Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam KonsultasiSyariah.com 2017-10-17T04:24:21Z https://konsultasisyariah.com/feed/atom WordPress Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Shalat Nyandar ke Tembok, Shalatnya Batal?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=30374 2017-10-17T02:32:58Z 2017-10-17T02:22:53Z Hukum Shalat Nyandar ke Tembok

Tadz, apa hukum shalat sambil bersandar di tembok? Matur suwun

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Berdiri ketika shalat wajib termasuk rukun shalat.

Allah berfirman,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Jagalah shalat 5 waktu dan terutama shalat asar, dan berdirilah menghadap Allah dalam kondisi tunduk. (QS. al-Baqarah: 238)

Dalam hadis dari Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Kerjakan sambil berdiri, jika tidak mampu, kerjakan sambil duduk. Jika tidak mampu kerjakan sambil berbaring miring. (HR. Bukhari 1117).

Karena itu, bagi orang yang shalat wajib, selama dia mampu berdiri, dia harus berdiri.

Bolehkah Shalat Bersandar?

Ada beberapa kondisi mengenai hal ini,

[1] jika dia sedang sakit atau dalam kondisi lemah, dibolehkan untuk bersandar baik dalam shalat sunah maupun shalat wajib. Baik dengan tongkat atau tembok atau semacamnya.

Dalilnya, hadis dari Ummu Qais bintu Mihshan radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا أَسَنَّ وَحَمَلَ اللَّحْمَ اتَّخَذَ عَمُودًا فِى مُصَلاَّهُ يَعْتَمِدُ عَلَيْهِ

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sudah lanjut usia dan mulai gemuk, beliau meletakkan tongkat di tempat shalatnya,yang digunakan untuk bersandar. (HR. Abu Daud 949 dan dishahihkan al-Albani).

Ketika menjelaskan hadis ini, as-Syaukani mengatakan,

وحديث أم قيس يدل على جواز الاعتماد في الصلاة على العمود والعصا ونحوهما، لكنْ مقيداً بالعذر المذكور؛ وهو الكبر وكثرة اللحم، ويلحق بهما الضعف، والمرض، ونحوهما، وقد ذكر جماعة من العلماء أن من احتاج في قيامه إلى أن يتكئ على عصا، أو عكاز، أو يسند إلى حائط، أو يميل على أحد جنبيه من الألم؛ جاز له ذلك

Hadis ini menunjukkan bolehnya bersandar ketika shalat, dengan tiang, tongkat, atau semacamnya, dengan catatan ada udzur seperti yang disebutkan, yaitu sudah tua, atau kegemukan. Termasuk orang yang lemah, sakit, atau semacamnya. Sekelompok ulama menyebutkan, orang yang ketika berdiri butuh untuk bersandar dengan tongkat, stik, atau bersandar dengan tembok, atau condong miring karena sakit, semua itu boleh. (Nailul Authar, 2/384).

[2] Bagi mereka yang normal dan sehat, tidak boleh bersandar ketika mengerjakan shalat wajib. Dan jika dia bersandar penuh, dimana ketika sandaran itu dicabut menyebabkan dia terjatuh, maka shalatnya menjadi batal.

An-Nawawi mengatakan,

وأما الاتكاء على العصي؛ فجائز في النوافل باتفاقهم، إلا ما نقل عن ابن سيرين من كراهته، وأما في الفرائض؛ فمنعه مالك والجمهور وقالوا: من اعتمد على عصا أو حائط ونحوه بحيث يسقط لو زال؛لم تصح صلاته

“Bersandar dengan tongkat, dibolehkan untuk shalat sunah dengan sepakat ulama. Kecuali riwayat Ibnu Sirin yang memakruhkan. Sementara untuk shalat wajib, dilarang bersandar menurut Imam Malik dan mayoritas ulama. Mereka mengatakan, ‘Siapa yang bersandar dengan tongkat atau tembok atau semacamnya, dimana dia bisa jatuh ketika sandaran itu dibuang, maka shalatnya tidak sah.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 3/265).

Fatwa yang sama juga disampaikan Imam Ibnu Utsaimin. Beliau pernah ditanya tentang shalat wajib sambil bersandar. Jawaban beliau,

أما الاتكاء وهو واقفٌ في الفريضة فإنه مكروه، وإذا كان لو أزيل المتكأ عليه لسقط بطلت الصلاة

Bersandar, ketika dia berdiri pada saat shalat wajib, hukumnya makruh. Dan ketika dia bersandar, dimana andai sandarannya dihilangkan, dia  jatuh, maka shalatnya batal. (Liqa’at Bab al-Maftuh, volume 168, no. 12).

[3] Untuk shalat sunah, dibolehkan sambil bersandar meskipun dia bisa berdiri dengan normal.

Ibnul Qasim mengatakan,

وسألت مالكا عن الرجل يصلي إلى جنب حائط فيتكئ على الحائط؟ فقال: أما في المكتوبة فلا يعجبني وأما في النافلة فلا أرى به بأسا

Saya bertanya kepada Imam Malik tentang orang yang shalat sambil miring dan bersandar ke tembok? Beliau mengatakan, “Untuk shalat wajib, saya tidak suka. Sedangkan untuk shalat sunah, menurutku tidak masalah.” (al-Mudawwanah, 1/169).

Demikian, Allahu a’lam…

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Tidak Ada Ganti Rugi untuk Barang yang Sudah Diperbaiki]]> https://konsultasisyariah.com/?p=30371 2017-10-17T04:23:15Z 2017-10-16T03:54:43Z

Tidak Ada Ganti Rugi untuk Barang yang Sudah Diperbaiki

Jika si A menjual motor ke si B. Setelah sampai rumah si B, motor itu bermasalah, misal bagian lampunya atau dinamo starter yg sedikit rusak.. sehingga dipastikan, cacat itu dari si A.. setelah si B memperbaikinya, bisa nyala dengan baik. Tapi si B tetap minta ganti rugi, apakah si A harus tetap memberikannya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam kajian mengenai fiqh jual beli, jika objek transaksi ada cacat, maka pembeli memiliki hak khiyar aib, yaitu hak antara membatalkan atau melanjutkan akad disebabkan adanya cacat pada barang.

Khiyar aib murni hak pembeli. Karena itu, dia punya hak tetap melanjutkan transaksi dengan meminta ganti rugi (al-Arsy) [الأرش]. Ukuran al-Arsy adalah selisih antara harga barang normal dengan harga barang setelah ada cacat.

Misalnya, HP merk X harga normal 3jt. Karena jek headset eror, harganya menjadi 2,8jt. Selisih 200rb disebut al-Arsy.

Istilah lain selain al-Arsy adalah badal juz’i [بدل الجزء], pengganti bagian tertentu (sparepart). Diantara kaidah fiqh jual beli, badal juz’idiberikan jika bentuk kekurangan masih ada. Kaidahnya menyatakan,

بدل الجزء لا يجب بدون بقاء النقصان

“Pengganti bagian yang rusak tidak wajib tanpa adanya bentuk kerusakan” (al-Mabsuth, as-Sarkhasi, 26/157).

Dalam arti, jika bentuk kerusakannya sudah hilang, karena diperbaiki, maka tidak ada kewajiban untuk memberikan arsy atau sparepart pengganti.

Ketika menjelaskan kaidah ini, Dr. Muhammad Shidqi al-Burnu menjelaskan,

إذا اشترى سلعة ثم ظهر فيها عيب ورضي البائع إعطاءه بدل نقصان العيب؛ ثم زال العيب فيجب على المشترى رد ما أخذه من البائع لزوال النقصان وهو سبب وجوب الأرش..

Jika seseorang membeli barang, lalu ada cacatnya, dan penjual siap memberikan ganti rugi karena cacat, kemudian cacat itu hilang, maka wajib bagi pembeli untuk mengembalikan ganti rugi yang telah dia ambil dari penjual. Karena bagian kekurangan telah hilang, yang ini merupakan sebab adanya al-Arsy. (Mausu’ah al-Qawaid al-Fiqhiyah, 2/1/26)

Karena itu, jika bagian cacat sudah diperbaiki dan kembali normal, maka penjual tidak berkewajiban untuk membayar ganti rugi seperti yang diminta konsumen.

Demikian. Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Kencing Kucing Najis ?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=30367 2017-10-17T04:24:21Z 2017-10-14T06:34:24Z

Hukum Air Kencing dan Kotoran Kucing

Banyak kucing ditempat kami, biasanya kucing sering ke masjid, apakah kencing kucing najis? Terima kasih sebelumnya

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Disebutkan dalam hadis bahwa ada seorang budak wanita yang mengantarkan makanan untuk Aisyah radhiallahu ‘anha, tapi ketika itu beliau sedang shalat. Kemudian budak ini meletakkan makanannya. Tiba-tiba datang seekor kucing dan memakan makanan itu. Setelah Aisyah selesai, beliau memakan bekas gigitan kucing. Kemudian Aisyah menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ

“Kucing itu tidak najis, karena mereka termasuk binatang yang sering berkeliaran di tengah-tengah kalian.”

Aisyah menambahkan,

قَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِفَضْلِهَا

“Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dari sisa air yang diminum kucing.” (HR. Abu Daud 76 dan disahihkan Al-Albani)

Hadis ini menunjukkan bahwa kucing adalah binatang yang suci, bulunya suci, dan air liurnya juga suci. Abu Yusuf, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad berpendapat bahwa kucing suci badannya dan air liurnya tanpa makruh. (Syarh Sunan Abu Daud, al-Aini, 1/221).

Alasan mengapa kucing itu binatang suci, karena dia tinggal bersama manusia. Sering berkeliaran di tengah manusia. Sehingga akan sangat memberatkan (masyaqqah) jika hewan semacam ini statusnya najis liurnya atau kulitnya. (Taudhih al-Ahkam, 1/139).

Hanya saja, kotoran kucing najis. Kencing kucing juga najis. Ini sebagaimana keledai. Dia binatang suci, boleh ditunggangi, liurnya suci, hanya saja kotoran dan kencingnya najis.

Dalam Taudhihul Ahkam dinyatakan,

أنَّه -صلى الله عليه وسلم- قال عن الهرَّة: “إنَّها ليست بنجس؛ إنَّها من الطوافين عليكم”، وهذه العلَّة موجودة في الحمار والبغل وأكثر؛ فإنَّ ركوبهما واستعمالهما أكثر لصوقًا وأمس حاجةً من الهِرَّة، فإذا عفي عن الهرَّة لتطوفها، فهو في الحمار والبغل أولى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang kucing, “Kucing itu tidak najis, karena mereka termasuk binatang yang sering berkeliaran di tengah-tengah kalian.” Latar belakang ini juga ada untuk keledai dan bighal (anak persilangan keledai dg kuda). Menunggangi keledai dan penggunaanya lebih sering menempel dengan kulit dan lebih dibutuhkan. Jika kucing tidak najis karena alasan sering berkeliaran, keledai dan bighal lebih layak tidak dihukumi najis.

Penulis juga mengatakan,

أجمع العلماء على أنَّ روث الحمار الأهلي والبغل، وبوله ودمه ولحمه: نجسة؛ لقوله -صلى الله عليه وسلم- في الحمار عن روثه: “إنَّه رجس”

Ulama sepakat bahwa kotoran keledai jinak dan bighal, kencingnya, darahnya, dan dagingnya adalah najis. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kotoran keledai, “Itu najis.” (Taudhih al-Ahkam, 1/176).

Karena itu, kotoran kucing dan kencing kucing adalah najis.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Hukum Hadiah untuk Konsumen]]> https://konsultasisyariah.com/?p=30364 2017-10-13T01:28:25Z 2017-10-13T01:25:56Z Hadiah untuk Konsumen

Perusahaan kami hendak membeli keju 8 karton/bln dari toko x. Harga keju 850 rb/karton. Kami melakukan kesepakatan untuk membeli selama 36 bulan. Kemudian pihak toko memberikan reward di awal periode kontrak dlm bentuk motor senilai 36 jt. Bagaimana status reward ini?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu diantara hadiah yang dijanjikan produsen kepada konsumennya, jika konsumen belanja sampai batas nilai tertentu, maka dia berhak menerima hadiah.

Ulama berbeda dalam menghukumi hadiah semacam ini. Perbedaan ini didasari perbedaan mereka dalam melakukan takyif fiqh* untuk kasus hadiah di atas.

*Takyif fiqh adalah pendekatan fiqh untuk memahami kasus. Istilah lainnya takhrij fiqh.

Pendekatan pertama,

Bahwa hadiah ini statusnya adalah janji hibah. Sementara uang yang dibayarkan adalah sebagai ganti untuk nilai barang (keju) dan bukan hadiah. Karena hadiah ini sama sekali tidak mempengaruhi harga. Tujuan utamanya adalah memotivasi pembeli untuk memenuhi target beli.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ولا يصح تعليق الهبة بشرط؛ لأنها تمليك لمعين في الحياة، فلم يجز تعليقها على شرط كالبيع، فإن علقها على شرط، كقول النبي – صَلَّى الله عَلَيْه وسلَّم -: (إن رجعت هديتنا إلى النجاشي فهي لك)، كان وعداً

Tidak sah menggantungkan hibah dengan syarat tertentu. Karena hibah sifatnya memberi kepada seseorang selama dia masih hidup. Karena itu tidak boleh digantungkan dengan syarat tertentu, seperti disyaratkan jual beli. Jika digantungkan dengan syarat tertentu, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika hadiah kami dikembalikan dari Najasyi, nanti jadi milikmu.” Sehingga statusnya sebagai janji. (al-Mughni, 8/250).

Terkait hadis di atas, kisahnya bahwa  ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Salamah, beliau menyampaikan kepada Ummu Salamah,

إِنِّي قَدْ أَهْدَيْتُ إِلَى النَّجَاشِيِّ حُلَّةً وَأَوَاقِيَّ مِنْ مِسْكٍ، وَلَا أَرَى النَّجَاشِيَّ إِلَّا قَدْ مَاتَ، وَلَا أَرَى إِلَّا هَدِيَّتِي مَرْدُودَةً عَلَيَّ، فَإِنْ رُدَّتْ عَلَيَّ فَهِيَ لَكِ

“Saya telah mengirim hadiah kepada Najasyi pakaian dan beberapa uqiyah misk, sementara Najasyi telah meninggal. Menurutku hadiahku itu akan dikembalikan kepadaku. Jika dia dikembalikan kepadaku, maka itu milikmu.”

Kejadiannya ternyata seperti yang beliau sabdakan, hadiah itu dikembalikan ke beliau. lalu semua istrinya diberi misk satu uqiyah dan sisanya diberikan ke Ummu Salamah berikut pakaiannya. (HR. Ahmad 27276)

Ibnu Qudamah memahami bahwa pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu Salamah sebelum hadiah itu sampai, statusnya janji hibah dan bukan hibah. Lalu beliau mengqiyaskan, untuk semua hibah yang menggantung, statusnnya bukan hibah tapi janji hibah.

Termasuk orang yang menyatakan, “Beli barang saya sekian, nanti saya kasih motor.” Di sini janji hibah, dan bukan hibah.

Konsekuensi dari pendekatan ini:

[1] Hadiah semacam ini dibolehkan, karena hukum asal muamalah adalah halal

[2] Pemberi hadiah tidak boleh menarik kembali hadiah itu setelah diberikan ke konsumennya. Meskipun akad transaksinya dibatalkan. Karena ada larangan menarik kembali pemberian.

[3] Boleh tidak memberitahukan jenis hadiah ini ke konsumen. Karena jahalah (ketidak jelasan) untuk transaksi tabarru’.

[4] Janji hadiah mungkin saja digagalkan menurut pendapat jumhur ulama.

Mengenai hukum menepati janji, ada 3 pendapat ulama,

Pertama, memenuhi janji hukumnya wajib secara mutlak

Ini pendapat Muhammad bin Hasan (Umdatul Qari, 12/121), salah satu pendapat ulama madzhab hambali (al-Inshaf, 11/152), dan yang dinilai kuat oleh Syaikhul Islam (al-Ikhtyarat al-Fiqhiyah, 331)

Kedua, memenuhi janji hukumnya tidak wajib, tapi anjuran

Ini pendapat jumhur ulama, dari Hanafiyah, Syafiiyah, Hambali (Umdatul Qari, 12/121) dan Ibnu Hazm (al-Muhalla, 8/28)

Ketiga, wajib memenuhi janji yang bersyarat. Dan tidak wajib untuk janji yang tidak bersayarat. Ini pendapat Malikiyah (al-Bayan wa at-Tahshil, 8/18)

Hadis:

Abdullah bin Amir radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Suatu hari Ibuku pernah memanggilku, ketika itu Rasulullah sedang duduk di rumahku.

“Hai sini, tak kasih.” Panggil ibuku.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada beliau, “Betul kamu mau ngasih sesuatu ke dia?”

“Saya mau memberinya sebiji kurma.” Jawab ibuku.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أما إنك لو لم تعطيه شيئاً كتبت عليك كذبة

“Jika kamu tidak memberikan apapun kepadanya, maka tercatat satu dosa kedustaan untukmu.” (HR. Abu Daud 4993 dan ulama beda pendapat tentang status keshahihannya)

Hadis ini dalil bahwa janji hibah yang tidak jadi diserahkan termasuk kedustaan.

Pendekatan kedua, hadiah ini termasuk bagian dari barang yang dijual. Sehingga harga barang yang harus dibayarkan konsumen adalah harga untuk barang dan sekaligus hadiahnya. Sehingga transaksi dilakukan untuk barang dan hadiah.

Dalam Tahdzib al-Furuq dinyatakan,

الهبة المقارنة للبيع إنما هي مجرد تسمية، فإذا قال شخص لآخر: أشتري منك دارك بمائة على أن تهبني ثوبك. ففعل، فالدار والثوب مبيعان معاً بمائة

Hibah yang disatukan dengan transaksi jual beli, statusnya hanya nama saja. Jika ada orang mengatakan, “Saya mau beli rumahmu seharga 100 dengan syarat, anda menghibahkan baju anda kepada saya.” Dan itu disanggupi. Maka rumah dan baju keduanya adalah barang dagangan yang harganya 100. (Tahdzib al-Furuq, 3/179)

Konsekuensi dari pendekatan ini,

[1] Bolehnya memberi dan menerima hadiah semacam ini, karena terhitung transaksi jual beli yang salling ridha. Dan hukum asal jual beli adalah halal.

[2] Berlaku semua syarat dalam transaksi jual beli untuk hadiah ini. Karena itu, jenis hadiah atau bonus yang diberikan harus jelas dan kriteriannya sesuai kesepakatan. Karena dia statusnya barang yang diperdagangkan.

[3] Berlaku semua hukum khiyar pada barang

[4] Wajib bagi penjual untuk menyerahkan hadiah itu, karena dia bagian dari transaksi

[5] Penjual boleh menarik kembali hadiah itu, jika transaksinya dibatalkan. Karena dia barang yang ditransaksikan.

Pendekatan ketiga,

Hadiah semacam ini statusnya sama dengan hibah tsawab. Karena tujuan utama penjual adalah meningkatkan penjualan. Sehingga tambahan keuntungan sebagai nilai pengganti atas hadiah yang diberikan.

Apa itu Hibah Tsawab?

Hibah tsawab adalah hibah yang diserahkan ke orang lain, dengan maksud mendapat ganti bayaran atas pemberiannya. (Syarh Hudud, Ibnu Arafah, 2/559)

Para Ulama membolehkan bentuk hibah semacam ini. Meskipun mereka berbeda pendapat dalam memahami hibah tsawab, apakah itu hibah ataukah jual beli.

[1] Pada saat penyerahan, statusnya hibah. Tapi melihat ujung konsekuensinya pemberian ini jual beli. ini merupakan pendapat Hanafiyah.

[2] Ini hakekatnya transaksi jual beli. Melihat dari penyerahan sampai ujung konsekuensinya. Ini merupakan pendapat Malikiyah, Syafiiyah dan Hambali. (al-Hawafiz at-Tijariyah, hlm. 105)

Konsekuensi dari pendekatan ini,

[1] Hadiah semacam ini dibolehkan, jika bayaran sebagai pengganti hibah diketahui nilainya. Karena syarat bolehnya hibah tsawab, harus diketahui nilai pengganti hibah. Demikian menurut jumhur ulama. (al-Hawafiz at-Tijariyah, hlm. 104)

[2] Penjual berhak untuk menarik kembali hibah ini jika dia tidak mendapatkan pengganti yang setimpal.

Ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’,

الوَاهِبُ أَحَقُّ بِـهِبَتِهِ مَا لَـمْ يُثَبْ عَلَيهَا

Orang yang memberi hibah lebih berhak terhadap hibahnya, selama tidak diberi balasan untuk hibahnya. (HR. Ibnu Majah 2477 namun hadis ini didhaifkan para ulama karena ada perawi yang bernama Ibrahim bin Ismail. Sementara Amr bin Dinar dengan Abu Hurairah, munqathi’. Demikian keterangan al-Kinani dalam Misbah az-Zujajah (2/236)

Hanya saja, dinyatakan al-Baihaqi dalam al-Kubro (no. 12383), bahwa ada riwayat yang lebih diterima (mahfudz) dari Umar bin Khatab  secara mauquf,

مَنْ وَهَبَ هِبَةً فَلَمْ يُثَبْ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِبَتِهِ إِلاَّ لِذِى رَحِمٍ

Siapa yang menghibahkan sesuatu kemudian tidak dibalas, maka dia lebih berhak terhadap hibahnya. Kecuali hibah untuk kelurga.

Al-Baihaqi menyebutkan komentar al-Bukhari yang menyatakan, “Ini lebih shahih”

Hadis ini juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Talkhis al-Habir (3/171).

Melihat batasan mengenai hibah tsawab, hadiah dari perusahaan untuk konsumen yang belanja banyak, mungkin tidak tepat jika disamakan dengan hibah tsawab. Karena tujuan perusahaan memberi hadiah ini bukan untuk diganti dengan bayaran. Tapi untuk mengikat konsumen agar belanja lebih banyak.

Sementara konsumen membeli banyak, tujuannya semata bukan karena hadiah, tapi tujuan utamanya adalah karena ingin mendapatkan barang dan layanan.

Pendekatan keempat,

Hadiah semacam ini hukumnya dilarang, karena mengantarkan manusia untuk memakan harta orang lain secara bathil. Karena hadiah ini jadi syarat jual beli, sehingga membahayakan pedagang yang lain.

Ini merupakan fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Dan beliau melarang bentuk-bentuk hadiah yang diberikan perusahaan untuk konsumen. (Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, no. 1580).

Konsekuensi dari pendekatan ini,

Larangan memberi maupun menerima hadiah semacam ini. Dengan alasan,

[1] Ada indikator pengelabuhan (hilah) terhadap masyarakat, sehingga bisa mengambil harta mereka dengan cara legal.

[2] Hadiah ini sejatinya masuk transaksi muawadhah (komersil), bukan tabarru’ (murni sosial). Sementara jika dia transaksi muawadhah, di sana tidak ada penyeimbang (iwadh) yang diterima oleh pemberi hadiah.

[3] Keberadaan hadiah semacam ini di masyarakat, bisa merusak pasar. Terutama untuk pedagang yang tidak memberikan hadiah atau pertimbangan konsumen yang tidak sehat dalam memilih barang.

Dari keempat pendekatan di atas, dapat kita simpulkan sebagai berikut,

[1] Hadiah itu termasuk hibah mutlak yang dijanjikan, dan hibah ini baru mengikat jika sudah diserah-terimakan, sehingga tidak boleh ditarik kembali oleh pemberi hibah. Dan karena janji, hibah memungkinkan dibatalkan sebelum diserahkan.

[2] Hadiah itu termasuk bagian dari barang yang dijual. Sehingga nilainya harus jelas. Dan boleh dibatalkan jika pembeli membatalkan akad sebelum target.

[3] Hadiah ini sama seperti hibah tsawab yang tujuannya untuk diganti dengan bayaran. Sehingga nilai bayarannya harus jelas dan terukur. Hibah bisa ditarik, meskipun tidak mempengaruhi keabsahan transaksi.

Dari ketiga pendekatan di atas, para ulama membolehkannya. Hanya saja, masing-masing berbeda konsekuensinya.

[4] Bahwa hadiah statusnya terlarang karena memberi peluang untuk makan harta orang lain tanpa alasan yang dibenarkan.

Dan kita bisa menilai, pendekatan keempat ini lemah. Karena mereka memberikan hibah ini saling ridha, tanpa ada paksaan. Dan mereka saling mendapatkan keuntungan. Masalah hibah ini bisa merusak harga, ini tidak mempengaruhi hukum. Karena penjual dibenarkan untuk menurunkan harga barangnya di bawah harga pasar. Sebagaimana yang pernah menjadi keputusan Umar bin Khatab. Disamping itu, konsumen juga memiliki hak khiyar, sehingga dia bisa menimbang kelangsungan transaksi.

Inilah yang menjadi alasan beberapa ulama membolehkan janji hadiah untuk konsumen.

Kemudian, jika itu dibolehkan, apakah hadiah ini termasuk bagian dari barang yang dijual?

Yang lebih mendekati, tidak termasuk. Karena keberadaan hadiah ini tidak mempengaruhi harga barang. Dan harga yang ditawarkan, di luar keberadaan hadiah.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa hadiah ini statusnya janji hibah, sebagaimana pendekatan yang pertama. (al-Hawafiz at-Tijariyah, hlm. 109)

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai hadiah untuk konsumen yang memenuhi target belanja dengan nilai tertentu. Jawaban beliau,

إذا كانت السلعة التي يبيعها هذا التاجر الذي جعل الجائزة لمن تجاوزت قيمة مشترياته كذا وكذا إذا كانت السلع تباع بقيمة المثل في الأسواق فإن هذا لا بأس به

Mengenai barang dagangan yang dijual pedagang ini, yang dia menjanjikan hadiah bagi konsumen yang belanjanya memenuhi target sekian, jika barang ini dijual dengan harga standar pasar, hadiah semacam ini dibolehkan. (Fatawa at-Tujjar wa Rijal al-A’mal, Ibnu Utsaimin, hlm. 38)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Siapakah Malaikat Jibril? (bagian 01)]]> https://konsultasisyariah.com/?p=30358 2017-10-12T02:11:26Z 2017-10-12T02:11:02Z Mengenal Malaikat Jibril

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kita akan mengenal malaikat yang paling mulia, Jibril ‘alaihis salam

Jibril dalam bahasa lain disebut Jibrail [جبرائيل]. Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa ini merupakan bahasa Ibrani, susunan dari dua kata: Jibr [جبر] yang artinya hamba, dan kata iil [إيل] yang merupakan salah satu dari nama Allah. Sehingga arti dari Jibrail adalah Abdullah (hamba Allah).  (at-Tahrir wa at-Tanzil, Ibnu Asyur, 1/620).

Ukuran Fisik Jibril

Jibril diciptakan dari cahaya, sebagaimana umumnya malaikat yang lainnya.

Disebutkan dalam hadis dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari nyala api… (HR. Muslim 2996).

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Jibril dalam wujud aslinya dua kali.

Allah berfirman,

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى

“Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (13) (yaitu) di Sidratil Muntaha.” (QS. An-Najm: 13-14).

Aisyah pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini.

Beliau bersabda,

إنما هو جبريل، لم أره على صورته التي خُلق عليها غير هاتين المرتين. رأيته منهبطاً من السماء، سادّاً عِظَمُ خَلْقه ما بين السماء إلى الأرض

Itu adalah Jibril. Aku belum pernah melihatnya dalam bentuk asli selain di dua kesempatan ini. Aku melihatnya turun dari langit, besar fisiknya menutupi antara langit dan bumi. (HR. Muslim 177).

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى جِبْرِيلَ لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Jibril, dengan 600 sayap.” (HR. Bukhari 3232 dan Muslim 174)

Dalam riwayat lain, Ibnu Mas’ud mengatakan,

رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلامُ فِي صُورَتِهِ لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ قَدْ سَدَّ الأُفُقَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Jibril dalam wujud aslinya, beliau memiliki 600 sayap, yang menutupi ufuq. (HR. al-Fakihi dalam Akhbar Makkah, al-Fakihi, 2306).

Jibril adalah ar-Ruh

Allah menyebut Jibril dengan ar-Ruh al-Amin (Ruh yang amanah)

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ  نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ  عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. (QS. As-Syu’ara’: 192 – 194)

Beliau digelari dengan Ruh al-Qudus (Ruh suci)

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman… (QS. An-Nahl: 102).

Jibril digelari dengan ar-Ruh karena malaikat adalah alam ruh, alam ghaib yang tidak terindra oleh manusia. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 19/189).

Ada juga yang mengatakan, Jibril digelari ar-Ruh karena beliau malaikat yang membawa wahyu kepada para nabi. Dan wahyu adalah sumber kehidupan bagi agama, sebagaimana jasad bisa hidup karena ada ruh. (Tafsir ar-Razi, 3/596).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Shalat Jenazah Tidak Tahu Jenis Kelaminnya]]> https://konsultasisyariah.com/?p=30349 2017-10-11T02:50:36Z 2017-10-11T02:23:58Z Tidak Tahu Jenis Kelamin Mayit Waktu Shalat Jenazah

Bagaimana doa shalat jenazah jika kita tidak tahu jenis kelaminnya? Apakah laki atau perempuan..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Tidak disyaratkan dalam shalat jenazah harus mengetahui jenis kelamin mayit yang dishalati. Sebagaimana pula tidak dipersyaratkan harus mengetahui nama mayit.

An-Nawawi mengatakan,

ولا يفتقر إلى تعيين الميت، وأنه زيد أو عمرو أو امرأة أو رجل ، بل يكفيه نية الصلاة على هذا الميت وإن كان مأموما ونوى الصلاة على من يصلي عليه الإمام كفاه ، صرح به البغوي وغيره

Shalat jenazah tidak harus diniatkan untuk mayit tertentu. Seperti diniatkan untuk mayit bernama Zaid, atau Amr, atau seorang wanita atau seorang lelaki. Namun cukup dengan niat menshalatkan jenazah yang bersangkutan. Dan jika dia sebagai makmum shalat jenazah, lalu dia berniat shalat sebagaimana yang diniatkan imam, itu sah. Demikian yang ditegaskan al-Baghawi dan yang lainnya. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 5/230).

Keterangan yang lain juga disebutkan dalam kitab Kifayatul Akhyar,

ولا يشترط تعين الميت بل لو نوى الصلاة على من صلى عليه الإمام كفى

Tidak disyaratkan harus meniatkan shalat jenazah untuk mayit tertentu. Bahwa jika berniat shalat jenazah sebagaimana niatnya imam, itu sudah cukup.  (Kifayatul Akhyar, hlm. 162).

Karena inti dari shalat jenazah adalah mendoakan mayit yang bersangkutan. Sekalipun kita tidak tahu jenis kelaminnya, tidak tahu namanya, selama dia muslim, maka doa kita bisa bermanfaat baginya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan” (HR. Bukhari & Muslim)

Bagaimana dengan Kata Ganti dalam Doanya?

Kata ganti orang ketiga dalam bahasa arab dibedakan untuk lelaki (mudzakkar) dan perempuan (muannats). Dalam posisinya sebagai objek, kata “dia lelaki” digunakan [هُـ]. Sementara kata “dia perempuan” digunakan [هَا].

Dalam bahasa arab, kata benda juga terbagi menjadi mudzakar dan muannats. Salah satu diantara cirinya adalah adalah kata muannats bertandakan huruf ta’ melingkar (marbuthah) ditulis [ة]. Sementara kata benda mudzakkar, umumnya tidak menggunakan ta’ marbuthah.

Sebagai contoh:

Kata mayit [المَيِّتُ] adalah kata mudzakkar, diantara cirinya tidak ada huruf ta’ marbuthah. Sehingga jika dibuat kata ganti (dhamir) bisa menggunakan huruf hu [هُـ].

Kata jenazah [الجَنَازَةُ] adalah kata muannats, diantara cirinya ada huruf ta’ marbuthah. Sehingga jika dibuat kata ganti (dhamir) bisa menggunakan huruf haa [هَا].

Sementara dalam shalat jenazah, kita bisa mendoakan dengan redaksi: “Ya Allah, ampunilah mayit ini…”, atau bisa juga dengan redaksi, “Ya Allah, ampunilah jenazah ini…”

Oleh karena itu, sekalipun kita tidak tahu jenis kelamin jenazah, menggunakan dhamir (kata) ganti apapun, tetap benar.

Misalnya, anda membaca doa ketika shalat jenazah,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ …

/Allahummagh-fir laHU war hamHU wa ‘aafiiHI wa’fu’anHU /

“Ya Allah berilah ampunan kepadanya, sayangilah ia, jagalah ia dan maafkanlah ia..”

Anda menggunakan kata ganti (dhamir) ‘hu’ dengan niat ditujukan kepada mayit. Sehingga kalimat “Ya Allah berilah ampunan kepadanya…” maksud kata ‘nya’ adalah mayit [المَيِّت], yang merupakan kata mudzakkar. Sehingga apapun jenis kelamin mayit, tidak mempengaruhi doa ini.

Atau misalnya,

anda membaca doa ketika shalat jenazah,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا …

/Allahummagh-fir laHA war hamHA wa ‘aafiiHA wa’fu’anHA /

“Ya Allah berilah ampunan kepadanya, sayangilah ia, jagalah ia dan maafkanlah ia..”

Anda menggunakan kata ganti (dhamir) ‘ha’ dengan niat ditujukan kepada jenazah. Sehingga kalimat “Ya Allah berilah ampunan kepadanya…” maksud kata ‘nya’ adalah jenazah [الجَنَازَةُ], yang merupakan kata muannats. Sehingga apapun jenis kelamin mayit, tidak mempengaruhi doa ini.

Mohon maaf, jika penjelasannya sulit dipahami bagi mereka yang belum kenal bahasa arab. Penjelasan yang lain, bisa anda dapatkan di: Doa Shalat Jenazah untuk Mayit Perempuan

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang hukum mengumumkan jenis kelamin jenazah sebelum dishalati. Jawab beliau,

لا بأس بالإخبار عن الميت أذكر أم أنثى عند تقديمه للصلاة عليه إذا لم يعرف المصلون ذلك من أجل أن يدعوا له دعاء التذكير إن كان ذكراً ، ودعاء التأنيث إن كان أنثى

“Tidak masalah mengumumkan jenis kelamin mayit; apakah mayitnya lelaki ataukah perempuan sebelum pelaksanakan shalat jenazah, tertutama jika jamaah yang hendak menyolatkan tidak mengetahui jenis kelamin mayit. Agar mereka berdoa dengan kata ganti mudzakkar jika mayitnya laki-laki, atau mendoakan dengan kata ganti muannats jika mayitnya perempuan.

Kemudian beliau melanjutkan,

وإن لم يفعل فلا بأس أيضاً ، وينوي المصلون الذين لا يعلمون عن هذا الميت ينوون [ الصلاة ] على الحاضر الذي بين أيديهم ، وتجزؤهم الصلاة سواء قالوا بلفظ المذكر ( اللهم اغفر له ) ، أي لهذا الحاضر بين أيدينا ، أو بلفظ المؤنث ( اللهم اغفر لها ) ، أي لهذه الجنازة التي بين أيدينا

Dan jika tidak diumumkan, juga tidak masalah. Para jamaah yang tidak mengetahui jenis kelamin mayit, bisa berniat shalat jenazah untuk mayit yang ada di depan. Dan shalatnya sah, baik membaca doa dengan lafal mudzakkar [اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ] dengan maksud untuk mayit yang ada di depan atau dengan lafal muannats [اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا] dengan maksud untuk jenazah yang ada di depan. (Majmu’ fatawa war rasaail Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 17/103).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Imam Shalat Tidak Pakai Peci]]> https://konsultasisyariah.com/?p=30339 2017-10-11T09:08:59Z 2017-10-10T01:31:25Z

Tidak Pakai Peci/Songkok Dilarang Mengimami Shalat Jamaah?

Bolehkah shalat di belakang imam yang tidak memakai peci? Krn ada orang yang gak mau shalat d belakang imam yang tidak memakai peci…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Diantara syarat sah shalat adalah menutup aurat. Dan para ulama sepakat bahwa kepala bukan termasuk aurat. Disebutkan dalam riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita,

أنَّ النَّبيَّ – صلَّى الله عليه وسلَّم – كان رُبَّما نزع قَلَنْسُوَتَه فجعلها سُترةً بين يديه

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang melepas pecinya, lalu beliau jadikan sebagai sutrah di depannya.

Keterangan: Sayid Sabiq menyebutkan dalam Fiqh Sunah bahwa hadis ini diriwayatkan Ibnu Asakir. (Fiqh as-Sunah, 1/128).

Artikel menarik: Shalat tidak Khusyu’, Wajib Diulang?

Dan diantara dalil yang paling tegas adalah kondisi jamaah haji. Dalam kondisi ihram, jamaah haji tidak boleh menggunakan tutup kepala. Sementara mereka melaksanakan shalat berjamaah, dengan imam sesama jamaah haji.

Imam Ibnu Baz –rahimahullah– mengatakan,

الصلاة بغير عمامة لا حرج فيها؛ لأن الرأس ليس بعورة ، ولا يجب ستره في الصلاة ، سواء كان المصلي إماما أو منفردا أو مأموما ، ولكن إذا لبس العمامة المعتادة كان أفضل ، ولا سيما إذا صلى مع الناس

Shalat tanpa mengenakan tutup kepala tidak masalah. Karena kepala bukan termasuk aurat. Dan tidak wajib menutup kepala ketika shalat. Baik orang yang shalat itu menjadi imam atau shalat sendirian, atau menjadi makmum. Namun jika dia menggunakan tutup kepala sebagaimana umumnya orang, itu lebih baik. Terlebih jika dia menjadi imam.

Kemudian beliau melanjutkan,

ومعلوم أن المحرمين من الذكور يصلون كاشفي الرؤوس؛ لكونهم ممنوعين من سترها حال الإحرام ، فعلم بذلك أن كشف الرأس في الصلاة لا حرج فيه

Kita mengetahui bersama bahwa para lelaki yang sedang ihram, mereka shalat dalam kondisi kepalanya terbuka. Karena mereka dilarang menutup kepala ketika ihram. Sehingga dipahami bahwa membiarkan kepala terbuka ketika shalat, hukumnya boleh.

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/fatawa/2465

Keterangan yang lain, disampaikan dalam Fatawa al-Azhar, di bawah mufti Syaikh Hasan Makmun. Beliau ditanya tentang hukum imam shalat jamaah yang tidak memakai peci.

Jawaban beliau,

أن صلاة الرجل إماما كان أو مأموما أو منفردا عاري الرأس صحيحة فى جميع المذاهب، لأن شرط صحة الصلاة ستر العورة، ورأس الرجل ليست عورة باتفاق حتى يشترط لصحة الصلاة سترها، ولكن الأفضل تغطية الرأس فى الصلاة

Shalat seseorang sebagai imam atau makmum atau sendiri dengan kepala terbuka, hukumnya sah menurut semua madzhab ulama. Karena syarat sah shalat adalah menutup aurat. Sementara kepala lelaki bukan termasuk aurat dengan sepakat ulama. Hanya saja yang afdhal, menutup kepala ketika shalat. (Fatawa al-Azhar, 1/47 – Dzulhijjah 1374 H).

Artikel menarik: Cara Membatalkan Shalat Ketika Iqamah

Dianjurkan Berhias, Mengenakan Pakaian Paling Sopan

Ketika shalat, kita dianjurkan untuk berdandan mengenakan pakaian paling sopan.

Allah berfirman,

يَابَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Wahai Bani Adam, gunakan perhiasan kalian setiap kali masuk masjid.” (QS. Al-A’raf: 31).

Juga dinyatakan dalam hadis dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَلْبَسْ ثَوْبَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ أَحَقُّ مَنْ تُزِيِّنَ لَهُ

Apabila kalian shalat, maka gunakanlah 2 kain (atasan dan bawahan). Karena kita paling berhak untuk berhias di hadapan Allah. (HR. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubro 3271, Thabrani dalam al-Ausath 9368 dan dihasankan al-Albani).

Karena itulah, kita dianjurkan untuk menggunakan pakaian terbaik ketika shalat. Terutama ketika dia menjadi imam, diharapkan untuk melakukan yang paling sempurna. Baik sempurna dari sisi ibadahnya shalatnya, termasuk sempurna dari sisi penampilannya.

Dan di masyarakat kita, mengenakan peci ketika acara resmi, juga ketika shalat, termasuk bagian kesempurnaan penampilan. Karenanya, jika ada khatib jumat yang tidak berpeci, bagi masyarakat, itu penampilan yang tidak sempurna.

Meskipun peci bukan syarat sah jadi imam. Karena itu, sikap sebagian orang yang tidak mau bermakmum di belakang imam yang tidak berpeci, adalah tindakan yang tidak benar. Terdapat kaidah yang menyatakan,

من صحت صلاته صحت إمامته

“Siapa yang shalatnya sah maka sah jadi imam.”

Kaidah ini dinyatakan as-Shan’ani dalam Subulus Salam. Beliau mengatakan,

إن الأصل أن من صحت صلاته صحت إمامته، وأيد ذلك فعل الصحابة فإنه أخرج البخاري في التاريخ عن عبد الكريم أنه قال: أدركت عشرة من أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم يصلون خلف أئمة الجور

Hukum asalnya bahwa siapa yan shalatnya sah maka sah jadi imam. Dan ini didukung oleh perbuatan sahabat, yang diriwayatkan Bukhari dalam kitab at-Tarikh dari Abdul Karim, beliau menyatakan, “Kami menjumpai 10 sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka shalat di belakang imam yang suka berbuat dzalim. (Subulus Salam, 1/373).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ahmad Anshori <![CDATA[Tidak Boleh Beli Beras dengan Cara Berutang?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=30329 2017-10-11T03:28:33Z 2017-10-09T01:38:50Z

Bolehkah Beli Beras dengan Cara Berutang? 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Beras adalah salah satu dari enam benda ribawi. Sebagaimana kurma, gandum halus, gandum kasar dan garam.

Ada aturan khusus yang berlaku pada enam benda ribawi tersebut. Sehingga wajar bila muncul keraguan, apakah boleh membeli beras dengan cara berutang. Mengingat ada hadis yang menyinggung, bahwa transaksi benda ribawi harus tunai atau kontan.

Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,

الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلاً بمثل سواء بسواء يدا بيد، فإذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم إذا كان يداً بيد.

Jika emas dibarter dengan emas, perak dibarter dengan perak, gandum bur (halus) dibarter dengan gandum bur, gandum sya’ir (kasar) dibarter dengan gandum sya’ir, kurma dibarter dengan kurma, garam dibarter dengan garam, maka takarannya harus sama dan harus tunai. Jika benda yang dibarterkan berbeda, maka takarannya boleh sesuka hati kalian, asalkan tunai/kontan.” (HR. Muslim)

Aturan Baku Dalam Benda Ribawi

Dari hadis di atas, disimpulkan aturan baku yang berlaku dalam enam benda ribawi :

Pertama, jika tukar menukar itu dilakukan untuk barang yang sejenis, maka ada 2 syarat yang harus dipenuhi, yaitu wajib sama kuantitas dan tunai.

Misal emas dengan emas, perak dengan perak, rupiah dengan rupiah, atau kurma jenis A dengan kurma jenis B, dst, dalam transaksi di atas Nabi shallallahualaihi wa sallam menegaskan,

مثلاً بمثل سواء بسواء يدا بيد

Takarannya harus sama, ukurannya harus sama dan dari tangan ke tangan (tunai).

Dan jika dalam transaksi itu ada kelebihan, statusnya riba.

Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda,

فمن زاد أو استزاد فقد أربى، الآخذ والمعطي فيه سواء

Siapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Dia yang mengambil maupun yang memberinya, sama-sama berada dalam dosa..

Kedua, jika barter dilakukan antar barang yang berbeda, namun masih satu kelompok, syaratnya satu : wajib tunai.

Misal: Emas dengan perak. Boleh beda berat, tapi wajib tunai. Termasuk rupiah dengan dolar, Sama-sama mata uang, boleh beda nilai, tapi harus tunai. Termasuk juga barter antara kurma dengan gandum atau beras dengan tepung.

Dalam hadis di atas Nabi menegaskan,

فإذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم إذا كان يداً بيد

Jika benda yang dibarterkan berbeda, maka takarannya boleh sesuka hati kalian, asalkan dari tangan ke tangan (tunai).

Ketiga, jika barter dilakukan untuk benda yang beda kelompok. Tidak ada aturan khusus untuk hal ini. Sehingga boleh tidak sama dan boleh tidak tunai.

Misal jual beli beras dengan dibayar uang atau jual beli garam dibayar dengan uang. Semua boleh terhutang selama saling ridha.
(Referensi: Buku: Ada Apa dengan Riba, Ust. Ammi Nur Baits, hal.68-69).

Membeli Beras dengan Berutang, Bolehkah?

Kasus membeli beras dengan cara berutang, hakikatnya adalah tukar menukar benda ribawi dengan benda ribawi lainnya yang beda kelompok. Yaitu antara beras dengan uang. Para ulama menggolongkan uang ke dalam benda ribawi, diqiyaskan dengan emas dan perak.

Sehingga aturan yang berlaku dalam ini adalah poin ketiga, yakni boleh tidak sama dan boleh tidak tunai atau hutang.

Namun ada syarat yang harus terpenuhi, yaitu barang yang terhutang tersebut harus jelas takarannya, harganya jelas dan waktu pelunasan juga jelas.

Nabi shallallahualaihi wasallam menegaskan,

من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

“Barang siapa yang berhutang dalam membeli sesuatu, maka jumlah takaran barang harus jelas, beratnya jelas, dan hingga tempo yang sudah ditentukan (melalui kesepakan kedua belah pihak).” (Muttafaqun ‘alaih)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, pernah ditanya tentang hukum beli kurma dengan cara hutang, beliau menjawab,

…فلا حرج في ذلك، إذا كان المبيع معلوماً، والثمن معلوماً، والأجل معلوماً – إن كان مؤجلاً

Tidak masalah membeli kurma dengan cara hutang, asal barangnya jelas, harganya jelas dan waktu pelunasan juga jelas…

(Fatwa beliau bisa dilihat di : http://www.binbaz.org.sa/fatawa/3874)

Demikian…

Wallahua’lam bis showab.

Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Apakah Arsy itu Makhluk?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=30326 2017-10-10T07:43:11Z 2017-10-07T01:36:50Z

Arsy itu Makhluk

Apakah arsy itu makhluk? Mohon penjelasannya sesuai Al-Quran dan hadis, matur suwun

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam kitab al-Ushul ats-Tsalatsah (3 landasan utama), Imam Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi mengatakan,

وكل ما سوى الله عالم، وأنا واحد من ذلك العالم

“Semua selain Allah adalah alam. Dan saya salah satu bagian dari alam.” (al-Ushul ats-Tsalarsah, hlm. 3)

Dan Arsy selain Allah, sehingga Arsy termasuk alam. Dan Allah Rab semesta alam. Allah berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Rab semesta alam.” (QS. Al-Fatihah)

Allah juga menyatakan bahwa Dia Rabnya Arsy. Allah berfirman,

وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Dan Dia Rab al-Arsy yang agung.” (QS. At-Taubah: 129)

Allah juga berfirman,

فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Maka Maha Suci Allah Rab ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya: 22)

Allah juga berfirman,

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Rab ‘Arsy yang mulia. (QS. Al-Mukminun: 116).

Dalil tentang ini sangat banyak, yang menunjukkan bahwa Arsy adalah makhluk Allah.

Karena Allah adalah Sang Khaliq, sehingga segala sesuatu selain Allah adalah makhluk ciptaan-Nya. Allah berfirman,

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah yang menciptakan segala sesuatu.” (QS. Ar-Ra’d: 16 dan az-Zumar: 62).

Para ulama sepakat, Arsy adalah makhluk

Ada beberapa penegasan dari para ulama bahwa Arsy adalah makhluk. Diantaranya,

[1] Penegasan dari Ibnu Hazm,

اتفقوا أن الله وحده لا شريك له ، خالق كل شيء غيره ، وأنه تعالى لم يزل وحده ، ولا شيء غيرُه معه ، ثم خلق الأشياء كلَّها كما شاء، وأن النفس مخلوقة، والعرش مخلوق، والعالم كله مخلوق

Ulama sepakat bahwa Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, pencipta segala sesuatu selain Dia. Dia selalu Maha Esa. Tiada sesuatu selain Allah yang membersamai-Nya. Kemudian Dia mencipatakan segala sesuatu sesuai yang Dia inginkan. Jiwa itu makhluk, arsy itu makhluk, dan alam semuanya adalah makhluk. (Maratib al-Ijma’, hlm. 167).

[2] Keterangan Syaikhul Islam,

العرش مخلوق أيضا فإنه يقول: ” وهو رب العرش العظيم ” وهو خالق كل شيء: العرش وغيره ورب كل شيء: العرش وغيره

Arsy juga makhluk, karena Allah berfirman, (yang artinya), “Dia Rab Arsy yang agung.” Dia menciptakan segala sesuatu, arsy dan yang lainnya. Rab segala sesuatu, arsy dan yang lainnya. (Majmu’ Fatawa, 18/214).

[3] Keterangan  ad-Dzahabi,

وسلف الأمة وأئمتها يقولون: إن القرآن والسنة قد دلا على أن العرش مخلوق من مخلوقات الله تعالى خلقه وأوجده؛ قال تعالى {وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ} [التوبة 129] ، فالعرش موصوف بأنه مربوب وكل مربوب مخلوق، فالعرش مخلوق من مخلوقات الله

Generasi umat masa silam dan para ulamanya mengatakan bahwa al-Quran dan Sunah menegaskan, bahwa Arsy merupakan salah satu makhluk Allah Ta’ala. Allah yang menciptakan-Nya dan mewujudkan-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Dia Rab al-Arsy yang agung.” (QS. At-Taubah: 129). Arsy disifati dengan marbub. Dan semua yang marbub adalah makhluk. Sehingga Arsy termasuk salah satu makhluk Allah. (al-Arsy li ad-Dzahabi, 1/307).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>