Kedatangan Ulat Bulu

22452
jubah akhwat murah

Konsultasi Syariah – Pada semester awal tahun 2011, sebagian wilayah Indonesia dihebohkan dengan serangan ulat bulu yang tidak hanya sebagai hama di ladang namun juga menyerang pemukiman warga. Kejadian serupa kembali terjadi di awal tahun ini, meskipun tidak sedahsyat tahun sebelumnya. Daerah Sidoarjo dan Pamekasan, Madura, telah didatangi hewan yang merupakan keluarga Lepidoptera ini.

Wabah hewan seperti ini pun pernah menimpa masyarakat Firaun di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ ءَايَاتٍ مُّفَصَّلاَتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al A’raf: 133)

Pada kesempatan kali ini kami akan menyuplikkan tafsir surat ini, agar kita semua bisa mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang terdahulu yang telah disampaikan Alquran.

Nabi Musa diutus kepada Bani Israil dan kaum Qibthi yakni orang-orang Mesir, kaumnya Firaun. Kaum Nabi Musa ini Allah timpakan dengan berbagai macam adzab. Yang pertama adalah angin topan disertai hujan yang lebat. Angin dan hujan ini membuat pemukiman mereka tergenang air hingga sebatas leher mereka. Keadaan tersebut berlangsung sampai 7 hari, ada pula yang mengatakan sampai 40 hari. Lalu mereka meminta kepada Nabi Musa untuk berdoa kepada Allah menghilangkan musibah yang mereka alami, mereka berjanji kalau adzab tersebut hilang mereka akan beriman kepada risalahnya. Air pun surut dan berganti dengan tumbuh-tumbuhan dan tanaman yang subur. Mereka pun berujar, “Ternyata air yang kemarin itu adalah sebuah nikmat.” Allah pun mendatangkan belalang untuk mereka sebagai adzab yang kedua. Belalang itu melahap tanaman-tanaman di kebun-kebun mereka, bahkan belalang tersebut dengan ganasnya memakan atap-atap dan pintu-pintu rumah mereka sehingga rumah mereka pun roboh. Mirip dengan wabah ulat bulu yang larva-larvanya merusak pintu-pintu rumah warga dan masuk ke dalam rumah mereka.

Untuk kedua kalinya, mereka memohon kepada Nabi Musa agar berkenan berdoa kepada Allah menghilangkan hama belalang yang menjadikan hidup mereka menjadi sulit. Mereka kembali mengikrarkan janji akan beriman kepada risalah yang dibawa Musa apabila musibah ini benar-benar hilang dari mereka. Nabi Musa pun dengan rasa kasih sayangnya berdoa kepada Allah agar menghilangkan musibah yang menimpa orang-orang Qibthi ini. Musibah pun hilang, tanaman-tanaman mereka pun gagal panen dan hancur kecuali sebagian kecil saja yang masih ada. Mereka menerima dan pasrah dengan keadaan tersebut namun kembali mengingkari janji mereka terhadap Nabi Musa.

Allah kembali mengadzab mereka dengan mendatangkan kutu. Kutu tersebut menghabisi sisa-sisa tanaman yang ada pada mereka, menempel di kulit, mengganggu kenyaman di saat mereka bersantai di rumah dan mengganggu nyenyaknya tidur mereka. Pada saat musibah ini pun hilang, mereka tetap tidak mengambil pelajaran dan tetap enggan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Musa shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah itu, Allah mengadzab mereka dengan katak. Katak tersebut memenuhi tempat tidur mereka, makanan, minuman, sampai-sampai seseorang bersantai dengan bertumpang dagu di kelilingi oleh katak, ketika orang tersebut berbicara katak tersebut langsung melompat ke mulutnya. Mereka mengadu kepada Nabi Musa dan menyatakan bertaubat dari dosa-dosa mereka, Allah pun menerima taubat mereka dan menghilangkan katak-katak tersebut dari sekeliling mereka. Namun orang-orang yang fajir ini dengan cepatnya kembali ke kekufuran semula.

Allah kembali mengadzab mereka kali ini dengan darah yang mengalir di sumber-sumber air mereka. Sebaliknya Bani Israil tetap dianugerahkan air yang mengalir karena mereka beriman kepada Nabi Musa. Diriwayatkan ketika seorang Bani Israil menuangkan air ke mulut orang-orang Qibthi, air tersebut berubah menjadi darah, sampai mereka pun merasa jijik. Sebaliknya, ketika orang-orang Qibthi menuangkan darah ke mulut Bani Israil, serta-merta darah tersebut berubah menjadi air.

Allah mendatangkan tanda-tanda kebesarannya ini kepada orang-orang Qibthi agar mereka mengambil pelajaran, namun mereka tetap ingkar dan sombong untuk mengimani risalah kenabian Musa. Adzab tersebut didatangkan Allah dengan jeda waktu 7 hari atau 40 hari atau 1 bulan. Orang-orang Qibthi tetap menyombongkan diri dan ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya akhirnya Allah binasakan mereka dengan menenggelamkan mereka di laut.

Berkaca dengan keadaan bangsa Qibthi yang telah didatangkan berbagai macam adzab namun mereka tidak juga mau sadar dan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Samakah keadaannya dengan kita di negeri ini? Bencana alam silih berganti, datang menghampiri bangsa ini; sunami, gempa bumi, banjir, kekeringan, kelaparan, gangguan hama, dll. Apakah kita semakin ingkar atau kembali mengingat Allah? Jawabannya kami kembalikan kepada pembaca dan masing-masing kita saling mengintrospeksi diri dan terus saling menasihati.

وَمَانُرْسِلُ بِاْلأَيَاتِ إِلاَّ تَخْوِيفًا

Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS. Al Isra: 59)

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ اْلأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ اْلأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As Sajdah: 21)

Berbeda dengan umat-umat terdahulu yang Allah binaskan, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah berikan keistimewaan sebagai kasih sayang-Nya kepada umat ini, Allah tangguhkan adzab mereka sampai hari kiamat, sebagai kesempatan bagi mereka yang inign bertaubat dan kembali kepada Allah. Adakah orang-orang yang mau kembali?

Sumber: Tafsir Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkamil Qur’an.

Ditulis oleh Nurfitri Hadi (Tim Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com