Ibadah – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 21 Apr 2017 07:12:33 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.4 Boleh Shalat di Waktu Kapanpun di Masjidil Haram? https://konsultasisyariah.com/29432-boleh-shalat-di-waktu-kapanpun-di-masjidil-haram.html Fri, 21 Apr 2017 02:06:47 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29432 Shalat di Masjidil Haram Kapanpun?

Katanya di masjidil haram dibolehkan shalat di waktu kapanpun termasuk setelah subuh. Apa benar? krn shalat jenazah d sini juga dilakukan setelah subuh…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam hadis dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Bani Abdi Manaf yang

يَا بَنِى عَبْدِ مَنَافٍ لاَ تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ

Wahai Bani Abdi Manaf, jangan kalian melarang siapapun untuk thawaf di Baitullah ini, dan melaksanakan shalat di waktu kapanpun yang dia kehendaki siang maupun malam. (HR. Nasai 592, Turmudzi 877, dan dishahihkan al-Albani).

Setelah menyebutkan hadis ini, at-Turmudzi mengatakan,

وقد اختلف أهل العلم فى الصلاة بعد العصر وبعد الصبح بمكة فقال بعضهم لا بأس بالصلاة والطواف بعد العصر وبعد الصبح. وهو قول الشافعى وأحمد وإسحاق واحتجوا بحديث النبى -صلى الله عليه وسلم- هذا.

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat setelah asar dan setelah subuh di Mekah. Sebagian ulama mengatakan tidak masalah shalat sunah dan thawaf setelah asar dan subuh. Ini merupakan pendapat Imam as-Syafii, Imam Ahmad, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berdalil dengan hadis di atas.

وقال بعضهم إذا طاف بعد العصر لم يصل حتى تغرب الشمس وكذلك إن طاف بعد صلاة الصبح لم يصل حتى تطلع الشمس. واحتجوا بحديث عمر أنه طاف بعد صلاة الصبح فلم يصل وخرج من مكة حتى نزل بذى طوى فصلى بعد ما طلعت الشمس. وهو قول سفيان الثورى ومالك بن أنس.

Sebagian mengatakan, jika ada yang thawaf setelah asar, maka shalat sunah setelah thawaf dilaksanakan waktu maghrib. Demikian pula bagi yang thawaf setelah subuh, maka tidak boleh shalat setelah thawaf sampai terbit matahari. Mereka berdalil dengan hadis Umar, bahwa beliau  pernah thawaf setelah subuh, dan beliau tidak langsung shalat setelah thawaf, sampai beliau keluar Mekah, lalu singgah di Dzi Tuwa dan shalat setelah terbit matahari. Ini merupakan pendapat Sufyan at-Tsauri dan Imam Malik bin Anas. (Sunan Turmudzi, 3/479)

Penjelasan Turmudzi di atas seputar shalat pasca-thawaf. Dalam penjelasan an-Nawawi, bolehnya shalat di waktu terlarang, juga berlaku untuk semua shalat sunah

Dalam madzhab Syafi’iyah

قال أصحابنا: لا تكره الصلاة بمكة في هذه الأوقات، سواء في ذلك صلاة الطواف وغيرها، هذا هو الصحيح المشهور عندهم

Para ulama madzhab kami berpendapat, tidak makruh shalat di Mekah di waktu-waktu terlarang, baik shalat sunah setelah thawaf atau shalat sunah lainnya. Inilah pendapat yang benar yang masyhur dalam madzhab Syafiiyah.  (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/179)

Dan hukum ini hanya berlaku khusus untuk masjidil haram dan tidak berlaku untuk masjid lainnya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Zakat Walet https://konsultasisyariah.com/29423-zakat-walet.html Wed, 19 Apr 2017 02:19:09 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29423 Cara Menghitung Zakat Walet

Bagaimana cara menghitung zakat burung walet? Apakah termasuk hewan ternak yang wajib dizakati?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Binatang ternak yang wajib dizakati hanya ada 3: onta, sapi dan kambing. Selain itu, tidak ada kewajiban zakat, meskipun binatang itu dimiliki secara pribadi dan produktif. Seperti ayam ternak, ikan yang diternak, termasuk burung walet.

Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pernah menulis surat kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang ditugaskan ke Bahrain,

بسم الله الرحمن الرحيم، هذه فريضة الصدقة التي فرض رسول الله – صلى الله عليه وسلم – على المسلمين، والتي أمر الله بها رسوله، … في أربع وعشرين من الإبل فما دونها من الغنم من كلِّ خمسٍ شاةٌ…

Bismillahirrahmanirrahim,

Ini adalah pembagian harta zakat yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum muslimin, dan yang diperintahkan Allah untuk Rasul-Nya… jika onta mencapai 24 ada zakatnya berupa kambing, di setiap 5 ekor onta, zakatnya 1 ekor kambing… (HR. Bukhari 1454).

Kemudian Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menyebutkan rincian nishab (batas wajib zakat) untuk onta, sapi, dan kambing.

Lalu bagaimana dengan zakat walet?

Untuk hewan waletnya, tidak dizakati. Karena walet tidak dimiliki. Walet dibebaskan liar, sehingga bisa datang pergi ke tempat siapapun. Dan kalaupun ditangkap kemudian ditaruh di sangkar, justru burung ini tidak bisa menghasilkan karena stres.

Karena itulah, yang dizakati adalah hasil dari burung ini, air liurnya dan sarangnya yang bisa dijual.

Bagaimana perhitungan zakatnya?

Zakatnya mengikuti perhitungan zakat mal. Nishab zakat mal adalah 85 gr emas. Jika asumsi harga emas adalah 500rb/gr, berarti konversi rupiah 42,5 juta.

Hasil penjualan sarang walet, jika mencapai Rp 42,5 juta berarti telah mencapai nishab. Selanjutnya jika selama setahun tidak kurang dari ini, maka dizakati 2,5%.

Apakah digabungkan dengan simpanan harta yang lain?

Jika simpanan harta itu juga dari hasil walet, maka digabungkan. Dari dari selain walet, misalnya dari gaji karyawan, maka tidak perllu digabungkan.

Misalnya, si A seorang karyawan pertamina, memiliki

[1] tabungan dari gaji senilai 50 jt di bulan Rajab 1437

[2] hasil walet kandang pertama Rp 20 jt di bulan Syawal 1437

Pada saat Dzulhijjah 1437, kandang walet kedua panen, dan setelah dijual menghasilkan 30 jt.

Sehingga total hasil walet Rp 50 jt.

Kapan si A zakat?

[1] Untuk tabungan dari gaji, dia zakati di bulan Rajab 1438

[2] Untuk hasil walet di Dzulhijjah 1438, karena di bulan ini hasil walet baru mencapai nishab.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Mengambil Miqat di Yalamlam Mendarat di Jedah https://konsultasisyariah.com/29392-hukum-mengambil-miqat-di-yalamlam-mendarat-di-jedah.html Mon, 10 Apr 2017 02:23:50 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29392 Mengambil Miqat di Yalamlam Mendarat di Jedah

Jika ikut umrah, setelah mengambil miqat di atas pesawat di Yalamlam, mendarat di Jedah, artinya setelah ihram keluar ke tanah halal dulu… bagaimana hukumnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Orang yang dalam kondisi ihram, baik untuk haji maupun umrah, dibolehkan keluar ke tanah halal, seperti ke Jedah atau Tan’im atau beberapa tempat yang biasa menjadi destinasi ziarah di Mekah, seperti musium Ka’bah di Syumaisi, tanpa harus membatalkan ihramnya. Dan tidak ada denda apapun.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang orang yang dalam kondisi ihram karena haji atau umrah, apakah boleh keluar ke Jedah atau ke Thaif?

Jawaban beliau,

لا بأس فإن كان محرما بقي على إحرامه, وإن كان قد تحلل بالعمرة وخرج إلى جدة أو إلى الطائف فلا بأس, ويرجع ويحرم مع الناس في اليوم الثامن…

Tidak masalah, dan jika dia masih ihram, maka ihramnya tetap sah. Namun jika dia sudah tahalul dengan umrah, kemudian ke Jedah atau ke Thaif, tidak masalah. Lalu dia bisa kembali dan melakukan ihram bersama masyarakat yang lain di tanggal 8 Dzulhijjah.

Beliau juga pernah ditanya yang semisal,

Apakah keluar ke daerah sekitar Mekah , misalnya ketika id, tidak mengurangi nilai haji?

Jawaban beliau,

نعم. لا يخل بالحج…

Betul, tidak mengurangi nilai haji… (al-Liqa’ as-Syahri, 3/108).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Shalat di Raudhah di Waktu Terlarang https://konsultasisyariah.com/29385-shalat-di-raudhah-di-waktu-terlarang.html Fri, 07 Apr 2017 07:42:35 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29385 Shalat di Raudhah

Bolehkah shalat di Raudhah setelah subuh?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, shalat di waktu terlarang berlaku untuk shalat mutlak tanpa sebab

Ada 3 waktu larangan shalat, setelah subuh sampai terbit matahari, setelah asar sampai terbenam matahari, dan ketika matahari tepat di tengah, hingga tergelincir ke barat.

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ ، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ

Tidak ada shalat setelah subuh sampai matahari meninggi, dan tidak ada shalat setelah asar sampai matahari terbenam. (HR. Bukhari 586).

Waktu larangan ini berlaku untuk shalat mutlak, yaitu shalat tanpa sebab.

An-Nawawi mengatakan,

وأجمعت الأمة على كراهة صلاة لا سبب لها في هذه الأوقات، واتفقوا على جواز الفرائض المؤداة فيها، واختلفوا في النوافل التي لها سبب كصلاة: تحية المسجد، وسجود التلاوة، والشكر، وصلاة العيد، والكسوف، وفي صلاة الجنازة، وقضاء الفوائت. ومذهب الشافعي وطائفة جواز ذلك كله بلا كراهة

Kaum muslimin sepakat makruhnya shalat tanpa sebab di waktu-waktu terlarang ini. Mereka juga sepakat, bolehnya shalat wajib yang dikerjakan di waktu terlarang ini. Hanya saja, mereka berbeda pendapat mengenai shalat sunah yang memiliki sebab, seperti tahiyatul masjid, sujud tiawah, shalat id, shalat gerhana, shalat gerhana, dan qadha shalat yang ketinggalan. Dalam madzhab Syafiiyah dan beberapa madzhab lainnya, semua shalat yang memiliki sebab itu dibolehkan.

Kedua, shalat di raudhah, latar belakangnya sama dengan shalat di masjid lainnya. Karena hakekat dari Raudhah adalah masjid nabawi yang pertama di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum mengalami perluasan. Yang membedakan Raudhah dengan masjid yang lain adalah masalah keutamaan. Bahwa shalat di raudhah lebih utama dibandingkan shalat di masjid yang lain.

Dari Abdullah bin Zaid al-Mazinni radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ

Antara rumah dan mimbarku adalah salah satu raudhah (taman) surga. (HR. Bukhari 1195 & Muslim 3434).

Sementara mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada mendekati ujung kanan masjid beliau dan pintu rumah beliau di tembok ujung kiri. Berarti Raudhah adalah ujung kanan, hingga ujung kiri dari masjid ke belakang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa waktu larangan shalat, dan ini berlaku untuk masjid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya larangan itu juga berlaku untuk shalat di raudhah.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فالصلاة في الروضة الشريفة كالصلاة في غيرها من الأماكن لا تشرع في أوقات النهي، وليست الرغبة في تحصيل ثواب الصلاة في هذا المكان الفاضل مما يسوغ فعل النافلة في أوقات النهي، وليس ذلك بمجرده سببًا تستباح به الصلاة عند من يرى جواز فعل ذوات الأسباب؛ كتحية المسجد ونحوها في أوقات النهي

Shalat di Raudhah yang mulia statusnya sama  dengan shalat di tempat-tempat yang lain, artinya tidak boleh dilakukan di waktu-waktu larangan. Sebatas harapan untuk mendapatkan pahala shalat di tempat mulia ini, tidak bisa dijadikan alasan untuk mengerjakan shalat sunah di waktu larangan. Dan menurut ulama yang membolehkan shalat sunah yang memiliki sebab dikerjakan di waktu terlarang, tidak menjadikan keutamaan Raudhah semata sebab yang membolehkan shalat di waktu larangan. (Fatawa Sybakah Islamiyah, no. 189257).

Berdasarkan keterangan di atas, ada beberapa kesimpulan yang bisa kita garis bawahi terkait shalat sunah di Raudhah di waktu larangan,

[1] Bagi yang masuk masjid nabawi, dan belum melakukan shalat apapun, kemudian langsung ke Raudhah, dibolehkan melakukan shalat sunah 2 rakaat tahiyatul masjid. Karena shalat yang dia kerjakan memiliki sebab.

[2] Bagi yang sudah shalat di masjid nabawi selain Raudhah, lalu masuk Raudhah di waktu larangan shalat, maka tidak boleh shalat. Tapi bisa langsung duduk berdoa atau berdzikir.

Seperti yang dilakukan kaum muslimin saat ini, mereka datang ke Raudhah setelah subuh atau setelah asar.

Mereka shalat subuh berjamaah di masjid nabawi selain Raudhah. Selepas shalat subuh, langsung ngantri di Raudhah, dan shalat 2 rakaat setelah subuh. Yang terjadi, mereka shalat sunah mutlak di waktu terlarang.

Padahal shalat yang dia kerjakan bukan shalat tahiyatul masjid atau shalat yang dilatar belakangi sebab tertentu.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Doa dan bacaan ketika Thawaf https://konsultasisyariah.com/29380-doa-dan-bacaan-ketika-thawaf.html Fri, 07 Apr 2017 07:31:10 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29380 Doa Ketika Thawaf

Saya hendak umrah tadz, apa doa dan dzikir ketika thawaf? Suwun

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kami tidak menjumpai adanya dalil yang menyebutkan doa dan dzikir khusus ketika thawaf selain di 3 tempat,

[1] Ketika melewati hajar aswad, beliau membaca takbir, “Allahu akbar” atau membaca, “Bismillahi wallahu akbar…

Nafi – menantunya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma – bercerita,

كَانَ ابْنُ عُمَرَ رضي الله عنهما يَدْخُلُ مَكَّةَ ضُحًى، فَيَأْتِي الْبَيْتَ فَيَسْتَلِمُ الْحَجَرَ، وَيَقُولُ: بِسْمِ اللهِ، وَاللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَرْمُلُ ثَلَاثَةَ أَطْوَافٍ، يَمْشِي مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ، فَإِذَا أَتَى عَلَى الْحَجَرِ اسْتَلَمَهُ، وَكَبَّرَ أَرْبَعَةَ أَطْوَافٍ مَشْيًا

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma masuk Mekah ketika waktu dhuha, lalu beliau mendatangi ka’bah, dan menyentuh Hajar Aswad, sambil mengucapkan, “Bismillah, wallahu akbar.” Kemudian beliau lari-lari kecil 3 kali putaran, dan jalan antara rukun Yamani dengan rukun Hajar Aswad. Setelah sampai di Hajar Aswad, beliau menyentuhnya dan bertakbir, lalu keliling 4 thawaf sambil berjalan.

Ibnu Umar mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal ini.

(HR. Ahmad 4628 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

[2] Membaca  doa sapu jagad, antara rukun Yamani dan rukun Hajar Aswad

Dari Sahabat Abdullah bin Saib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ (رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ)

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa sapu jagad,

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

antara rukun Yamani dengan rukun Hajar Aswad. (HR. Abu Daud 1894 dan dihasankan al-Albani).

[3] Seusai thawaf, ketika menuju tempat shalat di belakang maqam Ibrahim

Sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu bercerita pengalaman haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَتَّى إِذَا أَتَيْنَا الْبَيْتَ مَعَهُ اسْتَلَمَ الرُّكْنَ فَرَمَلَ ثَلاَثًا وَمَشَى أَرْبَعًا ثُمَّ نَفَذَ إِلَى مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – فَقَرَأَ (وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى) فَجَعَلَ الْمَقَامَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ

Hingga ketika kami tiba di ka’bah bersama beliau, beliau menyentuh rukun Hajar Aswad, lalu lari kecil 3 kali putaran, dan berjalan 4 kali putaran. Lalu beiau menuju maqam Ibrahim sambil membaca,

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

Dan beliau memposisikan maqam di depan beliau, antara beliau dan ka’bah. (HR. Muslim 3009)

Selain itu, tidak kami jumpai dalil yang menyebutkan bacaan atau doa khusus ketika thawaf. Yang diaanjurkan adalah memperbanyak berdoa, berdzikir apapun.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ويستحب الدعاء في الطواف , والإكثار من ذكر الله تعالى ; لأن ذلك مستحب في جميع الأحوال , ففي حال تلبسه بهذه العبادة أولى ، ويستحب أن يَدَعَ الحديثَ [الكلام] , إلا ذكرَ الله تعالى , أو قراءةَ القرآن , أو أمرا بمعروف , أو نهيا عن منكر , أو ما لا بد منه

Dianjurkan memperbanyak doa ketika thawaf, dan berdzikir menyebut nama Allah. karena doa dan dzikir dianjurkan dalam semua keadaan, sehingga ketika sedang thawaf, lebih ditekankan. Dan dianjurkan untuk tidak bicara, selain dzikrullah, atau membaca al-Quran, atau amar makruf, nahi munkar, atau mengucapkan sesuatu yang harus. (al-Mughni, 3/187)

Syaikhul Islam mengatakan,

وليس فيه – يعني الطواف – ذكر محدود عن النبي صلى الله عليه وسلم ، لا بأمره ، ولا بقوله ، ولا بتعليمه ، بل يدعو فيه بسائر الأدعية الشرعية ، وما يذكره كثير من الناس من دعاء معين تحت الميزاب ، ونحو ذلك فلا أصل له ، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يختم طوافه بين الركنين بقوله : ( ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار ) ، كما كان يختم سائر دعائه بذلك ، وليس في ذلك ذكر واجب باتفاق الأئمة

Tidak ada dzikir khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika thawaf. Baik diperintahkan, dipraktekkan, maupun diajarkan. Beliau berdoa dalam thawaf dengan membaca doa-doa yang disyariatkan. Sementara kumpulan doa yang disebutkan banyak orang, tidak ada dasarnya. Sementar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhiri doanya antara rukun Yamani dengan rukun Hajar Aswad dengan mengucapkan, “Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah….” Sebagaimana beliau mengakhiri doa-doa beliau dengan doa sapu jagad. Dan semua dzikir itu tidak wajib dengan sepakat ulama.

(Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 26/122)

Karena itu, thawaf tidak diam… tidak hanya melihat pemandangan di sekitar, tapi berdoa, dengan doa apapun… anda bisa berdoa dengan bahasa arab, bahasa Indonesia, dan yang terbaik, doa-doa dalam al-Quran maupun doa dalam hadis. Selain itu, perbanyak membaca dzikir…

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Orang Gundul Mengulang Umrah, Bagaimana Tahalulnya? https://konsultasisyariah.com/29377-orang-gundul-mengulang-umrah-bagaimana-tahalulnya.html Fri, 07 Apr 2017 07:26:52 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29377 Orang Gundul Mengulang Umrah

Jika orang sudah gundul karena tahalul umrah pertama, lalu ingin umrah lagi, bagaimana tahalulnya, sementara sudah tidak ada rambut?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Penjelasan ini terlepas dari hukum mengulang umrah dalam sekali safar.

Jika ada orang yang sudah Umrah, ketika tahalul dia gundul, lalu keluar ke Ji’ranaha atau ke Hudaibiyah, kemudian Umrah lagi, bagaimana cara dia bertahalul? Sementara sudah tidak ada rambut di kepalanya.

Dalam hal ini ulama beda pendapat,

Pertama, dianjurkan untuk melintaskan pisau atau alat cukur di atas kepalanya.

Ini merupakan pendapat jumhur ulama, dari kalangan Maliki, Syafii, dan Hambali.

Kedua, diwajibkan melintaskan pisau atau alat cukur di atas kepalanya.

Ini merupakan pendapat Hanafi.

Ketiga, tidak dianjurkan melakukan apapun, termasuk melintaskan pisau atau alat cukur di atas kepalanya.

Ini pendapat Abu Bakr bin Daud.

An-Nawawi mengatakan,

إذا لم يكن على رأسه شعر بأن كان أصلع أو محلوقا فلا شيء عليه فلا يلزمه فدية ولا إمرار الموسى ولا غير ذلك لما ذكره المصنف، ولو نبت شعره بعد ذلك لم يلزمه حلق ولا تقصير بلا خلاف لأنه حالة التكليف لم يلزمه، قال الشافعي والأصحاب: ويستحب لمن لا شعر على رأسه إمرار الموسى عليه، ولا يلزمه ذلك بلا خلاف عندنا

Jika di kepala seseorang tidak ada rambut, seperti botak atau sudah cukur gundul, tidak ada denda apapun, tidak bayar fidyah (tebusan) atau melintarkan pisau cukur atau yang lainnya, berdasarkan yang disebutkan oleh penulis (as-Syaerozi). Andai setelah itu rambutnya tumbuh, tidak ada kewajiban untuk menggundulnya atau mencukurnya. Karena ketika waktu tahalul, tidak ada kewajiban bagi dia untuk itu.

Imam as-Syafii dan ulama syafiiyah mengatakan,

‘Dianjurkan bagi orang yang tidak memiliki rambut di kepalanya untuk melintaskan pisau cukur di atasnya, meskipun ini tidak wajib, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan kami.’ (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 8/200 – 201).

An-Nawawi juga menjelaskan perbedaan pendapat di kalangan ulama,

من لا شعر على رأسه لا حلق عليه ولا فدية، ويستحب إمرار الموسى على رأسه ولا يجب، ونقل ابن المنذر إجماع العلماء على أن الأصلع يمر الموسى على رأسه، وحكي أصحابنا عن أبي بكر بن داود أنه قال: لا يستحب إمراره وهو محجوج بإجماع من قبله. وقال أبو حنيفة: هذا الإمرار واجب، ووافقنا مالك وأحمد أنه مستحب.

Orang yang tidak memiliki rambut di kepalanya, tidak ada kewajiban mencukur atau membayar tebusan. Dan dianjurkan untuk melintaskan pisau cukur di atas kepalanya, namun tidak wajib. Ibnul Mundzir menukil ijma’ ulama bahwa orang yang botak, dianjurkan melintaskan pisau cukur di atas kepalanya. Dan ulama madzhab kami menyebutkan riwayat dari Abu Bakr bin Daud, beliau mengatakan, ‘Tidak dianjurkan melintaskan pisau cukur di atas kepalanya’. Tapi dia tidak sejalan dengan ijma’ sebelumnya. Sementara Abu Hanifah mengatakan, bahwa melintaskan pisau cukur di atas kepala hukumnya wajib. Dan yang sesuai pendapat kami adalah Imam Malik dan Imam Ahmad, bahwa itu hukumnya dianjurkan. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 8/212)

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Keutamaan Meninggal di Madinah https://konsultasisyariah.com/29373-keutamaan-meninggal-di-madinah.html Mon, 03 Apr 2017 01:49:36 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29373 Meninggal di Madinah

Adakah keutamaan di makamkan d Baqi madinah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Baqi merupakan pemakaman pusat di Madinah, di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga zaman ini. Mengenai keutamaannya,  kami tidak mengetahui adanya dalil khusus yang menunjukkan keutamaan makam Baqi’.

Hanya saja ada dalil mengenai keutamaan meninggal di kota Madinah. Dalam hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا

“Siapa yang bisa memilih mati di Madinah, silahkan dia lakukan. Karena saya akan memberi syafaat bagi mereka yang mati di Madinah.” (HR. Ahmad 5437, Turmudzi 4296 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kita memahami, siapapun manusia tidak pernah tahu di mana dia meninggal? Tempat meninggal itu pilihan Allah bukan pilihan manusia. Allah berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوت

“Tidak ada satu jiwa yang mengetahui di bagian bumi mana dia akan meninggal.” (QS. Luqman: 34).

Lalu apa makna hadis di atas?

Al-Mubarakfuri menjelaskan,

(أن يموت بالمدينة) أي يقيم بها حتى يدركه الموت ثمت (فليمت بها) أي فليقم بها حتى يموت فهو حث على لزوم الإقامة بها

“Siapa yang bisa memilih mati di Madinah” maksudnya adalah tinggal di sana, sampai meninggal dunia di Madinah. Sehingga hadis ini berisi motivasi untuk menetap di Madinah.

Kemudian al-Mubarokfuri menukil keterangan at-Tibi,

أمر له بالموت بها وليس ذلك من استطاعته بل هو إلى الله تعالى لكنه أمر بلزومها والإقامة بها بحيث لا يفارقها فيكون ذلك سببا لأن يموت فيها

Perintah meninggal di Madinah, padahal pilihan tempat meninggal di luar pilihan manudia, tapi kembali kepada Allah, sehingga perintah ini adalah perintah untuk tinggal di Madinah, tidak keluar darinya. Dan ini akan menjadi sebab bisa meninggal di Madinah. (Tuhfatul Ahwadzi, 10/286)

Namun bukan berarti semua manusia yang mati di Madinah akan mendapatkan keistimewaan. Di kota Madinah pula, gembong munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal dan di makamkan di Madinah.

Karena bagian bumi yang mulia tidak akan membuat seseorang menjadi suci. Namun orang baik yang meninggal di tempat yang baik akan menjadi semakin baik. Salman  al-Farisi mengatakan,

إِنَّ الْأَرْضَ لاَ تُقَدِّسُ أَحَداً، وَإِنَّمَا يُقَدِّسُ الْإِنْسَانَ عَمَلُهُ

Sesungguhnya bumi tidak akan menjadikan seseorang menjadi suci. Namun yang menyebabkan sucinya seseorang adalah amalnya. (HR. Imam Malik dalam al-Muwatha’, no. 2842)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Makan Upil https://konsultasisyariah.com/29305-hukum-makan-upil.html Fri, 17 Mar 2017 02:26:22 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29305 Makan Upil

Apakah upil najis? Bagaimana hukum makan upil?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Upil dan ipil serta kotoran hidung lainnya tidak najis. Terdapat banyak keterangan para ulama dalam masalah ini. Diantaranya,

[1] Pernyataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

Beliau pernah menyamakan status mani sebagaimana ingus. Artinya keduanya tidak najis.

Dari Ibnu Abbas,

قال في المَنِيِّ يصيب الثوب: “إنما هو بمنزلة النخامة والبزاق أَمِطْه عنك بإذخرة

Beliau menjelaskan tentang mani yang mengenai pakaian, “Itu seperti ingut dan ludah. Kamu bisa hilangkan dengan idzkhir (sejenis rumput).” (HR. ad-Daruquthni dalam Sunannya no. 2 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam Mukhtashar Khalil, ketika penulis menyebutkan benda-benda suci, beliau menyatakan,

والحي ودمعه وعرقه ولعابه ومخاطه…

Binatang halal yang hidup, air matanya, keringatnya, liurnya, ingusnnya… (Mukhtashar Khalil, hlm. 16).

Suci Tapi Kotoran Menjijikkan

Meskipun suci, tapi ingus itu kotoran menjijikkan.

وهو ما يخرج من أنفه. نعم هما من المستقذرات؛ وعليه، فلا تؤثر ملامسة ذلك كثيرًا كان أو قليلاً

Itulah kotoran yang keluar dari hidung. Betul keduanya kotoran (tapi tidak najis, pent.). Karena itu, tidak masalah menyentuhnya, sedikit maupun banyak.

Karena itulah, para ulama melarang memakannya.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

حرمة تناول المخاط: نص الشافعية على حرمة تناول المخاط، قالوا: إن المخاط وإن كان طاهرًا إلا أنه مستقذر، ويحرم تناول الإنسان له؛ لاستقذاره، لا لنجاسته

Haram mengkonsumsi upil. Syafiiyah menegaskan haramnya mengkonsumsi upil. Mereka mengatakan, ‘Upil itu, meskipun suci, namun dia kotor. Dan haram dikonsumsi manusia, karena status kotornya bukan najisnya.’ (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 36/258)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Batas Akhir Waktu Shalat Isya’ https://konsultasisyariah.com/29289-batas-akhir-waktu-shalat-isya.html Mon, 13 Mar 2017 02:17:55 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29289 Akhir Shalat Isya’

Kapan batas akhir waktu isya’… apakah tengah malam atau sampai subuh…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat perintah shalat 5 waktu pada peristiwa isra’ mi’raj, selanjutnya Jibril datang mengajarkan kepada beliau shalat 5 waktu itu. Jibril datang 2 kali. Kedatangan pertama ketika di awal waktu shalat, dan kedatangan kedua di akhir waktu shalat.

Hadisnya cukup panjang. Kita simak bagian yang menyebutkan shalat isya,

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita,

ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى ذَهَبَ الشَّفَقُ فَجَاءَهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الْعِشَاءَ فَقَامَ فَصَلاَّهَا ثُمَّ جَاءَهُ حِينَ سَطَعَ الْفَجْرُ بِالصُّبْحِ… ثُمَّ جَاءَهُ لِلْعِشَاءِ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الأَوَّلِ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الْعِشَاءَ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَهُ لِلصُّبْحِ حِينَ أَسْفَرَ جِدًّا فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الصُّبْحَ ثُمَّ قَالَ « مَا بَيْنَ هَذَيْنِ كُلُّهُ وَقْتٌ »

Kemudian ketika warna merah di ufuk barat telah hilang, Jibril datang, lalu mengatakan, ‘Kerjakanlah shalat isya’.’ Kemudian beliau mengerjakan shalat isya’. Lalu Jibril datang lagi fajar sudah mulai terbit di waktu subuh….

Di hari berikutnya, Jibril datang kepada beliau untuk shalat isya, ketika sudah berlalu sepertiga malam pertama. Beliau mengatakan, ‘Kerjakanlah shalat isya’.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Kemudian datang lagi untuk shalat subuh ketika langit sudah sangat menguning. Beliau mengatakan, ‘Lakukanlah shalat subuh.’ Kemudian beliau mengatakan, “Di antara dua batas ini adalah waktu shalat.” (HR. ad-Daruquthni 1019, Nasai 531, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita,

أَمَّنِى جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ… ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ الآخِرَةَ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى الصُّبْحَ… ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَىَّ جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَذَا وَقْتُ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ. وَالْوَقْتُ فِيمَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ

Jibril – alaihis salam – mengimamiku shalat di ka’bah dua kali…  kemudian beliau shalat isya, ketika telah berlalu 1/3 malam, kemudian shalat subuh… kemudian Jibril mendekatiku, lalu mengatakan, ‘Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para nabi sebelum-mu. Waktu shalat adalah diantara dua rentang waktu tersebut.’ (HR. Turmudzi 149 dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).

Kemudian, dalam hadis lain dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْمَغْرِبَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى أَنْ يَسْقُطَ الشَّفَقُ فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْعِشَاءَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ

Apabila kalian telah shalat maghrib, maka itu waktunya, sampai hilang warna merah di ufuk barat. Lalu setelah kalian shalat isya, itulah waktunya, sampai pertengahan malam. (HR. Muslim 1416).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menjelaskan batasan waktu shalat secara praktek. Dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَخَّرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ، ثُمَّ صَلَّى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya sampai pertengahan malam, kemudian beliau shalat… (HR. Bukhari 572)

Beliau menyebut orang yang menyia-nyiakan shalat adalah mereka yang menunda shalat sampai datang waktu shalat berikutnya. Beliau bersabda,

إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى

Yang dimaksud menyia-nyiakan shalat adalah mereka yang tidak shalat sampai datang waktu shalat berikutnnya… (HR. Muslim 1594 dan Ibnu Hibban 1460).

Berdasarkan beberapa riwayat di atas, ulama berbeda pendapat dalam menentukan batas akhir shalat isya’.

Pertama, waktu akhir shalat isya adalah selama belum masuk waktu subuh. Selama dikerjakan sebelum subuh, shalat isyanya sah dan tidak dikatakan berdosa.

Ini merupakan pendapat Hanafiyah.

Kedua, Waktu shalat isya’ sampai sepertiga atau pertengahan malam. Meskipun jika dikerjakan sebelum subuh, shalat sah tapi makruh.

Ini merupakan pendapat Malikiyah.

Ketiga, waktu isya ada 2,

[1] Waktu ikhtiyari, sejak hilangnya mega merah di ufuk barat sampai sepertiga malam pertama atau tengah malam.

[2] Waktu dharuri, menurut pendapat lain diistilahkan dengan waktu jawaz (toleransi).

Bagi mereka yang berada dalam kondisi normal, bisa melaksanakan shalat isya’ selama waktu ikhtiyari. Dan tidak boleh mengerjakannya di waktu dharuri atau waktu jawaz, kecuali jika ada udzur.

Ini merupakan pendapat Syafi’iyah dan Hambali.

(at-Tarjih fi Masail Thaharah wa Shalat, 132 – 138)

Dalam al-Mustau’ib dinyatakan,

وآخر وقتها المختار ثلث الليل؛ وعنه نصفه، ويبقى وقت الجواز والضرورة إلى طلوع الفجر الثاني

Waktu terakhir shalat isya sampai sepertiga malam. Dan ada riwayat darinya, sampai tengah malam. Dan sisanya waktu jawaz dan dharurat sampai terbit fajar subuh. (al-Mustau’ib, 1/125).

Berdasarkan keterangan di atas, ada beberapa yang bisa kita simpulkan,

[1] Ulama 4 madzhab sepakat bahwa mereka yang shalat isya’ setelah pertengahan malam statusnya ada’ (mengerjakan shalat pada waktunya), dan bukan qadha’ (mengerjakan shalat di luar waktu).

[2] Ulama 4 madzhab sepakat bahwa shalat isya’ setelah pertengahan malam, shalatnya sah.

[3] Mereka berbeda pendapat mengenai status orang yang shalat isya setelah pertegahan malam. Ada yang menyebut itu waktu dharurat, sehingga berlaku dalam kondisi darurat. Ada yang menyebut waktu jawaz (toleransi), sehingga berlaku untuk yang punya udzur. dan ada yang menyebut boleh namun makruh, serta ada yang membolehkan tanpa makruh.

Untuk alasan kesempurnaan ibadah shalat isya, ditekankan agar dikerjakan sebelum pertengahan malam atau sepertiga malam. Dan tidak melebihi waktu pertengahan malam, kecuali jika ada udzur.

Allahu a’lam…

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>