<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Firqoh</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/manhaj/firqoh-manhaj/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 02:42:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Kesesatan Syiah Menurut Dr. Said Aqil Siroj</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kesesatan-syiah-menurut-dr-said-aqil-siroj</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kesesatan-syiah-menurut-dr-said-aqil-siroj#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10405</guid>
		<description><![CDATA[Kesesatan Syiah Menurut Dr. Said Aqil Siroj Perjalanan hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kesesatan Syiah Menurut Dr. Said Aqil Siroj</h2>
<p>Perjalanan hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah <em>Azza wa Jalla</em> yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia tidak akan kuasa untuk teguh dalam menetapi sesuatu termasuk agamanya (<em>istiqamah</em>). Karena itu, dahulu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah, <em>“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku</em> <em>di atas agama-Mu.”</em> Ini mungkin salah satu hikmah yang dapat kita petik dari kewajiban membaca surat Al Fatihah pada setiap rakaat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>. Pada surat ini terdapat permohonan kepada Allah <em>Azza wa Jalla</em> agar senantiasa menunjuki kita jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran<br />
<span id="more-10405"></span><br />
Fenomena ini terus melintas dalam pikiran saya, gara-gara saya membaca pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) <strong>Said Aqil Siroj</strong> di berbagai media. Said <span style="text-decoration: underline;">Aqil Siroj</span> mengatakan bahwa ajaran Syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.</p>
<p>Untuk menguatkan klaimnya ini, <strong>Said Aqil</strong> merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Ummu Al Quro di Arab Saudi. Menurutnya,  &#8221;Wahabi yang keras saja menggolongkan Syiah bukan sesat.&#8221;</p>
<p>Pernyataan Said Aqil ini menyelisihi fakta dan menyesatkan. Sebagai buktinya, pada Mukaddimah disertasi S3 yang ia tulis semasa ia kuliah di Universitas Ummu Al Quro, Hal. tha’ (ط) Said Aqil menyatakan, “<em>Telah diketahui bersama bahwa umat Islam di Indonesia secara politik, ekonomi, sosial, dan ideologi menghadapi berbagai permasalahan besar. Pada saat yang sama mereka menghadapi musuh yang senantiasa mengancam mereka. Dimulai dari gerakan kristenisasi, paham sekuler, </em><em>kebatinan, dan berbagai sekte sesat, semisal Syiah, Qadiyaniyah (Ahmadiyyah), Bahaiyah</em><em>,</em><em> dan selanjutnya Tasawuf.”</em><em></em></p>
<p>Pernyataan Said Aqil pada awal disertasi S3-nya ini cukup menggambarkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> pemahaman yang diajarkan oleh Universitas Ummu Al Qura.</p>
<p>Bukan hanya Syiah yang sesat, bahkan lebih jauh Said Aqil dari hasil studinya menyimpulkan bahwa paham tasawuf juga menyimpang dari ajaran Islam. Karena itu pada akhir disertasinya, Said Aqil menyatakan, “<em>Sejatinya</em> ajaran <em>tasawuf dalam hal “al hulul” (menyatunya Tuhan dengan manusia) berasalkan dari orang-orang Syiah aliran keras (ekstrim). Aliran ekstrim Syiah meyakini bahwa Tuhan atau bagian dari-Nya telah menyatu dengan para imam mereka, atau yang mewakili mereka. Dan ideologi para pengikut sekte Syiah ini berawal dari pengaruh ajaran agama Nasrani.” </em>(<em>Silatullah Bil Kaun Fit Tassawuf Al Falsafy</em> oleh Said Aqil Siroj, 2:605-606)</p>
<p>Karena menyadari kesesatan  dan mengetahui  gencarnya  penyebaran Syiah di Indonesia, maka Said menabuh genderang peringatan. Itulah yang ia tegaskan pada awal disertasinya, sebagai andilnya dalam upaya melindungi Umat Islam dari paham yang sesat dan menyesatkan.</p>
<p>Namun, alangkah mengherankan bila kini Said Aqil menelan kembali <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ludah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ludah">ludah</a> dan keringat yang telah ia keluarkan. Hasil penelitiannya selama bertahun-tahun, kini ia ingkari sendiri dan dengan lantang Said Aqil berada di garda terdepan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pembela-syiah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pembela syiah">pembela Syiah</a>. Mungkinkah kini Said Aqil telah menjadi korban ancaman besar yang dulu ia kawatirkan mengancam umat Islam di negeri tercinta ini?</p>
<p>Oleh karena itu, Said heran dengan pernyataan Menteri Agama yang menilai Syiah adalah ajaran sesat. Dalam kurikulum <em>Al Firqoh Al Islamiyah</em> ajaran Khawarij, Jabbariyah, Muktazilah, dan Syiah masih dinilai sebagai Islam. &#8220;Ulama Sunni seperti Ibnu Khazm menilai Syiah itu Islam,&#8221; katanya.</p>
<p>Meski Syiah dan Sunni (Ahlussunnah) berbeda, lanjut Said, umat Islam tidak perlu mempertajam perbedaan. &#8220;Dalam Sunni saja banyak perbedaan yang tajam, misalnya penganut Imam Syafi’i dan Hanafi, itu saja berbeda tajam, apalagi Syiah,&#8221; katanya. Fatwa NU mengenai Syiah, Said menambahkan, pernah dikeluarkan pada 2006 yang menyebutkan Syiah bukan aliran yang sesat. &#8220;NU tidak pernah keras,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Menanggapi pernyataan Suryadarma yang juga kader Nahdlatul Ulama, Said menilai hal itu tidak pantas disampaikan. &#8220;Yang dikedepankan harusnya ukhuwah dan toleransi,&#8221; katanya. Said berharap Suryadarma Ali meminta maaf atas pernyataannya itu. &#8220;Saya setuju dengan permintaan maaf itu,&#8221; katanya. Said menilai permintaan maaf Suryadarma Ali bertujuan untuk menguatkan persatuan bangsa. (IRIBIndonesia/Tempo/PH)</p>
<p><a href="http://indonesian.irib.ir/hidden-2/-/asset_publisher/bHp8/content/pb-nu-syiah-tidak-sesat?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-2%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_bHp8%26p_p_lifecycle%3D" rel="nofollow" target="_blank">http://indonesian.irib.ir/hidden-2/-/asset_publisher/bHp8/content/pb-nu-Syiah-tidak-sesat?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-2%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_bHp8%26p_p_lifecycle%3D</a></p>
<h3>Berikut ini kami lampirkan disertasi Dr. Said Aqil Siroj:</h3>
<p class="arab">قال أبو محمد وما نعلم أهل قرية أشد سعيا في إفساد الاسلام وكيده من الرافضة 4/24</p>
<p class="arab">ومن المعروف أن المسلمين في إندونيسيا يواجهون مشاكل ضخمة، سياسيا واقتصاديا واجتماعيا وعقديا، وأمامهم أعداء متربصون بهم، من حركة التنصير والعلمانية والباطنية والفرق الضالة – الشيعة والقاديانية والبهائية – ثم الصوفية.<br />
صفحة ط من مقدمة رسالته الماجستير</p>
<p class="arab">وأما قولهم في دعوى الروافض تبديل القراءات فإن الروافض ليسوا من المسلمين إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه و سلم بخمس وعشرين سنة وكان مبدؤها إجابة من خذله الله تعالى لدعوة من كاد الإسلام وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر وهي طوائف أشدهم غلوا يقولون بالهية علي بن أبي طالب والآلهية جماعة معه وأقلهم غلوا يقولون أن الشمس ردت على علي بن أبي طالب مرتين فقوم هذا أقل مراتبهم في الكذب أيستشنع منهم كذب يأتون به وكل من يزجره عن الكذب ديانة أو نزاهة نفس أمكنه أن يكذب ما شاء وكل دعوى بلا برهان فليس يستدل بها عاقل سواء كانت له أو عليه ونحن أن شاء الله تعالى نأتي بالبرهان الواضح الفاضح لكذب الروافض فيما افتعلوه من ذلك 2/65</p>
<p class="arab">ولا ننسى أن غلاة الشيعة كانوا يستخدمون السحر والطلمسات ويظهرون للعوام الزهد والتقشف ولبس الصوف ويدعون الكرامات. 1/47<br />
إن التصوف أمر طارئ محدث غريب دخيل على المجتمع الإسلامي، ظهر في القرن الثاني الهجري. وأول ما ظهر في مدينة الكوفة، مدينة التقت فيها الأديان الوثنية والثقافات الأجنبية، كما أنها مركز غلاة الشيعة وكانوا يتظاهرون بالتزهد والتقشف ويمارسون السحر والشعوذة والكيمياء والسيمياء والتنجيم وغيرها من العلوم المعروفة عند العجم. 2/603.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Dr. Arifin Baderi (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>About The Author:<br />
Dr. Muhammad Arifin, M.A. Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).</p>
<h3>Materi terkait kesesatan Syiah dan Mut’ah:</h3>
<p>1.<a href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" rel="nofollow" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a href="../peringatan-kematian-imam-husein" rel="nofollow" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" rel="nofollow" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a href="../nikah-mutah-dalam-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a href="../media-pembela-syiah-indonesia" rel="nofollow" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a href="../ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-2" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.<br />
9. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-3" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syaih (3)</a>.<br />
10. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-4" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (4)</a>.<br />
11. <a href="http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait" target="_blank">Ajaran Syiah dan Ahlul Bait</a>.</p>
<p>Tags: syiah, ajaran syiah, kesesatan syiah, ajaran sesat syiah, tokoh syiah indonesia, syiah indonesia, syiah memang sesat, bahaya syiah, <strong>sesatnya syiah</strong>, Dr. Said Aqil Siroj, said aqil siroj.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pictures</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kesesatan-syiah-menurut-dr-said-aqil-siroj/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pengakuan-haidar-bagir-tentang-sesatnya-syiah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pengakuan-haidar-bagir-tentang-sesatnya-syiah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 23:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10404</guid>
		<description><![CDATA[Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah Sepandai-pandai tupai melompat, pasti kan terjatuh juga. Pepatah ini adalah hal pertama yang melintas dalam pikiran  saya ketika membaca tulisan bapak Haidar Bagir di harian Republika (20/1/2012) dengan judul: Syiah dan Kerukunan Umat. Bapak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: -webkit-center;">Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah</h2>
<div style="text-align: -webkit-center;">Sepandai-pandai tupai melompat, pasti kan terjatuh juga. Pepatah ini adalah hal pertama yang melintas dalam pikiran  saya ketika membaca tulisan bapak Haidar Bagir di harian Republika (20/1/2012) dengan judul: Syiah dan Kerukunan Umat.</div>
<p>Bapak Haidar Bagir dengan segala daya dan upayanya berusaha menutupi beberapa ideologi Syiah yang menyeleweng dari kebenaran. Walau demikian, tetap saja ia tidak dapat melakukannya. Bahkan bila Anda mencermati dengan seksama, niscaya Anda dapatkan tulisannya mengandung pengakuan nyata akan kesesatan sekte Syiah Imamiyyah.<br />
<span id="more-10404"></span><br />
Berikut saya ketengahkan ke hadapan Anda tiga pengakuan terselubung bapak Haidar Bagir.</p>
<p><strong>Pengakuan Pertama: </strong><strong></strong></p>
<p>Data Syiah Imamiyah tentang ideologi adanya Alquran versi Syiah begitu melimpah dalam berbagai referensi Syiah. Wajar bila Bapak Haidar Bagir tidak menemukan cara untuk mengingkarinya. Fenomena ini mengharuskannya menempuh cara selain menutupinya. Dan ternyata Bapak Haidar Bagir lebih memilih cara mengesankan bahwa data tersebut adalah pendapat pribadi sebagian tokoh Syiah Imamiyah.</p>
<p>Karenanya, dengan jelas tulisan bapak Haidar Bagir ini mengandung pengakuan tentang kebenaran adanya Alquran versi Syiah Imamiyyah. Berdasarkan pengakuannya ini, Anda mendapat kepastian tentang adanya ideologi Alquran versi Syiah Imamiyyah.</p>
<p>Adapun klaim bapak Haidar bahwa ideologi ini adalah ideologi sebagian oknum Syiah, maka itu menyelisihi fakta yang ada. Sebagai salah satu buktinya, Ayatullah Khomeini, yang mereka anggap sebagai Wali Faqih, dan tokoh terkemuka Syiah Imamiyah zaman ini teryata masih mengajarkannya.</p>
<p>Dalam kitabnya <em>Kasyful Asrar</em> Hal. 149 Al Khomeini menyatakan: <em>&#8220;Telah kami buktikan pada awal pembahasan ini, bahwa Nabi <strong>menahan diri dari membicarakan masalah al imaamah (kepemimpinan) dalam Alquran</strong>. Alasannya beliau khawatir Alquran akan diselewengkan, atau timbul perselisihan yang sengit di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga hal itu berakibat buruk bagi masa depan agama Islam.&#8221;</em></p>
<p>Adapun keberadaan Mushaf Utsmani di tengah-tengah para penganut Syiah Imamiyah, maka itu belum cukup kuat untuk mengingkari adanya mushaf Fatimah dalam ideologi Syiah. Yang demikian itu karena tokoh Syiah Imamiyah sejak dahulu mengajarkan agar para pengikut mereka untuk sementara membaca Alquran yang ada, hingga masa bangkitnya Imam ke-12 mereka. Menurut mereka, hanya Imam Mahdi merekalah yang masih menyimpan dan kelak akan mengajarkannya kembali kepada para pengikutnya.</p>
<p>Al Kulaini dalam kitanya <em>Al Kafi</em> 2:619, meriwayatkan bahwa Abu Hasan Ali bin Musa Ar Ridha, bertanya kepada Imam Syiah ke-5, yaitu Abu Ja&#8217;far Muhammad bin Ali bin Al Husain, “ Semoga aku menjadi penebusmu, kita mendengar ayat-ayat Alquran yang tidak ada pada Alquran kita ini. Kita juga tidak dapat membacanya sebagaimana yang kami dengar dari Anda, maka apakah kami berdosa?” Beliau menjawab, “Tidak, bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari, karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajarkannya kepada kalian.&#8221;</p>
<p>Adapun klaim bapak Haidar tentang tokoh-tokoh Ahlusunnah yang menyatakan adanya perubahan pada Alquran, adalah klaim sepihak dan kosong dari bukti. Pernyataan sahabat Umar bin Al Khatthab juga yang lainnya tentang ayat rajam adalah penjelasan tentang adanya ayat yang dianulir secara bacaan. Walaupun secara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a>, ayat-ayat tersebut masih tetap berlaku.</p>
<p>Sebagaimana ulama-ulama Ahlusunnah juga menegaskan bahwa dalam Alquran terdapat beberapa ayat-ayat yang kandungan hukumnya telah dihapuskan walau secara bacaan masih tetap ada.  Fakta ini bukanlah hal aneh, karena telah dijelaskan pada ayat 106, surat Al Baqarah.</p>
<p>Namun tentu syariat <em>nasikh</em> (anulir) suatu ayat menurut Ahlusunnah menyelisihi ideologi perubahan Alquran dalam doktrin Syiah Imamiyah. <em>Nasikh</em> menurut Ahlusunnah hanya terjadi semasa hidup Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Adapun sepeninggal beliau maka tidak terjadi <em>nasikh. </em></p>
<p>Ditambah lagi<em> </em>menurut syariat Ahlusunnah, hingga hari kiamat<em> </em>tidak ada yang mengembalikan ayat-ayat yang semasa Nabi hidup <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> <em>mansukh</em> (dianulir).</p>
<p>Sedangkan menurut sekte Syiah Imamiyyah Alquran mengalami perubahan sepeninggal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em> Dan kelak ayat-ayat yang dirubah sepeninggal beliau akan dikembalikan lagi oleh imam mereka ke-12. Karena itu, sekte Syiah senantiasa menantikan kehadiran sosok tersebut, yang mereka yakini sebagai Imam Mahdi.</p>
<p><strong>Pengakuan Ke</strong><strong>dua</strong><strong> :</strong></p>
<p>Pada awal tulisan, Bapak Haidar mengklaim bahwa celaan Syiah terhadap sahabat hanyalah sebatas kecenderungan dan bukan ajaran. Menurutnya, Syiah yang mencela sahabat Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan juga sebagian istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hanyalah minoritas.</p>
<p>Selanjutnya Bapak Haidar berusaha menguatkan klaim ini dengan menyebutkan sekte Syiah Zaidiyah. Menurutnya sekte Zaidiyah menerima kekhilafahan sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.</p>
<p>Penuturan ini adalah bukti nyata bahwa Bapak Haidar telah memutar balikkan fakta. Sejatinya Bapak Haidar Bagir-lah yang telah menggunakan data <em>syadz</em> (ganjil) guna mendukung kesimpulanya. Karena sekte Zaidiyah adalah sekte minoritas Syiah, sedangkan meyoritas Syiah saat ini adalah para pengikut sekte Imamiyyah.</p>
<p>Terlebih lagi, adanya pengakuan terhadap kekhilafahan sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah alasan Imamiyah mengucilkan sekte Zaidiyah.</p>
<p>Adapun beberapa tokoh Syiah Imamiyyah yang disebut oleh bapak Haidar telah mengakui kekhilafahan ketiga sahabat di atas, maka saya tidak ingin banyak mempersoalkannya. Saya hanya ingin bertanya: apakah pengakuan tersebut diamini oleh tokoh Imamiyyah yang lain dan kemudian diterapkan oleh seluruh penganut Imamiyah?</p>
<p>Fakta yang terjadi di lapangan membuktikan bahwa pengikut Syiah imamiyah tetap saja melaknati ketiganya dan juga lainnya. Kasus sampang dan berbagai kasus serupa di negri kita adalah salah satu buktinya. Karena itu Abu Lukluah Al Majusi aktor pembunuh Khalifah Umar bin Khatthab diagungkan oleh sekte Imamiyah sehingga mereka menjulukinya dengan <em>Baba Suja’uddin</em>. Dan sebagai apresiasi atas jasanya membunuh Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab, mereka membangun kuburannya dengan megah.<span style="font-size: small;"><span style="line-height: normal;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="line-height: normal;"><img class="alignnone" title="pembunuh umar" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/02/buaya10-1-300x273.jpg" alt="buaya10 1 300x273 Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah" width="300" height="273" /><br />
</span></span></p>
<p>(Gambar: Kuburan Abu Lukluah Al Majusi)</p>
<p><img class="alignnone" title="memuja pembunih umar" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/02/buaya10-4-300x256.jpg" alt="buaya10 4 300x256 Pengakuan Haidar Bagir Tentang Sesatnya Syiah" width="300" height="256" /></p>
<p>(Betapa antusiasnya pengikut agama Syi’ah ketika berziarah ke kuburan ini)</p>
<p><strong>Pengakuan Ketiga: </strong></p>
<p>Kebesaran jiwa ulama-ulama Ahlusunnah dan juga seluruh Ahlusunnah untuk menghentikan kemungkaran yang dilakukan oleh dinasti Abbasiyah. Sehingga mereka semua patuh dan mengapresiasi sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menginstruksikan hal tersebut. Dan alhamdulillah hingga kini, hal tersebut sirna dan tidak ada yang melakukannya kembali.</p>
<p>Namun hal serupa hingga saat ini tidak kuasa dilakukan oleh para penganut ajaran Syiah Imamiyah. Sehingga walaupun para aktor sandiwara <em>taqrib</em> telah menyerukannya, namun tetap saja di lapangan para penganut Syiah terus mencaci sahabat-sahabat Nabi. Sikap Yasir Al Habib beserta para pengikutnya dan juga Syiah di Sampang adalah bukti nyata, bahwa seruan tersebut hanyalah seruan tanpa pembuktian.</p>
<p>Pengakuan bapak Haidar ini, dapat menjadi bukti nyata bahwa hanya dengan mengikuti ajaran Ahlusunnahlah kedamaian antar komponen umat Islam dapat terwujud. Adapun ajaran Syiah, terlebih Imamiyyah, hingga saat ini terus menjadi biang terjadinya permusuhan bahkan perang saudara di tengah-tengah umat Islam. Sikap pasukan Al Hutsi di Yaman yang menyerang Ahlusunnah di daerah Dammaj, dan juga pasukan Al Mahdi di Irak yang membantai Ahlusunnah adalah bukti nyata akan hal tersebut.</p>
<p><strong>Pengakuan Keempat :</strong></p>
<p>Bapak Haidar Bagir juga mengakui bahwa sekte Syiah yang selama ini menjadi biang kericuhan umat Islam adalah Syiah Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah. Karena itu beliau merasa perlu untuk mengutarakan adanya perubahan pandangan tentang keabsahan khilafah sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.</p>
<p>Walau demikian, ada satu fakta yang mungkin kurang diwaspadai oleh bapak Haidar Bagir. Mengakui adanya perubahan ini sejatinya adalah pengakuan bahwa ideologi Imamah versi Imamiyyah adalah sesat. Andai tidak sesat, buat apa beliau perlu mengutarakan adanya ralat yang dilakukan oleh sebagian tokoh sekte Imamiyah?</p>
<p>Terlebih sejatinya ideologi bahwa imam (penguasa umat) dalam Islam hanya berjumlah 12 orang, adalah ideologi tidak nyata dan tidak masuk akal. Anda pasti telah mengetahui bahwa dari kedua belas imam Syiah yang benar-benar pernah mengenyam sebagai khalifah hanyalah sahabat Ali bin Abi Thalib dan putranya Hasan.</p>
<p>Adapun Husein beserta <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> cucunya, maka hingga mereka meninggal dunia, tidak seorang pun yang sempat menjadi pemimpin. Sehingga berbagai dalil yang mereka yakini tentang keimaman mereka benar-benar menyelisihi fakta.</p>
<p>Secara <em>defacto</em> seluruh ahli sejarah sepakat bahwa Hasan bin Abi Thalib telah menyerahkan <em>khilafah</em> (kekuasaan) kepada sahabat Mu’awiyah. Dan tahun terjadinya serah terima khilafah ini akhirnya dikenal dan diabadikan oleh umat Ahlusunnah hingga akhir masa. Sehingga mereka menyebut tahun tersebut dengan sebutan <em>‘aamul jama’ah</em> (tahun persatuan).</p>
<p>Setiap Ahlusunnah bergembira dengan kejadian ini. Ahlusunnah menganggap sikap Hasan ini sebagai jasa terbesar yang beliau lakukan untuk umat Islam. Bahkan Ahlusunnah hingga saat ini meyakini bahwa sikap Hasan ini sebagai wujud nyata dari sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentangnya,</p>
<p><em>“Sejatinya putraku ini adalah seorang pemimpin, dan semoga dengannya Allah menyatukan dua kelompok besar dari umat Islam.”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Namun tahukah Anda bahwa Ahlusunnah yang mengapresiasi kebesaran jiwa Hasan ini ternyata tidak diteladani oleh penganut Syiah. Beberapa referensi Syiah malah menukilkan sikap yang berlawan arah. Beberapa tokoh Syiah malah menganggap sikap Hasan ini sebagai bentuk pengkhianatan.</p>
<p>Pada suatu hari, seorang  tokoh Syiah bernama Sufyan bin Laila berkunjung ke rumah Hasan bin Ali. Didapatkan beliau sedang duduk-duduk sambil berselimut di depan rumahnya. Spontan Sufyan bin Laila mengucapkan salam kepada Hasan dengan berkata, <em>&#8220;Semoga keselamatan atasmu, <strong>wahai orang yang telah menghinakan kaum mukminin</strong>!” Karena merasa ganjil dengan ucapan selamat yang disampaikan oleh Sufyan, Hasan bertanya, “Darimana engkau mengetahui hal itu?” Ia menjawab, “Engkau telah memangku kepemimpinan, lalu engkau melepaskannya dari bahumu. Selanjutnya engkau sematkan kepemimpinan itu di bahu penjahat ini agar ia leluasa menerapkan hukum selain hukum Allah.&#8221;</em></p>
<p>Kisah ini bisa Anda temui pada beberapa refensi agama Syiah, semisal: <em>Al Ikhtishash</em> karya As Syeikh Al Mufid wafat thn: 413 H, Hal.82,  <em>Ikhtiyaar Ma&#8217;rifat Ar Rijal</em>, karya As Syeikh At Thusi wafat thn: 460, Hal. 1:327 dan <em>Biharul Anwar</em> karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn: 1111 H, Hal.44:24.</p>
<p>Sejak serah terima khilafah antara sahabat Hasan kepada sahabat Mu’awiyah ini, tidak seorang pun dari keturunan sahabat Ali bin Abi Thalib yang memangku jabatan khalifah. Bahkan Husein bin Abi Thalib yang hendak merebut khilafah dari Yazid bin Mu’awiyah, menemui kegagalan dan terbunuh sebelum sempat mendapatkannya. Tak ayal lagi, ia hidup tanpa <em>imamah, </em>hingga akhir hayatnya, demikian pula nasib seluruh anak cucunya. Dengan demikian kesepuluh imam Syiah Imamiyyah setelah Hasan berstatus <em>Kings Without A Kingdom.</em></p>
<p>Ini adalah bukti nyata bahwa meyakini keimamahan kesepuluh imam sekte Imamiyah adalah kekeliruan, karena menyelisihi fakta. Sehingga wajar bila seluruh Ahlusunnah dan juga setiap yang berakal sehat tanpa terkecuali umat Islam di negri kita tercinta ini menolak ideologi Syiah Imamiyyah.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Dr. Arifin Baderi (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>About The Author:<br />
Dr. Muhammad Arifin, M.A. Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).</p>
<h3>Materi terkait sesatnya Syiah dan Mut’ah:</h3>
<p>1.<a href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" rel="nofollow" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a href="../peringatan-kematian-imam-husein" rel="nofollow" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" rel="nofollow" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a href="../nikah-mutah-dalam-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a href="../media-pembela-syiah-indonesia" rel="nofollow" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a href="../ajaran-syiah" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-2" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.<br />
9. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-3" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syaih (3)</a>.<br />
10. <a href="../hakikat-ajaran-syiah-4" rel="nofollow" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (4)</a>.<br />
11. <a href="http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait" target="_blank">Ajaran Syiah dan Ahlul Bait</a>.</p>
<p>Tags: syiah, ajaran syiah, kesesatan syiah, ajaran sesat syiah, tokoh syiah indonesia, syiah indonesia, syiah memang sesat, bahaya syiah, <strong>sesatnya syiah</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pengakuan-haidar-bagir-tentang-sesatnya-syiah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ajaran Syiah dan Ahlul Bait</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 23:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10150</guid>
		<description><![CDATA[Ajaran Syiah dan Ahlul Bait Pertanyaan: Saya tertarik dengan ajaran Syiah. Saya banyak membaca buku tentang Syiah, Syiah mencintai ahlul bait, ahlul bait itu adalah keluarga rasul. Semua hadis-hadisnya berasal dari ahlul bait. Yang saya tanyakan mengapa Ahlussunah menolak semua ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ajaran Syiah dan Ahlul Bait</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Saya tertarik dengan <strong>ajaran Syiah</strong>. Saya banyak membaca buku tentang Syiah, Syiah mencintai <em>ahlul bait</em>, ahlul bait itu adalah keluarga rasul. Semua hadis-hadisnya berasal dari <em>ahlul bait</em>. Yang saya tanyakan mengapa Ahlussunah menolak semua hadis-hadis Syiah yang berasal dari keluarga rasul atau <em>ahlul bait</em> tanpa dikaji sedikit pun?</p>
<p>Dari: Thaherem<br />
<span id="more-10150"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Bismillah<br />
Alahmdulillah, shalwat dan salam semoga tercucah kepada Rasulullah, dan ahlul baitnya, serta semua orang yang mengikuti beliau.</p>
<p>Terkait masalah ini, kami perlu menegaskan bahwa tidak ada satu pun Ahlussunah, baik ulamanya maupun orang awamnya yang membenci <em>ahlul bait</em>. Bahkan mereka sangat mencintai <em>ahlul bait</em>. Justru kami meragukan klaim Syiah yang mencintai <em>ahlul bait</em>, karena beberapa hal:</p>
<p>A. <em>Ahlu bait</em> adalah <strong>semua</strong> keluarga Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Bukankah istri-istri beliau termasuk keluarga Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Tapi anehnya, Syiah mencela habis-habisan Aisyah dan Hafshah <em>radhiallahu&#8217;anhuma</em>. Berita tentang ini, bisa Anda saksikan di youtube dan berbagai literatur Syiah. Bahkan mereka menegaskan bahwa Aisyah kekal di neraka. Silahkan Anda lihat ceramah dari salah seorang ulama Syiah, Yasir Al-Habib</p>
<p><iframe width="500" height="281" src="http://www.youtube.com/embed/4Lz4TPgCVZ4?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Dalil tegas yang menunjukkan bahwa istri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> termasuk keluarganya adalah firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab">يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32) وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا</p>
<p>&#8220;<em>Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu gemulai dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (nafsu) dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai <strong>ahlul bait</strong><em> dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.</em>&#8221; (QS. Al-Ahzab: 32-33)</em></p>
<p><strong>Siapakah Ahlul bait dalam ayat ini?</strong><br />
Ibnu Abbas mengatakan,</p>
<p class="arab">قوله: { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ } قال: نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم خاصة.</p>
<p>&#8220;Firman Allah di atas turun khusus terkait para istri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221; (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 6:410)</p>
<p>Ikrimah (salah satu Ahli tafsir murid Ibnu Abbas) mengatakan,</p>
<p class="arab">من شاء باهلته أنها نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم</p>
<p>&#8220;Siapa yang ingin mengetahui <em>ahlul bait</em> beliau, sesungguhnya ayat ini turun tentang para istri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221; (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 6:411)</p>
<p>B. Mereka sangat mengagungkan Abu Lukluk al-Majusi, yang mereka gelari dengan Baba Syuja&#8217;. Kuburannya dibangun megah dst.<br />
Silahkan anda lihat di:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/Y0A6vpi23Qw?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Padahal setiap muslim, baik <em>ahlul bait</em> maupun bukan, sepakat bahwa Abu Lu&#8217;lu&#8217; adalah orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a>, termasuk Ali bin Abi Thalib <em>radhiallallahu &#8216;anhu</em> meyakini hal itu juga.</p>
<p>C. Mereka memberontak Bani Abbasiyah. Padahal Kekhallifahan Bani Abbasiyah dibangun atas prinsip mengumpulkan <em>Ahlul Bait</em>. Semua keluarga Abdul Muthalib (kakek Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) mendapatkan angin segar dengan Kekhallifahan Bani Abbasiyah.</p>
<p>Namun ada seorang penghianat orang Syiah, Nashiruddin At-Thusi yang membuka jalan lebar bagi pasukan Tar-Tar untuk membantai kaum muslilmin di Baghdad. Bukti pengkhianatan tokoh Syiah At-Thusi bisa Anda simak di:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/TpeBBogsDKg?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Mungkin Anda balik bertanya, tidak semua keturunan Abdul Muthalib adalah <em>Ahlul Bait</em>. Yang namanya <em>ahlul bait</em> adalah keturunan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> saja?<br />
Pertanyaan ini sungguh aneh, bukankah orang Syiah memasukkan Ali bin Abi Thalib termasuk Ahlul Bait? Padahal beliau <em>radhiallallahu &#8216;anhu</em> bukan keturunan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tapi beliau adalah anaknya Abu Thalib, paman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>D. Mohon dibaca dengan seksama artikel di <a rel="nofollow" href="http://www.gensyiah.com/syiah-menghina-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-ahlul-bait.html" target="_blank">gensyiah.com</a></p>
<p>E. <em>Ahlul bait</em> punya keutamaan, tapi apakah boleh kita kultuskan?? Ini butuh perenungan tambahan.</p>
<p>F. Ahlussunah menerima semua jalur hadis, baik dari <em>ahlul bait</em> maupun bukan <em>ahlul bait</em>. Karena syarat diterimanya berita adalah kejujuran dan kekuatan hafalan, bukan <em>ahlul bait</em>. Jika hanya hadis dari <em>ahlul bait</em> yang bisa diterima, tentu akan meninggalkan pertanyaan besar. Barapa jumlah sahabat yang menjadi <em>ahlul bait</em>? Apakah semua hadis ada pada <em>ahlul bait</em>? Tentu semua orang akan menjawab, sahabat yang lain juga memiliki banyak hadis. Karena itu, sikap yang tepat adalah menerima semua jalur periwayatan hadis, <strong>selama jalur itu bisa dipertanggung jawabkan</strong>.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ajaran syiah dan mut’ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a rel="nofollow" href="../ajaran-syiah" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a rel="nofollow" href="../hakikat-ajaran-syiah-2" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.<br />
9. <a href="http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-3" target="_blank">Hakikat Ajaran Syaih (3)</a>.<br />
10. <a href="http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-4" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (4)</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah-dan-ahlul-bait/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Ajaran Syiah (4)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-4</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-4#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 11:57:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9800</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat Ajaran Syiah (4) Perkataan ulama Islam mengenai Syiah, bagaimana pandangan mereka tentang kelompok Syiah Raafidhah. 1. ‘Alqamah bin Qais An-Nakha&#8217;i rahimahullah (Tokoh Tabi&#8217;in, w.62 H) &#8220;عَنْ عَلْقَمَةَ، قَالَ: &#8221; لَقَدْ غَلَتْ هَذِهِ الشِّيعَةُ فِي عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَمَا ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hakikat Ajaran Syiah (4)</h2>
<p>Perkataan ulama Islam mengenai Syiah, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> pandangan mereka tentang kelompok Syiah Raafidhah.</p>
<p>1.     ‘Alqamah bin Qais An-Nakha&#8217;i <em>rahimahullah</em> (Tokoh Tabi&#8217;in, w.62 H)</p>
<p class="arab">&#8220;عَنْ عَلْقَمَةَ، قَالَ: &#8221; لَقَدْ غَلَتْ هَذِهِ الشِّيعَةُ فِي عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَمَا غَلَتِ النَّصَارَى فِي عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ</p>
<p>Dari Alqamah, ia berkata, “Sungguh Syiah ini telah berlebih-lebihan terhadap Ali <em>radhiallahu ‘anhu</em> sebagaimana berlebih-lebihannya Nashara terhadap ‘<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/isa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with isa">Isa</a> bin Maryam.” (Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah no. 1115 dan Al-Harbiy dalam <em>Ghariibul-Hadiits</em>, 2:581, shahih).</p>
<p>2.     Az-Zuhriy <em>rahimahullah</em></p>
<p class="arab">عنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: &#8221; مَا رَأَيْتُ قَوْمًا أَشْبَهَ بِالنَّصَارَى مِنَ السَّبَائِيَّةِ &#8220;، قَالَ أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ: هُمُ الرَّافِضَةُ</p>
<p>Dari Az-Zuhri, ia berkata, “Aku tidak pernah melihat satu kaum yang lebih menyerupai Nashara daripada kelompok Saba&#8217;iyyah.” Ahmad bin Yunus berkata, “Mereka itu adalah Rafidhah (Syiah).” (Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam <em>Asy-Syari’ah</em>, 3:567 no.2083, shahih).</p>
<p>3.     Imam Maalik bin Anas <em>rahimahullah</em></p>
<p class="arab">أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ الْمَرُّوذِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ: عَنْ مَنْ يَشْتِمُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعَائِشَةَ؟ قَالَ: مَا أُرَآهُ عَلَى الإِسْلامِ، قَالَ: وَسَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ: قَالَ مَالِكٌ: الَّذِي يَشْتِمُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ لَهُ سَهْمٌ، أَوْ قَالَ: نَصِيبٌ فِي الإِسْلامِ</p>
<p>Abu Bakr Al-Marwadzi telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah tentang orang yang mencaci-maki Abu Bakar, Umar, dan Aaisyah? Maka ia menjawab, “Aku tidak berpendapat ia di atas agama Islam.” Al-Marwadzi berkata, Dan aku juga mendengar Abu Abdillah berkata, Malik (bin Anas) mengatakan, “Orang yang mencaci-maki para sahabat Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka ia tidak mempunyai bagian (dalam Islam).” –atau ia berkata, “Bagian dalam Islam.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam <em>As-Sunnah</em> no.783; shahih sampai Ahmad bin Hanbal).</p>
<p>4.     Imam Syaafi&#8217;i <em>rahimahullah</em></p>
<p class="arab">حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ، يَقُولُ: لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ الأَهْوَاءِ، أَشْهَدُ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ</p>
<p>Harmalah bin Yahya mengabarkan kepadaku, ia berkata, &#8220;Aku mendengar Asy-Syaafi&#8217;i berkata, &#8216;Aku tidak pernah melihat seorang pun dari pengikut hawa nafsu yang aku saksikan kedustaannya daripada Raafidhah (Syiah)&#8217;.&#8221; (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Adab Asy-Syafi’i, Hal. 144, hasan)</p>
<p class="arab">عن البويطي يقول: سألت الشافعي: أصلي خلف الرافضي ؟ قال: لا تصل خلف الرافضي، ولا القدري، ولا المرجئ&#8230;.</p>
<p>Dari Al-Buwaithiy ia berkata, “Aku bertanya kepada Asy-Syafi’iy, Apakah aku boleh <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> di belakang seorang Rafidhi (pengikut Syiah)?” Beliau menjawab, “Janganlah engkau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> di belakang seorang Raafidhi, Qadariy, dan Murji&#8217;i.” (<em>Siyaru A’lam An-Nubala’</em>, 10:31).</p>
<p>5.     Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em></p>
<p class="arab">أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ:  مَنْ شَتَمَ أَخَافُ عَلَيْهِ الْكُفْرَ مِثْلَ الرَّوَافِضِ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ شَتَمَ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا نَأْمَنُ أَنْ يَكُونَ قَدْ مَرَقَ عَنِ الدِّينِ</p>
<p>Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata, “Barangsiapa yang mencaci-maki (sahabat <em>pen.</em>), aku khawatir ia akan tertimpa kekafiran seperti Rafidhah”. Kemudian ia melanjutkan, “Barangsiapa yang mencaci-maki para sahabat Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka kami tidak percaya ia aman dari bahaya kemurtadan.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam <em>As-Sunnah</em> no.784, shahih).</p>
<p class="arab">عَبْدِ الصَّمَدِ، قَالَ: سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ، عَنْ جَارٍ لَنَا رَافِضِيٍّ يُسَلِّمُ عَلَيَّ، أَرُدُّ عَلَيْهِ؟ قَالَ: لا<br />
Abdusshamad mengatakan, &#8220;Aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang tetanggaku Raafidli (seorang Syiah) yang mengucapkan salam kepadaku, apakah perlu aku jawab?” Ia menjawab: “Tidak.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam <em>As-Sunnah</em> no.787; hasan).</p>
<p>6.     Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p class="arab">مَا أُبَالِي صَلَّيْتُ خَلْفَ الْجَهْمِيِّ، وَالرَّافِضِيِّ أَمْ صَلَّيْتُ خَلْفَ الْيَهُودِ، وَالنَّصَارَى، وَلا يُسَلَّمُ عَلَيْهِمْ، وَلا يُعَادُونَ، وَلا يُنَاكَحُونَ، وَلا يَشْهَدُونَ، وَلا تُؤْكَلُ ذَبَائِحُهُمْ<br />
“Sama saja bagiku shalat di belakang Jahmiy dan Raafidhi, atau aku shalat di belakang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a> dan Nashrani. Jangan memberikan salam kepada mereka, jangan dijenguk (apabila mereka sakit), jangan dinikahi, jangan disaksikan (jenazah mereka), dan jangan dimakan sembelihan mereka.” (<em>Khalqu Af’alil-‘Ibad</em>, 1:39-40).</p>
<p>7.     Al-Qadhi ‘Iyadh <em>rahimahullahu</em> berkata,</p>
<p class="arab">وَكَذَلِك نقطع بتكفير غلاة الرافضة فِي قولهم إنّ الْأَئِمَّة أفضل مِن الْأَنْبِيَاء</p>
<p>“Dan begitu pula kami memastikan kafirnya ghullat Rafidhah (orang-orang Syiah yang sudah sangat fanatik dengan ajarannya <em>pen.</em>) tentang perkataan mereka bahwasannya para imam lebih utama dari para Nabi.” (<em>Asy-Syifa bi-Ahwalil-Mushthafa</em>, 2:174).</p>
<p>8.     Ibnu Hazm Al-Andalusi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p class="arab">وأما قولهم ( يعني النصارى ) في دعوى الروافض تبديل القرآن فإن الروافض ليسوا من المسلمين ، إنما هي فرقة حدث أولها بعد موت رسول الله صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة .. وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر</p>
<p>“Adapun perkataan mereka (yaitu Nashara) atas klaim Raafidhah tentang perubahan Alquran (maka ini tidak teranggap), karena Raafidhah bukan termasuk kaum muslimin. Syiah adalah kelompok yang muncul pertama kali 25 tahun setelah wafatnya Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>&#8230;. Rafidhah adalah kelompok berjalan mengikuti jalan orang Yahudi dan Nashara dalam dusta dan kekufuran.” (<em>Al-Fishal fil-Milal wan-Nihal</em>, 2:213).</p>
<p>Syiah Rafidhah sering menggunakan dalih mencintai <em>ahlul bait</em> untuk menutupi hakikat busuk akidah mereka dan untuk menipu umat. Kecintaan mereka itu palsu. Kecintaan yang tidak diridhai oleh <em>ahlul bait</em> sendiri. <em>Ahlul bait</em> berlepas diri dari mereka, dan mereka pun berlepas diri dari <em>ahlul bait</em>.</p>
<p class="arab">عَنْ عَلِيَّ بْنَ حُسَيْنٍ، وَكَانَ أَفْضَلَ هَاشِمِيٍّ أَدْرَكْتُهُ، يَقُولُ:  يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَحِبُّونَا حُبَّ الإِسْلامِ، فَمَا بَرِحَ بِنَا حُبُّكُمْ حَتَّى صَارَ عَلَيْنَا عَارًا</p>
<p>Dari Ali bin Al-Husain –dan ia adalah seutama-utama keturunan Bani Hasyim yang aku (perawi) temui– berkata, “Wahai sekalian manusia (dalam riwayat lain &#8220;wahai penduduk Irak&#8221; atau &#8220;Wahai penduduk Kufah&#8221;), cintailah kami dengan kecintaan Islam. Kecintaan kalian kepada kami senantiasa ada hingga kemudian malah menjadi aib bagi kami.” (<em>Ath-Thabaqaat</em>, 5:110, shahih<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/05/islam-dan-ahlul-bait-menolak-kecintaan.html" target="_blank">[16]</a>).</p>
<p class="arab">عَنْ فُضَيْل بْنُ مَرْزُوقٍ، قَالَ: سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ الْحَسَنِ بْنِ الْحَسَنِ، أَخَا عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ يَقُولُ:  قَدْ وَاللَّهِ مَرَقَتْ عَلَيْنَا الرَّافِضَةُ كَمَا مَرَقَتِ الْحَرُورِيَّةُ عَلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ</p>
<p>Dari Fudlail bin Marzuuq, ia berkata, &#8220;Aku mendengar Ibraahiim bin Al-Hasan bin Al-Hasan, saudara ‘Abdullah bin Al-Hasan, berkata, &#8216;Sungguh, demi Allah, Raafidhah (Syiah) telah keluar (tidak taat) terhadap kami (<em>ahlul bait</em>) sebagaimana Al-Haruriyyah telah keluar (tidak taat) terhadap Ali bin Abi Thalib.” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam <em>Fadlailush-Shahabah</em>, no.36, hasan).</p>
<p>Ibraahiim bin Al-Hasan bin Al-Hasan adalah anggota <em>ahlul bait</em> dari jalur Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Ibnu Hibban berkata, “Ia termasuk di antara pemimpin penduduk Madinah, dan <em>ahlul bait</em> yang mulia/agung.” (<em>Masyahir ‘Ulama Al-Amshar</em>, Hal.155 no. 995).</p>
<p>Ya, kecintaan Syiah terhadap <em>ahlul bait</em> telah menjadi aib bagi kemuliaan <em>ahlul bait</em>. Mereka telah melakukan banyak kedustaan atas nama <em>ahlul bait</em> untuk merusak akidah Islam dari dalam.<br />
<em>Wallaahul-musta’an</em>.</p>
<p>Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/01/syiah-itu-sesat-juragan-sebuah-masukan.html" target="_blank">Ustadz Abul Jauza’</a> (Dengan perubahan bahasa oleh tim Konsultasi Syariah)</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ajaran syiah dan mut’ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a rel="nofollow" href="../ajaran-syiah" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a rel="nofollow" href="../hakikat-ajaran-syiah-2" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-4/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Ajaran Syiah (3)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-3</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-3#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 13:05:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9790</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat Ajaran Syiah (3) 5. Orang Syiah –dalam hal ini diwakili oleh Khomaini– mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menyembunyikan sebagian risalah dan gagal membina umat. Khomaini –semoga Allah memberikan balasan setimpal kepadanya- berkata, وواضح أنَّ النبي لو ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hakikat Ajaran Syiah (3)</h2>
<p>5.     Orang Syiah –dalam hal ini diwakili oleh Khomaini– mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> telah menyembunyikan sebagian risalah dan gagal membina umat.<br />
Khomaini –semoga Allah memberikan balasan setimpal kepadanya- berkata,</p>
<p class="arab">وواضح أنَّ النبي لو كان بلغ بأمر الإمامة طبقاً لما أمر به الله، وبذل المساعي في هذه المجال، لما نشبت في البلدان الإسلامية كل هذه الإختلافات&#8230;.</p>
<p>“Dan telah jelas bahwasannya Nabi jika ia menyampaikan perkara imamah sebagaimana yang Allah perintahkan (padanya) dan mencurahkan segenap kemampuannya dalam permasalahan ini, niscaya perselisihan yang terjadi di berbagai negeri Islam tidak akan berkobar…..” (<em>Kasyful-Asrar</em>, Hal. 155).</p>
<p class="arab">لقد جاء الأنبياء جميعاً من أجل إرساء قواعد العدالة في العالم؛ لكنَّهم لم ينجحوا حتَّى النبي محمد خاتم الأنبياء، الذي جاء لإصلاح البشرية وتنفيذ العدالة وتربية البشر، لم ينجح في ذلك&#8230;.</p>
<p>“Sungguh semua Nabi telah datang untuk menancapkan keadilan di dunia, akan tetapi mereka tidak berhasil. Bahkan termasuk Nabi Muhammad, penutup para Nabi, dimana beliau datang untuk memperbaiki umat manusia, menginginkan keadilan, dan mendidik manusa – tidak berhasil dalam hal itu….” (Nahju Khomaini, Hal. 46). Dan yang lainnya.<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/02/hinaan-al-khomainiy-terhadap-rasulullah.html" target="_blank">[4]</a></p>
<p>Dimanakah posisi firman Allah Ta’ala yang menyatakan bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah suri tauladan yang baik,</p>
<p class="arab">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah</em>.” (QS. Al-Ahzab: 21)?</p>
<p>6.     Orang Syiah Mengafirkan Ahlussunnah<br />
Jika mereka mengafirkan para shahabat <em>radhiallahu‘anhum</em>, maka jangan heran seandainya mereka juga mengafirkan orang-orang yang sepemahaman dengan para shahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em>, yaitu Ahlussunnah. Berikut perkataan para ulama Syiah dalam hal ini:<br />
Al-Mufiid berkata,</p>
<p class="arab">اتّفقت الإماميّة على أنّ من أنكر إمامة أحد من الأئمّة وجحد ما أوجبه الله تعالى له من فرض الطّاعة فهو كافر ضالّ مُستحقّ للخلود في النّار</p>
<p>“Madzhab Imaamiyyah telah bersepakat bahwasannya siapa saja yang mengingkari imaamah salah seorang di antara para imam, dan mengingkari apa yang telah Allah <em>Ta’ala</em> wajibkan padanya tentang kewajiban taat, maka ia <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> lagi sesat berhak atas kekekalan di neraka.” (<em>Awailul-Maqalat</em>, Hal. 44 –sumber : http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-aqaed/avael-maqalat/a01.htm).</p>
<p>Orang yang mengingkari keimamahan versi mereka tentu saja adalah Ahlussunnah.<br />
Yuusuf Al-Bahrani berkata,</p>
<p class="arab">إن إطلاق المسلم على الناصب وأنه لا يجوز أخذ ماله من حيث الإسلام خلاف ما عليه الطائفة المحقة سلفا وخلفا من الحكم بكفر الناصب ونجاسته وجواز أخذ ماله بل قتله</p>
<p>“Sesungguhnya pemutlakan muslim terhadap nashib (baca: ahlussunnah) bahwasannya tidak diperbolehkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> hartanya dengan sebab Islam (telah melarangnya), maka itu telah menyelisihi apa yang dipahami oleh kelompok yang benar (baca: Syiah Rafidhah) baik dulu maupun sekarang (salaf dan khalaf) tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> kafirnya nashib, kenajisannya, dan diperbolehkannya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> hartanya, bahkan membunuhnya.” (<em>Al-Hadaiqun An-Nadhirah</em>, 12:323-324 –sumber: shjaffar.jeeran.com).<br />
Berikut rekaman suara Yasir Habib yang mengafirkan ahlussunnah yang ia sebut sebagai Nawashib atau golongan awam:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/oYaAhcIE62Y?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Sebagai penguat, silakan baca/lihat:</p>
<p><iframe width="500" height="281" src="http://www.youtube.com/embed/6mFTDp7-PDg?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>7.     <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> Syiah Sangat Berbeda dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> Ahlussunnah<br />
Langsung saja Anda buka halaman blog berjudul : <a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/08/fiqh-syiah-5-kaifiyyah-shalat.html" target="_blank">Fiqh Syiah (5) : Kaifiyyah Shalat Syiah</a>.<br />
Adzannya pun lain, karena selain syahadatain, mereka menambahkan syahadat ketiga<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/06/syahadat-ketiga-salah-satu-produk.html" target="_blank">[5]</a>. Simak:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/gP2lEd7V9SI?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Masih banyak sebenarnya kesesatan Syiah selain di atas.<br />
MUI telah menetapkan kriteria sesat tidaknya satu kelompok atau pemahaman sebagai berikut:<br />
1.     Mengingkari rukun iman dan rukun Islam.<br />
2.     Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar&#8217;i (Alquran dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">sunah</a>).<br />
3.     Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.<br />
4.     Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Aquran.<br />
5.     Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.<br />
6.     Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam.<br />
7.     Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.<br />
8.     Mengingkari Nabi Muhammad <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai nabi dan rasul terakhir.<br />
9.     Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.<br />
10.   Mengafirkan sesama muslim tanpa dalil syar&#8217;i.</p>
<p>Dari sepuluh kriteria di atas, menurut saya Syiah mempunyai delapan poin parameter aliran sesat menurut MUI.<a rel="nofollow" href="http://nahimunkar.com/5243/mui-dari-10-kriteria-sesat-7-diantaranya-dimilik-syi%E2%80%99ah/" target="_blank">[14]</a></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ajaran syiah dan mut’ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a rel="nofollow" href="../ajaran-syiah" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.<br />
8. <a href="http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-2" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (2)</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Ajaran Syiah (2)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-2</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 06:08:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9783</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat Ajaran Syiah (2) 3. Orang Syiah Rafidhah Tidak Menggunakan Riwayat Ahlussunnah Dengan kata lain, Syiah tidak menggunakan hadis-hadis Ahlussunnah –yang merupakan referensi kedua setelah Alquran– dalam membangun agama mereka. Ini merupakan konsekuensi yang timbul dari poin kedua karena mereka ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hakikat Ajaran Syiah (2)</h2>
<p>3.     Orang Syiah Rafidhah Tidak Menggunakan Riwayat Ahlussunnah</p>
<p>Dengan kata lain, Syiah tidak menggunakan hadis-hadis Ahlussunnah –yang merupakan referensi kedua setelah Alquran– dalam membangun agama mereka. Ini merupakan konsekuensi yang timbul dari poin kedua karena mereka mengafirkan para sahabat yang menjadi periwayat as-sunnah/al-hadis. Ini adalah satu kenyataan yang tidak akan ditolak kecuali mereka yang (maaf) bodoh terhadap agama Syiah dengan kebodohan yang teramat sangat, atau mereka yang sedang menjalankan strategi taqiyyah. Mungkinkah mereka (Syiah) akan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> riwayat dari orang yang telah mereka katakan murtad (sahabat nabi) dari agamanya?!</p>
<p>Syiah mempunyai sumber-sumber hadis tersendiri seperti<em> Al-Kaafi</em>,<em> Man La Yahdhuruh Al-Faqih</em>, <em>Tahdzib Al-Ahkam</em>, <em>Al-Istibshar</em>, dan yang lainnya.</p>
<p>Jika mereka mengambil referensi ahlussunnah, maka itu hanyalah mereka lakukan ketika berbicara kepada Ahlussunnah, dan mereka ambil yang kira-kira dapat mendukung akidah mereka atau menghembuskan syubhat-syubhat kepada Ahlussunnah.</p>
<p>Mau dikemanakan sabda Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبد حبشي فإنه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا وإياكم ومحدثات الأمور فإنها ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ</p>
<p>“<em>Aku nasihatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun (yang memerintah kalian) seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a> Habsyi. Orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku nanti) akan menjumpai banyak perselisihan. Waspadailah hal-hal yang baru, karena semua itu adalah kesesatan. Barangsiapa yang menjumpainya, maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada sunahku dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">sunah</a> <em>Al-Khulafa Ar-Rasyidin</em> yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia erat-erat dengan gigi geraham.</em>” (HR. Ahmad 4:126-127, Abu Dawud, no.4607, dan yang lainnya; shahih)?</p>
<p>4.     Orang Syiah telah berbuat <em>ghuluw</em> (melampaui batas) terhadap imam-imam mereka, dan bahkan sampai pada tingkat ‘menuhankan’ mereka.</p>
<p>Al-Kulaini membuat bab dalam kitab <em>Al-Kaafi</em>:</p>
<p class="arab">بَابُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) إِذَا شَاءُوا أَنْ يَعْلَمُوا عُلِّمُوا</p>
<p>“Bab: Bahwasannya para imam (<em>‘alaihissalam</em>) apabila ingin mengetahui, maka mereka akan mengetahui.”</p>
<p>Terdapat tiga hadis/riwayat. Saya sebutkan satu di antaranya:</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْإِمَامَ إِذَا شَاءَ أَنْ يَعْلَمَ أُعْلِمَ</p>
<p>Dari Abu Abdillah (<em>‘alaihissalam</em>), ia berkata, “Sesungguhnya seorang imam jika ia ingin mengetahui, maka ia akan mengetahui.” (<em>Al-Kaafi</em>, 1:258).</p>
<p>Inilah riwayat dusta yang disandarkan kepada <em>ahlul bait</em> – dan <em>ahlul bait</em> berlepas diri dari riwayat dusta tersebut.</p>
<p>Bab yang lain dalam kitab Al-Kaafi:</p>
<p class="arab">بَابُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) يَعْلَمُونَ عِلْمَ مَا كَانَ وَ مَا يَكُونُ وَ أَنَّهُ لَا يَخْفَى عَلَيْهِمُ الشَّيْ‏ءُ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ</p>
<p>“Bab: Bahwasannya para imam (<em>‘alaihissalam</em>) mengetahui ilmu yang telah terjadi maupun yang sedang terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari mereka <em>shalawatullah ‘alaihim</em>.”</p>
<p>Pada bab ini terdapat enam hadis/riwayat, yang salah satunya adalah sebagai berikut:</p>
<p class="arab">عَنْ سَيْفٍ التَّمَّارِ قَالَ كُنَّا مَعَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام )&#8230;&#8230; فَقَالَ وَ رَبِّ الْكَعْبَةِ وَ رَبِّ الْبَنِيَّةِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ كُنْتُ بَيْنَ مُوسَى وَ الْخَضِرِ لَأَخْبَرْتُهُمَا أَنِّي أَعْلَمُ مِنْهُمَا وَ لَأَنْبَأْتُهُمَا بِمَا لَيْسَ فِي أَيْدِيهِمَا لِأَنَّ مُوسَى وَ الْخَضِرَ ( عليه السلام ) أُعْطِيَا عِلْمَ مَا كَانَ وَ لَمْ يُعْطَيَا عِلْمَ مَا يَكُونُ وَ مَا هُوَ كَائِنٌ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ وَ قَدْ وَرِثْنَاهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) وِرَاثَةً</p>
<p>Dari Saif At-Tammar, ia berkata, &#8220;Kami pernah bersama Abu Ja’far (<em>‘alaihissalam</em>), …..kemudian ia berkata, &#8216;Demi Rab Ka’bah dan Rab Baniyyah –tiga kali-, seandainya aku berada di antara Musa dan Khidlir, akan aku kabarkan kepada mereka berdua bahwasannya aku lebih mengetahui daripada mereka berdua. Dan akan aku beritahukan kepada mereka berdua sesuatu yang tidak mereka ketahui. Karena Musa dan Khidlir (<em>‘alaihimassalam</em>) diberikan ilmu tentang apa yang telah terjadi, namun tidak diberikan ilmu mengenai yang sedang terjadi dan akan terjadi hingga hari kiamat. Dan sungguh kami telah mewarisi pengetahuan ini dari Rasulullah (<em>shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em>) dengan satu warisan.” (<em>Al-Kaafi</em>, 1:260-261).</p>
<p>Perhatikan penjelasan Dr. Al-Qazwini berikut:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/BxuHVIZ0rvA?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Ia (Dr. Al-Qazwiini) pada menit 0:44–0:53 mengatakan, “Allah <em>Ta’ala</em> Maha Mengetahui segala isi hati. Dan imam dalam riwayat ini juga mengetahui segala isi hati. Ilmu imam berasal dari Allah….. [selesai].</p>
<p>Dimanakah posisi firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ</p>
<p>“<em>Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.</em>&#8221; (QS. Al-An’aam: 50)?</p>
<p>Dan kalaupun Allah memberikan sebagian kabar gaib –baik yang telah lalu maupun yang kemudian– kepada para hamba-Nya dari kalangan manusia, maka itu Allah <em>Ta’ala</em> berikan kepada para Nabi dan Rasul-Nya,</p>
<p class="arab">وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ</p>
<p>“<em>Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.</em>” (QS. Ali ‘Imran: 179).</p>
<p>Tidak ada dalam ayat di atas kata ‘imam’, akan tetapi menyebut kata ‘rasul’.<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/sekilas-tentang-pemikiran-klenik-al.html" target="_blank">[3]</a></p>
<p>Orang Syiah mengatakan bahwa imam lebih tinggi kedudukannya dari para Nabi (selain Nabi Muhammad <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>).</p>
<p>Ayatullah Al-Udhmaa Ar-Ruhani –semoga Allah mengembalikannya kepada kebenaran– pernah ditanya sebagai berikut,</p>
<p class="arab">هل تعتقدون أن علياً كرم الله وجهه أفضل من الأنبياء؟</p>
<p>“Apakah engkau meyakini bahwasannya Ali <em>karamallaahu wajhah</em> lebih utama daripada para Nabi?”</p>
<p>Ia (Ar-Ruhani) menjawab,</p>
<p class="arab">اسمه جلت اسمائه</p>
<p>هذا من الامور القطعية الواضحة</p>
<p>“Dengan menyebut nama-Nya yang Maha Agung,…. Ini termasuk perkara-perkara yang pasti lagi jelas (yaitu Ali lebih utama daripada para Nabi)” (sumber: http://www.alrad.net/hiwar/olama/rohani/r16.htm).<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/imam-lebih-tinggi-kedudukannya-dari.html" target="_blank">[4]</a></p>
<p>Bahkan seandainya seluruh Nabi berkumpul, niscaya mereka tidak akan mampu berkhutbah menandingi khutbah Ali <em>radhiallaahu ‘anhu</em>. Ini dikatakan oleh salah seorang ulama Syiah yang sangat tersohor Sayyid Kamal Al-Haidari:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/Rhyc343o_ZI?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Dasar riwayatnya (bahwa Ali lebih utama dibandingkan para Nabi, selain Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) tertulis di video ini:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/062TvOdtfQI?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Bukankah ini merupakan penghinaan terhadap para Nabi dan para rasul? Apakah mereka sama sekali tidak menganggap firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ</p>
<p>“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.” (QS. Al-Baqarah: 253)?</p>
<p>Pelampauan keutamaan sebagian Rasul (termasuk Nabi) hanya dilakukan oleh sebagian (Rasul) yang lain. Allah tidak mengatakan bahwa pelampauan itu dilakukan oleh orang yang bukan Nabi atau Rasul.</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ajaran syiah dan mut’ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" target="_blank">Kisah Nikah Mut’ah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela <strong>Ajaran Syiah</strong></a>.<br />
7. <a href="http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah" target="_blank">Hakikat Ajaran Syiah (1)</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hakikat-ajaran-syiah-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakikat Ajaran Syiah (1)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 02:31:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9781</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat Ajaran Syiah Kasus pertikaian antara kelompok Sunni (Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah) dan Syiah di Kabupaten Sampang, Madura, menjadi topik pembicaraan hangat tingkat nasional beberapa hari ini. Para tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan kedua kelompok pun diundang ke stasiun-stasiun TV nasional sebagai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hakikat Ajaran Syiah</h2>
<p>Kasus pertikaian antara kelompok Sunni (Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah) dan Syiah di Kabupaten Sampang, Madura, menjadi topik pembicaraan hangat tingkat nasional beberapa hari ini. Para tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan kedua kelompok pun diundang ke stasiun-stasiun TV nasional sebagai narasumber. Rakyat dari berbagai kalangan pun turut memperhatikan berita ini, sebagian mereka berselancar di dunia maya bertanya kepada &#8220;mbah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/google" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with google">google</a>&#8221; untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan.<br />
<span id="more-9781"></span><br />
Namun bagi beberapa kalangan informasi itu masih terasa bias dan sulit ditangkap, siapa sebenarnya pihak yang salah. Apakah <strong>ajaran Syiah</strong> benar-benar menyimpang? Lalu sejauh mana penyimpangannya? Ataukah Syiah hanya sekedar sebagai mahdzab alternatif dari empat mahdzab yang terkenal di kalangan Sunni.</p>
<p>Kali ini Konsultasi Syariah sengaja mengangkat tema yang panas ini, tetapi bukan untuk disikapi dengan emosional apalagi anarkis, hal ini semata-mata agar pembaca dapat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> sikap dan menilai sendiri. Kami berusaha mengangkat tema ini sebagai salah satu rujukan bagi pembaca sekalian di antara simpang siurnya informasi yang beredar di media nasional tentang hakikat ajaran Syiah. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk berbuat adil dan menyampaikan fakta-fakta yang ada tanpa rekayasa atau sentimen sektarian. Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>Ajaran Syiah merupakan ajaran yang sangat tua sekali umurnya. Ajaran ini telah muncul di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Namun cukup mengherankan, data-data mengenai ajaran Syiah sangat sulit diperoleh oleh sebagian pihak karena sifatnya yang tertutup. Kita sangat jarang menemui buku-buku induk ajaran Syiah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar dapat ditelaah oleh orang awam sekali pun. Demikian juga tokoh-tokoh Syiah di negeri ini, mereka lebih senang menyebarkan paham Syiah mereka dengan bertamengkan Ahlussunnah wal Jamaah, agar mudah diterima. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> sebenarnya akidah dari kelompok ini, sampai sebegitu tertutupnya mereka. Berikut ini akidah-akidah Syiah:</p>
<p>1.     Orang Syiah Rafidhah mengatakan Alquran yang ada di tangan kaum muslimin (baca: Ahlussunnah) berbeda dengan Alquran versi <em>ahlul bait</em>.<br />
Muhammad bin Murtadha Al-Kasyi –seseorang yang dianggap berilmu dan ahli hadis dari kalangan Syiah- mengatakan,</p>
<p class="arab">لم يبق لنا اعتماد على شيء من القران. اذ على هذا يحتمل كل اية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يقب لنا في القران حجة أصلا فتنتفى فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به</p>
<p>“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang pada satu ayat pun dari Alquran. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Alquran satu ayat pun sebagai argumentasi. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengan Alquran ….” (<em>Tafsir Ash-Shaafi</em>, 1:33)</p>
<p>Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini –seorang yang dianggap ahli hadis dari kalangan Syiah– (w. 328/329 H) mengatakan,</p>
<p class="arab">عن أبي بصير عن أبي عبد الله عليه السلام قال : وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ</p>
<p>Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah <em>‘alaihissalam</em> ia berkata, “Sesungguhnya pada kami terdapat Mushhaf Fathimah <em>‘alaihassalam</em>. Dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushaf Fathimah.” Aku berkata, “Apakah itu Mushhaf Fathimah?” Abu Abdillah menjawab, “Mushhaf Fathimah itu, tiga kali lebih besar daripada Alquran kalian. Demi Allah, tidak ada di dalamnya satu huruf pun dari Alquran kalian.” Aku berkata, “Demi Allah, ini adalah ilmu.” (<em>Al-Kaafi</em>, 1:239).</p>
<p class="arab">عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جَبْرَئِيلُ ( عليه السلام ) إِلَى مُحَمَّدٍ ( صلى الله عليه وآله ) سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفَ آيَةٍ</p>
<p>Dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah <em>‘alaihissalam</em> ia berkata, “Sesungguhnya Alquran yang diturunkan melalui perantaraan Jibril <em>‘alaihissalam</em> kepada Muhammad <em>shallallaahu</em> <em>‘alaihi wa aalihi wa sallam</em> terdiri dari 17.000 (tujuh belas ribu) ayat.” (<em>Al-Kaafi</em>, 2:634). Maksudnya teks Alquran sekarang banyak ayat-ayat yang dihapus oleh para sahabat, sehingga jumlah ayatnya hanya 6000an.</p>
<p>Muhammad Baqir Taqi bin Maqshud Al-Majlisi (w. 1111 H) ketika mengomentari hadis di atas,</p>
<p class="arab">موثق، وفي بعض النسخ عن هشام بن سالم موضع هارون ابن سالم، فالخبر صحيح ولا يخفى أن هذا الخبر وكثير من الأخبار في هذا الباب متواترة معنى، وطرح جميعها يوجب رفع الاعتماد عن الأخبار رأسا، بل ظني أن الأخبار في هذا الباب لا يقصر عن أخبار الامامة فكيف يثبتونها بالخبر ؟</p>
<p>”Shahih. Dalam sebagian naskah tertulis, ”Dari Hisyaam bin Salim” pada tempat rawi yang bernama Harun bin Saalim. Maka kabar/riwayat ini shahih dan tidak tersembunyi lagi bahwasannya riwayat ini dan banyak lagi yang lainnya dalam bab ini telah mencapai derajat mutawatir secara makna. Menolak keseluruhan riwayat ini (yang berbicara tentang perubahan Alquran) berkonsekuensi menolak semua riwayat (yang berasal dari <em>ahlul bait</em>). Aku kira, riwayat-riwayat dalam bab ini tidaklah lebih sedikit dibandingkan riwayat-riwayat tentang imamah. Nah, bagaimana masalah imamah itu bisa ditetapkan melalui riwayat? (<em>Mir&#8217;atu Al-‘Uquul fii Syarhi Akhbari Alir-Rasul</em>, 12:525).</p>
<p>Kemudian,…. inilah hal yang membuktikan validitas keyakinan Syiah bahwasanya Alquran sekarang telah berubah:</p>
<p><iframe width="500" height="281" src="http://www.youtube.com/embed/ovfz3xnsjJ0?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Di atas adalah perkataan Dr. Al-Qazwini, salah seorang ulama kontemporer Syiah yang cukup terkenal. Menurutnya firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab">إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)</em>.” (QS. Ali &#8216;Imran: 33).<br />
Menurutnya, yang benar adalah</p>
<p class="arab">إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ وَآلَ مُحَمَّدٍ عَلَى الْعَالَمِينَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, <strong>dan keluarga Muhammad</strong> melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)</em>.”<br />
Tambahan kalimat keluarga Muhammad ini dihilangkan oleh para sahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> –(dan ini adalah kedustaan yang sangat nyata!!).<a rel="nofollow" href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/aqidah-syiah-tentang-al-quran.html" target="_blank">[1]</a></p>
<p>Lantas mau dikemanakan firman Allah Ta’ala,</p>
<p class="arab">إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur&#8217;an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya</em>.” (QS. Al-Hijr: 9) ?</p>
<p>2.     Orang Syiah Rafidhah telah mengafirkan para sahabat, terutama Abu Bakr Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khaththab <em>radhiallahu ‘anhuma</em>.<br />
Orang Syiah telah mendoakan laknat atas Abu Bakr dan Umar <em>radhiallahu ‘anhuma</em> – yang naasnya, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a> itu dinisbatkan secara dusta kepada ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu ‘anhu</em><a rel="nofollow" href="http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-aqaed/sh-ehqaq-01/12.htm" target="_blank">[2]</a> – sebagai berikut,</p>
<p class="arab">اللهم صل على محمد، وآل محمد، اللهم العن صنمي قريش، وجبتيهما، وطاغوتيهما، وإفكيهما، وابنتيهما، اللذين خالفا أمرك، وأنكروا وحيك، وجحدوا إنعامك، وعصيا رسولك، وقلبا دينك، وحرّفا كتابك&#8230;..</p>
<p>“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, laknat bagi dua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar <em>pen.</em>), Jibt dan Thaghut, kawan-kawan, serta putra-putri mereka berdua. Mereka berdua telah membangkang perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, menolak kenikmatan-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, menjungkir-balikkan agama-Mu, merubah kitab-Mu…..dst.”</p>
<p>Saksikan video berikut, bagaimana ulama Syiah, Yasir Habiib, melaknat Abu Bakr, Umar, dan para shahabat lain <em>radhiallahu ‘anhum</em> dalam shalatnya:</p>
<p><iframe width="500" height="375" src="http://www.youtube.com/embed/DAVSplUX3hw?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Dan mari kita lihat sumber ajaran Syiah dalam kitab mereka yang mengafirkan para sahabat,</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ ( صلى الله عليه وآله ) إِلَّا ثَلَاثَةً فَقُلْتُ وَ مَنِ الثَّلَاثَةُ فَقَالَ الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَ أَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ وَ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ عَلَيْهِمْ</p>
<p>Dari Abu Ja’far <em>‘alaihis-salam</em>, ia berkata, “Orang-orang (yaitu para shahabat <em>pen.</em>) menjadi murtad sepeninggal Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> kecuali tiga orang.” Aku (perawi) berkata, “Siapakah tiga orang tersebut?” Abu Ja’far menjawab, “Al-Miqdad, Abu Dzar Al-Ghiffari, dan Salman Al-Farisiy <em>rahimahullah wa barakatuhu ‘alaihim</em>&#8230;” (<em>Al-Kaafi</em>, 8:245; Al-Majlisi berkata, “hasan atau muwatstsaq”).</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي عبد الله عليه السلام قال: &#8230;&#8230;.والله هلكوا إلا ثلاثة نفر: سلمان الفارسي، وأبو ذر، والمقداد ولحقهم عمار، وأبو ساسان الانصاري، وحذيفة، وأبو عمرة فصاروا سبعة</p>
<p>Dari Abu Abdillah <em>‘alaihissalam</em>, ia berkata, “…….Demi Allah, mereka (para sahabat) telah binasa kecuali tiga orang: Salman Al-Farisiy, Abu Dzar, dan Al-Miqdad. Dan kemudian menyusul mereka ‘Ammar, Abu Sasan, Hudzaifah, dan Abu Amarah sehingga jumlah mereka menjadi tujuh orang.” (<em>Al-Ikhtishash oleh Al-Mufiid</em>, Hal.5, lihat: http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/ekhtesas/a1.html).</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَحَدِهِمَا عليهما السلامقَالَ إِنَّ أَهْلَ مَكَّةَ لَيَكْفُرُونَ بِاللَّهِ جَهْرَةً وَ إِنَّ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَخْبَثُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ أَخْبَثُ مِنْهُمْ سَبْعِينَ ضِعْفاً .</p>
<p>Dari Abu Bashir, dari salah seorang dari dua imam <em>‘alaihimassalam</em>, ia berkata, “Sesungguhnya penduduk Mekah kafir kepada Allah secara terang-terangan. Dan penduduk Madinah lebih busuk/jelek daripada penduduk Mekah 70 kali.” (<em>Al-Kaafi</em>, 2:410; Al-Majlisi berkata : Muwatstsaq).</p>
<p>Riwayat yang semacam ini banyak tersebar di buku-buku Syiah.<br />
Dimanakah posisi firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar</em>” (QS. At-Taubah: 100).</p>
<p class="arab">مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا</p>
<p>“<em>Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a> mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a>. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar</em>.” (QS. Al-Fath: 29)?</p>
<p>bersambung&#8230;</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait ajaran syiah dan mut’ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi" target="_blank">Kisah Nikah Mut&#8217;ah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut’ah</strong></a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela Ajaran Syiah</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ajaran-syiah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Nikah Mut&#8217;ah (Sebuah Ironi)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 08:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9768</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Nikah Mut’ah Nikah mut’ah adalah pernikahan tanpa batas dengan menerabas aturan-aturan syariat yang suci, mut&#8217;ah ini telah melahirkan banyak kisah pilu. Tidak jarang pernikahan ini menghimpun antara anak dan ibunya, antara seorang wanita dengan saudaranya, dan antara seorang wanita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kisah Nikah Mut’ah</h2>
<p><strong>Nikah mut’ah</strong> adalah pernikahan tanpa batas dengan menerabas aturan-aturan syariat yang suci, mut&#8217;ah ini telah melahirkan banyak kisah pilu. Tidak jarang pernikahan ini menghimpun antara <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> dan ibunya, antara seorang wanita dengan saudaranya, dan antara seorang wanita dengan bibinya, sementara dia tidak menyadarinya. Di antaranya adalah apa yang dikisahkan Sayyid Husain Al Musawi. Ia menceritakan,<br />
<span id="more-9768"></span><br />
<strong>Kisah pertama:</strong><br />
Seorang perempuan datang kepada saya menanyakan tentang peristiwa yang terjadi terhadap dirinya. Dia menceritakan bahwa seorang tokoh, yaitu Sayid Husain Shadr pernah nikah mut’ah dengannya dua puluh tahun yang lalu, lalu dia hamil dari pernikahan tersebut. Setelah puas, dia menceraikan saya. Setelah berlalu beberapa waktu saya dikarunia seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa dia hamil dari hasil hubungannya dengan Sayid Shadr, karena pada saat itu tidak ada yang nikah mut’ah dengannya kecuali Sayid Shadr.</p>
<p>Setelah anak perempuan saya dewasa, dia menjadi seorang gadis yang cantik dan siap untuk nikah. Namun sang ibu mendapati bahwa anaknya itu telah hamil. Ketika ditanyakan tentang kehamilannya, dia mengabarkan bahwa Sayid Shadr telah melakukan mut’ah dengannya dan dia hamil akibat mut’ah tersebut. Sang ibu tercengang dan hilang kendali dirinya lalu mengabarkan kepada anaknya bahwa Sayid Shadr adalah ayahnya. Lalu dia menceritakan selengkapnya mengenai pernikahannya (ibu wanita) dengan Sayid Shadr dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> bisa hari ini Sayid Shadr menikah dengan anaknya dan anak Sayid Shadr juga?!</p>
<p>Kemudian dia datang kepadaku menjelaskan tentang sikap tokoh tersebut terhadap dirinya dan anak yang lahir darinya. Sesungguhnya kejadian seperti ini sering terjadi. Salah seorang dari mereka melakukan mut’ah dengan seorang gadis, yang di kemudian hari diketahui bahwa dia itu adalah saudarinya dari hasil nikah mut’ah. Sebagaimana mereka juga ada yang melakukan nikah mut’ah dengan istri bapaknya.</p>
<p>Di Iran, kejadian seperti ini tak terhitung jumlahnya. Kami membandingkan kejadian ini dengan firman Allah Ta’ala, “<em>Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya sehingga Allah mampukan mereka dengan karunia-Nya.</em>” (QS. An-Nur:33)</p>
<p>Kalaulah mut’ah dihalalkan, niscaya Allah tidak akan memerintahkan untuk menjaga kesucian dan menunggu sampai tiba waktu dimudahkan baginya untuk urusan pernikahan, tetapi Dia akan menganjurkan untuk melakukan mut’ah demi memenuhi kebutuhan biologisnya daripada terus-menerus diliputi dan dibakar oleh api syahwat.</p>
<p><strong>Kisah kedua:</strong><br />
Suatu waktu saya duduk bersama Imam Al-Khaui di kantornya. Tiba-tiba masuk dua orang laki-laki menemui kami, mereka memperdebatkan suatu masalah. Keduanya bersepakat untuk menanyakannya kepada Imam Al Khaui untuk mendapatkan jawaban darinya.</p>
<p>Salah seorang di antara mereka bertanya, “Wahai sayid, apa pendapatmu tentang mut’ah, apakah ia halal atau haram?”<br />
Imam Al Khaui melihat lagaknya, ia menangkap sesuatu dari pertanyaannya, kemudian dia berkata kepadanya, “Dimana kamu tinggal?” maka dia menjawab, “Saya tinggal di Mosul, kemudian tinggal di Najaf semenjak sebulan yang lalu.”</p>
<p>Imam berkata kepadanya, “Kalau demikian berarti Anda adalah seorang Sunni?”</p>
<p>Pemuda itu menjawab, “Ya!”</p>
<p>Imam berkata, “Mut’ah menurut kami adalah halal, tetapi haram menurut kalian.”</p>
<p>Maka pemuda itu berkata kepadanya, “Saya di sini semenjak dua bulan yang lalu merasa kesepian, maka nikahkanlah saya dengan anak perempuanmu dengan cara mut’ah sebelum saya kembali kepada keluargaku.”</p>
<p>Maka sang imam membelalakkan matanya sejenak, kemudian berkata kepadanya, “Saya adalah pembesar, dan hal itu haram atas para pembesar, namun halal bagi kalangan awam dari orang-orang Syiah.”</p>
<p>Si pemuda menatap Al Khaui sambil tersenyum. Pandangannya mengisyaratkan akan pengetahuannya bahwa Al Khaui sedang mengamalkan taqiyah (berbohong untuk membela diri).</p>
<p>Kedua pemuda itu pun berdiri dan pergi. Saya meminta izin kepada Imam Al Khaui untuk keluar. Saya menyusul kedua pemuda tadi. Saya mengetahu bahwa penanya adalah seorang Sunni dan sahabatnya adalah seorang Syi’i (pengikut Syiah). Keduanya berselisih pendapat tentang nikah mut’ah, apakah ia halal atau haram? Keduanya bersepakat untuk menanyakan kepada rujukan agama, yaitu Imam Al Khaui. Ketika saya berbicara dengan kedua pemuda tadi, pemuda yang berpaham Syiah berontak sambil mengatakan, “Wahai orang-orang durhaka, kamu sekalian membolehkan nikah mut’ah kepada anak-anak perempuan kami, dan mengabarkan bahwa hal itu halal, dan dengan itu kalian mendekatkan diri kepada Allah, namun kalian mengharamkan kami untuk nikah mut’ah dengan anak-anak perempuan kalian?”</p>
<p>Maka dia mulai memaki dan mencaci serta bersumpah untuk pindah kepada madzhab <em>ahlussunnah</em>, maka saya pun mulai menenangkannya, kemudian saya bersumpah bahwa nikah mut’ah itu haram kemudian saya menjelaskan tentang dalil-dalilnya.</p>
<p>Sumber: Al Musawi, Sayid Husain. 2008. Mengapa Saya keluar dari Syiah. Pustaka Al Kautsar, Jakarta.</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait syiah dan mut&#8217;ah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela Syiah</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut’ah Menurut Syiah</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah" target="_blank">Kerusakan <strong>Nikah Mut&#8217;ah</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/kisah-nikah-mutah-sebuah-ironi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dampak Negatif Nikah Mut&#8217;ah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 09:09:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9762</guid>
		<description><![CDATA[Dampak Negatif Nikah Mut&#8217;ah dalam Syiah Dalam artikel sebelumnya telah kami paparkan mengenai legalitas nikah mut&#8217;ah dalam ajaran Syiah. Syiah berpendapat bahwa hal itu sah menurut syariat dan mendapatkan pahala yang agung di sisi Allah. Hakikatnya, agama Islam adalah agama ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Dampak Negatif Nikah Mut&#8217;ah dalam Syiah</h2>
<p>Dalam artikel sebelumnya telah kami paparkan mengenai legalitas <strong>nikah mut&#8217;ah</strong> dalam ajaran <strong>Syiah</strong>. <span style="text-decoration: underline;">Syiah</span> berpendapat bahwa hal itu sah menurut syariat dan mendapatkan pahala yang agung di sisi Allah. Hakikatnya, agama Islam adalah agama yang sesuai dengan akal manusia yang fitrah, menjunjung tinggi kehormatan dan kesucian, bukanlah agama yang mengedepankan nafsu syahwat dan hasrat-hasrat yang tabu. Islam melarang segala sesuatu yang murni menimbulkan kemudharatan dan sesuatu yang mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya. Di antara hal-hal yang menimbulkan kemudhratan tersebut adalah nikah mut&#8217;ah. Kemudharatan tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1.</strong> Menyalahi nash-nash syariat karena menghalalkan apa yang Allah haramkan.</p>
<p><strong>2. </strong>Riwayat-riwayat dusta yang bermacam-macam dan penisbatannya kepada para imam, padahal di dalamnya mengandung caci maki yang tidak akan diridhai oleh orang yang dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari keimanan.</p>
<p><strong>3.</strong> Kerusakan yang ditimbulkan dari pembolehan mut’ah dengan wanita yang bersuami, walaupun dia berada di bawah penjagaan seorang laki-laki tanpa diketahui oleh suaminya. Dalam keadaan seperti ini seorang suami tidak akan merasa aman terhadap istrinya, karena bisa jadi si istri nikah mut’ah tanpa sepengetahuan suaminya yang sah ini. Pembolehan ini bisa dirujuk di buku Syiah <em>Al Kafi</em>, Jilid: 5, Hal. 463. Tak dapat dibayangkan, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> pandangan seorang laki-laki dan perasaannya ketika dia mengetahui bahwa istri yang berada di bawah perlindungannya menikah dengan laki-laki lain dengan cara mut’ah (dikontrak <em>pen.</em>). Bagaimana pula keadaan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anak dan keluarga lainnya apabila hal ini terjadi?!</p>
<p><strong>4.</strong> Para bapak juga tidak akan merasa aman terhadap para anak perempuannya yang masih gadis, karena ada kalanya mereka melakukan nikah mut’ah tanpa sepengetahuan bapak-bapak mereka. Sangat mungkin seorang bapak dikagetkan oleh anak gadisnya yang tiba-tiba hamil. Mengapa dia hamil? Bagaimana bisa terjadi? Tidak tahu pula siapa yang menghamili. Atau dia mengetahui anaknya telah menikah dengan seorang laki-laki, tetapi siapakah dia? Dia tidak tahu karena sang suami pergi dan meninggalkannya sebelum berjumpa dengannya karena masa kontrak mut’ah telah berakhir.</p>
<p><strong>5.</strong> Kebanyakan tokoh-tokoh Syiah yang membolehkan mut’ah, membolehkan diri mereka untuk nikah mut’ah dengan orang lain, tetapi jika ada seseorang yang meminang anak perempuannya, atau kerabat perempuannya untuk dinikahi dengan cara mut’ah, niscaya dia tidak akan menyetujui dan meridhainya, karena dia memandang pernikahan seperti ini adalah bentuk perendahan harga diri, jauh dari nilai-nilai kesucian, tidak diterima oleh hati nurani, dan sama saja dengan zina. Ini adalah aib bagi dia, dia menyadari hal itu, sementara dia sendiri mut’ah dengan anak perempuan orang lain. Tidak diragukan lagi dia pasti menolak untuk menikahkan anak perempuannya kepada orang lain dengan cara mut’ah, walau dia membolehkan dirinya sendiri untuk menikahi anak perempuan orang lain dengan cara tersebut.</p>
<p><strong>6. </strong>Dalam pernikahan mut’ah tidak ada saksi, pengumuman, keridhaan wali wanita yang dikhitbah, dan tidak berlaku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> waris di antara suami dan istri, tetapi statusnya hanyalah seorang istri yang dikontrak, sebagaimana pendapat yang dinisbatkan kepada Abu Abdullah. Maka bagaimana mungkin syariat Islam mengajarkan dan mendakwahkan pemeluknya agar melakukan hal ini?!</p>
<p><strong>7.</strong> Pembolehan mut’ah membuka peluang bagi pemuda dan pemudi yang bobrok akhlak dan kepribadiannya untuk semakin tenggelam dalam kubangan dosa, sehingga hal tersebut akan merusak citra agama dan orang-orang yang taat beragama.</p>
<p>Atas dasar semua itu, maka jelaslah bahaya mut’ah dari sisi kehidupan beragama, kemasyarakatan, dan moral. Oleh karena itu, maka mut’ah diharamkan. Kalaulah dalam mut’ah terdapa kemaslahatan, tentu tidak akan diharamkan, tetapi karena mut’ah mengandung bahaya yang sangat banyak, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengharamkannya.</p>
<p>Demikianlah kehidupan masyarakat yang mayoritas penduduknya adalah Syiah. Bagaimana kebobrokan moral terjadi di lingkungan mereka. Meskipun mereka mengembel-embeli diri mereka sebagai komunitas Islam, masyarakat Islam, atau bahkan negara Islam, maka hakikatnya sangat jauh sekali dari ajaran Islam. Dan tentunya kita menjaga dan saling menasihati kepada kerabat dan teman-teman kita, agar ajaran ini tidak menyebar di bumi pertiwi, sebagai bentuk <em>preventif</em> (pencegahan) terjadinya kerusakan moral bangsa.<br />
Sumber: Al Musawi, Sayid Husain. 2008.<em> Mengapa Saya keluar dari Syiah</em>. Pustaka Al Kautsar, Jakarta.</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait syiah:</h3>
<p>1.<a rel="nofollow" href="../memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela Syiah</a>.<br />
4. <a href="http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-ajaran-syiah" target="_blank">Nikah Mut&#8217;ah Menurut Syiah</a>.</p>
<p><strong> </strong><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-dalam-syiah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikah Mut&#8217;ah Menurut Syiah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-ajaran-syiah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-ajaran-syiah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 09:56:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9746</guid>
		<description><![CDATA[Nikah Mut&#8217;ah Menurut Syiah Kita jarang sekali mendengar penjelasan mengenai fikih nikah mut’ah, berbeda dengan ritual pernikahan yang kita kenal selama ini, begitu sering kita dengar dan dapatkan penjelasan fikih mengenai hal itu. Sebagaimana nikah biasa (yang kita kenal) memiliki ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Nikah Mut&#8217;ah Menurut Syiah</h2>
<p>Kita jarang sekali mendengar penjelasan mengenai fikih nikah mut’ah, berbeda dengan ritual pernikahan yang kita kenal selama ini, begitu sering kita dengar dan dapatkan penjelasan fikih mengenai hal itu.  Sebagaimana nikah biasa (yang kita kenal) memiliki ketentuan dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> fikih, nikah mut’ah juga memiliki ketentuan-ketentuan yang dijelaskan oleh imam yang diyakini maksum (terjaga dari dosa <em>ed.</em>) oleh <span style="text-decoration: underline;">Syiah</span>. Berikut kutipan keterangan tentang <strong>nikah mut&#8217;ah</strong> yang tersebar di buku-buku <strong>Syiah</strong>.</p>
<h2>Tidak Ada Batasan Jumlah Istri Dalam Nikah Mut&#8217;ah</h2>
<p>Dari Abubakar bin Muhammad Al Azdi dia berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Abu Hasan tentang mut&#8217;ah, apakah termasuk dalam pernikahan yang membatasi empat istri?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Tidak.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5 Hal. 451).</p>
<p>Wanita yang dinikahi secara mut&#8217;ah adalah wanita sewaan, jadi diperbolehkan nikah mut&#8217;ah walaupun dengan 1000 wanita sekaligus, karena akad mut&#8217;ah bukanlah pernikahan. Jika memang pernikahan maka dibatasi hanya dengan empat istri.</p>
<p>Dari Zurarah dari Ayahnya dari Abu Abdullah, &#8220;Aku bertanya tentang mut&#8217;ah pada beliau apakah merupakan bagian dari pernikahan yang membatasi 4 istri?&#8221; Jawabnya, &#8220;Menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut&#8217;ah adalah wanita sewaan.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid: 5, Hal. 452).</p>
<p>Begitulah wanita bagi imam maksum Syiah, wanita adalah barang sewaan yang dapat disewa lalu dikembalikan lagi tanpa ada tanggungan apa pun. Tidak ada bedanya dengan mobil yang setelah disewa dapat dikembalikan. Alangkah malangnya kaum wanita jika demikian. Sudah saatnya pada zaman emansipasi ini wanita menolak untuk dijadikan sewaan, namun kita masih heran, mengapa masih ada mazhab yang menganggap wanita sebagai barang sewaan.</p>
<h2>Syarat Utama Nikah Mut&#8217;ah</h2>
<p>Dalam nikah mut&#8217;ah yang terpenting adalah waktu (masa pernikahan) dan mahar. Jika keduanya telah disebutkan ketika akad, maka sahlah akad nikah mut&#8217;ah laki-laki dan perempuan yang akan mut&#8217;ah ini. Karena seperti yang akan dijelaskan kemudian bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hubungan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hubungan">hubungan</a> pernikahan mut&#8217;ah berakhir dengan selesainya waktu yang disepakati. Jika pernikahan ini tidak memiliki tenggat waktu yang harus disepakati, maka nikah mut&#8217;ah tidak memiliki perbedaan dengan pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam.</p>
<p>Dari Zurarah bahwa Abu Abdullah berkata, &#8220;Nikah mut&#8217;ah tidaklah sah kecuali dengan menyertakan 2 perkara; waktu tertentu dan bayaran tertentu.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.455). Sama seperti barang sewaan, misalnya mobil. Jika kita menyewa mobil harus ada dua kesepakatan dengan si pemilik mobil, berapa harga sewa dan berapa lama kita ingin menyewa.</p>
<h3>Batas Minimal Mahar Mut&#8217;ah</h3>
<p>Telah disebutkan bahwa rukun akad mut&#8217;ah adalah adanya kesepakatan atas waktu dan mahar. Berapa batas minimal mahar nikah mut&#8217;ah?<br />
Dari Abu Bashir dia berkata, &#8220;Aku bertanya pada Abu Abdullah tentang batas minimal mahar mut&#8217;ah, lalu beliau menjawab bahwa minimal mahar mut&#8217;ah adalah segenggam makanan, tepung, gandum, atau kurma.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal. 457).</p>
<p>Semua tergantung kesepakatan antara dua belah pihak. Sangat cocok bagi mereka yang berkantong terbatas, bisa memberikan mahar dengan mentraktir makan siang di McDonald, KFC, atau nasi uduk pun jadi.</p>
<h3>Tidak Ada Talak Dalam Mut&#8217;ah</h3>
<p>Dalam nikah mut&#8217;ah tidak dikenal istilah talak (cerai), karena demikianlah nikah mut&#8217;ah yang merupakan pernikahan yang tidak lazim dalam Islam. Jika hubungan pernikahan yang lazim dilakukan dalam Islam pernikahan berakhir dengan beberapa hal dan salah satunya adalah talak. Adapun nikah mut&#8217;ah, hubungan pernikahan selesai dengan berlalunya waktu yang telah disepakati bersama. Seperti yang diterangkan dalam riwayat di atas, kesepakatan atas jangka waktu mut&#8217;ah adalah salah satu rukun/elemen penting dalam mut&#8217;ah selain kesepakatan atas mahar.</p>
<p>Dari Zurarah, dia mengatakan, &#8220;Masa iddah bagi wanita yang mut&#8217;ah adalah 45 hari. Seakan saya melihat Abu Abdullah menunjukkan tangannya tanda 45. Jika selesai waktu yang disepakati, maka mereka berdua terpisah tanpa adanya talak.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal. 458).</p>
<h3>Jangka Waktu Minimal Mut&#8217;ah</h3>
<p>Dalam nikah mut&#8217;ah tidak ada batas minimal mengenai kesepakatan waktu berlangsungnya mut&#8217;ah. Jadi boleh saja nikah mut&#8217;ah dalam jangka waktu satu hari, satu minggu, satu bulan, bahkan untuk sekali hubungan suami istri.</p>
<p>Dari Khalaf bin Hammad, dia berkata, &#8220;Aku mengutus seseorang untuk bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mut&#8217;ah. Apakah diperbolehkan mut&#8217;ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan suami istri?&#8221; Jawabnya, &#8220;Ya (boleh <em>ed.</em>). (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.460).</p>
<p>Orang yang melakukan nikah mut&#8217;ah diperbolehkan melakukan apa saja layaknya suami istri dalam pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam, sampai habis waktu yang disepakati. Jika waktu yang disepakati telah habis, mereka berdua tidak menjadi suami istri lagi, dan kembali ke hukum semula yang haram dipandang, disentuh, dan lain sebagainya. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> jika terjadi kesepakatan mut&#8217;ah atas sekali hubungan suami istri? Padahal setelah berhubungan layaknya suami istri mereka sudah bukan suami istri lagi, yang mana berlaku hukum hubungan pria wanita yang bukan mahram? Tentunya diperlukan waktu untuk berbenah dan mengenakan pakaian sebelum keduanya pergi.</p>
<p>Dari Abu Abdillah, ditanya tentang orang nikah mut&#8217;ah dengan jangka waktu sekali hubungan suami istri. Jawabnya, &#8220;Tidak mengapa, tetapi jika selesai berhubungan hendaknya memalingkan wajahnya dan tidak melihat pasangannya.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.460</p>
<h3>Nikah Mut&#8217;ah Berkali-kali Tanpa Batas</h3>
<p>Diperbolehkan nikah mut&#8217;ah dengan seorang wanita berkali-kali tanpa batas, tidak seperti pernikahan yang lazim, yang mana jika seorang wanita telah ditalak tiga maka harus menikah dengan laki-laki lain dulu sebelum dibolehkan menikah kembali dengan suami pertama. Hal ini seperti diterangkan oleh Abu Ja&#8217;far, Imam Syiah yang ke empat, karena wanita mut&#8217;ah bukannya istri, tapi wanita sewaan. Sebagaimana barang sewaan, orang dibolehkan menyewa sesuatu dan mengembalikannya lalu menyewa lagi dan mengembalikannya berulang kali tanpa batas.</p>
<p>Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja&#8217;far, &#8220;Seorang laki-laki nikah mut&#8217;ah dengan seorang wanita dan habis masa mut&#8217;ahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut&#8217;ahnya, lalu nikah mut&#8217;ah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut&#8217;ahnya tiga kali dan nikah mut&#8217;ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama?&#8221; Jawab Abu Ja&#8217;far, &#8220;Ya dibolehkan menikah mut&#8217;ah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut&#8217;ah adalah wanita sewaan, seperti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a> sahaya.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.460)</p>
<h3>Wanita Mut&#8217;ah Diberi Mahar Sesuai Jumlah Hari yang Disepakati</h3>
<p>Wanita yang dinikah mut&#8217;ah mendapatkan bagian maharnya sesuai dengan hari yang disepakati. Jika ternyata wanita itu pergi maka boleh menahan maharnya.</p>
<p>Dari Umar bin Handhalah dia bertanya pada Abu Abdullah, &#8220;Aku nikah mut&#8217;ah dengan seorang wanita selama sebulan lalu aku tidak memberinya sebagian dari mahar.&#8221; Jawabnya, &#8220;Ya, ambillah mahar bagian yang dia tidak datang, jika setengah bulan maka ambillah setengah mahar, jika sepertiga bulan maka ambillah sepertiga maharnya.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.452).</p>
<p>Bayaran harus sesuai dengan hari yang disepakati, supaya tidak ada “kerugian” yang menimpa pihak penyewa.</p>
<p>Jika ternyata wanita yang dimut&#8217;ah telah bersuami ataupun seorang pelacur, maka mut&#8217;ah tidak batal.</p>
<p>Jika seorang pria hendak melamar seorang wanita untuk menikah mut&#8217;ah dan bertanya tentang statusnya, maka harus percaya pada pengakuan wanita itu. Jika ternyata wanita itu berbohong, dengan mengatakan bahwa dia adalah gadis tapi ternyata telah bersuami maka menjadi tanggung jawab wanita tadi.</p>
<p>Dari Aban bin Taghlab berkata, &#8220;Aku bertanya pada Abu Abdullah, aku sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan aku takut jangan-jangan dia telah bersuami atau barangkali dia adalah pelacur.&#8221; Jawabnya, &#8220;Ini bukan urusanmu, percayalah pada pengakuannya.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.462).</p>
<p>Ayatollah Ali Al Sistani mengatakan: Masalah 260: &#8220;Dianjurkan nikah mut&#8217;ah dengan wanita beriman yang baik-baik dan bertanya tentang statusnya, apakah dia bersuami ataukah tidak. Tapi setelah menikah maka tidak dianjurkan bertanya tentang statusnya. Mengetahui status seorang wanita dalam nikah mut&#8217;ah bukanlah syarat sahnya nikah mut&#8217;ah.&#8221; (<em>Minhajushalihin</em>, Jilid:3, Hal.82).</p>
<p>So, tidak usah membuang waktu dengan bertanya, langsung tawar dan bayar</p>
<h3>Nikah Mut&#8217;ah dengan Gadis</h3>
<p>Dari Ziyad bin Abil Halal berkata, &#8220;Aku mendengar Abu Abdullah berkata, &#8216;Tidak mengapa bermut&#8217;ah dengan seorang gadis selama tidak menggaulinya di qubulnya, supaya tidak mendatangkan aib bagi keluarganya&#8217;.&#8221; (<em>Al-Kafi</em>, Jilid:5, Hal.462).</p>
<h3>Nikah Mut&#8217;ah dengan Pelacur</h3>
<p>Diperbolehkan nikah mut&#8217;ah walaupun dengan wanita pelacur. Sedangkan kita telah mengetahui di atas bahwa wanita yang dinikah mut&#8217;ah adalah wanita sewaan. Jika boleh menyewa wanita baik-baik tentunya diperbolehkan juga menyewa wanita yang memang pekerjaannya adalah menyewakan dirinya.</p>
<p>Ayatollah Udhma Ali Al Sistani mengatakan: Masalah 261: &#8220;Diperbolehkan menikah mut&#8217;ah dengan pelacur walaupun tidak dianjurkan, ya jika wanita itu dikenal sebagai pezina maka sebaiknya tidak menikah mut&#8217;ah dengan wanita itu sampai dia bertaubat.&#8221; (<em>Minhajushalihin</em>, Jilid:3, Hal.8)</p>
<h3>Pahala yang Dijanjikan Bagi Nikah Mut&#8217;ah</h3>
<p>Dari Sholeh bin Uqbah, dari ayahnya, aku bertanya pada Abu Abdullah, &#8220;Apakah orang yang bermut&#8217;ah mendapat pahala?&#8221; Jawabnya, &#8220;Jika karena mengharap pahala Allah dan tidak menyelisihi wanita itu, maka setiap lelaki yang mut&#8217;ah berbicara pada perempuan mut&#8217;ah pasti Allah menuliskan kebaikan sebagai balasannya. Setiap dia mengulurkan tangannya pada wanita itu, pasti diberi pahala sebagai balasannya. Jika menggaulinya, pasti Allah mengampuni sebuah dosa sebagai balasannya. Jika dia mandi, maka Allah akan mengampuni dosanya sebanyak jumlah rambut yang dilewati oleh air ketika sedang mandi.&#8221; Aku bertanya, &#8220;Sebanyak jumlah rambut?&#8221; Jawabnya, &#8220;Ya, sebanyak jumlah rambut.&#8221; (<em>Man La yahdhuruhul faqih</em>, Jilid:3, Hal. 464)</p>
<p>Abu Ja&#8217;far berkata &#8220;Ketika Nabi sedang <em>isra&#8217;</em> ke langit Nabi mengatakan, &#8216;Jibril menyusulku dan berkata, &#8216;Wahai Muhammad, Allah berfirman, &#8216;Sungguh Aku telah mengampuni wanita ummatmu yang mut&#8217;ah&#8217;.&#8221; (<em>Man La Yahdhuruhul Faqih</em>, Jilid:3, Hal.464)</p>
<h3>Hubungan Warisan</h3>
<p>Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunya menuliskan: Masalah 255: &#8220;Nikah mut&#8217;ah tidak mengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berdua sepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampai mengabaikan asas hati-hati dalam hal ini.&#8221; (<em>Minhajushalihin</em>, Jilid:3, Hal.80).</p>
<h3>Nafkah</h3>
<p>Wanita yang dinikah mut&#8217;ah tidak berhak mendapatkan nafkah dari suami.<br />
Masalah 256: &#8220;Laki-laki yang nikah mut&#8217;ah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istri mut&#8217;ahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap di tempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mut&#8217;ah atau akad lain yang mengikat.&#8221; (<em>Minhajus shalihin</em>, Jilid:3, Hal.80). <strong>[<a rel="nofollow" href="http://hakekat.com/" target="_blank">Hakekat.com</a>] </strong></p>
<p>Begitulah gambaran mengenai fikih nikah mut’ah di buku-buku Syiah. Orang yang sadar akan agama akan menilai nikah mut&#8217;ah = pelacuran.</p>
<p>Salah satu praktik nikah mut&#8217;ah di Indonesia, diprakarsai oleh Jalaludi Rahmat (Kang Jalal). Sebagaimana kisah yang tertera pada buku Mengapa Kita Menolak Syi’ah, Hal.254-256 yang bisa Anda rujuk di link berikut ini: <a rel="nofollow" href="http://forum-unand.blogspot.com/2009/09/fakta_06.html" target="_blank">forum-unand.blogspot.com</a></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait syiah:</h3>
<p>1.<a href="http://konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura" target="_blank">Pandangan Kelompok pada Hari Asyuro</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein" target="_blank">Peringatan Kematian Imam Husein oleh Syiah</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/media-pembela-syiah-indonesia" target="_blank">Media Pembela Syiah</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>pictures</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/nikah-mutah-ajaran-syiah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 06:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9093</guid>
		<description><![CDATA[Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura Pertanyaan: Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari Asyura. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya? Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com) ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Memberi Kelapangan Untuk Keluarga di Hari Asyura</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Tersebar anggapan di masyarakat adanya anjuran untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari <strong>Asyura</strong>. Bentuknya bisa memberi pakaian baru, makanan enak dan semacamnya. Apakah anjuran ini benar? Adakah dalilnya?<br />
Abu Ahmad (XXXXXXXXX@yahoo.com)<br />
<span id="more-9093"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Terkait hari asyura, ada dua kelompok yang sesat:</h3>
<p><strong>pertama,</strong> kelompok Syiah. Mereka menjadikan hari asyura sebagai hari berkabung dan bela sungkawa, mengenang kematian sahabat Husain. Mereka lampiaskan kesedihan di hari itu dengan memukul-mukul dan melukai badan sendiri.<br />
<strong>Kedua,</strong> rival dari kelompok Syiah, merekalah An-Nashibah, kelompok yang sangat membenci <em>ahli bait</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Merekalah orang Khawarij, dan kelompok menyimpang dari bani umayah, yang memberontak pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, memproklamirkan menjadi musuh Syiah Rafidhah. Mereka memiliki prinsip <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> sikap yang bertolak belakang dengan Syi’ah.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibn taimiyah mengatakan,<br />
Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang mengkultuskan Husain. Pemimpin mereka adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda,</p>
<p class="arab">سيكون في ثقيف كذاب ومبير</p>
<p><em>“Akan ada seorang pendusta dan seorang perusak dari bani Tsaqif.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Si pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid – gembong Syiah – sedangkan si perusak adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang Syiah menampakkan kesedihan di hari Asyura, sementara orang Khawarij menampakkan kegembiraan. Bid&#8217;ah gembira berasal dari manusia pengekor kebatilan karena benci Husain <em>radliallahu &#8216;anhu,</em> sementara bid&#8217;ah gembira berasal dari pengekor kebatilan karena cinta Husain. Dan semuanya adalah bid&#8217;ah yang sesat. Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab yang menganjurkan untuk mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak ada dalil syar&#8217;i yang menganjurkan melakukan hal tersebut. (<em>Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah</em>, 4/555)</p>
<p>Orang-orang Khawarij, serta mereka yang menjadi rival bagi sikap Syiah, untuk mewujudkan prinsipnya di masyarakat, mereka menyebarkan berbagai macam hadis palsu. Diantaranya adalah hadis yang menyatakan,</p>
<p class="arab">من وسع على نفسه وأهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته</p>
<p><em>“Siapa yang memberi kelonggaran kepada dirinya dan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelonggaran rizki kepadanya sepanjang tahun.”</em></p>
<p>Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;abul Iman</em>, Ibnu Abdil Bar dalam <em>Al-Istidzkar</em>.</p>
<p>Hadis ini diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama. Sebagian menilai <em>hasan li ghairih</em> (berderajat hasan karena beberapa jalur sanad yang saling menguatkan). Ini sebagaimana keterangan As-Sakhawi, dimana beliau menyatakan,<br />
&#8220;Sanad-sanad hadis ini, meskipun semuanya dhaif, hanya saja jika semuanya digabungkan maka akan menjadi kuat.&#8221; (<em>Al-Maqasidul Hasanah</em>, 225)</p>
<p>Keterangan As-Sakhawi ini dikomentari Al-Albani sebagai kesalahpahaman. Al-Albani mengatakan,<br />
&#8220;Ini adalah pendapat Sakhawi, dan saya tidak menganggapnya benar. Karena syarat menguatkan hadis dengan menggunakan banyak jalur adalah tidak adanya perawi yang matruk (ditinggalkan) atau perawi tertuduh. Sementara hal itu tidak ada dalam hadis ini.&#8221; (<em>Tamam Al-Minnah</em>, 410)</p>
<p>Dalam <em>Silsilah Ahadits Ad-Dhaifah</em>, al-Albani menyebutkan berbagai jalur hadis ini dan semuanya tidak lepas dari perawi dhaif.<br />
Kemudian, diantara para ulama yang mendhaifkan hadis ini adalah:</p>
<ol>
<li> Imam Ahmad bin hambal. Salah satu muridnya, yang bernama Harb pernah bertanya kepada beliau tentang hadis memberi kelonggaran kepada keluarga ketika Asyura, kemudian beliau tidak menganggapnya sebagai hadis. Maksud Imam Ahmad, sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Rajab, bahwa tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, 54)</li>
<li>Syaikhul Islam Ibnu taimiyah. Dalam <em>Majmu&#8217;Fatawa</em> beliau menegaskan bahwa hadis ini palsu. (<em>Majmu&#8217; Al-Fatawa</em>, 25/313)</li>
<li>Ibn Rajab al Hambali. Beliau menegaskan dalam <em>Lathaif,</em> “Hadis ini diriwayatkan dari banyak jalur, tidak ada satupun yang shahih.” (<em>Lathaiful Ma&#8217;arif</em>, 54)</li>
<li>Muhadditsul Ashr, Syaikh Al-Albani. Beliau memasukkan hadis ini dalam <em>Al-Siilsilah Ahadits Dhaifah</em>, no. 6824.</li>
</ol>
<p>Dengan memperhatikan pernyataan para ulama pakar hadis, dapat kita simpulkan bahwa hadis yang menyebutkan keutamaan memberi kelonggaran kepada keluarga pada hari Asyura adalah tidak berdasar. Bahkan Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis tentang anjuran memberi kelapangan bagi keluarga ketika Asyura adalah hadis buatan orang yang membenci Ahlu bait Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, untuk menunjukkan kegembiraan atas wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib <em>radliallahu &#8216;anhuma</em>.<br />
<em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/hadis-dhaif-seputar-bulan-muharram">Hadis Dhaif Seputar Muharram</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/keutamaan-bulan-muharram">Keutamaan Bulan Muharram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura">Menyantuni Anak Yatim Di Bulan Asyura</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/memberi-kelapangan-untuk-keluarga-di-hari-asyura/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Kematian Imam Husein</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 03:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8946</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan Kematian Imam Husein Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum, Di beberapa negara, pada saat tanggal 10 Muharram ada peringatan tahunan yang dilaksanakan secara masif (dilakukan banyak orang) dengan menampakkan kesedihan. Alasannya, sebagai bentuk rasa belasungkawa atas kematian Imam Husein yang dibunuh pada hari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Peringatan Kematian Imam Husein</h2>
<p><strong>Pertanyaan</strong>:<br />
Assalamu&#8217;alaikum,<br />
Di beberapa negara, pada saat tanggal 10 Muharram ada peringatan tahunan yang dilaksanakan secara masif (dilakukan banyak orang) dengan menampakkan kesedihan. Alasannya, sebagai bentuk rasa belasungkawa atas <strong>kematian Imam Husein</strong> yang dibunuh pada hari itu. Apakah acara semacam ini dibenarkan?<br />
<span id="more-8946"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<a href="http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura">Hari Asyura</a> menggoreskan satu kenangan pahit bagi kaum muslimin. Bagi orang yang memuliakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sahabatnya, dan keluarganya. Di hari Asyura, Allah memuliakan Husein bin Ali bin Abi Thalib dengan syahadah (mati syahid). Beliau dibunuh di tanah Karbala oleh para penghianat dari Irak. Kita anggap ini adalah musibah. <em>Innalillahi wa inna ilaihi raaji&#8217;un</em></p>
<p>Namun sungguh sangat disayangkan, setelah kejadian musibah tersebut, ternyata datang musibah yang jauh lebih besar. Munculnya sikap ekstrim sebagian kaum muslimin dengan motivasi mengagungkan Husein. Mereka menjadikan hari itu sebagai hari berkabung, hari belasungkawa dengan acara besar-besaran. Padahal, sama sekali hal ini tidak pernah dicontohkan para sahabat Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam yang sangat mencintai Husein pun tidak pernah melakukan apa yang telah mereka lakukan hari ini.</p>
<p>Pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, di sebagian negara seperti: Iran, sebagian wilayah Pakistan dan Irak, cahaya dimatikan, orang-orang keluar rumah, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anak memenuhi jalan, mereka meneriakkan: wahai Husein,.wahai Husein…bunyi gendang terdengar di mana-mana. Ada juga yang menusuk dan menyayat tubuhnya dengan pedang. Sebagai bentuk belasungkawa yang mendalam atas kematian Husein. Pada saat yang sama, tokoh mereka berkhutbah menyampaikan kebaikan-kebaikan Husein dan mencela para sahabat lainnya. Mereka mencela Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan.</p>
<p>Sementara itu, ketika tanggal 10 Muharram (hari Asyura), dihidangkan berbagai makanan khusus. Semua orang keluar rumah, berkumpul di satu tempat yang disebut &#8216;tanah suci karbala&#8217;. Di sinilah mereka melampiaskan berbagai bentuk kesyirikan, thawaf mengelilingi kuburan, mencari berkah dengan mengusap-usap berbagai tempat yang mereka anggap suci, sambil mendendangkan lagu dan menabuh rebana.</p>
<p>Agar suasana semakin panas, para tokoh mereka memberikan motivasi yang diambilkan dari hadis dusta, palsu dan buatan pemuka masyarakat.</p>
<p>Merekalah gerombolan Syiah Rafidhah, sekelompok orang yang membangun agama dan keyakinannya berdasarkan kedustaan tokoh dan pemuka Syiah. Orang-orang yang beraqidah sesat. (<em>Al-Bida&#8217; Al-Hailiyah</em>, Hal. 56 – 57). Mereka melakukan suatu ritual memukulkan pedang ke kepala, melukai punggung dengan cambuk besi, dsb. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan esensi ajaran Islam yang sesuai dengan akal sehat, melarang melukai diri, tidak boleh meratapi mayat, dan nilai-nilai humanis (manusiawi) lainnya.</p>
<p>Berbagai rekaman kegiatan mereka tersebar di internet. Anda yang ingin melihat gambar ritual Syiah, bisa mengakses di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/google" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with google">google</a> atau youtube dengan kata kunci: كربلاء.</p>
<p>Semoga Allah menjauhkan dan menyelamatkan kaum muslimin dari pengaruh buruk mereka. Amin</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/peringatan-kematian-imam-husein/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 02:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8954</guid>
		<description><![CDATA[Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura Pertanyaan: Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari asyura. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini? Dari: Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com) Jawaban: Terdapat sebuah hadis dalam kitab ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Menyantuni <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">Anak</a> Yatim di Hari Asyura</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di hari <strong>asyura</strong>. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini?</p>
<p>Dari: <em>Abu Ahmad (teXXXXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-8954"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Terdapat sebuah hadis dalam kitab tanbihul ghafilin:</p>
<p class="arab">من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة</p>
<p><em>Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.</em><br />
Hadis ini menjadi motivator utama masyarakat untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Sehingga banyak tersebar di masyarakat anjuran untuk menyantuni anak yatim di hari Asyura. Bahkan sampai menjadikan hari Asyura ini sebagai hari istimewa untuk anak yatim.<br />
Namun sayangnya, ternyata hadis di atas statusnya adalah hadis palsu. Dalam jalur sanad hadis ini terdapat seorang perawi yang bernama: Habib bin Abi Habib, Abu Muhammad. Para ulama hadis menyatakan bahwa perawi ini matruk (ditinggalkan). Untuk lebih jelasnya, berikut komentar para ulama kibar dalam hadis tentang Habib bin Abi Habib:<br />
a. Imam Ahmad: Habib bin Abi Habib pernah berdusta<br />
b. Ibnu Ady mengatakan: Habib pernah memalsukan hadis (<em>al-Maudhu&#8217;at</em>, 2/203)<br />
c. Adz Dzahabi mengatakan: “Tertuduh berdusta.” (<em>Talkhis Kitab al-Maudhu&#8217;at</em>, 207).<br />
Karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa hadis ini adalah hadis palsu. Abu Hatim mengatakan: “Ini adalah hadis batil, tidak ada asalnya.” (<em>al-Maudhu&#8217;at</em>, 2/203)</p>
<p>Keterangan di atas sama sekali bukan karena mengaingkari keutamaan menyantuni anak yatim. Bukan karena melarang anda untuk bersikap baik kepada anak yatim. Sama sekali bukan.<br />
Tidak kita pungkiri bahwa menyantuni anak yatim adalah satu amal yang mulia. Bahkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjanjikan dalam sebuah hadis:</p>
<p class="arab">أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِى الْجَنَّةِ , وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى , وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلاً</p>
<p><em>“Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jari" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jari">jari</a> ini ketika di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>.” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau memisahkannya sedikit.&#8221;</em> (HR. Bukhari no. 5304)<br />
Dalam hadis shahih ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hanya menyebutkan keutamaan menyantuni anak yatim secara umum, tanpa beliau sebutkan waktu khusus. Artinya, keutamaan menyantuni anak yatim berlaku kapan saja. Sementara kita tidak boleh meyakini adanya waktu khusus untuk ibadah tertentu tanpa dalil yang shahih.<br />
Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah &#8216;batasan tata cara ibadah&#8217; yang penting untuk kita ketahui:</p>
<p class="arab">كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام ؛ فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان أو مكان معين أو نحوهما بحيث يوهم هذا التقييد أنه مقصود شرعًا من غير أن يدلّ الدليل العام على هذا التقييد فهو بدعة</p>
<p>&#8220;Semua bentuk ibadah yang sifatnya mutlak dan terdapat dalam syariat berdasarkan dalil umum, maka membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak ini dengan waktu, tempat, atau batasan tertentu lainnya, dimana akan muncul sangkaan bahwa batasan ini merupakan bagian ajaran syariat, sementara dalil umum tidak menunjukkan hal ini maka batasan ini termasuk bentuk bid&#8217;ah.&#8221; (<em>Qowa’id Ma’rifatil Bida’,</em> hal. 52)<br />
Karena pahala dan keutamaan amal adalah rahasia Allah, yang hanya mungkin kita ketahui berdasarkan dalil yang shahih.<br />
Allahu a&#8217;lam&#8230;</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a><em>)</em></strong><br />
<strong> Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait Asyura:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../amalan-di-bulan-muharram" target="_blank">Amalan-amalan Bulan Muharram</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../keutamaan-bulan-muharram" target="_blank">Keutamaan Bulan Muharram</a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/kesyirikan-di-bulan-suro" target="_blank">Kesyirikan di Bulan Suro.</a></p>
<p>Asyura.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menyantuni-anak-yatim-di-hari-asyura/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Kaum Muslimin Menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-kaum-muslimin-menyembah-ka%e2%80%99bah-dan-hajar-aswad</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-kaum-muslimin-menyembah-ka%e2%80%99bah-dan-hajar-aswad#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 06:18:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apakah muslim menyembah ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[download kereta di awal syawal]]></category>
		<category><![CDATA[foto ka'bah 2011]]></category>
		<category><![CDATA[gambar gambar orang islam]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi gambar kabah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa kita menyembah ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[menyembah]]></category>
		<category><![CDATA[menyembah berhala]]></category>
		<category><![CDATA[menyembah kakbah]]></category>
		<category><![CDATA[menyembah ka`bah]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[wallpaper kabah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5494</guid>
		<description><![CDATA[Syekh Shaleh Al-Fauzan hafizhahullah ditanya, &#8220;Bagaimana membantah orang atheis yang mengatakan, &#8216;Wahai kaum muslimin, kalian sendiri menyembah batu (Hajar Aswad) dan berputar mengelilinginya! Lantas, kenapa kalian menyalah-nyalahkan orang lain yang menyembah berhala dan patung/gambar?&#8221; Syekh Shaleh Al-Fauzan memberikan jawaban sebagai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syekh Shaleh Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> ditanya, &#8220;<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> membantah orang atheis yang mengatakan, &#8216;Wahai kaum muslimin, kalian sendiri <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/menyembah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with menyembah">menyembah</a> batu (<em>Hajar Aswad</em>) dan berputar mengelilinginya! Lantas, kenapa kalian menyalah-nyalahkan orang lain yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/menyembah-berhala" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with menyembah berhala">menyembah berhala</a> dan patung/gambar?&#8221;<br />
<span id="more-5494"></span><br />
Syekh Shaleh Al-Fauzan memberikan jawaban sebagai berikut,</p>
<p>&#8220;Ini jelas kebohongan yang nyata! Kami sama sekali tidak menyembah batu (<em>Hajar Aswad</em>), melainkan kami menyentuhnya dan menciumnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ini artinya, kami melakukan hal tersebut dalam rangka beribadah dan mengikuti Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Mencium <em>Hajar Aswad</em> adalah bagian dari ibadah, sebagaimana kita <em>wuquf</em> di Arafah, bermalam di Muzdalifah, dan tawaf mengelilingi <em>Baitullah</em> (Ka’bah). Juga, kita mencium <em>Hajar Aswad</em> dan menyentuhnya atau memberi isyarat padanya. Itu semua adalah bentuk ibadah kepada Allah, bukan berarti menyembah batu tersebut.</p>
<p>Lebih dari itu, kita bisa beralasan dengan tindakan yang dilakukan oleh Umar bin Al-Khattab <em>radhiallahu ‘anhu</em> ketika beliau mencium <em>Hajar Aswad</em>. Ketika itu, beliau mengatakan, &#8216;<em>Memang aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat mendatangkan manfaat atau bahaya. Jika bukan karena aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tentu tidak akan menciummu</em>.&#8217; (H.R. Bukhari, no. 1597 dan Muslim, no. 1270)</p>
<p>Oleh karena itu, masalah ini berkaitan dengan cara umat Islam mengikuti tuntunan nabinya, dan bukan berkaitan dengan menyembah batu (<em>Hajar Aswad</em>). Jadi, sebenarnya mereka yang menyebarkan isu tersebut telah merencanakan kebohongan atas umat Islam.</p>
<p>Kita sama sekali tidak menyembah Ka’bah. Bahkan, yang kita sembah adalah Rabb pemilik Ka’bah. Begitu pula, kita melakukan tawaf keliling Ka’bah dalam rangka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla karena Allah-lah yang memerintahkan kita untuk melakukan seperti itu.</p>
<p>Kita melakukan demikian hanya karena menaati Allah <em>‘azza wa jalla</em> dan mengikuti tuntunan Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.&#8221; (<em>&#8216;Aqidatul Haj fi Dhauil Kitab was Sunnah</em>, Syekh Shaleh Al-Fauzan, hlm.22&#8211;23; diterjemahkan dari <em>http://fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&amp;ID=890</em>)</p>
<p>Riyadh, KSA, 2 Jumadal Awwal 1432 H (05/04/2011 M)</p>
<p>Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal<br />
<strong>Artikel www.rumaysho.com</strong></p>
<p><strong>Dipublikasikan ulang oleh www.KonsultasiSyariah.com, disertai penyuntingan bahasa.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>foto ka&#039;bah 2011</strong>, <strong>gambar gambar orang islam</strong>, <strong>mengapa kita menyembah ka&#039;bah</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>koleksi gambar kabah</strong>, <strong>hubungan</strong>, <strong>download kereta di awal syawal</strong>, <strong>menyembah ka`bah</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>bagaimana</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-kaum-muslimin-menyembah-ka%e2%80%99bah-dan-hajar-aswad/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Pembela Syiah Indonesia</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/media-pembela-syiah-indonesia</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/media-pembela-syiah-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 06:17:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[apakah islam syiah melakukan sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[artikel sejarah puasa syiah]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bila waktu puasa 2011]]></category>
		<category><![CDATA[disuntik batal puasa ahlul bait]]></category>
		<category><![CDATA[doa kaum syiah]]></category>
		<category><![CDATA[fikih puasa syiah]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih shalat witir syiah]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang cincin tunangan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mohon maaf sebelum puasa]]></category>
		<category><![CDATA[imsak menurut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[ludah]]></category>
		<category><![CDATA[mencicipi msakan pada saat puasa fiqh ahlulbait]]></category>
		<category><![CDATA[pembela syiah]]></category>
		<category><![CDATA[peta syiah indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puasa dalam syiah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa syiah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa wajib syiah]]></category>
		<category><![CDATA[republika koran syiah]]></category>
		<category><![CDATA[salat tarawih kaum syiah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih dalam syiah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih menurut syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih syiah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat orang syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat terawih menurut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[syia indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[syiah tentang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[syiah tidak tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[syiah website]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih menurut syiah]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara salam dalam syiah]]></category>
		<category><![CDATA[waktu imsak syiah]]></category>
		<category><![CDATA[waktu puas versi syiah]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>
		<category><![CDATA[website syiah indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5216</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum tim redaksi. Apakah  benar media koran  dan website Republika milik kaum Syiah? bagaimana hukumnya bila membeli, membaca media tersebut. Jika benar milik kaum Syiah? berdosakah? jika hanya ambil yang positif saja yang sesuai ahlus sunnah bagaimana? syukron ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em> tim redaksi. Apakah  benar media koran  dan website Republika milik kaum Syiah? <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> hukumnya bila membeli, membaca media tersebut. Jika benar milik kaum Syiah? berdosakah? jika hanya ambil yang positif saja yang sesuai ahlus sunnah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a>? syukron atas jawabannya. Mohon dibalas dikirim ke e-mail ana.<br />
<em>jazakalloh khoir</em>.</p>
<p><em>MuhaXXXXXXX &lt;nirwanaXXXXX@XXXXX.com&gt;</em><br />
<span id="more-5216"></span><br />
<strong> Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam wa rahmatullah</em>.</p>
<p>Kami kurang memahami tentang hal itu. Namun, secara umum, peta masyarakat terkait perseteruan antara Ahlussunnah dengan Syiah dapat kita kelompokkan menjadi 3:</p>
<ol>
<li>Pro Ahlussunnah, merekalah ahlul hak.</li>
<li>Pro Syi&#8217;ah, mereka merupakan hasil didikan Iran.</li>
<li>Penggagas <em>rekonsiliasi</em>, yang berusaha menengahi ketegangan antara Ahlussunnah dengan Syiah. Umumnya, media massa yang berlabel islam di tempat kita, berada di posisi ketiga.</li>
</ol>
<p>Upaya rekonsiliasi ini dipelopori langsung oleh tokoh Syiah indonesia Jalaluddin rahmat (kang Jalal). Dia mendeklarasikan Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia (MUHSIN), yang hakikatnya merupakan upaya <em>taqiyyah</em> (menutupi jati diri) oleh pemerhati Syiah di negara kita.</p>
<p><em>Taqiyyah</em> menjadi ajaran penting dalam agama Syi’ah. <em>Taqiyyah</em> adalah upaya berbohong dalam rangka menyembunyikan jati diri ketika dalam kondisi Syiah minoritas. <em>Taqiyah</em> dilakukan dengan cara menampakkan sesuatu berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya, artinya <em>nifaq</em> dan menipu dalam usaha mengelabui atau mengecoh manusia. Karena itu, <em>taqiyyah</em> hakikatnya adalah berdusta. Sekali lagi, ini menjadi ajaran penting dalam agama Syiah.</p>
<p>Dus, hasilnya tidak ada keseimbangan antar kedua belah pihak. Di negeri tempat bernaungnya agama Syiah (Iran), Ahlussunnah begitu tertindas, tidak ada satupun organisasi dan pesantren Ahlussunnah yg diizinkan untuk berdiri. Namun, di daerah, organisasi dan pesantren Syiah begitu tumbuh subur dan terlindungi. Tak terkecuali negara kita.</p>
<blockquote><p><em>Realita kita, mengingatkan tentang kasus Islam &#8211; <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a>. Dalam kondisi minoritas, kaum <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a> mengutus tangan kanan mereka (baca: Jaringan Islam Liberal) untuk menyebarkan isu pluralisme dan rekonsiliasi Muslim-<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a>. Tujuannya, meredam kemarahan kaum Muslimin terhadap kaum <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a>. Sementara itu, kaum Muslimin dengan di negeri mayoritas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a>, dalam kondisi tertindas dan terjajah&#8230;adakah keseimbangan dalam hal ini???</em></p></blockquote>
<p>Wahai kaum muslimin, kita punya <strong>PR</strong> besar untukk menyadarkan masyarakat terkait masalah ini. Jangan kita biarkan kaum muslimin menjadi korban berikutnya bagi orang Syiah. Tumbuhkan rasa permusuhan masyarakat terhadap Syiah. Tampakkan semua kesesatan mereka dan tunjukkan semua bentuk penipuan mereka. Sebagai acuan untuk mengenal lebih detail tentang Syiah, kami persilahkan kepada anda untuk membaca artikel-artikel di situs:<br />
<a href="http://www.gensyiah.com/" target="_blank">http://www.gensyiah.com/</a> dan   <a href="http://hakekat.com/" target="_blank">http://hakekat.com/</a> atau <a href="http://www.syiahindonesia.com/ " target="_blank">http://www.syiahindonesia.com/ </a></p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>website syiah indonesia</strong>, <strong>republika koran syiah</strong>, <strong>shalat tarawih syiah</strong>, <strong>syia indonesia</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>hadist tentang cincin tunangan</strong>, <strong>waktu puas versi syiah</strong>, <strong>salat tarawih kaum syiah</strong>, <strong>bila waktu puasa 2011</strong>, <strong>pembela syiah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/media-pembela-syiah-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Celana Cingkrang, Berjenggot, Cadaran Ciri Terorisme?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-celana-cingkrang-berjenggot-cadaran-ciri-terorisme</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-celana-cingkrang-berjenggot-cadaran-ciri-terorisme#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 01:33:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bom bunuh diri]]></category>
		<category><![CDATA[bunuh diri dihukum islam]]></category>
		<category><![CDATA[cadar teroris]]></category>
		<category><![CDATA[ciri fisik istri nabi]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir bersama]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[janggut]]></category>
		<category><![CDATA[jenggot]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kuwajiban hijab]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa kaum muslimin membedakan puasa dan qishash]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sunah]]></category>
		<category><![CDATA[sunah berpakaian cingkrang bagi seorang mukmin]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5139</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, masih hangat kabar tentang berbagai aksi teror bom di negeri kita. Mohon penjelasannya: 1. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai hal tersebut? 2. Apakah pelaku bom bunuh diri bisa dikatakan mati syahid atau malah bunuh diri? 3. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, masih hangat kabar tentang berbagai aksi teror bom di negeri kita. Mohon penjelasannya:<br />
1. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> sebenarnya pandangan Islam mengenai hal tersebut?<br />
2. Apakah pelaku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bom-bunuh-diri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bom bunuh diri">bom bunuh diri</a> bisa dikatakan mati syahid atau malah bunuh diri?<br />
3. Kebanyakan pelaku teror berpenampilan sunnah, lantas apa hukumnya seorang muslim memanggil saudaranya yang menegakkan sunnah dengan sebutan &#8220;<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/teroris" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with teroris">teroris</a>&#8221;?</p>
<p>Mohon penjelasannya. <em>Barakallahu fik.</em></p>
<p><em>Rohis SMAN 9 Bandar Lampung (**setya04@***.co.id)</em><br />
<span id="more-5139"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah wash-shalatu was salamu &#8216;ala rasulillah &#8230;.</em><br />
1. Sesungguhnya, Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian dan pelestarian kehidupan. Karena itu, Islam melarang menusia untuk saling membunuh dan berperang tanpa alasan yang dibenarkan agama. Bahkan, Allah menyebut orang yang berani membunuh orang lain tanpa alasan yang dibenarkan sebagai bentuk pembunuhan terhadap semua manusia. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعاً</strong></p>
<p>&#8220;<em>Bahwasanya barang siapa yang membunuh jiwa, bukan karena qishash atau berbuat kerusakan di muka bumi, seolah-olah dia membunuh seluruh manusia.</em>&#8221; (Q.S. Al-Maidah:32)</p>
<p>Di antara bentuk pembunuhan yang terlarang adalah membunuh orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin, tanpa alasan yang dibenarkan. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Barang siapa yang membunuh orang kafir mu&#8217;ahad maka dia tidak akan mencium bau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a></em>.&#8221; (H.R. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Yang dimaksud kafir &#8220;<em>mu&#8217;ahad</em>&#8221; adalah &#8216;orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin&#8217;. Karena itu, <strong>terorisme adalah tindakan yang bertolak belakang dengan Alquran dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">Sunah</a></strong>.</p>
<p>2. Orang yang melakukan bom bunuh diri tidak bisa dikatakan sebagai orang yang mati syahid, karena <strong>batasan mati syahid di medan jihad adalah mati karena dibunuh oleh musuhnya, orang kafir</strong>.</p>
<blockquote><p><strong>Di samping itu, dalam sejarah perjuangan Islam, tidak tercatat ada shahabat yang melakukan bunuh diri untuk menghancurkan musuh. Bahkan, yang ada adalah kisah orang yang bunuh diri di medan perang, yang divonis masuk neraka oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari.</strong></p></blockquote>
<p>3. Bagian ini adalah pertanyaan yang sangat menarik, mengingat banyaknya orang awam yang belum memahaminya. Perlu digaris-bawahi bahwa pembahasan tentang haramnya terorisme sama sekali tidak ada hubungannya dengan pakaian atau ciri fisik. Pembahasan tentang pakaian dan ciri fisik yang sesuai sunah masuk dalam lingkup kajian masalah adab dan sunah. Sementara, kajian tentang terorisme masuk dalam lingkup masalah akidah dan manhaj. Karena itu, untuk memberikan penilaian yang objektif, kita harus membedakan dua hal ini.</p>
<p>Terkait dengan aksi terorisme, kebetulan, mereka yang menjadi pelaku aksi ini memiliki ciri khas pakaian yang mirip dengan kelompok lainnya. Umumnya, mereka berjenggot, celana di atas mata kaki, istri-istrinya bercadar atau memakai jilbab besar, suka memakai baju koko atau yang mirip baju koko, jubah, dan seterusnya.</p>
<p>Beberapa ciri fisik ini, tidak kita pungkiri, merupakan bagian dari sunah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Tentang dalil adanya ciri semacam ini bisa dilihat di kitab <em>Riyadhush Shalihin</em> karya Imam An-Nawawi, <em>Uqudul Lijain</em> karya Imam Nawawi Al-Bantani Asy-Syafi&#8217;i, dan beberapa kitab adab lainnya. Dengan demikian, upaya sebagian kaum muslimin untuk menyesuaikan diri dengan beberapa sunah ini, seharusnya mendapatkan apresiasi yang baik, karena ini adalah bagian dari usaha mereka untuk meniru sunah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, yang saat ini banyak ditinggalkan masyarakat Islam, sehingga dianggap asing.</p>
<p>Dengan demikian, tidak tepat jika menilai bahwa orang yang memiliki ciri ini sama dengan teroris. Menjustifikasi bahwa semua orang yang berjenggot dengan celana cingkrang sebagai teroris merupakan sikap yang tidak objektif. Tuduhan semacam itu bisa kita katakan sebagai tindakan kezaliman, karena menuduh orang lain, sementara pihak tertuduh tidak berhak mendapatkan tuduhan tersebut. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ</strong></p>
<p>&#8220;Jangan sampai perbuatan zalim yang dilakukan kelompok tertentu membuat kalian menjadi tidak berlaku adil &#8230;.&#8221; (Q.S. Al-Maidah:8)</p>
<p>Di ayat ini, Allah melarang kita bersikap zalim disebabkan oleh kejahatan yang dilakukan orang lain. Bom bunuh diri pelakunya adalah para teroris, bukan setiap orang yang bercelana cingkrang, meskipun cirinya sama.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>cadar teroris</strong>, <strong>mengapa kaum muslimin membedakan puasa dan qishash</strong>, <strong>janggut</strong>, <strong>teroris</strong>, <strong>jenggot</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>kuwajiban hijab</strong>, <strong>surga</strong>, <strong>bom bunuh diri</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-celana-cingkrang-berjenggot-cadaran-ciri-terorisme/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaminan Masuk Surga yang Mengikuti Paham Ahlus Sunnah wal Jamaah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-mengikuti-paham-salafus-shalih-ada-jaminan-masuk-surga</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-mengikuti-paham-salafus-shalih-ada-jaminan-masuk-surga#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 01:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[al quran jaminan umat islam masuk surga]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu paham salafus shalih]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[budak]]></category>
		<category><![CDATA[faham shalafus shaleh]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[jaminan allah tentang masuk surga]]></category>
		<category><![CDATA[jaminan orang islam masuk surga]]></category>
		<category><![CDATA[jaminan sholat berjamaah]]></category>
		<category><![CDATA[jaminan surga mati di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[jaminan surga untuk orang islam]]></category>
		<category><![CDATA[kafarah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masuk surga]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang meninggal bulan ramadhan masuk surga menurut salafi]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan sabar sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah mati geraham]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[wallpaper salaf]]></category>
		<category><![CDATA[wanita sabar yang masuk suga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4928</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Jika mengikuti paham salafush shalih (ahlus sunnah wal jamaah), apakah ada jaminan bahwa jika mati, masuk surga? Jika benar, dalinya dari Alquran pada surat apa dan nomor berapa? Jika ada dalam hadis maka hadis apa, bab apa, dan nomor ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika mengikuti paham <em>salafush shalih</em> (<em>ahlus sunnah wal jamaah</em>), apakah ada jaminan bahwa jika mati, masuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>? Jika benar, dalinya dari Alquran pada surat apa dan nomor berapa? Jika ada dalam hadis maka hadis apa, bab apa, dan nomor hadisnya berapa? Jika tidak ada jaminannya, apa alasan untuk memercayai paham tersebut?<br />
<span id="more-4928"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Seseorang, yang mengikuti paham <em>salafush shalih</em> dengan benar dan sempurna, dijanjikan oleh Allah untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masuk-surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masuk surga">masuk surga</a>, berdasarkan firman Allah ta&#8217;ala,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</strong></p>
<p>&#8220;<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam), di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar <strong>dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik</strong>, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya, selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar</em>.&#8221; (Q.S. At-Taubah:100)</p>
<p>Dalam ayat yang mulia ini, Allah menjanjikan surga bagi para sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan benar dan baik. Tentunya, hal ini menunjukkan bahwa mereka selamat dari neraka. Allah tidak pernah menyelisihi janji-Nya.</p>
<p>Perlu ditegaskan kembali tentang pengertian pemahaman <em>salafush shalih</em>. Maksudnya adalah pemahaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya. Kata &#8220;salaf&#8221; dalam istilah para ulama dipakai untuk &#8216;para sahabat dan dua generasi setelahnya yang mengikuti pemahaman sahabat dengan benar dan baik&#8217;. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِ يْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنهُمْ ثُمَّ يَجِيْءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ</strong></p>
<p><em>&#8220;Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi. Kemudian, sebuah kaum datang; syahadat salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului syahadatnya</em>.&#8221; (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Mengikuti pemahaman mereka ini menjadi kunci keselamatan dan terhindar dari neraka, sebagaimana dinyatakan langsung oleh Rasulullah dalam sabdanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>وَإِنَّ بَنِي أسْرَائِيلَ تَفَرَّقَ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةَّ وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ الله قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي</strong></p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya, Bani Israil berpecah-belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan pecah menjadi 73 golongan, seluruhnya masuk neraka kecuali satu.&#8221; Mereka bertanya, &#8220;Siapa ia, wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;(Orang yang mengikuti) jalan yang ditempuh olehku dan sahabatku (ajaranku dan sahabatku)</em>.&#8221;</p>
<p>Hal ini pun ditegaskan dalam hadis Irbadh bin Sariyah; Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>أُوْصيْكُمْ بتقْوَى اللهِ والسَمْع والطَاعَةِ وَإنْ عَبْدًا حَبَشيًا فَإنهَّ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِشُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَة</strong></p>
<p>&#8220;<em>Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun yang memimpin adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/budak" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with budak">budak</a> Habsyi, karena barang siapa di antara kalian yang masih hidup maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah para Khalifah Ar-Rasyidin yang memberi petunjuk. Berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Waspadalah pula terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan), karena hal-hal yang baru itu adalah bid&#8217;ah, dan setiap bid&#8217;ah adalah kesesatan</em>.&#8221;</p>
<p>Untuk lebih jelasnya, silahkan membaca kitab <em>Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafi</em>, karya Syekh Salim bin Id Al-Hilali, yang telah diterjemahkan dengan judul &#8220;<em>Mengapa Memilih Manjah Salaf?</em>&#8220;, diterbitkan oleh Pustaka Imam Bukhari. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 5, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com.<br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>wallpaper salaf</strong>, <strong>apa itu paham salafus shalih</strong>, <strong>al quran jaminan umat islam masuk surga</strong>, <strong>ramadhan sabar sunnah</strong>, <strong>jaminan surga untuk orang islam</strong>, <strong>jaminan surga mati di bulan ramadhan</strong>, <strong>faham shalafus shaleh</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>jaminan allah tentang masuk surga</strong>, <strong>budak</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-mengikuti-paham-salafus-shalih-ada-jaminan-masuk-surga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Fanatik terhadap Mazhab Tertentu?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-fanatik-terhadap-mazhab-tertentu</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-fanatik-terhadap-mazhab-tertentu#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 00:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[fanatik madzhab boleh apa tidak]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengikuti mazhab tertentu]]></category>
		<category><![CDATA[hukum meninggalkan rakaat tertentu dalam sholat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa kita harus mengikuti satu mazhab tertentu]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat mahzab jenggot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4842</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah ta&#8217;assub (fanatik, red.) kepada mazhab tertentu yang diikuti oleh manusia dalam setiap hukum dari hukum-hukum syariat, sekalipun dengan begitu ia menyelisihi (pendapat, red.) yang benar? Bolehkah meninggalkan mazhab tersebut dan mengikuti mazhab yang benar dalam keadaan tertentu? Apa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah <em>ta&#8217;assub</em> (fanatik, <em>red.</em>) kepada mazhab tertentu yang diikuti oleh manusia dalam setiap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a>-hukum syariat, sekalipun dengan begitu ia menyelisihi (pendapat, <em>red.</em>) yang benar? Bolehkah meninggalkan mazhab tersebut dan mengikuti mazhab yang benar dalam keadaan tertentu? Apa hukum mengikuti satu mazhab tertentu saja?<br />
<span id="more-4842"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Orang yang memiliki kemampuan untuk berijtihad mutlak tidak boleh bertaklid. Adapun orang yang tidak memiliki kemampuan itu, (maka) boleh baginya bertaklid kepada orang yang lebih <em>&#8216;alim</em> (mengetahui) daripadanya. Terkait permasalahan bermazhab dengan salah satu dari mazhab empat yang terkenal dan tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, dan menisbatkan diri kepada mazhab tersebut, (maka) tidak ada larangan untuk itu. Misalnya, dikatakan “Fulan Hanbali”, “Fulan Hanafi”, “Fulan Maliki”. Gelar seperti ini senantiasa ada semenjak dulu di kalangan ulama, bahkan hingga ulama-ulama besar. Misalnya, dikatakan “Ibnu Taimiyyah Al-Hanbali&#8221;, &#8220;Ibnul Qayyim Al-Hanbali&#8221;, dan seperti itu. <strong>Tidak ada larangan dalam hal ini</strong>.</p>
<p>Semata-mata ber-<em>intima’</em> (menisbatkan diri) kepada mazhab tersebut tidaklah terlarang, namun dengan syarat, dia tidak boleh mengikat dirinya dengan mazhab tersebut, sehingga dia <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> seluruh pendapat yang ada di dalamnya, baik yang benar maupun yang salah. Yang seharusnya ialah dia hanya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> yang benar saja. Adapun yang diketahuinya salah maka tidak boleh dia amalkan.</p>
<p>Jika tampak baginya pendapat yang lebih rajih, maka wajib baginya mengambil pendapat yang rajih itu, baik jika pendapat itu berada dalam mazhabnya maupun di mazhab yang lain. Karena yang telah jelas baginya adalah sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dia tidak boleh meninggalkannya hanya karena perkataan seseorang.</p>
<p>Teladan kita adalah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dengan demikian, kita mengambil pendapat yang ada dalam sebuah mazhab selama pendapat itu tidak bertentangan dengan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Jika ternyata pendapat itu bertentangan dengan sabda beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka wajib bagi kita untuk meninggalkan pendapat tersebut dan lebih memilih sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kita mengambil pendapat yang rajih dan sesuai dengan sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari mazhab mujtahidin mana pun datangnya.</p>
<p>Adapun orang yang mengambil pendapat imam secara mutlak, baik benar maupun salah, maka dia dianggap melakukan taklid buta. Kemudian, jika dia berpendapat bahwa wajib taklid kepada orang tertentu selain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka ini murtad (keluar dari Islam).</p>
<blockquote><p>Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Barang siapa yang berkata, ‘Wajib taklid kepada orang tertentu selain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,’ maka dia harus diminta untuk bertobat. Jika dia tidak mau maka dia dihukum mati, karena tidak ada seorang pun yang wajib diikuti kecuali Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Adapun selain beliau, (yaitu) dari kalangan imam mujtahidin, maka kita ambil pendapat mereka yang sesuai dengan sunnah Rasulullah. Adapun jika seseorang mujtahid keliru dalam  ijtihadnya maka haram bagi kita mengambil pendapatnya yang keliru itu.&#8221;</p></blockquote>
<p><strong>Sumber: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 3, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi <em>www.KonsultasiSyariah.com</em>.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum meninggalkan rakaat tertentu dalam sholat jamaah</strong>, <strong>hukum mengikuti mazhab tertentu</strong>, <strong>pendapat mahzab jenggot</strong>, <strong>fanatik madzhab boleh apa tidak</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>mengapa kita harus mengikuti satu mazhab tertentu</strong>, <strong>mengambil</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-fanatik-terhadap-mazhab-tertentu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Mengikuti Imam Syafi&#8217;i Termasuk Taklid?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-mengikuti-imam-syafii-termasuk-taklid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-mengikuti-imam-syafii-termasuk-taklid#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 May 2011 01:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[imam syafi'i]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[onani lelaki dalam bulan puasa mengikut imam syafi i]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4806</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Anda mengatakan bahwa sebagian mujtahid (orang yang berijtihad, ed.) mengikuti mujtahid lainnya. Lantas, bagaimana pendapat Anda tentang mengikuti Imam Syafi’i? Apakah mengikutinya termasuk taklid? Jawaban: Betul, ini adalah taklid juz’i (parsial), bukan taklid tam (total). Ia adalah taklid juz’i ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Anda mengatakan bahwa sebagian mujtahid (orang yang berijtihad, <em>ed.</em>) mengikuti mujtahid lainnya. Lantas, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> pendapat Anda tentang mengikuti Imam Syafi’i? Apakah mengikutinya termasuk taklid?<br />
<span id="more-4806"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Betul, ini adalah taklid <em>juz’i</em> (parsial), bukan taklid <em>tam</em> (total). Ia adalah taklid <em>juz’i</em> dalam sebagian masalah yang (untuk masalah tersebut, <em>ed.</em>) seorang mufti (pemberi fatwa) mencurahkan seluruh usahanya (untuk membahasnya) namun tidak mampu mendapatkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> tentangnya.</p>
<p>Seorang alim (orang yang berilmu, <em>ed.</em>), jika dia telah mencurahkan usahanya untuk mendapatkan suatu hukum dari <em>Kitabullah</em> dan <em>Sunnah</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, namun masalah tersebut tetap tidak jelas baginya, lalu dia mendapatkan fatwa dari orang yang dipercaya keilmuan dan ketakwaannya, maka tidak mengapa jika dia <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> fatwa tersebut. Yang seperti ini telah diriwayatkan dari Imam Syafi’i dan telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam <em>I’lam Al-Muwaqqi’in</em>. <strong>Sekali lagi, ini adalah taklid juz’i saat darurat</strong>.</p>
<p><strong>Sumber: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 3, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi <em>www.KonsultasiSyariah.com</em>.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mengambil</strong>, <strong>onani lelaki dalam bulan puasa mengikut imam syafi i</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>imam syafi&#039;i</strong>, <strong>hukum</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-mengikuti-imam-syafii-termasuk-taklid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Kita Menggabungkan Pendapat Mazhab-mazhab?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-kita-menggabungkan-pendapat-mazhab-mazhab</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-kita-menggabungkan-pendapat-mazhab-mazhab#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 May 2011 00:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[batal puasa berbagai mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah kita ke paranormal]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah kita menggabungkan ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkan menggabungkan mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mashab michigan]]></category>
		<category><![CDATA[mazhab kita]]></category>
		<category><![CDATA[menggabungkan mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[menggabungkan mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[menggabungkan mandi wajib dan mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[mengikuti mahzab yang sau dan yang lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4803</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa komentar Anda tentang orang yang memiliki kemampuan untuk membedakan antara pendapat yang didukung oleh dalil dengan yang tidak. Dalam arti, bolehkah dia menggabungkan antara (pendapat, ed.) mazhab-mazhab selama (pendapat itu, ed.) didukung oleh dalil? Jawaban: Dia harus mengikuti ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa komentar Anda tentang orang yang memiliki kemampuan untuk membedakan antara pendapat yang didukung oleh dalil dengan yang tidak. Dalam arti, bolehkah dia menggabungkan antara (pendapat, <em>ed.</em>) mazhab-mazhab selama (pendapat itu, <em>ed.</em>) didukung oleh dalil?<br />
<span id="more-4803"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Dia harus mengikuti dalil, meskipun masalah tersebut terdapat dalam mazhab yang lain. Yaitu, pendapat tentang masalah yang dipilihnya karena pendapat itu didukung oleh dalil. Betul, dia boleh&#8211;bahkan wajib baginya&#8211;memegang satu pendapat dari mazhab yang bukan mazhabnya, jika dia melihat bahwa pendapat itulah yang dalilnya paling sahih. Dengan begitu, dia tidak bersikap <em>ta’ashshub</em> (fanatik, <em>ed.</em>) kepada mazhab tertentu. Akan tetapi, dia hanya mengikuti dalil, baik (dalil, <em>ed.</em>) yang terdapat (pada pendapat, <em>ed.</em>) di dalam mazhabnya ataupun yang terdapat di mazhab yang lain.</p>
<p>Dia tidak boleh mengikuti pendapat yang termudah atau yang disukai nafsunya, demi mencari keringanan atau ingin mengikuti syahwat karena kemudahannya. Ini tidak boleh! Yang boleh ialah: dia berpindah dari satu mazhab ke mazhab yang lain dalam sebagian masalah, karena dalil mazhab tersebut sahih dan kuat.</p>
<blockquote><p>Dia diperintahkan untuk mengikuti dalil, bukan mengikuti mazhab.</p></blockquote>
<p>Jika hal ini telah jelas baginya, dia telah termasuk orang-orang yang mencapai derajat <em>ikhtiar</em> (memilih) dan <em>tarjih</em> (mampu membedakan antara pendapat yang kuat dengan pendapat yang lemah). (<em>Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Fauzan Al-Fauzan</em>)</p>
<p><strong>Sumber: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 3, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi <em>www.KonsultasiSyariah.com</em>.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bolehkan menggabungkan mazhab</strong>, <strong>dukun</strong>, <strong>bolehkah kita ke paranormal</strong>, <strong>menggabungkan mandi wajib dan mandi junub</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>menggabungkan mandi junub</strong>, <strong>mashab michigan</strong>, <strong>bolehkah kita menggabungkan ibadah</strong>, <strong>batal puasa berbagai mazhab</strong>, <strong>mengikuti mahzab yang sau dan yang lain</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-kita-menggabungkan-pendapat-mazhab-mazhab/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Ahlussunnah Kerja Sama dengan Ikhwani?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ahlussunnah-kerja-sama-dengan-ikhwani</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ahlussunnah-kerja-sama-dengan-ikhwani#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 07:17:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[salafi kerja sama dengan ikhwani?!]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1130</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah terjemah dari Fatwa Lajnah Daimah yang terdapat dalam Fatwa Lajnah Daimah 2/237-238 terbitan Dar Balansiah cetakan ketiga tahun 1421. أقرب الجماعات الإسلامية إلى الحق السؤال الأول من الفتوى رقم ( 6250 ) : س1: في العالم الإسلامي ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Berikut ini adalah terjemah dari Fatwa Lajnah Daimah yang terdapat dalam Fatwa Lajnah Daimah 2/237-238 terbitan Dar Balansiah cetakan ketiga tahun 1421.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أقرب الجماعات الإسلامية إلى الحق<br />
السؤال الأول من الفتوى رقم ( 6250 ) :<br />
س1: في العالم الإسلامي اليوم عدة فرق وطرق الصوفية مثلا: هناك جماعة التبليغ ، الإخوان المسلمين ، السنيين ، الشيعة ، فما هي الجماعة التي تطبق كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم؟</p>
<p>Jamaat Islamiah (Kelompok-Kelompok dalam Islam) yang Paling Dekat dengan Kebenaran</p>
<p>Pertanyaan pertama dari fatwa no 6250.</p>
<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p>Di dunia Islam saat ini terdapat berbagai aliran dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tarekat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tarekat">tarekat</a> sufi. Misalnya ada Jamaah Tabligh, Ikhwan Muslimin, Sunni dan Syiah. Kelompok manakah yang menerapkan al Qur’an dan Sunnah Rasulullah?<br />
<span id="more-1130"></span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ج1: أقرب الجماعات الإسلامية إلى الحق وأحرصها على تطبيقه: أهل السنة : وهم أهل الحديث ، وجماعة أنصار السنة ، ثم الإخوان المسلمون .</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><strong></strong> Kelompok dalam Islam yang paling dekat dengan kebenaran dan paling semangat untuk menerapkan kebenaran adalah ahli sunnah. Merekalah ahli hadits dan Jamaah Anshor Sunnah. Setelah itu baru Ikhwan Muslimin.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وبالجملة فكل فرقة من هؤلاء وغيرهم فيها خطأ وصواب، فعليك بالتعاون معها فيما عندها من الصواب، واجتناب ما وقعت فيه من أخطاء، مع التناصح والتعاون على البر والتقوى.<br />
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.</p>
<p>Ringkasnya semua kelompok baik mereka-mereka yang telah disebutkan namanya dalam jawaban di atas ataupun selainnya itu memiliki kesalahan dan kebenaran. Menjadi kewajiban anda untuk tolong menolong bersama berbagai kelompok tersebut asalkan dalam kebenaran yang ada pada kelompok tersebut. Demikian pula, anda memiliki kewajiban untuk menjauhi berbagai kesalahan yang ada pada kelompok tersebut diiringi usaha untuk saling menasehati dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bekerja" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bekerja">bekerja</a> sama dalam kebajikan dan takwa.”</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء<br />
عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس<br />
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز</p>
<p>Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz sebagai ketua Lajnah Daimah, Abdurrazaq Afifi sebagai wakil ketua, Abdullah bin Ghadayan dan Abdullah Qo’ud sebagai anggota.</p>
<p>Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari fatwa para ulama di atas:</p>
<p>1.	Dalam fatwa di atas, Lajnah Daimah menyatakan bahwa golongan yang paling dekat kepada kebenaran adalah ahli sunnah. <strong>Lajnah Daimah tidak mengatakan bahwa ahli sunnah adalah ahli haq yaitu orang yang jelas berada di atas jalan kebenaran</strong>. Mengapa demikian?<br />
<em></em></p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>, nampaknya kita perlu membedakan antara ahli sunnah sebagai <strong>manhaj </strong>atau jalan beragama dan ahli sunnah dalam pengertian <strong>orang-orang yang menisbatkan diri sebagai ahli sunnah atau orang-orang yang bercita-cita untuk menjadi bagian dari ahli sunnah</strong>. Ahli sunnah dalam pengertian pertama adalah al haq atau kebenaran itu sendiri. Semua penyimpangan dari ahli sunnah dengan pengertian ini adalah kesesatan tanpa perlu diragukan lagi.</p>
<p>Sedangkan manusia-manusia yang berupaya untuk meniti manhaj atau jalan ahli sunnah adalah manusia-manusia yang <strong>tidak maksum dari dosa dan salah</strong>. Tidak menutup kemungkinan mereka memiliki kesalahan baik karena keterbatasan ilmu atau godaan setan ataupun dorongan nafsu. Oleh karena itu<em>-wal’ilmu ‘indallah-</em>Lajnah Daimah mengatakan bahwa kumpulan manusia yang paling mendekati kebenaran adalah orang-orang yang berupaya meniti jalan ahli sunnah dalam beragama. Level berikutnya adalah sekumpulan orang-orang yang meniti manhaj atau jalan Ikhwan Muslimin dalam beragama.</p>
<p>2.	Dalam fatwa di atas terdapat penegasan dari para ulama yang berada dalam Lajnah Daimah bahwa <strong>Ikhwan Muslimin itu bukan bagian dari ahli sunnah.</strong></p>
<p>3. Para ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah sebagaimana dalam fatwa mereka di atas membolehkan atau bahkan mewajibkan (dalam fatwa di atas disebutkan,<em> ‘alaika bit ta’awun</em>) seorang muslim salafi untuk bekerja sama dengan orang-orang Ikhwan Muslimin asalkan dalam kebajikan dan takwa. Namun perlu diingat bahwa tolak ukur kebajikan dan takwa adalah <strong>syariat</strong>, bukan semata-mata akal pikiran. Sering kali terjadi suatu hal itu dianggap sebagai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> <em>birr </em>atau kebaikan dengan alasan ‘<em>maslahat dakwah</em>’ padahal itu adalah maksiat dalam timbangan syariat.</p>
<p>4. Berdasarkan penjelasan di atas sungguh tidak tepat peluru tuduhan ‘hizbi, ikhwani atau ahli bid’ah’ yang tembakkan sebagian orang kepada seorang yang ‘menurutnya’ ketahuan atau terindikasi memiliki <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hubungan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hubungan">hubungan</a> kerja sama dengan orang-orang Ikhwan Muslimin padahal dia adalah seorang yang memegang teguh prinsip-prinsip ahli sunnah dalam berakidah dan beribadah secara khusus dan dalam beragama secara umum. Bahkan dia adalah seorang yang sangat anti pati dengan prinsip dan ajaran Ikhwan Muslimin yang berseberangan dengan al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Tentu tuduhan ini sangat tidak berdasar ketika kerja sama tersebut dalam kebajikan dan takwa. Semisal seorang muslim menerima bantuan ifthor (buka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a>) atau dana pembangunan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">masjid</a> dari seorang atau yayasan sosial yang menjadi bagian dari Ikhwan Muslimin. Demikian pula kerja sama berupa seorang ustadz salafi memberi pengajian atau mengadakan dauroh atau kajian di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">masjid</a> yang tidak dikelola oleh ahli sunnah. Jika demikian, pantaskah kita melarang secara mutlak, tanpa terkecuali suatu yang diperbolehkan oleh para ulama dengan bersyarat??!</p>
<p>5. Di satu sisi para ulama memperingatkan umat untuk tidak mengikuti jalan-jalan beragama yang menyimpang dari jalan ahli sunnah. Di sisi yang lain, para ulama membolehkan mengadakan kerja sama dalam kebaikan dan takwa dengan orang yang menyimpang dari jalan ahli sunnah ketika memang diperlukan. Dua sikap ini tidaklah bertentangan, tidak sebagaimana anggapan sebagian orang yang memiliki semangat yang over dosis dalam membenci dan menjauhi orang-orang yang menyimpang dari jalan ahli sunnah. Fatwa dan penjelasan ulama yang meminta kita untuk mewaspadai jalan ataupun orang yang menyimpang dari jalan ahli sunnah adalah benar. Demikian pula, fatwa dan penjelasan ulama yang membolehkan kita untuk bekerja sama dengan orang yang menyimpang dari jalan ahli sunnah asalkan syarat-syaratnya terpenuhi itu juga benar.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber: ustadzaris.com<br />
Dipublikasi ulang oleh KonsultasiSyariah.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>susu</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>bekerja</strong>, <strong>masjid</strong>, <strong>amalan</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>puasa</strong>, <strong>salafi kerja sama dengan ikhwani?!</strong>, <strong>anak</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ahlussunnah-kerja-sama-dengan-ikhwani/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Karakteristik Firqoh Najiyah (Golongan yang Selamat) yang Paling Menonjol?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apa-karakteristik-firqoh-najiyah-golongan-yang-selamat-yang-paling-menonjol</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apa-karakteristik-firqoh-najiyah-golongan-yang-selamat-yang-paling-menonjol#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 08:04:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[AQIDAH]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[contoh golongan pembeli dan penjual]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=988</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apa karakteristik firqah najiyah yang paling menonjol? Apakah bila terjadi kekurangan akan mengeluarkan seseorang dari firqah najiyah? Jawaban: Karakteristik firqah najiyah yang paling menonjol adalah berpegang teguh dengan apa yang dibawa Nabi shallallahu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:<br />
</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apa karakteristik firqah najiyah yang paling menonjol? Apakah bila terjadi kekurangan akan mengeluarkan seseorang dari firqah najiyah?<br />
<span id="more-988"></span><strong>Jawaban</strong>:<br />
Karakteristik firqah najiyah yang paling menonjol adalah berpegang teguh dengan apa yang dibawa Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam aqidah, ibadah, akhlak dan mu’amalah. Di dalam empat perkara inilah kamu akan mengetahu firqah najiyah.</p>
<p>Dalam masalah aqidah, kamu mendapati firqah najiyah selalu berperang teguh dengan apa yang ditunjukkan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, yaitu tauhid yang murni dalam uluhiyah Allah, rububiyah-Nya dan asma’ wa sifat-Nya</p>
<p>Dalam masalah ibadah, kamu dapati firqah najiyah ini begitu unik di dalam berpegang teguh yang sempurna dan dalam merealisasi apa yang datang dari Nabi dalam masalah ibadah, berupa jenis, sifat, ukuran, waktu, tempat dan sebab-sebabnya. Kamu tidak akan mendapati mereka berbuat bid’ah dalam agama Allah ini, namun justru mereka sangat tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam memasukkan bentuk ibadah yang tidak diridhai-Nya.</p>
<p>Dalam masalah akhlak kamu dapati mereka juga istimewa dari yang lainnya ; dalam hal kebagusan akhlak, seperti cinta akan kebaikan untuk orang-orang muslim, lapang dada, wajah berseri, bagus dan mulia ucapannya, berani dan akhlak mulia lainnya.</p>
<p>Dalam masalah mu’amalah, kamu dapati mereka bermu’amalah kepada manusia dengan jujur dan terus terang. Mereka itulah yang ditunjuk oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam sabdanya:</p>
<p>Artinya: &#8220;Dua orang yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> (penjual dan pembeli) mempunyai hak memilih barang selama mereka belum berpisah, yang jika keduanya jujur dan terus terang maka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jual-beli" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jual beli">jual beli</a> keduanya diberkahi.” [1]</p>
<p>Bila karakteristik-karakteristik ini kurang pada diri seseorang, hal itu tidak menjadikan ia keluar dari firqah najiyah, akan tetapi segala sesuatu ada derajadnya sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Namun bila terjadi dalam tauhid, bisa jadi mengeluarkan dia dari firqah najiyah seperti rusaknya keikhlasan. Demikian juga bid’ah, bisa jadi dia berbuat bid’ah yang mengeluarkan dia dari firqah najiyah.</p>
<p>Sedang kekurangan dalam masalah akhlak dan mu’amalah tidaklah mengeluarkan seseorang dari firqah najiyah ini, tapi mengurangi martabatnya</p>
<p>Kita membutuhkan perincian dalam masalah akhlak. Hal yang terpenting dalam akhlak adalah bersatunya kalimat dan sepakat di atas kebenaran. Inilah yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> wasiatkan kepada kita dalam firman-Nya:</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Dia telah mensyari’atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/isa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with isa">Isa</a> yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” </em>[Asy-Syura : 13]</p>
<p>Dan juga mengkhabarkan bahwa orang-orang yang memecah belah dien dan mereka menjadi terpecah-pecah, maka Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berlepas diri dari mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>Artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.”</em> [Al-An’am : 159]</p>
<p>Bersatunya kalimat dan hati yang saling berkasih sayang adalah karakteristik firqah najiyah ahlul sunnah wal jama’ah yang paling tampak. Bila terjadi perselisihan di antara mereka dalam berijtihad pada masalah-masalah yang memang diperbolehkan untuk berijtihad, maka hal itu tidak membuat mereka saling dengki, saling bermusuhan dan saling membenci, tapi mereka meyakini bahwa mereka tetap bersaudara walaupun terjadi perselisihan di antara mereka.</p>
<p>Seseorang di antara mereka masih tetap ikut <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> di belakang seorang imam yang dianggap belum wudlu, tapi sang imam meyakini bahwa dia sudah wudlu. Seperti seseorang di antara mereka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> di belakang seorang imam yang telah makan daging unta. Sang imam berpendapat bahwa memakan daging unta tidaklah membatalkan wudlu, sedangkan makmum berpendapat bahwa hal itu membatalkan wudlu, maka ia bependapat bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> dibelakang imam tersebut adalah tidak sah. Semua ini bisa berlangsung karena mereka memandang bahwa perselisihan ijitihad yang terjadi dalam masalah-masalah yang diperbolehkan untuk berijtihad; pada hakekatnya bukanlah perselisihan, karena masing-masing dari mereka telah mengikuti apa yang seharusnya diikuti, yaitu dalil yang mereka tidak boleh menyimpang darinya.</p>
<p>Mereka memandang bahwa saudaranya yang menyelisihi mereka dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> yang sama-sama mengikuti dalil, pada hakekatnya mereka telah bersepakat, karena mereka selalu menyeru untuk mengikuti dalil di mana mereka berada. Jika perselisihan di antara mereka adalah sesuai dengan yang mereka pegangi, pada hakekatnya mereka sepakat, karena berjalan sesuai dengan apa yang mereka serukan dan apa yang mereka tunjukkan, yaitu berhukum pada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></p>
<p>Tak bisa dipungkiri, perselisihan juga terjadi pada kebanyakan Ahlul ilmu dalam perkara-perkara seperti ini, bahwa hal inipun terjadi pada para sahabat, bahkan juga menimpa pada masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tapi satu sama lain tidak mencela. Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kembali dari perang Ahzab, Jibril datang mengisyaratkan untuk berangkat ke Bani Quraidlah karena mereka telah mengingkari janji, maka Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajak para sahabat dan bersabda:</p>
<p>Artinya<em>: &#8220;Janganlah salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat ashar kecuali di Bani Quraidlah.”</em> [2]</p>
<p>Maka para sahabat keluar dari Madinah menuju Bani Quraidlah dan mengakhirkan Ashar, sebagian ada yang mengakhirkan shalat hingga tiba di Bani Quraidlah meski waktu Ashar sudah habis, karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>“Seseorang di antara kalian jangan shalat Ashar kecuali di Bani Quraidlah.”, maka sebagian ada yang melaksanakan shalat tepat pada waktunya dan berkata: ‘Sesungguhnya Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengharapkan kita bersegera untuk berangkat berperang, bukan menginginkan untuk mengakhirkan shalat pada waktunya’, mereka inilah yang benar.</p>
<p>Walaupun demikian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak mencerca salah satu dari dua kelompok ini, dan seseorang di antara mereka tidak menimbulkan permusuhan kepada yang lain, atau menimbulkan kebencian yang disebabkan perselisihan mereka dalam memahami nash.</p>
<p>Oleh karena itu saya berpendapat bahwa yang wajib bagi kaum muslimin yang bepegang kepada sunnah untuk menjadi umat yang satu dan jangan sampai menjadi berpartai-partai, golongan ini hanya mau dengan kelompoknya sendiri, partai ini hanya konsisten dengan partai yang lain, dan partai yang ketiga konsisten dengan partai ketiga, demikian terus hingga mereka saling bertengkar, adu mulut, saling membenci dan saling memusuhi dikarenakan perselisihan dalam perkara-perkara yang sebenarnya diperbolehkan berijtihad. Masing-masing golongan tidak perlu megkhususkan partainya sendiri, dan orang yang cerdik akan mudah memahami perkara ini.</p>
<p>Saya berpendapat bahwa ahlus sunnah wal jama’ah wajib bersatu, meskipun terjadi perselisihan yang disebabkan perbedaan faham tentang maksud suatu nash, karena ini termasuk perkara-perkara yang alhamdulillah ada kelonggaran. Yang terpenting adalah saling berkasih sayangnya hati dan bersatunya kalimat. Tidak diragukan lagi bahwa musuh-musuh Islam senang bila kaum muslimin berpecah belah. Baik musuh yang terang-terangan memusuhi ataupun musuh yang menampakkan loyalitasnya kepada kaum muslimin atau dienul Islam, padahal hakekatnya mereka membenci</p>
<p>Yang wajib bagi kita adalah memilih sepakat di atas kalimat yang satu. Itulah keistimewaan firqah najiyah.</p>
<p>[Disalin dari kitab<em> Majmu Fatawa Arkanil Islam</em>, edisi Indonesia <em>Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah</em>, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]<br />
__________<br />
Foote Note<br />
[1]. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam <em>Kitabul Buyu&#8217;</em>, Bab <em>Idza Bayyana Albai’ani Walam Yaktuma wa Nasahaa</em>, no. 2079. Dan Muslim dalam <em>Kitabul Buyu’,</em> Bab <em>As-Sidqu Fil Bai’i wal Bayan</em>, no. 1532<br />
[2]. HR Bukhari : 946 dan Muslim :1770</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>amalan</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>jual beli</strong>, <strong>contoh golongan pembeli dan penjual</strong>, <strong>isa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apa-karakteristik-firqoh-najiyah-golongan-yang-selamat-yang-paling-menonjol/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaiat Imam</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/membaiat-imam</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/membaiat-imam#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 11:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[masail jahiliyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Saya ingin menanyakan mengenai dalil-dalil yang berhubungan dengan membai&#8217;at imam. Apakah benar bahwa tidak syah islam seseorang tanpa membaiat seorang imam. Bahkan, Bukhori pun berbaiat pada imam di zamannya. Jaza kallohu khoiron. Jawaban Ustadz: Nabi bersabda: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</em><br />
Saya ingin menanyakan mengenai dalil-dalil yang berhubungan dengan membai&#8217;at imam. Apakah benar bahwa tidak syah islam seseorang tanpa membaiat seorang imam. Bahkan, Bukhori pun berbaiat pada imam di zamannya.<em> Jaza kallohu khoiron.</em></p>
<p><span id="more-26"></span><strong>Jawaban Ustadz:</strong></p>
<p>Nabi bersabda:<br />
<em>&#8220;Barang siapa yang meninggal dunia dan di lehernya tidak ada ikatan bai&#8217;at maka orang tersebut mati jahiliyah.&#8221;</em> (HR. Muslim no. 1850)</p>
<p>&#8220;Demikian ini karena orang jahiliyah adalah orang yang tidak tertata dalam artian mereka tidak mau tunduk kepada penguasa tertentu. Inilah kondisi di masa Jahiliyah.&#8221; (<em>Syarah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masail-jahiliyah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masail jahiliyah">Masail Jahiliyah</a></em>, Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 14).</p>
<p>Jelaslah bahwa Hadits tersebut TIDAK menunjukkan bahwa orang yang tidak punya ikatan bai&#8217;at itu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a>, akan tetapi orang tersebut mati dalam kondisi berbuat maksiat.</p>
<p>Akan tetapi, penguasa yang berhak untuk dibai&#8217;at adalah penguasa yang sebenarnya yang punya kekuasaan dan kedaulatan yang nyata (bukan penguasa bawah tanah).</p>
<p>Ibnu Taimiyah mengatakan &#8220;Nabi hanya memerintahkan untuk ta&#8217;at kepada penguasa yang dikenal dan memiliki kekuasaan sehingga bias mengatur urusan banyak orang. <strong>Tidak ada kewajiban taat terhadap orang yang tidak ada dan tidak dikenal, serta tidak ada kewajiban taat terhadap orang yang sama sekali tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan</strong>.&#8221; (<em>Minhaj Sunnah Nabawiyah</em> 1/115).</p>
<p>***</p>
<p>Penanya: Iwan<br />
Dijawab Oleh: <a href="http://ustadzaris.com">Ust. Abu Ukkasyah Aris Munandar</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kafir</strong>, <strong>masail jahiliyah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/membaiat-imam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar Jamaah Tabligh (2)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/seputar-jamaah-tabligh-2</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/seputar-jamaah-tabligh-2#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 11:24:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apa yang dimaksud dengan hadits dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[arti tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[artikel jamaah tabliq]]></category>
		<category><![CDATA[aurat]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[ciri jamaah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengucapkan selamat berbuka]]></category>
		<category><![CDATA[iblis]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[kb]]></category>
		<category><![CDATA[kekeliruan jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[kisah sahabat nabi ali bin abi thalib]]></category>
		<category><![CDATA[markas tablik]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[qashar]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[subahat jamaah tablig]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[sunah]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[syubhat jamaah tabligh dan jawabannya]]></category>
		<category><![CDATA[tabligh sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab tentang jamaah tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum, Adakah artikel mengenai Jamaah Tabligh? Saya hanya sekedar ingin mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut. Mereka agar lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT? Bagaimanakah tentang kitab-kitab rujukan mereka seperti kitab Fadhilah Amal, fadhilah sedekah, dsb? Apakah kitab-kitab ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum,</em><br />
Adakah artikel mengenai Jamaah Tabligh? Saya hanya sekedar ingin mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut. Mereka agar lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT? Bagaimanakah tentang kitab-kitab rujukan mereka seperti kitab Fadhilah Amal, fadhilah sedekah, dsb? Apakah kitab-kitab tersebut layak kita pergunakan sebagai rujukan untuk beramal? Bagaimanakah amalan mereka yang berdakwah secara door to door menghampiri umat untuk menyadarkan.</p>
<p><span id="more-24"></span><strong>Lanjutan Jawaban:</strong></p>
<p>Berikut artikel lanjutan mengenai beberapa kesalahan dakwah dan pemikiran Jamaah Tabligh beserta jawabannya (dengan beberapa perubahan format artikel) masih ditulis oleh Ustadz Abu Ihsan Al Atsari. Semoga Allah subhanahu wa ta&#8217;ala senantiasa memberi petunjuk kepada jalan yang lurus kepada kita dan mereka&#8230;</p>
<p><strong>KHURUJ ALA JAMA&#8217;AH TABLIGH (SYUBHAT DAN BANTAHANNYA)</strong></p>
<p>Disusun Oleh: Abu Ihsan Al Atsari</p>
<p>Khuruj, merupakan salah satu metode kerja dakwah yang dikenal dalam lingkungan Jama&#8217;ah Tabligh. Metode seperti ini, tentu tidak dikenal dalam dakwah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabat Beliau. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak pernah mengirim sembarang orang untuk tugas dakwah, apalagi mengirim orang-orang yang tidak memiliki ilmu. Tidak pernah terdengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengutus Arab badui yang tinggal di sekitar Madinah menjadi duta dakwah Beliau. Namun Beliau mengutus para sahabat yang terkemuka dalam ilmu dan agama, seperti: Mu&#8217;adz bin Jabal, Abu Musa Al Asy&#8217;ari, Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu ta&#8217;ala &#8216;anhum</em>.</p>
<p>Jadi, membahas khuruj ala Jama&#8217;ah Tabligh ini, bukan hanya sekadar membahas boleh tidaknya keluar untuk tujuan dakwah. Karena masalahnya tidak sesederhana itu. Mereka melakukan kegiatan tersebut dengan mengatasnamakan dakwah. Padahal, dakwah haruslah sesuai dengan tuntunan Sunnah Nabi. Karena ia termasuk ibadah. Bahkan ibadah yang sangat mulia.<br />
Tidak pernah ditemui dalam riwayat -baik yang dhaif, apalagi yang shahih- yang menyebutkan, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melepas para sahabat untuk khuruj tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari atau satu tahun. Pembatasan hari seperti itu, juga tidak ada dalilnya dalam syari&#8217;at. Jadi, khuruj yang dilakukan oleh Jama&#8217;ah Tabligh ini, sebenarnya lebih mirip dengan siyahah (pengembaraan) yang biasa dilakukan oleh orang-orang Shufi.</p>
<p>Syaikh Saifur Rahman bin Ahmad Ad Dahlawi berkata, <em>&#8220;Berkenaan dengan kerja tabligh berjama&#8217;ah, mereka mengatakan, &#8216;Ia merupakan jihad besar bahkan akbar&#8217;. Bahkan mereka membenci kerja dakwah yang tidak sesuai dengan kerja dakwah mereka. Mereka melarang manusia berdakwah kepada agama Allah, berdakwah kepada Al Quran dan As Sunnah dalam halaqah-halaqah khusus mereka. Kecuali dakwah yang sesuai dengan pokok-pokok dasar, ajaran dan manhaj jama&#8217;ah mereka. Dan masih dalam koridor hikayat-hikayat, cerita-cerita <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mimpi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mimpi">mimpi</a> dan fadhail yang sejalan dengan aqidah dan khurafat mereka. Mereka sangat berlebih-lebihan dalam masalah khuruj berjama&#8217;ah ini, sehingga melewati batas kewajaran yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata.&#8221;</em> (Silakan lilhat buku <em>I&#8217;tibariyah Haula Al Jama&#8217;ah Tablighiyah</em>, hal. 43).</p>
<p>Hal ini telah dialami sendiri oleh Syaikh Muhammad Nasib Ar Rifa&#8217;i, ketika menyampaikan beberapa patah kalimat tentang aqidah di markas Jama&#8217;ah Tabligh. Mereka menyerang Beliau. Bahkan mengeluarkan Beliau dan berbuat yang tidak baik terhadapnya. Sebagaimana halnya beberapa perkara yang mereka cantumkan dalam adab-adab khuruj. Yakni tidak membicarakan masalah khilafiyah. Demikian mereka katakan, secara umum, baik masalah fikih maupun masalah aqidah. Hingga masalah-masalah penting yang sudah disepakati dalam aqidah, juga mereka anggap sebagai masalah khilafiyah dan melarang anggota mereka untuk membicarakannya. <em>Wallahul musta&#8217;an.</em></p>
<p>Lalu Beliau melanjutkan lagi, <em>&#8220;Salah satu ciri khas jama&#8217;ah ini ialah, mereka meyakini, bahwa siapa saja yang keluar bersama mereka dalam kerja dakwah berjama&#8217;ah, berarti telah melakukan jihad yang besar, bahkan akbar. Mereka beranggapan, keluar bersama mereka dalam kerja dakwah berjama&#8217;ah ini lebih afdhal daripada berperang dengan pedang dan pena, lebih afdhal daripada memerangi musuh Allah dan Rasul-Nya, lebih afdhal daripada memelihara kemurnian Islam dan keutuhan kaum muslimin (Bukti yang menguatkannya ialah pernyataan dari seorang ulama dan para penuntut ilmu pada masa peperangan jihad Afghanistan melawan kaum komunis, bahwa Jama&#8217;ah Tabligh mendatangi tempat-tempat mereka untuk mengajak mereka khuruj bersama jama&#8217;ah mereka!). Barang siapa melakukannya, berarti ia telah melaksanakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">sunah</a> para nabi dan rasul, telah melaksanakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sunah">sunah</a> sayyidul anbiyaa&#8217; wal mursalin, Muhammad shallallahu &#8216;alihi wa sallam. Berarti ia telah keluar seperti halnya sahabat radhiallahu &#8216;anhum ajma&#8217;ain dalam peperangan dan medan jihad.&#8221;</em> (Silakan lihat buku <em>I&#8217;tibariyah Haula Al Jama&#8217;ah Tablighiyah</em>, hal. 51).</p>
<p><strong>JAWABAN TERHADAP SYUBHAT-SYUBHAT MEREKA</strong></p>
<p>Pertama. Argumentasi mereka dengan ayat:</p>
<p>كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ</p>
<p><em>&#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 110)</p>
<p>Adalah argumentasi yang batil. Karena maksud kata ukhrijat, bukanlah khuruj seperti yang mereka artikan itu.</p>
<p>Kedua, argumentasi mereka dengan ayat-ayat dan hadits-hadits jihad merupakan tahrif (penyimpangan makna). Sebab, yang dimaksud berjihad adalah berperang di jalan Allah melawan musuh-musuh agama.</p>
<p>Ketiga, argumentasi mereka dengan tersebarnya kubur para sahabat di luar jazirah Arab, juga merupakan argumentasi yang menyesatkan. Karena para sahabat keluar dari negeri mereka bersama para pasukan, berperang fi sabilillah untuk memperluas wilayah Islam dan untuk meninggikan kalimat Allah.</p>
<p>Keempat, argumentasi mereka dengan firman Allah:</p>
<p>التَّآئِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ</p>
<p><em>&#8220;Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, memuji (Allah), yang berjihad, yang ruku&#8217;, yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a>.&#8221;</em> (QS. At Taubah: 112)</p>
<p>Adalah kejahilan terhadap Kitabullah. Sebab yang dimaksud dengan <em>as-saa-ihuun</em>, adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Ibnu Katsir berkata, <em>&#8220;Ada bukti yang menguatkan, bahwa yang dimaksud dengan siyaahah di sini ialah jihad&#8230; bukan maksudnya siyaahah yang dipahami oleh sebagian orang yang beribadah hanya dengan melakukan siyaahah (pengembaraan) di muka bumi.&#8221;</em> (<em>Tafsir Al Qur&#8217;an Al Adhzim</em> II/407).</p>
<p>Kelima, membatasi khuruj mereka dengan tiga hari, empat puluh hari, tiga bulan atau satu tahun adalah bid&#8217;ah yang tidak ada contohnya dalam agama. Mereka berdalil dengan ayat-ayat Al Quran yang tidak ada sangkut- pautnya dengan khuruj mereka. Untuk khuruj tiga hari mereka berdalil dengan ayat:</p>
<p>فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ</p>
<p>Maka berkata Shalih, <em>&#8220;Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.&#8221;</em> (QS. Hud: 65)</p>
<p>Dan berdalil dengan batas waktu mengqashar shalat, yakni tiga hari. Untuk khuruj empat puluh hari, mereka berdalil ayat:</p>
<p>وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلاَثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً</p>
<p><em>&#8220;Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam.&#8221;</em> (QS. Al A&#8217;raf: 142)</p>
<p>Untuk khuruj empat bulan mereka berdalil dengan ayat:</p>
<p>فَسِيحُوا فِي اْلأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ</p>
<p><em>&#8220;Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan.&#8221;</em> (QS. At Taubah: 2)</p>
<p>Dan dengan ayat:</p>
<p>لِّلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِن نِّسَآئِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ</p>
<p><em>&#8220;Kepada orang-orang yang meng-ilaa&#8217; istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya).&#8221;</em> (QS. Al Baqarah: 226)</p>
<p>Argumentasi seperti itu terlalu dipaksakan dan merupakan tahrif (penyelewengan) terhadap Kitabullah dari maksud yang sebenarnya. Jelas, angka-angka yang disebutkan dalam ayat di atas bukanlah batasan untuk khuruj dalam arti kata dakwah. Bahkan beberapa ayat di atas sebenarnya ditujukan kepada orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> dan orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/musyrik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrik">musyrik</a>, seperti dalam surat Hud ayat 65 dan At Taubah ayat 2 di atas.</p>
<p>Dengan pendalilan yang dipaksakan ini mereka akan sangat kerepotan ketika menghadapi ayat,</p>
<p>وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.&#8221;</em> (QS. Al Ankaabut: 14)</p>
<p>Apakah ada di antara mereka yang sanggup mengerjakan khuruj selama 950 tahun!! Padahal Allah tidak mungkin membebani manusia dengan syariat di luar batas kemampuan manusia. Ini adalah salah satu bukti kesalahan mereka dalam memberikan argumen mengenai dasar syariat khuruj ala Jamaah Tablig -ed.</p>
<p>Keenam. Mereka katakan, khuruj yang mereka lakukan itu menghasilkan sejumlah faidah. Di antaranya banyak orang yang masuk Islam melalui dakwah mereka. Jawaban terhadap alasan mereka ini sebagai berikut:</p>
<p>(1) Kita tidak boleh mencapai satu tujuan dengan segala cara. Sebagaimana tujuannya harus mulia, caranya juga harus benar dan bersih dari bid&#8217;ah. Adapun khuruj ala Jama&#8217;ah Tabligh ini merupakan bid&#8217;ah yang paling buruk dalam dakwah.</p>
<p>(2) Kebanyakan para pelaku maksiat yang bergabung bersama Jama&#8217;ah Tabligh, akhirnya mengikuti pola mereka. Padahal keadaan mereka sebelumnya sebenarnya lebih baik. Sebab maksiat lebih ringan kerusakannya daripada bid&#8217;ah. Pelaku maksiat masih bisa diharapkan bertaubat. Berbeda halnya dengan para pelaku bid&#8217;ah, sulit sekali diharapkan bertaubat. Oleh sebab itu Sufyan Ats Tsauri berkata, <em>&#8220;Bid&#8217;ah lebih disukai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/iblis" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with iblis">iblis</a> daripada maksiat, karena maksiat masih bisa diharapkan bertaubat darinya, sementara bid&#8217;ah sukar diharapkan bertaubat darinya.&#8221;</em></p>
<p>Ketika menyebutkan sifat kaum Sufi, imam Al &#8216;Izz bin Abdus Salam berkata, <em>&#8220;Mereka (kaum Sufi) lebih buruk daripada para perompak dan penyamun. Karena kaum Sufi menghalangi orang-orang dari jalan Allah. Mereka sengaja mengucapkan perkataan-perkataan yang buruk terhadap Allah dan berbuat tidak etis terhadap para Nabi, Rasul, para pengikut Nabi dan Rasul dari kalangan ulama dan orang-orang yang bertakwa. Melarang pengikut mereka dari mendengarkan perkataan para ahli fikih, karena mereka tahu, para ahli fikih tersebut melarang orang untuk mengikuti mereka dan mengikuti manhaj mereka.&#8221;</em> (<em>Qawaaidul Ahkam</em> II/178-180).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membantah kaum ahli bid&#8217;ah para pengikut thariqat Rifa&#8217;iyah yang mengaku telah berhasil menyelamatkan manusia dari lembah maksiat. Beliau berkata, <em>&#8220;Sebagian mereka ada yang berkata, &#8216;Kami berhasil mengajak manusia bertaubat&#8217;. Aku katakan kepada mereka, &#8216;Dari apa mereka bertaubat?&#8217; Ia berkata, &#8216;Dari menyamun, mencuri dan sebagainya.&#8217; Aku katakan, &#8216;Keadaan mereka sebelum kalian ajak bertaubat lebih baik daripada setelah kalian ajak bergabung bersama kalian. Sebab, mereka dahulu orang fasik yang meyakini, bahwa perbuatan mereka itu haram dan mereka masih mengharapkan kasih sayang Allah dan bertaubat kepada-Nya, serta berniat untuk bertaubat. Lalu setelah kalian ajak bertaubat, mereka berubah menjadi orang sesat dan orang yang berbuat syirik, keluar dari syariat Islam, menyukai apa yang dibenci Allah dan membenci apa yang dicintai Allah. Kami tegaskan, bahwa bid&#8217;ah yang mereka dan kalian lakukan itu lebih buruk daripada maksiat&#8217;.&#8221;</em> (<em>Ar Rasaail wal Masaail</em> I/153).</p>
<p>Ketika menyebutkan biografi Mihyar Ad Dailami, berkatalah Al Hafidz Ibnu Katsir, <em>&#8220;Dahulu ia penganut agama Majusi, lalu masuk Islam. Sayangnya, ia jatuh dalam dekapan kaum Rafidhah. Ia menggubah syair-syair dalam mazhab Rafidhah yang berisi caci-maki terhadap para sahabat radhiallahu &#8216;anhum. Hingga Abul Qasim bin Burhan mengatakan, &#8216;Hai Mihyar, engkau berpindah dari satu sudut neraka kepada sudut lainnya. Engkau dahulu penganut agama Majusi, kemudian engkau masuk Islam dan mencaci-maki sahabat Nabi!&#8217;&#8221;</em> (<em>Al-Bidayah wa Nihayah</em> XII/41).</p>
<p>Syaikh Hamud At Tuwaijri mengatakan, <em>&#8220;Para ahli sejarah sebelum dan sesudah Ibnu Katsir juga banyak yang membawakan kisah tersebut. Tidak ada seorang pun yang mengingkari perkataan Ibnu Burhan terhadap Mihyar ini. Itu menunjukkan, bahwa mereka menyetujui perkataan tersebut. Kisah tersebut mirip dengan keadaan orang-orang yang masuk Islam lewat Jamaah Tabligh, kemudian mereka mengikuti bid&#8217;ah, kejahilan dan kerusakan aqidah jama&#8217;ah ini&#8230;&#8221;</em> (<em>Al Qaulul Baligh fit Tahdzir Min Jamaah Tabligh</em>, halaman 225).</p>
<p>Demikianlah jawaban terhadap beberapa argumentasi yang mereka bawakan. Sebenarnya masih banyak lagi alasan-alasan mereka lainnya, namun semua itu tidak jauh berbeda dengan argumentasi di atas tadi. (Semoga Allah subhanahu wa ta&#8217;ala membukakan hati kita semua -ed).</p>
<p>***</p>
<p>Penanya: Abdul Halim Firhad<br />
Dijawab oleh: Abu Umair Muhammad Al Makassari (Alumni Ma&#8217;had Ilmi)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>qashar</strong>, <strong>ciri jamaah tabligh</strong>, <strong>arti tabligh</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>iblis</strong>, <strong>sujud</strong>, <strong>apa yang dimaksud dengan hadits dhaif</strong>, <strong>mimpi</strong>, <strong>susu</strong>, <strong>subahat jamaah tablig</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/seputar-jamaah-tabligh-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seputar Jamaah Tabligh (1)</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/seputar-jamaah-tabligh-1</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/seputar-jamaah-tabligh-1#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 11:23:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[al fatiha]]></category>
		<category><![CDATA[amal fadhail oleh al-zakariyyah al-kandahlawi]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[arti majelis tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bantahan tafsir mimipi muhammad ilyas]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[buku tentang jamaah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[ciri jamaah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah tablig]]></category>
		<category><![CDATA[derajat kitab fadhilah amal jamaah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah berdakwah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum baca buku fadilah amal jama tablig]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jawaban jamaah tabligh atas hadist dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[kata mutiara maulana yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[kitab karangan muhammad aslam]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan ceramah romadhon jamaah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[mani]]></category>
		<category><![CDATA[markas jamaah tabliq di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[markas tabligh bandung]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[maulana muhammad aslam sesat]]></category>
		<category><![CDATA[maulana muhammad aslam sheikhupuri]]></category>
		<category><![CDATA[mencari mursyid]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[mursyid tareqah]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan nu tentang jamaah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[safar]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah masuknya jamaah tabligh di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[siapa kah sebenar nya muhammat ilias guru besar jemaah tabliq menurut mujahid al qaedah]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[tabligh maulana muhammad aslam]]></category>
		<category><![CDATA[tanya jawab jamaah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh-tokoh jamaah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan bila seseorang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[wujud nabi yusuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu&#8217;alaikum, Adakah artikel mengenai Jamaah Tabligh? Saya hanya sekedar ingin mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut. Mereka agar lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT? Bagaimanakah tentang kitab-kitab rujukan mereka seperti kitab Fadhilah Amal, fadhilah sedekah, dsb? Apakah kitab-kitab ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum,</em><br />
Adakah artikel mengenai Jamaah Tabligh? Saya hanya sekedar ingin mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut. Mereka agar lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT? Bagaimanakah tentang kitab-kitab rujukan mereka seperti kitab Fadhilah Amal, fadhilah sedekah, dsb? Apakah kitab-kitab tersebut layak kita pergunakan sebagai rujukan untuk beramal? Bagaimanakah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> mereka yang berdakwah secara door to door menghampiri umat untuk menyadarkan.</p>
<p><span id="more-22"></span><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Berikut kami sertakan artikel seputar Jamaah Tabligh yang disusun oleh Ustadz Abu Ihsan Al Atsari dengan sedikit perubahan yang tidak mengurangi intisari permasalahan.</p>
<p><strong>JAMA&#8217;AH TABLIGH (SUFI GAYA BARU)</strong></p>
<p>Disusun Oleh: Abu Ihsan Al-Atsary</p>
<p>Syaikh Al Albani pernah ditanya tentang buku berjudul <em>Zhahiratul Irja&#8217; Fil Fikr Islami</em>, karangan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/safar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with safar">Safar</a> Al Hawali. Di dalamnya disebutkan tentang vonis <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> terhadap pelaku sebagian dosa besar. Beliau menjawab, <em>&#8220;Dahulu saya pernah melontarkan sebuah pendapat, kira-kira tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya masih <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengajar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengajar">mengajar</a> di Al Jami&#8217;ah (maksud Beliau Jami&#8217;ah Islamiyah Madinah An Nabawiyah). Dalam sebuah majelis yang besar, saya ditanya, bagaimana pandangan saya terhadap Jama&#8217;ah Tabligh. Ketika itu saya jawab: Shufi gaya baru. Sekarang terbetik dalam hatiku untuk mengomentari jama&#8217;ah yang muncul saat ini dan menyelisihi manhaj Salaf. Saya katakan -sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Adz Dzahabi, &#8216;Mereka telah menyelisihi Salaf dalam sejumlah persoalan manhaj,&#8217; maka saya sebut mereka ini: Khawarij gaya baru.&#8221;</em></p>
<p>Pada kesempatan kali ini kali ini, kami akan mengupas seputar Jama&#8217;ah Tabligh, yang oleh Syaikh Al Albani disebut Shufi gaya baru. Akan kami tunjukkan bukti-bukti kebenaran perkataan Syaikh Al Albani tersebut. Perlu diketahui, bahwa Syaikh Al Albani mengatakan hal itu tiga puluh tahun atau bahkan empat puluh tahun yang lampau, sebagaimana tersebut dalam pengakuan Beliau di atas.</p>
<p><strong>MENGENAL MUHAMMAD ILYAS, PENDIRI JAMA&#8217;AH TABLIGH</strong></p>
<p>Jama&#8217;ah Tabligh didirikan oleh Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail Al Kandahlawi Ad Deobandi Al Jisyti. Kandahlawi adalah nisbat kepada sebuah kampung bernama Kandhla di Saharanpur India. Dia lahir pada tahun 1303 H. Deobandi adalah nisbat kepada Deoband. Salah satu madrasah terbesar bagi pengikut mazhab Hanafi di India. Madrasah ini didirikan pada tahun 1283H. Menurut pengakuan pendirinya, madrasah tersebut didirikan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dan Beliau menghadiri perayaan-perayaan masyayaikh madrasah tersebut. Al Jisyti adalah nisbat kepada salah satu tharikat shufi bernama Jisytiyyah. Silsilah tharikat tersebut dimulai dari India, dari seorang Shufi bernama Khawajah Mu&#8217;inuddin Al Jisyti. Muhammad Ilyas menghabiskan masa kecilnya di Kandhla, sebuah desa di kawasan Muzhaffar Naghar di wilayah Uttarpradesh, India. Ayahnya bernama Muhammad Ismail, tinggal di Nizhamuddin, New Delhi India yang kemudian menjadi markas besar Jama&#8217;ah ini. Muhammad Ilyas meninggal pada tahun 1364H. Setelah itu kepemimpinan Jama&#8217;ah Tabligh dipegang oleh anaknya bernama Muhammad Yusuf, meninggal dunia pada tahun 1385H. Setelah itu Jama&#8217;ah Tabligh dipimpin oleh In&#8217;aamul Hasan sampai ia meninggal pada tahun 1416H. Hingga saat ini tidak ada seorangpun yang menggantikannya. Apa alasannya? Masih tidak jelas. Akan tetapi sebagian anggota Jama&#8217;ah Tabligh mengatakan, bahwa mereka menunggu kedatangan Mahdi. (Silakan lihat <em>Jama&#8217;ah Islamiyah</em>, karangan Salim bin &#8216;Ied Al Hilali, hal. 362).</p>
<p><strong>ASAL-USUL BERDIRINYA JAMA&#8217;AH TABLIGH</strong></p>
<p>Muhammad Ilyas, pendiri Jama&#8217;ah Tabligh mengatakan, <em>&#8220;Tersingkaplah bagiku usaha dakwah tabligh ini dan diresapkan ke dalam hatiku, dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mimpi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mimpi">mimpi</a> tafsir ayat:</em></p>
<p>كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ</p>
<p><em>&#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 110)</p>
<p><em>Sesungguhnya engkau dikeluarkan untuk umat manusia seperti halnya para nabi. Firman Allah: &#8216;dikeluarkan&#8217; merupakan isyarat, bahwa kerja dakwah ini tidak hanya di satu tempat saja, namun dibutuhkan perjalanan ke negeri-negeri lain. Dan tugasmu adalah amar ma&#8217;ruf nahi mungkar.&#8221;</em> (Dinukil dari buku <em>Malfudhat Ilyas</em>, hal. 57, oleh Muhammad Aslam dalam kitabnya yang berjudul <em>Jama&#8217;ah Tabligh, Aqidatuha wa Afkaruha wa Masyayikhiha</em>, hal. 14). Konon katanya, peristiwa itu terjadi di Madinah An Nabawiyah, seperti yang dinukil oleh Abul Hasan An Nadwi dalam kitabnya berjudul <em>Syaikh Muhammad Ilyas wa Da&#8217;watuhu Ad Diiniyyah</em>. (Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul <em>Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas</em>, terbitan As Shaff, tahun 1999).</p>
<p><em>&#8220;Pada kesempatan haji yang kedua inilah, Allah subhanahu wa ta&#8217;ala telah membuka hati Maulana Ilyas untuk memulai usaha dakwah dan pergerakan agama yang menyeluruh. Dia mengakui dirinya lemah, sedangkan usaha dakwah merupakan sebuah usaha yang besar. Namun demikian, Beliau telah bertekad untuk melaksanakan usaha tersebut. Beliau sangat yakin, bahwa pertolongan Allah akan menyertainya, sehingga Beliau merasa lega. Selanjutnya Beliau meninggalkan kota Madinah -setelah tinggal di sana selama lima bulan- dan tiba di Kandla pada tanggal 13 Rabi&#8217;ul Akhir 1345 H, bertepatan dengan tanggal 25 September 1925. Setelah pulang dari haji, Maulana memulai usaha tabligh dan mengajak orang lain untuk bergabung dalam usaha yang sama. Serta mengajarkan kepada khalayak ramai tentang rukun-rukun Islam, seperti: syahadat, shalat dan lain sebagainya&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Muhammad Ilyas juga berkata, <em>&#8220;Sesungguhnya, jika mengingatnya aku merasa terhimpit beban berat. Ketika hal ini aku sampaikan kepada Syaikh Ganggohi -yakni Rasyid Ahmad Ganggohi mursyid Muhammad Ilyaas- ia gemetar, lalu berkata, &#8216;Syaikh Muhammad Qasim telah mengadukan perkara serupa seperti itu kepada Haji Imdadullah&#8217;.&#8221;</em> (<em>Syaikh Muhammad Ilyas wa Da&#8217;watuhu Ad Diiniyyah</em>, karangan Abul Hasan An Nadwi, hal. 15).</p>
<p>Adapun pengaduan Muhammad Qasim Nanuti kepada mursyidnya ialah, <em>&#8220;Setiap kali aku meletakkan tasbih di tanganku, aku pasti ditimpa musibah dan terhimpit beban berat. Kalaulah seseorang meletakkan batu-batu besar di atasku, maka seolah-olah setiap batu beratnya seratus ton, akan terhentilah gerakan lisan dan hati. Syaikh Imdadullah berkata kepada muridnya, Muhammad Qasim Nanuti, &#8216;Ini merupakan karunia nubuwah yang diresapkan ke dalam hatimu. Itulah beban berat yang dirasakan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika turun wahyu. Allah akan menggunakan dirimu untuk sebuah tugas yang dahulu dilakukan oleh para nabi&#8217;.&#8221;</em> (<em>Sawanih Qasimi</em> I/258-259).</p>
<p>Menanggapi perkataan Muhammad Ilyas, <em>&#8220;Tersingkaplah bagiku kerja dakwah tabligh ini dan diresapkan ke dalam hatiku, dalam mimpi tafsir ayat&#8230; Sesungguhnya engkau dikeluarkan untuk umat manusia seperti halnya para nabi&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dalam kitab <em>Jama&#8217;ah Islaamiyah</em>, hal. 366 mengatakan, <em>&#8220;Ini sejenis wahyu, jika mereka katakan: Ini adalah ilham! Maka aku katakan: Tidak ada seorang pun dari umat ini yang mendapat ilham, karena syariat telah sempurna dan tidak membutuhkan ilham. Jika memang ada yang mendapat ilham, maka orang itu adalah Umar, bukan yang lainnya sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.&#8221;</em></p>
<p>Dan dari perkataannya: Sesungguhnya engkau dikeluarkan untuk umat manusia seperti halnya para nabi; ini merupakan pengakuan, bahwa dirinya sejajar dengan para nabi, mendapat ilham dan wahyu. Bahkan dalam tulisan-tulisannya, Muhammad Ilyas menganggap bahwa anggota jama&#8217;ahnya mampu melakukan amalan yang tidak dapat dilakukan oleh nabi sekalipun (Silakan lihat kitab <em>Jama&#8217;ah Tabligh, Aqidatuha wa Afkaruha wa Masyayikhiha</em>, hal. 45-46). Dan pengakuan-pengakuan seperti ini persis seperti pengakuan kaum Shufi, seperti pengakuan Ahmad Ar Rifa&#8217;i -pendiri tharikat Ar Rifa&#8217;iyyah- yang mengklaim mendapat titah langsung dari Rasulullah ketika ia berziarah ke makam Rasul. Atau seperti Ahmad At Tijani yang mengaku mendapat perintah langsung dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Namun ilham yang diklaim oleh Muhammad Ilyas ini, yang dibanggakan oleh murid-muridnya lalu dilaksanakan oleh jama&#8217;ahnya, sebenarnya ia ambil dari pemikiran Jama&#8217;ah An Nuur di Turki. Enam sifat yang selalu mereka dengung-dengungkan itu, sebenarnya dikarang oleh Badi&#8217;uz Zaman Sa&#8217;id An Nuuri, yakni ketika Muhammad Ilyas pergi ke Hijaz. Dia mendengar darinya, kemudian menerapkannya. Lalu mengklaim, bahwa ia mendapatkannya melalui mimpi&#8230;. (Silakan lihat kitab <em>Jama&#8217;ah Tabligh</em>, <em>Aqidatuha wa Afkaruha wa Masyayikhiha</em>, hal. 45-46 dan kitab <em>Jama&#8217;ah Islamiyah</em>, karangan Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al Hilali).</p>
<p><strong>GHULUW (BERLEBIHAN) TERHADAP MUHAMMAD ILYAS DAN USAHA TABLIGHNYA</strong></p>
<p>Sikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap guru, merupakan salah satu ciri kaum Shufi. Demikian pula halnya sikap para pengikut Jama&#8217;ah Tabligh terhadap guru mereka, Muhammad Ilyas, ataupun tokoh-tokoh mereka lainnya. Contohnya ialah perkataan Muhammad Ilyas sendiri, bahwa jama&#8217;ahnya mampu melakukan amalan yang tidak dapat dilakukan oleh para nabi sekalipun. Muhammad Ilyas menulis dalam khutbahnya yang dikirimkan kepada anggota-anggota jama&#8217;ahnya: <em>&#8220;Sungguh, jika Allah tidak menghendaki seseorang untuk beramal, maka tidak akan mungkin dapat ia lakukan. Hingga para nabi sekalipun, tidak akan mungkin mereka melakukan, meskipun mengerahkan kemampuan mereka untuk mengerjakannya. Namun, jika Allah menghendaki, orang-orang lemah seperti kalian mampu untuk melakukan amalan yang tidak dapat dilakukan oleh para nabi sekalipun.&#8221;</em> (<em>Makatib Ilyas</em>, hal. 107, 108).</p>
<p>Contoh lainnya ialah perkataan Abul Hasan An Nadwi, <em>&#8220;Sungguh, dalam diri Maulana Muhammad Ilyas sejak kecil telah nampak ruh dan semangat para sahabat radhiallahu &#8216;anhum. Dia memiliki kerisauan dan perhatian begitu tinggi terhadap agama dan dakwah. Sehingga Syaikh Mahmud Hasan, yang dikenal sebagai Syaikhul Hind (Guru Besar ilmu hadits di madrasah Darul Ulum Deoband) mengatakan, &#8216;Sesungguhnya, apabila aku melihat Maulana Ilyas, maka akupun teringat para sahabat radhiallahu &#8216;anhum.&#8217;&#8221;</em> (Silakan lihat buku <em>Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas</em>, tulisan Abul Hasan An Nadwi, hal. 9).</p>
<p>Coba pula perhatikan perkataan Abul Hasan An Nadwi yang terlalu berlebihan tentang Maulana Muhammad Ilyas ini, <em>&#8220;Gambaran sebenarnya mengenai usaha dakwah ini (dakwah Tabligh), tidak mungkin bisa terungkapkan melalui tulisan. Kata-kata terlalu lemah untuk menjelaskan hakikat, cara-cara dan perasaan yang dialami oleh seseorang. Kata-kata dan tulisan mustahil dapat melukiskan perasaan dan pandangan Beliau (Syaikh Muhammad Ilyas). Syaikh Muhammad Ilyas memiliki cita-cita dan tekad yang luar biasa. Jika Beliau telah berazam mengerjakan sesuatu, kesulitan apapun tidak mampu menghalanginya. Meski kesehatan Beliau terganggu dan badan Beliau lemah, namun semangat Beliau tetap tinggi. Pendeknya Beliau benar-benar tidak mengenal putus asa. Memang benar apa yang dikatakan Syaikh Manzhur Nu&#8217;mani, bahwa Syaikh Muhammad Ilyas telah mengorbankan segala-galanya, bahkan di luar kemampuannya dalam rangka mengembangkan usaha dakwah dan pembaharuan. Boleh dikatakan, seandainya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a> dengan segala kenikmatannya atau neraka dengan segala siksanya diletakkan di depan seseorang, kemudian dikatakan kepadanya, &#8216;Jika kamu melakukan demikian, kamu akan mendapatkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a>. Jika kamu meninggalkannya, kamu akan dilemparkan ke dalam neraka,&#8217; orang tersebut tetap tidak akan melakukan usaha yang lebih banyak, dibandingkan usaha yang telah dilakukan oleh Syaikh Muhammad Ilyas dalam berdakwah menyeru manusia kepada Allah, terutama pada saat menjelang akhir kehidupannya.&#8221;</em> (Silakan lihat buku <em>Maulana Muhammad Ilyas Di antara Pengikut &amp; Penentangnya</em>, karangan Dr. Abdul Khaliq Pirzada, hal. 6).</p>
<p>Coba perhatikan pula penuturan Manzhur Nu&#8217;mani -yang tidak kalah berlebihan dengan pernyataan Abul Hasan An Nadwi di atas-, <em>&#8220;Saya yakin, bahwa usaha ini (dakwah Tabligh) merupakan satu-satunya usaha yang dapat menghidupkan kembali ruh keimanan dengan sempurna di kalangan umat Islam.&#8221;</em> (Ibid hal. 5). Jelas sebuah pernyataan yang terlalu berlebihan dan tidak sepatutnya diucapkan. Perkataan seperti itu mirip perkataan kaum Shufi dalam mengagungkan kelompok tharikat dan mursyid mereka.</p>
<p>Bahkan menurut klaim pengikut dan simpatisannya, Muhammad Ilyas ini telah mencapai derajat ihsan. Seperti yang dikatakan oleh Abul Hasan An Nadwi, <em>&#8220;Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa ihsan adalah &#8216;hendaklah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatNya&#8217;. Dalam riwayat lain disebutkan, hendaklah kamu takut kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Maulana Muhammad Ilyas telah mengamalkan makna hadits tersebut. Bahkan dalam keadaan ramai, seolah-olah Beliau merasa dalam keadaan sepi saja. Sehingga Beliau akan bermunajat kepada Tuhannya. Hal ini dibenarkan oleh Syaikh Manzhur Nu&#8217;mani, yang secara langsung melihat kehidupan Beliau. Dia mengatakan, &#8220;Sesungguhnya, ketika Beliau membaca kalimat, &#8216;Maha suci Allah dengan puja-pujiNya. Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Engkau, Engkaulah Yang Esa, tiada sekutu bagi Engkau. Aku memohon ampun kepada Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Yang Maha Berdiri Sendiri. Dengan rahmatMu, aku memohon pertolongan. Perbaikilah keadaanku semuanya. Dan janganlah Engkau serahkan aku kepada nafsuku, walau sekejap mata&#8217;. Beliau membaca kalimat-kalimat tersebut, seolah-olah sedang berada di hadapan Arsy Allah subhanahu wa ta&#8217;ala.&#8221;</em> (Silakan lihat buku <em>Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas</em>, tulisan Abul Hasan An Nadwi, hal. 143).</p>
<p>Begitulah penegasan mereka, tanpa memberi peluang untuk mengatakan insya Allah. Mereka memastikan guru dan tokoh mereka itu telah memperoleh predikat muhsin. Sungguh ini merupakan salah satu sikap ghuluw yang diwarisi dari kaum Shufi terdahulu dalam menyanjung guru dan mursyid atau pemimpin tharikat mereka.</p>
<p><strong>JAMA&#8217;AH TABLIGH DAN KITAB FADHAIL AMAL </strong></p>
<p>Buku <em>Fadhail Amal</em> ini merupakan salah satu buku rujukan utama Jama&#8217;ah Tabligh. Dikarang oleh Muhammad Zakariya Al Kandahlawi, yang tidak lain merupakan kemenakan sekaligus menantu Muhammad Ilyas. Buku ini seolah-olah dikeramatkan oleh Jama&#8217;ah Tabligh. Ke mana saja Jama&#8217;ah ini bergerak, buku inilah yang mereka bawa ke mana-mana. Hampir di setiap masjid yang didiami Jama&#8217;ah Tabligh, pasti di situ ada buku ini. Bahkan, buku inilah yang sering mereka baca secara berkelompok setiap dalam bayan selesai shalat. Perlu pembaca ketahui, bahwa Muhammad Ilyas, menyetujui kitab ini. Bahkan karena demikian gembiranya atas buku ini, ia mengungkapkannya dalam bentuk tulisan juga. Sebagaimana tertulis dalam salah satu suratnya kepada beberapa alim ulama, <em>&#8220;Syaikhul hadits (Muhammad Zakaria) telah berhasil menulis sebuah kitab. Memang hati saya menghendaki agar setiap bagian dari kerja tabligh ini ada satu risalah yang ditulis oleh Beliau.&#8221;</em></p>
<p>Dalam tulisan lain, Muhammad Ilyas mengatakan, <em>&#8220;Semoga Allah menerima tulisanmu dan juga pengaruhnya. Seandainya engkau pegang kemuliaan tabligh ini, maka insya Allah bukumu dan pengaruhnya tidak hanya tersebar di negeri India saja, bahkan juga membanjiri tanah Arab dan Ajam.&#8221;</em> (Silakan lihat buku <em>Menjawab Kritikan Atas Kitab Fadhail Amal</em>, hal. 25. Disusun oleh Maulana Sayyid Muhammad Syahid, diterbitkan Pustaka Da&#8217;i, Bandung. Pada sampul buku tersebut tertulis: Khusus Qudama (senior) Tabligh).</p>
<p>Mengenai hadits-hadits dhaif, maudhu&#8217; dan tidak ada asalnya yang terdapat dalam buku ini, sudah sangat masyhur. Para ulama Ahlusunnah wal Jamaah telah menjelaskan hal tersebut. Di antaranya ialah Syaikh Sa&#8217;ad Al Hushayin yang telah menyertai jamaah ini selama delapan tahun, kemudian keluar.</p>
<p>Namun ada satu hal yang mesti pembaca ketahui, mengenai asal-usul penulisan buku ini. Konon, kata penulisnya, Muhammad Zakariya, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah memeriksa buku tulisannya ini dan menyetujuinya. Sayyid Muhammad Syahid menuturkan, <em>&#8220;Beberapa tahun yang telah lampau, secara tiba-tiba dengan kasih sayang Allah subhanahu wa ta&#8217;ala, Beliau telah dimudahkan untuk berziarah ke tanah Hijaz. Dan kemudian -alhamdulillah- Beliau mendapat kesempatan untuk tinggal di Madinah Al Munawwarah selama setahun penuh. Selama tinggal di sana, Beliau banyak mengalami mimpi-mimpi baik yang menggembirakan tentang kitab Beliau ini, serta ucapan-ucapan pujian atas kitab yang telah Beliau susun dari para shalihin secara kelompok ataupun pribadi. Akan tetapi, bagi Beliau mimpi-mimpi itu lebih utama daripada segala keutamaan yang lainnya. Sebagaimana yang telah Beliau saksikan sendiri. Kebiasaan dan aturan Beliau dalam menceritakan mimpinya tidaklah tetap. Tidak juga Beliau menyimpannya saja. Kadang-kadang, sepintas lalu Beliau teringat, kemudian menceritakannya. Kadang-kadang Beliau juga terpengaruh oleh suatu semangat khusus, sehingga Beliau tulis kejadian-kejadian dalam mimpi tersebut di dalam buku hariannya. Sehingga para khadim dan pelayan Beliau pun mengetahui tentang mimpi-mimpinya. Jika tidak, tentu Beliau menyimpannya sendiri dan menjadi seorang pendiam. Walau bagaimanapun, ada sebuah tulisan mengenai salah satu mimpi Beliau tentang kitab Fadhail Amal, yang Beliau tulis dalam buku hariannya, yaitu demikian, &#8216;Sekarang -setelah shalat Jum&#8217;at- Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah datang. Beliau memeriksa risalah yang pertama dari kitab Fadhail Amal. Dan pada esok hari, Beliau akan memeriksa tentang risalah Tabligh&#8217;. Mimpi ini, Beliau lihat pada tanggal 27 Jumadil Awwal 1393H, setelah shalat Jum&#8217;at ketika Beliau tidur siang.&#8221;</em> (Ibid hal. 26).</p>
<p>Dalam buku Hadrat Syaikh Maulana Zakariya, tulisan Sufi Muhammad Iqbal disebutkan, <em>&#8220;Maulana Muhammad Zakariya telah melihat di dalam mimpi, bahwa draft kitab-kitabku, seperti Aujaz telah disusun dan daku akan serahkan kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Di sebelah kanan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam diduduki oleh Alama Zarkani dan Allama Baaji di sebelah kiri. Apabila daku menghampiri Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, daku lihat kitab Aujaz yang lengkap berada di tangannya, yang serupa dengan kitab-kitab yang kubawa bersama-samaku untuk ditunjukkan kepada baginda Rasul. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sangat bergembira dan berdoa yang aku tidak dapat ingat. Daku sangat gembira dengan mimpi ini, dan berharap usahaku menyusun Aujaz dapat diterima.&#8221;</em> (Lihat buku <em>Hadrat Maulana Zakariya</em>, tulisan Sufi Muhammad Iqbal, hal. 7).</p>
<p>Coba lihat, betapa miripnya dengan pengakuan Ibnu Arabi yang sesat dan telah sepakat dikafirkan oleh para ulama tentang bukunya <em>Fushusul Hikam</em> -kitab suci kaum Shufi- ia berkata, <em>&#8220;Amma ba&#8217;du, sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam mimpi pada sepuluh terakhir bulan Muharram tahun 627H di Mahrusah Damaskus. Beliau memegang sebuah kitab, lalu berkata kepadaku, &#8220;Ini adalah kitab Fushusul Hikam, ambillah kitab ini dan sebarkan ke tengah-tengah manusia, agar mereka mendulang faidah darinya.&#8221; Kataku, &#8220;Patuh dan taat kepada Allah dan RasulNya serta Ulil Amri, seperti yang telah diperintahkan kepada kami.&#8221; Maka aku pun mewujudkan cita-cita tersebut, aku ikhlaskan niat dan aku bulatkan tekad untuk meluncurkan kitab ini, sebagaimana yang telah digariskan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepadaku, tanpa ditambah dan dikurangi.&#8221;</em> (<em>Fushusul Hikam</em>, hal. 47).</p>
<p>Keberanian dusta atas nama Rasulullah, bukanlah perkara baru bagi kaum Shufi. Bahkan tidak lengkap suatu urusan tanpa dusta tersebut. Apa yang kami nukil di atas tadi sudah cukup menjadi buktinya. Tahukah pembaca, bahwa dalam buku <em>Fadhail Amal</em> ini banyak sekali hikayat-hikayat yang tidak jelas kebenarannya. Bahkan sudah nyata kesesatan dan kebatilannya. Mungkinkah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membenarkan dan menyetujui kitab ini? Sungguh itu merupakan dusta yang keji. Dalam buku yang dipuji oleh Muhammad Ilyas dan diklaim telah diperiksa serta disetujui oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ini, disebutkan tafsir batil dan sesat kaum Shufi tentang keutamaan surat Al Fatihah. Berikut penukilannya:</p>
<p><em>&#8220;Sebagian ahli Shufi mengatakan, segala apa yang ada dalam kitab-kitab Allah terdahulu adalah terkandung dalam Al Qur&#8217;an. Apa yang ada di dalam Al Qur&#8217;an, semuanya terkandung dalam surat Al Fatihah. Semua apa yang terkandung dalam surat Al Fatihah terdapat di dalam Bismillah, dan apa yang terkandung dalam Bismillah terdapat pada huruf pertamanya (yaitu huruf ba&#8217;). Diterangkan juga dalam syarah, bahwa huruf ba&#8217; artinya menyatakan suatu tempat. Maksudnya ialah seorang hamba menyatakan pengesaannya hanya kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dari segala sesuatu. Sebagian lagi menafsirkannya dengan lebih mendalam. Apa saja yang terdapat dalam huruf ba&#8217; adalah terkandung di dalam titik yang menggambarkan keesaan Allah. Di dalam istilah disebut nuqthah (titik), artinya sesuatu yang tidak dapat dipecah-pecah lagi.&#8221;</em> (Silakan lihat kitab Fadhail Amal, hal. 394; kitab <em>Fadhilah Al Qur&#8217;an</em>, diterbitkan Pustaka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a>).</p>
<p>Patutkah buku yang memuat khurafat dan bid&#8217;ah seperti itu dikatakan telah diperiksa oleh Rasulullah?! Itulah buku yang dipuji-puji oleh Muhammad Ilyas.</p>
<p>مَّا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِباً</p>
<p><em>&#8220;Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.&#8221;</em> (QS. Al Kahfi:5)</p>
<p><strong>SATU LAGI KEYAKINAN SUFI</strong></p>
<p>Ternyata pemikiran Sufi ini juga dimiliki oleh anak Muhammad Ilyas, yang meneruskan kepemimpinan Tabligh sepeninggal ayahnya, yakni Maulana Muhammad Yusuf. Nampak dalam buku yang ditulis oleh Maulana Muhammad Manshur berjudul Mutiara Nasihat Maulana Ilyas dan Maulana Yusuf, berikut ialah perkataannya:</p>
<p><em>&#8220;No: 223 Allah subhanahu wa ta&#8217;ala Menciptakan Dunia Dikarenakan Adanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta&#8217;ala telah menciptakan dunia beserta segala isinya, karena adanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Jadi pada hakikatnya adalah milik Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Seseorang yang menggunakan benda-benda yang ada di dunia ini, tanpa mempedulikan dibolehkan atau tidak oleh Allah dan RasulNya, maka berarti ia telah menjadi seorang pencuri. Karena mempergunakan sesuatu tanpa izin, sama dengan pencurian.&#8221;</em> (Silakan lihat buku <em>Mutiara Nasihat Maulana Ilyas dan Maulana Yusuf</em>, karangan Maulana Muhammad Manshur hal. 123, diterbitkan Pustaka Ramadhan Bandung).</p>
<p>Bukankah pernyataan ini setali tiga uang dengan keyakinan Nur Muhammadi yang dianut oleh kaum Shufi?! Dalam kitab Jama&#8217;ah Islamiyah, Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al Hilali menjelaskan sesatnya keyakinan kaum Shufi ini. Beliau mengatakan:</p>
<p>&#8220;Menurut kaum Sufi, seluruh alam semesta ini diciptakan karena Muhammad. Ibnu Nabatah Al Mishri berkata:</p>
<p><em>Kalau bukan karenanya (Muhammad), niscaya<br />
bumi, ufuk, zaman, makhluk dan gunung tidak akan ada.</em></p>
<p>Al Bushairi berkata dalam kitab Nahjul Burdah:</p>
<p><em>Mengapakah engkau mengajaknya (Muhammad) kepada dunia<br />
Padahal sekiranya kalaulah bukan karenanya,<br />
niscaya dunia tidak akan ada.</em></p>
<p>(Silakan lihat kitab <em>Al Jama&#8217;ah Al Islamiyah</em>, karangan Abu Usamah Salim bin Ied Al Hilali).</p>
<p>Itulah keyakinan kaum Shufi yang diadopsi oleh Jama&#8217;ah Tabligh.</p>
<p><strong>TAKLID BUTA ALA SUFI </strong></p>
<p>Salah satu ajaran Sufi yang sangat populer ialah ketundukan mutlak kepada pemimpin atau guru, benar ataupun salah perintah gurunya itu. Ali Wafa berkata, <em>&#8220;Murid yang sejati dalam berperilaku di hadapan syaikhnya, laksana mayat yang terbaring di hadapan petugas yang memandikannya.&#8221;</em> Al Ghazzali berkata, <em>&#8220;Hendaklah ia ketahui, mengikuti kesalahan gurunya bila benar salah, lebih bermanfaat daripada mengikuti pendapatnya, meski pendapatnya itu benar.&#8221;</em> (Ibid III/76).</p>
<p>Kelihatannya, prinsip taklid buta ini juga dipegang oleh Jama&#8217;ah Tabligh. Dalam buku <em>Hikmah Usaha Hidayat</em>, karangan Muhammad Yunus Suraji Panidi, hal. 102 disebutkan, <em>&#8220;Jama&#8217;ah manapun yang datang dari luar negeri sekali pun, apabila mengusulkan atau mengajukan sesuatu yang baru dalam hal kerja Tabligh ini, hendaklah segera menghubungi Nizhamuddin (Markas Besar mereka di India), sebelum menerima dan mengamalkan apapun usulan itu, walaupun kelihatan baik.&#8221;</em></p>
<p>Sebenarnya masih banyak warna-warni Shufi pada Jama&#8217;ah Tabligh, yang menegaskan adanya benang merah antara Jama&#8217;ah Tabligh dengan ajaran Shufi. Semoga yang kami sebutkan di atas, sudah cukup untuk membuktikan kebenaran perkataan Syaikh Al Albani <em>rahimahullah</em> tentang Jama&#8217;ah Tabligh. Semoga peringatan ini bermanfaat bagi orang-orang yang ingin mencari kebenaran dan tidak terbelenggu dengan fanatik golongan yang tercela.</p>
<p><em>-bersambung insya Allah-</em></p>
<p>***</p>
<p>Penanya: Abdul Halim Firhad<br />
Dijawab oleh: Abu Umair Muhammad Al Makassari (Alumni Ma&#8217;had Ilmi)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>isa</strong>, <strong>haji</strong>, <strong>kata mutiara maulana yusuf</strong>, <strong>bid&#039;ah ramadhan</strong>, <strong>tokoh-tokoh jamaah tabligh</strong>, <strong>arti majelis tabligh</strong>, <strong>safar</strong>, <strong>wujud nabi yusuf</strong>, <strong>bantahan tafsir mimipi muhammad ilyas</strong>, <strong>markas jamaah tabliq di indonesia</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/seputar-jamaah-tabligh-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/280 queries in 0.115 seconds using disk: basic
Object Caching 32237/32688 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-08 10:51:58 -->
