<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; MANHAJ</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/manhaj/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Kesesatan Syiah Menurut Dr. Said Aqil Siroj</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kesesatan-syiah-menurut-dr-said-aqil-siroj</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kesesatan-syiah-menurut-dr-said-aqil-siroj#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10405</guid>
		<description><![CDATA[Kesesatan Syiah Menurut Dr. Said Aqil Siroj Perjalanan hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kesesatan Syiah Menurut Dr. Said Aqil Siroj</h2>
<p>Perjalanan hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah <em>Azza wa Jalla</em> yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia tidak akan kuasa untuk teguh dalam menetapi sesuatu termasuk agamanya (<em>istiqamah</em>). Karena itu, dahulu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah, <em>“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku</em> <em>di atas agama-Mu.”</em> Ini mungkin salah satu hikmah yang dapat kita petik dari kewajiban membaca surat Al Fatihah pada setiap rakaat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>. Pada surat ini terdapat permohonan kepada Allah <em>Azza wa Jalla</em> agar senantiasa menunjuki kita jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran<br />
<span id="more-10405"></span><br />
Fenomena ini terus melintas dalam pikiran saya, gara-gara saya membaca pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) <strong>Said Aqil Siroj</strong> di berbagai media. Said <span style="text-decoration: underline;">Aqil Siroj</span> mengatakan bahwa ajaran Syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.</p>
<p>Untuk menguatkan klaimnya ini, <strong>Said Aqil</strong> merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Ummu Al Quro di Arab Saudi. Menurutnya,  &#8221;Wahabi yang keras saja menggolongkan Syiah bukan sesat.&#8221;</p>
<p>Pernyataan Said Aqil ini menyelisihi fakta dan menyesatkan. Sebagai buktinya, pada Mukaddimah disertasi S3 yang ia tulis semasa ia kuliah di Universitas Ummu Al Quro, Hal. tha’ (ط) Said Aqil menyatakan, “<em>Telah diketahui bersama bahwa umat Islam di Indonesia secara politik, ekonomi, sosial, dan ideologi menghadapi berbagai permasalahan besar. Pada saat yang sama mereka menghadapi musuh yang senantiasa mengancam mereka. Dimulai dari gerakan kristenisasi, paham sekuler, </em><em>kebatinan, dan berbagai sekte sesat, semisal Syiah, Qadiyaniyah (Ahmadiyyah), Bahaiyah</em><em>,</em><em> dan selanjutnya Tasawuf.”</em><em></em></p>
<p>Pernyataan Said Aqil pada awal disertasi S3-nya ini cukup menggambarkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> pemahaman yang diajarkan oleh Universitas Ummu Al Qura.</p>
<p>Bukan hanya Syiah yang sesat, bahkan lebih jauh Said Aqil dari hasil studinya menyimpulkan bahwa paham tasawuf juga menyimpang dari ajaran Islam. Karena itu pada akhir disertasinya, Said Aqil menyatakan, “<em>Sejatinya</em> ajaran <em>tasawuf dalam hal “al hulul” (menyatunya Tuhan dengan manusia) berasalkan dari orang-orang Syiah aliran keras (ekstrim). Aliran ekstrim Syiah meyakini bahwa Tuhan atau bagian dari-Nya telah menyatu dengan para imam mereka, atau yang mewakili mereka. Dan ideologi para pengikut sekte Syiah ini berawal dari pengaruh ajaran agama Nasrani.” </em>(<em>Silatullah Bil Kaun Fit Tassawuf Al Falsafy</em> oleh Said Aqil Siroj, 2:605-606)</p>
<p>Karena menyadari kesesatan  dan mengetahui  gencarnya  penyebaran Syiah di Indonesia, maka Said menabuh genderang peringatan. Itulah yang ia tegaskan pada awal disertasinya, sebagai andilnya dalam upaya melindungi Umat Islam dari paham yang sesat dan menyesatkan.</p>
<p>Namun, alangkah mengherankan bila kini Said Aqil menelan kembali <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ludah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ludah">ludah</a> dan keringat yang telah ia keluarkan. Hasil penelitiannya selama bertahun-tahun, kini ia ingkari sendiri dan dengan lantang Said Aqil berada di garda terdepan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pembela-syiah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pembela syiah">pembela Syiah</a>. Mungkinkah kini Said Aqil telah menjadi korban ancaman besar yang dulu ia kawatirkan mengancam umat Islam di negeri tercinta ini?</p>
<p>Oleh karena itu, Said heran dengan pernyataan Menteri Agama yang menilai Syiah adalah ajaran sesat. Dalam kurikulum <em>Al Firqoh Al Islamiyah</em> ajaran Khawarij, Jabbariyah, Muktazilah, dan Syiah masih dinilai sebagai Islam. &#8220;Ulama Sunni seperti Ibnu Khazm menilai Syiah itu Islam,&#8221; katanya.</p>
<p>Meski Syiah dan Sunni (Ahlussunnah) berbeda, lanjut Said, umat Islam tidak perlu mempertajam perbedaan. &#8220;Dalam Sunni saja banyak perbedaan yang tajam, misalnya penganut Imam Syafi’i dan Hanafi, itu saja berbeda tajam, apalagi Syiah,&#8221; katanya. Fatwa NU mengenai Syiah, Said menambahkan, pernah dikeluarkan pada 2006 yang menyebutkan Syiah bukan aliran yang sesat. &#8220;NU tidak pernah keras,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Menanggapi pernyataan Suryadarma yang juga kader Nahdlatul Ulama, Said menilai hal itu tidak pantas disampaikan. &#8220;Yang dikedepankan harusnya ukhuwah dan toleransi,&#8221; katanya. Said berharap Suryadarma Ali meminta maaf atas pernyataannya itu. &#8220;Saya setuju dengan permintaan maaf itu,&#8221; katanya. Said menilai permintaan maaf Suryadarma Ali bertujuan untuk menguatkan persatuan bangsa. (IRIBIndonesia/Tempo/PH)</p>
<p><a href="http://indonesian.irib.ir/hidden-2/-/asset_publisher/bHp8/content/pb-nu-syiah-tidak-sesat?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-2%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_bHp8%26p_p_lifecycle%3D" rel="nofollow" target="_blank">http://indonesian.irib.ir/hidden-2/-/asset_publisher/bHp8/content/pb-nu-Syiah-tidak-sesat?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-2%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_bHp8%26p_p_lifecycle%3D</a></p>
<h3>Berikut ini kami lampirkan disertasi Dr. Said Aqil Siroj:</h3>
<p class="arab">قال أبو محمد وما نعلم أهل قرية أشد سعيا في إفساد الاسلام وكيده من الرافضة 4/24</p>
<p class="arab">ومن المعروف أن المسلمين في إندونيسيا يواجهون مشاكل ضخمة، سياسيا واقتصاديا واجتماعيا وعقديا، وأمامهم أعداء متربصون بهم، من حركة التنصير والعلمانية والباطنية والفرق الضالة – الشيعة والقاديانية والبهائية – ثم الصوفية.<br />
صفحة ط من مقدمة رسالته الماجستير</p>
<p class="arab">وأما قولهم في دعوى الروافض تبديل القراءات فإن الروافض ليسوا من المسلمين إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه و سلم بخمس وعشرين سنة وكان مبدؤها إجابة من خذله الله تعالى لدعوة من كاد الإسلام وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر وهي طوائف أشدهم غلوا يقولون بالهية علي بن أبي طالب والآلهية جماعة معه وأقلهم غلوا يقولون أن الشمس ردت على علي بن أبي طالب مرتين فقوم هذا أقل مراتبهم في الكذب أيستشنع منهم كذب يأتون به وكل من يزجره عن الكذب ديانة أو نزاهة نفس أمكنه أن يكذب ما شاء وكل دعوى بلا برهان فليس يستدل بها عاقل سواء كانت له أو عليه ونحن أن شاء الله تعالى نأتي بالبرهان الواضح الفاضح لكذب الروافض فيما افتعلوه من ذلك 2/65</p>
<p class="arab">ولا ننسى أن غلاة الشيعة كانوا يستخدمون السحر والطلمسات ويظهرون للعوام الزهد والتقشف ولبس الصوف ويدعون الكرامات. 1/47<br />
إن التصوف أمر طارئ محدث غريب دخيل على المجتمع الإسلامي، ظهر في القرن الثاني الهجري. وأول ما ظهر في مدينة الكوفة، مدينة التقت فيها الأديان الوثنية والثقافات الأجنبية، كما أنها مركز غلاة الشيعة وكانوا يتظاهرون بالتزهد والتقشف ويمارسون السحر والشعوذة والكيمياء والسيمياء والتنجيم وغيرها من العلوم المعروفة عند العجم. 2/603.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Dr. Arifin Baderi (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>About The Author:<br />
Dr. Muhammad Arifin, M.A. Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).</p>
<h3>Materi terkait kesesatan Syiah dan Mut’ah:</h3>
<p>1.<a href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" rel="nofollow" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a href="../peringatan-kematian-imam-husein" rel="nofollow" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" rel="nofollow" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a href="../nikah-mutah-dalam-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a href="../media-pembela-syiah-indonesia" rel="nofollow" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a href="../ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-2" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.<br />
9. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-3" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syaih (3)</a>.<br />
10. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-4" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (4)</a>.<br />
11. <a href="http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait" target="_blank">Ajaran Syiah dan Ahlul Bait</a>.</p>
<p>Tags: syiah, ajaran syiah, kesesatan syiah, ajaran sesat syiah, tokoh syiah indonesia, syiah indonesia, syiah memang sesat, bahaya syiah, <strong>sesatnya syiah</strong>, Dr. Said Aqil Siroj, said aqil siroj.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pictures</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kesesatan-syiah-menurut-dr-said-aqil-siroj/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pengakuan-haidar-bagir-tentang-sesatnya-syiah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pengakuan-haidar-bagir-tentang-sesatnya-syiah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 23:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10404</guid>
		<description><![CDATA[Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah Sepandai-pandai tupai melompat, pasti kan terjatuh juga. Pepatah ini adalah hal pertama yang melintas dalam pikiran  saya ketika membaca tulisan bapak Haidar Bagir di harian Republika (20/1/2012) dengan judul: Syiah dan Kerukunan Umat. Bapak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: -webkit-center;">Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah</h2>
<div style="text-align: -webkit-center;">Sepandai-pandai tupai melompat, pasti kan terjatuh juga. Pepatah ini adalah hal pertama yang melintas dalam pikiran  saya ketika membaca tulisan bapak Haidar Bagir di harian Republika (20/1/2012) dengan judul: Syiah dan Kerukunan Umat.</div>
<p>Bapak Haidar Bagir dengan segala daya dan upayanya berusaha menutupi beberapa ideologi Syiah yang menyeleweng dari kebenaran. Walau demikian, tetap saja ia tidak dapat melakukannya. Bahkan bila Anda mencermati dengan seksama, niscaya Anda dapatkan tulisannya mengandung pengakuan nyata akan kesesatan sekte Syiah Imamiyyah.<br />
<span id="more-10404"></span><br />
Berikut saya ketengahkan ke hadapan Anda tiga pengakuan terselubung bapak Haidar Bagir.</p>
<p><strong>Pengakuan Pertama: </strong><strong></strong></p>
<p>Data Syiah Imamiyah tentang ideologi adanya Alquran versi Syiah begitu melimpah dalam berbagai referensi Syiah. Wajar bila Bapak Haidar Bagir tidak menemukan cara untuk mengingkarinya. Fenomena ini mengharuskannya menempuh cara selain menutupinya. Dan ternyata Bapak Haidar Bagir lebih memilih cara mengesankan bahwa data tersebut adalah pendapat pribadi sebagian tokoh Syiah Imamiyah.</p>
<p>Karenanya, dengan jelas tulisan bapak Haidar Bagir ini mengandung pengakuan tentang kebenaran adanya Alquran versi Syiah Imamiyyah. Berdasarkan pengakuannya ini, Anda mendapat kepastian tentang adanya ideologi Alquran versi Syiah Imamiyyah.</p>
<p>Adapun klaim bapak Haidar bahwa ideologi ini adalah ideologi sebagian oknum Syiah, maka itu menyelisihi fakta yang ada. Sebagai salah satu buktinya, Ayatullah Khomeini, yang mereka anggap sebagai Wali Faqih, dan tokoh terkemuka Syiah Imamiyah zaman ini teryata masih mengajarkannya.</p>
<p>Dalam kitabnya <em>Kasyful Asrar</em> Hal. 149 Al Khomeini menyatakan: <em>&#8220;Telah kami buktikan pada awal pembahasan ini, bahwa Nabi <strong>menahan diri dari membicarakan masalah al imaamah (kepemimpinan) dalam Alquran</strong>. Alasannya beliau khawatir Alquran akan diselewengkan, atau timbul perselisihan yang sengit di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga hal itu berakibat buruk bagi masa depan agama Islam.&#8221;</em></p>
<p>Adapun keberadaan Mushaf Utsmani di tengah-tengah para penganut Syiah Imamiyah, maka itu belum cukup kuat untuk mengingkari adanya mushaf Fatimah dalam ideologi Syiah. Yang demikian itu karena tokoh Syiah Imamiyah sejak dahulu mengajarkan agar para pengikut mereka untuk sementara membaca Alquran yang ada, hingga masa bangkitnya Imam ke-12 mereka. Menurut mereka, hanya Imam Mahdi merekalah yang masih menyimpan dan kelak akan mengajarkannya kembali kepada para pengikutnya.</p>
<p>Al Kulaini dalam kitanya <em>Al Kafi</em> 2:619, meriwayatkan bahwa Abu Hasan Ali bin Musa Ar Ridha, bertanya kepada Imam Syiah ke-5, yaitu Abu Ja&#8217;far Muhammad bin Ali bin Al Husain, “ Semoga aku menjadi penebusmu, kita mendengar ayat-ayat Alquran yang tidak ada pada Alquran kita ini. Kita juga tidak dapat membacanya sebagaimana yang kami dengar dari Anda, maka apakah kami berdosa?” Beliau menjawab, “Tidak, bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari, karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajarkannya kepada kalian.&#8221;</p>
<p>Adapun klaim bapak Haidar tentang tokoh-tokoh Ahlusunnah yang menyatakan adanya perubahan pada Alquran, adalah klaim sepihak dan kosong dari bukti. Pernyataan sahabat Umar bin Al Khatthab juga yang lainnya tentang ayat rajam adalah penjelasan tentang adanya ayat yang dianulir secara bacaan. Walaupun secara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a>, ayat-ayat tersebut masih tetap berlaku.</p>
<p>Sebagaimana ulama-ulama Ahlusunnah juga menegaskan bahwa dalam Alquran terdapat beberapa ayat-ayat yang kandungan hukumnya telah dihapuskan walau secara bacaan masih tetap ada.  Fakta ini bukanlah hal aneh, karena telah dijelaskan pada ayat 106, surat Al Baqarah.</p>
<p>Namun tentu syariat <em>nasikh</em> (anulir) suatu ayat menurut Ahlusunnah menyelisihi ideologi perubahan Alquran dalam doktrin Syiah Imamiyah. <em>Nasikh</em> menurut Ahlusunnah hanya terjadi semasa hidup Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Adapun sepeninggal beliau maka tidak terjadi <em>nasikh. </em></p>
<p>Ditambah lagi<em> </em>menurut syariat Ahlusunnah, hingga hari kiamat<em> </em>tidak ada yang mengembalikan ayat-ayat yang semasa Nabi hidup <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> <em>mansukh</em> (dianulir).</p>
<p>Sedangkan menurut sekte Syiah Imamiyyah Alquran mengalami perubahan sepeninggal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em> Dan kelak ayat-ayat yang dirubah sepeninggal beliau akan dikembalikan lagi oleh imam mereka ke-12. Karena itu, sekte Syiah senantiasa menantikan kehadiran sosok tersebut, yang mereka yakini sebagai Imam Mahdi.</p>
<p><strong>Pengakuan Ke</strong><strong>dua</strong><strong> :</strong></p>
<p>Pada awal tulisan, Bapak Haidar mengklaim bahwa celaan Syiah terhadap sahabat hanyalah sebatas kecenderungan dan bukan ajaran. Menurutnya, Syiah yang mencela sahabat Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan juga sebagian istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hanyalah minoritas.</p>
<p>Selanjutnya Bapak Haidar berusaha menguatkan klaim ini dengan menyebutkan sekte Syiah Zaidiyah. Menurutnya sekte Zaidiyah menerima kekhilafahan sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.</p>
<p>Penuturan ini adalah bukti nyata bahwa Bapak Haidar telah memutar balikkan fakta. Sejatinya Bapak Haidar Bagir-lah yang telah menggunakan data <em>syadz</em> (ganjil) guna mendukung kesimpulanya. Karena sekte Zaidiyah adalah sekte minoritas Syiah, sedangkan meyoritas Syiah saat ini adalah para pengikut sekte Imamiyyah.</p>
<p>Terlebih lagi, adanya pengakuan terhadap kekhilafahan sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah alasan Imamiyah mengucilkan sekte Zaidiyah.</p>
<p>Adapun beberapa tokoh Syiah Imamiyyah yang disebut oleh bapak Haidar telah mengakui kekhilafahan ketiga sahabat di atas, maka saya tidak ingin banyak mempersoalkannya. Saya hanya ingin bertanya: apakah pengakuan tersebut diamini oleh tokoh Imamiyyah yang lain dan kemudian diterapkan oleh seluruh penganut Imamiyah?</p>
<p>Fakta yang terjadi di lapangan membuktikan bahwa pengikut Syiah imamiyah tetap saja melaknati ketiganya dan juga lainnya. Kasus sampang dan berbagai kasus serupa di negri kita adalah salah satu buktinya. Karena itu Abu Lukluah Al Majusi aktor pembunuh Khalifah Umar bin Khatthab diagungkan oleh sekte Imamiyah sehingga mereka menjulukinya dengan <em>Baba Suja’uddin</em>. Dan sebagai apresiasi atas jasanya membunuh Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab, mereka membangun kuburannya dengan megah.<span style="font-size: small;"><span style="line-height: normal;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="line-height: normal;"><img class="alignnone" title="pembunuh umar" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/02/buaya10-1-300x273.jpg" alt="buaya10 1 300x273 Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah" width="300" height="273" /><br />
</span></span></p>
<p>(Gambar: Kuburan Abu Lukluah Al Majusi)</p>
<p><img class="alignnone" title="memuja pembunih umar" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/02/buaya10-4-300x256.jpg" alt="buaya10 4 300x256 Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah" width="300" height="256" /></p>
<p>(Betapa antusiasnya pengikut agama Syi’ah ketika berziarah ke kuburan ini)</p>
<p><strong>Pengakuan Ketiga: </strong></p>
<p>Kebesaran jiwa ulama-ulama Ahlusunnah dan juga seluruh Ahlusunnah untuk menghentikan kemungkaran yang dilakukan oleh dinasti Abbasiyah. Sehingga mereka semua patuh dan mengapresiasi sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menginstruksikan hal tersebut. Dan alhamdulillah hingga kini, hal tersebut sirna dan tidak ada yang melakukannya kembali.</p>
<p>Namun hal serupa hingga saat ini tidak kuasa dilakukan oleh para penganut ajaran Syiah Imamiyah. Sehingga walaupun para aktor sandiwara <em>taqrib</em> telah menyerukannya, namun tetap saja di lapangan para penganut Syiah terus mencaci sahabat-sahabat Nabi. Sikap Yasir Al Habib beserta para pengikutnya dan juga Syiah di Sampang adalah bukti nyata, bahwa seruan tersebut hanyalah seruan tanpa pembuktian.</p>
<p>Pengakuan bapak Haidar ini, dapat menjadi bukti nyata bahwa hanya dengan mengikuti ajaran Ahlusunnahlah kedamaian antar komponen umat Islam dapat terwujud. Adapun ajaran Syiah, terlebih Imamiyyah, hingga saat ini terus menjadi biang terjadinya permusuhan bahkan perang saudara di tengah-tengah umat Islam. Sikap pasukan Al Hutsi di Yaman yang menyerang Ahlusunnah di daerah Dammaj, dan juga pasukan Al Mahdi di Irak yang membantai Ahlusunnah adalah bukti nyata akan hal tersebut.</p>
<p><strong>Pengakuan Keempat :</strong></p>
<p>Bapak Haidar Bagir juga mengakui bahwa sekte Syiah yang selama ini menjadi biang kericuhan umat Islam adalah Syiah Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah. Karena itu beliau merasa perlu untuk mengutarakan adanya perubahan pandangan tentang keabsahan khilafah sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.</p>
<p>Walau demikian, ada satu fakta yang mungkin kurang diwaspadai oleh bapak Haidar Bagir. Mengakui adanya perubahan ini sejatinya adalah pengakuan bahwa ideologi Imamah versi Imamiyyah adalah sesat. Andai tidak sesat, buat apa beliau perlu mengutarakan adanya ralat yang dilakukan oleh sebagian tokoh sekte Imamiyah?</p>
<p>Terlebih sejatinya ideologi bahwa imam (penguasa umat) dalam Islam hanya berjumlah 12 orang, adalah ideologi tidak nyata dan tidak masuk akal. Anda pasti telah mengetahui bahwa dari kedua belas imam Syiah yang benar-benar pernah mengenyam sebagai khalifah hanyalah sahabat Ali bin Abi Thalib dan putranya Hasan.</p>
<p>Adapun Husein beserta <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> cucunya, maka hingga mereka meninggal dunia, tidak seorang pun yang sempat menjadi pemimpin. Sehingga berbagai dalil yang mereka yakini tentang keimaman mereka benar-benar menyelisihi fakta.</p>
<p>Secara <em>defacto</em> seluruh ahli sejarah sepakat bahwa Hasan bin Abi Thalib telah menyerahkan <em>khilafah</em> (kekuasaan) kepada sahabat Mu’awiyah. Dan tahun terjadinya serah terima khilafah ini akhirnya dikenal dan diabadikan oleh umat Ahlusunnah hingga akhir masa. Sehingga mereka menyebut tahun tersebut dengan sebutan <em>‘aamul jama’ah</em> (tahun persatuan).</p>
<p>Setiap Ahlusunnah bergembira dengan kejadian ini. Ahlusunnah menganggap sikap Hasan ini sebagai jasa terbesar yang beliau lakukan untuk umat Islam. Bahkan Ahlusunnah hingga saat ini meyakini bahwa sikap Hasan ini sebagai wujud nyata dari sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentangnya,</p>
<p><em>“Sejatinya putraku ini adalah seorang pemimpin, dan semoga dengannya Allah menyatukan dua kelompok besar dari umat Islam.”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Namun tahukah Anda bahwa Ahlusunnah yang mengapresiasi kebesaran jiwa Hasan ini ternyata tidak diteladani oleh penganut Syiah. Beberapa referensi Syiah malah menukilkan sikap yang berlawan arah. Beberapa tokoh Syiah malah menganggap sikap Hasan ini sebagai bentuk pengkhianatan.</p>
<p>Pada suatu hari, seorang  tokoh Syiah bernama Sufyan bin Laila berkunjung ke rumah Hasan bin Ali. Didapatkan beliau sedang duduk-duduk sambil berselimut di depan rumahnya. Spontan Sufyan bin Laila mengucapkan salam kepada Hasan dengan berkata, <em>&#8220;Semoga keselamatan atasmu, <strong>wahai orang yang telah menghinakan kaum mukminin</strong>!” Karena merasa ganjil dengan ucapan selamat yang disampaikan oleh Sufyan, Hasan bertanya, “Darimana engkau mengetahui hal itu?” Ia menjawab, “Engkau telah memangku kepemimpinan, lalu engkau melepaskannya dari bahumu. Selanjutnya engkau sematkan kepemimpinan itu di bahu penjahat ini agar ia leluasa menerapkan hukum selain hukum Allah.&#8221;</em></p>
<p>Kisah ini bisa Anda temui pada beberapa refensi agama Syiah, semisal: <em>Al Ikhtishash</em> karya As Syeikh Al Mufid wafat thn: 413 H, Hal.82,  <em>Ikhtiyaar Ma&#8217;rifat Ar Rijal</em>, karya As Syeikh At Thusi wafat thn: 460, Hal. 1:327 dan <em>Biharul Anwar</em> karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn: 1111 H, Hal.44:24.</p>
<p>Sejak serah terima khilafah antara sahabat Hasan kepada sahabat Mu’awiyah ini, tidak seorang pun dari keturunan sahabat Ali bin Abi Thalib yang memangku jabatan khalifah. Bahkan Husein bin Abi Thalib yang hendak merebut khilafah dari Yazid bin Mu’awiyah, menemui kegagalan dan terbunuh sebelum sempat mendapatkannya. Tak ayal lagi, ia hidup tanpa <em>imamah, </em>hingga akhir hayatnya, demikian pula nasib seluruh anak cucunya. Dengan demikian kesepuluh imam Syiah Imamiyyah setelah Hasan berstatus <em>Kings Without A Kingdom.</em></p>
<p>Ini adalah bukti nyata bahwa meyakini keimamahan kesepuluh imam sekte Imamiyah adalah kekeliruan, karena menyelisihi fakta. Sehingga wajar bila seluruh Ahlusunnah dan juga setiap yang berakal sehat tanpa terkecuali umat Islam di negri kita tercinta ini menolak ideologi Syiah Imamiyyah.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Dr. Arifin Baderi (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>About The Author:<br />
Dr. Muhammad Arifin, M.A. Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).</p>
<h3>Materi terkait sesatnya Syiah dan Mut’ah:</h3>
<p>1.<a href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" rel="nofollow" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a href="../peringatan-kematian-imam-husein" rel="nofollow" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" rel="nofollow" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a href="../nikah-mutah-dalam-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a href="../media-pembela-syiah-indonesia" rel="nofollow" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a href="../ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-2" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.<br />
9. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-3" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syaih (3)</a>.<br />
10. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-4" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (4)</a>.<br />
11. <a href="http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait" target="_blank">Ajaran Syiah dan Ahlul Bait</a>.</p>
<p>Tags: syiah, ajaran syiah, kesesatan syiah, ajaran sesat syiah, tokoh syiah indonesia, syiah indonesia, syiah memang sesat, bahaya syiah, <strong>sesatnya syiah</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pengakuan-haidar-bagir-tentang-sesatnya-syiah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ajaran Syiah dan Ahlul Bait</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 23:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10150</guid>
		<description><![CDATA[Ajaran Syiah dan Ahlul Bait Pertanyaan: Saya tertarik dengan ajaran Syiah. Saya banyak membaca buku tentang Syiah, Syiah mencintai ahlul bait, ahlul bait itu adalah keluarga rasul. Semua hadis-hadisnya berasal dari ahlul bait. Yang saya tanyakan mengapa Ahlussunah menolak semua ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ajaran Syiah dan Ahlul Bait</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Saya tertarik dengan <strong>ajaran Syiah</strong>. Saya banyak membaca buku tentang Syiah, Syiah mencintai <em>ahlul bait</em>, ahlul bait itu adalah keluarga rasul. Semua hadis-hadisnya berasal dari <em>ahlul bait</em>. Yang saya tanyakan mengapa Ahlussunah menolak semua hadis-hadis Syiah yang berasal dari keluarga rasul atau <em>ahlul bait</em> tanpa dikaji sedikit pun?</p>
<p>Dari: Thaherem<br />
<span id="more-10150"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Bismillah<br />
Alahmdulillah, shalwat dan salam semoga tercucah kepada Rasulullah, dan ahlul baitnya, serta semua orang yang mengikuti beliau.</p>
<p>Terkait masalah ini, kami perlu menegaskan bahwa tidak ada satu pun Ahlussunah, baik ulamanya maupun orang awamnya yang membenci <em>ahlul bait</em>. Bahkan mereka sangat mencintai <em>ahlul bait</em>. Justru kami meragukan klaim Syiah yang mencintai <em>ahlul bait</em>, karena beberapa hal:</p>
<p>A. <em>Ahlu bait</em> adalah <strong>semua</strong> keluarga Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Bukankah istri-istri beliau termasuk keluarga Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Tapi anehnya, Syiah mencela habis-habisan Aisyah dan Hafshah <em>radhiallahu&#8217;anhuma</em>. Berita tentang ini, bisa Anda saksikan di youtube dan berbagai literatur Syiah. Bahkan mereka menegaskan bahwa Aisyah kekal di neraka. Silahkan Anda lihat ceramah dari salah seorang ulama Syiah, Yasir Al-Habib</p>
<p><iframe width="500" height="281" src="http://www.youtube.com/embed/4Lz4TPgCVZ4?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Dalil tegas yang menunjukkan bahwa istri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> termasuk keluarganya adalah firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab">يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32) وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا</p>
<p>&#8220;<em>Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu gemulai dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (nafsu) dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai <strong>ahlul bait</strong><em> dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.</em>&#8221; (QS. Al-Ahzab: 32-33)</em></p>
<p><strong>Siapakah Ahlul bait dalam ayat ini?</strong><br />
Ibnu Abbas mengatakan,</p>
<p class="arab">قوله: { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ } قال: نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم خاصة.</p>
<p>&#8220;Firman Allah di atas turun khusus terkait para istri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221; (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 6:410)</p>
<p>Ikrimah (salah satu Ahli tafsir murid Ibnu Abbas) mengatakan,</p>
<p class="arab">من شاء باهلته أنها نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم</p>
<p>&#8220;Siapa yang ingin mengetahui <em>ahlul bait</em> beliau, sesungguhnya ayat ini turun tentang para istri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221; (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 6:411)</p>
<p>B. Mereka sangat mengagungkan Abu Lukluk al-Majusi, yang mereka gelari dengan Baba Syuja&#8217;. Kuburannya dibangun megah dst.<br />
Silahkan anda lihat di:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/Y0A6vpi23Qw?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Padahal setiap muslim, baik <em>ahlul bait</em> maupun bukan, sepakat bahwa Abu Lu&#8217;lu&#8217; adalah orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a>, termasuk Ali bin Abi Thalib <em>radhiallallahu &#8216;anhu</em> meyakini hal itu juga.</p>
<p>C. Mereka memberontak Bani Abbasiyah. Padahal Kekhallifahan Bani Abbasiyah dibangun atas prinsip mengumpulkan <em>Ahlul Bait</em>. Semua keluarga Abdul Muthalib (kakek Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) mendapatkan angin segar dengan Kekhallifahan Bani Abbasiyah.</p>
<p>Namun ada seorang penghianat orang Syiah, Nashiruddin At-Thusi yang membuka jalan lebar bagi pasukan Tar-Tar untuk membantai kaum muslilmin di Baghdad. Bukti pengkhianatan tokoh Syiah At-Thusi bisa Anda simak di:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/TpeBBogsDKg?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Mungkin Anda balik bertanya, tidak semua keturunan Abdul Muthalib adalah <em>Ahlul Bait</em>. Yang namanya <em>ahlul bait</em> adalah keturunan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> saja?<br />
Pertanyaan ini sungguh aneh, bukankah orang Syiah memasukkan Ali bin Abi Thalib termasuk Ahlul Bait? Padahal beliau <em>radhiallallahu &#8216;anhu</em> bukan keturunan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tapi beliau adalah anaknya Abu Thalib, paman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>D. Mohon dibaca dengan seksama artikel di <a rel="nofollow" href="http://www.gensyiah.com/syiah-menghina-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-ahlul-bait.html" target="_blank">gensyiah.com</a></p>
<p>E. <em>Ahlul bait</em> punya keutamaan, tapi apakah boleh kita kultuskan?? Ini butuh perenungan tambahan.</p>
<p>F. Ahlussunah menerima semua jalur hadis, baik dari <em>ahlul bait</em> maupun bukan <em>ahlul bait</em>. Karena syarat diterimanya berita adalah kejujuran dan kekuatan hafalan, bukan <em>ahlul bait</em>. Jika hanya hadis dari <em>ahlul bait</em> yang bisa diterima, tentu akan meninggalkan pertanyaan besar. Barapa jumlah sahabat yang menjadi <em>ahlul bait</em>? Apakah semua hadis ada pada <em>ahlul bait</em>? Tentu semua orang akan menjawab, sahabat yang lain juga memiliki banyak hadis. Karena itu, sikap yang tepat adalah menerima semua jalur periwayatan hadis, <strong>selama jalur itu bisa dipertanggung jawabkan</strong>.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ajaran syiah dan mut’ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a rel="nofollow" href="../ajaran-syiah" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a rel="nofollow" href="../hakikat-ajaran-syiah-2" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.<br />
9. <a href="http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-3" target="_blank">Hakikat Ajaran Syaih (3)</a>.<br />
10. <a href="http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-4" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (4)</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Ajaran Syiah (4)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-4</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-4#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 11:57:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9800</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat Ajaran Syiah (4) Perkataan ulama Islam mengenai Syiah, bagaimana pandangan mereka tentang kelompok Syiah Raafidhah. 1. ‘Alqamah bin Qais An-Nakha&#8217;i rahimahullah (Tokoh Tabi&#8217;in, w.62 H) &#8220;عَنْ عَلْقَمَةَ، قَالَ: &#8221; لَقَدْ غَلَتْ هَذِهِ الشِّيعَةُ فِي عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَمَا ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hakikat Ajaran Syiah (4)</h2>
<p>Perkataan ulama Islam mengenai Syiah, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> pandangan mereka tentang kelompok Syiah Raafidhah.</p>
<p>1.     ‘Alqamah bin Qais An-Nakha&#8217;i <em>rahimahullah</em> (Tokoh Tabi&#8217;in, w.62 H)</p>
<p class="arab">&#8220;عَنْ عَلْقَمَةَ، قَالَ: &#8221; لَقَدْ غَلَتْ هَذِهِ الشِّيعَةُ فِي عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَمَا غَلَتِ النَّصَارَى فِي عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ</p>
<p>Dari Alqamah, ia berkata, “Sungguh Syiah ini telah berlebih-lebihan terhadap Ali <em>radhiallahu ‘anhu</em> sebagaimana berlebih-lebihannya Nashara terhadap ‘<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/isa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with isa">Isa</a> bin Maryam.” (Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah no. 1115 dan Al-Harbiy dalam <em>Ghariibul-Hadiits</em>, 2:581, shahih).</p>
<p>2.     Az-Zuhriy <em>rahimahullah</em></p>
<p class="arab">عنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: &#8221; مَا رَأَيْتُ قَوْمًا أَشْبَهَ بِالنَّصَارَى مِنَ السَّبَائِيَّةِ &#8220;، قَالَ أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ: هُمُ الرَّافِضَةُ</p>
<p>Dari Az-Zuhri, ia berkata, “Aku tidak pernah melihat satu kaum yang lebih menyerupai Nashara daripada kelompok Saba&#8217;iyyah.” Ahmad bin Yunus berkata, “Mereka itu adalah Rafidhah (Syiah).” (Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam <em>Asy-Syari’ah</em>, 3:567 no.2083, shahih).</p>
<p>3.     Imam Maalik bin Anas <em>rahimahullah</em></p>
<p class="arab">أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ الْمَرُّوذِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ: عَنْ مَنْ يَشْتِمُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعَائِشَةَ؟ قَالَ: مَا أُرَآهُ عَلَى الإِسْلامِ، قَالَ: وَسَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ: قَالَ مَالِكٌ: الَّذِي يَشْتِمُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ لَهُ سَهْمٌ، أَوْ قَالَ: نَصِيبٌ فِي الإِسْلامِ</p>
<p>Abu Bakr Al-Marwadzi telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah tentang orang yang mencaci-maki Abu Bakar, Umar, dan Aaisyah? Maka ia menjawab, “Aku tidak berpendapat ia di atas agama Islam.” Al-Marwadzi berkata, Dan aku juga mendengar Abu Abdillah berkata, Malik (bin Anas) mengatakan, “Orang yang mencaci-maki para sahabat Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka ia tidak mempunyai bagian (dalam Islam).” –atau ia berkata, “Bagian dalam Islam.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam <em>As-Sunnah</em> no.783; shahih sampai Ahmad bin Hanbal).</p>
<p>4.     Imam Syaafi&#8217;i <em>rahimahullah</em></p>
<p class="arab">حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ، يَقُولُ: لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ الأَهْوَاءِ، أَشْهَدُ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ</p>
<p>Harmalah bin Yahya mengabarkan kepadaku, ia berkata, &#8220;Aku mendengar Asy-Syaafi&#8217;i berkata, &#8216;Aku tidak pernah melihat seorang pun dari pengikut hawa nafsu yang aku saksikan kedustaannya daripada Raafidhah (Syiah)&#8217;.&#8221; (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Adab Asy-Syafi’i, Hal. 144, hasan)</p>
<p class="arab">عن البويطي يقول: سألت الشافعي: أصلي خلف الرافضي ؟ قال: لا تصل خلف الرافضي، ولا القدري، ولا المرجئ&#8230;.</p>
<p>Dari Al-Buwaithiy ia berkata, “Aku bertanya kepada Asy-Syafi’iy, Apakah aku boleh <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> di belakang seorang Rafidhi (pengikut Syiah)?” Beliau menjawab, “Janganlah engkau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> di belakang seorang Raafidhi, Qadariy, dan Murji&#8217;i.” (<em>Siyaru A’lam An-Nubala’</em>, 10:31).</p>
<p>5.     Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em></p>
<p class="arab">أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ:  مَنْ شَتَمَ أَخَافُ عَلَيْهِ الْكُفْرَ مِثْلَ الرَّوَافِضِ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ شَتَمَ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا نَأْمَنُ أَنْ يَكُونَ قَدْ مَرَقَ عَنِ الدِّينِ</p>
<p>Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata, “Barangsiapa yang mencaci-maki (sahabat <em>pen.</em>), aku khawatir ia akan tertimpa kekafiran seperti Rafidhah”. Kemudian ia melanjutkan, “Barangsiapa yang mencaci-maki para sahabat Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka kami tidak percaya ia aman dari bahaya kemurtadan.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam <em>As-Sunnah</em> no.784, shahih).</p>
<p class="arab">عَبْدِ الصَّمَدِ، قَالَ: سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ، عَنْ جَارٍ لَنَا رَافِضِيٍّ يُسَلِّمُ عَلَيَّ، أَرُدُّ عَلَيْهِ؟ قَالَ: لا<br />
Abdusshamad mengatakan, &#8220;Aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang tetanggaku Raafidli (seorang Syiah) yang mengucapkan salam kepadaku, apakah perlu aku jawab?” Ia menjawab: “Tidak.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam <em>As-Sunnah</em> no.787; hasan).</p>
<p>6.     Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p class="arab">مَا أُبَالِي صَلَّيْتُ خَلْفَ الْجَهْمِيِّ، وَالرَّافِضِيِّ أَمْ صَلَّيْتُ خَلْفَ الْيَهُودِ، وَالنَّصَارَى، وَلا يُسَلَّمُ عَلَيْهِمْ، وَلا يُعَادُونَ، وَلا يُنَاكَحُونَ، وَلا يَشْهَدُونَ، وَلا تُؤْكَلُ ذَبَائِحُهُمْ<br />
“Sama saja bagiku shalat di belakang Jahmiy dan Raafidhi, atau aku shalat di belakang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a> dan Nashrani. Jangan memberikan salam kepada mereka, jangan dijenguk (apabila mereka sakit), jangan dinikahi, jangan disaksikan (jenazah mereka), dan jangan dimakan sembelihan mereka.” (<em>Khalqu Af’alil-‘Ibad</em>, 1:39-40).</p>
<p>7.     Al-Qadhi ‘Iyadh <em>rahimahullahu</em> berkata,</p>
<p class="arab">وَكَذَلِك نقطع بتكفير غلاة الرافضة فِي قولهم إنّ الْأَئِمَّة أفضل مِن الْأَنْبِيَاء</p>
<p>“Dan begitu pula kami memastikan kafirnya ghullat Rafidhah (orang-orang Syiah yang sudah sangat fanatik dengan ajarannya <em>pen.</em>) tentang perkataan mereka bahwasannya para imam lebih utama dari para Nabi.” (<em>Asy-Syifa bi-Ahwalil-Mushthafa</em>, 2:174).</p>
<p>8.     Ibnu Hazm Al-Andalusi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p class="arab">وأما قولهم ( يعني النصارى ) في دعوى الروافض تبديل القرآن فإن الروافض ليسوا من المسلمين ، إنما هي فرقة حدث أولها بعد موت رسول الله صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة .. وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر</p>
<p>“Adapun perkataan mereka (yaitu Nashara) atas klaim Raafidhah tentang perubahan Alquran (maka ini tidak teranggap), karena Raafidhah bukan termasuk kaum muslimin. Syiah adalah kelompok yang muncul pertama kali 25 tahun setelah wafatnya Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>&#8230;. Rafidhah adalah kelompok berjalan mengikuti jalan orang Yahudi dan Nashara dalam dusta dan kekufuran.” (<em>Al-Fishal fil-Milal wan-Nihal</em>, 2:213).</p>
<p>Syiah Rafidhah sering menggunakan dalih mencintai <em>ahlul bait</em> untuk menutupi hakikat busuk akidah mereka dan untuk menipu umat. Kecintaan mereka itu palsu. Kecintaan yang tidak diridhai oleh <em>ahlul bait</em> sendiri. <em>Ahlul bait</em> berlepas diri dari mereka, dan mereka pun berlepas diri dari <em>ahlul bait</em>.</p>
<p class="arab">عَنْ عَلِيَّ بْنَ حُسَيْنٍ، وَكَانَ أَفْضَلَ هَاشِمِيٍّ أَدْرَكْتُهُ، يَقُولُ:  يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَحِبُّونَا حُبَّ الإِسْلامِ، فَمَا بَرِحَ بِنَا حُبُّكُمْ حَتَّى صَارَ عَلَيْنَا عَارًا</p>
<p>Dari Ali bin Al-Husain –dan ia adalah seutama-utama keturunan Bani Hasyim yang aku (perawi) temui– berkata, “Wahai sekalian manusia (dalam riwayat lain &#8220;wahai penduduk Irak&#8221; atau &#8220;Wahai penduduk Kufah&#8221;), cintailah kami dengan kecintaan Islam. Kecintaan kalian kepada kami senantiasa ada hingga kemudian malah menjadi aib bagi kami.” (<em>Ath-Thabaqaat</em>, 5:110, shahih<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/05/islam-dan-ahlul-bait-menolak-kecintaan.html" target="_blank">[16]</a>).</p>
<p class="arab">عَنْ فُضَيْل بْنُ مَرْزُوقٍ، قَالَ: سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ الْحَسَنِ بْنِ الْحَسَنِ، أَخَا عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ يَقُولُ:  قَدْ وَاللَّهِ مَرَقَتْ عَلَيْنَا الرَّافِضَةُ كَمَا مَرَقَتِ الْحَرُورِيَّةُ عَلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ</p>
<p>Dari Fudlail bin Marzuuq, ia berkata, &#8220;Aku mendengar Ibraahiim bin Al-Hasan bin Al-Hasan, saudara ‘Abdullah bin Al-Hasan, berkata, &#8216;Sungguh, demi Allah, Raafidhah (Syiah) telah keluar (tidak taat) terhadap kami (<em>ahlul bait</em>) sebagaimana Al-Haruriyyah telah keluar (tidak taat) terhadap Ali bin Abi Thalib.” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam <em>Fadlailush-Shahabah</em>, no.36, hasan).</p>
<p>Ibraahiim bin Al-Hasan bin Al-Hasan adalah anggota <em>ahlul bait</em> dari jalur Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Ibnu Hibban berkata, “Ia termasuk di antara pemimpin penduduk Madinah, dan <em>ahlul bait</em> yang mulia/agung.” (<em>Masyahir ‘Ulama Al-Amshar</em>, Hal.155 no. 995).</p>
<p>Ya, kecintaan Syiah terhadap <em>ahlul bait</em> telah menjadi aib bagi kemuliaan <em>ahlul bait</em>. Mereka telah melakukan banyak kedustaan atas nama <em>ahlul bait</em> untuk merusak akidah Islam dari dalam.<br />
<em>Wallaahul-musta’an</em>.</p>
<p>Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/01/syiah-itu-sesat-juragan-sebuah-masukan.html" target="_blank">Ustadz Abul Jauza’</a> (Dengan perubahan bahasa oleh tim Konsultasi Syariah)</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ajaran syiah dan mut’ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a rel="nofollow" href="../ajaran-syiah" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a rel="nofollow" href="../hakikat-ajaran-syiah-2" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-4/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Ajaran Syiah (3)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-3</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-3#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 13:05:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9790</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat Ajaran Syiah (3) 5. Orang Syiah –dalam hal ini diwakili oleh Khomaini– mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menyembunyikan sebagian risalah dan gagal membina umat. Khomaini –semoga Allah memberikan balasan setimpal kepadanya- berkata, وواضح أنَّ النبي لو ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hakikat Ajaran Syiah (3)</h2>
<p>5.     Orang Syiah –dalam hal ini diwakili oleh Khomaini– mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> telah menyembunyikan sebagian risalah dan gagal membina umat.<br />
Khomaini –semoga Allah memberikan balasan setimpal kepadanya- berkata,</p>
<p class="arab">وواضح أنَّ النبي لو كان بلغ بأمر الإمامة طبقاً لما أمر به الله، وبذل المساعي في هذه المجال، لما نشبت في البلدان الإسلامية كل هذه الإختلافات&#8230;.</p>
<p>“Dan telah jelas bahwasannya Nabi jika ia menyampaikan perkara imamah sebagaimana yang Allah perintahkan (padanya) dan mencurahkan segenap kemampuannya dalam permasalahan ini, niscaya perselisihan yang terjadi di berbagai negeri Islam tidak akan berkobar…..” (<em>Kasyful-Asrar</em>, Hal. 155).</p>
<p class="arab">لقد جاء الأنبياء جميعاً من أجل إرساء قواعد العدالة في العالم؛ لكنَّهم لم ينجحوا حتَّى النبي محمد خاتم الأنبياء، الذي جاء لإصلاح البشرية وتنفيذ العدالة وتربية البشر، لم ينجح في ذلك&#8230;.</p>
<p>“Sungguh semua Nabi telah datang untuk menancapkan keadilan di dunia, akan tetapi mereka tidak berhasil. Bahkan termasuk Nabi Muhammad, penutup para Nabi, dimana beliau datang untuk memperbaiki umat manusia, menginginkan keadilan, dan mendidik manusa – tidak berhasil dalam hal itu….” (Nahju Khomaini, Hal. 46). Dan yang lainnya.<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/02/hinaan-al-khomainiy-terhadap-rasulullah.html" target="_blank">[4]</a></p>
<p>Dimanakah posisi firman Allah Ta’ala yang menyatakan bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah suri tauladan yang baik,</p>
<p class="arab">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah</em>.” (QS. Al-Ahzab: 21)?</p>
<p>6.     Orang Syiah Mengafirkan Ahlussunnah<br />
Jika mereka mengafirkan para shahabat <em>radhiallahu‘anhum</em>, maka jangan heran seandainya mereka juga mengafirkan orang-orang yang sepemahaman dengan para shahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em>, yaitu Ahlussunnah. Berikut perkataan para ulama Syiah dalam hal ini:<br />
Al-Mufiid berkata,</p>
<p class="arab">اتّفقت الإماميّة على أنّ من أنكر إمامة أحد من الأئمّة وجحد ما أوجبه الله تعالى له من فرض الطّاعة فهو كافر ضالّ مُستحقّ للخلود في النّار</p>
<p>“Madzhab Imaamiyyah telah bersepakat bahwasannya siapa saja yang mengingkari imaamah salah seorang di antara para imam, dan mengingkari apa yang telah Allah <em>Ta’ala</em> wajibkan padanya tentang kewajiban taat, maka ia <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> lagi sesat berhak atas kekekalan di neraka.” (<em>Awailul-Maqalat</em>, Hal. 44 –sumber : http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-aqaed/avael-maqalat/a01.htm).</p>
<p>Orang yang mengingkari keimamahan versi mereka tentu saja adalah Ahlussunnah.<br />
Yuusuf Al-Bahrani berkata,</p>
<p class="arab">إن إطلاق المسلم على الناصب وأنه لا يجوز أخذ ماله من حيث الإسلام خلاف ما عليه الطائفة المحقة سلفا وخلفا من الحكم بكفر الناصب ونجاسته وجواز أخذ ماله بل قتله</p>
<p>“Sesungguhnya pemutlakan muslim terhadap nashib (baca: ahlussunnah) bahwasannya tidak diperbolehkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> hartanya dengan sebab Islam (telah melarangnya), maka itu telah menyelisihi apa yang dipahami oleh kelompok yang benar (baca: Syiah Rafidhah) baik dulu maupun sekarang (salaf dan khalaf) tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> kafirnya nashib, kenajisannya, dan diperbolehkannya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> hartanya, bahkan membunuhnya.” (<em>Al-Hadaiqun An-Nadhirah</em>, 12:323-324 –sumber: shjaffar.jeeran.com).<br />
Berikut rekaman suara Yasir Habib yang mengafirkan ahlussunnah yang ia sebut sebagai Nawashib atau golongan awam:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/oYaAhcIE62Y?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Sebagai penguat, silakan baca/lihat:</p>
<p><iframe width="500" height="281" src="http://www.youtube.com/embed/6mFTDp7-PDg?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>7.     <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> Syiah Sangat Berbeda dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> Ahlussunnah<br />
Langsung saja Anda buka halaman blog berjudul : <a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/08/fiqh-syiah-5-kaifiyyah-shalat.html" target="_blank">Fiqh Syiah (5) : Kaifiyyah Shalat Syiah</a>.<br />
Adzannya pun lain, karena selain syahadatain, mereka menambahkan syahadat ketiga<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/06/syahadat-ketiga-salah-satu-produk.html" target="_blank">[5]</a>. Simak:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/gP2lEd7V9SI?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Masih banyak sebenarnya kesesatan Syiah selain di atas.<br />
MUI telah menetapkan kriteria sesat tidaknya satu kelompok atau pemahaman sebagai berikut:<br />
1.     Mengingkari rukun iman dan rukun Islam.<br />
2.     Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar&#8217;i (Alquran dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">sunah</a>).<br />
3.     Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.<br />
4.     Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Aquran.<br />
5.     Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.<br />
6.     Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam.<br />
7.     Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.<br />
8.     Mengingkari Nabi Muhammad <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai nabi dan rasul terakhir.<br />
9.     Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.<br />
10.   Mengafirkan sesama muslim tanpa dalil syar&#8217;i.</p>
<p>Dari sepuluh kriteria di atas, menurut saya Syiah mempunyai delapan poin parameter aliran sesat menurut MUI.<a rel="nofollow" href="http://nahimunkar.com/5243/mui-dari-10-kriteria-sesat-7-diantaranya-dimilik-syi%E2%80%99ah/" target="_blank">[14]</a></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ajaran syiah dan mut’ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a rel="nofollow" href="../ajaran-syiah" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a href="http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-2" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Ajaran Syiah (2)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-2</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 06:08:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9783</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat Ajaran Syiah (2) 3. Orang Syiah Rafidhah Tidak Menggunakan Riwayat Ahlussunnah Dengan kata lain, Syiah tidak menggunakan hadis-hadis Ahlussunnah –yang merupakan referensi kedua setelah Alquran– dalam membangun agama mereka. Ini merupakan konsekuensi yang timbul dari poin kedua karena mereka ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hakikat Ajaran Syiah (2)</h2>
<p>3.     Orang Syiah Rafidhah Tidak Menggunakan Riwayat Ahlussunnah</p>
<p>Dengan kata lain, Syiah tidak menggunakan hadis-hadis Ahlussunnah –yang merupakan referensi kedua setelah Alquran– dalam membangun agama mereka. Ini merupakan konsekuensi yang timbul dari poin kedua karena mereka mengafirkan para sahabat yang menjadi periwayat as-sunnah/al-hadis. Ini adalah satu kenyataan yang tidak akan ditolak kecuali mereka yang (maaf) bodoh terhadap agama Syiah dengan kebodohan yang teramat sangat, atau mereka yang sedang menjalankan strategi taqiyyah. Mungkinkah mereka (Syiah) akan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> riwayat dari orang yang telah mereka katakan murtad (sahabat nabi) dari agamanya?!</p>
<p>Syiah mempunyai sumber-sumber hadis tersendiri seperti<em> Al-Kaafi</em>,<em> Man La Yahdhuruh Al-Faqih</em>, <em>Tahdzib Al-Ahkam</em>, <em>Al-Istibshar</em>, dan yang lainnya.</p>
<p>Jika mereka mengambil referensi ahlussunnah, maka itu hanyalah mereka lakukan ketika berbicara kepada Ahlussunnah, dan mereka ambil yang kira-kira dapat mendukung akidah mereka atau menghembuskan syubhat-syubhat kepada Ahlussunnah.</p>
<p>Mau dikemanakan sabda Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبد حبشي فإنه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا وإياكم ومحدثات الأمور فإنها ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ</p>
<p>“<em>Aku nasihatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun (yang memerintah kalian) seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a> Habsyi. Orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku nanti) akan menjumpai banyak perselisihan. Waspadailah hal-hal yang baru, karena semua itu adalah kesesatan. Barangsiapa yang menjumpainya, maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada sunahku dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">sunah</a> <em>Al-Khulafa Ar-Rasyidin</em> yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia erat-erat dengan gigi geraham.</em>” (HR. Ahmad 4:126-127, Abu Dawud, no.4607, dan yang lainnya; shahih)?</p>
<p>4.     Orang Syiah telah berbuat <em>ghuluw</em> (melampaui batas) terhadap imam-imam mereka, dan bahkan sampai pada tingkat ‘menuhankan’ mereka.</p>
<p>Al-Kulaini membuat bab dalam kitab <em>Al-Kaafi</em>:</p>
<p class="arab">بَابُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) إِذَا شَاءُوا أَنْ يَعْلَمُوا عُلِّمُوا</p>
<p>“Bab: Bahwasannya para imam (<em>‘alaihissalam</em>) apabila ingin mengetahui, maka mereka akan mengetahui.”</p>
<p>Terdapat tiga hadis/riwayat. Saya sebutkan satu di antaranya:</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْإِمَامَ إِذَا شَاءَ أَنْ يَعْلَمَ أُعْلِمَ</p>
<p>Dari Abu Abdillah (<em>‘alaihissalam</em>), ia berkata, “Sesungguhnya seorang imam jika ia ingin mengetahui, maka ia akan mengetahui.” (<em>Al-Kaafi</em>, 1:258).</p>
<p>Inilah riwayat dusta yang disandarkan kepada <em>ahlul bait</em> – dan <em>ahlul bait</em> berlepas diri dari riwayat dusta tersebut.</p>
<p>Bab yang lain dalam kitab Al-Kaafi:</p>
<p class="arab">بَابُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) يَعْلَمُونَ عِلْمَ مَا كَانَ وَ مَا يَكُونُ وَ أَنَّهُ لَا يَخْفَى عَلَيْهِمُ الشَّيْ‏ءُ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ</p>
<p>“Bab: Bahwasannya para imam (<em>‘alaihissalam</em>) mengetahui ilmu yang telah terjadi maupun yang sedang terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari mereka <em>shalawatullah ‘alaihim</em>.”</p>
<p>Pada bab ini terdapat enam hadis/riwayat, yang salah satunya adalah sebagai berikut:</p>
<p class="arab">عَنْ سَيْفٍ التَّمَّارِ قَالَ كُنَّا مَعَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام )&#8230;&#8230; فَقَالَ وَ رَبِّ الْكَعْبَةِ وَ رَبِّ الْبَنِيَّةِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ كُنْتُ بَيْنَ مُوسَى وَ الْخَضِرِ لَأَخْبَرْتُهُمَا أَنِّي أَعْلَمُ مِنْهُمَا وَ لَأَنْبَأْتُهُمَا بِمَا لَيْسَ فِي أَيْدِيهِمَا لِأَنَّ مُوسَى وَ الْخَضِرَ ( عليه السلام ) أُعْطِيَا عِلْمَ مَا كَانَ وَ لَمْ يُعْطَيَا عِلْمَ مَا يَكُونُ وَ مَا هُوَ كَائِنٌ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ وَ قَدْ وَرِثْنَاهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) وِرَاثَةً</p>
<p>Dari Saif At-Tammar, ia berkata, &#8220;Kami pernah bersama Abu Ja’far (<em>‘alaihissalam</em>), …..kemudian ia berkata, &#8216;Demi Rab Ka’bah dan Rab Baniyyah –tiga kali-, seandainya aku berada di antara Musa dan Khidlir, akan aku kabarkan kepada mereka berdua bahwasannya aku lebih mengetahui daripada mereka berdua. Dan akan aku beritahukan kepada mereka berdua sesuatu yang tidak mereka ketahui. Karena Musa dan Khidlir (<em>‘alaihimassalam</em>) diberikan ilmu tentang apa yang telah terjadi, namun tidak diberikan ilmu mengenai yang sedang terjadi dan akan terjadi hingga hari kiamat. Dan sungguh kami telah mewarisi pengetahuan ini dari Rasulullah (<em>shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em>) dengan satu warisan.” (<em>Al-Kaafi</em>, 1:260-261).</p>
<p>Perhatikan penjelasan Dr. Al-Qazwini berikut:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/BxuHVIZ0rvA?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Ia (Dr. Al-Qazwiini) pada menit 0:44–0:53 mengatakan, “Allah <em>Ta’ala</em> Maha Mengetahui segala isi hati. Dan imam dalam riwayat ini juga mengetahui segala isi hati. Ilmu imam berasal dari Allah….. [selesai].</p>
<p>Dimanakah posisi firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ</p>
<p>“<em>Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.</em>&#8221; (QS. Al-An’aam: 50)?</p>
<p>Dan kalaupun Allah memberikan sebagian kabar gaib –baik yang telah lalu maupun yang kemudian– kepada para hamba-Nya dari kalangan manusia, maka itu Allah <em>Ta’ala</em> berikan kepada para Nabi dan Rasul-Nya,</p>
<p class="arab">وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ</p>
<p>“<em>Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.</em>” (QS. Ali ‘Imran: 179).</p>
<p>Tidak ada dalam ayat di atas kata ‘imam’, akan tetapi menyebut kata ‘rasul’.<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/sekilas-tentang-pemikiran-klenik-al.html" target="_blank">[3]</a></p>
<p>Orang Syiah mengatakan bahwa imam lebih tinggi kedudukannya dari para Nabi (selain Nabi Muhammad <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>).</p>
<p>Ayatullah Al-Udhmaa Ar-Ruhani –semoga Allah mengembalikannya kepada kebenaran– pernah ditanya sebagai berikut,</p>
<p class="arab">هل تعتقدون أن علياً كرم الله وجهه أفضل من الأنبياء؟</p>
<p>“Apakah engkau meyakini bahwasannya Ali <em>karamallaahu wajhah</em> lebih utama daripada para Nabi?”</p>
<p>Ia (Ar-Ruhani) menjawab,</p>
<p class="arab">اسمه جلت اسمائه</p>
<p>هذا من الامور القطعية الواضحة</p>
<p>“Dengan menyebut nama-Nya yang Maha Agung,…. Ini termasuk perkara-perkara yang pasti lagi jelas (yaitu Ali lebih utama daripada para Nabi)” (sumber: http://www.alrad.net/hiwar/olama/rohani/r16.htm).<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/imam-lebih-tinggi-kedudukannya-dari.html" target="_blank">[4]</a></p>
<p>Bahkan seandainya seluruh Nabi berkumpul, niscaya mereka tidak akan mampu berkhutbah menandingi khutbah Ali <em>radhiallaahu ‘anhu</em>. Ini dikatakan oleh salah seorang ulama Syiah yang sangat tersohor Sayyid Kamal Al-Haidari:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/Rhyc343o_ZI?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Dasar riwayatnya (bahwa Ali lebih utama dibandingkan para Nabi, selain Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) tertulis di video ini:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/062TvOdtfQI?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Bukankah ini merupakan penghinaan terhadap para Nabi dan para rasul? Apakah mereka sama sekali tidak menganggap firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ</p>
<p>“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.” (QS. Al-Baqarah: 253)?</p>
<p>Pelampauan keutamaan sebagian Rasul (termasuk Nabi) hanya dilakukan oleh sebagian (Rasul) yang lain. Allah tidak mengatakan bahwa pelampauan itu dilakukan oleh orang yang bukan Nabi atau Rasul.</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ajaran syiah dan mut’ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a href="http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Ajaran Syiah (1)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 02:31:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9781</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat Ajaran Syiah Kasus pertikaian antara kelompok Sunni (Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah) dan Syiah di Kabupaten Sampang, Madura, menjadi topik pembicaraan hangat tingkat nasional beberapa hari ini. Para tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan kedua kelompok pun diundang ke stasiun-stasiun TV nasional sebagai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hakikat Ajaran Syiah</h2>
<p>Kasus pertikaian antara kelompok Sunni (Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah) dan Syiah di Kabupaten Sampang, Madura, menjadi topik pembicaraan hangat tingkat nasional beberapa hari ini. Para tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan kedua kelompok pun diundang ke stasiun-stasiun TV nasional sebagai narasumber. Rakyat dari berbagai kalangan pun turut memperhatikan berita ini, sebagian mereka berselancar di dunia maya bertanya kepada &#8220;mbah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/google" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with google">google</a>&#8221; untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan.<br />
<span id="more-9781"></span><br />
Namun bagi beberapa kalangan informasi itu masih terasa bias dan sulit ditangkap, siapa sebenarnya pihak yang salah. Apakah <strong>ajaran Syiah</strong> benar-benar menyimpang? Lalu sejauh mana penyimpangannya? Ataukah Syiah hanya sekedar sebagai mahdzab alternatif dari empat mahdzab yang terkenal di kalangan Sunni.</p>
<p>Kali ini Konsultasi Syariah sengaja mengangkat tema yang panas ini, tetapi bukan untuk disikapi dengan emosional apalagi anarkis, hal ini semata-mata agar pembaca dapat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> sikap dan menilai sendiri. Kami berusaha mengangkat tema ini sebagai salah satu rujukan bagi pembaca sekalian di antara simpang siurnya informasi yang beredar di media nasional tentang hakikat ajaran Syiah. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk berbuat adil dan menyampaikan fakta-fakta yang ada tanpa rekayasa atau sentimen sektarian. Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>Ajaran Syiah merupakan ajaran yang sangat tua sekali umurnya. Ajaran ini telah muncul di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Namun cukup mengherankan, data-data mengenai ajaran Syiah sangat sulit diperoleh oleh sebagian pihak karena sifatnya yang tertutup. Kita sangat jarang menemui buku-buku induk ajaran Syiah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar dapat ditelaah oleh orang awam sekali pun. Demikian juga tokoh-tokoh Syiah di negeri ini, mereka lebih senang menyebarkan paham Syiah mereka dengan bertamengkan Ahlussunnah wal Jamaah, agar mudah diterima. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> sebenarnya akidah dari kelompok ini, sampai sebegitu tertutupnya mereka. Berikut ini akidah-akidah Syiah:</p>
<p>1.     Orang Syiah Rafidhah mengatakan Alquran yang ada di tangan kaum muslimin (baca: Ahlussunnah) berbeda dengan Alquran versi <em>ahlul bait</em>.<br />
Muhammad bin Murtadha Al-Kasyi –seseorang yang dianggap berilmu dan ahli hadis dari kalangan Syiah- mengatakan,</p>
<p class="arab">لم يبق لنا اعتماد على شيء من القران. اذ على هذا يحتمل كل اية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يقب لنا في القران حجة أصلا فتنتفى فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به</p>
<p>“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang pada satu ayat pun dari Alquran. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Alquran satu ayat pun sebagai argumentasi. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengan Alquran ….” (<em>Tafsir Ash-Shaafi</em>, 1:33)</p>
<p>Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini –seorang yang dianggap ahli hadis dari kalangan Syiah– (w. 328/329 H) mengatakan,</p>
<p class="arab">عن أبي بصير عن أبي عبد الله عليه السلام قال : وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ</p>
<p>Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah <em>‘alaihissalam</em> ia berkata, “Sesungguhnya pada kami terdapat Mushhaf Fathimah <em>‘alaihassalam</em>. Dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushaf Fathimah.” Aku berkata, “Apakah itu Mushhaf Fathimah?” Abu Abdillah menjawab, “Mushhaf Fathimah itu, tiga kali lebih besar daripada Alquran kalian. Demi Allah, tidak ada di dalamnya satu huruf pun dari Alquran kalian.” Aku berkata, “Demi Allah, ini adalah ilmu.” (<em>Al-Kaafi</em>, 1:239).</p>
<p class="arab">عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جَبْرَئِيلُ ( عليه السلام ) إِلَى مُحَمَّدٍ ( صلى الله عليه وآله ) سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفَ آيَةٍ</p>
<p>Dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah <em>‘alaihissalam</em> ia berkata, “Sesungguhnya Alquran yang diturunkan melalui perantaraan Jibril <em>‘alaihissalam</em> kepada Muhammad <em>shallallaahu</em> <em>‘alaihi wa aalihi wa sallam</em> terdiri dari 17.000 (tujuh belas ribu) ayat.” (<em>Al-Kaafi</em>, 2:634). Maksudnya teks Alquran sekarang banyak ayat-ayat yang dihapus oleh para sahabat, sehingga jumlah ayatnya hanya 6000an.</p>
<p>Muhammad Baqir Taqi bin Maqshud Al-Majlisi (w. 1111 H) ketika mengomentari hadis di atas,</p>
<p class="arab">موثق، وفي بعض النسخ عن هشام بن سالم موضع هارون ابن سالم، فالخبر صحيح ولا يخفى أن هذا الخبر وكثير من الأخبار في هذا الباب متواترة معنى، وطرح جميعها يوجب رفع الاعتماد عن الأخبار رأسا، بل ظني أن الأخبار في هذا الباب لا يقصر عن أخبار الامامة فكيف يثبتونها بالخبر ؟</p>
<p>”Shahih. Dalam sebagian naskah tertulis, ”Dari Hisyaam bin Salim” pada tempat rawi yang bernama Harun bin Saalim. Maka kabar/riwayat ini shahih dan tidak tersembunyi lagi bahwasannya riwayat ini dan banyak lagi yang lainnya dalam bab ini telah mencapai derajat mutawatir secara makna. Menolak keseluruhan riwayat ini (yang berbicara tentang perubahan Alquran) berkonsekuensi menolak semua riwayat (yang berasal dari <em>ahlul bait</em>). Aku kira, riwayat-riwayat dalam bab ini tidaklah lebih sedikit dibandingkan riwayat-riwayat tentang imamah. Nah, bagaimana masalah imamah itu bisa ditetapkan melalui riwayat? (<em>Mir&#8217;atu Al-‘Uquul fii Syarhi Akhbari Alir-Rasul</em>, 12:525).</p>
<p>Kemudian,…. inilah hal yang membuktikan validitas keyakinan Syiah bahwasanya Alquran sekarang telah berubah:</p>
<p><iframe width="500" height="281" src="http://www.youtube.com/embed/ovfz3xnsjJ0?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Di atas adalah perkataan Dr. Al-Qazwini, salah seorang ulama kontemporer Syiah yang cukup terkenal. Menurutnya firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab">إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)</em>.” (QS. Ali &#8216;Imran: 33).<br />
Menurutnya, yang benar adalah</p>
<p class="arab">إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ وَآلَ مُحَمَّدٍ عَلَى الْعَالَمِينَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, <strong>dan keluarga Muhammad</strong> melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)</em>.”<br />
Tambahan kalimat keluarga Muhammad ini dihilangkan oleh para sahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> –(dan ini adalah kedustaan yang sangat nyata!!).<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/aqidah-syiah-tentang-al-quran.html" target="_blank">[1]</a></p>
<p>Lantas mau dikemanakan firman Allah Ta’ala,</p>
<p class="arab">إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur&#8217;an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya</em>.” (QS. Al-Hijr: 9) ?</p>
<p>2.     Orang Syiah Rafidhah telah mengafirkan para sahabat, terutama Abu Bakr Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khaththab <em>radhiallahu ‘anhuma</em>.<br />
Orang Syiah telah mendoakan laknat atas Abu Bakr dan Umar <em>radhiallahu ‘anhuma</em> – yang naasnya, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> itu dinisbatkan secara dusta kepada ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu ‘anhu</em><a rel="nofollow" href="http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-aqaed/sh-ehqaq-01/12.htm" target="_blank">[2]</a> – sebagai berikut,</p>
<p class="arab">اللهم صل على محمد، وآل محمد، اللهم العن صنمي قريش، وجبتيهما، وطاغوتيهما، وإفكيهما، وابنتيهما، اللذين خالفا أمرك، وأنكروا وحيك، وجحدوا إنعامك، وعصيا رسولك، وقلبا دينك، وحرّفا كتابك&#8230;..</p>
<p>“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, laknat bagi dua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar <em>pen.</em>), Jibt dan Thaghut, kawan-kawan, serta putra-putri mereka berdua. Mereka berdua telah membangkang perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, menolak kenikmatan-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, menjungkir-balikkan agama-Mu, merubah kitab-Mu…..dst.”</p>
<p>Saksikan video berikut, bagaimana ulama Syiah, Yasir Habiib, melaknat Abu Bakr, Umar, dan para shahabat lain <em>radhiallahu ‘anhum</em> dalam shalatnya:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/DAVSplUX3hw?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Dan mari kita lihat sumber ajaran Syiah dalam kitab mereka yang mengafirkan para sahabat,</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ ( صلى الله عليه وآله ) إِلَّا ثَلَاثَةً فَقُلْتُ وَ مَنِ الثَّلَاثَةُ فَقَالَ الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَ أَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ وَ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ عَلَيْهِمْ</p>
<p>Dari Abu Ja’far <em>‘alaihis-salam</em>, ia berkata, “Orang-orang (yaitu para shahabat <em>pen.</em>) menjadi murtad sepeninggal Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> kecuali tiga orang.” Aku (perawi) berkata, “Siapakah tiga orang tersebut?” Abu Ja’far menjawab, “Al-Miqdad, Abu Dzar Al-Ghiffari, dan Salman Al-Farisiy <em>rahimahullah wa barakatuhu ‘alaihim</em>&#8230;” (<em>Al-Kaafi</em>, 8:245; Al-Majlisi berkata, “hasan atau muwatstsaq”).</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي عبد الله عليه السلام قال: &#8230;&#8230;.والله هلكوا إلا ثلاثة نفر: سلمان الفارسي، وأبو ذر، والمقداد ولحقهم عمار، وأبو ساسان الانصاري، وحذيفة، وأبو عمرة فصاروا سبعة</p>
<p>Dari Abu Abdillah <em>‘alaihissalam</em>, ia berkata, “…….Demi Allah, mereka (para sahabat) telah binasa kecuali tiga orang: Salman Al-Farisiy, Abu Dzar, dan Al-Miqdad. Dan kemudian menyusul mereka ‘Ammar, Abu Sasan, Hudzaifah, dan Abu Amarah sehingga jumlah mereka menjadi tujuh orang.” (<em>Al-Ikhtishash oleh Al-Mufiid</em>, Hal.5, lihat: http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/ekhtesas/a1.html).</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَحَدِهِمَا عليهما السلامقَالَ إِنَّ أَهْلَ مَكَّةَ لَيَكْفُرُونَ بِاللَّهِ جَهْرَةً وَ إِنَّ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَخْبَثُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ أَخْبَثُ مِنْهُمْ سَبْعِينَ ضِعْفاً .</p>
<p>Dari Abu Bashir, dari salah seorang dari dua imam <em>‘alaihimassalam</em>, ia berkata, “Sesungguhnya penduduk Mekah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> kepada Allah secara terang-terangan. Dan penduduk Madinah lebih busuk/jelek daripada penduduk Mekah 70 kali.” (<em>Al-Kaafi</em>, 2:410; Al-Majlisi berkata : Muwatstsaq).</p>
<p>Riwayat yang semacam ini banyak tersebar di buku-buku Syiah.<br />
Dimanakah posisi firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar</em>” (QS. At-Taubah: 100).</p>
<p class="arab">مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا</p>
<p>“<em>Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar</em>.” (QS. Al-Fath: 29)?</p>
<p>bersambung&#8230;</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ajaran syiah dan mut’ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" target="_blank">Kisah Nikah Mut&#8217;ah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela Ajaran Syiah</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Nikah Mut&#8217;ah (Sebuah Ironi)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 08:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9768</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Nikah Mut’ah Nikah mut’ah adalah pernikahan tanpa batas dengan menerabas aturan-aturan syariat yang suci, mut&#8217;ah ini telah melahirkan banyak kisah pilu. Tidak jarang pernikahan ini menghimpun antara anak dan ibunya, antara seorang wanita dengan saudaranya, dan antara seorang wanita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kisah Nikah Mut’ah</h2>
<p><strong>Nikah mut’ah</strong> adalah pernikahan tanpa batas dengan menerabas aturan-aturan syariat yang suci, mut&#8217;ah ini telah melahirkan banyak kisah pilu. Tidak jarang pernikahan ini menghimpun antara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> dan ibunya, antara seorang wanita dengan saudaranya, dan antara seorang wanita dengan bibinya, sementara dia tidak menyadarinya. Di antaranya adalah apa yang dikisahkan Sayyid Husain Al Musawi. Ia menceritakan,<br />
<span id="more-9768"></span><br />
<strong>Kisah pertama:</strong><br />
Seorang perempuan datang kepada saya menanyakan tentang peristiwa yang terjadi terhadap dirinya. Dia menceritakan bahwa seorang tokoh, yaitu Sayid Husain Shadr pernah nikah mut’ah dengannya dua puluh tahun yang lalu, lalu dia hamil dari pernikahan tersebut. Setelah puas, dia menceraikan saya. Setelah berlalu beberapa waktu saya dikarunia seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa dia hamil dari hasil hubungannya dengan Sayid Shadr, karena pada saat itu tidak ada yang nikah mut’ah dengannya kecuali Sayid Shadr.</p>
<p>Setelah anak perempuan saya dewasa, dia menjadi seorang gadis yang cantik dan siap untuk nikah. Namun sang ibu mendapati bahwa anaknya itu telah hamil. Ketika ditanyakan tentang kehamilannya, dia mengabarkan bahwa Sayid Shadr telah melakukan mut’ah dengannya dan dia hamil akibat mut’ah tersebut. Sang ibu tercengang dan hilang kendali dirinya lalu mengabarkan kepada anaknya bahwa Sayid Shadr adalah ayahnya. Lalu dia menceritakan selengkapnya mengenai pernikahannya (ibu wanita) dengan Sayid Shadr dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> bisa hari ini Sayid Shadr menikah dengan anaknya dan anak Sayid Shadr juga?!</p>
<p>Kemudian dia datang kepadaku menjelaskan tentang sikap tokoh tersebut terhadap dirinya dan anak yang lahir darinya. Sesungguhnya kejadian seperti ini sering terjadi. Salah seorang dari mereka melakukan mut’ah dengan seorang gadis, yang di kemudian hari diketahui bahwa dia itu adalah saudarinya dari hasil nikah mut’ah. Sebagaimana mereka juga ada yang melakukan nikah mut’ah dengan istri bapaknya.</p>
<p>Di Iran, kejadian seperti ini tak terhitung jumlahnya. Kami membandingkan kejadian ini dengan firman Allah Ta’ala, “<em>Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya sehingga Allah mampukan mereka dengan karunia-Nya.</em>” (QS. An-Nur:33)</p>
<p>Kalaulah mut’ah dihalalkan, niscaya Allah tidak akan memerintahkan untuk menjaga kesucian dan menunggu sampai tiba waktu dimudahkan baginya untuk urusan pernikahan, tetapi Dia akan menganjurkan untuk melakukan mut’ah demi memenuhi kebutuhan biologisnya daripada terus-menerus diliputi dan dibakar oleh api syahwat.</p>
<p><strong>Kisah kedua:</strong><br />
Suatu waktu saya duduk bersama Imam Al-Khaui di kantornya. Tiba-tiba masuk dua orang laki-laki menemui kami, mereka memperdebatkan suatu masalah. Keduanya bersepakat untuk menanyakannya kepada Imam Al Khaui untuk mendapatkan jawaban darinya.</p>
<p>Salah seorang di antara mereka bertanya, “Wahai sayid, apa pendapatmu tentang mut’ah, apakah ia halal atau haram?”<br />
Imam Al Khaui melihat lagaknya, ia menangkap sesuatu dari pertanyaannya, kemudian dia berkata kepadanya, “Dimana kamu tinggal?” maka dia menjawab, “Saya tinggal di Mosul, kemudian tinggal di Najaf semenjak sebulan yang lalu.”</p>
<p>Imam berkata kepadanya, “Kalau demikian berarti Anda adalah seorang Sunni?”</p>
<p>Pemuda itu menjawab, “Ya!”</p>
<p>Imam berkata, “Mut’ah menurut kami adalah halal, tetapi haram menurut kalian.”</p>
<p>Maka pemuda itu berkata kepadanya, “Saya di sini semenjak dua bulan yang lalu merasa kesepian, maka nikahkanlah saya dengan anak perempuanmu dengan cara mut’ah sebelum saya kembali kepada keluargaku.”</p>
<p>Maka sang imam membelalakkan matanya sejenak, kemudian berkata kepadanya, “Saya adalah pembesar, dan hal itu haram atas para pembesar, namun halal bagi kalangan awam dari orang-orang Syiah.”</p>
<p>Si pemuda menatap Al Khaui sambil tersenyum. Pandangannya mengisyaratkan akan pengetahuannya bahwa Al Khaui sedang mengamalkan taqiyah (berbohong untuk membela diri).</p>
<p>Kedua pemuda itu pun berdiri dan pergi. Saya meminta izin kepada Imam Al Khaui untuk keluar. Saya menyusul kedua pemuda tadi. Saya mengetahu bahwa penanya adalah seorang Sunni dan sahabatnya adalah seorang Syi’i (pengikut Syiah). Keduanya berselisih pendapat tentang nikah mut’ah, apakah ia halal atau haram? Keduanya bersepakat untuk menanyakan kepada rujukan agama, yaitu Imam Al Khaui. Ketika saya berbicara dengan kedua pemuda tadi, pemuda yang berpaham Syiah berontak sambil mengatakan, “Wahai orang-orang durhaka, kamu sekalian membolehkan nikah mut’ah kepada anak-anak perempuan kami, dan mengabarkan bahwa hal itu halal, dan dengan itu kalian mendekatkan diri kepada Allah, namun kalian mengharamkan kami untuk nikah mut’ah dengan anak-anak perempuan kalian?”</p>
<p>Maka dia mulai memaki dan mencaci serta bersumpah untuk pindah kepada madzhab <em>ahlussunnah</em>, maka saya pun mulai menenangkannya, kemudian saya bersumpah bahwa nikah mut’ah itu haram kemudian saya menjelaskan tentang dalil-dalilnya.</p>
<p>Sumber: Al Musawi, Sayid Husain. 2008. Mengapa Saya keluar dari Syiah. Pustaka Al Kautsar, Jakarta.</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait syiah dan mut&#8217;ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela Syiah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut&#8217;ah</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dampak Negatif Nikah Mut&#8217;ah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 09:09:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9762</guid>
		<description><![CDATA[Dampak Negatif Nikah Mut&#8217;ah dalam Syiah Dalam artikel sebelumnya telah kami paparkan mengenai legalitas nikah mut&#8217;ah dalam ajaran Syiah. Syiah berpendapat bahwa hal itu sah menurut syariat dan mendapatkan pahala yang agung di sisi Allah. Hakikatnya, agama Islam adalah agama ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Dampak Negatif Nikah Mut&#8217;ah dalam Syiah</h2>
<p>Dalam artikel sebelumnya telah kami paparkan mengenai legalitas <strong>nikah mut&#8217;ah</strong> dalam ajaran <strong>Syiah</strong>. <span style="text-decoration: underline;">Syiah</span> berpendapat bahwa hal itu sah menurut syariat dan mendapatkan pahala yang agung di sisi Allah. Hakikatnya, agama Islam adalah agama yang sesuai dengan akal manusia yang fitrah, menjunjung tinggi kehormatan dan kesucian, bukanlah agama yang mengedepankan nafsu syahwat dan hasrat-hasrat yang tabu. Islam melarang segala sesuatu yang murni menimbulkan kemudharatan dan sesuatu yang mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya. Di antara hal-hal yang menimbulkan kemudhratan tersebut adalah nikah mut&#8217;ah. Kemudharatan tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1.</strong> Menyalahi nash-nash syariat karena menghalalkan apa yang Allah haramkan.</p>
<p><strong>2. </strong>Riwayat-riwayat dusta yang bermacam-macam dan penisbatannya kepada para imam, padahal di dalamnya mengandung caci maki yang tidak akan diridhai oleh orang yang dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari keimanan.</p>
<p><strong>3.</strong> Kerusakan yang ditimbulkan dari pembolehan mut’ah dengan wanita yang bersuami, walaupun dia berada di bawah penjagaan seorang laki-laki tanpa diketahui oleh suaminya. Dalam keadaan seperti ini seorang suami tidak akan merasa aman terhadap istrinya, karena bisa jadi si istri nikah mut’ah tanpa sepengetahuan suaminya yang sah ini. Pembolehan ini bisa dirujuk di buku Syiah <em>Al Kafi</em>, Jilid: 5, Hal. 463. Tak dapat dibayangkan, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> pandangan seorang laki-laki dan perasaannya ketika dia mengetahui bahwa istri yang berada di bawah perlindungannya menikah dengan laki-laki lain dengan cara mut’ah (dikontrak <em>pen.</em>). Bagaimana pula keadaan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anak dan keluarga lainnya apabila hal ini terjadi?!</p>
<p><strong>4.</strong> Para bapak juga tidak akan merasa aman terhadap para anak perempuannya yang masih gadis, karena ada kalanya mereka melakukan nikah mut’ah tanpa sepengetahuan bapak-bapak mereka. Sangat mungkin seorang bapak dikagetkan oleh anak gadisnya yang tiba-tiba hamil. Mengapa dia hamil? Bagaimana bisa terjadi? Tidak tahu pula siapa yang menghamili. Atau dia mengetahui anaknya telah menikah dengan seorang laki-laki, tetapi siapakah dia? Dia tidak tahu karena sang suami pergi dan meninggalkannya sebelum berjumpa dengannya karena masa kontrak mut’ah telah berakhir.</p>
<p><strong>5.</strong> Kebanyakan tokoh-tokoh Syiah yang membolehkan mut’ah, membolehkan diri mereka untuk nikah mut’ah dengan orang lain, tetapi jika ada seseorang yang meminang anak perempuannya, atau kerabat perempuannya untuk dinikahi dengan cara mut’ah, niscaya dia tidak akan menyetujui dan meridhainya, karena dia memandang pernikahan seperti ini adalah bentuk perendahan harga diri, jauh dari nilai-nilai kesucian, tidak diterima oleh hati nurani, dan sama saja dengan zina. Ini adalah aib bagi dia, dia menyadari hal itu, sementara dia sendiri mut’ah dengan anak perempuan orang lain. Tidak diragukan lagi dia pasti menolak untuk menikahkan anak perempuannya kepada orang lain dengan cara mut’ah, walau dia membolehkan dirinya sendiri untuk menikahi anak perempuan orang lain dengan cara tersebut.</p>
<p><strong>6. </strong>Dalam pernikahan mut’ah tidak ada saksi, pengumuman, keridhaan wali wanita yang dikhitbah, dan tidak berlaku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> waris di antara suami dan istri, tetapi statusnya hanyalah seorang istri yang dikontrak, sebagaimana pendapat yang dinisbatkan kepada Abu Abdullah. Maka bagaimana mungkin syariat Islam mengajarkan dan mendakwahkan pemeluknya agar melakukan hal ini?!</p>
<p><strong>7.</strong> Pembolehan mut’ah membuka peluang bagi pemuda dan pemudi yang bobrok akhlak dan kepribadiannya untuk semakin tenggelam dalam kubangan dosa, sehingga hal tersebut akan merusak citra agama dan orang-orang yang taat beragama.</p>
<p>Atas dasar semua itu, maka jelaslah bahaya mut’ah dari sisi kehidupan beragama, kemasyarakatan, dan moral. Oleh karena itu, maka mut’ah diharamkan. Kalaulah dalam mut’ah terdapa kemaslahatan, tentu tidak akan diharamkan, tetapi karena mut’ah mengandung bahaya yang sangat banyak, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengharamkannya.</p>
<p>Demikianlah kehidupan masyarakat yang mayoritas penduduknya adalah Syiah. Bagaimana kebobrokan moral terjadi di lingkungan mereka. Meskipun mereka mengembel-embeli diri mereka sebagai komunitas Islam, masyarakat Islam, atau bahkan negara Islam, maka hakikatnya sangat jauh sekali dari ajaran Islam. Dan tentunya kita menjaga dan saling menasihati kepada kerabat dan teman-teman kita, agar ajaran ini tidak menyebar di bumi pertiwi, sebagai bentuk <em>preventif</em> (pencegahan) terjadinya kerusakan moral bangsa.<br />
Sumber: Al Musawi, Sayid Husain. 2008.<em> Mengapa Saya keluar dari Syiah</em>. Pustaka Al Kautsar, Jakarta.</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait syiah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela Syiah</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut&#8217;ah Menurut Syiah</a>.</p>
<p><strong> </strong><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikah Mut&#8217;ah Menurut Syiah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-ajaran-syiah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-ajaran-syiah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 09:56:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9746</guid>
		<description><![CDATA[Nikah Mut&#8217;ah Menurut Syiah Kita jarang sekali mendengar penjelasan mengenai fikih nikah mut’ah, berbeda dengan ritual pernikahan yang kita kenal selama ini, begitu sering kita dengar dan dapatkan penjelasan fikih mengenai hal itu. Sebagaimana nikah biasa (yang kita kenal) memiliki ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Nikah Mut&#8217;ah Menurut Syiah</h2>
<p>Kita jarang sekali mendengar penjelasan mengenai fikih nikah mut’ah, berbeda dengan ritual pernikahan yang kita kenal selama ini, begitu sering kita dengar dan dapatkan penjelasan fikih mengenai hal itu.  Sebagaimana nikah biasa (yang kita kenal) memiliki ketentuan dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> fikih, nikah mut’ah juga memiliki ketentuan-ketentuan yang dijelaskan oleh imam yang diyakini maksum (terjaga dari dosa <em>ed.</em>) oleh <span style="text-decoration: underline;">Syiah</span>. Berikut kutipan keterangan tentang <strong>nikah mut&#8217;ah</strong> yang tersebar di buku-buku <strong>Syiah</strong>.</p>
<h2>Tidak Ada Batasan Jumlah Istri Dalam Nikah Mut&#8217;ah</h2>
<p>Dari Abubakar bin Muhammad Al Azdi dia berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Abu Hasan tentang mut&#8217;ah, apakah termasuk dalam pernikahan yang membatasi empat istri?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Tidak.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5 Hal. 451).</p>
<p>Wanita yang dinikahi secara mut&#8217;ah adalah wanita sewaan, jadi diperbolehkan nikah mut&#8217;ah walaupun dengan 1000 wanita sekaligus, karena akad mut&#8217;ah bukanlah pernikahan. Jika memang pernikahan maka dibatasi hanya dengan empat istri.</p>
<p>Dari Zurarah dari Ayahnya dari Abu Abdullah, &#8220;Aku bertanya tentang mut&#8217;ah pada beliau apakah merupakan bagian dari pernikahan yang membatasi 4 istri?&#8221; Jawabnya, &#8220;Menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut&#8217;ah adalah wanita sewaan.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid: 5, Hal. 452).</p>
<p>Begitulah wanita bagi imam maksum Syiah, wanita adalah barang sewaan yang dapat disewa lalu dikembalikan lagi tanpa ada tanggungan apa pun. Tidak ada bedanya dengan mobil yang setelah disewa dapat dikembalikan. Alangkah malangnya kaum wanita jika demikian. Sudah saatnya pada zaman emansipasi ini wanita menolak untuk dijadikan sewaan, namun kita masih heran, mengapa masih ada mazhab yang menganggap wanita sebagai barang sewaan.</p>
<h2>Syarat Utama Nikah Mut&#8217;ah</h2>
<p>Dalam nikah mut&#8217;ah yang terpenting adalah waktu (masa pernikahan) dan mahar. Jika keduanya telah disebutkan ketika akad, maka sahlah akad nikah mut&#8217;ah laki-laki dan perempuan yang akan mut&#8217;ah ini. Karena seperti yang akan dijelaskan kemudian bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hubungan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hubungan">hubungan</a> pernikahan mut&#8217;ah berakhir dengan selesainya waktu yang disepakati. Jika pernikahan ini tidak memiliki tenggat waktu yang harus disepakati, maka nikah mut&#8217;ah tidak memiliki perbedaan dengan pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam.</p>
<p>Dari Zurarah bahwa Abu Abdullah berkata, &#8220;Nikah mut&#8217;ah tidaklah sah kecuali dengan menyertakan 2 perkara; waktu tertentu dan bayaran tertentu.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.455). Sama seperti barang sewaan, misalnya mobil. Jika kita menyewa mobil harus ada dua kesepakatan dengan si pemilik mobil, berapa harga sewa dan berapa lama kita ingin menyewa.</p>
<h3>Batas Minimal Mahar Mut&#8217;ah</h3>
<p>Telah disebutkan bahwa rukun akad mut&#8217;ah adalah adanya kesepakatan atas waktu dan mahar. Berapa batas minimal mahar nikah mut&#8217;ah?<br />
Dari Abu Bashir dia berkata, &#8220;Aku bertanya pada Abu Abdullah tentang batas minimal mahar mut&#8217;ah, lalu beliau menjawab bahwa minimal mahar mut&#8217;ah adalah segenggam makanan, tepung, gandum, atau kurma.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal. 457).</p>
<p>Semua tergantung kesepakatan antara dua belah pihak. Sangat cocok bagi mereka yang berkantong terbatas, bisa memberikan mahar dengan mentraktir makan siang di McDonald, KFC, atau nasi uduk pun jadi.</p>
<h3>Tidak Ada Talak Dalam Mut&#8217;ah</h3>
<p>Dalam nikah mut&#8217;ah tidak dikenal istilah talak (cerai), karena demikianlah nikah mut&#8217;ah yang merupakan pernikahan yang tidak lazim dalam Islam. Jika hubungan pernikahan yang lazim dilakukan dalam Islam pernikahan berakhir dengan beberapa hal dan salah satunya adalah talak. Adapun nikah mut&#8217;ah, hubungan pernikahan selesai dengan berlalunya waktu yang telah disepakati bersama. Seperti yang diterangkan dalam riwayat di atas, kesepakatan atas jangka waktu mut&#8217;ah adalah salah satu rukun/elemen penting dalam mut&#8217;ah selain kesepakatan atas mahar.</p>
<p>Dari Zurarah, dia mengatakan, &#8220;Masa iddah bagi wanita yang mut&#8217;ah adalah 45 hari. Seakan saya melihat Abu Abdullah menunjukkan tangannya tanda 45. Jika selesai waktu yang disepakati, maka mereka berdua terpisah tanpa adanya talak.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal. 458).</p>
<h3>Jangka Waktu Minimal Mut&#8217;ah</h3>
<p>Dalam nikah mut&#8217;ah tidak ada batas minimal mengenai kesepakatan waktu berlangsungnya mut&#8217;ah. Jadi boleh saja nikah mut&#8217;ah dalam jangka waktu satu hari, satu minggu, satu bulan, bahkan untuk sekali hubungan suami istri.</p>
<p>Dari Khalaf bin Hammad, dia berkata, &#8220;Aku mengutus seseorang untuk bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mut&#8217;ah. Apakah diperbolehkan mut&#8217;ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan suami istri?&#8221; Jawabnya, &#8220;Ya (boleh <em>ed.</em>). (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.460).</p>
<p>Orang yang melakukan nikah mut&#8217;ah diperbolehkan melakukan apa saja layaknya suami istri dalam pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam, sampai habis waktu yang disepakati. Jika waktu yang disepakati telah habis, mereka berdua tidak menjadi suami istri lagi, dan kembali ke hukum semula yang haram dipandang, disentuh, dan lain sebagainya. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> jika terjadi kesepakatan mut&#8217;ah atas sekali hubungan suami istri? Padahal setelah berhubungan layaknya suami istri mereka sudah bukan suami istri lagi, yang mana berlaku hukum hubungan pria wanita yang bukan mahram? Tentunya diperlukan waktu untuk berbenah dan mengenakan pakaian sebelum keduanya pergi.</p>
<p>Dari Abu Abdillah, ditanya tentang orang nikah mut&#8217;ah dengan jangka waktu sekali hubungan suami istri. Jawabnya, &#8220;Tidak mengapa, tetapi jika selesai berhubungan hendaknya memalingkan wajahnya dan tidak melihat pasangannya.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.460</p>
<h3>Nikah Mut&#8217;ah Berkali-kali Tanpa Batas</h3>
<p>Diperbolehkan nikah mut&#8217;ah dengan seorang wanita berkali-kali tanpa batas, tidak seperti pernikahan yang lazim, yang mana jika seorang wanita telah ditalak tiga maka harus menikah dengan laki-laki lain dulu sebelum dibolehkan menikah kembali dengan suami pertama. Hal ini seperti diterangkan oleh Abu Ja&#8217;far, Imam Syiah yang ke empat, karena wanita mut&#8217;ah bukannya istri, tapi wanita sewaan. Sebagaimana barang sewaan, orang dibolehkan menyewa sesuatu dan mengembalikannya lalu menyewa lagi dan mengembalikannya berulang kali tanpa batas.</p>
<p>Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja&#8217;far, &#8220;Seorang laki-laki nikah mut&#8217;ah dengan seorang wanita dan habis masa mut&#8217;ahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut&#8217;ahnya, lalu nikah mut&#8217;ah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut&#8217;ahnya tiga kali dan nikah mut&#8217;ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama?&#8221; Jawab Abu Ja&#8217;far, &#8220;Ya dibolehkan menikah mut&#8217;ah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut&#8217;ah adalah wanita sewaan, seperti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a> sahaya.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.460)</p>
<h3>Wanita Mut&#8217;ah Diberi Mahar Sesuai Jumlah Hari yang Disepakati</h3>
<p>Wanita yang dinikah mut&#8217;ah mendapatkan bagian maharnya sesuai dengan hari yang disepakati. Jika ternyata wanita itu pergi maka boleh menahan maharnya.</p>
<p>Dari Umar bin Handhalah dia bertanya pada Abu Abdullah, &#8220;Aku nikah mut&#8217;ah dengan seorang wanita selama sebulan lalu aku tidak memberinya sebagian dari mahar.&#8221; Jawabnya, &#8220;Ya, ambillah mahar bagian yang dia tidak datang, jika setengah bulan maka ambillah setengah mahar, jika sepertiga bulan maka ambillah sepertiga maharnya.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.452).</p>
<p>Bayaran harus sesuai dengan hari yang disepakati, supaya tidak ada “kerugian” yang menimpa pihak penyewa.</p>
<p>Jika ternyata wanita yang dimut&#8217;ah telah bersuami ataupun seorang pelacur, maka mut&#8217;ah tidak batal.</p>
<p>Jika seorang pria hendak melamar seorang wanita untuk menikah mut&#8217;ah dan bertanya tentang statusnya, maka harus percaya pada pengakuan wanita itu. Jika ternyata wanita itu berbohong, dengan mengatakan bahwa dia adalah gadis tapi ternyata telah bersuami maka menjadi tanggung jawab wanita tadi.</p>
<p>Dari Aban bin Taghlab berkata, &#8220;Aku bertanya pada Abu Abdullah, aku sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan aku takut jangan-jangan dia telah bersuami atau barangkali dia adalah pelacur.&#8221; Jawabnya, &#8220;Ini bukan urusanmu, percayalah pada pengakuannya.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.462).</p>
<p>Ayatollah Ali Al Sistani mengatakan: Masalah 260: &#8220;Dianjurkan nikah mut&#8217;ah dengan wanita beriman yang baik-baik dan bertanya tentang statusnya, apakah dia bersuami ataukah tidak. Tapi setelah menikah maka tidak dianjurkan bertanya tentang statusnya. Mengetahui status seorang wanita dalam nikah mut&#8217;ah bukanlah syarat sahnya nikah mut&#8217;ah.&#8221; (<em>Minhajushalihin</em>, Jilid:3, Hal.82).</p>
<p>So, tidak usah membuang waktu dengan bertanya, langsung tawar dan bayar</p>
<h3>Nikah Mut&#8217;ah dengan Gadis</h3>
<p>Dari Ziyad bin Abil Halal berkata, &#8220;Aku mendengar Abu Abdullah berkata, &#8216;Tidak mengapa bermut&#8217;ah dengan seorang gadis selama tidak menggaulinya di qubulnya, supaya tidak mendatangkan aib bagi keluarganya&#8217;.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.462).</p>
<h3>Nikah Mut&#8217;ah dengan Pelacur</h3>
<p>Diperbolehkan nikah mut&#8217;ah walaupun dengan wanita pelacur. Sedangkan kita telah mengetahui di atas bahwa wanita yang dinikah mut&#8217;ah adalah wanita sewaan. Jika boleh menyewa wanita baik-baik tentunya diperbolehkan juga menyewa wanita yang memang pekerjaannya adalah menyewakan dirinya.</p>
<p>Ayatollah Udhma Ali Al Sistani mengatakan: Masalah 261: &#8220;Diperbolehkan menikah mut&#8217;ah dengan pelacur walaupun tidak dianjurkan, ya jika wanita itu dikenal sebagai pezina maka sebaiknya tidak menikah mut&#8217;ah dengan wanita itu sampai dia bertaubat.&#8221; (<em>Minhajushalihin</em>, Jilid:3, Hal.8)</p>
<h3>Pahala yang Dijanjikan Bagi Nikah Mut&#8217;ah</h3>
<p>Dari Sholeh bin Uqbah, dari ayahnya, aku bertanya pada Abu Abdullah, &#8220;Apakah orang yang bermut&#8217;ah mendapat pahala?&#8221; Jawabnya, &#8220;Jika karena mengharap pahala Allah dan tidak menyelisihi wanita itu, maka setiap lelaki yang mut&#8217;ah berbicara pada perempuan mut&#8217;ah pasti Allah menuliskan kebaikan sebagai balasannya. Setiap dia mengulurkan tangannya pada wanita itu, pasti diberi pahala sebagai balasannya. Jika menggaulinya, pasti Allah mengampuni sebuah dosa sebagai balasannya. Jika dia mandi, maka Allah akan mengampuni dosanya sebanyak jumlah rambut yang dilewati oleh air ketika sedang mandi.&#8221; Aku bertanya, &#8220;Sebanyak jumlah rambut?&#8221; Jawabnya, &#8220;Ya, sebanyak jumlah rambut.&#8221; (<em>Man La yahdhuruhul faqih</em>, Jilid:3, Hal. 464)</p>
<p>Abu Ja&#8217;far berkata &#8220;Ketika Nabi sedang <em>isra&#8217;</em> ke langit Nabi mengatakan, &#8216;Jibril menyusulku dan berkata, &#8216;Wahai Muhammad, Allah berfirman, &#8216;Sungguh Aku telah mengampuni wanita ummatmu yang mut&#8217;ah&#8217;.&#8221; (<em>Man La Yahdhuruhul Faqih</em>, Jilid:3, Hal.464)</p>
<h3>Hubungan Warisan</h3>
<p>Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunya menuliskan: Masalah 255: &#8220;Nikah mut&#8217;ah tidak mengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berdua sepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampai mengabaikan asas hati-hati dalam hal ini.&#8221; (<em>Minhajushalihin</em>, Jilid:3, Hal.80).</p>
<h3>Nafkah</h3>
<p>Wanita yang dinikah mut&#8217;ah tidak berhak mendapatkan nafkah dari suami.<br />
Masalah 256: &#8220;Laki-laki yang nikah mut&#8217;ah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istri mut&#8217;ahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap di tempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mut&#8217;ah atau akad lain yang mengikat.&#8221; (<em>Minhajus shalihin</em>, Jilid:3, Hal.80). <strong>[<a rel="nofollow" href="http://hakekat.com/" target="_blank">Hakekat.com</a>] </strong></p>
<p>Begitulah gambaran mengenai fikih nikah mut’ah di buku-buku Syiah. Orang yang sadar akan agama akan menilai nikah mut&#8217;ah = pelacuran.</p>
<p>Salah satu praktik nikah mut&#8217;ah di Indonesia, diprakarsai oleh Jalaludi Rahmat (Kang Jalal). Sebagaimana kisah yang tertera pada buku Mengapa Kita Menolak Syi’ah, Hal.254-256 yang bisa Anda rujuk di link berikut ini: <a rel="nofollow" href="http://forum-unand.blogspot.com/2009/09/fakta_06.html" target="_blank">forum-unand.blogspot.com</a></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait syiah:</h3>
<p>1.<a href="http://konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela Syiah</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pictures</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-ajaran-syiah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 06:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9093</guid>
		<description><![CDATA[Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura Pertanyaan: Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari Asyura. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya? Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com) ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari <strong>Asyura</strong>. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya?<br />
Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com)<br />
<span id="more-9093"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Terkait hari asyura, ada dua kelompok yang sesat:</h3>
<p><strong>pertama,</strong> kelompok Syiah. Mereka menjadikan hari asyura sebagai hari berkabung dan bela sungkawa, mengenang kematian sahabat Husain. Mereka lampiaskan kesedihan di hari itu dengan memukul-mukul dan melukai badan sendiri.<br />
<strong>Kedua,</strong> rival dari kelompok Syiah, merekalah An-Nashibah, kelompok yang sangat membenci <em>ahli bait</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Merekalah orang Khawarij, dan kelompok menyimpang dari bani umayah, yang memberontak pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, memproklamirkan menjadi musuh Syiah Rafidhah. Mereka memiliki prinsip <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> sikap yang bertolak belakang dengan Syi’ah.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibn taimiyah mengatakan,<br />
Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang mengkultuskan Husain. Pemimpin mereka adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda,</p>
<p class="arab">سيكون في ثقيف كذاب ومبير</p>
<p><em>“Akan ada seorang pendusta dan seorang perusak dari bani Tsaqif.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Si pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid – gembong Syiah – sedangkan si perusak adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang Syiah menampakkan kesedihan di hari Asyura, sementara orang Khawarij menampakkan kegembiraan. Bid&#8217;ah gembira berasal dari manusia pengekor kebatilan karena benci Husain <em>radliallahu &#8216;anhu,</em> sementara bid&#8217;ah gembira berasal dari pengekor kebatilan karena cinta Husain. Dan semuanya adalah bid&#8217;ah yang sesat. Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab yang menganjurkan untuk mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak ada dalil syar&#8217;i yang menganjurkan melakukan hal tersebut. (<em>Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah</em>, 4/555)</p>
<p>Orang-orang Khawarij, serta mereka yang menjadi rival bagi sikap Syiah, untuk mewujudkan prinsipnya di masyarakat, mereka menyebarkan berbagai macam hadis palsu. Diantaranya adalah hadis yang menyatakan,</p>
<p class="arab">من وسع على نفسه وأهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته</p>
<p><em>“Siapa yang memberi kelonggaran kepada dirinya dan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelonggaran rizki kepadanya sepanjang tahun.”</em></p>
<p>Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;abul Iman</em>, Ibnu Abdil Bar dalam <em>Al-Istidzkar</em>.</p>
<p>Hadis ini diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama. Sebagian menilai <em>hasan li ghairih</em> (berderajat hasan karena beberapa jalur sanad yang saling menguatkan). Ini sebagaimana keterangan As-Sakhawi, dimana beliau menyatakan,<br />
&#8220;Sanad-sanad hadis ini, meskipun semuanya dhaif, hanya saja jika semuanya digabungkan maka akan menjadi kuat.&#8221; (<em>Al-Maqasidul Hasanah</em>, 225)</p>
<p>Keterangan As-Sakhawi ini dikomentari Al-Albani sebagai kesalahpahaman. Al-Albani mengatakan,<br />
&#8220;Ini adalah pendapat Sakhawi, dan saya tidak menganggapnya benar. Karena syarat menguatkan hadis dengan menggunakan banyak jalur adalah tidak adanya perawi yang matruk (ditinggalkan) atau perawi tertuduh. Sementara hal itu tidak ada dalam hadis ini.&#8221; (<em>Tamam Al-Minnah</em>, 410)</p>
<p>Dalam <em>Silsilah Ahadits Ad-Dhaifah</em>, al-Albani menyebutkan berbagai jalur hadis ini dan semuanya tidak lepas dari perawi dhaif.<br />
Kemudian, diantara para ulama yang mendhaifkan hadis ini adalah:</p>
<ol>
<li> Imam Ahmad bin hambal. Salah satu muridnya, yang bernama Harb pernah bertanya kepada beliau tentang hadis memberi kelonggaran kepada keluarga ketika Asyura, kemudian beliau tidak menganggapnya sebagai hadis. Maksud Imam Ahmad, sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Rajab, bahwa tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, 54)</li>
<li>Syaikhul Islam Ibnu taimiyah. Dalam <em>Majmu&#8217;Fatawa</em> beliau menegaskan bahwa hadis ini palsu. (<em>Majmu&#8217; Al-Fatawa</em>, 25/313)</li>
<li>Ibn Rajab al Hambali. Beliau menegaskan dalam <em>Lathaif,</em> “Hadis ini diriwayatkan dari banyak jalur, tidak ada satupun yang shahih.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, 54)</li>
<li>Muhadditsul Ashr, Syaikh Al-Albani. Beliau memasukkan hadis ini dalam <em>Al-Siilsilah Ahadits Dhaifah</em>, no. 6824.</li>
</ol>
<p>Dengan memperhatikan pernyataan para ulama pakar hadis, dapat kita simpulkan bahwa hadis yang menyebutkan keutamaan memberi kelonggaran kepada keluarga pada hari Asyura adalah tidak berdasar. Bahkan Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis tentang anjuran memberi kelapangan bagi keluarga ketika Asyura adalah hadis buatan orang yang membenci Ahlu bait Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, untuk menunjukkan kegembiraan atas wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib <em>radliallahu &#8216;anhuma</em>.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram">Hadis Dhaif Seputar Muharram</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/keutamaan-bulan-muharram">Keutamaan Bulan Muharram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura">Menyantuni Anak Yatim Di Bulan Asyura</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Kematian Imam Husein</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 03:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8946</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan Kematian Imam Husein Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum, Di beberapa negara, pada saat tanggal 10 Muharram ada peringatan tahunan yang dilaksanakan secara masif (dilakukan banyak orang) dengan menampakkan kesedihan. Alasannya, sebagai bentuk rasa belasungkawa atas kematian Imam Husein yang dibunuh pada hari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Peringatan Kematian Imam Husein</h2>
<p><strong>Pertanyaan</strong>:<br />
Assalamu&#8217;alaikum,<br />
Di beberapa negara, pada saat tanggal 10 Muharram ada peringatan tahunan yang dilaksanakan secara masif (dilakukan banyak orang) dengan menampakkan kesedihan. Alasannya, sebagai bentuk rasa belasungkawa atas <strong>kematian Imam Husein</strong> yang dibunuh pada hari itu. Apakah acara semacam ini dibenarkan?<br />
<span id="more-8946"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<a href="http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura">Hari Asyura</a> menggoreskan satu kenangan pahit bagi kaum muslimin. Bagi orang yang memuliakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sahabatnya, dan keluarganya. Di hari Asyura, Allah memuliakan Husein bin Ali bin Abi Thalib dengan syahadah (mati syahid). Beliau dibunuh di tanah Karbala oleh para penghianat dari Irak. Kita anggap ini adalah musibah. <em>Innalillahi wa inna ilaihi raaji&#8217;un</em></p>
<p>Namun sungguh sangat disayangkan, setelah kejadian musibah tersebut, ternyata datang musibah yang jauh lebih besar. Munculnya sikap ekstrim sebagian kaum muslimin dengan motivasi mengagungkan Husein. Mereka menjadikan hari itu sebagai hari berkabung, hari belasungkawa dengan acara besar-besaran. Padahal, sama sekali hal ini tidak pernah dicontohkan para sahabat Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam yang sangat mencintai Husein pun tidak pernah melakukan apa yang telah mereka lakukan hari ini.</p>
<p>Pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, di sebagian negara seperti: Iran, sebagian wilayah Pakistan dan Irak, cahaya dimatikan, orang-orang keluar rumah, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anak memenuhi jalan, mereka meneriakkan: wahai Husein,.wahai Husein…bunyi gendang terdengar di mana-mana. Ada juga yang menusuk dan menyayat tubuhnya dengan pedang. Sebagai bentuk belasungkawa yang mendalam atas kematian Husein. Pada saat yang sama, tokoh mereka berkhutbah menyampaikan kebaikan-kebaikan Husein dan mencela para sahabat lainnya. Mereka mencela Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan.</p>
<p>Sementara itu, ketika tanggal 10 Muharram (hari Asyura), dihidangkan berbagai makanan khusus. Semua orang keluar rumah, berkumpul di satu tempat yang disebut &#8216;tanah suci karbala&#8217;. Di sinilah mereka melampiaskan berbagai bentuk kesyirikan, thawaf mengelilingi kuburan, mencari berkah dengan mengusap-usap berbagai tempat yang mereka anggap suci, sambil mendendangkan lagu dan menabuh rebana.</p>
<p>Agar suasana semakin panas, para tokoh mereka memberikan motivasi yang diambilkan dari hadis dusta, palsu dan buatan pemuka masyarakat.</p>
<p>Merekalah gerombolan Syiah Rafidhah, sekelompok orang yang membangun agama dan keyakinannya berdasarkan kedustaan tokoh dan pemuka Syiah. Orang-orang yang beraqidah sesat. (<em>Al-Bida&#8217; Al-Hailiyah</em>, Hal. 56 – 57). Mereka melakukan suatu ritual memukulkan pedang ke kepala, melukai punggung dengan cambuk besi, dsb. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan esensi ajaran Islam yang sesuai dengan akal sehat, melarang melukai diri, tidak boleh meratapi mayat, dan nilai-nilai humanis (manusiawi) lainnya.</p>
<p>Berbagai rekaman kegiatan mereka tersebar di internet. Anda yang ingin melihat gambar ritual Syiah, bisa mengakses di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/google" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with google">google</a> atau youtube dengan kata kunci: كربلاء.</p>
<p>Semoga Allah menjauhkan dan menyelamatkan kaum muslimin dari pengaruh buruk mereka. Amin</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 02:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8954</guid>
		<description><![CDATA[Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura Pertanyaan: Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari asyura. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini? Dari: Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com) Jawaban: Terdapat sebuah hadis dalam kitab ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menyantuni <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">Anak</a> Yatim di Hari Asyura</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari <strong>asyura</strong>. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini?</p>
<p>Dari: <em>Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8954"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Terdapat sebuah hadis dalam kitab tanbihul ghafilin:</p>
<p class="arab">من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة</p>
<p><em>Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.</em><br />
Hadis ini menjadi motivator utama masyarakat untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Sehingga banyak tersebar di masyarakat anjuran untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Bahkan sampai menjadikan hari Asyura ini sebagai hari istimewa untuk anak yatim.<br />
Namun sayangnya, ternyata hadis di atas statusnya adalah hadis palsu. Dalam jalur sanad hadis ini terdapat seorang perawi yang bernama: Habib bin Abi Habib, Abu Muhammad. Para ulama hadis menyatakan bahwa perawi ini matruk (ditinggalkan). Untuk lebih jelasnya, berikut komentar para ulama kibar dalam hadis tentang Habib bin Abi Habib:<br />
a. Imam Ahmad: Habib bin Abi Habib pernah berdusta<br />
b. Ibnu Ady mengatakan: Habib pernah memalsukan hadis (<em>al-Maudhu&#8217;at</em>, 2/203)<br />
c. Adz Dzahabi mengatakan: “Tertuduh berdusta.” (<em>Talkhis Kitab al-Maudhu&#8217;at</em>, 207).<br />
Karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa hadis ini adalah hadis palsu. Abu Hatim mengatakan: “Ini adalah hadis batil, tidak ada asalnya.” (<em>al-Maudhu&#8217;at</em>, 2/203)</p>
<p>Keterangan di atas sama sekali bukan karena mengaingkari keutamaan menyantuni anak yatim. Bukan karena melarang anda untuk bersikap baik kepada anak yatim. Sama sekali bukan.<br />
Tidak kita pungkiri bahwa menyantuni anak yatim adalah satu amal yang mulia. Bahkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjanjikan dalam sebuah hadis:</p>
<p class="arab">أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِى الْجَنَّةِ , وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى , وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلاً</p>
<p><em>“Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jari" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jari">jari</a> ini ketika di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>.” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau memisahkannya sedikit.&#8221;</em> (HR. Bukhari no. 5304)<br />
Dalam hadis shahih ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hanya menyebutkan keutamaan menyantuni anak yatim secara umum, tanpa beliau sebutkan waktu khusus. Artinya, keutamaan menyantuni anak yatim berlaku kapan saja. Sementara kita tidak boleh meyakini adanya waktu khusus untuk ibadah tertentu tanpa dalil yang shahih.<br />
Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah &#8216;batasan tata cara ibadah&#8217; yang penting untuk kita ketahui:</p>
<p class="arab">كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام ؛ فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان أو مكان معين أو نحوهما بحيث يوهم هذا التقييد أنه مقصود شرعًا من غير أن يدلّ الدليل العام على هذا التقييد فهو بدعة</p>
<p>&#8220;Semua bentuk ibadah yang sifatnya mutlak dan terdapat dalam syariat berdasarkan dalil umum, maka membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak ini dengan waktu, tempat, atau batasan tertentu lainnya, dimana akan muncul sangkaan bahwa batasan ini merupakan bagian ajaran syariat, sementara dalil umum tidak menunjukkan hal ini maka batasan ini termasuk bentuk bid&#8217;ah.&#8221; (<em>Qowa’id Ma’rifatil Bida’,</em> hal. 52)<br />
Karena pahala dan keutamaan amal adalah rahasia Allah, yang hanya mungkin kita ketahui berdasarkan dalil yang shahih.<br />
Allahu a&#8217;lam&#8230;</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a><em>)</em></strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait Asyura:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../amalan-di-bulan-muharram" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../keutamaan-bulan-muharram" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro" target="_blank">Kesyirikan di Bulan Suro.</a></p>
<p>Asyura.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesyirikan di Bulan Suro</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 06:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8939</guid>
		<description><![CDATA[Kesyirikan di Bulan Suro Muharram telah tiba, bulan tahun baru dalam kalender hijriyah. Orang jawa menamakan bulan ini dengan istilah Suro. Mungkin nama ini diambil dari kata Asyuro yaitu tanggal 10 Muharram. Latar belakang diistimewakan hari Asyuro karena pada hari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kesyirikan di Bulan Suro</h2>
<p>Muharram telah tiba, bulan tahun baru dalam kalender hijriyah. Orang jawa menamakan bulan ini dengan istilah Suro. Mungkin nama ini diambil dari kata Asyuro yaitu tanggal 10 Muharram. Latar belakang diistimewakan hari Asyuro karena pada hari tersebut dianjurkan bagi kaum muslimin untuk melakukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">sunah</a>.</p>
<p>Hal menarik yang layak untuk dibahas di sini adalah keyakinan sebagian orang jawa yang menganggap bulan ini sebagai bulan sial. Setiap orang yang punya agenda acara, mau tidak mau harus ditunda bulan depan atau dibatalkan. <em>Dhuwe gawe neng ulan syuro alamat ciloko</em>…<em>Berani jangkar</em> ….melanggar, …<em>ku-wa-lat</em>! demikian anggapan mereka. Anehnya, keyakinan yang tidak bisa diterima akal yang fitrah ini tidak hanya hinggap di masyarakat pedalaman, tetapi juga merasuk kepada sebagian kalangan yang berpendidikan dan mengenal teknologi, seperti kalangan akademisi (mahasiswa dan dosen) dan orang-orang terpelajar lainnya.</p>
<p>Andaikan tidak ada hubungannya dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a> dan neraka, bisa dikatakan ini adalah satu adat yang biasa dan tidak perlu dibahas. Namun dalam kacamata agama Islam, keyakinan dan anggapan sial di atas termasuk salah satu bentuk perbuatan syirik. Satu dosa yang sangat besar, lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar lainnya dan kesyrikan tidak akan diampuni oleh Allah jika dibawa mati oleh pelakunya dan ia belum bertaubat kepada Allah. Mengerikan bukan?! Lebih mengerikan lagi jika banyak orang yang melakukannnya namun tidak memahami hukumnya. Bisa dibayangkan, pelakunya akan merasa dirinya tidak berbuat dosa padahal dia tengah melakukan perbuatan kekafiran. Pada hakikatnya dia sedang melakukan kesyirikan sementara dia tidak tahu kalau yang ia lakukan adalah kesyirikan. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> ia akan bertaubat kepada Allah apabila ia merasa tidak melakukan kesalahan. Akhirnya, dia mati membawa dosa syirik, satu dosa yang tidak diampuni oleh Allah. <em>Wal &#8216;iyadzu billaah</em></p>
<p>Dalam ilmu aqidah, keyakinan sial seperti di atas dinamakan <em>thiyaroh</em>. Thiyaroh adalah anggapan akan mendapatkan kesialan karena mendengar atau melihat sesuatu yang tidak disukai, padahal tidak ada bukti ilmiyahnya. Misalnya anggapan <strong>bulan Suro</strong> bulan malapetaka.</p>
<p>Thiyaroh adalah aqidah orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> jahiliyah.<br />
Sebelum Islam datang, orang musyrikin Arab memiliki keyakinan yang semodel dengan keyakinan orang jawa. Di antaranya masyarakat jahiliyah menganggap bulan Safar (bulan setelah Muharam dalam kalender hijriyah) sebagai bulan sial. Mereka takut dan tidak mau mengadakan kegiatan apapun di bulan Safar. Mereka juga berkeyakinan sial dengan burung hantu, karena mereka menganggap burung hantu adalah lambang kematian. Jika hinggap di atas rumah kemudian mematuk rumah tersebut, pertanda sebentar lagi akan ada anggota keluarga rumah tersebut yang akan meninggal.</p>
<p>Ketika Islam datang Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> menghapus keyakinan ini, beliau bersabda,</p>
<p class="arab">لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر</p>
<p>&#8220;<em>Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada keyakinan sial karena sebab tertentu, tidak ada keyakinan tentang burung hantu, dan tidak ada kesialan bulan safar</em>.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Namun uniknya, keyakinan ini dihidupkan lagi oleh sebagian kaum muslimin Indonesia. Hanya saja, bulannya berganti. Jika masyarakat jahiliyah meyakini bulan Safar sebagai bulan sial, maka orang Jawa meyakini bulan Suro (Muharram) sebagai bulan sial.</p>
<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Thiyarah</h2>
<p>Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">الطيرة شرك، الطيرة شرك&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik…</em> (beliau ulangi tiga kali)&#8221; (HR. Abu Daud dan Turmudzi).</p>
<p>Dalam hadis ini, Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em> menegaskan status perbuatan <em>thiyaroh</em> dan beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. Menunjukkan betapa pentingnya hal ini untuk diingatkan. <em>Thiyaroh</em> dikatakan bentuk kesyirikan dan mengurangi tauhid seseorang, karena dalam <em>thiyaroh</em> terdapat dua hal:</p>
<ol>
<li> Memutus tawakkal kepada Allah dan bertawakkal kepada selain Allah.</li>
<li>Bergantung pada sesuatu yang tidak ada hakikatnya.</li>
</ol>
<p>Ulama menjelaskan bahwa hukum <em>thiyaroh</em> sebagai perbuatan kesyirikan dirinci menjadi dua:<br />
a.	Syirik kecil (tidak menyebabkan keluar dari Islam), jika kejadian aneh, bulan Suro, burung hantu atau yang lainnya hanya dianggap sebagai sebab kesialan. Meskipun dia meyakini bahwa pencipta kesialan itu sendiri adalah Allah. Perbuatan ini digolongkan kesyirikan karena pelakunya bersandar pada sesuatu yang dia yakini sebagai sebab munculnya kesialan, padahal itu bukan sebab.<br />
b.	Syirik besar (pelakunya diancam dengan kekafiran), jika diyakini bahwa bulan Suro yang mengatur terjadinya kesialan, bukan Allah. Keyakinan ini sama dengan menganggap ada makhluk yang bisa mengatur alam dengan mendatangkan bencana atau sial.<br />
(<em>Qoulul Mufid Syarh Kitab Tauhid</em>, 1:575).</p>
<h3>Pengaruh Thiyarah</h3>
<p>Setiap orang yang terjangkit penyakit <em>thiyaroh</em> akan terjebak dalam dua keadaan yang dua-duanya tercela:<br />
<strong>Pertama</strong>, membatalkan agenda yang telah direncanakan karena takut akan tertimpa kesialan. Perbuatan ini sangat tercela karena persis sebagaimana yang dilakukan orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/musyrik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrik">musyrik</a> jahiliyah. Pelaku perbuatan ini telah terjerumus dalam kesyirikan yang statusnya sebagaimana rincian tentang syirik di atas. Nabi <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">من ردته الطِيَرة من حاجة فقد أشرك</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang membatalkan agendanya karena thiyaroh maka dia telah berbuat syirik</em>.&#8221;<br />
Sahabat bertanya, &#8220;Lalu apakah tebusannya?&#8221; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, &#8220;Ucapkan,</p>
<p class="arab">« اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ »</p>
<p><em>Allaahumma laa khaira illa khairuka wa laa thiyaro illa thiyaruka wa laa ilaaha ghoiruka</em><br />
&#8220;<em>Yaa Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, tiada kesialan kecuali sial karena taqdir-Mu, dan tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau</em>.&#8221; (HR. Imam Ahmad, no.7242, hadis hasan)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tetap melakukan agenda kegiatan yang telah id jadwalkan, namun disertai dengan perasaan was-was dan khawatir, jangan-jangan nanti sial. Kualitas (nilai) keburukannya lebih rendah dari yang pertama, namun keadaan ini bukti rendahnya kualitas tawakkal dan tauhid pelakunya.</p>
<h3>Terapi Untuk Mengobati Thiyarah</h3>
<p>Penyakit aqidah yang sudah mendarah daging akan sangat sulit untuk bisa disembuhkan dan dihilangkan dalam sekejap. Sangat jarang ada orang yang bisa selamat dari penyakit <em>thiyaroh</em> ini. Bahkan para sahabat sendiri -manusia paling baik di umat ini- masih terjangkit penyakit ini. Sebagaimana sabda Nabi <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em>,</p>
<p class="arab">الطيرة شرك، الطيرة شرك&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik..(3X)</em>. kemudian Ibn Mas&#8217;ud <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, &#8220;Tidak ada seorangpun di antara kita kecuali (terjangkit dalam hatinya penyakit <em>thiyaroh</em> ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.&#8221; (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).<br />
Maksud perkataan Ibn Mas&#8217;ud adalah munculnya perasaan was-was yang dialami para sahabat. (<em>&#8216;Aunul Ma&#8217;bud Syarh Sunan Abi Daud</em>, 10:288).</p>
<p>Namun kata &#8220;sulit&#8221; bukanlah alasan untuk tidak mengobati penyakit membahayakan ini. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menterapi diri dari penyakit <em>thiyaroh</em>:</p>
<ol>
<li> Memperdalam ilmu tuhid dan aqidah. Karena dengan modal ilmu, seseorang bisa berjalan sesuai jalur yang syariat tentukan.</li>
<li>Memahami dan meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini mutlak berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Tidak ada satu pun makhlukq yang bisa ikut campur.</li>
<li>Bertawakkal dan pasrah sepenuhnya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Sebagaimana yang dilakukan para sahabat.</li>
<li>Sering-sering memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan dan gangguan setan. Terutama ketika muncul perasan khawatir dan was-was. Kemudian lindungi diri kita dari godaan setan dengan membasahi mulut ini dengan dzikir-dzikir yang sesuai syari&#8217;at.</li>
<li>Jangan menggagalkan satu rencana yang sudah diagendakan, disebabkan munculnya perasaan was-was. Karena hal ini berarti menjerumuskan kita kepada kesyirikan.</li>
<li>Tetap optimis untuk meraih keberkahan dari kegiatan yang kita lakukan selama tidak melanggar syariat.</li>
<li>Jangan pedulikan komentar orang yang justru akan memperparah penyakit <em>thiyaroh</em>. Bergaul-lah dengan orang-orang yang bisa membantu kita untuk memperbaiki tauhid dan mempertebal tawakkal.</li>
<li>Lupakan segala bentuk kegagalan dunia dan pasrahkan hasil usaha kita kepada Sang Pengatur alam semesta.</li>
</ol>
<p><em>Wallaahu waliyut Taufiq</em>. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait bulan suro:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../amalan-di-bulan-muharram" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../keutamaan-bulan-muharram" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.</p>
<p>Permasalahan bulan suro.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadis Dhaif Seputar Bulan Muharram</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 01:56:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8915</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Dhaif Seputar Bulan Muharram Pertanyaan: Ada banyak keyakinan yg tersebar di masyarakat terkait bulan Muharram. Misalnya, apabila berpuasa sehari di bulan Muharram maka untuk satu hari puasa dia mendapat pahala puasa tiga puluh hari atau siapa yang berpuasa sembilan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hadis Dhaif Seputar Bulan Muharram</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Ada banyak keyakinan yg tersebar di masyarakat terkait bulan <strong>Muharram</strong>. Misalnya, apabila berpuasa sehari di bulan Muharram maka untuk satu hari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> dia mendapat pahala <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> tiga puluh hari atau siapa yang berpuasa sembilan hari pertama bulan Muharram maka Allah akan bangunkan untuknya satu kubah di udara atau semacamnya. Apakah keyakinan ini benar? Adakah hadisnya?</p>
<p>Dari: <em>Arriqa fauqi (ArXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8915"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Beberapa keterangan yang Anda sampaikan pada hakikatnya bersumber dari hadis dhaif.</p>
<h3>Berikut keterangan selengkapnya terkait hadis-hadis dhaif seputar bulan muharram:</h3>
<p><strong>1.</strong> Siapa yang berpuasa sembilan hari pertama bulan Muharram maka Allah akan bangunkan untuknya satu kubah di udara, yang memiliki empat pintu, tiap pintu jaraknya satu mil. (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at, 2:199, dan As-Syaukani dalam <em>Al-Fawaid Al Majmu’ah</em>, Hal. 45)</p>
<p><strong>2.</strong> Siapa yang berpuasa hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram, berarti dia telah mengakhiri penghujung tahun dan mengawali tahun baru dengan puasa. Allah jadikan puasanya ini sebagai kaffarah selama lima tahun. (Hadis dusta, karena di sanadnya ada dua pendusta, sebagaimana keterangan As-Syaukani dalam <em>Al-Fawaid Al-Majmu’ah</em>, Hal. 45)</p>
<p><strong>3.</strong> Sesungguhnya Allah mewajibkan Bani Israil berpuasa sehari dalam setahun, yaitu hari ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh bulan Muharram. Karena puasalah kalian di bulan Muharram dan berilah kelonggaran (makan enak dan pakaian baru) untuk keluarga kalian. Karena inilah hari di mana Allah menerima taubat Adam<em> ‘alaihis salam</em>… (<em>Al-Fawaid Al-Majmu’ah</em>, Hal. 46)</p>
<p><strong>4.</strong> Siapa yang berpuasa sehari di bulan Muharram maka untuk satu hari puasa dia mendapat pahala puasa tiga puluh hari. (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Al-Albani dalam <em>Silsilah Hadis Dhaif</em>, no. 412)</p>
<p><strong>5.</strong> Bulan yang paling mulia adalah Al-Muharram (Hadis dhaif, sebagaimana keterangan Al-Albani dalam <em>Dhaif Al Jami’ As-Shagir</em>, no. 1805)</p>
<p><strong>6.</strong> Pemimpin umat manusia: Adam, pemimpin bangsa Arab: Muhammad, pemimpin bangsa Romawi: Shuhaib Ar-Rumi, pemimpin bangsa Persia: Salman Al-Farisi, pemimpin bangsa Habasyah: Bilal bin Rabah, pemimpin gunung: Gunung Sina, pemimpin pohon: bidara, pemimpin bulan : Muharram, pemimpin hari : hari Jumat….(Hadis palsu, sebagaimana keterangan Al-Albani,<em> Dhaif Al Jami’ As Shaghir</em>, no. 7069).</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustad Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a href="http://konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait muharram:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/amalan-di-bulan-muharram">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/keutamaan-bulan-muharram">Keutamaan Bulan Muharram</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Nurbuat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/doa-nurbuat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/doa-nurbuat#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 01:43:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[adab doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[doa nabi]]></category>
		<category><![CDATA[doa nurbuat]]></category>
		<category><![CDATA[doa tuntunan]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8078</guid>
		<description><![CDATA[Doa Nurbuat Assalamu&#8217;alaikum ustad. Ustad, istri saya sedang hamil. Banyak yang menyarankan baik dari keluarga maupun teman kerja untuk mendawamkan (selalu membaca doa) doa nurbuat. Apa doa nurbuat itu Ustadz? Dan apakah doa itu sesuai dengan tuntunan Rosulullah Muhammad shalallahu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">Doa</a> Nurbuat</h2>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum</em> ustad. Ustad, istri saya sedang hamil. Banyak yang menyarankan baik dari keluarga maupun teman kerja untuk mendawamkan (selalu membaca doa) <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa-nurbuat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa nurbuat">doa nurbuat</a></strong>.<br />
Apa <span style="text-decoration: underline;">doa nurbuat</span> itu Ustadz? Dan apakah doa itu sesuai dengan tuntunan Rosulullah Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? sebab saya khawatir doa itu sama seperti <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-shalawat-di-iringi-rebana" target="_blank"><em>shalawat nariyah</em></a>, yang ternyata setelah mendapatkan penjelasan dari para ustad (melalui Majalah As-Sunnah) shalawat nariyah itu dilarang.  Mohon penjelasannya Ustadz. Terimakasih.</p>
<p>Penanya: <em>cikalXXXXXXXXX@yahoo.co.id</em><br />
<span id="more-8078"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam</em></p>
<h3>Doa Nurbuat</h3>
<p>Teks doanya:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ العَظِيم وَذِى الـمَنِّ القَدِيم وَذِى الوَجْه الكَرِيم وَوَلِيِّ الكَلِمَات التآمات وَالدَّعَوَاتِ الـمُسْتَجَبَات عَاقِلِ الحَسَنِ والحُسَينِ من انفس الحق عين القدرة والناظرين وعين الجن والإنس والشياطين. وَإِن يَكَادُ الذِّينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبصَارِهِم لما سمعوا الذكر ويقولون إنه لمجنون وماهو الا ذكر للعالمين ومُستجابُ القرآن العظيم وورث سليمان داود عليهما السلام الودود ذو العرش المجيد طَوِّلْ عُمْرِي وصحح جسدي واقض حاجتي واكثر اموالي واولادي وحببني للناس اجمعين وتباعد العداوة كل من بني آدم عليه السلام من كان حيا ويحق القول على الكافرين انك على كل شيء قدير سبحان ربك رب العزة عما يصفون.والسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.</p>
<p>Ada banyak kejanggalan dalam doa nurbuat, diantaranya:</p>
<p><strong>1.</strong> Kesalahan dalam tata bahasa<br />
Teks bagian awal doa ini tidak sesuai dengan kaidah nahwu (tata bahasa Arab). Teks yang keliru:</p>
<p class="arab">[اللَّهُمَّ ذِى السُّلْطَانِ]</p>
<p>seharusnya, dibaca</p>
<p class="arab">[ذَا]</p>
<p>dengan hurup alif bukan</p>
<p class="arab">[ذِى]</p>
<p>Karena Munada Mudhaf harusnya <em>mansub</em> bukan <em>majrur</em>. Namun, anehnya, kesalahan semacam ini terjadi secara berulang-ulang, yaitu di bagian <em>ma&#8217;thuf</em>nya.<br />
Teks</p>
<p class="arab">[وَذِى الـمَنِّ القَدِيم]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَذَا الـمَنِّ القَدِيم]</p>
<p>Teks</p>
<p class="arab">[وَذِى الوَجْه الكَرِيم]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَذَا الوَجْه الكَرِيم]</p>
<p>Teks</p>
<p class="arab">[وَوَلِيِّ الكَلِمَات التآمات]</p>
<p>seharusnya</p>
<p class="arab">[وَوَلِيَّ الكَلِمَاتِ التآمَاتِ]</p>
<p>dengan harakat fathah.</p>
<p><strong>2.</strong> Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan.<br />
Di bagian awal doa, isiny memuji Allah, kemudian tiba-tiba dikutip ayat:</p>
<p class="arab">وَإِن يَكَادُ الذِّينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبصَارِهِم&#8230;</p>
<p><em>“Hampir saja orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> hendak menjatuhkanmu dengan pandangan mata mereka.”</em><br />
Ayat ini menceritakan tentang sikap orang kafir yang hendak menyerang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan penyakit &#8216;ain (penyakit karena pandangan hasad). Sehingga mereka bisa membunuh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari jauh.<br />
Jika kita perhatikan, ayat ini tidak memiliki keterkaitan langsung ayat ini dengan pujian untuk Allah dalam bait sebelumnya.</p>
<p><strong>3.</strong> Isi permintaan yang tidak tepat<br />
Dalam doa tersebut ada permintaan:</p>
<p class="arab">[طَوِّلْ عُمْرِي]</p>
<p>Panjangkanlah umurku. Umur panjang secara mutlak bukanlah hal yang terpuji. Karena umur panjang belum tentu berkah. Lebih tepat jika meminta keberkahan umur bukan meminta umur panjang. Sebagaimana yang dilakukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika mendoakan Anas bin Malik:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ</p>
<p>“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)<br />
Nabi tidak mendoakan secara mutlak, tapi beliau iringi dengan doa keberkahan.<br />
Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin pernah ditanya tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> memberikan ucapan &#8220;semoga panjang umur&#8221; Syekh mejawab, Tidak selayaknya mengucapkan &#8220;semoga panjang umur&#8221; secara mutlak, tanpa diikuti dengan kriteria yang lain. Karena panjang umur terkadang baik dan terkadang buruk. Padahal, manusia terjelek adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalnya. Oleh karena itu, andaikan ucapan yang disampaikan, &#8220;Semoga Allah memanjangkan usiamu di atas ketaatan&#8221; atau yang semacamnya maka ini tidak mengapa. (Fatawa as-Syimaliyah, Hal. 24)</p>
<p><strong>4.</strong> Keutamaan yang terlalu berlebihan<br />
Para aktivis pembaca doa ini menceritakan bahwa doa nurbuat memiliki banyak keutamaan. Namun, kebanyakan keutamaan tersebut, hanya terkait kesenangan dunia. Padahal prinsip doa yang diajarkan syariat lebih banyak untuk kepentingan akhirat. Kalaupun isinya memohon kebaikan dunia, pasti juga diiringi dengan permohonan kebaikan akhirat. Diantara keutamaan yang aneh pada doa ini:</p>
<ol>
<li> Dapat bertemu dengan Jin, bisa merubah rupa.</li>
<li>Dapat disayangi oleh musuh, jika dibaca ketika hendak keluar rumah.</li>
<li>Dapat menjadi penjaga rumah dari gangguan jin, sihir, santet dan bahaya lainnya, jika ditulis lalu disimpan di dalam rumah. (Mungkin inilah yang melatar-belakangi kebiasaan orang yang menggantung jimat di depan rumah).</li>
<li>Dapat memperlihatkan hal-hal yang indah, jika dibaca 100 kali pada malam Sabtu.</li>
<li>Dapat awet muda jika dibaca setiap malam Minggu.</li>
<li>Dapat menjadikan wajah tampak lebih tampan/cantik jika dibaca setiap malam Kamis.</li>
<li>Dan masih banyak keutamaan lainnya, yang semuanya mungarah pada kerakusan terhadap dunia.</li>
</ol>
<p>Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin doa nurbuat berasal dari ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Karena itu, tidak selayaknya untuk dibaca.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsutasisyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsutasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsutasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>doa nurbuat</strong>, <strong>doa nabi</strong>, <strong>kesalahan doa</strong>, <strong>doa tuntunan</strong>, <strong>doa bid&#039;ah</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>adab doa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/doa-nurbuat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keistemewaan Bulan Sya&#8217;ban</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jul 2011 22:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[bulan sya'ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[fadilah bulan syaban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa sya'ban sebulan penuh]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[logo]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa banyak orang menikah di bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[menikah di bulan sa'ban]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal di bulan syaban]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa bulan sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sya'ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[sya ban 2011]]></category>
		<category><![CDATA[sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[wanita bulan sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5533</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamualaikum ustazd. Ada sebuah keraguan dalam hati saya tentang keutamaan bulan Sya&#8217;ban. Banyak masyarakat disekitar saya yang melaksanakan ibadah yang tidak dilakukannya dibulan-bulan lain, misalnya puasa. Apakah Rasulullah pernah melakukan atau membiarkan hal itu pada bulan Sya&#8217;ban? Semoga jawaban ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamualaikum ustazd.</em></p>
<p>Ada sebuah keraguan dalam hati saya tentang keutamaan bulan Sya&#8217;ban. Banyak masyarakat disekitar saya yang melaksanakan ibadah yang tidak dilakukannya dibulan-bulan lain, misalnya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a>. Apakah Rasulullah pernah melakukan atau membiarkan hal itu pada bulan Sya&#8217;ban?</p>
<p>Semoga jawaban yang ustadz berikan dapat menjawab keraguan saya tentang hal itu(keutamaan bulan sya&#8217;ban).<br />
<em>Syukran, jazakumullan khairan.</em></p>
<p><em>Arifin ahmad</em> (AhmadXXXXXX@XXXXX.com)<br />
<span id="more-5533"></span><br />
<strong>Jawaban: </strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam wa rahmatullah.</em></p>
<p>Bulan Sya&#8217;ban memiiliki beberapa keutamaan. Berikut kami cantumkan beberapa hadis sahih yang menyebutkan keutamaan bulan Sya&#8217;ban.</p>
<p>Dari A&#8217;isyah <em>radliallahu &#8216;anha</em>, beliau mengatakan, &#8220;Terkadang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> puasa beberapa hari sampai kami katakan, &#8216;Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a>, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya&#8217;ban.&#8217;&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>A&#8217;isyah mengatakan, &#8220;Belum pernah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya&#8217;ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya&#8217;ban sebulan penuh.&#8221; (H.R. Al Bukhari dan Msulim)</p>
<p>A&#8217;isyah mengatakan, &#8220;Bulan yang paling disukai Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> untuk melaksanakan puasa adalah bulan Sya&#8217;ban, kemudian beliau lanjutkan dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-ramadhan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa ramadhan">puasa Ramadhan</a>.&#8221; (H.R. Ahmad, Abu Daud, An Nasa&#8217;i dan <em>sanad</em>-nya disahihkan Syaikh Syu&#8217;aib Al Arnauth)</p>
<p>Ummu Salamah <em>radliallahu &#8216;anha</em> mengatakan, &#8220;Saya belum pernah melihat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpuasa dua bulan berturut-turut selain di bulan Sya&#8217;ban dan Ramadhan.&#8221; (H.R. An Nasa&#8217;i, Abu Daud, At Turmudzi dan disahihkan Al Albani)</p>
<p>Dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya&#8217;ban. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.&#8217;” (H.R. An Nasa&#8217;i, Ahmad, dan <em>sanad</em>-nya di-<em>hasan</em>-kan Syaikh Al Albani)</p>
<p>Dari Abu Musa Al Asy&#8217;ari <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya&#8217;ban. Maka Dia mengampuni semua makhluqnya, kecuali orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/musyrik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrik">musyrik</a> dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, At Thabrani, dan disahihkan Al Albani)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mengapa banyak orang menikah di bulan sya&#039;ban</strong>, <strong>puasa sya&#039;ban 2011</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>hukum puasa sya&#039;ban sebulan penuh</strong>, <strong>bulan sya&#039;ban 2011</strong>, <strong>musyrik</strong>, <strong>puasa bulan sya&#039;ban</strong>, <strong>logo</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>start</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keistemewaan-bulan-syaban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Kaum Muslimin Menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-kaum-muslimin-menyembah-ka%e2%80%99bah-dan-hajar-aswad</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-kaum-muslimin-menyembah-ka%e2%80%99bah-dan-hajar-aswad#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 06:18:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apakah muslim menyembah ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[download kereta di awal syawal]]></category>
		<category><![CDATA[foto ka'bah 2011]]></category>
		<category><![CDATA[gambar gambar orang islam]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi gambar kabah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa kita menyembah ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[menyembah]]></category>
		<category><![CDATA[menyembah berhala]]></category>
		<category><![CDATA[menyembah kakbah]]></category>
		<category><![CDATA[menyembah ka`bah]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[wallpaper kabah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5494</guid>
		<description><![CDATA[Syekh Shaleh Al-Fauzan hafizhahullah ditanya, &#8220;Bagaimana membantah orang atheis yang mengatakan, &#8216;Wahai kaum muslimin, kalian sendiri menyembah batu (Hajar Aswad) dan berputar mengelilinginya! Lantas, kenapa kalian menyalah-nyalahkan orang lain yang menyembah berhala dan patung/gambar?&#8221; Syekh Shaleh Al-Fauzan memberikan jawaban sebagai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syekh Shaleh Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> ditanya, &#8220;<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> membantah orang atheis yang mengatakan, &#8216;Wahai kaum muslimin, kalian sendiri <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/menyembah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with menyembah">menyembah</a> batu (<em>Hajar Aswad</em>) dan berputar mengelilinginya! Lantas, kenapa kalian menyalah-nyalahkan orang lain yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/menyembah-berhala" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with menyembah berhala">menyembah berhala</a> dan patung/gambar?&#8221;<br />
<span id="more-5494"></span><br />
Syekh Shaleh Al-Fauzan memberikan jawaban sebagai berikut,</p>
<p>&#8220;Ini jelas kebohongan yang nyata! Kami sama sekali tidak menyembah batu (<em>Hajar Aswad</em>), melainkan kami menyentuhnya dan menciumnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ini artinya, kami melakukan hal tersebut dalam rangka beribadah dan mengikuti Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Mencium <em>Hajar Aswad</em> adalah bagian dari ibadah, sebagaimana kita <em>wuquf</em> di Arafah, bermalam di Muzdalifah, dan tawaf mengelilingi <em>Baitullah</em> (Ka’bah). Juga, kita mencium <em>Hajar Aswad</em> dan menyentuhnya atau memberi isyarat padanya. Itu semua adalah bentuk ibadah kepada Allah, bukan berarti menyembah batu tersebut.</p>
<p>Lebih dari itu, kita bisa beralasan dengan tindakan yang dilakukan oleh Umar bin Al-Khattab <em>radhiallahu ‘anhu</em> ketika beliau mencium <em>Hajar Aswad</em>. Ketika itu, beliau mengatakan, &#8216;<em>Memang aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat mendatangkan manfaat atau bahaya. Jika bukan karena aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tentu tidak akan menciummu</em>.&#8217; (H.R. Bukhari, no. 1597 dan Muslim, no. 1270)</p>
<p>Oleh karena itu, masalah ini berkaitan dengan cara umat Islam mengikuti tuntunan nabinya, dan bukan berkaitan dengan menyembah batu (<em>Hajar Aswad</em>). Jadi, sebenarnya mereka yang menyebarkan isu tersebut telah merencanakan kebohongan atas umat Islam.</p>
<p>Kita sama sekali tidak menyembah Ka’bah. Bahkan, yang kita sembah adalah Rabb pemilik Ka’bah. Begitu pula, kita melakukan tawaf keliling Ka’bah dalam rangka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla karena Allah-lah yang memerintahkan kita untuk melakukan seperti itu.</p>
<p>Kita melakukan demikian hanya karena menaati Allah <em>‘azza wa jalla</em> dan mengikuti tuntunan Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.&#8221; (<em>&#8216;Aqidatul Haj fi Dhauil Kitab was Sunnah</em>, Syekh Shaleh Al-Fauzan, hlm.22&#8211;23; diterjemahkan dari <em>http://fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&amp;ID=890</em>)</p>
<p>Riyadh, KSA, 2 Jumadal Awwal 1432 H (05/04/2011 M)</p>
<p>Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal<br />
<strong>Artikel www.rumaysho.com</strong></p>
<p><strong>Dipublikasikan ulang oleh www.KonsultasiSyariah.com, disertai penyuntingan bahasa.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>apakah muslim menyembah ka&#039;bah</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>download kereta di awal syawal</strong>, <strong>gambar gambar orang islam</strong>, <strong>wallpaper kabah</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>menyembah ka`bah</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>menyembah berhala</strong>, <strong>menyembah kakbah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-kaum-muslimin-menyembah-ka%e2%80%99bah-dan-hajar-aswad/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Isra&#8217; Mi’raj</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:21:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isra dan miraj]]></category>
		<category><![CDATA[isra mi raj adalah]]></category>
		<category><![CDATA[isra mijrat]]></category>
		<category><![CDATA[isra miraj]]></category>
		<category><![CDATA[isra miraj dan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[isra' mi raj]]></category>
		<category><![CDATA[isra'mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat rasulullah setelah isra' mi'raj selain sholat]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan isra mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan isra mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[peristiwa dalam bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan ini isra miraj kapan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah peringatan isra' mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah rajaban]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[susunan acara waktu perayaan isra dan mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>
		<category><![CDATA[tahun hijriah rajab=rajaban]]></category>
		<category><![CDATA[tanggal isra mi'raj tahun 2011]]></category>
		<category><![CDATA[tentang isra' mi'raj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5373</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu alaikum.. Sebentar lagi ada peringatan Isra Mi’raj. Ada yg mengatakan bahwa Isra&#8217; Mi’raj tidak terjadi di bulan Rajab, apakah ini benar? Lantas, bagaimana hukum peringatan Isra Mi’raj? Trims.. Tri Jogja (triXXXX@XXXXX.com ) Jawaban: Wa alaikumus salam wa rahmatullah. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu alaikum..</em></p>
<p>Sebentar lagi ada peringatan <em>Isra Mi’raj</em>. Ada yg mengatakan bahwa <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> tidak terjadi di bulan Rajab, apakah ini benar? Lantas, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> peringatan <em>Isra Mi’raj</em>?<br />
Trims..</p>
<p><em>Tri Jogja (triXXXX@XXXXX.com )</em><br />
<span id="more-5373"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam wa rahmatullah.</em></p>
<p>Tanggal 27 Rajab menjadi satu agenda penting bagi kaum muslimin. Mereka meyakini bahwa pada tanggal itu terjadi peristiwa <em>Isra’ </em>dan <em>Mi’raj</em>. Padahal para ulama berselisih pendapat tentang tanggal terjadinya <em>Isra’</em>dan <em>Mi’ra</em>j. Disebutkan oleh Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, ada sekitar 6 pendapat ulama, terkait dengan penentuan waktu kejadian <em>Isra’</em> dan<em> Mi’raj</em>.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> <em>Isra&#8217;</em> dan <em>Mi’raj</em> terjadi di tahun pertama ketika beliau diangkat sebagai Nabi. Ini adalah pendapat At-Thabari.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> <em>Isra&#8217;</em> dan<em> Mi’ra</em>j terjadi lima tahun setelah beliau diutus sebagai Nabi. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam An-Nawawi dan Al-Qurthubi.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> terjadi di malam 27 Rajab, tahun 10 setelah kenabian (sepuluh tahun setelah beliau diutus menjadi Nabi). Ini pendapat Al-Manshurfuri.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> peristiwa <em>Isra&#8217;</em> terjadi 16 bulan sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a> tahun 12 setelah kenabian.</p>
<p><strong>Kelima,</strong> peristiwa ini terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, atau tepatnya di bulan Muharram tahun 13 setelah kenabian.</p>
<p><strong>Keenam,</strong> <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> terjadi satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan Rabi&#8217;ul Awal tahun 13 setelah kenabian.</p>
<p>Dari enam pendapat di atas, 3 pendapat pertama tertolak dan bertentangan dengan realita sejarah lainnya. (Lihat <em>Ar-Rahiqum Makhtum</em>, hal. 85)</p>
<p><strong>Bagaimana analisisnya?</strong></p>
<p>Sebelumnya kami tegaskan –barangkali ada sebagian kaum muslimin yang belum paham–, urutan bulan hijriyah: &#8230;Rajab, Sya&#8217;ban, Ramadhan, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/syawal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with syawal">Syawal</a>, <em>dst</em>.</p>
<p>Kemudian, sebagaimana yang kita ketahui, sekembalinya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari Isra&#8217; Mi’raj, beliau membawa syariah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> lima waktu. Sementara para ahli sejarah menegaskan bahwa Khadijah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/meninggal-di-bulan-ramadhan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with meninggal di bulan ramadhan">meninggal di bulan Ramadhan</a> tahun kesepuluh setelah kenabian. Ini sebagaimana yang ditegaskan Ibnul Jauzi (<em>Talqih Fuhum Ahlil Atsar</em>, hal. 7). Padahal sampai Khadijah meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu.</p>
<p>Jika dua peristiwa ini, yaitu Isra&#8217; Mi’raj dan wafatnya Khadijah terjadi dalam tahun yang sama, tahun sepuluh setelah kenabian, tentunya di bulan kematian Khadijah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, kewajiban shalat sudah ada. Karena urutan bulan Rajab jatuh sebelum ramadhan.</p>
<p>Adapun tiga pendapat terakhir, Al-Mubarakfuri memberi komentar, “Untuk tiga pendapat sisanya, saya belum mendapatkan keterangan yang menguatkan salah satu pendapat tersebut. Hanya saja, konteks surat Al-Isra&#8217; menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi di waktu-waktu terakhir di Mekah.”</p>
<p><strong>Ulama Sepakat Peringatan <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah <em>Bid&#8217;a</em>h</strong></p>
<p>Para ulama sepakat bahwa peringatan <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah acara <em>bid’ah</em>. Ibnul Qayim menukil keterangan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, yang mengatakan, “Tidak diketahui dari seorang-pun kaum muslimin, yang menjadikan malam <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> lebih utama dibandingkan malam yang lainnya. Lebih-lebih menganggap bahwa malam <em>Isra&#8217;</em> lebih mullia dibandingkan <em>lailatul qadar</em>. Tidak seorangpun sahabat, maupun <em>tabi’in</em> yang mengkhususkan malam <em>Isra&#8217;</em> dengan kegiatan tertentu, dan mereka juga tidak memperingati malam ini. Karena itu, tidak diketahui secara pasti, kapan tanggal kejadian <em>Isra&#8217; Mi’raj</em>.” (<em>Zadul Ma’ad</em>, 1/58 /59).</p>
<p>Ibnu Nuhas mengatakan, “Memperingati malam <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah <em>bid’ah</em> yang besar dalam urusan agama. Termasuk perkara baru yang dibuat-buat teman-teman setan.” (<em>Tanbihul Ghafili</em>n, hal. 379 – 380. Dinukil dari <em>Al Bida’ Al Hauliya</em>h, hal. 138)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>isra miraj</strong>, <strong>isra dan miraj</strong>, <strong>perayaan isra mi&#039;raj</strong>, <strong>tahun hijriah rajab=rajaban</strong>, <strong>shaf</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>tanggal isra mi&#039;raj tahun 2011</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>syawal</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Pembela Syiah Indonesia</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/media-pembela-syiah-indonesia</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/media-pembela-syiah-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 06:17:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[apakah islam syiah melakukan sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[artikel sejarah puasa syiah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bila waktu puasa 2011]]></category>
		<category><![CDATA[disuntik batal puasa ahlul bait]]></category>
		<category><![CDATA[doa kaum syiah]]></category>
		<category><![CDATA[fikih puasa syiah]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih shalat witir syiah]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang cincin tunangan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mohon maaf sebelum puasa]]></category>
		<category><![CDATA[imsak menurut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[ludah]]></category>
		<category><![CDATA[mencicipi msakan pada saat puasa fiqh ahlulbait]]></category>
		<category><![CDATA[pembela syiah]]></category>
		<category><![CDATA[peta syiah indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puasa dalam syiah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa syiah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa wajib syiah]]></category>
		<category><![CDATA[republika koran syiah]]></category>
		<category><![CDATA[salat tarawih kaum syiah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih dalam syiah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih menurut syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih syiah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat orang syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat terawih menurut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[syia indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[syiah tentang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[syiah tidak tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[syiah website]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih menurut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara salam dalam syiah]]></category>
		<category><![CDATA[waktu imsak syiah]]></category>
		<category><![CDATA[waktu puas versi syiah]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>
		<category><![CDATA[website syiah indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5216</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum tim redaksi. Apakah  benar media koran  dan website Republika milik kaum Syiah? bagaimana hukumnya bila membeli, membaca media tersebut. Jika benar milik kaum Syiah? berdosakah? jika hanya ambil yang positif saja yang sesuai ahlus sunnah bagaimana? syukron ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em> tim redaksi. Apakah  benar media koran  dan website Republika milik kaum Syiah? <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> hukumnya bila membeli, membaca media tersebut. Jika benar milik kaum Syiah? berdosakah? jika hanya ambil yang positif saja yang sesuai ahlus sunnah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a>? syukron atas jawabannya. Mohon dibalas dikirim ke e-mail ana.<br />
<em>jazakalloh khoir</em>.</p>
<p><em>MuhaXXXXXXX &lt;nirwanaXXXXX@XXXXX.com&gt;</em><br />
<span id="more-5216"></span><br />
<strong> Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam wa rahmatullah</em>.</p>
<p>Kami kurang memahami tentang hal itu. Namun, secara umum, peta masyarakat terkait perseteruan antara Ahlussunnah dengan Syiah dapat kita kelompokkan menjadi 3:</p>
<ol>
<li>Pro Ahlussunnah, merekalah ahlul hak.</li>
<li>Pro Syi&#8217;ah, mereka merupakan hasil didikan Iran.</li>
<li>Penggagas <em>rekonsiliasi</em>, yang berusaha menengahi ketegangan antara Ahlussunnah dengan Syiah. Umumnya, media massa yang berlabel islam di tempat kita, berada di posisi ketiga.</li>
</ol>
<p>Upaya rekonsiliasi ini dipelopori langsung oleh tokoh Syiah indonesia Jalaluddin rahmat (kang Jalal). Dia mendeklarasikan Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia (MUHSIN), yang hakikatnya merupakan upaya <em>taqiyyah</em> (menutupi jati diri) oleh pemerhati Syiah di negara kita.</p>
<p><em>Taqiyyah</em> menjadi ajaran penting dalam agama Syi’ah. <em>Taqiyyah</em> adalah upaya berbohong dalam rangka menyembunyikan jati diri ketika dalam kondisi Syiah minoritas. <em>Taqiyah</em> dilakukan dengan cara menampakkan sesuatu berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya, artinya <em>nifaq</em> dan menipu dalam usaha mengelabui atau mengecoh manusia. Karena itu, <em>taqiyyah</em> hakikatnya adalah berdusta. Sekali lagi, ini menjadi ajaran penting dalam agama Syiah.</p>
<p>Dus, hasilnya tidak ada keseimbangan antar kedua belah pihak. Di negeri tempat bernaungnya agama Syiah (Iran), Ahlussunnah begitu tertindas, tidak ada satupun organisasi dan pesantren Ahlussunnah yg diizinkan untuk berdiri. Namun, di daerah, organisasi dan pesantren Syiah begitu tumbuh subur dan terlindungi. Tak terkecuali negara kita.</p>
<blockquote><p><em>Realita kita, mengingatkan tentang kasus Islam &#8211; <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a>. Dalam kondisi minoritas, kaum <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a> mengutus tangan kanan mereka (baca: Jaringan Islam Liberal) untuk menyebarkan isu pluralisme dan rekonsiliasi Muslim-<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a>. Tujuannya, meredam kemarahan kaum Muslimin terhadap kaum <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a>. Sementara itu, kaum Muslimin dengan di negeri mayoritas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a>, dalam kondisi tertindas dan terjajah&#8230;adakah keseimbangan dalam hal ini???</em></p></blockquote>
<p>Wahai kaum muslimin, kita punya <strong>PR</strong> besar untukk menyadarkan masyarakat terkait masalah ini. Jangan kita biarkan kaum muslimin menjadi korban berikutnya bagi orang Syiah. Tumbuhkan rasa permusuhan masyarakat terhadap Syiah. Tampakkan semua kesesatan mereka dan tunjukkan semua bentuk penipuan mereka. Sebagai acuan untuk mengenal lebih detail tentang Syiah, kami persilahkan kepada anda untuk membaca artikel-artikel di situs:<br />
<a href="http://www.gensyiah.com/" target="_blank">http://www.gensyiah.com/</a> dan   <a href="http://hakekat.com/" target="_blank">http://hakekat.com/</a> atau <a href="http://www.syiahindonesia.com/ " target="_blank">http://www.syiahindonesia.com/ </a></p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>puasa dalam syiah</strong>, <strong>waktu imsak syiah</strong>, <strong>shalat tarawih syiah</strong>, <strong>ludah</strong>, <strong>website syiah indonesia</strong>, <strong>doa kaum syiah</strong>, <strong>syiah tentang puasa</strong>, <strong>syiah tidak tarawih</strong>, <strong>jari</strong>, <strong>mencicipi msakan pada saat puasa fiqh ahlulbait</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/media-pembela-syiah-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Qunut dalam Shalat Maghrib</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/qunut-dalam-shalat-maghrib</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/qunut-dalam-shalat-maghrib#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 09:56:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[3 jenis qunut]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[dalil qunut dalam shalat subuh]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[doa dalam witir solat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[doa kunut dalam shalat taraweh dan subuh hukum]]></category>
		<category><![CDATA[doa qunut]]></category>
		<category><![CDATA[doa qunut mazhab syiah]]></category>
		<category><![CDATA[doa qunut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sikat gigi waktu puasa menurut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[jenis doa qunut]]></category>
		<category><![CDATA[jenis qunut]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[kenapa qunut hanya dibaca waktu subuh?]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mazhab syiah tentang shalat jumat]]></category>
		<category><![CDATA[mazhab yang memakai qunut dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[mengenai kunut dalam solat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[qunut dalam shalat hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[qunut dalam shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[qunut di dalam salat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[qunut di sholat magrib]]></category>
		<category><![CDATA[qunut pada shalat jumat]]></category>
		<category><![CDATA[qunut pada waktu shalat terawih]]></category>
		<category><![CDATA[qunut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat maghrib dan hukumnya]]></category>
		<category><![CDATA[shalat subuh]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih dengan doa qunut]]></category>
		<category><![CDATA[shalat witir]]></category>
		<category><![CDATA[sholat maghrib qunut]]></category>
		<category><![CDATA[subuh]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[waktu adzan maghrib]]></category>
		<category><![CDATA[waktu-waktu witir]]></category>
		<category><![CDATA[witir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5182</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh. Pak Ustadz yang terhormat, (orang-orang, ed.) di kampung saya, selalu melakukan doa qunut dalam shalat maghrib. Itu hukumnya apa, dan sah/tidak shalatnya? Kata teman tidak apa-apa, dan tergantung kita mau ikut imam yang mana. Wassalamu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>. Pak Ustadz yang terhormat, (orang-orang, <em>ed.</em>) di kampung saya, selalu melakukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> qunut dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> maghrib. Itu hukumnya apa, dan sah/tidak shalatnya? Kata teman tidak apa-apa, dan tergantung kita mau ikut imam yang mana.  <em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><em>Rodji (rodji**@***.com) </em><br />
<span id="more-5182"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Qunut ada tiga macam:<br />
1. <em>Qunut nazilah</em>: qunut yang dilakukan setiap melaksanakan shalat lima waktu (<strong>tidak hanya</strong> maghrib saja). Qunut ini dilakukan ketika kaum muslimin sedang mendapatkan gangguan dari musuhnya (orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a>).<br />
2. <em>Qunut <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/witir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with witir">witir</a></em>: qunut ini hanya dilakukan ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-witir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat witir">shalat witir</a>.<br />
3. <em>Qunut <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with subuh">subuh</a></em>: menurut pendapat Mazhab Syafi&#8217;iyah, qunut ini dianjurkan; hanya untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat subuh">shalat subuh</a>, <strong>bukan</strong> shalat lainnya.</p>
<p>Selain dari tiga <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jenis-qunut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jenis qunut">jenis qunut</a> di atas, seperti qunut saat shalat maghrib, belum kami jumpai dalil dan keterangan ulama dalam masalah ini.</p>
<blockquote><p>Sementara, kaidah baku dalam masalah ibadah: harus ada dalilnya.</p></blockquote>
<p>Dengan demikian, Anda tidak perlu ikut qunut, tetapi Anda cukup ikut shalat jemaah saja.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>subuh</strong>, <strong>sholat maghrib qunut</strong>, <strong>shalat tarawih dengan doa qunut</strong>, <strong>doa qunut mazhab syiah</strong>, <strong>qunut di sholat magrib</strong>, <strong>mazhab yang memakai qunut dalam sholat</strong>, <strong>kafir</strong>, <strong>mazhab syiah tentang shalat jumat</strong>, <strong>waktu-waktu witir</strong>, <strong>shalat witir</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/qunut-dalam-shalat-maghrib/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Celana Cingkrang, Berjenggot, Cadaran Ciri Terorisme?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-celana-cingkrang-berjenggot-cadaran-ciri-terorisme</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-celana-cingkrang-berjenggot-cadaran-ciri-terorisme#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 01:33:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bom bunuh diri]]></category>
		<category><![CDATA[bunuh diri dihukum islam]]></category>
		<category><![CDATA[cadar teroris]]></category>
		<category><![CDATA[ciri fisik istri nabi]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir bersama]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[janggut]]></category>
		<category><![CDATA[jenggot]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kuwajiban hijab]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa kaum muslimin membedakan puasa dan qishash]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sunah]]></category>
		<category><![CDATA[sunah berpakaian cingkrang bagi seorang mukmin]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5139</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, masih hangat kabar tentang berbagai aksi teror bom di negeri kita. Mohon penjelasannya: 1. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai hal tersebut? 2. Apakah pelaku bom bunuh diri bisa dikatakan mati syahid atau malah bunuh diri? 3. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, masih hangat kabar tentang berbagai aksi teror bom di negeri kita. Mohon penjelasannya:<br />
1. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai hal tersebut?<br />
2. Apakah pelaku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bom-bunuh-diri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bom bunuh diri">bom bunuh diri</a> bisa dikatakan mati syahid atau malah bunuh diri?<br />
3. Kebanyakan pelaku teror berpenampilan sunnah, lantas apa hukumnya seorang muslim memanggil saudaranya yang menegakkan sunnah dengan sebutan &#8220;teroris&#8221;?</p>
<p>Mohon penjelasannya. <em>Barakallahu fik.</em></p>
<p><em>Rohis SMAN 9 Bandar Lampung (**setya04@***.co.id)</em><br />
<span id="more-5139"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah wash-shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah &#8230;.</em><br />
1. Sesungguhnya, Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian dan pelestarian kehidupan. Karena itu, Islam melarang menusia untuk saling membunuh dan berperang tanpa alasan yang dibenarkan agama. Bahkan, Allah menyebut orang yang berani membunuh orang lain tanpa alasan yang dibenarkan sebagai bentuk pembunuhan terhadap semua manusia. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعاً</strong></p>
<p>&#8220;<em>Bahwasanya barang siapa yang membunuh jiwa, bukan karena qishash atau berbuat kerusakan di muka bumi, seolah-olah dia membunuh seluruh manusia.</em>&#8221; (Q.S. Al-Maidah:32)</p>
<p>Di antara bentuk pembunuhan yang terlarang adalah membunuh orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin, tanpa alasan yang dibenarkan. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Barang siapa yang membunuh orang kafir mu&#8217;ahad maka dia tidak akan mencium bau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a></em>.&#8221; (H.R. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Yang dimaksud kafir &#8220;<em>mu&#8217;ahad</em>&#8221; adalah &#8216;orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin&#8217;. Karena itu, <strong>terorisme adalah tindakan yang bertolak belakang dengan Alquran dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">Sunah</a></strong>.</p>
<p>2. Orang yang melakukan bom bunuh diri tidak bisa dikatakan sebagai orang yang mati syahid, karena <strong>batasan mati syahid di medan jihad adalah mati karena dibunuh oleh musuhnya, orang kafir</strong>.</p>
<blockquote><p><strong>Di samping itu, dalam sejarah perjuangan Islam, tidak tercatat ada shahabat yang melakukan bunuh diri untuk menghancurkan musuh. Bahkan, yang ada adalah kisah orang yang bunuh diri di medan perang, yang divonis masuk neraka oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari.</strong></p></blockquote>
<p>3. Bagian ini adalah pertanyaan yang sangat menarik, mengingat banyaknya orang awam yang belum memahaminya. Perlu digaris-bawahi bahwa pembahasan tentang haramnya terorisme sama sekali tidak ada hubungannya dengan pakaian atau ciri fisik. Pembahasan tentang pakaian dan ciri fisik yang sesuai sunah masuk dalam lingkup kajian masalah adab dan sunah. Sementara, kajian tentang terorisme masuk dalam lingkup masalah akidah dan manhaj. Karena itu, untuk memberikan penilaian yang objektif, kita harus membedakan dua hal ini.</p>
<p>Terkait dengan aksi terorisme, kebetulan, mereka yang menjadi pelaku aksi ini memiliki ciri khas pakaian yang mirip dengan kelompok lainnya. Umumnya, mereka berjenggot, celana di atas mata kaki, istri-istrinya bercadar atau memakai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jilbab" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jilbab">jilbab</a> besar, suka memakai baju koko atau yang mirip baju koko, jubah, dan seterusnya.</p>
<p>Beberapa ciri fisik ini, tidak kita pungkiri, merupakan bagian dari sunah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Tentang dalil adanya ciri semacam ini bisa dilihat di kitab <em>Riyadhush Shalihin</em> karya Imam An-Nawawi, <em>Uqudul Lijain</em> karya Imam Nawawi Al-Bantani Asy-Syafi&#8217;i, dan beberapa kitab adab lainnya. Dengan demikian, upaya sebagian kaum muslimin untuk menyesuaikan diri dengan beberapa sunah ini, seharusnya mendapatkan apresiasi yang baik, karena ini adalah bagian dari usaha mereka untuk meniru sunah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, yang saat ini banyak ditinggalkan masyarakat Islam, sehingga dianggap asing.</p>
<p>Dengan demikian, tidak tepat jika menilai bahwa orang yang memiliki ciri ini sama dengan teroris. Menjustifikasi bahwa semua orang yang berjenggot dengan celana cingkrang sebagai teroris merupakan sikap yang tidak objektif. Tuduhan semacam itu bisa kita katakan sebagai tindakan kezaliman, karena menuduh orang lain, sementara pihak tertuduh tidak berhak mendapatkan tuduhan tersebut. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ</strong></p>
<p>&#8220;Jangan sampai perbuatan zalim yang dilakukan kelompok tertentu membuat kalian menjadi tidak berlaku adil &#8230;.&#8221; (Q.S. Al-Maidah:8)</p>
<p>Di ayat ini, Allah melarang kita bersikap zalim disebabkan oleh kejahatan yang dilakukan orang lain. Bom bunuh diri pelakunya adalah para teroris, bukan setiap orang yang bercelana cingkrang, meskipun cirinya sama.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mengajar</strong>, <strong>dzikir bersama</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>kafir</strong>, <strong>google</strong>, <strong>bunuh diri dihukum islam</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>bom bunuh diri</strong>, <strong>surga</strong>, <strong>mengapa kaum muslimin membedakan puasa dan qishash</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-celana-cingkrang-berjenggot-cadaran-ciri-terorisme/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlukah Menambahkan Kata &#8220;Sayyidina&#8221; dalam Tahiyat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/perlukah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-tahiyat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/perlukah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-tahiyat#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 05:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan pujian/sholawat sebelum sholat berjamaah]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sayyidina pada tahyat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan shalawat nabi tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat shalat teraweh]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan tahiyat untuk terawih]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bayangan takhiyat dalam bulan]]></category>
		<category><![CDATA[cara panduan sholawat shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[dlm shalawat bacaan sayidina boleh ato tdk]]></category>
		<category><![CDATA[doa shalawat di antara sholat taraweh]]></category>
		<category><![CDATA[hadist bacaan dlm tahiyat shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hadist bacaan tahiyat menggunakan sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang sholawat menggunakan sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[hkm tntng bacaan syaidina dlm tahiyat shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum baca sayyidina dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kata sayyidina pada tahiyat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai sayyidina dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jawaban sholawat ketika tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[kata sayyidina dalam sholawat]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[membaca doa tasyahud memakai sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa tarawih pakai shalawat?]]></category>
		<category><![CDATA[pakai sayyidina pada tahiyat]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan kata sayyidina]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan sayyidina pada shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[perlukah doa qunut subuh]]></category>
		<category><![CDATA[sayyidina dalam]]></category>
		<category><![CDATA[sayyidina mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah bacaan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah tahiyyat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat antara rakaat shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat pada shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat sesudah tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[tahyat dalam sholat subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5073</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukumnya menambahkan kata &#8220;sayyidina&#8221; dalam salawat pas tahiyat saat shalat? Ridwan (**oneabout@***.co.id) Jawaban: Bismillah. Sikap yang tepat adalah mengikuti petunjuk Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam berhalawat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, tanpa menambahi atau pun mengurangi. Al-Hafizh ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa hukumnya menambahkan kata &#8220;<em>sayyidina</em>&#8221; dalam salawat pas tahiyat saat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>?</p>
<p><em>Ridwan (**oneabout@***.co.id)</em><br />
<span id="more-5073"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah</em>. Sikap yang tepat adalah mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam berhalawat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, tanpa menambahi atau pun mengurangi.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan bahwa tidak ada satu pun riwayat tentang shalawat yang membuat tambahan &#8220;sayyidina&#8221; Beliau mengatakan, “Al-Qadhi &#8216;Iyadh (ulama Mazhab Syafi&#8217;i) telah mengumpulkan dalam satu bab khusus di kitabnya, <em>Asy-Syifa&#8217;</em>, tentang tata cara bersalawat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau sebutkan beberapa riwayat dari para shahabat maupun tabi&#8217;in; tidak ada satu pun di antara mereka yang menambahkan lafal &#8216;sayyidina&#8217;.”</p>
<p>Di antaranya adalah riwayat dari Ibnu Abi Laila, bahwa beliau bertemu Ka&#8217;ab bin Ujrah (shahabat), kemudian Ka&#8217;ab mengatakan, &#8220;Maukah kamu, aku beri hadiah? Sesungguhnya, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menemui kami, kemudian kami bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, &#8230; Bagaimanakah bacaan salawat kepadamu?&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Ucapkanlah, &#8216;<em>Allahumma shalli &#8216;ala Muhammad wa &#8216;ala ali Muhammad</em> &#8230;.&#8221;” (H.R. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Andaikan tambahan kata &#8220;sayyidina&#8221; itu disyariatkan, sebagai bentuk rasa hormat kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tentu Ka&#8217;ab bin &#8216;Ujrah, seorang <em>shahabat</em> yang mulia, akan mengajarkannya kepada muridnya, karena merekalah orang yang paling hormat dan paling tahu cara mengagungkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Setelah kita memahami bahwa bacaan shalawat dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> <strong>tidak</strong> memuat tambahan &#8220;sayyidina&#8221; maka bacaan salawat ketika shalat tidak boleh ditambahi &#8220;sayyidina&#8221;. Semua bacaan dalam shalat harus tepat sesuai dengan bacaan yang disebutkan dalam dalil. Bahkan, sebagian ulama menyatakan bahwa menambahkan lafal &#8220;sayyidina&#8221; dalam bacaan salawat ketika shalat bisa membatalkan shalat.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hkm tntng bacaan syaidina dlm tahiyat shalat</strong>, <strong>kata sayyidina dalam sholawat</strong>, <strong>membaca doa tasyahud memakai sayyidina</strong>, <strong>pakai sayyidina pada tahiyat</strong>, <strong>bacaan sayyidina pada tahyat sholat</strong>, <strong>hadist bacaan dlm tahiyat shalat</strong>, <strong>jawaban sholawat ketika tarawih</strong>, <strong>dlm shalawat bacaan sayidina boleh ato tdk</strong>, <strong>penggunaan sayyidina pada shalawat</strong>, <strong>penggunaan kata sayyidina</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/perlukah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-tahiyat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaminan Masuk Surga yang Mengikuti Paham Ahlus Sunnah wal Jamaah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-mengikuti-paham-salafus-shalih-ada-jaminan-masuk-surga</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-mengikuti-paham-salafus-shalih-ada-jaminan-masuk-surga#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 01:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[al quran jaminan umat islam masuk surga]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu paham salafus shalih]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[budak]]></category>
		<category><![CDATA[faham shalafus shaleh]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[jaminan allah tentang masuk surga]]></category>
		<category><![CDATA[jaminan orang islam masuk surga]]></category>
		<category><![CDATA[jaminan sholat berjamaah]]></category>
		<category><![CDATA[jaminan surga mati di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[jaminan surga untuk orang islam]]></category>
		<category><![CDATA[kafarah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masuk surga]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang meninggal bulan ramadhan masuk surga menurut salafi]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan sabar sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah mati geraham]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[wallpaper salaf]]></category>
		<category><![CDATA[wanita sabar yang masuk suga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4928</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Jika mengikuti paham salafush shalih (ahlus sunnah wal jamaah), apakah ada jaminan bahwa jika mati, masuk surga? Jika benar, dalinya dari Alquran pada surat apa dan nomor berapa? Jika ada dalam hadis maka hadis apa, bab apa, dan nomor ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika mengikuti paham <em>salafush shalih</em> (<em>ahlus sunnah wal jamaah</em>), apakah ada jaminan bahwa jika mati, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masuk-surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masuk surga">masuk surga</a>? Jika benar, dalinya dari Alquran pada surat apa dan nomor berapa? Jika ada dalam hadis maka hadis apa, bab apa, dan nomor hadisnya berapa? Jika tidak ada jaminannya, apa alasan untuk memercayai paham tersebut?<br />
<span id="more-4928"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Seseorang, yang mengikuti paham <em>salafush shalih</em> dengan benar dan sempurna, dijanjikan oleh Allah untuk masuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>, berdasarkan firman Allah ta&#8217;ala,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</strong></p>
<p>&#8220;<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam), di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar <strong>dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik</strong>, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya, selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar</em>.&#8221; (Q.S. At-Taubah:100)</p>
<p>Dalam ayat yang mulia ini, Allah menjanjikan surga bagi para sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan benar dan baik. Tentunya, hal ini menunjukkan bahwa mereka selamat dari neraka. Allah tidak pernah menyelisihi janji-Nya.</p>
<p>Perlu ditegaskan kembali tentang pengertian pemahaman <em>salafush shalih</em>. Maksudnya adalah pemahaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya. Kata &#8220;salaf&#8221; dalam istilah para ulama dipakai untuk &#8216;para sahabat dan dua generasi setelahnya yang mengikuti pemahaman sahabat dengan benar dan baik&#8217;. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِ يْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنهُمْ ثُمَّ يَجِيْءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ</strong></p>
<p><em>&#8220;Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi. Kemudian, sebuah kaum datang; syahadat salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului syahadatnya</em>.&#8221; (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Mengikuti pemahaman mereka ini menjadi kunci keselamatan dan terhindar dari neraka, sebagaimana dinyatakan langsung oleh Rasulullah dalam sabdanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَإِنَّ بَنِي أسْرَائِيلَ تَفَرَّقَ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةَّ وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ الله قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي</strong></p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya, Bani Israil berpecah-belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan pecah menjadi 73 golongan, seluruhnya masuk neraka kecuali satu.&#8221; Mereka bertanya, &#8220;Siapa ia, wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;(Orang yang mengikuti) jalan yang ditempuh olehku dan sahabatku (ajaranku dan sahabatku)</em>.&#8221;</p>
<p>Hal ini pun ditegaskan dalam hadis Irbadh bin Sariyah; Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>أُوْصيْكُمْ بتقْوَى اللهِ والسَمْع والطَاعَةِ وَإنْ عَبْدًا حَبَشيًا فَإنهَّ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِشُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَة</strong></p>
<p>&#8220;<em>Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun yang memimpin adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a> Habsyi, karena barang siapa di antara kalian yang masih hidup maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah para Khalifah Ar-Rasyidin yang memberi petunjuk. Berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Waspadalah pula terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan), karena hal-hal yang baru itu adalah bid&#8217;ah, dan setiap bid&#8217;ah adalah kesesatan</em>.&#8221;</p>
<p>Untuk lebih jelasnya, silahkan membaca kitab <em>Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafi</em>, karya Syekh Salim bin Id Al-Hilali, yang telah diterjemahkan dengan judul &#8220;<em>Mengapa Memilih Manjah Salaf?</em>&#8220;, diterbitkan oleh Pustaka Imam Bukhari. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 5, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com.<br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>budak</strong>, <strong>ramadhan sabar sunnah</strong>, <strong>wallpaper salaf</strong>, <strong>jaminan surga mati di bulan ramadhan</strong>, <strong>apa itu paham salafus shalih</strong>, <strong>faham shalafus shaleh</strong>, <strong>sunnah mati geraham</strong>, <strong>jaminan allah tentang masuk surga</strong>, <strong>al quran jaminan umat islam masuk surga</strong>, <strong>haji</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-mengikuti-paham-salafus-shalih-ada-jaminan-masuk-surga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Fanatik terhadap Mazhab Tertentu?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-fanatik-terhadap-mazhab-tertentu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-fanatik-terhadap-mazhab-tertentu#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 00:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[fanatik madzhab boleh apa tidak]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengikuti mazhab tertentu]]></category>
		<category><![CDATA[hukum meninggalkan rakaat tertentu dalam sholat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa kita harus mengikuti satu mazhab tertentu]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat mahzab jenggot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4842</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah ta&#8217;assub (fanatik, red.) kepada mazhab tertentu yang diikuti oleh manusia dalam setiap hukum dari hukum-hukum syariat, sekalipun dengan begitu ia menyelisihi (pendapat, red.) yang benar? Bolehkah meninggalkan mazhab tersebut dan mengikuti mazhab yang benar dalam keadaan tertentu? Apa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah <em>ta&#8217;assub</em> (fanatik, <em>red.</em>) kepada mazhab tertentu yang diikuti oleh manusia dalam setiap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a>-hukum syariat, sekalipun dengan begitu ia menyelisihi (pendapat, <em>red.</em>) yang benar? Bolehkah meninggalkan mazhab tersebut dan mengikuti mazhab yang benar dalam keadaan tertentu? Apa hukum mengikuti satu mazhab tertentu saja?<br />
<span id="more-4842"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Orang yang memiliki kemampuan untuk berijtihad mutlak tidak boleh bertaklid. Adapun orang yang tidak memiliki kemampuan itu, (maka) boleh baginya bertaklid kepada orang yang lebih <em>&#8216;alim</em> (mengetahui) daripadanya. Terkait permasalahan bermazhab dengan salah satu dari mazhab empat yang terkenal dan tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, dan menisbatkan diri kepada mazhab tersebut, (maka) tidak ada larangan untuk itu. Misalnya, dikatakan “Fulan Hanbali”, “Fulan Hanafi”, “Fulan Maliki”. Gelar seperti ini senantiasa ada semenjak dulu di kalangan ulama, bahkan hingga ulama-ulama besar. Misalnya, dikatakan “Ibnu Taimiyyah Al-Hanbali&#8221;, &#8220;Ibnul Qayyim Al-Hanbali&#8221;, dan seperti itu. <strong>Tidak ada larangan dalam hal ini</strong>.</p>
<p>Semata-mata ber-<em>intima’</em> (menisbatkan diri) kepada mazhab tersebut tidaklah terlarang, namun dengan syarat, dia tidak boleh mengikat dirinya dengan mazhab tersebut, sehingga dia <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> seluruh pendapat yang ada di dalamnya, baik yang benar maupun yang salah. Yang seharusnya ialah dia hanya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> yang benar saja. Adapun yang diketahuinya salah maka tidak boleh dia amalkan.</p>
<p>Jika tampak baginya pendapat yang lebih rajih, maka wajib baginya mengambil pendapat yang rajih itu, baik jika pendapat itu berada dalam mazhabnya maupun di mazhab yang lain. Karena yang telah jelas baginya adalah sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dia tidak boleh meninggalkannya hanya karena perkataan seseorang.</p>
<p>Teladan kita adalah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dengan demikian, kita mengambil pendapat yang ada dalam sebuah mazhab selama pendapat itu tidak bertentangan dengan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Jika ternyata pendapat itu bertentangan dengan sabda beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka wajib bagi kita untuk meninggalkan pendapat tersebut dan lebih memilih sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kita mengambil pendapat yang rajih dan sesuai dengan sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari mazhab mujtahidin mana pun datangnya.</p>
<p>Adapun orang yang mengambil pendapat imam secara mutlak, baik benar maupun salah, maka dia dianggap melakukan taklid buta. Kemudian, jika dia berpendapat bahwa wajib taklid kepada orang tertentu selain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka ini murtad (keluar dari Islam).</p>
<blockquote><p>Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Barang siapa yang berkata, ‘Wajib taklid kepada orang tertentu selain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,’ maka dia harus diminta untuk bertobat. Jika dia tidak mau maka dia dihukum mati, karena tidak ada seorang pun yang wajib diikuti kecuali Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Adapun selain beliau, (yaitu) dari kalangan imam mujtahidin, maka kita ambil pendapat mereka yang sesuai dengan sunnah Rasulullah. Adapun jika seseorang mujtahid keliru dalam  ijtihadnya maka haram bagi kita mengambil pendapatnya yang keliru itu.&#8221;</p></blockquote>
<p><strong>Sumber: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 3, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi <em>www.KonsultasiSyariah.com</em>.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum</strong>, <strong>hukum meninggalkan rakaat tertentu dalam sholat jamaah</strong>, <strong>pendapat mahzab jenggot</strong>, <strong>hukum mengikuti mazhab tertentu</strong>, <strong>fanatik madzhab boleh apa tidak</strong>, <strong>mengapa kita harus mengikuti satu mazhab tertentu</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>mengambil</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-fanatik-terhadap-mazhab-tertentu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/311 queries in 0.127 seconds using disk: basic
Object Caching 37634/38144 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-05 06:24:44 -->
