Cara Menyalurkan Ilmu Hikmah

6950

Cara Menyalurkan Ilmu Hikmah

Pertanyaan :
Ada kebimbangan mengenai Ilmu Hikmah,kebetulan saya punya guru hikmah. Banyak muridnya dan dari guru itu banyak yang kaya. Dari kelihatan fisik (nyata) guru saya itu fasih al-qur’an_fasih salat.pokoknya seperti ulama.
Tapi ada yg mengganjal dari segi tidak haramnya bersentuhan yg bukan muhrim bahkan kepada wanita untuk menyalurkan ilmu hikmahnya dengan kecupan bibir guru dengan muridnya dengan posisi wanita berbaring dibawah dan guru di atasnya.(keadaan pakain kumplit/tidak telanjang) Dari segi minta harus ke Alloh, dari amalan harus shadat dulu,istigfar dulu pokonya dari segi agama pengetahuan_amalan tinggi. Saya mau tanya benar tidak guru saya itu (ajarannya),apa saya tinggalkan,sedangkan saya merasa dari guru itu,keinginan dunia saya banyak yang terkabul) terima kasih,mohon penjelasan supaya saya bisa membedakan Orang yang pasih Islam benar dan pasih Islam yang salah.

Wawan (ka….@yahoo.com)

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Semua manusia yang akalnya sehat, bisa memahami bahwa ilmu adalah pengetahuan yang terletak di dalam qolbu manusia. Ini juga Allah tegaskan dalam al-Quran, ketika Allah menjelaskan proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ( ) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ( ) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan (QS. As-Syu’ara: 193 – 194)

Allah juga berfirman menjelaskan status al-Quran bagi manusia,

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. (QS. Al-Ankabut: 49).
Kita bisa perhatikan, Allah sebut al-Quran yang merupakan sumber ilmu, tersimpan di dalam dada (qolbu) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang berilmu.

Kemudian, manusia berakal juga sadar bahwa media utama untuk menyampaikan ilmu adalah lisan atau tulisan. Karena itulah, Allah banyak mengingatkan manusia dengan penggunaan inderanya,
Misalnya:

أَفَلَا تَسْمَعُونَ

”Apa kalian tidak mendengar”

Di ayat yang lain,

أَفَلَا تُبْصِرُونَ

”Apa kalian melihat.”

Demikian pula, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ilmu kepada para sahabat, beliau sampaikan melalui lisan, dalam bentuk sabda atau praktek yang bisa dilihat oleh para sahabat.
Bukan dengan ditiupkan, atau disemburkan ke muka sahabat, atau disuruh minum bekas minumannya, atau diminta makan bekas makanannya, dst. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah menyampaikan ilmu dengan model layaknya orang melakukan transfusi darah. Semua disampaikan secara dzahir, siapa yang mengindera, maka mereka bisa memperoleh ilmu itu.

Nabi Khidr & Nabi Musa
Kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidr ’alaihimas shalatu was salam sangat sering kita dengar. Di mana, Musa diperintahkan oleh Allah, untuk mencari orang sholeh di majma’ al-bahrain (tempat pertemuan dua laut), dan Musa diminta menimba ilmu darinya, yang belum diketahui Musa. Karena Nabi Khidr mendapatkan wahyu dari Allah, yang tidak Allah berikan kepada Musa.
Kisah ini Allah sebutkan di surat al-Kahfi, dari ayat 60 hingga 82.
Anda bisa perhatikan kisah perjalanan itu, Nabi Khidr mempersyaratkan Musa, agar Musa bersabar dan tidak bertanya maupun interupsi apapun, terhadap apa yang dilakukan Khidr. Hingga Khidr sendiri yang nantinya akan menjelaskan maksud perbuatannya kepada Musa.
Hingga Khidr melakukan hal-hal yang aneh, dan karena tidak sabar, Musa selalu interupsi terhadap tindakan yang dilakukan Khidr. Karena Musa tidak sabar maka proses pembelajaran-pun dihentikan. Khidr mengatakan,

هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 78).

Barulah Khidr menjelaskan maksud dari 3 perbuatan aneh yang dia lakukan.

Anda bisa perhatikan, meskipun nabi dengan nabi, proses transfer ilmu yang dilakukan oleh Khidr, tidaklah dilakuakan dengan cara tiupan, atau disemprot, atau disalurkan layaknya transfusi darah. Jika cara ini bisa dilakukan, tentu mereka akan memilih cara ini, karena jelas lebih efektif, efisien, hemat waktu, cepat prosesnya.
Namun, proses yang digunakan Khidr adalah proses normal, dia sampaikan kepada Musa melalui penjelasan.

Transfer Ilmu yang Aneh

Model transfer ilmu seperti yang anda sampaikan, bukan satu pelakunya. Ketika saya belajar di Kiyai kampung, model seperti itu sering diceritakan. Ada yang datang ke rumah kiyai untuk belajar, begitu di depan rumahnya, langsung disiram air, dan langsung jadi pinter. Ada juga yang diminta untuk minum bekar air minum Kiyai, atau makan sisa makanannya. Ada juga yang ditiup asap rokoknya. Ada juga seperti ilmu kanuragan, transfer lewat tangan. Dan keanehan lainnya.
Sungguh, penyebaran model belajar semacam ini, menyumbangkan porsi terbesar pembodohan masyarakat islam di lingkungan kita. Betapa tidak, orang bodoh menjadi malas belajar, karena mereka lebih meilih jadi pintar dengan cara instan.
Kiyai semacam itu adalah agen-agen pembodohan umat.

Dukun Berkedok Kiyai

Beberapa pesantren ‘kiyai sentris’ terkadang memiliki ilmu andalan. Ilmu ini tidak bisa dimiliki, kecuali santri khusus yang sudah senior. Mereka menyebutnya karomah. Beberapa info yang saya dengar, ada banyak santri yang mondok, tujuan utamanya bukan belajar agamanya, tapi ingin mendapat ilmu ’karomah’ itu. Dengan ilmu ini, orang bisa membuka praktek pengobatan alternatif, sebagai sumber penghasilan. Ketahuan, ternyata UUD: ujung-ujungnya duit.

Satu catatan, bahwa karomah itu seperti mukjizat. Bedanya, mukjizat diberikan kepada para nabi dan rasul yang Allah kehendaki, sementara karomah, diberikan kepada hamba-Nya yang sholeh agar selalu istiqamah. Artinya, karomah, murni pemberian dari Allah.

Dari sini, kita bisa memahami perbedaan antara karomah dengan bantuan jin,

Pertama, karomah adalah pemberian dari Allah untuk hamba-Nya yang taat. Karena itu, TIDAK mungkin diberikan kepada orang yang doyan maksiat, apalagi penjahat syahwat. Sebaliknya, bantuan jin bisa diberikan kepada siapapun, termasuk orang kafir.

Kedua, karomah TIDAK bisa dipelajari dan TIDAK bisa ditularkan. Karena ini murni pemberian Allah. Berbeda dengan sihir (bantuan jin), yang itu bisa dipelajari. Karena itu, orang yang mendekati seorang Kiyai untuk mendapatkan cipratan karomahnya, jelas yang dipelajari bukan karomah, tapi ilmu mencari bantuan jin.

Ketiga, karomah terjadi tanpa mukadimah. Artinya, tidak ada amalan khusus untuk mendapatkan karomah. Berbeda dengan sihir, yang terkadang dilakukan dengan melafadzkan dzikir atau bacaan tertentu. Karena itu, jika ada orang yang ingin menunjukkan karomahnya, namun sebelumnya dia komat-kamit dulu, atau genggam biji tasbih erat-erat, itu sihir.

Apa itu Hikmah?

Allah berfirman, mengingatkan para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ

Ingatlah apa yang dibacakan di rumah kalian, yaitu ayat-ayat Allah dan Hikmah. (QS. Al-Ahzab: 34).

Para ahli tafsir menjelaskan makna “Hikmah” pada ayat di atas adalah sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang dibacakan di rumah para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya 2: al-Quran dan sunnah.

Jangan Tertipu

Sering kali orang tertipu dengan berbagai pengobatan alternatif model ini, karena Pak Kiyai menyarankan untuk syahadat atau puasa atau shalat tertentu, termasuk amalan dzikir tertentu. Membuat pasien makin yakin bahwa itu dari islam. Selanjutnya, baru Pak Kiyai menggunakan ajian andalannya, yang inilah inti sihirnya

Namun, orang melupakan inti sihirnya ini, karena sudah dikelabuhi dengan sebelumnya diberi bacaan-bacaan atau dzikir-dzikir.
Jika memang intinya bacaan-bacaan atau dzikir-dzikir itu, seharusnya bisa diamalkan dimanapun, kapanpun, tanpa harus mendatangi klinik Pak Kiyai.

Terlebih, dari cerita yang anda sampaikan, dia menggunakan praktek yang jelas maksiat. Pak Ustad mencium pasien wanita… Allahu akbar. Mendengar saja sudah bikin merinding. Anda bisa bayangkan, betapa sihir Pak Ustad bisa membuat pasien hilang akal, sehingga rela dicium Pak Ustad. Ilmu hikmah hanya menjadi kedoknya, yang sejatinya adalah sihir.

Karena itu, bersyukurlah bagi anda yang masih sadar akalnya, dan mau belajar agama. Dengan ini kita bisa menimbang perbuatan yang ada di sekitar kita, apakah sesuai syariat ataukah tidak. Sehingga kita bisa mengambil sikap yang benar.

Satu kalimat yang sering kami tekankan, belajar dan belajar.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
  • Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur