<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Halal Haram</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/fikih/halal-haram/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Ziarah Kubur bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 06:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10269</guid>
		<description><![CDATA[Ziarah Kubur bagi Wanita Pertanyaan: Bolehkah wanita berziarah ke kubur? Jawaban: Kedudukan wanita (dalam ibadah) hampir sama dengan kaum pria. Kewajiban pria juga bisa menjadi kewajiban wanita. Begitu pula mereka sama dalam mengerjakan perkara-perakara yang disunahkan. Mereka berbeda dalam perkara-perkara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ziarah Kubur bagi Wanita</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Bolehkah wanita berziarah ke kubur?<br />
<span id="more-10269"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kedudukan wanita (dalam ibadah) hampir sama dengan kaum pria. Kewajiban pria juga bisa menjadi kewajiban wanita. Begitu pula mereka sama dalam mengerjakan perkara-perakara yang disunahkan. Mereka berbeda dalam perkara-perkara yang dikhususkan oleh syariat.</p>
<p>Dalam perkara yang ditanyakan, saya tidak menemukan adanya dalil khusus yang mengharamkan wanita berziarah ke kuburan. Bahkan terdapat sebuah hadis dalam <em>Shahih Muslim</em> yang menceritakan tindakan Aisyah yang dilandasi rasa cemburu kepada istri-istri Nabi yang lain. Lengkapnya sebagai berikut:</p>
<p>Di malam hari ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyangka Aisyah telah tertidur, beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> turun dari tempat tidur kemudian berjalan dengan mengendap-endap, menuju ke pekuburan Baqi’. Mengetahui hal itu Aisyah yang belum tertidur mengikuti dari belakang. Jika Nabi melambatkan ayunan langkahnya, Aisyah pun ikut melambatkan jalannya. Dan jika Nabi berjalan cepat, Aisyah pun berjalan cepat, ketika Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pulang ke rumah, Aisyah dengan segera masuk ke rumah dan tidur di atas tempat tidurnya. Rasulullah segera masuk kamar menemui Aisyah. Karena Aisyah nampak terengah-engah; Rasulullah bertanya kepada, “<em>Ada apa wahai Ais? Apakah engkau menyangka Allah dan rasul-Nya akan berbuat curang kepadamu?. Sesungguhnya tadi Jibril datang dan menyampaikan salam dari Allah kepadaku, dan juga menyampaikan perintah Allah agar saya mendatangi pekuburan Baqi&#8217; lalu memintakan ampun penghuninya</em>.” Dalam kitab lain disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Apa artinya aku bila dibandingkan dengan engkau Ya Rasulullah.” Selanjutnya (Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Kalau begitu, apa yang diucapkan jika berziarah ke kuburan?” Nabi menjawab, “Bacalah&#8230;&#8221;</p>
<p>Adapun hadis yang melarang para wanita berziarah ke kubur adalah,</p>
<p>“<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>.”</p>
<p>Hadis ini hanya berlaku di Mekah karena diucapkan di Mekah dan dalam periode Mekah (sebelum hijrah –ed.). Dalil yang menguatkan adalah sebuah hadis yang sudah kita kenal yang bunyinya:</p>
<p>“<em>Dahulu saya melarang kalian mendatangi (ziarah) kubur, adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya.</em>”</p>
<p>Dengan demikian jelaslah bahwa pelarangan <strong>ziarah kubur</strong> itu hanya berlaku dalam periode Mekah, bukan pada periode Madinah. Pelarangan ini dimaksudkan karena di masa periode Mekah para sahabat baru saja memeluk Islam. Tidak mungkin pelarangan ini berlaku setelah hijrah ke Madinah.</p>
<p>Ucapan Nabi “<em>Adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya</em>” boleh jadi diucapkan di Mekah, tetapi waktu atau tempat diucapkannya ini tidak berpengaruh sama sekali. Yang jelas izin berziarah ke kubur datang belakangan setelah pelarangannya di Mekah, dan ini sangat berkaitan dengan hadis Aisyah di atas. Jika kita menganggap hadis “<em>Dahulu saya melarang&#8230;</em>” diucapkan setelah hadis Aisyah, berarti hadis Aisyah di-<em>mansukh</em> (dihapus). Dan anggapan ini sangat jauh dari kebenaran.</p>
<p>Yang benar adalah Rasulullah melarang ziarah ke kubur pada periode Mekah, tetapi di akhir-akhir periode Mekah atau pada awal hijrah ke Madinah beliau mengizinkannya melalui sabdanya, “<em>Adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya</em>.” Tidak diragukan lagi bahwa pelarangan ziarah kubur di periode Mekah diperuntukkan bagi laki-laki dan perempuan. Begitu pula perizinannya yang keluar pada akhir periode Mekah dan awal hijrah ke Madinah juga bagi laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Kalau begitu kapan hadis “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>” diucapkan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Jika hadis ini diucapkan setelah izin Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada para wanita untuk berziarah kubur, berarti terjadi penghapusan hukum dua kali (dilarang, lalu dibolehkan, dan akhirnya dilarang lagi) di-<em>mansukh</em> dua kali. Hal seperti ini tidak pernah kita jumpai dalam hukum-hukum syariat.</p>
<p>Baiklah, kita anggap saja bahwa Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengucapkan hadis “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>” setelah beliau mengizinkan pria dan wanita berziarah kubur. Tapi bagaimana dengan hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah memberikan izin kepada Aisyah untuk berziarah kubur? Apakah izin Rasulullah ini keluar setelah hadis laknat di atas? Atau sebelumnya? Pendapat yang kuat menurut kami adalah bahwa izin Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> keluar sebelum hadis, “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>.”</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong><br />
Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa yang dilarang adalah perempuan yang berlebih-lebihan dan terlalu sering berziarah. Sangat tidak mungkin ziarah ini haram bagi wantia, sementara Sayyidah Aisyah kerap kali berziarah kubur, walaupun Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sudah meninggal.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8211; 2004 M</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ziarah kubur:</h3>
<p>1. <a href="../bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan" rel="nofollow" target="_blank">Bolehkah memakai alas kaki di kuburan.</a><br />
2. <a href="../bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur" rel="nofollow" target="_blank">Wanita haid berziarah kubur.</a><br />
3. <a href="../gambaran-adzab-kubur" rel="nofollow" target="_blank">Gambaran azab kubur.</a><br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur" target="_blank">Tabur Bunga Saat Ziarah Kubur</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bekerja di Hotel</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bekerja-di-hotel</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bekerja-di-hotel#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 08:50:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9707</guid>
		<description><![CDATA[Bekerja di Hotel Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Ustadz, apa hukum bekerja di hotel, karena ada sebagian orang yang melarangnya karena terlalu banyak maksiat. Jazakallah. Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam&#8230; Bekerja di Hotel Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, dan sahabatnya. Pekerjaan adalah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bekerja di Hotel</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum</em>. Ustadz, apa hukum <strong>bekerja di hotel</strong>, karena ada sebagian orang yang melarangnya karena terlalu banyak maksiat. <em>Jazakallah.</em><br />
<span id="more-9707"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam&#8230;</em></p>
<h3>Bekerja di Hotel</h3>
<p>Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, dan sahabatnya.<br />
Pekerjaan adalah urusan dunia salah satunya adalah bekerja di hotel, bukan urusan ibadah. Sedangkan para ulama telah menggariskan satu kaidah umum dalam setiap urusan dunia:</p>
<blockquote><p>“Hukum asal pada setiap urusan dunia ialah mubah.”</p></blockquote>
<p>Bila demikian, dapat diketahui bahwa hukum asal bekerja di perhotelan atau yang lainnya adalah halal. Berdasarkan prinsip ini lebih jauh para ulama menegaskan bahwa orang yang mengharamkan hal dari urusan dunia, maka ia berkewajiban untuk mendatangkan dalil yang menjadi dasar hukum haram tersebut. Bila ia tidak berhasil mendatangkan dalil, maka klaim haram tersebut tidak dapat diterima alias tertolak.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa haramnya suatu pekerjaan secara umum terjadi dikarenakan dua alasan:</p>
<ol>
<li> Karena pekerjaannya haram, seperti menjadi pekerja seks komersial, tukang pukul, dan yang serupa.</li>
<li>Obyek pekerjaan atau cara menjalankan pekerjaan yang tidak benar, seperti membungakan piutang, jual beli dengan cara-cara yang tidak benar, tukang masak daging babi, dan yang serupa.</li>
</ol>
<p>Bila suatu <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-kartu-kredit-credit-card" target="_blank">pekerjaan</a> haram karena alasan pertama, maka pekerjaan itu haram secara mutlak. Bagi semua orang dan dengan cara bagaimana pun dijalankan, ia tetap saja haram. Adapun bila suatu pekerjaan haram dikarenakan alasan kedua, maka tidak tepat bila seseorang membuat klaim yang bersifat umum, seperti orang yang melarang bekerja di hotel ini.</p>
<p>Dengan demikian, pekerjaan di perhotelan yang haram sudah semestinya ditinjau dari kedua alasan di atas. Bila bekerja di perhotelan sebagai penjaja seks komersial, maka tidak diragukan akan keharamannya. Adapun bila bekerja dalam pekerjaan yang halal, tetapi kadang objek pekerjaannya atau cara bekerjanya tidak benar, maka pekerjaannya itu haram, namun masih terbuka peluang untuk membenahinya.</p>
<p>Sebagai contoh bila Anda sebagai juru masak, dan oleh pengelola hotel Anda diminta memasak daging babi, maka haram bagi Anda untuk mematuhi perintahnya ini. Apabila Anda menolaknya, maka hasil pekerjaan Anda tetap halal, karena Anda tidak melakukan hal yang mungkar pada pekerjaan Anda. Terlebih-lebih bila Anda menegakkan syariat <em>amar ma’ruf dan nahi munkar</em>, yaitu dengan menasihati pengelola hotel untuk tidak menyajikan makanan yang haram.</p>
<p>Akan tetapi, bila Anda mematuhi perintahnya untuk memasak daging babi, maka Anda berdosa dan tentunya penghasilan anda tercampur antara yang halal dan yang haram. Atau, kalau Anda bekerja sebagai akuntan di suatu hotel dan Anda diperintah untuk mengelola dana hotel dengan cara membungakannya, maka Anda berdosa. Akan tetapi, bila Anda dapat meyakinkan pemilik hotel agar dananya dikelola dengan cara-cara yang benar, maka pekerjaan Anda halal.<br />
<em>Wallahu a’lam bish showab</em>.</p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al-Furqon</em> Edisi 01 Tahun ke-10 1432 H/ 2011</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bekerja-di-hotel/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keluarga yang Tidak Taat Kepada Allah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keluarga-yang-tidak-taat-kepada-allah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keluarga-yang-tidak-taat-kepada-allah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 07:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9550</guid>
		<description><![CDATA[Tinggal Bersama Keluarga yang Tidak Taat Kepada Allah Pertanyaan: Saya wanita telah menikah 5 tahun yang lalu dan telah dikaruniai seorang putri. Saya banyak memuji Allah sebab yang menerapkan hukum Islam, dan tidak khawatir terhadap celaan orang yang mencela. Saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tinggal Bersama Keluarga yang Tidak Taat Kepada Allah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Saya wanita telah menikah 5 tahun yang lalu dan telah dikaruniai seorang putri. Saya banyak memuji Allah sebab yang menerapkan hukum Islam, dan tidak khawatir terhadap celaan orang yang mencela. Saya sangat antusias di atas agama.<br />
Dahulu, sebelum menikah, saya sering mendengarkan musik dan nyanyian, namun setelah mengetahui bahwa hal tersebut diharamkan —tidak boleh kita mendengarkannya— sebab tidak akan berkumpul cahaya iman dan seruan nyanyian dalam hati seorang mukmin, maka saya segera meninggalkannya dan segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sesungguhnya yang dapat membersihkan hati saya dari semua sifat nifaq (kemunafikan) dan riya.<br />
<span id="more-9550"></span><br />
Akan tetapi, saya memiliki seorang ayah dan lima saudara, yang paling kecil dari mereka berumur 12 tahun dan yang paling tua berumur 30 tahun —semoga Allah memberi mereka hidayah-. Mereka semua tidak mau melaksanakan sholat dan tidak berpuasa. Sedang ayahku, semua hartanya adalah harta riba. Allah tidak memberiku berkah padanya, semua hartanya dipergunakan pada hal-hal yang tidak ada faedahnya semisal untuk menyaksikan film dan membeli televisi, sehingga di setiap kamar rumah ada televisinya. Dia (ayah) menyangka bahwa ia memiliki harta yang banyak, namun tidaklah kita melihatnya kecuali berada dalam kehidupan yang penuh dengan kesusahan dan kefakiran, semua hartanya habis untuk meminum khamr.</p>
<p>Yang menjadi pertanyaan saya, apa yang seharusnya saya lakukan terhadap mereka? Saya khawatir mereka terjerumus ke dalam neraka, karena bagaimanapun juga mereka adalah ayahku, saudaraku, dan kerabatku. Saya senantiasa mendoakan mereka di setiap saya melaksanakan sholat semoga mereka mendapatkan hidayah dan keistiqomahan.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Merupakan kewajiban atas setiap muslim agar segera bertaubat kepada Allah dari kemaksiatan dan janganlah ia terus-menerus melakukan kemaksiatan. Jangan sampai maut datang menjemput sedang ia masih berada di atas kemaksiatan tersebut, sehingga dengan sebab itu ia terseret ke dalam neraka. Meninggalkan shalat adalah kekafiran dan meminum khamr adalah kefasikan. Wajib beramar ma’ruf dan nahi munkar, terlebih lagi pada sanak <strong>keluarga</strong> dan kerabat. Allah berfirman,</p>
<p class="Arab">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu&#8230;</em>” (QS. At-Tahrim: 6)</p>
<p class="arab">وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ اْلأَقْرَبِينَ</p>
<p>“<em>Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.</em>” (QS. Ay-Syu’aro: 214)</p>
<p>Dan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala,</p>
<p class="arab">وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاَةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا</p>
<p>“<em>Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya&#8230;</em>” (QS. Thoha: 132)</p>
<p>Dan kewajiban terhadap penanya di dalam menghadapi orang tuanya dan saudara-saudaranya, agar senantiasa memberikan nasihat kepada mereka dengan penuh hikmah dan nasihat yang baik serta menolak dengan cara yang baik, janganlah berputus asa dalam menasihati mereka. Mintalah bantuan kepada yang lain dari kerabat dan tetangga mereka di dalam menasihati mereka. Dan kalau bisa, hendaklah dia sampaikan permasalahan ini kepada “badan amar ma’ruf nahi munkar” di negeri tersebut agar menekankan mereka untuk kembali kepada ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan. Sebab hal ini merupakan perkara yang wajib. <em>Wallahu a’lam</em>. (<em>Al-Muntaqo min Fatawa</em>, 2:264-266)</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Mawaddah, Edisi 8 Tahun ke-1 Robi&#8217;ul Awwal 1429/Maret 2008<br />
Penyungitng Bahasa: Tim Konsultasi Syariah</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait masalah keluarga:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/kadar-nafkah-yang-wajib-atas-suami" target="_blank">Kadar Nafkah Suami pada Istri</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/kurban-satu-ekor-kambing-untuk-sekeluarga" target="_blank">Kurban Untuk Keluarga</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keluarga-yang-tidak-taat-kepada-allah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Hipnotis</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/belajar-hipnotis</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/belajar-hipnotis#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 06:24:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9201</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Belajar Hipnotis Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Bolehkah mempelajari ilmu hipnotis atau sihir? Bagaimanakah pandangan syariat mengenai hal itu? Jawaban: Hukum Belajar Hipnotis Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang sihir dan hukum mempelajarinya. Beliau menjawab, Menurut para ulama, sihir secara bahasa ialah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Belajar Hipnotis</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum. Bolehkah mempelajari ilmu <strong>hipnotis</strong> atau sihir? Bagaimanakah pandangan syariat mengenai hal itu?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Hukum Belajar Hipnotis</h3>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang sihir dan hukum mempelajarinya. Beliau menjawab,<br />
Menurut para ulama, sihir secara bahasa ialah segala yang lembut dan tidak terlihat sebabnya. Hal itu karena sihir mempunyai pengaruh yang tersembunyi yang tidak bisa dilihat oleh manusia. Sihir dengan pengertian ini mencakup perbintangan dan perdukunan. Bahkan mencakup pengobatan dengan (suatu) penjelasan dan kelihaian dalam mengolah kata-kata, sebagaimana sabda Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>“<em>Sesungguhnya sebagian bayan (penjelasan yang memukau) adalah sihir</em>.”</p>
<p>Segala sesuatu yang memiliki pengaruh dengan cara yang tersembunyi termasuk kategori sihir.</p>
<p>Sebagian ulama ada yang mendefinisikan bahwa sihir adalah azimat, ruqyah (yang tidak syar&#8217;i <em>pen.</em>), dan buhul yang berpengaruh dalam hati, akal dan badan, lalu seseorang lepas kendali terhadap akalnya, menumbuhkan cinta, dan kebencian yang memisahkan antara suami dengan istrinya, dan menyakiti badannya.</p>
<p>Belajar sihir hukumnya haram, bahkan termasuk kekafiran jika saranannya bersekutu dengan setan. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَاكَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِّنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ</p>
<p>“<em>Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerjaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), namun setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir)&#8230;</em>” (QS. Al-Baqarah: 102)</p>
<p>Belajar sihir jenis ini, yakni yang melalui jalan bersekutu dengan para setan, termasuk kekafiran. Dan mempergunakannya juga merupakan bentuk kekafiran, kezhaliman dan permusuhan terhadap makhluk. Karena itu, setiap penyihir harus dibunuh, baik karena riddah (murtad) maupun sebagai had (hukuman). Jika sihirnya dengan cara yang dinilai kufur, maka ia dibunuh karena murtad dan kafir. Namun jika sihirnya tidak mencapai derajat kekafiran, maka ia dibunuh sebagai had untuk menolak kejahatan dan keburukannya terhadap umat Islam.<br />
(<em>Al-Majmu’ ats-Tsamin min Fatawa asy-Syaikh. Ibnu Utsaimin</em> 2: 130-131)</p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al Mawaddah</em> Edisi 8 Tahun ke-3 1431 H/Maret 2010.</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://Artikel www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-hipnotis" target="_blank">Hipnotis Dalam Tinjaun Syariat</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-terapi-hipnotis-berhenti-merokok" target="_blank">Berhenti Merokok dengan Terapi Hipnotis</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/belajar-hipnotis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halalkah Memakan Kalong (Kelelawar)?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/makan-kekelawar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/makan-kekelawar#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 06:20:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8863</guid>
		<description><![CDATA[Halalkah Memakan Kalong (Kelelawar)? Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Saya seorang yang sangat hobi sekali berburu dengan menggunakan senapan angin. Untuk menyalurkan hobi saya itu, seringkali saya berburu kelelawar dan lutung. Karena setahu saya kedua jenis binatang tersebut bukan pemakan daging dan bukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Halalkah Memakan Kalong (Kelelawar)?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum<br />
Saya seorang yang sangat hobi sekali berburu dengan menggunakan senapan angin. Untuk menyalurkan hobi saya itu, seringkali saya berburu <strong>kelelawar</strong> dan lutung. Karena setahu saya kedua jenis binatang tersebut bukan pemakan daging dan bukan pula binatang buas, halalkah daging buruan saya itu?<br />
<em>Jazakumullah khairan</em> atas jawaban ustadz.</p>
<p>Dari: Rachmat<br />
<span id="more-8863"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam,</em></p>
<h3>Hukum Makan Kelelawar</h3>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang hukum memakan kelelawar. Ada tiga pendapat utama dalam hal ini:</p>
<ol>
<li> Madzhab Syafi&#8217;i dan Hambali mengharamkan memakan kelelawar.</li>
<li>Madzhab Maliki menyatakan hukumnya makruh dan tidak sampai haram, namun bukan sesuatu yang mubah untuk dikonsumsi.</li>
<li>Sementara para ulama dari Madzhab Hanafi berselisih pendapat, ada yang menyatakan halal dan ada yang berpendapat tidak halal.</li>
</ol>
<p>Imam Ibnu Qudamah dalam <em>Al-Mughni</em> menukil keterangan ulama sebelumnya, An-Nakha&#8217;i mengatakan, &#8220;Semua burung halal, kecuali kelelawar&#8230; hewan ini haram karena menjijikkan, bukan termasuk hewan yang <em>thayib</em> menurut masyarakat Arab, dan merekapun tidak memakannya.&#8221;</p>
<p>Sementara Imam An-Nawawi dalam <em>Al-Majmu&#8217; Syarh Muhadzab</em> menyatakan, “Kelelawar haram, sementara Ar-Rafi&#8217;i mengatakan, &#8216;Sebenarnya terdapat perbedaan dalam hal ini&#8217;.”<br />
Demikian kesimpulan dari <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, no.103303</p>
<p><em>InsyaAllah,</em> pendapat ulama yang menganggap tidak halalnya kelelawar lebih mendekati kebenaran. Di antara dalil yang menguatkan haramnya kelelawar keterangan sahabat, Abdullah bin Amr <em>radhiallahu&#8217;anhuma</em>, bahwa beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">لا تقتلوا الضفادع فإن نقيقها تسبيح ولا تقتلوا الخفاش فإنه لما خرب بيت المقدس قال يا رب سلطني على البحر حتى أغرقهم</p>
<p><em>“Janganlah kalian membunuh katak, karena suaranya adalah tasbih. Janganlah membunuh kelelawar, karena ketika baitul Maqdis dirobohkan, dia berdoa, &#8216;Ya Allah, berikanlah aku kekuasaan untuk mengatur lautan, sehingga aku bisa menenggelamkan mereka (orang yang merobohkan baitul maqdis)&#8217;.”</em> (Riwayat Al-Baihaqi, no. 19166. Al-baihaqi mengatakan, Keterangan ini <em>mauquf</em> (keterangan sahabat), dan sanadnya sahih).</p>
<p>Setelah menyebutkan hadis tersebut, Imam Al-Baihaqi menyatakan,</p>
<p class="arab">والذي نهى عن قتله يحرم أكله إذ لو كان حلالا لأمر بذبحه ولما نهى عنه كما لم ينه عن قتل ما يحل ذبحه وأكله والله أعلم</p>
<p>“Binatang yang dilarang untuk dibunuh haram untuk dimakan. Karena jika hewan itu halal, tentunya akan diperintahkan untuk disembelih dan tidak dilarang untuk dibunuh, sebagaimana binatang lainnya yang halal dikonsumsi. <em>Allahu a&#8217;lam</em>” (Sunan Baihaqi, keterangan riwayat no. 19166).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsulatasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.KonsulatasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsulatasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-daging-tupai">Hukum Makan Tupai</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting">Hukum Makan Kepiting</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memelihara-hamster">Hukum Memelihara Hamster</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-kopi-luwak">Jual Beli Kopi Luwak</a>.</p>
<p>5. <a rel="nofollow" href="../usaha-jual-beli-ternak-landak" target="_blank">Jual Beli Landak</a>.</p>
<p>Keyword: kelelawar, obat kelelawar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/makan-kekelawar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bir dengan 0% Alkohol?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bir-haram</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bir-haram#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 05:56:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8834</guid>
		<description><![CDATA[Bir 0% Alkohol Bagaimana Hukumnya? Pertanyaan: Kalau minum bir 0% alkohol , hukumnya bagaimana? dari: Jawaban: Hukum Bir dengan 0% alkohol Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah Semoga Allah membimbing kita ke jalan yang lurus. Pertama, Allah menyebut minuman ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bir 0% Alkohol Bagaimana Hukumnya?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Kalau minum <strong>bir 0% alkohol</strong> , hukumnya bagaimana?<br />
dari:<br />
<span id="more-8834"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Hukum Bir dengan 0% alkohol</h3>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah</em><br />
Semoga Allah membimbing kita ke jalan yang lurus.<br />
<strong>Pertama</strong>, Allah menyebut minuman yang dilarang dan diharamkan dengan sebutan khamr. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan</em>.” (QS. Al-Maidah: 90).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, definisi dan batasan khamr<br />
Para ulama mendefinisikan bahwa khamr adalah semua minuman yang memabukkan, baik yang ada di zaman dulu, yang beredar saat ini, dan yang mungkin baru akan ada di masa mendatang. Baik yang terbuat dari anggur, kurma, biji-bijian, atau yang lainnya.<br />
Ini berdasarkan hadis Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ</p>
<p><em>“Semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr adalah haram.”</em> (HR. Muslim no.2003)</p>
<p>Hadis ini menjadi dasar kaidah bahwa khamr adalah segala bentuk minuman yang memabukkan, apapun bahannya dan komposisinya.</p>
<p>Imam Al-Khithabi menjelaskan,<br />
Hadis yang menyatakan, “Semua yang memabukkan adalah khamr&#8230;” memiliki dua makna:<br />
<strong>A.</strong> Khamr adalah istilah untuk menyebut semua minuman yang memabukkan.<br />
<strong>B.</strong> Segala sesuatu yang memabukkan hukumnya seperti khamr, dari sisi haramnya, dan hukuman bagi orang yang mengkonsumsinya, meskipun dia bukan khamr. Hanya saja hukumnya disamakan dengan khamr, karena statusnya sama dengan khamr. (<em>Ma&#8217;alimu aS-Sunan</em>, 4:265).</p>
<p>Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan, &#8220;Adanya hukum tergantung pada adanya <em>illah</em> (latar belakang munculnya hukum). <em>Illah</em> haramnya khamr adalah unsur memabukkan. Karena itu, selama benda tersebut memabukkan maka hukumnya haram.&#8221; (Fathul Bari, 10:56).</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa khamr tidaklah identik dengan alkohol. Karena itu, bukan berarti ketika ada bir dengan 0% alkohol maka tidak disebut khamr. Batasan khamr adalah apakah itu memabukkan ataukah tidak. Selama bir ini memabukkan ketika dikonsumsi dalam jumlah tertentu maka bir ini layak digolongkan sebagai khamr, sehingga dihukumi haram. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis,</p>
<p class="arab">كل مسكر حرام وما أسكر كثيره فقليله حرام</p>
<p><em>“Setiap yang memabukkan adalah haram. Segala sesuatu yang jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu bisa memabukkan maka mengkonsumsi sedikit hukumnya haram.”</em> (HR. Ibn Majah no. 3392 dan disahihkan Al-Albani).</p>
<p>Disadur dari: http://www.islamqa.com/ar/ref/148690</p>
<p>Artikel www.KonsultasiSyaraiah.com</p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/berobat-dengan-alkohol-etanol">Berobat dengan Alkohol</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/wanita-memakai-kosmetik-alkohol">Kosmetik Wanita Berakohol</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-benar-tape-itu-termasuk-alkohol">Apa Benar Tape itu Berakohol?</a></p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-parfum-alkohol" target="_blank">Memakai Parfum Alkohol</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bir-haram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartu Kredit = Transaksi Riba</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/membantu-membayarkan-uang-kredit</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/membantu-membayarkan-uang-kredit#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 06:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8715</guid>
		<description><![CDATA[Membantu Membayarkan Uang Kredit Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Afwan sebelumnya, saya ingin bertanya dan mohon penjelasan yang lebih jelas mengenai hadis hukum jual beli kredit. Dari sahabat Jabir radhiallahu‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati pemakan riba ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Membantu Membayarkan Uang Kredit</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em>.<br />
<em>Afwan</em> sebelumnya, saya ingin bertanya dan mohon penjelasan yang lebih jelas mengenai hadis hukum jual beli <strong>kredit</strong>.<br />
Dari sahabat Jabir <em>radhiallahu‘anhu</em>, ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah melaknati pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan atau membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda, “Mereka itu sama dalam hal dosanya.” (HR. Muslim).<br />
Abang saya membeli motor kredit, karena abang saya di luar kota, jadi setiap bulan uang kreditnya ditransfer dan minta tolong saya untuk membayarkannya ke pihak <em>leasing</em>.<br />
Apakah saya termasuk salah satu di antara yang disebutkan seperti hadis di atas?<br />
Terimakasih sebelumnya</p>
<p>Dari: <em>Muhammad Fatwa (uwXXXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8715"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>Riba dalam jual beli kredit adalah pada denda jika telat mencicilnya, sedangkan transaksi jual belinya adalah jual beli yang haram karena menjual barang yang belum dimiliki. Ringkasnya, pada dasarnya Anda tidak boleh membantu kakak Anda dalam masalah ini namun <em>insya Allah</em>, pada dasarnya perbuatan Anda tidak masuk dalam hadis yang Anda kutip.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar M.A. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait kredit:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-kredit-membunuh-semut-posisi-tangan-atau-kaki-ketika-hendak-sujud">Hukum Kredit Sebuah Negara</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/utang-emas">Utang Emas</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-koperasi-simpan-pinjam">Hukum Koperasi Simpan-Pinjam</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/penjualan-saham-modal-usaha">Penjualan Saham dan Modal Usaha</a>.</p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-saham">Jual Beli Saham</a>.</p>
<p>6. <a href="http://konsultasisyariah.com/kartu-untuk-mempermudah-transaksi-bisnis">Kartu Kredit Mempermudah Transaksi</a>.</p>
<p>7. <a href="http://konsultasisyariah.com/membeli-perumahan-dengan-kredit">Membeli Perumahan Dengan Kredit</a>.</p>
<p>8. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-jual-beli-kredit" target="_blank">Hukum Jual Beli Kredit</a>.</p>
<p>9. <a href="http://konsultasisyariah.com/kredit-mobil-dengan-asuransi" target="_blank">Kredit Mobil Dengan Asuransi</a>.</p>
<p>10. <a href="http://konsultasisyariah.com/rekayasa-kredit" target="_blank">Hukum Rekasa Kredit</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/membantu-membayarkan-uang-kredit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Kafir Tidak Boleh Dibunuh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wajibnya-memerangi-setiap-orang-kafir</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wajibnya-memerangi-setiap-orang-kafir#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 02:23:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8706</guid>
		<description><![CDATA[Apakah semua orang kafir pada zaman ini halal darahnya? Penindasan yang dilakukan oleh negara super power Amerika dan sekutunya terhadap negara-negara Islam yang lemah, juga intimidasi (tekanan dan ancaman) yang dialami umat Islam di Eropa dan Amerika oleh sebagian warga ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Apakah semua orang kafir pada zaman ini halal darahnya?</h2>
<p>Penindasan yang dilakukan oleh negara super power Amerika dan sekutunya terhadap negara-negara Islam yang lemah, juga intimidasi (tekanan dan ancaman) yang dialami umat Islam di Eropa dan Amerika oleh sebagian warga sipil memunculkan pemahaman bahwa setiap orang <strong>kafir</strong> layak diperangi dan halal darahnya. Benarkah demikian?<br />
<span id="more-8706"></span><br />
<strong>Pertanyaan:</strong><br />
Kami sering membaca pernyataan ulama semisal Ibnu Taimiyah, Ibnu Al-Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, dan selainnya yang menyatakan, siapa yang menghina Allah, rasul-Nya, dan agama Islam atau mempraktikkan sihihr maka halal darahnya. Apakah setiap kafir yang ada sekang halal darahnya? Baik yang sudah sampai dakwah Islam kepadanya ataupun belum.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Tidak Semua Orang Kafir Harus Dibunuh</h3>
<p>Alhamdulillah</p>
<p>Pembicaraan ini kami bagi menjadi tiga bagian:</p>
<p><strong>Pertama</strong><br />
Pertanyaan ‘apakah semua orang kafir halal darahnya pada saat ini. Baik yang sudah sampai dakwah padanya ataupun belum’, maka jawabannya, “Tidak, tidak setiap orang kafir halal darah dan hartanya.</p>
<p>Orang kafir itu terbagi menjadi dua kelompok: orang kafir yang terjaga darah, harta, dan dilarang mengadakan permusuhan dengannya. Pertama yaitu kafir <em>mu’ahad</em> yaitu orang kafir yang menjalin perjanjian antaradirinya dengan kaum muslimin untuk tidak saling berperang dalam rentang waktu yang sama-sama telah disepakati. Sebagaimana perjanjian yang dilakukan oleh Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan kafir Mekah untuk tidak berperang selama sepuluh tahun, dalam perjanjian Hudaibiyah.</p>
<p>Golongan kedua, kafir <em>zhimmi</em> yaitu mereka yang hidup di negara-negara Islam, maka antara mereka dan umat Islam terikat akad <em>dzimmah</em>. Golongan ketiga adalah adalah kafir <em>musta’man</em>, yaitu mereka yang masuk negara Islam dengan jaminan keamanan. Seperti: pebisnis yang masuk ke negeri Islam dengan tujuan perdaganan atau sebab lainnya. Demikian juga orang-orang yang mendapatkan visa untuk masuk negeri Islam sebagai jaminan keamanan untuknya, maka mereka berhak mendapat pembelaan dan tidak boleh dizalimi.</p>
<p>kelompok yang kedua adalah orang kafir yang memerangi umat Islam. Maka tidak ada istilah perjanjian, jaminan keamanan, dan zhimmah antara umat Islam dengan mereka. Inilah yang dikategorikan halal darah dan hartanya.</p>
<p>Imam Al-Qurtubi <em>rahimahullah</em> mengatakan dalam tafsirnya ketika menafsirkan</p>
<p class="arab">وَلاَتَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّباِلْحَقِّ</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar</em>.” (QS. Al-An’am: 151).</p>
<p>Ayat ini melarang membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah baik dari kalangan kafir <em>musta’man</em> atau kafir <em>mu’ahad</em> kecuali dengan sebab yang dapat dibenarkan.” (<em>Jami’u Al-Ahakami Alquran</em>, 7:134).</p>
<p>Syaikh Sa’di mengatakan, “(yang dimaksud ayat tersebut adalah) membunuh orang-orang Islam, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, orang baik atau jahat, dan orang kafir yang telah dilindungi dengan perjanjian. (<em>Tafsir As-Sa’di</em>, Hal.257).</p>
<p>Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga itu telah didapati dalam perjalanan 40 tahun</em>.” (HR. Bukhari no.3166).</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maksudnya adalah siapa yang memiliki perjanjian dengan orang Islam, baik itu dikategorikan akad jizyah, gencatan senjata, atau jaminan keamanan dari seorang muslim.” (<em>Fathu Al-Bari</em>, 12: 259).</p>
<p><strong>Kedua </strong><br />
Yang menegakkan hukuman terhadap orang yang murtad atau <em>mu’ahad</em> yang menyelisihi perjanjian adalah penguasa atau yang diserahi kewenangan (bukan ustadz, kiyai, ketua kelompok, ormas dsb.) bukan hak setiap orang yang bisa beresiko memunculkan kerusuhan dan membuka pintu kejelekan serta bencana.</p>
<p>Ibnu Muflih mengatakan, “Tidak boleh membunuh orang tersebut kecuali pemimpin negara atau yang diserahi kewenangan olehnya baik dari kalangan merdeka maupun budak menurut pendapat mayoritas ulama.” (<em>Al-Mubdi’</em>, 9:175).</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Tidak boleh bagi seseorang untuk membunuhnya –orang murtad- walaupun status si murtad ini halal darahnya. Karena eksekusi tersebut merupakan hak pemimpin dan juga eksekusinya dapat menyebabkan kekacauan antar orang (apabila diserahkan pada yang tidak berwenang). Dengan alasan inilah, tidak boleh diserahkan kasus ini kecuali hanya pada kepala negara atau yang diserahi wewenang. (<em>Syahrul Mumti’</em>, 14:455).</p>
<p><strong>ketiga</strong><br />
Ada perbedaan antara vonis kafir yang sifatnya umum (<em>takfir mutlak</em>) atau vonis kafir yang sifatnya individu tertentu (<em>takfir mu’ayyan</em>). Apabila diterapkan vonis kafir terhadap individu, maka harus terpenuhi syarat-syarat dan bebasnya individu tersebut dari hal-hal yang menghalangi jatuhnya vonis.</p>
<p>Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesungguhnya teks-teks yang bernada ancaman di dalam Alquran dan sunah dan keterangan-keterangan dari para ulama mengenai vonis kafir, fasik, dan semacamnya tidak tertuju kepada individu kecuali terdapat syarat-sayarat vonis dapat dijatuhkan dan bebasnya orang tersebut dari penghalang-penghalangnya. Tidak ada perbedaan dalam permasalahn ini, baik masalah pokok atau pun masalah yang bersifat furu’iyah (cabang). (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 10:372).</p>
<p>Contohnya adalah siapa yang mengatakan demikian dan demikian (perkataan-perkataan yang bisa membuat seseorang jadi kafir) maka dia telah kafir. Akan tetapi jika dihadapkan dengan individu tertentu yang mengatakan perkataan kufur atau melakukan suatu perbuatan kufur, maka wajib adanya verifikasi dalam menghukuminya. Bisa jadi orang tersebut tidak mengetauhi hal itu atau salah dalam menafsirkan, atau bisa jadi dia dipaksa melakukan hal itu. Hal ini dapa menghalangi seseorang dari vonis kafir, meskipun ia mengatakan atau berbuat sesuatu yang mengandung kekufuran.</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p>Kesimpulannya, masalah vonis kafir dan menghalalkan darah seseorang bukanlah masalah yang ringan. Perlu adanya pembahasan dan ilmu yang mendalam sebagai wujud kehati-hatian dalam permasalahan ini. Tidak seperti apa yang kita saksikan akhir-akhir ini, seseorang yang masih sangat hijau dalam masalah keislaman sudah berani menjatuhkan vonis kafir tanpa mengetahui kaidah-kaidahnya. Hendaknya kita berhati-hati dan selalu menimbang maslahat dan madarat sesuai dengan kaidah syariat serta tidak menyepelekan nasihat-nasihat ulama-ulama <em>rabbani</em>. Mudah-mudahan Allah selalu menunjuki kita dan memperbaiki keadaan Islam dan kaum muslimin.</p>
<p>Diterjemahkan dan disunting dari: <em>http://www.islamqa.com/ar/ref/107105</em></p>
<p>Paragrap pembuka dan kesimpulan dari redaksi <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/memberikan-daging-kurban-kepada-orang-kafir" target="_blank">Hukum Memberi Kurban Kepada Orang Kafir</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/apakah-indonesia-masih-fase-mekkah-sehingga-amalan-tertolak" target="_blank">Apakah Indonesia Masih Fase Mekkah?</a><br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/pesta-perpisahan-orang-kafir" target="_blank">Mengadakan Pesta Perpisahan dengan Orang Kafir</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-tolak-ukur-menyerupai-orang-kafir" target="_blank">Tolak Ukur Tasyabbuh (Menyerupai) dengan Orang Kafir</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/bekerja-pada-orang-kafir" target="_blank">Bekerja Pada Orang Kafir</a>.<br />
6. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-dengan-orang-kafir" target="_blank">Jual Beli dengan Orang Kafir</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wajibnya-memerangi-setiap-orang-kafir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membunuh Ular dan Tikus Karena Mengganggu</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 05:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8700</guid>
		<description><![CDATA[Membunuh Ular dan Tikus Pertanyaan: Apakah ular, tikus, dan kecoa boleh dibunuh? Dari Ummu Unaizah Jawaban: Membunuh ular,tikus, kecoa, dan binatang sejenis merupakan perkara yang dibolehkan karena binatang tersebut mengganggu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Lima ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Membunuh Ular dan Tikus</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah <strong>ular</strong>, tikus, dan kecoa boleh dibunuh?</p>
<p>Dari Ummu Unaizah<br />
<span id="more-8700"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Membunuh ular,tikus, kecoa, dan binatang sejenis merupakan perkara yang dibolehkan karena binatang tersebut mengganggu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p><em>“Lima (hewan) perusak yang boleh dibunuh di luar tanah suci dan di tanah suci (Mekah) yaitu: ular, gagak, tikus, srigala, dan rajawali.”</em></p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Majalah As-Sunnah</em>, edisi: 10, Th. XIII</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ular:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang">Tas dari Kulit Ular</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/sering-mimpi-buruk-dan-mimpi-aneh" target="_blank">Mimpi Bertemu Ular</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-ular-1" target="_blank">Hukum Jual Beli Ular</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-ular-2" target="_blank">Hukum Berobat dengan Ular</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Daging Tupai</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-daging-tupai</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-daging-tupai#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 01:21:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[daging tupai]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tupai]]></category>
		<category><![CDATA[kasiat daging tupai]]></category>
		<category><![CDATA[memburu tupai]]></category>
		<category><![CDATA[sate tupai]]></category>
		<category><![CDATA[tupai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8119</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Daging Tupai Assalamu&#8217;alaikum. Ustadz, ana mau bertanya, apa hukum daging tupai? Ana minta dalilnya ustadz. Jazakumullah khairan. Penanya: BoXXXXXXgmail.com Jawaban: Wa &#8216;alaikumus salam Hukum Makan Tupai Ulama berselisih pendapat tentang hukum makan tupai. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa makan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong></strong>Hukum <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/daging-tupai" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with daging tupai">Daging Tupai</a></h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em>. Ustadz, ana mau bertanya, apa hukum daging <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tupai" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tupai">tupai</a></strong>? Ana minta dalilnya ustadz. <em>Jazakumullah khairan</em>.</p>
<p>Penanya: <em>BoXXXXXXgmail.com</em><br />
<span id="more-8119"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam</em></p>
<h3>Hukum Makan Tupai</h3>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang hukum makan tupai. <em>Jumhur</em> (mayoritas) ulama berpendapat bahwa makan tupai hukumnya halal. Sementara sebagian ulama berpendapat haramnya tupai, karena hewan ini mengigit dengan taringnya. Pendapat kedua ini merupakan pendapat Madzhab Hanafi dan sebagian ulama Syafi&#8217;iyah dan Hanabilah. Sementara Malikiyah berpendapat makruh. Pendapat yang lebih kuat adalah boleh, sebagaimana yang ditegaskan Imam An-Nawawi dalam <em>al-Majmu&#8217;</em>, Ibnu Qudamah dalam <em>al-Mughni</em>, Khalil dalam <em>at-Taudhih</em>, dan Al-Mardawi dalam <em>al-Inshaf</em>.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>Disadur dari: <em>http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=50280</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting">Hukum Makan Kepiting</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-kopi-luwak" target="_blank">Hukum Kopi Luwak</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/usaha-jual-beli-ternak-landak" target="_blank">Jual Beli Landak</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memelihara-hamster" target="_blank">Hukum Memelihara Hamster</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum tupai</strong>, <strong>kasiat daging tupai</strong>, <strong>memburu tupai</strong>, <strong>sate tupai</strong>, <strong>tupai</strong>, <strong>daging tupai</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-daging-tupai/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggabungkan Akikah dengan Kurban</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menggabungkan-akikah-dengan-kurban</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menggabungkan-akikah-dengan-kurban#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 00:20:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[kurban online]]></category>
		<category><![CDATA[menggabung akikah dan kurban]]></category>
		<category><![CDATA[uang kurban]]></category>
		<category><![CDATA[yayasan kurban akikah dan kurba]]></category>
		<category><![CDATA[zakat online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8054</guid>
		<description><![CDATA[Bolehkah Menggabungkan Akikah dengan Kurban? Pertanyaan, &#8220;Assalamu &#8216;alaikum wa rahmatullah. Bolehkah menggabungkan akikah dan kurban dengan menyembelih satu kambing. Trims&#8230; Abu Falih (IbnXXXXXX@yahoo.com) *** Wa &#8216;alaikumus salam wa rahmatullah. Menggabungkan Akikah dengan Kurban Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Ada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bolehkah Menggabungkan Akikah dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kurban" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kurban">Kurban</a>?</h2>
<p>Pertanyaan, &#8220;<em>Assalamu &#8216;alaikum wa rahmatullah</em>. Bolehkah menggabungkan akikah dan kurban dengan menyembelih satu kambing.<br />
Trims&#8230;</p>
<p><em>Abu Falih (IbnXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8054"></span><br />
***</p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam wa rahmatullah.</em></p>
<h3>Menggabungkan Akikah dengan Kurban</h3>
<p>Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Ada yang membolehkan dan menganggapnya sah sebagai akikah sekaligus kurban dan ada yang menganggap tidak bisa digabungkan.</p>
<p><strong>Pendapat pertama, </strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berkurban" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berkurban">berkurban</a> tidak bisa digabungkan dengan akikah. Ini adalah pendapat Malikiyah, Syafi&#8217;iyah, dan salah satu pendapat Imam Ahmad <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Dalil pendapat ini antara lain, bahwa akikah dan kurban adalah dua ibadah yang berdiri sendiri, sehingga dalam pelaksanaannya tidak bisa digabungkan. Disamping itu, masing-masing memiliki sebab yang berbeda. Sehingga tidak bisa saling menggantikan.</p>
<p>Al-Haitami mengatakan,<br />
&#8220;Dzahir pendapat ulama Syafi&#8217;iyah bahwa jika seseorang meniatkan satu kambing untuk kurban sekaligus akikah maka tidak bisa mendapatkan salah satunya. Dan inilah yang lebih kuat. Karena masing-masing merupakan ibadah tersendiri.&#8221; (<em>Tuhfatul Muhtaj</em>, 9/371).<br />
Al-Hathab mengatakan,<br />
&#8220;Guru kami, Abu Bakr al-Fihri mengatakan, &#8216;Jika ada orang yang menyembelih hewan kurbannya dengan niat kurban dan akikah maka tidak sah. Tapi jika dengan niat kurban dan untuk hidangan walimah hukumnya sah. Bedanya, tujuan kurban dan akikah adalah mengalirkan darah (bukan semata dagingnya, pen). Sementara dua tujuan mengalirkan darah, tidak bisa diwakilkan dengan satu binatang. Sedangkan tujuan utama daging walimah adalah untuk makanan, dan tidak bertabrakan dengan maksud kurban yaitu mengalirkan darah, sehingga mungkin untuk digabungkan.&#8221; (Mawahibul Jalil, 3/259).</p>
<p><strong>Pendapat kedua,</strong> boleh menggabungkan antara kurban dengan akikah. Ini merupakan pendapat madzhab Hanafi, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan pendapat beberapa tabi&#8217;in seperti Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirrin, dan Qatadah <em>rahimahumullah</em>.</p>
<p>Dalil pendapat ini, bahwa tujuan kurban dan <em></em>akikah adalah beribadah kepada Allah dengan menyembelih. Sehingga akikah bisa digabungkan dengan kurban. Sebagaimana <em>tahiyatul masjid</em> bisa digabungkan dengan shalat wajib, bagi orang yang masuk masjid dan langsung mengikuti jamaah. Disebutkan Ibn Abi Syaibah dalam <em>al-Mushannaf</em> (5/534) beberapa riwayat dari para tabi&#8217;in, diantaranya Hasan al-Bashri pernah mengatakan,</p>
<p class="arab">إذَا ضَحُّوا عَنْ الْغُلَامِ فَقَدْ أَجْزَأَتْ عَنْهُ مِنْ الْعَقِيقَةِ</p>
<p>“Jika ada orang yang berkurban atas nama anak maka kurbannya sekaligus menggantikan akikahnya”</p>
<p>Dari Hisyam dan Ibn Sirrin, beliau berdua mengatakan, “Kurban atas nama anak, itu bisa sekaligus untuk akikah.”</p>
<p>Qatadah mengatakan, “Kurban tidak sah untuknya, sampai dia diakikahi.”</p>
<p>Al-Buhuti mengatakan, “Jika akikah dan kurban waktunya bersamaan, dan hewannya diniatkan untuk keduanya maka hukumnya sah untuk keduanya, berdasarkan keterangan tegas dari Imam Ahmad.” (<em>Kasyaful Qana&#8217;</em>, 3/30)<br />
Sementara itu, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh memilih pendapat yang membolehkan menggabungkan akikah dan kurban. Beliau menyatakan dalam fatwanya,<br />
&#8220;Andaikan akikah dan kurban terjadi secara bersamaan maka satu sembelihan itu bisa mencukupi untuk orang yang menyembelih. Dia niatkan untuk kurban atas nama dirinya, kemudian menyembelih hewan tersebut, dan sudah tercakup di dalamnya akikah. Menurut keterangan sebagian ulama dapat disimpulkan bahwa akikah dan kurban bisa digabung jika &#8216;atas namanya&#8217; sama. Artinya kurban dan akikahnya tersebut atas nama salah seorang anak. Sementara menurut keterangan ulama lain, tidak ada syarat hal itu. Artinya, jika seorang bapak hendak berkurban maka kurbannya bisa atas nama bapak, dan sekaligus untuk akikah anaknya. Ringkasnya, jika ada orang menyembelih hewan, dia niatkan untuk berkurban, dan itu sudah mencukupi untuk akikah.&#8221; (<em>Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim,</em> 6/159)</p>
<p><strong>Disadur dari:</strong> http://www.islamqa.com/ar/ref/106630</p>
<p><strong>Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>yayasan kurban akikah dan kurba</strong>, <strong>uang kurban</strong>, <strong>zakat online</strong>, <strong>kurban</strong>, <strong>kurban online</strong>, <strong>menggabung akikah dan kurban</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menggabungkan-akikah-dengan-kurban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selingkuh dengan Ipar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 02:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[iparku]]></category>
		<category><![CDATA[iparku cantik]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh dengan ipar]]></category>
		<category><![CDATA[zina dengan ipar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8037</guid>
		<description><![CDATA[Selingkuh dengan Ipar Pertanyaan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum. Saya sudah 8 tahun berumah tangga dan dikaruniai satu anak laki-laki berumur 6 tahun, semenjak menikah kami tinggal bertiga dengan adik perempuan istriku (ipar). Singkat cerita perselingkuhanpun terjadi sampai hari ini dan isterikupun mengetahuinya. Aku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/selingkuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with selingkuh">Selingkuh</a> dengan Ipar</h2>
<p>Pertanyaan, <em>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum</em>. Saya sudah 8 tahun berumah tangga dan dikaruniai satu anak laki-laki berumur 6 tahun, semenjak menikah kami tinggal bertiga dengan adik perempuan istriku (<strong>ipar</strong>). Singkat cerita perselingkuhanpun terjadi sampai hari ini dan isterikupun mengetahuinya. Aku tahu istriku marah, sakit hati dan benci dengan perselingkuhan ini tapi dia tetap bertahan.Ternyata dibelakang aku, diapun berselingkuh dan 3 minggu yang lalu dia mengaku telah berzina dengan selingkuhanya, kini dia menyesali perbuatanya dan bertaubat takkan mengulanginya lagi dan diapun meminta agar aku menikahi adiknya (selingkuhanku) tanpa harus menceraikan dia (istriku). Mohon bantuan nasihatnya. <em>Wassalam</em>.&#8221;</p>
<p><em>Rizqi (rXXXXX@ymail.com)</em><br />
<span id="more-8037"></span></p>
<h3>Berzina dengan adik ipar, bolehkah dinikahi?</h3>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam</em>.</p>
<p><em>Allahu akbar&#8230;</em><br />
Keluarga Anda di zona carut marut, rusak berkeping-keping&#8230; Anda dan istri Anda melakukan dosa yang sangat besar. Andaikan di negara kita ditegakkan hukum islam maka Anda berdua akan dihukum rajam, dilempari batu, dengan dikubur setengah badan sampai mati. Itu penebus dosa pelaku zina yang sudah menikah. Dosanya bisa ditebus dengan hukuman, bukan dengan menikahi pasangan selingkuhannya. Karena itu, segeralah bertaubat semampu Anda dan istri Anda. Segera bersimpuh kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Jika Anda tidak mendapatkan hukuman tersebut di dunia, tidak ada jaminan Anda akan selamat dari hukuman di akhirat.</p>
<p>Selanjutnya,<br />
<strong>1.</strong> Anda <strong>HARAM</strong> menikahi adik istri Anda. Karena seorang lelaki TIDAK boleh menikahi dua orang wanita kakak-beradik. Allah menyebutkan beberapa orang yang tidak boleh dinikahi dalam surat an-Nisa, salah satunya Allah menyatakan,</p>
<p class="arab">وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْن الْأُخْتَيْنِ</p>
<p><em>&#8220;(Kalian tidak boleh) menggabungkan dua perempuan bersaudara&#8230;&#8221;</em> (QS. an-Nisa: 23)</p>
<p>Maksudnya, tidak boleh menikahi dua wanita bersaudara, baik saudara kandung maupun sepersusuan.</p>
<p>Anda hanya bisa menikahi adik ipar Anda, jika: (a). Anda telah menceraikan istri Anda dan telah selesai masa iddah atau (b). Istri Anda telah meninggal dunia.</p>
<p><strong>2.</strong> Saudara ipar bukanlah <em>mahram</em>. Karena itu, saudara ipar tidak boleh berdua-duaan dalam satu tempat dengan suami kakaknya atau istri kakaknya. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما.</p>
<p><em>&#8220;Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan adalah orang yang ketiga.&#8221;</em> (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban 1/436, dan dishahihkan oleh Al-Albani)</p>
<p>Anda jangan merasa aman dalam posisi semacam ini. Karena setan akan berupaya keras, agar anda berdua bisa berzina. Waspadalah&#8230;</p>
<p><strong>3.</strong> Adik ipar Anda tidak boleh tinggal bersama dengan keluarga Anda. Ada banyak madharat, ketika saudara ipar, tinggal bersama saudara iparnya. Diantara,<br />
a. Memperbesar peluang terjadinya perselingkuhan.<br />
b. Membuka kesempatan berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. padahal jauh-jauh hari Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إياكم والدخول على النساء</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kalian memasuki tempat kediaman wanita&#8221;</em></p>
<p>Kamudian ada sahabat anshar yang bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, bagaimana dengan saudara ipar? Beliau menjawab,</p>
<p class="arab">الحمو الموت</p>
<p><em>&#8220;Saudara ipar itu kematian.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebut saudara ipar dengan kematian, karena masyarakat luar tidak akan berburuk sangka ketika ada saudara ipar yang tinggal bersama istri kakaknya atau suami kakaknya. Sementara mereka sangat berpeluang utk melakukan zina. Sehingga kewaspadaan mereka untuk berzina sangat longgar. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>4. </strong>Segeralah untuk memperbaiki keluarga Anda. menjaga kehormatan masing-masing. Karena bisa jadi, seseorang yang melakukan selingkuh, dia akan mendapatkan hukuman dengan perlakuan yang sama dari pasangannya (istri atau suaminya). Suami yang main selingkuh, bisa jadi dia dihukum dengan perselingkuhan istrinya, dan sebaliknya. Karena itu, sebagian ulama mengatakan,</p>
<p class="arab">عفتك عفت زوجتك</p>
<p>&#8220;Sikapmu yang menjaga kehormatan akan dibalas dengan sikap istrimu yang juga menjaga kehormatan.&#8221;</p>
<p><strong>5.</strong> Jika ini belum menyebar, buat kesepakatan agar masing-masing tidak menceritakan kepada orang lain. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ</p>
<p><em>“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.”</em> (HR. Malik dalam <em>Al-Muwatha</em>’, no. 1508)</p>
<p>Dengan masing-masing berusaha bertaubat dan memperbaiki diri, semoga Allah segera memperbaikinya.</p>
<p><strong>Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berkaitan masalah keluarga dan pernikahan:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../ditolak-calon-mertua" target="_blank">Ditolak Calon Mertua</a>.</p>
<p>2. <a rel="nofollow" href="../siapakah-wali-nikah-dari-anak-hasil-zina" target="_blank">Siapakah Wali Nikah Anak Zina</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/istri-selingkuh" target="_blank">Istri Selingkuh dan Solusinya</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/haruskah-saya-ceraikan-istri-yang-berselingkuh" target="_blank">Haruskah Aku Ceraikan Istri yang Selingkuh?</a></p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/orang-tua-berselingkuh" target="_blank">Orang Tuaku Berselingkuh</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>iparku</strong>, <strong>selingkuh</strong>, <strong>selingkuh dengan ipar</strong>, <strong>iparku cantik</strong>, <strong>zina dengan ipar</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obat Penurun Syahwat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/obat-penurun-syahwat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/obat-penurun-syahwat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 02:08:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[obat syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[penurun syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[syahwat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7983</guid>
		<description><![CDATA[Obat Penurun Syahwat Pertanyaan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum. Maaf tadz, mau tanya, &#8216;Jika ada seorang pemuda yang belum siap nikah, bolehkah orang ini mengkonsumsi obat tertentu untuk menurunkan syahwatnya? Jazaakumullah khairan. Abu Ahmad jogja (tegXXXXXX@yahoo.com) Obat Penurun Syahwat Jawaban Syaikh Abdul Aziz Ibnu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Obat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/penurun-syahwat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with penurun syahwat">Penurun Syahwat</a></h2>
<p>Pertanyaan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum. Maaf <em>tadz</em>, mau tanya, &#8216;Jika ada seorang pemuda yang belum siap nikah, bolehkah orang ini mengkonsumsi obat tertentu untuk menurunkan syahwatnya?<em> Jazaakumullah khairan</em>.</p>
<h3><em>Abu Ahmad jogja (tegXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7983"></span><br />
Obat Penurun <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/syahwat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with syahwat">Syahwat</a></h3>
<p><strong>Jawaban Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz <em>rahimahullah</em>:</strong><br />
Tidak mengapa melakukan hal itu. Tetapi tidak boleh mengkonsumsi obat yang bisa memutus <strong>syahwat</strong> (untuk kebiri). Adapun sebatas meringankan syahwat maka ini dibolehkan, mengingat adanya kemaslahatan yang ditimbulkan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>telah mengabarkan bahwa puasa bisa meringankan syahwat, sebagaimana sabda beliau,</p>
<p class="arab">يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء</p>
<p>&#8220;Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang memiliki kemampuan, hendaknya segera menikah. Siapa yang belum mampu maka dia harus puasa, karena itu bisa menjadi pengebiri baginya&#8221; (H.r. Bukhari dan Muslim)<br />
<strong>Sumber:</strong> <em>http://www.binbaz.org.sa/mat/1625</em></p>
<p>Keterangan beliau, tidak boleh mengkonsumsi obat untuk mematikan syahwat, berdasarkan riwayat dari Ibn Mas&#8217;ud radhiallahu &#8216;anhu, beliau menceritakan: Kami pernah melakukan safar bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan kami adalah para pemuda. Kemudian kami bertanya: Wahai Rasulullah, bolehkah kami mengebiri diri? Beliaupun melarangnya. (H.r. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berkaitan tentang syahwat:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/sering-tergoda" target="_blank">Sering Tergoda Wanita</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/suami-lihat-aurat-wanita-timbul-syahwat" target="_blank">Melihat Aurat Wanita dan Timbul Syahwat</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>penurun syahwat</strong>, <strong>obat syahwat</strong>, <strong>syahwat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/obat-penurun-syahwat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arisan Kurban</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/arisan-kurban</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/arisan-kurban#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 05:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[arisan kurban]]></category>
		<category><![CDATA[berkurban]]></category>
		<category><![CDATA[kurban arisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7974</guid>
		<description><![CDATA[Arisan kurban Pertanyaan, Assalamu ‘alaikum. Ustadz saya ada pertanyaan, di daerah sekitar kami ada arisan kurban. Biasanya, beberapa orang mengumpulkan uang beberapa ratus ribu untuk kemudian diundi. Pemenang undian berhak mendapatkan uang hasil itu untuk digunakan membeli hewan kurban. Bagaimana ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Arisan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kurban" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kurban">kurban</a></h2>
<p>Pertanyaan, Assalamu ‘alaikum. Ustadz saya ada pertanyaan, di daerah sekitar kami ada <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/arisan-kurban" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with arisan kurban">arisan kurban</a></strong>. Biasanya, beberapa orang mengumpulkan uang beberapa ratus ribu untuk kemudian diundi. Pemenang undian berhak mendapatkan uang hasil itu untuk digunakan membeli hewan kurban. Bagaimana hukum kurban dengan cara semacam ini? Terima kasih.</p>
<p><em>Ariqa (ariqa_XXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7974"></span><br />
<em>Wa’alaikumussalam&#8230;</em></p>
<h3>Arisan Kurban</h3>
<p>Mengadakan arisan dalam rangka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berkurban" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berkurban">berkurban</a> masuk dalam pembahasan berhutang untuk kurban. Karena hakikat arisan adalah hutang. Sekelompok orang mengumpulkan sejumlah uang, kemudian diserahkan kepada yang berhak dengan cara diundi. Orang yang mendapatkan jatah giliran uang ini, hakikatnya dia telah berhutang kepada seluruh teman-temannya yang ikut arisan.</p>
<p>Mengenai hukum berkurban dengan berhutang, sebagian ulama ada yang menganjurkannya meskipun harus berhutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dinukil oleh Ibn Katsir dari Sufyan At Tsauri (<em>Tafsir Ibn Katsir</em>, surat Al Hajj:36). Sufyan al-Tsauri <em>rahimahullah</em> mengatakan: &#8220;Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta kurban. Beliau ditanya: &#8220;Apakah kamu berhutang untuk membeli unta kurban?&#8221; beliau jawab: &#8220;Saya mendengar Allah berfirman:</p>
<p class="arab">لَكُمْ فِيهَا خَيْر</p>
<p><em>&#8220;Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).&#8221; </em>(Q.s. Al Hajj:36).</p>
<p>(<em>Tafsir Ibn Katsir</em>, surat Al Hajj: 36)</p>
<p>Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah akikah. Beliau menyarankan agar berhutang demi menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran. Salah satu putra Imam Ahmad, yang bernama Salih, pernah bertanya kepada beliau, &#8220;Ada seseorang yang anaknya baru lahir, namun dia tidak memiliki dana untuk aqiqah. Manakah yang lebih baik menurut Ayah: berhutang untuk aqiqah, atau mengakhirkan aqiqahnya sampai dia memiliki kemudahan untuk melaksanakannya?&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad menjawab,</p>
<p class="arab">أشد ما سمعنا في العقيقة حديث الحسن عن سمرة عنه عليه الصلاة والسلام: (كل غلام مرتهن بعقيقته) وإني لأرجو إن استقرض أن يعجل له الخلف لأنه أحيا سنة من سننه عليه الصلاة والسلام واتبع ما جاء عنه</p>
<p>&#8220;Hadits yang paling jelas yang pernah kami dengar mengenai permasalahan aqiqah adalah hadits yang berkaitan dengan al-Hasan dari Samurah <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, &#8216;Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya.&#8217; Aku berharap, jika dia berhutang (untuk aqiqah), agar Allah segera menggantinya, karena dia menghidupkan sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan mengikuti ajaran yang beliau bawa.&#8221; (<em>Tuhfatu-l Maudud</em>, hlm. 64)</p>
<p>Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berkurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibn Utsaimin dan ulama-ulama tim fatwa <em>islamweb.net</em> dibawah bimbingan Dr. Abdullah Al Faqih (<em>Fatwa Syabakah Islamiyah</em> no. 7198 dan 28826). Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan, <em> &#8220;Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutangnya daripada berkurban.&#8221;</em> (<em>Syarhu-l Mumti&#8217;</em>, 7/455).</p>
<p>Bahkan Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi kurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab,  &#8220;Jika dihadapkan dua permasalahan antara berkurban atau melunasi hutang orang yang faqir maka lebih utama melunasi hutang tersebut, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.&#8221; (<em>Majmu&#8217; fatawa &amp; Risalah Ibn Utsaimin,</em> 18/144).</p>
<p>Sejatinya, pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika kurban adalah untuk orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau untuk hutang yang jatuh temponya masih panjang.</p>
<p>Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang daripada kurban adalah untuk orang yang kesulitan melunasi hutang atau pemiliknya meminta agar segera dilunasi.</p>
<p>Dengan demikian, jika arisan kurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berkurban dengan arisan adalah satu hal yang baik. <em>Wallahu a&#8217;lam..</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel terkait arisan kurban:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../bolehkah-berqurban-untuk-orang-yang-sudah-meninggal" target="_blank">Berkurban untuk Orang yang Sudah Meninggal</a>.</p>
<p>2. <a rel="nofollow" href="../tuntunan-hari-raya-dan-takbiran" target="_blank">Tuntunan Hari Raya dan Takbiran</a>.</p>
<p>3. <a rel="nofollow" href="../arisan-qurban-dan-silaturahmi-trah" target="_blank">Arisan Kurban dan Silaturahmi Trah</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kurban arisan</strong>, <strong>arisan kurban</strong>, <strong>berkurban</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/arisan-kurban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tas dari Kulit Ular atau Buaya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 07:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[dompet kulit]]></category>
		<category><![CDATA[kulit binatang]]></category>
		<category><![CDATA[memanfaatkan kulit binatang]]></category>
		<category><![CDATA[sabuk kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7953</guid>
		<description><![CDATA[Hukum memakai kulit binatang Pertanyaan, Assalamu&#8217;alaikum ya Ustaz, saya ingin bertanya, apa hukumnya memakai dompet, tali pinggang dan sejenisnya yang terbuat dari kulit binatang (seperti kulit ular, buaya, dll.), terima kasih sebelumnya. wassalam. Rachmat (racXXXXXXX@ymail.com) Hukum memakai kulit binatang Wa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum memakai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kulit-binatang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kulit binatang">kulit binatang</a></h2>
<p>Pertanyaan, <em>Assalamu&#8217;alaikum ya Ustaz</em>, saya ingin bertanya, apa hukumnya memakai dompet, tali pinggang dan sejenisnya yang terbuat dari <strong>kulit binatang</strong> (seperti kulit ular, buaya, dll.), terima kasih sebelumnya. <em>wassalam</em>.</p>
<p><em>Rachmat (racXXXXXXX@ymail.com)</em><br />
<span id="more-7953"></span></p>
<h3>Hukum memakai kulit binatang</h3>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<h3>Sabuk dari kulit ular atau kulit buaya</h3>
<p>Kulit binatang yang halal dimakan dan telah disembelih maka boleh dimanfaatkan, seperti untuk bahan sepatu, sabuk, dan semacamnya. Karena menggunakan benda ini termasuk pemanfaatan yang Allah bolehkan untuk kita.</p>
<p>Sedangkan kulit hewan yang haram, atau hewan yang mati tidak disembelih, atau hewan yang diperselisihkan kehalalannya, seperti binatang buas, para ulama berselisih pendapat tentang hukum memanfaatkan kulitnya. Mengingat adanya beberapa hadis yang menunjukkan bolehnnya menggunakan kulit hewan semacam ini dan ada hadis yang menunjukkan terlarangnya memanfaatkan kulit tersebut.</p>
<p>Disebutkan dalam riwayat Abu Daud dan Turmudzi, bahwa Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang kulit binatang buas. Demikian pula, diriwayatkan Abu Daud dan Nasa&#8217;i bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang memakai kkulit binatang buas dan menunggangi binatang buas.</p>
<p>Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa kulit binatang buas tidak boleh dimanfaatkan.</p>
<p>As-Syaukani dalam <em>Nailul Authar</em> mengatakan, &#8216;Hadis-hadis ini melarang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/memanfaatkan-kulit-binatang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with memanfaatkan kulit binatang">memanfaatkan kulit binatang</a> yang tidak boleh dimakan, (meskipun) dalam keadaan sudah kering. Berdasarkan keumuman hadis, kulit hewan yang haram dimakan juga tidak bisa suci dengan disembelih atau disamak.&#8217;</p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=12628</em></p>
<h3>Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan, kulit binatang ada tiga macam:</h3>
<p><strong>Pertama,</strong> kulit yang suci, baik disamak maupun tidak disamak. Ini adalah jenis kulit hewan yang halal dimakan dan telah disembelih.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> kulit hewan yang tidak bisa menjadi suci, baik setelah disamak ataupun sebelum disamak, hukumnya tetap najis. Ini adalah jenis kulit hewan yang tidak halal dimakan, seperti babi.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> kulit hewan yang bisa suci setelah disamak dan tidak bisa menjadi suci, jika belum disamak. Ini adalah kulit hewan yang boleh dimakan, tapi mati tanpa disembelih (bangkai). Seperti bangkai kambing, dll.</p>
<p>(<em>Liqa&#8217;at Bab Al-Maftuh</em>, volume 52, no. 8)</p>
<p>Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa ular, buaya, harimau adalah haram dimakan.<br />
Imam Nawawi mengatakan,<br />
“Madzhab para ulama tentang hewan melata, seperti ular, kala, kumbang, kecoa, tikus, dan semacamnya, pendapat kami (madzhab syafi&#8217;iyah) adalah haram. Ini merupakan pendapat Abu hanifah, Ahmad, dan Daud adz-Dzahiri. (<em>Al-Majmu&#8217;</em>, 9/16)</p>
<p>Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa tidak dibolehkan menggunakan kulit buaya, ular dan semacamnya.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berhubungan dengan hukum memanfaatkan kulit binatang:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-kucing" target="_blank">Haramnya Jual Beli Kucing</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-tokek" target="_blank">Jual Beli Tokek</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-tokek" target="_blank">Jual Beli Kotoran Hewan</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-kulit-hewan-qurban" target="_blank">Dilarangnya Menjual Kulit Binatang Kurban</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kulit binatang</strong>, <strong>sabuk kulit</strong>, <strong>dompet kulit</strong>, <strong>memanfaatkan kulit binatang</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar ASI dan Bank ASI</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/seputar-asi-dan-bank-asi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/seputar-asi-dan-bank-asi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 06:01:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[asi]]></category>
		<category><![CDATA[asi exklusif]]></category>
		<category><![CDATA[bank asi]]></category>
		<category><![CDATA[minum asi]]></category>
		<category><![CDATA[suami minum ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7906</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan seputar ASI dan Bank ASI: Assalamu&#8217;alaikum ustadz. Dalam darah Istri saya yang sedang hamil terdeteksi adanya virus HTLV-1. Virus ini dapat menular melalui ASI. pertanyaannya, apakah istri tetap harus menunaikan kewajiban memberi ASI atau boleh dengan susu formula? bagaimana ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pertanyaan seputar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/asi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with asi">ASI</a> dan Bank <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/asi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with asi">ASI</a>:</h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em> ustadz. Dalam darah Istri saya yang sedang hamil terdeteksi adanya virus HTLV-1. Virus ini dapat menular melalui <strong>ASI</strong>. pertanyaannya, apakah istri tetap harus menunaikan kewajiban memberi <strong>ASI</strong> atau boleh dengan susu formula? bagaimana juga hukum menyusukan kpd nenek bayi? lalu hukum menggunakan <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank-asi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank asi">Bank ASI</a></strong>?</p>
<p><em>Abu abdullah (nmXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7906"></span></p>
<h3>Jawaban hukum seputar ASI dan Bank ASI:</h3>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p>1. Jika bisa dipastikan virus itu membahayakan anak Anda maka Ibu boleh untuk tidak memberi ASI anaknya. Selanjutnya bisa diganti dengan susu formula.</p>
<p>2. Tentang Bank <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-suami-meminum-susu-isteri" target="_blank">ASI</a><br />
Dalam situs <em>islamqa.com</em>, terdapat pertanyaan tentang hukum Bank ASI. Kemudian Syaikh Shaleh Munajed menukil jawaban Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin <em>rahimahullah</em>,</p>
<p>&#8220;Haram. Tidak boleh membuat bank dengan bentuk penampungan semacam ini. Selama susu yang ditampung adalah susu manusia. Karena akan bercampur semua susu wanita, sehingga tidak diketahui siapakah ibu susuannya. Sementara syariat islam menjadikan hubungan susuan sebagaimana hubungan nasab. Adapun jika yang sitampung adalah susu selain manusia, maka tidak jadi masalah.<br />
Allahu a&#8217;lam.&#8221; (<em>www.islam-qa.com</em>)</p>
<p><em>Majma&#8217; Fiqh Islam</em>, Majlis penelitian di bawah koordinasi <strong>OKI</strong> dalam Mukatamar Islam yang diadakan di Jeddah pada tanggal 22 – 28 Desember 1985 membuat keputusan;</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Setelah dipaparkan penjelasan secara fikih dan penjelasan secara ilmu kedokteran tentang Bank ASI, dan setelah mempelajari pemaparan dari masing-masing bidang disiplin ilmu, dan diskusi yang melibatkan berbagai sudut pandang, maka disimpulkan bahwa:</em><br />
<em> Bank ASI telah diuji cobakan di masyarakat barat. Namun muncul beberapa hal negatif, dari sisi teknis dan ilmiah dalam uji coba ini, sehingga mengalami penyusutan dan kurang mendapatkan perhatian.</em></p>
<p><em>Syariat islam menjadikan hubungan persusuan sebagaimana hubungan nasab. Orang bisa menjadi mahram dengan persusuan sebagaimana status mahram karena hubungan nasab, dengan sepakat ulama. Kemudian, diantara tujuan syariah adalah menjaga nasab. Sementara Bank ASI menyebabkan tercampurnya nasab atau menimbulkan banyak keraguan nasab.</em><br />
<em> </em></p>
<p><em>Interaksi sosial di masyarakat islam masih memungkinkan untuk mempersusukan anak kepada wanita lain secara alami. Keadaan ini menunjukkan tidak perlunya Bank ASI.&#8221;</em></p></blockquote>
<p><strong>Berdasarkan kesimpulan di atas maka diputuskan:</strong></p>
<ol>
<li>Terlarangnya mengadakan Bank ASI untuk para wanita di tengah masyarakat islam.</li>
<li>Haramnya menyusukan anak di <strong>Bank ASI</strong>.</li>
</ol>
<p>Teks dalam bahasa arab ada <a rel="nofollow" href="http://www.saaid.net/Doat/Zugail/index.htm" target="_blank"><strong>di sini</strong></a></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel penting dalam rumah tangga: <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-suami-meminum-susu-isteri" target="_blank">Hukum Suami Meminum ASI.</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>minum asi</strong>, <strong>suami minum ASI</strong>, <strong>asi</strong>, <strong>asi exklusif</strong>, <strong>bank asi</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/seputar-asi-dan-bank-asi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Bercelak Bagi Laki-laki</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bercelak-bagi-laki-laki</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bercelak-bagi-laki-laki#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 02:05:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bercelak]]></category>
		<category><![CDATA[celak]]></category>
		<category><![CDATA[celak herbal]]></category>
		<category><![CDATA[indah dengan celak]]></category>
		<category><![CDATA[mata indah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7891</guid>
		<description><![CDATA[Hukum memakai bercelak mata untuk laki-laki Pertanyaan, &#8216;Bagaimana hukumnya bila seorang laki-laki bercelak mata?&#8217; Ade (kuXXXXX@yahoo.co.id) Hukum bercelak bagi laki-laki Bismillah, was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah Ulama berselisih pendapat tentang hukum bercelak untuk laki-laki: Dianjurkan bercelak dengan ismid secara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum memakai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bercelak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bercelak">bercelak</a> mata untuk laki-laki</h2>
<p>Pertanyaan, &#8216;Bagaimana hukumnya bila seorang laki-laki <strong>bercelak</strong> mata?&#8217;</p>
<p><em>Ade (kuXXXXX@yahoo.co.id)</em><br />
<span id="more-7891"></span></p>
<h3>Hukum bercelak bagi laki-laki</h3>
<p><em>Bismillah, was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah</em></p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang hukum bercelak untuk laki-laki:</p>
<p><strong>Dianjurkan bercelak</strong> dengan ismid secara mutlak. Ini adalah pendapat madzhab syafi’iyah dan madzhab hambali.</p>
<p><strong>Dibolehkan bercelak</strong> bagi lelaki untuk tujuan berdandan. Ini adalah pendapat yang dinukil dari Imam Malik<br />
Dimakruhkan bercelak bagi lelaki untuk tujuan berdandan, dan dibolehkan untuk selain berdandan. Ini adalah pendapat madzhab hanafiyah.</p>
<p><strong>Haram bercelak </strong>bagi lelaki untuk tujuan berdandan, dan dibolehkan untuk selain berdandan. Ini adalah pendapat madzhab malikiyah.</p>
<p>(<em>Ahkam Az-Zina</em>h, 2:511 – 516)</p>
<h3>Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin Hukum bercelak bagi laki-laki:</h3>
<p>Untuk masalah <a href="http://konsultasisyariah.com/memakai-celak-ketika-puasa" target="_blank">bercelak</a> dengan tujuan memperindah mata, apakah ini disyariatkan untuk laki-laki ataukah hanya untuk wanita?</p>
<p>Jawaban, &#8216;Yang dzahir, ini hanya disyariatkan untuk wanita saja. Sementara laki-laki, tidak butuh untuk memperindah matanya. Ada yang mengatakan, ini juga disyariatkan untuk laki-laki&#8230;. Ada juga yang berpendapat bahwa jika ada cacat pada mata seseorang yang butuh untuk diberi <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/celak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with celak">celak</a></strong> maka disyariatkan baginya bercelak. Jika tidak ada maka tidak perlu bercelak.&#8217; (<em>As-Syarhul Mumthi&#8217;</em>, 1: 101)</p>
<h3>Kesimpulan hukum bercelak bagi laki-laki:</h3>
<p>Bahwa dalam bercelak ada dua tujuan:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> dalam rangka memperindah mata. Untuk tujuan ini, lelaki tidak butuh. Bahkan ada sebagian ulama yang melarang. Karena itu, sebaiknya ditinggalkan.<br />
<strong>Kedua,</strong> bercelak untuk tujuan lainnya, misalnya untuk pengobatan, para ulama menegaskan bolehnya hal ini.<br />
Allahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berkaitan dengan hukum <strong>bercelak</strong>: <a href="http://konsultasisyariah.com/memakai-celak-ketika-puasa" target="_blank">Hukum memakai celak saat puasa</a>.<strong><br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bercelak</strong>, <strong>celak</strong>, <strong>mata indah</strong>, <strong>indah dengan celak</strong>, <strong>celak herbal</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bercelak-bagi-laki-laki/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Makan Kepiting</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 07:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kepiting]]></category>
		<category><![CDATA[ikan laut]]></category>
		<category><![CDATA[makan kepiting]]></category>
		<category><![CDATA[makhluk laut]]></category>
		<category><![CDATA[masak kepiting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7881</guid>
		<description><![CDATA[Makan kepiting haram atau halal ? Pertanyaan, &#8220;Apa hukumnya makan kepiting?&#8221; Abdillah (bembXXXXXX@gmail.com) Makan Kepiting Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du.. Hukum asal semua binatang laut adalah halal. Sebagaimana firman Allah, أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/makan-kepiting" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with makan kepiting">Makan kepiting</a> haram atau halal ?</h2>
<p>Pertanyaan, &#8220;Apa hukumnya <strong>makan kepiting</strong>?&#8221;</p>
<p><em>Abdillah (bembXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-7881"></span></p>
<h3>Makan Kepiting</h3>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du..</em><br />
Hukum asal semua binatang laut adalah halal. Sebagaimana firman Allah,</p>
<p class="arab">أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ</p>
<p><em>“Dihalalkan bagi kalian untuk memburu hewan laut (ketika ihram) dan bangkai hewannya, sebagai kenikmatan bagi kalian dan sebagai (bekal) bagi para musafir&#8230;”</em> (Q.s. Al-Maidah: 96)</p>
<p>Imam Bukhari menyebutkan satu riwayat dari beberapa sahabat:<br />
Abu Bakr <em>radliallahu &#8216;anhu</em> mengatakan, “Bangkai ikan halal.” Ibn Abbas mengatakan: “Yang dimaksud kata &#8216;<strong><em>tha&#8217;amuhu</em></strong>&#8216; = bangkainya, kecuali yang kotor.” Syuraih – salah seorang sahabat – mengatakan, “Segala sesuatu yang di laut, (jika mati) sudah (dianggap) disembelih.” (<em>Shahih Bukhari</em>, 5/2091)</p>
<p>Dalil lain adalah sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika ditanya tentang hukum wudhu dengan air laut, beliau menjawab,</p>
<p class="arab">هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ</p>
<p><em>“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.”</em> (H.r. Turmudzi 69, Abu Daud 83 dan dishahihkan Al-Albani dalam <em>Al-Irwa&#8217;</em>, 1/42)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda, “<em>Apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya maka itu halal, dan apa yang Dia haramkan maka itu haram. Adapun benda yang didiamkan (tidak dijelaskan hukumnya) maka itu adalah ampunan, karena itu terimalah ampunan dari Allah. Karena Allah tidak lupa.” </em>(H.r. Baihaqi 20216 dan dishahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah 2256)</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas maka makan udang, <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-kepiting" target="_blank">kepiting</a>, semuanya adalah halal dan tidak ada halangan, berdasarkan keumuman dalil yang menunjukkan bolehkan makan hewan buruan laut. Namun jika hewannya beracun atau bisa membahayakan bagi orang yang mengkonsumsinya maka hukumnya haram, karena makan hewan ini berbahaya bukan karena haram zatnya.</p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>http://www.islamqa.com/ar/ref/126343</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina<a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com"> Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel terkait: <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-kepiting" target="_blank">Apa Hukum Makan Kepiting?</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>masak kepiting</strong>, <strong>makhluk laut</strong>, <strong>ikan laut</strong>, <strong>hukum kepiting</strong>, <strong>makan kepiting</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabur Bunga Di Kubur</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 08:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan wali]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>
		<category><![CDATA[tabur bunga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7848</guid>
		<description><![CDATA[Tabur bunga di kubur Pertanyaan: 1. Apa hukumnya bila kita menaburkan bunga di atas kuburan sementera kita tidak ada niat untuk syirik kepada allah melainkan hanya untuk mengharumkan kuburan tersebut dan sekitarnya. 2. Kita masuk kubur dengan memakai sandal bagaimana ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tabur-bunga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tabur bunga">Tabur bunga</a> di kubur</strong><strong></strong></h2>
<p>Pertanyaan:<br />
1. Apa hukumnya bila kita menaburkan bunga di atas <strong>kubur</strong>an sementera kita tidak ada niat untuk syirik kepada allah melainkan hanya untuk mengharumkan kuburan tersebut dan sekitarnya.<br />
2. Kita masuk <strong>kubur</strong> dengan memakai sandal bagaimana hukumnya,</p>
<p>Demikian pertanyaan kita terima kasih.</p>
<p><em>Hasanuddin (fispra_bappXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7848"></span></p>
<h3>Penjelasan tabur bunga di kubur.</h3>
<p>Perbuatan ini sering dilakukan oleh para peziarah <a href="http://konsultasisyariah.com/menangis-di-kuburan" target="_blank">kubur</a>. Kami tidak menemukan satu pun riwayat valid yang menunjukkan bahwa rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya melakukan hal yang serupa ketika menziarahi suatu kubur.</p>
<p>Berdasarkan keterangan para ulama, perbuatan ini merupakan tradisi yang diambil dari orang-orang kafir, khususnya kaum Nasrani. Tradisi tebar bunga dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang telah wafat. Tradisi tersebut kemudian diserap dan dipraktekkan oleh sebagian kaum muslimin yang memiliki hubungan erat dengan orang-orang kafir, karena memandang perbuatan mereka merupakan salah satu bentuk kebaikan terhadap orang yang telah wafat.</p>
<p>Seorang ulama hadits Mesir, Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mengatakan, “Perbuatan ini digalakkan oleh kebanyakan orang, padahal hal tersebut tidak memiliki sandaran dalam agama. Hal ini dilatarbelakangi oleh sikap berlebih-lebihan dan sikap mengekor kaum Nasrani. Apa yang terjadi, khususnya di negeri Mesir merupakan contoh dari hal ini. Orang Mesir pun melakukan tradisi tebar bunga di atas pusara atau saling menghadiahkan bunga sesama mereka. Orang-orang meletakkan bunga di atas pusara kerabat atau kolega mereka sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah wafat.” Beliau melanjutkan, “Oleh karena itu, apabila para tokoh muslim mengunjungi sebagian negeri Eropa, anda dapat menyaksikan mereka menziarahi pekuburan para tokoh di negeri tersebut atau ke pekuburan para pejuang tanpa nama kemudian melakukan tradisi tebar bunga, sebagian lagi meletakkan bunga imitasi karena mengekor Inggris dan mengikuti tuntunan hidup kaum terdahulu.” Lalu di akhir perkataan, beliau menyatakan, “Semua ini adalah perbuatan bid’ah dan kemungkaran yang tidak berasal dari agama Islam, tidak pula memiliki sandaran dari Al quran dan sunnah nabi. Dan kewajiban para ulama adalah mengingkari dan melarang segala tradisi ini sesuai kemampuan mereka.” (Ta’liq Ahmad Syakir terhadap Sunan At Tirmidzi 1/103, dinukil dari <em>Ahkaamul Janaaizhal</em>. 254).</p>
<p>Oleh karena itu, tradisi yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin ini  tercakup dalam larangan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar tidak mengekor kebudayaan khas kaum kafir sebagaimana yang termaktub dalam sabda Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">ومن تشبه بقوم فهو منهم</p>
<p><em>“Barangsiapa menyerupai suatu kaum ,maka ia termasuk golongan mereka.”</em> (HR. Ahmad nomor 5114, 5115 dan 5667; Sa’id bin Manshur dalam Sunannya nomor 2370; Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>-nya: 19401, 19437 dan 33010. Al ‘Allamah Al Albani menghasankan hadits ini dalam <em>Al Irwa’</em> 5/109).</p>
<p>Ibnu ‘Abdil Barr Al Maliki rahimahullah mengatakan, “(Maksudnya orang yang menyerupai suatu kaum) akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat kelak. Dan bentuk penyerupaan bisa dengan meniru perbuatan yang dilakukan oleh kaum tersebut atau dengan meniru rupa mereka.” (<em>At Tamhid lima fil Muwaththa minal Ma’ani wal Asaanid</em> 6/80).</p>
<p>Sebagian kaum muslimin menganalogikan tradisi tabur bunga ini dengan perbuatan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menancapkan pelepah kurma basah pada dua buah kubur sebagaimana yang terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas <em>radliallahu ‘anhuma.</em> (H.r. Bukhari: 8 dan Muslim: 111). Mereka beranggapan bahwa pelepah kurma atau bunga yang diletakkan di atas pusara akan meringankan adzab penghuninya, karena pelepah kurma atau bunga tersebut akan bertasbih kepada Allah selama dalam keadaan basah.</p>
<p><strong>Anggapan mereka tersebut tertolak dengan beberapa alasan sebagai berikut:</strong></p>
<p><strong>Alasan pertama,</strong> keringanan adzab kubur yang dialami kedua penghuni kubur tersebut adalah disebabkan doa dan syafa’at Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada mereka, bukan pelepah kurma tersebut. Hal ini dapat diketahui jika kita melihat riwayat Jabir bin ‘Abdillah radliallahu ‘anhu. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إني مررت بقبرين يعذبان فأحببت بشفاعتي أن يرفه عنهما ما دام الغصنان رطبين</p>
<p><em>“Saya melewati dua buah kubur yang penghuninya tengah diadzab. Saya berharap adzab keduanya dapat diringankan dengan syafa’atku selama kedua belahan pelepah tersebut masih basah.”</em> (H.r. Muslim: 3012).</p>
<p>Hadits Jabir di atas menerangkan bahwa yang meringankan adzab kedua penghuni kubur tersebut adalah doa dan syafa’at nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> , bukan pelepah kurma yang basah.</p>
<p><strong>Alasan kedua,</strong> anggapan bahwa pelepah kurma atau bunga akan bertasbih kepada Allah selama dalam keadaan basah sehingga mampu meringankan adzab penghuni kubur bertentangan dengan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (٤٤)</p>
<p><em>“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” </em>(Q.s. Al Israa: 44).</p>
<p>Makhluk hidup senantiasa bertasbih kepada Allah, begitupula pelepah kurma. Tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa pelepah kurma atau bunga akan berhenti bertasbih jika dalam keadaan kering.</p>
<p><strong>Alasan ketiga,</strong> perbuatan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tersebut bersifat kasuistik (<em>waqi’ah al-’ain</em>) dan termasuk kekhususan beliau sehingga tidak bisa dianalogikan atau ditiru. Hal ini dikarenakan beliau tidak melakukan hal yang serupa pada kubur-kubur yang lain. Begitu pula para sahabat tidak pernah melakukannya, kecuali sahabat Buraidah yang berwasiat agar pelepah kurma diletakkan di dalam kuburnya bersama dengan jasadnya. Namun, perbuatan beliau ini hanya didasari oleh ijtihad beliau semata.<br />
Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Perbuatan Buraidah tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa beliau menerapkan hadits tersebut berdasarkan keumumannya dan tidak beranggapan bahwa hal tersebut hanya dikhususkan bagi kedua penghuni kubur tersebut. Ibnu Rusyaid berkata, “Apa yang dilakukan oleh Al Bukhari menunjukkan bahwa hal tersebut hanya khusus bagi kedua penghuni kubur tersebut, oleh karena itu Al Bukhari mengomentari perbuatan Buraidah tersebut dengan membawakan perkataan Ibnu ‘Umar, Sesungguhnya seorang (di alam kubur) hanya akan dinaungi oleh hasil amalnya (di dunia dan bukan pelepah kurma yang diletakkan di kuburnya).” (<em>Fathul Baari </em>3/223).</p>
<p>Selain itu, pelepah kurma tersebut ditaruh bersama dengan jasad beliau, bukan diletakkan di atas pusara beliau.</p>
<p><strong>Alasan keempat,</strong> alasan lain yang membatalkan analogi mereka dan menguatkan bahwa perbuatan Nabi tersebut merupakan kekhususan beliau adalah pengetahuan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa kedua penghuni kubur tersebut tengah diadzab. Hal ini merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala dan para rasul yang diberi keistimewaan oleh-Nya sehingga mampu mengetahui beberapa perkara gaib dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦)إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (٢٧)</p>
<p><em>“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.”</em> (Q.s. Al Jinn: 26-27).</p>
<p>Kalangan yang menganalogikan tradisi tebar bunga dengan perbuatan nabi tersebut telah mengklaim bahwa mereka mengetahui perkara gaib. Mereka mengklaim mengetahui bahwa penghuni kubur sedang diadzab sehingga pusaranya perlu untuk ditaburi bunga. Sungguh ini klaim tanpa bukti, tidak dilandasi ilmu dan termasuk menerka-nerka perkara gaib yang dilarang oleh agama.</p>
<p><strong>Alasan kelima,</strong> hal ini mengandung sindiran dan celaan kepada penghuni kubur, karena jika alasan mereka demikian, hal tersebut merupakan salah satu bentuk berburuk sangka  (su’uzh zhan) kepada penghuni kubur karena menganggapnya sebagai pelaku maksiat yang tengah diadzab oleh Allah di dalam kuburnya sebagai balasan atas perbuatannya di dunia. (Rangkuman faidah ini kami ambil dari <em>Ahkaamul Janaa-iz, Taisirul ‘Allam</em> dan uraian dari ustadzuna tercinta, Abu Umamah <em>hafizhahullah ta’al</em>a saat mengkaji kitab <em>‘Umdatul Ahkam</em>).</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, kita dapat mengetahui bahwa tradisi ini selayaknya ditinggalkan dan tidak perlu dilakukan ketika berziarah kubur karena tercakup dalam larangan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita juga mengetahui bahwa tidak terdapat riwayat valid yang menyatakan bahwa para sahabat dan generasi salaf melakukan tradisi tebar bunga di atas pusara. Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tidak dituntunkan oleh syari’at kita.</p>
<p>Oleh karena itu, kita patut merenungkan pernyataan As Subki, bahwa segala perbuatan yang tidak pernah diperintahkan dan dilakukan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya merupakan indikasi bahwa amalan tersebut tidak disyari’atkan. Dalam pernyataan beliau tersebut terkandung kaidah dasar dalam pensyari’atan sebuah amalan.</p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>http://ikhwanmuslim.com</em> <strong>(Dipublikasikan ulang oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Pembahahasan tambahan tentang tabur bunga di kubur:<br />
1. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan" target="_blank">Bolehkah memakai alas kaki di kuburan.</a></p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur" target="_blank">Wanita haid berziarah kubur.</a></p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/gambaran-adzab-kubur" target="_blank">Gambaran azab kubur.</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pictures</strong>, <strong>tabur bunga</strong>, <strong>kuburan wali</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usaha Jual Beli Ternak Landak</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/usaha-jual-beli-ternak-landak</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/usaha-jual-beli-ternak-landak#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 07:06:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[hewan landak]]></category>
		<category><![CDATA[jual landak]]></category>
		<category><![CDATA[landak]]></category>
		<category><![CDATA[landak hias]]></category>
		<category><![CDATA[ternak landak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7778</guid>
		<description><![CDATA[Usaha jual beli ternak landak Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah. Ustadz, saya mau bertanya. Saya hendak membuka usaha penjualan ternak landak mini, yaitu dengan berjual hewan landak yang berukuran kecil dan imut. Saya tertarik membuka usaha ini karena sekarang banyak orang mulai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Usaha jual beli ternak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/landak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with landak">landak</a><strong></strong></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah</em>. Ustadz, saya mau bertanya. Saya hendak membuka usaha penjualan ternak <strong>landak</strong> mini, yaitu dengan berjual <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hewan-landak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hewan landak">hewan landak</a> yang berukuran kecil dan imut. Saya tertarik membuka usaha ini karena sekarang banyak orang mulai suka untuk memelihara hewan imut ini. Bagaimana hukumnya dalam syariat Islam, apakah boleh? Atas jawabannya, saya ucapkan jazakumulloh khairan katsiran. <em>Barakallohu fikum</em>.</p>
<p><em>Mukti Ariwibowo (mukti.**@***.com)</em><br />
<span id="more-7778"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p><em>Bismillah washshalatu wassalam &#8216;ala Rasulillah.</em></p>
<p>Hukum jual beli binatang sama dengan hukum mengonsumsi <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memelihara-hamster" target="_blank">binatang</a> tersebut. Jika binatang tersebut halal dikonsumsi maka hukum jual beli binatang tersebut adalah halal. Begitu pula sebaliknya. Kaidah ini berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="arab">وإن الله إذا حرم شيئا حرم ثمنه</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, apabila Allah mengharamkan sesuatu maka dia mengharamkan jual beli hal tersebut.</em>” (Hr. Ibnu Hibban; dinilai <em>sahih</em> oleh Syu&#8217;aib Al-Arnauth)</p>
<p>Meskipun demikian, dalam menerapkan kaidah ini terdapat beberapa pengecualian.</p>
<p>Terkait dengan hukum landak, ulama berselisih pendapat. Para ulama Mazhab Hanbali mengharamkannya, dengan alasan bahwa landak adalah binatang yang menjijikkan. Padahal, Allah telah mengharamkan segala sesuatu yang menjijikkan, sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-A&#8217;raf:157. Selain itu, diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud bahwa Ibnu Umar pernah ditanya tentang hukum memakan landak, kemudian Ibnu Umar membaca firman Allah,</p>
<p class="arab">قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً&#8230;. الآية</p>
<p>“<em>Katakanlah, aku tidak menjumpai dalam wahyu yang diturunkan kepadaku tentang hal-hal yang diharamkan kecuali &#8230;.</em>” (Qa. Al-An&#8217;am:145)</p>
<p>Maksud Ibnu Umar, beliau mengingkari anggapan orang yang mengharamkan landak karena beliau mengetahui bahwa tidak ada dalil yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang keharaman landak.</p>
<p>Setelah Ibnu Umar menyampaikan jawaban ini, tiba-tiba ada seorang kakek yang mengatakan, “Saya mendengar Abu Hurairah berkata, &#8216;Suatu ketika, ada orang yang menyebut tentang landak di sisi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kemudian beliau bersabda, &#8216;<em>Itu termasuk binatang menjijikkan</em>.&#8221;”</p>
<p>Ibnu Umar berkomentar, “Jika demikian yang dikatakan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka hukumnya sebagaimana yang beliau sabdakan.”</p>
<p>Hanya saja, hadis Ibnu Umar di atas adalah hadis yang lemah. Di antara ulama hadis yang menilai sanad hadis ini <em><strong>dhaif </strong></em>adalah Imam Al-Khithabi dan Al-Baihaqi.</p>
<p>Imam Malik pernah ditanya tentang landak; beliau menjawab, “Saya tidak tahu.” Sementara, Imam Abu Hanifah menilainya makruh. Adapun Imam Asy-Syafi&#8217;i dan Al-Laits bin Sa&#8217;d, beliau berdua membolehkannya, sebagaimana keterangan dari Abu Tsaur, murid Imam Syafi&#8217;i. (Lihat <em>Ma&#8217;alim As-Sunan</em>, 4:248)</p>
<p>Insya Allah, pendapat yang kuat dalam hal ini adalah yang menyatakannya halal. Pendapat ini juga yang dikuatkan Syekh Ibnu Baz dalam fatwa beliau (jilid 23, halaman 35) karena dalil yang mengharamkannya adalah hadis <em>dhaif</em>, sehingga tidak bisa menjadi dalil dalam menetapkan halal-haram. <strong>Dengan demikian, kembali kepada hukum asal, bahwa segala sesuatu adalah halal, sampai ada dalil&#8211;baik dari Alquran maupun As-Sunnah&#8211;yang mengharamkannya</strong>.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Konsultasi tentang hukum usaha jual beli landak.<strong><br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>jual landak</strong>, <strong>ternak landak</strong>, <strong>landak hias</strong>, <strong>hewan landak</strong>, <strong>landak</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/usaha-jual-beli-ternak-landak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melanggar Sumpah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/sumpah-atas-nama-allah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/sumpah-atas-nama-allah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 06:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bersumpah palsu]]></category>
		<category><![CDATA[demi Allah]]></category>
		<category><![CDATA[kaffarat]]></category>
		<category><![CDATA[khianat]]></category>
		<category><![CDATA[melanggar sumpah]]></category>
		<category><![CDATA[sumpah]]></category>
		<category><![CDATA[sumpah palsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7779</guid>
		<description><![CDATA[Sumpah atas nama allah Assalamualaikum, ustad bagaimana hukumannya apabila melanggar sumpah atas nama allah dan bagaimanakah cara bertobat, syukron Fatchiyah (fatchiyaXXXXXX@yahoo.com) Cara Taubat Melanggar Sumpah Wa alaikumus salam Allah berfirman, لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sumpah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sumpah">Sumpah</a> atas nama allah</h2>
<p>Assalamualaikum, ustad bagaimana hukumannya apabila melanggar <strong>sumpah</strong> atas nama allah dan bagaimanakah cara bertobat, syukron</p>
<p><em>Fatchiyah (fatchiyaXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7779"></span></p>
<h3>Cara Taubat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/melanggar-sumpah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with melanggar sumpah">Melanggar Sumpah</a></h3>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ</p>
<p><em>“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.”</em> (Q.s. Al-Maidah: 89)</p>
<p><strong>Makna:</strong> “<em>&#8230;<a href="http://konsultasisyariah.com/cara-untuk-menarik-kembali-sumpah" target="_blank"><strong>sumpah</strong></a>-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah)&#8230;</em>” sebagaimana penjelasan A&#8217;isyah adalah kebiasaan orang arab yang mengucapkan “<em>wallaahi&#8230;</em>” (<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/demi-allah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with demi Allah">demi Allah</a>), namun maksud mereka bukan untuk bersumpah.</p>
<p>Berdasarkan ayat di atas, orang yang bersumpah untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan dia serius dalam sumpahnya, kemudian dia melanggar sumpahnya maka dia berdosa. Untuk menebus dosanya, dia harus membayar <em>kaffara</em>h.<br />
Bentuk <em>kaffarah</em> sumpah telah dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ</p>
<p><em>“Kaffarahnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kaffarat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kaffarat">kaffarat</a> sumpah-sumpahmu bila kamu langgar. ”</em> (Q.s. Al-Maidah: 89)</p>
<p>Berdasarkan ayat di atas, kaffarah sumpah ada 4:</p>
<p><strong>1. Memberi makan 10 orang miskin</strong><br />
Memberi makan di sini adalah makanan siap saji, lengkap dengan lauk-pauknya. Hanya saja, tidak diketahui adanya dalil yang menjelaskan batasan makanan yang dimaksudkan selain pernyataan di ayat tersebut: “makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu”.</p>
<p><strong>2. Memberi pakaian 10 orang miskin</strong><br />
Ulama berselisih pendapat tentang batasan pakaian yang dimaksud. Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bahwa batas pakaian yang dimaksudkan adalah yang bisa digunakan untuk shalat. Karena itu, harus terdiri dari atasan dan bawahan. Dan tidak boleh hanya peci saja atau jilbab saja. Karena ini belum bisa disebut pakaian.<br />
Mayoritas ulama berpendapat bahwa orang miskin yang berhak menerima dua bentuk kafarah di atas hanya orang miskin yang muslim.</p>
<p><strong>3. Membebaskan budak</strong><br />
Keterangan: Tiga jenis kaffarah di atas, boleh memilih salah satu. Jika tidak mampu untuk melakukan salah satu di antara tiga di atas maka beralih pada kaffarah keempat,</p>
<p><strong>4. Berpuasa selama tiga hari.</strong><br />
Pilihan yang keempat ini hanya dibolehkan jika tidak sanggup melakukan salah satu diantara tiga pilihan sebelumnya. Apakah puasanya harus berturut-turut? Ayat di atas tidak memberikan batasan. Hanya saja, madzhab hanafiyah dan hambali mempersyaratkan harus berturut-turut. Pendapat yang kuat dalam masalah ini, boleh tidak berturut-turut, dan dikerjakan semampunya.</p>
<p>Demikian keterangan yang disadur dari<em> Fiqh Sunah Sayid Sabiq</em>, (3/25 – 28).</p>
<p>****</p>
<h3>Catatan jika melakukan sumpah atas nama allah:</h3>
<p>Ada dua keadaan, dimana ketika orang melanggar sumpah tidak wajib membayar kaffarah:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Dia melanggar karena lupa, tidak sengaja, atau terpaksa dan tidak mampu lagi untuk menolaknya. Ini berdasarkan sabda Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah menghapuskan (kesalahan) dari umatku, (yang dilakukan) karena tidak sengaja, lupa, atau terpaksa.”</em> (HR. Ibn Majah dan dishahihkanal-Albani)</p>
<p><strong>Kedua, </strong>Ketika bersumpah dia mengucapkan, <strong><em>“insyaaAllah”</em></strong> sebagaimana dinyatakan dalam hadis,</p>
<p class="arab">مَنْ حَلَفَ فَقَالَ : إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ</p>
<p><em>“Siapa yang bersumpah dan dia mengucapkan: InsyaaAllah, maka dia tidak dianggap melanggar.”</em> (H.r. Ahmad, Turmudzi, Ibn Hibban dan disahihkan Syu&#8217;aib al-Arnauth)</p>
<p>Jika tidak dinilai melanggar, berarti tidak ada dosa dan tidak wajib membayar <strong>kaffarah</strong>. Sebagaiman keterangan dalam <em>Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Jami Turmudzi</em> (5: 109)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>===</p>
<p>Artikel yang patut Anda baca berkenaan dengan sumpah:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/cara-untuk-menarik-kembali-sumpah" target="_blank">Cara kembali menarik sumpah.</a></p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/demi-bapak-dan-ibuku-apakah-termasuk-sumpah" target="_blank">&#8220;Demi bapak dan ibuku&#8221; Apakah termasuk sumpah?</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>sumpah</strong>, <strong>sumpah palsu</strong>, <strong>melanggar sumpah</strong>, <strong>kaffarat</strong>, <strong>bersumpah palsu</strong>, <strong>khianat</strong>, <strong>demi Allah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/sumpah-atas-nama-allah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencukur Bulu Kemaluan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mencukur-bulu-kemaluan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mencukur-bulu-kemaluan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 05:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7757</guid>
		<description><![CDATA[Mencukur bulu kemaluan Assalamu&#8217;alaikum. Apakah hukum dari mencukur rambut bulu kemaluan? Terimakasih. Adhie (sbuXXXXXX@gmail.com) Jawaban: Wassalamu&#8217;alaikum. Cara mencukur bulu kemaluan Dalam sebuah hadis dinyatakan: عن عائشة قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر من الفطرة قص الشارب وإعفاء ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Mencukur bulu kemaluan</h2>
<p>Assalamu&#8217;alaikum. Apakah hukum dari mencukur <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rambut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rambut">rambut</a> <strong>bulu kemaluan</strong>?</p>
<p>Terimakasih.</p>
<p><em>Adhie (sbuXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-7757"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wassalamu&#8217;alaikum.</em></p>
<h3>Cara mencukur bulu kemaluan</h3>
<p>Dalam sebuah hadis dinyatakan:</p>
<p class="arab">عن عائشة قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر من الفطرة قص الشارب وإعفاء اللحية والسواك والاستنشاق بالماء وقص الأظفار وغسل البراجم ونتف الإبط وحلق العانة وانتقاص الماء يعني الاستنجاء بالماء</p>
<p>Dari A&#8217;isyah <em>radliallahu &#8216;anha</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Ada sepuluh hal dari fitrah (manusia); Memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukup <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mencabut-rambut-di-antara-2-alis">bulu</a> pubis dan istinjak (cebok) dengan air.</em> &#8221; (H.r. Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa&#8217;i, dan Ibn Majah).</p>
<p><strong>Keterangan:</strong> Hadis di atas menunjukkan bahwa mencukur bulu dan rambut tertentu hukumnya disyariatkan dan tidak terlarang.<br />
Dalam riwayat yang lain, dari Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">خمس من الفطرة : الاستحداد ، والختان ، وقص الشارب ، ونتف الإبط وتقليم الأظفار</p>
<p><em>&#8220;Ada lima hal termasuk fitrah; Istihdad, khitan, memangkas kumis, mencabut bulu kemaluan, dan memotong kuku.</em>&#8221; (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya)</p>
<p>Imam as-Syaukani menjelaskan:<br />
<em>Istihdad</em> adalah mencukup bulu kemaluan. Digunakan istilah <em>istihdad</em>, yang artinya mengunakan pisau, karena dalam mencukurnya digunakan pisau. Sehingga bisa dilakukan dalam bentuk dicukur (habis), dipotong (pendek),&#8230; (Nailul Authar, 1: 141)</p>
<h3>Tata caranya mencukur bulu kemaluan:</h3>
<p>As-Syaukani membawakan perkataan Imam an-Nawawi:<br />
Yang paling <em>afdhal</em> adalah dengan dicukur. Yang dimaksud bulu kemaluan adalah rambut yang tumbuh di atas kemaluan lelaki atau sekitarnya. Demikian pula rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan wanita. Dinukil dari Abul Abbas bin Sarij, (termasuk bulu kemaluan) adalah bulu yang tumbuh di sekitar lubang dubur. (<em>Nailul Authar</em>, 1: 141)</p>
<h3>Batas waktu mencukur bulu kemaluan:</h3>
<p>Hendaknya, bulu dan rambut yang disyariatkan untuk dipotong, tidak dibiarkan lebih dari 40 hari. Dasarnya adalah hadis dari Anas bin Malik <em>radhiallahu ‘anhu</em>. Beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">وقت لنا في قص الشارب وتقليم الأظفار ونتف الإبط وحلق العانة أن لا نترك أكثر من أربعين ليلة</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan batasan waktu kepada kami untuk memotong kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, agar tidak dibiarkan lebih dari empat puluh hari.”</em> (H.r. Muslim, Abu Daud, dan An-Nasa’i)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong> Disunnankannya mencukur bulu kemaluan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mencukur-bulu-kemaluan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedekah dengan Uang Syubhat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/sedekah-dengan-uang-subhat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/sedekah-dengan-uang-subhat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 01:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[duit hasil curian]]></category>
		<category><![CDATA[duit subhat]]></category>
		<category><![CDATA[infah]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7732</guid>
		<description><![CDATA[Sedekah dengan Uang Syubhat Assalamu &#8216;alaykum. Admin, afwan. Bolehkah kita sedekah dengan uang yang syubhat? Uang yang didapat dari yang tidak jelas sumbernya dan dari denda karena suatu hal, dan bolehkan kita sedekah dengan bunga bank? Jazakumulloh. Indah Dwi (indah_dwi**@***.com) ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sedekah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sedekah">Sedekah</a> dengan Uang Syubhat<strong></strong></h2>
<p>Assalamu &#8216;alaykum. Admin, <em>afwan</em>. Bolehkah kita sedekah dengan uang yang <a href="http://konsultasisyariah.com/uang-pemberian-dari-hasil-mencuri" target="_blank"><strong>syubhat</strong></a>? Uang yang didapat dari yang tidak jelas sumbernya dan dari denda karena suatu hal, dan bolehkan kita sedekah dengan bunga bank? <em>Jazakumulloh</em>.</p>
<p><em>Indah Dwi (indah_dwi**@***.com)</em><br />
<span id="more-7732"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p>Boleh memberikan uang syubhat atau riba kepada orang lain. Hanya saja, <strong>statusnya bukan sedekah</strong> karena yang memberi tidak mendapatkan pahala sedekah dengan uang tersebut. Untuk itu, sebaiknya, ketika memberi sekaligus menjelaskan bahwa uang tersebut adalah uang <a href="http://konsultasisyariah.com/hadiah-dari-uang-riba" target="_blank"><strong>riba</strong></a> atau bahwa itu adalah hasil praktik dari sesuatu yang haram, agar si penerima tidak menyangkanya sebagai sedekah.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>korupsi</strong>, <strong>infah</strong>, <strong>duit hasil curian</strong>, <strong>sedekah</strong>, <strong>duit subhat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/sedekah-dengan-uang-subhat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyemir Rambut</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menyemir-rambut</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menyemir-rambut#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 07:27:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menyemir rambut]]></category>
		<category><![CDATA[menyemir rambut]]></category>
		<category><![CDATA[rambut]]></category>
		<category><![CDATA[rambut punk]]></category>
		<category><![CDATA[semir rambut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7676</guid>
		<description><![CDATA[Menyemir Rambut Assalamu &#8216;alaikum. Saya mau tanya, bagaimana hukum menyemir rambut dengan warna hitam? Apakah itu haram? Lantas, saya juga pernah dengar, katanya boleh menyemir rambut asal jangan warna hitam. Itu bagaimana ya? Sekian dan terima kasih sebelumnya. Wassalamu &#8216;alaikum. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/menyemir-rambut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with menyemir rambut">Menyemir Rambut</a></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Saya mau tanya, bagaimana hukum <strong>menyemir <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rambut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rambut">rambut</a></strong> dengan warna hitam? Apakah itu haram? Lantas, saya juga pernah dengar, katanya boleh menyemir rambut asal jangan warna hitam. Itu bagaimana ya? Sekian dan terima kasih sebelumnya. <em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><em>Amalia (amalia**@***.com)</em><br />
<span id="more-7676"></span></p>
<h3>Jawaban <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum-menyemir-rambut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum menyemir rambut">hukum menyemir rambut</a><strong>:</strong></h3>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p>Tidak boleh <span style="text-decoration: underline;"><strong>menyemir rambut</strong></span> dengan warna hitam. Dasarnya adalah hadis dari Jabir bin Abdillah <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> bahwa ketika <em>Fathu Makkah</em>, Abu Quhafah (bapak dari Abu Bakr) dibawa ke hadapan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sementara, rambut dan jenggotnya berwarna putih seperti taghamah. Kemudian, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Ubahlah warna uban ini, dan jauhi warna hitam</em>.&#8221; (Hr. Muslim dan Abu Daud)</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/potong-rambut-wanita" target="_blank">Rambut</a> yang boleh disemir adalah rambut yang telah beruban. Rambut yang tidak beruban tidak boleh disemir, karena ini termasuk mengubah ciptaan Allah.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina<a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank"> Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum menyemir rambut</strong>, <strong>rambut</strong>, <strong>rambut punk</strong>, <strong>menyemir rambut</strong>, <strong>semir rambut</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menyemir-rambut/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memindahkan Makam</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/memindahkan-makam</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/memindahkan-makam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2011 01:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bongkar kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan islam]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan massal. Islamic cemetery]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan nabi]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan wali]]></category>
		<category><![CDATA[makam wali]]></category>
		<category><![CDATA[memindahkan kuburan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7672</guid>
		<description><![CDATA[Hukum memindahkan makam Apakah hukum memindahkan makam, dan bagaimana jika kita dapat wasiat dari orang tua untuk memindahkan makam nenek? Abu Ghaitsani (gs_**@***.com) Jawaban: Bismillah. Hukum memindahkan makam Hukum asal membongkar kuburan atau memindahkannya ke tempat lain adalah terlarang. Sementara, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum memindahkan makam</h2>
<p>Apakah hukum <strong>memindahkan makam</strong>, dan bagaimana jika kita dapat wasiat dari orang tua untuk <span style="text-decoration: underline;">memindahkan makam</span> nenek?</p>
<p><em>Abu Ghaitsani (gs_**@***.com)</em><br />
<span id="more-7672"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah.</em></p>
<h3>Hukum memindahkan makam</h3>
<p>Hukum asal membongkar kuburan atau memindahkannya ke tempat lain adalah terlarang. Sementara, sesuatu yang terlarang bisa menjadi dibolehkan <strong>jika ada alasan yang dibenarkan syariat</strong>. Dr. Ahmad bin Abdul Karim Najib menjelaskan bahwa ada tiga hal yang bisa dijadikan alasan pembenar untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/memindahkan-kuburan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with memindahkan kuburan">memindahkan kuburan</a> mayat.</p>
<p><strong>Pertama, untuk kemaslahatan mayat sendiri.</strong></p>
<p>Misalnya, keluar air di kuburan, tanahnya becek, atau di daerah tersebut banyak binatang buas yang sering membongkar kuburan, atau alasan lainnya. Syekhul islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak boleh mengeluarkan mayat dari kuburannya kecuali karena kebutuhan mendesak, misalnya ada sesuatu yang mengganggu mayat sehingga harus dipindahkan ke tempat lain. Sebagaimana pada sebagian sahabat, jenazahnya dipindahkan karena sebab semacam ini.” (<em>Majmu&#8217; Al-Fatawa</em>, 24:303)</p>
<p>Imam Bukhari, dalam kitab <em>Shahih</em>-nya membuat judul &#8220;Bab &#8216;Bolehkah mengeluarkan mayit dari kuburan dan lahadnya karena sebab tertentu&#8217;. Kemudian beliau membawakan hadis dari Jabir bin Abdillah<em> radhiallahu &#8216;anhuma</em>, yang menyatakan bahwa beliau menceritakan bahwa ayahnya adalah orang yang pertama kali meninggal ketika Perang Uhud. Kemudian ayahnya dimakamkan bersama jenazah yang lain dalam satu liang. Jabir mengatakan, &#8220;Jiwaku tidak nyaman untuk meninggalkan beliau dikuburkan bersama yang lain dalam satu makam. Kemudian aku mengeluarkannya, setelah berlalu enam bulan. Ternyata beliau masih sama seperti ketika dimakamkan, selain ada perubahan di telinganya.&#8221; (Hr. Bukhari)</p>
<p><strong>Kedua, tanah yang digunakan untuk memakamkan mayat adalah tanah yang <a href="http://konsultasisyariah.com/kuburan-nabi-dalam-masjid" target="_blank">bukan haknya</a></strong>, seperti: tanah hasil<em> ghasab</em> (mengambil milik orang lain tanpa hak, <em>ed.</em>) atau dimakamkan di tanah orang lain. Sementara, pemiliknya tidak merelakannya. Dalam kondisi ini, mayat boleh dipindah kuburannya ke tanah yang lain.</p>
<p><strong>Ketiga, memindahkan kuburan untuk kemaslahatan umum</strong>.</p>
<p>Seperti: memperluas masjid atau memperluas jalan yang tidak memungkinkan untuk dialihkan ke yang lain, atau kebutuhan umum yang sangat mendesak lainnya.</p>
<p>Disebutkan dalam hadis dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> tentang kisah pembangunan Masjid Nabawi; beliau mengatakan, &#8220;Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk membangun masjid. Beliau mengutus seseorang untuk menemui Bani Najjar dan menanyakan berapa harga tanahnya. Masyarakat Bani Najjar mengatakan, &#8216;<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/demi-allah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with demi Allah">Demi Allah</a>, kami tidak menginginkan uang sedikit pun dari tanah tersebut, selain Allah.&#8217;&#8221; Anas mengatakan, &#8220;Di tanah tersebut terdapat kuburan orang musyrik, kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk membongkar kuburan tersebut &#8230;.&#8221; (Hr. Bukhari)</p>
<p>Disimpulkan dari: <em>http://www.saaid.net/Doat/Najeeb/f113.htm</em></p>
<p>Dr. Ahmad bin Abdul Karim Najib termasuk salah satu da&#8217;i <em>ahlus sunnah</em> yang banyak bergerak di daerah Yugoslavia. Beliau meraih gelar doktor dalam ilmu hadis dari Universitas Ummu Dirman Al-Islamiyah, Sudan. Sejak tahun 1999, beliau banyak berdakwah di daerah Eropa Timur dan Eropa Barat, terutama Yugoslavia dan sekitarnya.</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p><strong>Pembahasana: </strong>Hukum syari&#8217; memindahkan makam<strong>.<br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kuburan islam</strong>, <strong>kuburan nabi</strong>, <strong>kuburan massal. Islamic cemetery</strong>, <strong>kuburan wali</strong>, <strong>memindahkan kuburan</strong>, <strong>makam wali</strong>, <strong>bongkar kuburan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/memindahkan-makam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/202 queries in 0.065 seconds using disk: basic
Object Caching 15783/16084 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-05 07:22:39 -->
