<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Bid&#8217;ah</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/manhaj/bidah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 06:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9093</guid>
		<description><![CDATA[Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura Pertanyaan: Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari Asyura. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya? Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com) ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari <strong>Asyura</strong>. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya?<br />
Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com)<br />
<span id="more-9093"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Terkait hari asyura, ada dua kelompok yang sesat:</h3>
<p><strong>pertama,</strong> kelompok Syiah. Mereka menjadikan hari asyura sebagai hari berkabung dan bela sungkawa, mengenang kematian sahabat Husain. Mereka lampiaskan kesedihan di hari itu dengan memukul-mukul dan melukai badan sendiri.<br />
<strong>Kedua,</strong> rival dari kelompok Syiah, merekalah An-Nashibah, kelompok yang sangat membenci <em>ahli bait</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Merekalah orang Khawarij, dan kelompok menyimpang dari bani umayah, yang memberontak pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, memproklamirkan menjadi musuh Syiah Rafidhah. Mereka memiliki prinsip <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> sikap yang bertolak belakang dengan Syi’ah.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibn taimiyah mengatakan,<br />
Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang mengkultuskan Husain. Pemimpin mereka adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda,</p>
<p class="arab">سيكون في ثقيف كذاب ومبير</p>
<p><em>“Akan ada seorang pendusta dan seorang perusak dari bani Tsaqif.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Si pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid – gembong Syiah – sedangkan si perusak adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang Syiah menampakkan kesedihan di hari Asyura, sementara orang Khawarij menampakkan kegembiraan. Bid&#8217;ah gembira berasal dari manusia pengekor kebatilan karena benci Husain <em>radliallahu &#8216;anhu,</em> sementara bid&#8217;ah gembira berasal dari pengekor kebatilan karena cinta Husain. Dan semuanya adalah bid&#8217;ah yang sesat. Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab yang menganjurkan untuk mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak ada dalil syar&#8217;i yang menganjurkan melakukan hal tersebut. (<em>Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah</em>, 4/555)</p>
<p>Orang-orang Khawarij, serta mereka yang menjadi rival bagi sikap Syiah, untuk mewujudkan prinsipnya di masyarakat, mereka menyebarkan berbagai macam hadis palsu. Diantaranya adalah hadis yang menyatakan,</p>
<p class="arab">من وسع على نفسه وأهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته</p>
<p><em>“Siapa yang memberi kelonggaran kepada dirinya dan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelonggaran rizki kepadanya sepanjang tahun.”</em></p>
<p>Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;abul Iman</em>, Ibnu Abdil Bar dalam <em>Al-Istidzkar</em>.</p>
<p>Hadis ini diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama. Sebagian menilai <em>hasan li ghairih</em> (berderajat hasan karena beberapa jalur sanad yang saling menguatkan). Ini sebagaimana keterangan As-Sakhawi, dimana beliau menyatakan,<br />
&#8220;Sanad-sanad hadis ini, meskipun semuanya dhaif, hanya saja jika semuanya digabungkan maka akan menjadi kuat.&#8221; (<em>Al-Maqasidul Hasanah</em>, 225)</p>
<p>Keterangan As-Sakhawi ini dikomentari Al-Albani sebagai kesalahpahaman. Al-Albani mengatakan,<br />
&#8220;Ini adalah pendapat Sakhawi, dan saya tidak menganggapnya benar. Karena syarat menguatkan hadis dengan menggunakan banyak jalur adalah tidak adanya perawi yang matruk (ditinggalkan) atau perawi tertuduh. Sementara hal itu tidak ada dalam hadis ini.&#8221; (<em>Tamam Al-Minnah</em>, 410)</p>
<p>Dalam <em>Silsilah Ahadits Ad-Dhaifah</em>, al-Albani menyebutkan berbagai jalur hadis ini dan semuanya tidak lepas dari perawi dhaif.<br />
Kemudian, diantara para ulama yang mendhaifkan hadis ini adalah:</p>
<ol>
<li> Imam Ahmad bin hambal. Salah satu muridnya, yang bernama Harb pernah bertanya kepada beliau tentang hadis memberi kelonggaran kepada keluarga ketika Asyura, kemudian beliau tidak menganggapnya sebagai hadis. Maksud Imam Ahmad, sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Rajab, bahwa tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, 54)</li>
<li>Syaikhul Islam Ibnu taimiyah. Dalam <em>Majmu&#8217;Fatawa</em> beliau menegaskan bahwa hadis ini palsu. (<em>Majmu&#8217; Al-Fatawa</em>, 25/313)</li>
<li>Ibn Rajab al Hambali. Beliau menegaskan dalam <em>Lathaif,</em> “Hadis ini diriwayatkan dari banyak jalur, tidak ada satupun yang shahih.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, 54)</li>
<li>Muhadditsul Ashr, Syaikh Al-Albani. Beliau memasukkan hadis ini dalam <em>Al-Siilsilah Ahadits Dhaifah</em>, no. 6824.</li>
</ol>
<p>Dengan memperhatikan pernyataan para ulama pakar hadis, dapat kita simpulkan bahwa hadis yang menyebutkan keutamaan memberi kelonggaran kepada keluarga pada hari Asyura adalah tidak berdasar. Bahkan Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis tentang anjuran memberi kelapangan bagi keluarga ketika Asyura adalah hadis buatan orang yang membenci Ahlu bait Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, untuk menunjukkan kegembiraan atas wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib <em>radliallahu &#8216;anhuma</em>.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram">Hadis Dhaif Seputar Muharram</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/keutamaan-bulan-muharram">Keutamaan Bulan Muharram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura">Menyantuni Anak Yatim Di Bulan Asyura</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Kematian Imam Husein</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 03:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8946</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan Kematian Imam Husein Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum, Di beberapa negara, pada saat tanggal 10 Muharram ada peringatan tahunan yang dilaksanakan secara masif (dilakukan banyak orang) dengan menampakkan kesedihan. Alasannya, sebagai bentuk rasa belasungkawa atas kematian Imam Husein yang dibunuh pada hari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Peringatan Kematian Imam Husein</h2>
<p><strong>Pertanyaan</strong>:<br />
Assalamu&#8217;alaikum,<br />
Di beberapa negara, pada saat tanggal 10 Muharram ada peringatan tahunan yang dilaksanakan secara masif (dilakukan banyak orang) dengan menampakkan kesedihan. Alasannya, sebagai bentuk rasa belasungkawa atas <strong>kematian Imam Husein</strong> yang dibunuh pada hari itu. Apakah acara semacam ini dibenarkan?<br />
<span id="more-8946"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<a href="http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura">Hari Asyura</a> menggoreskan satu kenangan pahit bagi kaum muslimin. Bagi orang yang memuliakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sahabatnya, dan keluarganya. Di hari Asyura, Allah memuliakan Husein bin Ali bin Abi Thalib dengan syahadah (mati syahid). Beliau dibunuh di tanah Karbala oleh para penghianat dari Irak. Kita anggap ini adalah musibah. <em>Innalillahi wa inna ilaihi raaji&#8217;un</em></p>
<p>Namun sungguh sangat disayangkan, setelah kejadian musibah tersebut, ternyata datang musibah yang jauh lebih besar. Munculnya sikap ekstrim sebagian kaum muslimin dengan motivasi mengagungkan Husein. Mereka menjadikan hari itu sebagai hari berkabung, hari belasungkawa dengan acara besar-besaran. Padahal, sama sekali hal ini tidak pernah dicontohkan para sahabat Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam yang sangat mencintai Husein pun tidak pernah melakukan apa yang telah mereka lakukan hari ini.</p>
<p>Pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, di sebagian negara seperti: Iran, sebagian wilayah Pakistan dan Irak, cahaya dimatikan, orang-orang keluar rumah, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anak memenuhi jalan, mereka meneriakkan: wahai Husein,.wahai Husein…bunyi gendang terdengar di mana-mana. Ada juga yang menusuk dan menyayat tubuhnya dengan pedang. Sebagai bentuk belasungkawa yang mendalam atas kematian Husein. Pada saat yang sama, tokoh mereka berkhutbah menyampaikan kebaikan-kebaikan Husein dan mencela para sahabat lainnya. Mereka mencela Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan.</p>
<p>Sementara itu, ketika tanggal 10 Muharram (hari Asyura), dihidangkan berbagai makanan khusus. Semua orang keluar rumah, berkumpul di satu tempat yang disebut &#8216;tanah suci karbala&#8217;. Di sinilah mereka melampiaskan berbagai bentuk kesyirikan, thawaf mengelilingi kuburan, mencari berkah dengan mengusap-usap berbagai tempat yang mereka anggap suci, sambil mendendangkan lagu dan menabuh rebana.</p>
<p>Agar suasana semakin panas, para tokoh mereka memberikan motivasi yang diambilkan dari hadis dusta, palsu dan buatan pemuka masyarakat.</p>
<p>Merekalah gerombolan Syiah Rafidhah, sekelompok orang yang membangun agama dan keyakinannya berdasarkan kedustaan tokoh dan pemuka Syiah. Orang-orang yang beraqidah sesat. (<em>Al-Bida&#8217; Al-Hailiyah</em>, Hal. 56 – 57). Mereka melakukan suatu ritual memukulkan pedang ke kepala, melukai punggung dengan cambuk besi, dsb. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan esensi ajaran Islam yang sesuai dengan akal sehat, melarang melukai diri, tidak boleh meratapi mayat, dan nilai-nilai humanis (manusiawi) lainnya.</p>
<p>Berbagai rekaman kegiatan mereka tersebar di internet. Anda yang ingin melihat gambar ritual Syiah, bisa mengakses di google atau youtube dengan kata kunci: كربلاء.</p>
<p>Semoga Allah menjauhkan dan menyelamatkan kaum muslimin dari pengaruh buruk mereka. Amin</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 02:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8954</guid>
		<description><![CDATA[Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura Pertanyaan: Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari asyura. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini? Dari: Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com) Jawaban: Terdapat sebuah hadis dalam kitab ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menyantuni <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">Anak</a> Yatim di Hari Asyura</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari <strong>asyura</strong>. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini?</p>
<p>Dari: <em>Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8954"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Terdapat sebuah hadis dalam kitab tanbihul ghafilin:</p>
<p class="arab">من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة</p>
<p><em>Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.</em><br />
Hadis ini menjadi motivator utama masyarakat untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Sehingga banyak tersebar di masyarakat anjuran untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Bahkan sampai menjadikan hari Asyura ini sebagai hari istimewa untuk anak yatim.<br />
Namun sayangnya, ternyata hadis di atas statusnya adalah hadis palsu. Dalam jalur sanad hadis ini terdapat seorang perawi yang bernama: Habib bin Abi Habib, Abu Muhammad. Para ulama hadis menyatakan bahwa perawi ini matruk (ditinggalkan). Untuk lebih jelasnya, berikut komentar para ulama kibar dalam hadis tentang Habib bin Abi Habib:<br />
a. Imam Ahmad: Habib bin Abi Habib pernah berdusta<br />
b. Ibnu Ady mengatakan: Habib pernah memalsukan hadis (<em>al-Maudhu&#8217;at</em>, 2/203)<br />
c. Adz Dzahabi mengatakan: “Tertuduh berdusta.” (<em>Talkhis Kitab al-Maudhu&#8217;at</em>, 207).<br />
Karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa hadis ini adalah hadis palsu. Abu Hatim mengatakan: “Ini adalah hadis batil, tidak ada asalnya.” (<em>al-Maudhu&#8217;at</em>, 2/203)</p>
<p>Keterangan di atas sama sekali bukan karena mengaingkari keutamaan menyantuni anak yatim. Bukan karena melarang anda untuk bersikap baik kepada anak yatim. Sama sekali bukan.<br />
Tidak kita pungkiri bahwa menyantuni anak yatim adalah satu amal yang mulia. Bahkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjanjikan dalam sebuah hadis:</p>
<p class="arab">أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِى الْجَنَّةِ , وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى , وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلاً</p>
<p><em>“Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jari" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jari">jari</a> ini ketika di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>.” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau memisahkannya sedikit.&#8221;</em> (HR. Bukhari no. 5304)<br />
Dalam hadis shahih ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hanya menyebutkan keutamaan menyantuni anak yatim secara umum, tanpa beliau sebutkan waktu khusus. Artinya, keutamaan menyantuni anak yatim berlaku kapan saja. Sementara kita tidak boleh meyakini adanya waktu khusus untuk ibadah tertentu tanpa dalil yang shahih.<br />
Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah &#8216;batasan tata cara ibadah&#8217; yang penting untuk kita ketahui:</p>
<p class="arab">كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام ؛ فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان أو مكان معين أو نحوهما بحيث يوهم هذا التقييد أنه مقصود شرعًا من غير أن يدلّ الدليل العام على هذا التقييد فهو بدعة</p>
<p>&#8220;Semua bentuk ibadah yang sifatnya mutlak dan terdapat dalam syariat berdasarkan dalil umum, maka membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak ini dengan waktu, tempat, atau batasan tertentu lainnya, dimana akan muncul sangkaan bahwa batasan ini merupakan bagian ajaran syariat, sementara dalil umum tidak menunjukkan hal ini maka batasan ini termasuk bentuk bid&#8217;ah.&#8221; (<em>Qowa’id Ma’rifatil Bida’,</em> hal. 52)<br />
Karena pahala dan keutamaan amal adalah rahasia Allah, yang hanya mungkin kita ketahui berdasarkan dalil yang shahih.<br />
Allahu a&#8217;lam&#8230;</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a><em>)</em></strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait Asyura:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../amalan-di-bulan-muharram" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../keutamaan-bulan-muharram" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro" target="_blank">Kesyirikan di Bulan Suro.</a></p>
<p>Asyura.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesyirikan di Bulan Suro</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 06:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8939</guid>
		<description><![CDATA[Kesyirikan di Bulan Suro Muharram telah tiba, bulan tahun baru dalam kalender hijriyah. Orang jawa menamakan bulan ini dengan istilah Suro. Mungkin nama ini diambil dari kata Asyuro yaitu tanggal 10 Muharram. Latar belakang diistimewakan hari Asyuro karena pada hari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kesyirikan di Bulan Suro</h2>
<p>Muharram telah tiba, bulan tahun baru dalam kalender hijriyah. Orang jawa menamakan bulan ini dengan istilah Suro. Mungkin nama ini diambil dari kata Asyuro yaitu tanggal 10 Muharram. Latar belakang diistimewakan hari Asyuro karena pada hari tersebut dianjurkan bagi kaum muslimin untuk melakukan puasa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">sunah</a>.</p>
<p>Hal menarik yang layak untuk dibahas di sini adalah keyakinan sebagian orang jawa yang menganggap bulan ini sebagai bulan sial. Setiap orang yang punya agenda acara, mau tidak mau harus ditunda bulan depan atau dibatalkan. <em>Dhuwe gawe neng ulan syuro alamat ciloko</em>…<em>Berani jangkar</em> ….melanggar, …<em>ku-wa-lat</em>! demikian anggapan mereka. Anehnya, keyakinan yang tidak bisa diterima akal yang fitrah ini tidak hanya hinggap di masyarakat pedalaman, tetapi juga merasuk kepada sebagian kalangan yang berpendidikan dan mengenal teknologi, seperti kalangan akademisi (mahasiswa dan dosen) dan orang-orang terpelajar lainnya.</p>
<p>Andaikan tidak ada hubungannya dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a> dan neraka, bisa dikatakan ini adalah satu adat yang biasa dan tidak perlu dibahas. Namun dalam kacamata agama Islam, keyakinan dan anggapan sial di atas termasuk salah satu bentuk perbuatan syirik. Satu dosa yang sangat besar, lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar lainnya dan kesyrikan tidak akan diampuni oleh Allah jika dibawa mati oleh pelakunya dan ia belum bertaubat kepada Allah. Mengerikan bukan?! Lebih mengerikan lagi jika banyak orang yang melakukannnya namun tidak memahami hukumnya. Bisa dibayangkan, pelakunya akan merasa dirinya tidak berbuat dosa padahal dia tengah melakukan perbuatan kekafiran. Pada hakikatnya dia sedang melakukan kesyirikan sementara dia tidak tahu kalau yang ia lakukan adalah kesyirikan. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> ia akan bertaubat kepada Allah apabila ia merasa tidak melakukan kesalahan. Akhirnya, dia mati membawa dosa syirik, satu dosa yang tidak diampuni oleh Allah. <em>Wal &#8216;iyadzu billaah</em></p>
<p>Dalam ilmu aqidah, keyakinan sial seperti di atas dinamakan <em>thiyaroh</em>. Thiyaroh adalah anggapan akan mendapatkan kesialan karena mendengar atau melihat sesuatu yang tidak disukai, padahal tidak ada bukti ilmiyahnya. Misalnya anggapan <strong>bulan Suro</strong> bulan malapetaka.</p>
<p>Thiyaroh adalah aqidah orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> jahiliyah.<br />
Sebelum Islam datang, orang musyrikin Arab memiliki keyakinan yang semodel dengan keyakinan orang jawa. Di antaranya masyarakat jahiliyah menganggap bulan Safar (bulan setelah Muharam dalam kalender hijriyah) sebagai bulan sial. Mereka takut dan tidak mau mengadakan kegiatan apapun di bulan Safar. Mereka juga berkeyakinan sial dengan burung hantu, karena mereka menganggap burung hantu adalah lambang kematian. Jika hinggap di atas rumah kemudian mematuk rumah tersebut, pertanda sebentar lagi akan ada anggota keluarga rumah tersebut yang akan meninggal.</p>
<p>Ketika Islam datang Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> menghapus keyakinan ini, beliau bersabda,</p>
<p class="arab">لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر</p>
<p>&#8220;<em>Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada keyakinan sial karena sebab tertentu, tidak ada keyakinan tentang burung hantu, dan tidak ada kesialan bulan safar</em>.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Namun uniknya, keyakinan ini dihidupkan lagi oleh sebagian kaum muslimin Indonesia. Hanya saja, bulannya berganti. Jika masyarakat jahiliyah meyakini bulan Safar sebagai bulan sial, maka orang Jawa meyakini bulan Suro (Muharram) sebagai bulan sial.</p>
<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Thiyarah</h2>
<p>Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">الطيرة شرك، الطيرة شرك&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik…</em> (beliau ulangi tiga kali)&#8221; (HR. Abu Daud dan Turmudzi).</p>
<p>Dalam hadis ini, Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> menegaskan status perbuatan <em>thiyaroh</em> dan beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. Menunjukkan betapa pentingnya hal ini untuk diingatkan. <em>Thiyaroh</em> dikatakan bentuk kesyirikan dan mengurangi tauhid seseorang, karena dalam <em>thiyaroh</em> terdapat dua hal:</p>
<ol>
<li> Memutus tawakkal kepada Allah dan bertawakkal kepada selain Allah.</li>
<li>Bergantung pada sesuatu yang tidak ada hakikatnya.</li>
</ol>
<p>Ulama menjelaskan bahwa hukum <em>thiyaroh</em> sebagai perbuatan kesyirikan dirinci menjadi dua:<br />
a.	Syirik kecil (tidak menyebabkan keluar dari Islam), jika kejadian aneh, bulan Suro, burung hantu atau yang lainnya hanya dianggap sebagai sebab kesialan. Meskipun dia meyakini bahwa pencipta kesialan itu sendiri adalah Allah. Perbuatan ini digolongkan kesyirikan karena pelakunya bersandar pada sesuatu yang dia yakini sebagai sebab munculnya kesialan, padahal itu bukan sebab.<br />
b.	Syirik besar (pelakunya diancam dengan kekafiran), jika diyakini bahwa bulan Suro yang mengatur terjadinya kesialan, bukan Allah. Keyakinan ini sama dengan menganggap ada makhluk yang bisa mengatur alam dengan mendatangkan bencana atau sial.<br />
(<em>Qoulul Mufid Syarh Kitab Tauhid</em>, 1:575).</p>
<h3>Pengaruh Thiyarah</h3>
<p>Setiap orang yang terjangkit penyakit <em>thiyaroh</em> akan terjebak dalam dua keadaan yang dua-duanya tercela:<br />
<strong>Pertama</strong>, membatalkan agenda yang telah direncanakan karena takut akan tertimpa kesialan. Perbuatan ini sangat tercela karena persis sebagaimana yang dilakukan orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/musyrik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrik">musyrik</a> jahiliyah. Pelaku perbuatan ini telah terjerumus dalam kesyirikan yang statusnya sebagaimana rincian tentang syirik di atas. Nabi <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">من ردته الطِيَرة من حاجة فقد أشرك</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang membatalkan agendanya karena thiyaroh maka dia telah berbuat syirik</em>.&#8221;<br />
Sahabat bertanya, &#8220;Lalu apakah tebusannya?&#8221; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, &#8220;Ucapkan,</p>
<p class="arab">« اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ »</p>
<p><em>Allaahumma laa khaira illa khairuka wa laa thiyaro illa thiyaruka wa laa ilaaha ghoiruka</em><br />
&#8220;<em>Yaa Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, tiada kesialan kecuali sial karena taqdir-Mu, dan tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau</em>.&#8221; (HR. Imam Ahmad, no.7242, hadis hasan)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tetap melakukan agenda kegiatan yang telah id jadwalkan, namun disertai dengan perasaan was-was dan khawatir, jangan-jangan nanti sial. Kualitas (nilai) keburukannya lebih rendah dari yang pertama, namun keadaan ini bukti rendahnya kualitas tawakkal dan tauhid pelakunya.</p>
<h3>Terapi Untuk Mengobati Thiyarah</h3>
<p>Penyakit aqidah yang sudah mendarah daging akan sangat sulit untuk bisa disembuhkan dan dihilangkan dalam sekejap. Sangat jarang ada orang yang bisa selamat dari penyakit <em>thiyaroh</em> ini. Bahkan para sahabat sendiri -manusia paling baik di umat ini- masih terjangkit penyakit ini. Sebagaimana sabda Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em>,</p>
<p class="arab">الطيرة شرك، الطيرة شرك&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik..(3X)</em>. kemudian Ibn Mas&#8217;ud <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, &#8220;Tidak ada seorangpun di antara kita kecuali (terjangkit dalam hatinya penyakit <em>thiyaroh</em> ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.&#8221; (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).<br />
Maksud perkataan Ibn Mas&#8217;ud adalah munculnya perasaan was-was yang dialami para sahabat. (<em>&#8216;Aunul Ma&#8217;bud Syarh Sunan Abi Daud</em>, 10:288).</p>
<p>Namun kata &#8220;sulit&#8221; bukanlah alasan untuk tidak mengobati penyakit membahayakan ini. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menterapi diri dari penyakit <em>thiyaroh</em>:</p>
<ol>
<li> Memperdalam ilmu tuhid dan aqidah. Karena dengan modal ilmu, seseorang bisa berjalan sesuai jalur yang syariat tentukan.</li>
<li>Memahami dan meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini mutlak berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Tidak ada satu pun makhlukq yang bisa ikut campur.</li>
<li>Bertawakkal dan pasrah sepenuhnya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Sebagaimana yang dilakukan para sahabat.</li>
<li>Sering-sering memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan dan gangguan setan. Terutama ketika muncul perasan khawatir dan was-was. Kemudian lindungi diri kita dari godaan setan dengan membasahi mulut ini dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dzikir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dzikir">dzikir</a>-dzikir yang sesuai syari&#8217;at.</li>
<li>Jangan menggagalkan satu rencana yang sudah diagendakan, disebabkan munculnya perasaan was-was. Karena hal ini berarti menjerumuskan kita kepada kesyirikan.</li>
<li>Tetap optimis untuk meraih keberkahan dari kegiatan yang kita lakukan selama tidak melanggar syariat.</li>
<li>Jangan pedulikan komentar orang yang justru akan memperparah penyakit <em>thiyaroh</em>. Bergaul-lah dengan orang-orang yang bisa membantu kita untuk memperbaiki tauhid dan mempertebal tawakkal.</li>
<li>Lupakan segala bentuk kegagalan dunia dan pasrahkan hasil usaha kita kepada Sang Pengatur alam semesta.</li>
</ol>
<p><em>Wallaahu waliyut Taufiq</em>. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait bulan suro:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../amalan-di-bulan-muharram" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../keutamaan-bulan-muharram" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.</p>
<p>Permasalahan bulan suro.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadis Dhaif Seputar Bulan Muharram</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 01:56:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8915</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Dhaif Seputar Bulan Muharram Pertanyaan: Ada banyak keyakinan yg tersebar di masyarakat terkait bulan Muharram. Misalnya, apabila berpuasa sehari di bulan Muharram maka untuk satu hari puasa dia mendapat pahala puasa tiga puluh hari atau siapa yang berpuasa sembilan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hadis Dhaif Seputar Bulan Muharram</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Ada banyak keyakinan yg tersebar di masyarakat terkait bulan <strong>Muharram</strong>. Misalnya, apabila berpuasa sehari di bulan Muharram maka untuk satu hari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> dia mendapat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pahala-puasa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pahala puasa">pahala puasa</a> tiga puluh hari atau siapa yang berpuasa sembilan hari pertama bulan Muharram maka Allah akan bangunkan untuknya satu kubah di udara atau semacamnya. Apakah keyakinan ini benar? Adakah hadisnya?</p>
<p>Dari: <em>Arriqa fauqi (ArXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8915"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Beberapa keterangan yang Anda sampaikan pada hakikatnya bersumber dari hadis dhaif.</p>
<h3>Berikut keterangan selengkapnya terkait hadis-hadis dhaif seputar bulan muharram:</h3>
<p><strong>1.</strong> Siapa yang berpuasa sembilan hari pertama bulan Muharram maka Allah akan bangunkan untuknya satu kubah di udara, yang memiliki empat pintu, tiap pintu jaraknya satu mil. (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at, 2:199, dan As-Syaukani dalam <em>Al-Fawaid Al Majmu’ah</em>, Hal. 45)</p>
<p><strong>2.</strong> Siapa yang berpuasa hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram, berarti dia telah mengakhiri penghujung tahun dan mengawali tahun baru dengan puasa. Allah jadikan puasanya ini sebagai kaffarah selama lima tahun. (Hadis dusta, karena di sanadnya ada dua pendusta, sebagaimana keterangan As-Syaukani dalam <em>Al-Fawaid Al-Majmu’ah</em>, Hal. 45)</p>
<p><strong>3.</strong> Sesungguhnya Allah mewajibkan Bani Israil berpuasa sehari dalam setahun, yaitu hari ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh bulan Muharram. Karena puasalah kalian di bulan Muharram dan berilah kelonggaran (makan enak dan pakaian baru) untuk keluarga kalian. Karena inilah hari di mana Allah menerima taubat Adam<em> ‘alaihis salam</em>… (<em>Al-Fawaid Al-Majmu’ah</em>, Hal. 46)</p>
<p><strong>4.</strong> Siapa yang berpuasa sehari di bulan Muharram maka untuk satu hari puasa dia mendapat pahala puasa tiga puluh hari. (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Al-Albani dalam <em>Silsilah Hadis Dhaif</em>, no. 412)</p>
<p><strong>5.</strong> Bulan yang paling mulia adalah Al-Muharram (Hadis dhaif, sebagaimana keterangan Al-Albani dalam <em>Dhaif Al Jami’ As-Shagir</em>, no. 1805)</p>
<p><strong>6.</strong> Pemimpin umat manusia: Adam, pemimpin bangsa Arab: Muhammad, pemimpin bangsa Romawi: Shuhaib Ar-Rumi, pemimpin bangsa Persia: Salman Al-Farisi, pemimpin bangsa Habasyah: Bilal bin Rabah, pemimpin gunung: Gunung Sina, pemimpin pohon: bidara, pemimpin bulan : Muharram, pemimpin hari : <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hari-jumat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hari jumat">hari Jumat</a>….(Hadis palsu, sebagaimana keterangan Al-Albani,<em> Dhaif Al Jami’ As Shaghir</em>, no. 7069).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustad Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait muharram:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/amalan-di-bulan-muharram">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/keutamaan-bulan-muharram">Keutamaan Bulan Muharram</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Nurbuat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-nurbuat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-nurbuat#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 01:43:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[adab doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[doa nabi]]></category>
		<category><![CDATA[doa nurbuat]]></category>
		<category><![CDATA[doa tuntunan]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8078</guid>
		<description><![CDATA[Doa Nurbuat Assalamu&#8217;alaikum ustad. Ustad, istri saya sedang hamil. Banyak yang menyarankan baik dari keluarga maupun teman kerja untuk mendawamkan (selalu membaca doa) doa nurbuat. Apa doa nurbuat itu Ustadz? Dan apakah doa itu sesuai dengan tuntunan Rosulullah Muhammad shalallahu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa-nurbuat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa nurbuat">Doa Nurbuat</a></h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em> ustad. Ustad, istri saya sedang hamil. Banyak yang menyarankan baik dari keluarga maupun teman kerja untuk mendawamkan (selalu membaca <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>) <strong>doa nurbuat</strong>.<br />
Apa <span style="text-decoration: underline;">doa nurbuat</span> itu Ustadz? Dan apakah doa itu sesuai dengan tuntunan Rosulullah Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? sebab saya khawatir doa itu sama seperti <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-shalawat-di-iringi-rebana" target="_blank"><em>shalawat nariyah</em></a>, yang ternyata setelah mendapatkan penjelasan dari para ustad (melalui Majalah As-Sunnah) shalawat nariyah itu dilarang.  Mohon penjelasannya Ustadz. Terimakasih.</p>
<p>Penanya: <em>cikalXXXXXXXXX@yahoo.co.id</em><br />
<span id="more-8078"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam</em></p>
<h3>Doa Nurbuat</h3>
<p>Teks doanya:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ العَظِيم وَذِى الـمَنِّ القَدِيم وَذِى الوَجْه الكَرِيم وَوَلِيِّ الكَلِمَات التآمات وَالدَّعَوَاتِ الـمُسْتَجَبَات عَاقِلِ الحَسَنِ والحُسَينِ من انفس الحق عين القدرة والناظرين وعين الجن والإنس والشياطين. وَإِن يَكَادُ الذِّينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبصَارِهِم لما سمعوا الذكر ويقولون إنه لمجنون وماهو الا ذكر للعالمين ومُستجابُ القرآن العظيم وورث سليمان داود عليهما السلام الودود ذو العرش المجيد طَوِّلْ عُمْرِي وصحح جسدي واقض حاجتي واكثر اموالي واولادي وحببني للناس اجمعين وتباعد العداوة كل من بني آدم عليه السلام من كان حيا ويحق القول على الكافرين انك على كل شيء قدير سبحان ربك رب العزة عما يصفون.والسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.</p>
<p>Ada banyak kejanggalan dalam doa nurbuat, diantaranya:</p>
<p><strong>1.</strong> Kesalahan dalam tata bahasa<br />
Teks bagian awal doa ini tidak sesuai dengan kaidah nahwu (tata bahasa Arab). Teks yang keliru:</p>
<p class="arab">[اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ]</p>
<p>seharusnya, dibaca</p>
<p class="arab">[ذَا]</p>
<p>dengan hurup alif bukan</p>
<p class="arab">[ذِى]</p>
<p>Karena Munada Mudhaf harusnya <em>mansub</em> bukan <em>majrur</em>. Namun, anehnya, kesalahan semacam ini terjadi secara berulang-ulang, yaitu di bagian <em>ma&#8217;thuf</em>nya.<br />
Teks</p>
<p class="arab">[وَذِى الـمَنِّ القَدِيم]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَذَا الـمَنِّ القَدِيم]</p>
<p>Teks</p>
<p class="arab">[وَذِى الوَجْه الكَرِيم]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَذَا الوَجْه الكَرِيم]</p>
<p>Teks</p>
<p class="arab">[وَوَلِيِّ الكَلِمَات التآمات]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَوَلِيَّ الكَلِمَاتِ التآمَاتِ]</p>
<p>dengan harakat fathah.</p>
<p><strong>2.</strong> Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan.<br />
Di bagian awal doa, isiny memuji Allah, kemudian tiba-tiba dikutip ayat:</p>
<p class="arab">وَإِن يَكَادُ الذِّينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبصَارِهِم&#8230;</p>
<p><em>“Hampir saja orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> hendak menjatuhkanmu dengan pandangan mata mereka.”</em><br />
Ayat ini menceritakan tentang sikap orang kafir yang hendak menyerang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan penyakit &#8216;ain (penyakit karena pandangan hasad). Sehingga mereka bisa membunuh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari jauh.<br />
Jika kita perhatikan, ayat ini tidak memiliki keterkaitan langsung ayat ini dengan pujian untuk Allah dalam bait sebelumnya.</p>
<p><strong>3.</strong> Isi permintaan yang tidak tepat<br />
Dalam doa tersebut ada permintaan:</p>
<p class="arab">[طَوِّلْ عُمْرِي]</p>
<p>Panjangkanlah umurku. Umur panjang secara mutlak bukanlah hal yang terpuji. Karena umur panjang belum tentu berkah. Lebih tepat jika meminta keberkahan umur bukan meminta umur panjang. Sebagaimana yang dilakukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika mendoakan Anas bin Malik:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ</p>
<p>“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)<br />
Nabi tidak mendoakan secara mutlak, tapi beliau iringi dengan doa keberkahan.<br />
Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin pernah ditanya tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> memberikan ucapan &#8220;semoga panjang umur&#8221; Syekh mejawab, Tidak selayaknya mengucapkan &#8220;semoga panjang umur&#8221; secara mutlak, tanpa diikuti dengan kriteria yang lain. Karena panjang umur terkadang baik dan terkadang buruk. Padahal, manusia terjelek adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalnya. Oleh karena itu, andaikan ucapan yang disampaikan, &#8220;Semoga Allah memanjangkan usiamu di atas ketaatan&#8221; atau yang semacamnya maka ini tidak mengapa. (Fatawa as-Syimaliyah, Hal. 24)</p>
<p><strong>4.</strong> Keutamaan yang terlalu berlebihan<br />
Para aktivis pembaca doa ini menceritakan bahwa doa nurbuat memiliki banyak keutamaan. Namun, kebanyakan keutamaan tersebut, hanya terkait kesenangan dunia. Padahal prinsip doa yang diajarkan syariat lebih banyak untuk kepentingan akhirat. Kalaupun isinya memohon kebaikan dunia, pasti juga diiringi dengan permohonan kebaikan akhirat. Diantara keutamaan yang aneh pada doa ini:</p>
<ol>
<li> Dapat bertemu dengan Jin, bisa merubah rupa.</li>
<li>Dapat disayangi oleh musuh, jika dibaca ketika hendak keluar rumah.</li>
<li>Dapat menjadi penjaga rumah dari gangguan jin, sihir, santet dan bahaya lainnya, jika ditulis lalu disimpan di dalam rumah. (Mungkin inilah yang melatar-belakangi kebiasaan orang yang menggantung jimat di depan rumah).</li>
<li>Dapat memperlihatkan hal-hal yang indah, jika dibaca 100 kali pada malam Sabtu.</li>
<li>Dapat awet muda jika dibaca setiap malam Minggu.</li>
<li>Dapat menjadikan wajah tampak lebih tampan/cantik jika dibaca setiap malam Kamis.</li>
<li>Dan masih banyak keutamaan lainnya, yang semuanya mungarah pada kerakusan terhadap dunia.</li>
</ol>
<p>Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin doa nurbuat berasal dari ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena itu, tidak selayaknya untuk dibaca.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsutasisyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsutasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsutasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>doa</strong>, <strong>adab doa</strong>, <strong>doa nurbuat</strong>, <strong>kesalahan doa</strong>, <strong>doa nabi</strong>, <strong>doa tuntunan</strong>, <strong>doa bid&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-nurbuat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keistemewaan Bulan Sya&#8217;ban</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jul 2011 22:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[bulan sya'ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[fadilah bulan syaban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa sya'ban sebulan penuh]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[logo]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa banyak orang menikah di bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[menikah di bulan sa'ban]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal di bulan syaban]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sya'ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[sya ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[wanita bulan sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5533</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamualaikum ustazd. Ada sebuah keraguan dalam hati saya tentang keutamaan bulan Sya&#8217;ban. Banyak masyarakat disekitar saya yang melaksanakan ibadah yang tidak dilakukannya dibulan-bulan lain, misalnya puasa. Apakah Rasulullah pernah melakukan atau membiarkan hal itu pada bulan Sya&#8217;ban? Semoga jawaban ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamualaikum ustazd.</em></p>
<p>Ada sebuah keraguan dalam hati saya tentang keutamaan bulan Sya&#8217;ban. Banyak masyarakat disekitar saya yang melaksanakan ibadah yang tidak dilakukannya dibulan-bulan lain, misalnya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a>. Apakah Rasulullah pernah melakukan atau membiarkan hal itu pada bulan Sya&#8217;ban?</p>
<p>Semoga jawaban yang ustadz berikan dapat menjawab keraguan saya tentang hal itu(keutamaan bulan sya&#8217;ban).<br />
<em>Syukran, jazakumullan khairan.</em></p>
<p><em>Arifin ahmad</em> (AhmadXXXXXX@XXXXX.com)<br />
<span id="more-5533"></span><br />
<strong>Jawaban: </strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam wa rahmatullah.</em></p>
<p>Bulan Sya&#8217;ban memiiliki beberapa keutamaan. Berikut kami cantumkan beberapa hadis sahih yang menyebutkan keutamaan bulan Sya&#8217;ban.</p>
<p>Dari A&#8217;isyah <em>radliallahu &#8216;anha</em>, beliau mengatakan, &#8220;Terkadang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> puasa beberapa hari sampai kami katakan, &#8216;Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a>, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya&#8217;ban.&#8217;&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>A&#8217;isyah mengatakan, &#8220;Belum pernah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya&#8217;ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya&#8217;ban sebulan penuh.&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Msulim)</p>
<p>A&#8217;isyah mengatakan, &#8220;Bulan yang paling disukai Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk melaksanakan puasa adalah bulan Sya&#8217;ban, kemudian beliau lanjutkan dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-ramadhan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa ramadhan">puasa Ramadhan</a>.&#8221; (H.R. Ahmad, Abu Daud, An Nasa&#8217;i dan <em>sanad</em>-nya disahihkan Syaikh Syu&#8217;aib Al Arnauth)</p>
<p>Ummu Salamah <em>radliallahu &#8216;anha</em> mengatakan, &#8220;Saya belum pernah melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa dua bulan berturut-turut selain di bulan Sya&#8217;ban dan Ramadhan.&#8221; (H.R. An Nasa&#8217;i, Abu Daud, At Turmudzi dan disahihkan Al Albani)</p>
<p>Dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya&#8217;ban. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.&#8217;” (H.R. An Nasa&#8217;i, Ahmad, dan <em>sanad</em>-nya di-<em>hasan</em>-kan Syaikh Al Albani)</p>
<p>Dari Abu Musa Al Asy&#8217;ari <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya&#8217;ban. Maka Dia mengampuni semua makhluqnya, kecuali orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/musyrik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrik">musyrik</a> dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, At Thabrani, dan disahihkan Al Albani)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mengapa banyak orang menikah di bulan sya&#039;ban</strong>, <strong>start</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>menikah di bulan sa&#039;ban</strong>, <strong>sya ban 2011</strong>, <strong>bulan sya&#039;ban 2011</strong>, <strong>fadilah bulan syaban 2011</strong>, <strong>bulan sya&#039;ban</strong>, <strong>puasa sya&#039;ban 2011</strong>, <strong>musyrik</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Isra&#8217; Mi’raj</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:21:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isra dan miraj]]></category>
		<category><![CDATA[isra mi raj adalah]]></category>
		<category><![CDATA[isra mijrat]]></category>
		<category><![CDATA[isra miraj]]></category>
		<category><![CDATA[isra miraj dan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[isra' mi raj]]></category>
		<category><![CDATA[isra'mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat rasulullah setelah isra' mi'raj selain sholat]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan isra mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan isra mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[peristiwa dalam bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan ini isra miraj kapan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah peringatan isra' mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah rajaban]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[susunan acara waktu perayaan isra dan mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>
		<category><![CDATA[tahun hijriah rajab=rajaban]]></category>
		<category><![CDATA[tanggal isra mi'raj tahun 2011]]></category>
		<category><![CDATA[tentang isra' mi'raj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5373</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu alaikum.. Sebentar lagi ada peringatan Isra Mi’raj. Ada yg mengatakan bahwa Isra&#8217; Mi’raj tidak terjadi di bulan Rajab, apakah ini benar? Lantas, bagaimana hukum peringatan Isra Mi’raj? Trims.. Tri Jogja (triXXXX@XXXXX.com ) Jawaban: Wa alaikumus salam wa rahmatullah. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu alaikum..</em></p>
<p>Sebentar lagi ada peringatan <em>Isra Mi’raj</em>. Ada yg mengatakan bahwa <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> tidak terjadi di bulan Rajab, apakah ini benar? Lantas, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> peringatan <em>Isra Mi’raj</em>?<br />
Trims..</p>
<p><em>Tri Jogja (triXXXX@XXXXX.com )</em><br />
<span id="more-5373"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam wa rahmatullah.</em></p>
<p>Tanggal 27 Rajab menjadi satu agenda penting bagi kaum muslimin. Mereka meyakini bahwa pada tanggal itu terjadi peristiwa <em>Isra’ </em>dan <em>Mi’raj</em>. Padahal para ulama berselisih pendapat tentang tanggal terjadinya <em>Isra’</em>dan <em>Mi’ra</em>j. Disebutkan oleh Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, ada sekitar 6 pendapat ulama, terkait dengan penentuan waktu kejadian <em>Isra’</em> dan<em> Mi’raj</em>.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> <em>Isra&#8217;</em> dan <em>Mi’raj</em> terjadi di tahun pertama ketika beliau diangkat sebagai Nabi. Ini adalah pendapat At-Thabari.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> <em>Isra&#8217;</em> dan<em> Mi’ra</em>j terjadi lima tahun setelah beliau diutus sebagai Nabi. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam An-Nawawi dan Al-Qurthubi.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> terjadi di malam 27 Rajab, tahun 10 setelah kenabian (sepuluh tahun setelah beliau diutus menjadi Nabi). Ini pendapat Al-Manshurfuri.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> peristiwa <em>Isra&#8217;</em> terjadi 16 bulan sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a> tahun 12 setelah kenabian.</p>
<p><strong>Kelima,</strong> peristiwa ini terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, atau tepatnya di bulan Muharram tahun 13 setelah kenabian.</p>
<p><strong>Keenam,</strong> <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> terjadi satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan Rabi&#8217;ul Awal tahun 13 setelah kenabian.</p>
<p>Dari enam pendapat di atas, 3 pendapat pertama tertolak dan bertentangan dengan realita sejarah lainnya. (Lihat <em>Ar-Rahiqum Makhtum</em>, hal. 85)</p>
<p><strong>Bagaimana analisisnya?</strong></p>
<p>Sebelumnya kami tegaskan –barangkali ada sebagian kaum muslimin yang belum paham–, urutan bulan hijriyah: &#8230;Rajab, Sya&#8217;ban, Ramadhan, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/syawal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with syawal">Syawal</a>, <em>dst</em>.</p>
<p>Kemudian, sebagaimana yang kita ketahui, sekembalinya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari Isra&#8217; Mi’raj, beliau membawa syariah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> lima waktu. Sementara para ahli sejarah menegaskan bahwa Khadijah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/meninggal-di-bulan-ramadhan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with meninggal di bulan ramadhan">meninggal di bulan Ramadhan</a> tahun kesepuluh setelah kenabian. Ini sebagaimana yang ditegaskan Ibnul Jauzi (<em>Talqih Fuhum Ahlil Atsar</em>, hal. 7). Padahal sampai Khadijah meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu.</p>
<p>Jika dua peristiwa ini, yaitu Isra&#8217; Mi’raj dan wafatnya Khadijah terjadi dalam tahun yang sama, tahun sepuluh setelah kenabian, tentunya di bulan kematian Khadijah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, kewajiban shalat sudah ada. Karena urutan bulan Rajab jatuh sebelum ramadhan.</p>
<p>Adapun tiga pendapat terakhir, Al-Mubarakfuri memberi komentar, “Untuk tiga pendapat sisanya, saya belum mendapatkan keterangan yang menguatkan salah satu pendapat tersebut. Hanya saja, konteks surat Al-Isra&#8217; menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi di waktu-waktu terakhir di Mekah.”</p>
<p><strong>Ulama Sepakat Peringatan <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah <em>Bid&#8217;a</em>h</strong></p>
<p>Para ulama sepakat bahwa peringatan <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah acara <em>bid’ah</em>. Ibnul Qayim menukil keterangan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, yang mengatakan, “Tidak diketahui dari seorang-pun kaum muslimin, yang menjadikan malam <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> lebih utama dibandingkan malam yang lainnya. Lebih-lebih menganggap bahwa malam <em>Isra&#8217;</em> lebih mullia dibandingkan <em>lailatul qadar</em>. Tidak seorangpun sahabat, maupun <em>tabi’in</em> yang mengkhususkan malam <em>Isra&#8217;</em> dengan kegiatan tertentu, dan mereka juga tidak memperingati malam ini. Karena itu, tidak diketahui secara pasti, kapan tanggal kejadian <em>Isra&#8217; Mi’raj</em>.” (<em>Zadul Ma’ad</em>, 1/58 /59).</p>
<p>Ibnu Nuhas mengatakan, “Memperingati malam <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah <em>bid’ah</em> yang besar dalam urusan agama. Termasuk perkara baru yang dibuat-buat teman-teman setan.” (<em>Tanbihul Ghafili</em>n, hal. 379 – 380. Dinukil dari <em>Al Bida’ Al Hauliya</em>h, hal. 138)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>syawal</strong>, <strong>susunan acara waktu perayaan isra dan mi&#039;raj</strong>, <strong>sejarah rajaban</strong>, <strong>tanggal isra mi&#039;raj tahun 2011</strong>, <strong>isra mijrat</strong>, <strong>isra miraj dan ramadhan</strong>, <strong>isra&#039; mi raj</strong>, <strong>isra mi raj adalah</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>isra miraj</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Qunut dalam Shalat Maghrib</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/qunut-dalam-shalat-maghrib</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/qunut-dalam-shalat-maghrib#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 09:56:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[3 jenis qunut]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[dalil qunut dalam shalat subuh]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[doa dalam witir solat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[doa kunut dalam shalat taraweh dan subuh hukum]]></category>
		<category><![CDATA[doa qunut]]></category>
		<category><![CDATA[doa qunut mazhab syiah]]></category>
		<category><![CDATA[doa qunut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sikat gigi waktu puasa menurut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[jenis doa qunut]]></category>
		<category><![CDATA[jenis qunut]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[kenapa qunut hanya dibaca waktu subuh?]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mazhab syiah tentang shalat jumat]]></category>
		<category><![CDATA[mazhab yang memakai qunut dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[mengenai kunut dalam solat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[qunut dalam shalat hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[qunut dalam shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[qunut di dalam salat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[qunut di sholat magrib]]></category>
		<category><![CDATA[qunut pada shalat jumat]]></category>
		<category><![CDATA[qunut pada waktu shalat terawih]]></category>
		<category><![CDATA[qunut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat maghrib dan hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[shalat subuh]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih dengan doa qunut]]></category>
		<category><![CDATA[shalat witir]]></category>
		<category><![CDATA[sholat maghrib qunut]]></category>
		<category><![CDATA[subuh]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[waktu adzan maghrib]]></category>
		<category><![CDATA[waktu-waktu witir]]></category>
		<category><![CDATA[witir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5182</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh. Pak Ustadz yang terhormat, (orang-orang, ed.) di kampung saya, selalu melakukan doa qunut dalam shalat maghrib. Itu hukumnya apa, dan sah/tidak shalatnya? Kata teman tidak apa-apa, dan tergantung kita mau ikut imam yang mana. Wassalamu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>. Pak Ustadz yang terhormat, (orang-orang, <em>ed.</em>) di kampung saya, selalu melakukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa-qunut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa qunut">doa qunut</a> dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> maghrib. Itu hukumnya apa, dan sah/tidak shalatnya? Kata teman tidak apa-apa, dan tergantung kita mau ikut imam yang mana.  <em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><em>Rodji (rodji**@***.com) </em><br />
<span id="more-5182"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Qunut ada tiga macam:<br />
1. <em>Qunut nazilah</em>: qunut yang dilakukan setiap melaksanakan shalat lima waktu (<strong>tidak hanya</strong> maghrib saja). Qunut ini dilakukan ketika kaum muslimin sedang mendapatkan gangguan dari musuhnya (orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a>).<br />
2. <em>Qunut <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/witir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with witir">witir</a></em>: qunut ini hanya dilakukan ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-witir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat witir">shalat witir</a>.<br />
3. <em>Qunut <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with subuh">subuh</a></em>: menurut pendapat Mazhab Syafi&#8217;iyah, qunut ini dianjurkan; hanya untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat subuh">shalat subuh</a>, <strong>bukan</strong> shalat lainnya.</p>
<p>Selain dari tiga <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jenis-qunut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jenis qunut">jenis qunut</a> di atas, seperti qunut saat shalat maghrib, belum kami jumpai dalil dan keterangan ulama dalam masalah ini.</p>
<blockquote><p>Sementara, kaidah baku dalam masalah ibadah: harus ada dalilnya.</p></blockquote>
<p>Dengan demikian, Anda tidak perlu ikut qunut, tetapi Anda cukup ikut shalat jemaah saja.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>dalil qunut dalam shalat subuh</strong>, <strong>doa qunut mazhab syiah</strong>, <strong>doa qunut</strong>, <strong>qunut di dalam salat taraweh</strong>, <strong>doa qunut syiah</strong>, <strong>doa dalam sholat</strong>, <strong>jenis qunut</strong>, <strong>qunut syiah</strong>, <strong>doa kunut dalam shalat taraweh dan subuh hukum</strong>, <strong>waktu adzan maghrib</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/qunut-dalam-shalat-maghrib/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlukah Menambahkan Kata &#8220;Sayyidina&#8221; dalam Tahiyat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/perlukah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-tahiyat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/perlukah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-tahiyat#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 05:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan pujian/sholawat sebelum sholat berjamaah]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sayyidina pada tahyat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan shalawat nabi tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat shalat teraweh]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat untuk terawih]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bayangan takhiyat dalam bulan]]></category>
		<category><![CDATA[cara panduan sholawat shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[dlm shalawat bacaan sayidina boleh ato tdk]]></category>
		<category><![CDATA[doa shalawat di antara sholat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[hadist bacaan dlm tahiyat shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hadist bacaan tahiyat menggunakan sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang sholawat menggunakan sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[hkm tntng bacaan syaidina dlm tahiyat shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum baca sayyidina dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kata sayyidina pada tahiyat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai sayyidina dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jawaban sholawat ketika tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[kata sayyidina dalam sholawat]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[membaca doa tasyahud memakai sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa tarawih pakai shalawat?]]></category>
		<category><![CDATA[pakai sayyidina pada tahiyat]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan kata sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan sayyidina pada shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[perlukah doa qunut subuh]]></category>
		<category><![CDATA[sayyidina dalam]]></category>
		<category><![CDATA[sayyidina mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah bacaan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah tahiyyat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat antara rakaat shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat pada shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat sesudah tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[tahyat dalam sholat subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5073</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukumnya menambahkan kata &#8220;sayyidina&#8221; dalam salawat pas tahiyat saat shalat? Ridwan (**oneabout@***.co.id) Jawaban: Bismillah. Sikap yang tepat adalah mengikuti petunjuk Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam berhalawat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, tanpa menambahi atau pun mengurangi. Al-Hafizh ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa hukumnya menambahkan kata &#8220;<em>sayyidina</em>&#8221; dalam salawat pas tahiyat saat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>?</p>
<p><em>Ridwan (**oneabout@***.co.id)</em><br />
<span id="more-5073"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah</em>. Sikap yang tepat adalah mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam berhalawat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, tanpa menambahi atau pun mengurangi.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan bahwa tidak ada satu pun riwayat tentang shalawat yang membuat tambahan &#8220;sayyidina&#8221; Beliau mengatakan, “Al-Qadhi &#8216;Iyadh (ulama Mazhab Syafi&#8217;i) telah mengumpulkan dalam satu bab khusus di kitabnya, <em>Asy-Syifa&#8217;</em>, tentang tata cara bersalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau sebutkan beberapa riwayat dari para shahabat maupun tabi&#8217;in; tidak ada satu pun di antara mereka yang menambahkan lafal &#8216;sayyidina&#8217;.”</p>
<p>Di antaranya adalah riwayat dari Ibnu Abi Laila, bahwa beliau bertemu Ka&#8217;ab bin Ujrah (shahabat), kemudian Ka&#8217;ab mengatakan, &#8220;Maukah kamu, aku beri hadiah? Sesungguhnya, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menemui kami, kemudian kami bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, &#8230; Bagaimanakah bacaan salawat kepadamu?&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Ucapkanlah, &#8216;<em>Allahumma shalli &#8216;ala Muhammad wa &#8216;ala ali Muhammad</em> &#8230;.&#8221;” (H.R. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Andaikan tambahan kata &#8220;sayyidina&#8221; itu disyariatkan, sebagai bentuk rasa hormat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tentu Ka&#8217;ab bin &#8216;Ujrah, seorang <em>shahabat</em> yang mulia, akan mengajarkannya kepada muridnya, karena merekalah orang yang paling hormat dan paling tahu cara mengagungkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Setelah kita memahami bahwa bacaan shalawat dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> <strong>tidak</strong> memuat tambahan &#8220;sayyidina&#8221; maka bacaan salawat ketika shalat tidak boleh ditambahi &#8220;sayyidina&#8221;. Semua bacaan dalam shalat harus tepat sesuai dengan bacaan yang disebutkan dalam dalil. Bahkan, sebagian ulama menyatakan bahwa menambahkan lafal &#8220;sayyidina&#8221; dalam bacaan salawat ketika shalat bisa membatalkan shalat.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>dlm shalawat bacaan sayidina boleh ato tdk</strong>, <strong>bayangan takhiyat dalam bulan</strong>, <strong>shalawat antara rakaat shalat tarawih</strong>, <strong>hkm tntng bacaan syaidina dlm tahiyat shalat</strong>, <strong>bacaan pujian/sholawat sebelum sholat berjamaah</strong>, <strong>hukum memakai sayyidina dalam sholat</strong>, <strong>mengajar</strong>, <strong>bacaan tahiyat tarawih</strong>, <strong>shalawat pada shalat tarawih</strong>, <strong>perlukah doa qunut subuh</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/perlukah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-tahiyat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Bertukar Cincin Tunangan?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-bertukar-cincin-tunangan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-bertukar-cincin-tunangan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 May 2011 02:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya laki-laki memakai cincin]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya memakai cincin mas kawin]]></category>
		<category><![CDATA[apakah perlu cincin dalam tunangan]]></category>
		<category><![CDATA[batas waktu tunangan]]></category>
		<category><![CDATA[betukar cincin]]></category>
		<category><![CDATA[cin cin tunangan]]></category>
		<category><![CDATA[cincin pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[cincin tunang 2011]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tunangan hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tunangan pada bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mani]]></category>
		<category><![CDATA[memakai cincinpernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni neraka]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi mencukur bulu alis pada pengantin wanita menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi tukar cincin]]></category>
		<category><![CDATA[tukar cincin dalam hukum islam]]></category>
		<category><![CDATA[tukar cincin dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[tunangan dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[wallpaper tukar cincin]]></category>
		<category><![CDATA[zikir setelah sholat fardhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4626</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum, Ustadz nan baik. Saya mau bertanya perihal salah satu prosesi pernikahan yang pernah ada, yaitu tukar cincin. Apa hukumnya secara Islam? Berdosakah kita? Budaya siapakah itu? Jika hal itu dilakukan setelah akad nikah, (apakah) diperbolehkan? Apakah tukar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>, Ustadz nan baik. Saya mau bertanya perihal salah satu prosesi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a> yang pernah ada, yaitu tukar cincin. Apa hukumnya secara Islam? Berdosakah kita? Budaya siapakah itu? Jika hal itu dilakukan setelah akad <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/nikah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with nikah">nikah</a>, (apakah) diperbolehkan? Apakah tukar cincin itu hanya untuk perempuan saja atau juga diperbolehkan untuk laki-laki, karena setahu saya lelaki tidak boleh menggunakan perhiasan? Mohon penjelasannya.</p>
<p><em>Boss (**_boss@***.com)</em><br />
<span id="more-4626"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p><em>Bismillah.</em> Para ulama menjelaskan bahwa di antara kebiasaan yang menyimpang dari syariat Islam adalah adanya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tradisi-tukar-cincin" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tradisi tukar cincin">tradisi tukar cincin</a> sebelum calon mempelai masuk ke jenjang pernikahan.</p>
<p>Di antara alasan yang menunjukkan larangan hal ini adalah:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Tradisi tukar cincin, pada asalnya, merupakan warisan dari orang nasrani. Merekalah yang pertama kali membuat tradisi ini. Ketika melakukan pernikahan, sang lelaki meletakkan cincin di jempol tangan kiri perempuan, dengan mengatakan, <em>“Dengan nama tuhan bapa,”</em> kemudian dipindah ke telunjuk, sambil mengatakan,<em> “Tuhan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>,”</em> lalu dipindah ke <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jari" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jari">jari</a> tengah, dengan mengatakan, “Ruh kudus,” selanjutnya dipindah ke <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jari" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jari">jari</a> manis, sambil mengatakan, <em>“Amin.”</em> Kisah tentang tradisi ini disebutkan oleh Syekh Al-Albani dalam <em>Adab Az-Zifaf</em>.</p>
<p>Sementara itu, kaum muslimin dilarang mengikuti kebiasaan dan tradisi orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a>. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Barang siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut.</em>” (HR. Abu Daud, Baihaqi, dan Ibnu Abi Syaibah; dinilai sahih oleh Al-Albani).</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Tradisi ini akan membuka pintu maksiat, yaitu banyaknya lelaki yang memakai cincin dari emas. Padahal, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> secara tegas melarang hal ini. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah:<br />
1. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang (kaum lelaki) memakai cincin emas (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)<br />
2. Dari Ibnu Abbas, &#8220;Suatu ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melihat cincin emas pada jari seorang sahabat. Kemudian beliau melepasnya dan membuangnya, sambil bersabda, &#8216;Kalian sengaja <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> bara api neraka lalu kalian letakkan di tangan kalian?&#8217; Setelah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pergi, ada orang yang berkata kepada pemakai cincin tadi, &#8216;Ambil cincinmu dan manfaatkan untuk hal yang lain.&#8217; Sahabat ini mengatakan, &#8216;Tidak! Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya selamanya karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah membuangnya.&#8217;&#8221; (HR. Muslim dan Thabrani)<br />
3. Dari Abdullah bin Amr, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melihat seorang sahabat memakai cincin emas, kemudian beliau berpaling darinya (tidak mau menyapanya). Kemudian, orang ini melepas cincin emasnya dan diganti dengan cincin besi. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menasihatkan, “Ini lebih jelek. Ini perhiasan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/penghuni-neraka" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with penghuni neraka">penghuni neraka</a>.” Kemudian, dia melepasnya, dan digantinya dengan cincin perak, dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mendiamkannya. (HR. Ahmad dan Bukhari dalam <em>Adabul Mufrad</em>; dinilai sahih oleh Al-Albani)</p>
<p>Keterangan di atas berlaku jika <strong>tidak</strong> diyakini bahwa tukar cincin bisa melanggengkan hubungan suami-istri. Akan tetapi, jika diyakini bahwa tukar cincin bisa melanggengkan hubungan suami-istri, sehingga masing-masing berusaha mempertahankan cincinnya, jangan sampai hilang, sekalipun masuk ke sumur harus diambil, meskipun bisa merenggut nyawa, jika cincin ini sampai hilang bisa mengancam keutuhan hubungan keduanya, dan seterusnya, maka keadaannya semakin parah dan dosanya lebih besar. Dengan menambahkan keyakinan seperti itu, berarti seseorang telah mengambil sebuah sebab yang pada asalnya bukanlah sebab. <strong>Tidak terdapat satu pun dalil yang menunjukkan bahwa tukar cincin bisa menjadi sebab keutuhan rumah tangga</strong>. Ini, tidak lain, hanya sebatas mitos yang tersebar di masyarakat.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>zikir setelah sholat fardhu</strong>, <strong>wallpaper tukar cincin</strong>, <strong>memakai cincinpernikahan</strong>, <strong>hukum tunangan pada bulan puasa</strong>, <strong>tukar cincin dalam hukum islam</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>mani</strong>, <strong>tunangan dalam islam</strong>, <strong>apakah perlu cincin dalam tunangan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-bertukar-cincin-tunangan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jodoh Terhambat karena Weton</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-model-perhitungan-hari-lahir-menurut-adat-jawa</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-model-perhitungan-hari-lahir-menurut-adat-jawa#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 01:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[adat jawa vs fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[adat jawa yang menentukan hari lahir]]></category>
		<category><![CDATA[akad nikah dalam hitungan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[benarkah hitungan weton itu]]></category>
		<category><![CDATA[bentuk syirik di masyarakat jawa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits weton]]></category>
		<category><![CDATA[hitungan weton jawa]]></category>
		<category><![CDATA[hitungan weton menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum weton dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maksud weton]]></category>
		<category><![CDATA[memilih tanggal pernikahan berdasarkan tanggal kelahiran]]></category>
		<category><![CDATA[menghitung hari pernikahan berdasarkan weton]]></category>
		<category><![CDATA[menikah dengan hitungan islam]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[perhitungan jodoh menurut weton]]></category>
		<category><![CDATA[perhitungan tanggal pernikahan jawa]]></category>
		<category><![CDATA[perhitungan weton jawa]]></category>
		<category><![CDATA[perhitungan weton jawa jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[perkawinan berdasarkan hari lahir]]></category>
		<category><![CDATA[perkawinan weton]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan beda weton]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan menurut weton]]></category>
		<category><![CDATA[terhambatnya jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[weton dan alquran]]></category>
		<category><![CDATA[weton kesialan]]></category>
		<category><![CDATA[weton tanggal lahir menurut adat jawa]]></category>
		<category><![CDATA[weton untuk menghitung hari perkawinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4589</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pak Ustadz, saya laki-laki berumur 27 tahun dan mempunyai keinginan untuk menikah dengan seorang wanita yang saya cintai. Tapi orang tua saya tidak merestui kami, dengan alasan, setelah dihitung dari hari lahir kami&#8211;katanya&#8211;tidak cocok. Mereka ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em>. Pak Ustadz, saya laki-laki berumur 27 tahun dan mempunyai keinginan untuk menikah dengan seorang wanita yang saya cintai. Tapi orang tua saya tidak merestui kami, dengan alasan, setelah dihitung dari hari lahir kami&#8211;katanya&#8211;tidak cocok. Mereka sampai bilang: nanti kalau aku menikah sama dia (wanita itu), akan terjadi: salah satu dari kedua keluarga ada yang kalah (meninggal). Padahal kedua ortu saya orang Islam. Dari sini, saya sangat bingung, apa yang harus saya lakukan untuk menjelaskan dan memohon restu dari mereka? Terima kasih.</p>
<p><em>Sholichuddin (chuden**@****.co.id)</em><br />
<span id="more-4589"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Bismillah. <em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>Mempercayai weton sebagai sebab kesialan atau keberuntungan termasuk bentuk syirik kecil karena keyakinan terhadap suatu &#8220;sebab&#8221; padahal dia bukan &#8220;sebab&#8221; adalah bentuk tiyarah, dan tiyarah itu dihukumi sebagai syirik kecil. Terutama, jika hal ini dijadikan alasan untuk menunda suatu rencana.</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Tidak boleh ada tiyarah, dan saya suka optimisme</em>!&#8221; Beliau ditanya, &#8220;Apa maksud &#8216;optimisme&#8217;?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;<em>Kalimat yang baik</em>.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Bagian dari optimisme adalah keyakinan bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a> dengan weton ini justru akan mendatangkan kebahagiaan hidup.</p>
<p>Selanjutnya, mengingat ini adalah masalah keluarga dan berbenturan dengan adat masyarakat maka saya sarankan agar Anda meminta bantuan orang lain untuk menyadarkan orang tua, bahwa keyakinan semacam ini tidak diperbolehkan.</p>
<p>Kami menyarankan, jika Anda dan calon Anda sudah sepakat untuk menikah, segeralah melaksanakan akad <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/nikah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with nikah">nikah</a>, setelah mendapat persetujuan orang tua.</p>
<p>Semoga diberkahi.<em> Amin.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, S.T. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>perhitungan weton jawa jodoh</strong>, <strong>menghitung hari pernikahan berdasarkan weton</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>perkawinan weton</strong>, <strong>weton untuk menghitung hari perkawinan</strong>, <strong>benarkah hitungan weton itu</strong>, <strong>hitungan weton menurut islam</strong>, <strong>memilih tanggal pernikahan berdasarkan tanggal kelahiran</strong>, <strong>perhitungan tanggal pernikahan jawa</strong>, <strong>perhitungan weton jawa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-model-perhitungan-hari-lahir-menurut-adat-jawa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Bid&#8217;ah dan Contohnya</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/memahami-bidah-dan-contohnya-2</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/memahami-bidah-dan-contohnya-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2011 01:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[arti bid'ah dan contohnya]]></category>
		<category><![CDATA[bid ah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[contoh bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[contoh bid'ah bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[ebook makna bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum yoga]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[memahami bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[meninggalkan makan sahur terus menerus itu nama nya bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian bid'ah dan contoh perbuatannya]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian bid'ah dan contohnya]]></category>
		<category><![CDATA[pengiriman pahala dalam acara kematian]]></category>
		<category><![CDATA[permasalahan seputar bidah]]></category>
		<category><![CDATA[tahlilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4184</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya sering mendengar ustadz bicara tentang bid&#8217;ah. Apa sih definisi bid&#8217;ah dan contoh nyatanya di masyarakat sekarang? andiga putra&#60;win_yogaaXXXX@XXXXX.com&#62; Jawaban: Bismillah. Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya, Al-I&#8217;tisham, memberikan definisi bid&#8217;ah, sebagai berikut, طريقة فيالدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya sering mendengar ustadz bicara tentang <em>bid&#8217;ah</em>. Apa sih definisi<em> bid&#8217;ah</em> dan contoh nyatanya di masyarakat sekarang?</p>
<p>andiga putra&lt;win_yogaaXXXX@XXXXX.com&gt;</p>
<p><strong><span id="more-4184"></span>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah</em>. Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya,<em> Al-I&#8217;tisham</em>, memberikan definisi <em>bid&#8217;ah</em>, sebagai berikut,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">طريقة فيالدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله</p>
<p><em>&#8220;Jalan dalam meniti kehidupan beragama, yang jalan itu merupakan sesuatu yang dibuat-buat dan menyerupai syariat, dan dia dilaksanakan dengan tujuan memperbanyak ibadah kepada Allah.&#8221;</em></p>
<p>Contoh nyata <em>bid&#8217;ah</em> adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tahlilan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tahlilan">tahlilan</a> dan peringatan kematian. Jika ditilik dari definisi di atas maka perbuatan ini termasuk <em>bid&#8217;ah</em>, dari beberapa sisi:</p>
<ol>
<li> Tahlilan merupakan jalan dalam meniti agama. Karena itulah, acara ini dilakukan terus-menerus.</li>
<li>Dibuat-buat; karena acara ini tidak memiliki landasan dalil.</li>
<li>Menyerupai syariat; dalam acara ini ada aturan tertentu yang tidak boleh dilanggar, saperti: bacaan, urutan bacaan, dan rangkaian acara lainnya.</li>
<li>Dilaksanakan untuk tujuan memperbanyak ibadah kepada Allah; semua orang yang mengikuti acara ini sepakat bahwa tujuannya adalah ibadah, mencari pahala.</li>
</ol>
<p>Jika memenuhi definisi di atas, berarti tahlilan dan acara kematian termasuk<em> bid&#8217;ah</em>. Untuk kasus <em>bid&#8217;ah</em> yang lain, Anda bisa menggunakan definisi dari Imam Asy-Syatibi di atas.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, dari Dewan Pembina Konsultasi Syariah.<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>
<div id="_mcePaste" class="mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">
<p><span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: #000000; font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"> </span></p>
<pre style="word-wrap: break-word; white-space: pre-wrap;">&lt;win_yogaariga@yahoo.com&gt;</pre>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>memahami bid&#039;ah</strong>, <strong>permasalahan seputar bidah</strong>, <strong>meninggalkan makan sahur terus menerus itu nama nya bid&#039;ah</strong>, <strong>ebook makna bid&#039;ah</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>pengertian bid&#039;ah dan contohnya</strong>, <strong>bid&#039;ah ramadhan</strong>, <strong>bid ah ramadhan</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>pengertian bid&#039;ah dan contoh perbuatannya</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/memahami-bidah-dan-contohnya-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalawat Diiringi Rebana</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-shalawat-di-iringi-rebana</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-shalawat-di-iringi-rebana#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 01:18:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA["pertanyaan mengenai bid'ah seputar ibadah"]]></category>
		<category><![CDATA[alat musik sholawat]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bershalawat sebelum beradzan]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah bershalawat]]></category>
		<category><![CDATA[detik]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[fadhlush shalaah ‘alan nabi saw]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang shalawat ketika shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[hadits palsu]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih tentang berdoa bersama]]></category>
		<category><![CDATA[hadits tentang shalawat pada sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[hari jumat]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah bershalawat di bulan puasan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum baca sholawat antara dua shalat sunnah tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berselawat semasa solat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[hukum bersholawat dengan suara keras]]></category>
		<category><![CDATA[hukum doa puasa dinyanyikan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum jawaban sholawat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum membaca sholawat diantara sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[hukum membaca sholawat nabi di antara salam pd taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qasidah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum salawat nariyah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum shalawat sholat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[hukum shalawat tarawih-syafii]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sholawat dengan alat musik]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sholawat lagu]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sholawat nariyah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum solawatan diantara sola ttroweh]]></category>
		<category><![CDATA[hukumshalawat nabi diantara dua khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[iblis]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jawaban jika kita mendengar shalawat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[kb]]></category>
		<category><![CDATA[ketenangan membaca shalawat nabi di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah jumat menjelang puasa majelis rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[majelis rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[membaca sholawat nabi berjamaah]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[nama nama shalawat ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[salawat dan zikir sholat tarawi]]></category>
		<category><![CDATA[selawat yang benar ala rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat dalam shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat diantara shalat tarawih bid ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat diiringi musik]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat nabi sesudah tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat pada bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat pada shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat pada taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat saat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat terawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat-shalawat selama puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sholawat bulan puasa pada malam tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[sholawat nariyah]]></category>
		<category><![CDATA[sholawat tahrim fajar]]></category>
		<category><![CDATA[sifat sholawat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[syaratsyarat di terimanya ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[takbir sebelum waktu takbir]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[tempat membaca shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[zikir]]></category>
		<category><![CDATA[zikir dan salawat sholat tarawih sendiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4122</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya ingin menanyakan masalah amaliah yang membingungkan, yaitu masalah shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah shalawat ini banyak macamnya? Bagaimana cara mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan sunnah Rasulullah? Apakah dilakukan sendiri atau berjamaah, dengan suara keras atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya ingin menanyakan masalah<em> amaliah</em> yang membingungkan, yaitu masalah shalawat kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<ol>
<li> Apakah shalawat ini banyak macamnya?</li>
<li><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> cara mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan sunnah Rasulullah? Apakah dilakukan sendiri atau berjamaah, dengan suara keras atau sirr (pelan)?</li>
<li>Bolehkah sambil diiringi rebana (alat musik)?</li>
</ol>
<p><span id="more-4122"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillah,</em> sebelum menjawab pertanyaan saudara, kami ingin menyampaikan, bahwa amal ibadah akan diterima oleh Allah jika memenuhi syarat-syarat diterimanya ibadah. Yaitu ibadah itu dilakukan oleh orang yang beriman, dengan ikhlas dan sesuai Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Akan tetapi pada zaman ini, alangkah banyaknya orang yang tidak mempedulikan syarat-syarat di atas. Maka, pertanyaan yang saudara ajukan ini merupakan suatu langkah kepedulian terhadap Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Semoga Allah selalu memberi <em>taufiq</em> kepada kita di atas jalan yang lurus.</p>
<p>Perlu kami sampaikan, bahwasanya shalawat kepada Nabi merupakan salah satu bentuk ibadah yang agung. Tetapi, banyak sekali penyimpangan dan <em>bid’ah</em> yang dilakukan banyak orang seputar shalawat Nabi. Berikut ini jawaban kami terhadap pertanyaan saudara.</p>
<p><strong>1. </strong>Shalawat Nabi memang banyak macamnya. Namun, secara global dapat dibagi menjadi dua.</p>
<p><em><strong>Pertama, </strong></em> Shalawat yang disyariatkan. Yaitu shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>kepada sahabatnya.</p>
<p>Bentuk shalawat ini ada beberapa macam. Syaikh Al-Albani<em> rahimahullah</em> dalam kitab Shifat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> Nabi menyebutkan ada tujuh bentuk shalawat dari hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ustadz Abdul Hakim bin Amir bin Abdat <em>hafizhahullah</em> di dalam kitab beliau <em>Sifat Shalawat dan Salam</em> membawakan delapan riwayat tentang sifat shalawat Nabi.</p>
<p>Di antara bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ialah</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ (فِي رِوَايَـةٍ: وَ بَارِكْ) عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ</p>
<p><em>(Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim, inna-Ka Hamidum Majid. Allahumma barik (dalam satu riwayat, wa barik, tanpa Allahumma) ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama brakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, inna-Ka Hamiidum Majid).</em></p>
<p><em>“Ya Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.”</em> (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat<em> Shifat Shalat Nabi</em>, hal. 165-166, karya Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif).</p>
<p>Dan termasuk shalawat yang disayariatkan, yaitu shalawat yang biasa diucapkan dan ditulis oleh <em>Salafush Shalih</em>.</p>
<p>Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al-‘Abbad <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>Salafush Shalih, </em>termasuk para ahli hadits, telah biasa menyebut shalawat dan salam kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika menyebut (nama) beliau, dengan dua bentuk yang ringkas, yaitu:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ</p>
<p><em>(shallallahu ‘alaihi wa sallam)</em></p>
<p>dan</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ</p>
<p><em>(‘alaihish shalaatu was salaam)</em>.</p>
<p><em>Alhamdulillah,</em> kedua bentuk ini memenuhi kitab-kitab hadits. Bahkan, mereka menulis wasiat-wasiat di dalam karya-karya mereka untuk menjaga hal tersebut dengan bentuk yang sempurna. Yaitu menggabungkan antara shalawat dan permohonan salam atas Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.”</em> <em>(Fadhlush Shalah ‘Alan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</em>, hal. 15, karya Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al-‘Abbad).</p>
<p><strong><em>Kedua,</em></strong> Shalawat yang tidak disyariatkan.</p>
<p>Yaitu shalawat yang datang dari hadits-hadits<em> dha’if</em> (lemah), sangat <em>dha’if</em>, <em>maudhu’ </em>(palsu), atau tidak ada asalnya. Demikian juga shalawat yang dibuat-buat (umumnya oleh <em>Ahli Bid’ah</em>), kemudian mereka tetapkan dengan nama shalawat ini atau shalawat itu. Shalawat seperti ini banyak sekali jumlahnya, bahkan sampai ratusan. Contohnya, berbagai shalawat yang ada dalam kitab <em>Dalailul Khairat Wa Syawariqul Anwar Fi Dzikrish Shalah ‘Ala Nabiyil Mukhtar</em>, karya Al-Jazuli (wafat th. 854 H). Di antara shalawat <em>bid’ah</em> ini ialah <em>shalawat Basyisyiyah</em>,<em> shalawat Nariyah, shalawat Fatih</em>, dan lain-lain. Termasuk musibah, bahwa sebagian shalawat <em>bid’ah</em> itu mengandung kesyirikan (Lihat<em> Mu’jamul Bida’</em>, hal. 345-346, karya Syaikh Raid bin Shabri bin Abi ‘Ulfah; <em>Fadhlush Shalah ‘Alan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,</em> hal. 20-24, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad; <em>Minhaj Al-Firqah An-najiyah</em>, hal. 116-122, karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu; <em>Sifat Shalawat &amp; Salam Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam</em>, hal. 72-73, karya Ustadz Abdul hakim bin Amir Abdat).</p>
<p><strong>2.</strong> Cara mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong><em>a).</em> </strong>Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyariatkan, karena shalawat termasuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dzikir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dzikir">dzikir</a>, dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dzikir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dzikir">dzikir</a> termasuk ibadah. Bukan <em>shalawat bid’ah</em>, karena seluruh <em>bid’ah</em> adalah kesesatan.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir-dzikir dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>-doa termasuk ibadah-ibadah yang paling utama. Sedangkan ibadah dibangun di atas ittiba’ (mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Tidak seorangpun berhak mensunnahkan dari dzikir-dzikir dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>-doa yang tidak disunnahkan (oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Lalu menjadikannya sebagai kebiasaan yang rutin, dan orang-orang selalu melaksanakan. Semacam itu termasuk membuat-buat perkara baru dalam agama yang tidak diizinkan Allah. Berbeda dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>, yang kadang-kadang seseorang berdoa dengannya dan tidak menjadikannya sebagai sunnah (kebiasaan).” (Dinukil dari <em>Fiqhul Ad’iyah Wal Adzkar</em>, 2/49, karya Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhshin Al-Badr).</p>
<p><strong><em>b).</em></strong> Memperbanyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat terlebih-lebih pada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hari-jumat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hari jumat">hari Jumat</a>, atau pada saat disebut nama Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan lain-lain tempat yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang <em>shahih</em>.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ صَلَّـى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا</p>
<p><em>“Barangsiapa memohonkan shalawat atasku sekali, Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.”</em> (HR. Muslim, no. 408, dari Abu Hurairah).</p>
<p><strong><em>c).</em></strong> Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara, yang tidak ditentukan oleh syariat.</p>
<p>Seperti menentukan waktu sebelum beradzan, saat khatib Jumat duduk antara dua khutbah, dan lain-lain.</p>
<p><strong><em>d).</em></strong> Dilakukan sendiri-sendiri, tidak secara berjamaah.</p>
<p>Karena membaca shalawat termasuk dzikir dan termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dan sepanjang pengetahuan kami, tidak ada dalil yang membenarkan ber-shalawat dengan berjamaah. Karena, jika dilakukan berjamaah, tentu dibaca dengan keras, dan ini bertentangan dengan adab dzikir yang diperintahkan Allah, yaitu dengan pelan.</p>
<p><strong><em>e).</em></strong> Dengan suara <em>sirr</em> (pelan), tidak keras.</p>
<p>Karena membaca shalawat termasuk dzikir. Sedangkan di antara adab berdzikir, yaitu dengan suara pelan, kecuali ada dalil yang menunjukkan (harus) diucapkan dengan keras.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ</p>
<p><em>“Dan dzikirlah (ingatlah, sebutlah nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”</em> (QS. Al-A’raf: 205).</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, “Oleh karena itulah, Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ الْقَوْلِ</p>
<p><em>(dan dengan tidak mengeraskan suara), demikianlah, dzikir itu disukai tidak dengan seruan yang keras berlebihan.”</em> (Tafsir Ibnu Katsir).</p>
<p>Al-Qurthubi <em>rahimahullah</em> berkata, “Ini menunjukkan bahwa meninggikan suara dalam berdzikir (adalah) terlarang.” (Tafsir Al-Qurthubi, 7/355).</p>
<p>Muhammad Ahmad Lauh berkata, “Di antara sifat-sifat dzikir dan shalawat yang disyariatkan, yaitu tidak dengan keras, tidak mengganggu orang lain, atau mengesankan bahwa (Dzat) yang dituju oleh orang yang berdzikir dengan dzikirnya (berada di tempat) jauh, sehingga untuk sampainya membutuhkan dengan mengeraskan suara.” (<em>Taqdisul Asykhas Fi Fikrish Shufi</em>, 1/276, karya Muhammad Ahmad Lauh).</p>
<p>Abu Musa Al-Asy’ari berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ أَوْ قَالَ لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ النَّاسَ عَلَى وَادَ فَرَفَعُوا اَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيْرِ اللهُ أَكْبْرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لاَ لاَ تَدْعُونَ اَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُوا سَـمِيْعًا قَرِيْيًا وَهُوَ مَعَكُمْ وَأَنَّا خَلْفَ دَابَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُولُ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ فَقَالَ لِي يَـا عَبْدَاللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ فَدَاكَ أَبَـِي وَأُمِّي قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَ بِالله</p>
<p><em>“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara dengan takbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allah. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pelanlah, sesungguhnya kamu tidaklah menyeru kepada yang tuli dan yan tidak ada. Sesungguhnya kamu menyeru (Allah) Yang Maha Mendengar dan Mahadekat, dan Dia bersama kamu (dengan ilmu-Nya, pendengarAn-Nya, penglihatAn-Nya, dan pengawasAn-Nya -pen.).” Dan saya (Abu Musa) di belakang hewan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendengar aku mengatakan, ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah.’ Kemudian beliau bersabda kepadaku, ‘Wahai, Abdullah bin Qais (Abu Musa).’ Aku berkata, ‘Aku sambut panggilanmu, wahai Rasulullah,’ Beliau bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu terhadap satu kalimat, yang merupakan simpanan di antara simpanAn-simpanan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>?’ Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah. Bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah.’”</em> (HR. Bukhari no. 4205; Muslim, no. 2704).</p>
<p><strong>3.</strong> Membaca shalawat tidak boleh sambil diiringi rebana (alat musik), karena hal ini termasuk <em>bid’ah</em>. Perbuatan ini mirip dengan kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang-orang <em>Shufi.</em> Mereka membaca qasidah-qasidah atau <em>sya’ir-sya’ir</em> yang dinyanyikan dan diiringi dengna pukulan stik, rebana, atau semacamnya. Mereka menyebutnya dengan istilah<em> sama’</em> atau<em> taghbiir</em>.</p>
<p>Berikut ini di antara perkataan ulama <em>Ahlus Sunnah</em> yang mengingkari hal tersebut.</p>
<p>Imam asy-Syafi’i berkata, “Di Iraq, aku meninggalkan sesuatu yang dinamakan <em>taghbiir </em>(sejenis syair berisi anjuran untuk zuhud di dunia yang dinyanyikan oleh orang-orang Shufi dan sebagian hadirin memukul-mukulkan kayu pada bantal atau kulit sesuai dengan irama lagunya). (Yaitu) perkara baru yang diada-adakan oleh <em>Zanadiqah</em> (orang-orang <em>zindiq</em>; menyimpang), mereka menghalangi manusia dari Al-Quran.” (Riwayat Ibnul Jauzi dalam <em>Talbis <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/iblis" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with iblis">Iblis</a></em>; <em>Al-Khalal dalam Amar Ma’ruf, </em>hal. 36; dan Abu Nu’aim dalam <em>Al-Hilyah</em>, 9/146. Dinukil dari kitab<em> Tahrim Alat ath-Tharb</em>, hal. 163).</p>
<p>Imam Ahmad ditanya tentang <em>taghbiir</em>, beliau menjawab, <em>“Bid’ah.</em>” (Riwayat Al-Khallal. Dinukil dari kitab <em>Tahrim Alat ath-Tharb</em>, hal. 163).</p>
<p>Imam ath-Thurthusi tokoh ulama <em>Malikiyah</em> dari kota Qurthubah (wafat 520 H); beliau ditanya tentang sekelompok orang (yaitu orang-orang <em>Shufi</em>) di suatu tempat yang membaca Al-Quran, lalu seseorang di antara mereka menyanyikan syair, kemudian mereka menari dan beroyang. Mereka memukul rebana dan meminkan seruling. Apakah menghadiri mereka itu halal atau tidak? (Ditanya seperti itu) beliau menjawab, “Jalan orang-orang <em>Shufi </em>adalah batil dan sesat. Islam itu hanyalah kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Adapun menari dan pura-pura menampakkan cinta (kepada Allah), maka yang pertama kali mengada-adakan adalah kawAn-kawan Samiri (pada zaman Nabi Musa). Yaitu ketika Samiri membuatkan patung <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> sapi yang bisa bersuara untuk mereka, lalu mereka datang menari di sekitarnya dan berpura-pura menampakkan cinta (kepada Allah). Tarian itu adalah agama orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> dan para penyembah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> sapi. Adapun majelis Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya penuh ketenangan, seolah-olah di atas kepala mereka dihinggapi burung. Maka, seharusnya penguasa dan wakil-wakilnya melarang mereka menghadiri <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">masjid</a>-masjid dan lainnya (untuk menyanyi dan menari -pen.) Dan bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidaklah halal menghadiri mereka. Tidak halal membantu mereka melakukan kebatilan. Demikian ini jalan yang ditempuh (Imam) Malik, asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad dan lainnya dari kalangan imam-iumam kaum muslimin.” (Dinukil dari kitab<em> Tahrim Alat ath-Tharb,</em> hlm. 168-169).</p>
<p>Imam Al-Hafizh Ibnu Ash-Shalaah, imam terkenal penulis kitab<em> Muqaddimah ‘Ulumil Hadits </em>(wafat tahun 643 H); beliau ditanya tentang orang-orang yang menghalalkan nyanyian dengan rebana dan seruling, dengan tarian dan tepuk-tangan. Dan mereka menganggapnya sebagai perkara halal dan qurbah (perkara yang mendekatkan diri kepada Allah), bahkan (katanya sebagai) ibadah yang paling utama. Maka beliau menjawab, “Mereka telah berdusta atas nama Allah<em> Ta’ala</em>. Dengan pendapat tersebut, mereka telah mengiringi orang-orang kebatinan yang menyimpang. Mereka juga menyelisihi <em>ijma’. </em>Barangsiapa yang menyelisihi<em> ijma’,</em> (ia) terkena ancaman firman Allah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا</p>
<p><em>“Dan barangsiapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia keadalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.”</em> (QS. An-Nisa: 115). (<em>Fatawa Ibnu ash-Shalah</em>, 300-301. Dinukil dari kitab <em>Tahrim Alat ath-Tharb,</em> hal. 169).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, “Dan telah diketahui secara pasti dari agama Islam, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salalm tidak mensyariatkan kepada orang-orang shalih dan para ahli ibadah dari umat beliau, agar mereka berkumpul dan mendengarkan bait-bait yang dilagukan dengan tepuk-tangan, atau pukulan dengan kayu (stik), atau rebana. Sebagaimana beliau tidak membolehkan bagi seorangpun untuk tidak mengikuti beliau, atau tidak mengikuti apa yang ada pada <em>Al-Kitab </em>dan <em>Al-Hikmah</em> (<em>As-Sunnah</em>). Beliau tidak membolehkan, baik dalam perkara batin, perkara lahir, untuk orang awam, atau untuk orang tertentu.” (<em>Mahmu’ Fatawa</em>, 11/565. Dinukil dari kitab<em> Tahrim Alat ath-Tharb</em>, hal. 165).</p>
<p>demikianlah penjelasan kami, semoga menghilangkan kebingungan saudara.<br />
<em>Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, washalatu wassalaamu ‘ala Muhammad wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in</em>.</p>
<p>Sumber:<em> Majalah As-Sunnah</em>, Edisi 12 Tahun VII, 1424 H &#8211; 2003 M<br />
Dipublikasikan oleh www.KonsultasiSyariah.com dengan pengubahan tata bahasa seperlunya.<br />
Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum membaca sholawat diantara sholat tarawih</strong>, <strong>shalawat saat tarawih</strong>, <strong>hukum baca sholawat antara dua shalat sunnah tarawih</strong>, <strong>hadits shahih tentang berdoa bersama</strong>, <strong>hukum shalawat sholat taraweh</strong>, <strong>shalawat diantara shalat tarawih bid ah</strong>, <strong>tempat membaca shalawat</strong>, <strong>hukum membaca sholawat nabi di antara salam pd taraweh</strong>, <strong>shalawat ramadhan</strong>, <strong>selawat yang benar ala rasulullah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-shalawat-di-iringi-rebana/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Walimah Khataman Alquran dan Doa Khataman</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/walimah-khataman-alquran-dan-doa-khataman</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/walimah-khataman-alquran-dan-doa-khataman#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Feb 2011 02:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[acara pada khataman alquran]]></category>
		<category><![CDATA[adab berdoa sesuai sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[adakah doa setelah membaca al quran yang shahih]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apakah ada doa khatam quran?]]></category>
		<category><![CDATA[apakah ada doa khataman quran menurut salafi]]></category>
		<category><![CDATA[arti walimah]]></category>
		<category><![CDATA[cara khatam al quran waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa doa walimah]]></category>
		<category><![CDATA[doa khatam al-quran beserta arti]]></category>
		<category><![CDATA[doa khataman al quran]]></category>
		<category><![CDATA[doa khataman alquran]]></category>
		<category><![CDATA[doa khataman quran]]></category>
		<category><![CDATA[doa khotaman]]></category>
		<category><![CDATA[doa walimahan]]></category>
		<category><![CDATA[gambar alquran]]></category>
		<category><![CDATA[hadits khatam quran]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[khatam al quran kita membaca]]></category>
		<category><![CDATA[khataman al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[konsep walimah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maksud walimah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang khatam al-quran disebut]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[riwayat abu daud adakah sahih]]></category>
		<category><![CDATA[surah adakah tentang mimpi basah di alquran]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara khatam quran]]></category>
		<category><![CDATA[untuk puasa ramadhan harus banyak banyak baca doa apa?]]></category>
		<category><![CDATA[walimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3821</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh. Pak Ustaz, saya ingin bertanya tentang derajat hadits berikut, apakah sahih? Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu &#8216;anhu; dijelaskan bahwa apabila dia sudah khatam membaca Alquran, dia mengumpulkan keluarganya dan berdoa. (Hadits ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>. Pak Ustaz, saya ingin bertanya tentang derajat hadits berikut, apakah sahih? Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>; dijelaskan bahwa apabila dia sudah khatam membaca Alquran, dia mengumpulkan keluarganya dan berdoa. (Hadits riwayat Abu Daud)</p>
<p>Jika sahih, apakah itu termasuk <em><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/walimah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with walimah">walimah</a></em>? Adakah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> khusus menurut sunnah setelah kita<em> khatam </em>Alquran?</p>
<p>Saya pernah mendengar bahwa jika seseorang telah khatam Alquran atau telah sampai pada membaca surah An-Nas maka dianjurkan untuk membaca surah-surah selanjutnya hingga Al-Baqarah ayat 1&#8211;5, setelah itu, baru membaca <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa-khataman-alquran" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa khataman alquran">doa khataman Alquran</a>. Apakah ini sunnah? <em>Jazakallah khairan katsira </em>(semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan yang banyak).<span id="more-3821"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Tentang status riwayat dari Anas dan penjelasannya, bisa dipelajari di halaman: <a href="http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran" target="_blank">http://ustadzaris.com/adakah-doa-khotaman-al-quran</a></p>
<p>Sedangkan, apakah ini termasuk <em>walimah</em>? Jawabannya: Kita perlu memahami definisi <em>walimah</em>.</p>
<p>Secara bahasa, kata &#8220;<em>al-walimah</em>&#8221; merupakan turunan dari kata &#8220;<em>al-walamu</em>&#8220;, yang artinya &#8216;tali kekang&#8217; (<em>Al-Mu&#8217;jam Al-Wasith</em>, kata: <em>Al-Walamu</em>), dan setiap kata yang menjadi turunan kata &#8220;al-walamu&#8221; memiliki arti yang mendekati makna &#8220;kumpul&#8221;, &#8220;menyatu&#8221;, atau &#8220;bergabung&#8221;. Oleh karena itu, sempurnanya sesuatu, dalam bahasa Arab, disebut &#8220;<em>al-walmah</em>&#8220;, karena sesuatu itu akan sempurna jika semua unsur-unsurnya telah menyatu.</p>
<p>Sebagian pakar bahasa memberi arti &#8220;<em>walimah</em>&#8221; dengan, &#8220;Satu istilah untuk menyebut makanan dalam semua bentuk pesta.&#8221; Sementara, ulama lain membatasi penggunaan istilah &#8220;<em>walimah</em>&#8221; hanya khusus untuk penyebutan &#8220;makanan pesta <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a>&#8221;. (<em>Misbah Al-Munir</em>, kata: <em>Al-Walimah</em>). Hidangan pesta pernikahan disebut &#8220;<em>walimah</em>&#8220;&#8211;yang memiliki keterkaitan arti dengan &#8220;berkumpul&#8221;-–karena hidangan ini digelar ketika pesta bertemunya pasangan suami dan istri.</p>
<p>Secara istilah, &#8220;<em>walimah</em>&#8221; artinya &#8216;setiap makanan yang dihidangkan untuk suatu kegembiraan yang baru, baik karena acara pernikahan atau yang lainnya&#8217;. (<em>Al-Mausu&#8217;ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaithiyah</em>, 1:80)</p>
<p>Ringkasnya, <em>walimah </em>memiliki dua unsur:</p>
<p>a. Acara kumpul, mengundang banyak orang (tidak hanya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> dan keluarga seisi rumah).<br />
b. Makan bersama.</p>
<p>Dijawab oleh Tim Dakwah Konsultasi Syariah<br />
Artikel <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pernikahan</strong>, <strong>hadits khatam quran</strong>, <strong>acara pada khataman alquran</strong>, <strong>doa doa walimah</strong>, <strong>doa walimahan</strong>, <strong>khatam al quran kita membaca</strong>, <strong>tata cara khatam quran</strong>, <strong>doa khataman al quran</strong>, <strong>cara khatam al quran waktu puasa</strong>, <strong>gambar alquran</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/walimah-khataman-alquran-dan-doa-khataman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagai Macam Walimah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/berbagai-macam-walimah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/berbagai-macam-walimah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 23:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[akikah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[doa walimahan khitan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam walimah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[sunah]]></category>
		<category><![CDATA[walimah menurut imam syafi'i]]></category>
		<category><![CDATA[walimahan menurut islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3782</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh. Di Indonesia banyak sekali walimah, seperti: khataman Alquran, aqiqah, khitanan, tujuh bulanan, dan lain-lain. Walimah apa sajakah yang disyariatkan dalam Islam selain walimah pernikahan? Jazakallah khairan (semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan). Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>. Di Indonesia banyak sekali <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/walimah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with walimah">walimah</a>, seperti: khataman Alquran, aqiqah, khitanan, tujuh bulanan, dan lain-lain. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/walimah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with walimah">Walimah</a> apa sajakah yang disyariatkan dalam Islam selain <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/walimah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with walimah">walimah</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a>? <em>Jazakallah khairan </em>(semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan).<br />
<strong><span id="more-3782"></span><br />
Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh</em>. Walimah yang secara tegas ada dalilnya dari sunnah hanya walimah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/nikah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with nikah">nikah</a>, berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>&#8220;Adakanlah walimah, meskipun dengan seekor kambing.</em>&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p>Untuk walimah <em>wiladah </em>(walimah kelahiran <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>), sebagian ulama memperbolehkan. Namun, perlu dicatat, walimah ini bukan aqiqah. Aqiqah, hukumnya sunnah dan disyariatkan, namun walimahnya (mengundang banyak orang untuk berkumpul makan bersama) tidak ada dalilnya. Karena itu, ulama berselisih pendapat tentang cara distribusi makanan aqiqah, apakah dibagikan dengan diantar ataukah dengan mengundang para tetangga kemudian makan bersama.</p>
<p>Imam Malik dan Imam Syafi&#8217;i berpendapat bahwa makanan walimah diberikan dengan diantar, dan bukan dengan mengundang tetangga sebagaimana layaknya walimah. (Keterangan Ibnu Abdil Barr dalam <em>Al-Istidzkar</em>, 5:279). Demikian pula ditegaskan oleh Imam Al-Mawaq Al-Maliki, &#8220;Mengadakan aqiqah dengan walimah adalah perkara yang dibenci.&#8221; (<em>Mukhtashar Khalil</em>, hlm. 81)</p>
<p><em>Insya Allah</em>, pendapat inilah yang lebih kuat.</p>
<p>Meski demikian, ada sebagian ulama yang memperbolehkan mengadakan walimah wiladah dan walimah khitan bagi laki-laki. Ini berdasarkan riwayat dari Al-Asyhab dan Ibnu Nafi&#8217; bahwa Ibnu Umar mengundang tetangga untuk kelahiran anak dan khitan laki-laki. (<em>At-Taj wal Iklil</em>, 4:420)</p>
<p>Adapun selain itu, seperti walimah khataman, tujuh bulanan, dan sebagainya sebaiknya tidak dilakukan, mengingat tidak adanya dalil dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">Sunah</a> maupun praktik sahabat. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>Dijawab oleh Tim Dakwah Konsultasi Syariah<br />
Artikel <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>nikah</strong>, <strong>akikah</strong>, <strong>doa walimahan khitan</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>macam-macam walimah nikah</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>pernikahan</strong>, <strong>sunah</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>walimah menurut imam syafi&#039;i</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/berbagai-macam-walimah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengirim Pahala untuk Orang yang Meninggal</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mengirim-pahala-untuk-orang-yang-meninggal</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mengirim-pahala-untuk-orang-yang-meninggal#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 23:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[adab doa utk org meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[adab mengirim doa untuk orang yang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[adap kirim doa]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana bila orang meninggal di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[bila seseorang mati maka terputuslah pahala amalnya kecuali tiga hal]]></category>
		<category><![CDATA[bulan ramadhan bagi orang yang sudah wafat]]></category>
		<category><![CDATA[bulan ramadhan untuk orang yang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[cara bersedekah atas nama orang sudah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[cara kirim amal untuk org yg sudah wafat]]></category>
		<category><![CDATA[cara kirim pahala untuk yang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengirim doa untuk orang yang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[doa rasulullah untuk orang yang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[doa untuk mengirim orang yang sudah tiada]]></category>
		<category><![CDATA[doa untuk orang yang sudah mati di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[kirim doa pahala]]></category>
		<category><![CDATA[kirim doa untuk orang sdh mati]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengirim doa orng tuan yg meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[mengirim doa untuk orang yang sudah meninggal di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mengirim ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang sudah meninggal ketika bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang telah meninggal di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[pahala orang meninggal di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[pahala orang meninggal di bulan romadhon]]></category>
		<category><![CDATA[pahala puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sikap orang yg sudah meninggal di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara kirim doa buat orang yang sudah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara kirim doa pada org yg sudah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara mengirim doa]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara mengirim doa untuk orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara mengirim doa untuk orang yg sudah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara mengirimkan doa buat orang yang telah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[tatacara mengirim doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3771</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah menyembelih atas nama orang yang sudah meninggal, baik ia berwasiat ataupun tidak? Serta apakah ibadah-ibadah lain, seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Quran bisa dipersembahkan untuknya? Jawaban: Jika seseorang meninggal lalu berwasiat agar (orang yang ditinggalkan) menyembelih atau beribadah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah menyembelih atas nama orang yang sudah meninggal, baik ia berwasiat ataupun tidak? Serta apakah ibadah-ibadah lain, seperti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a>, dan membaca Al-Quran bisa dipersembahkan untuknya?<br />
<span id="more-3771"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Jika seseorang meninggal lalu berwasiat agar (orang yang ditinggalkan) menyembelih atau beribadah atas namanya, maka wasiat ini wajib dilaksanakan karena hal ini merupakan ketaatan kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dan sesuai dengan syariat-Nya.</p>
<p>Adapun jika ia tidak berwasiat, maka harus dilihat siapa yang melaksanakan penyembelihan dan sedekah tersebut. Jika orang itu adalah anaknya maka hal ini dibolehkan dan amalannya diterima, karena <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> merupakan hasil usaha orang tuanya, dan masuk dalam keumuman firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala,</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلاَّ مَاسَعَى</p>
<p><em>“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”</em> (QS. An-Najm: 39)</p>
<p>Juga sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ</p>
<p><em>“Jika seorang anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”</em></p>
<p>Maka orang yang sudah meninggal tidak berhak lagi atas amal shalih kecuali jika salah satu dari ketiga perkara di atas masih ada. Tidak diragukan lagi bahwa jika seorang anak beribadah dan beramal shalih setelah kematian ayahnya maka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> anak ini masih merupakan bagian dari keumuman ayat tadi, serta keumuman sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>أَطْيَبُ الْكَسْبِ كَسْبُ الرَّجُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ؛ وَإِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ</p>
<p><em>“Sebaik-baik usaha adalah usaha seorang dari tangannya sendiri, dan sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk usaha kalian.”</em></p>
<p>Jadi, amal shalih yang dilakukan oleh seorang anak berada dalam lembaran (amal) shalih kedua orang tuanya, terutama apabila sang anak memang meniatkan amalnya itu untuk kedua orang tuanya. Adapun selain anak, maka tidak ada ikatan yang membolehkan seseorang mengirim pahalanya kepada orang yang sudah meninggal.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8212; 2004 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>orang yang telah meninggal di bulan ramadhan</strong>, <strong>adab mengirim doa untuk orang yang meninggal</strong>, <strong>kirim doa pahala</strong>, <strong>orang yang sudah meninggal ketika bulan ramadhan</strong>, <strong>tata cara mengirim doa untuk orang yg sudah meninggal</strong>, <strong>bulan ramadhan untuk orang yang meninggal</strong>, <strong>amalan</strong>, <strong>puasa</strong>, <strong>adab doa utk org meninggal</strong>, <strong>shalat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mengirim-pahala-untuk-orang-yang-meninggal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengkhususkan Zikir pada Hari Tertentu</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mengkhususkan-zikir-pada-hari-tertentu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mengkhususkan-zikir-pada-hari-tertentu#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 00:41:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA['zikir dalam ramadhan']]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah doa hari-hari ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir di bulan romadhon tahun 2011]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir hari hari]]></category>
		<category><![CDATA[hukum zikir ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi zikir di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[macam jenis waktu bentuk dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan dzikir ramadhan . com]]></category>
		<category><![CDATA[zikir]]></category>
		<category><![CDATA[zikir bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[zikir bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[zikir di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[zikir hari ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[zikir hari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[zikir ketika berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[zikir pada bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[zikir pada bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[zikir puasa]]></category>
		<category><![CDATA[zikir untuk bulan ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[zikir untuk hari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[zikir zikir bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[zikir zikir bulan ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3686</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah seorang muslim mengkhususkan zikir-zikir pada hari-hari tertentu, dan menetapkan satu zikir tertentu pada setiap harinya? Jawaban: Seorang muslim tidak boleh mengkhususkan satu bentuk zikir untuk hari-hari tertentu, ataupun menetapkan satu jenis zikir tertentu pada setiap harinya, karena ini ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah seorang muslim mengkhususkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zikir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zikir">zikir</a>-zikir pada hari-hari tertentu, dan menetapkan satu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zikir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zikir">zikir</a> tertentu pada setiap harinya?<br />
<span id="more-3686"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Seorang muslim tidak boleh mengkhususkan satu bentuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zikir-untuk-hari-hari" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zikir untuk hari-hari">zikir untuk hari-hari</a> tertentu, ataupun menetapkan satu jenis zikir tertentu pada setiap harinya, karena ini sama saja dengan membuat syariat sendiri, padahal yang berhak membuat syariat hanyalah Allah <em>Tabaraka wa Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani, </em>Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H &#8212; 2004 M.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>zikir pada bulan puasa</strong>, <strong>dzikir di bulan romadhon tahun 2011</strong>, <strong>zikir di bulan puasa</strong>, <strong>pertanyaan dzikir ramadhan . com</strong>, <strong>macam jenis waktu bentuk dzikir</strong>, <strong>bid&#039;ah doa hari-hari ramadhan</strong>, <strong>zikir bulan ramadhan</strong>, <strong>hukum zikir ketika puasa</strong>, <strong>zikir puasa</strong>, <strong>zikir zikir bulan puasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mengkhususkan-zikir-pada-hari-tertentu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Birrul Walidain</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/shalat-birrul-walidain</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/shalat-birrul-walidain#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 02:04:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[apakah ada sholat atau doa untuk orang tua yang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[apakah sholat termasuk ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[niat sholat birrul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat birrul walidayn]]></category>
		<category><![CDATA[shalat birrulwalidayn]]></category>
		<category><![CDATA[shalat sunnat birrul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[sholat biril walidain]]></category>
		<category><![CDATA[sholat birrul waliden]]></category>
		<category><![CDATA[solat birrulwalidain]]></category>
		<category><![CDATA[walidain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3676</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya punya masalah ibadah. Saya khawatir bila ibadah saya ini terperosok (ke dalam) kebid’ahan. Di antaranya adalah tentang shalat birrul walidain. Tentang status shalat tersebut, adakah dalil yang menguatkannya ataukah tidak? Tolong bimbingan Redaksi untuk saya. Sekian dulu dari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya punya masalah ibadah. Saya khawatir bila ibadah saya ini terperosok (ke dalam) kebid’ahan. Di antaranya adalah tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> birrul <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/walidain" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with walidain">walidain</a>. Tentang status <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> tersebut, adakah dalil yang menguatkannya ataukah tidak? Tolong bimbingan Redaksi untuk saya. Sekian dulu dari saya. Mudah-mudahan kita semua selalu dalam lindungan Allah.<br />
<span id="more-3676"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Shalat termasuk ibadah yang tidak dapat ditegaskan kecuali berdasarkan dalil yang shahih. Sepanjang ilmu yang kami ketahui, tidak ada dalil yang menunjukkan (tentang disyariatkannya) shalat birrul walidain, sekalipun birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) termasuk perintah wajib dalam agama Islam. (Lihat Majalah Al-Furqon, edisi 1, tahun 1)</p>
<p>Barangkali ada yang berdalil dengan hadis berikut,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ سَلَمَةَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيْ أَبُرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ: نَعَمْ اَلصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَاْلإِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحْمِ اَلَّتِي لاَ تُوْصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيْقَيْهِمَا</p>
<p><em>Dari Abu Usaid, Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, dia berkata, “Tatkala kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dari Bani Salamah, seraya dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, adakah kebaikan yang dapat saya lakukan untuk kedua orang tua saya setelah keduanya meninggal dunia?’ Beliau menjawab, ‘Ya, shalat (<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>) untuk keduanya, memintakan ampun untuk keduanya, menunaikan janji keduanya, menyambung tali persaudaraan keduanya dan memuliakan handai taulan kedua orang tua.’</em>”</p>
<p>Kami jawab:</p>
<p>Pertama: Hadis ini <em>dhaif</em> (lemah). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam <em>Adabul Mufrad</em> (no. 35), Abu Daud (no. 5142), Ibnu Majah (no. 3664), Ahmad (3/497 dan 498), Ibnu Hibban (no. 418) dari jalan Abdur Rahman bin Sulaiman dari Asid bin Ali bin Ubaid As-Sa’idi dari ayahnya (Ali bin Ubaid) dari Malik bin Rabi’ah. <em>Sanad</em> hadits ini <em>dhaif,</em> disebabkan adanya Ali bin Ubaid As-Sa’idi; dia seorang rawi yang majhul (tak dikenal). (Lihat<em> Adh-Dhaifah</em>, no. 597, oleh Syekh Al-Albani)</p>
<p>Kedua: Anggaplah bahwa hadis ini sahih&#8211;padahal tidak&#8211;, maka (hadis ini) tetap tidak dapat dijadikan hujjah tentang disyariatkannya shalat birrul walidain, karena makna  &#8220;اَلصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا&#8221; dalam hadis ini adalah &#8216;doa&#8217;, sebagaimana ditafsirkan dalam riwayat Imam Bukhari dalam <em>Adabul Mufrad</em> (no. 35) dengan lafal &#8220;اَلدُّعَاءُ لَهُمَا&#8221; (mendoakan keduanya).</p>
<p>Syekh Syaraful Haq Abadi dalam <em>Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud</em>, 14:36 menjelaskan makna “shalat” dalam hadis di atas, “Maksudnya adalah &#8216;mendoakan keduanya&#8217;, termasuk di antaranya adalah shalat jenazah. Demikian dikatakan oleh Al-Qari, dan dalam Fathul Maudud dijelaskan bahwa maksudnya adalah &#8216;menyayangi keduanya&#8217;.”</p>
<p>Dikutip dari: Majalah Al-Furqon, Edisi 11, Tahun II, 1424 H.<br />
Dengan pengeditan oleh redaksi <a href="http://konsultasisyariah.com" target="_self">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>shalat birrul walidayn</strong>, <strong>walidain</strong>, <strong>apakah ada sholat atau doa untuk orang tua yang meninggal</strong>, <strong>sholat birrul waliden</strong>, <strong>solat birrulwalidain</strong>, <strong>sholat biril walidain</strong>, <strong>apakah sholat termasuk ibadah</strong>, <strong>shalat sunnat birrul walidain</strong>, <strong>niat sholat birrul walidain</strong>, <strong>doa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/shalat-birrul-walidain/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Takbiran Saat Terjadi Gerhana?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/adakah-takbiran-saat-terjadi-gerhana</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/adakah-takbiran-saat-terjadi-gerhana#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 01:57:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[adakah takbiran pada hari biasa]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[kb]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[takbiran]]></category>
		<category><![CDATA[takbiran puasa kapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3673</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Benarkah lafal &#8220;وَكَبِّرُوْا&#8221; (bertakbirlah) dimaksudkan dengan takbiran sebagaimana takbiran pada Hari Raya? Mereka mengucapkan kalimat tersebut sebelum pelaksanaan shalat gerhana, dengan dasar hadis, فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا&#8230;. “Jika kalian melihat hal tersebut (gerhana), maka hendaklah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Benarkah lafal &#8220;وَكَبِّرُوْا&#8221; (bertakbirlah) dimaksudkan dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/takbiran" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with takbiran">takbiran</a> sebagaimana <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/takbiran" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with takbiran">takbiran</a> pada Hari Raya? Mereka mengucapkan kalimat tersebut sebelum pelaksanaan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> gerhana, dengan dasar hadis,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا&#8230;.</p>
<p>“<em>Jika kalian melihat hal tersebut (gerhana), maka hendaklah kalian berdoa kepada Allah, bertakbir, shalat, dan bersedekah .</em>&#8230;” (HR. Bukhari)<br />
<span id="more-3673"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Sepanjang yang kami ketahui, para ulama mengartikan perintah takbir di dalam hadis itu dengan ucapan “<em>Allahu Akbar</em>”, bukan dengan takbiran sebagaimana takbiran pada Hari Raya. Penulis kitab <em>‘Aunul Ma’bud Syarh Abi Daud</em> berkata, &#8220;(Sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) وَكَبِّرُوْا (bertakbirlah), yaitu agungkanlah <em>Ar-Rabb</em> atau katakanlah &#8216;<em>Allahu Akbar</em>&#8216;.” (<em>‘Aunul Ma’bud,</em> hadis no. 1191). <em>Wallahu a’lam bish-shawab.</em></p>
<p>Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 5, Tahun VIII, 1425 H/2004 M.<br />
Dengan pengeditan oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>shalat</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>kb</strong>, <strong>adakah takbiran pada hari biasa</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>takbiran</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>takbiran puasa kapan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/adakah-takbiran-saat-terjadi-gerhana/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Berdakwah Melalui Partai Politik?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-berdakwah-melalui-partai-politik</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-berdakwah-melalui-partai-politik#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jan 2011 01:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah politik]]></category>
		<category><![CDATA[hukum partai]]></category>
		<category><![CDATA[kesesatan muhammad musa alu nashr]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[partai politik]]></category>
		<category><![CDATA[perlukah dakwah lewat jalur politik]]></category>
		<category><![CDATA[tahlilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3625</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana dengan orang yang berdakwa dan ingin menegakkan Islam melalui jalur politik atau partai politik? Jawaban: &#8220;Ini menyalahi manhaj dakwah para nabi. Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ditawari harta, wanita, dan kekuasaan, dengan syarat harus meninggalkan dakwah tauhid. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> dengan orang yang berdakwa dan ingin menegakkan Islam melalui jalur politik atau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/partai-politik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with partai politik">partai politik</a>?<br />
<span id="more-3625"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>&#8220;Ini menyalahi manhaj dakwah para nabi. Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ditawari harta, wanita, dan kekuasaan, dengan syarat harus meninggalkan dakwah tauhid. Akan tetapi, beliau menolaknya. Beliau tetap memilih jalan dakwah, yaitu membangun pondasi, memulai dengan masyarakat, menanamkan tauhid di hati masyarakat.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ</p>
<p>&#8216;<em>Dialah yang mengutus, kepada kaum yang buta huruf, seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya, mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata</em>.&#8217; (QS. Al-Jumu’ah:2)</p>
<p>Selama 13 tahun di Mekkah, Beliau selalu berkata kepada masyarakat, &#8216;Wahai manusia, ucapkanlah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ, pasti kalian beruntung!&#8217;</p>
<p>Kalau ada orang yang membangun atap sebelum pondasi, pasti atap itu akan runtuh, jatuh di atas kepalanya. Kekuasaan bukanlah tujuan, tetapi merupakan buah (hasil) dari dakwah. Oleh karena itu, (dakwah) harus dimulai dari pemantapan tauhid di hati masyarakat&#8230;. Barang siapa yang menginginkan kekuasaan sebelum dakwah dan tarbiyah, pasti (ia akan) gagal&#8230;.</p>
<p>Sebelum berbuah, pohon akidah yang ditanam memerlukan perawatan, penyiraman, dan pemupukan yang cukup lama dan intensif. Kemudian, setelah itu kita tunggu dan kita harapkan buahnya.&#8221; (Syekh Muhammad Musa Alu Nashr)</p>
<p>Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 11, Tahun VIII, 1425 H/2004 M.<br />
Dengan pengeditan oleh redaksi <a href="www.KonsultasiSyariah.com" target="_self">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum partai</strong>, <strong>tahlilan</strong>, <strong>partai politik</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>kesesatan muhammad musa alu nashr</strong>, <strong>dakwah politik</strong>, <strong>perlukah dakwah lewat jalur politik</strong>, <strong>mengajar</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-berdakwah-melalui-partai-politik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendefinisikan Manusia Sebagai Hewan yang Berpikir</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/manusia-hewan-yang-berpikir</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/manusia-hewan-yang-berpikir#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2010 03:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[berfikir secara islam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kultum hewan sebagai contoh manusia]]></category>
		<category><![CDATA[manusia adalah hewan yang berfikir]]></category>
		<category><![CDATA[manusia termasuk hewan]]></category>
		<category><![CDATA[mendefinisikan hewan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3453</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana pendapat Syekh tentang manusia yang didefinisikan sebagai hewan yang berpikir? Jawaban: Hewan berpikir digunakan sebagai definisi bagi manusia seperti yang dikatakan oleh ahli mantiq. Bagi mereka, hal ini tidak tercela karena mereka mendefinisikan hakikat manusia. Akan tetapi, menurut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> pendapat Syekh tentang manusia yang didefinisikan sebagai hewan yang berpikir?<br />
<span id="more-3453"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Hewan berpikir digunakan sebagai definisi bagi manusia seperti yang dikatakan oleh ahli mantiq. Bagi mereka, hal ini tidak tercela karena mereka mendefinisikan hakikat manusia. Akan tetapi, menurut adat kebiasaan, definisi ini dianggap celaan kepada manusia. Jika definisi ini disampaikan kepada masyarakat awam, mereka akan menganggapnya sebagai celaan. Dalam hal semacam ini, kata-kata ini tidak boleh diketengahkan di hadapan golongan awam karena haram hukumnya melakukan suatu hal yang membuat seorang muslim sakit hati.</p>
<p>Akan tetapi, jika kata-kata ini disampaikan di hadapan orang yang mengerti permasalahannya maka hal ini tidak mengapa karena mereka menyadari bahwa manusia adalah hewan, yaitu yang hidup. Yang membedakan manusia dengan hewan lainnya adalah berpikir. Oleh karena itu, hewan merupakan jenis, sedangkan berpikir merupakan sifat khusus. Jenis memiliki cakupan yang lebih luas, sedangkan keberadaan sifat itu khusus menjadi pembeda dirinya dari yang lain. (<em>Majmu&#8217; Fatawa wa Rasaail</em>, hlm.101, Syekh Ibnu Utsaimin)</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci</em>, Media Hidayah, cetakan 1, Tahun 2003.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mendefinisikan hewan</strong>, <strong>manusia adalah hewan yang berfikir</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>berfikir secara islam</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>kultum hewan sebagai contoh manusia</strong>, <strong>manusia termasuk hewan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/manusia-hewan-yang-berpikir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Rasulullah Berada di Mana-mana dan Mengetahui Perkara Gaib?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/rasul-di-mana-mana-tau-perkara-gaib</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/rasul-di-mana-mana-tau-perkara-gaib#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Nov 2010 02:25:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[dimana nabi sekarang berada disurga]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hadis tentang hal yang gaib]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah berada di mana]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3304</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ada di mana-mana? Apakah beliau mengetahui perkara gaib? Jawaban: Dengan jelas dapat diketahui dari keterangan agama dan dalil-dalil syariat bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak berada di mana-mana. Jasad beliau ada di ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ada di mana-mana? Apakah beliau mengetahui perkara gaib?<br />
<strong><span id="more-3304"></span><br />
Jawaban:</strong></p>
<p>Dengan jelas dapat diketahui dari keterangan agama dan dalil-dalil syariat bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak berada di mana-mana. Jasad beliau ada di kuburnya, di kota Madinah <em>Munawwarah</em>. Adapun ruh beliau berada di sisi Allah Tuhan yang Mahatinggi di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>. Hal ini dinyatakan dalam sebuah hadits dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Ketika menjelang wafat beliau bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اَللَّهُمَّ فِي الرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى</p>
<p>“<em>Ya Allah, Tuhan yang ada di tempat yang tinggi.</em>” (HR. Bukhari no. 4437 dan Muslim no. 2444)</p>
<p>Beliau mengucapkan hal tersebut tiga kali kemudian beliau wafat.</p>
<p>Para ulama dari kalangan shahabat dan sesudahnya sepakat bahwa beliau dikuburkan di rumah Aisyah yang berdampingan dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">masjid</a> Nabawi. Jasad beliau berada di tempat itu sampai masa yang tidak diketahui, dan ruhnya serta ruh para nabi, para rasul, dan segenap kaum mukmin berada di surga. Ruh mereka menempati posisi sesuai dengan tingkatan masing-masing di surga, sesuai dengan ketetapan Allah menurut ilmu, iman, dan kesabaran yang dipikul masing-masing dari mereka dalam perjuangan dakwah kepada kebenaran.</p>
<p>Adapun tentang hal gaib, yang mengetahui hanyalah Allah. Rasul atau makhluk lainnya hanya mengetahui hal gaib yang telah diberitakan Allah kepada mereka di dalam Al-Quran dan as-sunnah yang suci, mengenai masalah surga, neraka, keadaan hari kiamat, dan lain-lain. Begitu pula, keterangan Al-Quran dan hadits-hadits shahih tentang Dajjal, matahari terbit dari barat, munculnya hewan-hewan melata, turunnya kembali <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/isa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with isa">Isa</a> bin Maryam pada akhir zaman, dan lain-lain, sebagaimana yang Allah firmankan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ</p>
<p>&#8220;<em>Katakanlah, &#8216;Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah,&#8217; dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.</em>&#8221; (QS. An-Naml: 65)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">قُل لاَّ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ</p>
<p>&#8220;<em>Katakanlah, &#8216;Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui hal yang gaib&#8230;.&#8217;</em>” (QS. Al-An’aam: 50)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ</p>
<p>&#8220;<em>Katakanlah, &#8216;Aku tidak kuasa memberi manfaat bagi diriku dan tidak pula kuasa menghindarkan kerugian, kecuali yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui hal yang gaib, tentulah aku melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kerugian. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’</em>&#8221; (QS. Al-A’raaf: 188)</p>
<p>Banyak sekali ayat yang serupa dengan ayat ini dalam Al-Quran. Sungguh benar bahwa telah diriwayatkan dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> beberapa hadits yang menyatakan bahwa beliau tidak mengatahui hal gaib, di antaranya adalah jawaban beliau kepada malaikat Jibril ketika bertanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ</p>
<p>&#8220;&#8216;<em>Kapankah kiamat terjadi?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.&#8217;</em>”</p>
<p>Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kemudian bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فِيْ خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللهُ ثُمَّ تَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ</p>
<p>“&#8217;<em>Lima perkara yang hanya Allah yang mengetahuinya.&#8217; Kemudian beliau membaca firman Allah, &#8216;Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan&#8230;.&#8217;</em>&#8221; (QS. Luqman: 34)</p>
<p>Selain itu, ketika Aisyah difitnah dengan tuduhan palsu, yaitu berzina, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak mengetahui kebenaran kesucian Aisyah, kecuali setelah turunnya wahyu kepada beliau pada surah An-Nur.</p>
<p>Contoh lain, tatkala Aisyah hilang pada salah satu perjalanan pulang dari perang, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak mengetahui tempatnya, sehingga beliau mengirim sejumlah orang untuk mencarinya, tetapi mereka tidak menemukannya. Tatkala unta Aisyah berdiri, orang-orang menemukan Aisyah di bawah untanya. Inilah sedikit contoh dari banyak kasus yang terdapat di dalam hadits-hadits tentang ketidaktahuan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang hal gaib.</p>
<p>Anggapan segolongan orang sufi bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengetahui hal gaib, dan bahwa beliau hadir di tengah-tengah mereka di waktu pesta peringatan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/maulid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with maulid">Maulid</a> Nabi, serta keyakinan mereka yang lain adalah anggapan batil yang tidak punya dasar apa pun. Hal itu muncul pada diri mereka karena kebodohan mereka dalam memahami Al-Quran, sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dan pegangan kaum salaf.</p>
<p>Kita mohon kepada Allah supaya kita dan segenap muslim selamat dari cobaan ajaran mereka (kaum sufi) yang sesat, sebagaimana kita memohon kepada Allah supaya kita dan juga mereka diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>. (<em>Al-Mujaahid,</em> no. 66, tahun ketiga terbitan Muharram no. 33 dan Shafar no. 34, Syekh bin Baz)</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci,</em> Media Hidayah, cetakan 1, Tahun 2003.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>dimana nabi sekarang berada disurga</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>sabar</strong>, <strong>zina</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>masjid</strong>, <strong>surga</strong>, <strong>hadis tentang hal yang gaib</strong>, <strong>maulid</strong>, <strong>shaf</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/rasul-di-mana-mana-tau-perkara-gaib/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meminta Kepada Orang yang Sudah Mati</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/meminta-kepada-orang-mati</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/meminta-kepada-orang-mati#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Nov 2010 02:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[adab tidak meminta pertolongan kepada orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum meminta melalui orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[hukum meminta pada yang telah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[meminta kepada orang yang mati]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni kubur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3302</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Banyak orang berkata bahwa meminta sesuatu kepada mayat di kuburan adalah boleh, dengan berdalilkan sebuah hadits yang berbunyi, “Apabila kalian bimbang dalam menghadapi segala perkara maka mintalah pertolongan kepada penghuni kubur.” Apakah hadits ini shahih? Jawaban: Hadits itu termasuk ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Banyak orang berkata bahwa meminta sesuatu kepada mayat di kuburan adalah boleh, dengan berdalilkan sebuah hadits yang berbunyi, “Apabila kalian bimbang dalam menghadapi segala perkara maka mintalah pertolongan kepada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/penghuni-kubur" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with penghuni kubur">penghuni kubur</a>.” Apakah hadits ini shahih?<br />
<span id="more-3302"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Hadits itu termasuk salah satu hadits dusta yang disandarkan kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em> sebagaimana yang telah dijelaskan oleh banyak ahlul ‘ilmi, tidak hanya satu <em>ahlul ‘ilmi</em> saja! Di antara mereka adalah Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah, di mana beliau telah berkata dalam kitab Majmu’ Al-Fatawa setelah menyebutkan hadits tersebut, yang bunyi redaksional pernyataannya adalah sebagai berikut,</p>
<p>“Menurut kesepakatan para ulama yang ahli tentang hadits, hadits di atas adalah kedustaan yang sangat keji terhadap nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Tidak ada seorang ulama pun yang meriwayatkan hadits tersebut dan tidak mungkin pula ia akan ditemukan dalam kitab-kitab hadits yang dijadikan pegangan umat Islam.” Demikian pernyataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah.</p>
<p>Pendapat yang berani berdusta atas nama Rasulullah ini sangat kontradiktif dengan kandungan yang terdapat dalam Al-Quran dan as-sunnah, yang mengharuskan kita agar memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata dan mengharamkan kesyirikan. Tidak disangsikan lagi, bahwa berdoa, beristighatsah, dan meminta pertolongan kepada orang-orang yang sudah mati karena tertimpa berbagai musibah dan malapetaka merupakan beberapa bentuk perbuatan menyekutukan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> yang paling besar. Demikian pula, berdoa kepada orang-orang yang sudah mati tersebut dalam kondisi lapang juga termasuk menyekutukan Allah.</p>
<p>Orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/musyrik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrik">musyrik</a> dahulu, apabila mereka tertimpa malapetaka yang sangat dahsyat, maka mereka biasanya langsung memurnikan ibadah hanya kepada Allah saja. Akan tetapi, apabila malapetaka itu sudah berlalu, maka mereka kembali menyekutukan Allah. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam ayat berikut:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ</p>
<p>“<em>Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)</em>.” (QS. Al-Ankabut: 65)</p>
<p>Ayat yang semakna dengan ini jumlahnya amat banyak.</p>
<p>Sedangkan orang-orang musyrik pada zaman kita sekarang, mereka senantiasa berbuat syirik, baik dalam kondisi lapang maupun tertimpa musibah. Bahkan (yang lebih parah lagi), dalam kondisi tertimpa musibah musibah, kesyirikan mereka justru bertambah menjadi-jadi, <em>wal’iyadzu billah.</em> Dengan demikian, jelaslah bahwa kekafiran orang-orang musyrik sekaran, itu lebih besar dan lebih parah daripada kekafiran orang-orang musyrik pada zaman dahulu. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء</p>
<p>“<em>Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus</em>.” (QS. Al-Bayyinah: 5)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ</p>
<p>“<em>Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> tidak menyukai(nya)</em>.” (QS. Al-Mukmin: 14)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ. أَلاَ لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ</p>
<p>“<em>Sesunguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)</em>.” (QS. Az-Zumar: 2&#8211;3)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ. إِن تَدْعُوهُمْ لاَ يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلاَ يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ</p>
<p>“<em>Yang (berbuat) demikian Allah Rabbmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.</em>” (QS. Fathir: 13&#8211;14)</p>
<p>Makna ayat-ayat di atas mencakup seagala sesautu yang diibadahi selain Allah, seperti para nabi, orang-orang shalih, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Seputar Kubur</em>, Syekh &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin &#8216;Abdullah bin Baaz, Al-Qowam.<br />
(Dengan pengubahan tata bahasa oleh redaksi <a href="www.konsultasisyariah.com">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>musyrik</strong>, <strong>kafir</strong>, <strong>amalan</strong>, <strong>meminta kepada orang yang mati</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>penghuni kubur</strong>, <strong>hukum meminta melalui orang meninggal</strong>, <strong>hukum meminta pada yang telah meninggal</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>doa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/meminta-kepada-orang-mati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Hukumnya Memasang Lampu di Kuburan Para Wali?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pasang-lampu-di-kuburan-wali</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pasang-lampu-di-kuburan-wali#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Nov 2010 22:43:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3297</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana hukumnya memasang lampu di tempat-tempat wali dan bernazar untuk itu? Jawaban: Memasang lampu di tempat-tempat wali yang dimaksud oleh penanya di sini ialah memasang lampu pada kuburan-kuburan mereka. Perbuatan seperti ini adalah haram. Tersebut riwayat dari Nabi shallallahu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> hukumnya memasang lampu di tempat-tempat wali dan bernazar untuk itu?<br />
<span id="more-3297"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Memasang lampu di tempat-tempat wali yang dimaksud oleh penanya di sini ialah memasang lampu pada kuburan-kuburan mereka. Perbuatan seperti ini adalah haram. Tersebut riwayat dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bahwa beliau melaknat para pelaku ini. Oleh karena itu, tidak dibenarkan memasang lampu pada kuburan-kuburan ini dan pelakunya dilaknat lewat lisan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dengan demikian, seseorang yang bernazar memasang lampu di kuburan wali berarti bernazar untuk mengerjakan hal yang haram. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda (yang artinya), “<em>Barangsiapa bernazar untuk menaati Allah maka hendaklah ia laksanakan nazar itu, dan barangsiapa bernazar untuk mendurhakai-Nya maka janganlah ia lakukan kedurhakaan itu.”</p>
<p></em>Oleh karena itu, orang ini tidak boleh malaksanakan nazarnya. Akan tetapi, apakah ia wajib membayar kafarat sumpah karena tidak memenuhi nazarnya atau ia tidak wajib membayar kafarat? Masalah ini menjadi perselisihan di kalangan ulama. Akan tetapi, langkah yang paling selamat ialah ia membayar kafarat sumpah karena ia tidak memenuhi nazarnya itu. <em>Wallahu a’lam</em>. (Syekh Ibnu Utsaimin, <em>Fatawal ‘Aqidah</em>, hlm. 28)</p>
<p>Sumber:<em> Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci,</em> Media Hidayah, Cetakan 1, Tahun 2003.<br />
(Dengan penataan bahasa oleh <a href="www.konsultasisyariah.com" target="_self">www.konsultasisyariah.com</a>)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>anak</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hukum</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pasang-lampu-di-kuburan-wali/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/502 queries in 0.112 seconds using disk: basic
Object Caching 63856/64760 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-05 06:57:26 -->
