Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam KonsultasiSyariah.com 2017-03-24T23:47:41Z https://konsultasisyariah.com/feed/atom WordPress Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Sejarah Yahudi Ada di Madinah]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29347 2017-03-24T10:22:17Z 2017-03-24T23:47:41Z Yahudi di Madinah

Bagaimana sejarah keberadaan Yahudi di Madinah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 2 versi mengenai kehadiran Yahudi di Madinah,

Pertama, menurut keterangan Ibnul Mundzir

Beliau mendapatkan dua jalur riwayat, dari Sulaiman bin Abdillah bin Handzalah al-Ghasil radhiyallahu ‘anhu  dan dari seorang Quraisy dari Abu Ubaidah bin Abdillah bin Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu.

Bahwa ketika Nabi Musa ‘alaihi salam melaksakan haji, ada beberapa orang di kalangan Bani Israil yang juga turut berhaji. Ketika pulang mereka mampir Madinah. Mereka perhatian, dan mereka jumpai karakter kota nabi seperti yang diceritakan dalam taurat, yang merupakan nabi terakhir. Hingga sebagian diantara mereka singgah di Pasar Qainuqa.

Kedua, menurut satu riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Bahwa ketika Bukhtanshar berkuasa, dan membantai Yahudi, banyak di kalangan Yahudi yang menyebar ke berbagai daerah. Mereka jumpai Muhammad telah dinyatakan dalam kitab mereka, dan beliau akan muncul di salah satu daerah di arab, yang wilayahnya banyak pohon kurmanya. Ketika mereka keluar dari Syam, mereka melewati semua daerah antara Syam hingga Yaman. Mereka mencari kota yang kriterianya seperti kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga mereka berhasil menemukannya. Lalu sebagian diantara mereka – bani Harun – ada yang singgah di Yatsrib. mereka meninggal dalam kondisi beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memotivasi anak-anaknya untuk mengikuti beliau dan mengimani beliau ketika beliau sudah diutus. Namun anak keturunannya kafir kepada beliau. Bahkan tidak cukup hanya sebatas ingkar, mereka juga melakukan upaya pengkhianatan dan merusak perjanjian damai antara kaum muslimin dan Yahudi. Padaha Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kebebasan kepada mereka untuk tidak masuk islam dan tinggal di Madinah.

(Fushul min Tarikh Madinah, hlm. 18)

Realita yahudi di Madinah menunjukkan bagaimana orang yahudi mempercayai keberadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi akhir zaman. Meskipun karena kesombongan mereka, merekapun menolak dan mengingkarinya. Allah ceritakan dalam al-Quran,

الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 146).

Mereka paham detail siapakah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai mereka paham mengenai tempat keluarnya nabi terakhir. Tapi iman tidak hanya sebatas mengakui keberadaan tapi juga menjalankan konsekuensinya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Hukum PayTren (Bagian 02)]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29341 2017-03-24T04:23:36Z 2017-03-24T02:46:39Z Hukum PayTren (Bagian 02)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Artikel sebelumnya baca: Hukum Paytren Bagian 1

Sebelumnya kita simak dulu penjelasan umum tentang paytren. Berikut salah satu broadcast tentang paytren,

✅ Apa itu PayTren?

Aplikasi micropayment utk pembayaran listrik, isi pulsa, beli tiket, bayar speedy, bpjs, belanja online, belanja di alfamart, kirim uang dll, yang bisa di install pada smartphone android dan IOS.

✅Apa benefit menggunakan PayTren?

Mudah, murah, hemat, dpt cashback, bernilai ibadah / sedekah dan ada peluang bisnisnya.

✅Bagaimana cara menjadi mitra PayTren?

  1. Mitra Pengguna : Harga lisensi 50 rb (menu transaksi pulsa & voucher game).
  2. Mitra Pebisnis + Pengguna : Harga lisensi paling murah 350 rb & paling mahal 10.1 juta (menu transaksi all payment).

✅ Cara mendapatkan uang di PayTren?

Ada dua cara :

  1. Melayani pembayaran : listrik, leasing, bpjs, telpon, speedy, jual tiket pesawat dll. Anda dapat profit dr selisih harga jual & kulakan.
  2. Menjual lisensi aplikasi PayTren ke banyak orang dg aneka fee marketing 75rb/orang, 25rb, 2rb dst.

✅ Cara kerja PayTren?

  1. Install aplikasi PayTren di android/IOS.
  2. Beli kode lisensi/kode serial lewat orang yg menawarkan pada anda.
  3. Gunakan aplikasi utk transaksi pribadi atau melayani umum utk mendapatkan profit.
  4. Referensikan ke banyak orang utk menggunakan PayTren agar mendapatkan fee marketing yg besar.

Kesimpulan

Dari keterangan di atas kita akan menyimpulkan transaksi akad pada paytren,

Transaksi Pertama, untuk mitra pengguna

Dalam situs resmi Paytren, dijelaskan mengenai fasilitas untuk mitra pengguna,

  1. Mendapatkan nomor Identifikasi (nomor ID) kemitraan, username, pin transaksi dan deposit senilai Rp 15.000,00 (langsung setelah aktivasi berhasil )
  2. Dapat menjalankan fitur dengan fungsi terbatas, yaitu hanya transaksi pembelian pulsa pra bayar dan voucher game melalui Aplikasi Android “PayTren” yang diperoleh dari PlayStore, Yahoo Messenger, Gtalk atau SMS
  3. Mendapatkan cashback dari transaksi pribadi selama 10 hari sejak aktivasi
  4. Log transaksi, riwayat transaksi, riwayat deposit, daftar harga dan info terbaru dapat dilihat di www.mytreni.com
  5. Maksimal deposit Rp 100.000,00 per hari dan maksimal deposit mengendap Rp 1.000.000,00
  6. Berlaku selamanya

Ketentuan lain sebagai mitra pengguna yang penting diperhatikan,

Dikenakan biaya pemeliharaan sebesar Rp 1.000,-/bulan (dipotong otomatis dari sisa deposit) terkecuali apabila mitra tersebut melakukan transaksi minimal 1 (satu) dalam bulan berjalan

Takyif Fiqh Transaksi Paytren dengan Mitra Pengguna

Jika kita perhatikan, pada posisi ini, statusnya sama dengan jual beli. Pihak developer Paytren menjual aplikasi yang dia sediakan. Dan menjual aplikasi hukumnya dibolehkan, sebagaimana menjual barang atau jasa layanan lainnya. Seperti yufid Inc. pernah membuat aplikasi complete quran berbayar di IOS.

Islam memasukkan hak atas karya ilmiah, hak terhadap merek dagang atau logo dagang dalam pengertian umum sebagai harta. Islam menganggap hak semacam ini memiliki nilai manfaat dan nilai komersil yang cukup berarti.

Dr. Nashir bin Muhammad al-Ghamidi menjelaskan, tindakan penyalah gunaan hak cipta yang tidak digratiskan dalam Islam dianggap pencurian, penipuan dan tindakan merugikan harta, hak dan kepemilikan orang lain.

(Himayaah al-Milkiyah al-Fikriyah Fi al-Fiqhil Islami, hal. 103)

Menimbang Peluang Menjadi Mitra Pengguna Paytren?

Meskipun sebatas jual beli aplikasi, daya tariknya tidak signifikan bagi pengguna. Karena dia hanya bisa melakukan transaksi pulsa dan voucher game. Aplikasi yang mungkin riil bisa dimanfaatkan hanya transaksi pulsa. Jika saya bayar 50rb, dan dijadikan deposit 15rb, berarti saya harus bayar ke Paytren 35rb.

Bagi orang yang perhitungan, tawaran ini mungkin kurang menarik,

[1] Menjadi member pengguna paytren, bararti sama dengan menjadi agen pulsa namun harus bayar 35rb. Sementara di luar, untuk bisa menjadi agen pulsa, bisa gratis. Hanya deposit saja.

[2] Cashback untuk transaksi pribadi hanya dijanjikan selama 10 hari sejak aktivasi.

Sangat kecil bisa dimanfaatkan. Selama 10hr kebutuhan pulsa pribadi tidak banyak.

Bisa saja orang menilai ini termasuk gharar (tidak jelas). Karena selama 10hr ini tidak jelas. Jika saya banyak bertransaksi, saya dapat cashback banyak, sebaliknya, ketika tidak bertransaksi, tidak ada cashback.

[3] Deposit saya akan selalu berkurang 1000/bln. ketika tidak bertransaksi

Sementara jadi agen pulsa di luar, deposit tidak berkurang, meskipun tidak dipakai transaksi.

Menimbang realita di atas, tentu sangat jarang orang yang tertarik hanya menjadi mitra pengguna Paytren.

Dengan kata lain, andai tidak ada kesempatan untuk mendapat fee mencari downline, tidak ada daya tarik yang signifikan bagi Paytren. Sehingga software ini bukan tujuan utama objek akad.

Bersambung insya Allah…

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Artikel ini didukung oleh YufidStore.com (Toko Muslim Online Murah dan Amanah)

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Hukum Paytren (Bagian 01)]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29323 2017-03-24T02:49:55Z 2017-03-23T02:10:31Z Hukum Paytren Dalam Tinjaun Fikih Muamalah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu diantara penyebab transaksi yang terlarang dalam islam adalah adanya gharar.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar. (HR. Muslim 3881, Abu Daud 3378 dan yang lainnya).

Mengenai pengertian gharar, dinyatakan oleh Syaikhul Islam dalam al-Qawaid an- Nuraniyah,

الغرر هو المجهول العاقبة

“Gharar adalah Jual beli yang tidak jelas konsekuensinya” (al-Qawaid an-Nuraniyah, hlm. 116)

Inti dari gharar adalah adanya jahalah (ketidak jelasan) yang menyebabkan adanya mukhatharah (spekulasi, untung-untungan), baik pada barang maupun harga barang.

Karena itu, gharar mirip dengan judi. Sama-sama tidak jelas konsekuensinya. Bedanya, judi terjadi pada permainan, sementara gharar terjadi dalam transaksi.

Hanya saja, bahaya judi lebih besar, karena ini pemicu permusuhan dan saling membenci, serta menghalangi orang untuk mengingat Allah, sehingga diharamkan tanpa kecuali.

Allah berfirman tentang larangan judi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. al-Maidah: 90 – 91)

Contoh bentuk gharar, ada orang masuk pemancingan, diminta bayar 100rb untuk memancing selama 1 jam. Dengan ketentuan, pelanggan hanya diberi hak untuk memancing di empang selama 1 jam, dapat ikan maupun tidak, jika sudah habis waktu 1 jam, dia tidak boleh mancing.

Dalam kasus pemancingan ini, tidak jelas yang diperjual-belikan. Pelanggan membayar 100rb, hanya membeli peluang untuk bisa mendapatkan ikan. Jika pelanggan mendapat banyak  ikan, dia untung sementara pemilik empang bisa rugi besar. Sebaliknya, ketika pelanggan tidak dapat ikan, dia rugi dan pemilik empang yang untung.

Sebagaimana transaksi riba, transaksi yang mengandung mukhatharah dan gharar hukumnya dilarang sekalipun dilakukan saling ridha.

Di masa silam, ada transaksi ba’i al-hasha, ba’i al-munabadzah, dan ba’i al-mulamasah, yang ini semua dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena unsur ghararnya besar.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ وَبَيْعِ الْحَصَاةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar dan jual beli al-hashah.”

Turmudzi menyebutkan diantara bentuk ba’i al-hashah, penjual menyampaikan kepada pembeli, nanti jika saya melemparkan kerikil ini kepadamu, maka transaksi jual beli sah. (Jami’ Turmudzi penjelasan hadis no. 1275). Sehingga transaksi dilakukan bukan karena alasan sama-sama ridha, sesuai pilihan. Tapi karena untung-untungan.

Demikian pula mulamasah, transaksi jual beli dengan acuan sentuh. Jika menyentuh, beararti membeli. Atau munabadzah, dengan cara melemparkan barang yang dijual ke calon konsumen. Siapa yang kena lemparan barang, sama dengan beli. Semua transaksi ini murni untung-untungan, sehingga dilarang oleh Syariat. Meskipun mereka melakukannya saling ridha. (al-Gharar fil Uqud, Dr. Shidiq Muhammad Amin, hlm. 16).

Kemudian, bentuk gharar lainnya yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jual beli ijon. Jual beli buah yang ada di pohon, sebelum layak untuk dipanen. Sehingga ada dua kemungkinan yang akan dihadapi oleh penjual dan pembeli. Jika buahnya banyak yang utuh, bisa dipanen, maka pembeli untung dan penjual merasa dirugikan karena harga jualnya murah. Sebaliknya ketika buahnya banyak yang rusak, pembeli dirugikan dan penjual untung besar. Karena andai buah ini tidak segera dia jual, dia akan mengalami gagal panen.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى تُزْهِىَ . فَقِيلَ لَهُ وَمَا تُزْهِى قَالَ حَتَّى تَحْمَرَّ . فَقَالَ « أَرَأَيْتَ إِذَا مَنَعَ اللَّهُ الثَّمَرَةَ ، بِمَ يَأْخُذُ أَحَدُكُمْ مَالَ أَخِيهِ »

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual buah sampai layak untuk dipanen. Beliau ditannya, ‘Apa tanda kelayakan dipanen?’ jawab beliau, “Sampai memerah.” Lalu beliau bersabda,

“Bagaimana menurut kalian, jika Allah mentaqdirkan buahnya tidak bisa diambil? Bagaimana bisa penjual mengambil harta temannya?” (HR. Bukhari 2198 & Ibnu Hibban 4990).

Jual beli ijon dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ghararnya besar. Meskipun penjual dan pembeli melakukannya atas dasar saling ridha. Namun keberadaan ridha tidak cukup. Karena yang menjadi masalah bukan di adanya pemaksaan terhadap pelaku akad, tapi di objek transaksi yang tidak jelas.

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa memahami, ada 2 unsur yang menyebabkan gharar dilarang dalam transaksi,

[1] Adanya ketidakjelasan dalam objek akad. Pembeli hanya mendapat peluang, yang itu bisa terjadi dan bisa tidak terjadi.

[2] Di sana ada pihak yang mendapat keuntungan dalam akad, di atas kerugian orang lain (lawan akadnya). Sehingga ketika transaksi ini dilakukan, bisa dipastikan satu pihak mendapat keuntungan sementara pihak yang satu dirugikan.

Gharar Dalam MLM

Ketika multi level marketing semakin semarak, banyak ulama mempermasalahkan. Karena sebagian besar MLM hanya menitik beratkan pada perolehan downline dan tidak mementingkan produk. Karena itulah, dalam MLM yang menerapkan sistem ini, member yang bisa mendatangkan banyak downline namun sedikit membeli produk, dinilai lebih produktif dibadingkan member yang banyak membeli produk, namun tidak memiliki downline. Ukuran produktifitas downline tidak diukur dari banyaknya belanja produk, tapi dari kemampuan dia bisa menarik downline.

Diantara bukti paling nyata bahwa produk bukan tujuan utama dalam sistem ini, andai ada orang yang membeli produk, namun tidak ada peluang fee untuk mendapatkan downline, masyarakat tidak akan tertarik. Karena tidak sebanding antara harga dengan manfaat produk yang dibeli.

Dalam kajian Fiqh Mualamah Maliyah, terdapat satu kaidah,

القصود في العقود معتبرة

“Niat dalam akad itu diperhitungkan”

Ibnul Qoyim menjelaskan,

وقاعدة الشريعة التي لا يجوز هدمها ان المقاصد والاعتقادات معتبرة في التصرفات والعبارات كما هي معتبره في التقربات والعبارات … فالقصد والنية والاعتقاد بجعل الشيء حلالاً أو حراماً وصحيحاً أو فاسداً أو طاعة أو معصية

Kaidah dalam syariah yang tidak boleh ditiadakan, bahwa tujuan dan keyakinan itu ternilai dalam aktivitas muamalah dan transaksi… maksud, niat, dan keyakinan menentukan status halal dan haram, sah dan tidak sah, dinilai taat atau maksiat. (I’lamul Muwaqqi’in, 3/96)

Bagian ini perlu kita catat, karena hukum suatu akad juga dipengaruhi tujuan dan maksud pelaku.

Al-Majma’ al-Fiqhi al-Islami – lembaga resmi kajian fiqh di bawah Rabithah Alam Islamiyah (Muslim World League) dalam muktamarnya yang diselenggarakan di Sudan Rabiul Akhir 1424 pernah mengeluarkan keputusan mengenai sistem MLM yang pernah diterapkan oleh PT Biznas (Sebuah perusahaan yang menerapkan sistem MLM dalam pemasarannya di Uni Emirat),

Sebelum berfatwa, mereka menyebutkan pertimbangan,

أولاً: إن المنتج في شركات التسويق الشبكي ليس مقصوداً للمشتركين، إنما المقصود الأول والدافع المباشر للاشتراك هو الدخل الذي يحصل عليه المشترك من خلال هذا النظام.

كما أن مقصود الشركة هو بناء شبكة من الأفراد (في شكل متوالية هندسية أساسها اثنان) تتسع قاعدتها في شكل هرم، صاحب الحظ فيه هو قمة الهرم الذي تتكون تحته ثلاث طبقات، وتدفع فيه قاعدة الهرم مجموع عمولات الذين فوقهم،

Pertama, produk yang terdapat pada perusahaan MLM, bukan tujuan utama bagi member. Namun yang menjadi tujuan dan motivasi utama bergabung dalam sistem MLM adalah fee yang didapatkan member ketika dia bergabung dengan MLM.

Tujuan utama perusahaan MLM yang beranggotakan banyak orang, dengan skema beruntun, sehingga bagian dasar terus meluas, hingga berbentuk piramida. Orang yang paling beruntung adalah yang berada di atas piramida, yang di bawahnya tersusun 3 level. Sementara mereka yang di bawah (downline) harus membayar kepada orang yang ada di atasnya (upline).

فالمنتَج ليس سوى واجهة سلعية مقبولة ليُبنى عليها الترخيص القانوني، حيث تمنع أكثر قوانين دول العالم برنامج التسلسل الهرمي الذي يدفع فيه المشترك رسوماً لمجرد الانضمام للبرنامج دون توسط أو سلعة يتم تدوالها.

Produk hanya kamuflase agar bisa diterima, untuk mendapat legalitas secara undang-undang, mengingat banyak undang-undang di berbagai negara di dunia yang melarang sistem MLM, yang mengharuskan member untuk membayar ketika pendaftaran tanpa ada fasilitas dan produk yang bisa digunakan.

– ثانياً: إن المشترك لا يمكن أن يحقق دخلاً إلا إذا تكونت تحته ثلاث طبقات، وإن المستويات الثلاثة الأخيرة في البناء الهرمي دائماً مخاطرة (معرضة للخسارة) لأنها تدفع عمولات قمة الهرم على أمل أن تتبوأ هي القمة، ولكن لا يمكنها ذلك إلا باستقطاب أعضاء جدد ليكوّنوا مستويات دنيا تحتهم، فتكون المستويات الجديدة هي المعرضة للخسارة وهكذا

Kedua, member tidak akan bisa mendapat fee kecuali jika dia memiliki 3 downline di bawahnya. Sehingga 3 tingkat yang paling bawah dalam sistem piramida akan selalu ber-spekulasi (berhadapan dengan resiko rugi). Karena dia harus membayar komisi kepada yang di atasnya, dengan harapan dia akan menduduki posisi atas. Namun itu tidak mungkin, kecuali dengan menarik member-member baru, untuk menjadi downline dia. Selanjutnya, downlinenya yang akan menghadapi resiko rugi. (https://ar.beta.islamway.net/fatwa/31900/بزناس-وما-يشابهها-من-شركات-التسويق-الشبكي)

Kemudian ada juga fatwa dari Syaikh Dr. Sami Ibrahim as-Suwailim – Pimpinan Pusat Penelitian dan Pengembangan untuk masalah Syariah di Bank  ar-Rajihi – beliau memberikan keterangan cukup panjang seputar bisnis MLM. Diantara yang beliau sampaikan,

إن البرامج القائمة عـلى التسلـسل الهـرمي، ومنـها البرنــامج المذكور في الـسؤال، مبنـية عـلى أكل المال بالبـاطل والتغـرير بالآخرين، لأن هذا التسلـسل لا يمـكن أن يـستمر بلا نهــاية، فإذا تــوقف كانت النتيــجة ربح الأقلــية عــلى حــساب خــسارة الأكثــرية.

Sistem pemasaran dengan konsep jaringan berjenjang piramida, termasuk sistem yang disebutkan dalam pertanyaan, dibangun di atas prisip makan harta orang lain secara bathil dan menipu yang lain. Karena sistem berjenjang ini, tidak mungkin akan berkembang terus tanpa ujung. Ketika dia sudah berhenti, maka yang terjadi, ada pihak minoritas yang diuntungkan di atas kerugian mayoritas.

Lalu beliau melanjutkan,

كما أن منطق التسويق الهرمي يعتمد على عوائد فاحشة للطبقات العليا على حساب الطبقات الدنيا من الهرم ، فالطبقات الأخيرة خاسرة دائماً حتى لو فرض عدم توقف البرنامج ، ولا يفيد في مشروعية هذا العمل وجود المنتج ، بل هذا يجعله داخلاً ضمن الحيل المحرمة

Dalam sistem pemasaran piramida, bersandar pada prinsip ada keuntungan yang kembali ke upline bersamaan dengan resiko kerugian downline. Downline akan selalu dirugikan, andaipun sistem ini tidak pernah mengalami saturasi. Dalam sistem ini keberadaan produk tidak signifikan. Namun dia hanya diikutkan dalam  kamuflase yang terlarang.

Dari fatwa al-Majma al-Fiqhi al-Islami dan fatwa Dr. Sami as-Suwailim dapat kita simpulkan latar belakang mengapa MLM dipermasalahkan,

[1] Member yang hendak bergabung harus membayar senilai tertentu

[2] Dana yang disetorkan member, bukan untuk membeli produk, tapi agar bisa bergabung dalam sistem MLM

[3] Tujuan terbesar member bergabung adalah untuk mendapat fee ketika berhasil mendapatkan downline

[4] Untuk bisa mendapatkan downline, tidak bisa dipastikan, karena ini peluang pasar.

[5] Setiap member yang berada di bawah akan menghadapi resiko rugi, jika tidak bisa mendapatkan member

[6] Sistem piramida berjenjang akan mengalami saturasi, sehingga tidak lagi berkembang. Sehingga pada puncaknya, downline yang jumlah lebih banyak akan mengalami kerugian, sementara upline mendapat keuntungan.

Dalam akad muawadhah (komersil), agar tidak terjadi gharar, kita diajarkan rumus keseimbangan,

Iwadh (yang kita bayarkan) = Mu’awadh (yang kita terima)

Apa yang kita bayarkan, harus seimbang dengan apa yang kita terima. Ketika yang kita bayarkan jelas, maka yang kita terima juga harus jelas. Jika dalam transaksi, yang kita bayarkan jelas, sementara yang kita terima tidak jelas, ada peluang terjadi dan tidak, maka hukumnnya gharar.

Bagaimana hasilnya jika kita terapkan persamaan ini dalam kasus MLM di atas?

Seseorang yang mendaftar menjadi member MLM dia membayar senilai tertentu, dan dia mendapat 2 hal: produk (yang bukan tujuan utama) dan Peluang dapat fee dengan mencari member baru (tujuan utama).

Jika kita rumuskan,

 

Iwadh

(yang kita bayarkan)

= Produk

(bukan tujuan)

+ Peluang pasar/cari downline

(tujuan utama)

Jelas = Jelas

(tidak diperhitungkan)

+

Tidak pasti

(tujuan utama akad)

Artinya, ketika anda menjadi member, anda membayar sesuatu yang pasti. Dan anda mendapatkan 2 hal: produk, yang itu pasti tapi tidak terlalu diperhitungkan, dan peluang dapat downline, yang ini menjadi tujuan utama, namun tidak pasti. Sehingga yang terjadi, anda membayar sesuatu, namun anda hanya mendapat peluang. Dan itulah gharar.

Pelajaran dari Bisnis Afiliasi e-Book

Sekitar tahun 2004, masa sedang gencar-gencarnya ingin monetizing internet, penghuni dunia maya tiba-tiba tersihir dengan master Internet Marketing Joko Susilo. Dia berjualan e-book dengan sistem afiliasi. Untuk seukuran ebook, harganya cukup mahal (sekitar 250rb). Namun banyak orang rela beli, karena ada janji fee ketika bisa mereferensikan pembeli yang lain. Mereka yang beli akan mendapat ebook, referral duplikat web.

Jika ada orang lain yang beli dari referral kita, maka kita akan mendapat 50% – 50%, 125rb untuk Joko Susilo, 125rb untuk pemilik referral.

Ketika sudah mencapai saturasi, banyak netizen yang mulai sadar, sehingga pembeli terakhir, sama sekali tidak bisa mencari downline baru. Referral duplikat web tidak berfungsi. Para netizen penganut Joko merasa ditipu. Ada banyak komentar miring yang mereka arahkan ke Joko Susilo. Mereka menyesal.

Bagaimana dengan e-book-nya??

Mereka tidak butuh e-book ini. Hanya berisi tutorial yang hampir semuanya copas dari google. Konsumen merasa sangat tidak membutuhkan ebook itu. Mereka rela membeli, karena harapan bisa mendapat fee dari referral. Ketika ini tidak lagi berfungsi, Joko Susilo bisa kaya raya, di atas penderitaan para bawahannya.

Dan inilah dampak dari transaksi gharar.

[1] Tidak ada produk riil yang dijual

[2] Mereka membayar karena harapan bisa menjadi upline

[3] Apa yang dibayarkan digantikan dengan peluang

Sehingga tidak terpenuhi keseimbangan iwadh = muawadh

Ada pihak yang diuntungkan, di atas kerugian orang lain.

Bercermin dari Bisnis Flexter

Bisnis ini berkembang 10 tahun yang lalu. Jual beli aplikasi untuk pulsa dan bayar-bayar dengan sistem berjenjang. Siapa yang bisa mereferensikan downline, dia mendapat fee.

Diantara iklan yang ditayangkan para penggiatnya,

Cara Biasa Cara Flexter
Harus pergi ke konter Bisa isi pulsa sendiri (24 jam)
Harga konsumen Harga Agen
Tidak bisa dijual lagi Bisa dijual lagi
Hanya untuk komunikasi Bisa sebagai alat pembayaran: PLN, Telkom
Tidak ada fasilitas apapun SMS murah, GPRS, Ikln gratis seumur hidup, Asuransi, Seminar & Pelatihan
Murni pengeluaran Dapat peluang pulsa gratis

Banyak orang tertarik untuk menjadi membernya, hingga sudah mencapai lebih dari 760.000 orang di seluruh Indonesia. Setiap harinya lebih dari 1.000 orang yang bergabung menjalankan bisnis FLEXTER.

Namun ketika mengalami titik jenuh (saturasi), bisnis ini ambruk. Itupun tidak sampai 4 tahun bertahan. Downline terbaru adalah pihak yang paling berduka. Karena dia tidak bisa memanfaatkan program yang telah dia bayar untuk mencari downline.

Sekali lagi, inilah dampak dari transaksi gharar.

[1] Tidak ada produk riil yang dijual

[2] Mereka membayar karena harapan bisa menjadi upline

[3] Apa yang dibayarkan digantikan dengan peluang

Sehingga tidak terpenuhi keseimbangan iwadh = muawadh

Ada pihak yang diuntungkan, di atas kerugian orang lain.

Bagaimana dengan Paytren?

Insya Allah bersambung di artikel bagian 02…

Update: Baca Hukum Paytren Bagian 2

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh YufidStore.com (Toko Muslim Online Murah dan Amanah)

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Sejarah Kubah Hijau di Atas Makam Nabi]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29320 2017-03-22T02:34:55Z 2017-03-22T02:23:30Z Kubah Hijau di Atas Makam Nabi

Mengapa kubah di atas makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Katanya ini dilarang… Suwun…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Para ahli sejarah menegaskan bahwa keberadaan kubah hijau di atas makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru ada di abad ke-7 Hijriyah. Yang pertama kali membangunnya adalah Sultan Qalawun. Awalnya tidak dicat, berwarna kayu, kemudian dicat putih, kemudian cat biru dan yang terakhir berwarna hijau hingga sekarang.

Dalam bukunya Fushul Min Tarikh Al-Madinah Al-Munawwarah, Prof. Ali Hafidz mengatakan,

لم تكن على الحجرة المطهرة قبة ، وكان في سطح المسجد على ما يوازي الحجرة حظير من الآجر بمقدار نصف قامة تمييزاً للحجرة عن بقية سطح المسجد .والسلطان قلاوون الصالحي هو أول من أحدث على الحجرة الشريفة قبة ، فقد عملها سنَة 678 هـ ، مربَّعة من أسفلها ، مثمنة من أعلاها بأخشاب ، أقيمت على رؤوس السواري المحيطة بالحجرة ، وسمَّر عليها ألواحاً من الخشب ، وصفَّحها بألواح الرصاص ، وجعل محل حظير الآجر حظيراً من خشب

Belum pernah ada kubah di atas rumah makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahulu di atap masjid yang lurus dengan kamar ada kayu memanjang setengah ukuran orang berdiri untuk membedakan antara ruang makam dengan bagian atap masjid lainnya.

Sulton Qalawun As-Shalihi, dialah yang pertama kali membuat kubah di atas kuburan tersebut. Dikerjakan pada tahun 678 H, berbentuk empat persegi panjang dari sisi bawah, sedangkan atasnya berbentuk delapan persegi dilapisi dengan kayu. Didirikan di atas tiang-tiang yang mengelilingi kamar, dikuatkan dengan papan dari kayu, lalu dikuatkan lagi dengan tembaga, dan ditaruh di atas kayu dengan kayu lain.

Lalu beliau melanjutkan,

وجددت القبة زمن الناصر حسن بن محمد قلاوون ، ثم اختلت ألواح الرصاص عن موضعها ، وجددت ، وأحكمت أيام الأشرف شعبان بن حسين بن محمد سنة 765 هـ ، وحصل بها خلل ، وأصلحت زمن السلطان قايتباي سنة 881هـ

Kubah tersebut diperbarui pada zaman An-Nasir Hasan bin Muhammad Qalawun, kemudian papan yang ada tembaganya retak. Lalu diperbarui dan dikuatkan lagi pada masa Al-Asyraf Sya’ban bin Husain bin Muhammad tahun, 765 H. Akan tetapi ada kerusakan, dan diperbaiki pada zaman Sultan Qaytabai tahun 881 H.

Beliau melanjutkan,

وقد احترقت المقصورة والقبة في حريق المسجد النبوي الثاني سنة 886 هـ ، وفي عهد السلطان قايتباي سنة 887هـ جددت القبة ، وأسست لها دعائم عظيمة في أرض المسجد النبوي ، وبنيت بالآجر بارتفاع متناه ،….

وفي سنة 1253هـ صدر أمر السلطان عبد الحميد العثماني بصبغ القبة المذكورة باللون الأخضر ، وهو أول من صبغ القبة بالأخضر ، ثم لم يزل يجدد صبغها بالأخضر كلما احتاجت لذلك إلى يومنا هذا. وسميت بالقبة الخضراء بعد صبغها بالأخضر ، وكانت تعرف بالبيضاء ، والفيحاء ، والزرقاء

Rumah dan kubah turut terbakar pada saat terjadi kebakaran Masjid Nabawi tahun 886 H. Lalu pada zaman Sultan Qaytabai tahun 887 H, kubahnya diperbarui. Dan dibuat pondasi yang kuat di tanah Masjid Nabawi, dibangun dengan meninggikan batanya.

Pada tahun 1253 H Sultan Abdul Hamid Al-Utsmani mengeluarkan perintah untuk mengecat kubah dengan warna hijau. Beliaulah yang pertama kali mengecat kubah dengan warna hijau. Kemudian cat tersebut terus menerus diperbarui setiap kali dibutuhkan, sampai hari ini. Dinamakan kubah hijau setelah dicat hijau. Dahulu dikenal dengan Kubah Putih, Fayha dan Kubah Biru.” (Fushul min Tarikh Madinah al-Munawarah, hal. 127-128)

Keberadaan kubah ini tidak pernah dikenal di zaman sahabat, tabiin maupun tabi’ tabiin, juga tidak pernah dikenal di zaman para imam madzhab, para pencatat hadis. Yang menarik, tidak kita jumpai usulan dari mereka untuk membuat kubah itu. Artinya mereka memahami, kubah itu memang tidak ada syariatnya dalam Islam. karena itu, aneh ketika ada orang yang menjadikan keberadaan kubah ini sebagai dalil pembenar membuat cungkup di atas kuburan.

Diantaranya as-Shan’ani – penulis kitab Subulus Salam –, beliau mengikari keberadaan kubah ini sebagai dalil. Beliau mengatakan,

فإن قلت : هذا قبرُ الرسولِ صلى اللهُ عليه وسلم قد عُمرت عليه قبةٌ عظيمةٌ انفقت فيها الأموالُ.  قلتُ : هذا جهلٌ عظيمٌ بحقيقةِ الحالِ ، فإن هذه القبةَ ليس بناؤها منهُ صلى اللهُ عليه وسلم ، ولا من أصحابهِ ، ولا من تابعيهم ، ولا من تابعِ التابعين ، ولا علماء الأمةِ وأئمة ملتهِ ، بل هذه القبةُ المعمولةُ على قبرهِ صلى اللهُ عليه وسلم من أبنيةِ بعضِ ملوكِ مصر المتأخرين ، وهو قلاوون الصالحي المعروف بالملكِ المنصورِ في سنةِ ثمانٍ وسبعين وست مئة

Jika anda mengatakan,

“Itu kuburan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dikasih kubah besar, menghabiskan banyak dana.”

Jawaban saya,

“Ini kebodohan yang berlebihan dengan kondisi yang sejatinya. Kubah ini, tidak dibangun oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga para sahabat, tabiin, tabi’ tabiin, maupun para ulama umat ini. Kubah yang dibangun di atas makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan proyek sebagian raja mesir belakangan, yaitu Qalawun as-Shalihi, yang dikenal dengan Raja al-Manshur, pada tahun 678 H.” (Thathir I’tiqad, hlm. 46)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Tempat Adam Diturunkan]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29315 2017-03-21T02:07:41Z 2017-03-21T02:04:01Z Nabi Adam Diturunkan di India?

 Benarkah Adam diturunkan di India dan Hawa di Mekah? Itu yg rame… mohon kajiannya…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Keterangan yang disebutkan dalam al-Quran, bahwa Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi, setelah dia memakan pohon larangan.

Allah berfirman,

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. (QS. al-Baqarah: 36)

Sementara mengenai tempat di mana Adam diturunkan, tidak ada keterangannya sama sekali dalam al-Quran. Dan kami juga tidak menjumpai adanya hadis shahih yang menyebutkan hal ini. Memang ada beberapa hadis yang menyebutkan tempat turunnya Adam di Bumi, namun statusnya dhaif.

Seperti hadis,

نزل آدم الهند واستوحش

Adam turun di India dan beliau merasa asing.

Hadis ini diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damaskun (7/437), dan statusnya dhaif. Sebagaimana keterangan dalam as-Silsilah ad-Daifah.

Hanya saja, ada beberapa keterangan para ulama mengenai tempat turunnya Adam.  Namun karena tidak didukung dalil, keterangan mereka beraneka ragam. Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan sekitar 4 pendapat mengeai hal ini,

[1] Adam diturunkan di India, sedangkan Hawa diturunkan di Jedah. Ini pendapat Hasan al-Bashri

[2] Adam dan Hawa keduanya diturunkan di India.

[3] Adam diturunkan di satu daerah namanya Dahna, antara Mekah dan Thaif. Ini keterangan dari Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim. Sementara diriwayatkan Imran bin Uyainah, Dahna adalah satu tempat di India.

[4] Adam diturunkan di Shafa dan Hawa diturunkan di Marwah. Ini merupakan keterangan Ibnu Umar menurut riwayat Ibnu Abi Hatim.

(Tafsir Ibnu Katsir, 1/237).

Terlepas dari semua pendapat di atas, kajian masalah ini masuk dalam ranah kajian masalah ghaib. Sementara kita tidak boleh berbicara masalah ghaib kecuali sebatas informasi yang diberitakan oleh pemilik kabar ghaib, Allah ta’ala atau melalui wahyu Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disamping mempelajari masalah ini tidak memberikan pengaruh yang berarti bagi ketakwaan kita.

Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Upah Tukang Bekam Haram?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29311 2017-03-20T02:14:52Z 2017-03-20T02:08:39Z Upah Tukang Bekam

Benarkah upah tukang bekam itu tercela? apakah berarti haram?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa upah tukang bekam itu halal. beliau pernah berbekam dan beliau memberi upah kepada tukang bekam.

[1] Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliu mengatakan,

احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْطَى الَّذِي حَجَمَهُ، وَلَوْ كَانَ حَرَامًا لَمْ يُعْطِهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan memberi upah kepada tukang bekam. Andai itu haram, tentu beliau tidak akan memberi upah. (HR. Ahmad 2904 dan Bukhari 2103).

[2] Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا حَجَّامًا فَحَجَمَهُ وَسَأَلَهُ: كَمْ خَرَاجُكَ؟ فَقَالَ: ثَلاَثَة آصُعٍ، فَوَضَعَ عَنْهُ صَاعًا وَأَعْطَاهُ أَجْرَهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil tukang bekam, lalu dia membekam beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Berapa upahmu?”

‘Tiga sha’.’ Jawab tukang bekam.

Lalu beliau memberikan satu sha’ dan beliau berikan upahnya. (HR. Ahmad 1136 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

[3] Hadis dari Ali radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَأَمَرَنِي فَأَعْطَيْتُ الْحَجَّامَ أَجْرَهُ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan beliauperintahkan aku untuk memberikan upah kepada tukang bekamnya. (HR. Ahmad 1130, Ibnu Majah 2163 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

[4] Hadis dari Anas bin Malik

احْتَجَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibekam oleh Abu Thaibah, lalu beliau perintahkan agar diberi upah 2 sha’ makanan. (HR. Ahmad 12785 & Muslim 4121).

Dan beberapa hadis yang semisal, yang menunjukkan bahwa upah tukang bekam adalah halal.

Hanya saja, upah tukang bekam dinilai tidak terpuji. Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كَسْبِ الحَجَّامِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang upah tukang bekam. (HR. )

Dalam hadis lain, dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَسْبُ الْحَجَّامِ خَبِيثٌ

“Upah tukang bekam itu jelek.” (HR. Ahmad 15812, Abu Daud 3423 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Makna khabits dalam hadis ini tidak bermakna haram. Karena harta halal, namun hina, juga bisa disebut khabits. Seperti firman Allah,

وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ

“Janganlah kalian secara sengaja memilih harta yang khabits yang kalian infakkan.” (QS. al-Baqarah: 267).

Upah tukang bekam disebut khabits, bukan karena statusnya yang haram, tapi karena harta ini dianggap tidak terpuji dan tidak bermartabat. Sehingga makruh untuk dicari.

Berdasarkan keterangan di atas, ulama berbeda pendapat dalam memahami upah tukang bekam,

Pertama, upah tukang bekam hukumnya mubah. Ini merupakan pendapat al-Laits bin Sa’ad, Malik dan Abu Hanifah.

Kedua, upah tukang bekam hukumnya makruh bagi orang merdeka dan mubah bagi budak. Ini merupakan pendapat Syafi’iyah dan Hanbali.

Kita simak keterangan An-Nawawi ketika menyimpulkan hadis yang melarang upah tukang bekam,

هذه الأحاديث التي في النهي على التنزيه والارتفاع عن دنيء الأكساب والحثِّ على مكارم الأخلاق ومعالي الأمور

Hadis-hadis yang menunjukkan larangan makruh dan menghindari penghasilan yang tidak terpuji, serta motivasi untuk menjaga akhlak mulia dan hal yang bermartabat. (Syarh Shahih Muslim, 10/233)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Siapa Abu Lahab dan Abu Jahal?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29308 2017-03-17T04:34:03Z 2017-03-18T00:19:30Z Abu Lahab dan Abu Jahal

saya mau tanya, siapakah abu lahab, siapakah jahal ?, apakah 1 orang yang sama, atau berbeda ?, mohon di jelaskan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dua nama ini adalah dua orang yang berbeda.

Abu Lahab nama aslinya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Urutan nasabnya: Abdul Uzza bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Lebih dikenal dengan nama Kun-yah: Abu Lahab dibandingkan nama aslinya. Lahab artinya menyala-nyala. Ada yang mengatakan bahwa yang menggelari Abu Lahab adalah ayahnya, Abdul Muthalib, karena Abu Lahab wajahnya sangat cerah.

Abu Lahab termasuk salah satu paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekaligus penentang dakwah beliau.

Sabab Nuzul surat al-Lahab

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika turun ayat,

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik bukit shafa, beliau memanggil-manggil,

يا بني فهر!. يا بني عدي! لبطون قريش

Wahai Bani Fihr!, wahai Bani Adi!, beliau panggil beberapa suku Quraisy…”

Hingga mereka semua berkumpul. Jika ada yang tidak bisa datang, mereka mengirim utusan untuk menyaksikan apa yang terjadi. Datanglah Abu Lahab dan beberapa suku Quraisy. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai nasehatnya,

أرأيتكم لو أخبرتكم أن خيلا بالوادي تريد أن تغير عليكم، أكنتم مصدقي؟

Bagaimana  menurut kalian, jika saya kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di balik bukit ini yang akan menyerang kalian. Apakah kalian akan mempercayaiku?

Mereka serentak mengatakan, “Ya, kami mempercayainya, kami tidak pernah menilai kamu kecuali orang yang benar.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

فإني نذير لكم بين يدي عذاب شديد

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan (utusan) sebelum adanya adzab (kiamat).”

Mendengar ceramah ini, Abu Lahab marah besar dan langsung mengatakan,

تبا لك سائر اليوم. ألهذا جمعتنا؟

“Celaka kamu sepanjang hidupmu… apakah hanya untuk tujuan ini kau kumpulkan kami?”

Kemudian Allah turunkan surat al-Lahab yang berisi ancaman keras untuk Abu Lahab.

Para ulama memahami bahwa turunnya surat al-Lahab merupakan salah satu mukjizat. Karena surat ini berisi ancaman untuk Abu Lahab dan istrinya dalam bentuk adzab di neraka, kekal selamanya. dan Abu Lahab beserta istrinya keduanya mati  kafir, selalu menentang islam. Padahal surat ini turun 10 tahun sebelum meninggalnya Abu lahab.

Pada saat perang Badar, Abu Lahab tidak ikut perang. Tapi dia meminta al-Ashi bin Hisyam bin Mughirah untuk menggantikannya, dengan membayar 4000 dirham.

Abu Lahab meninggal 7 hari pasca-perang Badar karena sakit parah, seperti Tha’un, yang mereka sebut dengan al-Adasah. Setelah mati, jasadnya tidak diurusi selama 3 hari, hingga berbau. Ketika mereka merasa khawatir bisa membahayakan, mereka menggali tanah, lalu mayat Abu Lahab dimasukkan lubang dengan kayu. Setelah masuk, mereka mengubur dengan melempari kerikil dan tanah dari kejauhan ke dalam kuburan sampai semua terkubur, karena mereka tidak kuat dengan baunya.

Abu Jahal

Abu Jahal nama aslinya Amr bin Hisyam bin Mughirah dari suku Makhzum.

Dia termasuk pemuka suku Quraisy dari kabilah Kinanah. Sebelumnya dia digelari masyarakatnya dengan Abul Hakam (bapak kebijaksanaan) karena dianggap cerdas. Dia diizinkan untuk mengikuti Darun Nadwah – forum orang Quraisy yang hanya dihadiri oleh para pembesar Quraisy. Namun oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam digelari dengan Abu Jahal (bapak kebodohan). Karena dia membunuh Sumaiyah bintu Khayyath dengan tombak yang dimasukkan ke kemaluannya sampai mati…

Dialah yang mengusulkan untuk membantai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bareng-bareng dari banyak suku. Ketika mereka berkumpul di Dar an-Nadwah membahas, bagaimana cara paling tepat untuk membunuh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada banyak usulan, tapi semuanya mentok, karena mereka khawatir Bani Abdi Manaf akan menggugat dan menunntut qishas.

Kemudian Abu Jahal usul,

Setiap kabilah harus mengutus satu pemuda yang paling kuat, paling gagah, paling bagus. Masing-masing kita beri pedang terhunus, kemudian bersama-sama menyerang Muhammad dengan satu komando, dan dibunuh bareng-bareng. Jika Bani Abdi Manaf menuntut, mereka tidak akan mampu melawan banyak suku. Sehingga Bani Abdu Manaf hanya akan meminta ganti diyat 100 ekor onta.

Dan rencana inilah yang dijalankan… permusuhannnya yang luar biasa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin, hingga dia digelari dengan Fir’aun umat ini.

Abu Jahal mati ketika perang Badar. Pada saat barisan kaum muslimin berhadapan dengan barisan musyrikin, tiba ada 2 pemuda berusia 16an tahun berposisi tepat disamping kanan dan kiri Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah Muawidz dan Muadz bin Afra. Masing-masing bertanya kepada Abdurrahman bin Auf, ‘Wahai paman, mana Abu Jahal yang paling keras memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam’. Setelah ditunjukkan, kedua pemuda ini berlomba menyerang hingga Abu Jahal tersungkur…

Setelah perang usai, Ibnu Mas’ud menyisir lapangan perang, hingga ketemu Abu Jahal yang sudah tidak berdaya.

“Siapa hari ini yang menang?” tanya Abu Jahal.

“Allah dan Rasul-Nya yang menang, wahai musuh Allah.” jawab Ibnu Mas’ud.

“Sungguh kamu telah berhasil naik ke puncak yang sulit, wahai penggembala kambing.” Kata Abu Jahal.

Kemudian Ibnu Mas’ud memenggal kepala Abu Jahal yang sudah terpotong telinganya. Dan dibawanya menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau berkomentar,

“Telinga balas telinga dan ditambah kepala.”

Karena Abu Jahal pernah memotong telinga Ibnu Mas’ud.

Referensi:

  • Ar-Rahiq al-Makhtum
  • Sirah Ibnu Hisyam

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Hukum Makan Upil]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29305 2017-03-17T02:26:41Z 2017-03-17T02:26:22Z Makan Upil

Apakah upil najis? Bagaimana hukum makan upil?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Upil dan ipil serta kotoran hidung lainnya tidak najis. Terdapat banyak keterangan para ulama dalam masalah ini. Diantaranya,

[1] Pernyataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

Beliau pernah menyamakan status mani sebagaimana ingus. Artinya keduanya tidak najis.

Dari Ibnu Abbas,

قال في المَنِيِّ يصيب الثوب: “إنما هو بمنزلة النخامة والبزاق أَمِطْه عنك بإذخرة

Beliau menjelaskan tentang mani yang mengenai pakaian, “Itu seperti ingut dan ludah. Kamu bisa hilangkan dengan idzkhir (sejenis rumput).” (HR. ad-Daruquthni dalam Sunannya no. 2 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam Mukhtashar Khalil, ketika penulis menyebutkan benda-benda suci, beliau menyatakan,

والحي ودمعه وعرقه ولعابه ومخاطه…

Binatang halal yang hidup, air matanya, keringatnya, liurnya, ingusnnya… (Mukhtashar Khalil, hlm. 16).

Suci Tapi Kotoran Menjijikkan

Meskipun suci, tapi ingus itu kotoran menjijikkan.

وهو ما يخرج من أنفه. نعم هما من المستقذرات؛ وعليه، فلا تؤثر ملامسة ذلك كثيرًا كان أو قليلاً

Itulah kotoran yang keluar dari hidung. Betul keduanya kotoran (tapi tidak najis, pent.). Karena itu, tidak masalah menyentuhnya, sedikit maupun banyak.

Karena itulah, para ulama melarang memakannya.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

حرمة تناول المخاط: نص الشافعية على حرمة تناول المخاط، قالوا: إن المخاط وإن كان طاهرًا إلا أنه مستقذر، ويحرم تناول الإنسان له؛ لاستقذاره، لا لنجاسته

Haram mengkonsumsi upil. Syafiiyah menegaskan haramnya mengkonsumsi upil. Mereka mengatakan, ‘Upil itu, meskipun suci, namun dia kotor. Dan haram dikonsumsi manusia, karena status kotornya bukan najisnya.’ (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 36/258)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Riba dalam Kegiatan Makan Bersama]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29299 2017-03-16T04:39:48Z 2017-03-16T02:22:02Z Riba dalam Kegiatan Makan Bersama

Langsung saja saya berikan Ilustrasi

Ali :” Assalamu ‘alaykum..adi lagi dimana?

Adi :wa ‘alaykum salam warahmatullah Lagi dipasar ni

Ali : Oya kebetulan..beliin rambutan 1kg, ntr sampai rumah diganti uangnya.

Adi : Ok.. deh

Ali :ya udah itu aja saja. Assalamu ‘alaykum…

Adi : wa ‘alaykum salam warahmatullah ‎

(sudah sampai rumah Ali)

Adi : Assalamu ‘alaykum

Ali : Wa’alaykum salam

Adi : ini pesenannya.

Ali : syukron.. Ayo kita makan sama-sama, tenang saja nanti diganti uangnya..

kemudian adi dan ali makan rambutan bersama-sama. Maka Adi telah makan riba …

Apakah ini benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam islam. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat statusnya riba” (HR. al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro)

Termasuk diantaranya adalah hadiah dan pemberian sebelum utang lunas. Meskipun bentuknya jasa.

Sahabat Abdullah bin Sallam pernah mengatakan,

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ ، فَلاَ تَأْخُذْهُ ، فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3814).

Dalam riwayat lain, nasehat Abdullah bin Sallam ini beliau sampaikan kepada Abu Burdah, yang ketika itu tiba di Iraq. Dan di sana ada tradisi, siapa yang berutang maka ketika melunasi, dia harus membawa sekeranjang hadiah.

إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا

“Saat ini kamu berada di daerah yang riba di sana tersebar luas. Diantara pintu riba adalah jika kita memberikan utang kepada orang lain sampai waktu tertentu, jika jatuh tempo tiba, orang yang berhutang membayarkan cicilan dan membawa sekeranjang berisi buah-buahan sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang tersebut dan isinya.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro).

Hanya saja, ada catatan yang perlu kita perhatikan, bahwa

‘Utang tidak memutus silaturrahmi’

‘Utang tidak memutus hubungan baik seseorang dengan kawannya’

Dst…

Karena itu, siapa yang punya kebiasaan baik dengan saudaranya, seperti saling memberi hadiah atau saling membantu dalam berbagai urusan, jangan sampai kebiasaan ini dihentikan gara-gara utang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Lakukanlah saling menghadiahilah, niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 594 dan dihasankan al-Albani).

Karena itulah, kaitannya hadiah dengan akad utang piutang dibagi menjadi 2:

[1] Hadiah yang diberikan karena latar belakang akad utang piutang. Andai tidak berlangsung akad utang-piutang tentu tidak akan akan ada hadiah.

[2] Hadiah yang tidak ada hubungannya dengan akad utang piutang, meskipun keduanya kadang melakukan akad utang piutang. Misalnya, kakak adik, mereka sudah terbiasa saling memberi hadiah ketika lebaran. Suatu ketika adik utang ke kakak. Dan ketika lebaran, mereka saling memberi hadiah. Meskipun utang adik belum lunas.

Tapi kita bisa memahami, hadiah yang ada dalam hal ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan transaksi utang piutang. Hadiah yang sudah terjadi karena kebiasaan sebelumnya.

Hadiah ini diperbolehkan, meskipun utang belum lunas. Karena sudah menjadi kebiasaan sebelumnya sehingga tidak ada hubungannya dengan utang piutang.

Dari Anas bin Malik,

إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلاَ يَرْكَبْهَا وَلاَ يَقْبَلْهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya. Kecuali jika sudah terbiasa mereka saling memberikan hadiah sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah 2432)

Karena sekali lagi, utang tidak memutus silaturrahmi… jangan sampai gara-gara utang, justru mereka saling tegang, tidak bisa cair, tidak semakin akrab, dan kaku terhadap jamuan…

Bagaimana dengan Kasus Talangan Jajan?

Kasus di atas, seperti yang umum di masyarakat kita, tidak ada kaitannya dengan utang piutang. Dalam arti, mereka sudah terbiasa melakukannya meskipun mereka tidak terlibat dalam akad utang piutang. Sehingga makan bersama di sini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan utang.

Insya Allah dibolehkan, dan bukan riba…

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>