Ibadah – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Wed, 22 Feb 2017 01:59:19 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.2 Menunda Pemakaman Jenazah untuk Menunggu Keluarga https://konsultasisyariah.com/29221-menunda-pemakaman-jenazah-untuk-menunggu-keluarga.html Wed, 22 Feb 2017 01:58:02 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29221 Menunda Pemakaman Jenazah

Bolehkah menunda pemakaman jenazah karena menunggu anak dan kerabat yang dari luar…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam islam, dianjurkan agar proses pemakaman jenazah disegerakan. Meskipun boleh menunda beberapa saat, selama tidak terlalu berlebihan, kecuali jika ada udzur. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ ، فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا إِلَيْهِ ، وَإِنْ تَكُ غَيْرَ ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

Segerakanlah pengurusan jenazah. Jika dia orang baik, berarti kalian menyegerahkan dia untuk mendapat kebaikan. Jika dia bukan orang baik, berarti kalian segera melepaskan keburukan dari tanggung jawab kalian. (HR. Bukhari 1315 & Muslim 944).

Dalam riwayat lain, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ أَحَدكُمْ فَلَا تَحْبِسُوهُ وَأَسْرِعُوا بِهِ إِلَى قَبْره

Apabila ada orang yang mati diantara kalian, maka jangan ditahan, dan segerakan dia ke makamnya. (HR. Thabrani dan sanadnya dihasankan al-Hafidz Ibnu Hajar)

Ulayyisy – ulama Malikiyah – mengatakan,

قال العلماء رضي الله تعالى عنهم : والمراد بالإسراع بالجنازة ما يعم غسلها , وتكفينها , وحملها , والمشي معها مشيا دون الخبب ، فإنه يكره الإسراع الذي يشق على ضعفة من يتبعها

Para ulama – radhiyallahu anhum – mengatakan, yang dimaksud menyegerahkan jenazah mencakup memandikannya, mengkafaninya, membawanya, berjalanan mengiringinya tanpa harus lari. Karena makruh mempercepat jalan mengiringi jenazah, yang menyebabkan kesulitan bagi orang lemah yang mengikutinya. (Fatawa Ulayyisy, 1/155)

Berdasarkan alasan ini, dianjurkan agar jenazah segera dimakamkan tanpa harus menunggu lama anggota keluarga yang ada di luar. Kecuali jika menunggunnya tidak terlalu lama.

Imam Ibnu Utsaimin,

وإنني بهذه المناسبة أود أن أنبه على شيء بدأ الناس يحدثونه في أمر الجنائز ألا وهو تأخير دفن الميت حتى يقدم أهله وأقاربه وأصحابه من مكان بعيد ، فربما يبقى يوم أو يومين وهو لم يتجهز فهذا خطأ ، فإن الميت إذا كان مؤمناً كان أحبّ شيء إليه أن يقدم إلى ما أعد الله له من النعيم

Di kesempatan ini saya ingin mengingatkan masalah yang mulai menjadi tradisi sebagian masyarakat terkait pengurusan jenazah, yaitu mengakhirkan pemakaman jenazah, hingga semua keluarga, kerabat dan temannya datang padahal dari tempat jauh. Terkadang ditunggu sehari atau 2 hari, sementara dia belum dipersiapkan. Ini kesalahan. Karena, apabila mayit itu mukmin, maka yang paling dia inginkan adalah segera mendapatkan kenikmatan yang telah Allah janjikan untuknya… (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, volume 200, no. 5).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Keluar Sperma Tanpa Syahwat https://konsultasisyariah.com/29202-keluar-sperma-tanpa-syahwat.html Thu, 16 Feb 2017 03:00:33 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29202 Keluar Sperma Tanpa Syahwat

Ketika seseorang menderita penyakit spermathozoa (air mani keluar terus menerus) itu bagaimana hukumnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Cairan yang keluar dari kemaluan lelaki karena syahwat ada 3:

[1] Mani. Cairan ini keluar di puncak syahwat, sehingga disertai pancaran

[2] Madzi. Cairan ini keluar ketika syahwat mulai muncul namun belum memuncak. Sehingga tidak disertai pancaran.

[3] Wadi. Cairan ini keluar ketika ada syahwat yang belum memuncak, dan hanya keluar ketika kencing.

Oleh karena itu, sperma yang keluar tanpa disertai syahwat, tidak dihukumi sebagai mani. Tapi dihukumi sebagai madzi. Misalnya, keluar sperma karena kedinginan, atau karena penyakit spermathozoa (air sperma  keluar terus menerus).

Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,

إذا فضحت الماء فقد وجب الغسل

Apabila keluar air yang memancar, maka wajib mandi. (HR. Abu Daud 206 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam fatwa islam dinyatakan,

وأما خروج المني بغير شهوة فقد اختلف العلماء في ذلك ، والراجح أن خروجه بغير شهوة لا يوجب الغسل بل يوجب الوضوء

Keluarnya mani tanpa syahwat, diperselisihkan para ulama mengenai statusnya. Dan yang lebih kuat, bahwa keluarnya mani tanpa syahwat, tidak mengharuskan mandi, namun mengharuskan wudhu. (Fatwa Islam no. 47693)

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

الفرق بين المني والمذي ، أن المني غليظ له رائحة ، ويخرج دفقا عند اشتداد الشهوة ، وأما المذي فهو ماء رقيق وليس له رائحة المني ، ويخرج بدون دفق ، ولا يخرج أيضا عند اشتداد الشهوة

Beda antara mani dan madzi, untuk mani, cairannya kental, ada bau khas, keluar memancar ketika puncak syahwat. Sementara madzi, cairannya agak encer, tidak memiliki bau khas mani, keluar tanpa memancar, dan tidak keluar ketika puncak syahwat. (Majmu’ al-Fatwa, 11/169)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Flek Ketika Hamil, Wajib Shalat? https://konsultasisyariah.com/28958-flek-ketika-hamil-wajib-shalat.html Sat, 04 Feb 2017 00:11:27 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28958 Flek Ketika Hamil

Wanita hamil mengalami flek, apakah tetap wajib shalat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ulama berbeda pendapat, apakah wanita hamil bisa mengalami haid ataukah tidak haid.

Pendapat pertama, wanita hamil bisa mengalami haid

Bisa mengalami haid dalam arti, ketika wanita ini mengeluarkan darah dan memenuhi semua kriteria haid, baik karena sesuai kebiasaannya atau cirinya sama dengan darah haid pada umumnya, maka berlaku untuknya hukum-hukum haid.

Syaikhul Menyebutkan pendapat as-Syafi’I,

والحامل قد تحيض وهو مذهب الشافعي، وحكاه البيهقي رواية عن أحمد بل حكى أنه رجع إليه

Wanita hamil bisa mengalami haid, dan ini madzhab as-Syafi’i. dan al-Baihaqi menyebutkan pernyataan Imam Ahmad dalam masalah ini, namun beliau juga menyebutkan bahwa Imam Ahmad telah rujuk dari pendapat ini. (Fatawa al-Kubro, 5/315).

Kedua, wanita hamil tidak bisa mengalami haid, sehingga jika ada darah yang keluar, bisa dipastikan bukan haid, tapi istihadhah. Sehingga tetap wajib shalat, sebagaimana wanita suci dari haid.

Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan para ulama madzhab hambali.

Dalam Tanqih at-Tahqiq disebutkan riwayat dari al-Atsram, beliau bertanya kepada Imam Ahmad,

ما ترى في الحامل ترى الدم، تمسك عن الصلاة؟ قال: لا. قلت: أيُّ شيءٍ أَثْبَتُ في هذا الباب؟ فقال: أنا أذهب في هذا إلى حديث محمَّد بن عبد الرحمن – مولى آل طلحة – عن سالم عن أبيه أنَّه طلَق امرأته وهي حائضٌ، فسأل عمر النَّبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقال: «مُرْه فليراجعها، ثم يطلقها طاهرًا، أو حاملًا». فأقام الطهر مقام الحمل. فقلت: فكأنَّك ذهبت بهذا الحديث إلى أن الحامل لا تكون إلا طاهرًا؟ قال: نعم

Apa pendapat anda untuk wanita hamil yang melihat darah, apakah dia meninggalkan shalat?

Jawab Imam Ahmad, “Tidak, tetap shalat.”

Saya bertanya, “Apa dalil yang mendukung hal ini?”

Lalu Imam Ahamd menyebutkan hadis, Saya berdalil dengan hadis dari Muhammad bin Abdurrahman – maula Ali Thalhah – dari Salim, dari ayahnya (Ibnu Umar), bahwa beliau menceraikan istrinya ketika haid. Kemudian Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,

“Perintahkan dia untuk rujuk istrinya, kemudian boleh mentalaknya ketika suci atau ketika hamil.”

Kata Imam Ahmad, “Beliau menyamakan kondisi hamil sebagaimana wanita suci.”

Saya bertanya, “Anda memahami hadis ini bahwa wanita hamil hanya akan selalu suci?”

Jawab Imam Ahmad, “Ya.” (Tanqih at-Tahqiq, Ibnu Abdil Hadi, 1/414)

Ibnu Qudamah menukil keterangan Imam Ahmad,

قال أحمد : إنما يعرف النساء الحمل بانقطاع الدم

Imam Ahmad mengatakan, ‘Wanita bisa diketahui sedang hamil, ketika dia tidak keluar haid.’ (al-Mughni, 1/405)

Ibnu Qudamah menyebutkan dalil lain bahwa wanita hamil, tidak bisa haid, yaitu hadis,

لا توطأ حامل حتى تضع، ولا حائل حتى تستبرأ بحيضة

Budak wanita yang hamil tidak boleh disetubuhi sampai melahirkan, dan budak wanita yang tidak hamil, tidak boleh disetubuhi sampai mengalami haid sekali.

Lalu Ibnu Qudamah menyimpulkan,

والحامل لا تحيض، فإن رأت دمًا، فهو دم فاسد

Wanita hamil tidak mengalami haid. Jika dia melihat darah, maka itu darah karena sakit. (al-Kafi fi Fiqhil Hambali, 1/133).

Dan insyaaAllah pendapat kedua ini yang lebih kuat…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Bacaan di Akhir Surat at-Tin https://konsultasisyariah.com/28956-bacaan-di-akhir-surat-at-tin.html Fri, 03 Feb 2017 02:15:54 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28956 Bacaan di Akhir Surat at-Tin

Setiap selesai membaca surat at-Tin, ada imam yg membaca dg suara pelan, ‘Balaa wa ana ‘ala dzalika minas Syahidin’… apakah ini benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebagian ulama mengatakan dianjurkan membaca kalimat semacam ini ketika membaca surat tertentu.

An-Nawawi mengatakan,

فصل في آداب تدعو الحاجة إليها – منها : إذا قرأ قوله تعالى : ( إنَّ الله ومَلاَئِكَتِهِ يُصلونَ عَلى النَّبي ) يستحب له أن يقول : صلى الله عليه وسلم تسليماً. ومنها : إذا قرأ : (أليسَ الله بَأحكمِ الحَاكِمين ) (أَليسَ ذَلِكَ بقَادرٍ عَلى أنْ يُحيي الموْتَى ) يُستحب أن يقول : بلى وأنا على ذلك من الشاهدين، وإذا قرأ: ( فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُون ) قال: آمنت بالله . . . وهذا كله مستحب أن يقوله القارئ في الصلاة وغيرها

Pasal, tentang adab yang dilakukan ketika dibutuhkan…

Diantaranya, ketika membaca firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bershalawat kepada Nabi…” (QS. al-Ahzab: 56) maka dianjurkan untuk mengucapkan, “Shallallahu ‘alaihi was sallama tasliimaa.”

Dan jika membaca ayat (yang artinya), ‘Bukankah Allah Hakim yang paling adil?’ (QS. at-Tin: 8) dan ayat (yang artinya), ‘Bukankah Allah Maha Kuasa untuk menghidupkan orang mati?’ (QS. al-Qiyamah: 40), dianjurkan untuk mengucapkan, ‘Balaa wa ana ‘ala dzalika minas Syahidin’. Dan ketika membaca firman Allah (yang artinya), ‘Maka kepada perkataan apakah selain Al Quran ini mereka akan beriman?’, maka dianjurkan untuk mengucapkan, ‘Amantu billaah..’  dan ini semua dianjurkan untuk dibaca oleh orang yang tilawah al-Quran, baik ketika shalat maupun di luar shalat. (Mukhtashar at-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran, hlm. 25).

Ada beberapa hadis yang menyebutkan hal ini. Diantaranya,

Dari Musa bin Abi Aisyah, beliau menceritakan,

Ada orang yang shalat di atas rumahnya, ketika dia membaca,

أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى

(QS. al-Qiyamah: 40)

Dia mengucapkan,

سُبْحَانَكَ فَبَلَى

“Maha Suci Engkau… tentu Engkau mampu”

Merekapun bertanya kepada beliau tentang hal itu. jawab beliau, “Aku pernah mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Daud 884 dan dishahihkan al-Albani).

Hadis kedua, dari Ismail bin Umayah, saya pernah mendengar seorang badui yang membawakan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من قرأ منكم والتين والزيتون فانتهى إلى آخرها أليس الله بأحكم الحاكمين فليقل : بلى وأنا على ذلك من الشاهدين

Siapa yang membaca surat at-Tin dan selesai sampai akhir surat, (yang artinya), ‘Bukankah Allah Hakim yang paling adil?’ hendaknya dia mengucapkan, ‘Balaa wa ana ‘ala dzalika minas Syahidin’. (HR. Abu Daud 887 dan didhaifkan al-Albani).

Sebab dhaifnya adalah adanya perawi majhul (tidak diketahui statusnya), si badui yang meriwayatkan ari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

لو قرأ القارئ : ( أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى ) فله أن يقول : بلى ، أو سبحانك فبلى ، لأنه ورد فيه حديث عن النبي عليه الصلاة والسلام ، ونص الإمام أحمد عليه ، قال الإمام أحمد : إذا قرأ : ( أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى ) في الصلاة وغير الصلاة قال : سبحانك فبلى ، في فرض ونفل . وإذا قرأ : ( أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ ) فيقول : سبحانك فبلى .

Jika orang yang membaca ayat (yang artinya), ‘Bukankah Allah Maha Kuasa untuk menghidupkan orang mati?’ maka dia bisa mengucapkan, ‘Tentu, atau Subhanaka, tentu Engkau kuasa.’ Karena terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini. Imam Ahmad juga menegaskan demikian. Imam Ahmad mengatakan, ‘Jika orang membaca ayat (yang artinya), ‘Bukankah Allah Maha Kuasa untuk menghidupkan orang mati?’ baik ketika shalat maupun di luar shalat, lalu dianjurkan mengucapkan, “Subhanaka, tentu Engkau mampu.” Baik shalat sunah maupun wajib. Jika membaca ayat (yang artinya), “Bukankah Allah Hakim yang paling adil?” maka dia bisa mengucapkan, Subhanaka, tentu ya Allah… (as-Syarh al-Mumthi’, 3/398).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Apakah Masjid Harus di Tanah Wakaf? https://konsultasisyariah.com/28950-apakah-masjid-harus-di-tanah-wakaf.html Thu, 02 Feb 2017 01:57:16 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28950 Masjid harus Tanah Wakaf

Apakah masjid harus di tanah wakaf? Bolehkah shalat di d masjid yang bukan wakaf? Kalo jual beli d masjid yang bukan wakaf bolehkah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 2 hal yang perlu kita bedakan:

Pertama, kapan sebuah gedung dan bangunan bisa dimanfaatkan untuk shalat jamaah?

Mayoritas ulama berpendapat bolehnya menyewakan ruangan untuk dijadikan masjid. ini merupakan madzhab Syafiiyah, Malikiyah, dan Hambali. Sementara Abu Hanifah berpendapat,bahwa itu tidak  sah.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ويجوز استئجار دار يتخذها مسجداً يصلي فيه وبه قال مالك والشافعي وقال أبو حنيفة لا تصح لأن فعل الصلاة لا يجوز استحقاقه بعقد إجارة بحال فلا تجوز الإجارة لذلك، ولنا أن هذه منفعة مباحة يمكن استيفاؤها من العين مع بقائها فجاز استئجار العين لها

Boleh menyewakan ruang untuk dijadikan masjid sebagai tempat shalat. Ini merupakan pendapat Imam Malik, dan as-Syafii. Sementara Abu Hanifah mengatakan, shalatnya tidak sah. Karena amalan shalat, tidak bisa dimiliki melalui akad sewa. Sehingga tidak boleh ada akad sewa untuk hal ini. dan menurut pendapat kami, bahwa gedung yang manfaatnya mubah ini memungkinkan untuk dikembalikan utuh, sehingga boleh saja disewakan untuk dijadikan tempat shalat. (al-Mughni, 6/143).

Apakah masjid dari gedung sewa, berlaku semua hukum masjid?

Dalam fatwa Syabahakh dinyatakan,

أحكام المسجد لا تكون إلا إذا كان المسجد وقفا ، فقد نص الفقهاء على أن من بنى مسجدا وصلى فيه ولم يوقفه فإنه لا يأخذ حكم المسجد حتى يوقفه

Hukum masjid tidak berlaku kecuali jika bangunan masjid itu telah diwakafkan. Para ulama telah menegaskan, bahwa orang yang membangun masjid dan shalat di sana, sementara beum diwakafkan, maka tidak berlaku hukum masjid sampai diwakafkan. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 3752)

Dalam Asna al-Mathalib – kitab Fiqh Madzhab Syafii – dinyatakan,

أما كونه وقفا بذلك فصريح لا يحتاج إلى نية؛ لا إن بنى بناء ولو على هيئة المسجد وقال ( أذنت في الصلاة فيه ) فلا يصير بذلك مسجدا

Jika bentuknya wakaf dengan pernyataan itu, maka jelas, sehingga tidak perlu niat. Tidak termasuk, ketika ada orang yang membangun bangunan seperti bentuk masjid, lalu dia mengatakan, ‘Aku izikan untuk shalat di sini.’ Maka tidak menjadi masjid dengan pernyataan in (karena belum dinyatakan wakaf). (Asna al-Mathalib, 12/446).

Alasan bahwa masjid harus di tanah wakaf, karena ketika masjid sudah diwakafkan maka tidak akan berubah menjadi tempat lainnya. sehingga tidak ada istilah, saat ini masjid, besok berubah menjadi rumah atau toko.

Bisakah gedung yang disewa untuk masjid, diwakafkan sementara?

Ini kembali kepada pembahan hukum wakaf manfaat dan terkait penjelasan ulama mengenai ada tidaknya syarat takbid (permanen) untuk wakaf.

Jumhur ulama mengatakan, wakaf harus takbid (permanen), sehingga tidak ada istilah wakaf sementara.

Sementara Malikiyah mengatakan, boleh wakaf dalam bentuk manfaat sesuatu dan tidak disyaratkan harus permanen. Dan ini juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah..

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang hukum wakaf sementara. Jawaban beliau,

يجوز أن يقف البناء الذي بناه في الأرض المستأجرة سواء وقفه مسجدا أو غير مسجد ولا يسقط ذلك حق أهل الأرض، فإنه متى انقضت مدة الإجارة، وانهدم البناء زال حكم الوقف، سواء كان مسجدا أو غير مسجد

Boleh wakaf bangunan yang dibangun di atas tanah sewa, baik wakaf untuk masjid maupun selain masjid. dan hak kepemilikan tanah tidak menjadi gugur. Karena ketika masa sewa telah habis, dan bangunan sudah dirobohkan, status wakaf menjadi tidak berlaku. baik masjid maupun untuk selain masjid. (al-Fatawa al-Kubro, 4/236)

Pendapat ini juga yang menjadi pegangan mayoritas ulama kontemporer dan keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islami.

Ketika masjid itu belum diwakafkan, bolehkah jual beli di dalamnya?

Latar belakang terbesar mengenai larangan jual beli di masjid adalah hal itu bisa melalaikan orang untuk berdzikir, mengingat Allah, dan beribadah.

Allah berfirman,

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. an-Nur: 37).

Karena itu, sekalipun bangunan itu tidak berstatus sebagai masjid, tidak selayaknya berjualan di sana.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai ruko yang dijadikan mushola.  Beliau menegaskan,

هذا ليس له حكم المسجد ، هذا مصلى بدليل أنه مملوك للغير وأن مالكه له أن يبيعه ، فهو مصلى وليس مسجدا فلا تثبت له أحكام المسجد

Tempat ini tidak berlaku hukum masjid. ini mushola. Dengan bukti, bangunan ini milik orang tertentu, dan pemiliknya bisa menjualnya. Sehingga dia mushola dan bukan masjid, karena itu tidak berlaku hukum masjid.

Lalu ada yang bertanya,

Bolehkah ada jualan buku-buku kecil atau promosi dagangan di tempat semacam ini?

Jawab beliau,

أرى أنه لا يليق حتى بالمصلى ، لأن هذا يلهي عن ذكر الله ، ويوجب التشويش على من يصلي فيه

Menurutku, tidak selayaknya itu dilakukan, meskipun itu hanya mushola. Karena ini melalaikan orng dari berdzikir kepada Allah, dan mengganggu orang yang shalat di dalamnya.  (Fatwa Islam, no. 4399)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Tidak Boleh Berdoa Dengan Ayat Al-Quran Ketika Sujud? https://konsultasisyariah.com/28942-tidak-boleh-berdoa-dengan-ayat-al-quran-ketika-sujud.html Tue, 31 Jan 2017 02:43:08 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28942 Dilarang Membaca Al-Quran Ketika Rukuk dan Sujud?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ustadz Mau nanya… Bolehkah kita membaca doa-doa dari ayat Al Quran seperti doa sapu jagad dan selainnya ketika sujud dalam sholat?

Syukron wajazakumullahu khoiron

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Bismillah. Pada dasarnya hukum membaca ayat-ayat Al-Quran ketika ruku’ dan sujud adalah dilarang.

Hal ini berdasarkan hadits-hadits shohih berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( أَلا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا ، فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ ، وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ – أي جدير وحقيق – أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ ) .

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah dilarang (oleh Allah) untuk membaca Al-Quran ketika ruku’ dan sujud. Adapun tatkala ruku’, maka agungkanlah Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya. Sedangkan tatkala sujud, maka berdoalah (kepada Allah) dengan sungguh-sungguh karena doa kalian sangat pantas dikabulkan.” (HR. Muslim no.479).

عن عَلِيّ بْن أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه قَالَ : نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا .

Dari Ali bin Abu Tholib radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melarangku membaca Al-Quran baik ketika ruku’ maupun sujud.” (HR. Muslim no.480)

Dan para ulama telah bersepakat bahwa hukum membaca Al-Quran ketika ruku’ dan sujud adalah Makruh (tidak disukai). (Lihat kitab Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi III/411, dan Al-Mughni karya Imam Ibnu Qudamah II/181).

Akan tetapi jika seorang muslim dan muslimah membaca doa sapu jagad dan doa-doa selainnya dari ayat-ayat Al-Quran ketika sujud dengan niat berdoa dan bukan bermaksud membaca Al-Quran, maka hukumnya boleh, sebagaimana yang difatwakan oleh Komite Tetap Urusan Fatwa dan Riset Ilmiah Saudi Arabia. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah VI/443).

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung pada niatnya.” (HR. Al-Bukhori no.1 dan Muslim no.1907).

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga mudah dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. Wabillahi at-Taufiq.

Dijawab oleh Ustadz Abu Fawwas Muhammad Wasitho, MA (Diambil dari blog beliau dengan pengeditan bahasa oleh Redaksi KonsultasiSyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Adzan Sebelum Menguburkan Jenazah https://konsultasisyariah.com/28929-hukum-adzan-sebelum-menguburkan-jenazah.html Thu, 26 Jan 2017 01:49:16 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28929 Adzan Sebelum Menguburkan Jenazah

Benarkah Azan sebelum mengubur adalah tidak perlu? Apa hukumnya Ustad?

via Tanya Ustadz for Android

Jawaban :

Bismillah, wassholaatu wassalam ‘ala Rasulillah, waba’du.

Saudaraku yang kami cintai karena Allah, agama kita dibangun di atas dua prinsip utama:

Pertama, memurnikan ibadah hanya untuk Allah.

Kedua, mengikuti tuntunan yang diajarkan Rasulullah.

Kedua prinsip ini terkumpul dalam firman Allah ‘azza wa jalla ketika membantah anggapan kaum Yahudi dan Nasrani bahwa hanya mereka saja yang masuk surga,

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

(Tidak demikian, pengakuan semacam itu adalah dusta) bahkan barangsiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, dan ia adalah orang yang muhsin, maka dia akan memperoleh pahala pada sisi Tuhannya. Orang mukmin tiada takut menghadapi hari akhirat dan tiada sedih kehilangan keterangan dunia. (QS. Al Baqarah:112).

Seorang ulama generasi tabi’in; Sa’id bin Zubair rahimahullah menerangkan makna ayat di atas, “Menyerahkan diri.. maknanya mengiklaskan, wajahnya.. maksudnya adalah agamanya. Kemudian ia adalah orang yang muhsin.. maksudnya adalah mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Karena amalan yang diterima harus terpenuhi dua syarat : pertama, ikhlas karena Allah semata. Kemudian amalan harus benar; sesuai tuntunan Syariat. Amalan yang ikhlas namun tidak sesuai tuntunan syariat maka tidak diterima di sisi Allah. Oleh karenanya Rasulullah shallallahualaihiwasallam bersabda,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Muslim).”

(Lihat Tafsir Ibnu Katsir untuk tafsir ayat di atas).

Terkait adzan dalam prosesi penguburan jenazah, salah seorang ulama mazhab Syafi’i yang bernama Ibnu Hajar Al Haitsaimi rahimahullah pernah ditanya pertanyaan yang senada. Beliau menjawab,

هو بدعة، ومن زعم أنه سنة عند نزول القبر قياساً على ندبها في المولود إلحاقاً لخاتمة الأمر بابتدائه فلم يصب، وأي جامع بين الأمرين، ومجرد أن ذاك في الابتداء وهذا في الانتهاء لا يقتضي لحوقه به.

Perbuatan tersebut tidak ada tuntunan dalam syariat. Siapa yang menyangkanya sebagai sunah yang dilakukan ketika turun ke liang kubur, karena meng-qiyaskan dengan anjuran mengadzani bayi yang baru lahir, sebagai bentuk penyamaan antara akhir kehidupan dengan awal kehidupan, maka dia telah keliru. Dimana sisi kesamaannya sehingga bisa dikaitkan?! Semata – mata ini dilakukan di awal, kemudian yang ini dilakukan di akhir, tidak bisa kemudian dianalogikan seperti itu.

(Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubro 3/24).

Maka karena amalan ini tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahualaihiwasallam, juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat beliau, para tabi’in dan tabi’uttabi’in, sepatutnya amalan ini kita tinggalkan. Meskipun kita tahu bahwa adzan itu baik. Namun yang kita permasalahkan bukan adzannya. Akantetapi caranya yang tidak tepat; ketika menempatkan adzan tidak pada tempatnya. Karena suatu amalan supaya diterima di sisi Allah, tidak cukup sekedar anggapan bahwa ibadah itu baik. Namun cara penunaiannya juga harus baik, sesuai dengan yang dituntunkan oleh syariat, sebagaimana disinggung pada ayat di atas.

Fatwa yang sama juga disampaikan oleh Lajnah Dâ-imah (Komisi fatwa ulama Arab Saudi) yang ditanda tangani oleh Syaikh Abdulaziz bin Baz, Syaikh Abdurrazaq Afifi, Syaikh Abdullah Ghudyan dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud,

لا يجوز الأذان ولا الإقامة عند القبر بعد دفن الميت ، ولا في القبر قبل دفنه ؛ لأن ذلك بدعة محدثة..

Tidak boleh adzan dan iqamah di kuburan setelah menguburkan mayit, atau sebelumnya. Karena perbuatan ini tidak ada tuntunannya dan termasuk perkara baru dalam agama.
(Fatawa Al-Lajnah Ad-Dâ-imah Li Al-Ifta’ 9/72).

Yang diperintahkan adalah berhenti sejenak setelah menguburkan, lalu mendoakan mayit supaya mendapatkan ampunan Allah dan diberi keteguhan untuk menjawab pertanyaan malaikat. Sebagaimana perintahkan Rasulullah shallallahualaihiwasallam kepada para sahabat beliau seusai menguburkan jenazah. Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

Kebiasaan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ketika usai menguburkan jenazah, beliau berdiri di dekat kuburnya kemudian bersabda, “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian dan doakan supaya dia diberikan keteguhan. Karena sekarang ini dia sedang ditanya”. (HR Abu Dawud).

Ibnul Qosim rahimahullah dalam Hasyiah Ar Raudh Al Murbi’ menyatakan,

وقال ابن المنذر رحمه الله : “قال بمشروعيته ـ الدعاء ـ الجمهور ، وقال الآجري وغيره : يستحب الوقوف بعد الدفن قليلاً ، والدعاء للميت

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Pendapat disyariatkan doa untuk mayit (setelah menguburkan) adalah pendapat mayoritas ulama.”

Al-Ajurri dan yang lainnya mengatakan, “Dianjurkan berdiri sejenak setelah menguburkan, lalu mendo’akan mayit.”

(Hasyiah Ar Raudh Al Murbi’ 3/125).

Wallahua’lam bis showab.

Kota Nabi ﷺ, Islamic University of Madinah, 26 Rabi’usstani 1438 H.

Dijawab oleh : ustadz Ahmad Anshori, Lc

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Wanita Haid Tetap Mendapat Pahala Puasa? https://konsultasisyariah.com/28919-wanita-haid-tetap-mendapat-pahala-puasa.html Tue, 24 Jan 2017 01:40:27 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28919 Wanita Haid Tetap Mendapat Pahala Puasa?

Apakah seorang perempuan mendapat pahala saat puasa Ayyamul Bidh tetapi pada tanggal 13/14 lagi haid?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Orang yang tidak mampu beramal karena udzur, sementara ada keinginan besar darinya untuk beramal, maka dia tetap mendapatkan pahala.

Mereka tidak beramal bukan karena malas. Mereka tidak beramal karena udzur.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berangkat jihad, ada beberapa orang yang udzur, sehingga tidak ikut berangkat. Beliau mengatakan,

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلاَّ كَانُوا مَعَكُمْ

Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang, setiap kali kalian menempuh perjalanan atau melintasi lembah, mereka selalu berama kalian.

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun mereka diam saja di Madinah?”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ ، حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ

Meskipun mereka di Madinah. Mereka tidak ikut jihad karena udzur. (HR. Bukhari 4423).

Dalam hadis lain, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Apabila seorang hamba mengalami sakit atau safar (sehingga tidak bisa beramal) maka tetap dicatat untuknya sebagaimana amal rutinnya ketika dia tidak safar dan dalam kondisi sehat. (HR. Ahmad 19679 & Bukhari 2996)

Hadis ini berlaku untuk amalan yang dirutinkan seorang mukmin, kemudian dia tidak mampu melaksanakannya karena udzur.

Syaikh Dr. Khalid al-Mushlih mengatakan,

وقد ألحق بعض العلماء الحائض والنفساء بالمريض والمسافر في أنها تثاب على الصلاة زمن الحيض، لأنها ممنوعة منها شرعاً، وهذا بشرط صدق الرغبة وصحة العزم على الفعل لولا المانع

Para ulama menyamakan status wanita haid dan nifas sebagaimana orang sakit, dimana mereka tetap mendapat pahala shalat ketika haid. Karena mereka memiliki penghalang yang diterima oleh syariat. dan ini tentu dengan syarat, disertai keinginan yang jujur dan tekad kuat untuk beramal, andai dia tidak memiliki udzur.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/33637/هل-المرأة-الحائض-لها-أجر-في-شهر-رمضان

Sehingga wanita haid atau nifas tetap bisa mendapatkan pahala puasa ayyamul bidh atau puasa senin kamis, jika dia memiliki rutinitas puasa sunah tersebut dan ada tekad kuat untuk mengamalkannya andai tidak ada udzur.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Menelan Makanan karena Sendawa ketika Shalat https://konsultasisyariah.com/28898-menelan-makanan-karena-sendawa-ketika-shalat.html Tue, 17 Jan 2017 01:29:49 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28898 Menelan Makanan karena Sendawa ketika Shalat

Jika ada orang bersendawa, lalu keluar makanan, trus ditelan lagi, dan itu ketika shalat, apakah shalatnya batal?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Menelan makanan ketika shalat bisa menyebabkan shalat batal.

Ibnu Qudamah menukil keterangan Ibnul Mundzir tentang adanya kesepakatan ulama mengenai hukum makan atau minum secara sengaja.

Ibnul Mundzir mengatakan,

أجمع أهل العلم على أن المصلي ممنوع من الأكل والشرب كل من نحفظ عنه من أهل العلم على أن من أكل أو شرب في صلاة الفرض عامدا أن عليه الإعادة

Ulama sepakat bahwa orang yang shalat dilarang untuk makan dan minum. Semua ulama yang kami ketahui sepakat bahwa siapa yang makan atau minum ketika shalat secara sengaja maka dia harus mengulangi shalatnya. (al-Mughni, 1/749).

Ini berlaku jika makan dan minum dengan disengaja. Baik banyak maupun sedikit.

Menelan Makanan Setelah Sendawa Ketika Shalat

Bagaimana jika makanan yang ditelan ketika sendawa?

Sebatas sendawa, tidak membatalkan shalat. Akan tetapi jika sendawa menyebabkan keluar makanan, dan mampu dia keluarkan, maka wajib baginya untuk mengeluarkannya. Dia bisa gunakan tisu atau sapu tangan.

Karena jika ditelan secara sengaja makan shalatnya batal.

An-Nawawi mengatakan,

وان كان بين أسنانه شيء فابتلعه عمداً …. بطلت صلاته بلا خلاف

Jika di sela-sela gigi ada sisa makanan, lalu dia telan secara sengaja … maka shalatnya batal tanpa ada perbedaan dalam hal ini.

Kemudian an-Nawawi menyebutkan kondisi tidak sengaja,

فإن ابتلع شيئاً مغلوباً ، بأن جرى الريق بباقي الطعام بغير تعمد منه ، لم تبطل صلاته بالاتفاق

Namun jika dia menelan sisa makanan karena tidak bisa dikendalikan, misalnya sisa makanan yang larut dengan ludah, tanpa sengaja, maka shalat tidak batal dengan sepakat ulama. (al-Majmu’, 4/89).

Keterangan semisal disebutkan Ibnu Qudamah,

وأن بقي بين أسنانه أو فيه من بقايا الطعام يسير يجري به الريق فابتعله لم تفسد صلاته لأنه لا يمكن الاحتراز منه

Jika ada sisa makanan di sela-sela gigi, atau sisa makanan sedikit, yang larut dengan ludah, lalu dia telan, maka shalatnya tidak batal. Karena tidak memungkinkan baginya untuk menghindarinya. (al-Mughni, 1/749)

Untuk itu, dalam kondisi ketika cairan makanan sendawa yang keluar tidak bisa dikendalikan, sehingga langsung tertelan, maka shalatnya tidak batal. Karena tidak sengaja dan tidak memungkinkan baginya untuk menghindarinya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>