PERTANYAAN PEMBACA – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 26 Aug 2016 09:13:39 +0000 en-US hourly 1 Ukuran Zakat Fitrah https://konsultasisyariah.com/7069-kadar-zakat-fitrah.html https://konsultasisyariah.com/7069-kadar-zakat-fitrah.html#respond Fri, 01 Jul 2016 01:26:34 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=7069 Ukuran Zakat Fitrah per-Orang

Assalamu ‘alaikum. Saya ingin menanyakan berapa kilogram beras untuk kadar zakat fitrah per orangnya? Kalau dalam hitungan liter, berapa? Wassalamu ‘alaikum.

Bambang Aries Wahyudi (bambang**@yahoo.***)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu; beliau mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ – صَلّى اللهُ عَلَيه وَسَلّم صَدَقَةَ الْفِطْرِ عَلَى الذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ ، صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, untuk lelaki dan wanita, orang merdeka maupun budak, berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” (HR. Bukhari 1511 dan Muslim 2327)

Dalam hadis lain, dari Abu Said Al Khudzri radliallahu ‘anhu,

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

“Dulu kami menunaikan zakat fitri dengan satu sha’ bahan makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju atau stu sha’ anggur.” (HR. Bukhari 1506 & Muslim 2330)

Dalam hadis ini, disebutkan secara tegas bahwa kadar zakat fitri adalah satu sha’ bahan makanan.

Apa itu sha’?

Sha’ adalah ukuran takaran bukan timbangan. Ukuran takaran “sha’” yang berlaku di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sha’ masyarakat Madinah. Yang itu setara dengan 4 mud.

Satu mud adalah ukuran satu cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan. Dengan demikian, satu sha’ adalah empat kali cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan.

Mengingat sha’ adalah ukuran takaran, umumnya ukuran ini sulit untuk disetarakan (dikonversi) ke dalam ukuran berat karena nilai berat satu sha’ itu berbeda-beda tergantung berat jenis benda yang ditakar. Satu sha’ tepung memiliki berat yang tidak sama dengan berat satu sha’ beras. Oleh karena itu, yang ideal, ukuran zakat fitri itu berdasarkan takaran bukan berdasarkan timbangan.

Hanya saja, alhamdulillah, melalui kajian para ulama, Allah memudahkan kita untuk menemukan titik terang masalah ukuran ini. Para ulama (Lajnah Daimah, no. fatwa: 12572) telah melakukan penelitian bahwa satu sha’ untuk beras dan gandum beratnya kurang lebih 3 kg.

Ringkasan kadar zakat:

  • 1 sha’ = 4 mud
  • 1 mud = cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan
  • 1 sha’ = 4 kali cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan
  • 1 sha’ beras kurang lebih setara dengan 3 kg beras.
  • 1 sha’ gandum kurang lebih setara dengan 3 kg gandum.

InsyaaAllah, untuk zakat fitrah 3 kg sangat aman. Dan kami sarankan agar dikeluarkan 3 kg. Lebih baik dilebihkan dari pada kurang. Karena jika lebih, kelebihannya menjadi sedekah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Penjelasan yang memudahkan Anda: Kadar zakat fitri, kadar zakat fitrah, cara mudah menghitung kadar zakat fitri, dst.

]]>
https://konsultasisyariah.com/7069-kadar-zakat-fitrah.html/feed 0
Tahajud Setelah Tarawih https://konsultasisyariah.com/6297-tahajud-setelah-tarawih.html https://konsultasisyariah.com/6297-tahajud-setelah-tarawih.html#respond Tue, 07 Jun 2016 01:45:47 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=6297 Tahajud setelah tarawih

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Pada bulan Ramadan, setelah menunaikan shalat tarawih dengan witir, bolehkah melaksanakan shalat tahajud sebelum makan sahur dan ditutup dengan witir juga? Terima kasih.

Budi ks (**budi@***.com)

JAWABAN:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah…

At-Turmudzi dalam sunannya menyebutkan perbedaan ulama mengenai hukum orang yang sudah witir di awal malam, kemudian hendak tahajud di akhir malam.

Pertama, sebagian sahabat dan ulama generasi setelahnya berpendapat, bahwa witir di awal malam harus dibatalkan. Dengan cara, dia shalat 1 rakaat sebagai penggenap dari witir yang dia lakukan di awal malam. Selanjutnya dia bisa shalat tahajud sesuai yang dia inginkan, kemudian witir lagi di akhir malam. Kata Turmudzi, ini adalah pendapat Ishaq bin Rahuyah.

Kedua, ulama lain di kalangan para sahabat dan generasi setelahnya mengatakan, orang yang sudah witir di awal malam kemudian hendak tahajud di akhir malam, maka dia bisa langsung shalat sesuai yang dia inginkan, dan tidak perlu membatalkan witirnya. Hanya saja, dia tidak boleh witir lagi.

Ini adalah pendapat Sufyan at-Tsauri, Imam Malik, Ibnul Mubarok, Imam Syafii, ulama kufah, dan Imam Ahmad.

Kemudian Turmudzi menyimpulkan,

وهذا أصح لأنه روي من غير وجه أن النبي صلى الله عليه و سلم قد صلى بعد الوتر

Pendapat kedua lebih kuat. Karena terdapat beberapa riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat setelah witir. (Sunan at-Turmudzi, 2/318).

Oleh karena itu, diperbolehkan bagi orang yang sudah melaksanakan shalat tarawih untuk menambah shalat malam dengan shalat tahajud. Hanya saja, kami menyarankan dua hal:

Pertama, hendaknya ikut imam sampai selesai, dan jangan pulang sebelum imam melakukan witir. Tujuannya, agar kita mendapatkan keutamaan berupa pahala seperti shalat semalam suntuk. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Abu Dzar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

Siapa saja yang ikut shalat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk.” (HR. Nasai 1605, Turmudzi 811; dan disahihkan Syu’aib al-Arnauth)

Kedua, tidak boleh melakukan witir dua kali. Jika sudah witir bersama imam maka ketika tahajud tidak boleh witir lagi. Ini berdasarkan hadis,

لَا وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ

Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Abu Daud 1441, Nasai 1679; dan disahihkan Syu’aib al-Arnauth)

Dalam Fatwa Lajnah Daimah disebutkan,

“Jika Anda shalat tarawih bersama imam maka yang lebih utama adalah melakukan witir bersama imam, agar mendapatkan pahala sempurna, sebagaimana disebutkan dalam hadis, ‘Barang siapa yang ikut shalat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk.’ (HR. Abu Daud dan Turmudzi). Jika Anda bangun di akhir malam dan ingin menambah shalat maka silakan shalat sesuai keinginan, namun tanpa witir, karena tidak ada witir dalam semalam.” (Fatwa Lajnah Daimah, 6/45).

Bagaimana Cara Mengakhiri Tarawih Bersama Imam?

Ada dua cara:

[1] Anda ikut shalat witir bersama imam sampai selesai, dan nanti tidak witir lagi.

Dr. Shaleh Al-Fauzan mengatakan, “Jika ada orang yang shalat tarawih dan shalat witir bersama imam, kemudian dia bangun malam dan melaksanakan tahajud maka itu diperbolehkan, dan dia tidak perlu mengulangi witir, tetapi cukup dengan witir yang dia laksanakan bersama imam …. Jika dia ingin mengakhirkan witir di ujung malam maka itu diperbolehkan, namun dia tidak mendapatkan keutamaan mengikuti imam. Yang paling utama adalah mengikuti imam dan witir bersama imam. Mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa yang ikut shalat tarawih berjamaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk.’ Hendaknya dia mengikuti imam, witir bersama imam, dan jangan jadikan ini penghalang untuk bangun di akhir malam dalam rangka tahajud.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Shaleh Al-Fauzan, 1:435)

[2] Ketika imam salam pada saat shalat witir, Anda berdiri dan menggenapkannya dengan satu rakaat, sehingga Anda belum dianggap melakukan witir. Kemudian, di akhir malam, Anda bisa shalat tahajud dan melakukan witir.

Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin menjelaskan,

“Apabila orang yang hendak shalat tahajud mengikuti imam dalam shalat witir maka hendaknya dia genapkan, dengan dia tambahkan satu rakaat. Ini adalah salah satu cara untuk orang yang hendak tahajud. Dia ikut imam dalam shalat witir dan dia genapkan rakaatnya dengan menambahkan satu rakaat, sehingga shalatnya yang terakhir di malam hari adalah shalat witir …. Dengan demikian, dengan cara ini, dia akan mendapatkan dua amal: mengikuti imam sampai selesai dan dia juga mendapatkan sunah menjadikan akhir shalat malam dengan shalat witir. Ini adalah satu amal yang baik.” (Syarhul Mumthi’, 4/65–66)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
https://konsultasisyariah.com/6297-tahajud-setelah-tarawih.html/feed 0
Doa Mandi Junub https://konsultasisyariah.com/5634-doa-mandi-junub.html https://konsultasisyariah.com/5634-doa-mandi-junub.html#respond Sat, 04 Jun 2016 01:23:21 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=5634 Doa Mandi Junub

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Doa apa yang harus dibaca ketika mandi junub? Selama ini saya hanya membaca basmalah saja. Mohon penjelasannya. Terimakasih atas jawabannya.

Rosmiati (rosmiati**@yahoo.***)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Kami tidak mengetahui adanya doa apapun baik sebelum maupun sesudah mandi junub.

Yang ada adalah membaca basmalah sebelum mandi.

Ulama berbeda pendapat, apakah ada anjuran untuk membaca basmalah sebelum mandi junub?

Terdapat sebuah hadis dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah (membaca basmalah) sebelum wudhu.”

Status hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad 11371, Ibnu Majah 429, dan yang lainnya. Dan ulama berbeda pendapat dalam menilai hadis ini. Sebagian ulama menilainya sebagai hadis hasan. Seperti al-Albani. Dan ulama lain menilainya dhaif. Karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Rubaih bin Abdurrahman dan Katsir bin Zaid yang statusnya dhaif jika sendirian.

(Ta’liqat Musnad Ahmad, 17/464).

Bagi ulama yang menshahihkan hadis ini, mereka berbeda pendapat, apakah hukum membaca basmalah sebelum mandi junub?

Pertama, sebagian ulama berpendapat bahwa membaca basmalah hukumnya wajib, baik ketika wudhu, mandi, maupun tayamum.

Ini adalah pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat, pendapat Abu Bakr, Hasan al-Bashri, dan Ishaq bin Rahuyah.

Kedua, basamalah hukumnya anjuran dalam semua kegiatan mensucikan diri dari hadats. Baik wudhu, mandi, maupun, tayammum.

Ini merupakan pendapat Imam Ahmad menurut riwayat yang masyhur. Al-Khallal mengatakan,

الذي استقرت الروايات عنه أنه لا بأس به يعني إذا ترك التسمية

Riwayat-riwayat yang shahih dari Imam Ahmad, bahwa tidak membaca basamalah hukumnya boleh. (al-Mughni, 1/114)

Dan ini pendapat at-Tsauri, Imam Malik, Imam as-Syafii, Abu Ubaid bin Sallam, Ibnul Mundzir, dan ulama Kufah. (al-Mughni, 1/114)

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa membaca basmalah tidak wajib ketika mandi, karena mandi junub tidak sebagaimana wudhu.

Jika kita mengambil pendapat mayoritas ulama, maka di sana ada anjuran untuk membaca basmalah sebelum mandi. Dan boleh saja orang menyebutnya sebagai doa mandi junub.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
https://konsultasisyariah.com/5634-doa-mandi-junub.html/feed 0
Keutamaan Malam Nisfu Syaban https://konsultasisyariah.com/5541-shalat-nishfu-syaban.html Fri, 20 May 2016 09:35:39 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=5541 Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Apakah shalat “nishfu Sya’ban” itu ada dan sesuai dengan Sunah? Saya sering mendengar adanya pelaksanaan shalat tersebut secara berjemaah, biasanya dalam rangka menyambut Ramadhan. Jazakallahu khairan.

Arya (dwiarya**@***.com)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran di malam yang berkah, dan sesungguhnya Kami yang memberi peringatan. () Di malam itu diturunkan setiap takdir dari Yang Maha Bijaksana.” (QS. Ad-Dukkhan: 3 – 4).

Diriwayatkan dari Ikrimah – rahimahullah – bahwa yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam nisfu syaban. Ikrimah mengatakan:

أن هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان ، يبرم فيها أمر السنة

Sesungguhnya malam tersebut adalah malam nisfu syaban. Di malam ini Allah menetapkan takdir setahun. (Tafsir Al-Qurtubi, 16/126).

Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa malam yang disebutkan pada ayat di atas adalah lailatul qadar dan bukan nisfu syaban. Sebagaimana keterangan Ibnu Katsir, setelah menyebutkan ayat di atas, beliau mengatakan:

يقول تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة ، وهي ليلة القدر كما قال عز وجل :{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر} وكان ذلك في شهر رمضان، كما قال: تعالى: { شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }

Allah berfirman menceritakan tentang Al-Quran bahwa Dia menurunkan kitab itu pada malam yang berkah, yaitu lailatul qadar. Sebagaimana yang Allah tegaskan di ayat yang lain, (yang artinya); “Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran di lailatul qadar.” Dan itu terjadi di bulan ramadhan, sebagaimana yang Allah tegaskan, (yang artinya); “Bulan ramadhan, yang mana di bulan ini diturunkan Al-Quran.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/245).

Selanjutnya Ibnu Katsir menegaskan lebih jauh:

ومن قال : إنها ليلة النصف من شعبان -كما روي عن عكرمة-فقد أبعد النَّجْعَة فإن نص القرآن أنها في رمضان

Karena itu, siapa yang mengatakan, yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam nisfu syaban – sebagaimana riwayat dari Ikrimah – maka itu pendapat yang terlalu jauh, karena nash Al-Quran dengan tegas bahwa malam itu terjadi di bulan ramadhan. (Tafsir Ibn Katsir, 7/246).

Dengan demikian, pendapat yang kuat tentang malam yang berkah, yang disebutkan pada surat Ad-Dukhan di atas adalah lailatul qadar di bulan ramadhan dan bukan malam nisfu Syaban. Karena itu, ayat dalam surat Ad-Dukhan di atas, tidak bisa dijadikan dalil untuk menunjukkan keutamaan malam nisfu Syaban.

Hadis seputar nisfu syaban

Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan nisfu syaban. Ada yang shahih, ada yang dhaif, bahkan ada yang palsu.

Berikut beberapa hadis tentang nisfu syaban yang tenar di masyarakat;

Pertama,

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Keterangan:

Hadits di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Hadits dengan redaksi di atas adalah hadits maudhu’ (palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya muttaham bil kadzib (tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.”[ Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132]

Kedua,

Riwayat dari A’isyah, bahwa beliau menuturkan:

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافعا رأسه إلى السماء فقال: “أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله” فقلت يا رسول الله ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال: ” إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

Aku pernah kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian aku keluar, ternyata beliau di Baqi, sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi bertanya; “Kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menipumu?” (maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi jatah Aisyah). Aisyah mengatakan: Wahai Rasulullah, saya hanya menyangka anda mendatangi istri yang lain. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam nisfu syaban, kemudian Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba bani kalb.”

Keterangan:

Hadis ini diriwayatkan At-Turmudzi, Ibn Majah dari jalur Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. At-Turmudzi menegaskan: “Saya pernah mendengar Imam Bukhari mendhaifkan hadis ini.” Lebih lanjut, imam Bukhari menerangkan: “Yahya tidak mendengar dari Urwah, sementara Hajaj tidak mendengar dari Yahya.” (Asna Al-Mathalib, 1/84).

Ibnul Jauzi mengutip perkataan Ad-Daruquthni tentang hadis ini:

“Diriwayatkan dari berbagai jalur, dan sanadnya goncang, tidak kuat.” (Al-Ilal Al-Mutanahiyah, 3/556).
Akan tetapi hadis ini dishahihkan Al-Albani, karena kelemahan dalam hadis ini bukanlah kelemahan yang parah, sementara hadis ini memiliki banyak jalur, sehingga bisa terangkat menjadi shahih dan diterima. (lihat Silsilah Ahadits Dhaifah, 3/138).

Ketiga,

Hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Keterangan:

Hadis ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadis dishahihkan oleh Imam Al-Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadits Shahihah, no. 1144. Beliau menilai hadis ini sebagai hadis shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadis ini sebagai hadis lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadis yang menyebutkan tentang keutamaan nisfu syaban sebagai hadis dhaif.

Sikap ulama terkait nisfu syaban

Berangkat dari perselisihan mereka dalam menilai status keshahihan hadis, para ulama berselisish pendapat tentang keutamaan malam nisfu Syaban. Setidaknya, ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut ini rinciannya:

Pendapat pertama: Tidak ada keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban.

Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al-Hafizh Abu Syamah mengatakan, “Al-Hafizh Abul Khithab bin Dihyah, dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban, mengatakan, ‘Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satu pun hadis sahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban.”” (Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hlm. 33)

Dalam nukilan yang lain, Ibnu Dihyah mengatakan:

لم يصح في ليلة نصف من شعبان شيء ولا نطق بالصلاة فيها ذو صدق من الرواة وما أحدثه إلا متلاعب بالشريعة المحمدية راغب في زي المجوسية

“Tidak ada satupun riwayat yang shahih tentang malam nisfu syaban, dan para perowi yang jujur tidak menyampaikan adanya shalat khusus di malam ini. Sementara yang terjadi di masyarakat berasal dari mereka yang suka mempermainkan syariat Muhammad yang masih mencintai kebiasaan orang majusi (baca: Syiah). (Asna Al-Mathalib, 1/84)

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz. Beliau mengingkari adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At-Tahdzir min Al-Bida’, hlm. 11)

Pendapat kedua: Ada keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban.

Para ulama yang menilai shahih beberapa dalil tentang keutamaan nisfu syaban, mereka mengimaninya dan menegaskan adanya keutamaan malam tersebut. Diantara hadis pokok yang mereka jadikan landasan adalah hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari;

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (H.R. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Diantara jajaran ulama ahlus sunah yang memegang pendapat ini adalah ahli hadis abad ini, Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Bahkan beliau menganggap sikap sebagian orang yang menolak semua hadis tentang malam nisfu syaban termasuk tindakan yang gegabah. Setelah menyebutkan salah satu hadis tentang keutamaan malam nisfu syaban, Syaikh Al-Albani mengatakan:

فما نقله الشيخ القاسمي رحمه الله تعالى في ” إصلاح المساجد ” (ص 107) عن أهل التعديل والتجريح أنه ليس في فضل ليلة النصف من شعبان حديث صحيح، فليس مما ينبغي الاعتماد عليه، ولئن كان أحد منهم أطلق مثل هذا القول فإنما أوتي من قبل التسرع وعدم وسع الجهد لتتبع الطرق على هذا النحو الذي بين يديك. والله تعالى هو الموفق

Keterangan yang dinukil oleh Syekh Al-Qosimi –rahimahullah– dalam buku beliau; ‘Ishlah Al-Masajid’ dari beberapa ulama ahli hadis, bahwa tidak ada satupun hadis shahih tentang keutamaan malam nisfu syaban, termasuk keterangan yang tidak layak untuk dijadikan sandaran. Sementara, sikap sebagian ulama yang menegaskan tidak ada keutamaan malam nisfu syaban secara mutlak, sesungguhnya dilakukan karena terlalu terburu-buru dan tidak berusaha mencurahkan kemampuan untuk meneliti semua jalur untuk riwayat ini, sebagaimana yang ada di hadapan anda. Dan hanyalah Allah yang memberi taufiq. (Silsilah Ahadits Shahihah, 3/139)

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syekhul Islam mengatakan, “… Pendapat yang dipegang mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Mazhab Hanbali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para shahabat dan tabi’in ….” (Majmu’ Fatawa, 23/123)

Ibnu Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dahulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu ….” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 247)

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

Pertama, malam nishfu syaban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadis, sebagaimana yang telah disebutkan. Meskipun sebagian ulama menyebut hadis ini hadis yang dhaif, namun, insya Allah yang lebih kuat adalah penilaian Syekh Al-Albani, yaitu bahwa hadis tersebut berstatus sahih.

Kedua, belum ditemukan satu pun riwayat yang shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika nishfu Syaban, baik berupa puasa atau shalat. Hadis shahih tentang malam nisfu syaban hanya menunjukkan bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam nishfu sya’ban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu. Karena itu, praktek sebagian kaum muslimin yang melakukan shalat khusus di malam itu dan dianggap sebagai shalat malam nisfu syaban adalah anggapan yang tidak benar.

Ketiga, Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan banyak beribadah? Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam nishfu Sya’ban untuk beribadah adalah bid’ah.

Keempat, Ulama yang memperbolehkan memperbanyak amal di malam nishfu Sya’ban menegaskan bahwa tidak boleh mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam nisfu syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam nishfu Sya’ban. Untuk itu, menurut pendapat ini, seseorang diperbolehkan memperbanyak ibadah secara mutlak, apa pun bentuk ibadah tersebut.

Allahu a’lam

Artikel terkait: Malam Nisfu Syaban, Catatan Amal Ditutup?

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Workshop Fikih Harta Keluarga KonsultasiSyariah.com https://konsultasisyariah.com/26690-workshop-fikih-harta-keluarga-konsultasisyariah-com.html Wed, 06 Apr 2016 10:13:20 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=26690 Workshop Fiqh Harta Keluarga

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu sumber perbincangan dalam keluarga adalah keuangan dalam keluarga. Baik terkait nafkah keluarga, hibah untuk anak, hadiah untuk keluarga, zakat keluarga, sampai masalah wasiat dan warisan.

Allah telah mengatur semua itu, untuk menjadi aturan bagi umat manusia. Sebagai muslim, tentu kita menghendaki agar setiap masalah dalam keluarga dan lingkugan kita, dikembalikan kepada aturan yang Allah turunkan.

Untuk memahami lebih dalam tentang semua keuangan dalam keluarga, Yufid Edu Learning Center menyajikan untuk anda Workshop Fiqh Harta Keluarga.

Berikut rincian materi dan pemateri:

  • Jumlah jam belajar : 7 jam/hari
  • Jumlah materi         : 8 Materi
  • Pemateri                 : Ust. Aris Munandar, MPI.; Ust. Nurcholis Majid, Lc. ; Ammi Nur Baits
  • Hari/ tanggal           : Sabtu – Ahad, 14 – 15 Mei 2016
  • Penyelenggaran       : Yufid.Edu
  • Lokasi                     : Asrama Haji Yogyakarta (Tentatif)

Kurikulum Materi Fikih Harta Keluarga:

Pengantar ilmu waris

  • – Dasar hukum warisan
  • – Mengenal urutan harta yang harus diselesaikan ketika seseorang meninggal
  • – Kapan warisan dibagi?
  • – Mengenal gono-gini
  • – Sebab-sebab orang mendapat warisan
  • – Pembagian keluarga berdasarkan warisan
  • – Mengenal ahli waris khusus: orang hilang, janin, banci
  • – Hukum seputar anak angkat
  • – Mengenal sebab mahjub (penghalang warisan)
  • – Cara sederhana menghitung warisan
  • – Munasakhat (kasus warisan belum dibagi sampai ada ahli waris yang meninggal)

Wasiat

  • – Mengenal wasiat
  • – Macam-macam wasiat: harta vs pesan moral sebelum meninggal
  • – Mengenal Wasiat wajib
  • – Antara wasiat dan warisan
  • – Ahli waris tidak berhak dapat warisan

Nafkah Keluarga

  • – Siapa yang wajib menanggung nafkah keluarga
  • – Bila istri berpenghasilan
  • – Batasan nafkah, apa saja yang masuk cakupan nafkah: kebutuhan pokok, jaminan kesehatan, pendidikan.
  • – Melunasi utang, apakah termasuk nafkah?
  • – Siapa yang wajib dinafkahi?

Hibah

  • – Rukun dan syarat hibah
  • – Taqabudh dalam hibah
  • – Menyerahkan seluruh harta
  • – Hibah tidak boleh ditarik kembali
  • – Hibah yang boleh ditarik kembali
  • – Aturan hibah kepada anak

Hadiah

  • – Pengertian hadiah
  • – Beda hadiah dg hibah

Wakaf

  • – Pengertian waqaf
  • – Kapan wakaf terhitang sah dan mengikat
  • – Wakaf harta yang masih sengketa
  • – Wakaf mutlak
  • – Wakaf ketika mendekati kematian
  • – Mengganti harta wakaf

Aturan utang piutang

  • – Motivasi berbeda: Kreditor dan Debitor
  • – Aturan Utang Macet
  • – Doa melunasi utang
  • – Kaidah dalam Menagih Utang
  • – Utang dalam keluarga

Zakat Mal dan perdagangan

  • – Syarat dan rukun zakat mal
  • – Cara sederhana menghitung zakat mal
  • – Zakat harta keluarga bercampur

Jadwal Pelatihan

jadwal workshop konsultasi syariah

Siapa Pemateri?

Workshop Fiqh Harta Keluarga kali ini akan diampu oleh 3 pemateri, yang semuanya adalah kontributor yufid atau web Konsultasi Syariah.com. Ketiga pemateri itu adalah

[1] Ust. Aris Munandar, MPI.

Saat ini beliau sedang menempuh Program doktoral di UIN SUKA Yogyakarta. Beliau termasuk pembina KPMI pusat dan yufid.TV. Beliau juga salah satu pengasuh Pesantren Hamalatul Qur’an, Bantul. Di forum kajian sekitar UGM, beliau lebih banyak membidangi ilmu fikih dan ushul fikih.

[2] Ust. Nurcholis Majid, Lc.

Beliau alumni LIPIA Jakarta. Ketika di Jogja, beliau mengajar di Islamic Center Bin Baz untuk mata pelajaran Ilmu Faraidh bagi kelas III Aliyah. Beliau pernah menjadi kontributor untuk artikel konsultasi seputar warisan di web Konsultasi Syariah.com.

[3] Ust. Ammi Nur Baits

Salah satu pembina dan kontributor Yufid.TV. dan pengasuh utama KonsultasiSyariah.com

Siapa Peserta Workshop?

Workshop ini terbuka untuk semua muslim, berakal, dan sudah baligh. Baik yang sudah berkeluarga maupun yang menjelang berkeluarga. Baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Baik di yogyakarta maupun luar Yogyakarta.

Kapan dan Dimana Workshop dilaksanakan?

Workshop akan diselenggarakan selama dua hari, Sabtu – Ahad, pada tanggal 14 – 15 Mei 2016.

Dengan rentang waktu efektif belajar selama 7 jam sehari. Dari mulai jam 08.00 sampai jam 16.00.

Dan ini adalah Workshop Fiqh Harta Keluarga bersama Yufid Edu angkatan pertama.

Berapa Biaya mengikuti Workshop ini?

Setiap peserta Workshop dibebankan biaya Rp 600.000/peserta.

Bagi yang menghendaki penginapan, akan ada biaya tambahan.

Biaya tersebut termasuk: Modul Pelajaran, Training Kit, Sertifikat, Makan siang dan snack (tidak termasuk penginapan).

Panitia menyediakan penginapan untuk keluarga maupun individu. Bagi yang menghendaki penginapan keluarga, harap menyebutkan jumlah anggota keluarga yang disertakan.

Cara Pendaftaran:

Hubungi Tim Workshop Fiqh Harta Keluarga:

Rahmat Purwanto: +62 813-2610-3715 (SMS & WA)

Untung: +62 818-222-313 (SMS & WA)

Pembayaran :

Bisa melalui transfer via rekening

  1. BNI SYARIAH: 0381346658 a.n. YUFID NETWORK YAYASAN
  2. BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  3. Bank Central Asia (BCA): 4564807232 a.n : Hendri Syahrial SE*

*NB: rekening BCA untuk memudahkan bagi Anda yang ingin transfer via BCA.

Selanjutnya, jangan lupa mengirim konfirmasi pembayaran via SMS/WA ke:

Rahmat Purwanto  +62 813-2610-3715

Untung +62 818-222-313

Dengan format:

Nama/WFHK /asal/jenis kelamin/jenis bank

Misal:

Muhammad/ WFHK/Jakarta/laki/BSM

Demikian,

Semoga Allah memberkahi kita semua…

]]>
Menggabungkan Puasa Syawal dengan Puasa Senin-kamis https://konsultasisyariah.com/7513-menggabungkan-puasa-syawal-dengan-puasa-senin-kamis.html https://konsultasisyariah.com/7513-menggabungkan-puasa-syawal-dengan-puasa-senin-kamis.html#respond Sat, 25 Jul 2015 01:40:53 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=7513 Menggabungkan Puasa Syawal dengan Puasa Senin Kamis

Assalamulaikum,

Bolehkah menggabungkan niat puasa syawal dengan puasa senin-kamis ? Terima kasih

Kang Bagus

Jawab:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah,

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dilihat dari latar belakang disyariatkannya ibadah, para ulama membagi ibadah menjadi dua,

Pertama, ibadah yang maqsudah li dzatiha, artinya keberadaan ibadah merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut. Sehingga ibadah ini harus ada secara khusus. Semua ibadah wajib, shalat wajib, puasa wajib, dst, masuk jenis pertama ini.

Termasuk juga ibadah yang disyariatkan secara khusus, seperti shalat witir, shalat dhuha, dst.

Termasuk jenis ibadah ini adalah ibadah yang menjadi tabi’ (pengiring) ibadah yang lain. Seperti shalat rawatib. Dan sebagian ulama memasukkan puasa 6 hari bulan syawal termasuk dalam kategori ini.

Kedua, kebalikan dari yang pertama, ibadah yang laisa maqsudah li dzatiha, artinya keberadaan ibadah itu bukan merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut. Tujuan utamanya adalah yang penting amalan itu ada di kesempatan tersebut, apapun bentuknya.

Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui apakah ibadah ini termasuk maqsudah li dzatiha ataukah laisa maqsudah li dzatiha, adalah dengan memahami latar belakang dari dalil masing-masing ibadah.

(Liqa’ al-Bab al-Maftuh, Ibnu Utsaimin, volume 19, no. 51).

Kita akan lihat contoh yang diberikan ulama untuk lebih mudah memahaminya.

Contoh pertama, shalat tahiyatul masjid.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ، فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

Apabila kalian masuk masjid, jangan duduk sampai shalat 2 rakaat. (HR. Bukhari 1163)

Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar kita shalat 2 rakaat setiap kali masuk masjid sebelum duduk. Artinya, yang penting jangan langsung duduk, tapi shalat dulu. Tidak harus shalat khusus tahyatul masjid. Bisa juga shalat qabliyah atau shalat sunah lainnya. Meskipun boleh saja jika kita shalat khusus tahiyatul masjid.

Dari sini, shalat keberadaan ibadah shalat tahiyatul masjid itu bukan merupakan tujuan utama. Tapi yang penting ada amal, yaitu shalat 2 rakaat ketika masuk masjid. Apapun bentuk shalat itu.

 

Contoh kedua, puasa senin-kamis

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengapa beliau rajib puasa senin kamis, beliau mengatakan,

ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Di dua hari ini (senin – kamis), amalan dilaporkan kepada Allah, Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amalku dilaporkan, saya dalam kondisi puasa. (HR. Ahmad 21753, Nasai 2358, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Dalam hadis ini, siapapun yang melakukan puasa di hari senin atau kamis, apapun bentuk puasanya, dia mendapatkan keutamaan sebagaimana hadis di atas. Amalnya dilaporkan kepada Allah, dalam kondisi dia berpuasa. Baik ketika itu dia sedang puasa wajib, atau puasa sunah lainnya. Meskipun boleh saja ketika dia melakukan puasa khusus di hari senin atau kamis.

Menggabungkan Niat Dua Ibadah

Para ulama menyebutnya ”at-Tasyrik fin Niyah” atau ”Tadakhul an-Niyah” (menggabungkan niat).

Terdapat kaidah yang diberikan para ulama dalam masalah menggabungkan niat,

إذا اتحد جنس العبادتين وأحدهما مراد لذاته والآخر ليس مرادا لذاته؛ فإن العبادتين تتداخلان

Jika ada dua ibadah yang sejenis, yang satu maqsudah li dzatiha dan satunya laisa maqsudah li dzatiha, maka dua ibadah ini memungkinkan untuk digabungkan. (’Asyru Masail fi Shaum Sitt min Syawal, Dr. Abdul Aziz ar-Rais, hlm. 17).

 

Dari kaidah di atas, beberapa amal bisa digabungkan niatnya jika terpenuhi 2 syarat,

Pertama, amal itu jenisnya sama. Shalat dengan shalat, atau puasa dengan puasa.

Kedua, ibadah yang maqsudah li dzatiha tidak boleh lebih dari satu. Karena tidak boleh menggabungkan dua ibadah yang sama-sama maqsudah li dzatiha.

Menggabungkan Niat Puasa Syawal dengan Senin Kamis

Dari keterangan di atas, puasa syawal termasuk ibadah maqsudah li dzatiha sementara senin kamis laisa maqsudah li dzatiha.

Sehingga niat keduanya memungkinkan untuk digabungkan. Dan insyaaAllah mendapatkan pahala puasa syawal dan puasa senin kamis.

Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (Muttafaq ’alaih)

Karena dia menggabungkan kedua niat ibadah itu, mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel www.KonsultasiSyariahcom

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
]]>
https://konsultasisyariah.com/7513-menggabungkan-puasa-syawal-dengan-puasa-senin-kamis.html/feed 0
Flash Disk Kajian MP3 dan Video Khotbah Jumat https://konsultasisyariah.com/21826-flash-disk-kajian-mp3-video-khotbah-jumat.html Wed, 12 Feb 2014 07:30:30 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=21826 Flash Disk Kajian MP3 dan Video Khutbah Jumat

Yufid store menyediakan Flash Disk kajian mp3

Konten : Ratusan kajian mp3 + 8 khutbah Jumat Yufid TV

Ukuran : 16 GB

Kajian mp3 disusun berdasarkan 4 tingkatan:

1. Tingkatan pemula
2. Tingkatan Menengah I
3. Tingkatan Menengah II
4. Tingkat Lanjutan

Kajian di masing-masing tingkatan, telah disesuaikan, sebagaimana yang disebutkan dalam kurikilum kajian.
Untuk pemesanan, hubungi: store.yufid.com

SMS: 0813 2633 3328
BB: 2ABA93E4

Berikut kurikulum kajian mp3:

Kurikulum Kajian.net dan Tingkatan Kajian

Tingkat Pemula

No

Tema

Pembahasan

Pembicara

Jml Pertemuan

1 Tauhid Tauhid Firanda

3

Macam2 Syirik &Keutamaan Tauhid Abdullah Hadrami

1

2 Aqidah Iman Kepada AllahIman kepada Hari AkhirIman Kepada Malaikat

Iman Kepada para Rosul

Iman Pada Hari Kebangkitan, Hisab

Iman Kepada Adzab Kubur

Yazid Jawas 

 

7

Iman kepada Taqdir Dzulkarnaen

3

3 Manhaj Ahlus Sunnah Wal JamaahJalan Golongan yang Selamat Yazid Jawas

6

4 Tafsir Kajian Tafsir (ber-seri) Abdullah Zaen

1 – 5 // 7 – 14

5 Hadis Hadits Arbain No 1 Firanda

3

Hadits Arbain No 2 Abdullah Hadrami

9

6 Fiqh Sifat Wudhu Nabi Yazid

1

Pembatal Wudhu

1

Sifat Sholat Nabi

8

Tayammum Abu Haidar

5

Mandi Wajib & Hukum Junub Abu Haidar

10

7 Fiqh Wanita Seputar Haidh dan Nifas Abu Qatadah

2

8 Keluarga Baiti Jannati, Keluargaku Surgaku Abu Zubeir

1

9 Siroh Siroh Nabawiyah Firanda

22

10 Suplemen Keutamaan Menuntut Ilmu Yazid Jawas

1

11 Tanya jawab Tanya Jawab Aris Munandar

16

Tingkat Menengah I

No

Tema

Pembahasan

Pembicara

Jml Pertemuan

1 Tauhid Makna dan Pengertian Syahadatain Yazid Jawas 1
Mengenal Makna Laa Ilaaha Illallah Ari Wahyudi 1
2 Aqidah Penjelasan Rukun Iman (Syarah Ushul Iman) Abdullah Hadrami 11
3 Manhaj Ilmu, Amal, Dakwah & Istiqomah Yazid Jawas 5
Mulia dengan Manhaj Salaf 1
4 Tafsir Tafsir Al Qur’an Firanda 2
Tafsir As-Saffat[99-113] (Sejarah Qurban) Abdullah Hadrami 1
5 Hadis Hadits Arbain No 3 Abdullah Hadrami 10
Arbain Nawawi no. 7 Abdullah Zaen 1
Arbain Nawawi no. 12 Abdullah Zaen 1
6 Fiqh Puasa, Pembatal-Pembatal Puasa, Mengqadha Puasa, Puasa Sunnah, I’tikaf Dzulkarnaen 1
Sifat Puasa Nabi Yazid Jawas 1
Hukum Seputar Hari Raya Ahmad Sabiq 7
7 Fiqh Wanita Tujuh Larangan Syariat Bagi Wanita Yazid Jawas 1
8 Keluarga Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari Neraka Yazid Jawas 1
9 Siroh Jadilah Seperti Mereka (Para Sahabat) Abu Zubeir 2
10 Suplemen Untukmu Yang Berjiwa Hanif Armen Halim Naro 2
11 Tanya jawab Tanya Jawab Firanda 10

 Tingkat Menengah II

No

Tema

Pembahasan

Pembicara

Jml Pertemuan

1 Tauhid Perdukunan, Sihir, Peramal & Jimat Abdullah Hadrami

1

Bahaya Jimat Ari Wahyudi

1

Al Quran bukan untuk jimat Abdul Hakim Amir Abdat

1

Ruqyah Syariyyah Abu Zubaer

5

2 Aqidah Muqodimah Memahami Asma was Shifat Firanda

1

Fiqih Asmaul Husna Abdullah Taslim

40

Istiwanya Allah, Hakikat & Syubhat Firanda

2

3 Manhaj Manhaj Ahlussunnah Dalam Bertauhid Ahmad Sabiq

4

6 Prinsip Dasar Ahlussunnah

3

4 Tafsir Tafsir Al Qur’anul Qarim Muhammad Nur Ihsan

1

5 Hadis Wasiat Nabi Kpd Ibnu Abbas (Arbain no 19) Yazid Jawas

3

Wasiat Perpisahan (Arbain no 27)

2

6 Musthalah Hadis Ilmu Musthalah Hadits Badrussalam

1 – 8 // 18 – 50

7 Fiqh Kemuliaan Syariat Zakat Arifin Baderi

1

Harta yg Wajib di Zakati Abdullah Hadrami

1

Golongan yg Berhak Menerima Zakat Abdullah Hadrami

1

Zakat Fitri Abu Ihsan Al-Atsary

1

8 Ushul Tafsir Pengenalan Ilmu Tafsir Abdullah Hadrami

4

9 Fiqh Wanita Kesalahan Wanita dalam berpakaian Abdullah Hadrami

1

10 Keluarga Nikah A-Z Ahmad Sabiq

12

11 Muamalah Kaidah Dasar Jual Beli dalam Islam Ahmad Sabiq

3

12 Siroh Sejarah Sahabat Abdurrahman Attamimi

3

13 Suplemen (raqa-iq) Hakikat Kehidupan Dunia Abu Zubeir

1

14 Tanya jawab Tanya Jawab Yazid Jawas

22

Tingkatan Atas

No

Tema

Pembahasan

Pembicara

Jml Pertemuan

1 Tauhid Prinsip Ahlussunnah dalam Memahami Takdir Abdullah Taslim

1

Aqidah Imam Syafi’i Abu Ubaidah Yusuf

3

2 Aqidah Hakikat Agama Syiah Yazid Jawas

3

Hakikat Agama Tasawuf

2

3 Manhaj Mengapa Memilih Manhaj Salaf Ahmad Sabiq

12

4 Tafsir Tafsir Ayat Hukum- pendahuluan Dzulkarnaen

3

Tafsir Ayat Hukum 1 – 10

10

5 Ushul Tafsir Kaidah Dalam Tafsir Abdullah Zaen

7

6 Hadis Hadits Arbain Nawawi no. 31 – 35 Abdullah Hadrami

5

Syarh Hadis Arbain Nawawi

20

7 Fiqh Penentuan Ramadhan dan Hari Raya Arifin Badri

1

Kewajiban Haji dan Permasalahannya Yazid Jawas

2

Benarkah Cara Anda Bermadzab Ahmad Sabiq

2

8 Ushul Fiqh Ushul Fiqh Abdurrahman Thayyib

7

Menyikapi Ikhtilaf Ulama Ahmad Sabiq

1

9 Mustholah Hadis Mustholah Hadits (Nukhbatul Fikr) Abdullah Taslim

5

10 Fiqh Wanita Wanita, Ilmu dan Rumah Tangga Abu Zubeir

2

Menjadi Wanita Paling Bahagia Abu Umar Basyier

3

11 Muamalah Mengenal Kerjasama Dagang Dalam Islam Arifin Badri

1

Pembahasan Tuntas Masalah Riba

1

Kejelasan Status Dalam Jual Beli

1

12 Keluarga Kajian Keluarga Sakinah Arif Fathul Ulum

31

Bahasan Lengkap Seputar Aqiqah

1

13 Siroh Kisah Abu Bakar As-Siddiq Abdurrahman Attamini

1

14 Suplemen Kiat Ikhlas Abdullah Taslim

1

Merasakan Kelezatan Iman

1

15 Tanya jawab Tanya Jawab Yazid Jawaz

10

 

]]>
Flashdisk Paket Video Kajian Yufid.TV https://konsultasisyariah.com/21633-flashdisk-paket-video-kajian-yufid-tv-advertorial.html Wed, 22 Jan 2014 08:13:24 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=21633 Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Yufid store menyediakan Paket video kajian,

Bentuk            : Flashdisk

Ukuran            : 32 GB

Isi                    : 115 Video Taushiyah Yufid.TV

Harga              : Rp 350.000; (belum termasuk ongkir).

Untuk pemesanan, hubungi store.yufid.com

SMS: 0813 2633 3328

BB: 2ABA93E4

Semoga bermanfaat…

Paket flashdisk video kajian islam dari yufid.tv mempermudah Anda untuk mengoleksi video kajian-kajian dakwah. Tidak harus bersusah payah mendownload di internet.  Dan mudah dibawa kemana-mana.

Flashdisk yang berisi kumpulan video kajian ini memiliki kualiatas gambar bagus.

DAFTAR ISI VIDEO

1. Adab Ketika Hujan – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
2. Adakah Bid’ah Hasanah – Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.
3. Agar Buah Hati Menjadi Anak yang Berbakti – Ust. Zainal Abidin, Lc.
4. Agar Ibadah dan Amal Tidak Sia-Sia, Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
5. Agar Ibadah Terasa Ringan dan Mudah – Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M.Hi.
6. Agar Rezeki Selalu Lancar dan Bertambah – Ust Abu Yahya Badrusalam, Lc.
7. Akhlak Islam dalam Memuliakan Tamu – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.
8. Allah Tinggi di Atas MakhlukNya – Ustadz Lalu Ahmad Yani
9. Anda Tidak Pernah Sendiri – Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Lc.
10. Andai Aku Jadi Orang Kaya – Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc.
11. Antara Dukun Asli dan Dukun Palsu – Ustadz Firanda Andirja, M.A.
12. Antara Puasa dan Korupsi – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
13. Antara Tawakal dan Ikhtiar – Ustadz Firanda Andirja, M.A.
14. Apa Cita-citamu Nak – Ustadz Badrusalam, Lc.
15. Awas Dosa Jariyah – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
16. Ayo Sholat Jamaah (Keutamaan dan Anjuran Sholat Jamaah) – Ustadz Badrusalam, Lc.
17. Bacaan Dzikir Setelah Sholat – Ustadz Abdurrahman Thoyib, Lc.
18. Bagai Gelombang di Lautan – Ustadz Badrusalam, Lc.
19. Bahagia dengan Membahagiakan Orang Lain – Ustadz Firanda Andirja, M.A.
20. Beginilah Mereka Berbakti – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
21. Berbakti Kepada Kedua Orang Tua – Ustadz Robby Arianto
22. Berkatalah yang Baik (Etika Islam dalam Berbicara) – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
23. Berlaku Adil Pada Diri Sendiri – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
24. Cara Masuk Surga Dengan Selamat – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
25. Cara Mendapatkan Modal Usaha Halal – Ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi, M.A.
26. Cara Mendapatkan Syafaat di Hari Kiamat – Ustadz Abu Isa
27. Cara Meraih Kesuksesan dan Kebahagiaan – Ustadz Abdurrahman Thayyib, Lc.
28. Carilah Rezeki yang Halal – Ustadz Abuz Zubair Hawary, Lc.
29. Cinta Gombal – Ustadz Badrusalam Lc.
30. Dahsyatnya Fitnah Wanita – Ustadz Firanda Andirja, M.A.
31. Doa Orang Tua untuk Anak – Ustadz Ahmad Zainuddin
32. Dunia Hanya Sementara – Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Lc.
33. Dunia Hanya Sementara – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.
34. Etika Menambah Amalan Kebaikan – Ustadz Aris Munandar
35. Fikih Jual Beli Praktis – Ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi, M.A.
36. Gambaran Siksaan dan Panasnya Api Neraka Jahanam – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.
37. Gelandangan Surga – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
38. Guru Pemberani – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
39. Hakekat Takwa – Ustadz Aris Munandar
40. Hanya Dia Sandaran Hatiku – Ustadz Abdullah Taslim, M.A.
41. Harum Bunganya dan Manis Buahnya – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.
42. Hati Sebening Kaca – Ustadz Zakaria Ahmad
43. Hati-Hati dengan Pujian – Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
44. Hikmah Dalam Berdakwah – Ustadz Aris Munandar
45. Imanku Laksana Baju Baru – Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.
46. Indahnya Menjadi Seorang Pemaaf – Ustadz Abu Haidar As-Sundawy
47. Islam dan Lingkungan – Ustadz Abdullah Zaen
48. Jadilah Penebar Ilmu Islam – Ustadz Abdullah Taslim, M.A.
49. Jalan Lurus Menuju Surga – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
50. Jangan Biarkan Kapal Kita Tenggelam – Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Lc.
51. Jangan Biarkan Ombak Menerkammu – Essay Movie Yufid.TV
52. Jangan Durhaka Kepada Anakmu – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
53. Jangan Lupa Bersyukur – Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
54. Jangan Malu Mencari Rezeki yang Halal – Ustadz Beni Sarbeni, Lc.
55. Jangan Putus Asa Mengharap Rahmat-Nya – Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
56. Jangan Sampai Terlambat – Iklan Renungan Islami
57. Kaya dan Miskin Sama Saja – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
58. Keajaiban Rezeki – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.
59. Kebahagiaan dan Kesempurnaan – Ustadz Firanda Andirja, M.A.
60. Kemilau Indahnya Dunia – Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Baderi, M.A.
61. Kemping Di Dunia – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
62. Kewajiban Belajar Ilmu Agama – Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
63. Khutbah Iblis yang Menyentuh Hati – Ustadz Firanda Andirja, M.A.
64. Kisah Misteri Masjid Angker – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
65. Kriteria Rumah Idaman – Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.
66. Kunci Kebahagian Wanita Muslimah – Ustadz Aunur Rofiq Ghufron
67. Kunci Masuk Surga – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
68. Langkah Menuju Sukses – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.
69. Lemah vs. Lemah Siapa yang Menang – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
70. Lupa Disaat Gembira – Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
71. Luruskan dengan Lurus – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
72. Mari Bersedekah – Ustadz Hadid Saiful Islam
73. Melebihi Cinta Ibu kepada Anaknya – Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry, Lc.
74. Memetik Hikmah dari Penciptaan Telinga dan Mulut – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
75. Mengapa Harus Marah – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.
76. Mengapa Mereka Terjerumus ke Neraka – Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, M.A.
77. Mengapa Sering Terjadi Bencana di Indonesia – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.
78. Menggapai Keluarga Bahagia – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.
79. Mengubah Kebiasaan Menjadi Luar Biasa – Ustadz Sufyan Fuad Baswedan
80. Menjadi Pengusaha Sukses Seperti Tiga Sahabat Nabi – Ustadz Dr. M. Arifin Badri
81. Misteri Kunci Surga – Ustadz Abdullah Zaen, MA.
82. Nikmat Berpahala bagi Suami Istri – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
83. Nikmat yang Dicela – Ustadz Maududi Abdullah, Lc.
84. Orang Tua Pemadam Kebakaran – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
85. Pangeranku – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.
86. Penderitaan Mereka yang Riya’ – Ustadz Firanda Andirja, MA.
87. Pengaruh Ilmu yang Manfaat – UstadAbdullah Taslim, M.A.
88. Pentingnya Doa Orang Tua untuk Anak – Ustadz Ahmad Zainuddin
89. Penyesalan Penghuni Kubur – Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, MA.
90. Perjalanan Menuju Kampung Akhirat – Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Lc.
91. Petaka Sebuah Jempol – Ustadz Abdullah Zaen
92. Pilihan Allah yang Terbaik – Ustadz Firanda Andirja, MA.
93. Sahabat Bintang Lima – Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry, Lc.
94. Samudera Kehidupan – Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Lc.
95. Sebab dan Hikmah Diturunkannya Adzab – Ustadz Abu Qotadah
96. Sebab Turun Naiknya Iman – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc. – Yufid.TV
97. Sedia Payung Sebelum Hujan – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
98. Semangat Mendakwahkan Islam – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
99. Semangat Mengikuti Kebenaran Sunnah – Ustadz Abdullah Taslim, M.A.
100. Solusi Problematika Suami Istri – Ustadz Aris Munandar, M.P.I.
101. Solusi Tuntas Permasalahan Bangsa – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA
102. Sombongkah Kita – Ustadz Abdullah Zaen, MA.
103. Suami, Antara Irit dan Pelit – Ustadz Dr. Arifin Badri, MA.
104. Sudahkah Anda Mengetahui di Mana Allah – Ustadz Abu Isa
105. Sukses Tanpa Riba – Dr. Erwandi Tarmizi
106. Sumber Kebahagiaan Dunia Akhriat – Ustadz Abdullah Taslim. M.A.
107. Sunnah vs Bid’ah dalam Islam – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.
108. Tanda Disayang Allah – Ustadz Badrusalam, Lc.
109. Tetanggaku Beriman – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.
110. Tips dan Cara Agar Hidup Bahagia – Ustadz Zainal Abidin, Lc.
111. Tips dan Cara Khusyu’ dalam Shalat – Ustadz Firanda Andirja, MA.
112. Tips Islami Rahasia Umur Panjang – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc.
113. Titian diatas Neraka – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc. – Yufid.TV
114. Tujuh Tips Meraih Predikat Pemaaf – Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam
115. Yang Haram Saja Susah Apalagi yang Halal – Ustadz Zainal Abidin, Lc.

]]>
Memarahi Ibu karena Berbuat Dosa https://konsultasisyariah.com/21603-memarahi-ibu-karena-berbuat-dosa.html Mon, 20 Jan 2014 01:49:11 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=21603 Anak Memarahi Ibu

Salah tidak memarahi ibu yang telah berbuat dosa ??

Dari: Miranda

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Salah satu adab terhadap orang tua yang Allah ajarkan kepada kita adalah berkata lembut dan tidak boleh menghardiknya atau membentaknya.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut di dekatmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra: 23)

Sampaipun orang tua memaksa anaknya untuk berbuat syirik, Allah perintahkan agar kita tetap bersikap lembut kepadanya, tanpa harus mentaatinya,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Jika keduanya memaksamu untuk berbuat syirik dengan mempersekutukan aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik (QS. Luqman: 15).

Dan tentu kita tahu, syirik adalah dosa dan maksiat terbesar secara mutlak. Sekalipun dalam kondisi mereka melakukan kesyirikan dan bahkan memaksa kita untuk berbuat syirik, Allah tidak mengizinkan kita untuk bersikap kasar kepada orang tua, terutama ibu.

Nabi Ibrahim dan Ayahnya

Cerita ini mungkin sudah sangat akrab di telinga kita. Seorang nabi pemimpin ahli tauhid memiliki ayah penyembah berhala. Sekalipun sang ayah mengancam hendak melempari batu Ibrahim, beliau tetap memperlakukan ayahnya dengan sopan.

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

Pada ayat di atas, Ibrahim memanggil ayahnya dengan panggilan: ’Ya Abati’ [يَا أَبَتِ], itu panggilan lembut untuk sang ayah. Ibrahim tidak memanggil ayahnya denagn ’Ya Abi’, karena lebih kasar dari pada yang pertama.

Anda lihat, bagaimana sikap ayahnya kepada Ibrahim,

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

Berkata bapaknya: “Apakah kamu benci kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. (QS. Maryam: 46)

Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis shalatu was salam tetap mengingatkan ayahnya, mendakwahi ayahnya yang melakukan rajanya maksiat, untuk bertaubat dan kembali kepada Allah. Namun bukan dengan cara membentak, memarahi, tapi dengan cara lembut.

Karena mereka memiliki jasa besar kepada anaknya.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur
]]>