<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Tanya Jawab Pendidikan Islam dan Keluarga &#187; Karir</title>
	<atom:link href="http://konsultasisyariah.com/wanita/karir/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://konsultasisyariah.com</link>
	<description>Menjawab Masalah Berdasarkan Tuntunan Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 23:00:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Katakan Cinta</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/katakan-cinta</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/katakan-cinta#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 06:27:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=9223</guid>
		<description><![CDATA[Malu Mengutarakan Cinta Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Saya seorang pemuda yang sedang memendam cinta. Bolehkah kita memperjuangkan cinta kita terhadap wanita yang kita cintai agar dia mencintai kita, sambil berdoa kepada Allah? Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Pria yang punya perasaan mencintai wanita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Malu Mengutarakan Cinta</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>Assalamu’alaikum</em>. Saya seorang pemuda yang sedang memendam <strong>cinta</strong>. Bolehkah kita memperjuangkan cinta kita terhadap wanita yang kita cintai agar dia mencintai kita, sambil berdoa kepada Allah?<br />
<span id="more-9223"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</em><br />
Pria yang punya perasaan mencintai wanita adalah bagian dari nikmat Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> (baca surat Ali Imran ayat 14). Jika Anda mencintai wanita muslimah, berakidah dan berakhlak mulia, maka boleh berdoa kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> agar wanita itu dinikahi oleh Anda. Berdoalah pada malam hari di sepertiga malam terakhir, karena waktu itu adalah waktu yang mustajab, atau kapan saja kita boleh bedoa.</p>
<p>Akan tetapi tidak cukup dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/doa" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with doa">doa</a>, karena boleh jadi wanita itu sudah ada yang meminang. Maka sebaiknya segera hubungi orang tuanya agar ada kepastian, diterima ataukah tidak. Sebab dikhawatirkan wanita yang Anda senangi tersebut sudah ada yang punya. Atau ada kendala dari orang tua, yaitu Anda ditolak. Jika begitu keadaannya, maka hendaknya Anda bersabar, barangkali dia bukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jodoh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jodoh">jodoh</a> Anda. Boleh jadi wanita yang Anda cintai itu tidak baik untuk Anda. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>“<em>Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui</em>.”<br />
<em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al Mawaddah</em> Edisi 8 Tahun ke-3 1431 H/Maret 2010</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<h3>Materi terkait cinta:</h3>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/taubat-dari-zina">Naudzubillah, Masih SMA Berani Zina</a>.<br />
2. <a rel="nofollow" href="../selingkuh-dengan-ipar" target="_blank">Aku Selingkuh Dengan Ipar</a>.<br />
3. <a rel="nofollow" href="../istri-selingkuh" target="_blank">Istri Selingkuh</a>.<br />
4. <a rel="nofollow" href="../berbicara-lewat-telepon-chatting-atau-ber-sms-apakah-termasuk-zina" target="_blank">Telpon, SMS, Chatting Ria dengan Lawan Jenis, Apakah Termasuk Zina</a>.<br />
5. <a rel="nofollow" href="../solusi-pacar-hamil" target="_blank">Bingung, Pacarku Hamil</a>.<br />
6. <a rel="nofollow" href="../hukum-kasus-pemerkosaan" target="_blank">Hukum Pemerkosa</a>.<br />
7. <a rel="nofollow" href="../status-anak-hasil-hubungan-di-luar-nikah" target="_blank">Status Anak Hasil Zina</a>.<br />
8. <a href="http://konsultasisyariah.com/cara-mengungkapkan-cinta">Cara Mengungkapa Cinta</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/katakan-cinta/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukuman Untuk Lesbi</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukuman-untuk-lesbi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukuman-untuk-lesbi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 00:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8832</guid>
		<description><![CDATA[Hukuman Untuk Lesbi Pertanyaan: Apa hukuman untuk wanita yang melakukan lesbi? Jawaban: Hukuman Untuk Lesbi Lesbi (arab: sihaq) adalah perbuatan yang haram. Para ulama menggolongkannya sebagai dosa besar. (Az-Zawajir, dosa no. 362). Para ulama sepakat bahwa pelaku lesbi tidak dihukum ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Hukuman Untuk Lesbi</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Apa hukuman untuk wanita yang melakukan <strong>lesbi</strong>?<br />
<span id="more-8832"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<h3>Hukuman Untuk Lesbi</h3>
<p>Lesbi (arab: <em>sihaq</em>) adalah perbuatan yang haram. Para ulama menggolongkannya sebagai dosa besar. (Az-Zawajir, dosa no. 362). Para ulama sepakat bahwa pelaku lesbi tidak dihukum had. Karena lesbi bukan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a>. Hukuman bagi pelaku lesbi adalah <em>ta&#8217;zir</em>, dimana pemerintah berhak menentukan hukuman yang paling tepat, sehingga bisa memberikan efek jera bagi pelaku perbuatan haram ini.<br />
Disebutkan dalam Ensiklopedi Fiqh, Ulama sepakat bahwa tidak ada hukuman had untuk pelaku lesbi. Karena lesbi bukan zina. Namun wajib dihukum ta&#8217;zir (ditentukan pemerintah), karena perbuatan ini termasuk maksiat. (<em>Mausu&#8217;ah Fiqhiyah</em>, 24: 252).<br />
Ibnu Qudamah mengatakan, “Jika ada dua wanita yang saling menempelkan badannya maka keduanya berzina dan dilaknat.</p>
<p>Berdasarkan riwayat dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau bersabda, “Apabila ada wanita yang menggagahi wanita maka keduanya berzina.” Tidak ada hukuman had untuk pelakunya, karena lesbi tidak mengandung jima (memasukkan kemaluan ke kemaluan). Sehingga disamakan dengan cumbuan di selain kemaluan. Namun keduanya wajib dihukum <em>ta&#8217;zir</em>.” (Al-Mughni, 9:59).<br />
Hanya saja, hadis yang disebutkan Ibnu Qudamah di atas adalah hadis lemah. Sebagaimana dijelaskan Syaikh Al-Albani dalam <em>Dhaif al-Jami&#8217;</em>. Karena itu, lesbi tidak disamakan dengan zina. As-Sarkhasi mengatakan, “Andaikan hadis itu sahih, tentu maknanya adalah bahwa keduanya melakukan dosa sebagai orang yang berbuat zina, namun tidak dihukum sebagaimana orang yang melakukan zina.” (<em>Al-Mabsuth</em>, 9: 78)</p>
<p>Keterangan di atas sekaligus menjadi koreksi tentang kekeliruan anggapan, bahwa hukuman lesbi sama dengan hukuman homo. Karena para ulama menegaskan hukuman bagi homo adalah dibunuh, sedangkan hukuman bagi pelaku lesbi adalah hukuman <em>ta&#8217;zir</em> dan bukan hukuman mati, dengan sepakat ulama.<br />
<em>Allahu a&#8217;l</em>am..</p>
<p>Disadur dari fatwa Islam: <em>Tanya-jawab</em>, oleh Syekh Muhammad bin Shaleh al-Munajid.<br />
<em>http://www.islamqa.com/ar/ref/21058</em></p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
<em>Ta&#8217;zir</em> adalah hukuman yang bentuknya tidak ditetapkan oleh syariat, tetapi dikembalikan kepada kebijakan pemerintah.<br />
contoh: penjara, denda, dll. Adapun hukuman yang bentuknya ditetapkan oleh syariat disebut had. contoh: potong tangan bagi pencuri, dst.<br />
Hukuman ta&#8217;zir berlaku untuk pelanggaran yang hukumannya tidak ditetapkan oleh syariat.</p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p><strong>Materi terkait:</strong></p>
<p>1. <a href="http://konsultasisyariah.com/homo-sex" target="_blank">Cara Taubat dari Homo</a>.</p>
<p>2. <a href="http://konsultasisyariah.com/bila-seorang-muslim-sering-melakukan-onani" target="_blank">Dampak Fisik Sering Onani</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/wajibkah-mandi-besar-jika-melakukan-masturbasi-namun-tidak-mengeluarkan-air-mani" target="_blank">Wajibkah Mandi Besar ketika Masturbasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukuman-untuk-lesbi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selingkuh dengan Ipar</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 02:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[iparku]]></category>
		<category><![CDATA[iparku cantik]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh dengan ipar]]></category>
		<category><![CDATA[zina dengan ipar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=8037</guid>
		<description><![CDATA[Selingkuh dengan Ipar Pertanyaan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum. Saya sudah 8 tahun berumah tangga dan dikaruniai satu anak laki-laki berumur 6 tahun, semenjak menikah kami tinggal bertiga dengan adik perempuan istriku (ipar). Singkat cerita perselingkuhanpun terjadi sampai hari ini dan isterikupun mengetahuinya. Aku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/selingkuh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with selingkuh">Selingkuh</a> dengan Ipar</h2>
<p>Pertanyaan, <em>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum</em>. Saya sudah 8 tahun berumah tangga dan dikaruniai satu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> laki-laki berumur 6 tahun, semenjak menikah kami tinggal bertiga dengan adik perempuan istriku (<strong>ipar</strong>). Singkat cerita perselingkuhanpun terjadi sampai hari ini dan isterikupun mengetahuinya. Aku tahu istriku marah, sakit hati dan benci dengan perselingkuhan ini tapi dia tetap bertahan.Ternyata dibelakang aku, diapun berselingkuh dan 3 minggu yang lalu dia mengaku telah berzina dengan selingkuhanya, kini dia menyesali perbuatanya dan bertaubat takkan mengulanginya lagi dan diapun meminta agar aku menikahi adiknya (selingkuhanku) tanpa harus menceraikan dia (istriku). Mohon bantuan nasihatnya. <em>Wassalam</em>.&#8221;</p>
<p><em>Rizqi (rXXXXX@ymail.com)</em><br />
<span id="more-8037"></span></p>
<h3>Berzina dengan adik ipar, bolehkah dinikahi?</h3>
<p><em>Wa &#8216;alaikumus salam</em>.</p>
<p><em>Allahu akbar&#8230;</em><br />
Keluarga Anda di zona carut marut, rusak berkeping-keping&#8230; Anda dan istri Anda melakukan dosa yang sangat besar. Andaikan di negara kita ditegakkan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> islam maka Anda berdua akan dihukum rajam, dilempari batu, dengan dikubur setengah badan sampai mati. Itu penebus dosa pelaku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a> yang sudah menikah. Dosanya bisa ditebus dengan hukuman, bukan dengan menikahi pasangan selingkuhannya. Karena itu, segeralah bertaubat semampu Anda dan istri Anda. Segera bersimpuh kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Jika Anda tidak mendapatkan hukuman tersebut di dunia, tidak ada jaminan Anda akan selamat dari hukuman di akhirat.</p>
<p>Selanjutnya,<br />
<strong>1.</strong> Anda <strong>HARAM</strong> menikahi adik istri Anda. Karena seorang lelaki TIDAK boleh menikahi dua orang wanita kakak-beradik. Allah menyebutkan beberapa orang yang tidak boleh dinikahi dalam surat an-Nisa, salah satunya Allah menyatakan,</p>
<p class="arab">وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْن الْأُخْتَيْنِ</p>
<p><em>&#8220;(Kalian tidak boleh) menggabungkan dua perempuan bersaudara&#8230;&#8221;</em> (QS. an-Nisa: 23)</p>
<p>Maksudnya, tidak boleh menikahi dua wanita bersaudara, baik saudara kandung maupun sepersusuan.</p>
<p>Anda hanya bisa menikahi adik ipar Anda, jika: (a). Anda telah menceraikan istri Anda dan telah selesai masa iddah atau (b). Istri Anda telah meninggal dunia.</p>
<p><strong>2.</strong> Saudara ipar bukanlah <em>mahram</em>. Karena itu, saudara ipar tidak boleh berdua-duaan dalam satu tempat dengan suami kakaknya atau istri kakaknya. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما.</p>
<p><em>&#8220;Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan adalah orang yang ketiga.&#8221;</em> (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban 1/436, dan dishahihkan oleh Al-Albani)</p>
<p>Anda jangan merasa aman dalam posisi semacam ini. Karena setan akan berupaya keras, agar anda berdua bisa berzina. Waspadalah&#8230;</p>
<p><strong>3.</strong> Adik ipar Anda tidak boleh tinggal bersama dengan keluarga Anda. Ada banyak madharat, ketika saudara ipar, tinggal bersama saudara iparnya. Diantara,<br />
a. Memperbesar peluang terjadinya perselingkuhan.<br />
b. Membuka kesempatan berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. padahal jauh-jauh hari Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إياكم والدخول على النساء</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kalian memasuki tempat kediaman wanita&#8221;</em></p>
<p>Kamudian ada sahabat anshar yang bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> dengan saudara ipar? Beliau menjawab,</p>
<p class="arab">الحمو الموت</p>
<p><em>&#8220;Saudara ipar itu kematian.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebut saudara ipar dengan kematian, karena masyarakat luar tidak akan berburuk sangka ketika ada saudara ipar yang tinggal bersama istri kakaknya atau suami kakaknya. Sementara mereka sangat berpeluang utk melakukan zina. Sehingga kewaspadaan mereka untuk berzina sangat longgar. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>4. </strong>Segeralah untuk memperbaiki keluarga Anda. menjaga kehormatan masing-masing. Karena bisa jadi, seseorang yang melakukan selingkuh, dia akan mendapatkan hukuman dengan perlakuan yang sama dari pasangannya (istri atau suaminya). Suami yang main selingkuh, bisa jadi dia dihukum dengan perselingkuhan istrinya, dan sebaliknya. Karena itu, sebagian ulama mengatakan,</p>
<p class="arab">عفتك عفت زوجتك</p>
<p>&#8220;Sikapmu yang menjaga kehormatan akan dibalas dengan sikap istrimu yang juga menjaga kehormatan.&#8221;</p>
<p><strong>5.</strong> Jika ini belum menyebar, buat kesepakatan agar masing-masing tidak menceritakan kepada orang lain. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ</p>
<p><em>“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.”</em> (HR. Malik dalam <em>Al-Muwatha</em>’, no. 1508)</p>
<p>Dengan masing-masing berusaha bertaubat dan memperbaiki diri, semoga Allah segera memperbaikinya.</p>
<p><strong>Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel <a rel="nofollow" href="http://www.konsultasisyariah.com/">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p>Artikel yang berkaitan masalah keluarga dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a>:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" href="../ditolak-calon-mertua" target="_blank">Ditolak Calon Mertua</a>.</p>
<p>2. <a rel="nofollow" href="../siapakah-wali-nikah-dari-anak-hasil-zina" target="_blank">Siapakah Wali Nikah Anak Zina</a>.</p>
<p>3. <a href="http://konsultasisyariah.com/istri-selingkuh" target="_blank">Istri Selingkuh dan Solusinya</a>.</p>
<p>4. <a href="http://konsultasisyariah.com/haruskah-saya-ceraikan-istri-yang-berselingkuh" target="_blank">Haruskah Aku Ceraikan Istri yang Selingkuh?</a></p>
<p>5. <a href="http://konsultasisyariah.com/orang-tua-berselingkuh" target="_blank">Orang Tuaku Berselingkuh</a>.</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>iparku</strong>, <strong>selingkuh</strong>, <strong>zina dengan ipar</strong>, <strong>iparku cantik</strong>, <strong>selingkuh dengan ipar</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/selingkuh-dengan-ipar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Tua Menginginkan Putrinya di Rumah</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/orang-tua-menginginkan-putrinya-di-rumah</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/orang-tua-menginginkan-putrinya-di-rumah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 03:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Konsultasi Syariah</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=7365</guid>
		<description><![CDATA[Orang Tua Menginginkan Putrinya di Rumah Saya seorang istri, tinggal bersama suami dan empat anak. Belakangan ini, orang tua saya yang sudah lanjut usia menginginkan saya pulang untuk menemani mereka di kampung. Sementara suami tidak berkenan. Siapa yang harus saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Orang Tua Menginginkan Putrinya di Rumah</h2>
<p>Saya seorang istri, tinggal bersama suami dan empat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>. Belakangan ini, orang tua saya yang sudah lanjut usia menginginkan saya pulang untuk menemani mereka di kampung. Sementara suami tidak berkenan. Siapa yang harus saya utamakan?<br />
<span id="more-7365"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Kehidupan rumah tanggal yang bahagia dapat terwujud dengan saling memberikan dan menunaikan hak-hak masing-masing anggota keluarga. Sang istri memiliki hak yang wajib ditunaikan sang suami, demikian juga sebaliknya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan dan menegaskan kewajiban wanita dalam menunaikan hak suami dalam sabda Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m:</p>
<p><em>”Seandainya aku akan memerintahkan seorang untuk bersujud kepada selain Allah, tentulah aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya. Demi (Allah) Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seorang wanita menunaikan hak Rabb-nya sampai dia telah menunaikan hak suaminya. Walaupun suaminya meminta dirinya (berhubungan suami istri) di atas pelana onta, ia tidak boleh menolaknya.”</em> (HR. Ibnu Majah dalam kitab as-Sunan No. 1843. Lihat ash-Shahihah No. 1203)</p>
<p>Syaikh al-Albani dalam Adabuz Zifaf menjelaskan tentang hadits ini dengan menyatakan, ‘Pengertiannya adalah anjuran kepada kaum wanita untuk menaati suaminya, ia tidak boleh menolak (ajakan suami) dalam keadaan seperti itu, lalu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> dalam kondisi yang lainnya? (Tentu ia lebih patut menaati suami).’</p>
<p>Ketika menjelaskan hadits di atas, penulis Tuhfatul Ahwadzi mengatakan, ‘Demikian itu dikarenakan banyaknya hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri dan tidak mampunya istri untuk membalas kebaikan suaminya. Dalam hadits ini terdapat ungkapan hiperbolis menunjukkan wajibnya istri untuk menunaikan hak suaminya karena tidak diperbolehkan bersujud kepada selain Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.’</p>
<p>Berdasarkan hadits di atas, maka seorang istri berkewajiban mendahulukan hak suami daripada oarng tuanya, jika tidak mungkin untuk menyelaraskan (menyatukan) dua hal ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Seorang perempuan jika telah menikah, maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan menaati suami itu lebih wajib dari pada taat orang tua.’ (<em>Majmu’ Fataw</em>a, 32/261)</p>
<p>Di halaman yang lain, beliau mengatakan, ‘Seorang istri tidak boleh keluar dari rumah kecuali dengan izin suami meski diperintahkan oleh bapak atau ibunya, apalagi orang selain mereka berdua. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">Hukum</a> ini adalah suatu yang telah disepakati oleh para imam. Jika suami ingin berpindah tempat tinggal dari tempat semula dan dia adalah seorang suami yang memenuhi tanggung-jawabnya sebagai seorang suami serta menunaikan hak-hak istrinya, lalu orang tua istri melarang anaknya untuk pergi bersama suami padahal suami memerintahkannya untuk turut pindah, maka kewajiban istri adalah menaati suami, bukan menaati orang tuanya. Orang tua dalam hal ini dalam kondisi zhalim. Orang tua tidak boleh melarang anak perempuannya untuk menaati suami dalam masalah-masalah semacam ini’ (<em>Majmu Fataw</em>a: 32/263)</p>
<p>Mencermati pertanyaan Saudari dalam hal ini, maka perintah dan ketaatan kepada suami lebih didahulukan dari permintaan orang tua. Namun, permasalahan kepentingan orang tua yang sudah lanjut usia dengan kepentingan suami yang berharap Saudari berada di sampingnya merupakan perkara yang mungkin dikompromikan dan tidak harus dipertentangkan. Coba mengadakan komunikasi dengan suami dan orang tua untuk mencari solusinya.</p>
<p>Titik komprominya bisa dilihat kepada teladan yang ada, di antara contohnya:</p>
<p><strong>1.</strong> Bila orang tua tidak memiliki anak kecuali Saudari sehingga bila saudari tidak mengurusnya maka orang tua tersebut terlantar, maka diminta orang tua tinggal di rumah suami, dengna persetujuan suami tentunya.</p>
<p><strong>2.</strong> Bila orang tuanya memiliki anak selain Saudari, bisa memintanya merawat dan mengurus orang tua dengan cara Saudari dan suami menanggung biaya kebutuhan hidupnya (saudara yang menangani orang tua), Atau solusi-solusi lainnya sesuai dengan kondisi dan keadaan dengan memperhatikan kemaslahatan bagi banyak pihak.</p>
<p>Perlu diketahui juga oleh sang suami bahwa kebahagiaan rumah tangganya sangat tergantung juga dengan kebahagiaan sang istri. Membantu mertua merupakan salah satu upaya membahagiakan istri yang akan berdampak positif terhadap keutuhan dan kebahagiaan rumah tangganya. Apalagi sejak pertama, akad <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a> sudah mengikat dua keluarga besar dalam ikatan keluarga dan persaudaraan. Berbuat baik kepada mertua dan sikap sedikit banyak mengalah untuk kepentingannya yang bersifat baik dan positif merupakan satu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> shalih yang bisa menjadi sebab kemudahan rezeki dan hidup bagi kita. Hal ini dapat ditinjau dari sisi mertua sebagai seorang Muslim dan membahagiakan seorang Muslim menurut syariat adalah termasuk ibadah dan amal shalih. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><em>“Termasuk amalan paling utama, menciptakan kegembiraan bagi seorang Muslim: dengan cara membayarkan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan menyelesaikan kesulitannya.”</em> (Ash-Shahihah: no. 2291)</p>
<p>Selain itu, akan timbul efek positif dari perbuatan tersebut pada sikap istri dan keluarganya kepada suami, di samping kebaikan-kebaikan lainnya yang muncul sebagai pengaruh positif dari perhatian suami kepada keluarga istrinya. Sikap baik suami ini terhadap istri dan keluarganya juga merupakan salah satu bentuk nyata dari ketakwaan kepada Allah dan ketakwaan kepada Allah akan menjadi sebab datangnya kemudahan bagi seluruh urusan kita dan juga kemudahan rezeki. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p><em>“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”</em> (QS. At-Thalaq: 2-3)</p>
<p>Dalam ayat selanjutnya, Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p><em>“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”</em> (QS. At-Thalaq: 4)</p>
<p>Siapakah yang tidak mengharapkan hal ini? Oleh karena itu, hendaknya suami memberikan perhatian dan kemudahan kepada istri untuk melakukan kebaikan dan baktinya kepada kedua orang tuanya, sehingga mudah-mudahan dengan adanya kerjasama dan saling pengertian tersebut akan terbentuk satu keluarga yang penuh dengan sakinah, mawaddah dan rahmah. Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memberikan kemudahan bagi Saudari dalam menyelesaikan segala urusan. Demikian jawaban kami mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p><strong>Sumber:</strong><em> Majalah As-Sunnah</em>, Edisi 06 Tahun XIV 1431 H/2010 M. (<strong>Dipublikasikan ulang oleh <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong>)</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/orang-tua-menginginkan-putrinya-di-rumah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Mencukur atau Mencabut Bulu Kening?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mencukur-atau-mencabut-buku-kening</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mencukur-atau-mencabut-buku-kening#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 05:56:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[adakah mencabut bull kening haram di bulan puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[apakah boleh pada bulan puasa mencukur rambut atau mencabut rambut]]></category>
		<category><![CDATA[apakah cabut rambut membatalkan puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[apakah mencukur rambut membatalkan puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah mencukur bulu kening]]></category>
		<category><![CDATA[buku kening]]></category>
		<category><![CDATA[cabut bulu di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cabut bulu di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[cabut bulu kening batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cabut kening di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cukur bulu kening di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cukur kening bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cukur ketika berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[cukur ketika puasa]]></category>
		<category><![CDATA[doa mencukur alis kening]]></category>
		<category><![CDATA[hadis syiah mencukur bulu alis]]></category>
		<category><![CDATA[hadith cukur bulu kening]]></category>
		<category><![CDATA[hukum cabut kening bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita mencukur bulu kening]]></category>
		<category><![CDATA[kening]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mencabut kening di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur apakah membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur bulu ketika puasa?]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur bulu saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur puasa]]></category>
		<category><![CDATA[mencukur saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[nyukur rambut batal puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5504</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Adakah dibenarkan umat Islam mencukur/mencabut bulu kening? Rohaini (rohaini**@***.com) Jawaban: Bismillah. Kita dilarang untuk mencabut bulu alis atau bulu kening. Dasarnya adalah hadis dari Abdullah bin Mas&#8217;ud, bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Allah melaknat al-mutanammishat, al-mustausyimat, dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Adakah dibenarkan umat Islam mencukur/mencabut bulu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kening" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kening">kening</a>?</p>
<p><em>Rohaini (rohaini**@***.com)</em><br />
<span id="more-5504"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah</em>.</p>
<p>Kita <strong>dilarang</strong> untuk mencabut bulu alis atau bulu kening. Dasarnya adalah hadis dari Abdullah bin Mas&#8217;ud, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<strong><em>Allah melaknat al-mutanammishat, al-mustausyimat, dan al-mutafallijat</em></strong>.&#8221; (H.R. Bukhari, Abu Daud, dan An-Nasa&#8217;i)</p>
<p><strong>Keterangan:</strong></p>
<ul>
<li><em>Al-Mutanammishat</em>: Wanita yang minta agar bulu keningnya dicabut. Orang yang mencabut (tukang salon) disebut &#8220;<em>namishah</em>&#8220;.</li>
<li><em>Al-Mustausyimat</em>: Wanita yang minta agar ditato.</li>
<li><em>Al-Mutafallijat</em>: Wanita yang mengikir giginya agar kelihatan cantik.</li>
</ul>
<p><em>Allahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>mencukur saat puasa</strong>, <strong>cukur ketika puasa</strong>, <strong>cabut bulu di bulan puasa</strong>, <strong>mencukur bulu ketika puasa?</strong>, <strong>mencabut kening di bulan puasa</strong>, <strong>hadis syiah mencukur bulu alis</strong>, <strong>cukur bulu kening di bulan puasa</strong>, <strong>mencukur bulu saat puasa</strong>, <strong>cabut bulu kening batal puasa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-mencukur-atau-mencabut-buku-kening/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Wanita Memakai Pewangi Pakaian?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-memakai-pewangi-pakaian</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-memakai-pewangi-pakaian#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 22:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memaikai minyak harum pada saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai minyak wangi di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai minyak wangi selama berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai wawangian di waktu puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai wewangian di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pakai pewangi di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[minyak wangi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[orang wanita tidak memakai baju]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[pewangi pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[puasa memakai minyak wangi]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5497</guid>
		<description><![CDATA[Penanya, &#8220;Bolehkahkan mencuci pakaian perempuan atau perempuan membasuh kedua tangannya dengan sabun wangi, kemudian perempuan tersebut keluar rumah dengan membawa wangi yang semerbak melewati para laki-laki yang bukan mahramnya?&#8221; Jawaban Syekh Al-Albani, &#8220;Jika muncul wangi yang semerbak dari diri si ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penanya, &#8220;Bolehkahkan mencuci pakaian perempuan atau perempuan membasuh kedua tangannya dengan sabun wangi, kemudian perempuan tersebut keluar rumah dengan membawa wangi yang semerbak melewati para laki-laki yang bukan mahramnya?&#8221;<br />
<span id="more-5497"></span><br />
Jawaban Syekh Al-Albani, &#8220;Jika muncul wangi yang semerbak dari diri si wanita maka tentu saja tidak diperbolehkan.&#8221;</p>
<p>Pertanyaan, “Sebagaimana <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> wewangian?”</p>
<p>Jawaban Syekh Al-Albani, “Ya.” (Kaset Silsilah Al-Huda wan Nur, no. 814, detik 56:09 dst.)</p>
<p>Syekh Abu Said Al-Jazairi dalam bukunya Taujih An-Nazhar ila Ahkam Al-Libas waz Zinah wan Nazhar, hlm. 75 mengatakan, “Jika seorang muslimah tidak mengenakan parfum ketika keluar rumah, namun <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> yang dia gendong diberi parfum, maka muslimah tersebut telah melakukan hal yang terlarang karena munculnya wangi yang semerbak dari arah dirinya.”</p>
<p>Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, “Dianalogikan dengan minyak wangi (yang terlarang dipakai oleh muslimah ketika hendak keluar rumah, pent.) segala hal yang semisal dengan minyak wangi (sabun wangi dan lain-lain, pent.) karena penyebab dilarangnya wanita memakai minyak wangi adalah adanya sesuatu yang menggerakkan dan membangkitkan syahwat.&#8221; (Fathul Bari, 2:349)</p>
<p>Referensi: <em>http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?p=123540#post123540</em><br />
Artikel <em>www.ustadzaris.com</em></p>
<p><strong>Dipublikasikan ulang oleh www.KonsultasiSyariah.com, disertai penyuntingan bahasa.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>orang wanita tidak memakai baju</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>pacaran</strong>, <strong>hukum memakai minyak wangi selama berpuasa</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>hukum memaikai minyak harum pada saat puasa</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hukum memakai wewangian di bulan ramadhan</strong>, <strong>puasa memakai minyak wangi</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-memakai-pewangi-pakaian/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyentuh Alat Vital Lelaki Nonmahram untuk Praktik Medis</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menyentuh-alat-vital-lelaki-nonmahram-untuk-praktik-medis</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menyentuh-alat-vital-lelaki-nonmahram-untuk-praktik-medis#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jul 2011 05:51:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[batal puasa pegang kemaluan suami]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memegang alat kelamin suami di bulan ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memegang kemaluan suami]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menyentuh kmaluan wanita]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pegang kemaluan suami waktu bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sentuh kemaluan suami di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[memegang alat kelamin wanita pada siang puasa]]></category>
		<category><![CDATA[menyentuh yang bukan muhrim]]></category>
		<category><![CDATA[qabliyah]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[sentuh kemaluan isteri pada bulan puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5473</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Begini &#8230; saya &#8216;kan sekolah pada bidang kesehatan. Saat praktik mengharuskan mahasiswanya melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, baik pada pasien lelaki maupun wanita. Pertanyaan saya, berdosakah saya saat melakukan pemeriksaan tersebut, yang tentunya akan memegang lelaki nonmahram yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum. Begini &#8230; saya &#8216;kan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sekolah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sekolah">sekolah</a> pada bidang kesehatan. Saat praktik mengharuskan mahasiswanya melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, baik pada pasien lelaki maupun wanita. Pertanyaan saya, berdosakah saya saat melakukan pemeriksaan tersebut, yang tentunya akan memegang lelaki nonmahram yang jadi pasien saya?</p>
<p><em>Safiyya (hzashy_**@***.com)</em><br />
<span id="more-5473"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</em></p>
<p><strong>Tindakan itu termasuk perbuatan dosa. Seorang wanita hanya boleh menyentuh kemaluan suaminya.</strong></p>
<p>Jangankan orang lain, bahkan menyentuh kemaluan laki-laki mahram, seperti <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> lelaki yang sudah balig, saudara, atau bahkan bapak, semua hukumnya <strong>haram</strong> untuk dilakukan.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A.(Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline; color: #ff0000;"><strong>Catatan Redaksi (Koreksi 4 Juli 2011):</strong></span></p>
<p>Terkait dengan jawaban masalah “<a href="../menyentuh-alat-vital-lelaki-nonmahram-untuk-praktik-medis" target="_blank"><strong></strong></a><strong><a title="See also Menyentuh Alat Vital Lelaki Nonmahram untuk Praktik Medis" href="../menyentuh-alat-vital-lelaki-nonmahram-untuk-praktik-medis">Menyentuh Alat Vital Lelaki Nonmahram untuk Praktik Medis</a></strong>“,  kami dengan ini menyatakan permohonan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/maaf" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with maaf">maaf</a> atas kesalahan kami dalam  memahami keterangan penanya. Karena tidak ada satupun diantara tim kami  yang memahami perbedaan antara <strong>tanda-tanda vital</strong> (vital signs) dengan <strong> alat vital</strong>. Sementara penanya tidak menjelaskan lebih rinci tentang  istilah yang dimaksudkan.</p>
<p>Dalam kaidah <em>ushul fiqh</em> disebutkan,</p>
<p><strong>الْحُكْمَ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ</strong></p>
<p>“Fatwa tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> tertentu merupakan bagian dari pemahaman orang  yang memberi fatwa (terhadap pertanyaan yang disampaikan).” (<em>Al-Qawaid wal Ushul</em>, 2:39; <em>Mudzakirah Ushul Fiqh</em>, hal. 2)</p>
<p>Karena itu, sekali lagi kami mohon maaf atas keterbatasan kami dalam  memahami istilah tersebut, yang tidak sesuai. Karena itu, sekali lagi  kami mohon maaf atas keterbatasan kami dalam memahami istilah tersebut,  yang tidak sesuai dengan pemahaman senyatanya. Selanjutnya, kami memohon kepada pembaca yang mengajukan pertanyaan,  hendaknya memberikan penjelasan yang bisa memahamkan kami terhadap kasus  yang ditanyakan. Terutama ketika harus mencantumkan istilah tertentu,  yang itu hanya dipahami dalam cabang ilmu khusus, semacam ilmu  kedokteran atau tehnik.</p>
<p>Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk istiqamah di atas jalan kebenaran.</p>
<p><em>Wallaahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p><strong>Redaksi KonsultasiSyariah.com<br />
Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>qabliyah</strong>, <strong>hukum memegang alat kelamin suami di bulan ramadan</strong>, <strong>hukum menyentuh kmaluan wanita</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>hukum memegang kemaluan suami</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>batal puasa pegang kemaluan suami</strong>, <strong>sekolah</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menyentuh-alat-vital-lelaki-nonmahram-untuk-praktik-medis/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cat Rambut</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/cat-rambut</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/cat-rambut#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 04:01:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[apaka mewarnai rambut membatakan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[apakah di dalam islam boleh mengecat rambut dengan warna hitam]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah mengcta rambut qur'an dan sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah semir rambut]]></category>
		<category><![CDATA[bulu kening azan]]></category>
		<category><![CDATA[cat rambut]]></category>
		<category><![CDATA[cat rambut bagi muslim]]></category>
		<category><![CDATA[cat rambut dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[cat rambut hitam dilarang]]></category>
		<category><![CDATA[cat warna bulu]]></category>
		<category><![CDATA[dilarang mewarnai rambut warna hitam]]></category>
		<category><![CDATA[gambar peralatan semir rambut]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam tentang rambut yang di semir hitam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam warna cat rambut]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai pewarna rambut hitam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengecat rambut shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengecat rambut warna hitam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mewarnai rambut saat puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum rambut berwarna ketika berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum rambut dicat menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum semir cat rambut warna hitam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum semir rambut]]></category>
		<category><![CDATA[hukum semir rambut warna hitam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sholat memakai cat rambut]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[islam tidak boleh rambut di cat hitam]]></category>
		<category><![CDATA[islam, cet rambut]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa cat rambut hitam dilarang dalam agama islam]]></category>
		<category><![CDATA[model cat rambut]]></category>
		<category><![CDATA[rambut]]></category>
		<category><![CDATA[rambut berwarna haram puasa]]></category>
		<category><![CDATA[rambut cat warna]]></category>
		<category><![CDATA[rambut warna merah]]></category>
		<category><![CDATA[semir]]></category>
		<category><![CDATA[semir rambut di bulan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[semir rambut saat puasa boleh atau tidak]]></category>
		<category><![CDATA[semir rambut untuk cewek]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[warna semir rambut 2011]]></category>
		<category><![CDATA[warna warna semir rambut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5366</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Berkenaan dengan rambut atau bulu, bagian terakhir dari dua tulisan pada Majalah As-Sunnah, edisi 02/IX/1426 H/2005, yaitu masalah hukum menyemir rambut. Saya ingin bertanya, apa boleh menyemir rambut dengan warna merah atau kuning, tapi rambutnya belum putih, masih hitam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Berkenaan dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rambut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rambut">rambut</a> atau bulu, bagian terakhir dari dua tulisan pada Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 02/IX/1426 H/2005, yaitu masalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> menyemir rambut. Saya ingin bertanya, apa boleh menyemir rambut dengan warna merah atau kuning, tapi rambutnya belum putih, masih hitam sebagaimana pemuda atau pemudi yang kita lihat sekarang ini?<br />
<span id="more-5366"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan ini, kami bawakan fatwa Syekh Dr. Shalih bin Fauzan Ali Fauzan dalam kitab <em>Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan Ali Fauzan</em>, hlm. 3/319, no. 473 dan 474.</p>
<p>Ketika beliau ditanya tentang mengecat rambut dengan warna-warna tertentu, beliau menjawab bahwa hukum mengecat rambut diperinci sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Uban disunnahkan dicat (disemir) dengan warna selain hitam, misalnya dengan <em>hinn</em>, <em>al-wasmah</em>, <em>al-katm</em>, dan <em>ash-shafrah</em>. Adapun disemir dengan warna hitam maka itu tidak boleh, berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><strong>غَيِّرُوْاهَذَاالْشَّيْبَ وَجَنِّبُوْهُ السَّوَادَ</strong></p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>Ubahlah uban tersebut dan jauhilah warna hitam</em>.&#8221;</p>
<ul>
<li>Apabila selain uban maka dibiarkan sesuai dengan penciptaannya yang asli dan jangan diubah (disemir), kecuali jika warnanya rusak maka dia disemir dengan warna yang dapat menghilangkan kerusakannya kepada warna yang sesuai. Adapun rambut yang asli tanpa ada kerusakan padanya, maka dibiarkan sesuai aslinya, karena tidak ada faktor yang mengharuskan mengubahnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Apabila menyemir dalam bentuk atau model menyerupai orang-orang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/kafir" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kafir">kafir</a> dan adat-adat asing (impor) maka jelas diharamkan, baik disemir dengan model satu atau model-model yang banyak. Dalam istilah Arab, ini dinamakan <em>at-tasymisyi</em>.</li>
</ul>
<p>Demikian jawaban kami, mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sumber</strong>: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 5, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi <em>www.KonsultasiSyariah.com</em>.<br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum mewarnai rambut saat puasa ramadhan</strong>, <strong>islam, cet rambut</strong>, <strong>cat rambut</strong>, <strong>rambut cat warna</strong>, <strong>hukum rambut berwarna ketika berpuasa</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>bolehkah mengcta rambut qur&#039;an dan sunnah</strong>, <strong>dilarang mewarnai rambut warna hitam</strong>, <strong>rambut berwarna haram puasa</strong>, <strong>mengapa cat rambut hitam dilarang dalam agama islam</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/cat-rambut/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempercantik Diri dengan Operasi Plastik</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mempercantik-diri-dengan-operasi-plastik</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mempercantik-diri-dengan-operasi-plastik#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 05:48:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[akibat operasi kulit untuk mempercantik diri]]></category>
		<category><![CDATA[akibat-bedah-plastik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apa beda operasi plastik akibat kecacatan dengan operasi dengan kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[apakah shalat tarawih boleh dilakukan seorang diri]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[rambut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5310</guid>
		<description><![CDATA[Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya, &#8220;Bagaimana hukum melaksanakan operasi kecantikan dan hukum mempelajari ilmu kecantikan?&#8221; Jawaban beliau,&#8221;Operasi kecantikan (plastik) ini ada dua macam. Pertama, operasi kecantikan untuk menghilangkan cacat yang karena kecelakaan atau yang lainnya. Operasi seperti ini boleh ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya, &#8220;<a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> melaksanakan operasi kecantikan dan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> mempelajari ilmu kecantikan?&#8221;<br />
<span id="more-5310"></span><br />
Jawaban beliau,&#8221;Operasi kecantikan (plastik) ini ada dua macam. <em>Pertama</em>, operasi kecantikan untuk menghilangkan cacat yang karena kecelakaan atau yang lainnya. Operasi seperti ini boleh dilakukan, karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah memberikan izin kepada seorang lelaki&#8211;yang terpotong hidungnya dalam peperangan&#8211;untuk membuat hidung palsu dari emas. <em>Kedua</em>, operasi yang dilakukan bukan untuk menghilangkan cacat, namun hanya untuk menambah kecantikan (supaya bertambah cantik). Operasi ini hukumnya haram, tidak boleh dilakukan, karena dalam sebuah hadis (disebutkan),</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْ صِلَةَوَالَوَاشِمَةَوَالْمَسْتَوْشِمَةَ</strong></p>
<p>&#8216;<em>Rasulullah melaknat orang yang menyambung <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rambut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rambut">rambut</a>, orang yang minta disambung rambutnya, orang yang membuat tato, dan orang yang minta dibuatkan tato</em>.&#8217; (H.R. Bukhari)</p>
<p>Alasannya, adalah karena operasi seperti ini akan membuat keindahan yang baru, dan bukan untuk menghilangkan cacat.</p>
<p>Adapun berkaitan dengan siswa yang diharuskan untuk mempelajari operasi kecantikan (plastik) dalam kurikulum pelajarannya, maka dia boleh mempelajarinya, tetapi tidak boleh digunakan untuk operasi yang haram. Bahkan, semestinya, dia memberikan nasihat kepada orang yang memintanya melakukan operasi yang diharamkan (itu) agar menjauhi operasi ini, karena hukumnya haram. Mungkin, nasihat dari dokter lebih diterima oleh pasien.&#8221; (<em>Fatawa Al-Mar&#8217;ah Al-Muslimah</em>, hlm. 478&#8211;479)</p>
<p><strong>Sumber</strong>: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 5, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com.<br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>akibat operasi kulit untuk mempercantik diri</strong>, <strong>apakah shalat tarawih boleh dilakukan seorang diri</strong>, <strong>apa beda operasi plastik akibat kecacatan dengan operasi dengan kecantikan</strong>, <strong>akibat-bedah-plastik</strong>, <strong>rambut</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>jari</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>hukum</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mempercantik-diri-dengan-operasi-plastik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasrah Sepenuhnya kepada Suami</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/pasrah-sepenuhnya-kepada-suami</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/pasrah-sepenuhnya-kepada-suami#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 07:21:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[apakah istri harus menurut pada suami?]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bila istri tidak patuh kepada suami]]></category>
		<category><![CDATA[cerai]]></category>
		<category><![CDATA[dalil istri harus patuh pada suami]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[dosa akibat istri tidak patuh pada suami]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[hukum istri tdk patuh pada suami]]></category>
		<category><![CDATA[hukum istri yang tidak nurut perkataan suami]]></category>
		<category><![CDATA[hukum terhadap istri yang tidak patuh kepada suami]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[isteri masuk surga patuh sama suami]]></category>
		<category><![CDATA[istri harus lebih patuh pada suami atau ortu]]></category>
		<category><![CDATA[istri harus patuh kepada suami]]></category>
		<category><![CDATA[istri mengajukan cerai karena suami punya hutang]]></category>
		<category><![CDATA[istri nurut pada suami]]></category>
		<category><![CDATA[istri tahu gaji suami]]></category>
		<category><![CDATA[istri yang tidak patuh kepada suami]]></category>
		<category><![CDATA[kehendak suami]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi dengan ustadz lewat hp]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa istri harus menuruti suami]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa istri harus patuh pada suami]]></category>
		<category><![CDATA[menyikapi suami yang tidak bertanggung jawab menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[suami penurut]]></category>
		<category><![CDATA[suami sering menyakiti hati istri]]></category>
		<category><![CDATA[suami tidak bekerja istri minta cerai dosakah?]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5063</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Pernikahan kami sudah 10 tahun lebih, tapi sampai saat ini, saya merasa kalau rumah tangga kami masih belum menjadi keluarga yang bahagia. Kami pun sering bertengkar, dari masalah banyaknya utang, mulai Suami yang tidak punya pekerjaan, maupun ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan:</p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">Pernikahan</a> kami sudah 10 tahun lebih, tapi sampai saat ini, saya merasa kalau rumah tangga kami masih belum menjadi keluarga yang bahagia. Kami pun sering bertengkar, dari masalah banyaknya utang, mulai Suami yang tidak punya pekerjaan, maupun Suami yang punya tabiat jelek yaitu masalah wanita.</p>
<p>Sebenarnya, Suami tahu apa kewajibannya sebagai Suami. Yang sangat tidak saya suka dari dia adalah dia selalu meminta saya menempatkannya sebagai suami menurut Islam, yang harus selalu ditaati! Dia selalu bilang, &#8220;Kalau belum punya suami, harus patuh (kepada, <em>red.</em>) orang tua, tapi setelah bersuami, harus tunduk dan patuh kepada suami; apa pun yang dikatakan suami harus dilakukan, kecuali jika menyuruh berbuat munkar. Dia tahu agama tapi tidak bisa menjalankannya.</p>
<p>1. Dosakah saya kalau meninggikan suara saat bertengkar? Suami juga sering bermesraan dengan wanita lewat <em>hp</em>, makanya dia melarang saya membuka-buka <em>hp</em>-nya.<br />
2. Dosakah saya jika saya melanggarnya? Sebagai istri, jelas saya selalu pengin tahu (tentang pertemanannya dengan orang lain, red.)? Suami juga sering bilang, &#8220;Kamu itu seharusnya mengabdi dan pasrah terhadap suami karena kalau jadi istri penurut maka yang masuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/surga" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with surga">surga</a> bukan cuma kamu tapi juga ibumu!&#8221;<br />
3. Apakah saya harus menuruti apa pun yang dikatakan Suami (selain perbuatan mungkar) meski saya sendiri tidak terima dengan perbuatannya yang selalu menyakiti hati saya? Dia selalu minta (agar saya, <em>red.</em>) mendoakan dia semoga dia bisa berubah.</p>
<p>Mohon nasihatnya, Ustadz. Saya sudah tidak betah rumah tangga sperti ini, saya pernah minta <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/cerai" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with cerai">cerai</a> tapi dia tidak mau. <em>Matur nuwun</em>.</p>
<p><em>NN (**@yahoo.com)</em><br />
<span id="more-5063"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam.</em></p>
<p><em>Alhamdulillah</em>. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Saudari penanya, semoga Allah ta&#8217;ala menurunkan hidayah kepada suami Anda. Semoga Allah juga membalas ketabahan Saudari sebagai istri dalam menghadapi suami yang&#8211;menurut Saudari&#8211;kurang bertanggung jawab.</p>
<p>Perkataan yang disampaikan suami Saudari memang benar. Istri wajib taat kepada suami, selama tidak diperintahkan dalam maksiat.</p>
<blockquote><p>Kejelekan dan kejahatan suami tidak cukup menjadi alasan bagi istri untuk berbuat dosa/kesalahan, karena kalau pun suami berdosa dan masuk neraka, apa istri juga rela untuk turut berbuat dosa dan masuk neraka?</p></blockquote>
<p>Namun, sebaliknya, istri pun punya hak untuk menuntut agar hak-haknya di penuhi. Karenanya, bila istri tidak sanggup lagi untuk hidup bersama suaminya, ia bisa mengajukan gugatan cerai ke pengadilan, sebagaimana yang dijelaskan dalam buku <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/nikah" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with nikah">nikah</a> pada halaman terakhir. Itulah yang disebut dengan khulu&#8217;.</p>
<p>Akan tetapi, sebelum itu menjadi pilihan Saudari, saya sarankan agar Saudari memusyawarahkan urusan rumah tangga Saudari dengan ayah Saudari dan karib kerabat Saudari. Dengan demikian, apa pun keputusan Saudari, hal itu akan selalu mendapat dukungan dari keluarga, sehingga hasilnya&#8211;insya Allah&#8211;menjadi baik bagi Saudari.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>dosa akibat istri tidak patuh pada suami</strong>, <strong>istri harus patuh kepada suami</strong>, <strong>suami sering menyakiti hati istri</strong>, <strong>cerai</strong>, <strong>bila istri tidak patuh kepada suami</strong>, <strong>dukun</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>apakah istri harus menurut pada suami?</strong>, <strong>konsultasi dengan ustadz lewat hp</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/pasrah-sepenuhnya-kepada-suami/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Rumah Tangga atau Wanita Karier?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/ibu-rumah-tangga-atau-wanita-karier</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/ibu-rumah-tangga-atau-wanita-karier#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 04:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKHLAK]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[ibuwanita karier]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[menahan nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu wanita karir]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[pilih wanita karir atau ibu rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[tanya seputar islam tntang wanita karier]]></category>
		<category><![CDATA[tidak kuat menahan nafsu, bolehkah onani]]></category>
		<category><![CDATA[wanita ingin menikah nggak kuat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=5014</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Ustadz, saya ingin bertanya; lebih utama istri yang bekerja di rumah (IRT) atau istri yang bekerja? Saya sudah bekerja sebagai PNS golongan 2C. Saya ingin cepat menikah, daripada tidak kuat menahan nafsu. Tapi, pacar saya ternyata juga ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum. </em></p>
<p>Ustadz, saya ingin bertanya; lebih utama istri yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bekerja" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bekerja">bekerja</a> di rumah (IRT) atau istri yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bekerja" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bekerja">bekerja</a>?</p>
<p>Saya sudah bekerja sebagai PNS golongan 2C. Saya ingin cepat menikah, daripada tidak kuat <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/menahan-nafsu" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with menahan nafsu">menahan nafsu</a>. Tapi, pacar saya ternyata juga <em>keterima</em> PNS sebagai perawat (yang kerjanya [dengan sistem, <em>red.</em>] <em>shift</em>). Kalau saya menikah dengan dia, saya khawatir kami jarang bertemu. Saya juga tidak suka istri saya (nantinya, <em>red.</em>) harus dinas malam. Kalau saya memutusnya, saya tidak tahu apa yang terjdi dengan dia. <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> pendapat dan solusinya, Ustadz?</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><em>NN (**@***.co.id)</em><br />
<span id="more-5014"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p>Seharusnya, Anda tidak berpacaran karena perbuatan tersebut diharamkan. Oleh karena itu, hendaknya, Anda bertobat dan banyak-banyak beristigfar.</p>
<p>Idealnya, Anda memilih istri yang benar-benar bisa menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga dan pengasuh <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> keturunan Anda. Semoga Allah segera mempertemukan Anda dengan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/jodoh" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with jodoh">jodoh</a> yang salehah.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>wanita ingin menikah nggak kuat</strong>, <strong>menahan nafsu</strong>, <strong>bekerja</strong>, <strong>tanya seputar islam tntang wanita karier</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>tidak kuat menahan nafsu, bolehkah onani</strong>, <strong>jodoh</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>pacaran</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/ibu-rumah-tangga-atau-wanita-karier/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Penting Niatnya?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/yang-penting-niatnya</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/yang-penting-niatnya#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 00:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[KITAB]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[matlamat penggunaan kitab at-tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[niat keluar rumah]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4897</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Kita mengetahui, ada hadis yang menjelaskan bahwa amalan seseorang tergantung dari niatnya. Namun, kita ketahui bahwa&#8211;bisa jadi&#8211;seseorang menjalankan suatu amalan yang tidak sama dengan yang telah ada di dalam hadis. Misalnya, wanita tidak diperbolehkan memakai minyak wangi apabila keluar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Kita mengetahui, ada hadis yang menjelaskan bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> seseorang tergantung dari niatnya. Namun, kita ketahui bahwa&#8211;bisa jadi&#8211;seseorang menjalankan suatu <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/amalan" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with amalan">amalan</a> yang tidak sama dengan yang telah ada di dalam hadis. Misalnya, wanita tidak diperbolehkan memakai minyak wangi apabila keluar rumah, namun yang bersangkutan berdalil, &#8220;Semua itu tergantung niatnya. Asalkan tujuannya tidak untuk menggoda kaum laki-laki.&#8221; Yang ingin kami tanyakan, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> amalan yang demikian ini?<br />
<span id="more-4897"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Memang, amalan seseorang tergantung dari niatnya, sebagaimana terdapat dalam sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّمَاالأَعْمَالُ بِا لِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِ ئٍ هَانَوَى</strong></p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya, amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuatu yang diniatkannya</em>.&#8221; (H.R. Al-Bukhari, no. 1)</p>
<p>Kendati demikian, pernyataan yang berdalih dengan hadis ini, untuk menghalalkan perkara yang diharamkan Allah, merupakan satu kesalahan besar dan jauh dari kebenaran. Bagaimana tidak, setiap pelaku dosa akan menyatakan bahwa dirinya tidak berniat berbuat dosa, dan yang penting tujuannya baik. Orang mencuri akan menyatakan bahwa ia mencuri untuk tujuan yang baik, yaitu memberi nafkah kepada keluarganya. Akhirnya, hancurlah syariat dengan dalih seperti ini.</p>
<p>Wanita dilarang menggunakan minyak wangi keluar rumah, walaupun tidak bertujuan menggoda laki-laki. Dia tidak boleh berdalih dengan niat, untuk membenarkan perbuatannya tersebut, sebab Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَهٌ وَالْمَرْأَةُإِذَااسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِ لْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَاوَكَذَايَعْنِي زَانِيَةً</strong></p>
<p>&#8220;<em>Semua mata itu berzina, dan wanita yang menggunakan minyak wangi lalu melewati majelis para lelaki maka dia itu begini dan begitu, yaitu pezina.</em>&#8221; (H.R. At-Tirmidzi dan Al Mundziri)</p>
<p>Hadis ini tidak mengisyaratkan tujuan menggunakan minyak wangi, sehingga hukumnya berlaku umum.</p>
<p>Syekh Al-Mubarakfuri, dalam kitab <em>Tuhfah Al-Ahwadzi</em>, menjelaskan alasan sehingga si wanita dijuluki &#8220;pezina&#8221; dalam hadis Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di atas, yaitu karena wanita tersebut telah membangkitkan syahwat lelaki dengan minyak wanginya dan menarik perhatian laki-laki untuk melihatnya. Padahal, orang yang melihatnya telah berzina dengan matanya, sehingga ia menjadi penyebab terjadinya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/zina" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with zina">zina</a> mata; wanita itu pun berdosa.</p>
<p>Demikian juga, ia menggunakan minyak wangi tentu dengan niat &#8220;tampil lebih menarik di hadapan orang lain&#8221;. Ini membatalkan dalihnya tersebut.</p>
<p>Mudah-mudahan, Allah membimbing kita semua ke jalan Allah yang lurus.</p>
<p><strong>Sumber: Majalah <em>As-Sunnah</em>, edisi 5, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com.</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>niat keluar rumah</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>amalan</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>matlamat penggunaan kitab at-tirmidzi</strong>, <strong>zina</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/yang-penting-niatnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Bekerja pada Bos yang Nonmuslim</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-bekerja-pada-bos-yang-nonmuslim</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-bekerja-pada-bos-yang-nonmuslim#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 03:39:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah non muslim berpuasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4707</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu &#8216;alaikum. Saya seorang muslimah yang bekerja di biro pariwisata yang owner-nya adalah orang Hindu. Padahal, saya berjilbab. Yang saya tanyakan: bagaimana pandangan Islam mengenai bekerja di perusahaan yang owner-nya nonmuslim, dan bagaimana solusi bagai pencari kerja untuk memilih ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu &#8216;alaikum</em>. Saya seorang muslimah yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bekerja" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bekerja">bekerja</a> di biro pariwisata yang <em>owner</em>-nya adalah orang Hindu. Padahal, saya berjilbab. Yang saya tanyakan: <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> pandangan Islam mengenai bekerja di perusahaan yang <em>owner</em>-nya nonmuslim, dan bagaimana solusi bagai pencari kerja untuk memilih pekerjaaan yang baik menurut pandangan Islam? <em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><em>Lia (naftalia**@***.co.id)</em><br />
<span id="more-4707"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.</em></p>
<p>Tidak mengapa bekerja di tempat nonmuslim, asalkan Saudara/Saudari mampu menjaga kehormatan diri sebagai seorang muslim/muslimah dan tetap dapat menjalankan ibadah kepada Allah sebagaimana mestinya.</p>
<p><em>Wassalamu &#8216;alaikum.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://KonsultasiSyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bekerja</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>jilbab</strong>, <strong>bolehkah non muslim berpuasa ramadhan</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-bekerja-pada-bos-yang-nonmuslim/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Smoothing/Rebonding bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-smoothing-rebonding-bagi-wanita</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-smoothing-rebonding-bagi-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2011 00:29:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aris</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[apakah susu bisa meluruskan rambut keriting]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah ibu hamil melakukan rebonding]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah ibu hamil rebonding]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkan rebonding berpuasa??]]></category>
		<category><![CDATA[gambar rambut rebonding wanita 2011]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berambut keriting]]></category>
		<category><![CDATA[hukum keriting rambut bagi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[hukum meluruskan rambut bagi perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum meluruskan rambut menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengikalkan rambut]]></category>
		<category><![CDATA[hukum rebonding rambut saat haidh]]></category>
		<category><![CDATA[hukum rebonding rambut semasa puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum rebonding rambut untuk wanita]]></category>
		<category><![CDATA[hukum rebonding rambut yang kerinting]]></category>
		<category><![CDATA[hukum rebonding untuk wanita]]></category>
		<category><![CDATA[hukum smoothing rebonding rambut dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum smooting]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[meluruskan rambut]]></category>
		<category><![CDATA[puasa rebond rambut]]></category>
		<category><![CDATA[rambut]]></category>
		<category><![CDATA[rambut lurus smoothing atau rebonsing]]></category>
		<category><![CDATA[rambut rebonding dengan smoothing]]></category>
		<category><![CDATA[rebonding dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[rebonding saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[seperti di rebonding]]></category>
		<category><![CDATA[smoothing rebonding]]></category>
		<category><![CDATA[smooting haram atau tidak]]></category>
		<category><![CDATA[smoting rambut dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan wanita melakukan smoothing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4599</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya pernah dengar, kalau merubah bentuk ciptaan Allah adalah hal yang dilarang/haram, seperti smoothing/rebonding dari rambut yang keriting menjadi lurus. Tapi yang jadi pertanyaan saya, bagaimana hukum smooting/rebonding bagi wanita yang berambut keriting agar menjadi lurus, untuk tujuan membahagiakan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya pernah dengar, kalau merubah bentuk ciptaan Allah adalah hal yang dilarang/haram, seperti smoothing/rebonding dari <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/rambut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with rambut">rambut</a> yang keriting menjadi lurus. Tapi yang jadi pertanyaan saya, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum-smooting" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum smooting">hukum smooting</a>/rebonding bagi wanita yang berambut keriting agar menjadi lurus, untuk tujuan membahagiakan hati suami?</p>
<p><em>Nia (t_nia**@****.com)</em><br />
<span id="more-4599"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/meluruskan-rambut" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with meluruskan rambut">Meluruskan rambut</a> hukumnya boleh sebagaimana bolehnya <strong>memberi warna untuk uban</strong> atau memberi warna untuk kuku bagi wanita. Itu semua tidak dinilai mengubah ciptaan Allah.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.A. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).</strong><br />
<strong>Artikel <a href="http://www.KonsultasiSyariah.com" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></strong></p>
<p><strong>Catatan Redaksi:</strong></p>
<p>Tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> menyemir rambut beruban, bisa baca beberapa tulisan berikut:</p>
<p><a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-menyemir-rambut-uban" target="_blank"><strong>Bolehkah Menyemir Rambut Uban dengan Warna Hitam?</strong></a></p>
<p><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-menyemir-sebagian-rambut" target="_blank">Hukum Menyemir Sebagian Rambut</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/hukum-mencabut-uban-dan-menyemirnya" target="_blank">Hukum Mencabut Uban dan Menyemirnya</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://konsultasisyariah.com/bolehkah-menyemir-rambut-untuk-anak-perempuan" target="_blank">Bolehkah Menyemir Rambut untuk Anak Perempuan?</a></strong></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum keriting rambut bagi wanita</strong>, <strong>hukum rebonding untuk wanita</strong>, <strong>rebonding saat puasa</strong>, <strong>hukum smoothing rebonding rambut dalam islam</strong>, <strong>hukum meluruskan rambut menurut islam</strong>, <strong>hukum smooting</strong>, <strong>bolehkah ibu hamil rebonding</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>hukum rebonding rambut yang kerinting</strong>, <strong>rebonding dalam islam</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-smoothing-rebonding-bagi-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyukai Pemuda yang Berbeda Usia</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/menyukai-pemuda-yang-berbeda-usia</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/menyukai-pemuda-yang-berbeda-usia#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2011 02:41:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ammi Nur Baits</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[PERTANYAAN PEMBACA]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan jauh berbeda usia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4160</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: saya gadis b&#8217;umur 32 thn., saya mempunyai masalah karna menyukai anak yg usiax jauh berbeda yg usiax 24 thn, apakah hukumx bila saya menolak pinangan dari cowok lain yg sdh dewasa., karna saya sangat berharap hidup bersama orang yg ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>saya gadis b&#8217;umur 32 thn., saya mempunyai masalah karna menyukai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> yg usiax jauh berbeda yg usiax 24 thn, apakah hukumx bila saya menolak pinangan dari cowok lain yg sdh dewasa., karna saya sangat berharap hidup bersama orang yg saya sayangi dan menyayangiku.. tp masih tunggu 2 thn lagi untuk menikah? <strong><em>Dari</em></strong>: lia &lt;lia_XXX@yahoo.com&gt;</p>
<p><span id="more-4160"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Bismillah&#8230;</em></p>
<p>Boleh, setiap wanita berhak untuk menerima maupun menolak setiap pinangan. Karena <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a> yang sah adalah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pernikahan-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pernikahan">pernikahan</a> yang didasari rasa cinta antar-sesama calon.</p>
<p>Kami sarankan, jika sudah sepakat untuk menuju jenjang pernikahan,agar dipercepat pelaksanaannya. Dengan berbagai pertimbangan, yaitu:</p>
<ul>
<li>Bisa jadi salah satu di antara calon berubah pikiran, sehingga mencari pilihan yang lain.</li>
</ul>
<ul>
<li>Dalam rangka menjaga agar tidak terjadi perbuatan yang diharamkan agama.</li>
</ul>
<ul>
<li>Selama masa menunggu pernikahan, masing-masing tidak diperkenankan untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pacaran" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pacaran">pacaran</a>, berdua-duaan, saling memandang, apalagi bersentuhan, semua perbuatan itu diharamkan agama.</li>
</ul>
<p>Padahal kami yakin, keduanya sangat ingin tinggal bersama. Dengan mempercepat pernikahan, maka akan menjaga hati dari masing-masing pihak. Semoga langkah kita diberkahi Allah<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, <em>Amiin.</em></p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).<br />
Artikel<a href="http://www.konsultasisyariah.com" target="_blank"> www.konsultasisyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>anak</strong>, <strong>pernikahan jauh berbeda usia</strong>, <strong>pacaran</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>pernikahan</strong>, <strong>isa</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/menyukai-pemuda-yang-berbeda-usia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Memakai Sepatu atau Sandal Hak Tinggi Bagi Wanita</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-atau-sandal-hak-tinggi-bagi-wanita</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-atau-sandal-hak-tinggi-bagi-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Mar 2011 01:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator 2</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Halal Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah sholat memakai sepatu]]></category>
		<category><![CDATA[cara wanita islam memakai celak]]></category>
		<category><![CDATA[foto sendal sepatu hak]]></category>
		<category><![CDATA[gambar model sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[gambar sandal hak]]></category>
		<category><![CDATA[gambar sandal hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[gambar sandal tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum memakai jilbab bagi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[model sandal hak tinggi yang terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[model sandal tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[model sendal hak]]></category>
		<category><![CDATA[model sendal hak tinggi 2011]]></category>
		<category><![CDATA[photo sendal hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>
		<category><![CDATA[sandal cewek hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sandal dan sepatu hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sandal perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sendal hak tinggi untuk perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[sendal perempuan hak tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sendal wanita tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu hak tinggi untuk pria]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu sandal hak]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu tinggi wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=4056</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukum seorang wanita yang memakai sepatu atau sandal hak tinggi? (Hal tersebut dilakukan) karena baju yang dipakai panjang, dan bila hak sandal tidak tinggi maka bajunya menyapu tanah. Jawaban: Pertanyaan Saudari mengandung dua hal: Hukum memakai sepatu atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> seorang wanita yang memakai sepatu atau <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sandal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sandal">sandal</a> hak tinggi? (Hal tersebut dilakukan) karena baju yang dipakai panjang, dan bila hak <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/sandal" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sandal">sandal</a> tidak tinggi maka bajunya menyapu tanah.</p>
<p><strong><span id="more-4056"></span>Jawaban:</strong></p>
<p>Pertanyaan Saudari mengandung dua hal:</p>
<ol>
<li>Hukum memakai sepatu atau sandal hak tinggi.</li>
</ol>
<ol>
<li><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> hijab atau pakaian perempuan yang <em>syar&#8217;i </em>itu? Bolehkah menyentuh tanah atau tidak?</li>
</ol>
<p>Pertanyaan pertama telah terjawab oleh Syekh Abdul Aziz bin baz dengan fatwa beliau, &#8220;Minimal hukumnya makruh karena beberapa sebab. Pertama, itu adalah bentuk penipuan karena seolah-olah sang wanita kelihatan tinggi padahal tidak. Kedua, berbahaya bagi perempuan tersebut karena bisa jatuh. Ketiga, ada efek negatif lain yang nyata sebagaimana dijelaskan oleh para dokter.&#8221; <em>(Fatawa al-Mar&#8217;ah</em>, hlm. 168).<br />
<strong></strong><br />
Adapun masalah yang kedua, kita simak fatwa Syeikh Shalih Al-Fauzan berikut, &#8220;Wajib bagi perempuan muslimah menutup semua bagian tubuhnya dari pandangan laki-laki. Oleh karena itu, mereka diberikan keringanan untuk menjulurkan bagian bawah pakaiannya seukuran satu hasta agar menutup kedua kakinya.&#8221; (<em>Al-Muntaqa</em>: 5/334)</p>
<p>Sumber: <em>Majalah Mawaddah</em>, Edisi 12, Tahun Ke-1, <em>Jumadits Tsaniyah</em>&#8211;<em>Rajab</em> 1429 H/Juli 2008.<br />
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)<br />
Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.konsultasisyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>model sendal hak tinggi 2011</strong>, <strong>sendal perempuan hak tinggi</strong>, <strong>photo sendal hak tinggi</strong>, <strong>sepatu sandal hak</strong>, <strong>sepatu tinggi wanita</strong>, <strong>sendal hak tinggi untuk perkawinan</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>foto sendal sepatu hak</strong>, <strong>gambar sandal hak tinggi</strong>, <strong>sepatu hak tinggi untuk pria</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/hukum-memakai-sepatu-atau-sandal-hak-tinggi-bagi-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Mengambil Gaji Istri?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/mengambil-gaji-istri</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/mengambil-gaji-istri#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 23:40:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkan gaji istri]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2144</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya menikah dengan seorang perempuan yang bekerja sebagai guru, yang setiap bulan mendapat gaji. Dan sayapun seorang pegawai yang juga setiap bulan mendapat gaji. Saya sering mengambil uang gajinya untuk keperluan bersama, misalnya untuk memperbaiki rumah dan lain-lain, dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Saya menikah dengan seorang perempuan yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bekerja" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bekerja">bekerja</a> sebagai <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/guru" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with guru">guru</a>, yang setiap bulan mendapat gaji. Dan sayapun seorang pegawai yang juga setiap bulan mendapat gaji. Saya sering <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengambil" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengambil">mengambil</a> uang gajinya untuk keperluan bersama, misalnya untuk memperbaiki rumah dan lain-lain, dan hal itu saya lakukan berdasarkan kerelaan dia. Dan saya tidak memberikan bukti tertulis (kwitansi) terhadap penggunaan uang tersebut, sementara dia juga tidak memintanya (menanyakannya). <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> perbuatan saya tersebut?<br />
<span id="more-2144"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Anda boleh mengambil uang gaji istri Anda, asalkan hal itu berdasarkan kerelaannya, dan istri Anda bukan seorang yang tidak punya pilihan. Begitu juga, segala bantuan yang dia berikan kepada Anda boleh Anda terima, apabila hal itu betul-betul berdasarkan kerelaannya. Hal ini berdasarkan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا</p>
<p><em>“Jika istrimu berbuat baik kepadamu (memberikan sebagian mas kawin tersebut kepadamu), maka terimalah dan makanlah dengan senang hati.”</em> (QS. An-Nisaa’: 4).</p>
<p>Akan tetapi, jika istri anda memberikan surat bukti tentang pemberian tersebut, maka hal itu lebih baik dan lebih berhati-hati, terutama apabila Anda khawatir di kemudian hari ada tuntutan dari pihak keluarga atau kerabatnya atau dikhawatirkan dia mengambil kembali pemberian tersebut. Dan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>Maha Penolong.</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa Syaikh Bin Baaz Jilid 2</em>, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Pustaka at-Tibyan</p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum</strong>, <strong>guru</strong>, <strong>mengambil</strong>, <strong>bolehkan gaji istri</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>bekerja</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>jin</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/mengambil-gaji-istri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suamiku seperti Serigala</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/suami-buruk</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/suami-buruk#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 00:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasisyari'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=2056</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya seorang perempuan yang sudah menikah kira-kira 25 tahun yang lalu, dan sekarang saya telah dikaruniai sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Saya banyak mendapatkan kesengsaraan (siksaan) dari suami. Dia sering menghina saya di depan anak-anak dan di depan saudara-saudara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya seorang perempuan yang sudah menikah kira-kira 25 tahun yang lalu, dan sekarang saya telah dikaruniai sejumlah <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a> laki-laki dan perempuan. Saya banyak mendapatkan kesengsaraan (siksaan) dari suami. Dia sering menghina saya di depan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/anak-2" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with anak">anak</a>-anak dan di depan saudara-saudara dekat dan saudara-saudara yang jauh. Dia tidak pernah menghargai jerih payah saya tanpa sebab yang jelas. Saya hanya merasa tenang apabila suami saya tidak ada di rumah. Perlu diketahui bahwa suami saya termasuk orang yang rajin melaksanakan <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> dan termasuk orang yang takut (taat) kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Apa yang harus saya lakukan agar saya tetap berada dalam keselamatan dan kebenaran.</p>
<p><span id="more-2056"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Anda wajib bersabar dan menasihati suami dengan cara yang baik serta mengingatkan dia untuk takut kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dan hari akhir. Mudah-mudahan dia mau mendengarkan nasihat Anda dan kembali melaksanakan yang haq serta meninggalkan akhlaknya yang buruk. Jika suami Anda tidak mau berubah, maka dia sendiri yang akan menanggung dosa dan Anda akan mendapatkan pahala yang besar apabila Anda terus bersabar dalam menanggung derita. Juga disyariatkan (ditekankan) agar Anda selalu mendoakan suami, terutama ketika Anda sedang melaksanakan shalat, agar Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memberi petunjuk kepadanya serta mengaruniai suami Anda akhlak yang terpuji, dan agar Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> melindunginya dari keburukan (kejahatan) dirinya dan kejahatan orang lain.</p>
<p>Tapi dalam hal ini Anda juga wajib bermuhasabah (introspeksi diri), dan mengamalkan kewajiban-kewajiban agama serta bertaubat kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dari kejelekan-kejelekan dan kesalahan yang mungkin pernah Anda lakukan, baik yang menyangkut hak Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> (kewajiban kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>) atau yang menyangkut hak suami (kewajiban terhadap suami) serta kewajiban kepada orang lain. Karena boleh jadi, Anda menerima cobaan (kesengsaraan) tersebut disebabkan karena perbuatan maksiat yang mungkin pernah Anda lakukan. Hal ini berdasarkan firman Allah<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ</p>
<p><em>“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”</em> (Qs. Asy-Syura: 30)</p>
<p>Atau Anda juga boleh minta bantuan kepada orang tua suami atau kakaknya atau kerabatnya atau tetangganya untuk menasihati suami Anda, agar suami Anda bisa berbuat baik terhadap keluarga (termasuk istri). Hal ini berdasarkan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p><em>“Dan pergaulilah mereka (istri-istrimu) dengan cara yang baik.”</em> (Qs. An-Nisaa: 19)</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> juga berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ</p>
<p><em>“Dan mereka (para istri) mempunyai hak yang sama dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.”</em> (Qs. Al-Baqarah: 228)</p>
<p>Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memperbaiki keadaan kalian berdua dan memberikan petunjuk kepada suami Anda serta membimbingnya kepada kebenaran dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan dan petunjuk. Sesungguhnya Dia Maha Pemberi dan Maha Mulia.</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa Syaikh Bin Baaz Jilid 2</em>, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Pustaka at-Tibyan<br />
Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>anak</strong>, <strong>konsultasisyari&#039;ah</strong>, <strong>doa</strong>, <strong>sabar</strong>, <strong>nikah</strong>, <strong>jin</strong>, <strong>shalat</strong>, <strong>isa</strong>, <strong>maaf</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/suami-buruk/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Hukum Memakai Dasi?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-memakai-dasi</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-memakai-dasi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 16:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[dasi terbuat dari]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=1620</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: ما حكم لبس الكرفتة للنساء مع العلم بأنها مصنوعة من أقمشة خاصة بالنساء ؟ “Apa hukum memakai dasi bagi perempuan mengingat bahwa dasi tersebut terbuat dari kain khusus untuk perempuan?” الجواب : الحمد لله لا أرى لبس النساء للكرفتة ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ما حكم لبس الكرفتة للنساء مع العلم بأنها مصنوعة من أقمشة خاصة بالنساء ؟</p>
<p>“Apa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> memakai dasi bagi perempuan mengingat bahwa dasi tersebut terbuat dari kain khusus untuk perempuan?”</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span id="more-1620"></span>الجواب :<br />
الحمد لله<br />
لا أرى لبس النساء للكرفتة لأننا في شك من جواز لبسها للرجال فكيف بالنساء ؟</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>“Kami tidak membolehkan dasi bagi perempuan. Karena kami meragukan bolehnya memakai dasi bagi laki-laki maka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> lagi dengan perempuan.&#8221;</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أما الرجال ففي نفسي من جواز لبسها شيء لكن رأيت أكثر الناس الآن يلبسونها ولا سيما بعض الموظفين في جهة من الجهات ، فأرجو أن لا يكون في لباسها حرج بالنسبة للرجال أما المرأة فلا</p>
<p>Sebenarnya kami tidak berani menegaskan bolehnya memakai dasi bagi laki-laki namun mengingat sebagaimana kami lihat sendiri bahwa mayoritas manusia (baca: muslimin) sekarang memakai dasi terutama sebagian pegawai di sebagian instansi sehingga kami berkesimpulan semoga tidaklah berdosa laki-laki yang memakai dasi. Sedangkan perempuan tetap tidak boleh.”</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">من فتاوى الشيخ ابن عثيمين من مجلة الدعوة</p>
<p>Demikian fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin dalam <em>Majalah Ad-Dakwah</em>.</p>
<p>Rujukan:</p>
<p>http://islamqa.com/ar/ref/9300/%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85</p>
<p>Ustadz Aris Munandar</p>
<p>Sumber: ustadzaris.com</p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>hukum</strong>, <strong>dasi terbuat dari</strong>, <strong>bagaimana</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-memakai-dasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Hukum Menjadi Dokter Wanita?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-menjadi-dokter-wanita</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-menjadi-dokter-wanita#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 17:39:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[aurat]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[cadar tidak wajib syaikh bin baz]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana adab-adab dan etika menjadi seorang dokter wanita? Dan apa saja yang harus dilakukan sesuai dengan dasar syariat? Sebentar lagi saya akan menjalani pendidikan dokter muda di rumah sakit, apa saja yang hendaknya dilakukan mengingat disana banyak terjadi khalwat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">Bagaimana</a> adab-adab dan etika menjadi seorang dokter wanita? Dan apa saja yang harus dilakukan sesuai dengan dasar syariat? Sebentar lagi saya akan menjalani pendidikan dokter muda di rumah sakit, apa saja yang hendaknya dilakukan mengingat disana banyak terjadi <em>khalwat</em> dan <em>ikhtilat</em>. Mohon berkenan menjawabnya dengan lengkap. <em>Jazakallah</em></p>
<p style="text-align: left;">roosarina<br />
Alamat: Jl. Blora<br />
Email: withroosaxxxx@yahoo.com</p>
<p align="left">
<p><strong>Al Akh Yulian Purnama menjawab:</strong><br />
Berikut ini kami sampaikan nasehat dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> bagi wanita yang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bekerja" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bekerja">bekerja</a> sebagai dokter:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله وصلى الله وسلم على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه أما بعـد</p>
<p>Wanita diperbolehkan bekerja sebagai dokter walaupun terdapat laki-laki, asalkan:</p>
<ul>
<li>Tidak terjadi <em>khulwah</em> (berdua-duaan) dengan salah seorang laki-laki</li>
<li>Tidak menampakkan bagian tubuhnya, bahkan wanita tersebut wajib berhijab</li>
<li>Menjaga dirinya pada keadaan-keadaan darurat</li>
<li>Tidak membahayakan dirinya</li>
</ul>
<p>Namun, jika beresiko terjadi <em>khulwah</em> atau beresiko tersingkapnya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/aurat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with aurat">aurat</a> maka tidak dibolehkan. Jika demikian keadaannya, sebaiknya wanita tersebut menyibukkan diri pada lahan kedokteran yang khusus bagi wanita dan tidak terdapat laki-laki di sana. Dengan demikian ia akan lebih jauh dari bahaya dan dapat lebih baik dalam menjaga agama dan kehormatannya.</p>
<p>Jika terdapat kondisi darurat yang sulit menghindari adanya <em>ikhtilath</em> (campur-baur dengan lelaki), maka:</p>
<ul>
<li>Tidak boleh ber-<em>khalwat</em> (berduaan) dengan salah seorang lelaki. Sebaiknya terdapat banyak orang di sana.</li>
<li>Tidak boleh menampakkan bagian tubuhnya yang dapat menimbulkan fitnah. seperti wajah, dada, kepala atau semacamnya. Bahkan wajib memakai hijab dan niqab. Hanya boleh menampakkan satu atau dua matanya.</li>
<li>Mengerjakan peran wanita saja (tidak mengerjakan peran lelaki, pent.)</li>
</ul>
<p>Jika syarat-syarat ini dipenuhi, mudah-mudahan tidak mengapa <em>Insya Allah</em>, dikarenakan terdapat kondisi darurat”.</p>
<p>[Sampai di sini penjelasan beliau, teks asli silakan lihat di <a href="http://www.binbaz.org.sa/mat/11109" target="_blank">http://www.binbaz.org.sa/mat/11109</a>]</p>
<p>Perlu kami beri catatan bahwa <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> memakai cadar atau <em>niqab</em> (penutup wajah), diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama mewajibkan, sebagaimana Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em>. Sebagian ulama berpendapat hukumnya <em>mustahab</em> (dianjurkan) dan tidak wajib. Lebih jelasnya simak artikel berikut:</p>
<ul>
<li><a rel="bookmark" href="http://ustadzkholid.com/muslimah/hukum-cadar-dalil-dalil-ulama-yang-mewajibkan-1/" target="_blank">Hukum Cadar: Dalil-Dalil Ulama yang Mewajibkan (1)</a><small><br />
</small></li>
<li><a rel="bookmark" href="http://ustadzkholid.com/muslimah/hukum-cadar-dalil-dalil-ulama-yang-mewajibkan-2/" target="_blank">Hukum Cadar: Dalil-Dalil Ulama yang Mewajibkan (2)</a></li>
<li><a rel="bookmark" href="http://ustadzkholid.com/muslimah/hukum-cadar-dalil-dalil-ulama-yang-tidak-mewajibkan-3/" target="_blank">Hukum Cadar: Dalil-Dalil Ulama yang Tidak Mewajibkan (3)</a></li>
<li><a rel="bookmark" href="http://ustadzkholid.com/muslimah/hukum-cadar-dalil-dalil-ulama-yang-tidak-mewajibkan-3/" target="_blank">Hukum Cadar: Dalil-Dalil Ulama yang Tidak Mewajibkan (4)</a></li>
</ul>
<p>Bagi dokter wanita yang telah menelaah dalil-dalil tersebut dan mantap dengan pendapat ulama yang mewajibkan, maka wajib baginya untuk tetap menutup wajahnya sebagaimana dinasehatkan oleh Syaikh Ibnu Baz di atas. Bagi dokter wanita yang telah menelaah dalil-dalil tersebut dan mantap dengan pendapat ulama yang tidak mewajibkan, maka boleh baginya membuka wajah. Namun tentu menutup wajah lebih utama untuk menghindari fitnah, sebagaimana juga dijelaskan oleh para ulama yang tidak mewajibkan memakai cadar. Mengingat sabda Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء</p>
<p>“<em>Sepeninggalku, tidak ada fitnah (bencana) yang lebih berbahaya bagi laki-laki selain fitnah wanita</em>” (HR. Bukhari no.5096, Muslim no.2740)<br />
<em>Wallahu’alam</em>.</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Sumber: <a href="http://ustadzkholid.com/">UstadzKholid.Com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>aurat</strong>, <strong>hukum</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>bekerja</strong>, <strong>cadar tidak wajib syaikh bin baz</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-menjadi-dokter-wanita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Wanita Bekerja?</title>
		<link>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-bekerja</link>
		<comments>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-bekerja#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 12:54:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminC</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>
		<category><![CDATA[WANITA]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[aurat]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana hukum islam jika istri bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah isteri bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah istri bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah istri bekerja dalam islam?]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah wanita bekerja diluar rumah menurut hukum syar'i]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah wanita bekerja menurut pandangan islam]]></category>
		<category><![CDATA[dalam hukum islam bolehkan wanita bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum istri bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita bekerja di luar negeri]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita bekerja menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita yang bekerja menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[isa]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[keehidupan wanita di barat harta meningkat tapi]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[mengambil]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[oral]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan wanita]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan bekerja menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[seharusnya wanita bolehkah kerja dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[syariat wanita yang bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[zikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://konsultasisyariah.com/?p=520</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya ibu dengan satu bayi putri. Saya bekerja sebagai PNS di Depdiknas. Mohon nasihatnya, setelah saya belajar Islam dengan manhaj Salaful ummah ini, timbul dilema antara melanjutkan karir atau mempersiapkan diri untuk keluar dari pekerjaan dan menjadi ibu yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Saya ibu dengan satu bayi putri. Saya <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bekerja" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bekerja">bekerja</a> sebagai PNS di Depdiknas. Mohon nasihatnya, setelah saya belajar Islam dengan manhaj Salaful ummah ini, timbul dilema antara melanjutkan karir atau mempersiapkan diri untuk keluar dari pekerjaan dan menjadi ibu yang <em>full time </em>di rumah. Masalahnya adalah saya kurang pandai bekerja di rumah, sekarang ini walau tak ada pembantu saya masih bisa mengurus rumah walaupun seadanya.</p>
<p>Khawatirnya jika saya tetap bekerja, akan bertentangan dengan surat Al Ahzab ayat 33 bahwa tempat wanita adalah rumahnya. Mohon nasihatnya ustadz, agar ana ikhlas bekerja tanpa pembantu dan mendapatkan yang lebih baik dari sekadar khadimat dengan dzikir sebelum tidur. Namun, bolehkah saya punya <em>khadimat </em>ya ustadz masalahnya jadi ada <em>non-mahram </em>di rumah kami. <em>Jazaakumullah Khair wa Barakallahu fikum</em>, <em>Wassallam</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Neneng<br />
Alamat: Jakarta Selatan<br />
Email: nenengtxxxxx@yahoo.com</em></p>
<p align="left"><span id="more-1157"> </span></p>
<p><strong>Ustadz Musyaffa Ad Darini,Lc. menjawab:</strong></p>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah wash shalatu wassalamu ala rasulillah, wa’ala alihi washahbihi wa man waalah, amma ba’du</em>.</p>
<p>Semoga Allah mencurahkan rahmat, berkah dan taufiq-Nya kepada anda, karena semangat anda menetapi manhaj yang lurus ini, Amin. Agar lebih fokus dan mudah dipahami, jawaban pertanyaan anda kami jabarkan dalam poin-poin berikut ini:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Islam adalah syariat yang diturunkan oleh Allah Sang Pencipta Manusia, hanya Dia-lah yang maha mengetahui seluk beluk ciptaan-Nya. Hanya Dia yang maha tahu mana yang baik dan memperbaiki hamba-Nya, serta mana yang buruk dan membahayakan mereka. Oleh karena itu, Islam menjadi aturan hidup manusia yang paling baik, paling lengkap dan paling mulia, Hanya Islam yang bisa mengantarkan manusia menuju kebaikan, kemajuan, dan kebahagiaan dunia akhirat. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا  دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ</p>
<p>“<em>Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rosul apabila dia menyerumu kepada sesuatu (ajaran) yang memberi kehidupan kepadamu</em>“. (QS. Al-Anfal: 24).</p>
<p>Allah adalah Dzat yang maha pengasih, maha penyayang dan terus mengurusi makhluk-Nya, oleh karena itu Dia takkan membiarkan makhluknya sia-sia, Allah berfirman:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى</p>
<p>“<em>Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa ada perintah, larangan dan pertanggung-jawaban)?!</em>” (QS. Al-Qiyamah:36, lihat tafsir Ibnu Katsir 8/283).</p>
<p>Oleh karena itulah, Allah menurunkan syariat-Nya, dan mengharuskan manusia untuk menerapkannya dalam kehidupan, tidak lain agar kehidupan mereka menjadi lebih baik, lebih maju, lebih mulia, dan lebih bahagia di dunia dan di akhirat.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Islam menjadikan lelaki sebagai kepala keluarga, di pundaknya lah tanggung jawab utama lahir batin keluarga. Islam juga sangat proporsional dalam membagi tugas rumah tangga, kepala keluarga diberikan tugas utama untuk menyelesaikan segala urusan di luar rumah, sedang sang ibu memiliki tugas utama yang mulia, yakni mengurusi segala urusan dalam rumah.</p>
<p>Norma-norma ini terkandung dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ</p>
<p>“<em>Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka</em>” (QS. An-Nisa: 34).</p>
<p>Begitu pula firman-Nya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ</p>
<p>“<em>Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian</em>” (QS. Al-Ahzab:33).</p>
<p>Ahli Tafsir ternama Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan perkataannya: “Maksudnya, hendaklah kalian (para istri) menetapi rumah kalian, dan janganlah keluar kecuali ada kebutuhan. Termasuk diantara kebutuhan yang syar’i adalah keluar rumah untuk <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with shalat">shalat</a> di masjid dengan memenuhi syarat-syaratnya” (Tafsir <em>Ibnu Katsir, </em>6/409).</p>
<p>Inilah keluarga yang ideal dalam Islam, kepala keluarga sebagai penanggung jawab utama urusan luar rumah, dan ibu sebagai penanggung jawab utama urusan dalam rumah. Sungguh, jika aturan ini benar-benar kita terapkan, dan kita saling memahami tugas masing-masing, niscaya terbangun tatanan masyarakat yang maju dan berimbang dalam bidang moral dan materialnya, tercapai ketentraman lahir batinnya, dan juga teraih kebahagiaan dunia akhiratnya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Bolehkah wanita bekerja?</p>
<p>Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syari’at.</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Alloh jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hambanya untuk bekerja dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ</p>
<p>“<em>Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Alloh, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu</em>“  (QS. At-Taubah:105)</p>
<p>Perintah ini mencakup pria dan wanita. Alloh juga mensyariatkan bisnis kepada semua hambanya, Karenanya seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita, Alloh berfirman (yang artinya):</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ</p>
<p>“<em>Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela diantara kalian</em>” (QS. An-Nisa:29),</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">P</span><span style="text-decoration: underline;">erintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita.</span></p>
<p><strong>AKAN TETAPI</strong>, wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya, hendaklah pelaksanaannya bebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/pekerjaan-wanita" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with pekerjaan wanita">pekerjaan wanita</a>, harusnya tidak ada <em>ikhtilat </em>(campur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syar’i, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.</p>
<p>Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita, yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktek seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.</p>
<p>Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.</p>
<p>Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.</p>
<p>Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak seorang pria boleh mengurusi wanita, misalnya pria boleh mengobati wanita karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya, begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/aurat" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with aurat">aurat</a>, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). (Lihat <em>Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz</em>, jilid 28, hal: 103-109)</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, jika istri ingin bekerja, diantaranya:</p>
<p>1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah, karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya, dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.</p>
<p>2.        Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib mentaati suaminya.</p>
<p>3. Menerapkan adab-adab islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syar’i, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahrom, dll.</p>
<p>4.        Pekerjaannya sesuai dengan tabi’at wanita, seperti: <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/mengajar" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with mengajar">mengajar</a>, dokter, perawat, penulis artikel, buku, dll.</p>
<p>5. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: Sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.</p>
<p>6. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita, kecuali jika keadaannya darurat atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Jawaban pertanyaan anda sangat bergantung dengan pekerjaan dan keadaan anda.</p>
<p>Apa suami mengijinkan anda untuk bekerja? Apa pekerjaan anda tidak mengganggu tugas utama anda dalam rumah? Apa tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan dalam rumah? Jika lingkungan kerja anda sekarang keadaannya ikhtilat (campur antara pria dan wanita), apa tidak ada pekerjaan lain yang lingkungannya tidak ikhtilat? Jika tidak ada, apa anda sudah dalam kondisi darurat, sehingga apabila anda tidak bekerja itu, anda akan terancam hidupnya atau paling tidak hidup anda akan terasa berat sekali bila anda tidak bekerja? Jika memang demikian, sudahkah anda menerapkan adab-adab islami ketika anda keluar rumah? InsyaAllah dengan uraian kami di atas, anda bisa menjawab sendiri pertanyaan anda.</p>
<p>Memang, seringkali kita butuh waktu dan <em>step by step </em>dalam menerapkan syariat dalam kehidupan kita, tapi peganglah terus firman-Nya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ</p>
<p>“<em>Bertaqwalah kepada Alloh semampumu!</em>” (QS. At-Taghabun:16)</p>
<p>dan  firman-Nya (yang artinya):</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ</p>
<p>“<em>Jika tekadmu sudah bulat, maka tawakkal-lah kepada Alloh!</em>” (QS. Al Imran:159),</p>
<p>juga sabda Rasul -<em>shallallahu alaihi wasallam</em>- “Ingatlah kepada Allah ketika dalam kemudahan, niscaya Allah akan mengingatmu ketika dalam kesusahan!” (HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani), dan juga sabdanya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ (رواه أحمد وقال الألباني: سنده صحيح على شرط مسلم)</p>
<p>“<em>Sungguh kamu tidak meninggalkan sesuatu karena takwamu kepada Alloh azza wajall, melainkan Alloh pasti akan memberimu ganti yang lebih baik darinya</em>” (HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani).</p>
<p><strong>Terakhir</strong>: Kadang terbetik dalam benak kita, mengapa Islam terkesan mengekang wanita?!</p>
<p>Inilah doktrin yang selama ini sering dijejalkan para musuh Islam, mereka menyuarakan pembebasan wanita, padahal dibalik itu mereka ingin menjadikan para wanita sebagai obyek nafsunya, mereka ingin bebas menikmati keindahan wanita, dengan lebih dahulu menurunkan martabatnya, mereka ingin merusak wanita yang teguh dengan agamanya agar mau mempertontonkan auratnya, sebagaimana mereka telah merusak kaum wanita mereka.</p>
<p>Lihatlah kaum wanita di negara-negara barat, meski ada yang terlihat mencapai posisi yang tinggi dan dihormati, tapi kebanyakan mereka dijadikan sebagai obyek dagangan hingga harus menjual kehormatan mereka, penghias motor dan mobil dalam lomba balap, penghias barang dagangan, pemoles iklan-iklan di berbagai media informasi, dll. Wanita mereka dituntut untuk berkarir padahal itu bukan kewajiban mereka, sehingga menelantarkan kewajiban mereka untuk mengurus dan mendidik anaknya sebagai generasi penerus. Selanjutnya rusaklah tatanan kehidupan masyarakat mereka. Tidak berhenti di sini, mereka juga ingin kaum wanita kita rusak, sebagaimana kaum wanita mereka rusak lahir batinnya, dan diantara langkah awal menuju itu adalah dengan mengajak kaum wanita kita -dengan berbagai cara- agar mau keluar dari rumah mereka.</p>
<p>Cobalah lihat secuil pengakuan orang barat sendiri, tentang sebab rusaknya tatanan masyarakat mereka berikut ini:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Lord Byron:</span> “Andai para pembaca mau melihat keadaan wanita di zaman yunani kuno, tentu anda akan dapati mereka dalam kondisi yang dipaksakan dan menyelisihi fitrahnya, dan tentunya anda akan sepakat denganku, tentang wajibnya menyibukkan wanita dengan tugas-tugas dalam rumah, dibarengi dengan perbaikan gizi dan pakaiannya, dan wajibnya melarang mereka untuk campur dengan laki-laki lain”.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Samuel Smills:</span> “Sungguh aturan yang menyuruh wanita untuk berkarir di tempat-tempat kerja, meski banyak menghasilkan kekayaan untuk negara, tapi akhirnya justru menghancurkan kehidupan rumah tangga, karena hal itu merusak tatanan rumah tangga, merobohkan sendi-sendi keluarga, dan merangsek hubungan sosial kemasyarakatan, karena hal itu jelas akan menjauhkan istri dari suaminya, dan menjauhkan anak-anaknya dari kerabatnya, hingga pada keadaan tertentu tidak ada hasilnya kecuali merendahkan moral wanita, karena tugas hakiki wanita adalah mengurus tugas rumah tangganya…”.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Dr. Iidaylin:</span> “Sesungguhnya sebab terjadinya krisis rumah tangga di Amerika, dan rahasia dari banyak kejahatan di masyarakat, adalah karena istri meninggalkan rumahnya untuk meningkatkan penghasilan keluarga, hingga meningkatlah penghasilan, tapi di sisi lain tingkat akhlak malah menurun… Sungguh pengalaman membuktikan bahwa kembalinya wanita ke lingkungan (keluarga)-nya adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan generasi baru dari kemerosotan yang mereka alami sekarang ini”. (lihat<em> Majmu’ Fatawa Ibnu Baz</em>, jilid 1, hal: 425-426)</p>
<p>Lihatlah, <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/bagaimana" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with bagaimana">bagaimana</a> mereka yang obyektif mengakui imbas buruk dari keluarnya wanita dari rumah untuk berkarir… Sungguh Islam merupakan aturan dan syariat yang paling tepat untuk manusia, Aturan itu bukan untuk mengekang, tapi untuk mengatur jalan hidup manusia, menuju perbaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat… Islam dan pemeluknya, ibarat terapi dan tubuh manusia, Islam akan memperbaiki keadaan pemeluknya, sebagaimana terapi akan memperbaiki tubuh manusia… Islam dan pemeluknya, ibarat UU dan penduduk suatu negeri, Islam mengatur dan menertibkan kehidupan manusia, sebagaimana UU juga bertujuan demikian…</p>
<p>Jadi Islam tidak mengekang wanita, tapi mengatur wanita agar hidupnya menjadi baik, selamat, tentram, dan bahagia dunia akhirat. Begitulah cara Islam menghormati wanita, menjauhkan mereka dari pekerjaan yang memberatkan mereka, menghidarkan mereka dari bahaya yang banyak mengancam mereka di luar rumah, dan menjaga kehormatan mereka dari niat jahat orang yang hidup di sekitarnya…</p>
<p>Sekian jawaban kami, <em>wallahu a’lam</em>semoga bermanfaat dan bisa dimengerti. wassalam.</p>
<p>NB: Tentang <a href="http://konsultasisyariah.com/tag/hukum" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with hukum">hukum</a> mengambil pembantu, insyaAlloh akan kami jawab di kesempatan lainnya.</p>
<p>Penulis: Ustadz Musyaffa’ Addariny</p>
<p>Sumber: <a href="http://ustadzkholid.com/">UstadzKholid.Com</a></p>

	<strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>bolehkah wanita bekerja diluar rumah menurut hukum syar&#039;i</strong>, <strong>zikir</strong>, <strong>guru</strong>, <strong>bagaimana</strong>, <strong>bolehkah istri bekerja</strong>, <strong>oral</strong>, <strong>hukum wanita bekerja di luar negeri</strong>, <strong>bekerja</strong>, <strong>mimpi</strong>, <strong>bolehkah wanita bekerja menurut pandangan islam</strong><br />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-bekerja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 47/327 queries in 0.097 seconds using disk: basic
Object Caching 35977/36546 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.konsultasisyariah.com

Served from: konsultasisyariah.com @ 2012-02-05 06:59:34 -->
