<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Darah Wanita</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/wanita/darah-wanita/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 02:42:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Banyak Mengeluarkan Darah Saat Keguguran</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/banyak-mengeluarkan-darah-saat-keguguran</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/banyak-mengeluarkan-darah-saat-keguguran#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 00:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9861</guid>
		<description><![CDATA[Banyak Mengeluarkan Darah Saat Keguguran Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Seorang wanita mengalami kecelakaan pada awal kehamilannya, kecelakaan itu menyebabkan keguguran pada janinnya yang disertai banyaknya darah yang keluar. Bolehkah wanita ini membatalkan puasanya ataukah ia harus meneruskan puasanya? Berdosakah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Banyak Mengeluarkan Darah Saat Keguguran</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:<br />
Seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> mengalami kecelakaan pada awal kehamilannya, kecelakaan itu menyebabkan keguguran pada janinnya yang disertai banyaknya darah yang keluar. Bolehkah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> ini membatalkan puasanya ataukah ia harus meneruskan puasanya? Berdosakah jika ia membatalkan puasanya?<br />
<span id="more-9861"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kami katakan bahwa wanita <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a> tidaklah mengalami haidh sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad, yaitu bahwa diketahuinya kaum wanita sedang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a> dengan berhentinya haidh. Para ulama mengatakan, bahwa haidh adalah ciptaan Allah yang pasti mengandung hikmah yaitu sebagai makanan bagi janin yang ada di dalam perut ibunya, maka jika telah terjadi kehamilan akan mengakibatkan terhentinya hadih. Akan tetapi sebagian kaum wanita <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a> masih terus mengalami haidh sebagaimana biasa sebelum terjadinya kehamilan, maka haidhnya itu adalah benar-benar haidh karena terjadi tanpa terpengaruh oleh kehamilan. Haidh ini menjadi halangan seperti halnya haidh yang dialami oleh wanita yang tidak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a>.</p>
<p>Kesimpulannya adalah bahwa darah yang dikeluarkan oleh wanita hamil ada dua jenis; pertama ditetapkan sebagai darah haidh yaitu darah yang terus keluar pada masa haidh sebagaimana sebelum hamil, artinya adalah bahwa kehamilan tidak mempengaruhi keluarnya darah haidh. Jenis kedua adalah darah yang tiba-tiba keluar dari wanita hamil karena kecelakaan atau membawa sesuatu yang berat atau terjatuh dari suatu tempat atau hal-hal serupa lainnya yang menyebabkan wanita hamil mengeluarkan darah, maka darah yang keluar ini bukanlah darah haidh melainkan darah luka. Darah semacam ini tidak menghalangi seorang wanita untuk melaksanakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> bahkan bagi wanita ini tetap berlaku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> seabgaimana wanita suci lainnya.</p>
<p>Akan tetapi jika kecelakaan itu menyebabkan keluarnya janin dari perutnya, maka dalam hal ini ada ketetapan lain, yaitu jika janin yang dikeluarkan telah berbentuk manusia maka darah yang keluar setelah keluarnya janin itu adalah darah nifas yang menghalangi seorang wanita untuk melakukan shalat, puasa, dan bagi suaminya tidak boleh menyetubuhinya sampai ia mendapat kesuciannya. Dan jika janin yang dilahirkan itu belum berbentuk manusia maka darah yang keluar setelah keluarnya janin itu bukanlah darah nifas melainkan darah penyakit yang tidak menghalanginya untuk melaksanakan shalat, puasa, serta ibadah-ibadah lainnya.</p>
<p>Para ulama mengatakan bahwa waktu yang paling minim dalam proses pembentukan janin menjadi bentuk manusia adalah delapan puluh satu hari umur janin di dalam perut ibunya, sebagaimana disebutkan Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada kami:<br />
“<em>Sesungguhnya seseorang di antara kalian dipadukan bentuk ciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk air <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mani" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mani">mani</a>, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat macam, yaitu: rizkinya, ajalnya, perbuatannya dan kebahagiaannya atau kesengsaraannya.</em>”</p>
<p>Jadi janin itu tidak mungkin berbentuk manusia sebelum delapan puluh satu hari, dan pada umumnya bentuk janin belum jelas sebelum sembilan puluh hari sebagaimana diungkapkan oleh para <em>ahlul ilmi</em>.</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait janin dan keguguran:</h3>
<p>1. <a href="../aqiqah" rel="nofollow" target="_blank">Aqiqah Untuk Janin Keguguran</a>.<br />
2. <a href="../hukum-shalat-wanita-yang-mengalami-keguguran" rel="nofollow" target="_blank">Shalat Wanita yang Keguguran</a>.</p>
<p><strong>Tags: Keguguran, kecelakaan, darah keguguran, wanita keguguran, hamil keguguran.</strong><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/banyak-mengeluarkan-darah-saat-keguguran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Keguguran Berdasarkan Keadaan Janin</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-keguguran-berdasarkan-keadaan-janin</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-keguguran-berdasarkan-keadaan-janin#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 23:06:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9837</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Keguguran Berdasarkan Keadaan Janin Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Para wanita yang mengalami keguguran akan mengalami satu di antara dua hal, yaitu keguguran sebelum janin terbentuk dan keguguran setelah terbentuknya janin, bagaimanakah hukum puasanya pada hari keguguran itu serta ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Keguguran Berdasarkan Keadaan Janin</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:<br />
Para <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> yang mengalami keguguran akan mengalami satu di antara dua hal, yaitu keguguran sebelum janin terbentuk dan keguguran setelah terbentuknya janin, bagaimanakah hukum puasanya pada hari keguguran itu serta <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> yang ia lakukan pada hari-hari ia mengeluarkan darah?<br />
<span id="more-9837"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Jika janin yang dilahirkan itu belum berbentuk manusia maka darah yang dikeluarlan oleh wanita itu bukan darah nifas, untuk itu ia tetap diwajibkan berpuasa dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>, dan puasa yang dilakukan pada hari saat ia melahirkan itu adalah sah. Akan tetapi jika janin yang dikeluarkan itu telah berbentuk manusia maka darah yang keluar adalah darah nifas yang tidak membolehkannya untuk mengerjakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> dan juga puasa, dan puasa yang ia lakukan pada hari kelahiran itu menjadi batal. Kaidah dasar dalam masalah ini adalah: Jika janin telah terbentuk maka darah itu adalah darah nifas, dan jika janin itu belum terbentuk maka darah itu bukanlah darah nifas. Jika darah itu adalah darah nifas maka ia dikenakan hukum sebagaimana wanita nifas, dan jika bukan darah nifas maka ia dianggap seperti wanita suci lainnya.</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait janin dan keguguran:</h3>
<p>1. <a href="../aqiqah" rel="nofollow" target="_blank">Aqiqah Untuk Janin Keguguran</a>.<br />
2. <a href="../hukum-shalat-wanita-yang-mengalami-keguguran" rel="nofollow" target="_blank">Shalat Wanita yang Keguguran</a>.</p>
<p>Tags: <strong>janis keguguran, ibu keguguran, darah keguguran.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-keguguran-berdasarkan-keadaan-janin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Darah Keguguran = Nifas?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/darah-keguguran-nifas</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/darah-keguguran-nifas#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 01:57:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9834</guid>
		<description><![CDATA[Darah Keguguran = Nifas? Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Jika seseorang wanita mengalami keguguran pada umur tiga bulan dari masa kehamilannya, apakah ia harus melaksanakan shalat atau harus meninggalkannya? Jawaban: Darah Keguguran Termasuk Nifas Pendapat yang dikenal di kalangan ahlul ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Darah Keguguran = Nifas?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:<br />
Jika seseorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> mengalami keguguran pada umur tiga bulan dari masa kehamilannya, apakah ia harus melaksanakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> atau harus meninggalkannya?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Darah Keguguran Termasuk Nifas</h3>
<p>Pendapat yang dikenal di kalangan ahlul ilmi mengatakan bahwa seorang wanita yang mengalami keguguran pada umur tiga bulan dari kehamilannya, maka ia harus meninggalkan shalat. Karena ia telah melahirkan janin yang telah berbentuk manusia, dengan demikian darah yang keluar darinya adalah darah nifas sehingga ia tidak boleh melakukan shalat.</p>
<p>Para ulama mengatakan, kemungkinan janin yang ada dalam kandungan seorang wanita telah berbentuk manusia jika telah berumur delapan puluh satu hari, berarti kurang dari tiga bulan, dengan demikian jika seorang wanita telah yakin bahwa ia telah mengalami keguguran pada umur tiga bulan dari kehamilannya maka darah yang keluar darinya adalah darah nifas. Adapun jika keguguran itu terjadi sebelum delapan puluh hari, maka darah yang keluar darinya adalah darah penyakit yang tidak boleh baginya untuk meninggalkan shalat. Dan bagi wanita yang menanyakan hal ini hendaknya ia mengingat-ingat masa kehamilan dirinya itu, jika keguguran terjadi sebelum delapan puluh hari maka hendaknya ia mengqadha shalat yang ditinggalkannya. Jika ia tidak mengetahui berapa banyak shalat yang telah ditinggalkannya, maka hendaknya ia memperkirakannya lalu mengqadhanya berdasarkan kemungkinan dalam meninggalkan shalat.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/aqiqah" target="_blank">Aqiqah Untuk Janin Keguguran</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-shalat-wanita-yang-mengalami-keguguran" target="_blank">Shalat Wanita yang Keguguran</a>.</p>
<p>Key word: <strong>darah keguguran.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/darah-keguguran-nifas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keluar Cairan Kuning Setelah Suci Haid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keluar-cairan-kuning-setelah-suci-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keluar-cairan-kuning-setelah-suci-haid#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 06:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9332</guid>
		<description><![CDATA[Keluar Cairan Kuning Setelah Suci Haid Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Apa hukum cairan yang keluar dari wanita setelah ia suci? Jawaban: Kaidah umum tentang masalah ini dan masalah-masalah serupa lainnya adalah bahwa cairan kekuning-kuningan dan cairan keruh yang keluar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Keluar Cairan Kuning Setelah Suci <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">Haid</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:<br />
Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> cairan yang keluar dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> setelah ia suci?<br />
<span id="more-9332"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kaidah umum tentang masalah ini dan masalah-masalah serupa lainnya adalah bahwa cairan kekuning-kuningan dan cairan keruh yang keluar dari wanita setelah ia suci bukan apa-apa berdasarkan ucapan Ummu Athiah, “Kami tidak menganggap cairan kuning dan cairan keruh sebagai sesuatu apa pun setelah suci.” Kaidah umum lainnya mengatakan, &#8220;Hendaknya seorang wanita tidak tergesa-gesa untuk menyatakan telah habis masa haidhnya hanya karena berhentinya darah haidh sebelum ia mengeluarkan cairan putih, sebagaimana diucapkan Aisyah kepada para wanita yang datang menemuinya dengan menggunakan kapas (pembalut wanita), “Janganlah kalian tergesa-gesa (mengatakan habisnya masa haidh) hingga kalian melihat (mengeluarkan) cairan putih.”</p>
<p>Pada kesempatan ini saya peringatkan dengan tegas kepada kaum wanita agar menghindari penggunaan tablet-tablet pencegah haidh. Sebagian wanita mengatakan bahwa obat-obatan ini berbahaya, bahkan ada di antara para dokter itu yang menuliskan untuk saya sejumlah bahaya yang terkandung di dalam obat-obatan ini.</p>
<p>Di antara bahayanya yang terbesar adalah dapat menyebabkan luka pada rahim dan dapat mempengaruhi sirkulasi darah serta menimbulkan ketidakteraturan haidh. Ini kenyataannya, dan masih banyak problematika lainnya yang bisa dialami oleh para wanita yang mengkonsumsinya, bahkan bisa memengaruhi bentuk janin ketika mengandung.</p>
<p>Jika wanita yang mengkonsuminya itu belum menikah, kelak bisa menyebabkan kemandulan sehingga tidak dapat mempunyai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>. Ini sungguh bahaya yang besar. Sebenarnya seorang manusia dengan akal sehatnya bisa melogikakan, bahwa mencegah sesuatu yang alami ini, yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala pada diri mereka di masa-masa tertentu, dapat membahayakannya. Seperti halnya bila seseorang berusaha menahan kencing atau air besar, tentu ini dapat membahayakan. Begitu juga darah haidh, ini adalah alamai yang telah ditetapkan Allah pada diri setiap wanita. Tidak diragukan lagi bahwa berusaha mencegah keluarnya darah haidh pada waktunya akan membahayakan diri wanita itu sendiri.</p>
<p>Saya peringatkan kepada para wanita muslimat, hendaknya mereka tidak menggunakan obat-obatan tersebut, dan kepada kaum pria saya sarankan agar mereka mencegah para istrinya menggunakan obat-obatan itu.</p>
<p>Sumber:<em> Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait haid dan nifas:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/cairan-keruh-sebelum-masa-haid">Cairan Kerus Sebelum Haid</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/tidak-shalat-karena-keluar-cairan-keruh">Tidak Shalat Karena Keluar Cairan Keruh</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../menggauli-istri-yang-sedang-hamil" target="_blank">Menggauli Istri yang Sedang Hamil</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../wudhu-wanita-haid" target="_blank">Wudhu Bagi Wanita <strong>Haid</strong></a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../berhenti-haid" target="_blank">Cara Mengetahui Masa Suci Haid</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keluar-cairan-kuning-setelah-suci-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Shalat Karena Keluar Cairan Keruh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tidak-shalat-karena-keluar-cairan-keruh</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tidak-shalat-karena-keluar-cairan-keruh#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 00:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9330</guid>
		<description><![CDATA[Tidak Shalat Karena Keluar Cairan Keruh Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Seorang wanita mengeluarkan cairan keruh sebelum tiba masa haidhnya yang biasa, karena itu ia meninggalkan shalat, kemudian setelah itu ia mengeluarkan darah haidhnya, bagaimanakah hukumnya hal ini? Jawaban: Ummu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tidak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> Karena Keluar Cairan Keruh</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:<br />
Seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> mengeluarkan cairan keruh sebelum tiba masa haidhnya yang biasa, karena itu ia meninggalkan shalat, kemudian setelah itu ia mengeluarkan darah haidhnya, bagaimanakah hukumnya hal ini?<br />
<span id="more-9330"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Ummu Athiah berakata, “Kami tidak menganggap cairan kuning dan cairan keruh sebagai sesuatu apa pun setelah datangnya masa suci.” Berdasarkan perkataan ini, saya berpendapat bahwa cairan ini bukanlah bagian dari haidh, apalagi jika cairan ini datang sebelum masa haidhnya yang biasa. Ditambah pula keluarnya cairan keruh ini tidak disertai tanda-tanda datangnya haidh, seperti rasa mules di perut, rasa sakit di punggung atau lainnya, maka yang lebih utama bagi wanita ini adalah melaksanakan kembali shalat yang telah ditinggalkannya ketika mengeluarkan cairan keruh ini.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tidak-shalat-karena-keluar-cairan-keruh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cairan Keruh Sebelum Masa Haid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/cairan-keruh-sebelum-masa-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/cairan-keruh-sebelum-masa-haid#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 00:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9328</guid>
		<description><![CDATA[Cairan Keruh Sebelum Masa Haid Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Apa hukumnya cairan keruh yang keluar dari wanita sehari atau dua hari sebelum haidh? Cairan tersebut terkadang berbentuk benang tipis berwarna hitam atau seperti warna kopi? Dan apa hukumnya jika ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Cairan Keruh Sebelum Masa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">Haid</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Apa hukumnya cairan keruh yang keluar dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> sehari atau dua hari sebelum haidh? Cairan tersebut terkadang berbentuk benang tipis berwarna hitam atau seperti warna kopi? Dan apa hukumnya jika cairan keluar setelah haidh?<br />
<span id="more-9328"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Jika cairan atau gumpalan keruh itu termasuk bagian dari pendahuluan datangnya haidh maka berarti cairan itu adalah haidh. Hal itu dapat diketahui dengan timbulnya rasa sakit dan rasa mules pada perut yang biasanya hal ini dialami oleh wanita haidh. Adapun jika cairan keruh ini keluar setelah haidh, maka wanita ini harus menunggu hingga lenyapnya cairan tersebut, karena cairan keruh yang keluar beringingan (menyambung) dengan haidh berarti cairan itu adalah bagian dari haidh, berdasarkan ucapan Aisyah,</p>
<p>“Janganlah kalian tergesa-gesa (menyatakan habisnya masa haidh) hingga kalian melihat cairan putih.”</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em></p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/cairan-keruh-sebelum-masa-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Kewanitaan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/masalah-kewanitaan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/masalah-kewanitaan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 08:07:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9324</guid>
		<description><![CDATA[Masalah Kewanitaan Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya, &#8220;Kami mohon Anda berkenan menerangkan kepada kami tentang cairan berwarna kuning dan cairan keruh, apakah hukumnya sama dengan hukum darah haidh? Lalu apakah cairan putih itu? Apakah seorang wanita harus mengetahui ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Masalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kewanitaan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kewanitaan">Kewanitaan</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya,<br />
&#8220;Kami mohon Anda berkenan menerangkan kepada kami tentang cairan berwarna kuning dan cairan keruh, apakah hukumnya sama dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> darah haidh? Lalu apakah cairan putih itu? Apakah seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> harus mengetahui berakhirnya darah tersebut, kemudian setelah itu apakah ia diwajibkan mandi (bersuci) atau tidak?&#8221;<br />
<span id="more-9324"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Cairan berwarna kuning dan keruh adalah jenis cairan yang keluar dari seorang wanita dan dapat berubah warna menjadi cairan keruh, itu serupa dengan air sisa pembersih daging, merah akan tetapi merahnya tidak begitu jelas, sementara cairan kuning adalah cairan yang berwarna kuning yang terkadang cairan itu keluar dari seorang wanita. Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini hingga terdapat lima pendapat, akan tetapi pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa jika cairan itu keluar setelah habisnya masa haidh dalam jarak yang tidak begitu jauh dengan terhentinya darah haidh, maka berarti cairan itu termasuk dalam kategori haidh (dikenakan hukum haidh). Jika keluarnya cairan itu tidak setelah habisnya masa haidh, yakni berselang beberapa waktu dari waktu berhentinya masa haidh, maka cairan itu tidak termasuk dalam kategori darah haidh (tidak dikenakan hukum haidh).</p>
<p>Adapun mengenai cairan putih, maka yang dimaksud dengan cairan tersebut adalah jika seorang wanita menggunakan kapas atau pembalut di tempat keluarnya cairan itu, lalu cairan itu tidak berubah dan tetap keluar dengan warna putih, maka itulah yang dinamakan dengan cairan putih yang sebenarnya. Dan jika cairan itu berubah warna maka ini adalah merupakan bukti bahwa darah haidh belum berhenti.</p>
<p>Sebagian kaum wanita ada yang tidak mengeluarkan cairan putih ini akan tetapi kebiasaannya adalah mengeluarkan cairan berwarna keruh pada masa antara satu masa haidh dengan masa haidh lainnya. Jika demikian berarti cairan keruh ini merupakan tanda berhentinya darah haidh dan mulainya masa suci walaupun ia tetap mengeluarkan cairan berwarna kuning. Karena wanita ini tidak biasa mengeluarkan cairan putih.</p>
<p>Pada kenyataannya, terkadang permasalahan seputar haidh merupakan permasalahan yang masih samar-samar karena beragamnya peristiwa yang dialami kaum wanita, akan tetapi haidhnya wanita yang alami (yang menjalani hidup dengan normal) tidak mengalami kejanggalan. Kejanggalan pada masa haidh ini lebih banyak terjadi pada kaum wantia disebabkan oleh penggunaan obat-obatan, yakni berupa tablet-tablet yang biasa dikonsumsi oleh sebagian wanita.</p>
<p>Sebenarnya, obat-obatan itu di samping dapat membahayakan rahim, juga dapat menimbulkan banyak kejanggalan. pada keadaan haidhnya wanita, Juga dapat membingungkan bagi orang-orang yang dimintai fatwa tentang hal ini. Karena itu, saya memperingatkan kepada kaum wantia yang mengkonsumsinya.</p>
<p>Logikanya, tidak diragukan lagi, bahwa mencegah sesuatu yang alami dapat menimbulkan suatu kejanggalan yang tidak alami. Darah haidh adalah darah yang alami, jika seorang wanita mengkonsumsi suatu pil untuk menghambat keluarnya darah haidh yang alami ini, maka sudah pasti pil tersebut akan menimbulkan efek buruk pada tubuh, karena obat tersebut berusaha menyimpangkan sesuatu yang alami yang telah ditetapkan Allah pada tubuh wanita. Maka seklai lagi saya peringatkan, hendaknya para wanita tidak mengkonsumsi pil-pil semacam itu.</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait masalah kewanitaan:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../menggauli-istri-yang-sedang-hamil" target="_blank">Menggauli Istri yang Sedang Hamil</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../wudhu-wanita-haid" target="_blank">Wudhu Bagi Wanita <strong>Haid</strong></a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../berhenti-haid" target="_blank">Cara Mengetahui Masa Suci Haid</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/masalah-kewanitaan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Haid Harus Qadha Shalat?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 00:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9315</guid>
		<description><![CDATA[Wanita Haid Harus Qadha Shalat Pertanyaa: Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya, jika seorang wanita telah suci dari haidhnya pada waktu ashar atau di waktu isya, apakah diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat zuhur dan maghrib karena kedua waktu itu memungkinkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">Wanita</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">Haid</a> Harus Qadha <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a></h2>
<p><strong>Pertanyaa:</strong><br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya, jika seorang wanita telah suci dari haidhnya pada waktu ashar atau di waktu isya, apakah diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat zuhur dan maghrib karena kedua waktu itu memungkinkan untuk dijama’?<br />
<span id="more-9315"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Jika seorang wanita telah suci <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dari-haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dari haid">dari haid</a> atau nifasnya di waktu ashar, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat zuhur di antara dua pendapat para ulama, karena kedua waktu shalat itu adalah satu bagi orang yang berhalangan seperti seorang yang sakit atau musafir, juga wanita ini pun mendapatkan halangan dikarenakan tertundanya kesuciannya dari darah nifas atau darah haidh. Demikian pula jika ia mendapatkan kesuciannya di saat isya, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat maghrib dan isya dengan cara manjama’ sebagaimana disebutkan di atas. Beberapa sahabat telah menfatwakan hal ini.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait haid dan nifas:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/menggauli-istri-yang-sedang-hamil">Menggauli Istri yang Sedang Hamil</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/wudhu-wanita-haid">Wudhu Bagi Wanita <strong>Haid</strong></a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/berhenti-haid">Cara Mengetahui Masa Suci Haid</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khitan Bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita-1</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita-1#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 06:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9111</guid>
		<description><![CDATA[Khitan Bagi Wanita Bagi masyarakat muslim Indonesia, khitan bagi anak laki-laki adalah suatu hal yang biasa, meskipun ada hal-hal yang perlu diluruskan berhubungan dengan pelaksanaan sunah bapak para nabi ini -Ibrahim ‘alaihissalam-. Namun, bagi kaum hawa, khitan menjadi sebuah perkara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/khitan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with khitan">Khitan</a> Bagi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">Wanita</a></h2>
<p>Bagi masyarakat muslim Indonesia, <strong>khitan</strong> bagi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> laki-laki adalah suatu hal yang biasa, meskipun ada hal-hal  yang perlu diluruskan berhubungan dengan pelaksanaan sunah bapak para nabi ini -Ibrahim ‘alaihissalam-. Namun, bagi kaum hawa, khitan menjadi sebuah perkara yang sangat jarang dilakukan, bahkan bisa saja masih menjadi sesuatu yang tabu dilakukan oleh sebagian orang, atau bahkan mungkin ada yang mengingkarinya. Padahal syariat khitan bagi kaum wanita merupakan sesuatu yang benar-benar ada dalam syariat Islam yang suci ini. Setahu kami (penulis) tidak ada <em>khilaf</em> (perselisihan) ulama mengenai hal ini. <em>Khilaf</em> di kalangan mereka hanya berkisar pada status hukumnya, apakah khitan itu wajib dilakukan oleh kaum wanita ataukah sekedar sunah. Semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit penjelasan tentang permasalahan ini.</p>
<h2>Pengertian Khitan</h2>
<p>Khitan secara bahasa diambil dari kata (ختن ) yang berarti memotong. Sedangkan <em>al-khatnu</em> berarti memotong kulit yang menutupi kepala <em>dzakar</em> dan memotong sedikit daging yang berada di bagian atas <em>farji</em> (clitoris) dan <em>al-khitan</em> adalah nama dari bagian yang dipotong tersebut. (<em>Lisanul Arab</em>, Imam Ibnu Manzhur).</p>
<p>Imam Nawawi mengatakan, “Yang wajib bagi laki-laki adalah memotong seluruh kulit yang menutupi kepala <em>dzakar</em> sehingga kepala <em>dzakar</em> itu terbuka semua. Sedangkan bagi wanita, maka yang wajib hanyalah memotong sedikit daging yang berada pada bagian atas <em>farji</em>.”(<em>Syarah Sahih Muslim</em>, 1:543 dan <em>Fathul Bari</em>, 10:340)</p>
<h3>Dalil Disyariatkannya Khitan</h3>
<p>Khitan merupakan ajaran nabi Ibrahim <em>‘alaihissalam</em>, dan umat ini diperintahkan untuk mengikutinya, sebagaimana dalam QS. An-Nahl: 123,</p>
<p class="arab">ثم أوحينا إليك أن اتبع ملّة إبراهيم حنيفا</p>
<p>“<em>Kemudian Kami wahyukan kapadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim, seorang yang hanif</em>.”</p>
<p>Dalam <em>Tufatul Maudud</em>, Hal.164. Ketika Sarah (<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri">istri</a> Nabi Ibrahim) menghadiahkan Hajar kepada suaminya, tak lama Hajar pun <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a>, hal ini menyebabkan Sarah cemburu. Ia bersumpah ingin memotong tiga anggota badannya sendiri. Nabi Ibrohim <em>‘alaihissalam</em> khawatir ia akan memotong hidung dan telinganya, lalu beliau menyuruh Sarah untuk melubangi telinganya dan berkhitan. Jadilah hal ini sebagai sunah yang berlangsung pada para wanita sesudahnya.</p>
<p class="arab">عن ابي هريرة رضي الله عنه قال : قاال رسول الله صلي الله عليه وسلم : خمس من الفطرة : الاستحداد والختان، وقص الشارب،ونتف الابط،وتقليم الأظفا ر.</p>
<p>Dari Abu Harairah <em>radhiallahu’anhu</em> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ”Lima hal yang termasuk fitrah, yaitu: mencukur bulu kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)</p>
<h3><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Khitan bagi Wanita</h3>
<p>a. Ulama yang mewajibkan khitan, mereka berargumentasi dengan beberapa dalil:</p>
<p>1. Hukum wanita sama dengan laki-laki, kecuali ada dalil yang membedakannya, sebagimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dari Ummu Sulaim <em>radhiallahu’anha</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Wanita itu saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Daud, no.236, Tirmidzi, no.113, Ahmad 6:256 dengan sanad hasan).</p>
<p>2. Adanya beberapa dalil yang menunjukkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebut khitan bagi wanita, di antaranya sabda beliau:</p>
<p class="arab">إذ التقى الختا نا ن فقد وجب الغسل</p>
<p>“Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.” (HR. Tirmidzi, no.108, Ibnu Majah, no.608, Ahamad 6:161, dengan sanad sahih).</p>
<p class="arab">عن عائسة رضي الله عنها قالت,قال رسول الله صلي الله هليه و السلم : إذ جلس بين شهبها الأربع و مسّ الختان الختان فقد وجب الغسل.</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiallahu‘anha</em>, ia mengatakan, &#8220;Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;Apabila seorang laki-laki duduk di empat anggota badan wanita dan khitan menyentuh khitan maka wajib mandi.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p class="arab">عن أنس بن مالك, قال رسول الله صلي الله عليه والسلم لأمّ عاطية رضي الله عنها : إذا خفضت فأشمي ولا تنهكي فإنّه أسرى للوجه وأحضى للزوج.</p>
<p>Dari Anas bin Malik<em> radhiallahu’anhu</em> mengatakan, Rasulullahi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepada Ummu ‘athiyah, ”Apabila engkau mengkhitan wanita biarkanlah sedikit, jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.” (HR. Al-Khatib)</p>
<p>3. Khitan bagi wanita sangat masyhur dilakukan oleh para sahabat dan para salafusshalih sebagaimana tersebut di atas.</p>
<p>b. Ulama yang berpendapat sunah, alasannya:</p>
<p>Menurut sebagian ulama tidak ada dalil secara tegas yang menunjukkan wajibnya, juga karena khitan bagi laki-laki tujuannya membersihkan sisa air kencing yang najis yang terdapat pada tutup kepala <em>dzakar</em>, sedangkan suci dari najis merupakan syarat sahnya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>. Khitan bagi wanita tujuannya untuk mengecilkan syahwatnya, jadi ia hanya untuk mencari sebuah kesempurnaan dan bukan sebuah kewajiban. (<em>Syarhul Mumti’</em>, 1:134)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah pernah ditanya, “Apakah wanita itu dikhitan ?” Beliau menjawab, “Ya, wanita itu dikhitan dan khitannya adalah dengan memotong daging yang paling atas yang mirip dengan jengger ayam jantan. Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;biarkanlah sedikit dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi suami.’  Alasannya, karena khitan bagi laki-laki untuk menghilangkan najis yang terdapat dalam penutup kulit kepala <em>dzakar</em>, sedangkan tujuan khitan wnaita adalah untuk menstabilkan syahwatnya. Karena apabila wanita tidak dikhitan maka syahwatnya akan sangat besar.” (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 21:114)</p>
<p>Jadi, khilaf mengenai hukum khitan ini ringan, baik sunnah atau wajib keduanya adalah termasuk syariat yang diperintahkan, kita harus berusaha untuk melaksanakannya.</p>
<h3>Waktu Khitan</h3>
<p>Terdapat beberapa hadis hasan yang menunjukkan bahwa khitan dilaksanakan pada hari ke tujuh setelah kelahiran, yaitu:</p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiallahu’anhuma</em>, ia mengatakan, &#8220;Bahwasannya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengakikahi Hasan dan Husein serta mengkhitan keduanya pada hari ketujuh.&#8221; (HR. Thabrani dan Baihaqi)<br />
Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiallahu’anhu</em> berkata, “Terdapat tujuh perkara yang termasuk sunah dilakukan bayi pada hari ketujuh: Diberi nama, dikhitan,…” (HR. Thabrani)</p>
<p>Dari Abu Ja’far berkata, “Fathimah melaksanakan akikah anaknya pada hari ketujuh. Beliau juga mengkhitan dan mencukur rambutnya serta menyedekahkan perak dengan seberat rambutnya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)</p>
<p>Namun, meskipun begitu, khitan boleh dilakukan sampai anak agak besar, sebagaimana telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas <em>radhallahu’anhu</em>, bahwa beliau pernah ditanya, “Seperti apakah engkau saat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meninggal dunia ? ”Beliau menjawab, “Saat itu saya barusan dikhitan. Dan saat itu para sahabat tidak mengkhitan kecuali sampai anak itu bisa memahami sesuatu.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Thabrani).</p>
<p>Imam Al-Mawardi mengatakan, ”Khitan itu memiliki dua waktu, waktu wajib dan waktu sunah. Waktu wajib adalah masa <em>baligh</em>, sedangkan waktu sunah adalah sebelumnya. Yang paling bagus adalah hari ketujuh setelah kelahiran dan disunahkan agar tidak menunda sampai waktu sunah kecuali ada udzur.&#8221; <em>(Fathul Bari</em>, 10:342).</p>
<h3>Walimah (perayaan) Khitan</h3>
<p>Acara walimah khitan merupakan acara yang sangat biasa dilakukan oleh umat Islam di Indonesia, atau mungkin juga di negeri lainnya. Persoalannya, apakah acara semacam itu ada tuntunannya atau tidak ?</p>
<p>Utsman bin Abil ‘Ash diundang ke (perhelatan) Khitan, dia enggan untuk datang lalu dia diundang sekali lagi, maka dia mengatakan, ”Sesungguhnya kami dahulu pada masa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak mendatangi walimah khitan dan tidak diundang.” (HR. Imam Ahmad)</p>
<p>Berdasarkan <em>atsar</em> dari Utsman bin Abil ’Ash di atas, walimah khitan merupakan sesuatu yang tidak disyariatkan, walaupun <em>atsar</em> ini dari sisi sanad tidak shahih, tetapi ini merupakan pokok, yaitu tidak adanya walimah khitan. Karena khitan merupakan hukum syar’i, maka setiap amal yang ditambahkan pada khitan tersebut harus ada dalilnya dari Alquran dan sunah. Walimah ini merupakan amalan yang disandarkan dan dikaitkan dengan khitan, maka membutuhkan dalil untuk membolehkannya. Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memudahkan kaum muslimin untuk menjalankan sunnah yang mulia ini.</p>
<p>Sumber: muslimah.or.id (dengan edit bahasa oleh tim <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/mencukur-bulu-kemaluan">Mencukur Bulu Kemaluan</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-khitan-bagi-wanita">Hukum Wanita di Khitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wudhu bagi Wanita Haid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wudhu-wanita-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wudhu-wanita-haid#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 23:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[bulanan wanita]]></category>
		<category><![CDATA[fikih wanita]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[kewanitaan]]></category>
		<category><![CDATA[mentruasi]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6677</guid>
		<description><![CDATA[Jika wanita haid wudhu Ustadz, apakah ada larangan bagi wanita haid untuk berwudhu? Wanita haid sedang berhadas, apakah dengan wudhu, status berhadasnya bisa menjadi suci, karena fungsi wudhu &#8216;kan untuk bersuci? Ellis Khairunnisa (**_elis@***.com) Jawaban untuk wanita yang haid dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Jika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wudhu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wudhu">wudhu</a><strong> </strong></h2>
<p>Ustadz, apakah ada larangan bagi wanita haid untuk berwudhu? Wanita haid sedang berhadas, apakah dengan <span style="text-decoration: underline;">wudhu</span>, status berhadasnya bisa menjadi suci, karena fungsi <strong>wudhu</strong> &#8216;kan untuk bersuci?</p>
<h3><em>Ellis Khairunnisa (**_elis@***.com)</em><br />
<span id="more-6677"></span><br />
Jawaban untuk wanita yang haid dan melakukan wudhu:</h3>
<blockquote><p><strong>Tidak disyariatkan bagi wanita haid untuk berwudhu karena <a title="Berwudhu Sambil Berbicara, Bolehkah?" href="http://konsultasisyariah.com/berwudhu-sambil-berbicara-bolehkah" target="_blank">wudhu</a> wanita haid tidak menghilangkan status hadasnya. </strong></p></blockquote>
<p>Imam Nawawi mengatakan, &#8220;Para ulama mazhab kami (Syafi&#8217;iyah) sepakat bahwa tidak dianjurkan bagi wanita haid atau nifas untuk berwudhu (sebelum tidur) karena wudhunya tidak berdampak pada statusnya, karena ketika darah haidnya sudah berhenti (sedangkan dia belum mandi suci), hukumnya seperti orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/junub" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with junub">junub</a>. (<em>Syarh Shahih Muslim</em>, 3:218)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>wudhu</strong>, <strong>bulanan wanita</strong>, <strong>kewanitaan</strong>, <strong>fikih wanita</strong>, <strong>mentruasi</strong>, <strong>haid</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wudhu-wanita-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Wanita Haid Menghidupkan Lailatul Qadar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-untuk-wanita-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-untuk-wanita-haid#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 01:27:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6768</guid>
		<description><![CDATA[Lailatul qadar untuk wanita haid Bagaimana cara wanita haid menghidupkan lailatul qadar? Jawaban: Untuk wanita haid yang ingin medapatkan malam lailatul qadar Wanita haid bisa melakukan banyak ibadah selain shalat. Juwaibir mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh-Dhahak, “Bagaimana pendapatmu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/lailatul-qadar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with lailatul qadar">Lailatul qadar</a> untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a><br />
</strong></h2>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> cara wanita haid menghidupkan <strong><em>lailatul qadar</em></strong>?<br />
<span id="more-6768"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h2><strong>Untuk wanita haid yang ingin medapatkan malam lailatul qadar<br />
</strong></h2>
<p>Wanita haid bisa melakukan banyak ibadah selain <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>.</p>
<p>Juwaibir mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh-Dhahak, “Bagaimana pendapatmu tentang wanita nifas, haid, musafir, dan orang yang tidur; apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari <em>lailatul qadar</em>?” Adh-Dhahak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Setiap orang yang Allah terima amalannya akan mendapatkan bagian <a title="lailatul qadar dan tanda-tandanya" href="http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-tanda-tanda-nya" target="_blank"><span style="text-decoration: underline;"><em>lailatul qadar</em></span></a>.” (<em>Lathaif Al-Ma’arif</em>, hlm. 341)</p>
<p>Keterangan ini menunjukkan bahwa wanita haid, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian <strong><em>lailatul qadar</em></strong>. Hanya saja, wanita haid dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat. Untuk bisa mendapatkan banyak pahala ketika <em>lailatul qadar</em>, wanita haid atau nifas masih memiliki banyak kesempatan ibadah. Di antara bentuk ibadah yang bisa dilakukan adalah:</p>
<ol>
<li>Membaca Alquran tanpa menyentuh mushaf.</li>
<li>Berzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (la ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zikir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zikir">zikir</a> lainnya.</li>
<li>Memperbanyak istigfar.</li>
<li>Memperbanyak doa.</li>
<li>Membaca zikir ketika <em>lailatul qadar</em>, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat dari Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, &#8220;Aku bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai satu malam yang itu merupakan <em>lailatul qadar</em>, apa yang aku ucapkan?&#8217; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, &#8220;Ucapkanlah, &#8216;اللَّـهُـمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُـحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي&#8217; (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Pemaaf dan Pemurah maka maafkanlah diriku.)&#8217;&#8221; (Hadis sahih; diriwayatkan At-Turmudzi dan Ibnu majah)</li>
</ol>
<p>Dalam <em>Fatwa Islam Tanya-Jawab</em> dijelaskan, &#8220;Wanita haid boleh melakukan semua bentuk ibadah, kecuali shalat, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a>, tawaf di ka&#8217;bah, dan i&#8217;tikaf di masjid. Menghidupkan <em>lailatul qadar</em> tidak hanya dengan shalat, namun mencakup semua bentuk ibadah. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, &#8216;Makna &#8216;menghidupkan malam lailatul qadar&#8217; adalah begadang di malam tersebut dengan melakukan ketaatan.&#8217; An-Nawawi mengatakan, &#8220;Makna &#8216;menghidupkan lailatul qadar&#8217; adalah menghabiskan waktu malam tersebut dengan bergadang untuk shalat dan amal ibadah lainnya.&#8217;&#8221;</p>
<h3>Kesimpulan: Meskipun wanita berhalangan, mereka masih mampu untuk mendapatkan malam lailatul qadar.</h3>
<p><strong>Sumber</strong>: <em>http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753</em></p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong></p>
<p><strong>Artikel www.KonsultasiSyariah.com</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>lailatul qadar</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-untuk-wanita-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khitan Bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 08:55:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[khitan]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6634</guid>
		<description><![CDATA[Khitan Bagi Wanita Syekh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Wahai Syekh yang mulia, berkaitan dengan khitan bagi wanita, apakah hukumnya wajib ataukah sunah?” Beliau rahimahullah menjawab, &#8220;Yang paling tepat dari perkataan para ulama dalam masalah ini adalah pendapat yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/khitan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with khitan">Khitan</a> Bagi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">Wanita</a></h2>
<p>Syekh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> ditanya, “Wahai Syekh yang mulia, berkaitan dengan khitan bagi wanita, apakah hukumnya wajib ataukah sunah?”<br />
<span id="more-6634"></span><br />
Beliau <em>rahimahullah</em> menjawab,</p>
<p>&#8220;<strong>Yang paling tepat dari perkataan para ulama dalam masalah ini adalah pendapat yang pertengahan, bahwa khitan itu wajib bagi laki-laki, namun tidak wajib bagi wanita.</strong> Perbedaannya sangat jelas sekali karena kulit khitan yang ada pada laki-laki, jika dibiarkan, dapat memberikan efek bahaya ketika kencing. Efek lainnya lagi, kemaluannya akan lebih mudah terkontaminasi di daerah antara kulit khitan&#8211;yang nanti akan dipotong&#8211;dan kemaluannya. Hal ini tidak kita jumpai pada wanita. Oleh karena itu, yang benar di antara pendapat ulama tentang masalah ini, khitan itu wajib bagi laki-laki dan sunah bagi wanita.</p>
<p>Sebagian ulama memang mengatakan bahwa khitan wajib bagi keduanya. Sebagian yang lain mengatakan bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> khitan itu hanyalah sunah bagi keduanya. Namun, yang tepat adalah pendapat yang pertengahan, bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> khitan itu wajib bagi laki-laki dan sunah bagi wanita.&#8221; (<em>Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh</em>, Syekh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin, kaset no. 16)</p>
<p>Riyadh, KSA, 16 Dzulhijjah 1431 H (22/11/2010 M)</p>
<p><strong>Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<p><strong>Sumber: </strong><em>www.rumaysho.com</em></p>
<p><strong>Dipublikasikan ulang oleh www.KonsultasiSyariah.com, disertai penyuntingan bahasa.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>khitan</strong>, <strong>wanita</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baru Tahu Suci dari Haid Setelah Subuh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/setelah-subuh-baru-tahu-suci-dari-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/setelah-subuh-baru-tahu-suci-dari-haid#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 06:10:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[niat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6494</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Jika ada wanita haid yang setelah subuh baru mengetahui bahwa dia telah suci, apakah dia wajib puasa di hari itu atau harus mengqadhanya, karena dia belum berniat di malam hari? Jawaban: Alhamdulillah washshalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah. Wanita haid yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika ada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a> yang setelah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with subuh">subuh</a> baru mengetahui bahwa dia telah suci, apakah dia wajib <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> di hari itu atau harus mengqadhanya, karena dia belum berniat di malam hari?<br />
<span id="more-6494"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillah washshalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah.</em></p>
<p>Wanita haid yang telah <strong>suci</strong> sebelum subuh dan setelah subuh baru tahu bahwa dirinya telah suci, sementara dia belum mengonsumsi apa pun, maka <strong>hendaknya dia lanjutkan puasa dan puasanya sah, serta tidak wajib qadha</strong>, karena berniat puasa di malam hari tidak mungkin dia lakukan. Ada yang mengatakan bahwa keadaan ini merupakan pengecualian terhadap yang disebutkan dalam hadis dari Hafshah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له</strong></p>
<p>&#8216;<em>Siapa saja yang belum berniat puasa sebelum fajar maka tidak ada <strong>puasa</strong> baginya</em>.&#8217; (H.r. Abu Daud, Nasa&#8217;i, dan Turmudzi; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani dalam <em>Shahih Jami&#8217;ush Shaghir</em>, no. 6538)</p>
<p>Hadis di atas merupakan dalil wajibnya niat, dan berniat harus dilakukan di malam hari. Hanya saja, kewajiban ini dipahami untuk orang yang mampu untuk itu, karena tidak ada beban syariat kecuali sesuai kemampuan. Dengan demikian, hadis ini dikecualikan untuk orang yang tidak mampu, sementara dia baru tahu di siang hari bahwa dia harus <strong>puasa</strong>. Seperti, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> kecil yang baru balig, orang gila yang baru sadar, orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> yang baru masuk islam, atau orang yang orang yang baru tahu di siang hari bahwa hari itu sudah tanggal 1 Ramadan. Ini sebagaimana hadis dari Salamah bin Akwa&#8217; dan dari Rubayi&#8217; binti Mu&#8217;awidz bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan seseorang dari Bani Aslam untuk mengumumkan, “<em>Siapa saja yang sudah makan hendaknya dia puasa di sisa harinya dan siapa yang belum makan, jangan makan</em>.” (H.r. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Jawaban dari Syekh Muhammad Ali Farkus (seorang ulama Aljazair) </strong></p>
<p><strong>Diterjemahkan oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah.com</a>) dari <em>http://www.ferkous.com/rep/<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a>-fatawa/Bg4.php</em></strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>puasa</strong>, <strong>haid</strong>, <strong>niat puasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/setelah-subuh-baru-tahu-suci-dari-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Mengetahui Masa Suci Haid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/berhenti-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/berhenti-haid#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 02:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[maksud dari al-qashshah al-baidha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6438</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana mengetahui keadaan kita sudah suci dari haid. Apakah boleh menunda bersuci dari haid sampai sore (magrib) tiba, padahal sudah suci saat zuhur atau asar? Lina (lina**@***.com) Jawaban: Cara mengetahui masa suci haid ada dua: Pertama, terputusnya darah dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> mengetahui keadaan kita sudah suci <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dari-haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dari haid">dari haid</a>. Apakah boleh menunda bersuci <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dari-haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dari haid">dari haid</a> sampai sore (magrib) tiba, padahal sudah suci saat zuhur atau asar?</p>
<p><em>Lina (lina**@***.com)</em><br />
<span id="more-6438"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Cara mengetahui masa suci <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a></strong> ada dua:</p>
<p><em><strong>Pertama</strong></em>, terputusnya darah dan tempat keluarnya darah telah kering. Dalam konidisi ini, andaikan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> tersebut memasukkan kapas atau semacamnya ke tempat keluarnya haid, kemudian dikeluarkan dalam keadaan <strong>bersih dan tidak ada bekas</strong> darah, cairan kekuningan, atau pun cairan kecoklatan.</p>
<p>Imam Al-Bukhari membuat satu bab dalam masalah ini dalam kitab<em> Shahih</em>-nya. Dalam bab tersebut, beliau membawakan atsar, &#8220;<em>Dahulu para wanita menemui Aisyah dengan membawa tas kecil berisi kapas yang ada shufrahnya. Kemudian Aisyah mengatakan, &#8216;Jangan terburu-buru, sampai kalian melihat al-qashshah al-baidha&#8217;</em>.&#8221; Al-Bukhari mengatakan, &#8220;Maksud Aisyah adalah suci dari haid.&#8221;</p>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>, keluarnya cairan putih (<em>al-qushshah al-baidha&#8217;</em>). Sebagian wanita tidak melihat cairan ini sama sekali.</p>
<p><strong>Disadur dari <em>www.islamqa.com</em>, dengan beberapa penambahan dari <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah.com</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>maksud dari al-qashshah al-baidha</strong>, <strong>haid</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/berhenti-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batas Shalat Ketika Hendak Melahirkan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/shalat-ibu-hamil</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/shalat-ibu-hamil#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 22:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[bumil mual waktu wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[darah nifas setelah melahirkan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita hamil salat]]></category>
		<category><![CDATA[kapan msuk nifas pada persalinan]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[wajib solat ibu baru melahirkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5831</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bismillah. Ustadz, bagaimana hukum shalat wanita yang sedang dalam kondisi hampir melahirkan, di mana ia sudah tidak berdaya karena sakitnya proses persalinan sementara sudah masuk waktu shalat? Apakah ia sudah dihukumi nifas atau wajib meng-qadha shalatnya pada waktu selesai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Bismillah</em>. Ustadz, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> yang sedang dalam kondisi hampir melahirkan, di mana ia sudah tidak berdaya karena sakitnya proses persalinan sementara sudah masuk waktu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>? Apakah ia sudah dihukumi nifas atau wajib meng-<em>qadha</em> shalatnya pada waktu selesai nifasnya? <em>Jazakumullahu khairan</em>.</p>
<p><em>Umi Saad (**saad@***.com) </em><br />
<span id="more-5831"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah</em>.</p>
<p>Tentang darah yang keluar beberapa saat sebelum melahirkan, dirinci menjadi dua.</p>
<ol>
<li> Jika keluarnya darah tersebut <strong>disertai dengan sakitnya kontraksi</strong> karena proses pembukaan maka darah adalah darah <strong>nifas</strong>.</li>
<li>Jika keluarnya darah tersebut <strong>tidak disertai dengan kontraksi</strong> maka darah itu bukan nifas, tetapi <strong><em>istihadah</em></strong>.</li>
</ol>
<p>Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin menerangkan bahwa Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, &#8220;Darah yang dilihat wanita ketika mulai berkontraksi itu berstatu sebagai darah nifas. Yang dimaksud &#8220;kontraksi&#8221; adalah &#8216;proses pembukaan yang merupakan tahapan proses melahirkan&#8217;. Jika tidak disertai kondisi semacam ini maka bukan nifas.&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa Syaikh Ibni Utsaimin</em>, 4:328)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>wajib solat ibu baru melahirkan</strong>, <strong>darah nifas setelah melahirkan</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>bumil mual waktu wudhu</strong>, <strong>kapan msuk nifas pada persalinan</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>hukum wanita hamil salat</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/shalat-ibu-hamil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunda Mandi Haid Hingga Terbit Fajar Ketika Puasa</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/puasa-wanita-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/puasa-wanita-haid#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 09:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[antara terbit fajar dan shalat suboh]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya puasa kalau mandi junubnya jam 8 pagi]]></category>
		<category><![CDATA[apakah boleh berpuasa ketika belum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[apakah orang yang berpuasa harus suci]]></category>
		<category><![CDATA[apakah sah kalau puasa sedang keadaan belum suci belum mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[apakah sah kalo saya puasa sesudah onani tapi belum mandi wajib yahoo]]></category>
		<category><![CDATA[apakah seseorang boleh berpuasa apabila belum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[aturan puasa wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan untuk mandi bersih]]></category>
		<category><![CDATA[batas terbit fajar dibulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[beda agama]]></category>
		<category><![CDATA[belom mandi wajib ikut puasa]]></category>
		<category><![CDATA[belum mandi junub apakah boleh puasa]]></category>
		<category><![CDATA[belum mandi junub ketika waktu subuh datang]]></category>
		<category><![CDATA[belum mandi wajib saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[belum mandi wajib waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[berpuasa dalam keadaan tidak bersih]]></category>
		<category><![CDATA[berpuasa sebelum mandi besar hukumnya gimana]]></category>
		<category><![CDATA[bila belum mandi wajib tidak boleh puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[boleh puasa jika sudah mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[boleh puasa mandi wajib terbit fajar]]></category>
		<category><![CDATA[boleh shalat sebelum mandi bersih]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah bila wanita itu puasa bila lagi halangan]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkan berpuasa sebelum mandi hadas]]></category>
		<category><![CDATA[cara cara mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[crane#hl=en]]></category>
		<category><![CDATA[dari haid]]></category>
		<category><![CDATA[doa niat mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid blm mandi wajib berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid ketika bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid pada waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid saat bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[halal atau tidak puasa sebelum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berpuasa haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berpuasa ketika haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mandi setelah haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa bagi orang yang belum suci]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa jika tidak mandi wajib bila matahari terbit di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa sebelum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[hukum suci haid dalam bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tidak mandi wajib selepas terbitnya matahari di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya menunda menggauli isteri]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jika belum mandi besar dikarenakan menstruasi di pagi hari masih diperbolehkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[jika belum mandi junub sah atau tidak puasa seseorang]]></category>
		<category><![CDATA[junub]]></category>
		<category><![CDATA[junub haid puasa]]></category>
		<category><![CDATA[junub lupa mandi puasanya sah ga ya?]]></category>
		<category><![CDATA[kapan waktu datangnya terbit fajar]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[lupa belum mandi junub apakah boleh berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi besar haid bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi besar setelah haid harus ikut puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi hadas haid bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi hadas haid bulan puasa sebelum matahari terbit]]></category>
		<category><![CDATA[mandi haid]]></category>
		<category><![CDATA[mandi haid ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi haid ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub saat matahari terbit]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub setelah datang waktu subuh di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub setelah terbit fajar membatalkan puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[mandi setelah haid pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi suci daripada haid dalam bulan ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib bulan puasa matahari terbit]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib dan puasa dan haid]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib dari haid bulan ramadab]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib jam 8 bagaimana hukum puasanya]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib pas puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib saat pagi puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib selepas terbit matahari]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib selepas terbit matahari di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib setelah sahur. bisa puasa]]></category>
		<category><![CDATA[menunda mandi hingga fajar terbit]]></category>
		<category><![CDATA[nabi isa]]></category>
		<category><![CDATA[niat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang belum mandi junub apakah bisa puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa haid]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sebelum mandi haidh]]></category>
		<category><![CDATA[qada solat kerana haid]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sah gak puasa kalau belum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat subuh]]></category>
		<category><![CDATA[sholat setelah fajar]]></category>
		<category><![CDATA[subuh]]></category>
		<category><![CDATA[sudah suci dari haid tapi belum bisa mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[tanda tanda suci dari haid]]></category>
		<category><![CDATA[terbit fajar]]></category>
		<category><![CDATA[terbit fajar sebelum matahari terbit]]></category>
		<category><![CDATA[waktu mandi besar pada waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[waktu mandi wajib bagi wanita yang berhenti haid sebelum terbit fajar ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[waktu mandi wajib haid]]></category>
		<category><![CDATA[wanita haid dan puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[wanita haid di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5810</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ada seorang wanita yang haidnya telah berhenti sebelum fajar tetapi dia baru mandi setelah terbit fajar, bagaimana hukum puasanya? Jawaban: Puasanya sah jika dia yakin telah suci sebelum terbit fajar. Yang penting dia yakin bahwa dirinya suci, karena sebagian ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ada seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> yang haidnya telah berhenti sebelum fajar tetapi dia baru mandi setelah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/terbit-fajar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with terbit fajar">terbit fajar</a>, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> puasanya?<br />
<span id="more-5810"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Puasanya sah jika dia yakin telah suci sebelum terbit fajar. Yang penting dia yakin bahwa dirinya suci, karena sebagian mengira bahwa dirinya telah suci tapi ternyata belum. Maka dari itu, ada seorang wanita datang kepada Aisyah dengan membawa kapas, lalu memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kesucian. Aisyah berkata kepadanya, “Janganlah tergesa-gesa hingga kamu melihat kapas itu putih.” Maka, wanita itu harus berhati-hati hingga dia yakin bahwa dia telah suci. Jika dia telah suci, maka dia boleh berniat puasa walaupun belum mandi, kecuali setelah terbit fajar. Tetapi dia juga harus memperhatikan shalat, sehingga dia segera mandi dan mengerjakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat subuh">shalat Subuh</a> pada waktunya.</p>
<p>Kami pernah mendengar, ada sebagian wanita yang telah suci setelah terbit<a href="http://konsultasisyariah.com/niat-puasa" target="_blank"><strong> fajar</strong></a> atau sebelumnya, tetapi dia tidak segera mandi hingga setelah matahari terbit dengan alasan bahwa dia ingin mandi dengan sempurna, lebih bersih dan lebih suci. Cara semacam ini salah, baik di bulan Ramadhan, maupun di luar Ramadhan, karena yang wajib dilakukannya adalah segera mandi dan shalat pada waktunya. Dia harus segera mandi wajib agar bisa melaksankan shalat. Jika dia ingin lebih bertambah suci dan bersih setelah matahari terbit, maka dia bisa mandi lagi setelah itu.</p>
<p>Seperti wanita <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a> ini, jika ada wanita <strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/junub" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with junub">junub</a></strong> dan belum mandi kecuali setelah terbit fajar, maka tidak apa-apa dan <a href="http://konsultasisyariah.com/wanita-hamil-puasa" target="_blank"><strong>puasa</strong></a>nya sah. Begitu juga seorang laki-laki yang junub dan belum mandi kecuali setelah terbit fajar dan dia puasa, maka hukumnya boleh, karena dijelaskan dalam sebuah hadits dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwas beliau menemui waktu fajar dalam keadaan junub karena menggauli isterinya, lalu beliau puasa dan mandi setelah terbit fajar (HR. al-Bukhari dan Muslim). Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Sumber: <em>Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haji-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haji">Haji</a> (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin,</em> Darul Falah, 2007</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>halal atau tidak puasa sebelum mandi wajib</strong>, <strong>apakah orang yang berpuasa harus suci</strong>, <strong>yesus</strong>, <strong>mandi wajib bulan puasa matahari terbit</strong>, <strong>nabi isa</strong>, <strong>sah gak puasa kalau belum mandi wajib</strong>, <strong>mandi wajib saat pagi puasa</strong>, <strong>hukum puasa jika tidak mandi wajib bila matahari terbit di bulan puasa</strong>, <strong>niat puasa</strong>, <strong>mandi hadas haid bulan puasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/puasa-wanita-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencumbu Kemaluan Istri</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mencumbu-kemaluan-istri</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mencumbu-kemaluan-istri#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 22:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[adab menggauli istri di bulan suci ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[adab punya istri dua]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana hukumnya menjilati kemaluan istri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah mencium kemaluan istri]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah mencium kemaluan saat berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah menjilat vagina istri dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[cara menggauli istri]]></category>
		<category><![CDATA[cara menggauli suami]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam mencium pasangan saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum melihat kemaluan istri]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menjilat vagina istri bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[jilat kemaluan]]></category>
		<category><![CDATA[keluar madzi saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mencium istri dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[mencium kemaluan istri diperbolehkan]]></category>
		<category><![CDATA[mencium kemaluan istri menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[mencium vagina istri dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[obat dubur]]></category>
		<category><![CDATA[puasa melihat kemaluan istri suami]]></category>
		<category><![CDATA[zikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5545</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Bolehkah mencium kemaluan istri sendiri, menurut Islam? Syarif (cie**@***.com) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah. Bismillah. Diperbolehkan bagi masing-masing suami-istri untuk menikmati keindahan tubuh pasangannya. Allah berfirman, هن لباس لكم وأنتم لباس لهن&#60;.p&#62; “Para istri kalian adalah pakaian bagi kalian, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bolehkah-mencium-kemaluan-istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bolehkah mencium kemaluan istri">Bolehkah mencium kemaluan istri</a> sendiri, menurut Islam?</p>
<p><em>Syarif (cie**@***.com)</em><br />
<span id="more-5545"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah</em>.</p>
<p>Bismillah.</p>
<p>Diperbolehkan bagi masing-masing suami-<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri">istri</a> untuk menikmati keindahan tubuh pasangannya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>هن لباس لكم وأنتم لباس لهن</strong>&lt;.p&gt;</p>
<p>“<em>Para istri kalian adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi istri kalian</em>.” (Q.S. Al-Baqarah:187)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم</strong></p>
<p>“<em>Para istri kalian adalah ladang bagi kalian. Karena itu, datangilah ladang kalian, dengan cara yang kalian sukai</em>.” (Q.S. Al-Baqarah:223)</p>
<p>Hanya saja, ada dua hal yang <strong>perlu diperhatikan</strong>:</p>
<ul>
<li>Menjauhi cara yang dilarang dalam syariat, di antaranya: (1) Menggauli istri di duburnya; (2) Melakukan hubungan badan ketika sang istri sedang &#8220;datang bulan&#8221;. Kedua perbuatan ini termasuk dosa besar.</li>
<li>Hendaknya dalam koridor menjaga adab-adab Islam dan tidak menyimpang dari fitrah yang lurus.</li>
</ul>
<p>Tentang mencium atau menjilati kemaluan pasangan, tidak terdapat dalil tegas yang melarangnya. Hanya saja, perbuatan ini bertentangan dengan fitrah yang lurus dan adab Islam. Betapa tidak, kemaluan, yang menjadi tempat keluarnya benda najis, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> mungkin akan ditempelkan di lidah, yang merupakan bagian anggota badan yang mulia, yang digunakan untuk berzikir dan membaca Alquran?</p>
<p>Oleh karena itu, selayaknya tindakan tersebut ditinggalkan, dalam rangka:</p>
<ul>
<li>Menjaga kelurusan fitrah yang suci dan adab yang mulia.</li>
<li>Menjaga agar tidak ada cairan najis yang masuk ke tubuh kita, seperti: madzi.</li>
</ul>
<p>Ini semua merupakan bagian dari usaha menjaga kebersihan dan kesucian jiwa. Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya, Allah mencintai orang yang bertobat dan mencintai orang yang menjaga kebersihan</em>.” (Q.S. Al-Baqarah:222)</p>
<p>Maksud ayat adalah Allah mencintai orang menjaga diri dari segala sesuatu yang kotor dan mengganggu. Termasuk sesuatu yang kotor adalah benda najis, seperti: madzi. Sementara, kita sadar bahwa, dalam kondisi semacam ini, tidak mungkin jika madzi tidak keluar. Padahal, benda-benda semacam ini tidak selayaknya disentuhkan ke bibir atau ke lidah. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.  (Disarikan dari <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bolehkah menjilat vagina istri dalam islam</strong>, <strong>keluar madzi saat puasa</strong>, <strong>bagaimana hukumnya menjilati kemaluan istri sendiri</strong>, <strong>hukum menjilat vagina istri bulan puasa</strong>, <strong>istri</strong>, <strong>bolehkah mencium kemaluan istri</strong>, <strong>mencium istri dalam islam</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hukum melihat kemaluan istri</strong>, <strong>zikir</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mencumbu-kemaluan-istri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Ketika Istihadah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/shalat-ketika-istihadah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/shalat-ketika-istihadah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 22:37:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah puasa jika masih mens?]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah shalat darah istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkan sholat tarawih saat istihadhah]]></category>
		<category><![CDATA[cara bersolat semasa istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[cara salatnya wanita yang mengeluarkan darah istihazoh]]></category>
		<category><![CDATA[cara sholat wanita istihadhoh]]></category>
		<category><![CDATA[cara sholat wanita yang istihadhoh]]></category>
		<category><![CDATA[darah haid normal menurut syariat islam]]></category>
		<category><![CDATA[darah istihadah , bolehkah berpuasa?]]></category>
		<category><![CDATA[darah istihadah di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[darah istihadah terawih]]></category>
		<category><![CDATA[darah penyakit bolehkah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid istihadah puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berpuasa ketika istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menstruasi yang tidak normal dalam puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa di saat istikhadoh]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa wanita istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[istihadah di buan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[istihadah saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[istihadah wudhuk solat terawih]]></category>
		<category><![CDATA[istihadah, solat]]></category>
		<category><![CDATA[istihadhah, puasa]]></category>
		<category><![CDATA[kesan melakukan hubungan ketika dalam istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mandi haid]]></category>
		<category><![CDATA[puasa bagi wanita istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa bagi wanita mengalami istihadhah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa dalam keadaan istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa dan istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat masih haid]]></category>
		<category><![CDATA[solat bagi wanita yang mengalami darah istihadhah]]></category>
		<category><![CDATA[solat tarawih ketika istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[solat tarawikh ketika istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[solat terawih istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[solat waktu istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih semasa istihadah]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara sholat wanita istihadhah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5328</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya punya teman (ibu rumah tangga). Dia sudah 2 bulan mendapatkan haid yang tidak berhenti. Setelah diperiksa, ternyata dia terkena infeksi rahim. Bolehkah dia shalat meski masih haid? Widya (herdya**@***.com) Jawaban: Bismillah. Itu bukan haid, tetapi darah istihadah. Wanita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya punya teman (ibu rumah tangga). Dia sudah 2 bulan mendapatkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a> yang tidak berhenti. Setelah diperiksa, ternyata dia terkena infeksi rahim. Bolehkah dia <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> meski masih haid?</p>
<p><em>Widya (herdya**@***.com)</em><br />
<span id="more-5328"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Bismillah. <strong>Itu bukan haid, tetapi darah istihadah</strong>. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">Wanita</a> yang mengeluarkan darah istihadah, statusnya, sama dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> suci (tidak haid), sehingga dia tetap wajib shalat dan boleh melakukan hubungan badan dengan suaminya.</p>
<p>Dalam kondisi ini, darah haid yang keluar biasanya bersambung dengan darah istihadah (darah penyakit). Untuk itu, cara membedakannya adalah dengan menggunakan acuan tanggal kebiasaan keluarnya darah haid pada kondisi normal, berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada Ummu Habibah (salah satu shahabat wanita yang mengalami istihadah),</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>امكثي قدر ما كانت تحبسك حيضتك ثم اغتسلي وصلي</strong></p>
<p>&#8220;<em>Tinggalkan shalat pada tanggal-tanggal ketika engkau mengalami haid, kemudian mandilah dan shalatlah</em>.&#8221; (H.R. Muslim)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum berpuasa ketika istihadah</strong>, <strong>darah haid normal menurut syariat islam</strong>, <strong>cara salatnya wanita yang mengeluarkan darah istihazoh</strong>, <strong>solat bagi wanita yang mengalami darah istihadhah</strong>, <strong>haid istihadah puasa</strong>, <strong>tata cara sholat wanita istihadhah</strong>, <strong>mandi haid</strong>, <strong>istihadah saat puasa</strong>, <strong>istihadah di buan puasa</strong>, <strong>hukum puasa wanita istihadah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/shalat-ketika-istihadah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meng-qadha&#8217; Shalat Ketika Haid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/meng-qadha-shalat-ketika-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/meng-qadha-shalat-ketika-haid#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 05:42:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[ada halangan nggak sholat teraweh]]></category>
		<category><![CDATA[adakah perempuan haid wajib qada puasa]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apakah setelah haid wanita wajib mengqodo shalat nya]]></category>
		<category><![CDATA[berpuas ketika haid]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah mengqada shalat]]></category>
		<category><![CDATA[cara qadha puasa bagi haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid qadha shalat]]></category>
		<category><![CDATA[haid sholat puasa islam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa saat menstruasi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qodho sholat bagi orang yang lagi haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum shalat qadha]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa bagi wanita yg haid tidak wajib meng-qadha shalatnya]]></category>
		<category><![CDATA[mengqada shalat setelah menstruasi]]></category>
		<category><![CDATA[mengqadha sholat bagi wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[menqada solat yang ditinggalkan saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[qada' shalat setelah haid]]></category>
		<category><![CDATA[qadha shalat ketika haid]]></category>
		<category><![CDATA[qodho sholat]]></category>
		<category><![CDATA[qodho sholat bagi wanita haidh]]></category>
		<category><![CDATA[seputar qodho sholat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat qodho karena haid]]></category>
		<category><![CDATA[sholat wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[solat qodo pada orang haid]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara meng,qoda shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara mengqadha shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara sholat bagi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara sholat orang haid]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara sholat qodo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5321</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh. Apakah selama kita haid shalat kita harus di-qadha&#8217;? Karena jika tidak di-qadha&#8217; itu hukumnya haram, apakah benar? Terima kasih sebelumnya. Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh. Nurhikmah (NUR_**@***.com) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Ketika wanita sedang haid atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>. Apakah selama kita <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> kita harus di-<em>qadha&#8217;</em>? Karena jika tidak di-<em>qadha&#8217;</em> itu hukumnya haram, apakah benar? Terima kasih sebelumnya. <em>Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>.</p>
<p><em>Nurhikmah (NUR_**@***.com)</em><br />
<span id="more-5321"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> sedang haid atau nifas, dia <strong>tidak diperbolehkan</strong> melaksanakan shalat; <strong>tidak ada kewajiban</strong> meng-<em>qadha&#8217;</em> shalat yang ditinggalkan. Hal ini berdasarkan hadis dari Aisyah; beliau mengatakan, &#8220;<em>Ketika haid, kami diperintahkan untuk meng-qadha&#8217; <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha&#8217; shalat.</em>&#8221; (H.R. Bukhari)</p>
<p>Ini adalah akidah <em>ahlus sunnah wal jamaah</em>. Sementara itu, ada sekte yang bernama &#8220;Khawarij&#8221;. Mereka mewajibkan agar wanita meng-<em>qadha&#8217;</em> shalat yang tidak dilaksanakannya semasa haid.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>tata cara meng,qoda shalat</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>apakah setelah haid wanita wajib mengqodo shalat nya</strong>, <strong>tata cara mengqadha shalat</strong>, <strong>berpuas ketika haid</strong>, <strong>haid qadha shalat</strong>, <strong>qodho sholat</strong>, <strong>mengqadha sholat bagi wanita haid</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/meng-qadha-shalat-ketika-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Memotong Kuku atau Rambut ketika Haid?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memotong-kuku-atau-rambut-ketika-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memotong-kuku-atau-rambut-ketika-haid#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 06:37:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[adakah memotong rambut batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukum nya memotong rambut ketika sedang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya memotong kuku di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya memotong kuku di saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya potong kuku dbulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apa kah masturbasi pada wanita membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apa kah puasa boleh potong rambut]]></category>
		<category><![CDATA[apakah boleh potong rambut saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[apakah memotong kuku membatalkan puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[apakah pada saat mens tidak boleh]]></category>
		<category><![CDATA[apakah perempuan puasa gak boleh potong kuku]]></category>
		<category><![CDATA[batal puasa rambut]]></category>
		<category><![CDATA[beribadah saat haid pada bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[boleh gunting rambut di bulan puasa hukum batal]]></category>
		<category><![CDATA[boleh tak potong kuku waktu dalam haid]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah bercukur pada siang hari di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah gunting kuku saat sedang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah masturbasi dilakukan saat menstruasi]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah memandikan mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah memotong kuku saat junub]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah menggunting kuku pada saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah potong kuku saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bulan puasa potong rambut batal atau tidak?]]></category>
		<category><![CDATA[cuci darah bagi wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[fikih hukum menggunting kuku dan rambut saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[gunting kuku saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[gunting rambut batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[gunting rambut haid]]></category>
		<category><![CDATA[gunting rambut puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hadis gunting rambut bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadist larangan memotong rambut saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang memotong kuku pada saat menstruasi]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang memotong kuku saat berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits potong rabmbut saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid potong kuku]]></category>
		<category><![CDATA[haid potong rambut]]></category>
		<category><![CDATA[haid rambut]]></category>
		<category><![CDATA[haidh, potong kuku]]></category>
		<category><![CDATA[haidpoyong rambut]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[haram memotong kuku ketika berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hari yang tepat untuk memotong kuku dan rambut menurut rasullah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum cukur rambut dalam bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum cukur rambut di saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum gunting kuku pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum gunting rambut bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kalau haid potong rambut atau potong kuku]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memotong kuku bagi wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memotong kuku dan rambut saat sedang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memotong kuku pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memotong kuku saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memotong rambut bagi wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memotong rambut bagi yang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memotong rambut dan kuku saat puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mencukur rambut saat puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengetip kuku di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menggunting kuku pada waktu haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menggunting rambut]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menyisir rambut wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong kuku]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong kuku bagi wanita saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong kuku dibulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong kuku ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong kuku pada bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong kuku saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong kuku saat menstruasi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong kuku saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong kuku semasa haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong kuku semasa puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong rambut dan kuku saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong rambut di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong rambut ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum potong rambut saat junub]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita haid memotong rambut]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya bulan puasa kalau potong rambut]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya memotong kuku siang hari pada bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[junub]]></category>
		<category><![CDATA[kanapa tidak boleh potong kuku pada saat haid?]]></category>
		<category><![CDATA[keadaan haid tidak boleh potong kuku]]></category>
		<category><![CDATA[kenapa tidak boleh memotong kuku saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[larangan memotong kuku ketika haid]]></category>
		<category><![CDATA[larangan memotong kuku saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[mandi haid]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku dalam kondisi jinabat]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku dan rambut apakah membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku membatalkan puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku pada bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[memotong kuku saat berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[memotong rambut]]></category>
		<category><![CDATA[memotong rambut ketika haid]]></category>
		<category><![CDATA[mencuci rambut ketika uzur]]></category>
		<category><![CDATA[menggunting kuku batal tidak puasa]]></category>
		<category><![CDATA[menurut islam kenapa rambut wanita sering rontok]]></category>
		<category><![CDATA[menyisir rambut ketika haid]]></category>
		<category><![CDATA[potong bulu pada bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[potong kuku batal gak sih puasanya]]></category>
		<category><![CDATA[potong kuku bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[potong kuku di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[potong kuku haid]]></category>
		<category><![CDATA[potong kuku ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[potong kuku masa puasa]]></category>
		<category><![CDATA[potong kuku saat haid bolehkah?]]></category>
		<category><![CDATA[potong rambut apa membatalkan puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[potong rambut bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[potong rambut di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[potong rambut di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[potong rambut dibulan puasa,,,]]></category>
		<category><![CDATA[potong rambut hukum puasa]]></category>
		<category><![CDATA[potong rambut pada bulan romadhan]]></category>
		<category><![CDATA[potong rambut saat ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[potong rambut waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa boleh gunting rambut?]]></category>
		<category><![CDATA[puasa boleh potong rambut?]]></category>
		<category><![CDATA[puasa boleh tidak potong rambut]]></category>
		<category><![CDATA[puasa menggunting kuku boleh ga sih]]></category>
		<category><![CDATA[puasa potong kuku dan rambut]]></category>
		<category><![CDATA[puasa potong rambut]]></category>
		<category><![CDATA[putung kuku diwaktu puasa boleh gak?]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan potong kuku]]></category>
		<category><![CDATA[rambut]]></category>
		<category><![CDATA[sah ketip kuku di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sebab mengapa tidak boleh memotong kuku ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[tidak boleh gunting kuku rambut saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[tidak boleh gunting kuku saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[tidak boleh membuang rambut saat haid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5266</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu ‘alaikum ustad&#8230;. Apakah boleh memotong kuku atau rambut pada saat haid? Apakah hadist atau ayat yg menyangkut masalah ini? makasih wassalam.. Abdillah XXXXXd  ( illahXXXXXXX@XXXXX.co.id ) Jawaban: Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah… Tidak terdapat riwayat yang melarang wanita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu ‘alaikum ustad</em>&#8230;.</p>
<p>Apakah boleh memotong kuku atau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rambut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rambut">rambut</a> pada saat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a>? Apakah hadist atau ayat yg menyangkut masalah ini?<br />
makasih <em>wassalam</em>..</p>
<p><em>Abdillah XXXXXd  ( illahXXXXXXX@XXXXX.co.id )</em><br />
<span id="more-5266"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah</em>…</p>
<p>Tidak terdapat riwayat yang melarang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> haid untuk memotong kuku maupun rambut. Demikian pula, tidak terdapat riwayat yang memerintahkan agar rambut <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> haid yang rontok utnku di cuci bersamaan dengan mandi paska haid. Bahkan sebaliknya, terdapat riwayat yang membolehkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> haid untuk menyisir rambutnya. Padahal, tidak mungkin ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> yang menyisir rambutnya, tidak ada bagian rambut yang rontok. Disebutkan dalam shahih Bukhari, bahwa ketika Aisyah mengikuti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haji-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haji">haji</a> bersama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sesampainya di Mekkah beliau haid. Kemudian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">&#8230;..<strong>دعي عمرتك وانقضي رأسك وامتشطي</strong></p>
<p><em>“Tinggalkan umrahmu, lepas ikatan rambutmu dan ber-sisir-lah&#8230;”</em></p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa rambut rontok atau potong kuku ketika haid hukumnya sama dengan kondisi suci. Artinya, tidak ada kewajiban untuk memandikannya bersamaan dengan mansi haid. Jika hal ini disyariatkan, tentu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> akan jelaskan kepada Aisyah agar membawa rambutnya dan memandikannya bersamaan dengan mandi haidnya.</p>
<p>Dalam <em>Fatawa Al-Kubra</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terdapat pertanyaan, “Ketika seorang sedang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/junub" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with junub">junub</a>, kemudian memotong kukunya, atau kumisnya, atau menyisir rambutnya. Apakah dia salam dalam hal ini? Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa orang yang memotong rambutnya atau kukunya ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/junub" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with junub">junub</a> maka semua bagian tubuhnya ini akan kembali pada hari kiamat dan menuntut pemiliknya untuk memandikannya, apakah ini benar?”</p>
<p>Syaikhul Islam memberi jawaban “Terdapat hadis shahih dari Hudzifah dan Abu Hurairah <em>radliallahu &#8216;anhuma</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ditanya tentang orang yang junub, kemudian beliau bersabda, ‘<em>Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.’</em> Dalam <em>shahih Al-Hakim</em>, ada tambahan, ‘<em>Baik ketika hidup maupun ketika mati</em>.’ Sementara itu, saya belum pernah mendengar adanya dalil syariat yang memakruhkan potong kuku dan rambut, ketika junub. Bahkan sebaliknya, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyuruh orang yang masuk islam untuk memotong rambutnya dan berkhitan. Beliau juga memerintahkan orang yang masuk islam untuk mandi. Dan beliau tidak memerintahkan agar potong rambut dan khitannya dilakukan setelah mandi. Tidak adanya perintah, menunjukkan bolehnya potong kuku dan berkhitan sebelum mandi…’” (<em>Fatawa Al-Kubra</em>, 1:275)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>gunting rambut batal puasa</strong>, <strong>memotong kuku di bulan puasa</strong>, <strong>memotong rambut ketika haid</strong>, <strong>cuci darah bagi wanita haid</strong>, <strong>bulan puasa potong rambut batal atau tidak?</strong>, <strong>puasa potong kuku dan rambut</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hukum potong rambut ketika puasa</strong>, <strong>bolehkah memandikan mandi junub</strong>, <strong>apakah memotong kuku membatalkan puasa?</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-memotong-kuku-atau-rambut-ketika-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerai karena Mandul</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/cerai-karena-mandul</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/cerai-karena-mandul#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 01:29:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[amin]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bagi hasil]]></category>
		<category><![CDATA[cerai]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[istri tidak hamil suami mandul?]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kunsultasi mandul]]></category>
		<category><![CDATA[menikahi wanita mandul]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[quran tentang perceraian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5261</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Saya mau bertanya, bagaimanakah hukumnya menceraikan istri karena aib pernikahan, seperti: mandul. Apakah &#8220;mandul&#8221; termasuk aib pernikahan? Apakah jalan terbaik bagi suami yang istrinya mandul, tidak dapat memberikan anak, setelah lama menikah? Apakah (solusinya adalah, red.) perceraian? ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. Saya mau bertanya, bagaimanakah hukumnya menceraikan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri">istri</a> karena aib <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a>, seperti: mandul. Apakah &#8220;mandul&#8221; termasuk aib <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a>? Apakah jalan terbaik bagi suami yang istrinya mandul, tidak dapat memberikan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>, setelah lama menikah? Apakah (solusinya adalah, <em>red.</em>) perceraian?</p>
<p><em>NN (**@hotmail.com)</em><br />
<span id="more-5261"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<ol>
<li> Belum dikaruniai anak keturunan, bukan berarti istri mandul. Bisa jadi, suamilah yang mandul.</li>
<li>Bila terbukti secara medis bahwa istri mandul, bukan berarti suami mesti langsung menceraikan, namun masih ada solusi lain, misalnya dengan menjalani pengobatan atau terapi.</li>
<li>Kalau itu belum berhasil, masih ada solusi lain selain perceraian, misalnya: menikah dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> lain dengan tetap mempertahankan istri pertama. Bisa jadi, setelah istri kedua <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a>, istri pertama turut <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a>, sebagaimana yang dialami oleh Sarah, istri Nabi Ibrahim <em>&#8216;alaihissalam</em>.</li>
<li>Perceraian bukanlah solusi yang dianjurkan. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> perasaan Anda bila ternyata secara medis yang mandul adalah suami, lalu istri menuntut di pengadilan agar penikahannya di-<em>fasakh</em>, karena ternyata suaminya tidak bisa menjadikannya hamil layaknya suami-suami lain? Perlakukanlah istri Anda dengan cara-cara yang baik, sebagaimana yang Anda harapkan agar mereka memperlakukan Anda.</li>
</ol>
<p>Semoga Allah <em>ta&#8217;ala</em> segera mengaruniakan anak keturunan yang saleh kepada Saudara.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</p>
<p><strong>Jawaban Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Baderi, M.A.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bagi hasil</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hamil</strong>, <strong>amin</strong>, <strong>quran tentang perceraian</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>kunsultasi mandul</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>istri tidak hamil suami mandul?</strong>, <strong>menikahi wanita mandul</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/cerai-karena-mandul/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum KB-Suntik agar Tidak Haid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-kb-suntik-agar-tidak-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-kb-suntik-agar-tidak-haid#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 06:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukum suntik di saat berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[apakah di bulan puasa boleh suntik]]></category>
		<category><![CDATA[apakah suntik kb dapat membatalkan puasa dilihat dari berbagai ulama]]></category>
		<category><![CDATA[apakah suntik kb membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah di suntik ketika bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah saat puasa suntik kb]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah sedang haid suntil kb]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah wanita melakukan suntik kb pada bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[bulan puasa haid]]></category>
		<category><![CDATA[cara menghentikan darah haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid dengan kb suntik]]></category>
		<category><![CDATA[haid haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum haid kb suntik lebih dari 15 hari]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kb agar tidak haid puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menggosok gigi bln puasa menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menghentikan haid dengan obat untuk puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa bagi wanita yang haid lebih dari 1 bulan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa tidak minum pil kb agar tidak haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum suntik di bulan ramadhan menurut para imam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum suntik kb di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum suntik saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum suntik saat puasa menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tentang minum pil kb agar puasa lengkap]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[kb]]></category>
		<category><![CDATA[kb suntik 1 bulan tidak haid]]></category>
		<category><![CDATA[kb suntik 3 bulan kemana darah haidnya?]]></category>
		<category><![CDATA[kb suntik ketika berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[kb tidak haid suntik]]></category>
		<category><![CDATA[kb.pandangan ushul fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi seputar kb]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[larangan suntik bagi wanita berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[makan obat supaya tidak period ketika berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[menggunakan kb agar puasa penuh satu bulan]]></category>
		<category><![CDATA[menggunakan kb suntik saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[minum pil saat puasa untuk memberhentikan period]]></category>
		<category><![CDATA[obat agar darah berhenti saat bersetubuh]]></category>
		<category><![CDATA[obat agar tidah haid]]></category>
		<category><![CDATA[obat untuk menghentikan menstruasi]]></category>
		<category><![CDATA[orang yg berhalangan puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[setelah suntik kb tidak haid]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[suktik kb utk bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[suntik]]></category>
		<category><![CDATA[suntik kb blm puasa boleh tidak]]></category>
		<category><![CDATA[suntik kb saat bulan puasa boleh nggak?]]></category>
		<category><![CDATA[suntik kb saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[suntik kb waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[suntik puasa]]></category>
		<category><![CDATA[suntikan di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[suntikan kb puasa]]></category>
		<category><![CDATA[tidak haid akibat penggunaan suntik kb]]></category>
		<category><![CDATA[tidak menstruasi karena kb]]></category>
		<category><![CDATA[wanita tidak haid]]></category>
		<category><![CDATA[wanita yang suntik kb dan tidak mengeluarkan darah tapi suatu ketika keluar darah maka itu namanya darah apa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5202</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana pandangan secara syar&#8217;i (tentang) orang yang (melakukan) KB-suntik menjelang bulan Ramadan, dengan tujuan supaya puasanya bisa sebulan penuh, karena KB-suntik menjadikan tidak haid? Didik Abu Nada (**sdik@yahoo.**) Jawaban: Bismillah wash-shalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah. Pembahasan ini sama dengan pembahasan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> pandangan secara syar&#8217;i (tentang) orang yang (melakukan) <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kb" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kb">KB</a>-<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/suntik" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with suntik">suntik</a> menjelang bulan Ramadan, dengan tujuan supaya puasanya bisa sebulan penuh, karena <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kb" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kb">KB</a>-suntik menjadikan tidak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a>?</p>
<p><em>Didik Abu Nada (**sdik@yahoo.**)</em><br />
<span id="more-5202"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah wash-shalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah.</em></p>
<p>Pembahasan ini sama dengan pembahasan menggunakan obat agar darah haid terhenti dan bisa melaksanakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> atau ibadah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haji-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haji">haji</a> sampai selesai. Para ulama telah menegaskan bahwa tindakan semacam ini <strong>diperbolehkan, selama obat tersebut tidak membahayakan dirinya</strong>.</p>
<p>Imam &#8216;Atha pernah ditanya tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> yang sedang haid minum obat agar darah haidnya berhenti; bolehkah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> ini melakukan tawaf? Beliau menjawab, &#8220;Boleh, jika dia telah yakin bahwa darahnya terputus. Namun jika yang terhenti hanyalah darah yang mengalir deras, sementara darah belum putus total maka dia tidak boleh tawaf.&#8221; (<em>Jami&#8217; Ahkam An-Nisa&#8217;</em>, 5:66)</p>
<p>Ibnu Qudamah, dalam kitabnya, <em>Al-Mughni</em>, mengatakan, &#8220;Tidak mengapa bagi seorang wanita minum obat untuk menghentikan haid, jika obat tersebut adalah obat yang sudah dikenal masyarakat.&#8221; (<em>Al-Mughni</em>, 1:409)</p>
<p>Akan tetapi, satu hal yang patut dipahami, bahwa haid termasuk kodrat Allah bagi para kaum hawa. Ketika Aisyah mengalami haid pada waktu haji wada&#8217;, beliau mengalami haid. Kemudian, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menasihatkan agar Aisyah pasrah terhadap ketetapan<br />
takdir ini. Beliau bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>فَإِنَّ ذَلِكَ شَىْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ</strong></p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya, haid adalah kodrat yang Allah tetapkan bagi para wanita keturunan Adam.</em>&#8221; (H.R. Bukhari dan Muslim)</p>
<blockquote><p>Bersikap pasrah dan tunduk kepada takdir Allah itu lebih baik dibandingkan melakukan upaya melawan kodrat, karena belum tentu itu memberikan jaminan keamanan bagi diri sang Wanita.</p></blockquote>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bolehkah saat puasa suntik kb</strong>, <strong>makan obat supaya tidak period ketika berpuasa</strong>, <strong>bolehkah di suntik ketika bulan puasa</strong>, <strong>suntikan di bulan ramadhan</strong>, <strong>apakah di bulan puasa boleh suntik</strong>, <strong>hukum puasa bagi wanita yang haid lebih dari 1 bulan</strong>, <strong>bulan puasa haid</strong>, <strong>hukum suntik di bulan ramadhan menurut para imam</strong>, <strong>haid</strong>, <strong>larangan suntik bagi wanita berpuasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-kb-suntik-agar-tidak-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usia Balig Menurut Islam</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/usia-balig-menurut-islam</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/usia-balig-menurut-islam#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 01:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[darah haid menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mani]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi basah]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi basah dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[tanda balig]]></category>
		<category><![CDATA[umur 15 tahun belum mimpi basah dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5197</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Adakah dalil yang menetapkan usia berapakah seorang anak disebut balig dalam Islam dan ciri-ciri dari seorang anak yang sudah balig? Rafdinal (inal**@***.com) Jawaban: Tanda balig yang disebutkan ulama fikih: 1. Keluarnya mani karena mimpi basah. Ini merupakan tanda yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Adakah dalil yang menetapkan usia berapakah seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> disebut balig dalam Islam dan ciri-ciri dari seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> yang sudah balig?</p>
<p><em>Rafdinal (inal**@***.com) </em><br />
<span id="more-5197"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/tanda-balig" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with tanda balig">Tanda balig</a> yang disebutkan ulama fikih:</p>
<p>1. <strong>Keluarnya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mani" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mani">mani</a> karena <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mimpi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mimpi">mimpi</a> basah</strong>. Ini merupakan tanda yang paling pokok. Dalilnya, &#8220;<em>Pena catatan amal diangkat (tidak ditulis) dari 3 orang: &#8230;, anak kecil sampai dia bermimpi</em>.&#8221;</p>
<p>2. <strong>Tumbuhnya bulu kemaluan</strong>. Dalilnya, peristiwa pembantaian orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/yahudi" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with yahudi">Yahudi</a> Bani Quradzah, yang berkhianat ketika Perang Khandaq. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memutuskan&#8211;melalui Sa&#8217;d bin Mu&#8217;adz&#8211;bahwa lelaki yang telah tumbuh bulu kemaluannya, dibunuh.</p>
<p>3. <strong>Berusia 15 tahun</strong>. Dalilnya, Ibnu Umar pernah mendaftar untuk ikut Perang Badr, namun <em>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menolaknya karena usianya belum genap 15 tahun.</p>
<p>4. <strong>Keluar darah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a>, bagi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a></strong>.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>mimpi basah</strong>, <strong>darah haid menurut islam</strong>, <strong>mimpi</strong>, <strong>yahudi</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>mani</strong>, <strong>umur 15 tahun belum mimpi basah dalam islam</strong>, <strong>tanda balig</strong>, <strong>haid</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/usia-balig-menurut-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Video Panas&#8221; buat Suami Isteri yang Lagi Jauh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/video-panas-buat-suami-isteri-yang-lagi-jauh</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/video-panas-buat-suami-isteri-yang-lagi-jauh#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 06:43:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[adab suami bila jauh dari istri]]></category>
		<category><![CDATA[adab suami isteri di bulan ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[adap berjauhan dengan suami]]></category>
		<category><![CDATA[fidio panas com]]></category>
		<category><![CDATA[gambaran suami]]></category>
		<category><![CDATA[hukum onani di era muslima.com]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[onani]]></category>
		<category><![CDATA[panas]]></category>
		<category><![CDATA[pesugihan.alfatihah@gmail.com]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[seorang suami onani di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[suami isteri ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[suami isteri tinggal berjauhan.bolehkah onani?]]></category>
		<category><![CDATA[suami onani dengan istri]]></category>
		<category><![CDATA[video suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[vidio suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[walpaper doa buat suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5187</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaykum, Ustadz. Kami baru menikah. Sekitar 2 bulan, Suami lanjut kuliah di Timur Tengah, jadi kami berjauhan. Suami minta kirim foto-foto saya dan suruh merekam bikin video agar saya berlenggak-lenggok dengan tanpa sehelai baju. Apa saya harus menuruti ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;"><strong></strong> <strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Assalamu &#8216;alaykum</em>, Ustadz. Kami baru menikah. Sekitar 2 bulan, Suami lanjut kuliah di Timur Tengah, jadi kami berjauhan. Suami minta kirim foto-foto saya dan suruh merekam bikin video agar saya berlenggak-lenggok dengan tanpa sehelai baju. Apa saya harus menuruti keinginan suami saya? Dan bolehkah saya juga minta video suami tanpa baju juga? <em>Syukron wa jazakallahu khairan</em>. <em></em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>NN (**@gmail.com)</em></span><br />
<span style="color: #000000;"> <span id="more-5187"></span></span><br />
<span style="color: #000000;"> <strong>Jawaban:</strong> <em></em></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Wa&#8217;alaikum salam wa rahmatullah</em>. Tidak layak, atau dengan bahasa yang lebih tegas: <strong>haram</strong> bagi seseorang membuat video atau rekaman gambar, semacam yang disebutkan dalam pertanyaan. Walaupun tujuan awalnya dikhususkan untuk suami atau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri">istri</a> saja, namun telah menjadi rahasia umum, video semacam ini sering kali bocor ke tangan masyarakat, lebih-lebih di era kecanggihan teknologi saat ini.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Di samping itu, tindakan semacam ini justru akan meningkatkan syahwat kedua belah pihak, yang bisa jadi akan memicu terjadinya perbuatan yang diharamkan, semacam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/onani" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with onani">onani</a> atau yang lainnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Untuk itu, kami sarankan, lebih baik, jika memang tidak bisa bersabar untuk menjaga diri dari perbuatan haram, Saudara berdua <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> salah satu dari dua hal berikut sebagai solusi:</span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;">istri ikut serta suami;</span></li>
<li><span style="color: #000000;">suami berhenti kuliah. <em></em></span></li>
</ol>
<p><span style="color: #000000;"><em>Wassalamu &#8216;alaikum</em>.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Tambahan redaksi </strong><strong></strong><strong><a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></strong><strong>:</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Alasan kami melarang tindakan di atas dengan dua pertimbangan yang kami sampaikan, karena dalam pembahasan ilmu <em>ushul fiqh</em> terdapat satu kaidah, yang disebut:<strong> &#8216;saddud dzari&#8217;ah&#8217;</strong> artinya menutup segala celah yang mengantarkan kepada kemaksiatan.  Meskipun bisa jadi, pada asalnya perbuatan itu halal. Misalnya, Allah  melarang kaum muslimin mencela tuhan orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a>, karena bisa memicu  mereka untuk membalas dengan mencela Allah. Allah berfirman,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"><strong>وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>“Janganlah kalian mencela tuhan-tuhan selain Allah yang mereka  sembah, karena mereka akan mencela Allah, dengan bentuk kedzaliman dan  tanpa dasar ilmu (tentang Allah).” </em> (QS. Al-An&#8217;an: 108).</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsultasi Syariah)</strong></span><br />
<span style="color: #000000;"> <strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></span></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>adab suami isteri di bulan ramadan</strong>, <strong>gambaran suami</strong>, <strong>suami isteri ramadhan</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>suami isteri tinggal berjauhan.bolehkah onani?</strong>, <strong>onani</strong>, <strong>pesugihan.alfatihah@gmail.com</strong>, <strong>sabar</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/video-panas-buat-suami-isteri-yang-lagi-jauh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berhubungan Badan setelah Haid Berhenti, tetapi Belum Mandi Wajib</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/berhubungan-badan-setelah-haid-berhenti-tetapi-belum-mandi-wajib</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/berhubungan-badan-setelah-haid-berhenti-tetapi-belum-mandi-wajib#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 01:28:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[adab menziarahi orang sakit ketika dalam haid]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukum mandi wajib separuh badan?]]></category>
		<category><![CDATA[belum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[belum mandi wajib ketika berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[belum mandi wajib saat imsak]]></category>
		<category><![CDATA[berhenti haid sebelum subuh, hadis]]></category>
		<category><![CDATA[berhubungan badan masa haid]]></category>
		<category><![CDATA[berhubungan badan saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[berhubungan haid hukum haram]]></category>
		<category><![CDATA[berhubungan istri ketika haid selesai tapi belum mandi]]></category>
		<category><![CDATA[berhubungan pasca haid sebelum junub]]></category>
		<category><![CDATA[berhubungan saat selesai haid tapi belum mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[berpuasa ketika belum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[bersetubuh harus mandi besar haid]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah orang yang belum bersuci puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah tentang haid]]></category>
		<category><![CDATA[doa selesai haid]]></category>
		<category><![CDATA[doa sesudah haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid ramdhan mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[haid selesai bada subuh puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid setelah berhubungan]]></category>
		<category><![CDATA[haid tidak berhenti berhenti]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan badan saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan saat menstruasi]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan setelah menstruasi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum bagi orang yg belum mandi wajib setelah berhubungan sebelum berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berhubungan badan ketika sedang hait]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berhubungan dengan istri pada saat puasa, tapi setelah buka puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berhubungan pada saat haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mandi wajib haid saat berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mandi wajib saat berhubungan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[jima']]></category>
		<category><![CDATA[kafarah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mandi besar dengan setengah-setengah]]></category>
		<category><![CDATA[mandi hadas haid sedang berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub separo separo]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub setelah haid]]></category>
		<category><![CDATA[mandi sesudah berhubungan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib mau puasa setelah haid]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib selepas haid dalam bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib waktu haid pas puasa]]></category>
		<category><![CDATA[minum obat setelah haid]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ketika belum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[qs datangilah istrimu]]></category>
		<category><![CDATA[syarat mandi wajib pasca berhubungan badan]]></category>
		<category><![CDATA[waktu mandi wajib haid]]></category>
		<category><![CDATA[waktu sesuai mandi wajib di bulan ramadhan waktu haid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5045</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bismillah. Ustadz, menyetubuhi istri ketika haid sudah selesai, tetapi belum bersuci, apakah ada kafarahnya? Bolehkah kafarah tersebut diberikan dengan memutihkan utang seseorang yang senilai dengannya? Syukran wa jazakallahu khair. Ummu Khadijah (**nick5@***.com) Jawaban: Bismillah. Melakukan hubungan dengan istri yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Bismillah. </em>Ustadz, menyetubuhi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri">istri</a> ketika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a> sudah selesai, tetapi belum bersuci, apakah ada kafarahnya? Bolehkah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafarah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafarah">kafarah</a> tersebut diberikan dengan memutihkan utang seseorang yang senilai dengannya? <em>Syukran wa jazakallahu khair</em>.</p>
<p><em>Ummu Khadijah (**nick5@***.com)</em><br />
<span id="more-5045"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah.</em></p>
<p>Melakukan hubungan dengan istri yang sedang haid di tempat keluarnya darah haid adalah perbuatan yang haram. Berdasarkan firman Allah,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ</strong></p>
<p>“<em>Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, &#8216;Haid itu kotoran. Karena itu, jauhilah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> di tempat keluarnya darah haid (kemaluan). Janganlah kalian mendekatinya (<em>jima&#8217;</em>) sampai dia suci. Apabila dia (istrimu) telah mandi maka datangilah dia dari tempat sesuai dengan yang Allah perintahkan &#8230;.&#8217;</em>” (Q.S. Al-Baqarah:222)</p>
<p>Barang siapa yang melakukannya maka dia wajib bertobat dan membayar kafarah berupa sedekah dengan satu atau setengah dinar. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, An-Nasa&#8217;i, dan Ibnu Majah, yang dinilai sahih oleh Al-Albani; dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda bahwa orang yang mendatangi istrinya ketika haid bersedekah satu dinar atau setengahnya.</p>
<p>Tentang jumlah dinar yang pasti untuk dikeluarkan, apakah satu ataukah setengah, ini dilihat dari masa haid ketika orang ini melakukan hubungan. Ketika seseorang melakukan hubungan pada saat darah masih deras maka dia bersedekah satu dinar. Akan tetapi, jika hubungan itu terjadi ketika darah yang keluar tidak terlalu banyak maka dia bersedekah setengah dinar.</p>
<p>Adapun orang yang melakukan hubungan dengan istri setelah putus darah haid, namun belum mandi, pendapat yang kuat: <strong>hukumnya terlarang dan pelakunya berdosa</strong>. Pendapat ini berdasarkan firman Allah di atas, yang artinya, “<em>Janganlah kalian mendekatinya (jima&#8217;) sampai dia suci.<strong> Apabila dia (istrimu) telah mandi maka datangilah dia</strong> &#8230;.</em>”</p>
<p>Allah belum mengizinkan seseorang untuk melakukan hubungan dengan istri yang haid, sampai dia mandi. Karena itu, pelakunya harus bertobat dan membayar kafarah dengan sedekah setengah dinar.</p>
<p><strong>Catatan</strong>: satu dinar senilai 4,25 gram emas. (Disimpulkan dari <em>Fatwa Islam: Tanya-Jawab</em>, di bawah bimbingan Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>mandi wajib mau puasa setelah haid</strong>, <strong>adab menziarahi orang sakit ketika dalam haid</strong>, <strong>qs datangilah istrimu</strong>, <strong>berhubungan saat selesai haid tapi belum mandi junub</strong>, <strong>hukum bagi orang yg belum mandi wajib setelah berhubungan sebelum berpuasa</strong>, <strong>waktu mandi wajib haid</strong>, <strong>mandi sesudah berhubungan</strong>, <strong>kafarah</strong>, <strong>berhubungan pasca haid sebelum junub</strong>, <strong>doa sesudah haid</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/berhubungan-badan-setelah-haid-berhenti-tetapi-belum-mandi-wajib/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/555 queries in 0.143 seconds using disk: basic
Object Caching 76671/77670 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-08 10:34:21 -->
