Problematika Rumah Tangga – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Wed, 27 Jul 2016 08:00:19 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.5.3 Istri Minta Cerai Karena Pria Lain https://konsultasisyariah.com/26661-istri-minta-cerai-karena-pria-lain.html Fri, 01 Apr 2016 01:00:03 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=26661 Istri Minta Cerai Karena Pria Lain

Assalamuallaikum ustadz.. sya wanita sudah menikah dengan suami selama 4th dan blm memiliki anak.. dan skrg saya sdng bingung bgmna caranya sya minta cerai pd suami. Krn rmh tangga kami tdk punya mslh…Cuma mslhnya skrg di hati saya sudah ada pria lain(mantan).. Dan mantan sya mau menikahi sya..apa hukumnya istri minta cerai padahal suami baik.

Jawab:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmastullah,

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, diantara ciri lelaki yang baik, dia bukan tipe orang yang suka tebar pesona, menggoda banyak wanita. Apalagi sampai mengganggu rumah tangga orang lain. Menarik perhatian istri orang lain, membuka peluang untuk menikah dengannya.

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman buruk bagi lelaki yang menarik perhatian istri orang lain, hingga merusak hubungan keluarga mereka. Dalam hadis, mereka disebut Khabbab, perbuatannya disebut takhbib.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا

“Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani)

Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Ahmad 9157 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ad-Dzahabi mendefinisikan takhbib dengan pernyataan,

إفساد قلب المرأة على زوجها

“Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (al-Kabair, hal. 209).

Jika lelaki mantan pacar itu orang soleh, tentu dia tidak akan mengganggu keluarga orang lain. Lelaki semacam ini tidak bisa dipercaya. Bisa jadi, setelah dia menikah dengan anda,  dia akan mencari mangsa yang lain, dengan mengganggu istri orang lain.

Kedua, gugat cerai yang dilakukan wanita tanpa sebab, itu dosa besar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai wanita munafik.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُنْتَزِعَاتُ وَالْمُخْتَلِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ

“Para wanita yang berusaha melepaskan dirinya dari suaminya, yang suka khulu’ (gugat cerai) dari suaminya, mereka itulah para wanita munafiq.” (HR. Nasa’i 3461 dan dishahihkan al-Albani)

Al-Munawi menjelaskan hadis di atas,

أي اللاتي يبذلن العوض على فراق الزوج بلا عذر شرعي

“Yaitu para wanita yang mengeluarkan biaya untuk berpisah dari suaminya tanpa alasan yang dibenarkan secara syariat.’

Beliau juga menjelaskan makna munafiq dalam hadis ini,

نفاقاً عملياً والمراد الزجر والتهويل فيكره للمرأة طلب الطلاق بلا عذر شرعي

“Munafiq amali (munafiq kecil). Maksudnya adalah sebagai larangan keras dan ancaman. Karena itu, sangat dibenci bagi wanita meminta cerai tanpa alasan yang dibenarkan secara syariat.’ (At-Taisiir bi Syarh al-Jaami’ as-Shogiir, 1:607).

Dalam hadis lain, dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أيُّما امرأةٍ سألت زوجَها طلاقاً فِي غَير مَا بَأْسٍ؛ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ

“Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga” (HR Abu Dawud no 2226, At-Turmudzi 1187 dan dihahihkan al-Albani).

Hadis ini menunjukkan ancaman yang sangat keras bagi seorang wanita yang meminta perceraian tanpa ada sebab yang diizinkan oleh syariat.

Dalam Aunul Ma’bud, Syarh sunan Abu Daud dijelaskan makna ‘tanpa kondisi mendesak’,

أي لغير شدة تلجئها إلى سؤال المفارقة

“Yaitu tanpa ada kondisi mendesak memaksanya untuk meminta cerai…” (Aunul Ma’bud, 6:220)

Ketiga, syukuri keberadaan suami soleh di tengah anda

Betapa banyak wanita yang merasa keluarganya seperti neraka. Kami tidak bisa menghitung berapa jumlah email yang masuk ke redaksi Konsultasi Syariah.com, isinya curhat para istri yang suaminya keras kepala, ibarat setan berkepala manusia. Kasar, keras, dan ucapannya serba menyakitkan.

Anda yang diberi oleh Allah suami yang baik, bisa menjadi pemimpin keluarga yang baik, seharusnya sangat bersyukur, karena ini anugrah besar dari Allah untuk anda.

Di sini kita di dunia. Semua serba ada kekurangannya. Karena lelaki dunia bukan malaikat, dan wanita dunia juga bukan bidadari.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Shighat Taklik Talak https://konsultasisyariah.com/26206-hukum-shighat-taklik-talak.html Fri, 01 Jan 2016 02:18:10 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=26206 Shighat Taklik Talak

Bagaimana hukum shighat taklik seperti yang tercantum dalam

saya : ……Fulan………. bin ………Fulan………. berjanji dengan sesungguh hati bahwa saya akan mempergauli istri saya yang bernama : ……Fulanah…….. binti ………Fulan…….. dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut ajaran Islam.

Kepada istri saya tersebut, saya menyatakan sighat ta’lik sebagai berikut :

Apabila saya :

  1. Meninggalkan istri saya selama 2 (dua) tahun berturut-turut;
  2. Tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya;
  3. Menyakiti badan atau jasmani istri saya;
  4. Membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya selama 6 (enam) bulan atau lebih,

Dan karena perbuatan saya tersebut, istri saya tidak ridho dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, maka apabila gugatannya diterima oleh Pengadilan tersebut kemudian istri saya membayar uang sebesar Rp. 10,000,- (sepuluh ribu rupiah) sebagai ‘iwadl(pengganti) kepada saya, maka jatuhlah talak saya satu kepadanya.

Kepada Pengadilan Agama saya memberikan kuasa untuk menerima uang ‘iwadl (pengganti) tersebut dan menyerahkannya kepada Badan Amil Zakat Nasional setempat untuk keperluan ibadah sosial.

Apakah shighat semacam ini dibolehkan? Haruskah dibaca?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Shighat taklik talak, jika ditulis dalam bahasa arab menjadi [صيغة تعليق الطللاق].

Shighat artinya pernyataan. Taklik talak artinya menggantungkan talak.  Sehingga arti Shighat taklik talak adalah pernyataan menggantungkan talak jika terjadi kasus yang disebutkan.

Kita akan memahami takyif fiqh (pendekatan fiqh alam memahami kasus) dari shighat taklik talak.

Dalam teks shighat taklik di atas, suami menyatakan bahwa dia bersedia menerima gugatan cerai (khulu’) dari istri ketika suami melakukan pelanggaran seperti yang disebutkan. Sehingga pada hakekatnya, shighat ini adalah janji dari suami untuk mengabulkan khulu’ istrinya, ketika suami melakukan pelanggaran yang disebutkan.

Kapan Istri Boleh Gugat Cerai?

Gugatan talak yang diajukan seorang istri, secara umum bisa dilatar belakangi 2 sebab:

Pertama, karena pelanggaran yang menyebabkan suami melakukan kedzaliman kepada istrinya. Atau suami melakukan pelanggaran syariat, yang menyebabkan istri berhak melepaskan ikatan pernikahan dengannya. Atau adanya kekurangan pada diri suaminya, yang menyebabkan istri menjadi tertekan, sehingga tidak bisa menunaikan kewajibannya untuk taat kepada suaminya.

Latar belakang gugatan ini dibenarkan, sekalipun tidak ada janji sebelumnya. Artinya, sekalipun belum pernah disyaratkan sebelum akad nikah maupun ketika akad nikah.

Imam Ibnu Qudamah – ulama madzhab hambali – menjelaskan,

وجمله الأمر أن المرأة إذا كرهت زوجها لخلقه أو خلقه أو دينه أو كبره أو ضعفه أو نحو ذلك وخشيت أن لا تؤدي  حق الله في طاعته جاز لها أن تخالعه بعوض تفتدي به نفسها  منه

Kesimpulan dalam masalah ini, bahwa seorang wanita, jika membenci suaminya karena akhlaknya atau karena fisiknya atau karena agamanya, atau karena usianya yang sudah tua, atau karena dia lemah, atau alasan yang semisalnya, sementara dia khawatir tidak bisa menunaikan hak Allah dalam mentaati sang suami, maka boleh baginya untuk meminta khulu’ (gugat cerai) kepada suaminya dengan memberikan biaya/ganti untuk melepaskan dirinya.” (al-Mughni, 7/323).

Kedua, karena suami melanggar syarat yang disepakati sebelum akad atau ketika akad.

Misalnya, sang istri mengajukan syarat agar selama nikah, suami tidak poligami. Dan suami menyetujui syarat ini. Ternyata di perjalanan pernikahan, suami melanggar syarat ini. Maka istri berhak untuk mengajukan gugat cerai.

Imam Ibnu Qudamah menyebutkan macam-macam syarat yang diajukan ketika menikah. Diantara yang beliau sebutkan,

الشروط في النكاح تنقسم أقساما ثلاثة : أحدها : ما يلزم الوفاء به وهو ما يعود إليها نفعه وفائدته مثل أن يشترط لها أن لا يخرجها من دارها أو بلدها أو لا يسافر بها ولا يتزوج عليها ولا يتسرى عليها فهذا يلزمه الوفاء لها به فإن لم يفعل فلها فسخ النكاح يروى هذا عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه وسعد بن أبي وقاص ومعاوية وعمرو بن العاص رضي الله عنهم

“Syarat yang diajukan dalam nikah, terbagi menjadi tiga: Pertama, syarat yang wajib dipenuhi. Itulah syarat yang manfaat dan faidahnya kembali kepada pihak wanita. Misalnya, syarat agar si wanita tidak diajak pindah dari rumahnnya atau daerahnya, atau tidak diajak pergi safar, atau tidak poligami selama istri masih hidup, atau tidak menggauli budak. Wajib bagi suami untuk memenuhi semua persyaratan yang diajukan ini. Jika suami tidak memenuhinya maka istri punya hak untuk melakukan fasakh (membatalkan nikah). Pendapat ini diriwayatkan dari Umar bin Khatab, Sa’d bin Abi Waqqash, Muawiyah, dan Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhum.” (al-Mughni, 7/448).

Persyaratan Dalam Shighat Taklik Talak

Kita simak lebih detil syarat dalam shighat taklik

Suami akan mempergauli istrinya dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf). Dan suami bertekad tidak melakukan pelanggaran berikut,

  1. Meninggalkan istri saya selama 2 (dua) tahun berturut-turut;
  2. Tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya;
  3. Menyakiti badan atau jasmani istri saya;
  4. Membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya selama 6 (enam) bulan atau lebih,

Jika kita perhatikan, semua yang dinyatakan dalam syarat di atas, hukum asalnya adalah kewajiban bagi suami.

Mu’asyarah bil ma’ruf, mempergauli istri dengan baik, ini kewajiban yang Allah sebutkan dalam al-Quran. Allah berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Pergaulilah mereka dengan cara yang makruf (baik). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. an-Nisa: 19)

Sementara daftar 4 pelanggaran yang disebutkan, semuanya tergolong tindakan kedzaliman suami kepada istri. Sehingga jika salah satu dari pelanggaran di atas dilakukan oleh suami, sebenarnya istri berhak untuk mengajukan gugatan, sekalipun tidak dinyatakan dalam akad nikah. Karena dengan sebatas adanya pelanggaran di atas, istri berhak untuk gugat cerai. Kita bisa mengacu dari keterangan Imam Ibnu udamah di atas.

Mengapa Harus Dinyatakan Seusai Akad?

Yang menganjurkan hal ini adalah pemerintah. Dan jika kita perhatikan, ini bagian dari upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada para wanita, dari semua tindakan kedzaliman dalam rumah tangga. Sehingga diharapkan, ketika suami membacanya, apalagi di hadapan istri, wali, dan para saksi, suami akan lebih perhatian. Apalagi ketika dia sanggup tanda tangan di bawah shighat itu. Dia akan lebih siap dengan konsekuensi yang dia tanda tangani

Keberadaan shighat ini memang tidak mempengaruhi keabsahan akad nikah. Sehingga boleh dibaca, boleh juga tidak dibaca. Namun jika salah satu, baik istri, wali, atau pihak KUA meminta untuk dibaca, tidak ada salahnya jika suami membacanya. Dan itu bukan pemaksaan yang tidak beralasan. Karena sekali lagi, fungsinya adalah sebagai bahan perhatian bagi suami untuk bersikap baik kepada istrinya (mu’asyarah bil ma’ruf).

Menjaga Hak Suami  

Hanya saja, sisi tidak seimbang yang belum disentuh dalam buku nikah, negara tidak menyebutkan hak suami. Jika adanya shighat taklik dimaksudkan untuk menjaga hak istri, akan lebih sempurna jika ada pernyataan penyeimbang untuk menjaga hak suami.

Dalam islam, ditetapkan keseimbangan hak dan kewajiban pasangan suami istri:

  1. Suami wajib menanggung semua kebutuhan hidup istri
  2. Istri wajib mentaati suami selama bukan maksiat

Masyarakat kita lebih terdidik dengan yang pertama dibandingkan yang kedua. Artinya semua orang paham bahwa suami wajib menafkahi istrinya. Sementara masalah kewajiban istri untuk taat kepada suami, masih banyak yang belum memahaminya.

Padahal tidak sedikit dalam keluarga yang sumber masalahnya datang dari istrinya. Meskipun banyak juga keluarga yang sumber masalahnya datang dari suaminya.

Semoga bermanfaat, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Sepasang Suami Istri Merekam Video Intim https://konsultasisyariah.com/25721-hukum-sepasang-suami-istri-merekam-video-intim.html Mon, 05 Oct 2015 02:30:14 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=25721 Suami Istri Merekam Video Intim

Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah bagi Muhammad Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan pengikutnya.

Sebagian pasangan suami istri (pasutri) merekam video hubungan intim mereka baik dalam proses pemanasan maupun dalam intinya. Ada yang beralasan itu dalam rangka membangkitkan semangat dan syahwat. Ada yang hanya ‘iseng’dan adapula yang mengatakan itu untuk keperluan dokumentasi. Sebagian orang berdalih bahwa ada orang yang dianggap berilmu yang membolehkan dengan syarat-syarat tertentu. Sebenarnya, apa hukum di dalam Islam mengenai hal ini?

Para ulama rabbani di zaman ini melarang pasutri merekam video hubungan intim dengan argumentasi sebagai berikut:

  1. Membuat video yang di dalamnya ada wanita, apalagi wanita tersebut tidak menutup aurat bahkan telanjang.

Para ulama rabbani di zaman ini memang berselisih pendapat dalam menetapkan hukum video (gambar bergerak atau motion pictures). Pembaca silakan merujuk ke artikel atau ceramah lain mengenai silang pendapatnya, adapun artikel ini tidak membahasnya. Hanya saja perlu diketahui bahwa para ulama tersebut bersepakat apabila di dalam video tersebut ada wanita, khususnya yang tidak menutup aurat bahkan telanjang, maka video semacam itu diharamkan dengan tegas.

Ini yang kami ketahui dari Syaikh Saad bin Turkiy Al-Khotslan hafizhahullah (anggota Haiah Kibaril Ulama) saat menghadiri kajian (sesi fiqih kontemporer) beliau di Riyadh, Saudi Arabia sekitar dua tahun lalu.

  1. Orang-orang yang pertama dan sering melakukan hal ini adalah dari kalangan orang kafir barat.

Karenanya, merekam video pasutri sedang berhubungan intim adalah bentuk mengikuti budaya orang kafir dan ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud no. 4033 dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dinilai hasan shahih oleh Syaikh Al-Albani)

  1. Sebagai bentuk sadd adz-dzari’ah (menutup segala jalan) menuju perbuatan haram, kemungkaran dan penyakit sosial lainnya, seperti tersebarnya video porno, anak-anak melihat hubungan intim orang dewasa, fitnah antara suami istri, rusaknya rumah tangga dan kerusakan lainnya yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Teknologi bagaimanapun canggihnya, pasti ada kekurangan. Manusia sepintar apapun menutupi aibnya bisa saja ada celah yang terlupakan.

Jika pasutri merekam video hubungan mereka, maka bisa saja suatu ketika video tersebut jatuh ke tangan orang lain. Banyak jalannya, seperti:

  • Data di komputer atau HP dihack oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
  • Alat yang digunakan (kamera atau HP) hilang dicuri orang dan videonya masih tersimpan.
  • HP yang digunakan diperbaiki oleh service center dan videonya masih ada lalu dicopy teknisi.
  • Pasutri meletakkan HP secara sembrono dan dimainkan oleh anak-anak mereka.
  • Tak jarang salah satu dari pasutri itu sendiri yang menyebarkan karena kedunguannya.

Hal seperti ini sudah umum terjadi.

Akibatnya, orang lain bahkan anak-anak melihat video porno yang jelas diharamkan di dalam agama. Bahkan tidak sedikit pula kasus suami istri bercerai dalam kondisi hubungan yang buruk, sementara salah satu dari keduanya menyimpan video intim mereka. Video tersebut kemudian diperlihatkan kepada orang lain untuk membuat kesan buruk tentang mantan pasangannya.

Adapun jatuhnya video hubungan intim ke tangan orang lain, bisa jadi tidak sekarang tapi pada masa yang akan datang. Pasutri tersebut tidak tahu kapan mereka meninggal, hingga memungkinkan mereka meninggal dalam keadaan masih menyimpan video tersebut, hingga suatu hari video mereka ditemukan oleh orang lain.

  1. Melihat aurat diri sendiri adalah perbuatan yang dimakruhkan jika tidak ada kebutuhan.

Pasutri yang mereka video hubungan intim tentu tidak hanya akan melihat aurat pasangan melainkan juga aurat diri sendiri. Padahal, melihat aurat sendiri dimakruhkan jika tidak ada kebutuhan, sebagaimana dinukil oleh Al-Mardawiy dalam Al-Inshaf.

Banyak di antara ulama rabbani yang telah membahas masalah ini, di antaranya adalah para ulama yang duduk di Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’. Dalam fatwa no. 22659, mereka dengan tegas melarang hal itu, dengan teks fatwa (diringkas) sebagai berikut:

Pertanyaan:

ما حكم تصوير ما يحصل بين الزوجين من المعاشرة الزوجية: الجماع وتوابعه؟ مع العلم أنه قد صدرت فتاوى من بعض المحسوبين على العلم في بعض البلدان بجوازه، مع اشتراطهم المحافظة على الشريط حتى لا يتسرب لأحد ؟

Apa hukum merekam video pergaulan suami istri, seperti yang dilakukan oleh sebagian pasutri yang merekam hubungan mereka berupa jima’ dan hal-hal yang berhubungan dengannya? Untuk diketahui telah keluar fatwa dari sebagian orang yang dianggap berilmu di negeri lain yang menghukumi bolehnya hal itu, dengan syarat hasil rekamannya harus terjaga sehingga tidak bocor ke tangan orang lain.

Jawaban:

تصوير ما يحصل من الزوجين عند المعاشرة الزوجية محرم شديد التحريم؛ لعموم أدلة تحريم التصوير، ولما يفضي إليه تصوير المعاشرة الزوجية خصوصا من المفاسد والشرور التي لا تخفى، مما لا يقره شرع ولا عقل ولا خلق، فالواجب الابتعاد عن ذلك، والحرص على صيانة العرض والعورات، فإن ذلك من الإيمان واستقامة الفطرة، ومما يحبه الله سبحانه.

Merekam video pergaulan suami istri, seperti yang dilakukan oleh sebagian pasutri merupakan perbuatan yang diharamkan dengan pengharaman yang keras. Hal ini berdasarkan dalil umum tentang pengharaman pembuatan gambar dan dampak negatif berupa kerusakan dan keburukan yang timbul, khususnya akibat merekam video hubungan pasutri. Dampak negatif ini terkadang tidak terduga dan tidak bisa diterima baik oleh syari’at, akal, maupun akhlaq.

Wajib menghindari hal-hal seperti itu, benar-benar berusaha menjaga kehormatan dan aurat, karena yang demikian merupakan bagian dari iman dan konsistensi dalam menjaga kesucian dan segala hal yang dicintai Allah subhaanah.

Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh (ketua), Syaikh Abdullah bin Ghudayyan (wakil ketua), Syaikh Shalih Al-Fauzan (anggota) dan Syaikh Bakr Abu Zaid (anggota).

Catatan tulisan:

Penulis beberapa kali memberi penekanan dengan kata “rabbani”, karena memang ada sebagian orang yang dikenal sebagai juru dakwah yang membolehkannya. Walhamdulillah, agama Islam itu selalu menggunakan dalil, bukan “yang penting ada yang membolehkannya”. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk bertanya masalah agama kepada seorang yang rabbani, bukan kepada orang yang sejatinya mengajak manusia ke pintu-pintu neraka.

Demikian apa yang dapat kami tuliskan. Semoga Allah menjadikan kita orang yang menggunakan akalnya untuk berusaha menutup aurat dan aibnya, menjadikan tulisan ini sebagai sarana dakwah yang ikhlas untuk agama-Nya dan menambah faedah ilmu bagi saudara-saudara kami yang membacanya.

Ditulis oleh ustadz: Muflih Safitra bin Muhammad Saad Aly

Balikpapan, 25 Dzulqo’dah 1436 H

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Istri Menuntut Agar Suami Lebih Rajin Nafkah Batin https://konsultasisyariah.com/25466-istri-menuntut-agar-suami-lebih-rajin-nafkah-batin.html Mon, 31 Aug 2015 02:00:07 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=25466 Istri Menuntut Agar Suami Lebih Rajin Nafkah Batin

Bolehkah istri mennuntut agar suami lebih aktif berhubungan? Misalnya minimal tiap hari sekali. Makasih

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kita ambil satu peristiwa yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tersebutlah seorang sahabat bernama Rifaah al-Quradzi. Dia menikahi seorang wanita bernama Tamimah bintu Wahb. Setelah beberapa lama menjalani kehidupan berumah tangga, Rifaah menceraikan istrinya, cerai tiga. Setelah usai iddah, bu Tamimah menikah dengan Abdurahman bin Zabir al-Quradzi. Namun ternyata Tamimah tidak mencintai Abdurrahman. Dia hanya jadikan itu kesempatan agar bisa balik ke Rifa’ah.

Hingga wanita ini mengadukan masalah suaminya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memakai kerudung warna hijau.

Mulailah si wanita ini mengadukan,

وَاللَّهِ مَا لِي إِلَيْهِ مِنْ ذَنْبٍ ، إِلَّا أَنَّ مَا مَعَهُ لَيْسَ بِأَغْنَى عَنِّي مِنْ هَذِهِ – وَأَخَذَتْ هُدْبَةً مِنْ ثَوْبِهَا –

“Suami saya ini orang baik, gak pernah berbuat dzalim kepada saya. Cuma punya dia, tidak bisa membuat saya puas dibanding ini.” Sambil dia pegang ujung bajunya.”

Maksud Tamimah, anu suaminya itu loyo. Tidak bisa memuaskan dirinya. Seperti ujung baju itu.

Ketika tahu istrinya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdurahman datang dengan membawa dua anaknya, dari pernikahan dengan istri sebelumnya.

Abdurahman bawa dua anak untuk membuktikan bahwa dia lelaki sejati. Mendengar aduhan istri keduanya ini, Abdurrahman langsung protes,

كَذَبَتْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنِّي لَأَنْفُضُهَا نَفْضَ الأَدِيمِ ، وَلَكِنَّهَا نَاشِزٌ ، تُرِيدُ رِفَاعَةَ

“Istriku dusta ya Rasulullah, saya sudah sungguh-sungguh dan tahan lama. Tapi wanita ini nusyuz, dia pingin balik ke Rifaah (suami pertamanya).”

Mendengar aduhan mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum. (HR. Bukhari 5825 & Muslim 1433).

Senyum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap laporan kasus ini, karena beliau heran. Dan beliau tidak melarangnya atau memarahi pasangan ini, menunjukkan bahwa beliau membolehkan melakukan laporan semacam ini. Sekalipun ada unsur vulgar.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

وتبسّمه صلى الله عليه وسلم كان تعجبا منها ، إما لتصريحها بما يستحيي النساء من التصريح به غالبا… ويستفاد منه جواز وقوع ذلك

Senyum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau heran. Bisa karena melihat wanita ini yang terus terang padahal umumnya itu malu bagi umumnya wanita… dan disimpulkan dari hadis ini, bolehnya melakukan semacam ini. (Fathul Bari, 9/466)

Yang kita garis bawahi dalam kasus ini, Tamimah menggugat suaminya dengan alasan masalah ranjang. Artinya itu bukan suatu yang bernilai maksiat, atau tidakan tercela.

Mengadukan Suami Karena Kurang Rajin

Dari hadis ini, sebagian ulama menyimpulkan bahwa istri boleh menuntut suami untuk meningkatkan intensitas hubungan.

Kita simak keterangan Ibnul Mulaqin,

وفيه: أن للنساء أن يطلبن أزواجهن عند الإمام بقلة الوطء ، وأن يعرضن بذلك تعريضًا بينًا كالصريح ، ولا عار عليهن في ذلك

Dalam hadis ini terdapat kesimpulan bahwa istri boleh mengadukan suami mereka kepada pihak berwenang, karena kurang rajin berhubungan. Dia boleh sampaikan itu dengan terang-terangan. Dan itu tidak tercela. (at-Taudhih li Syarh al-Jami’ as-Shahih, 27/653)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Suami Hiperseks, Itu Hebat? https://konsultasisyariah.com/25313-suami-hiperseks-itu-hebat.html Wed, 05 Aug 2015 02:55:00 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=25313 Suami Hiperseks?

Jika ada suami yang hiperseks, apa yg harus dilakukan istrinya? Mudah tertarik dengan wanita, dan selalu minta dilayani. Apa benar, hiperseks itu hebat?

(Anonim)

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan kepada kaum muslimin untuk menyalurkan syahwatnya dengan cara halal. Karena ini merupakan cara paling ampuh, agar manusia tidak menginginkan sesuatu yang haram.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ رَأَى امْرَأَةً تُعْجِبُهُ فَلْيَقُمْ إِلَى أَهْلِهِ ، فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِى مَعَهَا

“Jika seorang lelaki melihat wanita cantik yang menarik hatinya, hendaknya dia segera mendatangi istrinya. Karena apa yang ada di istrinya sama seperti yang ada di wanita itu.” (HR. Ad-Darimi 2270 dan dishahihkan Husain Salim Asad).

Karena alasan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hubungan badan yang dilakukan pasangan suami istri, sebagai amal soleh yang bernilai sedekah. Sebagaimana ketika itu disalurkan dengan cara yang haram, bisa bernilai dosa.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

“Dalam hubungan badan kalian, bernilai sedekah.”

Mendengar ini, para sahabat bertanya,

“Apakah ketika kami melampiaskan syahwatnya (dengan istri), kami akan mendapatkan pahala?”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“Bukankah jika kalian salurkan dengan cara yang haram, kalian mendapatkan dosa?. Seperti itu pula ketika kalian salurkan dengan cara yang halal, kalian akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim 2376).

Berdasarkan hadis ini, Imam an-Nawawi menyatakan bahwa menyalurkan syahwat jimak merupakan syahwat yang disukai para nabi dan orang soleh. An-Nawawi menyebutkan beberapa alasan untuk itu,

Beliau mengatakan,

اعلم أن شهوة الجماع شهوة أحبها الأنبياء و الصالحون, قالوا لما فيها من المصا لح الدينية و الدنيوية, و من غض البصر, و كسر الشهوة عن الزنا, و حصول النسل الذي تتم به عمارة الدنيا و تكثر به الأمة إلى يوم القيامة. قالوا: و سائر الشهوات يقسي تعاطيهم القلب, إلا هذه فإنها ترقق القلب

“Sadari bahwa syahwat jimak adalah syahwat yang disukai para nabi dan orang-orang shalih. Mereka menjelaskan, karena dalam jima terdapat berbagai mashalat agama dan dunia, seperti menundukkan pandangan, meredam syahwat dari zina, mendapatkan keturunan, sehingga dunia semakin makmur, dan memperbanyak jumlah umat islam sampai kiamat. Mereka juga menjelaskan, semua syahwat bisa mengeraskan hati jika disalurkan kecuali syahwat ini. Karena syahwat ini bisa melembutkan hati.” (Syarh Arbain an-Nawawi, hlm. 76. Penjelasan hadis ke-25)

Terlalu Sering, Bisa Berbahaya?

Kuat dalam hubungan badan, menjadi kelebihan tersendiri bagi lelaki. Hanya saja tidak disarankan untuk dilakukan terlalu sering, yang itu bisa menyebabkan fisiknya lemah. Bahkan sebagian ulama yang ahli dalam pengobatan ala arab, menyebutkan bahwa terlalu sering jimak, menyebabkan penuaan dini.

Dalam al-Adab as-Syar’iyah, Ibnu Muflih menjelaskan,

ومزاج المني حار رطب، لأنه من الدم المغذي للأعضاء الأصلية، ولهذا لا ينبغي إخراجه إلا لشدة الشهوة، فإن الإكثار منه يطفئ الحرارة الغريزية، ويشعل الحرارة الغريبة، ويسقط القوة، ويضعف المعدة والكبد، ويسيء الهضم، ويفسد الدم، ويجف الأعضاء الأصلية ويسرع إليها الهرم والذبول

Mani adalah campuran zat panas dan basah. Karena mani bersumber dari darah bersih yang mengirim nutrisi makanan ke seluruh anggota badan. Karena itu, tidak selayaknya dikeluarkan kecuali ketika di puncak syahwat. Karena terlalu sering mengeluarkan mani, akan memadamkan instink panas di badan, dan menyulut panas dari luar. Serta menurunkan kekuatan, melemahkan lambung dan liver. Mengganggu pencernaan dan merusak darah. Membuat anggota badan layu, sehingg cepat tua. (al-Adab as-Syar’iyah, 2/385)

Apa yang Harus Dilakukan Istri?

Selama ini tidak membahayakan dirinya atau suaminya, istri wajib memenuhi ajaakn suaminya. Karena ini bagian dari hak suami yang wajib ditunaikan istrinya. Menolak tanpa alasan, bisa bernilai dosa besar.

Keterangan lain, bisa anda pelajari di: Istri Menolak Ajakan Suami untuk Berhubungan

Jadikan keadaan ini sebagai kesempatan bagi istri untuk mendulang pahala. Hadirkan perasaan bahwa dia sedang menunaikan kewajibannya. Sehingga dia tunaikan hajat suaminya juga dengan semangat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
]]>
Hukum Hubungan Intim Malam Hari Raya https://konsultasisyariah.com/13298-mitos-hubungan-intim-malam-hari-raya.html https://konsultasisyariah.com/13298-mitos-hubungan-intim-malam-hari-raya.html#respond Thu, 16 Jul 2015 07:00:32 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=13298 Hubungan Intim Malam Hari Raya

Pertanyaan:

Ass. Wr. Wb.
Saya mau menanyakan kepastian hukum mengenai boleh atau tidak jika pasangan suami istri berhubungan badan dimalam takbir menjelang hari raya idul fitri, apakah haram atau tidak? Mohon dijelaskan. Terimakasih atas perhatiannya.

Dari: Ibu Nunik (nuXXXXXX@yahoo.com)
Jawaban:

Alhamdulillah was shalatu was salam ‘ala Rasulillah

Pertanyaan semacam ini juga pernah disampaikan kepada rubrik Fatwa Islam (no. 38224),

Isi pertanyaan:
Apa hukum hubungan badan pada malam hari raya atau siang harinya? (hukum hubungan pada dua hari raya: Idul Fitri dan Idul Adha). Di mana saya mendengar dari sebagian rekan bahwa itu tidak boleh.

Jawaban Syaikh Muhamamad Sholeh Munajed,

ما سمعته من بعض الإخوة الأصدقاء غير صحيح ، فالجماع ليلة العيد ويومه مباح ، ولا يحرم الجماع إلا في نهار رمضان ، وحال الإحرام بحج أو عمرة ، أو كانت المرأة حائضاً أو نفساء

Apa yang anda dengar dari sebagian teman anda itu tidak benar. Hubungan intim pada malam hari raya atau siang harinya hukumnya mubah. Dan tidak ada larangan hubungan intim kecuali ketika siang hari ramadhan (bagi yang wajib puasa), atau ketika ihram pada saat menjalankan haji atau umrah, atau ketika sang istri dalam kondisi haid atau nifas.
[Fatwa Islam, no. 38224]

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

]]>
https://konsultasisyariah.com/13298-mitos-hubungan-intim-malam-hari-raya.html/feed 0
Terasa Panas dan Perih Saat Berhubungan Suami Istri https://konsultasisyariah.com/24319-terasa-panas-dan-perih-saat-berhubungan-suami-istri.html Wed, 11 Feb 2015 09:37:38 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=24319 Terasa Sakit Saat Berhubungan

Pertanyaan :
dok, saya ingin bertanya.umur saya 22 tahun. sudah 1 tahun saya menikah dok dan baru kali ini merasakan seperti ini.saat saya berhubungan intim dengan suami saya, saya merasakan sakit perih dan panas pada vagina. hanya untuk membasuh saja juga terasa sakit. kemudian saya raba didalam miss v terdapat seperti benjolan-benjolan
kecil.setelah saya meminta suami untuk melihatnya,katanya ada seperti daging berwarna putih yang menempel pada bagian dalam miss v. saya merasa takut dok, bahkan setelah berhubungan dengan suamipun saya merasa takut & untuk duduk dan buang air kecilpun terasa tidak nyaman. kemudian saya memutuskan untuk tidak melakukan hubungan dulu dengan suami dok tujuannya untuk melihat apakan benjolan yang seperti daging itu menghilang. setelah kurang lebih satu minggu kami tidak melakukan hubungan rasa sakitnya hilang dok, tapi benjolan seperti daging itu masih ada tetapi agak berkurang dan kalau disentuh sudah tidak sakit. saya mohon informasinya dok, karena jujur saja saya ingin memeriksakannya ke dokter ada rasa takut dan malu dok karena sakitnya pada bagian intim wanita. mohon informasi dan saranya dok. terimaksih.

Jawaban:

Rasa sakit yang terjadi ketika berhubungan badan disebut dyspareunia , dan ini ada tiga jenis:

  1. Entry pain. Biasanya karena rasa nyeri ketika masuk akibat kekeruanga pelumas,ada luka dan vagisnismus (vagina kejang-kejang).
  2. Deep pain. Ini terjadi ketika penetrasi, bisa jadi karena ada wsir, kista atau endometriosis.
  3. Dan emotional factors. Yang ini masalah psikologis, rasa depresi dan rasa trauma berkaitan dengan seksual

Adapun penyebab secara umum rasa nyeri:

  1. Vagina kurnag pelumas. Bisa jadi karena faktor usaha atau kurangnya stumulasi dari suami
  2. Pil KB. Karena bisa mempegaruhi horman ada sebagian orang.
  3. Vaginismus. Yaitu rasa sakit karena otot-otot vagina menegang dan susah untuk dilakukan pnetrasi.
  4. Infeksi vagina dan leher rahim.

Mengenai benjolan/bibir di vagina bisa disebabkan bermacam-macam:

  • Kondiloma akuminata (kutil kelamin).
  • Moluscum kontagiosum (infeksi virus pox).
  • Herpes simplex (infeksi virus herpes).
  • Scabies (infeksi oleh kutu).
  • Jerawat

Jadi saran kami segera periksakan ke dokter terdekat juga ragu , bisa mencari dokter yang kompeten.
Semoga Anda dimudahkan

Dijawab oleh: dr. Raehanul Bahraen (Pengasuh Rubrik Kesehatan KonsultasiSyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
]]>
Cincin Kawin: Sumber Kesyirikan? https://konsultasisyariah.com/24217-cincin-kawin-sumber-kesyirikan.html Mon, 19 Jan 2015 02:21:11 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=24217 Cincin Kawin: Sumber Kesyirikan?

Apakah boleh cincin mas pernikahan d jual

Dari Faiz Zahran via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kami hendak menyinggung keyakinan yang tersebar di sebagian masyarakat tentang cincin kawin. Sebagian orang meyakini, cincin kawin menjadi pengikat hati dan cinta suami istri. Kita tidak tahu dari mana asal muasal keyakinan ini berkembang. Yang jelas, islam tidak pernah mengajarkannya. Kita  juga tidak pernah mendapatkan informasi dari dalil, bahwa Allah akan melanggengkan cinta dalam keluarga, selama cincin kawin masih ada.

Meyakini bahwa cincin kawin merupakan sebab untuk keberlangsungan cinta, merupakan keyakinan yang sama sekali tidak berdasar dan tidak terbukti secara ilmiah. Apa kaitan cincin kawin dengan suasana hati. Percuma saja keberadaan cincin kawin, sementara suami hobi main perempuan dan si istri tidak bisa menjaga kehormatan.

Kedua, mengingat tidak ada hubungan antara cincin kawin dan suasana cinta antara suami dan istri, para ulama menyimpulkan, bahwa orang yang memakai cincin kawin dengan keyakinan cincin inni bisa menjadi sebab kelestarian cinta suami istri dan jika dilepas atau hilang bisa membahayakan kehidupan keluarga, merupakan sikap dan perbuatan kesyirikan. Dan ini termasuk keyakinan jahiliyah.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

وأما ( الدِّبْلَة ) فهذه ليست من عوائد المسلمين ، وهي التي تلبس لمناسبة الزواج ، وإذا كان يعتقد فيها أنها تسبب المحبّة بين الزوجين ، وأن خلعها وعدم لبسها يؤثر على العلاقة الزوجية ، فهذا يُعتبر من الشرك ، ويدخل في الاعتقاد الجاهلي

Cincin kawin, bukan termasuk tradisi dalam islam (sejak masa silam). Cincin kawin dipakai ketika pernikahan. Jika orang yang memakai berkeyakinan bahwa cincin ibi menjadi sebab kelestarian cinta antara suami istri, dan jika dilepas atau tidak dipakai bisa mempengaruhi keberlangsungan keluarga, maka ini termasuk kesyirikan. Dan termasuk keyakinan jahiliyah. (Fatwa Islam, no. 21441)

Ketiga, memahami keterangan di atas, tidak masalah menjual cincin kawin. Cincin kawin hanyalah cincin. Benda yang tidak bisa mendatangkan cinta atau sumber rizki, dan tidak bisa membuat orang jadi miskin atau bercerai. Keberadaannya maupun ketiadaannya, sejatinya sama sekali tidak mempengaruhi kelangsungan keluarga pasangan suami istri.

Keempat, jangan sampai keyakinan ini menggelayuti hati kita. Hal ini berulang kami tekankan, karena terkadang Allah menguji manusia dengan membenarkan keyakinan salahnya itu. Ketika seseorang berkeyakinan, hilangnya cincin kawin bisa membuat retak rumah tangga, bisa jadi keyakinan ini Allah wujudkan, sehigga tatkala cincin itu hilang, keluarganya menjadi terancam.

Dari Abdullah bin Ukaim Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Siapa yang bergantung kepada sesuatu, dia akan dipasrahkan kepadanya.” (HR. Ahmad 18781, Turmudzi 2214 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Ketika orang merasa bahwa keberadaan cincin kawin akan melanggengkan cintanya, dia akan curahkan ketergantungannya pada sang cincin ini. Dia berikan harapan dan kekhawatirannya kepada cincin ini.

Bagian dari hukumannya, Allah pasrahkan dia kepada benda itu.

Bagaimana caranya?

Ketika cincin ini hilang, atau terjual atau rusak, Allah jadikan keluarganya betul-betul bercerai. Sehingga hatinya semakin yakin pada cincin kawin itu. Karena ternyata keyakinannya terbukti.

Bagian inilah yang perlu disadari, ketika seseorang memiliki ketergantungan kepada benda tertentu.

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
]]>
Me Time, Ada-ada Saja..! https://konsultasisyariah.com/24210-me-time-ada-ada-saja.html Sat, 17 Jan 2015 00:46:18 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=24210 Hak Istri Untuk *Me Time*

Assalamua’laikum wr wb,

Saya ingin menanyakan tentang kehidupan berumah tangga, akhir-akhir ini marak istilah *Me Time* yaitu dimana seorang wanita yang sudah menikah meluangkan waktu untuk dirinya sendiri tanpa suami, anak dan keluarga untuk melakukan kegiatan yang biasanya dia lakukan sewaktu belum menikah. Misal hangout bersama teman-temannya, dsb.

Pertanyaan saya, apakah hali demikian diatur dalam Islam? Bagaimana seorang suami menyikapi keinginan istri yang demikian.

Syukron ustaz, jazakumulloh khoiron katsir.

Dari Moch Ramdhoni

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bagian dari kemurahan Allah, Dia jadikan setiap usaha yang dilakukan istri untuk melayani suami dan keluarganya sebagai ibadah. Sekalipun itu telah menjadi aktivitas rutin bagi para wanita di rumahnya, ternyata ini semua tidak disia-siakan oleh Allah. Bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai kewajiban. Terutama untuk urusan di dalam rumah, sehingga nantinya akan dimintai pertanggung jawaban di sisi Allah.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

Wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya dan bagi anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggung jawaban tentang mereka. (HR. Bukhari 2554 & Muslim 4828)

Wanita yang perhatian dengan rumah tangganya, merupakan ciri wanita terbaik,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seperti apakah ciri wanita terbaik. Jawab beliau,

الَّتِى تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلاَ تُخَالِفُهُ فِى نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Yang menyenangkan suami ketika dilihat suaminya, mentaati suami ketika diperintah suaminya, dan tidak bertindak terhadap dirinya dan hartanya dengan perbuatan yang tidak disukai suaminya. (HR. Ahmad 7626, Nasai 3244 dan dishahihkan al-Albani).

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi mereka dengan jaminan surga, ketika bisa melayani suami dan keluarga dengan baik. Dari Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Apabila wanita menjaga shalat 5 waktu, menjaga puasa ramadhan, menjaga kehormatannya, an mentaati suaminya, maka dipersilahkan baginya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kamu inginkan.” (HR. Ahmad 1683, Ibnu Hibban 4163 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Untuk itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji para wanita Quraisy. Mereka potret wanita yang sangat belas kasih kepada anak-anaknya ketika masih kecil dan perhatian terhadap harta suaminya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِى صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِى ذَاتِ يَدِهِ

Sebaik-baik wanita yang menunggang onta adalah wanita quraisy yang solihah. Mereka paling penyayang terhadap anak ketika masih kecil dan perhatian terhadap semua harta suaminya. (HR. Bukhari 5082 & Muslim 6623).

Yang dimaksud ‘wanita yang menunggang onta’ adalah wanita arab. Sehingga makna hadis, wanita arab yang terbaik adalah wanita quraisy yang solihah. Karena karakter mereka: paling penyayang terhadap anak ketika masih kecil dan amanah serta perhatian terhadap semua harta suaminya.

Dan inilah kebaggaan sejati bagi wanita. Melayani keluarga, anak-anak, dan suami. Sumber kasih sayang di dalam rumah bagi semua penghuninya. Selalu memberikan kehangatan ketika ada anggota keluarga yang bercengkrama dengannya.

Kami yakin, anda akan sangat bangga jika memiliki ibu dengan kriteria seperti di atas. Ketimbang memiliki ibu seorang wanita karier atau ibu yang lebih memilih dekat dengan teman dari pada dengan keluarganya. Anda akan sangat bangga ketika anda memiliki ibu yang aktivitasnya lebih banyak di rumah, ketimbang ibu yang sibuk ngurusi luar rumah.

Konspirasi Musuh Islam

Kita tidak tahu pasti siapakah penggagas “me time” pertama kalinya. Namun kita layak suudzan, bisa jadi inni bagian dari upaya musuh islam untuk me-liberal-kan manusia. Semua bisa beraktivitas bebas tanpa aturan. Itulah misi mereka.

Sangat samar dan tidak memancing kecurigaan. Dan saat ini mereka begitu gencar menyelenggarakan momen-momen ‘nama hari’, untuk semakin mudah menyebarkan maksiat. Ada valentine’s day dan tahun baru yang menjadi hari zina internsional, april mop, hari yang mengajarkan orang menjadi pendusta, ada lagi Halloween day, hari klenik sedunia, kemudian ada lagi no bra day, hari telanjang sedunia.

Allahul musta’an (hanya kepada Allah kita minta perlindungan).

Yang kita sesalkan, kaum muslimin begitu latah dengan mereka. Hingga mereka menjadi pengikut setia propaganda orang kafir.

Barangkali inilah pembenar dari apa yang telah diingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang  kondisi umat islam di akhir zaman. Umat islam menjadi umat yang labil dan mudah membeo umat lain.

Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ » . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ »

Sungguh kalian (umat islam) akan mengikuti kaum sebelum kalian, sama persis seperti jengkal kanan dengan jengkal kiri atau seperti hasta kanan dengan hasta kiri. Hingga andai mereka masuk ke lubang biawak gurun, kalianpun akan mengikuti mereka.

Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah yang anda maksud orang yahudi dan nasrani?’

Jawab beliau, “Siapa lagi (kalau bukan mereka).” (HR. Bukhari 7320 & Muslim 6952).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
]]>