<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Hadits</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/kitab/hadits/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Beda Hadis Qudsi dengan Alquran</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/beda-hadis-qudsi-dengan-alquran</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/beda-hadis-qudsi-dengan-alquran#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 23:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9946</guid>
		<description><![CDATA[Beda Hadis Qudsi dengan Alquran Pertanyaan: Assalammu&#8217;alaikum. Apa perbedaan hadis qudsi dengan Alquran? Bukankah itu sama-sama firman Allah? Terima Kasih Dari: Harry Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam Hadis qudsi adalah hadis yang diriwayatkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dari Rabnya (Allah). Hadis ini ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Beda Hadis Qudsi dengan Alquran</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalammu&#8217;alaikum.</em><br />
Apa perbedaan <strong>hadis qudsi</strong> dengan Alquran? Bukankah itu sama-sama firman Allah?<br />
Terima Kasih</p>
<p>Dari: Harry<br />
<span id="more-9946"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam</em><br />
<span style="text-decoration: underline;"><br />
Hadis qudsi</span> adalah hadis yang diriwayatkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari Rabnya (Allah). Hadis ini sering juga diistilahkan dengan hadis rabbani atau hadis ilahi. Sedangkan hadis yang bukan qudsi, disebut dengan hadis nabawi.</p>
<p>Contonya teks hadis qudsi,</p>
<p class="arab">قال صلّى الله عليه وسلّم فيما يرويه عن ربه &#8211; تعالى &#8211; أنه قال: &#8220;أنا عند ظن عبدي بي، وأنا معه حين يذكرني</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang beliau meriwayatkan dari Rabnya, bahwa Allah berfirman, &#8220;Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya jika dia mengingat-Ku&#8230; (HR. Bukhari, no.7405)</p>
<h2>Antara Alquran, hadis qudsi, dan hadis nabawi:</h2>
<ol>
<li>Alquran: lafadz dan maknanya, keduanya dari Allah <em>Ta&#8217;ala</em>.</li>
<li>Hadis qudsi: maknanya dari Allah, sedangkan lafadznya dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Hadis nabawi: lafadz dan maknanya keduanya dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</li>
</ol>
<p>Dengan demikian, posisi <strong>hadis qudsi</strong> adalah antara Alquran dengan hadis nabawi.</p>
<h3>Perbedaan hadis qudsi dengan Alquran:</h3>
<ol>
<li>Alquran, lafadznya dari Allah, sedangkan <a title="hadis qudsi" href="http://konsultasisyariah.com/hukum-berkata-ini-zaman-celaka-ini-zaman-pahit-dan-sejenisnya" target="_blank">hadis qudsi</a>, lafadznya dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Membaca Alquran dinilai sebagai ibadah, baik paham maknanya maupun tidak. Sedangkan semata-mata membaca hadis qudsi tanpa maksud mempelajarinya, tidak dihitung sebagai ibadah.</li>
<li>Membaca Alquran mendapat pahala per huruf. Sementara pahala per huruf ini tidak ada dalam hadis qudsi.</li>
<li>Alquran dibaca ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>, sedangkan hadis qudsi tidak boleh dibaca ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>.</li>
<li>Alquran mendapat jaminan penjagaan dari segala bentuk penyelewengan, sedangkan hadis qudsi tidak mendapat jaminan. Karena itu, ada hadis qudsi yang dhaif, palsu, mungkar, dst. Sebagaimana penilaian yang berlaku untuk semua hadis.</li>
<li>Alquran sampai kepada kita secara mutawatir dan disepakati oleh kaum muslimin. Sedangkan hadis qudsi ada yang statusnya ahad.</li>
</ol>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p>Disarikan dari buku: <em>Mushtalah al-Hadis</em>, karya: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Tags: hadis qudsi, pengertian hadis qudsi, tentang <strong>hadis qudsi.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/beda-hadis-qudsi-dengan-alquran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Rasulullah Meminta Miskin?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/rasulullah-meminta-miskin</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/rasulullah-meminta-miskin#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 07:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8905</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah Minta Miskin Pertanyaan: Benarkah kefakiran itu mendekatkan kepada kekufuran? Bagaimana kedudukan hadis tentang doa nabi supaya hidup dalam keadaan miskin? Adakah hadis yang menyatakan bahwa orang yang membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam akan dijauhkan dari kemiskinan? Jawaban: 1. Barangkali ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Rasulullah Minta Miskin</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<ol>
<li> Benarkah kefakiran itu mendekatkan kepada kekufuran?</li>
<li><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> kedudukan hadis tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> nabi supaya hidup dalam keadaan miskin?</li>
<li>Adakah hadis yang menyatakan bahwa orang yang membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam akan dijauhkan dari kemiskinan?</li>
</ol>
<p><span id="more-8905"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<strong>1.</strong> Barangkali penanya mengisyaraktan pada hadis yang cukup populer di masyarakat yaitu:<br />
“Hampir saja kefakiran itu menyebabkan kekufuran.” Hadis ini derajatnya <em>dha’if</em> (lemah).</p>
<p><strong>2.</strong> Ada beberapa hadis yang menunjukkan hal itu, di antaranya hadis Abu Said Al-Khudri,<br />
“<em>Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin serta kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin</em>.”<br />
Hadis hasan. Diriwayatkan Ibnu Majah (6/412), Abdu bin humaid dalam Al-Muntakhab (1/110), As-Sulami dalam Al-Arbauna AS-Sufiyyah (2/5), Al-Khatib dalam Tarikh (4/111) dari jalan Yazid bin Sinan dari Abu Mubarak dari Atha’ dari Abu said Al-Khudri secara <em>marfu’</em>.<br />
Perlu diperhatikan bahwasanya makna miskin dalam hadis ini bukanlah miskin harta tetapi maknanya adalah tawadhu’ dan rendah hati sebagaimana dijelaskan oleh para ulama ahli hadis dan bahasa:<br />
Imam Baihaqi mengatakan, “Menurut saya, Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak bermaksud meminta keadaan miskin yang berarti kurang harta tetapi miskin yang berarti <em>tawadhu</em>’ dan rendah hati.” (Dinukil dan disetujui oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Talkhis Habir 3:1108)<br />
Imam Ibnu Atsir berakta dalam An-Nihayah fi Gharibil Hadis 2:385 mengatakan, “Maksud Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah tawadhu’ (rendah hati) dan agar tidak termasuk orang-orang yang sombong dan angkuh.”</p>
<p><strong>3. </strong>Memang ada beberapa hadis berkaitan tentang itu, tetapi semuanya tidak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sahih" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sahih">sahih</a> dari Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Berikut perinciannya:</p>
<ul>
<li> Hadis Abdullah bin Mas’ud <em>radhiallahu’anhu</em>,</li>
</ul>
<p>“Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan terkena kemiskinan selama-lamanya.” Hadis ini derajatnya lemah.</p>
<ul>
<li> Hadis Abdullah bin Abbas <em>radhiallahu’anhu</em>,</li>
</ul>
<p>“Barangsiapa memabca surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya dan barangsiapa membaca surat Al-Qiyamah setiap malam, maka akan berjumpa dengan Allah dengan berwajah rembulan di malam purnama.” Hadis ini adalah hadis palsu. As-Suyuthi dalam <em>Dzail Al-AHadis Al-Maudhu’ah</em> (177) mengomentari orang yang meriwayatkannya, “Ahmad Al-Yamami seorang pendusta.”</p>
<ul>
<li> Hadis Anas bin Malik <em>radhiallahu’anhu</em>,</li>
</ul>
<p>“Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah dan mempelajarinya, maka dia tidak dicatat termasuk golongan orang-orang yang lalai dan dia beserta keluarganya tidak akan fakir.” Hadis ini adalah hadis palsu.<br />
As-Suyuthi berkata terkait dengan orang-orang yang meriwayatkannya, “Abdul Quddus bin Habib matruk (ditinggalkan).”<br />
Abdur Razzaq berkata, “Saya tidak pernah melihat ibnu Mubarak begitu fashih mengatakan ‘Kadzdzab’ (pendusta) kecuali pada Abdul Quddus. Demikian pula Ibnu Hibban telah menegaskan bahwa dia (Abdul Quddus) suka memalsukan hadis.</p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al-Furqon</em>, Edisi 04 Tahun ke-3 Shafar 1425 H</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hidup-tenang-tanpa-utang-dengan-pesugihan-al-fatihah-benarkah">Takut Miskin, Malah Tertipu Pesugihan</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-melakukan-kb-keluarga-berencana-bukan-karena-takut-miskin">Melakukan KB Bukan karena Takut Miskin</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/hadits-apakah-memperbanyak-shalawat-menghilangkan-kemiskinan">Apakah Memperbanyak Shalawat Menghilangkan Kemiskinan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/rasulullah-meminta-miskin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membunuh Ular dan Tikus Karena Mengganggu</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 05:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8700</guid>
		<description><![CDATA[Membunuh Ular dan Tikus Pertanyaan: Apakah ular, tikus, dan kecoa boleh dibunuh? Dari Ummu Unaizah Jawaban: Membunuh ular,tikus, kecoa, dan binatang sejenis merupakan perkara yang dibolehkan karena binatang tersebut mengganggu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Lima ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Membunuh Ular dan Tikus</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah <strong>ular</strong>, tikus, dan kecoa boleh dibunuh?</p>
<p>Dari Ummu Unaizah<br />
<span id="more-8700"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Membunuh ular,tikus, kecoa, dan binatang sejenis merupakan perkara yang dibolehkan karena binatang tersebut mengganggu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p><em>“Lima (hewan) perusak yang boleh dibunuh di luar tanah suci dan di tanah suci (Mekah) yaitu: ular, gagak, tikus, srigala, dan rajawali.”</em></p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Majalah As-Sunnah</em>, edisi: 10, Th. XIII</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ular:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-pakai-kulit-binatang">Tas dari Kulit Ular</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/sering-mimpi-buruk-dan-mimpi-aneh" target="_blank">Mimpi Bertemu Ular</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-ular-1" target="_blank">Hukum Jual Beli Ular</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/jual-beli-ular-2" target="_blank">Hukum Berobat dengan Ular</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hafal Asmaul Husna, Masuk Surga?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/99-nama-asmaul-husna</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/99-nama-asmaul-husna#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 02:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8686</guid>
		<description><![CDATA[Bernarkah Menjaga 99 Nama Asmaul Husna  Akan Masuk Surga? Saya ingin bertanya mengenai hadis berikut: Telah menceritakan kepada kami &#8216;Amr An-Naqid dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Abu &#8216;Umar semuanya dari Sufyan &#8211; dan lafadh ini milik &#8216;Amr-; telah menceritakan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bernarkah Menjaga 99 Nama Asmaul Husna  Akan Masuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">Surga</a>?</h2>
<p>Saya ingin bertanya mengenai hadis berikut:<br />
Telah menceritakan kepada kami &#8216;Amr An-Naqid dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Abu &#8216;Umar semuanya dari Sufyan &#8211; dan lafadh ini milik &#8216;Amr-; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah  dari Abu Az Zinad dari Al A&#8217;raj dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wasallam, beliau telah bersabda: &#8220;Sesungguhnya Allah<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memiliki sembilan puluh sembilan nama. Maka barang siapa dapat menjaganya niscaya ia akan masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Ganjil dan Dia sangat menyukai bilangan yang Ganjil.&#8221;  Di dalam riwayat Ibnu Abu Umat disebutkan dengan lafazh; &#8216;Barang siapa yang menghitung-hitungnya&#8217;</p>
<p>Apa maksud hadis di atas ustadz? Lalu apa yang dimaksud menjaga <strong>99 nama</strong> Allah, maka akan masuk surga?</p>
<p><em>Weyah (75XXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-8686"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Makna hadis: Allah memiliki 99 nama (asmaul husna), siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.</h3>
<p>Teks hadis :</p>
<p class="arab">إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا ، مِائَةً إِلا وَاحِدَةً ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ</p>
<p>“Sesunguhnya Allah memiliki <span style="text-decoration: underline;">99 nama</span>, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari, no.2736, Muslim, no.2677 dan Ahmad, no.7493).</p>
<p>Keterangan Syekh Abdul Aziz bin Baz megenai makna hadis:</p>
<p>Makna dari &#8216;menjaga&#8217; adalah dengan <strong>menghafalnya, merenungkan maknanya, dan mengamalkan kandungan maknanya</strong>&#8230; mengingat adanya kebaikan yang banyak dan ilmu yang bermanfaat dalam mengamalkan kandungan makna <em>asmaul husna</em> tersebut. Karena mengamalkannya merupakan sebab kebaikan bagi hati, kesempurnaan takut kepada Allah, dan menunaikan hak-Nya.<br />
(http://www.binbaz.org.sa/mat/12132 )</p>
<p><strong>Keterangan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:</strong><br />
Bab, Nama Allah tidak terbatas dengan bilangan tertentu.</p>
<p>Berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab">أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ</p>
<p>“Saya meminta kepada-Mu dengan perantara semua nama-Mu, yang Engkau gunakan untuk menamakan diri-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang diantara makhluk-Mu, atau yang Engkau <strong>simpan dalam sebagai rahasia </strong>di sisi-Mu.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, dan dishahihkan Syua&#8217;aib Al-Arnauth).</p>
<p><strong>Kemudian Syekh Ibnu Utsaimin membawakan keterangan Ibnul Qayim:</strong><br />
Ibnul Qayim mengatakan dalam <em>Syifaul Alil</em> Hal. 472, Sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>: “Sesunguhnya Allah memiliki 99 nama” tidaklah meniadakan bahwa Allah memiliki nama-nama yang lain. Sebagaimana ada orang mengatakan, “Fulan memiliki 100 budak untuk dijual dan 100 budak untuk pasukan perang.” Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Ibnu Hazm, yang beranggapan bahwa nama-nama Allah hanya terbatas 99 saja.<br />
(Al-Qawaidul Mutsla, Hal. 13 – 14).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/bagaimana-cara-menghafal-asmaul-husna" target="_blank">Cara Menghafal Asmaul Husna</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/adakah-khasiat-asmaul-husna" target="_blank">Adakah Kasiat Asmaul Husna</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/99-nama-asmaul-husna/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telaah Hadis Menuntut Ilmu Ke Negeri Cina</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tuntutlah-ilmu-sampai-negeri-cina</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tuntutlah-ilmu-sampai-negeri-cina#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 01:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7819</guid>
		<description><![CDATA[Telaah Hadis Menuntut Ilmu Ke Negeri Cina Assalamu&#8217;alaikum, ustadz. Saya melihat banyak sekaali org2 yng menyebut nyebut tentang hadist &#8221; Tuntutlah ilmu ke negeri Cina&#8221; yang ingin saya tanyakan, &#8220;Apakah hadist ini shahih? Tolong ustadz jelaskan dengan dalil yang shahih! ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Telaah Hadis Menuntut Ilmu Ke Negeri Cina</h2>
<p>Assalamu&#8217;alaikum, ustadz. Saya melihat banyak sekaali org2 yng menyebut nyebut tentang hadist &#8221; <strong>Tuntutlah ilmu ke negeri Cina</strong>&#8221; yang ingin saya tanyakan, &#8220;Apakah hadist ini shahih? Tolong ustadz jelaskan dengan dalil yang shahih! Kalau bisa, ustadz masukkan ke kolom pertanyaan pembaca agar banyak orang tahu tentang keshahihan hadist tersebut. <em>Jazakallahu khairan katsira</em>.</p>
<p><em>Ahmad Al Faqih (ahmadXXXXXXXX@gmail.com)</em><br />
<span id="more-7819"></span></p>
<h3>Jawaban tentang hadis menuntut ilmu ke negeri Cina</h3>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p>Tuntutlah <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-membaca-al-fatihah-setelah-sholat-fardhu" target="_blank">Ilmu</a> hingga negeri cina</p>
<p>Keterangan Dr. Hisamuddin AffanahTeks hadisnya,</p>
<p>اطلبوا العلم ولو في الصين</p>
<p>Hadis ini adalah hadis yang batil. Bahkan disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam <em>al-Maudhu&#8217;at</em>, &#8220;Ini adalah hadis dusta atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. As-Syaukani mengatakan,</p>
<p>&#8216;Hadis ini diriwayatkan al-Uqaili dan Ibn Adi dari Anas secara <em>marfu&#8217;</em> (sampai kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>).&#8217; Ibn Hiban mengatakan, &#8216;Ini adalah hadis batil, tidak ada sanadnya (<em>laa ashla lahuu</em>), dalam sanadnya ada Abu Atikah, dan dia adalah <em><strong>munkarul hadis</strong></em>.&#8217;</p>
<p>Demikian keterangan Syaukani dalam <em>al-Fawaidul Majmu&#8217;ah</em>, hal. 272. Demikian pula keterangan di <em>Maqasidul Hasanah</em> hal. 93, dan <em>Kasyful Khafa</em>, 1/138. Syaikh al-Albani mengatakan menjelaskan status hadis ini, bahwa hadis ini adalah hadis batil. Kemudian beliau menyebutkan beberapa periwayat hadis dan menjelaskan: Kesimpulannya bahwa hadis ini, status yang benar adalah sebagaimana keterangan Ibn Hibban dan Ibnul Jauzi – yaitu bahwa hadis ini adalah hadis batil, kedustaan atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> – karena tidak ada jalur satupun yang bisa dijadikan sebagai penguat. (<em>Silsilah Dhaifah</em>, 1/415 – 416)</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Fatawa yasalunaka. http://www.yasaloonak.net/2008-09-18-11-36-26/2009-07-07-12-26-01/207-2008-10-30-17-33-06.html</em></p>
<p>***<br />
<strong>Catatan hadis semisal yang shahih:</strong></p>
<p>Hadis yang shahih dalam masalah kewajiban menuntut ilmu adalah hadis dari Anas bin Malik <em>radliallahu &#8216;anhu</em> bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ</p>
<p><em>“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.”</em> (HR. Ibn Majah 224 dan dishahihkan al-Albani dalam shahih Ibn Majah, 1/296)</p>
<p>Yang dimaksud di sini adalah ilmu syariah. Sufyan at-Tsauri mengatakan: Yaitu ilmu, di mana seorang hamba tidak memiliki udzur (alasan yang dibenarkan) untuk tidak mengetahuinya. (Hasyiyah as-Sindi &#8216;ala Sunan Ibn Majah, 1/208)</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina<a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow"> Konsultasi Syaraiah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tuntutlah-ilmu-sampai-negeri-cina/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembagian Hari di Bulan Ramadan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pembagian-bulan-ramadan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pembagian-bulan-ramadan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 22:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[kuku]]></category>
		<category><![CDATA[pembagian bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[pembagian bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[pembagian hari dalam ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[portal usu]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6436</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Adakah hadis yang menyatakan hal tersebut? 10 hari pertama sampai dengan 10 hari terakhir &#8230;. Agus Triatmoko (agus_**@***.com) Jawaban: Terdapat dua hadis yang menyebutkan hal ini: Pertama, hadis dari Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu, أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Adakah hadis yang menyatakan hal tersebut? 10 hari pertama sampai dengan 10 hari terakhir &#8230;.</p>
<p><em>Agus Triatmoko (agus_**@***.com)</em><br />
<span id="more-6436"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Terdapat dua hadis yang menyebutkan hal ini:</p>
<p><em><strong>Pertama</strong></em>, hadis dari Abu Hurairah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار</strong></p>
<p>“<em>Awal bulan Ramadan adalah rahmah, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya &#8216;itqun minan nar (pembebasan dari neraka)</em>.”</p>
<p>Disebutkan dalam <em>Silsilah Adh-Dhaifah</em> (kumpulan hadis <strong><em>dhaif</em></strong>), &#8220;Hadis ini disebutkan oleh Al-Uqaili dalam <em>Adh-Dhu&#8217;afa</em>, hlm. 172; Ibnu Adi dalam <em>Al-Kamil fid Dhu&#8217;afa&#8217;</em>, 1:165; Ad-Dailami dalam <em>Musnad Al-Firdaus</em>, 1/1:10&#8211;11; dengan sanad: dari Sallam bin Siwar dari Maslamah bin Shult dari Az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Al-Uqaili mengatakan, &#8216;Tidak ada bukti dari hadis Az-Zuhri.&#8217; Ibnu Adi mengatakan, &#8216;Sallam bin Siwar, menurutku dia <em>munkarul <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a></em> (perawi hadis munkar), sedangkan Masmalah bin Shult tidak banyak dikenal.&#8217; Demikian pula komentar Adz-Dzahabi. Sedangkan Maslamah, telah dikomentari Abu Hatim, &#8216;<em>Matrukul hadits</em> (hadisnya ditinggalkan),&#8217; sebagaimana yang beliau sebutkan dalam <em>Mizanul I&#8217;tidal</em>, 2:179.&#8221; (<em>Silsilah Ahadits Dhaifah</em>, no. 1569)</p>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>, hadis dari Salman Al-Farisi <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Diceritakan bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkhotbah menjelang Ramadan. Di antara isi khotbah beliau,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>من فطر صائما على مذقة لبن، أو تمرة، أو شربة من ماء، ومن أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لا يظمأ حتى يدخل الجنة، وهو شهر أوله رحمة، ووسطه مغفرة، وآخره عتق من النار، فاستكثروا فيه من أربع خصال&#8230;</strong></p>
<p>“<em>Siapa saja yang memberi buka kepada orang yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> dengan seteguk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/susu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with susu">susu</a>, sebiji kurma, atau seteguk air, dan siapa yang mengenyangkan orang puasa maka Allah akan memberi minum dari telaga dengan satu tegukan, yang menyebabkan tidak haus sampai masuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>. Inilah bulan, yang awalnya adalah rahmah, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya &#8216;itqun minan nar (pembebasan dari neraka). Perbanyaklah melakukan 4 hal dalam bulan Ramadan &#8230;.</em>”</p>
<p>Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Muhamili dalam <em>Al-Amali</em>, jilid 5, no. 50; Ibnu Khuzaimah dalam <em>Shahih</em>-nya, no. 1887, dengan komentar dari beliau, &#8220;<strong>Andaikan</strong> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sahih" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sahih">sahih</a>, bisa jadi dalil;&#8221; Al-Wahidi dalam Al-Wasith, 1:640. <strong>Sanad hadis ini <em>dhaif </em></strong>karena adanya perawi Ali bin Zaid bin Jada&#8217;an. Orang ini <em>dhaif</em>, sebagaimana keterangan Imam Ahmad dan yang lainnya. Imam Ibnu Khuzaimah menjelaskan, &#8220;Saya tidak menjadikan perawi ini sebagai dalil karena jeleknya hafalannya.&#8221; (<em>Silsilah Ahadits Dhaifah</em>, no. 871)</p>
<p><strong>Dijawab oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah.com</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>portal usu</strong>, <strong>puasa</strong>, <strong>pembagian bulan ramadhan</strong>, <strong>kuku</strong>, <strong>pembagian bulan puasa</strong>, <strong>pembagian hari dalam ramadhan</strong>, <strong>surga</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pembagian-bulan-ramadan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syarah Hadis Tentang Zina</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/syarah-hadis-tentang-zina</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/syarah-hadis-tentang-zina#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 05:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apa arti zina hati?]]></category>
		<category><![CDATA[apa zina tanggan itu membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[berzina pada waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[berzina saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cara syarah hadith]]></category>
		<category><![CDATA[faktor penghambat dalam pelaksanaan pendidikan islam dalam ibadah puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadis tentang berzina di bulan ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist berzina dengan tangan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang dua mata itu berzina, xina nya ialah melihat .]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang zinah kedua mata dan tangan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist zina mata zina tangan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits berzina di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits hadits tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadits mengenai zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina dan mengandung]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina mata]]></category>
		<category><![CDATA[hadits zina mata adalah melihat]]></category>
		<category><![CDATA[hr muslim tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tentang berzina di waktu bulan suci ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan hadist tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[seputar zinah]]></category>
		<category><![CDATA[syarah]]></category>
		<category><![CDATA[tentang zina]]></category>
		<category><![CDATA[tntng zina]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>
		<category><![CDATA[zina di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[zina di saat akan sahur]]></category>
		<category><![CDATA[zina mata bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[zina mata zina tangan zina hati]]></category>
		<category><![CDATA[zina saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[zina waktu puasa ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5278</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah, Ustadz. Bagaimana sababul wurud dan syarah hadis berikut, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah</em>, Ustadz. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> <em>sababul wurud</em> dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/syarah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with syarah">syarah</a> hadis berikut, “<em>Setiap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">Zina</a> kedua mata adalah dengan melihat. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">Zina</a> kedua telinga dengan mendengar. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">Zina</a> lisan adalah dengan berbicara. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">Zina</a> tangan adalah dengan meraba (menyentuh). <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">Zina</a> kaki adalah dengan melangkah. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">Zina</a> hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian</em>.” (H.R. Muslim, no. 6925)</p>
<p>Apakah yang dimaksud dengan zina di dalam hadis tersebut, sebab kalau kita definisikan berdasarkan bahasa Indonesia, zina adalah perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a>?</p>
<p>Mohon penjelasannya, Ustadz. <em>Syukran. Jazakumullahu khairan katsira</em>.</p>
<p><em>Anwar (**rhee_plus@***.com)</em><br />
<span id="more-5278"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh</em>.</p>
<p>Hadis tersebut diriwayatkan oleh Bukhari, no. 5889 dan Muslim, no. 6925. Untuk penjelasannya, kami bawakan perkataan Ibnu Baththal, &#8220;Melihat dengan syahwat, berbicara secara vulgar, dan membayangkan sesuatu disebut &#8216;zina&#8217; karena semua perbuatan di atas merupakan faktor pendorong terjadinya zina yang hakiki. Terkadang, penyebab suatu perbuatan itu diberi nama dengan perbuatan itu sendiri karena <strong>keduanya memiliki keterkaitan</strong>.&#8221; (<em>Syarh Bukhari</em> oleh Ibnu Batthal, 19:414)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/konsultasi-syariah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with konsultasi syariah">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hadist tentang zinah kedua mata dan tangan</strong>, <strong>hadist tentang dua mata itu berzina, xina nya ialah melihat .</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hadits zina dan mengandung</strong>, <strong>syarah</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>zina di bulan ramadhan</strong>, <strong>hadits zina mata</strong>, <strong>hadist tentang zina</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/syarah-hadis-tentang-zina/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesahihan Hadis &#8220;Sombong terhadap Orang Sombong adalah Sedekah&#8221;</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kesahihan-hadis-sombong-terhadap-orang-sombong-adalah-sedekah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kesahihan-hadis-sombong-terhadap-orang-sombong-adalah-sedekah#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 04:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[adab sedekah secara islami]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[batal puasa sombong]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah orang islam bersikap sombong]]></category>
		<category><![CDATA[gelar untuk mencari duit]]></category>
		<category><![CDATA[hadis orang sadar]]></category>
		<category><![CDATA[hadis tentang orang bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[hadis tentang sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[hadis untuk orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang kesombongan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang sombong karena dunia]]></category>
		<category><![CDATA[hadith orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadith tentang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadits bagi orang yang sombong,membanggakan diri dan munafik]]></category>
		<category><![CDATA[hadits kesombongan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata buat orang sombong imam]]></category>
		<category><![CDATA[kata kata sombong karena harta]]></category>
		<category><![CDATA[kata orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata nasehat untuk orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata nasehat untuk orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata untuk orang sombong sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[kesombonngan di balas dengan kesombongan adalah sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[manusia sombong dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat ttg sombong]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat untuk orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[obati penyakit dengan sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[orang sombong itu yang nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[perihal org sombong]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sedekah hadis]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[seorang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[sombong batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sombong dalam hadist]]></category>
		<category><![CDATA[sombong di atas orang yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[sombong kepada orang yg sombong hadits]]></category>
		<category><![CDATA[sombong kepada org sombong boleh]]></category>
		<category><![CDATA[sombong kepada yang sombong itu sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[sombong orang sombong halal]]></category>
		<category><![CDATA[sombong terhadap orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[sombong terhadap orang sombong adalah sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[sombong terhadap yang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[wallpaper nasehat dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5000</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Sahihkah hadis dengan matan terjemahan, &#8220;Sombong terhadap orang sombong adalah sedekah.&#8221; Bila sahih, bagaimana syarahnya menurut ulama? Maaf, saya cuma mendengar pas khotbah Jumat, dan merasa aneh. Ing Ratri (aku**@***.com) Jawaban: Bismillah. Teks kalimatnya adalah, التكبر على المتكبر صدقة ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Sahihkah hadis dengan matan terjemahan, &#8220;<em><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sombong-terhadap-orang-sombong" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sombong terhadap orang sombong">Sombong terhadap orang sombong</a> adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sedekah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sedekah">sedekah</a></em>.&#8221; Bila <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sahih" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sahih">sahih</a>, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> syarahnya menurut ulama? <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/maaf" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with maaf">Maaf</a>, saya cuma mendengar pas khotbah Jumat, dan merasa aneh.</p>
<p><em>Ing Ratri (aku**@***.com)</em><br />
<span id="more-5000"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah.</em></p>
<p>Teks kalimatnya adalah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>التكبر على المتكبر صدقة</strong></p>
<p>&#8220;<em>Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah</em>.&#8221;</p>
<p>Dalam keterangan yang lain,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>التكبر على المتكبر حسنة</strong></p>
<p>&#8220;<em>Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah perbuatan baik</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Penyataan di atas bukanlah hadis, melainkan hanya perkataan manusia yang banyak tersebar di masyarakat</strong>, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Ajluni dalam kitabnya, <em>Kasyful Khafa</em>, dengan menukil keterangan dari Al-Qari. Kemudian, Al-Qari mengatakan, &#8220;Hanya saja, maknanya sesuai dengan keterangan beberapa ulama.&#8221;</p>
<p>Penulis kitab <em>Bariqah Mahmudiyah</em> mengatakan, &#8220;Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah, karena jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang sombong maka itu akan menyebabkan dirinya terus-menerus berada dalam kesesatan. Namun, jika kita bersikap sombong maka dia akan sadar. Ini sesuai dengan nasihat Imam Syafi&#8217;i, &#8216;Bersikaplah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sombong-kepada-orang-sombong" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sombong kepada orang sombong">sombong kepada orang sombong</a> sebanyak dua kali.&#8217; Imam Az-Zuhri mengatakan, &#8216;Bersikap sombong kepada pecinta dunia merupakan bagian ikatan Islam yang kokoh.&#8217; Imam Yahya bin Mu&#8217;adz mengatakan, &#8216;Bersikap sombong kepada orang yang bersikap sombong kepadamu, dengan hartanya, adalah termasuk bentuk ketawadhuan.&#8217;&#8221;</p>
<p>Sementara, ulama yang lain mengatakan, &#8220;Terkadang bersikap sombong kepada orang yang sombong, bukan untuk membanggakan diri, termasuk perbuatan terpuji. Seperti, bersikap sombong kepada orang yang kaya atau orang bodoh (yang sombong).&#8221;</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/konsultasi-syariah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with konsultasi syariah">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a><strong></strong></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>seorang yang sombong</strong>, <strong>bolehkah orang islam bersikap sombong</strong>, <strong>hadits kesombongan</strong>, <strong>hadis tentang sedekah</strong>, <strong>puasa sedekah hadis</strong>, <strong>maaf</strong>, <strong>kata-kata nasehat untuk orang sombong</strong>, <strong>hadits bagi orang yang sombong,membanggakan diri dan munafik</strong>, <strong>nasehat untuk orang yang sombong</strong>, <strong>hadist tentang kesombongan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kesahihan-hadis-sombong-terhadap-orang-sombong-adalah-sedekah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Ayat Alquran yang Bertentangan dengan Hadis Sahih?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tidak-ada-pertentangan-alquran-dan-hadis-sahih</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tidak-ada-pertentangan-alquran-dan-hadis-sahih#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 01:21:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[al quran bertentangan]]></category>
		<category><![CDATA[al quran dan hadist shahih tentang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[al-quran yg menjelaskan bahwa hadits itu penjelasan dari al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ayat al quran]]></category>
		<category><![CDATA[ayat al quran yang menhjelaskan tentang utang]]></category>
		<category><![CDATA[ayat al quran yg menjelaskan tentang kesombongan]]></category>
		<category><![CDATA[ayat alquran tentang amal]]></category>
		<category><![CDATA[ayat alquran tentang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ayat dan hadist tentang puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ayat dan hadits tentang puasa romadhon]]></category>
		<category><![CDATA[ayat hadis]]></category>
		<category><![CDATA[ayat hadis alkuran]]></category>
		<category><![CDATA[ayat tentang al quran dan hadist]]></category>
		<category><![CDATA[ayat tentang puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat alquran dan hadist tentang berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat dan hadits tentang puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat hadits tentang puasa dengan artinya]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat yang bertentangan dalam alquran]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat yang bertentangan di dalam alquran]]></category>
		<category><![CDATA[ayat-ayat yang bertentangan dlm alquran]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[buku bulughul maram a. hasan]]></category>
		<category><![CDATA[bulughul maram a hassan]]></category>
		<category><![CDATA[dalil al-quran untuk menerima hadith]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hadis menerima keadaan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hadis shahih tentang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadis sohih ayat pertama]]></category>
		<category><![CDATA[hadis yang bertentangan quran]]></category>
		<category><![CDATA[hadist dan ayat alquran tentang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist yang bertentangan dengan qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih dengan ayat]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih tentang lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih utang]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang amal yang ditolak]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang menghajikan orang lain]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[jika nash bertentangan dengan nash]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[majmu fatawa jilid 24 tentang mendoakan orang yang telah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[menghajikan orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[perbuatan yang bertentangan al quran]]></category>
		<category><![CDATA[sahih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[siksa kubur]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[surat alquran yang menjelaskan tentang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[surat yg menerangkan wanita haid dilarang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[wanita menyalati jenazah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4925</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Betulkah ada ayat Alquran yang bertentangan dengan hadis sahih, dan kemudian hadis tersebut harus dibuang? Contohnya, hadis tentang menghajikan orang lain, mayat disiksa karena ditangisi, dan lain-lain. (Lihat buku-buku A. Hassan: Soal-Jawab dan Bulughul Maram) Jawaban: Tidak ada ayat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Betulkah ada ayat Alquran yang bertentangan dengan hadis <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sahih" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sahih">sahih</a>, dan kemudian hadis tersebut harus dibuang? Contohnya, hadis tentang menghajikan orang lain, mayat disiksa karena ditangisi, dan lain-lain. (Lihat buku-buku A. Hassan: <em>Soal-Jawab</em> dan <em>Bulughul Maram</em>)<br />
<span id="more-4925"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak ada ayat Alquran yang bertentangan dengan hadis sahih karena Alquran adalah sesuatu yang pasti benar, dan hadis sahih adalah sesuatu yang pasti benar, sedangkan segala sesuatu yang pasti benar itu tidak akan bertentangan satu sama lain. Sumber keduanya sama, yaitu Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, keduanya sama-sama wahyu Allah <em>subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hanyalah menyampaikan wahyu dari Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>أَ لاَ إِ نٌي أٌوتيتُ الْكِتَا بَ وَ مِثْلَهُ مَعَهُ</strong></p>
<p>“<em>Ingatlah, sesungguhnya aku diberi Alkitab (Alquran) dan (diberi) yang semisalnya (yaitu As-Sunnah) bersamanya</em>.” (H.R. Abu Daud, no. 4604; Tirmidzi; Ahmad; Al-Hakim; riwayat dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani)</p>
<blockquote><p>Dengan demikian, tidak boleh menolak sebagian <em>nash</em> (ayat atau hadis sahih) dengan alasan bertentangan dengan <em>nash</em> yang lain, karena hal ini berarti mendustakan sebagian kebenaran. Meski ada ayat-ayat atau hadis-hadis yang dianggap bertentangan oleh sebagian orang, namun hal itu hanyalah persangkaan. Para ulama sudah mendudukan <em>nash-nash</em> tersebut pada tempatnya, sehingga tidak lagi bertentangan.</p></blockquote>
<p>Adapun hadis tentang menghajikan orang lain yang dicontohkan Penanya, maka perlu diketahui, hadis ini diriwayatkan oleh banyak ahli hadis, antara lain:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عنْ ابْنِ عَبَّاسٍ  أَنَّ امْرَ أَةً مِنْ جُهَيْنَةَ خَا ءَتْ إِلَى النَّبِيِّ فَقَالَتْ إِنَّ أُ مِّي نَذَرَبْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ بَححُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَ فَأَ حُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَ لَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَ يْنٌ أَ كُنْتِ قَا ضِيَةً اقْضُوا الله فَا لله أحَقُّ بِالْوَفَاءِ</strong></p>
<p>Dari Ibnu Abbas, bahwa seorang wanita dari Juhainah mendatangi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lalu dia berkata, “Sesungguhnya, ibuku bernazar akan berhaji, tetapi dia belum berhaji sampai dia meninggal. Apakah aku (dapat) menghajikannya?” Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, “<em>Ya, berhajilah untuknya. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> pendapatmu, jika ibumu menanggung utang, apakah engkau (dapat) membayar? Bayarlah (utang) kepada Allah, karena Allah lebih berhak terhadap pemenuhan (utang)</em>.” (H.R. Bukhari, no. 1852)</p>
<p><strong>Hadis ini sahih, dan para ulama bersepakat menerima isinya, bahwa seorang yang berutang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haji-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haji">haji</a> boleh dihajikan oleh orang lain yang telah melakukan ibadah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haji-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haji">haji</a></strong>.</p>
<p>Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Seorang wanita boleh menghajikan wanita lain, (hal ini) berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Lihat <em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 26:13)</p>
<p>Syekhul Islam juga mengatakan, “Tentang menghajikan orang yang sudah mati atau orang yang tidak kuat badannya, dengan harta yang diambil dari orang yang dihajikan itu sebagai biaya selama haji, maka ini boleh, dengan kesepakatan para ulama. Adapun menghajikan orang yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> upah, (hal ini) masih menjadi perselisihan pendapat di antara para ahli fikih.” (Lihat <em>Majmu’ Fatawa</em>, 26:13)</p>
<p>Adapun perkataan Ustadz A. Hassan di dalam terjemahan kitab Bulughul Maram, 1:367, hadis no. 733, keterangan no. 2, yaitu, “Seseorang yang menghajikan seorang itu berlawanan dengan ayat 33 dari An-Najm dan lainnya, yang artinya, &#8216;Seseorang tidak dapat memperoleh sesuatu melainkan perbuatan yang ia kerjakan,&#8217;” maka kami jawab,</p>
<p>1. <strong>Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada ulama yang menolak hadis ini dengan alasan bertentangan dengan surat An-Najm ayat 33 dan lainnya</strong>. Bahkan, para ulama bersepakat menerima hadis di atas, sebagaimana telah kami nukilkan perkataan Syekhul Islam. Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang telah mati mendapatkan manfaat dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> (jenazah) atasnya, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> untuknya, haji baginya, dan semacamnya, dari segala sesuatu yang manfaatnya telah pasti didapatkan oleh seseorang dengan sebab amal orang lain.” (<em>Tafsir Adhwaul Bayan</em>, An-Najm:39)</p>
<p>Jika ini merupakan ijma&#8217;, maka <strong>menyelisihi ijma’ merupakan kesalahan</strong>.</p>
<p>2. <strong>Tentang firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em></strong>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى</strong></p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya, seorang manusia hanya mendapatkan hasil yang telah diusahakannya</em>.” (Q.S. An Najm:39)</p>
<p>Ayat ini tidak bertentangan dengan hadis sahih tentang menghajikan orang lain. <strong>Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat ini bersifat umum, sedangkan hadis mengkhususkannya</strong>.</p>
<p>Di antara ulama yang berpendapat demikian ialah Imam Asy-Syaukani. Beliau menjelaskan makna ayat ke-53, surat An-Najm, dengan menyatakan, “Dan makna ayat tersebut, ‘Dia (manusia) hanya mendapatkan balasan usahanya, dan amal seseorang tidak bermanfaat kepada orang lain,’ maka keumuman ini dikhususkan dengan firman Allah ta’ala, &#8216;Kami hubungkan mereka dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> cucu mereka.&#8217; (Q.S. Ath-Thur:21), serta dengan ayat semisal itu tentang syafaat para nabi dan para malaikat untuk hamba-hamba (Allah), dan disyariatkannya doa orang-orang yang hidup untuk orang-orang yang telah mati, dan semacamnya. Tidak benarlah orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya ayat itu dihapuskan dengan semisal perkara-perkara ini,’ karena sesungguhnya yang khusus tidaklah menghapuskan yang umum, <strong>tetapi mengkhususkannya</strong>. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dalilnya telah tegak bahwa manusia mendapatkan manfaat dengannya, sedangkan itu bukan usahanya, hal itu menjadi pengkhusus keumuman ayat ini.” (<em>Tafsir Fathul Qadir</em>, surat An Najm, ayat 39)</p>
<p><strong>Sebagian ulama lainnya menjelaskan bahwa yang ditiadakan oleh ayat itu hanyalah kepemilikan</strong>.</p>
<p>Imam Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata, “Ayat itu hanyalah menunjukkan peniadaan kepemilikan manusia terhadap sesuatu yang tidak diusahakannya. Ayat ini tidak menunjukkan peniadaan bahwa manusia tidak mendapatkan manfaat dengan usaha orang lain.” (<em>Tafsir Adhwaul Bayan</em>, surat An-Najm, ayat 39). <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Adapun hadis tentang mayit yang disiksa karena ditangisi, maka sangat banyak riwayat yang menyebutkan hal ini. Di antaranya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ قَالَ الْمَيِّتُ يُعَذَّ بُ فِي قَبْرِ هِ بِمَانِيحَ عَلَيْهِ</strong></p>
<p>Dari Ibnu Umar dari bapaknya dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>; beliau bersabda, “<em>Mayit akan disiksa di dalam kuburnya dengan sebab dilakukannya niyahah (tangisan dengan jeritan dan perkataan yang menunjukkan tidak menerima keadaan) terhadapnya</em>.” (H.R. Bukhari, no. 1292)</p>
<p>Makna hadis ini memang seolah-olah bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَ لَا تَز رُوَا زرَ ةٌوزْ رَ أُ خْرَى</strong></p>
<p>“<em>Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain</em>.” (Q.S. Al-An’am:164).</p>
<p>Kendati demikian, para ulama telah memberikan jawaban yang banyak.</p>
<p>Syekh Muhamamd Nashiruddin Al-Albani berkata, “Dalam menjawab hal ini, ulama telah berbeda pendapat, (yaitu) sebanyak delapan pendapat. Yang paling dekat kepada kebenaran ada dua pendapat. <em>Pertama</em>: Pendapat mayoritas ulama, bahwa hadis ini tertuju kepada orang yang berwasiat agar <em>niyahah</em> (ratapan) dilakukan terhadapnya, atau orang yang tidak berwasiat untuk meninggalkannya, padahal dia mengetahui bahwa orang-orang biasa melakukannya. Oleh karena itulah, Abdullah bin mubarak berkata, ‘Jika dia (si mayit) telah melarangnya ketika hidupnya, lalu mereka melakukan sesuatu dari itu (<em>niyahah</em>) setelah wafatnya, tidak ada sesuatu (siksaan) atasnya (mayit).’”</p>
<p>Kemudian, Syekh menyebutkan pendapat kedua yang menguatkan jawaban mayoritas ulama di atas. (Lihat <em>Ahkamul Janaiz</em>, hlm. 41, karya Syekh Al-Albani, Penerbit: Maktabah Al Ma’arif)</p>
<p>Berdasarkan penjelasan ini, siksa yang dialami oleh si mayit tadi disebabkan oleh perbuatannya sendiri. Dengan demikian, tidak ada pertentangan dengan ayat Alquran. Alhamdulillah.</p>
<p><strong>Sumber</strong>:  Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 3, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com.<br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>ayat-ayat yang bertentangan di dalam alquran</strong>, <strong>majmu fatawa jilid 24 tentang mendoakan orang yang telah meninggal</strong>, <strong>al quran dan hadist shahih tentang puasa</strong>, <strong>ayat tentang al quran dan hadist</strong>, <strong>hadis shahih tentang ramadhan</strong>, <strong>hadits shahih tentang lain-lain</strong>, <strong>ayat tentang puasa ramadhan</strong>, <strong>hadist yang bertentangan dengan qur&#039;an</strong>, <strong>ayat-ayat alquran dan hadist tentang berpuasa</strong>, <strong>ayat al quran yang menhjelaskan tentang utang</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tidak-ada-pertentangan-alquran-dan-hadis-sahih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Penting Niatnya?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/yang-penting-niatnya</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/yang-penting-niatnya#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 00:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[matlamat penggunaan kitab at-tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[niat keluar rumah]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4897</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Kita mengetahui, ada hadis yang menjelaskan bahwa amalan seseorang tergantung dari niatnya. Namun, kita ketahui bahwa&#8211;bisa jadi&#8211;seseorang menjalankan suatu amalan yang tidak sama dengan yang telah ada di dalam hadis. Misalnya, wanita tidak diperbolehkan memakai minyak wangi apabila keluar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Kita mengetahui, ada hadis yang menjelaskan bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> seseorang tergantung dari niatnya. Namun, kita ketahui bahwa&#8211;bisa jadi&#8211;seseorang menjalankan suatu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> yang tidak sama dengan yang telah ada di dalam hadis. Misalnya, wanita tidak diperbolehkan memakai minyak wangi apabila keluar rumah, namun yang bersangkutan berdalil, &#8220;Semua itu tergantung niatnya. Asalkan tujuannya tidak untuk menggoda kaum laki-laki.&#8221; Yang ingin kami tanyakan, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> yang demikian ini?<br />
<span id="more-4897"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Memang, amalan seseorang tergantung dari niatnya, sebagaimana terdapat dalam sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّمَاالأَعْمَالُ بِا لِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِ ئٍ هَانَوَى</strong></p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya, amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuatu yang diniatkannya</em>.&#8221; (H.R. Al-Bukhari, no. 1)</p>
<p>Kendati demikian, pernyataan yang berdalih dengan hadis ini, untuk menghalalkan perkara yang diharamkan Allah, merupakan satu kesalahan besar dan jauh dari kebenaran. Bagaimana tidak, setiap pelaku dosa akan menyatakan bahwa dirinya tidak berniat berbuat dosa, dan yang penting tujuannya baik. Orang mencuri akan menyatakan bahwa ia mencuri untuk tujuan yang baik, yaitu memberi nafkah kepada keluarganya. Akhirnya, hancurlah syariat dengan dalih seperti ini.</p>
<p>Wanita dilarang menggunakan minyak wangi keluar rumah, walaupun tidak bertujuan menggoda laki-laki. Dia tidak boleh berdalih dengan niat, untuk membenarkan perbuatannya tersebut, sebab Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَهٌ وَالْمَرْأَةُإِذَااسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِ لْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَاوَكَذَايَعْنِي زَانِيَةً</strong></p>
<p>&#8220;<em>Semua mata itu berzina, dan wanita yang menggunakan minyak wangi lalu melewati majelis para lelaki maka dia itu begini dan begitu, yaitu pezina.</em>&#8221; (H.R. At-Tirmidzi dan Al Mundziri)</p>
<p>Hadis ini tidak mengisyaratkan tujuan menggunakan minyak wangi, sehingga hukumnya berlaku umum.</p>
<p>Syekh Al-Mubarakfuri, dalam kitab <em>Tuhfah Al-Ahwadzi</em>, menjelaskan alasan sehingga si wanita dijuluki &#8220;pezina&#8221; dalam hadis Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di atas, yaitu karena wanita tersebut telah membangkitkan syahwat lelaki dengan minyak wanginya dan menarik perhatian laki-laki untuk melihatnya. Padahal, orang yang melihatnya telah berzina dengan matanya, sehingga ia menjadi penyebab terjadinya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a> mata; wanita itu pun berdosa.</p>
<p>Demikian juga, ia menggunakan minyak wangi tentu dengan niat &#8220;tampil lebih menarik di hadapan orang lain&#8221;. Ini membatalkan dalihnya tersebut.</p>
<p>Mudah-mudahan, Allah membimbing kita semua ke jalan Allah yang lurus.</p>
<p><strong>Sumber: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 5, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>matlamat penggunaan kitab at-tirmidzi</strong>, <strong>niat keluar rumah</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>zina</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>amalan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/yang-penting-niatnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penjelasan Ringkas Tentang Arba&#8217;in An-Nawawiyah, Hadis ke-29</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/penjelasan-ringkas-tentang-arbain-an-nawawiyah-hadis-ke-29</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/penjelasan-ringkas-tentang-arbain-an-nawawiyah-hadis-ke-29#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 01:29:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[arba'in]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hadist arba'an]]></category>
		<category><![CDATA[hadits arba’in annawawiyah]]></category>
		<category><![CDATA[hadits arbain tentang kolbu]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan hadits 21]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan hadits ke 21 arba'in]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[syarah hadis arbain ibumu]]></category>
		<category><![CDATA[syarah hadist arba'in 29]]></category>
		<category><![CDATA[syarah hadits arba'in indonesia download]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4765</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Mohon penjelasan mengenai sabda Rasulullah dalam Arba’in An-Nawawiyah, hadis ke-29, yang berbunyi, “&#8230; Semoga engkau kehilangan ibumu, wahai Mu’adz.” Jawaban: Penggalan lafal hadis yang dimaksud ialah, قلت : يا نبي الله ، وإنا لمؤاخذون بما نتكلم به ؟ فقال ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Mohon penjelasan mengenai sabda Rasulullah dalam <em>Arba’in An-Nawawiyah</em>, hadis ke-29, yang berbunyi, “<em>&#8230; Semoga engkau kehilangan ibumu, wahai Mu’adz.</em>”<br />
<span id="more-4765"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Penggalan lafal hadis yang dimaksud ialah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>قلت : يا نبي الله ، وإنا لمؤاخذون بما نتكلم به ؟ فقال : ثكلتك أمك ، وهل يكب الناس في النار على وجوههم _ أو قال على مناخرهم _ إلا حصائد ألسنتهم</strong></p>
<p>“&#8230;Aku (Mu’adz) berkata, ‘Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa lantaran ucapan yang kita lontarkan?’ Beliau menjawab, ‘Tsaqilatka ummuka, wahai Mu’adz! Bukankah menusia itu disungkurkan wajahnya – hidungnya (dalam riwayat yanng lain) – di neraka, selain karena ucapan lisannya (yang tidak ada nilai baiknya)&#8230;”</p>
<p>Tidak hanya &#8220;<em>tsaqilatka ummuka</em>&#8221; (sebuah lafal yang seolah-olah mengungkapkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> kejelekan) yang terdapat dalam hadis. Masih ada kalimat lain, seperti: <em>qatalahullah, wailun laka</em>, dan <em>taribat yadaka</em> (asal makna taribat adalah &#8220;berpisah&#8221;).</p>
<p>Berkaitan dengan ini, Syekh Azhim Abadi, penulis <em><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/syarah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with syarah">Syarah</a> Sunan At-Tirmidzi</em>, mengatakan dalam penjelasan hadis no. 113, 1:128, “Bangsa Arab biasa memakainya tanpa memaksudkan ucapannya sesuai dengan hakikat (lafal tersebut). Mereka menyebutkan, &#8216;<em>Taribat yadaka</em>! (Celakalah dua tanganmu!),&#8217; &#8216;<em>Qatahullah! Ma asyja’ahu</em>! (Semoga Allah memeranginya! Betapa beraninya dia!),&#8217; &#8216;<em>Wa la umma lahu wa la aba lahu</em>! (Dia tidak mempunyai ibu, dan dia tidak mempunyai ayah!),&#8217; &#8216;<em>Tsaqilatka ummuka</em>! (Celakalah ibumu!),&#8217; &#8216;<em>Wailun ummuhu</em> (Kecelakaanlah untuk ibunya!),&#8217; dan lain-lain. Mereka (bangsa Arab) mengatakannya saat mengingkari sesuatu, menjauhi sesuatu, bertekad untuk melakukan sesuatu, menganggap besar satu perkara, atau mengungkapkan anjuran dan kekaguman dengannya. <em>Wallahu a’lam</em>.” (Lihat <em>Syarah Muslim</em>, karya An-Nawawi, 3:221)</p>
<p><strong>Sumber: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 3, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi w<em>ww.KonsultasiSyariah.com</em>.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>arba&#039;in</strong>, <strong>syarah hadis arbain ibumu</strong>, <strong>hadits arbain tentang kolbu</strong>, <strong>syarah hadist arba&#039;in 29</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>hadits arba’in annawawiyah</strong>, <strong>penjelasan hadits ke 21 arba&#039;in</strong>, <strong>syarah hadits arba&#039;in indonesia download</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hadist arba&#039;an</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/penjelasan-ringkas-tentang-arbain-an-nawawiyah-hadis-ke-29/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Hadits Jayyid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/makna-hadits-jayyid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/makna-hadits-jayyid#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 02:33:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu hadits jayid]]></category>
		<category><![CDATA[apa makna jayyid?]]></category>
		<category><![CDATA[arti hadist jayyid]]></category>
		<category><![CDATA[arti isnad jayid]]></category>
		<category><![CDATA[arti kata jayyid]]></category>
		<category><![CDATA[hadist sanad jayyid]]></category>
		<category><![CDATA[hadist shahih tentang makna sombong]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hadits jayyid]]></category>
		<category><![CDATA[isnad jayyid shahih definisi]]></category>
		<category><![CDATA[jayyid adalah]]></category>
		<category><![CDATA[jayyid”]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian hadist jayyid]]></category>
		<category><![CDATA[sanad jayyid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3776</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa makna perkataan sebagian huffazh, “Ini adalah hadits jayyid (baik)”? Jawaban: Yang saya ketahui dari lafal ini adalah bahwa mereka mengatakan jayyid pada satu sanad tatkala mereka ragu antara shahih dan hasan. Seorang pengkaji hadits mendapat bahwa isnadnya mengandung ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa makna perkataan sebagian <em>huffazh</em>, “Ini adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a> <em>jayyid </em>(baik)”?<br />
<span id="more-3776"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Yang saya ketahui dari lafal ini adalah bahwa mereka mengatakan <em>jayyid</em> pada satu <em>sanad</em> tatkala mereka ragu antara shahih dan hasan. Seorang pengkaji hadits mendapat bahwa isnadnya mengandung kemungkinan shahih, tetapi secara pasti ia adalah hasan, maka mereka men-<em>jayyid</em>-kan <em>isnad</em>-nya.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8212; 2004 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>arti kata jayyid</strong>, <strong>hadits jayyid</strong>, <strong>hadist shahih tentang makna sombong</strong>, <strong>hadits</strong>, <strong>isnad jayyid shahih definisi</strong>, <strong>pengertian hadist jayyid</strong>, <strong>jayyid adalah</strong>, <strong>jayyid”</strong>, <strong>arti isnad jayid</strong>, <strong>apa makna jayyid?</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/makna-hadits-jayyid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Beramal dengan Hadits Dhaif yang Derajat Dhaifnya Ringan?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-beramal-dengan-hadits-dhaif-yang-derajat-dhaifnya-ringan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-beramal-dengan-hadits-dhaif-yang-derajat-dhaifnya-ringan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 02:28:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu hadits dhaif dan hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu hadits dhaif?]]></category>
		<category><![CDATA[apakah boleh mengamal kan hadis dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[beramal dengan hadith dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkan berdoa dengan hadits dhoif]]></category>
		<category><![CDATA[buku hadits dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[daftar hadits dha'if]]></category>
		<category><![CDATA[derajat haditsamalan sunnah di bulan ramadhan sama dengan wajib]]></category>
		<category><![CDATA[dha'if]]></category>
		<category><![CDATA[dhoif beramal]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[download kumpulan hadits-hadits dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[hadis-hadis dhaif seputar adzan]]></category>
		<category><![CDATA[hadist dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[hadits-hadits dhaif bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum beramal dengan hadith doif]]></category>
		<category><![CDATA[hukum beramal dengan hadits dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[hukum hadis dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menggunakan hadist dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya beramal dengan hadist dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[kapan hadits dhaif boleh digunakan?]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan hadis dhoif palsu doa sebel;um makan]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan hadist dhoif seputar ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[memanggil istri ukhti]]></category>
		<category><![CDATA[mengamalkan hadis dhaif seputar ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mengamalkan hadist dhoif]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan dan hadist dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[seputar hadis dhoif doa makan]]></category>
		<category><![CDATA[yang dimaksud dengan derajat hadist dhoif danm hadis hasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3763</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Sebagian ahli hadits di dalam kitab-kitab mereka membolehkan mengamalkan hadits dhaif yang derajat kelemahannya ringan. Bagaimana pendapat Anda dalam perkara ini? Jawaban: Pertama, tidak didapati satu dalil pun yang membolehkan kita mengamalkan hadits dhaif (lemah) walaupun derajat kelemahannya ringan. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Sebagian ahli <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a> di dalam kitab-kitab mereka membolehkan mengamalkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a> dhaif yang derajat kelemahannya ringan. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> pendapat Anda dalam perkara ini?<br />
<span id="more-3763"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Pertama, tidak didapati satu dalil pun yang membolehkan kita mengamalkan hadits dhaif (lemah) walaupun derajat kelemahannya ringan.</p>
<p>Kedua, pendapat tentang bolehnya mengamalkan hadits dhaif mengakibatkan munculnya suatu bid’ah. Maka setiap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> atau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> yang tidak berdasarkan hadits yang shahih menurut ulama hadits, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> tersebut adalah bid’ah. Setiap ketetapan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> tidak boleh berdasarkan hadits dhaif, tetapi harus berdasarkan hadits shahih. Hadits dhaif hanya bisa dipakai untuk satu hal, yaitu <em>fadha&#8217;ilul a’mal </em>(keutamaan-keutamaan amal).</p>
<p>Pendapat yang mengatakan bahwa hadits dhaif dapat diamalkan dalam <em>fadha&#8217;ilul a’mal </em>ini pun merupakan suatu pendapat yang bertolak belakang antara awal dan akhirnya. Mari kita lihat, ketika kita mengamalkan hadits-hadits dhaif dalam<em> fadha&#8217;ilul a’mal</em>, apakah amalan kita itu berdasarkan hadits-hadits dhaif tersebut? Atau berdasarkan hadits lain?</p>
<p>Kalau jawabannya berdasarkan hadits dhaif, berarti kita menetapkan suatu hukum berdsarkan hadits dhaif. Padahal menetapkan suatu hukum berdasarkan hadits-hadits dhaif ditentang oleh orang yang membolehkan mengamalkan hadits dhaif dalam<em> fadha&#8217;ilul a’mal</em>. Sedangkan jika jawabannya “berdasarkan hadits yang shahih” maka buat apa kita membawa hadits-hadits yang dhaif tadi? Sebab ada atau tidaknya hadits-hadits yang dhaif adalah sama saja, sama sekali tidak ada pengaruhnya. Amal itu hanya akan berdasarkan kepada hadits yang shahih.</p>
<p>Oleh karena itu, kalimat “hadits dhaif diamalkan dalam <em>fadha&#8217;ilul a’mal”</em> tidak memberi faidah sedikit pun, karena kritik ilmiah dalam hadits menerangkan bahwa kalimat ini secara mutlak tidak mungkin untuk dapat dianut selamanya.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani,</em> Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8212; 2004 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mengamalkan hadis dhaif seputar ramadhan</strong>, <strong>download kumpulan hadits-hadits dhaif</strong>, <strong>hukum menggunakan hadist dhaif</strong>, <strong>dhoif beramal</strong>, <strong>apa itu hadits dhaif dan hukumnya</strong>, <strong>daftar hadits dha&#039;if</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hadits-hadits dhaif bulan ramadhan</strong>, <strong>beramal dengan hadith dhaif</strong>, <strong>dha&#039;if</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-beramal-dengan-hadits-dhaif-yang-derajat-dhaifnya-ringan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mukhtashar Al-Munzhiri Terhadap Kitab Sunan Abu Dawud</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mukhtashar-al-munzhiri-terhadap-kitab-sunan-abu-dawud</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mukhtashar-al-munzhiri-terhadap-kitab-sunan-abu-dawud#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 00:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA["sunan abu dawud" download]]></category>
		<category><![CDATA[al munzhiri seorang ahli hadits]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[download buku hadits shahih abu dawud]]></category>
		<category><![CDATA[download gratis syarahan hadis sunnsn abu daud]]></category>
		<category><![CDATA[download gratis terjemahan kitab hadits sunan abu daud]]></category>
		<category><![CDATA[ebook hadist abu dawood download]]></category>
		<category><![CDATA[ebook kitab hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hadist sedekah sunan abu daud]]></category>
		<category><![CDATA[imam abu dawud]]></category>
		<category><![CDATA[kitab abu dawud]]></category>
		<category><![CDATA[kitab hadits]]></category>
		<category><![CDATA[kitab sunan imam abu daud]]></category>
		<category><![CDATA[kitap sunan abu dawu]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mukhtashar hadits arbain]]></category>
		<category><![CDATA[terjemah hadits sunan abu daud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3688</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimanakah komentar Anda, wahai Syekh, mengenai kitab Mukhtasar Sunan Abi Daud yang ditulis oleh Imam Al-Munzhiri yang disertai beberapa catatan/komentar (ta’liq) oleh Ibnul Qayyim. Yang mana beberapa hadits dalam kitab tersebut tidak dikomentari oleh Abu Daud, juga tidak dikomentari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bagaimanakah komentar Anda, wahai Syekh, mengenai kitab <em>Mukhtasar Sunan Abi Daud</em> yang ditulis oleh Imam Al-Munzhiri yang disertai beberapa catatan/komentar (<em>ta’liq</em>) oleh Ibnul Qayyim. Yang mana beberapa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a> dalam kitab tersebut tidak dikomentari oleh Abu Daud, juga tidak dikomentari oleh Imam Al-Munzhiri. Begitu pula Ibnul Qayyim tidak memberi komentar atas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a>-hadits tersebut. Apakah dengan diamnya para imam berarti kita boleh meyakini bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a>-hadits tersebut shahih, atau minimal <em>hasan</em>?<br />
<strong><span id="more-3688"></span><br />
Jawaban:</strong></p>
<p>Sebagian para pengkaji ilmu hadits merasa pasti bahwa hadits-hadits tersebut derajatnya kuat walaupun pada tingkatan <em>hasan</em>. Akan tetapi penelitian hadits secara cermat membuktikan bahwa tidak ada alasan bagi para pengkaji ilmu hadits untuk berdiam diri terhadap hadits-hadits yang didiamkan oleh imam-imam tersebut. Mengapa? Karena fakta membuktikan bahwa mereka sering mendiamkan satu hadits walaupun seharusnya di-<em>dha’if-</em>kan.</p>
<p>Bagi seorang pemula atau orang yang tidak mempu mengadakan penelitian hadits maka mereka boleh mengikuti dan berpedoman kepada sikap diam para imam tersebut. Akan tetapi, bagi seorang penuntut ilmu agama (<em>syar’i</em>) khususnya ilmu hadits maka dia harus mampu berdiri sendiri dalam meneliti hadits-hadits yang dianggap hasan oleh Tirmidzi. Selanjutnya, dengan melakukan penelitian lebih lanjut, dia akan memperoleh kesimpulan bahwa hadits tersebut <em>dha’if</em>. Orang-orang seperti ini sangatlah sedikit. Dengan demikian, maka mayoritas para pengkaji harus mengikuti para ulama ahli hadits.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8212; 2004 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kitab hadits</strong>, <strong>download gratis syarahan hadis sunnsn abu daud</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>kitab sunan imam abu daud</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>download buku hadits shahih abu dawud</strong>, <strong>ebook kitab hadits</strong>, <strong>hadist sedekah sunan abu daud</strong>, <strong>download gratis terjemahan kitab hadits sunan abu daud</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mukhtashar-al-munzhiri-terhadap-kitab-sunan-abu-dawud/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits Hasan Shahih, Hasan Gharib, dan Hadits Gharib Menurut Tirmidzi</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hadits-hasan-shahih-hasan-gharib-dan-hadits-gharib-menurut-tirmidzi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hadits-hasan-shahih-hasan-gharib-dan-hadits-gharib-menurut-tirmidzi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 01:40:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[derajat hadits dhoif dan hasan]]></category>
		<category><![CDATA[hadis garib]]></category>
		<category><![CDATA[hadis sahih tentang wanita]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[hadist yang menjelaskan tenteng maaf]]></category>
		<category><![CDATA[hadits gharib]]></category>
		<category><![CDATA[hadits penguat tentang pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang ilmu dari shahih tirmidzi beserta arab]]></category>
		<category><![CDATA[haduts hasan]]></category>
		<category><![CDATA[hasan sahih]]></category>
		<category><![CDATA[hasn shoheh]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan hadis hasan]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan hadist tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[maksud hadis hasan gharib]]></category>
		<category><![CDATA[maksud hadith hasan gharib]]></category>
		<category><![CDATA[sanad hasan shohih]]></category>
		<category><![CDATA[shahih tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara solat menut a. hasan]]></category>
		<category><![CDATA[uang gharib]]></category>
		<category><![CDATA[yang dimaksud hadits gharib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3684</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa yang dimaksud oleh At-Tirmidzi dengan istilah: hasan shahih, hasan gharib, serta hadits gharib? Jawaban: Istilah &#8220;hasan shahih&#8221; merupakan masalah yang sangat pelik, karena para ulama banyak berselisih pandangan dalam masalah ini. Kami belum menemukan &#8211;sejauh yang kami ketahui&#8211; ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa yang dimaksud oleh At-Tirmidzi dengan istilah: <em>hasan shahih, hasan gharib, </em>serta <em><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-gharib" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits gharib">hadits gharib</a></em>?<br />
<span id="more-3684"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Istilah &#8220;<em>hasan shahih</em>&#8221; merupakan masalah yang sangat pelik, karena para ulama banyak berselisih pandangan dalam masalah ini. Kami belum menemukan &#8211;sejauh yang kami ketahui&#8211; mengenai pendapat pasti yang bisa dijadikan seabgai pedoman. Ini disebabkan karena At-Tirmidzi sendiri tidak menjelaskan apa yang beliau maksud dengan istrilah <em>hasan shahih</em> tersebut.</p>
<p>Adapun istilah &#8220;<em>hasan gharib</em>&#8221; tidak sama dengan istilah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a> <em>hasan</em>. Yang dimaksud dengan hadits <em>hasan gharib</em> adalah hasan (bagus) secara sanad dan tidak dikenal/asing (<em>gharib</em>) disebabkan karena salah seorang perawinya meriwayatkan hadits tersebut seorang diri.</p>
<p>Adapun istilah hadits &#8220;<em>hasan</em>&#8221; yang mana Tirmidzi tidak menambahkan lafal <em>gharib</em> sesudahnya, maka yang beliau maksudkan adalah hadits &#8220;<em>hasan li ghairihi</em>&#8221; (hadits yang pada asalnya <em>dha’if,</em> namun kemudian menjadi hasan karena terdapat riwayat lain yang menaikkan derajat hadits tersebut sehingga menjadi hasan, pent.).</p>
<p>Oleh sebab itu, wajib bagi penuntut ilmu untuk berati-hati dalam masalah ini, yakni bahwa setiap hadits yang dikatakan oleh Imam At-Tirmidzi hadits hasan, maka sanadnya adalah <em>dha’if,</em> namun beliau mengetahui bahwa terdapat hadits lain sebagai <em>mutaba’at </em>(penyerta) dan <em>syawahid</em> (penguat), yang pada akhirnya menaikkan derajatnya dari <em>dha’if</em> menjadi <em>hasan.</em> Maksudnya, <em>dha’if </em>dari segi <em>sanad, </em>tetapi hasan dari segi <em>matan</em> (isi hadits), yang mana kenaikan derajat tersebut merupakan konsekuensi dari <em>matan</em>-nya, disebabkan kedatangannya melalui jalan-jalan yang lain. Adapun jika ia berkata &#8220;hadits <em>gharib</em>&#8221; maka kebanyakan yang ia maksudkan adalah &#8220;<em>dha’if</em>&#8220;, yaitu secara <em>sanad</em>.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8212; 2004 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="http://konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hadits shahih tirmidzi</strong>, <strong>tata cara solat menut a. hasan</strong>, <strong>kumpulan hadis hasan</strong>, <strong>kumpulan hadist tirmidzi</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>maksud hadis hasan gharib</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>yang dimaksud hadits gharib</strong>, <strong>hasn shoheh</strong>, <strong>hadits gharib</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hadits-hasan-shahih-hasan-gharib-dan-hadits-gharib-menurut-tirmidzi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diamnya Abu Daud Terhadap Suatu Hadits</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/diamnya-abu-daud-terhadap-suatu-hadits</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/diamnya-abu-daud-terhadap-suatu-hadits#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 01:34:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[apa yang dimaksud kitab sunan]]></category>
		<category><![CDATA[dha'if abu daud]]></category>
		<category><![CDATA[hadist abu daud]]></category>
		<category><![CDATA[hadits riwayat imam abu daud]]></category>
		<category><![CDATA[hadits riwayat imam daud]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3682</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Terkadang Imam Abu Daud tidak memberikan komentar atau diam terhadap satu hadits. Apakah diamnya beliau ini menunjukkan keshahihan hadits tersebut, ataukan harus diteliti terlebih dahulu? Jawaban: Diamnya Abu Daud tidak dapat dijadikan alasan bahwa hadits tersebut dapat dijadikan sebagai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Terkadang Imam Abu Daud tidak memberikan komentar atau diam terhadap satu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a>. Apakah diamnya beliau ini menunjukkan keshahihan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a> tersebut, ataukan harus diteliti terlebih dahulu?<br />
<span id="more-3682"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Diamnya Abu Daud tidak dapat dijadikan alasan bahwa hadits tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah, karena berdasarkan penelitian yang mendalam telah diketahui banyak hadits yang tidak dikomentari oleh Abu Daud, ternyata hadits itu sangat jelas kecacatannya.</p>
<p>Oleh karena itu, An-Nawawi berkata tentang sebagian hadits yang tidak dikomentari oleh Abu Daud, bahwa <em>sanad-sanad</em>-nya <em>dha’if </em>(lemah) dan diamnya Abu Daud justru dikarenakan kelemahan <em>sanad-sanad</em>-nya yang sudah jelas. Demikianlah pandangan beliau, walaupun An-Nawawi sendiri banyak bersandar kepada diamnya Abu Daud.</p>
<p>Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi siapa saja yang mendapat suatu hadits dalam kitab <em>Sunan Abu Daud</em> yang tidak beliau komentari, untuk menerapkan kaidah-kaidah ilmu hadits terhadap <em>sanad </em>hadits tersebut.</p>
<p>Selanjutnya, sehubungan dengan itu, menurut Imam Suyuthi dalam kitab <em>Alfiyyah</em> karya beliau yang membahas ilmu hadits, bahwa Abu Daud meriwayatkan hadits terkuat yang beliau temukan. Namun jika beliau tidak menemukannya maka beliau meriwayatkan hadits <em>dha&#8217;if</em>. Serta bahwa kebanyakan hadits-hadits dalam kitab Abu Daud tidak dikomentari oleh beliau.</p>
<p>Perkataan As-Suyuthi tadi merupakan pengakuan Imam Suyuthi bahwa di dalam bab-bab kitab Sunan banyak yang berisi hadits-hadits yang dha’if. Meskipun demikian, hal ini dapat dianggap sebagai sesuatu yang dapat dimaklumi (<em>udzur</em>) karena riwayat-riwayat tersebut merupakan riwayat yang terkuat yang ditemukan oleh Abu Daud.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8212; 2004 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>apa yang dimaksud kitab sunan</strong>, <strong>hadits riwayat imam daud</strong>, <strong>dha&#039;if abu daud</strong>, <strong>hadist abu daud</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hadits riwayat imam abu daud</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/diamnya-abu-daud-terhadap-suatu-hadits/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Hadis &#8220;Agama Adalah Akal&#8221;</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kedudukan-hadis-agama-adalah-akal</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kedudukan-hadis-agama-adalah-akal#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jan 2011 01:39:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hadis agama]]></category>
		<category><![CDATA[hadis agama penting]]></category>
		<category><![CDATA[hadis dan akal]]></category>
		<category><![CDATA[hadis hadis tentang akal]]></category>
		<category><![CDATA[hadis mutawatir]]></category>
		<category><![CDATA[hadis nabi tentang akal]]></category>
		<category><![CDATA[hadist agama akal]]></category>
		<category><![CDATA[hadist nabi tetang akal]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentan akal]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang akal]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3627</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana kedudukan hadis Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Agama adalah akal. Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.”? Jawaban: &#8220;Hadis tadi tidak ada asalnya, merupakan dusta atas nama Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda (dalam hadis mutawatir), ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> kedudukan hadis Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “Agama adalah akal. Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.”?<br />
<span id="more-3627"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>&#8220;Hadis tadi tidak ada asalnya, merupakan dusta atas nama Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</em> Rasulullah bersabda (dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadis-mutawatir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadis mutawatir">hadis mutawatir</a>), &#8216;Barang siapa yang sengaja berdusta atasku maka hendaklah dia <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> tempat duduknya dari neraka.&#8217; Dalam hadis lain, &#8216;Barang siapa menceritakan hadis dariku, yang diduga ia adalah dusta, maka ia termasuk dari dua pendusta.&#8217;</p>
<p>Meskipun demikian, bukan berarti kita menyia-nyiakan akal dan merendahkannya sebab, di dalam Alquran, banyak sekali pujian yang diberikan kepada orang-orang yang memanfaatkan nikmat akalnya dan memerintahkan untuk memberdayakan akalnya.</p>
<p>Namun, tugas akal&#8211;kaitannya dengan Alquran dan as-sunnah, ialah untuk memahaminya, bukan untuk menolak dan membantahnya. Jadi, kalau ada pertentangan maka yang disalahkan adalah akal, bukan nash.&#8221; (Syekh Ali bin Hasan Al-Halabi)</p>
<p>Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 11, Tahun VIII, 1425 H/2004 M.<br />
Dengan pengeditan dari redaksi<a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self"> www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hadis dan akal</strong>, <strong>hadits tentang akal</strong>, <strong>hadist agama akal</strong>, <strong>mengambil</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hadis nabi tentang akal</strong>, <strong>hadis hadis tentang akal</strong>, <strong>hadist tentan akal</strong>, <strong>hadis agama penting</strong>, <strong>hadist nabi tetang akal</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kedudukan-hadis-agama-adalah-akal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Rasulullah Lahir dalam Keadaan Dikhitan?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/rasulullah-lahir-dikhitan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/rasulullah-lahir-dikhitan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Oct 2010 00:12:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[aurat]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hadits rasul dikhitan]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa bayi lahir dalam keadaan lemah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2849</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah benar Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan? Dan diberitakan ini merupakan kekhususan dan kesempurnaan bagi Nabi kita? Jawaban: Hadits-hadits yang berkaitan masalah ini memang banyak, tetapi semuanya lemah, di antaranya hadits, عَنْ أَنَسِ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Apakah benar Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan? Dan diberitakan ini merupakan kekhususan dan kesempurnaan bagi Nabi kita?<br />
<span id="more-2849"></span></p>
<p><strong>Jawaban: </strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">Hadits</a>-hadits yang berkaitan masalah ini memang banyak, tetapi semuanya<strong> lemah</strong>, di antaranya hadits,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: رَسُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مِنْ كَرَامَتِيْ عَلَى اللهِ أَنْ وُلِدْتُ مَخْتُوْنًا وَلَمْ يَرَ أَحَدٌ سَوْأَتِيْ</p>
<p>“<em>Dari Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8216;Termasuk bagian karamahku (kemuliaanku) dari Allah, aku dilahirkan dalam keadaan telah dikhitan, dan tidak seorang pun melihat auratku.</em>”</p>
<p>Keterangan: hadits ini diriwayatkan oleh at-Thabarani dalam <em>as-Shagir dan al-Ausath</em>, di dalamnya ada Sufyan Ibnul-Fazari, sedangkan dia<em> perawi</em> yang tertuduh dusta (<em>Majma&#8217; az-Zawa&#8217;id, </em>3/392). Demikian juga hadits-hadits yang semakna, semuanya lemah [Imam Adz-Dzahabi dalam<em> Talkhis</em>-nya berkata, “Kami tidak mengetahui keabsahan hadits tersebut, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> mungkin dapat dikatakan <em>mutawatir</em>?” Adapun perkataan (sebagian ulama) hadits tersebut <em>mutawatir</em> maksudnya adalah hadits tersebut sangat masyhur/terkenal, karena terdapat banyak hadits dalam hal ini. (<em>Nadhmul Mutanatsir</em>, hal. 243)].</p>
<p>Adapun perkatan bahwa hal tersebut merupakan kekhususan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka <strong>tidak benar</strong>, karena landasannya tidak sah, bahkan hal ini terbukti adanya beberapa kelahiran bayi dalam keadaan khitan (sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim<em> rahimahullah</em> dalam <em>Zadul Ma&#8217;ad, </em>1/18, <em>Fatawa Lajnah Da&#8217;imah,</em> 7/85, dan <em>Liqa&#8217; al-Bab al-Maftuh</em>, 5/32 ). Karena tidak ada keterangan yang sah, maka kita kembalikan kepada asal setiap kelahiran itu dalam keadaan belum dikhitan sebagaimana kebanyakan bayi yang lahir.</p>
<p>Demikian pula manusia yang mengatakan bahwa kelahiran bayi yang sempurna adalah jika bayi dilahirkan dalam keadaan utuh fisiknya dan belum dikhitan, dan jika dilahirkan dalam keadaan telah dikhitan berarti kurang sempurna, demikian pula Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang telah disifati dengan ciptaan yang paling sempurna.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al Furqon, Edisi 9th. ke-9 1431 H/2010<br />
Dipublikasikan oleh www.KonsultasiSyariah.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>mengapa bayi lahir dalam keadaan lemah</strong>, <strong>hadits rasul dikhitan</strong>, <strong>aurat</strong>, <strong>bagaimana</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/rasulullah-lahir-dikhitan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shahihkah Hadits Ini?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/shahih-hadits-sedekah-nikah-thalaq</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/shahih-hadits-sedekah-nikah-thalaq#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2010 02:06:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Piutang]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[download ebook irwa al ghalil]]></category>
		<category><![CDATA[hadits 10 hari terakhir suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[hadits menikah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[shahihkah doa sholat dhuha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2818</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Shahihkah hadits: Maa min muslimin yuqridhu musliman qardhan marrataini illa kaana kashadaqatin marratan (HR. Ibnu Majah dan Ibn Hibban). Tsalaatsun jidduhunna jiddun wa hazluhunna jiddun, an-nikah, wa ath-thalaaq wa ar-ruj&#8217;ah (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi serta ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Shahihkah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a>:<br />
<em><br />
Maa min muslimin yuqridhu musliman qardhan marrataini illa kaana kashadaqatin marratan</em> (HR. Ibnu Majah dan Ibn Hibban).</p>
<p><em>Tsalaatsun jidduhunna jiddun wa hazluhunna jiddun, an-<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/nikah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with nikah">nikah</a>, wa ath-thalaaq wa ar-ruj&#8217;ah</em> (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi serta al-Hakim)<br />
<span id="more-2818"></span></p>
<p><strong>Jawaban: </strong></p>
<p>Hadits pertama yang saudara tanyakan adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah yang agak panjang dan diakhiri dengan lafazh:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلاَّ كَانَ كَصَدَقَتِهَا مَرَّةً</p>
<p>“<em>Tidak ada seorang muslim pun yang memberikan pinjaman kepada muslim lainnya sebanyak dua kali kecuali akan (bernilai) seperti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sedekah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sedekah">sedekah</a> sekali.</em>”</p>
<p>Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab <em>Shahihut Targhib wa at-Tarhib,</em> no. 901 dan <em>Irwa&#8217; al-Ghalil, </em>no. 1398.</p>
<p>Hadits yang kedua, dengan lafazh:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدُّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ</p>
<p>“<em>Ada tiga perkara seriusnya adalah sungguhan dan gurauannya juga adalah sungguhan, yaitu nikah, talak, dan ruju&#8217;.</em>”</p>
<p>Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>Shahihul Jami&#8217;</em>, no. 3027 dan 5338.</p>
<p>Sumber: Majalah As-Sunnah No. 12/Thn. XIII/Rabiul Awwal 1431 H/Maret 2010 M<br />
Dipublikasikan oleh www.KonsultasiSyariah.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>download ebook irwa al ghalil</strong>, <strong>shahihkah doa sholat dhuha</strong>, <strong>hadits 10 hari terakhir suami istri</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>hadits menikah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/shahih-hadits-sedekah-nikah-thalaq/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Keutamaan dari Nama Ahmad atau Muhammad?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-nama-muhammad</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-nama-muhammad#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 00:40:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan memakai nama muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi syariah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2308</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Kami pernah membaca sebagian hadits tentang keutamaan orang yang bernama Ahmad atau Muhammad. Hanya saja, kami tidak tahu apakah hadits tersebut shahih atau dhaif. Jawaban: Setahu saya, semua hadits marfu&#8217; yang mencantumkan pujian terhadap orang yang bernama Muhammad dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Kami pernah membaca sebagian <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a> tentang keutamaan orang yang bernama <a title="Nama Muhammad Konsultasi Syariah Konsultasi Islam" href="http://konsultasisyariah.com/kitab/hadits/keutamaan-nama-muhammad.html" target="_blank">Ahmad</a> atau <a title="Nama Muhammad Konsultasi Syariah Konsultasi Islam" href="http://konsultasisyariah.com/kitab/hadits/keutamaan-nama-muhammad.html" target="_blank">Muhammad</a>. Hanya saja, kami tidak tahu apakah hadits tersebut shahih atau dhaif.</p>
<p><span id="more-2308"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Setahu saya, semua hadits marfu&#8217; yang mencantumkan pujian terhadap orang yang bernama <a title="Nama Muhammad Konsultasi Syariah Konsultasi Islam" href="../kitab/hadits/keutamaan-nama-muhammad.html" target="_blank">Muhammad</a> dan <a title="Nama Muhammad Konsultasi Syariah Konsultasi Islam" href="../kitab/hadits/keutamaan-nama-muhammad.html" target="_blank">Ahmad</a> tidak ada yang shahih. Ibnu Bukair al-Baghdadi telah menyusun sebuah kitab yang bernama <em>Fadha`ilu Man Ismuhu <a title="Nama Muhammad Konsultasi Syariah Konsultasi Islam" href="../kitab/hadits/keutamaan-nama-muhammad.html" target="_blank">Ahmad</a></em><em> wa <a title="Nama Muhammad Konsultasi Syariah Konsultasi Islam" href="../kitab/hadits/keutamaan-nama-muhammad.html" target="_blank">Muhammad</a></em><em>.</em> Pada kitab tersebut beliau menyertakan sekitar 26 hadits yang tidak shahih. Allahu a&#8217;lam.</p>
<p>Sumber: <em>Ensiklopedi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">Anak</a></em>, Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad al-Isawi, Darus Sunnah.</p>
<p>(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a title="www.konsultasisyariah.com" href="http://www.konsultasisyariah.com" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasi syariah</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>keutamaan memakai nama muhammad</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keutamaan-nama-muhammad/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Telinga Termasuk Bagian dari Kepala?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/telinga-bagian-dari-kepala</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/telinga-bagian-dari-kepala#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 01:09:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2170</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Penulis buku Shahih Fiqhus Sunnah menilai dhaif hadits tentang kedua telinga adalah bagian dari kepala. Demikian juga Syekh Masyhur Hasan dalam catatan kaki kitab Khilafiyah karya Baihaqi. Apakah pendapat ulama-ulama tersebut benar? Jawaban: Hadits ini adalah dengan lafal: الْأُذُنَانِ ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Penulis buku<em> Shahih Fiqhus Sunnah </em>menilai dhaif <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a> tentang kedua telinga adalah bagian dari kepala. Demikian juga Syekh Masyhur Hasan dalam catatan kaki kitab <em>Khilafiyah </em>karya Baihaqi. Apakah pendapat ulama-ulama tersebut benar?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Hadits ini adalah dengan lafal:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الْأُذُنَانِ مِنْ الرَّأْسِ</p>
<p>“Kedua telinga bagian dari kepala.”</p>
<p>Syekh al-Albani <em>rahimahullah</em> menyampaikan bahwa hadits ini diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> di antara mereka adalah Abu Umamah, Abu Hurairah, Abdullah bin Amru, Abdullah bin Abbas, Aisyah, Abu Musa, Anas bin Malik, Samurah bin Jundab, dan Abdullah bin Zaid.</p>
<p>Hadits ini memang masih diperselisihkan para ulama tentang derajatnya. Sebagian mereka ada yang menilainya shahih, seperti az-Zaila’i dan Syekh al-Albani. Adapun sebagaian ulama yang lain menilainya sebagai hadits yang lemah, di antaranya adalah al-Baihaqi dan pendapat Baihaqi ini dirajihkan oleh Syekh Masyhur Hasan Salman dan penulis kitab <em>Shahih Fiqhus Sunnah</em>.</p>
<p>Syekh Masyhur Hasan Salman<em> hafizahullah</em> memang memberikan komentar agak panjang dalam menjelaskan derajat hadits ini, dan kesimpulannya hadits ini lemah secara marfu’ namun shahih secara mauquf.</p>
<p>Bila kita lihat keterangan Syekh al-Albani dalam <em>Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah</em> no. 36: 1/81&#8211;93) tampaknya pendapat beliau sangat kuat dan cukup beralasan dalam menshahihkannya. Wallahu a’lam.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/telinga-bagian-dari-kepala/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Boleh Isbal Tanpa Sikap Sombong?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/benarkah-boleh-isbal-tanpa-sikap-sombong</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/benarkah-boleh-isbal-tanpa-sikap-sombong#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 22:07:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[asyariah isbal]]></category>
		<category><![CDATA[aurat]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[dalil kata sombong]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[hadis tentang isbal]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang isbal]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum isbal untuk pria tau wanita]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[isbal imam syafii]]></category>
		<category><![CDATA[isbal perempuan ummu salamah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sombong kepada orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[suntik]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1658</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ustadz Abu Abdillah, Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi ilmu ustadz. Saya ada pertanyaan, apakah penukilan pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani seperti yang dicantumkan di sebuah website bahwa &#8220;Isbal halal hukumnya bila tanpa diiringi sikap sombong&#8221; itu valid dari beliau? ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ustadz Abu Abdillah, Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi ilmu ustadz. Saya ada pertanyaan, apakah penukilan pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani seperti yang dicantumkan di sebuah website bahwa &#8220;Isbal halal hukumnya bila tanpa diiringi sikap sombong&#8221; itu valid dari beliau?</p>
<p>Abu Zahroh</p>
<p dir="ltr"><span id="more-1658"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p dir="ltr"><em>Bismillaah… walhamdulillaah… wash-sholaatu wassalaamu ala Rasuulillaah… wa’ala aalihi washahbihi waman waalaah…</em></p>
<p dir="ltr">Memang ada sebagian orang menisbatkan pendapat bolehnya isbal tanpa rasa sombong kepada Al-Hafidz Ibnu Hajar, padahal itu tidak benar. Sebaliknya, beliau justru menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa larangan itu umum, baik untuk yang sombong maupun tidak. Anda bisa merujuknya ke <em>Fathul Bari</em>, karya Ibnu Hajar, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/syarah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with syarah">syarah</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a> no: 5788-5791. Beliau membahas masalah ini, dengan panjang lebar.</p>
<p dir="ltr">Diantara perkataan beliau yang menguatkan pendapat haramnya isbal secara umum adalah:</p>
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;">Pertama:</span> Beliau mengatakan bahwa dzahir-nya banyak hadits mengharamkan isbal meski tanpa rasa sombong.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّ إِسْبَال الْإِزَار لِلْخُيَلَاءِ كَبِيرَة , وَأَمَّا الْإِسْبَال لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَظَاهِر الْأَحَادِيث تَحْرِيمه أَيْضًا</p>
<p>“Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa isbal (menyeret) sarung karena sombong termasuk dosa besar. Adapun isbal yang bukan karena sombong, maka dhohir-nya banyak hadits juga mengharamkannya.” (<em>Fathul bari: jilid 13, hal: 266</em>, cetakan Daaru Thaibah)</p>
<p>Petikan di atas jelas menunjukkan bahwa beliau menguatkan pendapat yang mengatakan isbal dengan sombong itu dosa besar, sedang isbal yang tanpa sombong meski bukan dosa besar, tapi tetap diharamkan oleh banyak hadits.</p>
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;">Kedua:</span> Beliau menyebutkan bantahan kepada orang yang menafsiri bahwa larangan isbal hanya bagi mereka yang sombong, tanpa menjawabnya. Dan ini menunjukkan bahwa beliau sepakat dengannya.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَيُسْتَفَاد مِنْ هَذَا الْفَهْم التَّعَقُّب عَلَى مَنْ قَالَ: إِنَّ الْأَحَادِيث الْمُطْلَقَة فِي الزَّجْر عَنْ الْإِسْبَال مُقَيَّدَة بِالْأَحَادِيثِ الْأُخْرَى الْمُصَرِّحَة بِمَنْ فَعَلَهُ خُيَلَاء… وَوَجْه التَّعَقُّب أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَذَلِكَ لَمَا كَانَ فِي اِسْتِفْسَار أُمّ سَلَمَة عَنْ حُكْم النِّسَاء فِي جَرّ ذُيُولهنَّ مَعْنًى. بَلْ فَهِمَتْ الزَّجْر عَنْ الْإِسْبَال مُطْلَقًا سَوَاء كَانَ عَنْ مَخِيلَة أَمْ لَا , فَسَأَلَتْ عَنْ حُكْم النِّسَاء فِي ذَلِكَ لِاحْتِيَاجِهِنَّ إِلَى الْإِسْبَال مِنْ أَجْل سَتْر الْعَوْرَة , لِأَنَّ جَمِيع قَدَمهَا عَوْرَة , فَبَيَّنَ لَهَا أَنَّ حُكْمهنَّ فِي ذَلِكَ خَارِج عَنْ حُكْم الرِّجَال فِي هَذَا الْمَعْنَى فَقَطْ</p>
<p dir="ltr">Fahamnya (Ummu salamah radhiallahu &#8216;anha) ini, mengandung bantahan bagi mereka yang mengatakan bahwa: Hadits-hadits larangan isbal yang mutlak itu, harus di-taqyid dengan hadits-hadits lain yang menyebutkan bahwa ia melakukannya dengan rasa sombong… Bantahan itu bisa dijabarkan: Jika seandainya larangan isbal itu khusus bagi mereka yang sombong, tentu pertanyaan Ummu Salamah radhiallahu &#8216;anha (kepada Rasul <em>shallallahu alaihi wasallam</em>) tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> wanita meng-isbal-kan pakaiannya itu tidak ada gunanya sama sekali.</p>
<p>Justru Ummu Salamah menanyakan hal itu, karena ia paham bahwa larangan isbal tersebut itu umum, baik disertai rasa sombong atau tidak. Ia menanyakan hukum wanita meng-isbal-kan pakaiannya karena perlunya mereka isbal untuk menutup <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/aurat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with aurat">aurat</a>, karena seluruh kaki wanita adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/aurat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with aurat">aurat</a>, lalu Rasul <em>shallallahu alaihi wasallam</em> menerangkan bahwa hukum isbal-nya wanita berbeda dengan hukum isbal-nya pria dalam hal ini saja. (<em>Fathul Bari </em>13/259-260)</p>
<p dir="ltr">Setelah menyebutkan uraian ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar tidak membantahnya. Ini menunjukkan bahwa beliau menguatkan pendapat tersebut.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;">Ketiga: </span>Beliau membantah orang yang menafsiri perkataan Imam Syafi’i untuk membolehkan isbal tanpa rasa sombong.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَالنَّصّ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ ذَكَرَهُ الْبُوَيْطِيّ فِي مُخْتَصَره عَنْ الشَّافِعِيّ قَالَ : لَا يَجُوز السَّدْل فِي الصَّلَاة وَلَا فِي غَيْرهَا لِلْخُيَلَاءِ , وَلِغَيْرِهَا خَفِيف لِقَوْلِ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْر ا ه, وَقَوْله : ” خَفِيف ” لَيْسَ صَرِيحًا فِي نَفْي التَّحْرِيم</p>
<p dir="ltr">Perkataan Imam Syafi’i yang dimaksud oleh Imam Nawawi itu, disebutkan oleh Al-Buwaithi di<em> Kitab Mukhtashor-nya</em>. Imam Syafi’i mengatakan: “Tidak boleh isbal, baik di dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sholat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sholat">sholat</a> atau di luarnya bagi mereka yang sombong. Sedang bagi yang tidak sombong lebih ringan hukumnya, karena sabda Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em> kepada Abu Bakar.” (Ibnu Hajar mengatakan:) Perkataan Imam Syafi’i “lebih ringan hukumnya”, tidak sharih (tegas) dalam menafikan haramnya (isbal tanpa rasa sombong). (<em>Fathul Bari </em>13/266)</p>
<p dir="ltr">Lihatlah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> beliau dengan penuh kesopanan membantah perkataan ulama yang kurang tepat dalam menafsiri perkataan Imam Syafi’i tersebut.</p>
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;">Keempat:</span> Beliau menjelaskan hikmah diharamkannya isbal, yang berlaku umum baik bagi yang isbal dengan rasa sombong atau tidak.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَأَمَّا لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَيَخْتَلِف الْحَال. فَإِنْ كَانَ الثَّوْب عَلَى قَدْر لَابِسه لَكِنَّهُ يَسْدُلهُ فَهَذَا لَا يَظْهَر فِيهِ تَحْرِيم, وَلَا سِيَّمَا إِنْ كَانَ عَنْ غَيْر قَصْد كَاَلَّذِي وَقَعَ لِأَبِي بَكْر, وَإِنْ كَانَ الثَّوْب زَائِدًا عَلَى قَدْر لَابِسه فَهَذَا قَدْ يُتَّجَه الْمَنْع فِيهِ مِنْ جِهَة الْإِسْرَاف فَيَنْتَهِي إِلَى التَّحْرِيم…. وَقَدْ يُتَّجَه الْمَنْع فِيهِ مِنْ جِهَة التَّشَبُّه بِالنِّسَاءِ وَهُوَ أَمْكَن فِيهِ مِنْ الْأَوَّل, وَقَدْ صَحَّحَ الْحَاكِم مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة “أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الرَّجُل يَلْبَس لِبْسَة الْمَرْأَة” …  وَقَدْ يُتَّجَه الْمَنْع فِيهِ مِنْ جِهَة أَنَّ لَابِسه لَا يَأْمَن مِنْ تَعَلُّق النَّجَاسَة بِهِ, وَإِلَى ذَلِكَ يُشِير الْحَدِيث…. عَنْ عُبَيْد بْن خَالِد قَالَ: “كُنْت أَمْشِي وَعَلَيَّ بُرْد أَجُرّهُ, فَقَالَ لِي رَجُل: اِرْفَعْ ثَوْبك فَإِنَّهُ أَنْقَى وَأَبْقَى , فَنَظَرْت فَإِذَا هُوَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقُلْت: إِنَّمَا هِيَ بُرْدَة مَلْحَاء, فَقَالَ: أَمَا لَك فِيَّ أُسْوَة؟ قَالَ: فَنَظَرْت فَإِذَا إِزَاره إِلَى أَنْصَاف سَاقَيْهِ”. وَسَنَده قَبْلهَا (رُهْم بنت الأسود) جَيِّد. (قال الألباني: ضعيف لكن له شاهد قاصر مخرج في الصحيحة رقم 1441)…  وَيُتَّجَه الْمَنْع أَيْضًا فِي الْإِسْبَال مِنْ جِهَة أُخْرَى وَهِيَ كَوْنه مَظِنَّة الْخُيَلَاء, قَالَ اِبْن الْعَرَبِيّ : لَا يَجُوز لِلرَّجُلِ أَنْ يُجَاوِز بِثَوْبِهِ كَعْبه , وَيَقُول لَا أَجُرّهُ خُيَلَاء , لِأَنَّ النَّهْي قَدْ تَنَاوَلَهُ لَفْظًا , وَلَا يَجُوز لِمَنْ تَنَاوَلَهُ اللَّفْظ حُكْمًا أَنْ يَقُول لَا أَمْتَثِلهُ لِأَنَّ تِلْكَ الْعِلَّة لَيْسَتْ فِيَّ , فَإِنَّهَا دَعْوَى غَيْر مُسَلَّمَة , بَلْ إِطَالَته ذَيْله دَالَّة عَلَى تَكَبُّره انتهى مُلَخَّصًا .</p>
<p>Adapun isbalnya orang yang tanpa rasa sombong, maka keadaannya berbeda. (misalnya) Jika bajunya itu sesuai ukuran pemakainya, tapi ia menyeretnya, maka tidak jelas (bagiku) hukum haramnya, apalagi jika itu tanpa disengaja, sebagaimana terjadi pada Abu Bakar. Namun jika bajunya itu melebihi ukuran pemakainya, maka keharaman itu berlaku padanya, karena masuk dalam israf  yang diharamkan.</p>
<p>Larangan isbal ini juga bisa karena isbal itu menyerupai (pakaian) wanita, Alasan ini lebih kuat dari alasan pertama, karena Imam Hakim telah men-shohih-kan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa “Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam </em>melaknat pria yang mengenakan model pakaian wanita”</p>
<p>Larangan isbal juga bisa karena baju pemakainya tidak aman dari terkena najis, hikmah ini ditunjukkan oleh hadits. Dari Ubaid bin Khalid, ia berkata: “(Suatu hari) aku berjalan dengan menyeret baju burdahku, lalu ada orang yang menegurku: ‘Angkatlah bajumu!, sungguh itu lebih menjaga bersih dan awetnya”. Aku pun menoleh ke arah suara itu, ternyata dia adalah Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em>, lalu aku beralasan: ‘Ini hanya baju burdah malha‘, maka beliau menimpali: ‘Tidakkah kau meniruku?! ’Ubaid mengatakan: &#8220;Lalu ku lihat beliau, ternyata sarungnya (tinggi) sampai di tengah betisnya.&#8221; Larangan isbal juga bisa karena hal itu termasuk tanda kesombongan, Ibnul Arabi mengatakan: Laki-laki tidak boleh menjulurkan pakaiannya melewati mata kakinya, lalu berkilah: “Aku tidak menjulurkannya karena sombong!” Karena lafal hadits yang melarang hal itu telah mencakup dirinya, dan orang yang masuk dalam larangan, tidak boleh membela diri dengan mengatakan: “Aku tidak mau mengindahkan larangan itu, karena sebab larangannya tidak ada padaku.” Hal seperti ini adalah klaim yang tidak bisa diterima, sebab tatkala ia menjulurkan pakaiannya, sejatinya ia menunjukkan karakter kesombongannya. (<em>Fathul Bari</em> 13/266-267)</p>
<p>Perhatikan uraian Ibnu hajar di atas, beliau menyebutkan empat hikmah diharamkannya isbal:</p>
<p>(a) Israf harta (yakni menghambur-hamburkannya).<br />
(b) Tasyabbuh (yakni menyerupai) pakaian wanita.<br />
(c) Tidak aman dari najis.<br />
(d) Termasuk tanda kesombongan.</p>
<p>Dan semua hikmah ini berlaku umum bagi siapa saja yang isbal ria, baik dengan rasa sombong atau tidak.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kelima:</span> Beliau menutup pembahasan masalah isbal dengan mengatakan:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَحَاصِله أَنَّ الْإِسْبَال يَسْتَلْزِم جَرّ الثَّوْب وَجَرّ الثَّوْب يَسْتَلْزِم الْخُيَلَاء وَلَوْ لَمْ يَقْصِد اللَّابِس الْخُيَلَاء , وَيُؤَيِّدهُ مَا أَخْرَجَهُ أَحْمَد بْن مَنِيع مِنْ وَجْه آخَر عَنْ اِبْن عُمَر فِي أَثْنَاء حَدِيث رَفَعَهُ:  وَإِيَّاكَ وَجَرّ الْإِزَار فَإِنَّ جَرّ الْإِزَار مِنْ الْمَخِيلَة</p>
<p>“Kesimpulannya, Isbal melazimkan menyeret pakaian, dan menyeret pakaian melazimkan kesombongan, meski pelakunya tidak bermaksud sombong. Kesimpulan ini juga dikuatkan oleh hadits: ‘Janganlah meng-isbal-kan sarungmu! Karena meng-isbal-kan sarung termasuk perbuatan sombong.” (<em>Fathul Bari</em> jilid:13,<em> </em>hal: 267).</p>
<p dir="ltr">Inilah pernyataan beliau tentang isbal, jelas sekali dari uraian di atas, beliau tidak membolehkan isbal, meski tidak dibarengi dengan rasa sombong.</p>
<p dir="ltr"><strong>Pertanyaannya:</strong> Lalu mengapa ada yang menisbatkan pendapat bolehnya isbal bila tanpa rasa sombong kepada Al-Hafidz Ibnu Hajar?</p>
<p dir="ltr"><strong>Jawabannya</strong>: Karena mereka salah dalam memahami ungkapan beliau berikut ini:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّ إِسْبَال الْإِزَار لِلْخُيَلَاءِ كَبِيرَة, وَأَمَّا الْإِسْبَال لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَظَاهِر الْأَحَادِيث تَحْرِيمه أَيْضًا. لَكِنْ اُسْتُدِلَّ بِالتَّقْيِيدِ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث بِالْخُيَلَاءِ عَلَى أَنَّ الْإِطْلَاق فِي الزَّجْر الْوَارِد فِي ذَمّ الْإِسْبَال مَحْمُول عَلَى الْمُقَيَّد هُنَا, فَلَا يَحْرُم الْجَرّ وَالْإِسْبَال إِذَا سَلِمَ مِنْ الْخُيَلَاء. قَالَ اِبْن عَبْد الْبَرّ: مَفْهُومه أَنَّ الْجَرّ لِغَيْرِ الْخُيَلَاء لَا يَلْحَقهُ الْوَعِيد, إِلَّا أَنَّ جَرّ الْقَمِيص وَغَيْره مِنْ الثِّيَاب مَذْمُوم عَلَى كُلّ حَال.</p>
<p>“Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa isbal (menyeret) sarung karena sombong termasuk dosa besar. Adapun isbal yang bukan karena sombong, maka dhohir-nya banyak hadits juga mengharamkannya.</p>
<p dir="ltr">Namun taqyid sombong yang ada dalam hadits-hadits ini, dipakai untuk dalil, bahwa hadits-hadits lain tentang larangan isbal yang mutlak (tanpa menyebutkan kata sombong) harus dipahami dengan taqyid sombong ini, sehingga isbal dan menyeret pakaian tidak diharamkan bila selamat dari rasa sombong”.</p>
<p dir="ltr">Ibnu Abdil barr mengatakan: “Mafhum-nya hadits ini menunjukkan, bahwa menyeret pakaian tanpa rasa sombong tidak masuk dalam ancaman, tapi (mafhum itu tidak berlaku dalam kasus ini), sungguh -bagaimanapun keadaannya- menyeret baju atau pakaian lainnya itu tercela, (yakni masuk dalam ancaman yang ada dalam hadits-hadits). (<em>Fathul bari</em>: jilid 13, hal: 266, cetakan Daaru Thaibah)</p>
<p>Para pembaca yang dirahmati Allah… Sungguh jika orang itu lebih teliti dalam memahami metode yang dipakai Ibnu Hajar dalam keterangan di atas, ia akan tahu bahwa beliau sebenarnya melemahkan pendapat yang membolehkan isbal jika tanpa sombong.</p>
<p dir="ltr">Cobalah anda tinjau ulang redaksi beliau ketika menyebutkan pendapat bolehnya isbal jika tanpa sombong, beliau menggunakan redaksi “<em>ustudilla</em>“ (lihat tulisan arab yang kami cetak merah dan bergaris bawah), itu adalah bentuk shighotut tamridh, yakni redaksi yang biasa digunakan oleh para ulama untuk menyebutkan pendapat yang menurutnya lemah.</p>
<p dir="ltr">Kata “<em>ustudilla</em>“ sendiri berarti: “dipakai untuk dalil”, dari kata ini pembaca akan paham bahwa yang memakainya sebagai dalil adalah orang lain, bukan Ibnu Hajar. Itulah sebabnya mengapa setelah menyebutkan pendapat yang dilemahkan itu, beliau langsung menyebutkan perkataan Ibnu Abdil Barr yang menentang pendapat lemah itu. Jelasnya Ibnu Hajar ingin memupus argumen pendapat yang dilemahkannya dengan perkataan Ibnu Abdil Barr itu.</p>
<p dir="ltr">Perlu pembaca ketahui, bahwa tujuan Ibnu Hajar menyebutkan pendapat yang dilemahkan beliau, adalah untuk menjawab dalil-dalil pendapat itu. Oleh karena itu jika pembaca merujuk sendiri ke kitab <em>Fathul Bari</em> tersebut, anda akan dapati beliau selalu menjawab setiap dalil yang mendukung bolehnya isbal jika tanpa rasa sombong.</p>
<p dir="ltr">Sekian tulisan ini, semoga bisa menjadi koreksi bagi yang salah, dan menjadi suntikan pengetahuan bagi yang baru menela’ah… Kurang lebihnya mohon <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/maaf" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with maaf">maaf</a>. Semoga bermanfaat.</p>
<p dir="ltr">Wassalam</p>
<p dir="ltr">Ustadz Musyaffa Addariny</p>
<p dir="ltr">Sumber: http://addariny.wordpress.com<br />
Dipublikasi ulang oleh www.KonsultasiSyariah.com</p>
<p dir="ltr">Madinah, 4 Romadhon 1430 / 25 Agustus 2009</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>asyariah isbal</strong>, <strong>web</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>sombong kepada orang sombong</strong>, <strong>suntik</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>hukum isbal untuk pria tau wanita</strong>, <strong>hadits tentang isbal</strong>, <strong>isbal imam syafii</strong>, <strong>hadis tentang isbal</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/benarkah-boleh-isbal-tanpa-sikap-sombong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Dalil Berhenti Makan Sebelum Kenyang?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/benarkah-dalil-berhenti-makan-sebelum-kenyang</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/benarkah-dalil-berhenti-makan-sebelum-kenyang#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 01:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[al fatihah lapar]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[berhenti makan sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[berhentilah makan sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[berhentilah makan sebelum kenyang hadist]]></category>
		<category><![CDATA[berhentilah makan sebelum kenyang hadits atau bukan]]></category>
		<category><![CDATA[berhentilah makan sebelum kenyang sabda nabi]]></category>
		<category><![CDATA[berhentilah sebelum kenyang hadits dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[dalam kristen berhentilah sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[dalil tentang makan]]></category>
		<category><![CDATA[dhaif berhenti makan sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadis makan sebelum lapar berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadis nabi berhenti makan sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadis nabi tentang makan sebelum lapar]]></category>
		<category><![CDATA[hadist bolehnya makan saat adzan subuh]]></category>
		<category><![CDATA[hadist dhaif berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadist makan ketika lapar]]></category>
		<category><![CDATA[hadist nabi makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang berhenti makan sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadith berhenti makan sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadith berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadits berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadits berhentilah makan sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadits brhenti makan sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadits makan di saat lapar]]></category>
		<category><![CDATA[hadits nabi makan ketika lapar]]></category>
		<category><![CDATA[hadits nabi makan sebelum lapar berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang apabila lapar nabi makan tdk sampai kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam makan kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[hukum makan terlalu kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[kami tidak makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[kaum yang tidak makan sebelum lapar bukan hadits]]></category>
		<category><![CDATA[kedudukan hadits makan sebelum lapar berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[kenyang rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[kesan makan terlalu kenyang ikut pandangan islam]]></category>
		<category><![CDATA[makan sebelum kenyang berhenti sebelum lapar]]></category>
		<category><![CDATA[makan sebelum kenyang, berhenti sebelum kenyang: sirah]]></category>
		<category><![CDATA[makan sebelum lapar berhenti sebelum kenyang, hadist apa bukan]]></category>
		<category><![CDATA[makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[makan selagi lapar berhenti sebelum kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[makan sesudah kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang hadits]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi makan hingga kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[nabi makan kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[nabi makan lapar berhenti kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[nabi tidak makan kalau belum lapar dan berhenti makan kalau sudah kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz tv one makan sebelum lapar kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[www#sclient=psy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1404</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya: Bagaimana keshahihan hadits berikut: نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع “Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.“ Syaikh Abdul Aziz bin ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya: <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> keshahihan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a> berikut:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع</p>
<p>“<em>Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/berhenti-makan-sebelum-kenyang" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with berhenti makan sebelum kenyang">berhenti makan sebelum kenyang</a></em>.“</p>
<p><span id="more-1404"></span></p>
<p><strong>Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab:</strong><br />
Hadits ini memang diriwayatkan dari sebagian sahabat yang bertugas sebagai utusan, namun sanadnya dhaif. Diriwayatkan bahwa para sahabat tersebut berkata dari Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع</p>
<p>“<em>Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyangs</em>“</p>
<p>Maksudnya yaitu bahwa kaum muslimin itu hemat dan sederhana.</p>
<p>Maknanya benar, namun sanadnya dhaif, silakan periksa di <em>Zaadul Ma’ad </em>dan <em>Al Bidayah Wan Nihayah</em>. Faidahnya, bahwa seseorang baru makan sebaiknya jika sudah lapar atau sudah membutuhkan. Dan ketika makan, tidak boleh berlebihan sampai kekenyangan. Adapun rasa kenyang yang tidak membahayakan, tidak mengapa. Karena orang-orang di masa Nabi <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em> dan masa selain mereka pun pernah makan sampai kenyang. Namun mereka menghindari makan sampai terlalu kenyang.</p>
<p>Terkadang Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em><em> </em>mengajak para sahabat ke tempat sebuah jamuan makan. Kemudian beliau menjamu mereka dan meminta mereka makan. Kemudian mereka makan sampai kenyang. Setelah itu barulah Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em><em> </em>makan beserta para sahabat yang belum makan.</p>
<p>Terdapat hadits, di masa Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em>, ketika sedang terjadi perang Khandaq, Jabir bin Abdillah Al Anshari mengundang Nabi <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em><em> </em>untuk memakan daging sembelihannya yang kecil ukurannya beserta sedikit gandum. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em><em> </em><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> sepotong roti dan daging, kemudian beliau memanggil sepuluh orang untuk masuk dan makan. Mereka pun makan hingga kenyang kemudian keluar. Lalu dipanggil kembali sepuluh orang yang lain, dan demikian seterusnya. Allah menambahkan berkah pada daging dan gandum tadi, sehingga bisa cukup untuk makan orang banyak, bahkan masih banyak tersisa, hingga dibagikan kepada para tetangga.</p>
<p>Dan suatu hari, Nabi <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em><em> </em>menyajikan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/susu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with susu">susu</a> pada <em>Ahlus Shuffah</em> (salah satunya Abu Hurairah, pent). Abu Hurairah berkata: “Aku minum sampai puas.” Kemudian Nabi<em>shallallahu ’alaihi wasallam</em><em> </em>bersabda: “<em>Ayo minum lagi, Abu Hurairah</em>.“ Maka aku minum. Kemudian Nabi <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em><em> bersabda</em>: “<em>Ayo minum lagi</em>.“ Maka aku minum lagi.</p>
<p>Kemudian Nabi <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em><em> </em>bersabda: “<em>Ayo minum lagi</em>.“ Maka aku minum lagi, lalu aku berkata “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak lagi aku dapati tempat untuk minuman dalam tubuhku”. Kemudian Nabi <em>shallallahu ’alaihi wasallam </em>mengambil susu yang tersisa dan meminumnya. Semua ini adalah dalil bolehnya makan sampai kenyang dan puas yang wajar, selama tidak membahayakan.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.ibnbaz.org.sa/mat/38">http://www.ibnbaz.org.sa/mat/38</a></p>
<p>Sumber: kangaswad.wordpress.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hadits berhenti sebelum kenyang</strong>, <strong>hadits tentang apabila lapar nabi makan tdk sampai kenyang</strong>, <strong>hadist makan ketika lapar</strong>, <strong>hadis makan sebelum lapar berhenti sebelum kenyang</strong>, <strong>hukum islam makan kenyang</strong>, <strong>www#sclient=psy</strong>, <strong>berhenti sebelum kenyang</strong>, <strong>makan sebelum kenyang berhenti sebelum lapar</strong>, <strong>hadits nabi makan sebelum lapar berhenti sebelum kenyang</strong>, <strong>hadist bolehnya makan saat adzan subuh</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/benarkah-dalil-berhenti-makan-sebelum-kenyang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Umar dengan Orang Sholat Semalam Suntuk dan Ketiduran dari Sholat Shubuh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kisah-umar-dengan-orang-sholat-semalam-suntuk-dan-ketiduran-dari-sholat-shubuh</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kisah-umar-dengan-orang-sholat-semalam-suntuk-dan-ketiduran-dari-sholat-shubuh#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 05:56:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[ketiduran tidak solat]]></category>
		<category><![CDATA[kisah umar]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad bin syihab az-zuhry]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[solat ketiduran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=798</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Sebuah kisah tentang pemuda yang rajin sholat malam, namun dia tidak hadir sholat shubuh berjamaa&#8217;ah, lalu Umar bin Khatab mengatakan: Lebih utama untuk shubuh berjama&#8217;ah daripada sholat malam semalam suntuk, shahihkan kisah tersebut? (Waldi Pontianak) Jawab: Kisah ini diriwayatkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p>Sebuah kisah tentang pemuda yang rajin <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sholat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sholat">sholat</a> malam, namun dia tidak hadir <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sholat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sholat">sholat</a> shubuh berjamaa&#8217;ah, lalu Umar bin Khatab mengatakan: Lebih utama untuk shubuh berjama&#8217;ah daripada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sholat-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sholat">sholat</a> malam semalam suntuk, shahihkan kisah tersebut?</p>
<p>(Waldi Pontianak)</p>
<p><span id="more-798"></span><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Malik bin Anas di dalam <em>Al-Muwaththa&#8217;</em>:</p>
<p>عن ابن شهاب عن أبي بكر بن سليمان بن أبي حثمة :أن عمر بن الخطاب فقد سليمان بن أبي حثمة في صلاة الصبح وأن عمر بن الخطاب غدا إلى السوق ومسكن سليمان بين السوق والمسجد النبوي فمر على الشفاء أم سليمان فقال لها لم أر سليمان في الصبح فقالت إنه بات يصلي فغلبته عيناه فقال عمر لأن أشهد صلاة الصبح في الجماعة أحب إلى من أن أقوم ليلة</p>
<p>&#8220;Dari Ibnu Syihab, dari Abu Bakr bin Sulaiman bin Abi Khatsmah, bahwasanya Umar bin Al-Khaththab tidak mendapatkan Sulaiman bin Abi Khatsmah ketika sholat shubuh, kemudian beliau pagi-pagi pergi ke pasar, sementara rumah Sulaiman berada diantara pasar dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">Masjid</a> Nabawy, maka beliau melewati Asy-Syifa (Ibu Sulaiman), seraya berkata: Aku tidak melihat Sulaiman pada saat sholat shubuh tadi? (Ibu Sulaiman) berkata: Tadi malam dia sholat malam sehingga ketiduran (dari sholat shubuh). Umar berkata: Sungguh aku menghadiri sholat shubuh secara berjama&#8217;ah lebih aku cintai daripada sholat semalam suntuk&#8221; (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam <em>Al-Muwaththa&#8217;</em>, Kitab <em>Ash-Shalah</em>, Bab <em>Maa Jaa&#8217;a fil &#8216;Atamah wa Ash-Shubh</em> 1/129 no: 328)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Perawi Atsar ini:</span><br />
1. Ibnu Syihab, beliau adalah Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhry, meninggal kurang lebih tahun 125 H, berkata Ibnu Hajar:<br />
وثبته الفقيه الحافظ متفق على جلالته و إتقانه</p>
<p>(Ahli Fiqh, Al-Hafidz, semua bersepakat atas kebesarannya dan kekuatan hapalannya). Lihat<em> Taqribut Tahdzib</em> (hal: 896, tahqiq: Abul Asybal )</p>
<p>2. Abu Bakr bin Sulaiman bin Abi Khatsmah, beliau adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/guru" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with guru">guru</a> dari Muhammad bin Muslim Az-Zuhry, berkata Ibnu Hajar:</p>
<p>ثقة ، عارف بالنسب</p>
<p>(Tsiqah, mumpuni dalam ilmu nasab). Lihat <em>Taqribut Tahdzib</em> (hal:1115 ).</p>
<p>3. Asy-syifa&#8217;, beliau adalah Asy-Syifa bintu Abdillah bin Abdi Syams , nenek dari Abu Bakr bin Sulaiman, sekaligus guru beliau, seorang sahabat. Lihat <em>Taqribut Tahdzib</em> (hal:1359 )</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Derajat Atsar:</span><br />
Dhahir isnad atsar ini shahih, sebagaimana juga telah dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany dalam tahqiq beliau terhadap <em>Misykatul Mashabih</em> 1/338 no: 1080)</p>
<p>Pelajaran yang bisa diambil:</p>
<ol>
<li> Seorang pemimpin hendaknya memperhatikan keadaan orang yang dipimpinnya terutama dalam hal ibadah yang bersifat wajib.</li>
<li>Menunaikan kewajiban lebih utama daripada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> mustahab.</li>
<li> Amalan mustahab tidak boleh memudharati amalan yang wajib.</li>
<li>Penamaan Masjid Nabawy.</li>
</ol>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>muhammad bin syihab az-zuhry</strong>, <strong>jin</strong>, <strong>ketiduran tidak solat</strong>, <strong>masjid</strong>, <strong>guru</strong>, <strong>mimpi</strong>, <strong>sholat</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>solat ketiduran</strong>, <strong>isa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kisah-umar-dengan-orang-sholat-semalam-suntuk-dan-ketiduran-dari-sholat-shubuh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Berdoa Lebih dari 40 Orang Doanya Terkabul?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hadits-benarkah-berdoa-lebih-dari-40-orang-doanya-terkabul</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hadits-benarkah-berdoa-lebih-dari-40-orang-doanya-terkabul#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 03:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[benarkah zikir dan doa]]></category>
		<category><![CDATA[do'a 40 orang]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa dari 40 orang]]></category>
		<category><![CDATA[hadits palsu]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[tidaklah berkumpul empat puluh orang dalam satu perkara kecuali allah akan mengabulkan doa untuk mereka sampai seandainya mereka berdoa kejelekan untuk gunung niscaya mereka akan menghancurkan gunung ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=810</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Saya mau menanyakan ada pernyataan yang sering saya dengar disuatu majelis bahwa apabila ada orang berkumpul kegiatan berdo&#8217;a dalam suatu majelis lebih dari 40 orang maka kemungkinan besar do&#8217;anya akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p><em>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu.</em></p>
<p>Saya mau menanyakan ada pernyataan yang sering saya dengar disuatu majelis bahwa apabila ada orang berkumpul kegiatan berdo&#8217;a dalam suatu majelis lebih dari 40 orang maka kemungkinan besar do&#8217;anya akan dikabulkan oleh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, dan katanya kegiatan tersebut ada hadistnya hanya bersumber dari mana sampai saat ini saya belum dapat jawabannya, mohon kiranya ustadz dapat menolong saya untuk mendapatkan penjelasan: Apakah hal tersebut diatas adalah memang benar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits">hadits</a> atau bukan? Terima kasih sebelumnya.</p>
<p>(Tia)</p>
<p><strong>Jawab:</strong><em> </em></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.</em></p>
<p>Hadist yang saudari sebutkan berbunyi demikian:<br />
لا يجتمع أربعون رجلا في أمر واحد إلا استجاب الله تعالى لهم حتى لو دعوا على جبل لأزالوه</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah berkumpul empat puluh orang dalam satu perkara kecuali Allah akan mengabulkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> untuk mereka sampai seandainya mereka berdoa kejelekan untuk gunung niscaya mereka akan menghancurkan gunung tersebut &#8220;</em></p>
<p>Saya tidak menemukan hadist ini di kitab-kitab hadist yang dikenal, akan tetapi justru saya mendapatkan hadist ini di kitab kaum Syiah yang berjudul <em>Ad-da&#8217;awat</em> karangan Quthbuddin Ar-Rawandi (1/41), tanpa sanad.</p>
<p>Dan bukanlah sesuatu yang jauh kalau hadits ini termasuk hadits-<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hadits-palsu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hadits palsu">hadits palsu</a> yang mereka buat, sebagaimana ini adalah kebiasaan mereka.</p>
<p>Padahal Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:<br />
إن كذبا علي ليس ككذب على أحد، من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya berdusta atas nama diriku tidak sama dengan berdusta atas nama yang lain, barangsiapa yang berdusta atas nama diriku dengan sengaja maka hendaklah dia siapkan tempatnya di neraka.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhary dan Muslim di Al-Muqaddimah)</p>
<p>Ana nasehatkan supaya saudari mencari majelis-majelis yang jelas sumbernya.</p>
<p>Berkata Muhammad bin Sirin:</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari mana kalian mengambilnya.&#8221;</em> (Dikeluarkan Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim 1/20)</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hadits palsu</strong>, <strong>tidaklah berkumpul empat puluh orang dalam satu perkara kecuali allah akan mengabulkan doa untuk mereka sampai seandainya mereka berdoa kejelekan untuk gunung niscaya mereka akan menghancurkan gunung </strong>, <strong>doa dari 40 orang</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>do&#039;a 40 orang</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>mengambil</strong>, <strong>benarkah zikir dan doa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hadits-benarkah-berdoa-lebih-dari-40-orang-doanya-terkabul/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 56/411 queries in 0.101 seconds using disk: basic
Object Caching 57212/57922 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-05 06:58:56 -->
