<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Pakaian</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/pakaian/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 02:42:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Tas dari Kulit Ular atau Buaya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 07:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[dompet kulit]]></category>
		<category><![CDATA[kulit binatang]]></category>
		<category><![CDATA[memanfaatkan kulit binatang]]></category>
		<category><![CDATA[sabuk kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7953</guid>
		<description><![CDATA[Hukum memakai kulit binatang Pertanyaan, Assalamu&#8217;alaikum ya Ustaz, saya ingin bertanya, apa hukumnya memakai dompet, tali pinggang dan sejenisnya yang terbuat dari kulit binatang (seperti kulit ular, buaya, dll.), terima kasih sebelumnya. wassalam. Rachmat (racXXXXXXX@ymail.com) Hukum memakai kulit binatang Wa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> memakai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kulit-binatang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kulit binatang">kulit binatang</a></h2>
<p>Pertanyaan, <em>Assalamu&#8217;alaikum ya Ustaz</em>, saya ingin bertanya, apa hukumnya memakai dompet, tali pinggang dan sejenisnya yang terbuat dari <strong>kulit binatang</strong> (seperti kulit ular, buaya, dll.), terima kasih sebelumnya. <em>wassalam</em>.</p>
<p><em>Rachmat (racXXXXXXX@ymail.com)</em><br />
<span id="more-7953"></span></p>
<h3>Hukum memakai kulit binatang</h3>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<h3>Sabuk dari kulit ular atau kulit buaya</h3>
<p>Kulit binatang yang halal dimakan dan telah disembelih maka boleh dimanfaatkan, seperti untuk bahan sepatu, sabuk, dan semacamnya. Karena menggunakan benda ini termasuk pemanfaatan yang Allah bolehkan untuk kita.</p>
<p>Sedangkan kulit hewan yang haram, atau hewan yang mati tidak disembelih, atau hewan yang diperselisihkan kehalalannya, seperti binatang buas, para ulama berselisih pendapat tentang hukum memanfaatkan kulitnya. Mengingat adanya beberapa hadis yang menunjukkan bolehnnya menggunakan kulit hewan semacam ini dan ada hadis yang menunjukkan terlarangnya memanfaatkan kulit tersebut.</p>
<p>Disebutkan dalam riwayat Abu Daud dan Turmudzi, bahwa Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang kulit binatang buas. Demikian pula, diriwayatkan Abu Daud dan Nasa&#8217;i bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang memakai kkulit binatang buas dan menunggangi binatang buas.</p>
<p>Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa kulit binatang buas tidak boleh dimanfaatkan.</p>
<p>As-Syaukani dalam <em>Nailul Authar</em> mengatakan, &#8216;Hadis-hadis ini melarang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/memanfaatkan-kulit-binatang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with memanfaatkan kulit binatang">memanfaatkan kulit binatang</a> yang tidak boleh dimakan, (meskipun) dalam keadaan sudah kering. Berdasarkan keumuman hadis, kulit hewan yang haram dimakan juga tidak bisa suci dengan disembelih atau disamak.&#8217;</p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=12628</em></p>
<h3>Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan, kulit binatang ada tiga macam:</h3>
<p><strong>Pertama,</strong> kulit yang suci, baik disamak maupun tidak disamak. Ini adalah jenis kulit hewan yang halal dimakan dan telah disembelih.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> kulit hewan yang tidak bisa menjadi suci, baik setelah disamak ataupun sebelum disamak, hukumnya tetap najis. Ini adalah jenis kulit hewan yang tidak halal dimakan, seperti babi.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> kulit hewan yang bisa suci setelah disamak dan tidak bisa menjadi suci, jika belum disamak. Ini adalah kulit hewan yang boleh dimakan, tapi mati tanpa disembelih (bangkai). Seperti bangkai kambing, dll.</p>
<p>(<em>Liqa&#8217;at Bab Al-Maftuh</em>, volume 52, no. 8)</p>
<p>Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa ular, buaya, harimau adalah haram dimakan.<br />
Imam Nawawi mengatakan,<br />
“Madzhab para ulama tentang hewan melata, seperti ular, kala, kumbang, kecoa, tikus, dan semacamnya, pendapat kami (madzhab syafi&#8217;iyah) adalah haram. Ini merupakan pendapat Abu hanifah, Ahmad, dan Daud adz-Dzahiri. (<em>Al-Majmu&#8217;</em>, 9/16)</p>
<p>Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa tidak dibolehkan menggunakan kulit buaya, ular dan semacamnya.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berhubungan dengan hukum memanfaatkan kulit binatang:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-kucing" target="_blank">Haramnya Jual Beli Kucing</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-tokek" target="_blank">Jual Beli Tokek</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-tokek" target="_blank">Jual Beli Kotoran Hewan</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-kulit-hewan-qurban" target="_blank">Dilarangnya Menjual Kulit Binatang Kurban</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>sabuk kulit</strong>, <strong>dompet kulit</strong>, <strong>memanfaatkan kulit binatang</strong>, <strong>kulit binatang</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Bercelak Bagi Laki-laki</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bercelak-bagi-laki-laki</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bercelak-bagi-laki-laki#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 02:05:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bercelak]]></category>
		<category><![CDATA[celak]]></category>
		<category><![CDATA[celak herbal]]></category>
		<category><![CDATA[indah dengan celak]]></category>
		<category><![CDATA[mata indah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7891</guid>
		<description><![CDATA[Hukum memakai bercelak mata untuk laki-laki Pertanyaan, &#8216;Bagaimana hukumnya bila seorang laki-laki bercelak mata?&#8217; Ade (kuXXXXX@yahoo.co.id) Hukum bercelak bagi laki-laki Bismillah, was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah Ulama berselisih pendapat tentang hukum bercelak untuk laki-laki: Dianjurkan bercelak dengan ismid secara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> memakai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bercelak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bercelak">bercelak</a> mata untuk laki-laki</h2>
<p>Pertanyaan, &#8216;<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> hukumnya bila seorang laki-laki <strong>bercelak</strong> mata?&#8217;</p>
<p><em>Ade (kuXXXXX@yahoo.co.id)</em><br />
<span id="more-7891"></span></p>
<h3>Hukum bercelak bagi laki-laki</h3>
<p><em>Bismillah, was shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah</em></p>
<p>Ulama berselisih pendapat tentang hukum bercelak untuk laki-laki:</p>
<p><strong>Dianjurkan bercelak</strong> dengan ismid secara mutlak. Ini adalah pendapat madzhab syafi’iyah dan madzhab hambali.</p>
<p><strong>Dibolehkan bercelak</strong> bagi lelaki untuk tujuan berdandan. Ini adalah pendapat yang dinukil dari Imam Malik<br />
Dimakruhkan bercelak bagi lelaki untuk tujuan berdandan, dan dibolehkan untuk selain berdandan. Ini adalah pendapat madzhab hanafiyah.</p>
<p><strong>Haram bercelak </strong>bagi lelaki untuk tujuan berdandan, dan dibolehkan untuk selain berdandan. Ini adalah pendapat madzhab malikiyah.</p>
<p>(<em>Ahkam Az-Zina</em>h, 2:511 – 516)</p>
<h3>Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin Hukum bercelak bagi laki-laki:</h3>
<p>Untuk masalah <a href="http://konsultasisyariah.com/memakai-celak-ketika-puasa" target="_blank">bercelak</a> dengan tujuan memperindah mata, apakah ini disyariatkan untuk laki-laki ataukah hanya untuk wanita?</p>
<p>Jawaban, &#8216;Yang dzahir, ini hanya disyariatkan untuk wanita saja. Sementara laki-laki, tidak butuh untuk memperindah matanya. Ada yang mengatakan, ini juga disyariatkan untuk laki-laki&#8230;. Ada juga yang berpendapat bahwa jika ada cacat pada mata seseorang yang butuh untuk diberi <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/celak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with celak">celak</a></strong> maka disyariatkan baginya bercelak. Jika tidak ada maka tidak perlu bercelak.&#8217; (<em>As-Syarhul Mumthi&#8217;</em>, 1: 101)</p>
<h3>Kesimpulan hukum bercelak bagi laki-laki:</h3>
<p>Bahwa dalam bercelak ada dua tujuan:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> dalam rangka memperindah mata. Untuk tujuan ini, lelaki tidak butuh. Bahkan ada sebagian ulama yang melarang. Karena itu, sebaiknya ditinggalkan.<br />
<strong>Kedua,</strong> bercelak untuk tujuan lainnya, misalnya untuk pengobatan, para ulama menegaskan bolehnya hal ini.<br />
Allahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berkaitan dengan hukum <strong>bercelak</strong>: <a href="http://konsultasisyariah.com/memakai-celak-ketika-puasa" target="_blank">Hukum memakai celak saat puasa</a>.<strong><br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mata indah</strong>, <strong>indah dengan celak</strong>, <strong>celak herbal</strong>, <strong>bercelak</strong>, <strong>celak</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bercelak-bagi-laki-laki/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Anjuran Memotong Kuku di Hari Jumat?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hari-jumat-potong-kuku</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hari-jumat-potong-kuku#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 22:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[cara menggunting kuku]]></category>
		<category><![CDATA[hadits mengenai mencukur rambut ketiak pada bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hari jumat]]></category>
		<category><![CDATA[hari untuk potong kuku]]></category>
		<category><![CDATA[hukum cukur jenggot dan potong kuku pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memotong kuku saat puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menggunting kuku saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[memotong bulu kemaluan di bulan ramadhan hukumnya apa?]]></category>
		<category><![CDATA[memotong bulu kemaluan saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku dan kumis di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku pada puasa]]></category>
		<category><![CDATA[memotong rambut saat puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur alis mata]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur bulu kemaluan pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[potong kuku pada bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[potong kuku sebelum sholat jumat]]></category>
		<category><![CDATA[potong kumis saat ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[potong kumis sedang berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[potong rambut kemaluan saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[rambut]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5641</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Pak Ustadz, apakah ada tata cara memotong/membuang kuku? Abu Zahwa (rdhany**@yahoo.***) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah. Syekh Muhammad bin Ismail Al-Muqaddam mengatakan, &#8220;Terdapat beberapa riwayat tentang tata cara memotong kuku. Memotong kuku ini bisa dilakukan di hari Kamis, Jumat, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. Pak Ustadz, apakah ada tata cara memotong/membuang kuku?</p>
<p><em>Abu Zahwa (rdhany**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-5641"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p>Syekh Muhammad bin Ismail Al-Muqaddam mengatakan, &#8220;Terdapat beberapa riwayat tentang tata cara memotong kuku. Memotong kuku ini bisa dilakukan di hari Kamis, Jumat, atau hari lainnya. Tidak terdapat dalil sahih yang memberikan batasan waktu memotong kuku dengan hari tertentu. Namun, umumnya ulama menganjurkan untuk melakukannya di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hari-jumat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hari jumat">hari Jumat</a>. Mengingat, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hari-jumat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hari jumat">hari Jumat</a> adalah hari raya mingguan. Demikian pula untuk memotong bagian tubuh yang kotor lainnya. Akan tetapi, tidak ada dalil yang mengkhususkan hal ini dengan waktu tertentu atau batasan tertentu. Karena itu, selama kuku ini layak untuk dipotong maka hendaknya seseorang memotonganya.&#8221; (<em>Sunan Al-Fitrah</em>, 3:3)</p>
<p>Di antara riwayat yang menyebutkan anjuran memotong kuku hari Jumat adalah:</p>
<p><strong>Hadis pertama,</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>كان يقلم أظافره ويقص شاربه يوم الجمعة قبل أن يخرج إلى الصلاة</strong></p>
<p>“Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terbiasa memotong kuku dan kumis beliau pada hari Jumat, sebelum berangkat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> Jumat.”</p>
<p><strong>Hadis kedua,</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>من قلم أظافره يوم الجمعة وقي من السوء إلى مثلها</strong></p>
<p>“<em>Barang siapa yang memotong kukunya pada hari Jumat maka dia dilindungi dari kejelekan semisalnya</em>.”</p>
<p>Kedua hadis tersebut dinilai &#8220;<strong>lemah</strong>&#8221; oleh Imam Al-Albani. Hadis pertama beliau nyatakan statusnya &#8220;<em><strong>dhaif</strong></em>&#8221; dan hadis kedua beliau nilai sebagai hadis &#8220;<strong>palsu</strong>&#8220;. (<em>Mukhtashar Silsilah Dhaifah</em>, no. 112 dan no. 1816)</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, para ulama menyimpulkan, tidak ada anjuran dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk memotong kuku di hari Jumat. Al-Hafizh As-Sakhawi mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لم يثبت في كيفيته ولا في تعيين يوم له عن النبي صلى الله عليه وسلم شيء</strong></p>
<p>“Tidak terdapat riwayat yang sahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang tata cara memotong kuku dan hari tertentu untuk memotong kuku.” (<em>Al-Maqasidul Hasanah</em>, hlm. 163)</p>
<p>Kemudian, terdapat beberapa riwayat dari para sahabat dan <em>tabi&#8217;in</em> bahwa mereka memiliki kebiasaan memotong kuku di hari Jumat. Di antara riwayat tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam <em>Sunan Al-Kubra</em>, 3:244; dari Nafi&#8217;, bahwa Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> terbiasa memotong kuku dan memangkas kumis pada hari Jumat.</li>
<li>Disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Al-Mushannaf</em>, 2:65; dari Ibrahim, bahwa beliau menceritakan, &#8220;Orang-orang memotong kuku mereka pada hari Jumat.&#8221;</li>
<li>Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam <em>Al-Mushannaf</em>, 3:197; bahwa Muhammad bin Ibrahim At-Taimi&#8211;salah seorang <em>tabi&#8217;in</em>&#8211;mengatakan, “Siapa saja yang memotong kukunya pada hari Jumat dan memendekkan kumisnya maka dia telah menyempurnakan hari Jumatnya.”</li>
</ol>
<p>Berdasarkan riwayat dari para sahabat di atas, sebagian ulama dari Mazhab Syafi&#8217;iyah dan Hanbali menganjurkan untuk memotong kuku setiap hari Jumat.</p>
<p>Imam An-Nawawi mengatakan, “Imam Asy-Syafi&#8217;i dan para ulama Mazhab Syafi&#8217;iyah <em>rahimahumullah</em> menegaskan dianjurkannya memotong kuku dan mencukur <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rambut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rambut">rambut</a>-rambut di badan (kumis dan bulu kemaluan, <em>pen.</em>) pada hari Jumat.” (<em>Al-Majmu&#8217; Syarh Muhadzab</em>, 1:287)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar pernah memberikan keterangan, &#8220;Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang memotong kuku. Beliau menjawab, &#8216;Dianjurkan untuk dilakukan di hari Jumat, sebelum matahari tergelincir.&#8217; Beliau juga mengatakan, &#8216;Dianjurkan di hari kamis.&#8217; Beliau juga mengatakan, &#8216;Orang boleh milih waktu untuk memotong kuku.&#8217;&#8221; Setelah membawakan pendapat Imam Ahmad, kemudian Al-Hafizh memberikan komentar, &#8220;(Pendapat terakhir) adalah pendapat yang dijadikan pegangan, bahwa memotong kuku itu disesuaikan dengan kebutuhan.&#8221; (Dinukil dari <em>Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi</em>, 8:33)</p>
<p>Di sisi lain, sebagian ulama memberikan kelonggaran dalam menentukan hari memotong kuku. Seseorang disyariatkan untuk memotong kuku kapan pun dia membutuhkan. Hanya saja, <strong>tidak boleh dibiarkan sampai melebihi 40 hari</strong>. Ini adalah pendapat Imam An-Nawawi dan Al-Hafizh Ibnu Hajar. Dasarnya adalah hadis dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Beliau mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberikan batasan waktu kepada kami untuk memotong kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, agar tidak dibiarkan lebih dari empat puluh hari.” (H.R. Muslim, Abu Daud, dan An-Nasa&#8217;i)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>memotong kuku ketika puasa</strong>, <strong>cara menggunting kuku</strong>, <strong>memotong bulu kemaluan saat puasa</strong>, <strong>memotong kuku jum&#039;at</strong>, <strong>hari jumat</strong>, <strong>memotong rambut saat puasa ramadhan</strong>, <strong>memotong kuku dan kumis di bulan puasa</strong>, <strong>potong kumis saat ramadhan</strong>, <strong>potong rambut kemaluan saat puasa</strong>, <strong>hari untuk potong kuku</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hari-jumat-potong-kuku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat dengan Pakaian Terkena Najis</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/lupa-kalau-pakaian-terkena-najis</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/lupa-kalau-pakaian-terkena-najis#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 01:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[apakah pakaian yang terkena najis boleh dipakai shalat?]]></category>
		<category><![CDATA[aurat]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bila kita tidak sengaja kena najis]]></category>
		<category><![CDATA[bila pakaian terkena najis dan hanya itu yang dipakai]]></category>
		<category><![CDATA[haruskah melepas celana dalam apabila kita sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum bila sholat tidak sengaja terkena najis]]></category>
		<category><![CDATA[hukum terkena najis dalam sembahyang]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengucapkan niat puasa dalam keadaan junub]]></category>
		<category><![CDATA[mulai puasa dalam keadaan najis]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian yang terkena najis]]></category>
		<category><![CDATA[qabliyah]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>
		<category><![CDATA[sandal di kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat tapi pakain kena najis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4759</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Begini, Ustadz. Pakaian saya, pada malam hari, ada yang terkena najis. Pagi hari, saya lupa menggantinya. Setelah beres shalat shubuh, saya baru ingat. Jika shalat saya harus diulang, apakah hanya shalat shubuhnya yang diulang ataukah boleh qabliyah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Begini, Ustadz. Pakaian saya, pada malam hari, ada yang terkena najis. Pagi hari, saya lupa menggantinya. Setelah beres <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> shubuh, saya baru ingat. Jika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> saya harus diulang, apakah hanya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> shubuhnya yang diulang ataukah boleh <em><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/qabliyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with qabliyah">qabliyah</a></em> shubuhnya juga diulang? Mana yang didahulukan: shalat shubuh dulu atau <em>qabliyah</em> shubuh dulu?</p>
<p><em>Tedi Permana (teddy_**@***.co.id)</em><br />
<span id="more-4759"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Orang yang shalat dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pakaian-yang-terkena-najis" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pakaian yang terkena najis">pakaian yang terkena najis</a>, baik karena dia tidak tahu atau karena dia lupa, padahal sebelumnya dia tahu bahwa pakaiannya itu bernajis dan dia baru teringat tentang hal itu setelah dia selesai shalat, maka <strong>shalatnya sah dan tidak perlu diulang</strong>.</p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> jika hal itu diketahui/diingat di tengah shalat? Dalam hal ini, ada rincian:<br />
1. <strong>Jika memungkinkan untuk dilepas</strong>&#8211;artinya, jika pakaian itu dilepas maka tidak sampai membuka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/aurat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with aurat">aurat</a>&#8211;maka pakaian tersebut harus dilepas. Seperti, peci atau yang lainnya.<br />
2. <strong>Jika tidak memungkinkan untuk dilepas</strong>, karena jika dilepas maka auratnya bisa terbuka, maka pakaian tersebut tidak perlu dilepas, dan shalatnya sah. (Keterangan dari Syekh Abdul Azhim Al-Badawi, dalam <em>Al-Wajiz</em>, hlm. 81)</p>
<p>Dalilnya adalah hadis dari Abu Said Al-Khudri, bahwa suatu ketika, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melepas sendalnya ketika beliau shalat. Para <em>shahabat</em> yang bermakmum di belakang beliau pun ikut-ikutan melepas sendal mereka. Setelah selesai shalat, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;Apa yang menyebabkan kalian melepaskan sendal kalian?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami melihat Anda melepas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sandal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sandal">sandal</a>, sehingga kami pun mengikutinya.&#8221; Kemudian, beliau menjelaskan, &#8220;Sesungguhnya, Jibril mendatangiku dan memberitahukan padaku bahwa di kedua sendalku ada najis (sehingga beliau pun melepas kedua sendal beliau, <em>pent.</em>).&#8221; (HR. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)</p>
<p><strong>Kandungan fikih pada hadis tersebut</strong>: Andaikan shalat dalam keadaan lupa atau tidak tahu&#8211;bahwa di bagian pakaiannya ada najis&#8211;itu dihukumi batal, tentu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> akan mengulangi shalatnya dari awal. Namun, dalam hadis di atas, beliau hanya melepas sendal dan tidak mengulangi shalatnya dari awal.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong>.<br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum terkena najis dalam sembahyang</strong>, <strong>haruskah melepas celana dalam apabila kita sholat</strong>, <strong>qabliyah</strong>, <strong>mengucapkan niat puasa dalam keadaan junub</strong>, <strong>apakah pakaian yang terkena najis boleh dipakai shalat?</strong>, <strong>hukum bila sholat tidak sengaja terkena najis</strong>, <strong>mulai puasa dalam keadaan najis</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>aurat</strong>, <strong>bila pakaian terkena najis dan hanya itu yang dipakai</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/lupa-kalau-pakaian-terkena-najis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalat dengan Pakaian Najis</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-shalat-dengan-pakaian-najis</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-shalat-dengan-pakaian-najis#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2011 00:15:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum orang yang tidak tahu doa-doa sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tidak tahu]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[najis batalkan sholat]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian yang membatalkan sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat dengan pakaian najis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4177</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Tanya: Seseorang shalat, sementara di pakaiannya ada benda najis dan dia tidak tahu sampai selesai shalat. Apa hukum shalatnya? Jawab: Shalatnya sah. Bahkan jika ada orang yang mengetahui di bajunya ada najis, namun dia lupa mencucinya, kemudian dia shalat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p>Seseorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>, sementara di pakaiannya ada benda najis dan dia tidak tahu sampai selesai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>. Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> shalatnya?</p>
<p><span id="more-4177"></span></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Shalatnya sah. Bahkan jika ada orang yang mengetahui di bajunya ada najis, namun dia lupa mencucinya, kemudian dia shalat dengan baju ini maka shalatnya sah. Karena Allah berfirman, yang artinya,</p>
<p><em>“Ya Allah, janganlah engkau siksa kami, ketika kami lupa atau keliru.” </em> (QS. Al Baqarah: 286),</p>
<p>Dan Allah telah mengabulkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> ini.</p>
<p>Disamping itu, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mengimami para sahabat kemudian didatangi Jibril untuk memberi tahu bahwa di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sandal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sandal">sandal</a> beliau ada kotoran. Lalu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melepasnya dan beliau tetap melanjutkan shalat (tanpa membatalkan). Andaikan shalat itu batal disebabkan tidak tahu ada najis di pakaian, tentu Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> akan (membatal) kemudian mengulangi shalatnya dari awal.</p>
<p>Sumber: <em>Liqa&#8217;at Bab Al Maftuh</em>, volume: 1, no. 30<br />
Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum</strong>, <strong>pakaian yang membatalkan sholat</strong>, <strong>sandal</strong>, <strong>hukum tidak tahu</strong>, <strong>najis batalkan sholat</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>sholat dengan pakaian najis</strong>, <strong>hukum orang yang tidak tahu doa-doa sholat</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-shalat-dengan-pakaian-najis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malu Mengenakan Busana Muslim</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/malu-mengenakan-busana-muslim</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/malu-mengenakan-busana-muslim#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 00:38:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4138</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ada sebagian orang yang ketika bertandang ke luar negeri, lalu merasa tertekan dan malu bila mengenakan busana yang menunjukkan keislamannya. Apa saran Anda, wahai Syeikh? Jawaban: Memang benar perihal yang dikatakan oleh penanya, dan ini sungguh ironis. Kendati kita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ada sebagian orang yang ketika bertandang ke luar negeri, lalu merasa tertekan dan malu bila mengenakan busana yang menunjukkan keislamannya. Apa saran Anda, wahai Syeikh?</p>
<p><strong><span id="more-4138"></span>Jawaban:</strong></p>
<p>Memang benar perihal yang dikatakan oleh penanya, dan ini sungguh ironis. Kendati kita memang orang-orang yang tinggi derajatnya, namun kita dapati adanya kelemahan kepribadian, dan realitanya kita merasakan bahwa kita hanyalah pengekor dan pengikut mereka.</p>
<p>Ada sebagian orang di antara kita, ketika melihat sesuatu yang bermanfaat tidak mengaitkannya kepada dirinya dan tidak pula kepada kaum muslimin lainnya, namun mengatakan, &#8220;Ini merupakan peradaban barat atau timur,&#8221; dan ia tidak merasa bangga dengan kepribadiannya di hadapan arus kerusakan mereka.</p>
<p>Padahal, ketika mereka datang ke negara kita dengan pakaian mereka yang memalukan, terbuka dan vulgar, bahkan para wanita mereka ketika berada di negara-negara kaum muslimin berpakaian setengah pahanya terbuka, lehernya terbuka, betisnya terbuka dan berjalan berlenggak-lenggok dengan kedua kakinya, seolah-olah menghentakkan bumi dari bawah dan tidak peduli bahwa dirinya adalah seorang wanita.</p>
<p>Lalu, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> dengan kaum laki-laki muslim? Kenapa mesti malu berjalan dengan mengenakan busana muslim yang tertutup di negara mereka? Bukankah ini bukti nyata yang menunjukkan lemahnya kepribadian?</p>
<p>Jawabannya, tentu saja jika kita memperlakukan mereka dengan cara serupa berarti kita telah memperlakukan mereka dengan adil. Saat mereka datang ke negara kita dengan pakaian mereka tanpa mempedulikan perasaan kita, kenapa kita tidab bisa datang bertandang ke negara mereka dengan mengenakan busana khas kita dan tidak mempedulikan perasaan mereka.</p>
<p>Ada seseorang yang saya percaya bercerita kepada saya, kini ia telah menghuni kuburan, ia mengatakan, bahwa ketika ia berkunjung ke suatu ibu kota negara barat dengan mengenakan busana islami khas negaranya, ia mengatakan, &#8220;Saya dapati mereka lebih banyak menghormati, bahkan mereka bersegera membukakan pintu mobil saat saya hendak naik.&#8221;</p>
<p>Lihat, bagaimana seseorang merasa bangga karena telah dimuliakan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Namun, jika kita merendahkan diri di hadapan mereka, tentunya ini bukan sikap seorang muslim.</p>
<p>Jika Anda melihat ulang sejarah dan perilaku para <em>mujahidin</em>, serta muslimin terhadap musuh-musuh mereka dalam peperangan, tentu akan anda dapatkan, betapa bangganya kaum muslimin di hadapan para musuhnya.</p>
<p>Kemudian, seharusnya seorang muslim memelihara kehormatannya, yaitu dengan tidak menganggap cara hidup mereka yang memalukan itu sebagai peradaban, tapi yang benar adalah kehinaan, bukannya peradaban karena yang demikian itu mengarah kepada kerusakan moral dan kekejian bahkan kekufuran kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p><em>Demi Allah</em>, tidak benar kita menyebutnya sebagai peradaban, bagaimana jadinya? Peradaban yang sesungguhnya adalah kemajuan yang bermanfaat, yaitu dengan berpegang teguh dengan agama Islam dan moralnya. Kenapa kita memberi mereka harga yang murah? Agar kita katakan bahwa kalian adalah penyandang peradaban dan kita adalah penyandang keterbelakangan, padahal seharusnya kita maju dengan keislaman kita, baik secara akidah, perbuatan, maupun <em>manhaj</em>, agar peradaban kita masuk kepada mereka.</p>
<p>Bukankah kejujuran termasuk peradaban? Jawabannya, benar. Itu terdapat dalam Islam, dan Islam telah menganjurkannya, sebagaimana Firman Allah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.&#8221;</em> (QS. At-Taubah: 119)</p>
<p>Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَ إِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيْقًا، وَ إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُوْرِ وَ إِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan ke <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>, dan sungguh seseorang senantiasa berlaku jujur hingga dicatat sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan itu menunjukkan ke neraka, dan sungguh seseorang senantiasa berdusta sehingga dicatat sebagai pendusta.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Namun sayangnya, banyak kaum muslimin yang telah kehilangan kejujuran, sehingga kita belum mencerminkan Islam dengan porsi yang besar dalam segi ini.<br />
Jujur dan terus terang dalam pergaulan telah diajarkan oleh Islam, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اَلْبَيْعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَ بَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا وَ إِنْ كَذَبَا وَ كَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا</p>
<p><em>&#8220;Dua orang yang saling berjual-beli tetap memiliki hak pilih selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan saling berterus terang, maka keberkahan dilimpahkan bagi mereka pada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> mereka. Namun, jika keduanya saling berdusta dan saling menutupi, maka keberkahan akan dicabut dari jual-beli mereka.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Apakah kejujuran dan keterusterangan ini telah terealisasi pada setiap muslim? Jawabnya, tidak, bahkan itu telah sirna dari sebagian kaum Muslimin, karena ada sebagian kaum muslimin yang tidak jujur dan enggan berterus terang. Bahkan, ada yang mengatakan, &#8220;Barang ini harganya seratus riyal,&#8221; padahal sebenarnya hanya lima puluh riyal. Bukankah ini merupakan kedustaan dan penipuan? Padahal Islam telah melarang ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>telah bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang menipu kami, ia bukan dari golongan kami.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah berlepas diri dari yang demikian. Meskipun begitu, sebagian kaum muslimin melakukan penipuan, <em>na&#8217;udzu billah</em>. Bila kita amati pula sekitar kita, akan kita dapati kondisi yang memalukan. Anda akan dapati bahwa ajaran-ajaran Islam yang telah memerintahkan untuk berlaku jujur, terus terang, lembut dan halus, telah sirna dari sebagian kita, bahkan kondisi yang kebalikannya yang banyak terdapat pada sebagian kita. Karena itu, bisa kita katakan bahwa sebagian kaum muslimin telah lari dari Islam dengan perilaku yang ebrtolak belakang dengan Islam. (<em>Fatawa al-Aqidah</em>, hlm. 787&#8211;789, Syekh Ibnu Utsaimin)</p>
<p>Sumber:<em> Fatwa-Fatwa Terkini Jilid</em> 2, Darul Haq, Cetakan V, 2008.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>
<p>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bagaimana</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>oral</strong>, <strong>surga</strong>, <strong>jual beli</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/malu-mengenakan-busana-muslim/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Memakai Sepatu atau Sandal Hak Tinggi Bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-atau-sandal-hak-tinggi-bagi-wanita</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-atau-sandal-hak-tinggi-bagi-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Mar 2011 01:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah sholat memakai sepatu]]></category>
		<category><![CDATA[cara wanita islam memakai celak]]></category>
		<category><![CDATA[foto sendal sepatu hak]]></category>
		<category><![CDATA[gambar model sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[gambar sandal hak]]></category>
		<category><![CDATA[gambar sandal hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[gambar sandal tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai jilbab bagi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[model sandal hak tinggi yang terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[model sandal tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[model sendal hak]]></category>
		<category><![CDATA[model sendal hak tinggi 2011]]></category>
		<category><![CDATA[photo sendal hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>
		<category><![CDATA[sandal cewek hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sandal dan sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sandal perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sendal hak tinggi untuk perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[sendal perempuan hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sendal wanita tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu hak tinggi untuk pria]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu sandal hak]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu tinggi wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4056</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukum seorang wanita yang memakai sepatu atau sandal hak tinggi? (Hal tersebut dilakukan) karena baju yang dipakai panjang, dan bila hak sandal tidak tinggi maka bajunya menyapu tanah. Jawaban: Pertanyaan Saudari mengandung dua hal: Hukum memakai sepatu atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> seorang wanita yang memakai sepatu atau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sandal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sandal">sandal</a> hak tinggi? (Hal tersebut dilakukan) karena baju yang dipakai panjang, dan bila hak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sandal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sandal">sandal</a> tidak tinggi maka bajunya menyapu tanah.</p>
<p><strong><span id="more-4056"></span>Jawaban:</strong></p>
<p>Pertanyaan Saudari mengandung dua hal:</p>
<ol>
<li>Hukum memakai sepatu atau sandal hak tinggi.</li>
</ol>
<ol>
<li><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> hijab atau pakaian perempuan yang <em>syar&#8217;i </em>itu? Bolehkah menyentuh tanah atau tidak?</li>
</ol>
<p>Pertanyaan pertama telah terjawab oleh Syekh Abdul Aziz bin baz dengan fatwa beliau, &#8220;Minimal hukumnya makruh karena beberapa sebab. Pertama, itu adalah bentuk penipuan karena seolah-olah sang wanita kelihatan tinggi padahal tidak. Kedua, berbahaya bagi perempuan tersebut karena bisa jatuh. Ketiga, ada efek negatif lain yang nyata sebagaimana dijelaskan oleh para dokter.&#8221; <em>(Fatawa al-Mar&#8217;ah</em>, hlm. 168).<br />
<strong></strong><br />
Adapun masalah yang kedua, kita simak fatwa Syeikh Shalih Al-Fauzan berikut, &#8220;Wajib bagi perempuan muslimah menutup semua bagian tubuhnya dari pandangan laki-laki. Oleh karena itu, mereka diberikan keringanan untuk menjulurkan bagian bawah pakaiannya seukuran satu hasta agar menutup kedua kakinya.&#8221; (<em>Al-Muntaqa</em>: 5/334)</p>
<p>Sumber: <em>Majalah Mawaddah</em>, Edisi 12, Tahun Ke-1, <em>Jumadits Tsaniyah</em>&#8211;<em>Rajab</em> 1429 H/Juli 2008.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)<br />
Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>model sendal hak tinggi 2011</strong>, <strong>gambar sandal tinggi</strong>, <strong>gambar sandal hak</strong>, <strong>sendal hak tinggi untuk perkawinan</strong>, <strong>hukum memakai jilbab bagi wanita</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>sandal perempuan</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>gambar sandal hak tinggi</strong>, <strong>bagaimana</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-atau-sandal-hak-tinggi-bagi-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Merias Tangan dan Kaki bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-merias-tangan-dan-kaki-bagi-wanita</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-merias-tangan-dan-kaki-bagi-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 23:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merias bagi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[melukis tangan wanita arab]]></category>
		<category><![CDATA[merias tangan]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3869</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Syekh Shalih al-Fauzan ditanya tentang hukum merias kedua tangan dan kaki bagi para perempuan. Jawaban: Merias (melukis di) tangan dan kaki dengan daun pacar (inai) disarankan bagi para wanita yang sudah menikah, dengan dalil hadits-hadits yang masyhur tentang hal ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syekh Shalih al-Fauzan ditanya tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> merias kedua tangan dan kaki bagi para perempuan.<br />
<span id="more-3869"></span><br />
<strong>Jawaban:<br />
</strong><br />
Merias (melukis di) tangan dan kaki dengan daun pacar (inai) disarankan bagi para wanita yang sudah menikah, dengan dalil hadits-hadits yang masyhur tentang hal ini, yang menunjukkan kebolehannya. Di antaranya adalah riwayat Abu Daud, bahwasanya ada wanita yang bertapa pada Aisyah tentang merias dengan daun pacar (inai), beliau menjawab, &#8220;<em>Boleh, tetapi aku tidak menyukainya, sedangkan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak menyukai baunya.</em>&#8221; (HR. An-Nasa&#8217;i)</p>
<p>Dari Aisyah ia berkata bahwa ada seorang wanita yang menyodorkan kitab kepada Rasulullah<em> shalallahu Alaihi wa sallam</em> dari balik tabir, kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menahan tangan beliau dan bersabda, &#8220;<em>Saya tidak tahu, ini tangan lelaki atau tangan perempuan</em>.&#8221; (HR. Abu Daud dan An-Nasa`i)</p>
<p>Akan tetapi tidak diperbolehkan untuk melukisi kuku-kukunya dengan zat yang bisa mengental dan menghalangi aliran air ketika <em>thaharah </em>(bersuci).</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita,</em> Jilid 3, Darul Haq, Cetakan VI, 2010.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>melukis tangan wanita arab</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>merias tangan</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hukum merias bagi wanita</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-merias-tangan-dan-kaki-bagi-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Merias Wajah dengan Mewarnainya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-merias-wajah-dengan-mewarnainya</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-merias-wajah-dengan-mewarnainya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 02:13:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai mekap ketika berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merias orang]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[suntik muka batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[wajah orang yang berpuasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3867</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya, &#8220;Apa hukum make up yang dipergunakan wanita untuk merias wajah?&#8221; Jawaban: Riasan wajah perlu dirinci. Apabila menjadikannya lebih cantik dan tidak membahayakan bagi wajahnya atau tidak menyebabkan apa-apa di wajah, maka hukumnya boleh. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya, &#8220;Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <em>make up </em>yang dipergunakan wanita untuk merias wajah?&#8221;<br />
<span id="more-3867"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Riasan wajah perlu dirinci. Apabila menjadikannya lebih cantik dan tidak membahayakan bagi wajahnya atau tidak menyebabkan apa-apa di wajah, maka hukumnya boleh. Namun apabila menyebabkan sesuatu, seperti menyebabkan adanya warna hitam yang tidak bisa dihilangkan atau menyebabkan bahaya-bahaya lainnya, maka ini dilarang, dengan alasan adanya bahaya tersebut.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 3, Darul Haq, Cetakan VI, 2010.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>suntik muka batal puasa</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>wajah orang yang berpuasa</strong>, <strong>hukum merias orang</strong>, <strong>hukum memakai mekap ketika berpuasa</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-merias-wajah-dengan-mewarnainya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Memakai Sepatu Hak Tinggi</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-hak-tinggi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-hak-tinggi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 02:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[adab memakai kutek]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya bagi perempuan menggunakan pewarna kuku]]></category>
		<category><![CDATA[apakah muslimah boleh memakai sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa memakai sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hadist menggunakan sepatu tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hadist wanita memakai sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[hak tinggi 2011]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai pewarna kuku]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai sepatu berhak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pakai kutek diwaktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kuku panjang dan memakai kutek boleh]]></category>
		<category><![CDATA[larangan anak perempuan memakai sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[larangan tentang anak]]></category>
		<category><![CDATA[memakai kutex]]></category>
		<category><![CDATA[memakai sepatu tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu hak]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3865</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Lajnah Daimah lil Ifta ditanya, &#8220;Apa hukum memakai sepatu hak tinggi bagi wanita, menggunakan kutek bagi kaum wanita? Mana yang lebih baik, cat kuku atau daun pacar? Apa hukum menggunakan daun pacar ketika sedang haid? Jawaban: Menggunakan sepatu hak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Lajnah Daimah lil Ifta</em> ditanya, &#8220;Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> memakai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sepatu-hak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sepatu hak">sepatu hak</a> tinggi bagi wanita, menggunakan kutek bagi kaum wanita? Mana yang lebih baik, cat kuku atau daun pacar? Apa hukum menggunakan daun pacar ketika sedang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a>?<br />
<span id="more-3865"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Menggunakan sepatu hak tinggi tidak diperbolehkan karena bisa menyebabkan wanita yang memakainya terjatuh, sedangkan manusia senantiasa diperintahkan untuk menjauhi hal-hal yang membahayakan, berdasarkan keumuman firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p>وَلاَ تُلْقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ</p>
<p>&#8220;<em>Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.</em>&#8221; (Qs. Al-Baqarah: 195)</p>
<p>Serta firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p>وَلاَ تَقْتُلُوْا أَنْفُسَكُمْ</p>
<p>&#8220;<em>Dan janganlah kamu membunuh dirimu.</em>&#8221; (Qs. An-Nisa`: 29)</p>
<p>Juga karena menampakkan tingginya wanita lebih dari yang sebenarnya. Ini merupakan penipuan dan upaya untuk menampakkan keindahan yang wanita muslimah dilarang untuk menampakkannya, berdasarkan firman Allah<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p>وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam.&#8221;</em> (Qs. An-Nur: 31)</p>
<p>Sedangkan kutek (cat kuku), tidak boleh dipakai karena menahan air ketika sedang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wudhu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wudhu">wudhu</a> dan mandi. Adapun tentang daun pacar, kami, tidak mendapatkan larangan memakainya (ketika haid) sebagaimana ketika sedang suci.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 3, Darul Haq, Cetakan VI, 2010.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum pakai kutek diwaktu puasa</strong>, <strong>hadist menggunakan sepatu tinggi</strong>, <strong>larangan anak perempuan memakai sepatu hak tinggi</strong>, <strong>larangan tentang anak</strong>, <strong>hukum memakai pewarna kuku</strong>, <strong>hak tinggi 2011</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>kuku panjang dan memakai kutek boleh</strong>, <strong>adab memakai kutek</strong>, <strong>apakah muslimah boleh memakai sepatu hak tinggi</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-hak-tinggi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Ibu Memakaikan Rok Mini untuk Putrinya, Apakah Sang Ayah Berdosa?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ibu-memakaikan-rok-mini-untuk-pu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ibu-memakaikan-rok-mini-untuk-pu#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 02:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[rok mini saat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[taraweh pakaian mini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3436</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apabila seorang ibu memakaikan rok pendek pada putrinya yang masih berusia delapan tahun dan si ayah sendiri ketika melihatnya tidak berkomentar, padahal sebenarnya ia tidak setuju dengan pakaian tersebut, lalu apakah si ayah berdosa atas sikapnya tersebut? Jawaban: Keduanya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apabila seorang ibu memakaikan rok pendek pada putrinya yang masih berusia delapan tahun dan si ayah sendiri ketika melihatnya tidak berkomentar, padahal sebenarnya ia tidak setuju dengan pakaian tersebut, lalu apakah si ayah berdosa atas sikapnya tersebut?<br />
<span id="more-3436"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Keduanya berdoaa. Seorang ayah berdosa karena ia penanggung jawab seluruh isi rumah tangganya, terhadap istrinya dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anaknya. Seharusnya ia menasihati istrinya, yaitu ibu dari putrinya, dan juga menasehati putrinya. Si ibu juga berdosa karena ia bertanggung jawab terhadap putri-putrinya dan ia ridha dengan pakaian seperti itu untuk putrinya. Artinya, baik si ayah maupun si ibu telah bahu-membahu dalam melakukan dosa dan permusuhan. Tanggung jawab dan beban seorang suami lebih besar ketimbang tanggung jawab sang istri, karena dialah tulang punggung keluarga, istri dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anaknya. Adapun istri, ia memiliki tanggung jawab yang lebih kecil, yaitu hanya bertanggung jawab terhadap putra-putrinya. Intinya, baik ayah maupun ibu sama-sama berdosa karena mereka berdua telah bahu-membahu berbuat dosa dan permusuhan, serta telah membiasakan perbuatan buruk kepara putrinya sejak usia dini. (Fatawa Syekh Abdur Razaq ‘Afifi, hlm. 574)</p>
<p>Sumber: <em>Ensiklopedi Anak</em>, Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi, Darrus Sunnah.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>taraweh pakaian mini</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>rok mini saat taraweh</strong>, <strong>doa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ibu-memakaikan-rok-mini-untuk-pu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Mengenakan Jilbab Lebar untuk Putri yang Berusia Empat Tahun</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/jilbab-lebar-putri-empat-tahun</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/jilbab-lebar-putri-empat-tahun#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 02:36:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum jiblab]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab lebar zea]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3433</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Abang saya memakaikan putrinya jilbab lebar, sementara putrinya masih berumur empat tahun. Abang saya berkata, “Barangsiapa yang tumbuh di atas sesuatu, maka ia akan terbiasa dengannya (seperti yang dikatakan orang: bisa karena terbiasa).” Ia juga berusaha melakukan hal itu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Abang saya memakaikan putrinya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jilbab" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jilbab">jilbab</a> lebar, sementara putrinya masih berumur empat tahun. Abang saya berkata, “Barangsiapa yang tumbuh di atas sesuatu, maka ia akan terbiasa dengannya (seperti yang dikatakan orang: bisa karena terbiasa).” Ia juga berusaha melakukan hal itu kepada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anak saya. Saya tidak sependapat dengan prinsipnya tersebut. Saya katakan, “Nanti saja setelah <em>baligh</em>.” <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> komentar Anda tetang sikap keras seperti ini yang diterapkan anak-anak kecil yang masih berusia empat tahun?”<br />
<span id="more-3433"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa yang dikatakan saudara Anda itulah yang umum terjadi. Benar! Siapa saja yang tumbuh besar di atas sesuatu, maka ia akan terbiasa dengannya. Hal ini sama seperti perintah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> agar menyuruh anak-anak untuk mengerjakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> ketika mereka berusia tujuh tahun agar ia terbiasa melakukannya, walaupun pada usia ini mereka belum dibebani <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <em>syar’i</em>. Hanya saja, anak perempuan sekecil itu belum dibebani hukum tidak wajib menutup wajahnya, leher, kedua tangannya dan kedua kakinya, serta mereka tidak boleh dipaksa untuk menutupnya.</p>
<p>Akan tetapi, apabila mereka sudah mencapai usia yang menarik perhatian serta syahwat para laki-laki, maka ia wajib menutup wajah demi menghindari dirinya dari fitnah dan kejahatan. Masalah ini berbeda antara satu wanita dengan wanita lainnya. Ada di antara wanita yang pertumbuhannya cepat dan fisiknya subur, ada juga yang sebaliknya. <em>Allahu a’lam</em>. (Syekh Ibnu ‘Utsaimin dalam <em>Fatawa Manaru al-Islam,</em> III/810)</p>
<p>Sumber:<em> Ensiklopedi Anak,</em> Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi, Darrus Sunnah.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bagaimana</strong>, <strong>jilbab lebar zea</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>hukum jiblab</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>jilbab</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>shalat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/jilbab-lebar-putri-empat-tahun/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat dengan Pakaian yang Terkena Mani, Madzi, dan Wadi</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/shalat-pakaian-terkena-mani-madzi-wadi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/shalat-pakaian-terkena-mani-madzi-wadi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Dec 2010 02:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah menggunakan pakaian yang terkena mani untuk shalat]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[madzi terkena pakaian buat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[mani]]></category>
		<category><![CDATA[mani madzi wadi puasa]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian yang terkena]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3407</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah shalat dengan pakaian yang terkena mani, atau madzi, ataupun wadi? Jawaban: Tidak terdapat satu dalil pun yang mengatakan najisnya mani. Ada sebuah pembahasan yang panjng, yang ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam kitab I’lamul Muwaqqi’in, yang mana di dalamnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Bolehkah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pakaian-yang-terkena" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pakaian yang terkena">pakaian yang terkena</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mani" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mani">mani</a>, atau madzi, ataupun wadi?<br />
<strong><span id="more-3407"></span><br />
Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak terdapat satu dalil pun yang mengatakan najisnya mani. Ada sebuah pembahasan yang panjng, yang ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam kitab <em>I’lamul Muwaqqi’in</em>, yang mana di dalamnya terdapat diskusi panjang antara orang yang menganggap mani itu najis dengan orang yang berpendapat bahwa mani itu suci. Tampak jelas dalam diskusi tersebut bahwa mani itu suci.</p>
<p>Berdasarkan hal ini, maka seseorang dibolehkan shalat dengan pakaian yang terkena mani, tetapi disunnahkan untuk melakukan perbuatan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, yaitu ketika beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> shalat denagn pakaian yang terkena mani yang kering, maka mani kering tersebut dikerik terlebih dahulu, dan jika basah maka beliau menghilangkannya dengan &#8220;<em>idzkhir</em>&#8221; tumbuhan, seperti rumput yang wangi, atau dengan benda lain.</p>
<p>Adapun madzi dan wadi, dua-duanya adalah najis, sehingga wajib dibersihkan sebagaimana kencing.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani, </em>Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8212; 2004 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>shalat</strong>, <strong>madzi terkena pakaian buat sholat</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>pakaian yang terkena</strong>, <strong>bolehkah menggunakan pakaian yang terkena mani untuk shalat</strong>, <strong>mani</strong>, <strong>mani madzi wadi puasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/shalat-pakaian-terkena-mani-madzi-wadi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Seorang Wanita Memiliki Adik yang Menyusu pada Istri Pamannya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/adik-menyusu-istri-paman</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/adik-menyusu-istri-paman#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 03:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3376</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ada seorang perempuan yang bernama Ummu Yasir, yang mempunyai adik laki-laki yang umurnya dua tahun lebih muda, yang pernah menyusu kepada istri pamannya. Bolehkah Ummu Yasir tidak berhijab di depan anak-anak pamannya tersebut, dan bagaimana dengan adik-adik Ummu Yasir ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ada seorang perempuan yang bernama Ummu Yasir, yang mempunyai adik laki-laki yang umurnya dua tahun lebih muda, yang pernah menyusu kepada istri pamannya. Bolehkah Ummu Yasir tidak berhijab di depan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anak pamannya tersebut, dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> dengan adik-adik Ummu Yasir yang lain?<br />
<span id="more-3376"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Apabila persusuan tersebut sudah mencapai minimal 5 kali susuan, maka hal itu hukumnya sama dengan persusuan selama 2 tahun, dan adik laki-laki Anda (wahai Ummu Yasir), menjadi anak dari paman Anda dan sekaligus anak dari istri paman Anda yang telah menyusuinya.</p>
<p>Begitu juga anak-anak paman, otomatis menjadi saudara bagi adik laki-laki Anda yang telah menyusu kepada bibi Anda tersebut. Serta saudara-saudara paman/saudara-saudara bibi, otomatis juga menjadi paman atau bibi dari adik Anda tersebut. Hal ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَايَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ</p>
<p>“<em>Persusuan itu menyebabkan hubungan kemahraman, sama seperti keturunan</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Adapun Anda, wahai Ummu Yasir, tidak ada hubungannya dengan persusuan di atas. Oleh karena itu, Anda dan saudara-saudara perempuan Anda harus berhijab di hadapan anak-anak lelaki paman, karena yang menyusu kepada bibi tersebut hanya adik laki-laki Anda. Sehingga, Anda dan saudara-saudara Anda yang lain tidak ikut serta dalam saudara persusuan ini, dan tidak menjadi mahram dari keluarga yang menyusui.</p>
<p>Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menolong kita semua untuk memahami agama ini dan ber-<em>istiqamah </em>dalam menjalankannya.</p>
<p>Sumber:<em> Fatawa Syaikh Bin Baaz</em>, Jilid 2, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz.<br />
(Dengan penataan bahasa oleh <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>susu</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>anak</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/adik-menyusu-istri-paman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Wanita Dibolehkan Bercadar Hanya Ketika Telah Menikah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/cadar-setelah-menikah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/cadar-setelah-menikah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2010 23:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apakah wanita diwajibkan bercadar]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah sholat bercadar]]></category>
		<category><![CDATA[hal yang membatalkan puasa bagi orang yang sudah menikah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[safar]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3229</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya gadis berjilbab yang sudah lama ingin bercadar, tetapi belum mendapat restu dari ibu. Beliau akan izinkan setelah saya berkeluarga nanti. Bagaimana seharusnya saya bersikap dalam menghadapi hal ini? Bagaimana cara saya menjelaskan pada ibu agar tidak menyinggung perasaannya? ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Saya gadis berjilbab yang sudah lama ingin bercadar, tetapi belum mendapat restu dari ibu. Beliau akan izinkan setelah saya berkeluarga nanti. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> seharusnya saya bersikap dalam menghadapi hal ini? <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> cara saya menjelaskan pada ibu agar tidak menyinggung perasaannya?<br />
<span id="more-3229"></span><br />
<strong>Jawaban: </strong></p>
<p>Menutup wajah bagi wanita adalah wajib ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/safar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with safar">safar</a> atau berjumpa dengan laki-laki yang bukan mahram-nya, menurut pendapat yang kuat berdasarkan al-Quran dan hadits yang shahih. Adapun menaati siapapun yang mengajak kepada kemungkaran hukumnya haram, berdasarkan hadits yang shahih. Demikian juga perintah orang tua yang salah, tidak boleh ditaati. Silakan baca surat Luqman: 15 dan al-Ankabut: 8.</p>
<p>Nasihatilah ibu dengan lembut dan dengan kata-kata yang menunjukkan bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> masih sayang kepada orang tua walaupun hati ibu atau bapak kurang berkenan. Nasihati ibu, bahwa wanita dilarang membuka wajahnya di hadapan laki-laki yang bukan <em>mahram</em>-nya.</p>
<p>“&#8230;<em>Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka&#8230;</em>” (Al-Ahzab: 53).</p>
<p>Lihat pula surat An-Nur: 30-31.</p>
<p>Jika sang ibu belum menerima nasihat dan bertambah parah larangannya bila tetap pakai tutup muka, upayakan tidak banyak keluar dari rumah. Apabila keluar rumah pakailah kerudung panjang dan persempitlah bagian mukanya, pakailah tutup muka bila berjumpa dengan pria, tundukkan pandangan, atau bawalah cadar dan pakailah pada saat orang tua tidak mengetahuinya. <em>Wallahu A&#8217;lam. </em></p>
<p>Sumber: Dijawab oleh ust. Aunur Rofiq dalam Majalah al-Mawaddah, Edisi 7 Tahun I ,Shafar 1429 H &#8211; Februari 2008<br />
Artikel www.KonsultasiSyariah.com dengan pengubahan tata bahasa seperlunya.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>jilbab</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>hal yang membatalkan puasa bagi orang yang sudah menikah</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>bolehkah sholat bercadar</strong>, <strong>apakah wanita diwajibkan bercadar</strong>, <strong>safar</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/cadar-setelah-menikah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Pakaian Ihram Penuh dengan Wewangian?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pakaian-ihram-wangi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pakaian-ihram-wangi#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Oct 2010 00:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[memakai wangian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2959</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah pakaian ihram boleh diberi wewangian? Jawaban: Seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sedangkan dia memakai jubah yang dipenuhi dengan wangi-wangian, lalu dia berkata, “Aku berihram untuk umrah, sedang aku memakai pakaian seperti yang engkau lihat.” فَقَالَ: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah pakaian ihram boleh diberi wewangian?<br />
<span id="more-2959"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Seseorang bertanya kepada Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sedangkan dia memakai jubah yang dipenuhi dengan wangi-wangian, lalu dia berkata, “Aku berihram untuk umrah, sedang aku memakai pakaian seperti yang engkau lihat.”</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَقَالَ: اِنْزَعْ عَنْكَ الْجُبَةَ، وَاغْسِلْ عَنْكَ الصُّفْرَةَ</p>
<p>Maka, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Hendaklah kamu melepas jubahmu, dan wangi-wangian itu hendaklah kamu cuci.</em>” (HR. a-Bukhari dan Muslim).</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَاصْنَعْ فِيْ عُمْرَتِكَ مَا تَصْنَعُ فِيْ حَجَّتِكَ</p>
<p>Pada hadits lain diriwayatkan dengan lafal, “<em>Lakukanlah dalam umrah itu semua hal yang kamu lakukan dalam hajimu.</em>”</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa Rasulullah: Anda Bertanya Rasulullah Menjawab</em>, <em>Tahqiq</em> dan <em>Ta&#8217;liq </em>oleh Syaikh Qasim ar-Rifa&#8217;i, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Pustaka As-Sunnah, Cetakan Ke-1, 2008.<br />
(Dengan penataan bahasa oleh www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>haji</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>memakai wangian</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pakaian-ihram-wangi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakaian Apakah yang Boleh Dipakai Saat Berihram?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pakaian-ihram</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pakaian-ihram#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 02:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2932</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Pakaian apakah yang boleh dipakai saat berihram? Jawaban: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah ditanya tentang pakaian apa yang boleh dipakai oleh seorang muhrim (orang yang berihram -ed.) ketika sedang ihram. فَقَالَ: لاَ يَلْبَسُ الْقَمِيْصَ، وَلاَ الْعِمَامَةَ، وَلاَ الْبَرْنَسَ، ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><strong></strong>Pakaian apakah yang boleh dipakai saat berihram?<br />
<span id="more-2932"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><strong></strong>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah ditanya tentang pakaian apa yang boleh dipakai oleh seorang <em>muhrim</em> (orang yang berihram -ed.) ketika sedang ihram.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَقَالَ: لاَ يَلْبَسُ الْقَمِيْصَ، وَلاَ الْعِمَامَةَ، وَلاَ الْبَرْنَسَ، وَلاَ السَّرَاوِيْلَ، وَلاَ ثَوْبًا مَسَّهُ وَرَسٌ وَلاَ زَعْفَرَانُ، وَلاَ الْخُفَّيْنِ إِلاَّ أَنْ لاَ يَجِدَ نَعْلَيْنِ، فَلْيَقْطَعْهُمَا حَتَّى يَكُوْنَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Dia tidak boleh memakai kemeja, serban, kopiah, dan celana, serta pakaian yang dicelup dengan wars dan za’faran. Juga tidak boleh memakai khuf, kecuali bila tidak mendapati sendal, maka hendaklah ia memotong keduanya hingga tingginya di bawah mata kaki</em>.” (HR. <em>Muttafaq &#8216;alaihi</em>).</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa Rasulullah: Anda Bertanya Rasulullah Menjawab</em>, <em>tahqiq</em> dan <em>ta&#8217;liq</em> oleh Syaikh Qasim ar-Rifa&#8217;i, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Pustaka As-Sunnah, Cetakan Ke-1, 2008.<br />
(Dengan penataan bahasa oleh www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pakaian-ihram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Isbal untuk Menutupi Cacat di Kaki?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-isbal-menutupi-cacat-kaki</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-isbal-menutupi-cacat-kaki#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Oct 2010 00:49:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[adakah koreng hidung batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apakah bekas luka yang besar termasuk cacat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum isbal]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[menutupi bekas luka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2806</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah larangan isbal bisa tidak berlaku apabila ada udzur misalnya ada cacat permanen pada kaki (bekas koreng)? Jawaban: Sepertinya yang Anda maksudkan adalah larangan isbal apakah dapat dikecualikan pada orang yang memiliki cacat (bekas koreng) permanen? Isbal adalah menurunkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah larangan <em>isba</em>l bisa tidak berlaku apabila ada udzur misalnya ada cacat permanen pada kaki (bekas koreng)?<br />
<span id="more-2806"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Sepertinya yang Anda maksudkan adalah larangan<em> isbal</em> apakah dapat dikecualikan pada orang yang memiliki cacat (bekas koreng) permanen?</p>
<p><em>Isbal </em>adalah menurunkan pakaian hingga menutup mata kaki. <em>Isbal</em> dilarang syariat bagi pria yang memakai sarung, baju dan celana.<em> Isbal</em> termasuk dosa besar, baik dilakukan dengan kesombongan maupun tanpa rasa sombong. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebutkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> kedua keadaan ini dalam sabda beliau,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا تَحْتَ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الإِوَارِ فَفِي النَارِ</p>
<p>“<em>Kain sarung yang di bawah mata kaki tempatnya di neraka</em>.” (HR. an-Nasa’i, no. 5235).</p>
<p>dan sabda beliau,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهَُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada di hari kiamat.</em>” (HR. al-Bukhari, no. 3392) dan masih banyak lagi riwayat lain yang menunjukkan larangan <em>isbal</em> dalam kedua keadaan tersebut.</p>
<p>Keumuman larangan ini tidak dapat dikalahkan hanya dengan alasan cacat permanen seperti bekas luka. Karena <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/menutupi-bekas-luka" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with menutupi bekas luka">menutupi bekas luka</a> tersebut bukanlah perkara darurat yang dapat mengubah hukum haram menjadi boleh.</p>
<p>Kesimpulannya, alasan di atas tidak menggugurkan larangan <em>isbal</em>. <em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<p>Sumber: Majalah As-Sunnah No. 12/Tahun XIII/Rabiul Awwal 1431 H/Maret 2010 M<br />
Dipublikasikan oleh www.KonsultasiSyariah.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>adakah koreng hidung batal puasa</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>hukum isbal</strong>, <strong>apakah bekas luka yang besar termasuk cacat</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>menutupi bekas luka</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-isbal-menutupi-cacat-kaki/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Bayi Memakai Anting, Bolehkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/anak-bayi-memakai-anting-bolehkah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/anak-bayi-memakai-anting-bolehkah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 01:12:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anting anak bayi]]></category>
		<category><![CDATA[anting bagi bayi]]></category>
		<category><![CDATA[apakah batal puasa memakai anting-anting]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1909</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana hukum memakaikan atau memasangkan anting-anting pada anak bayi? Apakah ada dalil yang mewajibkan atau menyunnahkan? Jawaban: Keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menunjukkan kebolehan anak perempuan memakai perhiasan, sebagaimana firman-Nya, أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> memakaikan atau memasangkan anting-anting pada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> bayi? Apakah ada dalil yang mewajibkan atau menyunnahkan?</p>
<p><span id="more-1909"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Keumuman firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menunjukkan kebolehan anak perempuan memakai perhiasan, sebagaimana firman-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِيْنٍ</p>
<p><em>“Dan apakah patut (dijadikan sebagai anak Allah) seorang (wanita) yang dibesarkan dengan berperhiasan, sedangkan ia tidak dapat memberi alasan yang terang ketika berbantah-bantahan?” </em>(Qs. Az-Zukhruf: 18)</p>
<p>Ayat di atas menunjukkan bahwa sudah menjadi hal yang wajar kalau anak perempuan itu memakai perhiasan, untuk melengkapi kekurangan mereka. Oleh karena itu, Allah<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menyebutkan kebiasaan yang berjalan ini tanpa melarangnya.</p>
<p>Oleh karenanya, para ulama mengatakan bahwa dibolehkan melubangi telinga bayi perempuan apabila dimaksudkan supaya bisa dijenakan anting-anting dan semisalnya. Padahal, melubangi telinga termasuk menyakiti bayi, tetapi karena maslahatnya lebih besar maka dibolehkan.</p>
<p>Bahkan, mereka mengatakan bahwa itu lebih baik dilakukan pada waktu masih bayi karena luka anak bayi lebih cepat sembuh, dan banyak hadits yang menerangkan bahwa para wanita di kalangan sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memakai anting-anting di telinga mereka.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Abu Ibrohim pada Majalah Al-Furqon, edisi 10, tahun ke-7 1429 H/2008 M.</p>
<p>(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi <a title="www.konsultasisyariah.com" href="http://www.konsultasisyariah.com" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bagaimana</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>apakah batal puasa memakai anting-anting</strong>, <strong>anting anak bayi</strong>, <strong>anting bagi bayi</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/anak-bayi-memakai-anting-bolehkah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Memakai Parfum Alkohol</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-parfum-alkohol</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-parfum-alkohol#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 06:04:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[adab memakai parfum disaat berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[adab memakai wangian dalam puasa]]></category>
		<category><![CDATA[adakah batal puasa jika memakai minyak wangi yang beralkohol]]></category>
		<category><![CDATA[alkohol luar #pq=alkohol dalam]]></category>
		<category><![CDATA[alkohol untuk parfum]]></category>
		<category><![CDATA[apakah alkohol najis]]></category>
		<category><![CDATA[apakah boleh memakai wangi wangian beralkohol]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[berjudi ketika puasa apa hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah bulan puasa memakai parfum]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah menggunakan parfum alkohol untuk shalat]]></category>
		<category><![CDATA[bulan ramadhan tak boleh pakai minyak wangi]]></category>
		<category><![CDATA[cara bersuci sesudah meminum khamar]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum alkohol di minyak wangi kalau dipake sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum asal menggunakan parfum beralkohol]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berjudi dibulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berjudi pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai alkohol]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai farfum yang beralkohol]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai minyak wangi di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai minyak wangi di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai parfum ber alkohol]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai parfum beralkhol]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai parfum beralkohol untuk shlat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai parfum di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai wangian bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai wangian dalam bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai wangian di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengunakan parfum yang beralkohol]]></category>
		<category><![CDATA[hukum minyak wangi di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pakai minyak wangi alkohol]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pakai minyak wangi alkohol dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pakai minyak wangi di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pake paefum alkohol]]></category>
		<category><![CDATA[hukum parfum ber alkohol]]></category>
		<category><![CDATA[hukum parfum beralkohol alkohol najis]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pemakaian parfum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa pakai parfum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sembahyang menggunakan wewangian beralkohol]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya memakai parfum sebelum sholat]]></category>
		<category><![CDATA[huum parfum beralkohol]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[judi membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[khamr]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[memakai parfum di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[memakai parfum? bolehkah?]]></category>
		<category><![CDATA[memakai parfume beralkohol untuk solat]]></category>
		<category><![CDATA[memakai wangi wangian ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[menggunakan parfum yang beralkohol]]></category>
		<category><![CDATA[menggunakan parfum yang beralkohol saat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[minyak wangi beralkohol haramkah?]]></category>
		<category><![CDATA[minyak wangi beralkohol hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[pakai parfum pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[parfum beralkoho haram kah?]]></category>
		<category><![CDATA[parfum beralkohol membatalkan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[parfum dengan alkohol]]></category>
		<category><![CDATA[parfum mengandung alcohol]]></category>
		<category><![CDATA[parfum puasa hukum]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat memakai parfum alkohol]]></category>
		<category><![CDATA[takbir sunnah: memakai parfum saat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[tentang parfum channel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu’alaikum… Saya bertanya tentang pemakaian parfum yang mengandung alkohol sekian persen di setiap pakaian, baik yang dipakai sehari-hari maupun dipakai ketika shalat. Apakah sah shalatnya, dengan memakai wangi-wangian yang mengandung alkohol dalam kandungan persen yang kecil? Apa tanggapan ustadz, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum…</em><br />
Saya bertanya tentang pemakaian parfum yang mengandung alkohol sekian persen di setiap pakaian, baik yang dipakai sehari-hari maupun dipakai ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>. Apakah sah shalatnya, dengan memakai wangi-wangian yang mengandung alkohol dalam kandungan persen yang kecil? Apa tanggapan ustadz, apakah saya boleh menggunakannya ataukah berganti dengan yang non alkohol? <em>Jazakumullah…</em></p>
<p><em>Wassalamu’alaikum</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah, satu-satunya sesembahan yang berhak untuk disembah. Sholawat dan salam tidak lupa kita tujukan kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabatnya serta para pengikutnya dengan baik hingga hari kiamat. Sebelumnya kami memohon <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/maaf" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with maaf">maaf</a> atas keterlambatan jawaban kami.</p>
<p>Sesungguhnya masalah boleh tidaknya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/menggunakan-parfum-yang-beralkohol" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with menggunakan parfum yang beralkohol">menggunakan parfum yang beralkohol</a> merupakan permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama. Hal ini bersumber dari perselisihan ulama mengenai najis tidaknya alkohol. Insya Allah pendapat yang lebih kuat (sebagaimana pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin <em>rahimahullah</em>) adalah alkohol adalah tidak najis. Dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p>Pertama, firman Allah subhanahu wa ta’ala:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/khamr" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with khamr">khamr</a>, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah rijs (perbuatan keji).”</em> (QS. Al Maidah: 90)</p>
<p>Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa khamr, judi, berhala, mengundi nasib dengan panah adalah rijs. Kata rijs bisa berarti najis. Namun najis pada ayat ini adalah najis secara maknawi, bukan bendanya bersifat najis. Hal ini ditunjukkan dengan penyatuan keempat perkara di atas, di mana keempat perkara ini memiliki satu sifat yang sama yaitu rijs. Kita telah ketahui bersama bahwasanya judi, berhala dan panah itu bukanlah benda najis, namun ketiganya najis secara maknawi, maka begitu pula dengan khamr (alkohol), maka ia pun najis namun secara maknawi (perbuatannya yang keji) bukan benda atau zatnya.</p>
<p>Kedua, di dalam riwayat yang shahih, ketika diturunkan ayat tentang haramnya khamr, kaum muslimin menumpahkan khamr-khamr mereka di pasar-pasar. Seandainya khamr itu najis secara zatnya, maka tentu tidak boleh menumpahkannya di pasar-pasar. Selain itu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga tidak memerintahkan untuk mencuci bejana-bejana bekas khamr sebagaimana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk mencuci bejana bekas daging keledai piaraan (karena daging tersebut najis).</p>
<p>Ketiga, dalil lainnya adalah sebagaimana yang terdapat dalam <em>Sahih Muslim</em>, di mana ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan membawa khamr di dalam suatu wadah untuk dia berikan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Namun, setelah ia diberitahu bahwa khamr sudah diharamkan, ia langsung menumpahkan khamr itu di hadapan Nabi. Dan Nabi tidak memerintahkan orang tersebut untuk mencuci wadah bekas khamr dan tidak melarang ditumpahkannya khamr di tempat itu. Seandainya khamr najis, tentu Nabi sudah memerintahkan wadah tersebut untuk dicuci dan beliau melarang menumpahkan khamr tersebut di tempat itu. Dari penjelasan di atas, maka jelaslah yang lebih kuat bahwa alkohol tidaklah najis, maka tidak wajib mencuci pakaian apabila terkena alkohol.</p>
<p>Adapun <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> memakai parfum yang beralkohol, maka Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa yang lebih baik adalah kita bersikap berhati-hati yaitu dengan tidak memakainya. Karena sesungguhnya Allah berfirman tentang khamr:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan keji di antara perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”</em> (QS. Al Maaidah: 90)</p>
<p>Allah memerintahkan untuk menjauhi hal tersebut. Di mana perintah ini mutlak, bukan hanya sekedar meminum atau memakainya (bukan untuk diminum). Oleh karena itulah yang lebih hati-hati adalah seseorang menghindari penggunaan minyak wangi yang mengandung alkohol. Akan tetapi, Beliau juga menegaskan bahwa beliau tidak menggunakan minyak wangi yang mengandung alkohol namun beliau juga tidak melarang orang lain untuk menggunakannya. (disarikan dari majalah <em>As Sunnah</em> edisi 02 tahun IX/1426/2005 hal 49-51).</p>
<p>Dan Alhamdulillah sudah banyak parfum-parfum yang beredar di negeri kita dan tidak mengandung alkohol. Oleh karena itu, kami berpendapat lebih baik menggunakan parfum yang tidak beralkohol, karena parfum-parfum jenis ini mudah didapatkan di negeri kita. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>***</p>
<p>Penanya: Dimas Priambada<br />
Dijawab oleh: Abu Uzair Boris (Alumni Ma’had Ilmi)</p>
<p>Sumber: muslim.or.id</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>khamr</strong>, <strong>memakai parfum di bulan ramadhan</strong>, <strong>hukum memakai parfum ber alkohol</strong>, <strong>memakai parfume beralkohol untuk solat</strong>, <strong>maaf</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>hukumnya memakai parfum sebelum sholat</strong>, <strong>bolehkah bulan puasa memakai parfum</strong>, <strong>adab memakai wangian dalam puasa</strong>, <strong>adab memakai parfum disaat berpuasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-parfum-alkohol/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Mengenakan Jilbab Warna Putih?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/jilbab-warna-putih</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/jilbab-warna-putih#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 11:19:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>
		<category><![CDATA[aurat]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[photo warna putih]]></category>
		<category><![CDATA[warna putih]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum warrohmatullahi wabarokatuh Ana mau tanya, bolehkah seorang akhwat menggunakan jilbab dengan warna putih akan tetapi tebal tidak menerawang. Jazakumullah&#8230; Jawaban Ustadz: Seorang akhwat boleh memakai jilbab warna putih asalkan sesuai dengan syarat jilbab syar&#8217;i. Wallahu a&#8217;lam. *** Penanya: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum warrohmatullahi wabarokatuh</em><br />
Ana mau tanya, bolehkah seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/akhwat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with akhwat">akhwat</a> menggunakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jilbab" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jilbab">jilbab</a> dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/warna-putih" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with warna putih">warna putih</a> akan tetapi tebal tidak menerawang. Jazakumullah&#8230;</p>
<p><span id="more-18"></span><strong>Jawaban Ustadz:</strong></p>
<p>Seorang akhwat boleh memakai jilbab warna putih asalkan sesuai dengan syarat jilbab syar&#8217;i. <em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>***</p>
<p>Penanya: Ummu Zaid<br />
Dijawab: Ust. Khairul Wazni, Lc.</p>
<p>***</p>
<p>Redaksi: Pembahasan lebih detail tentang Jilbab, silakan merujuk ke website www.muslimah.or.id pada link:</p>
<ol>
<li><a href="http://muslimah.or.id/nasihat-untuk-muslimah/adab-berpakaian-bagi-muslimah.html" target="_blank">Adab Berpakaian bagi Muslimah</a></li>
<li><a href="http://muslimah.or.id/nasihat-untuk-muslimah/jilbabku-penutup-auratku.html" target="_blank">JIlbabku Penutup Auratku</a></li>
</ol>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>warna putih</strong>, <strong>aurat</strong>, <strong>web</strong>, <strong>jilbab</strong>, <strong>photo warna putih</strong>, <strong>akhwat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/jilbab-warna-putih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 47/283 queries in 0.072 seconds using disk: basic
Object Caching 31446/31926 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-08 11:19:37 -->
