Ibadah – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Sat, 14 Jan 2017 06:44:41 +0000 en-US hourly 1 Cara Membersihkan Najis Ompol di Kasur https://konsultasisyariah.com/28884-cara-membersihkan-najis-ompol-di-kasur.html Fri, 13 Jan 2017 02:26:50 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28884 Membersihkan Najis Ompol di Kasur

Jika anak ngompol di kasur, bagamana cara membersikannya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita,

Ada seorang badui yang datang ke kota Madinah, dan langsung masuk masjid nabawi, lalu kencing di dalam masjid. Para sahabat semua marah kepada orang ini, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah mereka untuk memarahinya dan mennyuruh mereka untuk membiarkannya,

فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ ، فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ

Setelah selesai kencing, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan untuk dibawakan seember air, lalu beliau siramkan ke bagian yang terkena kencing. (HR. Ahmad 12082 dan Bukhari 221)

Ketika air kencing di dalam masjid itu disiram, kita bisa memahami najis kencingnya akan turun ke bawah, meresap ke dalam tanah. Selenjutnya tanah yang ada di permukaannya dinilai suci, dan bisa digunakan untuk shalat jamaah. artinya, najis yang ada di bawah, tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Tanah itu tidak mungkin dicuplik, kemudian diganti tanah yang baru.

Dan kepentingan kita adalah permukaan tanah. Karena kita shalat di permukaan tanah, bukan di bawah tanah. sehingga cukup dengan disiram, permukaan tanah menjadi suci.

Najis Kencing di Kasur

Umumnya kasur di tempat kita ketika digunakan minimal ada 2 lapisan: Sprei dan kasurnya.

Untuk sprei, bisa kita ambil dan dicuci bagian yang terkena najis.

Sementara untuk kasur, apa yang harus dilakukan?

Najis yang mengenai kasur, akan meresap ke dalam kasur. Karena kepentingan kita adalah permukaan kasur, maka bagian permukaan harus kita pastikan bersih dan suci. Bisa dengan cara disiram kemudian diusap dengan lap, hingga najis di permukaan kasur hilang.

Untuk meringankan najis di kasur, kita bisa jemur di terik matahari, agar sebagian najis menguap.

Jika permukaan kasur telah suci, kita bisa pasang sprei pengganti, sehingga kita pastikan najisnya tidak akan mengenai pakaian kita ketika digunakan untuk tidur. Meskipun bisa jadi masih ada najis yang mengendap di dalam kasur.

Sekali lagi, karena kepentingan kita adalah permukaan kasur, sehingga kita perlu memastikan najis itu tidak melekat di pakaian kita ketika digunakan beristirahat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Membuka Tangan Ketika Salam, Shalat Batal? https://konsultasisyariah.com/28880-membuka-tangan-ketika-salam-shalat-batal.html Thu, 12 Jan 2017 02:25:10 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28880 Membuka Tangan Ketika Salam, Shalat Batal?

Ada beberapa orang yang shalat, ketika salam mereka membuka tangan kanan dan kiri. Menoleh ke kanan membuka tangan kanan. Menoleh ke kiri sambil membuka tangan kiri. Ada juga, ketika menoleh k kanan membuka tangan kanan, dan menoleh ke kiri, tangannya diam saja.

Ketika saya tanya, mengapa tangan kanan dibuka, sementara tangan kiri diam. Jawab dia, ini isyarat dan harapan, ketika kita salam ke kanan, kita berharap terbukalah pintu surga. Dan ketika kita menoleh ke kiri kita berharap, tertutuplah pintu neraka.

Bagaimana menurut pendapat ustad… apakah shalatnya sah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Membuka tangan kanan dan kiri ketika menoleh pada saat salam, kebiasaan ini pernah dilakukan sebagian sahabat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau melarangnya.

Sahabat Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu bercerita,

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قُلْنَا السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ . وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الْجَانِبَيْنِ

”Dulu ketika kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami mengucapkan ”Assalamu alaikum wa rahmatullah – Assalamu alaikum wa rahmatullah” sambil berisyarat dengan kedua kanan ke samping kanan dan kiri.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

عَلَامَ تُومِئُونَ بِأَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ؟ إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَخِيهِ مَنْ عَلَى يَمِينِهِ، وَشِمَالِهِ

”Mengapa kalian mengangkat tangan kalian, seperti kuda yang suka lari? Kalian cukup letakkan tangan kalian di pahanya kemudian salam menoleh ke saudaranya yang di samping kanan dan kirinya.” (HR. Muslim 998)

Keterangan:

Kita bisa perhatikan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan gerakan ini layaknya gerakan kuda yang tidak tenang, selalu menggerakkan ekornya. Karena dalam hal ini dia melakukan gerakan yang sama sekali tidak dia butuhkan. Dan melakukan gerakan yang tidak dibutuhkan, dilarang dalam shalat.

An-Nawawi membuat judul bab ketika menjelaskan hadis ini,

باب الأمر بالسكون في الصلاة والنهي عن الإشارة باليد

Bab perintah untuk tenang dalam shalat dan larangan untuk berisyarat dengan tangan (Syarh Shahih Muslim, 4/152)

Terbukalah Pintu Surga, Tertutuplah Pintu Neraka

Neraca baik dan buruknya amal ibadah tidak dikembalikan ke perasaan atau logika manusia. Karena ini kembali kepada hak syariat. Semua orang punya harapan itu, tapi dia tidak boleh membuat amal baru dengan maksud mendapatkan harapan tersebut. Jika ini dibolehkan, jadinya dalam beragama, orang tidak butuh panudan dari seorang nabi.

Menggerakkan telapak tangan kanan ketika salam, termasuk amal baru yang dilarang dalam hadis di atas. Sehingga harapan yang dia miliki, tidak mengubah hukum larangan dalam hadis menjadi dianjurkan.

Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya mendahulukan ilmu sebelum beramal. Karena pemahaman yang menyimpang yang dimiliki seseorang, penyebabnya utamanya karena dia tidak memiliki ilmu yang benar. Sehingga bisa jadi dia menganggap kesalahan itu sebagai sesuatu yang dianjurkan.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah memberi nasehat kepada Kumail bin Ziyad,

العلم خير من المال ، العلم يحرسك وأنت تحرس المال

Ilmu lebih baik dari pada harta. Ilmu menjagamu, sementara harta kamu yang jaga.

Ilmu menjaga kita dalam bentuk membimbing kita untuk mengambil sikap yang benar dalam beraktivitas untuk kepentingan dunia akhirat.

Apakah Shalatnya Sah?

insyaaAllah shalatnya tetap sah, karena para sahabat yang pernah melakukan gerakan ini, tidak diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengulangi shalatnya. Terlebih bagi mereka yang belum tahu ilmunya.

Semoga membimbing kita untuk selalu menyesuaikan diri dengan aturan syariat.

Anda bisa melihat video CaraShalat.com terkait salam dibawah ini:

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Qabliyah Shubuh Saat Iqamat Shalatnya Batal? https://konsultasisyariah.com/28877-qabliyah-shubuh-saat-iqamat-shalatnya-batal.html Wed, 11 Jan 2017 02:11:08 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28877 Qabliyah Shubuh Saat Iqamat

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya pernah mendengar bahwa Rasul –shallallahu alaihi wasallam- tidak pernah meninggalkan shalat  2 rakaat qabliyah shubuh… Bagaimana menjalankan sunnah ini, bila saya telat datang ke masjid, sehingga mu’adzin mengumandangkan iqamat?!

Syukran.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban:

Alhamdulillah was shalatu was salamu ala rosulillah wa ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah…

Pertama: Memang benar, beliau tidak pernah meninggalkan shalat sunat 2 rakaat sebelum shubuh, sebagaimana diceritakan oleh Ibunda kita Aisyah –rodhiallahu anha-: bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua rakaat sebelum (shalat) fajar. (dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam silsilah shahihah 7/527)

Kedua: Bila telat datang masjid dan iqamat sedang dikumandangkan, maka antum harus langsung shalat shubuh bersama imam, dan tidak boleh menjalankan shalat qabliyah saat iqamat sudah dikumandangkan… sebagaimana sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam-:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Dari Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda: “Bila telah dikumandangkan Iqamat, maka tidak (boleh) ada shalat, kecuali shalat yang diwajibkan”.(HR. Muslim: 1160)

عن ابن بحينة قال: أقيمت صلاة الصبح، فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يصلي والمؤذن يقيم، فقال: أتصلي الصبح أربعا؟

Ibnu Buhainah mengatakan: (Suatu hari) dikumandangkan Iqamat untuk shalat subuh, lalu Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- melihat seseorang shalat padahal mu’adzin sedang mengumandangkan iqamat, maka beliau mengatakan: “Apakah kamu shalat subuh empat rakaat?!” (HR. Muslim: 1163 )

وعنه أيضا قال: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر برجل يصلي وقد أقيمت صلاة الصبح، فكلمه بشيء لا ندري ما هو؟ فلما انصرفنا أحطناه نقول: ماذا قال لك رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: قال لي: يوشك أن يصلي أحدكم الصبح أربعا؟

Diriwayatkan dari Ibnu Buhainah juga: bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- melewati seseorang sedang shalat, padahal iqamat shalat shubuh telah dikumandangkan, maka beliaupun mengatakan kepadanya sesuatu yg tidak ku ketahui. Lalu ketika kami selesai, kami berusaha mencari tahu, kami mengatakan: apa yg dikatakan Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- kepadamu? dia menjawab: “Hampir saja salah seorang dari kalian shalat shubuh 4 rekaat”. (HR. Muslim: 1162)

Kedua: Sebaiknya antum meng-qadha’ shalat qabliyah shubuhnya setelah itu… sebagaimana pernah terjadi di zaman Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam-:

عَنْ قَيْسٍ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: «مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: «فَلَا إِذَنْ» رواه الترمذي وصححه الألباني

Qois mengatakan: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pernah (suatu ketika) keluar, lalu dikumandangkanlah iqamat shalat, maka aku pun shalat shubuh bersamanya, kemudian beliau beranjak pergi dan mendapatiku akan shalat, beliau mengatakan: “Sebentar wahai qois, apakah dua shalat bersamaan?!”, aku pun mengatakan: Ya rosulallah, sebenarnya aku belum shalat dua rekaat qabliyah fajar, maka beliau mengatakan: “Jika demikian, maka tidak apa-apa” (HR. Tirmidzi: 387, dan dishahihkan oleh Syeikh Albani)

Ketiga: Meng-qodho shalat sunat yang waktunya tertentu, dibolehkan bila tertinggalnya shalat sunat tersebut tidak disengaja. Karena meng-qodlo adalah keringanan bagi mereka yang punya udzur, dan orang yg meninggalkan dengan sengaja, tidak memiliki udzurwallahu a’lam.

Dalil dari pembedaan ini adalah sabda Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-:

من نام عن الوتر أو نسيه فليصل إذا ذكر وإذا استيقظ

Barangsiapa ketiduran atau lupa sehingga tidak shalat witir, maka hendaklah ia shalat witir, ketika ia ingat atau ketika ia bangun (HR. Tirmidzi: 427 dan yg lainnya… dishahihkan oleh Syeikh Albani)

ٌقال ابن رجب:وفي تقييد الأمر بالقضاء لمن نام أو نسيه يدل على أن العامد بخلاف ذلك، وهذا متوجه؛ فإن العامد قد رغب عن هذه السنة وفوتها في وقتها عمداً، فلا سبيل لهُ بعد ذَلِكَ إلى استدراكها، بخلاف النائم والناسي

Ibnu Rojab mengatakan: adanya taqyid dalam perintah qodlo’ itu (yakni); “bagi orang yang tidur atau lupa”, menunjukkan bahwa orang yang sengaja (meninggalkan), hukumnya lain, dan ini benar, karena orang yang sengaja (meninggalkan), itu tidak menyukai shalat sunnah ini, dan telah meninggalkannya pada waktunya dengan sengaja, sehingga tidak ada jalan lagi baginya untuk mendapatkannya, berbeda dengan orang yang tidur atau lupa. (Fathul Bari 9/160)

Sekian, semoga bermanfaat…

wa shallallahu ala nabiyyillah ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah… walhamdulillah.

Disarikan dari web resmi Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA dengan disertai pengeditan bahasa oleh Tim KonsultasiSyariah.com

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Berwasiat untuk Dihajikan https://konsultasisyariah.com/28862-berwasiat-untuk-dihajikan.html Sat, 07 Jan 2017 00:11:23 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28862 Berwasiat untuk Dihajikan

Ada orang yang belum pernah haji. Ketika sakit, dia berpesan agar nanti dihajikan setelah meninggal. Apakah wasiat ini harus dilaksanakan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bagi orang yang pernah haji dan telah memenuhi kriteria mampu berhaji, dia harus segera berhaji. Ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad. Mereka berdalil dengan firman Allah,

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).

Orang yang tidak berangkat haji ada 3 keadaan:

[1] Orang yang tidak mampu secara ekonomi, sehingga tidak memiliki dana untuk haji.

Ulama sepakat, orang semacam ini tidak wajib haji. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 51540)

[2] Orang yang mampu secara ekonomi, tapi tidak mampu secara fisik.

Menurut Abu Hanifah, as-Syafi’I, dan Ahmad wajib baginya untuk menunjuk orang yang akan menggantikannya untuk berhaji. Dan jika mayit berwasiat untuk dihajikan, ahli waris bisa menghajikannya dengan menggunakan harta warisannya, meskipun melebihi 1/3 hartanya.

[3] Orang yang mampu haji secara ekonomi maupun fisik

Jika ada orang yang mati, padahal mungkin baginya berhaji namun dia tidak haji, dan dia meninggalkan harta warisan, maka wajib bagi ahli warisnya untuk menggunakan harta warisannya sebagai biaya haji atas nama si mayit. Ini merupakan pendapat Hasan al-Bashri, Thawus, as-Syafi’i, dan Ahmad.

Dalam ar-Raudhul Murbi’ dinyatakan,

وإن مات من لزماه أي الحج والعمرة أخرجا من تركته من رأس المال أوصى به أو لا ويحج النائب من حيث وجبا على الميت

Jika orang yang wajib haji atau umrah meninggal, maka dia harus dihajikan dan diumrahkan dengan mengambil warisannya. Baik dia pernah berwasiat maupun tidak. Wakilnya menghajikan dia sebagai haji wajib atas nama mayit. (ar-Raudhul Murbi’, al-Buhuti, hlm. 173)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,

من كان يستطيع في حياته الحج ببدنه وماله، فهذا يجب على ورثته أن يخرجوا من ماله لمن يحج عنه، لكونه لم يؤد الفريضة التي مات وهو يستطيع أداءها وإن لم يوص بذلك، فإن أوصى بذلك فالأمر آكد

Orang yang mampu haji ketika hidup dengan fisik dan hartanya, maka wajib bagi ahli warisnya agar menggunakan hartanya untuk menghajikannya, karena dia belum menunaikan kewajiban orang yang telah mati, padahal dia mampu mengerjakannya. Meskipun si mayit tidak pernah berwasiat untuk dihajikan. Jika dia berwasiat, maka tanggung jawabnya lebih besar.

Sumber: https://www.binbaz.org.sa/fatawa/686

Ini berlaku untuk haji pertama (haji wajib). Sementara wasiat untuk haji sunah (lebih dari sekali), hanya diambilkan dari kadar 1/3 hartanya.

Ibnu Qudamah mengatakan,

وإن كان تطوعاً أخذ الثلث لا غير إذا لم يجز الورثة ويحج به

Jika wasiatnya untuk haji sunah, maka dia ambil dari 1/3 hartanya, tidak lebih, jika ahli warisnya tidak rela melepaskan lebih dari 1/3. (al-Muhgni, 6/590).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Cara Mandi Junub Jika Ada Anggota Badan yang Terluka https://konsultasisyariah.com/28848-cara-mandi-junub-jika-ada-anggota-badan-yang-terluka.html Wed, 04 Jan 2017 01:53:29 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28848 Bagaimana Cara Mandi Junub Jika Ada Anggota Badan yang Terluka?

Ustad kaki saya sakit dan tidak boleh terkena air, harus bagaimana jika saya melakukan mandi besar sedang kan air banyak di rumah? jawab ya ustad karna ini penting sekali buat kehidupan saya!!!

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada dua media untuk bersuci dalam islam,

[1] Air

Inilah media asal dalam bersuci. Untuk hadats kecil disucikan dengan cara berwudhu, sementara hadats besar disucikan dengan cara mandi junub. Orang yang berhadats, selama memungkinkan untuk menggunakan air, dia harus bersuci dengan menggunakan air. Jika tidak memungkinkan, barulah diizinkan untuk menggunakan pengganti air.

[2] Media pengganti air, yaitu permukaan tanah atau debu.

Media ini hanya boleh digunakan jika tidak memungkinkan menggunakan media air. Baik karena sakit, maupun karena tidak menemukan air setelah berusaha mencarinya.

Allah berfirman,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

Jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang suci. (QS. al-Maidah: 6)

Kemudian di sana ada kondisi, ada orang yang salah satu anggota badannya sakit. Sehingga tidak boleh boleh terkena air. Namun masih memungkinkan baginya untuk mandi. Bolehkah orang ini tayamum?

Terdapat kaidah dalam al-Quran,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. at-Taghabun: 16).

Ayat ini yang menjadi dasar, bahwa dalam menjalankan perintah, manusia harus melakukannya semampunya. Selama dia masih bisa melakukan yang asal, maka dia tidak boleh melakukan penggantinya. Selama masih bisa mandi, dia tidak boleh tayamum.

Karena itu, bagi orang yang junub, masih memungkinkan untuk mandi, namun ada bagian anggota badannya yang sakit, sehingga tidak boleh kena air, orang ini harus tetap mandi. Hanya saja, di bagian yang sakit, boleh tidak terkena air.

Dalam Fatwa Lajnah Daimah ada pertanyaan,

Dua hari setelah operasi saya mimpi basah. Dan saya khawatir jika saya mandi ini akan membahayakan anggota badanku. Meskipun aku belum tanya ke dokter, apakah akan membahayakan diriku ataukah tidak. Lalu saya wudhu dan setelah itu tayamum. Benarkah yang saya lakukan?.

Jawaban dari Lajnah Daimah,

تركك الغسل لجميع بدنك بعد أن احتلمت لا يجوز، بل يجب عليك أن تغتسل وتجنب الماء موضع العملية الذي تخشى منه الضرر

Anda tidak mandi, membasahi seluruh badan anda setelah mimpi basah, hukumnya tidak boleh. Wajib bagi anda untuk mandi, jauhkan air di bagian yang baru saja dioperasi, yang anda khawatirkan akan membahayakan jika kena air. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 11115)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Shalat Wanita Batal karena Kelihatan Rambutnya? https://konsultasisyariah.com/28842-shalat-wanita-batal-karena-kelihatan-rambutnya.html Mon, 02 Jan 2017 01:54:42 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28842 Shalat Wanita Kelihatan Rambutnya

Afwan ustadz, setahu saya rambut bagi wanita termasuk aurot, apakah ketika shalat jika kelihatan rambutnya, shalatnya sah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kaum muslimin sepakat bahwa rambut wanita adalah aurat. Karena itulah, mereka diwajibkan untuk menutupi kepala mereka dengan jilbab yang dijulurkan sampai menutupi dada.

Allah berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.” (QS. an-Nur: 31).

Terlebih ketika shalat. Para wanita harus menutupi aurat mereka dengan sempurna, karena itu bagian dari syarat sah shalat. Termasuk menutup rapat kepalanya, jangan sampai ada rambut yang keluar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ امْرَأَةٍ قَدْ حَاضَتْ إِلَّا بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah baligh, kecuali dengan memakai jilbab.” (HR. Ibnu Khuzaimah, 775 dan Al-A’dzami mengatakan sanadnya shahih).

Bagaimana jika ada rambut yang tersingkap?

Tersingkapnya rambut wanita ketika shalat, hukumnya sama dengan ketika ada aurat lain yang tersingkap.

Untuk kasus ini, ulama memberikan rincian:

Pertama, jika yang bersangkutan mengetahui dan segera membenahinya, maka shalatnya sah.

As-Syirazi – ulama Syafi’iyah –,

وإن كشفت الريح الثوب عن العورة ثم رده لم تبطل صلاته

Jika bajunya diterpa angin hingga terbuka auratnya, kemudian langsung dia tutup kembali, maka shalatnya tiak batal. (al-Muhadzab, 1/87)

Kedua, yang bersangkutan mengetahui dan tidak segera menutupi

Ulama berbeda pendapat,

Pendapat pertama, hukumnya batal. Karena terbuka aurat, baik sedikit maupun banyak hukumnya sama saja.

Ini adalah pendapat Imam as-Syafi’i.

Pendapat kedua, hukumnya tidak batal. Karena hanya sedikit.

Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah.

Ibnu Qudamah mengatakan,

فإن انكشف من العورة يسير لم تبطل صلاته نص عليه أحمد وبه قال أبو حنيفة وقال الشافعي تبطل لأنه حكم تعلق بالعورة فاستوى قليله وكثيره كالنظرة

Jika aurat orang yang shalat terbuka sedikit, shalatnya tidak batal. Ini ditegaskan oleh Ahmad dan pendapat Abu Hanifah. Sementara as-Syafii mengatakan, shalatnya batal. Karena ini hukum terkait aurat, sehingga sama saja sedikit maupun banyak, sebagaimana melihat. (al-Mughni, 1/651).

Ada satu hadis yang bisa dijadikan acuan, hadis dari Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

“Kami tinggal di kampung yang dilewati para sahabat ketika mereka hendak bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Sepulang mereka dari Madinah, mereka melewati kampung kami. Mereka mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian dan demikian. Ketika itu, saya adalah seorang anak yang cepat menghafal, sehingga aku bisa menghafal banyak ayat Al-Quran dari para sahabat yang lewat. Sampai akhirnya, ayahku datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama masyarakatnya, dan beliau mengajari mereka tata cara shalat.

Beliau bersabda,

يَؤُمُّكُمْ أَقْرَؤُكُمْ

“Yang menjadi imam adalah yang paling banyak hafalan qurannya.”

Sementara Aku (Amr bin Salamah) adalah orang yang paling banyak hafalannya, karena aku sering menghafal. Sehingga mereka menyuruhku untuk menjadi imam. Akupun mengimami mereka dengan memakai pakaian kecil milikku yang berwarna kuning. Ketika aku sujud, tersingkap auratku. Hingga ada seorang wanita berkomentar,

وَارُوا عَنَّا عَوْرَةَ قَارِئِكُمْ

‘Tolong tutupi aurat imam kalian itu.’

Kemudian mereka membelikan baju Umaniyah untukku. Tidak ada yang lebih menggembirakan bagiku setelah islam, melebihi baju itu. (HR. Abu Daud 585 dan dishahihkan al-Albani)

Yang dimaksud terbuka aurat dalam kasus ini adalah terbuka sedikit auratnya. Dan shalat mereka tidak batal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyuruh para jamaah untuk mengulangi shalat. Inilah yang menjadi acuan jumhur ulama bahwa sedikit aurat yang tersingkap, dan tidak langsung ditutup, tidak membatalkan shalat.

Syaikhul Islam mengatakan,

إذا انكشف شيء يسير من شعرها وبدنها لم يكن عليها الإعادة، عند أكثر العلماء، وهو مذهب أبي حنيفة وأحمد‏.وإن انكشف شيء كثير، أعادت الصلاة في الوقت، عند عامة العلماء ـ الأئمة الأربعة، وغيرهم

“Jika ada rambut atau anggota badan wanita yang tersingkap sedikit, maka tidak ada kewajiban untuk mengulangi shalat menurut mayoritas ulama. Ini pendapat Abu Hanifah dan Ahmad. Namun jika yang tersingkap itu banyak, wajib mengulangi shalat di waktunya, menurut para ulama, baik ulama 4 madzhab maupun yang lainnya.” (Majmu’ al-Fatawa, 22/123).

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Larangan Membasuh Anggota Wudhu lebih dari 3 Kali https://konsultasisyariah.com/28828-larangan-membasuh-anggota-wudhu-lebih-dari-3-kali.html Thu, 29 Dec 2016 01:30:51 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28828 Membasuh Anggota Wudhu lebih dari 3 Kali?

Saya melihat ada orang berwudhu dan mengusap kepala berkali-kali. Mencuci wajah, tangan berkali2, mungkin 5 kali. Apakah wudhunnya sah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Anggota wudhu dapat kita kelompokkan menjadi 2:

Anggota wudhu yang dicuci: wajah, tangan, dan kaki

Anggota wudhu yang diusap: kepala.

Untuk anggota wudhu yang diusap, umumnya riwayat yang shahih menyebutkan, mengusap kepala dilakukan sekali. Sementara ada riwayat lain yang menyebutkan 3 kali.

Dari Humran – mantan budak sahabat Utsman – beliau menceritakan,

رَأَيْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ تَوَضَّأَ. فَذَكَرَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرِ الْمَضْمَضَةَ وَالاِسْتِنْشَاقَ وَقَالَ فِيهِ وَمَسَحَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلاَثًا

Saya pernah melihat Utsman bin Affan berwudhu…. Dalam penjelasannya, Humran mengatakan, Utsman mengusap kepada 3 kali, kemudian mencuci kedua kakinya 3 kali. (HR. Abu Daud 107 dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani. Dan sebelumnnya dishahihkan Ibnul Jauzi dalam Kasyful Musykil).

Karena itu, sebagian ulama menyimpulkan, dianjurkan mengusap kepala sekali, dan dianjurkan kadang-kadang mengusap kepala 3 kali.

Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ ثَلاَثًا ثَلاَثًا وَمَسَحَ رَأْسَهُ مَرَّةً

Aku melimat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu 3 kali-3kali. Dan beliau mengusap kepada sekali. (HR. Ibnu Majah 451 dan dishahihkan al-Albani).

Sementara untuk anggota wudhu yang diusap, terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang melakukannnya sekali-sekali, dua kali-dua kali, atau tiga kali-tiga kali.

Sahabat Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ ثَلاَثًا ثَلاَثًا وَمَرَّتَينِ مَرَّتَينِ وَمَرَّةً مَرَّةً

Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu 3 kali-3 kali, 2 kali – 2 kali, dan terkadang sekali-sekali. (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan dishahikan al-Albani dalam Silsilah as-Shahihah 2122)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi batasan, maksimal 3 kali. Lebih dari 3 kali dianggap sebagai kesalahan dan kedzaliman.

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ عَنِ الْوُضُوءِ، فَأَرَاهُ الْوُضُوءَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا

Ada orang badui datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya tentang cara wudhu. Kemudian beliau ajarkan berwudhu 3 kali-3 kali.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَكَذَا الْوُضُوءُ، فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ

Seperti ini cara wudhu yang benar. Siapa yang melebihi 3 kali berarti dia melakukan kesalahan, melampaui batas, dan bertindak dzalim. (HR. Abu Daud 135, Nasai 140 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

An-Nawawi mengatakan,

وقد أجمع العلماء على كراهة الزيادة على الثلاث والمراد بالثلاث المستوعبة للعضو وأما إذا لم تستوعب العضو إلا بغرفتين فهي غسلة واحدة

Ulama sepakat dibencinya mencuci anggota wudhu lebih dari 3 kali. Yang dimaksud mencuci 3 kali adalah siraman yang mengenai semua permukaan kulit anggota wudhu. Namun jika tidak menutupi kecuali dengan 2 kali cidukan tangan maka dihitung sekali cucian. (Syarh Shahih Muslim, 3/109).

As-Syaukani menyebutkan keterangan Ibnul Mubarak,

ولا خلاف في كراهة الزيادة على الثلاث . قال ابن المبارك : لا آمن إذا زاد في الوضوء على الثلاث أن يأثم

Tidak ada perbedaan menganai makruhnya mencuci lebih dari 3 kali. Ibnul Mubarak mengatakan, ‘Saya tidak merasa aman, bisa jadi orang yang mencuci anggota wudhu lebih dari 3 kali, dia akan berdosa.’ (Nailul Authar, 1/215).

Lebih dari 3 kali, wudhunya salah, tapi tetap sah

Selama semua anggota wudhu yang wajib dicuci terkena air dengan sempurna, maka wudhunya sah. Termasuk yang membasuhnya lebih dari 3 kali. Dia melakukan kesalahan, tapi wudhunya sah.

An-Nawawi mengatakan,

إذا زاد علي الثلاث فقد ارتكب المكروه ولا يبطل وضوءه هذا مذهبنا ومذهب العلماء كافة

Jika lebih dari 3 kali, dia telah melanggar yang makruh, namun wudhunya tidak batal. Ini adalah madzhab kami, dan madzhab para ulama  seluruhnya. (al-Majmu Syarh Muhadzab, 1/440)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Cara Mentalqin Mayit https://konsultasisyariah.com/28813-cara-mentalqin-mayit-2.html Sat, 24 Dec 2016 00:03:41 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28813 Mentalqin Mayit

Tanya terkait fikih jenazah tadz, bagaimana cara mentalqin mayit? Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Talqin artinya ta’lim (mengajarkan), sehingga inti dari talqin adalah mengajarkan. Talqin mayit berarti mengajarkan orang yang hendak meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat yang paling bermanfaat baginya di akhir hayatnya, yaitu kalimat tauhid, laa ilaaha illallaah.

Talqin merupakan salah satu tugas orang yang hidup kepada saudaranya yang hendak meninggal. Dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

Talqinlah orang yang hendak mati diantara kalian untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah. (HR. Muslim 916)

Kalimat ini ditekankan agar dia bisa mendapat surga.

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلامِهِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Siapa yang kalimat terakhirnya laa ilaaha illallaah maka wajib masuk surga. (HR. Ahmad 21529, Abu Daud 3116, dan dihasankan al-Albani).

Bagaimana Cara Mentalqin Calon Mayit?

Pertama, Bisikkan kepada orang yang hendak meninggal untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah

Misal, wahai ayahku, ucapkan laa ilaaha illallaah

Kedua, Bila perlu, tambahkan janji indah di akhirat jika berhasil mengucapkan kalimat tauhid

Misalnya, ucapkan laa ilaaha illallaah, surga akan menantimu…

Ini seperti yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajak Abu Thalib untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah… ketika mendekati kematiannya.

Dari al-Musayib bin al-Hazan, beliau bercerita,

Ketika Abu Thalib hendak meninggal dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan beliau untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah,

أَيْ عَمُّ قُلْ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ , كَلِمَةٌ أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

Wahai  paman, ucapkan laa ilaaha illallaah, kalimat yang akan aku jadikan sebagai alasan pembelaan paman di hadapan Allah.

Namun Abu Thalib menolaknya. (HR. Bukhari 3884)

Ketiga, jangan sampai orang yang meninggal merasa terganggu karena yang mentalqin terlalu sering mengulang-ulang. Karena ini bisa membuat dia menjadi tidak senang dengan ucapan laa ilaa illallaah

An-Nawawi mengatakan,

وَكَرِهُوا الإِكْثَار عَلَيْهِ وَالْمُوَالاة لِئَلا يَضْجَر بِضِيقِ حَاله وَشِدَّة كَرْبه ، فَيَكْرَه ذَلِكَ بِقَلْبِهِ

Para ulama membenci jika terlalu banyak dan terlalu sering ketika mentalqin. Agar tidak membuat calon mayit terganggu, karena dia sendiri sedang merasakan sakit, sehinggamembuat hatinya membenci ajakan talqin. (Syarh Shahih Muslim, 6/219).

Ad-Dzahabi bercerita,

Ketika Abdullah bin Mubarak menghadapi kematiannya, orang yang mentalqinnya terlalu sering mengajak, ‘Ucapkan, laa ilaaha illallaah…’

Kemudian Abdullah bin Mubarok mengingatkan,

“Caramu tidak bagus, saya khawatir kamu akan mengganggu muslim lain yang kamu talqin setelahku. Jika kamu mentalqinku, lalu aku sudah mengucapkan laa ilaaha illallaah dan setelah itu saya diam, maka biarkan aku. Namun jika aku berbicara lagi, silahkan ulangi talqinnya, sampai kalimat laa ilaaha illallaah menjadi ucapan terakhirku.” (Siyar a’lam an-Nubala, 8/418)

Sehingga, yang tepat, bisikkan si calon mayit untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah… setelah itu, tunggu dulu beberapa saat. Jika dia berhasil mengucapkan laa ilaaha illallaah, jangan ditalqin ulang. Jika dia mengucapkan kalimat yang lain, atau belum berhasil mengucapkan laa ilaaha illallaah, silahkan ulangi talqinnya.

Keempat, jika calon jenazah sudah berhasil mengucapkan laa ilaaha illallaah, jangan diajak bicara apapun. Jangan tanya minta apa, jangan tanya apa yang dirasakan, dst. agar kalimat terakhir yang dia ucapkan adlah kalimat tauhid.

Jika dia berbicara atau meminta sesuatu, kabulkan permintaannya jika memungkinkan, setalah itu, talqin ulang.

Kelima, apakah menggunakan kalimat perintah, misalnya, “Ucapkan, laa ilaaha illallaah…” atau cukup kita mengulang-ulang kalimat laa ilaaha illallaah di dekatnya?

Imam Ibnu Utsaimin merinci hal ini dengan melihat kondisi si calon mayit.

[1] Jika calon mayit orangnya masih bisa diajak berfikir, atau dia orang kafir, maka bisa menggunakan kalimat perintah. Bahkan bisa diiringi janji.

Misalnya, mari ucapkan laa ilaaha illallaah, surga akan menantimu.

[2] Jika calon mayit orangnya lemah, tidak memungkinkan untuk memahami perintah, cukup dibisikkan kalimat tauhid di dekatnya, laa ilaaha illallaah… sampai dia menirukannya. (as-Syarh al-Mumthi’, 5/246).

Catatan:

Mengapa dalam talqin tidak menyebutkan pernyataan, Muhammad Rasulullah…?

Ada 2 alasan untuk menjawab ini,

[1] Kalimat talqin laa ilaaha illallaah, itulah yang sesuai dalil. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis di atas,

Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

Talqinlah orang yang hendak mati diantara kalian untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah. (HR. Muslim 916)

Karena kalimat tauhid laa ilaaha illallaah adalah kunci islam.

[2] bahwa persaksian, Muhammad Rasulullah sifatnya mengikuti pernyataan syahadat kalimat tauhid dan menjadi penyempurna. Sehingga dalam kondisi yang sangat singkat dan berat, calon mayit lebih ditekankan untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah, karena ini yang pokok.

Meskipun ketika itu dibaca bersamaan, laa ilaaha illallaah Muhammmad Rasulullah, tentu lebih sempurna…

(as-Syarh al-Mumthi’, 5/247)

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Meng-Umrohkan Orang dengan Dana Zakat https://konsultasisyariah.com/28804-meng-umrohkan-orang-dengan-dana-zakat.html Thu, 22 Dec 2016 01:46:08 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28804 Umroh dengan Dana Zakat?

Apa hukumnya memberikan uang zakat kepada saudara agar bisa berangkat umrah.. nuwun…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah telah menjelasakan orang yang berhak menerima zakat. Merekalah 8 golongan yang berhak menerima zakat. Allah berfirman,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah.” (QS. at-Taubah: 60)

Ibnu Abdil Bar mengatakan,

ليس لأحد أن يعطي من زكاة ماله لغير من سمى الله تعالى في كتابه

Siapapun tidak boleh menyerahkan zakat hartanya kepada orang selain yang Allah sebutkan dalamal-Quran.. (al-Kafi fi Fiqh Ahlil Madinah, 1/325).

Para ulama menyimpulkan bahwa meng-umrah-kan orang lain yang tidak mampu, tidak termasuk dalam cakupan 8 golongan penerima zakat dia atas.

Dr. Khalid al-Mushlih pernah ditanya mengenai hukum memberi zakat kepada orang lain untuk dijadikan dana umrah. Jawaban beliau,

الذي عليه أكثر أهل العلم: أنه لا تدفع الزكاة في مثل هذا؛ لأن الله تعالى ذكر أوجه الإنفاق في الزكاة محصورة

Pendapat mayoritas ulama bahwa tidak boleh membayar zakat untuk tujuan semacam ini. Karena Allah telah menyebutkan batasan sasaran penyerahan zakat.

Kemudian Dr. Khalid al-Mushlih menyebutkan surat at-Taubah ayat 60 tentang penerima di atas. Selanjutnya beliau mengatakan,

فصرف الزكاة في مثل هذا هو صرف لها في غير مصارفها المنصوص عليها، ولذلك إذا أردت أن تعينها فإما أن تعينها بسد الضائقة المالية التي لا تتصل بموضوع السفر للعمرة، أو تُعينها من مال غير الزكاة من الصدقة أو من الهدية، ولك أجر إن شاء الله تعالى

Membayar zakat untuk tujuan semacam ini termasuk menyerahkan zakat yang tidak sesuai dengan aturan sasaran penerima yang disebutkan dalam dalil. Karena itu, jika anda ingin membatunya, bisa dengan memberi dana untuk menutupi kekurangan hartanya yag tidak cukup untuk umrah. Atau anda bantu dengan harta selain zakat, seperti sedekah atau hadiah, dan anda akan tetap mendapat pahala insyaaAlllah.

Sumber: http://www.almosleh.com/ar/index-ar-show-16879.html

Fatwa yang semisal juga disebutkan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah,

فلا يجوز لك صرف الزكاة إلى أمك أو إلى أخيك لأجل أداء العمرة لأن الزكاة لا تصرف إلا لمن اتصف بصفات المستحقين لها أو بعضها كالفقر والمسكنة

Anda tidak boleh menyerahkan zakat kepada ibu atau saudara anda untuk melaksanakan umrah. Karena zakat tidak boleh diserahkan kecuali kepada orang yang memiliki kriteria sebagai mustahiq zakat atau sebagian kriteria mustahiq, seperti fakir atau miskin.

Kemudian dijelaskan lanjutannya,

والفقير والمسكين هو من لا يجد كفايته في المطعم والملبس والمسكن ونحو ذلك، وليس منها العمرة

Fakir miskin adalah orang yang tidak memiliki kecukupan makanaan, pakaian, tempat tinggal atau semacamnya. Sementara Umrah bukan termasuk kebutuhan pokok mereka.  (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 39403)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>