<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Syariah - agama islam tanya jawab nikah remaja keluarga bisnis fatwa wanita kesehatan &#187; Hutang Piutang</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/category/fikih/muamalah/hutang-piutang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com menyajikan berbagai tanya jawab ilmiah syariah seputar permasalahan kehidupan muslim: Aqidah, Tata Cara Ibadah, Perdagangan, Rumah Tangga, Kesehatan, dan lain-lain.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 08:11:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Percaya Diri (PeDe), Bolehkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/muamalah/hutang-piutang/percaya-diri.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/muamalah/hutang-piutang/percaya-diri.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 03:18:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PD]]></category>
		<category><![CDATA[Percaya Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2276</guid>
		<description><![CDATA[Hukum PD (Percaya Diri), Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim.
 87- س:- قول من قال: تجب الثقة بالنفس؟
Pertanyaan ke-87 adalah tentang hukum perkataan yang mengatakan bahwa percaya diri itu adalah sebuah keharusan?

ج: لا تجب ولا تجوز الثقة بالنفس
Jawaban Syaikh Muhammad bin Ibrahim,
“Percaya diri itu tidaklah wajib, bahkan tidak boleh (baca:haram).
في الحديث: وَلاَ تَكِلْني إلى نَفْسِيْ طرْفَةَ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hukum PD (Percaya Diri), Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim.</strong></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"> 87- س:- قول من قال: تجب الثقة بالنفس؟</p>
<p>Pertanyaan ke-87 adalah tentang hukum perkataan yang mengatakan bahwa percaya diri itu adalah sebuah keharusan?</p>
<p><span id="more-2276"></span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ج: لا تجب ولا تجوز الثقة بالنفس</p>
<p><strong>Jawaban Syaikh Muhammad bin Ibrahim</strong>,</p>
<p>“Percaya diri itu tidaklah wajib, bahkan <strong>tidak boleh</strong> (baca:<strong>haram</strong>).</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">في الحديث: وَلاَ تَكِلْني إلى نَفْسِيْ طرْفَةَ عَيْن.1</p>
<p>Dalam sebuah doa yang terdapat dalam hadits disebutkan, “<em>Ya Allah, janganlah Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata</em>” (HR Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban dan dinilai hasan oleh al Albani dalam Sahih al Jami no 3382).</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">من يقوله؟! أَخشى أَن هذه غلطة منك؟! لا أَظن أَن انسانًا له عقل يقول ذلك، فضلاً عن العلم.….تقرير الحموية</p>
<p>Siapa yang mengatakan wajibnya percaya diri? Saya khawatir Anda salah   dengar dalam hal ini. Aku tidak menyangka ada seorang yang berakal  yang  mengucapkan hal tersebut, terlebih lagi orang yang berilmu” (Tanya   Jawab dalam <em>kajian kitab al Hamawiyyah</em>)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(1)	وجاء في حديث رواه أحمد: واشهد أنك ان تكلني إلى نفسي تكلني إلى ضيعة وعورة وذنب وخطيئة واني ان أثق إلا برحمتك</p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
<p>Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan, “<em>Dan  aku  bersaksi sesungguhnya jika Kau serahkan diriku kepada diriku  sendiri  berarti Kau serahkan diriku kepada ketersia-siaan, memalukan,  dosa dan  kesalahan. Sesungguhnya aku hanya percaya kepada rahmat-Mu</em>”</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa wa Rasai Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh 1/50, Maktabah Syamilah.</em></p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Tentang hukum PeDe perlu kita rinci:</p>
<p>a. Jika yang dimaksud dengan PD adalah tidak minder, berani tampil di   depan banyak orang dan hal-hal yang semisal maka tentu tidak mengapa.</p>
<p>b. Jika yang dimaksud dengan PD adalah mengandalkan kemampuan diri   sendiri dan tidak bergantung kepada Allah maka jelas hukumnya <strong>haram</strong>.</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzaris.com/">www.ustadzaris.com</a><br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/muamalah/hutang-piutang/percaya-diri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beli Emas dengan Cek, Bolehkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/muamalah/hutang-piutang/beli-emas-dengan-cek.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/muamalah/hutang-piutang/beli-emas-dengan-cek.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 00:52:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Cek]]></category>
		<category><![CDATA[Emas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2222</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Apakah boleh dalam pembelian atau penjualan menggunakan cek yang dapat dicairkan di salah satu bank? Perlu diketahui bahwa nominasi yang tertera dalam cek benar-benar dapat dicairkan dengan utuh di bank yang dimaksud, terlebih-lebih ia (pembeli) tidak dapat membawa uang tunai tatkala ia hendak membeli, tidak juga penjual dapat menerimanya dari pembeli bila ia membeli beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah boleh dalam pembelian atau penjualan menggunakan cek yang dapat dicairkan di salah satu bank? Perlu diketahui bahwa nominasi yang tertera dalam cek benar-benar dapat dicairkan dengan utuh di bank yang dimaksud, terlebih-lebih ia (pembeli) tidak dapat membawa uang tunai tatkala ia hendak membeli, tidak juga penjual dapat menerimanya dari pembeli bila ia membeli beberapa jumlah emas batangan, terlebih-lebih kadangkala jumlah uangnya mencapai jutaan reyal, sehingga bila ia membawanya, ia khawatir akan keselamatan diri atau uangnya.</p>
<p><span id="more-2222"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak mengapa hal yang demikian, karena jual-beli dengan cek, hukumnya sama dengan menerima uang kontan, bila cek tersebut telah disahkan oleh pihak bank.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya (<em>Majmu&#8217; Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah</em>, 13/493, fatwa no. 9564).</p>
<p>Adapun selain keenam komoditi tersebut, maka diperselisihkan oleh para ulama, apakah dapat diberlakukan padanya hukum riba perniagaan sebagaimana halnya keenam komoditi di atas atau tidak.</p>
<p>Para ulama ahlu zhahir (Ibnu Hazem dan lainnya) berpendapat, bahwa hukum riba perniagaan hanya berlaku pada keenam komoditi yang disebutkan pada hadits di atas, adapun selainnya, maka tidak berlaku padanya hukum riba perniagaan. Berdasarkan ini, mereka berpendapat bahwa selain keenam komoditi tersebut boleh untuk dibarterkan dengan cara apapun, baik dengan pembayaran kontan atau dihutang, dengan melebihkan salah satu barang dalam hal timbangan atau dengan timbangan yang sama (baca <em>al-Muhalla</em> oleh Ibnu Hazem, 8/468).</p>
<p>Adapun jumhur ulama, di antaranya ulama keempat madzhab berpendapat bahwa hukum riba perniagaan berlaku pula pada komoditi lain yang semakna dengan keenam komoditi tersebut.</p>
<p>Walau demikian, mereka berbeda pendapat tentang makna penyatu antara keenam komoditi tersebut dengan komoditi lainnya:</p>
<p><strong>Pendapat Pertama: </strong>Makna (alasan) berlakunya riba pada emas dan perak ialah karena keduanya ditimbang, sedangkan alasan pada keempat komoditi lainnya ialah karena ditakar. Dengan demikian, setiap komoditi yang diperjual belikan dengan di timbang atau ditakar, maka berlaku padanya hukum riba perniagaan. Pendapat ini merupakan madzhab ulama Hanafi dan Hambaly (baca <em>al-Mabsuth</em> oleh <em>as-Sarakhsi</em>, 12/113 dan<em> Bada&#8217;ius Shanaa&#8217;i</em> oleh al-Kasany 4/401, <em>al-Mugjhny</em> oleh Ibnu Qudamah).</p>
<p><strong>Pendapat Kedua: </strong>Alasan berlakunya riba perniagaan pada emas dan perak ialah karena keduanya adalah alat untuk berjual-beli, sedangkan pada keempat komoditi lainnya ialah karena komoditi tersebut merupakan makanan pokok yang dapat disimpan. Dengan demikian, setiap yang menjadi alat untuk berjual-beli, baik itu terbuat dari emas dan perak atau selainnya, maka berlaku padanya hukum riba perniagaan. Demikian juga halnya setiap makanan pokok yang dapat disimpan, seperti beras, jagung, sagu dan lainnya berlaku padanya hukum riba perniagaan, dengan dasar qiyas kepada keenam komoditi yang disebutkan dalam hadits di atas. Ini adalah pendapat ulama madzhab Maliki (baca <em>al-Muqaddimat al-Mumahhidaat</em>, 2/13 dan<em> Bidayatul Mujtahid</em>, 7/182-183).</p>
<p><strong>Pendapat Ketiga: </strong>Alasan berlakunya riba pada emas dan perak, karena keduanya adalah alat untuk jual beli, sedangkan pada keempat komoditi lainnya ialah karena kempat komoditi tersebut merupakan bahan makanan. Dengan demikian, setiap yang dimakan berlaku padanya hukum riba perniagaan, baik sebagai makanan pokok atau tidak. Dan ini adalah pendapat ulama madzhab Syafi&#8217;i dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal (baca<em> al-Bayan</em> oleh al-Umraany 5/163-164, <em>Raudhatut Thalibin</em> oleh an-Nawawi 3/98, <em>Mughnil Muhtaj </em>oleh as-Syarbini 2/22, <em>al-Mughny</em> oleh Ibnu Qudamah 6/56, dan <em>al-Inshaf </em>oleh al-Murdawi 12/15-16).</p>
<p><strong>Pendapat Keempat:</strong> Alasan berlakunya riba pada emas dan perak, karena keduanya adalah alat untuk jual beli, sedangkan pada keempat komoditi lainnya ialah karena kempat komoditi tersebut merupakan bahan makanan yang ditakar atau ditimbang. Dengan demikian, bahan makanan yang diperjualbelikan dengan cara dihitung tidak berlaku padanya hukum riba perniagaan. Dan ini merupakan pendapat ketiga yang diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hambal, dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (baca <em>al-Mughni</em> oleh Ibnu Qudamah 6/56, <em>asy-Syarhul Kabir</em> oleh Abul Faraj Ibnu Qudamah 12/12, dan <em>al-Fatawa al-Kubra</em> 5/391).</p>
<p><strong>Pendapat Kelima: </strong>Alasan berlakunya riba pada emas dan perak, karena keduanya adalah emas dan perak (alasan atau &#8216;illah semacam ini dinamakan dalam ilmu ushul fiqih dengan &#8216;illah qashirah, yaitu suatu makna yang hanya ada pada hal yang disebutkan dalam dalil saja, atau yang diistilahkan dalam pembahasan qiyas dengan sebutan al-Aslu), baik sebagai alat untuk jual beli (dengan demikian di-qiyas-kan dengan keduanya setiap alat jual beli yang dikenal luas oleh umat manusia, dan pada zaman sekarang, uang kertas dan logam merupakan pengganti dinar dan dirham, sehingga berlaku padanya hukum uang dinar dan dirham) atau tidak, sedangkan pada keempat komoditi lainnya ialah karena kempat komoditi tersebut merupakan bahan makanan yang ditakar atau ditimbang. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin (baca <em>asy-Syarhul Mumti&#8217;</em>, 8/390).</p>
<p>Kelima pendapat di atas memiliki alasan dan dalilnya masing-masing, dan para ulama ahli fiqih telah membahasnya dengan panjang lebar, lengkap dengan diskusi ilmiyyah yang telah mereka abadikan dalam karya-kaya mereka. Oleh karena itu pada kesempatan ini, saya tidak akan menyebutkan dalil masing-masng pendapat. Akan tetapi, saya hanya akan menyebutkan dalil pendapat yang saya anggap paling kuat, yaitu pendapat kelima.</p>
<p>Adapun dalil bahwa alasan berlakunya hukum riba perniagaan pada emas dan perak yaitu karena keduanya adalah emas dan perak, baik sebagai alat jual beli atau tidak, adalah hadits berikut:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال : اشتريت يوم خيبر قلادةً باثني عشر ديناراً، فيها ذهب وخرز، ففصلتها فوجدت فيها أكثر من اثني عشر دينارا، فذكرت ذلك للنَّبي صلّى الله عليه و سلّم فقال: لا تباع حتى تفصل.<br />
وفي رواية: ثم قال لهم رسول الله للنَّبي صلّى الله عليه و سلّم (الذهب بالذهب وزنا بوزن) رواه مسلم</p>
<p>Dari Fudhalah bin Ubaid <em>radhiallahu ‘anhu</em> ia mengisahkan, “Pada saat peperangan Khaibar, aku membeli kalung seharga dua belas dinar, padanya terdapat emas dan permata, kemudian aku pisahkan, ternyata aku berhasil mengumpulkan lebih dari dua belas dinar, maka aku sampaikan kejadian itu kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka beliau bersabda, ‘Kalung tersebut tidak boleh diperjualbelikan, hingga dipisah-pisahkan.’</p>
<p>Pada riwayat lain disebutkan: <em>“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, ‘Emas dengan emas harus sama dalam timbangannya.’&#8221;</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Pada kisah ini, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menetapkan hukum riba perniagaan pada penjualan emas yang ada pada kalung tersebut, padahal kalung adalah perhiasaan dan bukan alat untuk jual beli.</p>
<p>Pemahaman ini lebih dikuatkan oleh hadits,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال: (نهى رسول الله صلّى الله عليه و سلّم أن يباع الذهب بالذهب تبره وعينه إلا وزنا بوزن والفضة بالفضة تبرها وعينها إلا مثلا بمثل، وذكر الشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح كيلا بكيل فمن زاد أو إزداد فقد أربى. (رواه النَّسائي والطَّحاوي والدَّارقطني والبيهقي وصححه الألباني)</p>
<p><em>&#8220;Dari sahabat &#8216;Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu, ia menuturkan: &#8220;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penjualan emas dengan emas, baik berupa batangan atau berupa mata uang dinar melainkan dengan cara sama timbangannya, dan perak dengan perak, baik berupa batangan atau telah menjadi mata uang dirham melainkan dengan cara sama timbangannya. Dan beliau juga menyebutkan perihal penjualan gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam dengan cara takarannya sama. Barangsiapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba.&#8221;</em> (HR. An-Nasa&#8217;i, ath-Thahawi, ad-Daraquthny, al-Baihaqy dan dishahihkan oleh al-Albany).</p>
<p>Adapun dalil bahwa alasan berlakunya hukum riba perniagaan pada keempat komoditi lainnya yaitu karena sebagai bahan makanan yang ditimbang atau ditakar adalah penggabungan antara berbagai dalil yang berkaitan dengan permasalahan ini, di antaranya hadits &#8216;Ubadah bin ash-Shamit<em> radhiallahu ‘anhu</em> di atas dan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الطعام بالطعام  مثلا بمثل. رواه مسلم</p>
<p><em>&#8220;Bahan makanan (dijual) dengan bahan makanan, harus sama dengan sama.&#8221;</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Dan juga sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلا بمثل، سواء بسواء، يدا بيد، فمن زاد أو استزاد فقد أربى. رواه مسلم</p>
<p><em>&#8220;Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya&#8217;ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya&#8217;ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, (takaran / timbangannya) sama dengan sama dan (dibayar dengan) kontan. Barangsiapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba.&#8221;</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Dengan menggabungkan beberapa dalil di atas dan juga dalil-dalil lainnya yang tidak disebutkan disini, dapat disimpulkan bahwa keberadaan keempat komoditi tersebut sebagai bahan makanan yang ditakar atau ditimbang merupakan alasan berlakunya hukum riba perniagaan padanya. Dengan demikian, setiap bahan makanan yang diperjualbelikan dengan cara ditimbang atau ditakar, maka berlaku padanya hukum riba perniagaan. Wallahu a&#8217;lam bish-shawab (bagi yang ingin mengetahui keterangan ulama tentang permasalahan lebih lanjut, silahkan merujuk kitab-kitab fiqih pada setiap madzhab).</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA. –hafizhahullah-<br />
Artikel: <a title="www.pengusahamuslim.com" href="http://www.pengusahamuslim.com/" target="_blank">www.pengusahamuslim.com</a><br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/muamalah/hutang-piutang/beli-emas-dengan-cek.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Berhutang ke Bank untuk Membangun Masjid?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/halal-haram/bolehkah-berhutang-ke-bank-untuk-membangun-masjid.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/halal-haram/bolehkah-berhutang-ke-bank-untuk-membangun-masjid.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 01:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Bank]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2208</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: 
Kami sekelompok imigran muslim yang berasal dari Maroko, tinggal di   Jerman, dan kami memiliki satu tempat yang kami sewa untuk menjalankan   shalat berjama’ah setiap saat, shalat Jum&#8217;at, dan hari raya. Dan karena   banyaknya orang yang shalat di sana –alhamdulillah- pemerintah Jerman   melarang kami untuk shalat di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Kami sekelompok imigran muslim yang berasal dari Maroko, tinggal di   Jerman, dan kami memiliki satu tempat yang kami sewa untuk menjalankan   shalat berjama’ah setiap saat, shalat Jum&#8217;at, dan hari raya. Dan karena   banyaknya orang yang shalat di sana –alhamdulillah- pemerintah Jerman   melarang kami untuk shalat di sana, dengan alasan tempat tersebut sempit   dan tidak cocok. Dan sekarang kami merencanakan untuk membeli suatu   tempat yang luas di luar kota, dan pemerintah Jerman telah memberikan   izin kepada kami untuk membelinya. Harga tempat tersebut adalah 3,5 juta   Mark, dan kami sekarang baru memiliki dana 1,5 juta Mark. Apakah boleh   bagi kami untuk berhutang kekurangan dana tersebut dari bank dengan   membayar bunga, agar dapat membeli tempat tersebut, dan apakah keadaan   ini tergolong ke dalam darurat (dharurat)? Dan bila telah terlanjur   dibeli dengan uang riba, bolehkan kita shalat di dalamnya, hingga   didapatkan tempat lain untuk shalat di negeri ini? Mohon jawabannya,   semoga Allah membalas kebaikan Anda semua.</p>
<p><span id="more-2208"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak boleh bagi kalian untuk berhutang dengan bunga/riba, karena   Allah telah mengharamkan riba, dan memberikan ancaman yang keras kepada   pelaku riba. Dan Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah   melaknati orang yang memakan riba, yang memberikannya, kedua saksinya   dan penulisnya, dan riba tidak dibolehkan dalam keadaan apapun. Oleh   karena itu, tidak boleh bagi kalian untuk membeli  tempat tersebut   kecuali bila kalian memiliki kemampuan finansial untuk membelinya tanpa   harus berhutang dengan riba.</p>
<p>Dan shalatlah sesuai dengan  kemampuan kalian, baik dengan satu  jama&#8217;ah atau dengan terbagi-bagi  menjadi beberapa jama&#8217;ah di tempat  yang berbeda-beda.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa   dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.<br />
(<em>Majmu&#8217;   Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah,</em> 13/295, fatwa no. 20002).</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A<br />
Artikel: <a title="www.PengusahaMuslim.com" href="http://www.pengusahamuslim.com/undefined/" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a><br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/halal-haram/bolehkah-berhutang-ke-bank-untuk-membangun-masjid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Hukum Menunda-Nunda Membayar Hutang?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/muamalah/hutang-piutang/apa-hukum-menunda-nunda-membayar-hutang.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/muamalah/hutang-piutang/apa-hukum-menunda-nunda-membayar-hutang.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 22:07:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1667</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Apakah hukum menunda-nunda pembayaran hutang orang yang mampu? Mohon penjelasan rinci.
Jawaban:
Tidak diperbolehkan bagi orang yang mampu untuk menunda-nunda hutang, yaitu penundaan yang dilakukan oleh orang yang mampu membayar apa  yang wajib dia tunaikan. Yang demikian itu sesuai dengan apa yang ditegaskan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bersabda:
“Penundaan pembayaran hutang oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Apakah hukum menunda-nunda pembayaran hutang orang yang mampu? Mohon penjelasan rinci.</p>
<p><img src="http://konsultasisyariah.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" mce_src="http://konsultasisyariah.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" class="mceWPmore mceItemNoResize" title="More..."><b>Jawaban:</b></p>
<p>Tidak diperbolehkan bagi orang yang mampu untuk menunda-nunda hutang, yaitu penundaan yang dilakukan oleh orang yang mampu membayar apa  yang wajib dia tunaikan. Yang demikian itu sesuai dengan apa yang ditegaskan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah<i> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>, bersabda:</p>
<p><i>“</i><i>Penundaan pembayaran hutang oleh orang yang mampu adalah suatu kezhaliman; dan jika salah seorang diantara kalian diikutkan kepada orang yang mampu, maka hendaklah dia mengikutinya.”</i></p>
<p>Wabillahit Taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad <i>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</i>, keluarga, dan para Sahabatnya.</p>
<p>Sumber: <i>Fatwa-Fatwa Jual Beli</i>, Pustaka Imam Syafii, 1424 H &#8211; 2004 M</p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" mce_href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a><br mce_bogus="1"></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/muamalah/hutang-piutang/apa-hukum-menunda-nunda-membayar-hutang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
