Hutang Piutang – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Mon, 26 Sep 2016 07:08:13 +0000 en-US hourly 1 Pemenang Kuis Sengketa Utang https://konsultasisyariah.com/28298-pemenang-kuis-sengketa-utang.html Mon, 05 Sep 2016 03:28:58 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28298 Pemenang Kuis Sengketa Utang

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebelumnya kami ucapkan Jazakumullah khoiran atas apresiasi yang diberikan para pembaca konsultasisyariah.com. Kami sangat yakin, keterlibatan anda dalam kuis, bukan semata mengejar hadiah. Tapi lebih karena alasan belajar. Karena situs ini kami arahkan untuk menjadi wahana belajar islam bagi siapapun.

Untuk itu, sekiranya ada pembaca yang merasa telah memberikan jawaban benar, namun ternyata tidak terpilih sebagai pemenang, kami harap tidak sampai menjadi sumber kekecewaan. Dan kami harap bisa tetap bekerja sama dengan kami dalam menyebarkan dakwah islam sesuai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Sekali lagi, terima kasih atas perhatian anda, semoga Allah memberkahi kita semua.

Jawaban Kuis Sengketa Utang

Selanjutnya kita akan melihat bagaimana penyelesaian kasus untuk sengketa utang yang ada dalam soal kuis. Baca pertanyaan kuis: Sengketa Utang (Baca Sampai Selesai, Ada Kuis Berhadiah Menarik]

Kaidah baku yang diajarkan dalam hadis, penuntut harus mendatangkan bukti, jika tidak maka yang dituntut boleh bersumpah untuk membebaskan diri dari tuntutan. Ini berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِى وَالْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ

“Bukti itu menjadi tanggung jawab mudda’i dan sumpah menjadi pembela bagi mudda’a alaih.” (HR. Turmudzi 1391, Daruquthni 4358 dan dishahihkan al-Albani).

Selanjutnya, tugas kita adalah menentukan mana yang menuntut (al-Mudda’i) dan mana yang dituntut (al-Mudda’a ‘alaih).

Kasus pertama,

Maridjan pernah utang 1 jt ke Ngatijan. Setelah selang beberapa tahun, Ngatijan nagih utang ke Maridjan, tapi dia merasa bahwa utang telah dilunasi. Sehingga Maridjan tidak mau bayar utang. Akhirnya mereka berselisih. Bagaimana cara menyelesaikannya?

Penyelesaian Kasus

Jika kita menggunakan acuan: penuntut adalah orang yang keadaannya tidak sejalan dengan kondisi normal (kondisi dzahir), sedangkan yang dituntut sebaliknya. Sehingga orang yang berada di pihak meyakinkan, dialah yang dituntut. Tidak wajib mendatangkan bukti. Sementara orang yang berada di pihak meragukan, dia harus mendatangkan bukti.

Maridjan pernah utang 1 jt ke Ngatijan. Di posisi ini, keduanya yakin bahwa si Maridjan pernah utang ke Ngatijan.

Apakah Maridjan sudah melunasi utang itu? Tidak ada kejelasan.

Jika Maridjan mengklaim bahwa dirinya telah melunasi utang, maka Maridjan di posisi meragukan, tidak sejalan dengan yang lebih meyakinkan. Di sinilah Maridjan dianggap sebagai orang yang mengklaim, sehingga harus mendatangkan bukti.

Jika Maridjan tidak bisa mendatangkan bukti, maka Ngatijan diminta bersumpah bahwa Maridjan belum melunasi utangnya atau Ngatijan bersumpah bahwa dia belum menerima pembayaran utang dari Maridjan.

Kasus kedua,

Tedi pernah utang ke Adi senilai 1 jt. Dan sudah pernah dicicil sekian ratus ribu. Selanjutnya terjadilah kelupan… selang setahun, Tedi membayar Rp 300 rb dan dia anggap sudah lunas. Tapi Adi menganggap cicilan masih kurang 200 rb. Sementara keduanya tidak memiliki bukti. Siapa yang harus dimenangkan?

Penyelesaian Kasus:

Baik Adi maupun Tedi, mereka yakin bahwa Tedi pernah utang ke Adi senilai 1 jt, dan sudah pernah dicicil sekian ratus ribu.

Mereka lupa dengan besar nilai cicilan itu. Dan ketika ragu dalam masalah tanggung jawab, antara besar dan kecil maka dipilih yang kecil.

Menurut dugaan Tedi, besar cicilan itu adalah 700 rb. Sementara menurut Adi, cicilan itu baru sebesar 500 rb.

Secara normal, yang mengklaim lebih besar harus mendatangkan bukti. Nilai utang meyakinkan, sementara nilai cicilan, meragukan.

Di sinilah, Tedi diminta mendatangkan bukti. Jika dia bisa mendatangkan bukti bahwa yang dia bayar telah mencapai 700 rb, maka Tedi dimenangkan.

Jika tidak, Adi diminta bersumpah bahwa cicilan yang baru dibayarkan Tedi senilai 500 rb, sehingga kurang 200 rb.

Kasus ketiga,

Ngatiyem utang cicin bermata sekian gram ke Yanti. Selang beberapa tahun, Ngatiyem mengembalikan cincin itu, namun Yanti menolak. Alasannya, beratnya beda dan jumlah matanya beda. Sementara menurut Ngatiyem, itu sudah sama dengan yang dia bawa. Terjadilah sengketa, mana yang harus dimenangkan?

Penyelesaian Kasus:

Ngatiyem dan Yanti keduanya sepakat bahwa yang dipinjam berupa cincin. Sementara mengenai kriteria cincin, keduanya berbeda pendapat. Seperti apakah kriteria cincin yang pernah diutangkan itu?. Ngatiyem mengklaim bahwa cincin yang dia kembalikan sudah sesuai dengan cincin yang pernah dia pinjam. Sementara Yanti mengklaim, masih ada yang kurang.

Baik Ngatiyem maupun Yanti, keduanya pernah memegang cincin itu. Namun secara prinsip, pemegang barang terakhir itu yang lebih diterima penjelasannya mengenai kriteria barang dibandingkan orang yang menyerahkan barang. Sehingga mengaku bahwa itu tidak sesuai kriteria dan kurang, harus mendatangkan bukti.

Karena itulah, dalam hal ini suara Ngatiyem lebih dimenangkan, karena dia pemegang terakhir. Sementara

Yanti harus mendatangkan bukti bahwa cincin yang dia terima tidak sama dengan cincin yang pernah dia serahkan. Jika Yanti tidak bisa mendatangkan bukti, maka Ngatiyem bisa bersumpah bahwa cincin yang dia kembalikan telah sesuai dengan yang pernah dia terima.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

إذا اختلف الدائن والمدين ولا بينة لهما، فالقول قول المدين مع يمينه في الصفة، والقدر

Apabila terjadi perbedaan pendapat antara yang memberi utang dan orang yang berutang, sementara keduanya tidak memiliki bukti, maka dimenangkan keterangan pihak yang menerima utang terkait kriteria dan kuantitas (barang yang diutang) disertai sumpah. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 3/269).

Pemenang Kuis Adalah?

Sampai tanggal 2 September, ada 94 peserta yang mengirim jawaban kuis. Ada 7 peserta yang menjawab benar dan terpilih sebagai pemenang adalah sebagai berikut:

  1. Alif Hidayah: arpe****@gmail.com
  2. Hamdika Muflih: mufl****@gmail.com
  3. Nico Oktora nicook****@gmail.com
  4. Ali Imran Siregar: ali_bi****@rocketmail.com
  5. Erick Suryono: e****@m****news.com
  6. Ahmad Syarif: ‎ jl.pesu****@gmail.com
  7. Yamin Tube: yam****@gmail.com

InsyaaAllah ketujuh pemenang akan mendapatkan hadiah. Selanjutnya, kepada para pemenang untuk mengirim alamat dan no telpon ke email kami di: kuis.konsultasisyariah@gmail.com.

Hadiah akan kami kirim selambat-lambatnya 3 hari setelah pemenang mengirim data lengkap yang kami butuhkan.

Demikian, tidak lupa kami ucapkan Jazakumullah khoiran atas perhatiannya. semoga bermanfaat…

Barakallahu fiikum. 

Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Haji dari Utang Bank https://konsultasisyariah.com/28285-haji-dari-utang-bank.html Thu, 01 Sep 2016 02:07:59 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28285 Utang Bank Buat Haji

Bagaimana hukum haji dari hasil utang bank? apakah hajinya sah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah mewajibkan haji bagi yang mampu. Allah berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…” (QS. Ali Imran: 97)

Yang dimaksud ‘sanggup mengadakan perjalanan’ dalam ayat di atas adalah perbekalan dan kendaraan. Artinya, harus terpenuhi biaya yang cukup untuk haji, termasuk nafkah yang cukup untuk anaknya dan semua orang yang wajib dia nafkahi, sampai dia kembali.

Bagi yang tidak mampu, islam tidak menganjurkan agar memaksakan diri untuk berangkat. Termasuk salah satunya dengan cara berutang.

Syaikh Dr. Soleh al-Fauzan menyatakan,

ليس من الشرع أن يستدين الإنسان ليحج

“Bukan termasuk ajaran syariat ketika seseorang berutang untuk haji.”

Meskipun andai ada orang berangkat haji dari hasil utang, hajinya tetap sah.

Dr. Soleh al-Fauzan mengatakan,

ولكن مادام أنه فعل هذا واستدان وحج، فإن حجته صحيحة ويجب عليه سداد الدين، والله سبحانه وتعالى يوفق الجميع لما فيه الخير والصلاح.

Akan tetapi, jika dia tetap melakukan hal ini, dia berutang dan melakukan haji, maka hajinya sah dan dia wajib melunasi utangnya. Semoga Allah ta’ala memberi taufiq bagi seluruh kaum muslimin untuk mendapatkan kebaikan.
[Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/11083]

Bagaimana jika Haji dari Utang Bank?

Keterangan di atas berlaku untuk merek yang melakukan haji dari hasil utang TANPA riba. Bagaimana jika ada orang berhaji dari hasil utang bank, yang bisa dipastikan ada ribanya. Tanpa memandang label, baik konven maupun syariah, produk dana talangan haji sangat merugikan masyarakat.

Mengenai hukum talangan haji bank syariah, bisa anda pelajari di: Dana Talangan Haji Haram?

Utang riba, sekalipun mengandung dosa, namun uang yang diterima menjadi hak milik penerima. Demikian menurut pendapat yang benar. Karena itu, uang ini bisa dia gunakan untuk keperluan apapun yang sifatnya mubah, termasuk untuk mendaftar haji.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

والقرض الربوي – مع حرمته وشناعته – يفيد الملك على الصحيح ، فيكون المال المقترض ملكا لك ، تنتفع به فيما شئت من المباح كشراء سيارة وغيرها .

Utang riba – meskipun hukumnya haram dan kemaksiatan – namun uang yang diberikan menjadi hak milik yang sah, menurut pendapat yang benar. Sehingga uang yang anda utang, merupakan milik anda. Anda bisa manfaatkan untuk tujuan mubah apapun yang anda inginkan, seperti membeli mobil atau kebutuhan lainnya.

(Fatwa Islam no. 149111, menyimpulkan dari buku: al-Manfaah fi al-Qardh, Abdullah bin Muhammad al-Imrani, hlm. 245 – 254).

Mengenai penjelasan lebih detailnya, bisa anda pelajari artikel di situs pengusahamuslim.com: Pinjaman Bank Bukan Uang Haram?

Untuk itu, haji yang diselenggarakan dari hasil utang bank, termasuk haji dari uang halal. Hanya saja, dia punya kewajiban melunasi utang itu dan yang menjadi masalah besar adalah dia harus membayar riba saat pelunasan. Sementara memberi makan riba, termasuk dosa yang dilaknat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dia berkewajiban untuk bertaubat kepada Allah, atas kesalahannya melakukan transaksi dengan bank, yang mengharuskan dia untuk membayar riba ke bank.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Sengketa Utang [Ada Kuis Berhadiah] https://konsultasisyariah.com/28250-sengketa-utang.html Mon, 22 Aug 2016 01:46:59 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28250 Sengketa Utang (Baca Sampai Selesai, Ada Kuis Berhadiah Menarik]

Bagaimana cara menyelesaikan sengketa utang. Si A mengaku bahwa si B punya punya utang ke dia. Tapi si B mengaku, tidak pernah utang ke A. Sementara keduanya tidak memiliki bukti.

Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ketika terjadi perselisihan antara orang yang memberi utang (kreditur) dengan penerima utang (debitur) mengenai nilai utang maka yang dimenangkan adalah mereka yang memiliki bukti dan ada saksi.

Yang menjadi masalah adalah ketika keduanya tidak memiliki bukti maupun saksi.

Sebelumnya, kita akan mempelajari cara yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyelesaikan sengketa.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِى وَالْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ

“Bukti itu menjadi tanggung jawab mudda’i dan sumpah menjadi pembela bagi mudda’a alaih.” (HR. Turmudzi 1391, Daruquthni 4358 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam sebuah sengketa, di sana ada 2 pihak,

[1] Pihak yang menuntut. Dialah yang mengajukan klaim. Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya denganmudda’i.

[2] Pihak yang dituntut. Dia yang diminta untuk memenuhi klaim. Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan mudda’a alaih.

Kewajiban dan tanggung jawab masing-masing berbeda,

[1] Untuk pihak penuntut (mudda’i), dia diminta mendatangkan bukti atau saksi.

[2] Untuk pihak yang dituntut (mudda’a alaih), ada 2 kemungkinan posisi;

(1) Jika  mudda’i bisa mendatangkan bukti yang bisa diterima, maka dia bertanggung jawab memenuhi tuntutannya.

(2) Sebaliknya, Jika mudda’i tidak bisa mendatangkan bukti yang dapat diterima, maka mudda’a alaih diminta untuk bersumpah dalam rangka membebaskan dirinya dari tuntutan. Jika dia bersumpah maka dia bebas tuntutan.

Selanjutnya, bagaimana cara menentukan mudda’i dan mudda’a alaih? Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada 2 kriteria yang terkenal, yang disampaikan al-Hafidz Ibnu Hajar,

واختلف الفقهاء في تعريف المدعي والمدعى عليه، والمشهور فيه تعريفان: الأول: المدعي من يخالف قوله الظاهر والمدعى عليه بخلافه، والثاني: من إذا سكت ترك وسكوته، والمدعى عليه من لا يخلى إذا سكت، والأول أشهر، والثاني أسلم…

Ulama berbeda pendapat mengenai batasan mudda’I dan mudda’a alaih. Yang masyhur, ada 2 pengertian,

[1] Mudda’i adalah orang yang keadaannya tidak sejalan dengan kondisi normal (yang dzahir). Sementara mudda’a alaih adalah kebalikannya.

[2] Mudda’i adalah orang yang ketika meninggalkan kasus dia dibebaskan. Sementara mudda’a ‘alaih adalah orang yang  ketika diam meninggalkan kasus, tidak dibiarkan.

Kata Ibnu Hajar, “Yang pertama itu yang masyhur, sementara yang kedua yang lebih selamat…” (Fathul Bari, 5/283)

Kita terapkan dalam kasus sengketa utang,

Paijo mendatangi Paimen dan menuntut agar dibayarkan utangnya senilai 1 juta. Sementara Paimen merasa tidak ada utang 1 jt ke Paijo. Akhirnya mereka berselisih. Bagaimana cara penyelesaiannya?

Kita akan merunut sebagai berikut:

[1] Hukum asal manusia adalah tidak memiliki utang. Sehingga bebas utang adalah status normal manusia. ketika ada orang mengatakan, si A itu punya utang, berarti ini tidak sejalan kondisi normal.

[2] Ketika si X mengklaim bahwa si A memiliki utang kepadanya maka siapa yang ketika meninggalkan kasus dia bisa dilepaskan?

Jawabannya adalah si X. jika si X diam dan meninggalkan kasus sebelum diputuskan, orang tidak akan menuntutnya. Berbeda dengan si A. ketika si A meninggalkan kasus sebelum diputuskan, maka si X akan tetap menuntut, sehingga si A tidak bisa lepas.

Dari sini, kita bisa mengambil kesimpulan untuk kasus Paijo dan Paimen, siapa yang harus mendatangkan bukti dan siapa yang cukup mengingkari dengan sumpah. Penyelesaian sengketa,

[1] Kepada Paijo diminta untuk mendatangkan bukti bahwa Paimen pernah utang 1 juta kepadanya. Jika Paijo punya bukti yang bisa diterima, maka Paimen wajib bayar utang. Dalam hal ini, kasus dimenangkan Paijo.

[2] Jika Paijo tidak punya bukti maupun saksi, maka Paimen diminta bersumpah bahwa dirinya tidak pernah berutang ke Paijo. Jika Paimen bersumpah, maka dia tidak berkewajiban membayar utang 1 jt itu, dan dalam kasus in Paimen dimenangkan.

Kuis Berhadiah Menarik:

Kasus pertama,

Maridjan pernah utang 1 jt ke Ngatijan. Setelah selang beberapa tahun, Ngatijan nagih utang ke Maridjan, tapi dia merasa bahwa utang telah dilunasi. Sehingga Maridjan tidak mau bayar utang. Akhirnya mereka berselisih. Bagaimana cara menyelesaikannya?

Kasus kedua,

Tedi pernah utang ke Adi senilai 1 jt. Dan sudah pernah dicicil sekian ratus ribu. Selanjutnya terjadilah kelupan… selang setahun, Tedi membayar Rp 300 rb dan dia anggap sudah lunas. Tapi Adi menganggap cicilan masih kurang 200 rb. Sementara keduanya tidak memiliki bukti. Siapa yang harus dimenangkan?

Kasus ketiga,

Ngatiyem utang cicin bermata sekian gram ke Yanti. Selang beberapa tahun, Ngatiyem mengembalikan cincin itu, namun Yanti menolak. Alasannya, beratnya beda dan jumlah matanya beda. Sementara menurut Ngatiyem, itu sudah sama dengan yang dia bawa. Terjadilah sengketa, mana yang harus dimenangkan?

Ketiga kasus di atas kami sebagai kuis untuk para pembaca konsultasisyariah.com

Jawaban bisa dikirim via email ke alamat: kuis.konsultasisyariah@gmail.com

Dengan subjek email: Kuis Sengketa Utang

Jawaban terakhir kami terima selambat-lambatnya tanggal 2 September 2016.

Bagi pembaca yang mengirimkan 5 jawaban terbaik akan mendapatkan bingkisan dari yufid store berupa,

[1] Flashdisk video yufid TV

[2] Kaos yufid store

[3] Buku Pengantar Fiqh Jual Beli

* Total nilai sekitar Rp 400 rb

KLIK UPDATE PEMENANG

Demikian, semoga bermanfaat…

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

    • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
    • DONASI hubungi: 087 882 888 727
    • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

 

]]>
Suami Tidak Wajib Melunasi Utang Istri? https://konsultasisyariah.com/27814-suami-tidak-wajib-melunasi-utang-istri.html Fri, 20 May 2016 00:55:39 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=27814 Hutang Istri?

Apakah suami wajib melunasi utang istri? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Maksud pembahasan ini adalah salah satu, baik suami atau istri memiliki utang apakah suami wajib menanggung utang istri? Dan sebaliknya, apakah istri juga dituntut untuk menanggung utang suami?

Titik masalahnya adalah apakah utang termasuk dalam nafkah? Jika itu masuk dalam bagian nafkah, berarti pihak yang wajib memberi nafkah, harus menanggung utang itu.

Pertama, Apakah istri menanggung utang suami?

Istri, berapapun harganya tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah suaminya. karena harta istri menjadi murni milik istri. Allah menegaskan bahwa harta istri murni menjadi miliknya, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri. Dalil kesimpulan ini adalah ayat tentang mahar,

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 4)

Jika harta mahar, yang itu asalnya dari suami diberikan kepada istrinya, tidak boleh dinikmati suami kecuali atas kerelaan hati sang istri, maka harta lainnya yang murni dimiliki istri, seperti penghasilan istri atau warisan milik istri dari orang tuanya, tentu tidak boleh dinikmati oleh suaminya kecuali atas kerelaan istri juga.

Dengan demikian, istri tidak wajib menanggung utang suami. Karena istri tidak wajib menafkahi suaminya.

Kedua, Apakah suami istri menanggung utang istri?

Kembali ke pertanyaan, apakah utang termasuk bagian dari nafkah?

Kita simak batasan nafkah,

Dalam hadis dari Muawiyah bin Haidah radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Ya Rasulullah, apa hak istri yang menjadi tanggung jawab kami?’

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ أَوْ اكْتَسَبْتَ وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ

“Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajah, jangan engkau menjelek-jelekkannya (dengan perkataan atau cacian), dan jangan engkau tinggalkan kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad 20013, Abu Daud 2142, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Dalam Fatawa Islam ditegaskan,

والنفقة تشمل : الطعام والشراب والملبس والمسكن ، وسائر ما تحتاج إليه الزوجة لإقامة مهجتها ، وقوام بدنها

Nafkah mencakup: makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan segala sarana yang menjadi kebutuhan istri untuk hidup dengan layak. (Fatawa Islam no. 3054).

Berdasarkan pengertian di atas, utang istri bisa kita bagi menjadi 2:

[1] Utang karena untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya

Misalnya, suami selama berbulan-bulan tidak memberikan nafkah kepada istrinya, kemudian sang istri berutang untuk bisa mendapatkan makanan. Dalam posisi ini, suami wajib menanggung utang istrinya. Karena hakekatnya utang itu disebabkan suaminya yang tidak mencukupi kebutuhan istrinya.

[2] Utang di luar kebutuhan hidup

Misalnya istri berutanng untuk menambah perabotan, untuk menambah koleksi baju, koleksi perhiasan, koleksi…koleksi…

Apakah utang ini masuk bagian nafkah?

Utang semacam ini bukan termasuk bagian nafkah, sehingga suami tidak wajib melunasinya.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فلا يجب على الزوج قضاء دين زوجته، إلا أن يتبرع بذلك إحسانا إليها، طالما كان دينها خاصا بها، ولم يكن بسبب إهماله في النفقة الواجبة عليه شرعا

Suami tidak wajib melunasi utang istrinya, kecuali jika suami berbaik hati memberikan santunan untuk istrinya. Selama utang itu terkait pribadi istrinya semata, dan tidak disebabkan sikap suami yang menelantarkan istrinya dalam memberikan nafkah wajib. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 295159)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Siapa Al-Gharimin yang Berhak Mendapat Zakat? https://konsultasisyariah.com/27777-siapa-al-gharimin-yang-berhak-mendapat-zakat.html Fri, 13 May 2016 01:00:05 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=27777 Siapakah Al-Gharimin?

Mohon jelaskan batasan orang yang berutang yang berhak menerima zakat? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah menyebutkan daftar orang yang berhak mendapatkan zakat,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah.” (QS. at-Taubah: 60)

Salah satu diantara orang yang berhak menerima zakat adalah al-Gharimin. Gharim artinya utang atau kewajiban harta yang harus ditunaikan, seperti diyat atau denda. Sementara istilah gharim dalam perdagangan berarti orang yang rugi ketika berdagang. (Mu’jam al-Wasith).

al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan beberapa kondisi orang Gharim berikut dalilnya,

Pertama, orang yang menanggung biaya karena menyelesaikan sengketa, sehingga menghabiskan hartanya. Orang semacam ini, berhak mendapatkan zakat.

Dalilnya adalah hadis Qabishah bin Mukhariq al-Hilaly,

Saya menanggung utang, lalu saya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta bantuan.

“Tunggu, sampai ada zakat, biar saya perintahkan untuk diberikan kepadamu.” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian ketika datang dana zakat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ

Wahai Qabishah, meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari 3 orang, (diantaranya): Orang yang menanggung beban untuk menyelesaikan sengketa, maka boleh baginya meminta-minta, sampai bisa melunasinya, kemudian tidak boleh lagi meminta. (HR. Muslim 2451 dan Abu Daud 1642)

Kedua, orang yang bangkrut karena bisnis sehingga terllilit utang

Sahabat Abu Said radhiyallahu ‘anhu menceritakan, di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang pedagang yang mengalami musibah, rusak barang dagangannya. Akhirnya dia menanggung banyak utang. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan kepada para sahabat, “Berikan zakat untuknya.”

Banyak sahabat yang memberikan zakatnya, namun itu belum menutupi kewajiban utangnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada mereka yang mengutanginya,

خُذُوا مَا وَجَدْتُمْ وَلَيْسَ لَكُمْ إِلاَّ ذَلِكَ

“Ambillah harta yang ada di orang itu, dan kalian tidak memiliki hak untuk mengambil selain itu.” (HR. Muslim 4064, Abu Daud 3471 dan yang lainnya).

Ketiga, orang yang taubat dari maksiat dan itu menyebabkan dia harus terlilit banyak utang.

(Tafsir Ibnu Katsir, 4/168)

Lajnah Daimah menambahkan, termasuk al-Gharimin yang berhak mendapat zakat adalah orang yang berutang untuk menafkahi kebutuhan keluarganya, baik kebutuhan pangan, sandang, maupun papan.

Dalam salah satu fatwanya dinyatakan,

إذا استدان إنسان مبلغاً مضطراً إليه ؛ لبناء بيت لسكناه ، أو لشراء ملابس مناسبة ، أو لمن تلزمه نفقته ؛ كأبيه ولأولاده أو زوجته ، أو سيارة يكد ( يعمل ) عليها لينفق من كسبه منها على نفسه، ومن تلزمه نفقته مثلا، وليس عنده مايسدد به الدين : استحق أن يُعطى من مال الزكاة ما يستعين به على قضاء دينه

Jika ada orang yang berutang karena terpaksa, untuk membangun rumah tinggal, atau membeli pakaian layak pakai, atau menanggung orang yang wajib dia nafkahi, seperti bapaknya, anaknya, atau istrinya. Atau untuk membeli mobil yang dia gunakan untuk bekerja, sehingga bisa menafkahi dirinya dan keluarganya, sementara dia tidak memiliki harta untuk melunasi utangnya, maka dia berhak diberi harta zakat, yang bisa membantu untuk melunasi utangnya. (Fatwa Lajnah Daimah, 10/9).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Cara Taubat Dari Hasil Menipu https://konsultasisyariah.com/27768-cara-taubat-dari-hasil-menipu.html Wed, 11 May 2016 01:53:47 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=27768 Penipu SMS Berhadiah Bertaubat, Bagaimana Status Hartanya?

Ada orang yang pernah menipu melalui sms atau telp penipuan. Sekarang dia taubat. Bagaimana status uangnya? Mohon pencerahan…

JAWABAN:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Harta haram yang didapatkan seseorang, sumbernya ada 2:

[1] Harta haram yang diperoleh dari transaksi saling ridha, seperti jual beli khamr atau upah dari layanan yang haram.

[2] Harta haram yang diperoleh dengan cara mendzalimi orang lain

Seperti, mencuri, korupsi, termasuk diantaranya menipu.

Untuk harta haram yang didapatkan dari hasil kedzaliman, seperti menipu, cara taubatnya adalah dengan meminta maaf kepada korban dan orang yang didzalimi. Jika tidak, maka akan ada pengadilan di akhirat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Siapa yang pernah mendzalimi orang lain, baik terkait kehormatannya atau masalah lainnya, segeralah minta untuk dimaafkan hari ini, sebelum dinar atau dirham tidak berlaku. Sehingga jika dia mempunyai amal shalih, maka akan diambil dari pahalanya sesuai kezhalimannya dan jika dia tidak mempunyai amal shalih, maka diambil dari dosa orang yang dizhaliminya lalu dilemparkan kepadanya. (HR. Bukhari 2449).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita tentang orang yang bangkrut ketika di hari kiamat. Mereka datang menghadap Allah dengan membawa pahala shalat, pahala puasa, pahala jihad, pahala… pahala.. namun ketika di dunia, mereka sering mendzalimi orang lain. Pernah mencaci si A, menuduh si B, mengambil harta si C, menumpahkan darah si D, dan memukul si E. Akhirnya masing-masing mengambili pahalanya, sampai ketika pahalanya habis, dosa orang yang didzalimi diberikan kepadanya satu demi satu, hingga akhirnya dia dilemparkan ke neraka. (HR. Ahmad 8842 dan Muslim 6744).

Dan bagian dari bentuk taubat itu adalah mengembalikan barang tadi kepada pemiliknya.

Dalam sebuah hadis dari Samurah radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan,

عَلَى الْيَدِ مَا أَخَذَتْ حَتَّى تُؤَدِّيَ

“Orang yang mengambil barang harus menanggung apa yang dia ambil sampai dia kembalikan.” (HR. Abu Daud 3563 & Turmudzi 1266).

Ibnu Hubairah mengatakan,

واتفقوا على أنه يجب على الغاصب رد المغصوب إن كانت عينه قائمة

“Ulama sepakat, orang yang ghasab wajib mengembalikan harta yang dighasab, jika barang itu masih ada.”  (Ikhtilaf al-Aimmah, 2/12)

Jika yang diambil adalah uang maka dikembalikan dalam bentuk uang. Jika yang diambil itu barang, maka dikembalikan dalam bentuk barang. Jika barangnya sudah tidak ada, dicarikan penggantinya. Jika tidak ada, dikembalikan dalam bentuk uang.

Ibnu Rusyd mengatakan,

فإذا ذهبت عينه فإنهم اتفقوا على أنه إذا كان مكيلاً أو موزونًا؛ أن على الغاصب المثل

Apabila barangnya sudah hilang, mereka sepakat, jika barang itu bisa ditimbang atau ditakar, maka harus diganti dengan yang semisal. (Bidayah al-Mujtahid, 2/317)

Bagaimana Jika Pemiliknya Telah Meninggal?

Jika pemiliknya telah meninggal, atau tidak memungkinkan untuk ditemui, para ulama berbeda pendapat mengenai cara taubatnya,

Pertama, tidak ada taubat baginya, karena dia tidak bisa meminta maaf kepada orang yang dia dzalimi. Sehingga yang bisa dia lakukan adalah memperbanyak amal soleh, untuk menghadapi pengadilan di hari kiamat ketika dipertemukan dengan orang yang dia dzalimi.

Berdasarkan pendapat ini, dia tidak bisa bersedekah atas nama orang yang didzalimi. Karena sedekah dari hasil yang haram tidak diterima. Dalilnya adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Tidak akan diterima shalat yang dilakukan tanpa bersuci, dan juga sedekah dari hasil korupsi. (HR. Ahmad 5123 & Muslim 557).

Meskipun hadis ini berbicara tentang korupsi, tapi maknanya umum, berlaku untuk semua sedekah dari hasil yang dilarang dalam islam.

Lalu apa yang harus dilakukan dengan harta ini?

Hukum yang berlaku untuk harta ini seperti hukum barang hilang. Dia tidak boleh dimiliki pribadi, tapi diserahkan ke Baitul Mal (rumah zakat negara). Ini merupakan pendapat sebagian ulama Syafiiyah. (Asna al-Mathalib, 22/204; Tuhfatul Muhtaj, 43/92). Bahkan ada yang mengatakan, ini pendapat yang masyhur dari Imam as-Syafi’i. (Jami’ al-Ulum wal Hikam, 1/268)

Kedua, jika tidak memungkinkan untuk dikembalikan ke pemiliknya, bisa dikembalikan ke keluarganya atau ahli warisnya. Dan jika tidak memungkinkan, bisa disedekahkan atas nama pemilik.

Ini merupakan pendapat jumhur ulama.

Mensedekahkan harta haram ada 2 niat:

[1] Agar mendapat pahala untuk diri sendiri, atau semangatnya untuk beramal.

[2] Dalam rangka membebaskan diri dari harta haram, sehingga tidak diniatkan untuk mendapat pahala. Sehingga dia serahkan itu, dengan dihantui perasaan bersalah, berdosa, dan bukan untuk mendapat pahala.

Al-Ghazali mengatakan,

أما قول القائل لا نتصدق إلا بالطيب، فذلك إذا طلبنا الأجر لأنفسنا، ونحن الآن نطلب الخلاص من المظلمة لا الأجر

Pendapat yang menyatakan, kita tidak boleh bersedekah kecuali dari yang halal, ini berlaku apabila sedekah itu diniatkan agar mendapatkan pahala untuk diri sendiri. Semen saat ini, kita menyerahkan harta itu dalam rangka membebaskan diri dari kedzaliman, bukan untuk mencari pahala. (Ihya’ Ulumiddin, 2/131)

Berdasarkan pendapat ini, bagi orang yang pernah menipu orang lain, sementara tidak memungkinkan baginya untuk mengembalikan kepada korban penipuan, maka dia bisa sedekahkan uang itu, atas nama pemilik. Dan menurut Imam Ibnu Utsaimin, pahalanya akan menjadi milik yang punya uang, sementara pelaku mendapatkan pahala bertaubat. (at-Taubah min al-Makasib al-Muharramah, paper Dr. Khalid al-Mushlih, hlm. 16)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Apakah Utang Bank Harus Dilunasi? (Kedzaliman Bank) https://konsultasisyariah.com/25903-bolehkah-tidak-bayar-utang-bank.html Thu, 29 Oct 2015 07:39:22 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=25903 Boleh Tidak Bayar Utang Bank?

Pertanyaan

Assalamu’alaikum

Saya ingin bertanya seputar masalah hutang…
Sekitar 3 thn yg lalu saya menjadi nasabah sebuah bank…kemudian saya dikirimkan sebuah kartu kredit..dan ada semacam formulirnya gtu utk persetujuan…
Waktu itu saya tdk berminat dan juga tdk faham masalah perbankan…
Kemudian setelah bbrapa hari..saya mendpt telpon dari sebuah asuransi jiwa…karena saya waktu itu sedang bekerja…jadi saya tdk konsen salesnya bicara apa…yg saya ingat..dia minta nomor kartu kredit yg waktu itu dikirimkan…lalu saya sebutkan nomornya..memang kebetulan saya bawa di dompet…(padahal saya tdk minat dgn kartu itu)
Setelah itu brapa hari kemudian saya mendpat kiriman dari asuransi yg waktu itu minta nomor kartu kredit..semacam premi lengkap dgn atribut2 asuransinya itu (saya kurang faham itu apa )..
Kemudian sewaktu saya ingin setor uang ke bank (tujuannya utk nabung)..tiba2 saya mendapat bbrapa amplop yg isinya tagihan kartu kredit…
Saya kaget…lhaa kapan saya ikut asuransi dan saya tdk merasa punya kartu kredit…
Akhirnya dijelaskan oleh CS bank tersebut…bahwa jika saya sdh menyebutkan nomor kartu kredit..brarti saya sdh setuju dan bla bla..panjang lebar dijelaskan…
Akhirnya saya membuat surat pemutusan atas asuransi trsbt…
Tetapi saya sering sekali di tagih oleh bank trsbt…katanya tagihan saya sdh jatuh tempo..harus dibayar…dan angkanya…subhanalloh saya kaget…koq banyak sekali…
Katanya itu tagihan asuransi sblm pemutusan dan bunga keterlambatan karena tdk pernah membayar tagihan kartu kredit…
Oiya sejak pemutusan asuransinya..saya ambil uang saya di bank itu..jadi sdh tdk ada saldonya..

Yg ingin saya tanyakan…
1. Apakah saya harus membayar hutang saya itu ke bank trsbt…
Padahal saya tdk pernah membuat surat persetujuan ttg kartu kredit itu…
Dan saya berfikir…lebih baik uangnya saya infaqin aja daripada bayar hutang yg gak jelas itu..
2. Apakah jika saya tdk membayar hutang itu…nanti di akhirat, saya akan di siksa atau jiwa saya akan menggantung sampai ada keluarga sya yg membayarnya…karena saya pernah dengar ada hadist sprti itu…
Mohon penjelasannya ustadz…
Jazakalloh khoiron katsiran

Jawab:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah

Semoga Allah memberikan kesabaran bagi ibu dan mendapatkan balasan terbaik atas musibah ‘pembodohan’ bank dan lembaga asuransi.

Ini sekaligus menjadi pelajaran bagi pembaca, agar lebih waspada ketika berinteraksi dengan bank dan asuransi.

Kita sangat yakin, kasus pembodohan secara legal semacam ini kejadiannya sangat banyak, meskipun dibungkam dalam berita. Kita sangat jarang mendengar beritanya, sampaipun mereka yang mati gara-gara bank.

Setidaknya, ini kasus kedua yang dilaporkan kepada kami, mengenai kejahatan dunia perbankan.

Kasus pertama, bisa anda pelajari di: Kedzaliman Bank Syariah dan Pengalaman Pahit Nasabah

Mereka Lintah Darat

Kita keheranan untuk orang yang masih berupaya membela bank. Barangkali mereka perlu lebih banyak mendengar pengalaman pahit para nasabah yang menjadi korban bank.

Hanya dengan hitungan angka di mesin komputer, harus ada orang yang digebugi debt collector. Sehingga layak, jika mereka diposisikan sebagai lintah darat. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman siksaan di alam kubur dengan berenang di sungai darah.

Dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda menceritakan mimpi beliau, ketika itu beliau melihat siksaan Allah kepada para pemakan riba,

فَأَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ أَحْمَرَ مِثْلِ الدَّمِ ، وَإِذَا فِى النَّهَرِ رَجُلٌ سَابِحٌ يَسْبَحُ ، وَإِذَا عَلَى شَطِّ النَّهَرِ رَجُلٌ قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ حِجَارَةً كَثِيرَةً ، وَإِذَا ذَلِكَ السَّابِحُ يَسْبَحُ مَا يَسْبَحُ ، ثُمَّ يَأْتِى ذَلِكَ الَّذِى قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ الْحِجَارَةَ فَيَفْغَرُ لَهُ فَاهُ فَيُلْقِمُهُ حَجَرًا فَيَنْطَلِقُ يَسْبَحُ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَيْهِ ، كُلَّمَا رَجَعَ إِلَيْهِ فَغَرَ لَهُ فَاهُ فَأَلْقَمَهُ حَجَرًا

“Kami mendatangi sungai airnya merah, seperti darah. Di tengah sungai ada orang yang berenang. Sementara di di tepi sungai ada seseorang yang di dekatnya ada banyak bebatuan. Setiap kali orang yang di tengah sungai berenang menepi, datang orang yang membawa batu, lalu dia lempari mulut orang yang berenang itu, sampai dia menelan batunya. Hingga dia balik berenang ke tengah. Ketika kembali menepi, mulutnya dilempari batu sampai tertelan.

Seusai perjalanan panjang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi tahu malaikat yang membimbingnya,

وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يَسْبَحُ فِى النَّهَرِ وَيُلْقَمُ الْحَجَرَ ، فَإِنَّهُ آكِلُ الرِّبَا

Orang yang kamu lihat dia berenang di sungai darah dan mulutnya dibungkam batu, dia adalah pemakan riba. (HR. Bukhari 7047, Ahmad 20627 dan yang lainnya).

Penghisap darah manusia di dunia, disiksa dengan sungai darah di alam kubur.

Apakah Utang Bank Harus Dilunasi?

Sebenarnya, seorang muslim tidak wajib menyerahkan hartanya kepada orang lain yang bukan menjadi kewajibannya.

Dan membayar riba, bukan tanggung jawab orang yang berutang. Bahkan dalam islam itu dilarang, karena jika bunga itu diberikan, berarti orang yang berutang, memberi makan riba.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memberi makan riba.

Sahabat Jabir bin Abdillah mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, yang memberi makan riba, yang mencatat, dan keduaa saksinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, mereka semua sama. (HR. Ahmad 14634, Muslim 4177 dan yang lainnya)

Jika adanya bunga dalam pinjaman itu jadi syarat, maka syarat semacam ini tidak berlaku. Karena syarat riba adalah syarat yang batil, bertentangan dengan al-Quran dan sunnah. Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِى كِتَابِ اللَّهِ فَهْوَ بَاطِلٌ

“Barangsiapa menetapkan syarat yang bertentangan dengan kitabullah, maka syarat itu batil.” (HR. Bukhari 2560)

Ketika transaksi ada syarat yang batil, transaksinya tetap sah, meskipun syarat itu tidak berlaku. Sehingga, untuk kasus hutang yang disyaratkan ada ribanya, kewajiban orang yang berutang hanya mengembalikan pokoknya saja. Sementara kelebihannya, bukan tanggung jawabnya.

Tidak ada yang mendzalimi dan tidak ada yang didzalimi. Antara utang dan pelunasan, dibayar sama.

Ketika Allah menjelaska tentang ancaman riba, Allah berfirman,

وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Jika kalian bertaubat, maka kalian hanya mendapatkan pokok pinjaman dari harta kalian. Kalian tidak mendzlimi dan tidak didzalimi. (QS. al-Baqarah: 279).

Hanya Saja…!!

Hanya saja, nasabah terikat dengan undang-undang dzalim buatan bank. Dan undang-undang ini mengikat di negara kita. Ketika nasabah bertekad tidak mengembalikannya, dikhawatirkan bank bisa menuntutnya. Jika tidak bisa diselesaikan di darat, bank bisa menggunakan jasa pengadilan. Dampak kedzaliman yang ditimbulkan, bisa lebih menakutkan.

Sementara ada sebagian bank yang menetapkan sistem bunga-berbunga. Sehingga bisa jadi, nasabah sudah merasa melunasi pokok utangnya, tapi bunga menghasilkan bunga. Jika dibiarka tahunan, bisa menjadi angka yang tidak terduga.

Sehingga dari pertimbangan ini, nasabah perlu memahami aturan main bank. Semakin selamat dari bank, makin menenangkan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Aturan Indah tentang Utang Piutang https://konsultasisyariah.com/24769-aturan-indah-tentang-utang-piutang.html Mon, 04 May 2015 02:57:24 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=24769 Aturan Indah tentang Utang Piutang

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah berfirman di bagian akhir surat al-Baqarah,

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah: 280).

Mulai ayat 275 hingga 279, Allah menjelaskan bahaya riba bagi umat. Kemudian di ayat 280, Allah menjelaskan aturan utang-piutang.

Ketika posisi orang yang berutang tidak mampu membayar utangnya, ayat di atas memberikan 2 pilihan untuk orang yang memberi utang,

Pertama, memberi waktu tenggang

Allah tetapkan, batas pemberian waktu tenggan sampai si pengutang mendapat kemudahan untuk melunasi utangnya.

Al-Qurthubi menyebutkan, ayat ini turut terkait kasus yang dialami bani Tsaqif dengan Bani al-Mughirah. Ketika Bani Tsaqif meminta Bani al-Mughirah untuk melunasi utangnya, mereka belum sanggup membayarnya. Mereka mengaku tidak memiliki apapun untuk dibayarkan, dan meminta waktu tunda sampai musim panen. Kemudian turun ayat ini. (Tafsir al-Qurthubi, 3/371)

Ini berbeda dengan aturan di masa jahiliyah. Orang yang berutang dan dia tidak bisa bayar sampai batas yang ditetapkan, maka dia harus menjual dirinya untuk jadi budak, agar bisa melunasi utangnya. Kemudian aturan ini dinasakh dalam islam. (Tafsir al-Qurthubi, 3/371).

Sebagian ulama mengatakan, pilihan memberikan waktu tenggang bagi orang yang tidak mampu melunasi utang adalah sifatnya perintah wajib.

Ketika menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Utsaimin menuliskan,

ومن فوائد الآية: وجوب إنظار المعسر – أي إمهاله حتى يوسر؛ لقوله تعالى: { فنظرة إلى ميسرة }؛ فلا تجوز مطالبته بالدَّين؛ ولا طلب الدَّين منه

Diantara pelajaran dari ayat, wajibnya memberi waktu tenggang bagi orang yang kesulitan. Artinya memberi waktu tenggang sampai dia mendapat kemudahan. Berdasarkan firman Allah ta’ala, (yang artinya), “berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” Sehingga tidak boleh menuntut dia agar berhutang di tempat lain atau menagih utangnya. (Tafsir al-Quran al-Karim, al-Baqarah, ayat 280).

Kemudian, berdasarkan ayat di atas, kewajiban memberi waktu tenggang ini berlaku ketika orang yang berhutang mengalami kesulitan. Jika sejatinya dia mampu, namun sengaja menunda pelunasan utang, maka orang yang menghutangi boleh memaksa untuk melunasi utangnya. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang yang menunda pelunasan utang, padahal dia mampu sebagai orang dzalim.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ

“Menunda pelunasan utang yang dilakukan orang mampu adalah kedzaliman.” (HR. Bukhari 2287 & Muslim 4085).

Karena itu tindakan kedzaliman, kita dibolehkan menolak kedzalimannya dengan menagihnya agar segera melunasi utangnya.

Kedua, mengikhlaskannya

Pilihan kedua yang Allah ajarkan adalah memutihkan utang itu. Ada 3  keutamaan untuk pemutihan utang,

  1. Allah menyebutnya sebagai sedekah
  2. Allah menyebut tindakan itu lebih baik, jika kita mengetahui
  3. Allah sebut orang yang memilih memutihkan utang sebagai orang yang berilmu.

Kemudian, pilihan kedua ini sifatnya anjuran dan tidak wajib.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

ومن فوائد الآية: فضيلة الإبراء من الدَّين، وأنه صدقة؛ لقوله تعالى: { وأن تصدقوا خير لكم }؛ والإبراء سنة؛ والإنظار واجب

Diantara pelajaran dari ayat ini, keutamaan menggugurkan utang, dan ini bernilai sedekah. Bedasarkan firman Allah (yang artinya), “Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu.”

Sehingga memutihkan utang hukumnya anjuran, sementara menunda pelunasan bagi yang tidak mampu, hukumnya wajib. (Tafsir al-Quran al-Karim, al-Baqarah, ayat 280)

Bisakah pemutihan utang ini mewakili zakat?

Misalnya, si A memutihkan utang senilai 500rb. Di waktu yang sama, dia berkewajiban membayar zakat sebesar 400 rb. Bisakah pemutihan utang itu sekaligus mewakili zakat si A?

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآَخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ

Hai orang-orang yang beriman, berinfaqlah (di jalan allah) dengan sebagian dari hasil usahamu yang baik dan sebagian dari apa yang Aku keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk untuk kalian infaqkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. (QS. al-Baqarah: 267).

Yang dimaksud ‘memilih yang buruk-buruk untuk kalian infaqkan’ bukanlah harta haram. Namun harta halal, boleh dimanfaatkan. Hanya saja, sebagian orang kurang suka karena sudah tidak bagus. Termasuk harta yang tidak ada harapan untuk bisa dimanfaatkan. Seperti sapi yang lari ke hutan, yang kemungkinan kecil bisa kembali. Berniat mensedekahkan sapi semacam ini termasuk kategori memilih yang buruk-buruk untuk diinfaqkan. Sehingga tidak boleh diniatkan untuk zakat.

Termasuk utang macet. Sementara tidak ada harapan untuk dikembalikan. Statusnya seperti harta hilang. Karena itulah para ulama menyimpulkan, utang semacam ini jika diikhlaskan, tidak bisa menggantikan kewajiban bayar zakat.

Kita simak keterangan Ibnu Utsaimin tentang utang macet,

والدَّين الذي على معسر مال تالف؛ لأن الأصل بقاء الإعسار؛ وحينئذٍ يكون هذا الدَّين بمنزلة المال التالف؛ فلا يصح أن يجعل هذا المال التالف زكاة عن العين؛ ولهذا قال شيخ الإسلام رحمه الله: إن إبراء الغريم المعسر لا يجزئ من الزكاة بلا نزاع

Utang yang berada di tangan orang yang kesulitan bayar, seperti uang hilang. Karena hukum asal orang itu adalah masih dianggap sebagai orang yang kesulitan. Sehingga utang itu statusnya seperti uang hilang. Dan tidak boleh harta yang hilang dijadikan sebagai zakat. Karena itu, Syaikhul Islam mengatakan, ‘Memutihkan utang orang yang kesulitan bayar, tidak bisa menggantikan kewajiban zakat, tanpa ada perbedaan pendapat ulama.’ (Tafsir al-Quran al-Karim, al-Baqarah, ayat 280).

Akad Sepihak

Kemudian, aturan lain yang perlu diperhatikan terkait pemutihan utang,

bahwa utang yang telah diikhlaskan statusnya sedekah. Dan semacam ini sifatnya akad sepihak. Artinya, untuk memutihkan utang, hanya kembali kepada kerelaan orang yang memberi utang. Sehingga bisa jadi yang berutang tidak tahu sama sekali bahwa utangnya telah diikhlaskan.

Dan salah satu diantara aturan yang berlaku, orang yang telah mensedekahkan hartanya kepada orang lain, pantangan baginya untuk menarik kembali, sekalipun itu dikembalikan oleh orang yang diberi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِى يَهَبُ فَيَرْجِعُ فِى هِبَتِهِ كَمَثَلِ الْكَلْبِ يَأْكُلُ فَيَقِىءُ ثُمَّ يَأْكُلُ قَيْئَهُ

Perumpamaan orang yang memberikan harta, lalu dia menarik kembali pemberiannya, seperti anjing yang makan, lalu dia muntah, kemudian dia makan muntahannya. (HR. Nasai 3705 dan dishahihkan al-Albani)

Dalam riwayat lain, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُعْطِىَ عَطِيَّةً أَوْ يَهَبَ هِبَةً فَيَرْجِعَ فِيهَا إِلاَّ الْوَالِدَ فِيمَا يُعْطِى وَلَدَهُ وَمَثَلُ الَّذِى يُعْطِى الْعَطِيَّةَ ثُمَّ يَرْجِعُ فِيهَا كَمَثَلِ الْكَلْبِ يَأْكُلُ فَإِذَا شَبِعَ قَاءَ ثُمَّ عَادَ فِى قَيْئِهِ

Tidak halal bagi seseorang yang memberikan atau menghibahkan sesuatu kemudian dia menarik kembali pemberiannya. Kecuali pemberian orang tua kepada anak. Orang yang memberikan harta kepada orang lain, kemudian dia menarik kembali, seperti anjing yang makan, setelah kenyang, dia muntah. Kemudian dia makan lagi muntahannya. (HR. Abu Daud 3541 dan dishahihkan al-Albani).

Karena itu, ketika si X telah mengikhlaskan utang si A tanpa sepengetahuannya, kemudian suatu saat si A datang untuk melunasi utang itu, maka si X tidak boleh menerimanya. Karena dia telah mensedekahkan utang itu.

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
]]>
Mendapatkan Cipratan Warisan https://konsultasisyariah.com/23561-mendapatkan-cipratan-warisan.html Fri, 03 Oct 2014 02:27:08 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=23561 Bantuan dari hasil pembagian warisan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya mau tanya mengenai hasil dari hukum waris.

Misalkan dalam satu keluarga ada salah satu anggota keluarga status janda tanpa anak, belum mempunyai pekerjaan dan belum memilik rumah.

Semua anggota keluarga sepakat untuk menjual rumah warisan dari almarhum kedua orang tua. Dari Hasil penjualan rumah dibuat pembagian warisan sesuai hukum agama Islam.

Dari hasil pembagian waris yang sudah diterima, apakah ada kewajiban dari masing-masing anggota keluarga menurut hukum Syariat Islam untuk atau harus membantu salah satu anggota keluarga tersebut diatas yang membutuhkan untuk urunan dana membelikan satu rumah dan modal usaha.

Mohon pencerahan agar saya bicara dengan semua anggota keluarga mempunyai dasar hukum sesuai Syariat Islam.

Terima kasih.

Dari Djaya Setiaman

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Allah berfirman,

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (QS. An-Nisa: 8)

Ayat ini mengajarkan kepada kita salah satu bentuk latihan kedermawanan dalam hidup. Ketika kita melakukan proses pembagian warisan bersama para ahli waris, Allah mengajarkan agar kita tidak melupakan kerabat atau orang lain yang bukan termasuk ahli waris. Terlebih ketika mereka hadir dalam proses pembagian warisan itu.

Imam as-Sa’di menafsirkan ayat ini,

أعطوهم ما تيسر من هذا المال الذي جاءكم بغير كد ولا تعب، ولا عناء ولا نَصَب، فإن نفوسهم متشوفة إليه، وقلوبهم متطلعة، فاجبروا خواطرهم بما لا يضركم وهو نافعهم.

Berikanlah harta yang tidak memberatkan dirimu. Harta yang kalian dapatkan tanpa usaha keras dan tanpa melalui rasa lelah. Sehingga jiwa mereka (selain ahli waris) sangat berharap mendapatkannya. Karena itu, tutupi angan-angan di hati mereka dengan memberikan sedikit harta yang tidak mengurangi milik kalian, sementara itu sangat bermanfaat bagi mereka. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 165).

Pada umumnya, harta warisan diperoleh para ahli waris tanpa melalui usaha apapun, dan tanpa kerja keras. Sementara umumnya orang lain bisa memprediksi, berapa nilai warisan yang diterima tetangganya. Karena dia tahu tanah sawah, kebun, rumah atau kendaraan yang menjadi warisan tetangganya. Jika tetangga saja tahu, apalagi kerabat dekatnya. Mungkin dia lebih tahu secara detail apa saja harta warisan yang diterima keluarganya. Sementara manusia tidak bisa lepas dari karakter hasad dan dengki dalam dirinya.

Untuk menghilangkan munculnya buruk sangka dari orang lain, terutama kerabat yang tidak mendapat warisan itu, serta meredam peluang munculnya permusuhan karena hasad, Allah perintahkan kita, ‘maka berilah mereka sebagian dari harta itu’ dengan nilai yang tidak memberatkan kita. Sehingga jalinan silaturahmi tetap terjaga. Inilah yang kami sebut dengan cipratan warisan.

Al-Qurthubi membawakan keterangan dari Ibnu Abbas,

أَمَرَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ عِنْدَ قِسْمَةِ مَوَارِيثِهِمْ أَنْ يَصِلُوا أَرْحَامَهُمْ، وَيَتَامَاهُمْ وَمَسَاكِينَهُمْ مِنَ الْوَصِيَّةِ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ وَصِيَّةٌ وَصَلَ لَهُمْ مِنَ الْمِيرَاثِ

Allah memerintahkan orang yang beriman ketika membagi warisan, agar tetap menjaga silaturahmi dengan kerabat mereka, atau anak yatim, atau orang miskin, dalam bentuk memberikan wasiat untuk mereka. Jika tidak ada wasiat, hubungan itu dijaga dalam bentuk memberikan cipratan warisan. (Tafsir al-Qurthubi, 5/49)

Wajib ataukah Sunah?

Pendapat yang benar bahwa ayat ini tidak mansukh dengan ayat warisan dan wasiat. Ini merupakan pendapat sahabat Abu Musa al-Asy’ari, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, Urwan bin Zubair dan beberapa ulama tabiin lainnya.

Kemudian, apakah perintah memberikan cipratan warisan kepada selain ahli waris, ini statusnya wajib ataukah anjuran?

Dalam hal ini ulama berbeda pendapat,

Pendapat pertama, perintah ini statusnya wajib sesuai kerelaan hati. Sebagaimana memberikan barang ringan kepada orang yang membutuhkan, yang Allah perintahkan di surat al-Ma’un. Ibnu Katsir menyebutkan beberapa ulama yang berpendapat wajib, diantaranya; Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Abdurrahman bin Abu Bakr Radhiyallahu ‘anhum, serta Abul Aliyah, as-Syabi, Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Said bin Jubair, dan an-Nakha’i.

Pendapat kedua, perintah ini hukumnya anjuran dan tidak wajib. Dan inilah pendapat

An-Nuhas. beliau mengatakan,

فَهَذَا أَحْسَنُ مَا قِيلَ فِي الْآيَةِ، أَنْ يَكُونَ عَلَى النَّدْبِ وَالتَّرْغِيبِ فِي فِعْلِ الْخَيْرِ، وَالشُّكْرِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Pendapat palig kuat tentang ayat, bahwa hukumnya anjuran dan dorongan untuk melakukan kebaikan da bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla.

Dan pendapat yang dinilai kuat oleh al-Qurthubi. Beliau mengatakan,

وَالصَّحِيحُ أَنَّ هَذَا عَلَى النَّدْبِ، لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ فَرْضًا لَكَانَ اسْتِحْقَاقًا فِي التَّرِكَةِ وَمُشَارَكَةً فِي الْمِيرَاثِ، لِأَحَدِ الْجِهَتَيْنِ مَعْلُومٌ وَلِلْآخَرِ مَجْهُولٌ. وَذَلِكَ مُنَاقِضٌ لِلْحِكْمَةِ، وَسَبَبٌ لِلتَّنَازُعِ وَالتَّقَاطُعِ

Yang benar, ini bersifat anjuran. Karena jika ini hukumnya wajib, tentu mereka berhak mendapatkan warisan dan memiliki bagian untuk mengambil warisan. Hanya saja, ada yang besar nilai warisannya telah ditentukan (yaitu para ahli waris) dan ada yang besar nilai warisannya tidak ditentukan (para kerabat, anak yatim dan orang miskin). Dan jelas ini bertentangan dengan hikmah adanya pembagian warisan dan sebab pemicu permusuhan dan sengketa. (Tafsir al-Qurthubi, 5/49)

Berdasarkan keterangan di atas, anda boleh bahwa dianjurkan untuk mengajak para saudara yang mendapatkan harta waris, agar menyisihkan sebagian warisan mereka untuk diberikan kepada janda itu. Sebagai perekat ikatan kekeluargaan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
]]>