Halal Haram – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 28 Jul 2017 01:53:22 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.5 Dilarang Corat-coret di Mushaf al-Quran? https://konsultasisyariah.com/29743-dilarang-corat-coret-di-mushaf-al-quran.html Tue, 18 Jul 2017 03:47:15 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29743 Hukum  Mencoret-coret di Mushaf al-Quran

Apa hukum menulis sesuatu di pinggiran mushaf. Misalnya untuk penanda hafalan atau catatan kalimat penting lainnya..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Coretan dalam mushaf al-Quran ada 2:

Pertama, coretan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan al-Qur’an. Seperti orang yang menulis di pinggiran al-Quran catatan utang atau catatan pelajaran umum, atau tulisan lainnya, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan al-Qur’an.

Tulisan semacam ini dilarang oleh para ulama, karena terhitung bertentang dengan sikap memuliakan al-Quran. Sementara kita diperintahkan untuk memuliakan al-Quran.
Dalam fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فإن من تعظيم حرمات الله وشعائره صيانة المصحف عن كتابة كلام معه من غيره، ويتأكد ذلك إذا كان شيئا أجنبيا لا علاقة له بالقرآن حتى ولو كان كلاما عاديا، فلا تجوز كتابته مع المصحف ولا على هوامشه

Bagian dari mengagungkan syiar Allah, menjauhkan mushaf dari setiap tulisan selain kalam Allah. Terutama kalimat asing, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan al-Quran. Meskipun itu percakapan harian. Tidak boleh dituliskan dalam mushaf al-Quran maupun di pinggirannya.

Kedua, coretan yang ada hubungannya dengan al-Quran, seperti tafsir ayat atau makna suatu kata dalam al-Quran, termasuk juga tanda-tanda tajwid, lingkaran ayat, nama surat, tulisan juz, dst. Semua coretan ini sama sekali bukan kalam Allah. Dan masyarakat di masa silam membubuhkannya dalam al-Qur’an, dalam rangka memudahkan seseorang untuk mempelajari kalam Allah.

Ulama berbeda pendapat untuk coretan semacam ini.

Pendapat pertama, tidak boleh membuat coretan apapun di dalam al-Quran, termasuk tafsir.

Ada beberapa riwayat dari sahabat dan tabi’in yang melarang hal ini. Diantaranya,

[1] Keterangan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

Beliau pernah mengatakan,

جَرِّدُوا القرآن ولا تلبسوا به ما ليس منه

Bersihkan al-Quran dan jangan dicampur dengan tulisan lain yang bukan bagian darinya.

Beliau juga pernah melihat ada coretan di mushaf al-Quran, lalu beliau berusaha menghapusnya sambil mengatakan,

لا تخلطوا فيه غيره

“Jangan kalian campur dengan tulisan yang lain.”

[2] Keterangan Atha – rahimahullah –, ulama tabiin, murid Ibnu Abbas,

كان يكره التعشير في المصحف ، وأن يكتب فيه شيء من غيره

Beliau membenci orang yang memberi tanda per-sepuluh ayat di mushaf al-Quran, dan menuliskan sesuatu yang bukan bagian dari al-Qur’an.

Juga terdapat riwayat lain dari Mujahid, dimana beliau memberikan penanda ayat dalam al-Qur’an.

(Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/497 – 498)

[3] Keterangan sebagian ulama Syafi’iyah,

Abu Abdillah al-Halimi – ulama Syafi’iyah –, beliau menyebutkan bentuk-bentuk mengagungkan al-Quran,

ومنها : أن لا يخلط في المصحف ما ليس من القرآن بالقرآن ، كعدد الآيات ، والسجدات ، والعشرات ، والوقوف ، واختلاف القراءات ، ومعاني الآيات

Diantaranya, tidak boleh mencampurkan sesuatu yang bukan bagian dari al-Quran di dalam al-Quran. Seperti penanda ayat, penanda sujud sahwi, tanda waqaf, keterangan qiraah (cara baca) yang berbeda, atau makna ayat.

Dan latar belakang larangan mereka adalah agar tidak terjadi iltibas, kerancuan antara al-Quran dan yang bukan al-Qur’an, sehingga dikhawatirkan kalimat yang bukan bagian dari al-Quran dianggap sebagai al-Quran.

Pendapat kedua, boleh membubuhkan sesuatu yang bukan bagian dari al-Quran di dalam al-Quran.

Ini merupakan pendapat sejumlah ulama 4 madzhab, hanafiyah, malikiyah, syafiiyah dan hambali.

Kita sebutkan keterangan mereka,

[1] Keterangan ualam Hanafi,

Dalam kitab al-Kafi – kitab hanafiyah – dinyatakan,

إن كتب القرآن وتفسير كل حرف وترجمته جاز

“Menulis al-Quran dan tafsir perkata atau terjemahannya, dibolehkan.” (Fathul Qadir, 1/286)

[2] Keterangan Abul Walid al-Baji – ulama Malikiyah –,

فأرادت عائشة أن تثبتها في المصحف – يعني كلمة ” وصلاة العصر ” في قوله تعالى : ( حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ) البقرة/238 – لأنها اعتقدت جواز إثبات غير القرآن مع القرآن ، على ما روي عن أبي بن كعب وغيره من الصحابة أنهم جوزوا إثبات القنوت وبعض التفسير في المصحف ، وإن لم يعتقدوه قرآنا

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah hendak membubuhkan dalam mushaf kata ‘shalat ashar’ untuk tafsir firman Allah yang menyebutkan shalat wustho (QS. al-Baqarah: 238). Karena beliau meyakini bolehnya menambahkan selain al-Quran di dalam al-Quran. Sesuai dengan riwayat dari Ubay bin Ka’ab dan sahabat lainnya, mereka membolehkan tulisan doa qunut dan sebagian tafsir di dalam mushaf, meskipun mereka tidak meyakininya sebagai al-Quran. (al-Muntaqa, Syarh al-Muwatha’, 1/246).

[3] Dalam Hasyiyah al-Bajirami – ulama Syafi’iyah banyak dibahas hukum menyentuh mushaf bagi orang yang tidak punya wudhu. Mereka menegaskan, mushaf yang muhasya (ada cacatan pinggir) berupa tafsir, boleh disentuh. Artinya, boleh menambahkan catatan pinggir di mushaf al-Quran.

Hanya saja, harus dipisahkan antara teks al-Quran dengan tafsirnya. Sehingga tulisan tafsir itu tidak boleh diletakkan di antara baris tulisan al-Quran.

Al-Jurjani mengatakan,

من المذموم كتابة تفسير كلمات القرآن بين أسطره

Termasuk yang tercela, menulis tafsir kata dalam al-Quran, diantara baris tulisan al-Quran. (Syuabul Iman al –Baihaqi, 3/330).

Bagaimana dengan riwayat Ibnu Mas’ud yang melarang secara total?

Riwayat ini dipahami karena kekhawatiran akan terjadinya ketidak-jelasan mana al-Quran dan mana yang bukan al-Quran. Dalam Hasyiyah Ibnu Abidin dinyatakan,

ما روي عن ابن مسعود : ” جرِّدوا القرآن ” : كان في زمنهم ، وكم من شيء يختلف باختلاف الزمان ، والمكان ، كما بسطه الزيلعي ، وغيره

Riwayat dari Ibnu Mas’ud, ‘Bersihkan al-Quran dari tulisan yang lain’ ini berlaku di zaman mereka. dan betapa jauh terjadi perbedaan zaman dan tempat, sebagaimana penjelasan az-Zaila’i dan yang lainnya. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 6/386)

Karena itu, sebatas catatan hafal dan itu di luar baris tulisan al-Quran, insyaaAllah tidak masalah.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Masak Makanan yang Dicampur Khamr https://konsultasisyariah.com/29546-masak-makanan-yang-dicampur-khamr.html Wed, 24 May 2017 02:05:44 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29546 Hukum Memasak Memakai Alkohol

Apa hukum memasak dengan menggunakan campuran khamr? Sementara ketika dimasak kandungan alkoholnya telah menguap.  

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Adz-Dzahabi mengatakan dalam al-Kabair,

الخمر ما خامر العقل، سواء كان رطباً أو يابساً أو مأكولاً أو مشروباً

Khamr adalah sesuatu yang bisa menutupi akal (memabukkan), baik basah maupun kering, baik yang dimakan atau diminum. (al-Kabair, hlm. 82).

Selama benda itu berpotensi memabukkan jika dikonsumsi dalam jumlah besar, maka statusnya khamr, dan hukumnya haram, meskipun ketika dikonsumsi dalam jumlah sedikit tidak memabukkan. Kaidah ini disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ، فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ

Sesuatu yang jika dikonsumsi dalam jumlah banyak memabukkan, maka dikonsumsi sedikit hukumnya haram. (HR. Ahmad 6558, Nasai 5625 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Bagaiman jika khamr itu digunakan untuk campuran masak?

Ada 2 hal yang perlu dibedakan, antara hukum dan hukuman.

[1] Hukum mengkonsumsi makanan yang dicampur khamr

[2] Hukuman bagi orang yang mengkonsumsi makanan yang dicampur khamr.

Sebagaimana dalam kasus pencurian, ada hukum mencuri, dan ada hukuman bagi pencurinya. Mencuri hukumnya haram, baik yang dicuri nilainya mahal maupun murah. Namun pencuri baru bisa dihukum potong tangan, jika harta yang dicuri nilainya besar, dengan batas yang disebut nishab hukuman pencurian.

Kembali pada masalah masakan yang dicampur khamr.

Al-Jasshas dalam Ahkam al-Quran menyatakan,

أن الأشياء المحرمة إذا خالطت الحلال حُرم الحلال، وذكر  منها الخمر إذا خالطت الماء

Sesuatu yang haram, jika dicampur dengan sesuatu yang halal maka yang halal menjadi haram. Diantaranya adalah khamr ketika dicampur dengan air.

Ibnu Qudamah mengatakan,

وإن ثرد في الخمر أو اصطبغ (ائتدم به) أو طبخ به لحماً فأكل  مرقته فعليه الحد، لأن عين الخمر موجودة

Jika ada orang mengencerkan adonan dengan khamr atau menggunakan khamr untuk celupan makanan atau masak daging dengan kuah khamr, lalu dia minum kuahnya, maka orang ini berhak mendapat hukuman. Karena unsur dan bentuk khamrnya utuh.

Lalu beliau mengatakan,

وإن عجن به دقيقاً فأكله لم يُحَدَّ نص على ذلك الشافعي  في الأصح عندهم والحنابلة، لأن النار أكلت أجزاء الخمر فلم يبق له أثر

Jika dia membuat adonan, lalu dimasak, kemudian dia memakannya maka tidak diberi hukuman. Demikian yang ditegaskan as-Syafii menurut riwayat yang benar dari mereka, dan pendapat hambali. Karena panasnya api telah menghilangkan sebagian unsur khamr, sehingga pengaruhnya tidak ada. (al-Mughni, 10/323).

Status hukumnya tetap haram, hanya saja untuk bisa mendapat hukuman sebagai peminum khamr, melihat kondisi khmar yang dikonsumsi.

[1] Jika wujudnya masih dalam bentuk khamr, maka berhak mendapat hukuman

[2] Jika wujudnya tidak dalam bentuk khamr, misalnya sudah dimasak, sehingga bercampur dengan adonan, maka tidak berhak mendapat hukuman. Tapi tetap haram.

Ibnu Abidin mengatakan,

ولا يجوز بيعها (الخمر)، ويحد شاربها وإن لم يسكر منها،  ويحد شارب غيرها إن أسكر، ولا يؤثر فيها الطبخ (أي في زوال الحرمة عنها). إلا أنه لا يحد فيه ما لم يسكر منه

Tidak boleh menjual khamr, dan peminumnya dihukum meskipun tidak memabukkan. Dan mengkonsumsi benda lain (seperti narkoba) jika sampai memabukkan, berhak dihukum. Dan kegiatan dimasak dalam hal ini tidak menghilangkan hukum haram. Hanya saja dia tidak dihukum, selama tidak mabuk. (Raduul Mukhtar, 6/449).

Karena haramnya khamr tidak bisa dihilangkan meskipun dicampur dengan adonan dan dimasak, bahkan meskipun telah menguap alkoholnya. Karena khamr bukan karena kandungan  alkoholnya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Jual Beli ketika Adzan Jum’at, Haram? https://konsultasisyariah.com/29533-jual-beli-ketika-adzan-jumat-haram.html Fri, 19 May 2017 02:00:43 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29533 Dilarang Jual Beli ketika Adzan Jum’at

Apa hukum jual beli ketika sudah masuk waktu jumatan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sesuatu dinilai sah ketika dia memenuhi rukun, syarat dan tidak ada mawani’ (penghalang keabsahan). Baik bentuknya ibadah maupun muamalah. Akad seseorang dinilai sah ketika terpenuhi rukun, syarat dan tidak ada penghalang keabsahan.

Diantara penghalang keabsahan transaksi jual beli adalah adanya adzan jum’at ketika khatib sudah naik mimbar. Karena ketika adzan jumatan telah dikumandangakan, Allah melarang hamba-Nya untuk melakukan aktivitas jual beli. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. al-Jumu’ah: 9).

Larangan ini berlaku, ketika adzan jum’atan setelah khatib naik mimbar. Sementara untuk masjid yang adzannya 2 kali, larangan ini tidak berlaku untuk adzan sebelum khatib naik mimbar.

Dalam Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd mengatakan,

وهذا أمر مجمع عليه فيما أحسب أعني منع البيع عند الأذان الذي يكون بعد الزوال والإمام على المنبر.

Ini aturan yang disepakati ulama – menurut yang saya tahu – yaitu larangan melakukan jual beli ketika adzan setelah masuk jumatan, dan khatib sudah berada di atas mimbar.

Apakah Akadnya Sah?

Ada dua hal yang perlu kita bedakan,

[1] Pelanggaran larangan, kaitannya dengan dosa orang yang melanggarnya

[2] Keabsahan akad, kaitannya dengan berlakunya konsekuensi jual beli, apakah telah terjadi perpindahan hak milik ataukah tidak.

Ketika seseorang melakukan aktivitas tertentu, baik ibadah maupun muamalah, dan dia melanggar larangan syariat, maka orang ini berdosa. Apakah aktivitas yang dia lakukan menjadi batal? Jawabannya belum tentu. Ada orang melakukan pelanggaran ketika ibadah, dan ibadahnya tetap sah.

Misal, orang melakukan shalat dengan menggunakan pakaian hasil mencuri. Shalatnya sah, meskipun orang ini berdosa karena dia mengenakan pakaian orang lain tanpa kerelaan pemilik. Padahal yang seharusnya dia lakukan adalah segera mengembalikannya.

Meskipun terkadang ada larangan, yang jika dilanggar bisa menyebabkan ibadah menjadi batal. Misalnya larangan berbicara ketika shalat. Ketika ini dilaranggar maka meyebabkan shalat yang dikerjakan menjadi batal.

Para ulama membahas masalah ini dalam kajian ushul fiqh di bab kaidah, apakah adanya larangan menyebabkan ibadah atau akad menjadi batal.

Apakah larangan melakukan jual beli ketika adzan jum’at menyebabkan akad jual beli menjadi batal?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini,

Pertama, jual belinya tetap sah dan tidak batal. Ini merupakan pendapat Hanafiyah dan Syafi’iyah.

Mereka beralasan bahwa larangan melakukan jual beli ketika adzan jum’at tujuannya adalah agar orang bisa serius menghadiri jumatan, sehingga tidak disibukkan dengan kepentingan duniawi lainnya.

(Bada’i as-Shana’i, 2/220 dan al-Muhadzab, 4/418).

Kedua, jual beli batal dan tidak berlaku konsekuensinya. Ini merupakan pendapat Malikiyah dan Hambali.

Mereka beralasan dengan ayat di atas, dimana Allah melarang jual beli ketika adzan telah dikumandangkan. Dan larangan ini kembali kepada dzat jual beli. Sehingga ketika seseorang melanggarnya, dia berdosa dan jual belinya statusnya terlarang. (al-Mudawwanah, 1/280 dan Kasyaful Qana’, 4/1428).

Ibnu Rusyd mengatakan,

واختلفوا في حكمه إذا وقع هل يفسخ أو لا يفسخ فإن فسخ … فالمشهور عن مالك أنه يفسخ وقد قيل لا يفسخ وهذا مذهب الشافعي وأبي حنيفة

Mereka berbeda pendapat tentang hukum jual beli yang sudah terjadi, dilakukan saat adzan jumat. Apakah jual belinya batal atau tidak batal… pendapat yang masyhur menurut Malik, jual belinya batal. Ada juga yang mengatakan, jual belinya tidak batal, dan ini pendapat Imam as-Syafi’i dan Abu Hanifah. (Bidayatul Mujtahid, 2/169).

Terlepas  perbedaan di atas, Allah melarang bagi orang yang wajib jumatan untuk jual beli ketika jum’atan. Menjauhi larangan ini adalah kewajiban. Waspadai bagi anda yang wajib jumatan, beli BBM ketika sudah masuk waktu jumatan, beli makanan, minuman, atau masih antri di kasir swalayan, dan beberapa transaksi kecil yang sering dilanggar kaum muslimin ketika jumatan.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Dilarang Menggantungkan Lonceng di Leher Binatang https://konsultasisyariah.com/29518-dilarang-menggantungkan-lonceng-di-leher-binatang.html Thu, 18 May 2017 02:59:47 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29518 Hukum Menggantungkan Lonceng di Leher Binatang

Apa benar memasang lonceng d kucing hukumnya dilarang? Soalnya sy prnah dengar, itu haram..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dinyatakan dalam hadis dari Abu Basyir al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar, pada saat rombongan berada di kemahnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلاَدَةٌ مِنْ وَتَرٍ وْلا قِلاَدَةٌ إِلَّا قُطِعَتْ

Jangan sampai di leher onta ada kalung dari watar atau kalung biasa, kecuali dipotong. (HR. Bukhari 3005 dan Muslim 2115)

Watar adalah tali busur untuk memanah. Mereka yakini ini digunakan untuk jimat, baik mendatangkan berkah atau tolak balak.

Hadis ini dipahami para ulama, larangan menggantungkan lonceng di leher binatang. Karena itulah, ketika Bukhari membawakan hadis ini, beliau menulis judul bab,

باب ما قيل في الجرس ونحوه في أعناق الإبل

Bab tentang hukum mengalungkan lonceng atau semacamnya di leher onta. (Shahih Bukhari, 4/59)

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan perkataan Bukhari dalam kitabnya Syarah Shahih Bukhari,

أي من الكراهة، وقيده بالإبل لورود الخبر فيها بخصوصها

Maksud Bukhari adalah makruh. Beliau menyebutkan onta, karena hadis ini disampaikan untuk kasus yang terjadi pada onta. (Fathul Bari, 6/141)

Diantara dalil lain yang menunjukkan larangan memasang lonceng di leher binatang adalah hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَصْحَبُ الْمَلَائِكَةُ رُفْقَةً فِيهَا جَرَسٌ

Malaikat tidak akan mengiringi rombongan yang membawa lonceng. (HR. Ahmad 8337, Thabrani dalam al-Kabir 475 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْجَرَسُ مِزْمَارُ الشَّيْطَانِ

Lonceng adalah musiknya setan. (HR. Ahmad 8783 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Ibnu Hajar menyimpulkan beberapa riwayat tentang ini, dan beliau mengatakan,

وهو دال على أن الكراهية فيه لصوته؛ لأن فيها شبها بصوت الناقوس وشكله، قال النووي وغيره: الجمهور على أن النهي للكراهة

Hadis ini menunjukkan makruhnya menggunakan lonceng, karena suaranya. Karena suaranya sama dengan suara genta gereja atau yang semacamnya. An-Nawawi dan ulama lainnya mengatakan, Jumhur ulama mengatakan bahwa larangan ini makruh. (Fathul Bari, 6/142).

Al-Qadhi As-Safarini dalam Ghidzaul Albab mengatakan,

يكره تعليق جرس أو قلادة على الدابة

Makruh mengalungkan lonceng atau kalung lainnya di binatang. (Ghidzaul Albab, 2/38)

Saatnya melakukan perubahan, menghindari semua yang dibenci para ulama, setahap demi setahap…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Memberi Makanan Haram untuk Hewan https://konsultasisyariah.com/29498-hukum-memberi-makanan-haram-untuk-hewan.html Wed, 17 May 2017 02:23:45 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29498 Mengolah Daging Tikus Dicampur Pelet untuk pakan Ikan

Mau tanya bagaimana hukumnya mengolah daging tikus (dagingnya dibuat tepung kemudian dicampur bahan lain,dibuat pelet) untuk dijadikan pakan/makanan ikan?apakah ikan dari hasil pakan tsb halal?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 2 hal yang perlu dibedakan terkait makanan haram,

[1] Dikonsumsi manusia, hukumnya haram, kecuali jika dalam kondisi darurat

[2] Dimanfaatkan, seperti dijadikan pupuk atau diberikan ke binatang yang dagingnya haram dimakan.

Kaidah yang berlaku, menurut jumhur ulama, tidak semua yang haram dikonsumsi manusia, haram untuk dimanfaatkan.

Berbeda dengan pendapat sebagian hanafiyah, menurut mereka, semua yang haram dikonsumsi, seperti bangkai, haram dimanfaatkan untuk kepentingan apapun. Sehingga harus dibuang.

Al-Jashas mengatakan,

قال أصحابنا لا يجوز الإنتفاع بالميتة على وجه ولا بطعمها الكلاب والجوارح لأن ذلك ضرب من الإنتفاع بها وقد حرم الله الميتة تحريما مطلقا

Para ulama madzhab kami mengatakan, tidak boleh memanfaatkan bangkai untuk kepentingan apapun, baik diberikan ke anjing atau binatang buas lainnya, karena ini termasuk bentuk pemanfaatan sesuatu yang diharamkan. Sementara Allah telah mengharamkan bangkai secara mutlak. (Ahkam al-Quran, 1/132).

Sementara pendapat jumhur, termasuk sebagian hanafiyah, membolehkan memanfaatkan makanan haram, untuk selain dikonsumsi manusia. Diantara bentuk pemanfaatan itu adalah memberikan makanan haram untuk binatang yang haram dimakan, seperti diberikan ke anjing atau kucing.

Al-Kasani mengatakan,

وعند أبي حنيفة: لا يؤكل – يعني الدقيق المعجون بماء وقعت فيه نجاسة – وإذا لم يؤكل، ماذا يصنع به؟ قال مشايخنا: يطعم للكلاب؛ لأن ما تنجس باختلاط النجاسة به – والنجاسة معلومة – لا يباح أكله، ويباح الانتفاع به

Menurut Abu Hanifah, adonan basah yang kejatuhan najis, tidak boleh dimakan. Jika tidak boleh dimakan, apa yang harus dilakukan? Para ulama kami mengatakan, ‘Bisa dikasihkan ke anjing.’ Karena makanan halal yang tercampur najis, tidak boleh dimakan, tapi boleh dimanfaatkan. (Bada’i as-Shana’i, 1/78).

Penjelasan ini berlaku untuk binatang yang haram dimakan. Bolehkah diberikan kepada hewan yang halal dimakan, seperti lele, sapi atau ayam. Beberapa masyarakat menggunakan darah untuk campuran makanan sapi.

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,

[1] Boleh memberikan najis untuk hewan yang halal dimakan. Ini merupakan madzhab Imam Ahmad. (simak al-Furu’, Ibnu Muflih, 6/272)

[2] Makruh memberikan makanan haram ke binatang yang halal dimakan. Tapi jika makanan haram itu dicampur  dengan air atau semacamnya, hukumnya boleh. Ini merupakan madzhab Syafiiyah. (simak al-Majmu’, 9/27).

[3] Boleh memberikan makanan najis ke hewan yang halal dimakan, jika hewan ini tidak hendak disembelih atau diperah susunya. Misalnya, hewan yang ditunggangi atau dijadikan hiasan seperti ikan hias. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat. (simak al-Furu’, 6/272)

Tarjih:

Pendapat yang lebih mendekati dalam hal ini adalah pendapat yang membolehkan. Namun dengan tetap memperhatikan hukum jallalah jika hewan ini mau dimakan atau diambil hasil susunya. Penjelasan mengenai Jalalah bisa anda pelajari di: Budi Daya Lele dengan Pakan Kotoran Manusia

Diantara dalil yang mendukung hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para rombongan melewati negeri kaum Tsamud – al-Hijr –, ada sebagian sahabat  mengambil air di sumur kampung itu dan ada yang digunakan untuk membuat adonan. Sementara beliau perintahkan agar mempercepat langkah dan melarang mengambil air di sana. Karena negeri ini pernah diadzab.

Lalu beliau perintahkan,

أَنْ يُهَرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا مِنْ بِئْرِهَا، وَأَنْ يَعْلِفُوا الإِبِلَ العَجِينَ

Buang air yang sudah diambil dari sumur kampung ini dan adonan yang sudah dibuat dikasihkan ke onta. (HR. Bukhari 3379, Ibnu Hibban 6202 dan yang lainnya).

Rasulullah melarang mengkonsumsi adonan yang dibuat dengan campuran air sumur daerah kaum Tsamud, artinya itu haram. Namun beliau memerintahkan untuk diberikan ke binatang yang halal dimakan, yaitu onta.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Menggambar Tengkorak https://konsultasisyariah.com/29466-hukum-menggambar-tengkorak.html Mon, 08 May 2017 02:45:59 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29466 Dilarang Menggambar Tengkorak?

Bagaimana hukum menggambar tengkorak? Apakah termasuk gambar makhluk bernyawa yang terlarang?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak dalil yang melarang kita menggambar makhluk bernyawa. Ancamannya, orang yang menggambarnya akan diminta untuk memberi ruh kelak di hari kiamat. Dan itu tidak mungkin mampu dia lakukan. Setelah itu dia akan diazab.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

من صوَّرَ صورةً في الدُّنيا كلِّفَ يومَ القيامةِ أن ينفخَ فيها الرُّوحَ ، وليسَ بنافخٍ

“barangsiapa yang di dunia pernah menggambar gambar (bernyawa), ia akan dituntut untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut di hari kiamat, dan ia tidak akan bisa melakukannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

كلُّ مُصوِّرٍ في النَّارِ ، يُجْعَلُ له بكلِّ صورةٍ صوَّرها نفسٌ فتُعذِّبُه في جهنَّمَ

“semua tukang gambar (makhluk bernyawa) di neraka, setiap gambar yang ia buat akan diberikan jiwa dan akan mengadzabnya di neraka Jahannam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sementara yang dibolehkan adalah menggambar sesuatu yang tidak bernyawa, seperti pepohonan, gunung, bebatuan, dan semacamnya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

قال اللهُ عزَّ وجلَّ : ومن أظلم ممن ذهبَ يخلقُ كخَلْقي ، فلْيَخْلُقوا ذرَّةً ، أو : لِيخْلُقوا حبَّةً ، أو شعيرةً

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku?’. Maka buatlah gambar biji, atau bibit tanaman atau gandum” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagaimana dengan Gambar Tengkorak?

Apakah gambar tengkorak termasuk kategori gambar bernyawa?

Gambar tengkorak bukan termasuk gambar bernyawa. Karena benda semacam ini dipahami sebagai benda mati.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

الذي يظهر أن صورة الجمجمة في ذاتها ليست من الصور المحرمة ؛ لأنها من جنس الصور التي نزع منها ما لا تبقى معه الحياة ، وليست على صورة الرأس الحقيقية التي يحيا بها الإنسان

Yang dzahir bahwa gambar tengkorak tidak termasuk gambar yang haram. Karena gambar ini masuk jenis benda yang tidak bisa hidup. Dan tidak tidak dalam bentuk kepala hakiki yang menggambarkan manusia hidup. (Fatwa Islam, no. 200347)

Lambang Orang Fasik

Hanya saja ada pertimbangan lain yang menjadi alasan bahwa menggambar tengkorak atau memasang gambar tengkorak termasuk dilarang, karena ini merupakan lambang orang fasik dan orang kafir.

Syaikh Sulaiman al-Majid ditanya tentang hukum memakai T-Shirt bergambar tengkorak.

Jawaban beliau,

الحمد لله وحده وبعد .. لا نرى لبس مثل هذه الألبسة التي يخشى أنها ترمز إلى طقوس معينة . والله أعلم

Alhamdulillah wahdah wa ba’du, kami tidak merekomendasikan memakai pakaian semacam ini, yang dikhawatirkan itu menjadi lambang penganut ritual tertentu. Allahu a’lam

Sumber: http://www.salmajed.com/fatwa/findnum.php?arno=5285

Keterangan lain disampaikan oleh Dr. Muhammad al-Musnid, ketika beliau ditanya tentang hukum merchandise yang ada gambar tengkoraknya. Benarkah itu lambang penyembah setan?

Jawaban beliau,

الجمجمة ليست الرمز الوحيد لعبدة الشيطان ، ولكنها من ضمن الرموز التي يتخذونها ، والتي ترمز للقتل إرضاء للشيطان ، فالواجب الحذر من مثل هذه الرموز والشعارات في الملابس وغيرها ، ومنع بيعها ولبسها حماية للأجيال من اللوثات الخطيرة ، والصرعات المضللة

Tengkorak bukan lambang satu-satunya untuk penyembah setan. Namun termasuk salah satu lambang yang mereka gunakan. Dan menjadi lambang pembunuhan untuk persembahan kepada setan. Karena itu, wajib dilarang menggunakan lambang dan syiar semacam ini di pakaian maupun lainnya. dan dilarang untuk diperdagangkan, atau memakainya, dalam rangka menjaga generasi dari kontaminasi yang kotor dan pemikiran yang menyimpang.

Sumber: http://islaamlight.com/almesnad/index.php?option=com_ftawa&task=view&id=29523

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Dilarang Merusak Sarang Laba-laba? https://konsultasisyariah.com/29461-dilarang-merusak-sarang-laba-laba.html Fri, 05 May 2017 02:06:12 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29461 Hukum Merusak Sarang Laba-laba

Banyak orang mengatakan, laba-laba itu hewan berjasa karena pernah menyelamatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersembunyi di gua Tsur saat dikejar orang kafir.  Sehingga wajib diistimewakan, tidak boleh diganggu atau dibunuh. Membunuh laba-laba termasuk perbuatan dosa. Apa itu benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebelumnya kita akan melihat lebih dekat mengenai riwayat yang menyebutkan adanya laba-laba ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di gua Tsur.

Disebutkan dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, tentang kisah keluarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kota Mekah, beliau dikejar orang musyrikin hingga beliau bersembuyi di gua Tsur.

فمروا بالغار، فرأوا على بابه نسيج العنكبوت، فقالوا: لو دخل ههنا لم يكن نسيج العنكبوت على بابه، فمكث فيه ثلاث ليال

Mereka melewati gua itu, dan mereka melihat di pintunya ada sarang laba-laba. Mereka berkomentar, ‘Andai Muhammad masuk gua ini, tidak mungkin ada sarang laba-laba di pintu gua ini.’ dan beliau tetap tinggal di dalam gua selama 3 hari.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 3251) dan sanadnya dinilai dhaif oleh Syuaib al-Arnauth. Permasalahannya adalah ada perawi yang bernama Utsman al-Jazari. Termasuk yang menilai dhaif adalah Syaikh Ahmad Syakir, sebagaimana keterangan beliau dalam ta’liq Musnad Ahmad.

Meskipun ada beberapa ulama yang menilainya hasan. Diantaranya adalah Ibnu Katsir dan al-Hafidz Ibnu Hajar,

Ibnu Katsir mengatakan,

وهذا إسناد حسن وهو من أجود ما روي في قصة نسج العنكبوت على فم الغار

Riwayat ini sanadnya hasan, dan sanadnya adalah riwayat yang paling bagus terkait kisah sarang laba-laba di mulut gua. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 3/181)

Al-Hafidz Ibnu Hajar juga menilainya hasan (Fathul Bari, 7/236), hanya saja beliau mengomentari salah satu perawinya, Utsman al-Jazari bahwa beliau ada sisi lemah.

Di sisi lain, ada beberapa pertimbangan yang menunjukkan bahwa riwayat ini lemah,

Pertama, hadis ini didhaifkan banyak ulama karena keberadaan perawi Utsman al-Jazari.

Abu Hatim mengatakan tentang Utsman al-Jazari,

يُكتب حديثه ولا يحتج به

Hadisnya ditulis namun tidak dijadikan hujah. (at-Tahdzib, 7/145)

Kedua, hadis ini bertentangan dengan dzahir al-Quran.

Mengenai peristiwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi di gua Tsur, Allah ceritakan dalam al-Quran,

فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا

Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.. (QS. at-Taubah: 40).

Dalam ayat di atas, Allah menolong Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tentara yang tidak kelihatan,

وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا

“Allah membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya..”

Dan ini tidak sejalan jika dipahami bahwa bala tentara itu adalah laba-laba yang membuat sarang. Karena jelas sarang laba-laba bisa kelihatan. Dan makna tentara yang tidak dilihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para Malaikat. Al-Baghawi menjelaskan ayat ini,

وهم الملائكة نزلوا يصرفون وجوه الكفار وأبصارهم عن رؤيته؛ وقيل: ألقوا الرعب في قلوب الكفار حتى رجعوا

Mereka adalah para malaikat yang turun, memalingkan wajah orang-orang kafir dan penglihatan mereka sehingga tidak melihat beliau. Ada yang mengatakan, Allah menyematkan rasa takut di hati orang-orang kafir itu sampai mereka kembali. (Tafsir al-Baghawi, 4/53).

Kesimpulannya, keberadaan laba-laba di gua Tsur ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersembunyi bersama Abu Bakr belum bisa kita pastikan adanya. Karena itu, riwayat ini tidak cukup kuat untuk dijadikan dalil bahwa laba-laba adalah hewan istimewa atau memiliki keutamaan khusus.

Hukum Mengusir Laba-Laba

Pada prinsipnya semua yang mengganggu manusia boleh untuk diusir. Sementara dalil yang menyatakan bahwa laba-laba pernah berjasa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa dijadikan alasan, karena tidak kuat, sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang hukum menghilangkan sarang laba-laba dan mengusirnya dari rumah.

Jawaban beliau

إزالة العنكبوت من زوايا البيوت لا بأس بها وذلك لأن العنكبوت تؤذي وتلوث الحيطان وربما تعشش على الكتب وعلى الملابس فهي من الحشرات المؤذية وإن كانت أذيتها خفيفة بالنسبة لغيرها فإذا حصل منها أذية فإنه لا بأس بإزالة ما بنته من العش

Mengusir laba-laba dari sudut-sudut rumah diperbolehkan. Karena laba-laba mengganggu dan mengotori dinding. Terkadang mengotori kitab, pakaian. Laba-laba termasuk hewan yang mengganggu. Jika gangguannya ringan jika dibandingkan hewan lainnya, tidak masalah menghilangkan sarangnya. (Fatwa Nur ala Ad-Darbi, Imam Ibnu Utsaimin)

Keterangan Imam Ibnu Baz

لا حرج في إزالة آثار العنكبوت ولا نعلم ما يدل على كراهة ذلك فإزالتها لا حرج في ذلك أما كونها بنت على الغار الذي دخل فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – وصاحبه أبو بكر فهذا ورد في بعض الأحاديث وبصحته نظر ولكنه مشهور ولو فرضنا صحته فإنه لا يمنع من إزالتها من البيوت … التي ليس لوجودها حاجة فيها

Tidak masalah menghilangkan sarang laba-laba. Dan saya tidak mengetahui adanya dalil yang memakruhkan hal ini. Sementara peristiwa laba-laba membuat sarang di pintu gua yang dimasuki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, ini disebutkan dalam sebagian hadis, namun status keabsahannya perlu dipertimbangkan. Meskipun riwayat ini masyhur. Jika kita anggap riwayat ini shahih, tidak masalah mengusirnya dari rumah… karena keberadaan sarang laba-laba di rumah tidak dibutuhkan. (Fatawa Ibnu Baz, no. 11021)

Untuk masalah membunuhnya, selama laba-laba bisa diusir tanpa harus dibunuh, maka pada asalnya semua binatang yang gangguannya tidak signifikan, cukup diusir tanpa harus dibunuh.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Memilih Waktu Kajian Khusus, Bid’ah? https://konsultasisyariah.com/29416-memilih-waktu-kajian-khusus-bidah.html Mon, 17 Apr 2017 02:35:59 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29416 Mengkhususkan Waktu untuk Kajian, Termasuk Bid’ah?

Tanya pak ustadz
Di sebuah masjid, ada kajian setiap hari kecuali hari jumat. Apakah ini termasuk bid’ah…?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita,

Ada beberapa wanita meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ ، فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ . فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيهِ ، فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ

Kami kalah dengan para kaum lelaki (ketika mendengarkan ceramah anda), karena itu jadikan satu hari anda, khusus untuk kami. Kamudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan satu hari khusus untuk pertemuan dengan para wanita. Beliau menasehati mereka dan memrintahkan mereka… (HR. Bukhari 101).

Dari diriwayatkan dari Abu Wail, beliau menceritakan,

كَانَ عَبْدُ اللَّهِ بنُ مَسْعُود يُذَكِّرُ النَّاسَ فِى كُلِّ خَمِيسٍ

“Bahwa Abdullah bin Mas’ud memberi kajian di masyarakat setiap hari kamis.” (HR. Bukhari 70).

Ini semua merupakan dalil bolehnya menentukan waktu tertentu untuk kajian atau untuk pertemuan. Dan bukan termasuk membuat id (hari raya), yang dilarang dalam islam. karena hari raya yang diizinkan hanyalah hari raya idul fitri dan idul adha.

Syaikh Dr. Abdul Aziz ar-Rais ketika menjelaskan ini mengatakan,

لو أن قوما اجتمعوا وحددوا يوما في الشهر أو يوما في السنة يجتمعون في هذا اليوم هذا لا يعد عيدا لأن الزمان ليس مرادا لذاته وإنما جاء تبعا لا قصدا…

Jika ada sekelompok orang mereka berkumpul dan menentukan satu hari tertentu dalam sebulan atau dalam setahun, lalu mereka berkumpul untuk kajian, ini tidak disebut id. Karena waktu yang ditentukan bukan tujuan utama, namun sifatnya mengikuti, bukan menjadi maksud utama.

Kemudian Dr. Abdul Aziz menyebutkan dua riwayat di atas.

(rekaman kajian – man thalabal ilma fal yudaqqiq – http://islamancient.com/)

Karena itu, mengadakan kajian rutin di hari tertentu, lalu ada bagian yang libur, bukan termasuk bid’ah dan bukan termasuk membuat hari raya…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Berkendara Tanpa Memiliki SIM https://konsultasisyariah.com/29408-hukum-berkendara-tanpa-memiliki-sim.html Thu, 13 Apr 2017 02:38:37 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29408 Tidak Punya SIM

Jika kita berkendaraa tidak memakai sim, bgamn hukumnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pada prinsipnya setiap muslim harus memenuhi setiap aturan yang berlaku baginya. Termasuk aturan ketika dia ber-lalu lintas. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ

“Setiap muslim harus mengikuti kesepakatan mereka.” (HR. Abu Daud 3596, ad-Daruquthni 2929 dan yang lainnya).

Dalam Fatwa Lajnah Daimah dinyatakan,

“Peraturan lalu lintas ditetapkan demi kemaslahatan umum kaum muslimin. Wajib bagi seluruh pengemudi untuk memperhatikan dan melaksanakan peraturan tersebut. Karena ketika aturan itu dilaksanakan menghasilkan maslahat bagi masyarakat. Sebaliknya ketika itu dilanggar, akan terjadi banyak kecelakaan dan membahayakan orang lain serta akan ancaman bahaya lainnya.” (Fatwa Lajnah no. 15752)

Syaikh Ibnu Baz juga menerangkan,

“Setiap muslim dan non muslim tidak diperbolehkan melanggar aturan negara dalam hal lalu lintas. Karena pelanggaran itu bisa membahayakan dirinya dan orang lain.

Negara membuat aturan itu didasari semangat untuk mewujudkan maslahat bagi semua masyarakat dan menghindari bahaya yang mengancam kaum muslimin. Oleh karena itu siapapun tidak boleh melanggar aturan itu. Para penanggung jawab berhak untuk memberi sanksi orang yang melakukan pelanggaran.” (Fatawa Islamiyah, 4/536).

Standardisasi di negara kita, bagi mereka yang hendak menggunakan kendaraan bermotor, dia diharuskan memiliki surat izin yang dikeluarkan pihak kepolisian. Tujuannya adalah untuk menekan angka pengguna jalan yang belum memenuhi kelayakan, sehingga bisa memicu kecelakaan.

Karena itu,

[1] Sudah selayaknya setiap calon pengendara yang belum memiliki sim agar mengikuti standar yang ditetapkan pemerintah.

[2] Selayaknya bagi penyelenggara penerbitan SIM untuk mengikuti SOP dalam penerbitan sim, agar pengguna kendaraan di masyarakat bisa lebih baik..

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>