4 Doktrin Sesat Takfiri Jihadis dan Bantahannya (Bagian 2)

10098

Bagaimana dengan berjihad melawan orang-orang munafik dan kafir ? Al-Imam Ibnu Qayyim menyatakan, jihad memerangi orang kafir adalah fardhu ‘ain ; dia berjihad dengan hatinya, atau lisannya, atau dengan hartanya, atau dengan tangnnya ; maka setiap muslim berjihad dengan salah satu di antara jenis jihad ini.

Akan tetapi, berjihad memerangi orang kafir dengan tangan hukumnya fardhu kifayah, dan tidak menjadi fardhu ‘ain, kecuali jika terpenuhi salah satu dari empat syarat berikut ini :

  • Pertama : Apabila dia berada di medan pertempuran.
  • Kedua : Apabila negerinya diserang musuh. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan ; “Apabila musuh telah masuk menyerang sebuah negara Islam, maka tidak diragukan lagi, wajib bagi kaum muslimin untuk mempertahankan negaranya dan setiap negara yang terdekat, kemudian yang dekat, karena negara-negara Islam adalah seperti satu negara” Jihad ini dinamakan Jihad Difa’.
  • Ketiga : Apabila diperintah oleh Imam (Amirul Mukminin) untuk berperang.
  • Keempat : Apabila dibutuhkan, maka jihad menjadi wajib.

Adapun disyariatkan jihad melawan orang kafir (dengan tangan), melalui tiga tahapan.

Pertama : Diizinkan bagi kaum muslimin untuk berperang dengan tanpa diwajibkan. Allah berfirman.

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu”

[Al-Hajj : 39]

Kedua : Perintah untuk memerangi setiap orang kafir yang memerangi kaum mulimin. Allah berfirman.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” [Al-Baqarah : 190]

Ketiga : Perintah untuk memerangi seluruh kaum musyrikin sehingga agama Allah tegak di muka bumi.

“Dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya ; dan ketahuiilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa” [At-Taubah : 36]

Tahapan yang ketiga ini tidak dimansukh, sehingga menjadi ketetapan wajibnya jihad sampai hari kiamat. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata : “Marhalah (tahapan) yang ketiga ini tidak dimansukh, tetap wajib sesuai dengan kondisi kaum muslimin”

Demikian secara singkat hakikat jihad berserta tahapan-tahapan perintah tersebut. semua ini harus dipahami oleh kaum muslimin, sehingga dalam menetapkan jihad, sesuai dengan keadaan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Mudah-mudahan saudara-saudara kita dapat memahami bahwa jihad begitu luas dan perlu ilmu yang mendalam dan tidak boleh ijtihad seorang dalam melakukan peledakan-peledakan apalagi tempat-tempat ibadah, atau tempat-tempat umum, apalagi di negara yang mayoritas muslim dan bukan kancah peperangan. Dan keyakinan ahlu sunnah wal jamaah bahwa jihad tidak lepas dari fatwa ulama dan ulil amri dalam hal ini pemerintah dan para ulamanya Apabila diperintah oleh Imam (Amirul Mukminin / pemerintah ) untuk berperang. Apabila dibutuhkan, maka jihad menjadi wajib.  ( Menjawab Tuduhan Tabayun Meluruskan Pandang hal 57-61 karya Abdurrahman Ayyub )

JIHAD VERSI TERORIS