Hukum Menelan Sisa Makanan di Gigi ketika Puasa

4644
sisa makanan saat puasa
jubah akhwat murah

Menelan Sisa Makanan di Gigi ketika Puasa

Ketika makan sahur, ada sisa makanan yang nyangkut di gigi. Ketika itu ditelan, apakah membatalkan puasa? Terima kasih

Jawaban

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kasus semacam ini telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah rahimahullah. Dalam karya monumentalnya, Al-Mughni, beliau membuat satu pembahasan khusus tentang ini,

ومن أصبح بين أسنانه طعام؛ لم يخل من حالين: أحدهما؛ أن يكون يسيرا لا يمكنه لفظه، فازدرده، فإنه لا يفطر به؛ لأنه لا يمكن التحرز منه، فأشبه الريق، قال ابن المنذر: أجمع على ذلك أهل العلم.

Orang yang di pagi hari merasa ada makanan di sela-sela giginya, kondisinya tidak lepas dari 2 hal:

Pertama, sisa makanan itu sangat sedikit, tidak mungkin untuk diludahkan, kemudian dia telan, maka puasanya tidak batal. Karena materi semacam ini tidak mungkin untuk dihindari, sebagaimana ludah. Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Para ulama sepakat akan kesimpulan ini.’

الثاني، أن يكون كثيرا يمكن لفظه، فإن لفظه فلا شيء عليه، وإن ازدرده عامدا، فسد صومه في قول أكثر أهل العلم. وقال أبو حنيفة: لا يفطر؛ لأنه لا بد له أن يبقى بين أسنانه شيء مما يأكله، فلا يمكن التحرز منه، فأشبه ما يجري به الريق.

Kedua, sisa makanan itu banyak, yang memungkinkan untuk dia ludahkan. Jika dia buang dengan meludahkannya, tidak mempengaruhi keabsahan puasanya. Namun jika dia telan dengan sengaja, puasanya batal, menurut pendapat mayoritas ulama. sementar itu, Abu Hanifah berpendapat: ‘Puasanya tidak batal, karena pasti ada sisa di sela-sela giginya dari makanan yang telah dia makan. Sehingga tidak mungkin dihindari, sehingga statusnya sama dengan ludah.

ولنا أنه بلع طعاما يمكنه لفظه باختياره، ذاكرا لصومه، فأفطر به، كما لو ابتدأ الأكل، ويخالف ما يجري به الريق، فإنه لا يمكنه لفظه

Akan tetapi, pendapat kami, bahwa perbuatan semacam ini termasuk menelan makanan yang memungkinkan baginya untuk membuangnya tanpa terpaksa, dan dia ingat dia sedang puasa, sehingga puasanya batal. Sebagaimana orang yang mulai makan. Ini berbeda dengan sisa makanan yang larut seperti ludah. Jenis kedua ini tidak mungkin dia buang.

(Al-Mughni, 3/126).

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

*) Artikel ini disponsori oleh Zahir Accounting, Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung kami dalam dakwah dengan menjadi SPONSOR atau DONATUR. Untuk donasi dapat disalurkan ke rekening: 8610185593 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur