Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam KonsultasiSyariah.com 2016-07-29T01:54:24Z https://konsultasisyariah.com/feed/atom Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Membatalkan Puasa Qadha karena Ingin Bersetubuh]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28151 2016-07-29T01:54:24Z 2016-07-29T01:53:51Z Membatalkan Puasa Qadha

Apa hukum berbuka puasa qadha kerana ingin bersetubuh

Rahmi

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (QS. Muhammad: 33)

Dalam ayat ini, Allah melarang kita membatalkan amal di saat kita tengah mengerjakannya. Termasuk diantaranya amal wajib yang telah kita kerjakan.

Ketika fathu Mekah, Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anhu sedang puasa. Tiba-tiba datang seseorang membawa segelas minuman. Ummu Hani’ langsung mengambilnya dan meminumnya.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكُنْتِ تَقْضِينَ شَيْئًا

“Apakah kamu akan mengqadhanya?”

Ummu Hani menjawab: ‘Tidak’

Selanjutnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

فَلاَ يَضُرُّكِ إِنْ كَانَ تَطَوُّعًا

“Tidak masalah, jika itu puasa sunah.” (HR. ad-Darimi 1736, Baihaqi dlam al-Kubro 8134 dan sanadnya dinilai dhaif  oleh Syaikh Husain Salim Asad)

Dalam hadis lain, dari Ummu Hani’ radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيرُ نَفْسِهِ، إِنْ شَاءَ صَامَ، وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Orang yang melakukan puasa sunah, menjadi penentu dirinya. Jika ingin melanjutkan, dia bisa melanjutkan, dan jika dia ingin membatalkan, diperbolehkan.” (HR. Ahmad 26893, Turmudzi 732, dan dishahihkan Al-Albani)

Karena itu, para ulama mengatakan, mereka yang telah melaksanakan puasa wajib, seperti puasa ramadhan, puasa qadha atau puasa nadzar, tidak boleh membatalkannya tanpa ada udzur yang syar’i. seperti sakit atau safar atau lainnya.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ومن دخل في واجب، كقضاء رمضان، أو نذر معين أو مطلق، أو صيام كفارة؛ لم يجز له الخروج منه؛ لأن المتعين وجب عليه الدخول فيه، وغير المتعين تعين بدخوله فيه، فصار بمنزلة الفرض المتعين، وليس في هذا خلاف بحمد الله

Siapa yang telah memulai puasa wajib seperti qadha ramadhan, puasa nazar hari tertentu atau nazar mutlak, atau puasa kafarah, tidak boleh membatalkannya. Karena sesuatu yang statusnya wajib ain, harus dilakukan. Sementara yang bukan wajib ain, menjadi wajib ain jika telah dilakukan. Sehingga statusnya sama dengan wajib ain. Dan dalam hal ini tidak ada perselisihan, alhamdulillah.. (Al-Mughni, 3/160 – 161)

Sebatas keinginan untuk berhubungan badan, bukan alasan syar’i untuk membatalkan puasa.

Bagaimana jika ini tuntutan suami?

Dalam keataatan harus ada prioritas. Taat kepada makhluk dibolehkan, selama tidak melanggar kewajiban kepada khalik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidak ada keaatan bagi makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.” (HR. Ahmad 1095 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Karena itu, agar puasa yang dilakukan istri tidak menjadi masalah dalam keluarga, hendaknya sebelum puasa qadha, istri membuat kesepakatan dengan suaminya, kapan waktu untuk berpuasa. Semoga Allah memberkahi keluarga kita semua.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Kerja di Hotel yang Menjual Khamr]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28145 2016-07-28T02:13:42Z 2016-07-28T02:12:40Z Kerja di Tempat yang Menjual Minuman Keras

Assalamu alaikum wr wb.
Saya mau bertanya bagaimana hukumnya kerja di Hotel yang menyediakan Kamar untuk pasangan yang bukan muhrim dan menjual Alkohol ?

Dan bagaimana jika kerja di hotel tersebut di bagian accounting ataupun di bagian memasak ?

Hasil dari penjualan kamar dan alkohol tersebut dibagikan ke karyawan sebesar 11% ?

Saya sangat bingung karena banyak sekali para ulama, kiayi dan ust, menjawab pertanyaan tersebut bebeda2, ada yang mrngharamkan dan ada yang menghalalkan ?

Mohon di jawab dengan sejelas2nya karena hati saya selalu bimbang akan pekerjaan yg pernah saya jalani ini, sekarang saya sudah berhenti tapi banyak yang menawarkan saya untuk kembali kerja di Hotel.

Terima kasih dan maaf apabila ada salah kata.

Wassalam wr wb

Jawab:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Termasuk sumber penghasilan yang haram adalah ketika seseorang dibayar karena menyediakan fasilitas maksiat bagi konsumennya. Termasuk menyediakan khamr dan kamar hotel untuk maksiat.

Allah berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Janganlah kalian bantu membantu dalam dosa dan tindakan melampaui batas. (QS. al-Maidah: 2)

Mereka yang menyediakan khamr, turut dilaknat, karena dia membantu orang lain minum khamr.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْخَمْرِ عَشَرَةً عَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَشَارِبَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَآكِلَ ثَمَنِهَا وَالْمُشْتَرِىَ لَهَا وَالْمُشْتَرَاةَ لَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat 10 orang karena khamr, yang memeras anggur, yang minta diperaskan anggur, yang minum, yang membawa, yang minta dibawakan, yang menuangkan, yang menjual, yang makan hasil penjualan khamr, yang beli, dan yang minta dibelikan. (HR. Turmudzi 1342, Ibnu Majah 3506, dan dishahihkan al-Albani).

Idealnya seorang muslim menghindari tempat kerja semacam ini, agar dia lebih bebas dari semua bentuk pelanggaran syariat. Atau turut membantu orang lain melakukan pelanggaran syariat.

Bagaimana dengan Penghasilannya?

Hukum itu mengikuti apa yang dominan. Dalam satu kaidah dinyatakan,

الحكم على الغالب

“Hukum itu mengikuti yang dominan.”

Kita tidak sebut penghasilan hotel ini haram. Karena tidak semua sumber penghasilan hotel ini bermasalah. Hanya saja, hartanya bercampu antara yang halal dan haram. Termasuk posisi karyawan. Ketika hasil yang haram ini disingkirkan, maka sisanya bisa dimanfaatkan.

Terdapat kaidah yang menyatakan,

من اختلط بماله الحلال والحرام أخرج قدر الحرام؛ والباقي حلال له

Orang yang hartanya bercampur antara yang halal dan yang haram, maka dia keluarkan bagian yang haram, dan sisanya menjadi halal baginya. (Jamharah al-Qawaid al-Fiqhiyah lil Muamalah Maliyah, 1/344).

Dalam Majmu’ al-Fatawa, Syaikhul mengatakan,

الحرام لكسبه : كالمأخوذ غصبا أو بعقد فاسد فهذا إذا اختلط بالحلال لم يحرمه

Harta haram karena cara mendapatkannya, seperti harta haram yang diambil dari meramas atau melalui akad yang batal, jika ini bercampur dengan halal, maka yang haram tidak membuat yang halal ikut haram.

Kemudian Syaikhul Islam menyebutkan contohnya,

Jika ada orang mengambil harta orang lain, kemudian dia campur dengan harta milik pribadinya, tidak membuat semuanya jadi haram. Bahkan, jika yang halal dan yang haram berimbang, dan memungkinkan untuk diperhitungkan, maka dia bisa mengambil bagian yang halal. (Majmu’ al-Fatawa, 29/320).

Bagaimana jika uang itu bercampur?

Wujud uangnya halal, meskipun ada sebagian yang diperoleh dari hasil yang haram. Karena itu, acuan yang digunakan adalah nilai dan bukan benda uangnya. Sehingga tidak masalah uangnya bercampur, selama dia tahu nilainya.

Ibnul Qoyim mengatakan,

توبة من اختلط ماله الحلال بالحرام وتعذر عليه تمييزه أن يتصدق بقدر الحرام ويطيب باقي ماله

Taubatnya orang yang hartanya bercampur yang halal dengan yang haram, sementara tidak memungkinkan baginya untuk membedakannya, maka dia harus bersedekah senilai yang haram, kemudian sisa hartanya menjadi halal. (Madarij as-Salikin, hlm. 391).

Mengacu pada penjelasan di atas, penghasilan haram yang ada pihak anda, dan diketahui nilainya 11%, harus dikeluarkan sebagai bentuk takhallush minal haram (membebaskan diri dari yang haram). Bisa diserahkan untuk kepentingan fasilitas umum atau diberikan ke fakir miskin.

Selanjutnya, sisa gaji anda adalah halal.

Namun ini sama sekali bukan memotivasi anda untuk bertahan di dunia kerja yang semacam ini. Kami lebih menekankan untuk mencari penghasiln lain di tempat yang mungkin gajinya lebih sedikit, tapi lebih terbebas dari setiap pelanggaran syariat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Menyusui Anak ketika Shalat]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28142 2016-07-27T08:00:19Z 2016-07-27T07:59:37Z Menyusui Anak ketika Shalat

Apakah menyusui anak bisa membatalkan shalat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan bahwa ketika kita bermunajat dalam shalat, kita sedang melakukan kesibukan. Karena seisi shalat semua dzikir, doa, gerakan, dan perenungan. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan agar ketika kita shalat, tidak diiringi kesibukan lainnya, yang membuat shalat kita menjadi tidak berkualitas.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى الصَّلاَةِ لَشُغْلاً

“Sesungguhnya dalam shalat itu isinya kesibukan.” (HR. Ahmad 3563, Abu Daud 924, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Ulama memberi batasan, diantara kesibukan yang tidak boleh dilakukan pada saat shalat adalah terlalu banyak bergerak, yang itu dilakukan berturut-turut. Kecuali jika ada hubungannya dengan kemaslahatan shalat, seperti merapatkan shaf atau maju untuk mengisi shaf yang kosong, dst.

An-Nawawi mengatakan,

وأما ما عده الناس كثيرا كخطوات كثيرة متوالية وفعلات متتابعة فتبطل الصلاة

Apa yang dianggap masyarakat terlalu banyak, seperti melangkah yang banyak, berturut-turut, atau gerakan yang berurutan, maka membatalkan shalat. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/93).

Apakah menyusui termasuk?

Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan bahwa menyusui anak termasuk bentuk kesibukan yang tidak boleh dilakukan dalam shalat.

والظاهر أن اشتغال الأم بإرضاع طفلها في الصلاة من الأفعال الكثيرة المشغلة عن الصلاة المبطلة لها

Yang nampak, bahwa aktivitas ibu dengan menyusui anaknya ketika shalat, termasuk gerakan banyak yang menyibukkan dari konsentrasi dalam shalat, yang bisa membatalkan shalat. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 328132)

Fatwa yang semisal juga disampaikan oleh Syaikh Musthofa al-Adawi dalam acara tanya jawab melalui di media, Beliau ditanya tentang hukum menyusui anak ketika shalat.

Diantara yang beliau nyatakan,

النص عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – لا أحفظ نصا الا حمل النبي – صلى الله عليه وسلم-  أمامة في الصلاة؛ تجوز المرأة أن تحمل طفلته في الصلاة لكن أن ترضعها عندي نص عام إن في الصلاة لشغلا؛ كذا قال – صلى الله عليه وسلم – أما الارضاع لا أعلم فيه نصا والأولى عدمه خروجا من أي خلاف وكذالك لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – أما الابطال فيحتاج الى مزيد بحث واطلاع

Keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam masalah ini) tidak ada yang saya ketahui selain peristiwa beliau menggendong Umamah ketika shalat. Boleh bagi wanita untuk menggendong bayinya ketika shalat. Namun untuk menyusui, saya punya dalil umum yang menyatakan bahwa dalam shalat itu penuh dengan kesibukan. Demikian yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan menyusui, saya tidak mengetahui adanya dalil yang membolehkannya. Dan sebaiknya ditinggalkan, dalam rangka menghindari semua bentuk perbedaan, dan lebih sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Apakah bisa membatalkan, ini butuh kajian tambahan.

Karena itu, kami menyarankan agar tidak menyusui anak ketika shalat. Andaipun anak mengalami rewel, cukup digendong. Jika tidak memungkinkan, shalat bisa dipercepat dengan tetap memperhatikan rukun dan wajibnya. Atau jika tidak, dibatalkan.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Administrator 2 http://www.yufid.org <![CDATA[Kumpulan Artikel Puasa Syawal]]> https://konsultasisyariah.com/?p=13402 2016-07-27T01:54:13Z 2016-07-27T01:34:21Z Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebagian ulama mengatakan, diantara balasan diterimanya amal seseorang adalah adanya keinginan untuk melakukan amal setelahnya. Karena itu, ketika anda masih berkeinginan untuk puasa setelah anda menyelesaikan puasa ramadhan, semoga itu menjadi indikator bahwa puasa ramadhan anda diterima.

Agar puasa syawal anda sesuai aturan dan sunah, berikut kami haturkan kumpulan artikel tentang puasa syawal, terutama berkaitan dengan kasus qadha.

1. Puasa Syawal dan Niatnya
sebagian orang masih merasa bingung dengan permasalahan niat. Tak terkecuali ketika hendak melakukan puasa syawal. Artikel di atas semoga bias menjadi panduan anda untuk niat puasa syawal yang tepat.

2. Tata Cara Puasa Syawal
Artikel di atas merupakan uraian tata cara puasa syawal.

3. Puasa Syawal bagi Orang Yang Punya Hutang Puasa
Bagi orang yang memiliki taanggungan puasa ramadhan yang harus diqadha, bolehkah dia melakuikan puasa sunah syawal sebelum membayar puasa qadhanya.

4.  Menggabungkan Niat Puasa dengan Puasa Qadha
Anda yang memiliki tanggungan qadha puasa ramadhan, bisakah menggabungkan niat qaqdha dengan niat puasa syawal.

5. Menggabungkan Puasa Syawal dengan Puasa Senin-Kamis
bagi Anda yang memiliki kebiasaan puasa sunah, seperti senin kemis atau puasa sunah lainnya, bagaimana hukumnya jika puasa syawal ini digabung dengan niat puasa sunah yang lain, yang itu menhjadi kebiasaannya?

6. Puasa Syawal dengan Menentukan Hari
Adakah hari tertentu yang dianjurkan untuk pelaksanaan puasa syawal? Hari apakah itu?

7. Puasa Syawal karena Uzur
Bagaimana jika ada orang yang tidak mampu melaksanakan puasa syawal karena uzur? Bisakah diganti di hari yang lain.

]]>
0
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Memanfaatkan Zakat untuk Membangun Rumah Tahfidz]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28131 2016-07-26T02:50:28Z 2016-07-26T02:50:12Z Memanfaatkan Zakat untuk Membangun Rumah Tahfidz

Bolehkah dana zakat maal utk pembangunan rumah tahfidz?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Diantara yang membedakan antara zakat dengan sedekah, peruntukan zakat telah ditetapkan oleh Allah.

Allah berfirman,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah..” (QS. at-Taubah: 60)

Karena itu, tidak boleh memberikan zakat untuk selain 8 golongan yang telah ditentukan oleh Allah dalam ayat di atas.

Selanjutnya, untuk pembangunan rumah belajar agama atau rumah tahfidz, apakah termasuk fi sabilillah?

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, bahwa diantara makna fi sabilillah adalah belajar ilmu agama. Karena musuh agama itu 2, musyrikin dan munafiqin. Sehingga keduanya harus dilawan, untuk menjaga kelestarian ajaran islam yang Allah berikan bagi umat manusia. Allah berfirman memerintahkan jihad untu Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَٰأَيُّهَا النَّبِىُّ جَـٰهِدِ الْكُفَّـٰرَ وَالْمُنَـٰفِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (QS. at-Taubah: 72).

Jihad melawan orang musyrikin dilakukan dengan angkat senjata. Sedangkan jihad melawan orang munafiq dengan ilmu dan bukan senjata.

Selanjutnya beliau menyimpulkan,

وعلى هذا فتصرف الزكاة لهم في نفقاتهم وما يحتاجون إليه من الكتب، سواء كان على سبيل التمليك الفردي الذي يشترى لكل فرد منهم، أم على سبيل التعميم كالكتب التي تشترى فتودع في مكتبة يرتادها الطلاب، لأن الكتب لطالب العلم بمنزلة السيف والبندقية ونحوهما للمقاتل

Oleh karena itu, boleh memberikan zakat kepada mereka (orang yang belajar ilmu agama) untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka atau untuk biaya pengadaan kitab-kitab yang mereka butuhkan. Baik untuk kepemilikan pribadi, atau untuk umum, seperti membeli kitab kemudian ditaruh di perpustakaan, yang  sering dicari oleh para penuntut ilmu agama. Karena kitab bagi pelajar, seperti pedang dan peluru dan semacamnya bagi orang  yang membunuh.

Hanya saja, Imam Ibnnu Utsaimin menyatakan bahwa ini tidak berlaku untuk bangunan, baik bangunan sekolah islam maupun rumah tahfidz.

أما بناء المساكن والمدارس لطلبة العلم ففي نفسي شيء من جواز صرف الزكاة فيها، والفرق بينها وبين الكتب أن الانتفاع بالكتب هو الوسيلة لتحصيل العلم، فلا علم إلا بالكتب، بخلاف المساكن والمدارس

Untuk pembangunan asrama atau tempat belajar (madrasah) bagi para penuntut ilmu agama, saya kurang sreg, jika ini diambilkan dari dana zakat. Dan berbeda antara bangunan dengan kitab. Mempelajari kitab itu sarana untuk bisa mendapatkan ilmu. tidak bisa mendapat ilmu tanpa kitab. Berbeda dengan asrama dan madrasah.

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 18/253).

Fatwa ini juga disampaikan Dr. Soleh al-Fauzan,

Beliau melarang memberikan zakat untuk yayasan sosial. karena Allah telah membatasi penerima zakat sesuai yang ada di surat at-Taubah. Sehingga zakat tidak boleh disalurkan untuk membangun jembatan, yayasan sosial, pembangunan madrasah, atau semacamnya. Karena lembaga sosial semacam ini didanai dari donasi, wakaf yang disalurkkan untuknya. Sementara zakat, disalurkan sesuai peruntukannya yang ditetapkan Allah.

Selanjutnya, beliau menyebutkan salah satu makna fi Sabilillah,

والمراد بقوله: {وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ} هم المجاهدون الذين ليس لهم مرتبات من بيت المال فيعطون من الزكاة

Yang dimaksud ‘fi sabilillah’ adalah mereka para mujahidin, yang mereka tidak memiliki gaji tetap dari Baitul Mal, sehingga mereka diberi zakat.

http://ar.islamway.net/fatwa/8199/صرف-الزكاة-في-بناء-المساجد-أو-المدارس

Berdasarkan keterangan di atas, zakat tidak boleh digunakan untuk membangun rumah tahfidz. Tapi boleh digunakan untuk memberi santunan, mencukupi kebutuhan para santri yang tidak mampu.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Hukum Pokemon Go]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28124 2016-07-25T02:38:56Z 2016-07-25T02:38:35Z Hukum Pokemon Go dalam Tinjauan Syariat Islam

Terkait game yg sedang naik daun sekarang, yaitu “pokemon go” dmn d beberapa artikel yg saya baca, nama2 karakter pokemon nama game itu sendiri artinya berhubungan dengan yahudi, mohon klarifikasinya tadz, karena banyak diantara anak2 muda muslim yg memainkannya,, syukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada beberapa pertimbangan yang menunjukkan bahwa permainan ini bermasalah,

Pertama, permainan pokemon, termasuk filmnya mengajarkan sihir di tengah masyarakat. Benda kecil bisa disulap jadi besar dan bisa bertarung. Seolah pemilik pokemon, memiliki kemampuan kun fayakun, jadilah,langsung jadi makhluk. Atau minimal membangun aqidah paganisme orang musyrik yang percaya dengan sihir atau menyemarakkan karakter yang tidak jelas.

Dan ini penyimpangan dalam masalah aqidah.

Ini yang menjadi alasan Lajnah Daimah – Lembaga Fatwa Saudi – ketika mendapat pertanyaan tentang permainan kartu pokemon,

Pertanyaan:

“Akhir-akhir ini lagi marak diantara pelajar sekolah permainan yang dikenal dengan pokemon. Permainan ini telah menghipnotis otak kebanyakan anak-anak pelajar dan menawan hati mereka sehingga menjadi candu untuk membeli kartu-kartunya. Bagaimana sebenarnya hukum permainan Pokemon ini?”

Jawaban Lajnah Daimah

وحيث إنَّ هذه اللعبة تشتمل على عدد من المحاذير الشرعية التي منها:

الشركُ بالله -باعتقاد تَعدُّد الآلهة

ومنها تَرويجُ شعارات الكفر، والدِّعايةُ لها

لهذه المحاذير وغيرها؛ فإن اللجنة الدائمة ترى تَحريمَ هذه اللعبة.

وتوصي اللجنةُ جميعَ المسلمين بالحذر منها، ومَنْعِ أولادهم من تعاطيها واللعب بها، محافظةً على دينهم وعقيدتِهم وأخلاقهم؛ وبالله التوفيق

Mengingat permainan ini mengandunn beberapa pelanggaran syariah, diantaranya,

– Syirik kepada Allah – membangun aqidah tentang keberadaan banyak tuhan –

– Menyemarakkan syiar orang kafir, dan memotivasi syiar kekufuran.

Mengingat beberapa pelanggaran ini, Lajnah Daimah menganggap bahwa permainan ini haram.

Lajnah Daimah berpesan kepada seluruh kaum muslimin untuk waspada terhadap permainan ini, dan melarang anak-anaknya untuk memainkannya. Dalam rangka menjaga agama, aqidah, dan akhlak mereka. Wa billahi at-Taufiq. (Fatwa Lajnah no. 2175).

Kedua, membangun kewaspadaan terhadap konspirasi orang kafir

Disinyalir bahwa permainan ini tujuan besarnya untuk nyedot data. Dengan teknologi interconnecting geospasial (maps), mereka bisa melengkapi data citra fisik yang memetakan setiap sudut wilayah negara para penggunanya.

Dikala satelit yang digunakan oleh google earth dan google maps tak mampu menjangkau gambaran sempurna 3 dimensi dalam sebuah wilayah, game ini akan sangat membantu, dengan peran para gamers atau gadget maniac dalam menjalankan agenda maping intelijen.

Kita bisa bayangnya, ketika banyak diantara aparat negara aparat, Tentara, Polisi, PNS dan masyarakat awam berbondong memainkan game Pokemon GO  di wilayah kerja masing-masing, berapa banyak data valid bangunan fisik serta citra ruang yang harusnya bersifat rahasia bagi suatu pertahanan negara dapat diakses oleh pihak luar. Dan tentu saja, ini sangat merugikan negara.

Ketiga, kita berbicara soal waktu

Kenyataan membuktikan, permainan ini membuat pelakunya kecanduan. Dia bisa habiskan waktu berjam-jam hanya untuk memburu monster.

Dalam hadis dari Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Bagian dari keindahan islam seseorang, dia meninggalkan semua yang tidak berarti baginya. (HR. Ahmad 1737, Turmudzi 2487 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Mereka yang sibuk dengan permainan pokemon, menunjukkan islamnya perlu banyak diperbaiki.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Yang Ketinggalan Puasa Syawal bisa Puasa Bulan Dzulqa’dah?]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28119 2016-07-25T01:05:10Z 2016-07-23T00:54:55Z Ketinggalan Puasa Syawal

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam hadis dari Abu Ayub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian dilanjut berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim, no. 1164)

Makna tekstual hadis menunjukkan bahwa pahala puasa setahun bisa diperoleh, jika puasa 6 hari itu dilakukan di bulan syawal. Apakah makna ini berlaku mutlak?

Ulama berbeda pendapat dalam memahaminya. Karena itulah, mereka berbeda pendapat, apakah puasa 6 hari itu harus dilakukan selama syawal, atau boleh setelah syawal.

Pertama, keutamaan pahala puasa setahun diperoleh bagi yang berpuasa 6 hari di bulan syawal atau bulan setelahnya (Dzulqa’dah). Ini merupakan pendapat beberapa ulama Malikiyah, dan Hambali.

Mereka beralasan,

[1] pernyataan dalam hadis ‘berpuasa enam hari di bulan Syawal’ maksudnya adalah penjelasan tentang keringanan syariah bagi kaum muslimin yang telah usai puasa ramadhan. Sehingga, ketika mereka telah menjalankan puasa selama ramadhan, akan merasa lebih mudah jika dilanjut di bulan syawal.

Dalam Hasyiyah al-Adawi untuk Syarh al-Kharsyi dinyatakan,

وإنما قال الشارع : ( من شوال ) للتخفيف باعتبار الصوم ، لا تخصيص حكمها بذلك الوقت ، فلا جرم أن فعلها في عشر ذي الحجة مع ما روي في فضل الصيام فيه أحسن

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, ‘di bulan syawal’ untuk memberi keringanan dalam berpuasa, bukan penjelasan hukum bahwa puasa ini hanya di bulan itu. Sehingga tidak masalah melaksanakannya di 10 Dzulhijjah, sekaligus mendapatkan keutamaan puasa di bulan awal Dzulhijjah. (Hasyiyah al-Adawi, 2/243).

[2] bahwa pahala puasa setahun, karena puasa ramadhan selama sebulan dinilai sama seperti puasa 10 bulan. Sementara puasa 6 hari dinilai sama seperti puasa 2 bulan (30 hari). Dan kaidah 1 kebaikan dilipatkan 10 kali, berlaku untuk semua amal soleh, termasuk puasa. Baik di bulan syawal maupun di selain bulan syawal.

Dalam Tahdzib al-Furuq al-Qarrafi dinyatakan,

أن قوله صلى الله عليه وسلم : (من شوال) “على جهة التمثيل ، والمراد : أن صيام رمضان بعشرة أشهر ، وصيام ستة أيام بشهرين ، وذلك المذهب [يعني مذهب الإمام مالك] ، فلو كانت من غير شوال لكان الحكم فيها كذلك

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘puasa di bulan syawal’ sifatnya hanya contoh. Maksudnya bahwa puasa ramadhan seperti puasa 10 bulan, dan puasa 6 hari di bulan syawal, seperti puasa 2 bulan. Dan itulah pendapat madzhab (maksudnya madzhab Imam Malik). Andaipun dilakukan di selain syawal, hukum yang berlaku juga seperti itu. (Tahdzib al-Furuq, al-Qarrafi, 2/297).

Alasan ini juga disampaikan Ibu Muflih – ulama hambali – dalam kitabnya al-Furu’ (5/83). Kata Ibnu Muflih, pendapat ini juga yang dinilai kuat al-Qurthubi.

Kedua, hanya bisa dilakukan di bulan syawal. Namun bagi yang tidak sempat di bulan syawal, bisa diqadha di bulan Dzulqa’dah. Meskipun pahalanya tidak seperti mereka yang puasa di bulan syawal.

Ini merupakan pendapat Syafi’iyah.

Sisi perbedaan pahalanya,

  • Siapa yang puasa ramadhan penuh kemudian puasa 6 hari selama syawal maka dia mendapat pahala puasa wajib selama setahun.
  • Siapa yang puasa ramadhan penuh kemudian puasa 6 hari setelah syawal maka dia mendapat pahala puasa wajib ramadhan dan pahala puasa sunah 6 hari.

Ibnu Hajar al-Makki mengatakan,

من صامها مع رمضان كل سنة تكون كصيام الدهر فرضا بلا مضاعفة ، ومن صام ستةً غيرها كذلك تكون كصيامه نفلا بلا مضاعفة

Siapa yang puasa syawal setelah ramadhan setiap tahun, seperti puasa wajib setahun tanpa pelipatan. Dan siapa yang berpuasa 6 hari di selain syawal, dia seperti puasa sunah tanpa pelipatan. (Tuhfatul Muhtaj, 14/69).

Ketiga, keutamaa puasa ini hanya untuk mereka yang melaksanakannya di bulan syawal.

Ini pendapat madzhab Hambali. Diantara pertimbangannya,

[1] Ini yang lebih sesuai makna teks hadis

[2] Bahwa penyebutan syawal dalam hadis itu untuk menjelaskan batasan waktu.

[3] Puasa syawal itu ibarat puasa bakdiyah ramadhan, sehingga harus dilakukan pasca-ramadhan. Dan siapa yang kehilangan waktu itu, berarti kehilangan kesempatan untuk melaksanakannya. Sebagaimana orang yang kehilangan kesempatan untuk shalat rawatib.

Al-Buhuti – ulama hambali – mengatakan,

ولا تحصل الفضيلة بصيامها أي : الستة أيام في غير شوال ، لظاهر الأخبار

Keutamaan puasa syawal tidak akan diperoleh di selain bulan syawal. Sesuai makna teks hadis. (Kasyaf al-Qana’, 2/338).

InsyaaAllah pendapat yang lebih mendekati bahwa puasa syawal telah ditetapkan waktunya. Sehingga yang mendapatkan keutamaan puasa syawal, hanya mereka yang berpuasa di bulan syawal. Meskipun bagi mereka yang memiliki udzur, karena sakit atau seperti wanita haid atau nifas, sehingga puasanya tidak bisa selesai sampai syawal-nya habis, dia bisa mengerjakannya di Dzulqa’dah.

أما إن كان له عذر من مرض أو حيض أو نفاس أو نحو ذلك من الأعذار التي بسببها أخر صيام قضائه أو أخر صيام الست ، فلا شكَّ في إدراك الأجر الخاص ، وقد نصُّوا على ذلك. وأما إذا لم يكن له عذر أصلاً ، بل أخر صيامها إلى ذي القعدة أو غيره ، فظاهر النص يدل على أنَّه لا يدرك الفضل الخاص ، وأنَّه سنة في وقت فات محله

Bagi orang yang memiliki udzur sakit, haid, nifas atau semacamnya, yang menyebabkan dia harus mengakhirkan puasa qadha’nya atau puasa syawalnnya, maka dia mendapat pahala khusus (keutamaan puasa syawal). Para ulama menegaskan hal ini. Sementara orang yang sama sekali tidak memiliki udzur, namun dia akhirkan puasa syawal sampai Dzulqa’dah atau bulan setelahnya, berdasarkan teks dalil, dia tidak mendapat keutamaan puasa syawal. Puasa syawal adalah puasa sunah yang dibatasi, sementara dia ketinggalan waktunya. (al-Fatawa as-Sa’diyah, hlm. 230)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Menggabungkan Niat Puasa Sunah dengan Puasa Qadha Ramadhan]]> https://konsultasisyariah.com/?p=21065 2016-07-22T02:18:39Z 2016-07-22T02:06:57Z Menggabungkan Niat Puasa

Pertanyaan:

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Saya ingin menanyakan bolehkan puasa sunnah niatnya dibarengi dengan mengqodho puasa ramadhan?

Jazakumullah khairan katsiran.
Wassalam.

Jawaban:

Wa alaikumus salam warrahmatullahi wabarakatuh,

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ada dua pembahasan dalam masalah ini,

Pertama, hukum melaksanakan puasa sunah, bagi orang yang memiliki tanggungan puasa qadha.

Sebagian ulama melarang melakukan puasa sunah, hingga dia menyelesaikan qadhanya. Ini merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad. Pendapat ini didasari kaidah bahwa amal wajib lebih penting dari pada amal sunah, sehingga qadha ramadhan yang statusnya wajib, harus didahulukan sebelum puasa sunah.

Sementara mayoritas ulama berpendapat, bahwa orang yang memiliki tanggungan qadha puasa ramadhan, dibolehkan melaksanakan puasa sunah. Ini merupakan pendapat Hanafiyah, Syafiiyah, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat. Dan pendapat keduanya lebih mendekati kebenaran. Allahu a’lam.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Puasa Sunnah sebelum Qadha Ramadhan

Kedua, sebagian ulama memberikan pengecualian untuk puasa 6 hari di bulan syawal. Bahwa orang yang hendak puasa sunah 6 hari di bulan syawal, dia diharuskan menyelesaikan qadha puasa ramadhannya terlebih dahulu, agar dia bisa mendapatkan pahala seperti puasa selama setahun.

Kesimpulan ini berdasarkan hadis dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang puasa ramadhan, kemudian dia ikuti dengan 6 hari puasa syawal, maka seperti puasa setahun.” (HR. Muslim 1164)

Pada hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan janji pahala seperti puasa setahun dengan 2 syarat: (1) Menyelesaikan puasa ramadhan, dan (2) Puasa 6 hari di bulan syawal.

Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Qadha Dulu ataukah Syawal Dulu

Mengingat puasa 6 hari di bulan syawal dikaitkan dengan selesainya puasa puasa ramadhan, maka tidak mungkin seseorang menggabungkan niat puasa syawal dengan niat puasa qadha. Sebagaimana tidak mungkin seseorang menggabungkan shalat sunah ba’diyah dengan shalat wajib yang sedang dikerjakan.

Ketiga, menggabungkan puasa sunah selain syawal dengan qadha ramadhan

Ada dua pendapat ulama dalam kasus ini.

Pendapat pertama, Tidak boleh menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunah lainnya. Sebagaimana tidak boleh menggabungkan niat ketika puasa ramadhan dengan puasa sunah lainnya.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فإن من عليه صيام واجب من قضاء رمضان، أو من كفارة، أو نحو ذلك، فلا يصح له أن يجمعه مع صوم التطوع بنية واحدة، لأن كلاً من الصوم الواجب وصوم التطوع عبادة مقصودة مستقلة عن الأخرى، ولا تندرج تحتها، فلا يصح أن يجمع بينهما بنية واحدة

”Orang yang melaksanakan puasa wajib, baik qadha ramadhan, puasa kaffarah, atau puasa lainnya, tidak sah untuk digabungkan niatnya dengan puasa sunah. Karena masing-masing, baik puasa wajib maupun puasa sunah, keduanya adalah ibadah yang harus dikerjakan sendiri-sendiri. Dan puasa sunah bukan turunan dari puasa wajib. Sehingga tidak boleh digabungkan niatnya.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 7273)

Pendapat kedua, boleh menggabungkan niat puasa sunah dan puasa wajib, selama puasa sunah itu tidak memiliki kaitan dengan puasa wajib.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

من صام يوم عرفة ، أو يوم عاشوراء وعليه قضاء من رمضان فصيامه صحيح ، لكن لو نوى أن يصوم هذا اليوم عن قضاء رمضان حصل له الأجران : أجر يوم عرفة ، وأجر يوم عاشوراء مع أجر القضاء ، هذا بالنسبة لصوم التطوع المطلق الذي لا يرتبط برمضان

”Orang yang melakukan puasa hari arafah, atau puasa hari asyura, dan dia punya tanggungan qadha ramadhan, maka puasanya sah. Dan jika dia meniatkan puasa pada hari itu sekaligus qadha ramadhan, maka dia mendapatkan dua pahala: (1) Pahala puasa arafah, atau pahala puasa Asyura, dan (2) Pahala puasa qadha. Ini untuk puasa sunah mutlak, yang tidak ada hubungannya dengan ramadhan.” (Fatawa as-Shiyam, 438).

Dalam Fatwa Nur ’ala ad-Darbi, ketika membahas puasa qadha dan kaitannya dengan puasa sunah, Imam Ibnu Utsaimin juga menjelaskan ,

وأما إذا أراد أن يصوم هذا الواجب حين يشرع صومه من الأيام كصيام عشرة ذي الحجة وصيام عرفة وصوم عاشوراء أداء للواجب فإننا نرجو أن يثبت له أجر الواجب والنفل لعموم قول الرسول عليه الصلاة والسلام لما سئل عن صوم يوم عرفة قال (احتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده) فأرجو أن يحقق الله له الأجرين أجر الواجب وأجر التطوع وإن كان الأفضل أن يجعل للواجب يوماً وللتطوع يوم آخر

Ketika ada orang yang hendak puasa wajib (qadha), bertepatan dengan puasa sunah, seperti puasa 10 hari pertama dzulhijjah, atau puasa arafah, atau puasa asyura, sekaligus puasa wajib, kami berharap dia mendapatkan pahala puasa wajib dan puasa sunah. Berdasarkan makna umum dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya tentang puasa arafah, ’Saya berharap kepada Allah, agar puasa ini menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.’

Karena itu, saya berharap Allah memberikan dua pahala untuknya, pahala wajib dan pahala sunah. Meskipun yang afdhal, hendaknya puasa wajib dilakukan dalam satu hari dan puasa sunah di hari yang lain. (Fatawa Nur ’ala ad-Darbi, yang disebarkan dalam situs resmi beliau: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1969.shtml)

Hal yang sama juga difatwakan oleh Lajnah Daimah (Lembaga Fatwa Arab Saudi), ketika ditanya tentang menggabungkan niat puasa sunah dan puasa wajib. Jawaban Lajnah,

يجوز صيام يوم عرفه عن يوم من رمضان إذا نويته قضاء ، وبالله التوفيق

”Boleh puasa hari arafah, sekaligus untuk puasa qadha, jika dia anda meniatkannya untuk qadha. Wa billahi at-Taufiq.” Fatawa Lajnah Daimah, ditanda tangani oleh Imam Abdul Aziz bin Baz, (10/346).

Tarjih:

Para ulama mengupas malasah ini dalam pembahasan hukum tasyrik an-niyah (menggabungkan niat dua ibadah atau lebih). Amal yang bisa digabungkan niatnya adalah amal yang ghairu maqsudan li dzatih (yang penting ada amal itu, apapun bentuknya).

Dalam kasus puasa arafah dan asyura, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa hari arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Dari hadis ini bisa disimpulkan bahwa suatu kegiatan puasa bisa disebut puasa hari arafah, jika puasa itu dikerjakan pada hari arafah atau tanggal 9 Dzulhijjah. Demikian pula, suatu puasa bisa disebut puasa hari asyura, jika puasa itu dikerjakan pada hari asyura atau tanggal 10 Muharam. Artinya, apapun bentuk puasanya, jika dikerjakan pada saat itu, pelakunya mendapat pahala puasa arafah atau puasa asyura.

Berdasarkan kesimpulan ini, maka pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bolehnya menggabungkan niat puasa wajib dengan puasa sunah, selain puasa 6 hari di bulan syawal.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ammi Nur Baits http://yufid.org <![CDATA[Hukum Hena Tangan]]> https://konsultasisyariah.com/?p=28113 2016-07-21T02:26:18Z 2016-07-21T02:25:04Z Hukum Memakai Hena Tangan

Tanya dikit terkait hena tadz, bagaimana hukum menggunakan hena tangan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kaidah yang Allah berikan terkait pakaian wanita di depan umum,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَاوَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. an-Nur: 31)

Ibnu Mas’ud menjelaskan, bahwa perhiasan wanita (bagian yang mengundang perhatian lelaki) itu ada 2:

[1] Perhiasan yang hanya boleh ditampakkan kepada suaminya. seperti gelang, cincin, gelng kaki.

[2] Perhiasan yang boleh dilihat orang lain, itulah luar pakaiannya.

(Tafsir Ibnu Katsir, 6/45)

Karena itu, termasuk yang tidak boleh ditampakkan adalah punggung telapak tangannya, apalagi ketika dia diberi hena. Karena ini justru semakin menampakkan keindahan.

Imam Ibnu Baz mengatakan,

إذا خضبت يديها أو رجليها، تسترها عن الناس ، تكون ساترة لها بالثياب والملابس لأنها فتنة

Ketika wanita memberi hena untuk tangannya atau kakinya, harus dia menutupinya dari orang lain. Dia tutupi dengan kain atau bajunya, karena bisa mengundang fitnah. (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, 17/272)

Demikian pula keterangan yang disampaikan Ibnu Utsaimin,

يجب أن نعلم أن الحناء من جملة الزينة التي لا يجوز للمرأة أن تبديها لغير من أباح الله لها إبداء الزينة لهم ، أي أنها لا تبديها للرجال الأجانب ، فإذا أرادت أن تخرج إلى السوق مثلاً لحاجة ، فإنه لا بد أن تلبس على قدميها جوربين إذا كانت قد حنت قدميها ، وكذلك بالنسبة للكفين ، لا بد أن تسترهما

Wajib kita ketahui bahwa hena termasuk perhiasan yang tidak boleh ditampakkan oleh wanita di tempat selain yang Allah bolehkan untuk ditampakkan. Artinya, tidak boleh dia tampakkan di depan lelaki yang bukan mahram. Jika dia butuh berangkat ke pasar, dia harus memakai kaos kaki, jika ada henanya. Demikian pula untuk telapak tangan. Harus dia tutupi.. (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, 2/7)

Menimbang penjelasan di atas, bahwa menggunakan hena hukumnya boleh, dengan ketentuan:

[1] Bagi yang sudah menikah, sehingga ada tujuan besar, yaitu berhias di depan suami

[2] Hanya ditampakkan di depan suami atau wanita lain.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>