Cairan Keruh dan Kekuningan Sebelum Haid

cairan keruh sebelum haid
Yellow Colour Wallpapers @Wallpapercave

Cairan Kekuningan Sebelum Haid

Apakah cairan keruh & kekuningan sebelum haid terhitung haid?

Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Cairan kecoklatan (kudrah) atau cairan kekuningan (shufrah) yang keluar sebelum haid, apakah terhitung haid?

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,

Pertama, tidak terhitung haid sama sekali

Ini adalah pendapat Imam Ibnu Utsaimin yang terakhir.

Beliau mengatakan,

الذي ظهر لي أخيراً ، واطمأنت إليه نفسي أن الحيض هو خروج الدم فقط ، وأما الصفرة و الكدرة فليستا بحيض حتى لو كانتا قبل القصة البيضاء

Kesimpulan akhir, yang kuat bagiku dan yang lebih menenangkan diriku, bahwa haid adalah yang keluar darah saja. Sementara shufrah (cairan kekuningan) dan cairan keruh tidak termasuk haid, meskipun keluar sebelum adanya cairan putih. (Tsamarat at-Tadwin, hlm. 24).

Di kesempatan lain, Beliau juga pernah ditanya,

“Ada wanita yang keluar kudrah selama 7 hari. Setelah itu keluar darah haid selama 20an hari, lalu suci selama 3 bulan. Bagaimana hukum darah dan cairan kudrah ini?”

Jawab beliau,

الدم كله حيض ، والكدرة ليست بشيء مطلقاً

Darah itu semuanya haid, sementara kudrah tidak dihitung sama sekali. (Tsamarat at-Tadwin, hlm. 25)

Kedua, bahwa shufrah dan kudrah terhitung haid, jika:

[1] Keluar di waktu haid atau satu-dua hari sebelum haid.

[2] Disertai suasana mules sebagaimana ketika haid.

Pendapat ini dikemukakan oleh Fatwa Islam no. 179069 dan bersandar dengan Fatwa Imam Ibnu Baz, hanya saja beliau mempersyaratkan antara shufrah dengan kudrah, itu bersambung, tidak harus diiringi rasa sakit. (Fatwa Nur ‘ala ad-Darb, 2/663-664)

Dan ini juga pendapat pertama Imam Ibnu Utsaimin. Beliau mengatakan,

إن كانت هذه الكدرة من مقدمات الحيض فهي حيض ، ويُعرف ذلك بالأوجاع والمغص الذي يأتي الحائض عادة

Jika cairan keruh ini merupakan mukadimah haid, maka terhitung haid. Dan itu bisa diketahui dengan adanya rasa sakit, mules, seperti yang umumnya dialami wanita haid. (Risalah ad-Dima’ at-Thabi’iyah, hlm 59).

Dan insyaaAllah, pendapat kedua inilah yang mendekati kebenaran.

Demikian, Allahu a’lam,

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK