<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Hukum Perdagangan</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/fikih/muamalah/hukum-perdagangan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 02:42:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Jual Beli Dua Harga</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-dua-harga</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-dua-harga#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 23:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9417</guid>
		<description><![CDATA[Jual Beli Dua Harga Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya membuka kios pupuk. Modal untuk 1 karung pupuk adalah Rp70.000,00 s.d. Rp115.000,00. Dalam 1 karung pupuk (dengan pembelian kontan) saya mendapatkan keuntungan Rp1.500 ,00 s.d. Rp6.500,00. Mayoritas transaksi dalam perdagangan kami ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">Jual Beli</a> Dua Harga</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</em><br />
Saya membuka kios pupuk. Modal untuk 1 karung pupuk adalah Rp70.000,00 s.d. Rp115.000,00. Dalam 1 karung pupuk (dengan pembelian kontan) saya mendapatkan keuntungan Rp1.500 ,00 s.d. Rp6.500,00. Mayoritas transaksi dalam perdagangan kami adalah sistem kontan. Namun, ada sebagian kecil petani menginginkan sistem bayar panen, artinya mereka ambil dahulu pupuknya kemudian bayarnya setelah mereka panen (tempo 3-4 bulan(.</p>
<p>Yang ingin saya tanyakan, bolehkah bagi saya untuk menerapkan sistem <strong>dua harga</strong>??? Misalnya , bila bayar panen (tempo) harga sekian, yang tentu saja harga tempo lebih besar daripada harga kontan, karena bila kami menerapkan harga sama maka (dalam perhitungan bisnis) jelas kami merugi. Mohon solusi dan jawabnnya, Ustad..<br />
<em>Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarakatuh.</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<h3>Jual Beli Dua Harga</h3>
<p><em>Alhamdulillah, shalawat</em> dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluaga, dan sahabatnya.</p>
<p>Bapak Tri Widodo, semoga Allah memberkahi usaha bapak dan menjaga bapak dan keluarga bapak.<br />
Selanjutnya, perlu diketahui bahwa para ulama berbeda pendapat tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> menjual barang dengan dua harga, kontan sekian kredit sekian. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat dalam masalah ini ialah pendapat yang membolehkannya. Kesimpulan ini berdasarkan kepada beberapa alasan berikut:</p>
<p><strong>Dalil pertama:</strong> Keumuman firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”</em> (Q.S. al-Baqoroh: 282)</p>
<p>Ayat ini adalah salah satu dalil yang menghalalkan adanya praktik <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hutang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hutang">hutang</a> piutang, sedangkan akad kredit adalah salah satu bentuk htuang, maka dengan keumuman ayat ini menjadi dasar dibolehkannya perkreditan.</p>
<p><strong>Dalil kedua: </strong>Hadits riwayat Aisyah,</p>
<p>“Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> membeli sebagian bahan makanan dari seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a> dengan pembayaran terhutang, dan beliau menggadaikan perisai beliau kepadanya.” (HR. Al-Bukhori: 1990 dan MuslimL 1603)</p>
<p>Pada hadits ini, Nabi <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> membeli bahan makanan dengan pembayaran terhutang, dan sebagai jaminannya, beliau menggadaikan perisainya. Dengan demikian, hadits ini menjadi dasar dibolehkannya jual beli dengan pembayaran terhutang, dan perkreditan adalah salah satu bentuk jual beli dengan pembayaran terhutang.</p>
<p><strong>Dalil ketiga: </strong>hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash: “Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> memerintahku untuk mempersiapkan suatu pasukan, sedangkan kami tidak memiliki tunggangan dengan pembayaran tertunda hingga datang saatnya penarikan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a>. Maka Abdullah bin Amr (bin al-Ash) pun atas perintah Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> membeli setiap ekor unta dengan harga dua ekor unta yang akan dibayarkan ketika telah tiba saatnya pernaikan zakat.” (HR. Ahmad 2/171, Abu Dawud: 3359, dan dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam<em> Irwa’ul Ghalil</em>: 1258)</p>
<p>Pada kisah ini, Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>memerintahkan kepada sahabat Abdulloh bin Amr bin al-Ash untuk membeli setiap ekor unta dengan harga dua ekor unta secara pembayaran terhutang. Sudah dapat ditebak bahwa beliau tidak akan rela denagn harga yang begitu mahal (200%) bila beliau membeli dengan pembayaran tunai. Dengan demikian, pada kisah ini, telah terjadi penambahan harga barnag karena pembayaran yang tertunda (terhutang).</p>
<p><strong>Dalil keempat:</strong> Keumuman hadits salam (jual beli dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/menjual-kartu-natal" target="_blank">pemesanan</a>)<br />
Di antara bentuk perniagaan yang diizinkan syari’at adalah dengan cara salam, yaitu memesan barang dengan pembayaran di muka (kontan). Transaksi ini adalah kebalikan dari transaksi kredit. Ketika menjelaskan hukum transaksi ini, Nabi <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> tidak mensyaratkan agar harga barang tidak berubah dari pembelian dengan penyerahan barang langsung. Nabi <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> hanya bersabda,</p>
<p><em>“Barang siapa yang membeli dengan cara memesan (salam), hendaknya ia memesan dalam takaran yang jelas, timbangan yang jelas, dan hingga batas waktu yang jelas pula.”</em> (HR. Al-Bukhari: 2124 dan Muslim 1604).</p>
<p>Pemahaman dari empat dalil di atas dan juga lainnya selaras dengan kaidah dalam ilmu fiqih, yang menyatakan bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah halal. Berdasarkan kaidah ini, para ulama menyatakan bahwa selama tidak ada dalil yang shohih dan tega yang mengharamkan suatu bentuk perniagaan, maka perniagaan tersebut boleh atau halal dilakukan.</p>
<p>Bila Anda bertanya perihal sabda Nabi <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> berikut,</p>
<p><em>“Barang siapa yang menjual dua penjualan dalam satu penjualan maka ia hanya dibenarkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> harga yang paling kecil kalau tidak maka ia telah teratuh ke dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>.”</em> (HR. Abu Dawud: 3463).</p>
<p>Maka ketahuilah bahwa penafsirannya yang paling tepat ialah apa yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dan lainnya, bahwa makna hadits ini adalah larangan berjual beli dengan cara inah. Jual beli inah ialah seseorang menjual kepada orang lain suatu barang dengan pembayaran dihutang, kemudian seusai barang diserahkan, segera penjual membeli kembali barang tersebut dengan pembayaran kontan dan harga yang lebih murah.</p>
<p><em>Wallahu Ta’ala A’lam.</em></p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al-Furqon</em> Edisi 04 Tahun ke-10 Muharram 1431 H/2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-dua-harga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beli Murah Jual Mahal</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/beli-murah-jual-mahal</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/beli-murah-jual-mahal#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 01:38:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9523</guid>
		<description><![CDATA[Beli Murah Jual Mahal Assalamu’alaikum. Ustadz, kalau saya membeli padi pada saat panen (harganya murah) untuk dijual lagi di kemudian hari setelah harganya stabil (harga naik kembali), apakah boleh? Apa dalilnya? Jazakallahu khoiron Jawaban: Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Beli Murah Jual Mahal</h2>
<p><em>Assalamu’alaikum</em>. Ustadz, kalau saya membeli padi pada saat panen (harganya murah) untuk dijual lagi di kemudian hari setelah harganya stabil (harga naik kembali), apakah boleh? Apa dalilnya? <em>Jazakallahu khoiron</em><br />
<span id="more-9523"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa’alaikumussalam</em>. Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.</p>
<h3>Beli Murah Jual Mahal</h3>
<p>Membeli barang di saat harga barang murah atau di musim panen adalah suatu hal yang biasa dilakukan oleh para pedagang. Setelah membeli biasanya mereka tidak segera menjualnya, namun menanti saat yang tepat untuk melakukan penjualan, yaitu ketika permintaan pasar terhadap barang telah membaik, dan harga pun meningkat. Dengan cara ini pedagang bisa memperoleh keuntungan. Bahkan inilah inti dan ruh dari perdagangan, membeli dengan harga murah dan menjual dengan harga mahal.</p>
<p>Bila <a href="http://konsultasisyariah.com/kredit-mobil-dengan-asuransi" target="_blank">pedagang</a> dilarang membeli dan menyimpan barang di musim panen, maka pelarangan ini tentu menyusahkan masyarakat. Betapa tidak, pada musim panen mayoritas petani menjual hasil tanamnya guna memenuhi kebutuhan mereka. Bila pedagang dilarang membeli kecuali dalam jumlah yang harus ia jual kembali, tentu larangan tersebut menyusahkan kedua belah pihak. Akibatnya, pedagang tidak sudi membeli kecuali dalam jumlah kecil; dan bila ini dibiarkan, maka harga barang hasil panen akan semakin hancur. Para petani terus melakukan penjualan, namun pedagang menahan diri dari pembelian. Dan bila kondisi ini telah terjadi, tentu pihak yang dirugikan pertama kali ialah para petani.</p>
<p>Adapun larangan untuk memonopoli atau yang disebut <em>ihtikar</em>, maka maksudnya ialah membeli barang dengan tujuan untuk mempengaruhi pergerakan harga pasar. Dengan demikian, ia membeli dalam jumlah yang (sangat) besar, sehingga mengakibatkan stok barang di pasaran menipis atau langka. Akibatnya masyarakat terpaksa memperebutkan barang tersebut dengan cara menaikkan penawaran.</p>
<p>Upaya mempengaruhi harga pasar, dengan pembelian besar-besaran kemudian menimbunnya semacam inilah yang disebut dengan <em>ihtikar</em> atau monopoli yang diharamkan.</p>
<p>Ibnul Qoyyim berkata, “Hadis yang berbunyi ‘Tidaklah ada orang yang menimbun melainkan ia telah berbuat dosa.’ Penimbunan adalah perbuatan yang dapat menyusahkan masyarakat luas. Karenanya, Anda tidak dilarang untuk menimbun barang yang tidak menyusahkan masyarakat.” (I’lamul Muwaqqi’in, 3:183)</p>
<p>Al-Qadhi  Iyadh menegaskan, “Alasan larangan menimbun ialah guna menghindarkan segala hal yang menyusahkan umat Islam secara luas. Segala yang menyusahkan mereka wajib dicegah. Dengan demikian bila pembelian suatu barang di suatu negeri menyebabkan harga barang menjadi mahal, dan menyusahkan masyarakat luas, maka itu wajib dicegah demi menjaga kepentingan umat Islam. Pendek kata, kaidah menghindarkan segala hal yang menyusahkan adalah pedoman dalam masalah ini (penimbunan barang).” (Ikmalul Mu’lin, 5:161)</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun ke-10 Jumadal Ula 1432 H/April 2011<br />
<strong>(Penyunting bahasa: Tim Konsultasi Syariah)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/beli-murah-jual-mahal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manfaat Agunan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/manfaat-agunan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/manfaat-agunan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 00:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9525</guid>
		<description><![CDATA[Memanfaatkan Agunan Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Ustadz, ada seseorang menggadaikan sawah kepada si A dengan jaminan sawah, dengan perjanjian bahwa si A akan memanfaatkan sawah yang digadaikan tersebut lalu sebagian persennya diberikan kepada si penghutang. Semua itu dengan persetujuan si penghutang. Saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Memanfaatkan Agunan</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Assalamu’alaikum. Ustadz, ada seseorang menggadaikan sawah kepada si A dengan jaminan sawah, dengan perjanjian bahwa si A akan memanfaatkan sawah yang digadaikan tersebut lalu sebagian persennya diberikan kepada si penghutang. Semua itu dengan persetujuan si penghutang. Saya mohon jawaban Ustadz, karena ada yang mengatakan sistem tersebut adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>, padahal model seperti itu sudah marak di daerah kami.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Amin.<br />
Praktik penggadaian sawah sebagaimana yang dijelaskan dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-batasan-aurat-wanita-di-depan-wanita-yang-lain">pertanyaan</a> ini adalah riba. Karena kreditor (pemilik uang) dengan jelas mendapatkan keuntungan dari piutang yang diberikan. Padahal para ulama telah menegaskan bahwa:</p>
<p class="arab">كَلَّ قَرْ ضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا</p>
<p>“<em>Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan/keuntungan, maka itu adalah riba</em>.”</p>
<p>Adapun hadis, “Hewan tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkah (pakan) yang diberikan, yaitu apabila hewan tunggangan itu digadaikan. Air susu hasil perahan juga boleh diminum sebagai imbalan atas nafkah yang diberikan, yaitu apabila ia hewan tunggangan itu digadaikan. Dan yang menunggangi dan meminum susunya wajib memberikan nafkah/pakan (kepada hewan yang digadaikan).” (HR. Bukhari, no.2512)</p>
<p>Tampak dengan jelas bahwa izin untuk menunggangi dan meminum air susu adalah imbalan dari pakan yang diberikan oleh kreditor kepada hewan yang digadaikan. Dengan demikian, jelaslah bahwa barang gadai yang tidak membutuhkan kepada pakan, semisal ladang atau sawah, tidak boleh dimanfaatkan oleh kreditor. Dan bila kreditor tetap memaksakan kehendaknya maka ia telah memakan riba.</p>
<p>Adapun alasan bahwa debitor (penghutang) rela dengan praktik semacam ini, maka ketahuilah bahwa kerelaannya itu haram alias tidak ada artinya. Alasan rela dalam kondisi semacam ini sama halnya dengan rela para pelacur dan para penjual atau pembeli barang-barang haram. Kerelaan mereka tidak ada artinya dalam kasus-kasus yang bertentangan dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> syariat. Bahkan bila mereka tidak rela, maka yang terjadi ialah pemaksaan kehendak atau perampokan, dan bukan riba.<br />
<em>Wallahu Ta’ala bish showab</em></p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al-Furqon</em> Edisi 10 Tahun ke-10 Jumadal Ula 1432 H/April 2011<br />
Punying bahasa: Tim Konsultasi Syariah</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pictures</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/manfaat-agunan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartu Kredit = Transaksi Riba</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/membantu-membayarkan-uang-kredit</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/membantu-membayarkan-uang-kredit#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 06:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8715</guid>
		<description><![CDATA[Membantu Membayarkan Uang Kredit Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Afwan sebelumnya, saya ingin bertanya dan mohon penjelasan yang lebih jelas mengenai hadis hukum jual beli kredit. Dari sahabat Jabir radhiallahu‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati pemakan riba ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Membantu Membayarkan Uang Kredit</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em>.<br />
<em>Afwan</em> sebelumnya, saya ingin bertanya dan mohon penjelasan yang lebih jelas mengenai hadis <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> <strong>kredit</strong>.<br />
Dari sahabat Jabir <em>radhiallahu‘anhu</em>, ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah melaknati pemakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> (rentenir), orang yang memberikan atau membayar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda, “Mereka itu sama dalam hal dosanya.” (HR. Muslim).<br />
Abang saya membeli motor kredit, karena abang saya di luar kota, jadi setiap bulan uang kreditnya ditransfer dan minta tolong saya untuk membayarkannya ke pihak <em>leasing</em>.<br />
Apakah saya termasuk salah satu di antara yang disebutkan seperti hadis di atas?<br />
Terimakasih sebelumnya</p>
<p>Dari: <em>Muhammad Fatwa (uwXXXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8715"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>Riba dalam jual beli kredit adalah pada denda jika telat mencicilnya, sedangkan transaksi jual belinya adalah jual beli yang haram karena menjual barang yang belum dimiliki. Ringkasnya, pada dasarnya Anda tidak boleh membantu kakak Anda dalam masalah ini namun <em>insya Allah</em>, pada dasarnya perbuatan Anda tidak masuk dalam hadis yang Anda kutip.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar M.A. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait kredit:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-kredit-membunuh-semut-posisi-tangan-atau-kaki-ketika-hendak-sujud">Hukum Kredit Sebuah Negara</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/utang-emas">Utang Emas</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-koperasi-simpan-pinjam">Hukum Koperasi Simpan-Pinjam</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/penjualan-saham-modal-usaha">Penjualan Saham dan Modal Usaha</a>.</p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-saham">Jual Beli Saham</a>.</p>
<p>6. <a href="http://konsultasisyariah.com/kartu-untuk-mempermudah-transaksi-bisnis">Kartu Kredit Mempermudah Transaksi</a>.</p>
<p>7. <a href="http://konsultasisyariah.com/membeli-perumahan-dengan-kredit">Membeli Perumahan Dengan Kredit</a>.</p>
<p>8. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-jual-beli-kredit" target="_blank">Hukum Jual Beli Kredit</a>.</p>
<p>9. <a href="http://konsultasisyariah.com/kredit-mobil-dengan-asuransi" target="_blank">Kredit Mobil Dengan Asuransi</a>.</p>
<p>10. <a href="http://konsultasisyariah.com/rekayasa-kredit" target="_blank">Hukum Rekasa Kredit</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/membantu-membayarkan-uang-kredit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jual Beli Trayek</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-trayek</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-trayek#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 23:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7384</guid>
		<description><![CDATA[Jual Beli Trayek Bagaimana hukum jual beli trayek layanan? Jawaban: Makna jual beli ialah pertukaran harta dengan harta disertai maksud untuk memilikinya, bagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh at-Tuwajiri dalam kitabnya, Mukhtashar Fiqhul Islami 1/695. Jual beli trayek layanan, apabila ia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">Jual Beli</a> Trayek</h2>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> jual beli trayek layanan?<br />
<span id="more-7384"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Makna jual beli ialah pertukaran harta dengan harta disertai maksud untuk memilikinya, bagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh at-Tuwajiri dalam kitabnya, <em>Mukhtashar Fiqhul Islami</em> 1/695.</p>
<p>Jual beli trayek layanan, apabila ia yang dimaksudkan ialah kontrak kerja dengan pemerintah, seperti biro transportas dengan jangka waktu yang telah ditentukan, misalnya jalur angkutan umum, tentu perizinan trayek kadangkala lebih mahal daripada harga kendaraan, maka ada dua hal yang harus diperhatikan bagi yang ingin menjualnya: (1) Syarat jual beli yang sah menurut syari’at Islam. (2) Persyaratan perizinan yang dikeluarkan oleh waliyul amri (pemerintah) kepada pihak pengusaha.</p>
<p>Adapun syarat sahnya jual beli menurut syari’at Islam sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwajiri ialah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Saling ridho antara penjual dan pembeli kecuali orang yang dipaksa karena sebab yang dibenarkan oleh syara&#8217;.</li>
<li>Yang melakukan akad hendaknya orang yang dibenarkan menurut syar’i, yaitu merdeka, mukallaf, dan memahami maslahat dan madharat dalam jual beli.</li>
<li>Barang yang dijual jelas manfaatnya, tidak boleh menjual yang tidak ada manfaatnya seperti nyamuk, dan bukan pula barang yang ada manfaatnya akan tetapi haram dijual seperti khomr dan babi.</li>
<li>Barang yang dijual miliknya sendiri atau yang diberi wewenang untuk menjualkannya pada waktu akad.</li>
<li>Barang yang dijual dapur dilihat atau diketahui sifatnya oleh kedua belah pihak.</li>
<li>Harga diketahui dengan pasti.</li>
<li>Barang yang dijual dipastikan dapat diambil atau dimiliki, tidak boleh membeli ikan yang ada di laut atau burung yang terbang dan semisalnya karena ada unsur penipuan (Lihat <em>Mukhtashar Fiqhul Islami</em> 1/696)</li>
</ol>
<p>Adapun persyaratan dan perizinan yang dikeluarkan oleh waliyul amri kepada pengusaha, hal ini dibolehkan asal syarat tersebut tidak melanggar hukum Allah.</p>
<p>Dari kakek Abdullah bin Amr bin Auf, sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu alaihi wa sall</em>am bersabda,</p>
<p><em>“Dan orang Islam tergantung persyaratannya kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau </em>menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmidzi: 1272, dishahihkan oleh al-Albani: 1890, lihat <em>Mukhtashar Irwa’ul Ghalil</em> 1/374)</p>
<p>Abdullah bin Umar dan ayahnya berkata: “Setiap syarat yang menyelisihi kitab Allah, maka syarat tersebut batil sekalipun seratus syarat.” (Shahih Bukhari 2/756, Muslim 2/1142)</p>
<p>Perlu dimaklumi bahwa trayek layanan yang diatur oleh pemerintah harus ditaati, selagi tidak melanggar ketentuan syara. Dan telah kita maklumi bahwa perizinan untuk trayek sungguh sangat bermanfaat dan membawa maslahat bagi umat. Jika tidak, tentu situasi tidak aman, manusia akan bertengkar, karena masing-masing ingin menang sendiri. Adapun dalil wajib taat kepada waliyul amri ada di dalam Alquran, hadis, dan ijma.</p>
<p><strong>Kesimpulannya:</strong> menjual trayek layanan dibolehkan apabila persyaratan sah jual beli dibenarkan oleh syara’ sebagaimana ketentuan di atas, dan diizinkan oleh pemerintah untuk menjual kepada pihak lain.</p>
<p>Di antara salah satu syuyukh di Ma’had Ibnu Utsaimin Qashim-Arab Saudi berkata, “Jual beli trayek layanan tergantung peraturan pemerintah setempat.”</p>
<p><em>Wallahu A’lam bish-shawab.</em></p>
<p>Dijawab oleh: Abu Muhammad Ainur Rofiq Ghufron</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Majalah Al-Furqon</em>, Edisi 7 Tahun 6 1428 H. (Dipublikasikan ulang oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow"><strong>www.KonsultasiSyariah.com</strong></a>)</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-trayek/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keuntungan Maksimal dalam Jual Beli</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keuntungan-bisnis</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keuntungan-bisnis#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jul 2011 01:58:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[apakah diperbolehkan untung 100%]]></category>
		<category><![CDATA[berapa persen keuntungan dalam niaga dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[berapa sih keuntungan jualan busana]]></category>
		<category><![CDATA[berapa untung jual baju]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[hadis keuntungan niaga]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan bisnis toko obat]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan jual beli dinae]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan jual beli kambing]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan jual pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan jualan dalam syariat islam]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan maksimal]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maksimal keuntungan dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[maksimal keuntungan dalam menjual dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[maksimum keuntungan menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat jual beli dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[niaga]]></category>
		<category><![CDATA[persen keuntungan bisnis baju]]></category>
		<category><![CDATA[persentase keuntungan dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[profit dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[prosentase keuntungan jual beli dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[rokok elektrik batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5672</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Saat ini, saya sedang menjalankan usaha jual beli barang elektronik. Barang tersebut saya dapatkan dari toko di luar kota, dan saya menjual kembali barang tersebut kepada yang berminat. Yang saya ingin tanyakan adalah, berapa persen keuntungan maksimal ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. Saat ini, saya sedang menjalankan usaha <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> barang elektronik. Barang tersebut saya dapatkan dari toko di luar kota, dan saya menjual kembali barang tersebut kepada yang berminat. Yang saya ingin tanyakan adalah, berapa persen <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/keuntungan-maksimal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with keuntungan maksimal">keuntungan maksimal</a> yang bisa saya ambil sesuai dengan syariah Islam? Demikian pertanyaan saya.<em> Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><em>Yhenny Ammi (yhenny**@yahoo.***)</em><br />
<span id="more-5672"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p>Tidak ada batasan keuntungan maksimal yang ditetapkan syariah. Pedagang bisa memasang keuntungan sendiri sesuai keinginannya, selama tidak mengganggu perekonomian masyarakat. Bahkan, penjual boleh menaikkan harga barang 100%.</p>
<p><em>Dalilnya:</em></p>
<p>Pada suatu hari, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberi amanah berupa uang satu dinar kepada <em>shahabat</em> Urwah bin Abil Jaid Al-Bariqi <em>radhiallahu ‘anhu</em>, untuk membeli seekor kambing kurban. Mendapat amanah tersebut, Urwah <em>radhiallahu ‘anhu</em> segera pergi ke pasar guna membeli seekor kambing kurban. Sesampai di pasar, beliau membeli dua ekor kambing dengan harga satu dinar. Sebelum pulang, beliau menjual kembali salah satunya seharga satu dinar. Ketika ia datang menghadap Nabi dengan membawa uang satu dinar dan seekor kambing, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendoakannya agar mendapatkan keberkahan dalam setiap perniagaannya. (Kisah ini ada dalam <em>Shahih Bukhari</em>)</p>
<p>Menaikkan harga barang yang bisa merusak perekonomian masyarakat, misalnya: menimbun barang kebutuhan pokok, kemudian baru menjualnya ketika permintaan naik, dengan harga yang sangat tinggi. Praktik semacam ini dilarang dan pelakunya wajib menjual barang sesuai harga yang wajar.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>niaga</strong>, <strong>keuntungan jualan dalam syariat islam</strong>, <strong>berapa persen keuntungan dalam niaga dalam islam</strong>, <strong>keuntungan bisnis toko obat</strong>, <strong>keuntungan maksimal</strong>, <strong>manfaat jual beli dalam islam</strong>, <strong>jual beli</strong>, <strong>keuntungan jual beli</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keuntungan-bisnis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Mengajukan Pinjaman Selain Bank?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-mengajukan-pinjaman-selain-bank</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-mengajukan-pinjaman-selain-bank#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 04:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana mengajukan pinjaman dari bank]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bank syariah]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengajukan pinjaman pegawai untuk bank]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kredit di bank]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pinjaman bank dlm islam]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[pinjaman bank menurut isalam]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[transfer bank]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5087</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Jika ternyata semua bank masih dikategorikan haram, lalu apabila memang kita sangat membutuhkan pinjaman, maka menurut Islam yang paling aman kita ajukan ke mana? Irawati (ulya**@***.com) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussaalam. Saudarai Irawati, untuk memenuhi pembiayaian, banyak alternatif yang dapat ditempuh: Jual ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika ternyata semua <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> masih dikategorikan haram, lalu apabila memang kita sangat membutuhkan pinjaman, maka menurut Islam yang paling aman kita ajukan ke mana?</p>
<p><em>Irawati (ulya**@***.com)</em><br />
<span id="more-5087"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussaalam.</em></p>
<p>Saudarai Irawati, untuk memenuhi pembiayaian, banyak alternatif yang dapat ditempuh:</p>
<ol>
<li> Jual aset. Dari situ, hasil penjualan, maka bisa digunakan membiayai kebutuhan.</li>
<li>Pinjam dari saudara atau teman, yang tentunya tanpa bunga atau denda (tanpa ada agunan).</li>
<li>Sama dengan opsi kedua, namun dengan tambahan agunan, untuk meyakinkan pihak pemberi piutang tentang keseriusan Saudari dalam melunasi utang.</li>
<li>Beli barang dengan pembayaran terutang, dengan tanpa bunga, penalti, atau denda bila telat bayar.</li>
<li>Bersabar; perlu ditekankan: hendaknya Saudari membedakaan antara kebutuhan yang didasari oleh kepuasan, gengsi, atau mengikuti tren dengan kebutuhan yang benar-benar kebutuhan (primer). Sering kali, kita menganggap suatu kebutuhan sebagai kebutuhan mendesak, padahal tidak demikian.</li>
</ol>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bank</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>transfer bank</strong>, <strong>hukum pinjaman bank dlm islam</strong>, <strong>bagaimana mengajukan pinjaman dari bank</strong>, <strong>sabar</strong>, <strong>hukum kredit di bank</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>pinjaman bank menurut isalam</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-mengajukan-pinjaman-selain-bank/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Menyucikan Harta?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-menyucikan-harta</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-menyucikan-harta#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 23:04:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[background koperasi simpan pinjam]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana menyucikan gaji dari bank]]></category>
		<category><![CDATA[cadangan untuk hutang piutang dalam syariat islam]]></category>
		<category><![CDATA[harta dari bunga halal tidak]]></category>
		<category><![CDATA[hukum koperasi simpan pinjam]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mensucikan harta]]></category>
		<category><![CDATA[menyucikan harta]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni surga]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5068</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Sekarang ini, banyak sekali &#8220;koperasi simpan pinjam&#8221; atau pegadaian yang menerapkan bunga pada pembayarannya. Yang mau saya tanyakan, apakah hasil dari itu halal? Seumpama haram/dilarang oleh agama, bagaimana cara mensucikan harta hasil dari transaksi tersebut? Nico Hermawan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Sekarang ini, banyak sekali<strong> &#8220;koperasi simpan pinjam&#8221;</strong> atau pegadaian yang menerapkan bunga pada pembayarannya. Yang mau saya tanyakan, apakah hasil dari itu halal? Seumpama haram/dilarang oleh agama, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> cara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mensucikan-harta" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mensucikan harta">mensucikan harta</a> hasil dari transaksi tersebut?</p>
<p><em>Nico Hermawan (**cokelat@***.com) </em><br />
<span id="more-5068"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p>Saudara Nico Hermawan, semoga Allah ta&#8217;ala merahmati Saudara dan memberkati keluarga dan usaha Saudara.</p>
<p>Simpan-pinjam yang banyak beredar di masyarakat, dalam syariat dikategorikan ke dalam akad utang-piutang. Dengan demikian, keuntungan atau pertambahan apa saja yang didapatkan oleh kreditur (pemberi piutang) adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>, sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, &#8220;Setiap piutang yang mendatangkan keuntungan adalah riba.&#8221;</p>
<p>Untuk membersihkannnya, Saudara cukup memungut pokok simpanan Saudara, tanpa ada lebih atau kurang sedikit pun. Hal ini berdasarkan ayat 279, surat Al-Baqarah (yang artinya), &#8220;<em>BIla kalian telah bertobat maka pungutlah pokok harta piutangmu, sehingga kalian tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi.</em>&#8221;</p>
<p>Adapun bila bunga telah terlanjur ditambahkan pada rekening atau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tabungan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tabungan">tabungan</a> Saudara, maka bunga tersebut dapat disalurkan pada kegiatan-kegiatan sosial, semisal disalurkan ke fakir miskin, yatim piatu yang membutuhkan, untuk pembangunan jalan, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sekolah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sekolah">sekolah</a> islam, jembatan, atau fasilitas umum lainnya.</p>
<p><strong>Namun, ingat</strong>: ketika menyalurkan dana tersebut hendaknya tidak dalam rangka bersedekah, tetapi dalam rangka melepasakan diri dari/membuang harta haram, sehingga tidak ada niatan mengharapkan pahala dari penyaluran tersebut, selain pahala berlepas diri dari harta haram.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>riba</strong>, <strong>mensucikan harta</strong>, <strong>cadangan untuk hutang piutang dalam syariat islam</strong>, <strong>harta dari bunga halal tidak</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>menyucikan harta</strong>, <strong>background koperasi simpan pinjam</strong>, <strong>bagaimana menyucikan gaji dari bank</strong>, <strong>hukum koperasi simpan pinjam</strong>, <strong>sekolah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-menyucikan-harta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bermain Saham Syariah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-bermain-saham-syariah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-bermain-saham-syariah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 01:16:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[apakah hukum main saham syariah]]></category>
		<category><![CDATA[bermain saham syariah]]></category>
		<category><![CDATA[broker arifin badri]]></category>
		<category><![CDATA[cara bermain saham]]></category>
		<category><![CDATA[cara bermain saham yg benar]]></category>
		<category><![CDATA[cara main saham syariah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum main saham]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[panduan main saham]]></category>
		<category><![CDATA[persaratan bermain saham]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[syarat saham syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4947</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah diperbolehkan bermain saham syariah? Apa dasarnya? Ari ganda (ari**@***.com) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam. Saudara Ari Ganda, semoga Allah merahmati Saudara dan juga keluarga. Saham adalah surat bukti kepemilikan atas suatu perusahaan atau sebagian darinya; tak ubahnya surat sertifikat tanah, kendaraan, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah diperbolehkan bermain <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/saham" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with saham">saham</a> syariah? Apa dasarnya?</p>
<p><em>Ari ganda (ari**@***.com)</em><br />
<span id="more-4947"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam</em>. Saudara Ari Ganda, semoga Allah merahmati Saudara dan juga keluarga.</p>
<p>Saham adalah surat bukti kepemilikan atas suatu perusahaan atau sebagian darinya; tak ubahnya surat sertifikat tanah, kendaraan, atau lainnya. Karena itu, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> memperjual-belikannya mengikuti bidang usaha perusahaan yang menerbitkan saham tersebut, yaitu wajib memenuhi syarat:</p>
<ol>
<li> Perusahaan tersebut bergerak dalam usaha yang halal.</li>
<li>Pengelolaan keuangannya benar, tidak menggunakan pembiayaan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> atau menerapkan persyaratan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> (berbunga bila telat bayar) ketika memberikan pinjaman sebagian dananya.</li>
<li>Pembeliannya dilakukan dengan cara-cara yang benar, yaitu dari pemilik atau yang mewakilinya, bukan dari penjual saham yang tidak memiliki saham (<em>broker</em>), yang kadang kala hanya meminjam saham orang lain untuk dijual dalam tempo singkat, untuk kemudian dibeli kembali dan dikembalikan kepada pemilik saham yang sah.</li>
<li>Tidak menjual kembali saham yang telah dibeli kecuali bila proses serah terima saham dari penjual pertama benar-benar telah tuntas.</li>
</ol>
<p>Bila keempat persyaratan ini terpenuhi,-<em>-insya Allah</em>&#8211;jual-beli saham itu adalah halal, walau pagi hari dibeli dan sore dijual. <em>Wallahu ta&#8217;ala a&#8217;alam bish-shawab</em>.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>apakah hukum main saham syariah</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>cara bermain saham yg benar</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>persaratan bermain saham</strong>, <strong>cara main saham syariah</strong>, <strong>broker arifin badri</strong>, <strong>hukum main saham</strong>, <strong>bermain saham syariah</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-bermain-saham-syariah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nepotisme dalam Perusahaan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/nepotisme-dalam-perusahaan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/nepotisme-dalam-perusahaan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 01:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4912</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Afwan, Ustadz. Bagaimana kalau nepotisme tidak menggunakan uang? Apa itu juga haram? Ari (arhy**@***.com) Jawaban: Jika perusahaan tersebut adalah milik perseorangan, nepotisme itu boleh, asalkan lowongan tersebut tidak diumumkan ke publik. Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.A. (Dewan Pembina ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Afwan</em>, Ustadz. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> kalau nepotisme tidak menggunakan uang? Apa itu juga haram?</p>
<p><em>Ari (arhy**@***.com)</em><br />
<span id="more-4912"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Jika perusahaan tersebut adalah milik perseorangan, nepotisme itu boleh, asalkan lowongan tersebut tidak diumumkan ke publik.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.A. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>bagaimana</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/nepotisme-dalam-perusahaan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makanan Hasil Riba</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/makanan-hasil-riba</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/makanan-hasil-riba#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 00:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[apa dampak nya memakan gaji dari riba]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[gaji koperasi ribawi]]></category>
		<category><![CDATA[gaji pegawai koperasi ribawi]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[koperasi makanan halal]]></category>
		<category><![CDATA[lepas dari riba]]></category>
		<category><![CDATA[puasa makan lepas tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4012</guid>
		<description><![CDATA[From: wirda &#60;bunda_wXXX@yahoo.co.id&#62; Pertanyaan: teman saya bekerja di koperasi konvensional yg nota bene transaksinya riba.teman sy ini sering mengirimkan sy makanan,apaboleh sy makan?kalo dtolak rasanya kok gak tega y?niatnya kan baik Jawaban: Bismillah. Jika sudah diketahui dengan jelas bahwa koperasi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">From: wirda &lt;bunda_wXXX@yahoo.co.id&gt;</div>
<div></div>
<div><strong>Pertanyaan:</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">teman saya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bekerja" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bekerja">bekerja</a> di koperasi konvensional yg nota bene transaksinya</div>
<div id="_mcePaste"><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>.teman sy ini sering mengirimkan sy makanan,apaboleh sy makan?kalo</div>
<div id="_mcePaste">dtolak rasanya kok gak tega y?niatnya kan baik</div>
<div><span id="more-4012"></span></div>
<div><strong>Jawaban:</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste"><em>Bismillah.</em></div>
<div><em><br />
</em></div>
<div id="_mcePaste">Jika sudah diketahui dengan jelas bahwa koperasi itu bekerja dalam lingkungan riba, maka gaji yang didapatkan tidak mungkin bisa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/lepas-dari-riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with lepas dari riba">lepas dari riba</a>. Adapun makanan yang diberikan, statusnya halal bagi ibu. Karena Nabi <em>shallallahu alaihi wa sallam</em> pernah mendapat jamuan makan dari orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a>, padahal mereka juga sering makan harta riba.</div>
<div id="_mcePaste"><em>Allahu a&#8217;lam.</em></div>
<div><em><br />
</em></div>
<div id="_mcePaste">Dijawab oleh Dewan Pembina Konsultasi Syariah</div>
<div id="_mcePaste">Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></div>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>gaji pegawai koperasi ribawi</strong>, <strong>bekerja</strong>, <strong>puasa makan lepas tarawih</strong>, <strong>apa dampak nya memakan gaji dari riba</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>yahudi</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>gaji koperasi ribawi</strong>, <strong>koperasi makanan halal</strong>, <strong>riba</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/makanan-hasil-riba/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penjualan Saham/Modal Usaha</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/penjualan-saham-modal-usaha</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/penjualan-saham-modal-usaha#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Mar 2011 02:49:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[saham penjualan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3995</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Saya sedang menjalankan suatu bisnis, yaitu jual beli kredit dengan rekan kerja saya. Bisnis ini baru saya mulai awal bulan Maret ini. Saya sudah mengeluarkan uang lumayan besar untuk memulai bisnis ini. Di awal saya memulai bisnis, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p>Saya sedang menjalankan suatu bisnis, yaitu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> kredit dengan rekan kerja saya. Bisnis ini baru saya mulai awal bulan Maret ini. Saya sudah mengeluarkan uang lumayan besar untuk memulai bisnis ini. Di awal saya memulai bisnis, saya tidak ada kebutuhan mendesak terhadap uang saya, sehingga saya berani memulai. Namun beberapa hari kemudian, saya mendapati ada kebutuhan yang saya mendesak terhadap uang tersebut, namun memang beginilah risiko orang berbisnis.</p>
<p>Nah, untuk menghindari utang, kemudian saya menawarkan kepada teman saya untuk membeli &#8220;<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/saham" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with saham">saham</a>/modal&#8221; saya, terlebih lagi teman saya tersebut ingin ikut mengembangkan bisnis ini. Apakah penjualan &#8220;<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/saham" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with saham">saham</a>/modal&#8221; saya ini dibolehkan dalam Islam (dalam hal ini bukan digunakan untuk mengembangkan bisnis, tapi untuk kepentingan pribadi)? Kemudian <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> dengan perhitungan biaya operasional yang sudah saya keluarkan sebelum kerja sama dengan teman saya ini, apakah dibebankan kepada saya sendiri atau juga menjadi beban teman saya?</p>
<p><em>Jazakallah khairan</em> atas jawabannya, Ustadz. <em>Wassalamu&#8217; alaikum</em>.<br />
<span id="more-3995"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</em>.</p>
<p><em>Alhamdulillah</em>, salawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.</p>
<p>Saudara Pandu Wijaya, semoga usaha yang Anda rintis menjadi berhasil dan berkah. Menjual sebagian saham usaha Anda adalah suatu hal yang diperbolehkan, dan caranya adalah: Anda tentukan (sepakati dengan calon pembeli) jumlah nilai aset dan seluruh kekayaan unit usaha yang telah Anda rintis, lalu dari nilai yang disepakati, Anda bisa menentukan harga jual saham yang Anda tawarkan kepada kawan Anda.</p>
<p>Adapun biaya operasional yang sudah Anda keluarkan selama ini, maka itu bisa diakomodir pada nilai jual unit usaha yang Anda rintis. Asalkan semua dijelaskan dengan transparan kepada calon pembeli,<em> insya Allah</em>, tidak masalah.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri</strong><br />
<strong> Artikel <a href="www.PengusahaMuslim.com" target="_self">www.PengusahaMuslim.com</a></strong><br />
<strong> Dipublikasikan ulang oleh <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bank</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>saham penjualan</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>jual beli</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/penjualan-saham-modal-usaha/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Jual Beli Benda-benda Antik?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-benda-antik</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-benda-antik#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 01:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum jual beli barang yang ada jinnya]]></category>
		<category><![CDATA[hukum jualbeli barang antik]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[jualan pakaian haram manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3573</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah hukum jual beli barang antik dan perhiasan termasuk perkara mubadzir (diharamkan)? Seperti pohon-pohon antik, permata langka, dan benda bersejarah yang harganya selangit. Jawaban: Secara umum, pertanyaan Anda telah dijawab oleh Komisi Fatwa dan Riset Ilmiah KSA, yang diketuai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> barang antik dan perhiasan termasuk perkara mubadzir (diharamkan)? Seperti pohon-pohon antik, permata langka, dan benda bersejarah yang harganya selangit.<br />
<span id="more-3573"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Secara umum, pertanyaan Anda telah dijawab oleh Komisi Fatwa dan Riset Ilmiah KSA, yang diketuai oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz, tatkala ada pertanyaan yang mengatakan, &#8220;Bila Anda berkenan, mohon sebutkan kepada saya nama-nama sepuluh barang yang boleh diperjualbelikan.&#8221;</p>
<p>Inilah jawabannya, &#8220;Selama benda itu tidak tercampur dengan benda yang haram maka boleh untuk diperjualbelikan, berdasarkan firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَ حَرَّمَ الرِّبَا</p>
<p>&#8216;.<em>..Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>&#8230;</em>.&#8217; (QS. Al-Baqarah: 275)</p>
<p>Jika mengandung kombinasi yang haram, maka haram diperjualbelikan karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللهَ إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ</p>
<p>&#8216;Sesungguhnya, jika Allah mengharamkan sesuatu, Dia juga mengharamkan harganya (perdagangannya).&#8217;</p>
<p>Adapun benda-benda yang mubah (boleh) diperjualbelikan, seperti: daging unta, sapi, kambing, burung yang boleh dimakan jika sembelih secara syar&#8217;i, burung merpati, dan ayam. Demikian pula besi, tembaga, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/emas" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with emas">emas</a>, perak, kayu/ pohon, biji-bijian yang mubah, dan pakaian yang mubah serta lain-lainnya yang tidak terbatas hanya sepeluh macam, bahkan lebih banyak dari itu.&#8221;(<em>Fatawa Lajnah Daimah</em>: 13/28)</p>
<p>Sumber: Majalah Mawaddah, Edisi 11, Tahun ke-1, Jumadil Ula&#8211;Jumadil Tsaniyah 1429 H (Juni 2008)<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>riba</strong>, <strong>hukum jualbeli barang antik</strong>, <strong>jual beli</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hukum jual beli barang yang ada jinnya</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>jualan pakaian haram manhaj</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-benda-antik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Bekerja untuk Perusahaan yang Belum Jelas Statusnya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-bekerja-untuk-perusahaan-yang-belum-jelas-statusnya</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-bekerja-untuk-perusahaan-yang-belum-jelas-statusnya#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Dec 2010 03:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[asuransi syariah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana hukum menjual minuman pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bank riba]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja di pabrik miras hukum]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkan berjualan makanan selama puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum bekerja syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kerje kedai makan bulan puase]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3480</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah membuat papan nama untuk perusahaan, namun tidak ditanya dahulu bidang usaha perusahaan tersebut. Apakah menjual barang yang halal ataukah yang haram. Karena saya beranggapan, bertanya tentang bidang usaha di luar wewenangku. Terkadang, sebagian rumah makan memesan saya untuk ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah membuat papan nama untuk perusahaan, namun tidak ditanya dahulu bidang usaha perusahaan tersebut. Apakah menjual barang yang halal ataukah yang haram. Karena saya beranggapan, bertanya tentang bidang usaha di luar wewenangku. Terkadang, sebagian rumah makan memesan saya untuk dibuatkan papan nama. Bisa jadi warung ini menjual makanan haram. Namun saya tidak menanyakannya, meskipun tidak ada informasi apakah dia menjual minuman keras ataukah tidak.<br />
<span id="more-3480"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Membuat papan nama untuk toko atau perusahaan, hukumnya kembali pada keadaan perusahaan tersebut dan bidang usahanya. Jika lingkungan di perusahaan tersebut tidak dikenal sebagai tempat yang jelek atau perbuatan menyimpang lainnya, maka ini dibolehkan. Sebaliknya, jika tempat tersebut telah dikenal sebagai tempat yang jelek, seperti tempat judi, tempat maksiat, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bioskop" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bioskop">bioskop</a>, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> ribawi, maka sama sekali tidak boleh ikut bergabung untuk segala bidang usaha perusahaan ini. Baik membuatkan kartu nama, papan nama atau yang lainnya.</p>
<p>Demikian pula rumah makan yang telah dikenal menjual babi, atau banyak kesaksian bahwa warung ini menjual minuman keras, maka sama sekali tidak boleh membuatkan pesenan mereka. Namun, jika warung makan tersebut menjual makanan halal sekaligus yang haram, maka di sini ada ketidakjelasan (<em>syubhat</em>). Sebagai kehati-hatian, sebaiknya ditinggalkan.</p>
<p>Adapun perusahaan yang  telah dikenal bebas dari yang haram atau keadaannya tidak diketahui, maka tidak mengapa membuatkan pesanan barang untuk perusahaan ini. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>Sumber: <em>Fatwa Syabakah Islamiyah</em> di bawah bimbingan Dr. Abdullah Faqih, nomor fatwa: 7094<br />
Artikel <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>riba</strong>, <strong>bioskop</strong>, <strong>bank riba</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>bekerja di pabrik miras hukum</strong>, <strong>bolehkan berjualan makanan selama puasa</strong>, <strong>bagaimana hukum menjual minuman pada saat puasa</strong>, <strong>hukum bekerja syubhat</strong>, <strong>asuransi syariah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-bekerja-untuk-perusahaan-yang-belum-jelas-statusnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Jual Beli di Teras Masjid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-jual-beli-teras-masjid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-jual-beli-teras-masjid#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Nov 2010 23:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berniaga di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>
		<category><![CDATA[zakat mal]]></category>
		<category><![CDATA[zikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3237</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bismillah. Assalamu’alaikum. Ustadz, apakah teras luar masjid termasuk masjid yang kita dilarang berjualan di situ? Dan apa batasan suatu itu termasuk bagian dari masjid? Tolong dijawab, ustadz, karena di tempat ana terjadi konflik tentang masalah tersebut. Jazakallahu khairan. Jawaban: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Bismillah. Assalamu’alaikum</em>. Ustadz, apakah teras luar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">masjid</a> termasuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">masjid</a> yang kita dilarang berjualan di situ? Dan apa batasan suatu itu termasuk bagian dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">masjid</a>? Tolong dijawab, ustadz, karena di tempat ana terjadi konflik tentang masalah tersebut. Jazakallahu khairan.<br />
<span id="more-3237"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p><em>Alhamdulillah. Shalawat</em> dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa masjid didirikan untuk menegakkan peribadahan kepada Allah <em>Ta’ala</em>; ber-<em>tasbih</em>, mendirikan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>, membaca kalam <em>Ilahi,</em> dan berdoa kepada-Nya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ  رِجَالُُ لاَّتُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَبَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَآءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَاْلأَبْصَار</p>
<p>“<em>Di rumah-rumah yang di sana Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, di sana ber-tasbih (menyucikan)-Nya pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a>. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hari dan penglihatan menjadi goncang</em>.” (QS. an-Nur: 36-37).</p>
<p>Pada ayat ini dijelaskan bahwa masjid adalah tempat untuk menegakkan ibadah kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Sebagaimana dijelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar menegakkan peribadatan kepada-Nya tidaklah menjadi terlalaikan atau tersibukkan dari peribatannya hanya karena mengurusi perniagaan dan pekerjaannya. Apalagi sampai menjadikan masjid sebagai tempat untuk berniaga.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجِلَّ وَتاصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, masjid-masjid ini hanyalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, shalat, dan bacaan al-Qur’an.</em>” (HR. Muslim, no. 285).</p>
<p>Demikianlah karakter orang-orang yang memakmurkan rumah-rumah Allah. Tidak heran bila Allah <em>Ta’ala</em> memuji orang-orang yang menggunakan masjid sesuai fungsinya dengan berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ فَعَسَى أُوْلاَئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ</p>
<p>“<em>Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk</em>.” (QS. at-Taubah: 18).</p>
<p>Sebagai konsekuensi dari ini, maka Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melarang kita dari berniaga di dalam masjid. Beliau bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيْعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِيْ الْمَسْجِدِ فَقُولُوا: لاَ أَرْبَحَ اللهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُم مَنْ يُنْشِدُ فِيْهِ ضَالَةً فَقُولُوا: لاَ رَدَّ الههُ عَلَيْكَ</p>
<p>“<em>Bila engkau mendapatkan orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah kepadanya, ‘Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perniagaanmu.’ Dan bila engkau menyaksikan orang yang mengumumkan kehilangan barang di dalam masjid, maka katakanlah kepadanya, ‘Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang.</em>’” (HR. at-Tirmidzi, no. 1321, dan oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits shahih dalam <em>Irwa’ul Ghalil</em>, 5/134, no. 1295).</p>
<p>Dahulu, Atha’ bin Yasar bila menjumpai orang yang hendak berjualan di dalam masjid, beliau menghardiknya dengan berkata, “Hendaknya engkau pergi ke pasar dunia, sedangkan ini adalah pasar akhirat.” (HR. Imam Malik dalam<em> al-Muwaththa’</em>, 2/244, no. 601).</p>
<p>Berdasarkan ini semua, banyak ulama yang mengharamkan jual-beli di dalam masjid.</p>
<p>Adapun teras masjid yang ada di sekeliling masjid, bila berada dalam satu kompleks (areal) dengan masjid –karena masuk dalam batas pagar masjid–, maka tidak diragukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> masjid berlaku padanya. Hal ini karena para ulama telah menggariskan satu kaidah yang menyatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الْحَرِيْمُ لَهُ حُكْمُ مَا هُوَ حَرِيْمٌ لَهُ</p>
<p>“<em>Sekelilingnya sesuatu memliki hukum yang sama dengan hukum yang berlaku pada sesuatu tersebut.</em>” (<em>Al-Asybah wan Nazha’ir</em>: 240, as-Suyuthi).</p>
<p>Kaidah ini disarikan oleh para ulama ahli fikih dari sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya yang halal itu nyata, dan yang haram pun nyata. Sedangkan antara keduanya (halal dan haram) terdapat hal-hal yang diragukan (syubhat) yang tidak diketahui kebanyakan orang. Maka barangsiapa menghindari syubhat, berarti ia telah menjaga keutuhan agama dan kehormatannya. Sedangkan barangsiapa yang terjatuh ke dalam hal-hal syubhat, niscaya ia terjatuh ke dalam hal haram. Perumpamaannya bagaikan seorang penggembala yang menggembala (gembalaannya) di sekitar wilayah terlarang (hutan lindung), tak lama lagi gembalaannya akan memasuki wilayah itu. Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki wilayah terlarang. Ketahuilah, bahwa wilayah terlarang Allah adalah hal-hal yang Dia haramkan.</em>” (HR. al-Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599).</p>
<p>Akan tetapi, bila teras tersebut berada di luar pagar masjid, atau terpisahkan dari masjid oleh jalan atau gang, maka hukum masjid tidak berlaku padanya. Demikianlah yang difatwakan oleh Komite Tetap Fatwa Kerajaan Arab Saudi yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, pada Fatwa no. 11967. <em>Wallahu Ta’ala A’lam bishshawab.</em></p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A dalam Majalah Al Furqon, Edisi 2 tahun ke-10, 1431 H/ 2010 M<br />
Artikel <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self">www.KonsultasiSyariah.com</a> dengan pengubahan tata bahasa seperlunya oleh redaksi.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>masjid</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>guru</strong>, <strong>zikir</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>hukum berniaga di bulan ramadhan</strong>, <strong>jual beli</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>shalat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-jual-beli-teras-masjid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jual Beli Saham</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-saham</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-saham#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 00:55:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana membeli saham perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan yang menjual saham]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2246</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukum syariat yang lurus ini tentang jual beli saham perusahaan, misalnya perusahaan angkutan umum, perusahaan semen Qasim, perusahaan ikan As-Saudiah dan perusahaan-perusahaan lainnya yang telah dibuka oleh negara guna kemanfaatan bangsa dan rakyat? Dan apa hukumnya memperjualbelikan saham-saham ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> syariat yang lurus ini tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/saham" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with saham">saham</a> perusahaan, misalnya perusahaan angkutan umum, perusahaan semen Qasim, perusahaan ikan As-Saudiah dan perusahaan-perusahaan lainnya yang telah dibuka oleh negara guna kemanfaatan bangsa dan rakyat? Dan apa hukumnya memperjualbelikan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/saham" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with saham">saham</a>-saham tersebut secara kontan? Dan bila dibolehkan, maka apa hukumnya memperjualbelikannya dengan cara kredit, misalnya seseorang ingin membeli seribu (1.000) lembar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/saham" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with saham">saham</a> dengan harga SR 160.000,- (seratus enam puluh ribu reyal), dan ia membayar SR 100.000,- secara kontan, sedangkan sisanya, yaitu SR 60.000,- (enam puluh ribu reyal)  akan dibayar dengan cicilan setiap bulan, selama satu tahun, apakah transaksi ini dibolehkan?</p>
<p><span id="more-2246"></span><strong>Jawaban: </strong></p>
<p>Bila saham-saham tersebut tidak mewakili uang tunai, baik secara keseluruhan atau kebanyakannya, akan tetapi mewakili aset berupa tanah, atau kendaraan atau properti dan yang serupa, dan aset tersebut telah diketahui oleh masing-masing penjual dan pembeli, maka boleh untuk memperjualbelikannya, baik dengan pembayaran kontan atau dihutang dengan sekali pembayaran atau dicicil dalam beberapa pembayaran, hal ini berdasarkan keumuman dalil-dalil yang membolehkan jual beli.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya (<em>Majmu&#8217; Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah</em> 13/321, fatwa no. 5149).</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Tidak asing lagi bagi Anda, bahwa umat Islam pada masa sekarang ini telah banyak tergoda oleh harta kekayaan, terutama di negeri ini -semoga Allah senantiasa menjaganya dari segala petaka- dimana perusahaan-perusahaan umum/publik yang menjual sahamnya telah banyak. Demikian juga, orang yang ikut andil menanamkan modal padanya banyak pula. Dan kebanyakan mereka tidak mengetahui, apakah menanamkan modal padanya haram atau halal. Oleh karenanya, kami mohon fatwa dari Anda, semoga Allah membalas kebaikan Anda. Sedikit memberikan info, bahwa perusahaan-perusahaan ini ada yang bergerak dalam bidang produksi, layanan umum, perniagaan, misalnya: perusahaan transportasi, atau perusahaan semen dan lainnya. Akan tetapi, perusahaan-perusahaan tersebut menyimpan hasil keuntungannya di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a>-bank, dan mereka mendapatkan bunga darinya, dan bunga tersebut dianggap sebagai bagian dari keuntungan, yang kemudian pada gilirannya mereka membaginya kepada para nasabah (pemilik saham). Kami mengalami kebingungan dalam hal ini, karenanya kami mengharapkan fatwa dari Anda. Semoga Allah membalas jasa Anda dengan kebaikan.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><strong>Pertama: </strong>Menabungkan uang di bank dengan bunga adalah haram hukumnya.</p>
<p><strong>Kedua: </strong>Perusahaan-perusahaan yang menabungkan uangnya di bank dengan bunga, tidak dibolehkan bagi orang yang mengetahuinya untuk ikut andil menanam saham padanya.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya (<em>Majmu&#8217; Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah</em>, 13/409, fatwa no. 7074).</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah boleh ikut serta menanam modal pada perusahaan-perusahaan dan badan usaha yang menjual sahamnya secara terbuka ke masyarakat, sedangkan kami merasa curiga bahwa perusahaan-perusahaan atau badan usaha-badan usaha tersebut melakukan praktik <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> dalam berbagai transaksinya, sedangkan kami belum mampu untuk membuktikannya? Perlu diketahui, bahwa kami juga tidak mampu untuk membuktikannya, kami hanya mendengar hal itu dari pembicaraan orang lain.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Perusahaan atau badan usaha yang tidak menjalankan praktik riba, tidak juga hal haram lainnya, boleh untuk ikut serta menanamkan saham padanya. Adapun perusahaan yang menjalankan praktik riba atau suatu transaksi haram lainnya, maka haram untuk ikut andil menanam saham padanya. Dan bila seorang muslim meragukan perihal suatu perusahaan, maka yang lebih selamat ialah dengan tidak ikut menanam saham padanya, sebagai penerapan terhadap hadits berikut,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">دع ما يريبك إلى ما لا يريبك</p>
<p><em>&#8220;Tinggalkanlah suatu yang meragukanmu menuju kepada hal yang tidak meragukanmu&#8221;</em>.( Hadits shahih riwayat Imam Ahmad, An-Nasa&#8217;i, At-Tirmidzy, dan lain-lain). Dan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada hadits lainnya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">من اتقى الشُّبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه</p>
<p><em>&#8220;Barang siapa menghindari syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.&#8221;</em>( HR. Al-Bukhary dan Muslim).</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya (<em>Majmu&#8217; Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah </em>14/310, fatwa no. 6823).</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa hukumnya menanam saham di perusahaan dan bank? Dan apakah boleh bagi seorang penanam modal pada suatu perusahaan atau bank untuk menjual saham miliknya seusai ia menanamkannya di kantor-kantor penjualan dan pembelian saham, yang amat dimungkinkan harga jualnya melebihi harga saham pada saat ia menanamkannya? Dan apa hukum keuntungan yang didapat oleh pemegang saham pada setiap tahun dari keseluruhan saham yang ia miliki?</p>
<p><strong>Jawaban: </strong></p>
<p>Menanamkan modal di bank atau perusahaan yang bertransaksi dengan cara riba tidak boleh, dan bila penanam modal hendak melepaskan dirinya dari keikutsertaannya dalam perusahaan riba tersebut, maka hendaknya ia melelang sahamnya dengan harga yang berlaku di pasar modal, kemudian dari hasil penjualannya ia hanya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> modal asalnya, sedangkan sisanya ia infakkan di berbagai jalan kebaikan. Tidak halal baginya untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> sedikitpun dari bunga atau keuntungan sahamnya.</p>
<p>Adapun menanamkan modal di perusahaan yang tidak menjalankan transaksi riba, maka keuntungan yang ia peroleh adalah halal.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya (<em>Majmu&#8217; Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah</em>, 13/508, fatwa no. 8996).</p>
<p><em>Fatwa al-Majma&#8217; al-Fiqhy al-Islamy</em> (Badan Fiqih Islam) di bawah Organisasi Rabithah Alam Islami.</p>
<p>Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang tiada nabi setelahnya, yaitu pemimpin kita sekaligus nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga, dan sahabatnya.</p>
<p>Amma ba&#8217;du:</p>
<p>Sesungguhnya anggota rapat Al-Majma&#8217; al-Fiqhy di bawah Rabithah Alam Islami pada rapatnya ke-14, yang diadakan di kota Makah al-Mukarramah, dan dimulai dari hari Sabtu tanggal 20 Sya&#8217;ban 1415 H yang bertepatan dengan tanggal 21 Januari 1995 M, telah membahas permasalahan ini (jual beli saham perusahaan-pen) dan kemudian menghasilkan keputusan berikut:</p>
<ol>
<li>Karena hukum dasar dalam perniagaan adalam halal dan mubah, maka mendirikan suatu perusahaan publik yang bertujuan dan bergerak dalam hal yang mubah adalah dibolehkan menurut syariat.</li>
<li>Tidak diperselisihkan akan keharaman ikut serta menanam saham pada perusahaan-perusahaan yang tujuan utamanya diharamkan, misalnya bergerak dalam transaksi riba, atau memproduksi barang-barang haram, atau memperdagangkannya.</li>
<li>Tidak dibolehkan bagi seorang muslim untuk membeli saham perusahaan atau badan usaha yang pada sebagian usahanya menjalankan praktik riba, sedangkan ia (pembeli) mengetahui akan hal itu.</li>
<li>Bila ada seseorang yang terlanjur membeli saham suatu perusahaan, sedangkan ia tidak mengetahui bahwa perusahaan tersebut menjalankan transaksi riba, lalu dikemudian hari ia mengetahui hal tersebut, maka ia wajib untuk keluar dari perusahaan tersebut.</li>
</ol>
<p>Keharaman membeli saham perusahaan tersebut telah jelas, berdasarkan keumuman dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah yang mengharamkan riba. Hal ini dikarenakan, membeli saham perusahaan yang menjalankan transaksi riba sedangkan pembelinya telah mengetahui akan hal itu, berarti pembeli telah ikut andil dalam transaksi riba. Yang demikian itu karena saham merupakan bagian dari modal perusahaan, sehingga pemiliknya ikut memiliki sebagian dari aset perusahaan. Sehingga seluruh harta yang dipiutangkan oleh perusahaan dengan mewajibkan bunga atau yang harta dihutang oleh perusahaan dengan ketentuan membayar bunga, maka pemilik saham telah memiliki bagian dan andil darinya. Hal ini disebabkan orang-orang (pelaksana perusahaan-pen) yang menghutangkan atau menerima piutang dengan ketentuan membayar bunga, sebenarnya adalah perwakilan dari pemilik saham, dan mewakilkan seseorang untuk melakukan pekerjaan yang diharamkan hukumnya tidak boleh.</p>
<p>Semoga shalawat dan salam yang berlimpah senantiasa dikaruniakan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta Alam (Kumpulan Keputusan-keputusan Al-Majma&#8217; al-Fiqhy al-Islamy, yang bermarkaskan di kota Makkah Al Mukarramah, hal. 297, rapat ke-14, keputusan no. 4).</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri<br />
Artikel: <a title="www.PengusahaMuslim.com" href="http://www.PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a><br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mimpi</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>jual beli</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>bagaimana membeli saham perusahaan</strong>, <strong>bank</strong>, <strong>hutang</strong>, <strong>mengambil</strong>, <strong>perusahaan yang menjual saham</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/jual-beli-saham/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beli Emas dengan Cek, Bolehkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/beli-emas-dengan-cek</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/beli-emas-dengan-cek#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 00:52:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bank riba]]></category>
		<category><![CDATA[beli emas hutang hukum]]></category>
		<category><![CDATA[halalkah gadai emas]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum beli emas 30%]]></category>
		<category><![CDATA[hukum membeli cek]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2222</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah boleh dalam pembelian atau penjualan menggunakan cek yang dapat dicairkan di salah satu bank? Perlu diketahui bahwa nominasi yang tertera dalam cek benar-benar dapat dicairkan dengan utuh di bank yang dimaksud, terlebih-lebih ia (pembeli) tidak dapat membawa uang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah boleh dalam pembelian atau penjualan menggunakan cek yang dapat dicairkan di salah satu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a>? Perlu diketahui bahwa nominasi yang tertera dalam cek benar-benar dapat dicairkan dengan utuh di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> yang dimaksud, terlebih-lebih ia (pembeli) tidak dapat membawa uang tunai tatkala ia hendak membeli, tidak juga penjual dapat menerimanya dari pembeli bila ia membeli beberapa jumlah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/emas" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with emas">emas</a> batangan, terlebih-lebih kadangkala jumlah uangnya mencapai jutaan reyal, sehingga bila ia membawanya, ia khawatir akan keselamatan diri atau uangnya.</p>
<p><span id="more-2222"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak mengapa hal yang demikian, karena jual-beli dengan cek, hukumnya sama dengan menerima uang kontan, bila cek tersebut telah disahkan oleh pihak bank.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya (<em>Majmu&#8217; Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah</em>, 13/493, fatwa no. 9564).</p>
<p>Adapun selain keenam komoditi tersebut, maka diperselisihkan oleh para ulama, apakah dapat diberlakukan padanya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> perniagaan sebagaimana halnya keenam komoditi di atas atau tidak.</p>
<p>Para ulama ahlu zhahir (Ibnu Hazem dan lainnya) berpendapat, bahwa hukum riba perniagaan hanya berlaku pada keenam komoditi yang disebutkan pada hadits di atas, adapun selainnya, maka tidak berlaku padanya hukum riba perniagaan. Berdasarkan ini, mereka berpendapat bahwa selain keenam komoditi tersebut boleh untuk dibarterkan dengan cara apapun, baik dengan pembayaran kontan atau dihutang, dengan melebihkan salah satu barang dalam hal timbangan atau dengan timbangan yang sama (baca <em>al-Muhalla</em> oleh Ibnu Hazem, 8/468).</p>
<p>Adapun jumhur ulama, di antaranya ulama keempat madzhab berpendapat bahwa hukum riba perniagaan berlaku pula pada komoditi lain yang semakna dengan keenam komoditi tersebut.</p>
<p>Walau demikian, mereka berbeda pendapat tentang makna penyatu antara keenam komoditi tersebut dengan komoditi lainnya:</p>
<p><strong>Pendapat Pertama: </strong>Makna (alasan) berlakunya riba pada emas dan perak ialah karena keduanya ditimbang, sedangkan alasan pada keempat komoditi lainnya ialah karena ditakar. Dengan demikian, setiap komoditi yang diperjual belikan dengan di timbang atau ditakar, maka berlaku padanya hukum riba perniagaan. Pendapat ini merupakan madzhab ulama Hanafi dan Hambaly (baca <em>al-Mabsuth</em> oleh <em>as-Sarakhsi</em>, 12/113 dan<em> Bada&#8217;ius Shanaa&#8217;i</em> oleh al-Kasany 4/401, <em>al-Mugjhny</em> oleh Ibnu Qudamah).</p>
<p><strong>Pendapat Kedua: </strong>Alasan berlakunya riba perniagaan pada emas dan perak ialah karena keduanya adalah alat untuk berjual-beli, sedangkan pada keempat komoditi lainnya ialah karena komoditi tersebut merupakan makanan pokok yang dapat disimpan. Dengan demikian, setiap yang menjadi alat untuk berjual-beli, baik itu terbuat dari emas dan perak atau selainnya, maka berlaku padanya hukum riba perniagaan. Demikian juga halnya setiap makanan pokok yang dapat disimpan, seperti beras, jagung, sagu dan lainnya berlaku padanya hukum riba perniagaan, dengan dasar qiyas kepada keenam komoditi yang disebutkan dalam hadits di atas. Ini adalah pendapat ulama madzhab Maliki (baca <em>al-Muqaddimat al-Mumahhidaat</em>, 2/13 dan<em> Bidayatul Mujtahid</em>, 7/182-183).</p>
<p><strong>Pendapat Ketiga: </strong>Alasan berlakunya riba pada emas dan perak, karena keduanya adalah alat untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a>, sedangkan pada keempat komoditi lainnya ialah karena kempat komoditi tersebut merupakan bahan makanan. Dengan demikian, setiap yang dimakan berlaku padanya hukum riba perniagaan, baik sebagai makanan pokok atau tidak. Dan ini adalah pendapat ulama madzhab Syafi&#8217;i dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal (baca<em> al-Bayan</em> oleh al-Umraany 5/163-164, <em>Raudhatut Thalibin</em> oleh an-Nawawi 3/98, <em>Mughnil Muhtaj </em>oleh as-Syarbini 2/22, <em>al-Mughny</em> oleh Ibnu Qudamah 6/56, dan <em>al-Inshaf </em>oleh al-Murdawi 12/15-16).</p>
<p><strong>Pendapat Keempat:</strong> Alasan berlakunya riba pada emas dan perak, karena keduanya adalah alat untuk jual beli, sedangkan pada keempat komoditi lainnya ialah karena kempat komoditi tersebut merupakan bahan makanan yang ditakar atau ditimbang. Dengan demikian, bahan makanan yang diperjualbelikan dengan cara dihitung tidak berlaku padanya hukum riba perniagaan. Dan ini merupakan pendapat ketiga yang diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hambal, dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (baca <em>al-Mughni</em> oleh Ibnu Qudamah 6/56, <em>asy-Syarhul Kabir</em> oleh Abul Faraj Ibnu Qudamah 12/12, dan <em>al-Fatawa al-Kubra</em> 5/391).</p>
<p><strong>Pendapat Kelima: </strong>Alasan berlakunya riba pada emas dan perak, karena keduanya adalah emas dan perak (alasan atau &#8216;illah semacam ini dinamakan dalam ilmu ushul fiqih dengan &#8216;illah qashirah, yaitu suatu makna yang hanya ada pada hal yang disebutkan dalam dalil saja, atau yang diistilahkan dalam pembahasan qiyas dengan sebutan al-Aslu), baik sebagai alat untuk jual beli (dengan demikian di-qiyas-kan dengan keduanya setiap alat jual beli yang dikenal luas oleh umat manusia, dan pada zaman sekarang, uang kertas dan logam merupakan pengganti dinar dan dirham, sehingga berlaku padanya hukum uang dinar dan dirham) atau tidak, sedangkan pada keempat komoditi lainnya ialah karena kempat komoditi tersebut merupakan bahan makanan yang ditakar atau ditimbang. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin (baca <em>asy-Syarhul Mumti&#8217;</em>, 8/390).</p>
<p>Kelima pendapat di atas memiliki alasan dan dalilnya masing-masing, dan para ulama ahli fiqih telah membahasnya dengan panjang lebar, lengkap dengan diskusi ilmiyyah yang telah mereka abadikan dalam karya-kaya mereka. Oleh karena itu pada kesempatan ini, saya tidak akan menyebutkan dalil masing-masng pendapat. Akan tetapi, saya hanya akan menyebutkan dalil pendapat yang saya anggap paling kuat, yaitu pendapat kelima.</p>
<p>Adapun dalil bahwa alasan berlakunya hukum riba perniagaan pada emas dan perak yaitu karena keduanya adalah emas dan perak, baik sebagai alat jual beli atau tidak, adalah hadits berikut:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال : اشتريت يوم خيبر قلادةً باثني عشر ديناراً، فيها ذهب وخرز، ففصلتها فوجدت فيها أكثر من اثني عشر دينارا، فذكرت ذلك للنَّبي صلّى الله عليه و سلّم فقال: لا تباع حتى تفصل.<br />
وفي رواية: ثم قال لهم رسول الله للنَّبي صلّى الله عليه و سلّم (الذهب بالذهب وزنا بوزن) رواه مسلم</p>
<p>Dari Fudhalah bin Ubaid <em>radhiallahu ‘anhu</em> ia mengisahkan, “Pada saat peperangan Khaibar, aku membeli kalung seharga dua belas dinar, padanya terdapat emas dan permata, kemudian aku pisahkan, ternyata aku berhasil mengumpulkan lebih dari dua belas dinar, maka aku sampaikan kejadian itu kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka beliau bersabda, ‘Kalung tersebut tidak boleh diperjualbelikan, hingga dipisah-pisahkan.’</p>
<p>Pada riwayat lain disebutkan: <em>“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, ‘Emas dengan emas harus sama dalam timbangannya.’&#8221;</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Pada kisah ini, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menetapkan hukum riba perniagaan pada penjualan emas yang ada pada kalung tersebut, padahal kalung adalah perhiasaan dan bukan alat untuk jual beli.</p>
<p>Pemahaman ini lebih dikuatkan oleh hadits,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال: (نهى رسول الله صلّى الله عليه و سلّم أن يباع الذهب بالذهب تبره وعينه إلا وزنا بوزن والفضة بالفضة تبرها وعينها إلا مثلا بمثل، وذكر الشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح كيلا بكيل فمن زاد أو إزداد فقد أربى. (رواه النَّسائي والطَّحاوي والدَّارقطني والبيهقي وصححه الألباني)</p>
<p><em>&#8220;Dari sahabat &#8216;Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu, ia menuturkan: &#8220;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penjualan emas dengan emas, baik berupa batangan atau berupa mata uang dinar melainkan dengan cara sama timbangannya, dan perak dengan perak, baik berupa batangan atau telah menjadi mata uang dirham melainkan dengan cara sama timbangannya. Dan beliau juga menyebutkan perihal penjualan gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam dengan cara takarannya sama. Barangsiapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba.&#8221;</em> (HR. An-Nasa&#8217;i, ath-Thahawi, ad-Daraquthny, al-Baihaqy dan dishahihkan oleh al-Albany).</p>
<p>Adapun dalil bahwa alasan berlakunya hukum riba perniagaan pada keempat komoditi lainnya yaitu karena sebagai bahan makanan yang ditimbang atau ditakar adalah penggabungan antara berbagai dalil yang berkaitan dengan permasalahan ini, di antaranya hadits &#8216;Ubadah bin ash-Shamit<em> radhiallahu ‘anhu</em> di atas dan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الطعام بالطعام  مثلا بمثل. رواه مسلم</p>
<p><em>&#8220;Bahan makanan (dijual) dengan bahan makanan, harus sama dengan sama.&#8221;</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Dan juga sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلا بمثل، سواء بسواء، يدا بيد، فمن زاد أو استزاد فقد أربى. رواه مسلم</p>
<p><em>&#8220;Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya&#8217;ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya&#8217;ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, (takaran / timbangannya) sama dengan sama dan (dibayar dengan) kontan. Barangsiapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba.&#8221;</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Dengan menggabungkan beberapa dalil di atas dan juga dalil-dalil lainnya yang tidak disebutkan disini, dapat disimpulkan bahwa keberadaan keempat komoditi tersebut sebagai bahan makanan yang ditakar atau ditimbang merupakan alasan berlakunya hukum riba perniagaan padanya. Dengan demikian, setiap bahan makanan yang diperjualbelikan dengan cara ditimbang atau ditakar, maka berlaku padanya hukum riba perniagaan. Wallahu a&#8217;lam bish-shawab (bagi yang ingin mengetahui keterangan ulama tentang permasalahan lebih lanjut, silahkan merujuk kitab-kitab fiqih pada setiap madzhab).</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA. –<em>hafizhahullah</em>-<br />
Artikel: www.pengusahamuslim.com<br />
Dipublikasikan oleh: KonsultasiSyariah.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum</strong>, <strong>shaf</strong>, <strong>bank riba</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>jual beli</strong>, <strong>hutang</strong>, <strong>bank</strong>, <strong>halalkah gadai emas</strong>, <strong>beli emas hutang hukum</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/beli-emas-dengan-cek/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Tukar Tambah Perhiasan Emas</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tukar-tambah-perhiasaan-emas</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tukar-tambah-perhiasaan-emas#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 23:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tukar duit]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tukar uang]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tukar uang lama dengan yang baru]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[penjual perhiasan]]></category>
		<category><![CDATA[penukaran uang baru halalkah]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2219</guid>
		<description><![CDATA[Berikut beberapa fatwa Komite Tetap untuk Riset Ilmiyyah dan Fatwa, Kerajaan Saudi Arabia seputar permasalahan riba perniagaan: Hukum Tukar Tambah Perhiasan Emas Pertanyaan: Inti pertanyaan: datang seseorang yang membawa perhiasan emas yang telah ia pakai kepada pengusaha emas (toko emas), ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut beberapa fatwa Komite Tetap untuk Riset Ilmiyyah dan Fatwa, Kerajaan Saudi Arabia seputar permasalahan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> perniagaan:</p>
<p><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Tukar Tambah Perhiasan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/emas" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with emas">Emas</a></strong></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Inti pertanyaan: datang seseorang yang membawa perhiasan emas yang  telah ia pakai kepada pengusaha emas (toko emas), kemudian pemilik toko  membeli perhiasan tersebut darinya, dan ia menyebutkan harga beli  perhiasan lama tersebut dengan uang riyal. Sebelum pemilik toko  menyerahkan uang pembayaran, di  tempat dan waktu yang sama, penjual  perhiasan bekas tersebut membeli dari toko emas itu perhiasan yang baru,  dan iapun disebutkan kepadanya harga perhiasan baru itu. Kemudian, ia  membayar perbedaan antara hasil penjualan perhiasan lama dari harga  perhiasan baru. Apakah perbuatan ini boleh ataukah pemilik toko harus  menyerahkan terlebih dahulu hasil penjualan emas lama dengan utuh kepada  pemiliknya, setelah itu pembeli membayarkan kepada pemilik toko harga  perhiasan baru yang ia beli, baik dari uang hasil penjualannya itu atau  lainnya?</p>
<p><span id="more-2219"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Pada keadaan semacam ini, pemilik toko harus terlebih dahulu  menyerahkan hasil penjualan emas lama, kemudian pemilik emas lama  tersebut setelah menerima hasil penjualannya bebas memilih: bila ia  suka, maka ia boleh membeli perhiasan emas baru dari toko tempat ia  menjual emas lamanya atau dari toko lainnya. Dan bila ia membeli dari  toko yang sama, ia membayarkan kembali uang hasil penjualannya atau uang  lainnya sebagai pembayaran emas baru yang ia beli. Yang demikian ini  bertujuan agar seorang muslim tidak terjatuh dalam riba yang telah  diharamkan, yaitu dengan menjual komoditi riba yang bermutu jelek dengan  barang serupa dengan mutu yang lebih baik dengan melebihkan salah  satunya. Ini semua berdasarkan hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim  ­-semoga Allah senantiasa merahmati keduanya-</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم استعمل رجلا على خيبر، فجاءه بتمر  جنيب، فقال له رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: (أكلُّ تمر خيبر هكذا؟)  فقال: لا، والله يا رسول الله، إنا لنأخذ الصاع من هذا، بالصاعين، والصاعين  بالثلاثة، فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: (فلا تفعل، بع الجمع-أي  التمر الذي أقل من ذلك- بالدراهم، ثم ابتع بالدراهم جنيبا.</p>
<p>&#8220;Bahwasannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah  menunjuk seseorang menjadi pegawai/perwakilan beliau di daerah Khaibar,  kemudian pada suatu saat ia datang menemui beliau dengan membawa kurma  dengan mutu terbaik, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bertanya kepadanya, ‘Apakah seluruh kurma daerah Khaibar demikian ini?’  Ia menjawab, ‘Tidak, sungguh demi Allah ya Rasulullah, sesungguhnya kami  membeli satu takar dari kurma ini  dengan dua takar (kurma lainnya),  dan dua takar dengan tiga takar, maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: &#8220;Janganlah engkau lakukan, juallah kurma yang biasa  -maksudnya kurma yang mutunya lebih rendah- dengan uang dirham, kemudian  belilah dengan uang dirham tersebut kurma dengan mutu terbaik  tersebut.&#8221;</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya Sumber:<em> (Majmu&#8217; Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah, 13/466, fatwa no. 1974)</em></p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri –hafizhahullah-<br />
Artikel: <a title="www.PengusahaMuslim.com " href="http://www.pengusahamuslim.com/" target="_blank">www.PengusahaMuslim.Com </a><br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>penjual perhiasan</strong>, <strong>hukum tukar uang lama dengan yang baru</strong>, <strong>hukum tukar duit</strong>, <strong>penukaran uang baru halalkah</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hukum tukar uang</strong>, <strong>hukum</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tukar-tambah-perhiasaan-emas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Riba Haram dalam Segala Keadaan, Benarkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/riba-haram</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/riba-haram#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 00:56:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA['kredit emas haram?']]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[cicil emas haram]]></category>
		<category><![CDATA[dihalalkan jual beli dan diharamkan riba]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan hadist riba]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni neraka]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2207</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah setiap riba dalam bentuk apapun pasti diharamkan secara mutlak atas kedua belah pihak (pemberi piutang/rentenir dan yang berhutang)? Ataukah hanya diharamkan atas rentenir saja, sedangkan yang berhutang terbebas? Dan bila yang berhutang tidak berdosa, apakah hal ini hanya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Apakah setiap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> dalam bentuk apapun pasti diharamkan secara mutlak atas kedua belah pihak (pemberi piutang/rentenir dan yang berhutang)? Ataukah hanya diharamkan atas rentenir saja, sedangkan yang berhutang terbebas? Dan bila yang berhutang tidak berdosa, apakah hal ini hanya bila sedang membutuhkan kepada piutang saja, terjepit dan kemiskinan, ataukah kebutuhan tidak menjadi persyaratan bagi bolehnya berhutang dengan membayar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>? Bila dibolehkan bagi orang yang membutuhkan/terjepit, apakah bagi orang yang kebutuhannya tidak terlalu mendesak boleh untuk berhutang dari bank yang bertransaksi dengan bunga/<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> 15 % setiap tahun –misalnya-. Dengan demikian, ia dapat berusaha dengan modal uang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hutang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hutang">hutang</a> tersebut, dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar dari bunga/<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> yang ditetapkan, misalnya keuntungannya sebesar 50 % setiap tahun. Dengan cara ini, berarti ia berhasil memperoleh hasil dari piutang tersebut sebesar 35 % yang merupakan sisa keuntungan dikurangi bunga yang ditetapkan, sebagaimana pada kasus yang dicontohkan, ataukah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a> tetap tidak boleh dengan cara apapun?</p>
<p><span id="more-2207"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><strong>Pertama:</strong> Riba diharamkan dalam keadaan apapun dan dalam bentuk apapun. Diharamkan atas pemberi piutang dan juga atas orang yang berhutang darinya dengan memberikan bunga, baik yang berhutang itu adalah orang miskin atau orang kaya. Masing-masing dari keduanya menanggung dosa, bahkan keduanya dilaknati (dikutuk). Dan setiap orang yang ikut membantu keduanya, dari penulisnya, saksinya juga dilaknati. Berdasarkan keumuman ayat-ayat dan hadits-hadits shahih yang-nyata mengharamkan riba. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ . يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ   البقرة: 275-276</p>
<p><em>&#8220;Orang-orang yang makan (<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a>) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> itu sama dengan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/penghuni-neraka" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with penghuni neraka">penghuni neraka</a>; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan melipat-gandakan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang senantiasa berbuat kekafiran / ingkar, dan selalu berbuat dosa.&#8221;</em> (Qs. al-Baqarah: 275-276).</p>
<p>Sahabat Ubadah bin Shamit <em>radhiallahu ‘anhu </em>meriwayatkan dari Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلا بمثل، سواء بسواء، يدا بيد، فمن زاد أو استزاد فقد أربى. رواه مسلم</p>
<p><em>&#8220;<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/emas" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with emas">Emas</a> dijual dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/emas" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with emas">emas</a>, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya&#8217;ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya&#8217;ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, (takaran / timbangannya) harus sama dan kontan. Barangsiapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba.&#8221;</em> (HR. Muslim dalam kitabnya as-Shahih).</p>
<p>Sahabat Abu Sa&#8217;id al-Khudri radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwasannya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لا تبيعوا الذهب بالذهب إلا مثلا بمثل، ولا تشفوا بعضها على بعض، ولا تبيعوا الورق بالورق إلا مثلا بمثل، ولا تشفوا بعضها على بعض، ولا تبيعوا منها غائبا بناجز.  رواه البخاري ومسلم</p>
<p><em>&#8220;Janganlah engkau jual emas ditukar dengan emas melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau lebihkan sebagiannya di atas sebagian lainnya. Janganlah engkau jual perak ditukar dengan perak melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau lebihkan sebagiannya di atas sebagian lainnya. Dan janganlah engkau jual sebagiannya yang diserahkan dengan kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan dengan kontan.&#8221;</em> (HR. al-Bukhary dan Muslim).</p>
<p>Imam Ahmad dan al-Bukhary meriwayatkan, bahwasannya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلا بمثل، سواء بسواء، يدا بيد، فمن زاد أو استزاد فقد أربى، الآخذ والمعطي فيه سواء. رواه مسلم</p>
<p><em>&#8220;Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya&#8217;ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya&#8217;ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, harus sama dan sama dan kontan. Barangsiapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba, pemungut dan yang memberikannya dalam hal ini sama.&#8221;</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Dan telah tetap dari sahabat Jabir bin Abdillah<em> radhiallahu ‘anhu</em> bahwasannya ia menuturkan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لعن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه، وقال: (هم سواء). رواه مسلم</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan / membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda, ‘Mereka itu sama dalam hal dosanya’.&#8221; </em>(HR. Muslim).</p>
<p>Dan uang kertas yang berlaku pada zaman sekarang ini kedudukannya sama dengan emas dan perak yang berfungsi sebagai alat jual beli, oleh karena itu hukumnya adalah sama dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> emas dan perak. Dengan sebab itulah, hendaknya setiap orang muslim untuk mencukupkan diri dengan hal-hal yang dihalalkan dan menjauhkan dirinya dari segala yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla. Dan Allah sungguh telah memberikan kelapangan kepada umat Islam dalam hal pekerjaan di dunia ini guna mengais rezeki. Sehingga, bisa saja orang yang fakir bekerja sebagai tenaga kerja (kuli) atau pelaku usaha dengan menggunakan modal orang lain dengan sistem mudharabah dengan perjanjian bagi hasil, misalnya fifty-fifty atau yang semisalnya dari keuntungan, dan bukan dari modal, tidak juga dengan jumlah / nominal uang tertentu dari keuntungan. Dan barang siapa yang tidak mampu berusaha padahal ia fakir, maka halal baginya untuk meminta-minta, menerima <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zakat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zakat">zakat</a>, dan juga jaminan sosial.</p>
<p><strong>Kedua: </strong>Tidak boleh bagi seorang muslim, baik kaya atau fakir untuk berhutang kepada bank atau lainnya dengan bunga 5 % atau 15 % atau lebih atau kurang dari itu. Karena  itu adalah riba, dan termasuk dosa besar. Dan Allah telah mencukupkan baginya dengan jalan-jalan mengais rezeki yang dihalalkan sebagaimana disebutkan di atas, baik menjadi tenaga kerja di tempat orang yang memiliki pekerjaan atau mendaftarkan diri menjadi pegawai negeri pada jabatan yang halal, atau berdagang dengan modal orang lain dengan sistem mudharabah dengan bagi hasil dalam persentase tertentu, sebagaimana dijelaskan di atas.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&#8221; Sumber: <em>Majmu&#8217; Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah  13/268-271, fatwa no. 3630</em></p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.<br />
Artikel: www.PengusahaMuslim.com<br />
Dipublikasikan oleh: KonsultasiSyariah.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>cicil emas haram</strong>, <strong>jual beli</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>dihalalkan jual beli dan diharamkan riba</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>kafir</strong>, <strong>bank</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>kumpulan hadist riba</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/riba-haram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Berhutang ke Bank untuk Membangun Masjid?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-berhutang-ke-bank-untuk-membangun-masjid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-berhutang-ke-bank-untuk-membangun-masjid#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 01:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berhutang kepada bank]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[saham]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2208</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Kami sekelompok imigran muslim yang berasal dari Maroko, tinggal di Jerman, dan kami memiliki satu tempat yang kami sewa untuk menjalankan shalat berjama’ah setiap saat, shalat Jum&#8217;at, dan hari raya. Dan karena banyaknya orang yang shalat di sana –alhamdulillah- ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Kami sekelompok imigran muslim yang berasal dari Maroko, tinggal di   Jerman, dan kami memiliki satu tempat yang kami sewa untuk menjalankan   <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> berjama’ah setiap saat, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> Jum&#8217;at, dan hari raya. Dan karena   banyaknya orang yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> di sana –alhamdulillah- pemerintah Jerman   melarang kami untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> di sana, dengan alasan tempat tersebut sempit   dan tidak cocok. Dan sekarang kami merencanakan untuk membeli suatu   tempat yang luas di luar kota, dan pemerintah Jerman telah memberikan   izin kepada kami untuk membelinya. Harga tempat tersebut adalah 3,5 juta   Mark, dan kami sekarang baru memiliki dana 1,5 juta Mark. Apakah boleh   bagi kami untuk berhutang kekurangan dana tersebut dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> dengan   membayar bunga, agar dapat membeli tempat tersebut, dan apakah keadaan   ini tergolong ke dalam darurat (dharurat)? Dan bila telah terlanjur   dibeli dengan uang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>, bolehkan kita shalat di dalamnya, hingga   didapatkan tempat lain untuk shalat di negeri ini? Mohon jawabannya,   semoga Allah membalas kebaikan Anda semua.</p>
<p><span id="more-2208"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak boleh bagi kalian untuk berhutang dengan bunga/riba, karena   Allah telah mengharamkan riba, dan memberikan ancaman yang keras kepada   pelaku riba. Dan Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah   melaknati orang yang memakan riba, yang memberikannya, kedua saksinya   dan penulisnya, dan riba tidak dibolehkan dalam keadaan apapun. Oleh   karena itu, tidak boleh bagi kalian untuk membeli  tempat tersebut   kecuali bila kalian memiliki kemampuan finansial untuk membelinya tanpa   harus berhutang dengan riba.</p>
<p>Dan shalatlah sesuai dengan  kemampuan kalian, baik dengan satu  jama&#8217;ah atau dengan terbagi-bagi  menjadi beberapa jama&#8217;ah di tempat  yang berbeda-beda.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa   dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.<br />
(<em>Majmu&#8217;   Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah,</em> 13/295, fatwa no. 20002).</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A<br />
Artikel: <a title="www.PengusahaMuslim.com" href="http://www.pengusahamuslim.com/undefined/" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a><br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>masjid</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>hukum berhutang kepada bank</strong>, <strong>bank</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>saham</strong>, <strong>hutang</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-berhutang-ke-bank-untuk-membangun-masjid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menabung di Bank Konvensional karena Khawatir Dicuri, Bolehkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menabung-di-bank-konvensional</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menabung-di-bank-konvensional#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 22:17:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bank riba]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[menyimpan uang di bank konvensional tidak apa]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan]]></category>
		<category><![CDATA[terlanjur pinjam di bank konvensiona]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2203</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah boleh menabung uang di bank-bank konvensional yang dikhawatirkan dicuri, agar dapat dicairkan pada saat dibutuhkan tanpa mendapatkan bunga sedikitpun dan tanpa dipungut dari mereka upah/uang administrasi ataukah tidak boleh? Jawaban: Tidak boleh menabung uang dan yang serupa di ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah boleh menabung uang di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a>-bank konvensional yang  dikhawatirkan dicuri, agar dapat dicairkan pada saat dibutuhkan tanpa  mendapatkan bunga sedikitpun dan tanpa dipungut dari mereka upah/uang  administrasi ataukah tidak boleh?</p>
<p><span id="more-2203"></span></p>
<p><strong>Jawaban: </strong></p>
<p>Tidak boleh menabung uang dan yang serupa di bank-bank konvensional  atau badan-badan usaha yang serupa yang bertransaksi dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>/bunga.  Baik tabungannya dengan bunga atau tanpa bunga. Hal ini karena menabung  berati bahu-membahu dalam perbuatan dosa dan pelanggaran, padahal Allah  Ta&#8217;ala telah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ. المائدة: 2</p>
<p><em>&#8220;Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.&#8221;</em> (Qs. al-Maidah: 2).</p>
<p>Kecuali bila ditakutkan uang tersebut akan hilang karena dicuri, atau  dirampok atau yang serupa, sedangkan ia tidak mendapatkan cara lain  untuk menjaganya selain menabungkannya di bank konvensional –misalnya-,  maka dibolehkan baginya untuk menabungkannya di bank atau badan usaha  yang serupa, tanpa memungut bunga, demi menjaga keselamatan uang  tersebut. Perbuatan ini merupakan sikap menanggung resiko yang teringan.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa  dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</p>
<p>Sumber: <em>Majmu&#8217;  Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah, 13/346, fatwa no: 4682 </em></p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri<br />
Artikel: <a title="www.PengusahaMuslim.com" href="http://www.PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com </a><br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>terlanjur pinjam di bank konvensiona</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>bank riba</strong>, <strong>menyimpan uang di bank konvensional tidak apa</strong>, <strong>bank</strong>, <strong>tabungan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menabung-di-bank-konvensional/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menabung di Bank Tanpa Mengambil Bunga, Bolehkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menabung-tanpa-mengambil-bunga</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menabung-tanpa-mengambil-bunga#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 23:26:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[menabung di bank konvensional tanpa mengambil bunga]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2200</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah boleh menabung di bank tanpa mengambil bunga? Jawaban: Bila memungkinkan bagi orang yang memiliki uang untuk menitipkannya kepada orang yang diperkirakan kuat tidak akan menggunakannya dalam perniagaan yang haram, maka itulah yang harus ia lakukan. Dan bila ia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Apakah boleh menabung di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> tanpa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> bunga?</p>
<p><span id="more-2200"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Bila memungkinkan bagi orang yang memiliki uang untuk menitipkannya  kepada orang yang diperkirakan kuat tidak akan menggunakannya dalam  perniagaan yang haram, maka itulah yang harus ia lakukan. Dan bila ia  tidak merasa aman bila dititipkan kepadanya, dan tidak pula memungkinkan  dititipkan kepada orang yang menggunakannya dalam berbagai transaksi  yang dibolehkan, sedangkan ia khawatir uangnya akan hilang/dicuri, maka  hendaknya ia berusaha menabungkannya di bank yang paling sedikit  transaksi haramnya.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa  dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya (<em>Majmu&#8217;  Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah</em>,  13/342, fatwa no. 222).</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.<br />
Artikel: <a title="www.PengusahaMuslim.com" href="http://www.pengusahamuslim.com/" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com </a></p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://KonsultasiSyariah.Com">KonsultasiSyariah.Com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mengambil</strong>, <strong>menabung di bank konvensional tanpa mengambil bunga</strong>, <strong>bank</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menabung-tanpa-mengambil-bunga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Riba di Negara Berasaskan Ekonomi Riba</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/negara-ekonomi-riba</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/negara-ekonomi-riba#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 23:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[al-bayan syarah al-muhadzdzab oleh imam yahya al-'imraniasy-syafi'i 13/335, fatwa no. 19585]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum riba dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2187</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Riba di Negara yang Sistem Perekonomiannya Berasaskan Riba Pertanyaan: Bolehkan bagi seorang muslim untuk bertransaksi dengan cara-cara riba di suatu masyarakat yang perekonomiannya berasaskan riba? Jawaban: Tidak boleh baginya untuk bertransaksi dengan riba, walaupun perekonomian masyarakat yang ia hidup ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">Riba</a> di Negara yang Sistem Perekonomiannya Berasaskan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">Riba</a></strong></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkan bagi seorang muslim untuk bertransaksi dengan cara-cara riba di suatu masyarakat yang perekonomiannya berasaskan riba?</p>
<p><span id="more-2187"></span></p>
<p><strong>Jawaban: </strong></p>
<p>Tidak boleh baginya untuk bertransaksi dengan riba, walaupun perekonomian masyarakat yang ia hidup di dalamnya berasaskan riba. Hal ini berdasarkan keumuman dalil-dalil yang mengharamkan riba. Oleh karena itu, ia berkewajiban untuk mengingkari kemungkaran sesuai dengan kemampuannya. Bila ia tidak mampu, maka hendaknya ia berpindah dari masyarakat tersebut guna menjauhi kemungkaran, dan agar ia tidak ditimpa oleh apa yang telah menimpa mereka.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.<br />
(<em>Majmu&#8217; Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah,  13/294, fatwa no. 11780</em>)</p>
<p>Imam al-&#8217;Imrany, salah seorang ulama madzhab as-Syafi&#8217;i pada abad ke-6 berkata, &#8220;Riba diharamkan walau di negri <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> pada transaksi antara orang muslim dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a>, sebagaimana halnya riba diharamkan di negeri islam.&#8221; (<em>al-Bayan Syarah al-Muhadzdzab oleh Imam Yahya al-&#8217;Imrany as-Syafi&#8217;i</em>, 5/185).</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A<br />
Artikel:<a title="www.pengusahamuslim.com" href="http://www.pengusahamuslim.com" target="_blank"> www.pengusahamuslim.com</a></p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://KonsultasiSyariah.Com" target="_blank">KonsultasiSyariah.Com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kafir</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>al-bayan syarah al-muhadzdzab oleh imam yahya al-&#039;imraniasy-syafi&#039;i 13/335, fatwa no. 19585</strong>, <strong>hukum riba dalam islam</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/negara-ekonomi-riba/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Menabung Uang di Bank?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menabung-uang-bank</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menabung-uang-bank#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 00:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[apakah menabung di bank termasuk riba]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menabung uang di bank]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2192</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukum menabung uang di bank dengan bunga tertentu? Jawaban: Menabung di bank dengan bunga tertentu tidak diperbolehkan, karena ini termasuk transaksi yang mengandung faktor riba. Allah Ta&#8217;ala telah berfirman, وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا. البقرة: 275 &#8220;Allah telah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> menabung uang di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bank" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bank">bank</a> dengan bunga tertentu?</p>
<p><span id="more-2192"></span><strong>Jawaban: </strong></p>
<p>Menabung di bank dengan bunga tertentu tidak diperbolehkan, karena  ini termasuk transaksi yang mengandung faktor <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/riba" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with riba">riba</a>. Allah Ta&#8217;ala telah  berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا. البقرة: 275</p>
<p><em>&#8220;Allah telah menghalalkan perniagaan dan mengharamkan riba.&#8221;</em> (Qs. al-Baqarah: 275).</p>
<p>Dan Allah Ta&#8217;ala  juga berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ  مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ. فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ  فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ  رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ. (البقرة:  278-279)</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan  tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang  beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka  ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu  bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak  menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.&#8221;</em> (Qs. al-Baqarah: 275-280).</p>
<p>Bunga yang diambil oleh penabung ini tidak ada barokahnya, Allah  Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ. (البقرة: 276)276</p>
<p><em>&#8220;Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah&#8221;.</em> (Qs. Al Baqarah  276)</p>
<p>Riba semacam ini termasuk ke dalam riba nasi&#8217;ah dan juga riba fadhl  (riba perniagaan), karena orang yang menabung (nasabah) menyetorkan  uangnya ke Bank dengan ketentuan uang tabungannya tersebut berada di  Bank dalam waktu tertentu dan dengan bunga tertentu pula.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa  dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. <em>(Majmu&#8217;  Fatawa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah, 13/346, fatwa no: 4682.). </em></p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri<br />
Artikel: <a title="www.PengusahaMuslim.com" href="http://www.PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com </a></p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://KonsultasiSyariah.Com" target="_blank">KonsultasiSyariah.Com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>apakah menabung di bank termasuk riba</strong>, <strong>bank</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>hukum menabung uang di bank</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menabung-uang-bank/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Copy Rekaman Kaset atau Buku Berlabel Hak Cipta Dilindungi, Bolehkah?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/copy-buku-hak-cipta</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/copy-buku-hak-cipta#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 23:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[buku apakah perlu hak cipta]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[larangan mengopi isi buku]]></category>
		<category><![CDATA[rekaan shalat tahajud witir]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1996</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya: Apakah saya boleh merekam salah satu kaset dan menjualnya, tetapi tanpa meminta izin terlebih dahulu dari pemegang hak, atau kalau bukan kepada pemegang hak, paling tidak kepada rumah produksi yang khusus ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:<br />
</strong><br />
Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya:</p>
<p>Apakah  saya boleh merekam salah satu kaset dan menjualnya, tetapi tanpa meminta  izin terlebih dahulu dari pemegang hak, atau kalau bukan kepada  pemegang hak, paling tidak kepada rumah produksi yang khusus mengurus  hak perekaman? Dan apakah saya boleh mengcopy salah satu buku dan  mengumpulkannya dalam jumlah besar dan setelah itu menjualnya? Dan  bolehkah saya mengcopy salah satu buku tetapi tidak untuk menjualnya,  tetapi saya mengoleksinya untuk keperluan pribadi.</p>
<p>Sementara buku-buku ini mencantumkan tulisan: &#8220;Hak Cipta Dilindungi.&#8221;  Apakah saya perlu meminta izin atau tidak? Tolong beritahu kami  mengenai masalah ini, mudah-mudahan Allah memberikan berkah kepada Anda.</p>
<p><span id="more-1996"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak ada larangan merekam kaset yang memuat hal-hal  yang bermanfaat dan menjuallnya, juga mengcopy buku-buku dan menjualnya.  Sebab, hal itu dapat membantu menyebarkan ilmu pengetahuan, kecuali  jika pemegang haknya melarang melakukan hal tersebut, dan karenanya  harus meminta izin kepada mereka.</p>
<p>Wabillaahit Taufiq.</p>
<p>Dan mudah-mudahan Allah senantiasa  melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em> keluarga dan para sahabatnya.</p>
<p>(<em>Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta</em>, Fatwa Nomor  18453, dan <em>Pertanyaan ke-2 dari Fatwa Nomor 18845, </em>Disalin dari <em>Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta,</em> edisi Indonesia  <em>Fatwa-Fatwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">Jual Beli</a>,</em> Pengumpul dan Penyusun Ahmad bin Abdurrazzaq Ad-Duwaisy, Terbitan  Pustaka Imam Asy-Syafi&#8217;i)</p>
<p>Sumber: almanhaj.or.id<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://KonsultasiSyariah.Com" target="_blank">KonsultasiSyariah.Com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>buku apakah perlu hak cipta</strong>, <strong>jual beli</strong>, <strong>guru</strong>, <strong>larangan mengopi isi buku</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>rekaan shalat tahajud witir</strong>, <strong>riba</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/copy-buku-hak-cipta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/264 queries in 0.161 seconds using disk: basic
Object Caching 25300/25729 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-08 12:06:04 -->
