<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; SEJARAH ISLAM</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/sejarah-islam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Madinah Munawwarah ataukah Madinah Nabawiyyah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/madinah-munawwarah-ataukah-madinah-nabawiyyah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/madinah-munawwarah-ataukah-madinah-nabawiyyah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 04:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9411</guid>
		<description><![CDATA[Madinah Munawwarah ataukah Madinah Nabawiyyah Pertanyaan: Bolehkah kita menyebut Madinah dengan istilah “Madinah Munawwarah” seperti yang sering kita dengar, atau kita harus menyebut “Madinah Nabawiyyah” karena kota itu adalah kota Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam? Padahal kedua istilah tersebut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Madinah Munawwarah ataukah Madinah Nabawiyyah</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Bolehkah kita menyebut <strong>Madinah</strong> dengan istilah “<span style="text-decoration: underline;">Madinah</span> Munawwarah” seperti yang sering kita dengar, atau kita harus menyebut “Madinah Nabawiyyah” karena kota itu adalah kota Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>? Padahal kedua istilah tersebut tidak disebutkan dalam Alquran, bahkan dalam Alquran disebutkan nama “Yatsrib” sebelum dikenal sebagai Madinah. Tolong penjelasannya. Terima kasih.<br />
<span id="more-9411"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Penyebutan Madinah</h3>
<p>Imam Nawawi mengatakan, “Dimakruhkan menyebut Madinah dengan istilah ‘Yatsrib’ karena itu diambil dari kata ‘Tatsrib’ yang artinya ejekan dan celaan. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lebih suka nama-nama yang bagus dan indah dan membenci nama-nama yang buruk. Oleh karenanya, beliau mengganti nama Yatsrib dengan nama lain yang lebih bagus, dalam sabdanya,<br />
“<em>Mereka mengatakan Yatsrib, padahal namanya Madinah, (Madinah) itu membersihkan manusia seperti api yang membersikan kotoran besi.</em>” (HR. Muslim, no.2452)</p>
<p>Dalam riwayat lain dari Zaid bin Tsabit <em>radhiallahu&#8217;anhu</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Madinah adalah kota yang indah</em>.”</p>
<p>Allah juga menamakan Madinah dengan “Ad-Dar” (tempat tinggal) sebagaimana dalam QS. Al-Hasyr: 9.</p>
<p>Adapun kata Yatsrib yang ada dalam QS. Al-Ahzab: 13, maka itu hanyalah ungkapan orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya rusak ketika menyebut kota Madinah.</p>
<p>Menyebut Madinah dengan istilah “Madinah Nabawiyyah (kota Nabi)” atau “<strong>Madinah Munawwarah</strong> (kota yang bersinar)”, maka tidak mengapa. Hal itu karena Madinah memang menjadi tempat tinggalnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersama kaum muhajirin setelah meninggalkan kota Mekah, bersamaan dengan itu Madinah menjadi bersinar dengan hidayah-Nya disebabkan kedatangan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sebutan “Al-Madinah” sudah cukup membedakan antara kota Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan kota-kota lainnya sebagaimana disebutkan Allah dalam Alquran.</p>
<p>Namun, jika kita ingin memberi kata lain untuk menyifati Madinah, maka “Al-Madinah An-Nabawiyyah” lebih tepat daripada “Al-Madinah Al-Munawwaroh,” karena beberapa alasan:</p>
<p>“nabawiyyah” adalah kata yang membedakan antara kota Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan kota-kota lainnya, adapun “munawwarah” (bersinar), maka tidak hanya kota Madinah saja yang bersinar, Mekah pun juga sekarang bersinar, bahkan setiap daerah yang penduduknya memeluk agama Islam, maka daerah itu akan bersinar (munawwarah), sebagaimana firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab">يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَكُمْ بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَآإِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا</p>
<p>“<em>Wahai Manusia sungguh telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu, dan Kami telah menurunkan kepadamu cahaya yang menerangi</em>.”(QS. An-Nisa: 174)</p>
<p>Ungkapan yang terkenal dari para salafush shalih adalah “Al-Madinah” atau “Al-Madinah An-Nabawiyah”. Adapun “Al-Madinah Al-Munawwarah” maka ungkapan seperti ini tidak pernah diungkapkan oleh para salafush shalih. Walaupun tidak ada larangan menggunakan ungkapan ini, hanya saja mengikuti salafush sholih jelas lebih baik daripada yang lainnya. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 04 Tahun ke-10 Muharram 1431 H/2010<br />
Penyuntingan bahasa oleh tim Konsultasi Syariah</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/madinah-munawwarah-ataukah-madinah-nabawiyyah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanah Suci</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tanah-suci</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tanah-suci#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 01:22:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9413</guid>
		<description><![CDATA[Tanah Suci Pertanyaan: Asslamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kami sering mendengar istilah “tanah suci Mekah” dan “tanah suci Madinah”. Apakah tanah suci yang ada di Madinah memiliki batas-batas seperti tanah suci di Mekah, dan apakah larangan-larangan seperti memburu di tanah suci Mekah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tanah Suci</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Asslamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.</em><br />
Kami sering mendengar istilah “<strong>tanah suci</strong> Mekah” dan “tanah suci Madinah”. Apakah tanah suci yang ada di Madinah memiliki batas-batas seperti tanah suci di Mekah, dan apakah larangan-larangan seperti memburu di tanah suci Mekah berlaku di tanah haram Madinah?<br />
<span id="more-9413"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<h3>Tanah Suci</h3>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan batas-batas tanah suci Madinah sebagaimana menjelaskan batas-batas <a href="http://konsultasisyariah.com/membunuh-ular-dan-tikus-karena-mengganggu">tanah suci</a> Mekah. Batas tanah suci Madinah dari arah Selatan adalah Gunung ‘Air, dari arah Utara adalah Gunung Tsur, dari arah Timur adalah dataran berbatu hitam sebelah Timur Madinah, dan dari arah Barat adalah dataran berbatu hitam sebelah Barat Madinah.</p>
<p>Hal ini berdasarkan beberapa hadis, seperti dari Ali bin Abi Thalib dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> beliau bersabda,</p>
<p>“<em>Madinah memeiliki tanah suci, yaitu antara Gunung ‘Air dan Gunung Tsur. Barang siapa melakukan kerusakan di dalamnya atau melindungi pelakunya, maka Allah melaknatnya, para malaikat beserta manusia semuanya melaknatnya, dan tidak diterima tebusan dan pengganti darinya pada hari kiamat.</em>” (HR. Bukhari, no.6258 dan Muslim, no.2433)</p>
<p>Dan dalam riwayat lain Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>“<em>Antara dua labah (dataran berbatu hitam) adalah tanah suci (bagi Madinah)</em>.” (HR. Tirmidzi, no.3921, dishahihkan oleh Al-Albani dalam<em> Irwa Al-Gholil</em>, 241)</p>
<p>Syaikhul Islam berkata “Tidak ada lagi tanah haram/tanah suci di dunia ini kecuali dua tanah suci ini, tidak ada istilah tanah suci Baitul Maqdis, tidak ada pula tempat lainnya yang dinamai tanah suci sebagaimana dikatakan orang awam.”</p>
<p>Adapun <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a>-hukum yang terkait dengan tanah suci Madinah sama dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a>-hukum yang terkait dengan tanah suci Mekah. Di antaranya:</p>
<p>Tidak boleh bereperang dan menumpahkan darah di dalamnya, tidak boleh memungut barang temuannya kecuali jika hendak mengumumkannya sampai ditemukan pemiliknya, tidak boleh memburu binatang buruannya dan tidak boleh memotong pohon-pohonnya, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Nabi Ibrahim telah mengharamkan Mekah, dan aku juga mengharamkan Madinah antara dua labah-nya, tidak boleh dipotong pohonnya, dan tidak boleh diburu binatang buruannya</em>.” (HR. Muslim, no.2425)</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 04 Tahun ke-10 Muharram 1431 H/2010<br />
Penyuntingan bahasa oleh tim Konsultasi Syariah</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tanah-suci/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binatang pun Mengutuk Zina</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/binatang-pun-mengutuk-zina</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/binatang-pun-mengutuk-zina#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 00:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8997</guid>
		<description><![CDATA[Binatang pun Mengutuk Zina Imam Bukhari sebuah kisah dari Amr bin Maimun, ia mengatakan, قَالَ الإِمَامُ الْبُخَارِيُّ : حَدَّثَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ حُصَيْنٍ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ : رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Binatang pun Mengutuk Zina</h2>
<p>Imam Bukhari sebuah kisah dari Amr bin Maimun, ia mengatakan,</p>
<p class="arab">قَالَ الإِمَامُ الْبُخَارِيُّ : حَدَّثَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ حُصَيْنٍ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ : رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا قِرَدَةٌ قَدْ زَنَتْ فَرَجَمُوهَا فَرَجَمْتُهَا مَعَهُم</p>
<p>“Saya pernah melihat pada masa jahiliah ada seekor kera yang berzina. Lalu beberapa kera berkumpul untuk merajamnya, aku pun ikut merajam bersama mereka.”<br />
<span id="more-8997"></span><br />
<strong>Mutiara Hadits</strong><br />
Kisah ini mengandung beberapa pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<p><strong>1.  Kejinya Perbuatan Zina</strong><br />
Zina adalah perbuatan seorang lelaki menggauli <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> di luar pernikahan yang sah atau perbudakan. Zina termasuk dosa besar setelah syirik dan pembunuhan, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran, hadis, ijma’, dan akal. Perhatikanlah firman Allah,</p>
<p class="arab">وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَـٰحِشَةًۭ وَسَآءَ سَبِيلًۭا</p>
<p>&#8220;<em>Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk</em>.&#8221; (QS. Al-Isra‘: 32)</p>
<p>Perhatikanlah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menyifati perzinaan dengan perbuatan keji dan buruk karena memang dalam perzinaan terdapat beberapa dampak negatif yang banyak sekali seperti hancurnya keutuhan keluarga, bercampurnya nasab, merebaknya penyakit-penyakit berbahaya, menimbulkan permusuhan, kehinaan, keruwetan hati, dan sebagainya.</p>
<p>Jika binatang saja merasa jijik dan mengutuk perbuatan zina dan pelakunya padahal mereka tiada berakal, lantas bagaimana dengan dirimu wahai manusia?! Sungguh menyedihkan hati kita, maraknya perzinaan, pencabulan, perselingkuhan di negeri ini, banyaknya pos-pos perzinaan yang dilindungi, dan mesin-mesin pengantar menuju perzinaan dari gambar-gambar porno dan seronok yang membanjiri internet, majalah, juga televisi!!</p>
<p>Maka melalui tulisan ini, kami memberikan wacana kepada pemerintah untuk menyikapi masalah ini secara tegas dan berusaha sesuai kemampuan kami untuk meminimalisir hal-hal negatif tersebut. Alangkah bagusnya ucapan Imam Al-Mawardi <em>rahimahullah</em>, “Adapun muamalah yang mungkar seperti zina dan transaksi jual beli haram yang dilarang syariat —sekalipun kedua belah pihak saling setuju— apabila hal itu telah disepakati keharamannya, maka merupakan kewajiban bagi pemimpin untuk mengingkari dan melarangnya serta mengganjarnya dengan hukuman yang sesuai dengan keadaan dan pelanggaran.” (<em>Al-Ahkam as-Sulthoniyyah</em>, Hal. 406)</p>
<p>Lebih parah lagi, apa yang dilakukan oleh kelompok Syiah tatkala menjadikan praktik perzinaan yang keji dengan kedoik ibadah, mereka sebut zina tersebut dengan <strong>nikah mut’ah</strong>. Ini adalah perzinaan yang lebih besar dosanya karena menjadikan kemaksiatan sebagai ibadah. Hanya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> kita mengadukan apa yang telah mereka perbuat.</p>
<p><strong>2.  Penegakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Rajam Bagi Pezina Adalah </strong><br />
Kebenaran hukum rajam bagi pezina yang <em>muhshan</em> (sudah menikah) dalam syari’at ini ditetapkan berdasarkan Kitabullah, sunah Rosululloh <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, serta kesepakatan kaum muslimin semenjak dahulu hingga sekarang. Tidak ada yang menyelisihinya kecuali orang-orang yang mengklaim diri mereka adalah kaum moderat, yang mempertimbangkan aspek kekinian. Sebenarnya mereka lebih tepat dinamakan kaum liberal, yang berusaha mengurai tali-tali syariat Islam yang kuat. Mereka berkeyakinan hukum rajam tidaklah relevan (serasi) dengan abad modern ini, dan melakukan ijtihad di luar <em>frame</em> (bingkai) tuntunan syariat. Sadar atau tidak sadar mereka sebenarnya berusaha menghilangkan tuntunan agama Islam itu sendiri.</p>
<p>Mirip dengan kisah kera ini, sebuah kisah yang diceritakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em>, beliau berkata, “Sebagian syaikh terpercaya bercerita kepadaku bahwa dia melihat di <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">masjid</a> suatu jenis burung bertelur, lalu ada seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> telurnya dan menggantinya dengan telur jenis burung lainnya. Tatkala telur burung itu menetas, maka yang keluar adalah jenis lain. Mengetahui hal itu, maka sang jantan langsung memanggil kawan-kawannya untuk menghakimi si betina sampai mati. Seperti ini sangatlah populer dalam kebiasaan binatang.” (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 15:147).</p>
<p><strong>3.  Belajar dari Kecerdikan Sebagian Hewan</strong><br />
Imam Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Banyak manusia berakal yang belajar dari binatang mengenai beberapa perkara yang bermanfaat dalam mencari rezeki, akhlak, produksi, peperangan, kesabaran, dan sebagainya.” (<em>Syifa‘ul Alil</em>, 1:252).</p>
<p>Terlebih lagi kera, ia adalah binatang yang cukup cerdas. Oleh karenanya, Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, “Disebut secara khusus kera dalam hadis ini karena ia memiliki kecerdasan lebih dibandingkan dengan hewan lainnya dan cepat belajar menirukan. Hal yang jarang dijumpai pada kebanyakan hewan lainnya.” (<em>Fathul Bari</em>, 7:202)</p>
<p>Di antara kecerdasan kera adalah apa yang diceritakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>“<em>Dahulu ada seorang yang menjual khamr di kapal bersama kera. Apabila dia menjual khamr maka dia campuri dengan air. Maka kera mengambil kantong uang lalu naik di kayu (tiang) layar kapal seraya membagi uang, sebagian dinar ia lempar ke laut dan sebagian dinar ia lempar ke kapal</em>.” (HR. Ahmad, 2:306, An-Naqqasy dalam <em>Funun Ajaib</em> Hal.78–79, Abu Syaikh dalam <em>Thabaqat Muhadditsin</em>, 2:104, Abu Nu’aim dalam <em>Akhbar Ashbahan</em> 2:28 dengan sanad shahih)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan kecerdikan sebagian hewan. Al-Munawi <em>rahimahullah</em> berkata dalam <em>Faidhul Qodir</em> 1:491, “Telah shahih bahwa sekelompok orang pernah melihat kera bisa menjahit dan kera yang digaji untuk menjaga sawah.” Lalu beliau berkata, “Cerita seperti ini banyak sekali.”<br />
Adakah manusia yang dapat mengambil pelajaran dari semua ini?! Apakah mereka akan sombong dari menuntut ilmu sehingga kalah dengan hewan?!!</p>
<p><strong>4.  Sifat Cemburu</strong><br />
Cemburu merupakan sifat yang mulia. Dengannya terjaga kehormatan seorang dan keluarganya. Adapun bila sifat cemburu telah hilang maka akan terkoyak pula kehormatan seorang dan keluarganya. Anehnya, sifat yang mulia ini sangat jarang kita jumpai pada zaman sekarang dengan alasan kebebasan dan perkembangan zaman. Orang yang cemburu dianggap kampungan, kolot, dan ketinggalan zaman!! Oleh karenanya, sering kita dengan dengar ucapan sebagian orang, “Ini zaman modern, bukan zaman Siti Nurbaya lagi”!!!</p>
<p><em>Subhanallah!!</em>, apakah kita tidak mengambil pelajaran dari binatang yang masih memiliki kecemburuan?!! Imam Abu Ubaidah Ma’mar bin Mutsanna <em>rahimahullah</em> menyebutkan dalam <em>Kitabul Khoil</em> dari jalur Al-Auza’i bahwa ada seekor kuda diperintah untuk menggauli ibunya maka dia enggan. Akhirnya, ibu kuda tadi dimasukkan ke rumah dan ditutupi kain lalu perintahkan kepada anaknya untuk menggaulinya. Karena dia tidak tahu, maka ia pun menggaulinya. Tatkala ia mencium aroma ibunya serta-merta ia menggigit dzakarnya sendiri dengan giginya sampai putus.” (<em>Fathul Bari</em>, 7:203)</p>
<p>Kisah yang mirip juga adalah kisah kecemburuan seekor sapi yang bunuh diri karena dia telah menggauli ibunya sendiri. Alkisah, sapi tersebut ditutup matanya lalu diseret ke ibunya agar menggaulinya. Setelah proses pengawinan selesai, dibukalah mata sapi tadi, dan ketika dia tahu bahwa yang ia gauli adalah ibunya sendiri maka serta-merta sapi tersebut langsung lari terbirit-birit menghantamkan kepalanya ke tembok sehingga berlumuran darah. Lalu lari dengan gila menuju sungai kemudian menenggelamkan dirinya hingga mati!! Subhanallah, jika binatang saja memiliki cemburu seperti itu, lantas bagaimana dengan dirimu wahai manusia?!!! (<em>Hal Ataka Hadits Rofidhah</em>, Hal. 125)</p>
<p><strong>5.  Inilah Makna “Jahiliyyah”</strong><br />
Jahiliyyah (jahiliah) adalah masa sebelum datangnya Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang penuh dengan kejahilan dan kesesatan. Jahiliah secara mutlak adalah masa sebelum Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> saja. Maka termasuk kesalahan apabila menyifati masa diutusnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan jahiliah secara mutlak. Dari sini pula dapat kita ketahui kesalahan sebagian tokoh pergerakan yang mencuatkan sebuah istilah “Jahiliah Abad 20”.[23]</p>
<p><em>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi, abiubaidah.com</em></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://http://konsultasisyariah.com/menggauli-istri-yang-telah-berzina" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait zina:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../hukuman-untuk-lesbi" target="_blank">Hukuman Untuk Lesbi</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../taubat-dari-zina" target="_blank">Naudzubillah, Masih SMU Sudah Berzina</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../selingkuh-dengan-ipar" target="_blank">Berzina dengan Ipar</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../istri-selingkuh" target="_blank">Istriku Telah Berzina</a>.<br />
5. <a href="http://konsultasisyariah.com/menggauli-istri-yang-telah-berzina">Menggauli Istri yang Hamil Karena Zina</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/binatang-pun-mengutuk-zina/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat &#8216;Id untuk Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita-shalat-id</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita-shalat-id#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 21:27:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat id]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6942</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Keluarnya Wanita untuk Shalat &#8216;Id di Zaman ini Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya: Apa hukum keluarnya wanita ke tempat shalat &#8216;Id, terutama di zaman kita sekarang ini yang banyak terjadi fitnah, sementara sebagian wanita keluar rumah dengan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Keluarnya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">Wanita</a> untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> &#8216;Id di Zaman ini</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya:</p>
<p>Apa hukum keluarnya wanita ke tempat shalat &#8216;Id, terutama di zaman kita sekarang ini yang banyak terjadi fitnah, sementara sebagian wanita keluar rumah dengan berhias dan mengenakan wewangian. Jika kami mengatakan boleh, apa pendapat Anda tentang ucapan &#8216;Aisyah radhiallahu &#8216;anhu, “Seandainya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melihat apa yang dilakukan oleh para wanita, tentulah beliau akan melarangnya”?<br />
<span id="more-6942"></span></p>
<h2>Jawaban fatwa ulama bolehnya wanita keluar untuk menunaikan shalat &#8216;id:</h2>
<p>Menurut kami, bahwa para wanita diperintahkan untuk keluar ke tempat <a title="petunjuk nabi dalam shalat 'ied" rel="nofollow" href="http://muslimah.or.id/fikih/petunjuk-nabi-dalam-shalat-ied.html" target="_blank"><strong>shalat &#8216;id</strong></a> agar dapat menyaksikan kebaikan  dan ikut serta bersama kaum Muslimin lainnya dalam <a title="Siksa Kubur bagi Orang yang Lalai dalam Shalat" href="http://konsultasisyariah.com/siksa-kubur-bagi-orang-yang-lalai-dalam-shalat" target="_blank">shalat</a> dan dakwah mereka, akan tetapi seharusnya mereka keluar dengan sederhana, tidak berhias dan tidak pula mengenakan wewangian. Dengan demikian, berarti mereka dapat melaksanakan sunnah dan menghindari fitnah. Sedangkan para wanita yang ber-<em>tabarruj</em> (berhias) dan mengenakan wewangian, maka itu karena ketidaktahuan mereka dan kekurangan para wali mereka dalam urusan mereka. Namun, yang demikian ini tidak menghalangi hukum syariat yang umum, yaitu diperintahkannya para wanita untuk keluar menuju tempat pelaksanaan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-id" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat id">shalat id</a>. Adapun mengeani ucapan Aisyah radhiallahu &#8216;anhu, sebagaimana diketahui, bahwa sesuatu yang mubah (boleh) apabila menyebabkan timbulnya sesuatu yang haram maka akan menjadi haram. Jika mayoritas wanita keluar rumah dengan penampilan yang seperti demikian (<em>As&#8217;ilah wa Ajwibah fi Shalatil Idain, Syaikh Ibnu Utsaimin,</em> hal. 26).</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</em></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong><em><br />
</em></p>
<h3>Bolehnya wanita keluar untuk menunaikan shalat &#8216;id</h3>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>wanita</strong>, <strong>shalat id</strong>, <strong>lebaran</strong>, <strong>idul fitri</strong>, <strong>shalat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita-shalat-id/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Isra&#8217; Mi’raj</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:21:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isra dan miraj]]></category>
		<category><![CDATA[isra mi raj adalah]]></category>
		<category><![CDATA[isra mijrat]]></category>
		<category><![CDATA[isra miraj]]></category>
		<category><![CDATA[isra miraj dan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[isra' mi raj]]></category>
		<category><![CDATA[isra'mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat rasulullah setelah isra' mi'raj selain sholat]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan isra mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan isra mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[peristiwa dalam bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan ini isra miraj kapan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah peringatan isra' mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah rajaban]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[susunan acara waktu perayaan isra dan mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>
		<category><![CDATA[tahun hijriah rajab=rajaban]]></category>
		<category><![CDATA[tanggal isra mi'raj tahun 2011]]></category>
		<category><![CDATA[tentang isra' mi'raj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5373</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu alaikum.. Sebentar lagi ada peringatan Isra Mi’raj. Ada yg mengatakan bahwa Isra&#8217; Mi’raj tidak terjadi di bulan Rajab, apakah ini benar? Lantas, bagaimana hukum peringatan Isra Mi’raj? Trims.. Tri Jogja (triXXXX@XXXXX.com ) Jawaban: Wa alaikumus salam wa rahmatullah. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu alaikum..</em></p>
<p>Sebentar lagi ada peringatan <em>Isra Mi’raj</em>. Ada yg mengatakan bahwa <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> tidak terjadi di bulan Rajab, apakah ini benar? Lantas, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> peringatan <em>Isra Mi’raj</em>?<br />
Trims..</p>
<p><em>Tri Jogja (triXXXX@XXXXX.com )</em><br />
<span id="more-5373"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam wa rahmatullah.</em></p>
<p>Tanggal 27 Rajab menjadi satu agenda penting bagi kaum muslimin. Mereka meyakini bahwa pada tanggal itu terjadi peristiwa <em>Isra’ </em>dan <em>Mi’raj</em>. Padahal para ulama berselisih pendapat tentang tanggal terjadinya <em>Isra’</em>dan <em>Mi’ra</em>j. Disebutkan oleh Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, ada sekitar 6 pendapat ulama, terkait dengan penentuan waktu kejadian <em>Isra’</em> dan<em> Mi’raj</em>.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> <em>Isra&#8217;</em> dan <em>Mi’raj</em> terjadi di tahun pertama ketika beliau diangkat sebagai Nabi. Ini adalah pendapat At-Thabari.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> <em>Isra&#8217;</em> dan<em> Mi’ra</em>j terjadi lima tahun setelah beliau diutus sebagai Nabi. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam An-Nawawi dan Al-Qurthubi.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> terjadi di malam 27 Rajab, tahun 10 setelah kenabian (sepuluh tahun setelah beliau diutus menjadi Nabi). Ini pendapat Al-Manshurfuri.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> peristiwa <em>Isra&#8217;</em> terjadi 16 bulan sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a> tahun 12 setelah kenabian.</p>
<p><strong>Kelima,</strong> peristiwa ini terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, atau tepatnya di bulan Muharram tahun 13 setelah kenabian.</p>
<p><strong>Keenam,</strong> <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> terjadi satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah, tepatnya di bulan Rabi&#8217;ul Awal tahun 13 setelah kenabian.</p>
<p>Dari enam pendapat di atas, 3 pendapat pertama tertolak dan bertentangan dengan realita sejarah lainnya. (Lihat <em>Ar-Rahiqum Makhtum</em>, hal. 85)</p>
<p><strong>Bagaimana analisisnya?</strong></p>
<p>Sebelumnya kami tegaskan –barangkali ada sebagian kaum muslimin yang belum paham–, urutan bulan hijriyah: &#8230;Rajab, Sya&#8217;ban, Ramadhan, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/syawal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with syawal">Syawal</a>, <em>dst</em>.</p>
<p>Kemudian, sebagaimana yang kita ketahui, sekembalinya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari Isra&#8217; Mi’raj, beliau membawa syariah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> lima waktu. Sementara para ahli sejarah menegaskan bahwa Khadijah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/meninggal-di-bulan-ramadhan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with meninggal di bulan ramadhan">meninggal di bulan Ramadhan</a> tahun kesepuluh setelah kenabian. Ini sebagaimana yang ditegaskan Ibnul Jauzi (<em>Talqih Fuhum Ahlil Atsar</em>, hal. 7). Padahal sampai Khadijah meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu.</p>
<p>Jika dua peristiwa ini, yaitu Isra&#8217; Mi’raj dan wafatnya Khadijah terjadi dalam tahun yang sama, tahun sepuluh setelah kenabian, tentunya di bulan kematian Khadijah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, kewajiban shalat sudah ada. Karena urutan bulan Rajab jatuh sebelum ramadhan.</p>
<p>Adapun tiga pendapat terakhir, Al-Mubarakfuri memberi komentar, “Untuk tiga pendapat sisanya, saya belum mendapatkan keterangan yang menguatkan salah satu pendapat tersebut. Hanya saja, konteks surat Al-Isra&#8217; menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi di waktu-waktu terakhir di Mekah.”</p>
<p><strong>Ulama Sepakat Peringatan <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah <em>Bid&#8217;a</em>h</strong></p>
<p>Para ulama sepakat bahwa peringatan <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah acara <em>bid’ah</em>. Ibnul Qayim menukil keterangan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, yang mengatakan, “Tidak diketahui dari seorang-pun kaum muslimin, yang menjadikan malam <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> lebih utama dibandingkan malam yang lainnya. Lebih-lebih menganggap bahwa malam <em>Isra&#8217;</em> lebih mullia dibandingkan <em>lailatul qadar</em>. Tidak seorangpun sahabat, maupun <em>tabi’in</em> yang mengkhususkan malam <em>Isra&#8217;</em> dengan kegiatan tertentu, dan mereka juga tidak memperingati malam ini. Karena itu, tidak diketahui secara pasti, kapan tanggal kejadian <em>Isra&#8217; Mi’raj</em>.” (<em>Zadul Ma’ad</em>, 1/58 /59).</p>
<p>Ibnu Nuhas mengatakan, “Memperingati malam <em>Isra&#8217; Mi’raj</em> adalah <em>bid’ah</em> yang besar dalam urusan agama. Termasuk perkara baru yang dibuat-buat teman-teman setan.” (<em>Tanbihul Ghafili</em>n, hal. 379 – 380. Dinukil dari <em>Al Bida’ Al Hauliya</em>h, hal. 138)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).<br />
Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>ramadan ini isra miraj kapan</strong>, <strong>tentang isra&#039; mi&#039;raj</strong>, <strong>susunan acara waktu perayaan isra dan mi&#039;raj</strong>, <strong>ramadhan</strong>, <strong>meninggal di bulan ramadhan</strong>, <strong>sejarah peringatan isra&#039; mi&#039;raj</strong>, <strong>isra&#039;mi&#039;raj</strong>, <strong>perayaan isra mi&#039;raj</strong>, <strong>isra dan miraj</strong>, <strong>nasehat rasulullah setelah isra&#039; mi&#039;raj selain sholat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/peringatan-isra-mi%e2%80%99raj/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Penulis Sejarah Islam Telah Berdusta?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apakah-penulis-sejarah-islam-telah-berdusta</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apakah-penulis-sejarah-islam-telah-berdusta#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 01:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[cerai]]></category>
		<category><![CDATA[ebook sirah nabawiyah]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa menurut orientalist]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sejarawan islam ibnu ishaq]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4362</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Saya sering berdebat dengan orang nonmuslim yang ternyata punya pengetahuan tentang Islam&#8211;yang mungkin malah melebihi saya sendiri&#8211;. Ia mempelajarinya dari tulisan-tulisan para orientalis, seperti Martin Lings, dan mengklaim bahwa referensinya didapat dari penulis Muslim masa lalu, seperti: ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum.</em> Saya sering berdebat dengan orang nonmuslim yang ternyata punya pengetahuan tentang Islam&#8211;yang mungkin malah melebihi saya sendiri&#8211;. Ia mempelajarinya dari tulisan-tulisan para <em>orientalis</em>, seperti Martin Lings, dan mengklaim bahwa referensinya didapat dari penulis Muslim masa lalu, seperti: Bukhari, Ibnu Said, Ibnu Ishak, Ibnu Sa&#8217;ad, dan lain-lain. Benarkah para penulis muslim itu menulis hal-hal yang buruk tentang Nabi, misalnya: wafatnya Nabi, perceraian Zaid bin Haritsah, dan lain-lain? (Anda) bisa bantu saya soal ini?</p>
<p>Eka Andreadi (andreadi**@***.com)<br />
<span id="more-4362"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah. Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p><em><strong>Pertama:</strong></em> Perlu dipahami bahwa sejarah <strong>TIDAK SAMA DENGAN</strong> realita. Sejarah adalah ungkapan realita. Sementara, dalam mengungkapkan realita, manusia tidak bisa lepas dari kontaminasi latar belakang prinsip hidupnya. Dengan latar belakang ini, orang bisa menambahkan, mengurangi, atau memelintir sejarah.</p>
<p><em><strong>Kedua:</strong></em> Secara umum, pakar sejarah&#8211;yang karya-karyanya beredar di tempat kita&#8211;bisa terbagi menjadi dua:</p>
<ul>
<li>Sejarawan <em>orientalis</em>. Mereka menggunakan topeng &#8220;<em>sejarah</em>&#8221; untuk menghancurkan pemikiran kaum muslimin. Pada prinsipnya, gerakan <em>orientalis</em> bertujuan untuk menghancurkan Islam dari dalam.</li>
</ul>
<ul>
<li>Sejarawan Islam. Mereka menyampaikan sejarah kaum muslimin sebagai bagian dari kebanggaan mereka terhadap Islam. Pada umumnya, mereka adalah para ulama yang paham hadis. Para sejarawan lain selain mereka, misalnya: sejarawan Indonesia, hanya mengutip sejarah dari para sejarawan Islam ini.</li>
</ul>
<p>Jika kita renungkan, siapakah sejarawan yang layak untuk dijadikan acuan? Tentu, kita akan mengatakan bahwa pakar sejarah muslim jauh lebih layak untuk dijadikan acuan, dengan beberapa alasan:</p>
<ol>
<li> Sejarawan <em>orientali</em>s telah ditunggangi tujuan utama untuk merusak Islam. Karena itu, kita layak untuk berprasangka buruk kepada mereka. Jika sumbernya saja diragukan, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> lagi dengan karyanya.</li>
<li>Sejarawan Islam, umumnya, adalah ulama yang memahami hadits. Karena itu, umumnya, penukilan mereka disertai dengan <em>sanad</em> (perawi). Di samping itu, mengingat mereka ini adalah para ulama, kita diperintahkan untuk berbaik sangka kepada mereka dan kita diharamkan untuk berburuk sangka kepada mereka.</li>
</ol>
<p>Jika demikian, mungkinkah akan kita bandingkan antara sejarawan muslim yang memiliki kredibilitas tinggi dengan sejarawan <em>orientalis</em> yang kredibilitasnya dipertanyakan?</p>
<p>Adapun buku-buku sejarah karya sejarawan muslim, di antaranya adalah:</p>
<ol>
<li> <em>Ar-Rahiqum Makhtum</em>, karya Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuri. Buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Pustaka Al-Kautsar, dengan judul &#8220;<em>Sirah Nabawiyah</em>&#8220;.</li>
<li><em>Sirah Nabawiyah</em> Ibnu Hisyam (ulama abad ke-9 H); sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Darul Falah.</li>
<li><em>Shahih Sirah Nabawiyah</em>, karya Syekh Dr. Akram Dhiya&#8217; Al-Umri. Beliau dikenal sebagai pemerhati buku sejarah berdasarkan riwayat yang shahih saja. Buku ini juga sudah diterjemahkan.</li>
</ol>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>cerai</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>ebook sirah nabawiyah</strong>, <strong>jari</strong>, <strong>sejarawan islam ibnu ishaq</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>sejarah islam di indonesia</strong>, <strong>puasa menurut orientalist</strong>, <strong>shaf</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apakah-penulis-sejarah-islam-telah-berdusta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masjid Pertama di Muka Bumi</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/masjid-pertama-di-muka-bumi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/masjid-pertama-di-muka-bumi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 03:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
				<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[masjid pertama kali]]></category>
		<category><![CDATA[masjid pertama kali di bumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=3079</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Masjid apakah yang pertama kali ada di muka bumi? Jawaban: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah ditanya, “Masjid apakah yang pertama kali ada di muka bumi?” قَالَ: اَلْمَسْجِدُ الْحَرَامُ Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, “Masjidil Haram.” “Kemudian apa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/masjid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masjid">Masjid</a> apakah yang pertama kali ada di muka bumi?<br />
<span id="more-3079"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah ditanya, “Masjid apakah yang pertama kali ada di muka bumi?”</p>
<p>قَالَ: اَلْمَسْجِدُ الْحَرَامُ</p>
<p>Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, “<em>Masjidil Haram</em>.”</p>
<p>“Kemudian apa lagi?”</p>
<p>قَالَ: اَلْمَسْجِدُ اْلأَقْصَى</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, “<em>Masjid al-Aqsha</em>.”</p>
<p>Beliau ditanya lagi, “Berapa jarak antara keduanya?”</p>
<p>قَالَ: أَرْبَعُوْنَ عَامًا</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, “<em>Empat puluh tahun</em>.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa Rasulullah: Anda Bertanya Rasulullah Menjawab</em>, <em>Tahqiq</em> dan <em>Ta&#8217;liq</em> oleh Syaikh Qasim ar-Rifa&#8217;i, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Pustaka As-Sunnah, Cetakan Ke-1, 2008.<br />
(Dengan penataan bahasa oleh www.konsultasisyariah.com)</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>masjid pertama kali di bumi</strong>, <strong>masjid</strong>, <strong>masjid pertama kali</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/masjid-pertama-di-muka-bumi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Pembukuan al-Qur&#8217;an di Zaman Sahabat Termasuk Bid&#8217;ah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-pengumpulan-al-quran-oleh-sahabat-ini-bidah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-pengumpulan-al-quran-oleh-sahabat-ini-bidah#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 03:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[AL-QURAN]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA['al-qur'an pada masa sahabat']]></category>
		<category><![CDATA[alquran bidah]]></category>
		<category><![CDATA[apakah pembukuan alquran termasuk bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah al-qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah yang dilakukan sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah zaman sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[bidah dimasa sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pembukuan alquran]]></category>
		<category><![CDATA[pembukuan alqur'an bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah pembukuan alqur'an]]></category>
		<category><![CDATA[syariah pengumpulan al-quran dan penulisan al-quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1174</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah pengumpulan Al Quran oleh Sahabat dianggapkan Bidah? Mansor Deen Alamat: Selangor, Msalaysia Email: abuhazmin@gmail.com Ustadz Kholid Syamhudi, Lc menjawab: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Tidak boleh. Sebab sebenarnya pengumpulan Al Qur’an sudah ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam namun ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bolehkah pengumpulan Al Quran oleh Sahabat dianggapkan Bidah?</p>
<p style="text-align: right;">Mansor Deen<br />
Alamat: Selangor, Msalaysia<br />
Email: abuhazmin@gmail.com</p>
<p><span id="more-1174"></span><strong>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc menjawab:</strong></p>
<p>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Tidak boleh. Sebab sebenarnya pengumpulan Al Qur’an sudah ada di zaman Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wassalam</em> namun dilakukan dengan cara dihafal dalam dada para sahabat.</p>
<p>Setelah perang Yamamah yang berakibat terbunuhnya banyak penghafal Al-Qur’an,Khalifah Abu Bakar <em>Radhiallahu’anhu</em> berfikir untuk mengumpulkannya dalam satu <em>mushhaf</em> yang mempermudah kaum muslimin untuk menjaga dan menghafalnya. Sehingga hal ini masuk dalam mashlahat mursalah.</p>
<p>Kemudian adanya <span style="text-decoration: underline;">ijma’</span> sahabat ketika itu adalah hujjah bahwa pengumpulan <em>mush-haf</em> adalah haq dan sesuai syari’at, karena Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p>لا تجتمع هذه الأمة على ضلا</p>
<p>“<em>Umat ini tidak akan bersepakat diatas kesalahan.</em>” (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)</p>
<p>Dengan demikian pengumpulan mush-haf disyari’atkan dgn ijma’ shahabat yang didasarkan kepada persetujuan Nabi shalallahu ‘alaihi was sallam dalam penulisan Al-Qur’an di masa beliau dan banyak sahabat yang ikut menyimpan tulisannya di rumah mereka dan dihafal di dada mereka.</p>
<p>Sumber: ustadzkholid.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bid&#039;ah al-qur&#039;an</strong>, <strong>pembukuan alqur&#039;an bid&#039;ah</strong>, <strong>syariah pengumpulan al-quran dan penulisan al-quran</strong>, <strong>sejarah pembukuan alqur&#039;an</strong>, <strong>bidah dimasa sahabat</strong>, <strong>bid&#039;ah yang dilakukan sahabat</strong>, <strong>hukum pembukuan alquran</strong>, <strong>bid&#039;ah zaman sahabat</strong>, <strong>apakah pembukuan alquran termasuk bid&#039;ah</strong>, <strong>alquran bidah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-pengumpulan-al-quran-oleh-sahabat-ini-bidah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembukuan Al-Quran</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pembukuan-al-quran</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pembukuan-al-quran#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 10:50:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[SEJARAH ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[aurat]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[mani]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[riba]]></category>
		<category><![CDATA[ringkasan pembukuan quran zaman abu bakar]]></category>
		<category><![CDATA[rizki]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah pembukuan al quran]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah pengumpulan al-quran zaman khalifah utsman bin affan]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz, ana adalah seorang ikhwan yang masih belajar ilmu syar&#8217;i yang &#8211; Alhamdulillah &#8211; ana tuntut dari ustadz salafi. Ana pernah berdiskusi dengan orang yang berpikiran sekuler yang menyatakan bahwa menurut tinjauan politik ( karena dia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,</em><br />
Ustadz, ana adalah seorang ikhwan yang masih belajar ilmu syar&#8217;i yang &#8211; Alhamdulillah &#8211; ana tuntut dari ustadz salafi. Ana pernah berdiskusi dengan orang yang berpikiran sekuler yang menyatakan bahwa menurut tinjauan politik ( karena dia kuliah di fakultas politik universitas negeri terkenal di Yogyakarta ), mushaf Al-qur&#8217;an yang telah ada di tangan kaum muslimin sekarang ini adalah mushaf Ustmani. Dia menyatakan bahwa pada masa pemerintahan sahabat Ustman r.a ada pergolakan politik antara Ustman r.a. dengan Ali bin Abi Thalib r.a. Karena pergolakan politik inilah, Ustman yang merupakan khalifah pertama yang membukukan al &#8211; qur&#8217;an tidak mau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> hafalan al &#8211; qur&#8217;an dari para sahabat pendukung Ali r.a. Ana jadi kasihan sama dia karena dia terpengaruh pemikiran sekuler. Tolong ustadz memberikan penjelasan tentang hal ini ! dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> saya memberikan nasehat padanya tentang hal ini ? Atas perhatian dan jawaban ustadz, saya ucapkan <em>jazakallah khairan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p><span id="more-10"></span><strong>Jawaban Ustadz:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillah</em>, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, keluarga, sahabat dan setiap orang yang meniti jalannya hingga hari kiamat, amiin.</p>
<p>Langsung saja, ucapan orang tersebut membuktikan bahwa ia tidak paham/tidak pernah membaca sejarah umat islam. Sebab khalifah pertama yang membukukan/mengumpulkan Al Quran adalah khalifah Abu bakar As Shiddiq <em>rodhiallohu &#8216;anhu</em>, dan bukan khalifah Utsman bin Affan <em>rodhiallohu &#8216;anhu</em>. Yang dilakukan oleh sahabat Utsman bin Affan adalah menyatukan bacaan Al Quran dengan menggunakan logat bahasa orang-orang Quraisy, tak lebih dan tak kurang dari itu. Adapun pembukuan Al Quran pertama dilakukan pada zaman Abu Bakar, akan tetapi kala itu tidak disatukan dengan satu logat. Karena perlu diketahui bahwa Al Quran diturunkan oleh Alloh dalam tujuh logat bahasa Arab, dan dahulu Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membenarkan/membolehkan seluruh bacaan Al Quran tersebut, dengan berbagai perbedaan logat bahasa. Akan tetapi karena perbedaan logat bahasa ini menimbulkan perselisihan di tengah-tengah umat Islam, yaitu pada masa Utsman bin Affan, maka beliau memerintahkan agar seluruh umat islam membaca Al Quran dengan satu logat, yaitu logat orang-orang Quraisy dan pembukuannya pun disesuaikan dengan logat tersebut. Inilah ringkas cerita yang terjadi pada masa khalifah Utsman bin Affan. Bukan seperti yang dikatakan oleh orang tersebut.</p>
<p>Sebab kedua, tidak pernah ada di zaman khalifah Utsman bin Affan <em>rodhiallohu &#8216;anhu</em> terjadi pergolakan politik antara Khalifah Utsman bin Affan <em>rodhiallohu &#8216;anhu</em> dengan sahabat Ali bin Abi Thalib <em>rodhiallohu &#8216;anhu</em>. Bahkan sahabat Ali bin Abi Thalib <em>rodhiallohu &#8216;anhu</em> adalah salah seorang kepercayaan Khalifah Utsman bin Affan <em>rodhiallohu &#8216;anhu</em>. Sehingga ini adalah salah satu bukti besar bahwa orang tersebut <em>over acting</em>, mentang-mentang belajar ilmu politik, kemudian dengan sembarangan berkomentar tentang Islam dan sejarah Islam. Dan menganalisa berbagai kejadian sejarah islam berdasarkan kaidah-kaidah ilmu politik yang ia pelajari, walaupun kaidah-kaidah tersebut menyelisihi prinsip-prinsip agama islam.</p>
<p>Umat Islam apalagi para sahabat tidaklah jahat semacam para politikus yang ia kenal. Umat Islam, apalagi para sahabat memiliki hati nurani yang bersih dan jujur lagi obyektif dalam menyikapi setiap masalah. Dan sikap mereka senantiasa mencerminkan bahwa mereka berjiwa luhur dan penuh iman kepada Alloh dan hari pembalasan. Mereka tidak mengenal penghalalan segala macam cara untuk mencapai tujuan, apalagi sampai memanipulasi atau menolak kebenaran karena hanya faktor kepentingan pribadi atau golongan. Kejiwaan para sahabat jauh dan terlalu luhur bila dibanding dengan beraneka ragam manusia yang hidup di zaman ini, apalagi para politikus yang kebanyakannya berhati kejam, tidak kenal kemanusiaan dalam mencapai tujuannya.</p>
<p>Dengan pendek kata, ucapan orang itu merupakan tuduhan dan celaan terhadap sebagian sahabat, yaitu sahabat Khalifah Utsman bin Affan <em>rodhiallohu &#8216;anhu</em>, tuduhan ia telah mementingkan kepentingan pribadi daripada Al Quran dan umat Islam seluruhnya. Ini adalah tuduhan hina nan keji, tidak layak keluar dari seorang yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir. Alloh berfirman:</p>
<p>مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً</p>
<p><em>&#8220;Muhammad itu adalah utusan Alloh, dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka: Kamu melihat mereka ruku&#8217; dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a> mencari karunia Alloh dan keridhoan Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sujud" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sujud">sujud</a>. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Alloh dengan mereka hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.&#8221;</em> (QS. Al Fath: 29)</p>
<p>Oleh karena itu Imam Malik bin Anas berdalilkan dengan ayat ini bahwa orang-orang rafidhah (syi&#8217;ah) adalah kafir, karena mereka telah membenci para sahabat Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Padahal Alloh telah menyatakan orang-orang kafirlah yang membenci para sahabat Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Semoga jawaban pendek ini cukup memberikan gambaran betapa sesatnya ucapan orang tersebut, <em>wallohu a&#8217;alam bisshawab. Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullah.</em></p>
<p>***</p>
<p>Penanya: <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rizki" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rizki">Rizki</a> Mula<br />
Dijawab Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>sejarah pengumpulan al-quran zaman khalifah utsman bin affan</strong>, <strong>sejarah pembukuan al quran</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>jari</strong>, <strong>dukun</strong>, <strong>aurat</strong>, <strong>sujud</strong>, <strong>riba</strong>, <strong>ringkasan pembukuan quran zaman abu bakar</strong>, <strong>bagaimana</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pembukuan-al-quran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 23/109 queries in 0.032 seconds using disk: basic
Object Caching 5991/6154 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-05 07:04:22 -->
