Manusia Diberi Pilihan Ataukah Diberi Kemudahan?

3262

Pertanyaan:

Apakah manusia diberi pilihan atau diberi kemudahan?

Jawaban:

Manusia diberi kemudahan juga diberi pilihan, karena Allah menakdirkan apa yang akan terjadi pada dirinya dan apa yang akan dilakukannya. Bersamaan dengan itu, Allah memberinya kemampuan dan kesanggupan untuk tidak melakukan dan memilih perbuatan yang akan mendapatkan pahala atau perbuatan yang akan mendapatkan siksa. Allah berkuasa untuk mengarahkannya kepada petunjuk. Dalilnya adalah firman Allah,

وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ. وَمَنْ يَهْدِ اللهُ فَمَنْ لَهُ مِنْ مُضِلٍّ

“…Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorang pun dapat memberinya petunjuk. Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak seorang pun dapat menyesatkannya….” (Qs. az-Zumar: 36-37).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِعْمَلُوْا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

Beramallah kalian, karena setiap orang dimudahkan menuju tujuan ia diciptakan.”

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

Adapun orang yang mendermakan (hartanya di jalan Allah), bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka kelak kami akan menyiapkan jalan yang mudah baginya.” (Qs. al-Lail: 5-7).

Allah telah mengakui bahwa manusia mempunyai amal, yaitu derma hartanya, takwanya, dan keimanannya pada kebajikan. Allah memberitahukan bahwa Dia juga memudahkan setiap manusia dengan memberinya pertolongan dan kekuatan. Kalau Allah berkehendak, manusia dijadikan sesat dan dikuasai oleh seseorang yang menjauhkannya dari kebenaran. Selain itu, Allah juga memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Golongan Ahlus Sunnah berpendapat bahwa dosa-dosa dan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada diri manusia berlaku karena kehendak Allah, kehendak alamiah, dengan pengertian bahwa hal itu terjadi diciptakan dan diadakan oleh Allah, namun Allah tidak menyukai hal itu, tidak menyenangi pelakunya, bahkan memberi hukuman kepada mereka yang melakukannya.

Oleh karena itu, dosa dan kejahatan yang dilakukan manusia dinisbatkan kepada manusia dan dinyatakan sebagai orang yang berbuat dosa atau kafir atau fasik atau fajir. Sekalipun demikian, yang menetapkannya dan menciptakannya adalah Allah. Kalau Allah berkehendak Dia akan menjadikan semua manusia mendapatkan hidayah. Semua hikmah pada makhluk dan perintah-Nya hanyalah milik Allah. Segala yang ada berada dalam kekuasaan-Nya, tidak satu pun yang tidak berada dalam kehendak-Nya.

Akan tetapi, golongan Mu’tazilah mengingkari kekuasaan Allah terhadap perbuatan-perbuatan para hamba-Nya. Menurut mereka, manusia sendirilah yang menentukan dirinya berada pada jalan sesat atau berada pada jalan petunjuk. Kekuasaan manusia untuk berbuat lebih kuat daripada takdir Tuhan.

Golongan Jabariah berpendapat sebaliknya. Mereka menetapkan takdir tuhan secara berlebihan meniadakan kemampuan dan ikhtiar manusia. Mereka menyatakan bahwa manusia tidak mempunyai pilihan dan kekuasaan sedikit pun.

Golongan Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah. Mereka berpendapat bahwa manusia mempunyai kekuasaan atas perbuatan mereka. Mereka mempunyai kemauan yang memungkinkan untuk berbuat. Allah menciptakan mereka, kemampuan mereka, dan kehendak mereka yang membuat perintah dalam syariat Allah tidak menjadi sia-sia dan larangan-Nya tidak menjadi batil sehingga tidak menafikan perbuatan manusia dan kemampuannya untuk berbuat apa saja. Wallaahu a’lam. (Syaikh Ibnu Jibrin, Fatawa Tauhid, hal. 52–53).

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, Media Hidayah, Cetakan 1, Tahun 2003.
(Dengan penataan bahasa oleh www.konsultasisyariah.com)