<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Sholat</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/sholat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 02:42:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Keutamaan Shalat Qabliyah Shubuh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-shalat-qabliyah-shubuh</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-shalat-qabliyah-shubuh#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 23:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10341</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Qabliyah Shubuh Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apakah fadhilahnya (keutamaan) shalat 2 rakaat qabliyah shubuh? Dan jika seseorang tidak sempat melaksanakan shalat qabliyah shubuh, bolehkah mengqadhanya dan dilakukan setelah selesai shalat shubuh langsung, padahal itu adalah waktu dilarang untuk shalat? ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/qabliyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with qabliyah">Qabliyah</a> Shubuh</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em>.<br />
Apakah fadhilahnya (keutamaan) shalat 2 rakaat<strong> qabliyah shubuh</strong>? Dan jika seseorang tidak sempat melaksanakan <strong>shalat qabliyah shubuh</strong>, bolehkah mengqadhanya dan dilakukan setelah selesai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-shubuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat shubuh">shalat shubuh</a> langsung, padahal itu adalah waktu dilarang untuk shalat? Kami sampaikan terima kasih atas jawabannya.<br />
<span id="more-10341"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Shalat Qabliyah Shubuh</h3>
<p><em>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</em>.<br />
Shalat dua raka’at <strong>qabliyah shubuh</strong> termasuk shalat sunah yang sangat ditekankan bagi setiap muslim. Pahala kebaikannya begitu besar, melebihi dunia dan seisinya. Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>“<em>Dua raka’at (qabliyah) shubuh pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya</em>.” (HR. Muslim no.1193)</p>
<p>Termasuk waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat adalah setelah shalat shubuh sampai terbit matahari, sebagaimana sabda Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Aku mendengar Rasullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘<em>Tidak ada shalat setelah (shalat) shubuh sampai terbit matahari&#8230;.</em>’.” (HR. Bukhari, no.551)</p>
<p>Menurut pendapat yang lebih kuat, shalat yang dilarang adalah shalat-shalat yang tidak terikat dengan sebabnya (shalat mutlak). Adapun shalat-shalat yang diikat pensyariatannya dengan suatu sebab (jika tidak ada sebabnya tidak disyariatkan), semisal shalat sunah setelah thawaf, shalat gerhana, shalat tahiyatul masjid, dan lain sebagainya, maka tidak dilarang walaupun dilakukan pada waktu-waktu terlarang, lantarang shalat-shalat ini terikat dengan sebabnya.</p>
<p>Termasuk yang dibolehkan adalah mengqadha qabliyah shubuh setelah shalat shubuh, walaupun waktu tersebut termasuk waktu dilarang shalat. Hal ini didasari oleh beberapa hal:</p>
<p><strong>1.</strong> Keumuman perintah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk mengqadha setiap shalat yang terlewatkan tanpa sengaja. Dalam hadis Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>“<em>Barangsiapa lupa shalat, atau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tertidur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tertidur">tertidur</a>, maka hendaklah ia lakukan shalat itu jika ia mengingatnya, tidak ada kaffarah kecuali hal itu, (Allah berfirman), ‘Dan tegakkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sholat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sholat">sholat</a> untuk mengingat-Ku’</em>.”(HR. Bukhari 562 dan Muslim 1103)</p>
<p><strong>2.</strong> Kekhususan dalil yang membolehkan hal ini, seperti dalam sebuah hadis:</p>
<p>Dari Qais bin Amr berkata, “Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melihat seseorang shalat dua rakaat setelah (shalat) shubuh, maka Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya, ‘Apakah (engkau) shalat shubuh dua kali?’ Orang itu menjawab, ‘Saya belum shalat dua rakaat <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-kita-mengganti-shalat-qabliyah-subuh" target="_blank"><strong>qabliyah shubuh</strong></a>, lalu aku lakukan (setelah shubuh)’.” Lalu (Qois) berkata, “Maka Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun diam (tidak melarangnya).” (HR. Abu Dawud no.1267, Tirmidzi no.422, Ibnu majah no.1154, Ahmad no.23811, dishahihkan oleh Al-Albani dalam <em>Misykat al-Mashobih</em> 1044 dan <em>Shahih Abu Dawud</em> 1151)</p>
<p>Hadis di atas menunjukkan bahwa mengqadha qabliyah shubuh setelah shalat shubuh hukumnya boleh karena ada keterangan yang sangat jelas dari diamnya Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap orang yang melakukan hal tersebut. Hanya saja, lebih utama jika seseoarng terlewatkan shalat qabliyah shubuh –baik tertidur atau lupa– hendaknya dia mengqadhanya setelah matahari terbit, dan ini adalah yang lebih afdhal, sebagaimana sabda Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p>“<em>Barangsiapa belum melaksanakan shalat dua rakaat (qabliyah) shubuh, maka hendaklah dia shalat dua rakaat tersebut setelah terbitnya matahari.</em>” (HR. Tirmidzi no.423, dan dishahihkan oleh Al-Abani dalam <em>Silsilah Shahihah</em> no.2361)</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 06 Tahun ke-10 Muharram 1432 H/Desember 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-shalat-qabliyah-shubuh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tempat Shalat Jenazah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tempat-shalat-jenazah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tempat-shalat-jenazah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 23:30:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9989</guid>
		<description><![CDATA[Tempat Shalat Jenazah Pertanyaan: Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz, Apakah jenazah lebih baik dishalatkan di rumah atau di masjid? Dari: Herbono Utomo Jawaban: Tempat Shalat Jenazah Wa&#8217;alaikumussalam warahamatullahi wabarakatuh. Di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam terdapat tempat khusus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tempat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> Jenazah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalaamu&#8217;alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh Ustadz,<br />
Apakah jenazah lebih baik dishalatkan di rumah atau di masjid?</p>
<p>Dari: Herbono Utomo<br />
<span id="more-9989"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Tempat Shalat Jenazah</h3>
<p>Wa&#8217;alaikumussalam warahamatullahi wabarakatuh.<br />
Di zaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terdapat tempat khusus untuk <strong>shalat jenazah</strong>. Tempat ini berada di luar Masjid Nabawi. Dan umumnya jenazah para sahabat dishalatkan di tempat itu. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah<br />
<strong>Pertama</strong>, kisah rajam untuk dua orang Yahudi yang berzina. Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">أن اليهود جاؤوا إلى النبي صلى الله عليه وسلم برجل منهم وامرأة زنيا فأمر بهما فرجما قريبا من موضع الجنائز عند المسجد</p>
<p>&#8220;Bahwa orang-orang yahudi mendatangi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berzina. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan agar keduanya dirajam di dekat tempat shalat jenazah di samping masjid.&#8221; (HR. Bukhari, 3:155)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, keterangan dari Jabir bin Abdillah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa ada seorang yang meninggal, setelah dikafani, dia diletakkan di lokasi yang biasa digunakan untuk shalat jenazah, di dekat tempat datangnya Jibril. (HR. Hakim dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, keterangan dari Muhammad bin Abdillah bin Jahsy <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">كنا جلوس بفناء المسجد حيث توضع الجنائز ورسول الله صلى الله عليه وسلم جالس بين ظهرانينا</p>
<p>“<em>Kami duduk di teras masjid, di tempat yang sering digunakan untuk shalat jenazah. Sementara Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam duduk di tengah-tengah kami</em>.” (HR. Ahmad, Hakim, dan dihasankan Al-Albani)</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p class="arab">إن مصلى الجنائز كان لاصقا بمسجد النبي صلى الله عليه وسلم من ناحية جهة المشرق</p>
<p>“Sesungguhnya tempat shalat jenazah menempel dengan masjid nabawi, di sebelah timur.” (<em>Fathul Bari</em>, 3:199)<br />
Beliau juga mengatakan,</p>
<p class="arab">المكان الذي كان يصلى عنده العيد والجنائز وهو من ناحية بقيع الغرقد</p>
<p>“Tempat yang digunakan untuk shalat &#8216;id dan shalat jenazah berada di arah makam baqi&#8217;.” (<em>Fathul Bari</em>, 12:129)<br />
Meskipun dibolehkan untuk melaksanakan shalat jenazah di masjid. Berdasarkan riwayat dari A&#8217;isyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, bahwa ketika Sa&#8217;d bin Abi Waqqas meninggal, mereka berpesan agar jenazahnya dibawa ke masjid, sehingga mereka bisa menyalatkannya. Para sahabat pun melakukannya. Kemudian mereka menyalati jenazah Sa&#8217;d di dalam masjid. Setelah itu, A&#8217;isyah mendengar ada beberapa orang yang mencela sikap beliau. Mereka mengatakan itu perbuatan bid&#8217;ah, belum pernah jenazah dishalati di dalam masjid. A&#8217;isyah memberi komentar,</p>
<p class="arab">ما أسرع الناس إلى أن يعيبوا ما لا علم لهم به عابوا علينا أن يمر بجنازة في المسجد والله ما صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على سهيل بن بيضاء وأخيه إلا في جوف المسجد</p>
<p>“Betapa terburu-burunya manusia untuk mencela apa yang tidak mereka ketahui tentang memasukkan jenazah ke dalam masjid. Demi Allah, tidaklah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyalati Suhail bin Baidha&#8217; dan saudaranya, kecuali di dalam masjid.” (HR. Muslim, 3:63)</p>
<p>Juga dibolehkan untuk menyalati jenazah di rumah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Thalhah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa ketika putranya Abu Umar meninggal dunia, beliau mengundang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk menyalatkannya. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> datang dan menyalatinya di rumah Abu Thalhah. (HR. Hakim, 1:365, Baihaqi, 4:30 dan 31. Al-Albani menyatakan, &#8220;Hadis itu shahih berdasarkan syarat Muslim).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tempat-shalat-jenazah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Imam Shalat Jamaah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menjadi-imam-shalat-jamaah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menjadi-imam-shalat-jamaah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 06:55:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9705</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi Imam Shalat Jamaah Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Kami mendengar hadis yang berisi perintah bahwa jika kita sedang menjadi imam shalat, maka kita harus memendekkan shalat tersebut. Apakah yang dimaksud memendekkan shalat di sini? dan bagaimana praktiknya yang benar? Apakah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menjadi Imam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jamaah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jamaah">Jamaah</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em><br />
Kami mendengar hadis yang berisi perintah bahwa jika kita sedang menjadi imam shalat, maka kita harus memendekkan shalat tersebut. Apakah yang dimaksud memendekkan shalat di sini? dan bagaimana praktiknya yang benar?<br />
Apakah harus membaca surat-surat pendek saja seperti Al-Ikhlash, An-Nas, dan semisalnya?<br />
Kami mohon jawaban beserta dalil serta penerapan yang benar menurut pemahaman yang benar pula, karena sebagian kami menjadi imam shalat lima waktu di masjid. Terima kasih atas penjelasannya.<br />
<span id="more-9705"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</em></p>
<h3>Menjadi Imam Shalat Jamaah</h3>
<p>Dalam hal panjang dan pendeknya <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-dengan-baju-terkena-daging-babi" target="_blank">bacaan</a>, telah dibedakan oleh Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> antara shalat sendirian dan shalat berjamaah. Berliau bersabda,</p>
<p>“<em>Jika di antara kamu shalat mengimami manusia, maka hendaklah meringkas, karena di antara mereka ada yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Akan tetapi, jika shalat sendirian, maka hendaklah memanjangkan semuanya.</em>” (HR. Bukhari: 662)</p>
<p>Akan tetapi, bukanlah yang dimaksudkan meringkas shalat adalah membaca setiap rakaatnya dengan surat-surat pendek seperti Al-Ikhlash dan An-Nash atau semisalnya. Kita harus memahami maksud hadis di atas sebagaimana yang diinginkan oleh pembuat syariat yang mulia ini. Jika penafsiran suatu hadis diserahkan kepada semua pihak, niscaya mereka akan berbeda penafsiran dan akan terus berselisih. Misalnya tentang penafsiran hadis ini, seorang penghafal Alquran akan mengatakan bahwa Surat Al-Anfal, Surat Yusuf, Surat Yunus, dan semisalnya adalah surat-surat yang pendek (karena dia telah menghafalnya di luar kepala), sementara orang yang tidak mempunyai hafalan Alquran akan mengatakan bahwa surat Al-Ghosyiyah, Al-Alaq, Al-Balad, Adh-<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dhuha" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dhuha">Dhuha</a>, dan semisalnya adalah surat-surat yang panjang. Maka mustahil terjadi kesamaan persepsi dari setiap orang.</p>
<p>Oleh karena itu, kita harus mengetahui siapakah seseorang yang shalatnya ringkas (pendek) ketika menjadi imam? Jawabnya tidak lain adalah Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sebagaimana dalam sebuah hadis:</p>
<p>Dari Anas bin Malik berkata, “Aku tidak pernah shalat bersama seorang imam pun yang lebih pendek dan lebih sempurna shalatnya daripada Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.” (HR. Bukhari: 667 dan Muslim: 721)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa yang dicontohkan Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak hanya memendekkan shalat ketika menjadi imam, tetapi juga menyempurnakannya. Inilah maksud hadis yang diinginkan, karena demikianlah Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menerangkan sabdanya dengan praktik secara langsung yang dilihat oleh para sahabat setiap hari.</p>
<p>Maka bagi setiap imam hendaklah berupaya melaksanakan shalatnya agar sesuai dengan sunnah Rasul <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Shalat yang sesuai dengan sunah adalah shalat yang pendek tetapi sempurna, bukan shalat yang memperturutkan hawa nafsunya atau hawa nafsu kebanyakan para makmumnya yang biasanya ingin shalat secepat mungkin. Seorang imam adalah pemikul amanat manusia, dan orang yang sedang memikul amanat harus menunaikannya dengan yang sebaik-baiknya, dan shalat yang paling baik adalah yang sesuai dengan sunnah Rasul <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Imam Nawawi berkata, “Makna hadis ini sangat jelas, yaitu seorang imam diperintahkan untuk memendekkan shalatnya tetapi tidak mengurangi sunah Rasul <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan tidak mengurangi maksud-maksud shalat.” (<em>Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim</em>, 2:216)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Para ahlul ilmi mengatakan, yang dianjurkan ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-shubuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat shubuh">shalat shubuh</a> adalah membaca <em>thiwalul mufashol</em>, dalam shalat maghrib membaca <em>qishorul mufashol</em>, dan shalat lainnya (zuhur, ashar, dan isya) membaca <em>awashitul mufashol</em>. <em>thiwalul mufashol</em> adalah dimulai dari surat Qaf sampai dengan surat An-Naba, <em>qishorul mufashol</em> adalah dimulai dari surat Adh-Duha sampai dengan akhir Alquran, dan <em>awashitul mufashol</em> adalah dimulai dari surat An-Naba sampai dengan Adh-Dhuha. Inilah yang biasa dilakukan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Boleh juga kadang-kadang membaca <em>thiwalul mufashol</em> ketika shalat maghrib, sebagaimana Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam kadang-kadang membacanya pada shalat maghrib.” (<em>Liqo’ al-Bab al-Maftuh</em>, 3:79)</p>
<p>Perkataan di atas didasari oleh sebuah hadis dari jalan Sulaiman bin Yasar dari Abu Hurairah beliau berkata, “Aku tidak pernah shalat bersama seorang pun yang lebih mirip dengan shalatnya Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> daripada orang ini (Sulaiman bin Yasar).” Lalu beliau berkata, “Adalah beliau (Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam) memanjangkan dua rakaat pertama shalat zuhur dan memendekkan dua rakaat yang lainnya. Beliau meringkas shalat ashar. Beliau membaca <em>qishorul mufashol</em> pada shalat maghrib, membaca <em>washatul (awashitul) mufashol</em> pada waktu shalat isya, dan membaca <em>thulul (thiwalul) mufashol</em> pada shalat shubuh.” (HR. Ibnu Majah: 827, dishahihkan oleh Al-Albani dalam <em>Sunan Nasai</em>: 983)</p>
<p>Demikian juga, jika suatu saat dibutuhkan untuk shalat lebih pendek dari yang biasa dilakukan Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka hal itu dibolehkan dengan syarat tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Alasannya, jika hal itu dilakukan setiap hari maka dia akan menyelisihi sunah dalam hal mengimami shalat. Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik, beliau berkata, bahwasanya Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata, “<em>Sesungguhnya aku memulai shalat, dan aku ingin memanjangkan bacaannya, lalu aku mendengar tangisan anak kecil, lalu aku meringkas shalatku sebab aku mengetahui kekhawatiran ibunya mendengar tangisan anaknya.</em>” (HR. Bukhari 668 dan Muslim: 723)</p>
<p>Akan tetapi, bacaan panjang yang melebihi sunah Rasul jika sampai memberatkan umatnya maka menjadi haram hukumnya, karena hal ini akan menyulitkan dan membuat orang-orang lari dari ibadah. Oleh karenanya, Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sangat marah ketika ada salah satu sahabatnya yang terlalu panjang bacaannya ketika menjadi imam sehingga menyulitkan orang lain. (HR. Bukhari: 6106 dan Muslim: 465)</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<ol>
<li>Hendaklah meringkas (memendekkan) shalat jika menjadi imam, dan memanjangkan semaunya jika shalat sendirian.</li>
<li>Maksud dari memendekkan shalat ketika menjadi imam adalah menyempurnakan shalat sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bukan melaksanakan shalat yang paling pendek menurut hawa nafsu manusia.</li>
<li>Dianjurkan ketika shalat shubuh membaca <em>thiwalul mufashol</em>, dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sholat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sholat">sholat</a> lainnya (zhuhur, ashar, dan isya) membaca <em>awashitul mufashol</em>.</li>
<li>Dibolehkan mengurangi atau melebihi sunnah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam bacaannya jika ada suatu kebutuhan, asalkan tidak memberatkan orang lain dan tidak dijadikan kebiasaan setiap hari.</li>
<li>Dilarang terlalu panajng bacaannya melebihi sunah yang berakibat memberatkan makmum.</li>
</ol>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 01 Tahun ke-10 1432 H/ 2011</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menjadi-imam-shalat-jamaah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Haid Harus Qadha Shalat?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 00:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9315</guid>
		<description><![CDATA[Wanita Haid Harus Qadha Shalat Pertanyaa: Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya, jika seorang wanita telah suci dari haidhnya pada waktu ashar atau di waktu isya, apakah diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat zuhur dan maghrib karena kedua waktu itu memungkinkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Wanita Haid Harus Qadha <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a></h2>
<p><strong>Pertanyaa:</strong><br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya, jika seorang wanita telah suci dari haidhnya pada waktu ashar atau di waktu isya, apakah diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat zuhur dan maghrib karena kedua waktu itu memungkinkan untuk dijama’?<br />
<span id="more-9315"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Jika seorang wanita telah suci dari haid atau nifasnya di waktu ashar, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat zuhur di antara dua pendapat para ulama, karena kedua waktu shalat itu adalah satu bagi orang yang berhalangan seperti seorang yang sakit atau musafir, juga wanita ini pun mendapatkan halangan dikarenakan tertundanya kesuciannya dari darah nifas atau darah haidh. Demikian pula jika ia mendapatkan kesuciannya di saat isya, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat maghrib dan isya dengan cara manjama’ sebagaimana disebutkan di atas. Beberapa sahabat telah menfatwakan hal ini.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait haid dan nifas:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/menggauli-istri-yang-sedang-hamil">Menggauli Istri yang Sedang Hamil</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/wudhu-wanita-haid">Wudhu Bagi Wanita <strong>Haid</strong></a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/berhenti-haid">Cara Mengetahui Masa Suci Haid</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Meninggalkan Shalat Karena Sakit</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-meninggalkan-shalat-karena-sakit</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-meninggalkan-shalat-karena-sakit#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 09:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9313</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Meninggalkan Shalat Karena Sakit Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya, ada pertanyaan yang menanyakan tentang shalat yang ditinggalkan seseorang karena sedang menjalani pengobatan selama hampir 21 hari, Anda pernah menyebutkan bahwa waktu shalat itu dimulai dengan zuhur atau ashar, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum-meninggalkan-shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum meninggalkan shalat">Hukum Meninggalkan Shalat</a> Karena Sakit</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya, ada pertanyaan yang menanyakan tentang <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a></strong> yang ditinggalkan seseorang karena sedang menjalani pengobatan selama hampir 21 hari, Anda pernah menyebutkan bahwa waktu shalat itu dimulai dengan zuhur atau ashar, bagaimanakah hukumnya?<br />
<span id="more-9313"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kami katakan bahwa diharuskan baginya untuk mengqadha shalat-shalat yang telah ia tinggalkan semampu mungkin, bahkan jika mungkin ia harus melakukan shalat-shalat itu dengan berurutan dalam satu hari, tapi jika tidak mampu dalam satu hari, maka dibagi beberapa hari sesuai kemampuannya. Hal itu ia lakukan secara tertib menurut hari dan waktu shalat, dari awal hari dan dari awal shalat yang ia tingglkan. Adapun mengenai puasanya, karena ditinggalkan sebab sakit dan telah diqadha, maka tidak ada lagi kewajiban mengqadhanya.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait shalat:</h3>
<p>1. <a href="../bunyi-hp-saat-shalat" rel="nofollow" target="_blank">Shalat Jamaah Terganggu Bunyi HP</a>.<br />
2. <a href="../memperlama-sujud-ketika-shalat-jamaah" rel="nofollow" target="_blank">Jika Imam Memperlama Waktu Sujud Terakhir</a>.<br />
3. <a href="../zikir-berjamaah-setelah-shalat" rel="nofollow" target="_blank">Dzikir Jamaah Setelah Shalat</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/lupa-shalat">Shalat Terbengkalai Beberapa Hari</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-meninggalkan-sholat-dengan-sengaja">Hukum Meninggalkan Shalat dengan Sengaja</a>.<br />
6. <a href="http://konsultasisyariah.com/bagaimanakah-sholat-orang-yang-sedang-sakit">Cara Shalat Orang Sakit</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pictures</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-meninggalkan-shalat-karena-sakit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rakaat Shalat Dhuha</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/rakaat-shalat-dhuha</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/rakaat-shalat-dhuha#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Nov 2011 00:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8758</guid>
		<description><![CDATA[Jumlah Rakaat Shalat Dhuha Sering kita jumpai sebagian orang yang hendak mengerjakan shalat dhuha masih bingung mengenai jumlah rakaatnya. Akhirnya mereka pun kurang merasakan kenyamanan ketika mengerjakannya. Salah satu saudara kita mengirimkan pertanyaan yang mudah-mudahan bisa menghilangkan kebingungan yang menghinggapi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Jumlah Rakaat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-dhuha" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat dhuha">Shalat Dhuha</a></h2>
<p>Sering kita jumpai sebagian orang yang hendak mengerjakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dhuha" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dhuha">dhuha</a></strong> masih bingung mengenai jumlah rakaatnya. Akhirnya mereka pun kurang merasakan kenyamanan ketika mengerjakannya. Salah satu saudara kita mengirimkan pertanyaan yang mudah-mudahan bisa menghilangkan kebingungan yang menghinggapi banyak orang.<br />
<span id="more-8758"></span><br />
<strong>Pertanyaan:</strong><br />
Berapa rakaatkah shalat dhuha itu?</p>
<p>Dari: Pupu Yudha Permana</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Tidak ada perselisihan di antara ulama mengenai jumlah rakaat minimal shalat dhuha, yakni dua rakaat berdasarkan hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/salat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with salat">salat</a> dhuha. Namun, mereka berbeda pendapat tentang berapakah jumlah rakaat maksimal shalat dhuha. Dalam hal ini setidaknya ada tiga pendapat:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, jumlah rakaat maksimal adalah delapan rakaat. Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Maliki, Syafi&#8217;i, dan Hambali. Dalil yang digunakan madzhab ini adalah hadis Umi Hani&#8217; <em>radhiallaahu &#8216;anha</em>, bahwasanya Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memasuki rumahnya ketika <em>fathu</em> Mekah dan Beliau shalat delapan rakaat. (HR. Bukhari, no.1176 dan Muslim, no.719).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, rakaat maksimal adalah 12 rakaat. Ini merupakan pendapat Madzhab Hanafi, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan pendapat lemah dalam Madzhab Syafi&#8217;i. Pendapat ini berdalil dengan hadis Anas <em>radhiallahu&#8217;anhu</em></p>
<p class="arab">من صلى الضحى ثنتي عشرة ركعة بنى الله له قصرا من ذهب في الجنة</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang shalat dhuha 12 rakaat, Allah buatkan baginya satu istana di surga.&#8221; Namun hadis ini termasuk hadis dhaif. Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al-Mundziri dalam <em>Targhib wat Tarhib</em>. Tirmidzi mengatakan, “Hadis ini gharib (asing), tidak kami ketahui kecuali dari jalur ini.” Hadis ini didhaifkan sejumlah ahli hadis, diantaranya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani dalam <em>At-Talkhis Al-Khabir</em> (2: 20), dan Syaikh Al-Albani dalam A<em>l-Misykah</em> (1: 293).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, tidak ada batasan maksimal untuk shalat dhuha. Pendapat ini yang dikuatkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Hawi. Dalam kumpulan fatwanya tersebut, Suyuthi mengatakan, &#8220;Tidak terdapat hadis yang membatasi shalat dhuha dengan rakaat tertentu, sedangkan pendapat sebagian ulama bahwasanya jumlah maksimal 12 rakaat adalah pendapat yang tidak memiliki sandaran sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Hafidz Abul Fadl Ibn Hajar dan yang lainnya.&#8221;. Beliau juga membawakan perkataan Al-Hafidz Al-&#8217;Iraqi dalam <em>Syarh Sunan Tirmidzi</em>, &#8220;Saya tidak mengetahui seorangpun sahabat maupun tabi&#8217;in yang membatasi shalat dhuha dengan 12 rakaat. Demikian pula, saya tidak mengetahui seorangpun ulama madzhab kami (syafi&#8217;iyah) – yang membatasi jumlah rakaat dhuha – yang ada hanyalah pendapat yang disebutkan oleh Ar-Ruyani dan diikuti oleh Ar-Rafi&#8217;i dan ulama yang menukil perkataannya.&#8221;<br />
Setelah menyebutkan pendapat sebagian ulama Syafi&#8217;iyah, As-Suyuthy menyebutkan pendapat sebagian ulama malikiyah, yaitu Imam Al-Baaji Al-Maliky dalam <em>Syarh Al-Muwattha&#8217;</em> Imam Malik. Beliau mengatakan, &#8220;Shalat dhuha bukanlah termasuk shalat yang rakaatnya dibatasi dengan bilangan tertentu yang tidak boleh ditambahi atau dikurangi, namun shalat dhuha termasuk shalat sunnah yang boleh dikerjakan semampunya.&#8221; (<em>Al-Hawi lil fataawa</em>, 1:66).</p>
<p><strong>Kesimpulan dan Tarjih</strong><br />
Jika dilihat dari dalil tentang shalat dhuha yang dilakukan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> jumlah rakaat maksimal yang pernah beliau lakukan adalah 12 rakaat. Hal ini ditegaskan oleh Al-&#8217;Iraqi dalam <em>Syarh Sunan Tirmidzi</em> dan Al-&#8217;Aini dalam <em>Umdatul Qori Syarh Shahih Bukhari</em>. Al-Hafidz Al &#8216;Aini mengatakan, &#8220;Tidak adanya dalil –yang menyebutkan jumlah rakaat shalat dhuha– lebih dari 12 rakaat, tidaklah menunjukkan terlarangnya untuk menambahinya.&#8221; (<em>Umdatul Qori</em>, 11:423)<br />
Setelah membawakan perselisihan tentang batasan maksimal shalat dhuha, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan,<br />
&#8220;Pendapat yang benar adalah tidak ada batasan maksimal untuk jumlah rakaat shalat dhuha karena:</p>
<ol>
<li>Hadis Mu&#8217;adzah yang bertanya kepada Aisyah <em>radhiallahu&#8217;anha</em>, &#8220;Apakah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> shalat dhuha?&#8221; Jawab Aisyah, &#8220;Ya, empat rakaat dan beliau tambahi seseuai kehendak Allah.&#8221; (HR. Muslim, no. 719). Misalnya ada orang shalat di waktu dhuha 40 rakaat maka semua ini bisa dikatakan termasuk shalat dhuha.</li>
<li>Adapun pembatasan delapan rakaat sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang <em>fathu</em> Mekah dari Umi Hani&#8217;, maka dapat dibantah dengan dua alasan: <strong>pertama</strong>, sebagian besar ulama menganggap shalatnya Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika <em>fathu</em> Mekah bukan shalat dhuha namun shalat sunah karena telah menaklukkan negeri kafir. Dan disunnahkan bagi pemimpin perang, setelah berhasil menaklukkan negri kafir untuk shalat 8 rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah. <strong>Kedua</strong>, jumlah rakaat yang disebutkan dalam hadis tidaklah menunjukkan tidak disyariatkannya melakukan tambahan, karena kejadian Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> shalat delapan rakaat adalah peristiwa kasuistik –kejadian yang sifatnya kebetulan– (<em>As-Syarhul Mumthi&#8217; &#8216;alaa Zadil Mustaqni&#8217; </em> 2:54).</li>
</ol>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait dhuha:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-istikharah">Tata Cara Shalat Istikharah</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-istikharah" target="_blank">Qadha Shalat Tahajud Waktu Dhuha</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mengqadha-shalat-dhuha" target="_blank">Qadha Shalat Dhuha</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/rakaat-minimal-sholat-dhuha" target="_blank">Rakaat Minimal Shalat Dhuha</a>.</p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/waktu-dhuha" target="_blank">Batasan waktu Shalat Dhuha</a>.</p>
<p>6. <a rel="nofollow" href="konsultasisyariah.com/?s=dhuha" target="_blank">Link Tentang Shalat Dhuha</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/rakaat-shalat-dhuha/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Shalat Istikharah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-istikharah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-istikharah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 06:56:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8754</guid>
		<description><![CDATA[Tata Cara Shalat Istikharah Terkadang kita menghadapi beberapa masalah yang memiliki urgensi (tingkat kepentingan) yang sama bagi kita. Kita pun ingin memohon dengan cara istikharah, tapi bingung tentang tata caranya. Mudah-mudahan tulisan berikut ini bisa jadi jalan keluarnya. Shalat istikharah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tata Cara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> Istikharah</h2>
<p>Terkadang kita menghadapi beberapa masalah yang memiliki urgensi (tingkat kepentingan) yang sama bagi kita. Kita pun ingin memohon dengan cara <strong>istikharah</strong>, tapi bingung tentang tata caranya. Mudah-mudahan tulisan berikut ini bisa jadi jalan keluarnya.<br />
<span id="more-8754"></span><br />
Shalat istikharah adalah shalat sunnah yang dikerjakan ketika seseorang hendak memohon petunjuk kepada Allah, untuk menentukan keputusan yang benar ketika dihadapkan kepada beberapa pilihan keputusan. Sebelum datangnya Islam, masyarakat jahiliyah melakukan istikharah (menentukan pilihan) dengan <em>azlam</em> (undian). Setelah Islam datang, Allah melarang cara semacam ini dan diganti dengan shalat istikharah.</p>
<p>Dalil disyariatkannya <a href="http://konsultasisyariah.com/memejamkan-mata-saat-shalat" target="_blank">shalat</a> istikharah</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah <em>radhiallahu’anhu</em>, beliau berkata,</p>
<p class="arab">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى &#8211; أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ &#8211; فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى &#8211; أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ &#8211; فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى &#8211; قَالَ &#8211; وَيُسَمِّى حَاجَتَهُ</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">berdoa</a>:</p>
<p>“<em>Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.</em>”</p>
<p>Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).</p>
<h3>Teks <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">Doa</a> Istikharah</h3>
<p>Teks doa istikharah ada dua:<br />
<strong>Pertama,</strong></p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى</p>
<p>“<em>Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khoiron lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii, fash-rifhu &#8216;annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khoiro haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih</em>”</p>
<p><strong>Kedua,</strong> sama dengan atas hanya ada beberapa kalimat yang berbeda, yaitu:<br />
Kalimat [دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى] diganti dengan [عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ]. Sehingga, Teks lengkapnya:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى</p>
<p><em>Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii ‘aajili amrii wa aajilih, fash-rifhu &#8216;annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khoiro haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih.</em></p>
<h3>Kapan doa istikharah diucapkan?</h3>
<p>Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul berkata, “Waktu doa istikharah adalah setelah salam, berdasarkan sabda beliau <em>shallallahu Alaihi wa Sallam</em>,</p>
<p class="arab">إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ</p>
<p>“<em>Jika salah seorang di antara kalian berkehendak atas suatu urusan, hendaklah ia shalat dua rakaat yang bukan wajib, kemudian ia berdoa&#8230;..</em>”<br />
Teks hadis menunjukkan setelah melaksanakan dua rakaat, artinya setengah salam.” (<em>Bughyatul Mutathawi</em>&#8216;, Hal. 46)</p>
<h3>Apakah ada bacaan khusus ketika shalat?</h3>
<p>Tidak terdapat dalil yang menunjukkan adanya bacaan surat atau ayat khusus ketika shalat istikharah. Jadi, orang yang melakukan shalat istikharah bisa membaca surat atau ayat apapun, yang dia hafal. Al-Allamah Zainuddin Al-Iraqi mengatakan, “Aku tidak menemukan satu pun dalil dari berbagai hadis istikharah yang menganjurkan bacaan surat tertentu ketika istikharah.”<br />
Apakah istikharah harus dengan shalat khusus ataukah boleh dengan semua shalat sunnah?<br />
Pada hadis tentang shalat istikharah di atas dinyatakan,</p>
<p class="arab">فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ</p>
<p>“<em>Kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu&#8230;</em>”</p>
<p>Berdasarkan kalimat ini, sebagian ulama menyimpulkan bahwa melakukan istikharah tidak harus dengan shalat khusus, tapi bisa dengan semua shalat sunah. Artinya, seseorang bisa melakukan shalat rawatib, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dhuha" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dhuha">dhuha</a>, tahiyatul masjid, atau shalat sunah lainnya, kemudian setelah shalat dia membaca doa istikharah. Imam An-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب ، وبتحية المسجد، وغيرها من النوافل</p>
<p><em>“Teks hadis menunjukkan bahwa doa istikharah bisa dilakukan setelah melaksanakan shalat rawatib, tahiyatul masjid, atau shalat sunnah lainnya.”</em> (<em>Bughyatul Mutathawi&#8217;</em>, Hal. 45)</p>
<p><strong>Jawaban dalam mimpi?</strong><br />
Banyak orang beranggapan bahwa jawaban istikharah akan Allah sampaikan dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/macam-macam-mimpi" target="_blank">mimpi</a>. Ini adalah anggapan yang yang sama sekali tidak berdalil. Karena tidak ada keterkaitan antara istikharah dengan mimpi. Syaikh Masyhur Hasan Salman <em>hafizhahullah</em> mengatakan,</p>
<p>Mimpi tidak bisa dijadikan acuan hukum fiqih. Karena dalam mimpi setan memiliki peluang besar untuk memainkan perannya, sehingga bisa jadi setan menggunakan mimpi untuk mempermainkan manusia. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">الرؤيا ثلاثة، من الرحمن ومن الشيطان وحديث نفس</p>
<p>“<em>Mimpi ada 3 macam: dari Allah, dari setan, dan bisikan hat</em>i.”</p>
<p>Beliau juga menjelaskan bahwa mimpi tidak bisa untuk menetapkan hukum, namun hanya sebatas diketahui. Dan tidak ada hubungan antara shalat istikharah dengan mimpi. Karena itu, tidak disyaratkan, bahwa setiap istikharah pasti diikuti dengan mimpi. Hanya saja, jika ada orang yang istikharah kemudian dia tidur dan bermimpi yang baik, bisa jadi ini merupakan tanda baik baginya dan melapangkan jiwa. Tetapi, tidak ada keterkaitan antara istikharah dengan mimpi. (<em>Al-Fatwa Al-Masyhuriyah</em>: http://almenhaj.net/makal.php?linkid=124)</p>
<h3>Apa yang harus dilakukan setelah istikharah?</h3>
<p>Para ulama menjelaskan bahwa setelah istikharah hendaknya seseorang melakukan apa yang sesuai keinginan hatinya. Imam An-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">إذا استخار مضى لما شرح له صدره</p>
<p>“Jika seseorang melakukan istikharah, maka lanjutkanlah apa yang menjadi keinginan hatinya.”</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, tata cara shalat istikharah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li> Istikharah dilakukan ketika seseorang bertekad untuk melakukan satu hal tertentu, bukan sebatas lintasan batin. Kemudian dia pasrahkan kepada Allah.</li>
<li>Bersuci, baik <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wudhu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wudhu">wudhu</a> atau tayammum.</li>
<li>Melaksanakan shalat dua rakaat. Shalat sunnah dua rakaat ini bebas, tidak harus shalat khusus. Bisa juga berupa shalat rawatib, shalat tahiyatul masjid, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-dhuha" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat dhuha">shalat dhuha</a>, dll, yang penting dua rakaat.</li>
<li>Tidak ada bacaan surat khusus ketika shalat. Artinya cukup membaca Al-Fatihah (ini wajib) dan surat atau ayat yang dihafal.</li>
<li>Berdoa setelah salam dan dianjurkan mengangkat tangan. Caranya: membaca salah satu diantara dua pilihan doa di atas. Selesai doa dia langsung menyebutkan keinginannya dengan bahasa bebas. Misalnya: bekerja di perushaan A atau menikah dengan B atau berangkat ke kota C, dst.</li>
<li>Melakukan apa yang menjadi tekadnya. Jika menjumpai halangan, berarti itu isyarat bahwa Allah tidak menginginkan hal itu terjadi pada anda.</li>
<li>Apapun hasil akhir setelah istikharah, itulah <strong>yang terbaik</strong> bagi kita. Meskipun bisa jadi tidak sesuai dengan harapan sebelumnya. Karena itu, kita harus berusaha ridha dan lapang dada dengan pilihan Allah untuk kita. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengajarkan dalam doa di atas, dengan menyatakan, [ ثُمَّ أَرْضِنِى] “kemudian jadikanlah aku ridha dengannya” maksudnya adalah ridha dengan pilihan-Mu ya Allah, meskipun tidak sesuai keinginanku.</li>
</ol>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tata-cara-shalat-istikharah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Sunah Malam Pertama</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/sebelum-malam-pertama</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/sebelum-malam-pertama#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 01:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8726</guid>
		<description><![CDATA[Adab Malam Pertama Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Apakah ada salat sunah dua rakaat setelah proses akad nikah? Jika ada minta dalilnya Terima kasih Ustadz Faisal (ivXXXXXX@gmail.com) Jawaban: Wa’alaikumussalam Dianjurkan bagi penganti baru, untuk memulai malam pertama-nya dengan salat dua rakaat berjamaah. Dalil ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Adab Malam Pertama</h2>
<p>Pertanyaan:<br />
<em>Assalamu&#8217;alaikum</em><br />
Apakah ada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/salat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with salat">salat</a> sunah dua rakaat setelah proses akad nikah? Jika ada minta dalilnya<br />
Terima kasih Ustadz</p>
<p><em>Faisal (ivXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-8726"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam</em></p>
<p>Dianjurkan bagi penganti baru, untuk memulai <strong>malam pertama</strong>-nya dengan salat dua rakaat berjamaah. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah:</p>
<p>Dalil pertama</p>
<p>Dari Abu Said beliau mengatakan,</p>
<p>Saya menikahi seorang wanita, ketika saya masih sebagai budak. Kemudian saya mengundang beberapa sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Di antara mereka ada Ibnu Mas&#8217;ud, Abu Dzar, dan Hudzifah <em>radhiallahu&#8217;anhum</em>. Lalu tibalah waktu salat, Abu Dzar bergegas untuk mengimami salat. Tetapi mereka mengatakan ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzar) berkata, ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka salat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku</p>
<p class="arab">إذا دخل عليك أهلك فصل ركعتين ثم سل الله من خير ما دخل عليك وتعوذ به من شره ثم شأنك وشأن أهلك</p>
<p>“Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua salat dua rakaat. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kalian berdua.” (HR. Ibnu Abi Syaibah <em>A</em><em>l-Mushannaf</em> no. 29733 dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Dalil kedua,</p>
<p>Dari Syaqiq, beliau mengatakan:</p>
<p>Ada seseorang yang bernama Abu Hariz mengatakan, “Saya menikahi seorang perawan yang masih muda, dan saya khawatir dia akan membenciku. Kemudian Ibnu Mas&#8217;ud memberi nasihat,</p>
<p class="arab">إن الإلف من الله والفرك من الشيطان يريد أن يكره إليكم ما أحل الله لكم فإذا أتتك فأمرها أن تصلي وراءك ركعتين</p>
<p>“Sesungguhnya kasih sayang itu dari Allah dan kebencian itu dari setan untuk membenci sesuatu yang dihalalkan Allah kepadamu. Jika isterimu datang kepadamu, perintahkanlah istrimu untuk melaksanakan salat dua rakaat di belakangmu. Lalu ucapkanlah,</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِي وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ بِخَيْرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ</p>
<p>&#8220;Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.&#8221;(Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam <em>A</em><em>l-Mushannaf</em> no. 17156 dan dishahihkan Al-Albani).</p>
<h3>Tata caranya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> sebelum malam pertama:</h3>
<ol>
<li>Tata cara salat dua rakaat ketika <strong>malam pertama</strong> sama dengan tata cara salat biasa.</li>
<li>Suami menjadi imam bagi istrinya.</li>
<li>Bacaan salat boleh dikeraskan.</li>
<li>Tidak ada anjuran untuk membaca surat atau ayat tertentu.</li>
<li>Tidak ada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> khusus, selain <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> di atas dan dibaca setelah salat.</li>
</ol>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/sama-hari-lahir-nikahpun-sulit">Sama Hari Lahir, Nikah Dipersulit</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/taubat-dari-zina">Masih SMA, Sudah Berzina</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/ijab-kabul-akad-nikah">Lafal Ijab Kabul yang Benar</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar">Selingkuh dengan Ipar</a>.</p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/adakah-sholat-2-rakaat-ketika-suami-hendak-mendatangi-istrinya">Shalat 2 Rakaat Untuk Malam Pertama</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/sebelum-malam-pertama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendahului Imam Membatalkan Shalat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/shalat-mendahului-imam</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/shalat-mendahului-imam#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 06:48:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8679</guid>
		<description><![CDATA[Makmum Mendahului Imam Waktu Shalat Jamaah Saya mau tanya. Ada sebagian makmum yang shalatn jamaahya tergesa-gesa, sehingga sebagian gerakan shalatnya mendahului imam. Apa hukum makmum mendahului imam? Terima kasih. Abdullah Yogya Jawaban: Peringatan Agar Tidak Mendahului Gerakan Imam Alhamdulillah hamdan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Makmum Mendahului Imam Waktu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jamaah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jamaah">Jamaah</a></h2>
<p>Saya mau tanya. Ada sebagian makmum yang shalatn jamaahya tergesa-gesa, sehingga sebagian gerakan shalatnya mendahului imam. Apa hukum <strong>makmum mendahului imam</strong>? Terima kasih.</p>
<p><em>Abdullah Yogya</em><br />
<span id="more-8679"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Peringatan Agar Tidak Mendahului Gerakan Imam</h3>
<p><em>Alhamdulillah hamdan thayyiban katsiran amma ba&#8217;du</em></p>
<p>Allah mensyariatkan pengangkatan imam di dalam shalat untuk ditaati oleh makmum, artinya gerakan atau praktik amalan makmum harus mengikuti gerakan imam, tidak mendahuluinya, juga tidak beriringan dengannya, akan tetapi melakukan gerakan setelah imam melakukannya terlebih dahulu. Seorang makmum tidak bertakbir sampai imam melakukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/takbir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with takbir">takbir</a>, tidak juga rukuk sampai imam terlebih dahulu rukuk, tidak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a> samapi imam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a>, dan tidak pula mengangkat kepalanya dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a> sampai imam terlebih dahulu mengangkat kepalanya.</p>
<p>Para sahabat nabi <em>radhiallahu&#8217;anhum</em> telah memahami petunjuk <em>nubuwah</em> ini. Mereka pun mempraktikkannya dengan cara yang terbaik. Barra bin &#8216;Azib <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> menyatakan, “Kami dahulu shalat di belakang Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam. </em>Apabila nabi mengatakan &#8216;<em>sami&#8217;allahu liman hamidah</em>&#8216; maka tidak ada seorang pun di antara kami yang menyondongkan punggungnya sampai Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> meletakkan dahinya di tanah.” (Mutafaq &#8216;alaihi).</p>
<p>Diriwayatkan dari Amr bin Harits, “Aku pernah shalat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with subuh">subuh</a> di belakang Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Aku mendengar nabi membaca &#8216;<em>Fala uqsimu bilkhunnas. Aljawaril kunnas</em>&#8216;. Pada saat itu tidak ada seorang pun di antara kami yang menyondongkan punggungnya samapi nabi sujud dengan sempurna.” (HR. Muslim).</p>
<p>Pada saat ini, seringkali kita jumpai orang-orang di masjid yang bergerak berbarengan dengan imam atau bahkan mendahului imam pada saat menyondongkan badan, ketika hendak rukuk, juga turun menuju tempat sujud, atau pada saat bangun dari keadaan tersebut. Tentu saja keadaan yang demikian perlu diluruskan dengan nasihat, pengajaran, dan pengarahan secara intens.</p>
<p>Tentunya seorang makmum menyadari dan mengetahui bahwasanya ia tidak diperkenankan lebih dulu selesai shalat dibanding imam. Lalu untuk apa ia berusaha mendahului imam?</p>
<p>Perbuatan mereka itu tentu tidak ada tujuan apa pun kecuali terpengaruh godaan setan yang memperindah perbuatan tersebut agar pahala ibadah mereka berkurang. Abu Hurairah mengatakan, “Penyebab orang-orang yang mengangkat atau menundukkan kepala mereka lebih dahulu dari imam itu karena ubun-ubunnya di tangan setan.” (HR. Malik).</p>
<p>Bagi orang-orang yang melakukan perbuatan demikian juga terpadat peringatan keras dari Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “Hendaklah takut salah seorang di antara kalian, apabila ia mengangkat kepalanya sebelum imam melakukannya, Allah akan menjadikan kepalanya kepala keledai atau suara keledai atau bentuk fisik yang menyerupai keledai. (Mutafaq &#8216;alaihi).</p>
<p>Kita memohon kepada Allah agar mengaruniakan pemahaman terhadap agama dan menasihati hamba-hambanya Allah yang lain. Juga menganugerahkan kita agar mengikuti sunah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>http://www.sahab.net/home/?p=1</em></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/bunyi-hp-saat-shalat">Shalat Jamaah Terganggu Bunyi HP</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/memperlama-sujud-ketika-shalat-jamaah">Jika Imam Memperlama Waktu Sujud Terakhir</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/zikir-berjamaah-setelah-shalat" target="_blank">Dzikir Jamaah Setelah Shalat</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/shalat-mendahului-imam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Jamaah Terganggu Bunyi HP</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bunyi-hp-saat-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bunyi-hp-saat-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 02:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8346</guid>
		<description><![CDATA[Bunyi HP Saat Shalat Jamaah Assalamu&#8217;alaikum ustadz. Saat sedang shalat berjamaah di masjid, handphone kita berbunyi. Kita sadar bahwa lupa menyeting hp dalam keadaan diam sebelum shalat dan khawatir akan terus berbunyi sehingga mengganggu shalat kita dan jamaah lainnya. Pada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bunyi HP Saat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jamaah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jamaah">Jamaah</a></h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em> ustadz.<br />
Saat sedang shalat berjamaah di masjid, handphone kita berbunyi. Kita sadar bahwa lupa menyeting hp dalam keadaan diam sebelum shalat dan khawatir akan terus berbunyi sehingga mengganggu shalat kita dan jamaah lainnya. Pada kasus-kasus tersebut, bolehkah kita bergerak untuk mematikannya?<br />
Syukron..</p>
<p>Ali<br />
<span id="more-8346"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa&#8217;alaikumussalam</p>
<h3>Dianjurkan Mematikan Bunyi HP Saat Shalat</h3>
<p>Wajib bagi setiap muslim untuk bertakwa kepada Allah dalam setiap kegiatan mereka dan berusaha semangat untuk menggapai khusyu dalam shalat dengan menjauhi segala yang dapat memalingkan kekhusyuan dalam shalat. Karena dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/berapa-rakaatkah-shalat-sunah-safar-itu" target="_blank">shalat</a> sendiri itu sudah terdapat kesibukan. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إن في الصلاة لشغلا</p>
<p><em>“Sesungguhnya dalam shalat itu sudah banyak kesibukan.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Orang yang shalat, dia disibukkan dengan merenungi bacaan-bacaan shalat dan gerakan-gerakannya. Karena itu, jangan sampai kesibukan dalam shalat tersebut ditambah lagi dengan kesibukan yang tidak berfaidah.</p>
<p>Diantara upaya untuk meminimalisir hal ini adalah dengan mematikan HP atau menyetingnya diam sebelum shalat. Karena membiarkan <strong>bunyi HP</strong> ketika shalat akan mengganggu orang lain yang sedang shalat.</p>
<p>Jika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> saja merasa terganggu oleh motif bajunya ketika shalat, sampai-sampai sedikit terlengah, bagaimana  lagi dengan variasi nada dering HP yang mengundang perhatian? Tidak diragukan, suara ini lebih mengganggu dan mengurangi rasa khusuk.</p>
<p>Disamping itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad dan yang lainnya, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang kita untuk mengeraskan bacaan Alquran apabila di samping kita ada orang yang sedang shalat, karena ini bisa mengganggu. Oleh karena itu, mengganggu dengan suara HP tentunya lebih terlarang.</p>
<p>Dengan demikian, siapa yang sengaja membiarkan HP-nya ketika shalat dalam keadaan nada dering aktif yang dapat mengganggu maka dia telah melakukan perbuatan yang setidaknya dihukumi makruh. Bahkan bisa jadi sampai pada hukum haram. Adapun orang yang lupa mematikan HP atau lupa menyetingnya diam, maka dia tidak berdosa. Namun wajib baginya segera mematikan HP tersebut meskipun sedang shalat. Karena gerakan mematikan hp adalah gerakan yang ringan, sehingga tidak mempengaruhi keabsahan shalat.<br />
Apabila suara HP ini isinya lagu-lagu atau musik maka jelas keharamannya. Karena musik itu haram berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف</p>
<p><em>“Akan ada di kalangan umatku yang nantinya menghalalkan zina, sutera (bagi lelaki), khamr, dan alat musik.”</em> (HR. Bukhari).</p>
<p>Wajib bagi kita bertaqwa kepada Allah. Terutama bagi mereka yang mengganggu kaum muslim dengan suara haram semacam ini di saat mereka sedang bermunajat kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em>.<br />
Semoga Allah memberi hidayah kepada kaum muslim ke jalan yang Dia ridhai.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>Disadur dari <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih<br />
<em>http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=119943</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasiSyariah.com" target="_blank">www.konsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bunyi-hp-saat-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/takbiran-dulu-atau-dzikir-dulu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/takbiran-dulu-atau-dzikir-dulu#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 02:08:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[bunyi takbir]]></category>
		<category><![CDATA[daging kurban]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir takbiran]]></category>
		<category><![CDATA[ebook kurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum takbiran]]></category>
		<category><![CDATA[jual kambing kurban]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[lafadz takbiran]]></category>
		<category><![CDATA[tabiran hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[takbir]]></category>
		<category><![CDATA[takbiran sesudah shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8570</guid>
		<description><![CDATA[Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu Assalamualaikum. Pada hari tasyrik 11,12,13 ketika selesai shalat berjamaah, mana lebih utama takbiran atau atau dzikir sesudah shalat dan bagaimana yang lebih afdhalnya? Terimakasih atas penjelaasan ustadz&#8230; Rohaniah Islam (XXXXXXXXXXXX@gmail.com) Jawaban: Wa alaikumus salam Takbiran ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu</h2>
<p>Assalamualaikum. Pada hari <em>tasyrik</em> 11,12,13 ketika selesai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> berjamaah, mana lebih utama <strong>takbiran</strong> atau atau dzikir sesudah shalat dan bagaimana yang lebih afdhalnya?<br />
Terimakasih atas penjelaasan ustadz&#8230;</p>
<p><em>Rohaniah Islam (XXXXXXXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-8570"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Wa alaikumus salam</p>
<h3>Takbiran Dulu atau Dzikir Dulu</h3>
<p>Keterangan Syaikh Khalid Al-Musyaiqih,</p>
<p class="arab">ومتى يكبر ؟ هل يكبر بعد السلام مباشرة أو عقب الذكر ؟<br />
نقول يكبر بعد الاستغفار وقول :( اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام ) ، فيستغفر الله ثلاثاً ثم يقول :( اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام ) ثم يشرع في التكبير ، يكبر ما شاء الله عز وجل ثم بعد ذلك يعود لأذكاره</p>
<p>Kapan mulai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/takbir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with takbir">takbir</a> setelah shalat? Apakah langsung bertakbir persis setelah salam ataukah setelah Dzikir?</p>
<p>Jawab:<br />
Kami katakan, sebaiknya bertakbir setelah istighfar dan membaca,</p>
<p class="arab">اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام</p>
<p>Hendaknya dia istighfar 3 kali kemudian membaca; dzikir di atas (<em>Allahumma antas salam</em>&#8230;. dst.), setelah itu mulai bertakbir. Dia bisa bertakbir dengan jumlah bebas, kemudian kembali berdzikir lagi.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=264613</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel www.KonsultadiSyariah.com</strong></p>
<p>Materi terkait takbiran:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/takbiran-sebelum-idul-adha">Hukum Takbiran Sebelum Idul Adha</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/adakah-takbiran-saat-terjadi-gerhana" target="_blank">Takbiran Saat Gerhana</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/takbiran-jamaah-mikrofon" target="_blank">Takbiran Menggunakan Mikrofon</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>takbir</strong>, <strong>hukum takbiran</strong>, <strong>jual kambing kurban</strong>, <strong>dzikir takbiran</strong>, <strong>bunyi takbir</strong>, <strong>akikah</strong>, <strong>ebook kurban</strong>, <strong>lafadz takbiran</strong>, <strong>takbiran sesudah shalat</strong>, <strong>tabiran hari raya</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/takbiran-dulu-atau-dzikir-dulu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperlama Sujud Terakhir</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/memperlama-sujud-ketika-shalat-jamaah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/memperlama-sujud-ketika-shalat-jamaah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 01:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[beda shalat laki-laki dan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[cara sujud]]></category>
		<category><![CDATA[doa waktu sujud]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sujud lama]]></category>
		<category><![CDATA[memperlama sujud]]></category>
		<category><![CDATA[posisi sujud]]></category>
		<category><![CDATA[salat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[sujud lama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8317</guid>
		<description><![CDATA[Memperlama Sujud Ketika Shalat Jamaah Assalaamu&#8217;alaikum. Ada seorang imam yang selalu memperlama pada sujud akhir. Perkiraan saya, dia sedang berdoa pada sujud tersebut. Pertanyaannya, bolehkah merutinkan perbuatan tersebut (memperlama sujud akhir)? Syukron Andymurti Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Memperlama Sujud Memperlama sujud terakhir ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong></strong>Memperlama <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">Sujud</a> Ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jamaah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jamaah">Jamaah</a></h2>
<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum</em>. Ada seorang imam yang selalu memperlama pada sujud akhir. Perkiraan saya, dia sedang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">berdoa</a> pada sujud tersebut. Pertanyaannya, bolehkah merutinkan perbuatan tersebut (<strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/memperlama-sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with memperlama sujud">memperlama sujud</a></strong> akhir)?<br />
Syukron</p>
<p>Andymurti<br />
<span id="more-8317"></span><br />
<strong>Jawaban</strong>:</p>
<p>Wa&#8217;alaikumussalam</p>
<h3>Memperlama Sujud</h3>
<p>Memperlama sujud terakhir ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/salat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with salat">salat</a> dalam rangka memperbanyak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>, bukanlah termasuk bagian dari sunah. Bahkan ini termasuk penyimpangan dalam sunah. Dalam sebuah hadis dari Barra bin Azib <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, Barra menceritakan,</p>
<p class="arab">كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُكُوعُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَسُجُودُهُ وَمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنْ السَّوَاءِ</p>
<p><em>“Salatnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam antara rukuknya, i&#8217;tidalnya, sujudnya, duduk diantara dua sujud, lamanya hampir sama.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Kalimat “lamanya hampir sama” menunjukkan bahwa salah satu rukun tidak ada yang lebih menonjol dibandingkan rukun yang lain.</p>
<p>Syekh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin ditanya tentang sikap orang yang memperlama sujud terakhir untuk berdoa dan istighfar. Syekh menjawab, “Memperlama sujud terakhir bukanlah termasuk sunah. Karena yang sesuai sunah, setiap gerakan salat itu mendekati sama; rukuk, i&#8217;tidal, sujud, duduk diantara dua sujud. Sebagaimana yang dinyatakan Al-Barra bin Azib <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, &#8216;aku lihat berdirinya, rukuk, sujud, dan duduk diantara dua sujud mendekati sama.” Inilah cara yang lebih utama. Hanya saja, ada tempat untuk berdoa di selain sujud, yaitu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tasyahud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tasyahud">tasyahud</a>. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika mengajarkan tasyahud kepada Ibnu Mas&#8217;ud, nabi bersabda,</p>
<p class="arab">ثم ليتخير من الدعاء ما شاء</p>
<p><em>“Kemudian pilihlah doa yang dia sukai.”</em></p>
<p>Maka nabi tempatkan doa, baik sedikit maupun banyak, setelah tasyahud akhir, sebelum salam. <em>(Fatawa Nur &#8216;ala ad-Darb</em>, kaset rekaman no. 376, <em>side</em> B).</p>
<p>Syekh Abdullah Al-Jibrin mengatakan, &#8220;Saya tidak mengetahui adanya dalil yang menunjukkan anjuran memperlama sujud terakhir ketika salat. Hanya saja, mungkin maksud sebagian ulama melakukan hal itu adalah dalam rangka mengingatkan rakaat akhir salat atau gerakan terakhir ketika salat. Kemudian mereka memperlama. Sehingga makmum teringat untuk melakukan duduk tasyahud akhir. Meskipun alasan ini tidak cukup untuk menyatakan diterimanya memperlama sujud terakhir.<br />
(<em>Fatawa Ibnu Jibrin</em>, no. 2046).</p>
<p>Dalam <em>Fatawa Islamiyah</em> (1:258), Syekh Ibnu Jibrin juga menjelaskan, “Saya tidak mengetahui adanya dalil yang menganjurkan untuk memperlama sujud terakhir. Yang disebutkan dalam hadis hanyalah menyamakan jeda masing-masing rukun salat atau mendekati sama.”<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>http://www.islamqa.com/ar/ref/111889/</em></p>
<p><strong>Catatan:</strong> Jika ini hanya dilakukan sekali atau dua kali dan tidak menjadi kebiasaan maka sebagian ulama membolehkan. Setelah menyebutkan dalil keutamaan sujud dan doa ketika sujud, dalam Fatawa Syabakah islamiyah dinyatakan:<br />
Memperlama sujud, secara umum dibolehkan. Akan tetapi mengkhususkan sujud terakhir atau sujud tertentu lainnya adalah perkara yang tidak dinukil dari dalil. Jika terjadi sekali atau bertepatan dengan butuh banyak doa maka tidak masalah, dan tidak boleh dijadikan kebiasaan. Ini jika orang tersebut shalat sendirian. Adapun jika dia menjadi imam maka tidak selayaknya memperlama sujud, sehingga memberatkan orang yang berada di belakangnya.<br />
Dari: <em>http://www.islamweb.net/fatwa</em></p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/pandangan-mata-ketika-tasyahud" target="_blank">Pandangan Mata Ketika Tasyahud</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/samakah-cara-salat-laki-laki-dan-perempuan" target="_blank">Perbedaaan Tata Cara Shalat Laki-laki dan Perempuan</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-di-atas-kasur" target="_blank">Shalat Di Atas Kasur</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/tata-cara-berdoa" target="_blank">Tata Cara Shalat Sesuai Tuntunan</a>.</p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/doa-sujud" target="_blank">Hukum Berdoa Dengan Selain Bahasa Arab Ketika Shalat</a>.</p>
<p>6. <a href="http://konsultasisyariah.com/bacaan-sujud-sahwi" target="_blank">Bacaan Sujud Sahwi yang Shahih</a>.</p>
<p>7. <a href="http://konsultasisyariah.com/?s=sujud" target="_blank">Hal-hal yang Berkaitan dengan Sujud</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>doa waktu sujud</strong>, <strong>sholat</strong>, <strong>beda shalat laki-laki dan perempuan</strong>, <strong>salat</strong>, <strong>hukum sujud lama</strong>, <strong>memperlama sujud</strong>, <strong>sujud</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>posisi sujud</strong>, <strong>cara sujud</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/memperlama-sujud-ketika-shalat-jamaah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidur Menghadap Kiblat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tidur-menghadap-kiblat-1</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tidur-menghadap-kiblat-1#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 01:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[adab tidur]]></category>
		<category><![CDATA[kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[kiblat muslim]]></category>
		<category><![CDATA[menghadap kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[wc menghadap kiblat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8320</guid>
		<description><![CDATA[Tidur Menghadap Kiblat Assalamu&#8217;alaikum. Adakah tuntunan dari Rasulullah pada saat tidur kepala harus berada di arah kiblat? Jazzakallah khairan katsiran. Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Tidur Menghadap Kiblat Dalam sebuah riwayat dari Aisyah radhiallahu &#8216;anha, Aisyah mengatakan, كان رسول الله صلى الله عليه ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tidur Menghadap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kiblat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kiblat">Kiblat</a></h2>
<p>Assalamu&#8217;alaikum. Adakah tuntunan dari Rasulullah pada saat <strong>tidur</strong> kepala harus berada di arah kiblat?<br />
<em>Jazzakallah khairan katsiran</em>.<br />
<span id="more-8320"></span><br />
<strong>Jawaban</strong>:</p>
<p>Wa&#8217;alaikumussalam</p>
<h3>Tidur <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/menghadap-kiblat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with menghadap kiblat">Menghadap Kiblat</a></h3>
<p>Dalam sebuah riwayat dari Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, Aisyah mengatakan,</p>
<p class="arab">كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأمر بفراشه فيفرش له ، فيستقبل القبلة ، فإذا أوى إليه توسد كفه اليمنى ، ثم همس ما ندري ما يقول &#8230;</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> biasa menyiapkan tempat tidurnya, kemudian tidur dengan menghadap kiblat. Pada saat nabi membaringkan badannya, ia jadikan telapak tangan kanannya sebagai bantal, lalu membaca <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> dengan lirih. Aisyah mengatakan, &#8220;Kami tidak tahu apa yang nabi baca&#8230;. (hingga akhir hadis).</p>
<p><strong>Keterangan:</strong><br />
Hadis ini diriwayatkan Abu Ya&#8217;la dalam Musnadnya (7:210) dari jalur As-Sari bin Ismail Al-Hamdani, dari Asy-Sya&#8217;bi, dari Masruq. Para ulama menegaskan bahwa As-Sari bin Ismail adalah perawi yang lemah. Para ulama memberikan komentar miring tentangnya.<br />
Diantaranya:<br />
Yahya bin Said yang mengatakan, &#8220;Jelas bagi saya bahwa dia pernah berdusta dalam sebuah majlis.&#8221;<br />
Imam Ahmad berkomentar, &#8220;Orang-orang meninggalkan hadisnya&#8221;<br />
Abu Hatim mengatakan, &#8220;Orang yang hilang (tidak diperhitungkan)&#8221;<br />
Abu Daud menyatakan, &#8220;Dhaif, hadisnya ditinggalkan&#8221;<br />
Dalam tafsirnya (7:7), Ibnu Katsir mengatakan, As-Sari bin Ismail adalah sepupu Asy-Sya&#8217;bi, dan dia dhaif (lemah) sekali.</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis terkait menghadap kiblat saat tidur statusnya dhaif, sehingga tidak perlu dianggap sebagai salah satu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/adab-tidur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with adab tidur">adab tidur</a>.<br />
Demikian keterangan dari Syekh Abdullah bin Muhammad Zuqail, salah satu kontributor situs islam saaid.net.</p>
<p><strong>Disadur dari:</strong> <em>http://www.saaid.net/Doat/Zugail/72.htm</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustad Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel terkait:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../bolehkah-membangun-toilet-ke-arah-kiblat" target="_blank">Membangun Toilet Menghadap Kiblat.</a><br />
2. <a rel="nofollow" href="Saat Suami-Istri Tidur Tidur Terpisah" target="_blank">Saat Suami-Istri Tidur Tidur Terpisah</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>menghadap kiblat</strong>, <strong>kiblat muslim</strong>, <strong>adab tidur</strong>, <strong>wc menghadap kiblat</strong>, <strong>kiblat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tidur-menghadap-kiblat-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selonjor Kaki ke Arah Kiblat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tidur-menghadap-kiblat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tidur-menghadap-kiblat#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 06:54:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[adab tidur]]></category>
		<category><![CDATA[kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[kiblat muslim]]></category>
		<category><![CDATA[menghadap kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[wc menghadap kiblat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8448</guid>
		<description><![CDATA[Tidur Menghadap Kiblat Bolehkah tidur di masjid sambil menyelonjorkan kaki ke arah kiblat? Penanya: ibXXXXXXXXX@gmail.com Jawaban: Tidur Menghadap Kiblat Hukum menyelonjorkan kaki atau tidur mengarah ke kiblat adalah boleh. Dengan catatan, selama ka&#8217;bah tidak kelihatan.. Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong></strong>Tidur Menghadap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kiblat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kiblat">Kiblat</a></h2>
<p>Bolehkah tidur di masjid sambil menyelonjorkan kaki ke arah <strong>kiblat</strong>?</p>
<p>Penanya:<em> ibXXXXXXXXX@gmail.com</em><br />
<span id="more-8448"></span><br />
<strong>Jawaban</strong>:</p>
<h3>Tidur <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/menghadap-kiblat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with menghadap kiblat">Menghadap Kiblat</a></h3>
<p>Hukum menyelonjorkan kaki atau tidur mengarah ke kiblat adalah boleh. <strong>Dengan catatan, selama ka&#8217;bah tidak kelihatan</strong>..</p>
<p>Dalam <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em> dinyatakan:<br />
Tidur di <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-di-atas-kasur">kasur</a>, sementara kaki berada di arah kiblat, tidak ada larangan. Bahkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menganjurkan untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/salat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with salat">salat</a> dengan cara semacam ini, bagi yang tidak mampu berdiri.<br />
Yang terlarang adalah menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/air" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with air">air</a> di tanah lapang. Berdasarkan hadis Abu Ayyub Al-Anshari, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">لا تستقبلوا القبلة بغائط أو بول ولا تستدبروها</p>
<p><em>“Janganlah menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa tidak ada larangan untuk tidur dan kakinya menghadap ke arah kiblat.  <em>Allahu a&#8217;lam</em>. (<em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, no. 17281)</p>
<p>Syekh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin menjelaskan:<br />
Tidak ada dosa bagi orang yang tidur sementara kakinya ke arah kiblat. Bahkan sebagian ulama mengatakan: Sesungguhnya orang yang sakit, yang tidak mampu berdiri atau duduk maka dia boleh salat sambil tidur miring dan wajahnya menghadap ke kiblat. Jika tidak mampu, dia salat sambil terlentang dan kakinga ke arah kiblat.<br />
(<em>Fatawa Ibnu Utsaimin</em>, 2:976).</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustad Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel terkait:</p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-membangun-toilet-ke-arah-kiblat">Membangun Toilet Menghadap Kiblat.</a><strong><br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kiblat muslim</strong>, <strong>menghadap kiblat</strong>, <strong>kiblat</strong>, <strong>wc menghadap kiblat</strong>, <strong>adab tidur</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tidur-menghadap-kiblat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Wanita = Shalat Lelaki</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/samakah-cara-salat-laki-laki-dan-perempuan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/samakah-cara-salat-laki-laki-dan-perempuan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 02:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[beda shalat laki-laki dan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[salat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8254</guid>
		<description><![CDATA[Tata Cara Shalat Wanita Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu. Ustadz, mohon penjelasan apakah ada perbedaan tata cara shalat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah sallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang diajarkan antara pria dan wanita terutama cara posisi berdiri, takbiratul ihram, bersedekap, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tata Cara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> Wanita</h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu</em>. Ustadz, mohon penjelasan apakah ada perbedaan tata cara <strong>shalat</strong> yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah s<em>allallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>yang diajarkan antara pria dan wanita terutama cara posisi berdiri, takbiratul ihram, bersedekap, ruku, dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a><em> ? Jazakallahu Khair</em></p>
<p><em>Muhammad Nawir </em><br />
<span id="more-8254"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh</em></p>
<p><strong>Pertama</strong>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">صلُّوا كما رأيتموني أصلّي</p>
<p><em>&#8220;<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalatlah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalatlah">Shalatlah</a> kalian, sebagaimana kalian melihatku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/salat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with salat">salat</a>&#8221;</em> (HR. Bukhari).</p>
<p>Hadis ini menjadi dalil bahwa salatnya wanita sama dengan salatnya laki-laki. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> perintahkan agar umatnya mengikuti tata cara salatnya, tanpa memberikan pengecualian. Imam Ibrahim An-Nakhai -seorang tabiin- mengatakan,</p>
<p class="arab">تفعل المرأة في الصلاة كما يفعل الرجل</p>
<p><em>&#8220;Seorang wanita mengerjakan shalat sebagaimana yang dilakukan oleh laki-laki&#8221;</em> (HR. Bukhari secara <em>muallaq</em> dan disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanadnya dalam Al-Mushannaf).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, terdapat sebuah hadis yang menganjurkan wanita untuk menggabungkan kedua tangannya ketika sujud, tidak sebagaimana laki-laki. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab <em>Al-Marasil</em>, dari Yazid bin Abi Habib. Karena hadis ini adalah hadis mursal, maka tidak bisa dijadikan sebagai dalil. Sebagaimana keterangan dalam <em>Silsilah ad-Dhaifah</em>.<br />
Sementara riwayat dalam <em>Masail</em> Imam Ahmad, dari Ibnu Umar, bahwa Ibnu Umar memerintahkan para istrinya untuk duduk bersila ketika <strong>salat</strong> adalah riwayat yang sanadnya tidak sahih, karena dalam sandanya terdapat Abdullah Al-Waqidi, dia perawi yang dhaif.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanad yang sahih dalam kitab <em>At-Tarikh as-Shaghir</em>, dari Ummu Darda,</p>
<p class="arab">أنها كانت تجلس في صلاتها جلسة الرجل ، وكانت فقيهة</p>
<p><em>&#8220;Ummu Darda duduk ketika shalat sebagaimana duduknya lelaki. Padahal ia adalah seorang ulama wanita&#8221;</em></p>
<p>Demikian penjelasan dalam kitab <em>Sifat Shalat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></p>
<p>Semua keterangan di atas, memberikan kesimpulan bahwa tata cara shalatnya wanita sama dengan tata cara shalat laki-laki.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel terkait tentang salat:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/memejamkan-mata-saat-shalat" target="_blank">Video Hukum Memejamkan Mata Salat</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-di-atas-kasur" target="_blank">Salat Di Atas Kasur</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/suami-malas-shalat" target="_blank">Suami Malas Salat</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>sholat</strong>, <strong>beda shalat laki-laki dan perempuan</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>salat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/samakah-cara-salat-laki-laki-dan-perempuan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memejamkan Mata Saat Shalat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/memejamkan-mata-saat-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/memejamkan-mata-saat-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 07:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7999</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Memejamkan Mata Saat Shalat Pertanyaan: Joule Aceh Bagaimana hukumnya memejamkan mata saat shalat. Sahkah shalat kita? Tujuan kita memejamkan mata adl agar kita dapat lebih khusyuk dlm shalat. Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.A. Silakan simak jawabannya pada video ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukum Memejamkan Mata Saat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Joule Aceh<br />
Bagaimana hukumnya <strong>memejamkan mata saat shalat.</strong> Sahkah <strong>shala</strong>t kita? Tujuan kita <strong>memejamkan mata</strong> adl agar kita dapat lebih <strong>khusyuk</strong> dlm shalat.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.A.<br />
Silakan simak jawabannya pada <strong>video</strong> berikut ini.</p>
<p><span id="more-7999"></span></p>
<p><script src="http://yufid.tv/flowplayer/flowplayer-3.2.6.min.js" type="text/javascript"></script> <a id="player" style="display: block; width: 470px; height: 380px;" rel="nofollow" href="http://yufid.com/yufidtv/lq/hukum-shalat-memejamkan-mata-ustadz-aris-munandar.flv" target="_blank"> </a> <script type="text/javascript">// <![CDATA[
 flowplayer("player", "http://yufid.tv/flowplayer/flowplayer-3.2.7.swf", {     clip:  {         autoPlay: false,         autoBuffering: true     } });
// ]]&gt;</script></p>
<p>Video <a rel="nofollow" href="http://KonsultasiSyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Video terkait shalat:</p>
<h3><a rel="nofollow" href="http://yufid.tv/bolehkah-wanita-shalat-jumat/" target="_blank">Bolehkah Wanita Shalat Jumat?</a></h3>
<h3><a rel="nofollow" href="http://yufid.tv/tanda-mendapatkan-jawaban-dari-shalat-istikharah/" target="_blank">Tanda Mendapatkan Jawaban dari Shalat Istikharah</a></h3>
<h3>Artikel seputar shalat:</h3>
<h3><a title="Permanent Link to Shalat Di Atas Kasur" rel="bookmark" href="../shalat-di-atas-kasur" rel="nofollow" target="_blank">Shalat Di Atas Kasur</a></h3>
<h3><a title="Permanent Link to Suami Malas Shalat" rel="bookmark" href="../suami-malas-shalat" rel="nofollow" target="_blank">Suami Malas Shalat</a></h3>
<h3><strong>Kata kunci: shalat, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sholat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sholat">sholat</a>, fikih shalat, ibadah.</strong></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/memejamkan-mata-saat-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://yufid.com/yufidtv/lq/hukum-shalat-memejamkan-mata-ustadz-aris-munandar.flv" length="17578896" type="video/x-flv" />
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Di Atas Kasur</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/shalat-di-atas-kasur</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/shalat-di-atas-kasur#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 02:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[kasur]]></category>
		<category><![CDATA[kasur empuk]]></category>
		<category><![CDATA[shalat di kasur]]></category>
		<category><![CDATA[shalat orang sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7941</guid>
		<description><![CDATA[Shalat di atas kasur Pertanyaan, Assalamu alaikum, Apa hukum shalat di atas kasur, meskipun tidak sedang sakit? Trims Tri Jogja (trXXXXXX@yahoo.com) Jawaban Shalat di atas kasur: Dibolehkan shalat di atas kasur, meskipun tidak sedang sakit, selama tidak goyang-goyang dan orang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> di atas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kasur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kasur">kasur</a></h2>
<p>Pertanyaan, Assalamu alaikum, Apa hukum <strong>shalat di atas kasur</strong>, meskipun tidak sedang sakit?<br />
Trims</p>
<p><em>Tri Jogja (trXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7941"></span></p>
<h3>Jawaban Shalat di atas kasur:</h3>
<p>Dibolehkan shalat di atas kasur, meskipun tidak sedang sakit, selama tidak goyang-goyang dan orang shalat bisa menempelkan seluruh anggota <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a> di atas kasur, ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a>.</p>
<p><strong>Di antara keterangan ulama dalam masalah ini:</strong></p>
<p><strong>Pertama,</strong> keterangan Al-Khathab, beliau menyatakan,<br />
“Dinyatakan dalam kitab <em>At-Taudhih</em>, Tentang shalat di atas kasur, tidak ada perselisihan pendapat tentang bolehnya.”  (<em>Mawahibul Jalil</em>, 1/520)</p>
<p><strong>Kedua,</strong> keterangan An-Nawawi, beliau menjelaskan,<br />
“Syarat shalat wajib adalah orang shalat menghadap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kiblat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kiblat">kiblat</a>,&#8230;.. jika dia menghadap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kiblat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kiblat">kiblat</a> dan menyempurnakan rukunnya, di atas tandu atau kasur dan semacamnya dan benda itu tegak di atas punggung onta maka tentang hukum keabsahannya ada dua pendapat dalam madzhab syafi&#8217;iyah. Pendapat yang kuat, shalatnya sah. Dan inilah pendapat mayoritas, karena hukumnya sama dengan shalat di atas perahu.” (Al-Majmu&#8217; Syarh Muhadzab, 3/221)</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> keterangan Syaikh Shalih Al-Fauzan <em>hafidzahullah</em>,<br />
Beliau ditanya, &#8216;Bolehkan shalat di atas tempat yang agak tinggi, seperti kasur atau semacamnya, karena dia ragu dengan kesucian laintai. Padahal dia tidak sedang sakit?&#8217;<br />
Beliau menjawab, &#8216;Dibolehkan bagi seseorang untuk shalat di tempat yang agak tinggi, seperti kasur atau semacamnya, jika tempat itu suci dan dia bisa shalat dengan tenang, tidak goyang-goyang, atau tidak menyebabkan shalatnya terganggu atau tidak sempurna.” (<em>Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan</em>, 2/143)<br />
Allahu a&#8217;lam</p>
<p><strong>Referensi:</strong> <em>http://www.islamqa.com/ar/ref/93560</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yanng berkaitan dengan <strong>shalat di atas kasur</strong>: <a href="http://konsultasisyariah.com/bagaimanakah-sholat-orang-yang-sedang-sakit" target="_blank">Bagaimanakah Shalat Orang yang Sedang Sakit</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>shalat orang sakit</strong>, <strong>kasur</strong>, <strong>kasur empuk</strong>, <strong>shalat di kasur</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/shalat-di-atas-kasur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suami Malas Shalat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/suami-malas-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/suami-malas-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 00:18:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalatlah]]></category>
		<category><![CDATA[suami durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[suami edan]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[suamiku selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7929</guid>
		<description><![CDATA[Suami malas shalat Pertanyaan, &#8220;Ustadz, ana mau tanya bagaimana mensikapi suami yang malas shalat, sementara istrinya wanita muslimah yang taat dan bagaimana kedudukan ana sebagai istri selama bertahun-tahun menunggu tetapi tidak ada perubahan.&#8221; Solusi suami malas shalat: &#8220;Kita memohon kepada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Suami malas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a></h2>
<p>Pertanyaan, &#8220;Ustadz, ana mau tanya bagaimana mensikapi suami yang malas <strong>shalat</strong>, sementara istrinya wanita muslimah yang taat dan bagaimana kedudukan ana sebagai istri selama bertahun-tahun menunggu tetapi tidak ada perubahan.&#8221;<br />
<span id="more-7929"></span></p>
<h3>Solusi suami malas shalat:</h3>
<p>&#8220;Kita memohon kepada Allah agar menakdirkan kebaikan bagimu, memantapkan langkah-langkahmu, dan memberikan ilham kepada kita semua kepada petunjuk dan melindungi kita dari keburukan jiwa-jiwa kita dan dari kejelekan amAl-amal kita. Selamat datang di majalah kita ini, kami sangat bergembira dengan perhatianmu terhadap suami. Ini adalah termasuk akhlakmu yang baik dan harta simpananmu yang berharga.</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa hidup bersama dengan seorang suami yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tidak-shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tidak shalat">tidak shalat</a> adalah sebuah petaka damn kemungkaran yang tidak diperbolehkan secara syari, apalagi anda telah bersabar selama ini dalam masa yang panjang. Shalat memang perkara berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Shalat adalah hubungan langsung antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Shalat adalah amal yang pertama kali akan dihisab. Shalat adalah timbangan yang dengannya kita bisa mengetahui agama dan kebaikan seseorang. Barangsiapa menjaganya, maka dia memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa tidak menjaganya maka dia tidak memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat, dan akan dikumpulkan bersama Fir&#8217;aun, Haman, Qorun dan Ubay ibn Khalaf.</p>
<p>Shalat adalah sebuah kewajiban yang tidak akan gugur dari seorang manusia selagi dia bernafas dan punya ingatan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda kepada &#8216;Imran ibn Husain <em>radhiallahu ‘anhu</em>:</p>
<p class="arab">صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِداً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلىَ جَنْبٍ</p>
<p><em>“<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalatlah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalatlah">Shalatlah</a> dalam keadaan berdiri, jika anda tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan (berbaring) di atas lambung.”</em> (Al-Bukhari, 1006)</p>
<p>Jika hal demikian diperuntukkan bagi si sakit, maka bagaimana pula dengan orang-orang yang sehat? Bagaimana pula dengan seorang laki-laki yang selayaknya menjaga shalat berjama&#8217;ah? Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu ‘anhu</em> telah berkata:</p>
<p class="arab">إِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ سُنَنَ الْهُدَى، وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلاَةَ فِيْ جَمَاعَةٍ، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِيْ بَيْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّيْ هَذَا الْمُنَافِقُ فِيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا عَلىَ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ  وَمَا يَتَخَلًَّفُ عَنِ الصَّلاَةِ فِيْ جَمَاعَةٍ إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتٰى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyari&#8217;atkan kepada nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya termasuk sunnah-sunnah petunjuk adalah shalat berjama&#8217;ah. Dan seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana orang munafik ini shalat di dalam rumahnya maka sungguh kalian telah meninggalkan sunnah nabi kalian, dan seandainya kalian meninggalkan sunnah nabi kalian maka pastilah kalian tersesat. Sungguh aku telah melihat kami di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada seorangpun yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/meninggalkan-shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with meninggalkan shalat">meninggalkan shalat</a> berjama&#8217;ah melainkan orang munafik yang jelas-jelas munafik. Sungguh ada seorang laki-laki yang didatangkan dengan dipapah di antara dua orang laki-laki hingga diberdirikan di dalam barisan.”</em> (H.r. Ahmad, 3616)</p>
<p>Sungguh perhatian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap shalat telah mencapai derajat yang agung hingga beliau ingin membakar rumah orang-orang yang tidak mengikuti shalat berjama&#8217;ah. Beliau tidak mengurungkan keinginan tersebut kecuali adanya para wanita, gadis pingitan dan anak-anak di dalam rumah-rumah mereka.</p>
<p>Bersamaan dengan itu, kami berharap kepadamu untuk memberikan kesempatan terakhir kepada suamimu agar dia beristiqamah, jika tidak maka perceraian adalah lebih utama dikarenakan dengan hal tersebut telah jelaslah kekufuran dan kesengajaannya meninggalkan shalat. Kami akan membantu anda dengan izin Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan beberapa perkara yang membantumu untuk memperbaikinya. Di antara hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1.</strong> Menyandarkan diri kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, tunduk kepada-Nya demi hidayah kepada laki-laki tersebut, dan yang benar adalah kita berdo&#8217;a untuk seseorang di waktu malam, dan mendakwahinya di waktu siang, sesuai dengan kadar keikhlasan dan kejujuran kita, maka kebaikan dan pengabulan akan datang.</p>
<p><strong>2. </strong>Mengambil jalan masuk yang baik menasihatinya, mengetengahkan kata-kata yang indah, memilih waktu-waktu yang sesuai, dan sebutkanlah kebaikan-kebaikan serta sifat-sifatnya yang baik. Dan berusahalah membantunya untuk mempersiapkan kepercayaan dirinya dengan mengatakan, misalnya: “Anda alhamdulillah adalah seorang yang baik, anda bertanggung jawab, dan manusia menyebutmu dengan kebaikan, dan akan sangat bagus lagi kalau anda konsisten mengerjakan shalat lima waktu. Karena sesungguhnya aku senang melihat suamiku keluar seperti laki-laki lain bersama keluarganya menuju rumah-rumah Allah.”</p>
<p><strong>3. </strong>Mendorong orang-orang shalih dari mahrammu untuk menziarahinya dan mengajaknya shalat tanpa dia merasa bahwa hal tersebut adalah sebuah kesepakatan di antara kalian. Dan lebih memilih waktu-waktu shalat dalam ziarah hingga dia bisa pergi ke masjid bersama mereka.</p>
<p><strong>4.</strong> Membeli kaset-kaset, dan buku-buku kecil yang menjelaskan hukum orang yang meninggalkan shalat, serta hukuman orang yang meremehkan pelaksanaan shalat pada waktunya, dan meletakkan kaset-kaset serta buku-buku kecil tersebut pada tempat yang biasa dia jangkau dengan tangannya.</p>
<p><strong>5.</strong> Berambisi agar dia konsisten dalam mengerjakan shalat lima waktu untuk pertama kalinya, kemudian mendakwahinya agar mendirikannya dengan kekhusyu&#8217;annya, rukuknya dan tumakninahnya. Dan hal yang demikian tidak akan terjadi kecuali dengan rutin mengerjakan shalat. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah memuji orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya dengan berfirman:</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.”</em> (Q.s. Al-Mukminun: 9)</p>
<p>Dikarenakan rutin dan menjaga shalat akan menghantarkan kepada kekhusyukan, dan shalat tidak akan bermanfaat kecuali dengan khusyuk.</p>
<p><strong>6.</strong> Jadikanlah waktu-waktu makan setelah waktu-waktu shalat.</p>
<p><strong>7.</strong> Menjelaskan bahayanya meninggalkan shalat tepat pada waktunya. Mush&#8217;ab ibn Sa&#8217;d ibn Abi Waqqash <em>radhiallahu ‘anhu</em> pernah berkata kepada bapaknya saat membaca firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p><em>“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,”</em> (QS. Al-Ma&#8217;un: 5)</p>
<p>Dia berkata, “<em>Wahai bapakku, apakah mereka adalah orang-orang yang tidak shalat?” Maka berkatalah Sa&#8217;d: “Tidak, seandainya mereka meninggalkan shalat, maka mereka telah kafir, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang mengakhirkan (menunda)nya dari waktunya.”</em> (H.r. Al-Bazzar 1145, dan Thabarani dalam <em>Al-Aushath</em> 2276)</p>
<p><strong>8.</strong> Menggunakan sarana-sarana dan senjata berpengaruh yang dimiliki oleh seorang wanita untuk memaksanya agar rutin mengerjakan shalat, seperti menolak makan bersamanya, duduk dengannya, serta menolak tidur di pembaringan, dan tidak ada larangan menyampaikan keinginan cerai jika dia tidak menjaga pelaksanaan shalat.</p>
<p>Demikianlah kita memohon taufik dari Allah untukmu.</p>
<p><strong>Referensi:</strong><em> http://qiblati.com/menghadapi-suami-yang-tidak-shalat.html</em> <strong>(Dipublikasikan ulang oleh Konsultasi Syariah dengan sedikit perubahan tata bahasa)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel penting seputar suami dan istri:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/suami-sayang-tidak-cinta" target="_blank">Suami tidak Sayang, Karena Wajahku Jelek</a>.</p>
<p>2. <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/istri-tidak-mau-berjilbab-dan-tidak-shalat" target="_blank">Jika Istri tidak Mau Berjilbab dan Mengerjakan Shalat</a>.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>shalatlah</strong>, <strong>suami durhaka</strong>, <strong>suamiku selingkuh</strong>, <strong>suami edan</strong>, <strong>suami istri</strong>, <strong>shalat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/suami-malas-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Berdoa Sesuai Tuntunan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tata-cara-berdoa</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tata-cara-berdoa#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 02:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[adab doa]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa-doa]]></category>
		<category><![CDATA[kirim doa]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara doa]]></category>
		<category><![CDATA[zikir doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7834</guid>
		<description><![CDATA[Tata cara berdoa sesuai tuntunan Assalamu&#8217;alaikum. saya mau bertanya cara tata cara berdoa yang benar seperti apa? karena saya melihat ada yang mengangkat tangan ketika berdoa dan tidak. terimakasih. Fahmi (GamXXXXXX@gmail.co) 13 Adab berdoa Pertama, mencari waktu yang mustajab. Diantara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tata cara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berdoa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berdoa">berdoa</a> sesuai tuntunan</h2>
<p>Assalamu&#8217;alaikum. saya mau bertanya cara tata cara <strong>berdoa</strong> yang benar seperti apa? karena saya melihat ada yang mengangkat tangan ketika <em>berdoa</em> dan tidak. terimakasih.</p>
<p><em>Fahmi (GamXXXXXX@gmail.co)</em><br />
<span id="more-7834"></span></p>
<h3>13 Adab berdoa</h3>
<p><strong>Pertama,</strong> mencari waktu yang mustajab.</p>
<p>Diantara waktu yang mustajab adalah hari arafah, ramadhan, sore <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hari-jumat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hari jumat">hari jumat</a>, dan waktu sahur atau sepertiga malam terakhir.<br />
Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
ينزل الله تعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الأخير فيقول عز وجل: من يدعونى فأستجب له، من يسألنى فأعطيه، من يستغفرنى فأغفر له</p>
<p><em>“Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan, siapa yang meminta-Ku, Aku beri, dan siapa yang minta ampunan pasti Aku ampuni.”</em> (H.r. Muslim)</p>
<p><strong>Kedua,</strong> memanfaatkan keadaan yang mustajab untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/doa-sujud" target="_blank"><span style="text-decoration: underline;">berdoa</span></a>.</p>
<p>Diantara keadaan yang mustajab untuk berdoa adalah: ketika perang, turun hujan, ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a>, antara adzan dan iqamah, atau ketika puasa menjelang berbuka. Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em> mengatakan, &#8220;Sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka ketika; jihad fi sabillillah sedang berkecamuk, ketika turun hujan, dan ketika iqamah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> wajib. Manfaatkanlah untuk berdoa ketika itu.” (<em>Syarhus Sunnah al-Baghawi,</em> 1: 327)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“<strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">Doa</a></strong> antara adzan dan iqamah tidak tertolak .”</em> (H.r. Abu Daud, Nasa&#8217;i, danTurmudzi)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Keadaan terdekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklah berdoa.”</em> (H.r. Muslim)</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/menghadap-kiblat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with menghadap kiblat">Menghadap kiblat</a> dan mengangkat tangan</p>
<p>Dari Jabir <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika berada di padang Arafah, beliau menghadap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kiblat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kiblat">kiblat</a>, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (H.r. Muslim)</p>
<p>Dari Salman <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan).”</em> (H.r. Abu Daud &amp; Turmudzi dan beliau hasankan)</p>
<h3>Cara mengangkat tangan dalam berdoa:</h3>
<p>Ibn Abbas <em>radliallahu &#8216;anhu</em> mengatakan, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (H.r. Thabrani)</p>
<p><strong>Catatan: Tidak boleh melihat ke atas ketika berdoa.</strong></p>
<p><strong>Keempat</strong>, dengan suara lirih dan tidak dikeraskan.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">
وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا</p>
<p><em>“Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”</em> (Q.s. Al-Isra: 110)</p>
<p>Allah memuji Nabi Zakariya &#8216;alaihis salam, yang berdoa dengan penuh khusyu&#8217; dan suara lirih,</p>
<p class="arab">
ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا</p>
<p><em>“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.”</em> (Q.s. Maryam: 2 – 3)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab">
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ</p>
<p><em>“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”</em> (Q.s. Al-A&#8217;raf: 55)</p>
<p>Dari Abu Musa <em>radliallahu &#8216;anhu</em> bahwa suatu ketika para sahabat pernah berdzikir dengan teriak-teriak. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengingatkan,</p>
<p class="arab">
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ</p>
<p><em>“Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak ada, sesungguhnya Allah bersama kalian, Dia Maha mendengar lagi Maha dekat.”</em> (H.r. Bukhari)</p>
<p><strong>Kelima,</strong> Tidak dibuat bersajak.</p>
<p>Doa yang terbaik adalah doa yang ada dalam Alquran dan sunnah.</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab">
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ</p>
<p><em>“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”</em> (Q.s. Al-A&#8217;raf: 55)</p>
<p>Ada yang mengatakan: maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam membuat kalimat doa, dengan dipaksakan bersajak.</p>
<p><strong>Keenam,</strong> khusyu&#8217;, merendahkan hati, dan penuh harap.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu&#8217; kepada Kami.”</em> (Q.s. Al-Anbiya&#8217;: 90)</p>
<p><strong>Ketujuh,</strong> memantapkan hati dalam berdoa dan berkeyakinan untuk dikabulkan.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
لا يقل أحدكم إذا دعا اللهم اغفر لي إن شئت اللهم ارحمني إن شئت ليعزم المسألة فإنه لا مُكرِه له</p>
<p><em>“Janganlah kalian ketika berdoa dengan mengatakan: Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau mau. Hendaknya dia mantapkan keinginannya, karena tidak ada yang memaksa Allah.” (HR. Bukhari &amp; Muslim)</em><br />
<em> Dari Abu Hurairah radliallahu &#8216;anhu, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mantapkan keinginannya. Karena Allah tidak keberatan dan kesulitan untuk mewujudkan sesuatu.”</em> (H.r. Ibn Hibban dan dishahihkan Syua&#8217;ib Al-Arnauth)</p>
<p>Diantara bentuk yakin ketika berdoa adalah hatinya sadar bahwa dia sedang meminta sesuatu. Dari Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه</p>
<p><em>“Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya).”</em> (H.r. Turmudzi dan dishahihkan Al-Albani)</p>
<p>Banyak orang yang lalai dalam berdoa atau bahkan tidak tahu isi doa yang dia ucapkan. Karena dia tidak paham bahasa Arab, sehingga hanya dia ucapkan tanpa direnungkan isinya.</p>
<p><strong>Kedelapan,</strong> mengulang-ulang doa dan merengek-rengek dalam berdoa.</p>
<p>Misalnya, orang berdoa, &#8220;Yaa Allah, ampunilah hambu-MU, ampunilah hambu-MU&#8230;, ampunilah hambu-MU yang penuh dosa ini. ampunilah ya Allah&#8230;. &#8221; Dia ulang-ulang permohonannya. Semacam ini menunjukkan kesungguhhannya dalam berdoa.</p>
<p>Ibn Mas&#8217;ud mengatakan, &#8220;Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> apabila beliau berdoa, beliau mengulangi tiga kali. Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali. (H.r. Muslim).</p>
<p><strong>Kesembilan,</strong> tidak tergesa-gesa agar segera dikabulkan, dan menghindari perasaan: &#8220;Mengapa doaku tidak dikabulkan atau kalihatannya Allah tidak akan mengabulkan doaku.&#8221;</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى</p>
<p><em>“Akan dikabulkan (doa) kalian selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan: Saya telah berdoa, namun belum saja dikabulkan.”</em> (H.r. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Sikap tergesa-gesa agar segera dikabulkan, tetapi doanya tidak kunjung dikabulkan, menyebabkan dirinya malas berdoa. Dari Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم، ما لم يستعجل، قيل: يا رسول الله وما الاستعجال؟ قال: يقول قد دعوت وقد دعوت فلم أر يستجيب لي، فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء رواه مسلم.</p>
<p><em>“Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdoa?. Beliau bersabda: “Orang yang berdoa ini berkata: Saya telah berdoa, Saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa.”</em> (H.r. Muslim dan Abu Daud)</p>
<p>Sebagian ulama mengatakan: “Saya pernah berdoa kepada Allah dengan satu permintaan selama dua puluh tahun dan belum dikabulkan, padahal aku berharap agar dikabulkan. Aku meminta kepada Allah agar diberi taufik untuk meninggalkan segala sesuatu yang tidak penting bagiku.”</p>
<p><strong>Kesepuluh,</strong> memulai doa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Bagian dari adab ketika memohon dan meminta adalah memuji Dzat yang diminta. Demikian pula ketika hendak berdoa kepada Allah. Hendaknya kita memuji Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang mulia (<em>Asma-ul Husna</em>).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kemudian beliau bersabda: “Orang ini terburu-buru.” kemudian Beliau bersabda,</p>
<p class="arab">
إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء</p>
<p><em>“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.”</em> (H.r. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p><strong>Kesebelas,</strong> memperbanyak taubat dan memohon ampun kepada Allah.</p>
<p>Banyak mendekatkan diri kepada Allah merupakan sarana terbesar untuk mendapatkan cintanya Allah. Dengan dicintai Allah, doa seseorang akan mudah dikabulkan. Diantara amal yang sangat dicintai Allah adalah memperbanyak taubat dan istighfar.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ&#8230;.، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ</p>
<p><em>“Tidak ada ibadah yang dilakukan hamba-Ku yang lebih Aku cintai melebihi ibadah yang Aku wajibkan. Ada hamba-Ku yang sering beribadah kepada-Ku dengan amalan sunnah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka &#8230;jika dia meminta-Ku, pasti Aku berikan dan jika minta perlindungan kepada-KU, pasti Aku lindungi&#8230;”</em> (H.r. Bukhari)</p>
<p>Diriwayatkan bahwa ketika terjadi musim kekeringan di masa Umar bin Khatab, beliau meminta kepada Abbas untuk berdoa. Ketika berdoa, Abbas mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya tidaklah turun musibah dari langit kecuali karena perbuatan dosa. dan musibah ini tidak akan hilang, kecuali dengan taubat&#8230;”</p>
<p><strong>Kedua belas,</strong> hindari mendoakan keburukan, baik untuk diri sendiri, anak, maupun keluarga.</p>
<p>Allah berfirman, mencela manusia yang berdoa dengan doa yang buruk,</p>
<p class="arab">
وَيَدْعُ الإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإِنسَانُ عَجُولاً</p>
<p><em>“Manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”</em> (Q.s. Al-Isra&#8217;: 11)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab">
وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُم بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ</p>
<p><em>“Kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka (binasa).”</em> (Q.s. Yunus: 11)</p>
<p>Ayat ini berbicara tentang orang yang mendoakan keburukan untuk dirinya, hartanya, keluarganya, dengan doa keburukan.<br />
Dari Jabir <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
لا تدعوا على أنفسكم، ولا تدعوا على أولادكم، ولا تدعوا على خدمكم، ولا تدعوا على أموالكم، لا توافق من الله ساعة يسأل فيها عطاء فيستجاب لكم</p>
<p><em>“Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, jangan mendoakan keburukan untuk anak kalian, jangan mendoakan keburukan untuk pembantu kalian, jangan mendoakan keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah bertepatan dengan waktu mustajab, pasti Allah kabulkan.”</em> (H.r. Abu Daud)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم</p>
<p><em>“Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim.”</em> (H.r. Muslim dan Abu Daud)</p>
<p><strong>Ketiga belas, </strong>menghindari makanan dan harta haram.</p>
<p>Makanan yang haram menjadi sebab tertolaknya doa.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ</p>
<p><em>“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: &#8216;Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8217; Dan Allah juga berfirman: &#8216;Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.&#8217;&#8221; Kemudian Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo&#8217;a: &#8220;Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.&#8221; Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan do&#8217;anya?</em> (H.r. Muslim).</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Disadur dari:</strong> <em>http://www.islamino.net/play.php?catsmktba=11483</em> <strong>(Dengan beberapa penambahan dari Redaksi <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Pembahasan: Adab-adab berdoa.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>zikir doa</strong>, <strong>doa-doa</strong>, <strong>adab doa</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>tata cara doa</strong>, <strong>berdoa</strong>, <strong>kirim doa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tata-cara-berdoa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tertidur hingga Matahari Terbit</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tertidur</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tertidur#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 01:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[dhuha]]></category>
		<category><![CDATA[lembur]]></category>
		<category><![CDATA[shalat shubuh]]></category>
		<category><![CDATA[subuh]]></category>
		<category><![CDATA[tertidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7734</guid>
		<description><![CDATA[Tertidur hingga matahari terbit Jika seseorang tertidur hingga matahari terbit, apakah ia boleh shalat subuh ketika itu ataukah tidak? Jawaban: Barang siapa yang tertidur hingga matahari terbit maka hendaklah ia melakukan shalat subuh sebagaimana hari-hari sebelumnya ia lakukan. Ia pun ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tertidur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tertidur">Tertidur</a> hingga matahari terbit</h2>
<p>Jika seseorang <strong>tertidur</strong> hingga matahari terbit, apakah ia boleh <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with subuh">subuh</a> ketika itu ataukah tidak?<br />
<span id="more-7734"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Barang siapa yang <a href="http://konsultasisyariah.com/sering-lembur-sehingga-luput-dari-shalat-subuh" target="_blank"><span style="text-decoration: underline;">tertidur</span></a> hingga matahari terbit maka hendaklah ia melakukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat subuh">shalat subuh</a> sebagaimana hari-hari sebelumnya ia lakukan. Ia pun boleh mengerjakan shalat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/qabliyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with qabliyah">qabliyah</a> subuh (sunah fajar) sebelum melaksanakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat subuh">shalat subuh</a> tadi.</p>
<p>Telah terdapat hadis yang sahih dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwasanya beliau pernah ketiduran saat safar. Beliau dan para sahabat ketika itu tidaklah bangun tidur kecuali ketika matahari telah terbit. Kemudian, ketika itu dikumandangkanlah azan, lalu beliau melaksanakah shalat sunah rawatib terlebih dahulu (yaitu shalat sunah qabliyah subuh, pen). Selepas itu, beliau beranjak melaksanakah shalat subuh. Salawat dan salam semoga tercurahkan pada beliau.<br />
<em>Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam. </em></p>
<p>Yang menandatangani fatwa ini: Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syekh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, dan Syekh ‘Abdullah bin Ghudayan serta Syekh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: <em>Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’</em>, pertanyaan kelima dari fatwa no. 6576.</p>
<p><strong>Diterjemahkan oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<h3>*<br />
Catatan penting untuk yang tertidur hingga mata hari terbit:</h3>
<p>Fatwa ini adalah khusus bagi orang yang punya kebiasaan shalat subuh tepat waktu. Jika suatu saat ia luput karena <a href="http://konsultasisyariah.com/sering-lembur-sehingga-luput-dari-shalat-subuh" target="_blank">ketiduran</a> maka ia boleh mengerjakannya meskipun matahari telah terbit.</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://http://konsultasisyariah.com/sering-lembur-sehingga-luput-dari-shalat-subuh">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>tertidur</strong>, <strong>shalat shubuh</strong>, <strong>subuh</strong>, <strong>dhuha</strong>, <strong>lembur</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tertidur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sering Lembur sehingga Luput dari Shalat Subuh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/sering-lembur-sehingga-luput-dari-shalat-subuh</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/sering-lembur-sehingga-luput-dari-shalat-subuh#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 02:10:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum shalat]]></category>
		<category><![CDATA[meninggalkan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[pemisah muslim]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat dhuha]]></category>
		<category><![CDATA[shalat subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7710</guid>
		<description><![CDATA[Sering lembur sehingga luput dari shalat subuh Pertanyaan pertama: Ada seseorang yang mengerjakan shalat subuh setelah matahari terbit, dan ini sudah jadi kebiasaannya setiap paginya. Hal ini sudah berlangsung selama dua tahun. Dia mengaku bahwa tidur telah mengalahkannya karena dia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Sering <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/lembur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with lembur">lembur</a> sehingga luput dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with subuh">subuh</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan pertama: </strong></p>
<p>Ada seseorang yang mengerjakan <strong>shalat</strong> subuh setelah matahari terbit, dan ini sudah jadi kebiasaannya setiap paginya. Hal ini sudah berlangsung selama dua tahun. Dia mengaku bahwa tidur telah mengalahkannya karena dia sering lembur. Dia mengisi waktu malamnya dengan menikmati hiburan-hiburan. Apakah <span style="text-decoration: underline;">shalat</span> yang dilakukan oleh orang semacam ini sah?</p>
<p><strong>Pertanyaan kedua: </strong></p>
<p>Apakah kita boleh bermajelis dan tinggal satu atap dengan orang semacam ini? Kami sudah menasihatinya, namun dia tidak menghiraukan.<br />
<span id="more-7710"></span></p>
<h3>Jawaban untuk orang yang sering mengakhirkan shalat:</h3>
<p>Diharamkan bagi seseorang untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/lupa-shalat" target="_blank">mengakhirkan shalat</a> sampai ke luar waktunya. Wajib bagi setiap muslim yang telah dibebani syariat untuk menjaga shalat pada waktunya, termasuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat subuh">shalat subuh</a> dan shalat yang lainnya. Dia bisa menyetel alarm  untuk membangunkannya (di waktu subuh).</p>
<p>Kita diharamkan lembur di malam hari untuk menikmati hiburan dan semacam itu. Lembur (begadang) di malam hari telah diharamkan oleh Allah bagi kita, jika hal ini melalaikan dari mengerjakan shalat subuh di waktunya atau melalaikan dari shalat subuh secara berjemaah. Hal ini terlarang karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah melarang begadang setelah waktu Isya, jika tidak ada manfaat syar’i sama sekali.</p>
<p>(Perlu diketahui pula bahwa) setiap amalan yang dapat menyebabkan kita mengakhirkan shalat dari waktunya, maka amalan tersebut haram untuk dilakukan kecuali, jika amalan tersebut dikecualikan oleh syariat yang mulia ini.</p>
<p>Jika memang keadaan orang yang engkau sebutkan tadi adalah seperti itu maka nasihatilah dia. Jika dia tidak menghiraukan, tinggalkan dan jauhilah dia.</p>
<p><em>Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam. </em></p>
<p>Yang menandatangani fatwa ini:<br />
Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syekh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syekh ‘Abdullah bin Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: <em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’</em>, pertanyaan pertama dan kedua dari fatwa no. 8371.</p>
<p><strong>Diterjemahkan oleh Ustadz <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel tambahan: <a href="http://konsultasisyariah.com/lupa-shalat" target="_blank">Hukum meninggalkan shalat.</a><strong><br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>shalat</strong>, <strong>pemisah muslim</strong>, <strong>meninggalkan shalat</strong>, <strong>shalat dhuha</strong>, <strong>shalat subuh</strong>, <strong>hukum shalat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/sering-lembur-sehingga-luput-dari-shalat-subuh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Terbengkalai Beberapa Hari</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/lupa-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/lupa-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 01:53:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum meninggalkan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum shalat]]></category>
		<category><![CDATA[meninggalkan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat 5 waktu]]></category>
		<category><![CDATA[tidak shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7703</guid>
		<description><![CDATA[Lupa mengerjakan shalat beberapa hari Sesungguhnya aku adalah seorang pemuda yang&#8211;alhamdulillah&#8211;telah diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk menjalankan shalat lima waktu, kecuali shalat subuh dalam beberapa waktu. Ketika subuh, aku sering sekali tertidur. Aku baru terbangun setelah terbit matahari. Bolehkah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Lupa mengerjakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> beberapa hari</h2>
<p>Sesungguhnya aku adalah seorang pemuda yang&#8211;<em>alhamdulillah</em>&#8211;telah diberi taufik oleh Allah <em>Ta’ala</em> untuk menjalankan shalat lima waktu, kecuali <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat subuh">shalat subuh</a> dalam beberapa waktu. Ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with subuh">subuh</a>, aku sering sekali <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tertidur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tertidur">tertidur</a>. Aku baru terbangun setelah terbit matahari. Bolehkah aku mengerjakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat subuh">shalat subuh</a> tersebut di waktu aku bangun tidur? Lalu bagaimana jika seseorang luput dari suatu shalat, misalnya shalat ashar, apakah ia mengqadha&#8217;-nya di hari berikutnya ataukah ia kerjakan di waktu magrib?<br />
<span id="more-7703"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Jika engkau ketiduran atau lupa sehingga luput dari waktu <a href="http://konsultasisyariah.com/ebook-shalat" target="_blank"><strong>shalat</strong></a> maka hendaklah engkau shalat ketika engkau terbangun dari tidur atau ketika ingat, walaupun itu adalah saat terbit atau tenggelamnya matahari. Hal ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ</p>
<p><em>“Barang siapa yang tertidur &#8211;sehingga luput dari shalat&#8211;atau dalam keadaan lupa, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat dan tidak ada kafarah (tebusan) selain itu.</em>” (Hr. Bukhari dan Muslim )</p>
<p>Adapun jika engkau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/meninggalkan-shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with meninggalkan shalat">meninggalkan shalat</a> lima waktu dengan <strong>sengaja</strong>, dengan mengetahui akan wajibnya lalu engkau luput dari shalat tersebut, maka pendapat ulama yang paling tepat adalah bahwa perbuatan seperti itu termasuk kekufuran, yaitu kufur akbar. Shalat yang ditinggalkan dengan sengaja seperti ini sama sekali tidak memiliki qadha’ (tidak perlu diganti). Kewajibanmu adalah bertobat, beristighfar, menyesali yang telah lalu, dan engkau harus menjaga kembali shalat lima waktu, dikerjakan tepat pada waktunya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, dan lain-lain, dari hadis Buraidah,</p>
<p class="arab">العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ</p>
<p>“<em>Perjanjian di antara kami (kaum muslimin) dengan mereka (orang kafir) adalah mengenai perkara shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka ia kafir</em>.”</p>
<p>Hal ini juga berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari Jabir,</p>
<p class="arab">بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلاَةِ</p>
<p>“<em>Pembeda di antara seorang muslim dan antara kekufuran dan kesyirikan adalah mengenai meninggalkan shalat</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p><em>Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam. </em></p>
<p>Yang menandatangani fatwa ini:<br />
Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syekh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku wakil ketua dan Syekh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: <em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’</em>, pertanyaan pertama dari fatwa nomor 6196, 6/10.<br />
<strong>Diterjemahkan oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Anda bisa download e-book gratis: <a title="Download Ebook Gratis “Mengapa Kita Shalat?”" href="http://konsultasisyariah.com/ebook-shalat" target="_blank">Mengapa kita shalat</a><strong><a title="Download Ebook Gratis “Mengapa Kita Shalat?”" href="http://konsultasisyariah.com/ebook-shalat" target="_blank">.</a><br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>tidak shalat</strong>, <strong>shalat 5 waktu</strong>, <strong>meninggalkan shalat</strong>, <strong>hukum shalat</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>hukum meninggalkan shalat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/lupa-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lupa Tasyahud Awal</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tasyahud-awal</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tasyahud-awal#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2011 06:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[lupa tasyahud]]></category>
		<category><![CDATA[menghadap sujud]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tasyahud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7685</guid>
		<description><![CDATA[Ketika lupa tasyahud awal Assalamu &#8216;alaikum. Saat shalat 4 rakaat, seharusnya kita tasyahud awal, tapi kita lupa dan berdiri, kemudian setelah berdiri sempurna kita ingat bahwa seharusnya duduk tasyahud awal. Apa yang harus kita lakukan? Annisa (nisco**@yahoo.**) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ketika lupa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tasyahud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tasyahud">tasyahud</a> awal</h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Saat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> 4 rakaat, seharusnya kita <strong>tasyahud awal</strong>, tapi kita lupa dan berdiri, kemudian setelah berdiri sempurna kita ingat bahwa seharusnya duduk tasyahud awal. Apa yang harus kita lakukan?</p>
<p><em>Annisa (nisco**@yahoo.**)</em><br />
<span id="more-7685"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<h3>Orang yang lupa tidak tasyahud awal, memiliki dua keadaan:</h3>
<p><strong>Pertama</strong>, teringat ketika proses berdiri menuju rakaat ketiga atau sebelum berdiri sempurna. Dalam kondisi semacam ini, dia harus kembali untuk melaksanakan duduk <a href="http://konsultasisyariah.com/pandangan-mata-ketika-tasyahud" target="_blank">tasyahud</a> awal dan tidak ada kewajiban <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a> sahwi.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, baru teringat setelah berdiri sempurna di rakaat ketiga. Pada keadaan ini, tidak perlu kembali duduk tasyhud, kemudian melakukan sujud sahwi sebelum salam. Dalilnya :</p>
<ul>
<li>Hadis dari Abdullah bin Buhainah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mengimami shalat, kemudian beliau langsung bangkit setelah rakaat kedua dan tidak duduk tasyahud. Maka makmum pun ikut berdiri. Setelah selesai tasyahud akhir, para sahabat menunggu beliau salam. Tiba-tiba, beliau sujud dua kali sebelum salam. (Hr. Bukhari dan Muslim)</li>
<li>Dari Mughirah bin Syu&#8217;bah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Apabila kalian bangkit setelah rakaat kedua dan belum sempurna berdiri maka duduklah (kembali), dan jika sudah berdiri sempurna maka jangan duduk dan lakukanlah sujud sahwi (sebelum salam)</em>.&#8221; (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</li>
</ul>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berkaitan dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/lupa-tasyahud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with lupa tasyahud">lupa tasyahud</a> awal: <a href="http://konsultasisyariah.com/pandangan-mata-ketika-tasyahud" target="_blank">Pandangan mata ketika tasyahud</a><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/pandangan-mata-ketika-tasyahud" target="_blank">.</a><br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>menghadap sujud</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>tasyahud</strong>, <strong>lupa tasyahud</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tasyahud-awal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Sunah Qabliyah Jumat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/shalat-sunah-qabliyah-jumat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/shalat-sunah-qabliyah-jumat#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 06:17:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>athirah</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[batal shalat]]></category>
		<category><![CDATA[berwudhu]]></category>
		<category><![CDATA[hari jumat]]></category>
		<category><![CDATA[horor jumat]]></category>
		<category><![CDATA[jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[jumat kelabu]]></category>
		<category><![CDATA[jumat kliwon]]></category>
		<category><![CDATA[jumatan]]></category>
		<category><![CDATA[mengqadha shalat tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[najis]]></category>
		<category><![CDATA[qabliyah]]></category>
		<category><![CDATA[qabliyah jumat]]></category>
		<category><![CDATA[qadha tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat lail]]></category>
		<category><![CDATA[sholat tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah jumat]]></category>
		<category><![CDATA[tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[tayamum]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7643</guid>
		<description><![CDATA[Shalat sunah qabliyah jumat Sebenarnya ada tidak shalat qabliyah jumat Ada banyak pendapat yang mengatakan, shalat sunah sebelum jumat itu tidak dikerjakan oleh Rasul, yang ada hanya shalat sunah setelah shalat Jumat (ba&#8217;diyah). Sebenarnya bagaimana ini? Zulkifli (Joule_**@yahoo.***) Jawaban tentang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> sunah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/qabliyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with qabliyah">qabliyah</a> jumat</h2>
<p>Sebenarnya ada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tidak-shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tidak shalat">tidak shalat</a> <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/qabliyah-jumat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with qabliyah jumat">qabliyah jumat</a></strong> Ada banyak pendapat yang mengatakan, shalat sunah sebelum jumat itu tidak dikerjakan oleh Rasul, yang ada hanya shalat sunah setelah shalat <a href="http://konsultasisyariah.com/jika-tertinggal-imam-shalat-jumat">Jumat</a> (ba&#8217;diyah). Sebenarnya bagaimana ini?</p>
<p><em>Zulkifli (Joule_**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-7643"></span></p>
<h3>Jawaban tentang shalat sunah qabliyah jumat:</h3>
<p><em>Bismillah wash shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah.</em></p>
<p>Sebelumnya, perlu dibedakan antara shalat sunah khusus dengan shalat sunah mutlak. Shalat sunah khusus adalah shalat sunah yang dibatasi oleh jumlah rakaat, waktu, atau sebab tertentu. Misalnya, shalat sunah rawatib sebelum zuhur. Adapun shalat sunah mutlak adalah sebaliknya, tidak terikat dengan jumlah rakaat, waktu, atau sebab tertentu.</p>
<p>Pada penjelasan di atas, telah ditegaskan bahwasanya <strong>shalat sunah sebelum shalat Jumat sifatnya mutlak. Tidak terikat dengan jumlah rakaat dan waktu tertentu.</strong> Ini adalah pendapat Syafi&#8217;iyah dan bahkan pendapat mayoritas ulama, sebagaimana yang disampaikan oleh An-Nawawi. Di samping itu, tidak terdapat satu pun riwayat bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melakukan shalat sunah khusus sebelum shalat Jumat.</p>
<p>Terdapat riwayat bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> shalat empat rakaat tanpa dipisah dengan salam sebelum shalat Jumat. Riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Majah, <strong>namun sanadnya sangat lemah sekali, sehingga tidak bisa dijadikan dalil</strong>.</p>
<p>Untuk melengkapi pembahasan, di bawah ini kami sebutkan beberapa alasan orang yang berpendapat adanya shalat sunah <strong>qabliyah Jumat</strong>, beserta bantahan atas pendapat tersebut:</p>
<p><strong>A. Riwayat bahwasanya Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melaksanakan shalat dua rakaat sebelum <a title="khotbah jumat" rel="nofollow" href="http://khotbahjumat.com/" target="_blank">shalat Jumat</a> dan sesudahnya. </strong></p>
<p><strong>Bantahan:</strong><br />
Riwayat di atas dan beberapa riwayat lainnya yang semakna, adalah riwayat yang <strong>lemah sekali</strong>. Sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Sebagaimana dijelaskan Syekh Abdul Quddus Muhammad Nadzir dalam <em>Ahaditsu Al-Jum&#8217;ah</em>, hlm. 315&#8211;316.</p>
<p><strong>B. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membiasakan shalat empat rakaat tanpa dipisah salam sebelum zuhur. Shalat ini dikenal dengan &#8220;shalat zawal&#8221;. </strong></p>
<p><strong>Bantahan:</strong><br />
Hadis ini khusus untuk shalat zuhur, dan tidak bisa disamakan dengan shalat Jumat karena dalam hadis secara tegas disebutkan, &#8220;<em>&#8230; Setelah matahari tergelincir sebelum shalat zuhur</em>.&#8221; Padahal, shalat sunah sebelum shalat Jumat boleh dilakukan sebelum matahari tergelincir karena shalat ini dikerjakan sebelum khotbah, sedangkan khotbah Jumat boleh dimulai sebelum tergelincirnya matahari.</p>
<p>Di samping itu, menyamakan shalat Jumat dengan shalat zuhur adalah analogi yang salah karena shalat Jumat itu berdiri sendiri dan tidak ada hubungannya dengan shalat zuhur. (<em>Zadul Ma&#8217;ad</em>, 1:411)</p>
<p><strong>C. Hadis Ibnu Umar <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>, yang menjelaskan bahwa beliau melakukan shalat sunah sebelum shalat Jumat dan dua rakaat sesudahnya. </strong>Kemudian, Ibnu Umar menegaskan bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dulu juga melakukan hal demikian. Penegasan Ibnu Umar ini menunjukkan bahwa Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melakukan shalat sunah sebelum shalat <a href="http://konsultasisyariah.com/membuat-jamaah-shalat-jumat-sendiri">Jumat</a>.</p>
<p><strong>Bantahan:</strong><br />
Dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar (<em>Fathul Bari</em>, 3:351), &#8220;Ucapan Ibnu Umar, &#8216;Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga melakukan hal demikian,&#8217; maksudnya adalah menceritakan tentang shalat <strong>dua rakaat sesudah shalat Jumat</strong> bukan shalat sunah sebelum shalat Jumat. Berikut ini alasannya:</p>
<ul>
<li>Jika yang dimaksud &#8216;memperlama shalat sunah sebelum shalat Jumat&#8217; itu dilakukan setelah masuknya waktu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jumatan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jumatan">jumatan</a> maka ini tidak mungkin dilakukan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena setelah masuk waktunya jumatan, beliau langsung masuk masjid dan langsung berkhotbah. Sehingga tidak mungkin melakukan shalat sunah apalagi memperlama bacaannya.</li>
<li>Terdapat riwayat lain yang semakna dengan riwayat Ibnu Umar di atas. Yaitu bahwasanya beliau shalat Jumat kemudian langsung pulang dan shalat dua rakaat di rumahnya. Kemudian Ibnu Umar mengatakan, &#8216;Dahulu, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melakukan hal ini.&#8217;&#8221;</li>
</ul>
<p><strong>D. Keumuman sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, &#8220;Di antara dua azan, ada shalat sunah.&#8221;</strong></p>
<p><strong>Bantahan:</strong><br />
Alasan ini telah dijawab Ibnul Qayyim sebagai berikut, &#8220;&#8230; Setelah Bilal selesai berazan, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> langsung berkhotbah, dan tidak ada satu pun sahabat yang melakukan shalat dua rakaat, dan azan hanya sekali. Ini menunjukkan bahwasanya shalat Jumat itu sebagaimana shalat &#8216;id, tidak ada shalat sunah sebelumnya. Ini adalah pendapat yang paling kuat di antara dua pendapat ulama (dalam masalah ini), dan demikianlah yang ditunjukkan oleh sunah, karena setelah Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>keluar rumah, beliau naik mimbar dan Bilal langsung mengumandangkan azan shalat Jumat.</p>
<p>Setelah selesai azan, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> langsung berkhotbah, tanpa ada jeda waktu. Ini diketahui oleh semua orang. Kalau begitu, bagaimana mungkin sahabat bisa (punya waktu) shalat sunah (sebelum shalat Jumat)? Oleh karena itu, siapa saja yang meyangka bahwa setelah Bilal berazan, para sahabat melakukan shalat sunah, maka dia adalah orang yang paling bodoh terhadap ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Yang telah kami sebutkan di atas, bahwasanya tidak ada shalat sunah khusus sebelum shalat Jumat adalah pendapat Imam Malik, Imam Ahmad, dan pendapat paling mayoritas di antara ulama Syafi&#8217;iyah.&#8221; (<em>Zadul Ma&#8217;ad</em>, 1:411)</p>
<p>Ibnu Al-Hajj mengatakan dalam Al-Madkhal, 2:239, &#8220;Sesungguhnya, para sahabat adalah orang yang paling tahu dengan keadaan dan paling paham dengan hadis ini (yaitu antara dua azan ada shalat sunah), maka tidak ada yang bisa menenangkan diri kita selain dengan mengikuti amalan yang mereka lakukan.&#8221; (Ahadist Al-Jumu&#8217;ah, hlm. 317)</p>
<p><strong>E. Mungkin Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melakukan shalat sunah tersebut di rumahnya, setelah matahari tergelincir, baru kemudian keluar rumah dan berkhotbah.</strong></p>
<p><strong>Bantahan:</strong><br />
Dijawab oleh Abu Syamah, dalam <em>Al-Ba&#8217;its</em>, &#8220;Andaikan itu terjadi, tentu akan disampaikan oleh para istri beliau, sebagaimana mereka menceritakan tentang shalat sunah yang dikerjakan oleh Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, baik siang maupun malam, dan tata caranya &#8230;. Dengan demikian, jika tidak ada nukilan riwayat dari mereka maka pada asalnya shalat tersebut tidak ada dan menunjukkan bahwa hal itu tidak pernah terjadi, juga shalat tersebut tidak disyariatkan.&#8221; (<em>Al-Ba&#8217;its &#8216;ala Inkar Al-Bida&#8217; wa Al-Hawadits</em>, hlm. 97)</p>
<h3>Kesimpulan tentang shalat sunah qabliyah jumat<strong>:</strong></h3>
<p>Tidak ada shalat sunah qabliyah Jumat. Apalagi jika shalat ini dilaksanakan setelah azan. Adapun shalat sunah yang dikerjakan ketika makmum masuk masjid di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hari-jumat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hari jumat">hari Jumat</a> sambil menunggu imam, maka itu adalah shalat sunah mutlak, sehingga shalat ini bisa dikerjakan tanpa batasan jumlah rakaat. Allahu a’lam.</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina<a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank"> Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>qabliyah</strong>, <strong>horor jumat</strong>, <strong>jumat kliwon</strong>, <strong>qabliyah jumat</strong>, <strong>hari jumat</strong>, <strong>shalat lail</strong>, <strong>berwudhu</strong>, <strong>qadha tahajud</strong>, <strong>batal shalat</strong>, <strong>najis</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/shalat-sunah-qabliyah-jumat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Qadha Shalat Tahajud</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/qadhashalat-tahajud</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/qadhashalat-tahajud#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 01:54:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[batal shalat]]></category>
		<category><![CDATA[berwudhu]]></category>
		<category><![CDATA[jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[mengqadha shalat tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[najis]]></category>
		<category><![CDATA[qadha tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat lail]]></category>
		<category><![CDATA[sholat tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[tayamum]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7581</guid>
		<description><![CDATA[Qadha shalat tahajud: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, bagaimana tata cara mengqadha shalat tahajud di waktu dhuha? Bagaimana niatnya dan berapa rakaat? Terima kasih. Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ita Oechsin (**echsin@***.com) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bagi orang yang memiliki kebiasaan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Qadha <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tahajud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tahajud">tahajud</a><strong>:</strong></h2>
<p>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, bagaimana tata cara mengqadha <strong>shalat tahajud</strong> di waktu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dhuha" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dhuha">dhuha</a>? Bagaimana niatnya dan berapa rakaat? Terima kasih. Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</p>
<p><em>Ita Oechsin (**echsin@***.com)</em><br />
<span id="more-7581"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>Bagi orang yang memiliki kebiasaan <span style="text-decoration: underline;"><strong>tahajud</strong></span>, kemudian tidak sempat mengerjakannya karena sebab tertentu, dianjurkan untuk menqadhanya. Waktunya adalah antara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with subuh">subuh</a> sampai menjelang zuhur. Berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">من نام عن حزبه أو عن شيء منه فقرأه فيما بين صلاة الفجر وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من الليل</p>
<p>“<em>Siapa saja yang ketiduran, sehingga tidak melaksanakan kebiasaan shalat malamnya, kemudian dia baca (mengerjakannya) di antara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat subuh">shalat subuh</a> dan shalat zuhur maka dia dicatat seperti orang yang melaksanakan shalat tahajud di malam hari</em>.” (Hr. Muslim, Nasa&#8217;i, Abu Daud, dan Ibnu Majah)</p>
<p>Penulis kitab <em>Aunul Ma&#8217;bud</em> mengatakan, “Hadis ini menunjukkan disyariatkannya melakukan amal saleh di malam hari. Dan menunjukkan disyariatkannya mengqadha amalan tersebut jika tidak sempat melaksanakannya, karena ketiduran atau uzur lainnya. Siapa saja yang melaksanakan qadha amal ini di antara shalat subuh dan shalat zuhur maka dia seperti melaksanakannya di malam hari.” (<em>Aunul Ma&#8217;bud Syarh Sunan Abi Daud</em>, 4:139)</p>
<h3>Jumlah rakaat shalat tahajud<strong><br />
</strong></h3>
<p>Jumlah rakaatnya sama dengan jumlah rakaat shalat <a href="http://konsultasisyariah.com/shalat-tahajud"><em>tahajud</em></a> ditambah satu (digenapkan). Misalnya, seseorang memiliki kebiasaan tahajud 11 rakaat maka nanti diganti di waktu dhuha sebanyak 12 rakaat. Barang siapa yang memiliki kebiasaan tahajud 3 rakaat maka diganti di waktu dhuha sebanyak 4 rakaat, dan seterusnya. Berdasarkan hadis riwayat Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>; beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">كان رسول الله إذا عمل عملاً اثبته، وكان إذا نام من الليل أو مرض، صلّى من النهار ثنتي عشرة ركعة</p>
<p>“<em>Apabila Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melakukan satu amalan, beliau melakukan dengan istiqamah, dan apabila beliau ketiduran di malam hari atau karena sakit maka beliau shalat 12 rakaat di siang hari</em>.” (Hr. Muslim dan Ibnu Hibban)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melaksanakan shalat qadha 12 rakaat karena beliau memiliki kebiasaan shalat malam sebanyak 11 rakaat. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>shalat</strong>, <strong>mengqadha shalat tahajud</strong>, <strong>berwudhu</strong>, <strong>tayamum</strong>, <strong>sholat tahajud</strong>, <strong>jamaah</strong>, <strong>shalat lail</strong>, <strong>wudhu</strong>, <strong>najis</strong>, <strong>tahajud</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/qadhashalat-tahajud/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/241 queries in 0.084 seconds using disk: basic
Object Caching 17334/17730 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-08 11:14:41 -->
