<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Konsultasi Syariah - agama islam tanya jawab nikah remaja keluarga bisnis fatwa wanita kesehatan &#187; Darah Wanita</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/category/wanita/darah-wanita/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>KonsultasiSyariah.com menyajikan berbagai tanya jawab ilmiah syariah seputar permasalahan kehidupan muslim: Aqidah, Tata Cara Ibadah, Perdagangan, Rumah Tangga, Kesehatan, dan lain-lain.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 08:55:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Wanita Tidak Puasa Ramadhan Karena Haid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 01:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Haid]]></category>
		<category><![CDATA[Qadha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2409</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Syaikh Ibnu Baaz ditanya:
Pada salah satu bulan Ramadhan beberapa tahun yang lalu, saya mendapat haid oleh karenanya saya tidak berpuasa dan sampai saya belum meng-qadha utang puasa itu, tapi saya tidak mengetahui berapa jumlah hari yang harus saya qadha itu, apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:
Anda harus melaksanakan tiga hal:
Pertama: Bertobat kepada Allah karena keterlambatan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Baaz ditanya:</p>
<p>Pada salah satu bulan Ramadhan beberapa tahun yang lalu, saya mendapat <a title="Utang Puasa Ramadhan" href="http://konsultasisyariah.com/wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>haid</strong></a> oleh karenanya saya tidak ber<a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>puasa</strong></a> dan sampai saya belum meng-<strong><a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>qadha</strong></a></strong> utang <a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>puasa</strong></a> itu, tapi saya tidak mengetahui berapa jumlah hari yang harus saya <strong></strong><strong><strong><a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>qadha</strong></a></strong></strong> itu, apa yang harus saya lakukan?</p>
<p><span id="more-2409"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Anda harus melaksanakan tiga hal:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Bertobat kepada Allah karena keterlambatan itu dan menyesali apa telah Anda mengabaikan suatu ketetapan Allah, di samping itu Anda harus bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi, karena Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p><em>“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”</em> (Qs. an-Nur: 31).</p>
<p>Menunda-nunda <strong></strong><strong><strong><a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>qadha</strong></a></strong></strong> <a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>puasa</strong></a> adalah suatu maksiat, maka bertobat kepada Allah dari itu adalah suatu kewajiban.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Segera meng-<strong></strong><strong><strong><a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>qadha</strong></a></strong></strong> <a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>puasa</strong></a> berdasarkan perkiraan Anda dalam menentukan jumlah harinya, karena Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> tidak membebani seseorang kecuali apa yang disanggupinya. Berapa jumlah hari yang telah Anda tinggalkan menurut dugaan Anda, maka sejumlah hari itulah yang harus Anda <strong></strong><strong><strong><a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>qadha</strong></a></strong></strong>. Jika Anda perkarakan bahwa <a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>puasa</strong></a> yang harus Anda <strong></strong><strong><strong><a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>qadha</strong></a></strong></strong> itu sepuluh hari, maka hendaklah Anda ber<a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>puasa</strong></a> sepuluh hari, dan jika Anda menduga bahwa jumlah lebih banyak atau kurang dari itu, maka ber<a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>puasa</strong></a>lah Anda berdasarkan dari sepuluh hari, maka ber<a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>puasa</strong></a>lah Anda dengan berpatokan pada dugaan Anda itu, berdasarkan firman Allah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا</p>
<p><em>“Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”</em> (Qs. al-Baqarah: 286).</p>
<p>Dan Firman Allah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ</p>
<p><em>“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupannmu.”</em> (Qs. al-Taghabun: 16).</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari yang Anda <strong></strong><strong><strong><a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>qadha</strong></a></strong></strong> itu, dan itu bisa diberikan seluruhnya kepada satu orang miskin. Jika Anda sendiri seorang yang miskin sehingga tidak dapat memberi makan, maka tidak mengapa Anda tidak melakukan yang ini tetapi tetap bertobat dan meng-<strong></strong><strong><strong><a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>qadha</strong></a></strong></strong> <a title="Utang Puasa Ramadhan" href="../wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html" target="_blank"><strong>puasa</strong></a>. Jika Anda mampu memberi makan, maka jumlah yang harus diberikan adalah setengah sha’ makanan pokok, yaitu sekitar satu setengah kilogram (<em>Majmu’ah Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah,</em> Syaikh Ibnu Baz, 6/19).</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita/wanita-tidak-puasa-haid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Haid atau Nifas Berpuasa, Bolehkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita/wanita-haid-nifas-berpuasa.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita/wanita-haid-nifas-berpuasa.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 06:20:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Haid]]></category>
		<category><![CDATA[Nifas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2373</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Syaikh Al-Fauzan ditanya:
Apa hukum puasa yang dilakukan oleh wanita yang sedang haid dan yang sedang nifas?
Jawaban:
Diharamkan berpuasa bagi wanita haid dan nifas, dan wajib bagi wanita itu meng-qadha hari-hari puasa pada hari-hari lain berdasarkan hadits dalam Ash-Shahihain, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa ia berkata, “Kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat”, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Al-Fauzan ditanya:</p>
<p>Apa hukum puasa yang dilakukan oleh wanita yang sedang haid dan yang sedang nifas?</p>
<p><span id="more-2373"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Diharamkan berpuasa bagi wanita haid dan nifas, dan wajib bagi wanita itu meng-qadha hari-hari puasa pada hari-hari lain berdasarkan hadits dalam <em>Ash-Shahihain</em>, dari Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>, bahwa ia berkata, “Kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat”, ia mengucapkan hal itu karena ditanya oleh seorang wanita, “Kenapa wanita haid harus meng-qadha puasa, tapi tidak meng-qadha shalat?” Kemudian, Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> menerangkan, bahwa hal ini adalah petunjuk yang harus diikuti berdasarkan nash.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1</em>, Darul Haq, Cetakan VI, 2010<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita/wanita-haid-nifas-berpuasa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendapat Kesucian dari Haid atau Nifas Sebelum Fajar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/suci-haid-atau-nifas-sebelum-fajar.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/suci-haid-atau-nifas-sebelum-fajar.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 01:27:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Fajar]]></category>
		<category><![CDATA[Haid]]></category>
		<category><![CDATA[Nifas]]></category>
		<category><![CDATA[Subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2368</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:
Jika seorang wanita mendapat kesuciannya dari haid atau dari nifas sebelum fajar dan tidak mandi kecuali setelah fajar, apakah puasanya sah atau tidak?
Jawaban:
Ya, sah puasa wanita itu yang mendapat kesuciannya dari haid sebelum fajar dan belum mandi, kecuali setelah terbitnya fajar, begitu pula wanita yang mendapat kesuciannya dari nifas, karena pada saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:</p>
<p>Jika seorang wanita mendapat kesuciannya dari <a title="Haid Ramadhan Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/suci-haid-atau-nifas-sebelum-fajar.html" target="_blank">haid</a> atau dari <a title="Haid Ramadhan Konsultasi Syariah" href="../fikih/ibadah-fikih/bersuci/suci-haid-atau-nifas-sebelum-fajar.html" target="_blank">nifas</a> sebelum fajar dan tidak mandi kecuali setelah fajar, apakah puasanya sah atau tidak?</p>
<p><span id="more-2368"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Ya, sah puasa wanita itu yang mendapat kesuciannya dari <a title="Haid Ramadhan Konsultasi Syariah" href="../fikih/ibadah-fikih/bersuci/suci-haid-atau-nifas-sebelum-fajar.html" target="_blank">haid</a> sebelum fajar dan belum mandi, kecuali setelah terbitnya fajar, begitu pula wanita yang mendapat kesuciannya dari <a title="Haid Ramadhan Konsultasi Syariah" href="../fikih/ibadah-fikih/bersuci/suci-haid-atau-nifas-sebelum-fajar.html" target="_blank">nifas</a>, karena pada saat itu ia telah termasuk pada golongan orang yang wajib puasa, dan dia sama halnya dengan orang yang junub di waktu fajar, orang yang junub di waktu fajar puasanya sah berdasarkan firman Allah:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَالْئَانَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَاكَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ</p>
<p><em>“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”</em> (Qs. al-Baqarah: 187).</p>
<p>Maka, jika Allah mengizinkan bersetubuh hingga tiba waktu fajar, maka dibolehkan mandi junub setelah terbitnya fajar. Juga berdasarkan hadits Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>, “Bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di waktu Shubuh dalam keadaan junub, karena mencampuri istrinya dan beliau tetap berpuasa.” Maksudnya, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak mandi junub kecuali setelah waktu Shubuh.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1</em>, Darul Haq, Cetakan VI, 2010<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/suci-haid-atau-nifas-sebelum-fajar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haid dan Nifas, Makan dan Minum Siang Hari di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita/haid-makan-minum-di-siang-hari-ramadhan.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita/haid-makan-minum-di-siang-hari-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 01:16:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Haid]]></category>
		<category><![CDATA[Nifas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2355</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Bolehkah wanita haid dan wanita nifas makan dan minum di siang hari pada bulan Ramadhan?
Jawaban:
Ya, boleh bagi keduanya untuk makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan, akan tetapi yang lebih utama adalah dilakukan secara tersembunyi, apalagi jika wanita itu mempunyai anak di rumah, karena jika si anak melihat ibunya makan dan minum di siang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah wanita <a title="Haid Ramadhan Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/wanita/haid-makan-minum-di-siang-hari-ramadhan.html" target="_blank">haid</a> dan wanita nifas <a title="Haid Ramadhan Konsultasi Syariah" href="../wanita/haid-makan-minum-di-siang-hari-ramadhan.html" target="_blank">makan</a> dan <a title="Haid Ramadhan Konsultasi Syariah" href="../wanita/haid-makan-minum-di-siang-hari-ramadhan.html" target="_blank">minum</a> di siang hari pada bulan Ramadhan?</p>
<p><span id="more-2355"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Ya, boleh bagi keduanya untuk <a title="Haid Ramadhan Konsultasi Syariah" href="../wanita/haid-makan-minum-di-siang-hari-ramadhan.html" target="_blank">makan</a> dan <a title="Haid Ramadhan Konsultasi Syariah" href="../wanita/haid-makan-minum-di-siang-hari-ramadhan.html" target="_blank">minum</a> di siang hari bulan Ramadhan, akan tetapi yang lebih utama adalah dilakukan secara tersembunyi, apalagi jika wanita itu mempunyai anak di rumah, karena jika si anak melihat ibunya <a title="Haid Ramadhan Konsultasi Syariah" href="../wanita/haid-makan-minum-di-siang-hari-ramadhan.html" target="_blank">makan</a> dan <a title="Haid Ramadhan Konsultasi Syariah" href="../wanita/haid-makan-minum-di-siang-hari-ramadhan.html" target="_blank">minum</a> di siang hari bulan Ramadhan, maka hal itu dapat menimbulkan masalah dalam diri mereka.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1</em>, Darul Haq, Cetakan VI, 2010<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="../" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita/haid-makan-minum-di-siang-hari-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hamil dan Mengeluarkan Darah di Awal Ramadhan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/hamil-pendarahan-ramadhan.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/hamil-pendarahan-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 06:37:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Hamil]]></category>
		<category><![CDATA[Pendarahan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2353</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:
Istri saya sedang hamil dua bulan, tapi ada tetesan darah yang keluar darinya pada permulaan bulan Ramadhan, tepatnya setelah Isya, beberapa hari setelah itu ia mengeluarkan tetesan lain sebelum terbenamnya matahari, saat itu ia tetap meneruskan puasanya, mohon keterangan Anda tentang hal ini?

Jawaban:
Jika wanita itu hamil dan mengeluarkan darah secara tidak teratur, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:</p>
<p>Istri saya sedang hamil dua bulan, tapi ada tetesan darah yang keluar darinya pada permulaan bulan Ramadhan, tepatnya setelah Isya, beberapa hari setelah itu ia mengeluarkan tetesan lain sebelum terbenamnya matahari, saat itu ia tetap meneruskan puasanya, mohon keterangan Anda tentang hal ini?</p>
<p><span id="more-2353"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Jika wanita itu hamil dan mengeluarkan darah secara tidak teratur, yaitu tidak seperti sebelum hamil, maka darah ini bukan masalah, baik setetes atau dua tetes ataupun banyak, karena darah yang keluar dari wanita hamil itu dianggap darah rusak (darah penyakit), lain halnya jika keluarnya darah tersebut berhenti, kemudian keluar lagi seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, maka bagi wanita itu tetap diwajibkan puasa dan shalat, puasanya sah dan begitu pula dengan shalatnya.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1</em>, Darul Haq, Cetakan VI, 2010<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/hamil-pendarahan-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merasa Ada Darah, Namun Belum Keluar Sebelum Matahari Terbenam</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/merasa-ada-darah-namun-belum-keluar-sebelum-matahari-terbenam.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/merasa-ada-darah-namun-belum-keluar-sebelum-matahari-terbenam.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 00:59:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Darah]]></category>
		<category><![CDATA[Matahari Terbenam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2348</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:
Jika seorang wanita merasakan adanya darah dan darah itu belum keluar sebelum terbenamnya matahari, atau ia merasakan sakit yang biasanya ia alami pada masa haid, apakah puasanya itu sah ataukah ia harus meng-qadha puasanya pada hari itu?

Jawaban:
Jika seorang wanita suci merasakan akan datang masa haidnya saat ia puasa, akan tetapi darah itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:</p>
<p>Jika seorang wanita merasakan adanya darah dan darah itu belum keluar sebelum terbenamnya matahari, atau ia merasakan sakit yang biasanya ia alami pada masa haid, apakah puasanya itu sah ataukah ia harus meng-qadha puasanya pada hari itu?</p>
<p><span id="more-2348"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Jika seorang wanita suci merasakan akan datang masa haidnya saat ia puasa, akan tetapi darah itu tidak keluar kecuali setelah terbenamnya matahari, atau ia merasakan sakit haid akan tetapi darah haid itu belum keluar, kecuali setelah terbenamnya matahari, maka puasanya pada hari itu adalah sah dan tidak ada ketetapan meng-qadha puasa pada hari itu jika ia sedang melaksanakan puasa wajib, dan jika ia sedang melaksanakan puasa sunnat, maka kondisi itu tidak menghilangkan pahala puasanya.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, </em>Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI, 2010<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/merasa-ada-darah-namun-belum-keluar-sebelum-matahari-terbenam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Berpuasa Selama Haid, Apa Kewajibannya?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/tidak-berpuasa-selama-haid.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/tidak-berpuasa-selama-haid.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 08:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Haid]]></category>
		<category><![CDATA[Qadha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2345</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Syakih Shalih Al-Fauzan ditanya:
Ibuku berumur enam puluh tahun, ia tidak meng-qadha puasanya selama hari-hari haid di bulan Ramadhan yang telah ia tinggalkan sejak ia bersuamikan ayahku, hal itu dikarenakan ayahku berkata kepada ibuku agar ber-kaffarah dengan memberi makan fakir miskin setiap hari sebagai pengganti qadha puasa, karena ia adalah seorang ibu yang telah memiliki beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syakih Shalih Al-Fauzan ditanya:</p>
<p>Ibuku berumur enam puluh tahun, ia tidak meng-qadha puasanya selama hari-hari haid di bulan Ramadhan yang telah ia tinggalkan sejak ia bersuamikan ayahku, hal itu dikarenakan ayahku berkata kepada ibuku agar ber-kaffarah dengan memberi makan fakir miskin setiap hari sebagai pengganti qadha puasa, karena ia adalah seorang ibu yang telah memiliki beberapa orang anak, hal itu dilakukannya selama dua puluh tahun, dengan tujuh hari masa haid  di setiap bulan Ramadhan, apa yang wajib ia lakukan? Apakah ia harus berpuasa selama hari-hari yang telah ditinggalkan itu atau ia harus bersedekah? Dan berapakah ukuran sedekahnya itu?</p>
<p><span id="more-2345"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Yang wajib dilakukan oleh ibu Anda adalah meng-qadha hari-hati puasa yang telah ia tinggalkan dengan tidak berpuasa di bulan Ramadhan selama masa haid, sekalipun itu terjadi berulang-ulang selama beberapa kali bulan Ramadhan. Hendaklah ia menghitung hari-hari tersebut dan meng-qadha puasa sejumlah hari-hari itu, bersamaan dengan meng-qadha puasa itu ia diwajibkan memberi makan seorang miskin setiap hari selama hari-hari puasa yang di-qadha, sebesar satu setengah sha’ setiap harinya sebagai kaffarah (penebus) penundaan qadha puasa dari waktu yang seharusnya, dan boleh baginya meng-qadha puasa itu secara berurutan atau tidak berurutan sesuai dengan kondisinya.</p>
<p>Yang penting, bahwa tidak boleh baginya meninggalkan qadha puasa itu, dan ayah Anda telah melakukan kesalahan besar dengan mengeluarkan fatwa tanpa didasari ilmu.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita,</em> Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI, 2010<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/bersuci/tidak-berpuasa-selama-haid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haid Datang Sebelum Adzan Magrib ketika Puasa</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita/haid-sebelum-adzan-magrib-puasa.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita/haid-sebelum-adzan-magrib-puasa.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 00:14:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Haid]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu Magrib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2341</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya:
Seorang wanita tengah berpuasa, beberapa saat sebelum adzan Maghrib ia mendapatkan haid, apakah ia harus membatalkan puasanya?
Jawaban:
Jika haid datang beberapa saat sebelum Maghrib, maka puasanya batal dan ia diwajibkan meng-qadha puasa pada hari itu di hari lain, akan tetapi jika haid itu datang setelah terbenamnya matahari, maka puasanya sah dan tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya:</p>
<p>Seorang wanita tengah berpuasa, beberapa saat sebelum adzan Maghrib ia mendapatkan <a title="Haid Puasa Ramadhan Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/wanita/haid-sebelum-adzan-magrib-puasa.html" target="_blank">haid</a>, apakah ia harus membatalkan puasanya?</p>
<p><span id="more-2341"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Jika <a title="Haid Puasa Ramadhan Konsultasi Syariah" href="../wanita/haid-sebelum-adzan-magrib-puasa.html" target="_blank">haid</a> datang beberapa saat sebelum Maghrib, maka puasanya batal dan ia diwajibkan meng-qadha puasa pada hari itu di hari lain, akan tetapi jika <a title="Haid Puasa Ramadhan Konsultasi Syariah" href="../wanita/haid-sebelum-adzan-magrib-puasa.html" target="_blank">haid</a> itu datang setelah terbenamnya matahari, maka puasanya sah dan tidak wajib baginya meng-qadha puasa tersebut.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita,</em> Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI, 2010<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita/haid-sebelum-adzan-magrib-puasa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Wanita Haid Pergi Ziarah Kubur?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita/bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita/bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 04:52:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sholih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita Haid]]></category>
		<category><![CDATA[Ziarah Kubur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1741</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Bolehkah seorang wanita yang sedang haid melakukan ziarah kubur? Mohon jelaskan hukumnya.
Jawaban:
Ziarah kubur bagi kaum laki-laki disepakati kesunnahannya. Adapun ziarah kubur bagi wanita, maka para ulama berbeda pendapat tentangnya.
Pendapat pertama mengatakan bahwa ziarah kubur disyariatkan bagi wanita sebagaimana kaum laki-laki, karena keumuman perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ini adalah pendapat mayoritas pengikut Mazhab Hanafiyyah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah seorang wanita yang sedang haid melakukan ziarah kubur? Mohon jelaskan hukumnya.<br />
<span id="more-1741"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Ziarah kubur bagi kaum laki-laki disepakati kesunnahannya. Adapun ziarah kubur bagi wanita, maka para ulama berbeda pendapat tentangnya.</p>
<p>Pendapat pertama mengatakan bahwa ziarah kubur disyariatkan bagi wanita sebagaimana kaum laki-laki, karena keumuman perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ini adalah pendapat mayoritas pengikut Mazhab Hanafiyyah dan lainnya). Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا</p>
<p><em>“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang lakukanlah ziarah kubur.”</em> (HR. Muslim: 1406)</p>
<p>Pendapat kedua mengatakan bahwa ziarah kubur bagi wanita adalah makruh, karena dalil-dalil yang ada tampaknya kontradiktif (saling bertentangan –ed), sehingga untuk menggabungkannya maka dikatakan makruh (ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad).</p>
<p>Pendapat ketiga mengatakan bahwa ziarah kubur haram bagi wanita (ini adalah pendapat sebagaian pengikut Mazhab Malikiyyah dan lainnya). Pendapat ini didasari oleh laknat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bagi wanita yang berziarah kubur. Dalam sebuah hadits disebutkan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang berziarah kubur.”</em> (HR. al-Hakim: 1/374)</p>
<p>Pendapat terkuat adalah pendapat pertama, yaitu wanita disyariatkan berziarah kubur sebagaimana keumuman perintah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam hadits riwayat Muslim di atas. Hal ini dikuatkan oleh:</p>
<p>- Di antara tujuan ziarah kubur adalah untuk melunakkan hati, dan ini dibutuhkan oleh kaum laki-laki dan perempuan.</p>
<p>- Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah mengizinkan Aisyah menziarahi kuburan saudaranya, Abdurrahman bin Abi Bakar.</p>
<p>- Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak mengingkari seorang wanita yang duduk di samping kubur dalam keadaan bersedih (HR. al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Adapun hadits tentang laknat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka hadits tersebut berderajat lemah sehingga tidak dapat dijadikan sebagai hujjah (argumentasi) untuk melarang wanita melakukan ziarah kubur. Hadits tersebut lemah karena dalam sanadnya terdapat Badzam Abu Shalih, yang menurut kebanyakan pakar hadits adalah rawi lemah.</p>
<p><strong>Perhatian:</strong></p>
<p>Akan tetapi, wanita disyariatkan berziarah kubur dengan syarat tidak boleh sering-sering melakukannya, karena terdapat hadits shahih yang menunjukkan larangan wanita terlalu sering berziarah kubur. Abu Hurairah berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang sering berziarah kubur.” </em>(HR. at-Tirmidzi: 1056, Ibnu Majah: 1576, dan dinilai hasan oleh al-Albani dalam<em> Irwa’ al-Ghalil</em>: 762)</p>
<p>Kesimpulan:</p>
<p>Hukum wanita berziarah kubur diperselisihkan oleh para ulama, dan yang lebih kuat adalah yang menyatakan bahwa ziarah kubur bagi wanita adalah disyariatkan, tetapi tidak boleh sering. Adapun wanita yang sedang haid, maka dia tidak terhalangi untuk berziarah kubur, karena dalam berziarah kubur, seseorang tidak disyariatkan berada dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun besar.</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, edisi 11, tahun ke-8, 1430 H/2009 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita/bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Memutuskan Antara Darah Haid, Istihadhah atau Selainnya?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita/bagaimana-memutuskan-antara-darah-haid-istihadhah-atau-selainnya.html</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita/bagaimana-memutuskan-antara-darah-haid-istihadhah-atau-selainnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 12:19:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[Haid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1591</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Jika seorang wanita mengeluarkan darah yang serupa dan tidak bisa dibedakan apakah itu darah haid, istihadhah atau selainnya, apa yang harus dia lakukan?
Jawaban:
Asal darah yang keluar dari seorang wanita adalah darah haid, hingga adanya penjelasan bahwa itu adalah darah istihadhah. Dengan demikian dia harus menganggapnya darah haid selama belum ada penjelasan bahwa itu adalah darah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika seorang wanita mengeluarkan darah yang serupa dan tidak bisa dibedakan apakah itu darah haid, istihadhah atau selainnya, apa yang harus dia lakukan?</p>
<p><span id="more-1591"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Asal darah yang keluar dari seorang wanita adalah darah haid, hingga adanya penjelasan bahwa itu adalah darah istihadhah. Dengan demikian dia harus menganggapnya darah haid selama belum ada penjelasan bahwa itu adalah darah istihadhah.</p>
<p>Sumber:<em> Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam)</em>, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita/bagaimana-memutuskan-antara-darah-haid-istihadhah-atau-selainnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
