<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Makanan</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/makanan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 02:42:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Halalkah Memakan Kalong (Kelelawar)?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/makan-kekelawar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/makan-kekelawar#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 06:20:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8863</guid>
		<description><![CDATA[Halalkah Memakan Kalong (Kelelawar)? Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Saya seorang yang sangat hobi sekali berburu dengan menggunakan senapan angin. Untuk menyalurkan hobi saya itu, seringkali saya berburu kelelawar dan lutung. Karena setahu saya kedua jenis binatang tersebut bukan pemakan daging dan bukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Halalkah Memakan Kalong (Kelelawar)?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum<br />
Saya seorang yang sangat hobi sekali berburu dengan menggunakan senapan angin. Untuk menyalurkan hobi saya itu, seringkali saya berburu <strong>kelelawar</strong> dan lutung. Karena setahu saya kedua jenis binatang tersebut bukan pemakan daging dan bukan pula binatang buas, halalkah daging buruan saya itu?<br />
<em>Jazakumullah khairan</em> atas jawaban ustadz.</p>
<p>Dari: Rachmat<br />
<span id="more-8863"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam,</em></p>
<h3><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Makan Kelelawar</h3>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang hukum memakan kelelawar. Ada tiga pendapat utama dalam hal ini:</p>
<ol>
<li> Madzhab Syafi&#8217;i dan Hambali mengharamkan memakan kelelawar.</li>
<li>Madzhab Maliki menyatakan hukumnya makruh dan tidak sampai haram, namun bukan sesuatu yang mubah untuk dikonsumsi.</li>
<li>Sementara para ulama dari Madzhab Hanafi berselisih pendapat, ada yang menyatakan halal dan ada yang berpendapat tidak halal.</li>
</ol>
<p>Imam Ibnu Qudamah dalam <em>Al-Mughni</em> menukil keterangan ulama sebelumnya, An-Nakha&#8217;i mengatakan, &#8220;Semua burung halal, kecuali kelelawar&#8230; hewan ini haram karena menjijikkan, bukan termasuk hewan yang <em>thayib</em> menurut masyarakat Arab, dan merekapun tidak memakannya.&#8221;</p>
<p>Sementara Imam An-Nawawi dalam <em>Al-Majmu&#8217; Syarh Muhadzab</em> menyatakan, “Kelelawar haram, sementara Ar-Rafi&#8217;i mengatakan, &#8216;Sebenarnya terdapat perbedaan dalam hal ini&#8217;.”<br />
Demikian kesimpulan dari <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, no.103303</p>
<p><em>InsyaAllah,</em> pendapat ulama yang menganggap tidak halalnya kelelawar lebih mendekati kebenaran. Di antara dalil yang menguatkan haramnya kelelawar keterangan sahabat, Abdullah bin Amr <em>radhiallahu&#8217;anhuma</em>, bahwa beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">لا تقتلوا الضفادع فإن نقيقها تسبيح ولا تقتلوا الخفاش فإنه لما خرب بيت المقدس قال يا رب سلطني على البحر حتى أغرقهم</p>
<p><em>“Janganlah kalian membunuh katak, karena suaranya adalah tasbih. Janganlah membunuh kelelawar, karena ketika baitul Maqdis dirobohkan, dia berdoa, &#8216;Ya Allah, berikanlah aku kekuasaan untuk mengatur lautan, sehingga aku bisa menenggelamkan mereka (orang yang merobohkan baitul maqdis)&#8217;.”</em> (Riwayat Al-Baihaqi, no. 19166. Al-baihaqi mengatakan, Keterangan ini <em>mauquf</em> (keterangan sahabat), dan sanadnya sahih).</p>
<p>Setelah menyebutkan hadis tersebut, Imam Al-Baihaqi menyatakan,</p>
<p class="arab">والذي نهى عن قتله يحرم أكله إذ لو كان حلالا لأمر بذبحه ولما نهى عنه كما لم ينه عن قتل ما يحل ذبحه وأكله والله أعلم</p>
<p>“Binatang yang dilarang untuk dibunuh haram untuk dimakan. Karena jika hewan itu halal, tentunya akan diperintahkan untuk disembelih dan tidak dilarang untuk dibunuh, sebagaimana binatang lainnya yang halal dikonsumsi. <em>Allahu a&#8217;lam</em>” (Sunan Baihaqi, keterangan riwayat no. 19166).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsulatasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.KonsulatasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsulatasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-daging-tupai">Hukum Makan Tupai</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting">Hukum Makan Kepiting</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memelihara-hamster">Hukum Memelihara Hamster</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-kopi-luwak">Jual Beli Kopi Luwak</a>.</p>
<p>5. <a rel="nofollow" href="../usaha-jual-beli-ternak-landak" target="_blank">Jual Beli Landak</a>.</p>
<p>Keyword: kelelawar, obat kelelawar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/makan-kekelawar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar ASI dan Bank ASI</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/seputar-asi-dan-bank-asi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/seputar-asi-dan-bank-asi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 06:01:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[asi]]></category>
		<category><![CDATA[asi exklusif]]></category>
		<category><![CDATA[bank asi]]></category>
		<category><![CDATA[minum asi]]></category>
		<category><![CDATA[suami minum ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7906</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan seputar ASI dan Bank ASI: Assalamu&#8217;alaikum ustadz. Dalam darah Istri saya yang sedang hamil terdeteksi adanya virus HTLV-1. Virus ini dapat menular melalui ASI. pertanyaannya, apakah istri tetap harus menunaikan kewajiban memberi ASI atau boleh dengan susu formula? bagaimana ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pertanyaan seputar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/asi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with asi">ASI</a> dan Bank <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/asi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with asi">ASI</a>:</h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em> ustadz. Dalam darah Istri saya yang sedang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a> terdeteksi adanya virus HTLV-1. Virus ini dapat menular melalui <strong>ASI</strong>. pertanyaannya, apakah istri tetap harus menunaikan kewajiban memberi <strong>ASI</strong> atau boleh dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/susu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with susu">susu</a> formula? <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> juga <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> menyusukan kpd nenek bayi? lalu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> menggunakan <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank-asi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank asi">Bank ASI</a></strong>?</p>
<p><em>Abu abdullah (nmXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7906"></span></p>
<h3>Jawaban hukum seputar ASI dan Bank ASI:</h3>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p>1. Jika bisa dipastikan virus itu membahayakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> Anda maka Ibu boleh untuk tidak memberi ASI anaknya. Selanjutnya bisa diganti dengan susu formula.</p>
<p>2. Tentang Bank <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-suami-meminum-susu-isteri" target="_blank">ASI</a><br />
Dalam situs <em>islamqa.com</em>, terdapat pertanyaan tentang hukum Bank ASI. Kemudian Syaikh Shaleh Munajed menukil jawaban Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin <em>rahimahullah</em>,</p>
<p>&#8220;Haram. Tidak boleh membuat bank dengan bentuk penampungan semacam ini. Selama susu yang ditampung adalah susu manusia. Karena akan bercampur semua susu wanita, sehingga tidak diketahui siapakah ibu susuannya. Sementara syariat islam menjadikan hubungan susuan sebagaimana hubungan nasab. Adapun jika yang sitampung adalah susu selain manusia, maka tidak jadi masalah.<br />
Allahu a&#8217;lam.&#8221; (<em>www.islam-qa.com</em>)</p>
<p><em>Majma&#8217; Fiqh Islam</em>, Majlis penelitian di bawah koordinasi <strong>OKI</strong> dalam Mukatamar Islam yang diadakan di Jeddah pada tanggal 22 – 28 Desember 1985 membuat keputusan;</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Setelah dipaparkan penjelasan secara fikih dan penjelasan secara ilmu kedokteran tentang Bank ASI, dan setelah mempelajari pemaparan dari masing-masing bidang disiplin ilmu, dan diskusi yang melibatkan berbagai sudut pandang, maka disimpulkan bahwa:</em><br />
<em> Bank ASI telah diuji cobakan di masyarakat barat. Namun muncul beberapa hal negatif, dari sisi teknis dan ilmiah dalam uji coba ini, sehingga mengalami penyusutan dan kurang mendapatkan perhatian.</em></p>
<p><em>Syariat islam menjadikan hubungan persusuan sebagaimana hubungan nasab. Orang bisa menjadi mahram dengan persusuan sebagaimana status mahram karena hubungan nasab, dengan sepakat ulama. Kemudian, diantara tujuan syariah adalah menjaga nasab. Sementara Bank ASI menyebabkan tercampurnya nasab atau menimbulkan banyak keraguan nasab.</em><br />
<em> </em></p>
<p><em>Interaksi sosial di masyarakat islam masih memungkinkan untuk mempersusukan anak kepada wanita lain secara alami. Keadaan ini menunjukkan tidak perlunya Bank ASI.&#8221;</em></p></blockquote>
<p><strong>Berdasarkan kesimpulan di atas maka diputuskan:</strong></p>
<ol>
<li>Terlarangnya mengadakan Bank ASI untuk para wanita di tengah masyarakat islam.</li>
<li>Haramnya menyusukan anak di <strong>Bank ASI</strong>.</li>
</ol>
<p>Teks dalam bahasa arab ada <a rel="nofollow" href="http://www.saaid.net/Doat/Zugail/index.htm" target="_blank"><strong>di sini</strong></a></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel penting dalam rumah tangga: <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-suami-meminum-susu-isteri" target="_blank">Hukum Suami Meminum ASI.</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>minum asi</strong>, <strong>asi exklusif</strong>, <strong>suami minum ASI</strong>, <strong>asi</strong>, <strong>bank asi</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/seputar-asi-dan-bank-asi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Makan Kepiting</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 07:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kepiting]]></category>
		<category><![CDATA[ikan laut]]></category>
		<category><![CDATA[makan kepiting]]></category>
		<category><![CDATA[makhluk laut]]></category>
		<category><![CDATA[masak kepiting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7881</guid>
		<description><![CDATA[Makan kepiting haram atau halal ? Pertanyaan, &#8220;Apa hukumnya makan kepiting?&#8221; Abdillah (bembXXXXXX@gmail.com) Makan Kepiting Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du.. Hukum asal semua binatang laut adalah halal. Sebagaimana firman Allah, أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/makan-kepiting" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with makan kepiting">Makan kepiting</a> haram atau halal ?</h2>
<p>Pertanyaan, &#8220;Apa hukumnya <strong>makan kepiting</strong>?&#8221;</p>
<p><em>Abdillah (bembXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-7881"></span></p>
<h3>Makan Kepiting</h3>
<p><em>Alhamdulillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du..</em><br />
<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> asal semua binatang laut adalah halal. Sebagaimana firman Allah,</p>
<p class="arab">أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ</p>
<p><em>“Dihalalkan bagi kalian untuk memburu hewan laut (ketika ihram) dan bangkai hewannya, sebagai kenikmatan bagi kalian dan sebagai (bekal) bagi para musafir&#8230;”</em> (Q.s. Al-Maidah: 96)</p>
<p>Imam Bukhari menyebutkan satu riwayat dari beberapa sahabat:<br />
Abu Bakr <em>radliallahu &#8216;anhu</em> mengatakan, “Bangkai ikan halal.” Ibn Abbas mengatakan: “Yang dimaksud kata &#8216;<strong><em>tha&#8217;amuhu</em></strong>&#8216; = bangkainya, kecuali yang kotor.” Syuraih – salah seorang sahabat – mengatakan, “Segala sesuatu yang di laut, (jika mati) sudah (dianggap) disembelih.” (<em>Shahih Bukhari</em>, 5/2091)</p>
<p>Dalil lain adalah sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika ditanya tentang hukum <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wudhu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wudhu">wudhu</a> dengan air laut, beliau menjawab,</p>
<p class="arab">هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ</p>
<p><em>“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.”</em> (H.r. Turmudzi 69, Abu Daud 83 dan dishahihkan Al-Albani dalam <em>Al-Irwa&#8217;</em>, 1/42)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda, “<em>Apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya maka itu halal, dan apa yang Dia haramkan maka itu haram. Adapun benda yang didiamkan (tidak dijelaskan hukumnya) maka itu adalah ampunan, karena itu terimalah ampunan dari Allah. Karena Allah tidak lupa.” </em>(H.r. Baihaqi 20216 dan dishahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah 2256)</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas maka makan udang, <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-kepiting" target="_blank">kepiting</a>, semuanya adalah halal dan tidak ada halangan, berdasarkan keumuman dalil yang menunjukkan bolehkan makan hewan buruan laut. Namun jika hewannya beracun atau bisa membahayakan bagi orang yang mengkonsumsinya maka hukumnya haram, karena makan hewan ini berbahaya bukan karena haram zatnya.</p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>http://www.islamqa.com/ar/ref/126343</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina<a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com"> Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel terkait: <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-kepiting" target="_blank">Apa Hukum Makan Kepiting?</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>makan kepiting</strong>, <strong>makhluk laut</strong>, <strong>hukum kepiting</strong>, <strong>ikan laut</strong>, <strong>masak kepiting</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-kepiting/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakan Lele dengan Ayam Tiren</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pakan-lele-dengan-ayam-tiren</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pakan-lele-dengan-ayam-tiren#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Sep 2011 01:43:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7547</guid>
		<description><![CDATA[Pakan lele dengan ayam tiren Assalamu &#8216;alaykum, Ustadz. Saya mau tanya tentang hukum memberi pakan lele (pembibitan) dengan ayam tiren (ayam yang sudah mati). Nurkhasin (gendow**@***.com) Jawaban pakan lele dengan ayam tiren: Wa&#8217;alaikumussalam. 1. Disebutkan dalam riwayat bahwa ketika Nabi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pakan lele dengan ayam tiren</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaykum</em>, Ustadz. Saya mau tanya tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> memberi <strong>pakan lele</strong> (pembibitan) dengan ayam tiren (ayam yang sudah mati).</p>
<h3><em>Nurkhasin (gendow**@***.com)</em><br />
<span id="more-7547"></span><br />
Jawaban pakan lele dengan ayam tiren<strong>:</strong></h3>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>1. Disebutkan dalam riwayat bahwa ketika Nabi<em> shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berangkat menuju perang Tabuk bersama para sahabat, beliau dan rombongan melewati sebuah lembah yang bernama Al-Hijr. Lembah ini dahulunya adalah daerah tempat tinggal kaum Tsamud, kaum Nabi Shaleh. Kaum ini dihancurkan Allah karena kekufurannya. Ketika melewati tempat tersebut, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang para sahabat untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> air di lembah tersebut, baik untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wudhu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wudhu">wudhu</a> maupun untuk diminum. Namun, sudah ada sebagian sahabat yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> air tersebut dan dipakai untuk mengencerkan adonan. Kemudian, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan agar adonan tersebut diberikan kepada unta. Kisah ini ada di buku <em>Ar-Rahiqum Makhtum</em> (Sirah Nabawi) karya Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri.</p>
<p>Dari kisah ini bisa diambil kesimpulan bahwa makanan yang haram bagi manusia, boleh diberikan kepada binatang. Dengan demikian, darah yang haram tersebut boleh diberikan kepada lele.</p>
<p>2. Hewan yang makan bangkai, kotoran, atau benda najis <a href="http://konsultasisyariah.com/makanan-yang-telah-tersentuh-cicak" target="_blank">lainnya</a>.</p>
<p>Hewan yang diberi makan dengan kotoran, bangkai, darah, dan semacamnya disebut &#8220;<em>jalalah</em>&#8220;. Hewan &#8220;<em>jalalah</em>&#8221; itu haram dimakan, berdasarkan hadis dari Ibnu Umar, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang makan daging hewan<em> jalalah</em>. (Hr. Abu Daud dan yang lainnya; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p>Status keharaman <em>jalalah</em> tidak permanen. Jalalah bisa menjadi halal jika dikarantina dan diberi makanan yang baik, selama beberapa hari, sampai kira-kira pengaruh makanan yang kotor dalam diri hewan tersebut berkurang atau hilang. Ibnu Umar mengarantina ayam jalalah (ayam yang makan kotoran) selama 3 hari, kemudian beliau menyembelihnya. (<em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, 5:447)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pakan-lele-dengan-ayam-tiren/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kadar Zakat Fitrah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kadar-zakat-fitrah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kadar-zakat-fitrah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 03:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[picture]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7069</guid>
		<description><![CDATA[Kadar zakat fitrah per orang Assalamu &#8216;alaikum. Saya ingin menanyakan berapa kilogram beras untuk kadar zakat fitrah per orangnya? Kalau dalam hitungan liter, berapa? Wassalamu &#8216;alaikum. Bambang Aries Wahyudi (bambang**@yahoo.***) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu &#8216;anhu; beliau mengatakan, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kadar-zakat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kadar zakat">Kadar zakat</a> fitrah per orang<strong><br />
</strong></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Saya ingin menanyakan berapa kilogram beras untuk <strong>kadar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a></strong> fitrah per orangnya? Kalau dalam hitungan liter, berapa? <em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><em>Bambang Aries Wahyudi (bambang**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-7069"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Dari Abdullah bin Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>; beliau mengatakan, “<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mewajibkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-fitri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat fitri">zakat fitri</a>, berupa satu sha’ kurma kering atau gandum kering &#8230;.</em>” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalam hadis ini, disebutkan secara tegas bahwa <span style="text-decoration: underline;">kadar zakat</span> fitri adalah satu <em>sha’</em>.</p>
<p><strong>Apa itu <em>sha’</em>?</strong></p>
<p><em>Sha’</em> adalah ukuran takaran bukan timbangan. Ukuran takaran “<em>sha’</em>” yang berlaku di zaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah ukuran takaran masyarakat Madinah. Besarnya adalah empat <em>mud</em>. Satu <em>mud</em> adalah besar cakupan penuh dua telapak tangan ukuran normal yang digabungkan. Dengan demikian, satu sha’ adalah empat kali cakupan penuh dua telapak tangan ukuran normal yang digabungkan.</p>
<p>Mengingat <em>sha’</em> adalah ukuran <strong>takaran</strong> maka umumnya ukuran ini sulit untuk disetarakan (dikonversi) ke dalam ukuran berat karena nilai berat satu <em>sha’</em> itu berbeda-beda tergantung benda yang ditakar. Satu <em>sha’</em> tepung memiliki berat yang tidaklah sama dengan berat satu <em>sha’</em> beras. Oleh karena itu, yang ideal, ukuran zakat fitri itu berdasarkan takaran bukan berdasarkan timbangan.</p>
<p>Namun, alhamdulillah, melalui kajian para ulama, Allah memudahkan kita untuk masalah ini. Para ulama (<em>Lajnah Daimah</em>, no. fatwa: 12572) telah melakukan penelitian bahwa satu <em>sha’</em> untuk beras dan gandum beratnya kurang lebih 3 kg.</p>
<h3>Ringkasan kadar zakat:</h3>
<ul>
<li>1 <em>sha&#8217;</em> = 4 <em>mud</em></li>
<li><em></em>1 <em>mud</em> = cakupan penuh dua telapak tangan ukuran normal yang digabungkan</li>
<li>1 <em>sha&#8217;</em> = 4 kali cakupan penuh dua telapak tangan ukuran normal yang digabungkan</li>
<li>1 <em>sha&#8217;</em> beras kurang lebih setara dengan 3 kg beras.</li>
<li>1 <em>sha&#8217;</em> gandum kurang lebih setara dengan 3 kg gandum.</li>
</ul>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p><strong>Penjelasan yang memudahkan Anda</strong>: <a title="Zakat Fitrah dengan Uang, Bolehkah?" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang" target="_blank">Kadar zakat</a> fitri, <a title="Doa Zakat Fitrah" href="http://konsultasisyariah.com/doa-zakat-fitrah" target="_blank">kadar zakat</a> fitrah, cara mudah menghitung kadar zakat fitri, dst.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>uang zakat</strong>, <strong>&quot;zakat fitrah&quot;</strong>, <strong>sedekah</strong>, <strong>kadar zakat</strong>, <strong>picture</strong>, <strong>zakat fitri</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kadar-zakat-fitrah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat Fitrah dengan Uang, Bolehkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 07:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>
		<category><![CDATA["zakat fitrah"]]></category>
		<category><![CDATA[kadar zakat]]></category>
		<category><![CDATA[picture]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7001</guid>
		<description><![CDATA[Mengganti zakat fitrah (zakat fitri) dengan uang Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, bagaimana jika saya membayar zakat fitrah dengan uang, bukan dengan makanan pokok? Apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam? Jazakallahu khairan. Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam. Masalah ini termasuk kajian yang banyak menjadi tema ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Mengganti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a> fitrah (<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a> fitri) dengan uang</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Ustadz, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> jika saya membayar <strong>zakat fitrah</strong> dengan uang, bukan dengan makanan pokok? Apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam? <em>Jazakallahu khairan</em>.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Masalah ini termasuk kajian yang banyak menjadi tema pembahasan di beberapa kalangan dan kelompok yang memiliki semangat dalam dunia Islam. Tak heran, jika kemudian pembahasan ini meninggalkan perbedaan pendapat.</p>
<p>Sebagian melarang pembayaran zakat <span style="text-decoration: underline;">fitrah dengan uang</span> secara mutlak, sebagian memperbolehkan zakat fitrah dengan uang tetapi dengan bersyarat, dan sebagian lain memperbolehkan<strong> zakat fitrah </strong>dengan uang tanpa syarat. Yang menjadi masalah adalah sikap yang dilakukan orang awam. Umumnya, pemilihan pendapat yang paling kuat menurut mereka, lebih banyak didasari logika sederhana dan jauh dari ketundukan terhadap dalil. Jauhnya seseorang dari ilmu agama menyebabkan dirinya begitu mudah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> keputusan dalam peribadahan yang mereka lakukan. Seringnya, orang terjerumus ke dalam <em>qiyas</em> (analogi), padahal sudah ada dalil yang tegas.</p>
<p>Uraian ini bukanlah dalam rangka menghakimi dan memberi kata putus untuk perselisihan pendapat tersebut. Namun, ulasan ini tidak lebih dari sebatas bentuk upaya untuk mewujudkan penjagaan terhadap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">sunah</a> Nabi dan dalam rangka menerapkan firman Allah, yang artinya, “<em>Jika kalian berselisih pendapat dalam masalah apa pun maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir</em>.” (Q.s. An-Nisa’:59)</p>
<p>Allah menegaskan bahwa siapa saja yang mengaku beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka setiap ada masalah, dia wajib mengembalikan permasalahan tersebut kepada Alquran dan <em>As-Sunnah</em>. Siapa saja yang tidak bersikap demikian, berarti ada masalah terhadap imannya kepada Allah dan hari akhir.</p>
<p>Pada penjelasan ini, terlebih dahulu akan disebutkan perselisihan pendapat ulama, kemudian di-<em>tarjih</em> (dipilihnya pendapat yang lebih kuat). Pada kesempatan ini, Penulis akan lebih banyak mengambil faidah dari risalah <em>Ahkam Zakat Fitri</em>, karya Nida’ Abu Ahmad.</p>
<h3>Perselisihan ulama &#8220;zakat fitrah dengan uang&#8221;<strong><br />
</strong></h3>
<p>Terdapat dua pendapat ulama dalam masalah ini (zakat fitrah dengan uang). Pendapat pertama, memperbolehkan pembayaran zakat fitri (zakat fitrah) menggunakan mata uang. Pendapat kedua, melarang pembayaran zakat fitri menggunakan mata uang. Permasalahannya kembali kepada status zakat fitri. <strong>Apakah status <a title="Zakat Fitrah vs Zakat Fitri" href="http://konsultasisyariah.com/istilah-zakat-fitrah-dan-zakat-fitri" target="_blank">zakat fitri</a> (zakat fitrah) itu sebagaimana zakat harta ataukah statusnya sebagai zakat badan?</strong></p>
<p>Jika statusnya sebagaimana zakat harta maka prosedur pembayarannya sebagaimana zakat harta perdagangan. Pembayaran zakat perdagangan tidak menggunakan benda yang diperdagangkan, namun menggunakan uang yang senilai dengan zakat yang dibayarkan. Sebagaimana juga zakat emas dan perak, pembayarannya tidak harus menggunakan emas atau perak, namun boleh menggunakan mata uang yang senilai.</p>
<p>Sebaliknya, jika status zakat fitri (zakat fitrah) ini sebagaimana zakat badan maka prosedur pembayarannya mengikuti prosedur pembayaran <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafarah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafarah">kafarah</a> untuk semua jenis pelanggaran. Penyebab adanya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafarah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafarah">kafarah</a> ini adalah adanya pelanggaran yang dilakukan oleh badan, bukan kewajiban karena harta. Pembayaran <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafarah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafarah">kafarah</a> harus menggunakan sesuatu yang telah ditetapkan, dan tidak boleh menggunakan selain yang ditetapkan.</p>
<p>Jika seseorang membayar kafarah dengan selain ketentuan yang ditetapkan maka kewajibannya untuk membayar kafarah belum gugur dan harus diulangi. Misalnya, seseorang melakukan pelanggaran berupa hubungan suami-istri di siang hari bulan Ramadan, tanpa alasan yang dibenarkan. Kafarah untuk pelanggaran ini adalah membebaskan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a>, atau puasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang fakir miskin, dengan urutan sebagaimana yang disebutkan. Seseorang tidak boleh membayar kafarah dengan menyedekahkan uang seharga <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a>, jika dia tidak menemukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a>. Demikian pula, dia tidak boleh berpuasa tiga bulan namun putus-putus (tidak berturut-turut). Juga, tidak boleh memberi uang Rp. 5.000 kepada 60 fakir miskin. Mengapa demikian? Karena kafarah harus dibayarkan persis sebagaimana yang ditetapkan.</p>
<h3>Di manakah posisi zakat fitri (zakat fitrah)?</h3>
<p>Sebagaimana yang dijelaskan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah bahwasanya zakat fitri (zakat fitrah) itu mengikuti prosedur kafarah <strong>karena zakat fitri (zakat fitrah) adalah zakat badan, bukan zakat harta</strong>. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa zakat fitri adalah zakat badan &#8211;bukan zakat harta&#8211; adalah pernyataan Ibnu Abbas dan Ibnu Umar <em>radhiallahu ‘anhuma</em> tentang zakat fitri.</p>
<p>Ibnu Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, “<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, &#8230; bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa &#8230;.</em>” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, <em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri (zakat fitrah), sebagai penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa dan perbuatan atau ucapan jorok &#8230;.”</em>(H.r. Abu Daud; dinilai<em> hasan</em> oleh Syekh Al-Albani)</p>
<p>Dua riwayat ini menunjukkan bahwasanya zakat fitri berstatus sebagai zakat badan, bukan zakat harta. Berikut ini adalah beberapa alasannya:</p>
<ol>
<li>Adanya kewajiban zakat bagi anak-anak, budak, dan wanita. Padahal, mereka adalah orang-orang yang umumnya tidak memiliki harta. Terutama budak; seluruh jasad dan hartanya adalah milik tuannya. Jika zakat fitri merupakan kewajiban karena harta maka tidak mungkin orang yang sama sekali tidak memiliki harta diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya.</li>
<li>Salah satu fungsi zakat adalah penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa serta perbuatan atau ucapan jorok. Fungsi ini menunjukkan bahwa zakat fitri berstatus sebagaimana kafarah untuk kekurangan puasa seseorang.</li>
</ol>
<h3>Apa konsekuensi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> jika zakat fitri (zakat fitrah) berstatus sebagaimana kafarah?</h3>
<p>Ada dua konsekuensi hukum ketika status zakat fitri itu sebagaimana kafarah:</p>
<ol>
<li>Harus dibayarkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan yaitu bahan makanan.</li>
<li>Harus diberikan kepada orang yang membutuhkan untuk menutupi hajat hidup mereka, yaitu fakir miskin. Dengan demikian, zakat fitri tidak boleh diberikan kepada amil, mualaf, budak, masjid, dan golongan lainnya. (lihat <em>Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam</em>, 25:73)</li>
</ol>
<p>Sebagai tambahan wacana, berikut ini kami sebutkan perselisihan ulama dalam masalah ini.</p>
<p><strong>Pendapat yang membolehkan pembayaran zakat fitri dengan uang</strong></p>
<p>Ulama yang berpendapat demikian adalah Umar bin Abdul Aziz, Al-Hasan Al-Bashri, Atha’, Ats-Tsauri, dan Abu Hanifah.</p>
<p>Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwa beliau mengatakan, “Tidak mengapa memberikan zakat fitri dengan dirham.”</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Ishaq; beliau mengatakan, “Aku menjumpai mereka (Al-Hasan dan Umar bin Abdul Aziz) sementara mereka sedang menunaikan zakat Ramadan (zakat fitri) dengan beberapa dirham yang senilai bahan makanan.”</p>
<p>Diriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah, bahwa beliau menunaikan zakat fitri dengan <em>waraq</em> (dirham dari perak).</p>
<h4>Pendapat yang melarang pembayaran zakat fitri (zakat fitrah) dengan uang</h4>
<p>Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama. Mereka mewajibkan pembayaran zakat fitri menggunakan bahan makanan dan melarang membayar zakat dengan mata uang. Di antara ulama yang berpegang pada pendapat ini adalah Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad. Bahkan, Imam Malik dan Imam Ahmad secara tegas menganggap tidak sah jika membayar zakat fitri mengunakan mata uang. Berikut ini nukilan perkataan mereka.</p>
<p><strong>Perkataan Imam Malik</strong></p>
<p>Imam Malik mengatakan, “Tidak sah jika seseorang membayar zakat fitri dengan mata uang apa pun. Tidak demikian yang diperintahkan Nabi.” (<em>Al-Mudawwanah Syahnun</em>)</p>
<p>Imam Malik juga mengatakan, “Wajib menunaikan zakat fitri senilai satu <em>sha’</em> bahan makanan yang umum di negeri tersebut pada tahun itu (tahun pembayaran zakat fitri).” (<em>Ad-Din Al-Khash</em>)</p>
<p><strong>Perkataan Imam Asy-Syafi’i</strong></p>
<p>Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Penunaian zakat fitri wajib dalam bentuk satu <em>sha’</em> dari umumnya bahan makanan di negeri tersebut pada tahun tersebut.” (<em>Ad-Din Al-Khash</em>)</p>
<p><strong>Perkataan Imam Ahmad</strong></p>
<p>Al-Khiraqi mengatakan, “Siapa saja yang menunaikan zakat menggunakan mata uang maka zakatnya tidak sah.” (<em>Al-Mughni</em>, Ibnu Qudamah)</p>
<p>Abu Daud mengatakan, “Imam Ahmad ditanya tentang pembayaran zakat mengunakan dirham. Beliau menjawab, “Aku khawatir zakatnya tidak diterima karena menyelisihi sunah Rasulullah.” (<em>Masail Abdullah bin Imam Ahmad</em>; dinukil dalam Al-Mughni, 2:671)</p>
<p>Dari Abu Thalib, bahwasanya Imam Ahmad kepadaku, “Tidak boleh memberikan zakat fitri dengan nilai mata uang.” Kemudian ada orang yang berkomentar kepada Imam Ahmad, “Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz membayar zakat menggunakan mata uang.” Imam Ahmad marah dengan mengatakan, “Mereka meninggalkan hadis Nabi dan berpendapat dengan perkataan Fulan. Padahal Abdullah bin Umar mengatakan, &#8216;Rasulullah mewajibkan zakat fitri satu <em>sha’</em> kurma atau satu <em>sha’</em> gandum.&#8217; Allah juga berfirman, &#8216;<em>Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul</em>.&#8217; Ada beberapa orang yang menolak sunah dan mengatakan, &#8216;Fulan ini berkata demikian, Fulan itu berkata demikian.” (<em>Al-Mughni</em>, Ibnu Qudamah, 2:671)</p>
<p>Zahir mazhab Imam Ahmad, beliau berpendapat bahwa pembayaran zakat fitri dengan nilai mata uang itu tidak sah.</p>
<p>Beberapa perkataan ulama lain:</p>
<ul>
<li>Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Allah mewajibkan pembayaran zakat fitri dengan bahan makanan sebagaimana Allah mewajibkan pembayaran kafarah  dengan bahan makanan.” (<em>Majmu’ Fatawa</em>)</li>
<li>Taqiyuddin Al-Husaini Asy-Syafi’i, penulis kitab Kifayatul Akhyar (kitab fikih Mazhab Syafi’i) mengatakan, “Syarat sah pembayaran zakat fitri harus berupa biji (bahan makanan); tidak sah menggunakan mata uang, tanpa ada perselisihan dalam masalah ini.” (<em>Kifayatul Akhyar</em>, 1:195)</li>
<li>An-Nawawi mengatakan, “Ishaq dan Abu Tsaur berpendapat bahwa tidak boleh membayar zakat fitri menggunakan uang kecuali dalam keadaan darurat.” (<em>Al-Majmu’</em>)</li>
<li>An-Nawawi mengatakan, “Tidak sah membayar zakat fitri dengan mata uang menurut mazhab kami. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Malik, Ahmad, dan Ibnul Mundzir.” (<em>Al-Majmu’</em>)</li>
<li>Asy-Syairazi Asy-Syafi’i mengatakan, “Tidak boleh menggunakan nilai mata uang untuk zakat karena kebenaran adalah milik Allah. Allah telah mengkaitkan zakat sebagaimana yang Dia tegaskan (dalam firman-Nya), maka tidak boleh mengganti hal itu dengan selainnya. <strong>Sebagaimana berkurban, ketika Allah kaitkan hal ini dengan binatang ternak, maka tidak boleh menggantinya dengan selain binatang ternak</strong>.” (<em>Al-Majmu’</em>)</li>
<li>Ibnu Hazm mengatakan, “Tidak boleh menggunakan uang yang senilai (dengan zakat) sama sekali. Juga, tidak boleh mengeluarkan satu <em>sha’</em> campuran dari beberapa bahan makanan, sebagian gandum dan sebagian kurma. Tidak sah membayar dengan nilai mata uang sama sekali karena semua itu tidak diwajibkan (diajarkan) Rasulullah.” (<em>Al-Muhalla bi Al-Atsar</em>, 3:860)</li>
<li>Asy-Syaukani berpendapat bahwa tidak boleh menggunakan mata uang kecuali jika tidak memungkinkan membayar zakat dengan bahan makanan.” (<em>As-Sailul Jarar</em>, 2:86)</li>
</ul>
<p>Di antara ulama abad ini yang mewajibkan membayar dengan bahan makanan adalah Syekh Ibnu Baz, Syekh Ibnu Al-Utsaimin, Syekh Abu Bakr Al-Jazairi, dan yang lain. Mereka mengatakan bahwa zakat fitri tidak boleh dibayarkan dengan selain makanan dan tidak boleh menggantinya dengan mata uang, kecuali dalam keadaan darurat, karena tidak terdapat riwayat bahwa Nabi mengganti bahan makanan dengan mata uang. Bahkan tidak dinukil dari seorang pun sahabat bahwa mereka membayar zakat fitri dengan mata uang. (<em>Minhajul Muslim</em>, hlm. 251)</p>
<p><strong>Dalil-dalil masing-masing pihak</strong></p>
<p><strong>Dalil ulama yang membolehkan pembayaran zakat fitri dengan uang:</strong></p>
<ol>
<li>Dalil riwayat yang disampaikan adalah pendapat Umar bin Abdul Aziz dan Al-Hasan Al-Bashri. Sebagian ulama menegaskan bahwa mereka tidak memiliki dalil nash (Alquran, <em>al-hadits</em>, atau perkataan sahabat) dalam masalah ini.</li>
<li><em>Istihsan</em> (menganggap lebih baik). Mereka menganggap mata uang itu lebih baik dan lebih bermanfaat untuk orang miskin daripada bahan makanan.</li>
</ol>
<p><strong>Dalil dan alasan ulama yang melarang pembayaran zakat dengan mata uang:</strong></p>
<p><em><strong>Pertama</strong></em>, riwayat-riwayat yang menegaskan bahwa zakat fitri harus dengan bahan makanan.</p>
<ul>
<li>Dari Abdullah bin Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em>; beliau mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mewajibkan zakat fitri, berupa satu<em> sha’</em> kurma kering atau gandum kering &#8230;.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</li>
<li>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mewajibkan zakat fitri, &#8230; sebagai makanan bagi orang miskin .…” (H.r. Abu Daud; dinilai<em> hasan</em> oleh Syekh Al-Albani)</li>
<li>Dari Abu Said Al-Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em>; beliau mengatakan, “Dahulu, kami menunaikan zakat fitri dengan satu <em>sha</em>’ bahan makanan, satu<em> sha’</em> gandum, satu <em>sha’</em> kurma, satu <em>sha’</em> keju, atau satu <em>sha’</em> anggur kering.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)</li>
<li>Abu Sa’id Al-Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, “Dahulu, di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kami menunaikan zakat fitri dengan satu <em>sha’</em> bahan makanan.” Kemudian Abu Sa’id mengatakan, “Dan makanan kami dulu adalah gandum, anggur kering (<em>zabib</em>), keju (<em>aqith</em>), dan kurma.” (H.r. Al-Bukhari, no. 1439)</li>
<li>Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadan (zakat fitri). Kemudian datanglah seseorang mencuri makanan, lalu aku berhasil menangkapnya &#8230;.”(H.r. Al-Bukhari, no. 2311)</li>
</ul>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>, alasan para ulama yang melarang pembayaran zakat fitri dengan mata uang.</p>
<p><strong>1. Zakat fitri adalah ibadah yang telah ditetapkan ketentuannya.</strong></p>
<blockquote><p><em><strong>Termasuk yang telah ditetapkan dalam masalah zakat fitri adalah jenis, takaran, waktu pelaksanaan, dan tata cara pelaksanaan. Seseorang tidak boleh mengeluarkan zakat fitri selain jenis yang telah ditetapkan, sebagaimana tidak sah membayar zakat di luar waktu yang ditetapkan.</strong></em></p></blockquote>
<p>Imam Al-Haramain Al-Juwaini Asy-Syafi’i mengatakan, “Bagi mazhab kami, sandaran yang dipahami bersama dalam masalah dalil, bahwa zakat termasuk bentuk ibadah kepada Allah. Pelaksanaan semua perkara yang merupakan bentuk ibadah itu mengikuti perintah Allah.” Kemudian beliau membuat permisalan, “Andaikan ada orang yang mengatakan kepada utusannya (wakilnya), ‘Beli pakaian!’ sementara utusan ini tahu bahwa tujuan majikannya adalah berdagang, kemudian utusan ini melihat ada barang yang lebih manfaat bagi majikannya (daripada pakaian), maka sang utusan ini tidak berhak menyelisihi perintah majikannya. Meskipun dia melihat hal itu lebih bermanfaat daripada perintah majikannya . (Jika dalam masalah semacam ini saja wajib ditunaikan sebagaimana amanah yang diberikan,<em> pent.</em>) maka perkara yang Allah wajibkan melalui perintah-Nya tentu lebih layak untuk diikuti.”</p>
<p>Harta yang ada di tangan kita semuanya adalah harta Allah. Posisi manusia hanyalah sebagaimana wakil. Sementara, wakil tidak berhak untuk bertindak di luar batasan yang diperintahkan. Jika Allah memerintahkan kita untuk memberikan makanan kepada fakir miskin, namun kita selaku wakil justru memberikan selain makanan, maka sikap ini termasuk bentuk pelanggaran yang layak untuk mendapatkan hukuman. Dalam masalah ibadah, termasuk zakat, selayaknya kita kembalikan sepenuhnya kepada aturan Allah. Jangan sekali-kali melibatkan campur tangan akal dalam masalah ibadah karena kewajiban kita adalah taat sepenuhnya.</p>
<p>Oleh karena itu, membayar zakat fitri dengan uang berarti menyelisihi ajaran Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana telah diketahui bersama, ibadah yang ditunaikan tanpa sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya adalah ibadah yang tertolak.</p>
<p><strong>2. Di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> sudah ada mata uang dinar dan dirham.</strong></p>
<p>Akan tetapi, yang Nabi praktikkan bersama para sahabat adalah pembayaran zakat fitri menggunakan bahan makanan, bukan menggunakan dinar atau dirham. Padahal beliau adalah orang yang paling memahami kebutuhan umatnya dan yang paling mengasihi fakir miskin. Bahkan, beliaulah paling berbelas kasih kepada seluruh umatnya.</p>
<p>Allah berfirman tentang beliau, yang artinya, “<em>Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat berbelas kasi lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin</em>.” (Q.s. At-Taubah:128)</p>
<blockquote><p><em><strong>Siapakah yang lebih memahami cara untuk mewujudkan belas kasihan melebihi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?</strong></em></p></blockquote>
<p><strong>Disusun oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>zakat fitri</strong>, <strong>uang zakat</strong>, <strong>sedekah</strong>, <strong>&quot;zakat fitrah&quot;</strong>, <strong>kadar zakat</strong>, <strong>picture</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-dengan-uang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membayar Fidyah dengan Bahan Makanan Pokok</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/membayar-fidyah-dengan-uang</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/membayar-fidyah-dengan-uang#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 05:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[fiduah. kafarah]]></category>
		<category><![CDATA[jariyah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[uang zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6641</guid>
		<description><![CDATA[Jika membayar fidyah tidak boleh dengan uang Assalaamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kalau membayar fidyah tidak boleh dengan uang, apakah membayar zakat fitrah juga tidak boleh dengan uang (harus dengan bahan makanan pokok) menurut petunjuk Rasulullah? Jazakumullahu khoiron katsiro. Herbono Utomo ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Jika membayar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/fidyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with fidyah">fidyah</a> tidak boleh dengan uang</strong></h2>
<p><em>Assalaamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>. Kalau <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/membayar-fidyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with membayar fidyah">membayar fidyah</a></strong> tidak boleh dengan uang, apakah membayar <a title="zakat fitrah permasalahan dan solusi" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah" target="_blank"><span style="text-decoration: underline;">zakat fitrah</span></a> juga tidak boleh dengan uang (harus dengan bahan makanan pokok) menurut petunjuk Rasulullah? <em>Jazakumullahu khoiron katsiro</em>.</p>
<h3><em>Herbono Utomo (herbono**@***.com)</em><br />
<span id="more-6641"></span><br />
<strong>Jawaban untuk masalah membayar fidyah dengan uang:<br />
</strong></h3>
<p><em>Alhamdulillah washshalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah.</em></p>
<p>Dalam <em>Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin</em> diuraikan, &#8220;Perlu kita pahami satu kaidah penting, bahwa ketika Allah menyebut dalam Al-Quran dengan lafal &#8216;<em>ith&#8217;am</em>&#8216; (memberi makan) maka kita wajib menunaikannya dalam bentuk bahan makanan. Tentang orang yang tidak mampu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a>, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p>&#8216;<em>Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.</em>&#8216; (Q.s. Al-Baqarah:184)</p>
<p>Tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafarah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafarah">kafarah</a> sumpah, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَساكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ</p>
<p style="text-align: left;">&#8216;<em>&#8230; Maka kafarah (akibat melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau &#8230;.</em>&#8216; (Q.s. Al-Maidah: 89)</p>
<p>&#8230; Semua dalil yang disebutkan dalam Alquran dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">Sunah</a> diungkapkan dengan lafal &#8216;makanan&#8217; atau &#8216;memberi makan&#8217;, sehingga dia tidak boleh diganti dengan uang.</p>
<p>Oleh karena itu, orang tua yang wajib <a title="fidyah-menggunakan-uang" href="http://konsultasisyariah.com/fidyah-pakai-uang" target="_blank"><strong>membayar fidyah</strong></a> karena meninggalkan puasa, tidak boleh mengganti (pembayaran fidyahnya) dengan uang. Andaikan dia bayarkan dengan uang, senilai sepuluh kali nilai makanan maka itu tetap tidak sah, karena dia menyimpang dari ketetapan yang telah ditentukan dalam dalil.</p>
<p>Karena itu, kami nasihatkan kepada orang yang tidak mampu berpuasa karena sudah tua, bayarlah fidyah dengan memberi makan orang miskin sejumlah hari yang ditinggalkan. Cara memberi makan ada dua:</p>
<ol>
<li>Diantarkan ke rumah orang miskin, sebanyak seperempat <em>sha&#8217;</em> (ada yang mengatakan setengah sha&#8217;:1,5 kg) beras beserta lauknya.</li>
<li>Memasak makanan dan mengundang sejumlah orang miskin yang wajib diberi makan, sebagaimana yang dilakukan oleh Anas bin Malik. Ketika beliau tua dan tidak bisa berpuasa, beliau memberi makan 30 orang miskin di akhir hari bulan Ramadan. (<em>Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin</em>, 19:116; sumber: <em>www.islamqa.com</em>)</li>
</ol>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syaria</a>h).<br />
Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Pembahasan tentang: Membayar fidyah, membayar fidyah dengan uang, wajibnya membayar fidyah dengan makanan pokok</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>jariyah</strong>, <strong>zakat</strong>, <strong>uang zakat</strong>, <strong>fiduah. kafarah</strong>, <strong>sedekah</strong>, <strong>puasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/membayar-fidyah-dengan-uang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fidyah Menggunakan Uang</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/fidyah-pakai-uang</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/fidyah-pakai-uang#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 04:11:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ganti puasa]]></category>
		<category><![CDATA[membayar fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[takaran fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran fidyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6795</guid>
		<description><![CDATA[Mengganti fidyah dengan uang Bolehkah fidyah dalam bentuk uang? Agus Sarjana (**sarjana@***.com) Jawaban mengenai mengganti fidyah dengan uang Bismillah. Wajib untuk kita pahami kaidah penting, bahwa perkara yang Allah sebutkan dengan kalimat “memberi makan” atau “bahan makanan” itu wajib diberikan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Mengganti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/fidyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with fidyah">fidyah</a> dengan uang<br />
</strong></h2>
<p>Bolehkah <strong>fidyah</strong> dalam bentuk uang?</p>
<h3><em>Agus Sarjana (**sarjana@***.com) </em><br />
<span id="more-6795"></span><br />
<strong>Jawaban mengenai mengganti fidyah dengan uang<br />
</strong></h3>
<p>Bismillah.</p>
<p>Wajib untuk kita pahami kaidah penting, bahwa perkara yang Allah sebutkan dengan kalimat “memberi makan” atau “bahan makanan” itu <strong>wajib</strong> diberikan dalam bentuk makanan. Allah berfirman tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a>,</p>
<p class="arab">وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“<em>Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/membayar-fidyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with membayar fidyah">membayar fidyah</a>, (yaitu) memberi makan seorang miskin</em>.” (Q.s. Al-Baqarah:184)</p>
<p>Kemudian, tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafarah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafarah">kafarah</a> sumpah, Allah berfirman,</p>
<p class="arab">فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَساكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ</p>
<p>“<em>Kafarah (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu</em>.” (Q.s. Al-Maidah:89)</p>
<p>Tentang <a title="zakat fitrah" href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah" target="_blank">zakat fitri</a>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mewajibkan agar dikeluarkan dalam bentuk bahan makanan satu <em>sha&#8217;</em>, dan seterusnya.</p>
<p>Apa pun yang disebutkan dalam nash syariat dengan kalimat “makanan” atau “memberi makan” maka <a title="bayar fidyah" rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/ramadhan/cara-penunaian-fidyah.html" target="_blank">fidyah</a> tidak boleh diberikan dalam bentuk uang.</p>
<p>Oleh karena itu, orang tua yang wajib membayar <a title="ukuran fidyah" href="http://konsultasisyariah.com/ukuran-fidyah" target="_blank"><em>fidyah</em></a> karena tidak puasa, tidak menggantinya dalam bentuk uang. Andaikan dia membayar fidyah dalam bentuk uang senilai bahan makanan sepuluh kali, hukumnya tetap tidak sah, karena dia menyimpang dari keterangan yang terdapat dalam dalil.</p>
<p>Demikian pula <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a> fitri. Andaikan ada orang yang mengeluarkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a> fitri dalam bentuk uang seharga bahan makanan sepuluh kali, ini tidak dapat menggantikan kewajiban membayar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a> dengan bahan makanan 2,5 kg, karena <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a> fitri dengan uang tidak terdapat dalam dalil. Padahal Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda,</p>
<p class="arab">من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد</p>
<p>“<em>Siapa saja yang melakukan satu amal, yang tidak ada ajarannya dari kami maka amal itu tertolak</em>.” (H.r. Bukhari dan Muslim) (<em>Majmu&#8217; Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin</em>, 19:116)</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>http://www.islamqa.com/ar/ref/39234</em></p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).<br />
Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a><br />
Pembahasan: <strong>Cara membayar fidyah</strong>, mengganti <span style="text-decoration: underline;">fidyah</span>, dan pembayaran <strong>fidyah</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>fidyah puasa</strong>, <strong>takaran fidyah</strong>, <strong>membayar fidyah</strong>, <strong>ganti puasa</strong>, <strong>ukuran fidyah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/fidyah-pakai-uang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Darah ketika Puasa</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/cuci-darah-ketika-puasa</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/cuci-darah-ketika-puasa#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 01:45:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[cuci darah]]></category>
		<category><![CDATA[gagal ginjal]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa orang sakit]]></category>
		<category><![CDATA[ramadahn]]></category>
		<category><![CDATA[suntik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6679</guid>
		<description><![CDATA[Cuci Darah Saat Puasa Assalamu &#8216;alaykum. Ustadz, saya sudah baca tanya-jawab mengenai mengeluarkan darah untuk penelitian laboratorium ketika puasa, dan hukumnya tidak membatalkan puasa. Namun untuk bekam, itu membatalkan puasa. Apa dalil yang menunjukkan mengeluarkan darah yang banyak (seperti: bekam) ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/cuci-darah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with cuci darah">Cuci Darah</a> Saat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">Puasa</a><br />
</strong></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaykum</em>. Ustadz, saya sudah baca tanya-jawab mengenai mengeluarkan darah untuk penelitian laboratorium ketika puasa, dan hukumnya tidak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/membatalkan-puasa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with membatalkan puasa">membatalkan puasa</a>. Namun untuk bekam, itu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/membatalkan-puasa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with membatalkan puasa">membatalkan puasa</a>. Apa dalil yang menunjukkan mengeluarkan darah yang banyak (seperti: bekam) <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/membatalkan-puasa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with membatalkan puasa">membatalkan puasa</a>, Ustadz? Terus, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> dengan <strong>cuci darah</strong>, apakah membatalkan puasa juga? Ayah saya melakukan <strong>cuci darah</strong> seminggu 2 kali. Apakah ayah saya harus mengganti puasanya di hari lain akibat <strong>cuci darah</strong>? Mohon penjelasannya.</p>
<h3><em>Abu Abdillaah (abu**@***.com)</em><br />
<span id="more-6679"></span><br />
<strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> cuci darah ketika puasa</strong></h3>
<p>Lajnah Daimah (Komite Tetap untuk Fatwa dan Penelitian Ilmiah) ditanya, &#8220;Apakah cuci darah bisa membatalkan puasa?&#8221;</p>
<p><strong>Pertama</strong>, Lajnah Daimah memberikan kesimpulan dari keterangan tim medis tentang proses <em>cuci darah</em>, yang intinya: mengeluarkan darah dari pasien, dimasukkan ke dalam suatu alat agar dilakukan perawatan tertentu, kemudian dikembalikan ke tubuh pasien. Dalam proses ini, zat kimia dan mineral tertentu ditambahkan ke dalam darah tersebut, seperti: kadar gula, ion tubuh, atau yang lainnya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, setelah Lajnah Daimah melakukan pengkajian tentang sistem kerja cuci darah, melalui beberapa informasi dari beberapa pakar kedokteran, mereka memfatwakan bahwa <a title="cuci darah dengan suntik" href="http://konsultasisyariah.com/suntik-di-siang-hari-ramadhan" target="_blank">cuci darah</a> membatalkan puasa.</p>
<p><em>Wa billahit taufiq</em>. (<strong>Kumpulan Fatwa Lajnah Daimah</strong>, 10:190)</p>
<p>**</p>
<p>Syekh Ibnu Utsaimin ditanya tentang hukum <strong>cuci darah</strong> ketika <strong>puasa</strong>. Beliau menjawab, “&#8230; Saya khawatir, proses pencucian ini dicampur dengan beberapa nutrisi mineral, sehingga menggantikan makan dan minum. Jika keadaannya demikian, statusnya membatalkan <strong>puasa</strong>. Oleh karena itu, jika ada orang yang mendapatkan ujian dengan penyakit ini sepanjang hidupnya maka dia tergolong orang yang sakit, yang tidak ada harapan untuk sembuh, sehingga dia boleh membayar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/fidyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with fidyah">fidyah</a>.</p>
<p>Akan tetapi, jika campuran yang disisipkan di darah pasien ketika proses dialisis (cuci darah) bukan nutrisi bagi tubuh, namun hanya sebatas membersihkan dan mencuci darah, maka hal ini tidak membatalkan puasanya, sehingga seseorang boleh <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> tindakan medis ini meskipun sedang berpuasa. Persoalan semacam ini perlu ditanyakan ke dokter.&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin</em>, 20:113)</p>
<p>Kesimpulan dari Syekh Muhammad Al-Munajid, &#8220;Pasien yang harus melakukan cuci darah, puasanya batal di hari dilakukannya tindakan dialisis. Jika masih memungkinkan untuk qadha maka dia wajib qadha. Namun, jika tidak memungkinkan untuk mengqadha maka statusnya sebagaimana orang tua yang tidak mampu <strong>puasa</strong>. Dia boleh tidak puasa ketika proses <a title="Cuci darah" rel="nofollow" href="http://piogama.ugm.ac.id/index.php/2009/05/cuci-darah/" target="_blank">cuci darah</a> dan diganti dengan fidyah.&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Sumber: <em>www.islamqa.com</em><strong><br />
</strong>Jawaban ini diterjemahkan oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).<strong><br />
</strong>Artikel www.KonsultasiSyariah.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>puasa</strong>, <strong>cuci darah</strong>, <strong>gagal ginjal</strong>, <strong>puasa orang sakit</strong>, <strong>ramadahn</strong>, <strong>suntik</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/cuci-darah-ketika-puasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sendawa ketika Puasa</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/sendawa-ketika-puasa</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/sendawa-ketika-puasa#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 06:52:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sendawa dalam solat]]></category>
		<category><![CDATA[menghilangkan sendawa di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6475</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, pertanyaan saya adalah: saya sering sekali bersendawa dan diikuti seperti ada sedikit air yang termuntahkan. Selama ini saya menelannya kembali dan tidak bisa dikeluarkan karena jumlahnya sedikit. Jika pada waktu puasa, apakah puasa saya akan batal, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, pertanyaan saya adalah: saya sering sekali bersendawa dan diikuti seperti ada sedikit air yang termuntahkan. Selama ini saya menelannya kembali dan tidak bisa dikeluarkan karena jumlahnya sedikit. Jika pada waktu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a>, apakah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> saya akan batal, dan apa yang seharusnya saya lakukan jika terjadi hal yang sama kembali? <em>Syukron katsir.</em></p>
<p><em>Ikrimah (**asia@***.com)</em><br />
<span id="more-6475"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam. </em></p>
<p><em>Bismillah wal hamdulillah.</em></p>
<p>Bersendawa adalah mengeluarkan udara yang terkadang diiringi suara dari lambung melalui mulut karena kenyang. Sebatas bersendawa tidaklah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/membatalkan-puasa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with membatalkan puasa">membatalkan puasa</a>. Namun, jika sendawa ini diiringi air atau bagian makanan yang turut keluar maka wajib diludahkan. Jika orang tersebut menelan air atau bagian makanan tadi dengan sengaja maka puasanya batal. Namun, jika tertelan dengan tidak sengaja atau tidak memungkinkan untuk mengeluarkannya karena spontan tertelan maka puasanya sah.</p>
<p>Syekh Ar-Ramli menguraikan dalam <em>Nihayatul Muhtaj</em>, sebuah kitab mazhab Syafi&#8217;iyah, &#8220;Orang yang banyak makan dan minum di malam hari, kemudian biasanya di pagi hari dia sering bersendawa, sehingga makanan yang dalam lambungnya ikut keluar, apakah terlarang bagi orang ini untuk banyak makan dan minum? Kemudian jika dia tetap banyak makan dan minum, lalu keluar makanan dari perutnya, apakah puasanya batal?</p>
<p>Jawabannya: Melarang banyak makan dan minum perlu dikaji ulang. Jawaban yang tepat, dia tidak dilarang untuk banyak makan atau minum di malam hari. Jika di pagi hari dia bersendawa maka hendaknya dia ludahkan dan dia cuci mulutnya (dengan berkumur), dan puasanya tidak batal. Jika hal itu terjadi berulang-ulang maka hukumnya seperti orang yang muntah tidak sengaja.&#8221; (<em>Nihayatul Muhtaj</em>, 3:171)</p>
<p><strong>Sumber</strong>: <em>http://www.islamqa.com/ar/ref/38565</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah.com</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>puasa</strong>, <strong>menghilangkan sendawa di bulan puasa</strong>, <strong>hukum sendawa dalam solat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/sendawa-ketika-puasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadwal Imsak</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/jadwal-imsak</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/jadwal-imsak#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 23:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[al baqarah 187#q=al baqarah 187]]></category>
		<category><![CDATA[batas waktu akhir shalat subuh]]></category>
		<category><![CDATA[imsak]]></category>
		<category><![CDATA[jadwal imsak]]></category>
		<category><![CDATA[jadwal imsyak]]></category>
		<category><![CDATA[jima']]></category>
		<category><![CDATA[malam jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[sunah]]></category>
		<category><![CDATA[tentang imsak]]></category>
		<category><![CDATA[terbit fajar]]></category>
		<category><![CDATA[ummi maktum]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6365</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Di beberapa negara, ditetapkan sekitar 10 menit sebelum subuh sebagai waktu imsak, yang menjadi waktu bagi masyarakat untuk mulai berpuasa. Apakah perbuatan ini dibenarkan? Jawaban: Perbuatan ini tidak benar, karena Allah masih memperbolehkan orang yang berpuasa untuk makan atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Di beberapa negara, ditetapkan sekitar 10 menit sebelum subuh sebagai waktu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/imsak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with imsak">imsak</a>, yang menjadi waktu bagi masyarakat untuk mulai berpuasa. Apakah perbuatan ini dibenarkan?<br />
<span id="more-6365"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Perbuatan ini <strong>tidak benar</strong>, karena Allah masih memperbolehkan orang yang berpuasa untuk makan atau minum, sampai betul-betul jelas telah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/terbit-fajar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with terbit fajar">terbit fajar</a>. Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنْ الْفَجْرِ</strong></p>
<p>“<em>Makan dan minumlah kalian, sampai betul-betul jelas bagi kalian benang putih di atas benang hitam, yaitu terbitnya fajar.</em>” (Q.s. Al-Baqarah:187)</p>
<p>Kemudian disebutkan dalam hadis dari Ibnu Umar dan A&#8217;isyah <em>radhiallahu &#8216;anhum</em>, bahwa Bilal biasanya berazan di malam hari. Lalu, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;<em>Makan dan minumlah kalian, sampai Ibnu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ummi-maktum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ummi maktum">Ummi Maktum</a> berazan, karena tidaklah dia mengumandangkan azan kecuali setelah terbit fajar</em>.” (H.r. Bukhari, no. 1919 dan Muslim, no.1092)</p>
<p>Imam An-Nawawi<em> rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Hadis ini menunjukkan bolehnya makan, minum, <em>jima&#8217;</em>, dan segala sesuatu yang mubah, sampai terbit fajar.&#8221; (<em>Syarah Shahih Muslim</em>, 7:202)</p>
<p><em>Al-Hafizh</em> Ibnu Hajar mengatakan, &#8220;Termasuk bidah yang buruk adalah apa yang terjadi di zaman ini, yaitu melakukan azan kedua sekitar 20 menit sebelum fajar di bulan Ramadan, dan diiringi dengan memadamkan lampu sebagai tanda dilarangnya makan dan minum bagi orang yang hendak berpuasa, dengan anggapan bahwa orang melakukannya sebagai bentuk kehati-hatian dalam beribadah.&#8221; (<em>Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari</em>, 4:199)</p>
<p>Syekh Ibnu Utsaimin ditanya tentang ketetapan waktu untuk imsak sekitar 15 menit sebelum subuh, yang terdapat di beberapa kalender. Beliau menjawab, &#8220;Ini termasuk bid&#8217;ah, tidak memiliki dasar dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">sunah</a>. Bahkan yang sesuai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">sunah</a> adalah sebaliknya, karena Allah berfirman dalam Alquran,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنْ الْفَجْرِ</strong></p>
<p><em>&#8216;Makan dan minumlah kalian, sampai betul-betul jelas bagi kalian benang putih di atas benang hitam, yaitu terbitnya fajar</em>.&#8217; (Q.s. Al-Baqarah:187)</p>
<p>Demikian pula, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8216;Sesungguhnya Bilal, berazan di waktu malam (sebelum subuh), karena itu makan dan minumlah kalian, sampai kalian mendengar azan dari Ibnu Ummi Maktum, karena tidaklah dia berazan kecuali setelah terbit fajar</em>.&#8217;</p>
<p>Imsak yang dilakukan sebagian orang semacam ini merupakan bentuk menambahi aturan yang Allah wajibkan, sehingga termasuk perbuatan yang salah. Tindakan ini juga termasuk bentuk tanaththu&#8217; (tindakan melampaui batas dalam agama Allah). Padahal, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda, &#8216;<strong><em>Binasalah orang melampaui batas dalam beragama, binasalah orang melampaui batas dalam beragama, binasalah orang melampaui batas dalam beragama</em></strong>.&#8217;&#8221; (H.r. Muslim, no. 2670)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Fatwa <em>www.islamqa.com</em> (<em>http://islamqa.com/ar/ref/12602</em>)</strong></p>
<p><strong>Diterjemahkan oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>puasa</strong>, <strong>tentang imsak</strong>, <strong>sunah</strong>, <strong>ustadz muslim</strong>, <strong>ummi maktum</strong>, <strong>jima&#039;</strong>, <strong>terbit fajar</strong>, <strong>imsak</strong>, <strong>malam jum&#039;at</strong>, <strong>jadwal imsyak</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/jadwal-imsak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suntikan di Siang Hari Ramadhan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/suntik-di-siang-hari-ramadhan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/suntik-di-siang-hari-ramadhan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 06:17:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya disuntik pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apakah saat bulan puasa boleh menyikat gigi saat siang hari]]></category>
		<category><![CDATA[apakah suntik membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ebook]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa suntikan bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hari ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berobat di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum disuntik ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum disuntik saat berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum infus pada bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum melakukan suntikan bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum saat puasa di suntik obat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum suntik di dalam bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum suntikan di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya suntik saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[injexsi termasuk membatalan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[jarum membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[junub setelah subuh]]></category>
		<category><![CDATA[kalau hormon keluar batalkah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[niat sholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[orang di infus, apakah boleh berpuasa ?]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa suntik]]></category>
		<category><![CDATA[suntik]]></category>
		<category><![CDATA[suntik bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[suntik di siang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[suntik hormon]]></category>
		<category><![CDATA[suntik saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[suntik saat puasa batal]]></category>
		<category><![CDATA[suntik sedang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[suntikan]]></category>
		<category><![CDATA[suntikan berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[suntikan bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[suntikan di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[suntikan jarum batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[suntikan ketika siang bulan ramadhan tidak membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab islami,batalkah orang puasa yang di suntik untuk berobat]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara mandi junub pada bulan ramadhan disiang hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6006</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana hukumnya kalau kita terpaksa harus suntik siang hari waktu puasa Ramadan? Esti (esti_khi@yahoo.com) Jawaban: Bismillah. Suntikan di siang hari Ramadan ada dua macam: Suntikan nutrisi (infus), yang bisa menggantikan makanan dan minuman. Suntikan semacam ini membatalkan puasa karena ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> hukumnya kalau kita terpaksa harus <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/suntik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with suntik">suntik</a> siang hari waktu <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a></strong> Ramadan?</p>
<p><em>Esti (esti_khi@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-6006"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah.</em></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/suntikan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with suntikan">Suntikan</a> di siang hari <a href="http://konsultasisyariah.com/ebook-panduan-ramadhan-2011" target="_blank"><strong>Ramadan</strong></a> ada dua macam:</p>
<ol>
<li>Suntikan <strong>nutrisi (infus)</strong>, yang bisa menggantikan makanan dan minuman. Suntikan semacam ini <strong>membatalkan</strong> puasa karena dinilai seperti makan atau minum.</li>
<li>Suntikan <strong>selain nutrisi</strong>, seperti: suntik obat atau pengambilan sampel darah. Suntikan semacam ini <strong>tidak membatalkan</strong> dan tidak memengaruhi puasa, baik suntikan ini diberikan di lengan atau di pembuluh. Hanya saja, jika memungkinkan, sebaiknya suntikan ini dilakukan di malam hari, dan itu lebih baik, sebagai bentuk kehati-hatian ketika puasa.</li>
</ol>
<p>Syekh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> suntikan di pembuluh atau lengan pada siang hari di bulan Ramadan; apakah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/membatalkan-puasa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with membatalkan puasa">membatalkan puasa</a>?</p>
<p>Jawaban beliau, &#8220;Puasanya sah, karena suntikan di pembuluh tidaklah termasuk makan atau minum. Demikian pula suntikan di lengan, lebih tidak membatalkan lagi. Akan tetapi, andaikan dia meng<em>qadha</em> puasanya dalam rangka kehati-hatian maka itu lebih baik. Jika hal ini diakhirkan sampai malam ketika butuh maka itu lebih baik dan lebih berhati-hati, dalam rangka keluar dari perselisihan pendapat dalam masalah ini.&#8221;</p>
<p>Dalam <em>Fatwa tentang Puasa</em> (hlm. 220), Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin pernah ditanya tentang hukum menggunakan jarum suntik di urat maupun di pembuluh.</p>
<p>Beliau menjawab, &#8220;Suntikan jarum di pembuluh, lengan, maupun paha diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa, karena suntikan tidaklah termasuk pembatal dan juga tidak bisa disamakan dengan pembatal puasa. Sebabnya, suntikan bukanlah termasuk makan dan minum, juga tidak bisa disamakan dengan makan dan minum &#8230;. Yang bisa membatalkan puasa adalah suntikan untuk orang sakit yang menggantikan makan dan minum (infus).&#8221;</p>
<p>Lajnah Daimah (Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa) ditanya tentang hukum berobat dengan disuntik saat siang hari Ramadan, baik untuk pengobatan maupun untuk nutrisi.</p>
<p>Mereka menjawab, &#8220;Boleh berobat dengan disuntik di lengan atau urat, bagi orang yang puasa di siang hari Ramadan. Namun, orang yang sedang berpuasa tidak boleh diberi suntikan nutrisi (infus) di siang hari Ramadan karena ini sama saja dengan makan atau minum. Oleh sebab itu, pemberian suntikan infus disamakan dengan pembatal puasa Ramadan. Kemudian, jika memungkinkan untuk melakukan suntik lengan atau pembuluh darah di malam hari maka itu lebih baik.&#8221; (<em>Fatawa Lajnah</em>, 10:252)</p>
<p><strong>Sumber</strong>: <em>www.islamqa.com </em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>puasa</strong>, <strong>tanya jawab islami,batalkah orang puasa yang di suntik untuk berobat</strong>, <strong>membatalkan puasa</strong>, <strong>suntik bulan puasa</strong>, <strong>hukum disuntik saat berpuasa</strong>, <strong>suntikan bulan puasa</strong>, <strong>suntik hormon</strong>, <strong>junub setelah subuh</strong>, <strong>hukum disuntik ketika puasa</strong>, <strong>suntikan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/suntik-di-siang-hari-ramadhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Rokok Membatalkan Puasa dan Inhaler Tidak Membatalkan Puasa?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/rokok-membatalkan-puasa</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/rokok-membatalkan-puasa#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2011 07:02:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[adakah mencium inhaller batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[adakah merokok membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya merokok dalam puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apa kah rokok dapat membatal kan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apakah inheler asma dapt membatalkn puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apakah merokok bisa membatalkan puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[apakah merokok dapat membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apakah merokok membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apakah merokok membatalkan puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[batal apa engga ngerokok di waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[batal puasa jika merokok]]></category>
		<category><![CDATA[batal puasa minum obat]]></category>
		<category><![CDATA[benda yang membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah merokok ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah merokok puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah saat puasa merokok?]]></category>
		<category><![CDATA[dengan sengaja batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[guna inhaler dalam bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits merokok saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum guna inhaler]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai inhaler ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menghirup minyak putih waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merokok ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merokok puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merokok waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ngerokok di saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa menghirup inhaler]]></category>
		<category><![CDATA[hukum rokok pada bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya merokok di saat berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya merokok saat berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[inhaler batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[inhaler di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[inhaler saat puasa bolehkah?]]></category>
		<category><![CDATA[inhaler waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[kenapa rokok batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[memakai inhaler untuk penderita asma membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[memakai minyak wangi di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[menghirup inhaler apakah bisa membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[merokok batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[merokok batalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[merokok bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[merokok dapat membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[merokok disaat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[merokok membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[merokok saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[merokok semasa berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[merokok tidak membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[merokok waktu berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[ngerokok batal puasa tidak]]></category>
		<category><![CDATA[orang puasa boleh nggak merokok]]></category>
		<category><![CDATA[pakai inhaler batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[pake inhaler asma batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa boleh merokok]]></category>
		<category><![CDATA[puasa dan merokok]]></category>
		<category><![CDATA[puasa dan rokok]]></category>
		<category><![CDATA[puasa makan minum tapi rokok]]></category>
		<category><![CDATA[puasa merokok]]></category>
		<category><![CDATA[puasa merokok batal apa tidak]]></category>
		<category><![CDATA[puasa merokok batal ga?]]></category>
		<category><![CDATA[puasa pakai inhaler]]></category>
		<category><![CDATA[puasa pakai inhaller]]></category>
		<category><![CDATA[puasa rokok]]></category>
		<category><![CDATA[puasa tapi merokok]]></category>
		<category><![CDATA[puasa wallpaper]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>
		<category><![CDATA[rokok batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[rokok batalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[rokok dapat membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sebab tidak boleh merokok]]></category>
		<category><![CDATA[tak puasa apa hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[yang membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[yang membatalkan saat puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5946</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu`alaikum. Saya mau tanya kepada Ustadz, yaitu mengapa rokok dinyatakan membatalkan puasa dan inhaler tak membatalkan puasa, padahal keduanya sama-sama masuk melalui hidung dan pernapasan serta tak masuk saluran makan dan minum? Mohon penjelasan Ustadz. Jazakallah khairan. Abu Abdullah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu`alaikum. Saya mau tanya kepada Ustadz, yaitu mengapa<strong> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rokok" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rokok">rokok</a></strong> dinyatakan membatalkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> dan <a href="http://konsultasisyariah.com/penderita-asma" target="_blank"><strong>inhaler</strong></a> tak membatalkan <strong>puasa</strong>, padahal keduanya sama-sama masuk melalui hidung dan pernapasan serta tak masuk saluran makan dan minum? Mohon penjelasan Ustadz. <em>Jazakallah khairan</em>.</p>
<p><em>Abu Abdullah (dwi_purbo1**@***.com)</em><br />
<span id="more-5946"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em><br />
<a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-rokok" target="_blank"><strong>Rokok</strong></a> termasuk benda yang haram untuk dikonsumsi. Tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> haramnya, tidak diragukan lagi. Orang yang merokok ketika berpuasa maka puasanya batal. Sebabnya, karena asap <a href="http://konsultasisyariah.com/hadits-larangan-rokok" target="_blank"><strong>rokok</strong></a> mengandung banyak kumpulan zat yang masuk sampai ke perut dan lambung.</p>
<p>Syekh Muhammad bin Utsaimin ditanya tentang hukum mencium minyak wangi. Beliau menjawab, “Diperbolehkan menggunakan minyak wangi di siang hari bulan Ramadan dan boleh menciumnya, kecuali dupa. Tidak boleh menghirup bau dupa, karena asap dupa memiliki banyak zat yang bisa masuk ke lambung, dan dupa merupakan asap.” (<em>Fatawa Islamiyah</em>, 2:128)</p>
<p>Asap rokok semisal dengan dupa; keduanya mengandung banyak zat. Hanya saja, keduanya berbeda hukumnya. Dupa hukumnya halal dan baik, sedangkan rokok hukumnya <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-rokok" target="_blank"><strong>haram</strong></a> dan buruk.</p>
<p>Para ulama mengistilahkan merokok dengan “<em>syurbud dukhan</em>” (minum asap). Mereka menyebutnya dengan “<em>syurbun</em>” (minum). <strong>Tidak diragukan lagi bahwa asap rokok sampai ke lambung dan ke perut, sementara semua yang dimasukkan dan sampai ke perut dengan sengaja maka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/membatalkan-puasa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with membatalkan puasa">membatalkan puasa</a></strong>, baik benda itu bermanfaat maupun membahayakan. Sebagaimana ketika ada orang yang menelan biji tasbih atau potongan besi dengan sengaja, puasanya batal. Tidak disyaratkan harus makan dan minum <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yang-membatalkan-puasa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yang membatalkan puasa">yang membatalkan puasa</a> harus mengenyangkan atau memberi manfaat kesehatan. Setiap yang dimasukkan ke perut dengan sengaja maka bisa dinamakan makan atau minum. (<em>Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin</em>, Fatawa Shiyam, no. 203 dan 204)</p>
<p>Untuk hukum penggunaan inhaler bisa dilihat di alamat <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/penderita-asma" target="_blank">http://konsultasisyariah.com/penderita-asma</a></strong></p>
<p>Disadur dari Fatwa Islam (<em>www.islamqa.com</em>) oleh Muhammad bin Shaleh Al-Munajid.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum merokok waktu puasa</strong>, <strong>hamil</strong>, <strong>guna inhaler dalam bulan puasa</strong>, <strong>bolehkah merokok puasa</strong>, <strong>hukum menghirup minyak putih waktu puasa</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>hukum ngerokok di saat puasa</strong>, <strong>puasa makan minum tapi rokok</strong>, <strong>merokok batal puasa</strong>, <strong>merokok disaat puasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/rokok-membatalkan-puasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ukuran Fidyah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ukuran-fidyah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ukuran-fidyah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 22:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apa fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[besaran fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[besaran fidyah puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[besaran pembayaran fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[besarnya fidiyah]]></category>
		<category><![CDATA[besarnya fidya bagi ibu hamil]]></category>
		<category><![CDATA[besarnya fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[besarnya fidyah untuk ibu hamil]]></category>
		<category><![CDATA[besarnya fidyah untuk orang tidak berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[besarnya ukuran satu mud]]></category>
		<category><![CDATA[dalil fhdyah setengah sha']]></category>
		<category><![CDATA[fidiyah 2011]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah besarnya]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah haid]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[hamil bayar puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hamil puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ibu hamil puasakah?]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi basah]]></category>
		<category><![CDATA[pembayaran fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara pembayaran fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran bayar fidyah 1 puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran fidiyah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran fidyah 1 mud]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran fidyah bagi yang tidak berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran fidyah puasa ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran fidyah untuk ibu hamil]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran membayar fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[ukuran pidyah bagi yang tidak berpuasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5898</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Afwan, Ustadz. Saya mau tanya; besaran fidyah itu bagaimana? 1 orang atau bagaimana? Terus, untuk makananan di sini seperti apa? Syukran wajazakallahu khairan. Ichal (ichal_**@yahoo.***) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah. Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin mengatakan, Cara membayar fidyah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. <em>Afwan</em>, Ustadz. Saya mau tanya; <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/besaran-fidyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with besaran fidyah">besaran fidyah</a> itu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a>? 1 orang atau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a>? Terus, untuk makananan di sini seperti apa? <em>Syukran wajazakallahu khairan</em>.</p>
<p><em>Ichal (ichal_**@yahoo.***) </em><br />
<span id="more-5898"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin mengatakan,</p>
<p>Cara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/membayar-fidyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with membayar fidyah">membayar fidyah</a> dengan memberikan makanan kepada orang miskin ada dua:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, dengan dibuatkan makanan (siap saji), kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> yang ditinggalkan, sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radliallahu &#8216;anhu ketika di sudah tua.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> memberi bahan makanan kepada mereka yang belum dimasak. Para ulama mengatakan: besarnya: 1 mud (0,75 kg) untuk gandum atau setengah sha&#8217; (2 mud = 1,5 kg) untuk selain gandum&#8230;.. akan tetapi, untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pembayaran-fidyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pembayaran fidyah">pembayaran fidyah</a> model kedua ini, selayaknya diberikan dengan sekaligus lauknya, baik daging atau yang lainnya. Sehingga bisa memenuhi makna teks ayat, dalam firman Allah:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</strong></p>
<p><em>“Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/fidyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with fidyah">fidyah</a>, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”</em> (QS. Al-Baqarah: 184)</p>
<p>Adapun waktu pembayaran fidyah, ada kelonggaran. Dia boleh membayarkan fidyahnya setiap hari satu-satu (dibayarkan di waktu maghrib di hari puasa yang ditinggalkan). Dia juga dibolehkan mengakhirkan pembayaran sampai selesai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">ramadhan</a>, sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radliallahu &#8216;anhu.<br />
(<em>As-Syarhul Mumthi&#8217;,</em> 6:207)</p>
<p>Dalilnya:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>عن مالك عن نافع أن ابن عمر سئل عن المرءة الحامل إذا خافت على ولدها، فقال: تفطر و تطعم مكان كل يوم مسكينا مدا من حنطة</strong></p>
<p>Dari Nafi&#8217;, bahwa Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> pernah ditanya tentang wanita <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a> yang khawatir terhadap anaknya (jika puasa). Beliau menjawab, &#8220;Dia boleh berbuka dan memberi makan orang miskin dengan satu mud gandum halus sebanyak hari yang dia tinggalkan.&#8221; (H.r. Al-Baihaqi dari jalur Imam Syafi&#8217;i dan sanadnya <em>sahih</em>)</p>
<p style="text-align: right;"><strong>عَن أَنَس بنِ مَالِك رضي الله عنه أَنَّه ضَعُف عَن الصَّومِ عَامًا فَصَنَع جفنَةَ ثَريدٍ ودَعَا ثَلاثِين مِسكِينًا فَأشبَعَهُم</strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa ketika dirinya sudah tidak mampu puasa setahun, beliau membuat adonan tepung dan mengundang 30 orang miskin, kemudian beliau kenyangkan mereka semua. (H.r. Ad-Daruquthni; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>besarnya fidyah untuk orang tidak berpuasa</strong>, <strong>ukuran fidyah untuk ibu hamil</strong>, <strong>fidyah haid</strong>, <strong>pembayaran fidyah</strong>, <strong>ukuran membayar fidyah</strong>, <strong>besaran pembayaran fidyah</strong>, <strong>fidyah besarnya</strong>, <strong>puasa</strong>, <strong>ukuran fidyah 1 mud</strong>, <strong>besarnya ukuran satu mud</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ukuran-fidyah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akikah untuk Janin Keguguran</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/aqiqah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/aqiqah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 01:59:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[adzan bayi]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[aqiqah anak yang sudah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[aqiqah bagi yang keguguran]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah bagi wanita keguguran 5 bulan pada awal bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[janin keguguran dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5836</guid>
		<description><![CDATA[Akikah untuk Janin Keguguran Hal-hal apa saja yang dilakukan terhadap janin yang meninggal usia 5 bulan? Apa perlu diakikahi dan dinamai? Arizal (ary01**@yahoo.com) Akikah untuk Janin Keguguran Bismillah. Ulama berselisih pendapat tentang hukum akikah untuk bayi keguguran, apakah disyariatkan ataukah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/akikah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with akikah">Akikah</a> untuk Janin Keguguran</h2>
<p>Hal-hal apa saja yang dilakukan terhadap janin yang meninggal usia 5 bulan? Apa perlu diakikahi dan dinamai?</p>
<p><em>Arizal (ary01**@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-5836"></span></p>
<h3>Akikah untuk Janin Keguguran</h3>
<p><em>Bismillah</em>.</p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> akikah untuk bayi keguguran, apakah disyariatkan ataukah tidak. Pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah disyariatkannya memberikan akikah untuk janin keguguran, jika usia janin telah mencapai empat bulan karena ruh ditiupkan ketika janin telah genap berusia empat bulan.</p>
<p><em>Faqihuz Zaman</em>, Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Janin yang (meninggal dengan sebab) keguguran sebelum berusia empat bulan tidak perlu diakikahi, tidak diberi nama, &#8230; sedangkan janin yang (meninggal dengan sebab) keguguran setelah empat bulan &#8211;berarti telah ditiupkan ruh&#8211; maka dia dimandikan, diberi nama, &#8230; dan diberi akikah, menurut pendapat yang kami anggap lebih kuat. Hanya saja, sebagian ulama mengatakan, &#8216;Tidak ada akikah untuk bayi, kecuali jika dia hidup sampai hari ketujuh setelah dilahirkan.&#8217; Namun, yang benar, janin ini diberi akikah karena dia akan dibangkitkan pada hari kiamat, sehingga bisa menjadi penolong bagi orang tuanya.&#8221; (<em>Liqa&#8217;at Bab Maftuh</em>, no. 653)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>janin keguguran dalam al quran</strong>, <strong>adzan bayi</strong>, <strong>aqiqah anak yang sudah meninggal</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>featured</strong>, <strong>akikah</strong>, <strong>fidyah bagi wanita keguguran 5 bulan pada awal bulan puasa</strong>, <strong>aqiqah bagi yang keguguran</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/aqiqah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makanan yang Telah Tersentuh Cicak</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/makanan-yang-telah-tersentuh-cicak</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/makanan-yang-telah-tersentuh-cicak#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 23:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi cicak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[doa sujud]]></category>
		<category><![CDATA[gambar cicak]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tersentuh cecak]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kucing]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[makanan cicak]]></category>
		<category><![CDATA[makanan disentuh cicak]]></category>
		<category><![CDATA[wallpaper cicak]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5210</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalammu &#8216;alaikum. Ustadz, maaf menganggu. Saya ada satu soalan. Boleh tak Ustadz terangkan, jika tidak keberatan, tentang kemushkilan saya ini. Apakah makanan yang sudah terkena (tersentuh) atau dimakan cicak masih boleh dimakan? Bagaimana pula dengan lipas? Saya dahului dengan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalammu &#8216;alaikum.</p>
<p>Ustadz, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/maaf" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with maaf">maaf</a> menganggu. Saya ada satu <em>soalan</em>. Boleh tak Ustadz terangkan, jika tidak keberatan, tentang <em>kemushkilan</em> saya ini.</p>
<p>Apakah makanan yang sudah terkena (tersentuh) atau dimakan cicak masih boleh dimakan? <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> pula dengan lipas?</p>
<p>Saya dahului dengan terima kasih serta semoga Allah membalas jasa baik Ustadz.</p>
<p><em>Zul (zulworxz**@***.com)</em><br />
<span id="more-5210"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p>Semoga <em>maklumat</em> saya bisa dipahami pihak Tuan.</p>
<p>Tidak semua binatang yang haram, statusnya najis. Ada di antara binatang yang haram, namun tidak najis, seperti:</p>
<p>1. <em>Hewan yang sering bekeliaran di sekitar manusia</em>, seperti: <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kucing" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kucing">kucing</a> dan cicak.<br />
Dalilnya: Shahabat Abu Qatadah pernah berwudhu dengan menggunakan air yang telah diminum kucing. Kemudian, beliau mengatakan, &#8220;Sesungguhnya, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إنها ليست بنجس إنها من الطوافين عليكم والطوافات</strong></p>
<p>&#8216;<em>Kucing itu tidak najis karena kucing termasuk binatang yang sering berkeliaran di tengah-tengah kalian</em>.&#8217;&#8221; (H.R. Abu Daud; dinilah <em>hasan</em> oleh Al-Albani)</p>
<p>2. <em>Hewan yang tidak memiliki darah merah (serangga kecil)</em>, seperti: lipas (kecoak) dan lalat.<br />
Dalilnya, hadis tentang minuman yang kemasukan lalat. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan agar lalatnya dicelupkan kemudian dibuang, lalu minuman tadi boleh diminum, karena dalam satu sayap lalat, ada penyakit, dan satu sayap lagi mengandung obat penawarnya. (H.R. Bukhari). Lipas (kecoak) termasuk dalam hadis ini.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>gambar cicak</strong>, <strong>hukum tersentuh cecak</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>doa sujud</strong>, <strong>maaf</strong>, <strong>wudhu</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>kucing</strong>, <strong>makanan cicak</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/makanan-yang-telah-tersentuh-cicak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Menggunakan Keju Impor dari Negara-negara Kafir</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-menggunakan-keju-impor-dari-negara-negara-kafir</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-menggunakan-keju-impor-dari-negara-negara-kafir#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 02:31:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3765</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Sebagian keju yang diproduksi oleh negara-negara Kristen mencantumkan bahwa bahan dasar dari keju ini diambil dari lambung sapi. Apakah keju ini menjadi haram jika diduga kuat bahwa sapi tersebut tidak disembelih dengan cara Islam, karena mengikuti hukum bahan dasarnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Sebagian keju yang diproduksi oleh negara-negara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kristen" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kristen">Kristen</a> mencantumkan bahwa bahan dasar dari keju ini diambil dari lambung sapi. Apakah keju ini menjadi haram jika diduga kuat bahwa sapi tersebut tidak disembelih dengan cara Islam, karena mengikuti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> bahan dasarnya (lambung dari sapi yang tidak disembelih dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syariat)?<br />
<span id="more-3765"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak, karena para sahabat pernah mengalami hal yang sama, yaitu ketika memakan keju yang diimpor dari negeri Persia.<br />
Tentu saja, hukum asal dari bahan dasar yang diambil dari lambung sapi yang tidak disembelih dengan cara Islami ini adalah najis dan haram, dan di sini tidak ada bedanya apakah hewan tersebut disembelih dengan cara Islam kemudian menjadi halal dengan hewan yang disembelih tidak dengan cara Islam kemudian menjadi haram.</p>
<p>Apa yang dicontohkan oleh para sahabat yang memakan keju impor dari negara Persia merupakan contoh kasus dalam fikih yang jarang dibahas orang.</p>
<p>Perhatikan! Bahan dasar yang hukumnya najis ini, dalam proses pembuatan keju dimasukkan atau dicampur ke dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/susu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with susu">susu</a> yang jumlahnya sangat besar. Bayangkan air hujan yang thahir (suci) yang turun dari langit, lalu ditampung dalam bejana yang sangat besar kemudian tercemari sedikit najis. Bolehkah kita meminum dan bersuci dari air hujan ini? Jawabannya: tentu saja boleh, karena najis yang jumlahnya sedikit itu tidak sanggup mengotori air hujan yang jumlahnya sangat banyak tersebut, sehingga sifat air hujan tersebut tetap suci dan menyucikan seperti sifatnya semula. Maka demikian pula dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/susu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with susu">susu</a> tersebut, ia suci dan boleh diminum.</p>
<p>Seandainya susu yang telah dicampur dengan bahan dasar tadi berubah menjadi keju, maka dalam hal ini saya sama sekali tidak dapat memberikan suatu pendapat. Akan tetapi, jika ada sebagian ahli kimia yang meneliti bahwa bahan dasar yang hukumnya najis tadi setelah menjadi keju akan berubah menjadi senyawa lain, maka masalah ini menjadi lebih mudah (ia menjadi halal –pent.).</p>
<p>Namun, jika setelah diteliti ternyata bahan dasar tadi tidak berubah ke materi lain, tetap seperti itu, hanya saja substansinya amat kecil jika dibandingkan dengan jumlah susu yang telah berubah menjadi keju, maka jawabnya adalah sebagaimana yang baru saja disebutkan (ia menjadi halal –pent.).</p>
<p>Perubahan materi sangat berpotensi merubah hukum-hukum syar’i, dan perubahan materi termasuk sesuatu yang bisa menyucikan benda-benda yang najis dalam syariat Islam.</p>
<p>Khamar diharamkan karena memabukkan, tapi jika khamar tersebut mengalami perubahan dan menjadi cuka, maka cuka tersebut tidak lagi memabukkan dan hukumnya pun menjadi halal. Jadi, cuka ini boleh diminum karena tidak memabukkan dan tidak pula najis.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8212; 2004 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kafir</strong>, <strong>susu</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>kristen</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-menggunakan-keju-impor-dari-negara-negara-kafir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberi Makan Hanya Kepada Orang Bertakwa</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/memberi-makan-hanya-kepada-orang-bertakwa</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/memberi-makan-hanya-kepada-orang-bertakwa#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jan 2011 01:51:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bertakwa memberi]]></category>
		<category><![CDATA[dalil tentang memberi makan kepada anak yatim]]></category>
		<category><![CDATA[hadis memberi makan]]></category>
		<category><![CDATA[hadis memberi makan anak yatim]]></category>
		<category><![CDATA[hadis ttg memberi makan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist memberi makan orang miskin]]></category>
		<category><![CDATA[hadist memberi makan,solat]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang memberi makan]]></category>
		<category><![CDATA[hadit memberi makan orang yang berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits memberi makan orang]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang memberi makan kepada orang yang berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[larangan meberi makan orang yang tidak puasa]]></category>
		<category><![CDATA[makna memberi makan orang berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[memberi makan terhadap orang yang lapor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3647</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Dalam (Majalah) As-Sunnah, Edisi 9, Thn. VII, 1424 H/2003 M, hlm. 25&#8211;26 disebutkan sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Janganlah bermain kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang-orang yang bertakwa.” Tolong, saya diberi matan hadis tersebut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Dalam (Majalah) As-Sunnah, Edisi 9, Thn. VII, 1424 H/2003 M, hlm. 25&#8211;26 disebutkan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “<em>Janganlah bermain kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang-orang yang bertakwa.</em>”</p>
<p>Tolong, saya diberi <em>matan</em> hadis tersebut selengkapnya, beserta artinya. Atas bantuannya, saya ucapkan<em> jazakumullah khairan.</em><br />
<span id="more-3647"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Hadis tersebut memiliki matan (teks) sebagai berikut,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ</p>
<p><em>Dari Abu Sa’id dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau bersabda, &#8220;Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.&#8221; </em></p>
<p>Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 4832; Tirmidzi, no. 2395; Ahmad, 3:38; Ibnu Hibban dalam<em> Sahih-</em>nya, no. 554, 555, dan 560; dinilai hasan oleh Syekh Salim bin ‘Id Al-Hilali dalam <em>Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhush Shalihin</em>, 1:433, no. 366.</p>
<p>Adapun makna sabda Nabi s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di atas, penulis kitab <em>‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud</em> menjelaskan dengan perkataan, &#8220;(Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang mukmin), yaitu &#8216;orang mukmin yang sempurna&#8217;, atau yang dimaksudkan adalah larangan berteman dengan orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> dan orang-orang munafik, karena berteman dengan mereka bisa mendatangkan bahaya dalam agama. Maka, yang dimaksudkan dengan &#8216;orang mukmin&#8217; (dalam hadis itu) adalah &#8216;semua orang mukmin&#8217;. (Dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa), yaitu &#8216;orang yang bersikap wara’ (hati-hati, meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan mendatangkan bahaya baginya di akhirat)&#8217;. Kata &#8216;memakan&#8217; di sini, walaupun dinisbahkan kepada &#8216;orang yang bertakwa&#8217;, namun pada hakikatnya, dinisbahkan kepada pemilik makanan, sehingga maknanya adalah &#8216;dan janganlah engkau memberikan makananmu kecuali kepada orang yang bertakwa&#8217;.&#8221;</p>
<p>Al-Khaththabi berkata, &#8220;Sesungguhnya, (larangan) ini hanyalah dalam undangan makan, bukan makanan kebutuhan (memberi makan kepada yang membutuhkan). Hal itu karena Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِيناً وَيَتِيماً وَأَسِيراً</p>
<p>&#8216;<em>Dan mereka (al-abrar; orang-orang yang berbuat kebajikan), memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> yatim, dan orang yang ditawan</em>.&#8217; (QS. Al-Insan:8)</p>
<p>Juga, sebagaimana telah diketahui, bahwa para tawanan kaum muslimin zaman dahulu adalah orang-orang kafir, bukan orang mukmin dan bukan orang yang bertakwa.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memperingatkan dari berteman, bergaul, dan makan bersama dengan orang yang tidak bertakwa, karena sesungguhnya, makan bersama akan menimbulkan kecintaan dan kasih sayang di dalam hati. <em>Wallahu a’lam.</em>&#8221;</p>
<p>Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 5, Tahun VIII, 1425 H/2004 M.<br />
Dengan pengeditan oleh redaksi <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hadis ttg memberi makan</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hadit memberi makan orang yang berpuasa</strong>, <strong>hadis memberi makan</strong>, <strong>hadits memberi makan orang</strong>, <strong>kafir</strong>, <strong>makna memberi makan orang berpuasa</strong>, <strong>larangan meberi makan orang yang tidak puasa</strong>, <strong>bertakwa memberi</strong>, <strong>hadist memberi makan orang miskin</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/memberi-makan-hanya-kepada-orang-bertakwa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Walimah yang Tidak Sesuai dengan Ajaran Islam</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/walimah-yang-sesuai-dengan-ajaran-islam</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/walimah-yang-sesuai-dengan-ajaran-islam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 01:45:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah sesuai dengan agama islam]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[kapan nabi muhammad aqiqoh]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib tidak sesuai ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[walimah rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3629</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Tolong jelaskan walimah yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Jawaban: Walimah-walimah yang disebutkan oleh para ulama di atas, hukum asalnya adalah mubah, karena walimah termasuk urusan keduniaan, yaitu urusan yang biasa dilakukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Tolong jelaskan <em>walimah</em> yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</em><br />
<span id="more-3629"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Walimah-walimah</em> yang disebutkan oleh para ulama di atas, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> asalnya adalah <em>mubah</em>, karena <em>walimah</em> termasuk urusan keduniaan, yaitu urusan yang biasa dilakukan oleh manusia karena bermanfaat di dunia ini. Karena hukumnya <em>mubah</em>, maka jangan sampai dianggap sunnah, apalagi wajib, sehingga orang yang meninggalkannya dicela. Atau menganggapnya <em>makruh</em> atau haram, sehingga orang yang melakukannya dicela. Kecuali <em>walimah</em> yang diperintahkan atau dianjurkan oleh agama, sehingga menjadi ibadah wajib atau<em> mustahab</em>, atau <em>walimah</em> yang dilarang, sehingga menjadi haram atau <em>makruh</em>.</p>
<p>Di antara walimah yang diperintahkan atau dianjurkan oleh syariat yaitu <em>walimatul ‘ursy</em> (<em>walimah</em> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a>) dan <em>walimah aqiqah</em> pada hari ke tujuh <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kelahiran" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kelahiran">kelahiran</a> bayi. Dalilnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>Ketika Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengetahui bahwa Abdurrahman bin ‘Auf telah menikah, Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepadanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ</p>
<p>“<em>Buatlah walimah walaupun walimah (sekadar) dengan seekor kambing</em>.&#8221; (HR. Bukhari, no. 5167)</p>
<p>Tentang<em> walimah aqiqah</em>, Nabi Muhammad<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى</p>
<p>“<em>Setiap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) darinya pada hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur, dan diberi nama</em>.&#8221; (HR. Abu Daud, no. 2838; Tirmidzi, no. 1522; Ibnu Majah, no. 3165; dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani)</p>
<p>Di antara<em> walimah</em> yang dilarang syariat, yaitu <em>al-wadhimah </em>(<em>walimah</em> saat tertimpa musibah), seperti: selamatan kematian yang dilakukan oleh banyak umat Islam.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَلْبَجَلِي قَالَ كُنَّا نَرَى اْلإِجْتِمَاعِ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ (بَعْدَ دَفْنِهِ) مِنَ النِّيَاحَةِ</p>
<p><em>Dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali, dia berkata, “Kami&#8211;yakni para sahabat&#8211;berpandangan bahwa berkumpul di tempat keluarga mayit dan membuat makanan (setelah penguburan mayit) adalah termasuk meratap</em>.” (HR. Ibnu Majah, no. 1612; dalam kurung tambahan riwayat Ahmad)</p>
<p>Syekh Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan berkata, “<em>Wadhimah</em>, yaitu makanan kumpulan orang-orang kesusahan (yakni<em> walimah</em> saat musibah), tidak disyariatkan dan tidak disukai.”</p>
<p>Demikian juga,<em> walimah khitan</em>, sebaiknya ditinggalkan. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dalam <em>Musnad</em> Ahmad, dari hadis Utsman bin Abul ‘Ash, tentang <em>walimah khitan</em> (dinyatakan), ‘Tidak pernah diundang untuknya <em>(walimah khitan</em>).’”</p>
<p>Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi Khusus, Tahun VIII 1425 H/2004 M.<br />
Dengan pengeditan oleh redaksi <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kelahiran</strong>, <strong>jari</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>kapan nabi muhammad aqiqoh</strong>, <strong>pernikahan</strong>, <strong>ibadah sesuai dengan agama islam</strong>, <strong>walimah rasulullah</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/walimah-yang-sesuai-dengan-ajaran-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Makan di Warung Rata-rata (Tarif Sama)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-di-warung-rata-rata-tarif-sama</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-di-warung-rata-rata-tarif-sama#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Jan 2011 01:22:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya puasa jual makanan]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berjualan makan di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum jual makanan di bulan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum jual makanan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum jual untuk yang tak puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum jualan di bulan romadon]]></category>
		<category><![CDATA[hukum jualan makanan di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum jualan waktu ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menjual makanan saat berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[memakai alat makan non muslim assunnah]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[menjual makanan saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[nilai atau besarnya fidyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3555</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Sebuah rumah makan memasang tarif yang sama kepada semua pengunjung. Setiap orang diperbolehkan mengkonsumsi apa saja yang tersedia disana, padahal porsi makan masing-masing orang berbeda. Bagaimana hukum makan di rumah makan seperti ini? Jawaban: &#8220;Yang tampak bagi saya dari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Sebuah rumah makan memasang tarif yang sama kepada semua pengunjung. Setiap orang diperbolehkan mengkonsumsi apa saja yang tersedia disana, padahal porsi makan masing-masing orang berbeda. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> makan di rumah makan seperti ini?<br />
<span id="more-3555"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>&#8220;Yang tampak bagi saya dari pertanyaan ini adalah bahwa dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> di rumah makan seperti ini terdapat unsur jahalah (ketidaktahuan) dan gharar (penipuan). Unsur ketidaktahuannya, yaitu Anda menyerahkan uang dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan sesuatu yang belum jelas. Yang kedua, unsur gharar, yaitu Anda <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> makanan yang kurang dari nilai uang yang Anda serahkan, sementara ada orang lain yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> makanan yang lebih besar dibandingkan dengan nilai uang yang ia serahkan.</p>
<p>Jadi, jual beli seperti ini mengandung unsur ketidaktahuan dan penipuan. (Sehingga) menurut saya, jual beli seperti ini tidak diperbolehkan. <em>Wallahu a’lam</em>.&#8221; (Syekh Salim bin &#8216;Id Al-Hilali)</p>
<p>Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 11, Tahun VIII, 1425 H/2004 M.<br />
Dengan pengeditan dari redaksi <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mengambil</strong>, <strong>hukum berjualan makan di bulan puasa</strong>, <strong>hukum jualan makanan di bulan puasa</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>hukum menjual makanan saat berpuasa</strong>, <strong>jual beli</strong>, <strong>memakai alat makan non muslim assunnah</strong>, <strong>hukum jual makanan di bulan</strong>, <strong>hukum jual untuk yang tak puasa</strong>, <strong>hukum jualan waktu ramadan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-makan-di-warung-rata-rata-tarif-sama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Orang Berihram Memakan Hewan Buruan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ihram-makan-hewan-buruan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ihram-makan-hewan-buruan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 22:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu keadaan berihram]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3069</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Jika seseorang sedang berihram, bolehkah dia memakan hasil buruan orang lain? Jawaban: Abu Qatadah pernah bertanya kepada Rasulullah tentang binatang buruan yang dia tangkap dalam keadaan halal (dia tidak sedang berihram), lalu dia makan bersama para shahabat yang sedang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika seseorang sedang berihram, bolehkah dia memakan hasil buruan orang lain?<span id="more-3069"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Abu Qatadah pernah bertanya kepada Rasulullah tentang binatang buruan yang dia tangkap dalam keadaan halal (dia tidak sedang berihram), lalu dia makan bersama para shahabat yang sedang berihram.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَقَالَ: هَلْ مَعَكُمْ مِنْهُ شَيْءٌ؟ فَنَاوَلَهُ فَأَكَلَهَا وَهُوَ مُحْرِمٌ</p>
<p><em>&#8220;Lalu, Rasulullah bertanya, &#8216;Apakah masih ada sisanya?&#8217; Maka, beliau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> lengan kakinya dan memakannya, sedangkan beliau dalam keadaan berihram</em>.&#8221; (HR. al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa Rasulullah: Anda Bertanya Rasulullah Menjawab</em>, <em>Tahqiq</em> dan<em> Ta&#8217;liq </em>oleh Syekh Qasim ar-Rifa&#8217;i, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Pustaka As-Sunnah, Cetakan Ke-1, 2008.<br />
(Dengan penataan bahasa oleh www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mengambil</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>apa itu keadaan berihram</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ihram-makan-hewan-buruan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebaik-Baik Nama dengan Kata Abdu?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/nama-abdu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/nama-abdu#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 02:24:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2330</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah shahih hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang menyatakan, خَيْرُ اْلأَسْمَاءِ مَا عُبِدَ وَ حُمِد &#8220;Sebaik-baik nama adalah yang dimulai dengan kata &#8216;abd (hamba) dan yang bermakna dipuji.&#8221; Jawaban: Hadits ini tidak sah (tidak valid) berasal dari Nabi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah shahih hadits Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menyatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">خَيْرُ اْلأَسْمَاءِ مَا عُبِدَ وَ حُمِد</p>
<p>&#8220;Sebaik-baik nama adalah yang dimulai dengan kata &#8216;abd (hamba) dan yang bermakna dipuji.&#8221;</p>
<p><span id="more-2330"></span><br />
<strong><br />
Jawaban:</strong></p>
<p>Hadits ini tidak sah (tidak valid) berasal dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> serta tidak benar jika dikatakan sebagai hadits. Bahkan, hadits tersebut adalah hadits yang tidak diketahui asal-usulnya, sebagaimana yang dijelaskan secara gamblang oleh para ulama.</p>
<p>Sumber:<em> Ensiklopedi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">Anak</a>, </em>Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad al-Isawi, Darus Sunnah.</p>
<p>(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a title="www.konsultasisyariah.com" href="http://www.konsultasisyariah.com" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bagaimana</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>anak</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/nama-abdu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberikan Makanan Kafarah kepada Anak-Anak, Bolehkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/makanan-kafarah-kepada-anak</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/makanan-kafarah-kepada-anak#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 07:49:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kafarah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2318</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah boleh memberikan makanan kafarah kepada anak-anak? Jawaban: Boleh, berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala, إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِيْنَ &#8220;Memberi makan sepuluh orang miskin.&#8221; (Qs. Al-Maidah: 89) Sumber: Ensiklopedi Anak, Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad al-Isawi, Darus Sunnah. (Dengan beberapa pengubahan tata ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah boleh memberikan makanan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafarah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafarah">kafarah</a> kepada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anak?</p>
<p><span id="more-2318"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Boleh, berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِيْنَ</p>
<p><em>&#8220;Memberi makan sepuluh orang miskin.&#8221;</em> (Qs. Al-Maidah: 89)</p>
<p>Sumber: <em>Ensiklopedi Anak,</em> Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad al-Isawi, Darus Sunnah.</p>
<p>(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a title="www.konsultasisyariah.com" href="http://www.konsultasisyariah.com" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>anak</strong>, <strong>kafarah</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/makanan-kafarah-kepada-anak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak yang Minum ASI di Gelas, Menjadi Anak Sepersusuan?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/anak-yang-minum-asi-di-gelas-menjadi-anak-sepersusuan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/anak-yang-minum-asi-di-gelas-menjadi-anak-sepersusuan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 01:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[budak]]></category>
		<category><![CDATA[gelas minum asi]]></category>
		<category><![CDATA[halal nyusu asi ma istri]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[syarat syarat makan dan minum termasuk air susu ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1937</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum. Ustadz, saya mau tanya: Kalau ASI yang disimpan di gelas, lalu diberikan/diminumkan kepada seorang anak di bawah 2 tahun, sebanyak lima kali atau lebih dan sampai kenyang, apakah memenuhi syarat menjadi saudara sepersusuan? Jazakallahu khairan. Baarakallaahu fikum. Wassalamu&#8217;alaikum. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum.</p>
<p>Ustadz, saya mau tanya: Kalau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/asi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with asi">ASI</a> yang disimpan di gelas, lalu diberikan/diminumkan kepada seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> di bawah 2 tahun, sebanyak lima kali atau lebih dan sampai kenyang, apakah memenuhi syarat menjadi saudara sepersusuan?</p>
<p>Jazakallahu khairan. Baarakallaahu fikum.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum.</p>
<p>(Abu Mujahid)</p>
<p><span id="more-1937"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa&#8217;alaikumsalaam warahmatullaahi wabarakaatuhu.</p>
<p>Wa fiikum barakallaahu.</p>
<p>Alhamdulillaah washshalaatu wassalaamu &#8216;alaa rasuulillah, wa ba&#8217;du.</p>
<p>Jumhur ulama mengatakan bahwa semua cara menyusui menjadikan anak tersebut anak susuan, apabila terpenuhi semua syarat-syarat (anak di bawah 2 tahun, lima kali atau lebih menyusu), mereka tidak membedakan apakah anak tersebut menyusu langsung, atau tidak langsung (dari gelas misalnya). (Lihat <em>Badai&#8217;ush Shanai&#8217; </em>4/9, <em>Al-Mudawwanah</em> 2/299, <em>Al-Umm</em> 6/76, <em>Al-Majmu&#8217;</em> 18/220, dan <em>Al-Mughny</em> 11/313)</p>
<p>Diantara dalilnya adalah sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لا رضاع إلا ما شد العظم وأنبت اللحم</p>
<p><em>&#8220;Tidak termasuk menyusui kecuali <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/susu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with susu">susu</a> yang membentuk tulang dan menumbuhkan daging.&#8221;</em> (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)</p>
<p>Segi pendalilannya bahwa ASI yang diminum dengan memakai gelas juga bisa membentuk tulang dan menumbuhkan daging, dengan demikian hukumnya sama dengan ASI yang diminum langsung dari payudara ibunya.</p>
<p>Demikian pula kisah Sahlah binti Suhail (istri Abu Hudzaifah) <em>radhiyallahu &#8216;anhaa</em> ketika Salim bin Ma&#8217;qil (bekas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a> Sahlah yang diambil anak oleh Abu Hudzaifah) sudah dewasa dan sering masuk ke rumah mereka, kemudian mereka merasa tidak enak dengan keberadaan Salim, maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyuruh Sahlah untuk menyusui Salim supaya menjadi anak susuannya (dan ini adalah kekhususan Sahlah ketika menyusui Salim) seraya bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أرضعيه تحرمي عليه</p>
<p><em>&#8220;Susuilah dia maka dia menjadi haram atasmu (menjadi mahram).&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Hadist ini menunjukkan bahwa Salim <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> tidak langsung menyusu dari Sahlah karena saat itu dia bukan mahram Sahlah, ini menunjukkan bahwa meminum ASI secara tidak langsung hukumnya sama dengan meminum langsung.</p>
<p>Berkata Al-Qadhy &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ولعله هكذا كان رضاع سالم، يصبه في حلقه دون مسه ببعض أعضائه ثدي امرأة أجنبية</p>
<p>&#8220;Mungkin demikian yang terjadi ketika menyusui Salim, susu sampai ke tenggorokannya tanpa menyentuh payudara wanita asing dengan sebagian anggota badannya.&#8221; (<em>Ikmaalul Mu&#8217;lim</em> 4/641)</p>
<p>Berkata An-Nawawy <em>rahimahullahu</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وهذا الذي قاله القاضي حسن</p>
<p>&#8220;Dan apa yang dikatakan Al-Qadhy ini baik.&#8221; (<em>Syarh Shahih Muslim</em> 10/31)</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: <a title="tanyajawabagamaislam.blogspot.com" href="http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com" target="_blank">tanyajawabagamaislam.blogspot.com</a></p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="konsultasisyariah.com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">konsultasisyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>isa</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>syarat syarat makan dan minum termasuk air susu ibu</strong>, <strong>halal nyusu asi ma istri</strong>, <strong>susu</strong>, <strong>gelas minum asi</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>budak</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/anak-yang-minum-asi-di-gelas-menjadi-anak-sepersusuan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Benar Tape Itu Termasuk Alkohol?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apa-benar-tape-itu-termasuk-alkohol</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apa-benar-tape-itu-termasuk-alkohol#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 05:46:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[apakah tape haram?]]></category>
		<category><![CDATA[halalkah tape]]></category>
		<category><![CDATA[haramkah tape]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum makan tape yang beralkohol]]></category>
		<category><![CDATA[hukum makan tape,duren]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya minum minuman yang beralkohol menjelang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[legen halal]]></category>
		<category><![CDATA[makanan haram]]></category>
		<category><![CDATA[makanan tape halal atau haram]]></category>
		<category><![CDATA[tape ketan halal haram]]></category>
		<category><![CDATA[unsur unsur tape]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1929</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukum makan tape (ketan atau singkong), karena di dalamnya ada alkohol? Jawaban: Tape halal, tidak ada yang perlu dirumitkan dalam masalah ini, karena yang diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makanan dan minuman yang memabukkan, dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> makan tape (ketan atau singkong), karena di dalamnya ada alkohol?<br />
<span id="more-1929"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tape halal, tidak ada yang perlu dirumitkan dalam masalah ini, karena yang diharamkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah makanan dan minuman yang memabukkan, dan pengertian memabukkan adalah yang menghilangkan akal disebabkan oleh makanan atau minuman tersebut. Oleh karenanya, jika makanan tersebut dikonsumsi dengan banyak lalu memabukkan, maka mengkonsumsinya meski sedikit pun menjadi haram, berdasarkan sabda Rasulullah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ وَمَا أَسْكَرَ مِنْهُ الْفَرْقُ فَمِلْءُ الْكَفِّ مِنْهُ حَرَامٌ</p>
<p><em>&#8220;Dari Aisyah, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Setiap yang memabukkan itu haram, dan kalau (minum) satu gentong itu memabukkan, maka meminum satu ciduk tangan pun haram.’”</em> (Hr. Abu Daud: 3587, Tirmizi: 1928, dengan sanad shahih)</p>
<p>Dengan ini, maka illat dan patokannya adalah apakah makanan atau minuman tersebut memabukkan ataukah tidak. Kalau memabukkan berarti haram, sedangkan kalau tidak, berarti halal. Bukan karena ada unsur alkohol ataukah tidak, karena makanan yang mengandung unsur alkohol tidak hanya tape, tetapi juga beberapa buah-buahan, seperti durian, juga minuman yang diambil dari buah pohon siwalan (legen, dalam bahasa Jawa). Bahkan, nasi pun mengandung unsur alkohol.</p>
<p><strong>Namun ada dua hal yang perlu diingat:</strong></p>
<ol>
<li>Harap dibedakan antara memabukkan (hilang akal) dengan sakit mabuk karena makan makanan tertentu. Bisa saja sebuah makanan menyebabkan sakit bila dikonsumsi, mungkin karena berlebihan atau mungkin karena alergi. Namun, ini bukan termasuk makanan yang memabukkan karena memabukkan adalah menghilangkan akal.</li>
<li>Patokan apakah makanan atau minuman itu memabukkan ataukah tidak adalah jika makanan tersebut dikonsumsi oleh orang yang belum pernah minum minuman keras, bukan orang yang sudah biasa teler karena sering minum minuman keras. Wallahu a’lam.</li>
</ol>
<p>Dijawab oleh Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, edisi 12, tahun ke-7, 1430 H/2009 M.</p>
<p>(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi  <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum makan tape,duren</strong>, <strong>legen halal</strong>, <strong>apakah tape haram?</strong>, <strong>hukumnya minum minuman yang beralkohol menjelang puasa</strong>, <strong>unsur unsur tape</strong>, <strong>halalkah tape</strong>, <strong>haramkah tape</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>makanan haram</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apa-benar-tape-itu-termasuk-alkohol/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 58/395 queries in 0.104 seconds using disk: basic
Object Caching 46960/47655 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-08 11:15:06 -->
