<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Dzikir dan Doa</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/dzikir-dan-doa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 02:42:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Doa Shalat Jenazah Saat Takbir ke-3</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-shalat-jenazah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-shalat-jenazah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 07:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9985</guid>
		<description><![CDATA[Doa Shalat Jenazah Saat Takbir ke-3 Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Doa shalat jenazah rakaat ke-3: &#8220;Allahumma anta Rabbuha wa anta kholaqtaha wa anta badaitaha lil-Islami, wa anta qabadhta ruhaha, wa anta a&#8217;lamu bisirriha wa &#8216;ala niyatiha ji&#8217;na ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">Doa</a> Shalat Jenazah Saat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/takbir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with takbir">Takbir</a> ke-3</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh</em> Ustadz,<br />
Doa <strong>shalat jenazah</strong> rakaat ke-3: <em>&#8220;Allahumma anta Rabbuha wa anta kholaqtaha wa anta badaitaha lil-Islami, wa anta qabadhta ruhaha, wa anta a&#8217;lamu bisirriha wa &#8216;ala niyatiha ji&#8217;na syufa&#8217;a a lahu faghfir lahu&#8221;</em> (HR. Abu Dawud, <em>Riyadlus Shalihin</em> II Hal.46). Apakah ini bisa untuk perempuan dan laki-laki, tanpa mengubah &#8220;<em>Rabbuha</em>&#8221; menjadi &#8220;<em>Rabbuhu</em>&#8221; atau &#8220;<em>khalaqtaha</em>&#8221; menjadi &#8220;<em>khalaqtahu</em>&#8220;&#8230;?</p>
<p>Dari: Herbono Utomo<br />
<span id="more-9985"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa &#8216;alaikumussalam wa rahmatullah wa barakaatuh</em><br />
Doa shalat jenazah rakaat ke-3: &#8220;<em>Allahumma anta Rabbuha wa anta kholaqtaha wa anta badaitaha lil-Islami, wa anta qobadhta ruhaha, wa anta a&#8217;lamu bisirriha wa &#8216;ala niyatiha ji&#8217;na syufa&#8217;a a lahu faghfir lahu</em>&#8221; (HR. Abu Dawud, <em>Riyadlus Shalihin</em>: II Hal. 46). Apakah ini bisa utk perempuan dan laki-laki tanpa mengubah &#8220;<em>Rabbuha</em>&#8221; menjadi &#8220;Rabbuhu&#8221; atau <em>&#8220;khalaqtaha</em>&#8221; menjadi &#8220;<em>khalaqtahu</em>&#8220;&#8230;?</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Doa di atas statusnya dhaif (lemah). Hadis itu dibawakan Abu Daud dari Abu Ma&#8217;mar dari Abdul Warits. Di akhir hadis Abu Daud mengatakan,</p>
<p class="arab">وسمعت أحمد بن إبراهيم الموصلى يحدث أحمد بن حنبل قال ما أعلم أنى جلست من حماد بن زيد مجلسا إلا نهى فيه عن عبد الوارث وجعفر بن سليمان</p>
<p>Saya mendengar Ahmad bin Ibrahim al-Mushili pernah berkata kepada Imam Ahmad, &#8220;Setiap kali saya duduk di majlis Hammad bin Zaid, beliau pasti melarang untuk mengambil hadis dari Abdul Warits dan Ja&#8217;far bin Sulaiman.&#8221; (<em>Sunan Abu Daud</em>, keterangan hadis no.3202)</p>
<p>Doa ini juga didhaifkan Syaikh Al-Albani, sebagaimana yang beliau jelaskan dalam <em>Al-Musykah</em>, hadis no.1688.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait fikih jenazah:</h3>
<p>1. <a href="../mengubur-jenazah-dengan-peti" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah dengan Peti</a>.<br />
2. <a href="../memindahkan-makam" rel="nofollow" target="_blank">Memindahkan Makam</a>.<br />
3. <a href="../mengumumkan-kematian-melalui-microphone" rel="nofollow" target="_blank">Mengumumkan Kematian Ke Mikropon</a>.<br />
4. <a href="../bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah Pada Malam Hari</a>.<br />
5. <a href="../apa-hukum-adzan-dan-talqin-kepada-mayat" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Adzan dan Iqomah pada Talqin Jenazah</a>.<br />
6. <a href="../bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan" rel="nofollow" target="_blank"><strong>Mengantar Jenazah</strong> dengan Kendaraan</a>.<br />
7. <a href="http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah" target="_blank">Dzikir Ketika Mengantar Jenazah</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-shalat-jenazah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 03:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9993</guid>
		<description><![CDATA[Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Selama mengiringi jenazah dari rumah ke pemakaman, adakah dzikir-dzikir khusus yang mesti dibaca? Dari: Herbono Utomo Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu Dzikir Mengantar Jenazah Imam An-Nawawi mengatakan dalam Bab dzikir ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh</em> Ustadz,<br />
Selama mengiringi jenazah dari rumah ke pemakaman, adakah dzikir-dzikir khusus yang mesti dibaca?<br />
Dari: Herbono Utomo</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu</em></p>
<h3>Dzikir Mengantar Jenazah</h3>
<p>Imam An-Nawawi mengatakan dalam Bab dzikir yang dibaca ketika mengiringi jenazah: &#8220;Dianjurkan bagi orang yang mengantarkan jenazah untuk menyibukkan dirinya dengan mengingat Allah dan merenungkan apa yang akan dia temui setelah kematian, bagaimana tempat kembalinya, dan apa yang akan dia dapatkan di sana, serta memikirkan bahwa kematian merupakan penghujung dunia dan kondisi akhir penduduk dunia.</p>
<p>Kemudian, jangan sekali-kali berbicara mengenai sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Karena pada saat itu adalah waktu untuk merenung dan berpikir tentang kehidupan setelah mati. Sangat tercela jika digunakan untuk hal yang melalaikan, main-main, dan sibuk dengan omong kosong. Karena berbicara yang tidak ada manfaatnya terlarang dalam setiap keadaan, maka baimana lagi dalam kondisi semacam ini.</p>
<p>Kemudian ketauhilah, bahwa yang benar dan sesuai dengan kebiasaan para sahabat adalah diam ketika mengiringi jenazah. Tidak boleh mengeraskan suara dengan membaca Alquran atau dzikir, atau bacaan lainnya. Inilah yang benar. Dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang bersikap sebaliknya. (<em>Al-Adzkar</em>, karya An-Nawawi, Hal.160)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/mengubur-jenazah-dengan-peti" target="_blank">Mengubur Jenazah dengan Peti</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/memindahkan-makam" target="_blank">Memindahkan Makam</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone" target="_blank">Mengumumkan Kematian Ke Mikropon</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari" target="_blank">Mengubur Jenazah Pada Malam Hari</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-adzan-dan-talqin-kepada-mayat" target="_blank">Hukum Adzan dan Iqomah pada Talqin Jenazah</a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan" target="_blank"><strong>Mengantar Jenazah</strong> dengan Kendaraan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>13 Adab dalam Berdoa</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/13-ada-dalam-berdoa</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/13-ada-dalam-berdoa#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 06:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9561</guid>
		<description><![CDATA[13 Adab dalam Berdoa Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz, di sini saya ingin bertanya tentang permasalahan adab-adab dalam berdoa, dan terus bagaimana tata cara berdoa yang dicontohkan Rasulullah SAW? syukron jazakallah Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh Dari: Yudhy Jawaban: Wa alaikumus salam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>13 Adab dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">Berdoa</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em><br />
Ustadz, di sini saya ingin bertanya tentang permasalahan adab-adab dalam <strong>berdoa</strong>, dan<br />
terus bagaimana tata cara berdoa yang dicontohkan Rasulullah SAW?</p>
<p><em>syukron jazakallah</em><br />
<em> Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em></p>
<p>Dari: Yudhy</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh</em></p>
<h3>13 Adab berdoa</h3>
<p><strong>Pertama</strong>, Mencari Waktu yang Mustajab<br />
Di antara waktu yang mustajab adalah hari Arafah, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a>, sore hari Jumat, dan waktu sahur atau sepertiga malam terakhir.<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">ينزل الله تعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الأخير فيقول عز وجل: من يدعونى فأستجب له، من يسألنى فأعطيه، من يستغفرنى فأغفر له</p>
<p>“<em>Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, &#8216;Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan, siapa yang meminta, akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampunan pasti Aku ampuni&#8217;</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Memanfaatkan Keadaan yang Mustajab Untuk Berdoa<br />
Di antara keadaan yang mustajab untuk berdoa adalah: ketika perang, turun hujan, ketika sujud, antara adzan dan iqamah, atau ketika puasa menjelang berbuka.</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, “Sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka ketika jihad fi sabillillah sedang berkecamuk, ketika turun hujan, dan ketika iqamah shalat wajib. Manfaatkanlah untuk berdoa ketika itu.” (Syarhus Sunnah al-Baghawi, 1: 327)<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">Doa</a> antara adzan dan iqamah tidak tertolak.</em>” (HR. Abu Daud, Nasa&#8217;i, dan Tirmidzi)<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Keadaan terdekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklahberdoa</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Menghadap Kiblat dan Mengangkat Tangan<br />
Dari Jabir <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (HR. Muslim)<br />
Dari Salman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan).</em>” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)<br />
Cara mengangkat tangan:</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (HR. Thabrani)<br />
<strong>Catatan:</strong> Tidak boleh melihat ke atas ketika berdoa.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Dengan Suara Lirih dan Tidak Dikeraskan<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا</p>
<p>“<em>Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.</em>” (QS. Al-Isra: 110)</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memuji Nabi Zakariya <em>&#8216;alaihis salam</em>, yang berdoa dengan penuh khusyu&#8217; dan suara lirih.</p>
<p class="arab">ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا</p>
<p>“<em>(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,<br />
yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut</em>.” (QS. Maryam: 2–3)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala juga berfirman,</p>
<p class="arab">ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ</p>
<p>“<em>Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.</em>” (QS. Al-A&#8217;raf: 55)</p>
<p>Dari Abu Musa<em> radhiallahu&#8217;anhu</em> bahwa suatu ketika para sahabat pernah berdzikir dengan teriak-teriak. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengingatkan,</p>
<p class="arab">يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ</p>
<p>“<em>Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak ada, sesungguhnya Allah bersama kalian, Dia Maha mendengar lagi Maha dekat</em>.” (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>Kelima</strong>, Tidak Dibuat Bersajak<br />
Doa yang terbaik adalah doa yang ada dalam Alquran dan sunah.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ</p>
<p>“<em>Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.</em>” (QS. Al-A&#8217;raf: 55)<br />
Ada yang mengatakan: maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam membuat kalimat doa, dengan dipaksakan bersajak.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, Khusyu&#8217;, Merendahkan Hati, dan Penuh Harap<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoakepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu&#8217; kepada Kami.</em>” (QS. Al-Anbiya&#8217;: 90)</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, Memantapkan Hati Dalam Berdoa dan Berkeyakinan Untuk Dikabulkan<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا يقل أحدكم إذا دعا اللهم اغفر لي إن شئت اللهم ارحمني إن شئت ليعزم المسألة فإنه لا مُكرِه له</p>
<p>“<em>Janganlah kalian ketika berdoa dengan mengatakan, &#8216;Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau mau&#8217;. Hendaknya dia mantapkan keinginannya, karena tidak ada yang memaksa Allah</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mantapkan keinginannya. Karena Allah tidak keberatan dan kesulitan untuk mewujudkan sesuatu.” (HR. Ibn Hibban dan dishahihkan Syua&#8217;ib Al-Arnauth)</p>
<p>Di antara bentuk yakin ketika berdoa adalah hatinya sadar bahwa dia sedang meminta sesuatu. Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه</p>
<p>“<em>Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya).</em>” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Banyak orang yang lalai dalam berdoa atau bahkan tidak tahu isi doa yang dia ucapkan. Karena dia tidak paham bahasa Arab, sehingga hanya dia ucapkan tanpa direnungkan isinya.</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>, Mengulang-ulang Doa dan Merengek-rengek Dalam Berdoa<br />
Mislanya, orang berdoa: Yaa Allah, ampunilah hambu-MU, ampunilah hambu-MU&#8230;, ampunilah hambu-MU yang penuh dosa ini. ampunilah ya Allah&#8230;. Dia ulang-ulang permohonannya. Semacam ini menunjukkan kesungguhhannya dalam berdoa.<br />
Ibn Mas&#8217;ud mengatakan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> apabila beliau berdoa, beliau mengulangi tiga kali. Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali. (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>, tidak tergesa-gesa agar segera dikabulkan, dan menghindari perasaan: mengapa doaku tidak dikabulkan atau kalihatannya Allah tidak akan mengabulkan doaku.<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى</p>
<p>“<em>Akan dikabulkan (doa) kalian selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, &#8216;Saya telah berdoa, namun belum saja dikabulkan</em>&#8216;.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Sikap tergesa-gesa agar segera dikabulkan, tetapi doanya tidak kunjung dikabulkan, menyebabkan dirinya malas berdoa. Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم، ما لم يستعجل، قيل: يا رسول الله وما الاستعجال؟ قال: يقول قد دعوت وقد دعوت فلم أر يستجيب لي، فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء رواه مسلم</p>
<p>“<em>Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru</em>.&#8221; Para sahabat bertanya, &#8220;Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdoa?&#8221; Beliau bersabda, “<em>Orang yang berdoa ini berkata, &#8216;Saya telah berdoa, Saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan&#8217;. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa.</em>” (HR. Muslim dan Abu Daud)</p>
<p>Sebagian ulama mengatakan: “Saya pernah berdoa kepada Allah dengan satu permintaan selama dua puluh tahun dan belum dikabulkan, padahal aku berharap agar dikabulkan. Aku meminta kepada Allah agar diberi taufiq untuk meninggalkan segala sesuatu yang tidak penting baguku.”</p>
<p><strong>Kesepuluh</strong>, Memulai Doa dengan Memuji Allah dan Bershalawat Kepada Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em><br />
Bagian dari adab ketika memohon dan meminta adalah memuji Dzat yang diminta. Demikian pula ketika hendak berdoa kepada Allah. Hendaknya kita memuji Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang mulia (Asma-ul husna).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kemudian beliau bersabda, “Orang ini terburu-buru.” kemudian beliau bersabda,</p>
<p class="arab">إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء</p>
<p>“<em>Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya</em>.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p><strong>Kesebelas</strong>, Memperbanyak Taubat dan Memohon Ampun Kepada Allah<br />
Banyak mendekatkan diri kepada Allah merupakan sarana terbesar untuk mendapatkan cintanya Allah. Dengan dicintai Allah, doa seseorang akan mudah dikabulkan. Di antara amal yang sangat dicintai Allah adalah memperbanyak taubat dan istighfar.<br />
Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ&#8230;.، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ</p>
<p>“<em>Tidak ada ibadah yang dilakukan hamba-Ku yang lebih Aku cintai melebihi ibadah yang Aku wajibkan. Ada hamba-Ku yang sering beribadah kepada-Ku dengan amalan sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka &#8230;jika dia meminta-Ku, pasti Aku berikan dan jika minta perlindungan kepada-KU, pasti Aku lindungi..</em>” (HR. Bukhari)</p>
<p>Diriwayatkan bahwa ketika terjadi musim kekeringan di masa Umar bin Khatab, beliau meminta kepada Abbas untuk berdoa. Ketika berdoa, Abbas mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya tidaklah turun musibah dari langit kecuali karena perbuatan dosa. dan musibah ini tidak akan hilang, kecuali dengan taubat&#8230;”</p>
<p><strong>Kedua Belas</strong>, Hindari Mendoakan Keburukan, Baik Untuk Diri Sendiri, Anak, Maupun Keluarga<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, mencela manusia yang berdoa dengan doa yang buruk,</p>
<p class="arab">وَيَدْعُ الإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإِنسَانُ عَجُولاً</p>
<p>“<em>Manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.</em>” (QS. Al-Isra&#8217;: 11)</p>
<p class="arab">وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُم بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ</p>
<p>“<em>Kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka (binasa).</em>” (QS. Yunus: 11)</p>
<p>Ayat ini berbicara tentang orang yang mendoakan keburukan untuk dirinya, hartanya, keluarganya, dengan doa keburukan.</p>
<p>Dari Jabir <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا تدعوا على أنفسكم، ولا تدعوا على أولادكم، ولا تدعوا على خدمكم، ولا تدعوا على أموالكم، لا توافق من الله ساعة يسأل فيها عطاء فيستجاب لكم</p>
<p>“<em>Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, jangan mendoakan keburukan untuk anak kalian, jangan mendoakan keburukan untuk pembantu kalian, jangan mendoakan keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah bertepatan dengan waktu mustajab, pasti Allah kabulkan.</em>” (HR. Abu Daud)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم</p>
<p>“<em>Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim.</em>” (HR. Muslim dan Abu Daud)</p>
<p><strong>Ketiga Belas</strong>, Menghindari Makanan dan Harta Haram<br />
Makanan yang haram menjadi sebab tertolaknya doa.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ</p>
<p>“<em>Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya, &#8216;Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan&#8217;. Dan Allah juga berfirman, &#8216;Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu&#8217;. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo&#8217;a, &#8216;Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku&#8217;. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan do&#8217;anya?</em>&#8221; (HR. Muslim)<br />
<em> </em></p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em> <strong>[<a rel="nofollow" href="http://www.islamino.net/play.php?catsmktba=11483" target="_blank">islamino.net</a>]</strong></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../apa-hukum-mengheningkan-cipta" target="_blank">Hukum Mengheningkan Cipta</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../doa-dengan-shalawat" target="_blank">Doa Tidak Dikabulkan Tanpa Shalawat</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../lafal-amin-yang-benar" target="_blank">Lafal “Amin” yang Benar</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/doa-dengan-suara-lirih" target="_blank">Keutamaan Doa dengan Suara Lirih</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../tata-cara-berdoa" target="_blank">Tata Cara Doa Sesuai Tuntunan</a>.</p>
<p>Tags: <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa-nabi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa nabi">doa nabi</a>, doa shahih, adab berdoa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/13-ada-dalam-berdoa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Untuk Orang Yang Pulang Haji</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-untuk-orang-yang-pulang-haji</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-untuk-orang-yang-pulang-haji#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 00:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9206</guid>
		<description><![CDATA[Doa Untuk Orang Yang Pulang Haji Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Ustadz, saya mau tanya, ada tidak ucapan untuk orang yang baru pulang haji? Dari: Abu Hammam Pekalongan 08586922xxxx Jawaban: Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada lafadz doa atau ucapan tertentu dari Nabi shalallahu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">Doa</a> Untuk Orang Yang Pulang Haji</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum. Ustadz, saya mau tanya, ada tidak ucapan untuk orang yang baru pulang <strong>haji</strong>?</p>
<p>Dari: Abu Hammam Pekalongan 08586922xxxx<br />
<span id="more-9206"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada lafadz doa atau ucapan tertentu dari Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk orang yang baru pulang haji, namun tidak mengapa seseorang mendoakan untuk mereka dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa-doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa-doa">doa-doa</a> yang baik dan sesuai, seperti “Semoga Allah menerima amal shalihmu”, “Semoga Allah menjadikan hajimu sebagai haji yang mabrur” dan ucapan-ucapa doa sejenisnya yang tidak menngandung makna terlarang. Sebab ucapan selamat dan doa kebaikan merupakan sesuatu yang disyariatkan dalam ajaran Islam, baik di hari raya maupun selainnya.</p>
<p>Oleh karena itu, banyak beberapa dalil yang menunjukkan adanya ucapan selamat pada selain hari raya, seperti ucapan para sahabat kepada Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “Selamat untukmu atas apa yang diberikan oleh Allah kepadamu”. (Bukhari, no.3939 dan Muslim, no.1786), dan ucapan selamat dari Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berserta para sahabat kepada Ka’ab bin Malik <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> tatkala Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menerima taubatnya. (HR. Bukhari, no.4156 dan Muslim, no.2769)</p>
<p>Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di berkata, “Ucapan selamat dalam berbagai kesempatan dibangun di atas kaidah yang berharga, yaitu asal dalam masalah adalah adat, baik ucapan maupun perbuatan hukumnya adalah boleh. Tidak bisa diharamkan atau dibenci kecuali apabila mengandung hal yang dilarang oleh syariat atau mengandung kerusakan. Kaidah agung ini dibangun di atas Alquran dan sunah.</p>
<p>Sesungguhnya manusia tidaklah bermaksud ibadah dengan ucapan ini, namun hal itu merupakan adat sesama mereka dalam sebagian kesempatan. Hal ini tidak terlarang, bahkan menyimpan kemaslahatan sebab apabila kaum mukmin saling mendoakan antara sesama maka sejatinya hal itu akan menyebabkan mereka saling mencintai.</p>
<p>Dan adat-adat yang boleh apabila diringi dengan manfaat dan maslahat, maka bisa menjadikannya sebagai amalan yang dicintai oleh Allah sesuai dengan buah yang dihasilkannya.” <em>Wallahu A’lam</em> (<em>Al-Fatawa As-Sa’diyyah</em>, Hal. 487. Lihat pula risalah <em>Wushul Amaani bi Ushuli Tahani</em> oleh As-Suyuthi, Majalis <em>‘Asyri Dzilhijjah Abdullah al-Fauzan</em>, Hal.111-114).</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://abiubaidah.com/tanya-jawab-doa-haji.html/#more-228" target="_blank">abiubaidah.com</a></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait haji:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/salah-paham-haji-akbar">Salah Paham Tentang Haji Akbar</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/jika-wanita-haji-tanpa-mahram">Jika Wanita Haji Tanpa Mahram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/talbiyah-memasuki-ibadah-haji">Membaca Talbiyah untuk Memulai Haji</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/wakil-haji-kakek">Mewakilkan Haji Untuk Kakek</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-untuk-orang-yang-pulang-haji/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesyirikan di Bulan Suro</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 06:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8939</guid>
		<description><![CDATA[Kesyirikan di Bulan Suro Muharram telah tiba, bulan tahun baru dalam kalender hijriyah. Orang jawa menamakan bulan ini dengan istilah Suro. Mungkin nama ini diambil dari kata Asyuro yaitu tanggal 10 Muharram. Latar belakang diistimewakan hari Asyuro karena pada hari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kesyirikan di Bulan Suro</h2>
<p>Muharram telah tiba, bulan tahun baru dalam kalender hijriyah. Orang jawa menamakan bulan ini dengan istilah Suro. Mungkin nama ini diambil dari kata Asyuro yaitu tanggal 10 Muharram. Latar belakang diistimewakan hari Asyuro karena pada hari tersebut dianjurkan bagi kaum muslimin untuk melakukan puasa sunah.</p>
<p>Hal menarik yang layak untuk dibahas di sini adalah keyakinan sebagian orang jawa yang menganggap bulan ini sebagai bulan sial. Setiap orang yang punya agenda acara, mau tidak mau harus ditunda bulan depan atau dibatalkan. <em>Dhuwe gawe neng ulan syuro alamat ciloko</em>…<em>Berani jangkar</em> ….melanggar, …<em>ku-wa-lat</em>! demikian anggapan mereka. Anehnya, keyakinan yang tidak bisa diterima akal yang fitrah ini tidak hanya hinggap di masyarakat pedalaman, tetapi juga merasuk kepada sebagian kalangan yang berpendidikan dan mengenal teknologi, seperti kalangan akademisi (mahasiswa dan dosen) dan orang-orang terpelajar lainnya.</p>
<p>Andaikan tidak ada hubungannya dengan surga dan neraka, bisa dikatakan ini adalah satu adat yang biasa dan tidak perlu dibahas. Namun dalam kacamata agama Islam, keyakinan dan anggapan sial di atas termasuk salah satu bentuk perbuatan syirik. Satu dosa yang sangat besar, lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar lainnya dan kesyrikan tidak akan diampuni oleh Allah jika dibawa mati oleh pelakunya dan ia belum bertaubat kepada Allah. Mengerikan bukan?! Lebih mengerikan lagi jika banyak orang yang melakukannnya namun tidak memahami hukumnya. Bisa dibayangkan, pelakunya akan merasa dirinya tidak berbuat dosa padahal dia tengah melakukan perbuatan kekafiran. Pada hakikatnya dia sedang melakukan kesyirikan sementara dia tidak tahu kalau yang ia lakukan adalah kesyirikan. Bagaimana ia akan bertaubat kepada Allah apabila ia merasa tidak melakukan kesalahan. Akhirnya, dia mati membawa dosa syirik, satu dosa yang tidak diampuni oleh Allah. <em>Wal &#8216;iyadzu billaah</em></p>
<p>Dalam ilmu aqidah, keyakinan sial seperti di atas dinamakan <em>thiyaroh</em>. Thiyaroh adalah anggapan akan mendapatkan kesialan karena mendengar atau melihat sesuatu yang tidak disukai, padahal tidak ada bukti ilmiyahnya. Misalnya anggapan <strong>bulan Suro</strong> bulan malapetaka.</p>
<p>Thiyaroh adalah aqidah orang kafir jahiliyah.<br />
Sebelum Islam datang, orang musyrikin Arab memiliki keyakinan yang semodel dengan keyakinan orang jawa. Di antaranya masyarakat jahiliyah menganggap bulan Safar (bulan setelah Muharam dalam kalender hijriyah) sebagai bulan sial. Mereka takut dan tidak mau mengadakan kegiatan apapun di bulan Safar. Mereka juga berkeyakinan sial dengan burung hantu, karena mereka menganggap burung hantu adalah lambang kematian. Jika hinggap di atas rumah kemudian mematuk rumah tersebut, pertanda sebentar lagi akan ada anggota keluarga rumah tersebut yang akan meninggal.</p>
<p>Ketika Islam datang Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> menghapus keyakinan ini, beliau bersabda,</p>
<p class="arab">لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر</p>
<p>&#8220;<em>Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada keyakinan sial karena sebab tertentu, tidak ada keyakinan tentang burung hantu, dan tidak ada kesialan bulan safar</em>.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Namun uniknya, keyakinan ini dihidupkan lagi oleh sebagian kaum muslimin Indonesia. Hanya saja, bulannya berganti. Jika masyarakat jahiliyah meyakini bulan Safar sebagai bulan sial, maka orang Jawa meyakini bulan Suro (Muharram) sebagai bulan sial.</p>
<h2>Hukum Thiyarah</h2>
<p>Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">الطيرة شرك، الطيرة شرك&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik…</em> (beliau ulangi tiga kali)&#8221; (HR. Abu Daud dan Turmudzi).</p>
<p>Dalam hadis ini, Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> menegaskan status perbuatan <em>thiyaroh</em> dan beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. Menunjukkan betapa pentingnya hal ini untuk diingatkan. <em>Thiyaroh</em> dikatakan bentuk kesyirikan dan mengurangi tauhid seseorang, karena dalam <em>thiyaroh</em> terdapat dua hal:</p>
<ol>
<li> Memutus tawakkal kepada Allah dan bertawakkal kepada selain Allah.</li>
<li>Bergantung pada sesuatu yang tidak ada hakikatnya.</li>
</ol>
<p>Ulama menjelaskan bahwa hukum <em>thiyaroh</em> sebagai perbuatan kesyirikan dirinci menjadi dua:<br />
a.	Syirik kecil (tidak menyebabkan keluar dari Islam), jika kejadian aneh, bulan Suro, burung hantu atau yang lainnya hanya dianggap sebagai sebab kesialan. Meskipun dia meyakini bahwa pencipta kesialan itu sendiri adalah Allah. Perbuatan ini digolongkan kesyirikan karena pelakunya bersandar pada sesuatu yang dia yakini sebagai sebab munculnya kesialan, padahal itu bukan sebab.<br />
b.	Syirik besar (pelakunya diancam dengan kekafiran), jika diyakini bahwa bulan Suro yang mengatur terjadinya kesialan, bukan Allah. Keyakinan ini sama dengan menganggap ada makhluk yang bisa mengatur alam dengan mendatangkan bencana atau sial.<br />
(<em>Qoulul Mufid Syarh Kitab Tauhid</em>, 1:575).</p>
<h3>Pengaruh Thiyarah</h3>
<p>Setiap orang yang terjangkit penyakit <em>thiyaroh</em> akan terjebak dalam dua keadaan yang dua-duanya tercela:<br />
<strong>Pertama</strong>, membatalkan agenda yang telah direncanakan karena takut akan tertimpa kesialan. Perbuatan ini sangat tercela karena persis sebagaimana yang dilakukan orang musyrik jahiliyah. Pelaku perbuatan ini telah terjerumus dalam kesyirikan yang statusnya sebagaimana rincian tentang syirik di atas. Nabi <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">من ردته الطِيَرة من حاجة فقد أشرك</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang membatalkan agendanya karena thiyaroh maka dia telah berbuat syirik</em>.&#8221;<br />
Sahabat bertanya, &#8220;Lalu apakah tebusannya?&#8221; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, &#8220;Ucapkan,</p>
<p class="arab">« اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ »</p>
<p><em>Allaahumma laa khaira illa khairuka wa laa thiyaro illa thiyaruka wa laa ilaaha ghoiruka</em><br />
&#8220;<em>Yaa Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, tiada kesialan kecuali sial karena taqdir-Mu, dan tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau</em>.&#8221; (HR. Imam Ahmad, no.7242, hadis hasan)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tetap melakukan agenda kegiatan yang telah id jadwalkan, namun disertai dengan perasaan was-was dan khawatir, jangan-jangan nanti sial. Kualitas (nilai) keburukannya lebih rendah dari yang pertama, namun keadaan ini bukti rendahnya kualitas tawakkal dan tauhid pelakunya.</p>
<h3>Terapi Untuk Mengobati Thiyarah</h3>
<p>Penyakit aqidah yang sudah mendarah daging akan sangat sulit untuk bisa disembuhkan dan dihilangkan dalam sekejap. Sangat jarang ada orang yang bisa selamat dari penyakit <em>thiyaroh</em> ini. Bahkan para sahabat sendiri -manusia paling baik di umat ini- masih terjangkit penyakit ini. Sebagaimana sabda Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em>,</p>
<p class="arab">الطيرة شرك، الطيرة شرك&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik..(3X)</em>. kemudian Ibn Mas&#8217;ud <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, &#8220;Tidak ada seorangpun di antara kita kecuali (terjangkit dalam hatinya penyakit <em>thiyaroh</em> ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.&#8221; (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).<br />
Maksud perkataan Ibn Mas&#8217;ud adalah munculnya perasaan was-was yang dialami para sahabat. (<em>&#8216;Aunul Ma&#8217;bud Syarh Sunan Abi Daud</em>, 10:288).</p>
<p>Namun kata &#8220;sulit&#8221; bukanlah alasan untuk tidak mengobati penyakit membahayakan ini. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menterapi diri dari penyakit <em>thiyaroh</em>:</p>
<ol>
<li> Memperdalam ilmu tuhid dan aqidah. Karena dengan modal ilmu, seseorang bisa berjalan sesuai jalur yang syariat tentukan.</li>
<li>Memahami dan meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini mutlak berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Tidak ada satu pun makhlukq yang bisa ikut campur.</li>
<li>Bertawakkal dan pasrah sepenuhnya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Sebagaimana yang dilakukan para sahabat.</li>
<li>Sering-sering memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan dan gangguan setan. Terutama ketika muncul perasan khawatir dan was-was. Kemudian lindungi diri kita dari godaan setan dengan membasahi mulut ini dengan dzikir-dzikir yang sesuai syari&#8217;at.</li>
<li>Jangan menggagalkan satu rencana yang sudah diagendakan, disebabkan munculnya perasaan was-was. Karena hal ini berarti menjerumuskan kita kepada kesyirikan.</li>
<li>Tetap optimis untuk meraih keberkahan dari kegiatan yang kita lakukan selama tidak melanggar syariat.</li>
<li>Jangan pedulikan komentar orang yang justru akan memperparah penyakit <em>thiyaroh</em>. Bergaul-lah dengan orang-orang yang bisa membantu kita untuk memperbaiki tauhid dan mempertebal tawakkal.</li>
<li>Lupakan segala bentuk kegagalan dunia dan pasrahkan hasil usaha kita kepada Sang Pengatur alam semesta.</li>
</ol>
<p><em>Wallaahu waliyut Taufiq</em>. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait bulan suro:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../amalan-di-bulan-muharram" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../keutamaan-bulan-muharram" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.</p>
<p>Permasalahan bulan suro.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Bulan Muharram</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-bulan-muharram</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-bulan-muharram#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 00:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8913</guid>
		<description><![CDATA[Keutamaan bulan Muharram Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Banyak orang berkeyakinan, bulan Muharram adalah bulan yang istimewa. Sebenarnya ada tidak keutamaan bulan Muharram itu? Mohon dijelaskan dalilnya. Matur nuwun Abu Ahmad (texxxxxxxxx@yahoo.com) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Bulan Muharram termasuk bulan yang istimewa. Banyak dalil yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Keutamaan bulan Muharram</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum<br />
Banyak orang berkeyakinan, bulan Muharram adalah bulan yang istimewa. Sebenarnya ada tidak keutamaan bulan Muharram itu? Mohon dijelaskan dalilnya.<br />
Matur nuwun</p>
<p>Abu Ahmad (texxxxxxxxx@yahoo.com)<br />
<span id="more-8913"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam<br />
Bulan Muharram termasuk bulan yang istimewa. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah dan rasul-Nya memuliakan bulan Muharram, di antaranya adalah:</p>
<p>1. Termasuk Empat Bulan Haram (suci)</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..</em>” (QS. At-Taubah: 36)</p>
<p><strong>Keterangan:</strong><br />
a. Yang dimaksud empat bulan haram adalah bulan Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram (tiga bulan ini berurutan), dan Rajab.<br />
b. Disebut bulan haram, karena bulan ini dimuliakan masyarakat Arab, sejak zaman jahiliyah sampai zaman Islam. Pada bulan-bulan haram tidak boleh ada peperangan.<br />
c. Az-Zuhri mengatakan,</p>
<p class="arab">كان المسلمون يعظمون الأشهر الحرم</p>
<p>“Dulu para sahabat menghormati syahrul hurum” (HR. Abdurrazaq dalam <em>Al-Mushannaf</em>, no.17301).</p>
<p>2.  Dari Abu Bakrah <em>radhiallahu‘anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban</em>.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>3.  Dinamakan Syahrullah (Bulan Allah)<br />
Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم</p>
<p>“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Keterangan:</strong><br />
a. Imam An Nawawi mengatakan, &#8220;Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-sunnah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa sunnah">puasa sunnah</a>.&#8221; (<em>Syarah Shahih Muslim</em>, 8:55)<br />
b. As-Suyuthi mengatakan, Dinamakan syahrullah –sementara bulan yang lain tidak mendapat gelar ini– karena nama bulan ini “Al-Muharram” nama nama islami. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Nama-nama bulan lainnya sudah ada di zaman jahiliyah. Sementara dulu, orang jahiliyah menyebut bulan Muharram ini dengan nama Shafar Awwal. Kemudian ketika Islam datanng, Allah ganti nama bulan ini dengan Al-Muharram, sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada dirinya (Syahrullah). (<em>Syarh Suyuthi ‘Ala shahih Muslim</em>, 3:252)<br />
c. Bulan ini juga sering dinamakan: Syahrullah Al Asham [arab: شهر الله الأصم ] (Bulan Allah yang Sunyi). Dinamakan demikian, karena sangat terhormatnya bulan ini (<em>Lathaif al-Ma’arif</em>, Hal. 34). karena itu, tidak boleh ada sedikitpun friksi dan konflik di bulan ini.</p>
<p>4.  Ada satu hari yang sangat dimuliakan oleh para umat beragama. Hari itu adalah hari Asyura’. Orang Yahudi memuliakan hari ini, karena hari Asyura’ adalah hari kemenangan Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya. Dari Ibnu Abbas <em>radhiallahu‘anhuma</em>, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ</p>
<p>Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, &#8220;Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari)</p>
<p>5.  Para ulama menyatakan bahwa bulan Muharram adalah adalah bulan yang paling mulia setelah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a><br />
Hasan Al-Bashri mengatakan,</p>
<p class="arab">إن الله افتتح السنة بشهر حرام وختمها بشهر حرام فليس شهر في السنة بعد شهر رمضان أعظم عند الله من المحرم وكان يسمى شهر الله الأصم من شدة تحريمه</p>
<p>Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini. (<em>Lathaiful Ma’arif</em>, Hal. 34)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-bulan-muharram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan di Bulan Muharram</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/amalan-di-bulan-muharram</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/amalan-di-bulan-muharram#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 00:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8907</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah beberapa amalan sunnah di bulan Muharram: Memperbanyak puasa selama bulan Muharram Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أفضل الصيام بعد رمضان ، شهر الله المحرم “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Berikut adalah beberapa amalan sunnah di bulan Muharram:</h2>
<p><strong>Memperbanyak puasa selama bulan Muharram</strong><br />
Dari Abu Hurairah <em>radliallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">أفضل الصيام بعد رمضان ، شهر الله المحرم</p>
<p><em>“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.”</em> (HR. Muslim)<br />
<span id="more-8907"></span><br />
Dari Ibn Abbas <em>radliallahu ‘anhuma</em>, beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّلة على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء ، وهذا الشهر – يعني شهر رمضان</p>
<p>“Saya tidak pernah melihat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a>.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Puasa Asyura’ (puasa tanggal 10 Muharram)</p>
<p>Dari Abu Musa Al Asy’ari <em>radliallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">كان يوم عاشوراء تعده اليهود عيداً ، قال النبي صلى الله عليه وسلم : « فصوموه أنتم ».</p>
<p>Dulu hari Asyura’ dijadikan orang yahudi sebagai hari raya. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Puasalah kalian.”</em> (HR. Al Bukhari)</p>
<p>Dari Abu Qatadah Al Anshari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">سئل عن صوم يوم عاشوراء فقال كفارة سنة</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).</p>
<p>Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لأَصْحَابِهِ «أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ ، فَصُومُوا».</p>
<p>Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepada para sahabat: <em>“Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah.”</em> (HR. Al Bukhari)</p>
<p><strong>Keterangan:</strong><br />
Puasa Asyura’ merupakan kewajiban puasa pertama dalam islam, sebelum Ramadlan. Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz <em>radliallahu ‘anha</em>, beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">أرسل النبي صلى الله عليه وسلم غداة عاشوراء إلى قرى الأنصار : ((من أصبح مفطراً فليتم بقية يومه ، ومن أصبح صائماً فليصم)) قالت: فكنا نصومه بعد ونصوّم صبياننا ونجعل لهم اللعبة من العهن، فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناه ذاك حتى يكون عند الإفطار</p>
<p>Suatu ketika, di pagi hari <a href="http://konsultasisyariah.com/menghitung-zakat-perdagangan">Asyura’</a>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka. (HR. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, puasa Asyura’ menjadi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-sunnah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa sunnah">puasa sunnah</a>. A’isyah <em>radliallahu ‘anha</em> mengatakan:</p>
<p class="arab">كان يوم عاشوراء تصومه قريش في الجاهلية ،فلما قد المدينة صامه وأمر بصيامه ، فلما فرض رمضان ترك يوم عاشوراء ، فمن شاء صامه ، ومن شاء تركه</p>
<p>Dulu hari Asyura’ dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tiba di Madinah, beliau melaksanakn puasa Asyura’ dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, beliau tinggalkan hari Asyura’. Siapa yang ingin puasa Asyura’ boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura’ boleh tidak puasa. (HR. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>Puasa Tasu’a (puasa tanggal 9 Muharram)</strong></p>
<p>Dari Ibn Abbas <em>radliallahu ‘anhuma</em>, beliau menceritakan:</p>
<p class="arab">حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه ، قالوا : يا رسول الله ! إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((فإذا كان العام المقبل ، إن شاء الله ، صمنا اليوم التاسع )) . قال : فلم يأت العام المقبل حتى تُوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم</p>
<p>Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsudah diwafatkan. (HR. Al Bukhari)</p>
<h3>Adakah anjuran puasa tanggal 11 Bulan Muharram?</h3>
<p>Sebagian ulama berpendapat, dianjurkan melaksanakan puasa tanggal 11 Muharram, setelah puasa Asyura’. Pendapat ini berdasarkan hadis:</p>
<p class="arab">صوموا يوم عاشوراء وخالفوا فيه اليهود وصوموا قبله يوما أو بعده يوما</p>
<p><em>“Puasalah hari Asyura’ dan jangan sama dengan model orang yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”</em> (HR. Ahmad, Al Bazzar).</p>
<p>Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir. Hadis ini juga dikuatkan hadis lain, yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra dengan lafadz:</p>
<p class="arab">صوموا قبله يوماً وبعده يوماً</p>
<p><em>“Puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.&#8221;</em></p>
<p>Dengan menggunakan kata hubung وَ (yang berarti “dan”) sementara hadis sebelumnya menggunakan kata hubung أَوْ (yang artinya “atau”).</p>
<p><strong>Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan status hadis di atas:</strong><br />
Hadis ini diriwayatkan Ahmad dan al-Baihaqi dengan sanad dhaif, karena keadaan perawi Muhammad bin Abi Laila yang lemah. Akan tetapi dia tidak sendirian. Hadis ini memiliki jalur penguat dari Shaleh bin Abi Shaleh bin Hay. (<em>Ittihaf al-Mahrah</em>, hadis no. 2225)<br />
Demikian keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajed.</p>
<p>Sementara itu, ulama lain berpendapat bahwa puasa tanggal 11 tidak disyariatkan, karena hadis ini sanadnya dhaif. Sebagaimana keterangan Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam ta’liq musnad Ahmad. Hanya saja dianjurkan untuk melakukan puasa tiga hari, jika dia tidak bisa memastikan tanggal 1 Muharam, sebagai bentuk kehati-hatian.<br />
Imam Ahmad mengatakan:</p>
<p>Jika awal bulan Muharram tidak jelas maka sebaiknya puasa tiga hari: (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram), Ibnu Sirrin menjelaskan demikian. Beliau mempraktekkan hal itu agar lebih yakin untuk mendapatkan puasa tanggal 9 dan 10. (<em>Al Mughni</em>, 3/174. Diambil dari <em>Al Bida’ Al Hauliyah</em>, hal. 52).</p>
<p>Disamping itu, melakukan puasa 3 hari, di tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, masuk dalam cakupan hadis yang menganjurkan untuk memperbanyak puasa selama di bulan Muharram. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah <em>radliallahu ‘anh</em>u, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)</p>
<p>Ibnul Qayim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan:</p>
<ol>
<li> Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan sehari setelahnya.</li>
<li>Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak hadis.</li>
<li>Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja.</li>
</ol>
<p>(<em>Zadul Ma’ad</em>, 2/72)</p>
<h3>Bolehkah puasa tanggal 10 saja?</h3>
<p>Sebagian ulama berpendapat, puasa tanggal 10 saja hukumnya makruh. Karena Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berencana untuk puasa tanggal 9, di tahun berikutnya, dengan tujuan menyelisihi model puasa orang yahudi. Ini merupakan pendapat Syaikh Ibn Baz <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Sementara itu, ulama yang lain berpendapat bahwa melakukan puasa tanggal 10 saja tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik, diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, dalam rangka melaksanakan sunnah Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dalam <em>majmu’ fataw</em>a, Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya:<br />
Bolehkah puasa tanggal 10 Muharam saja, tanpa puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Mengingat ada sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum makruh untuk puasa tanggal 10 muharram telah hilang, disebabkan pada saat ini, orang yahudi dan nasrani tidak lagi melakukan puasa tanggal 10.<br />
Beliau menjawab:<br />
Makruhnya puasa pada tanggal 10 saja, bukanlah pendapat yang disepakati para ulama. Diantara mereka ada yang berpendapat tidak makruh melakukan puasa tanggal 10 saja, namun sebaiknya dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Dan puasa tanggal 9 lebih baik dari pada puasa tanggal 11. Maksudnya, yang lebih baik, dia berpuasa sehari sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika saya masih hidup tahun depan, saya akan puasa tanggal sembilan (muharram).” maksud beliau adalah puasa tanggal 9 dan 10 muharram….. Pendapat yang lebih kuat, melaksanakan puasa tanggal 10 saja hukumnya tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik adalah diiringi puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. (<em>Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin</em>, 20/42)</p>
<p><strong>Artikel KonsultasiSyariah.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/amalan-di-bulan-muharram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Nadzar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-nadzar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-nadzar#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 02:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8462</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Nadzar Pertanyaan: Dalam acara radio di Arab Saudi -Nur &#8216;ala Darb- Syekh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin pernah ditanya. Apa hukumnya ber-nadzar, apakah halal atau haram? Jawaban: Syekh Utsaimin menjawab, Menurut saya, pendapat yang paling kuat mengenai hukum nadzar adalah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Nadzar</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Dalam acara radio di Arab Saudi -Nur &#8216;ala Darb- Syekh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin pernah ditanya. Apa hukumnya ber-<strong>nadzar</strong>, apakah halal atau haram?<br />
<span id="more-8462"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Syekh Utsaimin menjawab,<br />
Menurut saya, pendapat yang paling kuat mengenai hukum nadzar adalah haram. Berdasarkan larangan dalam sabda Nabi shalallahu &#8216;alahi wa sallam. Hukum asal pada suatu larangan adalah haram. Selain itu, nadzar juga merupakan perbuatan yang membebani diri dengan sesuatu yang Allah tidak bebankan kepada manusia. Oleh karena itu, sering kita jumpai banyak orang-orang yang bernadzar tidak menunaikan nadzar mereka, perbuatan ini tentunya berbahaya bagi mereka.<br />
Mayoritas orang, bilamana dihimpit oleh kesulitan yang menyesakkan, mereka menadzarkan sesuatu yang berat -dengan harapan semakin berat nadzar, akan lebih cepat pengabulan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>- namun pada akhirnya mereka merasa terbebani dalam penunaiannya. Ini benar-benar masalah yang sangat serius.<br />
Kiranya inilah pendapatku yang berkeyakinan kuat atau lebih condong bahwa nadzar merupakan suatu keharaman bukan sesuatu yang makruh karena Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam melarangnya. Dan sekali lagi saya ulangi, asal hukum dalam sesuatu yang dilarang adalah haram. Apalagi dalam perbuatan nadzar tersebut terdapat sesuatu yang membebani manakala seseorang mewajibkan atas dirinya sesuatu yang tidak diwajibkan oleh syariat, padahal dalam permasalahan tersebut seseorang memiliki kelonggaran.</p>
<p>Sumber:<em> http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_3210.shtml</em></p>
<p>Kami menduga hadis yang dimaksudkan oleh Syekh Utsaimin adalah</p>
<p class="arab">لاَ تَنْذُرُوا فَإِنَّ النَّذْرَ لاَ يُغْنِى مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ</p>
<p>&#8220;Janganlah bernadzar. Karena nadzar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit.&#8221; (HR. Muslim no. 4329)</p>
<p><strong>Diterjemahkan oleh tim <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a></strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait nadzar:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/nadzar-shalat-baitul-maqdis" target="_blank">Nadzar Shalat Di Baitul Maqdis</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/apakah-nadzar-saya-harus-ditunaikan" target="_blank">Wajibnya Menunaikan Nadzar</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-nadzar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Sunah Malam Pertama</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/sebelum-malam-pertama</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/sebelum-malam-pertama#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 01:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8726</guid>
		<description><![CDATA[Adab Malam Pertama Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Apakah ada salat sunah dua rakaat setelah proses akad nikah? Jika ada minta dalilnya Terima kasih Ustadz Faisal (ivXXXXXX@gmail.com) Jawaban: Wa’alaikumussalam Dianjurkan bagi penganti baru, untuk memulai malam pertama-nya dengan salat dua rakaat berjamaah. Dalil ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Adab Malam Pertama</h2>
<p>Pertanyaan:<br />
<em>Assalamu&#8217;alaikum</em><br />
Apakah ada salat sunah dua rakaat setelah proses akad nikah? Jika ada minta dalilnya<br />
Terima kasih Ustadz</p>
<p><em>Faisal (ivXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-8726"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam</em></p>
<p>Dianjurkan bagi penganti baru, untuk memulai <strong>malam pertama</strong>-nya dengan salat dua rakaat berjamaah. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah:</p>
<p>Dalil pertama</p>
<p>Dari Abu Said beliau mengatakan,</p>
<p>Saya menikahi seorang wanita, ketika saya masih sebagai budak. Kemudian saya mengundang beberapa sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Di antara mereka ada Ibnu Mas&#8217;ud, Abu Dzar, dan Hudzifah <em>radhiallahu&#8217;anhum</em>. Lalu tibalah waktu salat, Abu Dzar bergegas untuk mengimami salat. Tetapi mereka mengatakan ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzar) berkata, ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka salat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku</p>
<p class="arab">إذا دخل عليك أهلك فصل ركعتين ثم سل الله من خير ما دخل عليك وتعوذ به من شره ثم شأنك وشأن أهلك</p>
<p>“Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua salat dua rakaat. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kalian berdua.” (HR. Ibnu Abi Syaibah <em>A</em><em>l-Mushannaf</em> no. 29733 dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Dalil kedua,</p>
<p>Dari Syaqiq, beliau mengatakan:</p>
<p>Ada seseorang yang bernama Abu Hariz mengatakan, “Saya menikahi seorang perawan yang masih muda, dan saya khawatir dia akan membenciku. Kemudian Ibnu Mas&#8217;ud memberi nasihat,</p>
<p class="arab">إن الإلف من الله والفرك من الشيطان يريد أن يكره إليكم ما أحل الله لكم فإذا أتتك فأمرها أن تصلي وراءك ركعتين</p>
<p>“Sesungguhnya kasih sayang itu dari Allah dan kebencian itu dari setan untuk membenci sesuatu yang dihalalkan Allah kepadamu. Jika isterimu datang kepadamu, perintahkanlah istrimu untuk melaksanakan salat dua rakaat di belakangmu. Lalu ucapkanlah,</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِي وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ بِخَيْرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ</p>
<p>&#8220;Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.&#8221;(Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam <em>A</em><em>l-Mushannaf</em> no. 17156 dan dishahihkan Al-Albani).</p>
<h3>Tata caranya shalat sebelum malam pertama:</h3>
<ol>
<li>Tata cara salat dua rakaat ketika <strong>malam pertama</strong> sama dengan tata cara salat biasa.</li>
<li>Suami menjadi imam bagi istrinya.</li>
<li>Bacaan salat boleh dikeraskan.</li>
<li>Tidak ada anjuran untuk membaca surat atau ayat tertentu.</li>
<li>Tidak ada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> khusus, selain <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> di atas dan dibaca setelah salat.</li>
</ol>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/sama-hari-lahir-nikahpun-sulit">Sama Hari Lahir, Nikah Dipersulit</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/taubat-dari-zina">Masih SMA, Sudah Berzina</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/ijab-kabul-akad-nikah">Lafal Ijab Kabul yang Benar</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar">Selingkuh dengan Ipar</a>.</p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/adakah-sholat-2-rakaat-ketika-suami-hendak-mendatangi-istrinya">Shalat 2 Rakaat Untuk Malam Pertama</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/sebelum-malam-pertama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Doa dengan Suara Lirih</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-dengan-suara-lirih</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-dengan-suara-lirih#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 02:10:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8674</guid>
		<description><![CDATA[Keutamaan Doa dengan Suara Lirih Ustadz, Apa sih keutamaan kita berdoa dengan suara lirih? Penanya: Hamba Allah (XXXXXXur@gmail.com) Jawaban: Keutamaan Doa dengan Suara Lirih Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam fatawanya menyebutkan 10 keutamaan berdoa dengan suara yang rendah dibanding berdoa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Keutamaan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">Doa</a> dengan Suara Lirih</h2>
<p>Ustadz, Apa sih keutamaan kita ber<strong>doa</strong> dengan suara lirih?</p>
<p>Penanya: <em>Hamba Allah (XXXXXXur@gmail.com)</em><br />
<span id="more-8674"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Keutamaan Doa dengan Suara Lirih</h3>
<p>Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam fatawanya menyebutkan 10 keutamaan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">berdoa</a> dengan suara yang rendah dibanding <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">berdoa</a> dengan suara keras, yaitu:</p>
<ol>
<li>Menunjukkan kuatnya iman, karena orang yang berdoa dengan suara lirih ini meyakini bahwa Allah Maha Mendengar doa  walaupun dengan suara yang lembut.</li>
<li>Ekspresi kesopanan dan pengagungan (kepada Allah). Seorang raja saja, tidak ada orang yang berani meninggikan suara di hadapannya, lebih utama lagi Allah Yang Maha Mendengar doa dengan suara yang lirih. Tidak pantas dihadapan-Nya (diajukan permintaan) kecuali dengan suara yang lembut.</li>
<li>Perwujudan rasa rendah diri dan kekhusyuan.</li>
<li>Tanda keihklasan yang mendalam.</li>
<li>Fokus dan konsentrasinya hati pada rasa rendah diri (kepada Allah -pen) ketika berdoa berbeda dengan mengangkat suara yang membuyarkan konsentrasi tersebut.</li>
<li>Faidah yang paling besar- Adanya rasa kedekatan antara yang berdoa dan yang dipintai doa. Beda halnya seruan seseorang yang memiliki rasa emosional yang jauh. Oleh karena itu, Allah memuji hamba-Nya (nabi) Zakariya dengan (menyebut sifat atau cara berdoanya) firman-Nya &#8220;Ketika dia meminta kepada Rab-nya dengan suara yang lirih.&#8221;</li>
<li>Cara ini membuat doa dan permintaan tersebut dilakukan terus-menerus karena tidak membuat lisan bosan dan capek. Berbeda halnya dengan mengangkat suara yang terkadang membuat bosan dan capek.</li>
<li>Doa yang lirih ini pun menghindarkan orang yang berdoa dari gangguan.</li>
<li>Termasuk nikmat yang besar yaitu dengan menghadapkan diri dan hati dalam beribadah. (pepatah mengatakan) Setiap yang nikmat itu ada yang iri tergantung dengan besar atau kecilnya (nikmat tersebut). Dan tidak ada nikmat yang lebih besar dari nikmat ini.</li>
<li>Sesungguhnya doa termasuk dzikir kepada Allah, yang terkandung di dalamnya permintaan dan pujian kepada-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan doa adalah dzikir plus.</li>
</ol>
<p>Diterjemahkan oleh tim Konsultasi Syariah dari <em>Kitabu l-Adab</em>, <em>Bab Adabu l-Du&#8217;a</em> hal:363-364</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-mengheningkan-cipta" target="_blank">Hukum Mengheningkan Cipta</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/doa-dengan-shalawat" target="_blank">Doa Tidak Dikabulkan Tanpa Shalawat</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/lafal-amin-yang-benar" target="_blank">Lafal &#8220;Amin&#8221; yang Benar</a>.</p>
<p>4. <a rel="nofollow" href="../tata-cara-berdoa" target="_blank">Tata Cara Doa Sesuai Tuntunan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-dengan-suara-lirih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/takbiran-dulu-atau-dzikir-dulu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/takbiran-dulu-atau-dzikir-dulu#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 02:08:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[bunyi takbir]]></category>
		<category><![CDATA[daging kurban]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir takbiran]]></category>
		<category><![CDATA[ebook kurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum takbiran]]></category>
		<category><![CDATA[jual kambing kurban]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[lafadz takbiran]]></category>
		<category><![CDATA[tabiran hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[takbir]]></category>
		<category><![CDATA[takbiran sesudah shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8570</guid>
		<description><![CDATA[Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu Assalamualaikum. Pada hari tasyrik 11,12,13 ketika selesai shalat berjamaah, mana lebih utama takbiran atau atau dzikir sesudah shalat dan bagaimana yang lebih afdhalnya? Terimakasih atas penjelaasan ustadz&#8230; Rohaniah Islam (XXXXXXXXXXXX@gmail.com) Jawaban: Wa alaikumus salam Takbiran ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu</h2>
<p>Assalamualaikum. Pada hari <em>tasyrik</em> 11,12,13 ketika selesai shalat berjamaah, mana lebih utama <strong>takbiran</strong> atau atau dzikir sesudah shalat dan bagaimana yang lebih afdhalnya?<br />
Terimakasih atas penjelaasan ustadz&#8230;</p>
<p><em>Rohaniah Islam (XXXXXXXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-8570"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa alaikumus salam</p>
<h3>Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu</h3>
<p>Keterangan Syaikh Khalid Al-Musyaiqih,</p>
<p class="arab">ومتى يكبر ؟ هل يكبر بعد السلام مباشرة أو عقب الذكر ؟<br />
نقول يكبر بعد الاستغفار وقول :( اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام ) ، فيستغفر الله ثلاثاً ثم يقول :( اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام ) ثم يشرع في التكبير ، يكبر ما شاء الله عز وجل ثم بعد ذلك يعود لأذكاره</p>
<p>Kapan mulai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/takbir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with takbir">takbir</a> setelah shalat? Apakah langsung bertakbir persis setelah salam ataukah setelah Dzikir?</p>
<p>Jawab:<br />
Kami katakan, sebaiknya bertakbir setelah istighfar dan membaca,</p>
<p class="arab">اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام</p>
<p>Hendaknya dia istighfar 3 kali kemudian membaca; dzikir di atas (<em>Allahumma antas salam</em>&#8230;. dst.), setelah itu mulai bertakbir. Dia bisa bertakbir dengan jumlah bebas, kemudian kembali berdzikir lagi.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=264613</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel www.KonsultadiSyariah.com</strong></p>
<p>Materi terkait takbiran:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/takbiran-sebelum-idul-adha">Hukum Takbiran Sebelum Idul Adha</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/adakah-takbiran-saat-terjadi-gerhana" target="_blank">Takbiran Saat Gerhana</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/takbiran-jamaah-mikrofon" target="_blank">Takbiran Menggunakan Mikrofon</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>lafadz takbiran</strong>, <strong>daging kurban</strong>, <strong>hukum takbiran</strong>, <strong>akikah</strong>, <strong>bunyi takbir</strong>, <strong>dzikir takbiran</strong>, <strong>takbiran sesudah shalat</strong>, <strong>ebook kurban</strong>, <strong>jual kambing kurban</strong>, <strong>takbir</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/takbiran-dulu-atau-dzikir-dulu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan Hari Tasyrik</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/amalan-hari-tasyrik</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/amalan-hari-tasyrik#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 05:54:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[amalan tasyrik]]></category>
		<category><![CDATA[daging kurban]]></category>
		<category><![CDATA[ebook kurban]]></category>
		<category><![CDATA[hari tasyrik]]></category>
		<category><![CDATA[hari-hari tasyrik]]></category>
		<category><![CDATA[jual kambing kurban]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8544</guid>
		<description><![CDATA[Amalan Hari Tasyrik Hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari penuh kemuliaan, hari di mana jamaah haji melaksanakan ritual melempar jumrah, dan hari dimana umat Islam di negeri lainnya sibuk dengan menyembelih kurban. Banyak keutamaan dan amalan mulia yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Amalan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hari-tasyrik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hari tasyrik">Hari Tasyrik</a></h2>
<p><strong>Hari Tasyrik</strong> (11, 12, 13 <a href="http://konsultasisyariah.com/amalan-bulan-dzulhijjah">Dzulhijjah</a>) adalah hari penuh kemuliaan, hari di mana jamaah haji melaksanakan ritual melempar jumrah, dan hari dimana umat Islam di negeri lainnya sibuk dengan menyembelih <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kurban" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kurban">kurban</a>. Banyak keutamaan dan amalan mulia yang bisa dilaksanakan di hari Tasyrik. Tulisan yang sederhana ini akan menjelaskan beberapa di antaranya :<br />
<span id="more-8544"></span></p>
<h2>Hari ‘Id Kaum Muslimin</h2>
<p>Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Tasyrik termasuk hari id kaum muslimin. Disebutkan dalam hadis,</p>
<p class="arab">يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ</p>
<p>“<em>Hari Arafah, hari Idul Adha, dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hari-hari-tasyrik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hari-hari tasyrik">hari-hari Tasyrik</a> adalah ‘id kami -kaum muslimin-. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyrik) adalah hari menyantap makan dan minum.</em>”</p>
<h3>Hari Idul Adha dan Hari Tasyrik Adalah Hari Yang Paling Mulia</h3>
<p>Mengenai keutamaan hari Idul Adha dan hari Tasyrik (11, 12 ,dan 13 Dzulhijah) disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud,</p>
<p class="arab">إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ</p>
<p><em>“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr (hari Tasyrik).”</em></p>
<p>Hari Tasyrik disebut <em>yaumul qor </em>karena pada saat itu orang yang berhaji berdiam di Mina. Apabila dirinci mengenai keutamaan dari tiga hari Tasyrik ini, maka yang terbaik di antara tiga hari tersebut adalah hari Tasyrik yang pertama, kemudian yang kedua, dan yang terakhir adalah hari ketiga.</p>
<h3>Hari Idul Adha dan Hari Tasyrik, Hari Bersenang-Senang Untuk Menyantap Makanan</h3>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan, bahwa Idul Adha dan hari Tasyrik adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan. Nabi  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab">أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ</p>
<p>“<em>Hari-hari Tasyrik adalah hari menikmati makanan dan minuman.</em>”</p>
<p>Dalam lafazh lainnya, beliau bersabda,</p>
<p class="arab">وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ</p>
<p>“<em>Hari Mina (hari Tasyrik) adalah hari menikmati makanan dan minuman.</em>”</p>
<p>Yang dimaksud dengan hari Mina di sini adalah <em>ayyam ma’dudaat</em> sebagaimana yang disebutkan dalam ayat,</p>
<p class="arab">وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ</p>
<p>“<em>Dan berDzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.</em>” (QS. Al Baqarah: 203).</p>
<p>Yang dimaksud hari yang terbilang adalah hari-hari setelah hari Idul Adha (hari <em>an-nahr</em>) yaitu hari-hari Tasyrik. Inilah pendapat Ibnu Umar dan pendapat kebanyakan ulama. Namun Ibnu Abbas dan Atha mengatakan bahwa hari yang terbilang di situ adalah empat hari yaitu hari Idul Adha dan tiga hari sesudahnya. Hari-hari tersebut disebut hari Tasyrik. Pendapat pertama yang menyatakan bahwa hari yang terbilang adalah tiga hari sesudah Idul Adha adalah pendapat yang lebih tepat.</p>
<h3>Hari Tasyrik Adalah Hari Berdzikir</h3>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 203 di atas (yang artinya), “<em>Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.</em>” Ini menunjukkan adanya perintah berdzikir di hari-hari Tasyrik.</p>
<p>Lalu apa saja dzikir yang dimaksudkan ketika itu? Beberapa dzikir yang diperintahkan oleh Allah di hari-hari Tasyrik ada beberapa macam:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: berdzikir kepada Allah dengan bertakbir setelah selesai menunaikan salat wajib. Perbuatan ini disyariatkan hingga akhir hari Tasyrik sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini juga diriwayatkan dari Umar, Ali, dan Ibnu Abbas.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: membaca <em>tasmiyah</em> (bismillah) dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/takbir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with takbir">takbir</a> ketika menyembelih kurban. Waktu penyembelihan kurban berakhir pada akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijah) sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini juga menjadi pendapat Imam Asy-Syafii dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Namun mayoritas sahabat berpendapat bahwa waktu menyembelih kurban hanya tiga hari yaitu hari Idul Adha dan dua hari Tasyrik setelahnya (11 dan 12 Dzulhijah). Pendapat kedua ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, juga termasuk pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan kebanyakan ulama.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span></strong>: berdzikir memuji Allah <em>Ta’ala</em> ketika makan dan minum. Amalan yang disyariatkan ketika memulai makan dan minum adalah membaca basmallah dan mengakhirinya dengan hamdalah.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span>: berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari Tasyrik. Amalan ini khusus untuk orang yang berhaji.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kelima</span>: Berdzikir pada Allah secara mutlak karena kita dianjurkan memperbanyak dzikir di hari-hari Tasyrik. Sebagaimana Umar ketika itu pernah berdzikir di Mina di dalam kemahnya, lalu orang-orang mendengar suara dzikirnya. Mereka pun bertakbir dan Mina akhirnya penuh dengan takbir.</p>
<h3>Dianjurkan Memperbanyak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">Doa</a> “Sapu Jagad”</h3>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p>
<p>“<em>Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">berdoa</a>: &#8220;Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia&#8221;, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">berdoa</a>: &#8220;<span style="text-decoration: underline;">Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka]</span></em>.” (QS. Al Baqarah: 200-201).</p>
<p>Dari ayat ini, banyak ulama salaf menganjurkan membaca doa “<em>Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar</em>” di hari-hari Tasyrik. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ikrimah dan Atha.</p>
<p>Doa “sapu jagad” ini terkumpul di dalamnya seluruh kebaikan. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> paling sering membaca doa ini. Anas bin Malik mengatakan,</p>
<p class="arab">كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ-صلى الله عليه وسلم- «اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ»</p>
<p>“<em>Doa yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Allahumma Robbana atina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Allah, Rab kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka]</em>.”</p>
<p>Di dalam doa tersebut telah terkumpul permohonan kebaikan di dunia dan akhirat.</p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “<em>Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.</em>” Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “<em>Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.</em>”</p>
<p>Doa merupakan bagian dari dzikir atau termasuk dzikir, bahkan doa termasuk dzikir yang paling utama.</p>
<p>Diriwayatkan dari Al-Jashshosh, dari Kinanah Al-Qurosy, dia mendengar Abu Musa Al-Asy’ariy mengatakan pada saat berkhutbah di hari An-Nahr (Idul Adha), “<em>Tiga hari setelah hari An-Nahr (yaitu hari-hari Tasyrik), itulah yang disebut oleh Allah dengan ayyam ma’dudat (hari yang terbilang). doa pada hari tersebut tidak akan tertolak (pasti terkabul), maka segeralah berdoa dengan berharap pada-Nya</em>.</p>
<h3>Banyaklah Bersyukur pada Allah di Hari Tasyrik</h3>
<p>Pada hari Tasyrik terkumpul berbagai macam nikmat <em>badaniyah</em> dengan makan dan minum, juga terdapat nikmat <em>qolbiyah</em> (nikmat hati) dengan berdzikir kepada Allah. Sebaik-baik hati adalah yang sering berdzikir dan bersyukur. Dengan demikian nikmat-nikmat tersebut akan menjadi sempurna.<br />
Jika kita diberi taufik untuk mensyukuri nikmat, maka syukur yang baru itu sendiri adalah nikmat. Sehingga perintah syukur selamanya tidak akan usai.</p>
<p>Seorang penyair mengatakan:</p>
<p><em>Idza kana syukri ni’matallah ni’matan, ‘alayya lahu fi mitsliha yajibusy syukr</em></p>
<p><em>Jika mensyukuri nikmat Allah adalah nikmat, maka karena nikmat semisal inilah, kita wajib bersyukur pula.</em></p>
<h3>Makan dan Minum di Hari Tasyrik untuk Memperkuat Ibadah</h3>
<p>Hari Tasyrik disebut dengan hari makan dan minum, juga dzikir kepada Allah. Hal ini pertanda bahwa makan dan minum di hari raya seperti ini dapat menolong kita untuk berdzikir dan melakukan ketaatan pada-Nya. Dengan inilah semakin sempurna rasa syukur terhadap nikmat karena dapat menolong melakukan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, barangsiapa menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat, berarti dia telah kufur pada nikmat.</p>
<p>Maksiat inilah yang nantinya akan menghilangkan nikmat. Sedangkan bersyukur pada Allah itu akan menghilangkan bencana.</p>
<p>Semoga kita dimudahkan untuk beramal saleh dan selalu dimudahkan mendapat ilmu yang bermanfaat, juga semoga kita termasuk hamba Allah yang bersyukur atas segala nikmat.</p>
<p><strong>Penulis :</strong> Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Web <a rel="nofollow" href="http://rumaysho.com/" target="_blank">rumaysho.com</a>)</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kurban</strong>, <strong>amalan tasyrik</strong>, <strong>jual kambing kurban</strong>, <strong>akikah</strong>, <strong>hari tasyrik</strong>, <strong>ebook kurban</strong>, <strong>hari-hari tasyrik</strong>, <strong>daging kurban</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/amalan-hari-tasyrik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Nurbuat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-nurbuat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-nurbuat#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 01:43:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[adab doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[doa nabi]]></category>
		<category><![CDATA[doa nurbuat]]></category>
		<category><![CDATA[doa tuntunan]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8078</guid>
		<description><![CDATA[Doa Nurbuat Assalamu&#8217;alaikum ustad. Ustad, istri saya sedang hamil. Banyak yang menyarankan baik dari keluarga maupun teman kerja untuk mendawamkan (selalu membaca doa) doa nurbuat. Apa doa nurbuat itu Ustadz? Dan apakah doa itu sesuai dengan tuntunan Rosulullah Muhammad shalallahu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa-nurbuat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa nurbuat">Doa Nurbuat</a></h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em> ustad. Ustad, istri saya sedang hamil. Banyak yang menyarankan baik dari keluarga maupun teman kerja untuk mendawamkan (selalu membaca <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>) <strong>doa nurbuat</strong>.<br />
Apa <span style="text-decoration: underline;">doa nurbuat</span> itu Ustadz? Dan apakah doa itu sesuai dengan tuntunan Rosulullah Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? sebab saya khawatir doa itu sama seperti <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-shalawat-di-iringi-rebana" target="_blank"><em>shalawat nariyah</em></a>, yang ternyata setelah mendapatkan penjelasan dari para ustad (melalui Majalah As-Sunnah) <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalawat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalawat">shalawat</a> nariyah itu dilarang.  Mohon penjelasannya Ustadz. Terimakasih.</p>
<p>Penanya: <em>cikalXXXXXXXXX@yahoo.co.id</em><br />
<span id="more-8078"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam</em></p>
<h3>Doa Nurbuat</h3>
<p>Teks doanya:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ العَظِيم وَذِى الـمَنِّ القَدِيم وَذِى الوَجْه الكَرِيم وَوَلِيِّ الكَلِمَات التآمات وَالدَّعَوَاتِ الـمُسْتَجَبَات عَاقِلِ الحَسَنِ والحُسَينِ من انفس الحق عين القدرة والناظرين وعين الجن والإنس والشياطين. وَإِن يَكَادُ الذِّينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبصَارِهِم لما سمعوا الذكر ويقولون إنه لمجنون وماهو الا ذكر للعالمين ومُستجابُ القرآن العظيم وورث سليمان داود عليهما السلام الودود ذو العرش المجيد طَوِّلْ عُمْرِي وصحح جسدي واقض حاجتي واكثر اموالي واولادي وحببني للناس اجمعين وتباعد العداوة كل من بني آدم عليه السلام من كان حيا ويحق القول على الكافرين انك على كل شيء قدير سبحان ربك رب العزة عما يصفون.والسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.</p>
<p>Ada banyak kejanggalan dalam doa nurbuat, diantaranya:</p>
<p><strong>1.</strong> Kesalahan dalam tata bahasa<br />
Teks bagian awal doa ini tidak sesuai dengan kaidah nahwu (tata bahasa Arab). Teks yang keliru:</p>
<p class="arab">[اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ]</p>
<p>seharusnya, dibaca</p>
<p class="arab">[ذَا]</p>
<p>dengan hurup alif bukan</p>
<p class="arab">[ذِى]</p>
<p>Karena Munada Mudhaf harusnya <em>mansub</em> bukan <em>majrur</em>. Namun, anehnya, kesalahan semacam ini terjadi secara berulang-ulang, yaitu di bagian <em>ma&#8217;thuf</em>nya.<br />
Teks</p>
<p class="arab">[وَذِى الـمَنِّ القَدِيم]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَذَا الـمَنِّ القَدِيم]</p>
<p>Teks</p>
<p class="arab">[وَذِى الوَجْه الكَرِيم]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَذَا الوَجْه الكَرِيم]</p>
<p>Teks</p>
<p class="arab">[وَوَلِيِّ الكَلِمَات التآمات]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَوَلِيَّ الكَلِمَاتِ التآمَاتِ]</p>
<p>dengan harakat fathah.</p>
<p><strong>2.</strong> Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan.<br />
Di bagian awal doa, isiny memuji Allah, kemudian tiba-tiba dikutip ayat:</p>
<p class="arab">وَإِن يَكَادُ الذِّينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبصَارِهِم&#8230;</p>
<p><em>“Hampir saja orang-orang kafir hendak menjatuhkanmu dengan pandangan mata mereka.”</em><br />
Ayat ini menceritakan tentang sikap orang kafir yang hendak menyerang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan penyakit &#8216;ain (penyakit karena pandangan hasad). Sehingga mereka bisa membunuh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari jauh.<br />
Jika kita perhatikan, ayat ini tidak memiliki keterkaitan langsung ayat ini dengan pujian untuk Allah dalam bait sebelumnya.</p>
<p><strong>3.</strong> Isi permintaan yang tidak tepat<br />
Dalam doa tersebut ada permintaan:</p>
<p class="arab">[طَوِّلْ عُمْرِي]</p>
<p>Panjangkanlah umurku. Umur panjang secara mutlak bukanlah hal yang terpuji. Karena umur panjang belum tentu berkah. Lebih tepat jika meminta keberkahan umur bukan meminta umur panjang. Sebagaimana yang dilakukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika mendoakan Anas bin Malik:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ</p>
<p>“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)<br />
Nabi tidak mendoakan secara mutlak, tapi beliau iringi dengan doa keberkahan.<br />
Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin pernah ditanya tentang hukum memberikan ucapan &#8220;semoga panjang umur&#8221; Syekh mejawab, Tidak selayaknya mengucapkan &#8220;semoga panjang umur&#8221; secara mutlak, tanpa diikuti dengan kriteria yang lain. Karena panjang umur terkadang baik dan terkadang buruk. Padahal, manusia terjelek adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalnya. Oleh karena itu, andaikan ucapan yang disampaikan, &#8220;Semoga Allah memanjangkan usiamu di atas ketaatan&#8221; atau yang semacamnya maka ini tidak mengapa. (Fatawa as-Syimaliyah, Hal. 24)</p>
<p><strong>4.</strong> Keutamaan yang terlalu berlebihan<br />
Para aktivis pembaca doa ini menceritakan bahwa doa nurbuat memiliki banyak keutamaan. Namun, kebanyakan keutamaan tersebut, hanya terkait kesenangan dunia. Padahal prinsip doa yang diajarkan syariat lebih banyak untuk kepentingan akhirat. Kalaupun isinya memohon kebaikan dunia, pasti juga diiringi dengan permohonan kebaikan akhirat. Diantara keutamaan yang aneh pada doa ini:</p>
<ol>
<li> Dapat bertemu dengan Jin, bisa merubah rupa.</li>
<li>Dapat disayangi oleh musuh, jika dibaca ketika hendak keluar rumah.</li>
<li>Dapat menjadi penjaga rumah dari gangguan jin, sihir, santet dan bahaya lainnya, jika ditulis lalu disimpan di dalam rumah. (Mungkin inilah yang melatar-belakangi kebiasaan orang yang menggantung jimat di depan rumah).</li>
<li>Dapat memperlihatkan hal-hal yang indah, jika dibaca 100 kali pada malam Sabtu.</li>
<li>Dapat awet muda jika dibaca setiap malam Minggu.</li>
<li>Dapat menjadikan wajah tampak lebih tampan/cantik jika dibaca setiap malam Kamis.</li>
<li>Dan masih banyak keutamaan lainnya, yang semuanya mungarah pada kerakusan terhadap dunia.</li>
</ol>
<p>Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin doa nurbuat berasal dari ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena itu, tidak selayaknya untuk dibaca.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsutasisyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsutasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsutasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>doa nabi</strong>, <strong>adab doa</strong>, <strong>doa bid&#039;ah</strong>, <strong>doa tuntunan</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>doa nurbuat</strong>, <strong>kesalahan doa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-nurbuat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Tidak Dikabulkan Tanpa Shalawat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-dengan-shalawat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-dengan-shalawat#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 23:10:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[doa shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8105</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Doa Tidak Dikabulkan Tanpa Shalawat? Assalamu&#8217;alaikum. Saya pernah mendengar bahwa doa seseorang tidak akan diterima apabila sebelumnya dia tidak bershalawat (kepada nabi, pen.) apakah itu benar? Saya mendengar hal ini saat menyimak ceramah di televisi.  Namun, saya masih kurang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Apakah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">Doa</a> Tidak Dikabulkan Tanpa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalawat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalawat">Shalawat</a>?</h2>
<p>Assalamu&#8217;alaikum. Saya pernah mendengar bahwa doa seseorang tidak akan diterima apabila sebelumnya dia tidak bershalawat (kepada nabi, <em>pen.</em>) apakah itu benar?<br />
Saya mendengar hal ini saat menyimak ceramah di televisi.  Namun, saya masih kurang jelas maksudnya itu bagaimana? Mohon pencerahannya. Terima kasih<em>. Wassalamu&#8217;alaikum</em></p>
<p>Penanya: <em>aprilXXXXXXX@gmail.com</em><br />
<span id="more-8105"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumussalam Warahmatullah</em></p>
<h3>Doa Tidak Dikabulkan Tanpa Shalawat</h3>
<p>Terdapat hadits dari Ali bin Abi Thalib <em>radliallahu &#8216;anhu</em> yang menyatakan:</p>
<p class="arab">كل دعاء محجوب حتى يصلى على النبي صلى الله عليه وسلم</p>
<p>“Semua doa itu terhalang, sampai dibacakan <strong>shalawat</strong> untuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>”</p>
<p>Hadits ini diperselisihkan, apakah sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ataukah perkataan Ali bin Abi Thalib. Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa ini adalah sabda nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, namun ini riwayat tersebut dhaif. Sementara Al-Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;abul Iman</em> dan At-Thabrani dalam <em>Al-Ausath</em> meriwayatkan hadits yang semisal dengan sanad yang sahih, tetapi mauquf. Artinya hadits ini adalah ucapan Ali bin Abi Thalib dan bukan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Walaupun demikian, mengingat kalimat di atas tidak mungkin disampaikan oleh para sahabat berdasarkan ijtihad mereka maka para ulama menghukuminya sebagai sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena informasi semacam ini tidak mungkin diperoleh tanpa kecuali melalui wahyu. Syekh al-Albani mengatakan,</p>
<p class="arab">وهو في حكم المرفوع لأن مثله لا يقال من قبل الرأي كما قال السخاوي</p>
<p>“Hadis mauquf (perkataan Ali) ini dihukumi sebagai sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena keterangan semacam ini tidak mungkin disampaikan berdasarkan ijtihad, sebagaimana penjelasan As-Sakhawi.” Kemudian Syekh al-Albani menyebutkan beberapa riwayat yang menguatkan hadits di atas. Selanjutnya Syekh menegaskan</p>
<p class="arab">وخلاصة القول أن الحديث بمجموع هذه الطرق والشواهد لا ينزل عن مرتبة الحسن إن شاء الله تعالى على أقل الأحوال</p>
<p>“Kesimpulannya, bahwa hadits di atas dengan seluruh jalur dan penguatnya, keadaan minimal tidak turun dari derajat hasan, insyaaAllah.”<br />
Disadur dari <em>Silsilah Ahadits Shahihah</em>, keterangan hadits no. 2035<br />
Karena, bagian dari adab dalam doa, sebelum <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">berdoa</a> hendaknya kita membaca shalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terlebih dahulu. Semoga dengan ini akan semakin memperbesar peluang dikabulkannya doa. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Amni Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)<br />
Artikel www.KonsultasiSyariah.com</p>
<p>Artikel terkait masalah doa dan shalawat:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/tata-cara-berdoa" target="_blank">Tata Cara Berdoa Sesuai Tuntunan</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/perlukah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-tahiyat" target="_blank">Perlukah Menambahkan Kata &#8220;Sayyidina&#8221; dalam Shalawat Di Tahiyat</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-memuji-allah-dan-bersalawat-sebelum-berdoa" target="_blank">Cara Memuji Allah dan Bershalawat dalam Berdoa</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-shalawat-di-iringi-rebana" target="_blank">Hukum Shalawat Diiringi Rebana</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>shalawat</strong>, <strong>doa shalawat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-dengan-shalawat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan Bulan Dzulhijjah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/amalan-bulan-dzulhijjah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/amalan-bulan-dzulhijjah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 07:02:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[amalan bulan dzulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[daging kurban]]></category>
		<category><![CDATA[ebook kurban]]></category>
		<category><![CDATA[jual kambing kurban]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[puasa dzulhijjah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8233</guid>
		<description><![CDATA[Amalan Bulan Dzulhijjah Assalamu alaikum. Saya ingin bertanya, amal apa saja yg disyariatkan di bulan Dzulhijah? Jazaakumullah khoiran Abu Ahmad Jogja Jawaban: Wa &#8216;alaikumussalam Amalan Bulan Dzulhijjah adalah sebagai berikut: A.  Memperbanyak puasa di sembilan hari pertama. Dianjurkan memperbanyak puasa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan-bulan-dzulhijjah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan bulan dzulhijjah">Amalan Bulan Dzulhijjah</a></h2>
<p>Assalamu alaikum. Saya ingin bertanya, amal apa saja yg disyariatkan di bulan Dzulhijah?<br />
<em>Jazaakumullah khoiran</em></p>
<p><em>Abu Ahmad Jogja </em><br />
<span id="more-8233"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumussalam</em></p>
<h3>Amalan Bulan Dzulhijjah adalah sebagai berikut:</h3>
<p><strong>A.  Memperbanyak puasa di sembilan hari pertama.</strong></p>
<p>Dianjurkan memperbanyak puasa di sembilan hari bulan Dzulhijjah. Terutama puasa hari arafah, tanggal 9 Dzulhijjah. Abu Qatadah <em>radliallahu &#8216;anhu</em> meriwayatkan bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله ، والسنة التي بعده</p>
<p><em>“&#8230;puasa hari arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa, pen.) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..”</em> (HR. Ahmad dan Muslim).</p>
<p>Demikian juga keumuman hadis yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Disamping itu, terdapat keterangan khusus dari Ummul Mukminin, Hafshah <em>radliallahu &#8216;anha</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melaksanakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa&#8217;i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani).</p>
<p><strong>B. mengucapkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/takbir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with takbir">takbir</a> (takbiran).</strong></p>
<p>Takbiran di bulan Dzulhijjah ada dua:<br />
<strong>1.</strong> Takbiran hari raya yang tidak terikat waktu adalah takbiran yang dilakukan kapan saja dan dimana saja, selama masih dalam rentang waktu yang dibolehkan.</p>
<p><strong>2.</strong> Takbir mutlak menjelang Idul Adha dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai waktu asar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Selama tanggal 1 – 13 Dzulhijjah, kaum musliM disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, <em>dst</em>.<br />
Dalilnya adalah:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ</p>
<p><em>“&#8230;supaya mereka berzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan&#8230;”</em> (QS. Al-Hajj: 28).</p>
<p>Kedua, Allah juga berfirman:</p>
<p class="arab">وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ</p>
<p><em>“&#8230;.Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang&#8230;”</em> (QS. Al-Baqarah: 203).<br />
Keterangan:</p>
<p>Ibn Abbas mengatakan,</p>
<p class="arab">وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ</p>
<p>“Yang dimaksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ”beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. (Al-Bukhari secara <em>Mua’alaq</em>, Bab: Keutamaan beramal di hari tasyriq).</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> hadis dari Abdullah bin Umar , bahwa Nabi bersabda,</p>
<p class="arab">ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر فاكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد</p>
<p>“Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.” (HR. Ahmad dan Sanadnya dishahihkan Syekh Ahmad Syakir).</p>
<p><strong>Keempat,</strong> Imam Al Bukhari mengatakan,</p>
<p class="arab">وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا</p>
<p>“Dulu Ibn Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan kalimat takbir kemudian orang-orang pun bertakbir disebabkan mendengar takbir mereka berdua.” (HR. Al Bukhari, Bab: Keutamaan beramal di hari <em>tasyriq</em>).</p>
<p>Takbiran yang terikat waktu <strong>(Takbir Muqayyad)</strong><br />
Takbiran yang terikat waktu adalah takbiran yang dilaksanakan setiap selesai melaksanakan salat wajib. Takbiran ini dimulai sejak setelah salat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah salat asar tanggal 13 Dzulhijjah. Berikut dalil-dalilnya:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> dari Umar bin Khattab <em>radliallahu &#8216;anhu</em>,</p>
<p class="arab">أنه كان يكبر من صلاة الغداة يوم عرفة إلى صلاة الظهر من آخر أيام التشريق</p>
<p>Bahwa Umar dulu bertakbir setelah salat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah zuhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. (Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi dan sanadnya disahihkan Al-Albani).</p>
<p><strong>Kedua,</strong> dari Ali bin Abi Thalib <em>radliallahu &#8216;anhu</em>,</p>
<p class="arab">أنه كان يكبر من صلاة الفجر يوم عرفة إلى صلاة العصر من آخر أيام التشريق، ويكبر بعد العصر</p>
<p>Bahwa Ali bertakbir setelah salat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai asar tanggal 13 Dzulhijjah. Ali juga bertakbir setelah asar. (HR Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi. Al-Albani mengatakan: Sahih dari Ali).<br />
Ketiga, dari Ibn Abbas <em>radliallahu &#8216;anhu</em>,</p>
<p class="arab">أنه كان يكبر من صلاة الفجر يوم عرفة إلى آخر أيام التشريق، لا يكبر في المغرب</p>
<p>Bahwa Ibnu Abbas bertakbir setelah salat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Ia tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah). (HR Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi. Al-Albani mengatakan, &#8220;Sanadnya sahih&#8221;).</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> Dari Ibn Mas’ud <em>radliallahu &#8216;anhu</em>,</p>
<p class="arab">يكبر من صلاة الصبح يوم عرفة إلى صلاة العصر من آخر أيام التشريق</p>
<p>Bahwa Ibnu Mas&#8217;ud bertakbir setelah salat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai asar tanggal 13 Dzulhijjah. (HR. Al-Hakim dan disahihkan An-Nawawi dalam Al-Majmu’).</p>
<p><strong>C.  Memperbanyak amal salih.</strong></p>
<p>Dari Ibn Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ</p>
<p><em>“Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini</em> (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, <em>pen.</em>).” Para sahabat bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari <em>jihad fi sabilillah</em>? Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, “<em>Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).”</em> (HR. Al-Bukhari, Ahmad, dan At-Turmudzi).</p>
<p><strong>D. Idul Adha.</strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">قدم رسول الله -صلى الله عليه وسلم- المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال « ما هذان اليومان ». قالوا كنا نلعب فيهما فى الجاهلية. فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- « إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر ».</p>
<p>Bahwa ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan bermain. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya, “<em>Dua hari apakah ini?”</em> Mereka menjawab, &#8220;Kami merayakannya dengan bermain di dua hari ini ketika zaman jahiliyah. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dengan dua hari yang lebih baik: Idul Fitri dan Idul Adha.”</em> (HR. An-Nasa&#8217;i, Abu Daud, dan Ahmad. Disahihkan Al-Albani).</p>
<p><strong>E. Berkurban.</strong></p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p class="arab">فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ</p>
<p><em>“Laksanakanlah salat untuk Rab-mu dan sembelihlah <a href="http://konsultasisyariah.com/pemilik-kurban-lupa-memotong-kuku-dan-rambut">kurban.</a>”</em> (QS. Al-Kautsar: 2).</p>
<p>Dari Abu Hurairah<em> radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab">من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا</p>
<p><em>“Siapa yang memililki kelapangan namun dia tidak berkurban maka jangan mendekat ke masjid kami.”</em> (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Dihasankan Al-Albani).</p>
<p>Catatan: Bagi orang yang hendak berkurban, dilarang memotong kuku dan juga rambutnya (bukan kuku dan bulu hewannya) ketika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai dia memotong hewan kurbannya.<br />
Dari Umu salamah <em>radliallahu &#8216;anha</em>, dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda,</p>
<p class="arab">مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang memiliki hewan yang hendak dia sembelih (di hari raya), jika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah maka janganlah dia memotong rambutnya dan kukunya sedikitpun, sampai dia menyembelih hewan kurbannya.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p><strong>F.  Haji.</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا</p>
<p><em>“Kewajiban bagi manusia kepada Allah, berhaji ke Baitullah, bagi siapa saja yang memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan” </em>(QS. Ali Imran: 97).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina<a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com"> Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>akikah</strong>, <strong>daging kurban</strong>, <strong>kurban</strong>, <strong>amalan bulan dzulhijjah</strong>, <strong>jual kambing kurban</strong>, <strong>puasa dzulhijjah</strong>, <strong>ebook kurban</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/amalan-bulan-dzulhijjah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zikir Berjamaah Setelah Shalat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/zikir-berjamaah-setelah-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/zikir-berjamaah-setelah-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 05:45:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8251</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Zikir Jamaah Setelah Sholat Wajib Pertanyaan: ar rodiyah &#60;az.zahra17@rocketmail.com&#62; assalamu’alaikum warohmatulloh, bgaimanakah hukum berdzikir bersama sama setelah sholat wajib? Bolehkah doa bersama setelah shalat? Kpn doa bersama dibolehkan? Adakah rosululloh mencontohkan? Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.A. Temukan jawaban ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Zikir Jamaah Setelah Sholat Wajib</strong></h2>
<p>Pertanyaan:</p>
<p>ar rodiyah &lt;az.zahra17@rocketmail.com&gt;<br />
assalamu’alaikum warohmatulloh,<br />
bgaimanakah <strong>hukum berdzikir bersama sama setelah sholat wajib</strong>? Bolehkah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> bersama setelah shalat? Kpn <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> bersama dibolehkan?<br />
Adakah rosululloh mencontohkan?</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.A.</p>
<p>Temukan jawaban tuntasnya dalam video berikut ini. Semoga bermanfaat.</p>
<p><script src="http://yufid.tv/flowplayer/flowplayer-3.2.6.min.js" type="text/javascript"></script> <a id="player" style="display: block; width: 490px; height: 400px;" rel="nofollow" href="http://yufid.com/yufidtv/lq/zikir-berjamaah-setelah shalat.flv" target="_blank"> </a> <script type="text/javascript">// <![CDATA[
flowplayer("player", "http://yufid.tv/flowplayer/flowplayer-3.2.7.swf", {
clip:  {
autoPlay: false,
autoBuffering: true
}
});
// ]]&gt;</script></p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="yufid.tv/zikir-berjamaah-setelah-shalat/" target="_blank">YUFID.TV</a></p>
<h3><strong>kata kunci: zikir jamaah, dzikir, doa, sholat.</strong></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/zikir-berjamaah-setelah-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabur Bunga Di Kubur</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 08:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan wali]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>
		<category><![CDATA[tabur bunga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7848</guid>
		<description><![CDATA[Tabur bunga di kubur Pertanyaan: 1. Apa hukumnya bila kita menaburkan bunga di atas kuburan sementera kita tidak ada niat untuk syirik kepada allah melainkan hanya untuk mengharumkan kuburan tersebut dan sekitarnya. 2. Kita masuk kubur dengan memakai sandal bagaimana ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tabur-bunga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tabur bunga">Tabur bunga</a> di kubur</strong><strong></strong></h2>
<p>Pertanyaan:<br />
1. Apa hukumnya bila kita menaburkan bunga di atas <strong>kubur</strong>an sementera kita tidak ada niat untuk syirik kepada allah melainkan hanya untuk mengharumkan kuburan tersebut dan sekitarnya.<br />
2. Kita masuk <strong>kubur</strong> dengan memakai sandal bagaimana hukumnya,</p>
<p>Demikian pertanyaan kita terima kasih.</p>
<p><em>Hasanuddin (fispra_bappXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7848"></span></p>
<h3>Penjelasan tabur bunga di kubur.</h3>
<p>Perbuatan ini sering dilakukan oleh para peziarah <a href="http://konsultasisyariah.com/menangis-di-kuburan" target="_blank">kubur</a>. Kami tidak menemukan satu pun riwayat valid yang menunjukkan bahwa rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya melakukan hal yang serupa ketika menziarahi suatu kubur.</p>
<p>Berdasarkan keterangan para ulama, perbuatan ini merupakan tradisi yang diambil dari orang-orang kafir, khususnya kaum Nasrani. Tradisi tebar bunga dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang telah wafat. Tradisi tersebut kemudian diserap dan dipraktekkan oleh sebagian kaum muslimin yang memiliki hubungan erat dengan orang-orang kafir, karena memandang perbuatan mereka merupakan salah satu bentuk kebaikan terhadap orang yang telah wafat.</p>
<p>Seorang ulama hadits Mesir, Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mengatakan, “Perbuatan ini digalakkan oleh kebanyakan orang, padahal hal tersebut tidak memiliki sandaran dalam agama. Hal ini dilatarbelakangi oleh sikap berlebih-lebihan dan sikap mengekor kaum Nasrani. Apa yang terjadi, khususnya di negeri Mesir merupakan contoh dari hal ini. Orang Mesir pun melakukan tradisi tebar bunga di atas pusara atau saling menghadiahkan bunga sesama mereka. Orang-orang meletakkan bunga di atas pusara kerabat atau kolega mereka sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah wafat.” Beliau melanjutkan, “Oleh karena itu, apabila para tokoh muslim mengunjungi sebagian negeri Eropa, anda dapat menyaksikan mereka menziarahi pekuburan para tokoh di negeri tersebut atau ke pekuburan para pejuang tanpa nama kemudian melakukan tradisi tebar bunga, sebagian lagi meletakkan bunga imitasi karena mengekor Inggris dan mengikuti tuntunan hidup kaum terdahulu.” Lalu di akhir perkataan, beliau menyatakan, “Semua ini adalah perbuatan bid’ah dan kemungkaran yang tidak berasal dari agama Islam, tidak pula memiliki sandaran dari Al quran dan sunnah nabi. Dan kewajiban para ulama adalah mengingkari dan melarang segala tradisi ini sesuai kemampuan mereka.” (Ta’liq Ahmad Syakir terhadap Sunan At Tirmidzi 1/103, dinukil dari <em>Ahkaamul Janaaizhal</em>. 254).</p>
<p>Oleh karena itu, tradisi yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin ini  tercakup dalam larangan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar tidak mengekor kebudayaan khas kaum kafir sebagaimana yang termaktub dalam sabda Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">ومن تشبه بقوم فهو منهم</p>
<p><em>“Barangsiapa menyerupai suatu kaum ,maka ia termasuk golongan mereka.”</em> (HR. Ahmad nomor 5114, 5115 dan 5667; Sa’id bin Manshur dalam Sunannya nomor 2370; Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>-nya: 19401, 19437 dan 33010. Al ‘Allamah Al Albani menghasankan hadits ini dalam <em>Al Irwa’</em> 5/109).</p>
<p>Ibnu ‘Abdil Barr Al Maliki rahimahullah mengatakan, “(Maksudnya orang yang menyerupai suatu kaum) akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat kelak. Dan bentuk penyerupaan bisa dengan meniru perbuatan yang dilakukan oleh kaum tersebut atau dengan meniru rupa mereka.” (<em>At Tamhid lima fil Muwaththa minal Ma’ani wal Asaanid</em> 6/80).</p>
<p>Sebagian kaum muslimin menganalogikan tradisi tabur bunga ini dengan perbuatan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menancapkan pelepah kurma basah pada dua buah kubur sebagaimana yang terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas <em>radliallahu ‘anhuma.</em> (H.r. Bukhari: 8 dan Muslim: 111). Mereka beranggapan bahwa pelepah kurma atau bunga yang diletakkan di atas pusara akan meringankan adzab penghuninya, karena pelepah kurma atau bunga tersebut akan bertasbih kepada Allah selama dalam keadaan basah.</p>
<p><strong>Anggapan mereka tersebut tertolak dengan beberapa alasan sebagai berikut:</strong></p>
<p><strong>Alasan pertama,</strong> keringanan adzab kubur yang dialami kedua penghuni kubur tersebut adalah disebabkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> dan syafa’at Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada mereka, bukan pelepah kurma tersebut. Hal ini dapat diketahui jika kita melihat riwayat Jabir bin ‘Abdillah radliallahu ‘anhu. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إني مررت بقبرين يعذبان فأحببت بشفاعتي أن يرفه عنهما ما دام الغصنان رطبين</p>
<p><em>“Saya melewati dua buah kubur yang penghuninya tengah diadzab. Saya berharap adzab keduanya dapat diringankan dengan syafa’atku selama kedua belahan pelepah tersebut masih basah.”</em> (H.r. Muslim: 3012).</p>
<p>Hadits Jabir di atas menerangkan bahwa yang meringankan adzab kedua penghuni kubur tersebut adalah doa dan syafa’at nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> , bukan pelepah kurma yang basah.</p>
<p><strong>Alasan kedua,</strong> anggapan bahwa pelepah kurma atau bunga akan bertasbih kepada Allah selama dalam keadaan basah sehingga mampu meringankan adzab penghuni kubur bertentangan dengan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (٤٤)</p>
<p><em>“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” </em>(Q.s. Al Israa: 44).</p>
<p>Makhluk hidup senantiasa bertasbih kepada Allah, begitupula pelepah kurma. Tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa pelepah kurma atau bunga akan berhenti bertasbih jika dalam keadaan kering.</p>
<p><strong>Alasan ketiga,</strong> perbuatan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tersebut bersifat kasuistik (<em>waqi’ah al-’ain</em>) dan termasuk kekhususan beliau sehingga tidak bisa dianalogikan atau ditiru. Hal ini dikarenakan beliau tidak melakukan hal yang serupa pada kubur-kubur yang lain. Begitu pula para sahabat tidak pernah melakukannya, kecuali sahabat Buraidah yang berwasiat agar pelepah kurma diletakkan di dalam kuburnya bersama dengan jasadnya. Namun, perbuatan beliau ini hanya didasari oleh ijtihad beliau semata.<br />
Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Perbuatan Buraidah tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa beliau menerapkan hadits tersebut berdasarkan keumumannya dan tidak beranggapan bahwa hal tersebut hanya dikhususkan bagi kedua penghuni kubur tersebut. Ibnu Rusyaid berkata, “Apa yang dilakukan oleh Al Bukhari menunjukkan bahwa hal tersebut hanya khusus bagi kedua penghuni kubur tersebut, oleh karena itu Al Bukhari mengomentari perbuatan Buraidah tersebut dengan membawakan perkataan Ibnu ‘Umar, Sesungguhnya seorang (di alam kubur) hanya akan dinaungi oleh hasil amalnya (di dunia dan bukan pelepah kurma yang diletakkan di kuburnya).” (<em>Fathul Baari </em>3/223).</p>
<p>Selain itu, pelepah kurma tersebut ditaruh bersama dengan jasad beliau, bukan diletakkan di atas pusara beliau.</p>
<p><strong>Alasan keempat,</strong> alasan lain yang membatalkan analogi mereka dan menguatkan bahwa perbuatan Nabi tersebut merupakan kekhususan beliau adalah pengetahuan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa kedua penghuni kubur tersebut tengah diadzab. Hal ini merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala dan para rasul yang diberi keistimewaan oleh-Nya sehingga mampu mengetahui beberapa perkara gaib dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦)إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (٢٧)</p>
<p><em>“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.”</em> (Q.s. Al Jinn: 26-27).</p>
<p>Kalangan yang menganalogikan tradisi tebar bunga dengan perbuatan nabi tersebut telah mengklaim bahwa mereka mengetahui perkara gaib. Mereka mengklaim mengetahui bahwa penghuni kubur sedang diadzab sehingga pusaranya perlu untuk ditaburi bunga. Sungguh ini klaim tanpa bukti, tidak dilandasi ilmu dan termasuk menerka-nerka perkara gaib yang dilarang oleh agama.</p>
<p><strong>Alasan kelima,</strong> hal ini mengandung sindiran dan celaan kepada penghuni kubur, karena jika alasan mereka demikian, hal tersebut merupakan salah satu bentuk berburuk sangka  (su’uzh zhan) kepada penghuni kubur karena menganggapnya sebagai pelaku maksiat yang tengah diadzab oleh Allah di dalam kuburnya sebagai balasan atas perbuatannya di dunia. (Rangkuman faidah ini kami ambil dari <em>Ahkaamul Janaa-iz, Taisirul ‘Allam</em> dan uraian dari ustadzuna tercinta, Abu Umamah <em>hafizhahullah ta’al</em>a saat mengkaji kitab <em>‘Umdatul Ahkam</em>).</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, kita dapat mengetahui bahwa tradisi ini selayaknya ditinggalkan dan tidak perlu dilakukan ketika berziarah kubur karena tercakup dalam larangan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita juga mengetahui bahwa tidak terdapat riwayat valid yang menyatakan bahwa para sahabat dan generasi salaf melakukan tradisi tebar bunga di atas pusara. Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tidak dituntunkan oleh syari’at kita.</p>
<p>Oleh karena itu, kita patut merenungkan pernyataan As Subki, bahwa segala perbuatan yang tidak pernah diperintahkan dan dilakukan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya merupakan indikasi bahwa amalan tersebut tidak disyari’atkan. Dalam pernyataan beliau tersebut terkandung kaidah dasar dalam pensyari’atan sebuah amalan.</p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>http://ikhwanmuslim.com</em> <strong>(Dipublikasikan ulang oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Pembahahasan tambahan tentang tabur bunga di kubur:<br />
1. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan" target="_blank">Bolehkah memakai alas kaki di kuburan.</a></p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur" target="_blank">Wanita haid berziarah kubur.</a></p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/gambaran-adzab-kubur" target="_blank">Gambaran azab kubur.</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pictures</strong>, <strong>tabur bunga</strong>, <strong>kuburan wali</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Berdoa Sesuai Tuntunan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tata-cara-berdoa</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tata-cara-berdoa#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 02:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[adab doa]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa-doa]]></category>
		<category><![CDATA[kirim doa]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara doa]]></category>
		<category><![CDATA[zikir doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7834</guid>
		<description><![CDATA[Tata cara berdoa sesuai tuntunan Assalamu&#8217;alaikum. saya mau bertanya cara tata cara berdoa yang benar seperti apa? karena saya melihat ada yang mengangkat tangan ketika berdoa dan tidak. terimakasih. Fahmi (GamXXXXXX@gmail.co) 13 Adab berdoa Pertama, mencari waktu yang mustajab. Diantara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tata cara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">berdoa</a> sesuai tuntunan</h2>
<p>Assalamu&#8217;alaikum. saya mau bertanya cara tata cara <strong>berdoa</strong> yang benar seperti apa? karena saya melihat ada yang mengangkat tangan ketika <em>berdoa</em> dan tidak. terimakasih.</p>
<p><em>Fahmi (GamXXXXXX@gmail.co)</em><br />
<span id="more-7834"></span></p>
<h3>13 Adab berdoa</h3>
<p><strong>Pertama,</strong> mencari waktu yang mustajab.</p>
<p>Diantara waktu yang mustajab adalah hari arafah, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">ramadhan</a>, sore hari jumat, dan waktu sahur atau sepertiga malam terakhir.<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
ينزل الله تعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الأخير فيقول عز وجل: من يدعونى فأستجب له، من يسألنى فأعطيه، من يستغفرنى فأغفر له</p>
<p><em>“Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan, siapa yang meminta-Ku, Aku beri, dan siapa yang minta ampunan pasti Aku ampuni.”</em> (H.r. Muslim)</p>
<p><strong>Kedua,</strong> memanfaatkan keadaan yang mustajab untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/doa-sujud" target="_blank"><span style="text-decoration: underline;">berdoa</span></a>.</p>
<p>Diantara keadaan yang mustajab untuk berdoa adalah: ketika perang, turun hujan, ketika sujud, antara adzan dan iqamah, atau ketika puasa menjelang berbuka. Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em> mengatakan, &#8220;Sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka ketika; jihad fi sabillillah sedang berkecamuk, ketika turun hujan, dan ketika iqamah shalat wajib. Manfaatkanlah untuk berdoa ketika itu.” (<em>Syarhus Sunnah al-Baghawi,</em> 1: 327)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“<strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">Doa</a></strong> antara adzan dan iqamah tidak tertolak .”</em> (H.r. Abu Daud, Nasa&#8217;i, danTurmudzi)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Keadaan terdekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklah berdoa.”</em> (H.r. Muslim)</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> Menghadap kiblat dan mengangkat tangan</p>
<p>Dari Jabir <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika berada di padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (H.r. Muslim)</p>
<p>Dari Salman <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan).”</em> (H.r. Abu Daud &amp; Turmudzi dan beliau hasankan)</p>
<h3>Cara mengangkat tangan dalam berdoa:</h3>
<p>Ibn Abbas <em>radliallahu &#8216;anhu</em> mengatakan, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (H.r. Thabrani)</p>
<p><strong>Catatan: Tidak boleh melihat ke atas ketika berdoa.</strong></p>
<p><strong>Keempat</strong>, dengan suara lirih dan tidak dikeraskan.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">
وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا</p>
<p><em>“Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”</em> (Q.s. Al-Isra: 110)</p>
<p>Allah memuji Nabi Zakariya &#8216;alaihis salam, yang berdoa dengan penuh khusyu&#8217; dan suara lirih,</p>
<p class="arab">
ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا</p>
<p><em>“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.”</em> (Q.s. Maryam: 2 – 3)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab">
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ</p>
<p><em>“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”</em> (Q.s. Al-A&#8217;raf: 55)</p>
<p>Dari Abu Musa <em>radliallahu &#8216;anhu</em> bahwa suatu ketika para sahabat pernah berdzikir dengan teriak-teriak. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengingatkan,</p>
<p class="arab">
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ</p>
<p><em>“Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak ada, sesungguhnya Allah bersama kalian, Dia Maha mendengar lagi Maha dekat.”</em> (H.r. Bukhari)</p>
<p><strong>Kelima,</strong> Tidak dibuat bersajak.</p>
<p>Doa yang terbaik adalah doa yang ada dalam Alquran dan sunnah.</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab">
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ</p>
<p><em>“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”</em> (Q.s. Al-A&#8217;raf: 55)</p>
<p>Ada yang mengatakan: maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam membuat kalimat doa, dengan dipaksakan bersajak.</p>
<p><strong>Keenam,</strong> khusyu&#8217;, merendahkan hati, dan penuh harap.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu&#8217; kepada Kami.”</em> (Q.s. Al-Anbiya&#8217;: 90)</p>
<p><strong>Ketujuh,</strong> memantapkan hati dalam berdoa dan berkeyakinan untuk dikabulkan.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
لا يقل أحدكم إذا دعا اللهم اغفر لي إن شئت اللهم ارحمني إن شئت ليعزم المسألة فإنه لا مُكرِه له</p>
<p><em>“Janganlah kalian ketika berdoa dengan mengatakan: Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau mau. Hendaknya dia mantapkan keinginannya, karena tidak ada yang memaksa Allah.” (HR. Bukhari &amp; Muslim)</em><br />
<em> Dari Abu Hurairah radliallahu &#8216;anhu, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mantapkan keinginannya. Karena Allah tidak keberatan dan kesulitan untuk mewujudkan sesuatu.”</em> (H.r. Ibn Hibban dan dishahihkan Syua&#8217;ib Al-Arnauth)</p>
<p>Diantara bentuk yakin ketika berdoa adalah hatinya sadar bahwa dia sedang meminta sesuatu. Dari Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه</p>
<p><em>“Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya).”</em> (H.r. Turmudzi dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Banyak orang yang lalai dalam berdoa atau bahkan tidak tahu isi doa yang dia ucapkan. Karena dia tidak paham bahasa Arab, sehingga hanya dia ucapkan tanpa direnungkan isinya.</p>
<p><strong>Kedelapan,</strong> mengulang-ulang doa dan merengek-rengek dalam berdoa.</p>
<p>Misalnya, orang berdoa, &#8220;Yaa Allah, ampunilah hambu-MU, ampunilah hambu-MU&#8230;, ampunilah hambu-MU yang penuh dosa ini. ampunilah ya Allah&#8230;. &#8221; Dia ulang-ulang permohonannya. Semacam ini menunjukkan kesungguhhannya dalam berdoa.</p>
<p>Ibn Mas&#8217;ud mengatakan, &#8220;Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> apabila beliau berdoa, beliau mengulangi tiga kali. Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali. (H.r. Muslim).</p>
<p><strong>Kesembilan,</strong> tidak tergesa-gesa agar segera dikabulkan, dan menghindari perasaan: &#8220;Mengapa doaku tidak dikabulkan atau kalihatannya Allah tidak akan mengabulkan doaku.&#8221;</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى</p>
<p><em>“Akan dikabulkan (doa) kalian selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan: Saya telah berdoa, namun belum saja dikabulkan.”</em> (H.r. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Sikap tergesa-gesa agar segera dikabulkan, tetapi doanya tidak kunjung dikabulkan, menyebabkan dirinya malas berdoa. Dari Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم، ما لم يستعجل، قيل: يا رسول الله وما الاستعجال؟ قال: يقول قد دعوت وقد دعوت فلم أر يستجيب لي، فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء رواه مسلم.</p>
<p><em>“Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdoa?. Beliau bersabda: “Orang yang berdoa ini berkata: Saya telah berdoa, Saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa.”</em> (H.r. Muslim dan Abu Daud)</p>
<p>Sebagian ulama mengatakan: “Saya pernah berdoa kepada Allah dengan satu permintaan selama dua puluh tahun dan belum dikabulkan, padahal aku berharap agar dikabulkan. Aku meminta kepada Allah agar diberi taufik untuk meninggalkan segala sesuatu yang tidak penting bagiku.”</p>
<p><strong>Kesepuluh,</strong> memulai doa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Bagian dari adab ketika memohon dan meminta adalah memuji Dzat yang diminta. Demikian pula ketika hendak berdoa kepada Allah. Hendaknya kita memuji Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang mulia (<em>Asma-ul Husna</em>).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kemudian beliau bersabda: “Orang ini terburu-buru.” kemudian Beliau bersabda,</p>
<p class="arab">
إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء</p>
<p><em>“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.”</em> (H.r. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p><strong>Kesebelas,</strong> memperbanyak taubat dan memohon ampun kepada Allah.</p>
<p>Banyak mendekatkan diri kepada Allah merupakan sarana terbesar untuk mendapatkan cintanya Allah. Dengan dicintai Allah, doa seseorang akan mudah dikabulkan. Diantara amal yang sangat dicintai Allah adalah memperbanyak taubat dan istighfar.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ&#8230;.، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ</p>
<p><em>“Tidak ada ibadah yang dilakukan hamba-Ku yang lebih Aku cintai melebihi ibadah yang Aku wajibkan. Ada hamba-Ku yang sering beribadah kepada-Ku dengan amalan sunnah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka &#8230;jika dia meminta-Ku, pasti Aku berikan dan jika minta perlindungan kepada-KU, pasti Aku lindungi&#8230;”</em> (H.r. Bukhari)</p>
<p>Diriwayatkan bahwa ketika terjadi musim kekeringan di masa Umar bin Khatab, beliau meminta kepada Abbas untuk berdoa. Ketika berdoa, Abbas mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya tidaklah turun musibah dari langit kecuali karena perbuatan dosa. dan musibah ini tidak akan hilang, kecuali dengan taubat&#8230;”</p>
<p><strong>Kedua belas,</strong> hindari mendoakan keburukan, baik untuk diri sendiri, anak, maupun keluarga.</p>
<p>Allah berfirman, mencela manusia yang berdoa dengan doa yang buruk,</p>
<p class="arab">
وَيَدْعُ الإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإِنسَانُ عَجُولاً</p>
<p><em>“Manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”</em> (Q.s. Al-Isra&#8217;: 11)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab">
وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُم بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ</p>
<p><em>“Kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka (binasa).”</em> (Q.s. Yunus: 11)</p>
<p>Ayat ini berbicara tentang orang yang mendoakan keburukan untuk dirinya, hartanya, keluarganya, dengan doa keburukan.<br />
Dari Jabir <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
لا تدعوا على أنفسكم، ولا تدعوا على أولادكم، ولا تدعوا على خدمكم، ولا تدعوا على أموالكم، لا توافق من الله ساعة يسأل فيها عطاء فيستجاب لكم</p>
<p><em>“Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, jangan mendoakan keburukan untuk anak kalian, jangan mendoakan keburukan untuk pembantu kalian, jangan mendoakan keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah bertepatan dengan waktu mustajab, pasti Allah kabulkan.”</em> (H.r. Abu Daud)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم</p>
<p><em>“Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim.”</em> (H.r. Muslim dan Abu Daud)</p>
<p><strong>Ketiga belas, </strong>menghindari makanan dan harta haram.</p>
<p>Makanan yang haram menjadi sebab tertolaknya doa.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ</p>
<p><em>“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: &#8216;Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8217; Dan Allah juga berfirman: &#8216;Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.&#8217;&#8221; Kemudian Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo&#8217;a: &#8220;Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.&#8221; Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan do&#8217;anya?</em> (H.r. Muslim).</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Disadur dari:</strong> <em>http://www.islamino.net/play.php?catsmktba=11483</em> <strong>(Dengan beberapa penambahan dari Redaksi <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Pembahasan: Adab-adab berdoa.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>doa</strong>, <strong>doa-doa</strong>, <strong>zikir doa</strong>, <strong>berdoa</strong>, <strong>tata cara doa</strong>, <strong>kirim doa</strong>, <strong>adab doa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tata-cara-berdoa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imam Mengucapkan Amin Waktu Shalat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/imam-mengucapkan-amin-waktu-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/imam-mengucapkan-amin-waktu-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 05:36:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[amien]]></category>
		<category><![CDATA[amin]]></category>
		<category><![CDATA[amin makmum]]></category>
		<category><![CDATA[lafad amin]]></category>
		<category><![CDATA[lafal amin yang benar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7548</guid>
		<description><![CDATA[Imam mengucapkan amin Apakah imam shalat berjamaah ikut mengucapkan amin setelah membaca surat Al-Fatihah ? Barokallahu fiik Akhino (AkhiXXXXXX@yahoo.com) Jawaban apakah imam membaca amin: Bismillah&#8230; Imam juga disyariatkan untuk mengucapkan amin ketika shalat. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Imam mengucapkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amin" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amin">amin</a></h2>
<p>Apakah imam shalat berjamaah ikut mengucapkan <strong>amin</strong> setelah membaca surat Al-Fatihah ? <em>Barokallahu fiik</em></p>
<p><em>Akhino (AkhiXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7548"></span></p>
<h3>Jawaban apakah imam membaca amin:</h3>
<p><em>Bismillah</em>&#8230;</p>
<p>Imam juga disyariatkan untuk mengucapkan amin ketika shalat. Sebagaimana disebutkan dalam hadis,</p>
<p class="arab">إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p><em>&#8220;Apabila imam (sudah saatnya) mengucapkan &#8216;amin&#8217; maka ucapkanlah &#8216;amin&#8217;. Karena siapa yang ucapan amin-nya bertepatan dengan ucapan amin-nya malaikat maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ibn Syihab mengatakan,</p>
<p class="arab">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « آمِينَ</p>
<p>&#8220;Dulu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membaca <a href="http://konsultasisyariah.com/lafal-amin-yang-benar" target="_blank">amin</a>.&#8221; (Shahih Muslim no. 942).</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Penasehat <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>***<br />
<a href="http://konsultasisyariah.com/lafal-amin-yang-benar" target="_blank">Lafal amin yang benar</a><strong><br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>amin</strong>, <strong>lafad amin</strong>, <strong>amin makmum</strong>, <strong>lafal amin yang benar</strong>, <strong>amien</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/imam-mengucapkan-amin-waktu-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Khatam Quran</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-khatam-quran</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-khatam-quran#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 06:14:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[alquran mp3]]></category>
		<category><![CDATA[doa khatam quran]]></category>
		<category><![CDATA[khatam quran]]></category>
		<category><![CDATA[khataman alquran]]></category>
		<category><![CDATA[mp3 doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7455</guid>
		<description><![CDATA[Adakah doa khatam quran? Assalamu &#8216;alaykum. Ustadz, saya mau tanya. Adakah doa khatam Quran seperti yang ada di mushaf-mushaf Alquran? Jika seseorang sudah menamatkan quran, haruskah membaca doa khatam Quran? Itu saja yang saya mau tanya. Syukran. Wassalamu &#8216;alaykum. Rosszelly ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Adakah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa-khatam-quran" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa khatam quran">doa khatam quran</a>?<strong><br />
</strong></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaykum</em>. Ustadz, saya mau tanya. Adakah <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/khatam-quran" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with khatam quran">khatam Quran</a></strong> seperti yang ada di mushaf-mushaf Alquran? Jika seseorang sudah menamatkan quran, haruskah membaca <span style="text-decoration: underline;">doa khatam Quran</span>? Itu saja yang saya mau tanya. <em>Syukran. Wassalamu &#8216;alaykum.</em></p>
<p><em>Rosszelly (ross**@***.com)</em><br />
<span id="more-7455"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Bismillah &#8230;.</p>
<p>Tidak terdapat satu pun dalil dari hadis Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>yang menyebutkan doa khatam Quran. Demikian pula, tidak diriwayatkan dari para sahabat maupun para ulama besar setelahnya yang mengajarkan doa khatam Quran. Yang paling terkenal, doa khatam Quran yang tertulis di akhir mushaf ini dinisbahkan (dianggap sebagai perkataan) Syekhul Islam Ibnu Taimiyah. <strong>Anggapan ini tidak memiliki dasar</strong>. (Lihat <em>Majmu&#8217; Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin</em>, 14:226)</p>
<p>Tentang membaca doa setelah selesai membaca Alquran, ada kemungkinan dilakukan ketika shalat atau di luar shalat. <strong>Membaca doa setelah khatam Alquran ketika shalat, sama sekali tidak ada dasarnya.</strong> Sementara itu, diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa beliau membaca doa &#8211;setelah mengkhatamkan Alquran&#8211; <strong>di luar shalat</strong>. Hanya saja, doanya tidak sebagaimana doa khatam Quran yang umumnya dikenal masyarakat.</p>
<p>Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ditanya tentang hukum membaca doa khatam Quran ketika shalat malam di bulan Ramadan. Beliau menjawab, “Saya tidak mengetahui adanya hadis dari Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menganjurkan membaca doa khatam Quran ketika shalat malam di bulan Ramadan, tidak pula riwayat dari sahabat. Riwayat yang ada hanyalah riwayat dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa apabila beliau mengkhatamkan Alquran, beliau mengumpulkan keluarganya dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">berdoa</a>; ini dilakukan di luar shalat.” (<em>Fatwa Arkan Al-Islam</em>, hlm. 354)</p>
<h3>Syekh Bakr Abu Zaid memiliki pembahasan yang sangat bagus dalam masalah doa khatam Quran. Kesimpulan yang beliau sampaikan, “Dari semua keterangan pada pembahasan dalam dua bab sebelumnya, kita mendapatkan dua kesimpulan:</h3>
<p><em><strong>Pertama</strong></em>, doa khatam Quran itu secara mutlak (tidak menggunakan redaksi khusus). Dalam hal ini, ada beberapa poin penting :</p>
<ol>
<li>Semua riwayat tentang doa khatam Quran yang dianggap berasal dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah riwayat yang tidak sahih, baik statusnya palsu atau dhaif yang tidak bisa terangkat. Bahkan, bisa dipastikan, tidak ada dalil yang sahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>tentang doa khatam Quran karena para ulama yang menulis tentang ilmu Alquran dan zikir-zikirnya (seperti: Imam An-Nawawi, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan As-Suyuthi) tidak ada satu pun yang menyebutkan teks doa khatam Quran. Andaikan mereka memiliki satu riwayat yang sahih tentang masalah ini, tentu mereka akan menyebutkannya.</li>
<li>Terdapat riwayat yang sahih dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> bahwa beliau berdoa setelah mengkhatamkan Alquran. Beliau mengumpulkan istri dan anak-anaknya kemudian beliau berdoa. Perbuatan beliau ini diikuti oleh sebagian tabi&#8217;in, semacam Mujahid bin Jabr, sebagaimana disebutkan dalam suatu riwayat.</li>
<li>Tidak diketahui adanya keterangan tentang disyariatkannya doa setelah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/khataman-alquran" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with khataman alquran">khataman Alquran</a> dalam kitab-kitab Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi&#8217;i<em> rahimahumallah</em>. Bahkan, diriwayatkan dari Imam Malik, &#8216;Doa khatam Alquran bukanlah termasuk amal masyarakat (penduduk Madinah). Mengkhatamkan Alquran bukanlah termasuk sunah dalam shalat malam Ramadan.&#8217;</li>
<li>Anjuran membaca doa setelah khatam Alquran merupakan salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad, sebagaimana keterangan dari beberapa ulama Hanbali. Pendapat ini juga diakui oleh beberapa ulama kontemporer dari tiga mazhab lainnya.</li>
</ol>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>, <a title="Walimah Khataman Alquran dan Doa Khataman" href="http://konsultasisyariah.com/walimah-khataman-alquran-dan-doa-khataman" target="_blank">doa khatam Quran</a> dalam shalat.&#8221;</p>
<p>&#8230; Bagian ini tidak kami cantumkan pembahasannya karena telah ditegaskan bahwa hal ini tidak ada riwayatnya sama sekali.</p>
<p>Demikian, ringkasan dari situs <em>www.islamqa.com</em> di bawah bimbingan Syekh Muhammad Munajid.</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>khataman alquran</strong>, <strong>mp3 doa</strong>, <strong>alquran mp3</strong>, <strong>doa khatam quran</strong>, <strong>khatam quran</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-khatam-quran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salawat Nabi Waktu Khotbah Jumat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/salawat-nabi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/salawat-nabi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Sep 2011 03:30:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7060</guid>
		<description><![CDATA[Bolehkah Makmum Baca Salawat saat Khotbah Jumat? Pertanyaan: Bolehkah jemaah bersalawat kepada Nabi ketika khatib menyebutkan nama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam saat khotbahnya? Zakkiy (**zakkiy@***.com) Penjelasan singkat seputar salawat di antara dua khotbah: Bismillah &#8230;. Terdapat perbedaan pendapat di ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bolehkah Makmum Baca Salawat saat Khotbah Jumat?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah jemaah ber<strong>salawat</strong> kepada Nabi ketika khatib menyebutkan nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> saat khotbahnya?</p>
<h3><em>Zakkiy (**zakkiy@***.com)</em><br />
<span id="more-7060"></span><br />
Penjelasan singkat seputar salawat di antara dua khotbah:</h3>
<p>Bismillah &#8230;.</p>
<p>Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum membaca salawat bagi makmum ketika mendengarkan khotbah, pada saat khatib menyebut nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>Pendapat pertama, diperbolehkan membaca salawat dengan pelan.</strong> Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Abu Yusuf, murid senior Abu hanifah. Pendapat ini juga merupakan Mazhab Hanbali, dan yang dikuatkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah.</p>
<p>Dalil pendapat pertama adalah:</p>
<ol>
<li>Bahwa bersalawat ketika khatib berkhotbah, tidaklah mengganggu konsentrasi mendengarkan khotbah. Dengan demikian, ketika membaca salawat, seseorang mendapatkan dua keutamaan: pahala mendengarkan khotbah dan pahala membaca salawat.</li>
<li>Kita disyariatkan untuk memperbanyak salawat di hari Jumat, lebih-lebih ketika disebut nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</li>
</ol>
<p><strong>Pendapat kedua, makmum tidak boleh membaca salawat, dan wajib diam mendengarkan khotbah.</strong> Ini adalah pendapat Mazhab Hanafiyah.</p>
<p>Dalil pendapat ini adalah:</p>
<ol>
<li>Makmum dilarang berbicara ketika mendengarkan khotbah, sebagaimana mereka dilarang berbicara ketika shalat.</li>
<li>Membaca salawat bisa dilakukan di berbagai kesempatan lainnya. Karena itu, tidak perlu mengganggu waktu mendengarkan khotbah.</li>
</ol>
<h3><em>Tarjih </em>(pemilihan pendapat yang lebih kuat masalah salawat di antara 2 khotbah):</h3>
<p>Pendapat yang tampak lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat pertama, yang memperbolehkan membaca <span style="text-decoration: underline;">salawat</span> dengan pelan dan tanpa dikeraskan, di tengah mendengarkan khotbah. Dengan melakukan ini, orang melaksanakan dua perintah sekaligus: perintah membaca <a title="Salawat yang Singkat" href="http://konsultasisyariah.com/sholawat-nabi" target="_blank"><strong>salawat</strong></a> ketika nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> disebut, dan perintah agar berkonsentrasi dalam mendengarkan khotbah. (Disarikan dari <em>Khutbatul Jumu&#8217;ah wa Ahkamuha Fiqhiyah</em>, hlm. 228&#8211;229)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/salawat-nabi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjawab Ucapan Selamat di Hari Raya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ucapan-selamat-di-hari-raya</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ucapan-selamat-di-hari-raya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2011 12:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri 2011]]></category>
		<category><![CDATA[kado ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran 2011]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan id]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7307</guid>
		<description><![CDATA[Cara menjawab ucapan selamat idul fitri Jika kita mendapatkan ucapan dari orang lain, &#8220;Taqabbalallahu minna wa minkum,&#8221; bagaimana cara menjawabnya? Jawaban: Allah berfirman, وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا &#8220;Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Cara menjawab ucapan selamat idul fitri<strong></strong></h2>
<p>Jika kita mendapatkan <strong>ucapan</strong> dari orang lain, &#8220;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>,&#8221; bagaimana cara menjawabnya?<br />
<span id="more-7307"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا</p>
<p>&#8220;<em>Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka balaslah dengan salam yang lebih baik atau jawablah dengan yang semisal &#8230;.</em>&#8221; (Q.s. An-Nisa&#8217;:86)</p>
<p>Syekh As-Sa&#8217;di mengatakan, &#8220;Termasuk (kewajiban) menjawab salam adalah (memberikan jawaban) untuk semua salam yang menjadi kebiasaan di masyarakat, dan itu adalah salam yang tidak terlarang. Semuanya wajib dijawab dengan yang semisal atau yang lebih baik.&#8221; (<em>Taisir Karimir Rahman</em>, tafsir untuk surat An-Nisa&#8217;:86)</p>
<h3>Berikut ini beberapa keterangan dari para ulama menjawab ucapan selamat idul fitri</h3>
<ol>
<li>Dari Habib bin Umar Al-Anshari; bapaknya bercerita kepadanya bahwa beliau bertemu dengan &#8211;shahabat&#8211; Watsilah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> ketika hari raya, maka aku ucapkan kepadanya, &#8220;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>,&#8221; kemudian beliau (Watsilah) menjawab, &#8220;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>.&#8221; (H.r. Ad-Daruquthni dalam <em>Mu&#8217;jam Al-Kabir</em>)</li>
<li>Dari Adham, mantan budak Umar bin Abdul Aziz; beliau mengatakan, &#8220;Ketika hari raya, kami menyampaikan ucapan kepada Umar bin Abdul Aziz, &#8216;<em>Taqabbalallahu minna wa minkum</em>, wahai Amirul Mukminin.&#8217; Maka beliau pun menjawab dengan ucapan yang sama dan beliau tidak mengingkarinya.&#8221; (H.r. Al-Baihaqi)</li>
<li>Dari Syu&#8217;bah bin Al-Hajjaj; beliau mengatakan, &#8220;Saya bertemu dengan Yunus bin Ubaid, dan saya sampaikan, &#8216;<em>Taqabbalallahu minna wa minka</em>.&#8217; Kemudian beliau jawab dengan ucapan yang sama.&#8221; (H.r. Ad-Daruquthni dalam <em>Ad-Du&#8217;a</em>)</li>
</ol>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>idul fitri 2011</strong>, <strong>ucapan lebaran</strong>, <strong>lebaran 2011</strong>, <strong>ucapan id</strong>, <strong>kado ucapan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ucapan-selamat-di-hari-raya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Syawal dan Niatnya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/puasa-syawal-dan-niatnya</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/puasa-syawal-dan-niatnya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Aug 2011 09:09:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[amalan sesudah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa syawaql]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7322</guid>
		<description><![CDATA[Tata cara niat puasa syawal Bagaimana cara niat puasa Syawal? Jawaban: Niat Puasa Syawal Alhamdulillah, wash-shalatu wassalamu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi ajma&#8217;in, wa ba&#8217;du &#8230;. Permasalahan ini diperselisihkan oleh ulama. Sebagian ulama menyatakan bahwa tidak wajib ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tata cara niat puasa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/syawal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with syawal">syawal</a><strong><br />
</strong></h2>
<p>Bagaimana cara niat <strong>puasa Syawal</strong>?<br />
<span id="more-7322"></span><br />
<strong>Jawaban: </strong></p>
<h3>Niat Puasa Syawal</h3>
<p><em>Alhamdulillah, wash-shalatu wassalamu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi ajma&#8217;in, wa ba&#8217;du &#8230;.</em></p>
<p>Permasalahan ini diperselisihkan oleh ulama. Sebagian ulama menyatakan bahwa tidak wajib berniat di malam hari untuk puasa sunah, baik puasa sunah mutlak maupun terkait hari tertentu. Pendapat ini berdasarkan hadis Aisyah<em> radhiallahu &#8216;anha</em>; beliau mengatakan, &#8220;<em>Rasulullah menemuiku pada suatu pagi, kemudian beliau bertanya, &#8216;Apakah kalian memiliki suatu makanan?&#8217; Aisyah mengatakan, &#8216;Tidak.&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Jika demikian, aku puasa.&#8217; Di kesempatan hari yang lain, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mendatangi kami (Aisyah). Kami mengatakan, &#8216;Wahai Rasulullah, kami diberi hadiah hais (adonan).&#8217; Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam meminta, &#8216;Tunjukkan kepadaku, karena tadi pagi aku berniat puasa.&#8217;</em>” (H.r. Muslim, no. 1154)</p>
<p>Dari sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> “<em>jika demikian, saya puasa</em>” bisa dipahami bahwa beliau belum berniat untuk puasa di malam hari.</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat &#8211;seperti: Syekh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>&#8211; bahwa diwajibkan untuk berniat di malam hari untuk puasa &#8220;tertentu&#8221; [1], seperti: puasa enam hari bulan Syawal, hari Arafah, Asyura, atau puasa &#8220;tertentu&#8221; lainnya. Jika ada orang yang melakukan puasa setengah hari (karena dia baru berniat di siang hari), dia tidak dianggap telah melaksanakan puasa satu hari penuh di hari itu [2]. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjanjikan pahala untuk puasa enam hari (di bulan Syawal, <em>ed.</em>) secara penuh.</p>
<p>Di samping itu, dijelaskan oleh beberapa ulama bahwa pahala puasa dicatat sejak mulai berniat. Dengan demikian, jika niat puasanya dimulai tidak dari awal hari &#8211;yaitu sejak terbit fajar&#8211; maka pahalanya kurang, sehingga dia tidak mendapatkan pahala yang dijanjikan untuk puasa enam hari ini.</p>
<p>Oleh karena itu, jika ada orang yang mengawali puasa sunah tertentu di siang hari maka puasanya tidak bisa dinilai sebagai puasa sunah tertentu. Namun, hanya puasa sunah <em>mutlak</em> [3]. Artinya, dia hanya mendapat pahala puasa sunah<em> mutlak</em>. Inilah pendapat yang lebih kuat menurutku. <em>Allahu a&#8217;lam</em>. (<strong>Sumber</strong>: <em>http://www.islamtoday.net/questions/&#8230;t.cfm?id=93957</em>)</p>
<p>Uraian di atas adalah keterangan dari Syekh Dr. Khalid Al-Musyaiqih. Beliau adalah salah satu pengajar di Universitas Al-Qasim. Beliau merupakan murid Syekh Ibnu Utsaimin dan Syekh Abdullah Al-Qar&#8217;awi. Saat ini, beliau aktif meneliti dan memberikan catatan kaki untuk kitab-kitab para ulama.</p>
<p>*</p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><strong>[1] </strong>Puasa sunah ada dua:</p>
<ol>
<li>Puasa sunah <em>mu&#8217;ayyan</em> (tertentu), yaitu puasa sunah yang <strong>terkait</strong> dengan hari atau tanggal tertentu, seperti: puasa Senin-Kamis, puasa Arafah, dan puasa 6 hari di bulan Syawal.</li>
<li>Puasa sunah <em>mutlak</em>, yaitu puasa sunah yang <strong>tidak</strong> terkait dengan hari atau tanggal tertentu. Karena itu, tidak ada batasan waktu maupun jumlah. Puasa yang dilakukan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagaimana disebutkan dalam hadis Aisyah di atas adalah contoh puasa sunah <em>mutlak.</em></li>
</ol>
<p><strong>[2] </strong>Jika ada orang yang berniat puasa sunah di siang hari maka dia mulai dihitung berpuasa sejak dia berniat puasa. Adapun sebelum itu, dia belum berniat sehingga tidak dianggap menjalankan ibadah, meskipun belum makan atau minum. Dengan demikian, ketika ada orang yang berniat puasa Senin setelah jam 9.00 maka dia baru dianggap puasa sejak jam 9.00. Apakah orang ini telah dianggap melaksanakan puasa sunah hari Senin? Jawabannya, orang ini <strong>tidak</strong> dianggap telah berpuasa sunah hari Senin karena dia tidak melaksanakan puasa Senin sejak awal, tetapi baru mulai sejak jam 9.00. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>[3]</strong> Misalnya: seseorang mulai berniat puasa Kamis sejak jam 10.00, maka dia baru dihitung berpuasa hari Kamis sejak jam 10.00. Dengan demikian, dia tidak dianggap telah melaksanakan puasa sunah hari Kamis sehingga dia hanya mendapatkan pahala puasa mutlak, tetapi tidak mendapatkan pahala puasa sunah hari Kamis. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Keterangan tambahan:</strong></p>
<p><strong>Tidak ada lafal niat khusus</strong> untuk puasa Syawal. Seseorang yang sudah memiliki keinginan untuk puasa Syawal di malam hari itu sudah dianggap berniat, <strong>karena inti niat adalah keinginan dan bermaksud</strong>. Lebih dari itu, melafalkan niat adalah satu perbuatan yang tidak pernah diajarkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>syawal</strong>, <strong>puasa sunnah</strong>, <strong>amalan sesudah ramadhan</strong>, <strong>sunnah puasa</strong>, <strong>puasa syawaql</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/puasa-syawal-dan-niatnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Zakat Fitrah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-zakat-fitrah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-zakat-fitrah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 04:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa zakat]]></category>
		<category><![CDATA[doa zakat fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6997</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana doa zakat fitrah (zakat fitri) Adakah doa zakat fitrah pada waktu menjelang idul fitri? Jawaban: Tidak ada doa khusus ketika membayar zakat fitri (zakat fitrah). Lajnah Daimah (Komite Tetap untuk Fatwa dan Penelitian Islam) ditanya, &#8220;Apakah ada bacaan khusus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bagaimana <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa-zakat-fitrah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa zakat fitrah">doa zakat fitrah</a> (zakat fitri)<strong><br />
</strong></h2>
<p>Adakah <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa-zakat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa zakat">doa zakat</a> fitrah</strong> pada waktu menjelang idul fitri?<br />
<span id="more-6997"></span><br />
<strong>Jawaban: </strong></p>
<p>Tidak ada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> khusus ketika membayar <a title="Zakat Fitrah vs Zakat Fitri" href="http://konsultasisyariah.com/istilah-zakat-fitrah-dan-zakat-fitri" target="_blank">zakat fitri</a> (zakat fitrah).</p>
<p>Lajnah Daimah (Komite Tetap untuk Fatwa dan Penelitian Islam) ditanya, &#8220;Apakah ada bacaan khusus ketika membayar zakat fitri? (<em><strong>doa zakat fitrah</strong></em>)&#8221;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8220;Alhamdulillah, kami tidak mengetahui adanya doa tertentu (doa zakat fitrah) yang diucapkan ketika membayar zakat fitri. <em>Wa billahit taufiq</em>.&#8221;</p>
<p>Fatwa Lajnah yang tercantum di <a title="fatwa lajnah, zakat fitri, islamqa" rel="nofollow" href="http://www.islamqa.com/ar/ref/27015" target="_blank"><em>http://www.islamqa.com/ar/ref/27015</em></a></p>
<p>**</p>
<h3>Catatan redaksi perihal doa zakat fitrah<strong><br />
</strong></h3>
<p>Bagi yang ingin <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">berdoa</a> (doa <a title="waktu menunaikan zakat fitrah" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dan-waktunya" target="_blank">zakat fitrah</a>), memohon kepada Allah agar Dia mengabulkan amalnya. Misalnya, bisa dengan membaca doa,</p>
<p class="arab">اللّهُمَّ تَقَبَّل مِنِّي إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ</p>
<p>&#8220;<em>Ya Allah, terimalah amal dariku. Sesungguhnya, Engkau Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui</em>.&#8221;</p>
<p>Hanya saja, doa ini berlaku <strong>untuk semua bentuk ibadah</strong>, tidak hanya pada zakat (<span style="text-decoration: underline;">doa zakat fitrah</span>)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam. </em></p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong> Tidak penjelasan masalah doa zakat fitrah secara khusus</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>&quot;zakat fitrah&quot;</strong>, <strong>doa zakat fitrah</strong>, <strong>kadar zakat</strong>, <strong>doa zakat</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>feature</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-zakat-fitrah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serba-Serbi Lailatul Qadar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/malam-lailatul-qadar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/malam-lailatul-qadar#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 06:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[qadar]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[romadhon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6904</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan penting serba-serbi lailatul qadar Mohon dijelaskan tentang lailatul qadar: ciri-cirinya, keutamaanya, cara mendapatkannya, dan kapan terjadinya. Jawaban: Pengertian lailatul qadar Istilah “lailatul qadar” terdiri dari dua kata: &#8220;lailah&#8221; (Arab: ليلة) yang artinya &#8216;malam&#8217;; &#8220;qadr&#8221; (Arab: قدر) yang artinya &#8216;kemuliaan&#8217;. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Penjelasan penting serba-serbi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/lailatul-qadar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with lailatul qadar">lailatul qadar</a></h2>
<p>Mohon dijelaskan tentang <em>lailatul <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/qadar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with qadar">qadar</a></em>: ciri-cirinya, keutamaanya, cara mendapatkannya, dan kapan terjadinya.<br />
<span id="more-6904"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h2>Pengertian lailatul qadar<strong><br />
</strong></h2>
<p>Istilah “<em>lailatul qadar</em>” terdiri dari dua kata: &#8220;<em>lailah</em>&#8221; (Arab: <strong>ليلة</strong>) yang artinya &#8216;malam&#8217;; &#8220;<em>qadr</em>&#8221; (Arab: <strong>قدر</strong>) yang artinya &#8216;kemuliaan&#8217;. Gabungan dua kata ini berarti &#8220;malam kemuliaan&#8221;. Karena itu, kita tidak menyebut “malam <em>lailatul qadar</em>” karena berarti ada kata “malam” yang berulang; “malam <em>lailatul qadar</em>” = “malam-malam qadar.” Dengan demikian, istilah yang lebih tepat adalah “<em>lailatul qadar</em>” atau “malam <em>qadar</em>”.</p>
<h3>Keutamaan lailatul qadar<strong><br />
</strong></h3>
<p>&#8220;<em>Lailatul qadar</em>&#8221; lebih baik daripada seribu bulan, yang setara dengan 83 tahun dan 4 bulan.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</p>
<p>“Tahukah kamu apa itu lailatul qadar? Lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan.” (Q.s. Al-Qadar:2&#8211;3)</p>
<p>Pada malam itu, diputuskan segala perkara yang ditetapkan, dan ditentukan pula takdir rezeki, ajal, dan segala sesuatu yang akan terjadi di tahun tersebut.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ. فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ. أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ. رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu, diputuskan segala urusan yang telah ditetapkan. Keputusan dari Kami. Sesungguhnya, Kami yang mengutus (para rasul). Sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya, Dia adalah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui</em>.” (Q.s. Ad-Dukhan:3&#8211;6)<br />
Menghidupkan <em>lailatul qadar</em> merupakan penyebab diampuninya dosa</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>; Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Barang siapa yang beribadah pada lailatul qadar karena dasar iman dan mengharap pahala maka diampuni dosanya yang telah berlalu</em>.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<h2>Kapan<em> lailatul qadar</em> datang?</h2>
<p>Tidak ada satu pun yang tahu waktu terjadinya <em>lailatul qadar</em> karena ini adalah rahasia Allah. Hanya saja, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberikan saran agar mencari <em>lailatul qadar</em> di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadan karena <em>lailatul qadar </em>berpeluang untuk terjadi pada malam-malam tersebut.</p>
<p>Dari Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> selalu menghidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Beliau bersabda, “<em>Carilah malam qadar di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan</em>.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Barang siapa yang tidak mampu beribadah di awal sepuluh malam terakhir, hendaknya tidak ketinggalan untuk beribadah di tujuh malam terakhir. Dari Ibnu Umar; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda tentang <em>lailatul qadar</em>, “<em>Carilah di sepuluh malam terakhir. Jika ada yang tidak mampu maka jangan sampai ketinggalan ibadah di tujuh malam terakhir</em>.” (H.r. Muslim)</p>
<h3>Bagaimana caranya agar mendapatkan <em>lailatul qadar</em>?</h3>
<p>Di antara hikmah Allah, Dia menyembunyikan malam <em>qadar</em>, agar hamba-Nya mencarinya setiap malam. Oleh karena itu, selayaknya seorang muslim menghidupkan malam-malam terakhir dengan berbagai macam ibadah untuk mendapatkan <a title="Lailatul Qadar dan Tanda-Tandanya" href="http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-tanda-tanda-nya" target="_blank"><strong>lailatul qadar</strong></a>, di antaranya:</p>
<p><strong>1. <a title="Serba-Serbi I’tikaf" href="http://konsultasisyariah.com/iktikaf" target="_blank">I&#8217;tikaf</a></strong><br />
Dari &#8216;Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>; bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terbiasa i&#8217;tikaf pada malam terakhir bulan Ramadan sampai Allah mewafatkan beliau. (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>2. Menghidupkan malam dengan ibadah dan membangunkan keluarga untuk beribadah</strong><br />
Dari Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>; bahwa ketika masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membangunkan keluarganya, menghidupkan malam-malamnya, dan mengencangkan sarungnya. (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>3. Mandi, berhias, dan memakai minyak pada waktu antara magrib sampai isya</strong><br />
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, bahwa ketika bulan Ramadan, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terkadang tidur dan bangun beribadah. Akan tetapi, ketika masuk 10 hari terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menjauhi istri-istrinya, dan mandi pada waktu antara maghrib sampai isya. Ibnu Jarir mengatakan, &#8220;Dahulu, para sahabat menganjurkan untuk mandi setiap malam pada sepuluh malam terakhir.&#8221;</p>
<h4>Tanda-tanda <a title="lailatul qadar" href="http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-untuk-wanita-haid" target="_blank"><em>lailatul qadar</em></a></h4>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>; bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda tentang <em>lailatul qadar</em>, “<em>Dia adalah malam yang indah, sejuk, tidak panas, tidak dingin, di pagi harinya matahari terbit dengan cahaya merah yang tidak terang.</em>” (H.r. Ibnu Khuzaimah; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<h4>Apa yang diucapkan ketika menjumpai <em>lailatul qadar</em>?</h4>
<p>Ketika kita merasa bahwa di malam tertentu memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan dalam hadis Ibnu Abbas di atas, maka disyariatkan bagi kita agar memperbanyak membaca <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>. Terutama bacaan yang diajarkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>kepada istri beliau Aisyah<em> radhiallahu &#8216;anha</em>, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:</p>
<p>Dari Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, &#8220;Saya bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai satu malam yang itu merupakan <em>lailatul qadar</em>, apa yang aku ucapkan?&#8217; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, &#8216;Ucapkanlah,</p>
<p class="arab">اللَّـهُـمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُـحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي</p>
<p>&#8216;<em>Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Pemaaf dan Maha Pemurah maka maafkanlah diriku</em>.&#8221;&#8221; (Hadis <em>sahih</em>; diriwayatkan oleh At-Turmudzi dan Ibnu Majah)</p>
<h4>Apa tanda telah mendapatkan<em> lailatul qadar</em>?</h4>
<p>Banyak orang beranggapan bahwa orang yang mendapatkan lailatul qadar akan mengalami <em>kasyaf </em>di malam tersebut. &#8220;<em>Kasyaf</em>&#8221; sendiri artinya &#8216;terbukanya tabir gaib&#8217;, seperti: bisa melihat langit terbelah, malaikat datang, melihat cahaya di langit, atau tulisan lafal &#8220;Allah&#8221;, dan sebagainya. Semua anggapan ini adalah anggapan yang tidak berdasar.</p>
<p>Syarat bisa mendapatkan lailatul qadar bukanlah harus mengalami hal-hal di atas. Setiap muslim yang melakukan amal apa pun di malam itu, dihitung dari mulai magrib sampai subuh, maka amalnya akan dinilai lebih baik daripada seribu bulan. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</p>
<p>“<em>Tahukah kamu apa itu lailatul qadar? Lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan</em>.&#8221; (Q.s. Al-Qadar:2&#8211;3)<br />
Di akhir surat Al-Qadar, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>“<em>Ini adalah malam yang penuh keselamatan, sampai terbit fajar</em>.&#8221; (Q.s. Al-Qadar:5)<br />
<em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Disusun oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Demikianlah penjelasan serba-serbi <strong>malam lailatul qadar</strong>, mulai dari pengertian lailatul qadar dan amalan-amalan pada malam lailatul qadar. Semoga bermanfaat!</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>ramadhan</strong>, <strong>lailatul qadar</strong>, <strong>romadhon</strong>, <strong>qadar</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/malam-lailatul-qadar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 56/193 queries in 0.071 seconds using disk: basic
Object Caching 14291/14570 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-08 11:27:55 -->
