<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; WANITA</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/wanita/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 23:00:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Banyak Mengeluarkan Darah Saat Keguguran</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/banyak-mengeluarkan-darah-saat-keguguran</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/banyak-mengeluarkan-darah-saat-keguguran#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 00:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9861</guid>
		<description><![CDATA[Banyak Mengeluarkan Darah Saat Keguguran Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Seorang wanita mengalami kecelakaan pada awal kehamilannya, kecelakaan itu menyebabkan keguguran pada janinnya yang disertai banyaknya darah yang keluar. Bolehkah wanita ini membatalkan puasanya ataukah ia harus meneruskan puasanya? Berdosakah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Banyak Mengeluarkan Darah Saat Keguguran</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:<br />
Seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> mengalami kecelakaan pada awal kehamilannya, kecelakaan itu menyebabkan keguguran pada janinnya yang disertai banyaknya darah yang keluar. Bolehkah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> ini membatalkan puasanya ataukah ia harus meneruskan puasanya? Berdosakah jika ia membatalkan puasanya?<br />
<span id="more-9861"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kami katakan bahwa wanita <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a> tidaklah mengalami haidh sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad, yaitu bahwa diketahuinya kaum wanita sedang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a> dengan berhentinya haidh. Para ulama mengatakan, bahwa haidh adalah ciptaan Allah yang pasti mengandung hikmah yaitu sebagai makanan bagi janin yang ada di dalam perut ibunya, maka jika telah terjadi kehamilan akan mengakibatkan terhentinya hadih. Akan tetapi sebagian kaum wanita <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a> masih terus mengalami haidh sebagaimana biasa sebelum terjadinya kehamilan, maka haidhnya itu adalah benar-benar haidh karena terjadi tanpa terpengaruh oleh kehamilan. Haidh ini menjadi halangan seperti halnya haidh yang dialami oleh wanita yang tidak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a>.</p>
<p>Kesimpulannya adalah bahwa darah yang dikeluarkan oleh wanita hamil ada dua jenis; pertama ditetapkan sebagai darah haidh yaitu darah yang terus keluar pada masa haidh sebagaimana sebelum hamil, artinya adalah bahwa kehamilan tidak mempengaruhi keluarnya darah haidh. Jenis kedua adalah darah yang tiba-tiba keluar dari wanita hamil karena kecelakaan atau membawa sesuatu yang berat atau terjatuh dari suatu tempat atau hal-hal serupa lainnya yang menyebabkan wanita hamil mengeluarkan darah, maka darah yang keluar ini bukanlah darah haidh melainkan darah luka. Darah semacam ini tidak menghalangi seorang wanita untuk melaksanakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> bahkan bagi wanita ini tetap berlaku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> seabgaimana wanita suci lainnya.</p>
<p>Akan tetapi jika kecelakaan itu menyebabkan keluarnya janin dari perutnya, maka dalam hal ini ada ketetapan lain, yaitu jika janin yang dikeluarkan telah berbentuk manusia maka darah yang keluar setelah keluarnya janin itu adalah darah nifas yang menghalangi seorang wanita untuk melakukan shalat, puasa, dan bagi suaminya tidak boleh menyetubuhinya sampai ia mendapat kesuciannya. Dan jika janin yang dilahirkan itu belum berbentuk manusia maka darah yang keluar setelah keluarnya janin itu bukanlah darah nifas melainkan darah penyakit yang tidak menghalanginya untuk melaksanakan shalat, puasa, serta ibadah-ibadah lainnya.</p>
<p>Para ulama mengatakan bahwa waktu yang paling minim dalam proses pembentukan janin menjadi bentuk manusia adalah delapan puluh satu hari umur janin di dalam perut ibunya, sebagaimana disebutkan Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada kami:<br />
“<em>Sesungguhnya seseorang di antara kalian dipadukan bentuk ciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk air mani, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat macam, yaitu: rizkinya, ajalnya, perbuatannya dan kebahagiaannya atau kesengsaraannya.</em>”</p>
<p>Jadi janin itu tidak mungkin berbentuk manusia sebelum delapan puluh satu hari, dan pada umumnya bentuk janin belum jelas sebelum sembilan puluh hari sebagaimana diungkapkan oleh para <em>ahlul ilmi</em>.</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait janin dan keguguran:</h3>
<p>1. <a href="../aqiqah" rel="nofollow" target="_blank">Aqiqah Untuk Janin Keguguran</a>.<br />
2. <a href="../hukum-shalat-wanita-yang-mengalami-keguguran" rel="nofollow" target="_blank">Shalat Wanita yang Keguguran</a>.</p>
<p><strong>Tags: Keguguran, kecelakaan, darah keguguran, wanita keguguran, hamil keguguran.</strong><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/banyak-mengeluarkan-darah-saat-keguguran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Keguguran Berdasarkan Keadaan Janin</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-keguguran-berdasarkan-keadaan-janin</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-keguguran-berdasarkan-keadaan-janin#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 23:06:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9837</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Keguguran Berdasarkan Keadaan Janin Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Para wanita yang mengalami keguguran akan mengalami satu di antara dua hal, yaitu keguguran sebelum janin terbentuk dan keguguran setelah terbentuknya janin, bagaimanakah hukum puasanya pada hari keguguran itu serta ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Keguguran Berdasarkan Keadaan Janin</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:<br />
Para <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> yang mengalami keguguran akan mengalami satu di antara dua hal, yaitu keguguran sebelum janin terbentuk dan keguguran setelah terbentuknya janin, bagaimanakah hukum puasanya pada hari keguguran itu serta <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> yang ia lakukan pada hari-hari ia mengeluarkan darah?<br />
<span id="more-9837"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Jika janin yang dilahirkan itu belum berbentuk manusia maka darah yang dikeluarlan oleh wanita itu bukan darah nifas, untuk itu ia tetap diwajibkan berpuasa dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>, dan puasa yang dilakukan pada hari saat ia melahirkan itu adalah sah. Akan tetapi jika janin yang dikeluarkan itu telah berbentuk manusia maka darah yang keluar adalah darah nifas yang tidak membolehkannya untuk mengerjakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> dan juga puasa, dan puasa yang ia lakukan pada hari kelahiran itu menjadi batal. Kaidah dasar dalam masalah ini adalah: Jika janin telah terbentuk maka darah itu adalah darah nifas, dan jika janin itu belum terbentuk maka darah itu bukanlah darah nifas. Jika darah itu adalah darah nifas maka ia dikenakan hukum sebagaimana wanita nifas, dan jika bukan darah nifas maka ia dianggap seperti wanita suci lainnya.</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait janin dan keguguran:</h3>
<p>1. <a href="../aqiqah" rel="nofollow" target="_blank">Aqiqah Untuk Janin Keguguran</a>.<br />
2. <a href="../hukum-shalat-wanita-yang-mengalami-keguguran" rel="nofollow" target="_blank">Shalat Wanita yang Keguguran</a>.</p>
<p>Tags: <strong>janis keguguran, ibu keguguran, darah keguguran.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-keguguran-berdasarkan-keadaan-janin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Darah Keguguran = Nifas?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/darah-keguguran-nifas</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/darah-keguguran-nifas#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 01:57:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9834</guid>
		<description><![CDATA[Darah Keguguran = Nifas? Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Jika seseorang wanita mengalami keguguran pada umur tiga bulan dari masa kehamilannya, apakah ia harus melaksanakan shalat atau harus meninggalkannya? Jawaban: Darah Keguguran Termasuk Nifas Pendapat yang dikenal di kalangan ahlul ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Darah Keguguran = Nifas?</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:<br />
Jika seseorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> mengalami keguguran pada umur tiga bulan dari masa kehamilannya, apakah ia harus melaksanakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> atau harus meninggalkannya?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Darah Keguguran Termasuk Nifas</h3>
<p>Pendapat yang dikenal di kalangan ahlul ilmi mengatakan bahwa seorang wanita yang mengalami keguguran pada umur tiga bulan dari kehamilannya, maka ia harus meninggalkan shalat. Karena ia telah melahirkan janin yang telah berbentuk manusia, dengan demikian darah yang keluar darinya adalah darah nifas sehingga ia tidak boleh melakukan shalat.</p>
<p>Para ulama mengatakan, kemungkinan janin yang ada dalam kandungan seorang wanita telah berbentuk manusia jika telah berumur delapan puluh satu hari, berarti kurang dari tiga bulan, dengan demikian jika seorang wanita telah yakin bahwa ia telah mengalami keguguran pada umur tiga bulan dari kehamilannya maka darah yang keluar darinya adalah darah nifas. Adapun jika keguguran itu terjadi sebelum delapan puluh hari, maka darah yang keluar darinya adalah darah penyakit yang tidak boleh baginya untuk meninggalkan shalat. Dan bagi wanita yang menanyakan hal ini hendaknya ia mengingat-ingat masa kehamilan dirinya itu, jika keguguran terjadi sebelum delapan puluh hari maka hendaknya ia mengqadha shalat yang ditinggalkannya. Jika ia tidak mengetahui berapa banyak shalat yang telah ditinggalkannya, maka hendaknya ia memperkirakannya lalu mengqadhanya berdasarkan kemungkinan dalam meninggalkan shalat.</p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/aqiqah" target="_blank">Aqiqah Untuk Janin Keguguran</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-shalat-wanita-yang-mengalami-keguguran" target="_blank">Shalat Wanita yang Keguguran</a>.</p>
<p>Key word: <strong>darah keguguran.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/darah-keguguran-nifas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keluar Cairan Kuning Setelah Suci Haid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/keluar-cairan-kuning-setelah-suci-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/keluar-cairan-kuning-setelah-suci-haid#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 06:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9332</guid>
		<description><![CDATA[Keluar Cairan Kuning Setelah Suci Haid Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Apa hukum cairan yang keluar dari wanita setelah ia suci? Jawaban: Kaidah umum tentang masalah ini dan masalah-masalah serupa lainnya adalah bahwa cairan kekuning-kuningan dan cairan keruh yang keluar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Keluar Cairan Kuning Setelah Suci <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">Haid</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:<br />
Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> cairan yang keluar dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> setelah ia suci?<br />
<span id="more-9332"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Kaidah umum tentang masalah ini dan masalah-masalah serupa lainnya adalah bahwa cairan kekuning-kuningan dan cairan keruh yang keluar dari wanita setelah ia suci bukan apa-apa berdasarkan ucapan Ummu Athiah, “Kami tidak menganggap cairan kuning dan cairan keruh sebagai sesuatu apa pun setelah suci.” Kaidah umum lainnya mengatakan, &#8220;Hendaknya seorang wanita tidak tergesa-gesa untuk menyatakan telah habis masa haidhnya hanya karena berhentinya darah haidh sebelum ia mengeluarkan cairan putih, sebagaimana diucapkan Aisyah kepada para wanita yang datang menemuinya dengan menggunakan kapas (pembalut wanita), “Janganlah kalian tergesa-gesa (mengatakan habisnya masa haidh) hingga kalian melihat (mengeluarkan) cairan putih.”</p>
<p>Pada kesempatan ini saya peringatkan dengan tegas kepada kaum wanita agar menghindari penggunaan tablet-tablet pencegah haidh. Sebagian wanita mengatakan bahwa obat-obatan ini berbahaya, bahkan ada di antara para dokter itu yang menuliskan untuk saya sejumlah bahaya yang terkandung di dalam obat-obatan ini.</p>
<p>Di antara bahayanya yang terbesar adalah dapat menyebabkan luka pada rahim dan dapat mempengaruhi sirkulasi darah serta menimbulkan ketidakteraturan haidh. Ini kenyataannya, dan masih banyak problematika lainnya yang bisa dialami oleh para wanita yang mengkonsumsinya, bahkan bisa memengaruhi bentuk janin ketika mengandung.</p>
<p>Jika wanita yang mengkonsuminya itu belum menikah, kelak bisa menyebabkan kemandulan sehingga tidak dapat mempunyai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>. Ini sungguh bahaya yang besar. Sebenarnya seorang manusia dengan akal sehatnya bisa melogikakan, bahwa mencegah sesuatu yang alami ini, yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala pada diri mereka di masa-masa tertentu, dapat membahayakannya. Seperti halnya bila seseorang berusaha menahan kencing atau air besar, tentu ini dapat membahayakan. Begitu juga darah haidh, ini adalah alamai yang telah ditetapkan Allah pada diri setiap wanita. Tidak diragukan lagi bahwa berusaha mencegah keluarnya darah haidh pada waktunya akan membahayakan diri wanita itu sendiri.</p>
<p>Saya peringatkan kepada para wanita muslimat, hendaknya mereka tidak menggunakan obat-obatan tersebut, dan kepada kaum pria saya sarankan agar mereka mencegah para istrinya menggunakan obat-obatan itu.</p>
<p>Sumber:<em> Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait haid dan nifas:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/cairan-keruh-sebelum-masa-haid">Cairan Kerus Sebelum Haid</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/tidak-shalat-karena-keluar-cairan-keruh">Tidak Shalat Karena Keluar Cairan Keruh</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../menggauli-istri-yang-sedang-hamil" target="_blank">Menggauli Istri yang Sedang Hamil</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../wudhu-wanita-haid" target="_blank">Wudhu Bagi Wanita <strong>Haid</strong></a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../berhenti-haid" target="_blank">Cara Mengetahui Masa Suci Haid</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/keluar-cairan-kuning-setelah-suci-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Shalat Karena Keluar Cairan Keruh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/tidak-shalat-karena-keluar-cairan-keruh</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/tidak-shalat-karena-keluar-cairan-keruh#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 00:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9330</guid>
		<description><![CDATA[Tidak Shalat Karena Keluar Cairan Keruh Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Seorang wanita mengeluarkan cairan keruh sebelum tiba masa haidhnya yang biasa, karena itu ia meninggalkan shalat, kemudian setelah itu ia mengeluarkan darah haidhnya, bagaimanakah hukumnya hal ini? Jawaban: Ummu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tidak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a> Karena Keluar Cairan Keruh</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:<br />
Seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> mengeluarkan cairan keruh sebelum tiba masa haidhnya yang biasa, karena itu ia meninggalkan shalat, kemudian setelah itu ia mengeluarkan darah haidhnya, bagaimanakah hukumnya hal ini?<br />
<span id="more-9330"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Ummu Athiah berakata, “Kami tidak menganggap cairan kuning dan cairan keruh sebagai sesuatu apa pun setelah datangnya masa suci.” Berdasarkan perkataan ini, saya berpendapat bahwa cairan ini bukanlah bagian dari haidh, apalagi jika cairan ini datang sebelum masa haidhnya yang biasa. Ditambah pula keluarnya cairan keruh ini tidak disertai tanda-tanda datangnya haidh, seperti rasa mules di perut, rasa sakit di punggung atau lainnya, maka yang lebih utama bagi wanita ini adalah melaksanakan kembali shalat yang telah ditinggalkannya ketika mengeluarkan cairan keruh ini.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/tidak-shalat-karena-keluar-cairan-keruh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cairan Keruh Sebelum Masa Haid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/cairan-keruh-sebelum-masa-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/cairan-keruh-sebelum-masa-haid#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 00:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9328</guid>
		<description><![CDATA[Cairan Keruh Sebelum Masa Haid Pertanyaan: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Apa hukumnya cairan keruh yang keluar dari wanita sehari atau dua hari sebelum haidh? Cairan tersebut terkadang berbentuk benang tipis berwarna hitam atau seperti warna kopi? Dan apa hukumnya jika ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Cairan Keruh Sebelum Masa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">Haid</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Apa hukumnya cairan keruh yang keluar dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> sehari atau dua hari sebelum haidh? Cairan tersebut terkadang berbentuk benang tipis berwarna hitam atau seperti warna kopi? Dan apa hukumnya jika cairan keluar setelah haidh?<br />
<span id="more-9328"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Jika cairan atau gumpalan keruh itu termasuk bagian dari pendahuluan datangnya haidh maka berarti cairan itu adalah haidh. Hal itu dapat diketahui dengan timbulnya rasa sakit dan rasa mules pada perut yang biasanya hal ini dialami oleh wanita haidh. Adapun jika cairan keruh ini keluar setelah haidh, maka wanita ini harus menunggu hingga lenyapnya cairan tersebut, karena cairan keruh yang keluar beringingan (menyambung) dengan haidh berarti cairan itu adalah bagian dari haidh, berdasarkan ucapan Aisyah,</p>
<p>“Janganlah kalian tergesa-gesa (menyatakan habisnya masa haidh) hingga kalian melihat cairan putih.”</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em></p>
<p>Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/cairan-keruh-sebelum-masa-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Kewanitaan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/masalah-kewanitaan</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/masalah-kewanitaan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 08:07:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9324</guid>
		<description><![CDATA[Masalah Kewanitaan Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya, &#8220;Kami mohon Anda berkenan menerangkan kepada kami tentang cairan berwarna kuning dan cairan keruh, apakah hukumnya sama dengan hukum darah haidh? Lalu apakah cairan putih itu? Apakah seorang wanita harus mengetahui ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Masalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kewanitaan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kewanitaan">Kewanitaan</a></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya,<br />
&#8220;Kami mohon Anda berkenan menerangkan kepada kami tentang cairan berwarna kuning dan cairan keruh, apakah hukumnya sama dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> darah haidh? Lalu apakah cairan putih itu? Apakah seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> harus mengetahui berakhirnya darah tersebut, kemudian setelah itu apakah ia diwajibkan mandi (bersuci) atau tidak?&#8221;<br />
<span id="more-9324"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Cairan berwarna kuning dan keruh adalah jenis cairan yang keluar dari seorang wanita dan dapat berubah warna menjadi cairan keruh, itu serupa dengan air sisa pembersih daging, merah akan tetapi merahnya tidak begitu jelas, sementara cairan kuning adalah cairan yang berwarna kuning yang terkadang cairan itu keluar dari seorang wanita. Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini hingga terdapat lima pendapat, akan tetapi pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa jika cairan itu keluar setelah habisnya masa haidh dalam jarak yang tidak begitu jauh dengan terhentinya darah haidh, maka berarti cairan itu termasuk dalam kategori haidh (dikenakan hukum haidh). Jika keluarnya cairan itu tidak setelah habisnya masa haidh, yakni berselang beberapa waktu dari waktu berhentinya masa haidh, maka cairan itu tidak termasuk dalam kategori darah haidh (tidak dikenakan hukum haidh).</p>
<p>Adapun mengenai cairan putih, maka yang dimaksud dengan cairan tersebut adalah jika seorang wanita menggunakan kapas atau pembalut di tempat keluarnya cairan itu, lalu cairan itu tidak berubah dan tetap keluar dengan warna putih, maka itulah yang dinamakan dengan cairan putih yang sebenarnya. Dan jika cairan itu berubah warna maka ini adalah merupakan bukti bahwa darah haidh belum berhenti.</p>
<p>Sebagian kaum wanita ada yang tidak mengeluarkan cairan putih ini akan tetapi kebiasaannya adalah mengeluarkan cairan berwarna keruh pada masa antara satu masa haidh dengan masa haidh lainnya. Jika demikian berarti cairan keruh ini merupakan tanda berhentinya darah haidh dan mulainya masa suci walaupun ia tetap mengeluarkan cairan berwarna kuning. Karena wanita ini tidak biasa mengeluarkan cairan putih.</p>
<p>Pada kenyataannya, terkadang permasalahan seputar haidh merupakan permasalahan yang masih samar-samar karena beragamnya peristiwa yang dialami kaum wanita, akan tetapi haidhnya wanita yang alami (yang menjalani hidup dengan normal) tidak mengalami kejanggalan. Kejanggalan pada masa haidh ini lebih banyak terjadi pada kaum wantia disebabkan oleh penggunaan obat-obatan, yakni berupa tablet-tablet yang biasa dikonsumsi oleh sebagian wanita.</p>
<p>Sebenarnya, obat-obatan itu di samping dapat membahayakan rahim, juga dapat menimbulkan banyak kejanggalan. pada keadaan haidhnya wanita, Juga dapat membingungkan bagi orang-orang yang dimintai fatwa tentang hal ini. Karena itu, saya memperingatkan kepada kaum wantia yang mengkonsumsinya.</p>
<p>Logikanya, tidak diragukan lagi, bahwa mencegah sesuatu yang alami dapat menimbulkan suatu kejanggalan yang tidak alami. Darah haidh adalah darah yang alami, jika seorang wanita mengkonsumsi suatu pil untuk menghambat keluarnya darah haidh yang alami ini, maka sudah pasti pil tersebut akan menimbulkan efek buruk pada tubuh, karena obat tersebut berusaha menyimpangkan sesuatu yang alami yang telah ditetapkan Allah pada tubuh wanita. Maka seklai lagi saya peringatkan, hendaknya para wanita tidak mengkonsumsi pil-pil semacam itu.</p>
<p>Sumber:Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait masalah kewanitaan:</h3>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../menggauli-istri-yang-sedang-hamil" target="_blank">Menggauli Istri yang Sedang Hamil</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../wudhu-wanita-haid" target="_blank">Wudhu Bagi Wanita <strong>Haid</strong></a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../berhenti-haid" target="_blank">Cara Mengetahui Masa Suci Haid</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/masalah-kewanitaan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Haid Harus Qadha Shalat?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 00:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9315</guid>
		<description><![CDATA[Wanita Haid Harus Qadha Shalat Pertanyaa: Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya, jika seorang wanita telah suci dari haidhnya pada waktu ashar atau di waktu isya, apakah diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat zuhur dan maghrib karena kedua waktu itu memungkinkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">Wanita</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">Haid</a> Harus Qadha <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">Shalat</a></h2>
<p><strong>Pertanyaa:</strong><br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya, jika seorang wanita telah suci dari haidhnya pada waktu ashar atau di waktu isya, apakah diwajibkan baginya untuk melaksanakan shalat zuhur dan maghrib karena kedua waktu itu memungkinkan untuk dijama’?<br />
<span id="more-9315"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
Jika seorang wanita telah suci <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dari-haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dari haid">dari haid</a> atau nifasnya di waktu ashar, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat zuhur di antara dua pendapat para ulama, karena kedua waktu shalat itu adalah satu bagi orang yang berhalangan seperti seorang yang sakit atau musafir, juga wanita ini pun mendapatkan halangan dikarenakan tertundanya kesuciannya dari darah nifas atau darah haidh. Demikian pula jika ia mendapatkan kesuciannya di saat isya, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat maghrib dan isya dengan cara manjama’ sebagaimana disebutkan di atas. Beberapa sahabat telah menfatwakan hal ini.</p>
<p>Sumber: <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait haid dan nifas:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/menggauli-istri-yang-sedang-hamil">Menggauli Istri yang Sedang Hamil</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/wudhu-wanita-haid">Wudhu Bagi Wanita <strong>Haid</strong></a>.<br />
3. <a href="http://konsultasisyariah.com/berhenti-haid">Cara Mengetahui Masa Suci Haid</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wanita-haid-harus-qadha-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Katakan Cinta</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/katakan-cinta</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/katakan-cinta#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 06:27:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9223</guid>
		<description><![CDATA[Malu Mengutarakan Cinta Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Saya seorang pemuda yang sedang memendam cinta. Bolehkah kita memperjuangkan cinta kita terhadap wanita yang kita cintai agar dia mencintai kita, sambil berdoa kepada Allah? Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Pria yang punya perasaan mencintai wanita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Malu Mengutarakan Cinta</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum</em>. Saya seorang pemuda yang sedang memendam <strong>cinta</strong>. Bolehkah kita memperjuangkan cinta kita terhadap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> yang kita cintai agar dia mencintai kita, sambil berdoa kepada Allah?<br />
<span id="more-9223"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</em><br />
Pria yang punya perasaan mencintai wanita adalah bagian dari nikmat Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> (baca surat Ali Imran ayat 14). Jika Anda mencintai wanita muslimah, berakidah dan berakhlak mulia, maka boleh berdoa kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> agar wanita itu dinikahi oleh Anda. Berdoalah pada malam hari di sepertiga malam terakhir, karena waktu itu adalah waktu yang mustajab, atau kapan saja kita boleh bedoa.</p>
<p>Akan tetapi tidak cukup dengan doa, karena boleh jadi wanita itu sudah ada yang meminang. Maka sebaiknya segera hubungi orang tuanya agar ada kepastian, diterima ataukah tidak. Sebab dikhawatirkan wanita yang Anda senangi tersebut sudah ada yang punya. Atau ada kendala dari orang tua, yaitu Anda ditolak. Jika begitu keadaannya, maka hendaknya Anda bersabar, barangkali dia bukan jodoh Anda. Boleh jadi wanita yang Anda cintai itu tidak baik untuk Anda. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>“<em>Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui</em>.”<br />
<em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al Mawaddah</em> Edisi 8 Tahun ke-3 1431 H/Maret 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait cinta:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/taubat-dari-zina">Naudzubillah, Masih SMA Berani Zina</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../selingkuh-dengan-ipar" target="_blank">Aku Selingkuh Dengan Ipar</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../istri-selingkuh" target="_blank">Istri Selingkuh</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../berbicara-lewat-telepon-chatting-atau-ber-sms-apakah-termasuk-zina" target="_blank">Telpon, SMS, Chatting Ria dengan Lawan Jenis, Apakah Termasuk Zina</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../solusi-pacar-hamil" target="_blank">Bingung, Pacarku Hamil</a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../hukum-kasus-pemerkosaan" target="_blank">Hukum Pemerkosa</a>.<br />
7. <a rel="nofollow" href="../status-anak-hasil-hubungan-di-luar-nikah" target="_blank">Status Anak Hasil Zina</a>.<br />
8. <a href="http://konsultasisyariah.com/cara-mengungkapkan-cinta">Cara Mengungkapa Cinta</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/katakan-cinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khitan Bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita-1</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita-1#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 06:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9111</guid>
		<description><![CDATA[Khitan Bagi Wanita Bagi masyarakat muslim Indonesia, khitan bagi anak laki-laki adalah suatu hal yang biasa, meskipun ada hal-hal yang perlu diluruskan berhubungan dengan pelaksanaan sunah bapak para nabi ini -Ibrahim ‘alaihissalam-. Namun, bagi kaum hawa, khitan menjadi sebuah perkara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/khitan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with khitan">Khitan</a> Bagi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">Wanita</a></h2>
<p>Bagi masyarakat muslim Indonesia, <strong>khitan</strong> bagi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> laki-laki adalah suatu hal yang biasa, meskipun ada hal-hal  yang perlu diluruskan berhubungan dengan pelaksanaan sunah bapak para nabi ini -Ibrahim ‘alaihissalam-. Namun, bagi kaum hawa, khitan menjadi sebuah perkara yang sangat jarang dilakukan, bahkan bisa saja masih menjadi sesuatu yang tabu dilakukan oleh sebagian orang, atau bahkan mungkin ada yang mengingkarinya. Padahal syariat khitan bagi kaum wanita merupakan sesuatu yang benar-benar ada dalam syariat Islam yang suci ini. Setahu kami (penulis) tidak ada <em>khilaf</em> (perselisihan) ulama mengenai hal ini. <em>Khilaf</em> di kalangan mereka hanya berkisar pada status hukumnya, apakah khitan itu wajib dilakukan oleh kaum wanita ataukah sekedar sunah. Semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit penjelasan tentang permasalahan ini.</p>
<h2>Pengertian Khitan</h2>
<p>Khitan secara bahasa diambil dari kata (ختن ) yang berarti memotong. Sedangkan <em>al-khatnu</em> berarti memotong kulit yang menutupi kepala <em>dzakar</em> dan memotong sedikit daging yang berada di bagian atas <em>farji</em> (clitoris) dan <em>al-khitan</em> adalah nama dari bagian yang dipotong tersebut. (<em>Lisanul Arab</em>, Imam Ibnu Manzhur).</p>
<p>Imam Nawawi mengatakan, “Yang wajib bagi laki-laki adalah memotong seluruh kulit yang menutupi kepala <em>dzakar</em> sehingga kepala <em>dzakar</em> itu terbuka semua. Sedangkan bagi wanita, maka yang wajib hanyalah memotong sedikit daging yang berada pada bagian atas <em>farji</em>.”(<em>Syarah Sahih Muslim</em>, 1:543 dan <em>Fathul Bari</em>, 10:340)</p>
<h3>Dalil Disyariatkannya Khitan</h3>
<p>Khitan merupakan ajaran nabi Ibrahim <em>‘alaihissalam</em>, dan umat ini diperintahkan untuk mengikutinya, sebagaimana dalam QS. An-Nahl: 123,</p>
<p class="arab">ثم أوحينا إليك أن اتبع ملّة إبراهيم حنيفا</p>
<p>“<em>Kemudian Kami wahyukan kapadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim, seorang yang hanif</em>.”</p>
<p>Dalam <em>Tufatul Maudud</em>, Hal.164. Ketika Sarah (<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri">istri</a> Nabi Ibrahim) menghadiahkan Hajar kepada suaminya, tak lama Hajar pun <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hamil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hamil">hamil</a>, hal ini menyebabkan Sarah cemburu. Ia bersumpah ingin memotong tiga anggota badannya sendiri. Nabi Ibrohim <em>‘alaihissalam</em> khawatir ia akan memotong hidung dan telinganya, lalu beliau menyuruh Sarah untuk melubangi telinganya dan berkhitan. Jadilah hal ini sebagai sunah yang berlangsung pada para wanita sesudahnya.</p>
<p class="arab">عن ابي هريرة رضي الله عنه قال : قاال رسول الله صلي الله عليه وسلم : خمس من الفطرة : الاستحداد والختان، وقص الشارب،ونتف الابط،وتقليم الأظفا ر.</p>
<p>Dari Abu Harairah <em>radhiallahu’anhu</em> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ”Lima hal yang termasuk fitrah, yaitu: mencukur bulu kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)</p>
<h3><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> Khitan bagi Wanita</h3>
<p>a. Ulama yang mewajibkan khitan, mereka berargumentasi dengan beberapa dalil:</p>
<p>1. Hukum wanita sama dengan laki-laki, kecuali ada dalil yang membedakannya, sebagimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dari Ummu Sulaim <em>radhiallahu’anha</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Wanita itu saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Daud, no.236, Tirmidzi, no.113, Ahmad 6:256 dengan sanad hasan).</p>
<p>2. Adanya beberapa dalil yang menunjukkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebut khitan bagi wanita, di antaranya sabda beliau:</p>
<p class="arab">إذ التقى الختا نا ن فقد وجب الغسل</p>
<p>“Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.” (HR. Tirmidzi, no.108, Ibnu Majah, no.608, Ahamad 6:161, dengan sanad sahih).</p>
<p class="arab">عن عائسة رضي الله عنها قالت,قال رسول الله صلي الله هليه و السلم : إذ جلس بين شهبها الأربع و مسّ الختان الختان فقد وجب الغسل.</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiallahu‘anha</em>, ia mengatakan, &#8220;Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;Apabila seorang laki-laki duduk di empat anggota badan wanita dan khitan menyentuh khitan maka wajib mandi.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p class="arab">عن أنس بن مالك, قال رسول الله صلي الله عليه والسلم لأمّ عاطية رضي الله عنها : إذا خفضت فأشمي ولا تنهكي فإنّه أسرى للوجه وأحضى للزوج.</p>
<p>Dari Anas bin Malik<em> radhiallahu’anhu</em> mengatakan, Rasulullahi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepada Ummu ‘athiyah, ”Apabila engkau mengkhitan wanita biarkanlah sedikit, jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.” (HR. Al-Khatib)</p>
<p>3. Khitan bagi wanita sangat masyhur dilakukan oleh para sahabat dan para salafusshalih sebagaimana tersebut di atas.</p>
<p>b. Ulama yang berpendapat sunah, alasannya:</p>
<p>Menurut sebagian ulama tidak ada dalil secara tegas yang menunjukkan wajibnya, juga karena khitan bagi laki-laki tujuannya membersihkan sisa air kencing yang najis yang terdapat pada tutup kepala <em>dzakar</em>, sedangkan suci dari najis merupakan syarat sahnya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>. Khitan bagi wanita tujuannya untuk mengecilkan syahwatnya, jadi ia hanya untuk mencari sebuah kesempurnaan dan bukan sebuah kewajiban. (<em>Syarhul Mumti’</em>, 1:134)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah pernah ditanya, “Apakah wanita itu dikhitan ?” Beliau menjawab, “Ya, wanita itu dikhitan dan khitannya adalah dengan memotong daging yang paling atas yang mirip dengan jengger ayam jantan. Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8216;biarkanlah sedikit dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi suami.’  Alasannya, karena khitan bagi laki-laki untuk menghilangkan najis yang terdapat dalam penutup kulit kepala <em>dzakar</em>, sedangkan tujuan khitan wnaita adalah untuk menstabilkan syahwatnya. Karena apabila wanita tidak dikhitan maka syahwatnya akan sangat besar.” (<em>Majmu’ Fatawa</em>, 21:114)</p>
<p>Jadi, khilaf mengenai hukum khitan ini ringan, baik sunnah atau wajib keduanya adalah termasuk syariat yang diperintahkan, kita harus berusaha untuk melaksanakannya.</p>
<h3>Waktu Khitan</h3>
<p>Terdapat beberapa hadis hasan yang menunjukkan bahwa khitan dilaksanakan pada hari ke tujuh setelah kelahiran, yaitu:</p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiallahu’anhuma</em>, ia mengatakan, &#8220;Bahwasannya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengakikahi Hasan dan Husein serta mengkhitan keduanya pada hari ketujuh.&#8221; (HR. Thabrani dan Baihaqi)<br />
Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiallahu’anhu</em> berkata, “Terdapat tujuh perkara yang termasuk sunah dilakukan bayi pada hari ketujuh: Diberi nama, dikhitan,…” (HR. Thabrani)</p>
<p>Dari Abu Ja’far berkata, “Fathimah melaksanakan akikah anaknya pada hari ketujuh. Beliau juga mengkhitan dan mencukur rambutnya serta menyedekahkan perak dengan seberat rambutnya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)</p>
<p>Namun, meskipun begitu, khitan boleh dilakukan sampai anak agak besar, sebagaimana telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas <em>radhallahu’anhu</em>, bahwa beliau pernah ditanya, “Seperti apakah engkau saat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meninggal dunia ? ”Beliau menjawab, “Saat itu saya barusan dikhitan. Dan saat itu para sahabat tidak mengkhitan kecuali sampai anak itu bisa memahami sesuatu.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Thabrani).</p>
<p>Imam Al-Mawardi mengatakan, ”Khitan itu memiliki dua waktu, waktu wajib dan waktu sunah. Waktu wajib adalah masa <em>baligh</em>, sedangkan waktu sunah adalah sebelumnya. Yang paling bagus adalah hari ketujuh setelah kelahiran dan disunahkan agar tidak menunda sampai waktu sunah kecuali ada udzur.&#8221; <em>(Fathul Bari</em>, 10:342).</p>
<h3>Walimah (perayaan) Khitan</h3>
<p>Acara walimah khitan merupakan acara yang sangat biasa dilakukan oleh umat Islam di Indonesia, atau mungkin juga di negeri lainnya. Persoalannya, apakah acara semacam itu ada tuntunannya atau tidak ?</p>
<p>Utsman bin Abil ‘Ash diundang ke (perhelatan) Khitan, dia enggan untuk datang lalu dia diundang sekali lagi, maka dia mengatakan, ”Sesungguhnya kami dahulu pada masa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak mendatangi walimah khitan dan tidak diundang.” (HR. Imam Ahmad)</p>
<p>Berdasarkan <em>atsar</em> dari Utsman bin Abil ’Ash di atas, walimah khitan merupakan sesuatu yang tidak disyariatkan, walaupun <em>atsar</em> ini dari sisi sanad tidak shahih, tetapi ini merupakan pokok, yaitu tidak adanya walimah khitan. Karena khitan merupakan hukum syar’i, maka setiap amal yang ditambahkan pada khitan tersebut harus ada dalilnya dari Alquran dan sunah. Walimah ini merupakan amalan yang disandarkan dan dikaitkan dengan khitan, maka membutuhkan dalil untuk membolehkannya. Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memudahkan kaum muslimin untuk menjalankan sunnah yang mulia ini.</p>
<p>Sumber: muslimah.or.id (dengan edit bahasa oleh tim <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">Konsultasi Syariah</a>)</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Materi terkait:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/mencukur-bulu-kemaluan">Mencukur Bulu Kemaluan</a>.<br />
2. <a href="http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-khitan-bagi-wanita">Hukum Wanita di Khitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukuman Untuk Lesbi</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukuman-untuk-lesbi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukuman-untuk-lesbi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 00:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8832</guid>
		<description><![CDATA[Hukuman Untuk Lesbi Pertanyaan: Apa hukuman untuk wanita yang melakukan lesbi? Jawaban: Hukuman Untuk Lesbi Lesbi (arab: sihaq) adalah perbuatan yang haram. Para ulama menggolongkannya sebagai dosa besar. (Az-Zawajir, dosa no. 362). Para ulama sepakat bahwa pelaku lesbi tidak dihukum ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukuman Untuk Lesbi</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Apa hukuman untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> yang melakukan <strong>lesbi</strong>?<br />
<span id="more-8832"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Hukuman Untuk Lesbi</h3>
<p>Lesbi (arab: <em>sihaq</em>) adalah perbuatan yang haram. Para ulama menggolongkannya sebagai dosa besar. (Az-Zawajir, dosa no. 362). Para ulama sepakat bahwa pelaku lesbi tidak dihukum had. Karena lesbi bukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a>. Hukuman bagi pelaku lesbi adalah <em>ta&#8217;zir</em>, dimana pemerintah berhak menentukan hukuman yang paling tepat, sehingga bisa memberikan efek jera bagi pelaku perbuatan haram ini.<br />
Disebutkan dalam Ensiklopedi Fiqh, Ulama sepakat bahwa tidak ada hukuman had untuk pelaku lesbi. Karena lesbi bukan zina. Namun wajib dihukum ta&#8217;zir (ditentukan pemerintah), karena perbuatan ini termasuk maksiat. (<em>Mausu&#8217;ah Fiqhiyah</em>, 24: 252).<br />
Ibnu Qudamah mengatakan, “Jika ada dua wanita yang saling menempelkan badannya maka keduanya berzina dan dilaknat.</p>
<p>Berdasarkan riwayat dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda, “Apabila ada wanita yang menggagahi wanita maka keduanya berzina.” Tidak ada hukuman had untuk pelakunya, karena lesbi tidak mengandung jima (memasukkan kemaluan ke kemaluan). Sehingga disamakan dengan cumbuan di selain kemaluan. Namun keduanya wajib dihukum <em>ta&#8217;zir</em>.” (Al-Mughni, 9:59).<br />
Hanya saja, hadis yang disebutkan Ibnu Qudamah di atas adalah hadis lemah. Sebagaimana dijelaskan Syaikh Al-Albani dalam <em>Dhaif al-Jami&#8217;</em>. Karena itu, lesbi tidak disamakan dengan zina. As-Sarkhasi mengatakan, “Andaikan hadis itu sahih, tentu maknanya adalah bahwa keduanya melakukan dosa sebagai orang yang berbuat zina, namun tidak dihukum sebagaimana orang yang melakukan zina.” (<em>Al-Mabsuth</em>, 9: 78)</p>
<p>Keterangan di atas sekaligus menjadi koreksi tentang kekeliruan anggapan, bahwa hukuman lesbi sama dengan hukuman homo. Karena para ulama menegaskan hukuman bagi homo adalah dibunuh, sedangkan hukuman bagi pelaku lesbi adalah hukuman <em>ta&#8217;zir</em> dan bukan hukuman mati, dengan sepakat ulama.<br />
<em>Allahu a&#8217;l</em>am..</p>
<p>Disadur dari fatwa Islam: <em>Tanya-jawab</em>, oleh Syekh Muhammad bin Shaleh al-Munajid.<br />
<em>http://www.islamqa.com/ar/ref/21058</em></p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
<em>Ta&#8217;zir</em> adalah hukuman yang bentuknya tidak ditetapkan oleh syariat, tetapi dikembalikan kepada kebijakan pemerintah.<br />
contoh: penjara, denda, dll. Adapun hukuman yang bentuknya ditetapkan oleh syariat disebut had. contoh: potong tangan bagi pencuri, dst.<br />
Hukuman ta&#8217;zir berlaku untuk pelanggaran yang hukumannya tidak ditetapkan oleh syariat.</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p><strong>Materi terkait:</strong></p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/homo-sex" target="_blank">Cara Taubat dari Homo</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/bila-seorang-muslim-sering-melakukan-onani" target="_blank">Dampak Fisik Sering Onani</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/wajibkah-mandi-besar-jika-melakukan-masturbasi-namun-tidak-mengeluarkan-air-mani" target="_blank">Wajibkah Mandi Besar ketika Masturbasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukuman-untuk-lesbi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selingkuh dengan Ipar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 02:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[iparku]]></category>
		<category><![CDATA[iparku cantik]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh dengan ipar]]></category>
		<category><![CDATA[zina dengan ipar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8037</guid>
		<description><![CDATA[Selingkuh dengan Ipar Pertanyaan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum. Saya sudah 8 tahun berumah tangga dan dikaruniai satu anak laki-laki berumur 6 tahun, semenjak menikah kami tinggal bertiga dengan adik perempuan istriku (ipar). Singkat cerita perselingkuhanpun terjadi sampai hari ini dan isterikupun mengetahuinya. Aku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/selingkuh-dengan-ipar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with selingkuh dengan ipar">Selingkuh dengan Ipar</a></h2>
<p>Pertanyaan, <em>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum</em>. Saya sudah 8 tahun berumah tangga dan dikaruniai satu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> laki-laki berumur 6 tahun, semenjak menikah kami tinggal bertiga dengan adik perempuan istriku (<strong>ipar</strong>). Singkat cerita perselingkuhanpun terjadi sampai hari ini dan isterikupun mengetahuinya. Aku tahu istriku marah, sakit hati dan benci dengan perselingkuhan ini tapi dia tetap bertahan.Ternyata dibelakang aku, diapun berselingkuh dan 3 minggu yang lalu dia mengaku telah berzina dengan selingkuhanya, kini dia menyesali perbuatanya dan bertaubat takkan mengulanginya lagi dan diapun meminta agar aku menikahi adiknya (selingkuhanku) tanpa harus menceraikan dia (istriku). Mohon bantuan nasihatnya. <em>Wassalam</em>.&#8221;</p>
<p><em>Rizqi (rXXXXX@ymail.com)</em><br />
<span id="more-8037"></span></p>
<h3>Berzina dengan adik ipar, bolehkah dinikahi?</h3>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam</em>.</p>
<p><em>Allahu akbar&#8230;</em><br />
Keluarga Anda di zona carut marut, rusak berkeping-keping&#8230; Anda dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri">istri</a> Anda melakukan dosa yang sangat besar. Andaikan di negara kita ditegakkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> islam maka Anda berdua akan dihukum rajam, dilempari batu, dengan dikubur setengah badan sampai mati. Itu penebus dosa pelaku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a> yang sudah menikah. Dosanya bisa ditebus dengan hukuman, bukan dengan menikahi pasangan selingkuhannya. Karena itu, segeralah bertaubat semampu Anda dan istri Anda. Segera bersimpuh kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Jika Anda tidak mendapatkan hukuman tersebut di dunia, tidak ada jaminan Anda akan selamat dari hukuman di akhirat.</p>
<p>Selanjutnya,<br />
<strong>1.</strong> Anda <strong>HARAM</strong> menikahi adik istri Anda. Karena seorang lelaki TIDAK boleh menikahi dua orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> kakak-beradik. Allah menyebutkan beberapa orang yang tidak boleh dinikahi dalam surat an-Nisa, salah satunya Allah menyatakan,</p>
<p class="arab">وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْن الْأُخْتَيْنِ</p>
<p><em>&#8220;(Kalian tidak boleh) menggabungkan dua perempuan bersaudara&#8230;&#8221;</em> (QS. an-Nisa: 23)</p>
<p>Maksudnya, tidak boleh menikahi dua wanita bersaudara, baik saudara kandung maupun sepersusuan.</p>
<p>Anda hanya bisa menikahi adik ipar Anda, jika: (a). Anda telah menceraikan istri Anda dan telah selesai masa iddah atau (b). Istri Anda telah meninggal dunia.</p>
<p><strong>2.</strong> Saudara ipar bukanlah <em>mahram</em>. Karena itu, saudara ipar tidak boleh berdua-duaan dalam satu tempat dengan suami kakaknya atau istri kakaknya. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما.</p>
<p><em>&#8220;Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan adalah orang yang ketiga.&#8221;</em> (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban 1/436, dan dishahihkan oleh Al-Albani)</p>
<p>Anda jangan merasa aman dalam posisi semacam ini. Karena setan akan berupaya keras, agar anda berdua bisa berzina. Waspadalah&#8230;</p>
<p><strong>3.</strong> Adik ipar Anda tidak boleh tinggal bersama dengan keluarga Anda. Ada banyak madharat, ketika saudara ipar, tinggal bersama saudara iparnya. Diantara,<br />
a. Memperbesar peluang terjadinya perselingkuhan.<br />
b. Membuka kesempatan berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. padahal jauh-jauh hari Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إياكم والدخول على النساء</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kalian memasuki tempat kediaman wanita&#8221;</em></p>
<p>Kamudian ada sahabat anshar yang bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> dengan saudara ipar? Beliau menjawab,</p>
<p class="arab">الحمو الموت</p>
<p><em>&#8220;Saudara ipar itu kematian.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebut saudara ipar dengan kematian, karena masyarakat luar tidak akan berburuk sangka ketika ada saudara ipar yang tinggal bersama istri kakaknya atau suami kakaknya. Sementara mereka sangat berpeluang utk melakukan zina. Sehingga kewaspadaan mereka untuk berzina sangat longgar. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>4. </strong>Segeralah untuk memperbaiki keluarga Anda. menjaga kehormatan masing-masing. Karena bisa jadi, seseorang yang melakukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/selingkuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with selingkuh">selingkuh</a>, dia akan mendapatkan hukuman dengan perlakuan yang sama dari pasangannya (istri atau suaminya). Suami yang main <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/selingkuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with selingkuh">selingkuh</a>, bisa jadi dia dihukum dengan perselingkuhan istrinya, dan sebaliknya. Karena itu, sebagian ulama mengatakan,</p>
<p class="arab">عفتك عفت زوجتك</p>
<p>&#8220;Sikapmu yang menjaga kehormatan akan dibalas dengan sikap istrimu yang juga menjaga kehormatan.&#8221;</p>
<p><strong>5.</strong> Jika ini belum menyebar, buat kesepakatan agar masing-masing tidak menceritakan kepada orang lain. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ</p>
<p><em>“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.”</em> (HR. Malik dalam <em>Al-Muwatha</em>’, no. 1508)</p>
<p>Dengan masing-masing berusaha bertaubat dan memperbaiki diri, semoga Allah segera memperbaikinya.</p>
<p><strong>Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berkaitan masalah keluarga dan pernikahan:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../ditolak-calon-mertua" target="_blank">Ditolak Calon Mertua</a>.</p>
<p>2. <a rel="nofollow" href="../siapakah-wali-nikah-dari-anak-hasil-zina" target="_blank">Siapakah Wali Nikah Anak Zina</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/istri-selingkuh" target="_blank">Istri Selingkuh dan Solusinya</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/haruskah-saya-ceraikan-istri-yang-berselingkuh" target="_blank">Haruskah Aku Ceraikan Istri yang Selingkuh?</a></p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/orang-tua-berselingkuh" target="_blank">Orang Tuaku Berselingkuh</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>selingkuh</strong>, <strong>selingkuh dengan ipar</strong>, <strong>iparku</strong>, <strong>iparku cantik</strong>, <strong>zina dengan ipar</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suami Malas Shalat</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/suami-malas-shalat</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/suami-malas-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 00:18:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalatlah]]></category>
		<category><![CDATA[suami durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[suami edan]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[suamiku selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7929</guid>
		<description><![CDATA[Suami malas shalat Pertanyaan, &#8220;Ustadz, ana mau tanya bagaimana mensikapi suami yang malas shalat, sementara istrinya wanita muslimah yang taat dan bagaimana kedudukan ana sebagai istri selama bertahun-tahun menunggu tetapi tidak ada perubahan.&#8221; Solusi suami malas shalat: &#8220;Kita memohon kepada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Suami malas <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a></h2>
<p>Pertanyaan, &#8220;Ustadz, ana mau tanya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> mensikapi suami yang malas <strong>shalat</strong>, sementara istrinya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> muslimah yang taat dan bagaimana kedudukan ana sebagai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri">istri</a> selama bertahun-tahun menunggu tetapi tidak ada perubahan.&#8221;<br />
<span id="more-7929"></span></p>
<h3>Solusi suami malas shalat:</h3>
<p>&#8220;Kita memohon kepada Allah agar menakdirkan kebaikan bagimu, memantapkan langkah-langkahmu, dan memberikan ilham kepada kita semua kepada petunjuk dan melindungi kita dari keburukan jiwa-jiwa kita dan dari kejelekan amAl-amal kita. Selamat datang di majalah kita ini, kami sangat bergembira dengan perhatianmu terhadap suami. Ini adalah termasuk akhlakmu yang baik dan harta simpananmu yang berharga.</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa hidup bersama dengan seorang suami yang tidak shalat adalah sebuah petaka damn kemungkaran yang tidak diperbolehkan secara syari, apalagi anda telah bersabar selama ini dalam masa yang panjang. Shalat memang perkara berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Shalat adalah hubungan langsung antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Shalat adalah amal yang pertama kali akan dihisab. Shalat adalah timbangan yang dengannya kita bisa mengetahui agama dan kebaikan seseorang. Barangsiapa menjaganya, maka dia memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa tidak menjaganya maka dia tidak memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat, dan akan dikumpulkan bersama Fir&#8217;aun, Haman, Qorun dan Ubay ibn Khalaf.</p>
<p>Shalat adalah sebuah kewajiban yang tidak akan gugur dari seorang manusia selagi dia bernafas dan punya ingatan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda kepada &#8216;Imran ibn Husain <em>radhiallahu ‘anhu</em>:</p>
<p class="arab">صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِداً، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلىَ جَنْبٍ</p>
<p><em>“<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalatlah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalatlah">Shalatlah</a> dalam keadaan berdiri, jika anda tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan (berbaring) di atas lambung.”</em> (Al-Bukhari, 1006)</p>
<p>Jika hal demikian diperuntukkan bagi si sakit, maka bagaimana pula dengan orang-orang yang sehat? Bagaimana pula dengan seorang laki-laki yang selayaknya menjaga shalat berjama&#8217;ah? Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu ‘anhu</em> telah berkata:</p>
<p class="arab">إِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ سُنَنَ الْهُدَى، وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلاَةَ فِيْ جَمَاعَةٍ، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِيْ بَيْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّيْ هَذَا الْمُنَافِقُ فِيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا عَلىَ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ  وَمَا يَتَخَلًَّفُ عَنِ الصَّلاَةِ فِيْ جَمَاعَةٍ إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتٰى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyari&#8217;atkan kepada nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya termasuk sunnah-sunnah petunjuk adalah shalat berjama&#8217;ah. Dan seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana orang munafik ini shalat di dalam rumahnya maka sungguh kalian telah meninggalkan sunnah nabi kalian, dan seandainya kalian meninggalkan sunnah nabi kalian maka pastilah kalian tersesat. Sungguh aku telah melihat kami di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat berjama&#8217;ah melainkan orang munafik yang jelas-jelas munafik. Sungguh ada seorang laki-laki yang didatangkan dengan dipapah di antara dua orang laki-laki hingga diberdirikan di dalam barisan.”</em> (H.r. Ahmad, 3616)</p>
<p>Sungguh perhatian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap shalat telah mencapai derajat yang agung hingga beliau ingin membakar rumah orang-orang yang tidak mengikuti shalat berjama&#8217;ah. Beliau tidak mengurungkan keinginan tersebut kecuali adanya para wanita, gadis pingitan dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anak di dalam rumah-rumah mereka.</p>
<p>Bersamaan dengan itu, kami berharap kepadamu untuk memberikan kesempatan terakhir kepada suamimu agar dia beristiqamah, jika tidak maka perceraian adalah lebih utama dikarenakan dengan hal tersebut telah jelaslah kekufuran dan kesengajaannya meninggalkan shalat. Kami akan membantu anda dengan izin Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan beberapa perkara yang membantumu untuk memperbaikinya. Di antara hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1.</strong> Menyandarkan diri kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, tunduk kepada-Nya demi hidayah kepada laki-laki tersebut, dan yang benar adalah kita berdo&#8217;a untuk seseorang di waktu malam, dan mendakwahinya di waktu siang, sesuai dengan kadar keikhlasan dan kejujuran kita, maka kebaikan dan pengabulan akan datang.</p>
<p><strong>2. </strong>Mengambil jalan masuk yang baik menasihatinya, mengetengahkan kata-kata yang indah, memilih waktu-waktu yang sesuai, dan sebutkanlah kebaikan-kebaikan serta sifat-sifatnya yang baik. Dan berusahalah membantunya untuk mempersiapkan kepercayaan dirinya dengan mengatakan, misalnya: “Anda alhamdulillah adalah seorang yang baik, anda bertanggung jawab, dan manusia menyebutmu dengan kebaikan, dan akan sangat bagus lagi kalau anda konsisten mengerjakan shalat lima waktu. Karena sesungguhnya aku senang melihat suamiku keluar seperti laki-laki lain bersama keluarganya menuju rumah-rumah Allah.”</p>
<p><strong>3. </strong>Mendorong orang-orang shalih dari mahrammu untuk menziarahinya dan mengajaknya shalat tanpa dia merasa bahwa hal tersebut adalah sebuah kesepakatan di antara kalian. Dan lebih memilih waktu-waktu shalat dalam ziarah hingga dia bisa pergi ke masjid bersama mereka.</p>
<p><strong>4.</strong> Membeli kaset-kaset, dan buku-buku kecil yang menjelaskan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> orang yang meninggalkan shalat, serta hukuman orang yang meremehkan pelaksanaan shalat pada waktunya, dan meletakkan kaset-kaset serta buku-buku kecil tersebut pada tempat yang biasa dia jangkau dengan tangannya.</p>
<p><strong>5.</strong> Berambisi agar dia konsisten dalam mengerjakan shalat lima waktu untuk pertama kalinya, kemudian mendakwahinya agar mendirikannya dengan kekhusyu&#8217;annya, rukuknya dan tumakninahnya. Dan hal yang demikian tidak akan terjadi kecuali dengan rutin mengerjakan shalat. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah memuji orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya dengan berfirman:</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.”</em> (Q.s. Al-Mukminun: 9)</p>
<p>Dikarenakan rutin dan menjaga shalat akan menghantarkan kepada kekhusyukan, dan shalat tidak akan bermanfaat kecuali dengan khusyuk.</p>
<p><strong>6.</strong> Jadikanlah waktu-waktu makan setelah waktu-waktu shalat.</p>
<p><strong>7.</strong> Menjelaskan bahayanya meninggalkan shalat tepat pada waktunya. Mush&#8217;ab ibn Sa&#8217;d ibn Abi Waqqash <em>radhiallahu ‘anhu</em> pernah berkata kepada bapaknya saat membaca firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p><em>“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,”</em> (QS. Al-Ma&#8217;un: 5)</p>
<p>Dia berkata, “<em>Wahai bapakku, apakah mereka adalah orang-orang yang tidak shalat?” Maka berkatalah Sa&#8217;d: “Tidak, seandainya mereka meninggalkan shalat, maka mereka telah kafir, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang mengakhirkan (menunda)nya dari waktunya.”</em> (H.r. Al-Bazzar 1145, dan Thabarani dalam <em>Al-Aushath</em> 2276)</p>
<p><strong>8.</strong> Menggunakan sarana-sarana dan senjata berpengaruh yang dimiliki oleh seorang wanita untuk memaksanya agar rutin mengerjakan shalat, seperti menolak makan bersamanya, duduk dengannya, serta menolak tidur di pembaringan, dan tidak ada larangan menyampaikan keinginan cerai jika dia tidak menjaga pelaksanaan shalat.</p>
<p>Demikianlah kita memohon taufik dari Allah untukmu.</p>
<p><strong>Referensi:</strong><em> http://qiblati.com/menghadapi-suami-yang-tidak-shalat.html</em> <strong>(Dipublikasikan ulang oleh Konsultasi Syariah dengan sedikit perubahan tata bahasa)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel penting seputar suami dan istri:</p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/suami-sayang-tidak-cinta" target="_blank">Suami tidak Sayang, Karena Wajahku Jelek</a>.</p>
<p>2. <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/istri-tidak-mau-berjilbab-dan-tidak-shalat" target="_blank">Jika Istri tidak Mau Berjilbab dan Mengerjakan Shalat</a>.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>suami edan</strong>, <strong>suami istri</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>suamiku selingkuh</strong>, <strong>shalatlah</strong>, <strong>suami durhaka</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/suami-malas-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahram Kita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/muhrim-dan-mahram</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/muhrim-dan-mahram#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 01:43:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7425</guid>
		<description><![CDATA[Muhrimkah kakak ipar Assalamu&#8217;alaikum, Ustad apakah kakak ipar/istri dari saudara laki-laki itu termasuk muhrim? terima kasih. Aljauhar (the_banXXXXX@yahoo.com) Jawaban: Wa alaikumus salam Pertama kami ingatkan, bahwa penggunaan istilah yang benar adalah mahram bukan muhrim. Karena muhrim artinya orang yang melakukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Muhrimkah kakak ipar</h2>
<p>Assalamu&#8217;alaikum, Ustad apakah kakak ipar/<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri">istri</a> dari saudara laki-laki  itu termasuk <a title="Siapa Mahram Saya?" href="http://konsultasisyariah.com/siapa-mahram-saya" target="_blank"><strong>muhrim</strong></a>? terima kasih.</p>
<p><em>Aljauhar (the_banXXXXX@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-7425"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa alaikumus salam</em></p>
<p>Pertama kami ingatkan, bahwa penggunaan istilah yang benar adalah mahram bukan <em>muhrim</em>. Karena <span style="text-decoration: underline;">muhrim</span> artinya orang yang melakukan ihram, baik untuk umrah atau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haji-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haji">haji</a>. Sedangkan mahram, Imam an-Nawawi memberi batasan dalam sebuah definisi berikut,</p>
<p class="arab">كل من حرم نكاحها على التأبيد بسبب مباح لحرمتها</p>
<p>Setiap <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> yang haram untuk dinikahi selamanya, disebab sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram. (<em>Syarah Shahih Muslim,</em> An-Nawawi, 9:105)</p>
<p>Kemudian beliau memberikan keterangan untuk definisi yang beliau sampaikan:</p>
<ol>
<li> <strong>Haram untuk dinikahi selamanya</strong> : Artinya ada wanita yang haram dinikahi, namun tidak selamanya. Seperti adik istri atau bibi istri. Mereka tidak boleh dinikahi, tetapi tidak selamanya. Karena jika istri meninggal atau dicerai, suami boleh menikahi adiknya atau bibinya.</li>
<li><strong>Disebabkan sesuatu yang mubah</strong> : Artinya ada wanita yang haram untuk dinikahi selamanya dengan sebab yang tidak mubah. Seperti ibu wanita yang pernah disetubuhi karena dikira istrinya, atau karena pernikahan syubhat. Ibu wanita ini haram untuk dinikahi selamanya, namun bukan mahram. Karena menyetubuhi wanita yang bukan istrinya, karena ketidaktahuan bukanlah perbuatan yang mubah.</li>
<li><strong>Karena statusnya yang haram</strong> : Karena ada wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, namun bukan karena statusnya yang haram tetapi sebagai hukuman. Misalnya, wanita yang melakukan mula&#8217;anah dengan suaminya. Setelah saling melaknat diri sendiri karena masalah tuduhan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/selingkuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with selingkuh">selingkuh</a>, selanjutnya pasangan suami-istri ini dipisahkan selamanya. Meskipun keduanya tidak boleh nikah lagi, namun lelaki mantan suaminya bukanlah mahram bagi si wanita.</li>
</ol>
<p>Adapun wanita yang tidak boleh dinikahi karena selamanya ada 11 orang ditambah karena faktor persusuan. Tujuh diantaranya, menjadi mahram karena hubungan nasab, dan empat sisanya menjadi mahram karena hubungan pernikahan.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> tujuh wanita yang tidak boleh dinikahi karena hubungan nasab:</p>
<ol>
<li> Ibu, nenek, buyut perempuan dan seterusnya ke atas.</li>
<li><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">Anak</a> perempuan, cucu perempuan, dan seterusnya ke bawah.</li>
<li>Saudara perempuan, baik saudari kandung, sebapak, atau seibu.</li>
<li>Keponakan perempuan dari saudara perempuan dan keturunannya ke bawah.</li>
<li>Keponakan perempuan dari saudara laki-laki dan keturunannya ke bawah.</li>
<li>Bibi dari jalur bapak (<em>&#8216;ammaat</em>).</li>
<li>Bibi dari jalur ibu (<em>Khalaat</em>).</li>
</ol>
<p><strong>Kedua,</strong> empat wanita yang tidak boleh dinikahi karena hubungan pernikahan:</p>
<ol>
<li> Ibu istri (ibu mertua), nenek istri dan seterusnya ke atas, meskipun hanya dengan akad</li>
<li>Anak perempuan istri (anak tiri), jika si lelaki telah melakukan hubungan dengan ibunya</li>
<li>Istri bapak (ibu tiri), istri kakek (nenek tiri), dan seterusnya ke atas</li>
<li>Istri anak (menantu perempuan), istri cucu, dan seterusnya kebawah.</li>
</ol>
<p>Demikian pula karena sebab <strong>persusuan</strong>, bisa menjadikan mahram sebagaimana nasab. (<em>Taisirul &#8216;Alam, Syarh Umdatul Ahkam</em>, hal. 569)</p>
<h3>Catatan untuk saudara ipar apakah mahram (muhrim):</h3>
<p>Saudara ipar bukan termasuk mahram. bahkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengingatkan agar berhati-hati dalam melakukan pergaunlan bersama ipar. Dalilnya: Ada seorang sahabat yang bertanya, “Ya Rasulullah, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> kakak ipar?”<br />
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, <em>“Saudara ipar adalah kematian.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>Maksud hadis:</strong> Interaksi dengan kakak ipar bisa menjadi sebab timbulnya maksiat dan kehancuran. Karena orang bermudah-mudah untuk bebas bergaul dengan iparnya, tanpa ada pengingkaran dari orang lain. Sehingga interaksinya lebih membahayakan daripada berinteraksi dengan orang lain yang tidak memiliki hubungan keluarga. Kondisi semacam ini akan memudahkan mereka untuk terjerumus ke dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a>.</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/muhrim-dan-mahram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Tua Menginginkan Putrinya di Rumah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/orang-tua-menginginkan-putrinya-di-rumah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/orang-tua-menginginkan-putrinya-di-rumah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 03:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7365</guid>
		<description><![CDATA[Orang Tua Menginginkan Putrinya di Rumah Saya seorang istri, tinggal bersama suami dan empat anak. Belakangan ini, orang tua saya yang sudah lanjut usia menginginkan saya pulang untuk menemani mereka di kampung. Sementara suami tidak berkenan. Siapa yang harus saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Orang Tua Menginginkan Putrinya di Rumah</h2>
<p>Saya seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri">istri</a>, tinggal bersama suami dan empat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>. Belakangan ini, orang tua saya yang sudah lanjut usia menginginkan saya pulang untuk menemani mereka di kampung. Sementara suami tidak berkenan. Siapa yang harus saya utamakan?<br />
<span id="more-7365"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Kehidupan rumah tanggal yang bahagia dapat terwujud dengan saling memberikan dan menunaikan hak-hak masing-masing anggota keluarga. Sang istri memiliki hak yang wajib ditunaikan sang suami, demikian juga sebaliknya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan dan menegaskan kewajiban <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> dalam menunaikan hak suami dalam sabda Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m:</p>
<p><em>”Seandainya aku akan memerintahkan seorang untuk bersujud kepada selain Allah, tentulah aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya. Demi (Allah) Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seorang wanita menunaikan hak Rabb-nya sampai dia telah menunaikan hak suaminya. Walaupun suaminya meminta dirinya (berhubungan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/suami-istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with suami istri">suami istri</a>) di atas pelana onta, ia tidak boleh menolaknya.”</em> (HR. Ibnu Majah dalam kitab as-Sunan No. 1843. Lihat ash-Shahihah No. 1203)</p>
<p>Syaikh al-Albani dalam Adabuz Zifaf menjelaskan tentang hadits ini dengan menyatakan, ‘Pengertiannya adalah anjuran kepada kaum wanita untuk menaati suaminya, ia tidak boleh menolak (ajakan suami) dalam keadaan seperti itu, lalu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> dalam kondisi yang lainnya? (Tentu ia lebih patut menaati suami).’</p>
<p>Ketika menjelaskan hadits di atas, penulis Tuhfatul Ahwadzi mengatakan, ‘Demikian itu dikarenakan banyaknya hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri dan tidak mampunya istri untuk membalas kebaikan suaminya. Dalam hadits ini terdapat ungkapan hiperbolis menunjukkan wajibnya istri untuk menunaikan hak suaminya karena tidak diperbolehkan bersujud kepada selain Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.’</p>
<p>Berdasarkan hadits di atas, maka seorang istri berkewajiban mendahulukan hak suami daripada oarng tuanya, jika tidak mungkin untuk menyelaraskan (menyatukan) dua hal ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Seorang perempuan jika telah menikah, maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan menaati suami itu lebih wajib dari pada taat orang tua.’ (<em>Majmu’ Fataw</em>a, 32/261)</p>
<p>Di halaman yang lain, beliau mengatakan, ‘Seorang istri tidak boleh keluar dari rumah kecuali dengan izin suami meski diperintahkan oleh bapak atau ibunya, apalagi orang selain mereka berdua. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> ini adalah suatu yang telah disepakati oleh para imam. Jika suami ingin berpindah tempat tinggal dari tempat semula dan dia adalah seorang suami yang memenuhi tanggung-jawabnya sebagai seorang suami serta menunaikan hak-hak istrinya, lalu orang tua istri melarang anaknya untuk pergi bersama suami padahal suami memerintahkannya untuk turut pindah, maka kewajiban istri adalah menaati suami, bukan menaati orang tuanya. Orang tua dalam hal ini dalam kondisi zhalim. Orang tua tidak boleh melarang anak perempuannya untuk menaati suami dalam masalah-masalah semacam ini’ (<em>Majmu Fataw</em>a: 32/263)</p>
<p>Mencermati pertanyaan Saudari dalam hal ini, maka perintah dan ketaatan kepada suami lebih didahulukan dari permintaan orang tua. Namun, permasalahan kepentingan orang tua yang sudah lanjut usia dengan kepentingan suami yang berharap Saudari berada di sampingnya merupakan perkara yang mungkin dikompromikan dan tidak harus dipertentangkan. Coba mengadakan komunikasi dengan suami dan orang tua untuk mencari solusinya.</p>
<p>Titik komprominya bisa dilihat kepada teladan yang ada, di antara contohnya:</p>
<p><strong>1.</strong> Bila orang tua tidak memiliki anak kecuali Saudari sehingga bila saudari tidak mengurusnya maka orang tua tersebut terlantar, maka diminta orang tua tinggal di rumah suami, dengna persetujuan suami tentunya.</p>
<p><strong>2.</strong> Bila orang tuanya memiliki anak selain Saudari, bisa memintanya merawat dan mengurus orang tua dengan cara Saudari dan suami menanggung biaya kebutuhan hidupnya (saudara yang menangani orang tua), Atau solusi-solusi lainnya sesuai dengan kondisi dan keadaan dengan memperhatikan kemaslahatan bagi banyak pihak.</p>
<p>Perlu diketahui juga oleh sang suami bahwa kebahagiaan rumah tangganya sangat tergantung juga dengan kebahagiaan sang istri. Membantu mertua merupakan salah satu upaya membahagiakan istri yang akan berdampak positif terhadap keutuhan dan kebahagiaan rumah tangganya. Apalagi sejak pertama, akad pernikahan sudah mengikat dua keluarga besar dalam ikatan keluarga dan persaudaraan. Berbuat baik kepada mertua dan sikap sedikit banyak mengalah untuk kepentingannya yang bersifat baik dan positif merupakan satu amalan shalih yang bisa menjadi sebab kemudahan rezeki dan hidup bagi kita. Hal ini dapat ditinjau dari sisi mertua sebagai seorang Muslim dan membahagiakan seorang Muslim menurut syariat adalah termasuk ibadah dan amal shalih. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><em>“Termasuk amalan paling utama, menciptakan kegembiraan bagi seorang Muslim: dengan cara membayarkan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan menyelesaikan kesulitannya.”</em> (Ash-Shahihah: no. 2291)</p>
<p>Selain itu, akan timbul efek positif dari perbuatan tersebut pada sikap istri dan keluarganya kepada suami, di samping kebaikan-kebaikan lainnya yang muncul sebagai pengaruh positif dari perhatian suami kepada keluarga istrinya. Sikap baik suami ini terhadap istri dan keluarganya juga merupakan salah satu bentuk nyata dari ketakwaan kepada Allah dan ketakwaan kepada Allah akan menjadi sebab datangnya kemudahan bagi seluruh urusan kita dan juga kemudahan rezeki. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p><em>“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”</em> (QS. At-Thalaq: 2-3)</p>
<p>Dalam ayat selanjutnya, Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p><em>“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”</em> (QS. At-Thalaq: 4)</p>
<p>Siapakah yang tidak mengharapkan hal ini? Oleh karena itu, hendaknya suami memberikan perhatian dan kemudahan kepada istri untuk melakukan kebaikan dan baktinya kepada kedua orang tuanya, sehingga mudah-mudahan dengan adanya kerjasama dan saling pengertian tersebut akan terbentuk satu keluarga yang penuh dengan sakinah, mawaddah dan rahmah. Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memberikan kemudahan bagi Saudari dalam menyelesaikan segala urusan. Demikian jawaban kami mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p><strong>Sumber:</strong><em> Majalah As-Sunnah</em>, Edisi 06 Tahun XIV 1431 H/2010 M. (<strong>Dipublikasikan ulang oleh <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong>)</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/orang-tua-menginginkan-putrinya-di-rumah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wudhu bagi Wanita Haid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/wudhu-wanita-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/wudhu-wanita-haid#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 23:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[bulanan wanita]]></category>
		<category><![CDATA[fikih wanita]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[kewanitaan]]></category>
		<category><![CDATA[mentruasi]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6677</guid>
		<description><![CDATA[Jika wanita haid wudhu Ustadz, apakah ada larangan bagi wanita haid untuk berwudhu? Wanita haid sedang berhadas, apakah dengan wudhu, status berhadasnya bisa menjadi suci, karena fungsi wudhu &#8216;kan untuk bersuci? Ellis Khairunnisa (**_elis@***.com) Jawaban untuk wanita yang haid dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Jika <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wudhu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wudhu">wudhu</a><strong> </strong></h2>
<p>Ustadz, apakah ada larangan bagi wanita haid untuk berwudhu? Wanita haid sedang berhadas, apakah dengan <span style="text-decoration: underline;">wudhu</span>, status berhadasnya bisa menjadi suci, karena fungsi <strong>wudhu</strong> &#8216;kan untuk bersuci?</p>
<h3><em>Ellis Khairunnisa (**_elis@***.com)</em><br />
<span id="more-6677"></span><br />
Jawaban untuk wanita yang haid dan melakukan wudhu:</h3>
<blockquote><p><strong>Tidak disyariatkan bagi wanita haid untuk berwudhu karena <a title="Berwudhu Sambil Berbicara, Bolehkah?" href="http://konsultasisyariah.com/berwudhu-sambil-berbicara-bolehkah" target="_blank">wudhu</a> wanita haid tidak menghilangkan status hadasnya. </strong></p></blockquote>
<p>Imam Nawawi mengatakan, &#8220;Para ulama mazhab kami (Syafi&#8217;iyah) sepakat bahwa tidak dianjurkan bagi wanita haid atau nifas untuk berwudhu (sebelum tidur) karena wudhunya tidak berdampak pada statusnya, karena ketika darah haidnya sudah berhenti (sedangkan dia belum mandi suci), hukumnya seperti orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/junub" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with junub">junub</a>. (<em>Syarh Shahih Muslim</em>, 3:218)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>).</strong><br />
<strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>haid</strong>, <strong>kewanitaan</strong>, <strong>mentruasi</strong>, <strong>wudhu</strong>, <strong>fikih wanita</strong>, <strong>bulanan wanita</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/wudhu-wanita-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Wanita Haid Menghidupkan Lailatul Qadar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-untuk-wanita-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-untuk-wanita-haid#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 01:27:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6768</guid>
		<description><![CDATA[Lailatul qadar untuk wanita haid Bagaimana cara wanita haid menghidupkan lailatul qadar? Jawaban: Untuk wanita haid yang ingin medapatkan malam lailatul qadar Wanita haid bisa melakukan banyak ibadah selain shalat. Juwaibir mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh-Dhahak, “Bagaimana pendapatmu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/lailatul-qadar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with lailatul qadar">Lailatul qadar</a> untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a><br />
</strong></h2>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> cara wanita haid menghidupkan <strong><em>lailatul qadar</em></strong>?<br />
<span id="more-6768"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h2><strong>Untuk wanita haid yang ingin medapatkan malam lailatul qadar<br />
</strong></h2>
<p>Wanita haid bisa melakukan banyak ibadah selain <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>.</p>
<p>Juwaibir mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh-Dhahak, “Bagaimana pendapatmu tentang wanita nifas, haid, musafir, dan orang yang tidur; apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari <em>lailatul qadar</em>?” Adh-Dhahak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Setiap orang yang Allah terima amalannya akan mendapatkan bagian <a title="lailatul qadar dan tanda-tandanya" href="http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-tanda-tanda-nya" target="_blank"><span style="text-decoration: underline;"><em>lailatul qadar</em></span></a>.” (<em>Lathaif Al-Ma’arif</em>, hlm. 341)</p>
<p>Keterangan ini menunjukkan bahwa wanita haid, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian <strong><em>lailatul qadar</em></strong>. Hanya saja, wanita haid dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat. Untuk bisa mendapatkan banyak pahala ketika <em>lailatul qadar</em>, wanita haid atau nifas masih memiliki banyak kesempatan ibadah. Di antara bentuk ibadah yang bisa dilakukan adalah:</p>
<ol>
<li>Membaca Alquran tanpa menyentuh mushaf.</li>
<li>Berzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (la ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zikir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zikir">zikir</a> lainnya.</li>
<li>Memperbanyak istigfar.</li>
<li>Memperbanyak doa.</li>
<li>Membaca zikir ketika <em>lailatul qadar</em>, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat dari Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, &#8220;Aku bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai satu malam yang itu merupakan <em>lailatul qadar</em>, apa yang aku ucapkan?&#8217; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, &#8220;Ucapkanlah, &#8216;اللَّـهُـمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُـحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي&#8217; (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Pemaaf dan Pemurah maka maafkanlah diriku.)&#8217;&#8221; (Hadis sahih; diriwayatkan At-Turmudzi dan Ibnu majah)</li>
</ol>
<p>Dalam <em>Fatwa Islam Tanya-Jawab</em> dijelaskan, &#8220;Wanita haid boleh melakukan semua bentuk ibadah, kecuali shalat, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a>, tawaf di ka&#8217;bah, dan i&#8217;tikaf di masjid. Menghidupkan <em>lailatul qadar</em> tidak hanya dengan shalat, namun mencakup semua bentuk ibadah. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, &#8216;Makna &#8216;menghidupkan malam lailatul qadar&#8217; adalah begadang di malam tersebut dengan melakukan ketaatan.&#8217; An-Nawawi mengatakan, &#8220;Makna &#8216;menghidupkan lailatul qadar&#8217; adalah menghabiskan waktu malam tersebut dengan bergadang untuk shalat dan amal ibadah lainnya.&#8217;&#8221;</p>
<h3>Kesimpulan: Meskipun wanita berhalangan, mereka masih mampu untuk mendapatkan malam lailatul qadar.</h3>
<p><strong>Sumber</strong>: <em>http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753</em></p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong></p>
<p><strong>Artikel www.KonsultasiSyariah.com</strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>lailatul qadar</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/lailatul-qadar-untuk-wanita-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khitan Bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 08:55:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abduh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[khitan]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6634</guid>
		<description><![CDATA[Khitan Bagi Wanita Syekh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Wahai Syekh yang mulia, berkaitan dengan khitan bagi wanita, apakah hukumnya wajib ataukah sunah?” Beliau rahimahullah menjawab, &#8220;Yang paling tepat dari perkataan para ulama dalam masalah ini adalah pendapat yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/khitan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with khitan">Khitan</a> Bagi <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">Wanita</a></h2>
<p>Syekh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> ditanya, “Wahai Syekh yang mulia, berkaitan dengan khitan bagi wanita, apakah hukumnya wajib ataukah sunah?”<br />
<span id="more-6634"></span><br />
Beliau <em>rahimahullah</em> menjawab,</p>
<p>&#8220;<strong>Yang paling tepat dari perkataan para ulama dalam masalah ini adalah pendapat yang pertengahan, bahwa khitan itu wajib bagi laki-laki, namun tidak wajib bagi wanita.</strong> Perbedaannya sangat jelas sekali karena kulit khitan yang ada pada laki-laki, jika dibiarkan, dapat memberikan efek bahaya ketika kencing. Efek lainnya lagi, kemaluannya akan lebih mudah terkontaminasi di daerah antara kulit khitan&#8211;yang nanti akan dipotong&#8211;dan kemaluannya. Hal ini tidak kita jumpai pada wanita. Oleh karena itu, yang benar di antara pendapat ulama tentang masalah ini, khitan itu wajib bagi laki-laki dan sunah bagi wanita.</p>
<p>Sebagian ulama memang mengatakan bahwa khitan wajib bagi keduanya. Sebagian yang lain mengatakan bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> khitan itu hanyalah sunah bagi keduanya. Namun, yang tepat adalah pendapat yang pertengahan, bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> khitan itu wajib bagi laki-laki dan sunah bagi wanita.&#8221; (<em>Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh</em>, Syekh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin, kaset no. 16)</p>
<p>Riyadh, KSA, 16 Dzulhijjah 1431 H (22/11/2010 M)</p>
<p><strong>Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<p><strong>Sumber: </strong><em>www.rumaysho.com</em></p>
<p><strong>Dipublikasikan ulang oleh www.KonsultasiSyariah.com, disertai penyuntingan bahasa.</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>khitan</strong>, <strong>wanita</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/khitan-bagi-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baru Tahu Suci dari Haid Setelah Subuh</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/setelah-subuh-baru-tahu-suci-dari-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/setelah-subuh-baru-tahu-suci-dari-haid#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 06:10:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[niat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6494</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Jika ada wanita haid yang setelah subuh baru mengetahui bahwa dia telah suci, apakah dia wajib puasa di hari itu atau harus mengqadhanya, karena dia belum berniat di malam hari? Jawaban: Alhamdulillah washshalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah. Wanita haid yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Jika ada <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a> yang setelah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with subuh">subuh</a> baru mengetahui bahwa dia telah suci, apakah dia wajib <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> di hari itu atau harus mengqadhanya, karena dia belum berniat di malam hari?<br />
<span id="more-6494"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillah washshalatu wassalamu &#8216;ala Rasulillah.</em></p>
<p>Wanita haid yang telah <strong>suci</strong> sebelum subuh dan setelah subuh baru tahu bahwa dirinya telah suci, sementara dia belum mengonsumsi apa pun, maka <strong>hendaknya dia lanjutkan puasa dan puasanya sah, serta tidak wajib qadha</strong>, karena berniat puasa di malam hari tidak mungkin dia lakukan. Ada yang mengatakan bahwa keadaan ini merupakan pengecualian terhadap yang disebutkan dalam hadis dari Hafshah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له</strong></p>
<p>&#8216;<em>Siapa saja yang belum berniat puasa sebelum fajar maka tidak ada <strong>puasa</strong> baginya</em>.&#8217; (H.r. Abu Daud, Nasa&#8217;i, dan Turmudzi; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani dalam <em>Shahih Jami&#8217;ush Shaghir</em>, no. 6538)</p>
<p>Hadis di atas merupakan dalil wajibnya niat, dan berniat harus dilakukan di malam hari. Hanya saja, kewajiban ini dipahami untuk orang yang mampu untuk itu, karena tidak ada beban syariat kecuali sesuai kemampuan. Dengan demikian, hadis ini dikecualikan untuk orang yang tidak mampu, sementara dia baru tahu di siang hari bahwa dia harus <strong>puasa</strong>. Seperti, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> kecil yang baru balig, orang gila yang baru sadar, orang kafir yang baru masuk islam, atau orang yang orang yang baru tahu di siang hari bahwa hari itu sudah tanggal 1 Ramadan. Ini sebagaimana hadis dari Salamah bin Akwa&#8217; dan dari Rubayi&#8217; binti Mu&#8217;awidz bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan seseorang dari Bani Aslam untuk mengumumkan, “<em>Siapa saja yang sudah makan hendaknya dia puasa di sisa harinya dan siapa yang belum makan, jangan makan</em>.” (H.r. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Jawaban dari Syekh Muhammad Ali Farkus (seorang ulama Aljazair) </strong></p>
<p><strong>Diterjemahkan oleh <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah.com</a>) dari <em>http://www.ferkous.com/rep/<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a>-fatawa/Bg4.php</em></strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>puasa</strong>, <strong>niat puasa</strong>, <strong>haid</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/setelah-subuh-baru-tahu-suci-dari-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Mengetahui Masa Suci Haid</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/berhenti-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/berhenti-haid#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 02:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersuci]]></category>
		<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[maksud dari al-qashshah al-baidha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=6438</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana mengetahui keadaan kita sudah suci dari haid. Apakah boleh menunda bersuci dari haid sampai sore (magrib) tiba, padahal sudah suci saat zuhur atau asar? Lina (lina**@***.com) Jawaban: Cara mengetahui masa suci haid ada dua: Pertama, terputusnya darah dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> mengetahui keadaan kita sudah suci dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a>. Apakah boleh menunda bersuci dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a> sampai sore (magrib) tiba, padahal sudah suci saat zuhur atau asar?</p>
<p><em>Lina (lina**@***.com)</em><br />
<span id="more-6438"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Cara mengetahui masa suci <strong>haid</strong> ada dua:</p>
<p><em><strong>Pertama</strong></em>, terputusnya darah dan tempat keluarnya darah telah kering. Dalam konidisi ini, andaikan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> tersebut memasukkan kapas atau semacamnya ke tempat keluarnya haid, kemudian dikeluarkan dalam keadaan <strong>bersih dan tidak ada bekas</strong> darah, cairan kekuningan, atau pun cairan kecoklatan.</p>
<p>Imam Al-Bukhari membuat satu bab dalam masalah ini dalam kitab<em> Shahih</em>-nya. Dalam bab tersebut, beliau membawakan atsar, &#8220;<em>Dahulu para wanita menemui Aisyah dengan membawa tas kecil berisi kapas yang ada shufrahnya. Kemudian Aisyah mengatakan, &#8216;Jangan terburu-buru, sampai kalian melihat al-qashshah al-baidha&#8217;</em>.&#8221; Al-Bukhari mengatakan, &#8220;Maksud Aisyah adalah suci <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/dari-haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with dari haid">dari haid</a>.&#8221;</p>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>, keluarnya cairan putih (<em>al-qushshah al-baidha&#8217;</em>). Sebagian wanita tidak melihat cairan ini sama sekali.</p>
<p><strong>Disadur dari <em>www.islamqa.com</em>, dengan beberapa penambahan dari <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Ustadz Ammi Nur Baits</a> (Dewan Pembina <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">Konsultasi Syariah.com</a>).</strong></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>maksud dari al-qashshah al-baidha</strong>, <strong>haid</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/berhenti-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batas Shalat Ketika Hendak Melahirkan</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/shalat-ibu-hamil</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/shalat-ibu-hamil#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 22:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[bumil mual waktu wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[darah nifas setelah melahirkan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita hamil salat]]></category>
		<category><![CDATA[kapan msuk nifas pada persalinan]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[wajib solat ibu baru melahirkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5831</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bismillah. Ustadz, bagaimana hukum shalat wanita yang sedang dalam kondisi hampir melahirkan, di mana ia sudah tidak berdaya karena sakitnya proses persalinan sementara sudah masuk waktu shalat? Apakah ia sudah dihukumi nifas atau wajib meng-qadha shalatnya pada waktu selesai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Bismillah</em>. Ustadz, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> yang sedang dalam kondisi hampir melahirkan, di mana ia sudah tidak berdaya karena sakitnya proses persalinan sementara sudah masuk waktu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>? Apakah ia sudah dihukumi nifas atau wajib meng-<em>qadha</em> shalatnya pada waktu selesai nifasnya? <em>Jazakumullahu khairan</em>.</p>
<p><em>Umi Saad (**saad@***.com) </em><br />
<span id="more-5831"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah</em>.</p>
<p>Tentang darah yang keluar beberapa saat sebelum melahirkan, dirinci menjadi dua.</p>
<ol>
<li> Jika keluarnya darah tersebut <strong>disertai dengan sakitnya kontraksi</strong> karena proses pembukaan maka darah adalah darah <strong>nifas</strong>.</li>
<li>Jika keluarnya darah tersebut <strong>tidak disertai dengan kontraksi</strong> maka darah itu bukan nifas, tetapi <strong><em>istihadah</em></strong>.</li>
</ol>
<p>Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin menerangkan bahwa Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, &#8220;Darah yang dilihat wanita ketika mulai berkontraksi itu berstatu sebagai darah nifas. Yang dimaksud &#8220;kontraksi&#8221; adalah &#8216;proses pembukaan yang merupakan tahapan proses melahirkan&#8217;. Jika tidak disertai kondisi semacam ini maka bukan nifas.&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa Syaikh Ibni Utsaimin</em>, 4:328)</p>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>bumil mual waktu wudhu</strong>, <strong>hukum wanita hamil salat</strong>, <strong>kapan msuk nifas pada persalinan</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>darah nifas setelah melahirkan</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>wajib solat ibu baru melahirkan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/shalat-ibu-hamil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunda Mandi Haid Hingga Terbit Fajar Ketika Puasa</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/puasa-wanita-haid</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/puasa-wanita-haid#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 09:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[RAMADHAN]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[antara terbit fajar dan shalat suboh]]></category>
		<category><![CDATA[apa hukumnya puasa kalau mandi junubnya jam 8 pagi]]></category>
		<category><![CDATA[apakah boleh berpuasa ketika belum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[apakah orang yang berpuasa harus suci]]></category>
		<category><![CDATA[apakah sah kalau puasa sedang keadaan belum suci belum mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[apakah sah kalo saya puasa sesudah onani tapi belum mandi wajib yahoo]]></category>
		<category><![CDATA[apakah seseorang boleh berpuasa apabila belum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[aturan puasa wanita haid]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan untuk mandi bersih]]></category>
		<category><![CDATA[batas terbit fajar dibulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[beda agama]]></category>
		<category><![CDATA[belom mandi wajib ikut puasa]]></category>
		<category><![CDATA[belum mandi junub apakah boleh puasa]]></category>
		<category><![CDATA[belum mandi junub ketika waktu subuh datang]]></category>
		<category><![CDATA[belum mandi wajib saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[belum mandi wajib waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[berpuasa dalam keadaan tidak bersih]]></category>
		<category><![CDATA[berpuasa sebelum mandi besar hukumnya gimana]]></category>
		<category><![CDATA[bila belum mandi wajib tidak boleh puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[boleh puasa jika sudah mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[boleh puasa mandi wajib terbit fajar]]></category>
		<category><![CDATA[boleh shalat sebelum mandi bersih]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah bila wanita itu puasa bila lagi halangan]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkan berpuasa sebelum mandi hadas]]></category>
		<category><![CDATA[cara cara mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[crane#hl=en]]></category>
		<category><![CDATA[dari haid]]></category>
		<category><![CDATA[doa niat mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[haid blm mandi wajib berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid ketika bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid pada waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haid saat bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[halal atau tidak puasa sebelum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berpuasa haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berpuasa ketika haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mandi setelah haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa bagi orang yang belum suci]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa jika tidak mandi wajib bila matahari terbit di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa sebelum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[hukum suci haid dalam bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tidak mandi wajib selepas terbitnya matahari di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukumnya menunda menggauli isteri]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jika belum mandi besar dikarenakan menstruasi di pagi hari masih diperbolehkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[jika belum mandi junub sah atau tidak puasa seseorang]]></category>
		<category><![CDATA[junub]]></category>
		<category><![CDATA[junub haid puasa]]></category>
		<category><![CDATA[junub lupa mandi puasanya sah ga ya?]]></category>
		<category><![CDATA[kapan waktu datangnya terbit fajar]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[lupa belum mandi junub apakah boleh berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi besar haid bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi besar setelah haid harus ikut puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi hadas haid bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi hadas haid bulan puasa sebelum matahari terbit]]></category>
		<category><![CDATA[mandi haid]]></category>
		<category><![CDATA[mandi haid ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi haid ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub saat matahari terbit]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub setelah datang waktu subuh di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub setelah terbit fajar membatalkan puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[mandi setelah haid pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi suci daripada haid dalam bulan ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib bulan puasa matahari terbit]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib dan puasa dan haid]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib dari haid bulan ramadab]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib jam 8 bagaimana hukum puasanya]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib pas puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib saat pagi puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib selepas terbit matahari]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib selepas terbit matahari di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib setelah sahur. bisa puasa]]></category>
		<category><![CDATA[menunda mandi hingga fajar terbit]]></category>
		<category><![CDATA[nabi isa]]></category>
		<category><![CDATA[niat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang belum mandi junub apakah bisa puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa haid]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sebelum mandi haidh]]></category>
		<category><![CDATA[qada solat kerana haid]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sah gak puasa kalau belum mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat subuh]]></category>
		<category><![CDATA[sholat setelah fajar]]></category>
		<category><![CDATA[subuh]]></category>
		<category><![CDATA[sudah suci dari haid tapi belum bisa mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[tanda tanda suci dari haid]]></category>
		<category><![CDATA[terbit fajar]]></category>
		<category><![CDATA[terbit fajar sebelum matahari terbit]]></category>
		<category><![CDATA[waktu mandi besar pada waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[waktu mandi wajib bagi wanita yang berhenti haid sebelum terbit fajar ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[waktu mandi wajib haid]]></category>
		<category><![CDATA[wanita haid dan puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[wanita haid di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5810</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Ada seorang wanita yang haidnya telah berhenti sebelum fajar tetapi dia baru mandi setelah terbit fajar, bagaimana hukum puasanya? Jawaban: Puasanya sah jika dia yakin telah suci sebelum terbit fajar. Yang penting dia yakin bahwa dirinya suci, karena sebagian ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ada seorang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> yang haidnya telah berhenti sebelum fajar tetapi dia baru mandi setelah terbit fajar, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> puasanya?<br />
<span id="more-5810"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Puasanya sah jika dia yakin telah suci sebelum terbit fajar. Yang penting dia yakin bahwa dirinya suci, karena sebagian mengira bahwa dirinya telah suci tapi ternyata belum. Maka dari itu, ada seorang wanita datang kepada Aisyah dengan membawa kapas, lalu memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kesucian. Aisyah berkata kepadanya, “Janganlah tergesa-gesa hingga kamu melihat kapas itu putih.” Maka, wanita itu harus berhati-hati hingga dia yakin bahwa dia telah suci. Jika dia telah suci, maka dia boleh berniat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/puasa-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with puasa">puasa</a> walaupun belum mandi, kecuali setelah terbit fajar. Tetapi dia juga harus memperhatikan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a>, sehingga dia segera mandi dan mengerjakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-subuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat subuh">shalat Subuh</a> pada waktunya.</p>
<p>Kami pernah mendengar, ada sebagian wanita yang telah suci setelah terbit<a href="http://konsultasisyariah.com/niat-puasa" target="_blank"><strong> fajar</strong></a> atau sebelumnya, tetapi dia tidak segera mandi hingga setelah matahari terbit dengan alasan bahwa dia ingin mandi dengan sempurna, lebih bersih dan lebih suci. Cara semacam ini salah, baik di bulan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a>, maupun di luar <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/ramadhan-tag" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with ramadhan">Ramadhan</a>, karena yang wajib dilakukannya adalah segera mandi dan shalat pada waktunya. Dia harus segera mandi wajib agar bisa melaksankan shalat. Jika dia ingin lebih bertambah suci dan bersih setelah matahari terbit, maka dia bisa mandi lagi setelah itu.</p>
<p>Seperti wanita <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haid" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haid">haid</a> ini, jika ada wanita <strong>junub</strong> dan belum mandi kecuali setelah terbit fajar, maka tidak apa-apa dan <a href="http://konsultasisyariah.com/wanita-hamil-puasa" target="_blank"><strong>puasa</strong></a>nya sah. Begitu juga seorang laki-laki yang junub dan belum mandi kecuali setelah terbit fajar dan dia puasa, maka hukumnya boleh, karena dijelaskan dalam sebuah hadits dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwas beliau menemui waktu fajar dalam keadaan junub karena menggauli isterinya, lalu beliau puasa dan mandi setelah terbit fajar (HR. al-Bukhari dan Muslim). Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Sumber: <em>Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/haji-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with haji">Haji</a> (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin,</em> Darul Falah, 2007</strong><br />
<strong> Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>haid pada waktu puasa</strong>, <strong>mandi wajib selepas terbit matahari</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>hukum tidak mandi wajib selepas terbitnya matahari di bulan ramadhan</strong>, <strong>aturan puasa wanita haid</strong>, <strong>subuh</strong>, <strong>haid</strong>, <strong>mandi besar haid bulan puasa</strong>, <strong>haid puasa</strong>, <strong>yesus</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/puasa-wanita-haid/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencumbu Kemaluan Istri</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mencumbu-kemaluan-istri</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mencumbu-kemaluan-istri#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 22:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Darah Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[adab menggauli istri di bulan suci ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[adab punya istri dua]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana hukumnya menjilati kemaluan istri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah mencium kemaluan istri]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah mencium kemaluan saat berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah menjilat vagina istri dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[cara menggauli istri]]></category>
		<category><![CDATA[cara menggauli suami]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam mencium pasangan saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum melihat kemaluan istri]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menjilat vagina istri bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[jilat kemaluan]]></category>
		<category><![CDATA[keluar madzi saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mencium istri dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[mencium kemaluan istri diperbolehkan]]></category>
		<category><![CDATA[mencium kemaluan istri menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[mencium vagina istri dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[obat dubur]]></category>
		<category><![CDATA[puasa melihat kemaluan istri suami]]></category>
		<category><![CDATA[zikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5545</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Bolehkah mencium kemaluan istri sendiri, menurut Islam? Syarif (cie**@***.com) Jawaban: Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah. Bismillah. Diperbolehkan bagi masing-masing suami-istri untuk menikmati keindahan tubuh pasangannya. Allah berfirman, هن لباس لكم وأنتم لباس لهن&#60;.p&#62; “Para istri kalian adalah pakaian bagi kalian, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bolehkah-mencium-kemaluan-istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bolehkah mencium kemaluan istri">Bolehkah mencium kemaluan istri</a> sendiri, menurut Islam?</p>
<p><em>Syarif (cie**@***.com)</em><br />
<span id="more-5545"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah</em>.</p>
<p>Bismillah.</p>
<p>Diperbolehkan bagi masing-masing suami-<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/istri" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with istri">istri</a> untuk menikmati keindahan tubuh pasangannya. Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>هن لباس لكم وأنتم لباس لهن</strong>&lt;.p&gt;</p>
<p>“<em>Para istri kalian adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi istri kalian</em>.” (Q.S. Al-Baqarah:187)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم</strong></p>
<p>“<em>Para istri kalian adalah ladang bagi kalian. Karena itu, datangilah ladang kalian, dengan cara yang kalian sukai</em>.” (Q.S. Al-Baqarah:223)</p>
<p>Hanya saja, ada dua hal yang <strong>perlu diperhatikan</strong>:</p>
<ul>
<li>Menjauhi cara yang dilarang dalam syariat, di antaranya: (1) Menggauli istri di duburnya; (2) Melakukan hubungan badan ketika sang istri sedang &#8220;datang bulan&#8221;. Kedua perbuatan ini termasuk dosa besar.</li>
<li>Hendaknya dalam koridor menjaga adab-adab Islam dan tidak menyimpang dari fitrah yang lurus.</li>
</ul>
<p>Tentang mencium atau menjilati kemaluan pasangan, tidak terdapat dalil tegas yang melarangnya. Hanya saja, perbuatan ini bertentangan dengan fitrah yang lurus dan adab Islam. Betapa tidak, kemaluan, yang menjadi tempat keluarnya benda najis, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> mungkin akan ditempelkan di lidah, yang merupakan bagian anggota badan yang mulia, yang digunakan untuk berzikir dan membaca Alquran?</p>
<p>Oleh karena itu, selayaknya tindakan tersebut ditinggalkan, dalam rangka:</p>
<ul>
<li>Menjaga kelurusan fitrah yang suci dan adab yang mulia.</li>
<li>Menjaga agar tidak ada cairan najis yang masuk ke tubuh kita, seperti: madzi.</li>
</ul>
<p>Ini semua merupakan bagian dari usaha menjaga kebersihan dan kesucian jiwa. Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya, Allah mencintai orang yang bertobat dan mencintai orang yang menjaga kebersihan</em>.” (Q.S. Al-Baqarah:222)</p>
<p>Maksud ayat adalah Allah mencintai orang menjaga diri dari segala sesuatu yang kotor dan mengganggu. Termasuk sesuatu yang kotor adalah benda najis, seperti: madzi. Sementara, kita sadar bahwa, dalam kondisi semacam ini, tidak mungkin jika madzi tidak keluar. Padahal, benda-benda semacam ini tidak selayaknya disentuhkan ke bibir atau ke lidah. <em>Allahu a&#8217;lam</em>.  (Disarikan dari <em>Fatawa Syabakah Islamiyah</em>, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>cara menggauli suami</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hukum melihat kemaluan istri</strong>, <strong>hukum menjilat vagina istri bulan puasa</strong>, <strong>istri</strong>, <strong>bagaimana hukumnya menjilati kemaluan istri sendiri</strong>, <strong>keluar madzi saat puasa</strong>, <strong>adab punya istri dua</strong>, <strong>zikir</strong>, <strong>mencium vagina istri dalam islam</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mencumbu-kemaluan-istri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Mencukur atau Mencabut Bulu Kening?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mencukur-atau-mencabut-buku-kening</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mencukur-atau-mencabut-buku-kening#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 05:56:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[adakah mencabut bull kening haram di bulan puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[apakah boleh pada bulan puasa mencukur rambut atau mencabut rambut]]></category>
		<category><![CDATA[apakah cabut rambut membatalkan puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[apakah mencukur rambut membatalkan puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah mencukur bulu kening]]></category>
		<category><![CDATA[buku kening]]></category>
		<category><![CDATA[cabut bulu di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cabut bulu di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[cabut bulu kening batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cabut kening di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cukur bulu kening di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cukur kening bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cukur ketika berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[cukur ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[doa mencukur alis kening]]></category>
		<category><![CDATA[hadis syiah mencukur bulu alis]]></category>
		<category><![CDATA[hadith cukur bulu kening]]></category>
		<category><![CDATA[hukum cabut kening bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita mencukur bulu kening]]></category>
		<category><![CDATA[kening]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mencabut kening di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur apakah membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur bulu ketika puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur bulu saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[nyukur rambut batal puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5504</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Adakah dibenarkan umat Islam mencukur/mencabut bulu kening? Rohaini (rohaini**@***.com) Jawaban: Bismillah. Kita dilarang untuk mencabut bulu alis atau bulu kening. Dasarnya adalah hadis dari Abdullah bin Mas&#8217;ud, bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Allah melaknat al-mutanammishat, al-mustausyimat, dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Adakah dibenarkan umat Islam mencukur/mencabut bulu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kening" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kening">kening</a>?</p>
<p><em>Rohaini (rohaini**@***.com)</em><br />
<span id="more-5504"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah</em>.</p>
<p>Kita <strong>dilarang</strong> untuk mencabut bulu alis atau bulu kening. Dasarnya adalah hadis dari Abdullah bin Mas&#8217;ud, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<strong><em>Allah melaknat al-mutanammishat, al-mustausyimat, dan al-mutafallijat</em></strong>.&#8221; (H.R. Bukhari, Abu Daud, dan An-Nasa&#8217;i)</p>
<p><strong>Keterangan:</strong></p>
<ul>
<li><em>Al-Mutanammishat</em>: <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">Wanita</a> yang minta agar bulu keningnya dicabut. Orang yang mencabut (tukang salon) disebut &#8220;<em>namishah</em>&#8220;.</li>
<li><em>Al-Mustausyimat</em>: Wanita yang minta agar ditato.</li>
<li><em>Al-Mutafallijat</em>: Wanita yang mengikir giginya agar kelihatan cantik.</li>
</ul>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>apakah mencukur rambut membatalkan puasa ramadhan</strong>, <strong>cukur kening bulan puasa</strong>, <strong>mencukur bulu ketika puasa?</strong>, <strong>kening</strong>, <strong>adakah mencabut bull kening haram di bulan puasa?</strong>, <strong>cukur ketika berpuasa</strong>, <strong>mencukur bulu saat puasa</strong>, <strong>mencukur puasa</strong>, <strong>mencukur membatalkan puasa</strong>, <strong>cabut kening di bulan puasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mencukur-atau-mencabut-buku-kening/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Wanita Memakai Pewangi Pakaian?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-memakai-pewangi-pakaian</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-memakai-pewangi-pakaian#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 22:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memaikai minyak harum pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai minyak wangi di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai minyak wangi selama berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai wawangian di waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai wewangian di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pakai pewangi di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[minyak wangi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[orang wanita tidak memakai baju]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[pewangi pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[puasa memakai minyak wangi]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5497</guid>
		<description><![CDATA[Penanya, &#8220;Bolehkahkan mencuci pakaian perempuan atau perempuan membasuh kedua tangannya dengan sabun wangi, kemudian perempuan tersebut keluar rumah dengan membawa wangi yang semerbak melewati para laki-laki yang bukan mahramnya?&#8221; Jawaban Syekh Al-Albani, &#8220;Jika muncul wangi yang semerbak dari diri si ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penanya, &#8220;Bolehkahkan mencuci pakaian perempuan atau perempuan membasuh kedua tangannya dengan sabun wangi, kemudian perempuan tersebut keluar rumah dengan membawa wangi yang semerbak melewati para laki-laki yang bukan mahramnya?&#8221;<br />
<span id="more-5497"></span><br />
Jawaban Syekh Al-Albani, &#8220;Jika muncul wangi yang semerbak dari diri si <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/wanita-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with wanita">wanita</a> maka tentu saja tidak diperbolehkan.&#8221;</p>
<p>Pertanyaan, “Sebagaimana <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> wewangian?”</p>
<p>Jawaban Syekh Al-Albani, “Ya.” (Kaset Silsilah Al-Huda wan Nur, no. 814, detik 56:09 dst.)</p>
<p>Syekh Abu Said Al-Jazairi dalam bukunya Taujih An-Nazhar ila Ahkam Al-Libas waz Zinah wan Nazhar, hlm. 75 mengatakan, “Jika seorang muslimah tidak mengenakan parfum ketika keluar rumah, namun <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> yang dia gendong diberi parfum, maka muslimah tersebut telah melakukan hal yang terlarang karena munculnya wangi yang semerbak dari arah dirinya.”</p>
<p>Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, “Dianalogikan dengan minyak wangi (yang terlarang dipakai oleh muslimah ketika hendak keluar rumah, pent.) segala hal yang semisal dengan minyak wangi (sabun wangi dan lain-lain, pent.) karena penyebab dilarangnya wanita memakai minyak wangi adalah adanya sesuatu yang menggerakkan dan membangkitkan syahwat.&#8221; (Fathul Bari, 2:349)</p>
<p>Referensi: <em>http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?p=123540#post123540</em><br />
Artikel <em>www.ustadzaris.com</em></p>
<p><strong>Dipublikasikan ulang oleh www.KonsultasiSyariah.com, disertai penyuntingan bahasa.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>orang wanita tidak memakai baju</strong>, <strong>hukum memakai minyak wangi di bulan ramadhan</strong>, <strong>pacaran</strong>, <strong>puasa memakai minyak wangi</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>pewangi pakaian</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hukum memakai wawangian di waktu puasa</strong>, <strong>hukum pakai pewangi di bulan puasa</strong>, <strong>bagaimana</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-memakai-pewangi-pakaian/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 55/260 queries in 0.041 seconds using disk: basic
Object Caching 33925/34331 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-05 05:13:29 -->
