Zakat – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 30 Sep 2016 00:19:01 +0000 en-US hourly 1 Bayar Zakat Mal ketika Idul Fitri https://konsultasisyariah.com/28077-bayar-zakat-mal-ketika-idul-fitri.html Wed, 06 Jul 2016 02:41:29 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28077 Zakat Mal ketika Idul Fitri

Jk ada orang yg blm zakat mal ketika ramadhan, bolehkah dibayarkan ketika idul fitri?

Jawab:

Untuk zakat mal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan agar dikeluarkan ketika memiliki harta satu nishab dan telah genap setahun. Dari Aisyah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum, mereka mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ كُلِّ عِشْرِينَ دِينَارًا فَصَاعِدًا نِصْفَ دِينَارٍ ، وَمِنْ الْأَرْبَعِينَ دِينَارًا دِينَارًا

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil zakat dari 20 dinar atau lebih sebesar ½ dinar. Sementara dari 40 dinar masing-masing diambil satu dinar-satu dinar.” (HR. Ibnu Majah 1863, Daruquthni 1919, dan dishahihkan al-Albani).

Artinya, pembayaraan zakat mal tidak harus di bulan ramadhan. Dan memang tidak ada hubungannya dengan bulan ramadhan.

Di bulan Rajab th. 37 H, si A memiliki tabungan satu nishab senilai 45 jt. Jika uang si A tidak berkurang, kapan dia bayar zakat?

Jawabannya, Rajab th. 37 H. Tidak harus ketika ramadhan.

Oleh karena itu, tidak masalah anda membayar zakat mal ketika idul fitri, selama anda sudah memiliki harta satu nishab.

Apakah boleh dibayar sebelum genap satu tahun?

Pendapat yang kuat dibolehkan. Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Membayar Zakat Sebelum Haul

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ukuran Zakat Fitrah https://konsultasisyariah.com/7069-kadar-zakat-fitrah.html https://konsultasisyariah.com/7069-kadar-zakat-fitrah.html#respond Fri, 01 Jul 2016 01:26:34 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=7069 Ukuran Zakat Fitrah per-Orang

Assalamu ‘alaikum. Saya ingin menanyakan berapa kilogram beras untuk kadar zakat fitrah per orangnya? Kalau dalam hitungan liter, berapa? Wassalamu ‘alaikum.

Bambang Aries Wahyudi (bambang**@yahoo.***)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu; beliau mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ – صَلّى اللهُ عَلَيه وَسَلّم صَدَقَةَ الْفِطْرِ عَلَى الذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ ، صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, untuk lelaki dan wanita, orang merdeka maupun budak, berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” (HR. Bukhari 1511 dan Muslim 2327)

Dalam hadis lain, dari Abu Said Al Khudzri radliallahu ‘anhu,

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

“Dulu kami menunaikan zakat fitri dengan satu sha’ bahan makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju atau stu sha’ anggur.” (HR. Bukhari 1506 & Muslim 2330)

Dalam hadis ini, disebutkan secara tegas bahwa kadar zakat fitri adalah satu sha’ bahan makanan.

Apa itu sha’?

Sha’ adalah ukuran takaran bukan timbangan. Ukuran takaran “sha’” yang berlaku di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sha’ masyarakat Madinah. Yang itu setara dengan 4 mud.

Satu mud adalah ukuran satu cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan. Dengan demikian, satu sha’ adalah empat kali cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan.

Mengingat sha’ adalah ukuran takaran, umumnya ukuran ini sulit untuk disetarakan (dikonversi) ke dalam ukuran berat karena nilai berat satu sha’ itu berbeda-beda tergantung berat jenis benda yang ditakar. Satu sha’ tepung memiliki berat yang tidak sama dengan berat satu sha’ beras. Oleh karena itu, yang ideal, ukuran zakat fitri itu berdasarkan takaran bukan berdasarkan timbangan.

Hanya saja, alhamdulillah, melalui kajian para ulama, Allah memudahkan kita untuk menemukan titik terang masalah ukuran ini. Para ulama (Lajnah Daimah, no. fatwa: 12572) telah melakukan penelitian bahwa satu sha’ untuk beras dan gandum beratnya kurang lebih 3 kg.

Ringkasan kadar zakat:

  • 1 sha’ = 4 mud
  • 1 mud = cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan
  • 1 sha’ = 4 kali cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan
  • 1 sha’ beras kurang lebih setara dengan 3 kg beras.
  • 1 sha’ gandum kurang lebih setara dengan 3 kg gandum.

InsyaaAllah, untuk zakat fitrah 3 kg sangat aman. Dan kami sarankan agar dikeluarkan 3 kg. Lebih baik dilebihkan dari pada kurang. Karena jika lebih, kelebihannya menjadi sedekah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Penjelasan yang memudahkan Anda: Kadar zakat fitri, kadar zakat fitrah, cara mudah menghitung kadar zakat fitri, dst.

]]>
https://konsultasisyariah.com/7069-kadar-zakat-fitrah.html/feed 0
Membayar Zakat Sebelum Haul https://konsultasisyariah.com/28051-membayar-zakat-sebelum-haul.html Thu, 30 Jun 2016 01:55:48 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28051 Zakat Sebelum Haul

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebelumnya kita berikan definisi,

Di bulan Rajab th. 37 H, Paijo memiliki tabungan senilai 45 jt. Uang Paijo sudah satu nishab. Ketika Ramadhan di tahun yang sama, Paijo membayar zakat 2,5% dari tabungannya. Sementara uang itu baru mengendap 2 bulan di tempatnya Paijo.

Apa yang dilakukan Paijo adalah membayar zakat sebelum haul, tapi sudah nishab.

Ada 2 hal yang perlu kita bedakan,

[1] Membayar zakat sebelum haul.

[2] Membayar zakat sebelum nishab.

Sebab wajibnya zakat adalah memiliki harta sebesar satu nishab.  Sementara haul adalah syarat wajib zakat.

Membayar zakat sebelum nishab, sama dengan membayar zakat sebelum waktunya, sebagaimana orang yang shalat sebelum masuk waktu.

Karena itulah ulama sepakat tidak boleh membayar zakat sebelum memiliki harta satu nishab.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ولا يجوز تعجيل الزكاة قبل ملك النصاب بغير خلاف علمناه ، ولو ملك بعض نصاب فعجل زكاته أو زكاة نصاب : لم يجُز ؛ لأنه تعجَّل الحكم قبل سببه

Tidak boleh mendahulukan zakat sebelum memiliki harta satu nishab, tanpa ada perbedaan pendapat ulama yang kami tahu. Jika ada orang memiliki harta separuh nisab, lalu dia menyegerahkan zakat, atau dia bayar zakat satu nishab, hukumnya tidak boleh. Karena dia mendahulukan hukum sebelum sebab. (al-Mughni, 2/495)

Dalam Ensiklopedi Fiqh juga dinyatakan,

لا خلاف بين الفقهاء في عدم جواز التكفير قبل اليمين ؛ لأنه تقديم الحكم قبل سببه ، كتقديم الزكاة قبل ملك النصاب ، وكتقديم الصلاة قبل دخول وقتها .

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang tidak bolehnya membayar kaffarah sumpah sebelum ada sumpah, karena berarti mendahulukan hukum sebelum ada sebabnya. Seperti mendahulukan zakat sebelum memiliki satu nishab, atau mendahulukan shalat sebelum masuk waktunya. (al-Masusu’ah al-Fiqhiyah, 35/48)

Bolehkah mendahulukan zakat sebelum haul setelah dia memiliki harta sebanyak satu nishab?

Ada 2 pendapat dalam masalah ini:

Pendapat Pertama, pendapat Malikiyah dan Zahiriyah.

Mereka melarang membayar zakat sebelum haul. Karena zakat adalah ibadah yang tidak boleh ditunaikan sebelum datang syarat wajibnya.

Pendapat Kedua, pendapat jumhur ulama.

Mereka membolehkan  membayar zakat sebelum berlalu satu tahun (haul). Karena zakat adalah kewajiban bagi harta, sehingga boleh disegerakan sebagaimana bolehnya menyegerahkan pembayaran utang sebelum jatuh tempo.

Dan inilah pendapat yang kuat, dengan alasan,

Pertama, riwayat bahwa paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu ‘anhu pernah menyegerahkan pembayaran zakatnya sebelum haul.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bercerita,

أَنَّ الْعَبَّاسَ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ فَرَخَّصَ لَهُ فِى ذَلِكَ

Abbas pernah bertanya kepada Rasulullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hukum menyegerahkan zakat sebelum haul. Lalu beliau memberikan keringanan akan hal itu. (HR. Turmudzi 680, ad-Darimi 1689 dan dihasankan al-Albani)

Dalam riwayat lain, juga dari Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesa kepada Umar radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّا قَدْ أَخَذْنَا زَكَاةَ الْعَبَّاسِ عَامَ الأَوَّلِ لِلْعَامِ

Saya telah menarik zakatnya Abbas, tahun kemarin untuk tahun ini. (HR. Turmudzi 681 dan dihasankan al-Albani).

Setelah ad-Darimi menyebutkan hadis di atas, beliau mengatakan,

آخُذُ بِهِ وَلاَ أَرَى فِى تَعْجِيلِ الزَّكَاةِ بَأْساً

Saya mengambil pendapat ini, dan saya berpendapat, boleh menyegerakan zakat. (Sunan ad-Darimi, 5/107)

Kedua, haul dalam zakat adalah syarat wajib zakat. Dan orang boleh saja melakukan ibadah sebelum datang syarat wajib ibadah. Misalnya, diantara syarat wajib shalat adalah baligh. Namun anak tamyiz yang bellum baligh, boleh saja melakukan shalat, meskipun dia belum wajib shalat.

Ibnu Rajab menyebutkan dalam kaidah,

العبادات كلها سواء كانت بدنية أو مالية أو مركبة منهما لا يجوز تقديمها على سبب وجوبها ويجوز تقديمها بعد سبب الوجوب وقبل الوجوب أو قبل شرط الوجوب

“Semua ibadah sama, baik badaniyah, maliyah atau gabungan keduanya, tidak boleh dilakukan sebelum ada sebab wajibnya. Dan boleh dilakukan setelah ada sebab wajibnya dan sebelum adanya kewajiban atau syarat wajibnya. (al-Qawaid al-Fiqhiyah, 1/9).

Dalam Syarh al-Mumthi’, Imam Ibnu Utsaimin mengungkapkan dengan redaksi berbeda,

تقديم الشيء على سببه ملغى، وعلى شرطه جائز

Mendahulukan sesuatu sebelum adanya sebab wajibnya, tidak dihitung. Sementara mendahulukan sesuatu sebelum ada syarat wajibnya, boleh. (as-Syarh al-Mumthi’, 6/169).

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Orang Miskin tetap Wajib Zakat Fitrah – Ukuran Nishab Zakat Fitrah https://konsultasisyariah.com/28041-orang-miskin-tetap-wajib-zakat-fitrah-ukuran-nishab-zakat-fitrah.html Wed, 29 Jun 2016 02:15:32 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28041 Orang Miskin tetap Wajib Zakat Fitrah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam zakat mal, di sana ada batasan harta minimal yang dimiliki seseorang, sehingga dia berkewajiban zakat. Batasan itu disebut nishab. Untuk zakat mal, batas nishabnya adalah 20 dinar atau senilai 85 gr emas.

Apakah ini juga berlaku untuk zakat fitrah?

Jawabannya tidak. Karena beda jenis zakat, beda aturan yang berlaku.

Untuk zakat mal, nishabnya 85 gr emas

Zakat perak, nishabnya 595 gr perak

Zakat pertanian, nishabnya 5 wasaq ~ 825 kg bahan makanan

Zakat kambing, nishabnya 40 ekor kambing, dst…

Sehingga nishab zakat fitrah, tidak mengikuti zakat mal atau zakat lainnya.

Berapa nishab zakat fitrah?

Yang saya maksud adalah, berapa ukuran harta minimal yang dimiliki seseorang, sehingga dia tergolong wajib membayar zakat fitrah?

Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhu mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, berupa satu sha’ kurma kering atau gandum kering. (kewajiban) ini bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa. Dan beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang berangkat shalat.” (HR. Bukhari 1433 & Muslim 984)

1 sha’ beras  kurang lebih 2,75 kg beras.

Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan ukuran makanan yang dikeluarkan untuk zakat fitrah. Apakah ketika dia mampu menunaikan 1 sha’ makanan dia berkewajiban zakat fitrah?

Ulama berselisih pendapat tentang standar ukuran disebut mampu menunaikan zakat fitrah,

Pertama, Hanafiyah dan para Ulama Kufah

Menurut pendapat mereka, ukuran kemampuan orang yang wajib zakat fitri adalah orang yang memiliki sisa dari kebutuhan hidupnya sebanyak satu nishab zakat harta (85 gram emas) atau sesuatu yang senilai dengan 85 gram emas.

Dan sebagian hanafiyah berpendapat, bagi yang memiliki harta kurang dari 85 gram emas maka boleh memberikan zakat fitri sebagai shadaqah.

Sanggahan:

Pendapat ini kurang tepat. Karena ukuran mampu dalam zakat fitri, berbeda dengan ukuran mampu pada zakat harta.

Kedua, mayoritas ulama (Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah)

Mereka memberikan ukuran mampu untuk zakat fitrah, selama dia memiliki sisa makanan untuk dirinya dan keluarganya pada malam hari raya dan besok paginya. Karena dalam islam, orang dalam keadaan semacam ini telah dianggap mampu.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ مَسْأَلَةً عَنْ ظَهْرِ غِنًى اسْتَكْثَرَ بِهَا مِنْ رَضْفِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa yang meminta sementara dia memiliki sesuatu yang mencukupinya maka dia telah memperbanyak api neraka.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ukuran sesuatu yang mencukupinya (sehingga tidak boleh meminta)?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

عَشَاءُ لَيْلَةٍ

“Dia memiliki sesuatu yang mengeyangkan selama sehari-semalam.” (HR. Ahmad 1253 dan dishahihkan al-Albani).

Imam Ahmad ditanya, kapankah seseorang itu wajib mengeluarkan zakat fitri?

Beliau rahimahullah menjawab:

إذا كان عنده فضل قوت يوم أطعم

“Jika dia memiliki sisa makanan satu hari maka wajib zakat.” (al-Masail Ishaq an-Naisaburi)

Ibn Qudamah mengatakan,

ولا تجب إلا بشرطين : أحدهما أن يفضل عن نفقته ونفقة عياله يوم العيد وليلته صاع لأن النفقة أهم فتجب البداءه بها لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ” اِبْدَأ بِنَفسِك وَبِمَن تَعُول

“Zakat fitri tidak wajib kecuali dengan dua syarat. Salah satunya, dia memiliki sisa makanan untuk dirinya dan keluarganya pada malam dan siang hari raya sebanyak satu sha’. Karena nafkah untuk pribadi itu lebih penting, sehingga wajib untuk didahulukan. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Mulai dari dirimu dan orang yang kamu tanggung nafkahnya.” (HR. Turmudzi).”

Kemudian Ibn Qudamah memberikan rincian,

  1. Jika tersisa satu sha’ (dari kebutuhan makan sehari-semalam ketika hari raya) maka dia membayarkan satu sha’ tersebut sebagai zakat untuk dirinya.
  2. Jika tersisa lebih dari 1 sha’ (misalnya: 2 sha’) maka satu sha’ untuk zakat dirinya dan satu sha’ berikutnya dibayarkan sebagai zakat untuk orang yang paling berhak untuk didahulukan dalam mendapatkan nafkah (misalnya: istri).
  3. Jika sisanya kurang dari satu sha’, apakah sisa ini bisa dibayarkan sebagai zakat? Dalam hal ini ada dua pendapat:
    • Wajib ditunaikan sebagai zakat, berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika aku perintahkan sesuatu maka amalkanlah semampu kalian. (HR. Bukhari & Muslim)”
    • Tidak wajib ditunaikan. Karena belum memenuhi ukuran zakat yang harus ditunaikan (yaitu satu sha’).
  4. Jika terdapat sisa satu sha’ namun dia memiliki hutang, maka manakah yang harus didahulukan? Dalam hal ini ada dua keadaan:
    • Orang yang memberi hutang meminta agar segera dilunasi maka didahulukan pelunasan hutang dari pada zakat. Karena ini adalah hak anak adam yang sifatnya mendesak.
    • Orang yang memberi hutang tidak menagih hutangnya maka wajib dibayarkan untuk zakat. Karena kewajiban zakat ini mendesak sementara kewajiban membayar hutang tidak mendesak. Sehingga lebih didahulukan zakat.

(al-Kafi fi Fiqh Hambali, Ibnu Qudamah, 1/412).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Pajak Bisa Mewakili Zakat? https://konsultasisyariah.com/28033-pajak-bisa-mewakili-zakat.html Mon, 27 Jun 2016 01:58:56 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28033 Benarkah Pajak Bisa Mewakili Zakat?

Saya ada sedikit ganjalan. Jika orang telah bayar pajak, apakah bisa menggantikan kewajiban zakat? Terimakasih

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah (no. 2980) disebutkan beberapa perbedaan antara zakat dengan pajak,

[1] Zakat diambil dari harta kaum muslimin, yang Allah wajibkan dengan ketentuan tertentu. Sementara pajak diwajibkan oleh negara untuk kesejahteraan masyarakatnya.

[2] Zakat diserahkan kepada 8 golongan penerima zakat. Sementara pajak, sama sekali tidak ada hubungannya dengan 8 golongan penerima zakat.

[3] Batasan zakat dan waktu mengeluarkannya, telah ditentukan oleh syariat. Seorang muslim tidak boleh mengurangi atau memanipulasi zakat. Sementara pajak, negara yang menetapkan. Mungkin saja, wajib pajak memanipulasi laporan atau membayar dengan nilai kurang.

[4] Zakat harus diserahkan secara ikhlas, agar terhitung sebagai amal yang sah. Sementara pajak, boleh saja diserahkan dengan terpaksa.

[5] Aturan zakat berlaku sama untuk muslim sedunia. Sementara pajak berbeda-beda antar-negara, tergantung dari kebijakan pemerintah.

Karena itu, pajak tidak bisa mewakili zakat. Dua hal yang semua ketentuannya berbeda. Sehingga para ulama menegaskan, pajak tidak bisa mewakili zakat.

Dalam fatwanya, Lajnah Daimah pernah ditanya tentang pajak, apakah bisa menjadi pengganti zakat?

Jawaban Lajnah,

لا يجوز أن تحتسب الضرائب التي يدفعها أصحاب الأموال على أموالهم من زكاة ما تجب فيه الزكاة منها، بل يجب أن يخرج الزكاة المفروضة ويصرفها في مصارفها الشرعية، التي نص عليها سبحانه وتعالى

Pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak, tidak boleh dihitung sebagai zakat untuk harta yang wajib dizakati. Tetapi zakat itu wajib dia bayarkan zakatnya dan dia bayarkan kepada golongan dalam syariat, yang telah ditegaskan oleh Allah.. (Fatwa Lajnah, no. 6573)

Dalam fatwanya yang lain, Lajnah Daimah menjelaskan,

فرض الحكومة الضرائب على شعبها لا يسقط الزكاة عمن ملكوا نصاب الزكاة وحال عليه الحول، فيجب عليهم إخراج الزكاة وتوزيعها في مصارفها الشرعية التي ذكرها الله في قوله

Beban pajak yang diwajibkan pemerintah kepada rakyatnya, tidaklah menggugurkan kewajiban zakat dari orang yang memiliki harta satu nishab, dan telah mengendap selama satu tahun. Mereka tetap wajib membayar zakat dan menyerahkannya kepada golongan dalam syariat, yang disebutkan oleh Allah dalam firmannya,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ …

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, …. (QS. At-Taubah: 60). (Fatwa Lajnah, no. 7551)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Menghitung Zakat Utang https://konsultasisyariah.com/28030-menghitung-zakat-utang.html Sat, 25 Jun 2016 00:26:16 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28030 Menghitung Zakat Utang

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Yang dimaksud zakat utang adalah zakat untuk harta milik orang lain yang ada di tangan kita.

Keberadaan utang yang ada di tangan seseorang, bisa menjadi penghalang zakatnya atau pengurang nilai zakatnya.

Sebagai ilustrasi, (asumsi, nishab zakat 43 jt)

Si A memiliki uang dan tabungan dengan total senilai 50 jt. Tapi si A tanggungan utang kredit kendaraan senilai 40 jt. Apakah utang si A yang melebihi menjadi penghalang bagi si A untuk menzakati tabungannya? Karena jika utang itu dibayarkan, tabungan si A tinggal 10 juta, dan itu kurang dari satu nishab.

Di posisi ini, utang menjadi penghalang bagi si A sehingga tidak terkena kewajiban zakat.

Dalam kasus ini, ulama berbeda pendapat. Apakah keberadaan utang bisa menjadi penghalang wajibnya zakat ataukah tidak? Sementara ketika jatuh haul, utang itu belum dibayarkan si A.

Sebelumnya, kami tegaskan, yang dibahas di sini adalah ketika utang itu belum dibayarkan sampai haul. Jika utang itu sudah dibayarkan sebelum, ulama sepakat si A tidak wajib zakat. Karena tabungan yang dia miliki menjadi kurang dari satu nishab.

Misalnya, dari kasus di atas.

Tabungan Si A mencapai 50 jt tepat ketika bulan Muharram 1436 H.  Berarti jatuh tempo zakatnya adalah Muharram 1437 H. Si A juga punya tanggungan utang 40 jt, yang boleh dilunasi sampai 3 tahun lagi. Selanjutnya, di sana ada 2 keadaan,

[1] Jika si A melunasi utangnnya sebelum datang Muharram 1437 H, maka si A tidak perlu bayar zakat. Karena pada saat haul, tabungan si A sudah turun di bawah satu nishab.

[2] Jika sampai Muharram 1437 H, si A sama sekali tidak membayar utangnya, sehingga tabungannya masih utuh 50 jt selama setahun, apakah si A berkewajiban zakat?

Dalam kasus ini ulama berbeda pendapat.

Pertama, si A tidak wajib zakat. Sekalipun tabungan si A di atas satu nishab, tapi dia punya utang yang bisa mengurangi tabungannya. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Ibnu Qudamah menyebutkan,

أن الدين يمنع وجوب الزكاة في الأموال الباطنة رواية واحدة وهي الأثمان وعروض التجارة وبه قال عطاء وسليمان بن يسار و ميمون بن مهران و الحسن و النخعي و الليث و مالك و الثوري و الأوزاعي و اسحق و أبو ثور وأصحاب الرأي

Utang bisa menghalangi wajibnya zakat untuk harta bathin, yaitu tabungan dan harta perdagangan, menurut salah satu riwayat dari Imam Ahmad.  Dan ini merupakan pendapat Atha’, Sulaiman bin Yasar, Maimun bin Mihran, Hasan al-Bashri, an-Nakkha’i, al-Laits, Imam Malik, Sufyan at-Tsauri, al-Auza’i, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur, dan Ashabur ra’yi (ulama kufah). (al-Mughni, 2/633).

Kedua, bahwa utang bisa menghalangi wajibnya zakat, kecuali utang jangka panjang. Yang pembayarannya bisa ditunda lama. Utang semacam ini tidak menghalangi wajibnya zakat.

Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat. (al-Inshaf, 3/24).

Ketiga, bahwa utang tidak menghalangi zakat

Selama utang belum dibayarkan, masuk dalam perhitungan zakat, sehingga keberadaan utang tidak menghalangi zakat. Ini pendapat Imam Syafii dalam qoul jadid, dan pendapat yang dikuatkan para ulama kontemporer.

An-Nawawi mengatakan,

الدين هل يمنع وجوب الزكاة ؟ فيه ثلاثة أقوال ، أصحها عند الأصحاب , وهو نص الشافعي رضي الله عنه في معظم كتبه الجديدة : تجب … فالحاصل أن المذهب وجوب الزكاة سواء كان المال باطنا أو ظاهرا أم من جنس الدين أم غيره

Apakah utang menghalangi zakat? Di sana ada 3 pendapat. Yang paling benar, menurut ulama Syafiiyah, dan ini yang ditegaskan Imam Syafii radhiyallahu ‘anhu di mayoritas karyanya yang baru, bahwa tetap wajib zakat… kesimpulannya, syafiiyah berpendapat wajib zakat, baik itu harta bathin maupun dzahir, baik dari harta utang atau yang lainnya. (al-Majmu’, 5/344).

Pendapat ini dinilai lebih kuat oleh Imam Ibnu Baz. Beliau mengatakan,

وأما الدين الذي عليه فلا يمنع الزكاة في أصح أقوال أهل العلم

Utang yang menjadi tanggungan seseorang, tidak menghalangi zakat, menurut pendapat yang paling benar di antara ulama. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 14/189).

Keterangan semisal disampaikan Imam Ibnu Utsaimin,

والذي أرجحه أن الزكاة واجبة مطلقا ، ولو كان عليه دين ينقص النصاب ، إلا دَيْناً وجب قبل حلول الزكاة فيجب أداؤه ، ثم يزكي ما بقي بعده

Pendapat yang rajih, bahwa zakat itu hukumnya wajib secara mutlak. Meskipun muzakki (wajib zakat) memiliki utang yang bisa mengurangi nishab. Kecuali utang yang harus dilunasi sebelum jatuh tempo zakat, sehingga harus dia bayarkan. Kemudian dia bayar zakat untuk sisanya. (as-Syarh al-Mumthi’, 6/35)

Tarjih:

Pendapat yang lebih mendekati adalah pendapat ketiga. Dengan beberapa pertimbagan,

[1] Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para amil zakat untuk mengambil zakat kaum muslimin di sekitar Madinah, beliau tidak memberikan rincian masalah utang. Apakah muzakki masih punya utang atau tidak.

[2] Riwayat dari as-Saib bin Yazid, beliau pernah mendengar Utsman mengatakan,

هَذَا شَهْرُ زَكَاتِكُمْ ، فَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَلْيُؤَدِّهِ ، حَتَّى تُخْرِجُوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ

Ini adalah bulan zakat kalian. Siapa yang punya tanggungan utang, hendaknya dia lunasi utangnya, kemudian dia keluarkan zakat hartanya. (HR. al-Qasim bin Sallam dalam al-Amwal, no. 917).

Dalam riwayat lain, Utsman mengatakan,

فمن كان عليه دين فليقض دينه وليزك بقية ماله

Siapa yang punya tanggungan utang, segera dia lunasi utangnya, dan dia zakati sisa hartanya.

Pernyataan ini disampaikan Utsman di depan para sahabat lainnya, sementara tidak ada satupun diantara mereka yang mengingkari.

Ini menunjukkan, ketika utang itu belum dibayarkan, maka masuk hitungan zakat. Sebaliknya, ketika utang itu dibayarkan, dia tidak masuk dalam hitungan zakat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Zakat yang Tidak Sah https://konsultasisyariah.com/28026-zakat-yang-tidak-sah.html Fri, 24 Jun 2016 01:49:36 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28026 Zakat yang Tidak Sah

Ada orang yang baru keterima kerja. Gaji pertama 5 jt/bln. Setiap kali dia mendapat gaji, dia zakati 2,5%.

Alasannya, dari pada zakatnya diakhirkan, lebih baik dicicil setiap bulan. Jadi tabungannya semua sdh dizakati. Sehingga, nanti tidak perlu dizakati. Katanya, ini zakat profesi.

Apakah zakatnya benar? mohon pencerahnnya..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Zakat, tidak seperti sedekah atau infak yang sifatnya anjuran. Zakat itu kewajiban yang ada ukurannya. Islam memberikan aturan khusus untuk zakat. Sehingga, tidak semua bentuk memberikan harta kepada fakir miskin, bisa disebut zakat.  Memberikan harta kepada fakir miskin hanya bisa disebut zakat, jika memenuhi aturan zakat. Jika tidak sesuai aturan, itu bukan zakat.

Sebagaimana shalat, di sana ada rukun dan syarat. Jika itu shalat wajib, di sana ada ketentuan mengenai waktu pelaksanaan. Orang hanya boleh shalat subuh, setelah terbit fajar shodiq. Orang yang shalat 2 rakaat 5 menit sebelum terbit fajar, tidak disebut shalat subuh, meskipun dia niat untuk shalat subuh.

Ketentuan umum zakat, dinyatakan dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ ، فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ

Jika kamu memiliki 20 dinar, dan sudah genap selama setahun, maka zakatnya ½ dinar. Lebih dari itu, mengikuti hitungan sebelumnya. (HR. Abu Daud 1575 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan adanya nishab dan haul untuk zakat mal. Dan ini aturan baku. Siapapun tidak dibenarkan untuk membayar zakat dengan aturan berdasarkan inisiatif pribadi. Karena ibadah itu wahyu dan bukan berdasarkan inisiatif manusia.

Nishab, Sebab Wajibnya Zakat

Nishab adalah batas minimal harta yang wajib dizakati. Selama seseorang belum memiliki harta satu nishab, tidak ada kewajiban zakat baginya. Karena itu, membayar zakat sebelum nishab, sama dengan membayar zakat sebelum ada sebabnya. Para ulama meng-analogikan ini seperti orang shalat sebelum masuk waktu.

Untuk itulah ulama sepakat tidak boleh membayar zakat sebelum memiliki harta satu nishab.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ولا يجوز تعجيل الزكاة قبل ملك النصاب بغير خلاف علمناه ، ولو ملك بعض نصاب فعجل زكاته أو زكاة نصاب : لم يجُز ؛ لأنه تعجَّل الحكم قبل سببه

Tidak boleh mendahulukan zakat sebelum memiliki harta satu nishab, tanpa ada perbedaan pendapat ulama yang kami tahu. Jika ada orang memiliki harta separuh nisab, lalu dia menyegerahkan zakat, atau dia bayar zakat satu nishab, hukumnya tidak boleh. Karena dia mendahulukan hukum sebelum sebab. (al-Mughni, 2/495)

Dalam Ensiklopedi Fiqh juga dinyatakan,

لا خلاف بين الفقهاء في عدم جواز التكفير قبل اليمين ؛ لأنه تقديم الحكم قبل سببه ، كتقديم الزكاة قبل ملك النصاب ، وكتقديم الصلاة قبل دخول وقتها .

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang tidak bolehnya membayar kaffarah sumpah sebelum ada sumpah, karena berarti mendahulukan hukum sebelum ada sebabnya. Seperti mendahulukan zakat sebelum memiliki satu nishab, atau mendahulukan shalat sebelum masuk waktunya. (al-Masusu’ah al-Fiqhiyah, 35/48)

Kami tegaskan ulang, kesimpulan bahwa membayar zakat sebelum nishab, zakatnya tidak sah. Tidak sah dalam arti tidak terhitung sebagai zakat. Meskipun dia mendapat pahala sedekah dari harta yang dia berikan ke fakir miskin.

Kasus Zakat Bulanan

Ketika si A memiliki gaji 5 jt/bulan, secara perhitungan, dalam setahun pemasukan si A senilai 60 jt. Nilai ini di atas satu nishab. Apakah si A wajib zakat?

Bahwa yang dihitung dari zakat adalah tabungan, akumulasi uang mengendap, dan bukan akumulasi pemasukan. Pemasukan si A 5jt/bln. Tapi jika dikurangi biaya hidup dan semua pengeluarannya, si A hanya menyisakan Rp 1 jt yang bisa ditabung.

Jika penghasilan si A hanya ini, sementara dia tidak punya tabungan, maka si A tidak wajib zakat. Dalam waktu setahun, tabungan si A baru terkumpul 12 jt.

Itu artinya, jika si A membayar zakat 2,5% dari sejak dia mendapatkan gaji di bulan pertama, berarti si A membayar zakat sebelum memiliki harta satu nishab. Dan tentu saja, tidak sah sebagai zakat, meskipun dia mendapat pahala sedekah.

Jika kita asumsikan kondisi si A selalu stabil, maka dia baru memiliki harta 1 nishab, setelah kurang lebih 3,5 tahun bekerja. Sehingga si A memiliki tabungan 43 juta. Di titik itu, si A baru memiliki harta satu nishab. Tapi si A belum diwajibkan bayar zakat. Sampai uang itu mengendap selama setahun.

Sisi Negatif  Zakat Profesi

Fokus di pertanyaan.

Masyarakat menganggap model zakat semacam ini dengan zakat profesi. Setidaknya ada 2 konsekuensi buruk ketika zakat profesi diterapkan,

[1] Orang yang belum memiliki harta sebesar nishab, membayar zakat. Padahal itu zakat sebelum ada sebabnya. Dan ulama sepakat, zakatnya tidak sah.

[2] Muncul anggapan tidak lagi wajib zakat karena sudah dikeluarkan zakat profesinya setiap bulan ketika menerima gaji. Padahal dia punya tabungan di atas nishab tersimpan tahunan, yang seharusnya itu dizakati.

Dari kasus si A. Dengan asumsi penghasilan si A tetap, mungkin di tahun keempat, si A tabungannya menjadi 48  jt. Di atas nishab. Tapi si A merasa dia sudah zakat, sehingga tidak bayar zakat lagi. Padahal tabungan itulah yang seharusnya dizakati.

Menurut mayoritas para ulama kontemporer bahwa zakat profesi tidak dikeluarkan pada saat diterima akan tetapi digabungkan dengan uang yang lain yang mencapai nishab dan mengikuti haulnya (berlalu 1 tahun qamariyah).

Pendapat ini juga merupakan hasil keputusan muktamar zakat pertama se-dunia di Kuwait pada tahun 1984, yang berbunyi,

Zakat upah, gaji dan profesi tidak dikeluarkan pada saat diterima, akan tetapi digabungkan dengan harta yang sejenis lalu dizakatkan seluruhnya pada saat cukup haul dan nishabnya.”

Kisah: Penghasilan Milyaran, Tidak Wajib Zakat

Berpenghasilan besar, belum tentu mendapat kewajiban zakat. Karena zakat hanya dibebankan untuk orang yang memiliki harta mengendap satu nishab selama setahun.

Meskipun seseorang memiliki harta di atas satu nishab, namun habis sebelum satu tahun, dia tidak wajib zakat.

Dulu ada ulama besar yang Allah berikan kekayaan melimpah, namun beliau tidak pernah berzakat. Karena hartanya habis sebelum genap setahun. Beliau adalah al-Laits bin Sa’d rahimahullah.

Qutaibah menceritakan,

كان الليث يستغل عشرين ألف دينار في كل سنة وقال ما وجبت علي زكاة قط

Penghasilan Al-Laits mencapai 12.000 dinar dalam setahun. Dan beliau mengatakan, “Aku tidak pernah mendapat kewajiban zakat.”

12.000 dinar itu berapa rupiah?

25.500.000.000. Biar gampang bacanya, kita ringkas: 25 M + 500 jt.

Mengapa beliau tidak pernah zakat?

Uang itu habis sebelum haul.

Beliau pernah memberikan 1000 dinar ke Manshur bin Ammar,

1000 dinar kepada Ibnu Lahai’ah (seorang ulama hadis).

500 dinar kepada Imam Malik, dst.

dan masih banyak lagi yang belum tercatat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Memberikan Zakat kepada Saudara https://konsultasisyariah.com/28023-hukum-memberikan-zakat-kepada-saudara.html Thu, 23 Jun 2016 01:33:47 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28023 Zakat untuk Saudara Kandung

Bagaimana hukum memberikan zakat ke saudara kandung?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Zakat boleh diberikan kepada saudara dengan 2 syarat,

[1] Dia termasuk kategori 8 ashnaf (golongan) yang berhak mendapat zakat

Delapan golongan yang berhak menerima zakat meliputi: fakir, miskin, gharim (orang yang terbelit utang), muallaf, atau Sabilillah, seperti mereka yang hendak belajar agama.

[2] Dia bukan termasuk orang yang wajib dinafkahi oleh muzakki (wajib zakat).

Seperti saudara wanita yang belum menikah, sementara orang tua tidak memberi nafkah, yang wajib menafkahi adalah saudara lelakinya yang sudah baligh atau sudah bekerja.

Dalam Fatawa Nur ‘ala ad-Darb pernah ditanya tentang hukum memberikan zakat kepada saudara. Jawabannya,

إذا كانت أختك مستقلة في بيتٍ وحدها، عاجزة ما عندها ما يقوم بحالها، لك أن تعطيها الزكاة، أما إن كانت عندك في بيتك تنفق عليها، فلا، لا تعطها زكاتك، فهي واقعة في نفقتك عليها

Jika saudari anda tinggal terpisah, di rumah sendiri, sementara dia tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, maka anda boleh memberikan zakat untuknya. Namun jika dia tinggal bersama anda, dan anda yang memberi nafkah, tidak boleh anda berikan zakat anda kepadanya. Karena dia dicukupi dengan mendapat nafkah dari anda. (Fatwa Nur ‘ala ad-Darb, 15/318)

Keutamaan memberikan zakat kepada saudara

Nilai amal dari zakat yang diberikan ke saudara tidak hanya berupa amal zakat. Namun ini juga bisa mempererat persaudaraan. Sehingga ada unsur silaturahmi di sana. Karea itu, memberi zakat ke saudara, zakat sekaligus silaturahmi.

Dari Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaa,

إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِى الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Sedekah kepada orang miskin nilainya sedekah. Sedekah kepada kerabat, nilainya dua, sedekah dan silaturahim. (HR. Nasai 2594, Ibnu Hibban 3344 dan dishahihkan Syuaib al-Arnouth)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Zakat tidak Harus di Bulan Ramadan https://konsultasisyariah.com/28017-zakat-tidak-harus-di-bulan-ramadan.html Wed, 22 Jun 2016 02:25:58 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28017 Zakat tidak Harus di Bulan Ramadhan

Apakah zakat harus dibayarkan d bulan ramadhan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada banyak macam zakat. Dan zakat yang ada hubungannya dengan bulan ramadhan hanya satu, yaitu zakat fitrah. Selain itu, tidak ada hubungannya dengan ramadhan. Yang saya maksud tidak ada hubungannya dengan ramadhan adalah batas pembayarannya, tidak selalu bertepatan dengan bulan ramadhan.

Kita sebutkan beberapa contohnya,

Untuk zakat pertanian, Allah tetapkan pembayarannya dilakukan saat panen. Allah berfirman,

وَآَتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ

“Tunaikanlah zakatnya di hari ketika panen.” (QS. al-An’am: 141)

Untuk zakat mal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan agar dikeluarkan ketika memiliki harta satu nishab dan telah genap setahun. Dari Aisyah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum, mereka mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ كُلِّ عِشْرِينَ دِينَارًا فَصَاعِدًا نِصْفَ دِينَارٍ ، وَمِنْ الْأَرْبَعِينَ دِينَارًا دِينَارًا

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil zakat dari 20 dinar atau lebih sebesar ½ dinar. Sementara dari 40 dinar masing-masing diambil satu dinar-satu dinar.” (HR. Ibnu Majah 1863, Daruquthni 1919, dan dishahihkan al-Albani).

Aturan ini juga berlaku untuk zakat binatang ternak dan zakat perdagangan. Yaitu, memiliki harta 1 nishab kemudian harta itu bertahan selama 1 tahun hijriyah.

Sementara perhitungan genap setahun, belum tentu bertepatan dengan bulan ramadhan.

Sebagai ilustrasi:

Nilai nishab zakat adalah 85 gr emas. Jika diasumsikan harga emas Rp 500.000; nilai nishab setara dengan Rp 42,5 juta.

Di bulan Muharram 1436, si A memiliki tabungan senilai 40 juta. Harta ini belum mencapai nishab. Di bulan shafar 1436, tabungan si A bertambah menjadi 43 juta. Kali ini harta si A telah mencapai 1 nishab. Jika selama setahun harta si A tidak kurang dari nilai itu, maka si A berkewajiban membayar zakat 2,5%.

Kapan si A harus membayar zakatnya?

Jawabannya, si A bayar zakat pada bulan shafar 1437.  Dan bukan pada bulan ramadhan. Karena ketika si A membayarnya di bulan ramadhan, berarti dia menunda pembayaran zakatnya.

Hukum Menunda Pembayaran Zakat

Harta zakat adalah harta milik mustahiq (penerima zakat) yang ada di tangan muzakki (wajib zakat). Ketika muzakki menunda pembayaran zakat, berarti muzakki menunda hak orang lain yang seharusnya dia bayarkan. Karena itulah, Allah mewajibkan zakat untuk dibayar tepat waktu. Allah berfirman,

وَآَتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ

“Tunaikanlah zakatnya di hari ketika panen.” (QS. al-An’am: 141)

Karena itulah, Waktu yang paling afdhal untuk pembayaran zakat adalah ketika waktu wajibnya, yaitu pada saat jatuh tempo haul. Karena pada saat dia membayar, dia sedang menunaikan kewajiban tepat pada waktunya.

Dengan pertimbangan ini, mayoritas ulama mengatakan, tidak boleh menunda pembayaran zakat tanpa udzur. Jika tidak ada udzur, kemudian sengaja menunda pembayaran zakat, maka dia berdosa.

Diantara bentuk udzurnya adalah tidak memungkinkan bagi wajib zakat untuk membayar zakat di awal waktu. An-Nawawi mengatakan,

الزكاة عندنا يجب إخراجها علي الفور فإذا وجبت وتمكن من إخراجها لم يجز تأخيرها وإن لم يتمكن فله التأخير إلي التمكن فإن أخر بعد التمكن عصى وصار ضامنا

Zakat menurut kami, wajib dibayarkan segera. Jika sudah jatuh tempo dan mungkin untuk dibayarkan, maka tidak boleh ditunda. Jika tidak memungkinkan, dia boleh menundanya sampai memungkinkan untuk dibayarkan. Jika dia sengaja menunda setelah memungkinkan, maka dia bermaksiat, dan wajib menanggung resiko. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 5/333).

Ini seharusnya menjadi catatan bagi para pemilik harta, untuk selalu memperhatikan nilai hartanya. Bukan untuk menjadikan harta sebagai hiburan, tapi agar orang tahu waktu yang tepat pembayaran zakatnya. Dia tahu, kapan hartanya mencapai nishab dan dia tahu berapa hartanya ketika sudah haul.

Menunda Agar Mendapatkan Keutamaan Ramadhan

Melakukan amal soleh ketika ramadhan, memang istimewa. Tetapi ini tidak boleh menjadi alasan untuk menunda kewajiban. Dan telah kita tegaskan, waktu yang paling afdhal untuk pembayaran zakat bukan di ramadhan, tapi pada saat telah genap satu nishab. Melaksanakan kewajiban tepat waktu, lebih dicintai Allah.

Lebih dari itu, menunda kewajiban termasuk pelanggaran syariat. Kecuali jika penundaan itu, tidak memberikan pengaruh besar. Misalnya, penundaan sepekan atau beberapa hari saja.

Dalam salah satu fatwanya, Lajnah Daimah mengatakan,

لا يجوز تأخير إخراج الزكاة بعد تمام الحول إلاّ لعذر شرعي ، كعدم وجود الفقراء حين تمام الحول ، وعدم القدرة على إيصالها إليهم ، ولغيبة المال ونحو ذلك

Tidak boleh menunda pembayaran zakat setelah sempurna satu haul, kecuali karena udzur syar’i. Seperti, tidak menemukan orang miskin ketika hartanya telah mencapai satu haul, atau tidak bisa mengantarkan ke mereka yang berhak, atau ketika ketemu fakir miskin, hartanya tidak sedang dibawa, atau sebab lainnya.

Lajnah juga melanjutkan,

أما تأخيرها من أجل رمضان : فلا يجوز إلاّ إذا كانت المدة يسيرة ، كأن يكون تمام الحول في النصف الثاني من شعبان فلا بأس بتأخيرها إلى رمضان

Sementara menunda pembayaran zakat karena alasan ramadhan, hukumnya tidak boleh, kecuali jika waktunya pendek. Seperti haulnya telah masuk pertengahan sya’ban. Tidak masalah ditunda sampai ramadhan. (Fatwa Lajnah Daimah, 9/398).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>