Penyimpangan Terhadap Nama dan Sifat Allah

3955
tauhid kepada allah

Penyimpangan Terhadap Nama dan Sifat Allah

Pertanyaan:

Apa yang dimaksud dengan ilhad terhadap nama-nama Allah dan macam-macamnya?

Jawaban:

Ilhad secara bahasa berarti ‘condong’, seperti yang difirmankan Allah,

Bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya adalah bahasa ‘ajam, sedang Alquran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)

Kata lahd juga dipakai untuk menyebut kuburan, dan disebut lahd karena dia condong ke samping. Kita tidak mengetahui kata ilhad kecuali mengetahui makna istiqomah, seperti dikatakan dalam pepatah, “Dengan lawannya, segala sesuatu akan tampak lebih jelas”. Isitqomah dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah berarti menerapkan nama-nama dan sifat-sifat itu sesuai dengan hakikatnya yang pantas kepada Allah tanpa mengubah, tanpa mengada-ada, tanpa mempermasalahkan, dan tanpa membuat pemisalan, berdasarkan kaidah yang dipegang oleh Ahlu Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini. Jika kita telah mengetahui makna istiqomah dari sudut ini, maka kebalikan dari istiqomah adalah ilhad.

Para ulama telah menyebutkan bahwa ilhad terhadap nama-nama Allah itu bermacam-macam yang dapat kita simpulkan sebagai berikut: yaitu kecondongan untuk berpaling dari apa yang seharusnya kita yakini. Ilhad ini bermacam-macam:

Pertama, mengingkari salah satu dari nama-nama Allah atau sifat-sifat-Nya. Contohnya orang yang ingkar bahwa nama Ar-Rahman termasuk salah satu nama Allah, seperti yang dilakukan orang-orang jahiliyah, atau mengakui nama-nama itu tetapi mengingkari sifat-sifat yang dikandungnya, seperti yang dikatakan sebagian ahlul bid’ah bahwa Allah Maha Rahim tanpa rahmat dan Maha Mendengar tanpa pendengaran.

Kedua, memberikan nama kepada Allah dengan nama yang tidak disebutkan oleh Allah.

Tindakan semacam ini disebut ilhad karena nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat tauqifi (ditetapkan oleh Alquran dan sunah), maka tidak halal untuk menamakan Allah dengan nama yang Allah tidak menamakan diri-Nya dengan nama-nama tersebut, karena hal itu termasuk mengatakan tentang Allah tanpa pengetahuan dan memusuhi hak Allah. Demikian itu seperti yang dilakukan oleh para filosof yang menamakan Allah dengan ‘penggerak yang pertama’, juga seperti orang-orang Nasrani yang menamakan dengan nama ayah dan sebagainya.

Ketiga, meyakini bahwa nama-nama ini menunjukkan sifat-sifat makhluk, lalu membuat bukti-bukti permisalannya.

Tindakan semacam ini disebut dengan ilhad karena orang yang meyakini bahwa nama-nama Allah menunjukkan permisalan atau penyerupaan Allah terhadap makhluk-Nya, yang demikian telah mengeluarkan makna nama-nama tersebut dari maksud yang sebenarnya dan condong kepada makhluk karena berpaling dari istiqomah, serta menjadikan perkataan Allah dan Rasul-Nya sebagai jalan menuju kekafiran, kareana memisalkan Allah dengan makluk-Nya adalah kafir dan mendustakan firman Allah,

Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)

Kemudian firman Allah,

Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65)

Ibnu Hammad Al-Khaza’i, seorang Syaikh Al-Bukhara berkata, “Barangsiapa yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, maka dia telah kafir dan barangsiapa menolak sifat yang dengan sifat tersebut Allah menyifati diri-Nya, maka dia telah kafir pula dan tidak ada sesuatu yang menyamai sifat Allah.”

Keempat, memberikan nama-nama patung yang diambil dari nama-nama Allah, seperti memberikan nama Lata dari kata Ilah, Uzza dari kata Aziz, dan Manat dari kata Al-Manan.

Tindakan semacam ini disebut ilhad karena nama-nama Allah itu khusus untuk-Nya, maka tidak boleh memindahkan makna-makna itu kepada makhluk-makhluk tertentu agar dia disembah, karena tidak ada sesuatu pun yang berhak disembah kecuali Allah. Ini termasuk ilhad terhadap nama-nama Allah.

Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007.

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur