WANITA – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Sat, 24 Sep 2016 00:04:53 +0000 en-US hourly 1 Aurat Tersingkap Ketika Sholat https://konsultasisyariah.com/28323-aurat-tersingkap-ketika-sholat.html Tue, 13 Sep 2016 02:22:15 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28323 Rambut Wanita Terlihat Sedikit Ketika Shalat, Batal?

Bismillah, Apa yang harus dilakukan jika wanita saat sedang sholat auratnya tersingkap?

Dari Dewi Kania via Tanya Ustadz for Android

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Rambut dan seluruh bagian kepala wanita, termasuk aurat yang wajib ditutupi ketika shalat. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ امْرَأَةٍ قَدْ حَاضَتْ إِلَّا بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah baligh, kecuali dengan memakai jilbab.” (HR. Ibnu Khuzaimah, 775 dan Al-A’dzami mengatakan sanadnya shahih).

Ini yang menjadi dasar bahwa rambut wanita termasuk bagian yang harus ditutupi ketika shalat.

Bagaimana jika ada sedikit rambut yang keluar jilbab atau tersingkap sehingga kelihatan?

Untuk kasus ini, ulama memberikan rincian:

Pertama, jika yang bersangkutan mengetahui dan segera membenahinya, maka shalatnya sah.

As-Syirazi – ulama Syafi’iyah –,

وإن كشفت الريح الثوب عن العورة ثم رده لم تبطل صلاته

Jika bajunya diterpa angin hingga terbuka auratnya, kemudian langsung dia tutup kembali, maka shalatnya tiak batal. (al-Muhadzab, 1/87)

Kedua, yang bersangkutan mengetahui dan tidak segera menutupi

Ulama berbeda pendapat,

Pendapat pertama, hukumnya batal. Karena terbuka aurat, baik sedikit maupun banyak hukumnya sama saja.

Ini adalah pendapat Imam as-Syafi’i.

Pendapat kedua, hukumnya tidak batal. Karena hanya sedikit.

Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah.

Ibnu Qudamah mengatakan,

فإن انكشف من العورة يسير لم تبطل صلاته نص عليه أحمد وبه قال أبو حنيفة وقال الشافعي تبطل لأنه حكم تعلق بالعورة فاستوى قليله وكثيره كالنظرة

Jika aurat orang yang shalat terbuka sedikit, shalatnya tidak batal. Ini ditegaskan oleh Ahmad dan pendapat Abu Hanifah. Sementara as-Syafii mengatakan, shalatnya batal. Karena ini hukum terkait aurat, sehingga sama saja sedikit maupun banyak, sebagaimana melihat. (al-Mughni, 1/651).

Ada satu hadis yang bisa dijadikan acuan, hadis dari Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

“Kami tinggal di kampung yang dilewati para sahabat ketika mereka hendak bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Sepulang mereka dari Madinah, mereka melewati kampung kami. Mereka mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian dan demikian. Ketika itu, saya adalah seorang anak yang cepat menghafal, sehingga aku bisa menghafal banyak ayat Al-Quran dari para sahabat yang lewat. Sampai akhirnya, ayahku datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama masyarakatnya, dan beliau mengajari mereka tata cara shalat. Beliau bersabda,

يَؤُمُّكُمْ أَقْرَؤُكُمْ

“Yang menjadi imam adalah yang paling banyak hafalan qurannya.” 

Sementara Aku (Amr bin Salamah) adalah orang yang paling banyak hafalannya, karena aku sering menghafal. Sehingga mereka menyuruhku untuk menjadi imam. Akupun mengimami mereka dengan memakai pakaian kecil milikku yang berwarna kuning. Ketika aku sujud, tersingkap auratku. Hingga ada seorang wanita berkomentar,

وَارُوا عَنَّا عَوْرَةَ قَارِئِكُمْ

‘Tolong tutupi itu itu aurat imam kalian.’

Kemudian mereka membelikan baju Umaniyah untukku. Tidak ada yang lebih menggembirakan bagiku setelah islam, melebihi baju itu. (HR. Abu Daud 585 dan dishahihkan al-Albani)

Yang dimaksud terbuka aurat dalam kasus ini adalah terbuka sedikit auratnya. Dan shalat mereka tidak batal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyuruh para jamaah untuk mengulangi shalat. Inilah yang menjadi acuan jumhur ulama bahwa sedikit aurat yang tersingkap, dan tidak langsung ditutup, tidak membatalkan shalat.

Syaikhul Islam mengatakan,

إذا انكشف شيء يسير من شعرها وبدنها لم يكن عليها الإعادة، عند أكثر العلماء، وهو مذهب أبي حنيفة وأحمد‏.وإن انكشف شيء كثير، أعادت الصلاة في الوقت، عند عامة العلماء ـ الأئمة الأربعة، وغيرهم

Jika ada rambut atau anggota badan wanita yang tersingkap sedikit, maka tidak ada kewajiban untuk mengulangi shalat menurut mayoritas ulama. Ini pendapat Abu Hanifah dan Ahmad. Namun jika yang tersingkap itu banyak, wajib mengulangi shalat di waktunya, menurut para ulama, baik ulama 4 madzhab maupun yang lainnya. (Majmu’ al-Fatawa, 22/123).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Darah Nifas Berhenti Sebelum 40 Hari, Apakah Boleh Sholat? https://konsultasisyariah.com/28320-darah-nifas-berhenti-sebelum-40-hari-apakah-boleh-sholat.html Sat, 10 Sep 2016 00:45:20 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28320 Darah Nifas Berhenti Sebelum 40 Hari

Afwan ustadz.kpn seorang wanita boleh sholat setelah nifas?apakah menunggu 40 hari ataukah selesai keluar darah nifas.pengalaman ana ustadz.melahirkan dg proses ceacar.keluar darah nifas cuma satu minggu tok?syukron ustadz

Dari : Herlina ummu medina

Jawaban :

Bismillah. Wassholatu was salam ‘ala Rasulillah wa ba’d.

Kaidah yang perlu kita ketahui terkait darah nifas :

Pertama, tidak ada ketentuan waktu minimal sucinya wanita dari darah nifas. Oleh karenanya, kapanpun darah itu berhenti walaupun baru berjalan 7 hari atau 10 hari, atau bahkan lebih sebentar dari itu, maka dia dihukumi suci. Dan diwajibkan melakukan sholat kembali setelah mandi besar, layaknya wanita suci

Kedua, batas waktu maksimal terjadinya nifas adalah 40 hari. Dihitung sejak hari pertama melahirkan. Sehingga, bila darah berlanjut keluar melebihi 40 hari, maka dia dianggap suci. Dia diwajibkan melakukan sholat atau puasa ramadhan kembali, meski darah belum berhenti keluar.

Bahkan Imam Tirmidzi menerangkan bahwa ketentuan ini sudah menjadi kesepakatan para ulama. Beliau –rahimahullah- mengatakan,

أجمع أهل العلم من الصحابة ، ومن بعدهم على أن النفساء تدع الصلاة أربعين يوما ، إلا أن ترى الطهر قبل ذلك، فتغتسل و تصلي

Para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan generasi setelah mereka telah sepakat, bahwa wanita-wanita yang mengalami nifas, meninggalkan sholat selama 40 hari. Kecuali apabila ia mendapati dirinya suci sebelum waktu itu, maka dia mandi kemudian sholat. (Hasyiah Raudhah Al Murbi’ 1/403).

Hal ini berdasarkan hadis dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha, beliau pernah menceritakan,

كانت النفساء تقعد على عهد النبي صلى الله عليه وسلم أربعين يومًا

“Para wanita yang mengalami nifas di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, duduk (libur sholat) selama 40 hari. ” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Adapun jika dalam kurun waktu 40 hari tersebut darah berhenti, kemudian selang beberapa waktu keluar kembali, maka darah tersebut dihukumi sebagai darah nifas.

Pengecualian

Kecuali apabila setelah 40 hari darah nifas masih keluar, dan bertepatan dengan jadwal rutin haid, maka darah tersebut dihukumi sebagai darah haid. Sehingga tetap tidak boleh sholat dan puasa.

Sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah dalam fatwa beliau,

لكن إن وافق الدم بعد الأربعين عادتها في الحيض فإنها تدع الصلاة والصوم وتعتبره حيضاً.

Bila darah nifas yang keluar melebihi 40 hari tersebut bertepatan dengan jadwal haidnya, maka dia tetap meninggalkan sholat dan puasa. Dia dihukumi sebagai wanita yang mengalami haid.

(Majmu’ Fatawa Wamaqalat Al Islamiyah 15/199).

Adapun, bila darah nifas yang keluar melebihi 40 hari tidak bertepatan dengan jadwal haid, maka diwajibkan sholat seperti biasa. Dengan berwudhu setiap kali masuk waktu shalat. Tidak boleh menjadikan 1 wudhu untuk 2 sholat fardhu atau lebih (walaupun idealnya boleh). Karena darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadoh. Sementara Nabi mengajarkan cara wudhunya wanita istihadoh demikian.

Mengenai cara bersuci wanita yang mengalami istihadhoh, selengkapnya bisa dipelajari pada di tulisan berikut : Bagaimana Wanita Istihadah Bersuci?

Wallahua’lam bis showab

Dijawab oleh ustadz Ahmad Anshori (Mahasiswa UIM dan pengajar PP. Hamalatulquran Bantul)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Menyusui Anak ketika Shalat https://konsultasisyariah.com/28142-menyusui-anak-ketika-shalat.html Wed, 27 Jul 2016 07:59:37 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28142 Menyusui Anak ketika Shalat

Apakah menyusui anak bisa membatalkan shalat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan bahwa ketika kita bermunajat dalam shalat, kita sedang melakukan kesibukan. Karena seisi shalat semua dzikir, doa, gerakan, dan perenungan. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan agar ketika kita shalat, tidak diiringi kesibukan lainnya, yang membuat shalat kita menjadi tidak berkualitas.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى الصَّلاَةِ لَشُغْلاً

“Sesungguhnya dalam shalat itu isinya kesibukan.” (HR. Ahmad 3563, Abu Daud 924, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Ulama memberi batasan, diantara kesibukan yang tidak boleh dilakukan pada saat shalat adalah terlalu banyak bergerak, yang itu dilakukan berturut-turut. Kecuali jika ada hubungannya dengan kemaslahatan shalat, seperti merapatkan shaf atau maju untuk mengisi shaf yang kosong, dst.

An-Nawawi mengatakan,

وأما ما عده الناس كثيرا كخطوات كثيرة متوالية وفعلات متتابعة فتبطل الصلاة

Apa yang dianggap masyarakat terlalu banyak, seperti melangkah yang banyak, berturut-turut, atau gerakan yang berurutan, maka membatalkan shalat. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/93).

Apakah menyusui termasuk?

Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan bahwa menyusui anak termasuk bentuk kesibukan yang tidak boleh dilakukan dalam shalat.

والظاهر أن اشتغال الأم بإرضاع طفلها في الصلاة من الأفعال الكثيرة المشغلة عن الصلاة المبطلة لها

Yang nampak, bahwa aktivitas ibu dengan menyusui anaknya ketika shalat, termasuk gerakan banyak yang menyibukkan dari konsentrasi dalam shalat, yang bisa membatalkan shalat. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 328132)

Fatwa yang semisal juga disampaikan oleh Syaikh Musthofa al-Adawi dalam acara tanya jawab melalui di media, Beliau ditanya tentang hukum menyusui anak ketika shalat.

Diantara yang beliau nyatakan,

النص عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – لا أحفظ نصا الا حمل النبي – صلى الله عليه وسلم-  أمامة في الصلاة؛ تجوز المرأة أن تحمل طفلته في الصلاة لكن أن ترضعها عندي نص عام إن في الصلاة لشغلا؛ كذا قال – صلى الله عليه وسلم – أما الارضاع لا أعلم فيه نصا والأولى عدمه خروجا من أي خلاف وكذالك لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – أما الابطال فيحتاج الى مزيد بحث واطلاع

Keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam masalah ini) tidak ada yang saya ketahui selain peristiwa beliau menggendong Umamah ketika shalat. Boleh bagi wanita untuk menggendong bayinya ketika shalat. Namun untuk menyusui, saya punya dalil umum yang menyatakan bahwa dalam shalat itu penuh dengan kesibukan. Demikian yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan menyusui, saya tidak mengetahui adanya dalil yang membolehkannya. Dan sebaiknya ditinggalkan, dalam rangka menghindari semua bentuk perbedaan, dan lebih sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Apakah bisa membatalkan, ini butuh kajian tambahan.

Karena itu, kami menyarankan agar tidak menyusui anak ketika shalat. Andaipun anak mengalami rewel, cukup digendong. Jika tidak memungkinkan, shalat bisa dipercepat dengan tetap memperhatikan rukun dan wajibnya. Atau jika tidak, dibatalkan.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Haid ketika Umrah https://konsultasisyariah.com/27765-haid-ketika-umrah.html Tue, 10 May 2016 02:30:46 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=27765 Wanita Haid ketika Umrah

Bolehkah wanita haid melakukan umrah? Lalu bagaimana jk sdh menunggu suci, ternyata tidak suci sampai mndekati mau pulang. Apa boleh thawaf dalam keadaan haid?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ihram bagi wanita haid, baik utuk haji maupun umrah hukumnya sah dan dibolehkan. Yang perlu dilakukan, ketika wanita haid sampai di miqat, hendaknya mandi dan istitsfar, kemudian memulai ihram. Yang dimaksud istitsfar adalah menggunakan pembalut lebih rapat, sehingga dipastikan tidak ada darah yang merembet keluar ke celana.

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma menceritakan kejadian yang dialami Asma’ bintu Umais, istrinya Abu Bakr as-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma, pada saat rombongan haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Dzulhulaifah (Bir Ali).

Jabir menceritakan,

حَتَّى أَتَيْنَا ذَا الْحُلَيْفَةِ فَوَلَدَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِى بَكْرٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَيْفَ أَصْنَعُ قَالَ: اغْتَسِلِى وَاسْتَثْفِرِى بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِى

Ketika kami sampai di Dzulhulaifah, Asma bintu Umais melahirkan Muhammad bin Abu Bakr. Kemudian beliau menyuruh orang untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apa yang harus saya lakukan?’ jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Mandilah dan lakukanlah istitsfar dengan kain, dan mulailah ihram.” (HR. Muslim 3009, Nasai 293 dan yang lainnya).

Meskipun hadis Asma’ bintu Umais terkait orang nifas, namun ini berlaku untuk wanita haid, karena hukumnya sama dengan sepakat ulama.

Dalil lain bolehnya ihram dalam kondisi haid adalah peristiwa yang dialami A’isyah radhiyallahu ‘anha. Beliau menceritakan perjalanan hajinya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Kami berangkat dengan niat haji. Ketika sampai di daerah Saraf, aku mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku sedang nangis.”

“Kamu kenapa? Apa kamu haid?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Benar.” Jawab A’isyah.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ ، فَاقْضِى مَا يَقْضِى الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ

Haid adalah kondisi yang Allah takdirkan untuk putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di ka’bah. (HR. Bukhari 294 & Muslim 2976).

Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan,

فَفَعَلَتْ وَوَقَفَتِ الْمَوَاقِفَ حَتَّى إِذَا طَهَرَتْ طَافَتْ بِالْكَعْبَةِ وَالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ

A’isyah pun melakukannya, beliau melaksanakan semua aktivitas orang haji. Hingga ketika beliau telah suci, bliau thawaf di ka’bah dan sa’i antara shafa dan marwah. (HR. Muslim 2996).

Ini menunjukkan bahwa wanita yang mengalami haid ketika umrah dan belum melakukan thawaf, maka dia boleh melakukan kegiatan apapun, selain thawaf, sa’i dan masuk masjidil haram. Dia menunggu sampai suci dan mandi haid. Setelah itu, baru dia thawaf dan sa’i.

Karena thawaf tidak boleh dilakukan dalam kondisi hadats, menurut pendapat jumhur ulama.

Ibnu Qudamah menyebutkan,

الطهارة من الحدث والنجاسة والستارة شرائط لصحة الطواف في المشهور عن أحمد وهو قول مالك و الشافعي

Suci dari hadats, dan najis serta memakai pakaian adalah syarat sah thawaf menurut pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad. Dan ini pendapat Malik dan as-Syafi’i. (al-Mughni, 3/397)

Jika ternyata haid tidak berhenti sampai batas akhir dia di mekah, apa yang harus dilakukan?

Para ulama memberikan rincian,

[1] Jika memungkinkan baginya untuk kembali ke Mekah setelah suci, maka dia tetap ihram, lalu pulang. Dan setelah suci, dia kembali lagi ke Mekah untuk thawaf dan sa’i. Ini berlaku untuk mereka yang tinggal tidak jauh dari Mekah.

[2] Jika tidak memungkinkan baginya untuk kembali ke Mekah, seperti jamaah umrah Indonesia, maka dia bisa thawaf dan sa’i sebelum meninggalkan Mekah, meskipun dalam kondisi haid.

Alasannya,

Pertama, kaidah dalam islam, Allah perintahkan agar kita bertaqwa kepada-Nya semampunya,

Allah berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. at-Taghabun: 16)

Kedua, tidak membebani hamba-Nya melebihi kemampuannya. Sehingga ada aturan yang melebihi kemampuan manusia, dia bisa terpaksa tidak sejalan dengannya. Allah berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani jiwa melebihi kemampuannya.” (QS. al-Baqarah: 286).

Ketiga, bahwa semua syarat dan rukun dalam ibadah, tergantung pada kemampuan. Ketika ada yang tidak mampu dilakukan, maka dia melakukan penggantinya, jika ada syariat penggantinya (badal). Seperti tayamum sebagai pengganti wudhu. Dan jika tidak ada badalnya, maka gugur tanggung jawab itu.

Sementara suci dari haid adalah syarat sah thawaf. Sehingga ketika ini tidak bisa dihilangkan karena tidak berhenti, maka gugur tanggung jawab dia menunggu suci haid.

Ketika Ibnul Qoyim menjelaskan kaidah ini, beliau mengatakan,

ليس في هذا ما يخالف قواعد الشرع، بل يوافقها – كما تقدم -؛ إذ غايته سقوط الواجب، أو الشرط بالعجز عنه، ولا واجب في الشريعة مع عجز، ولا حرام مع ضرورة

Dalam kasus ini tidak ada yang menyalahi kaidah syariat. bahkan sejalan dengan kaidah syariat. Karena hakekat yang terjadi, gugurnya kewajiban atau gugurnya syarat ketika tidak mampu. Dan dalam syariat, tidak kewajiban yang tidak mampu dikerjakan dan tidak ada larangan melanggar yang haram dalam kondisi darurat. (I’lam al-Muwaqqi’in, 3/20)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Bagaimana Wanita Istihadah Bersuci? https://konsultasisyariah.com/27730-bagaimana-wanita-istihadah-bersuci.html Sat, 30 Apr 2016 18:56:50 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=27730 Wanita Istihadah dan Cara Bersucinya?

Wanita yang mengalami Istihadah, mendapatkan keringanan dalam bersuci. Mengingat darah tersebut sering keluar, sehingga sangat menyusahkan bila diwajibkan berwudhu dan membersihkan diri setiap kali darah itu keluar.

Sementara Islam adalah agama yang  memberikan kemudahan kepada penganutnya. Allah ‘azza wa jala berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَج

Dia (Tuhanmu) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama ini suatu kesempitan. (QS. al Haj: 78).

Dari ayat ini kemudian para ulama menyimpulkan sebuah kaidah fikih,

المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ

“Sebuah kesulitan akan menjadi sebab datangnya kemudahan dan keringanan.”

Cara Bersuci Wanita Istihadah

Cara berwudhu untuk wanita mustahadoh adalah dengan melakukan dia hal berikut :

[1] Cukup berwudhu setiap masuk waktu sholat.

[2] Membasuh kemaluan dan bagian tubuh yang terkena darah. Kemudian mengenakan pembalut, agar tidak menyebar semampunya.

Pertama, berwudhu setiap masuk waktu sholat.

Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Fatimah bintu Abu Hubaisy, saat bertanya kepada Nabi perihal istihadah yang beliau alami,

ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ حَتَّى يَجِيءَ ذَلِكَ الْوَقْتُ

“Berwudhulah kamu setiap kali shalat hingga waktu itu tiba.”

(HR. Bukhori no. 226)

Maksudnya, setiap kali masuk waktu sholat. Karena lam dalam kalimat likulli untuk menunjukkan waktu (lit tauqit).  Seperti dalam firman Allah ta’ala,

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat diwaktu telah tergelincirnya matahari, sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (QS. al Isra’: 78). (Lihat: Syarah Abi Dawud 2/86, karya al ‘Aini).

Ketentuan ini berlaku apabila hadast tersebut keluar setelah berwudhu. Adapun bila tidak keluar, maka boleh  menggunakan wudhu sholat sebelumnya untuk sholat berikutnya.

Al Mardawi rahimahullah dalam kitab al Inshaf menjelaskan,

مراده بقوله: “وتتوضأ لوقت كل صلاة ” إذا خرج شيء بعد الوضوء ؛ فأما إذا لم يخرج شيء فلا تتوضأ على الصحيح من المذهب.

“Berwudhu setiap masuk waktu sholat.”,  maksudnya adalah, apabila setelah wudhu tersebut keluar sesuatu (hadast). Adapun bila tidak keluar, maka tidak wajib wudhu kembali menurut pendapat yang shahih dalam mazhab  (hambali).” (al Inshof fi Ma’rifati ar Rajih min al Khilaf, 1/286).

Kedua, membasuh kemaluan dan bagian tubuh yang terkena darah. Kemudian mengenakan pembalut.

Landasannya adalah hadis Aisyah radhiyallahu’anha yang mebceritakan tentang Fatimah bintu Abu Hubaisy, saat bertanya kepada Nabi perihal istihadah yang beliau alami, apakah menyebabkan tidak sholat. Nabi menjawab,

لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيَْس بِحَيْض فَدَعِي اَلصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ ثُمَّ صَلِّي

“Tidak, itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haid. Bila haidmu datang tinggalkanlah shalat. Dan bila darah itu berlanjut (dari jadwal haidmu), maka bersihkanlah dirimu dari darah itu, lalu shalatlah.” (Muttafaqun ‘alaih).

al Harowi rahimahullah menerangkan,

( فاغسلي عنك الدم ) أي أثر دم الاستحاضة واغتسلي مرة واحدة ، ولعل الاكتفاء بغسل الدم دون غسل انقطاع الحيض

“Bersihkanlah dirimu dari darah itu, maksudnya dari bekas darah istihadah, dengan sekali basuhan. Barangkali maksudnya adalah membasuh bagian yang terkena darah saja, bukan mandi seperti mandi karena berhenti dari haid.” (Mirqoh al Matafih Syarh Misykah al Mashobih, 2/499).

Apakah harus membasuh kemaluan atau mengganti pembalut setiap masuk waktu sholat berikutnya?

Selama ia sudah berusaha maksimal dalam membersihkan najis kemudian menjaga najis supaya tidak menyebar dengan mengenakan pembalut, maka tidak harus diulang. Kalaupun ingin mengulangi, itu sebatas anjuran.
Kecuali bila ada keteledoran, maka ia diharuskan mengulang. Inilah pendapat yang dipegang oleh ulama Hanabilah dan yang kami pilih dalam masalah ini, wallahua’lam.

Dalam kitab Matholib Ulin Nuha, diterangkan,

ولا يلزم إعادة غسل , ولا إعادة تعصيب لكل صلاة حيث لا تفريط في الشد ; لأن الحدث مع غلبته وقوته لا يمكن التحرز منه

“Tidak harus membasuh ulang, juga tidak harus mengganti pembalut setiap kali sholat, selama tidak teledor dalam mengenakan pembalut (sehingga hadast benar-benar terjaga, pent). Mengingat hadast tersebut sering keluar, maka tidak mungkin untuk dihindari.”

Kemudian diterangkan,

فإن فرّط في الشد , وخرج الدم بعد الوضوء لزمت إعادته ; لأنه حدث أمكن التحرز منه

“Namun bila ia teledor dalam mengenakan pembalut, dan darah (istihadoh) keluar setelah wudhu, maka wajib mengulang wudhu dan mencuci kemaluan kembali. Karena ia (dihukumi kondisi) berhadas yang mungkin dihindari.” (Matholib Ulin Nuha 1/263).

Dalilnya adalah perkataan Aisyah radhiyallahu’anha,

اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ فَكَانَتْ تَرَى الدَّمَ وَالصُّفْرَةَ وَالطَّسْتُ تَحْتَهَا وَهِيَ تُصَلِّي
” Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah beri’tikaf bersama salah seorang isteri beliau. Ia melihat ada darah dan cairan berwarna kekuningan. Lalu di bawahnya diletakkan baskom sementara ia tetap mengerjakan shalat.” (HR. Bukhori).

Beliau melakukan ini tentu setelah berusaha maksimal. Dan Nabi tidak melarangnya.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah (no. 53090) diterangkan,

وفي هذا يسر على المرأة، وعليه فلا حرج عليك أن تأخذي به، لأن الله يقول: وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ [سورة الحـج: 78].

“Pendapat ini memberi kemudahkan bagi para wanita. Oleh karenanya tidak masalah Anda mengikuti pendapat ini. Karena Allah berfirman, “Dia (Tuhanmu) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama ini suatu kesusahan. (QS. al Haj: 78).”

Kapan Wudhunya Batal?

Wudhunya batal dikarenakan dua sebab  berikut :

[1] Keluar dari waktu shalat.

[2] Keluar hadats lain selain darah Istihadah.

Misalkan dia berwudhu untuk sholat Subuh.  Maka ketika terbit matahari, otomatis wudhunya batal karena telah keluar dari waktu subuh. Oleh karena itu apabila ingin sholat dhuha, wajib beruwudhu kembali.

Hal ini berdasarkan hadis,

ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ حَتَّى يَجِيءَ ذَلِكَ الْوَقْتُ

“Berwudhulah kamu setiap masuk waktu shalat hingga waktu itu tiba.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Pada hadis ini dijelaskan bahwa keabsahan wudhu wanita mustahadoh dikaitkan dengan waktu sholat. Sehingga apabila telah keluar dari waktu sholat, maka wudhu batal.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin saat ditanya apakah boleh bagi wanita yang mengalami uzur karena hadast yang sering keluar, menggunakan wudhu subuh untuk sholat dhuha. Beliau menjawab,

لا يصح ذلك، لأن صلاة الضحى مؤقتة، فلابد من الوضوء لها بعد دخول وقتها، لأن هذه المرأة كالمستحاضة، وقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم ، المستحاضة أن تتوضأ لكل صلاة ،

“Seperti itu tidak boleh. Karena waktu sholat dhuha itu sendiri (sudah keluar dari waktu subuh). Ia harus berwudhu kembali untuk sholat dhuha setelah masuk waktunya. Kondisk wanita ini seperti wanita mustahadoh. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan wanita mustahadoh untuk berwudhu setiap masuk waktu shalat.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail al ‘Utsaimin no. 241, 11/286)

Kemudian keluar hadats lain selain darah Istihadah. Seperti (mohon maaf) keluar gas kentut, maka wudhunya batal. Meskipun ia masih di dalam waktu sholat yang sama. Karena kentut adalah hadats normal yang menyebabkan batalnya wudhu. Sehingga ia dikembalikan ke hukum normal.

Keringanan Ini Juga Berlaku Untuk Hadas Daa-im Lainnya

Hadast Daa-im adalah keadaan berhadats yang terus-menerus atau sulit dihindari. Seperti tetesan air seni  (sulasul baul), cairan keputihan atau cairan madzi, yang sering keluar. Bagi mereka yang mengalami keadaan seperti ini, ia mendapatkan keringanan dalam hal wudhunya, seperti keringanan yang didapat wanita mustahadoh.

Syaikh Abdulaziz Alu Syaikh (Musti kerajaan Saudi Arabia) menerangkan,

وقد أخذ العلماء من هذا الحديث أن أصحاب الأعذار ممن حدثهم دائم لهم نفس حكم المستحاضة من جهة الوضوء لوقت كل صلاة، مع التحفظ لئلا يصيب اليدين أو الثوب أو البقعة التي يصلي عليها شيء من النجاسة.

“Dari hadis ini (hadis tentang Fatimah bintu Abu Hubaisy di atas, pent), para ulama menyimpulkan bahwa orang-orang yang beruzur, karena mengalami hadast daa-im,  mendapatkan hukum yang sama seperti wanita mustahadoh. Maksudnya dalam hal wudhu setiap kali masuk waktu sholat dan mengenakan pembalut (atau yang sejenis) supaya najis tersebut tidak mengenai tangan, baju atau tempat sholat.”
(http://www.mufti.af.org.sa/node/2960)

Wallahua’lam bis showab.

Madinah An Nabawiyah
Ahmad Anshori

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Meninggal Ketika Masih Perawan, Jaminan Surga? https://konsultasisyariah.com/26746-meninggal-ketika-masih-perawan-jaminan-surga.html Sat, 16 Apr 2016 00:54:57 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=26746 Meninggal Ketika Masih Perawan

Assalamualaikum wr wb

Ustadz, jika seorang gadis remaja yang sudah baligh,usia 17 tahun dan belum menikah meningal dunia,apakah ia masuk surga Allah? terima kasih …

Jawab:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam hadis dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan daftar umatnya yang mati syahid. Salah satunya,

وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Wanita yang meninggal karena jum’in, dia mati syahid.” (HR. Ahmad 22686, Abu Daud 3113, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Mengenai makna “meninggal karena jum’in” ada 2 pendapat ulama, sebagaimana keterangan an-Nawawi.

Dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi mengatakan,

وأما المرأة تموت بجمع: فهو بضم الجيم وفتحها وكسرها والضم أشهر قيل: التي تموت حاملاً جامعة ولدها في بطنها، وقيل هي البكر، والصحيح الأول

Mengenai wanita yang meninggal karena jum’in, bisa dibaca jum’in, jam’in, atau jim’in. tapi yang lebih umum dibaca jum’in, ada yang mengatakan maknanya adalah mereka yang meninggal ketika hamil, ada janin anaknya dalam kandungannya. Dan ada yang mengatakan, meninggal ketika masih gadis. Dan yang benar pendapat pertama. (Syarh Shahih Muslim, 13/63)

Dengan asumsi bahwa pendapat kedua yang disampaikan an-Nawawi bisa diterima, kita bisa menyimpulkan bahwa diantara wanita yang mati syahid akhirat adalah mereka yang meninggal ketika masih perawan.

Makna Syahid Akhirat

Apa yang disebutkan dalam hadis adalah mereka yang mendapat pahala syahid akhirat dan bukan syahid dunia. Karena mati syahid ada 2:

[1] Mati syahid dunia akhirat, itulah orang yang mati syahid ketika jihad fi sabilillah.

Jenazahnya tidak boleh dimandikan, karena mereka aka dibangkitkan dalam kondisi darahnya tetap segar keluar.

[2] Mati syahid akhirat, mereka adalah orang yang mendapatkan pahala syahid di akhirat, tapi tidak berlaku hukum syahid di dunia. Seperti mereka yang mati ketika melahirkan atau mati karena tenggelam.

Selengkapnya bisa anda pelajari di: Apa Itu Mati Syahid?

Syarat Syahid Akhirat Agar Diterima

As-Subki menyebutkan bahwa di sana ada 2 syarat untuk bisa mendapat pahala syahid akhirat:

[1] Dia bersabar dan mengharap pahala dari Allah atas ujian yang menimpanya. Seperti mereka yang bersabar dengan sakit di perutnya, atau bersabar ketika terkena sakit akibat wabah tah’un.

[2] Tidak ada penghalang baginya, seperti korupsi, utang, atau mengambil harta orang lain

[3] Tidak mati dalam kondisi maksiat.

(Fatawa as-Subki, 2/354)

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Wanita Istihadah Tidak Boleh Puasa ? https://konsultasisyariah.com/26686-wanita-istihadah-tidak-boleh-puasa.html Wed, 06 Apr 2016 01:57:26 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=26686 Puasanya Wanita yang Istihadah

Ustadz, mengenai darah istikhadhoh, apa benar perempuan yang istikhadhoh tidak diperbolehkan puasa?

Dari Ila-Saar

Jawab :

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Istihadah adalah darah yang keluar di luar jadwal haid dan juga di luar masa nifas.

Darah ini disebut darah penyakit. Karena bukan berasal dari rahim sebagaimana darah haid atau nifas. Namun disebabkan oleh adanya urat yang pecah atau putus dan kalau keluar langsung mengental. Sifatnya hampir mirip dengan darah yang keluar saat luka. [Baca: Cara Membedakan Haid dan Istihadhah]

Para ulama menjelaskan, bahwa hukum yang berlaku pada darah istihadoh berbeda dengan darah haid. Wanita yang haid dilarang untuk sholat, puasa dan tawaf. Adapun wanita yang mengalami Istihadah, hukumnya seperti keadaan suci. Dia tetap diwajibkan sholat, puasa, dan boleh melakukan ibadah lainnya selayaknya wanita yang suci.

Imam al Qurtubi rahimahullah menerangkan,

المستحاضة تصوم، وتصلِّي، وتطوف، وتقرأ، ويأتيها زوجه

“Wanita yang mustahadhoh, tetap diperintahkan puasa, sholat, tawaf, membaca Al Quran (meski dengan menyentuh mushaf, pent), dan diperbolehkan melakukan hubungan intim dengan suaminya.” (Al-Jami’ li Ahkam al Qur’an 2/86).

Keterangan ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Aisyah radhiyallah ‘anha, beliau mengatakan,

جائت فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ؟

Fathimah binti Abu Hubaisy datang menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kemudian berkata:

“Ya Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah (Istihadah) dan tidak pernah suci. Bolehkah aku meninggalkan shalat? ”

Rasul menjawab :

لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ ثُمَّ صَلِّي

“Tidak, itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haid. Bila haidmu datang tinggalkanlah shalat. Dan bila haid itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (mandi), lalu shalatlah. ” (Muttafaqun ‘alaih).

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, saat menjelaskan potongan hadis “darah Istihadah itu hanyalah darah penyakit.”,

وفي هذا إشارة إلى أن الدم الذي يخرج إذا كان دم عرق – ومنه دم العملية [ الجراحية ]- فإن ذلك لا يعتبر حيضاً ، فلا يحرم به ما يحرم بالحيض ، وتجب فيه الصلاة والصيام إذا كان في نهار رمضان.

“Ini menunjukkan, bahwa darah yang keluar apabila darah tersebut adalah darah penyakit; diantaranya darah yang keluar saat operasi, maka darah itu tidak disebut darah haid. Oleh karenanya, tidak menyebabkan berlakunya larangan sebagaimana yang berlaku pada wanita haid. Maka tetap diwajibkan sholat dan puasa; apabila terjadi di siang hari ramadhan.” (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, jilid 11, soal nomor 226).

Wallahua’lam bis Showab.

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Kaki Wanita Termasuk Aurat? https://konsultasisyariah.com/26664-kaki-wanita-termasuk-aurat.html Sat, 02 Apr 2016 00:42:14 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=26664 Batas Aurat Wanita

Assalamualaikum ustadz…
Afwan ana mau menyakan apakah kaki bagi wanita muslimah termasuk aurat?? Dan apakah berdosa apabila iya tdk menutupinya dengan kaos kaki?? Mohon pencerahannya tadz…
Barakallahu fiik

Dari: OPHA

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun memalingkan pandangan darinya dan bersabda,

“Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud 4106 dan dishahihkan al-Albani).

Kemudian, disebutkan dalam hadis dari Ummu Salamah radhiallahu’anha tentang isbal, pakaian yang melebihi mata kaki,

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم لما قال في جرِّ الذيلِ ما قال؛ قالت: قلتُ يا رَسُولَ اللهِ فكَيفَ بِنا؟ فقال جُرِّيهِ شبرًا ، فقالت (أم سلمة) إذًا تنكشفُ القدمانِ ، قال فجُرِّيهِ ذراعًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda mengenai masalah menjulurkan ujung pakaian, aku bertanya kepada beliau, ‘wahai Rasulullah bagaimana dengan kami (kaum wanita)?’. Nabi menjawab: ‘julurkanlah sejengkal‘. Lalu Ummu Salamah bertanya lagi: ‘kalau begitu kedua qadam (bagian bawah kaki) akan terlihat?’. Nabi bersabda: ‘kalau begitu julurkanlah sehasta‘. (HR. Ahmad 6/295, Abu Ya’la dalam As Sanad 1/325, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1/828)

Juga disebutkan dalam hadis dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah wanita boleh shalat dengan jubah dan jilbab, tanpa memakai sarung bawahan?”

Jawab beliau,

إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّى ظُهُورَ قَدَمَيْهَا

“Boleh, jika jubah yang dia pakai menjulur ke bawah menutupi kedua kakinya.” (HR. Abu Daud 640 dan ad-Daruquthni 1806).

Hadis ini, dijadikan dalil oleh Jumhur ulama untuk menyatakan bahwa kaki termasuk aurat.

Ibnu Qudamah mengatakan,

والدليل على وجوب تغطية القدمين ما روت أم سلمة قالت: قلت: يا رسول الله أتصلي المرأة في درع وخمار وليس عليها إزار؟ قال: نعم، إذا كان سابغاً يغطي ظهور قدميها. رواه أبو داود

Dalil tentang wajibnya menutup kaki adalah hadis dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya, “Ya Rasulullah, bolehkah wanita shalat dengan jubah dan jilbab, tanpa memakai sarung bawahan?”… dst, riwayat Abu Daud…

kemudian Ibnu Qudamah juga menyebutkan hadis tentang isbal.

Lalu beliau mengatakan,

وهذا يدل على وجوب تغطية القدمين ولأنه محل لا يجب كشفه في الإحرام فلم يجز كشفه في الصلاة كالساقين

Ini menunjukkan wajibnya menutup kedua kaki, karena kaki termasuk anggota badan yang tidak wajib dibuka ketika ihram. Sehingga tidak boleh  dibuka ketika shalat, sebagaimana betis. (al-Mughni, 1/671)

Maksud alasan yang disampaikan Ibnu Qudamah, “tidak wajib dibuka ketika ihram” karena yang wajib dibuka ketika ihram berarti bukan aurat. Artinya, yang tidak wajib dibuka bisa jadi itu aurat.

Bagi wanita, kaki yang tidak wajib dibuka ketika ihram, diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ditutupi. Artinya itu aurat bagi wanita.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Jilbab, Haruskah Bersertifikasi Halal? https://konsultasisyariah.com/26408-jilbab-haruskah-bersertifikasi-halal.html Thu, 04 Feb 2016 04:18:48 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=26408 Jilbab Bersertifikasi Halal MUI?

Ustadz saat ini lagi heboh jilbab yg bersertifikasi MUI, apakah itu dibenarkan. Mereka beralasan karena ada sebagian bahan kain yang mereka anggap tidak halal semacam dari babi. Lalu bagaimanakah ini? Sukron

Dari Ella

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah memberikan kemudahan kepada umat manusia, dengan Allah jadikan semua yang ada di alam ini sebagai sesuatu yang mubah dan halal untuk mereka manfaatkan. Adanya barang yang haram dan benda yang najis, sifatnya pengecualian.

Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Dzat yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kalian.” (QS. al-Baqarah: 29)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini, beliau menuliskan,

“Dia menciptakan untuk kalian segala sesuatu yang ada di bumi, sebagai karena berbuat baik dan memberi rahmat, untuk dimanfaatkan, dinikmati, dan diambil pelajaran. Pada kandungan ayat yang mulia ini terdapat dalil bahwa hukum asal segala sesuatu adalah suci. Karena ayat ini disampaikan dalam konteks memaparkan kenikmatan… (Tafsir as-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 48).

Untuk itulah, para ulama menetapkan kaidah dalam ilmu fiqh,

الأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الطَّهَارَةُ

“Hukum asal segala sesuatu adalah suci.”

Ada 2 cara penerapan kaidah ini terkait barang gunaan,

[1] Semua benda yang dihukumi najis harus berdasarkan dalil. Menyatakan satu benda tertentu statusnya najis, harus didasari dalil. Tanpa dalil, pernyataannya tidak diterima, karena bertolak belakang dengan hukum asal.

[2] Jika ada benda yang suci, misalnya kain, tidak boleh kita hukumi terkena najis, sampai ada bukti najisnya. Jika tidak ada bukti, kembali kepada hukum asal, bahwa itu suci.

Dengan memperhatikan prinsip di atas, barang gunaan, yang tidak dikonsumsi, seperti jilbab, baju atau yang lainnya, pada dasarnya tidak perlu ada sertifikat halal. Karena untuk membuktikan bahwa itu halal dan suci sangat mudah. Dan jika diklaim mengandung najis, harus ada bukti.

Bagaimana jika menggunakan gelatin dari babi?

Pertanyaan ini berawal dari syak (keraguan). Karena kita tidak pernah mendapatkan bukti terkait proses produksinya.

Ada beberapa barang najis yang ada di sekitar kita. Tapi bukan berarti ini menjadi sebab orang harus bersikap was-was. Ketika di jalan yang berair, bisa saja terpikir, “Jangan-jangan ada najis yang nyiprat ke celana.” Tapi keraguan ini tidak bisa dijadikan acuan. Selama tidak ada bukti bahwa ada najis yang nempel di celana kita.

Jika keraguan ini diikuti, justru akan menjadi sumber was-was bagi manusia. Sampai ada orang yang hanya mencuci secuil najis, dia bisa menghabiskan air ber-ember-ember.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Mengobati Was-was

Jika semacam ini harus melalui sertifikat halal, masyarakat akan selalu dihantui ketakutan dengan semua properti yang ada di sekitarnya. Sikap ini jutru mengajarkan sikap was-was di tengah masyarakat.  Tidak salah jika disebut, ini mencemaskan masyarakat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Memakai Kain dari Syam dan Yaman

Anda yang membaca sejarah, tentu pernah membaca, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, mereka menggunakan kain impor dari Syam, Yaman, atau Mesir. Karena Madinah bukan produsen kapas.

Ketika itu, Yaman, Syam dan Mesir adalah negeri nasrani. Yang mereka menghalalkan babi dan khamr. Meskipun demikian, tidak dijumpai riwayat, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat memeriksa kesucian pakaian impor itu. Bahkan mereka memakainya.

Perhatikan Mode

Untuk masalah pakaian, seharusnya yang lebih diperhatikan adalah modelnya. Apakah sudah syar’i ataukah belum. Karena ini yang erat kaitannya dengan hukum halal haram. Bahan kain, milik muslim dan non muslim bisa jadi sama persis. Yang membedakan adalah cara mereka berpakaian.

Untuk menyemarakkan penyebaran jilbab syar’i, bila perlu, MUI menerbitkan sertifikat halal untuk hijab yang memenuhi standar syariat secara gratis, sekalipun tidak pernah diajukan. Sayangnya belum pernah kita jumpai ada sertifikat MUI untuk cadar, padahal itu wajib dalam madzhab syafi’iyah.

Tidak ada artinya sertifikat halal untuk kainnya, sementara modelnya masih mengundang syahwat. Masyarakat awam bisa saja meyakini jilbab yang dia kenakan telah syar’i, karena ada logo MUI, padahal sejatinya itu jilbab modis.

Simak artikel: Hukum Jilboobs dan Fatwa MUI

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>