<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Jenazah</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/jenazah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 02:42:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Ziarah Kubur bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 06:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10269</guid>
		<description><![CDATA[Ziarah Kubur bagi Wanita Pertanyaan: Bolehkah wanita berziarah ke kubur? Jawaban: Kedudukan wanita (dalam ibadah) hampir sama dengan kaum pria. Kewajiban pria juga bisa menjadi kewajiban wanita. Begitu pula mereka sama dalam mengerjakan perkara-perakara yang disunahkan. Mereka berbeda dalam perkara-perkara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ziarah-kubur-bagi-wanita" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ziarah kubur bagi wanita">Ziarah Kubur bagi Wanita</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Bolehkah wanita berziarah ke kubur?<br />
<span id="more-10269"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kedudukan wanita (dalam ibadah) hampir sama dengan kaum pria. Kewajiban pria juga bisa menjadi kewajiban wanita. Begitu pula mereka sama dalam mengerjakan perkara-perakara yang disunahkan. Mereka berbeda dalam perkara-perkara yang dikhususkan oleh syariat.</p>
<p>Dalam perkara yang ditanyakan, saya tidak menemukan adanya dalil khusus yang mengharamkan wanita berziarah ke kuburan. Bahkan terdapat sebuah hadis dalam <em>Shahih Muslim</em> yang menceritakan tindakan Aisyah yang dilandasi rasa cemburu kepada istri-istri Nabi yang lain. Lengkapnya sebagai berikut:</p>
<p>Di malam hari ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyangka Aisyah telah tertidur, beliau <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> turun dari tempat tidur kemudian berjalan dengan mengendap-endap, menuju ke pekuburan Baqi’. Mengetahui hal itu Aisyah yang belum tertidur mengikuti dari belakang. Jika Nabi melambatkan ayunan langkahnya, Aisyah pun ikut melambatkan jalannya. Dan jika Nabi berjalan cepat, Aisyah pun berjalan cepat, ketika Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pulang ke rumah, Aisyah dengan segera masuk ke rumah dan tidur di atas tempat tidurnya. Rasulullah segera masuk kamar menemui Aisyah. Karena Aisyah nampak terengah-engah; Rasulullah bertanya kepada, “<em>Ada apa wahai Ais? Apakah engkau menyangka Allah dan rasul-Nya akan berbuat curang kepadamu?. Sesungguhnya tadi Jibril datang dan menyampaikan salam dari Allah kepadaku, dan juga menyampaikan perintah Allah agar saya mendatangi pekuburan Baqi&#8217; lalu memintakan ampun penghuninya</em>.” Dalam kitab lain disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Apa artinya aku bila dibandingkan dengan engkau Ya Rasulullah.” Selanjutnya (Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Kalau begitu, apa yang diucapkan jika berziarah ke kuburan?” Nabi menjawab, “Bacalah&#8230;&#8221;</p>
<p>Adapun hadis yang melarang para wanita berziarah ke kubur adalah,</p>
<p>“<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>.”</p>
<p>Hadis ini hanya berlaku di Mekah karena diucapkan di Mekah dan dalam periode Mekah (sebelum hijrah –ed.). Dalil yang menguatkan adalah sebuah hadis yang sudah kita kenal yang bunyinya:</p>
<p>“<em>Dahulu saya melarang kalian mendatangi (ziarah) kubur, adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya.</em>”</p>
<p>Dengan demikian jelaslah bahwa pelarangan <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ziarah-kubur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ziarah kubur">ziarah kubur</a></strong> itu hanya berlaku dalam periode Mekah, bukan pada periode Madinah. Pelarangan ini dimaksudkan karena di masa periode Mekah para sahabat baru saja memeluk Islam. Tidak mungkin pelarangan ini berlaku setelah hijrah ke Madinah.</p>
<p>Ucapan Nabi “<em>Adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya</em>” boleh jadi diucapkan di Mekah, tetapi waktu atau tempat diucapkannya ini tidak berpengaruh sama sekali. Yang jelas izin berziarah ke kubur datang belakangan setelah pelarangannya di Mekah, dan ini sangat berkaitan dengan hadis Aisyah di atas. Jika kita menganggap hadis “<em>Dahulu saya melarang&#8230;</em>” diucapkan setelah hadis Aisyah, berarti hadis Aisyah di-<em>mansukh</em> (dihapus). Dan anggapan ini sangat jauh dari kebenaran.</p>
<p>Yang benar adalah Rasulullah melarang ziarah ke kubur pada periode Mekah, tetapi di akhir-akhir periode Mekah atau pada awal hijrah ke Madinah beliau mengizinkannya melalui sabdanya, “<em>Adapun sekarang silahkan kalian mendatanginya</em>.” Tidak diragukan lagi bahwa pelarangan ziarah kubur di periode Mekah diperuntukkan bagi laki-laki dan perempuan. Begitu pula perizinannya yang keluar pada akhir periode Mekah dan awal hijrah ke Madinah juga bagi laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Kalau begitu kapan hadis “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>” diucapkan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Jika hadis ini diucapkan setelah izin Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada para wanita untuk berziarah kubur, berarti terjadi penghapusan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> dua kali (dilarang, lalu dibolehkan, dan akhirnya dilarang lagi) di-<em>mansukh</em> dua kali. Hal seperti ini tidak pernah kita jumpai dalam hukum-hukum syariat.</p>
<p>Baiklah, kita anggap saja bahwa Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengucapkan hadis “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>” setelah beliau mengizinkan pria dan wanita berziarah kubur. Tapi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> dengan hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah memberikan izin kepada Aisyah untuk berziarah kubur? Apakah izin Rasulullah ini keluar setelah hadis laknat di atas? Atau sebelumnya? Pendapat yang kuat menurut kami adalah bahwa izin Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> keluar sebelum hadis, “<em>Allah melaknat wanita-wanita yang (suka) berziarah kubur</em>.”</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong><br />
Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa yang dilarang adalah perempuan yang berlebih-lebihan dan terlalu sering berziarah. Sangat tidak mungkin ziarah ini haram bagi wantia, sementara Sayyidah Aisyah kerap kali berziarah kubur, walaupun Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sudah meninggal.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8211; 2004 M</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ziarah kubur:</h3>
<p>1. <a href="../bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan" rel="nofollow" target="_blank">Bolehkah memakai alas kaki di kuburan.</a><br />
2. <a href="../bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur" rel="nofollow" target="_blank">Wanita haid berziarah kubur.</a><br />
3. <a href="../gambaran-adzab-kubur" rel="nofollow" target="_blank">Gambaran azab kubur.</a><br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur" target="_blank">Tabur Bunga Saat Ziarah Kubur</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur-bagi-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 03:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9993</guid>
		<description><![CDATA[Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Selama mengiringi jenazah dari rumah ke pemakaman, adakah dzikir-dzikir khusus yang mesti dibaca? Dari: Herbono Utomo Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu Dzikir Mengantar Jenazah Imam An-Nawawi mengatakan dalam Bab dzikir ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Dzikir ketika Mengantarkan Jenazah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh</em> Ustadz,<br />
Selama mengiringi jenazah dari rumah ke pemakaman, adakah dzikir-dzikir khusus yang mesti dibaca?<br />
Dari: Herbono Utomo</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu</em></p>
<h3>Dzikir <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengantar-jenazah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengantar jenazah">Mengantar Jenazah</a></h3>
<p>Imam An-Nawawi mengatakan dalam Bab dzikir yang dibaca ketika mengiringi jenazah: &#8220;Dianjurkan bagi orang yang mengantarkan jenazah untuk menyibukkan dirinya dengan mengingat Allah dan merenungkan apa yang akan dia temui setelah kematian, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> tempat kembalinya, dan apa yang akan dia dapatkan di sana, serta memikirkan bahwa kematian merupakan penghujung dunia dan kondisi akhir penduduk dunia.</p>
<p>Kemudian, jangan sekali-kali berbicara mengenai sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Karena pada saat itu adalah waktu untuk merenung dan berpikir tentang kehidupan setelah mati. Sangat tercela jika digunakan untuk hal yang melalaikan, main-main, dan sibuk dengan omong kosong. Karena berbicara yang tidak ada manfaatnya terlarang dalam setiap keadaan, maka baimana lagi dalam kondisi semacam ini.</p>
<p>Kemudian ketauhilah, bahwa yang benar dan sesuai dengan kebiasaan para sahabat adalah diam ketika mengiringi jenazah. Tidak boleh mengeraskan suara dengan membaca Alquran atau dzikir, atau bacaan lainnya. Inilah yang benar. Dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang bersikap sebaliknya. (<em>Al-Adzkar</em>, karya An-Nawawi, Hal.160)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/mengubur-jenazah-dengan-peti" target="_blank">Mengubur Jenazah dengan Peti</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/memindahkan-makam" target="_blank">Memindahkan Makam</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone" target="_blank">Mengumumkan Kematian Ke Mikropon</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari" target="_blank">Mengubur Jenazah Pada Malam Hari</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-adzan-dan-talqin-kepada-mayat" target="_blank">Hukum Adzan dan Iqomah pada Talqin Jenazah</a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan" target="_blank"><strong>Mengantar Jenazah</strong> dengan Kendaraan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/dzikir-mengatarka-jenazah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengubur Jenazah dengan Peti</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mengubur-jenazah-dengan-peti</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mengubur-jenazah-dengan-peti#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 00:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9017</guid>
		<description><![CDATA[Mengubur Jenazah dengan Peti Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Bolehkan mengubur jenasah dengan menggunakan peti mati? Trimakasih jawabannya, Jazakallah Khair Dari: Muhammad Alsadr Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Hukum Mengubur Jenazah dengan Peti Tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang terlarangnya mengubur mayit di dalam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Mengubur Jenazah dengan Peti</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>Bolehkan <strong>mengubur jenasah</strong> dengan menggunakan peti mati? Trimakasih jawabannya, Jazakallah Khair<br />
Dari: Muhammad Alsadr<br />
<span id="more-9017"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam</em></p>
<h3><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Mengubur Jenazah dengan Peti</h3>
<p>Tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang terlarangnya mengubur <a href="http://konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone">mayit</a> di dalam peti, jika tidak ada kebutuhan untuk melakukan hal itu. Lain halnya jika ada kebutuhan untuk <strong>mengubur jenazah</strong> di dalam peti, seperti tanahnya mudah longsor atau dikhawatirkan akan dibongkar binatang buas, sebagian ulama membolehkannya.</p>
<p>Dalam kumpulan Fatwa Lajnah Daimah dinyatakan:<br />
Tidak dikenal adanya kebiasaan mengubur mayit dengan peti di zaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maupun para sahabat. Sementara prinsip hidup terbaik yang seharusnya ditempuh kaum muslimin adalah prinsip hidup mereka. Karena itu, dilarang mengubur mayit dengan peti. Baik tanahnya keras, biasa, atau mudah longsor. Jika mayit pernah berwasiat agar dia dikuburkan dengan peti maka wasiatnya tidak boleh ditunaikan. Hanya saja, ulama syafi&#8217;iyah membolehkan menggunakan peti jika tanahnya berlumpur atau mudah longsor. Jika dia berwasiat, tidak boleh dilaksanakan, kecuali dalam kondisi seperti ini. (<em>Fatawa Lajnah Daimah</em>, 2:312)</p>
<p>Ibnu Qudamah mengatakan, &#8220;Tidak ada anjuran memakamkan mayit dengan peti. Karena tidak ada riwayat dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tidak pula dari para sahabat. Disamping itu, perbuatan ini termasuk meniru kebiasaan orang sombong. Sementara tanah ini cukup kering untuk menampung jenazahnya. (<em>Al-Mughni</em>, 2:379)</p>
<p>Dalam kitab <em>Al-Inshaf</em> dinyatakan:<br />
Dilarang mengubur dengan peti. Meskipun mayitnya seorang wanita. (<em>Al-Inshaf</em>, 4:340)</p>
<p>Sementara Imam Asy-Syarbini Asy-Syafii mengatakan, &#8220;Dilarang mengubur mayit dengan peti dengan sepakat ulama. Karena ini adalah perbuatan bid&#8217;ah, kecuali di tanah lembek atau berlumpur. Dalam kondisi ini tidak dilarang karena ada maslahat. Wasiat untuk mengubur dengan peti tidak boleh ditunaikan, kecuali untuk keadaan tanah tersebut. Keadaan yang sama adalah ketika jasad mayit rusak karena terbakar, sehingga jasadnya tidak bisa dibungkus kecuali dengan peti.&#8221; (<em>Mughni Al-Muhtaj</em>, 4:343)<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>Disadur dari: <em>Fatawa Islam</em>, tanya jawab, no.34511</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mengubur-jenazah-dengan-peti/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabur Bunga Di Kubur</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 08:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan wali]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>
		<category><![CDATA[tabur bunga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7848</guid>
		<description><![CDATA[Tabur bunga di kubur Pertanyaan: 1. Apa hukumnya bila kita menaburkan bunga di atas kuburan sementera kita tidak ada niat untuk syirik kepada allah melainkan hanya untuk mengharumkan kuburan tersebut dan sekitarnya. 2. Kita masuk kubur dengan memakai sandal bagaimana ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tabur-bunga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tabur bunga">Tabur bunga</a> di kubur</strong><strong></strong></h2>
<p>Pertanyaan:<br />
1. Apa hukumnya bila kita menaburkan bunga di atas <strong>kubur</strong>an sementera kita tidak ada niat untuk syirik kepada allah melainkan hanya untuk mengharumkan kuburan tersebut dan sekitarnya.<br />
2. Kita masuk <strong>kubur</strong> dengan memakai sandal <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> hukumnya,</p>
<p>Demikian pertanyaan kita terima kasih.</p>
<p><em>Hasanuddin (fispra_bappXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7848"></span></p>
<h3>Penjelasan tabur bunga di kubur.</h3>
<p>Perbuatan ini sering dilakukan oleh para peziarah <a href="http://konsultasisyariah.com/menangis-di-kuburan" target="_blank">kubur</a>. Kami tidak menemukan satu pun riwayat valid yang menunjukkan bahwa rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya melakukan hal yang serupa ketika menziarahi suatu kubur.</p>
<p>Berdasarkan keterangan para ulama, perbuatan ini merupakan tradisi yang diambil dari orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a>, khususnya kaum Nasrani. Tradisi tebar bunga dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang telah wafat. Tradisi tersebut kemudian diserap dan dipraktekkan oleh sebagian kaum muslimin yang memiliki hubungan erat dengan orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a>, karena memandang perbuatan mereka merupakan salah satu bentuk kebaikan terhadap orang yang telah wafat.</p>
<p>Seorang ulama hadits Mesir, Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah mengatakan, “Perbuatan ini digalakkan oleh kebanyakan orang, padahal hal tersebut tidak memiliki sandaran dalam agama. Hal ini dilatarbelakangi oleh sikap berlebih-lebihan dan sikap mengekor kaum Nasrani. Apa yang terjadi, khususnya di negeri Mesir merupakan contoh dari hal ini. Orang Mesir pun melakukan tradisi tebar bunga di atas pusara atau saling menghadiahkan bunga sesama mereka. Orang-orang meletakkan bunga di atas pusara kerabat atau kolega mereka sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah wafat.” Beliau melanjutkan, “Oleh karena itu, apabila para tokoh muslim mengunjungi sebagian negeri Eropa, anda dapat menyaksikan mereka menziarahi pekuburan para tokoh di negeri tersebut atau ke pekuburan para pejuang tanpa nama kemudian melakukan tradisi tebar bunga, sebagian lagi meletakkan bunga imitasi karena mengekor Inggris dan mengikuti tuntunan hidup kaum terdahulu.” Lalu di akhir perkataan, beliau menyatakan, “Semua ini adalah perbuatan bid’ah dan kemungkaran yang tidak berasal dari agama Islam, tidak pula memiliki sandaran dari Al quran dan sunnah nabi. Dan kewajiban para ulama adalah mengingkari dan melarang segala tradisi ini sesuai kemampuan mereka.” (Ta’liq Ahmad Syakir terhadap Sunan At Tirmidzi 1/103, dinukil dari <em>Ahkaamul Janaaizhal</em>. 254).</p>
<p>Oleh karena itu, tradisi yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin ini  tercakup dalam larangan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar tidak mengekor kebudayaan khas kaum kafir sebagaimana yang termaktub dalam sabda Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">ومن تشبه بقوم فهو منهم</p>
<p><em>“Barangsiapa menyerupai suatu kaum ,maka ia termasuk golongan mereka.”</em> (HR. Ahmad nomor 5114, 5115 dan 5667; Sa’id bin Manshur dalam Sunannya nomor 2370; Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>-nya: 19401, 19437 dan 33010. Al ‘Allamah Al Albani menghasankan hadits ini dalam <em>Al Irwa’</em> 5/109).</p>
<p>Ibnu ‘Abdil Barr Al Maliki rahimahullah mengatakan, “(Maksudnya orang yang menyerupai suatu kaum) akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat kelak. Dan bentuk penyerupaan bisa dengan meniru perbuatan yang dilakukan oleh kaum tersebut atau dengan meniru rupa mereka.” (<em>At Tamhid lima fil Muwaththa minal Ma’ani wal Asaanid</em> 6/80).</p>
<p>Sebagian kaum muslimin menganalogikan tradisi tabur bunga ini dengan perbuatan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menancapkan pelepah kurma basah pada dua buah kubur sebagaimana yang terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas <em>radliallahu ‘anhuma.</em> (H.r. Bukhari: 8 dan Muslim: 111). Mereka beranggapan bahwa pelepah kurma atau bunga yang diletakkan di atas pusara akan meringankan adzab penghuninya, karena pelepah kurma atau bunga tersebut akan bertasbih kepada Allah selama dalam keadaan basah.</p>
<p><strong>Anggapan mereka tersebut tertolak dengan beberapa alasan sebagai berikut:</strong></p>
<p><strong>Alasan pertama,</strong> keringanan adzab kubur yang dialami kedua <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/penghuni-kubur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with penghuni kubur">penghuni kubur</a> tersebut adalah disebabkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> dan syafa’at Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada mereka, bukan pelepah kurma tersebut. Hal ini dapat diketahui jika kita melihat riwayat Jabir bin ‘Abdillah radliallahu ‘anhu. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إني مررت بقبرين يعذبان فأحببت بشفاعتي أن يرفه عنهما ما دام الغصنان رطبين</p>
<p><em>“Saya melewati dua buah kubur yang penghuninya tengah diadzab. Saya berharap adzab keduanya dapat diringankan dengan syafa’atku selama kedua belahan pelepah tersebut masih basah.”</em> (H.r. Muslim: 3012).</p>
<p>Hadits Jabir di atas menerangkan bahwa yang meringankan adzab kedua penghuni kubur tersebut adalah doa dan syafa’at nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> , bukan pelepah kurma yang basah.</p>
<p><strong>Alasan kedua,</strong> anggapan bahwa pelepah kurma atau bunga akan bertasbih kepada Allah selama dalam keadaan basah sehingga mampu meringankan adzab penghuni kubur bertentangan dengan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (٤٤)</p>
<p><em>“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” </em>(Q.s. Al Israa: 44).</p>
<p>Makhluk hidup senantiasa bertasbih kepada Allah, begitupula pelepah kurma. Tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa pelepah kurma atau bunga akan berhenti bertasbih jika dalam keadaan kering.</p>
<p><strong>Alasan ketiga,</strong> perbuatan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tersebut bersifat kasuistik (<em>waqi’ah al-’ain</em>) dan termasuk kekhususan beliau sehingga tidak bisa dianalogikan atau ditiru. Hal ini dikarenakan beliau tidak melakukan hal yang serupa pada kubur-kubur yang lain. Begitu pula para sahabat tidak pernah melakukannya, kecuali sahabat Buraidah yang berwasiat agar pelepah kurma diletakkan di dalam kuburnya bersama dengan jasadnya. Namun, perbuatan beliau ini hanya didasari oleh ijtihad beliau semata.<br />
Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>“Perbuatan Buraidah tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa beliau menerapkan hadits tersebut berdasarkan keumumannya dan tidak beranggapan bahwa hal tersebut hanya dikhususkan bagi kedua penghuni kubur tersebut. Ibnu Rusyaid berkata, “Apa yang dilakukan oleh Al Bukhari menunjukkan bahwa hal tersebut hanya khusus bagi kedua penghuni kubur tersebut, oleh karena itu Al Bukhari mengomentari perbuatan Buraidah tersebut dengan membawakan perkataan Ibnu ‘Umar, Sesungguhnya seorang (di alam kubur) hanya akan dinaungi oleh hasil amalnya (di dunia dan bukan pelepah kurma yang diletakkan di kuburnya).” (<em>Fathul Baari </em>3/223).</p>
<p>Selain itu, pelepah kurma tersebut ditaruh bersama dengan jasad beliau, bukan diletakkan di atas pusara beliau.</p>
<p><strong>Alasan keempat,</strong> alasan lain yang membatalkan analogi mereka dan menguatkan bahwa perbuatan Nabi tersebut merupakan kekhususan beliau adalah pengetahuan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa kedua penghuni kubur tersebut tengah diadzab. Hal ini merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala dan para rasul yang diberi keistimewaan oleh-Nya sehingga mampu mengetahui beberapa perkara gaib dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab">عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦)إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (٢٧)</p>
<p><em>“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.”</em> (Q.s. Al Jinn: 26-27).</p>
<p>Kalangan yang menganalogikan tradisi tebar bunga dengan perbuatan nabi tersebut telah mengklaim bahwa mereka mengetahui perkara gaib. Mereka mengklaim mengetahui bahwa penghuni kubur sedang diadzab sehingga pusaranya perlu untuk ditaburi bunga. Sungguh ini klaim tanpa bukti, tidak dilandasi ilmu dan termasuk menerka-nerka perkara gaib yang dilarang oleh agama.</p>
<p><strong>Alasan kelima,</strong> hal ini mengandung sindiran dan celaan kepada penghuni kubur, karena jika alasan mereka demikian, hal tersebut merupakan salah satu bentuk berburuk sangka  (su’uzh zhan) kepada penghuni kubur karena menganggapnya sebagai pelaku maksiat yang tengah diadzab oleh Allah di dalam kuburnya sebagai balasan atas perbuatannya di dunia. (Rangkuman faidah ini kami ambil dari <em>Ahkaamul Janaa-iz, Taisirul ‘Allam</em> dan uraian dari ustadzuna tercinta, Abu Umamah <em>hafizhahullah ta’al</em>a saat mengkaji kitab <em>‘Umdatul Ahkam</em>).</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, kita dapat mengetahui bahwa tradisi ini selayaknya ditinggalkan dan tidak perlu dilakukan ketika berziarah kubur karena tercakup dalam larangan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita juga mengetahui bahwa tidak terdapat riwayat valid yang menyatakan bahwa para sahabat dan generasi salaf melakukan tradisi tebar bunga di atas pusara. Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tidak dituntunkan oleh syari’at kita.</p>
<p>Oleh karena itu, kita patut merenungkan pernyataan As Subki, bahwa segala perbuatan yang tidak pernah diperintahkan dan dilakukan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya merupakan indikasi bahwa amalan tersebut tidak disyari’atkan. Dalam pernyataan beliau tersebut terkandung kaidah dasar dalam pensyari’atan sebuah amalan.</p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>http://ikhwanmuslim.com</em> <strong>(Dipublikasikan ulang oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Pembahahasan tambahan tentang tabur bunga di kubur:<br />
1. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan" target="_blank">Bolehkah memakai alas kaki di kuburan.</a></p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur" target="_blank">Wanita haid berziarah kubur.</a></p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/gambaran-adzab-kubur" target="_blank">Gambaran azab kubur.</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>tabur bunga</strong>, <strong>pictures</strong>, <strong>kuburan wali</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ziarah-kubur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akikah untuk Janin Keguguran</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/aqiqah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/aqiqah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 01:59:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[adzan bayi]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[aqiqah anak yang sudah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[aqiqah bagi yang keguguran]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah bagi wanita keguguran 5 bulan pada awal bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[janin keguguran dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5836</guid>
		<description><![CDATA[Akikah untuk Janin Keguguran Hal-hal apa saja yang dilakukan terhadap janin yang meninggal usia 5 bulan? Apa perlu diakikahi dan dinamai? Arizal (ary01**@yahoo.com) Akikah untuk Janin Keguguran Bismillah. Ulama berselisih pendapat tentang hukum akikah untuk bayi keguguran, apakah disyariatkan ataukah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/akikah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with akikah">Akikah</a> untuk Janin Keguguran</h2>
<p>Hal-hal apa saja yang dilakukan terhadap janin yang meninggal usia 5 bulan? Apa perlu diakikahi dan dinamai?</p>
<p><em>Arizal (ary01**@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-5836"></span></p>
<h3>Akikah untuk Janin Keguguran</h3>
<p><em>Bismillah</em>.</p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> akikah untuk bayi keguguran, apakah disyariatkan ataukah tidak. Pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah disyariatkannya memberikan akikah untuk janin keguguran, jika usia janin telah mencapai empat bulan karena ruh ditiupkan ketika janin telah genap berusia empat bulan.</p>
<p><em>Faqihuz Zaman</em>, Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Janin yang (meninggal dengan sebab) keguguran sebelum berusia empat bulan tidak perlu diakikahi, tidak diberi nama, &#8230; sedangkan janin yang (meninggal dengan sebab) keguguran setelah empat bulan &#8211;berarti telah ditiupkan ruh&#8211; maka dia dimandikan, diberi nama, &#8230; dan diberi akikah, menurut pendapat yang kami anggap lebih kuat. Hanya saja, sebagian ulama mengatakan, &#8216;Tidak ada akikah untuk bayi, kecuali jika dia hidup sampai hari ketujuh setelah dilahirkan.&#8217; Namun, yang benar, janin ini diberi akikah karena dia akan dibangkitkan pada hari kiamat, sehingga bisa menjadi penolong bagi orang tuanya.&#8221; (<em>Liqa&#8217;at Bab Maftuh</em>, no. 653)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>janin keguguran dalam al quran</strong>, <strong>featured</strong>, <strong>aqiqah bagi yang keguguran</strong>, <strong>akikah</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>aqiqah anak yang sudah meninggal</strong>, <strong>fidyah bagi wanita keguguran 5 bulan pada awal bulan puasa</strong>, <strong>adzan bayi</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/aqiqah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengumumkan Kematian Melalui Microphone</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2011 02:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sahur mengumumkan]]></category>
		<category><![CDATA[kb]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[mengumumkan kematian na'yu]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3837</guid>
		<description><![CDATA[هل يجوز النعي بمكبرات الصوت Bolehkan Mengumumkan Kematian dengan Pengeras Suara? السؤال:عندنا في الغرب الجزائري يعلن عن موت أحدنا من خلال تعليق مكبر الصوت على سيارة والتجوال ما بين طرق المنطقة،معلنين عن الشخص الذي توفاه الله ومكان الاجتماع للصلاة عليه ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="arab" style="text-align: right;">هل يجوز النعي بمكبرات الصوت</p>
<p>Bolehkan Mengumumkan Kematian dengan Pengeras Suara?</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">السؤال:عندنا في الغرب الجزائري يعلن عن موت أحدنا من خلال تعليق مكبر الصوت على سيارة والتجوال ما بين طرق المنطقة،معلنين عن الشخص الذي توفاه الله ومكان الاجتماع للصلاة عليه ومكان دفنه وحسب،فهل هذا يدخل في النعي المنهي عنه علما أنه لا تذكر محاسنه عند الإعلان؟</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>“Kami di sisi barat Aljazair memiliki kebiasaan mengumumkan kematian dengan menggunakan pengeras suara yang diletakkan di mobil lalu mobil berputar-putar di berbagai jalan di daerah kami sambil mengumumkan nama orang yang meninggal dunia, tempat pelaksanaan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> jenazah untuk orang tersebut dan tempat pemakamannya. Itu saja yang diumumkan. Apakah perbuatan ini termasuk mengumumkan kematian yang terlarang? Perlu diketahui bahwa pada saat itu tidak ada pujian-pujian untuk mayit”</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الجواب: النعي هو الإخبار بموت شخص، وقد ثبت عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن النعي» رواه أحمد (23270)، والترمذي (986) وحسّنه، ووافقه الألباني</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span id="more-3837"></span></p>
<p><strong>Jawaban Syaikh Abu Said al Jazairi:</strong></p>
<p>“An Na’yu adalah mengumumkan kematian seseorang. Terdapat hadits sahih dari Hudzaifah bin al Yaman bahwa Nabi melarang anna’yu. HR Ahmad dan Tirmidzi, dinilai hasan oleh Tirmidzi dan al Albani.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وما يفعله أهل بلدك هو موجود في كثير من البلاد، وهُو النّعي الذي يكون على رؤوس المنابر وفي الأسواق والتجمّعات، كما كان يفعل أهل الجاهلية</p>
<p>Perbuatan penduduk negerimu itu ada di banyak daerah. Itulah mengumumkan kematian di menara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">masjid</a>, di tengah-tengah pasar dan perkumpulan banyak orang. Ini sama persis dengan kelakuan orang-orang jahiliah.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أما النعيُ من أجل مقصد شرعي ليسمع أصحابه وأقرباؤه وكل من سيأتي للصلاة وحضور جنازته فهو أمر جائز، وهذا لا يُتوسّع فيه</p>
<p>Sedangkan mengumumkan kematian dengan tujuan yang dilegalkan oleh syariat semisal memberitahukan berita kematian kepada kawan dan kerabat mayit serta semua orang yang akan mendatangi rumah duka untuk melakukan shalat jenazah dan menghadiri jenazahnya itu dibolehkan. Pengumuman kematian semacam ini seharusnya bersifat terbatas.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وثبت في صحيح البخاري (1328) وصحيح مسلم (951) أن النبي صلى الله عليه وسلم نعي للناس النجاشي في اليوم الذي مات فيه فخرج بهم إلى المصلى، وكبّر أربع تكبيرات</p>
<p>Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kepada para sahabat kematian Najasyi pada hari kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat melakukan shalat jenazah di tanah lapang. Ketika itu beliau bertakbir sebanyak empat kali.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">قال النووي رحمه الله تعالى: فيه استحباب الإعلام بالميت لا على صورة نعي الجاهلية، بل مجرّد إعلام للصلاة عليه وتشييعه وقضاء حقّه في ذلك، والذي جاء من النهي عن النعي ليس المراد به هذا، وإنما المراد نعي الجاهلية المشتمل على ذِكر لمفاخر وغيرها»  اهـ</p>
<p>An Nawawi mengomentari hadits di atas dengan mengatakan, “Hadits di atas adalah dalil dibolehkannya mengumumkan kematian asalkan tidak menyerupai orang-orang jahiliah dalam mengumumkan kematian. Itulah mengumumkan kematian semata-mata ajakan untuk mensholati jenazahnya, mengantarkannya ke pemakaman dan menunaikan hak mayit dengan melakukan hal-hal di atas. Sedangkan pengumuman kematian yang terlarang tidaklah pengumuman kematian sebagaimana di atas. Yang terlarang adalah mengumumkan kematian ala jahiliah. Itulah pengumuman kematian diiringi dengan memuji-muji mayit”.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وقال ابن العربي المالكي رحمه الله: يؤخذ من مجموع الأحاديث ثلاث حالات: الأولى: إعلام الأهل والأصحاب وأهل الصلاح، فهذا سنّة. الثانية: دعوة الحفل للمفاخرة، فهذه تكره. والثالثة: الإعلام بنوع آخر كالنياحة ونحو ذلك، فهذا يحرم» اهـ</p>
<p>Ibnul ‘Arabi al Maliki mengatakan, “Kesimpulan dari berbagai hadits mengenai hal ini adalah perlu ada tiga rincian.<br />
Pertama, menyampaikan berita kematian seseorang kepada keluarga, kawan dan orang-orang shalih. Hal ini hukumnya dianjurkan.<br />
Kedua, mengumumkan kematian kepada kumpulan orang dengan tujuan menyebut-nyebut kelebihan mayit. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> hal ini adalah makruh.<br />
Ketiga, pengumuman kematian jenis lain semisal dalam bentuk meratapi kematian dan semisalnya. Hukum poin ketiga ini adalah haram”.</p>
<p>Sumber: http://www.abusaid.net/index.php/fatawi-sites/258-2009-05-03-21-41-36.html<br />
Disalin dari www.ustadzaris.com<br />
Artikel <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>masjid</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>mengumumkan kematian na&#039;yu</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>kb</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>sholat</strong>, <strong>hukum sahur mengumumkan</strong>, <strong>shalat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mengumumkan-kematian-melalui-microphone/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Mengucapkan &#8220;Yaa Ayyuhan Nafsul Muthmainnah&#8221; Ketika Ada Orang yang Meninggal</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-mengucapkan-ya-ayyuhan-nafsul-muthmainnah-bila-ada-orang-mati</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-mengucapkan-ya-ayyuhan-nafsul-muthmainnah-bila-ada-orang-mati#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2010 03:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[an-nafsul muthmainnah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[doa ketika ada orang yang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mati kena santet menurut al quran#pq=orang mati waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[nafsul muthmainah]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang meninggal di tanah suci hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[penopang nafsu almutmainnah]]></category>
		<category><![CDATA[yaa ayyuhan nafsul mutmainnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3448</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bila ada orang mati, sebagian orang mengucapkan, &#8220;Ya ayyuhan nafsul muthmainnah, irji&#8217;i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah (wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai-Nya),&#8221; (surat Al-Fajr: 27-28). Bagaimana hukumnya? Jawaban: Pembacaan ayat tersebut tidak boleh ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bila ada orang mati, sebagian orang mengucapkan, &#8220;<em>Ya ayyuhan nafsul muthmainnah, irji&#8217;i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah (wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai-Nya)</em>,&#8221; (surat Al-Fajr: 27-28). <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> hukumnya?<br />
<strong><span id="more-3448"></span><br />
Jawaban:</strong></p>
<p>Pembacaan ayat tersebut tidak boleh ditujukan kepada orang tertentu karena hal ini berarti suatu kesaksian bahwa yang bersangkutan termasuk golongan tersebut. (<em>Majmu&#8217; Fatawa wa Rasail</em>, juz 3, hlm. 140, Syekh Ibnu Utsaimin)</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci</em>, Media Hidayah, cetakan 1, Tahun 2003.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum</strong>, <strong>penopang nafsu almutmainnah</strong>, <strong>an-nafsul muthmainnah</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>mati kena santet menurut al quran#pq=orang mati waktu puasa</strong>, <strong>doa ketika ada orang yang meninggal</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>nafsul muthmainah</strong>, <strong>orang yang meninggal di tanah suci hukumnya</strong>, <strong>yaa ayyuhan nafsul mutmainnah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-mengucapkan-ya-ayyuhan-nafsul-muthmainnah-bila-ada-orang-mati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Wajib Membayar Diyat?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kapan-wajib-bayar-diyat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kapan-wajib-bayar-diyat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 02:18:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bayi gugur hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[meninggalnya anak]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan tentang diyat]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3445</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Kapan diwajibkan membayar diyat (denda) dan seberapa besar diyat yang harus dibayar? Jawaban: Tidak ada perselisihan pendapat di kalangan para ulama mengenal kasus seseorang yang memukul seorang wanita hamil, lalu janin dalam kandungannya gugur dalam keadaan hidup namun tak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Kapan diwajibkan membayar <em>diyat </em>(denda) dan seberapa besar <em>diyat</em> yang harus dibayar?<br />
<span id="more-3445"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak ada perselisihan pendapat di kalangan para ulama mengenal kasus seseorang yang memukul seorang wanita <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a>, lalu janin dalam kandungannya gugur dalam keadaan hidup namun tak lama kemudian meninggal akibat pukulan tersebut. Mereka sepakat, untuk kasus seperti ini si pelaku dikenakan sangsi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> dengan membayar diyat sama seperti <em>diyat</em> orang dewasa, karena si pelaku telah menewaskan satu jiwa yang hidup. Janin tersebut keluar dalam keadaan hidup maka hukumnya sama seperti apabila tindakan itu ia lakukan terhadap orang yang sudah dewasa.</p>
<p>Ibnu Munzir<em> rahimahullah</em> berkata, “Sepanjang pengetahuan kami, para ulama sepakat bahwa janin yang gugur dalam keadaan hidup, lalu meninggal akibat pukulan, memiliki<em> diyat</em> yang sama seperti <em>diyat</em> orang dewasa.</p>
<p>Ibnu Abdil Bar <em>rahimahullah</em> berkata, “Di antara hukum janin yang telah disepakati oleh para ulama adalah hukuman bagi seseorang yang memukul seorang ibu yang sedang hamil hingga janinnya gugur dalam keadaan hidup, lantas beberapa saat kemudian janin itu meninggal. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa meninggalnya si janin adalah akibat pulukan tersebut. Sangsi hukum yang diberikan kepada si pelaku adalah membayar <em>diyat</em> seperti diyatnya orang dewasa, dan besar <em>diyat </em>sesuai dengan jenis kelamin si janin apakah laki-laki atau perempuan.&#8221;</p>
<p>Demikianlah pendapat para ahli fikih yang tersebar di berbagai negeri. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun apabila bayi gugur dalam keadaan hidup, lantas beberapa saat kemudian bayi tersebut meninggal, maka <em>diyat</em> yang harus dibayar penuh seperti<em> diyat</em> orang dewasa, dan ini sudah menjadi kesepakatan para ulama. Hanya saja, Mazhab Maliki memberikan syarat, yaitu dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> sumpah keluarga si janin bahwa janin tersebut memang benar-benar meninggal dikarenakan pukulan tersebut, sehingga mereka dapat menerima bayaran <em>diyat</em>. Apabila mereka tidak mau bersumpah maka si pelaku dikenakan sangsi hukum dengan membayar <em>ghurrah</em> (seorang hamba kepada keluarga korban). Alasannya, mungkin saja kematiannya disebabkan perkara lain dan bukan akibat tindakan si terdakwa.</p>
<p>Pendapat yang <em>rajih</em> adalah bahwa hukuman ini dijatuhkan tanpa disertai syarat apapun, karena untuk menetapkan sumpah terhadap keluarga si janin harus berdasarkan dalil dan ternyata tidak ada dalil yang menyebutkan syarat tersebut, sebab pada asalnya hukum apa pun itu tidak dianggap kecuali ada dalil.</p>
<p>Sementara itu, Mazhab Hambali dan Al-Muzani dari kalangan Mazhab Syafi’i mensyaratkan wajibnya membayar satu <em>diyat </em>penuh apabila si janin sudah berusia enam bulan atau lebih. Namun, apabila usia janin kurang dari enam bulan maka si pelaku wajib membayar <em>ghurrah </em>dan tidak wajib membayar <em>diyat</em>.</p>
<p>Zahir permasalahan ini adalah sebagaimana pendapat mayoritas ulama bahwa standar ukuran yang dapat dipegang adalah berkaitan dengan hidupnya janin tersebut ketika terlahir kemudian ,meninggal walaupun usianya belum sampai enam bulan. Hidupnya janin dapat diketahui apabila di saat lahir ia sempat menangis, atau sempat disusui, bernapas, merasa haus dan lain-lain.</p>
<p>Besarnya <em>diyat</em> dalam masalah ini sesuai dengan jenis kelamin si janin. Apabila janin tersebut laki-laki maka diyat yang diberikan sebanyak satu<em> diyat</em> penuh, dan apabila janin tersebut perempuan maka <em>diyat</em>-nya sebesar diyat seorang perempuan, yakni setengah <em>diyat</em> laki-laki.</p>
<p>Kemudian, <em>diyat</em> yang dibayar juga disesuaikan dengan jumlah janin yang meninggal. Apabila seorang wanita menggugurkan dua atau tiga janin maka ia wajib membayar <em>diyat</em> dua kali lipat atau tiga kali lipat. Apabila janin yang digugurkan ada dua, yang satu terlahir dalam keadaan hidup dan yang satu lagi gugur dalam keadaan hidup lalu meninggal, maka si pelaku wajib membayar satu <em>ghurrah</em> untuk janin pertama dan satu <em>diyat</em> untuk janin kedua.</p>
<p>Sumber: <em>Ensiklopedi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">Anak</a></em>, Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi, Darrus Sunnah.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>bayi gugur hidup</strong>, <strong>hamil</strong>, <strong>pertanyaan tentang diyat</strong>, <strong>mengambil</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>susu</strong>, <strong>meninggalnya anak</strong>, <strong>bagaimana</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kapan-wajib-bayar-diyat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikmah Dimasukkannya Kuburan Rasulullah di Dalam Masjid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hikmah-kuburan-nabi-dalam-masjid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hikmah-kuburan-nabi-dalam-masjid#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 03:18:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan rasul dalam masjid]]></category>
		<category><![CDATA[maaf-maafan lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat di makam rasul boleh/tidak]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2990</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa kita tidak boleh menguburkan orang-orang yang sudah mati di dalam masjid. Demikian pula, mesjid mana pun yang di dalamnya terdapat sebuah kuburan, kita tidak boleh shalat di dalamnya. Akan tetapi, apa hikmah dari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa kita tidak boleh menguburkan orang-orang yang sudah mati di dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">masjid</a>. Demikian pula, mesjid mana pun yang di dalamnya terdapat sebuah kuburan, kita tidak boleh <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> di dalamnya. Akan tetapi, apa hikmah dari dimasukkannya kuburan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan beberapa sahabatnya di dalam Masjid Nabawi?<br />
<span id="more-2990"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Diriwatkan dengan tegas dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa beliau telah bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ</p>
<p>“<em>Allah melaknat orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a> dan Nasrani, karena mereka menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah</em>.” (HR. <em>Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Diriwayatkan dengan tegas pula dari Aisyah bahwa Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah menceritakan kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah serta gambar-gambar (makhluk bernyawa) yang ada di dalamnya. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أُولَئِكَ إِذَا مَاتَ فِيْهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ</p>
<p>“<em>Merekalah orang-orang yang apabila ada seorang shalih di antara mereka meninggal dunia, lantas mereka membangun di atas kuburan orang shalih tersebut sebuah tempat ibadah dan mereka menggambar dengan gambar orang-orang tersebut di dalamnya. Maka mereka itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah</em>.” (HR.<em> Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab <em>Shahih</em>-nya, dari Jundub bin ‘Abdullah Al-Bajalli, ia berkata, &#8220;Aku mendengar Rasulullah s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ اِتَّخَذَنِي خَلِيْلاً كَمَا اِتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ</p>
<p>&#8216;<em>Sesungguhnya Allah telah menjadikan diriku sebagai khalil (kekasih-Nya), sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Kalau sekiranya aku mau menjadikan salah seorang dari umatku sebagai kekasih, tentu aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah, bahwa orang-orang yang hidup sebelum kalian biasa menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai mesjid. Maka, aku benar-benar melarang kalian melakukan hal itu</em>.&#8217;”</p>
<p>Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jabir, dari Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah melarang mengapur (mengecat) kuburan, mendudukinya, dan membangun sesuatu di atasnya.</p>
<p>Semua hadits shahih ini dan hadits-hadits lain yang semakna dengannya, seluruhnya menunjukkan keharaman membangun mesjid di atas kuburan dan siapa saja yang melakukannya akan mendapat laknat. Demikian pula, semua hadits shahih tersebut juga menunjukkan akan keharaman membangun suatu bangunan di atas kuburan, membuatkan kubah di atasnya, ataupun mengapurnya. Alasannya adalah bahwa seluruh perbuatan tersebut termasuk di antara faktor-faktor yang dapat mengakibatkan timbulnya kesyirikan, dan para penduduk yang ada di sekitarnya akan menyembah selain kepada Allah, sebagaimana hal ini telah terjadi, baik pada zaman klasik maupun modern.</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya seluruh kaum muslimin, di mana saja pun mereka berada, wajib berhati-hati terhadap segala hal yang dilarang oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dan hendaknya mereka tidak terpedaya dengan segala apa yang dilakukan oleh mayoritas manusia, karena al-haq (kebenaran) itu ibarat barang seorang mukmin yang hilang, maka di mana pun ia menemukannya, ia akan mengambilnya. Padahal al-haq itu hanya bisa diketahui dengan dalil-dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah, bukan dengan pendapat-pendapat maupun <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> manusia.</p>
<p>Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan dua sahabatnya (Abu Bakar dan ‘Umar, -penerj.) tidak dimakamkan di dalam masjid, namun mereka dimakamkan di rumah ‘Aisyah. Akan tetapi, tatkala diadakan proyek pelebaran masjid (Nabawi), pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik, bertepatan dengan akhir abad pertama hijriyah, ia memasukkan kamar (rumah ‘Aisyah) ke dalam bagian masjid.</p>
<p>Perbuatan sang khalifah di sini, tidak bisa dikategorikan dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> menguburkan mayit di dalam masjid, karena jasad Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan dua sahabatnya tidak dipindahkan ke areal masjid, namun kamar Aisyahlah, di mana mereka dimakamkan di dalamnya, yang dimasukkan ke dalam masjid, disebabkan adanya proyek perluasan masjid tersebut. Sehingga, hal itu tidak bisa dijadikan <em>hujjah</em> bagi siapa pun untuk membolehkan membangun suatu bangunan di atas kuburan, menjadikannya sebagai masjid-masjid, atau menguburkan mayit di dalam masjid, berdasarkan hadits-hadits shahih yang telah kami sebutkan sebelumnya. Sedangkan mengenai perbuatan Walid itu, maka ia tidak bisa dijadikan <em>hujjah</em> untuk menyelisihi sunnah yang sudah paten berasal dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. <em>Wallahu waliyyut taufiq</em>.</p>
<p>Sumber: F<em>atwa-Fatwa Seputar Kubur</em>, Syaikh &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin &#8216;Abdullah bin Baaz, Al-Qowam.<br />
(Dengan pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>amalan</strong>, <strong>mengambil</strong>, <strong>masjid</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>yahudi</strong>, <strong>kuburan rasul dalam masjid</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>maaf-maafan lebaran</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hikmah-kuburan-nabi-dalam-masjid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Kita Beristighasah kepada Orang Mati?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-kita-beristighasah-kepada-orang-mati</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-kita-beristighasah-kepada-orang-mati#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 07:20:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1812</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Di antara amalan yang dilakukan oleh sebagian orang bodoh di sekitar kuburan adalah meminta sesuatu, beristighasah, memohon kesembuhan, memohon kemenangan atas musuh mereka, atau pun meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati. Hal ini sering kita dapatkan di berbagai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Di antara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> yang dilakukan oleh sebagian orang bodoh di sekitar kuburan adalah meminta sesuatu, beristighasah, memohon kesembuhan, memohon kemenangan atas musuh mereka, atau pun meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati. Hal ini sering kita dapatkan di berbagai negara di penjuru dunia ini, maka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> perbuatan tersebut?<br />
<span id="more-1812"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Amalan ini termasuk syirik besar, yaitu syirik yang dilakukan oleh kaum musyirikan dahulu, seperti kaum Quraisy dan lain sebagainya. Mereka senantiasa menyembah Lata, ‘Uzza, Manat, berhala-berhala, dan patung. Mereka juga beristighasah dan meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan tersebut, agar mereka dimenangkan atas musuh-musuh.</p>
<p>Hal tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sufyan pada waktu perang Uhud, “‘Uzza adalah penolong kami dan ‘Uzza bukan penolong kalian.” Maka, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepada para sahabat, “<em>Katakanlah kepada Abu Sufyan, ‘Allah adalah penolong kami dan penolong bagi kalian.’ ”</em></p>
<p>Abu Sufyan berkata lagi, “Hubal, kalahkanlah!” Maksudnya adalah, “Wahai Hubal, kalahkanlah!” Hubal adalah nama sebuah patung yang disembah oleh kaum Quraisy di Mekkah. Kemudian, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Bantahlah Abu Sufyan.” Maka, para sahabat bertanya, “Apa yang harus kami katakan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Allah lebih tinggi dan lebih luhur.’ ”</p>
<p>Yang dimaksudkan di sini adalah bahwa meminta sesuatu, beristighasah, memohon kemenangan, menyembelih hewan, bernazar, serta tawaf kepada orang-orang yang sudah mati, patung-patung, bebatuan, pohon, dan makhluk-makhluk lainnya, adalah termasuk syirik besar. Dikarenakan, semua itu jelas termasuk dalam kategori beribadah kepada selain Allah dan perbuatan kaum musyrikin dahulu maupun sekarang. Oleh karena itu, kita semua harus berhati-hati terhadap hal ini, dan (bila kita pernah melakukannya), maka kita harus segera bertobat kepada Allah.</p>
<p>Para ulama dan da’i yang menyeru kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>wajib memberikan nasihat, mengajari, membimbing, dan menjelaskan kepada siapa saja yang mengerjakan perbuatan tersebut, bahwa seperti itulah kesyirikan kaum musyrikin dahulu. Allah telah berfirman tentang mereka,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَ يَقُوْلُوْنَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاءُنَا عِنْدَ اللهِ</p>
<p><em>“Dan mereka menyembah kepada selain Allah, yaitu sesembahan-sesembahan yang tidak dapat mendatangkan kemadharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Mereka juga berkata, ‘Mereka (sesembahan-sesembahan) itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.’ ” </em>(Qs. Yunus: 18)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ</p>
<p><em>“Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa kesyirikan, dan Dia mengampuni segala jenis dosa selain dari kesyirikan itu, bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya.”</em> (Qs. an-Nisa`: 48)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَلَوْ أَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ</p>
<p><em>“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan.”</em> (Qs. al-An’am: 88)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ</p>
<p><em>“Sesungguhnya, barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a> baginya, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.”</em> (Qs. al-Maidah: 72)</p>
<p>Allah juga berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَلَقَدْ أُوْحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ</p>
<p><em>“Dan sesungguhnya, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”</em> (Qs. az-Zumar: 65)</p>
<p>Berkenaan dengan hal ini, Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ لِلَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang mati, padahal dia menyeru kepada selain Allah sebagai tandingan-Nya, maka dia pasti akan masuk neraka.”</em> (Hr. Bukhari, dalam Shahih-nya)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ: أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْءً</p>
<p><em>“Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah hendaknya mereka beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”</em> (Telah disepakati keshahihannya menurut ulama ahli hadits)</p>
<p>Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ لَقِيَ اللهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْءً دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْءً دَخَلَ النَّارَ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang bertemu dengan Allah (meninggal dunia) dan dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bertemu dengan Allah, tetapi dia menyekutukan-Nya dengan sesuatu, maka dia akan masuk nereaka.” </em>(Hr. Muslim, dalam Shahih-nya)</p>
<p>Ayat-ayat dan hadits-hadits yang semakna dengan ini jumlahnya banyak.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepahaman tentang agama-Nya (Islam) kepada kaum muslimin, menjaga mereka dari segala hal yang dimurkai-Nya, memberikan mereka kemampuan untuk bertobat sepenuhnya dari segala kejahatan, memberikan petunjuk kepada para ulama kaum muslimin di setiap tempat untuk menyebarluaskan ilmu dan membimbing orang-orang bodoh menuju takdir yang telah ditetapkan kepada meraka, seperti mentauhidkan Allah dan menaati-Nya, menolong agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya, serta memberikan hidayah kepada para pemimpin dan tokoh kaum muslimin untuk mendalami agama-Nya, berhukum dengan syariat-Nya, dan mengharuskan semua masyarakat merealisasikannya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan, lagi Maha Mulia.</p>
<p>Semoga salawat dan keselamatan senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beserta keluarga dan para sahabat beliau.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Seputar Kubur,</em> Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Al-Qowam.</p>
<p>(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>musyrik</strong>, <strong>amalan</strong>, <strong>jari</strong>, <strong>mengajar</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>mimpi</strong>, <strong>surga</strong>, <strong>riba</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-kita-beristighasah-kepada-orang-mati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Azan dan Iqamah di Kuburan?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-azan-dan-iqamah-di-kuburan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-azan-dan-iqamah-di-kuburan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 07:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[adzan di pemakaman]]></category>
		<category><![CDATA[adzan dikuburan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[azan dikuburan]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum orang tidak adzan dan iqamah di satu negara]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1809</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukum mengumandangkan azan dan iqamah di kuburan? Jawaban: Tidak disangsikan lagi bahwa perbuatan seperti itu adalah bid&#8217;ah, yang Allah tidak menurunkan hujjah atasnya, sebab perbuatan seperti itu belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> mengumandangkan azan dan iqamah di kuburan?<br />
<span id="more-1809"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak disangsikan lagi bahwa perbuatan seperti itu adalah bid&#8217;ah, yang Allah tidak menurunkan hujjah atasnya, sebab perbuatan seperti itu belum pernah dilakukan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya. Padahal, semua kebaikan itu terkandung dalam sikap ittiba` (mengikuti) mereka dan meniti jalan yang pernah mereka tempuh, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala,<br />
</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَالسَّابِقُوْنَ اْلأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ</p>
<p><em>“Orang-orang yang terdahulu dan yang pertama (masuk Islam) di antara kaum Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, adalah orang-orang yang diridhai oleh Allah dan mereka juga ridha kepada Allah.”</em> (Qs. at-Taubah: 100)</p>
<p>Nabi Muhammad<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami ini, yang urusan tersebut tidak termasuk bagian darinya (agama ini), maka ia tertolak.”</em></p>
<p>Sedangkan dalam lafal lain, beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang mengamalkan suatu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a>, padahal <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> itu tidak penah kami perintahkan, maka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> itu tertolak.”</em></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَشَرُّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p>“<em>Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (bid’ah), dan setiap bid’ah itu sesat.”</em> (Hr. Muslim, dalam Shahih-nya, dari hadits Jabir <em>radhiyallahu ‘anhu</em>)</p>
<p>Semoga Allah melimpahkah salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> beserta segenap keluarga dan para sahabat beliau.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Seputar Kubur</em>, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Al-Qowam.</p>
<p>(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum</strong>, <strong>kuburan keluarga</strong>, <strong>haji</strong>, <strong>adzan di pemakaman</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>amalan</strong>, <strong>azan dikuburan</strong>, <strong>adzan dikuburan</strong>, <strong>hukum orang tidak adzan dan iqamah di satu negara</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-azan-dan-iqamah-di-kuburan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Wanita Haid Pergi Ziarah Kubur?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 04:52:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[adab menziarahi orang sakit ketika dalam haid]]></category>
		<category><![CDATA[adab ziarah ke makam bagi perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[adab ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[apa doa yang dilakukan jika ziarah sedang haid]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya perempuan uzur berada di kubur?]]></category>
		<category><![CDATA[apakah orang haid boleh ziarah]]></category>
		<category><![CDATA[apakah perempuan sedang hajd boleh ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[apakah wanita haid boleh ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[apakah wanita haid boleh kuburan muslim]]></category>
		<category><![CDATA[apakah wanita haid boleh ziarah kubur?]]></category>
		<category><![CDATA[apakah wanita yg sedang haid boleh ziarah kubur?]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana hukumnya orang yang sedang menstruasi berziarah ke makam?]]></category>
		<category><![CDATA[berziarah saat sedang haid]]></category>
		<category><![CDATA[boleh kah ketika sedang haid berjiarah]]></category>
		<category><![CDATA[boleh orang uzur ke kubur?]]></category>
		<category><![CDATA[boleh tak pergi kubur bagi perempuan yang uzur]]></category>
		<category><![CDATA[boleh tidak sedang haid ziarah ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah bila sedang haid pergi ke pemakaman]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah dlm keadaan haid ziarah ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah haid ziarah ke kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah kemakam ketika haid]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah perempuan haid ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah perempuan haidl berziarah ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah seorang yang sedang haid berziarah ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah wanita berziarah dalam kubur]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah wanita yang sedang haid ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah ziarah kubur dalam keadaan haid]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkan perempuan haid ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkan wanita haid berziarah]]></category>
		<category><![CDATA[datang haid tak boleh pergi kubur?]]></category>
		<category><![CDATA[hadist sahih ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[hadits haid di makam]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid apa boleh ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[haid bisa ke kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[haid bole pergi kubur]]></category>
		<category><![CDATA[haid ke kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[haid tak dapat ke kubur]]></category>
		<category><![CDATA[haid ziarah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berziarah bagi wanita haidl]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam tentang wanita haid jika ke kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum perampuan sedang haid ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[hukum perempuan ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[hukum perempun haid ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pergi kubur di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita haid berziarah ke kubur]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita haid pergi ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita haid ziarah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita ke kubur]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita mens]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita pergi ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita yang sedang haid berziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ziarah bagi wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ziarah bagi yang haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ziarah ketika sedang haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ziarah kubur bagi wanita udzur]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ziarah kubur perempuan uzur]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ziarah kubur saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ziarah kubur wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ziarah saat bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya bagi wanita yang sedang haid berziarah ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya orang yang sedang haid datang ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[kenapa masa haid tidak boleh kemakam]]></category>
		<category><![CDATA[ketika haid boleh ke kubur]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[lagi haid ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[mens ke keburan]]></category>
		<category><![CDATA[menstruasi dan ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[menstruasi hukum islam boleh ke kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[menstruasi ke kuburan islam]]></category>
		<category><![CDATA[mentruasi ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[orang haid boleh ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[orang haid ke kubur]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan dilarang ke kubur ketika haid]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan haid ziarah kubur mazhab syafi i]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan uzur ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan yang baru datang bulan bolehkah ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan ziarah kubur saat datang bulan menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[pergi kubur ketika haid]]></category>
		<category><![CDATA[sedang haid ke makam]]></category>
		<category><![CDATA[sedang haidh pergi kubur]]></category>
		<category><![CDATA[wanita haid boleh ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[wanita haid ke kuburan hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[wanita haid pergi ke kubur]]></category>
		<category><![CDATA[wanita islam dilarang pergi ke kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[wanita yang di laknat rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah bagi wanita yang sedang haid]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah kubur]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah kubur bagi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah kubur bagi wanita menstrusi]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah kubur haid]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah kubur mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah kubur menurut islam menstruasi]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah kubur u wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah kubur wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah kubur wanita haid manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1741</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah seorang wanita yang sedang haid melakukan ziarah kubur? Mohon jelaskan hukumnya. Jawaban: Ziarah kubur bagi kaum laki-laki disepakati kesunnahannya. Adapun ziarah kubur bagi wanita, maka para ulama berbeda pendapat tentangnya. Pendapat pertama mengatakan bahwa ziarah kubur disyariatkan bagi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah seorang wanita yang sedang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a> melakukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ziarah-kubur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ziarah kubur">ziarah kubur</a>? Mohon jelaskan hukumnya.<br />
<span id="more-1741"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Ziarah kubur bagi kaum laki-laki disepakati kesunnahannya. Adapun <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ziarah-kubur-bagi-wanita" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ziarah kubur bagi wanita">ziarah kubur bagi wanita</a>, maka para ulama berbeda pendapat tentangnya.</p>
<p>Pendapat pertama mengatakan bahwa ziarah kubur disyariatkan bagi wanita sebagaimana kaum laki-laki, karena keumuman perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ini adalah pendapat mayoritas pengikut Mazhab Hanafiyyah dan lainnya). Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا</p>
<p><em>“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang lakukanlah ziarah kubur.”</em> (HR. Muslim: 1406)</p>
<p>Pendapat kedua mengatakan bahwa ziarah kubur bagi wanita adalah makruh, karena dalil-dalil yang ada tampaknya kontradiktif (saling bertentangan –ed), sehingga untuk menggabungkannya maka dikatakan makruh (ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad).</p>
<p>Pendapat ketiga mengatakan bahwa ziarah kubur haram bagi wanita (ini adalah pendapat sebagaian pengikut Mazhab Malikiyyah dan lainnya). Pendapat ini didasari oleh laknat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bagi wanita yang berziarah kubur. Dalam sebuah hadits disebutkan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang berziarah kubur.”</em> (HR. al-Hakim: 1/374)</p>
<p>Pendapat terkuat adalah pendapat pertama, yaitu wanita disyariatkan berziarah kubur sebagaimana keumuman perintah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam hadits riwayat Muslim di atas. Hal ini dikuatkan oleh:</p>
<p>- Di antara tujuan ziarah kubur adalah untuk melunakkan hati, dan ini dibutuhkan oleh kaum laki-laki dan perempuan.</p>
<p>- Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah mengizinkan Aisyah menziarahi kuburan saudaranya, Abdurrahman bin Abi Bakar.</p>
<p>- Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak mengingkari seorang wanita yang duduk di samping kubur dalam keadaan bersedih (HR. al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Adapun hadits tentang laknat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka hadits tersebut berderajat lemah sehingga tidak dapat dijadikan sebagai hujjah (argumentasi) untuk melarang wanita melakukan ziarah kubur. Hadits tersebut lemah karena dalam sanadnya terdapat Badzam Abu Shalih, yang menurut kebanyakan pakar hadits adalah rawi lemah.</p>
<p><strong>Perhatian:</strong></p>
<p>Akan tetapi, wanita disyariatkan berziarah kubur dengan syarat tidak boleh sering-sering melakukannya, karena terdapat hadits shahih yang menunjukkan larangan wanita terlalu sering berziarah kubur. Abu Hurairah berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang sering berziarah kubur.” </em>(HR. at-Tirmidzi: 1056, Ibnu Majah: 1576, dan dinilai hasan oleh al-Albani dalam<em> Irwa’ al-Ghalil</em>: 762)</p>
<p>Kesimpulan:</p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> wanita berziarah kubur diperselisihkan oleh para ulama, dan yang lebih kuat adalah yang menyatakan bahwa ziarah kubur bagi wanita adalah disyariatkan, tetapi tidak boleh sering. Adapun wanita yang sedang haid, maka dia tidak terhalangi untuk berziarah kubur, karena dalam berziarah kubur, seseorang tidak disyariatkan berada dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun besar.</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, edisi 11, tahun ke-8, 1430 H/2009 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>perempuan uzur ziarah kubur</strong>, <strong>bolehkah perempuan haid ziarah kubur</strong>, <strong>menstruasi hukum islam boleh ke kuburan</strong>, <strong>bolehkah bila sedang haid pergi ke pemakaman</strong>, <strong>hukum ziarah bagi wanita haid</strong>, <strong>hukum perampuan sedang haid ziarah kubur</strong>, <strong>ziarah kubur bagi wanita</strong>, <strong>hukum perempuan ziarah kubur</strong>, <strong>haid apa boleh ziarah kubur</strong>, <strong>boleh kah ketika sedang haid berjiarah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-haid-pergi-ziarah-kubur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Mengubur Mayat pada Malam Hari?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 04:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hadist ngubur]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakamkan jenasah malam hari]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menguburkan jenazah waktu malam]]></category>
		<category><![CDATA[jam berapa waktu terlarang untuk menguburkan jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengubur jenazah malam hari]]></category>
		<category><![CDATA[menguburkan jenazah dalam puasa]]></category>
		<category><![CDATA[pengebumian jenazah waktu malam]]></category>
		<category><![CDATA[perintah menyegerakan penguburan mayat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara menguburkan jenazah menurut hadits shahih]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara menguburkan mayity]]></category>
		<category><![CDATA[waktu terlarang menguburkan jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1731</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah benar ada larangan mengubur mayat pada malam hari? Lantas bagaimana dengan perintah supaya menyegerakan urusan jenazah sampai penguburannya? Jawaban: Syekh Abdul Aziz bin Baz sebagai mufti umum Arab Saudi pada zamannya pernah ditanya dengan pertanyaan semisal (Majmu’ Fatawa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah benar ada larangan mengubur mayat pada malam hari? Lantas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> dengan perintah supaya menyegerakan urusan jenazah sampai penguburannya?<br />
<span id="more-1731"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Syekh Abdul Aziz bin Baz sebagai mufti umum Arab Saudi pada zamannya pernah ditanya dengan pertanyaan semisal (<em>Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah</em>: 13/100). Beliau menjawab, “Boleh menguburkan mayat di malam hari jika keluarganya sudah memandikannya, mengafaninya, dan menyolatinya (dengan baik).[1]</p>
<p>Sungguh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah menguburkan beberapa kaum muslimin pada malam hari, bahkan beliau sendiri dikubur pada malam hari, demikian juga Abu Bakr, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan. Beliau semua dikubur malam hari jika telah dilaksanakan semua perkara yang disyariatkan.</p>
<p>Adapun hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang larangan mengubur mayat pada malam hari, maka menurut para ulama, hadits itu (larangan tersebut ditujukan) jika mengubur di malam hari mengakibatkan hak yang wajib bagi mayat tidak ditunaikan. Oleh karena itu, ada hadits yang sah dalam kitab Shahih Muslim:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَلنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ زَجَرَ أَنْ يُقْبَرَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ</p>
<p><em>“Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengubur mayat pada malam hari sehingga (mayat tersebut) dishalatkan.”</em> (HR. Muslim: 943)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa jika mayat tersebut telah dishalati, maka boleh dikuburkan pada malam hari.</p>
<p>============<br />
<strong>Catatan kaki:</strong><br />
[1] Pendapat lain mengatakan bahwa hal tersebut (menguburkan mayat di malam hari –ed) tetap terlarang kecuali kondisi darurat, sebagaimana dikuatkan oleh Syekh Muhammad Nasiruddin al-Albani; dan pendapat yang ketiga adalah makruh. (Lihat <em>Ahkamul Jana’iz wa Bida’uha</em>, Syekh al-Albani)</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, Edisi Khusus, tahun ke-9, 1430 H/2009 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>waktu terlarang menguburkan jenazah</strong>, <strong>tata cara menguburkan mayity</strong>, <strong>hadist ngubur</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>jam berapa waktu terlarang untuk menguburkan jenazah</strong>, <strong>perintah menyegerakan penguburan mayat</strong>, <strong>mengubur jenazah malam hari</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>shalat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengubur-mayat-pada-malam-hari/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Mengantar Jenazah dengan Kendaraan?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 04:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengantar jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[mengubur jenazah malam hari]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1728</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah kita boleh mengantarkan jenazah dengan mengendarai kendaraan, atau apakah diharuskan dengan berjalan kaki? Jawaban: Mengantar jenazah dengan berjalan kaki atau berkendaraan adalah perbuatan yang diperbolehkan. Akan tetapi, khusus bagi pengantar jenazah yang berkendaraan, maka posisi kendaraan harus berada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah kita boleh mengantarkan jenazah dengan mengendarai kendaraan, atau apakah diharuskan dengan berjalan kaki?<br />
<span id="more-1728"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengantar-jenazah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengantar jenazah">Mengantar jenazah</a> dengan berjalan kaki atau berkendaraan adalah perbuatan yang diperbolehkan. Akan tetapi, khusus bagi pengantar jenazah yang berkendaraan, maka posisi kendaraan harus berada di belakang jenazah. Adapun untuk pengantar jenazah yang berjalan kaki, maka boleh berjalan di semua posisi keberadaan jenazah (boleh di depan, di belakang, di sisi kanan, atau di sisi kiri jenazah). Hal ini didasari oleh sebuah hadits:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اَلرَّاكِبُ خَلْفَ الْجَنَازَةِ وَ الْمَاشِي حَيْثُ شَاءَ مِنْهَا وَ الطِّفْلُ يُصَلَّى عَلَيْهِ</p>
<p><em>Dari Mughirah bin Syu’bah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang yang berkendaraan berada di belakang jenazah, sedangkan yang berjalan kaki boleh dimana saja semaunya, dan jenazah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anak juga dishalati.’ </em>” (HR. Abu Daud: 2/65, at-Tirmidzi: 2/144, dan lain-lain; dinilai shahih oleh al-Albani, dalam <em>Ahkamul Jana’iz)</em></p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, Edisi Khusus, tahun ke-9, 1430 H/2009 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>anak</strong>, <strong>mengubur jenazah malam hari</strong>, <strong>mengantar jenazah</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengantar-jenazah-dengan-kendaraan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Memakai Alas Kaki di Kuburan?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 04:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ke makam menggunakan alas kaki]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sholat pakai alas kaki]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[memakai alas kaki di kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[memakai alas kaki dikuburan]]></category>
		<category><![CDATA[mengantar jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni kubur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1726</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya mendapati riwayat tentang larangan memakai sendal ketika berjalan di perkuburan. Akan tetapi, saya ragu dengan keabsahan hadits ini, ditambah lagi tidak ada seorang pun di tempat saya yang melepas sendalnya jika berjalan di pekuburan. Pertanyaannya, bagaimana derajat hadits ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya mendapati riwayat tentang larangan memakai sendal ketika berjalan di perkuburan. Akan tetapi, saya ragu dengan keabsahan hadits ini, ditambah lagi tidak ada seorang pun di tempat saya yang melepas sendalnya jika berjalan di pekuburan. Pertanyaannya, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> derajat hadits tentang larangan tersebut?</p>
<p><span id="more-1726"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Riwayat yang dimaksud adalah hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari jalan Basyir Ibnu Khashashiyah tatkala beliau berjalan bersama Rasulullah<em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tiba-tiba Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melihat seseorang berjalan di pekuburan mengenakan sendal, lalu beliau menegurnya seraya berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا</p>
<p><em>“</em><em>Wahai orang yang memakai sendal, celaka engkau, lepaslah sendalmu! Lalu orang itu melihat, dan tatkala dia mengetahui (bahwa yang menegurnya adalah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia melepas dan melempar sendalnya.” </em>(HR. Abu Daud: 2/72)</p>
<p>Keterangan:</p>
<p>Hadits ini shahih sebagaimana komentar para pakar hadits berikut:</p>
<p>- Al-Hakim mengatakan, “Sanad hadits ini shahih.” Demikian pula Imam adz-Dzahabi menyetujui (perkataan al-Hakim). Hadits ini juga disetujui al-Hafidz Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari</em>: 3/160.</p>
<p>- Ibnu Majah mengatakan, “Sanad hadits ini bagus,” dan beliau menukilnya. Dalam <em>Tahdzib as-Sunan</em>: 43/343, Ibnul Qayyim menukil perkataan Imam Ahmad, dia berkata, “Sanad hadits ini bagus.”</p>
<p>- Abu Daud dalam Masa’il-nya mengatakan, “Aku melihat jika Imam Ahmad <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengantar-jenazah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengantar jenazah">mengantar jenazah</a> dan telah mendekati pekuburan, beliau segera melepas sendalnya.”</p>
<p>- Imam Nawawi dalam <em>al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab:</em> 5/312 mengatakan, “Sanadnya bagus.” Demikian juga Ibnu Hazm berhujjah (berargumentasi –ed) dengan hadits ini. (<em>al-Muhalla</em>: 5/142&#8211;143)</p>
<p>Tentang larangan dalam hadits ini di atas, mayoritas ulama menganggapnya haram. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang mengatakan makruh karena larangan berjalan di pekuburan dengan mengenakan sendal adalah untuk menghormati penghuni kuburan.</p>
<p>Dari keterangan di atas, kita ketahui bahwa hadits larangan memakai sendal ketika berjalan di pekuburan adalah shahih, dan sudah selayaknya kita mengamalkan dan menghidupkan sunnah yang banyak dilupakan ini, walaupun manusia telah meninggalkannya.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, Edisi Khusus, tahun ke-9, 1430 H/2009 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mengantar jenazah</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hukum ke makam menggunakan alas kaki</strong>, <strong>penghuni kubur</strong>, <strong>memakai alas kaki di kuburan</strong>, <strong>memakai alas kaki dikuburan</strong>, <strong>hukum sholat pakai alas kaki</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memakai-alas-kaki-di-kuburan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Hukum Perkataan: Fulan Telah Berpulang di Sisi Allah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-perkataan-fulan-telah-berpulang-di-sisi-allah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-perkataan-fulan-telah-berpulang-di-sisi-allah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 02:30:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[arti kata fulan dalam bahasa arab]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[wallpaper flourish]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1419</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukumnya mengatakan: انتقل فلان إلى جوار ربه “Fulan telah berpulang ke sisi Allah.” (pada orang yang meninggal dunia) Syaikh Abdurrahman Bin Nashir Al Barrak*) menjawab: Alhamdulillah, wa ba’du: Perkataan yang diucapkan sebagian orang: انتقل فلان إلى جوار ربه ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa hukumnya mengatakan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">انتقل فلان إلى جوار ربه</p>
<p>“Fulan telah berpulang ke sisi Allah.” (pada orang yang meninggal dunia)</p>
<p><span id="more-1419"></span><strong>Syaikh Abdurrahman Bin Nashir Al Barrak*) menjawab:</strong><br />
<em>Alhamdulillah, wa ba’du</em>:</p>
<p>Perkataan yang diucapkan sebagian orang:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">انتقل فلان إلى جوار ربه</p>
<p>“Fulan telah berpulang ke sisi Allah.” <span style="text-decoration: underline;">Tidak diperbolehkan. </span></p>
<p>Karena Jawaar berasal dari kata Jaar, yang artinya menunjukkan kedekatan tempat, atau kadang artinya: &#8220;Sesuatu yang dekat dengan sesuatu yang lain.&#8221; Sehingga perkataan seperti ini memiliki arti: &#8220;Fulan telah bertempat di sisi Allah, yaitu di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>.&#8221; <strong>Ini merupakan pernyataan bahwa Fulan pasti masuk surga</strong>.</p>
<p>Atau, (secara bahasa arab) perkataan ini juga bisa memiliki arti: “Fulan telah menjadi tetangga bagi Allah”, atau “Fulan telah dijauhkan oleh Allah dari api neraka.&#8221; Makna yang demikian pun sama dengan makna yang pertama (yaitu memastikan masuk surga). Namun secara umum, yang dimaksud oleh banyak orang yang mengatakan ini adalah makna yang pertama.</p>
<p>Kemudian mereka juga mengatakan hal yang semisal:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">انتقل فلان إلى رحمة الله</p>
<p>“Fulan telah berpulang ke Rahmat Allah.” tanpa mengkaitkannya dengan kehendak Allah. Padahal sebutan yang lebih utama adalah berupa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> memohonkan ampunan, rahmah, keselamatan, dan kemenangan di surga.</p>
<p>Wallahu’alam</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://islamlight.net/index.php?option=com_ftawa&amp;task=view&amp;Itemid=0&amp;catid=1226&amp;id=33067" target="_blank"><span>http://islamlight.net/inde</span><span>x.php?option=com_ftawa&amp;tas</span><span>k=view&amp;Itemid=0&amp;catid=1226</span>&amp;id=33067</a></p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p>Perkataan ‘Fulan telah berpulang ke sisi Allah’ atau ‘Fulan telah berpulang ke Rahmat Allah’ tidak diperbolehkan. Menjadi boleh jika dikaitkan dengan kehendak Allah, misalnya ‘Fulan telah berpulang ke Rahmat Allah, jika Allah menghendaki’. Namun yang lebih baik adalah ucapan semisal ‘Semoga Allah merahmati Fulan’, ‘Semoga Allah mengampuni Fulan’, dll</p>
<p>*) Beliau adalah seorang ulama besar di Saudi Arabia, anggota Hai’ah Tadris di Jami’ah Muhammad Ibnu Su’ud</p>
<p>Sumber: kangaswad.wordpress.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>surga</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>arti kata fulan dalam bahasa arab</strong>, <strong>wallpaper flourish</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-perkataan-fulan-telah-berpulang-di-sisi-allah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islamkah Anak Kecil yang Meninggal dari Orang Tua Non-Muslim?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/islamkah-anak-kecil-yang-meninggal-dari-orang-tua-non-muslim</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/islamkah-anak-kecil-yang-meninggal-dari-orang-tua-non-muslim#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 01:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak kecil puasa meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[anak meninggal kecil]]></category>
		<category><![CDATA[anak muslim yang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[nasib orang non muslim di akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[non muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyan dan jawaban tentang seputar romadhan.]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[status anak kecil yang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1409</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Anak kecil yang dilahirkan oleh orang tua yang keduanya non-muslim, kemudian ia meninggal sebelum usia baligh, apakah di sisi Allah ia dianggap sebagai muslim ataukah tidak? Mengingat sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam: كل مولود يولد على الفطرة “Setiap anak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">Anak</a> kecil yang dilahirkan oleh orang tua yang keduanya non-muslim, kemudian ia meninggal sebelum usia baligh, apakah di sisi Allah ia dianggap sebagai muslim ataukah tidak? Mengingat sabda Nabi <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كل مولود يولد على الفطرة</p>
<p>“<em>Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam)</em>” (Al Hadits)</p>
<p>Jika dianggap sebagai muslim, apakah wajib untuk dimandikan dan dishalatkan? Semoga Allah memberikan anda pahala atas jawaban anda.</p>
<p><span id="more-1409"></span><strong>Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz <em>rahimahullah </em>menjawab:</strong></p>
<p>Jika anak tersebut belum <em>mukallaf </em>(terkena beban syariat), dan kedua orang tuanya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a>, maka hukumnya sebagaimana yang berlaku bagi orang tuanya. Yaitu tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak boleh dimakamkan di pemakaman kaum muslimin. Sedangkan di akhirat, kembali kepada kehendak Allah <em>Ta’ala</em>. Terdapat hadits shahih dari Rasullah <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em><em></em>, ketika ditanya tentang nasib anak-anak orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/musyrik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrik">musyrik</a>, beliau menjawab:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الله أعلم بما كانوا عاملين</p>
<p>“<em>Allah Maha Mengetahui tentang apa yang mereka perbuat.</em>” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Menurut penjelasan sebagian ulama tentang hadits ini, artinya Allah akan menampakkan apa yang Ia ketahui tentang nasib anak-anak tersebut di hari kiamat kelak. Mereka akan diuji dengan pertanyan, sebagaimana pengujian terhadap <em>ahlul fathrah </em>atau semacam mereka. Jika mereka bisa menjawab pertanyaan tersebut, mereka akan masuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>. Jika mereka tidak bisa menjawab, mereka akan masuk neraka.</p>
<p>Banyak sekali hadits shahih yang membahas tentang pengujian terhadap<em> ahlul fathrah</em>, yaitu orang-orang yang sama sekali belum pernah mendengar ajaran para Rasul, atau yang semisal mereka, seperti anak-anak kecil kaum musyrikin. Hal ini didasari oleh firman Allah<em> ‘Azza Wa Jalla</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا</p>
<p>“<em>Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul</em>.” (Qs. Al Isra: 15)</p>
<p>Pendapat ini adalah pendapat yang lebih tepat dari beberapa pendapat yang ada tentang status <em>ahlul fathrah </em>atau orang yang semisal mereka. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, juga murid beliau, Ibnu Qayyim, juga sejumlah ulama terdahulu, serta para ulama setelah mereka, semoga Allah merahmati mereka.</p>
<p><em>Al Allamah</em> Ibnu Qayyim <em>rahimahullah </em>telah menjelaskan panjang-lebar tentang pembahasan status <em>ahlul fathrah </em>dan anak-anak kecil kaum msyrikin dalam sebuah kitab berjudul <em>Thariqul Hijratain </em>pada bab <em>Thabaqat Al Mukallafin</em>. Bagi yang ingin menelaah lebih mendalam tentang hal ini, silakan merujuk kitab tersebut, karena sangat banyak manfaatnya.</p>
<p><em>Wabillahi At Taufiq</em>.</p>
<p>Sumber:<a href="http://www.ibnbaz.org.sa/mat/1686"> http://www.ibnbaz.org.sa/mat/1686</a></p>
<p>Sumber: kangaswad.wordpress.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bagaimana</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>anak meninggal kecil</strong>, <strong>pertanyan dan jawaban tentang seputar romadhan.</strong>, <strong>status anak kecil yang meninggal</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>nasib orang non muslim di akhirat</strong>, <strong>anak muslim yang meninggal</strong>, <strong>anak kecil puasa meninggal</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/islamkah-anak-kecil-yang-meninggal-dari-orang-tua-non-muslim/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Orang Mati Bisa Mendengar?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-orang-mati-bisa-mendengar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-orang-mati-bisa-mendengar#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 01:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[apakah orang yang baru mennggal dapat merasakan keberadaan keluarganya]]></category>
		<category><![CDATA[apakah orang yang sudah wafat bisa mengetahui keadaan keluarganya]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hadist jenajah bisa mendengar]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[mayat bisa mendengar]]></category>
		<category><![CDATA[mendengar suara orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1401</guid>
		<description><![CDATA[Pada sebuah kesempatan, Syaikh Prof.Dr. Abdul Aziz Bin Muhammad Abdul Latief *) ditanya: Apakah orang mati dapat mendengarkan hal-hal yang terjadi disekitarnya? Ketika seseorang meninggal, apakah ia dapat merasakan apa yang ada disekitarnya, seperti keberadaan keluarganya, sebelum ia dimandikan, dikafankan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Pada sebuah kesempatan, <strong>Syaikh Prof.Dr. Abdul Aziz Bin Muhammad Abdul Latief</strong> *) ditanya:</p>
<p>Apakah orang mati dapat mendengarkan hal-hal yang terjadi disekitarnya? Ketika seseorang meninggal, apakah ia dapat merasakan apa yang ada disekitarnya, seperti keberadaan keluarganya, sebelum ia dimandikan, dikafankan lalu dikubur? Lalu apakah mayat tersebut dapat mendengarkan suara-suara disekelilingnya? Karena terdapat hadits yang menyatakan bahwa mayat dapat mendengar hentakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sandal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sandal">sandal</a> orang yang menguburkannya.</p>
<p><span id="more-1401"></span><strong>Syaikh Dr. Abdul Aziz Bin Muhammad Abdul Latief menjawab:</strong></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وبعد</p>
<p>Keadaan asalnya, orang mati tidak dapat mendengar, berdasarkan firman Allah Ta’ala:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى</p>
<p>“<em>Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar.</em>” (Qs. An Naml: 80)</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>juga berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى</p>
<p>“<em>Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar.</em>” (Qs. Ar Ruum: 52)</p>
<p>Juga firman-Nya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَا أَنتَ بِمُسْمِعٍ مَّن فِي الْقُبُورِ</p>
<p>“<em>Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar</em>.” (Qs. Fathir: 22)</p>
<p>Serta ayat-ayat yang lain. Selain itu, mati itu seperti tidur. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa tidur adalah <em>Al Wafaat Ash Shughra</em> (kematian kecil). Sebagaimana firman Allah Ta’ala:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ</p>
<p>“<em>Dan Allah-lah yang mewafatkan (menidurkan) kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari</em>.” (Qs. Al An’am: 60)</p>
<p>Dan kita tahu bersama, bahwa orang yang tidur tidak bisa mendengar orang berbicara padanya. Maka orang mati tentu lebih tidak bisa lagi.</p>
<p>Adapun orang mati dapat mendengar suara hentakan sandal ini merupakan pengecualian khusus dari keadaan asal, pengecualian ini dikarenakan terdapat dalil yang menyebutkannya. Wallahu’alam.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين</p>
<p>Sumber: <a href="http://go2.wordpress.com/?id=725X1342&amp;site=kangaswad.wordpress.com&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.alabdulltif.net%2Findex.php%3Foption%3Dcom_ftawa%26task%3Dview%26id%3D28121">http://www.alabdulltif.net/index.php?option=com_ftawa&amp;task=view&amp;id=28121</a></p>
<p>*) Beliau adalah salah satu ulama dari kota Riyadh Saudi Arabia, menjadi dosen di beberapa Universitas, dan beliau pakar dalam masalah Aqidah.</p>
<p>Sumber: kangaswad.wordpress.com</p></div>
</div>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>apakah orang yang sudah wafat bisa mengetahui keadaan keluarganya</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>hadist jenajah bisa mendengar</strong>, <strong>mendengar suara orang meninggal</strong>, <strong>sandal</strong>, <strong>mayat bisa mendengar</strong>, <strong>apakah orang yang baru mennggal dapat merasakan keberadaan keluarganya</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-orang-mati-bisa-mendengar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Hukum Talqin?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-talqin</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-talqin#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 02:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[apa judul buku mengenai hukum talqin mayit haram]]></category>
		<category><![CDATA[azab kubur]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan talqin imsak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[benarkah surat yasin untuk mengantar orang sakaratul maut]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[hadis talqin]]></category>
		<category><![CDATA[hadits palsu]]></category>
		<category><![CDATA[hadits talqin untuk yang hidup atau sudah mati]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum membaca yasin bagi orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[talqin bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[talqin menurut sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[tentang talqin]]></category>
		<category><![CDATA[waktu talkin]]></category>
		<category><![CDATA[zikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1158</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukum talqin? Jawaban: Talqin itu ada dua macam: yaitu Talqin sunnah dan Talqin bid’ah [Pertama] Talqin Sunnah ( 501 ) – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> talqin?</p>
<p><span id="more-1158"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Talqin itu ada dua macam: yaitu <em>Talqin sunnah</em> dan <em>Talqin bid’ah</em></p>
<p><strong>[Pertama] Talqin Sunnah</strong></p>
<p>( 501 ) – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالْأَرْبَعَةُ</p>
<p>Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>&#8220;Ajarilah orang-orang yang hendak meninggal dunia di antara kalian ucapan<em> laa ilah illallah</em>.&#8221; (Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram no 501 mengatakan, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dan kitab hadits yang empat.&#8221; [Nasai, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, pent]”).</p>
<p>Ibnu Utsaimin pernah ditanya:</p>
<p>“Apa yang perlu dilakukan oleh orang yang duduk di dekat orang yang hendak meninggal dunia? Apakah membaca surat Yasin di dekat orang yang hendak meninggal dunia adalah amal yang berdasar hadits yang shahih atau tidak?”.</p>
<p>Jawaban beliau:</p>
<p>“Membesuk orang yang sakit adalah salah satu hak sesama muslim, satu dengan yang lainnya. Orang yang menjenguk orang yang sakit hendaknya mengingatkan si sakit untuk bertaubat dan menulis wasiat serta memenuhi waktunya dengan berdzikir karena orang yang sedang sakit membutuhkan untuk diingatkan dengan hal-hal ini.</p>
<p>Jika si sakit dalam keadaan sekarat dan orang-orang di sekelilingnya merasa yakin bahwa si sakit hendak meninggal dunia maka sepatutnya orang tersebut ditalqin <em>laa ilaha illallah </em>sebagaimana perintah Nabi.</p>
<p>Orang yang berada di dekat orang yang sedang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sakaratul-maut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sakaratul maut">sakaratul maut</a> hendaknya menyebut nama Allah (baca: <em>laa ilaha illallah</em>) di dekatnya dengan suara yang bisa didengar oleh orang yang sedang sekarat sehingga dia menjadi ingat. Para ulama mengatakan dia sepatutnya menggunakan kalimat perintah untuk keperluan tersebut karena boleh jadi dikarenakan sedang susah dan sempit dada orang yang sekarat tadi malah tidak mau mengucapkan laa ilaha illallah sehingga yang terjadi malah suul khatimah. Jadi orang yang sedang sekarat tersebut diingatkan dengan perbuatan dengan adanya orang yang membaca laa ilaha illallah di dekatnya.</p>
<p>Sampai-sampai para ulama mengatakan bahwa jika setelah diingatkan untuk mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em> orang tersebut mengucapkannya maka hendaknya orang yang mentalqin itu diam dan tidak mengajaknya berbicara supaya kalimat terakhir yang dia ucapkan adalah <em>laa ilaha illallah</em>. Jika orang yang sedang sekarat tersebut mengucapkan sesuatu maka talqin hendaknya diulangi sehingga kalimat terakhir yang dia ucapkan adalah <em>laa ilaha illallah.<br />
</em><br />
Sedangkan membaca <strong>surat Yasin</strong> di dekat orang yang hendak meninggal dunia adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> yang dianjurkan oleh banyak ulama mengingat sabda Nabi, “<em>Bacakanlah surat Yasin untuk orang-orang yang hendak meninggal dunia di antara kalian</em>.”</p>
<p>Akan tetapi derajat hadits ini diperbincangkan oleh sebagian ulama. Jadi kesimpulannya, menurut ulama yang menshahihkan hadits tersebut maka membaca surat Yasin di dekat orang yang meninggal dunia adalah amalan yang dianjurkan. Sedangkan menurut ulama yang menilainya sebagai hadits yang lemah maka perbuatan tersebut tidaklah dianjurkan.” <strong>(Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 215/40, Asy Syamilah).</strong></p>
<p><strong>[Kedua] Talqin Bid’ah</strong></p>
<p>وَعَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَحَدِ التَّابِعِينَ – قَالَ : كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ ، وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ .أَنْ يُقَالَ عِنْدَ قَبْرِهِ : يَا فُلَانُ ، قُلْ : لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، يَا فُلَانُ : قُلْ رَبِّي اللَّهُ ، وَدِينِي الْإِسْلَامُ ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ، رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا – وَلِلطَّبَرَانِيِّ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا مُطَوَّلًا .</p>
<p>Dari Dhamrah bin Habib, seorang tabiin, “Mereka (yaitu para shahabat yang beliau jumpai) menganjurkan jika kubur seorang mayit sudah diratakan dan para pengantar jenazah sudah bubar supaya dikatakan di dekat kuburnya, ‘Wahai fulan katakanlah <em>laa ilaha illallah 3x</em>. Wahai fulan, katakanlah ‘Tuhanku adalah Allah. Agamaku adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad” [Dalam Bulughul Maram no hadits 546, Ibnu Hajar mengatakan, “Diriwayatkan oleh Said bin Manshur secara mauquf (dinisbatkan kepada shahabat). Thabrani meriwayatkan hadits di atas dari Abu Umamah dengan redaksi yang panjang dan semisal riwayat Said bin Manshur namun secara marfu’ (dinisbatkan kepada Nabi)].</p>
<p>Muhammad Amir ash Shan’ani mengatakan, “Setelah membawakan redaksi hadits di atas al Haitsami berkata, ‘Hadits tersebut diriwayatkan oleh ath Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir dan dalam sanadnya terdapat sejumlah perawi yang tidak kukenal’. Dalam catatan kaki Majma’uz Zawaid disebutkan bahwa dalam sanad hadits tersebut terdapat seorang perawi yang bernama<strong> ‘Ashim bin Abdullah dan dia adalah seorang perawi yang lemah.&#8221;</strong></p>
<p><strong></strong>Al Atsram mengatakan, ‘Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang apa yang dilakukan oleh banyak orang ketika jenazah telah dimakamkan ada seorang yang berdiri dan berkata, ‘Wahai fulan bin fulanah’. Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku tidak mengetahui ada seorang pun yang melakukannya melainkan para penduduk daerah Syam ketika Abul Mughirah meninggal dunia. Tentang masalah tersebut diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi Maryam dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/guru" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with guru">guru</a>-guru mereka bahwa mereka, para <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/guru" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with guru">guru</a>, melakukannya”. Menganjurkan talqin semacam ini adalah pendapat para ulama bermazhab Syafii.</p>
<p>Dalam <em>Al Manar Al Munif</em>, Ibnul Qoyyim mengatakan:</p>
<p>“Sesungguhnya hadits <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tentang-talqin" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tentang talqin">tentang talqin</a> ini adalah hadits yang tidak diragukan oleh para ulama hadits sebagai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-palsu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits palsu">hadits palsu</a>. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam sunannya dari Hamzah bin Habib dari para gurunya yang berasal dari daerah Himsh (di Suriah, Syam, pent). Jadi perbuatan ini hanya dilakukan oleh orang-orang Himsh.&#8221;</p>
<p>Dalam <em>Zaadul Ma’ad</em>, Ibnul Qoyyim juga berkata tegas sebagaimana perkataan beliau di Al Manar Al Munif. Sedangkan di kitab <em>Ar Ruuh</em>, Ibnul Qoyyim menjadikan hadits talqin di atas sebagai salah satu dalil bahwa mayit itu mendengar perkataan orang yang hidup di dekatnya. Terus-menerusnya talqin semacam ini dilakukan dari masa ke masa tanpa ada orang yang mengingkarinya, menurut Ibnul Qoyyim, sudah cukup untuk dijadikan dalil untuk mengamalkannya. Akan tetapi di kitab <em>Ar Ruuh</em>, beliau sendiri tidak menilai hadits talqin di atas sebagai hadits yang shahih bahkan beliau dengan tegas mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits yang lemah.</p>
<p>Yang bisa kita simpulkan dari perkataan para ulama peneliti sesungguhnya hadits tentang talqin di atas adalah <strong>hadits yang lemah</strong> sehingga mengamalkan isi kandungannya adalah <strong>bid’ah</strong> (amalan yang tidak ada tuntunannya). Tidak perlu tertipu dengan banyaknya orang yang mempraktekkannya.” <strong><em>(Subulus Salam 3/157, Asy Syamilah). </em></strong></p>
<p><strong>Syeikh Ibnu Utsaimin ditanya tentang kapankah waktu talqin.</strong></p>
<p>Jawaban beliau:</p>
<p>“Talqin itu dilakukan ketika hendak meninggal dunia yaitu pada saat proses pencabutan nyawa. Orang yang hendak meninggal ditalqin laa ilaha illallah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika pamannya, Abu Thalib hendak meninggal dunia. Nabi mendatangi pamanya lantas berkata, ‘Wahai pamanku, ucapkanlah laa ilaha illallah, sebuah kalimat kalimat yang bisa kugunakan untuk membelamu di hadapan Allah’. Akan tetapi paman beliau tidak mau mengucapkannya sehingga mati dalam keadaan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/musyrik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrik">musyrik</a>.<br />
Sedangkan talqin setelah pemakaman maka itu adalah <strong>amal yang bid’ah</strong> karena tidak ada hadits yang shahih dari Nabi tentang hal tersebut. Yang sepatutnya dilakukan adalah kandungan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud. Nabi jika telah selesai memakamkan jenazah berdiri di dekatnya lalu berkata, &#8220;Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mintakanlah agar dia diberi keteguhan dalam memberikan jawaban. Sesungguhnya sekarang dia sedang ditanya.&#8221;</p>
<p>Adapun membaca Al Qur’an, demikian pula talqin di dekat kubur maka keduanya adalah <strong>amal yang bid’ah</strong> karena tidak ada dalil yang mendasarinya” <strong><em>(Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 215/42, Asy Syamilah). </em></strong><em></em></p>
<p>Sumber: ustadzaris.com<em><br />
</em></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>tentang talqin</strong>, <strong>musyrik</strong>, <strong>apa judul buku mengenai hukum talqin mayit haram</strong>, <strong>hadits palsu</strong>, <strong>waktu talkin</strong>, <strong>zikir</strong>, <strong>bacaan talqin imsak</strong>, <strong>azab kubur</strong>, <strong>hadits talqin untuk yang hidup atau sudah mati</strong>, <strong>amalan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-talqin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Adzab Kubur Itu Menimpa Jasad atau Ruh?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-adzab-kubur-itu-menimpa-jasad-atau-ruh</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-adzab-kubur-itu-menimpa-jasad-atau-ruh#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 06:58:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[apakah siksa kubur yang ditanya roh atau jasad?]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[jenggot]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[siksa kubur]]></category>
		<category><![CDATA[siksa kubur ruh apa jasad]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1054</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apakah adzab kubur itu menimpa jasad ataukah menimpa ruh? Jawab: Pada dasarnya adzab kubur itu akan menimpa ruh, karena hukuman setelah mati adalah bagi ruh. Sedangkan badannya adalah sekedar bangkai yang rapuh. Oleh ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:</p>
<p>Apakah adzab kubur itu menimpa jasad ataukah menimpa ruh?</p>
<p><span id="more-1054"></span><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Pada dasarnya adzab kubur itu akan menimpa ruh, karena hukuman setelah mati adalah bagi ruh. Sedangkan badannya adalah sekedar bangkai yang rapuh. Oleh karena itu badan tidak memerlukan lagi bahan makanan untuk keberlangsunganya; tidak butuh makan dan minum, bahkan justru dimakan oleh tanah.</p>
<p>Akan tetapi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata bahwa ruh kadang masih bersambung dengan jasad sehingga diadzab atau diberi nikmat bersama-sama. Adapula pendapat lain di kalangan Ahlus Sunnah bahwa adzab atau nikmat di alam kubur itu akan menimpa jasad, bukan ruh.</p>
<p>Pendapat ini beralasan dengan bukti empiris. Pernah dibongkar sebagian kuburan dan terlihat ternyata bekas siksa yang menimpa jasad. Dan pernah juga dibongkar kuburan yang lain ternyata terlihat bekas nikmat yang diterima oleh jasad itu.</p>
<p>Ada sebagian orang yang bercerita kepadaku bahwa di daerah Unaizah ini ada penggalian untuk membuat benteng batas wilayah negeri. Sebagian dari daerah yang di gali itu ada yang bertepatan dengan kuburan. Akhirnya terbukalah suatu liang lahat dan di dalamnya masih terdapat mayat yang kafannya telah dimakan tanah, sedangkan jasadnya masih utuh dan kering belum dimakan apa-apa. Bahkan mereka mengatakan melihat jenggotnya, dan dari mayat itu terhambur bau harum seperti minyak misk.</p>
<p>Para pekerja galian itu kemudian menghentikan pekerjaannya sejenak dan kemudian pergi kepada seorang Syaikh untuk mengutarakan persoalan yang terjadi. Syaikh tersebut berkata, &#8220;Biarkan dalam posisi sebagaimana adanya. Hindarilah ia dan galilah dari sebelah kanan atau sebelah kiri!&#8221;</p>
<p>Beralasan dari kejadian-kejadian seperti ini, ulama menyatakan bahwa ruh terkadang bersambung dengan jasad, sehingga siksa itu menimpa ruh dan jasad. Barangkali ini pula yang diisyaratkan oleh sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p><em> &#8220;Sesungguhnya kubur itu akan menghimpit orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> sehingga remuk tulang-tulang rusuknya&#8221;.</em></p>
<p>Ini menunjukkan bahwa siksa itu menimpa jasad, karena tulang rusuk itu terdapat pada jasad.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
<p>[Disalin dari kitab <em>Fatawa Anil Iman wa Arkaniha</em>, yang di susun oleh Abu Muhammad Asyraf bin Abdul Maqshud, edisi Indonesia <em>Soal-Jawab Masalah Iman dan Tauhid</em>, Pustaka At-Tibyan]Sumber: almanhaj.or.id</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>siksa kubur ruh apa jasad</strong>, <strong>susu</strong>, <strong>siksa kubur</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>jenggot</strong>, <strong>kafir</strong>, <strong>apakah siksa kubur yang ditanya roh atau jasad?</strong>, <strong>hukum</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-adzab-kubur-itu-menimpa-jasad-atau-ruh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Adzab Kubur Orang Mukmin Dapat Diringankan?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-adzab-kubur-orang-mukmin-dapat-diringankan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-adzab-kubur-orang-mukmin-dapat-diringankan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 01:36:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bersuci kencing]]></category>
		<category><![CDATA[ciri ciri kuburan orang mukmin]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[pergi jauh]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=991</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apakah adzab kubur terhadap orang mukmin yang berbuat maksiat dapat diringankan? Jawaban: Ya, kadang-kadang diringankan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah lewat dua kubur lalu berkata: “Keduanya benar-benar sedang diadzab, keduanya diadzab ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan</strong>:</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:</p>
<p>Apakah adzab kubur terhadap orang mukmin yang berbuat maksiat dapat diringankan?</p>
<p><strong><span id="more-991"></span><br />
Jawaban</strong>:</p>
<p>Ya, kadang-kadang diringankan, karena Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah lewat dua kubur lalu berkata:</p>
<p>“Keduanya benar-benar sedang diadzab, keduanya diadzab karena hal yang besar, benar, dia itu hal yang besar, salah satunya diadzab karena tidak bersuci dari kencing, atau beliau berkata: “Tidak bertabir waktu kencing, dan yang lain diadzab karena suka mengadu domba/membuat fitnah.&#8221; Kemudian beliau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> pelepah yang masih basah, lalu dibagi dua kemudian menancapkan pada tiap kubur satu buah dan berkata: “Semoga adzab keduanya diringankan selama pelepah itu berlum kering.” [1]</p>
<p>Ini merupakan dalil bahwa terkadang adzab kubur itu bisa diringankan, namun apa hubungan antara dua pelepah kurma yang basah itu dengan diringankannya dua orang yang sedang diadzab ini?</p>
<p>[1]. Ada yang berpendapat bahwa kedua pelepah ini senantiasa bertasbih selama belum kering, sedangkan tasbih bisa meringankan adzab bagi si mayit. Kesimpulan dari illat ini -yang kadang meleset jauh- bahwasanya disunnahkan kepada manusia untuk pergi ke kuburan dan bertasbih di sisinya agar adzabnya diringankan.</p>
<p>[2]. Sebagian ulama berkata: Penentuan seperti di atas adalah lemah karena dua pelepah itu tetap bertasbih baik dalam keadaan basah maupun kering, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”</em> [Al-Isra: 44]</p>
<p>Pernah terdengar tasbihnya kerikil oleh Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, padahal kerikil itu kering, jadi apa illatnya?</p>
<p>Illatnya adalah bahwa Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, mengharap kepada Allah <em>Azza wa Jalla</em> agar adzab kedua orang itu diringankan selama dua pelepah itu masih basah, artinya bahwa tempo waktunya tidak panjang, dan hal itu dalam rangka untuk memberi peringatan akan perbuatan kedua orang tadi karena perbuatan mereka berdua itu persoalan besar, sebagaimana diterangkan dalam sebuah riwayat: “benar, bahwa itu adalah urusan besar.&#8221; Orang yang pertama tidak bersuci dari kencing, dan bila tidak bersuci dari kencing berarti dia <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> tanpa bersuci.</p>
<p>Sedangkan yang kedua banyak memfitnah/mengadu domba, yang merusak hubungan antara hamba-hamba Allah –aku berlindung kepada Allah- serta melemparkan diantara mereka api permusuhan dan kebencian, dan ini adalah persoalan besar. Inilah pendapat yang paling dekat dengan kebenaran, bahwa hal hal itu merupakan syafa’at sementara sebagai peringatan untuk umat bukan merupakan kebakhilan Rasulullah <em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk memberi syafa’at selamanya.</p>
<p>Beralih dari pembicaraan, kami katakan: bahwa sebagian ulama –semoga Allah memaafkan mereka- mengatakan: “Disunnahkan agar manusia meletakkan pelepah basah, atau pohon atau semacamnya di atas kuburan agar adzabnya diringankan, akan tetapi kesimpulan ini jauh sekali dan tidak boleh kita melakukan hal itu karena beberapa alasan:</p>
<ol>
<li>Kita tidak tahu bahwa orang tersebut sedang diadzab, berbeda halnya dengan Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Jika kita melakukan hal itu maka kita telah berbuat buruk sangka terhadap mayit itu karena telah punya dugaan jelek (<em>su’udzon</em>) kepadanya bahwa dia sedang diadzab, siapa tahu dia sedang diberi nikmat. Siapa tahu mayit ini termasuk orang yang mendapat ampunan dari Allah sebelum matinya karena adanya satu dari sekian banyak sebab ampunan, lalu dia mati dan Rabb para hamba telah mema’afkannya, dan saat itu dia tidak berhak mendapatkan adzab.</li>
<li>Kesimpulan ini menyelisihi pemahaman <em>Salafush Shalih</em> yang mereka itu merupakan manusia yang paling mengerti tentang syari’at Allah. Tidak ada seorangpun dari sahabat <em>radhiyalahu ‘anhum</em> yang mengerjalan hal itu, lalu apa urusannya kita melakukan hal itu?</li>
<li>Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuka bagi kita (amal) yang lebih baik daripada hal itu. Bahwasanya Nabi <em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> apabila telah usai penguburan mayit beliau berdiri dan berkata:</li>
</ol>
<p>Artinya:<em> &#8220;Mintakanlah ampunan untuk saudaramu dan mintalah untuknya keteguhan karena dia sekarang akan ditanya.”</em> [2]</p>
<p>[Disalin dari kitab<em> Majmu Fatawa Arkanil Islam</em>, edisi Indonesia <em>Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah</em>, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]</p>
<p>__________<br />
Foote Note<br />
[1]. Dikeluarkan oleh Bukhari, <em>Kitabul Janaiz</em>, Bab <em>Adzabul Qabri Minal Ghibah wal Baul</em>: 1378 dan Muslim, <em>Kitab Thaharah</em>, bab <em>Ad-Dalil A’la Najasatil Baul wa Wujubil Istira’ minah</em>: 292<br />
[2]. Diriwayatkan oleh Abu Daud, <em>kitabul Jazaiz</em>, bab <em>Istighfar ‘indal qabri Lil Mayyit Fi Waqtil Inshairat</em>: 3221]</p>
<p>Sumber: almanhaj.or.id</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>isa</strong>, <strong>bersuci kencing</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>mengambil</strong>, <strong>ciri ciri kuburan orang mukmin</strong>, <strong>kuburan manusia</strong>, <strong>pergi jauh</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>maaf</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-adzab-kubur-orang-mukmin-dapat-diringankan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Tasbih Ketika Mengantar Jenazah dan Apa Hukum Tali Jenazah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/adakah-tasbih-ketika-mengantar-jenazah-dan-apa-hukum-tali-jenazah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/adakah-tasbih-ketika-mengantar-jenazah-dan-apa-hukum-tali-jenazah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 07:40:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[adab mengantar jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[mengantar jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[peperangan pada waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[zikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=908</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikumwarahmatullahi wabarakatuhu. Kaifa haluka ya ustadz? Fii khair? Saya mau tanya: Bolehkah mengantar jenazah disertai bertasbih atau sejenisnya dengan suara keras? Apakah tali ikat pada ujung kepala dengan ujung kaki saat penguburan dalam keadaan terbuka atau terikat? Syukran atas ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p><em> Assalamu&#8217;alaikumwarahmatullahi wabarakatuhu.</em></p>
<p>Kaifa haluka ya ustadz? Fii khair? Saya mau tanya: Bolehkah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengantar-jenazah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengantar jenazah">mengantar jenazah</a> disertai bertasbih atau sejenisnya dengan suara keras? Apakah tali ikat pada ujung kepala dengan ujung kaki saat penguburan dalam keadaan terbuka atau terikat? Syukran atas perhatiannya.</p>
<p>( 0564957395 )</p>
<p><span id="more-908"></span><strong>Jawab:</strong></p>
<p><span><em> Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu. Alhamdulillah bi khair. </em><br />
</span></p>
<p><span>1. Mengangkat suara dengan tasbih atau sejenisnya ketika mengantar jenazah adalah tidak boleh dan termasuk bid&#8217;ah, karena beberapa hal:<br />
</span></p>
<p><span>a. Tidak adanya dalil atas perbuatan ini.<br />
b. Hal ini termasuk perkara yang tidak dilaksanakan oleh para sahabat bahkan termasuk hal yang mereka larang, sebagaimana perkataan Qais bin &#8216;Abbad :</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كان اصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يكرهون رفع الصوت عند الجنائز وعند القتال وعند الذكر</p>
<p><span>Artinya: Para sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang mengangkat suara ketika mengurus jenazah, ketika perang, dan ketika berdzikir. (HR. Al-Baihaqy di dalam <em>As-Sunan Al-Kubra</em> 4 / 74 , berkata Al-Albany: Dengan sanad yang rawi-rawinya tsiqah)<br />
</span></p>
<p><span>c. Ini termasuk penyerupaan terhadap orang-orang Nashrani (Lihat Ahkamul Janaiz, Syeikh Al-Albany hal: 92)<br />
</span></p>
<p><span>Oleh karena itu berkata Imam An-nawawy:<br />
</span></p>
<p><span>Berkata Imam An-Naway:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">واعلم أن الصواب المختار ما كان عليه السلف رضي الله عنهم : السكوت في حال السير مع الجنازة ، فلا يرفع صوتا بقراءة ، ولا ذكر ، ولا غير ذلك ، والحكمة فيه ظاهرة ، وهي أنه أسكن لخاطره ، وأجمع لفكره فيما يتعلق بالجنازة ، وهو المطلوب في هذا الحال ، فهذا هو الحق ، ولا تغترن بكثرة من يخالفه</p>
<p><span>&#8220;Dan ketahuilah bahwa yang benar dan yang dilakukan oleh para salaf adalah diam ketika mengikuti jenazah, tidak mengeraskan suara baik berupa Al-Quran maupun dzikir atau yang lain. Dan hikmah dari ini semua jelas, yaitu lebih menenangkan pikirannya dan lebih konsentrasi dengan apa yang berkaitan dengan jenazah, dan inilah yang seharusnya dalam keadaan seperti ini, maka inilah yang benar dan jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang menyelisihi.&#8221; (<em>Al-Adzkar</em> hal: 160)</span></p>
<p>2. Dilepas tali ikat mayit ketika dimasukkan kubur, karena tujuan mengikat adalah karena takut terbuka. Adapun ketika dikuburkan maka tidak ada lagi yang ditakutkan. Oleh karena itu ada beberapa riwayat -meski ada kelemahan di dalamnya- dari ucapan salaf (para pendahulu kita)–namun secara keseluruhan menunjukkan bahwa melepas tali ikat pada saat dikuburkan adalah perbuatan yang sudah dikenal di kalangan mereka. Ucapan-ucapan mereka bisa dilihat di <em>Mushannaf Ibnu Abi Syaibah</em> 3 / 208.</p>
<p><span>Pendapat inilah yang Syeikh Al-Albany cenderung kepadanya (Lihat Silsilah Al-Ahadist Adh-Dha&#8217;ifah 4/247), dan pendapat ini pulalah yang difatwakan Komite Tetap untuk Fatwa Saudi Arabia (Lihat <em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah</em> 10/362-363 ).</span></p>
<p><span> Wallahu a&#8217;lam.</span></p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bagaimana</strong>, <strong>mengantar jenazah</strong>, <strong>adab mengantar jenazah</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>guru</strong>, <strong>zikir</strong>, <strong>peperangan pada waktu puasa</strong>, <strong>hukum</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/adakah-tasbih-ketika-mengantar-jenazah-dan-apa-hukum-tali-jenazah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Hukum Melayat Orang Kafir?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-melayat-orang-kafir</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-melayat-orang-kafir#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 07:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana cara mengusir jin bagi orang kristen]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah kita melayat orang kafir]]></category>
		<category><![CDATA[cara melayat]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa melayat jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[doa melayat orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berbuka puasa bersama kafir]]></category>
		<category><![CDATA[hukum habis melayat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kafir]]></category>
		<category><![CDATA[hukum melayat jenazah ahlul kitab]]></category>
		<category><![CDATA[hukum melayat ke agama yang beda]]></category>
		<category><![CDATA[hukum melayat nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[hukum melayat orang kafir]]></category>
		<category><![CDATA[hukum melayat orang kristen]]></category>
		<category><![CDATA[hukum melayat orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[hukum melayati orang kafir]]></category>
		<category><![CDATA[hukum undangan meninggal orang kafir]]></category>
		<category><![CDATA[hukuman alloh pada orang musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[melayat orang kafir]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni neraka]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=903</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu’alaikum, Barakallahu fikum ustadz Ana mohon penjelasan bagaimana cara kita bermuamalah dengan tetangga orang kristen/kafir misalkan pada saat: Mereka meninggal, apakah kita boleh takziyah, dan jika boleh apa yang harus kita ucapkan? Mereka mengundang untuk acara pernikahan keluarga mereka ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p>Assalamu’alaikum, Barakallahu fikum ustadz<br />
Ana mohon penjelasan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> cara kita bermuamalah dengan tetangga orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kristen" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kristen">kristen</a>/<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> misalkan pada saat:</p>
<ol>
<li>Mereka meninggal, apakah kita boleh takziyah, dan jika boleh apa yang harus kita ucapkan?</li>
<li>Mereka mengundang untuk acara pernikahan keluarga mereka apakah kita boleh memenuhi undangannya?</li>
<li>Mempunyai/melahirkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>, apakah kita boleh memberikan selamat?</li>
</ol>
<p>Jazaakallah khoiron</p>
<p>(Abu Panji)<br />
<span><span id="more-903"></span><br />
<strong>Jawab: </strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumsalam. Wa fiika barakallahu. </em></span></p>
<p><span>Islam tidak melarang umatnya untuk berbuat baik dan bermuamalah yang baik kepada orang-orang kafir selama mereka tidak memerangi kita dan tidak mengusir kita dari negeri kita. </span></p>
<p><span>Allah ta&#8217;ala berfirman: </span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.الممتحنة:8<br />
<em></em></p>
<p><span><em>&#8220;Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.&#8221; </em></span>(Qs. 60:8)<span><br />
</span></p>
<p><span>Berkata Syeikh Abdurrahman As-Sa&#8217;dy:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة</p>
<p><span>&#8220;Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan , berbuat adil kepada orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/musyrik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrik">musyrik</a>, dari keluarga kalian dan yang lain selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.&#8221; (<em>Tafsir As-Sa&#8217;dy</em> hal 856-857)<br />
</span></p>
<p><span> Namun disana ada aturan-aturan yang harus kita perhatikan dalam bermuamalah dengan orang-orang kafir. Diantaranya kita tidak diperbolehkan mengorbankan agama untuk mencari ridha mereka.<br />
</span></p>
<p><span> Syeikh Sulaiman Ar-Ruhaily dalam sebagian ceramah beliau menyebutkan bahwa untuk menjaga keseimbangan supaya perbuatan baik kita tidak berujung kepada loyalitas kepada mereka maka setiap kita berbuat baik kepada mereka (orang kafir), harus senantiasa kita ingat bahwa mereka adalah orang-orang kafir, musuh-musuh Allah ta&#8217;ala, yang kalau suatu saat mereka menguasai kita mereka akan berusaha membinasakan kita (Kaset <em>Al-Wala wal Bara</em>, yang beliau sampaikan di masjid Quba, Al-Madinah)<br />
<em><strong></strong></em></span></p>
<p><span><em><strong>Pertama:</strong></em><br />
Para ulama telah berselisih pendapat tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> ta&#8217;ziyah muslim terhadap orang kafir, ada yang mengatakan boleh secara mutlak, dan ada yang mengatakan haram. Dan yang kuat wallahu a&#8217;lamu: ta&#8217;ziyah ahlul kitab adalah boleh dengan syarat-syarat, diantara syarat-syarat tersebut:<br />
</span></p>
<ol>
<li><span>Mereka (orang kafir) tersebut tidak menganggap bahwa ta&#8217;ziyah yang kita lakukan adalah penghormatan untuk mereka (<em>Fatawa Syeikh Muhammad Al-utsaimin</em> 2/304 )<br />
</span></li>
<li><span>Di dalamnya ada mashlahat, seperti mengharapkan keislaman keluarganya atau menghindari gangguan mereka terhadap dirinya atau kaum muslimin (<em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah</em> 9/132 )</span></li>
<li><span>Tidak mengikuti upacara keagamaan mereka atau mendengarkan ceramah mereka,</span> karena Allah berfirman:</li>
</ol>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ.الأنعام:68<br />
<em></em></p>
<p><span><em>&#8220;Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (maka larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang. orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).&#8221; </em>(Qs. 6:68)<br />
</span></p>
<p><span> Tidak ada dalil khusus tentang apa yang kita ucapkan ketika berta&#8217;ziyah kepada orang kafir, yang penting ucapan yang tidak ada larangan syar&#8217;i seperti mendoakan rahmat dan ampunan untuk orang kafir.<br />
</span></p>
<p><span>Allah berfirman:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ.التوبة:113<br />
<em></em></p>
<p><span><em>&#8220;Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam.&#8221; </em>(Qs. 9:113)</span></p>
<p><span>Sebagian ulama menyebutkan bahwa diantara doa yang bisa kita ucapkan ketika berta&#8217;ziyah kepada orang kafir adalah:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أخلف الله عليك ولا نقص عددك</p>
<p><span>&#8220;Semoga Allah menggantinya untukmu dan tidak mengurangi jumlahmu (yaitu supaya tetap banyak jizyahnya).&#8221; (Lihat <em>Al-Majmu&#8217;</em>, Imam An-Nawawy 5/275, dan <em>Al-Mughny</em>, Ibnu Qudamah 2/487)</span></p>
<p><em><strong>Kedua:</strong></em></p>
<p><span>Diperbolehkan memenuhi undangan makan orang kafir selama untuk menarik hatinya kepada islam. Namun kalau ditakutkan justru kita yang terpengaruh atau justru nanti kita merasa berhutang jasa maka tidak diperbolehkan.<br />
</span></p>
<p><span>Rasulullah dahulu pernah menerima undangan seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">yahudi</a> sebagaimana dalam hadist Anas:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عن أنس : أن يهوديا دعا رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى خبز شعير وأهالة سنخة فأجابه<br />
<em></em></p>
<p><span><em>Dari Anas bahwasanya seorang yahudi mengundang Nabi shalallallahu alaihi wa sallam untuk makan roti dan ahalah (sejenis lauk) yang berubah baunya, maka beliau menerima undangan tersebut. </em>(HR. Ahmad 3/270, berkata Syu&#8217;aib Al-Arnauth: Isnadnya shahih atas syarat Muslim)<br />
</span></p>
<p><span>Adapun memenuhi undangan pernikahan maka sebagian ulama memandang tidak diperbolehkan karena acara pernikahan orang kafir tidak terlepas dari perkara-perkara yang haram seperti: ikhtilath (campur laki-laki perempuan), <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/musik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musik">musik</a>, minuman keras, dihidangkannya makanan haram (daging babi, anjing dll)</span></p>
<p><em><strong>Ketiga:</strong></em></p>
<p><span> Mengucapkan selamat pada acara-acara yang bukan syiar agama mereka (seperti pernikahan, kelahiran, kedatangan) maka diperbolehkan tapi harus menghindari ucapan-ucapan yang menunjukkan keridhaan kita dengan agamanya, seperti: Semoga Allah membahagiakanmu dengan agamamu dll.<br />
</span></p>
<p><span>Diantara ucapan yang diperbolehkan: Semoga Allah memuliakanmu dengan keislaman. (Lihat <em>Ahkamu Ahli Adz-Dzimmah</em>, Ibnul Qayyim 3/441)<br />
</span></p>
<p><span>Wallahu a&#8217;lam.</span></p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum melayati orang kafir</strong>, <strong>cara melayat</strong>, <strong>doa melayat jenazah</strong>, <strong>hukum melayat ke agama yang beda</strong>, <strong>hukum undangan meninggal orang kafir</strong>, <strong>musik</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>doa melayat orang meninggal</strong>, <strong>pernikahan</strong>, <strong>masjid</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-melayat-orang-kafir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Mengqadha Sholat Bagi Orang yang Meninggal?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengqadha-sholat-bagi-orang-yang-meninggal</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengqadha-sholat-bagi-orang-yang-meninggal#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 04:46:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengqadha shalat untuk orang mati]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban qodho sholat bagi orang mati]]></category>
		<category><![CDATA[mengqhodo sholat untuk orang yang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[mengqodho sholat orang yang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[mengqodo sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[meninggalkan sholat]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=801</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu&#8217;alaikum. Ustadz, seseorang meninggalkan sholat dengan alasan sakit, kemudian meninggal, apakah wajib bagi yang masih hidup untuk mengqadhanya? (Hamba Allah) Jawab: Wa&#8217;alaikumsalamwarahmatullahi wa barakatuh . Jumhur ulama mengatakan bahwa orang yang meninggal sementara dia memiliki kewajiban sholat maka tidak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum. Ustadz, seseorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/meninggalkan-sholat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with meninggalkan sholat">meninggalkan sholat</a> dengan alasan sakit, kemudian meninggal, apakah wajib bagi yang masih hidup untuk mengqadhanya?</p>
<p>(Hamba Allah)<br />
<span><span id="more-801"></span><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p><span> <em>Wa&#8217;alaikumsalamwarahmatullahi wa barakatuh .</em><br />
</span></p>
<p><span>Jumhur ulama mengatakan bahwa orang yang meninggal sementara dia memiliki kewajiban <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sholat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sholat">sholat</a> maka tidak disyari&#8217;atkan bagi orang lain untuk mengqadhanya, karena yang demikian itu tidak adanya dalil.<br />
</span></p>
<p><span>Berkata Al-Mawardy:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ وَسَائِرُ الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّ النِّيَابَةَ فِي الصَّلَاةِ حكم لَا تَصِحُّ بِحَالٍ مَعَ قُدْرَةٍ وَلَا عَجْزٍ</p>
<p><span>&#8220;Dan jumhur fuqaha dan seluruh ulama berpendapat bahwa mewakili orang lain dalam sholat adalah tidak sah, baik yang diwakili mampu atau tidak mampu.&#8221; (<em>Al-Hawy Al-Kabir</em> 15/710)<br />
</span></p>
<p><span>Berkata Syeikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em>:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الصلاة عن الميت لا تجوز ، وليس لذلك أصل ، وإنما جاء ذلك في الصيام والحج وقضاء الدين والصدقة والدعاء ، أما الصلاة عنه فلا أصل لها.</p>
<p><span> &#8220;Sholat atas nama orang yang meninggal tidak boleh, dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> ini tidak ada asalnya, yang ada dalilnya adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a>, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haji-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haji">haji</a>, membayar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hutang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hutang">hutang</a>, shadaqah, dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>. Adapun sholat untuk orang yang meninggal maka tidak ada asalnya. (<em>Majmu Fatawa Syeikh Bin Baz </em>13/280)</span></p>
<p><span>Antum bisa melakukan amalan lain yang ada dalilnya seperti mendoakan ampunan baginya, bershadaqah untuknya.</span></p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mengqhodo sholat untuk orang yang meninggal</strong>, <strong>amalan</strong>, <strong>puasa</strong>, <strong>hukum mengqadha shalat untuk orang mati</strong>, <strong>mengqodo sholat tarawih</strong>, <strong>kewajiban qodho sholat bagi orang mati</strong>, <strong>hutang</strong>, <strong>meninggalkan sholat</strong>, <strong>mengqodho sholat orang yang meninggal</strong>, <strong>haji</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengqadha-sholat-bagi-orang-yang-meninggal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa yang Dilakukan Ketika Orang Mau Meninggal?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apa-yang-dilakukan-ketika-orang-mau-meninggal</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apa-yang-dilakukan-ketika-orang-mau-meninggal#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 04:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[sakaratul maut]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=802</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamualaikum, Ustadz, ana mau tanya apakah ada amalan yang harus kami lakukan terhadap nenek kami yang sudah berumur 80 tahun dan sekarang sedang kritis, selama seminggu ini cucu2nya menuntun membacakan &#8220;Laa illaha illallah&#8221; dan membacakan Al-Quran,kami semua sudah ikhlas ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya: </strong></p>
<p>Assalamualaikum, Ustadz, ana mau tanya apakah ada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> yang harus kami lakukan terhadap nenek kami yang sudah berumur 80 tahun dan sekarang sedang kritis, selama seminggu ini cucu2nya menuntun membacakan &#8220;Laa illaha illallah&#8221; dan membacakan Al-Quran,kami semua sudah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ikhlas" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ikhlas">ikhlas</a> dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> apa lagi yang harus kami perbuat untuk nenek kami? Mohon penjelasan. Wassalamualaikum</p>
<p>(Abu Panji)</p>
<p><strong>Jawab: </strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu</em>. Semoga Allah memberikan kita semua husnul khathimah.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama:</span><br />
Jika memungkinkan hendaknya keluarga menasehati beliau untuk memperbanyak taubat, istighfar, bersabar, menerima takdir, dan berbaik sangka kepada Allah, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن بالله الظن</p>
<p><em>&#8220;Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal kecuali berbaik sangka kepada Allah.&#8221; </em>(HR. Muslim, dari Jabir bin Abdillah Al-Anshary)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kedua: </span><br />
Hendaknya kalau beliau memiliki kewajiban kepada seseorang segera menunaikan kewajiban tersebut (seperti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hutang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hutang">hutang</a>, amanat dll), kalau tidak mungkin maka hendaklah beliau berwasiat.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Ketiga:</span><br />
Sebisa mungkin ada diantara keluarga yang menjaga beliau, sehingga jika sewaktu-waktu beliau mau meninggal ada yang mentalqin (menyuruh atau meminta membaca laa ilaha illallahu).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لقنوا موتاكم لا إله إلا الله<br />
<em></em></p>
<p><em>&#8220;Talqinlah (tuntunlah) orang yang mau meninggal (untuk mengucapkan) Laa ilaaha illallah.&#8221; </em>(HR. Muslim, dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudry)</p>
<p>Beliau <em>shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda :</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang ucapan terakhirnya &#8220;laa ilaaha illallah&#8221; maka akan masuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>.&#8221; </em>(HR. Abu Dawud, dari Mua&#8217;dz bin Jabal, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Keempat:</span><br />
Banyak mendoakan dengan husnul khathimah khususnya ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sakaratul-maut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sakaratul maut">sakaratul maut</a> dan tidak mengucapkan ppada saat itu kecuali ucapan yang baik.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إذا حضرتم المريض أو الميت فقولوا خيرا فإن الملائكة يؤمنون على ما تقولون</p>
<p><em>&#8220;Apabila kalian menghadiri orang yang sakit atau orang yang mau meninggal maka ucapkanlah ucapan yang baik, karena sesungguhnya malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan.&#8221; </em>(HR. Muslim, dari Ummu Salamah)</p>
<p>Adapun membaca Al-Quran atau surat Yasin ketika orang mau meninggal maka tidak ada hadist yang shahih tentangnya.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>sakaratul maut</strong>, <strong>sabar</strong>, <strong>amalan</strong>, <strong>hutang</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>ikhlas</strong>, <strong>surga</strong>, <strong>doa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apa-yang-dilakukan-ketika-orang-mau-meninggal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/324 queries in 0.093 seconds using disk: basic
Object Caching 43914/44455 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-08 11:19:11 -->
