Cara Mentalqin Mayit

talqin jenazah
Belajar pengurusan jenazah @Masjid

Mentalqin Mayit

Tanya terkait fikih jenazah tadz, bagaimana cara mentalqin mayit? Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Talqin artinya ta’lim (mengajarkan), sehingga inti dari talqin adalah mengajarkan. Talqin mayit berarti mengajarkan orang yang hendak meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat yang paling bermanfaat baginya di akhir hayatnya, yaitu kalimat tauhid, laa ilaaha illallaah.

Talqin merupakan salah satu tugas orang yang hidup kepada saudaranya yang hendak meninggal. Dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

Talqinlah orang yang hendak mati diantara kalian untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah. (HR. Muslim 916)

Kalimat ini ditekankan agar dia bisa mendapat surga.

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلامِهِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Siapa yang kalimat terakhirnya laa ilaaha illallaah maka wajib masuk surga. (HR. Ahmad 21529, Abu Daud 3116, dan dihasankan al-Albani).

Bagaimana Cara Mentalqin Calon Mayit?

Pertama, Bisikkan kepada orang yang hendak meninggal untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah

Misal, wahai ayahku, ucapkan laa ilaaha illallaah

Kedua, Bila perlu, tambahkan janji indah di akhirat jika berhasil mengucapkan kalimat tauhid

Misalnya, ucapkan laa ilaaha illallaah, surga akan menantimu…

Ini seperti yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajak Abu Thalib untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah… ketika mendekati kematiannya.

Dari al-Musayib bin al-Hazan, beliau bercerita,

Ketika Abu Thalib hendak meninggal dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan beliau untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah,

أَيْ عَمُّ قُلْ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ , كَلِمَةٌ أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

Wahai  paman, ucapkan laa ilaaha illallaah, kalimat yang akan aku jadikan sebagai alasan pembelaan paman di hadapan Allah.

Namun Abu Thalib menolaknya. (HR. Bukhari 3884)

Ketiga, jangan sampai orang yang meninggal merasa terganggu karena yang mentalqin terlalu sering mengulang-ulang. Karena ini bisa membuat dia menjadi tidak senang dengan ucapan laa ilaa illallaah

An-Nawawi mengatakan,

وَكَرِهُوا الإِكْثَار عَلَيْهِ وَالْمُوَالاة لِئَلا يَضْجَر بِضِيقِ حَاله وَشِدَّة كَرْبه ، فَيَكْرَه ذَلِكَ بِقَلْبِهِ

Para ulama membenci jika terlalu banyak dan terlalu sering ketika mentalqin. Agar tidak membuat calon mayit terganggu, karena dia sendiri sedang merasakan sakit, sehinggamembuat hatinya membenci ajakan talqin. (Syarh Shahih Muslim, 6/219).

Ad-Dzahabi bercerita,

Ketika Abdullah bin Mubarak menghadapi kematiannya, orang yang mentalqinnya terlalu sering mengajak, ‘Ucapkan, laa ilaaha illallaah…’

Kemudian Abdullah bin Mubarok mengingatkan,

“Caramu tidak bagus, saya khawatir kamu akan mengganggu muslim lain yang kamu talqin setelahku. Jika kamu mentalqinku, lalu aku sudah mengucapkan laa ilaaha illallaah dan setelah itu saya diam, maka biarkan aku. Namun jika aku berbicara lagi, silahkan ulangi talqinnya, sampai kalimat laa ilaaha illallaah menjadi ucapan terakhirku.” (Siyar a’lam an-Nubala, 8/418)

Sehingga, yang tepat, bisikkan si calon mayit untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah… setelah itu, tunggu dulu beberapa saat. Jika dia berhasil mengucapkan laa ilaaha illallaah, jangan ditalqin ulang. Jika dia mengucapkan kalimat yang lain, atau belum berhasil mengucapkan laa ilaaha illallaah, silahkan ulangi talqinnya.

Keempat, jika calon jenazah sudah berhasil mengucapkan laa ilaaha illallaah, jangan diajak bicara apapun. Jangan tanya minta apa, jangan tanya apa yang dirasakan, dst. agar kalimat terakhir yang dia ucapkan adlah kalimat tauhid.

Jika dia berbicara atau meminta sesuatu, kabulkan permintaannya jika memungkinkan, setalah itu, talqin ulang.

Kelima, apakah menggunakan kalimat perintah, misalnya, “Ucapkan, laa ilaaha illallaah…” atau cukup kita mengulang-ulang kalimat laa ilaaha illallaah di dekatnya?

Imam Ibnu Utsaimin merinci hal ini dengan melihat kondisi si calon mayit.

[1] Jika calon mayit orangnya masih bisa diajak berfikir, atau dia orang kafir, maka bisa menggunakan kalimat perintah. Bahkan bisa diiringi janji.

Misalnya, mari ucapkan laa ilaaha illallaah, surga akan menantimu.

[2] Jika calon mayit orangnya lemah, tidak memungkinkan untuk memahami perintah, cukup dibisikkan kalimat tauhid di dekatnya, laa ilaaha illallaah… sampai dia menirukannya. (as-Syarh al-Mumthi’, 5/246).

Catatan:

Mengapa dalam talqin tidak menyebutkan pernyataan, Muhammad Rasulullah…?

Ada 2 alasan untuk menjawab ini,

[1] Kalimat talqin laa ilaaha illallaah, itulah yang sesuai dalil. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis di atas,

Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

Talqinlah orang yang hendak mati diantara kalian untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah. (HR. Muslim 916)

Karena kalimat tauhid laa ilaaha illallaah adalah kunci islam.

[2] bahwa persaksian, Muhammad Rasulullah sifatnya mengikuti pernyataan syahadat kalimat tauhid dan menjadi penyempurna. Sehingga dalam kondisi yang sangat singkat dan berat, calon mayit lebih ditekankan untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah, karena ini yang pokok.

Meskipun ketika itu dibaca bersamaan, laa ilaaha illallaah Muhammmad Rasulullah, tentu lebih sempurna…

(as-Syarh al-Mumthi’, 5/247)

Demikian, Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK