Zakat – Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 28 Apr 2017 02:15:14 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.4 Panitia Zakat BUKAN Amil Zakat https://konsultasisyariah.com/29441-panitia-zakat-bukan-amil-zakat.html Wed, 26 Apr 2017 02:24:57 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29441 Status Panitia Zakat

Apakah amil bentukan takmir atau yayasan sosial, berhak menerima harta zakat? Jika berhak, berapa yang boleh mereka terima? Thnk’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengenai posisi amil sebagai penerima zakat, telah Allah sebutkan di surat at-Taubah ayat 60,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk sabilillah dan Ibnu Sabil.. (QS. at-Taubah: 60).

Hanya saja kita perlu memperhatikan, tidak semua orang yang mengurusi zakat bisa disebut amil. Terkadang seorang pengurus zakat hanya bisa disebut wakil.

An-Nawawi pernah menyebutkan,

قال الشافعي والأصحاب رحمهم الله: “إن كان مفرق الزكاة هو المالك أو وكيله سقط نصيب العامل ووجب صرفها إلى الأصناف السبعة الباقين

Imam Syafii dan para ulama Syafiiyah – rahimahumullah – mengatakan, ‘Jika yang membagi zakat adalah muzakki sendiri atau wakilnya, maka jatah amil menjadi gugur, dan wajib diserahkan ke 7 golongan penerima zakat lainnya.’ (al-Majmu’, 6/185).

An-Nawawi menyebutkan bahwa zakat adakalanya dikelola amil, muzakki sendiri, atau wakilnya. Berarti pengurus zakat selain muzakki, tidak hanya amil, termasuk juga wakil.

Kepentingan kita dengan hal ini, kita hendak menyimpulkan bahwa untuk  bisa disebut amil, pengurus zakat harus memiliki kriteria tertentu. Diantara kriteria itu, amil zakat adalah pengurus zakat yang ditugakan oleh pemerintah. Ada banyak penegasan yang disampaikan ulama mengenai hal ini, diantaranya,

[1] Keterangan as-Syaukani – penulis Nailul Authar –,

Ketika beliau menjelaskan seputar amil, beliau mengatakan,

“والعاملين عليها”: أي السعاة والجباة الذين يبعثهم الإمام لتحصيل الزكاة؛ فإنهم يستحقون منها قسطا

Para Amil zakat adalah petugas zakat yang diutus oleh imam (pemerintah) untuk menarik zakat. Mereka berhak mendapatkan jatah. (Fathul Qadir, 2/541).

[2] Keterangan Imam Ibnu Baz,

العاملون عليها هم العمال الذين يوكلهم ولي الأمر في جبايتها والسفر إلى البلدان والمياه التي عليها أهل الأموال حتى يجبوها منهم… يُعطوْن منها بقدر عملهم وتعبهم على ما يراه ولي الأمر

Para amil zakat adalah para petugas yang ditunjuk pemerintah untuk mengaudit harta zakat dan melakukan perjalanan menuju berbagai daerah, kabilah-kabilah yang di sana ada pemilik harta, lalu diambil harta zakat dari mereka… para amil itu diberi zakat sesuai kerjanya dan usahanya berdasarkan penilaian pemerintah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 14/14).

[3] Keterangan Imam Ibnu Utsaimin,

Dialog dg Imam Ibnu Utsaimin dengan muridnya,

Penanya: ‘Apakah amil di yayasan berhak mendapatkan zakat?’

Jawaban Ibnu Utsaimin,

العاملين إذا كانوا منصوبين من قبل الدولة

“Disebut amil apabila dia ditunjuk oleh negara.”

Penanya: ‘Jika dia dari yayasan, menghitung zakat gaji rutin mereka, apakah tidak cukup?’

Jawaban Ibnu Utsaimin,

لا يمكن إلا من جهة الدولة ؛ لأن العاملين عليها هم العاملون من قبل الدولة ، من قبل ولي الأمر

“Tidak mungkin kecuali ditunjuk negara. Karena amil adalah mereka yang ditunjuk dari negara, dari pemerintah.” (Liqaat Bab al-Maftuh, 13/141).

Di kesempatan yang lain, beliau menjelaskan perbedaan antara wakil dan amil. Beliau mengatakan,

“وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا” هم الذين أقامهم الإمام أي ولي الأمر لقبض الزكاة وتفريقها فيهم ، وهم عاملون عليها ، أي : لهم ولاية عليها . وأما الوكيل الخاص لصاحب المال الذي يقول له : يا فلان خذ زكاتي ووزعها على الفقراء فليس من العاملين عليها ؛ لأن هذا وكيل ، فهو عامل فيها ، وليس عاملاً عليها …

“Para amil zakat” mereka adalah orang yang ditunjuk imam – pemerintah – untuk menarik zakat dan membagikannya kepada mustahiq zakat. Mereka amil atas harta zakat, artinya mereka punya wewenang terhadap harta zakat. Sementara wakil untuk orang yang memiliki harta, misalnya orang kaya ini mengatakan kepada kawannya, ‘Wahai fulan, tolong ambil zakatku dan tolong bagikan kepada orang miskin..’ maka yang semacam ini bukan amil. Karena ini statusnya hanya wakil, yang mengurusi zakat dan tidak memiliki wewenang terhadap harta zakat. (Fatawa Nur ala ad-Darb, 29/206)

Wewenang Amil

Amil punya wewenang menarik paksa zakat seseorang, jika dia belum bayar zakat.

Dari Muawiyah bin Haidah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَعْطَاهَا مُؤْتَجِرًا فَلَهُ أَجْرُهَا وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوهَا وَشَطْرَ مَالِهِ عَزْمَةً مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ

Siapa yang menunaikan zakat karena mengharap pahala, maka dia akan mendapat pahalanya. Siapa yang tidak mau menunaikannya, maka saya akan mengambil paksa dengan setengah hartanya, sebagai perintah yang benar dari Rab kami Ta’ala… (HR. Ahmad 20016, Nasai 2456 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Ketika Abu Bakr menjadi khalifah, ada sebagian orang yang tidak membayar zakat. Lalu beliau memberikan ultimatum,

وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ ، وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِى عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا

“Demi Allah, saya akan memerangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, jika mereka tidak mau menyerahkan zakat berupa anak kambing kepadaku, yang itu dulu mereka serahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, nisacaya aku akan memerangi mereka karena tidak mau bayar zakat.” (HR. Bukhari 1400 & Muslim 133).

Siapa yang membedakan antara shalat dengan zakat, maksudnya adalah siapa yang mau mengerjakan shalat, namun tidak mau membayar zakat.

Wewenang amil terhadap harta zakat, hanya untuk menarik harta dzahir. Sementara harta bathin, amil tidak memiliki wewenang.

Al-Qodhi Abu Ya’la menjelaskan pembagian harta dzahir dan bathin itu dan beliau juga sebutkan contohnya,

والأموال المزكاة ضربان: ظاهرة وباطنة. فالظاهرة: ما لا يمكن إخفاؤه: من الزروع، والثمار، والمواشي.والباطنة: ما أمكن إخفاؤه: من الذهب، والفضة وعُروض التجارة

Harta yang dizakati ada 2 bentuk: dzahir dan bathin. Harta dzahir adalah harta yang tidak mungkin disembunyikan, seperti hasil tanaman, buah-buahan, dan binatang ternak. Dan harta bathin adalah harta yang mungkin untuk disembunyikan, seperti emas, perak dan harta perdagangan.

Kemudian al-Qadhi menjelaskan pembagian ini kaitannya dengan tugas amil,

وليس لوالي الصدقات نظر في زكاة المال الباطن، وأربابُه أحق بإخراج زكاته منه، إلا أن يبذلها أرباب الأموال طوعًا، فيقبلها منهم، ويكون في تفرقتها عونًا لهم، ونظره مخصوص بزكاة المال الظاهر، يؤمر أرباب الأموال بدفعها إليه إذا طلبها، فإن لم يطلبها جاز دفعها إليه

Amil zakat tidak memiliki wewenang untuk menaksir zakat harta bathin. Pemiliknya yang paling berhak untuk menunaikan zakat harta bathin, kecuali jika dia serahkan harta itu atas kerelaannya, lalu amil menerimanya dari mereka, sehingga status amil membagikan zakat hanya membantu mereka. Amil hanya berwenang menaksir harta dzahir. Dia boleh perintahkan pemilik harta untuk menyerahkan zakat hartanya kepadanya ketika amil minta. Jika tidak diminta amil, muzakki boleh menyerahkannya ke amil. (al-Ahkam as-Sulthaniyah, hlm. 180)

Dan kita bisa memahami, para amil bentukan takmir, atau yayasan sosial, mereka tidak ditunjuk pemerintah, dan tidak memiliki wewenang untuk menarik harta zakat. Mereka hanya bertugas menyalurkan. Karena itu, status mereka hanya wakil  dan bukan amil.

Karena itu, mereka tidak berhak mendapatkan jatah amil, karena mereka bukan amil. Sehingga mereka bukan termasuk golongan yang berhak menerima zakat. Kecuali jika pengurus zakat adalah orang yang tidak mampu. Maka dia berhak menerima zakat sebagai orang miskin.

Bagaimana dengan Biaya Operasional?

Biaya operasional zakat, seperti transport untuk mengantar dana zakat atau untuk kepentingan survei penerima zakat atau kepeluan lainnya, dibebankan kepada muzakki. Sehingga disamping setor zakat, muzakki bisa ditarik biaya operasional zakat. Seperti orang berqurban, dia menyerahkan hewan qurban, dan membayar biaya operasional pengelolaannya.

Jika tidak ada dana dari amil, bisa diambilkan dari dana infaq dan sedekah. Karena penyerahan harta zakat juga bagian dari kegiatan sosial, yang bisa ditutupi dengan infak atau sedekah.

Demikian, semoga bermanfaat…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Zakat Walet https://konsultasisyariah.com/29423-zakat-walet.html Wed, 19 Apr 2017 02:19:09 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29423 Cara Menghitung Zakat Walet

Bagaimana cara menghitung zakat burung walet? Apakah termasuk hewan ternak yang wajib dizakati?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Binatang ternak yang wajib dizakati hanya ada 3: onta, sapi dan kambing. Selain itu, tidak ada kewajiban zakat, meskipun binatang itu dimiliki secara pribadi dan produktif. Seperti ayam ternak, ikan yang diternak, termasuk burung walet.

Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pernah menulis surat kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang ditugaskan ke Bahrain,

بسم الله الرحمن الرحيم، هذه فريضة الصدقة التي فرض رسول الله – صلى الله عليه وسلم – على المسلمين، والتي أمر الله بها رسوله، … في أربع وعشرين من الإبل فما دونها من الغنم من كلِّ خمسٍ شاةٌ…

Bismillahirrahmanirrahim,

Ini adalah pembagian harta zakat yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum muslimin, dan yang diperintahkan Allah untuk Rasul-Nya… jika onta mencapai 24 ada zakatnya berupa kambing, di setiap 5 ekor onta, zakatnya 1 ekor kambing… (HR. Bukhari 1454).

Kemudian Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menyebutkan rincian nishab (batas wajib zakat) untuk onta, sapi, dan kambing.

Lalu bagaimana dengan zakat walet?

Untuk hewan waletnya, tidak dizakati. Karena walet tidak dimiliki. Walet dibebaskan liar, sehingga bisa datang pergi ke tempat siapapun. Dan kalaupun ditangkap kemudian ditaruh di sangkar, justru burung ini tidak bisa menghasilkan karena stres.

Karena itulah, yang dizakati adalah hasil dari burung ini, air liurnya dan sarangnya yang bisa dijual.

Bagaimana perhitungan zakatnya?

Zakatnya mengikuti perhitungan zakat mal. Nishab zakat mal adalah 85 gr emas. Jika asumsi harga emas adalah 500rb/gr, berarti konversi rupiah 42,5 juta.

Hasil penjualan sarang walet, jika mencapai Rp 42,5 juta berarti telah mencapai nishab. Selanjutnya jika selama setahun tidak kurang dari ini, maka dizakati 2,5%.

Apakah digabungkan dengan simpanan harta yang lain?

Jika simpanan harta itu juga dari hasil walet, maka digabungkan. Dari dari selain walet, misalnya dari gaji karyawan, maka tidak perllu digabungkan.

Misalnya, si A seorang karyawan pertamina, memiliki

[1] tabungan dari gaji senilai 50 jt di bulan Rajab 1437

[2] hasil walet kandang pertama Rp 20 jt di bulan Syawal 1437

Pada saat Dzulhijjah 1437, kandang walet kedua panen, dan setelah dijual menghasilkan 30 jt.

Sehingga total hasil walet Rp 50 jt.

Kapan si A zakat?

[1] Untuk tabungan dari gaji, dia zakati di bulan Rajab 1438

[2] Untuk hasil walet di Dzulhijjah 1438, karena di bulan ini hasil walet baru mencapai nishab.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Apakah Masjid Harus di Tanah Wakaf? https://konsultasisyariah.com/28950-apakah-masjid-harus-di-tanah-wakaf.html Thu, 02 Feb 2017 01:57:16 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28950 Masjid harus Tanah Wakaf

Apakah masjid harus di tanah wakaf? Bolehkah shalat di d masjid yang bukan wakaf? Kalo jual beli d masjid yang bukan wakaf bolehkah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 2 hal yang perlu kita bedakan:

Pertama, kapan sebuah gedung dan bangunan bisa dimanfaatkan untuk shalat jamaah?

Mayoritas ulama berpendapat bolehnya menyewakan ruangan untuk dijadikan masjid. ini merupakan madzhab Syafiiyah, Malikiyah, dan Hambali. Sementara Abu Hanifah berpendapat,bahwa itu tidak  sah.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ويجوز استئجار دار يتخذها مسجداً يصلي فيه وبه قال مالك والشافعي وقال أبو حنيفة لا تصح لأن فعل الصلاة لا يجوز استحقاقه بعقد إجارة بحال فلا تجوز الإجارة لذلك، ولنا أن هذه منفعة مباحة يمكن استيفاؤها من العين مع بقائها فجاز استئجار العين لها

Boleh menyewakan ruang untuk dijadikan masjid sebagai tempat shalat. Ini merupakan pendapat Imam Malik, dan as-Syafii. Sementara Abu Hanifah mengatakan, shalatnya tidak sah. Karena amalan shalat, tidak bisa dimiliki melalui akad sewa. Sehingga tidak boleh ada akad sewa untuk hal ini. dan menurut pendapat kami, bahwa gedung yang manfaatnya mubah ini memungkinkan untuk dikembalikan utuh, sehingga boleh saja disewakan untuk dijadikan tempat shalat. (al-Mughni, 6/143).

Apakah masjid dari gedung sewa, berlaku semua hukum masjid?

Dalam fatwa Syabahakh dinyatakan,

أحكام المسجد لا تكون إلا إذا كان المسجد وقفا ، فقد نص الفقهاء على أن من بنى مسجدا وصلى فيه ولم يوقفه فإنه لا يأخذ حكم المسجد حتى يوقفه

Hukum masjid tidak berlaku kecuali jika bangunan masjid itu telah diwakafkan. Para ulama telah menegaskan, bahwa orang yang membangun masjid dan shalat di sana, sementara beum diwakafkan, maka tidak berlaku hukum masjid sampai diwakafkan. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 3752)

Dalam Asna al-Mathalib – kitab Fiqh Madzhab Syafii – dinyatakan,

أما كونه وقفا بذلك فصريح لا يحتاج إلى نية؛ لا إن بنى بناء ولو على هيئة المسجد وقال ( أذنت في الصلاة فيه ) فلا يصير بذلك مسجدا

Jika bentuknya wakaf dengan pernyataan itu, maka jelas, sehingga tidak perlu niat. Tidak termasuk, ketika ada orang yang membangun bangunan seperti bentuk masjid, lalu dia mengatakan, ‘Aku izikan untuk shalat di sini.’ Maka tidak menjadi masjid dengan pernyataan in (karena belum dinyatakan wakaf). (Asna al-Mathalib, 12/446).

Alasan bahwa masjid harus di tanah wakaf, karena ketika masjid sudah diwakafkan maka tidak akan berubah menjadi tempat lainnya. sehingga tidak ada istilah, saat ini masjid, besok berubah menjadi rumah atau toko.

Bisakah gedung yang disewa untuk masjid, diwakafkan sementara?

Ini kembali kepada pembahan hukum wakaf manfaat dan terkait penjelasan ulama mengenai ada tidaknya syarat takbid (permanen) untuk wakaf.

Jumhur ulama mengatakan, wakaf harus takbid (permanen), sehingga tidak ada istilah wakaf sementara.

Sementara Malikiyah mengatakan, boleh wakaf dalam bentuk manfaat sesuatu dan tidak disyaratkan harus permanen. Dan ini juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah..

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang hukum wakaf sementara. Jawaban beliau,

يجوز أن يقف البناء الذي بناه في الأرض المستأجرة سواء وقفه مسجدا أو غير مسجد ولا يسقط ذلك حق أهل الأرض، فإنه متى انقضت مدة الإجارة، وانهدم البناء زال حكم الوقف، سواء كان مسجدا أو غير مسجد

Boleh wakaf bangunan yang dibangun di atas tanah sewa, baik wakaf untuk masjid maupun selain masjid. dan hak kepemilikan tanah tidak menjadi gugur. Karena ketika masa sewa telah habis, dan bangunan sudah dirobohkan, status wakaf menjadi tidak berlaku. baik masjid maupun untuk selain masjid. (al-Fatawa al-Kubro, 4/236)

Pendapat ini juga yang menjadi pegangan mayoritas ulama kontemporer dan keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islami.

Ketika masjid itu belum diwakafkan, bolehkah jual beli di dalamnya?

Latar belakang terbesar mengenai larangan jual beli di masjid adalah hal itu bisa melalaikan orang untuk berdzikir, mengingat Allah, dan beribadah.

Allah berfirman,

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. an-Nur: 37).

Karena itu, sekalipun bangunan itu tidak berstatus sebagai masjid, tidak selayaknya berjualan di sana.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai ruko yang dijadikan mushola.  Beliau menegaskan,

هذا ليس له حكم المسجد ، هذا مصلى بدليل أنه مملوك للغير وأن مالكه له أن يبيعه ، فهو مصلى وليس مسجدا فلا تثبت له أحكام المسجد

Tempat ini tidak berlaku hukum masjid. ini mushola. Dengan bukti, bangunan ini milik orang tertentu, dan pemiliknya bisa menjualnya. Sehingga dia mushola dan bukan masjid, karena itu tidak berlaku hukum masjid.

Lalu ada yang bertanya,

Bolehkah ada jualan buku-buku kecil atau promosi dagangan di tempat semacam ini?

Jawab beliau,

أرى أنه لا يليق حتى بالمصلى ، لأن هذا يلهي عن ذكر الله ، ويوجب التشويش على من يصلي فيه

Menurutku, tidak selayaknya itu dilakukan, meskipun itu hanya mushola. Karena ini melalaikan orng dari berdzikir kepada Allah, dan mengganggu orang yang shalat di dalamnya.  (Fatwa Islam, no. 4399)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Meng-Umrohkan Orang dengan Dana Zakat https://konsultasisyariah.com/28804-meng-umrohkan-orang-dengan-dana-zakat.html Thu, 22 Dec 2016 01:46:08 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28804 Umroh dengan Dana Zakat?

Apa hukumnya memberikan uang zakat kepada saudara agar bisa berangkat umrah.. nuwun…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah telah menjelasakan orang yang berhak menerima zakat. Merekalah 8 golongan yang berhak menerima zakat. Allah berfirman,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah.” (QS. at-Taubah: 60)

Ibnu Abdil Bar mengatakan,

ليس لأحد أن يعطي من زكاة ماله لغير من سمى الله تعالى في كتابه

Siapapun tidak boleh menyerahkan zakat hartanya kepada orang selain yang Allah sebutkan dalamal-Quran.. (al-Kafi fi Fiqh Ahlil Madinah, 1/325).

Para ulama menyimpulkan bahwa meng-umrah-kan orang lain yang tidak mampu, tidak termasuk dalam cakupan 8 golongan penerima zakat dia atas.

Dr. Khalid al-Mushlih pernah ditanya mengenai hukum memberi zakat kepada orang lain untuk dijadikan dana umrah. Jawaban beliau,

الذي عليه أكثر أهل العلم: أنه لا تدفع الزكاة في مثل هذا؛ لأن الله تعالى ذكر أوجه الإنفاق في الزكاة محصورة

Pendapat mayoritas ulama bahwa tidak boleh membayar zakat untuk tujuan semacam ini. Karena Allah telah menyebutkan batasan sasaran penyerahan zakat.

Kemudian Dr. Khalid al-Mushlih menyebutkan surat at-Taubah ayat 60 tentang penerima di atas. Selanjutnya beliau mengatakan,

فصرف الزكاة في مثل هذا هو صرف لها في غير مصارفها المنصوص عليها، ولذلك إذا أردت أن تعينها فإما أن تعينها بسد الضائقة المالية التي لا تتصل بموضوع السفر للعمرة، أو تُعينها من مال غير الزكاة من الصدقة أو من الهدية، ولك أجر إن شاء الله تعالى

Membayar zakat untuk tujuan semacam ini termasuk menyerahkan zakat yang tidak sesuai dengan aturan sasaran penerima yang disebutkan dalam dalil. Karena itu, jika anda ingin membatunya, bisa dengan memberi dana untuk menutupi kekurangan hartanya yag tidak cukup untuk umrah. Atau anda bantu dengan harta selain zakat, seperti sedekah atau hadiah, dan anda akan tetap mendapat pahala insyaaAlllah.

Sumber: http://www.almosleh.com/ar/index-ar-show-16879.html

Fatwa yang semisal juga disebutkan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah,

فلا يجوز لك صرف الزكاة إلى أمك أو إلى أخيك لأجل أداء العمرة لأن الزكاة لا تصرف إلا لمن اتصف بصفات المستحقين لها أو بعضها كالفقر والمسكنة

Anda tidak boleh menyerahkan zakat kepada ibu atau saudara anda untuk melaksanakan umrah. Karena zakat tidak boleh diserahkan kecuali kepada orang yang memiliki kriteria sebagai mustahiq zakat atau sebagian kriteria mustahiq, seperti fakir atau miskin.

Kemudian dijelaskan lanjutannya,

والفقير والمسكين هو من لا يجد كفايته في المطعم والملبس والمسكن ونحو ذلك، وليس منها العمرة

Fakir miskin adalah orang yang tidak memiliki kecukupan makanaan, pakaian, tempat tinggal atau semacamnya. Sementara Umrah bukan termasuk kebutuhan pokok mereka.  (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 39403)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Menjual Tanah Wakaf https://konsultasisyariah.com/28735-menjual-tanah-wakaf.html Wed, 07 Dec 2016 01:55:07 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28735 Hukum Menjual Tanah Wakaf

Bolehkah menjual tanah wakaf yang tidak memungkinkan dibangun masjid apalagi pesantren?  Mohon solusinya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Wakaf secara bahasa artinya menahan [الحبس]. Sementara secara istilah, wakaf didefinisikan dengan,

حبس الاصل وتسبيل الثمرة. أي حبس المال وصرف منافعه في سبيل الله

Upaya mempertahankan fisik harta dan menjadikan hasilnya fi sabilillah.

Artinya, menjaga keutuhan harta yang diwakafkan dan mengambil manfaatnya untuk di jalan Allah. (Fiqhus Sunah, Sayid Sabiq, 3/515)

Pada prinsipnya, wakaf tidak boleh dijual. Ada banyak hadis yang menjelaskan hal ini. diantaranya,

Pertama, hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

Bahwa Umar bin Khatab memiliki sebidang tanah di Khoibar. Beliaupun menawarkan tanah ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَصَبْتُ أَرْضًا لَمْ أُصِبْ مَالاً قَطُّ أَنْفَسَ مِنْهُ ، فَكَيْفَ تَأْمُرُنِى بِهِ

“Saya mendapat sebidang tanah, dimana tidak ada harta yang lebih berharga bagiku dari pada tanah itu. Apa yang anda sarankan untukku terhadap tanah itu?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi saran,

إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا ، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا

“Jika mau, kamu bisa mempertahankan tanahnya dan kamu bersedekah dengan hasilnya.”

Ibnu Umar mengatakan,

فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، فِى الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَلاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ

Kemudian Umar mensedekahkannya kepada fakir miskin, kerabat, budak, fi sabilillah, tamu, dan Ibnu Sabil, dengan ketentuan, tanah itu tidak boleh dijual, atau dihibahkan, atau diwariskan. Dan dibolehkan bagi pengurusnya untuk makan hasilnya sewajarnya, atau diberikan kepada temannya, serta tidak boleh dikomersialkan. (HR. Bukhari 2772).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi saran kepada Umar untuk wakaf. Beliau mengatakan,

تَصَدَّقْ بِأَصْلِهِ ، لاَ يُبَاعُ وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، وَلَكِنْ يُنْفَقُ ثَمَرُهُ

Sedekahkan tanah itu, namun tidak boleh dijual, dihibahkan, diwariskan. Akan tetapi dimanfaatkan hasilnya. (HR. Bukhari 2764)

Dan tidak dijumpai adanya perbedaan ulama bahwa barang wakaf tidak boleh dijual. Selain riwayat  dari Abu Hanifah, meskipun tidak disetujui murid-muridnya selain Zufar bin Hudzail. At-Thahawi menceritakan bahwa Abu Yusuf – murid Abu Hanifah – membolehkan menjual wakaf. Kemudian beliau mendengar hadis Umar di atas. Lalu beliau menyatakan,

هذا لا يسع أحدا خلافه ولو بلغ أبا حنيفة لقال به فرجع عن بيع الوقف حتى صار كأنه لا خلاف فيه بين أحد

“Tidak boleh ada seorangpun yang tidak mengikuti hadis ini. Andai Abu Hanifah mendengar hadis ini, niscaya beliau akan berpendapat sesuai hadis ini, sehingga menarik kembali pendapat bolehnya menjual wakaf. Jadilah seolah tidak ada perbedaan antar siapapun.” (Fathul Bari, 5/403)

Bagaimana jika barang itu tidak memungkinkan lagi untuk dimanfaatkan?

Bagian inilah yang menjadi perhatian besar ulama dalam masalah wakaf. Ketika harta wakaf, tidak mungkin lagi dimanfaatkan atau terlalu sulit untuk memanfaatkannya, apakah boleh diuangkan kemudian dialihkan untuk mendukung objek wakaf yang lain?

Misalnya ada wakaf tanah sempit di sebuah pelosok desa, yang sangat sulit untuk diambil manfaatnya. Untuk bisa diambil manfaatnya, terlalu besar biaya perawatannya, untuk dijadikan masjid atau pesantren, tidak memungkinkan karena terlalu sempit. Untuk dibuat mushola kecil, bisa sia-sia, karena masjid di dekatnya yang lebih besar ternyata juga sepi.

Ada penjelasan yang cukup rinci, disebutkan Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa, terdapat beberapa keadaan objek wakaf yang tidak bisa dimanfaatkan,

[1] Objek wakaf yang sama sekali tidak bisa diselamatkan.

Seperti wakaf binatang lalu binatang itu mati.

[2] Objek wakaf sudah rusak namun masih tersisa beberapa bagian yang memungkinkan untuk diuangkan. Seperti pohon yang tidak berbuah, atau masjid yang bangunannya sudah roboh. Benda semacam ini dijual untuk dibelikan objek yang semisal.

[3] Barang yang terancam rusak dan jika tidak  dijual akan hilang nilainya. Barang semacam ini boleh dijual untuk dimanfaatkan hasilnya. Misal, tikar masjid yang tidak dipakai, dan mulai rusak. Jika dibiarkan saja akan semakin rusak dan tidak ada nilai manfaat dan nilai jual-nya.

[4] Objek wakaf tidak berfungsi di masjid A, namun bisa berfungsi di masjid B. Maka objek wakaf ini dipindah agar bisa dimanfaatkan.

[5] Jika masjidnya tidak cukup menampung jamaahnya, atau tidak layak untuk dimanfaatkan, maka boleh dijual dan hasilya digunakan untuk membangun masjid yang lain.

(Majmu’ Fatawa, 31/226)

Karena tujuan besar dari wakaf adalah tasbil al-Manfaah, bagaimana menggunakan manfaat benda untuk di jalan Allah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Bayar Zakat Mal ketika Idul Fitri https://konsultasisyariah.com/28077-bayar-zakat-mal-ketika-idul-fitri.html Wed, 06 Jul 2016 02:41:29 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28077 Zakat Mal ketika Idul Fitri

Jk ada orang yg blm zakat mal ketika ramadhan, bolehkah dibayarkan ketika idul fitri?

Jawab:

Untuk zakat mal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan agar dikeluarkan ketika memiliki harta satu nishab dan telah genap setahun. Dari Aisyah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum, mereka mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ كُلِّ عِشْرِينَ دِينَارًا فَصَاعِدًا نِصْفَ دِينَارٍ ، وَمِنْ الْأَرْبَعِينَ دِينَارًا دِينَارًا

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil zakat dari 20 dinar atau lebih sebesar ½ dinar. Sementara dari 40 dinar masing-masing diambil satu dinar-satu dinar.” (HR. Ibnu Majah 1863, Daruquthni 1919, dan dishahihkan al-Albani).

Artinya, pembayaraan zakat mal tidak harus di bulan ramadhan. Dan memang tidak ada hubungannya dengan bulan ramadhan.

Di bulan Rajab th. 37 H, si A memiliki tabungan satu nishab senilai 45 jt. Jika uang si A tidak berkurang, kapan dia bayar zakat?

Jawabannya, Rajab th. 37 H. Tidak harus ketika ramadhan.

Oleh karena itu, tidak masalah anda membayar zakat mal ketika idul fitri, selama anda sudah memiliki harta satu nishab.

Apakah boleh dibayar sebelum genap satu tahun?

Pendapat yang kuat dibolehkan. Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Membayar Zakat Sebelum Haul

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ukuran Zakat Fitrah https://konsultasisyariah.com/7069-kadar-zakat-fitrah.html https://konsultasisyariah.com/7069-kadar-zakat-fitrah.html#respond Fri, 01 Jul 2016 01:26:34 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=7069 Ukuran Zakat Fitrah per-Orang

Assalamu ‘alaikum. Saya ingin menanyakan berapa kilogram beras untuk kadar zakat fitrah per orangnya? Kalau dalam hitungan liter, berapa? Wassalamu ‘alaikum.

Bambang Aries Wahyudi (bambang**@yahoo.***)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu; beliau mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ – صَلّى اللهُ عَلَيه وَسَلّم صَدَقَةَ الْفِطْرِ عَلَى الذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ ، صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, untuk lelaki dan wanita, orang merdeka maupun budak, berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” (HR. Bukhari 1511 dan Muslim 2327)

Dalam hadis lain, dari Abu Said Al Khudzri radliallahu ‘anhu,

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

“Dulu kami menunaikan zakat fitri dengan satu sha’ bahan makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju atau stu sha’ anggur.” (HR. Bukhari 1506 & Muslim 2330)

Dalam hadis ini, disebutkan secara tegas bahwa kadar zakat fitri adalah satu sha’ bahan makanan.

Apa itu sha’?

Sha’ adalah ukuran takaran bukan timbangan. Ukuran takaran “sha’” yang berlaku di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sha’ masyarakat Madinah. Yang itu setara dengan 4 mud.

Satu mud adalah ukuran satu cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan. Dengan demikian, satu sha’ adalah empat kali cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan.

Mengingat sha’ adalah ukuran takaran, umumnya ukuran ini sulit untuk disetarakan (dikonversi) ke dalam ukuran berat karena nilai berat satu sha’ itu berbeda-beda tergantung berat jenis benda yang ditakar. Satu sha’ tepung memiliki berat yang tidak sama dengan berat satu sha’ beras. Oleh karena itu, yang ideal, ukuran zakat fitri itu berdasarkan takaran bukan berdasarkan timbangan.

Hanya saja, alhamdulillah, melalui kajian para ulama, Allah memudahkan kita untuk menemukan titik terang masalah ukuran ini. Para ulama (Lajnah Daimah, no. fatwa: 12572) telah melakukan penelitian bahwa satu sha’ untuk beras dan gandum beratnya kurang lebih 3 kg.

Ringkasan kadar zakat:

  • 1 sha’ = 4 mud
  • 1 mud = cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan
  • 1 sha’ = 4 kali cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan
  • 1 sha’ beras kurang lebih setara dengan 3 kg beras.
  • 1 sha’ gandum kurang lebih setara dengan 3 kg gandum.

InsyaaAllah, untuk zakat fitrah 3 kg sangat aman. Dan kami sarankan agar dikeluarkan 3 kg. Lebih baik dilebihkan dari pada kurang. Karena jika lebih, kelebihannya menjadi sedekah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Penjelasan yang memudahkan Anda: Kadar zakat fitri, kadar zakat fitrah, cara mudah menghitung kadar zakat fitri, dst.

]]>
https://konsultasisyariah.com/7069-kadar-zakat-fitrah.html/feed 0
Membayar Zakat Sebelum Haul https://konsultasisyariah.com/28051-membayar-zakat-sebelum-haul.html Thu, 30 Jun 2016 01:55:48 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28051 Zakat Sebelum Haul

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebelumnya kita berikan definisi,

Di bulan Rajab th. 37 H, Paijo memiliki tabungan senilai 45 jt. Uang Paijo sudah satu nishab. Ketika Ramadhan di tahun yang sama, Paijo membayar zakat 2,5% dari tabungannya. Sementara uang itu baru mengendap 2 bulan di tempatnya Paijo.

Apa yang dilakukan Paijo adalah membayar zakat sebelum haul, tapi sudah nishab.

Ada 2 hal yang perlu kita bedakan,

[1] Membayar zakat sebelum haul.

[2] Membayar zakat sebelum nishab.

Sebab wajibnya zakat adalah memiliki harta sebesar satu nishab.  Sementara haul adalah syarat wajib zakat.

Membayar zakat sebelum nishab, sama dengan membayar zakat sebelum waktunya, sebagaimana orang yang shalat sebelum masuk waktu.

Karena itulah ulama sepakat tidak boleh membayar zakat sebelum memiliki harta satu nishab.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ولا يجوز تعجيل الزكاة قبل ملك النصاب بغير خلاف علمناه ، ولو ملك بعض نصاب فعجل زكاته أو زكاة نصاب : لم يجُز ؛ لأنه تعجَّل الحكم قبل سببه

Tidak boleh mendahulukan zakat sebelum memiliki harta satu nishab, tanpa ada perbedaan pendapat ulama yang kami tahu. Jika ada orang memiliki harta separuh nisab, lalu dia menyegerahkan zakat, atau dia bayar zakat satu nishab, hukumnya tidak boleh. Karena dia mendahulukan hukum sebelum sebab. (al-Mughni, 2/495)

Dalam Ensiklopedi Fiqh juga dinyatakan,

لا خلاف بين الفقهاء في عدم جواز التكفير قبل اليمين ؛ لأنه تقديم الحكم قبل سببه ، كتقديم الزكاة قبل ملك النصاب ، وكتقديم الصلاة قبل دخول وقتها .

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang tidak bolehnya membayar kaffarah sumpah sebelum ada sumpah, karena berarti mendahulukan hukum sebelum ada sebabnya. Seperti mendahulukan zakat sebelum memiliki satu nishab, atau mendahulukan shalat sebelum masuk waktunya. (al-Masusu’ah al-Fiqhiyah, 35/48)

Bolehkah mendahulukan zakat sebelum haul setelah dia memiliki harta sebanyak satu nishab?

Ada 2 pendapat dalam masalah ini:

Pendapat Pertama, pendapat Malikiyah dan Zahiriyah.

Mereka melarang membayar zakat sebelum haul. Karena zakat adalah ibadah yang tidak boleh ditunaikan sebelum datang syarat wajibnya.

Pendapat Kedua, pendapat jumhur ulama.

Mereka membolehkan  membayar zakat sebelum berlalu satu tahun (haul). Karena zakat adalah kewajiban bagi harta, sehingga boleh disegerakan sebagaimana bolehnya menyegerahkan pembayaran utang sebelum jatuh tempo.

Dan inilah pendapat yang kuat, dengan alasan,

Pertama, riwayat bahwa paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu ‘anhu pernah menyegerahkan pembayaran zakatnya sebelum haul.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bercerita,

أَنَّ الْعَبَّاسَ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ فَرَخَّصَ لَهُ فِى ذَلِكَ

Abbas pernah bertanya kepada Rasulullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hukum menyegerahkan zakat sebelum haul. Lalu beliau memberikan keringanan akan hal itu. (HR. Turmudzi 680, ad-Darimi 1689 dan dihasankan al-Albani)

Dalam riwayat lain, juga dari Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesa kepada Umar radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّا قَدْ أَخَذْنَا زَكَاةَ الْعَبَّاسِ عَامَ الأَوَّلِ لِلْعَامِ

Saya telah menarik zakatnya Abbas, tahun kemarin untuk tahun ini. (HR. Turmudzi 681 dan dihasankan al-Albani).

Setelah ad-Darimi menyebutkan hadis di atas, beliau mengatakan,

آخُذُ بِهِ وَلاَ أَرَى فِى تَعْجِيلِ الزَّكَاةِ بَأْساً

Saya mengambil pendapat ini, dan saya berpendapat, boleh menyegerakan zakat. (Sunan ad-Darimi, 5/107)

Kedua, haul dalam zakat adalah syarat wajib zakat. Dan orang boleh saja melakukan ibadah sebelum datang syarat wajib ibadah. Misalnya, diantara syarat wajib shalat adalah baligh. Namun anak tamyiz yang bellum baligh, boleh saja melakukan shalat, meskipun dia belum wajib shalat.

Ibnu Rajab menyebutkan dalam kaidah,

العبادات كلها سواء كانت بدنية أو مالية أو مركبة منهما لا يجوز تقديمها على سبب وجوبها ويجوز تقديمها بعد سبب الوجوب وقبل الوجوب أو قبل شرط الوجوب

“Semua ibadah sama, baik badaniyah, maliyah atau gabungan keduanya, tidak boleh dilakukan sebelum ada sebab wajibnya. Dan boleh dilakukan setelah ada sebab wajibnya dan sebelum adanya kewajiban atau syarat wajibnya. (al-Qawaid al-Fiqhiyah, 1/9).

Dalam Syarh al-Mumthi’, Imam Ibnu Utsaimin mengungkapkan dengan redaksi berbeda,

تقديم الشيء على سببه ملغى، وعلى شرطه جائز

Mendahulukan sesuatu sebelum adanya sebab wajibnya, tidak dihitung. Sementara mendahulukan sesuatu sebelum ada syarat wajibnya, boleh. (as-Syarh al-Mumthi’, 6/169).

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Orang Miskin tetap Wajib Zakat Fitrah – Ukuran Nishab Zakat Fitrah https://konsultasisyariah.com/28041-orang-miskin-tetap-wajib-zakat-fitrah-ukuran-nishab-zakat-fitrah.html Wed, 29 Jun 2016 02:15:32 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=28041 Orang Miskin tetap Wajib Zakat Fitrah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam zakat mal, di sana ada batasan harta minimal yang dimiliki seseorang, sehingga dia berkewajiban zakat. Batasan itu disebut nishab. Untuk zakat mal, batas nishabnya adalah 20 dinar atau senilai 85 gr emas.

Apakah ini juga berlaku untuk zakat fitrah?

Jawabannya tidak. Karena beda jenis zakat, beda aturan yang berlaku.

Untuk zakat mal, nishabnya 85 gr emas

Zakat perak, nishabnya 595 gr perak

Zakat pertanian, nishabnya 5 wasaq ~ 825 kg bahan makanan

Zakat kambing, nishabnya 40 ekor kambing, dst…

Sehingga nishab zakat fitrah, tidak mengikuti zakat mal atau zakat lainnya.

Berapa nishab zakat fitrah?

Yang saya maksud adalah, berapa ukuran harta minimal yang dimiliki seseorang, sehingga dia tergolong wajib membayar zakat fitrah?

Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhu mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, berupa satu sha’ kurma kering atau gandum kering. (kewajiban) ini bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa. Dan beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang berangkat shalat.” (HR. Bukhari 1433 & Muslim 984)

1 sha’ beras  kurang lebih 2,75 kg beras.

Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan ukuran makanan yang dikeluarkan untuk zakat fitrah. Apakah ketika dia mampu menunaikan 1 sha’ makanan dia berkewajiban zakat fitrah?

Ulama berselisih pendapat tentang standar ukuran disebut mampu menunaikan zakat fitrah,

Pertama, Hanafiyah dan para Ulama Kufah

Menurut pendapat mereka, ukuran kemampuan orang yang wajib zakat fitri adalah orang yang memiliki sisa dari kebutuhan hidupnya sebanyak satu nishab zakat harta (85 gram emas) atau sesuatu yang senilai dengan 85 gram emas.

Dan sebagian hanafiyah berpendapat, bagi yang memiliki harta kurang dari 85 gram emas maka boleh memberikan zakat fitri sebagai shadaqah.

Sanggahan:

Pendapat ini kurang tepat. Karena ukuran mampu dalam zakat fitri, berbeda dengan ukuran mampu pada zakat harta.

Kedua, mayoritas ulama (Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah)

Mereka memberikan ukuran mampu untuk zakat fitrah, selama dia memiliki sisa makanan untuk dirinya dan keluarganya pada malam hari raya dan besok paginya. Karena dalam islam, orang dalam keadaan semacam ini telah dianggap mampu.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ مَسْأَلَةً عَنْ ظَهْرِ غِنًى اسْتَكْثَرَ بِهَا مِنْ رَضْفِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa yang meminta sementara dia memiliki sesuatu yang mencukupinya maka dia telah memperbanyak api neraka.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ukuran sesuatu yang mencukupinya (sehingga tidak boleh meminta)?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

عَشَاءُ لَيْلَةٍ

“Dia memiliki sesuatu yang mengeyangkan selama sehari-semalam.” (HR. Ahmad 1253 dan dishahihkan al-Albani).

Imam Ahmad ditanya, kapankah seseorang itu wajib mengeluarkan zakat fitri?

Beliau rahimahullah menjawab:

إذا كان عنده فضل قوت يوم أطعم

“Jika dia memiliki sisa makanan satu hari maka wajib zakat.” (al-Masail Ishaq an-Naisaburi)

Ibn Qudamah mengatakan,

ولا تجب إلا بشرطين : أحدهما أن يفضل عن نفقته ونفقة عياله يوم العيد وليلته صاع لأن النفقة أهم فتجب البداءه بها لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ” اِبْدَأ بِنَفسِك وَبِمَن تَعُول

“Zakat fitri tidak wajib kecuali dengan dua syarat. Salah satunya, dia memiliki sisa makanan untuk dirinya dan keluarganya pada malam dan siang hari raya sebanyak satu sha’. Karena nafkah untuk pribadi itu lebih penting, sehingga wajib untuk didahulukan. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Mulai dari dirimu dan orang yang kamu tanggung nafkahnya.” (HR. Turmudzi).”

Kemudian Ibn Qudamah memberikan rincian,

  1. Jika tersisa satu sha’ (dari kebutuhan makan sehari-semalam ketika hari raya) maka dia membayarkan satu sha’ tersebut sebagai zakat untuk dirinya.
  2. Jika tersisa lebih dari 1 sha’ (misalnya: 2 sha’) maka satu sha’ untuk zakat dirinya dan satu sha’ berikutnya dibayarkan sebagai zakat untuk orang yang paling berhak untuk didahulukan dalam mendapatkan nafkah (misalnya: istri).
  3. Jika sisanya kurang dari satu sha’, apakah sisa ini bisa dibayarkan sebagai zakat? Dalam hal ini ada dua pendapat:
    • Wajib ditunaikan sebagai zakat, berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika aku perintahkan sesuatu maka amalkanlah semampu kalian. (HR. Bukhari & Muslim)”
    • Tidak wajib ditunaikan. Karena belum memenuhi ukuran zakat yang harus ditunaikan (yaitu satu sha’).
  4. Jika terdapat sisa satu sha’ namun dia memiliki hutang, maka manakah yang harus didahulukan? Dalam hal ini ada dua keadaan:
    • Orang yang memberi hutang meminta agar segera dilunasi maka didahulukan pelunasan hutang dari pada zakat. Karena ini adalah hak anak adam yang sifatnya mendesak.
    • Orang yang memberi hutang tidak menagih hutangnya maka wajib dibayarkan untuk zakat. Karena kewajiban zakat ini mendesak sementara kewajiban membayar hutang tidak mendesak. Sehingga lebih didahulukan zakat.

(al-Kafi fi Fiqh Hambali, Ibnu Qudamah, 1/412).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>