<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; FIKIH</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/fikih/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 23:00:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Ziarah Kubur bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 06:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10269</guid>
		<description><![CDATA[Ziarah Kubur bagi Wanita Pertanyaan: Bolehkah wanita berziarah ke kubur? Jawaban: Kedudukan wanita (dalam ibadah) hampir sama dengan kaum pria. Kewajiban pria juga bisa menjadi kewajiban wanita. Begitu pula mereka sama dalam mengerjakan perkara-perakara yang disunahkan. Mereka berbeda dalam perkara-perkara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ziarah Kubur bagi Wanita</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Bolehkah wanita berziarah ke kubur?<br />
<span id="more-10269"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kedudukan wanita (dalam ibadah) hampir sama dengan kaum pria. Kewajiban pria juga bisa menjadi kewajiban wanita. Begitu pula mereka sama dalam mengerjakan perkara-perakara yang disunahkan. Mereka berbeda dalam perkara-perkara yang dikhususkan oleh syariat.</p>
<p>Dalam perkara yang ditanyakan, saya tidak menemukan adanya dalil khusus yang mengharamkan wanita berziarah ke kuburan. Bahkan terdapat sebuah hadis dalam <em>Shahih Muslim</em> yang menceritakan tindakan Aisyah yang dilandasi rasa cemburu kepada istri-istri Nabi yang lain. Lengkapnya sebagai berikut:</p>
<p>Di malam hari ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyangka Aisyah telah tertidur, beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> turun dari tempat tidur kemudian berjalan dengan mengendap-endap, menuju ke pekuburan Baqi’. Mengetahui hal itu Aisyah yang belum tertidur mengikuti dari belakang. Jika Nabi melambatkan ayunan langkahnya, Aisyah pun ikut melambatkan jalannya. Dan jika Nabi berjalan cepat, Aisyah pun berjalan cepat, ketika Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pulang ke rumah, Aisyah dengan segera masuk ke rumah dan tidur di atas tempat tidurnya. Rasulullah segera masuk kamar menemui Aisyah. Karena Aisyah nampak terengah-engah; Rasulullah bertanya kepada, “<em>Ada apa wahai Ais? Apakah engkau menyangka Allah dan rasul-Nya akan berbuat curang kepadamu?. Sesungguhnya tadi Jibril datang dan menyampaikan salam dari Allah kepadaku, dan juga menyampaikan perintah Allah agar saya mendatangi pekuburan Baqi&#8217; lalu memintakan ampun penghuninya</em>.” Dalam kitab lain disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Apa artinya aku bila dibandingkan dengan engkau Ya Rasulullah.” Selanjutnya (Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Kalau begitu, apa yang diucapkan jika berziarah ke kuburan?” Nabi menjawab, “Bacalah&#8230;&#8221;</p>
<p>Adapun hadis yang melarang para wanita berziarah ke kubur adalah,</p>
<p>“<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>.”</p>
<p>Hadis ini hanya berlaku di Mekah karena diucapkan di Mekah dan dalam periode Mekah (sebelum hijrah –ed.). Dalil yang menguatkan adalah sebuah hadis yang sudah kita kenal yang bunyinya:</p>
<p>“<em>Dahulu saya melarang kalian mendatangi (ziarah) kubur, adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya.</em>”</p>
<p>Dengan demikian jelaslah bahwa pelarangan <strong>ziarah kubur</strong> itu hanya berlaku dalam periode Mekah, bukan pada periode Madinah. Pelarangan ini dimaksudkan karena di masa periode Mekah para sahabat baru saja memeluk Islam. Tidak mungkin pelarangan ini berlaku setelah hijrah ke Madinah.</p>
<p>Ucapan Nabi “<em>Adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya</em>” boleh jadi diucapkan di Mekah, tetapi waktu atau tempat diucapkannya ini tidak berpengaruh sama sekali. Yang jelas izin berziarah ke kubur datang belakangan setelah pelarangannya di Mekah, dan ini sangat berkaitan dengan hadis Aisyah di atas. Jika kita menganggap hadis “<em>Dahulu saya melarang&#8230;</em>” diucapkan setelah hadis Aisyah, berarti hadis Aisyah di-<em>mansukh</em> (dihapus). Dan anggapan ini sangat jauh dari kebenaran.</p>
<p>Yang benar adalah Rasulullah melarang ziarah ke kubur pada periode Mekah, tetapi di akhir-akhir periode Mekah atau pada awal hijrah ke Madinah beliau mengizinkannya melalui sabdanya, “<em>Adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya</em>.” Tidak diragukan lagi bahwa pelarangan ziarah kubur di periode Mekah diperuntukkan bagi laki-laki dan perempuan. Begitu pula perizinannya yang keluar pada akhir periode Mekah dan awal hijrah ke Madinah juga bagi laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Kalau begitu kapan hadis “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>” diucapkan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Jika hadis ini diucapkan setelah izin Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada para wanita untuk berziarah kubur, berarti terjadi penghapusan hukum dua kali (dilarang, lalu dibolehkan, dan akhirnya dilarang lagi) di-<em>mansukh</em> dua kali. Hal seperti ini tidak pernah kita jumpai dalam hukum-hukum syariat.</p>
<p>Baiklah, kita anggap saja bahwa Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengucapkan hadis “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>” setelah beliau mengizinkan pria dan wanita berziarah kubur. Tapi bagaimana dengan hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah memberikan izin kepada Aisyah untuk berziarah kubur? Apakah izin Rasulullah ini keluar setelah hadis laknat di atas? Atau sebelumnya? Pendapat yang kuat menurut kami adalah bahwa izin Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> keluar sebelum hadis, “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>.”</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong><br />
Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa yang dilarang adalah perempuan yang berlebih-lebihan dan terlalu sering berziarah. Sangat tidak mungkin ziarah ini haram bagi wantia, sementara Sayyidah Aisyah kerap kali berziarah kubur, walaupun Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sudah meninggal.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8211; 2004 M</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ziarah kubur:</h3>
<p>1. <a href="../bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan" rel="nofollow" target="_blank">Bolehkah memakai alas kaki di kuburan.</a><br />
2. <a href="../bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur" rel="nofollow" target="_blank">Wanita haid berziarah kubur.</a><br />
3. <a href="../gambaran-adzab-kubur" rel="nofollow" target="_blank">Gambaran azab kubur.</a><br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur" target="_blank">Tabur Bunga Saat Ziarah Kubur</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggantungkan Talak dengan Waktu Tertentu</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menggantungkan-talak-dengan-waktu-tertentu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menggantungkan-talak-dengan-waktu-tertentu#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 07:53:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9380</guid>
		<description><![CDATA[Menggantung Talak Pertanyaan: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Apa hukum perkataan suami terhadap istrinya, &#8220;Jika kamu haid kemudian suci maka saat itu kamu sudah tertalak&#8221; dan secara nyata ia berniat talak, tetapi tampak setelah itu, sebelum haid, bahwa ia ingin ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menggantung Talak</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya:<br />
Apa hukum perkataan suami terhadap istrinya, &#8220;Jika kamu haid kemudian suci maka saat itu kamu sudah tertalak&#8221; dan secara nyata ia berniat <strong>talak</strong>, tetapi tampak setelah itu, sebelum haid, bahwa ia ingin menarik sumpahnya. Apakah hal tersebut dianggap talak ataukah tidak? Apakah juga dianggap talak apabila ia tidak menampakkan tanda-tanda bahwa ia akan menarik sumpahnya kecuali setelah suci yang mana ia menggantungkan syarat-syarat perceraiannya?<br />
<span id="more-9380"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Ini adalah talak menggantung yang berdasarkan syarat murni yang tidak bisa diganggu gugat, dan tidak dimaksudkan anjuran atau larangan. Maka terjadilah perceraian dengan keberadaan syarat yaitu suci setelah haid. Adapun penarikan penggantungan syarat talak setelah terjadinya sumpah adalah tidak sah.</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait talak:</h3>
<p>1. <a href="../talak-lewat-sms" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Talak Lewat SMS</a>.<br />
2. <a href="../talak-ketika-istri-hamil" rel="nofollow" target="_blank">Talak Ketika Istri Hamil</a>.<br />
3. <a href="../selingkuh-dengan-ipar" rel="nofollow" target="_blank">Selingkuh dengan Ipar</a>.<br />
4. <a href="../al-muhallil" rel="nofollow" target="_blank">Al-Muhallil</a>.<br />
5. <a href="../cerai-karena-mandul" rel="nofollow" target="_blank">Cerai Karena Mandul</a>.<br />
6. <a href="../cara-rujuk-setelah-talak-tiga" rel="nofollow" target="_blank">Cara Rujuk Setelah Talak Tiga</a>.<br />
7. <a href="../kalimat-cerai-bohong-bohongan" rel="nofollow" target="_blank">Kalimat Cerai Bohong-Bohongan</a>.<br />
8. <a href="../menikah-untuk-dicerai" rel="nofollow" target="_blank">Menikah Untuk Cerai</a>.<br />
9. <a href="../8-prinsip-tentang-cerai-ketika-marah" rel="nofollow" target="_blank">8 Prinsip tentang talak Karena Marah</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menggantungkan-talak-dengan-waktu-tertentu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Madinah Munawwarah ataukah Madinah Nabawiyyah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/madinah-munawwarah-ataukah-madinah-nabawiyyah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/madinah-munawwarah-ataukah-madinah-nabawiyyah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 04:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9411</guid>
		<description><![CDATA[Madinah Munawwarah ataukah Madinah Nabawiyyah Pertanyaan: Bolehkah kita menyebut Madinah dengan istilah “Madinah Munawwarah” seperti yang sering kita dengar, atau kita harus menyebut “Madinah Nabawiyyah” karena kota itu adalah kota Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam? Padahal kedua istilah tersebut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Madinah Munawwarah ataukah Madinah Nabawiyyah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Bolehkah kita menyebut <strong>Madinah</strong> dengan istilah “<span style="text-decoration: underline;">Madinah</span> Munawwarah” seperti yang sering kita dengar, atau kita harus menyebut “Madinah Nabawiyyah” karena kota itu adalah kota Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Padahal kedua istilah tersebut tidak disebutkan dalam Alquran, bahkan dalam Alquran disebutkan nama “Yatsrib” sebelum dikenal sebagai Madinah. Tolong penjelasannya. Terima kasih.<br />
<span id="more-9411"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Penyebutan Madinah</h3>
<p>Imam Nawawi mengatakan, “Dimakruhkan menyebut Madinah dengan istilah ‘Yatsrib’ karena itu diambil dari kata ‘Tatsrib’ yang artinya ejekan dan celaan. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lebih suka nama-nama yang bagus dan indah dan membenci nama-nama yang buruk. Oleh karenanya, beliau mengganti nama Yatsrib dengan nama lain yang lebih bagus, dalam sabdanya,<br />
“<em>Mereka mengatakan Yatsrib, padahal namanya Madinah, (Madinah) itu membersihkan manusia seperti api yang membersikan kotoran besi.</em>” (HR. Muslim, no.2452)</p>
<p>Dalam riwayat lain dari Zaid bin Tsabit <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Madinah adalah kota yang indah</em>.”</p>
<p>Allah juga menamakan Madinah dengan “Ad-Dar” (tempat tinggal) sebagaimana dalam QS. Al-Hasyr: 9.</p>
<p>Adapun kata Yatsrib yang ada dalam QS. Al-Ahzab: 13, maka itu hanyalah ungkapan orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya rusak ketika menyebut kota Madinah.</p>
<p>Menyebut Madinah dengan istilah “Madinah Nabawiyyah (kota Nabi)” atau “<strong>Madinah Munawwarah</strong> (kota yang bersinar)”, maka tidak mengapa. Hal itu karena Madinah memang menjadi tempat tinggalnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersama kaum muhajirin setelah meninggalkan kota Mekah, bersamaan dengan itu Madinah menjadi bersinar dengan hidayah-Nya disebabkan kedatangan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sebutan “Al-Madinah” sudah cukup membedakan antara kota Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan kota-kota lainnya sebagaimana disebutkan Allah dalam Alquran.</p>
<p>Namun, jika kita ingin memberi kata lain untuk menyifati Madinah, maka “Al-Madinah An-Nabawiyyah” lebih tepat daripada “Al-Madinah Al-Munawwaroh,” karena beberapa alasan:</p>
<p>“nabawiyyah” adalah kata yang membedakan antara kota Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan kota-kota lainnya, adapun “munawwarah” (bersinar), maka tidak hanya kota Madinah saja yang bersinar, Mekah pun juga sekarang bersinar, bahkan setiap daerah yang penduduknya memeluk agama Islam, maka daerah itu akan bersinar (munawwarah), sebagaimana firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab">يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَكُمْ بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَآإِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا</p>
<p>“<em>Wahai Manusia sungguh telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu, dan Kami telah menurunkan kepadamu cahaya yang menerangi</em>.”(QS. An-Nisa: 174)</p>
<p>Ungkapan yang terkenal dari para salafush shalih adalah “Al-Madinah” atau “Al-Madinah An-Nabawiyah”. Adapun “Al-Madinah Al-Munawwarah” maka ungkapan seperti ini tidak pernah diungkapkan oleh para salafush shalih. Walaupun tidak ada larangan menggunakan ungkapan ini, hanya saja mengikuti salafush sholih jelas lebih baik daripada yang lainnya. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 04 Tahun ke-10 Muharram 1431 H/2010<br />
Penyuntingan bahasa oleh tim Konsultasi Syariah</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/madinah-munawwarah-ataukah-madinah-nabawiyyah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembagian Waris untuk Ibu atau Adik Kandung</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-untuk-ibu-atau-adik-kandung</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-untuk-ibu-atau-adik-kandung#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 23:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10052</guid>
		<description><![CDATA[Pembagian Waris untuk Ibu atau Adik Kandung Pertanyaan: Asswrwb, ustadz afwan saya mau bertanya. Saya mempunyai saudara yang telah meninggal enam bulan yang lalu. Almarhum meninggalkan satu orang istri, satu anak angkat yang telah diadopsi, ibu, ayah, dan 3 orang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pembagian Waris untuk Ibu atau Adik Kandung</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Asswrwb</em>, ustadz afwan saya mau bertanya. Saya mempunyai saudara yang telah meninggal enam bulan yang lalu. Almarhum meninggalkan satu orang istri, satu anak angkat yang telah diadopsi, ibu, ayah, dan 3 orang saudara laki-laki. Akhir-akhir ini, ibu almarhum mendesak istri almarhum untuk segara membagi dua harta dengan adik almarhum yang bungsu karena ia belum punya pekerjaan, sementara dua saudaranya yang lain sudah mapan. Istri almarhum keberatan untuk secapatnya membagi warisan ini dengan alasan masih berduka, pertanyaan saya kapankah sebaiknya harta warisan itu dibagi dan berapa pembagian untuk masing-masing keluarga yang ditinggal? Almarhum selain meninggalkan banyak harta, juga ada cicilan kredit mobil ke bank yang belum dilunasi. <em>Wass, jazakallah.</em></p>
<p>Dari: Sri Gantini<br />
<span id="more-10052"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<strong>1.</strong> Semua utang dillunasi dulu, sampai bersih.</p>
<p><strong>2.</strong> Sisa harta jadi warisan.</p>
<p>Yang berhak mendapatkan warisan dari kasus yang Anda sampaikan hanya tiga orang:</p>
<p><strong>1.</strong> Istri, dia mendapat 1/4 dr total warisan, karena tidak memiliki anak. Dalilnya surat An-Nisa ayat 12.</p>
<p class="arab">وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُم إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ</p>
<p>&#8220;&#8230;Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>2.</strong> Ibu, beliau mendapat 1/3 dr total warisan. Dalilnya surat An-Nisa ayat 11.</p>
<p class="arab">فَإِن لَّمْ يَكُن لَّهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلأُمِّهِ الثُّلُثُ</p>
<p>&#8220;&#8230;Jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>3.</strong> Bapak, beliau mendapatkan semua sisa warisan, karena status beliau sebagai pemilik <em>&#8216;ashabah</em>.</p>
<p>Sementara saudara dan anak angkat, sama sekali tidak mendapatkan harta warisan, kecuali jika ada wasiat dari mayit.</p>
<p>Saudara tidak mendapatkan warisan karena mereka <em>mahjub</em> (terhalang) dengan keberadaan bapak.</p>
<p>Jika pihak saudara ingin mendapatkan harta, mereka bisa meminta ke ibu atau ke bapaknya.<br />
<em></em></p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong>Artikel <a href="../" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultaiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Artikel yang berkaitan dengan <strong>pembagian waris</strong>:</h3>
<p>1. <a href="../penghalang-untuk-mendapatkan-warisan" rel="nofollow" target="_blank">Penghalang untuk Mendapat Warisan</a>.<br />
2. <a href="../tuntunan-pembagian-warisan-01" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 01</a>.<br />
3. <a href="../pembagian-harta-warisan-ibu" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 02</a>.<br />
4. <a href="../warisan-untuk-istri-dan-bapak" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 03</a>.<br />
5. <a href="../tuntunan-pembagian-warisan-04" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 04</a>.<br />
6. <a href="../menunaikan-wasiat-sebelum-membagi-warisan" rel="nofollow" target="_blank">Menunaikan Wasiat Sebelum Pembagian Waris.</a><br />
7. <a href="http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-dalam-islam" target="_blank">Adilnya Pembagian Waris Islam</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-untuk-ibu-atau-adik-kandung/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Shalat Jenazah Saat Takbir ke-3</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-shalat-jenazah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-shalat-jenazah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 07:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9985</guid>
		<description><![CDATA[Doa Shalat Jenazah Saat Takbir ke-3 Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Doa shalat jenazah rakaat ke-3: &#8220;Allahumma anta Rabbuha wa anta kholaqtaha wa anta badaitaha lil-Islami, wa anta qabadhta ruhaha, wa anta a&#8217;lamu bisirriha wa &#8216;ala niyatiha ji&#8217;na ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Doa Shalat Jenazah Saat Takbir ke-3</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh</em> Ustadz,<br />
Doa <strong>shalat jenazah</strong> rakaat ke-3: <em>&#8220;Allahumma anta Rabbuha wa anta kholaqtaha wa anta badaitaha lil-Islami, wa anta qabadhta ruhaha, wa anta a&#8217;lamu bisirriha wa &#8216;ala niyatiha ji&#8217;na syufa&#8217;a a lahu faghfir lahu&#8221;</em> (HR. Abu Dawud, <em>Riyadlus Shalihin</em> II Hal.46). Apakah ini bisa untuk perempuan dan laki-laki, tanpa mengubah &#8220;<em>Rabbuha</em>&#8221; menjadi &#8220;<em>Rabbuhu</em>&#8221; atau &#8220;<em>khalaqtaha</em>&#8221; menjadi &#8220;<em>khalaqtahu</em>&#8220;&#8230;?</p>
<p>Dari: Herbono Utomo<br />
<span id="more-9985"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa &#8216;alaikumussalam wa rahmatullah wa barakaatuh</em><br />
Doa shalat jenazah rakaat ke-3: &#8220;<em>Allahumma anta Rabbuha wa anta kholaqtaha wa anta badaitaha lil-Islami, wa anta qobadhta ruhaha, wa anta a&#8217;lamu bisirriha wa &#8216;ala niyatiha ji&#8217;na syufa&#8217;a a lahu faghfir lahu</em>&#8221; (HR. Abu Dawud, <em>Riyadlus Shalihin</em>: II Hal. 46). Apakah ini bisa utk perempuan dan laki-laki tanpa mengubah &#8220;<em>Rabbuha</em>&#8221; menjadi &#8220;Rabbuhu&#8221; atau <em>&#8220;khalaqtaha</em>&#8221; menjadi &#8220;<em>khalaqtahu</em>&#8220;&#8230;?</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Doa di atas statusnya dhaif (lemah). Hadis itu dibawakan Abu Daud dari Abu Ma&#8217;mar dari Abdul Warits. Di akhir hadis Abu Daud mengatakan,</p>
<p class="arab">وسمعت أحمد بن إبراهيم الموصلى يحدث أحمد بن حنبل قال ما أعلم أنى جلست من حماد بن زيد مجلسا إلا نهى فيه عن عبد الوارث وجعفر بن سليمان</p>
<p>Saya mendengar Ahmad bin Ibrahim al-Mushili pernah berkata kepada Imam Ahmad, &#8220;Setiap kali saya duduk di majlis Hammad bin Zaid, beliau pasti melarang untuk mengambil hadis dari Abdul Warits dan Ja&#8217;far bin Sulaiman.&#8221; (<em>Sunan Abu Daud</em>, keterangan hadis no.3202)</p>
<p>Doa ini juga didhaifkan Syaikh Al-Albani, sebagaimana yang beliau jelaskan dalam <em>Al-Musykah</em>, hadis no.1688.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait fikih jenazah:</h3>
<p>1. <a href="../mengubur-jenazah-dengan-peti" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah dengan Peti</a>.<br />
2. <a href="../memindahkan-makam" rel="nofollow" target="_blank">Memindahkan Makam</a>.<br />
3. <a href="../mengumumkan-kematian-melalui-microphone" rel="nofollow" target="_blank">Mengumumkan Kematian Ke Mikropon</a>.<br />
4. <a href="../bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah Pada Malam Hari</a>.<br />
5. <a href="../apa-hukum-adzan-dan-talqin-kepada-mayat" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Adzan dan Iqomah pada Talqin Jenazah</a>.<br />
6. <a href="../bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan" rel="nofollow" target="_blank"><strong>Mengantar Jenazah</strong> dengan Kendaraan</a>.<br />
7. <a href="http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah" target="_blank">Dzikir Ketika Mengantar Jenazah</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-shalat-jenazah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri Tidak Mau Tinggal dengan Mertua</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/istri-tidak-mau-tinggal-dengan-mertua</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/istri-tidak-mau-tinggal-dengan-mertua#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 03:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10362</guid>
		<description><![CDATA[Istri Tidak Mau Tinggal dengan Mertua Pertanyaan: Aku dan istriku tinggal di rumah yang terpisah dari rumah keluargaku. Itu disebabkan banyaknya masalah dan aku telah berjanji kepada istriku untuk tidak menceraikannya. Beberapa waktu kemudian, orang tuaku meminta aku dan istriku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Istri Tidak Mau Tinggal dengan Mertua</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Aku dan istriku tinggal di rumah yang terpisah dari rumah keluargaku. Itu disebabkan banyaknya masalah dan aku telah berjanji kepada istriku untuk tidak menceraikannya. Beberapa waktu kemudian, orang tuaku meminta aku dan istriku kembali ke rumah untuk tinggal bersamanya, tetapi istriku menolak. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus mematuhi orang tuaku dari membatalkan janji yang ada di antara aku dan istriku? Apakah aku termasuk ke dalam firman-Nya:<br />
“<em>Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya</em>.” (QS. Al-Isra: 34)<br />
<span id="more-10362"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Tidak ragu lagi bahwa hak orang tua atas anaknya sangatlah besar. Selama istri Anda tidak ingin tinggal di rumah orang tua Anda, maka Anda tidak bisa memaksanya. Sebisa mungkin Anda yakinkan orang tua Anda mengenai masalah tersebut dan tempatkan istri di rumah tersendiri, dengan tetap menghubungi orang tua, berbakti kepadanya, membuatnya ridha, dan berbuat baik kepadanya semampu Anda.</p>
<p>Sedangkan mengenai talak, hal itu diperbolehkan bagi Anda jika memang memerlukannya dan Anda harus mengafarahi (menebus) sumpah atau janji Anda. Hal ini tidak bertentangan dengan firman-Nya,</p>
<p>“<em>Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya</em>” (QS. Al-Isra: 34)</p>
<p>Sebab yang dimaksud di sini adalah janji yang tidak mengharamkan yang halal.</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan, <em>Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan</em></p>
<p>Sumber: <em>Setiap Problem Suami-Istri Ada Solusinya, Solusi atas 500 Problem Istri dan 300 Problem Suami oleh Sekelompok Ulama: Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Syaikh bin Baz, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Abdullah bin Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jibrin dll</em>, Mitra Pustaka, 2008</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait mertua:</h3>
<p>1. <a href="../ditolak-calon-mertua" rel="nofollow" target="_blank">Ditolak Calon Mertua</a>.<br />
2. <a href="../bagaimana-sikap-suami-jika-mertua-tidak-senang-jika-suami-mengajarkan-tuntunan-agama-yang-benar-kepada-istri" rel="nofollow" target="_blank">Mertua Marah Ketika Suami Mengajari Agama Istri</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/menyikapi-mertua-keras" target="_blank">Menyikapi Mertua Cerewet</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/istri-tidak-mau-tinggal-dengan-mertua/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pakaian-dokter-berlumur-air-ketuban</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pakaian-dokter-berlumur-air-ketuban#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 23:21:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9881</guid>
		<description><![CDATA[Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban Pertanyaan: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Jika pakaian seorang dokter berlumuran dengan air ketuban atau darah (lahiran), maka apakah dibolehkan melakukan shalat dengna pakaian tersebut karena kesulitan mengganti pakaian di setiap waktu shalat sebagai konsekwensi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya:</em><br />
Jika pakaian seorang dokter berlumuran dengan air <a href="http://konsultasisyariah.com/keluar-ketuban-membatalkan-puasa" target="_blank">ketuban</a> atau darah (lahiran), maka apakah dibolehkan melakukan shalat dengna pakaian tersebut karena kesulitan mengganti pakaian di setiap waktu shalat sebagai konsekwensi pekerjaannya itu?<br />
<span id="more-9881"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban</h3>
<p>Hendaknya ia menyediakan pakaian suci yang khusus ia gunakan untuk shalat sebagai pengganti pakaian yang terkena najis, dan hal itu bukanlah suatu hal yang menyulitkan baginya.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pakaian-dokter-berlumur-air-ketuban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adilkah Pembagian Waris dalam Islam?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-dalam-islam</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-dalam-islam#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 07:11:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Waris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10283</guid>
		<description><![CDATA[Adilkah Pembagian Waris dalam Islam? Pertanyaan: Bismillah. Assalamu’alaikum warahmatullah. Afwan, ada sebagian orang berpendapat bahwa pembagian waris harus memenuhi unsur keadilan (syariat mengatur laki-laki mendapat dua bagian wanita satu bagian) mereka berpendapat jika seperti itu kemungkinan tidak adil. Misal, si ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Adilkah Pembagian Waris dalam Islam?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Bismillah. Assalamu’alaikum warahmatullah.</em><br />
Afwan, ada sebagian orang berpendapat bahwa <span style="text-decoration: underline;"><strong>pembagian waris</strong></span> harus memenuhi unsur keadilan (syariat mengatur laki-laki mendapat dua bagian wanita satu bagian) mereka berpendapat jika seperti itu kemungkinan tidak adil. Misal, si laki-laki kaya (mampu) sedang si wanita miskin, jika diberikan dua bagian untuk laki-laki katanya tidak adil. Betulkah pendapat mereka? Pembagian waris laki-laki dan wanita 2:1, apakah memang dalam semua keadaan (bagaiamana contoh di atas)? Atas jawabannya saya ucapkan, <em>Jazakumullah khoiral jaza’</em>.<br />
<span id="more-10283"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Adilnya Pembagian Waris dalam Islam</h3>
<p>Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, keluarga, dan sahabatnya.</p>
<p>Keadilan adalah asas tegaknya alam semesta. Karenanya, wajar bila keadilan adalah bagian dari prinsip utama syariat Islam. Dan Allah membenci dan memerangi segala bentuk kezhaliman.</p>
<p>“<em>Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat zhalim</em>.” (QS. Ali-Imron: 57)</p>
<p>Bukan hanya mengharamkannya atas umat manusia saja, bahkan Allah <em>Ta’ala</em> juga mengharamkannya atas diri-Nya sendiri.</p>
<p>“<em>Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan tindak kezhaliman atas diri-Ku sendiri, dan Aku mengharamkannya atas kalian, maka jangan saling menzhalimi.</em>” (HR. Muslim)</p>
<p>Anda bisa membayangkan betapa pentingnya keadilan, bila ternyata Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa juga mengharamkan tindak kezhaliman atas diri-Nya. Bila demikian adanya, mungkinkah ada satu syariat-Nya yang mengandung kezhaliman atau ketidakadilan? Hanya yang perlu diluruskan adalah definisi tentang keadilan. Apa dan menurut siapa Anda mendefinisikan kata keadilan? Kaum komunis memiliki definisi tersendiri, sebagaimana kaum kapitalis dan sekuler juga memiliki definisi tersendiri.</p>
<p>Nah, keadilan menurut siapakah yang menjadi parameter? Mungkinkah kita sebagai orang yang beriman menginginkan keadilan sebagaimana yang dideskripsikan oleh kaum komunis? Atau mungkinkah kita memahami arti keadilan sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan orang, yaitu “sama dalam segala hal”? Tentu saja keadilan yang kita maksudkan adalah keadilan berdasarkan keputusan Yang Maha Adil</p>
<p>Allah menentukan bahwa bagian anak lelaki dari warisan orang tuanya dua kali lipat dari warisan anak wanita, maka itu sesuai dengan kodrat mereka.</p>
<p>“<em>Allah telah mensyariatkan atas kalian perhial warisan anak-anakmu. Anak lelaki mendapatkan bagian sama dengan bagian dua anak wanita</em>.&#8221; (QS. An-Nisa: 11)</p>
<p>Syariat ini selaras dengan garis kodrat lelaki yang berkewajiban untuk menafkahi dan memimpin kaum wanita. Dengan demikian, syariat ini adil dan tidak ada yang perlu dirisaukan. Walaupun wanita mendapatkan bagian yang sedikit, seluruh bagiannya itu hanya ia nikmati seorang diri. Sebab itu, walaupun nominalnya kecil, faktor pembaginya hanya seorang, maka hasilnya menjadi besar. Adapun anak lelaki, walau ia mendapakan bagian dua kali lipat, ia harus menggunakannya untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Dengan demikian, walaupun nominalnya besar, pada akhirnya menjadi sedikit.</p>
<p>“<em>Kaum lelaki (suami) adalah pemimpin kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian lainnya (kaum wanita), dan karena mereka (kaum lelaki) memberikan nafkah dari hartanya</em>.” (QS. An-Nisa: 34)</p>
<p><em>Wallahu Ta’ala a’lam bish shawab</em>.</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 06 Tahun ke-10 Muharram 1432 H/Desember 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultaiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Artikel yang berkaitan dengan <strong>pembagian waris</strong>:</h3>
<p>1. <a href="../penghalang-untuk-mendapatkan-warisan" rel="nofollow" target="_blank">Penghalang untuk Mendapat Warisan</a>.<br />
2. <a href="../tuntunan-pembagian-warisan-01" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 01</a>.<br />
3. <a href="../pembagian-harta-warisan-ibu" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 02</a>.<br />
4. <a href="../warisan-untuk-istri-dan-bapak" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 03</a>.<br />
5. <a href="../tuntunan-pembagian-warisan-04" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 04</a>.<br />
6. <a href="../menunaikan-wasiat-sebelum-membagi-warisan" rel="nofollow" target="_blank">Menunaikan Wasiat Sebelum Pembagian Waris.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-dalam-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Shalat Qabliyah Shubuh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-shalat-qabliyah-shubuh</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-shalat-qabliyah-shubuh#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 23:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10341</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Qabliyah Shubuh Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apakah fadhilahnya (keutamaan) shalat 2 rakaat qabliyah shubuh? Dan jika seseorang tidak sempat melaksanakan shalat qabliyah shubuh, bolehkah mengqadhanya dan dilakukan setelah selesai shalat shubuh langsung, padahal itu adalah waktu dilarang untuk shalat? ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Shalat Qabliyah Shubuh</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em>.<br />
Apakah fadhilahnya (keutamaan) shalat 2 rakaat<strong> qabliyah shubuh</strong>? Dan jika seseorang tidak sempat melaksanakan <strong>shalat qabliyah shubuh</strong>, bolehkah mengqadhanya dan dilakukan setelah selesai shalat shubuh langsung, padahal itu adalah waktu dilarang untuk shalat? Kami sampaikan terima kasih atas jawabannya.<br />
<span id="more-10341"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Shalat Qabliyah Shubuh</h3>
<p><em>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</em>.<br />
Shalat dua raka’at <strong>qabliyah shubuh</strong> termasuk shalat sunah yang sangat ditekankan bagi setiap muslim. Pahala kebaikannya begitu besar, melebihi dunia dan seisinya. Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>“<em>Dua raka’at (qabliyah) shubuh pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya</em>.” (HR. Muslim no.1193)</p>
<p>Termasuk waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat adalah setelah shalat shubuh sampai terbit matahari, sebagaimana sabda Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Aku mendengar Rasullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘<em>Tidak ada shalat setelah (shalat) shubuh sampai terbit matahari&#8230;.</em>’.” (HR. Bukhari, no.551)</p>
<p>Menurut pendapat yang lebih kuat, shalat yang dilarang adalah shalat-shalat yang tidak terikat dengan sebabnya (shalat mutlak). Adapun shalat-shalat yang diikat pensyariatannya dengan suatu sebab (jika tidak ada sebabnya tidak disyariatkan), semisal shalat sunah setelah thawaf, shalat gerhana, shalat tahiyatul masjid, dan lain sebagainya, maka tidak dilarang walaupun dilakukan pada waktu-waktu terlarang, lantarang shalat-shalat ini terikat dengan sebabnya.</p>
<p>Termasuk yang dibolehkan adalah mengqadha qabliyah shubuh setelah shalat shubuh, walaupun waktu tersebut termasuk waktu dilarang shalat. Hal ini didasari oleh beberapa hal:</p>
<p><strong>1.</strong> Keumuman perintah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk mengqadha setiap shalat yang terlewatkan tanpa sengaja. Dalam hadis Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>“<em>Barangsiapa lupa shalat, atau tertidur, maka hendaklah ia lakukan shalat itu jika ia mengingatnya, tidak ada kaffarah kecuali hal itu, (Allah berfirman), ‘Dan tegakkan sholat untuk mengingat-Ku’</em>.”(HR. Bukhari 562 dan Muslim 1103)</p>
<p><strong>2.</strong> Kekhususan dalil yang membolehkan hal ini, seperti dalam sebuah hadis:</p>
<p>Dari Qais bin Amr berkata, “Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melihat seseorang shalat dua rakaat setelah (shalat) shubuh, maka Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya, ‘Apakah (engkau) shalat shubuh dua kali?’ Orang itu menjawab, ‘Saya belum shalat dua rakaat <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-kita-mengganti-shalat-qabliyah-subuh" target="_blank"><strong>qabliyah shubuh</strong></a>, lalu aku lakukan (setelah shubuh)’.” Lalu (Qois) berkata, “Maka Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun diam (tidak melarangnya).” (HR. Abu Dawud no.1267, Tirmidzi no.422, Ibnu majah no.1154, Ahmad no.23811, dishahihkan oleh Al-Albani dalam <em>Misykat al-Mashobih</em> 1044 dan <em>Shahih Abu Dawud</em> 1151)</p>
<p>Hadis di atas menunjukkan bahwa mengqadha qabliyah shubuh setelah shalat shubuh hukumnya boleh karena ada keterangan yang sangat jelas dari diamnya Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap orang yang melakukan hal tersebut. Hanya saja, lebih utama jika seseoarng terlewatkan shalat qabliyah shubuh –baik tertidur atau lupa– hendaknya dia mengqadhanya setelah matahari terbit, dan ini adalah yang lebih afdhal, sebagaimana sabda Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p>“<em>Barangsiapa belum melaksanakan shalat dua rakaat (qabliyah) shubuh, maka hendaklah dia shalat dua rakaat tersebut setelah terbitnya matahari.</em>” (HR. Tirmidzi no.423, dan dishahihkan oleh Al-Abani dalam <em>Silsilah Shahihah</em> no.2361)</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 06 Tahun ke-10 Muharram 1432 H/Desember 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-shalat-qabliyah-shubuh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Keguguran Berdasarkan Keadaan Janin</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-keguguran-berdasarkan-keadaan-janin</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-keguguran-berdasarkan-keadaan-janin#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 23:06:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9837</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Keguguran Berdasarkan Keadaan Janin Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Para wanita yang mengalami keguguran akan mengalami satu di antara dua hal, yaitu keguguran sebelum janin terbentuk dan keguguran setelah terbentuknya janin, bagaimanakah hukum puasanya pada hari keguguran itu serta ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Keguguran Berdasarkan Keadaan Janin</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:<br />
Para wanita yang mengalami keguguran akan mengalami satu di antara dua hal, yaitu keguguran sebelum janin terbentuk dan keguguran setelah terbentuknya janin, bagaimanakah hukum puasanya pada hari keguguran itu serta puasa yang ia lakukan pada hari-hari ia mengeluarkan darah?<br />
<span id="more-9837"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Jika janin yang dilahirkan itu belum berbentuk manusia maka darah yang dikeluarlan oleh wanita itu bukan darah nifas, untuk itu ia tetap diwajibkan berpuasa dan shalat, dan puasa yang dilakukan pada hari saat ia melahirkan itu adalah sah. Akan tetapi jika janin yang dikeluarkan itu telah berbentuk manusia maka darah yang keluar adalah darah nifas yang tidak membolehkannya untuk mengerjakan shalat dan juga puasa, dan puasa yang ia lakukan pada hari kelahiran itu menjadi batal. Kaidah dasar dalam masalah ini adalah: Jika janin telah terbentuk maka darah itu adalah darah nifas, dan jika janin itu belum terbentuk maka darah itu bukanlah darah nifas. Jika darah itu adalah darah nifas maka ia dikenakan hukum sebagaimana wanita nifas, dan jika bukan darah nifas maka ia dianggap seperti wanita suci lainnya.</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait janin dan keguguran:</h3>
<p>1. <a href="../aqiqah" rel="nofollow" target="_blank">Aqiqah Untuk Janin Keguguran</a>.<br />
2. <a href="../hukum-shalat-wanita-yang-mengalami-keguguran" rel="nofollow" target="_blank">Shalat Wanita yang Keguguran</a>.</p>
<p>Tags: <strong>janis keguguran, ibu keguguran, darah keguguran.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-keguguran-berdasarkan-keadaan-janin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengusap Jilbab ketika Berwudhu</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mengusap-jilbab-ketika-berwudhu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mengusap-jilbab-ketika-berwudhu#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 07:14:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10081</guid>
		<description><![CDATA[Mengusap Jilbab ketika Berwudhu Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Bolehkah wanita mengusap kain penutup kepalanya (semacam jilbab, ketika berwudhu)? Jawaban: Pendapat yang terkenal dalam madzhab Imam Ahmad, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa wanita dibolehkan untuk mengusap kain penutup ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Mengusap Jilbab ketika Berwudhu</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:<br />
Bolehkah wanita mengusap kain penutup kepalanya (semacam jilbab, ketika <strong>berwudhu</strong>)?<br />
<span id="more-10081"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Pendapat yang terkenal dalam madzhab Imam Ahmad, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa wanita dibolehkan untuk mengusap kain penutup kepalanya jika kain tersebut menutupi hingga di bawah lehernya. Karena hal ini telah dilakukan oleh sebagian istri-istri para sahabat. Yang jelas, jika membuka penutup kepala itu menyulitkan, karena udara yang amat dingin atau sulit untuk membukanya kemudian harus memasangnya lagi, maka mepermudah dalam hal semacam ini dibolehkan. Jika tidak, maka yang lebih utama adalah membuka penutup kepala itu untuk mengusap rambutnya secara langsung.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait berwudhu:</h3>
<p>1. <a href="../shalat-jemaah-dalam-keadaan-tidak-berwudhu" rel="nofollow" target="_blank">Shalat Tanpa Wudhu</a>.<br />
2. <a href="../doa-mandi" rel="nofollow" target="_blank">Doa Mandi Junub</a>.<br />
3. <a href="../cara-tayamum-yang-benar" rel="nofollow" target="_blank">Cara Tayamum</a>.<br />
4. Berwudhu dalam Kamar Mandi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mengusap-jilbab-ketika-berwudhu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Istri Tidak Mengetahui Ada Cacat pada Dirinya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ketika-istri-tidak-mengetahui-ada-cacat-pada-dirinya</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ketika-istri-tidak-mengetahui-ada-cacat-pada-dirinya#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 02:15:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10199</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Syaikh Abdurrahman As-Sa&#8217;di ditanya: Jika pada diri seorang wanita terdapat cacat tetapi ia dan walinya tidak mengetahui adanya cacat tersebut, apakah sang suami boleh menuntut kerugian? Jawaban: Suami tidak boleh menuntut ganti rugi kepada perempuan atau walinya tatkala dia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Abdurrahman As-Sa&#8217;di ditanya:<br />
Jika pada diri seorang wanita terdapat cacat tetapi ia dan walinya tidak mengetahui adanya cacat tersebut, apakah sang suami boleh menuntut kerugian?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Suami tidak boleh menuntut ganti rugi kepada perempuan atau walinya tatkala dia mendapatkan cacat pada diri perempuan tersebut, dengan syarat mereka tidak tahu ada cacat sebelumnya, dan tidak disyaratkan dalam hal ini ketidaktahuan mereka akan hukum. Jika seorang wali tidak tahu adanya cacat pada wanita, maka yang bertanggung jawab adalah wanita itu sendiri. Apabila wanita dan walinya juga tidak mengetahui adanya cacat pada dirinya, dan pengakuannya bisa dibuktikan kebenarannya, maka suami tidak bisa menuntut ganti rugi kepada siapa pun. Sebab mahar menjadi hak wanita setelah bercampur sehingga suami tidak boleh menuntut agar mahar tersebut dikembalikan. Jika salah satunya mengetahui adanya cacat tetapi ia tidak tahu hukum syar’i dalam masalah ini, maka demikian itu bukan alasan bagi yang tahu itu untuk mengelak dari ganti rugi dan tuntutan karena adanya <em>subhat gharar</em> (tipuan).</p>
<p>Sumber:  Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait pernikahan:</h3>
<p>1. <a href="../halalkah-harta-dari-mahar-yang-berlebihan" rel="nofollow" target="_blank">Mahar yang Terlalu Mahal</a>.<br />
2. <a href="../menjual-mahar" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Menjual Mahar</a>.<br />
3. <a href="../waktu-membayar-mahar" rel="nofollow" target="_blank">Waktu Membayar Mahar</a>.<br />
4. <a href="../ternyata-suami-tidak-sesuai-harapan" rel="nofollow" target="_blank">Ternyata Bukan Suami Idaman</a>.<br />
5. <a href="../doa-malam-pertama" rel="nofollow" target="_blank">Doa Malam Pertama</a>.<br />
6. <a href="../ingkar-terhadap-janji-pernikahan" rel="nofollow" target="_blank">Ingkar Janji dalam <strong>Pernikahan</strong></a>.<br />
7. <a href="http://konsultasisyariah.com/sanksi-bagi-yang-menyulitkan-pernikahan" target="_blank">Sanksi Orang yang Mempersulit Pernikahan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ketika-istri-tidak-mengetahui-ada-cacat-pada-dirinya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sanksi bagi yang Menyulitkan Pernikahan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/sanksi-bagi-yang-menyulitkan-pernikahan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/sanksi-bagi-yang-menyulitkan-pernikahan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 07:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10256</guid>
		<description><![CDATA[Sanksi bagi yang Menyulitkan Pernikahan Pertanyaan: Apakah orang yang menyulitkan pernikahan dengan meninggikan mahar atau mengharuskan pelaksanaan prosesi pernikahan dengan cara adat boleh di ta’zir (dijatuhi sanksi hukuman) dengan dalih bahwa orang ini akan menjadi penyebab timbulnya kerusakan. Sebagaimana sabda ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Sanksi bagi yang Menyulitkan Pernikahan</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Apakah orang yang menyulitkan <strong>pernikahan</strong> dengan meninggikan mahar atau mengharuskan pelaksanaan prosesi pernikahan dengan cara adat boleh di <em>ta’zir</em> (dijatuhi sanksi hukuman) dengan dalih bahwa orang ini akan menjadi penyebab timbulnya kerusakan. Sebagaimana sabda Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,<br />
“Jika kalian tidak menerima lamaran (laki-laki yang baik dan shalih) maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar,”<br />
<span id="more-10256"></span><br />
Jawab:<br />
<em>Ta’zir</em> adalah hukuman yang menjadi wewenang dan tugas hakim (penguasa). Jika perkara ini sampai ke telinga hakim maka dialah yang berhak menentukan apakah <em>ta’zir</em> tersebut layak diberikan atau tidak.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8211; 2004 M</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait pernikahan:</h3>
<p>1. <a href="../halalkah-harta-dari-mahar-yang-berlebihan" rel="nofollow" target="_blank">Mahar yang Terlalu Mahal</a>.<br />
2. <a href="../menjual-mahar" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Menjual Mahar</a>.<br />
3. <a href="../waktu-membayar-mahar" rel="nofollow" target="_blank">Waktu Membayar Mahar</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/ternyata-suami-tidak-sesuai-harapan" target="_blank">Ternyata Bukan Suami Idaman</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/doa-malam-pertama" target="_blank">Doa Malam Pertama</a>.<br />
6. <a href="http://konsultasisyariah.com/ingkar-terhadap-janji-pernikahan" target="_blank">Ingkar Janji dalam Pernikahan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/sanksi-bagi-yang-menyulitkan-pernikahan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wudhu di Kamar Mandi</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wudhu-di-kamar-mandi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wudhu-di-kamar-mandi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 23:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10231</guid>
		<description><![CDATA[Wudhu di Kamar Mandi Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum. Ustadz, ana mau tanya, bolehkah kita berwudhu di kamar mandi? Dari: Indrawan Saputra Jawaban: Wa&#8217;alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Wudhu di Kamar Mandi Alhamdulillahi rabbil &#8216;aalamiin, washshalaatu wassalaamu &#8216;alaa rasulillaah khairil anbiyaa&#8217;I wal mursaliin wa &#8216;alaa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Wudhu di Kamar Mandi</h2>
<p>Pertanyaan:<br />
<em>Assalamu&#8217;alaikum</em>. Ustadz, ana mau tanya, bolehkah kita berwudhu di <strong>kamar mandi</strong>?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Dari: Indrawan Saputra</span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu</em>.</p>
<h3>Wudhu di Kamar Mandi</h3>
<p><em>Alhamdulillahi rabbil &#8216;aalamiin, washshalaatu wassalaamu &#8216;alaa rasulillaah khairil anbiyaa&#8217;I wal mursaliin wa &#8216;alaa &#8216;aalihii wa shahbihii ajma&#8217;iin. Amma ba&#8217;du</em>:</p>
<p>Boleh berwudhu di dalam kamar mandi, apabila aman dari percikan najis.<br />
Komite tetap Untuk riset ilmiyah dan fatwa Kerajaan Arab Saudi mengatakan,</p>
<p class="arab">إذا وضع حائل بين الماء الذي ينزل من الصنبور وبين محل النجاسة بحيث إن الماء إذا نزل على الأرض تكون هذه الأرض طاهرة فلا مانع من الوضوء والاستنجاء</p>
<p>&#8220;Apabila ada batas antara keran air dengan tempat najisnya sehingga air turun ke tempat yang suci maka tidak mengapa berwudhu dan <em>istinja&#8217;</em> (di dalam kamar mandi tersebut).&#8221; (<em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah</em>, 5:86)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">يجوز الوضوء في الحمام ولا حرج فيه ولكن ينبغي للإنسان أن يتحفظ من إصابة النجاسة له فإذا تحفظ من ذلك فليتوضأ في أي مكان كان</p>
<p>&#8220;Boleh berwudhu di kamar mandi dan tidak masalah, akan tetapi hendaknya menjaga diri dari terkena najis, apabila bisa terjaga dari najis maka silakan dia berwudhu dimana saja&#8221; [<a href="http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1637.shtml" rel="nofollow" target="_blank">1</a>]</p>
<p>Beliau <em>rahimahullahu</em> juga berkata,</p>
<p class="arab">يجوز للإنسان أن يتوضأ في المكان الذي تخلى فيه من بوله أو غائطه لكن بشرط أن يأمن من التلوث بالنجاسة بأن يكون المكان الذي يتوضأ فيه جانباً من الحمام بعيداً عن مكان التخلي أو ينظف المكان الذي ينزل فيه الماء من الأعضاء في الوضوء حتى يكون طاهراً نظيفاً</p>
<p>&#8220;Boleh bagi seseorang berwudhu di tempat dia buang air kecil dan buang air besar, dengan syarat aman dari percikan najis, yaitu tempat wudhunya jauh dari tempat buang air, atau dibersihkan dahulu tempat turunnya air dari anggota badan sehingga menjadi bersih dan suci.&#8221; [<a href="http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1096.shtml" rel="nofollow" target="_blank">2</a>]</p>
<h3>Hukum Membaca Dzikir di Kamar Mandi</h3>
<p>Membaca dzikir di kamar mandi makruh, karena berbicara di dalam kamar mandi hukumnya makruh dan membaca dzikir termasuk berbicara. Demikian pula kita diperintahkan untuk mengagungkan syiar-syiar Allah dan di antara bentuk pengagungan adalah berdzikir di tempat yang suci bukan di tempat yang kotor dan tempat buang hajat.<br />
Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (32) [الحج/32]</p>
<p>&#8220;<em>Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati</em>. (QS. 22:32)&#8221;</p>
<p>Ibnu &#8216;Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> berkata,</p>
<p class="arab">يكره أن يذكر الله وهو جالس على الخلاء</p>
<p>&#8220;Dibenci berdzikir mengingat Allah padahal dia dalam keadaan duduk di dalam jamban.&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:209 no.1227, dengan sanad yang hasan)</p>
<p>Abu Wa&#8217;il <em>rahimahullahu</em> juga berkata,</p>
<p class="arab">اثنان لا يذكر الله العبد فيهما إذا أتى الرجل أهله يبدأ فيسمي الله وإذا كان في الخلاء</p>
<p>&#8220;Dua keadaan dimana seorang hamba tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, (pertama) ketika seorang laki-laki mendatangi istrinya, maka hendaklah dia mulai dengan menyebut nama Allah, (kedua) apabila dia berada di jamban.&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:209 no.1229 ,dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Abu Ishaq As-Sabii&#8217;iy <em>rahimahullah</em> juga berkata,</p>
<p class="arab">ما أحب أن أذكر الله إلا في مكان طيب</p>
<p>&#8220;Aku tidak senang berdzikir kepada Allah kecuali di tempat yang baik.&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:210 no.236, dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Namun kemakruhan ini bisa gugur apabila ada hajat atau keperluan, seperti mengucap <em>tahmid</em> ketika bersin, mengucap <em>tasmiyyah</em> sebelum wudhu. Berikut ini adalah sebagian ucapan salaf yang menunjukkan bolehnya berdzikir di jamban apabila diperlukan.<br />
Manshur bin Mu&#8217;tamir <em>rahimahullah</em> mengtakan,</p>
<p class="arab">وسألته عن الرجل يعطس على الخلاء قال يحمد الله فإنها تصعد</p>
<p>&#8220;Dan aku bertanya kepada Ibrahim (An-Nakha&#8217;iy) tentang seseorang yang bersin ketika buang air?&#8221; Beliau menjawab, &#8216;Hendaknya dia memuji Allah (yaitu mengucapkan Alhamdulillah) karena tahmid itu akan naik&#8217;.&#8221; (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 2:455 no.4063, dengan sanad yang shahih, dan juga Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:210 no.1233)</p>
<p>Dari Sya&#8217;bi <em>rahimahullahu</em>, beliau ditanya tentang seseorang yang bersin di jamban, maka beliau berkata: يحمد الله<br />
&#8220;Hendaklah dia memuji Allah&#8221;. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1232, dengan sanad yang shahih)<br />
Dari Muhammad bin Sirin <em>rahimahullahu</em> beliau berkata</p>
<p class="arab">لا أعلم بأسا بذكر الله</p>
<p>&#8220;Aku tidak memandang adanya masalah dalam <em>dzikrullah</em> (di jamban).&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1235, dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Dan inilah yang difatwakan oleh sebagian ulama kita, Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p class="arab">لا بأس أن يتوضأ داخل الحمام إذا دعت الحاجة إلى ذلك ، ويسمي عند أول الوضوء ، يقول : (بسم الله) لأن التسمية واجبة عند بعض أهل العلم ، ومتأكدة عند الأكثر ، فيأتي بها وتزول الكراهة لأن الكراهة تزول عند الحاجة إلى التسمية ، والإنسان مأمور بالتسمية عند أول الوضوء ، فيسمي ويكمل وضوؤه</p>
<p>&#8220;Tidak mengapa berwudhu di dalam kamar kecil apabila memang diperlukan, dan mengucap <em>tasmiyah</em> di awal wudhu seraya mengucapkan &#8220;Bismillah&#8221; karena <em>tasmiyyah</em> wajib menurut sebagian ulama, dan dikuatkan menurut sebagian besar ulama. Oleh karena itu, hendaknya seseorang mengucapkan <em>tasmiyyah</em> ini yang hilang kemakruhannya karena dibutuhkan mengucapkannya. Seseorang diperintah untuk <em>tasmiyyah</em> di awal wudhu, maka hendaknya dia bertasmiyyah dan menyempurnakan wudhunya.&#8221; (<em>Majmu Fataawa Syeikh Abdul Aziz bin Baz</em>, 10:28)</p>
<p>Dalam <em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah</em>:</p>
<p class="arab">يكره أن يذكر الله تعالى نطقاً داخل الحمام الذي تقضى فيه الحاجة تنزيهاً لاسمه واحتراماً له لكن تشرع له التسمية عند بدء الوضوء لأنها واجبة مع الذكر عند جمع من أهل العلم</p>
<p>&#8220;Dimakruhkan dzikrullah dengan lisan di dalam jamban yang digunakan untuk buang hajat, sebagai penyucian dan penghormatan terhadap nama Allah, akan tetapi disyariatkan <em>tasmiyyah</em> (membaca: bismillah) ketika di awal wudhu karena ini wajib ketika ketika ingat menurut sebagian ulama.&#8221; (<em>Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daimah</em>, 5:94)</p>
<h3>Melirihkan Dzikir Di Kamar Mandi</h3>
<p>Perlu diketahui bahwasanya di antara adab berdzikir di kamar mandi/wc/jamban adalah memelankan suara dzikir.<br />
Dari Al-Hasan Al-Bashry <em>rahimahullah</em> beliau berkata tentang seseorang yang bersin di dalam jamban:</p>
<p class="arab">يحمد الله في نفسه</p>
<p>&#8220;Hendaknya dia memuji Allah dengan di dalam dirinya (yaitu pelan).&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em>, 1:210 no.1234, dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Hushain bin Abdurrahman <em>rahimahullahu</em> berkata,</p>
<p class="arab">انتهينا إلى الشعبي وهو مغضب، فقيل له: ما لك يا أبا عمرو ؟ فقال : إن هذا المارق ، يعني داود بن يزيد الأودي، سألني عن الرجل يعطس في الخلاء، قلت : فما تقول يا أبا عمرو ؟ قال : يحمد الله في نفسه</p>
<p>&#8220;Kami mendatangi Asy-Sya&#8217;by sedangkan beliau dalam keadaan marah, maka beliau ditanya, &#8220;Ada apa wahai Abu &#8216;Amr?&#8221;<br />
Beliau berkata, &#8220;Sesungguhnya orang yang <em>maariq</em> ini –maksudnya Dawud bin Yazid Al-Audy-, telah bertanya kepadaku tentang seseorang yang bersin di tempat buang hajat. Aku berkata, &#8220;Lalu apa yang kamu katakan wahai Abu &#8216;Amr?&#8221;<br />
Beliau menjawab, &#8220;Hendaklah dia memuji Allah di dalam dirinya ( yaitu dengan pelan).&#8221; (Dikeluarkan oleh Al-&#8217;Uqaily dalam <em>Adh-Dhu&#8217;afa</em>, 2:391, dengan sanad yang shahih)</p>
<p><strong>Perkataan mereka</strong></p>
<p class="arab">يحمد الله في نفسه</p>
<p>(Memuji Allah di dalam dirinya) ada dua kemungkinan, memuji Allah di dalam hati atau memuji Allah dengan lisan secara pelan, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam dalam <em>Al-Fatawa Al-Kubra</em>, 5:301.</p>
<p>Makna eksplisit dari atsar sebagian salaf di atas –<em>wallahu a&#8217;lam</em>- adalah berdzikir dengan lisan bukan hanya dengan hatinya.<br />
Akhir kata, tentunya lebih baik apabila seseorang di dalam rumahnya memiliki tempat wudhu khusus yang berada di luar kamar mandi/jamban/wc.<br />
<em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>Jawaban <a href="http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com" rel="nofollow" target="_blank">Ust. Abdullah Roy, Lc</a>.</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wudhu-di-kamar-mandi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternyata Suami Tidak Sesuai Harapan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ternyata-suami-tidak-sesuai-harapan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ternyata-suami-tidak-sesuai-harapan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 23:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10201</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata Suami Tidak Sesuai Harapan Pertanyaan: Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ditanya: Jika seseorang menikah, ternyata setelah menikah suaminya kurang dari persyaratan yang diminta. Apakah boleh bagi istri mengajukan tuntutan? Jawaban: Sebagian ulama berpendapat bahwa bila seorang wanita menikah dan menyaratkan sifat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ternyata Suami Tidak Sesuai Harapan</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ditanya:<br />
Jika seseorang menikah, ternyata setelah menikah suaminya kurang dari persyaratan yang diminta. Apakah boleh bagi istri mengajukan tuntutan?<br />
<span id="more-10201"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Sebagian ulama berpendapat bahwa bila seorang wanita menikah dan menyaratkan sifat tertentu, ternyata mendapatkan sifat yang kurang sesuai, maka ia (wanita) tidak berhak membatalkan akad nikah. Dan menurut pendapat lain boleh baginya membatalkan akad nikah dan inilah pendapat yang kuat sebab syarat yang paling berhak untuk dipenuhi adalah syarat dalam pernikahan. Pendapat kedua tersebut diriwayatkan dari Imam Ahmad. Sebagaimana hak <em>khiyar</em> (hak memilih) bagi orang yang menikah dengan wanita budak sementara ia tidak tahu bahwa wanita tersebut seorang budak. Dan demikian itu pendapat yang benar, sebab setiap akad tidak bisa gugur kecuali adanya pernyataan kerelaan dari yang bersangkutan.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ternyata-suami-tidak-sesuai-harapan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Utang Mahar dan Zakatnya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/utang-mahar-dan-zakatnya</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/utang-mahar-dan-zakatnya#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 06:10:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9389</guid>
		<description><![CDATA[Utang Mahar dan Zakatnya Pertanyaan: Syaikh Utsaimin ditanya: Apakah boleh menunda pembayaran mahar dan apakah mahar tersebut wajib dikeluarkan zakatnya? Jawaban: Dibolehkan menunda pembayaran mahar berdasarkan firman Allah, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Utang Mahar dan Zakatnya</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Utsaimin ditanya:<br />
Apakah boleh menunda pembayaran <strong>mahar</strong> dan apakah mahar tersebut wajib dikeluarkan zakatnya?<br />
<span id="more-9389"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Dibolehkan menunda pembayaran <span style="text-decoration: underline;">mahar</span> berdasarkan firman Allah,</p>
<p class="arab">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.</em>” (Al-Maidah: 1)</p>
<p>Memenuhi pembayaran mahar adalah termasuk bagian dari memenuhi akad, sebab segala jenis yang menjadi persyaratan dalam akad termasuk bagian dari akad tersebut. Pembayaran mahar boleh dicicil bila sudah ada kesepakatan sebelumnya. Dan suami wajib memenuhinya tatkala saat pembayaran telah tiba. Jika pembayaran mahar tersebut kontan, maka harta itu menjadi hak istri walaupun terjadi talak <em>faskh</em> atau kematian. Dan mahar yang ditangguhkan tersebut wajib dikeluarkan zakatnya dengan syarat kondisi ekonomi suami baik dan mampu, dan tidak wajib mengeluarkan zakat apabila suami tersebut tergolong miskin.</p>
<p>Penundaan pembayaran mahar sangat meringankan beban pernikahan dan membuat proses pernikahan menjadi ringan. Wanita dibolehkan melepaskan hak maharnya kepada calon suami bila tanpa ada unsur paksaan. Akan tetapi bila ada unsur paksaan atau ancaman mau dicerai, maka mahar tersebut tidak bisa lepas dari tangannya karena tidak boleh memaksanya agar menggugurkan mahar.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait mahar pernikahan:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../halalkah-harta-dari-mahar-yang-berlebihan" target="_blank">Mahar yang Terlalu Mahal</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../menjual-mahar" target="_blank">Hukum Menjual Mahar</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../waktu-membayar-mahar" target="_blank">Waktu Membayar Mahar</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/wanita-menikah-tanpa-mahar" target="_blank">Wanita Menikah Tanpa Mahar</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/utang-mahar-dan-zakatnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjanji dan Bersumpah Menjadi Saudara</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/berjanji-dan-bersumpah-menjadi-saudara</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/berjanji-dan-bersumpah-menjadi-saudara#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 02:13:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10095</guid>
		<description><![CDATA[Berjanji dan Bersumpah Menjadi Saudara Pertanyaan: Lajnah Daimah ditanya: Saya laki-laki berumur 48 tahun yang sedang menderita sakit sementara saya tidak mempunyai keluarga, tetapi saya mempunyai teman akrab, seorang muslim yang taat, akhirnya saya dirawat di rumahnya. Istri teman saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Berjanji dan Bersumpah Menjadi Saudara</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Lajnah Daimah ditanya:<br />
Saya laki-laki berumur 48 tahun yang sedang menderita sakit sementara saya tidak mempunyai keluarga, tetapi saya mempunyai teman akrab, seorang muslim yang taat, akhirnya saya dirawat di rumahnya. Istri teman saya itu seorang muslimah yang taat, yang selalu melayani dan merawat saya, hingga saya sembuh. Setelah saya sembuh, saya ingin istri teman saya itu <strong>menjadi saudara</strong> perempuan saya sebab saya tidak mempunyai saudara sama sekali. Kemudian kami (saya, teman saya dan istrinya) meletakkan tangan di atas Alquran dan berjanji bahwa ia menjadi saudara perempuan dan sekaligus saudara mahram saya selamanya. Hal ini telah mendapat persetujuan dari keluarga teman saya serta putra-putrinya, sampai sekarang ia saya anggap seperti saudara kandung. Apakah boleh saya memegang tangan atau menjadi mahramnya dalam ibadah haji? Hubungan kami ini sudah diketahui oleh kerabat saya dan kerabat dia. Semoga saya mendapat jawaban secara syar’i?<br />
<span id="more-10095"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Berjanji dan Bersumpah Menjadi Saudara</h3>
<p>Kebaikan apa pun yang kamu dapatkan dari temanmu dan istrinya, dan usaha apapun yang Anda lakukan agar istrinya menjadi mahram bagimu adalah tidak bisa. Sebab hubungan mahram seseorang dengan wanita hanya karena tiga hal yaitu: mahram karena hubungan nasab, mahram karena persusuan, dan mahram karena perhubungan perkawinan yang semuanya telah ditentukan oleh syariat secara mutlak. Tidak boleh bagi Anda memegang tangannya atau anggota tubuh lainnya dan tidak boleh pergi bersamanya dalam ibadah haji atau yang lainnya.</p>
<p>Dan juga dilarang Anda berkhalwat dengannya walaupun suami dan keluarganya telah menyetujuinya. Dalam segala hal Anda adalah orang lain yang tidak memiliki hubungan mahram dengna istrinya. Adapun kebaikan yang Anda peroleh dari mereka berupa pelayanan, pemberian materi, dan keikhlasan dalam bersahabat tidak lebih hanya merupakan pemberian yang harus disyukuri dan dibalas serta dihargai.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010<br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KomsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KomsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi Terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/muhrim-dan-mahram" target="_blank">Mahram Kita yang Wajib Diketahui</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/berjanji-dan-bersumpah-menjadi-saudara/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tempat Shalat Jenazah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tempat-shalat-jenazah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tempat-shalat-jenazah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 23:30:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9989</guid>
		<description><![CDATA[Tempat Shalat Jenazah Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Apakah jenazah lebih baik dishalatkan di rumah atau di masjid? Dari: Herbono Utomo Jawaban: Tempat Shalat Jenazah Wa&#8217;alaikumussalam warahamatullahi wabarakatuh. Di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam terdapat tempat khusus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tempat Shalat Jenazah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz,<br />
Apakah jenazah lebih baik dishalatkan di rumah atau di masjid?</p>
<p>Dari: Herbono Utomo<br />
<span id="more-9989"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Tempat Shalat Jenazah</h3>
<p>Wa&#8217;alaikumussalam warahamatullahi wabarakatuh.<br />
Di zaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terdapat tempat khusus untuk <strong>shalat jenazah</strong>. Tempat ini berada di luar Masjid Nabawi. Dan umumnya jenazah para sahabat dishalatkan di tempat itu. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah<br />
<strong>Pertama</strong>, kisah rajam untuk dua orang Yahudi yang berzina. Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">أن اليهود جاؤوا إلى النبي صلى الله عليه وسلم برجل منهم وامرأة زنيا فأمر بهما فرجما قريبا من موضع الجنائز عند المسجد</p>
<p>&#8220;Bahwa orang-orang yahudi mendatangi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berzina. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan agar keduanya dirajam di dekat tempat shalat jenazah di samping masjid.&#8221; (HR. Bukhari, 3:155)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, keterangan dari Jabir bin Abdillah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa ada seorang yang meninggal, setelah dikafani, dia diletakkan di lokasi yang biasa digunakan untuk shalat jenazah, di dekat tempat datangnya Jibril. (HR. Hakim dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, keterangan dari Muhammad bin Abdillah bin Jahsy <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">كنا جلوس بفناء المسجد حيث توضع الجنائز ورسول الله صلى الله عليه وسلم جالس بين ظهرانينا</p>
<p>“<em>Kami duduk di teras masjid, di tempat yang sering digunakan untuk shalat jenazah. Sementara Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam duduk di tengah-tengah kami</em>.” (HR. Ahmad, Hakim, dan dihasankan Al-Albani)</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p class="arab">إن مصلى الجنائز كان لاصقا بمسجد النبي صلى الله عليه وسلم من ناحية جهة المشرق</p>
<p>“Sesungguhnya tempat shalat jenazah menempel dengan masjid nabawi, di sebelah timur.” (<em>Fathul Bari</em>, 3:199)<br />
Beliau juga mengatakan,</p>
<p class="arab">المكان الذي كان يصلى عنده العيد والجنائز وهو من ناحية بقيع الغرقد</p>
<p>“Tempat yang digunakan untuk shalat &#8216;id dan shalat jenazah berada di arah makam baqi&#8217;.” (<em>Fathul Bari</em>, 12:129)<br />
Meskipun dibolehkan untuk melaksanakan shalat jenazah di masjid. Berdasarkan riwayat dari A&#8217;isyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, bahwa ketika Sa&#8217;d bin Abi Waqqas meninggal, mereka berpesan agar jenazahnya dibawa ke masjid, sehingga mereka bisa menyalatkannya. Para sahabat pun melakukannya. Kemudian mereka menyalati jenazah Sa&#8217;d di dalam masjid. Setelah itu, A&#8217;isyah mendengar ada beberapa orang yang mencela sikap beliau. Mereka mengatakan itu perbuatan bid&#8217;ah, belum pernah jenazah dishalati di dalam masjid. A&#8217;isyah memberi komentar,</p>
<p class="arab">ما أسرع الناس إلى أن يعيبوا ما لا علم لهم به عابوا علينا أن يمر بجنازة في المسجد والله ما صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على سهيل بن بيضاء وأخيه إلا في جوف المسجد</p>
<p>“Betapa terburu-burunya manusia untuk mencela apa yang tidak mereka ketahui tentang memasukkan jenazah ke dalam masjid. Demi Allah, tidaklah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyalati Suhail bin Baidha&#8217; dan saudaranya, kecuali di dalam masjid.” (HR. Muslim, 3:63)</p>
<p>Juga dibolehkan untuk menyalati jenazah di rumah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Thalhah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa ketika putranya Abu Umar meninggal dunia, beliau mengundang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk menyalatkannya. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> datang dan menyalatinya di rumah Abu Thalhah. (HR. Hakim, 1:365, Baihaqi, 4:30 dan 31. Al-Albani menyatakan, &#8220;Hadis itu shahih berdasarkan syarat Muslim).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tempat-shalat-jenazah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Menikahi Anak Tiri</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-menikahi-anak-tiri</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-menikahi-anak-tiri#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 23:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10105</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Menikahi Anak Tiri Pertanyaan: Lajnah Daimah ditanya tentang hukum menikahi anak tiri: Seseorang menikah dengan wanita dan dikaruniai beberapa putri, lalu wanita tersebut ditalak, kemudian wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain dan dikaruniai beberapa putri juga. Apakah anak-anak perempuan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Menikahi Anak Tiri</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Lajnah Daimah ditanya tentang hukum <strong>menikahi anak tiri</strong>:<br />
Seseorang menikah dengan wanita dan dikaruniai beberapa putri, lalu wanita tersebut ditalak, kemudian wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain dan dikaruniai beberapa putri juga. Apakah anak-anak perempuan dari suami yang kedua harus menutup auratnya di depan mantan suami yang pertama. Dan jika harus menutup aurat, apakah boleh suami yang pertama menikah dengan salah satu putrinya dari suami kedua?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Hukum Menikahi Anak Tiri</h3>
<p>Jika seseorang <a href="http://konsultasisyariah.com/muhrim-dan-mahram" target="_blank">menikah</a> dengan seorang wanita kemudian mencampurinya, maka dia dilarang untuk selama-lamanya menikahi putri-putrinya atau putri-putri anak laki-lakinya hingga ke bawah. Baik anak-anak tersebut dari suami yang dahulu ataupun suami yang sekarang. Berdasarkan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p>“<em>Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan</em>.”</p>
<p>Hingga firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p>“<em>Anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri</em>.” (An-Nisa: 23)</p>
<p>Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa anak istri menjadi mahram bagi suaminya, dengan ketentuan setelah istri dicampuri. Dan anak-anak istri tersebut tidak wajib menutup aurat di depan suami yang telah menggaulinya.</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-menikahi-anak-tiri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gigi Palsu</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/gigi-palsu-permanen</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/gigi-palsu-permanen#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 23:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10114</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Gigi geraham saya copot karena sakit, kemudian dokter menggantinya dengan memasang gigi palsu, yang sifatnya permanen. Bagaimana hukumnya? Apakah termasuk mengubah ciptaan Allah? Thanks.. Jawaban: Gigi Palsu Permanen Penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajid: Memasang gigi palsu untuk mengganti ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Gigi geraham saya copot karena sakit, kemudian dokter menggantinya dengan memasang <strong>gigi palsu</strong>, yang sifatnya permanen. Bagaimana hukumnya? Apakah termasuk mengubah ciptaan Allah?<br />
Thanks..<br />
<span id="more-10114"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h2>Gigi Palsu Permanen</h2>
<p>Penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajid:<br />
Memasang <strong>gigi palsu</strong> untuk mengganti gigi yang lepas karena sakit atau sebab lainnya, hukumnya dibolehkan. Kami tidak mengetahui adanya ulama yang melarangnya. Dan mereka tidak membedakan antara gigi palsu yang permanen dan gigi palsu yang bisa dilepas. Orang yang sakit gigi, dibolehkan melakukan hal yang terbaik untuknya, setelah meminta pertimbangan dari dokter gigi.</p>
<p>Sedangkan maksud mengubah ciptaan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> adalah seseorang tidak merasa puas dengan ciptaan Allah, baik karena bentuknya atau karena ukurannya (bukan karena alasan sakit), kemudian dia ubah. Karena itu, orang yang mengubah ciptaan Allah secara umum dan ada dalil yang secara khusus mengubah giginya.<br />
Allah berfirman,</p>
<p class="arab">لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيباً مَفْرُوضاً . وَلأُضِلَّنَّهُمْ وَلأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأَنْعَامِ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيّاً مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَاناً مُبِيناً</p>
<p>“<em>Setan yang dilaknati Allah dan setan itu mengatakan, &#8220;Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk saya). Aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.</em>” (QS. An-Nisa: 118 – 119)</p>
<p>Kemudian disebutkan dalam hadis, dari Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Allah melaknat wanita yang menjadi tukang tato dan wanita yang minta ditato, wanita yang mencabuti bulu alis dan wanita yang minta agar bulu alisnya dicabuti, demikian pula wanita yang merenggangkan giginya demi kecantikan. Merekalah wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Imam Nawawi menjelaskan makna “merenggangkan gigi”:<br />
Maksudnya adalah mengikir sela gigi depan dengan gigi taring. Biasanya yang melakukan hal itu adalah wanita tua, untuk menampakkan penampilan muda dan gigi yang cantik. &#8230; ketika wanita sudah tua dan sudah tidak menarik, mereka memangkur giginya dengan alat kikir agar kelihatan bagus dan indah dipandang. Sehingga orang menganggap dia masih kelihatan muda. Perbuatan ini haram, baik untuk pelaku maupun objeknya, berdasarkan hadis di atas. “Demi kecantikan” maknanya para wanita itu melakukan tindakan demikian untuk memperindah dirinya. Ini mengisyaratkan bahwa yang haram adalah ketika hal itu dilakukan dalam rangka kecantikan dan keindahan. Jika hal ini dibutuhkan karena untuk pengobatan atau karena ada cacat di gigi maka ini tidak masalah.&#8221; (<em>Syarh Shahih Muslim</em>, 14:107)</p>
<p>Dari keterangan Nawawi dapat disimpulkan bahwa beliau membedakan antara memperbagus gigi dengan tujuan pengobatan untuk menghilangkan cacat di gigi atau sakit gigi dan memperindah gigi karena merasa tidak puas dengan ciptaan Allah dan untuk tujuan kecantikan. Untuk tujuan yang pertama hukumnya mubah, sedangkan yang kedua hukumnya terlarang.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam.</em> <strong>[islamqa.com]</strong></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ust. Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait gigi palsu:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../apa-hukum-sisa-makanan-di-sela-gigi-batalkah-sholat-kita" target="_blank">Sisa Makanan Di Sela Gigi ketika Shalat</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/memakai-behel-gigi" target="_blank">Hukum Memakai Behel Gigi</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../wudunya-pemakai-gigi-palsu" target="_blank">Wudhunya Pemakai Gigi Palsu</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../merapikan-dan-merapatkan-gigi" target="_blank">Merapikan dan Meratakan Gigi</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../apa-hukum-gigi-palsu" target="_blank">Hukum Gigi Palsu</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/gigi-palsu-permanen/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Menikah Tanpa Mahar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita-menikah-tanpa-mahar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita-menikah-tanpa-mahar#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 23:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9384</guid>
		<description><![CDATA[Wanita Menikah Tanpa Mahar Pertanyaan: Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya: Apakah boleh seseorang ikhlas menikahkan putrinya karena Allah sehingga tidak meminta mahar dari calon suami? Jawaban: Wanita Menikah Tanpa Mahar Dalam pernikahan harus ada pemberian harta sebagai mahar berdasarkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Wanita Menikah Tanpa Mahar</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya:<br />
Apakah boleh seseorang ikhlas menikahkan putrinya karena Allah sehingga tidak meminta <strong>mahar</strong> dari calon suami?<br />
<span id="more-9384"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Wanita Menikah Tanpa Mahar</h3>
<p>Dalam pernikahan harus ada pemberian harta sebagai mahar berdasarkan firman Allah,</p>
<p class="arab">وَأُحِلَّ لَكُم مَّاوَرَآءَ ذَالِكُمْ أَن تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ</p>
<p>“<em>Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian yaitu mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.</em>” (QS. An-Nisa: 24)<br />
Dan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada laki-laki yang meminang wanita (ia pernah menawarkan dirinya untuk dinikahi Rasulullah):<br />
“<em>Carilah (mahar) walaupun berupa cincin dari besi</em>.”</p>
<p>Barangsiapa yang menikah tanpa mahar, maka wanita mempunyai hak untuk menuntut kepada suami mahar. Mahar pernikahan boleh berupa mengajar membaca Alquran, hadis-hadis, atau ilmu-ilmu yang bermanfaat. Sebab tatkala seseorang yang tidak mempunyai harta untuk dijadikan mahar, maka Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyuruhnya agar memberi mahar dengan mengajarkan Alquran kepada calon istrinya. Mahar adalah hak murni wanita, jika hak tersebut dilepaskan oleh istri dengan sukarela, maka calon suami gugur dari kewajiban membayar mahar tersebut.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا</p>
<p>“<em>Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya</em>.” (An-Nisa: 4)</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait mahar pernikahan:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../halalkah-harta-dari-mahar-yang-berlebihan" target="_blank">Mahar yang Terlalu Mahal</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../menjual-mahar" target="_blank">Hukum Menjual Mahar</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/waktu-membayar-mahar" target="_blank">Waktu Membayar Mahar</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita-menikah-tanpa-mahar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihat Agar Lebih Bersabar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/nasihat-agar-lebih-bersabar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/nasihat-agar-lebih-bersabar#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 07:32:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9355</guid>
		<description><![CDATA[Nasihat Agar Lebih Bersabar Pertanyaan: Lajnah Daimah ditanya: &#8220;Apakah boleh wanita menolak melayani suami karena ia mendapat perlakuan tidak wajar dari suaminya?&#8221; Jawaban: Nasihat Agar Lebih Bersabar Tidak boleh suami memperlakukan istri secara semena-mena, karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Nasihat Agar Lebih Bersabar</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Lajnah Daimah ditanya:<br />
&#8220;Apakah boleh wanita menolak melayani suami karena ia mendapat perlakuan tidak wajar dari suaminya?&#8221;<br />
<span id="more-9355"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Nasihat Agar Lebih Bersabar</h3>
<p>Tidak boleh <a href="http://konsultasisyariah.com/sabar-telat-menikah" target="_blank">suami</a> memperlakukan istri secara semena-mena, karena Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p>“<em>Dan bergaullah dengan mereka secara patut.</em>” (QS. An-Nisa: 19)</p>
<p>Dan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Sesungguhnya istrimu mempunyai hak atas kamu.</em>”<br />
Dan jika suami melakukan penganiayaan terhadap istri, maka sebaiknya istri membalasnya dengan kesabaran. Dan hendaknya wanita tersebut menunaikan segala kewajiban rumah tangga agar mendapatkan pahala dari Allah dan berdoa kepada Allah agar suaminya mendapat petunjuk ke jalan yang benar. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَايَصِفُونَ</p>
<p>“<em>Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik, Kami lebih mengetahui terhadap yang mereka sifatkan</em>.” (QS. Al-Mukminun: 96)</p>
<p>Dan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p><em>“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maak tiba-tiba orang yang diantaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”</em> (QS. Fushshilat: 34)</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/nasihat-agar-lebih-bersabar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Malam Pertama</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-malam-pertama</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-malam-pertama#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 03:30:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10007</guid>
		<description><![CDATA[Doa Malam Pertama Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum. Sebentar lagi saya ingin menikah, tapi saya belum tau ucapan niat shalat sunah sebelum melakukan malam pertama? Mohon bantuan supaya pernikahan saya diridhai oleh Allah. Terimakasih. Dari: Agung S Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Doa Malam Pertama Ketika ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Doa Malam Pertama</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum. Sebentar lagi saya ingin menikah, tapi saya belum tau ucapan niat shalat sunah sebelum melakukan <strong>malam pertama</strong>? Mohon bantuan supaya pernikahan saya diridhai oleh Allah. Terimakasih.</p>
<p>Dari: Agung S<br />
<span id="more-10007"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam</p>
<h3>Doa Malam Pertama</h3>
<p>Ketika bertemu pertama kali setelah akad nikah, dianjurkan bagi suami untuk mendoakan istrinya. Caranya: suami meletakkan tangan kanannya di ubun-ubun istrinya –pastikan tidak ada orang ketiga– kemudian membaca tiga hal:</p>
<p>A. Basmalah</p>
<p>B. Mendoakan keberkahan, misalnya:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْها، وَبَارِكْ لَهَا فِيَّ</p>
<p><em><strong>Allahumma barik laha fiyya wa barik lii fiiha</strong></em></p>
<p><em>&#8220;Ya Allah berkahilah dia untukku, dan berkahilah aku untuknya.&#8221;</em></p>
<p>C. membaca doa:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ</p>
<p><strong>Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha &#8216;alaihi wa a-&#8217;udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha &#8216;alaihi</strong></p>
<p>Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.</p>
<p>Keterangan di atas berdasarkan hadis dari Abdullah bin Amr bin &#8216;Ash, bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="arab">إذا تزوج أحدكم امرأة أو اشترى خادما فليأخذ بناصيتها وليسم الله عز وجل وليدع بالبركة وليقل: اللهم إني أسألك من خيرها</p>
<p><em>&#8220;Apabila kalian menikahi seorang wanita, maka peganglah ubun-ubunnya, sebutlah nama Allah, dan doakanlah memohon keberkahan, serta ucapkan: Allahumma inni as-aluka&#8230;. dst.&#8221;</em> (HR. Bukhari dalam Af&#8217;al al-Ibad Hal. 77, Abu Daud 1:336, Ibn Majah 1:592, Hakim 1:185, dan dihasankan Al-Albani)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../sama-hari-lahir-nikahpun-sulit" target="_blank">Sama Hari Lahir, Nikah Dipersulit</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../taubat-dari-zina" target="_blank">Masih SMA, Sudah Berzina</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../ijab-kabul-akad-nikah" target="_blank">Lafal Ijab Kabul yang Benar</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../selingkuh-dengan-ipar" target="_blank">Selingkuh dengan Ipar</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../adakah-sholat-2-rakaat-ketika-suami-hendak-mendatangi-istrinya" target="_blank">Shalat 2 Rakaat Untuk Malam Pertama</a>.<br />
6. <a href="http://konsultasisyariah.com/sebelum-malam-pertama" target="_blank">Adab Malam Pertama</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-malam-pertama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suami Mengancam Cerai dengan Syarat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mengancam-mencerai-dengan-syarat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mengancam-mencerai-dengan-syarat#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 23:14:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9373</guid>
		<description><![CDATA[Suami Mengancam Cerai dengan Syarat Pertanyaan: Syaikh Abdul Rahman As-Sa’di di tanya tentang hukum seorang laki-laki yang berkata kepada istrinya: &#8220;Jika kamu mengeluarkan barang dari rumahku sedikit atau banyak tanpa izinku maka kamu tertalak.&#8221; Selanjutnya dua hari sesudah itu, ia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Suami Mengancam Cerai dengan Syarat</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Abdul Rahman As-Sa’di di tanya tentang hukum seorang laki-laki yang berkata kepada istrinya:</p>
<p>&#8220;Jika kamu mengeluarkan barang dari rumahku sedikit atau banyak tanpa izinku maka kamu tertalak.&#8221; Selanjutnya dua hari sesudah itu, ia mengecualikannya “Tidak termasuk harta yang kamu keluarkan untuk pengemis atau semisalnya.”</p>
<p>Apakah terjadi sumpah talak atau tidak? Apakah pengecualian tersebut termasuk sumpah atau syarat?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Mengancam Cerai dengan Syarat</h3>
<p>Ini termasuk sumpah talak karena sumpah hakikatnya memaksudkan anjuran atau larangan, perkataan “Keluarnya sesuatu (harta) dari rumahnya” yang dimaksudkannya sebagai sumpah kepada istrinya. Adapun pengecualiannya setelah dua hari untuk pengemis dan lainnya. Karena (itu berarti) pengecualian sumpah tersebut tidak ada hubungannya dengan sumpah pertama. Pengecualian yang tidak berhubungan tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Seandainya bisa mempengaruhi, berarti sumpah tersebut melenceng dari maksud semula.</p>
<p>Adapun apabila si suami tidak mempunyai maksud memasukkan pemberian kepada pengemis dan semisalnya dalam sumpahnya dan indikasi tersebut nampak kalau dikatakan kepadanya tentang perubahan isi pembicaraan dari sumpahnya: “Apakah kamu bermaksud untuk mencakup pengemis dalam sumpahmu atau tidak?” Dan ia menjawab: “Saya tidak memaksudkannya” maka niatnya sempurna ketika ia memberitahukan setelah itu bahwa ia tidak mencakupkan pengemis dalam sumpahnya.</p>
<p>Demikian pula kalau sebab sumpah yang membangkitkan (amarahnya) tidak mencakup pemberian makan kepada pengemis di dalam sumpahnya. Yang jelas, dalam masalah ini bahwa perkataan orang yang bersumpah adalah umum, kecuali apabila ia berniat mengkhususkannya ketika bersumpah atau sebab (timbulnya sumpah) adalah masalah khusus.<br />
<em>Wallahu a’lam</em></p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait cerai:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../talak-lewat-sms" target="_blank">Hukum Talak Lewat SMS</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../talak-ketika-istri-hamil" target="_blank">Talak Ketika Istri Hamil</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../selingkuh-dengan-ipar" target="_blank">Selingkuh dengan Ipar</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../al-muhallil" target="_blank">Al-Muhallil</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../cerai-karena-mandul" target="_blank">Cerai Karena Mandul</a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../cara-rujuk-setelah-talak-tiga" target="_blank">Cara Rujuk Setelah Talak Tiga</a>.<br />
7. <a rel="nofollow" href="../kalimat-cerai-bohong-bohongan" target="_blank">Kalimat Cerai Bohong-Bohongan</a>.<br />
8. <a rel="nofollow" href="../menikah-untuk-dicerai" target="_blank">Menikah Untuk Cerai</a>.<br />
9. <a rel="nofollow" href="../8-prinsip-tentang-cerai-ketika-marah" target="_blank">8 Prinsip tentang Cerai Karena Marah</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mengancam-mencerai-dengan-syarat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingkar Terhadap Janji Pernikahan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ingkar-terhadap-janji-pernikahan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ingkar-terhadap-janji-pernikahan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 06:34:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9382</guid>
		<description><![CDATA[Ingkar Terhadap Janji Pernikahan Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya: Seseorang menjanjikan untuk menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki, tetapi setelah laki-laki tersebut merantau lama. Akhirnya wanita tersebut dinikahkan dengan orang lain? Jawaban: Ingkar Terhadap Janji Pernikahan Seseorang yang mengajukan lamaran ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ingkar Terhadap Janji Pernikahan</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya:<br />
Seseorang menjanjikan untuk menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki, tetapi setelah laki-laki tersebut merantau lama. Akhirnya wanita tersebut dinikahkan dengan orang lain?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Ingkar Terhadap Janji Pernikahan</h3>
<p>Seseorang yang mengajukan <a href="http://konsultasisyariah.com/menikah-dengan-sepupu" target="_blank">lamaran</a> terhadap seorang wanita yang juga anak paman sendiri. Setelah meminang, laki-laki tersebut pergi merantau lama dan tidak kunjung datang, maka wanita tersebut dinikahkan dengan orang lain. Apabila kondisinya seperti yang saudara sebutkan, sebaiknya wanita tersebut tidak dikawinkan terlebih dahulu dengan orang lain hingga laki-laki tersebut diberi tahu. Agar dia memutuskan untuk meneruskan atau menunda pernikahan tersebut dan wali wanita punya alasan dan kepastian. Jika laki-laki tersebut hanya sekedar meminang dan menjanjikan untuk menikah dengan wanita tersebut kemudian pergi merantau lama dan tidak kunjung datang, maka boleh bagi wanita tersebut menikah dengan orang lain dengan syarat tanpa ada unsur paksaan. Apabila laki-laki yang pertama tadi sudah memberi mahar, maka mahar tersebut wajib dikembalikan kepadanya.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ingkar-terhadap-janji-pernikahan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 59/62 queries in 0.008 seconds using disk: basic
Object Caching 3146/3146 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-05 05:14:09 -->
