WANITA – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Sat, 22 Jul 2017 02:08:54 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.5 Darah Haid Berhenti Di Tengah Siklus Haid https://konsultasisyariah.com/29675-darah-haid-berhenti-di-tengah-siklus-haid.html Wed, 28 Jun 2017 18:33:47 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29675 Darah Haid Berhenti Sebelum Waktunya

Assalamu’alaikum, Ustadz, Mhn izin ana mau tanya perihal haid bagi wanita. Siklus haid biasanya 8 hari, 3 hari haid, hari ke 4-5-6 bersih (tidak keluar darah), kemudian hari ke 7-8 keluar haid lagi. Pertanyaanya: bagaimana hukum hari ke 4-5-6 tersebut? Apakah dihukumi suci atau haid? Syukran

Dari : Beni, di Jakarta.

Jawaban :

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah wasshollatu wassalam ‘ala Rasulillah, waba’d.

Untuk mengetahui hukumnya, kita lihat apakah ada tanda-tanda suci ketika darah haid itu berhenti, ataukah tidak.

Bila darah berhenti di tengah siklus haid, disertai tanda suci haid, maka wanita tersebut dihukumi suci. Ia wajib sholat dan puasa. Para ulama menyebut kasus seperti ini dengan istilah talfiq.

Namun bila darah berhenti di tengah siklus haid, tanpa disertai tanda suci haid, maka ia dihukumi masih haid. Meskipun darah haid berhenti keluar.

Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

الطُّهْرَ فِي أَثْنَاءِ الْحَيْضَةِ طُهْرٌ صَحِيحٌ ، فَإِذَا رَأَتْ يَوْمًا طُهْرًا وَيَوْمًا دَمًا ، وَلَمْ يُجَاوِزْ أَكْثَرَ الْحَيْضِ ، فَإِنَّهَا تَضُمُّ الدَّمَ إلَى الدَّمِ ، فَيَكُونُ حَيْضًا ، وَمَا بَيْنَهُمَا مِنْ النَّقَاءِ طُهْر .

Suci ketika masih dalam siklus haid, adalah suci yang teranggap sah. Apabila seorang wanita melihat satu hari suci, kemudian hari yang lain keluar darah, selama tidak sampai melebih siklus haid yang biasa ia alami, maka saat darah keluar ia dihukumi belum suci. Saat ia suci dari darah haid dalam siklus haid, maka dihukumi suci. (Al-Mughni, 1/217).

Adapun tanda suci haid ada dua :

Pertama, keluar cairan bening (qossoh baidho’).

Yakni cairan bening yang keluar dari rahim.

Kedua, keringnya farji (kemaluan), tidak ada lagi darah haid yang keluar.
Tanda ini bisa digunakan para wanita yang tidak memiliki kebiasaan keluar cairan putih ketika suci haid. Caranya bisa dengan menempelkan kapas, bila tidak ada lagi bekas darah, maka dihukumi telah suci.

Bila Keluar Flek Keruh atau Cairan Kekuningan ?

Darah berhenti ditengah siklus haid, namun kemudian berganti flek keruh atau kekuningan yang keluar. Bagaimana menyikapinya?

Flek keruh atau kecoklatan dalam bahasa fikih disebut kadroh, sedangkan cairan kekuningan disebut dengan istilah sufroh. Untuk mengetahui hukumnya, kita perlu melihat kapan cairan ini keluar.

1- Apabila keluar sebelum terlihat tanda suci haid, maka seorang wanita yang mengalami keluar flek tetap dihukumi haid.

Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

قال : ( والصفرة والكدرة في أيام الحيض من الحيض ) يعني إذا رأت في أيام عادتها صفرة أو كدرة ، فهو حيض ، وإن رأته بعد أيام حيضها ، لم يعتد به

Hukum sufroh dan kadroh apabila keluar dalam siklus haid maka dihukumi sebagai haid. Maksudnya apabila melihatnya keluar dalam hari-hari yang menjadi siklus rutin haidnya maka dihukumi haid. Bila melihatnya keluar setelah hari-hari yang menjadi siklus haid maka cairan ini tidak dianggap sebagai haid.
(Al Mughni 1/475).

2- Namun bila keluar setelah tampak tanda suci haid, maka sang wanita dihukumi suci.

Ummu Athiyyah radhiyallahu’anha menerangkan,

كُـنّـا لا نَـعُـدّ الكدرة والصفرة شيئا

Dahulu kami (para sahabat wanita) tidak menganggap kadroh dan sufroh sebagai haid sama sekali. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori).

Dalam riwayat Abu Dawud ditambahkan,

كنا لا نعد الكدرة والصفرة بعد الغسل شيئا

Dahulu kami (para sahabat wanita) sama sekali tidak menganggap kadroh dan sufroh sebagai haid, yakni apabila keluar setelah mandi wajib.

Wallahua’lam bis showab.

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Punya Utang Puasa Karena Haid selama Tahunan https://konsultasisyariah.com/29568-punya-utang-puasa-karena-haid-selama-tahunan.html Mon, 29 May 2017 04:52:17 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29568 Utang Puasa Karena Haid selama Tahunan

Dari pertama haid hingga sekarang belum pernah qodho Ramadan. Sudah tahu harus bayar qodho, tapi lupa/malas.

Kalau dihitung dari sejak pertama haid, maka qodho yang harus dibayar adalah sekitar 600an hari… Apakah harus bayar seluruh qodho 600an hari karena haid adalah uzur yang harus dibayarkan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ulama sepakat, bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadhan, dia harus mengqadha puasanya sebelum masuk Ramadhan berikutnya – selama masih mampu puasa –. Qadha boleh saja ditunda, tapi maksimal sampai bulan Sya’ban (bulan sebelum ramadhan).

Aisyah menceritakan pengalamannya ketika memiliki utang puasa Ramadhan,

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

Dulu saya memiliki utang puasa Ramadhan. Dan saya tidak mampu untuk mengqadha’nya kecuali di bulan Sya’ban. (Muttafaq ‘alaih)

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

وَيؤْخَذ مِنْ حِرْصهَا عَلَى ذلك في شَعْبَان: أَنَّهُ لا يجُوز تَأْخِير الْقَضَاء حَتَّى يدْخُلَ رَمَضَان آخر

Disimpulkan dari semangat Aisyah untuk membayar utang puasa di bulan Sya’ban, bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha sampai masuk Ramadhan berikutnya. (Fathul Bari, 4/191)

Menunda Qadha Puasa hingga Masuk Ramadhan Berikutnya ,

Ada 2 kondisi bagi mereka yang menunda qadha puasa Ramadhan,

Pertama, mereka yang menunda qadha puasa dan memiliki udzur

Misalnya, wanita hamil, tidak puasa dan belum sempat qadha hingga masuk ramadhan berikutnya, karena menyusui.

Tidak ada kewajiban lain baginya, selain hanya qadha puasa ketika sudah memungkinkan baginya.

Kedua, menunda qadha puasa hingga masuk ramadhan berikutnya tanpa udzur.

Ada 3 kewajiban untuk orang yang melakukan pelanggaran ini

[1] Pelakunya wajib bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, karena ini termasuk perbuatan dosa.

[2] Wajib segera mengqadha puasanya di luar ramadhan

[3] Wajib membayar kaffarah dalam bentuk memberi makan orang miskin sesuai jumlah hari puasa yang belum dia qadha. Ini merupakan pendapat jumhur. Berbeda dengan pendapat Hasan al-Bashri, an-Nakha’I, dan Hanafiyah, mereka hanya diwajibkan membayar qadha saja.

Ibnu Qudamah menjelaskan,

فإن أخرَّه عن رمضان آخر، نظرنا: فإن كان لعُذر، فليس عليه إلا القضاء، وإن كان لغير عذر، فعلَيْه مع القضاء إطعام مسكين لكل يوم، وبهذا قال ابن عباس، وابن عمر، وأبو هريرة، ومجاهد، وسعيد بن جبير، ومالك، والثوري، والأوزاعي، والشافعي، وإسحاق، وقال الحسن والنخَعي وأبو حنيفة: لا فدْية عليه؛ لأنه صوم واجبٌ, فلم يجبْ عليه في تأخيره كفارة، كما لو أخَّر الأداء والنذر

Jika seseorang mengakhirkan qadha puasa Ramadhan hingga masuk Ramadhan berikutnya, kita rinci, jika karena udzur, tidak ada kewajiban apapun baginya selain qadha. Jika tanpa udzur maka dia wajib qadha dan memberi makan orang miskin sejumlah hari puasa yang belum diqadha. Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Mujahid, Said bin Jubair, Malik, at-Tsauri, al-Auza’I, as-Syafi’i, dan Ishaq bin Rahuyah.

Sementara Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha’I, dan Abu Hanifah mengatakan, tidak ada kewajiban fidyah, karena ini puasa wajib. Tidak ada kewajiban kaffarah karena mengakhirkan qadha puasa, sebagaimana ketika dia mengakhirkan pelaksanaan ibadah dan nadzar. (al-Mughni, 3/85)

As-Syaukani menukil perkataan Thahawi,

وقال الطحاوي عن يحيى بن أكثم قال: وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا

At-Thahawi meriwayatkan dari Yahya bin Aktsam, beliau mengatakan, “Aku jumpai pendapat yang mewajibkan kaffarah ini dari 6 sahabat. Saya tidak mengetahui adanya silang pendapat dengan mereka.” (Nailul Authar, 4/278).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Mengalami Haid sebelum Mandi Junub https://konsultasisyariah.com/29551-mengalami-haid-sebelum-mandi-junub.html Thu, 25 May 2017 01:45:22 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29551 Haid sebelum Mandi Junub

Jika setelah berhubungan suami istri belum sempat mandi waji dan ditimpa haid. bagaimana niat bersucinya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ketika wanita mengalami junub kemudian datang haid sebelum mandi junub, ada 2 penyebab hadats besar di sana,

[1] Hadats besar karena junub

[2] Hadats besar karena haid

Dan dua hadats besar ini rentang masanya berbeda. Hadats karena junub bisa diselesaikan ketika orangnya mandi, sehingga kembali kepada keinginan pelaku. Sementara hadats karena haid tidak bisa diselesaikan kecuali sampai darahnya berhenti. Dan ini bisa jadi di luar keinginan dan kendali pelaku.

Apakah wanita ini wajib mandi 2 kali?

Para ulama menegaskan, wanita ini tidak wajib mandi dua kali. Dia boleh mandi sekali, setelah haidnya berhenti dan itu mencukupi untuk kedua sebab hadats besar yang dia alami.

Imam as-Syafi’i dalam al-Umm menyatakan,

إذا أصابت المرأة جنابة ثم حاضت قبل أن تغتسل من الجنابة لم يكن عليها غسل الجنابة وهي حائض، لأنها إنما تغتسل فتطهر بالغسل وهي لا تطهر بالغسل من الجنابة وهي حائض، فإذا ذهب الحيض عنها أجزأها غسل واحد

Ketika wanita junub, lalu mengalami haid sebelum mandi junub, dia tidak wajib untuk mandi junub selama masa haid. Karena fungsi mandi bisa menyebabkan orang menjadi suci, sementara dia tidak bisa suci dengan mandi junub, sementara dia dalam kondisi haid. Jika haidnya telah selesai, dia boleh mandi sekali. (al-Umm, 1/45).

Keterangan lain disampaikan Ibnu  Qudamah,

إذا كان على الحائض جنابة، فليس عليها أن تغتسل حتى ينقطع حيضها، نص عليه أحمد وهو قول إسحاق، وذلك لأن الغسل لا يفيد شيئاً من الأحكام

Jika wanita haid mengalami junub, dia tidak wajib untuk mandi sampai haidnya berhenti. Demikian yang ditegaskan Imam Ahmad, dan ini juga pendapat Ishaq bin Rahuyah. Karena mandi ketika haid tidak memberikan pengaruh hukum sama sekali. (al-Mughni, 1/241)

Artinya, hadats besarnya tidak hilang.

Apakah hadats besar karena sebab junubnya bisa hilang?

Imam Ahmad menegaskan, sebab junubnya bisa hilang dengan mandi junub, meskipun dia masih haid.

Ibnu Qudamah mengatakan,

فإن اغتسلت للجنابة في زمن حيضها , صح غسلها , وزال حكم الجنابة . نص عليه أحمد , وقال : تزول الجنابة , والحيض لا يزول حتى ينقطع الدم . قال : ولا أعلم أحدا قال : لا تغتسل . إلا عطاء , وقد روي عنه أيضا أنها تغتسل

Jika ada orang mandi junub di masa sedang haid, hukum mandinya sah, dan hilang status status junubnya. Demikian yang ditegaskan Imam Ahmad. Beliau mengatakan, “Junubnya hilang, sementara haidnya tidak hilang sampai darah berhenti.” Beliau juga mengatakan, “Saya tidak tahu adanya ulama yang mengatakan, ‘Jangan mandi.’ Selain Atha’, dan diriwayatkan dari beliau bahwa beliau juga mengajarkan untuk mandi.” (al-Mughni, 1/154)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Haid di 60 tahun, Apakah Tetap Shalat? https://konsultasisyariah.com/29488-haid-di-60-tahun-apakah-tetap-shalat.html Mon, 15 May 2017 02:00:56 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29488 Nenek Haid, Bagaimana Shalatnya?

Jika ada wanita yang mengeluarkan darah di usia 60 tahun atau lebih, selama sepekan. Apakah dia tidak boleh shalat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada beberapa jenis wanita terkait kondisi reproduksinya yang berhubungan dengan hukum syar’i,

[1] Wanita yang belum mengalami haid – anak perempuan yang belum baligh

[2] Wanita produktif – bisa mengalami haid secara normal

[3] Wanita dalam kondisi hamil

[4] Wanita yang tidak bisa haid lagi – wanita yang mengalami menapause

Kondisi mereka Allah sebutkan di surat at-Thalaq,

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. at-Thalaq: 4)

Kepentingan kita dari kesimpulan ini bahwa ada wanita yang tidak lagi mengalami haid karena sudah menapause. Artinya ada batas maksimal usia, di mana tidak lagi disebut wanita yang mengalami haid (sinnul ya’si).  (Tafsir al-Qurthubi, 18/162).

Apakah ada batas usia maksimal untuk haid?

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

[1] Jumhur ulama berpendapat, ada batas usia maksimal untuk haid. Sehingga jika ada darah keluar melebihi dari batas usia itu maka tidak terhitung sebagai darah haid.

[2] Tidak ada batas usia maksimal untuk haid. Artinya, selama ada darah yang keluar maka terhitung haid, meskipun sudah melebihi usia menapaus.

Ini merupakan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnu Utsaimin.

Syaikhul Islam mengatakan,

ولا حد لسن تحيض فيه المرأة ، بل لو قدر أنها بعد ستين أو سبعين رأت الدم المعروف من الرحم لكان حيضا

Tidak ada batasan usia untuk masa haid wanita. Sehingga andai ada wanita dengan usia di atas 60 atau 70 tahun mengeluarkan darah dengan ciri yang umumnya dari rahim, maka terhitung haid. (Majmu’ Fatawa, 19/240)

Keterangan Imam Ibnu Utsaimin,

التي يأتيها دم على صفته المعروفة يكون دَمها دم حيض صحيح على القول الراجح ، إذ لا حَدّ لأكثر سِن الحيض

Wanita yang keluar darah seperti ciri darah haid, maka terhitung sebagai haid menurut pendapat yang benar. karena tidak ada batasan maksimal usia haid. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 11/201).

Sementara untuk pendapat jumhur yang menyatakan ada batasan maksimal usia haid, mereka berbeda pendapat berapa batas maksimalnya. Dalam Mawahib al-Jalil – kitab Malikiyah – dinyatakan,

وأما الآيسة فاختلف في ابتداء سن اليأس فقال ابن شعبان خمسون قال ابن عرفة: ولم يحك الباجي غيره  ووجه قول عمر بن الخطاب رضي الله عنه ابنة خمسين عجوز في الغابرين وقول عائشة رضي الله عنها قَلَّ امرأة تجاوز خمسين سنة فتحيض إلا أن تكون قرشية وقال ابن شاس سبعون وقال في التوضيح: وقال ابن رشد: والستون

Untuk kasus menapaus, para ulama berbeda pendapat mengenai batasan usia menapause. Ibnu sya’ban mengatakan, 50 tahun. kata Ibnu Arafah, “Imam Al-Baji menyatakan sama.” Alasan mereka adalah pernyataan Umar bin Khatab bahwa wanita di usia 50 tahun adalah ajuz (nenek), dan keterangan Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Sangat jarang ada wanita melebihi  usia 50 tahun yang mengalami haid, selain wanita quraisy.”

Ibnu Syas mengatakan, batasnya 70 tahun. dalam at-Taudhih disebutkan, menurut Ibnu Rusyd, 60 tahun.

(Mawahib al-Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, 1/540)

Sementara itu, menurut ulama hambali, keberadaan haid di usia menapaus, kembali kepada kondisi apakah masih memungkinkan untuk mengalami haid ataukah tidak. Masih memungkinkan mengalami haid, dan mereka batasi antara 50 sampai 60 tahun, maka darah yang keluar terhitung haid. Jika lebih dari itu, maka darah yang keluar tidak terhitung haid.

Ibnu Qudamah mengatakan,

وإن رأت الدم بعد الخمسين على العادة التي كانت تراه فيها فهو حيض في الصحيح، لأن دليل الحيض الوجود في زمن الإمكان، وهذا يمكن وجود الحيض فيه، وإن كان نادراً، وإن رأته بعد الستين فقد تيقن أنه ليس بحيض لأنه لم يوجد ذلك

Jika wanita di atas usia 50 tahun melihat darah dengan ciri sesuai kebiasaan yang pernah dia alami sebelumnya, maka terhitung haid menurut pendapat yang benar. karena bukti adanya haid terjadi di waktu yang memungkinkan baginya mengalami haid. Dan di usia itu, masih memungkinkan adanya haid. Meskipun jarang. Namun jika keluar di atas 60 tahun, dia bisa yakini bahwa itu bukan haid, karena tidak ada haid di atas itu. (al-Mughni, 9/87).

Dan insyaaAllah inilah pendapat yang lebih mendekati. Karena itu, bagi wanita yang normalnya tidak mungkin mengalami haid, kemudian dia mengeluarkan darah maka tidak terhitung haid. Sehingga dihukumi sebagai wanita suci yang mengalami istihadhah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Solusi Bagi yang Haid ketika Umrah https://konsultasisyariah.com/29456-solusi-bagi-yang-haid-ketika-umrah.html Wed, 03 May 2017 01:51:36 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29456 Haid ketika Umrah

Jika pada saat kita akan mengambil miqat umrah kemudian wanita mendapatkan haid bgmna tata cara rangkaian umrah yg sesuai dg syariat. Ada wanita, setelah hendak meninggalkan medinah sy mendapat haid. Sy tetap mandi sunat ihram kemudian berniat umrah di Bir Ali. Jika rombongan menjelang pulang sementara haid blm suci, apa yg harus dilakukan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, Ada 3 istilah yang perlu kita kenali,

[1] Ihram: niat untuk melakukan manasik haji atau umrah (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 2/129).

Dan ketika seseorang melakukan ihram, dia harus memperhatikan aturan dan larangan ketika ihram.

[2] Haji: rangkaian kegiatan ibadah tertentu di tanah haram, selama waktu tertentu.

[3] Umrah: rangkaian ibadah tertentu yang dilakukan di masjidil haram, yang meliputi thawaf, sai, dan tahallul. (Fiqh Sunah, 1/749).

Orang yang hendak melakukan haji atau umrah, disyaratkan harus dalam kondisi ihram. Dan ihram harus dilakukan di luar miqat. Ibarat orang yang mau ke luar negeri, dia harus memiliki visa sebelum dia masuk negara lain. Setelah punya visa, dia bisa ke kota Mekah, ke Madinah, atau ke Jedah.

Kedua, Orang boleh melakukan ihram baik untuk Haji maupun Umrah dalam kondisi haid ataupun hadats besar. Karena tidak disyaratkan dalam ihram, harus suci dari hadats besar maupun kecil.

Ada beberapa dalil yang menegaskan hal ini,

[1] Hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,

Bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat Haji, sesampainya di Dzulhulaifah (Bir Ali – Miqat penduduk Madinah), Asma’ bintu Umais (istri Abu Bakr) melahirkan anaknya. kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Bakr untuk agar menyuruh istrinya untuk mandi dan berniat ihram. (HR. Muslim 1210)

Ketika wanita melahirkan, dia akan mengalami nifas. Dan wanita nifas, dalam kondisi hadats besar. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan Asma’ untuk melanjutkan ihramnya dalam rangka berhaji.

[2] Hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha

Beliau bercerita pengalamannya ketika berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ . . فَقَدِمْتُ مَكَّةَ وَأَنَا حَائِضٌ وَلَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ وَلا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ، فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : انْقُضِي رَأْسَكِ وَامْتَشِطِي وَأَهِلِّي بِالْحَجِّ

Saya ikut haji wada’ bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.. ketika sampai Mekah, saya mengalami haid, sehingga tidak bisa thawaf di Ka’bah dan tidak sa’i. Akupun mengadukan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Lepas gelunganmu, bersisirlah, dan niatkan ihram untuk berhaji.” (HR. Bukhari 1556 & Muslim 1211).

An-Nawawi mengatakan,

وفي هذا دليل على أن الحائض والنفساء والمحدث والجنب يصح منهم جميع أفعال الحج وأقواله وهيأته إلا الطواف وركعتيه فيصح الوقوف بعرفات وغيره

Dalam hadis ini dalil bahwa wanita haid, nifas, orang yang hadats, dan orang junub, sah melakukan semua amalan haji, membaca doa-doanya, dan tata caranya kecuali thawaf dan melakukan 2 rakaat setelahnya. Mereka boleh melakukan wukuf di Arafah atau yang lainnya.. (Syarh Shahim Muslim, 8/146).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَائِضُ وَالنُّفَسَاءُ إِذَا أَتَتَا عَلَى الْوَقْتِ (أَيْ : الْمِيقَات) تَغْتَسِلانِ وَتُحْرِمَانِ وَتَقْضِيَانِ الْمَنَاسِكَ كُلَّهَا غَيْرَ الطَّوَافِ بِالْبَيْتِ

Wanita haid dan nifas ketika tiba di miqat maka dia mandi dan berniat ihram, serta boleh melakukan semua manasik selain thawaf di Ka’bah. (HR. Abu Daud 1744 dan dishahihkan al-Albani).

Karena itu, bagi wanita haid, harus tetap berniat untuk umrah ketika di Miqat.

Ketiga, Dibolehkan bagi wanita haid untuk mengkonsumsi obat pencegah haid

Hal ini pernah difatwakan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أن ابن عمر رضي الله عنه سئل عن امرأة تطاول بها دم الحيضة فأرادت أن تشرب دواء يقطع الدم عنها فلم ير ابن عمر باسا

Bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya tentang wanita yang haidnya lama. Wanita ini ingin mengkonsumsi obat pencegah haid. Dan beliau menilai tidak masalah. (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf, 1/318).

Selama darah berhenti sempurna, wanita ini dinilai suci. Sehingga boleh untuk melakukan thawaf dan shalat.

Namun jika masih ada darah yang keluar, meskipun setetes, maka statusnya haid.

Dari Ibnu Juraij,

سئل عطاء عن امرأة تحيض يجعل لها دواء فترتفع حيضتها وهي في قرئها كما هي تطوف

Atha’ ditanya tentang wanita yang mengalami haid, mengkonsumsi obat pencegah haid, hingga haidnya berhenti, padahal itu di rentang waktu yang menjadi kebiasaannya, apakah dia boleh thawaf?

Jawab Atha’,

نعم إذا رأت الطهر فإذا هي رأت خفوقا ولم تر الطهر الأبيض فلا

Boleh, jika dia yakin darahnya berhenti. Namun jika dia merasa darahnya masih ada yang keluar meskipun setetes dan tidak berhenti maka belum suci. (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf, 1/318).

Keempat, jika haid tetap tidak berhenti sampai jadwal kepulangan, sementara tidak mungkin baginya untuk tetap tinggal di sana menunggu suci, apa yang harus dilakukan?

Dalam hal ini ada 2 rincian:

[1] Jika memungkinkan baginya untuk kembali ke Mekah setelah suci untuk mengulang umrah, maka dia bisa pulang sementara, dan jika sudah suci, dia kembali lagi ke Mekah untuk umrah. Kondisi ini hanya mungkin bagi yang tinggal di sekitar Mekah atau penduduk Saudi.

[2] Jika tidak memungkinkan baginya untuk kembali, seperti penduduk luar saudi, maka wanita ini dalam kondisi darurat, sehingga gugur baginya syarat suci haid untuk menyelesaikan kegiatan umrahnya. Artinya, dia boleh masuk masjidil haram, melakukan thawaf, dan sai dalam kondisi haid. Namun dia harus memastikan memakai pembalut, agar tidak ada darah yang mengenai masjid.

Kasus di atas pernah ditanyakan kepada Lajnah Daimah. Jawaban Lajnah,

إذا كان الأمر كما ذكر من حيض المرأة قبل الطواف وهي محرمة ، ومحرمها مضطر للسفر فوراً وليس لها محرم ولا زوج بمكة ، سقط عنها شرط الطهارة من الحيض لدخول المسجد وللطواف للضرورة ، فتستثفر وتطوف وتسعى لعمرتها

Jika masalahnya seperti yang disebutkan, wanita mengalami haid sebelum thawaf, dan dia dalam kondisi ihram, sementara mahramnya harus segera melakukan safar, dan wanita ini tidak memiliki mahram dan tidak ada suaminya di Mekah maka gugur baginya syarat suci dari haid untuk masuk masjidil haram dan thawaf karena dharurat. Dia harus memakai pembalut, kemudian melakukan thawaf dan sai untuk umrah.

Kemudian Lajnah Daimah melanjutkan penjelasannya,

إلا إنْ تيسر لها أن تسافر وتعود مع زوج أو محرم ، لقرب المسافة ويسر المؤونة فتسافر وتعود فور انقطاع حيضها لتطوف طواف عمرتها وهي متطهرة ، فإن الله تعالى يقول : (يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر)

Kecuali jika memungkinkan baginya untuk melakukan safar dan kembali lagi ke Mekah bersama mahramnya atau suaminya, karena jaraknya dekat atau biaya safarnya murah, dia bisa safar dan segera kembali ketika darah haidnya telah berhenti, untuk melakukan thawaf umrah dalam kondisi suci. Karena Allah berfirman, (yang artinya), “Allah menghendaki kemudakan untuk kalian dan tidak menghendaki kesulitan untuk kalian.” (Fatawa Islamiyah, 2/238).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Cairan Keruh dan Kekuningan Sebelum Haid https://konsultasisyariah.com/29251-cairan-keruh-dan-kekuningan-sebelum-haid.html Thu, 02 Mar 2017 01:54:14 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29251 Cairan Kekuningan Sebelum Haid

Apakah cairan keruh & kekuningan sebelum haid terhitung haid?

Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Cairan kecoklatan (kudrah) atau cairan kekuningan (shufrah) yang keluar sebelum haid, apakah terhitung haid?

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,

Pertama, tidak terhitung haid sama sekali

Ini adalah pendapat Imam Ibnu Utsaimin yang terakhir.

Beliau mengatakan,

الذي ظهر لي أخيراً ، واطمأنت إليه نفسي أن الحيض هو خروج الدم فقط ، وأما الصفرة و الكدرة فليستا بحيض حتى لو كانتا قبل القصة البيضاء

Kesimpulan akhir, yang kuat bagiku dan yang lebih menenangkan diriku, bahwa haid adalah yang keluar darah saja. Sementara shufrah (cairan kekuningan) dan cairan keruh tidak termasuk haid, meskipun keluar sebelum adanya cairan putih. (Tsamarat at-Tadwin, hlm. 24).

Di kesempatan lain, Beliau juga pernah ditanya,

“Ada wanita yang keluar kudrah selama 7 hari. Setelah itu keluar darah haid selama 20an hari, lalu suci selama 3 bulan. Bagaimana hukum darah dan cairan kudrah ini?”

Jawab beliau,

الدم كله حيض ، والكدرة ليست بشيء مطلقاً

Darah itu semuanya haid, sementara kudrah tidak dihitung sama sekali. (Tsamarat at-Tadwin, hlm. 25)

Kedua, bahwa shufrah dan kudrah terhitung haid, jika:

[1] Keluar di waktu haid atau satu-dua hari sebelum haid.

[2] Disertai suasana mules sebagaimana ketika haid.

Pendapat ini dikemukakan oleh Fatwa Islam no. 179069 dan bersandar dengan Fatwa Imam Ibnu Baz, hanya saja beliau mempersyaratkan antara shufrah dengan kudrah, itu bersambung, tidak harus diiringi rasa sakit. (Fatwa Nur ‘ala ad-Darb, 2/663-664)

Dan ini juga pendapat pertama Imam Ibnu Utsaimin. Beliau mengatakan,

إن كانت هذه الكدرة من مقدمات الحيض فهي حيض ، ويُعرف ذلك بالأوجاع والمغص الذي يأتي الحائض عادة

Jika cairan keruh ini merupakan mukadimah haid, maka terhitung haid. Dan itu bisa diketahui dengan adanya rasa sakit, mules, seperti yang umumnya dialami wanita haid. (Risalah ad-Dima’ at-Thabi’iyah, hlm 59).

Dan insyaaAllah, pendapat kedua inilah yang mendekati kebenaran.

Demikian, Allahu a’lam,

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Haram Wanita Memakai Sepatu Jinjit? https://konsultasisyariah.com/29209-haram-wanita-memakai-sepatu-jinjit.html Fri, 17 Feb 2017 23:45:06 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29209 Wanita Dilarang Memakai Sepatu Jinjit?

Benarkah memakai sepatu jinjit dilarang? Krn banyak wanita karier di sekitar kami memakainya

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita,

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ قَصِيرَةً فَاتَّخَذَتْ لَهَا نَعْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ فَكَانَتْ تَمْشِي بَيْنَ امْرَأَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ تَطَاوَلُ بِهِمَا

Ada seorang wanita Bani Israel yang bertubuh pendek memakai sandal dari kayu. Kemudian berjalan diantara dua wanita yang tinggi agar terlihat tinggi dengan sandal itu. (HR. Ibnu Hibban 5592 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Baca: Ketika Suami Memaksa Istri Lepas Jilbab

Dalam riwayat lain, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن أول ما هلك بنو إسرائيل أن امرأة الفقير كانت تكلفه من الثياب أو الصيغ  ما تكلف امرأة الغني . فذكر امرأة من بني اسرائيل كانت قصيرة ، واتخذت رجلين من خشب ، وخاتماً له غلق وطبق ، وحشته مسكاً ، وخرجت بين امرأتين طويلتين أو جسيمتين ، فبعثوا إنساناً يتبعهم ، فعرف الطويلتين ، ولم يعرف صاحبة الرجلين من خشب

Sesungguhnya sumber kebinasaan pertama yang dialami Bani Israil adalah adanya seorang wanita miskin yang memaksakan diri untuk membeli baju dna parfum gaya wanita kaya… lalu beliau menyebutkan ada wanita bani Israil yang pendek, lalu dia memakai sandal tinggi dari kayu, dan cincin yang bermata besar, dan dia menaburi dirinya dengan wewangian. Lalu dia berjalan diantara 2 wanita yang tinggi badannya, sehingga banyak lelaki membuntuti mereka. orang mengenal dua wanita yang tinggi, tapi tidak kenal wanita yang memakai jinjit. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Hadis di atas menunjukkan celaan bagi wanita yang memakami alas kaki jinjit. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan hal di atas dalam konteks celaan. Sehingga ketika wanita muslimah melakukannnya, hakekatnya dia meniru wanita Bani Israil.

Baca: Kaki Wanita Termasuk Aurat?

Disamping itu, ada pertimbangan lain, yang menunjukkan sisi larangan sepatu jinjit,

Pertama, ini bagian dari tabarruj

Allah melarang wanita melakukan tabarruj,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dengan tabarruj seperti orang-orang Jahiliyah.. (QS. al-Ahzab: 33).

Dan makna tabarruj menurut syar’i meliputi memperlihatkan apa yang tidak boleh diperlihatkan, berbusana yang menyingkap aurat, berikhtilath (campur baur) dengan lelaki, bersentuhan dengan mereka, jabat tangan, berdesak-desakan, dan sebagainya, termasuk berlaku genit dalam berjalan dan berbicara di hadapan mereka.

Dan kita bisa memahami, salah satunya memakai sandal atau sepatu jinjit. Karena wanita memakai ini, agar kelihatan semakin seksi, semakin menarik dipandang lelaki.

Kedua, ini penipuan (tazwir)

Menampakkan kenyataan tidak sesuai kondisi aslinya. Allah mencela orang yang merasa bangga dengan pujian, yang tidak dia miliki,

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka perbuat dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. (QS. Ali Imran: 188).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang hal ini. Beliau bersabda,

المتشبِّعُ بِما لَم يُعْطَ كلابس ثوبَي زور

“Orang yang (berpura-pura) berpenampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian palsu (kedustaan).” (HR. Muslim 2129)

Ketiga, Semakin mengeraskan suara kaki

Allah melarang para wanita membunyikan gelang di kaki,

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ

Janganlah mereka (kaum wanita) menghentakkan kakinya (saat berjalan), hingga diketahui bahwa mereka menggunakan perhiasan yang tersembunyi…” (QS. an-Nur: 31).

Memakai sepatu atau sandal jinjit seperti ini, akan menimbulkan suara yang menarik perhatian lawan jenis. Lebih-lebih jika haknya runcing maka suaranya semakin keras. Padahal tindakan ini bisa lebih cepat mengundang perhatian lelaki dan membangkitkan syahwat mereka.

Keempat, membahayakan kesehatan

Jika anda masih belum puas dengan alasan syar’i di atas, semoga alasan membahayakan kesehatan membuat anda sanggup meninggalkannya. Hanya saja, meninggalkan larangan syariat karena alasan kesehatan, bisa jadi tidak ada nilai pahalanya.

Baca: Rambut Rontok Wanita Termasuk Aurat?

Tekanan secara terus-menerus pada telapak kaki bagian depan akibat penggunaan sepatu hak tinggi, terutama yang berujung lancip atau yang ukurannya terlalu kecil dapat mengakibatkan kelainan bentuk kaki seperti,

  • Hammer toes: kondisi saat tiga jari kaki paling tengah menjadi bengkok.
  • Bunion:  benjolan tulang pada sendi di pangkal jempol kaki.

Disamping itu, Tendon Achilles pada kaki memendek ketika Anda mengenakan sepatu hak tinggi. Sehingga pemakaian hak tinggi terus-menerus dan dalam jangka panjang dapat mengakibatkan penyakit Achilles tendinitis. Kondisi ini terjadi karena peradangan pada tendon Achilles atau jaringan ikat yang menghubungkan otot betis di kaki bawah bagian belakang ke tulang tumit. Selain otot betis yang terasa menegang saat meregangkan kaki, penyakit ini ditandai dengan nyeri dan bengkak pada tumit ketika Anda berjalan.

Dan masih banyak lagi bahaya lainnya, anda bisa googling…

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Pahala Bagi Wanita Hamil https://konsultasisyariah.com/29205-pahala-bagi-wanita-hamil.html Fri, 17 Feb 2017 01:49:33 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29205 Pahala Wanita Hamil

Adakah hadist yang menerangkan pahala bagi ibu yg sedang hamil??

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat sebuah hadis yang menyatakan,

Bahwa Salamah, wanita yang merawat Ibrahim – putra Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam – pernah bertanya,

“Ya Rasulullah, anda sering memberi kabar gembira dengan amal kepada para lelaki, tapi anda tidak memberi kabar gembira kepada para wanita?”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi motivasi kepadanya,

Tidakkah para wanita senang, ketika dia hamil dari suaminya, dan dia ridha, maka dia mendapat pahala seperti orang yang puasa dan tahajud ketika sedang jihad fi sabilillah. Ketika sedang kontraksi, maka ada janji yang sangat menyejukkan mata yang belum pernah diketahui penduduk langit dan bumi. Setelah dia melahirkan, lalu menyusui bayinya, maka setiap isapan ASI akan menghasilkan pahala. Jika dia bergadangan di malam hari maka dia akan mendapat pahala seperti membebaskan 70 budak fi sabilillah…

Hadis ini menyebutkan fadhilah yang luar biasa bagi wanita hamil. Hanya saja, hadis ini lemah, bahkan palsu. Karena dalam sanadnya ada perawi bernama Amr bin Said al-Khoulani. Kata ad-Dzahabi, al-Khoulani banyak membawakan hadis palsu. Ibnu Hibban menilainya sebagai hadis dusta, palsu (al-Majruhin, 2/34), demikian pula penilaian Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (2/273).

Meskipun demikian, bukan berarti wanita hamil tidak memiliki keistimewaan. Setidaknya, wanita subur, merupakan wanita pilihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadis dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu,

Pernah ada orang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan keinginannya,

“Saya mencintai seorang wanita cantik dan dari keluarga terhormat. Namun dia mandul. Bolehkah saya menikah dengannya?”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan.”

Orang ini datang kedua kalinya, menyampaikan keinginannya yang sama. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya.

Diapun datang untuk yang ketiga kalinya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarang dia menikah dengan wanita itu.

Hingga akhirnya, beliau bersabda,

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ

Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena saya membanggakan banyaknya kalian pada seluruh umat. (HR. Abu Daud 2050, Nasai 3227 dan dishahihkan al-Albani)

Sebagai balas jasa seorang ibu yang telah melahirkan anaknya, Allah memberi ganti dalam bentuk perintah untuk anak agar taat dan menghormati ibunya.

Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan … (QS. al-Ahqaf: 15)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi jaminan. Resiko apapun yang diderita wanita ketika hamil, terutama yang mengancam kematian, akan dinilai sebagai syahid.

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguknya ketika Ubadah sedang sakit. Di sela-sela itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

أتعلمون من الشهيد من أمتي ؟

“Tahukah kalian, siapa orang yang mati syahid di kalangan umatku?”

Ubadah menjawab: ‘Ya Rasulullah, merekalah orang yang sabar yang selalu mengharap pahala dari musibahnya.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan,

شهداء أمتي إذاً لقليل ، القتل في سبيل الله عز وجل شهادة ، والطاعون شهادة ، والغرق شهادة ، والبطن شهادة ، والنفساء يجرها ولدها بسرره إلى الجنة

“Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku cuma sedikit. Orang yang mati berjihad di jalan Allah, syahid, orang yang mati karena Tha’un, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena sakit perut, syahid. Dan wanita yang mati karena nifas, dia akan ditarik oleh anaknya menuju surga dengan tali pusarnya.” (HR. Ahmad dalam musnadnya 15998. Dan dinilai Shahih li Ghairih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Dalam hadis lain, dari Jabir bin Atik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk Abdullah bin Tsabit, ketika itu beliau sedang pingsan karena sakit. Di tengah-tengah itu, ada orang yang menyinggung masalah mati syahid. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapa yang kalian anggap sebagai mati syahid?”

Merekapun menjawab, ‘Orang yang mati di jalan Allah.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengarahan,

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah,

Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan al-Albani).

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan agar anak selalu memperhatikan ibunya,

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau bercerita,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari 5971 dan Muslim  2548)

Bukankah ini semua membanggakan bagi para wanita yang hamil…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Flek Ketika Hamil, Wajib Shalat? https://konsultasisyariah.com/28958-flek-ketika-hamil-wajib-shalat.html Sat, 04 Feb 2017 00:11:27 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28958 Flek Ketika Hamil

Wanita hamil mengalami flek, apakah tetap wajib shalat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ulama berbeda pendapat, apakah wanita hamil bisa mengalami haid ataukah tidak haid.

Pendapat pertama, wanita hamil bisa mengalami haid

Bisa mengalami haid dalam arti, ketika wanita ini mengeluarkan darah dan memenuhi semua kriteria haid, baik karena sesuai kebiasaannya atau cirinya sama dengan darah haid pada umumnya, maka berlaku untuknya hukum-hukum haid.

Syaikhul Menyebutkan pendapat as-Syafi’I,

والحامل قد تحيض وهو مذهب الشافعي، وحكاه البيهقي رواية عن أحمد بل حكى أنه رجع إليه

Wanita hamil bisa mengalami haid, dan ini madzhab as-Syafi’i. dan al-Baihaqi menyebutkan pernyataan Imam Ahmad dalam masalah ini, namun beliau juga menyebutkan bahwa Imam Ahmad telah rujuk dari pendapat ini. (Fatawa al-Kubro, 5/315).

Kedua, wanita hamil tidak bisa mengalami haid, sehingga jika ada darah yang keluar, bisa dipastikan bukan haid, tapi istihadhah. Sehingga tetap wajib shalat, sebagaimana wanita suci dari haid.

Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan para ulama madzhab hambali.

Dalam Tanqih at-Tahqiq disebutkan riwayat dari al-Atsram, beliau bertanya kepada Imam Ahmad,

ما ترى في الحامل ترى الدم، تمسك عن الصلاة؟ قال: لا. قلت: أيُّ شيءٍ أَثْبَتُ في هذا الباب؟ فقال: أنا أذهب في هذا إلى حديث محمَّد بن عبد الرحمن – مولى آل طلحة – عن سالم عن أبيه أنَّه طلَق امرأته وهي حائضٌ، فسأل عمر النَّبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقال: «مُرْه فليراجعها، ثم يطلقها طاهرًا، أو حاملًا». فأقام الطهر مقام الحمل. فقلت: فكأنَّك ذهبت بهذا الحديث إلى أن الحامل لا تكون إلا طاهرًا؟ قال: نعم

Apa pendapat anda untuk wanita hamil yang melihat darah, apakah dia meninggalkan shalat?

Jawab Imam Ahmad, “Tidak, tetap shalat.”

Saya bertanya, “Apa dalil yang mendukung hal ini?”

Lalu Imam Ahamd menyebutkan hadis, Saya berdalil dengan hadis dari Muhammad bin Abdurrahman – maula Ali Thalhah – dari Salim, dari ayahnya (Ibnu Umar), bahwa beliau menceraikan istrinya ketika haid. Kemudian Umar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,

“Perintahkan dia untuk rujuk istrinya, kemudian boleh mentalaknya ketika suci atau ketika hamil.”

Kata Imam Ahmad, “Beliau menyamakan kondisi hamil sebagaimana wanita suci.”

Saya bertanya, “Anda memahami hadis ini bahwa wanita hamil hanya akan selalu suci?”

Jawab Imam Ahmad, “Ya.” (Tanqih at-Tahqiq, Ibnu Abdil Hadi, 1/414)

Ibnu Qudamah menukil keterangan Imam Ahmad,

قال أحمد : إنما يعرف النساء الحمل بانقطاع الدم

Imam Ahmad mengatakan, ‘Wanita bisa diketahui sedang hamil, ketika dia tidak keluar haid.’ (al-Mughni, 1/405)

Ibnu Qudamah menyebutkan dalil lain bahwa wanita hamil, tidak bisa haid, yaitu hadis,

لا توطأ حامل حتى تضع، ولا حائل حتى تستبرأ بحيضة

Budak wanita yang hamil tidak boleh disetubuhi sampai melahirkan, dan budak wanita yang tidak hamil, tidak boleh disetubuhi sampai mengalami haid sekali.

Lalu Ibnu Qudamah menyimpulkan,

والحامل لا تحيض، فإن رأت دمًا، فهو دم فاسد

Wanita hamil tidak mengalami haid. Jika dia melihat darah, maka itu darah karena sakit. (al-Kafi fi Fiqhil Hambali, 1/133).

Dan insyaaAllah pendapat kedua ini yang lebih kuat…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>