Manakah yang Lebih Mulia di Dunia, Jin atau Manusia?

2009

Pertanyaan:

Bagaimana kedudukan jin terhadap manusia di dunia? Apakah mereka lebih mulia dari manusia? Bukankah Allah menciptakan surga sebelum neraka, menciptakan rahmat-Nya sebelum murka-Nya, menciptakan malaikat sebelum jin, menciptakan jin sebelum manusia, dan menciptakan laki-laki sebelum wanita, berdasarkan dalil Qs. al-Hijr: 26–27?

Jawaban:

Menurut asal kejadiannya, manusia lebih mulia dari pada jin, karena ada beberapa dalil, antara lain:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي ءَادَمَ وَ حَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَ الْبَحْرِ وَ رَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَ فَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلاً

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari hal-hal yang baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Qs. al-Isra’: 70)

Syaikh Abu Bakar al-Jazairi berkata, “Sesungguhnya, sekalipun ada jinyang beriman, tetapi mereka lebih rendah kemuliaannya dibandingkan manusia yang beriman, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan kemuliaan pada manusia, sebagaimana disebutkan di dalam surat al-Isra’: 70 (di atas).

Tidak ada dalil semisal ini yang menunjukkan kemuliaan pada jin, baik dalam kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun sunnah yang shahih. Dari sini, jelaslah bahwa manusia lebih mulia daripada jin secara umum.

Bukti yang lain adalah jin merasa dirinya lebih rendah dan lebih kurang daripada manusia. Hal itu dibuktikan ketika manusia berlindung kepadanya, jin merasa diagungkan, dijunjung martabatnya, merasa dibesarkan dan dimuliakan, karena sebelumnya mereka tidak memiliki kemualiaan seperti ini. Dengan adanya  manusia yang meminta perlindungan kepada mereka, mereka bertambah durhaka dan kufur sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan keberadaan mereka,

وَ أَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ اْلإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada berebapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Qs. al-Jin: 5)

Bukti lain, jika manusia berwasilah kepada jin atau dengan menyebut nama pembesar mereka, atau bersumpah dengan menyebut tokohnya atau yang dianggap punya kedudukan, niscaya mereka mau membantu dan menunaikan hajatnya.

Ini semua menunjukkan bahwa mereka merasa hina dan lemah di hadapan anak Adam yang mulia disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya, bila anak Adam itu beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, beribadah kepada-Nya, dan mentauhidkan rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, asma’ dan sifat-Nya.

Adapun jika dibandingkan dengan manusia yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tentu jin yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mulia dari pada manusia yang kafir.’ (Lihat kitab Aqidatul Mukmin, oleh Abu Bakar Al-Jazairi: 228)

Kami tambahkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengutus utusan melainkan dari golongan manusia, sedangkan jin hanya sebagai nadzir atau pemberi peringatan, berdasarkan firman-Nya,

وَ إِذْ صَرَّفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوْا قَالُوْا أَنْصِتُوْا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِيْنَ

“Dan (Ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mereka mendengarkan al-Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).’ Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (Qs. al-Ahqaf: 29)

Sumber: Majalah Al-Furqon, edisi 8, tahun ke-4, 1426 H.

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)