FIKIH – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 24 Mar 2017 23:47:41 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.3 Hukum PayTren (Bagian 02) https://konsultasisyariah.com/29341-hukum-paytren-bagian-02.html Fri, 24 Mar 2017 02:46:39 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29341 Hukum PayTren (Bagian 02)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Artikel sebelumnya baca: Hukum Paytren Bagian 1

Sebelumnya kita simak dulu penjelasan umum tentang paytren. Berikut salah satu broadcast tentang paytren,

✅ Apa itu PayTren?

Aplikasi micropayment utk pembayaran listrik, isi pulsa, beli tiket, bayar speedy, bpjs, belanja online, belanja di alfamart, kirim uang dll, yang bisa di install pada smartphone android dan IOS.

✅Apa benefit menggunakan PayTren?

Mudah, murah, hemat, dpt cashback, bernilai ibadah / sedekah dan ada peluang bisnisnya.

✅Bagaimana cara menjadi mitra PayTren?

  1. Mitra Pengguna : Harga lisensi 50 rb (menu transaksi pulsa & voucher game).
  2. Mitra Pebisnis + Pengguna : Harga lisensi paling murah 350 rb & paling mahal 10.1 juta (menu transaksi all payment).

✅ Cara mendapatkan uang di PayTren?

Ada dua cara :

  1. Melayani pembayaran : listrik, leasing, bpjs, telpon, speedy, jual tiket pesawat dll. Anda dapat profit dr selisih harga jual & kulakan.
  2. Menjual lisensi aplikasi PayTren ke banyak orang dg aneka fee marketing 75rb/orang, 25rb, 2rb dst.

✅ Cara kerja PayTren?

  1. Install aplikasi PayTren di android/IOS.
  2. Beli kode lisensi/kode serial lewat orang yg menawarkan pada anda.
  3. Gunakan aplikasi utk transaksi pribadi atau melayani umum utk mendapatkan profit.
  4. Referensikan ke banyak orang utk menggunakan PayTren agar mendapatkan fee marketing yg besar.

Kesimpulan

Dari keterangan di atas kita akan menyimpulkan transaksi akad pada paytren,

Transaksi Pertama, untuk mitra pengguna

Dalam situs resmi Paytren, dijelaskan mengenai fasilitas untuk mitra pengguna,

  1. Mendapatkan nomor Identifikasi (nomor ID) kemitraan, username, pin transaksi dan deposit senilai Rp 15.000,00 (langsung setelah aktivasi berhasil )
  2. Dapat menjalankan fitur dengan fungsi terbatas, yaitu hanya transaksi pembelian pulsa pra bayar dan voucher game melalui Aplikasi Android “PayTren” yang diperoleh dari PlayStore, Yahoo Messenger, Gtalk atau SMS
  3. Mendapatkan cashback dari transaksi pribadi selama 10 hari sejak aktivasi
  4. Log transaksi, riwayat transaksi, riwayat deposit, daftar harga dan info terbaru dapat dilihat di www.mytreni.com
  5. Maksimal deposit Rp 100.000,00 per hari dan maksimal deposit mengendap Rp 1.000.000,00
  6. Berlaku selamanya

Ketentuan lain sebagai mitra pengguna yang penting diperhatikan,

Dikenakan biaya pemeliharaan sebesar Rp 1.000,-/bulan (dipotong otomatis dari sisa deposit) terkecuali apabila mitra tersebut melakukan transaksi minimal 1 (satu) dalam bulan berjalan

Takyif Fiqh Transaksi Paytren dengan Mitra Pengguna

Jika kita perhatikan, pada posisi ini, statusnya sama dengan jual beli. Pihak developer Paytren menjual aplikasi yang dia sediakan. Dan menjual aplikasi hukumnya dibolehkan, sebagaimana menjual barang atau jasa layanan lainnya. Seperti yufid Inc. pernah membuat aplikasi complete quran berbayar di IOS.

Islam memasukkan hak atas karya ilmiah, hak terhadap merek dagang atau logo dagang dalam pengertian umum sebagai harta. Islam menganggap hak semacam ini memiliki nilai manfaat dan nilai komersil yang cukup berarti.

Dr. Nashir bin Muhammad al-Ghamidi menjelaskan, tindakan penyalah gunaan hak cipta yang tidak digratiskan dalam Islam dianggap pencurian, penipuan dan tindakan merugikan harta, hak dan kepemilikan orang lain.

(Himayaah al-Milkiyah al-Fikriyah Fi al-Fiqhil Islami, hal. 103)

Menimbang Peluang Menjadi Mitra Pengguna Paytren?

Meskipun sebatas jual beli aplikasi, daya tariknya tidak signifikan bagi pengguna. Karena dia hanya bisa melakukan transaksi pulsa dan voucher game. Aplikasi yang mungkin riil bisa dimanfaatkan hanya transaksi pulsa. Jika saya bayar 50rb, dan dijadikan deposit 15rb, berarti saya harus bayar ke Paytren 35rb.

Bagi orang yang perhitungan, tawaran ini mungkin kurang menarik,

[1] Menjadi member pengguna paytren, bararti sama dengan menjadi agen pulsa namun harus bayar 35rb. Sementara di luar, untuk bisa menjadi agen pulsa, bisa gratis. Hanya deposit saja.

[2] Cashback untuk transaksi pribadi hanya dijanjikan selama 10 hari sejak aktivasi.

Sangat kecil bisa dimanfaatkan. Selama 10hr kebutuhan pulsa pribadi tidak banyak.

Bisa saja orang menilai ini termasuk gharar (tidak jelas). Karena selama 10hr ini tidak jelas. Jika saya banyak bertransaksi, saya dapat cashback banyak, sebaliknya, ketika tidak bertransaksi, tidak ada cashback.

[3] Deposit saya akan selalu berkurang 1000/bln. ketika tidak bertransaksi

Sementara jadi agen pulsa di luar, deposit tidak berkurang, meskipun tidak dipakai transaksi.

Menimbang realita di atas, tentu sangat jarang orang yang tertarik hanya menjadi mitra pengguna Paytren.

Dengan kata lain, andai tidak ada kesempatan untuk mendapat fee mencari downline, tidak ada daya tarik yang signifikan bagi Paytren. Sehingga software ini bukan tujuan utama objek akad.

Bersambung insya Allah…

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Artikel ini didukung oleh YufidStore.com (Toko Muslim Online Murah dan Amanah)

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Paytren (Bagian 01) https://konsultasisyariah.com/29323-hukum-paytren-bagian-01.html Thu, 23 Mar 2017 02:10:31 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29323 Hukum Paytren Dalam Tinjaun Fikih Muamalah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu diantara penyebab transaksi yang terlarang dalam islam adalah adanya gharar.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar. (HR. Muslim 3881, Abu Daud 3378 dan yang lainnya).

Mengenai pengertian gharar, dinyatakan oleh Syaikhul Islam dalam al-Qawaid an- Nuraniyah,

الغرر هو المجهول العاقبة

“Gharar adalah Jual beli yang tidak jelas konsekuensinya” (al-Qawaid an-Nuraniyah, hlm. 116)

Inti dari gharar adalah adanya jahalah (ketidak jelasan) yang menyebabkan adanya mukhatharah (spekulasi, untung-untungan), baik pada barang maupun harga barang.

Karena itu, gharar mirip dengan judi. Sama-sama tidak jelas konsekuensinya. Bedanya, judi terjadi pada permainan, sementara gharar terjadi dalam transaksi.

Hanya saja, bahaya judi lebih besar, karena ini pemicu permusuhan dan saling membenci, serta menghalangi orang untuk mengingat Allah, sehingga diharamkan tanpa kecuali.

Allah berfirman tentang larangan judi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. al-Maidah: 90 – 91)

Contoh bentuk gharar, ada orang masuk pemancingan, diminta bayar 100rb untuk memancing selama 1 jam. Dengan ketentuan, pelanggan hanya diberi hak untuk memancing di empang selama 1 jam, dapat ikan maupun tidak, jika sudah habis waktu 1 jam, dia tidak boleh mancing.

Dalam kasus pemancingan ini, tidak jelas yang diperjual-belikan. Pelanggan membayar 100rb, hanya membeli peluang untuk bisa mendapatkan ikan. Jika pelanggan mendapat banyak  ikan, dia untung sementara pemilik empang bisa rugi besar. Sebaliknya, ketika pelanggan tidak dapat ikan, dia rugi dan pemilik empang yang untung.

Sebagaimana transaksi riba, transaksi yang mengandung mukhatharah dan gharar hukumnya dilarang sekalipun dilakukan saling ridha.

Di masa silam, ada transaksi ba’i al-hasha, ba’i al-munabadzah, dan ba’i al-mulamasah, yang ini semua dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena unsur ghararnya besar.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ وَبَيْعِ الْحَصَاةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar dan jual beli al-hashah.”

Turmudzi menyebutkan diantara bentuk ba’i al-hashah, penjual menyampaikan kepada pembeli, nanti jika saya melemparkan kerikil ini kepadamu, maka transaksi jual beli sah. (Jami’ Turmudzi penjelasan hadis no. 1275). Sehingga transaksi dilakukan bukan karena alasan sama-sama ridha, sesuai pilihan. Tapi karena untung-untungan.

Demikian pula mulamasah, transaksi jual beli dengan acuan sentuh. Jika menyentuh, beararti membeli. Atau munabadzah, dengan cara melemparkan barang yang dijual ke calon konsumen. Siapa yang kena lemparan barang, sama dengan beli. Semua transaksi ini murni untung-untungan, sehingga dilarang oleh Syariat. Meskipun mereka melakukannya saling ridha. (al-Gharar fil Uqud, Dr. Shidiq Muhammad Amin, hlm. 16).

Kemudian, bentuk gharar lainnya yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jual beli ijon. Jual beli buah yang ada di pohon, sebelum layak untuk dipanen. Sehingga ada dua kemungkinan yang akan dihadapi oleh penjual dan pembeli. Jika buahnya banyak yang utuh, bisa dipanen, maka pembeli untung dan penjual merasa dirugikan karena harga jualnya murah. Sebaliknya ketika buahnya banyak yang rusak, pembeli dirugikan dan penjual untung besar. Karena andai buah ini tidak segera dia jual, dia akan mengalami gagal panen.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى تُزْهِىَ . فَقِيلَ لَهُ وَمَا تُزْهِى قَالَ حَتَّى تَحْمَرَّ . فَقَالَ « أَرَأَيْتَ إِذَا مَنَعَ اللَّهُ الثَّمَرَةَ ، بِمَ يَأْخُذُ أَحَدُكُمْ مَالَ أَخِيهِ »

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual buah sampai layak untuk dipanen. Beliau ditannya, ‘Apa tanda kelayakan dipanen?’ jawab beliau, “Sampai memerah.” Lalu beliau bersabda,

“Bagaimana menurut kalian, jika Allah mentaqdirkan buahnya tidak bisa diambil? Bagaimana bisa penjual mengambil harta temannya?” (HR. Bukhari 2198 & Ibnu Hibban 4990).

Jual beli ijon dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ghararnya besar. Meskipun penjual dan pembeli melakukannya atas dasar saling ridha. Namun keberadaan ridha tidak cukup. Karena yang menjadi masalah bukan di adanya pemaksaan terhadap pelaku akad, tapi di objek transaksi yang tidak jelas.

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa memahami, ada 2 unsur yang menyebabkan gharar dilarang dalam transaksi,

[1] Adanya ketidakjelasan dalam objek akad. Pembeli hanya mendapat peluang, yang itu bisa terjadi dan bisa tidak terjadi.

[2] Di sana ada pihak yang mendapat keuntungan dalam akad, di atas kerugian orang lain (lawan akadnya). Sehingga ketika transaksi ini dilakukan, bisa dipastikan satu pihak mendapat keuntungan sementara pihak yang satu dirugikan.

Gharar Dalam MLM

Ketika multi level marketing semakin semarak, banyak ulama mempermasalahkan. Karena sebagian besar MLM hanya menitik beratkan pada perolehan downline dan tidak mementingkan produk. Karena itulah, dalam MLM yang menerapkan sistem ini, member yang bisa mendatangkan banyak downline namun sedikit membeli produk, dinilai lebih produktif dibadingkan member yang banyak membeli produk, namun tidak memiliki downline. Ukuran produktifitas downline tidak diukur dari banyaknya belanja produk, tapi dari kemampuan dia bisa menarik downline.

Diantara bukti paling nyata bahwa produk bukan tujuan utama dalam sistem ini, andai ada orang yang membeli produk, namun tidak ada peluang fee untuk mendapatkan downline, masyarakat tidak akan tertarik. Karena tidak sebanding antara harga dengan manfaat produk yang dibeli.

Dalam kajian Fiqh Mualamah Maliyah, terdapat satu kaidah,

القصود في العقود معتبرة

“Niat dalam akad itu diperhitungkan”

Ibnul Qoyim menjelaskan,

وقاعدة الشريعة التي لا يجوز هدمها ان المقاصد والاعتقادات معتبرة في التصرفات والعبارات كما هي معتبره في التقربات والعبارات … فالقصد والنية والاعتقاد بجعل الشيء حلالاً أو حراماً وصحيحاً أو فاسداً أو طاعة أو معصية

Kaidah dalam syariah yang tidak boleh ditiadakan, bahwa tujuan dan keyakinan itu ternilai dalam aktivitas muamalah dan transaksi… maksud, niat, dan keyakinan menentukan status halal dan haram, sah dan tidak sah, dinilai taat atau maksiat. (I’lamul Muwaqqi’in, 3/96)

Bagian ini perlu kita catat, karena hukum suatu akad juga dipengaruhi tujuan dan maksud pelaku.

Al-Majma’ al-Fiqhi al-Islami – lembaga resmi kajian fiqh di bawah Rabithah Alam Islamiyah (Muslim World League) dalam muktamarnya yang diselenggarakan di Sudan Rabiul Akhir 1424 pernah mengeluarkan keputusan mengenai sistem MLM yang pernah diterapkan oleh PT Biznas (Sebuah perusahaan yang menerapkan sistem MLM dalam pemasarannya di Uni Emirat),

Sebelum berfatwa, mereka menyebutkan pertimbangan,

أولاً: إن المنتج في شركات التسويق الشبكي ليس مقصوداً للمشتركين، إنما المقصود الأول والدافع المباشر للاشتراك هو الدخل الذي يحصل عليه المشترك من خلال هذا النظام.

كما أن مقصود الشركة هو بناء شبكة من الأفراد (في شكل متوالية هندسية أساسها اثنان) تتسع قاعدتها في شكل هرم، صاحب الحظ فيه هو قمة الهرم الذي تتكون تحته ثلاث طبقات، وتدفع فيه قاعدة الهرم مجموع عمولات الذين فوقهم،

Pertama, produk yang terdapat pada perusahaan MLM, bukan tujuan utama bagi member. Namun yang menjadi tujuan dan motivasi utama bergabung dalam sistem MLM adalah fee yang didapatkan member ketika dia bergabung dengan MLM.

Tujuan utama perusahaan MLM yang beranggotakan banyak orang, dengan skema beruntun, sehingga bagian dasar terus meluas, hingga berbentuk piramida. Orang yang paling beruntung adalah yang berada di atas piramida, yang di bawahnya tersusun 3 level. Sementara mereka yang di bawah (downline) harus membayar kepada orang yang ada di atasnya (upline).

فالمنتَج ليس سوى واجهة سلعية مقبولة ليُبنى عليها الترخيص القانوني، حيث تمنع أكثر قوانين دول العالم برنامج التسلسل الهرمي الذي يدفع فيه المشترك رسوماً لمجرد الانضمام للبرنامج دون توسط أو سلعة يتم تدوالها.

Produk hanya kamuflase agar bisa diterima, untuk mendapat legalitas secara undang-undang, mengingat banyak undang-undang di berbagai negara di dunia yang melarang sistem MLM, yang mengharuskan member untuk membayar ketika pendaftaran tanpa ada fasilitas dan produk yang bisa digunakan.

– ثانياً: إن المشترك لا يمكن أن يحقق دخلاً إلا إذا تكونت تحته ثلاث طبقات، وإن المستويات الثلاثة الأخيرة في البناء الهرمي دائماً مخاطرة (معرضة للخسارة) لأنها تدفع عمولات قمة الهرم على أمل أن تتبوأ هي القمة، ولكن لا يمكنها ذلك إلا باستقطاب أعضاء جدد ليكوّنوا مستويات دنيا تحتهم، فتكون المستويات الجديدة هي المعرضة للخسارة وهكذا

Kedua, member tidak akan bisa mendapat fee kecuali jika dia memiliki 3 downline di bawahnya. Sehingga 3 tingkat yang paling bawah dalam sistem piramida akan selalu ber-spekulasi (berhadapan dengan resiko rugi). Karena dia harus membayar komisi kepada yang di atasnya, dengan harapan dia akan menduduki posisi atas. Namun itu tidak mungkin, kecuali dengan menarik member-member baru, untuk menjadi downline dia. Selanjutnya, downlinenya yang akan menghadapi resiko rugi. (https://ar.beta.islamway.net/fatwa/31900/بزناس-وما-يشابهها-من-شركات-التسويق-الشبكي)

Kemudian ada juga fatwa dari Syaikh Dr. Sami Ibrahim as-Suwailim – Pimpinan Pusat Penelitian dan Pengembangan untuk masalah Syariah di Bank  ar-Rajihi – beliau memberikan keterangan cukup panjang seputar bisnis MLM. Diantara yang beliau sampaikan,

إن البرامج القائمة عـلى التسلـسل الهـرمي، ومنـها البرنــامج المذكور في الـسؤال، مبنـية عـلى أكل المال بالبـاطل والتغـرير بالآخرين، لأن هذا التسلـسل لا يمـكن أن يـستمر بلا نهــاية، فإذا تــوقف كانت النتيــجة ربح الأقلــية عــلى حــساب خــسارة الأكثــرية.

Sistem pemasaran dengan konsep jaringan berjenjang piramida, termasuk sistem yang disebutkan dalam pertanyaan, dibangun di atas prisip makan harta orang lain secara bathil dan menipu yang lain. Karena sistem berjenjang ini, tidak mungkin akan berkembang terus tanpa ujung. Ketika dia sudah berhenti, maka yang terjadi, ada pihak minoritas yang diuntungkan di atas kerugian mayoritas.

Lalu beliau melanjutkan,

كما أن منطق التسويق الهرمي يعتمد على عوائد فاحشة للطبقات العليا على حساب الطبقات الدنيا من الهرم ، فالطبقات الأخيرة خاسرة دائماً حتى لو فرض عدم توقف البرنامج ، ولا يفيد في مشروعية هذا العمل وجود المنتج ، بل هذا يجعله داخلاً ضمن الحيل المحرمة

Dalam sistem pemasaran piramida, bersandar pada prinsip ada keuntungan yang kembali ke upline bersamaan dengan resiko kerugian downline. Downline akan selalu dirugikan, andaipun sistem ini tidak pernah mengalami saturasi. Dalam sistem ini keberadaan produk tidak signifikan. Namun dia hanya diikutkan dalam  kamuflase yang terlarang.

Dari fatwa al-Majma al-Fiqhi al-Islami dan fatwa Dr. Sami as-Suwailim dapat kita simpulkan latar belakang mengapa MLM dipermasalahkan,

[1] Member yang hendak bergabung harus membayar senilai tertentu

[2] Dana yang disetorkan member, bukan untuk membeli produk, tapi agar bisa bergabung dalam sistem MLM

[3] Tujuan terbesar member bergabung adalah untuk mendapat fee ketika berhasil mendapatkan downline

[4] Untuk bisa mendapatkan downline, tidak bisa dipastikan, karena ini peluang pasar.

[5] Setiap member yang berada di bawah akan menghadapi resiko rugi, jika tidak bisa mendapatkan member

[6] Sistem piramida berjenjang akan mengalami saturasi, sehingga tidak lagi berkembang. Sehingga pada puncaknya, downline yang jumlah lebih banyak akan mengalami kerugian, sementara upline mendapat keuntungan.

Dalam akad muawadhah (komersil), agar tidak terjadi gharar, kita diajarkan rumus keseimbangan,

Iwadh (yang kita bayarkan) = Mu’awadh (yang kita terima)

Apa yang kita bayarkan, harus seimbang dengan apa yang kita terima. Ketika yang kita bayarkan jelas, maka yang kita terima juga harus jelas. Jika dalam transaksi, yang kita bayarkan jelas, sementara yang kita terima tidak jelas, ada peluang terjadi dan tidak, maka hukumnnya gharar.

Bagaimana hasilnya jika kita terapkan persamaan ini dalam kasus MLM di atas?

Seseorang yang mendaftar menjadi member MLM dia membayar senilai tertentu, dan dia mendapat 2 hal: produk (yang bukan tujuan utama) dan Peluang dapat fee dengan mencari member baru (tujuan utama).

Jika kita rumuskan,

 

Iwadh

(yang kita bayarkan)

= Produk

(bukan tujuan)

+ Peluang pasar/cari downline

(tujuan utama)

Jelas = Jelas

(tidak diperhitungkan)

+

Tidak pasti

(tujuan utama akad)

Artinya, ketika anda menjadi member, anda membayar sesuatu yang pasti. Dan anda mendapatkan 2 hal: produk, yang itu pasti tapi tidak terlalu diperhitungkan, dan peluang dapat downline, yang ini menjadi tujuan utama, namun tidak pasti. Sehingga yang terjadi, anda membayar sesuatu, namun anda hanya mendapat peluang. Dan itulah gharar.

Pelajaran dari Bisnis Afiliasi e-Book

Sekitar tahun 2004, masa sedang gencar-gencarnya ingin monetizing internet, penghuni dunia maya tiba-tiba tersihir dengan master Internet Marketing Joko Susilo. Dia berjualan e-book dengan sistem afiliasi. Untuk seukuran ebook, harganya cukup mahal (sekitar 250rb). Namun banyak orang rela beli, karena ada janji fee ketika bisa mereferensikan pembeli yang lain. Mereka yang beli akan mendapat ebook, referral duplikat web.

Jika ada orang lain yang beli dari referral kita, maka kita akan mendapat 50% – 50%, 125rb untuk Joko Susilo, 125rb untuk pemilik referral.

Ketika sudah mencapai saturasi, banyak netizen yang mulai sadar, sehingga pembeli terakhir, sama sekali tidak bisa mencari downline baru. Referral duplikat web tidak berfungsi. Para netizen penganut Joko merasa ditipu. Ada banyak komentar miring yang mereka arahkan ke Joko Susilo. Mereka menyesal.

Bagaimana dengan e-book-nya??

Mereka tidak butuh e-book ini. Hanya berisi tutorial yang hampir semuanya copas dari google. Konsumen merasa sangat tidak membutuhkan ebook itu. Mereka rela membeli, karena harapan bisa mendapat fee dari referral. Ketika ini tidak lagi berfungsi, Joko Susilo bisa kaya raya, di atas penderitaan para bawahannya.

Dan inilah dampak dari transaksi gharar.

[1] Tidak ada produk riil yang dijual

[2] Mereka membayar karena harapan bisa menjadi upline

[3] Apa yang dibayarkan digantikan dengan peluang

Sehingga tidak terpenuhi keseimbangan iwadh = muawadh

Ada pihak yang diuntungkan, di atas kerugian orang lain.

Bercermin dari Bisnis Flexter

Bisnis ini berkembang 10 tahun yang lalu. Jual beli aplikasi untuk pulsa dan bayar-bayar dengan sistem berjenjang. Siapa yang bisa mereferensikan downline, dia mendapat fee.

Diantara iklan yang ditayangkan para penggiatnya,

Cara Biasa Cara Flexter
Harus pergi ke konter Bisa isi pulsa sendiri (24 jam)
Harga konsumen Harga Agen
Tidak bisa dijual lagi Bisa dijual lagi
Hanya untuk komunikasi Bisa sebagai alat pembayaran: PLN, Telkom
Tidak ada fasilitas apapun SMS murah, GPRS, Ikln gratis seumur hidup, Asuransi, Seminar & Pelatihan
Murni pengeluaran Dapat peluang pulsa gratis

Banyak orang tertarik untuk menjadi membernya, hingga sudah mencapai lebih dari 760.000 orang di seluruh Indonesia. Setiap harinya lebih dari 1.000 orang yang bergabung menjalankan bisnis FLEXTER.

Namun ketika mengalami titik jenuh (saturasi), bisnis ini ambruk. Itupun tidak sampai 4 tahun bertahan. Downline terbaru adalah pihak yang paling berduka. Karena dia tidak bisa memanfaatkan program yang telah dia bayar untuk mencari downline.

Sekali lagi, inilah dampak dari transaksi gharar.

[1] Tidak ada produk riil yang dijual

[2] Mereka membayar karena harapan bisa menjadi upline

[3] Apa yang dibayarkan digantikan dengan peluang

Sehingga tidak terpenuhi keseimbangan iwadh = muawadh

Ada pihak yang diuntungkan, di atas kerugian orang lain.

Bagaimana dengan Paytren?

Insya Allah bersambung di artikel bagian 02…

Update: Baca Hukum Paytren Bagian 2

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh YufidStore.com (Toko Muslim Online Murah dan Amanah)

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Upah Tukang Bekam Haram? https://konsultasisyariah.com/29311-upah-tukang-bekam-haram.html Mon, 20 Mar 2017 02:08:39 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29311 Upah Tukang Bekam

Benarkah upah tukang bekam itu tercela? apakah berarti haram?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa upah tukang bekam itu halal. beliau pernah berbekam dan beliau memberi upah kepada tukang bekam.

[1] Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliu mengatakan,

احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْطَى الَّذِي حَجَمَهُ، وَلَوْ كَانَ حَرَامًا لَمْ يُعْطِهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan memberi upah kepada tukang bekam. Andai itu haram, tentu beliau tidak akan memberi upah. (HR. Ahmad 2904 dan Bukhari 2103).

[2] Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا حَجَّامًا فَحَجَمَهُ وَسَأَلَهُ: كَمْ خَرَاجُكَ؟ فَقَالَ: ثَلاَثَة آصُعٍ، فَوَضَعَ عَنْهُ صَاعًا وَأَعْطَاهُ أَجْرَهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil tukang bekam, lalu dia membekam beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Berapa upahmu?”

‘Tiga sha’.’ Jawab tukang bekam.

Lalu beliau memberikan satu sha’ dan beliau berikan upahnya. (HR. Ahmad 1136 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

[3] Hadis dari Ali radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَأَمَرَنِي فَأَعْطَيْتُ الْحَجَّامَ أَجْرَهُ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan beliauperintahkan aku untuk memberikan upah kepada tukang bekamnya. (HR. Ahmad 1130, Ibnu Majah 2163 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

[4] Hadis dari Anas bin Malik

احْتَجَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibekam oleh Abu Thaibah, lalu beliau perintahkan agar diberi upah 2 sha’ makanan. (HR. Ahmad 12785 & Muslim 4121).

Dan beberapa hadis yang semisal, yang menunjukkan bahwa upah tukang bekam adalah halal.

Hanya saja, upah tukang bekam dinilai tidak terpuji. Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كَسْبِ الحَجَّامِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang upah tukang bekam. (HR. )

Dalam hadis lain, dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَسْبُ الْحَجَّامِ خَبِيثٌ

“Upah tukang bekam itu jelek.” (HR. Ahmad 15812, Abu Daud 3423 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Makna khabits dalam hadis ini tidak bermakna haram. Karena harta halal, namun hina, juga bisa disebut khabits. Seperti firman Allah,

وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ

“Janganlah kalian secara sengaja memilih harta yang khabits yang kalian infakkan.” (QS. al-Baqarah: 267).

Upah tukang bekam disebut khabits, bukan karena statusnya yang haram, tapi karena harta ini dianggap tidak terpuji dan tidak bermartabat. Sehingga makruh untuk dicari.

Berdasarkan keterangan di atas, ulama berbeda pendapat dalam memahami upah tukang bekam,

Pertama, upah tukang bekam hukumnya mubah. Ini merupakan pendapat al-Laits bin Sa’ad, Malik dan Abu Hanifah.

Kedua, upah tukang bekam hukumnya makruh bagi orang merdeka dan mubah bagi budak. Ini merupakan pendapat Syafi’iyah dan Hanbali.

Kita simak keterangan An-Nawawi ketika menyimpulkan hadis yang melarang upah tukang bekam,

هذه الأحاديث التي في النهي على التنزيه والارتفاع عن دنيء الأكساب والحثِّ على مكارم الأخلاق ومعالي الأمور

Hadis-hadis yang menunjukkan larangan makruh dan menghindari penghasilan yang tidak terpuji, serta motivasi untuk menjaga akhlak mulia dan hal yang bermartabat. (Syarh Shahih Muslim, 10/233)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Makan Upil https://konsultasisyariah.com/29305-hukum-makan-upil.html Fri, 17 Mar 2017 02:26:22 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29305 Makan Upil

Apakah upil najis? Bagaimana hukum makan upil?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Upil dan ipil serta kotoran hidung lainnya tidak najis. Terdapat banyak keterangan para ulama dalam masalah ini. Diantaranya,

[1] Pernyataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

Beliau pernah menyamakan status mani sebagaimana ingus. Artinya keduanya tidak najis.

Dari Ibnu Abbas,

قال في المَنِيِّ يصيب الثوب: “إنما هو بمنزلة النخامة والبزاق أَمِطْه عنك بإذخرة

Beliau menjelaskan tentang mani yang mengenai pakaian, “Itu seperti ingut dan ludah. Kamu bisa hilangkan dengan idzkhir (sejenis rumput).” (HR. ad-Daruquthni dalam Sunannya no. 2 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam Mukhtashar Khalil, ketika penulis menyebutkan benda-benda suci, beliau menyatakan,

والحي ودمعه وعرقه ولعابه ومخاطه…

Binatang halal yang hidup, air matanya, keringatnya, liurnya, ingusnnya… (Mukhtashar Khalil, hlm. 16).

Suci Tapi Kotoran Menjijikkan

Meskipun suci, tapi ingus itu kotoran menjijikkan.

وهو ما يخرج من أنفه. نعم هما من المستقذرات؛ وعليه، فلا تؤثر ملامسة ذلك كثيرًا كان أو قليلاً

Itulah kotoran yang keluar dari hidung. Betul keduanya kotoran (tapi tidak najis, pent.). Karena itu, tidak masalah menyentuhnya, sedikit maupun banyak.

Karena itulah, para ulama melarang memakannya.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

حرمة تناول المخاط: نص الشافعية على حرمة تناول المخاط، قالوا: إن المخاط وإن كان طاهرًا إلا أنه مستقذر، ويحرم تناول الإنسان له؛ لاستقذاره، لا لنجاسته

Haram mengkonsumsi upil. Syafiiyah menegaskan haramnya mengkonsumsi upil. Mereka mengatakan, ‘Upil itu, meskipun suci, namun dia kotor. Dan haram dikonsumsi manusia, karena status kotornya bukan najisnya.’ (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 36/258)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Riba dalam Kegiatan Makan Bersama https://konsultasisyariah.com/29299-riba-dalam-kegiatan-makan-bersama.html Thu, 16 Mar 2017 02:22:02 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29299 Riba dalam Kegiatan Makan Bersama

Langsung saja saya berikan Ilustrasi

Ali :” Assalamu ‘alaykum..adi lagi dimana?

Adi :wa ‘alaykum salam warahmatullah Lagi dipasar ni

Ali : Oya kebetulan..beliin rambutan 1kg, ntr sampai rumah diganti uangnya.

Adi : Ok.. deh

Ali :ya udah itu aja saja. Assalamu ‘alaykum…

Adi : wa ‘alaykum salam warahmatullah ‎

(sudah sampai rumah Ali)

Adi : Assalamu ‘alaykum

Ali : Wa’alaykum salam

Adi : ini pesenannya.

Ali : syukron.. Ayo kita makan sama-sama, tenang saja nanti diganti uangnya..

kemudian adi dan ali makan rambutan bersama-sama. Maka Adi telah makan riba …

Apakah ini benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam islam. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat statusnya riba” (HR. al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro)

Termasuk diantaranya adalah hadiah dan pemberian sebelum utang lunas. Meskipun bentuknya jasa.

Sahabat Abdullah bin Sallam pernah mengatakan,

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ ، فَلاَ تَأْخُذْهُ ، فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3814).

Dalam riwayat lain, nasehat Abdullah bin Sallam ini beliau sampaikan kepada Abu Burdah, yang ketika itu tiba di Iraq. Dan di sana ada tradisi, siapa yang berutang maka ketika melunasi, dia harus membawa sekeranjang hadiah.

إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا

“Saat ini kamu berada di daerah yang riba di sana tersebar luas. Diantara pintu riba adalah jika kita memberikan utang kepada orang lain sampai waktu tertentu, jika jatuh tempo tiba, orang yang berhutang membayarkan cicilan dan membawa sekeranjang berisi buah-buahan sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang tersebut dan isinya.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro).

Hanya saja, ada catatan yang perlu kita perhatikan, bahwa

‘Utang tidak memutus silaturrahmi’

‘Utang tidak memutus hubungan baik seseorang dengan kawannya’

Dst…

Karena itu, siapa yang punya kebiasaan baik dengan saudaranya, seperti saling memberi hadiah atau saling membantu dalam berbagai urusan, jangan sampai kebiasaan ini dihentikan gara-gara utang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Lakukanlah saling menghadiahilah, niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 594 dan dihasankan al-Albani).

Karena itulah, kaitannya hadiah dengan akad utang piutang dibagi menjadi 2:

[1] Hadiah yang diberikan karena latar belakang akad utang piutang. Andai tidak berlangsung akad utang-piutang tentu tidak akan akan ada hadiah.

[2] Hadiah yang tidak ada hubungannya dengan akad utang piutang, meskipun keduanya kadang melakukan akad utang piutang. Misalnya, kakak adik, mereka sudah terbiasa saling memberi hadiah ketika lebaran. Suatu ketika adik utang ke kakak. Dan ketika lebaran, mereka saling memberi hadiah. Meskipun utang adik belum lunas.

Tapi kita bisa memahami, hadiah yang ada dalam hal ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan transaksi utang piutang. Hadiah yang sudah terjadi karena kebiasaan sebelumnya.

Hadiah ini diperbolehkan, meskipun utang belum lunas. Karena sudah menjadi kebiasaan sebelumnya sehingga tidak ada hubungannya dengan utang piutang.

Dari Anas bin Malik,

إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلاَ يَرْكَبْهَا وَلاَ يَقْبَلْهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya. Kecuali jika sudah terbiasa mereka saling memberikan hadiah sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah 2432)

Karena sekali lagi, utang tidak memutus silaturrahmi… jangan sampai gara-gara utang, justru mereka saling tegang, tidak bisa cair, tidak semakin akrab, dan kaku terhadap jamuan…

Bagaimana dengan Kasus Talangan Jajan?

Kasus di atas, seperti yang umum di masyarakat kita, tidak ada kaitannya dengan utang piutang. Dalam arti, mereka sudah terbiasa melakukannya meskipun mereka tidak terlibat dalam akad utang piutang. Sehingga makan bersama di sini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan utang.

Insya Allah dibolehkan, dan bukan riba…

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Batas Akhir Waktu Shalat Isya’ https://konsultasisyariah.com/29289-batas-akhir-waktu-shalat-isya.html Mon, 13 Mar 2017 02:17:55 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29289 Akhir Shalat Isya’

Kapan batas akhir waktu isya’… apakah tengah malam atau sampai subuh…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat perintah shalat 5 waktu pada peristiwa isra’ mi’raj, selanjutnya Jibril datang mengajarkan kepada beliau shalat 5 waktu itu. Jibril datang 2 kali. Kedatangan pertama ketika di awal waktu shalat, dan kedatangan kedua di akhir waktu shalat.

Hadisnya cukup panjang. Kita simak bagian yang menyebutkan shalat isya,

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita,

ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى ذَهَبَ الشَّفَقُ فَجَاءَهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الْعِشَاءَ فَقَامَ فَصَلاَّهَا ثُمَّ جَاءَهُ حِينَ سَطَعَ الْفَجْرُ بِالصُّبْحِ… ثُمَّ جَاءَهُ لِلْعِشَاءِ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الأَوَّلِ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الْعِشَاءَ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَهُ لِلصُّبْحِ حِينَ أَسْفَرَ جِدًّا فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الصُّبْحَ ثُمَّ قَالَ « مَا بَيْنَ هَذَيْنِ كُلُّهُ وَقْتٌ »

Kemudian ketika warna merah di ufuk barat telah hilang, Jibril datang, lalu mengatakan, ‘Kerjakanlah shalat isya’.’ Kemudian beliau mengerjakan shalat isya’. Lalu Jibril datang lagi fajar sudah mulai terbit di waktu subuh….

Di hari berikutnya, Jibril datang kepada beliau untuk shalat isya, ketika sudah berlalu sepertiga malam pertama. Beliau mengatakan, ‘Kerjakanlah shalat isya’.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Kemudian datang lagi untuk shalat subuh ketika langit sudah sangat menguning. Beliau mengatakan, ‘Lakukanlah shalat subuh.’ Kemudian beliau mengatakan, “Di antara dua batas ini adalah waktu shalat.” (HR. ad-Daruquthni 1019, Nasai 531, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita,

أَمَّنِى جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ… ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ الآخِرَةَ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى الصُّبْحَ… ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَىَّ جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَذَا وَقْتُ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ. وَالْوَقْتُ فِيمَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ

Jibril – alaihis salam – mengimamiku shalat di ka’bah dua kali…  kemudian beliau shalat isya, ketika telah berlalu 1/3 malam, kemudian shalat subuh… kemudian Jibril mendekatiku, lalu mengatakan, ‘Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para nabi sebelum-mu. Waktu shalat adalah diantara dua rentang waktu tersebut.’ (HR. Turmudzi 149 dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).

Kemudian, dalam hadis lain dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْمَغْرِبَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى أَنْ يَسْقُطَ الشَّفَقُ فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْعِشَاءَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ

Apabila kalian telah shalat maghrib, maka itu waktunya, sampai hilang warna merah di ufuk barat. Lalu setelah kalian shalat isya, itulah waktunya, sampai pertengahan malam. (HR. Muslim 1416).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menjelaskan batasan waktu shalat secara praktek. Dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَخَّرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ، ثُمَّ صَلَّى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya sampai pertengahan malam, kemudian beliau shalat… (HR. Bukhari 572)

Beliau menyebut orang yang menyia-nyiakan shalat adalah mereka yang menunda shalat sampai datang waktu shalat berikutnya. Beliau bersabda,

إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى

Yang dimaksud menyia-nyiakan shalat adalah mereka yang tidak shalat sampai datang waktu shalat berikutnnya… (HR. Muslim 1594 dan Ibnu Hibban 1460).

Berdasarkan beberapa riwayat di atas, ulama berbeda pendapat dalam menentukan batas akhir shalat isya’.

Pertama, waktu akhir shalat isya adalah selama belum masuk waktu subuh. Selama dikerjakan sebelum subuh, shalat isyanya sah dan tidak dikatakan berdosa.

Ini merupakan pendapat Hanafiyah.

Kedua, Waktu shalat isya’ sampai sepertiga atau pertengahan malam. Meskipun jika dikerjakan sebelum subuh, shalat sah tapi makruh.

Ini merupakan pendapat Malikiyah.

Ketiga, waktu isya ada 2,

[1] Waktu ikhtiyari, sejak hilangnya mega merah di ufuk barat sampai sepertiga malam pertama atau tengah malam.

[2] Waktu dharuri, menurut pendapat lain diistilahkan dengan waktu jawaz (toleransi).

Bagi mereka yang berada dalam kondisi normal, bisa melaksanakan shalat isya’ selama waktu ikhtiyari. Dan tidak boleh mengerjakannya di waktu dharuri atau waktu jawaz, kecuali jika ada udzur.

Ini merupakan pendapat Syafi’iyah dan Hambali.

(at-Tarjih fi Masail Thaharah wa Shalat, 132 – 138)

Dalam al-Mustau’ib dinyatakan,

وآخر وقتها المختار ثلث الليل؛ وعنه نصفه، ويبقى وقت الجواز والضرورة إلى طلوع الفجر الثاني

Waktu terakhir shalat isya sampai sepertiga malam. Dan ada riwayat darinya, sampai tengah malam. Dan sisanya waktu jawaz dan dharurat sampai terbit fajar subuh. (al-Mustau’ib, 1/125).

Berdasarkan keterangan di atas, ada beberapa yang bisa kita simpulkan,

[1] Ulama 4 madzhab sepakat bahwa mereka yang shalat isya’ setelah pertengahan malam statusnya ada’ (mengerjakan shalat pada waktunya), dan bukan qadha’ (mengerjakan shalat di luar waktu).

[2] Ulama 4 madzhab sepakat bahwa shalat isya’ setelah pertengahan malam, shalatnya sah.

[3] Mereka berbeda pendapat mengenai status orang yang shalat isya setelah pertegahan malam. Ada yang menyebut itu waktu dharurat, sehingga berlaku dalam kondisi darurat. Ada yang menyebut waktu jawaz (toleransi), sehingga berlaku untuk yang punya udzur. dan ada yang menyebut boleh namun makruh, serta ada yang membolehkan tanpa makruh.

Untuk alasan kesempurnaan ibadah shalat isya, ditekankan agar dikerjakan sebelum pertengahan malam atau sepertiga malam. Dan tidak melebihi waktu pertengahan malam, kecuali jika ada udzur.

Allahu a’lam…

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Berdoa Dalam Hati https://konsultasisyariah.com/29283-hukum-berdoa-dalam-hati.html Fri, 10 Mar 2017 23:56:23 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29283 Berdoa Dalam Hati

Assalamua’laikum ustadz,
Afwan mau bertanya, apakah boleh berdoa di dalam hati, baik dengan mengangkat tangan ataupun tidak?

Dari Aris, di Bandung.

Jawaban :

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah was sholaatu wassalaam ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Pada asalnya pembicaraan hati tidak termasuk amalan yang tercatat sebagai dosa maupun pahala bagi pelakunya, selama tidak diucapkan atau dilakukan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إن الله تجاوز عن أمتي ما حدثت به نفسها ما لم تتكلم به أو تعمل به

Sesungguhnya Allah memaafkan apa yang terlintas dalam batin umatku selama belum diucapkan atau belum dilakukan. (Muttafaq ‘Alaihi).

Para ulama menyatakan ,
“Dalam membaca Alquran seorang harus menggerakkan lidah dan kedua bibirnya. Tanpa melakukan itu maka tidak teranggap sebagai bacaan, namun terhitung sebagai tadabbur atau tafakkur. Oleh karenanya seorang yg sedang junub tidak dilarang membaca Alquran dalam hatinya atau orang yang sedang buang hajat tdk dilarang utk berdzikir dalam hati.”

Khusus untuk doa dalam hati; tanpa pengucapan di lisan, kami tidak menemukan dalil terkait hal itu. Akantetapi terdapat dalil yang menerangkan bahwa berdzikir dalam hati adalah amalan berpahala. Dan tidak berlebihan apabila hal ini diqiyaskan dengan doa.

Dalam sebuah hadis Qudsi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

قال الله تعالى: أنا ظن عبدي بي، وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم.

“Allah ta’ala berfirman, ” Aku adalah sebagaimana praduga/prasangka hamba-Ku kepada-Ku, Aku senantiasa menyertainya selama dia mengingat-Ku, maka apabila dia mengingat aku dalam hatinya, Akupun mengingatnya dalam hati, dan bila dia mengingat-Ku dalam keadaan ramai, Akupun mengingatnya dalam keadaan ramai, bahkan lebih baik dari pada pengingatannya.(HR. Bukhori dan Muslimm).

Ada pernyataan para ulama yang menerangkan pentingnya amalan hati dalam berdoa, dan bahwasanya ucapan lisan hanya sebagai pengikut saja.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah– menerangkan,

فإن أصل الدعاء من القلب، واللسان تابع للقلب، ومن جعل همته في الدعاء تقويم لسانه أضعف توجه قلبه، ولهذا يدعو المضطر بقلبه دعاء يفتح عليه لا يحضره قبل ذلك.

Asalnya doa itu muncul dari hati. Adapun ucapan lisan adalah sebagai pengikut hati. Siapa yang menjadikan konsentrasinya saat berdoa pada pembenahan lisan saja, maka akan melemah munajat hatinya. Oleh karena itu seorang yang berada dalam kondisi genting, berdoa dengan hatinya. Sebuah doa yang membuka pintu kesulitan yang ia alami, yang sebelumnya tidak pernah terbetik dalam benaknya. (Majmu’ Al Fatawa 2/287).

(Rujukan: Fatawa Syabakah Islamiyah no. 117527)

Oleh karenanya, setelah kita mengetahui bahwa berdoa dalam hati tercatat sebagai pahala, artinya hukumnya boleh karena diqiyaskan dengan dzikir, maka dianjurkan juga untuk mengangkat tangan ketika berdoa, sebaimana ketika memanjatkan doa dengan lisan kita.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

“Sesungguhnya Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang mengangkat kedua tangannya berdoa kepada-Nya, lalu mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 2070).

Pembahasan terkait mengangkat tangan ketika berdoa, bisa anda pelajari selengkapnya di sini : Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Berdoa Dengan Hati dan Lisan Lebih Afdol

Meski berdoa dengan hati kita katakan boleh, namun beroa dengan hati disertai pengucapan lisan itu lebih afdol. Karena dalam hal itu terdapat kolusi antara hati dan lisan.

Kemudian, doa yang demikianlah yang dilakukan oleh para Nabi, Rasul dan para wali Allah, sebagaimana yang terdapat dalam Alquran. Diantaranya doa Nabi Ibrahim alaihissalam,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Dan (ngatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah diriku beserta anak keturunanku dari menyembah berhala-berhala. (QS. Ibrahim 355).

Juga doa Nabi Nuh alaihissalam, Allah berfirman,

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ

Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)”. (QS. Al Qomar : 10).

Doa Nabi Zakariya alaihissalam,

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (QS. Maryam : 3).

Doa Ibunda Maryam alaihassalam,

قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. (QS. Maryam : 18).

Para ulama bahasa arab menjelaskan definisi “perkataan” (al Qoul),

اللفظ الدال على معنى

Perkataan adalah lafadh yang menunjukkan suatu makna.

Sebagian yang lain menambahkan,

أو التلفظ قليلاً كان أو كثيراً

Pelafalan baik itu sedikit maupun banyak.

Sementara lafadh adalah pengucapan pada lisan.

Wallahua’lam bis showab.

Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori Lc

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Dilarang Kajian di Masjid Sebelum Jumatan https://konsultasisyariah.com/29280-dilarang-kajian-di-masjid-sebelum-jumatan.html Fri, 10 Mar 2017 01:55:35 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29280 Kajian di Masjid Sebelum Jumatan

Benarkah kajian di hari jumat dilarang?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ التَّحَلُّقِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الشِّرَاءِ وَالْبَيْعِ فِى الْمَسْجِدِ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengadakan kajian di hari jumat, sebelum jumatan. Dan beliau melarang jual beli di masjid. (HR. Nasai 722 dan dihasankan al-Albani)

Para ulama menyebutkan, latar belakang mengapa kita dilarang mengadakan kajian sebelum jumatan adalah agar tidak mengganggu kegiatan jumatan. Karena ketika hari jumat, kita dianjurkan untuk hadir jumatan di awal waktu. Jika di sana ada kajian, akan mengganggu mereka yang hendak hadir jumatan.

Kita akan simak keterangan Adzim Abadi dalam Aunul Ma’bud. Beliau menukil 3 penjelasan ulama,

[1] keterangan al-Khithabi. Beliau mengatakan,

إنما كره الاجتماع قبل الصلاة للعلم والمذاكرة، وأمر أن يشتغل بالصلاة، وينصت للخطبة والذكر، فإذا فرغ منها كان الاجتماع والتحلق بعد ذلك

Beliau tidak menyukai berkumpul untuk kajian sebelum jumatan, serta memeritahkan untuk fokus terhadap jumatan, diam mendengarkan khutbah. Jika selesai jumatan, maka boleh berkumpul dan halaqah setelahnya.

[2] keterangan dari at-Thahawi,

النهي عن التحلق إذا عم المسجد وغلبه فهو مكروه وغير ذلك فلا بأس به

Larangan membuat kajian (sebelum jumatan) berlaku apabila memenuhi masjid atau mendominasi bagian masjid, maka ini yang dilarang. Jika tidak sampai demikian, tidak masalah.

[3] keterangan dari al-Iraqi,

حمله أصحابنا والجمهور على بابه لأنه ربما قطع الصفوف مع كونهم مأمورين يوم الجمعة بالتبكير والتراص في الصفوف الأول فالأول

Para ulama madzhab kami dan mayoritas ulama memahami hadis ini sesuai kondisinya. Karena terkadang memutus shaf, sementara mereka diperintahkan untuk  datang di awal dan merapatkan shaf dari depan pada hari jumat. (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, 3/294).

Berdasarkan penjelasan di atas, sebatas kajian di pagi hari jumat tidak dilarang. Yang dilarang adalah kajian pagi yang mengganggu kegiatan jumatan. Sehingga jika kajiannya dilaksanakan di tempat yang tidak digunakan untuk jumatan, misal di mushola atau rumah warga, atau hanya forum kecil di masjid di pagi hari, yang tidak mengganggu jumatan, insya Allah tidak masalah…

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Posisi Kaki Saat Sujud https://konsultasisyariah.com/29276-posisi-kaki-saat-sujud.html Thu, 09 Mar 2017 02:01:00 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29276 Posisi Kaki Saat Sujud

Bagaimana posisi kaki yang benar ketika sujud?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ulama berbeda pendapat mengenai posisi kaki saat sujud. Apakah tumit dirapatkan ataukah sejajar dengan lutut, direnggangkan?

Pertama, dianjurkan untuk merenggangkan kedua kaki dan tidak merapatkan tumit.

Ini merupakan pendapat syafiiyah dan hambali.

An-Nawawi mengatakan,

قال أصحابنا ويستحب أن يفرق بين القدمين قال القاضي أبو الطيب قال أصحابنا يكون بينهما شبر

Para ulama madzhab syafiiyah mengatakan, dianjurkan untuk memisahkan  kedua kaki. Al-Qadhi Abu Thib mengatakan, para ulama madzhab kami menganjurkan, jarak kedua kaki sekitar satu jengkal. (Radhatut Thalibin, 1/259).

Kedua, dianjurkan untuk merapatkan kedua kaki dan tumit ketika sujud. Ini merupakan pendapat Hanafiyah.

(Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/233).

Pendapat yang Lebih Kuat

Pendapat yang lebih tepat dalam hal ini adalah dianjurkan untuk merapatkan kedua tumit ketika sujud. Karena posisi ini yang lebih mendekati dalil.

A’isyah bercerita,

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ …

Suatu malam, Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat tidur. Lalu aku mencari-cari, dan tanganku mengenai kedua telapak kaki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sujud di masjid… (HR. Ahmad 25655, Muslim 1118 dan yang lainnya).

Dalam riwayat lain, Aisyah mengatakan,

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصَّا عَقِبَيهِ مُسْتَقْبِلًا بِأَطرَافِ أَصَابِعِهِ لِلقِبْلَة

Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebelumnya bersamaku di tempat tidur. Lalu aku dapati beliau sedang sujud, merapatkan kedua tumitnnya, menghadapkan jari-jari kaki ke kiblat. (HR. Ibnu Hibban 1933 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Tangan A’isyah, tangan seorang wanita. Hanya akan mungkin bisa mengenai kedua kaki, jika kedua kaki itu dirapatkan. Jika kedua kaki direnggangkan, satu tangan tidak mungkin bisa mengenai dua kaki.

Catatan:

Perbedaan ini hanya dalam masalah afdhaliyah, artinya mana yang paling afdhal dan yang lebih sesuai sunah. Jika ada orang yang shalat dan posisi kakinya renggang, shalatnnya sah menuurut mereka yang berpendapat dianjurkan untuk merapatkan kaki. Dan sebaliknya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>