<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Syariah - agama islam tanya jawab nikah remaja keluarga bisnis fatwa wanita kesehatan &#187; Zakat</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/category/fikih/ibadah-fikih/zakat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com menyajikan berbagai tanya jawab ilmiah syariah seputar permasalahan kehidupan muslim: Aqidah, Tata Cara Ibadah, Perdagangan, Rumah Tangga, Kesehatan, dan lain-lain.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 08:11:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tidak Berpuasa Selama Haid, Apa Kewajibannya?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/tidak-berpuasa-selama-haid.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/tidak-berpuasa-selama-haid.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 08:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Haid]]></category>
		<category><![CDATA[Qadha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2345</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Syakih Shalih Al-Fauzan ditanya:
Ibuku berumur enam puluh tahun, ia tidak meng-qadha puasanya selama hari-hari haid di bulan Ramadhan yang telah ia tinggalkan sejak ia bersuamikan ayahku, hal itu dikarenakan ayahku berkata kepada ibuku agar ber-kaffarah dengan memberi makan fakir miskin setiap hari sebagai pengganti qadha puasa, karena ia adalah seorang ibu yang telah memiliki beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syakih Shalih Al-Fauzan ditanya:</p>
<p>Ibuku berumur enam puluh tahun, ia tidak meng-qadha puasanya selama hari-hari haid di bulan Ramadhan yang telah ia tinggalkan sejak ia bersuamikan ayahku, hal itu dikarenakan ayahku berkata kepada ibuku agar ber-kaffarah dengan memberi makan fakir miskin setiap hari sebagai pengganti qadha puasa, karena ia adalah seorang ibu yang telah memiliki beberapa orang anak, hal itu dilakukannya selama dua puluh tahun, dengan tujuh hari masa haid  di setiap bulan Ramadhan, apa yang wajib ia lakukan? Apakah ia harus berpuasa selama hari-hari yang telah ditinggalkan itu atau ia harus bersedekah? Dan berapakah ukuran sedekahnya itu?</p>
<p><span id="more-2345"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Yang wajib dilakukan oleh ibu Anda adalah meng-qadha hari-hati puasa yang telah ia tinggalkan dengan tidak berpuasa di bulan Ramadhan selama masa haid, sekalipun itu terjadi berulang-ulang selama beberapa kali bulan Ramadhan. Hendaklah ia menghitung hari-hari tersebut dan meng-qadha puasa sejumlah hari-hari itu, bersamaan dengan meng-qadha puasa itu ia diwajibkan memberi makan seorang miskin setiap hari selama hari-hari puasa yang di-qadha, sebesar satu setengah sha’ setiap harinya sebagai kaffarah (penebus) penundaan qadha puasa dari waktu yang seharusnya, dan boleh baginya meng-qadha puasa itu secara berurutan atau tidak berurutan sesuai dengan kondisinya.</p>
<p>Yang penting, bahwa tidak boleh baginya meninggalkan qadha puasa itu, dan ayah Anda telah melakukan kesalahan besar dengan mengeluarkan fatwa tanpa didasari ilmu.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita,</em> Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI, 2010<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/tidak-berpuasa-selama-haid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Zakat bagi Anak Kecil dan Orang Gila?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/adakah-zakat-bagi-anak-kecil-dan-orang-gila.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/adakah-zakat-bagi-anak-kecil-dan-orang-gila.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 02:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat Anak Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat Orang Gila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1832</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Apakah wajib mengeluarkan zakat harta anak kecil yang belum baligh atau orang gila apabila telah mencapai satu nishob dan telah lewat satu haul? Padahal keduanya tidak terkena beban syariat?
Jawaban:
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Ustaimin berkata, &#8220;Masalah ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama&#8217;. Sebagian mereka berkata, &#8216;Harta anak kecil dan orang gila tidak wajib dikeluarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah wajib mengeluarkan zakat harta anak kecil yang belum baligh atau orang gila apabila telah mencapai satu nishob dan telah lewat satu haul? Padahal keduanya tidak terkena beban syariat?</p>
<p><span id="more-1832"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih al-Ustaimin berkata, &#8220;Masalah ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama&#8217;. Sebagian mereka berkata, &#8216;Harta anak kecil dan orang gila tidak wajib dikeluarkan zakatnya, karena memang keduanya tidak mukallaf.&#8217;</p>
<p>Sementara sebagian ulama lainnya berkata, &#8216;Bahwasannya wajib mengeluarkan zakat pada harta anak kecil dan orang gila,&#8217; dan ini adalah pendapat yang benar, karena zakat adalah hak harta maka tidak melihat siapa yang memiliki harta. Berdasarkan firman Allah,</p>
<p><em>&#8220;Ambillah dari harta mereka.&#8221;</em> (Qs. At-Taubah: 103)</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah menjadikan letak kewajiban adalah harta.</p>
<p>Juga berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada Mu&#8217;adz tatkala beliau mengutusnya ke Yaman,</p>
<p><em>&#8220;Beritahukanlah kepada mereka, bahwasannya Allah mewajibkan zakat harta mereka yang diambil dari orang kaya dan diberikan kepada orang fakir di antara mereka.&#8221;</em></p>
<p>Maka dengan ini wajib mengeluarkan zakat harta anak kecil dan orang gila dan yang membayarnya adalah wali mereka.&#8221;</p>
<p>(Lihat <em>Fatawa Arkanil Islam</em> hal. 423)</p>
<p>Dipublikasikan oleh: www.konsultasisyariah.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/adakah-zakat-bagi-anak-kecil-dan-orang-gila.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Zakat Barang Temuan?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/adakah-zakat-barang-temuan.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/adakah-zakat-barang-temuan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 04:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Barang Temuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1744</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Ustadz, saya mau bertanya tentang zakat barang temuan (harta karun). Bagaimana menzakatinya?
Jawaban: 
Barang temuan belum tentu berupa harta karun. Harta karun adalah barang temuan khusus berupa harta timbunan orang-orang jahiliah, yang dalam istilah syar’i disebut “rikaz”[1], dan zakat rikaz wajib dikeluarkan sebesar seperlima nilainya. Hal ini didasari oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ustadz, saya mau bertanya tentang zakat barang temuan (harta karun). Bagaimana menzakatinya?<br />
<span id="more-1744"></span><strong>Jawaban: </strong></p>
<p>Barang temuan belum tentu berupa harta karun. Harta karun adalah barang temuan khusus berupa harta timbunan orang-orang jahiliah, yang dalam istilah syar’i disebut “rikaz”[1], dan zakat rikaz wajib dikeluarkan sebesar seperlima nilainya. Hal ini didasari oleh sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَفِي الرِّكَازِ الْْخُمُسُ</p>
<p><em>“Dalam harta karun terdapat (zakat) seperlima (dari nilainya).”</em> (HR. al-Bukhari: 1428 dan Muslim: 1710)</p>
<p>Syekh Ibnu Utsaimin berkata, “Jika pada harta karun terdapat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa harta tersebut adalah harta orang-orang dahulu (jahiliah), bukan harta kaum muslimin, maka harta itu disebut rikaz yang wajib dizakati seperlimanya. Misalnya, seseorang menemukan harta karun seharga lima ribu riyal (mata uang Arab Saudi), maka harta tersebut harus dizakati sebesar seribu riyal, dan sisanya menjadi milik orang yang menemukannya.</p>
<p>Adapun jika pada harta itu tidak ada tanda-tanda milik orang jahiliah, maka harta itu dianggap barang temuan yang harus dicari pemiliknya dan diumumkan selama satu tahun. Jika ada pemiliknya maka diserahkan, sedangkan jika tidak maka boleh diambil oleh orang yang memungutnya.”[2]</p>
<p>=================<br />
Catatan kaki:<br />
[1] <em>Fatawa Lajnah Da’imah</em>: 11/186.<br />
[2] <em>Majmu’ Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin</em>: 18/589.</p>
<p>(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/adakah-zakat-barang-temuan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Mengeluarkan Zakat Uang yang Ditabung Pada Akhir Tahun?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/bagaimana-cara-mengeluarkan-zakat-uang-yang-ditabung-pada-akhir-tahun.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/bagaimana-cara-mengeluarkan-zakat-uang-yang-ditabung-pada-akhir-tahun.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 03:13:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Tabungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1504</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Jika seorang Muslim menabung sejumlah uangnya, bagaimana cara menghitung zakatnya di akhir tahun?
Jawaban:
Hendaknya seorang Muslim men-zakati semua harta yang dimilikinya baik yang berupa uang maupun barang dagangan jika telah satu tahun dimiliki. Harta yang dimilikinya sejak Ramadhan harus dizakati pada Ramadhan berikutnya, juga uang gaji atau barang dagangan yang dimiliki sejak Sya’ban harus dizakati pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika seorang Muslim menabung sejumlah uangnya, bagaimana cara menghitung zakatnya di akhir tahun?</p>
<p><span id="more-1504"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Hendaknya seorang Muslim men-zakati semua harta yang dimilikinya baik yang berupa uang maupun barang dagangan jika telah satu tahun dimiliki. Harta yang dimilikinya sejak Ramadhan harus dizakati pada Ramadhan berikutnya, juga uang gaji atau barang dagangan yang dimiliki sejak Sya’ban harus dizakati pada Sya’ban berikutnya, juga harta yang dimilikinya sejak Dzulhijjah harus dizakati pada Dzulhijjah berikutnya.</p>
<p>Demikianlah jika harta-harta tersebut telah dimiliki selama setahun penuh, maka dizakati pada setiap awal tahun. Jika si pemilik ingin mengeluarkan zakat sebelum genap setahun untuk kemaslahatan syar’i, maka boleh juga, bahkan ia akan memperoleh pahala yang besar. Adapun kewajiban mengeluarkannya hanya apabila telah genap setahun.</p>
<p><em>Majalah al-Buhuts</em>, edisi 35, hal. 98-99, Syaikh Ibnu Baz.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Terkini Jilid</em> 1, penerbit Darul Haq.</p>
<p>Sumber: fatwaulama.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/bagaimana-cara-mengeluarkan-zakat-uang-yang-ditabung-pada-akhir-tahun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Hukum Zakat yang Diserahkan ke Lembaga Zakat atau Instansi Pemerintah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/apa-hukum-zakat-yang-diserahkan-ke-lembaga-zakat-atau-instansi-pemerintah.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/apa-hukum-zakat-yang-diserahkan-ke-lembaga-zakat-atau-instansi-pemerintah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 03:11:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1502</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Saya memiliki sebuah perusahaan. Saya selalu menyerahkan uang sebesar dua setengah persen dari modal saya kepada Lembaga Zakat atau Instansi Pemerintah, dengan niat uang tersebut adalah zakat harta saya. Jika saya tidak menyerahkan dua setengah persen tadi, maka kepentingan saya akan terganggu, seperti pengajuan proposal, pengajuan surat-surat dan sebagainya.
Oleh karena itu saya tertuntut menyerahkan dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya memiliki sebuah perusahaan. Saya selalu menyerahkan uang sebesar dua setengah persen dari modal saya kepada Lembaga Zakat atau Instansi Pemerintah, dengan niat uang tersebut adalah zakat harta saya. Jika saya tidak menyerahkan dua setengah persen tadi, maka kepentingan saya akan terganggu, seperti pengajuan proposal, pengajuan surat-surat dan sebagainya.</p>
<p>Oleh karena itu saya tertuntut menyerahkan dua setengah persen tersebut. Akan tetapi saya pernah membaca dalam beberapa kitab, bahwasanya uang tersebut tidak sah dianggap sebagai zakat. Berarti saya harus mengeluarkan zakat selain dua setengah persen yang saya serahkan kepada Lembaga Zakat atau Instansi Pemerintah tersebut.</p>
<p>Mohon jawabannya, karena demikianlah keadaan seluruh perusahaan di Saudi Arabia ini. Semoga Allah memberi taufik bagi Anda kepada kebaikan.</p>
<p><span id="more-1502"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Selama anda diminta menyerahkan dua setengah persen sebagai zakat dan anda juga mengeluarkannya dengan niat zakat, maka dua setengah persen tadi terhitung zakat. Sebab dalam hal ini Pemerintah berhak menarik zakat dari warganya yang kaya untuk disalurkan kepada yang berhak. Anda tidak perlu mengeluarkan zakat lagi selain uang yang tadi anda serahkan kepada Pemerintah.</p>
<p>Adapun bila anda memiliki harta lainnya atau laba lainnya yang belum dikeluarkan zakatnya kepada Pemerintah, maka anda wajib mengeluarkan zakatnya untuk diserahkan kepada kaum fakir atau kepada yang berhak. Hanya Allahlah pemberi petunjuk.</p>
<p><em>Fatawa Az-Zakah</em>, Syaikh Ibnu Baz, hal. 68.</p>
<p>Sumber:<br />
<em>Fatwa-Fatwa Terkini Jilid</em> 1, Penerbit Darul Haq.</p>
<p>Sumber: fatwaulama.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/apa-hukum-zakat-yang-diserahkan-ke-lembaga-zakat-atau-instansi-pemerintah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Zakat Perhiasan Wanita?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/adakah-zakat-perhiasan-wanita.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/adakah-zakat-perhiasan-wanita.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 03:08:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Emas]]></category>
		<category><![CDATA[Perak]]></category>
		<category><![CDATA[Perhiasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1500</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Apakah harus dikeluarkan zakat dari emas yang diproyeksikan wanita hanya sebagai perhiasan dan untuk dipakai, bukan untuk diperjualbelikan?
Jawaban:
Ada perbedaan pendapat tentang wajibnya zakat pada perhiasan wanita jika telah mencapai nishab dan tidak diproyeksikan untuk perdagangan. Yang benar adalah bahwa harus dikeluarkan zakatnya jika telah mencapai nishab walaupun hanya untuk dipakai dan hanya sebagai perhiasan.

Nishab emas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p align="justify">Apakah harus dikeluarkan zakat dari emas yang diproyeksikan wanita hanya sebagai perhiasan dan untuk dipakai, bukan untuk diperjualbelikan?</p>
<p align="justify"><span id="more-1500"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p align="justify">Ada perbedaan pendapat tentang wajibnya zakat pada perhiasan wanita jika telah mencapai nishab dan tidak diproyeksikan untuk perdagangan. Yang benar adalah bahwa harus dikeluarkan zakatnya jika telah mencapai nishab walaupun hanya untuk dipakai dan hanya sebagai perhiasan.</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Nishab emas adalah 20 <em>mitsqal</em>, kadar zakatnya 11 3/7 <em>junaih</em> Saudi. Jika perhiasan itu kurang dari jumlah itu, maka tidak ada zakatnya, kecuali jika diproyeksikan untuk perdagangan maka secara mutlak ada zakatnya jika mencapai nishabnya, baik berupa emas maupun perak.</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Dalil wajibnya zakat pada perhiasan yang berupa emas dan perak yang dialokasikan untuk dipakai adalah keumuman cakupan sabda Nabi <em>shallallaahu ’alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَ لاَ فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّيْ زَكَاتَهَا إِلاَّ إِذَا كَانَ يَوْمَ القِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِيْنُهُ وَظَهْرُهَ.</p>
<p align="justify"><em> “Siapa saja yang memiliki emas dan perak lalu tidak dikeluarkan zakatnya maka pada hari Kiamat nanti akan dibentangkan baginya lempengan dari api lalu dipanaskan dalam neraka kemudian dahi-dahi mereka, lambung dan punggung mereka dibakar dengannya.”</em>[1]<em> </em>(Al-Hadits).</p>
<p align="justify">Hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash <em>radhiallaahu’anhu</em>: Bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah <em>shallallaahu ’alaihi wa sallam</em>, wanita itu bersama puterinya yang mengenakan dua gelang emas yang besar di tangannya, maka beliau bertanya kepadanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَ تُعْطِيْنَ زَكَاةَ هذَا؟</p>
<p align="justify"><em> “Apakah engkau mengeluarkan zakatnya?”</em> Wanita itu menjawab, <em>“Tidak.”</em> Beliau bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَ يَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللهُ بِهِمَا يَوْمَ القِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ؟</p>
<p align="justify"><em> “Apakah engkau senang bila Allah mengenakan gelang padamu karena kedua gelang tersebut pada hari kiamat nanti dengan dua gelang yang terbuat dari api?” Maka wanita itu pun langsung melepaskan kedua gelang tersebut lalu menjatuhkannya kepada Nabi </em><em>shallallaahu ’alaihi wa sallam sambil mengatakan, “Kedua gelang itu untuk Allah </em><em>subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.”</em> [2]</p>
<p align="justify">Hadits Ummu Salamah <em>radhiallaahu’anha</em>, ia berkata, “Aku mengenakan gelang-gelang kaki yang terbuat dari emas, lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah ini termasuk harta simpanan?&#8221; Beliau menjawab:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا بَلَغَ أَنْ يُزَكَّى فَزُكِّيَ فَلَيْسَ بِكَنْزٍ.</p>
<p align="justify"><em>“Barang apa saja yang telah mencapai nishab lalu dikeluarkan zakatnya maka tidak termasuk kanz (harta simpanan).”</em> [3]</p>
<p align="justify">Beliau tidak mengatakan, ‘Tidak ada zakat pada perhiasan.’ Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi <em>shallallaahu ’alaihi wa sallam</em> mengatakan, &#8220;Tidak ada zakat pada perhiasan.&#8221; adalah hadits lemah, tidak boleh digunakan untuk dipertentangkan dengan yang pokok dan tidak juga dengan hadits-hadits shahih. Hanya Allah-lah pemberi petunjuk.</p>
<p><em>Masa’il wa Fatawa fi Zakatil Huliy</em>, Al-Lajnah Ad-Da’imah, hal. 20-22.</p>
<p align="justify">_________<br />
Catatan kaki:<br />
[1] HR. Muslim, kitab <em>az-Zakah</em> (987).<br />
[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, kitab<em> az-Zakah</em> (1563) dan an-Nasa’i, kitab <em>az-Zakah</em> (5/38) dengan isnad hasan.<br />
[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, kitab <em>az-Zakah</em> (1564) dan ad-Daru Quthni seperti itu (2/105), dishahihkan oleh al-Hakim (1/390).</p>
<p align="left">Sumber:<br />
<em> Fatwa-Fatwa Terkini Jilid </em>1, Penerbit Darul Haq.</p>
<p align="left">Sumber: fatwaulama.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/adakah-zakat-perhiasan-wanita.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fitri dengan Uang?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/bolehkah-mengeluarkan-zakat-fitri-dengan-uang.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/bolehkah-mengeluarkan-zakat-fitri-dengan-uang.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 04:20:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1438</guid>
		<description><![CDATA[Berikut kami sarikan  fatwa Syaikh ‘Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Pembimbingan Kerajaan Saudi Arabia (Ro’is Al ‘Aam Li-idarot Al  Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad).
Pertanyaan:
Alhamdulillahi robbil ‘alamin wa shallallahu wa sallam ‘ala ‘abdihi wa rosulihi Muhammad wa ‘ala alihi wa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut kami sarikan  fatwa Syaikh ‘Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Pembimbingan Kerajaan Saudi Arabia (<em>Ro’is Al ‘Aam Li-idarot Al  Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad</em>).</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillahi robbil ‘alamin wa shallallahu wa sallam ‘ala ‘abdihi wa rosulihi Muhammad wa ‘ala alihi wa ashhabihi ajma’in. Wa ba’du</em>:</p>
<p>Beberapa saudara kami pernah menanyakan  kepada kami mengenai hukum membayar zakat fitri dengan uang.</p>
<p><span id="more-366"> </span></p>
<p><strong><span id="more-1438"></span>Jawabannya:</strong></p>
<p><strong> </strong> Tidak ragu lagi bagi setiap muslim yang diberi pengetahuan  bahwa rukun Islam yang paling penting dari agama yang <em>hanif</em> (lurus) ini  adalah syahadat ‘<em>Laa ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah</em>‘.  Konsekuensi dari syahadat <em>laa ilaha illallah</em> ini adalah seseorang harus  menyembah Allah semata. Konsekuensi dari syahadat <em>Muhammad adalah Rasul-Nya</em> yaitu seseorang hendaklah menyembah Allah hanya dengan menggunakan syari’at  yang dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. (Telah kita  ketahui bersama) bahwa zakat fitri adalah ibadah berdasarkan <em>ijma’</em> (kesepakatan) kaum muslimin. Dan hukum asal ibadah adalah <em>tauqifi</em> (harus berlandaskan dalil).  Oleh karena itu, setiap orang hanya diperbolehkan melaksanakan suatu ibadah dengan menggunakan syari’at Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah telah mengatakan  mengenai Nabi-Nya ini,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَا  يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى</p>
<p>“<em>Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)</em>.” (QS. An Najm  [53]: 3-4)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam </em>juga bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ  أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p>“<em>Barangsiapa  membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka  perkara tersebut tertolak</em>.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim,  beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ  عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p>“<em>Barangsiapa  melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”</em> (HR. Muslim no. 1718)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga telah menjelaskan mengenai penunaian zakat fitri -sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih- yaitu ditunaikan dengan 1 sho’ bahan makanan, kurma, gandum, kismis, atau keju. Bukhari dan Muslim <em>-rahimahumallah-</em> meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar  –<em>radhiyallahu ‘anhuma</em>-, beliau berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ</p>
<p>“<em>Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam<span style="text-decoration: underline;"> mewajibkan</span> zakat fitri berupa satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikan zakat ini sebelum orang-orang berangkat menunaikan shalat ‘ied.</em>” (HR. Bukhari no. 1503)</p>
<p>Abu Sa’id Al Khudri <em>radhiyallahu  ‘anhu </em>mengatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ</p>
<p>“<em>Dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menunaikan zakat fitri berupa 1 sho’ bahan makanan, 1 sho’ kurma, 1 sho’ gandum atau 1 sho’ kismis</em>.”  (HR. Bukhari no. 1437 dan Muslim no. 985)</p>
<p>Dalam riwayat lain dari  Bukhari no. 1506 dan Muslim no. 985 disebutkan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَوْ  صَاعًا مِنْ أَقِطٍ</p>
<p>“<em>Atau 1 sho’ keju</em>.”</p>
<p>Inilah hadits yang disepakati keshahihannya dan beginilah sunnah (ajaran)  Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam menunaikan zakat fitri. Telah kita ketahui pula bahwa ketika pensyariatan dan dikeluarkannya zakat fitri ini sudah ada mata uang dinar dan dirham di tengah kaum muslimin -khususnya penduduk Madinah (tempat domisili Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>-pen<em>)</em>-.  Namun, <strong>beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak menyebutkan kedua  mata uang ini dalam zakat fitri</strong>. Seandainya mata uang dianggap sah dalam  membayar zakat fitri, tentu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan  menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya  beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> membayar zakat fitri dengan uang,  tentu para sahabat -<em>radhiyallahu ‘anhum</em>- akan menukil berita tersebut.  Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> yang membayar zakat fitri dengan uang. Padahal para sahabat adalah  manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya.  Seandainya ada di antara mereka yang <a title="Zakat Fitri Dengan Uang" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/mengeluarkan-zakat-fitri-dengan-uang.html">membayar zakat fitri dengan uang</a>, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَقَدْ  كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.</em>” (QS. Al Ahzab: 21)</p>
<p>Allah<em> ta’ala</em> juga  berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.</em>”  (QS. At Taubah [9]: 100)</p>
<p>Dari penjelasan kami di atas, maka jelaslah bagi orang yang mengenal  kebenaran bahwa <strong>menunaikan zakat fitri dengan uang tidak diperbolehkan dan  tidak sah</strong> karena hal ini telah menyelisihi berbagai dalil yang telah kami  sebutkan. <em>Aku memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk memahami agamanya, agar tetap teguh dalam agama ini, dan waspada terhadap berbagai perkara yang menyelisihi syariat Islam. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. </em>(<em>Majmu’  Fatawa Ibnu Baz</em>, 14/208-211)</p>
<p><strong>Peringatan</strong>: Melalui penjelasan di atas kami rasa sudah cukup jelas bahwa pembayaran zakat fitri dengan uang tidaklah tepat. Inilah pendapat mayoritas ulama termasuk <strong>mazhab Syafi’iyah</strong> yang dianut oleh kaum muslimin Indonesia. An Nawawi mengatakan, “Mayoritas pakar fikih tidak membolehkan membayar zakat fitri dengan <em>qimah</em> (dicocokkan dengan  harganya), yang membolehkan hal ini hanyalah Abu Hanifah.” (<em>Syarh  Muslim, </em>3/417). Namun, sayangnya kaum muslimin Indonesia yang mengaku bermazhab Syafi’i menyelisihi imam mereka dalam masalah ini. Malah dalam zakat fitri, mereka manut mazhab Abu Hanifah. Ternyata dalam masalah ini, kaum muslimin Indonesia tidaklah konsisten dalam bermazhab.</p>
<p>Kami hanya bisa menghimbau kepada saudara-saudara kami selaku Badan Pengurus Zakat agar betul-betul memperhatikan hal ini. Tidakkah kita merindukan syi’ar Islam mengenai zakat ini nampak? Dahulu, di malam hari Idul Fitri, banyak kaum muslimin berbondong-bondong datang ke masjid-masjid dengan menggotong beras. Namun, syiar ini sudah hilang karena tergantikan dengan uang. Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memudahkan mereka mengikuti syariat-Nya. (Perkataan Nabi Syu’aib): <em>“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.’</em></p>
<p>***</p>
<p>Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel <a title="Zakat Fitri Dengan Uang" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/mengeluarkan-zakat-fitri-dengan-uang.html">www.muslim.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/bolehkah-mengeluarkan-zakat-fitri-dengan-uang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Sama Panitia Zakat dengan Amil?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/apakah-sama-panitia-zakat-dengan-amil.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/apakah-sama-panitia-zakat-dengan-amil.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 06:51:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Amil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1128</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: 
Apakah sama Panitia Zakat dengan Amil?
Jawaban:
Ketika menjelaskan firman Allah di surat at Taubah: 60, Fakhruddin ar Razi mengatakan: &#8220;Kandungan hukum yang kedua, ayat di atas menunjukkan bahwa penguasa atau orang yang diangkat oleh penguasalah yang memiliki kewenangan untuk mengambil dan mendistribusikan harta zakat.
Sisi pendalilannya, Allah menetapkan bahwa amil mendapatkan bagian dari zakat. Ini menunjukkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Apakah sama Panitia Zakat dengan Amil?</p>
<p><span id="more-1128"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Ketika menjelaskan firman Allah di surat at Taubah: 60, Fakhruddin ar Razi mengatakan: &#8220;Kandungan hukum yang kedua, ayat di atas menunjukkan bahwa penguasa atau orang yang diangkat oleh penguasalah yang memiliki kewenangan untuk mengambil dan mendistribusikan harta zakat.</p>
<p>Sisi pendalilannya, Allah menetapkan bahwa amil mendapatkan bagian dari zakat. Ini menunjukkan bahwa untuk membayarkan zakat harus ada amil.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">والعامل هو الذي نصبه الإمام لأخذ الزكوات</p>
<p><strong>Sedangkan amil adalah orang yang diangkat oleh penguasa untuk mengambil zakat (bukan sekedar menerima zakat, pent).</strong></p>
<p>Sehingga ayat di atas adalah dalil tegas yang menunjukkan bahwa penguasalah yang memiliki kewenangan untuk mengambil harta zakat. Kebenaran pernyataan ini semakin kuat dengan firman Allah:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">خُذْ مِنْ أموالهم صَدَقَةً</p>
<p><em>“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.” </em>(Qs. at Taubah: 103)</p>
<p>Oleh karena itu mengatakan bahwa pemilik harta itu diperbolehkan untuk membayarkan zakat hartanya yang tersembunyi (yaitu zakat uang, pent) secara langsung adalah berdasarkan dalil yang lain.</p>
<p>Mungkin di antara dalil yang menunjukkan pernyataan ini adalah firman Allah:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَفِى أموالهم حَقٌّ لَّلسَّائِلِ والمحروم</p>
<p style="text-align: left;"><em>“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta-minta.” </em>(Qs. adz Dzariyat: 19)</p>
<p>Jika zakat adalah hak orang miskin yang meminta-minta dan yang tidak meminta-minta maka tentu dibolehkan menyerahkan zakat secara langsung kepada yang berhak menerima.” (<em>Mafatiih al Ghaib atau Tafsir ar Razi</em> 8/77, Maktabah Syamilah).</p>
<p>Ketika membahas hadits Ibnu Abbas tentang pengutusan Muadz bin Jabal ke Yaman, Ibnu Hajar al Asqolani berkata:</p>
<p>“Hadits ini bisa dijadikan dalil bahwa penguasalah yang memiliki otoritas untuk mengambil zakat dan menditribusikannya baik secara langsung ataupun melalui orang yang dia angkat. Barang siapa yang menolak untuk membayar zakat maka akan diambil secara paksa.” (<em>Fathul Bari</em> 5/123 hadits no 1401, Maktabah Syamilah).</p>
<p>Ibnu Humam al Hanafi mengatakan, “Makna tekstual dari firman Allah yang artinya, ‘Ambillah zakat dari harta mereka’ (QS at Taubah:103) menunjukkan bahwa hak mengambil zakat itu secara mutlak berada di tangan penguasa” (Fath al Qodir 3/478).</p>
<p>Ketika menjelaskan firman Allah dalam surat at Taubah ayat yang ke-60, al Qurthubi al Maliki mengatakan, “Yang dimaksud dengan amil zakat adalah para petugas yang diangkat oleh penguasa untuk mengumpulkan zakat dengan status sebagai wakil penguasa dalam masalah tersebut” (<em>al Jami’ li Ahkam al Qur’an</em>, 8/177 Maktabah Syamilah).</p>
<p>Asy Syaerozi asy Syafii mengatakan, “Penguasa memiliki kewajiban untuk mengangkat amil untuk mengambil zakat karena Nabi dan para khalifah setelahnya selalu mengangkat petugas zakat. Alasan lainnya adalah karena di tengah masyarakat ada orang yang memiliki harta namun tidak mengatahui kadar zakat yang wajib dikeluarkan. Demikian pula diantara mereka ada yang memiliki sifat pelit sehingga penguasa wajib mengangkat petugas. Petugas yang diangkat penguasa haruslah orang yang merdeka (bukan budak), baik agamanya dan bisa dipercaya karena status sebagai amil zakat adalah sebuah kekuasaan dan amanah. Sedangkan seorang budak dan orang yang fasik tidak berhak diberi kekuasaan dan amanah. Penguasa tidak boleh mengangkat sebagai amil zakat kecuali orang yang faham fiqih karena hal ini membutuhkan pengetahuan tentang harta yang wajib dizakati dan yang tidak wajib dizakati serta perlu adanya ijtihad berkaitan dengan berbagai permasalahan dan hukum zakat yang dihadapi”(<em>al Muhadzab</em> hal 308 dan<em> al Majmu’ Syarh al Muhadzab</em> 6/167, Maktabah Syamilah)</p>
<p>Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan:</p>
<p>“Golongan ketiga yang berhak mendapatkan zakat adalah amil zakat. Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa untuk mengambil zakat dari orang-orang yang berkewajiban untuk menunaikannya lalu menjaga dan mendistribusikannya. Mereka diberi zakat sesuai dengan kadar kerja mereka meski mereka sebenarnya adalah orang-orang yang kaya. Sedangkan orang biasa yang menjadi wakil orang yang berzakat untuk mendistribusikan zakatnya bukanlah termasuk amil zakat. Sehingga mereka tidak berhak mendapatkan harta zakat sedikitpun disebabkan status mereka sebagai wakil. Akan tetapi jika mereka dengan penuh kerelaan hati mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan penuh amanah dan kesungguhan maka mereka turut mendapatkan pahala. Namun jika mereka meminta upah karena telah mendistribusikan zakat maka orang yang berzakat berkewajiban memberinya upah dari hartanya yang lain bukan dari zakat.” (<em>Majalis Syahri Ramadhan </em>hal 163-164, cet Darul Hadits Kairo).</p>
<p>Sayid Sabiq mengatakan, “<strong>Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa atau wakil penguasa untuk bekerja mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya.</strong> Termasuk amil zakat orang yang bertugas menjaga harta zakat, penggembala hewan ternak zakat dan juru tulis yang bekerja di kantor amil zakat.” (<em>Fiqh Sunnah</em> 1/327, terbitan Dar al Fikr Beirut).</p>
<p>Syeikh Shalih al Fauzan, salah seorang ulama dari Arab Saudi, menjelaskan, “Amil zakat adalah para pekerja yang bertugas mengumpulkan harta zakat dari orang-orang yang berkewajiban membayar zakat lalu menjaganya dan mendistribusikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka bekerja berdasarkan perintah yang diberikan oleh penguasa kaum muslimin. Mereka diberi dari sebagian zakat sesuai dengan upah yang layak diberikan untuk pekerjaan yang mereka jalani kecuali jika pemerintah telah menetapkan gaji bulanan untuk mereka yang diambilkan dari kas Negara karena pekerjaan mereka tersebut. Jika demikian keadaannya, sebagaimana yang berlaku saat ini (di Saudi, pent), maka mereka tidak diberi sedikitpun dari harta zakat karena mereka telah mendapatkan gaji dari negara.” (<em>al Mulakhash al Fiqhi</em> 1/361-362, cet Dar al ‘Ashimah Riyadh).</p>
<p>&#8216;Adil bin Yusuf al ‘Azazi berkata, “Yang dimaksud dengan amil zakat adalah para petugas yang dikirim oleh penguasa untuk mengunpulkan zakat dari orang-orang yang berkewajiban membayar zakat. Demikian pula termasuk amil adalah orang-orang yang menjaga harta zakat serta orang-orang yang membagi dan mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka itulah yang berhak diberi zakat meski sebenarnya mereka adalah orang-orang yang kaya.” (<em>Tamam al Minnah fi Fiqh al Kitab wa Shahih al Sunnah</em> 2/290, terbitan Muassasah Qurthubah Mesir).</p>
<p>Berdasarkan paparan di atas jelaslah bahwa syarat agar bisa disebut sebagai amil zakat adalah diangkat dan diberi otoritas oleh penguasa muslim untuk mengambil zakat dan mendistribusikannya sehingga panitia-panitia zakat yang ada di berbagai masjid serta orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai amil bukanlah amil secara syar’i. Hal ini sesuai dengan istilah amil karena yang disebut amil adalah pekerja yang dipekerjakan oleh pihak tertentu.</p>
<p>Memiliki otoritas untuk mengambil dan mengumpulkan zakat adalah sebuah keniscayaan bagi amil karena amil memiliki kewajiban untuk mengambil zakat secara paksa dari orang-orang yang menolak untuk membayar zakat.</p>
<p>Sayid Sabiq berkata, “Siapa yang menolak untuk membayar zakat padahal dia menyakini kewajibannya maka dia berdosa karena tidak mau membayar zakat meski hal ini tidak mengeluarkannya dari Islam. Penguasa memiliki kewajiban untuk mengambil harta zakat tersebut secara paksa darinya serta memberikan hukuman atas sikap orang tersebut.” (<em>Fiqh Sunnah</em> 1/281).</p>
<p>Sumber: ustadzaris.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/apakah-sama-panitia-zakat-dengan-amil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Zakat Harta untuk Pembangunan Masjid dan Sekolah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/bolehkah-zakat-harta-untuk-pembangunan-masjid-dan-sekolah.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/bolehkah-zakat-harta-untuk-pembangunan-masjid-dan-sekolah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 13:44:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat Harta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=771</guid>
		<description><![CDATA[Tanya:
Apakah boleh mengeluarkan zakat harta untuk keperluan pembangunan masjid dan madrasah?
(Zain)

Jawab:
Allah ta&#8217;alaa telah menyebutkan bahwa zakat harta hanya untuk 8 golongan , sebagaimana tersebut di dalam ayat: 
(إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ) (التوبة:60)

&#8220;Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p>Apakah boleh mengeluarkan zakat harta untuk keperluan pembangunan masjid dan madrasah?</p>
<p>(Zain)<br />
<span><br />
<strong>Jawab:</strong></span></p>
<p><span>Allah ta&#8217;alaa telah menyebutkan bahwa zakat harta hanya untuk 8 golongan , sebagaimana tersebut di dalam ayat: </span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ) (التوبة:60)<br />
<em></em></p>
<p><span><em>&#8220;Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu&#8217;allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.&#8221; </em>(Qs. 9:60)<br />
</span></p>
<p><span>Kata إنما (sesungguhnya hanya saja) adalah untuk pembatasan, dan pembangunan masjid serta sekolah tidak termasuk dalam 8 golongan tersebut.</span></p>
<p>Dan tidaklah pembangunan masjid dan madrasah masuk dalam firman Allah: وفي سبيل الله karena yang rajih bahwa (في سبيل الله) di dalam ayat di atas maksudnya adalah jihad dalam arti khusus yaitu jihad (memerangi) orang kafir untuk membeli perlengkapan yang diperlukan untuk perang dll, karena seandainya yang dimaksud adalah semua pintu-pintu kebaikan maka masuk di dalamnya semua golongan, dan pembatasan menjadi tidak ada faidahnya.</p>
<p><span>Berkata Ibnu Zaid ketika menafsirkan وفي سبيل الله :</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الغازي في سبيل الله</p>
<p><span>&#8220;Orang yang berperang di jalan Allah.&#8221; (Dikeluarkan oleh Ath-Thabary dalam Tafsirnya 14/319)<br />
</span></p>
<p><span>Berkata Ath-Thabary:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وأما قوله:(وفي سبيل الله)، فإنه يعني: وفي النفقة في نصرة دين الله وطريقه وشريعته التي شرعها لعباده، بقتال أعدائه، وذلك هو غزو الكفار.</p>
<p><span>&#8220;Dan adapun firman Allah: (وفي سبيل الله) maka maksudnya adalah nafkah dalam menolong agama Allah, jalanNya, dan syari&#8217;atNya yang telah Allah syari&#8217;atkan untuk hamba-hambaNya, dengan memerangi musuh-musuhNya, dan yang demikian itu adalah peperangan dengan orang-orang kafir.&#8221; (<em>Tafsir Ath-Thabary</em> 14/319)<br />
</span></p>
<p><span>Berkata Ibnu Hajar Al-Asqalany:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وأما سورة التوبة الآية 60 وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ فالأكثر على أنه يختص بالغازي غنيا كان أو فقيرا</p>
<p><span>&#8220;Adapun surat Taubat ayat 60 (وفي سبيل الله) maka sebagian besar ulama berpendapat bahwa ini khusus untuk orang yang ikut perang, baik orang kaya maupun miskin.&#8221; (<em>Fathul Bary</em> 3/59)<br />
</span></p>
<p><span>Berkata Syeikh Abdul Aziz bin Baz:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الصحيح أن المراد بقوله سبحانه : سورة التوبة الآية 60 وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ عند أهل العلم هم الغزاة والجهاد في سبيل الله ، فلا تصرف في المساجد ولا المدارس عند جمهور أهل العلم . وذهب بعض المتأخرين إلى جواز صرفها في المشاريع الخيرية ، ولكنه قول مرجوح ؛ لأنه يخالف ما دلت عليه الأدلة ، ويخالف ما مضى عليه أهل العلم .</p>
<p><span>&#8220;Yang shahih bahwa yang dimaksud dengan (وفي سبيل الله) dalam surat Taubat ayat 60 menurut para ulama adalah orang-orang yang ikut perang dan jihad di jalan Allah, maka tidak boleh dikeluarkan untuk masjid dan madrasah menurut mayoritas ulama, dan sebagian ulama zaman sekarang membolehkan mengeluarkan zakat untuk kegiatan-kegiatan sosial, akan tetapi ini pendapat yang tidak kuat, karena menyelisihi dalil dan menyelisihi apa yang sudah dilakukan para ulama.&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa Syeikh Abdul Aziz bin Baz</em> 14/197)<br />
</span></p>
<p><span>Al-Lajnah Ad-Daimah juga merajihkan pendapat ini dan mengatakan bahwa ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir, ahli hadist, dan ahli fiqh. Dan mereka menambahkan bahwa kalau tidak ditemukan orang yang berhak mendapat zakat dari 8 golongan tersebut maka boleh dipergunakan untuk pembangunan sarana umum seperti masjid dll. (<em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah</em> 10/47-48).<br />
</span></p>
<p><span>Wallahu a&#8217;lam</span></p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/bolehkah-zakat-harta-untuk-pembangunan-masjid-dan-sekolah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Barang Dagangan Dengan Uang</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/zakat-barang-dagangan-dengan-uang.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/zakat-barang-dagangan-dengan-uang.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 03:49:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=702</guid>
		<description><![CDATA[Tanya:
Ustadz, bolehkah seorang pedagang men-zakati barang dagangannya dari barang tersebut? Bukan dengan uang.
Mohon sertakan dalilnya. Terima kasih.
(Az-Zahra)
Jawab: 
Pendapat yang kuat bahwa tidak boleh seorang pedagang menzakati barang dagangannya dari barang tersebut karena nishab barang dagangan dihitung dengan harga (uang) maka zakatnya juga dikeluarkan dengan harga (uang). (Lihat Al-Mughny 4/250)
Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syeikh Muhammad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p>Ustadz, bolehkah seorang pedagang men-zakati barang dagangannya dari barang tersebut? Bukan dengan uang.<br />
Mohon sertakan dalilnya. Terima kasih.</p>
<p>(Az-Zahra)</p>
<p><strong>Jawab: </strong></p>
<p>Pendapat yang kuat bahwa tidak boleh seorang pedagang menzakati barang dagangannya dari barang tersebut karena nishab barang dagangan dihitung dengan harga (uang) maka zakatnya juga dikeluarkan dengan harga (uang). (Lihat <em>Al-Mughny</em> 4/250)</p>
<p><span>Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (Lihat <em>Asy-Syarh Al-Mumti&#8217;</em> 6/141)</span></p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/zakat/zakat-barang-dagangan-dengan-uang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
