4 Doktrin Sesat Takfiri Jihadis dan Bantahannya (Bagian 3 – Terakhir)

12045

Dan juga dalam firman yang lainnya :

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ {47}

Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. (QS. 30:47)

وَلَيَنصُرَنَّ اللهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ {40} الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي اْلأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ اْلأُمُورِ {41}

Seungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. 22:40)

(yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. 22:41)

Juga Allah Subhana wa Ta’ala mengatakan :

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ اْلأَشْهَادُ {51} يَوْمَ لاَيَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ {52}

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (QS. 40:51)

(yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah la’nat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk. (QS. 40:52)

Dan tentunya banyak dalam al-Quran yang menerangkan tentang hal ini dan inilah yang di maksud hadist

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda; Ikatan-ikatan Islam akan terburai satu demi satu, setiap kali satu ikatan terburai orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah masalah hukum dan yang terakhir adalah shalat.” (Hadis Riwayat Ahmad. 5/251)

Yaitu akan lepas dari Islam satu-persatu yang pertama lepas adalah hukum Islam, dan pada akhirnya adalah shalat, yang berarti banyak yang meninggalkan shalat dan inilah yang ada pada Negara-negara Islam. Maka kita selalu memohon pada Allah agar memberikan kebaikan untuk kaum muslimin, dan agar Allah memberikan kemantapan kaum muslimin dalam berpegang dengan agama-Nya dan selalu istiqomah .

Adapun negara-negara Islam sekarang ini sangat jauh dengan bentuk khilafah pada zaman sahabat dan khilafah nubuwwah, inilah yang Allah gambarkan dalam ayat-Nya yang mulia :

وَتِلْكَ اْلأَيَّامُ نُدَاوِلُهاَ بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (QS. 3:140)

Dr Musa Alu Nasr menyatakan ketika menggambarkan Negara-negara kaum muslimin, negara keadaannya sama dengan seorang muslim, seorang muslim ada yang bersyahadat tapi tidak sholat, atau sholatnya tidak lima waktu, atau shalat lima waktu tapi tidak puasa ramadhan, dan ada juga yang shalat tapi tidak khusu’ dan lain-lainnya, beitu juga negara-negara Islam saat ini, apalagi setelah tidak adanya khilafah Islamiyah. Ada yang namanya saja, ada yang tidak menerapkan hukum hudud, ada yang menerapkan beberapa persen dll. Yang jelas beda dengan negara-negara Barat, atau Amerika juga Australia dll yang jelas-jelas kafir.

Hal ini apa yang telah diberitakan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, dari Tsauban ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al wahn.” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Al wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang Allah beri wahyu, sehingga tidak berucap tentang Din kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya, sebagai mana Allah menegaskan dalam Quran :

وَمَايَنطِقُ عَنِ الْهَوَى {3} إِنْ هُوَ إِلاَّوَحْيٌ يُوحَى

dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. (QS. 53:3)

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (QS. 53:4)