Pancasila dan Ajaran Trinitas

Pancasila dan Ajaran Trinitas

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya ke seluruh dunia. Keesokan harinya, 18 Agustus 1945 PPKI melaksanakan sidang.

Salah satu keputusan sidang PPKI adalah mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang dalam Pembukaan Alinea IV mencantumkan sila-sila Pancasila sebagai dasar negara. Perubahan penting dalam sidang ini yaitu perubahan rumusan dasar negara yang telah disepakati dalam Piagam Jakarta.yaitu tujuh kata setelah Ke-Tuhanan, yang semula berbunyi “Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam Sidang PPKI tersebut, Moh. Hatta menyatakan, bahwa masyarakat Indonesia Timur mengusulkan untuk menghilangkan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yaitu “…dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya …”. Usulan tersebut disampaikan sebagai masukan sebelum sidang yang disampaikan oleh seorang opsir Jepang yang bertugas di Indonesia Timur, yang bernama Nishijama.

Mengenai kisah penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu, M. Hatta menuturkan dalam Memoirnya,

“Pada sore harinya aku menerima telepon dari tuan Nishijama, pembantu Admiral Maeda, menanyakan dapatkah aku menerima seorang opsir Kaigun (Angkatan Laut) karena ia mau mengemukakan suatu hal yang sangat penting bagi Indonesia. Nishijama sendiri akan menjadi juru bahasanya. Aku mempersilahkan mereka datang. Opsir itu yang aku lupa namanya, datang sebagai utusan Kaigun untuk memberitahukan bahwa wakil-wakil Protestan dan Katolik, yang dikuasai oleh Angkatan Laut Jepang, berkeberatan sangat terhadap bagian kalimat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar, yang berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Mereka mengakui bahwa bagian kalimat itu tidak mengikat mereka, hanya mengenai rakyat yang beragama Islam.

Banyak kaum Muslim memandang bahwa hilangnya “tujuh kata” dari sila pertama naskah Piagam Jakarta itu sebagai sebuah kekalahan perjuangan Islam di Indonesia. Namun, tidak demikian halnya dengan IJ Satyabudi, seorang penulis Kristen. Dalam bukunya yang berjudul Kontroversi Nama Allah, ia justru mengakui keunggulan tokoh-tokoh Islam dalam perumusan sila pertama tersebut.

Satyabudi menulis,

“Lalu, siapa sebenarnya yang lebih cerdas dan menguasai ruang persidangan ketika merumuskan Sila Pertama itu? Sangat jelas, Bapak-bapak Islam jauh lebih cerdas dari Bapak-bapak Kristen karena kalimat ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ itu identik dengan ‘Ketuhanan Yang Satu!’ Kata ‘maha Esa’ itu memang harus berarti ‘satu’. Oleh sebab itu, tidak ada peluang bagi ke-berbagaian Tuhan. Umat Kristen dan Hindu harus gigit jari dan menelan ludah atas kekalahan Bapak-bapak Kristen dan Hindu ketika me nyusun sila pertama ini.” (Jakarta: Wacana Press, 2004).

Makna tauhid pada dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa juga ditegaskan oleh Rois ‘Am NU KH. Achmad Siddiq. Dalam satu makalahnya yang berjudul “Hubungan Agama dan Pancasila” yang dimuat dalam buku “Peranan Agama dalam Pemantapan Ideologi Pancasila.” (Badan Litbang Agama, Jakarta 1984/1985).

Dalam makalahnya, KH. Achmad Siddiq menyatakan,

“Kata ‘Yang Maha Esa’ pada sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) merupakan imbangan tujuh kata yang dihapus dari sila pertama menurut rumusan semula. Pergantian ini dapat diterima dengan pengertian bahwa kata ‘Yang Maha Esa’ merupakan penegasan dari sila ketuhanan, sehingga rumusan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ itu mencerminkan pengertian tauhid (monoteisme murni) menurut akidah Islamiyah (surat al-Ikhlas). Kalau para pemeluk agama lain dapat menerimanya, maka kita bersyukur dan berdoa.”

Kami tidak perlu memberikan banyak komentar untuk keterangan di atas. Intinya, kita merasa aneh ketika ada orang yang menyuarakan bahwa Allah tidak beranak dan tidak memiliki anak, dianggap sebagai pelecehan dan melanggar undang-undang?

Alasan Ajaran Trinitas

Fitrah manusia menolak semua ajaran trinitas dan ke-berbagaian Tuhan. Logika dan perasaan sulit menerima konsep Tuhan berbilang. Lalu mengapa mereka mempertahankan ajaran trinitas?. Terlepas dari topik masalah pancasila, setidaknya ada 2 alasan mendasar mengapa nasrani mempertahankan ideologi trinitas ini,

Pertama, karena Isa terlahir tanpa bapak

Jika dia terlahir tanpa bapak, berarti bapaknya adalah Allah. karena itu, dia anak Allah.

Alasan yang ini disampaikan orang nasrani dari Najran yang datang ke Madinah untuk berdebat dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau telah bantah alasan orang-orang nasrani itu, hingga mereka terdiam.

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan keterangan dari Ibnu Ishaq dalam sirahnya, bahwa suatu ketika kota Madinah kedatangan tamu orang-orang nasrani dari daerah Najran. Diantara mereka ada 14 orang yang merupakan pemuka dan tokoh agama di Najran. dari 14 orang itu, ada 3 orang yang menjadi tokoh sentral: Aqib, gelarnya Abdul Masih. Dia pemuka kaum, yang memutuskan hasil musyawarah masyarakat. as-Sayid, dia pemimpin rombongan. Nama aslinya al-Aiham. Dan yang ketiga Abul Haritsah bin Alqamah. Dulunya orang arab, kemudian pindah ke Najran dan menjadi uskup di sana.

Ketika mereka sampai di Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melaksanakan shalat asar. Mereka kemudian masuk masjid dan shalat dengan menghadap ke timur.

As-Sayid dan Aqib menjadi jubir mereka di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Kalian mau masuk islam?” tanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Kami telah masuk islam sebelum kamu.” Jawab mereka.

“Dusta, kalian bukan orang islam disebabkan: kalian menganggap Allah punya anak, kalian menyembah salib, dan makan babi.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Jika Isa bukan anak Allah, lalu siapa ayahnya?” Serombogan orang-orang nasrani itupun serempak mendebat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pertanyaan itu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tenang menjawab,

“Bukankah kalian tahu yang namanya anak, pasti punya kemiripan dengan bapak?”

“Ya, tentu.” Jawab mereka.

“Bukankah kalian yakin, Allah yang mewujudkan segala sesuatu, menjaganya dan memberi rizqi mereka?”

“Ya, kami yakin itu.” Jawab mereka.

“Apakah Isa punya salah satu dari kemampuan tuhan itu?”

“Tidak.” Jawab mereka.

Beliau melajutkan sabdanya,

“Allah menciptakan Isa di dalam rahim sesuai yang Dia kehendaki. Tuhan kita tidak butuh makan, minum, dan tidak berhadats.”

“Ya, benar.” Jawab mereka.

“Bukankah Isa tumbuh di rahim ibunya sebagaimana para wanita mengalami hamil, kemudian dia melahirkan sebagaimana para wanita melahirkan anaknya?”

“Lalu bagaimana mungkin kalian meyakini dia anak tuhan?”

Kemudian mereka terdiam dan Allah menurunkan firman-Nya di surat Ali Imran: 59-61. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/50)

Ternyata alasan ini juga masih dilestarikan oleh orang nasrani hingga zaman sekarang.

Dalam salah satu forum tanya jawab bersama Dr. Zakir Naik, ada peserta yang menanyakan posisi yesus sebagai anak Tuhan, karena alasan dia terlahir tanpa bapak.

Salah satu jawaban sederhana Dr. Zakir Naik, beliau bandinkan Yesus dengan Adam. Orang nasrani mengakui keberadaan Adam dan bagaimana Allah menciptakan Adam. Jika Adam diciptakan tanpa bapat dan tanpa ibu, berarti Adam lebih hebat dibandingkan Yesus. Dan seharusnya nasrani juga harus mengakui bahwa Adam juga anak tuhan. Bahkan lebih tinggi derajatnya dari pada Yesus.

Kedua, dalam teks injil berkali-kali dinyatakan bahwa Isa adalah the Son of God.

Alasan ini telah dibantah oleh Dr. Zakir Naik. Beliau mengatakan bahwa bagian dari bahasa bible, bahwa semua orang yang taat kepada Tuhan dinamakan Son of God. Sehingga banyak nabi dalam bible digelari Son of God.

Anda bisa simak video Dr. Zakir Naik berikut,

Adam disebut Son of God,

“Adam, which was the son of God” Luke 3:38.

Jacob is God’s son and firstborn,

“Israel is my son, even my firstborn” Exodus 4:22.

Solomon is God’s son,

“He shall build an house for my name, and I will establish the throne of his kingdom for ever. I will be his father, and he shall be my son”: 2 Samuel 7:13-14.

Ephraim (anak Nabi Yusuf) juga Son of God,

“for I am a father to Israel, and Ephraim is my firstborn..” Jeremiah 31:9 (who is God’s firstborn? Israel or Ephraim?).

Semoga bisa menjagi pengantar bagi para saudaraku muslim untuk tetap di atas pendirian, bahwa Allah Maha Esa, tidak memiliki anak dan ajaran nasrani adalah penyimpangan.

Allahu a’lam

SHARE
Previous articlePromo Diskon Ketika Natal
Next articleLarangan Membasuh Anggota Wudhu lebih dari 3 Kali
KonsultasiSyariah.com menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Alquran dan Sunnah serta keterangan para ulama