<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Ibadah</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 02:42:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Halalkah Zakat Bagi Habaib?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/halalkah-zakat-bagi-habaib</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/halalkah-zakat-bagi-habaib#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 02:51:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10430</guid>
		<description><![CDATA[Halalkah Zakat Bagi Habaib? Pertanyaan: “Apa hukum memberikan zakat kepada seorang yang keturunan ahli bait?” Jawaban: “Menurut mazhab Hanbali tidak boleh memberikan zakat kepada Bani Abdul Muthallib [semua keturunan Abdul Muthallib bin Hisyam bin Abdi Manaf]. Sedangkan dalam mazhab Syafii ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Halalkah Zakat Bagi Habaib?</h2>
<p>Pertanyaan: “Apa hukum memberikan zakat kepada seorang yang keturunan ahli bait?”<br />
<span id="more-10430"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>“Menurut mazhab Hanbali tidak boleh memberikan zakat kepada Bani Abdul Muthallib [semua keturunan Abdul Muthallib bin Hisyam bin Abdi Manaf].</p>
<p>Sedangkan dalam mazhab Syafii terlarang memberikan zakat kepada Bani Hasyim [anak keturunan Hisyam bin Abdi Manaf] demikian pula Bani Abdul Muthallib.</p>
<p>Pada dasarnya mereka diberi santunan dari harta rampasan perang akan tetapi jika tidak ada harta rampasan perang maka mereka mendapatkan santunan dari kas negara selain zakat”</p>
<p><strong>Referensi: <a href="http://khudheir.com/text/1492" rel="nofollow" target="_blank">khudheir.com</a></strong></p>
<p>Berdasarkan uraian di atas maka <strong>habib</strong> atau habaib yang merupakan keturunan <a href="http://konsultasisyariah.com/rasulullah-meminta-miskin" target="_blank">Rasulullah</a> tentu saja tidak berhak dan tidak boleh diberi uang zakat karena mereka tentu saja merupakan bagian dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib yang merupakan ahl bait Nabi.</p>
<p>Oleh Ustadz Aris Munandar, M.A.</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/halalkah-zakat-bagi-habaib/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ziarah Kubur bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 06:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10269</guid>
		<description><![CDATA[Ziarah Kubur bagi Wanita Pertanyaan: Bolehkah wanita berziarah ke kubur? Jawaban: Kedudukan wanita (dalam ibadah) hampir sama dengan kaum pria. Kewajiban pria juga bisa menjadi kewajiban wanita. Begitu pula mereka sama dalam mengerjakan perkara-perakara yang disunahkan. Mereka berbeda dalam perkara-perkara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ziarah Kubur bagi Wanita</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Bolehkah wanita berziarah ke kubur?<br />
<span id="more-10269"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kedudukan wanita (dalam ibadah) hampir sama dengan kaum pria. Kewajiban pria juga bisa menjadi kewajiban wanita. Begitu pula mereka sama dalam mengerjakan perkara-perakara yang disunahkan. Mereka berbeda dalam perkara-perkara yang dikhususkan oleh syariat.</p>
<p>Dalam perkara yang ditanyakan, saya tidak menemukan adanya dalil khusus yang mengharamkan wanita berziarah ke kuburan. Bahkan terdapat sebuah hadis dalam <em>Shahih Muslim</em> yang menceritakan tindakan Aisyah yang dilandasi rasa cemburu kepada istri-istri Nabi yang lain. Lengkapnya sebagai berikut:</p>
<p>Di malam hari ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyangka Aisyah telah tertidur, beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> turun dari tempat tidur kemudian berjalan dengan mengendap-endap, menuju ke pekuburan Baqi’. Mengetahui hal itu Aisyah yang belum tertidur mengikuti dari belakang. Jika Nabi melambatkan ayunan langkahnya, Aisyah pun ikut melambatkan jalannya. Dan jika Nabi berjalan cepat, Aisyah pun berjalan cepat, ketika Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pulang ke rumah, Aisyah dengan segera masuk ke rumah dan tidur di atas tempat tidurnya. Rasulullah segera masuk kamar menemui Aisyah. Karena Aisyah nampak terengah-engah; Rasulullah bertanya kepada, “<em>Ada apa wahai Ais? Apakah engkau menyangka Allah dan rasul-Nya akan berbuat curang kepadamu?. Sesungguhnya tadi Jibril datang dan menyampaikan salam dari Allah kepadaku, dan juga menyampaikan perintah Allah agar saya mendatangi pekuburan Baqi&#8217; lalu memintakan ampun penghuninya</em>.” Dalam kitab lain disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Apa artinya aku bila dibandingkan dengan engkau Ya Rasulullah.” Selanjutnya (Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Kalau begitu, apa yang diucapkan jika berziarah ke kuburan?” Nabi menjawab, “Bacalah&#8230;&#8221;</p>
<p>Adapun hadis yang melarang para wanita berziarah ke kubur adalah,</p>
<p>“<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>.”</p>
<p>Hadis ini hanya berlaku di Mekah karena diucapkan di Mekah dan dalam periode Mekah (sebelum hijrah –ed.). Dalil yang menguatkan adalah sebuah hadis yang sudah kita kenal yang bunyinya:</p>
<p>“<em>Dahulu saya melarang kalian mendatangi (ziarah) kubur, adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya.</em>”</p>
<p>Dengan demikian jelaslah bahwa pelarangan <strong>ziarah kubur</strong> itu hanya berlaku dalam periode Mekah, bukan pada periode Madinah. Pelarangan ini dimaksudkan karena di masa periode Mekah para sahabat baru saja memeluk Islam. Tidak mungkin pelarangan ini berlaku setelah hijrah ke Madinah.</p>
<p>Ucapan Nabi “<em>Adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya</em>” boleh jadi diucapkan di Mekah, tetapi waktu atau tempat diucapkannya ini tidak berpengaruh sama sekali. Yang jelas izin berziarah ke kubur datang belakangan setelah pelarangannya di Mekah, dan ini sangat berkaitan dengan hadis Aisyah di atas. Jika kita menganggap hadis “<em>Dahulu saya melarang&#8230;</em>” diucapkan setelah hadis Aisyah, berarti hadis Aisyah di-<em>mansukh</em> (dihapus). Dan anggapan ini sangat jauh dari kebenaran.</p>
<p>Yang benar adalah Rasulullah melarang ziarah ke kubur pada periode Mekah, tetapi di akhir-akhir periode Mekah atau pada awal hijrah ke Madinah beliau mengizinkannya melalui sabdanya, “<em>Adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya</em>.” Tidak diragukan lagi bahwa pelarangan ziarah kubur di periode Mekah diperuntukkan bagi laki-laki dan perempuan. Begitu pula perizinannya yang keluar pada akhir periode Mekah dan awal hijrah ke Madinah juga bagi laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Kalau begitu kapan hadis “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>” diucapkan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Jika hadis ini diucapkan setelah izin Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada para wanita untuk berziarah kubur, berarti terjadi penghapusan hukum dua kali (dilarang, lalu dibolehkan, dan akhirnya dilarang lagi) di-<em>mansukh</em> dua kali. Hal seperti ini tidak pernah kita jumpai dalam hukum-hukum syariat.</p>
<p>Baiklah, kita anggap saja bahwa Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengucapkan hadis “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>” setelah beliau mengizinkan pria dan wanita berziarah kubur. Tapi bagaimana dengan hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah memberikan izin kepada Aisyah untuk berziarah kubur? Apakah izin Rasulullah ini keluar setelah hadis laknat di atas? Atau sebelumnya? Pendapat yang kuat menurut kami adalah bahwa izin Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> keluar sebelum hadis, “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>.”</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong><br />
Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa yang dilarang adalah perempuan yang berlebih-lebihan dan terlalu sering berziarah. Sangat tidak mungkin ziarah ini haram bagi wantia, sementara Sayyidah Aisyah kerap kali berziarah kubur, walaupun Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sudah meninggal.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8211; 2004 M</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ziarah kubur:</h3>
<p>1. <a href="../bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan" rel="nofollow" target="_blank">Bolehkah memakai alas kaki di kuburan.</a><br />
2. <a href="../bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur" rel="nofollow" target="_blank">Wanita haid berziarah kubur.</a><br />
3. <a href="../gambaran-adzab-kubur" rel="nofollow" target="_blank">Gambaran azab kubur.</a><br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur" target="_blank">Tabur Bunga Saat Ziarah Kubur</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembagian Waris untuk Ibu atau Adik Kandung</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-untuk-ibu-atau-adik-kandung</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-untuk-ibu-atau-adik-kandung#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 23:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10052</guid>
		<description><![CDATA[Pembagian Waris untuk Ibu atau Adik Kandung Pertanyaan: Asswrwb, ustadz afwan saya mau bertanya. Saya mempunyai saudara yang telah meninggal enam bulan yang lalu. Almarhum meninggalkan satu orang istri, satu anak angkat yang telah diadopsi, ibu, ayah, dan 3 orang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pembagian Waris untuk Ibu atau Adik Kandung</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Asswrwb</em>, ustadz afwan saya mau bertanya. Saya mempunyai saudara yang telah meninggal enam bulan yang lalu. Almarhum meninggalkan satu orang istri, satu anak angkat yang telah diadopsi, ibu, ayah, dan 3 orang saudara laki-laki. Akhir-akhir ini, ibu almarhum mendesak istri almarhum untuk segara membagi dua harta dengan adik almarhum yang bungsu karena ia belum punya pekerjaan, sementara dua saudaranya yang lain sudah mapan. Istri almarhum keberatan untuk secapatnya membagi warisan ini dengan alasan masih berduka, pertanyaan saya kapankah sebaiknya harta warisan itu dibagi dan berapa pembagian untuk masing-masing keluarga yang ditinggal? Almarhum selain meninggalkan banyak harta, juga ada cicilan kredit mobil ke bank yang belum dilunasi. <em>Wass, jazakallah.</em></p>
<p>Dari: Sri Gantini<br />
<span id="more-10052"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<strong>1.</strong> Semua utang dillunasi dulu, sampai bersih.</p>
<p><strong>2.</strong> Sisa harta jadi warisan.</p>
<p>Yang berhak mendapatkan warisan dari kasus yang Anda sampaikan hanya tiga orang:</p>
<p><strong>1.</strong> Istri, dia mendapat 1/4 dr total warisan, karena tidak memiliki anak. Dalilnya surat An-Nisa ayat 12.</p>
<p class="arab">وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُم إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ</p>
<p>&#8220;&#8230;Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>2.</strong> Ibu, beliau mendapat 1/3 dr total warisan. Dalilnya surat An-Nisa ayat 11.</p>
<p class="arab">فَإِن لَّمْ يَكُن لَّهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلأُمِّهِ الثُّلُثُ</p>
<p>&#8220;&#8230;Jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>3.</strong> Bapak, beliau mendapatkan semua sisa warisan, karena status beliau sebagai pemilik <em>&#8216;ashabah</em>.</p>
<p>Sementara saudara dan anak angkat, sama sekali tidak mendapatkan harta warisan, kecuali jika ada wasiat dari mayit.</p>
<p>Saudara tidak mendapatkan warisan karena mereka <em>mahjub</em> (terhalang) dengan keberadaan bapak.</p>
<p>Jika pihak saudara ingin mendapatkan harta, mereka bisa meminta ke ibu atau ke bapaknya.<br />
<em></em></p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong>Artikel <a href="../" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultaiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Artikel yang berkaitan dengan <strong>pembagian waris</strong>:</h3>
<p>1. <a href="../penghalang-untuk-mendapatkan-warisan" rel="nofollow" target="_blank">Penghalang untuk Mendapat Warisan</a>.<br />
2. <a href="../tuntunan-pembagian-warisan-01" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 01</a>.<br />
3. <a href="../pembagian-harta-warisan-ibu" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 02</a>.<br />
4. <a href="../warisan-untuk-istri-dan-bapak" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 03</a>.<br />
5. <a href="../tuntunan-pembagian-warisan-04" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 04</a>.<br />
6. <a href="../menunaikan-wasiat-sebelum-membagi-warisan" rel="nofollow" target="_blank">Menunaikan Wasiat Sebelum Pembagian Waris.</a><br />
7. <a href="http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-dalam-islam" target="_blank">Adilnya Pembagian Waris Islam</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-untuk-ibu-atau-adik-kandung/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Shalat Jenazah Saat Takbir ke-3</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-shalat-jenazah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-shalat-jenazah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 07:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9985</guid>
		<description><![CDATA[Doa Shalat Jenazah Saat Takbir ke-3 Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Doa shalat jenazah rakaat ke-3: &#8220;Allahumma anta Rabbuha wa anta kholaqtaha wa anta badaitaha lil-Islami, wa anta qabadhta ruhaha, wa anta a&#8217;lamu bisirriha wa &#8216;ala niyatiha ji&#8217;na ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Doa Shalat Jenazah Saat Takbir ke-3</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh</em> Ustadz,<br />
Doa <strong>shalat jenazah</strong> rakaat ke-3: <em>&#8220;Allahumma anta Rabbuha wa anta kholaqtaha wa anta badaitaha lil-Islami, wa anta qabadhta ruhaha, wa anta a&#8217;lamu bisirriha wa &#8216;ala niyatiha ji&#8217;na syufa&#8217;a a lahu faghfir lahu&#8221;</em> (HR. Abu Dawud, <em>Riyadlus Shalihin</em> II Hal.46). Apakah ini bisa untuk perempuan dan laki-laki, tanpa mengubah &#8220;<em>Rabbuha</em>&#8221; menjadi &#8220;<em>Rabbuhu</em>&#8221; atau &#8220;<em>khalaqtaha</em>&#8221; menjadi &#8220;<em>khalaqtahu</em>&#8220;&#8230;?</p>
<p>Dari: Herbono Utomo<br />
<span id="more-9985"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa &#8216;alaikumussalam wa rahmatullah wa barakaatuh</em><br />
Doa shalat jenazah rakaat ke-3: &#8220;<em>Allahumma anta Rabbuha wa anta kholaqtaha wa anta badaitaha lil-Islami, wa anta qobadhta ruhaha, wa anta a&#8217;lamu bisirriha wa &#8216;ala niyatiha ji&#8217;na syufa&#8217;a a lahu faghfir lahu</em>&#8221; (HR. Abu Dawud, <em>Riyadlus Shalihin</em>: II Hal. 46). Apakah ini bisa utk perempuan dan laki-laki tanpa mengubah &#8220;<em>Rabbuha</em>&#8221; menjadi &#8220;Rabbuhu&#8221; atau <em>&#8220;khalaqtaha</em>&#8221; menjadi &#8220;<em>khalaqtahu</em>&#8220;&#8230;?</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Doa di atas statusnya dhaif (lemah). Hadis itu dibawakan Abu Daud dari Abu Ma&#8217;mar dari Abdul Warits. Di akhir hadis Abu Daud mengatakan,</p>
<p class="arab">وسمعت أحمد بن إبراهيم الموصلى يحدث أحمد بن حنبل قال ما أعلم أنى جلست من حماد بن زيد مجلسا إلا نهى فيه عن عبد الوارث وجعفر بن سليمان</p>
<p>Saya mendengar Ahmad bin Ibrahim al-Mushili pernah berkata kepada Imam Ahmad, &#8220;Setiap kali saya duduk di majlis Hammad bin Zaid, beliau pasti melarang untuk mengambil hadis dari Abdul Warits dan Ja&#8217;far bin Sulaiman.&#8221; (<em>Sunan Abu Daud</em>, keterangan hadis no.3202)</p>
<p>Doa ini juga didhaifkan Syaikh Al-Albani, sebagaimana yang beliau jelaskan dalam <em>Al-Musykah</em>, hadis no.1688.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait fikih jenazah:</h3>
<p>1. <a href="../mengubur-jenazah-dengan-peti" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah dengan Peti</a>.<br />
2. <a href="../memindahkan-makam" rel="nofollow" target="_blank">Memindahkan Makam</a>.<br />
3. <a href="../mengumumkan-kematian-melalui-microphone" rel="nofollow" target="_blank">Mengumumkan Kematian Ke Mikropon</a>.<br />
4. <a href="../bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari" rel="nofollow" target="_blank">Mengubur Jenazah Pada Malam Hari</a>.<br />
5. <a href="../apa-hukum-adzan-dan-talqin-kepada-mayat" rel="nofollow" target="_blank">Hukum Adzan dan Iqomah pada Talqin Jenazah</a>.<br />
6. <a href="../bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan" rel="nofollow" target="_blank"><strong>Mengantar Jenazah</strong> dengan Kendaraan</a>.<br />
7. <a href="http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah" target="_blank">Dzikir Ketika Mengantar Jenazah</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-shalat-jenazah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pakaian-dokter-berlumur-air-ketuban</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pakaian-dokter-berlumur-air-ketuban#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 23:21:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9881</guid>
		<description><![CDATA[Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban Pertanyaan: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Jika pakaian seorang dokter berlumuran dengan air ketuban atau darah (lahiran), maka apakah dibolehkan melakukan shalat dengna pakaian tersebut karena kesulitan mengganti pakaian di setiap waktu shalat sebagai konsekwensi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya:</em><br />
Jika pakaian seorang dokter berlumuran dengan air <a href="http://konsultasisyariah.com/keluar-ketuban-membatalkan-puasa" target="_blank">ketuban</a> atau darah (lahiran), maka apakah dibolehkan melakukan shalat dengna pakaian tersebut karena kesulitan mengganti pakaian di setiap waktu shalat sebagai konsekwensi pekerjaannya itu?<br />
<span id="more-9881"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Pakaian Dokter Berlumur Air Ketuban</h3>
<p>Hendaknya ia menyediakan pakaian suci yang khusus ia gunakan untuk shalat sebagai pengganti pakaian yang terkena najis, dan hal itu bukanlah suatu hal yang menyulitkan baginya.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pakaian-dokter-berlumur-air-ketuban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adilkah Pembagian Waris dalam Islam?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-dalam-islam</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-dalam-islam#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 07:11:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Waris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10283</guid>
		<description><![CDATA[Adilkah Pembagian Waris dalam Islam? Pertanyaan: Bismillah. Assalamu’alaikum warahmatullah. Afwan, ada sebagian orang berpendapat bahwa pembagian waris harus memenuhi unsur keadilan (syariat mengatur laki-laki mendapat dua bagian wanita satu bagian) mereka berpendapat jika seperti itu kemungkinan tidak adil. Misal, si ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Adilkah Pembagian Waris dalam Islam?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Bismillah. Assalamu’alaikum warahmatullah.</em><br />
Afwan, ada sebagian orang berpendapat bahwa <span style="text-decoration: underline;"><strong>pembagian waris</strong></span> harus memenuhi unsur keadilan (syariat mengatur laki-laki mendapat dua bagian wanita satu bagian) mereka berpendapat jika seperti itu kemungkinan tidak adil. Misal, si laki-laki kaya (mampu) sedang si wanita miskin, jika diberikan dua bagian untuk laki-laki katanya tidak adil. Betulkah pendapat mereka? Pembagian waris laki-laki dan wanita 2:1, apakah memang dalam semua keadaan (bagaiamana contoh di atas)? Atas jawabannya saya ucapkan, <em>Jazakumullah khoiral jaza’</em>.<br />
<span id="more-10283"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Adilnya Pembagian Waris dalam Islam</h3>
<p>Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, keluarga, dan sahabatnya.</p>
<p>Keadilan adalah asas tegaknya alam semesta. Karenanya, wajar bila keadilan adalah bagian dari prinsip utama syariat Islam. Dan Allah membenci dan memerangi segala bentuk kezhaliman.</p>
<p>“<em>Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat zhalim</em>.” (QS. Ali-Imron: 57)</p>
<p>Bukan hanya mengharamkannya atas umat manusia saja, bahkan Allah <em>Ta’ala</em> juga mengharamkannya atas diri-Nya sendiri.</p>
<p>“<em>Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan tindak kezhaliman atas diri-Ku sendiri, dan Aku mengharamkannya atas kalian, maka jangan saling menzhalimi.</em>” (HR. Muslim)</p>
<p>Anda bisa membayangkan betapa pentingnya keadilan, bila ternyata Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa juga mengharamkan tindak kezhaliman atas diri-Nya. Bila demikian adanya, mungkinkah ada satu syariat-Nya yang mengandung kezhaliman atau ketidakadilan? Hanya yang perlu diluruskan adalah definisi tentang keadilan. Apa dan menurut siapa Anda mendefinisikan kata keadilan? Kaum komunis memiliki definisi tersendiri, sebagaimana kaum kapitalis dan sekuler juga memiliki definisi tersendiri.</p>
<p>Nah, keadilan menurut siapakah yang menjadi parameter? Mungkinkah kita sebagai orang yang beriman menginginkan keadilan sebagaimana yang dideskripsikan oleh kaum komunis? Atau mungkinkah kita memahami arti keadilan sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan orang, yaitu “sama dalam segala hal”? Tentu saja keadilan yang kita maksudkan adalah keadilan berdasarkan keputusan Yang Maha Adil</p>
<p>Allah menentukan bahwa bagian anak lelaki dari warisan orang tuanya dua kali lipat dari warisan anak wanita, maka itu sesuai dengan kodrat mereka.</p>
<p>“<em>Allah telah mensyariatkan atas kalian perhial warisan anak-anakmu. Anak lelaki mendapatkan bagian sama dengan bagian dua anak wanita</em>.&#8221; (QS. An-Nisa: 11)</p>
<p>Syariat ini selaras dengan garis kodrat lelaki yang berkewajiban untuk menafkahi dan memimpin kaum wanita. Dengan demikian, syariat ini adil dan tidak ada yang perlu dirisaukan. Walaupun wanita mendapatkan bagian yang sedikit, seluruh bagiannya itu hanya ia nikmati seorang diri. Sebab itu, walaupun nominalnya kecil, faktor pembaginya hanya seorang, maka hasilnya menjadi besar. Adapun anak lelaki, walau ia mendapakan bagian dua kali lipat, ia harus menggunakannya untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Dengan demikian, walaupun nominalnya besar, pada akhirnya menjadi sedikit.</p>
<p>“<em>Kaum lelaki (suami) adalah pemimpin kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian lainnya (kaum wanita), dan karena mereka (kaum lelaki) memberikan nafkah dari hartanya</em>.” (QS. An-Nisa: 34)</p>
<p><em>Wallahu Ta’ala a’lam bish shawab</em>.</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 06 Tahun ke-10 Muharram 1432 H/Desember 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultaiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Artikel yang berkaitan dengan <strong>pembagian waris</strong>:</h3>
<p>1. <a href="../penghalang-untuk-mendapatkan-warisan" rel="nofollow" target="_blank">Penghalang untuk Mendapat Warisan</a>.<br />
2. <a href="../tuntunan-pembagian-warisan-01" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 01</a>.<br />
3. <a href="../pembagian-harta-warisan-ibu" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 02</a>.<br />
4. <a href="../warisan-untuk-istri-dan-bapak" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 03</a>.<br />
5. <a href="../tuntunan-pembagian-warisan-04" rel="nofollow" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 04</a>.<br />
6. <a href="../menunaikan-wasiat-sebelum-membagi-warisan" rel="nofollow" target="_blank">Menunaikan Wasiat Sebelum Pembagian Waris.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pembagian-waris-dalam-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Shalat Qabliyah Shubuh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-shalat-qabliyah-shubuh</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-shalat-qabliyah-shubuh#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 23:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10341</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Qabliyah Shubuh Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apakah fadhilahnya (keutamaan) shalat 2 rakaat qabliyah shubuh? Dan jika seseorang tidak sempat melaksanakan shalat qabliyah shubuh, bolehkah mengqadhanya dan dilakukan setelah selesai shalat shubuh langsung, padahal itu adalah waktu dilarang untuk shalat? ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Shalat Qabliyah Shubuh</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em>.<br />
Apakah fadhilahnya (keutamaan) shalat 2 rakaat<strong> qabliyah shubuh</strong>? Dan jika seseorang tidak sempat melaksanakan <strong>shalat qabliyah shubuh</strong>, bolehkah mengqadhanya dan dilakukan setelah selesai shalat shubuh langsung, padahal itu adalah waktu dilarang untuk shalat? Kami sampaikan terima kasih atas jawabannya.<br />
<span id="more-10341"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Shalat Qabliyah Shubuh</h3>
<p><em>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</em>.<br />
Shalat dua raka’at <strong>qabliyah shubuh</strong> termasuk shalat sunah yang sangat ditekankan bagi setiap muslim. Pahala kebaikannya begitu besar, melebihi dunia dan seisinya. Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>“<em>Dua raka’at (qabliyah) shubuh pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya</em>.” (HR. Muslim no.1193)</p>
<p>Termasuk waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat adalah setelah shalat shubuh sampai terbit matahari, sebagaimana sabda Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Aku mendengar Rasullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘<em>Tidak ada shalat setelah (shalat) shubuh sampai terbit matahari&#8230;.</em>’.” (HR. Bukhari, no.551)</p>
<p>Menurut pendapat yang lebih kuat, shalat yang dilarang adalah shalat-shalat yang tidak terikat dengan sebabnya (shalat mutlak). Adapun shalat-shalat yang diikat pensyariatannya dengan suatu sebab (jika tidak ada sebabnya tidak disyariatkan), semisal shalat sunah setelah thawaf, shalat gerhana, shalat tahiyatul masjid, dan lain sebagainya, maka tidak dilarang walaupun dilakukan pada waktu-waktu terlarang, lantarang shalat-shalat ini terikat dengan sebabnya.</p>
<p>Termasuk yang dibolehkan adalah mengqadha qabliyah shubuh setelah shalat shubuh, walaupun waktu tersebut termasuk waktu dilarang shalat. Hal ini didasari oleh beberapa hal:</p>
<p><strong>1.</strong> Keumuman perintah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk mengqadha setiap shalat yang terlewatkan tanpa sengaja. Dalam hadis Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>“<em>Barangsiapa lupa shalat, atau tertidur, maka hendaklah ia lakukan shalat itu jika ia mengingatnya, tidak ada kaffarah kecuali hal itu, (Allah berfirman), ‘Dan tegakkan sholat untuk mengingat-Ku’</em>.”(HR. Bukhari 562 dan Muslim 1103)</p>
<p><strong>2.</strong> Kekhususan dalil yang membolehkan hal ini, seperti dalam sebuah hadis:</p>
<p>Dari Qais bin Amr berkata, “Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melihat seseorang shalat dua rakaat setelah (shalat) shubuh, maka Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya, ‘Apakah (engkau) shalat shubuh dua kali?’ Orang itu menjawab, ‘Saya belum shalat dua rakaat <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-kita-mengganti-shalat-qabliyah-subuh" target="_blank"><strong>qabliyah shubuh</strong></a>, lalu aku lakukan (setelah shubuh)’.” Lalu (Qois) berkata, “Maka Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun diam (tidak melarangnya).” (HR. Abu Dawud no.1267, Tirmidzi no.422, Ibnu majah no.1154, Ahmad no.23811, dishahihkan oleh Al-Albani dalam <em>Misykat al-Mashobih</em> 1044 dan <em>Shahih Abu Dawud</em> 1151)</p>
<p>Hadis di atas menunjukkan bahwa mengqadha qabliyah shubuh setelah shalat shubuh hukumnya boleh karena ada keterangan yang sangat jelas dari diamnya Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap orang yang melakukan hal tersebut. Hanya saja, lebih utama jika seseoarng terlewatkan shalat qabliyah shubuh –baik tertidur atau lupa– hendaknya dia mengqadhanya setelah matahari terbit, dan ini adalah yang lebih afdhal, sebagaimana sabda Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p>“<em>Barangsiapa belum melaksanakan shalat dua rakaat (qabliyah) shubuh, maka hendaklah dia shalat dua rakaat tersebut setelah terbitnya matahari.</em>” (HR. Tirmidzi no.423, dan dishahihkan oleh Al-Abani dalam <em>Silsilah Shahihah</em> no.2361)</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 06 Tahun ke-10 Muharram 1432 H/Desember 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-shalat-qabliyah-shubuh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengusap Jilbab ketika Berwudhu</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mengusap-jilbab-ketika-berwudhu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mengusap-jilbab-ketika-berwudhu#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 07:14:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10081</guid>
		<description><![CDATA[Mengusap Jilbab ketika Berwudhu Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Bolehkah wanita mengusap kain penutup kepalanya (semacam jilbab, ketika berwudhu)? Jawaban: Pendapat yang terkenal dalam madzhab Imam Ahmad, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa wanita dibolehkan untuk mengusap kain penutup ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Mengusap Jilbab ketika Berwudhu</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:<br />
Bolehkah wanita mengusap kain penutup kepalanya (semacam jilbab, ketika <strong>berwudhu</strong>)?<br />
<span id="more-10081"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Pendapat yang terkenal dalam madzhab Imam Ahmad, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa wanita dibolehkan untuk mengusap kain penutup kepalanya jika kain tersebut menutupi hingga di bawah lehernya. Karena hal ini telah dilakukan oleh sebagian istri-istri para sahabat. Yang jelas, jika membuka penutup kepala itu menyulitkan, karena udara yang amat dingin atau sulit untuk membukanya kemudian harus memasangnya lagi, maka mepermudah dalam hal semacam ini dibolehkan. Jika tidak, maka yang lebih utama adalah membuka penutup kepala itu untuk mengusap rambutnya secara langsung.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait berwudhu:</h3>
<p>1. <a href="../shalat-jemaah-dalam-keadaan-tidak-berwudhu" rel="nofollow" target="_blank">Shalat Tanpa Wudhu</a>.<br />
2. <a href="../doa-mandi" rel="nofollow" target="_blank">Doa Mandi Junub</a>.<br />
3. <a href="../cara-tayamum-yang-benar" rel="nofollow" target="_blank">Cara Tayamum</a>.<br />
4. Berwudhu dalam Kamar Mandi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mengusap-jilbab-ketika-berwudhu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wudhu di Kamar Mandi</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wudhu-di-kamar-mandi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wudhu-di-kamar-mandi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 23:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10231</guid>
		<description><![CDATA[Wudhu di Kamar Mandi Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum. Ustadz, ana mau tanya, bolehkah kita berwudhu di kamar mandi? Dari: Indrawan Saputra Jawaban: Wa&#8217;alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Wudhu di Kamar Mandi Alhamdulillahi rabbil &#8216;aalamiin, washshalaatu wassalaamu &#8216;alaa rasulillaah khairil anbiyaa&#8217;I wal mursaliin wa &#8216;alaa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Wudhu di Kamar Mandi</h2>
<p>Pertanyaan:<br />
<em>Assalamu&#8217;alaikum</em>. Ustadz, ana mau tanya, bolehkah kita berwudhu di <strong>kamar mandi</strong>?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Dari: Indrawan Saputra</span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu</em>.</p>
<h3>Wudhu di Kamar Mandi</h3>
<p><em>Alhamdulillahi rabbil &#8216;aalamiin, washshalaatu wassalaamu &#8216;alaa rasulillaah khairil anbiyaa&#8217;I wal mursaliin wa &#8216;alaa &#8216;aalihii wa shahbihii ajma&#8217;iin. Amma ba&#8217;du</em>:</p>
<p>Boleh berwudhu di dalam kamar mandi, apabila aman dari percikan najis.<br />
Komite tetap Untuk riset ilmiyah dan fatwa Kerajaan Arab Saudi mengatakan,</p>
<p class="arab">إذا وضع حائل بين الماء الذي ينزل من الصنبور وبين محل النجاسة بحيث إن الماء إذا نزل على الأرض تكون هذه الأرض طاهرة فلا مانع من الوضوء والاستنجاء</p>
<p>&#8220;Apabila ada batas antara keran air dengan tempat najisnya sehingga air turun ke tempat yang suci maka tidak mengapa berwudhu dan <em>istinja&#8217;</em> (di dalam kamar mandi tersebut).&#8221; (<em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah</em>, 5:86)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">يجوز الوضوء في الحمام ولا حرج فيه ولكن ينبغي للإنسان أن يتحفظ من إصابة النجاسة له فإذا تحفظ من ذلك فليتوضأ في أي مكان كان</p>
<p>&#8220;Boleh berwudhu di kamar mandi dan tidak masalah, akan tetapi hendaknya menjaga diri dari terkena najis, apabila bisa terjaga dari najis maka silakan dia berwudhu dimana saja&#8221; [<a href="http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1637.shtml" rel="nofollow" target="_blank">1</a>]</p>
<p>Beliau <em>rahimahullahu</em> juga berkata,</p>
<p class="arab">يجوز للإنسان أن يتوضأ في المكان الذي تخلى فيه من بوله أو غائطه لكن بشرط أن يأمن من التلوث بالنجاسة بأن يكون المكان الذي يتوضأ فيه جانباً من الحمام بعيداً عن مكان التخلي أو ينظف المكان الذي ينزل فيه الماء من الأعضاء في الوضوء حتى يكون طاهراً نظيفاً</p>
<p>&#8220;Boleh bagi seseorang berwudhu di tempat dia buang air kecil dan buang air besar, dengan syarat aman dari percikan najis, yaitu tempat wudhunya jauh dari tempat buang air, atau dibersihkan dahulu tempat turunnya air dari anggota badan sehingga menjadi bersih dan suci.&#8221; [<a href="http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1096.shtml" rel="nofollow" target="_blank">2</a>]</p>
<h3>Hukum Membaca Dzikir di Kamar Mandi</h3>
<p>Membaca dzikir di kamar mandi makruh, karena berbicara di dalam kamar mandi hukumnya makruh dan membaca dzikir termasuk berbicara. Demikian pula kita diperintahkan untuk mengagungkan syiar-syiar Allah dan di antara bentuk pengagungan adalah berdzikir di tempat yang suci bukan di tempat yang kotor dan tempat buang hajat.<br />
Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (32) [الحج/32]</p>
<p>&#8220;<em>Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati</em>. (QS. 22:32)&#8221;</p>
<p>Ibnu &#8216;Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> berkata,</p>
<p class="arab">يكره أن يذكر الله وهو جالس على الخلاء</p>
<p>&#8220;Dibenci berdzikir mengingat Allah padahal dia dalam keadaan duduk di dalam jamban.&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:209 no.1227, dengan sanad yang hasan)</p>
<p>Abu Wa&#8217;il <em>rahimahullahu</em> juga berkata,</p>
<p class="arab">اثنان لا يذكر الله العبد فيهما إذا أتى الرجل أهله يبدأ فيسمي الله وإذا كان في الخلاء</p>
<p>&#8220;Dua keadaan dimana seorang hamba tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, (pertama) ketika seorang laki-laki mendatangi istrinya, maka hendaklah dia mulai dengan menyebut nama Allah, (kedua) apabila dia berada di jamban.&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:209 no.1229 ,dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Abu Ishaq As-Sabii&#8217;iy <em>rahimahullah</em> juga berkata,</p>
<p class="arab">ما أحب أن أذكر الله إلا في مكان طيب</p>
<p>&#8220;Aku tidak senang berdzikir kepada Allah kecuali di tempat yang baik.&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:210 no.236, dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Namun kemakruhan ini bisa gugur apabila ada hajat atau keperluan, seperti mengucap <em>tahmid</em> ketika bersin, mengucap <em>tasmiyyah</em> sebelum wudhu. Berikut ini adalah sebagian ucapan salaf yang menunjukkan bolehnya berdzikir di jamban apabila diperlukan.<br />
Manshur bin Mu&#8217;tamir <em>rahimahullah</em> mengtakan,</p>
<p class="arab">وسألته عن الرجل يعطس على الخلاء قال يحمد الله فإنها تصعد</p>
<p>&#8220;Dan aku bertanya kepada Ibrahim (An-Nakha&#8217;iy) tentang seseorang yang bersin ketika buang air?&#8221; Beliau menjawab, &#8216;Hendaknya dia memuji Allah (yaitu mengucapkan Alhamdulillah) karena tahmid itu akan naik&#8217;.&#8221; (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 2:455 no.4063, dengan sanad yang shahih, dan juga Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1:210 no.1233)</p>
<p>Dari Sya&#8217;bi <em>rahimahullahu</em>, beliau ditanya tentang seseorang yang bersin di jamban, maka beliau berkata: يحمد الله<br />
&#8220;Hendaklah dia memuji Allah&#8221;. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1232, dengan sanad yang shahih)<br />
Dari Muhammad bin Sirin <em>rahimahullahu</em> beliau berkata</p>
<p class="arab">لا أعلم بأسا بذكر الله</p>
<p>&#8220;Aku tidak memandang adanya masalah dalam <em>dzikrullah</em> (di jamban).&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1235, dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Dan inilah yang difatwakan oleh sebagian ulama kita, Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p class="arab">لا بأس أن يتوضأ داخل الحمام إذا دعت الحاجة إلى ذلك ، ويسمي عند أول الوضوء ، يقول : (بسم الله) لأن التسمية واجبة عند بعض أهل العلم ، ومتأكدة عند الأكثر ، فيأتي بها وتزول الكراهة لأن الكراهة تزول عند الحاجة إلى التسمية ، والإنسان مأمور بالتسمية عند أول الوضوء ، فيسمي ويكمل وضوؤه</p>
<p>&#8220;Tidak mengapa berwudhu di dalam kamar kecil apabila memang diperlukan, dan mengucap <em>tasmiyah</em> di awal wudhu seraya mengucapkan &#8220;Bismillah&#8221; karena <em>tasmiyyah</em> wajib menurut sebagian ulama, dan dikuatkan menurut sebagian besar ulama. Oleh karena itu, hendaknya seseorang mengucapkan <em>tasmiyyah</em> ini yang hilang kemakruhannya karena dibutuhkan mengucapkannya. Seseorang diperintah untuk <em>tasmiyyah</em> di awal wudhu, maka hendaknya dia bertasmiyyah dan menyempurnakan wudhunya.&#8221; (<em>Majmu Fataawa Syeikh Abdul Aziz bin Baz</em>, 10:28)</p>
<p>Dalam <em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah</em>:</p>
<p class="arab">يكره أن يذكر الله تعالى نطقاً داخل الحمام الذي تقضى فيه الحاجة تنزيهاً لاسمه واحتراماً له لكن تشرع له التسمية عند بدء الوضوء لأنها واجبة مع الذكر عند جمع من أهل العلم</p>
<p>&#8220;Dimakruhkan dzikrullah dengan lisan di dalam jamban yang digunakan untuk buang hajat, sebagai penyucian dan penghormatan terhadap nama Allah, akan tetapi disyariatkan <em>tasmiyyah</em> (membaca: bismillah) ketika di awal wudhu karena ini wajib ketika ketika ingat menurut sebagian ulama.&#8221; (<em>Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daimah</em>, 5:94)</p>
<h3>Melirihkan Dzikir Di Kamar Mandi</h3>
<p>Perlu diketahui bahwasanya di antara adab berdzikir di kamar mandi/wc/jamban adalah memelankan suara dzikir.<br />
Dari Al-Hasan Al-Bashry <em>rahimahullah</em> beliau berkata tentang seseorang yang bersin di dalam jamban:</p>
<p class="arab">يحمد الله في نفسه</p>
<p>&#8220;Hendaknya dia memuji Allah dengan di dalam dirinya (yaitu pelan).&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam <em>Al-Mushannaf</em>, 1:210 no.1234, dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Hushain bin Abdurrahman <em>rahimahullahu</em> berkata,</p>
<p class="arab">انتهينا إلى الشعبي وهو مغضب، فقيل له: ما لك يا أبا عمرو ؟ فقال : إن هذا المارق ، يعني داود بن يزيد الأودي، سألني عن الرجل يعطس في الخلاء، قلت : فما تقول يا أبا عمرو ؟ قال : يحمد الله في نفسه</p>
<p>&#8220;Kami mendatangi Asy-Sya&#8217;by sedangkan beliau dalam keadaan marah, maka beliau ditanya, &#8220;Ada apa wahai Abu &#8216;Amr?&#8221;<br />
Beliau berkata, &#8220;Sesungguhnya orang yang <em>maariq</em> ini –maksudnya Dawud bin Yazid Al-Audy-, telah bertanya kepadaku tentang seseorang yang bersin di tempat buang hajat. Aku berkata, &#8220;Lalu apa yang kamu katakan wahai Abu &#8216;Amr?&#8221;<br />
Beliau menjawab, &#8220;Hendaklah dia memuji Allah di dalam dirinya ( yaitu dengan pelan).&#8221; (Dikeluarkan oleh Al-&#8217;Uqaily dalam <em>Adh-Dhu&#8217;afa</em>, 2:391, dengan sanad yang shahih)</p>
<p><strong>Perkataan mereka</strong></p>
<p class="arab">يحمد الله في نفسه</p>
<p>(Memuji Allah di dalam dirinya) ada dua kemungkinan, memuji Allah di dalam hati atau memuji Allah dengan lisan secara pelan, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam dalam <em>Al-Fatawa Al-Kubra</em>, 5:301.</p>
<p>Makna eksplisit dari atsar sebagian salaf di atas –<em>wallahu a&#8217;lam</em>- adalah berdzikir dengan lisan bukan hanya dengan hatinya.<br />
Akhir kata, tentunya lebih baik apabila seseorang di dalam rumahnya memiliki tempat wudhu khusus yang berada di luar kamar mandi/jamban/wc.<br />
<em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>Jawaban <a href="http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com" rel="nofollow" target="_blank">Ust. Abdullah Roy, Lc</a>.</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wudhu-di-kamar-mandi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tempat Shalat Jenazah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tempat-shalat-jenazah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tempat-shalat-jenazah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 23:30:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9989</guid>
		<description><![CDATA[Tempat Shalat Jenazah Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Apakah jenazah lebih baik dishalatkan di rumah atau di masjid? Dari: Herbono Utomo Jawaban: Tempat Shalat Jenazah Wa&#8217;alaikumussalam warahamatullahi wabarakatuh. Di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam terdapat tempat khusus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tempat Shalat Jenazah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz,<br />
Apakah jenazah lebih baik dishalatkan di rumah atau di masjid?</p>
<p>Dari: Herbono Utomo<br />
<span id="more-9989"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Tempat Shalat Jenazah</h3>
<p>Wa&#8217;alaikumussalam warahamatullahi wabarakatuh.<br />
Di zaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terdapat tempat khusus untuk <strong>shalat jenazah</strong>. Tempat ini berada di luar Masjid Nabawi. Dan umumnya jenazah para sahabat dishalatkan di tempat itu. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah<br />
<strong>Pertama</strong>, kisah rajam untuk dua orang Yahudi yang berzina. Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">أن اليهود جاؤوا إلى النبي صلى الله عليه وسلم برجل منهم وامرأة زنيا فأمر بهما فرجما قريبا من موضع الجنائز عند المسجد</p>
<p>&#8220;Bahwa orang-orang yahudi mendatangi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berzina. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan agar keduanya dirajam di dekat tempat shalat jenazah di samping masjid.&#8221; (HR. Bukhari, 3:155)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, keterangan dari Jabir bin Abdillah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa ada seorang yang meninggal, setelah dikafani, dia diletakkan di lokasi yang biasa digunakan untuk shalat jenazah, di dekat tempat datangnya Jibril. (HR. Hakim dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, keterangan dari Muhammad bin Abdillah bin Jahsy <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">كنا جلوس بفناء المسجد حيث توضع الجنائز ورسول الله صلى الله عليه وسلم جالس بين ظهرانينا</p>
<p>“<em>Kami duduk di teras masjid, di tempat yang sering digunakan untuk shalat jenazah. Sementara Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam duduk di tengah-tengah kami</em>.” (HR. Ahmad, Hakim, dan dihasankan Al-Albani)</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p class="arab">إن مصلى الجنائز كان لاصقا بمسجد النبي صلى الله عليه وسلم من ناحية جهة المشرق</p>
<p>“Sesungguhnya tempat shalat jenazah menempel dengan masjid nabawi, di sebelah timur.” (<em>Fathul Bari</em>, 3:199)<br />
Beliau juga mengatakan,</p>
<p class="arab">المكان الذي كان يصلى عنده العيد والجنائز وهو من ناحية بقيع الغرقد</p>
<p>“Tempat yang digunakan untuk shalat &#8216;id dan shalat jenazah berada di arah makam baqi&#8217;.” (<em>Fathul Bari</em>, 12:129)<br />
Meskipun dibolehkan untuk melaksanakan shalat jenazah di masjid. Berdasarkan riwayat dari A&#8217;isyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, bahwa ketika Sa&#8217;d bin Abi Waqqas meninggal, mereka berpesan agar jenazahnya dibawa ke masjid, sehingga mereka bisa menyalatkannya. Para sahabat pun melakukannya. Kemudian mereka menyalati jenazah Sa&#8217;d di dalam masjid. Setelah itu, A&#8217;isyah mendengar ada beberapa orang yang mencela sikap beliau. Mereka mengatakan itu perbuatan bid&#8217;ah, belum pernah jenazah dishalati di dalam masjid. A&#8217;isyah memberi komentar,</p>
<p class="arab">ما أسرع الناس إلى أن يعيبوا ما لا علم لهم به عابوا علينا أن يمر بجنازة في المسجد والله ما صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على سهيل بن بيضاء وأخيه إلا في جوف المسجد</p>
<p>“Betapa terburu-burunya manusia untuk mencela apa yang tidak mereka ketahui tentang memasukkan jenazah ke dalam masjid. Demi Allah, tidaklah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyalati Suhail bin Baidha&#8217; dan saudaranya, kecuali di dalam masjid.” (HR. Muslim, 3:63)</p>
<p>Juga dibolehkan untuk menyalati jenazah di rumah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Thalhah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa ketika putranya Abu Umar meninggal dunia, beliau mengundang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk menyalatkannya. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> datang dan menyalatinya di rumah Abu Thalhah. (HR. Hakim, 1:365, Baihaqi, 4:30 dan 31. Al-Albani menyatakan, &#8220;Hadis itu shahih berdasarkan syarat Muslim).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tempat-shalat-jenazah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 03:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9993</guid>
		<description><![CDATA[Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Selama mengiringi jenazah dari rumah ke pemakaman, adakah dzikir-dzikir khusus yang mesti dibaca? Dari: Herbono Utomo Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu Dzikir Mengantar Jenazah Imam An-Nawawi mengatakan dalam Bab dzikir ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh</em> Ustadz,<br />
Selama mengiringi jenazah dari rumah ke pemakaman, adakah dzikir-dzikir khusus yang mesti dibaca?<br />
Dari: Herbono Utomo</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu</em></p>
<h3>Dzikir Mengantar Jenazah</h3>
<p>Imam An-Nawawi mengatakan dalam Bab dzikir yang dibaca ketika mengiringi jenazah: &#8220;Dianjurkan bagi orang yang mengantarkan jenazah untuk menyibukkan dirinya dengan mengingat Allah dan merenungkan apa yang akan dia temui setelah kematian, bagaimana tempat kembalinya, dan apa yang akan dia dapatkan di sana, serta memikirkan bahwa kematian merupakan penghujung dunia dan kondisi akhir penduduk dunia.</p>
<p>Kemudian, jangan sekali-kali berbicara mengenai sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Karena pada saat itu adalah waktu untuk merenung dan berpikir tentang kehidupan setelah mati. Sangat tercela jika digunakan untuk hal yang melalaikan, main-main, dan sibuk dengan omong kosong. Karena berbicara yang tidak ada manfaatnya terlarang dalam setiap keadaan, maka baimana lagi dalam kondisi semacam ini.</p>
<p>Kemudian ketauhilah, bahwa yang benar dan sesuai dengan kebiasaan para sahabat adalah diam ketika mengiringi jenazah. Tidak boleh mengeraskan suara dengan membaca Alquran atau dzikir, atau bacaan lainnya. Inilah yang benar. Dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang bersikap sebaliknya. (<em>Al-Adzkar</em>, karya An-Nawawi, Hal.160)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/mengubur-jenazah-dengan-peti" target="_blank">Mengubur Jenazah dengan Peti</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/memindahkan-makam" target="_blank">Memindahkan Makam</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone" target="_blank">Mengumumkan Kematian Ke Mikropon</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari" target="_blank">Mengubur Jenazah Pada Malam Hari</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-adzan-dan-talqin-kepada-mayat" target="_blank">Hukum Adzan dan Iqomah pada Talqin Jenazah</a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan" target="_blank"><strong>Mengantar Jenazah</strong> dengan Kendaraan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>13 Adab dalam Berdoa</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/13-ada-dalam-berdoa</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/13-ada-dalam-berdoa#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 06:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9561</guid>
		<description><![CDATA[13 Adab dalam Berdoa Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz, di sini saya ingin bertanya tentang permasalahan adab-adab dalam berdoa, dan terus bagaimana tata cara berdoa yang dicontohkan Rasulullah SAW? syukron jazakallah Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh Dari: Yudhy Jawaban: Wa alaikumus salam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>13 Adab dalam Berdoa</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em><br />
Ustadz, di sini saya ingin bertanya tentang permasalahan adab-adab dalam <strong>berdoa</strong>, dan<br />
terus bagaimana tata cara berdoa yang dicontohkan Rasulullah SAW?</p>
<p><em>syukron jazakallah</em><br />
<em> Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em></p>
<p>Dari: Yudhy</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh</em></p>
<h3>13 Adab berdoa</h3>
<p><strong>Pertama</strong>, Mencari Waktu yang Mustajab<br />
Di antara waktu yang mustajab adalah hari Arafah, Ramadhan, sore hari Jumat, dan waktu sahur atau sepertiga malam terakhir.<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">ينزل الله تعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الأخير فيقول عز وجل: من يدعونى فأستجب له، من يسألنى فأعطيه، من يستغفرنى فأغفر له</p>
<p>“<em>Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, &#8216;Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan, siapa yang meminta, akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampunan pasti Aku ampuni&#8217;</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Memanfaatkan Keadaan yang Mustajab Untuk Berdoa<br />
Di antara keadaan yang mustajab untuk berdoa adalah: ketika perang, turun hujan, ketika sujud, antara adzan dan iqamah, atau ketika puasa menjelang berbuka.</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, “Sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka ketika jihad fi sabillillah sedang berkecamuk, ketika turun hujan, dan ketika iqamah shalat wajib. Manfaatkanlah untuk berdoa ketika itu.” (Syarhus Sunnah al-Baghawi, 1: 327)<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Doa antara adzan dan iqamah tidak tertolak.</em>” (HR. Abu Daud, Nasa&#8217;i, dan Tirmidzi)<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Keadaan terdekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklahberdoa</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Menghadap Kiblat dan Mengangkat Tangan<br />
Dari Jabir <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (HR. Muslim)<br />
Dari Salman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan).</em>” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)<br />
Cara mengangkat tangan:</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (HR. Thabrani)<br />
<strong>Catatan:</strong> Tidak boleh melihat ke atas ketika berdoa.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Dengan Suara Lirih dan Tidak Dikeraskan<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا</p>
<p>“<em>Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.</em>” (QS. Al-Isra: 110)</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memuji Nabi Zakariya <em>&#8216;alaihis salam</em>, yang berdoa dengan penuh khusyu&#8217; dan suara lirih.</p>
<p class="arab">ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا</p>
<p>“<em>(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,<br />
yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut</em>.” (QS. Maryam: 2–3)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala juga berfirman,</p>
<p class="arab">ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ</p>
<p>“<em>Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.</em>” (QS. Al-A&#8217;raf: 55)</p>
<p>Dari Abu Musa<em> radhiallahu&#8217;anhu</em> bahwa suatu ketika para sahabat pernah berdzikir dengan teriak-teriak. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengingatkan,</p>
<p class="arab">يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ</p>
<p>“<em>Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak ada, sesungguhnya Allah bersama kalian, Dia Maha mendengar lagi Maha dekat</em>.” (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>Kelima</strong>, Tidak Dibuat Bersajak<br />
Doa yang terbaik adalah doa yang ada dalam Alquran dan sunah.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ</p>
<p>“<em>Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.</em>” (QS. Al-A&#8217;raf: 55)<br />
Ada yang mengatakan: maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam membuat kalimat doa, dengan dipaksakan bersajak.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, Khusyu&#8217;, Merendahkan Hati, dan Penuh Harap<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoakepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu&#8217; kepada Kami.</em>” (QS. Al-Anbiya&#8217;: 90)</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, Memantapkan Hati Dalam Berdoa dan Berkeyakinan Untuk Dikabulkan<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا يقل أحدكم إذا دعا اللهم اغفر لي إن شئت اللهم ارحمني إن شئت ليعزم المسألة فإنه لا مُكرِه له</p>
<p>“<em>Janganlah kalian ketika berdoa dengan mengatakan, &#8216;Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau mau&#8217;. Hendaknya dia mantapkan keinginannya, karena tidak ada yang memaksa Allah</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mantapkan keinginannya. Karena Allah tidak keberatan dan kesulitan untuk mewujudkan sesuatu.” (HR. Ibn Hibban dan dishahihkan Syua&#8217;ib Al-Arnauth)</p>
<p>Di antara bentuk yakin ketika berdoa adalah hatinya sadar bahwa dia sedang meminta sesuatu. Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه</p>
<p>“<em>Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya).</em>” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Banyak orang yang lalai dalam berdoa atau bahkan tidak tahu isi doa yang dia ucapkan. Karena dia tidak paham bahasa Arab, sehingga hanya dia ucapkan tanpa direnungkan isinya.</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>, Mengulang-ulang Doa dan Merengek-rengek Dalam Berdoa<br />
Mislanya, orang berdoa: Yaa Allah, ampunilah hambu-MU, ampunilah hambu-MU&#8230;, ampunilah hambu-MU yang penuh dosa ini. ampunilah ya Allah&#8230;. Dia ulang-ulang permohonannya. Semacam ini menunjukkan kesungguhhannya dalam berdoa.<br />
Ibn Mas&#8217;ud mengatakan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> apabila beliau berdoa, beliau mengulangi tiga kali. Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali. (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>, tidak tergesa-gesa agar segera dikabulkan, dan menghindari perasaan: mengapa doaku tidak dikabulkan atau kalihatannya Allah tidak akan mengabulkan doaku.<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى</p>
<p>“<em>Akan dikabulkan (doa) kalian selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, &#8216;Saya telah berdoa, namun belum saja dikabulkan</em>&#8216;.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Sikap tergesa-gesa agar segera dikabulkan, tetapi doanya tidak kunjung dikabulkan, menyebabkan dirinya malas berdoa. Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم، ما لم يستعجل، قيل: يا رسول الله وما الاستعجال؟ قال: يقول قد دعوت وقد دعوت فلم أر يستجيب لي، فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء رواه مسلم</p>
<p>“<em>Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru</em>.&#8221; Para sahabat bertanya, &#8220;Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdoa?&#8221; Beliau bersabda, “<em>Orang yang berdoa ini berkata, &#8216;Saya telah berdoa, Saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan&#8217;. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa.</em>” (HR. Muslim dan Abu Daud)</p>
<p>Sebagian ulama mengatakan: “Saya pernah berdoa kepada Allah dengan satu permintaan selama dua puluh tahun dan belum dikabulkan, padahal aku berharap agar dikabulkan. Aku meminta kepada Allah agar diberi taufiq untuk meninggalkan segala sesuatu yang tidak penting baguku.”</p>
<p><strong>Kesepuluh</strong>, Memulai Doa dengan Memuji Allah dan Bershalawat Kepada Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em><br />
Bagian dari adab ketika memohon dan meminta adalah memuji Dzat yang diminta. Demikian pula ketika hendak berdoa kepada Allah. Hendaknya kita memuji Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang mulia (Asma-ul husna).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kemudian beliau bersabda, “Orang ini terburu-buru.” kemudian beliau bersabda,</p>
<p class="arab">إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء</p>
<p>“<em>Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya</em>.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p><strong>Kesebelas</strong>, Memperbanyak Taubat dan Memohon Ampun Kepada Allah<br />
Banyak mendekatkan diri kepada Allah merupakan sarana terbesar untuk mendapatkan cintanya Allah. Dengan dicintai Allah, doa seseorang akan mudah dikabulkan. Di antara amal yang sangat dicintai Allah adalah memperbanyak taubat dan istighfar.<br />
Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ&#8230;.، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ</p>
<p>“<em>Tidak ada ibadah yang dilakukan hamba-Ku yang lebih Aku cintai melebihi ibadah yang Aku wajibkan. Ada hamba-Ku yang sering beribadah kepada-Ku dengan amalan sunah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka &#8230;jika dia meminta-Ku, pasti Aku berikan dan jika minta perlindungan kepada-KU, pasti Aku lindungi..</em>” (HR. Bukhari)</p>
<p>Diriwayatkan bahwa ketika terjadi musim kekeringan di masa Umar bin Khatab, beliau meminta kepada Abbas untuk berdoa. Ketika berdoa, Abbas mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya tidaklah turun musibah dari langit kecuali karena perbuatan dosa. dan musibah ini tidak akan hilang, kecuali dengan taubat&#8230;”</p>
<p><strong>Kedua Belas</strong>, Hindari Mendoakan Keburukan, Baik Untuk Diri Sendiri, Anak, Maupun Keluarga<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, mencela manusia yang berdoa dengan doa yang buruk,</p>
<p class="arab">وَيَدْعُ الإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإِنسَانُ عَجُولاً</p>
<p>“<em>Manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.</em>” (QS. Al-Isra&#8217;: 11)</p>
<p class="arab">وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُم بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ</p>
<p>“<em>Kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka (binasa).</em>” (QS. Yunus: 11)</p>
<p>Ayat ini berbicara tentang orang yang mendoakan keburukan untuk dirinya, hartanya, keluarganya, dengan doa keburukan.</p>
<p>Dari Jabir <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا تدعوا على أنفسكم، ولا تدعوا على أولادكم، ولا تدعوا على خدمكم، ولا تدعوا على أموالكم، لا توافق من الله ساعة يسأل فيها عطاء فيستجاب لكم</p>
<p>“<em>Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, jangan mendoakan keburukan untuk anak kalian, jangan mendoakan keburukan untuk pembantu kalian, jangan mendoakan keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah bertepatan dengan waktu mustajab, pasti Allah kabulkan.</em>” (HR. Abu Daud)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم</p>
<p>“<em>Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim.</em>” (HR. Muslim dan Abu Daud)</p>
<p><strong>Ketiga Belas</strong>, Menghindari Makanan dan Harta Haram<br />
Makanan yang haram menjadi sebab tertolaknya doa.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ</p>
<p>“<em>Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya, &#8216;Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan&#8217;. Dan Allah juga berfirman, &#8216;Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu&#8217;. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo&#8217;a, &#8216;Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku&#8217;. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan do&#8217;anya?</em>&#8221; (HR. Muslim)<br />
<em> </em></p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em> <strong>[<a rel="nofollow" href="http://www.islamino.net/play.php?catsmktba=11483" target="_blank">islamino.net</a>]</strong></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../apa-hukum-mengheningkan-cipta" target="_blank">Hukum Mengheningkan Cipta</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../doa-dengan-shalawat" target="_blank">Doa Tidak Dikabulkan Tanpa Shalawat</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../lafal-amin-yang-benar" target="_blank">Lafal “Amin” yang Benar</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/doa-dengan-suara-lirih" target="_blank">Keutamaan Doa dengan Suara Lirih</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../tata-cara-berdoa" target="_blank">Tata Cara Doa Sesuai Tuntunan</a>.</p>
<p>Tags: doa nabi, doa shahih, adab berdoa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/13-ada-dalam-berdoa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersuci dengan Air Sisa Perempuan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bersuci-dengan-air-sisa-perempuan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bersuci-dengan-air-sisa-perempuan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 02:01:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9885</guid>
		<description><![CDATA[Bersuci dengan Air Sisa Perempuan Pertanyaan: Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ditanya: Bagaimanakah yang benar tentang bersucinya seorang pria dengan air sisa yang telah dipakai wanita? Jawaban: Bersuci dengan Air Sisa Perempuan Perbedaan pendapat dalam masalah ini cukup terkenal. Adapun pendapat sebagian ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bersuci dengan Air Sisa Perempuan</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ditanya:<br />
Bagaimanakah yang benar tentang bersucinya seorang pria dengan air sisa yang telah dipakai wanita?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Bersuci dengan Air Sisa Perempuan</h3>
<p>Perbedaan pendapat dalam masalah ini cukup terkenal. Adapun pendapat sebagian besar ulama dan satu di antara dua riwayat Imam Ahmad: bahwa tidak dilarang bagi seorang pria untuk bersuci dengan menggunakan air sisa bersuci wanita, apakah itu air sisa dia mandi sendiri ataupun bukan, baik untuk menyucikan hadas besar maupun hadas kecil. Ini adalah pendapat yang benar dan betul berdasarkan hadis mandinya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan menggunakan sisa air yang telah dipergunakan Maimunah, hadis ini adalah yang lebih shahih dari pada hadis yang melarang seorang pria untuk mandi dengan air sisa yang telah dipergunakan wanita untuk bersuci. Sebagian ahlul ilmi menganggap bahwa hadis terakhir ini adalah tidak benar dan bukan hadis shahih, jadi hadis seperti yang terakhir ini tidak bisa dijadikan hujjah untuk membantah adanya dalil syar’i yang bersifat umum yang memerintahkan bersuci dengan air apa saja tanpa ada pengecualian, maka setiap air yang belum berubah bentuknya karena terkena najis maka air itu termasuk yang umum, dan juga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah berfirman,</p>
<p>“<em>Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih)</em>.” (Al-Maidah: 6)</p>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa tidak boleh bertayamum kecuali jika tidak ada air, dan air sisa yang telah digunakan wanita adalah termasuk dalam kategori air. Ini adalah suatu hal yang tidak diragukan lagi, dan Allah Sang pembuat syariat tidak akan melarang sesuatu tanpa alasan jelas (pasti), dan air yang digunakan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadis Maimunah ini adalah air yang digambarkan dalam sabda beliau lainnya yaitu:</p>
<p>“<em>Sesungguhnya air itu tidak junub (dikotori suatu apapun)</em>.”</p>
<p>Seandainya seorang pria dilarang untuk bersuci dengan air sisa yang telah dipergunakan oleh wanita, sementara airnya itu banyak di samping adanya kesulitan (untuk memperoleh air lainnya) karena kondisi umumnya demikian, jika larangan itu memang benar pasti, maka larangan itu akan disampaikan dalam nash-nash shahih yang menerangkan masalah ini. Dengan demikian menjadi jelas pendapat yang benar adalah pendapat yang membolehkan pria bersuci dengan air sisa yang telah digunakan wanita. Sedangkan riwayat Imam Ahmad lainnya yaitu pendapat yang amat dikenal oleh ulama <em>muta’akhirin</em> yang melarang seorang pria untuk bersuci dengan air sisa yang telah dipakai wanita untuk mensucikan hadas, hadis yang mereka gunakan untuk berdalil adalah hadis yang tidak sah untuk dijadikan dalill pada masalah ini karena lemahnya hadis ini dan juga bertentangan dengan beberapa dalil-dalil lainnya. Kemudian juga pengkhususan yang mereka lakukan pada hadas besar saja tidak memiliki dalil yang menunjukkan hal itu.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/tayamum-di-kursi-kendaraan" target="_blank">Tayamum di Kursi Kendaraan</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/wudunya-pemakai-gigi-palsu" target="_blank">Wudhunya Pemakai Gigi Palsu</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/wudhu-wanita-haid" target="_blank">Wudhu Bagi Wanita Haid</a>.</p>
<p>keyword: <strong>sisa perempuan.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bersuci-dengan-air-sisa-perempuan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Imam Shalat Jamaah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menjadi-imam-shalat-jamaah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menjadi-imam-shalat-jamaah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 06:55:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9705</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi Imam Shalat Jamaah Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Kami mendengar hadis yang berisi perintah bahwa jika kita sedang menjadi imam shalat, maka kita harus memendekkan shalat tersebut. Apakah yang dimaksud memendekkan shalat di sini? dan bagaimana praktiknya yang benar? Apakah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menjadi Imam Shalat Jamaah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em><br />
Kami mendengar hadis yang berisi perintah bahwa jika kita sedang menjadi imam shalat, maka kita harus memendekkan shalat tersebut. Apakah yang dimaksud memendekkan shalat di sini? dan bagaimana praktiknya yang benar?<br />
Apakah harus membaca surat-surat pendek saja seperti Al-Ikhlash, An-Nas, dan semisalnya?<br />
Kami mohon jawaban beserta dalil serta penerapan yang benar menurut pemahaman yang benar pula, karena sebagian kami menjadi imam shalat lima waktu di masjid. Terima kasih atas penjelasannya.<br />
<span id="more-9705"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</em></p>
<h3>Menjadi Imam Shalat Jamaah</h3>
<p>Dalam hal panjang dan pendeknya <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-dengan-baju-terkena-daging-babi" target="_blank">bacaan</a>, telah dibedakan oleh Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> antara shalat sendirian dan shalat berjamaah. Berliau bersabda,</p>
<p>“<em>Jika di antara kamu shalat mengimami manusia, maka hendaklah meringkas, karena di antara mereka ada yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Akan tetapi, jika shalat sendirian, maka hendaklah memanjangkan semuanya.</em>” (HR. Bukhari: 662)</p>
<p>Akan tetapi, bukanlah yang dimaksudkan meringkas shalat adalah membaca setiap rakaatnya dengan surat-surat pendek seperti Al-Ikhlash dan An-Nash atau semisalnya. Kita harus memahami maksud hadis di atas sebagaimana yang diinginkan oleh pembuat syariat yang mulia ini. Jika penafsiran suatu hadis diserahkan kepada semua pihak, niscaya mereka akan berbeda penafsiran dan akan terus berselisih. Misalnya tentang penafsiran hadis ini, seorang penghafal Alquran akan mengatakan bahwa Surat Al-Anfal, Surat Yusuf, Surat Yunus, dan semisalnya adalah surat-surat yang pendek (karena dia telah menghafalnya di luar kepala), sementara orang yang tidak mempunyai hafalan Alquran akan mengatakan bahwa surat Al-Ghosyiyah, Al-Alaq, Al-Balad, Adh-Dhuha, dan semisalnya adalah surat-surat yang panjang. Maka mustahil terjadi kesamaan persepsi dari setiap orang.</p>
<p>Oleh karena itu, kita harus mengetahui siapakah seseorang yang shalatnya ringkas (pendek) ketika menjadi imam? Jawabnya tidak lain adalah Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sebagaimana dalam sebuah hadis:</p>
<p>Dari Anas bin Malik berkata, “Aku tidak pernah shalat bersama seorang imam pun yang lebih pendek dan lebih sempurna shalatnya daripada Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.” (HR. Bukhari: 667 dan Muslim: 721)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa yang dicontohkan Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak hanya memendekkan shalat ketika menjadi imam, tetapi juga menyempurnakannya. Inilah maksud hadis yang diinginkan, karena demikianlah Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menerangkan sabdanya dengan praktik secara langsung yang dilihat oleh para sahabat setiap hari.</p>
<p>Maka bagi setiap imam hendaklah berupaya melaksanakan shalatnya agar sesuai dengan sunnah Rasul <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Shalat yang sesuai dengan sunah adalah shalat yang pendek tetapi sempurna, bukan shalat yang memperturutkan hawa nafsunya atau hawa nafsu kebanyakan para makmumnya yang biasanya ingin shalat secepat mungkin. Seorang imam adalah pemikul amanat manusia, dan orang yang sedang memikul amanat harus menunaikannya dengan yang sebaik-baiknya, dan shalat yang paling baik adalah yang sesuai dengan sunnah Rasul <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Imam Nawawi berkata, “Makna hadis ini sangat jelas, yaitu seorang imam diperintahkan untuk memendekkan shalatnya tetapi tidak mengurangi sunah Rasul <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan tidak mengurangi maksud-maksud shalat.” (<em>Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim</em>, 2:216)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Para ahlul ilmi mengatakan, yang dianjurkan ketika shalat shubuh adalah membaca <em>thiwalul mufashol</em>, dalam shalat maghrib membaca <em>qishorul mufashol</em>, dan shalat lainnya (zuhur, ashar, dan isya) membaca <em>awashitul mufashol</em>. <em>thiwalul mufashol</em> adalah dimulai dari surat Qaf sampai dengan surat An-Naba, <em>qishorul mufashol</em> adalah dimulai dari surat Adh-Duha sampai dengan akhir Alquran, dan <em>awashitul mufashol</em> adalah dimulai dari surat An-Naba sampai dengan Adh-Dhuha. Inilah yang biasa dilakukan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Boleh juga kadang-kadang membaca <em>thiwalul mufashol</em> ketika shalat maghrib, sebagaimana Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam kadang-kadang membacanya pada shalat maghrib.” (<em>Liqo’ al-Bab al-Maftuh</em>, 3:79)</p>
<p>Perkataan di atas didasari oleh sebuah hadis dari jalan Sulaiman bin Yasar dari Abu Hurairah beliau berkata, “Aku tidak pernah shalat bersama seorang pun yang lebih mirip dengan shalatnya Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> daripada orang ini (Sulaiman bin Yasar).” Lalu beliau berkata, “Adalah beliau (Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam) memanjangkan dua rakaat pertama shalat zuhur dan memendekkan dua rakaat yang lainnya. Beliau meringkas shalat ashar. Beliau membaca <em>qishorul mufashol</em> pada shalat maghrib, membaca <em>washatul (awashitul) mufashol</em> pada waktu shalat isya, dan membaca <em>thulul (thiwalul) mufashol</em> pada shalat shubuh.” (HR. Ibnu Majah: 827, dishahihkan oleh Al-Albani dalam <em>Sunan Nasai</em>: 983)</p>
<p>Demikian juga, jika suatu saat dibutuhkan untuk shalat lebih pendek dari yang biasa dilakukan Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka hal itu dibolehkan dengan syarat tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Alasannya, jika hal itu dilakukan setiap hari maka dia akan menyelisihi sunah dalam hal mengimami shalat. Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik, beliau berkata, bahwasanya Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata, “<em>Sesungguhnya aku memulai shalat, dan aku ingin memanjangkan bacaannya, lalu aku mendengar tangisan anak kecil, lalu aku meringkas shalatku sebab aku mengetahui kekhawatiran ibunya mendengar tangisan anaknya.</em>” (HR. Bukhari 668 dan Muslim: 723)</p>
<p>Akan tetapi, bacaan panjang yang melebihi sunah Rasul jika sampai memberatkan umatnya maka menjadi haram hukumnya, karena hal ini akan menyulitkan dan membuat orang-orang lari dari ibadah. Oleh karenanya, Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sangat marah ketika ada salah satu sahabatnya yang terlalu panjang bacaannya ketika menjadi imam sehingga menyulitkan orang lain. (HR. Bukhari: 6106 dan Muslim: 465)</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<ol>
<li>Hendaklah meringkas (memendekkan) shalat jika menjadi imam, dan memanjangkan semaunya jika shalat sendirian.</li>
<li>Maksud dari memendekkan shalat ketika menjadi imam adalah menyempurnakan shalat sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bukan melaksanakan shalat yang paling pendek menurut hawa nafsu manusia.</li>
<li>Dianjurkan ketika shalat shubuh membaca <em>thiwalul mufashol</em>, dan sholat lainnya (zhuhur, ashar, dan isya) membaca <em>awashitul mufashol</em>.</li>
<li>Dibolehkan mengurangi atau melebihi sunnah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam bacaannya jika ada suatu kebutuhan, asalkan tidak memberatkan orang lain dan tidak dijadikan kebiasaan setiap hari.</li>
<li>Dilarang terlalu panajng bacaannya melebihi sunah yang berakibat memberatkan makmum.</li>
</ol>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 01 Tahun ke-10 1432 H/ 2011</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menjadi-imam-shalat-jamaah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beramal untuk Mencari Kesembuhan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/beramal-untuk-mencari-kesembuhan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/beramal-untuk-mencari-kesembuhan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 04:28:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9720</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah kita memperbanyak amalan-amalan sunnah dengan tujuan sembuhnya penyakit yang kita derita, padahal sebelumnya kita jarang melakukan amalan tersebut? Dijawab oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. Temukan jawabannya dengan menyaksikan video berikut ini. Semoga bermanfaat. Sumber: YUFID.TV dan dipublikasikan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan:</p>
<p>Bolehkah kita memperbanyak amalan-amalan sunnah dengan tujuan sembuhnya penyakit yang kita derita, padahal sebelumnya kita jarang melakukan amalan tersebut?</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A.</p>
<p>Temukan jawabannya dengan menyaksikan video berikut ini. Semoga bermanfaat.</p>
<p><script src="http://yufid.tv/flowplayer/flowplayer-3.2.6.min.js" type="text/javascript"></script> <a id="player" style="display: block; width: 480px; height: 370px;" rel="nofollow" href="http://konsultasisyariah.com/video/lq/tanya-jawab-beramal-shaleh-untuk-kesembuhan-taslim.flv" target="_blank"> </a> <script type="text/javascript">// <![CDATA[
      flowplayer("player", "http://yufid.tv/flowplayer/flowplayer-3.2.7.swf", {     clip:  {         autoPlay: false,         autoBuffering: true     } });
// ]]&gt;</script></p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://yufid.tv/beramal-untuk-mencari-kesembuhan/" target="_blank"><strong>YUFID.TV</strong></a> dan dipublikasikan kembali oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/beramal-untuk-mencari-kesembuhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://konsultasisyariah.com/video/lq/tanya-jawab-beramal-shaleh-untuk-kesembuhan-taslim.flv" length="4800534" type="video/x-flv" />
		</item>
		<item>
		<title>Menyentuh Bulu Anjing</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menyentuh-bulu-anjing</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menyentuh-bulu-anjing#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 00:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9638</guid>
		<description><![CDATA[Menyentuh Bulu Anjing Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Kebetulan tetangga saya memlihara anjing, dan bulu anjing yang sudah rontok tersebut berceceran di jalan sehingga sulit dihindari untuk menginjaknya. Lalu hukumnya bagaimana bila menyentuh bulu anjing yang sudah rontok tersebut. Terimakasih Jawaban: Bulu anjing ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menyentuh Bulu Anjing</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum<br />
Kebetulan tetangga saya memlihara anjing, dan <strong>bulu anjing</strong> yang sudah rontok tersebut berceceran di jalan sehingga sulit dihindari untuk menginjaknya. Lalu hukumnya bagaimana bila menyentuh bulu anjing yang sudah rontok tersebut.<br />
Terimakasih<br />
<span id="more-9638"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Bulu anjing najis?</h3>
<p>Dalam <em>Al-Fatwa Al-Kubro</em>, Syaikhul Islam menjelaskan:<br />
Terkait dengan anjing, ulama ada tiga pendapat yang cukup terkenal :</p>
<p><strong>Pertama</strong>, anjing semuanya najis, termasuk bulunya. Ini adalah pendapat Imam Syafi&#8217;i dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapat beliau.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, anjing semuanya tidak najis, termasuk liurnya. Ini adalah pendapat Imam Malik menurut keterangan yang masyhur.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, anjing, air liurnya najis, sedangkan bulunya tidak najis. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah menurut keterangan yang masyhur dan salah satu pendapat Imam Ahmad.<br />
Pendapat yang kuat dalam masalah ini, bahwa bulu anjing statusnya tidak najis, tidak sebagaimana air liurnya. Untuk itu, jika ada bulu anjing yang basah terguyur air kemudian mengenai pakaian seseorang maka dia tidak wajib mencucinya. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, seperti Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad dalam salah satu riwayat. (<em>Al-Fatawa Al-Kubro</em>, 1:284 – 285)</p>
<p>Selanjutnya, Syaikhul Islam menjelaskan alasannya secara panjang lebar, yang bisa diringkas sebagai berikut:<br />
Hukum asal segala sesuatu adalah suci. Sementara kita tidak boleh memvonis najis atau menyatakan sebagai benda haram, kecuali dengan dalil. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إلَّا مَا اُضْطُرِرْتُمْ إلَيْهِ</p>
<p>“<em>Allah telah menjelaskan dengan rinci segala sesuatu yang Dia haramkan untuk kalian, kecuali jika kalian terpaksa</em>.” (QS. Al-An&#8217;am: 119)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">الحلال ما أحل الله في كتابه . والحرام ماحرم الله في كتابه . وما سكت عنه فهو عفا عنه</p>
<p>“<em>Benda halal adalah segala sesuatu yang Allah halalkan dalam kitab-Nya, benda haram adalah segala sesuatu yang Allah haramkan dalam kitab-Nya. Adapun yang Allah diamkan maka itu yang Dia bolehkan</em>.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibn Majah, dan dihasankan Al-Albani)</p>
<p>Bagian anjing yang dinyatakan najis dalam dalil adalah liurnya, dan tidak disebutkan bagian anggota badan yang lain. Dengan demikian, vonis najis untuk bulu hanya bisa dilakukan dengan mengqiyaskan (analogi) hukum bulu dengan hukum air liur.</p>
<p>Mengqiyaskan hukum bulu dengan air liur untuk anjing adalah qiyas (analogi) yang tidak bisa diterima. Karena air liur bersambung dengan bagian dalam tubuh anjing, sedangkan bulu tumbuhnya di bagian luar anjing. Dan semua ulama membedakan dua hal ini. Sebagaimana mayoritas ulama menegaskan bahwa bulu anjing statusnya suci, tidak sebagaimana liurnya.</p>
<p>Imam Asy-Syafi&#8217;i dan banyak ulama lainnya menyatakan bahwa tanaman yang tumbuh di tanah yang najis, daunnya suci. Jika kita menyatakan bahwa bulu anjing tumbuh di tempat yang najis maka statusnya sebagaimana tanaman. Karena statusnya suci</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menyentuh-bulu-anjing/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat dengan Baju Terkena Daging Babi</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/shalat-dengan-baju-terkena-daging-babi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/shalat-dengan-baju-terkena-daging-babi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 06:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9197</guid>
		<description><![CDATA[Shalat dengan Baju Terkena Daging Babi Pertanyaan: Bolehkah shalat memakai baju yang terkena daging babi? Bolehkah menggunakan piring dan pisau yang terkena daging babi tanpa mencucinya terlebih dahulu? Apakah khamr bisa diqiyaskan dengan daging babi? Jawaban: Shalat dengan Baju Terkena ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Shalat dengan Baju Terkena Daging Babi</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Bolehkah shalat memakai baju yang terkena <strong>daging babi</strong>? Bolehkah menggunakan piring dan pisau yang terkena daging babi tanpa mencucinya terlebih dahulu? Apakah khamr bisa diqiyaskan dengan daging babi?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Shalat dengan Baju Terkena Daging Babi</h3>
<p>Tidak boleh seseorang mengerjakan shalat dengan memakai baju yang terkena daging babi, karena daging babi adalah najis, seperti firman-Nya,</p>
<p class="arab">قُل لآأَجِدُ فِي مَآأُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَّكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ</p>
<p>“<em>Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatau yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali jika makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -karena sesungguhnya semua itu kotor–</em>“ (Al-An&#8217;am: 145)</p>
<p>Berdasarkan ayat ini, maka tidak boleh seseorang shalat dengan memakai baju ini hingga mencucinya. Jika telah dicuci, maka dibolehkan shalat dengan memakai baju tersebut.</p>
<p>Dibolehkan menggunakan piring, pisau, dan selainnya bila telah dicuci. Sedangkan sebelum dicuci, maka tidak boleh menggunakannya karena telah terkena najis. Adapun khamr, berdasarkan pendapat yang rajih (kuat), maka ia suci dan tidak najis.</p>
<p>Sumber: Anda Bertanya Ulama Menjawab, Bimbingan untuk Orang yang Masuk Islam, Pustaka Imam Ahmad</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsutasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsutasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/menyucikan-celana-yang-terjilat-anjing">Manyucikan Celana yang Terkena Jilatan Anjing</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang">Tas dari Kulit Ular dan Buaya</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/cara-mencuci-wadah-bekas-daging-babi">Cara Mencuci Wadah Bekas Daging Babi</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/shalat-dengan-baju-terkena-daging-babi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Haid Harus Qadha Shalat?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 00:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9315</guid>
		<description><![CDATA[Wanita Haid Harus Qadha Shalat Pertanyaa: Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya, jika seorang wanita telah suci dari haidhnya pada waktu ashar atau di waktu isya, apakah diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat zuhur dan maghrib karena kedua waktu itu memungkinkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Wanita Haid Harus Qadha Shalat</h2>
<p><strong>Pertanyaa:</strong><br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya, jika seorang wanita telah suci dari haidhnya pada waktu ashar atau di waktu isya, apakah diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat zuhur dan maghrib karena kedua waktu itu memungkinkan untuk dijama’?<br />
<span id="more-9315"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Jika seorang wanita telah suci dari haid atau nifasnya di waktu ashar, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat zuhur di antara dua pendapat para ulama, karena kedua waktu shalat itu adalah satu bagi orang yang berhalangan seperti seorang yang sakit atau musafir, juga wanita ini pun mendapatkan halangan dikarenakan tertundanya kesuciannya dari darah nifas atau darah haidh. Demikian pula jika ia mendapatkan kesuciannya di saat isya, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat maghrib dan isya dengan cara manjama’ sebagaimana disebutkan di atas. Beberapa sahabat telah menfatwakan hal ini.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait haid dan nifas:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/menggauli-istri-yang-sedang-hamil">Menggauli Istri yang Sedang Hamil</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/wudhu-wanita-haid">Wudhu Bagi Wanita <strong>Haid</strong></a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/berhenti-haid">Cara Mengetahui Masa Suci Haid</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Meninggalkan Shalat Karena Sakit</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-meninggalkan-shalat-karena-sakit</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-meninggalkan-shalat-karena-sakit#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 09:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9313</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Meninggalkan Shalat Karena Sakit Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya, ada pertanyaan yang menanyakan tentang shalat yang ditinggalkan seseorang karena sedang menjalani pengobatan selama hampir 21 hari, Anda pernah menyebutkan bahwa waktu shalat itu dimulai dengan zuhur atau ashar, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Meninggalkan Shalat Karena Sakit</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya, ada pertanyaan yang menanyakan tentang <strong>shalat</strong> yang ditinggalkan seseorang karena sedang menjalani pengobatan selama hampir 21 hari, Anda pernah menyebutkan bahwa waktu shalat itu dimulai dengan zuhur atau ashar, bagaimanakah hukumnya?<br />
<span id="more-9313"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kami katakan bahwa diharuskan baginya untuk mengqadha shalat-shalat yang telah ia tinggalkan semampu mungkin, bahkan jika mungkin ia harus melakukan shalat-shalat itu dengan berurutan dalam satu hari, tapi jika tidak mampu dalam satu hari, maka dibagi beberapa hari sesuai kemampuannya. Hal itu ia lakukan secara tertib menurut hari dan waktu shalat, dari awal hari dan dari awal shalat yang ia tingglkan. Adapun mengenai puasanya, karena ditinggalkan sebab sakit dan telah diqadha, maka tidak ada lagi kewajiban mengqadhanya.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait shalat:</h3>
<p>1. <a href="../bunyi-hp-saat-shalat" rel="nofollow" target="_blank">Shalat Jamaah Terganggu Bunyi HP</a>.<br />
2. <a href="../memperlama-sujud-ketika-shalat-jamaah" rel="nofollow" target="_blank">Jika Imam Memperlama Waktu Sujud Terakhir</a>.<br />
3. <a href="../zikir-berjamaah-setelah-shalat" rel="nofollow" target="_blank">Dzikir Jamaah Setelah Shalat</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/lupa-shalat">Shalat Terbengkalai Beberapa Hari</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-meninggalkan-sholat-dengan-sengaja">Hukum Meninggalkan Shalat dengan Sengaja</a>.<br />
6. <a href="http://konsultasisyariah.com/bagaimanakah-sholat-orang-yang-sedang-sakit">Cara Shalat Orang Sakit</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pictures</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-meninggalkan-shalat-karena-sakit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Qadha Puasa Untuk Orang Meninggal</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/qadha-puasa-untuk-orang-meninggal</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/qadha-puasa-untuk-orang-meninggal#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 07:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9205</guid>
		<description><![CDATA[Qadha Puasa Untuk Orang Meninggal Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Ustadz, ada seorang yang sakit sehingga tidak puasa Ramadhan selama satu bulan, dan belum sempat sembuh sudah meninggal dunia. Apakah boleh puasanya diqadha oleh ahli warisnya? Jawaban: Pertanyaan semisal juga pernah ditanyakan kepada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Qadha Puasa Untuk Orang Meninggal</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum. Ustadz, ada seorang yang sakit sehingga tidak puasa Ramadhan selama satu bulan, dan belum sempat sembuh sudah meninggal dunia. Apakah boleh puasanya diqadha oleh ahli warisnya?<br />
<span id="more-9205"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Pertanyaan semisal juga pernah ditanyakan kepada Syaikh Ibnu Jibrin dengan redaksi: “Jika seorang meninggal dunia dan mempunyai hutang puasa Ramadhan, apakah boleh dipuasakan untuknya? Atau qadha itu hanya untuk hari-hari yang dinadzarkan saja?”</p>
<p>Beliau menjawab,<br />
Imam Ahmad berpendapat bahwa qadha itu hanya untuk yang dinadzarkan. Adapun yang fardhu, maka tidak perlu diqadhakan untuk orang yang telah meninggal dunia, tapi cukup dengan menyedekahkan dari harta yang ditinggalkan sebanyak setengah sha’ untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Imam Ahmad berdalil dengna hadits Nabi <em>Shalallahu Alaihi wa Sallam</em>,</p>
<p>“Tidak sah seseorang berpuasa atas nama orang lain, begitu pula tidak sah seseorang shalat atas nama orang lain.”</p>
<p>Sementara mayoritas imam berpendapat, bahwa tidak ada perbedaan antara nadzar dan fardhu. Keduanya boleh diqadhakan untuk orang yang telah meninggal dunia, berdasarkan hadits Aisyah, ia berkata: Rasulullah <em>Shalallahu Alaihi wa Sallam</em> bersabda,</p>
<p><em>“Barangsiapa meninggal dunia dan mempunyai kewajiban puasa maka dipuasakan oleh walinya.”</em></p>
<p>Hadits yang dijadikan landasan Imam Ahmad mengandung makna bahwa kewajiban itu adalah beban orang-orang yang masih hidup. Dan dalam urusan ibadah, tidak boleh diwakilkan kepada orang lain kecuali dalam kondisi tertentu.</p>
<p>Maka kesimpulannya, bahwa pendapat yang benar insya Allah adalah qadha puasa untuk orang yang telah meninggal dunia bersifat umum, baik puasa fardhu maupun yang dinadzarkan.</p>
<p>(<em>Fatwa ash-Shiyam</em> disusun oleh Rasyid az-Zahrani, hlm. 124-125)</p>
<p>Sumber: Majalah Al Mawaddah  Edisi 8 Tahun ke-3 1431 H/Maret 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait qadha puasa:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/menggabung-niat-puasa-syawal-dengan-puasa-qadha">Menggabungkan Niat Puasa Sunnah dengan <strong>Qadha Puasa</strong> Ramadhan</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/ganti-puasa">Tata Cara Qadha Puasa.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/qadha-puasa-untuk-orang-meninggal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembagian Warisan Jika Mayit Tidak Punya Anak</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pembagian-warisan-jika-mayit-tidak-punya-anak</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pembagian-warisan-jika-mayit-tidak-punya-anak#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 07:16:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Waris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9301</guid>
		<description><![CDATA[Aturan Pembagian Warisan Jika Mayit Tidak Punya Anak Pertanyaan: Ustazd yth. Dua hari yang lalu saya diminta Ibu untk membantu mencoba menghitungkan pembagian waris adiknya (Alm), hasil penjualan rumahnya. Tapi saya belum paham berapa bagian dan kepada siapa harus dibgikan. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Aturan Pembagian Warisan Jika Mayit Tidak Punya Anak</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Ustazd yth.<br />
Dua hari yang lalu saya diminta Ibu untk membantu mencoba menghitungkan pembagian waris adiknya (Alm), hasil penjualan rumahnya. Tapi saya belum paham berapa bagian dan kepada siapa harus dibgikan.<br />
Almarhun meningakan istri tanpa anak, masih memiliki 3 sudara sekandung (se-ayah dan se-ibu) satu perempuan dan 2 laki-laki, dan masing-masing mempunyai anak (ponakan almarhum) sedangkan ahli waris yang lainnya tidak ada.<br />
Yang saya tanyakan, 1/4 bagian istri almarhum dan sisanya bagaimana dan harus kepada siapa membaginya?<br />
kami mohon dapat diprioritaskan jawaba e-mail saya ini agar segera dapat dilaksanakan mengingat sudah cukup lama dan di antara ahli waris saling berpendapat. Demkian atas jawabannya saya ucapkan terima kasih</p>
<p>Wassalam, Wr. Wb.<br />
Yulianto<br />
<span id="more-9301"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Pembagian Warisan Jika Mayit Tidak Punya Anak</h3>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam</em><br />
Kasus pembagian warisan yang Anda sebutkan dalam ilmu faraidh disebut <em>kalalah</em>, dimana orang yang meninggal (mayit) tidak memiliki anak dan bapaknya sudah meninggal. Allah menyebutkan kasus <em>kalalah</em> dalam Alquran di surat An-Nisa, ayat 12 dan ayat 176.<em> Kalalah</em> dengan pengertian di atas merupakan keterangan dari sahabat Abu Bakr Ash-Shiddiq, yang kemudian disepakati para sahabat. (<em>Taisir Karimir Rahman</em>, Hal. 168)</p>
<p>Dari kasus di atas, Ahli waris terdiri dari:</p>
<ol>
<li> Istri mayit.</li>
<li>Saudara mayit (2 laki-laki dan 1 perempuan)</li>
</ol>
<p>Keponakan tidak mendapatkan warisan, karena terhalang oleh orang tuanya (saudara mayit)</p>
<p><strong>Cara pembagian warisan :</strong></p>
<ol>
<li> Istri mendapat 1/4 dr harta mayit, karena tidak punya anak. Dalilnya adalah firman Allah di surat An-Nisa: 12.</li>
<li>Sisa harta warisan 3/4 diberikan kepda saudara mayit, dengan perbandingan 2:1. Laki-laki dapat 2 dan perempuan dapat 1 bagian.</li>
</ol>
<p><strong>Contoh perhitungan :</strong></p>
<p>Kita misalkan harta yang ditingalkan adalah 100 juta.</p>
<ol>
<li> Istri mendapat : 1/4 x 100 jt = 25 juta</li>
<li>Sisanya : 75 juta menjadi warisan saudara mayit. Agar bisa dibagi dengan perbandingan 2:1 untuk 3 bersaudara, sisa warisan ini dibagi 5, karena laki-laki dinilai 2 dan perempuan dinilai 1.</li>
</ol>
<p>75 juta : 5 = 15 juta. Selanjutnya angka ini dianggap sebagai satu jatah</p>
<p>- Untuk masing-masing saudara lelaki mendapatkan 2 jatah = 2 x 15 jt = 30 jt<br />
- Untuk saudara perempuan mendapat 1 jatah = 15 juta.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../menunaikan-wasiat-sebelum-membagi-warisan" target="_blank">Menunaikan Wasiat Sebelum Pembagian Warisan.</a><br />
2. <a rel="nofollow" href="../tuntunan-pembagian-warisan-01" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 01</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../pembagian-harta-warisan-ibu" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 02</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../warisan-untuk-istri-dan-bapak" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 03</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../tuntunan-pembagian-warisan-04" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 04</a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../penghalang-untuk-mendapatkan-warisan" target="_blank">Penghalang untuk Mendapat Warisan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pembagian-warisan-jika-mayit-tidak-punya-anak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warisan Untuk 1 Istri dan 1 Anak</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/warisan-untuk-1-istri-dan-1-anak</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/warisan-untuk-1-istri-dan-1-anak#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 01:46:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Waris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9213</guid>
		<description><![CDATA[Warisan Untuk 1 Istri dan 1 Anak Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum. Ustadz saya mau tanya, suami meninggal degan meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki. Dan juga ada beberapa harta yang dimiliki sebelum menikah, ada juga harta setelah menikah tapi dalam status ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Warisan Untuk 1 Istri dan 1 Anak</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum. Ustadz saya mau tanya, suami meninggal degan meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki. Dan juga ada beberapa harta yang dimiliki sebelum menikah, ada juga harta setelah menikah tapi dalam status masih hutang yang belum dibayar. Ada juga santunan sebesar 10 juta dan jasa raharja 25 juta. Berapa bagian 1 istri dan 1 anak laki-laki, terima kasih. Wassalam</p>
<p>Dari: Khoirunnisa Ida<br />
<span id="more-9213"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Wa&#8217;alaikumussalam<br />
Dari keterangan yang Anda sampaikan, dapat kita kupas menjadi beberapa catatan penting:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, harta <strong>warisan</strong> mayit.<br />
Harta warisan mayit (suami) adalah semua harta yang dimiliki mayit semasa hidupnya, baik setelah maupun sebelum menikah, termasuk santunan dan jasa raharja. Berdasarkan keterangan ini, maka harta yang diperoleh dari utang tidak termasuk harta mayit.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, sebelum pembagian warisan.<br />
Sebelum membagi warisan, Allah <strong>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</strong> memerintahkan agar utang dan wasiat diselesaikan terlebih dahulu. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman, setelah menjelaskan jatah warisan masing-masing ahli waris,</p>
<p class="arab">مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَىٰ بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ</p>
<p>&#8220;<em>Sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris).</em>&#8221; (QS. An-Nisa: 12)</p>
<p>Terkait kasus yang Anda sampaikan, dari total harta mayit terlebih dahulu dikurangi nilai utangnya, dan segera diselesaikan. Karena utang akan menjadi tanggungan mayit di akhirat sampai keluarganya melunasinya. Segera ringankan beban mayit, dengan melepaskan tanggungan utangnya. Sekali lagi, utang ini bukan harta mayit, karena itu jangan ditahan atau disimpan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, pembagian warisan.<br />
Jika masih ada sisa harta setelah dikurangi beban utang, selanjutnya menjadi harta warisan yang sebenarnya. Dari harta ini dilakukanlah pembagian warisan. Ahli waris yang berhak mendapatkan warisan si suami hanya 2: Istri dan anak laki-lakinya.</p>
<p><strong>Perhitungannya:</strong><br />
a. Istri mendapatkan 1/8 dari harta warisan, karena mayit memiliki anak. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam Al-Quran di surat An-Nisa: 12.<br />
b. Anak laki-laki, dalam ilmu waris statusnya sebagai <em>&#8216;Ashib</em> (Arab: عاصب : penerima <em>&#8216;ashabah</em>). <em>&#8216;Ashabah</em> sendiri artinya harta sisa warisan setelah dibagikan kepada para ahli waris sebelumnya. Dengan demikian, si anak menerima semua harta warisan ayahnya, setelah dikurangi 1/8 untuk jatah ibunya.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait warisan:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../menunaikan-wasiat-sebelum-membagi-warisan" target="_blank">Menunaikan Wasiat Sebelum Pembagian Warisan.</a><br />
2. <a rel="nofollow" href="../tuntunan-pembagian-warisan-01" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 01</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../pembagian-harta-warisan-ibu" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 02</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../warisan-untuk-istri-dan-bapak" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 03</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../tuntunan-pembagian-warisan-04" target="_blank">Tuntunan Pembagian Warisan 04</a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../penghalang-untuk-mendapatkan-warisan" target="_blank">Penghalang untuk Mendapat Warisan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/warisan-untuk-1-istri-dan-1-anak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perayaan Menyambut Jamaah Haji</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/perayaan-menyambut-jamaah-haji</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/perayaan-menyambut-jamaah-haji#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 00:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9209</guid>
		<description><![CDATA[Perayaan Menyambut Jamaah Haji Pertanyaan: Di tempat kami sering diadakan walimah (acara makan-makan) ketika berangkat maupun sepulang dari ibadah haji. bagaimana hukumnya? Apakah ada dalil masalah ini. Dari: Abdullah K. Jawaban: Pada asalnya acara semacam ini hukumnya mubah (boleh). Karena ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Perayaan Menyambut Jamaah Haji</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Di tempat kami sering diadakan walimah (acara makan-makan) ketika berangkat maupun sepulang dari ibadah <a href="http://konsultasisyariah.com/wakil-haji-kakek"><strong>haji</strong></a>. bagaimana hukumnya? Apakah ada dalil masalah ini.</p>
<p>Dari: Abdullah K.<br />
<span id="more-9209"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Pada asalnya acara semacam ini hukumnya mubah (boleh). Karena itu, tidak boleh disikapi sebagai suatu keharusan atau anjuran. Artinya, andaikan ada orang yang tidak melakukannya karena sebab tertentu maka sama sekali tidak boleh mendapatkan celaan.<br />
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi mendapatkan pertanyaan yang sama, beliau menjawab,</p>
<p>&#8220;Apabila acara ini telah menjadi fenomena yang terus menerus dilestarikan, bahkan  bisa jadi orang yang tidak melakukannya mendapatkan celaan maka hukumnya tidak boleh. Akan tetapi jika sifatnya terkadang dilakukan dan terkadang ditinggalkan,<br />
dan tidak ada celaan maupun pengingkaran bagi orang yang tidak melaksanaknnya maka saya berharap ini tidak masalah.&#8221;<br />
Demikian penjelasan beliau di: <em>http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=5532</em><br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<h3>Biografi Syaikh Ali bin Hasan</h3>
<p>Nama lengkap beliau : Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid al-Halabi. Kakek Beliau berasal dari Yafa, Palestina. Karena tekanan Yahudi, kakek dan ayahnya pindah ke Yordania, tepatnya di kota Halb.<br />
Beliau termasuk salah satu murid senior Syaikh Al-Albani. Dari sinilah beliau menjadi ahlil hadis abad ini, sebagaimana gurunya. Banyak ulama memberikan pujian kepada beliau. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin menyebut beliau sebagai Al-Bahr (lautan ilmu).</p>
<p>Beliau aktif menyampaikan kajian dan seminar di berbagai universitas. Beliau juga aktif terlibat dalam Muktamar-muktamar Islam internasional. semoga Allah menjaga beliau.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/perayaan-menyambut-jamaah-haji/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Untuk Orang Yang Pulang Haji</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-untuk-orang-yang-pulang-haji</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-untuk-orang-yang-pulang-haji#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 00:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9206</guid>
		<description><![CDATA[Doa Untuk Orang Yang Pulang Haji Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Ustadz, saya mau tanya, ada tidak ucapan untuk orang yang baru pulang haji? Dari: Abu Hammam Pekalongan 08586922xxxx Jawaban: Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada lafadz doa atau ucapan tertentu dari Nabi shalallahu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Doa Untuk Orang Yang Pulang Haji</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum. Ustadz, saya mau tanya, ada tidak ucapan untuk orang yang baru pulang <strong>haji</strong>?</p>
<p>Dari: Abu Hammam Pekalongan 08586922xxxx<br />
<span id="more-9206"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada lafadz doa atau ucapan tertentu dari Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk orang yang baru pulang haji, namun tidak mengapa seseorang mendoakan untuk mereka dengan doa-doa yang baik dan sesuai, seperti “Semoga Allah menerima amal shalihmu”, “Semoga Allah menjadikan hajimu sebagai haji yang mabrur” dan ucapan-ucapa doa sejenisnya yang tidak menngandung makna terlarang. Sebab ucapan selamat dan doa kebaikan merupakan sesuatu yang disyariatkan dalam ajaran Islam, baik di hari raya maupun selainnya.</p>
<p>Oleh karena itu, banyak beberapa dalil yang menunjukkan adanya ucapan selamat pada selain hari raya, seperti ucapan para sahabat kepada Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “Selamat untukmu atas apa yang diberikan oleh Allah kepadamu”. (Bukhari, no.3939 dan Muslim, no.1786), dan ucapan selamat dari Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berserta para sahabat kepada Ka’ab bin Malik <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> tatkala Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menerima taubatnya. (HR. Bukhari, no.4156 dan Muslim, no.2769)</p>
<p>Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di berkata, “Ucapan selamat dalam berbagai kesempatan dibangun di atas kaidah yang berharga, yaitu asal dalam masalah adalah adat, baik ucapan maupun perbuatan hukumnya adalah boleh. Tidak bisa diharamkan atau dibenci kecuali apabila mengandung hal yang dilarang oleh syariat atau mengandung kerusakan. Kaidah agung ini dibangun di atas Alquran dan sunah.</p>
<p>Sesungguhnya manusia tidaklah bermaksud ibadah dengan ucapan ini, namun hal itu merupakan adat sesama mereka dalam sebagian kesempatan. Hal ini tidak terlarang, bahkan menyimpan kemaslahatan sebab apabila kaum mukmin saling mendoakan antara sesama maka sejatinya hal itu akan menyebabkan mereka saling mencintai.</p>
<p>Dan adat-adat yang boleh apabila diringi dengan manfaat dan maslahat, maka bisa menjadikannya sebagai amalan yang dicintai oleh Allah sesuai dengan buah yang dihasilkannya.” <em>Wallahu A’lam</em> (<em>Al-Fatawa As-Sa’diyyah</em>, Hal. 487. Lihat pula risalah <em>Wushul Amaani bi Ushuli Tahani</em> oleh As-Suyuthi, Majalis <em>‘Asyri Dzilhijjah Abdullah al-Fauzan</em>, Hal.111-114).</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://abiubaidah.com/tanya-jawab-doa-haji.html/#more-228" target="_blank">abiubaidah.com</a></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait haji:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/salah-paham-haji-akbar">Salah Paham Tentang Haji Akbar</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/jika-wanita-haji-tanpa-mahram">Jika Wanita Haji Tanpa Mahram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/talbiyah-memasuki-ibadah-haji">Membaca Talbiyah untuk Memulai Haji</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/wakil-haji-kakek">Mewakilkan Haji Untuk Kakek</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-untuk-orang-yang-pulang-haji/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Seorang Muallaf Wajib Memotong Kuku?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-seorang-muallaf-wajib-memotong-kuku</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-seorang-muallaf-wajib-memotong-kuku#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 06:26:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Bersuci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9187</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Seorang Muallaf Wajib Memotong Kuku? Pertanyaan: Apakah seorang muslim yang baru masuk Islam (muallaf) wajib memotong kuku, mencukur kumis, mencukur bulu kemaluan, dan mencabut bulu ketiak? Jawaban: Semua ini merupakan perkara fitrah yang dilakukan seorang muslim ketika ada sebab-sebabnya. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Apakah Seorang Muallaf Wajib Memotong Kuku?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Apakah seorang muslim yang baru masuk Islam (<em>muallaf</em>) wajib memotong kuku, mencukur kumis, mencukur bulu kemaluan, dan mencabut bulu ketiak?<br />
<span id="more-9187"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Semua ini merupakan perkara fitrah yang dilakukan seorang muslim ketika ada sebab-sebabnya. Jika ia masuk Islam dan memiliki bulu kemaluan, kumis, atau bulu ketiak yang panjang, maka ia diberi pengarahan untuk menghilangkannya dengan cara yang <em>ma’tsur</em> (sesuai contoh Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>). Bila ia memiliki kuku-kuku yang panjang, maka ia diberi pengarahan untuk memotongnya seperti halnya kaum muslimin lainnya.</p>
<p>Namun, tidak diharuskan memotong kuku dan rambut, bila kuku dan rambutnya pendek, tapi cukup dibertahukan tentang hukumnya saja. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Sumber: <em>Anda Bertanya Ulama Menjawab, Bimbingan untuk Orang yang Masuk Islam</em>, Pustaka Imam Ahmad</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait muallaf:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-di-rumah-orang-nasrani">Shalat di Rumah Orang Nashrani</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/yang-berhak-menerima-zakat-fitrah"><strong>Muallaf</strong> Berhak Menerima Zakat</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-seorang-muallaf-wajib-memotong-kuku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/160 queries in 0.075 seconds using disk: basic
Object Caching 3287/3515 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-08 10:28:35 -->
