang bujangan diantara kalian serta orang baik dari budak kalian yang laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32).

Ayat ini berisi perintah bagi para wali, para tuan budak, untuk berupaya menikahkan setiap orang yang berada di bawah kekuasaannya. Seperti bapak, wali anak yatim, dst.

Di saat yang sama, Allah melarang keras para orang tua secara sengaja menghalangi putranya untuk menikah. Allah menyebutnya sebagai tindakan adhal yang itu termasuk kedzaliman. Allah berfirman,

فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْاْ بَيْنَهُم بِالْمَعْرُوفِ

Janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. (QS. al-Baqarah: 232)

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman bagi wali yang secara sengaja tidak menikahkan putrinya sementara lelaki yang melamarnya memenuhi kriteria syar’i.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

“Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhai akhlak dan agamnya, maka nikahkanlah ia, jika tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Turmudzi 1107 dan dihasankan al-Albani)

Berdasarkan keterangan di atas, mencarikan jodoh orang lain, termasuk menjadi mak-comblang hukumnya dianjurkan dalam islam. Sehingga termasuk amal berpahala. Setidaknya ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan.

Allah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Lakukanlah tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. (QS. al-Maidah: 2)

Apakah ada pahala khusus?

Allahu a’lam, kami tidak menjumpai dalil mengenai hal ini. kita meyakini ini amal soleh,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Shalat Terkena Noda Cat https://konsultasisyariah.com/28747-shalat-terkena-noda-cat.html Fri, 09 Dec 2016 02:54:23 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28747 Shalat Terkena Noda Cat

Bismillah.. Ust, afwan ana mau tanya bagaimana hukumnya bilamana satu ketika ana sedang sholat kemudian menemukan noda cat di anggota wudhu ana, dan ana baru tahu setelah selesai sholat dan telah berlalu 3 sholat fardhu. Apakah ana harus mengqodho sholat kembali termasuk ketiga sholat yg ana telah lakukan ?

Syukron wa Jazakumullahu khoiron atas jawabannya.

Dari Hafit Muhammad Fahruzi

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Orang yang wudhu, wajib memastikan bahwa semua permukaan anggota wudhunya (yang wajib dicuci) telah terbasahi dengan air.

Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma pernah menceritakan,

Kami pernah melakukan safar, dan kami ketinggalaan rombongan. Ketika kami berhasil menyusul  beliau,

Dan ketika itu, waktu shalat sudah mepet. Akhirnya kami buru-buru berwudhu dan kami hanya mengusap kaki kami.

Dari kejauhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil,

وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

Celakalah tumit-tumit yang terancam neraka. (HR. Bukhari 60 & Muslim 589).

Maksudnya adalah tumit-tumit yang tidak tersentuh air wudhu. Mereka mendapatkan ancaman neraka karena wudhunya batal, sementara mereka hendak shalat.

Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan, orang yang shalat dalam kondisi wudhunya tidak sempurna, agar shalatnya diulangi.

Dari Khalid bin Ma’dan, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يُصَلّي وَفِي ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ ، فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلَاةَ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada orang yang shalat, sementara di punggung kakinya ada seluas koin yang tidak terkena air. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya untuk mengulangi wudhu dan shalatnya. (HR. Abu Daud 175 dan dishahihkan al-Albani).

Juga disebutkan dalam hadis dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ» فَرَجَعَ، ثُمَّ صَلَّى

Ada seseorang yang berwudhu lalu dia membiarkan seluah satu kuku di jari kakinya tidak terkena air. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikannya dan menyuruhnya,

“Kembali, ulangi wudhumu dengan baik.”

Orang inipun mengulangi wudhunya, lalu dia shalat. (HR. Muslim 243).

Dan para ulama sepakat, diantara syarat sah wudhu adalah menghilangkan segala yang menghalangi sampainya air di permukaan kulit. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 43/329).

An-Nawawi mengatakan,

فِي هَذَا الْحَدِيث : أَنَّ مَنْ تَرَكَ جُزْءًا يَسِيرًا مِمَّا يَجِب تَطْهِيره لَا تَصِحّ طَهَارَته وَهَذَا مُتَّفَق عَلَيْهِ،

“Dalam hadis ini terdapat kesimpulan bahwa orang yang meninggalkan sebagian anggota yang wajib dibasuh maka wudhunya tidak sah. Ini perkara yang disepakati.” (Syarh Muslim karya an-Nawawi, 3/132).

Cat yang Belum Hilang Ketika Shalat

Semua benda yang menempel, dan tidak bisa hilang dengan air, sehingga menghalagi air wudhu, harus dibersihkan sebelum wudhu.

An-Nawawi mengatakan,

إذا كان على بعض أعضائه شمع أو عجين أو حناء وأشباه ذلك فمنع وصول الماء إلى شيء من العضو لم تصح طهارته سواء أكثر ذلك أم قل

Apabila sebagian anggota wudhu tertutup cat atau lem, atau kutek atau semacamnya, sehingga bisa menghalangi air sampai ke permukaan kulit anggota wudhu, maka wudhunya batal, baik sedikit maupun banyak. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 1/467).

Untuk itu, bagi mereka yang terkena cat di anggota wudhunya, wajib dibesihkan sebelum wudhu, agar wudhu sah. Jika sudah melakukan beberapa kali shalat dengan wudhu semacam ini, dia harus mengulanginya, karena shalatnya batal.

Mengenai aturan qadha shalat, bisa anda pelajari di: Enam Catatan tentang Qadha Shalat

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Menjual Tanah Wakaf https://konsultasisyariah.com/28735-menjual-tanah-wakaf.html Wed, 07 Dec 2016 01:55:07 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28735 Hukum Menjual Tanah Wakaf

Bolehkah menjual tanah wakaf yang tidak memungkinkan dibangun masjid apalagi pesantren?  Mohon solusinya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Wakaf secara bahasa artinya menahan [الحبس]. Sementara secara istilah, wakaf didefinisikan dengan,

حبس الاصل وتسبيل الثمرة. أي حبس المال وصرف منافعه في سبيل الله

Upaya mempertahankan fisik harta dan menjadikan hasilnya fi sabilillah.

Artinya, menjaga keutuhan harta yang diwakafkan dan mengambil manfaatnya untuk di jalan Allah. (Fiqhus Sunah, Sayid Sabiq, 3/515)

Pada prinsipnya, wakaf tidak boleh dijual. Ada banyak hadis yang menjelaskan hal ini. diantaranya,

Pertama, hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

Bahwa Umar bin Khatab memiliki sebidang tanah di Khoibar. Beliaupun menawarkan tanah ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَصَبْتُ أَرْضًا لَمْ أُصِبْ مَالاً قَطُّ أَنْفَسَ مِنْهُ ، فَكَيْفَ تَأْمُرُنِى بِهِ

“Saya mendapat sebidang tanah, dimana tidak ada harta yang lebih berharga bagiku dari pada tanah itu. Apa yang anda sarankan untukku terhadap tanah itu?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi saran,

إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا ، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا

“Jika mau, kamu bisa mempertahankan tanahnya dan kamu bersedekah dengan hasilnya.”

Ibnu Umar mengatakan,

فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، فِى الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَلاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ

Kemudian Umar mensedekahkannya kepada fakir miskin, kerabat, budak, fi sabilillah, tamu, dan Ibnu Sabil, dengan ketentuan, tanah itu tidak boleh dijual, atau dihibahkan, atau diwariskan. Dan dibolehkan bagi pengurusnya untuk makan hasilnya sewajarnya, atau diberikan kepada temannya, serta tidak boleh dikomersialkan. (HR. Bukhari 2772).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi saran kepada Umar untuk wakaf. Beliau mengatakan,

تَصَدَّقْ بِأَصْلِهِ ، لاَ يُبَاعُ وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، وَلَكِنْ يُنْفَقُ ثَمَرُهُ

Sedekahkan tanah itu, namun tidak boleh dijual, dihibahkan, diwariskan. Akan tetapi dimanfaatkan hasilnya. (HR. Bukhari 2764)

Dan tidak dijumpai adanya perbedaan ulama bahwa barang wakaf tidak boleh dijual. Selain riwayat  dari Abu Hanifah, meskipun tidak disetujui murid-muridnya selain Zufar bin Hudzail. At-Thahawi menceritakan bahwa Abu Yusuf – murid Abu Hanifah – membolehkan menjual wakaf. Kemudian beliau mendengar hadis Umar di atas. Lalu beliau menyatakan,

هذا لا يسع أحدا خلافه ولو بلغ أبا حنيفة لقال به فرجع عن بيع الوقف حتى صار كأنه لا خلاف فيه بين أحد

“Tidak boleh ada seorangpun yang tidak mengikuti hadis ini. Andai Abu Hanifah mendengar hadis ini, niscaya beliau akan berpendapat sesuai hadis ini, sehingga menarik kembali pendapat bolehnya menjual wakaf. Jadilah seolah tidak ada perbedaan antar siapapun.” (Fathul Bari, 5/403)

Bagaimana jika barang itu tidak memungkinkan lagi untuk dimanfaatkan?

Bagian inilah yang menjadi perhatian besar ulama dalam masalah wakaf. Ketika harta wakaf, tidak mungkin lagi dimanfaatkan atau terlalu sulit untuk memanfaatkannya, apakah boleh diuangkan kemudian dialihkan untuk mendukung objek wakaf yang lain?

Misalnya ada wakaf tanah sempit di sebuah pelosok desa, yang sangat sulit untuk diambil manfaatnya. Untuk bisa diambil manfaatnya, terlalu besar biaya perawatannya, untuk dijadikan masjid atau pesantren, tidak memungkinkan karena terlalu sempit. Untuk dibuat mushola kecil, bisa sia-sia, karena masjid di dekatnya yang lebih besar ternyata juga sepi.

Ada penjelasan yang cukup rinci, disebutkan Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa, terdapat beberapa keadaan objek wakaf yang tidak bisa dimanfaatkan,

[1] Objek wakaf yang sama sekali tidak bisa diselamatkan.

Seperti wakaf binatang lalu binatang itu mati.

[2] Objek wakaf sudah rusak namun masih tersisa beberapa bagian yang memungkinkan untuk diuangkan. Seperti pohon yang tidak berbuah, atau masjid yang bangunannya sudah roboh. Benda semacam ini dijual untuk dibelikan objek yang semisal.

[3] Barang yang terancam rusak dan jika tidak  dijual akan hilang nilainya. Barang semacam ini boleh dijual untuk dimanfaatkan hasilnya. Misal, tikar masjid yang tidak dipakai, dan mulai rusak. Jika dibiarkan saja akan semakin rusak dan tidak ada nilai manfaat dan nilai jual-nya.

[4] Objek wakaf tidak berfungsi di masjid A, namun bisa berfungsi di masjid B. Maka objek wakaf ini dipindah agar bisa dimanfaatkan.

[5] Jika masjidnya tidak cukup menampung jamaahnya, atau tidak layak untuk dimanfaatkan, maka boleh dijual dan hasilya digunakan untuk membangun masjid yang lain.

(Majmu’ Fatawa, 31/226)

Karena tujuan besar dari wakaf adalah tasbil al-Manfaah, bagaimana menggunakan manfaat benda untuk di jalan Allah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Melangkahi Kakak dalam Menikah (Video) https://konsultasisyariah.com/28730-hukum-melangkahi-kakak-dalam-menikah-video.html Tue, 06 Dec 2016 02:06:39 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28730 Tidak Boleh Melangkahi Kakak dalam Menikah?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada banyak aturan di sekitar kita yang ditetapkan berdasarkan adat dan budaya. Sebenarnya ini tidak menjadi masalah, karena islam menghargai adat dan budaya, selama di sana tidak bertentangan dengan aturan Allah dan tidak ada nsur kedzaliman.

Ketika salah satu dari kriteria ini tidak terpenuhi, tentu saja adat dan budaya itu tidak boleh diperlakukan.

Salah satunya masalah melangkahi kakak dalam menikah. Bagi sebagian masyarakat, ini pantangan atau bahkan tindakan kedurhakaan. Seorang adik dianggap melanggar hak kakaknya, ketika dia mendahului menikah sebelum kakaknya.

Kita akan mengukur, bagaimana status aturan ini dan bagaimana islam mengaturnya.

Pertama, islam menganjurkan dan memotivasi kaum muslimin agar segera menikah.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR. Bukhari 5065 dan Muslim 1400).

Islam juga menganjurkan agar kaum muslimin saling bekerja sama untuk mewujudkan pernikahan. Ketika ada diantara mereka yang belum menikah, yang lain dianjurkan untuk membantunya agar bisa segera menikah. Allah berfirman,

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Nikahkahlah orang yang bujangan diantara kalian serta orang baik dari budak kalian yang laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui. (QS. An-Nur: 32).

Kedua, islam hanya menetapkan syarat, seorang muslim disyariatkan agar segera menikah ketika dia sudah mampu. Mampu secara finansial, sehingga bisa menanggung nafkah keluarganya, mampu dalam menyediakan kehidupan yang layak bagi keluarganya.

Tidak ada persyaratan bahwa kakak harus sudah menikah. Juga tidak pernah ada larangan untuk melangkahi sang kakak.

Sehingga, ketika sebagian masyarakat mensyaratkan, pernikahan adik harus dilakukan setelah kakak menikah, berarti mereka menetapkan syarat yang bukan syarat dan itu menghalangi terwujudnya pernikahan.

Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menetapkan syarat yang bertentangan dengan aturan Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَوْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ فَهُوَ بَاطِلٌ

Semua syarat yang tidak ada dalam kitabullah maka itu bathil, meskipun jumlahnya seratus syarat. (HR. Ahmad 26248, Ibn Majah 2617 dan yang lainnya)

Ketiga, menghalangi seseorang untuk melakukan sesuatu yang dianjurkan dalam syariat, tanpa alasan yang dibenarkan, termasuk tindakan kedzaliman.

Anda bisa membayangkan, ketika adik dilarang menikah selama kakak belum menikah. Sementara terkadang si kakak belum menemukan jodohnya. Lalu sampai kapan sang adik akan menikah? Sementara batas mencarikan jodoh bagi si kakak belum jelas waktunya.

Kita tidak boleh membela orang lain dengan cara mendzalimi orang lain. Membela kakak dengan cara mendzalimi adik, jelas tindakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan.

Kita bisa semakin jelas memahami ini, jika kita tetapkan pada kasus lain. Anda bisa perhatikan beberapa contoh berikut,

Adik tidak boleh lebih kaya dibandingkan kakak. Jika adik lebih kaya dari pada kakak, maka kekayaan adik harus diberikan ke kakak.

Adik tidak boleh lebih sukses dari pada kakak. Jika adik lebih sukses, adik harus menurunkan prestasinya agar kakak tidak kalah saing.

Kita sepakat, aturan semacam ini tida boleh diterapkan. Karena jelas sangat mendzalimi adik.

Dan sebenarnya jika kita pertimbangkan, tidak jauh berbeda dengan aturan,

Adik tidak boleh menikah sebelum kakak. Jika adik sudah punya calon, harus ditunda pernikahannya atau dibatalkan.

Keempat, barangkali ada yang beralasan,

Jika adik menikah mendahului kakak, ini akan menghambat kakak untuk mendapatkan jodohnya.

Namun alasan ini jelas sangat tidak bisa diterima. Jika tidak dikatakan bahwa ini adalah keyakinan kesyirikan. Karena meyakini adanya sebab yang itu bukan sebab.

Kita sepakat, rizki ada di tangan Allah, jodoh ada di tangan Allah. Dia yang mengatur dan memberikannya kepada manusia dengan cara yang bijak dan tepat.

Ketika adik lebih cepat kaya dari pada kakak, tentu bukan berarti adik menghalangi kakak untuk mendapatkan rizki.

Ketika adik lebih sukses dari pada kakak, bukan berarti pula akan menjadi penghalang bagi kakak untuk sukses.

Kita sangat sepakat dengan itu.

Demikian pula yang terjadi dalam masalah pernikahan. Pernikahan adik jelas bukan pernghambat jodoh bagi si kakak.

Yang lebih berbahaya lagi, ketika aturan semacam ini dikembangkan, bisa jadi akan memicu permusuhan antara adik dan kakak. Adik akan merasa, orang tuanya pilih kasih dan lebih berpihak kepada kakak.

Kelima, boleh saja sang adik memberika hadiah kepada si kakak. Barangkali bisa sebagai pelipur kesedihannya yang belum menemukan jodohnya. Dan semacam ini dianjurkan, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادَوْا فَإِنَّ الهَدِيَّةَ تُذْهِبُ وَحَرَ الصَّدْرِ

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, karena hadiah dapat menghilangkan kebencian yang ada dalam dada.”  (HR. Turmudzi 2130)

Demikian, Allahu a’lam.

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
]]>
Salam Shalat Jenazah Tidak Boleh 2 Kali? https://konsultasisyariah.com/28690-salam-shalat-jenazah-tidak-boleh-2-kali.html Sat, 03 Dec 2016 01:47:34 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28690 Salam Shalat Jenazah 2 Kali

Benarkah salam ketika shalat jenazah hanya sekali? Katannya gak boeh 2 kali?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mayoritas ulama mengatakan bahwa salam shalat jenazah itu sekali ke arah kanan. Ibnu Qudamah menyebutkan sejumlah nama sahabat yang menegaskan bahwa salam ketika shalat jenazah dilakukan sekali.

Ibnu Qudamah mengatakan,

التسليم على الجنازة تسليمة واحدة، عن ستة من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وليس فيه اختلاف إلا عن إبراهيم. وروي تسليمة واحدة عن علي، وابن عمر، وابن عباس، وجابر، وأبي هريرة، وأنس بن مالك، وابن أبي أوفى، وواثلة بن الأسقع.

Salam ketika shalat jenazah dilakukan sekali, menurut riwayat dari 6 sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada perbedaan dalam hal ini kecuali dari Ibrahim. Dan diriwayatkan salam sekali dari beberapa sahabat Ali, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Anas bin Malik, Ibnu Abi Aufa, dan Watsilah bin Asqa’,

Ibnu Qudamah juga menyebutkan komentar Ibnul Mubarok,

وقال ابن المبارك: من سلم على الجنازة تسليمتين فهو جاهل جاهل

Ibnul Mubarok mengatakan, siapa yang melakukan salam 2 kali ketika shalat jenazah, berarti dia orang bodoh…orang bodoh. (al-Mughni, 2/366).

Ibnu Qudamah menyebutkan pendapat kedua,

واختار القاضي أن المستحب تسليمتان، وتسليمة واحدة تجزئ. وبه قال الشافعي وأصحاب الرأي، قياسا على سائر الصلوات

Sementara al-Qadhi meyatakan bahwa yang dianjurkan adalah melakukan salam 2 kali. Meskipun salam sekali hukumnya sah. Ini merupakan pendapat as-Syafii, ulama kufah, dengan dasar qiyas pada shalat wajib lainnya. (al-Mughni, 2/366)

Diantara yang mendasari pendapat jumhur ulama adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ فَكَبَّرَ عَلَيْهَا أَرْبَعًا وَسَلَّمَ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat jenazah, beliau bertakbir 4 kali dan melakukan salam sekali. (HR. ad-Daruquthni 1839 dan dishahihkan al-Albani)

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa salam dalam shalat jenazah dilakukan 2 kali, berdasarkan hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,

ثلاث خلال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفعلهن تركهن الناس، إحداهن التسليم على الجنازة مثل التسليم في الصلاة

Ada 3 sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau rutinkan, tapi ditinggalkan masyarakat. salah satunya, salam ketika shalat jenazah sebagaimana salam ketika shalat wajib. (HR. Baihaqi dalam as-Sughra, 7239 dan dihasankan al-Albani).

Kesimpulannya, salam ketika shalat jenazah, bisa sekali ke kanan saja, bisa juga 2 kali, kanan-kiri. Karena dalil dalam masalah ini semuanya shahih.

Hanya saja dianjurkan dengan suara pelan.

Dari Abu Umamah bin Sahl, ada seorang sahabat menyampaikan riwayat kepada beliau,

أن السنة في الصلاة على الجنازة أن يكبر الإمام ، ثم يقرأ بفاتحة الكتاب بعد التكبيرة الأولى سرا في نفسه ، ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم ويخلص الدعاء للجنازة في التكبيرات ، ولا يقرأ في شيء منهن ثم يسلم سرا في نفسه

Sunah dalam shalat jenazah, imam bertakbir, lalu membaca al-Fatihah setelah takbir pertama dengan suara pelan, kemudian membaca shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan di takbir-takbir berikutnya membaca doa untuk jenazah. Dan tidak membaca surat sama sekali. Lalu salam dengan suara pelan. (HR. Baihaqi dalam as-Sughra, 868 dan dihasankan al-Albani)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Dilarang Tayamum di Kereta? https://konsultasisyariah.com/28684-dilarang-tayamum-di-kereta.html Wed, 30 Nov 2016 02:27:50 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28684 Tayamum di Kereta Api

Ada orang tayamum ketika d kereta. Ketika diingatkan utk wudhu, karena toilet kereta longgar, dia bilang, saya musafir. Ada kemudahan, dan boleh tayamum. Apakah ini benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, Hukum asal dalam bersuci adalah menggunakan air

Untuk membersihkan hadats kecil dengan cara wudhu. Sementara untuk hadats besar dengan mandi junub.

Sementara tayamum dengan tanah, statusnya sebagai badal (pengganti). Dan tidak boleh menggunakan badal, selama yang asal (air), masih memungkinkan untuk digunakan.

Terdapat kaidah menyatakan,

إذا تعذر الأصل يصار إلى البدل

Apabila yang asal tidak memungkinkan dilakukan maka digunakan penggantinya. (Talqih al-Afham, 1/15).

Kedua, Hukum tergantung illah-nya

Salah satu diantara kaidah dalam masalah fiqh,

الحكم يدور مع علته وجودا وعدما

Keberadaan dan ketiadaan hukum itu tergantung dari illah-nya. (Majmu’ah al-Fawaid al-Bahiyah, hlm. 112)

Yang dimaksud illah adalah kondisi yang menjadi latar belakang adanya hukum.

Misalnya, illah diharamkannya khamr adalah memabukkan. Sehingga semua bahan konsumsi yang memabukkan, hukumnya haram, baik itu zat gas, cair, maupun padat.

Dalam al-Quran, Allah menjelaskan alasan yang menyebabkan seseorang boleh tayamum.

Allah befirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.. (QS. al-Maidah: 6)

Dalam ayat di atas, Allah menyebutkan 3 cara bersuci:

[1] Wudhu

Inilah cara bersuci dari hadats kecil.

[2] Mandi junub

Ini cara bersuci dari hadats besar, bagi mereka yang junub.

Kedua cara bersuci di atas menggunakan air.

[3] Tayammum dengan tanah

Merupakan pengganti wudhu dan mandi.

Dalam ayat di atas, Allah menyebutkan syarat bolehnya tayammum;

[1] Bagi mereka yang sakit, sehingga tidak memungkinkan menggunakan air

[2] Bagi mereka yang tidak mendapatkan air setelah berusaha mencari.

Inilah latar belakang orang boleh melakukan tayammum. Yang itu semua sama sekali tidak ada hubungannya dengan safar. Sehingga orang boleh saja tayammum ketika tidak sedang safar, karena alasan sakit atau tidak memiliki air.

Ketiga, bagi musafir yang bisa mendapatkan air atau memungkinkan menggunakan air, dia tidak boleh tayammum. Karena tayammum adalah pengganti, sementara wudhu adalah asal. Dan tidak boleh melakukan pengganti, selama yang asal masih memungkinkan dilakukan.

Mereka yang berada di kereta, masih sangat memungkinkan untuk wudhu. Toilet di kereta airnya cukup memadai. Volume air yang dibutuhkan untuk wudhu, tidak lebih banyak dibandingkan volume itu yang dibutuhkan untuk menyiram kotoran setelah buang air.

Demikian. Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Dihajikan Orang Kafir, Apakah Sah? https://konsultasisyariah.com/28678-dihajikan-orang-kafir-apakah-sah.html Mon, 28 Nov 2016 03:07:44 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28678 Tidak Sah Dihajikan Orang Kafir?

Orang2 yg dihajikan oleh orang kafir apakah yang berangkat tetap dpt pahala haji?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang diwajibkan haji adalah mereka yang mampu untuk menuju ke Baitullah.

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah..” (QS. Ali Imran: 97)

Dalam ayat ini, Allah tidak menjelaskan mengenai cara mereka untuk berangkat haji. Artinya, selama cara yang ditempuh untuk menuju Baitullah adalah cara yang halal, maka itu tidak menjadi masalah baginya.

Ketika ada orang kafir atau perusahaan milik orang kafir menghajikan karyawannya yang muslim, pada hakekatnya ada 2 tahapan:

[1] Orang kafir memberi hadiah biaya haji kepada muslim

[2] Ibadah haji yang dilakukan oleh muslim dengan dana dari orang kafir

Dan dua hal ini berbeda. Kita akan melihat lebih dekat masing-masing.

Pertama, hukum menerima hadiah dari orang kafir

Islam tidak melarang kita untuk bersikap baik terhadap orang non muslim yang tidak mengganggu. Termasuk diantaranya menerima hadiah dari orang kafir. Allah berfirman,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanan: 8)

Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari membuat judul bab:

بَابُ قَبُولِ الهَدِيَّةِ مِنَ المُشْرِكِينَ

Bab: Bolehnya menerima hadiah dari orang musyrik (Al-Jami’ As-Shahih, 3/163).

Selanjutnya, Imam Bukhari menyebutkan beberapa riwayat tentang menerima hadiah dari orang kafir. Berikut diantaranya,

  1. Riwayat dari Abu Huamid,

قَالَ أَبُو حُمَيْدٍ: أَهْدَى مَلِكُ أَيْلَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَغْلَةً بَيْضَاءَ، وَكَسَاهُ بُرْدًا، وَكَتَبَ لَهُ بِبَحْرِهِمْ

Abu Humaid mengatakan, “Raja Ailah menghadiahkan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor bighal putih, beliau diberi selendang, dan kekuasaan daerah pesisir laut.

  1. Riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

إِنَّ أُكَيْدِرَ دُومَةَ أَهْدَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Bahwa Ukaidir Dumah (raja di daerah dekat tabuk) memberi hadiah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Keterangan dari Anas bin Malik,

أَنَّ يَهُودِيَّةً أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ، فَأَكَلَ مِنْهَا

Bahwa ada seorang perempuan yahudi yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa daging kambing yang diberi racun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakannya..

Semua riwayat di atas, yang disebutkan Imam bukhari dalam shahihnya, menunjukkan bolehnya menerima hadiah dari orang kafir.

Juga dinyatakan dalam hadis dari Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

غَزَوْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – تَبُوكَ ، وَأَهْدَى مَلِكُ أَيْلَةَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – بَغْلَةً بَيْضَاءَ ، وَكَسَاهُ بُرْدًا ، وَكَتَبَ لَهُ بِبَحْرِهِمْ

Kami mengikuti perang Tabuk bersama Nabi. Raja negeri Ailah memberi Nabi hadiah berupa baghal berwarna putih dan kain. Sang raja juga menulis surat untuk Nabi (HR. Bukhari 1481 dan Muslim 6087).

Akan tetapi jika hadiah ini bersyarat, hukumnya terlarang. Sehingga hadiah ini bersih dari kepentingan keagamaan mereka, seperti,

  1. untuk sogok, sehingga mereka berharap diganti hadiah semisal jika mereka memiliki kepentingan terkait agamanya.
  2. dalam rangka menciptakan loyalitas karena agama
  3. untuk mempengaruhi muslim agar meninggalkan sebagian aturan syariat dan mengikuti tradisi mereka

jika ada kepentingan di balik hadiah, maka hadiah ini tidak boleh diterima.

Dari Abdurrahman bin Kaab bin Malik, beliau bercerita,

جَاءَ مُلاعِبُ الْأَسِنَّةِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَدِيَّةٍ ، فَعَرَضَ عَلَيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الإِسْلامَ ، فَأَبَى أَنْ يُسْلِمَ ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِنِّي لا أَقْبَلُ هَدِيَّةَ مُشْرِكٍ

“Ada seorang yang bergelar ‘pemain berbagai senjata’ (yaitu ‘Amir bin Malik bin Ja’far) menghadap Rasulullah dengan membawa hadiah. Nabi lantas menawarkan Islam kepadanya. Orang tersebut menolak untuk masuk Islam. Rasulullah lantas bersabda, “Sungguh aku tidak menerima hadiah yang orang musyrik.” (HR. al-Baghawi dalam Syarus Sunah, 3/151).

Dari Irak bin Malik, bahwa Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

أَن مُحَمَّدٌ -صلى الله عليه وسلم- أَحَبَّ رَجُلٍ فِى النَّاسِ إِلَىَّ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا تَنَبَّأَ وَخَرَجَ إِلَى الْمَدِينَةِ شَهِدَ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ الْمَوْسِمَ وَهُوَ كَافِرٌ فَوَجَدَ حُلَّةً لِذِى يَزَنَ تُبَاعُ فَاشْتَرَاهَا بِخَمْسِينَ دِينَاراً لِيُهْدِيَهَا لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Sungguh Muhammad adalah manusia yang paling aku cintai di masa jahiliyyah”. Setelah Muhammad mengaku sebagai seorang nabi yang pergi ke Madinah, Hakim bin Hizam berjumpa dengan musim haji dalam kondisi masih kafir. Saat itu Hakim mendapatkan satu stel pakaian yang dijual. Hakim lantas membelinya dengan harga 50 dinar untuk dihadiahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

فَقَدِمَ بِهَا عَلَيْهِ الْمَدِينَةَ فَأَرَادَهُ عَلَى قَبْضِهَا هَدِيَّةً فَأَبَى. قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ « إِنَّا لاَ نَقْبَلُ شَيْئاً مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَلَكِنْ إِنْ شِئْتَ أَخَذْنَاهَا بِالثَّمَنِ ». فَأَعْطَيْتُهُ حِينَ أَبِى عَلَىَّ الْهَدِيَّةَ.

Akhirnya Hakim tiba di Madinah dengan membawa satu stel pakaian tersebut. Hakim menyerahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hadiah namun beliau menolaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Sungguh kami tidak menerima sedikit pun dari orang kafir. Akan tetapi jika engkau mau pakaian tersebut akan kubeli”. Karena beliau menolak untuk menerimanya sebagai hadiah aku pun lantas memberikannya sebagai objek jual beli. (HR Ahmad 15323 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ada sejumlah pendapat menghadapi dua jenis hadits ini. Ibnu Abdil Barr menjelaskan bahwa maksud Nabi menerima hadiah dari non muslim adalah dalam rangka mengambil simpati hatinya agar tidak lari dari Islam (al-Munakhkhalah an-Nuniyyah, Murod Syukri hlm. 202-203).

Kedua, Ibadah haji yang dilakukan oleh muslim dengan dana dari orang kafir

Selama cara dan sarana yang didapatkan seorang muslim untuk berangkat haji adalah mubah, maka hajinya sah. Karena bukan syarat dalam pelaksanaan ibadah haji, dananya harus dari dana pribadi muslim.

Boleh juga dari sumber yang lain selama halal.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Laser Wajah Penghilang Jerawat https://konsultasisyariah.com/28657-hukum-laser-wajah-penghilang-jerawat.html Fri, 25 Nov 2016 02:00:07 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28657 Laser Wajah Penghilang Jerawat

Apa hukumnya melakukan laser wajah dengan tujuan untuk membersihkan wajah dari jerawat dan bekasnya(bopeng) agar wajah saya kembali menjadi halus dan bersih dari segala jerawat serta kotoran

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dr. Soleh bin Muhammad al-Fauzan menjelaskan bahwa dilihat dari latar belakangnya, tindakan medis maupun operasi yang mengubah kondisi tubuh, ada 2 hukum,

Pertama, tindakan medis untuk menghilangkan cacat tubuh karena kecelakaan, atau bawaan lahir yang bentuknya sangat tidak normal, misalnya kelebihan jari, muncul 3 mata, atau lubang hidung hanya satu, atau semacamnya. Termasuk yang beliau sebutkan adalah rupa penuh jerawat atau penuh luka yang tidak pada umumnya.

Memberikan tindakan medis untuk cacat semacam ini, meskipun dengan operasi plastik, hukumnya dibolehkan.

Dalilnya adalah hadis dari Urfujah bin As’ad radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُ أُصِيبَ أَنْفُهُ يَوْمَ الْكُلَابِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَاتَّخَذَ أَنْفًا مِنْ وَرِقٍ فَأَنْتَنَ عَلَيْهِ  فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَّخِذَ أَنْفًا مِنْ ذَهَبٍ

Bahwa hidung beliau terkena senjata pada peristiwa perang al-Kulab di zaman Jahiliyah. Kemudian beliau tambal dengan perak, namun hidungnya malah membusuk. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menggunakan tambal hidung dari emas. (HR. An-Nasai 5161, Abu Daud 4232, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Kedua, tindakan medis yang dilakukan untuk menutupi efek penuaan atau semakin mempercantik diri atau meniru kebiasaan orang kafir. Sehingga pada asalnya tidak ada yang bermasalah dengan fisiknya, hanya saja dia kurang PD atau ingin meningkatkan nilai wajahnya.

Tindakan medis semacam ini diqiyaskan dengan kasus merenggangkan gigi, menyambung rambut, memakai tato, yang disebut sebagai mengubah ciptaan Allah.

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan,

لَعَنَ اللَّهُ الوَاشِمَاتِ وَالمُوتَشِمَاتِ، وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ، لِلْحُسْنِ المُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

“Semoga Allah melaknat orang yang mentato, yang minta ditato, yang mencabut alis, yang minta dikerok alis, yang merenggangkan gigi, untuk memperindah penampilan, yang mengubah ciptaan Allah. (HR. Bukhari 4886)

Kaidah yang berlaku dalam masalah ini,

ما كان للتجميل فحرام وما كان لإزالة العيب فحلال

“Mengubah tubuh untuk kecantikan, hukumnya haram, sedangkan mengubah tubuh karena menghilangkan aib, hukumnya halal.”

Dalam riwayat lain, dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

نهى عن النامصة والواشرة والواصلة والواشمة إلا من داء

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang mencukur alis, mengkikir gigi, menyambung rambut, dan mentato, kecuali karena penyakit.” (HR. Ahmad 3945 dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnaut).

As-Syaukani mengatakan,

قوله (إلا من داء) ظاهره أن التحريم المذكور إنما هو فيما إذا كان لقصد التحسين لا لداء وعلة، فإنه ليس بمحرم

“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘kecuali karena penyakit’ menunjukkan bahwa keharaman yang disebutkan, jika tindakan tersebut dilakukan untuk tujuan memperindah penampilan, bukan untuk menghilangkan penyakit atau cacat, karena semacam ini tidak haram.” (Nailul Authar, 6/244).

Dalam keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islami tahun 2007, mengenai tindakan medis untuk memperbaiki penampilan, dinyatakan,

لا يجوز إزالة التجاعيد بالجراحة أو الحقن ما لم تكن حالة مرضية شريطة أمن الضرر

Tidak boleh menghilangkan kerutan di wajah dengan operasi atau suntikan, selama bukan karena alasan sakit (tidak normal). Dengan syarat, aman dari bahaya. (Qarar Majma’ al-Fiqh al-Islami, 2007/III/4)

Berdasarkan keterangan di atas, jika kondisi jerawat yang ada di wajah sudah melampaui batas normal, sehingga sangat tidak nyaman dipandang, insyaaAllah tidak jadi masalah anda melakukan laser wajah. Karena tujuan besar dalam hal ini adalah mengobati, mengembalikan menjadi normal dan bukan untuk mengubah ciptaan Allah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Adakah Shalat Sunah Qabliyah Maghrib? https://konsultasisyariah.com/28650-adakah-shalat-sunah-qabliyah-maghrib.html Thu, 24 Nov 2016 01:31:38 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28650 Shalat Sunah Qabliyah Maghrib

Adakah shalat qabliyah maghrib? Ada sebagian masjid ketika maghrib, adzan langsung iqamah. Alasannya, krn tidak ada qabliyah maghrib. Apa benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ulama berbeda pendapat apakah ada anjuran shalat qabiyah maghrib ataukah tidak dianjurkan. Ada 3 pendapat dalam masalah ini,

Pendapat pertama, dianjurkan melakukan shalat qabliyah maghrib

Ini merupakan pendapat Syafiiyah dan Ibnu Hazm ad-Dzahiri

Mereka berdalil dengan beberapa hadis berikut,

[1] hadis dari Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلُّوا قَبْلَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ . – قَالَ فِي الثَّالِثَةِ -: لِمَنْ شَاءَ ، كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً

“Shalatlah sebelum shalat Maghrib” 3 kali dan pada yang ketiga, beliau mengatakan, “Bagi yang mau.”

Karena beliau tidak suka kalau umatnya menjadikan itu sebagai suatu kebiasaan. (HR. Bukhari 1183)

[2] hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan kebiasaan para sahabat ketika sudah masuk waktu maghrib,

كُنَّا بِالْمَدِينَةِ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ لِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ ابْتَدَرُوا السَّوَارِيَ، فَيَرْكَعُونَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ الْغَرِيبَ لَيَدْخُلُ الْمَسْجِدَ فَيَحْسِبُ أَنَّ الصَّلاَةَ قَدْ صُلِّيَتْ، مِنْ كَثْرَةِ مَنْ يُصَلِّيهِمَا

“Kami dulu di Madinah, saat muadzin beradzan untuk shalat Maghrib, mereka (para sahabat senior) saling berlomba mencari tiang-tiang, lalu mereka shalat 2 rakaat. Sehingga ada orang asing yang masuk masjid untuk shalat, dia mengira bahwa shalat maghrib telah dilaksanakan karena saking banyaknya yang melaksanakan shalat sunnah sebelum Maghrib.” (HR. Muslim 837).

Dalam riwayat lain, Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

لَقَدْ رَأَيْتُ كِبَارَ أَصْحَابِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم يَبْتَدِرُونَ السَّوَارِي عِنْدَ الْمَغْرِبِ

“Sungguh aku melihat para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senior saling berlomba mengejar tiang-tiang (untuk dijadikan tempat shalat) ketika masuk waktu maghrib.” (HR. Bukhari 503).

[3] keterangan seorang Tabi’in, Zir bin Hubaisy,

كان عبد الرحمن بن عوف ، وأبي بن كعب يصليان الركعتين قبل المغرب

Abdurrahman bin Auf dan Ubay bin Ka’ab melaksanakan shalat 2 rakaat sebelum maghrib. (HR. Abdurrazaq, 2/433).

Para sahabat berebut mencari tiang tujuannya adalah mencari sutrah (pembatas shalat).

Pendapat Kedua, tidak ada anjuran shalat qabliyah maghrib

Menurut Hanafiyah, qabliyah maghrib tidak dianjurkan. Yang dianjurkan, tidak melaksanakan shalat. Sementara menurut Malikiyah, qabliyah maghrib hukumnya makruh.

Diantara dalil pendapat ini adalah

[1] Riwayat dari Thawus, bahwa Ibnu Umar pernah ditanya tentang shalat sunah qabliyah maghrib. Jawaban Ibnu Umar,

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيهِمَا ، وَرَخَّصَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ

Aku tidak melihat seorangpun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melaksanakan shalat qabliyah maghrib. Dan Ibnu Umar memberikan rukhshah untak 2 rakaat sesudah asar. (HR. Abu  Daud 1284)

[2] Dari Ibrahim an-Nakha’i – ulama tabi’in, beliau mengatakan,

لم يصل أبو بكر ، ولا عمر ، ولا عثمان ، الركعتين قبل المغرب

“Abu Bakr, Umar dan Utsman tidak melaksanakan shalat 2 rakaat sebelum maghrib.” (HR. Abdurrazaq 2/434)

Pendapat Ketiga, shalat qabliyah maghrib hukumnya boleh (mubah) dan tidak makruh, meskipun tidak dijadikan sunah.

Ini merupakan pendapat madzhab Hambali. Mereka berdalil dengan pernyataan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

كُنَّا نُصَلِّي عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ ، فَقُلْتُ لَهُ : أَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّاهُمَا ؟ قَالَ : كَانَ يَرَانَا نُصَلِّيهِمَا فَلَمْ يَأْمُرْنَا ، وَلَمْ يَنْهَنَا

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami shalat 2 rakaat setelah adzan maghrib, sebelum shalat maghrib. Mukhtar bertanya kepada Anas, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengerjakannya?” kata Anas, “Beliau melihat kami mengerjakan shaat itu, dan beliau tidak memerintahkan kami, juga tidak melarang kami.” (HR. Muslim 836)

Pendapat yang Benar

Pendapat yang benar, shalat sunah qabliyah subuh hukumnya dianjurkan. Hanya saja, statusnya tidak sebagaimana rawatib lainnya. shalat qabliyah maghrib sunah biasa.

Ibnul Qayyim mengatakan,

“Di dalam Shahihain terdapat hadits dari Abdullah Al-Muzani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengatakan, ‘Shalatlah sebelum Maghrib! Shalatlah sebelum Maghrib!’ dan beliau katakan di ketiga kalinya, ‘Bagi yang mau’ karena tidak ingin dijadikan kebiasaan oleh umatnya. Inilah yang benar, yakni bahwasannya shalat ini hanya shalat sunnah biasa, bukan termasuk shalat sunnah rawatib seperti shalat sunnah rawatib yang lain.” (Zadul Ma’ad, 1/312).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>