Sahur Setelah Adzan Subuh, karena Tidak Tahu

7710
telat makan sahur

Sahur Setelah Adzan Subuh?

Di tempat saya, subuh jam 4.35. Ada orang ketiduran hingga tdk dengar adzan. Ketika bangun dia tidak sadar kalo sudah subuh.Akhirnya dia makan dan minum. Ketika lihat jam, dia baru kaget, karena sdh jam 5.30. Apakah puasanya sah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Asma’ bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

أَفْطَرْنَا يَوْمًا فِي رَمَضَانَ فِي غَيْمٍ، فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ

Kami pernah berbuka pada sore hari ramadhan karena mendung, di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba matahari muncul lagi. (HR. Abu Daud 2359 dan dishahihkan al-Albani)

Hadis ini menjadi dalil bahwa setiap kondisi tidak tahu, atau lupa yang dialami orang yang puasa, sehingga dia makan atau minum, maka puasanya tidak batal.

إذا تناول الصائم شيئا من هذه المفطرات جاهلا ، فصيامه صحيح ، سواء كان جاهلا بالوقت ، أو كان جاهلا بالحكم ، مثال الجاهل بالوقت ، أن يقوم الرجل في آخر الليل ، ويظن أن الفجر لم يطلع ، فيأكل ويشرب ويتبين أن الفجر قد طلع ، فهذا صومه صحيح لأنه جاهل بالوقت

Apabila orang yang sedang puasa melakukan salah satu pembatal puasa karena tidak tahu, maka puasanya tetap sah. Baik tidak tahu terkait waktu, atau tidak tahu hukumnya. Contoh tidak tahu terkait waktu, seseorang bangun di akhir malam, dan dia menyangka fajar belum terbit, kemudian dia makan dan minum. Tiba-tiba, dia baru sadar ternyata fajar sudah terbit, maka puasanya sah, karena dia tidak tahu waktu.

Selanjutnya, beliau menyebutkan hadis Asma bintu Abi Bakr di atas. Kemudian beliau mengatakan,

فصار إفطارهم في النهار ، ولكنهم لا يعلمون بل ظنوا أن الشمس قد غربت ولم يأمرهم النبي صلى الله عليه وسلم بالقضاء ، ولو كان القضاء واجبا لأمرهم به ، ولو أمرهم به لنقل إلينا

Para sahabat berbuka di siang hari. Akan tetapi mereka tidak tahu. Mereka menyangka matahari telah terbenam. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan mereka untuk mengqadha. Andai qadha ketika itu wajib, tentu beliau akan memerintahkan mereka untuk qadha. Dan andai ada perintah, tentu akan ada riwayat yang sampai ke kita. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 17/144)

Allahu a’lam

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial