Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam KonsultasiSyariah.com 2017-01-14T06:44:41Z https://konsultasisyariah.com/feed/atom Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Status Preman: Surga atau Neraka ?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28893 2017-01-14T06:44:41Z 2017-01-14T06:44:10Z Status  Preman Masuk Neraka Atau Surga?

Tanya tadz, preman kan suka bikin rusuh di masyarakat, mabuk-mabukan dan bagaimana status preman tersbut kelak? Apakah surga atau neraka?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada perbedaan dalam memaknai istilah preman di tempat kita. Dalam kamus KBBI preman berarti orang sipil, bukan tentara atau aparat. Sementara di masyarakat, istilah preman lebih identik dengan pelaku tindak kriminal  atau orang yang dicurigai masyarakat karena berpotensi melakukan kriminal.

Apapun itu, kita tidak sedang belajar ilmu bahasa atau kajian semantik. Yang jelas, setiap muslim ditekankan untuk sebisa mungkin menjadi pribadi yang tidak membahayakan orang lain. Sehingga jangan sampai, keberadaan dia di masyarakat, justru membuat masyarakat selalu merasa khawatir, was-was, tidak tenang, karena waspada dengan potensi kejahatannya.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan karakter seorang muslim,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang keberadaannya tidak mengganggu muslim yang lain baik dengan lisan maupun tangannya.” (HR. Bukhari 10 & Muslim 171)

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutuk orang yang keberadaannya diwaspadai oleh orang lain. Masyarakat tidak merasa aman, tidak nyaman, karena dia berpotensi mengganggu. Beliau menyebut orang semacam ini sebagai orang jelek di hari kiamat adalah orang yang ditakuti orang lain karena kejahatannya. Bisa jadi ada rakyat yang takut kepada anda, karena mereka khawatir anda akan mendzalimi mereka.

Dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

Sesungguhnya manusia yang kedudukannya paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dijauhi masyarakat, karena takut dengan kejahatannya. (HR. Bukhari 6032)

Penilaian Masyarakat Baik

Diantara yang menentukan status baik buruknya seseorang adalah penilaian masyarakat terhadap kita. Ketika masyarakat merasa risih dengan tingkah laku kita, atau perbuatan kita, sementara mereka umumnya orang yang baik, maka penilaian mereka bisa jadi dibenarkan oleh Allah.

Masyarakat menjauhinya karena akhlaknya, periangainya yang kasar, dst.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan,

Suatu ketika para sahabat melihat seorang jenazah yang diangkat menuju pemakamannya. Merekapun memuji jenazah ini. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

“Wajib.., wajib.., wajib.”

Tidak berselang lama, lewat jenazah lain. Kemudian para sahabat langsung mencelanya.

Seketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَجَبَتْ، وَجَبَتْ، وَجَبَتْ

“Wajib.., wajib.., wajib.”

Umarpun keheranan dan bertanya,

“Apanya yang wajib?”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ

“Jenazah pertama kalian puji dengan kebaikan, maka dia berhak mendapat surga. Jenazah kedua kalian cela, maka dia berhak mandapat neraka. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari 1367 & Muslim 949).

Hadis ini merupakan dalil bahwa pujian yang disampaikan masyarakat kepada mayit, menjadi bukti status keshalehan seseorang ketika di dunia. Pujian yang sifatnya alami. Tidak dibuat-buat atau dikondisikan atau diarahkan suasana agar masyarakat memujinya. Karena pujian atau celaan yang menjadi bukti baik dan buruk seseorang adalah pujian yang jujur.

Pilih Komunitas yang Selamat

Hidup itu memang harus memilih. Hidup memang harus memihak. Karena sejak Allah ciptakan penduduk bumi, kebenaran dan kebatilan selalu bersaing. Kebenaran punya pengikut, kebatilan juga memiliki pengikut. Dan masing-masing berusaha untuk saling mengalahkan, saling mempengaruhi, dst.

Di situlah kita harus menentukan kebepihakan… kita harus menentukan pilihan… karena komunitas adalah cermin siapa kita.

Dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَا مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu seperti pasukan yang berhimpun. Apabila mereka saling mengenal (karakternya) maka akan saling akrab, dan apabila tidak mengenal maka akan saling menentang.” (HR. Bukhari 3336 & Muslim 6876)

Burung hanya akan bertengger bersama kawanannya,

إن الطيور على أشكالها تقع

فكل يرغب في مثله

Sesungguhnya burung-burung itu akan bertengger bersama burung yang sama bentuknya sehingga setiap orang akan mencintai yang semisal dengannya.

Anda berhak untuk menilai diri anda baik… tapi komunitas anda yang akan memberi jawaban siapa anda yang sebenarnya. Karena komunitas adalah cermin siapa kita.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Apa Makna Berkata Uff kepada Orang Tua?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28890 2017-01-13T09:16:37Z 2017-01-14T00:50:24Z Berkata Uff kepada Orang Tua

Kita dilarang mengucapkan kata uff kepada orang tua. Apa maksudnya? Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 3 ayat yang menyebutkan kata uf dalam al-Quran. Kita sebutan,

Pertama, ayat terkait perintah untuk berbuat baik kepada orang tua,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “uff” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. al-Isra: 23)

Kedua, ayat yang menyebutkan perkataan Ibrahim ketika menyudutkan kaumnya yang beribadah kepada selain Allah,

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ . أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” Uff  untuk kalian dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? (QS. al-Anbiya: 66 – 67)

Ketiga, ayat yang menyebutkan permisalan anak soleh dan anak durhaka. Anak durhaka ketika diajak beriman, dia menghina orang tuanya,

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آَمِنْ

“Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Uff bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. Lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka.” (QS. al-Ahqaf: 17)

Ibnul Jauzi menjelaskan makna Uff secara bahasa. Beliau menyebutkan ada 5 pendapat. Dan semuanya merujuk pada satu makna, yaitu sesuatu yang remeh.

[1] Kotoran kuku, ini merupakan pendapat al-Khalil al-Farahidy

[2] Kotoran telinga, ini pendapat al-Ashma’i.

[3] Potongan kuku, ini pendapat Tsa’lab

[4] Uff dari kata al-Afaf [الأَفف]. Dan kata al-Afaf dalam bahasa arab artinya sedikit. Sehingga kata Uff artinya meremehkan, menganggap kecil. Ini pendapat al-Anbari.

[5] Uff artinya benda ringan yang ada di tanah, seperti kerikil atau ranting. Ini pendapat Ibnu Faris

Selanjutnya, Ibnul Jauzi juga menyebutkan keterangan gurunya Abu Manshur,

معنى «الأف» : النَّتَن، والتضجر

Makna uff adalah tidak enak dirasa, berkeluh kesah. (Tafsir Zadul Masir, 4/156).

Kaitannya dengan interaksi anak dengan orang tua, Allah memberikan dua larangan,

[1] Jangan berkata uff

[2] Jangan membentak

Dan uff lebih ringan dari pada membentak. Dengan merujuk makna bahasa, uff untuk orang tua berarti mengucapkan kalimat buruk paling rendah, yang tidak disukai orang tua.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan surat al-Isra ayat 23,

لا تسمعهما قولا سيئًا، حتى ولا التأفيف الذي هو أدنى مراتب القول السيئ

Jangan berkata buruk kepada kedua orang tua, sampaipun kata uff yang merupakan kata buruk yang paling rendah tingkatannya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/64)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Cara Membersihkan Najis Ompol di Kasur]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28884 2017-01-13T02:27:32Z 2017-01-13T02:26:50Z Membersihkan Najis Ompol di Kasur

Jika anak ngompol di kasur, bagamana cara membersikannya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita,

Ada seorang badui yang datang ke kota Madinah, dan langsung masuk masjid nabawi, lalu kencing di dalam masjid. Para sahabat semua marah kepada orang ini, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah mereka untuk memarahinya dan mennyuruh mereka untuk membiarkannya,

فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ ، فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ

Setelah selesai kencing, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan untuk dibawakan seember air, lalu beliau siramkan ke bagian yang terkena kencing. (HR. Ahmad 12082 dan Bukhari 221)

Ketika air kencing di dalam masjid itu disiram, kita bisa memahami najis kencingnya akan turun ke bawah, meresap ke dalam tanah. Selenjutnya tanah yang ada di permukaannya dinilai suci, dan bisa digunakan untuk shalat jamaah. artinya, najis yang ada di bawah, tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Tanah itu tidak mungkin dicuplik, kemudian diganti tanah yang baru.

Dan kepentingan kita adalah permukaan tanah. Karena kita shalat di permukaan tanah, bukan di bawah tanah. sehingga cukup dengan disiram, permukaan tanah menjadi suci.

Najis Kencing di Kasur

Umumnya kasur di tempat kita ketika digunakan minimal ada 2 lapisan: Sprei dan kasurnya.

Untuk sprei, bisa kita ambil dan dicuci bagian yang terkena najis.

Sementara untuk kasur, apa yang harus dilakukan?

Najis yang mengenai kasur, akan meresap ke dalam kasur. Karena kepentingan kita adalah permukaan kasur, maka bagian permukaan harus kita pastikan bersih dan suci. Bisa dengan cara disiram kemudian diusap dengan lap, hingga najis di permukaan kasur hilang.

Untuk meringankan najis di kasur, kita bisa jemur di terik matahari, agar sebagian najis menguap.

Jika permukaan kasur telah suci, kita bisa pasang sprei pengganti, sehingga kita pastikan najisnya tidak akan mengenai pakaian kita ketika digunakan untuk tidur. Meskipun bisa jadi masih ada najis yang mengendap di dalam kasur.

Sekali lagi, karena kepentingan kita adalah permukaan kasur, sehingga kita perlu memastikan najis itu tidak melekat di pakaian kita ketika digunakan beristirahat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Membuka Tangan Ketika Salam, Shalat Batal?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28880 2017-01-12T02:25:28Z 2017-01-12T02:25:10Z Membuka Tangan Ketika Salam, Shalat Batal?

Ada beberapa orang yang shalat, ketika salam mereka membuka tangan kanan dan kiri. Menoleh ke kanan membuka tangan kanan. Menoleh ke kiri sambil membuka tangan kiri. Ada juga, ketika menoleh k kanan membuka tangan kanan, dan menoleh ke kiri, tangannya diam saja.

Ketika saya tanya, mengapa tangan kanan dibuka, sementara tangan kiri diam. Jawab dia, ini isyarat dan harapan, ketika kita salam ke kanan, kita berharap terbukalah pintu surga. Dan ketika kita menoleh ke kiri kita berharap, tertutuplah pintu neraka.

Bagaimana menurut pendapat ustad… apakah shalatnya sah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Membuka tangan kanan dan kiri ketika menoleh pada saat salam, kebiasaan ini pernah dilakukan sebagian sahabat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau melarangnya.

Sahabat Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu bercerita,

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قُلْنَا السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ . وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الْجَانِبَيْنِ

”Dulu ketika kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami mengucapkan ”Assalamu alaikum wa rahmatullah – Assalamu alaikum wa rahmatullah” sambil berisyarat dengan kedua kanan ke samping kanan dan kiri.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

عَلَامَ تُومِئُونَ بِأَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ؟ إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَخِيهِ مَنْ عَلَى يَمِينِهِ، وَشِمَالِهِ

”Mengapa kalian mengangkat tangan kalian, seperti kuda yang suka lari? Kalian cukup letakkan tangan kalian di pahanya kemudian salam menoleh ke saudaranya yang di samping kanan dan kirinya.” (HR. Muslim 998)

Keterangan:

Kita bisa perhatikan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan gerakan ini layaknya gerakan kuda yang tidak tenang, selalu menggerakkan ekornya. Karena dalam hal ini dia melakukan gerakan yang sama sekali tidak dia butuhkan. Dan melakukan gerakan yang tidak dibutuhkan, dilarang dalam shalat.

An-Nawawi membuat judul bab ketika menjelaskan hadis ini,

باب الأمر بالسكون في الصلاة والنهي عن الإشارة باليد

Bab perintah untuk tenang dalam shalat dan larangan untuk berisyarat dengan tangan (Syarh Shahih Muslim, 4/152)

Terbukalah Pintu Surga, Tertutuplah Pintu Neraka

Neraca baik dan buruknya amal ibadah tidak dikembalikan ke perasaan atau logika manusia. Karena ini kembali kepada hak syariat. Semua orang punya harapan itu, tapi dia tidak boleh membuat amal baru dengan maksud mendapatkan harapan tersebut. Jika ini dibolehkan, jadinya dalam beragama, orang tidak butuh panudan dari seorang nabi.

Menggerakkan telapak tangan kanan ketika salam, termasuk amal baru yang dilarang dalam hadis di atas. Sehingga harapan yang dia miliki, tidak mengubah hukum larangan dalam hadis menjadi dianjurkan.

Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya mendahulukan ilmu sebelum beramal. Karena pemahaman yang menyimpang yang dimiliki seseorang, penyebabnya utamanya karena dia tidak memiliki ilmu yang benar. Sehingga bisa jadi dia menganggap kesalahan itu sebagai sesuatu yang dianjurkan.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah memberi nasehat kepada Kumail bin Ziyad,

العلم خير من المال ، العلم يحرسك وأنت تحرس المال

Ilmu lebih baik dari pada harta. Ilmu menjagamu, sementara harta kamu yang jaga.

Ilmu menjaga kita dalam bentuk membimbing kita untuk mengambil sikap yang benar dalam beraktivitas untuk kepentingan dunia akhirat.

Apakah Shalatnya Sah?

insyaaAllah shalatnya tetap sah, karena para sahabat yang pernah melakukan gerakan ini, tidak diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengulangi shalatnya. Terlebih bagi mereka yang belum tahu ilmunya.

Semoga membimbing kita untuk selalu menyesuaikan diri dengan aturan syariat.

Anda bisa melihat video CaraShalat.com terkait salam dibawah ini:

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Redaksi KonsultasiSyariah.com <![CDATA[Qabliyah Shubuh Saat Iqamat Shalatnya Batal?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28877 2017-01-11T02:11:08Z 2017-01-11T02:11:08Z Qabliyah Shubuh Saat Iqamat

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya pernah mendengar bahwa Rasul –shallallahu alaihi wasallam- tidak pernah meninggalkan shalat  2 rakaat qabliyah shubuh… Bagaimana menjalankan sunnah ini, bila saya telat datang ke masjid, sehingga mu’adzin mengumandangkan iqamat?!

Syukran.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban:

Alhamdulillah was shalatu was salamu ala rosulillah wa ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah…

Pertama: Memang benar, beliau tidak pernah meninggalkan shalat sunat 2 rakaat sebelum shubuh, sebagaimana diceritakan oleh Ibunda kita Aisyah –rodhiallahu anha-: bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua rakaat sebelum (shalat) fajar. (dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam silsilah shahihah 7/527)

Kedua: Bila telat datang masjid dan iqamat sedang dikumandangkan, maka antum harus langsung shalat shubuh bersama imam, dan tidak boleh menjalankan shalat qabliyah saat iqamat sudah dikumandangkan… sebagaimana sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam-:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Dari Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda: “Bila telah dikumandangkan Iqamat, maka tidak (boleh) ada shalat, kecuali shalat yang diwajibkan”.(HR. Muslim: 1160)

عن ابن بحينة قال: أقيمت صلاة الصبح، فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يصلي والمؤذن يقيم، فقال: أتصلي الصبح أربعا؟

Ibnu Buhainah mengatakan: (Suatu hari) dikumandangkan Iqamat untuk shalat subuh, lalu Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- melihat seseorang shalat padahal mu’adzin sedang mengumandangkan iqamat, maka beliau mengatakan: “Apakah kamu shalat subuh empat rakaat?!” (HR. Muslim: 1163 )

وعنه أيضا قال: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر برجل يصلي وقد أقيمت صلاة الصبح، فكلمه بشيء لا ندري ما هو؟ فلما انصرفنا أحطناه نقول: ماذا قال لك رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: قال لي: يوشك أن يصلي أحدكم الصبح أربعا؟

Diriwayatkan dari Ibnu Buhainah juga: bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- melewati seseorang sedang shalat, padahal iqamat shalat shubuh telah dikumandangkan, maka beliaupun mengatakan kepadanya sesuatu yg tidak ku ketahui. Lalu ketika kami selesai, kami berusaha mencari tahu, kami mengatakan: apa yg dikatakan Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- kepadamu? dia menjawab: “Hampir saja salah seorang dari kalian shalat shubuh 4 rekaat”. (HR. Muslim: 1162)

Kedua: Sebaiknya antum meng-qadha’ shalat qabliyah shubuhnya setelah itu… sebagaimana pernah terjadi di zaman Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam-:

عَنْ قَيْسٍ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: «مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: «فَلَا إِذَنْ» رواه الترمذي وصححه الألباني

Qois mengatakan: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pernah (suatu ketika) keluar, lalu dikumandangkanlah iqamat shalat, maka aku pun shalat shubuh bersamanya, kemudian beliau beranjak pergi dan mendapatiku akan shalat, beliau mengatakan: “Sebentar wahai qois, apakah dua shalat bersamaan?!”, aku pun mengatakan: Ya rosulallah, sebenarnya aku belum shalat dua rekaat qabliyah fajar, maka beliau mengatakan: “Jika demikian, maka tidak apa-apa” (HR. Tirmidzi: 387, dan dishahihkan oleh Syeikh Albani)

Ketiga: Meng-qodho shalat sunat yang waktunya tertentu, dibolehkan bila tertinggalnya shalat sunat tersebut tidak disengaja. Karena meng-qodlo adalah keringanan bagi mereka yang punya udzur, dan orang yg meninggalkan dengan sengaja, tidak memiliki udzurwallahu a’lam.

Dalil dari pembedaan ini adalah sabda Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-:

من نام عن الوتر أو نسيه فليصل إذا ذكر وإذا استيقظ

Barangsiapa ketiduran atau lupa sehingga tidak shalat witir, maka hendaklah ia shalat witir, ketika ia ingat atau ketika ia bangun (HR. Tirmidzi: 427 dan yg lainnya… dishahihkan oleh Syeikh Albani)

ٌقال ابن رجب:وفي تقييد الأمر بالقضاء لمن نام أو نسيه يدل على أن العامد بخلاف ذلك، وهذا متوجه؛ فإن العامد قد رغب عن هذه السنة وفوتها في وقتها عمداً، فلا سبيل لهُ بعد ذَلِكَ إلى استدراكها، بخلاف النائم والناسي

Ibnu Rojab mengatakan: adanya taqyid dalam perintah qodlo’ itu (yakni); “bagi orang yang tidur atau lupa”, menunjukkan bahwa orang yang sengaja (meninggalkan), hukumnya lain, dan ini benar, karena orang yang sengaja (meninggalkan), itu tidak menyukai shalat sunnah ini, dan telah meninggalkannya pada waktunya dengan sengaja, sehingga tidak ada jalan lagi baginya untuk mendapatkannya, berbeda dengan orang yang tidur atau lupa. (Fathul Bari 9/160)

Sekian, semoga bermanfaat…

wa shallallahu ala nabiyyillah ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah… walhamdulillah.

Disarikan dari web resmi Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA dengan disertai pengeditan bahasa oleh Tim KonsultasiSyariah.com

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Hukum Memutihkan Gigi?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28873 2017-01-10T02:07:45Z 2017-01-10T02:06:58Z Memutihkan Gigi

Kami Mohon nasehatnya ustadz perihal kerjaan keponakan.

Keponakan saya sebagai dokter gigi. Dia ikut klinik milik orang lain. Pasiennya ada yg muslim ada yg non muslim. Ada pasien minta memutihkan gigi krn alasan kecantikan bkn krn kesehatan.

Bagaimana perlakuannya apabila permintaan semacam itu datang dari pasien yg non muslim?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat hadis yang melarang Taflij al-Asnan. Yang dimaksud Taflij al-Asnan adalah mengikir sela-sela gigi sehingga kelihatan lebih renggang.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’,

لَعَنَ اللَّهُ الوَاشِمَاتِ وَالمُتَوَشِّمَاتِ وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ المُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

Allah melaknat orang yang mentato, yang minta ditato, yang mencukur bulu alis, dan yang mengikir gigi agar lebih cakep, yang telah mengubah ciptaan Allah. (HR. Bukhari 4886 & Muslim 5695).

Ulama sepakat melakukan taflij al-Asnan dengan tujuan untuk kecantikan, hukumnya haram. Baik pelaku maupun pelanggannya.

Selanjutnya, bagaimana dengan hukum memutihkan gigi.

Pada dasarnya, memutihkan gigi yang dilakukan tanpa ada tindakan mengikir sela-sela gigi, hukumnya dibolehkan. Dalam fatwa syabakah islamiyah dinyatakan,

فعملية تبيض الأسنان هي عملية تهدف إلى تلميع الأسنان التي أصبحت باهتة أو مصفرة أو غدت داكنة، والأصل في إجراء هذه العملية الجواز حتى يثبت ما يقتضي منعها

Memutihkan gigi adalah tindakan untuk membuat gigi menjadi cemerlang,.. dan hukum asal tindakan semacam ini adalah boleh, hingga terdapat kondisi yang menyebabkannya menjadi terlarang.

(Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 74450)

Baca: Hukum Memakai Kawat Gigi

Namun jika tindakan memutihkan gigi itu dilakukan dengan cara dikikir sela-sela gigi, sehingga gigi kelihatan tidak rapat, hukumnya dilarang.

Rincian ini juga disampaikan oleh Syaikh Musthofa al-Adawi dalam fatwa beliau,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Hukum Go Food dan Riba]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28865 2017-01-09T06:35:04Z 2017-01-09T02:36:22Z Hukum Menggunakan Go Food?

Apa hukum go food dan go mart? Apa benar termasuk akad riba?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada banyak kegiatan yang tidak bisa dilakukan manusia sendirian. Karena itu dia butuh tenaga orang lain untuk membantunya. Di situlah syariat memberikan kemudahan dengan adanya akad wakalah (mewakilkan).

Hanya saja, orang yang melakukan tugas yang kita inginkan terkadang harus dibayar. Dalam hal ini, syariat memboleh wakalah bil ujrah (menyuruh orang lain dengan bayaran tertentu).

Diantara dalil yang menunjukkan bolehkah akad wakalah bil ujrah adalah,

[1] Firman Allah ta’ala yang mengisahkan ashabul kahfi yang tertidur dalam suatu gua selama 300 tahun lebih. Pada saat terbangun mereka mewakilkan kepada salah seorang diantara mereka untuk pergi ke kota membelikan makanan. Mereka mengatakan,

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ

Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemahlembut”. (QS. al-Kahfi: 19).

Ashhabul kahfi yang berjumlah 7 orang mewakilkan kepada salah satu diantara mereka untuk membeli makanan ke kota. Ini menunjukkan bolehnya mewakilkan kepada orang lain untuk membelikan makanan. sebagaimana akad wakalah dibolehkan, maka dibolehkan pula mengambil upah dari transaksi tersebut sebagai imbalan atas jasa yang halal dari orang yang menerima perwakilan.

[2] Diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan uang 1 dinar kepada Urwah al-Bariqi radhiyallahu anhu agar dibelikan seekor kambing untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Urwah segera ke pasar dan mendatangi para pedagang kambing. Dengan uang 1 dinar, Urwah berhasil membawa 2  ekor kambing. Dalam perjalanan menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seseorang yang menawar seekor kambing yang dibawa Urwah seharga 1 dinar, maka diapun menjualnya. Sampai di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Urwah memberikan 1 dinar dan seekor kambing. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merestui apa yang dilakukan Urwah, dengan beliau doakan,

اللهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ

Ya Allah, berkahi perdagangan yang dilakukan Urwah. (HR. Ahmad 19362 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Dalam dua dalil di atas memang tidak disebutkan upah untuk yang dititipi. Meskipun andai keduanya meminta upah di awal, diperbolehkan. Dalil di atas juga menyebutkan bahwa orang yang dititipi telah diberi uang oleh orang yang titip. Karena hakekat dari wakalah bil ujrah adalah jual beli jasa dan layanan. Sementara hukum asal jual beli adalah mubah.

Go Food & Go Mart

Dalam kasus go food atau go mart, pihak pelanggan memesan makanan atau barang. Dan umumnya driver go food tidak mendatangi pelanggan, tapi langsung ke rumah makan atau tempat belanja untuk membeli pesanan yang diinginkan pelanggan. Ketika driver belum diberi uang oleh pelanggan, dia harus memberi talangan. Dan kita memahami, talangan itu adalah utang.

Setelah makanan dan barang sampai di pelanggan, maka pelanggan akan membayar 2 item,

[1] Makanan/barang yang dipesan, sesuai nilai yang tertera dalam struk/nota. Dalam hal ini, driver sama sekali tidak melebihkan harga makanan maupun barang.

[2] Jasa kirim makanan. Di sini pihak driver mendapatkan keuntungan.

Berdasarkan keterangan di atas, ada 2 akad yang dilakukan antara pelanggan dengan driver:

[1] Akad jual beli jasa wakalah untuk beli makanan/barang.

Inilah akad yang menjadi tujuan utama kedua belah pihak. Tujuan utama pelanggan adalah mendapat layanan membelikan makanan/barang yang diinginkan. Sebagaimana pula yang menjadi tujuan utama driver, mendapat upah membelikan makanan/barang yang dipesan.

[2] Akad utang (talangan).

Bisa kita sebut akad utang ini hanyalah efek samping dari akad pertama. Keduanya sama sekali tidak memiliki maksud untuk itu. Hanya saja, untuk alasan praktis, pihak driver memberikan talangan untuk penyediaan makanan atau barang.

Kita bisa memahami itu, karena andai si driver ada di sebelah kita, kemudian kita apply go food atau go mart, tentu pihak driver akan meminta kita uang untuk pembelian makanan yang kita pesan. Dan kita juga akan tetap membayar biaya antar makanan.

Tinjauan Hadis Larangan Menggabungkan Utang dengan Jual Beli.

Ada sebuah hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menggabungkan antara akad jual-beli dan akad utang. (HR. Ahmad 6918 & Tirmizi 1278.).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ

Tidak halal, utang digabung dengan jual beli. (HR. Ahmad 6671, Abu Daud 3506 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Dalam catatan yang diberikan oleh Turmudzi di bawah hadis ini, beliau menyebutkan keterangan Imam Ahmad,

قال إسحاق بن منصور: قلت لأحمد: ما معنى نهى عن سلف وبيع؟ قال: أن يكون يقرضه قرضاً ثم يبايعه بيعاً يزداد عليه. ويحتمل أن يكون يسلف إليه في شيء فيقول: إن لم يتهيأ عندك فهو بيع عليك

Ishaq bin Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad,

“Apa makna laragan beliau, menggabungkan utang dengan jual beli?”

Jawab Imam Ahmad,

“Bentuknya, si A memberi utang kepada si B, kemudian mereka melakukan transaksi jual beli sebagai syarat tambahannya.” (Sunan Turmudzi, 5/140)

Dan akad ijarah, diantaranya wakalah bil ujrah, termasuk jual beli. Karena hakekat akad sewa adalah jual beli jasa. Dalam Ma’ayir as-Syar’iyah yang diterbitkan oleh AAOIFI, pada pasal (19) tentang Qardh, ayat (7) dinyatakan,

لا يجوز اشتراط عقد البيع أو الإجارة أو نحوهما من عقود المعوضات في عقد القرض

“Lembaga keuangan syariah tidak dibolehkan mensyaratkan akad ba’i (jual-beli), akad ijarah (sewa), atau akad mu’awadhah lainnya yang digabung dengan akad qardh. Karena dalam jual/sewa, biasanya, pihak debitur sering menerima harga di atas harga pasar dan ini merupakan sarana untuk terjadinya riba (pinjaman yang mendatangkan keuntungan bagi kreditur)”. (al-Ma’ayir asy-Syari’iyyah, hal 270)

Mengapa Dilarang Menggabungkan Jual Beli dengan Utang?

Dari keterangan Imam Ahmad, adanya larangan menggabungkan utang dengan jual beli, tujuan besarnya adalah menutup celah riba. Dalam rangka saduud dzari’ah (menutup peluang terjadinya maksiat). Karena saat mungkin pihak yang memberi utang, mendapat manfaat dari transaksi jual beli yang dilakukan. Dan setiap utang yang menghasilkan manfaat adalah riba.

Ibnu Qudamah menjelaskan alasan larangan menggabungkan utang dengan jual beli,

إذا اشترط القرض زاد في الثمن لأجله فتصير الزيادة في الثمن عوضا عن القرض وربـحا له وذلك ربا محرم

“Jika jual beli disyaratkan dengan utang, maka harga bisa naik disebabkan utang. Sehingga tambahan harga ini menjadi ganti dan keuntungan atas utang yang diberikan. Dan itu riba yang haram.” (al-Mughni, 4/314).

Sehingga ketika gabungan akad utang dan jual beli ini dilakukan, utang menjadi akad utama, sementara jual beli menjadi syarat tambahan, sebagai celah bagi pemberi utang untuk mendapat keuntungan.

Akad yang Mengikuti tidak Diperhitungkan

Terdapat kaidah Fiqh yang disampaikan al-Kurkhi,

الأصل أنه قد يثبت الشيء تبعاً وحكماً وإن كان يبطل قصداً

Hukum asalnya, terkadang ada sesuatu diboleh-kan karena mengikuti, meskipun batal jika jadi tujuan utama. (al-Wajiz fi Idhah Qawaid Fiqh, hlm. 340).

Dalam redaksi yang lain dinyatakan,

يثبت تبعاً ما لا يثبت استقلالاً

Jika mengikuti boleh, jika berdiri sendiri tidak boleh. (al-Qawaid al-Fiqhiyah ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, 1/468).

Jika kita perhatikan dalam akad go food atau go mart, pada dasarnya utang yang dilakukan pelanggan, sama sekali bukan tujuan utama akad. Saya sebut, itu efek samping dari akad antar pesanan makanan/barang. Sehingga tidak diperhitungkan. Sebanarnya pelanggan juga tidak ingin berutang, karena dia mampu bayar penuh. Sementara driver juga tidak membuka penyediaan utang, karena bagi dia, talangan resikonya lebih besar.  Sementara niat mempengaruhi kondisi akad. Ada kaidah menyatakan,
القصود في العقود معتبرة
“Niat dalam akad itu ternilai”

Sedangkan larangan menggabungkan utang dengan jual beli, akad yang dominan adalah utangnya. Andai tidak ada utang, mereka tidak akan jual beli. Sementara dalam kasus go food – go mart, yang terjadi, akad utang hanya nebeng, imbas, efek samping, yang sebenarnya tidak diharapkan ada oleh kedua belah pihak.

Karena itu, menurut pribadi saya, go food atau go mart dibolehkan…

Saya menyadari bahwa pendapat ini barangkali berbeda dengan pendapat para ustad yang lain… tapi itulah yang saya pahami.

Semoga Allah memberkahi apa yang kita pelajari…

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Berwasiat untuk Dihajikan]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28862 2017-01-06T07:15:17Z 2017-01-07T00:11:23Z Berwasiat untuk Dihajikan

Ada orang yang belum pernah haji. Ketika sakit, dia berpesan agar nanti dihajikan setelah meninggal. Apakah wasiat ini harus dilaksanakan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bagi orang yang pernah haji dan telah memenuhi kriteria mampu berhaji, dia harus segera berhaji. Ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad. Mereka berdalil dengan firman Allah,

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).

Orang yang tidak berangkat haji ada 3 keadaan:

[1] Orang yang tidak mampu secara ekonomi, sehingga tidak memiliki dana untuk haji.

Ulama sepakat, orang semacam ini tidak wajib haji. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 51540)

[2] Orang yang mampu secara ekonomi, tapi tidak mampu secara fisik.

Menurut Abu Hanifah, as-Syafi’I, dan Ahmad wajib baginya untuk menunjuk orang yang akan menggantikannya untuk berhaji. Dan jika mayit berwasiat untuk dihajikan, ahli waris bisa menghajikannya dengan menggunakan harta warisannya, meskipun melebihi 1/3 hartanya.

[3] Orang yang mampu haji secara ekonomi maupun fisik

Jika ada orang yang mati, padahal mungkin baginya berhaji namun dia tidak haji, dan dia meninggalkan harta warisan, maka wajib bagi ahli warisnya untuk menggunakan harta warisannya sebagai biaya haji atas nama si mayit. Ini merupakan pendapat Hasan al-Bashri, Thawus, as-Syafi’i, dan Ahmad.

Dalam ar-Raudhul Murbi’ dinyatakan,

وإن مات من لزماه أي الحج والعمرة أخرجا من تركته من رأس المال أوصى به أو لا ويحج النائب من حيث وجبا على الميت

Jika orang yang wajib haji atau umrah meninggal, maka dia harus dihajikan dan diumrahkan dengan mengambil warisannya. Baik dia pernah berwasiat maupun tidak. Wakilnya menghajikan dia sebagai haji wajib atas nama mayit. (ar-Raudhul Murbi’, al-Buhuti, hlm. 173)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,

من كان يستطيع في حياته الحج ببدنه وماله، فهذا يجب على ورثته أن يخرجوا من ماله لمن يحج عنه، لكونه لم يؤد الفريضة التي مات وهو يستطيع أداءها وإن لم يوص بذلك، فإن أوصى بذلك فالأمر آكد

Orang yang mampu haji ketika hidup dengan fisik dan hartanya, maka wajib bagi ahli warisnya agar menggunakan hartanya untuk menghajikannya, karena dia belum menunaikan kewajiban orang yang telah mati, padahal dia mampu mengerjakannya. Meskipun si mayit tidak pernah berwasiat untuk dihajikan. Jika dia berwasiat, maka tanggung jawabnya lebih besar.

Sumber: https://www.binbaz.org.sa/fatawa/686

Ini berlaku untuk haji pertama (haji wajib). Sementara wasiat untuk haji sunah (lebih dari sekali), hanya diambilkan dari kadar 1/3 hartanya.

Ibnu Qudamah mengatakan,

وإن كان تطوعاً أخذ الثلث لا غير إذا لم يجز الورثة ويحج به

Jika wasiatnya untuk haji sunah, maka dia ambil dari 1/3 hartanya, tidak lebih, jika ahli warisnya tidak rela melepaskan lebih dari 1/3. (al-Muhgni, 6/590).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Menunda Berhubungan Setelah Akad Nikah]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28856 2017-01-06T02:13:06Z 2017-01-06T02:12:44Z Menunda Kehamilan Karena Kuliah

Bolehkah menunda berubungan setelah nikah… misalnya nunggu sampai selesai kuliah, br rencana punya anak.. trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Setiap akad ada konsekuensi akad. Diantara konsekuensi akad nikah adalah mereka berdua menjadi suami istri. Sehingga halal bagi mereka untuk melakukan apapun sebagaimana layaknya suami istri. Namun bukan berarti setiap yang melakukan akad harus segera melakukan yang dihalalkan untuk suami istri. Boleh saja, mereka tunda sampai waktu tertentu atau sesuai yang dikehendaki pasangan suami istri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau berusia 7 tahun. dan Beliau baru kumpul dengan Aisyah, ketika Aisyah berusia 9 tahun.

Dari Urwah, dari bibinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَزَوَّجَهَا وَهْىَ بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ وَزُفَّتْ إِلَيْهِ وَهِىَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ وَلُعَبُهَا مَعَهَا وَمَاتَ عَنْهَا وَهِىَ بِنْتُ ثَمَانَ عَشْرَةَ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Aisyah berusia 7 tahun. dan Aisyah kumpul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berusia 9 tahun, sementara mainan Aisyah bersamanya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat ketika Aisyah berusia 18 tahun. (HR. Muslim 3546)

Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha juga bercerita,

تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pada saat usiaku 6 tahun, dan beliau serumah denganku  pada saat usiaku 9 tahun.” (Muttafaqun ‘alaih).

Semua riwayat ini dalil bahwa pasangan suami istri yang telah menikah, tidak harus langsung kumpul. Boleh juga mereka tunda sesuai kesepakatan.

Ar-Ruhaibani mengatakan,

(ومن استمهل منهما) أي ‏الزوجين ‏الآخر ‏‏(لزمه إمهاله ما) أي: مدة ‏‏(جرت عادة بإصلاح أمره) أي: المستمهل فيها ‏‏(كاليومين والثلاثة) طلبا ‏لليسر ‏والسهولة، ‏والمرجع في ذلك إلى العرف بين الناس؛ لأنه لا ‏تقدير فيه، فوجب الرجوع فيه إلى العادات

Jika salah satu dari suami istri minta ditunda maka harus ditunda selama rentang waktu sesuai kebiasaan yang berlaku, untuk persiapan bagi pihak yang minta ditunda, seperti 2 atau 3 hari, dalam rangka mengambil yang paling mudah. Dan acuan dalam hal ini kembali kepada apa yang berlaku di masyarakat. karena tidak ada acuan baku di sana, sehingga harus dikembalikan kepada tradisi yang berlaku di masyarakat. (Mathalib Ulin Nuha, 5/257).

Bisa juga kembali kepada kesepakatan kedua pihak.

Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فلم يأت الشرع بتأقيت معين للفترة ما بين العقد والبناء (الدخلة)، وبالتالي فالمرجع في تحديده إلى العرف وما توافق ‏عليه الزوجان

Syariat tidak menentukan batas waktu tertentu sebagai rentang antara akad dengan kumpul. Karena itu, acuan dalam rentang ini kembali kepada ‘urf (tradisi masyarakat) atau kesepakatan antara suami istri. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 263188)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>