Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam KonsultasiSyariah.com 2017-08-23T01:38:51Z https://konsultasisyariah.com/feed/atom WordPress Redaksi KonsultasiSyariah.com <![CDATA[Kumpulan Artikel Seputar Qurban & Dzulhijjah]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29913 2017-08-23T01:38:51Z 2017-08-23T01:38:51Z Artikel Seputar Qurban & Dzulhijjah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Berikut 30 artikel seputar Dzulhijjah dan ibadah qurban. Semoga memudahkan untuk dijadikan teman belajar,

  1. Amalan bulan Dzulhijjah

https://konsultasisyariah.com/8233-amalan-bulan-dzulhijjah.html

  1. Sunah yang hilang di bulan Dzulhijjah

https://konsultasisyariah.com/20588-sunah-yang-hilang-di-bulan-dzulhijjah.html

  1. Adakah puasa khusus di tanggal 8 Dzulhijjah?

https://konsultasisyariah.com/8241-puasa-khusus-8-dzulhijjah.html

  1. Mampu tapi tidak berqurban, berdosa?

https://konsultasisyariah.com/28263-mampu-qurban-tapi-tidak-berqurban-berdosa.html

  1. Qurban seekor kambing untuk satu keluarga

https://konsultasisyariah.com/8043-kurban-satu-ekor-kambing-untuk-sekeluarga.html

  1. Berqurban atas nama orang yang sudah meninggal

https://konsultasisyariah.com/627-bolehkah-berqurban-untuk-orang-yang-sudah-meninggal.html

  1. Qurban atas nama ortu yang pikun

https://konsultasisyariah.com/29876-qurban-untuk-ortu-yang-pikun.html

  1. Mana yang lebih afdhal 1/7 sapi atau seekor kambing

https://konsultasisyariah.com/8180-kurban-sapi-atau-kambing.html

  1. Urunan qurban kambing

https://konsultasisyariah.com/14519-boleh-urunan-qurban-kambing.html

  1. Hukum utang untuk qurban

https://konsultasisyariah.com/25337-hukum-utang-untuk-qurban.html

  1. Menggabungkan qurban dengan aqiqah

https://konsultasisyariah.com/8054-menggabungkan-akikah-dengan-kurban.html

  1. Doa menyembelih qurban

https://konsultasisyariah.com/14465-doa-menyembelih-qurban.html

  1. Syarat halal hewan sembelihan

https://konsultasisyariah.com/8427-hewan-sembelihan.html

  1. Tata cara menyembelih qurban

https://konsultasisyariah.com/8513-tata-cara-menyembelih-sesuai-sunah.html

  1. Menyembelih qurban sebelum shalat id, batal

https://konsultasisyariah.com/23564-menyembelih-qurban-sebelum-shalat-wajib-ganti.html

  1. Pisau lepas ketika menyembelih, haram?

https://konsultasisyariah.com/29900-pisau-lepas-ketika-menyembelih-haram-dimakan.html

  1. Larangan memotong kuku atau rambut ketika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, bagi yang henda berqurban

https://konsultasisyariah.com/8210-larangan-bagi-seseorang-yang-hendak-berkurban.html

  1. Apakah memotong kuku sebelum menyembelih qurban, menyebabkan qurbannya tidak sah?

https://konsultasisyariah.com/14473-orang-yang-memotong-kuku-sebelum-menyembelih-qurbannya-tidak-sah.html

  1. Bagi siapa larangan memotong kuku itu? Apakah termasuk keluarga sohibul qurban?

https://konsultasisyariah.com/8221-untuk-siapa-saja-larangan-memotong-kuku-dan-rambut-pada-saat-kurban.html

  1. Qurban online

https://konsultasisyariah.com/8044-hukum-kurban-online.html

  1. Kriteria hewan qurban

https://konsultasisyariah.com/8166-kriteria-hewan-kurban.html

  1. Qurban dengan hewan betina

https://konsultasisyariah.com/7963-kurban-dengan-kambing-betina.html

  1. Cacat hewan qurban

https://konsultasisyariah.com/8171-cacat-hewan-kurban.html

  1. Menyembelih hewan cacat karena kecelakaan

https://konsultasisyariah.com/8175-hewan-kurban-cacat-karena-kecelakaan.html

  1. Orang kafir ikut urunan qurban sapi

https://konsultasisyariah.com/28213-orang-kafir-ikut-urunan-kurban-sapi.html

  1. Menerima hadiah qurban dari orang kafir

https://konsultasisyariah.com/28311-menerima-qurban-dari-orang-kafir.html

  1. Jamaah haji tidak boleh qurban di tanah air

https://konsultasisyariah.com/29904-jamaah-haji-tidak-boleh-berqurban-di-tanah-air.html

  1. Jatah maksimal sohibul qurban

https://konsultasisyariah.com/29904-jamaah-haji-tidak-boleh-berqurban-di-tanah-air.html

  1. Tidak ada amil untuk qurban

https://konsultasisyariah.com/29910-tidak-ada-amil-untuk-qurban.html

  1. Bolehkah orang kafir diberi hewan qurban?

https://konsultasisyariah.com/8061-memberikan-daging-kurban-kepada-orang-kafir.html

Demikian, semoga bermanfaat…

]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Tidak Ada Amil untuk Qurban]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29910 2017-08-22T01:10:02Z 2017-08-22T01:08:51Z Adakah Amil untuk Qurban?

Apakah amil qurban berhak mendapat jatah khusus…? Jk boleh, maks. berapa?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kesalahan dalam definisi, bisa menyebabkan kesalahan dalam amal. Karena itulah, bagian dari adab dalam belajar, ketika kita menemukan suatu istilah, kita harus mengembalikan definisi itu kepada pejelasan sesuai ruang lingkupnya.

Sebagai contoh, istilah amil. Istilah ini Allah sebutkan dalam al-Quran, ketika Allah membahas masalah zakat. Untuk itu, ketika kita hendak memahami istilah amil, kita kembalikan definisi istilah ini dalam kajian fiqh zakat.  Agar kita tidak membuat definisi sendiri yang tidak didukung referensi.

Mengenai definisi amil zakat, As-Syaukani mengatakan,

“والعاملين عليها”: أي السعاة والجباة الذين يبعثهم الإمام لتحصيل الزكاة

‘Amil zakat’ adalah petugas yang diutus oleh pemimpin (imam) untuk menarik zakat. (Fathul Qadir, 2/531)

Berdasarkan definisi di atas, istilah amil hanya berlaku untuk pengelolaan zakat. Sementara qurban, tidak ada istilah amil.

Lalu posisi panitia qurban sebagai apa?

Ketika sohibul qurban menyerahkan uang untuk dibelikan hewan qurban atau menyerahkan hewan qurban ke panitia, akad yang terjadi adalah akad wakalah. Dimana panitia diberi amanah untuk menangani hewan qurban milik sohibul qurban. Selanjutnya, panitia menjadi wakil bagi sohibul qurban.

Apakah panitia boleh meminta upah?  

Panitia boleh meminta upah dari pemilik hewan, atas jasanya menangani hewan qurban. Karena wakil, boleh mendapatkan upah untuk tugas yang diwakilkan kepadanya (wakalah bil ujrah).

Hanya saja, ada persyaratan yang harus dipenuhi,

[1] Upah untuk panitia, tidak boleh diambilkan dari hasil qurban.

Jika upahnya diambilkan dari hasil qurban, berarti sohibul qurban mendapatkan sebagian manfaat berupa keuntungan secara finansial, dan ini tidak diperbolehkan.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا . قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk menangani onta kurbannya, mensedekahkan dagingnya, kulitnya, dan asesoris onta. Dan saya dilarang untuk memberikan upah jagal dari hasil qurban. Ali menambahkan: Kami memberikan upah dari uang pribadi. (HR. Bukhari 1717 & Muslim 1317).

Karena itu, upah diberikan dari uang pribadi sohibul qurban, di luar harga hewan qurban.

[2] Upah nilainya harus tertentu, jelas di depan

Misal, untuk pengelolaan seekor kambing upahnya 100rb. insyaaAllah praktek di masyarakat kita benar.

Hanya bagian ini yang menjadi hak panitia. Karena itu, mereka tidak boleh meminta jatah daging khusus sebagai tambahan upah. Tidak ada istilah jatah amil, karena panitia bukan amil.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Jamaah Haji Tidak Boleh Berqurban di Tanah Air?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29904 2017-08-21T02:14:38Z 2017-08-21T02:14:38Z Jamaah Haji Tidak Boleh Berqurban di Tanah Air?

Apakah jamaah haji juga dianjurkan berqurban di tanah air.. krn di sana mereka jg menyembelih kambing..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebelum kita membahas qurban bagi jamaah haji, ada bagian yang perlu kita pahami, bahwa ketika idul adha, ada 2 sembelihan yang dilakukan kaum muslimin,

[1] Berqurban (al-Udhiyah). Kegiatan ini dilakukan oleh kaum muslimin sedunia. Sesuai dengan aturan sebagaimana yang telah dipahami.

[2] al-Hadyu adalah sembelihan yang dihadiahkan untuk tanah suci Mekah dalam rangka beribadah kepada Allah. Dagingnya dibagikan ke fakir miskin di sekitar kota Mekah. Tidak semua jamaah haji disyariatkan menyembelih hadyu. Diantara yang diwajibkan menyembelih hadyu adalah jamaah haji tamattu’ atau qiran. Seperti jamaah haji Indonesia, yang umumnya mengikuti program tamattu’.

Ulama berbeda pendapat, apakah jamaah haji disyariatkan untuk berqurban ataukah tidak?

Pendapat pertama, jamaah haji, meskipun diwajibkan menyembelih hadyu, dia juga boleh berqurban. Baik qurbannya disembelih di tanah haram atau di tanah air. Ini merupakan pendapat jumhur ulama.

An-Nawawi menyebutkan,

قال الشافعي رحمه الله في كتاب الضحايا من البويطي الاضحية سنة على كل من وجد السبيل من المسلمين من أهل المدائن والقرى وأهل السفر والحضر والحاج بمنى وغيرهم من كان معه هدى ومن لم يكن معه هدى

Imam as-Syafii mengatakan dalam Bab ad-Dhahaya dalam kitab Mukhtashar al-Buthi, ‘Berqurban itu sunah bagi mereka yang memiliki kelonggaran diantara kaum muslimin, baik dia tinggal di perkotaan, desa, yang sedang safar maupun tidak safar, para jamaah haji di Mina maupun di tempat lainnya yang menyembelih al-Hadyu atau yang tidak menyembelih hadyu.‘ (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 8/383).

Pendapat kedua, jamaah haji tidak disyariatkan untuk berqurban.

Semua kaum muslimin disyariatkan berqurban kecuali jamaah haji. Ini merupakan pendapat Imam Malik dan pandapat al-Abdari dari kalangan Syafiiyah.

An-Nawawi mengatakan,

وأما قول العبدري الاضحية سنة مؤكدة على كل من قدر عليها من المسلمين من أهل الامصار والقرى والمسافرين الا الحاج

Adapun pendapat al-Abdari, berqurban hukumnya sunah muakkad bagi setiap muslim yang memilki kemampuan, yang tinggal di perkotaan, pedesaan, maupun musafir, kecuali jamaah haji. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 8/383).

Sementara pendapat Imam Malik dinyatakan dalam al-Mudawwanah.

Syahnun bertanya kepada Ibnul Qasim,

قلت: أرأيت المسافر هل عليه أن يضحي في قول مالك؟ قال: قال مالك: المسافر والحاضر في الضحايا واحد.
قلت: أفعلى أهل منى أن يضحوا في قول مالك؟ قال: قال لي مالك: ليس على الحاج أضحية وإن كان من ساكني منى بعد أن يكون حاجا.
قلت: فالناس كلهم عليهم الأضاحي في قول مالك إلا الحاج؟ قال: نعم

Syahnun: “Apakah musafir juga disyariatkan untuk berqurban menurut Imam Malik?”

Ibnul Qasim: “Imam Malik mengatakan, musafir dan bukan musafir, hukum berqurban statusnya sama.”

Syahnun: “Apakah penduduk Mina juga berqurban, menurut Imam Malik?”

Ibnul Qoasim: “Imam Malik berkata kepadaku, ‘Jamaah haji tidak disyariatkan berqurban, meskipun dia penduduk Mina, setelah dia menjadi jamaah haji.”

Syahnun: “Semua orang disyariatkan berqurban menurut Imam Malik, kecuali jamaah haji?”

Ibnul Qoasim: “Benar.” (al-Mudawwanah, 1/550).

Dan ada hadis yang bisa kita jadikan acuan untuk menentukan pendapat yang lebih kuat,

Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita pengalamannya melaksanakan haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengalami haid di daerah Sarof. Beliau bercerita ketika di Mina,

فَلَمَّا كُنَّا بِمِنًى أُتِيتُ بِلَحْمِ بَقَرٍ ، فَقُلْتُ مَا هَذَا قَالُوا ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ أَزْوَاجِهِ بِالْبَقَرِ

Ketika kami di Mina, saya diberi daging sapi. Saya bertanya, ‘Ini apa?’ Mereka menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban sapi atas nama para istri-istrinya.” (HR. Bukhari 5548 & Ahmad 24109).

Karena itu, insyaaAllah pendapat yang lebih mendekati adalah pendapat jumhur ulama.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Pisau Lepas Ketika Menyembelih, Haram Dimakan?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29900 2017-08-18T06:58:37Z 2017-08-19T00:38:35Z Waktu Menyembelih Hewan Qurban Pisau Lepas

Jika pisau lepas saat menyembelih, apakah hewan sembelihannya jadi haram dimakan? Lalu qurbannya batal?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah berfirman, memberikan rincian binatang-binatang yang diharamkan,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya. (QS. Al-Maidah: 3)

Diantara hewan yang diharamkan Allah adalah hewan yang mati karena terluka, baik karena tercekik, terpukul, jatuh, ditanduk, atau karena diterkam binatang buas. Kecuali ketika dalam kondisi terluka, hewan ini masih bertahan hidup, lalu sempat disembelih seorang muslim. Sehingga hewan ini mati karena sembelihan, bukan karena kondisi dia yang terluka.

Ketika seseorang sedang menyembelih, lalu pisaunya jatuh atau dia angkat tangannya, sementara hewan itu belum mati, statusnya seperti hewan yang terluka. Karena itu, jika penyembelih ini langsung mengulangi sembelihannya, hingga hewan itu mati, statusnya sah dan halal dimakan.

Imam ad-Dirdir – ulama Malikiyah mengatakan,

فإن عاد عن قرب أكلت رفع يده اختيارا أو اضطرارا، والقرب والبعد بالعرف، فالقرب مثل أن يسن السكين أو يطرحها ويأخذ أخرى من حزامه أو قربه

Jika penyembelih segera mengulang penyembelihan, maka hewannya halal. Baik dia mengangkat tangannya sengaja atau tidak sengaja. Cepat dan lama ukurannya adalah urf (sesuai yang dipahami masyarakat). Yang dekat seperti mengasah pisau, atau menggantinya dengan pisau yang lain, yang dia ikat di sabuknya atau di dekatnya. (as-Syarh al-Kabir, 2/99)

Sayid Sabiq juga menjelaskan yang semisal. Beliau menuliskan,

وإذارفع المذكي يده قبل تمام الذكاة ثم رجع فورا وأكمل الذكاة فإن هذا جائز لأنه جرحها ثم ذكاها بعد وفيها الحياة فهي داخلة في وقول الله تعالى {إلا ما ذكيتم}.

Apabila orang yang menyembelih mengangkat tangannya sebelum penyembelihan sempurna, lalu dia segera kembali menyempurnakan sembelihannya, ini dibolehkan. Karena yang terjadi, dia melukai hewan itu, kemudian dia sembelih dan ketika itu hewan masih hidup. Sehingga termasuk dalam cakupan firman Allah, (yang artinya), kecuali yang sempat kamu menyembelihnya. (Fiqhus Sunah, 3/304)

Karena itu, ketika pisau jatuh saat mengiris pertama, kemudian penyembelih langsung mengambilnya dan menyempurnakan sembelihan, insyaAllah sembelihan sah dan qurban juga sah.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ahmad Anshori <![CDATA[Mertua Tiri Apakah Mahram?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29885 2017-08-18T06:14:42Z 2017-08-18T01:22:23Z Mertua Tiri Apakah Mahram?

Apakah mertua tiri mahram bagi suami/istri anak?

Dari : Ummu Fariq, di Salatiga.

Jawaban :

Bismillah wassholaatuwassalam ála Rasulillah, waba’du.

Sebab mahram ada tiga :

  1. Hubungan kerabat / nasab
  2. Persusuan
  3. Hubungan pernikahan (Mushaharah).

Hubungan kerabat, seperti ayah, kakek; dan seterusnya ke atas, kemudian Ibu, nenek; dan seterusnya ke atas, anak, cucu; dan seterusnya ke bawah, saudara/i ayah ibu (paman dan bibi), lalu anak saudara/i kita; baik seayah, seibu atau sekandung (keponakan).

Allah taála berfirman,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ

“Diharamkan bagi kalian kamu menikahi ibu-ibu kalian, anak-anak perempuan kalian, saudara-saudara perempuan kalian, bibi-bibi dari pihak ayah kalian, bibi-bibi dari pihak ibu kalian, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki kalian (keponakan), dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan kalian (keponakan)…” (QS. An Nisà’ : 23)

Persusuan, contohnya, ibu yang menyusui dan kerabatnya, sebagaimana halnya hubungan mahram karena nasab.

Dalinya firman Allah ‘azza wajalla,

وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ

(Kemudian termsuk mahram juga) ibu-ibu yang menyusui kalian, serta saudara perempuan sesusuan …” (QS An-Nisa’ : 23)

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

يحرم من الرضاع ما يحرم من النسب

“Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab.” (Muttafaqun’alaih).

Hanya saja ada catatan penting di sini bahwa, kerabat ibu susuan, tidak menjadi mahram untuk kerabat anak susuannya. Misalnya anak perempuan ibu susuan, dengan adik laki-laki anak susuannya, ini bukan mahram. Atau paman anak susuan, dengan saudari perempuan ibu susuan. Karena tidak adanya hubungan persusuaan.

Imam Al-Qurtubi –rahimahullah– menjelaskan,

ولا يتعدى التحريم إلى أحد من قرابة الرضيع . فليست أخته من الرضاعة أختا لأخيه ، ولا بنتا لأبيه إذ لا رضاع بينهم

Kemahraman (karena susuan) tidak berlanjut kepada salah satu kerabat anak susuan. Maka dari itu, saudari perempuan sesusuan tidak menjadi mahram untuk saudara laki-laki anak yang menyusu, tidak pula menjadi anak perempuan untuk ayahnya. Karena tidak ada hubungan susuan antara mereka. (Dikutip dari Tuhfatul Ahwadzi, 4/302).

Mahram karena pernikahan, seperti ibu mertua, anak perempuan istri (anak tiri), menantu, dan istri-istri ayah (ibu tiri).

Dasarnya, firman Allah ta’ala masih dalam surat An-Nisa ayat 23, tentang siapa-siapa yang disebut mahram,

وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُوا دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ

(Lalu mahram kalian berikutnya) ibu-ibu mertua kalian, anak-anak tiri perempuan kalian yang dibawah pemeliharaan kalian, yang ibu-ibu mereka telah kalian kumpuli. Jika kalian belum mengumpuli ibu-ibu dari anak tiri perempuan kalian, kemudian kalian ceraikan, maka kalian tidak berdosa menikahi anak-anak tiri perempuan kalian. Diharamkan pula bagi kalian menikahi menantu perempuan kalian… (QS An-Nisa’ : 23)

Contoh-contoh mahram di atas termasuk pada ayat, menggunakan pihak laki-laki sebagai obyek permisalan. Bila anda adalah perempuan, maka tinggal dikiaskan saja.

Lalu Mertua Tiri Apakah Mahram?

Gambarannya ayah istri kita mempunyai dua istri (poligami). Nah… apakah Ibu tirinya istri; yakni anggaplah istri ke-duanya ayah mertua, mahram untuk kita sebagai suami anak tirinya?

Dari ketiga sebab mahram di atas, ternyata tidak ada satupun sebab yang menggolongkan mertua tiri sebagai mahram. Tidak hubungan nasab, susuan, tidak pula pernikahan. Ini menunjukkan, bahwa mertua tiri bukan termasuk mahram. Sehingga tidak berlaku hukum-hukum mahram untuk mertua tiri.

Syaikh Abdulaziz bin Baz –rahimahullah– pernah ditanya tentang mertua tiri apakah mahram. Beliau menjawab,

زوجة الأب لا تكون محرما لزوج ابنته من غيرها ، وإنما المحرمية تكون لأم الزوجة بالنسبة إلى زوج ابنتها ؛ لقول الله عز وجل في بيان المحرمات من النساء : ( وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ )

Istri ayah (ibu tiri), bukanlah mahram untuk suami anak perempuan dari istri yang lainnya (suami anak perempuan tiri). Yang menjadi mahram untuk suami anak perempuannya adalah, ibu kandung istrinya. Berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla disaat menjelaskan tentang mahram-mahram perempuan, “Kemudian ibu-ibu mertua kalian…” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 21/15-16)

Wallahua’lam bis showab.

Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori Lc

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Hukum Laki-laki Memakai Kalung]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29880 2017-08-18T06:15:45Z 2017-08-17T04:23:24Z Laki-laki Dilarang Memakai Kalung?

Apa hukumnya laki laki mengenakan kalung…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terlepas dari bahannya, kalung yang kita pakai, secara umum ada 2 fungsi,

Pertama, sebagai perhiasan, baik berbahan emas, perak atau bahan lainnya.

Kedua, bukan sebagai perhiasan, misalnya kalung sebagai tanda pengenal, seperti tanda pengenal haji atau umrah yang dikalungkan.

Kalung yang dipakai sebagai perhiasan, umumnya dibanggakan oleh pemiliknya. Dia merasa nyaman ketika memakainya. Bahkan merasa senang jika ada yang memujinya.

Sementara kalung yang fungsinya bukan untuk perhiasan, umumnya orang merasa risih menggunakannya. Dia bersabar menggunakannya, karena pertimbangan kebutuhan.

Karena itu, mengenai hukum mengenakan kalung bagi lelaki, bisa kita rinci sebagai berikut,

Pertama, memakai kalung berbahan emas

Hukumnya haram dan bahkan ada ancaman khusus berupa api neraka.

Dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُحِلَّ الذَّهَبُ وَالْحَرِيرُ لِإِنَاثِ أُمَّتِي وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُورِهَا

“Emas dan sutra dihalalkan bagi para wanita dari ummatku, namun diharamkan bagi para lelaki’.” (HR. an-Nasai 5148 dan Ahmad 4/392 dan dishahihkan al-Albani)

Dalam hadis lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ada sahabatnya yang memakai cincin dari emas. Beliaupun langsung mengambilnya dan membanting cincin itu sambil mengatakan,

يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِى يَدِه

“Kalian sengaja mengambil sepotong neraka dan meletakkannya di tangan kalian.” (HR. Muslim 5593)

Kedua, memakai kalung selain emas, tapi untuk perhiasan.

Seperti memakai kalung perak atau kuningan.

Perbuatan ini termasuk menyerupai wanita. Karena perhiasan berupa kalung adalah ciri khas wanita. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita atau sebaliknya.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari 5885).

Termasuk meniru dalam masalah pakaian dan asesoris.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad 8309 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

اتخاذ السلاسل للتجمل بها محرم، لأن ذلك من شيم النساء، وهو تشبه بالمرأة وقد لعن الرسول صلى الله عليه وسلم المتشبهين من الرجال بالنساء

Lelaki yang memakai kalung untuk perhiasan hukumnya haram. Karena ini bagian dari ciri wanita. Sehingga lelaki ini meniru wanita. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang meniru wanita. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11 – Bab al-Aniyah).

Ketiga, kalung yang tidak berfungsi sebagai perhiatan.

Hukumnya dibolehkan, dan tidak ada bentuk pelanggaran syariat di sana.

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Qurban untuk Ortu yang Pikun]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29876 2017-08-18T01:36:36Z 2017-08-16T02:29:06Z Hukum Qurban untuk Orang Tua yang Pikun

Ibu sy sdh pikun, msh punya tabungan dan cukup u qurban. Sah nggak kalo sy anaknya ngeluarin uang dr ibu u qurban a.n beliau?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ulama berbeda pendapat, apakah sohibul qurban disyaratkan harus dalam kondisi baligh dan berakal, ataukah tidak?

Disebutkan dalam Ensiklopedi Fiqh,

الشرطان الرابع والخامس: البلوغ والعقل، وهذان الشرطان اشترطهما محمد وزفر، ولم يشترطهما أبو حنيفة وأبو يوسف، فعندهما تجب التضحية في مال الصبي والمجنون إذا كانا موسرين

Syarat qurban keempat dan kelima, baligh dan berakal. Dua syarat ini merupakan pendapat Muhammad bin Hasan dan Zufar. Sementara Abu Hanifah dan Abu Yusuf tidak mensyaratkan harus baligh dan berakal. Menurut mereka (Abu Hanifah dan Abu Yusuf), wajib qurban untuk harta anak kecil dan orang gila, jika keduanya memiliki kelonggaran.

Juga dinyatakan,

وقال المالكية: لا يشترط في سنية التضحية البلوغ ولا العقل، فيسن للولي التضحية عن الصغير والمجنون من مالهما، ولو كانا يتيمين

Menurut Malikiyah, tidak disyaratkan baligh dan berakal untuk amalan qurban. Karena itu, dianjurkan bagi wali untuk berqurban atas nama anak kecil dan orang gila, dari harta mereka (anak kecil & orang gila), meskipun mereka yatim. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 5/80)

Sementara Syafiiyah memiliki pendapat yang berbeda,

وقال الشافعية: لا يجوز للولي أن يضحي عن محجوريه من أموالهم، وإنما يجوز أن يضحي عنهم من ماله إن كان أبا أو جدا، وكأنه ملكها لهم وذبحها عنهم، فيقع له ثواب التبرع لهم، ويقع لهم ثواب التضحية

Syafi’iyah mengatakan, tidak boleh bagi wali untuk berqurban atas nama orang yang kurang normal dari harta mereka. Namun boleh berqurban atas nama mereka dari uang pribadi si wali, jika bapaknya atau kakeknya. Ini seperti si wali memberikan seekor hewan qurban kepada ayah atau kakek, lalu disembelih atas nama mereka. sehingga pahala wali adalah pahala sedekah, sementara pahala ayah dan kakeknya adalah pahala qurban. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 5/80).

Dan pendapat yang kuat, pemilik ibadah qurban tidak harus baligh atau berakal. Karena qurban adalah ibadah maliyah (ibadah harta), sehingga pelaku tidak disyaratkan harus baligh dan berakal, sebagaimana zakat.

Karena itu, selama ibu anda mampu berqurban karena dia punya tabungan, silahkan tabungannya digunakan untuk berqurban.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Naik Angkot Gak Bayar]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29869 2017-08-15T01:05:00Z 2017-08-15T00:47:17Z Naik Angkot Gak Bayar, Utang Akhirat?

Jika dulu pernah naik angkot gak bayar, naik bis kota gak bayar, apa yg harus dilakukan? Krn jd kepikiran. Sementara tdk memungkinkan utk mencari supirnya atau pemilik angkot…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kewajiban bagi orang yang mendapatkan layanan berbayar adalah memberikan upah kepada yang melayani. Seperti mereka yang naik fasilitas transportasi berbayar, wajib memberikan bayaran kepada pihak yang melayaninya. Jika kewajiban ini tidak ditunaikan, menjadi tanggungan utang baginya.

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya.” (QS. an-Nisa: 58)

Pada hakekatnya, ketika kita naik angkot atau fasilitas berbayar lainnya, kita sedang memperkerjakan orang lain untuk memberikan layanan ke kita. Status mereka adalah ajir ‘am, orang yang bekerja untuk memberikan jasa ke banyak orang dalam waktu bersamaan.

Jika mereka sudah memenuhi layanannya dengan baik, namun kita tidak memberikan, bisa jadi kita melakukan dosa besar, yang dimusuhi Allah kelak di hari kiamat.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ثَلاَثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَعْطَى بِى ثُمَّ غَدَرَ ، وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ ، وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ

Ada 3 orang yang menjadi musuh saya kelak di hari kiamat, [pertama], Orang yang bersumpah atas nama-Ku untuk memberikan sesuatu, namun dia mengingkarinya. [kedua], Orang yang menjual manusia merdeka, lalu dia makan uangnya. [ketiga], orang yang memperkerjakan orang lain, lalu dia penuhi tugasnya, namun orang ini tidak membayar upahnya. (HR. Bukhari 2270)

Subhanallah…, sesuatu yang mungkin dianggap remeh masyarakat, terancam menjadi sumber petaka di hari kiamat.

Bagaimana jika itu sudah berlalu lama?

Upah yang belum kita bayarkan ke supir angkot, hakekatnya adalah harta orang lain yang ada di tangan kita dengan cara yang dzalim.. jangan sampai kita melupakan hal ini.

Allah mengingatkan,

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat adzab). (QS. Ibrahim: 42).

Lalu apa yang harus dilakukan?

Anda tetap wajib mengembalikannya ke pemilik. Tahapan yang bisa dilakukan,

[1] Harus diserahkan ke supirnya atau pemilik angkot, jika memungkinkan. Baik diserahkan langsung, atau dikirim melalui kurir atau transfer. Yang penting, uang itu sampai ke yang berhak mendapatkannya.

[2] Jika langkah pertama tidak memungkinkan, dan juga tidak memungkinkan menemui ahli warisnya, dalam hal ini ulama berbeda pendapat,

Pertama, harta haram yang didapatkan secara dzalim, dan tidak bisa dikembalikan ke pemilik, taubatnya

dilakukan dengan cara disedekahkan atas nama pemilik. Namun dengan tetap dijamin, jika pemilik berhasil ditemukan, maka harus disampaikan kepadanya bahwa hartanya telah disedekahkan. Jika dia ridha, pahalanya menjadi miliknya. Jika tidak ridha, harus diganti dan pahala sedekah menjadi milik yang memegang harta.

Ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya.

Diantara dalilnya adalah sebuah riwayat yang menceritakan bahwa di masa silam ada anggota pasukan yang mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi. Lalu dia taubat dan membawa harta itu ke panglima perang. Panglima menolaknya karena beliau tidak mungkin membagi harta itu ke semua pasukan perang, sementara mereka telah pulang. Hingga datanglah Hajjaj bin as-Syair dan mengatakan,

يا هذا إن الله يعلم الجيش وأسماءهم وأنسابهم، فادفع خمسه إلى صاحب الخمس، وتصدق بالباقي عنهم، فإن الله يوصل ذلك إليهم

Wahai fulan, sesungguhnya Allah Maha Tahu semua pasukan, namanya dan nasabnya. Serahkan 1/5-nya ke yang berhak, sisanya kamu sedekahkan atas nama semua pasukan. Dan Allah akan menyalurkan pahala sedekah itu ke mereka.

Akhirnya, diapun melakukannya, dan itu dibenarkan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. (Madarijus Salikin, 1/419).

Kedua, harta haram yang didapatkan secara dzalim, dan tidak bisa dikembalikan ke pemilik, tidak ada peluang untuk taubat di dunia. Sehingga kedzaliman ini harus diselesaikan di akhirat, dengan cara transfer pahala dan dosa.

Karena jika harta ini disedekahkan atas nama pemilik, berarti statusnya adalah sedekah dengan sesuatu yang haram. Dan Allah tidak akan menerima sedekah yang haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

“Tidak akan diterima shalat tanpa bersuci, dan tidak akan diterima sedekah dari harta khianat.” (Muttafaq ‘alaih).

Status harta ini seperti harta tanpa tuan. Sehingga dia harus dikembalikan ke Baitul Mal negara dan dijaga untuk dikembalikan ke pemiliknya. Ini merupakan andapat Syafi’iyah. (Asna al-Mathalib, 4/98)

InsyaaAllah pendapat yang lebih mendekati adalah yang menyatakan ada taubatnya, yaitu dengan cara memohon ampun kepada Allah, dan mensedekahkan harta itu atas nama pemilik. Semoga Allah menerimanya dan Allah Maha Tahu ke mana pahala sedekah itu disalurkan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Kapan Harus Membatalkan Shalat Sunah Karena Dengar Iqamah?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29866 2017-08-14T01:15:20Z 2017-08-14T01:14:58Z Membatalkan Shalat Sunah Qabliyah Karena Dengar Iqamah

Jika kita mendengar iqamah, sementara kita sedang shalat sunah qabliyah, apakah harus dibatalkan? Bgmn jika tinggal tahiyat, apakah msh boleh diselesaikan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Perintah membatalkan shalat sunah karena mendengar iqamah, dinyatakan dalam beberapa hadis. Diantaranya,

[1] Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةُ

“Apabila telah dikumandangkan iqamah maka tidak ada shalat kecuali shalat wajib.” (HR. Muslim 1678, Nasai 874 dan yang lainnya).

[2] Hadis dari Abdullah bin Malik bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu,

Ketika iqamah shalat subuh dikumandangkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ada sahabat yang sedang shalat sunah. Beliau mengucapkan sesuatu yang saya tidak paham. Usai shalat, kami mengerumuni beliau, lalu bersabda,

يُوشِكُ أَحَدُكُمْ أَنْ يُصَلِّىَ الْفَجْرَ أَرْبعًا

“Hampir saja diantara kalian ada yang shalat subuh 4 rakaat.” (HR. Muslim 1682 & Ibnu Majah 1208).

Dalam riwayat lain, seusai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati orang itu dengan bersabda,

الصُّبْحَ أَرْبَعًا ، الصُّبْحَ أَرْبَعًا

Shalat subuh 4 rakaat, shalat subuh 4 rakaat? (HR. Bukhari 663)

Al-Hafidz al-Iraqi menjelaskan hadis Abu Hurairah di atas,

إن قوله : “فلا صلاة ” يحتمل أن يراد : فلا يشرع حينئذ في صلاة عند إقامة الصلاة , ويحتمل أن يراد: فلا يشتغل بصلاة وإن كان قد شرع فيها قبل الإقامة بل يقطعها المصلي لإدراك فضيلة التحريم؛ أو أنها تبطل بنفسها وإن لم يقطعها المصلي

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “tidak ada shalat kecuali shalat wajib” ada 3 kemungkinan,

[1] Kemungkinan pertama, ketika iqamah tidak disyariatkan shalat sunah

[2] atau kemungkinan maknanya, jangan melakukan shalat, meskipun shalat sunah sudah dimulai sebelum iqamah. Namun dia harus batalkan, agar bisa mendapatkan keutamaan takbiratul ihram.

[3] atau kemungkinan maknanya, ketika iqamah, shalat sunah batal dengan sendirinya, meskipun tidak dibatalkan oleh orang yang melakukannya.

(Nailul Authar, as-Syaukani, 3/102).

Hanya saja, kemungkinan ketiga cukup jauh, karena iqamah bukan termasuk pembatal shalat. Karena itulah, dalam hadis Abdullah bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang yang mengerjakan shalat qabliyah subuh ketika iqamah, seolah telah mengerjakan shalat subuh 4 rakaat. Artinya, qabliyah subuh yang  dia kerjakan tetap sah, meskipun dia melakukan pelanggaran dari sisi waktu pelaksanaan.

Kapan Harus Dibatalkan?

Apakah harus dibatalkan ketika mendengar iqamah, apapun posisinya?

As-Syaukani menyebutkan keterangan dari Abu Hamid – ulama syafiiyah –,

قال الشيخ أبو حامد من الشافعية : أن الأفضل خروجه من النافلة إذا أداه إتمامها إلى فوات فضيلة التحريم وهذا واضح

Syaikh Abu Hamid – dari syafiiyah – mengatakan, “Yang afdhal, dia batalkan shalat sunah, dengan batasan, apabila dilanjutkan akan menyebabkan dirinya ketinggalan takbiratul ihram.” Dan alasan ini sangat jelas. (Nailul Authar, as-Syaukani, 3/102).

Berdasarkan batasan ini, tidak bisa ditegaskan di posisi mana makmum harus membatalkan shalat sunahnya. Intinya, ketika makmum merasa dirinya akan ketinggalan takbiratul ihram jika shalat sunah dikerjakan, maka dia bisa segera batalkan shalat sunahnya. Jika dia di posisi tasyahud akhir, dan dia yakin jika dilanjutkan tidak ketinggalan takbiratul ihram imam, maka tidak masalah diselesaikan.

Demikian, Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>