Benarkah Rasulullah Berada di Mana-mana dan Mengetahui Perkara Gaib?

4244

Pertanyaan:

Apakah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di mana-mana? Apakah beliau mengetahui perkara gaib?

Jawaban:

Dengan jelas dapat diketahui dari keterangan agama dan dalil-dalil syariat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berada di mana-mana. Jasad beliau ada di kuburnya, di kota Madinah Munawwarah. Adapun ruh beliau berada di sisi Allah Tuhan yang Mahatinggi di surga. Hal ini dinyatakan dalam sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menjelang wafat beliau bersabda,

اَللَّهُمَّ فِي الرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى

Ya Allah, Tuhan yang ada di tempat yang tinggi.” (HR. Bukhari no. 4437 dan Muslim no. 2444)

Beliau mengucapkan hal tersebut tiga kali kemudian beliau wafat.

Para ulama dari kalangan shahabat dan sesudahnya sepakat bahwa beliau dikuburkan di rumah Aisyah yang berdampingan dengan masjid Nabawi. Jasad beliau berada di tempat itu sampai masa yang tidak diketahui, dan ruhnya serta ruh para nabi, para rasul, dan segenap kaum mukmin berada di surga. Ruh mereka menempati posisi sesuai dengan tingkatan masing-masing di surga, sesuai dengan ketetapan Allah menurut ilmu, iman, dan kesabaran yang dipikul masing-masing dari mereka dalam perjuangan dakwah kepada kebenaran.

Adapun tentang hal gaib, yang mengetahui hanyalah Allah. Rasul atau makhluk lainnya hanya mengetahui hal gaib yang telah diberitakan Allah kepada mereka di dalam Al-Quran dan as-sunnah yang suci, mengenai masalah surga, neraka, keadaan hari kiamat, dan lain-lain. Begitu pula, keterangan Al-Quran dan hadits-hadits shahih tentang Dajjal, matahari terbit dari barat, munculnya hewan-hewan melata, turunnya kembali Isa bin Maryam pada akhir zaman, dan lain-lain, sebagaimana yang Allah firmankan,

قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah,’ dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)

قُل لاَّ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ

Katakanlah, ‘Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui hal yang gaib….’” (QS. Al-An’aam: 50)

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, ‘Aku tidak kuasa memberi manfaat bagi diriku dan tidak pula kuasa menghindarkan kerugian, kecuali yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui hal yang gaib, tentulah aku melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kerugian. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-A’raaf: 188)

Banyak sekali ayat yang serupa dengan ayat ini dalam Al-Quran. Sungguh benar bahwa telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa hadits yang menyatakan bahwa beliau tidak mengatahui hal gaib, di antaranya adalah jawaban beliau kepada malaikat Jibril ketika bertanya,

مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“‘Kapankah kiamat terjadi?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.’

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,

فِيْ خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللهُ ثُمَّ تَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ

“’Lima perkara yang hanya Allah yang mengetahuinya.’ Kemudian beliau membaca firman Allah, ‘Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan….’” (QS. Luqman: 34)

Selain itu, ketika Aisyah difitnah dengan tuduhan palsu, yaitu berzina, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui kebenaran kesucian Aisyah, kecuali setelah turunnya wahyu kepada beliau pada surah An-Nur.

Contoh lain, tatkala Aisyah hilang pada salah satu perjalanan pulang dari perang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui tempatnya, sehingga beliau mengirim sejumlah orang untuk mencarinya, tetapi mereka tidak menemukannya. Tatkala unta Aisyah berdiri, orang-orang menemukan Aisyah di bawah untanya. Inilah sedikit contoh dari banyak kasus yang terdapat di dalam hadits-hadits tentang ketidaktahuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal gaib.

Anggapan segolongan orang sufi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui hal gaib, dan bahwa beliau hadir di tengah-tengah mereka di waktu pesta peringatan Maulid Nabi, serta keyakinan mereka yang lain adalah anggapan batil yang tidak punya dasar apa pun. Hal itu muncul pada diri mereka karena kebodohan mereka dalam memahami Al-Quran, sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pegangan kaum salaf.

Kita mohon kepada Allah supaya kita dan segenap muslim selamat dari cobaan ajaran mereka (kaum sufi) yang sesat, sebagaimana kita memohon kepada Allah supaya kita dan juga mereka diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. (Al-Mujaahid, no. 66, tahun ketiga terbitan Muharram no. 33 dan Shafar no. 34, Syekh bin Baz)

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, Media Hidayah, cetakan 1, Tahun 2003.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)