Hukum Membuat Ilustrasi Hari Kiamat

1019
hukum menggambar ilustrasi hari kiamat, surga dan neraka
Ilustrasi @drawing pencil wallpaper

Tidak Boleh Membuat Ilustrasi Hari Kiamat?

Bolehkah membuat ilustrasi utk menggambarkan kondisi kiamat, seperti sirat, timbangan amal, hari kebangkitan, termasuk surga dan neraka?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah banyak bercerita tentang hari kiamat dalam al-Quran, demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadisnya. Namun Allah merahasiakan hakekat sejatinya. Allah tidak pernah menampakkan surga dan neraka atau kejadian di hari kiamat kepada para hamba-Nya. Selain para utusan-Nya yang mendapatkan izin dari-Nya.

Tentang rahasia surga, Allah berfirman,

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17).

Dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah. Diantara penggalan khutbah, beliau menyatakan,

إِنِّي رَأَيْتُ الجَنَّةَ، أَوْ أُرِيتُ الجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ كَاليَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ

“Sesungguhnya aku telah melihat surga dan aku tadi berupaya meraih setandan buah-buahan darinya. Seandainya kamu mendapatkannya dan memakannya, niscaya kamu (tidak butuh lagi makanan) di dunia. Kemudian aku melihat neraka dan belum pernah aku melihat pemandangan yang ngerinya seperti itu….” (HR. Bukhari 5197 dan Muslim 907)

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari ahli  dzikir. Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah, mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka mengajak malaikat lainnya: “Kemarilah datangi kebutuhan kalian”.

Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap mereka hingga langit dunia. Kemudian Allah -Azza wa Jalla- bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka,

“Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?”

Para malaikat menjawab, “Mereka mensucikan-Mu (mengucapkan tasbih), mereka membesarkan-Mu (mengucapkan takbir), mereka memuji-Mu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu.”

Allah bertanya, “Apakah mereka melihatKu?”

Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, mereka tidak melihatMu”.

Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatKu?”

Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihat-Mu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat kepada-Mu, lebih mengagungkan-Mu, lebih mensucikan-Mu”.

Allah berkata, “Lalu, apakah yang mereka minta kepadaKu?”

Mereka menjawab, “Mereka minta surga kepadaMu”.

Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?”

Mereka menjawab, “Tidak, demi Alah, Wahai Rabb, mereka tidak melihatnya”.

Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?”

Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan”.

Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepadaKu?”

Mereka menjawab, “Mereka minta perlindungan dari neraka kepadaMu”.

Allah bertanya, “Apakah mereka melihatnya?”

Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb, Mereka tidak melihatnya.”

Allah berkata, “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?”

Mereka menjawab, “Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka)”.

Allah berkata, “Aku bersaksi di hadapan kalian, bahwa Aku telah mengampuni mereka”.

(HR. al-Bukhari 6458 dan Muslim 2686)

Kehebatan akhirat bahkan tidak bisa dibayangkan oleh manusia.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman,

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku sediakan untuk para hamba-Ku yang saleh, janji indah yang belum pernah dilihat oleh mata, belum didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam batin manusia.” (HR. Bukhari 3244).

Allah hanya menceritakan, namun bentuknya tidak ditampakkan. Agar menjadi ujian keimanan bagi para hamba. Karena itulah, para ulama melarang membuat ilustrasi kejadian hari kiamat. Apapun bentuknya. Baik kejadian kebangkitan, proses hisab, shirat yang membentang di atas neraka, timbangan (mizan), termasuk surga dan neraka. Ada beberapa alasan yang mendasari itu,

[1] Semua kejadian di hari kiamat tidak bisa dibayangkan manusia.

[2] Ilustrasi yang digambarkan, bisa dipastikan dusta, sangat jauh dari aslinya.

[3] Akan hilang kewibawaan akhirat di mata manusia.

[4] Orang ceroboh bisa lebih nekat dalam membayangkan akhirat.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang kasus orang membuat gambar kebun sebagai ilustrasi surga atau ilustrasi nyala api seolah itu neraka. Jawab beliau,

هذا لا يجوز؛ لأننا لا نعلم كيفية ذلك، كما قال عز وجل: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ {السجدة: 17}. ولا يعلم كيفية النار

Semacam ini tidak boleh dilakukan. Karena kita tidak mengetahui hakekat dari semua itu. seperti yang Allah firmankan, (yang artinya), “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17). Dan seperti apa neraka juga tidak diketahui.

Lalu beliau melanjutkan,

فهل أحد يستطيع أن يمثل النار؟ لا أحد يستطيع، ولهذا بلغ من يفعل ذلك أن هذا حرام، ومع الأسف الشديد أن الناس الآن بدؤوا يجعلون الأمور الأخروية كأنها أمور حسية مشاهدة

Adakah orang yang bisa membuat gambar neraka? Tidak ada satupun yang mampu. Karena itu, sampaikan bahwa orang yang melakukan tindakan semacam ini bahwa itu haram. Meskipun sangat disayangkan, banyak masyarakat saat ini mereka menjadikan fenomena akhirat seperti kejadian terindera yang bisa disaksikan. (Liqa’at Bab al-Maftuh, volume 222, no. 22)

Keterangan lain pernah disampaikan Syaikh Abdurrahman al-Barrak,

حقائق الغيب من الماضي والحاضر والمستقبل لا يمكن تصورها فضلا عن تصويرها ! ومن ذلك: أحوال القيامة كالبعث والصراط والميزان، وما يسبق ذلك من النفخ في الصور، وما ينشأ عنه من فزع وصعق وتغيرات في العالم العلوي والسفلي وما يصاحب ذلك من أهوال

Hakekat dari perkara ghaib baik di masa silam, di masa sekarang, maupun di masa mendatang, tidak mungkin untuk dibayangkan, apalagi digambar! Termasuk kondisi kiamat, seperti hari berbangkit, as-Shirat, Mizan, seperti kejadian sebelumnya seperti tiupan sangkakala, kejadian kehancuran besar dan semua perubahan di aats maupun di bawah, dan suasana luar biasa yang mengiringinya.

Demikian. Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK