<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Muamalah</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/fikih/muamalah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Berjanji dan Bersumpah Menjadi Saudara</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/berjanji-dan-bersumpah-menjadi-saudara</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/berjanji-dan-bersumpah-menjadi-saudara#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 02:13:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10095</guid>
		<description><![CDATA[Berjanji dan Bersumpah Menjadi Saudara Pertanyaan: Lajnah Daimah ditanya: Saya laki-laki berumur 48 tahun yang sedang menderita sakit sementara saya tidak mempunyai keluarga, tetapi saya mempunyai teman akrab, seorang muslim yang taat, akhirnya saya dirawat di rumahnya. Istri teman saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Berjanji dan Bersumpah Menjadi Saudara</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Lajnah Daimah ditanya:<br />
Saya laki-laki berumur 48 tahun yang sedang menderita sakit sementara saya tidak mempunyai keluarga, tetapi saya mempunyai teman akrab, seorang muslim yang taat, akhirnya saya dirawat di rumahnya. Istri teman saya itu seorang muslimah yang taat, yang selalu melayani dan merawat saya, hingga saya sembuh. Setelah saya sembuh, saya ingin istri teman saya itu <strong>menjadi saudara</strong> perempuan saya sebab saya tidak mempunyai saudara sama sekali. Kemudian kami (saya, teman saya dan istrinya) meletakkan tangan di atas Alquran dan berjanji bahwa ia menjadi saudara perempuan dan sekaligus saudara mahram saya selamanya. Hal ini telah mendapat persetujuan dari keluarga teman saya serta putra-putrinya, sampai sekarang ia saya anggap seperti saudara kandung. Apakah boleh saya memegang tangan atau menjadi mahramnya dalam ibadah haji? Hubungan kami ini sudah diketahui oleh kerabat saya dan kerabat dia. Semoga saya mendapat jawaban secara syar’i?<br />
<span id="more-10095"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Berjanji dan Bersumpah Menjadi Saudara</h3>
<p>Kebaikan apa pun yang kamu dapatkan dari temanmu dan istrinya, dan usaha apapun yang Anda lakukan agar istrinya menjadi mahram bagimu adalah tidak bisa. Sebab hubungan mahram seseorang dengan wanita hanya karena tiga hal yaitu: mahram karena hubungan nasab, mahram karena persusuan, dan mahram karena perhubungan perkawinan yang semuanya telah ditentukan oleh syariat secara mutlak. Tidak boleh bagi Anda memegang tangannya atau anggota tubuh lainnya dan tidak boleh pergi bersamanya dalam ibadah haji atau yang lainnya.</p>
<p>Dan juga dilarang Anda berkhalwat dengannya walaupun suami dan keluarganya telah menyetujuinya. Dalam segala hal Anda adalah orang lain yang tidak memiliki hubungan mahram dengna istrinya. Adapun kebaikan yang Anda peroleh dari mereka berupa pelayanan, pemberian materi, dan keikhlasan dalam bersahabat tidak lebih hanya merupakan pemberian yang harus disyukuri dan dibalas serta dihargai.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010<br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KomsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KomsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi Terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/muhrim-dan-mahram" target="_blank">Mahram Kita yang Wajib Diketahui</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/berjanji-dan-bersumpah-menjadi-saudara/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jual Beli Dua Harga</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-dua-harga</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-dua-harga#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 23:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9417</guid>
		<description><![CDATA[Jual Beli Dua Harga Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya membuka kios pupuk. Modal untuk 1 karung pupuk adalah Rp70.000,00 s.d. Rp115.000,00. Dalam 1 karung pupuk (dengan pembelian kontan) saya mendapatkan keuntungan Rp1.500 ,00 s.d. Rp6.500,00. Mayoritas transaksi dalam perdagangan kami ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">Jual Beli</a> Dua Harga</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</em><br />
Saya membuka kios pupuk. Modal untuk 1 karung pupuk adalah Rp70.000,00 s.d. Rp115.000,00. Dalam 1 karung pupuk (dengan pembelian kontan) saya mendapatkan keuntungan Rp1.500 ,00 s.d. Rp6.500,00. Mayoritas transaksi dalam perdagangan kami adalah sistem kontan. Namun, ada sebagian kecil petani menginginkan sistem bayar panen, artinya mereka ambil dahulu pupuknya kemudian bayarnya setelah mereka panen (tempo 3-4 bulan(.</p>
<p>Yang ingin saya tanyakan, bolehkah bagi saya untuk menerapkan sistem <strong>dua harga</strong>??? Misalnya , bila bayar panen (tempo) harga sekian, yang tentu saja harga tempo lebih besar daripada harga kontan, karena bila kami menerapkan harga sama maka (dalam perhitungan bisnis) jelas kami merugi. Mohon solusi dan jawabnnya, Ustad..<br />
<em>Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarakatuh.</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<h3>Jual Beli Dua Harga</h3>
<p><em>Alhamdulillah, shalawat</em> dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluaga, dan sahabatnya.</p>
<p>Bapak Tri Widodo, semoga Allah memberkahi usaha bapak dan menjaga bapak dan keluarga bapak.<br />
Selanjutnya, perlu diketahui bahwa para ulama berbeda pendapat tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> menjual barang dengan dua harga, kontan sekian kredit sekian. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat dalam masalah ini ialah pendapat yang membolehkannya. Kesimpulan ini berdasarkan kepada beberapa alasan berikut:</p>
<p><strong>Dalil pertama:</strong> Keumuman firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”</em> (Q.S. al-Baqoroh: 282)</p>
<p>Ayat ini adalah salah satu dalil yang menghalalkan adanya praktik <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hutang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hutang">hutang</a> piutang, sedangkan akad kredit adalah salah satu bentuk htuang, maka dengan keumuman ayat ini menjadi dasar dibolehkannya perkreditan.</p>
<p><strong>Dalil kedua: </strong>Hadits riwayat Aisyah,</p>
<p>“Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> membeli sebagian bahan makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran terhutang, dan beliau menggadaikan perisai beliau kepadanya.” (HR. Al-Bukhori: 1990 dan MuslimL 1603)</p>
<p>Pada hadits ini, Nabi <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> membeli bahan makanan dengan pembayaran terhutang, dan sebagai jaminannya, beliau menggadaikan perisainya. Dengan demikian, hadits ini menjadi dasar dibolehkannya jual beli dengan pembayaran terhutang, dan perkreditan adalah salah satu bentuk jual beli dengan pembayaran terhutang.</p>
<p><strong>Dalil ketiga: </strong>hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash: “Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> memerintahku untuk mempersiapkan suatu pasukan, sedangkan kami tidak memiliki tunggangan dengan pembayaran tertunda hingga datang saatnya penarikan zakat. Maka Abdullah bin Amr (bin al-Ash) pun atas perintah Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> membeli setiap ekor unta dengan harga dua ekor unta yang akan dibayarkan ketika telah tiba saatnya pernaikan zakat.” (HR. Ahmad 2/171, Abu Dawud: 3359, dan dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam<em> Irwa’ul Ghalil</em>: 1258)</p>
<p>Pada kisah ini, Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>memerintahkan kepada sahabat Abdulloh bin Amr bin al-Ash untuk membeli setiap ekor unta dengan harga dua ekor unta secara pembayaran terhutang. Sudah dapat ditebak bahwa beliau tidak akan rela denagn harga yang begitu mahal (200%) bila beliau membeli dengan pembayaran tunai. Dengan demikian, pada kisah ini, telah terjadi penambahan harga barnag karena pembayaran yang tertunda (terhutang).</p>
<p><strong>Dalil keempat:</strong> Keumuman hadits salam (jual beli dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/menjual-kartu-natal" target="_blank">pemesanan</a>)<br />
Di antara bentuk perniagaan yang diizinkan syari’at adalah dengan cara salam, yaitu memesan barang dengan pembayaran di muka (kontan). Transaksi ini adalah kebalikan dari transaksi kredit. Ketika menjelaskan hukum transaksi ini, Nabi <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> tidak mensyaratkan agar harga barang tidak berubah dari pembelian dengan penyerahan barang langsung. Nabi <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> hanya bersabda,</p>
<p><em>“Barang siapa yang membeli dengan cara memesan (salam), hendaknya ia memesan dalam takaran yang jelas, timbangan yang jelas, dan hingga batas waktu yang jelas pula.”</em> (HR. Al-Bukhari: 2124 dan Muslim 1604).</p>
<p>Pemahaman dari empat dalil di atas dan juga lainnya selaras dengan kaidah dalam ilmu fiqih, yang menyatakan bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah halal. Berdasarkan kaidah ini, para ulama menyatakan bahwa selama tidak ada dalil yang shohih dan tega yang mengharamkan suatu bentuk perniagaan, maka perniagaan tersebut boleh atau halal dilakukan.</p>
<p>Bila Anda bertanya perihal sabda Nabi <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> berikut,</p>
<p><em>“Barang siapa yang menjual dua penjualan dalam satu penjualan maka ia hanya dibenarkan mengambil harga yang paling kecil kalau tidak maka ia telah teratuh ke dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>.”</em> (HR. Abu Dawud: 3463).</p>
<p>Maka ketahuilah bahwa penafsirannya yang paling tepat ialah apa yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dan lainnya, bahwa makna hadits ini adalah larangan berjual beli dengan cara inah. Jual beli inah ialah seseorang menjual kepada orang lain suatu barang dengan pembayaran dihutang, kemudian seusai barang diserahkan, segera penjual membeli kembali barang tersebut dengan pembayaran kontan dan harga yang lebih murah.</p>
<p><em>Wallahu Ta’ala A’lam.</em></p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al-Furqon</em> Edisi 04 Tahun ke-10 Muharram 1431 H/2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-dua-harga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beli Murah Jual Mahal</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/beli-murah-jual-mahal</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/beli-murah-jual-mahal#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 01:38:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9523</guid>
		<description><![CDATA[Beli Murah Jual Mahal Assalamu’alaikum. Ustadz, kalau saya membeli padi pada saat panen (harganya murah) untuk dijual lagi di kemudian hari setelah harganya stabil (harga naik kembali), apakah boleh? Apa dalilnya? Jazakallahu khoiron Jawaban: Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Beli Murah Jual Mahal</h2>
<p><em>Assalamu’alaikum</em>. Ustadz, kalau saya membeli padi pada saat panen (harganya murah) untuk dijual lagi di kemudian hari setelah harganya stabil (harga naik kembali), apakah boleh? Apa dalilnya? <em>Jazakallahu khoiron</em><br />
<span id="more-9523"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa’alaikumussalam</em>. Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.</p>
<h3>Beli Murah Jual Mahal</h3>
<p>Membeli barang di saat harga barang murah atau di musim panen adalah suatu hal yang biasa dilakukan oleh para pedagang. Setelah membeli biasanya mereka tidak segera menjualnya, namun menanti saat yang tepat untuk melakukan penjualan, yaitu ketika permintaan pasar terhadap barang telah membaik, dan harga pun meningkat. Dengan cara ini pedagang bisa memperoleh keuntungan. Bahkan inilah inti dan ruh dari perdagangan, membeli dengan harga murah dan menjual dengan harga mahal.</p>
<p>Bila <a href="http://konsultasisyariah.com/kredit-mobil-dengan-asuransi" target="_blank">pedagang</a> dilarang membeli dan menyimpan barang di musim panen, maka pelarangan ini tentu menyusahkan masyarakat. Betapa tidak, pada musim panen mayoritas petani menjual hasil tanamnya guna memenuhi kebutuhan mereka. Bila pedagang dilarang membeli kecuali dalam jumlah yang harus ia jual kembali, tentu larangan tersebut menyusahkan kedua belah pihak. Akibatnya, pedagang tidak sudi membeli kecuali dalam jumlah kecil; dan bila ini dibiarkan, maka harga barang hasil panen akan semakin hancur. Para petani terus melakukan penjualan, namun pedagang menahan diri dari pembelian. Dan bila kondisi ini telah terjadi, tentu pihak yang dirugikan pertama kali ialah para petani.</p>
<p>Adapun larangan untuk memonopoli atau yang disebut <em>ihtikar</em>, maka maksudnya ialah membeli barang dengan tujuan untuk mempengaruhi pergerakan harga pasar. Dengan demikian, ia membeli dalam jumlah yang (sangat) besar, sehingga mengakibatkan stok barang di pasaran menipis atau langka. Akibatnya masyarakat terpaksa memperebutkan barang tersebut dengan cara menaikkan penawaran.</p>
<p>Upaya mempengaruhi harga pasar, dengan pembelian besar-besaran kemudian menimbunnya semacam inilah yang disebut dengan <em>ihtikar</em> atau monopoli yang diharamkan.</p>
<p>Ibnul Qoyyim berkata, “Hadis yang berbunyi ‘Tidaklah ada orang yang menimbun melainkan ia telah berbuat dosa.’ Penimbunan adalah perbuatan yang dapat menyusahkan masyarakat luas. Karenanya, Anda tidak dilarang untuk menimbun barang yang tidak menyusahkan masyarakat.” (I’lamul Muwaqqi’in, 3:183)</p>
<p>Al-Qadhi  Iyadh menegaskan, “Alasan larangan menimbun ialah guna menghindarkan segala hal yang menyusahkan umat Islam secara luas. Segala yang menyusahkan mereka wajib dicegah. Dengan demikian bila pembelian suatu barang di suatu negeri menyebabkan harga barang menjadi mahal, dan menyusahkan masyarakat luas, maka itu wajib dicegah demi menjaga kepentingan umat Islam. Pendek kata, kaidah menghindarkan segala hal yang menyusahkan adalah pedoman dalam masalah ini (penimbunan barang).” (Ikmalul Mu’lin, 5:161)</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun ke-10 Jumadal Ula 1432 H/April 2011<br />
<strong>(Penyunting bahasa: Tim Konsultasi Syariah)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/beli-murah-jual-mahal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manfaat Agunan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/manfaat-agunan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/manfaat-agunan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 00:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9525</guid>
		<description><![CDATA[Memanfaatkan Agunan Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Ustadz, ada seseorang menggadaikan sawah kepada si A dengan jaminan sawah, dengan perjanjian bahwa si A akan memanfaatkan sawah yang digadaikan tersebut lalu sebagian persennya diberikan kepada si penghutang. Semua itu dengan persetujuan si penghutang. Saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Memanfaatkan Agunan</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum. Ustadz, ada seseorang menggadaikan sawah kepada si A dengan jaminan sawah, dengan perjanjian bahwa si A akan memanfaatkan sawah yang digadaikan tersebut lalu sebagian persennya diberikan kepada si penghutang. Semua itu dengan persetujuan si penghutang. Saya mohon jawaban Ustadz, karena ada yang mengatakan sistem tersebut adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>, padahal model seperti itu sudah marak di daerah kami.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Amin.<br />
Praktik penggadaian sawah sebagaimana yang dijelaskan dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-batasan-aurat-wanita-di-depan-wanita-yang-lain">pertanyaan</a> ini adalah riba. Karena kreditor (pemilik uang) dengan jelas mendapatkan keuntungan dari piutang yang diberikan. Padahal para ulama telah menegaskan bahwa:</p>
<p class="arab">كَلَّ قَرْ ضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا</p>
<p>“<em>Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan/keuntungan, maka itu adalah riba</em>.”</p>
<p>Adapun hadis, “Hewan tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkah (pakan) yang diberikan, yaitu apabila hewan tunggangan itu digadaikan. Air susu hasil perahan juga boleh diminum sebagai imbalan atas nafkah yang diberikan, yaitu apabila ia hewan tunggangan itu digadaikan. Dan yang menunggangi dan meminum susunya wajib memberikan nafkah/pakan (kepada hewan yang digadaikan).” (HR. Bukhari, no.2512)</p>
<p>Tampak dengan jelas bahwa izin untuk menunggangi dan meminum air susu adalah imbalan dari pakan yang diberikan oleh kreditor kepada hewan yang digadaikan. Dengan demikian, jelaslah bahwa barang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/gadai" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with gadai">gadai</a> yang tidak membutuhkan kepada pakan, semisal ladang atau sawah, tidak boleh dimanfaatkan oleh kreditor. Dan bila kreditor tetap memaksakan kehendaknya maka ia telah memakan riba.</p>
<p>Adapun alasan bahwa debitor (penghutang) rela dengan praktik semacam ini, maka ketahuilah bahwa kerelaannya itu haram alias tidak ada artinya. Alasan rela dalam kondisi semacam ini sama halnya dengan rela para pelacur dan para penjual atau pembeli barang-barang haram. Kerelaan mereka tidak ada artinya dalam kasus-kasus yang bertentangan dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> syariat. Bahkan bila mereka tidak rela, maka yang terjadi ialah pemaksaan kehendak atau perampokan, dan bukan riba.<br />
<em>Wallahu Ta’ala bish showab</em></p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al-Furqon</em> Edisi 10 Tahun ke-10 Jumadal Ula 1432 H/April 2011<br />
Punying bahasa: Tim Konsultasi Syariah</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pictures</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/manfaat-agunan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadiah Undian dari Bank</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hadiah-undian-dari-bank</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hadiah-undian-dari-bank#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 04:41:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9011</guid>
		<description><![CDATA[Hadiah Undian dari Bank Pertanyaan: Saya pernah menabungkan uang saya di salah satu bank. Pada saat itu saya tidak meminta agar mereka tidak memberikan bunga kepada saya. Setelah beberapa hari, saya pergi dari negara A menuju negara B. Saya mendapatkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hadiah Undian dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">Bank</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Saya pernah menabungkan uang saya di salah satu <strong>bank</strong>. Pada saat itu saya tidak meminta agar mereka tidak memberikan bunga kepada saya. Setelah beberapa hari, saya pergi dari negara A menuju negara B. Saya mendapatkan sebuah surat dari bank yang memberitahukan bahwasanya telah diadakan undian bagi nasabah di bank, dan saya adalah salah seorang pemenang dari undian tersebut. Hadiah undian ini berupa uang Rp. 500.000,- setiap bulan selama satu tahun. Mereka memberikan tawaran kepada saya, apakah uang hadiah tersebut harus dimasukkan ke rekening saya atau akan diambil secara cash setiap bulannya.<br />
Pertanyaannya, apakah hadiah ini termasuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>? Apabila saya ambil, baiknya saya gunakan dalam hal apa? Apakah harus dishadaqohkan? Apabila saya tabungkan lagi di bank, padahal saya tahu mereka akan menggunakannya untuk perniagaan dengan nasabah lainnya, dan mereka telah menentukan keuntungan yang akan diberikan kepada saya tanpa terjadi kerugian, apakah ini juga termasuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Pertama, dibolehkan bagi Anda untuk menabungkan uang Anda di bank tanpa bunga bila memang Anda benar-benar terpaksa melakukannya. Mengenai hadiah tersebut, Anda tidak diperkenankan untuk mengambil hadiah yang diberikan kepada Anda berdasarkan nomor urut tersebut. Penamaan mereka terhadap barang yang diberikan kepada Anda dengan istilah hadiah atau imbalan, tidak merubah hakikatnya sebagai riba. Hal ini dikarenakan yang menjadi pedoman hakikat setiap permasalahan dan bukanlah sekedar penamaannya. Seandainya bukan karena uang Anda yang ditabungkan di bank mereka untuk dimanfaatkan demi kepentingan mereka, niscaya mereka tidak akan memberi Anda apa yang mereka sebut hadiah tersebut. Oleh karena itu, Anda tidak boleh mengambil uang tersebut.<br />
Kedua, keuntungan yang telah ditentukan untuk Anda dengan persentasi tertentu dari jumlah tabungan Anda yang digunakanoleh bank bersama dengan taungan nasabah-nasabah lainnya adalah riba murni, maka tidak boleh bagi Anda untuk mengambilnya.<br />
Wabillah taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Riba dan Tinjauan Kritis Perbankan Syariat</em>, Arifin Badri. 2010. cet.III. Bogor, Pustaka Darul Ilmi</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait bank:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/bisnis-dan-utang" target="_blank">Bisnis dan Utang</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/seputar-asi-dan-bank-asi" target="_blank">Hukum Bank ASI</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/sedekah-dengan-uang-subhat" target="_blank">Sedekah dengan Bunga Bank</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/asuransi-syariah" target="_blank">Asuransi Syariah</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/penukaran-uang" target="_blank">Hukum Jasa Penukaran Uang di Bank</a>.<br />
6. <a href="http://konsultasisyariah.com/gaji-pensiunan" target="_blank">Hukum Gaji Pensiun Pegawai Negeri</a>.<br />
7. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-koperasi-simpan-pinjam" target="_blank">Hukum Koperasi Simpan Pinjam</a>.<br />
8. <a href="http://konsultasisyariah.com/bekerja-di-bank-riba" target="_blank">Bolehkah Kerja di Bank?</a>.<br />
9. <a href="http://konsultasisyariah.com/gaji-pegawai-bank-ribawi-riba" target="_blank">Gaji Seorang Pegawai Bank</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hadiah-undian-dari-bank/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartu Kredit = Transaksi Riba</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/membantu-membayarkan-uang-kredit</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/membantu-membayarkan-uang-kredit#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 06:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8715</guid>
		<description><![CDATA[Membantu Membayarkan Uang Kredit Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Afwan sebelumnya, saya ingin bertanya dan mohon penjelasan yang lebih jelas mengenai hadis hukum jual beli kredit. Dari sahabat Jabir radhiallahu‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati pemakan riba ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Membantu Membayarkan Uang Kredit</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em>.<br />
<em>Afwan</em> sebelumnya, saya ingin bertanya dan mohon penjelasan yang lebih jelas mengenai hadis <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> <strong>kredit</strong>.<br />
Dari sahabat Jabir <em>radhiallahu‘anhu</em>, ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah melaknati pemakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> (rentenir), orang yang memberikan atau membayar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda, “Mereka itu sama dalam hal dosanya.” (HR. Muslim).<br />
Abang saya membeli motor kredit, karena abang saya di luar kota, jadi setiap bulan uang kreditnya ditransfer dan minta tolong saya untuk membayarkannya ke pihak <em>leasing</em>.<br />
Apakah saya termasuk salah satu di antara yang disebutkan seperti hadis di atas?<br />
Terimakasih sebelumnya</p>
<p>Dari: <em>Muhammad Fatwa (uwXXXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8715"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>Riba dalam jual beli kredit adalah pada denda jika telat mencicilnya, sedangkan transaksi jual belinya adalah jual beli yang haram karena menjual barang yang belum dimiliki. Ringkasnya, pada dasarnya Anda tidak boleh membantu kakak Anda dalam masalah ini namun <em>insya Allah</em>, pada dasarnya perbuatan Anda tidak masuk dalam hadis yang Anda kutip.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar M.A. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait kredit:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-kredit-membunuh-semut-posisi-tangan-atau-kaki-ketika-hendak-sujud">Hukum Kredit Sebuah Negara</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/utang-emas">Utang Emas</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-koperasi-simpan-pinjam">Hukum Koperasi Simpan-Pinjam</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/penjualan-saham-modal-usaha">Penjualan Saham dan Modal Usaha</a>.</p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-saham">Jual Beli Saham</a>.</p>
<p>6. <a href="http://konsultasisyariah.com/kartu-untuk-mempermudah-transaksi-bisnis">Kartu Kredit Mempermudah Transaksi</a>.</p>
<p>7. <a href="http://konsultasisyariah.com/membeli-perumahan-dengan-kredit">Membeli Perumahan Dengan Kredit</a>.</p>
<p>8. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-jual-beli-kredit" target="_blank">Hukum Jual Beli Kredit</a>.</p>
<p>9. <a href="http://konsultasisyariah.com/kredit-mobil-dengan-asuransi" target="_blank">Kredit Mobil Dengan Asuransi</a>.</p>
<p>10. <a href="http://konsultasisyariah.com/rekayasa-kredit" target="_blank">Hukum Rekasa Kredit</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/membantu-membayarkan-uang-kredit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Pertanyaan yang Berbeda Dari Satu Pembaca</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-kredit-membunuh-semut-posisi-tangan-atau-kaki-ketika-hendak-sujud</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-kredit-membunuh-semut-posisi-tangan-atau-kaki-ketika-hendak-sujud#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 06:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8388</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: 1. Apa hukum kredit yang ada di negara kita? 2. Apakah hukum membunuh semut? Kareana ada yang bilang haram. Bagaimana kalau semut yang ada di rumah kita itu banyak? 3. Maha yang benar sujud dengan tangan terlebih dulu (menyentuh ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
1. Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <strong>kredit</strong> yang ada di negara kita?<br />
2. Apakah hukum membunuh semut? Kareana ada yang bilang haram. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> kalau semut yang ada di rumah kita itu banyak?<br />
3. Maha yang benar sujud dengan tangan terlebih dulu (menyentuh lantai) atau kaki terlebih dulu?<br />
<em>barokumullahu fikum</em></p>
<p>isXXXXXXXX@gmail.com<br />
<span id="more-8388"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>1. <strong>Kredit</strong> ada beberapa bentuk</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Jika harga kontan dan harga kredit sama, kemudian jika terjadi kredit macet (tidak mampu mengangsur) tidak ada denda maka ini dibolehkan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Jika harga kontan dan harga kredit sama tapi ketika kredit macet ada denda maka ini tidak boleh.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Jika harga kredit lebih mahal dari harga kontan dan jika kredit macet tidak ada denda maka ulama berbeda pendapat.</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Jika harga kredit lebih mahal dari harga kontan dan jika kredit macet ada denda maka ini tidak dibolehkan.</p>
<p>2. Membunuh semut pada asalnya tidak boleh. Tapi jika mengganggu maka dibolehkan. Jadi bukan karena banyak atau sedikitnya semut.</p>
<p>3. Perkara mendahulukan tangan atau lutut ketika akan sujud, dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat. Yang benar adalah tangan terlebih dahulu. Karena hadisnya sahih. Adapun hadis-hadis yang menjelaskan lutut lebih dahulu semuanya dhaif. Sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh Albani dalam <em>Sifat Salat Nabi</em> <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan Syekh Salim bin ‘Ied Al Hilali dalam <em>Mausu’ah manahi syar’iyyah</em> dan juga Syekh Abu Ishaq Al-Huwaini dalam <em>Nahyu Suhbah</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Muslim Al-Atsary (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-saham">Hukum Jual Beli Saham</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/kartu-untuk-mempermudah-transaksi-bisnis">Kartu Untuk Mempermudah Transaksi</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/membeli-perumahan-dengan-kredit"><strong>Hukum Kredit</strong> Rumah</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-jual-beli-kredit">Hukum Jual Beli Kredit</a>.</p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/rekayasa-kredit">Rekayasa Kredit</a>.</p>
<p>6. <a href="http://konsultasisyariah.com/?s=kredit">Permalahan-permasalahan Tentang Kredit</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-kredit-membunuh-semut-posisi-tangan-atau-kaki-ketika-hendak-sujud/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisnis dan Utang</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bisnis-dan-utang</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bisnis-dan-utang#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 07:17:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[hutang dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[pinjam utang]]></category>
		<category><![CDATA[utang]]></category>
		<category><![CDATA[utang dagangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8356</guid>
		<description><![CDATA[Bisnis dan Utang Saya ada permasalahan yang ingin saya tanyakan. Teman saya mempunyai utang kepada saya. Setelah beberapa bulan berlalu, dia tak kunjung mengembalikan uang pinjaman tersebut. Saya pun malas menagih utang tersebut. Di sisi lain, uang dagangan miliknya ada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong></strong>Bisnis dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/utang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utang">Utang</a></h2>
<p>Saya ada permasalahan yang ingin saya tanyakan. Teman saya mempunyai <strong>utang</strong> kepada saya. Setelah beberapa bulan berlalu, dia tak kunjung mengembalikan uang pinjaman tersebut. Saya pun malas menagih utang tersebut. Di sisi lain, uang dagangan miliknya ada di tangan saya.<br />
Apakah boleh saya ambil sebagian uang tersebut senilai utang dia kepada saya tanpa sepengetahuannya?<br />
<span id="more-8356"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Bisnis dan Utang</h3>
<p>Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, keluarga, dan sahabatnya.</p>
<p>Berutang adalah suatu akad yang dibolehkan dalam Islam, bahkan terkadang menjadi solusi jitu jalan keluar dari suatu masalah. Dengan alasan inilah para ulama mengkategorikannya sebagai bentuk tolong-menolong.</p>
<p>Namun ironis, terkadang kebaikan ini dibalas dengan sikap yang mengecewakan dari pihak pengutang. Pembayaran utang dianggap permasalahan ringan di masyarakat kita. Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><em>“Penunda-nundaan orang yang telah kecukupan adalah perbuatan zalim.” (HR. Al-Bukhari, no. 2287 dan Muslim, no. 4085).</em><br />
<em> Mereka memandang sebelah mata urusan utang piutang, padahal utang di dunia dapat berbuntut panjang hingga di akhirat.</em><br />
<em> “Orang yang terbunuh syahid di jalan Allah diampuni seluruh dosa-dosanya kecuali utang.”</em> (HR. Muslim, no. 4991).</p>
<p>Karena itu, waspada dan berhati-hatilah dalam urusan utang piutang.</p>
<p>Kami menasihatkan, langkah awal yang Anda tempuh adalah mengingatkan saudara Anda mengenai waktu jatuh tempo utang tersebut. Bisa jadi saudara Anda lupa atau ada alasan tertentu yang bisa dimaklumi. Dengan adanya saling keterbukaan dan berbaik sangka hubungan pertemanan Anda dengannya pun senantiasa terjaga harmonis.</p>
<p>Tidak perlu ada kata sungkan atau tidak enak di hati bila Anda meminta hak Anda yang terutang di saudara Anda. Sebab, sikap sungkan hanya akan mencelakakan saudara Anda dan mengakibatkan hak Anda hilang.</p>
<p><em>“Barang siapa yang menagih haknya, hendaknya ia menagihnya dengna cara yang terhormat, baik ia berhasil mendapatkannya atau tidak.”</em> (HR. Ibnu Majah, no. 2421).</p>
<p>Dengan demikian, bukanlah suatu tindakan yang bijak apabila penanya tidak tinggal diam saja dan memvonis pengutang sebagai orang yang tidak tepat janji tanpa alasana yang dibenarkan.</p>
<p>Namun, bila telah terbukti dengan indikasi-indikasi yang kuat, ia sengaja menunda-nunda, maka hendaknya Anda menempuh beberapa tahapan berikut:</p>
<ol>
<li> Menemuinya guna menagih piutang Anda dengan baik-baik, sebagaimana tuntunan hadis di atas.</li>
<li>Bila terbukti saudara Anda belum mampu, atau dalam kondisi kesulitan maka tiada pilihan bagi Anda kecuali menundanya. Sebab, walaupun ia memiiki sebagian uang dagangan yang dititipkan kepada Anda, bisa jadi uang itu juga hasil utang dari orang lain, atau bisa jadi uang itu bukan miliknya, dan titipan orang lain yang memintanya agar dibelanjakan dari toko Anda.</li>
<li>Bila ia sudah mampu namun ia tidak juga segera melunasi, maka hendaknya Anda mengingatkan saudara Anda agar tidak menunda-nunda pembayaran utang.</li>
<li>Namun, bila setelah diingatkan ia tetap tidak melunasi utangnya, Anda dibenarkan untuk memungut sebagian uang dagangannya yang dititipkan kepada Anda. Pada tahapan ini, saya anjurkan agar Anda memberitahukan tindakan Anda kepadanya, agar tidak terjadi hal-hal yang kurang baik di kemudian hari. <em>Wallahu Ta’ala A’lam bishshowab</em>.</li>
</ol>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Majalah Al-Furqon</em>, Edisi 08 Tahun ke-10 Muharram 1431 H/2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/beramal-supaya-banyak-rezeki" target="_blank">Beramal Supaya Banyak Rezeki</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/utang-emas" target="_blank">Utang Emas</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-mengajukan-pinjaman-selain-bank" target="_blank">Utang Selain Bank</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>utang</strong>, <strong>pinjam utang</strong>, <strong>utang dagangan</strong>, <strong>hutang dan bisnis</strong>, <strong>hutang</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bisnis-dan-utang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaji Pembantu Termasuk Pahala Sedekah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/gaji-pembantu-pahala-sedekah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/gaji-pembantu-pahala-sedekah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 08:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[cari pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[gaji pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[majikan]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu]]></category>
		<category><![CDATA[pembantu amanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8014</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Gaji Pembantu Termasuk Pahala Sedekah? Assalamu&#8217;alaikum. Apakah dengan kita menggaji pembantu setiap bulannya selain kewajiaban kita memberi upah apakah termasuk sedekah juga? Mohon penjelasannya. Dari Siti khodijah (Anggota milis fatwa kpmi) Jawaban perihal gaji pembantu: Wa&#8217;alaikumussalam wa rahmatullahi wa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Apakah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/gaji-pembantu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with gaji pembantu">Gaji Pembantu</a> Termasuk Pahala Sedekah?</h2>
<p>Assalamu&#8217;alaikum. Apakah dengan kita menggaji <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pembantu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pembantu">pembantu</a> setiap bulannya selain kewajiaban kita memberi upah apakah termasuk sedekah juga? Mohon penjelasannya.</p>
<p><em>Dari Siti khodijah (Anggota milis fatwa kpmi)</em><br />
<span id="more-8014"></span></p>
<h3>Jawaban perihal gaji pembantu:</h3>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakuh.</em></p>
<p>Iya, gaji <a href="http://konsultasisyariah.com/zakat-fitrah-untuk-pembantu" target="_blank">pembantu</a> termasuk sedekah, bahkan hal itu jg mendatangkan pahala sebagaimana hadis Abu Mas&#8217;ud Al-Badri <em>radhiyallahu &#8216;anhu,</em> Bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إن المسلم إذا أنفق على أهله نفقة وهو يحتسبها كانت له صدقة</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya seorang muslim apabila ia menafkahi keluarganya dengan suatu nafkah, sedangkan ia berharap pahala darinya, maka nafkahnya itu mnjadi suatu sedekah baginya.&#8221; </em>(H.r. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dan di dalam riwayat Sa&#8217;ad bin Abi Waqqash, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">ولست تنفق نفقة تبتغي بها وجه الله إلا أجرت عليها حتى ما تضعه في في امرأتك</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah engkau memberikan suatu nafkah yang mana engkau mengharapkan wajah Allah dengannya, melainkan engkau diberi pahala karenanya, sampaipun (makanan) apa yang engkau berikan ke dalam mulut istrimu.&#8221; </em>(H.r. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Berdasarkan dua hadits di atas, seorang muslim ketika melakukan kewajiban2 atau hal2 yg dianjurkan yg pada asalnya bukan termasuk ibadah, jika ia menyertainya dengan niat yang baik (ikhlas karena Allah) dan mengharapkan pahala dari-Nya, maka ia akan diberi pahala oleh Allah. <em>Wallahu a&#8217;lam bish-shawab</em>.</p>
<p>Dari tanya jawab milis <a rel="nofollow" href="http://groups.yahoo.com/group/pm-fatwa/" target="_blank"><em>pm-fatwa@yahoogroups.com</em></a></p>
<p><strong>Dijawab oleh ustadz Muhamad Wasitho, L.c.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pembantu</strong>, <strong>cari pembantu</strong>, <strong>pembantu amanah</strong>, <strong>majikan</strong>, <strong>gaji pembantu</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/gaji-pembantu-pahala-sedekah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melanggar Sumpah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/sumpah-atas-nama-allah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/sumpah-atas-nama-allah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 06:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bersumpah palsu]]></category>
		<category><![CDATA[demi Allah]]></category>
		<category><![CDATA[kaffarat]]></category>
		<category><![CDATA[khianat]]></category>
		<category><![CDATA[melanggar sumpah]]></category>
		<category><![CDATA[sumpah]]></category>
		<category><![CDATA[sumpah palsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7779</guid>
		<description><![CDATA[Sumpah atas nama allah Assalamualaikum, ustad bagaimana hukumannya apabila melanggar sumpah atas nama allah dan bagaimanakah cara bertobat, syukron Fatchiyah (fatchiyaXXXXXX@yahoo.com) Cara Taubat Melanggar Sumpah Wa alaikumus salam Allah berfirman, لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sumpah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sumpah">Sumpah</a> atas nama allah</h2>
<p>Assalamualaikum, ustad <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> hukumannya apabila melanggar <strong>sumpah</strong> atas nama allah dan bagaimanakah cara bertobat, syukron</p>
<p><em>Fatchiyah (fatchiyaXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7779"></span></p>
<h3>Cara Taubat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/melanggar-sumpah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with melanggar sumpah">Melanggar Sumpah</a></h3>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ</p>
<p><em>“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.”</em> (Q.s. Al-Maidah: 89)</p>
<p><strong>Makna:</strong> “<em>&#8230;<a href="http://konsultasisyariah.com/cara-untuk-menarik-kembali-sumpah" target="_blank"><strong>sumpah</strong></a>-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah)&#8230;</em>” sebagaimana penjelasan A&#8217;isyah adalah kebiasaan orang arab yang mengucapkan “<em>wallaahi&#8230;</em>” (<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/demi-allah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with demi Allah">demi Allah</a>), namun maksud mereka bukan untuk bersumpah.</p>
<p>Berdasarkan ayat di atas, orang yang bersumpah untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan dia serius dalam sumpahnya, kemudian dia melanggar sumpahnya maka dia berdosa. Untuk menebus dosanya, dia harus membayar <em>kaffara</em>h.<br />
Bentuk <em>kaffarah</em> sumpah telah dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ</p>
<p><em>“Kaffarahnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a>. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> selama tiga hari. Yang demikian itu adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kaffarat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kaffarat">kaffarat</a> sumpah-sumpahmu bila kamu langgar. ”</em> (Q.s. Al-Maidah: 89)</p>
<p>Berdasarkan ayat di atas, kaffarah sumpah ada 4:</p>
<p><strong>1. Memberi makan 10 orang miskin</strong><br />
Memberi makan di sini adalah makanan siap saji, lengkap dengan lauk-pauknya. Hanya saja, tidak diketahui adanya dalil yang menjelaskan batasan makanan yang dimaksudkan selain pernyataan di ayat tersebut: “makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu”.</p>
<p><strong>2. Memberi pakaian 10 orang miskin</strong><br />
Ulama berselisih pendapat tentang batasan pakaian yang dimaksud. Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bahwa batas pakaian yang dimaksudkan adalah yang bisa digunakan untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>. Karena itu, harus terdiri dari atasan dan bawahan. Dan tidak boleh hanya peci saja atau jilbab saja. Karena ini belum bisa disebut pakaian.<br />
Mayoritas ulama berpendapat bahwa orang miskin yang berhak menerima dua bentuk kafarah di atas hanya orang miskin yang muslim.</p>
<p><strong>3. Membebaskan budak</strong><br />
Keterangan: Tiga jenis kaffarah di atas, boleh memilih salah satu. Jika tidak mampu untuk melakukan salah satu di antara tiga di atas maka beralih pada kaffarah keempat,</p>
<p><strong>4. Berpuasa selama tiga hari.</strong><br />
Pilihan yang keempat ini hanya dibolehkan jika tidak sanggup melakukan salah satu diantara tiga pilihan sebelumnya. Apakah puasanya harus berturut-turut? Ayat di atas tidak memberikan batasan. Hanya saja, madzhab hanafiyah dan hambali mempersyaratkan harus berturut-turut. Pendapat yang kuat dalam masalah ini, boleh tidak berturut-turut, dan dikerjakan semampunya.</p>
<p>Demikian keterangan yang disadur dari<em> Fiqh Sunah Sayid Sabiq</em>, (3/25 – 28).</p>
<p>****</p>
<h3>Catatan jika melakukan sumpah atas nama allah:</h3>
<p>Ada dua keadaan, dimana ketika orang melanggar sumpah tidak wajib membayar kaffarah:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Dia melanggar karena lupa, tidak sengaja, atau terpaksa dan tidak mampu lagi untuk menolaknya. Ini berdasarkan sabda Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah menghapuskan (kesalahan) dari umatku, (yang dilakukan) karena tidak sengaja, lupa, atau terpaksa.”</em> (HR. Ibn Majah dan dishahihkanal-Albani)</p>
<p><strong>Kedua, </strong>Ketika bersumpah dia mengucapkan, <strong><em>“insyaaAllah”</em></strong> sebagaimana dinyatakan dalam hadis,</p>
<p class="arab">مَنْ حَلَفَ فَقَالَ : إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ</p>
<p><em>“Siapa yang bersumpah dan dia mengucapkan: InsyaaAllah, maka dia tidak dianggap melanggar.”</em> (H.r. Ahmad, Turmudzi, Ibn Hibban dan disahihkan Syu&#8217;aib al-Arnauth)</p>
<p>Jika tidak dinilai melanggar, berarti tidak ada dosa dan tidak wajib membayar <strong>kaffarah</strong>. Sebagaiman keterangan dalam <em>Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Jami Turmudzi</em> (5: 109)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>===</p>
<p>Artikel yang patut Anda baca berkenaan dengan sumpah:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/cara-untuk-menarik-kembali-sumpah" target="_blank">Cara kembali menarik sumpah.</a></p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/demi-bapak-dan-ibuku-apakah-termasuk-sumpah" target="_blank">&#8220;Demi bapak dan ibuku&#8221; Apakah termasuk sumpah?</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kaffarat</strong>, <strong>demi Allah</strong>, <strong>sumpah palsu</strong>, <strong>sumpah</strong>, <strong>bersumpah palsu</strong>, <strong>melanggar sumpah</strong>, <strong>khianat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/sumpah-atas-nama-allah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Utang Emas</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/utang-emas</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/utang-emas#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 05:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[emas batangan]]></category>
		<category><![CDATA[harga emas]]></category>
		<category><![CDATA[riba hutang]]></category>
		<category><![CDATA[utang emas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7511</guid>
		<description><![CDATA[Utang emas Ustadz, saya mau tanya. Dulu, waktu istri saya masih kecil, ibunya meminjam kalung emas dari temannya untuk dijual, dalam rangka membiayai kuliah kakak-istri saya. Setelah berlalu beberapa belas tahun, ibu mertua saya baru bisa melunasi utangnya dengan kredit, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/utang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utang">Utang</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/emas" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with emas">emas</a></h2>
<p>Ustadz, saya mau tanya. Dulu, waktu istri saya masih kecil, ibunya meminjam kalung emas dari temannya untuk dijual, dalam rangka membiayai kuliah kakak-istri saya. Setelah berlalu beberapa belas tahun, ibu mertua saya baru bisa melunasi utangnya dengan kredit, seharga total 4 jutaan (seharga emas dulu ketika meminjam). Tapi beberapa hari kemarin, teman ibu mertua datang lagi ke rumah dan mengatakan secara kekeluargaan langsung kepada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anaknya (termasuk istri saya) bahwa dulu &#8216;kan bukan uang yang dipinjam tapi emas, dia pengennya kembali juga sebagai kalung yang serupa (gram ataupun mata)-nya, sedangkan dengan uang harga tadi (4 jutaan) di hari ini kalau dibelikan kalung yang serupa tidaklah cukup. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> solusinya, Ustadz? Apakah kalung diganti dengan kalung yang serupa ataukah cukup uang 4 juta yang dibayarkan ibu mertua saya? <em>Jazakallahu khairan</em>, Ustadz.</p>
<p><em>Abu Muhammad (abi**@***.com)</em><br />
<span id="more-7511"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Kaidah dalam masalah ini:</p>
<blockquote><p><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/utang-emas" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utang emas">Utang emas</a> wajib dibayar dengan emas.</strong><br />
<strong>Utang uang wajib dibayar dengan uang. </strong></p></blockquote>
<p>***</p>
<h3>Catatan redaksi perihal utang</h3>
<p>Menghutangi orang lain adalah murni transaksi sosial. Karena itu, orang yang menghutangi orang lain tidak diperkenankan mengambil tambahan sedikitpun. Bahkan dia harus rela dan siap dengan konsekwensi terjadinya penurunan mata uang.. Karena itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberikan banyak janji pahala kepada orang yang sanggup menghutangi orang lain dan bersedia untuk tidak mengejar-ngejar orang yang <a href="http://konsultasisyariah.com/beli-emas-dengan-cek" target="_blank">berhutang</a>.</p>
<p>Diantara dalil yang menunjukkan keutamaan bersikap mudah dalam menghutangi orang lain adalah:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Hadis dari Ibn Mas&#8217;ud, Nabi s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">كل قرض صدقة</p>
<p><em>“Setiap menghutangi orang lain adalah sedekah.”</em> (HR. Thabrani dengan sanad hasan, al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albani)</p>
<p><strong>Kedua,</strong> Dari Abu Umamah, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Ada seseorang yang masuk surga, kemudian dia melihat ada tulisan di pintunya,</em></p>
<p class="arab">الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمانية عشر</p>
<p><em>“Sedekah itu nilainya sepuluh kalinya dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hutang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hutang">hutang</a> nilainya 18 kali.”</em> (HR. Thabrani, al-Baiihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib)</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> Dari Ibn Mas&#8217;ud, bahwa nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">ما من مسلم يقرض مسلما قرضا مرتين إلا كان كصدقتها مرة</p>
<p><em>“Tidaklah seorang muslim memberi utangan kepada muslim yang lain sebanyak dua kali, kecuali nilainya seperti bersedekah sekali.” </em>(Hr. Ibn Majah, Ibn Hiban dalam shahihnya dan al-Baihaqi.)<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Aris Munandar, M.A.</a></strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>emas batangan</strong>, <strong>harga emas</strong>, <strong>riba hutang</strong>, <strong>utang emas</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/utang-emas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asuransi Syariah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/asuransi-syariah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/asuransi-syariah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Sep 2011 08:48:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[asuransi syariah]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[haramnya asuransi]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[riba hutang]]></category>
		<category><![CDATA[saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7450</guid>
		<description><![CDATA[Ikut asuransi syariah Assalamu &#8216;alaikum, Pak Ustadz. Apakah asuransi pendidikan syariah itu sesuai dengan tuntunan Islam, Pak Ustadz? Aku tanya sama kawan, katanya, uang asuransi itu (uang kita) dipakai buat usaha, lalu nanti kalau untung, dikasih ke kita sekian persen. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ikut <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/asuransi-syariah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with asuransi syariah">asuransi syariah</a><strong><br />
</strong></h2>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>, Pak Ustadz. Apakah <strong>asuransi</strong> pendidikan syariah itu sesuai dengan tuntunan Islam, Pak Ustadz? Aku tanya sama kawan, katanya, uang asuransi itu (uang kita) dipakai buat usaha, lalu nanti kalau untung, dikasih ke kita sekian persen. Tapi kalau rugi, uang kita tetap sebanyak itu juga, tapi tidak dikasih persennya. Juga, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> syariah, apakah itu sudah sesuai dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> Islam? Terima kasih, Pak Ustadz. <em>Assalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><em>Rafdinal (inal**@***.com)</em><br />
<span id="more-7450"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p>Transaksi <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-asuransi-kesehatan" target="_blank">asuransi</a> antara kita dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank-syariah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank syariah">bank syariah</a> adalah &#8220;<strong>titip uang</strong>&#8220;. Jika nantinya kita butuh, kita akan mengambil uang tersebut. Dari mana kita bisa mendapatkan &#8220;bagi-keuntungan&#8221;, sementara kita sama sekali tidak menanggung kerugian jika ternyata usaha yang menggunakan modal uang kita itu gagal? Bukankah ini sama dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-asuransi-jiwa-syariah" target="_blank">riba</a>?</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>asuransi syariah</strong>, <strong>saham</strong>, <strong>haramnya asuransi</strong>, <strong>bank</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>riba hutang</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/asuransi-syariah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jual Beli Trayek</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-trayek</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-trayek#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 23:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7384</guid>
		<description><![CDATA[Jual Beli Trayek Bagaimana hukum jual beli trayek layanan? Jawaban: Makna jual beli ialah pertukaran harta dengan harta disertai maksud untuk memilikinya, bagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh at-Tuwajiri dalam kitabnya, Mukhtashar Fiqhul Islami 1/695. Jual beli trayek layanan, apabila ia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">Jual Beli</a> Trayek</h2>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> jual beli trayek layanan?<br />
<span id="more-7384"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Makna jual beli ialah pertukaran harta dengan harta disertai maksud untuk memilikinya, bagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh at-Tuwajiri dalam kitabnya, <em>Mukhtashar Fiqhul Islami</em> 1/695.</p>
<p>Jual beli trayek layanan, apabila ia yang dimaksudkan ialah kontrak kerja dengan pemerintah, seperti biro transportas dengan jangka waktu yang telah ditentukan, misalnya jalur angkutan umum, tentu perizinan trayek kadangkala lebih mahal daripada harga kendaraan, maka ada dua hal yang harus diperhatikan bagi yang ingin menjualnya: (1) Syarat jual beli yang sah menurut syari’at Islam. (2) Persyaratan perizinan yang dikeluarkan oleh waliyul amri (pemerintah) kepada pihak pengusaha.</p>
<p>Adapun syarat sahnya jual beli menurut syari’at Islam sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwajiri ialah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Saling ridho antara penjual dan pembeli kecuali orang yang dipaksa karena sebab yang dibenarkan oleh syara&#8217;.</li>
<li>Yang melakukan akad hendaknya orang yang dibenarkan menurut syar’i, yaitu merdeka, mukallaf, dan memahami maslahat dan madharat dalam jual beli.</li>
<li>Barang yang dijual jelas manfaatnya, tidak boleh menjual yang tidak ada manfaatnya seperti nyamuk, dan bukan pula barang yang ada manfaatnya akan tetapi haram dijual seperti khomr dan babi.</li>
<li>Barang yang dijual miliknya sendiri atau yang diberi wewenang untuk menjualkannya pada waktu akad.</li>
<li>Barang yang dijual dapur dilihat atau diketahui sifatnya oleh kedua belah pihak.</li>
<li>Harga diketahui dengan pasti.</li>
<li>Barang yang dijual dipastikan dapat diambil atau dimiliki, tidak boleh membeli ikan yang ada di laut atau burung yang terbang dan semisalnya karena ada unsur penipuan (Lihat <em>Mukhtashar Fiqhul Islami</em> 1/696)</li>
</ol>
<p>Adapun persyaratan dan perizinan yang dikeluarkan oleh waliyul amri kepada pengusaha, hal ini dibolehkan asal syarat tersebut tidak melanggar hukum Allah.</p>
<p>Dari kakek Abdullah bin Amr bin Auf, sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu alaihi wa sall</em>am bersabda,</p>
<p><em>“Dan orang Islam tergantung persyaratannya kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau </em>menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmidzi: 1272, dishahihkan oleh al-Albani: 1890, lihat <em>Mukhtashar Irwa’ul Ghalil</em> 1/374)</p>
<p>Abdullah bin Umar dan ayahnya berkata: “Setiap syarat yang menyelisihi kitab Allah, maka syarat tersebut batil sekalipun seratus syarat.” (Shahih Bukhari 2/756, Muslim 2/1142)</p>
<p>Perlu dimaklumi bahwa trayek layanan yang diatur oleh pemerintah harus ditaati, selagi tidak melanggar ketentuan syara. Dan telah kita maklumi bahwa perizinan untuk trayek sungguh sangat bermanfaat dan membawa maslahat bagi umat. Jika tidak, tentu situasi tidak aman, manusia akan bertengkar, karena masing-masing ingin menang sendiri. Adapun dalil wajib taat kepada waliyul amri ada di dalam Alquran, hadis, dan ijma.</p>
<p><strong>Kesimpulannya:</strong> menjual trayek layanan dibolehkan apabila persyaratan sah jual beli dibenarkan oleh syara’ sebagaimana ketentuan di atas, dan diizinkan oleh pemerintah untuk menjual kepada pihak lain.</p>
<p>Di antara salah satu syuyukh di Ma’had Ibnu Utsaimin Qashim-Arab Saudi berkata, “Jual beli trayek layanan tergantung peraturan pemerintah setempat.”</p>
<p><em>Wallahu A’lam bish-shawab.</em></p>
<p>Dijawab oleh: Abu Muhammad Ainur Rofiq Ghufron</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Majalah Al-Furqon</em>, Edisi 7 Tahun 6 1428 H. (Dipublikasikan ulang oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow"><strong>www.KonsultasiSyariah.com</strong></a>)</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-trayek/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaji Pensiunan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/gaji-pensiunan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/gaji-pensiunan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 01:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7372</guid>
		<description><![CDATA[Gaji Pensiunan Bagaimana hukum pensiun bagi pegawai negeri yang sudah tidak kerja lagi? Jawaban: Hukum pensiun pegawai negeri tergantung kepada hukum pekerjaan yang dahulu dia kerjakan, kalau pekerjaan itu halal semacam guru atau lainnya, maka pensiunannya pun halal. Adapun kalau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Gaji Pensiunan</h2>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> pensiun bagi pegawai negeri yang sudah tidak kerja lagi?<br />
<span id="more-7372"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Hukum pensiun pegawai negeri tergantung kepada hukum pekerjaan yang dahulu dia kerjakan, kalau pekerjaan itu halal semacam guru atau lainnya, maka pensiunannya pun halal. Adapun kalau pekerjaan yang dahulu dikerjakannya itu haram, maka pensiunnya pun haram.</p>
<p>Halalnya gaji pensiun dilihat dari beberapa sisi:</p>
<p>1. Pada dasarnya muamalah adalah halal kecuali kalau ada cara atau sistem yang membuatnya menjadi haram. Dan setahu kami tidak ada yang membuat gaji pensiun menjadi haram.</p>
<p>2. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p><em>“Kaum muslimin itu tergantung pada syarat mereka</em>.” (HR. Bukhari 2273, Abu Dawud 3594).</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa jika terjadi kesepakatan antara dua orang dan keduanya saling menyetujui syarat yang diajukan pihak lainnya sedangkan syarat itu tidak bertentangan dengan Alquran dan Assunnah, maka berarti kesepakatan keduanya boleh dijalankan.</p>
<p>Untuk masalah ini, seorang pegawai negeri saat diangkat menjadi pegawai telah terjadi kesepakatan antara pegawai tersebut dengan pihak instansi pemerintah bahwa pekerjaannya demikian dengan gaji demikian dan nantinya kalau sudah sampai pada umur demikian maka akan tidak kerja lagi namun tetap menerima uang pensiun dengan jumlah sekian persen dari gaji sampai waktu sekian.</p>
<p>Maka kalau kedua telah sepakat akan hal tersebut, tidak ada sesuatu pun yang membuatnya tidak boleh dilaksakan.</p>
<p>3. Sistem pensiun ini telah beredar di seluruh negeri kaum muslimin, dan para ulama telah mengetahuinya, dan tidak kami temukan ada satu pun ulama yang melarangnya. Bahkan yang ada adalah mereka memperbolehkannya. Di antaranya adalah saat Lajnah Da’imah ditanya,</p>
<p>‘Saya adalah seorang pegawai instansi amar ma’ruf nahi munkar di kota Hanakiyah Saudi (semacam Kepolisian, red.) lalu sampai pada masa pensiun, maka saya pun diberi uang pensiun dari badan keuangan kota tersebut. Lalu para pegawai memindahkan pengambilan uang pensiunku lewat sebuah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> swasta di kota itu, lalu saya pun mengambilnya lewat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> tersebut. Namun saya mendengar bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> itu tidak selamat dari irba, dan hal itu baru saya pastikan setelah saya mengambil sebagian uang pensiun dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> tersebut, lalu setelah itu saya pun tidak lagi mengambil dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> tersebut. Maka apakah hukum uang pensiun yang telah saya ambil dan apa yang harus saya lakukan?’</p>
<h3>Jawaban Lajnah Da’imah tentang gaji pensiunan,</h3>
<p>‘Jika kenyataannya seperti yang disebutkan di atas, maka tidak ada masalah dengan uang yang telah engkau ambil, dan untuk selanjutnya boleh bagimu untuk menerima uang pensiun yang dialihkan penerimaannya lewat bank, dan insya Allah tidak tidak membahayakan bagimu meskipun bank itu bermuamalah dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> karena engkau dalam keadaan seperti itu tidak ikut dalam proses <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> tersebut, adapun dosanya hanya ditanggung oleh yang bermuamalah dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> itu sendiri.’ (<em>Fatwa Lajnah Da’imah</em> 15/407, diambil dari CD <em>Al-Maktabah Asy-Syamilah</em> Vol. 2)</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Majalah Al-Furqon</em>, Edisi 8 Tahun 6, Robi&#8217;ul Awwal 1428 H. (<strong>Dipublikasikan ulang oleh <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong>)</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/gaji-pensiunan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Mengembalikan Barang yang Pernah Dicuri</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pencurian-barang</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pencurian-barang#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 22:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[doa untuk di kembalikan barang yang di curi]]></category>
		<category><![CDATA[doa untuk kembalikan barang dicuri]]></category>
		<category><![CDATA[doa untuk mengembalikan barang yang dicuri orang lain]]></category>
		<category><![CDATA[doa untuk mengenbalikan barang yang dicuri]]></category>
		<category><![CDATA[download]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengembalikan barang dicuri]]></category>
		<category><![CDATA[pencurian]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5610</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu ’alaikum warahmatullah, Ustadz &#8230;. Saya ingin tanya. Ketika masih bersekolah dulu, saya pernah mencuri barang di swalayan/minimarket dan mencuri buku di perpustakaan, nah sekarang saya menyesali perbuatan zalim saya tersebut. Apa yang seharusnya saya lakukan? Jikalau harus mengembalikan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu ’alaikum warahmatullah</em>, Ustadz &#8230;.</p>
<p>Saya ingin tanya. Ketika masih bersekolah dulu, saya pernah mencuri barang di swalayan/<em>minimarket</em> dan mencuri buku di perpustakaan, nah sekarang saya menyesali perbuatan zalim saya tersebut. Apa yang seharusnya saya lakukan? Jikalau harus mengembalikan barang tersebut, ada beberapa kendala bagi saya,<br />
1. Kondisi barang tersebut sudah buruk.<br />
2. Rasa sungkan saya untuk menghadap ke swalayan dan perpustakaan tersebut, dan takut tuntutan dan akibat-akibat lainnya.</p>
<p>Jika saya menginfakkan senilai barang yang saya ambil tersebut atas nama swalayan dan perpustakaan tersebut, boleh atau tidak, Ustadz? Ataukah ada cara lain???</p>
<p>Besar harapan saya atas jawaban Ustadz. Semoga Allah selalu menjaga Ustadz dalam kebaikan dan ketakwaan kepada Allah.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullah.</em></p>
<p><em>NN (**@gmail.com) </em><br />
<span id="more-5610"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>1. Anda wajib memberikan buku yang semisal atau sejenis kepada perpustakaan, apa pun caranya.<br />
2. Carilah siapa pemilik swalayan tersebut dan berikan kepada orang tersebut uang senilai harga barang yang Anda ambil. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> pun caranya, bisa dengan pos atau lainnya.</p>
<p>Alhamdulillah kami telah membahasnya tempo hari terkait pertanyaan saudara. Berikut link-nya:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://pengusahamuslim.com/baca/artikel/1158/mencuri-mangga-tetangga-ketika-kecil">http://pengusahamuslim.com/baca/artikel/1158/mencuri-mangga-tetangga-ketika-kecil</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://pengusahamuslim.com/baca/artikel/1112/cara-mengembalikan-harta-curian">http://pengusahamuslim.com/baca/artikel/1112/cara-mengembalikan-harta-curian</a></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>doa untuk kembalikan barang dicuri</strong>, <strong>pencurian</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>download</strong>, <strong>doa untuk di kembalikan barang yang di curi</strong>, <strong>sekolah</strong>, <strong>doa untuk mengenbalikan barang yang dicuri</strong>, <strong>doa untuk mengembalikan barang yang dicuri orang lain</strong>, <strong>mengembalikan barang dicuri</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pencurian-barang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keuntungan Maksimal dalam Jual Beli</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keuntungan-bisnis</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keuntungan-bisnis#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jul 2011 01:58:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[apakah diperbolehkan untung 100%]]></category>
		<category><![CDATA[berapa persen keuntungan dalam niaga dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[berapa sih keuntungan jualan busana]]></category>
		<category><![CDATA[berapa untung jual baju]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[hadis keuntungan niaga]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan bisnis toko obat]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan jual beli dinae]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan jual beli kambing]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan jual pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan jualan dalam syariat islam]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan maksimal]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maksimal keuntungan dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[maksimal keuntungan dalam menjual dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[maksimum keuntungan menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat jual beli dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[niaga]]></category>
		<category><![CDATA[persen keuntungan bisnis baju]]></category>
		<category><![CDATA[persentase keuntungan dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[profit dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[prosentase keuntungan jual beli dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[rokok elektrik batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5672</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Saat ini, saya sedang menjalankan usaha jual beli barang elektronik. Barang tersebut saya dapatkan dari toko di luar kota, dan saya menjual kembali barang tersebut kepada yang berminat. Yang saya ingin tanyakan adalah, berapa persen keuntungan maksimal ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. Saat ini, saya sedang menjalankan usaha <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> barang elektronik. Barang tersebut saya dapatkan dari toko di luar kota, dan saya menjual kembali barang tersebut kepada yang berminat. Yang saya ingin tanyakan adalah, berapa persen <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/keuntungan-maksimal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with keuntungan maksimal">keuntungan maksimal</a> yang bisa saya ambil sesuai dengan syariah Islam? Demikian pertanyaan saya.<em> Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><em>Yhenny Ammi (yhenny**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-5672"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p>Tidak ada batasan keuntungan maksimal yang ditetapkan syariah. Pedagang bisa memasang keuntungan sendiri sesuai keinginannya, selama tidak mengganggu perekonomian masyarakat. Bahkan, penjual boleh menaikkan harga barang 100%.</p>
<p><em>Dalilnya:</em></p>
<p>Pada suatu hari, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberi amanah berupa uang satu dinar kepada <em>shahabat</em> Urwah bin Abil Jaid Al-Bariqi <em>radhiallahu ‘anhu</em>, untuk membeli seekor kambing kurban. Mendapat amanah tersebut, Urwah <em>radhiallahu ‘anhu</em> segera pergi ke pasar guna membeli seekor kambing kurban. Sesampai di pasar, beliau membeli dua ekor kambing dengan harga satu dinar. Sebelum pulang, beliau menjual kembali salah satunya seharga satu dinar. Ketika ia datang menghadap Nabi dengan membawa uang satu dinar dan seekor kambing, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendoakannya agar mendapatkan keberkahan dalam setiap perniagaannya. (Kisah ini ada dalam <em>Shahih Bukhari</em>)</p>
<p>Menaikkan harga barang yang bisa merusak perekonomian masyarakat, misalnya: menimbun barang kebutuhan pokok, kemudian baru menjualnya ketika permintaan naik, dengan harga yang sangat tinggi. Praktik semacam ini dilarang dan pelakunya wajib menjual barang sesuai harga yang wajar.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>keuntungan jual beli kambing</strong>, <strong>emas</strong>, <strong>berapa sih keuntungan jualan busana</strong>, <strong>keuntungan bisnis toko obat</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>apakah diperbolehkan untung 100%</strong>, <strong>berapa persen keuntungan dalam niaga dalam islam</strong>, <strong>keuntungan jual pakaian</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keuntungan-bisnis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alokasi Gaji Operasional</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/alokasi-gaji-operasional</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/alokasi-gaji-operasional#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 06:14:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana mengalokasikan gaji bulanan]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[menggunakan uang haram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5433</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh. Ustadz, semoga Allah ta&#8217;ala menjaga Anda. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan. 1. Saya berprofesi sebagai seorang konsultan industri kecil-menengah, di bawah naungan salah satu instansi pemerintahan. Saya mendapatkan gaji per bulan yang terdiri ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>. Ustadz, semoga Allah <em>ta&#8217;ala</em> menjaga Anda. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan.</p>
<p>1. Saya berprofesi sebagai seorang konsultan industri kecil-menengah, di bawah naungan salah satu instansi pemerintahan. Saya mendapatkan gaji per bulan yang terdiri dari honor dan biaya operasional (terdiri dari biaya transportasi, ATK, dan penyusunan laporan) dengan sistem &#8220;kerja dulu baru dibayar&#8221;. Dan pada saat saya menerima gaji, khusus untuk biaya operasional, pengambilannya harus dibuktikan dengan kuitansi dan faktur yang diminta dari toko (rincian pengeluaran). Pada faktur tersebut, saya diharuskan menulis sejumlah jatah atau yang sudah menjadi hak saya.</p>
<p>Yang menjadi permasalahannya adalah biaya pengeluaran saya setiap bulannya untuk operasional, seperti: untuk ATK, tidaklah sebesar biaya operasional yang sudah dijatahkan untuk saya atau yang menjadi hak saya, tetapi di faktur tersebut saya tetap disuruh oleh bendahara untuk menulis sejumlah uang yang sudah menjadi jatah/hak saya; tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.</p>
<p>Yang menjadi pertanyaan saya, apakah saya telah melakukan suatu kebohongan, karena saya menulis di faktur tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan saya pada bulan tersebut, tapi dari bendahara memang menyuruh saya untuk menulis sejumlah yang sudah memang menjadi hak saya?</p>
<p>2. Terkait dengan pertanyaan yang nomor satu, biaya operasional yang saya dapatkan/terima itu lebih besar dari kebutuhan operasional saya. Pertanyaan saya, bolehkah saya menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan yang lainnya (yang di luar operasional) karena mengingat uang itu sudah menjadi hak saya sepenuhnya?</p>
<p>Mohon penjelasannya, Ustadz. <em>Jazakallah khairan katsiran</em>. <em>Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>.</p>
<p><em>Romas (sedangmenata**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-5433"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam</em>. Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah.</p>
<p>1. Tidak dibenarkan bagi Anda untuk menuliskan biaya operasional melebihi dana riil yang Anda butuhkan karena itu termasuk dusta dan korupsi.</p>
<p>2. Perintah bendahara itu tidak boleh ditaati karena itu perintah yang bertentangan dengan agama.</p>
<p>3. Anda bisa melaporkan hal ini kepada atasan Anda untuk mencari jalan keluar yang terbaik.</p>
<p>4. Bila ternyata atasan Saudara juga tidak bisa memberi solusi, dan Anda tidak bisa mengubah kenyataan, maka Anda harus mengembalikan selisih dana tersebut. Atau, jika sekiranya memungkinkan, Anda bisa mencari jalan tengah dengan menggunakan selisih dana tersebut pada pembiayaan tugas Anda yang tidak dianggarkan.</p>
<p>5. Bila solusi di atas juga tidak bisa ditempuh, Anda bisa salurkan dana tersebut untuk kepentingan umat atau masyarakat umum, dengan niat &#8220;berlepas diri dari harta haram&#8221;.</p>
<p>Semoga Allah memudahkan urusan Anda dan memberkahi hasil pekerjaan Anda.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bagaimana mengalokasikan gaji bulanan</strong>, <strong>menggunakan uang haram</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>isa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/alokasi-gaji-operasional/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum &#8220;Gadai Sawah&#8221;</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-gadai-sawah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-gadai-sawah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 05:25:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[gadai]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[kasus hukum gadai]]></category>
		<category><![CDATA[kerugian tdk mlksanakan sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[tatacara menggadaikan sawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5383</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Kepada pengasuh, saya mau tanya tentang hukum gadai sawah. Di kampung saya, banyak orang menggadaikan sawahnya dengan uang yang bervariasi, mulai dari 2 jutaan sampai puluhan juta. Terus, yang kerja sawahnya, si pemilik sawah juga, dan hasilnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Kepada pengasuh, saya mau tanya tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/gadai" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with gadai">gadai</a> sawah. Di kampung saya, banyak orang menggadaikan sawahnya dengan uang yang bervariasi, mulai dari 2 jutaan sampai puluhan juta. Terus, yang kerja sawahnya, si pemilik sawah juga, dan hasilnya nanti dibagi sama yang punya uang. Hal ini sudah menjadi budaya di masyarakat. Di satu sisi, petani tidak punya pilihan lain untuk mendapatkan dana segar karena harta yang bisa dijadikan jaminan cuma sawah. Yang saya tanyakan, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> bagi si penggadai dan yang menerima gadai tersebut? <em>Trims</em>.</p>
<p><em>A. Pagaralam (**click@***.com)</em><br />
<span id="more-5383"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Satu kaidah baku dalam masalah ini adalah &#8220;Semua bentuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/utang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utang">utang</a> yang menghasilkan keuntungan maka itu adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>&#8221;. Dasar kaidah ini adalah riwayat dari Fudhalah bin Ubaid radhiallahu &#8216;anhu, bahwa beliau mengatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>كل قرض جر منفعة فهو ربا</strong></p>
<blockquote><p><strong>“Setiap piutang yang memberikan keuntungan maka (keuntungan) itu adalah riba.”</strong></p></blockquote>
<p>&#8220;Keuntungan&#8221; yang dimaksud dalam riwayat di atas mencakup semua bentuk keuntungan. Bahkan, sampai bentuk keuntungan pelayanan. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu &#8216;anhu,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله</strong></p>
<p>“<em>Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya!</em>” (H.R. Ibnu Majah; hadis ini memiliki beberapa penguat)</p>
<p>Dalam riwayat yang lain, dari Abdullah bin Sallam, bahwa beliau mengatakan, “<em>Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba</em>.” (H.R. Bukhari)</p>
<p>Kasus gadai sawah yang Anda tanyakan bisa dirinci sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Jika uang bagi-hasil, yang diserahkan kepada pemilik piutang, itu sekaligus menjadi pelunasan utang si peminjam (dalam hal ini juga sebagai penggadai sawahnya) tanpa ada tambahan yang lain, maka sistem pembayaran semacam ini 100% diperbolehkan. Dalam transaksi ini, transaksi yang terjadi <strong>murni utang-piutang, dengan pelunasan tanpa ada tambahan</strong>.</li>
<li>Jika uang bagi-hasil yang diberikan <strong>bukan</strong> termasuk pelunasan utang, sementara sawah <strong>tidak</strong> akan diambil oleh pemberi piutang jika si pengutang tidak mampu melunasi utang, dan pemilik modal (baik pemberi piutang maupun pengutang [dalam hal ini juga merupakan penggadai sawah]) siap menanggung kerugian jika gagal panen, maka ini termasuk transaksi <em>muzara&#8217;ah</em>, dan transaksi semacam ini diperbolehkan.</li>
<li>Jika uang bagi-hasil yang diberikan <strong>bukan</strong> termasuk pelunasan utang, sementara sawah akan diambil oleh pemberi piutang jika si pengutang tidak mampu melunasi utangnya, dan si pengutang wajib menyetorkan bagi hasil tersebut plus uang pelunasan utang, maka bagi-hasil itu, pada hakikatnya, adalah <strong>riba</strong>, karena ada penambahan dari uang yang dipinjamkan. Ini adalah tindakan kezaliman. Semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari bencana yang buruk ini.</li>
</ol>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>isa</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>kasus hukum gadai</strong>, <strong>kerugian tdk mlksanakan sholat tarawih</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>tatacara menggadaikan sawah</strong>, <strong>gadai</strong>, <strong>hukum</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-gadai-sawah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halalkah Dana Kelebihan Perjalanan Dinas?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/halalkah-dana-kelebihan-perjalanan-dinas</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/halalkah-dana-kelebihan-perjalanan-dinas#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 05:47:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[kelebihan manusia yang sering sholat tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[kelebihan perjalanan dengan pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan dinas adalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5174</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamu ‘alaikum. Halalkah uang kelebihan beli tiket, jika seseorang didanai dengan pesawat Garuda tapi dia naik Lion? Mohon diberikan hadis atau ayat Alquran yang menguatkan hal tersebut. Terima kasih. Roseli Theis (raca**@***.co.uk) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah. Tidak halal. Uang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p>Assalamu ‘alaikum. Halalkah uang kelebihan beli tiket, jika seseorang didanai dengan pesawat Garuda tapi dia naik Lion? Mohon diberikan hadis atau ayat Alquran yang menguatkan hal tersebut. Terima kasih.</p>
<p><em>Roseli Theis (raca**@***.co.uk) </em><br />
<span id="more-5174"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah</em>. <strong>Tidak halal</strong>. Uang negara adalah uang amanah. Anda hanya boleh memakai sekadarnya.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel www.KonsultasiSyariah.com</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kelebihan perjalanan dengan pesawat</strong>, <strong>kelebihan manusia yang sering sholat tahajud</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>perjalanan dinas adalah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/halalkah-dana-kelebihan-perjalanan-dinas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Mengajukan Pinjaman Selain Bank?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-mengajukan-pinjaman-selain-bank</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-mengajukan-pinjaman-selain-bank#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 04:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana mengajukan pinjaman dari bank]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bank syariah]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengajukan pinjaman pegawai untuk bank]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kredit di bank]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pinjaman bank dlm islam]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[pinjaman bank menurut isalam]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[transfer bank]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5087</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Jika ternyata semua bank masih dikategorikan haram, lalu apabila memang kita sangat membutuhkan pinjaman, maka menurut Islam yang paling aman kita ajukan ke mana? Irawati (ulya**@***.com) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussaalam. Saudarai Irawati, untuk memenuhi pembiayaian, banyak alternatif yang dapat ditempuh: Jual ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika ternyata semua <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> masih dikategorikan haram, lalu apabila memang kita sangat membutuhkan pinjaman, maka menurut Islam yang paling aman kita ajukan ke mana?</p>
<p><em>Irawati (ulya**@***.com)</em><br />
<span id="more-5087"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussaalam.</em></p>
<p>Saudarai Irawati, untuk memenuhi pembiayaian, banyak alternatif yang dapat ditempuh:</p>
<ol>
<li> Jual aset. Dari situ, hasil penjualan, maka bisa digunakan membiayai kebutuhan.</li>
<li>Pinjam dari saudara atau teman, yang tentunya tanpa bunga atau denda (tanpa ada agunan).</li>
<li>Sama dengan opsi kedua, namun dengan tambahan agunan, untuk meyakinkan pihak pemberi piutang tentang keseriusan Saudari dalam melunasi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/utang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utang">utang</a>.</li>
<li>Beli barang dengan pembayaran terutang, dengan tanpa bunga, penalti, atau denda bila telat bayar.</li>
<li>Bersabar; perlu ditekankan: hendaknya Saudari membedakaan antara kebutuhan yang didasari oleh kepuasan, gengsi, atau mengikuti tren dengan kebutuhan yang benar-benar kebutuhan (primer). Sering kali, kita menganggap suatu kebutuhan sebagai kebutuhan mendesak, padahal tidak demikian.</li>
</ol>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bagaimana mengajukan pinjaman dari bank</strong>, <strong>puasa</strong>, <strong>hukum kredit di bank</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>bank syariah</strong>, <strong>bank</strong>, <strong>transfer bank</strong>, <strong>hukum pinjaman bank dlm islam</strong>, <strong>pinjaman bank menurut isalam</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-mengajukan-pinjaman-selain-bank/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Menyucikan Harta?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-menyucikan-harta</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-menyucikan-harta#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 23:04:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[background koperasi simpan pinjam]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana menyucikan gaji dari bank]]></category>
		<category><![CDATA[cadangan untuk hutang piutang dalam syariat islam]]></category>
		<category><![CDATA[harta dari bunga halal tidak]]></category>
		<category><![CDATA[hukum koperasi simpan pinjam]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mensucikan harta]]></category>
		<category><![CDATA[menyucikan harta]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni surga]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5068</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Sekarang ini, banyak sekali &#8220;koperasi simpan pinjam&#8221; atau pegadaian yang menerapkan bunga pada pembayarannya. Yang mau saya tanyakan, apakah hasil dari itu halal? Seumpama haram/dilarang oleh agama, bagaimana cara mensucikan harta hasil dari transaksi tersebut? Nico Hermawan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Sekarang ini, banyak sekali<strong> &#8220;koperasi simpan pinjam&#8221;</strong> atau pegadaian yang menerapkan bunga pada pembayarannya. Yang mau saya tanyakan, apakah hasil dari itu halal? Seumpama haram/dilarang oleh agama, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> cara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mensucikan-harta" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mensucikan harta">mensucikan harta</a> hasil dari transaksi tersebut?</p>
<p><em>Nico Hermawan (**cokelat@***.com) </em><br />
<span id="more-5068"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Saudara Nico Hermawan, semoga Allah ta&#8217;ala merahmati Saudara dan memberkati keluarga dan usaha Saudara.</p>
<p>Simpan-pinjam yang banyak beredar di masyarakat, dalam syariat dikategorikan ke dalam akad <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/utang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utang">utang</a>-piutang. Dengan demikian, keuntungan atau pertambahan apa saja yang didapatkan oleh kreditur (pemberi piutang) adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>, sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, &#8220;Setiap piutang yang mendatangkan keuntungan adalah riba.&#8221;</p>
<p>Untuk membersihkannnya, Saudara cukup memungut pokok simpanan Saudara, tanpa ada lebih atau kurang sedikit pun. Hal ini berdasarkan ayat 279, surat Al-Baqarah (yang artinya), &#8220;<em>BIla kalian telah bertobat maka pungutlah pokok harta piutangmu, sehingga kalian tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi.</em>&#8221;</p>
<p>Adapun bila bunga telah terlanjur ditambahkan pada rekening atau tabungan Saudara, maka bunga tersebut dapat disalurkan pada kegiatan-kegiatan sosial, semisal disalurkan ke fakir miskin, yatim piatu yang membutuhkan, untuk pembangunan jalan, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sekolah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sekolah">sekolah</a> islam, jembatan, atau fasilitas umum lainnya.</p>
<p><strong>Namun, ingat</strong>: ketika menyalurkan dana tersebut hendaknya tidak dalam rangka bersedekah, tetapi dalam rangka melepasakan diri dari/membuang harta haram, sehingga tidak ada niatan mengharapkan pahala dari penyaluran tersebut, selain pahala berlepas diri dari harta haram.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bagaimana</strong>, <strong>cadangan untuk hutang piutang dalam syariat islam</strong>, <strong>penghuni surga</strong>, <strong>harta dari bunga halal tidak</strong>, <strong>hukum koperasi simpan pinjam</strong>, <strong>mensucikan harta</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>background koperasi simpan pinjam</strong>, <strong>bagaimana menyucikan gaji dari bank</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-menyucikan-harta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lupa Bernazar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/lupa-bernazar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/lupa-bernazar#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 01:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana kalau nazar lupa]]></category>
		<category><![CDATA[budak]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[janji puasa nazar setelah bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[jika nazar tidak dipenuhi]]></category>
		<category><![CDATA[kafarat]]></category>
		<category><![CDATA[kafarat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[lupa bayar nazar satu tahun]]></category>
		<category><![CDATA[lupa bernazar dengan siapa]]></category>
		<category><![CDATA[lupa pasal nazar ppuasa#hl=en]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[membayar kafarat nazar]]></category>
		<category><![CDATA[nazar bisa diganti tidak?]]></category>
		<category><![CDATA[nazar dikabulkan]]></category>
		<category><![CDATA[nazar sedekah setiap hari tapi lupa untuk siapa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4984</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Mohon penjelasannya untuk masalah nazar yang sudah diucapkan tapi, setelah terkabul, (orang yang bernazar, red.) lupa apa yang telah dinazarkan. 1. Saya pernah bernazar, tapi saya lupa. Yang jelas, intinya, jika diterima kerja maka 10% dari penghasilan akan saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Mohon penjelasannya untuk masalah nazar yang sudah diucapkan tapi, setelah terkabul, (orang yang bernazar, <em>red.</em>) lupa apa yang telah dinazarkan.<br />
1. Saya pernah bernazar, tapi saya lupa. Yang jelas, intinya, jika diterima kerja maka 10% dari penghasilan akan saya sedekahkan. Nah, sedekahkan untuk apa atau ke siapa, saya lupa. Jadi, selama ini hanya sedekah kasih ke orang lain yang membutuhkan, ke <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">masjid</a>, atau ke lembaga sosial. Apakah ini menyimpang dari nazar yang saya ucapkan karena tidak tahu pasti sedekahnya untuk apa dan siapa?<br />
2. Nah, sekarang, penghasilan saya secara matematika tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga. Apakah boleh (nazar tersebut, <em>red.</em>) dibatalkan sampai penghasilan saya cukup, karena sekarang pengeluaran sudah ditambah lagi dengan cicilan rumah/tempat tinggal?<br />
3. Apakah nazar itu boleh diundur waktunya atau tidak, karena biasanya setiap setelah mendapatkan gaji, saya sisihkan langsung 10%-nya? Tapi untuk bulan ini, banyak yang harus ditutupi sehingga tidaklah cukup.<br />
4. Jika 10%-nya itu saya sisihkan dengan cara meminjam uang pada orang lain, apakah itu boleh?</p>
<p>Mohon penjelasannya. Terima kasih.</p>
<p><em>NN (**@gmail.com)</em><br />
<span id="more-4984"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Nazar adalah janji beribadah untuk Allah, dan bila telah diucapkan maka wajib dipenuhi. Namun, <strong>perlu diketahui</strong>:<br />
1. Membuat nazar adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> yang dibenci karena dengan bernazar, Anda hanya membuktikan bahwa Anda pelit kepada Allah. Betapa tidak, Anda seakan barter dengan Allah; Anda menjadikan sedekah Anda sebagai imbalan atas terkabulnya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>/harapan Anda. Karena itu, dahulu, Nabi melarang umatnya bernazar, dengan alasan, <strong>nazar itu tidak mendekatkan yang jauh dan juga tidak menjauhkan yang dekat</strong>. Yang terjadi, nazar itu bertepatan dengan takdir Allah. Betapa banyak orang bernazar, dengan harapan agar doanya dikabulkan, namun ternyata tidak dikabulkan oleh Allah.<br />
2. Bila sudah terlanjur bernazar maka nazar itu wajib dipenuhi. Bila nazar tersebut tidak dipenuhi maka orang yang bernazar wajib membayar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafarat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafarat">kafarat</a> berupa memberi makan 10 orang miskin, memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a>. Kalau tidak mampu, bisa diganti dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> tiga hari.<br />
3. Saya sarankan, Anda membayar kafarat saja, dan lain kali tidak usah bernazar; cukup berdoa memohon kepada allah.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;alam bish-shawab.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>jika nazar tidak dipenuhi</strong>, <strong>janji puasa nazar setelah bulan puasa</strong>, <strong>nazar dikabulkan</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>lupa bayar nazar satu tahun</strong>, <strong>membayar kafarat nazar</strong>, <strong>kafarat puasa</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>masjid</strong>, <strong>budak</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/lupa-bernazar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bermain Saham Syariah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-bermain-saham-syariah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-bermain-saham-syariah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 01:16:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[apakah hukum main saham syariah]]></category>
		<category><![CDATA[bermain saham syariah]]></category>
		<category><![CDATA[broker arifin badri]]></category>
		<category><![CDATA[cara bermain saham]]></category>
		<category><![CDATA[cara bermain saham yg benar]]></category>
		<category><![CDATA[cara main saham syariah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum main saham]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[panduan main saham]]></category>
		<category><![CDATA[persaratan bermain saham]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[syarat saham syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4947</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah diperbolehkan bermain saham syariah? Apa dasarnya? Ari ganda (ari**@***.com) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam. Saudara Ari Ganda, semoga Allah merahmati Saudara dan juga keluarga. Saham adalah surat bukti kepemilikan atas suatu perusahaan atau sebagian darinya; tak ubahnya surat sertifikat tanah, kendaraan, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah diperbolehkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bermain-saham-syariah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bermain saham syariah">bermain saham syariah</a>? Apa dasarnya?</p>
<p><em>Ari ganda (ari**@***.com)</em><br />
<span id="more-4947"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam</em>. Saudara Ari Ganda, semoga Allah merahmati Saudara dan juga keluarga.</p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/saham" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with saham">Saham</a> adalah surat bukti kepemilikan atas suatu perusahaan atau sebagian darinya; tak ubahnya surat sertifikat tanah, kendaraan, atau lainnya. Karena itu, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> memperjual-belikannya mengikuti bidang usaha perusahaan yang menerbitkan saham tersebut, yaitu wajib memenuhi syarat:</p>
<ol>
<li> Perusahaan tersebut bergerak dalam usaha yang halal.</li>
<li>Pengelolaan keuangannya benar, tidak menggunakan pembiayaan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> atau menerapkan persyaratan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> (berbunga bila telat bayar) ketika memberikan pinjaman sebagian dananya.</li>
<li>Pembeliannya dilakukan dengan cara-cara yang benar, yaitu dari pemilik atau yang mewakilinya, bukan dari penjual saham yang tidak memiliki saham (<em>broker</em>), yang kadang kala hanya meminjam saham orang lain untuk dijual dalam tempo singkat, untuk kemudian dibeli kembali dan dikembalikan kepada pemilik saham yang sah.</li>
<li>Tidak menjual kembali saham yang telah dibeli kecuali bila proses serah terima saham dari penjual pertama benar-benar telah tuntas.</li>
</ol>
<p>Bila keempat persyaratan ini terpenuhi,-<em>-insya Allah</em>&#8211;jual-beli saham itu adalah halal, walau pagi hari dibeli dan sore dijual. <em>Wallahu ta&#8217;ala a&#8217;alam bish-shawab</em>.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>syarat saham syariah</strong>, <strong>broker arifin badri</strong>, <strong>panduan main saham</strong>, <strong>cara main saham syariah</strong>, <strong>hukum main saham</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>persaratan bermain saham</strong>, <strong>cara bermain saham</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>bermain saham syariah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-bermain-saham-syariah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nepotisme dalam Perusahaan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/nepotisme-dalam-perusahaan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/nepotisme-dalam-perusahaan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 01:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4912</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Afwan, Ustadz. Bagaimana kalau nepotisme tidak menggunakan uang? Apa itu juga haram? Ari (arhy**@***.com) Jawaban: Jika perusahaan tersebut adalah milik perseorangan, nepotisme itu boleh, asalkan lowongan tersebut tidak diumumkan ke publik. Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.A. (Dewan Pembina ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Afwan</em>, Ustadz. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> kalau nepotisme tidak menggunakan uang? Apa itu juga haram?</p>
<p><em>Ari (arhy**@***.com)</em><br />
<span id="more-4912"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Jika perusahaan tersebut adalah milik perseorangan, nepotisme itu boleh, asalkan lowongan tersebut tidak diumumkan ke publik.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.A. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bagaimana</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/nepotisme-dalam-perusahaan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Tenang tanpa Utang dengan Pesugihan Al-Fatihah, Benarkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hidup-tenang-tanpa-utang-dengan-pesugihan-al-fatihah-benarkah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hidup-tenang-tanpa-utang-dengan-pesugihan-al-fatihah-benarkah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 03:44:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[al fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukum pesugihan fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[benarkah ada pesugihan]]></category>
		<category><![CDATA[benarkah pesugihan al fatihah terbukti ?]]></category>
		<category><![CDATA[berpuasa hidup tenang]]></category>
		<category><![CDATA[cara puasa alfatihah]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa punya hutang]]></category>
		<category><![CDATA[hidup tenang]]></category>
		<category><![CDATA[hidup tenang tanpa hutang]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[kasiat alfatihah]]></category>
		<category><![CDATA[kekayaan dan hutang]]></category>
		<category><![CDATA[ketika hutang menjerat ku]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[mengenai pesugihan alfatihah]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan tentang pesugihan al fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren konsultasi doa uang dunia dan akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[pesgihan al]]></category>
		<category><![CDATA[pesugihan]]></category>
		<category><![CDATA[pesugihan alfa€tihah]]></category>
		<category><![CDATA[pesugihan alfatihah]]></category>
		<category><![CDATA[pesugihan di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[pesugihan doa kekayaan]]></category>
		<category><![CDATA[pesugihanalfatihah]]></category>
		<category><![CDATA[pesugihanalfatihah.com]]></category>
		<category><![CDATA[sampaikan kapan hutang ku ini]]></category>
		<category><![CDATA[siwak]]></category>
		<category><![CDATA[solusi hidup tenang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4865</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya mau bertanya, Ustadz. Kami mempunyai banyak utang, mungkin hampir 100 juta, karena setiap kami mau usaha, kami berutang, tetapi usaha tidak ada yang jalan. Sekarang, suami tidak punya penghasilan tetap. Waktu saya buka internet, saya membaca ada pesugihan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya mau bertanya, Ustadz. Kami mempunyai banyak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/utang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utang">utang</a>, mungkin hampir 100 juta, karena setiap kami mau usaha, kami berutang, tetapi usaha tidak ada yang jalan. Sekarang, suami tidak punya penghasilan tetap. Waktu saya buka internet, saya membaca ada <em><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pesugihan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pesugihan">pesugihan</a> Al-Fatihah</em>. Di situ dijelaskan: kalau beramal 1.000.000 maka akan mendapat sampai 500 juta, dalam tempo 3 hari. Di situ juga menggunakan ayat-ayat dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sumpah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sumpah">sumpah</a> menggunakan nama Allah. Apakah dosa jika saya mempercayai dan melakukannya? Saya ingin sekali <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hidup-tenang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hidup tenang">hidup tenang</a> tanpa beban utang yang begitu menjerat. Mohon solusinya!</p>
<p><em>NN (**@***.com)</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Cerita yang Ibu sampaikan itu bukan solusi. Itu justru akan menjadi beban berat bagi kehidupan Ibu, dunia-akhirat. Buang jauh-jauh angan &#8220;punya uang banyak&#8221; yang sifatnya instan. Jika semua orang bisa melakukan hal semacam ini, pemerintah dan masyarakat tidak perlu susah payah mengentaskan kemiskinan rakyat Indonesia.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada kita sebuah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>, ketika kita terlilit utang,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك</strong></p>
<p>(<em><strong>Allahummak fini bihalalika &#8216;an haramika, waghnini bifadhlika &#8216;amman siwaka</strong></em>).</p>
<p>Artinya, &#8220;<em>Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Keutamaan doa tersebut</strong>:<br />
Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu &#8216;anhu, beliau mengatakan,</p>
<blockquote><p>&#8220;Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajariku sebuah doa. Andaikan aku memiliki utang (<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/emas" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with emas">emas</a>) sebesar Gunung Tsabir, Allah pasti akan memudahkanku untuk melunasinya.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kemudian, beliau membaca doa di atas. (HR. Turmudzi; dinilai sahih oleh Al-Albani)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>sampaikan kapan hutang ku ini</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>pesgihan al</strong>, <strong>kasiat alfatihah</strong>, <strong>pesugihan di bulan puasa</strong>, <strong>pertanyaan tentang pesugihan al fatihah</strong>, <strong>mengajar</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>pesugihan alfatihah</strong>, <strong>pesugihanalfatihah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hidup-tenang-tanpa-utang-dengan-pesugihan-al-fatihah-benarkah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/295 queries in 0.078 seconds using disk: basic
Object Caching 27774/28269 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-05 07:10:49 -->
