Umrah Berkali-kali

Umrah Berkali-kali

Pertanyaan:

Asalamu’alaikum
Insya Allah saya mau umroh, ada yang bilang kalau umroh bisa berkali-kali, tapi ketika ada manasik dari pihak travel katanya ada khilaf di antara para ulama tentang umroh berkali-kali. Mohon penjelasannya Ustad.
Terimakasih.

Dari: Yudistira

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Suatu ibadah agar diterima oleh Allah, harus terpenuhi oleh dua syarat. Yaitu ikhlas dan juga harus dibarengi dengan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasul). Sehingga tidak cukup hanya mengandalkan ikhlas semata, tetapi juga harus mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umrah termasuk dalam kategori ini. Sebagai ibadah yang disyariatkan, maka harus bersesuaian dengan rambu-rambu syariat.

Jumlah Umrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sepanjang hidupnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah sebanyak 4 kali.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan umrah sebanyak empat kali. (Yaitu) umrah Hudaibiyah, umrah Qadha`, umrah ketiga dari Ji’ranah, dan keempat (umrah) yang bersamaan dengan pelaksanaan haji beliau.” (HR. Tirmidzi, no 816 dan dan Ibnu Majah no. 2450)

Menurut Ibnul Qayyim, dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat (Zadul Ma’ad, 2:89). Setiap umrah tersebut, beliau kerjakan dalam sebuah perjalanan tersendiri. Tiga umrah secara tersendiri, tanpa disertai haji. Dan sekali bersamaan dengan haji.

Pertama, umrah Hudhaibiyah tahun 6 H. Beliau dan para sahabat yang berbaiat di bawah syajarah (pohon), mengambil miqat dari Dzul Hulaifah Madinah. Pada perjalanan umrah ini, kaum musyrikin menghalangi kaum muslimin untuk memasuki kota Mekah. Akhirnya, terjadilah perjanjian Hudaibiyah. Salah satu pointnya, kaum muslimin harus kembali ke Madinah, tanpa bisa melaksanakan umrah yang sudah direncanakan. Kemudian, kaum muslimin mengerjakan umrah lagi pada tahun berikutnya. Dikenal dengan umrah qadhiyyah atau qadha pada tahun 7 H. Selama tiga hari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Mekah. Dan ketiga, umrah Ji’ranah pada tahun 8 H. Yang terakhir, saat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan haji wada’. Semua umrah yang beliau kerjakan terjadi pada bulan Dzul Qa‘dah.

Alasan Untuk Tidak Berumrah Berkali-kali
Pertama. Pelaksanaan empat umrah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, masing-masing dikerjakan dengan perjalanan (safar) tersendiri. Bukan satu perjalanan untuk sekian banyak umrah, seperti yang dilakukan oleh jamaah haji sekarang ini.

Kedua. Tidak ada riwayat yang menerangkan salah seorang dari para sahabat yang menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haji wada’ yang beranjak keluar menuju tanah yang halal untuk tujuan umrah, baik sebelum atau setelah pelaksanaan haji. Mereka juga tidak pergi ke Tan’im, Hudhaibiyah atau Ji’ranah untuk tujuan umrah.

Ketiga. Umrah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimulai dari Ji’ranah tidak bisa dijadikan dalil untuk membolehkan umrah berulang-ulang. Sebab, pada awalnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki kota Mekah untuk menaklukannya dalam keadaan halal (bukan muhrim) pada tahun 8 H. Selama tujuhbelas hari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di sana.

Kemudian sampai kepada beliau berita, kalau suku Hawazin bermaksud memerangi beliau. Akhirnya beliau mendatangi dan memerangi mereka. Ghanimah dibagi di daerah Ji’ranah. Setelah itu, beliau ingin mengerjakan umrah dari Ji’ranah.

Dalam hal ini beliau tidak keluar dari Mekah ke Ji’ranah secara khusus. Namun, ada perkara lain yang membuat beliau keluar dari Mekah. Jadi, semata-mata bukan untuk mengerjakan umrah.

Keempat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga para sahabat -kecuali Aisyah- tidak pernah mengerjakan satu umrah pun dari Mekah, meski setelah Mekah ditaklukkan. Begitu pula, tidak ada seorang pun yang keluar dari tanah Haram menuju tanah yang halal untuk mengerjakan umrah dari sana sebelum Mekah ditaklukkan dan menjadi Darul Islam.

Padahal thawaf di Ka’bah sudah masyru’ (disyariatkan) sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, dan bahkan sejak Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Mereka mengerjakan thawaf tanpa umrah terlebih dahulu. Hal ini mengantarkan kepada sebuah ketetapan yang pasti, bahwa perkara yang disyariatkan bagi penduduk Mekah (orang yang berada di Mekah) adalah thawaf. Itulah yang lebih utama bagi mereka dari pada keluar dari tanah Haram untuk mengerjakan umrah.

Tidak mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat lebih mengutamakan amalan mafdhul (yang nilainya kurang) dibandingkan amalan yang lebih afdhal (nilainya lebih utama) dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan umat Islam untuk melakukan umrah berulang-ulang saat berada di Mekah (Majmu’ al Fatawa, 26:256. 273).

Kelima. Intisari umrah adalah thawaf. Adapun sa’i antara Shafa dan Marwah bersifat menyertai saja. Bukti yang menunjukkannya sebagai penyerta adalah, sa’i tidak dikerjakan kecuali setelah thawaf. Dan ibadah thawaf ini bisa dikerjakan oleh penduduk Mekah, tanpa harus keluar dari batas tanah suci Mekah terlebih dahulu. Barangsiapa yang sudah mampu mengerjakan perkara yang inti, ia tidak diperintahkan untuk menempuh wasilah (perantara yang mengantarkan kepada tujuan). (Majmu’ Fatawa, 26:262).

Keenam. Pada penaklukan kota Mekah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Mekah selama sembilan belas hari. Tetapi, tidak ada riwayat bahwa beliau keluar ke daerah halal untuk melangsungkan umrah dari sana. Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahu bahwa itu masyru’ (disyariatkan)? Tentu saja tidak mungkin!

LEBIH BAIK MEMPERBANYAK THAWAF
Berdasarkan alasan-alasan di atas, menjadi jelas bahwa thawaf lebih utama. Adapun berumrah dari Mekah dan meninggalkan thawaf tidak mustahab. Ibadah yang disunnahkan adalah thawaf, bukan umrah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menambahkan:

“Thawaf mengelilingi Ka’bah lebih utama daripada umrah bagi orang yang berada di Mekah, merupakan perkara yang tidak diragukan lagi oleh orang-orang yang memahami sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunah khalifah pengganti beliau dan para sahabat, serta generasi salaf dan tokoh-tokohnya.”

Alasannya, kata beliau rahimahullah, karena thawaf di Baitullah merupakan ibadah dan qurbah (cara untuk mendekatkan diri kepada Allah) yang paling afdhal yang telah Allah tetapkan di dalam kitab-Nya, berdasarkan keterangan Nabi-Nya.

Diringkas dari: Majalah-Assunnah.com

Artikel www.KonsultasiSyariah.com

SHARE
Previous articleHukum Makan Katak
Next articleCara Salam Ketika Shalat
Nurfitri Hadi. Editor dan staf pengajar Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

LEAVE A REPLY