Halal Haram – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 30 Sep 2016 00:19:01 +0000 en-US hourly 1 Keluar Rumah, Wajib Izin Suami https://konsultasisyariah.com/28381-keluar-rumah-wajib-izin-suami.html Tue, 27 Sep 2016 01:55:54 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28381 Jika Istri Keluar Rumah

Apakah istri wajib izin k suami jika hendak keluar rumah? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah perintahkan agar para wanita lebih banyak tinggal di dalam rumah. Karena rumah adalah hijab yang paling syar’i baginnya. Allah berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Tetaplah tinggal di rumah kalian, dan jangan melakukan tabarruj seperti tabarruj jahiliyah yang dulu. (QS. al-Ahzab: 33)

Allah gandengkan perintah untuk banyak tinggal di rumah dengan larangan melakukan tabarruj. Karena umumnya, wanita akan lebih rentan melakukan tabarruj jika dia sudah sering keluar rumah.

Karena itu, para wanita diperintah untuk banyak tinggal di dalam rumah. Dan ketika hendak keluar rumah, mereka harus meminta izin kepada suaminya.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ

Apabila istri kalian meminta izin kepada kalian untuk berangkat ke masjid malam hari, maka izinkanlah… (HR. Ahmad 5211, Bukhari 865, dan Muslim 1019)

Al-Hafidz Ibnu Hajar memberikan catatan untuk hadis ini,

قال النووي واستدل به على أن المرأة لا تخرج من بيت زوجها إلا بإذنه

An-Nawawi mengatakan, hadis ini dijadikan dalil bahwa wanita tidak boleh keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izinnya. (Fathu Bari, 2/347).

Ketika Aisyah sakit dan ingin ke rumah bapaknya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau minta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَتَأْذَنُ لِى أَنْ آتِىَ أَبَوَىَّ

“Apakah anda mengizinkan aku untuk datang ke rumah bapakku?” (HR. Bukhari 4141 & Muslim 7169)

Kecuali dalam kondisi terpaksa, yang mengharuskan wanita keluar rumah, tanpa harus meminta izin suami karena kesulitan jika harus meminta izin kepadanya.

Musthafa ar-Ruhaibani mengatakan,

ويحرم خروج الزوجة بلا إذن الزوج أو بلا ضرورة ، كإتيانٍ بنحو مأكل ; لعدم من يأتيها به

Seorag istri diharamkan untuk keluar tanpa izin suami, kecuali karena alasan darurat. Seperti membeli makanan, karena tidak ada yang mengantarkan makanan kepadanya. (Mathalib Ulin Nuha, 5/271)

Dan izin tidak harus dilakukan berulang. Istri bisa minta izi umum untuk akvitas tertentu, misalnya semua aktivitas antar jemput anak, atau ke warung terdekat atau pergi ke tempat kajian muslimah, atau semacamnnya. Dengan ini, istri tidak perlu mengulang izin untuk melakukan aktivitas yang sudah mendapat izin umum dari suami.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Notaris dan Riba https://konsultasisyariah.com/28347-notaris-dan-riba.html Wed, 21 Sep 2016 02:40:56 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28347 Notaris dan Riba

Jika notaris menerima klien yang mengajukan kpr di bank, apakah dia termasuk mencatat riba yang dilaknat oleh Rasul?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Fungsi notaris di tempat kita tidak hanya pencatatan. Mereka memiliki latar belakang ilmu hukum, dan bukan seorang akuntan. Sehingga fungsi notaris tidak sebatas mencatat, namun juga sekaligus sebagai saksi.

Kaitannya dengan pencatat dan saksi riba, sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaknat 5 orang, karena mereka bekerja sama dalam masalah riba: Pemakan riba, pemberi riba, pencatatnya, dan dua orang yang menjadi saksi.

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, yang memberi makan riba, yang menulis transaksi, dan dua saksi transaksi riba. Beliau mengatakan, “Mereka semua sama.” (HR. Muslim 4177, Abu Daud 3335 dan yang lainnya).

Siapa Pencatat Riba yang Terkena Laknat?

Ketika seseorang berurusan dengan rekening bank, dalam rekening ada ribanya, sementara dia harus memasukkannya ke dalam pembukuan dan laporan keuangan.

Apakah ini termasuk mencatat riba yang terkena laknat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Kita bisa lihat penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar. Beliau mengutip keterangan Ibnu Tin,

ذكرهما على سبيل الإلحاق لإعانتهما للآكل على ذلك وهذا إنما يقع على من واطأ صاحب الربا عليه فأما من كتبه أو شهد القصة ليشهد بها على ما هي عليه ليعمل فيها بالحق فهذا جميل القصد لا يدخل في الوعيد المذكور وإنما يدخل فيه من أعان صاحب الربا بكتابته وشهادته

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan saksi dan pencatat dimasukkan dalam laknat, karena mereka berdua membantu orang untuk makan riba. Ini terjadi pada orang yang setuju dengan pemakan riba. Sementara orang yang menulis riba atau mendengar kisah tentang pelaku riba, untuk melihat kasusnya dan mengamalkan yang benar, maka yang semacam ini niatnya baik, tidak termasuk dalam ancaman. Yang masuk dalam ancaman adalah orang yang membantu pemakan riba, dengan mencatat transaksinya atau menjadi saksinya. (Fathul Bari, 4/314).

Berdasarkan penjelasan di atas, pencatat riba ada 2,

[1] Pencatat transaksi riba.

Merekalah yang mencatat terjadinya transaksi riba. Merekalah yang mendapatkan laknat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[2] Mencatat hasil transaksi riba, seperti yang dilakukan bagian laporan keuangan, mereka mencatat hasil transaksi dan bukan transaksinya. Transaksi riba dilakukan di bank.  Mereka sama sekali tidak terlibat dalam transaksi. Mereka hanya memindahkan angka di rekening, ke pembukuan.

Untuk tugas yang kedua, tidak masuk hadis laknat di atas.

Memahami keterangan di atas, keterlibatan notaris dalam transaksi kpr bank atau jual beli kredit, termasuk transaksi utang piutang dengan bank, mereka berada di posisi pencatat riba dan sekaligus saksi atas transaksi riba. Dan keterlibatan orang sebagai pencatat dan saksi atas transaksi riba, diancam laknat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, tidak ada plihan bagi notaris selain harus memberanikan memilih klien. Berani menolak jika harus dilibatkan dalam trasaksi riba. Saya pernah mendengar seorang notaris mengeluhkan, jadi notaris kalau hanya lurus itu sulit. Dia bisa kehilangan banyak klien..

Namun bagi notaris mukmin, ini bukan masalah besar baginya. Karena cita-citanya, bukan sebatas mengumpulkan dunia, namun mereka juga memastikan bahwa pernghasilannya adalah penghasilan yang halal. Para notaris perlu meyakini, meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, akan diganti dengan yang lebih baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Tidaklah anda meninggalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah akan menggantikan untuk anda yang lebih baik dari pada itu. (HR. Ahmad 23074 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Rizki ada di tangan Allah, yang dibagikan kepada para hamba-Nya. Dan apa yang ada di tangan kita akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah.

Dengan membangun kesadaran akan akhirat, seorang notaris mukmin akan lebih teratur dalam mencari dunia. Mereka tidak liar, menelan apa saja layaknya binatang. Itulah yang membedakan kita sebagai orang mukmin dengan orang kafir. Orang kafir ketika mencari dunia, mereka tidak kenal halal haram, tidak pernah peduli dengan riba, tidak perhatian dengan transaksi bermasalah. Bagi mereka, selama itu menguntungkan, itu adalah peluang yang tidak boleh disia-siakan.

Karena itulah, dalam al-Quran, Allah memisalkan semangat orang kafir dalam mencari dunia, layaknya binatang. Mereka makan, mereka menikmati dunia, tanpa pernah peduli, apakah itu rumput miliknya atau rumput milik tetangganya.

Allah berfirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka. (QS. Muhammad: 12)

Tentu saja, kita sebagai muslim tidak ingin seperti mereka. Meniru karakter manusia yang Allah sebut seperti binatang.

Semoga Allah – ta’ala – memberikan hidayah bagi kaum muslimin untuk bersabar mencari yang halal, apapun profesinya. Tak terkecuali para notaris di sekitar kita.

Allahu a’lam

Referensi: Buku “Ada Apa dengan Riba?

Anda bisa mendapatkan buku itu di: Buku Ada Apa dengan Riba?

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

 

]]>
Haji dari Utang Bank https://konsultasisyariah.com/28285-haji-dari-utang-bank.html Thu, 01 Sep 2016 02:07:59 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28285 Utang Bank Buat Haji

Bagaimana hukum haji dari hasil utang bank? apakah hajinya sah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah mewajibkan haji bagi yang mampu. Allah berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…” (QS. Ali Imran: 97)

Yang dimaksud ‘sanggup mengadakan perjalanan’ dalam ayat di atas adalah perbekalan dan kendaraan. Artinya, harus terpenuhi biaya yang cukup untuk haji, termasuk nafkah yang cukup untuk anaknya dan semua orang yang wajib dia nafkahi, sampai dia kembali.

Bagi yang tidak mampu, islam tidak menganjurkan agar memaksakan diri untuk berangkat. Termasuk salah satunya dengan cara berutang.

Syaikh Dr. Soleh al-Fauzan menyatakan,

ليس من الشرع أن يستدين الإنسان ليحج

“Bukan termasuk ajaran syariat ketika seseorang berutang untuk haji.”

Meskipun andai ada orang berangkat haji dari hasil utang, hajinya tetap sah.

Dr. Soleh al-Fauzan mengatakan,

ولكن مادام أنه فعل هذا واستدان وحج، فإن حجته صحيحة ويجب عليه سداد الدين، والله سبحانه وتعالى يوفق الجميع لما فيه الخير والصلاح.

Akan tetapi, jika dia tetap melakukan hal ini, dia berutang dan melakukan haji, maka hajinya sah dan dia wajib melunasi utangnya. Semoga Allah ta’ala memberi taufiq bagi seluruh kaum muslimin untuk mendapatkan kebaikan.
[Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/11083]

Bagaimana jika Haji dari Utang Bank?

Keterangan di atas berlaku untuk merek yang melakukan haji dari hasil utang TANPA riba. Bagaimana jika ada orang berhaji dari hasil utang bank, yang bisa dipastikan ada ribanya. Tanpa memandang label, baik konven maupun syariah, produk dana talangan haji sangat merugikan masyarakat.

Mengenai hukum talangan haji bank syariah, bisa anda pelajari di: Dana Talangan Haji Haram?

Utang riba, sekalipun mengandung dosa, namun uang yang diterima menjadi hak milik penerima. Demikian menurut pendapat yang benar. Karena itu, uang ini bisa dia gunakan untuk keperluan apapun yang sifatnya mubah, termasuk untuk mendaftar haji.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

والقرض الربوي – مع حرمته وشناعته – يفيد الملك على الصحيح ، فيكون المال المقترض ملكا لك ، تنتفع به فيما شئت من المباح كشراء سيارة وغيرها .

Utang riba – meskipun hukumnya haram dan kemaksiatan – namun uang yang diberikan menjadi hak milik yang sah, menurut pendapat yang benar. Sehingga uang yang anda utang, merupakan milik anda. Anda bisa manfaatkan untuk tujuan mubah apapun yang anda inginkan, seperti membeli mobil atau kebutuhan lainnya.

(Fatwa Islam no. 149111, menyimpulkan dari buku: al-Manfaah fi al-Qardh, Abdullah bin Muhammad al-Imrani, hlm. 245 – 254).

Mengenai penjelasan lebih detailnya, bisa anda pelajari artikel di situs pengusahamuslim.com: Pinjaman Bank Bukan Uang Haram?

Untuk itu, haji yang diselenggarakan dari hasil utang bank, termasuk haji dari uang halal. Hanya saja, dia punya kewajiban melunasi utang itu dan yang menjadi masalah besar adalah dia harus membayar riba saat pelunasan. Sementara memberi makan riba, termasuk dosa yang dilaknat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dia berkewajiban untuk bertaubat kepada Allah, atas kesalahannya melakukan transaksi dengan bank, yang mengharuskan dia untuk membayar riba ke bank.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Membuat Kopi dengan Air Zam-Zam? https://konsultasisyariah.com/28260-membuat-kopi-dengan-air-zam-zam.html Thu, 25 Aug 2016 02:43:14 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28260 Bikin Kopi dengan Air Zam-Zam

Maaf tadz, bolehkah ndak memanaskan air zam-zam, misalnya untuk dibuat kopi. Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak memuji zam-zam, dan beliau menyebutnya sebagai makanan. Dalam hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

“Air ini berkah, air ini adalah makanan yang mengenyangkan.” (HR. Muslim 6513, Ibnu Hibban 7133 dan yang lainnya).

Karena itu, yang dilarang adalah menggunakan zam-zam untuk kegiatan yang bentuknya menghinakan zam-zam. Seperti untuk bersuci setelah buang air besar maupun kecil.

Al-Buhuti mengatakan,

وكذا يكره استعمال ماء زمزم في إزالة النجس فقط؛ تشريفا له ولا يكره استعماله في طهارة الحدث

Demikian pula, tidak boleh menggunakan zam-zam untuk membersihkan najis saja. Dalam rangka memuliakan zam-zam, dan tidak masalah jika digunakan untuk bersuci dari hadats (wudhu). (Kasyaf al-Qana’, 1/28).

Adapun menggunakan zam-zam untuk dimasak, atau dibuat kopi, atau teh atau minuman hangat lainnya, hukumnya dibolehkan.

Dalam Fatwa yang disampaikan oleh Syaikh Dr. Soleh al-Fauzan, beliau ditanya tentang hukum menggunakan air zam-zam untuk dimasak. Rekaman Fatwa ini bisa anda saksikan di link video:

Pertanyaan

هل يجوز استعمال ماء زمزم للطبخ والاغتسال؟

Bolehkah menggunakan air zam-zam untuk dimasak dan dipakai mandi?

Jawab beliau,

لا بأس بذلك ولا مانع من ذلك لأنه ماء مبارك وماء مباح فلا مانع من أن يطبخ منه وأيضا أنه يزال فيه الحدث ويتوضأ به لأنه طهور والحمد لله

Tidak masalah, tidak menngapa hal itu. Karena zam-zam adalah air yang berkah, air mubah. Sehingga tidak masalah dimasak. Juga bisa digunakan untuk menghilangkan hadats dan digunakan untuk berwudhu. Karena air ini mensucikan, wal hamdulillah…

Demikian pula yang disebutkan dalam fatwa Syabakah Islamiyah,

فيجوز غلي ماء زمزم واستعماله في الطبخ ونحو ذلك من أنواع الاستخدام، وإنما الذي لا ينبغي هو امتهانه واستعماله فيما استقذر كإزالة النجاسة ونحو ذلك، وأما شربه والطبخ به فلا حرج فيه فهو طعام وشفاء سقم

Boleh mendidihkan air zam-zam dan digunakan untuk masak atau penggunaan lainnya. Yang tidak boleh adalah menghinakan zam-zam dan menggunakannya posisi kotor, seperti menghilangkan najis atau semacamnya. Sedangkan untuk diminum atau dimasak, tidak masalah. Karena zam-zam itu makanan dan obat untuk menghilangkan penyakit. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 67118)

Demikian, semoga bermanfaat..

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Pamer Kemesraan di Medsos https://konsultasisyariah.com/28247-hukum-pamer-kemesraan-di-medsos.html Fri, 19 Aug 2016 01:47:52 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28247 Pamer Kemesraan di Medsos

saya mau bertanya mengenai hukum islam tentang suami istri bermesraan didepan umum, awal mulanya saya mengomentari suatu foto di Facebook yang memposting seorang ustadzah muda yang sering kita lihat di televisi yang bergandengan tangan dan berpelukan dengan suaminya

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bermesraan setelah menikah memang sesuatu yang dihalalkan. Tapi kita perlu ingat, tidak semua yang halal boleh ditampakkan dan dipamerkan di depan banyak orang.

Ada beberapa pertimbangan yang akan membuat anda tidak lagi menyebarkan foto kemesraan di Medsos,

Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar umatnya memiliki sifat malu. Bahkan beliau sebut, itu bagian dari konsekuensi iman.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Dan rasa malu salah satu cabang dari iman. (HR. Ahmad 9361, Muslim 161, dan yang lainnya).

Dan bagian dari rasa malu adalah tidak menampakkan perbuatan yang tidak selayaknya dilakukan di depan umum.

Kedua, islam juga mengajarkan agar seorang muslim menghindari khawarim al-muru’ah. Apa itu khawarim al-muru’ah? Itu adalah semua perbuatan yang bisa menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang. Dia menjaga adab dan akhlak yang mulia.

Ibnu Sholah mengatakan,

أجمع جماهير أئمة الحديث والفقه على أنه يشترط فيمن يحتج بروايته أن يكون عدلاً ضابطاً لما يرويه .وتفصيله أن يكون : مسلماً بالغاً عاقلاً، سالماً من أسباب الفسق وخوارم المروءة

Jumhur ulama hadis dan fiqh sepakat, orang yang riwayatnya boleh dijadikan hujjah disyaratkan harus orang yang adil dan kuat hafalan (penjagaan)-nya terhadap apa yang dia riwayatkan. Dan rinciannya, dia harus muslim, baligh, berakal sehat, dan bersih dari sebab-sebab karakter fasik dan yang menjatuhkan wibawanya. (Muqadimah Ibnu Sholah, hlm. 61).

Dan bagian dari menjaga wibawa adalah tidak menampakkan foto kemesraan di depan umum.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim – Mufti resmi Saudi pertama – menyatakan tentang hukum mencium istri di depan umum,

بعض الناس -والعياذ بالله- من سوء المعاشرة أنه قد يباشرها بالقبلة أمام الناس ونحو ذلك ، وهذا شيء لا يجوز

Sebagian orang, bagian bentuk kurang baik dalam bergaul dengan istri, terkadang dia mencium istrinya di depan banyak orang atau semacamny. Dan ini tidak boleh. – kita berlindung kepada Allah dari dampak buruknya –. (Fatawa wa Rasail Muhammad bin Ibrahim, 10/209).

An-Nawawi dalam kitab al-Minhaj menyebutkan beberapa perbuatan yang bisa menurunkan kehormatan dan wibawa manusia,

وقبلة زوجة وأمة بحضرة الناس، وإكثار حكايات مضحكة

Mencium istri atau budaknya di depan umum, atau banyak menyampaikan cerita yang memicu tawa pendengar. (al-Minhaj, hlm. 497).

Ketiga, gambar semacam ini bisa memicu syahwat orang lain yang melihatnya. Terutama ketika terlihat bagian badan wanita, tangannya atau wajahnya.. lelaki jahat bisa memanfaatkannya untuk tindakan yang tidak benar.

Dan memicu orang untuk berbuat maksiat, termasuk perbuatan maksiat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa yang mengajak kepada sebuah kesesatan maka dia mendapatkan dosa  seperti dosa setiap orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HR. Ahmad 9160, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Bisa jadi anda menganggap itu hal biasa, tapi orang lain menjadikannya sebagai sumber dosa.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Kerja di Hotel yang Menjual Khamr https://konsultasisyariah.com/28145-kerja-di-hotel-yang-menjual-khamr.html Thu, 28 Jul 2016 02:12:40 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28145 Kerja di Tempat yang Menjual Minuman Keras

Assalamu alaikum wr wb.
Saya mau bertanya bagaimana hukumnya kerja di Hotel yang menyediakan Kamar untuk pasangan yang bukan muhrim dan menjual Alkohol ?

Dan bagaimana jika kerja di hotel tersebut di bagian accounting ataupun di bagian memasak ?

Hasil dari penjualan kamar dan alkohol tersebut dibagikan ke karyawan sebesar 11% ?

Saya sangat bingung karena banyak sekali para ulama, kiayi dan ust, menjawab pertanyaan tersebut bebeda2, ada yang mrngharamkan dan ada yang menghalalkan ?

Mohon di jawab dengan sejelas2nya karena hati saya selalu bimbang akan pekerjaan yg pernah saya jalani ini, sekarang saya sudah berhenti tapi banyak yang menawarkan saya untuk kembali kerja di Hotel.

Terima kasih dan maaf apabila ada salah kata.

Wassalam wr wb

Jawab:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Termasuk sumber penghasilan yang haram adalah ketika seseorang dibayar karena menyediakan fasilitas maksiat bagi konsumennya. Termasuk menyediakan khamr dan kamar hotel untuk maksiat.

Allah berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Janganlah kalian bantu membantu dalam dosa dan tindakan melampaui batas. (QS. al-Maidah: 2)

Mereka yang menyediakan khamr, turut dilaknat, karena dia membantu orang lain minum khamr.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْخَمْرِ عَشَرَةً عَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَشَارِبَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَآكِلَ ثَمَنِهَا وَالْمُشْتَرِىَ لَهَا وَالْمُشْتَرَاةَ لَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat 10 orang karena khamr, yang memeras anggur, yang minta diperaskan anggur, yang minum, yang membawa, yang minta dibawakan, yang menuangkan, yang menjual, yang makan hasil penjualan khamr, yang beli, dan yang minta dibelikan. (HR. Turmudzi 1342, Ibnu Majah 3506, dan dishahihkan al-Albani).

Idealnya seorang muslim menghindari tempat kerja semacam ini, agar dia lebih bebas dari semua bentuk pelanggaran syariat. Atau turut membantu orang lain melakukan pelanggaran syariat.

Bagaimana dengan Penghasilannya?

Hukum itu mengikuti apa yang dominan. Dalam satu kaidah dinyatakan,

الحكم على الغالب

“Hukum itu mengikuti yang dominan.”

Kita tidak sebut penghasilan hotel ini haram. Karena tidak semua sumber penghasilan hotel ini bermasalah. Hanya saja, hartanya bercampu antara yang halal dan haram. Termasuk posisi karyawan. Ketika hasil yang haram ini disingkirkan, maka sisanya bisa dimanfaatkan.

Terdapat kaidah yang menyatakan,

من اختلط بماله الحلال والحرام أخرج قدر الحرام؛ والباقي حلال له

Orang yang hartanya bercampur antara yang halal dan yang haram, maka dia keluarkan bagian yang haram, dan sisanya menjadi halal baginya. (Jamharah al-Qawaid al-Fiqhiyah lil Muamalah Maliyah, 1/344).

Dalam Majmu’ al-Fatawa, Syaikhul mengatakan,

الحرام لكسبه : كالمأخوذ غصبا أو بعقد فاسد فهذا إذا اختلط بالحلال لم يحرمه

Harta haram karena cara mendapatkannya, seperti harta haram yang diambil dari meramas atau melalui akad yang batal, jika ini bercampur dengan halal, maka yang haram tidak membuat yang halal ikut haram.

Kemudian Syaikhul Islam menyebutkan contohnya,

Jika ada orang mengambil harta orang lain, kemudian dia campur dengan harta milik pribadinya, tidak membuat semuanya jadi haram. Bahkan, jika yang halal dan yang haram berimbang, dan memungkinkan untuk diperhitungkan, maka dia bisa mengambil bagian yang halal. (Majmu’ al-Fatawa, 29/320).

Bagaimana jika uang itu bercampur?

Wujud uangnya halal, meskipun ada sebagian yang diperoleh dari hasil yang haram. Karena itu, acuan yang digunakan adalah nilai dan bukan benda uangnya. Sehingga tidak masalah uangnya bercampur, selama dia tahu nilainya.

Ibnul Qoyim mengatakan,

توبة من اختلط ماله الحلال بالحرام وتعذر عليه تمييزه أن يتصدق بقدر الحرام ويطيب باقي ماله

Taubatnya orang yang hartanya bercampur yang halal dengan yang haram, sementara tidak memungkinkan baginya untuk membedakannya, maka dia harus bersedekah senilai yang haram, kemudian sisa hartanya menjadi halal. (Madarij as-Salikin, hlm. 391).

Mengacu pada penjelasan di atas, penghasilan haram yang ada pihak anda, dan diketahui nilainya 11%, harus dikeluarkan sebagai bentuk takhallush minal haram (membebaskan diri dari yang haram). Bisa diserahkan untuk kepentingan fasilitas umum atau diberikan ke fakir miskin.

Selanjutnya, sisa gaji anda adalah halal.

Namun ini sama sekali bukan memotivasi anda untuk bertahan di dunia kerja yang semacam ini. Kami lebih menekankan untuk mencari penghasiln lain di tempat yang mungkin gajinya lebih sedikit, tapi lebih terbebas dari setiap pelanggaran syariat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Pokemon Go https://konsultasisyariah.com/28124-hukum-pokemon-go.html Mon, 25 Jul 2016 02:38:35 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28124 Hukum Pokemon Go dalam Tinjauan Syariat Islam

Terkait game yg sedang naik daun sekarang, yaitu “pokemon go” dmn d beberapa artikel yg saya baca, nama2 karakter pokemon nama game itu sendiri artinya berhubungan dengan yahudi, mohon klarifikasinya tadz, karena banyak diantara anak2 muda muslim yg memainkannya,, syukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada beberapa pertimbangan yang menunjukkan bahwa permainan ini bermasalah,

Pertama, permainan pokemon, termasuk filmnya mengajarkan sihir di tengah masyarakat. Benda kecil bisa disulap jadi besar dan bisa bertarung. Seolah pemilik pokemon, memiliki kemampuan kun fayakun, jadilah,langsung jadi makhluk. Atau minimal membangun aqidah paganisme orang musyrik yang percaya dengan sihir atau menyemarakkan karakter yang tidak jelas.

Dan ini penyimpangan dalam masalah aqidah.

Ini yang menjadi alasan Lajnah Daimah – Lembaga Fatwa Saudi – ketika mendapat pertanyaan tentang permainan kartu pokemon,

Pertanyaan:

“Akhir-akhir ini lagi marak diantara pelajar sekolah permainan yang dikenal dengan pokemon. Permainan ini telah menghipnotis otak kebanyakan anak-anak pelajar dan menawan hati mereka sehingga menjadi candu untuk membeli kartu-kartunya. Bagaimana sebenarnya hukum permainan Pokemon ini?”

Jawaban Lajnah Daimah

وحيث إنَّ هذه اللعبة تشتمل على عدد من المحاذير الشرعية التي منها:

الشركُ بالله -باعتقاد تَعدُّد الآلهة

ومنها تَرويجُ شعارات الكفر، والدِّعايةُ لها

لهذه المحاذير وغيرها؛ فإن اللجنة الدائمة ترى تَحريمَ هذه اللعبة.

وتوصي اللجنةُ جميعَ المسلمين بالحذر منها، ومَنْعِ أولادهم من تعاطيها واللعب بها، محافظةً على دينهم وعقيدتِهم وأخلاقهم؛ وبالله التوفيق

Mengingat permainan ini mengandunn beberapa pelanggaran syariah, diantaranya,

– Syirik kepada Allah – membangun aqidah tentang keberadaan banyak tuhan –

– Menyemarakkan syiar orang kafir, dan memotivasi syiar kekufuran.

Mengingat beberapa pelanggaran ini, Lajnah Daimah menganggap bahwa permainan ini haram.

Lajnah Daimah berpesan kepada seluruh kaum muslimin untuk waspada terhadap permainan ini, dan melarang anak-anaknya untuk memainkannya. Dalam rangka menjaga agama, aqidah, dan akhlak mereka. Wa billahi at-Taufiq. (Fatwa Lajnah no. 2175).

Kedua, membangun kewaspadaan terhadap konspirasi orang kafir

Disinyalir bahwa permainan ini tujuan besarnya untuk nyedot data. Dengan teknologi interconnecting geospasial (maps), mereka bisa melengkapi data citra fisik yang memetakan setiap sudut wilayah negara para penggunanya.

Dikala satelit yang digunakan oleh google earth dan google maps tak mampu menjangkau gambaran sempurna 3 dimensi dalam sebuah wilayah, game ini akan sangat membantu, dengan peran para gamers atau gadget maniac dalam menjalankan agenda maping intelijen.

Kita bisa bayangnya, ketika banyak diantara aparat negara aparat, Tentara, Polisi, PNS dan masyarakat awam berbondong memainkan game Pokemon GO  di wilayah kerja masing-masing, berapa banyak data valid bangunan fisik serta citra ruang yang harusnya bersifat rahasia bagi suatu pertahanan negara dapat diakses oleh pihak luar. Dan tentu saja, ini sangat merugikan negara.

Ketiga, kita berbicara soal waktu

Kenyataan membuktikan, permainan ini membuat pelakunya kecanduan. Dia bisa habiskan waktu berjam-jam hanya untuk memburu monster.

Dalam hadis dari Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Bagian dari keindahan islam seseorang, dia meninggalkan semua yang tidak berarti baginya. (HR. Ahmad 1737, Turmudzi 2487 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Mereka yang sibuk dengan permainan pokemon, menunjukkan islamnya perlu banyak diperbaiki.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Hena Tangan https://konsultasisyariah.com/28113-hukum-hena-tangan.html Thu, 21 Jul 2016 02:25:04 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28113 Hukum Memakai Hena Tangan

Tanya dikit terkait hena tadz, bagaimana hukum menggunakan hena tangan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kaidah yang Allah berikan terkait pakaian wanita di depan umum,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَاوَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. an-Nur: 31)

Ibnu Mas’ud menjelaskan, bahwa perhiasan wanita (bagian yang mengundang perhatian lelaki) itu ada 2:

[1] Perhiasan yang hanya boleh ditampakkan kepada suaminya. seperti gelang, cincin, gelng kaki.

[2] Perhiasan yang boleh dilihat orang lain, itulah luar pakaiannya.

(Tafsir Ibnu Katsir, 6/45)

Karena itu, termasuk yang tidak boleh ditampakkan adalah punggung telapak tangannya, apalagi ketika dia diberi hena. Karena ini justru semakin menampakkan keindahan.

Imam Ibnu Baz mengatakan,

إذا خضبت يديها أو رجليها، تسترها عن الناس ، تكون ساترة لها بالثياب والملابس لأنها فتنة

Ketika wanita memberi hena untuk tangannya atau kakinya, harus dia menutupinya dari orang lain. Dia tutupi dengan kain atau bajunya, karena bisa mengundang fitnah. (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, 17/272)

Demikian pula keterangan yang disampaikan Ibnu Utsaimin,

يجب أن نعلم أن الحناء من جملة الزينة التي لا يجوز للمرأة أن تبديها لغير من أباح الله لها إبداء الزينة لهم ، أي أنها لا تبديها للرجال الأجانب ، فإذا أرادت أن تخرج إلى السوق مثلاً لحاجة ، فإنه لا بد أن تلبس على قدميها جوربين إذا كانت قد حنت قدميها ، وكذلك بالنسبة للكفين ، لا بد أن تسترهما

Wajib kita ketahui bahwa hena termasuk perhiasan yang tidak boleh ditampakkan oleh wanita di tempat selain yang Allah bolehkan untuk ditampakkan. Artinya, tidak boleh dia tampakkan di depan lelaki yang bukan mahram. Jika dia butuh berangkat ke pasar, dia harus memakai kaos kaki, jika ada henanya. Demikian pula untuk telapak tangan. Harus dia tutupi.. (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, 2/7)

Menimbang penjelasan di atas, bahwa menggunakan hena hukumnya boleh, dengan ketentuan:

[1] Bagi yang sudah menikah, sehingga ada tujuan besar, yaitu berhias di depan suami

[2] Hanya ditampakkan di depan suami atau wanita lain.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Punya Diskotik, Ingin Taubat https://konsultasisyariah.com/28109-punya-diskotik-ingin-taubat.html Wed, 20 Jul 2016 02:19:36 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28109 Punya Diskotik, Ingin Taubat

Ada orang punya diskotik. Dia sudah taubat, bolehkah diskotik ini dijual?

Jika tidak boleh dijual, apa yg harus dilakukan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, kami memohon kepada Allah, agar orang ini diberi hidayah untuk bertaubat yang nasuhah dan diberi kekuatan istiqamah di atas kebenaran.

Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kaidah, hasil dari menjual sesuatu yang diharamkan Allah statusnya haram. Baik dijual kepada orang muslim maupun orang kafir.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ إِذَا حَرَّمَ شَيئاً حَرَّم ثَمَنَه

Ketika Allah mengharamkan sesuatu, Allah haramkan hasil penjualnya. (HR. Ibnu Hibban 4938 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dan hadis ini berlaku untuk semua transaksi barang haram, atau barang yang manfaatnya haram.

Karena itu, diskotik ini tidak boleh dijual dalam bentuk masih menjadi diskotik. Karena akan difungsikan yang sama oleh pembelinya.

Solusi yang bisa dilakukan…

Diskotik ini diubah dulu menjadi fasilitas mubah, misalnya warung makan, atau rumah kontrakan atau ruko, atau tempat mubah lainnya. Selanjutnya dia boleh menjualnya.

Sekalipun bisa jadi disalah-gunakan oleh pembeli, dengan dipergunakan kembali untuk diskotik, maka penjual tidak bertanggung jawab. Kecuali jika penjual tahu atau punya dugaan kuat bahwa fasilitas itu akan disalah gunakan. Jika tidak tahu sama sekali, boleh, karena pada asalnya dia menjual fasilitas yang manfaatnya mubah dan bukan fasilitas yang fungsinya haram.

Syaikhul Islam mengatakan,

ولا يصح بيع ما قصده به الحرام ، كعصير يتخذه خمرا ، إذا علم ذلك ، كمذهب أحمد وغيره .  أو ظن، وهو أحد القولين . يؤيده أن الأصحاب قالوا: لو ظن الآجر أن المستأجر يستأجر الدار لمعصية كبيع الخمر ونحوها : لم يجز له أن يؤجره تلك الدار، ولم تصح الإجارة ؛ والبيع والإجارة سواء

Tidak sah menjual menjual barang yang tujuannya untuk yang haram, seperti perasan anggur untuk dibuat khamr, jika penjual mengetahui itu. Sebagaimana ini pendapat Ahmad dan yang lainnya. Atau penjual punya dugaan kuat, itu juga dilarang. Dan ini salah satu pendapat Ahmad. Yang membuktikan hal ini, para ulama hambali mengatakan,

‘Jika pemilik menduga kuat bahwa penyewa akan menggunakan rumah sewaannya untuk maksiat, seperti menjual khamr atau semacamnya, maka tidak boleh dia sewakan rumah itu. Dan tidak sah akad sewa-menyewanya.’ Sementara jual beli dan sewa transaksinya sama. (al-Fatawa al-Kubro, 5/388)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>