FIKIH – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 26 Aug 2016 09:13:39 +0000 en-US hourly 1 Mampu Qurban Tapi Tidak Berqurban Berdosa? https://konsultasisyariah.com/28263-mampu-qurban-tapi-tidak-berqurban-berdosa.html Fri, 26 Aug 2016 01:55:27 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28263 Kaya, Tidak Berqurban Berdosa?

Assalamualaikum….
Bertanya Ustadz….orang yang mampu qurban tetapi tidak mau qurban, ..apa hukumnya?…

Dari : Atiek Hartono.

Jawaban :

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah. Wassholatu was salam ‘ala Rasulillah wa ba’d.

Hukum berqurban adalah sunah muakkadah menurut pendapat yang kuat (rajih). Inilah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama (jumhur). Sehingga orang yang meninggalkannya tidak berdosa. Hanya saja, para ulama mewanti-wanti kepada mereka yang mampu kemudian tidak berqurban, bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang sangat makruh.

Sebagian ulama berpandangan wajib untuk yang berkemampuan. Mereka berdalil dengan hadis,

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

Barangsiapa yang memiliki kemampuan namun tidak berqurban, makan jangan sekali-kali mendekat ke tempat sholat kami. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Pendapat ini dipegang oleh mazhab Hanafi.

Namun pendapat kedua ini dipandang lemah karena :

[1] hadis di atas dinilai lemah (dha’if) oleh para ulama hadis. Karena diantara perawinya terdapat Abdullah bin ‘Ayyas, yang dinilai sebagai perawi yang lemah.

Sebagaimana keterangan dari Syaikh Syu’aib al Arnauth rahimahullah, “Sanad hadis ini lemah. Abdullah bin ‘Ayyas (salah seorang rawinya) dinilai lemah. Dia juga mengalami kekacauan dalam periwayatan hadis ini. Keterangan selanjutnya akan dipaparkan di pembahasan takhrij.” Kemudian beliau melanjutkan, “Syaikh Albani menilai hadis ini hasan dalam Takhrij Musykilah al Faqr. Namun beliau keliru dalam penilaian tersebut.”

(Ta’liq Musnad Imam Ahmad 2/321).

[2] terdapat riwayat shahih, bahwa Abu Bakr, Umar, Ibnu Abbas, dan beberapa sahabat lainnya tidak berqurban. Karena mereka khawatir kalau berqurban dianggap suatu yang wajib.

Imam Thahawi menyatakan,

وروى الشعبي عن أبي سريحة قال رأيت أبا بكر وعمر ـ رضي الله عنهما ـ وما يضحيان كراهة أن يقتدى بهما.

Asy-Sya’bi meriwayatkan dari Suraihah, beliau berkata, “Saya melihat Abu Bakr dan Umar -semoga Allah meridhoi keduanya- tidak berqurban. Karena tidak ingin orang mengikutinya (pent. menganggapnya wajib).” (Mukhtashor Ikhtilaf al-Ulama 3/221).

Abu Mas’ud al Anshori pernah mengatakan

إني لأدع الأضحى وأنا موسر مخافة أن يرى جيراني أنه حتم علي.

Sungguh saya pernah tidak berqurban padahal kondisi saya mampu. Karena saya khawatir tetanggaku akan berpandangan bahwa berqurban itu kewajiban. (Ahkam al Quran, al Jasshos, 5/85).

Ibnu Umar menegaskan,

ليست بحتم ـ ولكن سنة ومعروف

Berqurban bukan sebuah kewajiban. Namun hanya sunah yang ma’ruf.” (Ahkam al Quran, al Jasshos, 5/85).

Oleh karenanya yang lebih tepat, hukum berqurban adalah sunah mu-akkadah. Sementara makna sunah dari sudut pandang fikih adalah, perbuatan yang bila dikerjakan berpahala, bila ditinggalkan tidak berdosa. Sehingga meninggalkannya tidak berdosa meskipun kondisinya mampu. Hanya saja hukumnya sangat makruh.

Wallahua’lam bis showab.

Dijawab oleh ustadz Ahmad Anshori (Pengasuh PP. Hamalatul Quran, Mahasiswa Universitas Islam Madinah)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Membuat Kopi dengan Air Zam-Zam? https://konsultasisyariah.com/28260-membuat-kopi-dengan-air-zam-zam.html Thu, 25 Aug 2016 02:43:14 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28260 Bikin Kopi dengan Air Zam-Zam

Maaf tadz, bolehkah ndak memanaskan air zam-zam, misalnya untuk dibuat kopi. Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak memuji zam-zam, dan beliau menyebutnya sebagai makanan. Dalam hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

“Air ini berkah, air ini adalah makanan yang mengenyangkan.” (HR. Muslim 6513, Ibnu Hibban 7133 dan yang lainnya).

Karena itu, yang dilarang adalah menggunakan zam-zam untuk kegiatan yang bentuknya menghinakan zam-zam. Seperti untuk bersuci setelah buang air besar maupun kecil.

Al-Buhuti mengatakan,

وكذا يكره استعمال ماء زمزم في إزالة النجس فقط؛ تشريفا له ولا يكره استعماله في طهارة الحدث

Demikian pula, tidak boleh menggunakan zam-zam untuk membersihkan najis saja. Dalam rangka memuliakan zam-zam, dan tidak masalah jika digunakan untuk bersuci dari hadats (wudhu). (Kasyaf al-Qana’, 1/28).

Adapun menggunakan zam-zam untuk dimasak, atau dibuat kopi, atau teh atau minuman hangat lainnya, hukumnya dibolehkan.

Dalam Fatwa yang disampaikan oleh Syaikh Dr. Soleh al-Fauzan, beliau ditanya tentang hukum menggunakan air zam-zam untuk dimasak. Rekaman Fatwa ini bisa anda saksikan di link video:

Pertanyaan

هل يجوز استعمال ماء زمزم للطبخ والاغتسال؟

Bolehkah menggunakan air zam-zam untuk dimasak dan dipakai mandi?

Jawab beliau,

لا بأس بذلك ولا مانع من ذلك لأنه ماء مبارك وماء مباح فلا مانع من أن يطبخ منه وأيضا أنه يزال فيه الحدث ويتوضأ به لأنه طهور والحمد لله

Tidak masalah, tidak menngapa hal itu. Karena zam-zam adalah air yang berkah, air mubah. Sehingga tidak masalah dimasak. Juga bisa digunakan untuk menghilangkan hadats dan digunakan untuk berwudhu. Karena air ini mensucikan, wal hamdulillah…

Demikian pula yang disebutkan dalam fatwa Syabakah Islamiyah,

فيجوز غلي ماء زمزم واستعماله في الطبخ ونحو ذلك من أنواع الاستخدام، وإنما الذي لا ينبغي هو امتهانه واستعماله فيما استقذر كإزالة النجاسة ونحو ذلك، وأما شربه والطبخ به فلا حرج فيه فهو طعام وشفاء سقم

Boleh mendidihkan air zam-zam dan digunakan untuk masak atau penggunaan lainnya. Yang tidak boleh adalah menghinakan zam-zam dan menggunakannya posisi kotor, seperti menghilangkan najis atau semacamnya. Sedangkan untuk diminum atau dimasak, tidak masalah. Karena zam-zam itu makanan dan obat untuk menghilangkan penyakit. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 67118)

Demikian, semoga bermanfaat..

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Budaya Titip Salam untuk Nabi Ketika Haji dan Umrah https://konsultasisyariah.com/28256-budaya-titip-salam-untuk-nabi-ketika-haji-dan-umrah.html Wed, 24 Aug 2016 01:53:57 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28256 Titip Salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Saya pernah dengar bahwa titip salam itu salah satu yang disunnahkan dalam Islam, namun apakah bisa dibenarkan budaya titip salam untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada jamaah haji/umroh? Syukron atas jawaban.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, para sahabat banyak yang keluar dari Madinah untuk mengajarkan islam. Ada yang tinggal di Kufah, di Syam, di Yaman, dst. dan kita tidak menjumpai adanya riwayat bahwa para murid Nabi (sahabat) yang berada di jauh itu, menitipkan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang mau datang ke Madinah.

Dan sebenar, nitip salam semacam ini tidak perlu. Karena dimanapun kaum muslimin berada, dia bisa menyampaikan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salam itu pasti akan sampai kepada beliau dengan yakin.

Dari mana bisa dikatakan dengan yakin sampai ke beliau?

Tentu dengan dalil.

Ada hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِينَ فِى الأَرْضِ يُبَلِّغُونِى مِنْ أُمَّتِى السَّلاَمَ

Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di muka bumi, mereka menyampaikan salam untukku dari seluruh umatku. (HR. Nasai 1290, dan dishahihkan al-Albani).

Beliau juga mengabarkan bahwa beliau akan menjawab salam dari umatnya yang disampaikan kepada beliau,

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَىَّ إِلاَّ رَدَّ اللَّهُ عَلَىَّ رُوحِى حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

Setiap muslim yang menyampaikan salam kepadaku, maka Allah akan mengembalikan ruhku, hingga aku bisa menjawab salamnya. (HR. Abu Daud 2043 dan dihasankan al-Albani).

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyuruh kita untuk menyampaikan shalawat kepada beliau di manapun kita berada.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ

Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Dan kalian jadikan kuburanku sebagai tempat ibadah tahunan. Berikanlah shalawat untukku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada. (HR. Abu Daud 2044 dan dishahihkan al-Albani)

Ketika shalat, kaum muslimin menyampaikan shalawat dan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

Salam untukmu wahai Nabi, berikut rahmat Allah dan keberkahan dari-Nya. Salam untuk kami dan semua hamba-hamba Allah yang soleh. (HR. Bukhari 835 dan yang lainnya).

Kalimat ini kita baca saat tasyahud di manapun kita shalat. Sehingga tidak perlu titip salam.

Syaikh Abdurrahman bin Natsir al-Barrak mengatakan,

إرسال السلام على النبي صلى الله عليه وسلم مع مَن يسافر إلى المدينة : لا أصل له ، فلم يكن من عادة السلف الصالح من الصحابة رضي الله عنهم ، والتابعين ، وأهل العلم إرسال السلام ، ولم ينقل عن أحد منهم شيء من ذلك ؛ لأنه صلى الله عليه وسلم يُبلَّغُ صلاة أمته وسلامها عليه

Menitipkan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang sedang safar ke Madinah, tidak memiliki landasan dalil sama sekali. Bukan bagian dari kebiasaan orang soleh masa silam, dari dari sahabat radhiyallahu ‘anhum, Tabi’in maupun para ulama. Karena salam dan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan disampaikan kepada beliau. (Fatwa Islam, no. 69807)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Shalat Arba’in di Masjid Nabawi https://konsultasisyariah.com/28253-hukum-shalat-arbain-di-masjid-nabawi.html Tue, 23 Aug 2016 02:18:55 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28253 Shalat Arba’in di Masjid Nabawi

Jika ada orang tidak bs shalat arba’in ketika berangkat haji, lalu bagaimana dg status safarnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Yang dimaksud shalat arba’in adalah shalat wajib sebanyak 40 kali di masjid nabawi. Kata Arba’in [أربعين] artinya 40.

Hadis tentang shalat arba’in teks sebagai berikut,

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً، لاَ يَفُوتُهُ صَلاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

“Barang siapa shalat di masjidku empatpuluh shalat tanpa ada yang ketinggalan, maka dia dicatat bebas dari neraka, keselamatan dari siksaan dan bebas dari kemunafikan.”

Status Hadis

Hadis ini diriwayatkan dari jalur Abdurrahman bin Abi ar-Rijal, dari Nabith bin Umar, dari Anas bin Malik secara marfu’. Dalam  as-Silsilah adh-Dhaifah, untuk keterangan hadis no. 364 dinyatakan bahwa hadits ini dhaif (lemah),

وهذا سند ضعيف، نبيط هذا لا يعرف في هذا الحديث

Hadis ini sanadnya dhaif. Nabith ini tidak dikenal dalam hadis tersebut.

Sementara itu, dalam kitab Dhaif at-Targhib wa at-Tarhib, untuk keterangan hadis no. 755, penulis menyatakan bahwa  hadis ini munkar.

Karena itulah, para ulama menegaskan, tidak ada anjuran untuk tinggal di Madinah selama 8 hari agar bisa melakukan shalat wajib sebanyak 40 kali di masjid nabawi. Dan kita bisa lihat dalam sejarah ashabus suffah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganjurkan mereka untuk tinggal selama 8 hari di Madinah.

Sehingga mereka ada yang hanya tinggal selama 3 hari, atau 4 hari atau jumlah hari sesuai kebutuhan mereka.

Imam Ibnu Baz mengatakan,

“Yang banyak beredar di tengah masyarakat bahwa bagi orang yang berkunjung di Madinah, dianjurkan menetap di sana selama 8 hari agar dapat melakukan shalat arbain (40 waktu). Meskipun ada sejumlah hadits yang diriwayatkan, bahwa siapa yang shalat empat puluh waktu, akan dicatat baginya kebebasan dari neraka dan kebebasan dari nifaq, hanya saja haditsnya dhaif menurut para ulama peneliti hadits. Tidak dapat dijadikan dalil dan landasan. Berziarah ke Masjid Nabawi tidak ada batasannya. Bisa berziarah satu jam atau dua jam, sehari atau dua hari atau lebih dari itu, semua tidak masalah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 17/406).

Lalu apa keutamaan shalat di masjid nabawi?

Keuntamaannya seperti yang disebutkan dalam hadis berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari pada 1000 shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Harom.” (HR. Bukhari 1190 dan Muslim 1394)

Orang yang shalat wajib 40 kali di masjid nabawi, nilainya lebih besar dibandingkan shalat 40.000 kali di selain masjid nabawi, kecuali Masjidil Haram.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Sengketa Utang [Ada Kuis Berhadiah] https://konsultasisyariah.com/28250-sengketa-utang.html Mon, 22 Aug 2016 01:46:59 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28250 Sengketa Utang (Baca Sampai Selesai, Ada Kuis Berhadiah Menarik]

Bagaimana cara menyelesaikan sengketa utang. Si A mengaku bahwa si B punya punya utang ke dia. Tapi si B mengaku, tidak pernah utang ke A. Sementara keduanya tidak memiliki bukti.

Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ketika terjadi perselisihan antara orang yang memberi utang (kreditur) dengan penerima utang (debitur) mengenai nilai utang maka yang dimenangkan adalah mereka yang memiliki bukti dan ada saksi.

Yang menjadi masalah adalah ketika keduanya tidak memiliki bukti maupun saksi.

Sebelumnya, kita akan mempelajari cara yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyelesaikan sengketa.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِى وَالْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ

“Bukti itu menjadi tanggung jawab mudda’i dan sumpah menjadi pembela bagi mudda’a alaih.” (HR. Turmudzi 1391, Daruquthni 4358 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam sebuah sengketa, di sana ada 2 pihak,

[1] Pihak yang menuntut. Dialah yang mengajukan klaim. Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya denganmudda’i.

[2] Pihak yang dituntut. Dia yang diminta untuk memenuhi klaim. Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan mudda’a alaih.

Kewajiban dan tanggung jawab masing-masing berbeda,

[1] Untuk pihak penuntut (mudda’i), dia diminta mendatangkan bukti atau saksi.

[2] Untuk pihak yang dituntut (mudda’a alaih), ada 2 kemungkinan posisi;

(1) Jika  mudda’i bisa mendatangkan bukti yang bisa diterima, maka dia bertanggung jawab memenuhi tuntutannya.

(2) Sebaliknya, Jika mudda’i tidak bisa mendatangkan bukti yang dapat diterima, maka mudda’a alaih diminta untuk bersumpah dalam rangka membebaskan dirinya dari tuntutan. Jika dia bersumpah maka dia bebas tuntutan.

Selanjutnya, bagaimana cara menentukan mudda’i dan mudda’a alaih? Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada 2 kriteria yang terkenal, yang disampaikan al-Hafidz Ibnu Hajar,

واختلف الفقهاء في تعريف المدعي والمدعى عليه، والمشهور فيه تعريفان: الأول: المدعي من يخالف قوله الظاهر والمدعى عليه بخلافه، والثاني: من إذا سكت ترك وسكوته، والمدعى عليه من لا يخلى إذا سكت، والأول أشهر، والثاني أسلم…

Ulama berbeda pendapat mengenai batasan mudda’I dan mudda’a alaih. Yang masyhur, ada 2 pengertian,

[1] Mudda’i adalah orang yang keadaannya tidak sejalan dengan kondisi normal (yang dzahir). Sementara mudda’a alaih adalah kebalikannya.

[2] Mudda’i adalah orang yang ketika meninggalkan kasus dia dibebaskan. Sementara mudda’a ‘alaih adalah orang yang  ketika diam meninggalkan kasus, tidak dibiarkan.

Kata Ibnu Hajar, “Yang pertama itu yang masyhur, sementara yang kedua yang lebih selamat…” (Fathul Bari, 5/283)

Kita terapkan dalam kasus sengketa utang,

Paijo mendatangi Paimen dan menuntut agar dibayarkan utangnya senilai 1 juta. Sementara Paimen merasa tidak ada utang 1 jt ke Paijo. Akhirnya mereka berselisih. Bagaimana cara penyelesaiannya?

Kita akan merunut sebagai berikut:

[1] Hukum asal manusia adalah tidak memiliki utang. Sehingga bebas utang adalah status normal manusia. ketika ada orang mengatakan, si A itu punya utang, berarti ini tidak sejalan kondisi normal.

[2] Ketika si X mengklaim bahwa si A memiliki utang kepadanya maka siapa yang ketika meninggalkan kasus dia bisa dilepaskan?

Jawabannya adalah si X. jika si X diam dan meninggalkan kasus sebelum diputuskan, orang tidak akan menuntutnya. Berbeda dengan si A. ketika si A meninggalkan kasus sebelum diputuskan, maka si X akan tetap menuntut, sehingga si A tidak bisa lepas.

Dari sini, kita bisa mengambil kesimpulan untuk kasus Paijo dan Paimen, siapa yang harus mendatangkan bukti dan siapa yang cukup mengingkari dengan sumpah. Penyelesaian sengketa,

[1] Kepada Paijo diminta untuk mendatangkan bukti bahwa Paimen pernah utang 1 juta kepadanya. Jika Paijo punya bukti yang bisa diterima, maka Paimen wajib bayar utang. Dalam hal ini, kasus dimenangkan Paijo.

[2] Jika Paijo tidak punya bukti maupun saksi, maka Paimen diminta bersumpah bahwa dirinya tidak pernah berutang ke Paijo. Jika Paimen bersumpah, maka dia tidak berkewajiban membayar utang 1 jt itu, dan dalam kasus in Paimen dimenangkan.

Kuis Berhadiah Menarik:

Kasus pertama,

Maridjan pernah utang 1 jt ke Ngatijan. Setelah selang beberapa tahun, Ngatijan nagih utang ke Maridjan, tapi dia merasa bahwa utang telah dilunasi. Sehingga Maridjan tidak mau bayar utang. Akhirnya mereka berselisih. Bagaimana cara menyelesaikannya?

Kasus kedua,

Tedi pernah utang ke Adi senilai 1 jt. Dan sudah pernah dicicil sekian ratus ribu. Selanjutnya terjadilah kelupan… selang setahun, Tedi membayar Rp 300 rb dan dia anggap sudah lunas. Tapi Adi menganggap cicilan masih kurang 200 rb. Sementara keduanya tidak memiliki bukti. Siapa yang harus dimenangkan?

Kasus ketiga,

Ngatiyem utang cicin bermata sekian gram ke Yanti. Selang beberapa tahun, Ngatiyem mengembalikan cincin itu, namun Yanti menolak. Alasannya, beratnya beda dan jumlah matanya beda. Sementara menurut Ngatiyem, itu sudah sama dengan yang dia bawa. Terjadilah sengketa, mana yang harus dimenangkan?

Ketiga kasus di atas kami sebagai kuis untuk para pembaca konsultasisyariah.com

Jawaban bisa dikirim via email ke alamat: kuis.konsultasisyariah@gmail.com

Dengan subjek email: Kuis Sengketa Utang

Jawaban terakhir kami terima selambat-lambatnya tanggal 2 September 2016.

Bagi pembaca yang mengirimkan 5 jawaban terbaik akan mendapatkan bingkisan dari yufid store berupa,

[1] Flashdisk video yufid TV

[2] Kaos yufid store

[3] Buku Pengantar Fiqh Jual Beli

* Total nilai sekitar Rp 400 rb

Demikian, semoga bermanfaat…

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

    • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
    • DONASI hubungi: 087 882 888 727
    • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

 

]]>
Hukum Pamer Kemesraan di Medsos https://konsultasisyariah.com/28247-hukum-pamer-kemesraan-di-medsos.html Fri, 19 Aug 2016 01:47:52 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28247 Pamer Kemesraan di Medsos

saya mau bertanya mengenai hukum islam tentang suami istri bermesraan didepan umum, awal mulanya saya mengomentari suatu foto di Facebook yang memposting seorang ustadzah muda yang sering kita lihat di televisi yang bergandengan tangan dan berpelukan dengan suaminya

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bermesraan setelah menikah memang sesuatu yang dihalalkan. Tapi kita perlu ingat, tidak semua yang halal boleh ditampakkan dan dipamerkan di depan banyak orang.

Ada beberapa pertimbangan yang akan membuat anda tidak lagi menyebarkan foto kemesraan di Medsos,

Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar umatnya memiliki sifat malu. Bahkan beliau sebut, itu bagian dari konsekuensi iman.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Dan rasa malu salah satu cabang dari iman. (HR. Ahmad 9361, Muslim 161, dan yang lainnya).

Dan bagian dari rasa malu adalah tidak menampakkan perbuatan yang tidak selayaknya dilakukan di depan umum.

Kedua, islam juga mengajarkan agar seorang muslim menghindari khawarim al-muru’ah. Apa itu khawarim al-muru’ah? Itu adalah semua perbuatan yang bisa menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang. Dia menjaga adab dan akhlak yang mulia.

Ibnu Sholah mengatakan,

أجمع جماهير أئمة الحديث والفقه على أنه يشترط فيمن يحتج بروايته أن يكون عدلاً ضابطاً لما يرويه .وتفصيله أن يكون : مسلماً بالغاً عاقلاً، سالماً من أسباب الفسق وخوارم المروءة

Jumhur ulama hadis dan fiqh sepakat, orang yang riwayatnya boleh dijadikan hujjah disyaratkan harus orang yang adil dan kuat hafalan (penjagaan)-nya terhadap apa yang dia riwayatkan. Dan rinciannya, dia harus muslim, baligh, berakal sehat, dan bersih dari sebab-sebab karakter fasik dan yang menjatuhkan wibawanya. (Muqadimah Ibnu Sholah, hlm. 61).

Dan bagian dari menjaga wibawa adalah tidak menampakkan foto kemesraan di depan umum.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim – Mufti resmi Saudi pertama – menyatakan tentang hukum mencium istri di depan umum,

بعض الناس -والعياذ بالله- من سوء المعاشرة أنه قد يباشرها بالقبلة أمام الناس ونحو ذلك ، وهذا شيء لا يجوز

Sebagian orang, bagian bentuk kurang baik dalam bergaul dengan istri, terkadang dia mencium istrinya di depan banyak orang atau semacamny. Dan ini tidak boleh. – kita berlindung kepada Allah dari dampak buruknya –. (Fatawa wa Rasail Muhammad bin Ibrahim, 10/209).

An-Nawawi dalam kitab al-Minhaj menyebutkan beberapa perbuatan yang bisa menurunkan kehormatan dan wibawa manusia,

وقبلة زوجة وأمة بحضرة الناس، وإكثار حكايات مضحكة

Mencium istri atau budaknya di depan umum, atau banyak menyampaikan cerita yang memicu tawa pendengar. (al-Minhaj, hlm. 497).

Ketiga, gambar semacam ini bisa memicu syahwat orang lain yang melihatnya. Terutama ketika terlihat bagian badan wanita, tangannya atau wajahnya.. lelaki jahat bisa memanfaatkannya untuk tindakan yang tidak benar.

Dan memicu orang untuk berbuat maksiat, termasuk perbuatan maksiat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa yang mengajak kepada sebuah kesesatan maka dia mendapatkan dosa  seperti dosa setiap orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HR. Ahmad 9160, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Bisa jadi anda menganggap itu hal biasa, tapi orang lain menjadikannya sebagai sumber dosa.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Istri Tidak Suka Suami Kenal Sunnah https://konsultasisyariah.com/28244-istri-tidak-suka-suami-kenal-sunnah.html Thu, 18 Aug 2016 02:22:48 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28244 Antara Sunah dan Istri

Bagaimana hukumnya jikalau seorang istri tidak mensuport perubahan suami yg mulai mengikuti assunnah, misalkan mulai cingkrang atau berjenggot, dn sekarang meninggalkan acara ulang taun istri. Selalu aja berantem jikalau membahas ulang taun atau pun cingkrang, dn ana selalu mengalah menghindari pertikaian, bagaimana solusi nya ustadz?apa ana harus pisah?atau tetap sabar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah mengingatkan dalam al-Quran, bahwa terkadang istri dan anak, bisa berpotensi menjadi penghalang bagi suami untuk melakukan ketaatan. Sehingga, para suami soleh diminta untuk bersikap waspada.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. (QS. at-Taghabun: 14).

Diantara sikap waspada itu adalah tidak mudah terpengaruh dengan mereka, sampai melalaikan kewajiban agama. Betapa banyak para suami yang menjadi durhaka kepada orang tuanya, karena pengaruh istri dan anaknya. Betapa banyak para suami yang terhalang melakukan kebaikan, karena pengaruh istri dan anaknya. (Tafsir Ibn Katsir, 8/139).

Meskipun secara kemampuan logika, umumnya wanita lebih rendah dibandingkan lelaki, tapi pengaruh mereka bisa menghanyutkan lelaki cerdas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidak pernah aku melihat ada orang yang kurang akal dan agamanya namun dapat menggoyahkan lelaki cerdas melebihi kalian wahai para wanita.” (HR. Bukhari 304)

Karena cintanya seorang suami kepada istrinya, terkadang membuat mereka merasa sangat tidak nyaman jika harus berdebat dengan istrinya. Sehingga suami lebih memilih yang penting tidak bermasalah dengan keluarganya.

Lelaki itu Pemimpin

Bagian dari sunatullah, Allah jadikan suami sebagai pemimpin bagi keluarganya.

Allah berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Para kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, disebabkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian manusia (kaum lelaki), dan disebabkan nafkah yang mereka berikan (kepada keluarga) dari harta mereka. (QS. an-Nisa: 34)

Sehingga para suami dituntut bersikap cerdas, bisa memposisikan diri dengan tepat, karena dia pemimpin. Dia harus tahu, kapan waktunya mengalah dan kapan waktunya memaksa. Kapan mengendalikan, dan kapan menerima masukan.

Namun karakter suami soleh, umumnya lebih suka mengalah. Wanita lebih mudah mengendalikan lelaki soleh, sebaliknya mereka justru mudah dikendalikan lelaki tidak soleh.

Sahabat Muawiyah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

إنهن يغلبن الكرام ويغلبهن اللئام

Mereka para wanita, mudah mengendalikan lelaki mulia, sementara mereka lebih mudah dikendalikan lelaki yang tercela. (al-Aqdul Farid, 1/287).

Apa yang disampaikan Muawiyah, bukan pujian untuk lelaki yang suka mengalah dalam masalah kebaikan. Suami harus menjadi pemimpin yang baik. Pandai memposisikan diri kapan harus mengendalikan dan kapan dikendalikan. Untuk urusan yang sifatnya mubah, suami bisa mengikuti istrinya. Sementara dalam urusan kewajiban syariat, suami harus bersikap tegas agar mengarahkan keluarganya untuk menyesuaikan diri dengan syariat.

Inilah tugas yang Allah nyatakan dalam al-Quran,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang beriman, lindungi diri kalian dan keluarga kalian dari neraka.” (QS. at-Tahrim: 6)

Sebagaimana suami istri bisa menjadi teman bermadu kasih, teman dalam belajar, juga teman dalam berantem. Namun suami harus pandai mengendalikan permainan. Karena keluarga di dunia tidak akan bisa lepas dari masalah.

Suami wajib memerintahkan istrinya untuk menutup aurat dengan benar.

Suami wajib memaksa istrinya untuk menjaga shalat 5 waktu.

Suami harus mengajarkan sunah ke istri dan keluarganya…

Karena umumnya orang menentang, disebabkan kebodohan terhadap aturan syariat yang tidak pernah dia pelajari.

Anda bisa bacakan artikel berikut kepada mereka yang masih belum menerima ciri fisik sesuai sunah; Apakah Celana Cingkrang, Jenggot dan Cadaran Ciri Teroris?

Ajak mereka untuk disiplin dalam masalah agama, dan berikan kelonggaran untuk masalah mubah…

Karena keluarga muslim adalah wahana untuk bekerja sama dalam kebaikan.

Bekerja sama untuk mewujudkan cita-cita bersama menuju surga.

Agar kita tidak hanya menjadi keluarga ketika di dunia, tapi juga menjadi keluarga ketika di surga…

Mari kita galakkan gerakan menuju surga sekeluarga…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Mati karena Jatuh, Apakah Syahid? https://konsultasisyariah.com/28241-mati-karena-jatuh-apakah-syahid.html Tue, 16 Aug 2016 03:42:46 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28241 Meninggal karena Jatuh

Apakah mati terjatuh dari lantai 2 termasuk syahid?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa orang yang mati di selain medan jihad, namun digelari sebagai syahid.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah syahid menurut kalian?”

‘Orang yang mati di jalan Allah, itulah syahid.’ Jawab para sahabat serempak.

“Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku hanya sedikit.” Lanjut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Lalu siapa saja mereka, wahai Rasulullah?’ tanya sahabat.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan daftar orang yang bergelar syahid,

مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ

“Siapa yang terbunuh di jalan Allah, dia syahid. Siapa yang mati (tanpa dibunuh) di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid. Siapa yang mati karena sakit perut, dia syahid. Siapa yang mati karena tenggelam, dia syahid.” (HR. Muslim 1915).

Dalam hadis lain, dari Jabir bin Atik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Selain yang terbunuh di jalan Allah, mati syahid ada tujuh: mati karena tha’un syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa benda keras syahid, wanita yang mati karena melahirkan syahid.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan Al-Albani).

Mereka inilah yang diistilahkan para ulama sebagai syahid akhirat. Dalam arti, di akhirat kelak akan mendapat pahala syahid, meskipun di dunia tidak mati di medan perang. Karena itu, sebelum dikuburkan, jenazah ini wajib dimandikan, dikafani dan dishalatkan sebagaimana umumnya jenazah lainnya.

Al-Hafidz Al-Aini mengatakan,

فهم شُهَدَاء حكما لَا حَقِيقَة، وَهَذَا فضل من الله تَعَالَى لهَذِهِ الْأمة بِأَن جعل مَا جرى عَلَيْهِم تمحيصاً لذنوبهم وَزِيَادَة فِي أجرهم بَلغهُمْ بهَا دَرَجَات الشُّهَدَاء الْحَقِيقِيَّة ومراتبهم، فَلهَذَا يغسلون وَيعْمل بهم مَا يعْمل بِسَائِر أموات الْمُسلمين

“Mereka mendapat gelar syahid secara status, bukan hakiki. Dan ini karunia Allah untuk umat ini, dimana Dia menjadikan musibah yang mereka alami (ketika mati) sebagai pembersih atas dosa-dosa mereka, dan ditambah dengan pahala yang besar, sehingga mengantarkan mereka mencapai derajat dan tingkatan para syuhada hakiki. Karena itu, mereka tetap dimandikan, dan ditangani sebagaimana umumnya jenazah kaum muslimin.” (Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 14/128).

Apakah Mati Terjatuh juga Masuk dalam Kategori Syahid?

Al-Hafidz Ibnu Hajar mennyebutkan daftar kematian yang yang disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan gelar syahid. Beliau mengatakan,

وقد اجتمع لنا من الطرق الجيدة أكثر من عشرين خصلة، فإن مجموع ما قدمته مما اشتملت عليه الأحاديث التي ذكرتها أربع عشرة خصلة

Telah terkumpul pada kami berbagai jalur yang statusnya jayid (bisa diterima), menyebutkan lebih dari 20 bentuk mati syahid. Karena kumpulan dari semua hadis yang telah saya sebutkan, ada 14 bentuk mati syahid…

Kemudian beliau menyebutkan diantaranya,

وعنده من حديث ابن مسعود بإسناد صحيح: أن يتردى من رؤوس الجبال وتأكله السباع ويغرق في البحار لشهيد عند الله ـ ووردت أحاديث أخرى في أمور أخرى لم أعرج عليها لضعفها

Dan diriwayatkan Abu Daud dari hadis Ibnu Mas’ud dengan sanad shahih bahwa orang yang terjatuh dari atas gunung, dan oang yang dimakan binatang buas atau yang tenggelam di laut, mereka syahid di sisi Allah. dan ada beberapa hadis lain tentang bentuk-bentuk kematian syahid lainnya yang tidak saya angkat karena statusnya dhaif.

Selanjutnya, al-Hafidz menyebutkan komentar Ibnu Tin,

هذه كلها ميتات فيها شدة تفضل الله على أمة محمد صلى الله عليه وسلم بأن جعلها تمحيصا لذنوبهم وزيادة في أجورهم يبلغهم بها مراتب الشهداء

Semua ini adalah kematian yang sangat menyakitkan, Allah berikan kelebihan untuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Allah jadikan kematiannya sebagai penebus dosa dan penambah pahaa, sehingga mengantarkan mereka bisa sampai pada derajat syuhada’. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 6/44).

Berdasarkan keterangan di atas, dalam fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

يرجى لمن تردى من شاهق أن يكون معدودا ضمن شهداء الآخرة الذين يعظم أجرهم بسبب شدة ميتاتهم وينالون من جنس أجر الشهداء

Semoga orang yang meninggal karena terjatuh dari tempat tinggi, termasuk golongan syahid akhirat, yang memiliki pahala besar, disebabkan cara kematiannya yang menyakitkan, sehingga mereka mendapat pahala seperti ppara syuhada. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 155971)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Shalat Setelah Thawaf Boleh di Hotel? https://konsultasisyariah.com/28238-shalat-setelah-thawaf-boleh-di-hotel.html Tue, 16 Aug 2016 02:06:12 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28238 Shalat Setelah Thawaf Boleh di Hotel

Setelah thawaf, kita akan melaksanakan shalat di belakang maqam ibrahim. menurut teman saya, kita bisa mengerjakan di antara kabah dan maqam ibrahim, tapi karena tempat terbatas jadi pengerjaannya persis di belakang maqam ibrahim. benarkah demikian? mohon penjelasannya

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ulama sepakat bahwa shalat sunah setelah thawaf dianjurkan untuk dikerjakan di belakang maqam Ibrahim. Dan ini berlaku jika memungkinkan, tanpa mengganggu orang lain atau aman dari gangguan orang lain.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

قدم النبي – صلى الله عليه وسلم – فطاف بالبيت سبعاً، وصلَّى خلف المقام ركعتين، ثم خرج عليه الصلاة والسلام إلى الصفا

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di masjid, beliau langsung thawaf di ka’bah 7 kali, lalu shalat 2 rakaat di belakang maqam. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar masjid  menuju shafa.” (HR. Bukhari 395 & Muslim 1233).

Namun para ulama berbeda pendapat, mengenai batasan tempat pelaksanaan shalat setelah thawaf.

Pertama, shalat setelah thawaf bisa dikerjakan di manapun dan tidak disyaratkan harus dikerjakan di tempat tertentu. Bahkan boleh dikerjakan di luar tanah haram. Atau bahkan bisa ditunda dan dikerjakan ketika kembali ke daerahnya.

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, as-Syafii, dan Ahmad. Hanya saja, Imam as-Syafii menganjurkan siapa yang mengakhirkan shalat ini hingga kembali ke rumah, agar dia membayar dam.

Ibnu Abidin –ulama Hanafiyah – menjelaskan tentang tempat shalat setelah thawaf,

وفي اللباب: ولا تختص بزمان ولا مكان ولا تفوت ، فلو تركها لم تجبر بدم ، ولو صلاها خارج الحرم ، ولو بعد الرجوع إلى وطنه جاز ، ويكره

Dapat kitab al-Lubab; “Tidak harus dilakukan di waktu tertentu atau tempat tertentu, tidak ada denda jika tidak dilaksanakan. Jika ditinggalkan, tidak harus membayar dam. Jika dikerjakan di luar tanah haram, bahkan meskipun setelah kembali ke daerahnya, hukumnya boleh, meskipun makruh. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 2/499).

An-Nawawi mengatakan,

قال الشافعي فان لم يصلهما حتى رجع إلى وطنه صلاهما وأراق دما قال واراقة الدم مستحبة لاواجبة

As-Syafii mengatakan, Jika tidak sempat mengerjakan shalat sunah setelah thawaf sampai dia kembali ke daerahnya, maka dia boleh mengerjakanya, dan membayar dam. Beliau mengatakan, membayar dam di sini hukumnya anjuran dan tidak wajib. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 8/53).

Kedua, Boleh dikerjakan di manapun dengan syarat, belum batal wudhunya sejak selesai thawaf

Jika dia telah pulang ke daerahnya, boleh dia kerjakan shalat sunah thawaf, namun dianjurkan mengirim sejumlah uang untuk digunakan bayar dam (hadyu). Ini merupakan pendapat Imam Malik.

Keterangan Imam Malik ,

إن طاف بالبيت في غير إبان الصلاة فلا بأس أن يؤخر صلاته وإن خرج إلى الحل ، فليركعهما في الحل ويجزئانه ما لم ينتقض وضوءه

Jika orang thawaf di Ka’bah…, tidak masalah mengakhirkan shalat sunah setelahnya, meskipun keluar dari tanah haram. Dia bisa shalat di luar tanah haram, dan itu sah, selama wudhunya belum batal. (al-Mudawanah, 1/426).

Ketiga, harus dikerjakan di dalam tanah haram, meskipun di luar masjid.

Jika dikerjakan di luar tanah haram, maka shalatnya tidak sah. Ini merupakan pendapat Sufyan at-Tsauri. Dan menurut riwayat lain, Sufyan at-Tsauri mempersyaratkan bahwa shalat sunah ini harus dikerjakan di belakang maqam ibrahim.

An-Nawawi mengatakan,

نقل أصحابنا عن سفيان الثورى : أن هذه الصلاة لا تصح إلا خلف المقام . ونقل ابن المنذر عن سفيان الثوري : أنه يصليهما حيث شاء من الحرم

Para ulama madzhab kami menukil keterangan dari Sufyan at-Tsauri bahwa shalat ini tidak sal kecuali jika dikerjakan di belakang maqam Ibrahim. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 8/62).

InsyaaAllah pendapat yang lebih mendekati adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa shalat ini boleh dikerjakan dikerjakan walau di luar tanah haram. Dan tidak disyaratkan harus tidak batal dari wudhu ketika thawaf. Karena shalat ini tidak harus dilakukan bersambung dengan thawaf.

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah dan hendak keluar, Ummu Salamah belum melakukan thawaf, dan juga hendak keluar Mekah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أُقِيمَتْ صَلاَةُ الصُّبْحِ فَطُوفِى عَلَى بَعِيرِكِ ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ

Ketika iqamah shalat subuh dikumandangkan, lakukanlah thawaf di atas ontamu, ketika orang sedang melakukan shalat.

Ummu Salamah-pun melakukan saran ini dan beliau tidak sempat shalat sunah setelah thawaf , hingga beliau keluar dari tanah haram. (HR. Bukhari 1626 dan Nasai 2939).

Hadis ini dalil paling tegas, bahwa shalat sunah setelah thawaf tidak disyaratkan harus dikerjakan di luar tanah haram atau di dalam masjid, atau di belakang maqam Ibrahim.

Dalil kedua, praktek Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Al-Bukhari mengatakan,

وطاف عمر بعد الصبح فركب حتى صلى الركعتـين بذي طوى

Umar melakukan thawaf setelah subuh, lalu beliau naik kendaraan dan melakukan shalat sunah setelah thawaf di Dzi Tuwa. (HR. Bukhari secara muallaq)

Satu tempat di Mekah ke arah Tan’’im.

Karena itu, bagi jamaah yang tidak memungkinkan shalat sunah setelah thawaf di belakang maqam, dia bisa shalat di tempat manapun di masjidil haram. Jika tidak memungkinkan, bisa shalat di luar masjidil haram, atau di hotel.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>