Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam KonsultasiSyariah.com 2017-06-28T18:50:55Z https://konsultasisyariah.com/feed/atom WordPress Ahmad Anshori <![CDATA[Darah Haid Berhenti Di Tengah Siklus Haid]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29675 2017-06-28T18:34:12Z 2017-06-28T18:33:47Z Darah Haid Berhenti Sebelum Waktunya

Assalamu’alaikum, Ustadz, Mhn izin ana mau tanya perihal haid bagi wanita. Siklus haid biasanya 8 hari, 3 hari haid, hari ke 4-5-6 bersih (tidak keluar darah), kemudian hari ke 7-8 keluar haid lagi. Pertanyaanya: bagaimana hukum hari ke 4-5-6 tersebut? Apakah dihukumi suci atau haid? Syukran

Dari : Beni, di Jakarta.

Jawaban :

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah wasshollatu wassalam ‘ala Rasulillah, waba’d.

Untuk mengetahui hukumnya, kita lihat apakah ada tanda-tanda suci ketika darah haid itu berhenti, ataukah tidak.

Bila darah berhenti di tengah siklus haid, disertai tanda suci haid, maka wanita tersebut dihukumi suci. Ia wajib sholat dan puasa. Para ulama menyebut kasus seperti ini dengan istilah talfiq.

Namun bila darah berhenti di tengah siklus haid, tanpa disertai tanda suci haid, maka ia dihukumi masih haid. Meskipun darah haid berhenti keluar.

Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

الطُّهْرَ فِي أَثْنَاءِ الْحَيْضَةِ طُهْرٌ صَحِيحٌ ، فَإِذَا رَأَتْ يَوْمًا طُهْرًا وَيَوْمًا دَمًا ، وَلَمْ يُجَاوِزْ أَكْثَرَ الْحَيْضِ ، فَإِنَّهَا تَضُمُّ الدَّمَ إلَى الدَّمِ ، فَيَكُونُ حَيْضًا ، وَمَا بَيْنَهُمَا مِنْ النَّقَاءِ طُهْر .

Suci ketika masih dalam siklus haid, adalah suci yang teranggap sah. Apabila seorang wanita melihat satu hari suci, kemudian hari yang lain keluar darah, selama tidak sampai melebih siklus haid yang biasa ia alami, maka saat darah keluar ia dihukumi belum suci. Saat ia suci dari darah haid dalam siklus haid, maka dihukumi suci. (Al-Mughni, 1/217).

Adapun tanda suci haid ada dua :

Pertama, keluar cairan bening (qossoh baidho’).

Yakni cairan bening yang keluar dari rahim.

Kedua, keringnya farji (kemaluan), tidak ada lagi darah haid yang keluar.
Tanda ini bisa digunakan para wanita yang tidak memiliki kebiasaan keluar cairan putih ketika suci haid. Caranya bisa dengan menempelkan kapas, bila tidak ada lagi bekas darah, maka dihukumi telah suci.

Bila Keluar Flek Keruh atau Cairan Kekuningan ?

Darah berhenti ditengah siklus haid, namun kemudian berganti flek keruh atau kekuningan yang keluar. Bagaimana menyikapinya?

Flek keruh atau kecoklatan dalam bahasa fikih disebut kadroh, sedangkan cairan kekuningan disebut dengan istilah sufroh. Untuk mengetahui hukumnya, kita perlu melihat kapan cairan ini keluar.

1- Apabila keluar sebelum terlihat tanda suci haid, maka seorang wanita yang mengalami keluar flek tetap dihukumi haid.

Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

قال : ( والصفرة والكدرة في أيام الحيض من الحيض ) يعني إذا رأت في أيام عادتها صفرة أو كدرة ، فهو حيض ، وإن رأته بعد أيام حيضها ، لم يعتد به

Hukum sufroh dan kadroh apabila keluar dalam siklus haid maka dihukumi sebagai haid. Maksudnya apabila melihatnya keluar dalam hari-hari yang menjadi siklus rutin haidnya maka dihukumi haid. Bila melihatnya keluar setelah hari-hari yang menjadi siklus haid maka cairan ini tidak dianggap sebagai haid.
(Al Mughni 1/475).

2- Namun bila keluar setelah tampak tanda suci haid, maka sang wanita dihukumi suci.

Ummu Athiyyah radhiyallahu’anha menerangkan,

كُـنّـا لا نَـعُـدّ الكدرة والصفرة شيئا

Dahulu kami (para sahabat wanita) tidak menganggap kadroh dan sufroh sebagai haid sama sekali. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori).

Dalam riwayat Abu Dawud ditambahkan,

كنا لا نعد الكدرة والصفرة بعد الغسل شيئا

Dahulu kami (para sahabat wanita) sama sekali tidak menganggap kadroh dan sufroh sebagai haid, yakni apabila keluar setelah mandi wajib.

Wallahua’lam bis showab.

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Lelah Karena Ibadah (Nasehat Indah Pasca Ramadhan)]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29672 2017-06-28T18:50:55Z 2017-06-26T05:31:32Z Lelah Karena Ibadah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Di penghujung ramadhan, banyak kaum muslimin yang mengalami kelelahan… lelah fisik, meskipun semangat tetap membara…

Namun kita perlu igat,

Semua manusia pasti mengalami kelelahan. Karena bagian dari sunnatullah, setiap makhluk bernyawa – selain malaikat – pasti mengalami kelelahan.

Allah berfirman, menceritakan kondisi Malaikat,

وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ , يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. (QS. al-Anbiya: 19-20)

Manusia bukan malaikat. Sehingga kita mengalami keletihan ketika beribadah. Sebenarnya kami hanya ingin menekankan, bahwa letih itu tidak hanya dialami oleh mereka yang beribadah, tapi dialami semua yang beraktivitas, semua yang bergerak.

Allah berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sungguh, Aku telah ciptakan dalam kondisi kabad” (QS. al-Balad: 4)

Kata ‘kabad’ artinya kelelahan..

Allah juga mengatakan,

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian benar-benar capek menuju Allah sampai kalian ketemu dengan-Nya.” (QS. al-Insyiqaq: 6)

Yang dimaksud ‘capek menuju Allah’ adalah capek menuju kematian. Karena setiap manusia yang mati pasti ketemu Allah.

Allah menyebut kita semua capek, karena kita semua beraktivitas. Kita semua bekerja. Tidak ada istilah manusia berhenti.

Ketika kaum muslimin capek ketika berbuat taat, orang fasik juga capek ketika berbuat maksiat…

Ketika kaum muslimin capek ketika puasa ramadhan, orang kafir juga capek ketika melakukan kekafiran…

Ketika kita capek karena qiyamul lail, orang musyrik juga capek ketika berbuat kesyirikan…

Semua manusia capek…. Namun capek kita beda dengan capek mereka…

Capek kita berpahala…

Capek kita beriring dengan harapan besar di sisi-Nya…

Yang ini semua tidak dimiliki oleh mereka…

Allah berfirman,

إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan..” (QS. an-Nisa: 104)

Semoga capek kita, mengantarkan kita untuk bebas dari neraka…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

 “Setiap hari semua manusia akan mempertaruhkan dirinya. Apakah dia akan membebaskan dirinya (dari neraka) ataukah dia akan membinasakan dirinya (di neraka).” (HR. Muslim 556)

Demikian, Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Redaksi KonsultasiSyariah.com <![CDATA[Hukum Meninggalkan Shalat ‘Ied]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29577 2017-06-24T16:49:37Z 2017-06-24T16:52:13Z Meninggalkan Shalat Ied dan Hukum Wanita Shalat ‘Ied

Bolehkah seorang muslim meninggalkan shalat ‘Ied padahal tidak ada udzur (halangan)? Dan bolehkah melarang seorang wanita menunaikan shalat Ied bersama orang banyak?

Jawaban:

Shalat ‘Ied hukumnya fardhu kifayah, menurut sebagian besar para ulama. Seorang muslim per-individu boleh meninggalkan shalat ‘Ied, tapi lebih baik baginya datang dan berkumpul bersama kaum muslimin untuk melaksanakan shalat ‘Ied yang hukumnya sunnah mu’akad (sunnah yang ditekankan).  Sehingga tidak pantas bagi seorang muslim untuk meninggalkannya tanpa alasan yang syar’i.

Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat ‘Ied itu hukumnya fardhu ‘ain, sama seperti shalat Jum’at. Maka, bagi setiap muslim laki-laki yang mukallaf (sudah dewasa dan tidak gila) dan dia bermukin (tidak bepergian), dia tidak boleh meninggalkan shalat ‘Ied. Pendapat ini lebih jelas bila dihubungkan dengan dalil-dalil yang ada dan lebih dekat kepada kebenaran.

Dan disunnahkan pula bagi para wanita untuk menghadiri shalat ‘Ied dengan berhijab (menutup aurat) dan tidak memakai wangi-wangian. Hal ini berdasarkan sebuah hadits shahih dari Ummu Athiyyah Radhiyallahu ‘anha yang mengatakan:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَ فِيْ عِيْدَيْنِ العَوَاطِقَ وَالْحُيَّضَ لِيَشْهَدْناَ الخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَتَعْتَزِلَ الْحُيَّضُ الْمُصَلِّى

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyuruh kami keluar menghadiri shalat Ied bersama budak-budak perempuan dan perempuan-perempuan yang sedang haid untuk menyaksikan kebaikan-kebaikan dan mendengarkan khuthbah. Dan bagi wanita yang sedang haid disuruh menjauhi tempat shalat.” (HR. Bukhari: 313, Muslim: 1475)

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ada di antara shahabat perempuan berkata kepada Rasulullah:

يَا رَسُوْلَ اللهِ لاَ تَجِدُ إِحْدَنَا جِلْبَابًا تَخْرُجُ فِيْهِ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak mempunyai jilbab.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  berkata: “Hendaklah saudaranya memberikan (meminjamkan) jilbab kepadanya.” (HR. Ahmad: 19863).

Jadi tidak diragukan lagi bahwa hadits ini menunjukkan tentang ditekankannya para wanita untuk keluar menuju shalat ‘Ied agar mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Penolong menuju kebenaran.

Sumber: Fatawa Syaikh Bin Baaz Jilid 2, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Pustaka at-Tibyan.

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Redaksi KonsultasiSyariah.com <![CDATA[15 Artikel Penting Tentang Zakat Fitrah]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29665 2017-06-22T16:53:54Z 2017-06-22T22:58:10Z Kumpulan Artikel Zakat Fitrah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Berikut kumpulan beberapa artikel seputar zakat fitrah di web KonsultasiSyariah.com,

[1] Meluruskan istilah, zakat fitrah ataukah zakat fitri?

[2] Panduan umum zakat fitrah

[3] Hukum zakat fitrah dengan uang

[4] Ukuran zakat fitrah dalam bentuk beras

[5] Siapa yang berhak menerima zakat fitrah

[6] Bolehkah zakat fitrah satu keluarga diserahkan ke satu orang miskin?

[7] Waktu yang tepat untuk pembayaran zakat fitrah

[8] Apabila telat bayar zakat fitrah

[9] Dimanakah zakat fitrah ditunaikan?

[10] Siapa orang yang wajib membayar zakat fitrah?

Ukuran wajib zakat fitrah ternyata berbeda dengan ukuran wajib zakat mal.

[11] Apakah janin wajib ditunaikan zakat fitrahnya?

[12] Hukum zakat fitrah untuk pembantu

[13] Bolehkah memberikan zakat fitrah untuk keluarga?

[14] Hukum menyerahkan zakat fitrah ke Panti Asuhan Yatim

[15] Puasa tidak sah, sampai zakat fitrah ditunaikan – hadis dhaif

Demikian,

Semoga bermanfaat…

]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Dilarang Menyerahkan Zakat Fitrah ke Panti Asuhan Yatim!]]> https://konsultasisyariah.com/?p=25211 2017-06-21T07:23:27Z 2017-06-21T23:35:50Z Hukum Menyerahkan Zakat Fitrah ke Panti Asuhan Anak Yatim

Bolehkah menyerahkan zakat ke panti asuhan anak yatim?

Biasanya utk biaya operasional panti..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri untuk membersihkan orang yang yang puasa dari dosa tindakan sia-sia dan omong jorok dan sebagai makanan bagi orang miskin ….” (HR. Abu Daud 1609, Ibn Majah 1827; dihasankan al-Albani)

Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu fungsi zakat fitri adalah sebagai makanan bagi orang miskin. Ini merupakan penegasan bahwa orang yang berhak menerima zakat fitri adalah golongan fakir dan miskin.

Asy-Syaukani mengatakan, “Dalam hadis ini, terdapat dalil bahwa zakat fitri hanya (boleh) diberikan kepada fakir miskin, bukan 6 golongan penerima zakat lainnya.” (Nailul Authar, 2/7)

Allah telah menjelaskan siapa saja yang berhak zakat dalam firman-Nya,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan (Ibnu Sabil), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 60)

Pada ayat di atas, Allah tidak menyebut anak yatim sebagai salah satu penerima zakat. Artinya semata status yatim, bukan termasuk kriteria yang menyebabkan seseorang berhak menerima zakat.

Sebelumnya kita perlu tahu, siapakah anak yatim itu?

Dalam ensiklopedi Fiqh dinyatakan definisi anak yatim,

الْيَتِيمَ بِأَنَّهُ مَنْ مَاتَ أَبُوهُ وَهُوَ دُونُ الْبُلُوغِ. لِحَدِيثِ: ” لاَ يُتْمَ بَعْدَ احْتِلاَمٍ”

Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati bapaknya, ketika dia belum baligh. Berdasarkan hadis: “Tidak ada status yatim setelah baligh.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 45/254)

Berdasarkan pengertian di atas, ada dua kemungkinan anak yatim

Pertama, anak yatim yang kaya. Misalnya, dia memiliki banyak warisan dari orang tuanya. Anak yatim semacam ini, tidak berhak mendapat zakat.

Kemungkinan kedua, dia anak tidak mampu. Anak yatim yang miskin. Sehingga dia berhak menerima zakat. Bukan karena statusnya yatim, tapi karena dia orang miskin.

Imam Ibn Utsaimin ditanya, apakah anak yatim berhak menerima zakat?

Jawaban beliau,

الأيتام الفقراء من أهل الزكاة فإذا دفعت الزكاة إلى أوليائهم فهي مجزئة إذا كانوا مأمونين عليها

Anak yatim yang miskin, berhak menerima zakat. Jika anda menyerahkan zakat anda kepada pengurus anak yatim miskin ini, zakat anda sah, apabila pengurus ini adalah orang yang amanah… (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 18/346).

Beliau juga mengingatkan kebiasaan keliru di tengah masyarakat dengan memberikan zakat kepada anak yatim,

ولكن هنا تنبيه : وهو أن بعض الناس يظن أن اليتيم له حق من الزكاة على كل حال ، وليس كذلك فإن اليتيم ليس من جهات استحقاق أخذ الزكاة ، ولا حق لليتيم في الزكاة إلا أن يكون من أصناف الزكاة الثمانية. أما مجرد أنه يتيم فقد يكون غنيًّا لا يحتاج إلى زكاة

”Ada satu catatan penting, sebagian orang beranggapan bahwa anak yatim memiliki hak zakat, apapun keadaannya. Padahal tidak demikian. Karena kriteria yatim bukanlah termasuk salah satu yang berhak mengambil zakat. Tidak ada hak bagi anak yatim untuk menerima zakat, kecuali jika dia salah satu diantara 8 golongan penerima zakat. Adapun semata statusnya sebagai anak yatim, bisa jadi dia kaya, dan tidak butuh zakat.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 18/353).

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah juga disebutkan,

لا يجوز صرف الزكاة إلى اليتيم إلا إذا كان من الأصناف الثمانية الذين يجوز صرف الزكاة إليهم، وهم المذكورون في قول الله تعالى   – التوبة: 60 – ، ولأن اليتيم قد يكون غنيا بإرث أو هبة ونحو ذلك

Tidak boleh memberikan zakat kepada anak yatim. Kecuali jika dia termasuk salah satu dari 8 golongan yang boleh menerima zakat, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah di surat Taubah: 60. Karena anak yatim terkadang kaya dari warisan, hibah, atau yang lainnya. (Fatwa Syabakah islamiyah, no. 59155).

Karena itu, zakat tidak bisa secara penuh diserahkan ke panti asuhan anak yatim, tanpa disertai keterangan bahwa itu khusus bagi yang miskin. Kecuali jika seisi panti itu semuanya anak yatim yang miskin.

Catatan:

Anak yatim yang kaya berhak menerima santunan dari selain zakat. Seperti infak atau sedekah. Karena zakat memiliki aturan baku yang khusus, tidak boleh keluar dari aturan tersebut. Termasuk diantaranya adalah aturan penerima zakat.

Berbeda sedekah atau infak, tidak memilikki aturan baku, sehingga bisa diberikan kepada anak yatim atau anak terlantar, sekalipun dia orang mampu.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Ngantuk Ketika Tarawih]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29653 2017-06-21T01:50:45Z 2017-06-21T01:50:00Z Ngantuk Ketika Tarawih

Jika orang jadi makmum, ngantuk ketika tarawih, apakah shalatnya batal? dia sama sekali tidak mendengar bacaan imam…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 2 hadis yang bisa dijadikan acuan terkait kasus ngantuk ketika shalat,

[1] Hadis dari  Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّى فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لاَ يَدْرِى لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ

Apabila kalian ngantuk ketika sedang shalat, handaknya tidur dulu, sampai hilang keinginan untuk tidur. Karena ketika kalian shalat dalam kondisi ngantuk, kalian tidak tahu, bisa jadi dia hendak memohon ampun, tapi justru mencela dirinya sendiri. (HR. Bukhari 212 dan yang lainnya)

Syaikh Dr. Musthofa al-Bugho menyatakan bahwa hadits di atas menjelaskan terlarangnya memaksakan diri dalam ibadah dan bersikap berlebih-lebihan. Ketika seseorang berlebih-lebihan dalam ibadah, justru dia tidak bisa menggapai tujuan, malah yang terjadi sebaliknya, yaitu mendapatkan dosa. (Nuzhatul Muttaqin, hlm. 88).

[2] Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menceritakan pengalamannya shalat tahajud bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Bahwa Ibnu Abbas yang kala itu masih anak-anak pernah tidur di rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika  masuk pertengahan malam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun, mengambil wudhu, dan Ibnu Abbas berwudhu bersama beliau. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai shalat, Ibnu Abbas berdiri di samping kiri beliau, lalu dipindah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke sebelah kanan beliau. Dalam kondisi itu, Ibnu Abbas bercerita,

فَجَعَلْتُ إِذَا أَغْفَيْتُ يَأْخُذُ بِشَحْمَةِ أُذُنِى – قَالَ – فَصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Ketika saya ngantuk, beliau menjewer telingaku. Dan beliau shalat 11 rakaat. (HR. Muslim 1828).

Catatn Terkait Ngantuk dalam Shalat

Ada beberapa catatan yang bisa kita berikan untuk kasus ngantuk ketika shalat,

Pertama, bahwa ngantuk yang masih sadar, tidak membatalkan wudhu dan juga shalat

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan hadis Aisyah di atas,

وحمله المهلب على ظاهره فقال: إنما أمره بقطع الصلاة لغلبة النوم عليه فدل على أنه إذا كان النعاس أقل من ذلك عفى عنه، قال: وقد أجمعوا على أن النوم القليل لا ينقض الوضوء

Al-Muhallab memahami sebagaimana dzahirnya. Beliau mengatakan, perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membatalkan shalat itu disebabkan karena tertidur dalam shalat. Yang ini menunjukkan, jika ngantuknya tidak sampai tertidur, dimaafkan. Beliau mengatakan, ‘Para ulama sepakat bahwa tidur yang sedikit tidak membatalkan wudhu.’ (Fathul Bari, 1/314).

Kedua, bahwa standar ngantuk untuk makmum dengan orang yang shalat sendirian dibedakan

Untuk orang yang shalat sendirian, standar ngantuk ringan adalah ketika dia masih bisa menyadari apa yang dia baca. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاةِ فَلْيَنَمْ حَتَّى يَعْلَمَ مَا يَقْرَأُ

Apabila kalian ngantuk dalam shalat, hendaknya dia tidur sampai dia menyadari apa yang dia baca. (HR. Bukhari 206)

Yang ini dipahami bahwa konndisi ngantuk yang mengharuskan orang untuk tidur dulu adalah ngantuk yang menyebabkan dia tidak menyadari apa yang dia baca. Dan ini berlaku bagi selain makmum.

Sementara ngantuk bagi makmum, standarnya adalah ketika dia bisa menyadari gerakan shalat imam. Meskipun bisa jadi dia sama sekali tidak mendengar bacaan imam.

Al-Aini dalam Umdatul Qari mengatakan,

فقد جاء في حديث ابن عباس في نومه في بيت ميمونة رضي الله عنها “فجعلت إذا غفيت يأخذ بشحمتي أذني” ولم يأمره بالنوم

Terdapat dalam hadis dari Ibnu Abbas ketika beliau tidur di rumah Maimunah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Ketika saya ngantuk, beliau menjewer telingaku.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan Ibnu Abbas untuk tidur. (Umdatul Qari, 3/110)

Ketiga, bagi makmum ngantuk dan masih bisa menyadari gerakan imam, segera menyusul gerakan imam.

Ada fatwa dari Imam Ibnu Baz,

إذا نعس، وبقي في جلوسه حتى ركع الإمام، يقوم ويركع مع الإمام فإن سبقه الإمام يركع ثم يلحق الإمام ويسجد معه، يركع، ثم يرفع ويعتدل ثم يلحق الإمام ويجزئه إذا كان نعاسه ما أزال الشعور عنده بعض اليقظة بعض الانتباه لكن لم ينتبه للتكبير، وإلا فلم يستغرق في النوم، أما إذا استغرق في النوم تبطل صلاته، وعليه أن يستأنفها من أوله؛ لأن النوم ينقض الوضوء إذا استغرق فيه، أما إذا كان نعاس نوم خفيف ما استغرق يتابع الإمام، وتسقط عنه الفاتحة؛ لأنه في هذه الحالة لم يتعمد تركها، بل أخذه النوم

Ketika makmum ngantuk, dia masih duduk sampai imam sudah rukuk, maka dia langsung berdiri (ke rakaat berikutnya) dan rukuk bersama imam. Jika dia didahului imam, dia tetap rukuk lalu menyyusul imam, dan sujud bersama imam. Dia bisa rukuk, lalu bangkit itidal, hingga menyusul imam. Shalatnya sah jika ketika ngantuk masih ada kesadaran, meskipun tidak mendengar takbir imam. Namun jika tertidur, maka shalatnya batal, dan dia wajib memulai dari awal. Karena tidur lelap bisa membatalkan wudhu. Namun jika ngantuk ringan, tidak sampai terlelap, dia bisa menyusul imam. Gugur darinya bacaan al-Fatihah. Karena dalam kondisi ini, dia tidak sengaja meninggalkan, tapi disebabkan ngantuk.

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/noor/6853

Karena itu, bagi jamaah tarawih yang ngantuk, tidak bisa mendengar bacaan imam, namun masih bisa menyadari gerakan imam, dia boleh tetap bertahan shalat dan tidak membatalkannya. Jika telat dari gerakan imam, misal imam sudah itidal, sementara dia masih berdiri, maka segera menyusul gerakan imam, dengan melakukan rukuk singkat namun thumakninah dan lanjut itidal, lalu menyusul sujud bersama imam.

Demikan, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Apakah Ada Musik di Surga ?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29650 2017-06-20T02:50:37Z 2017-06-20T02:50:26Z Apakah ada Musik di Surga ?

Ada orang bertanya ke saya, apakah di surga ada musik? Karena saya penggemar berat musik…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam al-Quran, terdapat celaan untuk nyanyian dan musik. Allah berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Lahwul hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (QS. Luqman: 6)

Mengenai makna ‘Lahwul Hadits’ terdapat penjelasan dari beberapa sahabat, diantaranya

[1] Keterangan Ibnu Mas’ud,

Dari Abu Shahba’ al-Bakri,

أنه سمع عبد الله بن مسعود -وهو يسأل عن هذه الآية: {ومن الناس من يشتري لهو الحديث ليضل عن سبيل الله} -فقال عبد الله: الغناء، والله الذي لا إله إلا هو، يرددها ثلاث مرات

Beliau mendengar Abdullah bin Mas’ud – ketika ditanya tentang ayat di atas – kata Abdullah bin Mas’ud, “Itu nyanyian, demi Allah, Dzat yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia.” Beliau ulang-ulang sebanyak 3 kali. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/330)

[2] Keterangan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,

قال حبر الأمة ابن عباس رضي الله عنهما : هو الغناء

Tinta umat islam – Ibnu Abbas  Radhiyallahu ‘anhuma, mengatakan, “Itu nyanyian.”

[3] Keterangan Imam Mujahid – rahimahullah –,

وقال مجاهد رحمه الله : اللهو الطبل

Mujahid mengatakan, ‘al-Lahwu adalah genderang.’

(Tafsir at-Thabari, 21/40)

[4] Keterangan Hasan al-Bashri – rahimahullah –, beliau mengatakan,

أنزلت هذه الآية: {ومن الناس من يشتري لهو الحديث ليضل عن سبيل الله بغير علم} في الغناء والمزامير

“Ayat ini (Luqman: 6) diturunkan terkait nyanyian dan seruling.”  (Tafsir Ibnu Katsir, 6/331)

Ini semua menunjukkan bahwa musik adalah sesuatu yang tercela.

Apakah sesuatu yang tercela ini ada surga?

Untuk nasyid dan nyanyian, tidak semuanya tercela. Karena itu, pernah ada orang bernyanyi di samping Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hari raya, dan beliau biarkan.

Di surga, para bidadari menyambut para suaminya dengan nyanyian merdu mereka.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَزْوَاجَ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُغَنِّينَ أَزْوَاجَهُنَّ بِأَحْسَنِ أَصْوَاتٍ سَمِعَهَا أَحَدٌ قَطُّ ، إِنَّ مِمَّا يُغَنِّينَ : نَحْنُ الْخَيِّرَاتُ الْحِسَانُ أَزْوَاجُ قَوْمٍ كِرَامٍ

Sesungguhnya para istri di surga mereka bernyanyi di depan suaminya dengan suara yang paling merdu yang pernah didengar seseorang. Diantara lirik nyanyian mereka,

نَحْنُ الْخَيِّرَاتُ الْحِسَانُ أَزْوَاجُ قَوْمٍ كِرَامٍ

“Kami para bidadari indah, istri orang-orang yang mulia…” (HR. Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath, 5/149 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib)

Adakah musik di surga?

Ada beberapa ayat yang menyatakan bahwa penduduk surga tidak mendengar laghwun (suara sia-sia) dan suara-suara sumber dosa.

Diantaranya, firman Allah,

لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا

Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa.” (QS. Al-Waqi’ah: 25)

Allah juga berfirman di surat Thur,

يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لَا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ

“Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa.” (QS. At-Thur: 23)

Ketika penjelasan tentang musik, apakah kelak ada di surga, Lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah menjelaskan hukum musik, lalu menyebutkan dalil di surat al-Waqiah, kemudian menyatakan,

وعلى هذا، فما ينبغي للموسيقى أن تكون في الجنة؛ فإن الإثم واللغو وما شابههما لا مكان له في الجنة؛  وأيضا، فالجنة دار طيبة، وأهلها طيبون لا يشتهون إلا الطيب

Oleh karena itu, tidak layak musik ada si surga. Karena dosa dan bunyi sia-sia atau semacamnya tidak ada tempat di surga.. dan juga, surga adalah negeri yang baik, penghuninya orang-orang baik, dan mereka tidak menginginkan kecuali kebaikan. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 257992)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Apabila Telat Bayar Zakat Fitrah]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29647 2017-06-19T02:02:08Z 2017-06-19T02:00:00Z Yang Tidak Bayar Zakat Fitrah

Jika ada yg telat bayar zakat fitrah, itu bgmn? Atau ada yg kelewatan, tidak dibayarkan zakat fitrahnya karena tidak tahu, itu bgmn?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Zakat fitrah dinilai sah sebagai zakat fitrah apabila dibayarkan sebelum pelaksanaan shalat idul fitri. Dan jika telat, hanya berstatus sebagai sedekah biasa.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah biasa.” (HR. Abu Daud 1609; Ibnu Majah 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Lalu bagaimana dengan mereka yang telat bayar zakat fitrah?

Jika itu dilakukan secara sengaja, statusnya berdosa. Namun jika tidak sengaja, tidak ada dosa.. Haya saja, dia tetap wajib membayarkannya sebagai qadha’ zakat fitrah.

As-Syirazi mengatakan,

فإن أخرها حتى اليوم أثم وعليه القضاء؛ لأنه حق مالي وجب عليه، وتمكن من أدائه، فلا يسقط عنه بفوات الوقت

Jika ada orang mengakhirkan pembayaran zakat sampai keluar batas waktu hari itu, maka dia berdosa dan wajib qadha’. Karena zakat fitrah adalah hak harta yang menjadi kewajibannya, dan memungkinkan untuk dia tunaikan. Karena itu, tidak gugur dengan keterlambatan waktu. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 6/126).

Keterangan lain disampaikan an-Nawawi,

لا يجوز تأخيرها عن يوم العيد، وأنه لو أخرها عصى ولزمه قضاؤها، وسموا إخراجها بعد يوم العيد قضاءً

Tidak boleh mengakhirkan zakat dari waktu yang ditetapkan di hari raya. Dan jika ada yang mengakhirkannya maka dia bermaksiat (berdosa) dan wajib mengqadha’nya. Dan para ulama (Syafi’iyah) menyebut, tindakan mengeluarkan zakat setelah keluar waktu sebagai qadha. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 6/84).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Siapakah Mertua Nabi Musa?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=29644 2017-06-16T07:18:33Z 2017-06-16T23:58:52Z Nabi Syu’aib Mertua Nabi Musa

Benarkah mertuanya nabi Musa adalah nabi Syuaib? Trim’s, karna ada yg meragukan

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada beberapa keterangan dalam al-Quran terkait nama kota Madyan dan perjalanan Musa ‘alaihis salam.

Pertama, Allah menyebutkan bahwa daerah yang didatangi Nabi Musa ketika beliau melarikan diri dari kejaran pasukan Fir’aun bernama Madyan. Allah berfirman,

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ . وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

“Tatkala dia (Musa) menuju negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.” Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. (QS. al-Qashas: 22 – 23).

Kedua, Tidak ada keterangan bahwa orang tua yang menikahkan Musa dengan putrinya bernama Syuaib. Dalam al-Quran, Allah menyebutnya dengan Syaikhun Kabir (orang yang sudah tua).

Allah berfirman,

قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. (QS. al-Qashas: 23).

Ketiga, Allah juga menyebutkan bahwa nama kota yang didakwahi Nabi Syuaib adalah kota Madyan.

Allah berfirman,

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya…” (QS. al-A’raf: 85)

Keempat, bahwa rentang masa antara kaum Nabi Luth yang dibinasakan dengan kaum Nabi Syuaib radhiyallahu ‘anhuma tidaklah jauh. Karena itu, ketika Syuaib mengingatkan kaumnya, beliau ingatkan akan adzab yang menimpa kaum Luth.

Allah berfirman,

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آَبَاؤُنَا…. وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ

“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami… Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh waktunya dari kamu. (QS. Hud: 87 – 89).

Dan kita tahu, kaum Luth hidup semasa dengan Nabi Ibrahim. Dibuktikan dengan peristiwa ketika Malaikat yang diutus menghancurkan kaum Luth, sebelum mendatangi Luth, mereka mendatangi Ibrahim ‘alaihis salam.

Berarti masa Nabi Syuaib berdekatan dengan masa Nabi Luth. Sementara Musa adalah keturunan Bani Israil, jauh dari zaman Ibrahim. Ibnu Katsir menyebutkan lebiih dari 400 tahun.

Musa jauh setelah Yusuf. Sementara Yusuf keturunan Ya’kob bin Ishaq bin Ibrahim. Kita tidak tahu, berapa generasi antara Ibrahim dengan Musa. Sehingga secara perhitungan waktu, aneh jika Musa bertemu dengan Syuaib yang zamannya berdekatan dengan Luth.

Keterangan dari Hadis

Disamping informasi dalam al-Quran, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan keterangan tambahan dalam hadis bahwa Nabi Syuaib adalah nabi dari arab, yang berbahasa arab.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan beberapa hal terkait para nabi, diantara yang beliau sampaikan kepada Abu Dzar adalah

وَأَرْبَعَةٌ مِنَ العَرَبِ هُودٌ وَصَالِح وَشُعَيب وَنَبِيُّكَ يَا أَبَا ذَرّ

Ada 4 nabi dari arab, yaitu Hud, Shaleh, Syuaib, dan nabimu ini, wahai Abu Dzar. (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/120).

Sementara diskusi antara Musa dengan mertuanya dilakukan tanpa penerjemah. Seperti yang Allah sebutkan di surat al-Qashas,

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ . قَالَ ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ أَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

Berkatalah dia (Orang tua madyan): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. Dia (Musa) berkata: “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”. (QS. al-Qashas: 27 – 28)

Ayat di atas menceritakan percakapan antara Musa dengan mertuanya soal mahar pernikahan, dan mereka lakukan tanpa penerjemah. Jika mertu Musa adalah Syuaib, tentu berbeda dengan bahasa Musa. Karena Musa berasal dari Bani Israil yang bahasanya bukan bahasa arab.

Dari keterangan di atas, ada beberapa hal mendekati yang bisa kita simpulkan,

[1] Ada kesamaan nama daerah antara tempat dakwah Nabi Syuaib dengan mertuanya Musa, yaitu Madyan

[2] Mertua Nabi Musa adalah orang tua di Madyan, dan beliau bukan Nabi Syuaib. Dan pendapat ini yang dinilai kuat oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Dengan pertimbangan surat Hud: ayat 89. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/228-229).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>